Tentang KamiArtikel TerbaruUpdate Terakhir |
Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SOTeRI Perspektif Alkitab tentang AborsiPenulis_artikel:
Ed Walsh
Tanggal_artikel:
26/02/2025
Isi_artikel:
Aborsi mungkin merupakan masalah sosial yang paling banyak diperdebatkan pada zaman kita. sekitar 879.000 aborsi terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2017. Tingkat aborsi pada tahun 2015 adalah 11,8 aborsi per 1.000 wanita berusia 15 -- 44 tahun, dan rasio aborsi adalah 188 aborsi per 1.000 kelahiran hidup. Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 2013, hanya sembilan negara di dunia yang memiliki tingkat aborsi yang dilaporkan lebih tinggi daripada Amerika Serikat. Mereka adalah: Bulgaria, Kuba, Estonia, Georgia, Kazakhstan, Rumania, Rusia, Swedia, dan Ukraina. Dengan lebih dari 61 juta aborsi yang terjadi sejak tahun 1973, hampir setiap orang memiliki pendapat tentang masalah ini. Isu aborsi telah digunakan sebagai simbol kemerdekaan dalam gerakan feminis, dan telah diselimuti oleh banyak isu lain seperti pemerkosaan dan inses. Namun, untuk mendapatkan pandangan Alkitabiah tentang aborsi, seseorang harus menghilangkan noda yang mengaburkan pertanyaan utama tentang aborsi, dan memusatkan perhatian pada esensi masalah tersebut.
Titik utama konflik dalam seluruh perdebatan aborsi adalah pertanyaan kapan kehidupan dimulai. Jika memang kehidupan dimulai sejak dalam kandungan, maka tidak ada yang bisa membantah bahwa fetus (Latin: 'anak kecil') adalah manusia, dan tunduk pada hak-hak (hukum Allah tentang kemanusiaan) yang selayaknya manusia. Pertama, Alkitab menetapkan bahwa Allah mengenali seseorang bahkan sebelum ia dilahirkan. "Tuhan telah memanggil aku sejak dalam kandungan" (Yesaya 49:1, AYT). Keluaran 21:22-23 menggambarkan situasi ketika seorang pria memukul seorang wanita hamil dan menyebabkan perempuan itu melahirkan sebelum waktunya. Jika "tidak ada luka berat", laki-laki itu diharuskan membayar denda, tetapi jika ada "luka berat" baik pada ibu atau anak, maka laki-laki itu bersalah atas pembunuhan dan diancam hukuman mati. Perintah ini dengan sendirinya melegitimasi kemanusiaan anak yang belum lahir, dan menempatkan anak pada tingkat yang setara dengan laki-laki dewasa yang menyebabkan keguguran. Dukungan Alkitab berlimpah bagi status kemanusiaan seorang anak yang belum lahir. "Sebab Engkau membentuk bagian dalam tubuhku, Engkau menenun aku di dalam rahim ibuku. Aku hendak mengucap syukur kepada-Mu karena aku dibuat dengan dahsyat dan ajaib . . . mata-Mu telah melihat janinku, di dalam kitab-Mu semua tertulis, hari-hari yang akan disusun bagiku, ketika belum ada satu pun darinya" (Mzm. 139:13-16, AYT). Alkitab, pada kenyataannya, menggunakan kata Yunani yang sama untuk menggambarkan Yohanes Pembaptis yang belum lahir (Lukas 1:41,44), bayi Yesus yang baru lahir (Lukas 2:12,16), dan anak-anak kecil yang dibawa kepada Yesus untuk mendapat berkat-Nya (Lukas 18:15). Mungkin, penyataan Alkitab yang paling gamblang tentang status manusia dari bayi yang belum lahir terdapat dalam Yeremia 20, selama tangisan kesedihan Yeremia saat dia menyesali bahwa dia berharap dia tidak pernah dilahirkan, "Terkutuklah orang yang membawa berita kepada ayahku, yang berkata, 'Seorang bayi laki-laki telah dilahirkan bagimu,' yang membuatnya sangat bahagia ... karena dia tidak membunuhku sejak dalam rahim, sehingga ibuku akan menjadi kuburanku" (Yeremia 20:15-17, AYT). Dalam ayat-ayat yang disebutkan di atas, dan dalam ayat-ayat lain yang tak terhitung jumlahnya, Alkitab benar-benar mengonfirmasi bahwa seorang anak yang belum lahir di mata Allah adalah sama seperti kita sendiri. Ini menunjukkan bahwa perintah "Jangan Membunuh" (Keluaran 20:13) tentu berlaku untuk yang belum lahir maupun yang sudah lahir. Jadi, ketika kita membaca Kejadian 9:6, realisasi penuh dari apa artinya pembunuhan menjadi fokus, "Siapa pun yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan ditumpahkan oleh manusia. Sebab, Allah menciptakan manusia sesuai dengan rupa-Nya sendiri." Pembunuhan adalah kekejian di hadapan Allah karena itu adalah pembunuhan yang tidak sah terhadap makhluk yang diciptakan menurut gambar-Nya sendiri, dan pengaburan perbedaan pencipta/makhluk (lih. Roma 1).
