Reformasi Bahasa Inggris

Penulis_artikel: 
Scott Hubbard
Tanggal_artikel: 
17 Maret 2022
Isi_artikel: 

Bagaimana Alkitab Tyndale Mengubah Bahasa Kita

Pada akhir musim panas atau musim gugur tahun 1525, lembaran-lembaran kertas tipis yang dijahit berpindah-pindah melintasi Selat Inggris, tersembunyi di dalam bungkusan kain dan karung tepung. Mereka berlayar tanpa diketahui, tersembunyi, dari Selat ke galangan kapal London, dari galangan kapal ke tangan pandai besi dan juru masak, pelaut dan tukang sepatu, pendeta dan politisi, ibu dan ayah dan anak-anak. Ketika bungkusan kain dibuka dan karung tepung dibuka, baris pertamanya berbunyi,

Di sini saya telah menerjemahkan (saudara dan saudari yang sangat terkasih dalam Kristus) Perjanjian Baru untuk pengajaran, pertolongan, dan penghiburan rohani Anda.

Dan kemudian, beberapa halaman berikutnya:

Ini adalah kitab silsilah Yesus Kristus anak Daud, anak Abraham juga ...

Inilah Kitab Injil Matius, yang diterjemahkan dari bahasa Yunani asli ke dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya. Seluruh Perjanjian Baru akan segera menyusul, dan kemudian sebagian dari Perjanjian Lama, sebelum penerjemahnya, William Tyndale (1494-1536), akan ditemukan dan dibunuh karena apa yang dia kerjakan.

Mereformasi Bahasa Inggris

Bible

Selama berabad-abad yang lalu, orang Inggris pada umumnya mungkin mengira Allah berbicara dalam bahasa Latin. Satu-satunya Alkitab yang sah di Inggris adalah Alkitab Bahasa Latin, yang diterjemahkan lebih dari satu milenium sebelumnya oleh Bapak gereja Jerome (yang meninggal pada 420). Bagi mereka, Mazmur hanyalah nyanyian dari negeri asing. Sepuluh Perintah bergemuruh ke arah mereka tanpa kejelasan yang lebih dari guntur Sinai. Mereka tahu, mungkin, bahwa Firman itu menjadi daging dan tinggal di antara kita -- tetapi terlepas dari potongan-potongan, mereka tidak pernah mendengar Dia berbicara dalam bahasa mereka. Sampai akhirnya Alkitab Bahasa Inggris datang.

Selama tahun-tahun berikutnya, beberapa orang membakar buku ini, dan beberapa orang dibakar karena buku itu. Beberapa akan menyelundupkan buku ini ke Inggris, dan beberapa akan membuangnya. Namun, buku itu sendiri, setelah diterjemahkan, tidak akan terlupakan. Ilegal atau tidak, Kitab Suci Bahasa Inggris akan menemukan jalan mereka ke mimbar Inggris dan hati orang Inggris, mereformasi Inggris melalui bahasa ibunya.

Dan di sepanjang jalan, reformasi lainnya terjadi -- reformasi yang sering diabaikan, tetapi, dapat dikatakan, sangat besar pengaruhnya. Terjemahan Tyndale tidak hanya akan mereformasi negara Inggris, tetapi juga bahasa Inggris; itu akan membentuk masa depan bukan hanya agama Inggris, tetapi juga bahasa Inggris. Seperti yang ditulis oleh penulis biografi David Daniell, "Tajuk utama surat kabar masih mengutip Tyndale, meskipun tanpa disadari, dan dia telah menjangkau lebih banyak orang daripada Shakespeare" (William Tyndale, 2).

Bahaya Terjemahan

Dari jarak lima ratus tahun, kita mungkin kesulitan untuk memahami bagaimana gereja Kristen Inggris dapat menentang Kitab Suci Kristen Inggris. Karena, cukup mencengangkan, gerejalah yang melarang dan membakar buku ini. Otoritas Katolik pada zaman Tyndale memberikan setidaknya dua alasan.

