Besarlah Allahku

Penulis_artikel: 
Haryono Tafianoto
Tanggal_artikel: 
20 Juli 2018
Isi_artikel: 

Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dari keilahian-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. (Roma 1:19-20)

Mengunjungi berbagai wilayah di Nusantara adalah salah satu kegiatan yang paling menarik bagi sebagian orang. Melihat keindahan budaya, dan yang terutama, alam Nusantara yang tidak ada bandingannya adalah pengalaman yang tak ternilai. Banyak wisatawan yang sengaja bangun pagi-pagi buta untuk melihat fajar di Kelimutu atau Bromo. Atau, berjam-jam berkendaraan melewati jalan yang rusak untuk menuju Kiluan. Atau, menempuh perjalanan jauh, termasuk menggunakan kapal berjam-jam menyeberang lautan demi mencapai Derawan. Juga, menginap di kapal beberapa malam demi menikmati berbagai kepulauan di sekitar Flores dan Komodo. Tak tertinggal, menelusuri Samosir untuk menikmati keindahan alam di sekitar Danau Toba. Lalu, pengalaman apa yang mereka dapatkan dari perjalanan tersebut?

Mungkin ada yang tidak bisa menikmati perjalanan demikian. Namun, bagi yang melakukannya, paling sedikit ada dua respons yang diberikan. Yang pertama adalah mungkin seperti, “Wow! Indah!” “Keren!” “Luar biasa!” Tidak berhenti di situ, karena dianggap sebagai situs-situs instagrammable, banyak yang foto selfie untuk dipajang di akun sosmed mereka. Setelah puas dengan hasilnya, mereka pun beralih ke objek wisata lainnya sebagai target selfie. Mungkin wisatawan yang lebih sophisticated akan memandang sejenak dan mempelajari apa yang terjadi dengan alam sekitarnya untuk menambah wawasan.

Namun, respons yang satu lagi adalah kekaguman yang tak terkatakan. Bukan hanya takjub dengan pemandangan alam yang ada, rasa takjub itu justru ditujukan kepada Sang Seniman Agung, yaitu Allah Pencipta. Seperti lagu Besarlah Allahku, refrainnya berbunyi, “Maka jiwaku pun memuji-Mu, sungguh besar Kau Allahku.” Bukankah ketika melihat sebuah hasil karya yang sangat indah, sang seniman akan dikagumi lebih daripada karyanya? Demikianlah nyanyian yang muncul ketika melihat keindahan alam.

Sebagai orang yang mengaku percaya kepada Allah pencipta langit dan bumi, hal pertama yang muncul di benak kita seharusnya kekaguman kepada Allah ketika melihat ciptaan-Nya. Atau mungkin kita juga ber-selfie ria mengikuti hip kekinian? Jadi apa yang Anda pikirkan ketika melihat alam Nusantara nan indah? Semoga rasa kagum kita tidak berhenti hanya pada ciptaan-Nya saja, tapi melihat kemuliaan Sang Pencipta di dalamnya. How great Thou art! Soli Deo Gloria.

Sumber Artikel: 
Diambil dari:
Nama situs : Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia - Pillar
Alamat situs : http://www.buletinpillar.org/renungan/besarlah-allahku
Judul asli artikel : Besarlah Allahku
Penulis : Haryono Tafianoto
Tanggal akses : 18 Juli 2018

Julukan

Penulis_artikel: 
Haryono Tafianoto
Tanggal_artikel: 
18 Juli 2018
Isi_artikel: 

Salah satu bentuk perundungan yang sering terjadi di sekolah adalah memanggil seseorang dengan julukan atau istilah tertentu. Sadar atau tidak sadar, kita pasti pernah melakukannya. Biasanya tindakan ini, mengejek atau melabel, dianggap sebagai candaan, bukan satu hal yang serius. Namun, bisa juga dengan sengaja hinaan diberikan untuk merendahkan seseorang. Tidak jarang, orang-orang dewasa juga melakukannya baik terhadap rekannya maupun terhadap yang lebih muda darinya. Ironisnya, ini juga terjadi di lingkungan sekolah Kristen, atau bahkan di gereja.

Jika kita melihat pada Kisah Penciptaan, Kejadian 1:27, manusia dicipta di dalam gambar rupa Allah, imago Dei. Manusia sebagai representasi Allah adalah wakil-Nya atas seluruh ciptaan, dan membawa gambar Allah di dalam dirinya ke mana pun ia pergi. Sebagai gambar Allah, kita memiliki sifat-sifat Allah, di antaranya kekudusan, kasih, kebaikan, dan keadilan. Dalam menjalankan mandat budaya dan mandat Injil, manusia dipanggil memancarkan sifat- sifat Allah.

Lalu apa hubungannya imago Dei dengan menjuluki seseorang? Objek yang sedang dipermainkan adalah gambar Allah, ciptaan tertinggi yang menjadi wakil Allah untuk menaklukkan dan menguasai seluruh ciptaan (Kej. 1:28). Bayangkan jika Anda menghina penguasa sebuah negara. Tentunya akan ada konsekuensi hukum yang Anda alami. Namun, sekarang yang memberi mandat adalah Allah sendiri, dan yang dihina adalah gambar-Nya! Sebagaimana penghinaan terhadap perwakilan sebuah negara dianggap sebagai penghinaan terhadap negara tersebut, maka julukan yang ditujukan pada wakil Allah adalah penghinaan terhadap Allah!

