Membesarkan Anak dalam Tuhan

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Setelah ujian sekolah berakhir, maka hasil belajar anak-anak akan dievaluasi melalui nilai rapor. Namun apakah yang dinamakan pendidikan hanya sebatas nilai rapor saja? Tentu tidak! Betapa sempitnya pandangan kita jika pendidikan anak hanya berfokus pada nilai dan prestasi tinggi yang dicapai di sekolah. Nilai dan prestasi bagus di sekolah tidak menjamin apakah seorang anak telah dididik dan dibesarkan dengan benar. Lalu apa yang dimaksud dengan pendidikan? Bagaimana mengukur keberhasilan pendidikan?

Saya sengaja memilih artikel di bawah ini karena saya berharap, para Pembaca, terutama orang tua, para guru, serta para pembimbing rohani mampu mengevaluasi diri apakah selama ini telah mendidik anak-anak kita dengan benar atau belum. Pergumulan di dalam membesarkan anak tentunya berbeda seiring dengan perkembangan zaman. Orang-orang kuno seringkali mendidik anaknya dengan keras bahkan tidak segan-segan menggunakan rotan untuk menghajar anaknya. Namun, pada zaman postmodern ini, tentunya kita tidak dapat lagi menerapkan kekerasan fisik dalam membesarkan anak. Meskipun cara mendidik anak dapat berubah sesuai zaman, tetapi kita harus berpegang pada sebuah prinsip pendidikan yang tidak akan berubah sepanjang zaman: yaitu anak harus dibesarkan dalam Tuhan. Semoga artikel yang saya kirimkan ini dapat membantu kita untuk mengerti prinsip-prinsip membesarkan anak dalam Tuhan dan kita semakin mampu menerapkan kasih, kelemahlembutan, keadilan, dan kebijaksanaan dalam mendidik anak-anak kita.

Selamat membaca dan merenungkan. Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< teddy(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
Edisi 141/Juni 2013
Isi: 

Mendidik anak bukanlah memikirkan tentang bagaimana melakukan kehendak diri sendiri, melainkan memikirkan apa yang terbaik untuk mereka. Saya kira dalam hal ini banyak para ibu yang gagal. Seorang ibu yang cerewet tidak habis-habis adalah seorang yang setelah cerewet, tidak melakukan apa-apa. Tetapi seorang ayah lebih banyak diam, dan hanya pada saat tertentu di kala perlu, akan memukul anaknya dengan keras. Jadi, makin banyak ibu berbicara, seorang anak akan makin merasa itu sebagai hal biasa yang tak ada pengaruhnya. Makin cerewet, makin tak didengar. Namun seorang ayah yang memukul, sampai-sampai anak tidak tahu mengapa ia dipukul, juga tidak melakukan hal yang mendidik. Kita melihat begitu banyak ibu yang merasa dirinya sudah mendidik anak, padahal apa yang dikiranya mendidik, isinya hanya membereskan kesumpekan diri sendiri. Seorang ibu yang mengeluh tentang anak tidak berarti bahwa ia mendidik anak. Yang menjadi ibu, mulai hari ini berhentilah dari kecerewetan Anda dan mulai memikirkan tentang apa yang Anda katakan di hadapan anak-anak Anda: Apakah itu mendidik atau mengeluh? Jika seorang ibu hanya mau membereskan kesulitan sendiri, ia belum mempunyai kekuatan mendidik anak, pendidikan orang tua mulai berfungsi, jika segala perkataan Anda didasarkan dari hati yang memikirkan segala yang terbaik untuk anak. Jangan lupa, waktu Anda mengomel, waktu Anda mengatakan kalimat yang begitu banyak, tapi sebenarnya tidak begitu perlu, ingatlah bahwa hal itu malah akan menjengkelkan anak-anak Anda. Tetapi kalimat-kalimat yang penting, katakanlah, katakan dan laksanakan, itu akan membuat anak-anak mau mendengarkan perkataan Anda. Bagaimana anak-anak mendengarkan orang tua, jika orang tua tidak memikirkan yang terbaik untuk anak-anaknya? Hendaklah kita seumur hidup berkeputusan untuk hanya mengatakan hal-hal yang berguna. Itu menjadikan diri berbobot, dan tidak akan dianggap sembarangan oleh orang lain. Dengan menjadi orang berbobot, kehadiran Anda akan lebih dihormati anak-anak Anda.