Pertama, terjemahan pada dasarnya berbahaya. Pada awal 1400-an, satu generasi setelah John Wycliffe (1328-1384) menerbitkan Alkitab bahasa Inggris pertama (diterjemahkan dari Vulgata Latin, bukan dari bahasa Ibrani dan Yunani), Konstitusi Oxford menyatakan,

Adalah berbahaya, seperti yang disaksikan St. Jerome yang dimuliakan, untuk menerjemahkan teks Kitab Suci dari satu bahasa ke bahasa lain, karena dalam terjemahan arti yang sama tidak selalu mudah dipertahankan .... Karena itu kami memutuskan dan menetapkan, bahwa tidak seorang pun, selanjutnya, dengan otoritasnya sendiri menerjemahkan teks Kitab Suci apa pun ke dalam bahasa Inggris atau bahasa lain apa pun ... dan tidak ada orang yang boleh membaca buku seperti itu ... sebagian atau seluruhnya. (God's Bestseller, xxii)

Para imam dan hakim pada zaman Tyndale menegakkan hukum seperti itu dengan kaku, terkadang membakar orang Kristen hidup-hidup hanya karena memiliki Doa Bapa Kami dalam bahasa Inggris. Sebuah Alkitab bahasa Inggris, tentu saja, lebih berbahaya bagi gereja yang korup daripada bagi orang Kristen biasa. Meski demikian, begitulah posisi mereka: terjemahan terlalu berbahaya.

Bahasa Kita yang Kasar dan Berkarat

Dengan Alkitab Tyndale, muncul reformasi -- secara teologis dan spiritual, tetapi juga secara linguistik.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Akan tetapi, terlepas dari terjemahan itu sendiri yang dianggap berbahaya, gagasan terjemahan bahasa Inggris dianggap "konyol." "Bahasa Inggris, ketika Tyndale mulai menulis," kata Daniell, "adalah bahasa yang buruk, hanya diucapkan oleh beberapa orang di sebuah pulau di lepas landas Eropa .... Pada tahun 1500, bahasa Inggris bagi orang-orang di Eropa sama tidak relevannya dengan bahasa Gaelik Skotlandia sekarang ini bagi orang-orang di kota London" (The Bible in English, 248).

Meskipun bahasa Inggris cukup untuk komunikasi sehari-hari, bahasa Latin mendominasi bidang kehidupan tertinggi. Hakim menulis dalam bahasa Latin. Profesor menulis (dan mengajar) dalam bahasa Latin. Karya sastra muncul dalam bahasa Latin. Para pendeta melakukan pelayanan mereka dalam bahasa Latin. Lalu, bagaimana Alkitab bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris?

Sebuah puisi dari John Skelton, yang ditulis pada awal tahun 1.500-an, menangkap dugaan absurditas terjemahan bahasa Inggris:

Bahasa alami kita kasar,
Dan sulit dijadikan enneude (dihidupkan kembali)
Dengan begitu banyak istilah yang dipoles;
Bahasa kita sangat usang,
Sangat murung dan begitu penuh
Dengan pertentangan [kata-kata sulit], dan sangat membosankan,
Sehingga jika aku hendak memakainya
Untuk menulis dengan indah,
Aku tak tahu di mana menemukan
Istilah untuk mengungkapkan pikiranku. (273)

Bahasa yang kasar dan berkarat seperti itu tidak bisa membawa nubuat Allah. Atau begitulah yang dipikirkan pihak gereja.

Alkitab untuk si Pembajak

kataWilliam Tyndale tumbuh besar, bersama dengan semua anak laki-laki lain seusianya, mendengar firman Tuhan dalam bahasa Latin. Doa Bapa Kami tidak dimulai, "Bapa kami, yang ada di surga," tetapi "Pater noster, qui es in caelis." Dan, seperti anak laki-laki lain seusianya, dia menghabiskan hari-hari sekolahnya mempersiapkan diri untuk mengucapkan kata Latin itu seperti seorang imam kepada generasi berikutnya.

Namun, dia tidak pernah melakukannya -- atau setidaknya tidak lama. Kita tahu beberapa alasan mengapa Tyndale bosan dengan agama yang hanya berbahasa Latin dan mulai bersemangat membaca Alkitab dalam bahasa Inggris. Mungkin dia memperhatikan bahwa, dari seluruh Eropa pada tahun 1520-an, hanya Inggris yang tidak memiliki terjemahan vernakular yang sah (Bible in English, 249). Mungkin dia mendengar tentang -- dan bahkan membaca -- terobosan Alkitab Jerman Martin Luther, yang diterbitkan pada tahun 1522. Mungkin dia memperhatikan semua kejahatan Katolik yang hanya dapat dikonfirmasi oleh Alkitab yang bisu. Dan mungkin, sebagai seorang ahli bahasa yang luar biasa, dia mendengar jauh lebih banyak potensi dalam bahasa Inggris kita daripada gereja pada zamannya.

