Dataran Tinggi Doa Syafaat

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Artikel e-Reformed yang saya kirim kali ini memiliki dua tujuan:

1) Merayakan International Day of Prayers (IDOP).

Artikel ini khusus disajikan dalam rangka "International Day of Prayers" yang diadakan secara serentak di seluruh dunia pada tanggal 9 -- 16 November 2008.

Pada perayaan IDOP ini, gereja-gereja dan umat Kristen di seluruh dunia akan berdoa bersama secara serempak bagi gereja-gereja dan jemaat Tuhan yang teraniaya demi memertahankan iman mereka dalam Kristus Yesus. Saya mengajak Pembaca e-Reformed: para gembala sidang, pengajar, pemimpin, kaum muda, pendoa syafaat, dan semua orang percaya, bergabung dalam acara doa bersama ini.

Jika Anda ingin tahu tentang IDOP, silakan menyimak referensi di bawah ini:

  1. Sekilas Tentang IDOP International Day
  2. International Day of Prayer IDOP
  3. Persecuted Church
  4. The International

2) Mengoreksi pengertian gereja yang salah tentang doa syafaat.

Artikel ini sekaligus diharapkan dapat menolong gereja-gereja melihat konsep yang benar mengenai doa syafaat. Doa syafaat bukanlah doa untuk diri sendiri, atau gereja sendiri, atau anak dan keluarga kita sendiri, atau kegiatan kita sendiri. Artikel ini menjelaskan apa arti doa syafaat yang sesungguhnya bagi jemaat Tuhan.

Harapan saya, jika doa syafaat ini dilakukan dengan benar oleh jemaat, gereja pasti akan mengalami kebangunan rohani karena hati gereja akan diubahkan untuk memiliki hati Tuhan yang mengasihi jiwa-jiwa yang hilang. Kebanyakan gereja-gereja Kristen saat ini sudah kehilangan fungsinya sebagai gereja Tuhan karena lebih banyak berfungsi sebagai gereja manusia, yaitu tempat "christian gathering" (sosialisasi orang-orang Kristen) yang tidak peduli dengan misi Tuhan di dunia. Maka, tidak heran jika ada banyak gereja, yang kalau mau jujur, hanya tinggal papan nama saja, tapi Roh Tuhan sudah tidak ada di sana karena mereka hanya mendahulukan kepentingan manusia, bukan kepentingan Tuhan. Gereja kadang masih dipertahankan, bahkan direnovasi dan dibesarkan bangunannya, tapi sering hanya untuk memertahankan warisan pendiri-pendirinya saja dan menyenangkan kebutuhan jemaat, atau bahkan kalau mau blak-blakan, hanya untuk menyejahterakan hamba-hamba Tuhannya saja. Bagaimana kita tahu apakah gereja kita sudah menyeleweng dari tujuan Tuhan? Mudah, lihat saja dari laporan keuangan gereja, atau dengan kata lain, ke mana uang jemaat pergi. Digunakan untuk apa sebagian besar uang persembahan jemaat itu? - Untuk biaya operasional (administrasi)? - Untuk membangun sarana? - Untuk kegiatan perayaan? - Untuk menggaji hamba Tuhan/staf gereja? - Atau untuk pembinaan rohani jemaat dan penginjilan? Nah, Anda tahu sendiri jawabannya.

Selamat membaca dan selamat berdoa.

Catatan: Jika Anda ingin memberi tanggapan/komentar terhadap artikel di atas, silakan berkomentar di situs SOTeRI.

In Christ, Yulia < yulia(at)in-christ.net > <http://reformed.sabda.org >

Penulis: 
Dick Eastman
Edisi: 
105/XI/2008
Tanggal: 
24-12-2008
Isi: 

Seorang hamba Tuhan berkata, "Berbicara dengan manusia atas nama Allah adalah hal yang mulia, tetapi berbicara dengan Allah atas nama manusia adalah lebih mulia." Doa syafaat ialah mengutamakan keperluan orang lain, dan bukan menaikkan permohonan doa bagi diri kita sendiri. Menaikkan doa syafaat tidak mudah. Pada dasarnya, manusia bersifat mementingkan diri dan kurang memerhatikan orang lain. Namun aneh sekali, ini bukanlah sifat orang-orang yang melintasi Dataran Tinggi Doa Syafaat. Menaruh perhatian pada orang lain adalah semboyan bagi mereka yang menempuh jalan yang sepi ini.

Puncak Doa

Kita memerlukan persiapan khusus bila hendak menjadi orang yang menaikkan doa syafaat. Kita perlu memertimbangkan beberapa bentuk doa agar lebih banyak mengerti alasan-alasan bagi doa syafaat. Mengerti mengapa doa syafaat adalah bentuk doa yang tertinggi adalah tepat. S.D. Gordon berkata, "Doa adalah kata yang lazim digunakan untuk semua komunikasi dengan Allah. Akan tetapi, hendaknya diingat bahwa kata itu meliputi dan mencakup tiga bentuk komunikasi. Semua doa naik melalui dan selalu diteruskan dalam tiga tingkat." Katanya selanjutnya,

"(1) Bentuk doa yang pertama ialah persekutuan , yaitu memunyai hubungan yang baik dengan Allah. Tidak memohon sesuatu yang khusus; tidak meminta, tetapi hanya merasa senang berada di hadapan-Nya, mencintai Dia ..., berbicara kepada-Nya tanpa menggunakan kata-kata.

(2) Bentuk kedua ialah permintaan doa. Permintaan doa adalah menyampaikan permintaan tertentu kepada Allah mengenai sesuatu yang saya butuhkan. Seluruh hidup manusia bergantung pada uluran tangan Allah.

(3) Bentuk ketiga adalah doa syafaat. Doa yang sungguh-sungguh tak pernah berhenti setelah menaikkan permintaan bagi diri sendiri. Doa itu untuk menjangkau orang lain. Doa syafaat adalah puncak doa. Kedua bentuk yang pertama itu perlu untuk diri kita sendiri; bentuk yang ketiga adalah untuk orang lain."

Jangkauan Doa Syafaat

David Wilkerson, pendiri Teen Challenge International, adalah contoh mutakhir dari orang yang telah belajar menaikkan doa syafaat. Ketika berdoa, Allah menggerakkan hatinya untuk mulai memerhatikan muda-mudi yang terlibat dalam kejahatan. Pada suatu hari, ketika sedang berdoa, ia merasa tertarik untuk membaca sebuah majalah nasional yang memuat berita singkat tentang beberapa pemuda di New York yang suka menentang hukum. Mereka terlibat dalam suatu perbuatan kejahatan yang kejam, yang menggemparkan seluruh bangsa Amerika. Tiba-tiba saja hati David Wilkerson tercekam untuk menaikkan doa syafaat, dan lahirlah kasih terhadap kaum muda yang terhilang dan penuh frustrasi itu.

Masa doa syafaat inilah yang merupakan daya pendorong dan memimpin Pdt. Wilkerson untuk mendirikan organisasi swasta yang terbesar di dunia bagi perawatan dan pengobatan pecandu-pecandu obat bius yang tak tertolong lagi. Dewasa ini, gerakannya itu membantu muda-mudi dari segala lapisan yang menjadi masalah bagi masyarakat.

Teen Challenge, yang sekarang merupakan suatu organisasi yang besar, dimulai ketika David Wilkerson dengan rendah hati bersatu dengan Allah dalam doa. Sekarang ini, organisasi tersebut sudah menjangkau kebanyakan kota besar di Amerika Serikat dan banyak kota lainnya di seluruh dunia. David Wilkerson benar-benar merupakan teladan seorang pendoa syafaat.

Belum lama berselang, saya mengunjungi kantor pusat Teen Challenge di New York. Saya tidak akan melupakan saat ketika saya berdiri di tempat itu. Seorang bekas pecandu mengajar saya apa artinya menaikkan doa syafaat. Ia menjelaskan, "Semua jiwa yang dimenangkan di jalan-jalan kota ini lebih dahulu dimenangkan dalam doa!" Hanya sedikit orang yang menyadari kuasa doa syafaat. Seorang penulis mengatakan, "Setiap orang yang bertobat adalah hasil pekerjaan Roh Kudus sebagai jawaban doa orang percaya."

Baru-baru ini, saya mendengar bagaimana doa syafaat telah mengakibatkan kemenangan yang luar biasa dalam gereja di kota saya. Selama bertahun-tahun, pendeta kami telah berdoa untuk seorang yang jahat, yang selalu menentang Allah. Istri orang itu juga menaikkan doa syafaat untuk suaminya. Setiap hari, ia berdoa agar suaminya diselamatkan. Akhirnya, tiba saatnya ketika suaminya menerima Kristus. Suatu kemenangan lagi sebagai akibat doa syafaat. Pada dasarnya, doa syafaat adalah doa yang digerakkan oleh kasih. Dalam arti yang sebenarnya, doa syafaat adalah kasih yang berlutut dan berdoa. Apabila kita mengasihi seseorang, kita akan berusaha untuk memberinya yang terbaik. Douglas Steere menulis, "Jika saya berdoa dengan sungguh sungguh, saya benar-benar menyadari kasih yang mengelilingi saya." Kemudian ia menguraikan, "Apabila kita mulai berdoa bagi orang lain, kita mulai mengenal, mengerti, serta lebih menghargainya daripada sebelumnya. Phillips Brooks mengukuhkannya dengan pernyataannya yang terkenal, 'Jika ingin mengetahui nilai jiwa manusia, cobalah untuk menyelamatkan seorang jiwa.'"

Bayangkan Saudara sedang duduk di takhta Allah dan melihat seorang manusia yang tersesat dan sendirian. Dapatkah kita memberikan anak tunggal kita? Apakah kita cukup mengasihi orang lain sehingga bersedia melakukan pengorbanan ini? Doa yang penuh pengorbanan adalah doa syafaat yang benar. Sebenarnya, berdoa bagi orang lain adalah lingkup doa syafaat.

