Besarlah Allahku

Penulis_artikel: 
Haryono Tafianoto
Tanggal_artikel: 
20 Juli 2018
Isi_artikel: 

Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dari keilahian-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. (Roma 1:19-20)

Mengunjungi berbagai wilayah di Nusantara adalah salah satu kegiatan yang paling menarik bagi sebagian orang. Melihat keindahan budaya, dan yang terutama, alam Nusantara yang tidak ada bandingannya adalah pengalaman yang tak ternilai. Banyak wisatawan yang sengaja bangun pagi-pagi buta untuk melihat fajar di Kelimutu atau Bromo. Atau, berjam-jam berkendaraan melewati jalan yang rusak untuk menuju Kiluan. Atau, menempuh perjalanan jauh, termasuk menggunakan kapal berjam-jam menyeberang lautan demi mencapai Derawan. Juga, menginap di kapal beberapa malam demi menikmati berbagai kepulauan di sekitar Flores dan Komodo. Tak tertinggal, menelusuri Samosir untuk menikmati keindahan alam di sekitar Danau Toba. Lalu, pengalaman apa yang mereka dapatkan dari perjalanan tersebut?

Mungkin ada yang tidak bisa menikmati perjalanan demikian. Namun, bagi yang melakukannya, paling sedikit ada dua respons yang diberikan. Yang pertama adalah mungkin seperti, “Wow! Indah!” “Keren!” “Luar biasa!” Tidak berhenti di situ, karena dianggap sebagai situs-situs instagrammable, banyak yang foto selfie untuk dipajang di akun sosmed mereka. Setelah puas dengan hasilnya, mereka pun beralih ke objek wisata lainnya sebagai target selfie. Mungkin wisatawan yang lebih sophisticated akan memandang sejenak dan mempelajari apa yang terjadi dengan alam sekitarnya untuk menambah wawasan.

Namun, respons yang satu lagi adalah kekaguman yang tak terkatakan. Bukan hanya takjub dengan pemandangan alam yang ada, rasa takjub itu justru ditujukan kepada Sang Seniman Agung, yaitu Allah Pencipta. Seperti lagu Besarlah Allahku, refrainnya berbunyi, “Maka jiwaku pun memuji-Mu, sungguh besar Kau Allahku.” Bukankah ketika melihat sebuah hasil karya yang sangat indah, sang seniman akan dikagumi lebih daripada karyanya? Demikianlah nyanyian yang muncul ketika melihat keindahan alam.

Sebagai orang yang mengaku percaya kepada Allah pencipta langit dan bumi, hal pertama yang muncul di benak kita seharusnya kekaguman kepada Allah ketika melihat ciptaan-Nya. Atau mungkin kita juga ber-selfie ria mengikuti hip kekinian? Jadi apa yang Anda pikirkan ketika melihat alam Nusantara nan indah? Semoga rasa kagum kita tidak berhenti hanya pada ciptaan-Nya saja, tapi melihat kemuliaan Sang Pencipta di dalamnya. How great Thou art! Soli Deo Gloria.

Sumber Artikel: 
Diambil dari:
Nama situs : Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia - Pillar
Alamat situs : http://www.buletinpillar.org/renungan/besarlah-allahku
Judul asli artikel : Besarlah Allahku
Penulis : Haryono Tafianoto
Tanggal akses : 18 Juli 2018

Julukan

Penulis_artikel: 
Haryono Tafianoto
Tanggal_artikel: 
18 Juli 2018
Isi_artikel: 

Salah satu bentuk perundungan yang sering terjadi di sekolah adalah memanggil seseorang dengan julukan atau istilah tertentu. Sadar atau tidak sadar, kita pasti pernah melakukannya. Biasanya tindakan ini, mengejek atau melabel, dianggap sebagai candaan, bukan satu hal yang serius. Namun, bisa juga dengan sengaja hinaan diberikan untuk merendahkan seseorang. Tidak jarang, orang-orang dewasa juga melakukannya baik terhadap rekannya maupun terhadap yang lebih muda darinya. Ironisnya, ini juga terjadi di lingkungan sekolah Kristen, atau bahkan di gereja.

Jika kita melihat pada Kisah Penciptaan, Kejadian 1:27, manusia dicipta di dalam gambar rupa Allah, imago Dei. Manusia sebagai representasi Allah adalah wakil-Nya atas seluruh ciptaan, dan membawa gambar Allah di dalam dirinya ke mana pun ia pergi. Sebagai gambar Allah, kita memiliki sifat-sifat Allah, di antaranya kekudusan, kasih, kebaikan, dan keadilan. Dalam menjalankan mandat budaya dan mandat Injil, manusia dipanggil memancarkan sifat- sifat Allah.

Lalu apa hubungannya imago Dei dengan menjuluki seseorang? Objek yang sedang dipermainkan adalah gambar Allah, ciptaan tertinggi yang menjadi wakil Allah untuk menaklukkan dan menguasai seluruh ciptaan (Kej. 1:28). Bayangkan jika Anda menghina penguasa sebuah negara. Tentunya akan ada konsekuensi hukum yang Anda alami. Namun, sekarang yang memberi mandat adalah Allah sendiri, dan yang dihina adalah gambar-Nya! Sebagaimana penghinaan terhadap perwakilan sebuah negara dianggap sebagai penghinaan terhadap negara tersebut, maka julukan yang ditujukan pada wakil Allah adalah penghinaan terhadap Allah!