Akan tetapi, kita tahu bahwa ketika usia dua puluhan Tyndale mendengar seseorang berkata, "Lebih baik kita hidup tanpa hukum Tuhan daripada hukum Paus," dia menjawab, "Saya menentang Paus dan semua hukumnya .... Jika Allah mengizinkan saya hidup lama, saya akan membuat seorang anak laki-laki yang mengemudikan bajak, mengetahui kitab suci lebih banyak daripada Anda" (William Tyndale, 79). Injil di Kitab Suci, Tyndale tahu, "membuat hati seseorang gembira, dan membuatnya bernyanyi, menari, dan melompat kegirangan" (123). Akan tetapi, bagaimana si pembajak akan bernyanyi jika dia tidak mengerti sedikit pun tentang Injil itu?

Maka, Tyndale mulai menerjemahkan. Dia pergi pertama-tama ke London, untuk melihat apakah dia bisa menemukan dukungan untuk pekerjaannya di dekat rumah. Karena tidak menemukan apa pun, dia meninggalkan London menuju benua itu, dan di sana mulai mengerjakan terjemahan yang akan memberikan bukan hanya Alkitab kepada si pembajak, tetapi juga Alkitab dalam bahasa Inggris yang begitu indah, sehingga akan bertahan selama berabad-abad.

Terjemahan Tyndale

Dalam penilaian seorang sarjana, Tyndale "bertanggung jawab hampir seorang diri untuk membuat bahasa ibu, yang pada awal abad keenam belas hampir tidak dapat dihormati di kalangan terpelajar, menjadi sarana yang luwes, kuat, dan sensitif seperti yang terjadi pada zaman Shakespeare" (The King James Version pada 400, 316). Yang lain lebih jauh mengatakan, "Ada kebenaran dalam pernyataan, 'Tanpa Tyndale, tidak ada Shakespeare'" (William Tyndale, 158). Di bawah pena Tyndale, bahasa Inggris bertumbuh dari pemuda yang lemah menjadi pria dewasa, yang mampu mengungkapkan seluk-beluk dan kedalaman Kitab Suci dari Kejadian hingga Wahyu.

Namun, bagaimana dia melakukannya? Dengan memfokuskan semua kejeniusan linguistiknya pada dua tujuan besar: "Pertama," tulis Daniell, "untuk memahami bahasa Yunani dan Ibrani dari teks-teks asli Alkitab serta hal itu dapat dilakukan secara manusiawi. Kedua, menulis dalam bahasa Inggris yang di atas segalanya, dan setiap saat, masuk akal" (92). Akurasi dan kejelasan adalah ciri khas Tyndale, dan mereka membuat bahasa Inggris sekaligus menjadi sesuatu yang baru dan sangat familiar.

MUSA BERBICARA DALAM BAHASA INGGRIS

Pertama, komitmen Tyndale terhadap akurasi membuat bahasa Inggrisnya menjadi hal baru yang aneh. Rasa asing melekat pada frasa bahasa Inggrisnya, seolah-olah bahasanya bepergian ke luar negeri dan pulang dengan aksen baru.

Terkadang, pembaca merasakan perubahan dalam kata-kata baru yang diciptakan Tyndale untuk menangkap makna teks. Syafaat, penebusan, Paskah, kursi pendamaian, kambing hitam -- ini semua adalah Tyndalisme, karya seorang tukang kata di bengkelnya. Alistair McGrath berkomentar, "Dapat dilihat langsung bahwa terjemahan alkitabiah dengan demikian memberikan dorongan besar bagi perkembangan bahasa Inggris, paling tidak dengan menciptakan kata-kata bahasa Inggris baru untuk mengakomodasi ide-ide alkitabiah" (The Word of God in English, 61).

Akan tetapi, Tyndale tidak hanya menghasilkan kata-kata baru, tetapi juga gaya baru, terutama dalam terjemahan Perjanjian Lamanya. Berusaha keras untuk literal, dia menciptakan semacam bahasa Inggris Ibrani, seolah-olah Musa harus berbicara bahasa Inggris dengan pola bahasa ibunya. Misalnya, aneh kelihatannya, konstruksi sederhana "the+noun+of+the+noun" -- "the beasts of the field," "the birds of the air" -- masuk ke dalam bahasa Inggris melalui terjemahan Tyndale dari bentuk Ibrani yang disebut rantai konstruksi (William Tyndale, 285). Tyndale bisa saja memasukkan bentuk Ibrani ini ke dalam sintaksis bahasa Inggris yang ada; sebaliknya, dia menemukan bentuk bahasa Inggris baru, dan dengan demikian menghiasi bahasa Inggris kita dengan jubah Ibrani.