Sebagaimana disebut di atas, manusia dipanggil untuk memancarkan sifat-sifat Allah, maka seharusnya yang kita pancarkan bukanlah ejekan, hinaan, dan pelabelan untuk merendahkan dan mem-bully sesama kita. Namun, kasih, kebaikan, kekudusan, dan keadilanlah yang seharusnya menjadi refleksi dari tindakan dan ucapan kita. Sudah pasti ejekan tidak memancarkan sifat Allah, bukan?

Ketika menyaksikan tindakan perundungan terjadi, sebagai gambar Allah, kita tidak bisa hanya diam saja. Sebagai pernyataan kasih dan keadilan, kita patut membela sang korban dan menegur si pelaku. Bukankah itu yang Yesus Kristus, sebagai gambar Allah yang sejati, lakukan, membela mereka yang tertindas dengan kasih. Ia bahkan menyatakan kasih dan keadilan Allah Bapa di atas kayu salib untuk melepaskan kita dari cengkraman penindasan si jahat.

Mengikuti teladan Yesus Kristus, marilah kita menghidupi natur kita yang seharusnya sebagai gambar dan rupa Allah. Bagaimana Anda akan memperlakukan sesamamu, gambar dan rupa Allah, mulai hari ini? Kiranya cinta kasih Allah terpancar dari hidup kita semua. Soli Deo gloria.

Sumber Artikel: 
Diambil dari:
Nama situs : Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia - Pillar
Alamat situs : http://www.buletinpillar.org/renungan/julukan
Judul asli artikel : Julukan
Penulis : Haryono Tafianoto
Tanggal akses : 18 Juli 2018

Progsif "Roh Kudus, Malaikat, dan Roh Jahat"

Oleh: N. Risanti

Senin, 25 Juni 2018, saya dan beberapa teman mengikuti acara progsif (program intensif) bertema Roh Kudus, Malaikat, dan Roh Jahat yang diadakan oleh STRIS (Sekolah Tinggi Reformed Injili Surakarta) di Hotel Adiwangsa. Progsif yang berlangsung sekitar 2,5 jam ini dibawakan oleh Pendeta Jimmy Pardede dari Jakarta, yang juga adalah dosen Perjanjian Lama. Berikut adalah beberapa hal yang saya dapatkan dari acara progsif tersebut. selengkapnya...»

Teologia Reformed adalah Teologia Perjanjian

Penulis_artikel: 
Richard Pratt Jr.
Tanggal_artikel: 
10 Januari 2018
Isi_artikel: 

Teologia Reformed adalah Teologia Perjanjian

Teologia Reformed sering kali dikaitkan dengan "teologia perjanjian". Jika Anda menyimak baik-baik, kerap akan Anda dengar para pendeta dan pengajar menyebut diri mereka (penganut aliran) "Reformed dan perjanjian." Istilah Reformed dan perjanjian secara umum digunakan berbarengan sehingga memaksa kita memahami mengapa keduanya terkait.

Teologia perjanjian merujuk pada salah satu kepercayaan mendasar yang dianut oleh Calvinis mengenai Alkitab. Semua orang Protestan yang tetap setia pada warisan (doktrin) mereka mengakui Sola Scriptura, yaitu keyakinan bahwa Alkitab merupakan otoritas tertinggi dan tak perlu diragukan. Akan tetapi, teologia perjanjian membedakan pandangan Reformed terhadap Alkitab dari pandangan aliran Protestan lain, dengan menekankan bahwa perjanjian ilahi mempersatukan semua ajaran dalam seluruh Alkitab.

Perkembangan yang lebih awal dalam Reformed, pengertian perjanjian Kitab Suci mencapai titik krusial pada abad ketujuh belas di Inggris dengan adanya Pengakuan Iman Westminster (1646), Deklarasi Savoy (1658), Pengakuan Gereja Baptis London 1689, masing-masing mewakili penganut Calvinist berbahasa Inggris dari kelompok yang berbeda. Dengan hanya sedikit perbedaan di antara mereka, dokumen-dokumen tersebut mendedikasikan satu bab utuh untuk membahas bagaimana perjanjian Allah dengan umat manusia menyingkapkan kesatuan seluruh pengajaran Alkitab.

Misalnya, Pengakuan Iman Westminster berbicara mengenai turunnya Allah untuk mewahyukan Diri kepada manusia dengan jalan perjanjian. Hal tersebut kemudian membagi seluruh sejarah dalam Alkitab menjadi hanya dua perjanjian: "Perjanjian kerja" dalam Adam dan "perjanjian anugrah" dalam Kristus. Perjanjian kerja merupakan kesepakatan Allah dengan Adam dan Hawa sebelum mereka jatuh dalam dosa. Perjanjian anugrah menguasai seluruh kisah Alkitab selebihnya. Menurut pandangan ini, semua tahap dalam perjanjian anugerah adalah sama secara substansi. Perbedaannya hanyalah bagaimana Allah menyelenggarakan satu perjanjian anugerah tersebut dalam Kristus dengan berbagai cara sepanjang sejarah Alkitab.

Selama itu juga, sejumlah teolog Reformed yang terkemudian menegaskan kesatuan perjanjian dalam Kitab Suci dengan menghubungkan perjanjian-perjanjian Alkitabiah dengan "Kerajaan Allah", sebagaiamana Perjanjian Baru menyebutnya. Yesus menunjukkan pentingnya Kerajaan Allah dalam kata-kata pembuka Doa Bapa Kami: "Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah Nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga" (Wahyu 11:15, pada akhir zaman, "Seluruh kerajaan dunia (akan) menjadi milik Tuhan kita dan Kristus, dan Ia akan memerintah selama-lamanya."

