Dietrich Bonhoeffer dan Konteks Gereja Pada Zamannya

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Sudah lama kita tidak membahas tentang tokoh dan sejarah. Oleh karena itu, pada bulan ini, saya memilih artikel yang membahas tentang seorang tokoh gereja yang berani memperjuangkan kebenaran sampai mati pada zamannya, yaitu Dietrich Bonhoeffer. Beliau dengan berani dan tegas melawan pemerintahan diktator Hitler, yang pada saat itu melumpuhkan peran gereja dalam masyarakat. Karena kekejaman dan kekuasaan Hitler saat itu, bahkan gereja pun tutup mulut dan tutup mata. Gereja tidak berani memberikan teguran dan kritikan pada pemerintahan Hitler. Sosok seperti Bonhoeffer inilah yang dibutuhkan oleh masyarakat. Orang yang di dalam minoritas, namun tetap berani bersuara memperjuangkan kebenaran.

Meskipun pada akhirnya beliau terlibat dalam organisasi yang merencanakan pembunuhan Hitler, tetapi kita dapat mengambil makna dari keberaniannya dalam memperjuangkan kebenaran. Untuk selengkapnya, silakan menyimak artikel berikut ini. Selamat menyimak.

Pemimpin Redaksi e-Reformed, Teddy Wirawan < teddy(at)in-christ.net > < http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
edisi 150/Maret 2014
Isi: 

Gereja dan negara adalah dua lembaga dalam masyarakat. Keduanya memiliki peran yang berbeda. Gereja adalah lembaga agama, sedangkan negara adalah lembaga politik. Dampak sekularisme menyebabkan gereja hanya berperan di wilayah privat, sedangkan negara berperan di wilayah publik. Akan tetapi, benarkah dikotomi seperti ini? Apakah gereja tidak memiliki peran apa pun dalam publik karena statusnya sebagai lembaga agama? Apakah gereja harus diam terhadap masalah-masalah sosial dan politik di dalam masyarakat? Dietrich Bonhoeffer akan menjawab dengan tegas, "Tidak."

Bonhoeffer adalah seorang teolog Jerman yang melakukan perlawanan terhadap rezim Hitler. Beliau menyadari kelumpuhan yang terjadi dalam gereja yang menutup mata terhadap kebijakan-kebijakan Hitler sampai akhirnya berujung pada Holocaust. Beliau menganggap urusan rohani bukan hanya terbatas di dalam gereja, melainkan juga di luar gereja.

Kehidupan Bonhoeffer

Sebelum melihat perlawanan Bonhoeffer, kita perlu memahami latar belakang kehidupannya. Bonhoeffer hidup pada tahun 1906-1945. Dia dilahirkan dalam keluarga terpelajar yang menekankan pentingnya ilmu pengetahuan. Ayahnya bernama Karl Ludwig Bonhoeffer, seorang profesor psikiatri dan saraf di Universitas Berlin, sedangkan ibunya bernama Paula von Hase, seorang guru yang menjadi ibu rumah tangga. Pada tahun 1924, Bonhoeffer mendaftar menjadi mahasiswa fakultas teologi di Universitas Berlin dan pada tahun 1927, ia mendapat gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul "Communio Sanctorum". Pada tahun 1929, ia memperoleh jabatan profesor setelah menyelesaikan habilitasi atau disertasi kedua yang berjudul "Act and Being".

Bonhoeffer adalah seorang akademisi. Dia menghabiskan waktunya dengan mengajar dan menulis. Beberapa karyanya yang sangat terkenal adalah "The Cost of Discipleship", "Life Together", dan "Ethics". Selain itu, dia juga aktif di dalam forum gereja-gereja, baik di Jerman maupun di dunia.

Ketika Bonhoeffer hidup, Jerman sedang mengalami perubahan politik. Perubahan yang pertama adalah kehancuran Kekaisaran Wilhelmine (Kaiserreich) yang disebabkan oleh Perang Dunia I. Kekaisaran Wilhelmine didirikan oleh Otto von Bismarck pada tahun 1871 untuk menjadikan Jerman sebagai negara paling kuat di Eropa. Pada masa itu, negara yang paling disegani di Eropa adalah Kerajaan Inggris Raya, dan untuk mengalahkan Inggris, Bismarck meningkatkan kekuatan militer dan industri Jerman. Keadaan ini membawa Jerman dalam Perang Dunia I, yang berakhir dengan kekalahan Jerman tahun 1918.

Perubahan yang kedua adalah kegagalan Republik Weimar. Setelah Perang Dunia I berakhir, Jerman kembali menata kehidupannya. Kekalahan Jerman dalam perang dianggap sebagai kegagalan sistem monarki yang didukung oleh kelompok intelektual dan industrialis. Sebab itu, kelompok oposisi, yaitu buruh, mengusulkan sistem parlementer. Gagasan ini kemudian dijalankan dalam bentuk republik yang dikenal sebagai Republik Weimar. Republik ini dibentuk dari koalisi kelompok-kelompok yang antimonarki. Akan tetapi, pemerintahan ini tidak berjalan dengan baik karena kelompok yang konservatif tetap ingin mempertahankan sistem monarki Wilhelmine. Dengan demikian, dalam negara Jerman terdapat dua kekuatan yang saling berlawanan, yaitu kelompok antimonarki dan kelompok antidemokrasi.

Keadaan ini diperparah oleh masalah ekonomi. Pasca-Perang Dunia I, Jerman mengalami inflasi yang tinggi karena harus membayar utang perangnya, akibatnya pemerintah tidak sanggup mengatasi kekacauan ekonomi. Pemerintahan Weimar tidak dapat mengatasi keadaan ini sehingga harus berakhir pada tahun 1933.

Perubahan yang terakhir adalah berdirinya pemerintahan Nazi (Nasionalis Sosialis). Pada tahun 1933, Partai Nazi yang dipimpin oleh Hitler mengambil alih kekuasaan. Hitler diangkat menjadi kanselir dan berjanji akan mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran di Jerman. Sejarah masa lampau yang begitu gemilang dan kenyataan di depan mata yang begitu menyedihkan menyebabkan rakyat Jerman mengharapkan seorang pemimpin yang dapat mengembalikan kejayaan Jerman seperti di era Bismarck dan Wilhelmine. Bagi rakyat Jerman, pengembalian harga diri dan kebanggaan Jerman adalah prioritas utama dan siapa pun yang dapat melakukannya akan didukung sepenuhnya. Tidak mengherankan jika saat itu tidak banyak yang melakukan perlawanan terhadap Hitler.[1]

Hitler kemudian mengubah sistem parlementer menjadi sistem totaliter. Dia mengangkat dirinya menjadi Führer, yaitu pemimpin tertinggi. Walaupun hampir sama dengan monarki absolut, tetapi ada perbedaannya. Dalam monarki absolut masih terdapat hukum yang dibakukan, tetapi raja berada di atas hukum tersebut, sedangkan dalam sistem totaliter Hitler, seluruh hukum adalah produk dari nilai-nilai dan pengalaman pribadi Sang Führer.[2]

Kemunculan Hitler memang memberikan pengharapan kepada bangsa Jerman, tetapi menghasilkan ketakutan kepada bangsa Yahudi yang tinggal di Jerman. Demi mempersatukan semangat seluruh bangsa Jerman, Hitler meluncurkan propaganda tentang keunggulan ras Arya. Propaganda ini bertujuan untuk mengembalikan kepercayaan diri bangsa Jerman. Akan tetapi, propaganda ini kemudian diikuti dengan propaganda anti-Yahudi. Hitler menjadikan bangsa Yahudi yang tinggal di Jerman sebagai permasalahan bersama sehingga harus disingkirkan jika bangsa Jerman ingin mendapatkan kembali kejayaannya. Tentu saja propaganda ini mendapatkan dukungan dari rakyat Jerman yang sangat menginginkan Jerman kembali berjaya seperti dulu.

Hitler kemudian membuat kebijakan-kebijakan yang memisahkan bangsa Jerman dari bangsa Yahudi. Semua orang Yahudi, yang memiliki jabatan di pemerintahan ataupun universitas, diberhentikan. Bahkan, pada tanggal 1 April 1933, Hitler mengumumkan pemboikotan terhadap toko-toko yang dimiliki orang Yahudi. Toko-toko orang Yahudi dijaga oleh tentara dan diberi tanda supaya orang Jerman tidak berbelanja ke sana. Selain itu, seluruh percetakan dan penerbitan yang dimiliki orang Yahudi juga ditutup karena dituduh menyebarkan kebohongan tentang pemerintahan Nazi.

Sejak Sang Führer menduduki tampuk kekuasaan, Jerman memasuki kekelaman yang tidak disadari oleh semua orang, kecuali beberapa orang yang masih berhati nurani seperti Bonhoeffer.

Anugerah Murahan dan Harga Sebuah Pemuridan

Kebijakan anti-Yahudi ini juga berimbas pada gereja karena Hitler membuat sebuah aturan pada gereja yang disebut dengan Paragraf Aryan. Peraturan ini bertujuan agar gereja sinkron dengan kebijakan Hitler. Dalam peraturan tersebut dikatakan gereja Protestan Jerman hanya untuk keturunan Arya, dengan demikian semua orang Kristen keturunan Yahudi yang sudah dibaptis di gereja tersebut harus dikeluarkan dari keanggotaan gereja. Selain itu, semua pendeta yang berdarah Yahudi juga tidak boleh melayani dalam gereja tersebut.

Kebijakan ini disambut baik oleh sebagian besar tokoh gereja Protestan pada saat itu. Akan tetapi, bukankah kebijakan ini salah? Mengapa gereja malah mendukungnya? Semuanya ini hanya bisa dipahami dengan melihat kondisi gereja Protestan di Jerman saat itu.

Gereja Protestan di Jerman telah menempati posisi yang penting dalam negara sejak zaman Martin Luther. Penguasa negara memberikan perlindungan penuh kepada gereja Protestan dan sebaliknya, gereja pun memberikan dukungan kepada penguasa. Hubungan ini terus berlangsung pada zaman Kekaisaran Wilhelmine. Para tokoh gereja memberikan dukungan mereka kepada cita-cita Bismarck untuk menjadikan Jerman sebagai negara terkuat di seluruh Eropa dan dunia sekalipun sampai harus berperang dengan negara lain. Para tokoh gereja pada saat itu sangat dipengaruhi oleh filsafat Hegel yang menyatakan bahwa sejarah merupakan pewahyuan dari roh yang absolut sehingga mereka berpikir bahwa Jerman merupakan perwujudan dari roh yang absolut tersebut. Dengan demikian, jika Jerman menjadi penguasa dunia, berarti Kerajaan Allah sudah hadir.

Hubungan antara gereja dan negara telah menyebabkan gereja menganggap kebanggaan Jerman sebagai kebanggaan mereka juga. Dengan demikian, kekalahan Jerman dalam Perang Dunia I menyebabkan tokoh-tokoh gereja kehilangan kebanggaannya. Mereka menginginkan Jerman seperti pada era Kaisar Wilhelmine, maka tidak heran jika mereka menolak pemerintahan Republik Weimar.

Ketika Hitler muncul menjadi penguasa, dia berjanji akan mengembalikan kejayaan bangsa Jerman seperti masa lampau, tentu saja sebagian tokoh gereja bergairah mendengarkan hal ini. Selain itu, Hitler juga menunjukkan penghormatan yang tinggi kepada gereja. Dia tidak melarang gereja Protestan di Jerman bahkan menyatakan gereja merupakan sumber kebudayaan yang penting bagi rakyat Jerman. Selain itu, Hitler menyatakan ketegasannya terhadap pemerintah Stalin di Soviet yang komunis yang dianggap sebagai musuh Tuhan oleh tokoh gereja di Jerman. Keadaan inilah yang menyeret gereja kepada kampanye anti-Yahudi Hitler.

Bonhoeffer melihat kondisi ini lebih jauh. Dia menyatakan sikap gereja seperti ini disebabkan karena anugerah murahan yang telah diajarkan dalam gereja Protestan. Gereja mengajarkan tentang keselamatan melalui iman sehingga yang penting adalah percaya dan setelah itu menjadi anggota gereja dan mengikuti rutinitas gerejawi. Anugerah murahan ini menyebabkan orang-orang Kristen di Jerman sangat menyukai kenyamanan, khususnya di dalam gereja. Tidak mengherankan jika gereja tidak berani untuk menyatakan kesalahan Hitler karena Hitler tidak mengusik kenyamanan di gereja.

Bonhoeffer mengingatkan gereja pada saat itu bahwa Kristus bukan memberikan anugerah yang murah, tetapi anugerah yang mahal. Anugerah yang mahal menuntut setiap orang yang menerimanya untuk mengikut Yesus Kristus seumur hidupnya dan harus menyangkal diri dan memikul salib. Bonhoeffer menyatakan ini dalam kalimatnya yang terkenal, "Ketika Kristus memanggil seseorang, Dia memanggilnya untuk mati." Inilah yang disebut dengan harga sebuah pemuridan. Dengan demikian, setiap orang Kristen tidak boleh memikirkan kenyamanannya melainkan harus berani membayar harga demi ketaatannya pada Yesus Kristus, termasuk berani melawan pemerintah yang salah.

Gereja tidak boleh takut melawan kehendak Hitler jika memang tidak sesuai dengan kebenaran firman Allah. Bonhoeffer berkata, "The church has only one altar, the altar of the Almighty ... before which all creatures must kneel. Whoever seeks something other than this must keep away, he cannot join us in the house of God ... the church has only one pulpit, and from that pulpit, faith in God will be preached, and no other faith, and no other will than the will of God, however well-intentioned."

Bonhoeffer mendorong orang percaya agar tidak memerhatikan kenyamanan sendiri, melainkan juga kebutuhan orang lain termasuk orang tidak percaya. Gereja tidak boleh hanya memedulikan urusan internalnya, tetapi juga urusan lain yang terjadi di luar gereja. Bonhoeffer berkata, "The church is the church only when it exist for others. To make a start, it should give away all its property to those in need ... The church must share in the secular problems of ordinary human life, not dominating, but helping and serving."

Penutup

Kehidupan Bonhoeffer ditutup dengan tindakannya yang kontroversial, yaitu keterlibatannya dalam rencana pembunuhan Hitler. Hal ini menimbulkan sejumlah perdebatan etika di kalangan orang percaya. Kita tidak harus menyetujui tindakannya. Akan tetapi, Bonhoeffer menunjukkan sisi lain dari hubungan gereja dengan negara. Pada saat pemerintah melakukan keadilan, gereja harus menghormati otoritasnya tetapi ketika pemerintah melakukan ketidakadilan, bahkan kepada orang-orang di luar gereja, gereja seharusnya memberikan teguran kepada pemerintah.

Catatan Kaki:

  1. John A. Moses. Bonhoeffer’s Germany: the political context” dalam John W. de Gruchy (Ed.) “The Cambridge Companion to Dietrich Bonhoeffer” (Cambridge: Cambridge University Press, 1999), 17.

  2. Ibid, 16.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Nama situs : Buletin Pillar
Alamat situs atau URL : http://www.buletinpillar.org
Judul artikel : Dietrich Bonhoeffer
Penulis artikel : Calvin Bangun
Tanggal akses : 4 Februari 2014

Garam dan Terang Dunia

Penulis_artikel: 
Panitia Konverensi Injil Nasional (KIN)
Tanggal_artikel: 
27 Februari 2014
Isi_artikel: 

Kita adalah garam dan terang dunia. Kita akan menggumuli identitas kita sebagai orang Kristen. Garam berarti kita tidak sama dengan dunia yang menuju kepada pembusukan. Terang berarti, kita tidak sama dengan dunia yang menuju kepada kegelapan.

Pertama, identitas kita adalah kesucian (Imamat 11:45). Tuhan berkata, "Jadilah kudus sebab Aku ini kudus adanya." Tanpa kekudusan, tidak ada seorang pun dapat melihat Allah. Kita itu suci dan berbeda dari dunia yang begitu berdosa. Gereja (Yun. Ekklesia) berarti dipanggil keluar. Kita ada di dunia, tetapi tidak sama dengan dunia yang busuk, gelap, dan berdosa. Kata "kudus" (Ibr. Qadosh) memiliki arti terpisah.