"Mengikuti kontur sintaksis bahasa Ibrani," tulis Robert Alter, "mencapai jenis baru efek menarik, sekaligus unggul dan hampir mencolok" (The King James Bible and the World It Made, 136). Dan, lebih banyak contoh dapat dicantumkan. Pengaruh bahasa Ibrani pada bahasa kita (dan pada tingkat lebih rendah bahasa Yunani), Daniell berpendapat, tidak kurang dari "besar sekali" (William Tyndale, 289) -- dan pujian sebagian besar ditujukan pada Tyndale. Dengan memahami bahasa aslinya begitu erat, dia membawa banyak dari mereka kembali ke bahasa Inggris, kepada kekayaan kita yang luar biasa.

TULISAN SUCI DALAM BAHASA BIASA

Akan tetapi, di samping hal baru yang tidak biasa itu, ada keakraban yang mencolok, yang lahir dari komitmen Tyndale terhadap kejelasan. Bahasa Inggrisnya mungkin telah bepergian ke luar negeri, tetapi tidak pernah kehilangan kontak dengan akarnya -- dan khususnya akar Saxonnya.

Bahasa Latin, seperti yang telah kita lihat, mendominasi karangan terkenal Tyndale yaitu England. Namun, bahkan ketika seorang penulis menulis sesuatu yang penting dalam bahasa Inggris, dia biasanya mengadopsi gaya Latin, bahasa Inggris yang penuh dengan kata-kata bersuku kata abstrak dalam sintaksis yang kompleks. Sebagai contoh, Daniell memberikan kutipan berikut dari terjemahan Lord Berner tahun 1523 tentang sejarah Perancis:

Jadi, ketika saya menerbitkan dan mengingat berbagai artikel sejarah, betapa bermanfaatnya bagi manusia fana, dan betapa terpuji dan berjasanya suatu perbuatan menulis sejarah ... yang saya nilai sangat berguna, perlu, dan menguntungkan memilikinya dalam bahasa Inggris ... (Bible in English, 250)

Dari 46 kata dalam kalimat parsial ini, 11 terdiri dari tiga suku kata atau lebih, 6 di antaranya 11 mencapai kisaran empat atau lima suku kata, dan sebagian besar dalam abstraksi yang tidak jelas. Beralih ke Tyndale, baik dalam tulisan prosanya atau terjemahan Alkitabnya, maka Anda memasuki dunia yang berbeda -- dunia yang lebih Saxon daripada Latin, diisi dengan kata-kata dan kalimat pendek yang membangkitkan gambaran kehidupan nyata. Di sini kita menemukan cahaya, bukan penerangan; makan, bukan menelan; tumbuh, bukan menyuburkan; bakar, bukan hangus.

Kata-kata Latin memiliki tempat mereka dalam bahasa Inggris, tentu saja, tetapi Tyndale tahu bahwa "bahasa daerah Anglo-Saxon yang sederhana" tidak hanya cocok dengan "diksi sederhana dari bahasa Ibrani," tetapi juga bahwa itu berbicara kepada hati pembaca dan pendengar bahasa Inggris (Raja Yakobus Alkitab, 137). Dia menerjemahkan "dalam bahasa yang digunakan orang-orang, bukan seperti yang ditulis oleh para sarjana" (William Tyndale, 3) -- seperti, misalnya, dalam kisah Natal Lukas 2:

And there were in the same region shepherds abiding in the field, and watching their flock by night. And lo: the angel of the Lord stood hard by them, and the brightness of the Lord shone round about them, and they were sore afraid. And the angel said unto them: Be not afraid: Behold I bring you tidings of great joy, that shall come to all the people: for unto you is born this day in the city of David a saviour, which is Christ the Lord. (Luke 2:8-11)
(Di daerah yang sama, ada beberapa gembala yang tinggal di padang untuk menjaga kawanan domba mereka pada waktu malam. Tiba-tiba, malaikat Tuhan berdiri di depan mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar di sekeliling mereka sehingga mereka sangat ketakutan. Akan tetapi, malaikat itu berkata kepada mereka, "Jangan takut sebab dengarlah, Aku memberitakan kepadamu kabar baik tentang sukacita besar yang diperuntukkan bagi semua bangsa. Pada hari ini, telah lahir bagimu seorang Juru Selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. (Lukas 2:8-11, AYT)

