Keilahian Kristus

Penulis_artikel: 
Robert Letham
Tanggal_artikel: 
25 Juli 2022
Isi_artikel: 

Sebuah Esai Oleh Robert Letham

Definisi

Perjanjian Baru menegaskan bahwa Yesus Kristus sama, dan identik dengan Allah, melakukan pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh Allah. Sebagai Anak, Dia berbeda dari Bapa, keberadaan-Nya identik dengan Bapa dan Roh Kudus.

Ringkasan

Keilahian Yesus diungkapkan secara tidak langsung, tetapi tersebar luas dalam Perjanjian Baru. Tidak langsung karena monoteisme Perjanjian Lama yang kuat membuat klaim apa pun tentang keilahian sebagai penghujatan. Tersebar luas karena bukti yang luar biasa untuk identitas Yesus sebagai Allah mendominasi pemikiran, kepercayaan, dan penyembahan gereja dari masa-masa awal setelah Pentakosta. Yesus dengan jelas menyebut Allah sebagai Bapa-Nya dan menegaskan bahwa Dia setara dengan-Nya sebagai objek iman. Paulus menganggap Yesus Kristus identik dengan Yahweh dalam status dan keberadaan. Perjanjian Baru secara keseluruhan melihat Dia sebagai Pencipta, Hakim dan Juru Selamat -- pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh Allah. Dia adalah objek penyembahan, tema himne Kristen awal, dan sering disapa dalam doa. Dia dianggap sebagai satu dengan Bapa dalam keberadaan.

Latar belakang

Monoteisme yang ketat dari Perjanjian Lama menyiratkan bahwa setiap klaim tentang keilahian akan dikesampingkan karena dianggap sebagai penghujatan. Israel berulang kali diperingatkan bahwa hanya ada satu Allah, semua klaim lain terhadap penyembahan agama adalah penyembahan berhala (misalnya, Ulangan 6:4, Yesaya 44:6-8). Pembuangan telah memperkuat poin ini.

Yesus dan Bapa

Mengingat hal ini, penunjukan Yesus yang berulang-ulang tentang Allah sebagai Bapa-Nya, dengan pernyataan bahwa Dia adalah Anak, belum pernah terjadi sebelumnya dan mengejutkan. Gelar "Anak Allah" digunakan dalam Perjanjian Lama untuk Mesias, dan kadang-kadang untuk Israel, tetapi tidak untuk seorang individu.[1] Yesus menggunakan "Bapa" sebagai nama pribadi daripada metafora atau deskripsi tentang seperti apa Allah itu.[2] Wahyu Allah sebagai Bapa tidak mengacu pada kebapaan umum atas semua ciptaan-Nya, tetapi pada hubungan timbal balik di dalam keberadaan Allah. Yesus berbicara tentang bait suci sebagai "rumah Bapa-Ku" (Lukas 2:49, Yohanes 2:16). Saat Yesus dibaptis, Bapa menyatakan Dia sebagai Anak-Nya (Matius 3:17). Yesus menegaskan bahwa Dia diutus oleh Bapa (Yohanes 5:30, 36, 6:38-40, 8:16-18, 26, 29), bersama-sama dengan Bapa membangkitkan orang mati (Yohanes 5:24-29), dan menghakimi dunia (Yohanes 5:27). Semua akan menghormati Dia sama seperti mereka menghormati Bapa (Yohanes 5:23). Bapa memberikan murid-murid-Nya dan menarik mereka kepada-Nya (Yohanes 6:37-65). Bapa mengenal Dia dan mengasihi Dia, sementara Dia memenuhi tugas Bapa (Yohanes 10:15-18). Sebaliknya, Yesus berdoa kepada Bapa (Matius 6:9, Yohanes 17:1-26). "Abba" adalah cara-Nya yang biasa untuk menyapa Allah (Matius 16:17, Markus 13:32, Lukas 22:29-30), kata bahasa Aram yang akrab untuk ayah.[3] Di Getsemani dan di atas salib Yesus memanggil Bapa, di tengah kesengsaraan (Matius 26:39-42 dkk., Lukas 23:34).