Sebagaimana disebut di atas, manusia dipanggil untuk memancarkan sifat-sifat Allah, maka seharusnya yang kita pancarkan bukanlah ejekan, hinaan, dan pelabelan untuk merendahkan dan mem-bully sesama kita. Namun, kasih, kebaikan, kekudusan, dan keadilanlah yang seharusnya menjadi refleksi dari tindakan dan ucapan kita. Sudah pasti ejekan tidak memancarkan sifat Allah, bukan?

Ketika menyaksikan tindakan perundungan terjadi, sebagai gambar Allah, kita tidak bisa hanya diam saja. Sebagai pernyataan kasih dan keadilan, kita patut membela sang korban dan menegur si pelaku. Bukankah itu yang Yesus Kristus, sebagai gambar Allah yang sejati, lakukan, membela mereka yang tertindas dengan kasih. Ia bahkan menyatakan kasih dan keadilan Allah Bapa di atas kayu salib untuk melepaskan kita dari cengkraman penindasan si jahat.

Mengikuti teladan Yesus Kristus, marilah kita menghidupi natur kita yang seharusnya sebagai gambar dan rupa Allah. Bagaimana Anda akan memperlakukan sesamamu, gambar dan rupa Allah, mulai hari ini? Kiranya cinta kasih Allah terpancar dari hidup kita semua. Soli Deo gloria.

Sumber Artikel: 
Diambil dari:
Nama situs : Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia - Pillar
Alamat situs : http://www.buletinpillar.org/renungan/julukan
Judul asli artikel : Julukan
Penulis : Haryono Tafianoto
Tanggal akses : 18 Juli 2018

Progsif "Roh Kudus, Malaikat, dan Roh Jahat"

Oleh: N. Risanti

Senin, 25 Juni 2018, saya dan beberapa teman mengikuti acara progsif (program intensif) bertema Roh Kudus, Malaikat, dan Roh Jahat yang diadakan oleh STRIS (Sekolah Tinggi Reformed Injili Surakarta) di Hotel Adiwangsa. Progsif yang berlangsung sekitar 2,5 jam ini dibawakan oleh Pendeta Jimmy Pardede dari Jakarta, yang juga adalah dosen Perjanjian Lama. Berikut adalah beberapa hal yang saya dapatkan dari acara progsif tersebut. selengkapnya...»

Teologia Reformed adalah Teologia Perjanjian

Penulis_artikel: 
Richard Pratt Jr.
Tanggal_artikel: 
10 Januari 2018
Isi_artikel: 

Teologia Reformed adalah Teologia Perjanjian

Teologia Reformed sering kali dikaitkan dengan "teologia perjanjian". Jika Anda menyimak baik-baik, kerap akan Anda dengar para pendeta dan pengajar menyebut diri mereka (penganut aliran) "Reformed dan perjanjian." Istilah Reformed dan perjanjian secara umum digunakan berbarengan sehingga memaksa kita memahami mengapa keduanya terkait.

Teologia perjanjian merujuk pada salah satu kepercayaan mendasar yang dianut oleh Calvinis mengenai Alkitab. Semua orang Protestan yang tetap setia pada warisan (doktrin) mereka mengakui Sola Scriptura, yaitu keyakinan bahwa Alkitab merupakan otoritas tertinggi dan tak perlu diragukan. Akan tetapi, teologia perjanjian membedakan pandangan Reformed terhadap Alkitab dari pandangan aliran Protestan lain, dengan menekankan bahwa perjanjian ilahi mempersatukan semua ajaran dalam seluruh Alkitab.

Perkembangan yang lebih awal dalam Reformed, pengertian perjanjian Kitab Suci mencapai titik krusial pada abad ketujuh belas di Inggris dengan adanya Pengakuan Iman Westminster (1646), Deklarasi Savoy (1658), Pengakuan Gereja Baptis London 1689, masing-masing mewakili penganut Calvinist berbahasa Inggris dari kelompok yang berbeda. Dengan hanya sedikit perbedaan di antara mereka, dokumen-dokumen tersebut mendedikasikan satu bab utuh untuk membahas bagaimana perjanjian Allah dengan umat manusia menyingkapkan kesatuan seluruh pengajaran Alkitab.

Misalnya, Pengakuan Iman Westminster berbicara mengenai turunnya Allah untuk mewahyukan Diri kepada manusia dengan jalan perjanjian. Hal tersebut kemudian membagi seluruh sejarah dalam Alkitab menjadi hanya dua perjanjian: "Perjanjian kerja" dalam Adam dan "perjanjian anugrah" dalam Kristus. Perjanjian kerja merupakan kesepakatan Allah dengan Adam dan Hawa sebelum mereka jatuh dalam dosa. Perjanjian anugrah menguasai seluruh kisah Alkitab selebihnya. Menurut pandangan ini, semua tahap dalam perjanjian anugerah adalah sama secara substansi. Perbedaannya hanyalah bagaimana Allah menyelenggarakan satu perjanjian anugerah tersebut dalam Kristus dengan berbagai cara sepanjang sejarah Alkitab.