Dari 87 kata dalam perikop ini, hanya satu yang mencapai tiga suku kata (abiding). Inilah bahasa yang akrab dan hangat, dunia kata-kata di mana bahkan seorang pembajak bisa merasa betah. Namun, pada saat yang sama, di sini ada bahasa yang indah, "mata air yang darinya mengalir kejernihan, keluwesan, dan jangkauan ekspresi prosa terbesar setelahnya" (William Tyndale, 116).

Bahasa Tyndalian Kita yang Luar Biasa

Alkitab Tyndale

Pada tahun 1611, 86 tahun setelah sebagian Perjanjian Baru Tyndale diselundupkan ke Inggris, sebuah Alkitab bahasa Inggris baru muncul, sebuah Alkitab yang akan memenangkan hati orang-orang Kristen berbahasa Inggris sehingga, selama tiga abad, Anda hampir dapat menyebutnya sebagai Alkitab bahasa Inggris. Namun, luar biasa, sebagian besar Versi King James milik pena Tyndale: 84 persen Perjanjian Baru berasal dari terjemahannya, bersama dengan 76 persen kitab Perjanjian Lama yang dia selesaikan sebelum dia meninggal (God's Bestseller, 1). Penerjemah tahun 1611 sangat berutang budi pada karya perintisnya sehingga C. S. Lewis dapat mengatakan tentang KJV, "Alkitab kita secara substansial adalah Tyndale" (Word of God in English, 60).

Tidak heran Daniell menulis, "Sumbangsih Tyndale untuk bahasa Inggris tidak terukur" (William Tyndale, 158). Melalui terjemahannya sendiri, dan kemudian melalui KJV, Tyndale -- seorang penerjemah kesepian yang diburu yang akhirnya menjadi martir karena karyanya -- akan mengajari penyair dan penulis drama, politisi dan pendeta, dalam "suara dan ritme serta indera bahasa Inggris" (2). Tyndale memberi kita bahasa Inggris yang layak untuk diucapkan dan ditulis, dan tidak hanya dalam percakapan sehari-hari dan dokumen informal, tetapi juga dalam hal paling berharga tentang hidup dan mati.

Sampai sekarang, kita masih merasakan pengaruhnya yang mendorong setiap kali kita membaca atau mendengar English Standard Version, yang para penerjemahnya mencatat bahwa "kata dan frasa . . . tumbuh dari warisan Tyndale -- King James." Namun pengaruhnya jauh lebih dalam, hingga ke naluri dan dunia pemikiran semua penutur bahasa Inggris. Kita berbicara bahasa Inggris seperti ikan berenang di air, jarang memperhatikan kualitas bahasa di mana kita hidup dan bergerak dan berada (ada ungkapan Tyndale, Kisah Para Rasul 17:28). Seperti yang ditulis David Norton, "Sulit membayangkan bagaimana bahasa kita tanpa tradisi Tyndale yang terkandung dalam KJV -- sebagian besar karena kita begitu terbiasa dengan bahasa yang kita miliki dan oleh karena itu sulit untuk mengamati" (King James Versi, 21).

Akan tetapi, kita tahu bahwa bahasa Inggris bukan lagi bahasa yang kasar dan berkarat seperti yang dipikirkan John Skelton. Dengan Alkitab Tyndale, muncul reformasi -- secara teologis dan spiritual, tetapi juga secara linguistik. Mereka dapat membakar buku itu, dan mereka bahkan dapat membakar orangnya, tetapi mereka tidak dapat membakar habis kata-kata yang didengar banyak orang. Di dalam kedaulatan Allah, Tyndale memberikan kepada dunia berbahasa Inggris Injil tentang pembenaran oleh iman saja, dan dengan melakukan itu, dia memberi kita bahasa baru untuk menyanyikannya. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
Alamat situs : https://desiringgod.org/articles/the-reformation-of-english
Judul asli artikel : The Reformation of English
Penulis artikel : Scott Hubbard

Komentar