"Agaknya, Tak Seorang Pun yang Memedulikan"

Kita hidup di tengah masyarakat yang amat sibuk dan bergerak cepat. Hanya sedikit orang yang memedulikan mereka yang ada di sekelilingnya. Di sebuah kota besar di bagian barat Amerika Serikat, seorang polisi hampir mati diserang oleh segerombolan pemuda yang memberontak. Beratus-ratus orang melewati tempat kejadian itu dan memandang sekilas pada darah yang bercucuran. Tak seorang pun yang berhenti untuk menyelidiki keadaannya. Tak seorang pun yang bersedia menolong! Pemuda-pemuda itu terus saja memukulinya, dan akhirnya meninggalkannya dalam keadaan hampir mati. Darahnya yang menggenang di kaki lima seolah-olah membentuk lima kata yang menakutkan -- tak ada orang yang memedulikan. Lebih menyedihkan lagi ketika iblis menggoda jiwa-jiwa yang tak berdaya sementara orang Kristen bersikap acuh tak acuh. Doa syafaat adalah satu-satunya sarana kita untuk menghalangi usaha iblis, namun hanya sedikit orang saja yang melaksanakan doa ini. Sekiranya Allah mengisi hati kita dengan semangat yang menyala-nyala untuk memanjatkan doa semacam ini!

Ayub yang dilanda kesukaran mendapat pelajaran yang sangat berharga mengenai doa syafaat. Mula-mula dalam pengalaman doanya, ia hanya memikirkan keadaannya yang menyedihkan. Setiap hari, ia memohon agar Allah melenyapkan borok-boroknya yang menjijikkan itu. Pertolongan tidak datang ketika ia berdoa bagi dirinya sendiri, tetapi sementara itu ia berdoa bagi sahabat-sahabatnya yang sangat menyedihkan hatinya. Pada saat ia memahami pelajaran mengenai doa syafaat, kesehatannya pulih kembali. Ayub merasakan kemenangan setelah ia berdoa bagi orang lain.

Musa betul-betul mengetahui peranan doa syafaat. Pada suatu ketika, ia berdoa dengan sungguh-sungguh untuk umat Allah. Israel sudah diperingatkan untuk menghentikan keluhan dan sungutannya. Berkali-kali peringatan datang ketika Yehova mengatakan, "Aku akan memusnahkan mereka." Tetapi perhatikanlah satu kenyataan, Musa memedulikan. Dengan segala kekuatannya, ia berdoa, "Tuhan, ampunilah mereka." Kita dapat membayangkan air mata yang meleleh di pipi Musa pada waktu ia memohon, "Hapuskanlah namaku dari dalam kitab-Mu -- bunuhlah aku jika Tuhan mau -- tetapi ampunilah umat-Mu."

Setiap orang yang berdoa dengan begitu sungguh-sungguh telah mengetahui arti doa syafaat. Hal ini mengingatkan kita akan Billy Bray, seorang Kristen yang selalu berdoa. Kata orang perawakannya kecil, tetapi dalam hal-hal rohani, ia bagaikan seorang raksasa. Setiap hari, ketika hendak berangkat bekerja dalam sebuah tambang batu bara yang kotor di Inggris, ia berdoa, "Tuhan, jika hari ini harus ada yang mati di antara kami, biarlah aku saja yang mati; jangan biarkan salah seorang dari pekerja-pekerja ini yang mati karena mereka tidak bahagia, sedangkan aku betul-betul bahagia, dan kalau aku mati hari ini, aku akan masuk surga."

Bray memiliki sikap "aku memedulikan" sepanjang hidupnya. Misalnya saja, pada suatu hari, ia tidak memunyai uang karena sudah beberapa waktu ia tidak menerima upah. Ia berdoa kepada Tuhan. Ia masih memiliki kentang, tetapi tidak ada roti. Ia mendatangi pengurus tambang itu dan meminjam sedikit uang. Dalam perjalanan pulang, ia menjumpai dua keluarga yang keadaannya lebih parah daripada dirinya. Ia membagikan uangnya kepada masing-masing keluarga itu dan pulang tanpa satu sen pun. Istrinya putus asa, tetapi Bray meyakinkannya bahwa Tuhan tidak melupakan mereka. Tidak lama kemudian, mereka menerima dua kali jumlah yang telah dibagikannya. Banyak orang yang menyetujui bahwa dunia kekurangan orang-orang seperti itu -- orang yang bersedia memanjatkan doa syafaat. Kita harus berdoa agar ada orang-orang pada zaman modern ini yang seperti Billy Bray, yaitu yang memikirkan orang lain dalam doanya, orang yang menaruh perhatian.

Setiap Orang yang Seperti Finney Memerlukan Seseorang Seperti Bapak Nash

Sepanjang abad-abad yang lalu, kebangunan rohani yang berkuasa telah terjadi karena doa syafaat. Kebangunan rohani Finney menggoncangkan negara-negara bagian timur Amerika Serikat dalam pertengahan pertama abad sembilan belas. Seorang pria yang bernama Father Nash (Bapak Nash) akan mendahului Finney ke kota-kota yang dijadwalkan untuk kebangunan rohani itu. Tiga atau empat minggu sebelum kebaktian kebaktian itu, Bapak Nash pergi ke kota itu. Orang banyak tidak datang berduyun-duyun untuk menyambutnya dan tidak ada barisan musik yang memainkan lagu penyambutan. Dengan diam-diam, Bapak Nash akan menemukan suatu tempat untuk berdoa. Selama kebaktian kebangunan rohani itu, banyak sekali orang yang dimenangkan untuk Tuhan dan berubah hidupnya. Nama Finney segera menjadi terkenal dan khotbah khotbahnya benar-benar menginsafkan hati banyak orang.

Akan tetapi, di suatu tempat, Bapak Nash yang tak dikenal orang itu berlutut seorang diri dan berdoa. Setelah kebangunan rohani itu, dengan diam-diam ia akan meninggalkan kota itu untuk pergi ke tempat lainnya dan berjuang atas lututnya bagi keselamatan jiwa-jiwa. Bapak Nash mengetahui arti doa syafaat. Ia menaruh perhatian pada orang lain, dan sering kali mengorbankan kenikmatan hidup ini. Ia tidak memunyai rumah, tidak mendapat dukungan suatu gereja, dan sering kali harus makan di warung yang sederhana. Malam hari dilewatkan tidak di atas tempat tidur, dan pakaiannya menjadi usang.

Apa yang diterima Nash sebagai imbalan untuk pengorbanannya? Mungkin hanya sedikit sekali dalam kehidupan ini, tetapi amat banyak dalam kehidupan di akhirat. Ia memunyai saham dalam dua setengah juta orang yang bertobat di bawah pelayanan Finney. Hanya sedikit orang saja yang menyadari berapa banyak jiwa telah menemukan Kristus karena Bapak Nash. Tidak diragukan lagi, waktu akan menunjukkan bahwa di belakang setiap jiwa yang dimenangkan bagi Kristus, terdapat doa syafaat. Sesungguhnya Finney memunyai talenta untuk berkhotbah. Pasti, ia telah dijamah secara khusus oleh Allah. Tetapi perhatikanlah kenyataan ini - setiap Finney memerlukan seorang Bapak Nash! Setiap pengkhotbah memerlukan seseorang yang menaikkan doa syafaat.

Pertimbangkan sejenak tantangan untuk menjadi seseorang yang menaikkan doa syafaat. Doa syafaat sangat diperlukan. Frank C. Laubach mengatakan, "Orang-orang berikut ini perlu disoroti dengan banyak doa: Presiden Amerika Serikat dan Kongres (terutama Senat), Perdana Menteri dan Parlemen Inggris, Perdana Menteri dan para pemimpin Rusia, pemimpin-pemimpin Cina, setiap delegasi konferensi perdamaian, Jepang, Jerman, anggota gereja serta rohaniawan Kristen dan Yahudi, para utusan Injil, tokoh-tokoh dunia perfilman, para penyiar radio, bangsa bangsa yang hidup dalam perbudakan dan penindasan, orang Negro, orang Amerika keturunan Jepang. Kita harus berdoa bagi mereka yang buta huruf, bagi semua guru, ibu dan bapak, untuk adanya saling pengertian antara majikan dan buruh, untuk persaudaraan umat manusia, untuk saling bekerja sama, untuk perluasan pikiran manusia akan visi dunia, untuk anak-anak dan remaja, untuk bacaan yang sehat, untuk korban minuman keras, obat bius dan semua macam kejahatan, untuk para pendidik dan pendidikan yang lebih baik. Kita harus berdoa agar kebencian lenyap dan kasih dapat menguasai dunia; kita harus berdoa supaya lebih banyak orang akan berdoa, sebab doa adalah kuasa pemulihan yang terbesar dalam dunia." Daftar Laubach kelihatannya panjang, tetapi ini pun belum lengkap. Selalu ada keperluan-keperluan yang dapat ditambahkan dalam daftar doa syafaat. Dari hati seseorang yang berdoa syafaat, tak henti-hentinya doa dinaikkan bagi orang lain, doa yang mengatakan, "Aku mengasihimu."

Segi-Segi Doa Syafaat

Semua usia, semua bangsa, dan suku bangsa boleh berlutut di puncak doa syafaat. Dokter dari zaman para rasul mengatakan, "Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan ... dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa" (Lukas 2:36-37). Hana seorang wanita lanjut usia yang memiliki lebih banyak ketetapan hati pada masa senja kehidupannya daripada pada masa mudanya. Kata kata Lukas ini memunyai nilai khusus karena menunjukkan bahwa semua orang boleh menghampiri takhta Allah.

Seseorang pernah mengatakan, "Kita mungkin mendapatkan karunia berbicara yang indah sehingga perkataan kita mengalir bagai pancaran ucapan syukur, permohonan doa, dan pujian seperti Paulus; atau mungkin kita memunyai persekutuan yang tenang, akrab, dan penuh kasih seperti Yohanes. Sarjana yang pandai seperti John Wesley dan tukang sepatu sederhana seperti William Carey, semuanya sama diterima dengan senang hati pada takhta kasih karunia Allah. Pengaruh di surga tidak bergantung pada kelahiran, kepandaian, atau prestasi, tetapi pada ketergantungan mutlak yang rendah hati pada Putra Allah."

Sayang sekali, pendoa syafaat yang sejati jarang sekali berada pada jalan doa; Rees Howells adalah orang yang demikian. Ia telah mempelajari kuasa dan doa syafaat sementara mendirikan sekolah- sekolah Alkitab, rumah yatim piatu, dan gereja-gereja misi di seluruh Afrika. Teman-teman Howells mengatakan bahwa ia adalah seseorang yang selalu berdoa. Pada awal kehidupan Kristennya, Allah menantang dia untuk berdoa syafaat. Pada suatu hari, ketika keluar dari ruang doanya, Howells memberikan keterangan rangkap tiga mengenai doa syafaat.