Suatu hari sehabis pergi mengabarkan Injil, ibu saya pulang dan menemukan kami sedang berkelahi. Ia lalu menanyakan sebab musababnya, tapi tak ada seorang pun yang mau mengaku. Ia memerintahkan kami berdoa sama-sama, tapi kami menolak. Tak ada satu pun yang mematuhinya. Ibu lalu pergi ke kamarnya, berhadapan dengan lemari kaca, lalu beliau memukul kaca dengan tangannya dan darah mulai bercucuran. Kami tak tahan lagi, lalu menangis dan berlutut untuk berdoa. Ibu berkata, "Hari ini kamu semua menghina saya. Saya merasa tidak bisa mendidik anak, maka saya pecahkan kaca. Kalau kalian tidak mau taat kepada saya, hal itu tidak mengapa. Tetapi kalau kalian tidak mau taat kepada Tuhan, mau jadi apa?" Akhirnya kami empat saudara yang berkelahi semua berlutut, menangis dan berdoa minta pengampunan Tuhan.

Mendidik anak bukan hanya teori, bukan hanya suatu kepintaran atau kefasihan lidah, tetapi mendidik anak adalah menerjunkan diri, mengorbankan diri, sampai suara hati kita bisa menembusi awan gelap, masuk ke dalam hati anak sampai mereka menyadari arti pendidikan. Berpikirlah untuk kepentingan mereka, bukan hanya mau membereskan kesulitan sendiri. Pendidikan berarti: berhenti dari memikirkan kesulitan-kesulitan sendiri dan mulai memikirkan apa yang bisa diterima dan dirasakan oleh anak kita.

Menetapkan Sasaran Pendidikan

Pendidikan tanpa sasaran akan menghamburkan tenaga, waktu dan lain sebagainya, sama seperti orang naik mobil kelebihan bensin, berputar-putar tak tahu mau ke mana. Apa tujuan kita mendidik anak? Saya kira orang yang paling malang, adalah orang-orang yang mempunyai ayah ibu yang hanya bisa melahirkan anak, tapi tidak tahu bagaimana mengarahkan hidup anaknya. Pada bulan Februari tahun 1974 saya berkhotbah di Vietnam; di tengah perjalanan ke Dalat, ada seorang menceritakan kepada saya tentang tentara-tentara Amerika yang meniduri wanita Vietnam, lalu melahirkan anak-anak yang cantik. Ada orang-orang tertentu yang mau mengambil anak-anak tanpa ayah itu. Tindakan yang mereka lakukan kelihatannya penuh kasih, tapi sebenarnya tidak. Mereka mengambil anak-anak cantik tersebut, agar dididik dan dibesarkan untuk menjadi pelacur dan menghasilkan banyak uang. Saya tidak tahu mengapa orang yang memiliki hati yang sedemikian dapat disebut sebagai manusia.

Jikalau Allah sudah memberikan anak-anak ke dalam tangan kita, tapi kita tidak memiliki tujuan untuk hari depan mereka, maka kita bukanlah orang tua yang baik; kita tidak menjadi wakil yang baik dari Tuhan. Bagaimana menetapkan sasaran? Tetapkanlah tujuan-tujuan yang mulia untuk anak-anak, galilah potensi mereka semaksimal mungkin. Jikalau anak-anak Anda memang tidak berpotensi besar, jangan paksa mereka karena sampai tengah jalan mereka bisa jadi gila. Itu sebabnya, dalam menetapkan sasaran untuk anak-anak pun, kita perlu berhati-hati untuk dua hal:

Pertama, mempunyai pengertian tentang apa potensi dan karunia Tuhan bagi mereka.

Kedua, sampai sejauh mana potensi dan karunia itu punya kemungkinan untuk digali.

Dalam hal ini, kita harus senantiasa bertanggung jawab dalam mengoreksi dan memonitor; mendidik anak bukanlah hal gampang. "Set up a goal for your children" (Tetapkan sebuah tujuan bagi anak Anda). Orang Kristen memiliki satu sasaran penting, yaitu memuliakan Tuhan di dalam pikiran, percakapan, hidup sehari-hari, dalam pekerjaan dan dalam semua segi kehidupan. Konsep teologi Reformed ini, paling sedikit dapat kita taruh dalam hidup anak-anak, agar dimanapun mereka berada, Allah dipermuliakan.