Kedua, identitas kita adalah "keduniaan". Apa artinya? Kita adalah garam dunia yang diutus ke dalam dunia. Misi Allah adalah Tuhan Yesus mengutus kita, sama seperti Bapa mengutus Dia ke dalam dunia (Yohanes 17:18). Dunia memiliki dua pengertian: negatif dan positif. Paulus berkata, "Janganlah kamu serupa dengan dunia (negatif) ini." Di sisi lain, Yesus berkata, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia (positif) ini, maka Dia mengutus anak-Nya yang tunggal."

Ada empat sikap terhadap dunia. Pertama, menarik diri dan tidak menginjili. Kedua, mengakomodasi dan melebur dengan dunia sehingga kita kehilangan identitas dan tidak bisa menggarami dan menerangi dunia. Ketiga, dualisme yang munafik seperti orang Farisi. Keempat, kita pakai kekuatan senjata untuk menghancurkan dunia dan menjadi batu sandungan.

Sekarang, kita masuk ke dalam panggilan kita sebagai orang Kristen. Pertama, kita menggarami dunia. Garam itu bersifat mengawetkan sehingga mencegah kebusukan dan dapat mensterilkan luka. Apa artinya garam jadi tawar? Garam menjadi tidak murni lagi dan ini bahaya karena bisa jadi batu sandungan. Kedua, kita menerangi dunia. Menggarami bersifat negatif dengan mencegah pembusukan, sedangkan menerangi bersifat positif yang membawa keluar dari kegelapan. Kita mempunyai misi untuk menyelamatkan jiwa. Panggilan Yesus adalah untuk menjala manusia dan mengabarkan Injil.

Penginjilan meliputi verbal (PI pribadi dan PI massal) dan dengan aksi sosial. Pertama, kita harus berani, menyangkal diri, berkorban, dan memikul salib, sehingga kemuliaan Tuhan dinyatakan. Kita harus menampakkan kekristenan kita, bukannya ditaruh di bawah gantang. Kedua, pengorbanan kita dengan kasih (sacrificial love dan unconditional love). Terakhir, kasih dan keadilan. Menggarami menekankan keadilan, dan menerangi menekankan cinta kasih. Bagaimana kita menyeimbangkan kedua hal ini? Bapa Gereja Agustinus berkata, "Tidak ada kasih tanpa keadilan." Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Mu (Mazmur 89). Kasih dan keadilan harus berjalan bersama-sama. Menggarami dan menerangi harus berjalan bersama-sama. Mencegah, menghapus kejahatan, dan menginjili harus berjalan bersama-sama. Di atas salib Kristus, keadilan dan kasih Allah terjadi bersama-sama. Amin.

Sumber Artikel: 

Diambil dan disunting dari:

Judul buku : Konvensi Injil Nasional Jakarta 2013: Kristus Bagi Indonesia
Judul asli artikel: Ringkasan Khotbah KIN: Garam dan Terang Dunia
Penulis : Panitia Konverensi Injil Nasional (KIN)
Penerbit : Stephen Tong Evangelistic Ministries International (STEMI), Jakarta 2013
Halaman : 14

Artikel: Mukjizat Tuhan Yesus

Penulis_artikel: 
Andi Halim
Tanggal_artikel: 
30 Januari 2014
Isi_artikel: 

Bila saat ini kita atau orang yang sangat kita kasihi menderita sakit parah dan dalam keadaan sangat kritis, mungkin kita adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mengharapkan mukjizat terjadi. Salahkah sikap seperti ini? Tentunya tidak.

Memang ada kelompok yang cukup ekstrem beranggapan bahwa mukjizat pada zaman ini sudah tidak pernah terjadi lagi. Bahkan, lebih dari itu, mukjizat di Alkitab pun diragukan kebenarannya. Jelas bahwa kelompok seperti ini adalah kelompok yang sudah terjerat oleh pola pikir rasionalisme dan liberalisme. Mereka beranggapan bahwa segala sesuatu yang "tidak masuk akal" berarti tidak pernah ada. Bila ada peristiwa yang tampak seperti "mukjizat", itu dianggap hanya sebagai kebetulan atau sugesti diri atau psikosomatis, halusinasi, atau fiksi. Kelompok ini menganggap akal atau logika adalah segalanya, selalu benar, dan menjadi standar atau patokan terhadap segala penilaian.

Di pihak lain, ada yang meninjau dari teladan Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Yesus banyak kali memperhatikan orang yang mengharapkan kesembuhan atau pertolongan berupa mukjizat. Ia sendiri pun pernah berfirman: "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu ...." (Matius 7:7) "... Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, -- maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu." (Matius 17:20) "... apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:24)

Saat masih di dunia sebagai manusia, Tuhan Yesus tercatat dalam Alkitab telah melakukan mukjizat lebih dari 37 kali (belum lagi yang tidak tercatat; bdk. Yohanes 21:25). Jadi, bukankah Alkitab memberi tahu bahwa mukjizat merupakan suatu kejadian dan pengalaman yang unik bagi orang yang mau percaya? Bukankah Tuhan Yesus datang untuk menyembuhkan semua orang percaya dari segala macam penyakit?

"Ia ... melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. Maka ... dibawalah kepadaNya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka." (Matius 4:23-24) "Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya" (Matius 12:15b; 14:35-36; 15:30-31).

Dari semua nabi, rasul, maupun orang-orang lain yang dipakai Allah, tidak pernah ada yang melakukan mukjizat sedemikian "banyak" dan "besar" seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, termasuk mukjizat membangkitkan diri-Nya sendiri dari kubur (Yohanes 2:19,21; Matius 26:32).

Di samping itu, ada kelompok ekstrem lain yang berlawanan dengan rasionalisme, yang mengajarkan bahwa Allah menghendaki anak-anak-Nya sehat walafiat, tanpa sakit apa pun, dalam keadaan berkelimpahan berkat, hidup makmur, dan tanpa penderitaan apa pun. Bahkan, pengalaman kesembuhan ilahi, hidup penuh dengan kesuksesan dan kelimpahan bukan lagi ditentukan oleh kehendak Tuhan, melainkan oleh kemauan atau usaha diri kita sendiri. Misalnya, perempuan yang menderita pendarahan, yang mau menjamah jubah Tuhan Yesus (Markus 5:28), seorang perwira yang bawahannya sedang sakit (Matius 8:10), dan perempuan Kanaan yang anaknya kerasukan setan (Matius 15:28), dipuji karena imannya yang sangat "besar". Iman dari Elia, Elisa, dan Paulus juga mendukung bukti bahwa mukjizat bergantung mutlak pada "besar kecilnya iman seseorang" terhadap mukjizat yang diharapkannya.

Bahkan, lebih dari itu, menurut kelompok ini, bukankah Tuhan Yesus juga berjanji bahwa setiap orang yang mau percaya akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus (Yohanes 14:12)? Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa tanda-tanda orang percaya adalah dapat mengusir setan, berbicara dalam bahasa baru, minum racun tidak mati, dan menumpangkan tangan pada orang sakit dan orang itu sembuh (Markus 16:17-18). Bukankah semua ini membuktikan bahwa mukjizat sungguh-sungguh terjadi, dan bahkan sampai hari ini dapat terjadi bagi setiap orang yang sungguh-sungguh percaya/beriman?

Kita memang mengimani bahwa mukjizat sungguh-sungguh dapat terjadi, baik pada masa lampau, sekarang, maupun pada yang akan datang. Kita percaya bukan kepada Allah yang tidak dapat berbuat apa-apa alias patung atau berhala, namun Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup, yang berkarya dalam kekekalan dan dalam sejarah manusia, mahakuasa, Allah yang tak terhingga dalam kekuatan dan kedaulatan-Nya. Namun demikian, meskipun Alkitab mencatat banyak mukjizat luar biasa terjadi karena "iman" seseorang, dan mukjizat yang tidak terjadi karena orang yang kurang atau tidak "beriman" (Matius 13:58; 17:19-20), kita jangan sampai terjebak pada hal-hal yang kita lihat sekadar secara lahiriah.

Banyak orang, sekali lagi, yang beranggapan bahwa mukjizat sangat bergantung pada "iman" dan "kemauan" kita. Bila kita beriman dan mau mengalami mukjizat, maka terjadilah mukjizat itu; dan sebaliknya. Dengan perkataan lain, tindakan Allah dalam melakukan mukjizat sangat bergantung pada kondisi "iman" dan "kemauan" (kepercayaan) kita terhadap mukjizat itu sendiri. Sebuah pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah: Apakah Allah yang Alkitab perkenalkan adalah Allah yang demikian bergantung pada sikap kita?

Pernah dikisahkan sebuah lelucon yang menceritakan dua orang yang akan saling berhadapan dalam pertandingan badminton. Keduanya beriman dengan kualitas yang sama persis; keduanya berdoa agar mereka beroleh kemenangan. Lalu, bila jawaban doa itu bergantung pada "iman" dan "kemauan" masing-masing pemain, apakah pertandingan tersebut akan berakhir imbang? Ada juga cerita bahwa dalam satu desa terdapat seorang yang beriman mempunyai sawah dan pabrik payung, sedangkan seseorang yang lain beriman mempunyai pabrik kerupuk dan tambak yang menghasilkan garam. Yang satu berdoa supaya turun hujan agar sawahnya subur dan payungnya laris, yang satunya berdoa agar hujan sama sekali tidak turun agar garam dan kerupuknya jadi. Bagaimana kira-kira jawaban yang tepat bagi doa-doa orang yang "beriman" ini (misalkan Anda yang menjadi Allah)?

Memang Tuhan Yesus, beberapa nabi, rasul, dan orang-orang yang dipakai Allah disertai tanda-tanda mukjizat yang luar biasa, namun hal ini tidak harus berarti bahwa segala mukjizat yang dilakukan itu bergantung pada "iman" masing-masing sehingga setiap orang yang "beriman" pasti dapat melakukan (mengalami) mukjizat sesuai dengan apa yang diinginkannya (seperti orang yang memencet tombol otomatis). Di pihak lain, ternyata ada juga mukjizat, yang meskipun terjadi di depan orang yang tidak beriman, hasilnya tetap tidak menjadikan mereka percaya (Matius 11:20; bdk. Lukas 17:12-19). Bangsa Israel hampir setiap hari melihat mukjizat yang datang dari Allah, misalnya manna yang turun dari surga, laut terbelah, tiang api dan awan, dll., namun mereka tetap mengeraskan hati dan tidak mau taat kepada Allah.

Ternyata ada juga mukjizat yang diberikan Allah bukan sebagai berkat bagi seseorang, namun sebagai hukuman bagi mereka yang gila mukjizat atau yang mencobai Allah (Mazmur 106:15). Jadi, mukjizat bukan merupakan jaminan bahwa hal tersebut adalah suatu berkat yang datang dari Allah. Bahkan, dalam Matius 7:21-23, dapat disimpulkan bahwa orang yang dapat melakukan mukjizat sama sekali tidak dapat menjamin bahwa ia sudah diselamatkan (lahir baru). Rasul Paulus mengingatkan bahwa pada akhir zaman akan banyak berdatangan nabi atau rasul palsu yang dapat menyerupai aslinya, terutama dalam kemampuannya melakukan mukjizat ataupun hal spektakuler atau yang menimbulkan sensasi lainnya (2 Tesalonika 2:9-12; 2 Korintus 11:12-15, Iblis dapat menjadi seperti malaikat terang). Bahkan, Tuhan Yesus sebelumnya juga pernah mengatakan bahwa di tengah-tengah kita akan muncul serigala yang berbulu domba (Matius 7:15)! Surat 1 Yohanes 4:1 dst. menegaskan agar kita selalu menguji setiap roh, apakah peristiwa, atau pemikiran, perkataan yang kita terima itu benar-benar dari Tuhan atau bukan.

Jika demikian, mengapa Tuhan Yesus, para rasul, nabi, dan orang-orang yang dipakai Allah dapat melakukan mukjizat yang begitu luar biasa? Dan, dalam hal itu, mengapa "iman" seolah-olah merupakan faktor yang sangat menentukan terjadi atau tidaknya suatu mukjizat? Dan, mengapa sampai hari ini mukjizat yang dilakukan oleh tokoh-tokoh "iman" masih terjadi demikian hebatnya dan berdampak luar biasa?

Melalui Matius 7:21-23, kita melihat bahwa ternyata ada "iman" yang tidak jelas sumbernya. Sebagai orang "beriman", mereka dapat melakukan mukjizat dalam nama Tuhan, namun sama sekali tidak mengenal siapa Tuhan yang mereka sebutkan itu. Dengan demikian, perlu dipertanyakan kembali dari mana asal (sumber) mukjizat yang mereka lakukan? Banyak orang yang mengaku beriman dan beribadah kepada Tuhan, namun perlu dipertanyakan apakah Tuhan yang kita anggap Tuhan itu benar-benar adalah Tuhan yang benar (Roma 10:1-3).

Roma 10:17 menyatakan bahwa iman yang benar berasal dari pendengaran dan pendengaran akan firman Allah. Iman yang benar adalah iman yang lahir dari persekutuan atau hubungan pribadi dengan Allah. Artinya, iman harus dan pasti sesuai dengan kehendak dan firman Allah. Mukjizat yang benar harus berdasarkan atau bersumber pada iman yang benar, sedang iman yang benar harus bersumber pada kehendak dan rencana Allah sendiri. Jadi, sumber terjadinya mukjizat sebenarnya bukan bergantung pada iman kita, namun pada kehendak dan rencana Allah.

Iman tidak sama dengan keyakinan. Iman adalah kepercayaan pada janji dan firman-Nya yang pasti diwujudkan sesuai dengan rencana-Nya. Iman itu sendiri adalah pemberian Allah sehingga melalui iman yang dianugerahkan itu, kita boleh mengerti kehendak dan rencana Allah, serta hidup seturut atau sesuai dengan rencana-Nya. Sebagai contoh, Elia mampu mendatangkan mukjizat hujan tidak turun selama 3 tahun, serta mukjizat hujan turun setelah masa kemarau selama 3 tahun. Dari mana asalnya iman yang mampu melaksanakan mukjizat yang demikian hebat (Yakobus 5:17-18)? Kebanyakan orang akan beranggapan bahwa semua itu berasal dari "kebolehan" iman (keyakinan) Elia yang sangat kuat sehingga dia mampu mengatur alam semesta, ia dapat mengubah cuaca dan keadaan. Benarkah analisis ini? Fungsi seorang nabi adalah sebagai juru bicara Allah. Ia tidak boleh menyampaikan apa pun kepada umat bila Allah tidak memberikan perintah kepadanya, termasuk dalam melakukan mukjizat. Bila ada nabi yang berani bertindak atau menjanjikan sesuatu atas nama Allah, tetapi Allah sendiri tidak pernah memberikan perintah tersebut, boleh dikatakan bahwa itu adalah nabi palsu. Elia menegaskan kata-katanya (1 Raja-raja 18:41-46) hanya berdasarkan perintah yang datang dari Allah (1 Raja-raja 18:1). Jadi, jelas bahwa mukjizat yang dilakukan oleh Elia bersumber dari kehendak Allah pada waktu itu.

Banyak orang Kristen mengharapkan mukjizat, namun tidak mendapatkannya sesuai selera mereka. Alasannya hanya satu, yaitu Tuhan sendiri tidak merencanakan seperti demikian (2 Korintus 12:7-10). Bahkan, kadang kala Tuhan mengizinkan peristiwa-peristiwa yang "tidak menyenangkan" terjadi (1 Timotius 5:23, Ibrani 12:6-11), hanya supaya kita makin bersandar dan menyadari bahwa manusia penuh dengan kelemahan dan kekurangan, dan hanya Tuhan saja yang berdaulat dan merupakan sumber kekuatan serta kehidupan kita.