Yesus berbicara tentang kemuliaan yang Dia miliki bersama dengan Bapa sebelum penciptaan, yang mengantisipasi pembaruannya (Yohanes 17:5, 22-24), setelah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Bapa kepada-Nya (ay. 4). Dia menyampaikan bahwa Dia dan Bapa adalah satu, Dia di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia (ay. 20 dst). Sebelumnya, Dia menegaskan kesetaraan dan kesamaan-Nya dengan Bapa (Yohanes 10:30, 14:6-11, 20), suatu kesatuan yang tak terpisahkan, sehingga kata-kata-Nya sendiri akan menjadi kriteria yang digunakan Bapa dalam penghakiman (Yohanes 5:22-24, 12:44-50). Dia memberi tahu Maria Magdalena bahwa Dia akan naik kepada Bapa-Nya (Yohanes 20:17, lih. 16:10, 17, 28, 14:1-3).

Sebaliknya, Yesus juga mengatakan bahwa Dia lebih rendah daripada Bapa (Yohanes 14:28), tetapi ini mengacu pada keadaan inkarnasi-Nya di mana Dia menyatukan sifat manusia dan membatasi diri-Nya pada keterbatasan manusia. Dengan demikian Dia tidak melakukan apa pun selain Dia melihat Bapa melakukannya (Yohanes 5:19). Sebagaimana Bapa membangkitkan orang mati, demikian pula Anak menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya (Yohanes 5:21). Sebagaimana Bapa memiliki hidup di dalam diri-Nya, demikian pula Dia telah memberikan kepada Anak untuk memiliki hidup di dalam diri-Nya sendiri dan untuk melaksanakan penghakiman (Yohanes 5:26-29).

Gambar: Anak Allah

Kepada Tomas Dia berkata bahwa mengenal Dia berarti mengenal Bapa, dan kepada Filipus Dia berkata "dia yang telah melihat Aku telah melihat Bapa" (Yohanes 14:6-9). Di balik ini adalah fakta bahwa Dia dan Bapa adalah satu (Yohanes 10:30), dan bahwa Dia, bersama Bapa, objek iman para murid (Yohanes 14:1). Tidak ada yang bisa datang kepada Bapa kecuali melalui Yesus. Di sepanjang Yohanes 14-16 Yesus merujuk pada diri-Nya sendiri dalam hubungan dengan Bapa dan Roh Kudus. Dia menyebutkan saling berdiam diantara ketiganya. Bapa akan mengirimkan Roh Kudus sebagai jawaban atas permintaan Yesus sendiri (Yohanes 14:16 dst, 26, 15:26). Doa para murid kepada Bapa harus dilakukan dalam nama Yesus (Yohanes 15:16).

Dalam Matius, Yesus mengklaim sama-sama memiliki pengetahuan dan berdaulat seperti Bapa (Matius 11:25-27). H.R. Mackintosh menggambarkan bagian ini sebagai "yang paling penting untuk Kristologi dalam Perjanjian Baru," berbicara seperti halnya "korelasi langsung antara Bapa dan Anak."[4] Yesus Anak berterima kasih kepada Bapa karena menyembunyikan "hal-hal ini" [hal-hal yang Dia lakukan dan ajarkan] dari yang bijak, mengungkapkannya kepada bayi. Bapa, kata-Nya, berdaulat dalam mengungkapkan diri-Nya. Namun, Yesus segera mengklaim bahwa Dia, Anak, memiliki kedaulatan ini juga. Mengenal Bapa adalah karunia yang diberikan oleh Anak kepada siapa pun yang Dia pilih. Sebagaimana Bapa mengungkapkan "hal-hal ini" mengenai Anak kepada siapa pun yang Dia kehendaki, demikian pula Anak mengungkapkan Bapa -- dan "segala sesuatu" yang telah Bapa berikan kepada-Nya -- kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Selain itu, Yesus sepenuhnya memiliki pengetahuan yang komprehensif sama seperti Bapa. Hanya Bapa yang mengenal Anak dan hanya Anak yang mengenal Bapa. Yesus sepenuhnya sama dalam kedaulatan Allah Bapa dan pengetahuan-Nya, seperti Bapa, adalah bersifat menyeluruh dan saling menguntungkan. Di sisi lain, dalam bagian-bagian seperti Matius 24:36, di mana Yesus mengatakan bahwa Dia tidak mengetahui waktu parousia-Nya (kedatangan Yesus Kristus yang kedua - Red.), yang hanya diketahui oleh Bapa, Dia merujuk pada pembatasan sukarela dari keadaan inkarnasi-Nya.