Setelah menggali, menggarap, mengembangkan potensi dan karunia anak, kita tidak perlu menjadi minder. Ada kesaksian tentang seorang yang rela bekerja melayani Tuhan. Akhirnya pada suatu hari, bukan saja ia tidak sempat melayani Tuhan, bahkan kedua kakinya rusak dan harus diamputasi. Pada waktu kedua kakinya dipotong habis, ia menangis. Ia berkata, "Tuhan saya tidak berguna lagi. Saya perempuan, kedua kaki saya dipotong, hidup saya tidak ada arti lagi." Seorang pendeta datang kepadanya, waktu ia sedang menangis. Pendeta itu berkata, "Engkau sudah kehilangan dua kaki, tetapi masih punya dua tangan, kenapa tidak kau persembahkan dua tanganmu untuk Tuhan?" Kalimat itu dipakai oleh Roh Kudus dan memberi satu sinar cerah bagi hatinya. Ia sadar lalu berkata dalam hatinya, "Ya, Tuhan sekarang saya sudah kehilangan kaki, kaki saya tidak dapat dipergunakan lagi, tapi saya masih memiliki dua tangan, sekarang saya mau persembahkan tangan saya untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan." Mulai hari itu, ia mulai menulis surat mengabarkan Injil, kalau ada orang yang tergerak, dimintanya dalam surat itu untuk memberikannya kepada orang lain. Demikian cara dia mengabarkan Injil.

Pada waktu ia mati, ia sudah mengabarkan Injil kepada sebelas ribu orang, melalui koresponden. Dalam lacinya, ditemukan catatan-catatan tentang orang-orang lain yang bertobat melalui pemberitaannya, jumlahnya ada 680 jiwa. Hal ini diceritakan Dr. Bob Pierce pada saya, di Switzerland tahun 1969 (Dokter Bob Pierce adalah pendiri World Vision). Carilah potensi yang ada pada Anda dan pada anak-anak Anda. Kadang-kadang apa yang Anda inginkan terjadi pada anak Anda, berbeda dengan apa yang Tuhan inginkan, jangan paksakan keinginan Anda. Galilah kemungkinan yang terdapat pada anak Anda, sehingga boleh mengembangkan potensi yang Tuhan sudah tanamkan dalam dirinya, hingga dia berguna menurut kehendak Tuhan, bukan kehendak Anda sendiri.

Kesehatian Orang Tua

Seorang ayah yang mempunyai cara pendidikan yang berbeda dengan ibu, akan menimbulkan konflik, yang kemudian berkembang menjadi "self defeating power" atau kekuatan yang saling melemahkan. Akibat dari hal ini yaitu anak tidak hormat dan segan pada kedua orang tuanya. Kalau anak itu melihat ada dualisme dalam didikan ayah dan ibu, ia akan mencari sesuatu untuk bisa diperalat; Ini berbahaya sekali. Anak yang sedang bertumbuh menjadi besar dan mulai menilai akan segera melihat adanya dualisme, dan dengan demikian orang tua akan melemahkan pendidikan terhadap anak sendiri. Perselisihan karena cara mendidik anak yang berbeda dapat menimbulkan perpecahan dan konflik antara kedua orang tua, itulah sebabnya saling menyesuaikan diri, merupakan hal yang penting sekali. Walaupun masih ada banyak perbedaan konsep dalam mendidik anak, namun sebagai orang tua, kita harus memiliki kesehatian.

Satu kali ada seorang anak kecil memecahkan sebuah kaca yang besar. Waktu ibunya pulang, ia marah sekali dan bertanya, "Siapa yang memecahkan kaca ini?", lalu anaknya menjawab, "Saya." Ibunya berkata, "Nanti saya kasih tahu ayahmu, baru tahu berapa hebat ayahmu!" Anaknya jawab, "Ayah sudah tahu, ia bilang: Nanti saya kasih tahu ibumu, biar kamu tahu berapa hebat ibumu!" Ayah memakai ibu untuk menggertak anak, ibu memakai ayah untuk mengancam anak. Anak melihat kedua orang tuanya tidak hebat. Ini suatu contoh yang kecil, tetapi selalu terjadi. Ketidaksepakatan merupakan kelemahan dalam pendidikan anak. Seorang ayah jangan sekali-kali memakai anak untuk melawan ibu, atau seorang ibu memakai anak memihak dirinya melawan ayah, itu adalah kebodohan besar.

orang tua juga harus mengerti bahwa di antara Diri Allah Tritunggal, ada suatu kerjasama di antara ketiga Oknum, menjadi contoh dari segala komunitas. Kerjasama dalam diri Allah Tritunggal, menjadi basis atau dasar semua komunitas dalam dunia. Satu dasar dalam hubungan komunikasi yang rukun. Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus begitu rukun. Allah Tritunggal menjadi dasar bagi para wakil Tuhan; baik ibu ataupun bapak untuk belajar bagaimana rukun dan sehati.

Kasih dan Keadilan

Jika ada anak kita yang tak bisa diperlakukan dengan keras, jangan perlakukan dia dengan keras, tapi anak yang tak bisa dididik dengan kelembutan, jangan terus diperlakukan lembut. Perlu suatu kebijaksanaan untuk mengatur kedua hal ini. Di atas salib terdapat suatu bijaksana yang paling sempurna dan mendalam. Di kayu salib kita melihat, bagaimana Tuhan tidak menyayangi dosa, bahkan Anak-Nya yang Tunggal harus disalibkan; tetapi justru di atas kayu salib ada kelembutan paling besar, sehingga perampok yang berdosa besar pun bisa diampuni. Inilah kekristenan.