Kecanduan (kegandrungan) akan mukjizat serta kekecewaan yang mendalam bila mukjizat tidak terjadi adalah tanda atau bukti bahwa iman kita masih seperti iman orang yang tidak percaya/kafir (1 Korintus 1:22). Tuhan Yesus sangat mencela dan sering kali menyindir orang-orang yang selalu menuntut tanda sebagai angkatan yang jahat (Matius 12:39; bdk. Yohanes 6:26). Sebenarnya, jika kita mau jujur mengakui, inti dari tuntutan orang yang "memaksa" Tuhan melakukan mukjizat, bukanlah untuk kemuliaan nama Tuhan, namun hanya sebagai pelampiasan hawa nafsu atau kepuasan (kepentingan) dirinya sendiri.

Sering kali, Tuhan Yesus disertai dengan tanda-tanda, bukan untuk kepuasan atau kenikmatan pribadi-Nya sendiri, namun bagi kemuliaan nama Tuhan dan untuk menggenapi misi Allah bagi dunia. Tuhan Yesus begitu banyak disertai tanda-tanda yang luar biasa karena memang sudah dinubuatkan bahwa Mesias yang akan datang di tengah-tengah umat Israel akan disertai tanda-tanda yang luar biasa (Kisah para Rasul 2:22). Para Rasul dan Nabi sering kali disertai tanda-tanda karena mereka mempunyai status yang sangat istimewa sebagai dasar berdirinya gereja (Efesus 2:19-20), serta menjadi saksi mata yang Allah utus sendiri untuk bersaksi dan membina jemaat mula-mula (Ibrani 2:3-4; Kisah Para Rasul 2:42).

Kesimpulan dari semua pembahasan ini adalah bahwa mukjizat bukanlah misi utama Allah, namun hanya sebagai salah satu alat atau tanda yang menyatakan pekerjaan Allah pada masa itu. Dengan demikian, tidak setiap pekerjaan Allah harus disertai dengan tanda atau mukjizat. Seperti Yohanes Pembaptis, ia sama sekali tidak pernah melakukan mukjizat, bahkan sampai matinya tidak ada sesuatu yang istimewa. Sebenarnya, sebagai seorang yang beriman, mukjizat bukan lagi kebutuhan utama dalam hidup kita. Bahkan, mata rohani kita dibukakan, yaitu diberi kemampuan untuk melihat bahwa dalam setiap keadaan, apa pun keadaan itu, di dalamnya mukjizat Allah dinyatakan, meskipun tidak ada peristiwa spektakuler atau yang menimbulkan sensasi. Dengan demikian, dalam setiap keadaan, kita belajar bersyukur, Tuhan selalu mempunyai rencana yang baik (Roma 8:28; 1 Korintus 10:13). Sikap doa orang beriman seharusnya meneladani Tuhan Yesus: "Bukan kehendak-Ku Bapa, melainkan kehendak-Mulah yang jadi". Bila Tuhan memang berkehendak memakai kita untuk melakukan atau mengalami mukjizat, mukjizat pasti terjadi dan hidup kita akan dipersiapkan untuk menghadapinya.

Daftar pustaka:

  1. Abineno, J. L. Ch., "Penyakit dan Penyembuhan". Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1982.

  2. Caldwell, W., "Meet The Healer". Front Line Evangelism, 1965.

  3. Davis, B., "How to Activate Miracles In Your Life and Ministry". Harrison House, 1978.

  4. Handjojo, J., "Anda Sakit Jadilah Sembuh". Gereja Kristen Anugerah,1985.

  5. Hunter, C. & F., "Menyembuhkan Orang Sakit". Surabaya: GBT Bukit Zaitun Surabaya, 1984.

  6. Murray, A., "Kesembuhan Ilahi". Bandung: Kalam Hidup, 1967.

  7. ______, "The Plain Truth About Healing". Worldwide Church of God, 1979.

Sumber Artikel: 

Diambil dan disunting dari:

Judul jurnal: Jurnal Pelita Zaman, Volume 07, Nomor 01 (Mei 1992)
Penulis : Andi Halim
Penerbit : Yayasan Pengembangan Pelayanan Kristen Pelita Zaman
Halaman : 83 -- 88

Mengapa Yesus Kristus Lahir Melalui Anak Dara?

Penulis_artikel: 
Ev. Liem Sien Liong
Tanggal_artikel: 
20 Desember 2013
Isi_artikel: 

Pertanyaan yang sering diajukan berkaitan dengan kelahiran Yesus Kristus (Natal) adalah: Mengapa Yesus Kristus harus lahir melalui anak dara? Tidak cukupkah Ia lahir seperti manusia pada umumnya? Bagaimana mungkin seorang perempuan yang belum bersuami dapat melahirkan anak?

PENGGENAPAN JANJI ALLAH

Ketika kita menilai peristiwa kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara, yang perlu kita ketahui adalah Allah telah menggenapi janji-Nya. Pada saat manusia melanggar perintah Allah dan jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3), Allah berfirman (bernubuat) kepada manusia bahwa "keturunan perempuan" akan meremukkan kepala si ular (Iblis). Istilah "keturunan perempuan" sebenarnya bukanlah istilah yang wajar dalam tradisi Yahudi, mengingat garis keturunan selalu dihubungkan dengan laki-laki, bukan perempuan (bdk. Kejadian 5). Namun, faktanya Musa, sang penulis Kitab Kejadian, tidak menuliskannya "keturunan laki-laki", sebaliknya dituliskan "keturunan perempuan" (Kejadian 3:15). Apakah Musa telah melakukan suatu kekeliruan? Tentu saja tidak! Ia menulis apa yang Allah janjikan bagi keselamatan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, bahwa melalui "keturunan perempuan" akan lahir Juru Selamat manusia. Artinya, Sang Juru selamat manusia dilahirkan bukan dari hasil hubungan antara laki-laki dan perempuan, tetapi melalui "perempuan" saja.

Janji Allah ini kemudian diberitakan-Nya kembali pada zaman Nabi Yesaya, "Sesungguhnya, seorang perempuan muda (gadis) mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel." (Yesaya 7:14) Nubuatan ini mengacu pada berita yang sama, bahwa Sang Imanuel, Juru Selamat manusia, akan lahir melalui seorang gadis muda. Maka, sesuai waktu dan rencana-Nya (Galatia 4:4), Allah menggenapi janji tersebut melalui seorang gadis muda bernama Maria (Lukas 1:34-38). Bagaimana Allah melakukan-Nya? Sesuai janji-Nya, Ia melakukannya tanpa keterlibatan seorang laki-laki (Yusuf).

Dalam silsilah Yesus Kristus, Matius memberikan penjelasan yang menarik tentang hal ini. Dari Matius 1:2-15, ia menggunakan bentuk kata kerja aktif untuk kata "memperanakkan". Namun, ketika ia sampai pada kelahiran Yesus Kristus (ayat 16), ia mengatakannya dengan bentuk yang berbeda: (1) Yusuf tidak dikatakan memperanakkan Yesus Kristus secara langsung seperti silsilah sebelumnya. (2) Kelahiran Yesus dihubungkan dengan Maria, bukan Yusuf. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) tampaknya juga memahami hal ini dengan tepat melalui penggunaan kata yang berbeda. Untuk silsilah sebelumnya, seperti "Abraham memperanakkan Ishak", LAI memakai kata "memperanakkan" yang berarti keterlibatan secara aktif Abraham dalam menurunkan Ishak. Namun, ketika menerjemahkan kelahiran Yesus, LAI menggunakan kata: "melahirkan" yang menjelaskan bahwa kelahiran Yesus itu tidak ada keterlibatan Yusuf secara langsung dalam memperanakkan-Nya. (3) Kata "melahirkan" (ayat 16) berbentuk pasif sehingga hal ini menjelaskan bahwa, meskipun kelahiran Yesus Kristus melalui seorang gadis: Maria, namun kelahiran-Nya adalah mutlak tindakan Allah sendiri, yakni bagaimana Allah (Putra) menjadi manusia (bdk. Yohanes 1:14; Matius 1:20; Lukas 1:35). Jadi, Yesus Kristus datang melalui seorang gadis bernama Maria adalah penggenapan janji Allah sehingga melalui Yesus Kristus, manusia berdosa dapat diselamatkan (bdk. Yohanes 3:16-21; 14:6).

ALLAH YANG KUDUS BERJUMPA DENGAN MANUSIA BERDOSA

Keberdosaan manusia telah membuat dirinya tidak layak berdiri di hadapan kekudusan Allah. Manusia yang mencoba berhadapan muka dengan Allah secara langsung pasti binasa. Kondisi ini sangat mengerikan karena kekudusan Allah tidak dapat berjumpa dengan keberdosaan manusia.

Ketika Musa ingin berhadapan muka dengan Allah secara langsung, apa yang terjadi? Allah harus melindungi Musa dengan tangan-Nya, menempatkannya di lekuk gunung, dan apa yang dapat dilihat Musa? Musa hanya melihat bagian belakang Allah, sebab tidak ada seorang pun yang dapat melihat Allah dapat hidup (Keluaran 33:18-23).

Namun, melalui kelahiran anak dara, Allah hadir di tengah-tengah umat-Nya. Allah memakai kelahiran melalui anak dara agar manusia dapat melihat-Nya secara langsung. Kelahiran anak dara merupakan sarana yang tepat, yang membuat keilahian Allah dapat bersatu dengan kemanusiaan, seperti perkataan Yohanes, "Firman itu telah menjadi manusia, ...." (Yohanes 1:14) Mengapa Allah harus menjadi manusia? Sebab, "Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya." (Yohanes 1:18) Artinya, Allah harus menjadi manusia supaya manusia dapat berjumpa dengan-Nya.

Hal ini menjelaskan dua hal: Pertama, kekristenan tidak pernah menempatkan manusia Yesus menjadi Allah, seolah-olah kekristenan mengakui bahwa manusia biasa dapat menjadi Allah. Sebaliknya, kekristenan mengakui Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Yesus adalah Allah sejati dan manusia sejati sehingga melalui-Nya, Allah yang kudus dapat berjumpa dengan manusia yang berdosa. Melalui-Nya pula, Allah yang kudus mendamaikan diri-Nya dengan manusia berdosa (2 Korintus 5:17-19). Jadi, Allah memakai kelahiran melalui anak dara agar diri-Nya dapat berjumpa dengan manusia berdosa. Dengan jalan ini pula, yakni melalui Yesus Kristus (Allah dan Manusia sejati), Ia membuka jalan bagi keselamatan manusia (Yohanes 14:6).

Kedua, kekristenan tidak pernah mengakui bahwa Yesus berubah menjadi Allah pada saat Ia dibaptis di sungai Yordan (bdk. Matius 3:16-17), seperti pengakuan bidat-bidat Kristen. Sebaliknya, Alkitab menjelaskan bahwa kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara membuktikan Dia adalah Allah yang menjadi manusia, bukan manusia yang diangkat menjadi Allah. Yohanes 1:1-3, 14-18, 8:42, 58; dan Wahyu 1:8, 17-18 membuktikan tentang praeksistensi Yesus, yang adalah Allah, dan dengan cara kelahiran melalui anak dara, Ia hadir di tengah-tengah manusia berdosa, agar barangsiapa percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal (Yohanes 3:16).

MENJAMIN KEMANUSIAAN YESUS TIDAK BERDOSA

Mungkin kita bertanya, "Kelahiran melalui manusia yang berdosa, sudah pasti berdosa; bagaimana kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara Maria dapat tidak berdosa? Bukankah Maria adalah seorang berdosa?"

Maria adalah manusia berdosa adalah benar. Sebab, kekristenan tidak pernah mengakui Maria sebagai seseorang yang dilahirkan kudus oleh Allah. Alkitab sendiri menjelaskan bahwa Maria memerlukan Allah sebagai Juru Selamatnya (Lukas 1:47), dan ia juga mempersembahkan kurban persembahan sebagai penghapusan dosa (Lukas 2:22-24; bdk. Imamat 12:6-8). Ini berarti Maria adalah manusia berdosa. Namun, bagaimana kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara Maria dapat menjamin ketidakberdosaan-Nya?

Alkitab menjelaskan bahwa kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara tidak bergantung pada keberadaan Maria yang berdosa, tetapi "Kuasa Allah yang Mahatinggi", sehingga "anak yang akan dilahirkannya adalah kudus, Anak Allah" (Lukas 1:35). Perkataan Malaikat kepada Maria tersebut menjawab dua hal: (1) Peristiwa kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara adalah karena kuasa Allah; (2) Kuasa Allah sendiri yang menjamin kemanusiaan Yesus tidak berdosa (kudus). Hal ini sama seperti yang diungkapkan Matius ketika ia menjelaskan kelahiran Yesus melalui Maria. Matius menggunakan bentuk kata pasif untuk kata "melahirkan" meskipun Yesus lahir dari Maria. Penggunaan bentuk pasif tersebut menjelaskan bahwa Allah Roh Kuduslah yang menjamin kemanusiaan Yesus yang dikandung Maria adalah kudus. Dengan kata lain, kelahiran melalui anak dara Maria dapat menjamin kekudusan kemanusiaan Yesus Kristus dalam arti: (1) tidak ada keterlibatan manusia berdosa (laki-laki) di dalamnya; (2) Keterlibatan pasif Maria. Artinya, Yesus lahir dari rahim Maria, tetapi kekudusan Yesus bukan bergantung pada keberdosaan Maria, tetapi peran Roh Kudus di dalamnya. Malaikat berkata, "Sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus" (Matius 1:20). Itulah sebabnya, di dalam pengakuan Iman rasuli dikatakan, "Aku percaya kepada Yesus Kristus, yang dikandung daripada Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria."

MAKNA KELAHIRAN MELALUI ANAK DARA BAGI IMAN KITA

Kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara Maria memiliki implikasi yang signifikan bagi iman kita: Pertama, Allah tidak pernah berdusta terhadap janji-Nya. Kedua, Allah selalu berinisiatif untuk mengasihi kita. Ketiga, kita memiliki jalan pendamaian melalui Yesus Kristus, yang adalah Allah sejati dan manusia sejati. Keempat, Yesus adalah satu-satunya jalan (perantara) bagi kita berjumpa dengan Allah (bukan melalui Maria, sebab kelahiran melalui anak dara menekankan siapa Yesus sebenarnya, bukan menekankan status Maria). Kelima, Yesus adalah satu-satunya Juru Selamat manusia, sebab di dalam-Nya kita mendapatkan pendamaian dengan Allah.

Kiranya dalam menyambut atau memperingati Natal tahun ini, iman kita semakin dikuatkan, berakar, bertumbuh, dan berbuah di dalam Dia. Kiranya Natal tidak membuat kita sibuk, tanpa memperoleh pengertian yang mendasar darinya. Sebaliknya, Natal menjadikan kita semakin mengenal Dia. Amin.

Sumber Artikel: 

Diambil dan disunting dari:

Nama situs : Gereja Kristen Abdiel Gloria
Alamat URL : http://gkagloria.or.id
Penulis : Ev. Liem Sien Liong
Tanggal akses: 10 Desember 2013

Siap Atau Tidak?

Penulis_artikel: 
Agus Barlianto Sadewa
Tanggal_artikel: 
13 Desember 2013
Isi_artikel: 

Nas: Yesaya 1:1-9; Matius 25:1-13

"Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya." (Yesaya 1:3)

Adven adalah tentang menunggu. Menunggu Seseorang Yang Akan Datang. Menunggu Mesias. Menunggu dalam Adven tidaklah pasif, melainkan aktif. Mesias datang, dan dengan kedatangan-Nya damai sejahtera dan keadilan memerintah. Oleh karena itu, kita harus rajin bersiap-siap.