Selama itu juga, sejumlah teolog Reformed yang terkemudian menegaskan kesatuan perjanjian dalam Kitab Suci dengan menghubungkan perjanjian-perjanjian Alkitabiah dengan "Kerajaan Allah", sebagaiamana Perjanjian Baru menyebutnya. Yesus menunjukkan pentingnya Kerajaan Allah dalam kata-kata pembuka Doa Bapa Kami: "Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah Nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga" (Wahyu 11:15, pada akhir zaman, "Seluruh kerajaan dunia (akan) menjadi milik Tuhan kita dan Kristus, dan Ia akan memerintah selama-lamanya."

Penemuan arkeologis terbaru menunjukkan bagaimana perjanjian Allah terkait dengan kerajaan-Nya di bumi. Pada zaman alkitab, banyak raja-raja negeri sekeliling Israel menyelenggarakan ekspansi kerajaan mereka melalui perjanjian internasional. Para ahli biblika menemukan kesamaan yang mengagumkan antara kesepakatan kuno ini dan perjanjian alkitab dengan Adam, Nuh, Abraham, Musa, Daud, dan Kristus. Kesamaan ini menyatakan bahwa Kitab Suci menghadirkan perjanjian sebagai cara Allah memperluas kerajaan-Nya di bumi.

Perjanjian Alkitab menekankan apa yang dibutuhkan pada setiap tahap Kerajaan Allah dengan mengembangkan prinsip perjanjian sebelumnya. Dimulai dengan Adam, Allah menyatakan Diri-Nya sebagai raja, peran umat manusia, dan tujuan akhir yang telah Ia rencakanakan bagi bumi (Kejadian 6, 9). Allah kemudian mengembangkan perjanjian sebelumnya dengan menjanjikan bahwa keturunan Abraham akan menjadi besar dan menyebarkan berkat-berkat Allah kepada bangsa-bangsa lain (Kejadian 15, 17). Di atas perjanjian-perjanjian tersebut, Allah memberkati Israel dengan memberikan hukum-Nya pada zaman Musa (Keluaran 19-24). Setiap perjanjian sebelumnya terus diperjelas selagi Allah mendirikan kerajaan Daud serta menjanjikan bahwa salah satu dari anaknya akan memerintah dengan keadilan atas Israel dan seluruh dunia (Mazmur 72; 89; 132). Semua perjanjian yang diadakan pada era Perjanjian Lama kemudian diteruskan dan digenapi dalam Kristus (Yeremia 31:31; 2 Korintus 1:19-20). Sebagai Anak Daud yang besar, kehidupan, kematian, kebangkitan, kenaikan, dan kedatangan Kristus yang kedua menjamin kepastian transformasi seluruh bumi menjadi Kerajaan Allah yang mulia.

Banyak orang Kristen Injili saat ini kesulitan untuk percaya bahwa segala sesuatu dalam Kitab Suci setelah Kejadian 3:15 ialah berkenaan dengan Kerajaan Allah yang dikelola melalui penyingkapan perjanjian anugerah. Mayoritas kaum Injili Amerika memandang Kitab Suci terbagi menjadi periode-periode waktu terpisah yang masing-masing diatur oleh prinsip teologis yang berbeda secara substansi. Bila orang Kristen mengikuti pandangan populer terhadap Alkitab ini, mereka akan segera terpengaruh bahwa perjanjian yang baru di zaman kita bertentangan dengan banyak aspek Perjanjian Lama.

Setidaknya ada tiga isu yang kerap diangkat: perbuatan dan anugerah, iman jemaat dan iman pribadi, serta perkara duniawi dan rohani. Pertama, banyak kaum injili meyakini bahwa penekanan Perjanjian Lama akan perbuatan baik tidak sesuai dengan keselamatan oleh anugerah melalui iman dalam Kristus. Kedua, hubungan jemaah Israel sebagai satu kesatuan komunitas dengan Allah tampaknya telah diganti dengan fokus pada hubungan tiap individu secara pribadi dengan Allah. Ketiga, banyak orang injili percaya bahwa panggilan Perjanjian Lama untuk mendirikan kerajaan Allah secara fisik di bumi kontras dengan penekanan Perjanjian Baru terhadap kerajaan rohani dalam Kristus.

Teologia perjanjian memampukan para teolog Reformed untuk melihat bahwa sesungguhnya Perjanjian Baru (PB) dan Perjanjian Lama (PL) sangat serupa dalam ketiga hal ini. Pertama, pandangan bahwa keselamatan oleh anugerah melalui iman dalam Kristus merupakan satu-satunya jalan keselamatan dalam PB maupun PL. Seluruh Alkitab menuntut perbuatan baik karena iman yang menyelamatkan selalu menghasilkan buah ketaatan kepada Allah. Kedua, teologia perjanjian membantu kita melihat bahwa baik PL maupun PB berbicara tentang relasi dengan Allah secara pribadi dan korporat. Seluruh perjanjian Allah meliputi kedua tataran tersebut. Ketiga, teologia perjanjian menunjukkan bahwa Kerajaan Allah sejak semula senantiasa bersifat rohani sekaligus berada di bumi. PL dan PB berfokus pada pelayanan kita dalam kedua ranah tersebut. Dalam hal-hal itu dan juga yang lain, teologia perjanjian memiliki pandangan yang lebih luas bagi kaum injili.