Di atas kayu salib kita melihat kelembutan yang paling besar dan keadilan yang paling keras. Keadilan yang tidak mau menerima dosa siapa pun dan pengampunan yang bisa mengampuni orang yang paling berdosa. Allah menyelamatkan kita melalui salib, Allah mendidik kita dengan salib. Allah bukan mengutus profesor-profesor teologi untuk mengajar kita, tetapi dengan mengorbankan Anak-Nya dipaku di atas salib mencurahkan darah. Di atas kayu salib, tertenun keadilan dan cinta kasih Allah. Tanpa cinta kasih ada kekejaman, keganasan, kekerasan; tetapi kasih tanpa keadilan, adalah kompromi dan banjir emosi. Demikian juga di dalam gereja, masyarakat atau keluarga, jika kita tegakkan keadilan tanpa kasih, itu sama dengan kekejaman. Tuhan tidak demikian. Gereja tidak mungkin terbangun, keluarga tidak mungkin berbahagia, suami-istri tidak mungkin memiliki hubungan yang beres, jika kedua prinsip Ilahi ini tidak dikerjakan secara harmonis.

Jika kita sebagai orang tua melakukan kekerasan terhadap anak, maka secara rohani mereka akan berontak. Anak-anak tidak dididik dengan baik hanya dengan kekerasan, keadilan, dan dengan menjalankan aturan. Tuhan Allah memberikan dua sifat ini sebagai dasar pendidikan, yaitu keadilan dan kasih. Allah yang Mahakuasa, adalah Allah yang Maha lembut, Allah kita yang Maha adil, juga adalah Allah yang mengampuni, Allah kita yang penuh dengan bijaksana, rela masuk ke dunia seperti orang bodoh. Di sinilah kita menjumpai suatu paradoks. Kekerasan bertemu dengan kelembutan, keadilan bertemu dengan cinta kasih, pengampunan bertemu dengan keadilan. Waktu kedua hal ini tertenun bersama menjadi satu, di situ ada kuasa pendidikan dan keselamatan. Kalau kita mau mendidik anak kita dengan baik, jadilah orang yang mempunyai sifat keadilan dan kelembutan Tuhan, sehingga anak kita mendapatkan pengertian dan bijaksana tentang bagaimana bisa menggabungkan keadilan dan kelembutan menjadi satu dan inilah bijaksana, dan kalau kedua hal ini menjadi satu, akan menjadi kuasa. Itu sebabnya di kayu salib semua terjadi: kasih, kelembutan, keadilan, bijaksana.

Sumber: 

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku: Membesarkan Anak dalam Tuhan
Judul bab : Prinsip Mendidik Anak
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman : 19 -- 25

Perspektif Alkitabiah Pelayanan Kaum Awam (2)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel yang kami kirimkan sebelumnya, yang berjudul "Perspektif Alkitabiah Pelayanan Kaum Awam". Jika Anda belum menerima artikel edisi sebelumnya, silakan kontak: Redaksi e-Reformed < reformed@sabda.org >.

Selamat menyimak.

Staf Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
Edisi 140/Mei 2013
Isi: 

Intisari Keimamatan Orang Percaya

Konsep keimaman orang-orang percaya, yang diambil dari sifat gereja, dapat dengan mudah menjadi slogan teologi Kristen semata-mata, kecuali hakikat konsep tersebut memberikan hakikat yang nyata, praktis, dan berarti. Hakikat keimaman orang-orang percaya yaitu: akses langsung kepada Tuhan, korban atau persembahan rohani, penginjilan, baptisan dan perjamuan kudus, sebagai fungsi mediasi. [21]

  1. Akses Langsung kepada Tuhan

  2. Akses langsung kepada Tuhan di Bait Kudus-Nya lewat pengorbanan Kristus. Oleh karena itu, akses langsung terbuka bagi semua orang yang beriman kepada Kristus (Roma 5:2), yang dibaptis dalam Dia (Roma 6:1-11), dan telah menerima Roh Kudus (Efesus 2:18). Lebih lanjut, Ogden menyatakan, "Seluruh orang percaya memiliki akses langsung kepada Tuhan melalui Yesus Kristus ... Kita semua adalah Hamba Tuhan dalam arti kita melayani di hadapan Tuhan. Satu-satunya Imam Besar, Yesus Kristus telah membuka jalan dengan mengorbankan diri-Nya bagi dosa kita, dan Ia duduk di sebelah kanan Allah untuk berdoa syafaat bagi kita terus menerus. Kelas imam tertentu yang mewakili kita kepada Tuhan dan sebaliknya tidak lagi diperlukan. Kita semua adalah imam, dalam arti kita mewakili diri kita sendiri di hadapan Tuhan melalui Sang Pengantara, Yesus Kristus." [22]