Penemuan arkeologis terbaru menunjukkan bagaimana perjanjian Allah terkait dengan kerajaan-Nya di bumi. Pada zaman alkitab, banyak raja-raja negeri sekeliling Israel menyelenggarakan ekspansi kerajaan mereka melalui perjanjian internasional. Para ahli biblika menemukan kesamaan yang mengagumkan antara kesepakatan kuno ini dan perjanjian alkitab dengan Adam, Nuh, Abraham, Musa, Daud, dan Kristus. Kesamaan ini menyatakan bahwa Kitab Suci menghadirkan perjanjian sebagai cara Allah memperluas kerajaan-Nya di bumi.

Perjanjian Alkitab menekankan apa yang dibutuhkan pada setiap tahap Kerajaan Allah dengan mengembangkan prinsip perjanjian sebelumnya. Dimulai dengan Adam, Allah menyatakan Diri-Nya sebagai raja, peran umat manusia, dan tujuan akhir yang telah Ia rencakanakan bagi bumi (Kejadian 6, 9). Allah kemudian mengembangkan perjanjian sebelumnya dengan menjanjikan bahwa keturunan Abraham akan menjadi besar dan menyebarkan berkat-berkat Allah kepada bangsa-bangsa lain (Kejadian 15, 17). Di atas perjanjian-perjanjian tersebut, Allah memberkati Israel dengan memberikan hukum-Nya pada zaman Musa (Keluaran 19-24). Setiap perjanjian sebelumnya terus diperjelas selagi Allah mendirikan kerajaan Daud serta menjanjikan bahwa salah satu dari anaknya akan memerintah dengan keadilan atas Israel dan seluruh dunia (Mazmur 72; 89; 132). Semua perjanjian yang diadakan pada era Perjanjian Lama kemudian diteruskan dan digenapi dalam Kristus (Yeremia 31:31; 2 Korintus 1:19-20). Sebagai Anak Daud yang besar, kehidupan, kematian, kebangkitan, kenaikan, dan kedatangan Kristus yang kedua menjamin kepastian transformasi seluruh bumi menjadi Kerajaan Allah yang mulia.

Banyak orang Kristen Injili saat ini kesulitan untuk percaya bahwa segala sesuatu dalam Kitab Suci setelah Kejadian 3:15 ialah berkenaan dengan Kerajaan Allah yang dikelola melalui penyingkapan perjanjian anugerah. Mayoritas kaum Injili Amerika memandang Kitab Suci terbagi menjadi periode-periode waktu terpisah yang masing-masing diatur oleh prinsip teologis yang berbeda secara substansi. Bila orang Kristen mengikuti pandangan populer terhadap Alkitab ini, mereka akan segera terpengaruh bahwa perjanjian yang baru di zaman kita bertentangan dengan banyak aspek Perjanjian Lama.

Setidaknya ada tiga isu yang kerap diangkat: perbuatan dan anugerah, iman jemaat dan iman pribadi, serta perkara duniawi dan rohani. Pertama, banyak kaum injili meyakini bahwa penekanan Perjanjian Lama akan perbuatan baik tidak sesuai dengan keselamatan oleh anugerah melalui iman dalam Kristus. Kedua, hubungan jemaah Israel sebagai satu kesatuan komunitas dengan Allah tampaknya telah diganti dengan fokus pada hubungan tiap individu secara pribadi dengan Allah. Ketiga, banyak orang injili percaya bahwa panggilan Perjanjian Lama untuk mendirikan kerajaan Allah secara fisik di bumi kontras dengan penekanan Perjanjian Baru terhadap kerajaan rohani dalam Kristus.

Teologia perjanjian memampukan para teolog Reformed untuk melihat bahwa sesungguhnya Perjanjian Baru (PB) dan Perjanjian Lama (PL) sangat serupa dalam ketiga hal ini. Pertama, pandangan bahwa keselamatan oleh anugerah melalui iman dalam Kristus merupakan satu-satunya jalan keselamatan dalam PB maupun PL. Seluruh Alkitab menuntut perbuatan baik karena iman yang menyelamatkan selalu menghasilkan buah ketaatan kepada Allah. Kedua, teologia perjanjian membantu kita melihat bahwa baik PL maupun PB berbicara tentang relasi dengan Allah secara pribadi dan korporat. Seluruh perjanjian Allah meliputi kedua tataran tersebut. Ketiga, teologia perjanjian menunjukkan bahwa Kerajaan Allah sejak semula senantiasa bersifat rohani sekaligus berada di bumi. PL dan PB berfokus pada pelayanan kita dalam kedua ranah tersebut. Dalam hal-hal itu dan juga yang lain, teologia perjanjian memiliki pandangan yang lebih luas bagi kaum injili.

Lebih lagi, kita mendapati bahwa teologia Reformed telah dipersempit menjadi sesuatu yang sering kita sebut doktrin anugerah - kepercayaan terkenal seperti kerusakan total, pemilihan tak bersyarat, penebusan terbatas, anugerah yang tidak dapat ditolak, dan ketekunan orang kudus. Tentu kita harus menghargai nilai kebenaran Kitab Suci ini, tetapi, ketika gagal menekankan kerangka pikir teologia perjanjian yang lebih luas, pengertian kita tentang Alkitab akan segera jatuh ke dalam tiga area ini.