Sedikitnya, ada dua hal yang dapat menyebabkan kita gagal dalam bersiap, dua cara yang dapat membuat kita "kehilangan" Adven. Yang pertama digambarkan dalam perumpamaan sepuluh gadis. Ada sebuah pernikahan dan sebagaimana lazimnya, gadis-gadis sahabat mempelai perempuan menunggu mempelai laki-laki untuk mengiringinya ke pesta dan perayaan pernikahan. Tetapi, mempelai laki-laki terlambat. Pernikahan-pernikahan Timur Tengah agaknya memang tak pernah tepat waktu. Lima gadis mengantisipasi masalah ini dan bersiap-siap dengan minyak tambahan agar pelita mereka tetap menyala. Akan tetapi, lima gadis lainnya tidak begitu siap. Mereka tidak mengantisipasi kedatangan mempelai laki-laki sebagaimana mestinya dan tidak mempersiapkan diri dalam penantian untuk kemungkinan terjadinya penundaan. Lima menunggu dengan kesiapan, lima lainnya tidak. Mereka yang siap memasuki pesta, mereka yang tidak siap tertinggal di luar. Inilah hal pertama yang dapat menyebabkan kita kehilangan Adven. Kita dapat kehilangan Adven hanya dengan tidak siap, karena tidak menjalani hidup kita dengan cara terus-menerus mempersiapkan diri bagi kedatangan Kerajaan sukacita, damai sejahtera, dan keadilan.

Namun, ada cara lain yang dapat membuat kita kehilangan Adven. Kita dapat kehilangan Adven dengan tidak menunggu sama sekali. Anda lihat, bila kita puas dengan hidup kita sendiri, bila kita berpikir bahwa: "Apa yang kau lihat itulah yang kau peroleh," bila kita memiliki suatu pendirian bahwa kita telah "tiba" dan tak perlu melanjutkan perjalanan, maka tak ada lagi yang perlu kita tunggu. Inilah kenyataan yang Nabi Yesaya hadapi delapan abad sebelum Kristus.

Kita akan mencoba melihat konteks dari zaman Nabi Yesaya. Pelayanan Yesaya dimulai sejak pemerintahan Raja Uzia yang makmur di Yerusalem. Fakta menunjukkan bahwa sejak Raja Uzia berkuasa, kekuatan dan kemakmuran Yehuda hanya berada di kelas dua bila dibandingkan dengan era Raja Daud dan Salomo. Meskipun peta politis berada dalam proses perubahan terus-menerus (kerajaan utara, yaitu Israel, menjadi tawanan Assyrian pada 722 sM; sementara kerajaan selatan, yaitu Yehuda, sibuk mengikatkan diri pada berbagai aliansi dengan Mesir dan Syria (Aram) demi menjaga keamanannya dari ancaman Assyrian), suasana hati di Yerusalem tetap tenang. Bagaimanapun, Yerusalem adalah kota Daud! Dengan raja keturunan Daud di atas takhta dan Allah di Bait Suci, kejahatan apa yang dapat menimpa kita? Apa yang perlu kita tunggu lagi? Segala yang kita inginkan sudah di sini. Karena kita memiliki perjanjian yang aman dengan Allah Israel, kita telah tiba, dan buktinya ialah kemakmuran kita. Siapa yang butuh Adven bila janji telah digenapi?

Maka, masuklah Yesaya dengan pembacaan yang amat berbeda. Yehuda telah datang? Baik, bila sakit parah adalah gagasan Anda tentang kedatangan, maka ya, Yehuda memang telah datang. Dalam nubuat pembukaan, Yesaya menembus rasa puas diri Yehuda terhadap harta kekayaan dan percaya berlebihan pada perjanjian. Ia menggambarkan Yehuda sebagai tubuh yang memar, terluka, dan berdarah-darah. Pada saat Yehuda melihat dirinya aman dalam perbatasan-perbatasannya, Yesaya melukiskan potret orang-orang asing yang melahap hasil tanah dan sebuah kota yang terkepung.

Mengapa? Mengapa Yesaya melihat kehancuran dan keambrukan, sementara yang lain melihat kota yang makmur dan aman? Sebab, Yesaya tahu benar bahwa kehidupan kultural dan pribadi Yehuda yang tidak lagi menunggu pemerintahan Allah karena berpikir bahwa pemerintahan itu telah direalisasikan, sesungguh-sungguhnya berada di jalur kematian. Ketika kehidupan perjanjian sudah begitu terstruktur untuk melayani kepentingan si kaya dengan jalan mengorbankan si miskin, maka ini sebenarnya perjanjian dengan kematian.

Mempelai laki-laki berkata pada gadis-gadis itu, "Sesungguhnya aku tidak mengenal kamu." Yesaya berkata: Israel tidak mengenal pemiliknya -- "Umat-Ku tidak memahaminya". Marilah kita memasuki masa Adven ini dengan pengenalan dan pemahaman. Marilah kita menunggu dengan penuh harap.

Diterjemahkan dari The Advent of Justice: A Book of Meditation (1993). Brian Walsh, Richard Middleton, Mark Vander Vennen, Sylvia Keesmaat. Penerbit CJL Toronto, Canada.

Sumber Artikel: 

Diambil dan disunting dari :

Judul buletin: Momentum, Volume 53 (September 2003)
Penulis : Agus Barlianto Sadewa
Halaman : 33 -- 34

Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam Doktrin Predestinasi (2)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Dalam edisi ini, kita akan melanjutkan bahasan tentang konteks teologi John Calvin dalam usahanya menjelaskan Predestinasi serta aplikasinya bagi hidup orang percaya. Kiranya dari artikel lanjutan ini, Anda semakin mengerti secara lengkap pendekatan-pendekatan yang Calvin lakukan dalam mengaitkan relevansi doktrin ini dengan hidup orang percaya, dan bersyukur atas pemilihan yang Allah lakukan dalam hikmat-Nya yang tak terukur. Mari langsung saja kita simak artikel ini. Selamat menyimak!

Tuhan memberkati.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< teddy(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
Edisi 145/Oktober 2013
Isi: 

PREDESTINASI SEBAGAI JAMINAN KESELAMATAN DAN PANGGILAN HIDUP KRISTEN YANG SALEH

Dengan ditempatkannya predestinasi di bawah topik keselamatan, Calvin ingin menunjukkan bahwa predestinasi pun merupakan bagian dari berkat-berkat yang diperoleh orang-orang percaya di dalam Kristus. Pengertian ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Itu sebabnya, sekalipun faktanya doktrin predestinasi mengandung "labyrinth" yang tak terselami sebagai bagian dari wahyu Allah, Calvin percaya bahwa predestinasi adalah "very sweet fruit",[18] atau sesuatu yang sangat bermanfaat bagi orang percaya.

Permasalahannya adalah dalam hal apa dan bagaimana memahami predestinasi secara benar sehingga doktrin ini benar-benar memberi manfaat bagi orang percaya? Ini merupakan tanggung jawab yang Calvin merasa yakin terpanggil untuk menjawabnya. Calvin percaya sepenuhnya bahwa rahasia kehendak Allah berdiri di balik realitas orang percaya dan tidak percaya. Namun, ia tidak mau berspekulasi lebih lanjut, tentang mengapa, bagaimana, atau seperti apa persisnya hal itu terjadi di dalam kekekalan karena Alkitab tidak mengatakannya.

Calvin yakin sepenuhnya berdasarkan Alkitab bahwa kehendak Allah sebagai dasar utama keselamatan harus ditegakkan. Kepentingannya adalah sebagai jaminan keselamatan, yaitu bahwa keselamatan bukan berdasarkan perbuatan baik kita, melainkan sepenuhnya karena kemurahan Allah. Masalahnya, jika kebebasan manusia memiliki peran yang signifikan dalam hal keselamatan, keselamatan menjadi sesuatu yang tidak pasti. Sebab, apa standarnya? Sampai batas mana manusia harus melakukan kebaikan? Belum lagi adanya realitas dosa yang sangat serius dalam diri manusia. Namun, jika keselamatan bergantung pada ketetapan Allah sendiri, tidak ada hal apa pun juga di bumi maupun di surga yang bisa membatalkan ketetapan Allah tersebut.

Dalam satu bab terakhir tentang predestinasi di dalam buku III "Institutes" (1559), ia menjelaskan relasi yang erat antara predestinasi dan soteriologi secara induktif (ordo cognoscendi) sehingga manfaat doktrin predestinasi sebagai jaminan keselamatan nampak sangat jelas. Ada beberapa hal penting yang bisa dipelajari dari pola pendekatan ordo cognoscendi dalam konteks soteriologi untuk memahami predestinasi yang akan diuraikan berikut ini.

Dari Sebab Dekat (Proximate Cause) ke Sebab Utama (Ultimate Cause)

Dalam tafsirannya terhadap Efesus 1:5-8, Calvin menyimpulkan ada empat sebab keselamatan yang terjadi pada diri seseorang: pertama, kehendak Allah (God's will) sebagai yang menyebabkan pilihan-Nya pasti terlaksana (efficient cause); kedua, sebab yang dapat dilihat (material cause), yaitu Yesus Kristus; ketiga, sebab yang membuat pilihan Allah teraplikasi dalam diri orang berdosa (final cause), yaitu anugerah; dan keempat, sebab yang membuat kebaikan atau anugerah Allah sampai kepada umat manusia (formal cause), yaitu pemberitaan Injil. Di antara keempat sebab ini, efficient dan final cause adalah bagian dari misteri Allah, yang pasti terjadi, tetapi tidak mungkin dapat diselami. Karena itu, pemilihan sebagai jaminan keselamatan hanya dapat dipahami ketika kita mulai menggumulinya mulai dari bagaimana anugerah pemilihan itu sampai kepada kita, yaitu jika kita memulainya dari material dan formal cause. Yesus Kristus sebagai material cause akan kita bahas kemudian. Pada bagian ini, kita akan membahas sedikit lebih jauh arti formal cause.

Formal cause -- sebab yang membuat anugerah atau kebaikan Allah itu sampai kepada kita -- terdiri dari tiga hal yang saling berkaitan, yaitu panggilan firman (calling), pekerjaan Allah Roh Kudus secara internal, dan iman. Menurut Calvin, jaminan keselamatan itu memang bersumber dari takhta Allah yang Mahakudus, tetapi Ia tidak pernah meminta kita untuk naik ke hadirat-Nya yang kudus (selama kita di bumi). Dengan menggumuli firman di dalam iman dan pekerjaan Roh Kudus itulah, kita akan dibawa kepada posisi rohani, yang membuat panggilan (klesis) dan pilihan (ekloge) kita semakin teguh (2 Petrus 1:10). Namun sekali lagi, di sini Calvin sama sekali bukan mengatakan bahwa usaha manusialah yang menyebabkan pilihan. Calvin lebih ingin menekankan bagaimana kita sampai kepada "pemilihan kekal Allah" sebagai jaminan keselamatan.

Kristus sebagai "The Mirror of Election"

Dari penjelasan sebelumnya, telah ditunjukkan keyakinan Calvin bahwa manusia tidak mungkin sanggup mendaki secara langsung ke dalam misteri ketetapan kekal Allah. Namun, terdorong oleh panggilan untuk membuktikan dan menunjukkan bahwa pemilihan kekal Allah merupakan jaminan keselamatan manusia dan bukan sebagai problem metafisika, maka berikutnya ia berusaha untuk tidak secara langsung menarik hubungan antara apa yang terjadi di dalam kekekalan (eternity) dan keselamatan yang terjadi pada manusia di dalam dunia ini (temporal). Artinya, ia tidak ingin terjebak di dalam silogisme: "Karena aku dipilih, maka aku diselamatkan". Sekalipun secara ontologi kalimat ini pasti ia setujui, tetapi ia memandang hal itu berbahaya.

Ia lebih mengarahkan argumentasi kepada keberadaan Yesus Kristus, yang adalah Allah sekaligus Manusia, sebagai titik temu antara apa yang terjadi di dalam kekekalan dan keselamatan yang dialami oleh manusia. Di sinilah, terjadi interpenetrasi antara paham tentang Kristus dan predestinasi. Mengarahkan iman kepada Kristus di sini memiliki makna yang sangat dalam, sebab berarti kita bukan sekadar "believe in Him" (Yohanes 3:16), tetapi lebih dari itu, kita percaya: (1) kepada Yesus Kristus sebagai dasar pilihan Allah di dalam kekekalan, yang sekaligus merupakan jaminan kekal yang tak tergoyahkan (Efesus 1:4-6); (2) Kristus di dalam sejarah, menyatakan pemilihan kita oleh Allah di dalam kekekalan (Efesus 1:7-9); (3) Kristus menyingkapkan tujuan pemilihan Allah, yaitu menjadi serupa dengan Kristus (Roma 8:29), mengenakan Kristus sebagai perlengkapan senjata terang (Roma 13:14), dan bertumbuh ke arah Kristus (Efesus 4:15). Hal yang terakhir ini menurut Calvin, sekaligus merupakan panggilan bagi setiap orang percaya untuk memiliki ketekunan dan hidup yang kudus. Melalui "union with Christ" inilah, kita juga akan dibawa kepada jaminan keselamatan yang berdasarkan pada pemilihan kekal Allah.

Reprobasi sebagai Misteri Penyataan Keadilan Allah

Ketika kita masuk ke dalam pembicaraan tentang reprobasi -- di mana Allah membiarkan sebagian orang dalam dosanya untuk menerima hukuman (reprobat) --, Calvin menekankan bahwa kita tidak bisa memikirkan reprobasi dan pemilihan Allah sebagai dua hal yang bersifat paralel. Artinya, sekalipun pemilihan dan reprobasi adalah dua hal yang memiliki "ultimate cause" di dalam misteri kehendak Allah, dan juga memiliki sebab yang dekat dengan manusia (proximate cause), tetapi ia melihat bahwa yang membedakan keduanya adalah jikalau dalam hal anugerah pemilihan proximate cause itu sama sekali tidak berasal dari manusia (perbuatan manusia tidak diperhitungkan sebagai penyebab), maka di dalam hal penghukuman kekal Allah (reprobation), proximate cause mengandung aspek kebebasan dan natur berdosa manusia (perbuatan berdosa manusia turut menyebabkan penghukuman). Namun, apakah hal ini berarti Allah secara aktif menyebabkan manusia berbuat dosa?

Calvin memang mengatakan bahwa "Kehendak dan ketetapan abadi Allah adalah penyebab tunggal dari segala sesuatu yang ada".[19] Namun, ia sama sekali tidak bermaksud untuk melemparkan tanggung jawab atas perbuatan dosa kepada "divine causality" (sebab ilahi) sehingga seolah-olah manusia tidak bertanggung jawab atau hanya merupakan alat saja di tangan Allah. Di dalam kasus kejatuhan Adam ke dalam dosa, ia mengatakan, "Adam dapat tetap teguh jika ia mau, namun kejatuhannya semata-mata karena kehendaknya sendiri".[20] Tetapi, bagaimana hal ini tidak berkontradiksi dengan pernyataan Calvin sebelumnya bahwa ketetapan Allah adalah "penyebab tunggal dari segala sesuatu yang ada?"

Pertama-tama, ia mengajak kita untuk menjauhkan Allah dari posisi yang secara aktif menyebabkan terjadinya dosa. Kedua, untuk menjawab problem di atas, Calvin tidak memilih argumentasi yang membedakan ketetapan Allah dengan izin Allah. Sebuah pembedaan yang pada hakikatnya sama saja. Namun, Calvin tetap percaya bahwa kehendak Allah adalah penyebab tunggal dari segala sesuatu yang ada. Jika demikian, bagaimana Allah bukan sebagai penyebab aktif perbuatan dosa manusia? Di dalam buku yang sama (Calvin's Calvinism), ia berangkat dari asumsi bahwa sebuah tindakan dikatakan berdosa adalah karena motivasi yang salah dan tujuan yang jahat. Jadi, ketika seseorang membunuh atau mencuri, perbuatan itu berdosa adalah karena motivasi yang salah dan tujuan yang jahat.

Dengan demikian, di dalam kasus-kasus seperti pengerasan hati Firaun atau Yudas, Calvin berpendapat, pertama, kita mesti melihat adanya tujuan mulia dari Allah yang tak terselami dan hikmat-Nya yang Mahabenar yang tak tergapai. Kedua, adanya perbedaan kategori yang tak terseberangi antara kekekalan dan kesementaraan sehingga kita tidak bisa mengukur apa yang Allah lakukan di dalam kekekalan dengan kategori temporal. Itu sebabnya, ia menutup penjelasannya tentang predestinasi dengan pernyataan, "Seperti pernyataan Agustinus, mereka yang mengukur keadilan ilahi dengan standar keadilan manusia telah bertindak salah."

