Skip to main content

Julukan

Artikel ini membahas bahaya perundungan yang sering terjadi melalui pemberian julukan atau label, meskipun sering dianggap sebagai candaan. Secara teologis, manusia diciptakan dalam gambar Allah (*imago Dei*), artinya kita harus memancarkan sifat-sifat ilahi seperti kasih, kebaikan, dan keadilan. Oleh karena itu, menjuluki atau menghina seseorang sama dengan merendahkan gambar Allah sendiri, yang merupakan penghinaan terhadap Penciptanya. Sebagai bagian dari citra Allah, umat manusia dipanggil untuk menolak ejekan dan sebaliknya aktif membela korban serta menegur pelaku ketika menyaksikan tindakan perundungan, mengikuti teladan kasih dan keadilan yang ditunjukkan oleh Yesus Kristus.

  • Julukan/Label
  • Perundungan (Bullying)
  • Imago Dei (Gambar Allah)
  • Kasih dan Keadilan
  • Refleksi Diri
  • Mandat Ilahi
  • Perundungan sering terjadi melalui penggunaan julukan atau istilah tertentu yang dapat merendahkan martabat seseorang.
  • Manusia diciptakan dalam gambar Allah (*imago Dei*), mewakili sifat-sifat ilahi seperti kekudusan, kasih, kebaikan, dan keadilan.
  • Menjuluki atau menghina sesama berarti menghina representasi Allah di bumi, sehingga dampaknya sangat serius secara spiritual.
  • Sebagai pembawa citra Allah, kita harus memancarkan kasih dan keadilan dalam tindakan, bukan ejekan atau penghinaan.
  • Ketika menyaksikan perundungan, umat percaya berkewajiban untuk mengambil peran aktif, yaitu membela korban dan menegur pelaku, sebagaimana teladan yang diajarkan oleh Yesus Kristus.

Play Audio
Penulis_artikel
Haryono Tafianoto
18 Juli 2018

Salah satu bentuk perundungan yang sering terjadi di sekolah adalah memanggil seseorang dengan julukan atau istilah tertentu. Sadar atau tidak sadar, kita pasti pernah melakukannya. Biasanya tindakan ini, mengejek atau melabel, dianggap sebagai candaan, bukan satu hal yang serius. Namun, bisa juga dengan sengaja hinaan diberikan untuk merendahkan seseorang. Tidak jarang, orang-orang dewasa juga melakukannya baik terhadap rekannya maupun terhadap yang lebih muda darinya. Ironisnya, ini juga terjadi di lingkungan sekolah Kristen, atau bahkan di gereja.

Jika kita melihat pada Kisah Penciptaan, Kejadian 1:27, manusia dicipta di dalam gambar rupa Allah, imago Dei. Manusia sebagai representasi Allah adalah wakil-Nya atas seluruh ciptaan, dan membawa gambar Allah di dalam dirinya ke mana pun ia pergi. Sebagai gambar Allah, kita memiliki sifat-sifat Allah, di antaranya kekudusan, kasih, kebaikan, dan keadilan. Dalam menjalankan mandat budaya dan mandat Injil, manusia dipanggil memancarkan sifat- sifat Allah.

Lalu apa hubungannya imago Dei dengan menjuluki seseorang? Objek yang sedang dipermainkan adalah gambar Allah, ciptaan tertinggi yang menjadi wakil Allah untuk menaklukkan dan menguasai seluruh ciptaan (Kej. 1:28). Bayangkan jika Anda menghina penguasa sebuah negara. Tentunya akan ada konsekuensi hukum yang Anda alami. Namun, sekarang yang memberi mandat adalah Allah sendiri, dan yang dihina adalah gambar-Nya! Sebagaimana penghinaan terhadap perwakilan sebuah negara dianggap sebagai penghinaan terhadap negara tersebut, maka julukan yang ditujukan pada wakil Allah adalah penghinaan terhadap Allah!

Sebagaimana disebut di atas, manusia dipanggil untuk memancarkan sifat-sifat Allah, maka seharusnya yang kita pancarkan bukanlah ejekan, hinaan, dan pelabelan untuk merendahkan dan mem-bully sesama kita. Namun, kasih, kebaikan, kekudusan, dan keadilanlah yang seharusnya menjadi refleksi dari tindakan dan ucapan kita. Sudah pasti ejekan tidak memancarkan sifat Allah, bukan?

Ketika menyaksikan tindakan perundungan terjadi, sebagai gambar Allah, kita tidak bisa hanya diam saja. Sebagai pernyataan kasih dan keadilan, kita patut membela sang korban dan menegur si pelaku. Bukankah itu yang Yesus Kristus, sebagai gambar Allah yang sejati, lakukan, membela mereka yang tertindas dengan kasih. Ia bahkan menyatakan kasih dan keadilan Allah Bapa di atas kayu salib untuk melepaskan kita dari cengkraman penindasan si jahat.

Mengikuti teladan Yesus Kristus, marilah kita menghidupi natur kita yang seharusnya sebagai gambar dan rupa Allah. Bagaimana Anda akan memperlakukan sesamamu, gambar dan rupa Allah, mulai hari ini? Kiranya cinta kasih Allah terpancar dari hidup kita semua. Soli Deo gloria.

Audio: Julukan

Sumber Artikel
Diambil dari:
Nama situs : Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia - Pillar
Alamat situs : http://www.buletinpillar.org/renungan/julukan
Judul asli artikel : Julukan
Penulis : Haryono Tafianoto
Tanggal akses : 18 Juli 2018