Pertama, doktrin anugerah tanpa teologia perjanjian telah membuat sebagian orang meyakini bahwa teologia Reformed terutama mengajarkan bahwa anugerah Allah menopang kehidupan orang Kristen sejak awal hingga akhir. Tentu saja hal ini benar. Namun, perjanjian dalam PL dan PB secara konsisten mengajarkan bahwa Allah selalu menuntut usaha sepenuh hati dari umat-Nya sebagai respon terhadap anugerah-Nya, dan bahwa Ia akan memberikan upah bagi ketaatan dan menghukum ketidaktaatan.

Kedua, terlepas dari teologia perjanjian, banyak orang dalam lingkaran kita tampaknya berpikir bahwa teologia kita hanyalah tentang mencari cara-cara Reformed yang unik bagi individu untuk meningkatkan hubungan mereka dengan Allah. Pada zaman kita, sejumlah jalan menuju kekudusan dan saat teduh pribadi telah dianggap fitur sentral dalam teologia Reformed. Padahal, teologia perjanjian juga menekankan relasi komunal kita dengan Allah, sama pentingnya seperti nilai seorang individu dalam Alkitab. Tidak ada perjanjian dalam Alkitab yang dibuat dengan satu orang saja. Perjanjian-perjanjian tersebut juga melibatkan relasi yang dibangun Allah dengan sekelompok orang. Karena alasan ini, kedua perjanjian mengajarkan bahwa keluarga umat percaya merupakan komunitas perjanjian yang di dalamnya anugerah Allah diteruskan dari generasi ke generasi. Selain itu, gereja yang kelihatan (visible church) dalam PL dan PB merupakan komunitas perjanjian yang melaluinya kita menerima injil dan anugerah.

Ketiga, doktrin anugerah dengan mudah memberikan kesan bahwa teologia Reformed hanya mengurusi hal-hal spiritual. Banyak orang dalam lingkungan kita begitu peduli dengan transformasi batin melalui pengertian Kitab Suci yang benar. Namun, sering kali kita mengabaikan dampak fisik dan sosial dari dosa dan keselamatan. Teologia perjanjian memberi kita visi (pandangan) yang jauh lebih luas serta mengagumkan mengenai pengharapan kita sebagai orang Kristen. Dalam PL dan PB, orang percaya memperluas Kerajaan Allah baik secara rohani maupun jasmani. Kita harus mengajarkan Injil Kristus kepada segala bangsa supaya orang diubahkan dalam hal spiritual, tetapi pembaharuan spiritual ini ialah bagi perluasan kerajaan Kristus kepada setiap faset dan kultur di seluruh dunia.

Semua pembahasan di atas menyatakan bahwa teologia perjanjian memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada setiap orang Kristen. Jadi, ketika kita bertanya pada diri sendiri, "Apakah teologia Reformed itu?" kita dapat dengan yakin menjawab, "Teologia Reformed adalah teologia perjanjian."(t/joy)

Diambil dari:
Nama situs: Ligonier
Alamat: https://www.ligonier.org/learn/articles/reformed-theology-covenant-theology/
Judul asli: Reformed Theology is Covenant Theology
Penulis: Richard Pratt Jr.
Tanggal akses: 10 Januari 2018

Memperingati HUT e-Reformed ke-14 dan Hari Reformasi Gereja

Dua hari ini adalah hari yang bersejarah bagi e-Reformed.
Pada tgl 30 Oktober ini e-Reformed berulang tahun yang ke-14, dan besok tgl 31 Oktober adalah Hari Reformasi Gereja. Dalam rangka memperingati kedua hari bersejarah ini, kami membagikan sebuah artikel yang bertujuan untuk menyegarkan kita kembali akan prinsip-prinsip reformed yang dirumuskan oleh Martin Luther di dalam Lima Sola. Berharap artikel ini dapat menjadi berkat dan membangkitkan semangat reformasi bagi kita semua.

Selamat Ulang Tahun e-Reformed yang ke-14! Soli Deo Gloria!

HUT e-Reformed ke-14 dan Hari Reformasi Gereja : Mengingat Lima Sola

Hari ini adalah Hari Ulang Tahun e-Reformed ke-14 dan besok adalah Hari Reformasi Gereja. Kami redaksi e-Reformed mengucap syukur atas penyertaan Tuhan sejak 1517, Martin Luther, John Calvin, dan tokoh-tokoh reformasi lainnya memperjuangkan kebenaran di tengah kesesatan gereja pada masa itu, hingga hari ini perjuangan tersebut masih boleh diperingati sebagai Hari Reformasi Gereja tgl 31 Oktober. Gerakan Reformed inilah yang juga menjadi dasar lahirnya publikasi e-reformed tgl 30 Oktober 1999. selengkapnya...»

PERAYAAN 15 TAHUN SABDA

SABDA adalah Firman-NYA, dan Visi Biblical Computing bagi Indonesia, dan singkatan dari: Software Alkitab, Biblika, Dan Alat-Alat!!
PERAYAAN 15 TAHUN SABDA
(1994 -- 2009)

Merayakan kebaikan Tuhan adalah keharusan bagi orang-orang yang mengasihi Tuhan, demikian juga bagi Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Tahun 1994 adalah tahun istimewa karena walaupun organisasi YLSA belum lahir (akta resmi tahun 1995) tapi benih visi pelayanan YLSA dalam bidang "Biblical Computing" telah diberikan Tuhan kepada pendiri YLSA pada awal tahun itu. Dengan ditandai oleh hadirnya produk pertama pada bulan Oktober 1994, yaitu modul teks digital Alkitab TB dan BIS dari LAI yang dikerjakan untuk proyek OnLine Bible -- maka sejak itu YLSA dengan setia menjalankan visi "Biblical Computing" yang Tuhan taruh dalam hati kami. Tahun 2009 bulan Oktober menjadi peringatan 15 tahun sejak benih visi YLSA itu ditanamkan dan akhirnya menjelma menjadi SABDA, software Alkitab lengkap pertama dalam bahasa Indonesia yang sampai sekarang menjadi alat tercanggih yang sangat berguna untuk mempelajari Alkitab. Puji Tuhan! selengkapnya...»