Namun, kembali kepada konteks soteriologi dalam pembicaraan tentang predestinasi, maka fungsi paham reprobasi bagi orang-orang percaya menurut Calvin sebenarnya sama halnya dengan anugerah pemilihan Allah, yaitu menyadarkan orang-orang percaya supaya patuh, kagum, heran, rendah hati, dan gemetar di hadapan kemahakuasaan Allah yang tak terselami, namun yang telah dinyatakan dalam Alkitab.[21] Sebagai bagian dari predestinasi, maka sama seperti pemilihan Allah pula, paham reprobasi juga ada di ujung pergumulan iman orang-orang yang percaya kepada Kristus.

Kesimpulan

Dengan menempatkan doktrin predestinasi dalam konteks soteriologi, Calvin berusaha menunjukkan bahwa fungsionalitas doktrin predestinasi sebagai dasar jaminan keselamatan dapat ditimba oleh setiap orang percaya. Hal ini bisa terjadi apabila kita memulai pemahaman tentang predestinasi dengan berangkat dari tanda-tanda keselamatan yang Allah nyatakan kepada kita, dan dengan memandang kepada Yesus Kristus sebagai "the mirror of election". Cara seperti ini sudah tentu bukan jaminan untuk meniadakan sifat misteri doktrin predestinasi, melainkan justru karena kesadaran bahwa doktrin ini penuh dengan misteri ilahi.

Dengan demikian, cara yang dipakai oleh Calvin ini membawa orang percaya kepada sebuah relasi yang paradoks antara pergumulan iman tentang jaminan keselamatan dan predestinasi. Di satu pihak, predestinasi sebagai misteri (tetapi yang telah dinyatakan oleh Allah) adalah penyebab iman, di lain pihak, hal itu hanya bisa dipahami ketika iman sebagai jaminan yang membawa kita kepada rahasia predestinasi Allah. Jadi di sini, pergumulan dengan kebenaran predestinasi bersifat dua arah. Artinya, kita berangkat dari keyakinan akan berita Alkitab tentang ketetapan Allah sebagai sumber keselamatan kita, namun keyakinan itu baru dapat benar-benar kita gapai ketika kita menempatkan ketetapan Allah di ujung pergumulan iman kita.

Mengutip perkataan Agustinus, Calvin berkeyakinan bahwa menggumuli predestinasi berarti kita telah memasuki jalur iman.[22] Ketika iman kita membawa kepada keyakinan akan anugerah pemilihan Allah, dampak baliknya adalah penghiburan dan sekaligus panggilan untuk hidup suci. Namun, yang terpenting dalam usaha memahami predestinasi adalah "Mari kita berpegang teguh pada iman. Ia memimpin kita ke kamar Raja, tempat tersimpan seluruh harta pengetahuan dan kebijaksanaan."[23]

Catatan Kaki:

18. Institutes III.xxi.1.
19. Ibid. I.xvi.8; bdk. III.xxiii.7-8.
20. Ibid. I.xv.1, 8 [huruf tegak dari saya].
21. Ibid. III.xxi.1; III.xxiii.5; III.xxiv.17.
22. Ibid III.xxi.2.
23. Ibid.
Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul jurnal : Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 02, Nomor 02 (Oktober 2001)
Judul artikel: Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam Doktrin Predestinasi
Penulis : Kalvin S. Budiman
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang 2001
Halaman : 159 -- 175

Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam Doktrin Predestinasi (1)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Maafkan kami atas keterlambatan terbit yang sering terjadi akhir-akhir ini. Kami harap Anda dapat terus menikmati artikel-artikel yang kami kirimkan.

Artikel e-Reformed bulan September ini membahas seputar doktrin Predestinasi yang pasti sering kita dengar. Namun, dalam edisi ini, kita akan lebih berfokus pada konteks berteologi John Calvin ketika menggumuli doktrin ini. Sebagaimana yang kita tahu, doktrin ini menjadi perdebatan yang tidak pernah terselesaikan, terutama oleh kaum Calvinis dan Armenian. Hal ini terjadi karena banyak orang yang sesungguhnya tidak mengerti konteks ketika doktrin ini dicetuskan, dan menjadi salah kaprah ketika mengartikannya lepas dari konteks.

Oleh karena itu, artikel ini berusaha meluruskan kembali konteks pergumulan yang sebenarnya dialami oleh John Calvin ketika mencetuskan doktrin ini. Karena artikel yang asli relatif panjang untuk dimuat, redaksi berusaha memadatkan isi artikel ini sehingga dapat dimuat dalam 2 (dua) edisi September dan Oktober. Kiranya artikel ini dapat membukakan pengertian yang benar akan keagungan dan kekayaan Diri Allah yang tak terselami oleh pikiran manusia. Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< teddy(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
edisi 144/September 2013
Isi: 

Pendahuluan

Artikel ini tidak bermaksud secara langsung dan detail menguraikan doktrin predestinasi, atau bahkan menjawab serangkaian pertanyaan rumit yang sering kali muncul seputar doktrin ini. Artikel ini lebih merupakan suatu usaha untuk memahami kembali kerangka dasar atau konteks doktrin predestinasi sebagaimana diajarkan oleh John Calvin. Hal ini perlu kita lakukan karena di satu pihak, Calvin percaya bahwa doktrin predestinasi memberikan manfaat yang tidak sedikit dalam kehidupan orang percaya, tetapi di lain pihak, sejak awal ia sendiri telah menyadari banyaknya orang yang akan menyimpangkan ajarannya tentang predestinasi.

Penyimpangan-penyimpangan tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Henry Cole, telah mengakibatkan orang yang mempelajari doktrin predestinasi Calvin tidak dari sumber aslinya bukan saja menjadi salah mengerti, melainkan juga kehilangan "religious spirit" sebenarnya yang membangun.[1] Hal ini dapat terjadi karena doktrin predestinasi Calvin sering kali hanya dibicarakan secara terpotong-potong, lepas dari konteksnya.

Calvin memang bukan orang pertama dan satu-satunya yang mencetuskan doktrin predestinasi. Dalam tulisan-tulisannya, ia banyak memakai argumentasi Agustinus untuk menjelaskan beberapa masalah predestinasi. Namun, bila kemudian doktrin ini sering kali diidentikkan dengan Calvin, tidak lain karena dalam pemikirannya, paham predestinasi memperoleh pengupasan secara lebih komprehensif dan utuh.[2] Di samping itu, ia adalah tokoh yang paling gigih mengajarkan dan membela kebenaran doktrin ini, lebih dari siapa pun, bahkan teolog-teolog di masa kini.[3]

Barangkali, prinsip awal dan pertama yang kita bisa pelajari dari Calvin adalah sikapnya yang percaya sepenuhnya dan apa adanya terhadap wahyu Allah di dalam Alkitab. Sikap ini memberikan dua dampak. Pertama, ia berani masuk ke kedalaman firman Tuhan dan mengajarkannya, bahkan hal-hal yang tampaknya kontroversial, dengan suatu keyakinan bahwa baginya, tidak ada hal yang Allah wahyukan yang sifatnya sia-sia, termasuk kebenaran predestinasi. Ia meyakini sepenuhnya bahwa Allah dan firman-Nya adalah sumber kebenaran doktrin ini. Kedua, ia bukan saja dengan penuh rasa hormat kepada Allah berani mengajarkan doktrin predestinasi secara jujur, melainkan juga secara berhati-hati berusaha untuk tidak melampaui apa yang Alkitab katakan sehingga tidak jatuh ke dalam spekulasi metafisika.

Walaupun menelusuri sejarah pemikiran Calvin untuk mendapatkan keutuhan kerangka berpikirnya adalah hal yang hampir mustahil, tetapi saya berangkat dari keyakinan sebagaimana dikatakan oleh Richard Muller bahwa selama tulisan-tulisan Calvin masih dapat kita pelajari, berarti masih ada harapan.[4] Itu sebabnya, melalui tulisan ini, saya berharap cukup untuk memberikan kerangka dasar pemikiran Calvin tentang predestinasi, melalui penelusuran secara historis dan teologis terhadap tulisan-tulisan Calvin, khususnya "Institutes".[5]

Artikel ini dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama membahas konteks pemahaman doktrin predestinasi Calvin dengan mengamati perkembangan tulisan-tulisannya guna melihat kerangka atau pola dasar pemikirannya tentang predestinasi. Bagian kedua merupakan aplikasi pemahaman bagian pertama dalam membaca tulisan Calvin tentang predestinasi, dalam relevansinya dengan konteks yang ia maksud.

Survei Historis dan Teologis Pola Dasar Pemikiran Predestinasi Calvin

Doktrin predestinasi Calvin tidak ditulis dalam suasana yang "aman dan tentram". Doktrin ini mengalami proses perkembangan hingga menjadi benar-benar matang di dalam karya-karyanya, khususnya "Institutes" edisi 1559, setelah melalui berbagai perlawanan frontal dari lawan-lawannya. Perlawanan dari teolog Roma Katolik, Albertus Pighius, pada tahun 1543, mendorongnya untuk menulis "The Bondage and Liberation of the Will: A Defense of the Orthodox Doctrine of Human Choice against Pighius",[6] guna menolak konsep Pighius yang terlalu menekankan kebebasan manusia. Dua tahun kemudian, yaitu tahun 1545, ia menulis "Treatises Against the Anabaptists and Against the Libertines",[7] sebagai jawaban terhadap kelompok Libertines yang menolak dosa asal. Tahun 1552, ia menulis "Concerning the Eternal Predestination of God",[8] yang isinya bukan saja menjawab Georgius the Sicily, melainkan juga diarahkan kepada Pighius dalam kaitannya dengan problem prapengetahuan Allah dan, lagi-lagi, kebebasan manusia.

Di samping karya di atas, masih banyak karya lainnya yang hampir semuanya ditulis dalam suasana "pembelaan iman". Ia juga banyak dibantu oleh murid dan asistennya yang setia, Theodore Beza, dalam menegakkan kebenaran predestinasi, khususnya ketika ia terlibat dalam perdebatan panjang (tahun 1551 -- 1555) dengan Jerome Bolsec, menyangkut kekekalan, prapengetahuan Allah, dan iman.[9]

Dalam seluruh rangkaian perdebatan ini, Calvin tetap berpegang teguh pada tradisi monergisme Agustinian, sementara kebanyakan lawannya mengekspresikan pola teologi sinergisme yang merupakan sasaran utama penolakan para tokoh Reformasi. Tradisi monergisme Agustinian menekankan keselamatan yang sepenuhnya berdasarkan anugerah Allah, sedangkan tradisi sinergisme mendasarkan keselamatan kepada pra-pengetahuan Allah (divine foreknowledge) dan usaha iman dari manusia.

Pergumulan Calvin di atas, dan tulisan-tulisan lainnya, sudah tentu banyak memengaruhi tulisannya tentang predestinasi, terutama tafsirannya terhadap kitab Roma yang disebut-sebut paling banyak memengaruhi Calvin dalam menulis "Institutes" edisi terakhir (1559).[10] Mulai edisi pertama, 1536, hingga yang terakhir, 1559, "Institutes" mengalami perkembangan yang tidak sedikit, tetapi bukan dalam arti adanya pergeseran posisi atau pengubahan isi yang mendasar dari waktu ke waktu, melainkan usahanya untuk terus menambahkan pokok-pokok ajaran yang ia anggap penting. Sebuah fakta yang mengherankan ialah, ketika memberikan tambahan-tambahan, secara prinsip ia senantiasa konsisten dengan apa yang telah diajarkan sebelumnya.

Ketika Calvin menulis "Institutes" pada tahun 1536, doktrin predestinasi belum memperoleh pembahasan secara khusus. Di dalam enam bab tulisannya ini, paham predestinasi ia sisipkan dalam pembahasan tentang "turun ke dalam kerajaan maut" dari pengakuan iman rasuli dan penjelasan tentang hakikat gereja. Dalam penjelasan kalimat yang berdasarkan 1 Petrus 3:19 tersebut -- yang ia mengerti bukan secara harfiah, melainkan sebagai manifestasi kuasa penebusan Kristus kepada mereka yang telah mati pada zaman sebelum Kristus -- ia menyisipkan prinsip perbedaan dampak penebusan Kristus kepada orang-orang percaya dan orang-orang fasik. Sedangkan dalam pembahasan tentang gereja, pengertian predestinasi mendominasi penjelasannya tentang hakikat gereja. Berdasarkan Efesus 1:4, misalnya, ia mendefinisikan gereja sejati sebagai "orang-orang yang telah dipilih di dalam Dia sebelum dunia dijadikan, dengan tujuan agar semua dapat berkumpul di dalam Kerajaan Allah".[11] Gereja adalah universal karena orang-orang percaya di dalamnya dipilih dan dipersatukan di dalam Kristus (Efesus 1:22-23).[12] Hakikat gereja adalah kudus karena "orang-orang yang telah dipilih oleh providensi Allah untuk ditetapkan sebagai anggota-anggota gereja -- mereka dikuduskan oleh Tuhan (Yohanes 17:17-19)".[13]

Dari semua contoh di atas, jelas bahwa Calvin senantiasa berusaha untuk tidak melepaskan predestinasi dalam kaitannya dengan landasan bagi identitas umat tebusan Kristus. Pada tahun 1539, ketika "Institutes" bertambah menjadi tujuh belas bab, satu hal yang tetap konsisten adalah bahwa konteks praktis, eklesiologis, dan soteriologis, terus mewarnai pembicaraan tentang predestinasi. Namun, di dalam edisi ini, ia juga membahas predestinasi secara lebih luas sebagai penjelasan ontologis tentang kedaulatan Allah terhadap ciptaan-Nya, dengan tambahan konsep tentang providensi Allah.

Barangkali, progresivitas yang paling radikal ada di dalam edisi terakhir, tahun 1559, ketika "Institutes" jadi lima kali lebih panjang dari edisi pertama, dan dibagi menjadi empat "buku", masing-masing dengan topik utama: "The Knowledge of God the Creator", "The Knowledge of God the Redeemer", "The Receiving of the Grace of Christ", dan "The Holy Catholic Church". Di dalam edisi ini, ia bukan saja membahas predestinasi secara khusus dan panjang (empat bab), tetapi ia juga memisahkan pembicaraan predestinasi dari providensi. Jika providensi ditempatkan di akhir pembahasan tentang doktrin Allah (I.xvi-xviii), maka ia meletakkan predestinasi di dalam konteks pembahasan soteriologi, di bawah topik besar "The Receiving of the Grace of Christ", atau tepatnya, sesudah pembicaraan tentang iman, pembenaran, dan doa (III.xxi-xxiv).

Dampak pemisahan ini, sekali lagi, bukan karena adanya perubahan konsep teologis dalam diri Calvin mengenai providensi dan predestinasi. Bukan pula pemisahan dalam arti pembedaan secara tajam antara providensi dan predestinasi.[14] Pemisahan tersebut dilakukan karena ia lebih memilih pendekatan "ordo cognoscendi" (urutan secara logis atau mana yang harus diketahui terlebih dahulu) dalam memahami predestinasi, ketimbang "ordo essendi" (urutan secara esensi atau ontologis).[15] Pola semacam ini tampaknya cukup berhasil membuatnya menjauhkan diri dari pembahasan spekulasi metafisika dan determinisme, dan sebaliknya, mendekatkan diri kepada pemahaman tentang predestinasi yang lebih menampung relevansi rohani secara praktis, khususnya dengan jaminan keselamatan orang percaya.

Secara praktis, prinsip di atas dapat dibahasakan sebagai berikut. Ketika kita mencoba memahami predestinasi dengan berangkat secara deduktif dari pernyataan seperti: "Kehendak Allah adalah penyebab segala sesuatu," akan menjadi lebih sulit dan tak terselami daripada jika kita mencoba memahami predestinasi dengan berangkat dari pertanyaan seperti: "Mengapa Tuhan mau mengampuni dosaku? Mengapa Yesus Kristus mau mati untukku?" Melalui pola pendekatan ordo cognoscendi, Calvin ingin paham predestinasi itu muncul melalui pemahaman terhadap aspek-aspek penebusan di dalam diri orang percaya. Begitu pemilihan itu telah muncul dalam pikiran dan dipercayai, atau paling tidak, secara samar-samar diterima oleh orang percaya, esensi pemilihan, sejauh yang Alkitab wahyukan, harus segera diajarkan.