"Ada tiga aspek," demikian Howells mengajarkan, "yang tidak terdapat dalam doa biasa." Yang pertama-tama ialah penyatuan: hukum yang pertama untuk orang yang menaikkan doa syafaat. Kristus merupakan teladan yang paling baik mengenai hukum penting ini. Ia dianggap sebagai orang berdosa. Ia menjadi Imam Besar yang menjadi perantara kita. Kristus datang ke bumi dari istana gading indah, dilahirkan dalam sebuah palungan yang sederhana. Putra Allah memasang tendanya didalam perkemahan kita, menjadikan diri-Nya saudara seluruh umat manusia. Pencobaan merupakan jerat bagi-Nya, dan bibir-Nya mengecap kematian. Ia menderita dengan orang yang menderita, dan menelusuri jalan yang berbatu-batu yang kita, manusia fana, harus jalani. Yesus melambangkan kasih yang kekal. Kehidupan-Nya yang mengagumkan mendefinisikan pendoa syafaat -- seseorang yang menyatukan dirinya dengan orang lain.

Kedua, Pdt. Howells mencantumkan penderitaan yang mendalam sebagai hukum kedua bagi doa syafaat. "Jika kita hendak berdoa syafaat," Pdt. Howells mengatakan, "kita harus benar-benar seperti Tuhan."

Penulis kitab Ibrani (5:7) mengatakan bahwa Tuhan berdoa dengan "... ratap tangis dan keluhan." Rasul Paulus berkata, "... Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan." (Roma 8:26)

Yesus telah turun sampai kedalaman yang terdalam dalam lautan penderitaan batin; pasti, Getsemani merupakan dasar lautan itu. Di tempat itulah Ia mengalami penderitaan yang paling hebat. Di Getsemani, hati Tuhan hancur tidak terperikan. Kehidupan-Nya mengajarkan kunci doa syafaat -- belajar untuk menderita karena jiwa-jiwa.

Hukum Howells yang ketiga mengenai wewenang. Ia mengatakan, "Jika orang yang berdoa syafaat itu memahami penyatuan dan penderitaan yang mendalam, ia juga memahami wewenang. Orang yang berdoa syafaat dapat menggerakkan hati Tuhan. Ia pun menyebabkan Tuhan mengubah pikiran-Nya." Ress Howells menyatakan bahwa apabila ia menaikkan doa syafaat untuk suatu keperluan, dan percaya bahwa hal itu adalah kehendak Allah, ia akan selalu mendapatkan kemenangan.

Siapa yang Peduli akan Afrika Utara?

Pdt. Howells mengalami kemenangan yang mengherankan setelah seminggu penuh berdoa syafaat sementara Perang Dunia II berlangsung. Biasanya persekutuan doa tidak dilaksanakan pada Sabtu sore. Akan tetapi, pada suatu Sabtu sore, semua guru dan pelajar sekolah Alkitab diminta untuk mengadakan pertemuan doa pada sore hari, untuk memohon kepada Tuhan mengubah jalannya peperangan di Afrika Utara. Ini merupakan suatu beban yang berat.

Pada malam itu, Pdt. Howells dan keluarga sekolah Alkitabnya berdoa. Sehingga mereka mendapat kemenangan. "Tadinya, kukira Hitler diperkenankan untuk merebut Mesir," katanya, "tetapi sekarang aku tahu ia tidak akan merebut Mesir -- Aleksandria atau pun Kairo tidak akan jatuh." Pada akhir pertemuan doa itu, ia berkata, "Hari ini hatiku sangat bergairah. Tadinya aku seperti seseorang yang dengan susah payah mengarungi pasir. Tetapi sekarang aku sudah mengatasi kesukaran itu, sekarang aku dapat memegangnya dan menanggulanginya. Aku dapat menggoyangkannya."

Seminggu kemudian, sementara sepintas lalu membaca surat kabar, Pdt. Howells membaca bagaimana suramnya keadaan perang pada hari Sabtu itu, ketika mereka berhimpun untuk mengadakan pertemuan doa tambahan. Menurut artikel itu, pada akhir pekan itulah kota Aleksandria diselamatkan. Mayor Rainer, orang yang bertanggung jawab untuk menyediakan air minum bagi Pasukan Kedelapan (Eighth Army), terlibat dalam pertempuran itu. Kemudian hari, ia melukiskan kejadian itu dalam sebuah buku yang berjudul "Pipe Line to Battle". Jenderal Rommel, yang dijuluki si Rubah Padang Pasir, telah memerintahkan tentaranya berbaris menuju Aleksandria dengan harapan akan merebut kota tersebut. Antara tentaranya dan kota Aleksandria terdapat sisa-sisa Angkatan Darat Inggris dengan hanya lima puluh tank, sejumlah kecil senjata artileri medan, dan lima ribu orang tentara. Angkatan Perang Jerman memunyai jumlah tentara yang hampir sama, tetapi memunyai kelebihan yang menentukan karena meriam-meriam 88 mm-nya yang unggul. Satu hal yang sama-sama terdapat dalam kedua angkatan bersenjata itu ialah kepenatan yang sangat karena panas terik yang membara dan kebutuhan mendesak akan air minum.

Mayor Rainer menceritakan, "Matahari bersinar dengan teriknya di atas kepala kami dan orang-orang kami sudah hampir kehabisan daya tahan mereka ketika serangan Nazi dipatahkan. Jika pertempuran berlangsung sepuluh menit lagi, maka pihak kami yang kalah. Tiba- tiba saja pasukan tank Mark IV mundur dari kancah peperangan. Pada saat itu, terjadilah sesuatu yang luar biasa. Sebelas ribu orang dari Divisi Panzer Ringan ke-90, pasukan elite dari Korps Jerman di Afrika, berjalan dengan tersaruk-saruk melintasi pasir gersang dengan tangan terangkat. Lidah mereka bengkak terjulur, pecah-pecah, dan hitam karena darah yang membeku. Sebagai orang setengah gila, mereka merenggut botol air dari leher tentara kami dan meneguk air yang memberi hidup antara bibir mereka yang pecah-pecah."

Kemudian hari dalam kisahnya, Mayor Rainer memberikan alasan untuk penyerahan yang sama sekali tak terduga ini. Angkatan perang Jerman sehari dan semalam tak mendapat air. Sementara pertempuran berkecamuk, mereka menyerbu garis pertahanan Inggris, dan dengan penuh sukacita, mereka menemukan pipa air yang bergaris tengah enam inci. Karena sangat membutuhkan air, mereka menembaki pipa itu dan dengan sembrono mulai meneguk air yang memancar keluar dari lubang- lubang itu. Karena rasa haus yang sangat, mereka minum sangat banyak tanpa menyadari bahwa itu air laut.

Mayor Rainer, yang memimpin pembangunan pipa air itu, telah memutuskan untuk menguji pipa itu untuk terakhir kalinya. Air tawar terlalu berharga untuk percobaan itu dan karenanya mereka mempergunakan air laut. "Sehari sebelumnya pipa itu kosong," tulis Mayor Rainer. "Dua hari kemudian," tambahnya, "pasti terisi air tawar bersih." Tentara Nazi tidak segera merasakan rasa asin itu karena perasa lidah mereka tidak tajam lagi karena air payau yang sudah biasa mereka minum dan juga karena kehausan yang sangat.

Hal yang perlu diperhatikan mengenai seluruh kejadian ini ialah bahwa doa syafaatlah yang mengakibatkan kejadian ini. Apabila Rees Howells tidak mengadakan pertemuan doa yang khusus, maka kisahnya akan lain.

"Siapa yang peduli akan apa yang terjadi di Afrika Utara?" Mungkin merupakan sikap beberapa orang, tetapi ada orang lain yang memedulikan. Syukur kepada Allah untuk pahlawan-pahlawan doa syafaat. Perhatian seorang pendoa syafaat terhadap orang lain sering kali dapat menentukan nasib bangsa-bangsa, mengubah hal-hal yang tidak dapat diubah oleh kekuasaan lain.

Menabur Benih Kasih

Pada zaman ini, dengan tak putus-putusnya orang menuntut tindakan sosial. Lagu-lagu populer berisi lirik seperti: "Marilah, kawan- kawan ... mari semua bersatulah, cobalah saling mengasihi, sekarang juga." Masyarakat mencari suatu kekuatan yang dapat menyembuhkan penyakit manusia -- mengadakan suatu perubahan khusus. Dari ahli filsafat sampai kepada musisi, jeritannya ialah: "Apa yang diperlukan dunia sekarang ini adalah kasih."

Sesungguhnya, tidak ada kekuatan yang lebih banyak meneruskan kasih manusia daripada doa syafaat. Manusia tidak dapat memberikan hadiah yang lebih besar kepada masyarakat daripada lutut yang bertelut. Pada hakikatnya, setelah semua sejarah dituliskan dan kita berdiri dihadapan Allah, kita akan tahu apa yang sebenarnya membentuk zaman ini. Apabila kita berbicara dengan Allah dalam kekekalan, dengan cepat kita akan mengetahui bahwa segala sesuatu yang berharga yang telah dilaksanakan itu berkaitan dengan doa syafaat.

Sumber: 

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku: Jalannya Tidak Mudah
Penulis: Dick Eastman
Penerbit: Gandum Mas, Malang
Halaman: 65 -- 77

CERTIFICATE OF CHRISTIAN LEADERSHIP

EVERYDAY HERMENEUTICS

  • Menafsirkan peristiwa kehidupan dalam kebenaran Tuhan.
  • Mendalami Christian Philosophy and Worldview sebagai jembatan memahami realitas kehidupan secara utuh sesuai dengan firman Tuhan.

PELAKSANAAN: selengkapnya...»