Welcome Letter Situs SOTeRI


Selamat datang di Situs SOTeRI!

Doa dan harapan kami, bahan-bahan yang terdapat dalam situs ini dapat memberikan wawasan tentang corak pemahaman teologia Reformed yang alkitabiah. Biarlah dengan memiliki pengajaran Alkitab yang benar maka hidup kerohanian kita juga semakin berbuah dan memberikan kemuliaan hanya bagi Tuhan saja.

Soli Deo gloria!

Memperjuangkan Iman dalam Budaya yang Bingung

Penulis_artikel: 
Justin Dillehay
Tanggal_artikel: 
9 November 2021
Isi_artikel: 

Kita hidup pada masa kebingungan teologis yang besar. Menurut survei State of Theology terbaru dari Ligonier Ministry, 30 persen orang yang mengaku Injili menolak keilahian Kristus, 46 persen percaya bahwa manusia pada dasarnya baik, dan 22 persen berpikir identitas gender adalah "masalah pilihan pribadi."

Mungkin, jika survei bisa dilakukan pada abad yang lalu, kita akan menemukan bahwa memang selalu demikian keadaannya. Namun, budaya kita pasti telah menyuntikkan dosis relativisme dan individualisme yang kuat sehingga orang sulit mengenali otoritas apa pun di atas diri mereka sendiri. Akibatnya, orang lebih memilih iman yang menolak definisi yang jelas dan kekristenan yang kosong dari pesan tertentu.

Semua ini menjadi saat yang tepat untuk merenungkan Yudas 3, ketika saudara tiri Yesus mendesak kita untuk "berjuang sungguh-sungguh untuk iman yang disampaikan sekali untuk selamanya kepada orang-orang kudus." Saya ingin melihat ayat ini dari tiga sudut yang akan memperjelas arti memperjuangkan iman pada zaman kebingungan moral dan teologis.

1. Iman dengan Batasan dan Pesan yang Pasti

memperjuangkan iman

Kata "iman" biasanya merujuk pada tindakan hati yang dengannya kita menaruh kepercayaan kita kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya harapan kita dalam kehidupan dan kematian. Akan tetapi, "iman" tidak mengacu pada tindakan percaya, melainkan pada sesuatu yang diyakini.

Ini menunjukkan bahwa pada abad pertama pun sudah ada kumpulan ajaran yang diakui dan diharapkan semua orang Kristen menganutnya. Yudas dapat mendesak orang-orang Kristen pada tahun 65 M untuk memperjuangkan "iman" dan menganggap mereka mengerti hal yang ia bicarakan. Tidak seperti beberapa orang skeptis modern, Yudas tidak berbicara tentang banyak "Kekristenan". Seperti Paulus, ia percaya bahwa ada "satu iman" (Ef.4:5) dan mereka yang mengajarkan hal yang bertentangan dengan itu tidak hanya menawarkan alternatif yang diakui, tetapi juga memberitakan Injil palsu (Gal.1:6-9). Orang Kristen tidak harus setuju dalam segala hal (lihat Rm.14), tetapi mereka harus setuju dalam beberapa hal (1 Kor.15:3; Gal.1).

Ini juga menunjukkan bahwa meskipun Alkitab adalah buku besar, pengajarannya dapat diringkas secara akurat. Inilah yang dilakukan oleh kredo atau pengakuan iman yang baik. Jika situs web gereja tidak memuat bagian yang memberi tahu saya "Pengakuan Iman Kami", saya enggan mengarahkan orang ke gereja itu. Anda tidak dapat bersaing untuk sesuatu yang tidak dapat Anda definisikan. Iman bukanlah ember kosong bagi Yudas. Iman memiliki isi. Yang menimbulkan pertanyaan, apa yang ada di dalam ember itu?

2. Iman yang Dipenuhi dengan Kebenaran Moral dan Doktrin

Bagi Yudas dan gereja mula-mula, iman mencakup kebenaran moral dan doktrin yang mendasar.

Kebenaran Moral

Pertama, iman mencakup kebenaran moral mendasar tentang dosa dan kebenaran. Memang, Yudas mengajukan permohonan ini justru, "Sebab, orang-orang tertentu telah menyusup tanpa disadari, ... orang-orang tidak beriman yang menyalahgunakan anugerah Allah kita untuk memuaskan nafsu dan menolak satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Kristus Yesus." (ay. 4).

Hidup dalam sensualitas, kemudian menciptakan rasionalisasi teologis merupakan penyangkalan terhadap iman -- dan terhadap Kristus. Dengan menggarisbawahi bahwa pasal ini sangat relevan bagi budaya kita, berhubung beberapa gereja mengibarkan bendera pelangi (lambang gerakan/kampanye LGBTQ - Red.) atas nama kasih Kristiani, Yudas mengutipnya sebagai peringatan nasib Sodom dan Gomora, "yang memuaskan diri dalam dosa seksual dan mengejar nafsu yang tidak wajar," sehingga "telah menanggung hukuman api kekal sebagai contoh." (ay. 7).