  3. Korban Rohani

  4. Jelas sekali dalam Perjanjian Baru, hamba-hamba Tuhan dari golongan orang percaya diperingatkan untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan melalui Yesus Kristus (Roma 12:1). Nelson menyatakan bahwa korban-korban rohani terdiri dari sikap etis, perbuatan baik (1 Petrus 2:15; 3:1-2, 4:9), dan ketaatan yang membutuhkan penyangkalan diri (1 Petrus 2:13-14,18; 3:1, 5:6; 5:5-6). [23] Korban-korban Rohani menurut Kung, yaitu doa, pujian dan ucapan syukur, buah-buah pertobatan, iman, dan kasih.

    Pada dasarnya, korban-korban umat Kristen, bukanlah suatu tambahan korban penebusan karena korban-Nya sempurna. Korban-korban tersebut merupakan respons umat terhadap karya penebusan, respons pujian dan ucapan syukur, respons iman pengaduan pribadi, dan pelayanan kasih dalam Dia.

  5. Penginjilan

  6. Seluruh orang percaya memiliki tugas keimaman yang sama untuk memberitakan Injil. Tugas tersebut berkaitan erat dengan panggilan Tuhan untuk mewakili Dia di dunia, sebagai umat tebusan melalui iman dan Juru Selamat Yesus Kristus, dengan kata lain, Tuhan telah memanggil keluar bangsa yang kudus untuk mengemban amanat-Nya di dunia, yaitu menyelesaikan pelayanan perdamaian (2 Korintus 5:19; Yohanes 3:16, 17:18). Pemberitaan Injil merupakan pengorbanan tertentu bagi keimaman yang dilatih oleh gereja. Jadi, seluruh orang percaya akan menjadi "Pemenang-pemenang jiwa", karena "penginjilan adalah tugas umat Kristen yang berlaku bagi setiap anggota tubuh Kristus". [24]

  7. Melaksanakan Baptisan dan Perjamuan Kudus

  8. Dua hal yang paling penting menyangkut penginjilan yang efektif bagi umat Kristen yaitu baptisan dan perjamuan kudus. Kedua hal itu harus dilakukan, karena setiap umat Kristen diberikan kuasa untuk membaptis (Matius 28:19); dan "tiap-tiap umat Kristen pada dasarnya diberikan kuasa untuk berperan aktif dalam perjamuan eskatologis di akhir zaman, pengucapan syukur, dan persekutuan" (Lukas 22:19). [25]

  9. Fungsi Mediasi

  10. Sesuai konteks Perjanjian Lama, pelayanan keimaman bangsa Israel adalah menjadi mediator Tuhan di dunia dan sebaliknya "bangsa ini, kaum umat milik Allah, dipanggil, diangkat, dan ditugaskan untuk menggenapi pelayanan sebagai perantara. Sama halnya dalam Perjanjian Lama, pelayanan keimaman bagi gereja dimulai dari penyembahan komunitas, terutama dalam perjamuan kudus, lalu berkembang keluar ke dunia. Di atas segalanya, pelayanan diberikan kepada tiap-tiap individu dalam komunitas orang percaya dan kepada orang lain di dunia. Di atas segalanya, pelayanan diberikan kepada tiap-tiap individu dalam komunitas orang percaya, dan kepada orang lain di dunia pada waktu yang sama. Penting bagi pelayanan, "keimaman orang percaya bukan hanya sekadar hubungan pribadi dengan Tuhan ... Ibadah berkembang dari penyembahan komunitas orang percaya menjadi penyembahan sehari-hari dalam dunia sekuler". [26]

    Berkaitan erat dengan pelayanan keimaman dalam komunitas orang percaya dalam dunia, doktrin keimaman seluruh orang percaya dengan jelas menunjukkan bahwa, tiap-tiap orang percaya dipanggil oleh Tuhan bagi misi dan pelayanan. Kung setuju bahwa keimaman seluruh orang percaya, memperlihatkan panggilan mereka yang setia untuk bersaksi tentang Tuhan dan kehendak-Nya di hadapan dunia, dan untuk menawarkan pelayanan kehidupan mereka sehari-hari. Dalam hal ini, kaum awam menerima tanggung jawab utama bagi pelayanan Tuhan di dunia.