Belajar dari Calvin, Beza menegaskan bahwa ketika kita mencoba memahami predestinasi dengan memulainya dari "first" atau "final causality" dalam rahasia kekekalan Allah, itu hanya menyebabkan kita tidak bisa menarik makna barang sedikit pun karena pada akhirnya, mata kita akan tertutup terhadap dinamika karya Allah dalam sejarah keselamatan manusia.[16] Sedangkan, Wendel menafsirkan bahwa Calvin memilih ordo cognoscendi dalam konteks soteriologis karena seseorang yang mempelajari doktrin predestinasi dengan berangkat dari hakikat ketetapan-ketetapan Allah atau providensi Allah, atau membawa predestinasi ke dalam kategori pembicaraan providensi Allah, hal itu memang bukan sesuatu yang sepenuhnya salah, tetapi tidak tepat dan bahkan berbahaya.[17]

Catatan kaki:

  1. Kata pengantar H. Cole dalam terjemahan buku "Calvin's Calvinism 6".

  2. McNeill, John T (ed.). "Calvin: On the Christian Faith". (New York: Bobbs-Merill, 1957) xxii.

  3. Cole. "Calvin's Calvinism 6".

  4. Muller, Richard A. "The Unaccommodated Calvin: Studies in the Foundation of Theological Tradition". (New York: Oxford, 2000) 3.

  5. Tentunya dengan tidak mengabaikan sumber-sumber tulisan Calvin lainnya.

  6. (Ed. A. N. S. Lane, tr. G. I. Davies; Grand Rapids: Baker, 1996); bah. Latin: Defensio sanae et orthodoxae doctrinae de servitute et liberatione humani arbitrii adversus calumnies Alberti Pighii Coampensis.

  7. (Tr. & ed. Benjamin W. Farley; Grand Rapids: Baker, 1982)&h. Prancis: Contre la secte phantastique et furieuse des Libertins que se nomment Spirituels.

  8. (Tr. J. K. S. Reid; London: Clarke, 1961); bah. Latin: Da aetema Dei praedestinatione; dan idem, Calvin's Calvinism.

  9. Lihat Muller, Richard A. "The Use and Abuse of a Document: Beza's Tabula Praedestinationis, The Bolsec Controversy, and the Origins of the Reformed Orthodoxy". dalam "Prostestant Scholasticism: Essays in Reassessment" (ed. Carl R. Trueman & R. Scott Clark; Cumbria: Paternoster, 1999) 40-41.

  10. Lihat Klooster. "Calvin's Doctrine of Predestination 21".

  11. Ibid. III.xxii.1.

  12. Ibid. IV i.2.

  13. Ibid. IV i.17.

  14. Providensi sering dimengerti sebagai ketetapan-ketetapan rahasia dan kekal Allah secara umum terhadap dunia ciptaan-Nya, sedangkan predestinasi berkaitan dengan pemilihan untuk hidup kekal atau membiarkan (passing by) orang di dalam dosa-dosanya (reprobation).

  15. Dowey, Edward A. Jr. "The Knowledge of God in Calvin's Theology". (Grand Rapids: Eerdmans, 1995) 218.

  16. Ibid.

  17. Wendel. "Calvin: Origins and Development of His Religious Thought". 268.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul jurnal : Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 02, Nomor 02 (Oktober 2001)
Judul artikel: Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam Doktrin Predestinasi
Penulis : Kalvin S. Budiman
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 2001
Halaman : 159 -- 175

Budaya dan Alkitab (2)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Edisi kali ini masih merupakan kelanjutan dari artikel edisi yang lalu, yaitu tentang prinsip menafsirkan Alkitab berkaitan dengan konteks budaya. Pada edisi ini akan dijelaskan pedoman-pedoman praktis yang akan membantu kita untuk mengatasi masalah-masalah di dalam penafsiran. Tidak perlu berlama-lama, mari kita simak kelanjutan artikel berikut ini.

Selamat membaca. Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< teddy(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
edisi 143/Agustus 2013
Isi: 

Satu hal sudah jelas. Kita memerlukan semacam garis pedoman praktis untuk membantu kita menguraikan problem-problem seperti itu. Garis pedoman praktis berikut ini mestinya berfaedah.

Garis Pedoman Praktis

  1. Periksalah Alkitab itu sendiri untuk mencari bagian-bagiannya yang jelas berhubungan dengan adat.

  2. Dengan meneliti cermat Alkitab sendiri, kita dapat mengetahui bahwa Alkitab menunjukkan suatu ruang gerak adat tertentu. Misalnya, prinsip-prinsip ilahi dari budaya Perjanjian Lama telah dinyatakan ulang dalam budaya Perjanjian Baru. Dengan melihat hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang dinyatakan ulang dalam Perjanjian Lama, kita dapat melihat bahwa sejumlah prinsip inti yang umum dapat melampaui adat, budaya dan kebiasaan sosial. Pada saat yang sama, kita melihat sejumlah prinsip Perjanjian Lama (seperti hukum-hukum mengenai apa saja yang halal dan apa yang haram dalam Pentateukh atau kelima kitab Musa) dibatalkan dalam Perjanjian Baru. Ini tidak berarti bahwa hukum-hukum mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dimakan semata-mata hanya adat Yahudi, tetapi kita dapat melihat sebuah perbedaan dalam situasi sejarah penebusan waktu Kristus membatalkan hukum yang lama. Apa yang harus kita perhatikan dengan cermat ialah, bahwa baik pemikiran untuk memindahkan prinsip-prinsip Perjanjian Lama seluruhnya ke dalam Perjanjian Baru maupun sama sekali tidak mengindahkannya sedikit pun, tidak dapat dibenarkan oleh Alkitab sendiri.

    Adat-adat budaya macam apa yang mampu pindah? Bahasa adalah salah satu faktor budaya yang mudah pindah. Hukum-hukum Perjanjian Lama dapat dialihbahasakan dari bahasa Ibrani kepada bahasa Yunani. Paling tidak, hal ini memberikan kepada kita sebuah kunci kepada berbagai macam komunikasi verbal (bahasa). Ini berarti bahwa bahasa adalah sebuah aspek budaya yang terbuka untuk perubahan. Ini tidak berarti bahwa isi Alkitab dapat dibengkokkan secara linguistik, tetapi berarti bahwa Injil dapat dikhotbahkan, baik dalam bahasa Yunani maupun dalam bahasa Inggris.

    Kedua, kita lihat bahwa metode-metode pakaian Perjanjian Lama tidak selalu cocok di segala zaman untuk umat Allah. Prinsip-prinsip kesederhanaan tetap unggul, tetapi mode-mode pakaian lokal boleh berubah. Perjanjian Lama tidak memerintahkan supaya orang beriman harus memakai pakaian seragam ilahi yang bermode sama untuk segala abad. Perubahan-perubahan budaya lain yang normal, seperti sistem-sistem uang, jelas terbuka untuk perubahan. Orang-orang Kristen tidak diharuskan memakai dinar sebagai ganti dolar.

    Analisis cara-cara pengungkapan budaya seperti itu mungkin sederhana karena berhubungan dengan pakaian atau uang, tetapi persoalan-persoalan institusi-institusi budaya lebih sulit analisisnya. Misalnya, topik mengenai perbudakan sering diperkenalkan ke dalam perdebatan modern mengenai tidak adanya oposisi terhadap hukum atas dasar hati nurani, juga topik mengenai struktur-struktur otoritas pernikahan. Dalam konteks yang sama, waktu Paulus mengimbau wanita-wanita supaya tunduk pada suami-suami mereka, ia juga mengimbau para budak untuk tunduk kepada tuan-tuan mereka. Sejumlah orang telah berpendapat bahwa karena benih-benih penghapusan perbudakan, demikian juga benih-benih penghapusan sikap tunduk para wanita. Kedua hal tersebut mewakili struktur-struktur institusional yang dipengaruhi budaya jika ditinjau dari segi garis penalaran ini.

    Di sini, kita harus berhati-hati untuk membedakan antara institusi-institusi yang diakui oleh Alkitab hanya keberadaannya saja, seperti "pemerintah-pemerintah yang ada" (Roma 13:1), dan institusi-institusi yang jelas didirikan, diabsahkan dan ditahbiskan oleh Alkitab. Prinsip tunduk kepada struktur-struktur otoritas yang ada (misalnya pemerintah Roma), tidak mempunyai pengertian yang diperlukan untuk pengabsahan dari pihak Allah mengenai struktur-struktur, tetapi hanya merupakan panggilan untuk kerendahan hati dan kepatuhan hukum dan pemerintah. Allah, di dalam pemeliharaannya yang utama dan rahasia, dapat menetapkan bahwa ada Kaisar Agustus, tanpa mengabsahkan Kaisar sebagai teladan kebajikan Kristen. Namun, institusi struktur-struktur dan pola-pola otoritas pernikahan diberikan dalam konteks institusi dan pengabsahan yang positif dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tindakan menurut struktur-struktur alkitabiah mengenai rumah tangga setingkat dengan persoalan perbudakan, sama dengan usaha mengaburkan banyak perbedaan antara keduanya. Jadi, Alkitab menyediakan dasar bagi perilaku kristiani di tengah situasi-situasi yang menekan atau yang jahat, Alkitab juga menahbiskan struktur-struktur yang harus menjadi cermin bagi rancangan-rancangan penciptaan yang baik.

  3. Biarlah ada kekhususan-kekhususan Kristen abad pertama.

  4. Usaha memahami isi Alkitab dengan lebih gamblang, dengan cara menyelidiki situasi budaya abad pertama, tidak sama dengan usaha menafsir Perjanjian Baru seolah-olah itu hanya gema budaya abad pertama. Menyamakan kedua usaha tersebut sama dengan mengalami kegagalan dalam usaha menerangkan pertentangan yang serius, yang dialami oleh gereja waktu itu dalam menghadapi dunia abad pertama. Orang-orang Kristen waktu itu tidak dilemparkan ke dalam kandang singa kalau mereka cenderung menjadi konformis.

    Cara-cara halus untuk merelatifkan teks ialah dengan memasukkan pertimbangan-pertimbangan kultural kita sendiri ke dalam teks, yang sesungguhnya tidak ada dalam teks itu sendiri. Misalnya, sehubungan dengan persoalan kerudung di Korintus, banyak penafsir Epistola itu menunjukkan bahwa tanda lokal wanita tunasusila di Korintus adalah tidak berkerudung. Karena itu, mereka berpendapat inilah alasannya mengapa Paulus ingin para wanita mengerudungi kepala mereka ialah untuk menghindari penampilan wanita-wanita Kristen yang mirip wanita skandal.

    Apa yang salah pada spekulasi seperti ini? Problem dasar di sini ialah bahwa pengetahuan kita mengenai orang-orang Korintus dari abad pertama yang dikonstruksikan ulang, telah mengakibatkan kita melengkapi Paulus dengan rasional (dasar penalaran) yang asing bagi Paulus sendiri. Jikalau Paulus hanya menyuruh kaum wanita Korintus berkerudung, tanpa memberikan rasional untuk instruksi seperti itu, kita akan sangat cenderung untuk melengkapinya dengan pengetahuan kita sendiri mengenai budaya. Namun hal ini, Paulus menyediakan sebuah rasional yang didasarkan atas imbauan kepada yang alami, bukan kepada adat tunasusila Korintus. Kita harus berhati-hati agar semangat kita terhadap pengetahuan budaya tidak mengaburkan apa yang sebenarnya dikatakan oleh Alkitab. Meletakkan alasan Paulus yang telah dinyatakannya di bawah kekuasaan penalaran kita yang berperspektif spekulatif, sama dengan memfitnah rasul itu dan mengubah eksegesis menjadi metode eisegesis.

  5. Peraturan alam ciptaan Allah menunjukkan adanya prinsip-prinsip transtruktural.

  6. Jikalau prinsip-prinsip Alkitab melampaui adat-adat lokal, maka berarti prinsip-prinsip tersebut diambil dari yang alami. Dukungan dari peraturan-peraturan alam menunjukkan peraturan-peraturan Allah yang mengikat janji secara hukum dengan manusia dalam fungsi atau sifatnya sebagai manusia. Hukum-hukum alam tidak dibenarkan hanya kepada manusia Ibrani atau manusia Kristen atau manusia Korintus saja, tetapi berakar dalam tanggung jawab dasar semua manusia terhadap Allah. Menyingkirkan prinsip-prinsip alam dengan memandangnya sebagai adat lokal, sama dengan merelatifkan isi Alkitab dan menghilangkan isi Alkitab yang historis. Inilah cara penafsiran yang termasuk paling buruk. Namun, tepatnya dengan cara inilah banyak ahli telah merelatifkan prinsip-prinsip Alkitab. Di sinilah, kita melihat metode eksistensial beroperasi dengan cara yang paling nyata.

    Untuk menggambarkan pentingnya peraturan-peraturan alam ciptaan Allah, kita dapat meneliti bagaimana Tuhan Yesus menangani persoalan perceraian. Pada waktu orang-orang Farisi menguji Tuhan Yesus dengan bertanya apakah perceraian dibenarkan oleh hukum untuk alasan apa saja, Tuhan Yesus menjawab dengan cara menunjuk kepada aturan penciptaan mengenai pernikahan, "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Matius 19:4-6).

    Dengan jalan menyusun kembali situasi kehidupan narasi ini, mudah untuk melihat bahwa ujian dari pihak orang-orang Farisi berkaitan dengan keinginan mendapatkan pendapat Tuhan Yesus mengenai pokok persoalan yang secara tajam memisahkan mazhab-mazhab rabi yang bernama Shammai dan Hillel. Tuhan Yesus tidak berpihak kepada salah satu mazhab sepenuhnya, tetapi mengembalikan persoalannya kepada aturan-aturan alam penciptaan untuk mendapatkan norma-norma pernikahan secara tepat. Sudah barang tentu, Ia mengakui modifikasi Musa terhadap hukum penciptaan, tetapi Ia tidak bersedia untuk melemahkan norma itu lebih lanjut, dengan cara menyerah kepada tekanan orang banyak atau pendapat-pendapat budaya orang-orang yang hidup di zaman-Nya. Kesimpulan yang harus kita tarik ialah bahwa aturan-aturan penciptaan adalah normatif, kecuali jikalau secara eksplisit telah dimodifikasi oleh wahyu Alkitab yang lebih belakangan.

  7. Dalam hal-hal yang tidak pasti pakailah prinsip kerendahan hati.

  8. Bagaimana kalau setelah kita mempertimbangkan dengan cermat sebuah mandat Alkitab, kita masih saja belum yakin mengenai hakikinya, apakah itu prinsip ataukah itu adat? Jikalau kita dihadapkan kepada pilihan untuk memutuskan yang mana di antara keduanya yang betul, tetapi kita tidak mendapatkan sarana-sarana yang cukup dapat dipakai untuk pertimbangan bagi keputusan yang betul, apa yang harus kita lakukan? Di sini, prinsip Alkitab mengenai kerendahan hati dapat berfaedah. Persoalannya mudah. Mana yang lebih baik, menganggap apa yang kemungkinan adalah adat, sebagai prinsip, sehingga bersalah karena dalam usaha kita untuk mematuhi Allah ternyata tidak sesuai dengan kehendak-Nya; Ataukah lebih baik menganggap apa yang kemungkinan adalah prinsip, hanya sebagai adat saja, sehingga kita bersalah karena menurunkan kadar tuntutan Allah yang transenden (di luar pengertian dan pengalaman manusia biasa) kepada tingkat kebiasaan manusiawi saja? Saya harap jawabannya jelas.