Jangan salah: iman apostolik kita menyatakan bahwa "kami percaya akan pengampunan dosa" (1 Kor.6:9-11; Kol.1:13-14). Namun, itu juga mengasumsikan bahwa kita tahu arti dosa. Jika "Kristus telah mati untuk dosa-dosa kita" adalah hal yang "sangat penting", pemahaman yang benar tentang dosa juga harus menjadi yang utama.

Yesus tidak datang untuk melonggarkan perintah dan Ia tidak mati untuk mengubah butiran moral alam semesta (Mat.5:19). Ia mati agar kita dapat diampuni dan dibebaskan dari belenggu dosa. Ia bangkit agar kita dapat berjalan dalam kehidupan yang baru. Itulah iman. Dan, itulah yang disangkal oleh guru-guru palsu ini, baik pada zaman Yudas maupun di zaman kita.

Dan, agar saya tidak tampak sepihak, izinkan saya menambahkan bahwa kita dapat menyangkal iman tidak hanya dengan menegaskan amoralitas seksual, tetapi juga dengan menolak untuk merawat orang tua kita yang sudah lanjut usia: "Akan tetapi, jika seseorang tidak memelihara sanak keluarganya sendiri, khususnya keluarga dekatnya, berarti ia telah menyangkali imannya dan ia lebih buruk daripada orang yang tidak percaya." (1 Tim.5:8, AYT). Iman yang sama, yang mengajarkan kita untuk menghindari percabulan, juga mengajarkan kita untuk menghormati Ibu dan Ayah.

Segala upaya untuk mereduksi iman kepada kebenaran doktrinal yang terkandung dalam kredo-kredo semula (biasanya dalam upaya menghindari konflik dengan revolusi seksual) adalah mimpi buruk yang membahayakan jiwa umat.

Kebenaran Doktrin

Jika melihat satu celah Kekristenan hanya untuk menegaskan seperangkat ajaran doktrinal (terlepas dari cara Anda hidup), celah lain melihat kekristenan hanya sekadar agar menjadi orang baik (terlepas dari keyakinan Anda). Lagi pula, tentu seseorang dapat menjadi sesama yang baik tanpa percaya pada Tritunggal!

Tentu saja, tidak seorang pun boleh menyangkal bahwa penganut ateis dan Hindu dapat menjadi sesama yang baik, atau bahwa sesama yang penuh kasih adalah inti dari iman. Namun, itu tidak sepenuh hati. Jangan lupa perintah agung yang pertama, "Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu." Menurut Yesus, "Inilah hidup kekal itu", yaitu mengenal "satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Kristus Yesus yang telah Engkau utus." (Yoh.17:3, AYT).

Seorang Kristen bukan hanya seseorang yang hidup dengan cara tertentu. Seorang Kristen adalah seseorang yang memercayai hal-hal tertentu. Iman menegaskan bahwa peristiwa-peristiwa tertentu benar-benar terjadi -- seperti penciptaan alam semesta "ex nihilo" dan kebangkitan Yesus (Ibr.11:3; 1 Kor.15). Ini menegaskan bahwa pernyataan-pernyataan tertentu sungguh-sungguh benar, seperti "Yesus adalah Tuhan," "TUHAN adalah satu," dan " semua ilah bangsa-bangsa adalah berhala-berhala" (Rm.10:9; 1 Kor.12:3; Ul.6:4; 1 Kor.8:6; Mzm.96:5). Dan, itu menegaskan bahwa peristiwa-peristiwa tertentu benar-benar akan terjadi, seperti penghakiman orang fasik dan kebangkitan tubuh (Yud.6,14; 1 Kor.15; 2 Tim.2:18).

Iman tanpa perbuatan mungkin mati, tetapi perbuatan tanpa iman juga mematikan. Iman bukan hanya tentang menjadi orang baik -- ini tentang mengakui bahwa Anda belum menjadi orang baik. Mengklaim bahwa orang "baik" dapat diselamatkan terlepas dari keyakinan mereka tentang Yesus adalah moralisme, murni dan sederhana. Itu adalah pengingkaran terhadap iman.

3. Iman yang Mengalahkan Zeitgeist (Semangat Zaman)

Iman bukan hanya tentang menjadi orang baik -- ini tentang mengakui bahwa Anda belum menjadi orang baik.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Orang-orang Kristen Ortodoks telah berulang kali diberi tahu, "Kekristenan harus berubah atau mati karena manusia modern tidak dapat diharapkan untuk percaya pada ________." Ini yang menarik: Trevin Wax menunjukkan bahwa 100 tahun yang lalu hal-hal yang tidak diharapkan untuk dipercaya oleh "manusia modern" biasanya adalah kebenaran doktrinal -- pengajaran seperti kelahiran dari perawan atau kebangkitan. Manusia modern pada tahun 1920 dapat menerima moralitas Alkitab, mereka hanya tidak bisa diharapkan untuk percaya pada mukjizat.

Namun, hari ini hampir kebalikannya. Pengajaran moral Alkitablah yang dianggap menyinggung budaya kita -- terutama dalam hal seksualitas. Dan sekali lagi, kita diberi tahu bahwa kita harus berevolusi atau mati. Namun, jika Anda melihat kembali pada abad ke-20, Anda melihat hal yang sebaliknya. Gereja-gereja yang berkembang adalah gereja-gereja yang mati. Gereja-gereja yang rela kehilangan nyawa merekalah yang menyelamatkan mereka.