Singkatnya, Yesus sebagai Anak berbeda dari Bapa, tetapi satu dengan Dia. Bauckham berkomentar, "Yesus tidak mengatakan bahwa Dia dan Bapa adalah satu pribadi, tetapi bahwa bersama-sama mereka adalah satu Allah."[5] Ini membedakan Dia dari para nabi dan, dalam tulisan Paulus, termasuk adanya atribut-atribut Allah dalam diri-Nya.[6]

Paulus, dalam pernyataan pentingnya tentang Anak dalam Roma 1:3-4, membedakan antara Anak Allah "dari keturunan Daud menurut daging" dan karena Dia "diangkat Anak Allah dengan kuasa oleh Roh Kudus sejak kebangkitan orang mati" (terjemahan penulis). Kedua klausa mengacu pada Yesus Kristus, Anak Allah (ay. 3a). Anak Allah adalah keturunan Daud dalam inkarnasi-Nya; Dia dibangkitkan oleh Roh ke keadaan baru yang diubahkan -- Anak Allah dengan kuasa. Sebagai Anak Allah sebelum penyaliban Dia berada dalam kelemahan, "sebagai budak" (Filipi 2:7). Sekarang setelah Dia bangkit, Dia ditinggikan di sebelah kanan Allah Bapa (Kisah Para Rasul 2:33-36, Filipi 2:9-11, Efesus 1:19-23, Kolose 1:18, Ibrani 1:3-4) dan memerintah atas seluruh kosmos (Matius 28:18), mengendalikan segala sesuatu sampai semua musuh-Nya ditaklukkan (1 Korintus 15:24-26), di mana kematian akhirnya akan dilenyapkan dan Dia akan mengembalikan kerajaan kepada Bapa (1 Korintus 15:24-28). Ada perbedaan dan kesamaan.

Kesetaraan dan Kesamaan Yesus dengan Allah

Yesus menegaskan kesetaraan dan kesamaan-Nya dengan Allah dalam menghadapi tuduhan penghujatan oleh para pemimpin Yahudi. Dia dituduh menyamakan diri-Nya dengan Allah (Yohanes 5:16-47) dan kemudian karena mengidentifikasi diri-Nya sebagai Allah (Yohanes 10:25-39). Penuduh-Nya mengancam hukuman karena penistaan. Dalam kedua kasus tersebut, Yesus menyangkal tuduhan tersebut dengan alasan bahwa Dia mengatakan kebenaran, menyatakan dukungan banyaknya saksi yang diwajibkan oleh hukum Yahudi. Dalam Yohanes 14:1 Yesus menyelaraskan diri-Nya dengan Allah sebagai objek iman -- "Percaya kepada Allah; percaya juga pada-Ku." Demikian pula, seperti pigura yang membingkai sebuah lukisan, Yohanes merujuk Dia sebagai "Allah" dalam Yohanes 1:18 di awal Kitab Injilnya dan Tomas mengakui Dia sebagai "Tuhanku dan Allahku" di Yohanes 20:28 dalam akhir Kitab Injilnya.