INFO NATAL 2008

Silakan simak informasi berikut:

1. KEBAKTIAN NATAL 2008

PELAKSANAAN:
HARI/TANGGAL : Jumat, 19 Desember 2008
WAKTU : Pukul 18.30 WIB
TEMPAT : SIBEC, ITC Surabaya
Jl. Gembong 20-30 Lantai TR (Depan Pasar Atom)
PEMBICARA : Pdt. Stephen Tong

BARU! KUMPULAN BAHAN NATAL DI NATAL.SABDA.ORG

Berikut ini adalah berita gembira bagi Anda yang sedang membutuhkan bahan-bahan seputar Natal berbahasa Indonesia! Yayasan Lembaga SABDA telah meluncurkan situs "natal.sabda.org" yang berisi kumpulan berbagai jenis bahan-bahan Natal yang berguna untuk Anda simak. Bahan-bahan tersebut diantaranya adalah Renungan Natal, Artikel Natal, Cerita/Kesaksian Natal, Diskusi Natal, Drama Natal, Puisi Natal, Tips Natal, Bahan Mengajar Natal, Blog Natal, Resensi Buku Natal, Review Situs Natal, e-Cards Natal, Gambar/Desain Natal dan Lagu Natal.. selengkapnya...»

Sekilas Hidup Reformator John Calvin di Jenewa dan di Strasburg

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Dari sejarah gereja, kita mengenal beberapa tokoh yang selalu berjuang mereformasi ajaran-ajaran gereja yang tidak sesuai dengan Alkitab dan berusaha mengembalikan ajaran kekristenan pada otoritas yang benar, yaitu Alkitab yang adalah firman Allah, dan kedaulatan Allah atas segala sesuatu. Salah satu tokoh yang kita kenal sebagai reformator yang paling berpengaruh adalah John Calvin.

Teolog asal Perancis ini menjadi tokoh sentral dalam pengembangan dan penyebaran Calvinisme, sebuah sistem teologi yang menekankan pada otoritas Alkitab dan kedaulatan Allah atas segala sesuatu. "Oleh pertobatan yang tiba-tiba terjadi, Allah menaklukkan jiwaku kepada kemauan (untuk menurut)," kata-kata yang beliau ucapkan inilah yang mungkin menjadi titik awal perannya yang sangat besar dalam gerakan reformasi gereja. Calvinlah yang membangun fondasi ajaran Reformed secara sistematis dan paling lengkap. Bagaimana semua itu terjadi? Tentunya semua ini tak lepas dari perjuangan hidup dan pelayanan beliau yang tak kenal lelah itu.

Menyambut Hari Reformasi tanggal 31 Oktober ini, mari kita simak edisi e-Reformed yang menyajikan riwayat hidup dan pelayanan John Calvin. Kiranya perjuangan dan semangat yang Calvin tunjukkan, dapat memberi inspirasi bagi kehidupan Kristen kita saat ini, khususnya semangat untuk mereformasi gereja kita masing-masing.

Untuk melengkapi artikel ini, kami ajak Anda pula untuk menyimak referensi seputar Reformasi, teologi Reformed, dan tokoh Reformasi yang kami tambahkan di bagian bawah artikel ini. Kiranya menjadi berkat.

Redaksi Tamu e-Reformed,
Dian Pradana

http://reformed.sabda.org

Penulis: 

Dr. J.L.Ch. Abineno

Edisi: 

104/X/2008

Tanggal: 

31-10-2008

Isi: 

Sekilas Hidup Reformator John Calvin di Jenewa dan di Strasburg

Pendahuluan

Calvin dilahirkan pada tahun 1509 di Noyon, Perancis Utara. Tahun 1523, ia memulai studinya di sekolah menengah di Paris. Di sekolahnya, ia diarahkan kepada humanisme dan tradisi Abad Pertengahan. Sesuai dengan kemauan ayahnya, ia kemudian melanjutkan studinya di bidang ilmu hukum di Orleans dan di Bourges. Ketika itu, pengaruh humanisme di Perancis sangat besar. Di situ, Erasmus, humanis Belanda, sangat dihormati dan dijunjung tinggi.

Sejak akhir Abad Pertengahan, hubungan antara gereja dan negara erat sekali. Karena itu, orang-orang Perancis sangat memusuhi reformasi. Mungkin dari kawan-kawannya, ia memeroleh bacaan yang memperkenalkannya pada reformasi. Mula-mula, ia tidak merasa tertarik pada "ajaran baru" itu. Tetapi pada akhir tahun 1533, tiba-tiba terjadi perubahan di dalam hidupnya. Calvin sendiri tidak banyak berbicara tentang hal ini. Hanya beberapa kali saja ia menulis tentang pertobatannya. Ia katakan: "Oleh pertobatan yang tiba-tiba terjadi, Allah menaklukkan jiwaku kepada kemauan (untuk menurut)."

Secara teologis, hal ini berarti bahwa sejak saat itu, pengaruh Lutherlah yang memimpin, bukan lagi Erasmus. Ia mau menggunakan ilmunya untuk pelayanan Injil yang ia temukan kembali. Tidak lama sesudah pertobatannya, "penyiksaan" terhadap orang-orang Kristen Perancis yang mengikuti "ajaran baru" itu memaksanya untuk meninggalkan tanah airnya. Mula-mula, Calvin pergi ke Strasburg. Namun tidak lama kemudian, ia melanjutkan perjalanannya ke Basel. Di sini, ia berharap dapat melanjutkan studinya dengan tenang. Di sinilah ia menyelesaikan karyanya, "Institutio" (edisi pertama). Tahun 1536, karyanya ini diterbitkan dalam bentuk buku. Edisi pertama dari karyanya ini hanya berfungsi sebagai semacam "katekismus" bagi orang-orang Perancis yang mengikuti gereja reformasi.

Pada tahun 1536, Calvin pergi ke Italia. Beberapa waktu lamanya, ia tinggal di istana seorang bangsawan wanita. Dari situ, ia pergi lagi ke sebelah utara dan berencana tinggal di Strasburg atau di Basel. Dalam perjalanannya itu, ia singgah dan bermalam di Jenewa. Pendeta Farel dari Jenewa mendengar bahwa orang muda Perancis -- yang telah ia dengar namanya sebagai seorang anak muda yang pandai -- sedang berada di kotanya. Ia segera pergi mengunjungi Calvin dan meminta dengan sangat agar ia tinggal di Jenewa, supaya keduanya bekerja sama untuk memajukan reformasi di kota itu. Mula-mula, Calvin menolak karena ia ingin belajar dengan tenang. Namun, Farel mendesaknya dengan kata-kata yang keras, bahkan dengan ancaman kutuk. Hal itu melunakkan hatinya, dan Calvin mengambil keputusan untuk memenuhi permintaan Farel.

I

Dalam pelayanannya yang pertama di Jenewa, Calvin bekerja dua tahun lamanya (1536 -- 1538) bersama-sama dengan Farel. Ia mula-mula diangkat oleh Dewan Kota sebagai lektor dan ditugaskan untuk mengajar pengetahuan Kitab Suci di St. Pierre (gedung gereja St. Petrus). Kemudian, Calvin diangkat menjadi pendeta. Tugas mengajar yang dipercayakan kepadanya, ia tunaikan dengan membahas surat-surat Rasul Paulus.

Pada bulan Oktober 1536, Calvin diundang menghadiri diskusi di Lausanne, tempat Farel membela ajarannya tentang "pembenaran oleh iman" serta penolakannya terhadap ajaran Gereja Katolik Roma tentang transsubstansiasi dan seremoni-seremoni gereja itu serta beberapa pokok yang lain.

Calvin juga mengambil bagian dalam diskusi itu. Banyak orang yang hadir, kagum terhadap pengetahuannya akan ajaran bapa-bapa gereja, seperti Tertulianus, Chrysostomus, dan Augustinus, mengenai pokok-pokok yang dibicarakan. Oleh pengetahuannya yang mengagumkan itu, banyak orang dimenangkan untuk reformasi. Nama Calvin segera tersebar ke mana-mana hingga pada tahun 1537, ia dan Farel dapat memulai pekerjaan reformasi mereka di Jenewa.

Pada tahun itu juga, Dewan Kota mengesahkan "Peraturan tentang Pemerintahan (Pimpinan) Gereja". Dalam peraturan itu, antara lain diatur perayaan Perjamuan Malam. Calvin berpendapat bahwa Perjamuan Malam harus dirayakan tiap-tiap minggu. Sungguhpun demikian, ia dapat menerima bahwa perayaan itu hanya diselenggarakan sekali sebulan, yaitu di dalam salah satu dari tiga gedung gereja besar di Jenewa. Untuk itu, perlu diadakan disiplin gerejawi yang dilakukan oleh gereja, dan bukan oleh pemerintah, sama seperti yang terjadi di mana-mana, karena orang mengikuti kebiasaan Luther dan Zwingli. Kita harus ingat -- katanya -- bahwa Kristus adalah Tuhan gereja. Karena itu, pemerintah tidak memunyai hak untuk mencampuri pelayanan -- soal-soal -- intern gereja. Dengan jalan ini, Calvin menegaskan bahwa Kristuslah yang memerintah gereja, juga hidup lahiriahnya. Dalam ibadah harus dinyanyikan mazmur-mazmur.

Di dalam jemaat, timbul keberatan terhadap pandangan-pandangan di atas. Calvin dituduh sebagai pengikut Arminianisme. Dewan Kota setuju dengan keberatan itu karena Dewan Kota sendiri mau menjalankan disiplin. Dengan demikian, Dewan Kota merendahkan disiplin gerejawi menjadi semacam "pengawasan-polisi". Ketegangan ini mencapai puncaknya pada tahun 1538. Ketika itu diadakan pemilihan Dewan Kota. Dalam pemilihan itu nyata bahwa jumlah terbesar dari anggota-anggota Dewan Kota yang baru memihak kepada orang-orang yang menentang Calvin. Dewan Kota menuntut supaya Jenewa hidup menurut seremoni-seremoni Bern, supaya bejana-bejana baptisan yang dibuat dari batu digunakan lagi, dan supaya dalam Perjamuan Kudus digunakan roti yang tidak beragi.

II

Calvin dan Farel melawan tuntutan pemerintah tersebut. Mereka tidak setuju karena menurut mereka pemerintah sudah bertindak melampaui batas wewenangnya dan mencampuri hal-hal yang hanya boleh diatur oleh gereja. Mereka berjuang memertahankan kebebasan gereja. Sebagai jawaban atas sikap tersebut, pemerintah melarang mereka untuk memberitakan firman dalam ibadah. Namun, mereka tidak menghiraukan larangan itu. Akhirnya, pada bulan April 1538, pemerintah memecat Calvin dan Farel dan menyuruh mereka meninggalkan Jenewa.