    Doktrin tersebut menyatakan dengan tegas bahwa agen-agen utama dalam pelayanan perdamaian dunia adalah kaum awam. Mereka akan mempersembahkan diri mereka sebagai korban pelayanan bagi dunia, di mana Kristus telah mati. Kaum awam adalah umat Allah yang telah menerima keselamatan sebagai hadiah untuk dinikmati, dan tugas untuk ditampilkan. Hal itu merupakan makna panggilan Ilahi guna menjalani hidup dalam karya keselamatan Allah. Seperti yang terlihat dalam panggilan Tuhan sebagai berikut, "Umat Allah membawa kekudusan ke dalam dunia sekuler ..., lewat ketaatan kepada Tuhan yang memiliki dunia. Sifat dan ruang lingkup panggilan tersebut merupakan tugas seluruh orang percaya, setiap anggota awam berada di bawah panggilan Allah, dan bertanggung jawab untuk merespons kepada-Nya. ... Panggilan adalah karunia dan tugas dari seluruh umat Allah, dilakukan dan dinikmati di dalam sudut pandang konkret dunia, di mana individu itu hidup." [27]

Jadi, teologi keimamatan orang percaya sangat jelas, dan bukanlah hanya slogan teologis yang kosong. Ini membentuk suatu realitas konkret yang sangat kaya. Strausch secara empati menegaskan kebenaran dari Allah, bahwa semua orang Kristen berdasarkan Perjanjian Baru telah diteguhkan oleh darah Kristus. Sebagai hasilnya, semua adalah sama sebagai imam. Semua dibersihkan oleh darah Yesus Kristus. Semua didiami oleh Roh Kudus. Jadi, semua diidentifikasi sebagai anggota tubuh Kristus; sebagai pelayan satu dengan lainnya.

Implikasi Bagi Pelayanan Gereja

Pada dasarnya, umat Allah memasukkan komunitas Kristen secara keseluruhan adalah kerajaan imam. Jadi, seluruh orang percaya diidentifikasi sebagai imam-imam. Berdasarkan hal ini, Richard menantang orang Kristen untuk berkomitmen penuh pada ajaran Alkitab, bahwa setiap orang Kristen adalah "orang percaya-imam". [28] Implikasinya adalah semua orang percaya melayani, bukan hanya rasul-rasul atau para pemimpin utama. Perjanjian Baru mengenali bahwa beberapa orang Kristen dipanggil secara khusus untuk melayani gereja di dalam dunia ini. Tetapi semuanya dipanggil untuk Kristus di dalam dunia ini.

Sejalan dengan fungsi keimamatan semua orang percaya, pelayanan bersama membutuhkan gaya kepemimpinan untuk kaum awam. Pelayanan bersama dalam keselarasan seperti yang dicontohkan dalam Efesus 4:11-13. Rasul Paulus berkata bahwa beberapa orang percaya dipanggil; untuk menjadi rasul, nabi, gembala-pengajar, dan pengkhotbah untuk membangun peranan bahwa semua orang percaya dimampukan dalam fungsi pelayanan. Ogden mencatat bahwa pembangunan adalah pendekatan fundamental untuk melatih melayani oleh Gembala. Peran pembangunan pria dan wanita untuk melayani adalah sesuatu yang selayaknya dalam hubungan umat Allah, namun peran ini mengimplikasikan perbedaan fungsional (bukan kualitas) antara awam dan imam.

Untuk menekankan signifikansi konsep pembangunan, Ogden memberikan suatu studi istilah Yunaninya secara menyeluruh, Artios -- akar yang lebih baik "dikenal" (Efesus 4:12) dapat diterjemahkan sebagai "predicate adjective" yang diartikan "dialah sempurna". Kata Artios mengandung sasaran-sasaran pembangunan untuk murid secara individual maupun keseluruhan tubuh Kristus. Hal ini mencakup antara pengertian lengkap, penuh, berorasi secara, menemukan, mengisi situasi yang khusus, layak. "Katartimos -- participle" yang digunakan hanya dalam Efesus 4:12 dan dapat diterjemahkan "mempersiapkan" atau "memperlengkapi". [29]

Stedman menyatakan bahwa pekerjaan tertinggi gereja bukanlah menghasilkan satu kelompok imam atau awam yang hebat, yang dilatih secara spesifik dan profesional. Namun seharusnya dilakukan oleh seluruh orang percaya (Efesus 4:11-14). Untuk alasan ini Allah memilih beberapa orang menjadi rasul, nabi, penginjil, guru, dan gembala untuk membangun umat-Nya melakukan tugas pelayanan dan membangun komunitas Kristen, Tubuh Kristus. [30]