Lebih lagi, kita mendapati bahwa teologia Reformed telah dipersempit menjadi sesuatu yang sering kita sebut doktrin anugerah - kepercayaan terkenal seperti kerusakan total, pemilihan tak bersyarat, penebusan terbatas, anugerah yang tidak dapat ditolak, dan ketekunan orang kudus. Tentu kita harus menghargai nilai kebenaran Kitab Suci ini, tetapi, ketika gagal menekankan kerangka pikir teologia perjanjian yang lebih luas, pengertian kita tentang Alkitab akan segera jatuh ke dalam tiga area ini.

Pertama, doktrin anugerah tanpa teologia perjanjian telah membuat sebagian orang meyakini bahwa teologia Reformed terutama mengajarkan bahwa anugerah Allah menopang kehidupan orang Kristen sejak awal hingga akhir. Tentu saja hal ini benar. Namun, perjanjian dalam PL dan PB secara konsisten mengajarkan bahwa Allah selalu menuntut usaha sepenuh hati dari umat-Nya sebagai respon terhadap anugerah-Nya, dan bahwa Ia akan memberikan upah bagi ketaatan dan menghukum ketidaktaatan.

Kedua, terlepas dari teologia perjanjian, banyak orang dalam lingkaran kita tampaknya berpikir bahwa teologia kita hanyalah tentang mencari cara-cara Reformed yang unik bagi individu untuk meningkatkan hubungan mereka dengan Allah. Pada zaman kita, sejumlah jalan menuju kekudusan dan saat teduh pribadi telah dianggap fitur sentral dalam teologia Reformed. Padahal, teologia perjanjian juga menekankan relasi komunal kita dengan Allah, sama pentingnya seperti nilai seorang individu dalam Alkitab. Tidak ada perjanjian dalam Alkitab yang dibuat dengan satu orang saja. Perjanjian-perjanjian tersebut juga melibatkan relasi yang dibangun Allah dengan sekelompok orang. Karena alasan ini, kedua perjanjian mengajarkan bahwa keluarga umat percaya merupakan komunitas perjanjian yang di dalamnya anugerah Allah diteruskan dari generasi ke generasi. Selain itu, gereja yang kelihatan (visible church) dalam PL dan PB merupakan komunitas perjanjian yang melaluinya kita menerima injil dan anugerah.

Ketiga, doktrin anugerah dengan mudah memberikan kesan bahwa teologia Reformed hanya mengurusi hal-hal spiritual. Banyak orang dalam lingkungan kita begitu peduli dengan transformasi batin melalui pengertian Kitab Suci yang benar. Namun, sering kali kita mengabaikan dampak fisik dan sosial dari dosa dan keselamatan. Teologia perjanjian memberi kita visi (pandangan) yang jauh lebih luas serta mengagumkan mengenai pengharapan kita sebagai orang Kristen. Dalam PL dan PB, orang percaya memperluas Kerajaan Allah baik secara rohani maupun jasmani. Kita harus mengajarkan Injil Kristus kepada segala bangsa supaya orang diubahkan dalam hal spiritual, tetapi pembaharuan spiritual ini ialah bagi perluasan kerajaan Kristus kepada setiap faset dan kultur di seluruh dunia.

Semua pembahasan di atas menyatakan bahwa teologia perjanjian memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada setiap orang Kristen. Jadi, ketika kita bertanya pada diri sendiri, "Apakah teologia Reformed itu?" kita dapat dengan yakin menjawab, "Teologia Reformed adalah teologia perjanjian."(t/joy)

Diambil dari:
Nama situs: Ligonier
Alamat: https://www.ligonier.org/learn/articles/reformed-theology-covenant-theology/
Judul asli: Reformed Theology is Covenant Theology
Penulis: Richard Pratt Jr.
Tanggal akses: 10 Januari 2018

Memperingati HUT e-Reformed ke-14 dan Hari Reformasi Gereja

Dua hari ini adalah hari yang bersejarah bagi e-Reformed.
Pada tgl 30 Oktober ini e-Reformed berulang tahun yang ke-14, dan besok tgl 31 Oktober adalah Hari Reformasi Gereja. Dalam rangka memperingati kedua hari bersejarah ini, kami membagikan sebuah artikel yang bertujuan untuk menyegarkan kita kembali akan prinsip-prinsip reformed yang dirumuskan oleh Martin Luther di dalam Lima Sola. Berharap artikel ini dapat menjadi berkat dan membangkitkan semangat reformasi bagi kita semua.

Selamat Ulang Tahun e-Reformed yang ke-14! Soli Deo Gloria!

HUT e-Reformed ke-14 dan Hari Reformasi Gereja : Mengingat Lima Sola

Hari ini adalah Hari Ulang Tahun e-Reformed ke-14 dan besok adalah Hari Reformasi Gereja. Kami redaksi e-Reformed mengucap syukur atas penyertaan Tuhan sejak 1517, Martin Luther, John Calvin, dan tokoh-tokoh reformasi lainnya memperjuangkan kebenaran di tengah kesesatan gereja pada masa itu, hingga hari ini perjuangan tersebut masih boleh diperingati sebagai Hari Reformasi Gereja tgl 31 Oktober. Gerakan Reformed inilah yang juga menjadi dasar lahirnya publikasi e-reformed tgl 30 Oktober 1999. selengkapnya...»