    Jikalau prinsip kerendahan hati dipisahkan dari garis-garis pedoman lain yang telah disebutkan, sangat mudah disalahartikan sebagai dasar untuk legalisme. Kita tidak berhak mengatur hati nurani orang-orang Kristen padahal Allah sendiri tidak mengaturnya. Prinsip ini tidak dapat juga diterapkan, kalau Alkitab sendiri diam mengenai suatu hal yang sedang ditafsir. Prinsip ini dapat diterapkan di tempat yang jelas ada mandat-mandat Alkitab, tetapi hakikinya saja yang tidak pasti (apakah yang ditafsir itu memang adat, ataukah prinsip?), setelah kita bekerja keras untuk mengatasi kesulitan menafsir, dengan metode eksegesis secara tuntas.

    Kerja keras seperti ini tidak dapat digantikan hanya dengan berhati-hati secara biasa saja (seperti umumnya dilakukan orang yang tidak memakai metode eksegesis). Sikap pokoknya hati-hati menafsir meskipun tanpa eksegesis, berbahaya. Bahayanya ialah mengaburkan antara yang adat dan yang prinsip. Eksegesis harus dilakukan sejak dari awal penyelidikan Alkitab, bukan kalau sudah jalan lain tidak berhasil. Sikap ini dapat merusak kebenaran penafsiran.

    Problem persyaratan budaya benar-benar problem. Rintangan-rintangan waktu, tempat, dan bahasa sering menyulitkan komunikasi. Namun, rintangan-rintangan budaya tidak begitu keras sehingga menyebabkan kita bersikap skeptis atau putus asa memahami firman Allah. Untungnya, Alkitab benar-benar menunjukkan kemampuan khusus untuk berbicara kepada kebutuhan-kebutuhan manusia yang terdalam dan untuk mengomunikasikan Injil dengan efektif kepada segala bangsa dari segala waktu, tempat dan adat. Halangan budaya tidak dapat mengosongkan kuasa firman Allah.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul buku: Mengenal Alkitab
Judul bab : Budaya dan Alkitab
Penulis : R. C. Sproul
Penerbit : Departemen Literatur SAAT, Malang
Halaman : 121 -- 127

Budaya dan Alkitab (1)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Alkitab dan budaya adalah seperti dua sisi keping mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Ketika melakukan studi Alkitab, sering kali kita masih sulit untuk membedakan mana yang termasuk prinsip dan mana yang sekadar latar belakang budaya ketika Alkitab ditulis. Salah satu kesalahan terbesar dari Kaum Liberal di dalam menafsirkan Alkitab adalah merelatifkan prinsip-prinsip firman Tuhan untuk dikontekstualisasikan ke dalam konteks budaya sehingga beberapa prinsip menjadi berubah makna, bahkan dianggap tidak relevan lagi di dalam konteks zaman sekarang.

Kali ini, saya memilih artikel "Budaya dan Alkitab" (dengan beberapa perubahan dan penyesuaian) yang dituliskan oleh R. C. Sproul dalam bukunya "Mengenali Alkitab". Melalui artikel yang dibagi dalam edisi ini dan edisi berikutnya, saya berharap kita dapat mengerti prinsip-prinsip eksegesis menafsirkan Alkitab dalam relevansinya dengan konteks budaya pada masa Alkitab ditulis dengan konteks budaya pada masa sekarang. Selamat menyimak dan merenungkan artikel ini.

Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< teddy(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
edisi 142/Juli 2013
Isi: 

Herman Melville, di dalam novelnya yang berjudul "Redburn", mengisahkan seorang pemuda yang naik kapal untuk pertama kalinya. Ketika ia berangkat menuju Inggris, ayahnya memberikan sebuah peta kota Liverpool yang sangat tua. Sesuai pelayaran yang sukar itu, Redburn memasuki kota Liverpool dengan keyakinan bahwa peta ayahnya dapat menunjukkan jalan di kota itu. Namun, peta itu tidak berguna baginya. Terlalu banyak perubahan terjadi sejak peta itu dibuat. Tanda-tanda tua telah hilang, jalan-jalan telah berubah nama dan tempat-tempat tinggal penduduk telah tidak ada lagi.

Ada orang-orang yang melihat dalam kisah Redburn itu, protes pribadi Melville terhadap Alkitab kuno yang tidak memadai untuk menunjukkan jalan baginya melewati kehidupan ini. Protes yang sama juga dilakukan oleh banyak orang di masa kini.

Kondisi Budaya dan Alkitab

Suatu pokok persoalan yang membara dalam dunia Kristen ialah mengenai persoalan pengertian dan tingkatan sampai mana Alkitab dipengaruhi oleh budaya. Apakah Alkitab ditulis hanya untuk orang-orang Kristen abad pertama? Ataukah Alkitab ditulis untuk orang-orang dari segala zaman? Kita boleh cepat menjawab menyetujui pertanyaan yang disebut terakhir, tetapi dapatkah kita mengatakannya tanpa syarat? Adakah bagian-bagian Alkitab yang terikat oleh latar budayanya, dan karena itu dalam penerapannya terbatas pada latar budayanya sendiri?

Kecuali, kalau kita teguh berpendapat bahwa Alkitab jatuh dari surga, ditulis oleh pena surgawi dalam bahasa surgawi, atau bahwa Alkitab didiktekan secara langsung dan segera oleh Allah tanpa referensi kepada kebiasaan lokal, gaya atau perspektif tertentu, maka kita akan terpaksa menghadapi kesenjangan budaya. Alkitab memantulkan budaya zamannya. Pertanyaannya kalau begitu, bagaimana Alkitab dapat memiliki otoritas atas kita pada zaman kita?

Suatu perdebatan gerejawi pada tahun 60-an menggambarkan problem budaya. Pada tahun 1967, United Presbyterian Church di Amerika memakai suatu pengakuan baru dengan pernyataan berikut ini mengenai Alkitab.

"Alkitab, yang diberikan di bawah bimbingan Roh Kudus, betapa pun adalah kata-kata manusia, yang dipengaruhi oleh bahasa, bentuk-bentuk pemikiran, gaya-gaya sastra, tempat-tempat, dan waktu-waktu pada waktu ia ditulis. Kitab-kitab dalam Alkitab memantulkan pandangan-pandangan hidup, sejarah dan kosmos yang beredar waktu itu. Karena itu, gereja berkewajiban mendekati Alkitab dengan pengertian sastra dan sejarah. Pada waktu Allah mengucapkan sabda-Nya dalam situasi budaya yang berbeda-beda, gereja yakin bahwa Ia akan tetap berbicara melalui Alkitab dalam dunia yang selalu sedang berubah dan juga dalam setiap bentuk budaya manusia."

Kata-kata "Pengakuan 1967" ini menimbulkan banyak perdebatan selama kurun waktu enam puluhan. Perdebatannya dipusatkan pada apa yang tidak dikatakan, lebih daripada apa yang dikatakan oleh Pengakuan itu. Sayangnya, Pengakuan itu tidak menjelaskan dengan mendetail apa yang dimaksudkan oleh setiap pernyataan. Hasilnya ialah setiap kebebasan menarik implikasi-implikasi dan kesimpulan. Jikalau kita mempertimbangkan pernyataan tersebut hanya melalui apa yang dinyatakan secara eksplisit oleh kata-katanya, maka baik B. B. Warfield yang ortodoks maupun Rudolf Bultmann yang eksistensialis, dapat menyetujuinya. Berapa besar otoritas yang dilihat dalam Alkitab amat bergantung pada bagaimana orang memahami kata "dipengaruhi" dalam pengakuan itu. Pada waktu perdebatannya berlangsung, banyak orang konservatif menyatakan kesedihannya yang sangat kalau memikirkan pendapat bahwa Alkitab "dipengaruhi" dengan cara apa pun oleh kebudayaan kuno. Banyak orang liberal berpendapat bahwa Alkitab tidak saja dipengaruhi oleh kebudayaan, tapi terikat oleh kebudayaan.

Sebagai tambahan pada persoalan pengertian dan tingkatan sampai di mana pengaruh budaya pada Alkitab, adalah persoalan pengertian dan tingkatan sampai di mana Alkitab memantulkan pandangan-pandangan hidup, sejarah, dan kosmos zaman kuno. Apakah kata memantulkan berarti bahwa Alkitab mengajarkan pandangan-pandangan hidup, sejarah, dan kosmos yang benar, kuno atau tidak benar? Apakah perspektif budaya ini merupakan bagian inti berita Alkitab? Ataukah memantulkan berarti bahwa kita boleh membaca apa yang tersirat di antara kalimat-kalimat Alkitab hal-hal seperti bahasa fenomenal dan melihat latar belakang tempat berita yang melampaui budaya itu diberikan? Bagaimana cara kita menjawab pertanyaan-pertanyaan ini banyak mengungkapkan pandangan kita yang menyeluruh tentang Alkitab. Sekali lagi, hakiki Alkitab memengaruhi penafsiran kita. Pokok persoalannya di sini begini: Sampai di mana relevansi dan wewenang Alkitab dibatasi oleh struktur-struktur dan perspektif-perspektif manusia yang berubah-ubah, dalam teks Alkitab?

Seperti yang telah kita lihat, untuk menghasilkan eksegesis teks Alkitab yang akurat dan untuk memahami apa yang dikatakan oleh Alkitab dan apa yang dimaksudkannya, orang yang mempelajari Alkitab harus terlibat dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai bahasa (Ibrani, Aram, Yunani), gaya tulisan, sintaks, konteks sejarah dan geografi, penulis, tujuan, dan bentuk sastra. Analisis seperti ini diperlukan untuk menafsir buah sastra mana saja, bahkan sastra masa kini sekalipun.

Ringkasnya, semakin saya memahami budaya Palestina abad pertama, semakin mudah saya mendapat pemahaman yang akurat mengenai apa yang dikatakan. Namun, Alkitab ditulis lama berselang, dalam suatu latar budaya yang lain sekali dari budaya kita sendiri, dan tidak selalu mudah menjembatani kesenjangan waktu antara abad pertama dan abad ke-20.

Pengaruh Budaya dan Pembaca

Problemnya menjadi lebih berat kalau saya menyadari bahwa tidak saja Alkitab dipengaruhi oleh latar budayanya, tetapi bahwa kita juga dipengaruhi oleh latar budaya kita sendiri. Sering kali menjadi lebih sulit bagi saya untuk membaca dan memahami apa yang dikatakan oleh Alkitab karena saya memasukkan ke dalamnya banyak sekali anggapan yang di luar Alkitab. Inilah mungkin problema pengaruh budaya yang terbesar yang kita hadapi. Setiap dari kita telah menjadi produk zaman. Jika seandainya saya tahu ada ide-ide saya yang tidak cocok dengan Alkitab, saya akan mencoba mengubahnya. Namun, memisah-misahkan pandangan-pandangan saya sendiri tidak selalu mudah. Kita semua cenderung untuk membuat kesalahan yang sama itu berulang kali. Kelemahan kita disebut kelemahan karena kita tidak menyadarinya.

Saya yakin bahwa pengaruh tatanan pikiran sekuler abad ke-20 merupakan halangan yang lebih hebat kepada penafsiran Alkitab yang akurat daripada problem pengaruh budaya kuno. Inilah salah satu alasan dasar mengapa tokoh-tokoh Reformed mendekati eksegesis melalui teladan tabula rasa. Penafsir diharuskan berusaha sekeras-kerasnya untuk membaca teks secara objektif melalui metode gramatis historis. Meskipun pengaruh-pengaruh subjektif selalu menunjukkan bahaya pembengkokan yang jelas di zaman ini, orang yang mempelajari Alkitab diharapkan untuk memakai setiap penjagaan yang memungkinkan dalam usaha mengejar yang ideal, yaitu mendengarkan berita Alkitab tanpa mencampurnya dengan prasangkanya sendiri.

Pada tahun-tahun akhir ini, metode-metode baru penafsiran Alkitab telah berlomba-lomba untuk diterima. Salah satu metode yang paling penting di antaranya ialah metode eksistensial. Metode eksistensial telah berpaling dengan drastis dari metode klasik melalui hermeneutika yang baru. Misalnya, Bultmann tidak hanya berpendapat bahwa metode tabula rasa tidak mungkin dicapai, melainkan juga menandaskan bahwa itu tidak dikehendaki. Menurut Bultmann, Alkitab perlu dimodernisasikan supaya dapat menjadi relevan bagi kita. Sebabnya ialah karena menurut dia, Alkitab ditulis dalam zaman prasains dan merupakan hasil pengaruh situasi kehidupan masyarakat Kristen mula-mula yang bertumbuh. Bultmann mengimbau diperlukannya "pemahaman sebelumnya", bahkan sebelum kita membaca teks Alkitab itu. Jikalau manusia modern ingin mendapatkan jawaban-jawaban yang absah terhadap pertanyaan-pertanyaannya, dari Alkitab, pertama kali yang harus ia lakukan ialah datang kepada Alkitab itu dengan pertanyaan-pertanyaan tepat. Namun, pengertian seperti itu tidak boleh didapat dari Alkitab, melainkan harus diformulasikan dahulu sebelum membuka Alkitab. Di sinilah, tatanan pikiran abad ke-20 terang-terangan memengaruhi dan mengikat teks-teks abad pertama, berita abad pertama ditelan dan diserap oleh mentalitas abad ke-20.

Bahkan, seandainya para penafsir Alkitab dapat menyetujui metode eksegesis dan bahkan dapat menyetujui hasil eksegesis itu sendiri, bahwa Alkitab diinspirasikan oleh Allah dan tidak semata-mata merupakan produk penulis-penulis zaman prasains, kita masih dihadapkan kepada persoalan penerapan, relevansi, dan kewajiban yang dibebankan oleh teks itu. Apakah yang diperintahkan Alkitab supaya dilakukan oleh orang-orang Kristen abad pertama berlaku untuk diterapkan kepada kita? Dalam pengertian yang bagaimana Alkitab berhubungan dengan hati nurani kita sekarang ini?

Prinsip dan Adat

Dalam banyak kalangan di masa kini, persoalannya ialah prinsip dan adat. Kecuali, kalau kita menyimpulkan bahwa semua isi Alkitab itu prinsip sehingga mengikat semua orang di segala zaman, atau kalau kita berpendapat bahwa seluruh Alkitab adalah adat lokal tanpa relevansi di luar konteks historisnya yang langsung, maka kita dipaksa untuk menetapkan sejumlah kategori dan garis pedoman untuk mengetahui perbedaan antara kedua pendapat itu.

Untuk menggambarkan problemnya, marilah kita lihat apa yang terjadi waktu kita memercayai bahwa setiap halaman dalam Alkitab adalah prinsip dan tidak ada yang semata-mata hanya pantulan adat lokal. Jika demikian halnya, maka sejumlah perubahan radikal harus dilaksanakan dalam penginjilan jikalau kita ingin mematuhi Alkitab. Tuhan Yesus berkata, "Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan" (Lukas 10:4). Jika kita membuat teks ini suatu prinsip transkultural, maka sudah sewaktunya Billy Graham mulai berkhotbah tanpa sepatu! Jelas, maksud teks ini tidak menetapkan persyaratan abadi mengenai penginjilan tanpa sepatu. Namun hal-hal lain yang tidak begitu nyata, misalnya orang-orang Kristen masih belum bersepakat mengenai ritus mencuci kaki, apakah ini merupakan mandat abadi bagi gereja di segala abad, atau hanya adat lokal yang menggambarkan prinsip kerendahan hati seorang pelayan? Apakah prinsipnya tetap dan adatnya hilang dalam budaya memakai sepatu? Ataukah adatnya tetap bersama dengan prinsipnya, tidak peduli adat memakai sepatu atau tidak?

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul buku: Mengenal Alkitab
Judul bab : Budaya dan Alkitab
Penulis : R.C. Sproul
Penerbit : Departemen Literatur SAAT, Malang
Halaman : 112 -- 119

Membesarkan Anak dalam Tuhan

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Setelah ujian sekolah berakhir, maka hasil belajar anak-anak akan dievaluasi melalui nilai rapor. Namun apakah yang dinamakan pendidikan hanya sebatas nilai rapor saja? Tentu tidak! Betapa sempitnya pandangan kita jika pendidikan anak hanya berfokus pada nilai dan prestasi tinggi yang dicapai di sekolah. Nilai dan prestasi bagus di sekolah tidak menjamin apakah seorang anak telah dididik dan dibesarkan dengan benar. Lalu apa yang dimaksud dengan pendidikan? Bagaimana mengukur keberhasilan pendidikan?