Sasaran terakhir pembangunan adalah kedewasaan setiap anggota gereja dan gereja secara keseluruhan. Kedewasaan adalah konsep induk dari kehidupan Kristen. Pesan Efesus di atas mendefinisikan kedewasaan sebagai "kerendahan relasional" daripada realisasi diri sendiri, "sebagai kepastian doktrinal daripada kemandirian" [31] "sebagai pemimpin-pemimpin membangun umat Allah untuk melayani satu dengan lainnya, tubuh Kristus bertumbuh dan dewasa adalah refleksi pada diri Kristus sendiri. [32]

Tulisan ini pernah dimuat dalam STULOS Theological Journal 5, Bandung Theological Seminary, November 1997, Hal. 97-117

Catatan kaki:

    21. Kung, the Church, 474
    22. The New Reformstion, 11
    23. Nelson, Raising Up, 475
    24. A Cole, The Body of Christ: A New Testament Image of the Church (London: Holdder Staughton, 1964), 41
    25. Kung, the Church, 485
    26. Ibid, 486, 487
    27. Bucy, The New Laity, 16
    28. Lawrwnce O. Richard A Theology of Christian Education (Grands Rapids: Zondervan, 1975), 131
    29. Ogden, The New Reformation, 98, 99
    30. R. Stedman, Body Life (Glandale: REgal, 1972), 88
    31. Stevens, Liberating the Laity, hlm 32
    32. G.C. Newton, "The Motivation of the Saints and the Interpersonal Competencies of Their Leaders", dalam Christian Educational Journal, 10/3 (1989), 9-15
Sumber: 

Diambil dari:

Judul buku : Keunggulan Anugerah Mutlak: Kumpulan Refleksi Teologis Atas Iman Kristen
Judul artikel: Perspektif Alkitabiah Pelayanan Kaum Awam
Penyusun : Dr. Joseph Tong
Penerbit : Sekolah Tinggi Teologia Bandung, 2006
Halaman : 178 -- 185

Perspektif Alkitabiah Pelayanan Kaum Awam (1)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Pelayanan adalah sebuah anugerah yang Tuhan percayakan kepada kita. Meskipun kita tidak layak, tetapi Tuhan melayakkan kita untuk ikut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya. Pada bulan ini, kami akan kirimkan satu artikel (2 bagian) yang membahas perspektif alkitabiah tentang pelayanan kaum awam. Banyak orang yang masih membagi umat Allah dalam dua bagian, yaitu para rohaniwan dan para kaum awam. Para rohaniwan yang dianggap layak untuk mengerjakan tugas-tugas pelayanan, sedangkan orang awam hanyalah kaum biasa-biasa saja yang pasif. Tentunya dikotomi ini tidak alkitabiah dan dapat merusak fungsi umat Allah yang sesungguhnya.

Artikel pada edisi 2 ini membahas tentang konsep kata "awam" dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dan konsep keimaman seluruh orang percaya yang berasal dari sifat-sifat gereja sendiri. Kiranya artikel ini dapat meluruskan pandangan-pandangan yang salah tentang konsep pelayanan kaum awam dan dapat menggerakkan setiap pembaca untuk semakin giat dalam melayani Tuhan. Soli Deo Gloria!

Selamat menyimak.

Staf Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
Edisi 139/April 2013
Isi: 

Isu mengenai pelayanan kaum awam telah menjadi suatu topik populer dalam banyak artikel dan buku-buku, serta disampaikan dalam banyak khotbah. [1] Selain itu, Strauch [2] menyatakan bahwa masalah tentang pembaruan kaum awam telah menjadi suatu bahan diskusi yang meluas. Selain populer, teologi kaum awam banyak disalah mengerti. Bahkan istilah "awam" seringkali ditafsirkan secara salah. Kaum awam kerap dianggap setara dengan golongan "nonprofesional", ketika ditinjau dari keahlian atau kemampuan khusus tiap individu. Dalam organisasi-organisasi keagamaan, orang awam dianggap sebagai "kaum percaya biasa" yang berbeda dari "pengerja" penuh waktu atau hamba Tuhan. [3]

Dampak konsep tersebut adalah pembagian umat Allah ke dalam dua tingkatan, yaitu struktur pengerja penuh, yang menampilkan fungsi-fungsi religius masyarakat, dan sejumlah besar kaum awam yang tidak berkualifikasi. [4] Pembagian itu merupakan hasil tiruan pola kepemimpinan "Graeco-Roman", yang membagi administrasi kota menjadi dua bagian yaitu: "para pegawai", yang memimpin dan "kaum awam", warga yang polos serta tidak berpendidikan. [5] Jika pola tersebut diterapkan pada pelayanan di gereja, maka dapat menyebabkan perpecahan yang menghancurkan, menghilangkan partisipasi penuh umat Kristiani dalam pelayanan, serta mencegah pertumbuhan atau kedewasaan Rohani.