PERAYAAN 15 TAHUN SABDA

SABDA adalah Firman-NYA, dan Visi Biblical Computing bagi Indonesia, dan singkatan dari: Software Alkitab, Biblika, Dan Alat-Alat!!
PERAYAAN 15 TAHUN SABDA
(1994 -- 2009)

Merayakan kebaikan Tuhan adalah keharusan bagi orang-orang yang mengasihi Tuhan, demikian juga bagi Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Tahun 1994 adalah tahun istimewa karena walaupun organisasi YLSA belum lahir (akta resmi tahun 1995) tapi benih visi pelayanan YLSA dalam bidang "Biblical Computing" telah diberikan Tuhan kepada pendiri YLSA pada awal tahun itu. Dengan ditandai oleh hadirnya produk pertama pada bulan Oktober 1994, yaitu modul teks digital Alkitab TB dan BIS dari LAI yang dikerjakan untuk proyek OnLine Bible -- maka sejak itu YLSA dengan setia menjalankan visi "Biblical Computing" yang Tuhan taruh dalam hati kami. Tahun 2009 bulan Oktober menjadi peringatan 15 tahun sejak benih visi YLSA itu ditanamkan dan akhirnya menjelma menjadi SABDA, software Alkitab lengkap pertama dalam bahasa Indonesia yang sampai sekarang menjadi alat tercanggih yang sangat berguna untuk mempelajari Alkitab. Puji Tuhan! selengkapnya...»

Welcome Letter Situs SOTeRI


Selamat datang di Situs SOTeRI!

Doa dan harapan kami, bahan-bahan yang terdapat dalam situs ini dapat memberikan wawasan tentang corak pemahaman teologia Reformed yang alkitabiah. Biarlah dengan memiliki pengajaran Alkitab yang benar maka hidup kerohanian kita juga semakin berbuah dan memberikan kemuliaan hanya bagi Tuhan saja.

Soli Deo gloria!

Menyanjung Bavinck: Pria di Balik 'Dogmatika Reformed'

Penulis_artikel: 
Carlton Wynne
Tanggal_artikel: 
23 Juli 2021
Isi_artikel: 

Ulasan: 'Bavinck: Sebuah Biografi Kritis' oleh James Eglinton

Saat itu tahun 2006 ketika saya menonton TV proyeksi belakang dengan kualitas tampilan HD pertama saya. Gambar itu menunjukkan sebuah turnamen golf dengan kejernihan yang menakjubkan dan warna yang cemerlang, sampai ke lekuk-lekuk pada bola golf. Meski mengesankan, TV itu besar, berat, tidak praktis, yang sekarang jauh dilampaui oleh model-model selanjutnya.

Membaca biografi James Eglinton tentang seorang teolog Belanda dan neo-Calvinis genius, Herman Bavinck (1854 -- 1921) mengingatkan saya pada pengalaman itu, dengan setidaknya satu perbedaan utama. Bavinck: Sebuah Biografi Kritis dipenuhi dengan warna, kecerahan, dan kontras. Namun, tidak seperti TV HD lama, jilid ini ramping dan kukuh, dan pasti akan menarik perhatian generasi-generasi mendatang.

James Eglinton adalah Dosen Senior Meldrum dalam Teologi Reformed di Universitas Edinburgh. Namun, pada saat ini dia mungkin juga disebut sebagai Dosen Reformed Favorit dalam segala hal tentang Bavinck.

Bagi mereka yang tidak terbiasa dengan aliran literatur yang muncul tentang teolog Reformed terbesar abad terakhir, sebagian besar mengikuti kasus ilmiah Eglinton untuk Bavinck sebagai dogmatis Reformed yang konsisten, sebuah bacaan baru yang secara efektif menggantikan perspektif lama yang secara keliru mendeteksi tanda-tanda ortodoks dan modern yang bertentangan dalam tulisan-tulisan Bavinck. Dengan menelaah kompleksitas latar belakang Bavinck, biografi terbaru ini menunjukkan bahwa selain menyembunyikan masalah teologis, tesis "dua Bavinck" juga memiliki cacat historis dan sosiologis.

Bavinck Orangnya

Herman Bavinck

Namun, itu belum semua, Saudara-saudara. Eglinton menggambarkan biografinya sebagai "kritis" dalam arti bahwa biografinya diambil dari beragam sumber asli (buku harian, surat, surat kabar, dll.) untuk menyajikan kompleksitas kehidupan Bavinck secara akurat dan jujur dalam konteks zamannya. Orang mungkin menambahkan bahwa kata "kritis" juga berlaku untuk cara Eglinton yang dengan cekatan memperbaiki sejumlah kesalahan yang muncul di beberapa model biografi Bavinck yang lebih tua. Saya menghargai pembelajaran, misalnya, bahwa (1) seuntai tradisi "Seceder" Bavinck tidak bertentangan dengan integrasi budaya; (2) dia tidak menghadapi ketidaksetujuan orang tua ketika pergi untuk belajar di Leiden; dan (3) dia dan istrinya, Johanna, adalah pasangan teologis yang cocok.

Jadi, pria macam apa yang Eglinton fokuskan saat dia menyajikan apa yang mendorongnya untuk dikatakan melalui metodenya? Penulis menjawab, "Saya menyajikan subjek saya sebagai seorang Eropa modern, seorang Calvinis ortodoks, dan seorang ilmuwan" (xxii).