Sebutan umum Paulus untuk Yesus Kristus adalah "Tuhan" (kurios), kata Yunani yang biasa digunakan untuk YHWH, nama perjanjian untuk Allah dalam Perjanjian Lama. Dengan penggunaan yang meluas ini, Paulus menunjukkan bahwa dia menganggap Yesus memiliki status Allah, sepenuhnya. Dia tidak berusaha untuk menjelaskan atau membelanya, menyebutkannya secara spontan sehingga, seperti komentar Hurtado, itu seperti sesuatu yang sudah diakui di kalangan orang-orang Kristen awal. Surat-surat Paulus menunjukkan tentang kepercayaan akan keilahian penuh Yesus Kristus sebagai aksioma dasar gereja bukan sebagai pokok perdebatan. Ini, Hurtado menunjukkan, ditegaskan melalui aklamasi bahasa Aram dalam 1 Korintus 16:22, maranatha (Tuhan, datanglah!). Paulus menggunakan ini dalam konteks non-Yahudi tanpa penjelasan atau terjemahan, menyapa Kristus dalam doa liturgi bersama, dengan penghormatan yang ditunjukkan kepada Allah. Terlebih lagi, akar dari doa ini adalah bahasa Palestina, yang dikenal luas di luar sumber aslinya dan mungkin sebelum surat-surat Paulus.[7] Bauckham menulis tentang "asalnya yang sangat awal."[8] Paulus menerapkan nama ilahi (YHWH) pada Kristus melalui kurios "tanpa penjelasan atau pembenaran, yang menunjukkan bahwa pembacanya sudah akrab dengan istilah dan konotasinya." Dalam Roma 9:5 kemungkinan besar Paulus secara tegas menunjuk Yesus Kristus sebagai theos (Allah). Witherington menulis tentang Yohanes bahwa dia "bersedia untuk menyebut Yesus apa yang dia nyatakan tentang Tuhan Allah, karena dia melihat Mereka adalah sama."[9]

Penulis Ibrani juga, dalam argumennya tentang supremasi Kristus, mengutip Mazmur 45 untuk mendukung Anak yang berinkarnasi memiliki status Allah (Ibrani 1:8-9). Anak adalah cahaya kemuliaan Bapa, gambar ekspresi keberadaan-Nya. Semua malaikat harus menyembah Dia (Ibrani 1:1-14). Karena Dia lebih tinggi dari para malaikat, komentar Bauckham, "Dia termasuk dalam identitas unik dari satu Allah."[10] Mazmur 102, mengacu pada pencipta alam semesta, di sini diterapkan secara langsung kepada Kristus. Seperti yang dikatakan T.F. Torrance, Kristus "bukan hanya semacam locum tenens, atau semacam 'ganda' bagi Allah dalam ketidakhadiran-Nya, tetapi kehadiran inkarnasi dari Yahweh."[11]

Lebih jauh lagi, kebangkitan Yesus mengungkapkan bahwa Dia adalah Tuhan, keilahian Kristus yang menjadi "kebenaran tertinggi Injil ... titik acuan sentral yang konsisten dengan seluruh rangkaian peristiwa yang mengarah ke dan setelah penyaliban."[12] Di tengah-tengah pesan Perjanjian Baru terdapat hubungan yang tak terputus antara Anak dan Bapa.[13]

Yesus sebagai Pencipta, Hakim, dan Juru Selamat

Kepada Yesus Kristus dikenakan pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh Allah. Yohanes menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Firman yang kekal yang menjadikan segala sesuatu, yang bersama-sama dengan Allah dan yang adalah Allah (Yohanes 1:1-18). Tidak ada satu hal pun yang muncul selain dari Firman itu. Firman yang "pada mulanya" adalah "bersama Allah," diarahkan kepada Allah dan adalah Allah. Ini mencakup pra-eksistensi. Dia adalah satu-satunya Allah yang diperanakkan (ay. 18). Paulus menggemakan hal ini (Kolose 1:15-20). Ibrani 1:1-4 mengatakan hal yang sama, karena Anak menciptakan dunia dan mengarahkannya ke tujuan yang diinginkan-Nya. Dalam 1 Korintus 8:6, Paulus memasangkan Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus dalam pekerjaan masing-masing dalam penciptaan. Ini menyoroti kejadian-kejadian dalam Kitab Injil (Matius 14:22-36, lih. Mazmur 77:19, Ayub 9:8, Ayub 26:11-14, Mazmur 89:9, 107:23-30) di mana Yesus menampilkan fungsi keilahian, yang mengandung unsur-unsur kedaulatan. Meskipun ditunjukkan sebagai tanda-tanda kerajaan Allah, mereka menunjuk ketuhanan-Nya atas dunia sebagai rajanya.