Yudas bisa saja sudah memberi tahu kita. Iman bukanlah sesuatu yang dapat kita sesuaikan agar sesuai dengan zeitgeist (semangat zaman - Red). Sebab, iman bukanlah sesuatu yang kita ciptakan. Iman adalah sesuatu yang "disampaikan sekali untuk selamanya kepada orang-orang kudus." Dan, hal itu masih sama sampai hari ini.

Dan, meskipun budaya manusia dapat berganti-ganti pada aspek iman mana yang mereka anggap paling menyinggung, batu sandungan dasar yang sama tetap ada. Orang-orang masih menginginkan Allah yang memungkinkan mereka untuk memanjakan selera indra mereka dan yang menerima mereka berdasarkan perbuatan baik mereka. Iman Kristen tidak menawarkan keduanya. Sebaliknya, iman Kristen menawarkan sesuatu yang lebih baik.

Kita memang hidup pada masa kebingungan teologis yang besar dan godaan untuk memberikan sesuatu yang diinginkan orang-orang daripada hal yang mereka butuhkan untuk bertahan selama-lamanya. Akan tetapi, manusia yang jatuh tidak pernah menjadi hakim yang baik untuk sesuatu yang mereka butuhkan. Jadi, hal paling tidak mengasihi yang dapat kita lakukan adalah mengubah iman dengan memberikan sesuatu yang diinginkan orang-orang. Dan, hal paling penuh kasih yang dapat kita lakukan adalah persis seperti yang Yudas katakan: berjuang sungguh-sungguh untuk iman yang disampaikan sekali untuk selamanya kepada orang-orang kudus. (t/N. Risanti)

Sumber Artikel: 
Diterjemahkan dari:
Nama situs : The Gospel Coalition
Alamat situs : https://www.thegospelcoalition.org/article/contending-faith-confused-culture/
Judul asli situs : Contending for the Faith in a Confused Culture
Penulis artikel : Justin Dillehay

Ikuti Trinitas dengan Mengikut Kristus: Pemuridan dalam Kunci Trinitarian

Penulis_artikel: 
Fred Sanders
Tanggal_artikel: 
9 November 2021
Isi_artikel: 

Tidak ada cara yang lebih lugas untuk menggambarkan kehidupan Kristen selain menyebutnya sebagai pemuridan. Menjadi murid Yesus Kristus adalah esensi, fokus, dan sifat utama menjadi orang Kristen. Menjawab panggilan Yesus untuk menjadi murid-Nya menjadi sesuatu yang memberi kehidupan Kristen kesederhanaannya, yaitu kekuatan yang membentuk kehidupan. Itulah yang membuat semua perbedaan antara membaca keempat Injil sebagai adegan-adegan di cerita Alkitab dan membacanya sebagai realitas pengenalan akan Yesus dengan mengikut Dia sebagai murid modern.

Namun, terkadang karena terpikat oleh kesederhanaan hubungan ini, orang Kristen dapat tergoda untuk membandingkannya dengan penegasan yang terdengar lebih kompleks tentang memercayai dan melayani Allah Tritunggal. Anti-trinitarian, tentu saja, menggambarkan hal ini sebagai suatu pertentangan mutlak: dengan menolak doktrin Trinitas, mereka mengaku hanya mengikut Yesus. Akan tetapi, bahkan orang Kristen dengan doktrin yang sehat pun masih dapat merasakan ketegangan antara mengikut Kristus secara sederhana dan penyembahan Tritunggal yang kompleks.

Pada kenyataannya, keduanya pada hakikatnya sama, dan selalu seperti itu. Bahkan, doktrin Trinitas memberikan dasar yang dalam tentang arti menjadi murid Yesus.

Mengubah Pemuridan menjadi Sebuah Kunci Baru

Trinitas

Pikirkan tentang sifat pemuridan. Ketika Yesus memanggil murid-murid pertama untuk mengikut Dia. Yang Ia maksud "mengikut" adalah secara langsung dan harfiah. Ia sedang berjalan dan mereka harus berjalan bersama-Nya. Ia pergi ke kota berikutnya, demikian juga dengan mereka. Intinya adalah "supaya mereka dapat bersama-Nya" (Markus 3:14) untuk mendengar hal yang Ia katakan dan melihat hal yang Ia lakukan sehingga pada waktunya mereka dapat diutus atas nama-Nya.

Akan tetapi, kisah Injil yang dimulai dengan panggilan itu juga berakhir dengan kenaikan Yesus ke sebelah kanan Allah. Terus terang, mengikuti Tuan yang naik dan bertakhta pasti akan terlihat berbeda dari mengikuti Tuan yang berjalan kaki dan berkeliling. Seluruh tema pemuridan, bahkan untuk murid-murid pertama, harus diubah menjadi kunci yang baru. Dan, kunci baru itu adalah trinitarian.

Yesus menempatkan pemuridan ke dalam perspektif trinitarian ketika Ia mengajarkan bahwa Ia akan naik ke sebelah kanan Bapa, yang dari situ Ia dan Bapa akan mengirimkan Roh Kudus (Yohanes 14:16; 14:26; 15:26; 16:7). Rohlah yang akan memampukan para pengikut pertama ini melengkapi pemuridan mereka justru setelah kebangkitan Tuhan. Seperti yang Yesus janjikan, "Sebab, Dia tidak berbicara atas keinginan-Nya sendiri," tetapi "Dia akan memuliakan Aku karena Dia akan menerima yang Aku terima, dan akan memberitahukannya kepadamu." (Yohanes 16:13-14, AYT).