Kumpulan dalam lima bagian penting yang diuraikan ("Asal", "Mahasiswa", "Pendeta", "Profesor di Kampen", dan "Profesor di Amsterdam"), segmen-segmen kronologis kehidupan dan pekerjaan Bavinck ini mengungkapkan dia sebagai seorang teolog Reformed yang dalam berbagai cara menghadapi, mengembangkan di dalam, dan bergumul dengan lanskap yang berubah dari dunia modern akhir. Tema dasar ini terlalu rumit disajikan dalam buku untuk menangkap dalam ulasan singkat. Akan tetapi, secara umum adalah masuk akal untuk mengatakan bahwa narasi tentang pria ortodoks ini pada zamannya membuka lensa pada skala yang lebih kecil dan lebih besar, masing-masing membawa pelajaran untuk hari ini.

Dibentuk Melalui Penderitaan

Dalam skala yang lebih kecil, Eglinton memperbesar perjuangan Bavinck untuk menghubungkan tradisi Belandanya yang relatif terisolasi dengan bakat intelektualnya yang kuat dan ambisi teologisnya yang luas. Kadang-kadang, yang pertama tidak memuaskannya, dibuktikan dengan keputusannya untuk meninggalkan Sekolah Teologi di Kampen setelah satu tahun belajar di bawah bimbingan para sarjana modernis di Universitas Leiden.

Pada waktu lain, tradisinya tidak berpihak padanya. Misalnya, Bavinck mendekam selama satu dekade berusaha menikahi kekasih remajanya, tetapi malah ditolak oleh ayah gadis itu pada setiap kesempatan. Bertahun-tahun kemudian, setelah kembali ke Kampen untuk mengajar, Bavinck menghadapi konflik tak berujung di dalam fakultas atas penolakan lembaga itu terhadap akademi ilmiah, khususnya prospek kesepakatan kerja sama dengan Free University Abraham Kuyper di Amsterdam.

Dari kisah cintanya yang sulit dengan seorang gadis kampung halaman, hingga perkenalannya dengan minuman keras di Leiden, hingga frustrasinya di dalam fakultas seminari, Bavinck tiba-tiba menjadi terhubung dengan pembaca. Bahkan, para pendeta yang bekerja dalam kesendirian atau yang hidupnya tetap keras kepala tidak sejalan dengan lingkungan mereka akan beresonansi dengan "pengalaman yang sangat kesepian" Bavinck (121) selama penggembalaan singkatnya di Franeker.

Setiap pergumulan ini mengajarkan kita bahwa banyak tulisan Bavinck, termasuk magnum opus-nya, empat jilid "Reformed Dogmatics", tidak jatuh dari langit, tetapi ditempa oleh seorang pria sejati yang menanggung salib di hadapan Juru Selamatnya.

Teologi yang berpusat pada Allah

Akan tetapi, Eglinton juga mencoba untuk mengambil gambar layar lebar tentang pengharapan Bavinck yang gigih untuk melihat teologi Reformed bertemu dengan dan mengubah gerakan dan gagasan pada zamannya. Bertentangan dengan Friedrich Schleiermacher -- juga seluruh tradisi modernis, dalam hal ini -- Bavinck percaya bahwa hanya ketika teologi benar-benar berasal dari Allah dan melekat pada Allah, dan bukan manusia, itu akan memenuhi visi neo-Calvinis untuk membawa ketuhanan Kristus untuk menanggung setiap perjuangan manusia.

Komitmen terhadap apa yang Eglinton sebut sebagai "sifat teologi yang independen" (138) ini memberikan koreksi yang bermanfaat bagi mereka pada zaman kita yang tergoda untuk mengumpulkan bukti yang mendukung argumen mereka untuk Kekristenan berdasarkan intuisi modern yang sekilas secara formal beresonansi dengan pandangan dunia Kristen. Secara sederhana, poin referensi duniawi mungkin berguna untuk memulai percakapan, tetapi bagi Bavinck, seperti yang Eglinton tunjukkan mengenai dia, pemahaman Kristen yang sejati tentang dunia harus diperoleh dengan baik dan jelas dari wahyu penebusan Allah dalam Kitab Suci.

banyak tulisan Bavinck, termasuk magnum opus-nya, empat jilid "Reformed Dogmatics", tidak jatuh dari langit, tetapi ditempa oleh seorang pria sejati yang menanggung salib di hadapan Juru Selamatnya.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Seperti yang ditulis Bavinck kepada seorang teman yang mendalami kritik modern terhadap Kitab Suci, "Inilah perbedaan antara Anda dan saya ... Anda ingin, melalui dan setelah penelitian, mencapai sudut pandang ini (yaitu, penilaian atas Kitab Suci mencapai sebuah pengetahuan berdasarkan pengamatan bukan pemahaman); Saya bergerak maju dari itu (yaitu, pandangan Kitab Suci menegaskan apriori) dan terus meneliti" (139).

Namun, kesetiaan Bavinck terhadap prinsip-prinsip Reformed seperti itu tampaknya sedikit melemah pada kemudian hari. Dengan munculnya ateisme militan Friedrich Nietzsche, Eglinton mencatat, Bavinck di depan umum mendukung "gagasan umum Kekristenan" (242) daripada Reformed Calvinisme yang spesifik.