Farel pergi ke Neuchatel. Dari situ, ia mengikuti perkembangan-perkembangan yang berlangsung di Jenewa. Calvin merasa tersinggung, tetapi juga senang, sebab kini ia dapat melanjutkan studinya dengan tenang.

Ia mula-mula pergi ke Bern dan sesudah itu ke Basel. Di kota ini, Bucer mengirim surat kepadanya dan memintanya datang ke Strasburg untuk memimpin jemaat Perancis yang terdiri dari orang-orang Perancis yang melarikan diri dan mencari perlindungan di Strasburg. Mula-mula, ia agak ragu. Namun, karena Bucer terus mendesaknya melalui surat-suratnya, akhirnya ia memenuhi permintaan Bucer dan berangkat ke Strasburg.

III

Di kota ini, Calvin bekerja tiga tahun lamanya (1538 -- 1541) sebagai pendeta dari jemaat orang-orang pelarian yang tinggal di Strasburg. Atas permintaan Capito, ia juga segera memulai suatu kursus teologi. Sama seperti di Jenewa, ia juga bekerja keras di Strasburg. Ia berkhotbah empat kali seminggu. Liturgi untuk ibadah, sebagian besar ia ambil alih dari liturgi Jerman yang banyak digunakan di Strasburg. Ciri khas liturgi ini ialah pengakuan dosa, pembacaan kesepuluh firman, penggunaan mazmur-mazmur sebagai nyanyian jemaat dalam ibadah Minggu pagi, dan berlutut ketika berdoa.

Di dalam gedung-gedung besar, Perjamuan Kudus dilayani setiap minggu, tetapi dalam jemaat Perancis dilakukan sekali sebulan. Calvin berpendapat bahwa dalam Gereja Katolik Roma, tugas jemaat di bidang puji-pujian (nyanyian) telah diambil alih oleh paduan suara dan organ. Karena itu, ia hendak mengembalikan tugas itu kepada jemaat. Tahun 1539, ia menerbitkan Kitab Nyanyian Mazmur yang memuat delapan belas mazmur dalam bentuk sajak, tujuh mazmur berasal dari dia sendiri, dan delapan mazmur dari Marot. Di samping itu, ditambahkan juga "sepuluh firman", "nyanyian puji-pujian dari Simeon", dan "Pengakuan Iman Rasuli (Apostolicum)". Kemudian, di Jenewa, ia menugaskan Marot dan Beza untuk menerjemahkan dan menuangkan seluruh kitab Mazmur dalam bentuk sajak, supaya dapat dinyanyikan oleh jemaat. Sebagai melodi untuk mazmur-mazmur ini, digunakan melodi-melodi dari Matthias Greiter, Louis Bourgeois, dan Maitre Pierre. Mazmur-mazmur tersebut dinyanyikan tanpa iringan organ.

Selain Kitab Nyanyian Mazmur, Calvin juga menyusun suatu formulir baptisan untuk memelihara jemaat dari ajaran kaum pembaptis ulang. Tahun 1539, ia menerbitkan edisi kedua dari karyanya, Institutio, yang tiga kali lebih tebal daripada edisi pertama. Dalam edisi kedua ini, ia juga membahas pengetahuan tentang Allah dan manusia, inspirasi Kitab Suci, kesaksian Roh Kudus, dan predestinasi kembar. Di samping itu, ia juga menerbitkan suatu tafsiran tentang surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma. Banyak ahli menganggap tafsiran ini sebagai suatu contoh dari karya ilmiah dan praktis.

Tahun 1540, ia menikah dengan Idelette de Bure, janda Jean Stordeur dari Luik, yang ia tobatkan dan mengikuti reformasi. Idelette membawa dua anak dari perkawinannya yang pertama. Dari perkawinannya dengan Calvin, ia memeroleh seorang anak laki-laki, tetapi anak itu meninggal dalam usia muda.

Seperti kita ketahui, Calvin adalah seseorang yang mencintai kesatuan gereja. Untuk mencapai kesatuan ini, diadakan diskusi antara teolog-teolog Katolik Roma dan teolog-teolog Protestan. Upaya itu dilakukan berturut-turut di Frankfurt (1539), di Hanegau (1540), di Worms (1540 --1541), dan di Regensburg (1541). Di Frankfurt, ia bertemu dengan Melanchton dan menjalin persahabatan dengannya. Di Regensburg, ia tidak puas dengan formulir-formulir "perdamaian" (antara Gereja Katolik Roma dan gereja-gereja Protestan) yang dirumuskan oleh Melanchton dan Bucer tentang ajaran Gereja Katolik Roma mengenai transsubstansiasi. Menurut Calvin, formulir-formulir itu agak jauh menyimpang dari ajaran reformasi.

IV

Sementara itu, pelayanan dalam jemaat di Jenewa tidak berjalan lancar. Pelayanan itu menemui banyak kesulitan. Pendeta-pendeta baru yang menggantikan Calvin dan Farel tidak memenuhi harapan Dewan Kota. Mereka juga tidak sepandai Calvin dan Farel. Hal itu antara lain terbukti dari surat Sadoletus, Uskup Carpentras. Ia menulis surat kepada jemaat di Jenewa dengan isi yang menarik. Ia mengatakan bahwa ia menolak perpecahan gereja -- maksudnya antara Gereja Katolik Roma dan gereja-gereja Protestan -- dan menyetujui, malahan memuji, firman Allah dan ajaran tentang pembenaran oleh iman. Karena itu, ia membujuk jemaat di Jenewa untuk kembali ke Gereja Katolik Roma. Dewan Kota berusaha untuk memeroleh bantuan dari berbagai pihak. Namun, usaha itu tidak berhasil. Tidak ada orang yang dapat membantu. Karena itu, sebagai usaha yang terakhir, Dewan Kota menulis surat kepada Calvin untuk meminta bantuannya. Calvin setuju. Dalam waktu enam hari, ia mengirim "jawaban" yang diminta oleh Dewan Kota di Jenewa (1539). Jawaban itu begitu baik, sehingga Uskup Sadoletus menghentikan bujukannya kepada jemaat di Jenewa.

Dewan Kota sangat berterima kasih atas surat itu. Karena itu, dalam suatu rapat, mereka mengambil keputusan untuk meminta Calvin kembali ke Jenewa, terutama karena timbulnya ketegangan-ketegangan politik di kota itu. Ketegangan-ketegangan politik itu makin lama makin bertambah besar. Mula-mula, permintaan Dewan Kota itu ditolak Calvin. Ia tidak mau melibatkan dirinya dalam kekacauan politik di Jenewa. Tetapi, pada tahun 1541, Farel menulis surat kepadanya dan meminta dengan sangat supaya permintaan Dewan Kota Jenewa itu diterima. Menurut Farel, Calvin harus melihat permintaan itu sebagai suatu panggilan Allah. Surat Farel itu dapat melunakkan hati Calvin. Ia menulis surat kepada Farel antara lain dengan kata-kata berikut: "Aku memersembahkan hatiku kepada Allah sebagai kurban." Kata-kata ini kemudian ia gunakan sebagai "semboyan" hidupnya.

V

Calvin kembali lagi ke Jenewa pada bulan September 1541 setelah hampir 3,5 tahun lamanya ia meninggalkan kota itu. Masa pelayanan Calvin yang kedua kali di Jenewa ini lamanya 23 tahun. Masa 14 tahun yang pertama (1541 -- 1555) penuh dengan perjuangan. Ia segera mulai dengan "peratuan-peraturan gerejanya". Di situ -- seperti yang telah kita dengar -- tercipta empat macam jabatan: pendeta (untuk pemberitaan firman), pengajar (untuk katekisasi dan pengajaran teologis), penatua (untuk penggembalaan dan disiplin), dan diaken (untuk pelayanan orang miskin dan orang sakit).

Pendeta-pendeta dan penatua-penatua merupakan "konsistori" yang memimpin jemaat dan melayani penggembalaan dan menyelenggarakan disiplin. Untuk pertama kalinya, gereja di Jenewa menjalankan pimpinannya sendiri. Maksud Calvin lebih jauh daripada itu. Ia mau supaya Kristus saja yang memunyai kuasa mutlak di dalam gereja. Dengan kata lain, "kristokrasi" ia jalankan dengan perantaraan pejabat-pejabat-Nya yang tunduk kepada firman-Nya. Dengan jalan itu, terhindarlah setiap campur tangan dari luar. Disiplin diselenggarakan dengan hukuman. Tiap-tiap penatua memunyai wilayahnya sendiri dan berhak mengunjungi tiap-tiap rumah tangga. Ia menciptakan berbagai alat disiplin: nasihat, pengakuan dosa, larangan untuk menghadiri perayaan Perjamuan, dan ekskomunikasi. Kalau semuanya ini tidak membantu, orang-orang yang bersangkutan diserahkan kepada pemerintah.

Pemerintah menghendaki perayaan Perjamuan Malam hanya dilayani empat kali setahun, juga bahwa dalam beberapa hal pemerintah lebih banyak memunyai hak daripada yang dikehendaki Calvin. Tetapi Calvin tidak setuju, juga waktu pemerintah berusaha untuk menguasai dan menyelenggarakan disiplin.

Calvin tidak berkata-kata lagi tentang keharusan untuk menandatangani pengakuan iman. Sebagai gantinya, ia meletakkan dasar yang kuat untuk pengajaran katekisasi dengan jalan menulis sendiri Katekismus Jenewa. Di situ dibahas tentang iman, perintah, doa, dan sakramen. Buku ini kemudian ditiru oleh gereja-gereja lain dan besar sekali pengaruhnya atas Katekismus Heidelberg. Bukan saja pengajaran katekisasi, ia juga menyusun liturgi-liturgi untuk ibadah jemaat. Dalam pekerjaan penyusunannya, ia menggunakan liturgi-liturgi yang ada pada waktu itu sebagai bahan. Namun, ia mengubahnya sesuai dengan liturgi yang digunakan di Strasburg. Dapat kita katakan bahwa Strasburg adalah tempat lahirnya bentuk "liturgi Reformed". Tetapi bentuk itu mula-mula jauh lebih kaya daripada bentuk yang digunakan pada saat ini.