Dalam Yohanes 5:22-30 Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai hakim dunia; ini jelas adalah Allah. Dalam Matius 25:31-46, Yesus sebagai Anak Manusia akan menghakimi bangsa-bangsa dengan kebenaran (lih. Markus 8:38, Daniel 7:14). Paulus tegas (1 Tesalonika. 3:13, 5:23, 2 Tesalonika 1:7-10); kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus (2 Korintus 5:10).

Perjanjian Lama menekankan bahwa keselamatan hanya bisa datang dari Yahweh, bukan manusia (Mazmur 146:3-6).[14] Nama Yesus, yang diwajibkan oleh malaikat (untuk diberikan kepada bayi Maria), berarti "penyelamat". Dia harus menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Matius 1:21). Kesembuhan-kesembuhan yang dilakukan-Nya menunjukkan Dia sebagai penguasa kehidupan. Lebih daripada itu, Dia membebaskan dari dosa dan kematian. Karena keselamatan adalah karya Allah, deskripsi Paulus yang diulang-ulang tentang Yesus sebagai Juru Selamat adalah atribusi implisit dari keilahian (Titus 2:11-13, 1:4, 3:6, Filipi 3:20, 2 Timotius 1:10; 2 Petrus 1:11). Pandangan yang tadinya umum bahwa pengajaran Perjanjian Baru tentang Kristus adalah murni fungsional tidaklah tepat sasaran; dalam kata-kata Bauckham, "partisipasi Yesus dalam kedaulatan ilahi yang unik bukan hanya soal apa yang Yesus lakukan, tetapi tentang siapa Yesus dalam hubungan-Nya dengan Allah." Dengan demikian, "jelas menjadi sangat penting menganggap Yesus secara intrinsik sama dengan Allah secara unik."[15]

Menyembah Yesus

Hanya Bapa yang mengenal Anak dan hanya Anak yang mengenal Bapa. Yesus sepenuhnya sama dalam kedaulatan Allah Bapa dan pengetahuan-Nya, seperti Bapa, adalah bersifat menyeluruh dan saling menguntungkan.

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Sejumlah perikop Perjanjian Baru mengungkapkan pujian kepada Yesus Kristus, yang menunjukkan Kristus sebagai objek penyembahan (Yohanes 1:1-18, Ibrani 1:3 dst., Kolose 1:15-20, Filipi 2:5-11, 2 Timotius 2:11-13). Cara Yesus digambarkan membuat himne itu ditujukan kepada-Nya. Tidak memerlukan penjelasan khusus, dan dengan asumsi keakraban yang luas di gereja, tampaknya himne dalam Wahyu didasarkan pada praktik yang sudah ada. Hurtado menganggap bahwa "praktik menyanyikan himne untuk menghormati Kristus kembali ke lapisan paling awal dari gerakan Kristen."[16] Selain itu, tidak ada tanda-tanda keberatan dari gereja-gereja Yahudi.[17] Karena Dia adalah Anak Bapa, menyembah Kristus berarti secara bersamaan menyembah Bapa (Filipi 2:9-11). Wainwright mendaftar serangkaian doksologi Perjanjian Baru yang jelas atau mungkin ditujukan kepada Kristus (2 Petrus 3:18, Wahyu 1:5b-6, Roma 9:5, 2 Timotius 4:18).[18] Bauckham menyimpulkan bahwa nama ilahi YHWH, melalui kurios, oleh Yesus yang bangkit "menandakan dengan tegas Dia ada dalam identitas ilahi yang unik, pengakuan yang persis seperti yang diungkapkan oleh penyembahan dalam tradisi monoteistik Yahudi."[19]

Doa juga dipersembahkan kepada Kristus. Stefanus berseru kepada Tuhan Yesus saat dia dilempari batu sampai mati (Kisah Para Rasul 7:59-60), seruannya sama dengan kata-kata Yesus sendiri (Lukas 23:46). Paulus berdoa kepada Kristus yang bangkit agar duri dalam dagingnya disingkirkan (2 Korintus 12:8-9). Dia merujuk pada seruan umum "Maranatha" (1 Korintus 16:22, lih. Wahyu 22:20; lihat juga 1 Tesalonika 3:11-12, Kisah Para Rasul 9:14, 21, 22:16). Keselamatan terdiri dari mengakui Yesus Kristus sebagai kurios (Roma 10:9-13, 1 Korintus 12:1-3, Filipi 2:9-11).