Apa yang menyebabkan perubahan strategis ini? Intimidasi oleh besarnya tugas? Kekecewaan atas prospek Calvinisme yang saat itu tampak suram? Sementara Eglinton memberikan petunjuk penjelasan, mungkin grup inti sarjana Bavinck yang berkembang akan menyelidiki pertanyaan ini secara lebih mendalam.

Kata terakhir tentang karya seni untuk sampul bukunya: itu adalah potret Bavinck yang dilukis oleh teman Eglinton dan rekan teolog Oliver Crisp. Wajahnya termenung, mata tertutup, menunjukkan perhatian yang mendalam tentang kebesaran Allah Tritunggal dan keagungan-Nya yang dimasyhurkan di seluruh bumi.

Eglinton telah mengelaborasi gambar itu dengan menghadirkan seorang pria yang di sepanjang hidupnya yang panjang dan menarik, memiliki tujuan untuk mengagungkan kemuliaan Tuhan di dalam dan melalui segala sesuatu. Semoga para pembacanya juga memiliki tujuan ini untuk hidup mereka sendiri, dan suatu hari melihatnya terwujud dalam warna-warna cerah dan kejelasan pada akhir zaman. (t/Jing-Jing)

Sumber Artikel: 
Diterjemahkan dari:
Nama situs : The Gospel Coalition
Alamat situs : https://www.thegospelcoalition.org/reviews/bavinck-critical-biography/
Judul asli situs : Becoming Bavinck: The Man Behind 'Reformed Dogmatics'
Penulis artikel : Carlton Wynne

(Seluruh) Hukum Taurat Perjanjian Lama dalam Satu Kata

Penulis_artikel: 
Josh Philpot
Tanggal_artikel: 
23 Juli 2021
Isi_artikel: 

Jika Anda harus meringkas hukum Taurat Perjanjian Lama dalam satu kata kerja, apakah itu? "Taat," mungkin? Atau mungkin "takut"? Jujur saja. Jangan berbohong. Jawaban Anda atas pertanyaan ini dapat menunjukkan bagaimana pemahaman Anda tentang Perjanjian Lama.

Tentu saja, siapa pun yang akrab dengan Perjanjian Baru sudah tahu jawabannya (lih. Mrk. 12:28-33). Kata kerja yang Anda cari adalah "kasih." Dan, bagian yang sedang kita bicarakan adalah Ulangan 6:4-5, Shema (Bahasa Ibrani yang berarti "Dengar!")

"Dengarlah, hai Israel: TUHAN adalah Allah kita, TUHAN adalah satu. Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu." (Ul. 6:4-5, AYT)

Beberapa teks Perjanjian Lama lebih kaya dengan signifikansi dan makna daripada Shema, yang adalah semacam janji kesetiaan bagi orang Israel. Menurut Yesus, ini adalah "perintah yang terbesar dan yang pertama" (Mat. 22:38, AYT). Jadi, mari kita periksa dalam konteks aslinya, dan kemudian meneliti mengapa perintah ini dipilih sebagai yang terbesar.

Cara Baru untuk Menggambarkan Pengabdian

Taurat

Pasal pembukaan kitab Ulangan menceritakan sifat keras kepala Israel di padang gurun dan penolakan untuk memasuki negeri itu. Namun, Musa mewarnai peristiwa-peristiwa ini dengan sebuah peringatan: generasi padang gurun keras kepala pada masa lalu, maka generasi baru ini -- yang hampir memasuki Tanah Perjanjian -- harus belajar untuk taat dan percaya pada ketetapan Allah yang penuh kasih (Ul.4).

Namun, seperti apakah ketaatan yang menghormati Allah itu?

Sampai Ulangan 6:4-5, "takut akan Yahweh" telah menjadi nasihat dan dasar utama untuk berkat (Ulangan 4:10; 5:29; 6:2), dengan "takut" berarti sesuatu seperti rasa hormat yang mendalam. Akan tetapi, pergeseran terjadi di sini, dalam Shema, di mana kasih adalah perintah utama. "Kasihilah Yahweh, Allahmu" adalah pertama kalinya komitmen kepada Yahweh diungkapkan dalam istilah seperti itu.

Bahkan sebelum Shema, Yahweh telah menjanjikan kasih dan kesetiaan yang teguh kepada mereka yang mengasihi-Nya dan menuruti perintah-Nya (lih. Kel.20:6; Ul.5:10). Namun, mengingat masalah Israel dalam mematuhi perjanjian (Ul. 1:34-46) dan pengampunan Allah yang penuh kemurahan dan belas kasih (Ul. 4:29-31), umat perjanjian sekarang secara eksplisit diperintahkan untuk membalas kasih perjanjian Yahweh. Mereka harus mengasihi-Nya karena Dia lebih dahulu mengasihi mereka.

Kasih yang diharapkan oleh Musa adalah pengabdian yang total dan tak tertandingi kepada Yahweh. Ini tidak bertentangan dengan rasa takut atau pelayanan, dengan cara apa pun (lihat Ul. 6:13). Juga, itu tidak menggantikan perintah-perintah Yahweh.