Tadi kita telah mendengar tentang nyanyian jemaat (mazmur-mazmur) yang diusahakan oleh Calvin dan kawan-kawannya, yakni penyair mazmur Perancis, Clement Marot, dan Theodorus Beza (yang melanjutkan pekerjaan Marot). Melodi-melodi untuk nyanyian jemaat itu mula-mula diambil alih Calvin dari melodi-melodi yang digubah oleh Matthias Greiter dari Strasburg. Salah satu di antaranya ialah Mazmur 68 yang kita miliki sampai sekarang. Kemudian, di Jenewa, Calvin menugaskan Louis Bourgeois untuk melengkapi melodi-melodi yang telah ada. Ada 104 melodi yang berasal darinya. Kadang-kadang, ia mengubah lagu rakyat menjadi melodi gerejawi. Ketika Louis Bourgeois berselisih dengan Calvin dan meninggalkan Jenewa, tugasnya diambil alih oleh Maistre Pierre. Strasburg bukan saja tempat lahirnya bentuk "liturgi Reformed", melainkan juga tempat lahirnya "nyanyian Reformed". Nyanyian-nyanyian yang mereka susun memunyai nilai yang sangat besar bagi jemaat, bahkan hingga saat ini. Calvin juga menyuruh agar segala sesuatu yang dapat mengingatkan jemaat kepada gereja Katolik Roma -- seperti mazbah-mazbah, patung-patung, salib-salib, dan organ -- dikeluarkan dari gedung gereja.

Setelah waktu-waktu perjuangan, kini tibalah saatnya Calvin dapat bekerja dengan tenang (1555 -- 1564). Pengaruhnya saat itu makin bertambah besar, juga di bidang politik. Terhadap Bern dan lawan-lawannya, Calvin mengambil sikap bijaksana dan penuh perdamaian.

Sebagian besar pengaruh Calvin diperoleh dari karya-karyanya, terutama dari bukunya, Institutio, juga dari tafsiran-tafsirannya yang mencakup hampir seluruh Kitab Suci, dan kuliah-kuliahnya. Di samping itu, kita juga harus menyebut korespondensinya dengan pemimpin-pemimpin reformasi di hampir seluruh Eropa, terutama dengan orang-orang Perancis yang seiman dengannya. Buku-bukunya ia persembahkan kepada raja-raja dan orang-orang yang ternama di Inggris, Polandia, Swedia, Denmark, dan di tempat-tempat lain. Dengan jalan itu, ia sering menjalin hubungan baik dengan mereka.

Satu hal lagi yang menyebarkan pengaruh Calvin ke mana-mana, yakni Akademi Teologi yang ia dirikan di Jenewa. Mula-mula, akademi itu dipimpin oleh Castellio. Ia tidak bisa diangkat menjadi pendeta karena tidak mengakui Kidung Agung sebagai bagian dari Kitab Suci dan tidak mau menerima pengakuan mengenai "turunnya Yesus ke dalam kerajaan maut". Ketika ia ditegur oleh Dewan Kota, ia tidak terima. Ia lalu meninggalkan Jenewa. Hal itu menyebabkan mutu pendidikan di akademi itu makin lama makin merosot.

Pada tahun 1559, Dewan Kota di Bern mengusir pengajar-pengajar calvinis yang bertugas di Akademi Lausanne. Mereka pergi ke Jenewa, tempat akademi teologi baru dibuka. Yang menjabat sebagai rektor dari akademi itu ialah Theodorus Beza, teman Calvin, yang juga datang dari Lausanne. Akademi itu -- menurut rencana Calvin -- berfungsi sebagai alat untuk mendidik suatu generasi yang baru, yang saleh, dan yang berani berjuang. Bentuk humanitas di sini diisi dengan suatu esensi teokratis yang ketat. Akademi ini merupakan suatu pusat internasional. Banyak tokoh reformasi terkenal pernah belajar di akademi ini, antara lain John Knox (dari Skotlandia), Marnix St. Aldegonde (dari Belanda), dan Caspar Olevianus (salah satu dari penyusun Katekismus Heidelberg yang terkenal juga di Indonesia). Murid-murid ini kemudian menyebarkan reformasi -- sesuai dengan ajaran Calvin -- ke seluruh Eropa.

Calvin menghendaki agar seluruh rakyat di Jenewa ditempatkan di bawah hukum Allah. Untuk itu, bagi tiap-tiap golongan ditetapkan "kemewahannya". Bahkan, orang tidak bebas dalam pemilihan makanan dan pakaian. Maksud Calvin ialah untuk mendidik rakyat agar hidup hemat dan rajin bekerja. Untuk mencapai hal itu, pengaturan disiplin diterapkan secara ketat. Juga perselisihan dalam keluarga, kekerasan dalam pendidikan anak-anak, penipuan dalam perdagangan, dan sebagainya, dikenakan disiplin gerejawi. Dalam hal ini, tidak ada orang yang dikecualikan, juga keluarga Calvin sendiri. Demikianlah gaya hidup yang diciptakan Calvin di Jenewa. Melalui gaya hidup ini, lahirlah suatu generasi baru yang rajin bekerja. Hal itu menambah kesejahteraan hidup di Jenewa. Di mana-mana di Eropa, orang berusaha untuk mengikuti gaya hidup ini.

Dalam hidup dan pekerjaannya, Calvin -- di sana-sini -- dipengaruhi oleh reformator-reformator yang lain, juga oleh Bucer, terutama saat mereka bekerja sama di Strasburg. Ia menghargai Bucer. Bucer juga menghargainya. Bukan hanya Bucer, juga pendeta-pendeta di Strasburg. Hal itu mereka ungkapkan dalam "surat kesaksian" yang mereka berikan kepadanya ketika ia berpisah dengan mereka dan akan kembali ke Jenewa. Dalam "surat kesaksian" itu, mereka antara lain mengatakan bahwa Calvin adalah "suatu alat yang sangat berharga dari Kristus, suatu alat ... yang tidak ada bandingannya, kalau ditinjau dari sudut kerajinannya yang luar biasa untuk membangun jemaat dan dari kemampuannya untuk membela dan menguatkannya melalui tulisan-tulisannya".

Sumber: 

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Bucer & Calvin: Suatu Perbandingan Singkat
Penulis : Dr. J.L.Ch. Abineno
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta 2006
Halaman : 1 -- 5

Iman Kristen Mengatasi Kebangkrutan Manusia

Ini ada titipan informasi:

Dalam Rangka Memperingati Hari REFORMASI, Reformational Worldview Foundation & Tabloid REFORMATA mempersembahkan seminar:

"IMAN KRISTEN MENGATASI KEBANGKRUTAN MANUSIA"

Kehidupan kini sedang menuju kebangkrutan dalam pelbagai dimensi yang fundamental. Dari spiritual, moral, hingga mental, membuat pengetahuan dan kemampuan bukan lagi alat untuk memuliakan Tuhan, melainkan pencipta kekacauan. Bagaimana iman Kristen menjawab tantangan ini? selengkapnya...»

Seminar dan Kuliah Intensif Oleh Prof. Dr. Richard B. Gaffin., Th.D.

Silakan simak berita gembira di bawah ini:

  1. SEMINAR

    PELAKSANAAN:

    HARI/TANGGAL : Minggu, 16 November 2008
    WAKTU : Pukul 17.00 -- 21.00 WIB
    TEMPAT : Lobby Aula John Calvin
    Reformed Millenium Center
    Jl. Industri Blok B14 No.1 Kemayoran, Jakarta
    TEMA : "The Holy Spirit and The Christian Life"
    (dalam Bahasa Inggris, dengan terjemahan)
    PEMBICARA : Prof. Dr. Richard B. Gaffin., Th.D.
    BIAYA PENDAFTARAN : Rp. 100.000,- (Mahasiswa)
    Rp. 200.000,- (Umum)
    CONTAC PERSON : Eva/Esther (021-6513815)

Seminar Reformed

Institut Reformed dan Departemen Pengajaran GRII Pusat menyelenggarakan:

  1. KULIAH INTENSIF:

    "CHRISTIANITY and SOCIETY"

    • oleh: Prof. Dr. James Skillen, Ph.D.
    • Kamis - Jumat (11 - 12 September 2008) Senin - Rabu (15 - 17 September 2008)
    • Pk. 08.00 - 14.00 Wib
    • di Institut Reformed, Jl. Danau Sunter Utara Kompleks Ruko Prima Sunter Blok B - C Jakarta Utara

    Biaya:
    Mahasiswa Rp. 500.000,-
    Umum Rp. 1.000.000,- selengkapnya...»

Gereja Beraliran Teologi Reformed

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Saya membeli sebuah buku kecil dengan judul yang sangat menarik, "The Readable TULIP". Buku tersebut ditulis oleh seorang Pendeta Gereja Covenant Evangelical Reformed di Singapura yang bernama Cheah Fook Meng. Belum pernah terbayang dalam benak saya ada buku yang membahas TULIP (Lima Inti Calvinisme), sekecil dan setipis itu. Tentu menyenangkan sekali menemukan kenyataan bahwa itu bukan mimpi lagi.

Saya kira kata "Readable" yang dipakai di sini bukan dimaksudkan sebagai sindiran (kalau untuk sindiran, kata-katanya mungkin akan seperti ini: "TULIP for the Dumies"), tapi sebagai pembelaan, bahwa walaupun kebenaran iman Reformed memang tidak mudah (harus berpikir), namun bukan berarti tidak bisa dijelaskan dengan sederhana, khususnya bagi orang Reformed baru. Yang menjadi masalah adalah, yang mempersulitnya justru orang Reformed itu sendiri. Selain bahasanya yang sederhana, cara penyampaian gagasan dalam buku ini kelihatan bersahaja. Memang ada kesan tegas, solid, dan bertahan pada pendirian, namun tidak sombong. Memang ada kesan elite, tapi tidak eksklusif.

Bagian pertama buku ini menjelaskan tentang TULIP. Namun, saya sengaja tidak mengambil bagian ini untuk saya bagikan kepada Anda karena saya berasumsi bahwa kebanyakan dari Anda sudah tahu. Saya justru mengambil dua artikel pendek lain sesudahnya karena bagi saya, bagian ini lebih menarik. Dua bab yang saya ambil adalah:

  • Why We are Reformed?
  • What if We Reject the Reformed Faith?