Saya sengaja memilih artikel di bawah ini karena saya berharap, para Pembaca, terutama orang tua, para guru, serta para pembimbing rohani mampu mengevaluasi diri apakah selama ini telah mendidik anak-anak kita dengan benar atau belum. Pergumulan di dalam membesarkan anak tentunya berbeda seiring dengan perkembangan zaman. Orang-orang kuno seringkali mendidik anaknya dengan keras bahkan tidak segan-segan menggunakan rotan untuk menghajar anaknya. Namun, pada zaman postmodern ini, tentunya kita tidak dapat lagi menerapkan kekerasan fisik dalam membesarkan anak. Meskipun cara mendidik anak dapat berubah sesuai zaman, tetapi kita harus berpegang pada sebuah prinsip pendidikan yang tidak akan berubah sepanjang zaman: yaitu anak harus dibesarkan dalam Tuhan. Semoga artikel yang saya kirimkan ini dapat membantu kita untuk mengerti prinsip-prinsip membesarkan anak dalam Tuhan dan kita semakin mampu menerapkan kasih, kelemahlembutan, keadilan, dan kebijaksanaan dalam mendidik anak-anak kita.

Selamat membaca dan merenungkan. Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< teddy(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
Edisi 141/Juni 2013
Isi: 

Mendidik anak bukanlah memikirkan tentang bagaimana melakukan kehendak diri sendiri, melainkan memikirkan apa yang terbaik untuk mereka. Saya kira dalam hal ini banyak para ibu yang gagal. Seorang ibu yang cerewet tidak habis-habis adalah seorang yang setelah cerewet, tidak melakukan apa-apa. Tetapi seorang ayah lebih banyak diam, dan hanya pada saat tertentu di kala perlu, akan memukul anaknya dengan keras. Jadi, makin banyak ibu berbicara, seorang anak akan makin merasa itu sebagai hal biasa yang tak ada pengaruhnya. Makin cerewet, makin tak didengar. Namun seorang ayah yang memukul, sampai-sampai anak tidak tahu mengapa ia dipukul, juga tidak melakukan hal yang mendidik. Kita melihat begitu banyak ibu yang merasa dirinya sudah mendidik anak, padahal apa yang dikiranya mendidik, isinya hanya membereskan kesumpekan diri sendiri. Seorang ibu yang mengeluh tentang anak tidak berarti bahwa ia mendidik anak. Yang menjadi ibu, mulai hari ini berhentilah dari kecerewetan Anda dan mulai memikirkan tentang apa yang Anda katakan di hadapan anak-anak Anda: Apakah itu mendidik atau mengeluh? Jika seorang ibu hanya mau membereskan kesulitan sendiri, ia belum mempunyai kekuatan mendidik anak, pendidikan orang tua mulai berfungsi, jika segala perkataan Anda didasarkan dari hati yang memikirkan segala yang terbaik untuk anak. Jangan lupa, waktu Anda mengomel, waktu Anda mengatakan kalimat yang begitu banyak, tapi sebenarnya tidak begitu perlu, ingatlah bahwa hal itu malah akan menjengkelkan anak-anak Anda. Tetapi kalimat-kalimat yang penting, katakanlah, katakan dan laksanakan, itu akan membuat anak-anak mau mendengarkan perkataan Anda. Bagaimana anak-anak mendengarkan orang tua, jika orang tua tidak memikirkan yang terbaik untuk anak-anaknya? Hendaklah kita seumur hidup berkeputusan untuk hanya mengatakan hal-hal yang berguna. Itu menjadikan diri berbobot, dan tidak akan dianggap sembarangan oleh orang lain. Dengan menjadi orang berbobot, kehadiran Anda akan lebih dihormati anak-anak Anda.

Suatu hari sehabis pergi mengabarkan Injil, ibu saya pulang dan menemukan kami sedang berkelahi. Ia lalu menanyakan sebab musababnya, tapi tak ada seorang pun yang mau mengaku. Ia memerintahkan kami berdoa sama-sama, tapi kami menolak. Tak ada satu pun yang mematuhinya. Ibu lalu pergi ke kamarnya, berhadapan dengan lemari kaca, lalu beliau memukul kaca dengan tangannya dan darah mulai bercucuran. Kami tak tahan lagi, lalu menangis dan berlutut untuk berdoa. Ibu berkata, "Hari ini kamu semua menghina saya. Saya merasa tidak bisa mendidik anak, maka saya pecahkan kaca. Kalau kalian tidak mau taat kepada saya, hal itu tidak mengapa. Tetapi kalau kalian tidak mau taat kepada Tuhan, mau jadi apa?" Akhirnya kami empat saudara yang berkelahi semua berlutut, menangis dan berdoa minta pengampunan Tuhan.

Mendidik anak bukan hanya teori, bukan hanya suatu kepintaran atau kefasihan lidah, tetapi mendidik anak adalah menerjunkan diri, mengorbankan diri, sampai suara hati kita bisa menembusi awan gelap, masuk ke dalam hati anak sampai mereka menyadari arti pendidikan. Berpikirlah untuk kepentingan mereka, bukan hanya mau membereskan kesulitan sendiri. Pendidikan berarti: berhenti dari memikirkan kesulitan-kesulitan sendiri dan mulai memikirkan apa yang bisa diterima dan dirasakan oleh anak kita.

Menetapkan Sasaran Pendidikan

Pendidikan tanpa sasaran akan menghamburkan tenaga, waktu dan lain sebagainya, sama seperti orang naik mobil kelebihan bensin, berputar-putar tak tahu mau ke mana. Apa tujuan kita mendidik anak? Saya kira orang yang paling malang, adalah orang-orang yang mempunyai ayah ibu yang hanya bisa melahirkan anak, tapi tidak tahu bagaimana mengarahkan hidup anaknya. Pada bulan Februari tahun 1974 saya berkhotbah di Vietnam; di tengah perjalanan ke Dalat, ada seorang menceritakan kepada saya tentang tentara-tentara Amerika yang meniduri wanita Vietnam, lalu melahirkan anak-anak yang cantik. Ada orang-orang tertentu yang mau mengambil anak-anak tanpa ayah itu. Tindakan yang mereka lakukan kelihatannya penuh kasih, tapi sebenarnya tidak. Mereka mengambil anak-anak cantik tersebut, agar dididik dan dibesarkan untuk menjadi pelacur dan menghasilkan banyak uang. Saya tidak tahu mengapa orang yang memiliki hati yang sedemikian dapat disebut sebagai manusia.

Jikalau Allah sudah memberikan anak-anak ke dalam tangan kita, tapi kita tidak memiliki tujuan untuk hari depan mereka, maka kita bukanlah orang tua yang baik; kita tidak menjadi wakil yang baik dari Tuhan. Bagaimana menetapkan sasaran? Tetapkanlah tujuan-tujuan yang mulia untuk anak-anak, galilah potensi mereka semaksimal mungkin. Jikalau anak-anak Anda memang tidak berpotensi besar, jangan paksa mereka karena sampai tengah jalan mereka bisa jadi gila. Itu sebabnya, dalam menetapkan sasaran untuk anak-anak pun, kita perlu berhati-hati untuk dua hal:

Pertama, mempunyai pengertian tentang apa potensi dan karunia Tuhan bagi mereka.

Kedua, sampai sejauh mana potensi dan karunia itu punya kemungkinan untuk digali.

Dalam hal ini, kita harus senantiasa bertanggung jawab dalam mengoreksi dan memonitor; mendidik anak bukanlah hal gampang. "Set up a goal for your children" (Tetapkan sebuah tujuan bagi anak Anda). Orang Kristen memiliki satu sasaran penting, yaitu memuliakan Tuhan di dalam pikiran, percakapan, hidup sehari-hari, dalam pekerjaan dan dalam semua segi kehidupan. Konsep teologi Reformed ini, paling sedikit dapat kita taruh dalam hidup anak-anak, agar dimanapun mereka berada, Allah dipermuliakan.

Setelah menggali, menggarap, mengembangkan potensi dan karunia anak, kita tidak perlu menjadi minder. Ada kesaksian tentang seorang yang rela bekerja melayani Tuhan. Akhirnya pada suatu hari, bukan saja ia tidak sempat melayani Tuhan, bahkan kedua kakinya rusak dan harus diamputasi. Pada waktu kedua kakinya dipotong habis, ia menangis. Ia berkata, "Tuhan saya tidak berguna lagi. Saya perempuan, kedua kaki saya dipotong, hidup saya tidak ada arti lagi." Seorang pendeta datang kepadanya, waktu ia sedang menangis. Pendeta itu berkata, "Engkau sudah kehilangan dua kaki, tetapi masih punya dua tangan, kenapa tidak kau persembahkan dua tanganmu untuk Tuhan?" Kalimat itu dipakai oleh Roh Kudus dan memberi satu sinar cerah bagi hatinya. Ia sadar lalu berkata dalam hatinya, "Ya, Tuhan sekarang saya sudah kehilangan kaki, kaki saya tidak dapat dipergunakan lagi, tapi saya masih memiliki dua tangan, sekarang saya mau persembahkan tangan saya untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan." Mulai hari itu, ia mulai menulis surat mengabarkan Injil, kalau ada orang yang tergerak, dimintanya dalam surat itu untuk memberikannya kepada orang lain. Demikian cara dia mengabarkan Injil.

Pada waktu ia mati, ia sudah mengabarkan Injil kepada sebelas ribu orang, melalui koresponden. Dalam lacinya, ditemukan catatan-catatan tentang orang-orang lain yang bertobat melalui pemberitaannya, jumlahnya ada 680 jiwa. Hal ini diceritakan Dr. Bob Pierce pada saya, di Switzerland tahun 1969 (Dokter Bob Pierce adalah pendiri World Vision). Carilah potensi yang ada pada Anda dan pada anak-anak Anda. Kadang-kadang apa yang Anda inginkan terjadi pada anak Anda, berbeda dengan apa yang Tuhan inginkan, jangan paksakan keinginan Anda. Galilah kemungkinan yang terdapat pada anak Anda, sehingga boleh mengembangkan potensi yang Tuhan sudah tanamkan dalam dirinya, hingga dia berguna menurut kehendak Tuhan, bukan kehendak Anda sendiri.

Kesehatian Orang Tua

Seorang ayah yang mempunyai cara pendidikan yang berbeda dengan ibu, akan menimbulkan konflik, yang kemudian berkembang menjadi "self defeating power" atau kekuatan yang saling melemahkan. Akibat dari hal ini yaitu anak tidak hormat dan segan pada kedua orang tuanya. Kalau anak itu melihat ada dualisme dalam didikan ayah dan ibu, ia akan mencari sesuatu untuk bisa diperalat; Ini berbahaya sekali. Anak yang sedang bertumbuh menjadi besar dan mulai menilai akan segera melihat adanya dualisme, dan dengan demikian orang tua akan melemahkan pendidikan terhadap anak sendiri. Perselisihan karena cara mendidik anak yang berbeda dapat menimbulkan perpecahan dan konflik antara kedua orang tua, itulah sebabnya saling menyesuaikan diri, merupakan hal yang penting sekali. Walaupun masih ada banyak perbedaan konsep dalam mendidik anak, namun sebagai orang tua, kita harus memiliki kesehatian.

Satu kali ada seorang anak kecil memecahkan sebuah kaca yang besar. Waktu ibunya pulang, ia marah sekali dan bertanya, "Siapa yang memecahkan kaca ini?", lalu anaknya menjawab, "Saya." Ibunya berkata, "Nanti saya kasih tahu ayahmu, baru tahu berapa hebat ayahmu!" Anaknya jawab, "Ayah sudah tahu, ia bilang: Nanti saya kasih tahu ibumu, biar kamu tahu berapa hebat ibumu!" Ayah memakai ibu untuk menggertak anak, ibu memakai ayah untuk mengancam anak. Anak melihat kedua orang tuanya tidak hebat. Ini suatu contoh yang kecil, tetapi selalu terjadi. Ketidaksepakatan merupakan kelemahan dalam pendidikan anak. Seorang ayah jangan sekali-kali memakai anak untuk melawan ibu, atau seorang ibu memakai anak memihak dirinya melawan ayah, itu adalah kebodohan besar.

orang tua juga harus mengerti bahwa di antara Diri Allah Tritunggal, ada suatu kerjasama di antara ketiga Oknum, menjadi contoh dari segala komunitas. Kerjasama dalam diri Allah Tritunggal, menjadi basis atau dasar semua komunitas dalam dunia. Satu dasar dalam hubungan komunikasi yang rukun. Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus begitu rukun. Allah Tritunggal menjadi dasar bagi para wakil Tuhan; baik ibu ataupun bapak untuk belajar bagaimana rukun dan sehati.

Kasih dan Keadilan

Jika ada anak kita yang tak bisa diperlakukan dengan keras, jangan perlakukan dia dengan keras, tapi anak yang tak bisa dididik dengan kelembutan, jangan terus diperlakukan lembut. Perlu suatu kebijaksanaan untuk mengatur kedua hal ini. Di atas salib terdapat suatu bijaksana yang paling sempurna dan mendalam. Di kayu salib kita melihat, bagaimana Tuhan tidak menyayangi dosa, bahkan Anak-Nya yang Tunggal harus disalibkan; tetapi justru di atas kayu salib ada kelembutan paling besar, sehingga perampok yang berdosa besar pun bisa diampuni. Inilah kekristenan.

Di atas kayu salib kita melihat kelembutan yang paling besar dan keadilan yang paling keras. Keadilan yang tidak mau menerima dosa siapa pun dan pengampunan yang bisa mengampuni orang yang paling berdosa. Allah menyelamatkan kita melalui salib, Allah mendidik kita dengan salib. Allah bukan mengutus profesor-profesor teologi untuk mengajar kita, tetapi dengan mengorbankan Anak-Nya dipaku di atas salib mencurahkan darah. Di atas kayu salib, tertenun keadilan dan cinta kasih Allah. Tanpa cinta kasih ada kekejaman, keganasan, kekerasan; tetapi kasih tanpa keadilan, adalah kompromi dan banjir emosi. Demikian juga di dalam gereja, masyarakat atau keluarga, jika kita tegakkan keadilan tanpa kasih, itu sama dengan kekejaman. Tuhan tidak demikian. Gereja tidak mungkin terbangun, keluarga tidak mungkin berbahagia, suami-istri tidak mungkin memiliki hubungan yang beres, jika kedua prinsip Ilahi ini tidak dikerjakan secara harmonis.

Jika kita sebagai orang tua melakukan kekerasan terhadap anak, maka secara rohani mereka akan berontak. Anak-anak tidak dididik dengan baik hanya dengan kekerasan, keadilan, dan dengan menjalankan aturan. Tuhan Allah memberikan dua sifat ini sebagai dasar pendidikan, yaitu keadilan dan kasih. Allah yang Mahakuasa, adalah Allah yang Maha lembut, Allah kita yang Maha adil, juga adalah Allah yang mengampuni, Allah kita yang penuh dengan bijaksana, rela masuk ke dunia seperti orang bodoh. Di sinilah kita menjumpai suatu paradoks. Kekerasan bertemu dengan kelembutan, keadilan bertemu dengan cinta kasih, pengampunan bertemu dengan keadilan. Waktu kedua hal ini tertenun bersama menjadi satu, di situ ada kuasa pendidikan dan keselamatan. Kalau kita mau mendidik anak kita dengan baik, jadilah orang yang mempunyai sifat keadilan dan kelembutan Tuhan, sehingga anak kita mendapatkan pengertian dan bijaksana tentang bagaimana bisa menggabungkan keadilan dan kelembutan menjadi satu dan inilah bijaksana, dan kalau kedua hal ini menjadi satu, akan menjadi kuasa. Itu sebabnya di kayu salib semua terjadi: kasih, kelembutan, keadilan, bijaksana.

Sumber: 

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku: Membesarkan Anak dalam Tuhan
Judul bab : Prinsip Mendidik Anak
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman : 19 -- 25

Komentar


Syndicate content