Keintiman pemuridan yang bersifat langsung dan pribadi dilengkapi dalam gerakan rangkap tiga ini. Semua yang dimiliki Bapa adalah milik Anak. Semua milik Anak dinyatakan kepada kita oleh Roh Kudus. Kesatuan ketiganya begitu mendalam sehingga kita tidak seharusnya menganggap diri kita dibingungkan antara tiga anggota komite surgawi yang berbeda. Namun, semakin dekat sepenuhnya dalam realitas identitas Sang Anak karena keterlibatan Roh Kudus. Roh Kudus menjelaskan kepada kita semua yang adalah kepunyaan Anak dan Bapa (yang merupakan prinsip dan sumber dari semua yang dimiliki Putra). Yang dimiliki para murid dalam persekutuan pribadi dengan Yesus adalah bahwa mereka menjadi lebih sempurna dengan memiliki-Nya di dalam Bapa dan oleh Roh.

Semua substruktur trinitaris pemuridan menjadi sangat jelas pada titik ini dalam sejarah keselamatan. Untuk menandai maknanya, kalender Kristen menempatkan Minggu Trinitas segera setelah peringatan kenaikan Kristus serta turunnya Roh Kudus (Minggu Pentakosta). Peristiwa-peristiwa ini menandai karya penyempurnaan Anak yang telah pergi kepada Bapa dan Roh yang diutus oleh Mereka. Murid adalah pengikut Kristus bukan hanya karena Sang Anak, tetapi juga karena Bapa dan Roh. Yesus bersungguh-sungguh ketika Ia berkata, "Aku beritahukan kebenaran kepadamu: lebih baik bagimu jika Aku pergi" (Yohanes 16:7, AYT).

Atas dasar pemenuhan agung ini, kita harus meluangkan waktu sejenak untuk memerhatikan dua hal lagi.

Mengungkap Hal yang Selalu Ada

Pertama, melihat pemuridan digenapi dan diselesaikan dalam kedatangan Roh Kudus mengungkapkan kepada kita bahwa pemuridan adalah realitas trinitas selama ini. Peristiwa dramatis kenaikan Kristus dan turunnya Roh Kudus mengubah cara para pengikut pertama mengalami pemuridan sejak saat itu, juga mengungkapkan struktur trinitarian dari pemuridan yang telah mereka jalani. Tak satu pun dari mereka datang kepada Yesus tanpa ditarik oleh Bapa dan tidak ada yang menyebut Yesus itu Tuhan, kecuali oleh Roh Kudus (Yohanes 6:44; 1 Korintus 12:3).

Begitu Anda memerhatikan hal ini, Anda mulai melihat bahwa Injil penuh dengan saat-saat ketika pengajaran Yesus tentang Bapa dan Roh membumbung tinggi di atas kepala para pengikut-Nya. Para penginjil, yang menulis setelah Pentakosta, dapat memberi tahu para pembaca bahwa "Mereka tidak mengerti bahwa Yesus sedang berbicara kepada mereka tentang Bapa." (Yohanes 8:27, AYT), atau "Hal yang dimaksudkan Yesus adalah Roh, yang akan diterima oleh orang yang percaya kepada-Nya. Sebab, Roh itu belum diberikan karena Yesus belum dimuliakan." (Yohanes 7:39, AYT). Pemuridan selalu dan akan selalu menjadi trinitarian di sepanjang perjalanannya.

Mengalami Keseluruhan Trinitas melalui Yesus

Hal lain yang perlu diperhatikan tentang pemenuhan trinitas pemuridan menjadi lebih dalam dan menjangkau lebih jauh.

Kesatuan Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah persatuan yang lebih dalam, lebih kuat, dan lebih intim daripada ciptaan lainnya.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Alasan utama Bapa dan Roh bukanlah gangguan dari Anak, atau perpindahan Yesus dari tempat paling utama dalam hidup kita, yaitu bahwa Allah adalah satu. Kesatuan Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah persatuan yang lebih dalam, lebih kuat, dan lebih intim daripada ciptaan lainnya. Sangat tidak mungkin untuk mengenal satu pribadi dari Trinitas tanpa yang lain. Setiap pengalaman tentang Bapa, Anak, atau Roh Kudus secara batiniah terikat dengan kepenuhan keilahian tritunggal. Dalam kesatuan tritunggal yang sempurna di atas segala ciptaan, Anak akan menjadi dirinya sendiri secara kekal dalam berkat ilahi, baik dengan adanya murid-murid maupun tidak. Sebaliknya, Anak tidak pernah ada tanpa Bapa dan Roh Kudus.

Inilah sebabnya, ketika kita hidup sebagai murid Kristus, kita dapat memusatkan perhatian kita pada Yesus. Dan, dalam peristiwa itu juga kita bertemu dengan Bapa dan Roh. Karena itu, jika Anda mengikut Yesus, Anda mengikut Dia kepada Bapa-Nya oleh Roh. (t/N.Risanti)

Sumber Artikel: 
Diterjemahkan dari:
Nama situs : The Gospel Coalition
Alamat situs : https://www.thegospelcoalition.org/article/discipleship-trinitarian-key/
Judul asli situs : Follow the Trinity by Following Christ: Discipleship in a Trinitarian Key
Penulis artikel : Fred Sanders

Komentar


Syndicate content