Silakan menyimak. Jika Anda ingin memberi komentar, silakan berkunjung (tapi harus mendaftar menjadi anggota dulu) ke situs Soteri di:
==> http://reformed.sabda.org

In Christ,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >

Penulis: 
Cheah Fook Meng
Edisi: 
102/VIII/2008
Tanggal: 
14-8-2008
Isi: 

GEREJA BERALIRAN TEOLOGI REFORMED

MENGAPA KAMI MENJADI JEMAAT REFORMED?

Gereja dan teologi Reformed tidak populer untuk banyak orang. Kalau mau jujur, kalau saya bercita-cita ingin membangun gereja yang nantinya akan dipenuhi dengan pengunjung, maka saya tidak akan membangun gereja Reformed. Gereja-gereja kontemporer dengan musik pop dan nada musik yang keras serta panggung/mimbar yang ditata dengan apik, lebih populer. Gereja-gereja yang sangat menekankan pemuridan (red: sel group), sedang digemari pada era milenium ini. Gereja-gereja yang memfokuskan diri pada kebutuhan manusia juga memiliki banyak jemaat. Namun, posisi gereja Reformed tidak terlalu baik dalam popularitas kekristenan.

Citra umum gereja Reformed adalah bahwa gereja ini membosankan dan banyak batasannya. Gaya penyembahannya yang kuno tidak relevan dengan budaya modern berteknologi tinggi. Jemaatnya berpenampilan terlalu tenang karena penekanannya pada kerusakan moral; hidup mereka nampak pasif karena ajaran predestinasi. Dan lagi, usaha penginjilannya tidak menarik untuk zaman sekarang. Namun meski kurang populer, kami tetap ingin menjadi jemaat Reformed. Mengapa?

Pertama, menjadi jemaat Reformed bukanlah pilihan, namun pendirian. Menjadi jemaat Reformed berarti menjadi alkitabiah. Semua doktrin iman Reformed -- predestinasi, kerusakan moral total, penebusan dosa yang absolut, anugerah yang luar biasa, dan ketekunan orang percaya --merupakan kebenaran yang ada dalam Injil. Meskipun istilah-istilah yang kami gunakan untuk menyimpulkan iman Reformed, tercipta dari panasnya debat teologi, namun kebenarannya berakar dalam pada pengajaran Alkitab. Seperti yang dikatakan sang pengkhotbah, Charles Spurgeon, "menjadi Calvinis berarti menjadi alkitabiah".

Kedua, menjadi Reformed berarti menjadi apostolik. Kami tidak percaya pada rangkaian apostolik seperti agama Katolik Roma memercayainya. Mereka percaya pada rangkaian jasa para santo. Namun, kami percaya pada rangkaian doktrin orang kudus. Iman Reformed bukanlah suatu ajaran baru. Iman Reformed muncul pada era Reformasi abad ke-16. Meskipun namanya diambil dari kata Reformasi, doktrin iman Reformed diajarkan oleh Agustinus bahkan sebelum Martin Luther melontarkan 95 tesisnya. Iman Reformed dan penekanannya pada kedaulatan anugerah Allah, bersumber pada wahyu Injil.

Ketiga, iman Reformed memuliakan Allah. Gereja superbesar (megachurch) pada zaman sekarang menyembah Allah dengan musik kontemporer dan aksi panggung yang terus berkembang. Gereja Reformed memuliakan Allah dengan pengagungannya yang dalam pada kedaulatan dan kekudusan Allah. Allah berdaulat atas karya penciptaan dan pemeliharaan. Kedaulatan Allah adalah sebuah kebenaran yang sangat diakui oleh iman Reformed. Namun iman Reformed mengatakan lebih dari itu. Karena saat kami mengakui bahwa Allah berdaulat atas karya penebusan, kami mengatakan bahwa keselamatan adalah murni karena anugerah. Kami tidak mulai bertobat dengan sendirinya. Allah mengubahkan kami oleh anugerah-Nya. Dengan kuasa-Nya, Ia membuat kami berkehendak untuk berubah. Respons iman adalah sebuah anugerah yang Allah kerjakan dalam hati orang-orang pilihan-Nya. Hal ini bertentangan dengan teologi populer. Dalam banyak presentasi Injil, karya keselamatan dinyatakan sebagai sebuah kerja sama. Allah mengerjakan 50% dalam anugerah-Nya dan menunggu tak berdaya untuk manusia mengerjakan 50% sisanya dalam kehendak bebasnya. Charles Spurgeon pernah mengatakan bahwa jika ada satu persen kehendak manusia dalam selubung kebenaran-Nya, ia akan selamanya tersesat.

Keempat, iman Reformed memberikan jaminan sejati bagi gereja dan jemaatnya dalam masa pencobaan dan krisis. Iman Reformed bukanlah sebuah doktrin teoritis alternatif. Iman Reformed merupakan teologi dengan kebenaran yang secara praktis sangat berkuasa. Saat seorang anak Allah mengalami pencobaan hebat, ia memandang pada kasih pemeliharaan Allah dan mengakui bahwa Allah berkuasa atas segalanya. Ia mengakui bahwa Allah berkuasa memberikan kelepasan. Lebih daripada mengharapkan datangnya kelepasan, orang itu akan berpegang pada imannya yang percaya bahwa Allah sanggup membawa kebaikan bahkan, dalam situasi yang paling buruk sekalipun.

Orang Reformed tidak pernah putus asa. Bandingkan iman sederhana ini dengan pengakuan arogan beberapa pendoa kesembuhan. Mereka mengatakan kepada kita bahwa Allah ingin menyembuhkan penyakit kita. Dan saat kesembuhan tidak terjadi, kesalahan ditimpakan kepada orang percaya dengan alasan bahwa ia tidak cukup beriman untuk dapat sembuh. Namun, orang Kristen Reformed lebih dewasa dalam pandangannya. Pertama-tama, ia menginginkan kesembuhan jiwa. Saat ia memohon kesembuhan fisik, ia tahu bahwa Allah mungkin akan mengabulkannya, tapi mungkin juga tidak, sesuai dengan kedaulatan tujuan-Nya. Dan saat kesembuhan tidak juga datang, itu bukan karena ia kurang beriman, namun karena Allah ingin ia percaya bahwa Ia sanggup memberikan kebaikan, bahkan dalam hal buruk sekalipun. Orang Kristen Reformed mensyukuri kekayaan dan kebahagiaan, tapi juga dalam penderitaan. Ia tahu bahwa Allah berkuasa atas dua hal ekstrim yang ada dalam kehidupan itu.

Kelima, iman Reformed selalu memperbaiki. Iman Reformed tidak pernah mandek (stagnan). Meski mengakui iman yang sudah kuno, namun iman ini selalu bekerja keras memahami lebih banyak kebenara-Nya dari firman Tuhan. Kita tidak akan pernah dapat memahami segalanya tentang Allah. Meski Allah dapat dikenali, Ia juga tidak terpahami. Pengetahuan kita akan Allah akan semakin dalam, khususnya pada

saat-saat Ia mencobai kita dengan kesulitan-kesulitan. Dari pencobaan-pencobaan itulah kami biasanya melihat lebih banyak keindahan dan kemuliaan-Nya. Iman Reformed tidak berkembang dari perenungan di tempat tinggi dengan suasana yang tenang. Kebenaran iman Reformed diformulasi saat ada pertumpahan darah, ancaman, dan kontroversi. Kebenaran-kebenaran itu dikembangkan untuk memenuhi perjuangan umat Allah sehari-hari. Katekisme Heidelberg, yang jelas merupakan iman Reformed paling disukai, diawali dengan pertanyaan yang benar-benar praktis dalam instruksinya, "Apa yang menjadi satu-satunya penghiburan bagi Anda dalam kehidupan dan kematian?"

Yang terakhir namun tak kalah pentingnya, iman Reformed selalu konsisten. Dispensasionalisme memiliki banyak variasi. Karismatisme memiliki banyak jemaat. Arminianisme mengubah Allah dan membuatnya makin terbuka dan mudah dikecam. Namun, iman Reformed konsisten dalam pengakuannya atas anugerah kedaulatan Allah. Apa yang diakui iman Reformed kini sama dengan yang diakui pada generasi yang akan datang. Setiap generasi mungkin memerluasnya. Namun presuposisi dan prinsip dasarnya tetap sama -- Allahlah yang berkuasa. Dan karena kekonsistenannya ini, hanya iman Reformedlah yang dapat membawa gereja melalui masa depan yang terus berubah. Kebenaran-Nya tidak pernah berubah. Allah berkuasa kemarin. Ia berkuasa sekarang ini. Dan Ia berkuasa selamanya.

BAGAIMANA JADINYA JIKA KITA MENOLAK IMAN REFORMED?

Menyepelekan Allah adalah Konsekuensi dari Menolak Iman Reformed

"Aku percaya padamu". Siapa yang mengucapkannya? Itulah yang pertama kali terlintas di benak saya saat melewati sebuah gereja yang memasang spanduk bertuliskan kalimat itu. Filsuf, psikologis, humanis, atau ahli manajemen mana yang telah mengatakan sesuatu yang sangat berpusat pada manusia itu? "Apakah filsuf besar Yunani, Socrates, yang mengatakannya?" tanyaku. Ia adalah orang yang bersikeras bahwa Anda harus "mengenal diri Anda sendiri". Apakah Narcissus, seorang pemikir sombong yang jatuh cinta dengan citra dirinya sendiri dan memuji kebajikannya sebagai manusia dan keterlibatan pribadinya?

Saat saya melihat di bagian bawah tulisan yang dicetak tebal itu untuk mencari sumbernya, saya benar-benar kaget. Allah yang mengatakannya. Allah? Saya segera membaca cepat seluruh Perjanjian Lama dan Baru untuk mencari firman Allah yang mengatakan, "Aku percaya padamu." Saya tidak bisa menemukannya. Kalimat itu tidak ada dalam Alkitab.

"Sejak kapan Allah menempatkan manusia sebagai objek kepercayaan-Nya," pikirku. Kalimat itu mungkin terlihat keren bagi generasi modern, namun tidak sesuai dengan teologi yang saya tahu di Alkitab.

Alkitab menjelaskan kejatuhan manusia sebagai "maut dalam pelanggaran dan dosa". Alkitab mengatakan kepada kita bahwa "keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah". Alkitab mengatakan bahwa setiap manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Dan bahkan Alkitab dengan berani mengatakan bahwa kita "diperanakkan dalam kesalahan dan dikandung ibu kita dalam dosa.