Kekristenan yang alkitabiah tidak hanya menawarkan penghakiman atas masalah tersebut, dan kemudian menentangnya.
Meskipun pertanyaan tentang kapan kehidupan dimulai penting bagi banyak orang, pertanyaan yang lebih mewakili pandangan hari ini adalah "kualitas hidup seperti apa yang harus dipertahankan?" Apakah janin telah memperoleh kualitas hidup yang layak dipertahankan? Ini adalah pertanyaan yang berbahaya, memang. Siapa di antara kita, yang sudah lahir, yang dapat memutuskan pertanyaan seperti itu? Apakah kita menerapkan pertanyaan ini pada setiap manusia? Apakah janin, atau bahkan bayi dengan Down syndrome memiliki kualitas hidup yang setara dengan kualitas hidup normal? Pertanyaan-pertanyaan ini hanya mengarah pada semacam elitisme genetik, dan bahkan tidak boleh diajukan dengan hati nurani yang baik. Mungkin, ironi terbesar yang ditemui saat menilai mereka yang ingin menjadikan aborsi sebagai masalah keadilan sosial adalah bahwa banyak dari keadilan sosial ditujukan untuk memberikan pertolongan dan keadilan bagi mereka yang tidak mampu berbicara dan berbuat untuk diri mereka sendiri -- mereka yang lemah lembut. Namun, dari mulut yang sama yang mengatakan kita harus melindungi para tunawisma, yang tidak punya uang, hewan dan lingkungan muncul kata-kata yang berbicara tentang membunuh manusia yang belum lahir! Kontradiksi ini tidak boleh diabaikan, jangan sampai kita gagal melihat kekejaman, merendahkan kemanusiaan, dan pelanggaran ketetapan Allah yang benar didukung oleh mereka yang bersembunyi di balik naungan pembelaan-pilihan. Ibu Teresa, mungkin salah satu pejuang paling terkenal di dunia dari orang-orang kurang mampu mengatakan dalam sebuah pidato baru-baru ini di Washington, "Jika kita menerima bahwa seorang ibu bahkan dapat membunuh anaknya sendiri, bagaimana kita bisa memberitahu orang lain untuk tidak membunuh satu sama lain? ... Setiap negara yang menerima aborsi tidak mengajarkan rakyatnya untuk mencintai, tetapi menggunakan kekerasan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan." Juga, hasil logis dari keinginan untuk "aborsi sesuai permintaan" adalah pembunuhan bayi dan eutanasia -- membunuh bayi yang baru lahir jika memiliki kelainan fisik atau mental, dan membunuh mereka yang dirasa menyusahkan untuk dirawat. Ketika nyawa manusia direndahkan sampai-sampai rahim, simbol ketenangan dan kedamaian, menjadi tempat kematian; bahkan yang sudah lahir akan mulai kurang menghargai kehidupan satu sama lain. Kekristenan yang alkitabiah tidak hanya menawarkan penghakiman atas masalah tersebut, dan kemudian menentangnya. Tentu saja ada beberapa situasi sulit yang dialami kaum wanita, dan komunitas Kristen menawarkan banyak saluran untuk membantu para wanita ini yang sering tidak mampu memiliki anak, atau yang tidak memiliki situasi yang sangat baik untuk membesarkan anak seperti Bethany Christian Services. Adopsi bayi-bayi ini mungkin yang paling jelas. Alternatif lain adalah sebuah keluarga menyediakan kamar dan pondokan untuk seorang ibu selama dia melahirkan bayinya. Pandangan Kristen adalah bahwa seorang wanita seharusnya tidak pernah membuat pilihan antara bayinya dan dirinya sendiri. Bahkan, ada daftar tunggu orang-orang yang ingin mengadopsi anak penderita Down Syndrome. Ya, Firman Allah memberi kita pernyataan yang jelas dan dapat dimengerti tentang pandangan Allah mengenai anak yang belum lahir menjadi manusia yang tunduk pada perlindungan hukum kebenaran-Nya. (t/Jing-jing) Bibliografi
Sumber Artikel:
Komentar |
|