Ulangan 6:5, kita harus ingat, mengikuti Sepuluh Perintah (Ulangan 5) dan merupakan eksposisi teologis dari teks itu (lih. Mat. 22:40). Bahkan, dalam konteks aslinya, kasih dilihat sebagai ringkasan dari Sepuluh Perintah Allah.

Mengapa Kasih Adalah Perintah Terbesar

Yesus dengan jelas mengatakan kepada kita bahwa "kasih" adalah perintah hukum terbesar, dalam keputusan seseorang baik kepada Allah maupun sesama (Mat. 22:34-40). Bahkan, ahli Taurat yang membicarakan topik ini dengan Yesus tampaknya setuju (Markus 12:32-33), yang menunjukkan bahwa ini bukanlah ide baru. "Kasih" adalah perintah pertama dan terbesar. Bukan "percaya" atau "takut" atau "taat" (walaupun hal-hal itu secara alami mengikuti dari kasih), tetapi kasih dalam arti perjanjian.

Mengapa? Dua alasan.

1. Karena kasih perjanjian lebih dari sekadar emosi.

Ketika orang Israel mengucapkan Shema, mereka menyatakan pengabdian mereka yang total, tidak terbagi, dan tanpa syarat kepada Yahweh. Kasih bukan hanya perasaan; itu adalah prinsip tindakan. Kasih sejati kepada Allah dimulai di "hati" (yaitu, pikiran, emosi, dan kehendak), dan kemudian bergerak ke luar dalam lingkaran konsentris ke seluruh orang ("segenap jiwamu") berakhir dengan semua sumber daya yang tersedia ("semua kekuatanmu"). Kasih diekspresikan dalam kesetiaan dalam setiap konteks kehidupan, dimulai dari keluarga (Ulangan 6:7) dan meluas ke ruang publik (Ulangan 6:8-9).

Ketika orang Israel tergoda untuk berbuat dosa terhadap Yahweh dengan menyerahkan diri mereka kepada dewa-dewa lain, Shema memberikan pengingat terus-menerus untuk mengabdikan diri kepada Yahweh saja. Itulah pengertian alkitabiah tentang kasih: bukan keputusan yang menyenangkan, tetapi komitmen perjanjian, mengusahakan niat baik kepada yang lain meskipun mengorbankan keinginannya sendiri.

Standar alkitabiah diilustrasikan dengan baik dalam pernikahan, karena ikatan antara suami dan istri tidak ditunjukkan oleh gairah romantis, tetapi dengan tindakan yang berakar pada perjanjian yang mengusahakan kebahagiaan pasangan -- bahkan ketika pengorbanan diperlukan.

2. Karena kasih perjanjian menangkap esensi tentang apa arti sebenarnya dari "takut".

"Takut akan Yahweh" tetap menjadi perintah utama di seluruh Perjanjian Lama (lih. Ams. 1:7), tetapi perintah kasih yang menyeluruh membantu kita memahami apa arti sebenarnya dari rasa takut ini. Bukan takut akan hal yang tidak diketahui, atau takut akan kekuasaan Yahweh (walaupun itu benar dalam satu hal; misalnya, Mazmur 119:120). Sebaliknya, rasa takut dalam arti perjanjian adalah kasih yang membangkitkan dan penuh rasa takjub kepada Allah yang menuntun pada ketaatan dan kehidupan yang penuh berkat (Ul. 6:1-3).

Apa yang diharapkan oleh Musa dengan rasa takut yang didefinisikan oleh kasih bukanlah tekuk lutut tetapi ketaatan; bukan ketakutan, tetapi penyembahan. Itu bukan melarikan diri dari hadirat Yahweh, tetapi mendekat kepada-Nya, dan rindu untuk melakukan kehendak-Nya (lih. Mzm. 130:4; 2 Kor. 7:1; Yak. 4:8).

Tetap Yang Terbesar

"Kasih" adalah perintah pertama dan terbesar.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Yesus berkata dalam Khotbah di Bukit bahwa Dia datang untuk menggenapi Hukum Taurat, bukan meniadakannya (Mat. 5:17). Jadi. jika kasih adalah pemenuhan Hukum Taurat Perjanjian Lama, maka kasih Kristen dalam Perjanjian Baru sama dengan padanannya dalam Perjanjian Lama.

Kasih masih merupakan ciri khas dari apa artinya menjadi murid Kristus, yang adalah gambar Allah yang tidak kelihatan (Yoh. 13:34-35; Kol. 1:15). Kasih melibatkan tindakan penyerahan dan kepatuhan yang hormat terhadap perintah-perintah-Nya. "Jika kamu mengasihi Aku," kata Yesus, "kamu akan menuruti semua perintah-Ku" (Yohanes 14:15, AYT).

Hukum Taurat Perjanjian Lama diringkas dalam satu kata -- dan beberapa hal tidak pernah berubah. Bahkan dalam Perjanjian Baru, yang terbesar dari semua ini tetap adalah kasih (1Kor. 13:13; Kol. 3:14). (t/Jing-Jing)

Sumber Artikel: 
Diterjemahkan dari:
Nama situs : The Gospel Coalition
Alamat situs : https://www.thegospelcoalition.org/article/old-testament-one-word/
Judul asli situs : The (Whole) Old Testament Law in One Word
Penulis artikel : Josh Philpot

Komentar


Syndicate content