Dengan pernyataan-pernyataan tegas tentang keadaan manusia yang tersesat seperti itu, hal baik apa yang membuat manusia yang sudah berdosa dan rusak itu menjadi objek kepercayaan-Nya?

Pernyataan itu memang tegas. Seperti kebanyakan tipu muslihat iklan, pernyataan itu ditujukan untuk menarik perhatian masyarakat modern. Dan dalam usahanya menarik massa, bahkan ada juga yang cukup berani menulis ulang pokok-pokok iman Kristen.

Mereka menulis ulang apa yang Injil katakan tentang manusia, dan membuatnya menjadi seseorang dengan bawaan lahir ilahi yang disenangi Allah. Namun, Injil menegaskan bahwa manusia jasmani tidak dapat menyenangkan Allah (Roma 8:6-8). Mengatakan Allah percaya pada manusia berarti menyatakan secara tak langsung bahwa manusia memiliki kebaikan dan keterampilan spiritual yang terhadapnya Allah berkenan. Hal baik apa yang ada dalam manusia berdosa yang dapat membuat Allah mengatakan padanya, "Aku percaya padamu?"

Mungkin Allah terkesan dengan intelegensi kita. Lagipula, kita adalah manusia yang berpendidikan tinggi dan inovatif. Kita telah menghasilkan sarjana-sarjana dan menciptakan sistem yang memiliki kontribusi besar dalam membentuk masyarakat global.

Mungkin Allah terkesan dengan budaya populer kita. Pada 1960-an, kita memiliki Beatles dan kemudian, Bee Gees, dan kini kita punya Westlife dan Britney Spears. Mungkin Allah senang dengan bagaimana kita memakai musik untuk menghilangkan stres dan membuat jiwa kita menari.

Mungkin Allah terkesan dengan bagaimana kita saling mencintai satu sama lain sebagai manusia. Karena kasih adalah hal yang terpenting, mungkin Allah tergerak oleh bagaimana kita mengasihi tanpa penilaian, pernikahan, etika, dan tanggung jawab. Mungkin Ia terkesan dengan bagaimana kita dapat dengan mudah terlibat dan melakukan pernikahan sesama jenis.

Mungkin Allah terkesan dengan bagaimana kita dapat lebih maju dalam memandang kehidupan. Ada yang bilang kita berasal dari kera. Yang lain berkata bahwa materialisme dan kesenangan hidup adalah yang terpenting. Namun, yang lain lagi berkata bahwa kita harus memutuskan etika kita berdasarkan perasaan kita -- jika dirasa baik, lakukan. Dan mungkin Allah terkesan dengan bagaimana pandangan- pandangan ini mampu bertahan dalam pasar publik tanpa persaingan.

Atau mungkin terkesan dengan bagaimana kita percaya terhadap diri kita sendiri. Manusia adalah tolok ukur segala sesuatu. Ia adalah kapten dari takdirnya sendiri. Ia memiliki kemampuan untuk membentuk dunia tanpa Allah. Dan karena semua yang dapat dilakukan manusia itu, Allah percaya padanya.

"Aku percaya padamu?" Sebaliknya, saya menemukan di Alkitab kalimat yang jauh lebih menenangkan. Allah mengatakan kepada setiap orang yang memusatkan diri pada manusia bahwa jika Anda hidup dalam daging, Anda akan mati (Roma 8:13).

Pernyataan itu mengubah apa yang sudah dituliskan Allah, karena merendahkan kedaulatan Allah dan menjadikan Allah sekadar sebagai penonton, motivator, "Aku percaya padamu, kamu pasti bisa!"

Allah, dalam kepercayaan Protestan tradisional, disembah sebagai Pencipta dan Penebus. Ia memutuskan hidup semua manusia. Ia menentukan bagaimana segala sesuatu akan terjadi. Ia melakukan segala sesuatu menurut kehendak-Nya. Tidak seorang pun dapat menggagalkan rencana-Nya. Tak seorang pun mampu menentang perkataan- Nya. Dan tak seorang pun yang menyarankan-Nya bahwa rencana B jauh lebih baik. Salah satu pernyataan paling indah tentang Allah ada di Yesaya 46.

"... Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan." (Yesaya 46:9-10)

Allah tidak perlu percaya kepada siapa pun. Ia sendiri adalah Yang Mahakuasa. Tak ada yang seperti-Nya. Tak seorang pun memiliki kuasa membentuk masa depan. Tak seorang pun dapat menebus kejatuhan manusia. Tak seorang pun dapat melakukan sesuatu tanpa Allah. Tanpa Allah, manusia dan segala ciptaan bahkan tidak dapat hidup barang sesaat. Mengapa Allah mengatakan kepada manusia, "Aku percaya padamu?"

"Aku percaya padamu" hanyalah satu dari banyak peryataan yang dapat Anda temukan di www.lovesingapore.org.sg. Pernyataan lain di antaranya: "Aku berpikir akan membuat dunia hitam dan putih. Lalu Aku berpikir ... naaaah." "Aku benci aturan. Itulah sebabnya mengapa aku hanya membuat sepuluh aturan." Dan semua pernyataan itu dipertautkan dengan Allah.

"Golden rules" seperti itu dimaksudkan untuk menempatkan Allah di jantung kota, untuk membuat-Nya nampak keren, jenaka, tak ketinggalan zaman, dan dapat diterima. Namun sungguh, hal ini merupakan sesuatu yang menjelaskan bagaimana gereja modern sudah melangkah terlalu jauh. Gereja masa kini telah kalah oleh budaya populer. Jika sesuatu tidak modern, maka sesuatu itu tidak relevan. Karena itu gereja yang memakai metode iklan baru ini memutuskan untuk membuat Allah lebih modern.

Namun dengan membuat Allah menjadi lebih relevan, mereka tidak menghormati Allah. Kini, Allah menjadi seperti produk konsumen. Ia harus didikte untuk berkata sesuatu yang tampak keren di budaya populer kita. Jadi, perkataan-Nya harus dinyatakan ulang, status-Nya diposisikan ulang, dan kedaulatan-Nya direndahkan dalam rangka membuat-Nya lebih relevan dengan keadaan masa kini. Allah harus mengatakan apa yang para pembuat iklan inginkan untuk Dia katakan. Dan orang-orang yang mendanainya sepertinya tidak merasa bahwa menggunakan nama Allah dengan begitu sembarangan dan tidak menghormati adalah pelanggaran perintah yang ketiga, "Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan." Nama Allah, yang adalah kemuliaan-Nya, kini direduksikan menjadi label komersial, untuk mempromosikan produk baru Injil masa kini.

Penyepelean Allah ini adalah sesuatu yang serius. Perhatikan komentar Warren Wiersbe, seorang pengkhotbah Kristen yang terkenal, "Kita tidak perlu mengutuk atau bersumpah untuk menyebut nama Allah dengan sembarangan. Kita hanya perlu menggunakan nama-Nya dalam hal- hal sepele, maka kita pun sudah menghina nama Allah. Tak semestinya familiaritas dapat merendahkan nama ilahi layaknya penghinaan nama Allah yang jelas-jelas diucapkan. Mengucapkan hal-hal spiritual yang berharga dengan cara seadanya dan terkesan menyepelekan merupakan sebuah dosa dan sekaligus menyangkal kebenaran-Nya.

Menyepelekan Allah sama dengan menyingkirkan Allah dari kekristenan historis. Pernyataan "Aku percaya padamu" bukanlah pernyataan yang netral dan tak berbahaya. Pernyataan itu adalah perusakan teisme dan humanisme. Pernyataan itu merupakan sebuah paduan yang jelas antialkitabiah. Pernyataan itu lebih buruk daripada Arminianisme yang membawa masalah bagi gereja pada era Reformasi. Arminianisme bersifat sinergis. Paham ini mengatakan bahwa Allah membutuhkan kerja sama manusia. Namun pernyataan "Aku percaya padamu" nampak seperti sinkretisme, yang membawa suara humanistis yang halus namun tegas. Manusia memiliki masa depan yang dapat ia atur sendiri. Manusia dapat melakukan apapun menurut kehendaknya untuk menyenangkan Allah. Dan saat manusia itu berhasil, Allah bertepuk tangan untuknya dan berkata, "Benar, kan, kamu pasti bisa melakukannya. Aku selalu percaya padamu." Pernyataan ini menempatkan Allah dan manusia pada derajat yang sama.

Allah yang dipromosikan dalam iklan-iklan itu bukanlah Allah yang ada di dalam Injil. Saya yakin gereja-gereja yang mendukung slogan ini tidak bermaksud untuk merendahkan dan menyingkirkan Allah dari kekristenan historis. Namun pernyataan itu jelas membuktikannya. Hal ini membawa saya kepada pertanyaan yang perlu diselidiki: "Sudahkah kita menjadi sedemikian acuh secara teologis sampai-sampai kita tidak lagi mampu membedakan dasar kekristenan dari humanisme dan ketidakpercayaan?"

Memasang tulisan-tulisan seperti itu di dalam dan di luar gereja tidak akan membuat kekristenan menjadi keren dan relevan. Pernyataan itu hanya menunjukkan seberapa jauh komunitas Kristen secara teologis sudah sangat tersesat. Fakta banyaknya gereja terkemuka memasang spanduk seperti itu telah mencerminkan tidak adanya kepemimpinan teologis dalam komunitas Kristen lokal. Warisan Protestan di Singapura telah kalah oleh roh zaman ini. Allah alkitabiah tidak ada lagi dalam spanduk-spanduknya. Segera, Ia akan hilang dari aula suci kita ... kecuali kita kembali kepada kesehatan rohani alkitabiah dan mulai menghormati Allah serta menyadari kemuliaan-Nya. (t/Dian)

Sumber: 

Diterjemahkan dari:

Judul buku : The Readable TULIP
Judul asli artikel : 1. Why We are Reformed? 2. What if We Reject Reformed Faith?
Penulis : Cheah Fook Meng
Penerbit : Genesis Books, Singapura 2003
Halaman : 62 -- 71

Quo Vadis Pendidikan Kristen?

Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK)

Oleh: Pdr DR. Stephen Tong

QUO VADIS PENDIDIKAN KRISTEN?
selengkapnya...»

Komentar


Syndicate content