Seperti yang dikatakan T.F. Torrance, kami mengandalkan kepercayaan kami pada keilahian Kristus bukan pada berbagai kejadian yang dicatat dalam Kitab Injil atau pada pernyataan tertentu tetapi atas seluruh struktur evangelikal yang koheren dari wahyu ilahi historis yang diberikan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Itu adalah ketika kita tinggal di dalamnya, merenungkannya, menyelaraskan dengannya, menembus ke dalamnya, dan menyerapnya ke dalam diri kita sendiri, dan menemukan fondasi hidup dan pemikiran kita yang berubah di bawah pengaruh Kristus yang kreatif dan menyelamatkan, dan diselamatkan oleh Kristus dan secara pribadi diperdamaikan dengan Allah di dalam Kristus, bahwa kita percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Allah.[20]

Karena itu, lanjut Torrance, kita berdoa kepada Yesus sebagai Tuhan, menyembah-Nya, dan menyanyikan pujian bagi-Nya sebagai Allah. Tidak heran Tomas, yang dihadapkan dengan bukti yang sangat nyata tentang kebangkitan Yesus dapat menjawab "Tuhanku dan Allahku" (Yohanes 20:28). (t/Jing-Jing)

Catatan kaki

  1. Arthur Wainwright, The Trinity in the New Testament (London: SPCK, 1963), 171-95.
  2. Peter Toon, Our Triune God: A Biblical Portrayal of the Trinity (Wheaton, Illinois: BridgePoint, 1996), 145-48.
  3. James Barr, "Abba Isn't Daddy," JTS 39 (1988): 28-47.
  4. H.R. Mackintosh, The Doctrine of the Person of Jesus Christ (Edinburgh: T.&T. Clark, 1912), 27.
  5. Richard Bauckham, Jesus and the God of Israel (Milton Keynes: Paternoster, 2008), 104.
  6. L.W. Hurtado, "Son of God," in Dictionary of Paul and his Letters (ed. Gerald F. Hawthorne; Downers Grove: InterVarsity Press, 1993), 900-906.
  7. Larry Hurtado, One God, One Lord (Third edition; London: Bloomsbury T&T Clark, 2015), 110-12; idem, "Lord," in DPL, 560-69
  8. Bauckham, Jesus and the God of Israel, 128.
  9. B. Witherington III, "Lord," in Dictionary of the Later New Testament and its Development (ed. Ralph P. Martin and Peter H. Davids; Downers Grove: InterVarsity Press, 1997), 672.
  10. Bauckham, Jesus and the God of Israel, 24.
  11. Torrance, The Christian Doctrine of God (Edinburgh: T&T Clark, 1996), 51.
  12. Torrance, Christian Doctrine of God, 46. See also 52; Toon, Our Triune God, 159.
  13. Torrance, Christian Doctrine of God, 49.
  14. Wainwright, Trinity, 155-70 on Christ as Savior.
  15. Bauckham, Jesus and the God of Israel, 31 [italics original].
  16. Hurtado, One God, One Lord, 106.
  17. Ibid, 107.
  18. Wainwright, Trinity, 93-97.
  19. Bauckham, Jesus and the God of Israel, 200.
  20. Torrance, Christian Doctrine of God, 53.

Bacaan Lebih Lanjut

  • Donald MacLeod, The Person of Christ
  • John MacArthur, "Declaring and Defending the Deity of Christ" (video)
  • Christopher Morgan, ed., The Deity of Christ
  • Lee Strobel, The Case for Christ
  • R.C. Sproul, "Defending the Deity of Christ with Apologetics" (video)
  • B.B. Warfield, The Lord of Glory
  • Stephen J. Wellum, God the Son Incarnate
Diterjemahkan dari:
Nama situs : The Gospel Coalition
Alamat situs : https://thegospelcoalition.org/essay/the-deity-of-christ
Judul asli artikel : The Deity of Christ
Penulis artikel : Robert Letham

Komentar