Konsep Awam dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

Dalam rangka mencegah dikotomi dan mengembangkan suara teologia awam, istilah "awam" harus dijelaskan dengan menggunakan sudut pandang alkitabiah. Istilah tersebut diambil dari kata sifat bahasa Latin "laicus", yang sama dengan kata sifat bahasa Yunani "laikos", yang berarti "milik masyarakat". Kata bendanya adalah "laos", yang mengekspresikan konsep yang signifikan, [6] karena muncul 2000 kali dalam Septuaginta dan ditambah 140 kali dalam Perjanjian Baru. [7]

Dalam Perjanjian Lama (Keluaran 19:4-7; Ulangan 4; Ulangan 7:6-12), "laos" biasanya mengacu kepada bangsa Israel. Kata tersebut mengandung "nilai khusus bagi masyarakat, karena keaslian dan tujuannya dalam kasih karunia yang Tuhan tentukan. Bangsa Israel menganggap diri mereka sebagai 'laos theou' (umat pilihan Allah)". [8] Secara teologis, hal tersebut menunjukkan bahwa Bangsa Israel adalah suatu bangsa yang terpisah dari bangsa-bangsa lain di dunia, yang disebabkan oleh pilihan Tuhan atas mereka sebagai milik-Nya (Ulangan 7:6). Mereka memperoleh status istimewa sebagai "umat Allah". Meskipun demikian, umat Allah tidak hanya menerima status istimewa, tetapi juga pelayanan istimewa. Bucy menjelaskan lebih lanjut, "seluruh kaum awam merupakan 'milik Tuhan', dipilih bukan sekadar memperoleh hak-hak istimewa, tapi untuk pelayanan istimewa. Perhatikan juga bahwa sifat pelayanan tersebut, dijabarkan dalam hubungan langsung dengan hak Tuhan atas 'seluruh bumi'. Bangsa Israel terpanggil dari antara 'segala bangsa', untuk melayani sebagai suatu 'kerajaan imam dan segala bangsa yang kudus', mewakili kerajaan-kerajaan dan bangsa-bangsa di dunia". [9] Singkat kata, umat Allah atau kaum awam, dipanggil untuk memenuhi misi penebusan Allah bagi perdamaian dunia. [10]

Umat Allah dalam Perjanjian Lama hanya mengacu pada Bangsa Israel. Dalam Perjanjian Baru, umat Allah mengacu kepada bangsa Israel dan bangsa-bangsa lain. Mengenai hal tersebut, Kraemer menegaskan bahwa Yahweh ingin bangsa Israel menjadi kudus-Nya, yang merespons sepenuhnya kepemilikan Tuhan yang telah memilih mereka. Hal yang sama berlaku bagi gereja. [11]

Gereja disebut sebagai "umat yang terpilih, imamat rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah." (1 Petrus 2:9) Secara khusus, gereja dalam 1 Petrus 2:5 digambarkan sebagai "batu-batu hidup", yang dibangun menjadi sebuah rumah Rohani, dan mereka mempersembahkan korban-korban rohani yang berkenan di hadapan Allah melalui Yesus Kristus. Kedua pasal memperlihatkan bahwa gereja terdiri dari orang-orang percaya yang disebut "suatu keimamatan". Kata Yunani untuk keimaman ialah "hierateuma", yang menunjukkan suatu gagasan komunitas masyarakat yang melayani sebagai "imam". [12] Oleh karena itu, gereja merupakan komunitas imam atau keimaman dari orang-orang percaya, yang hanya mungkin terjadi melalui Yesus Kristus, Imam Besar perjanjian yang baru, yang telah mengorbankan diri-Nya dan menguduskan, serta menyempurnakan orang-orang percaya sekali untuk selamanya (Ibrani 9:15; 10:10,14). Konsekuensinya yaitu seluruh orang percaya boleh mempersembahkan korban secara langsung melalui Kristus. Mengenai hal ini, Kung menyatakan demikian, "Bila seluruh orang percaya harus mempersembahkan korban lewat Kristus dengan cara tersebut, berarti mereka memiliki fungsi Imam, dalam pengertian yang sama sekali baru, melalui Kristus Sang Imam Besar dan Pengantara. Mengabolisikan kasta istimewa keimaman dan pengertiannya oleh Imam Besar yang baru dan kekal, menurut konsekuensinya yang unik namun logis, memiliki fakta bahwa seluruh orang percaya terlibat dalam keimaman secara universal." [13]

Hakikat Gereja

Kenyataannya, konsep keimaman orang-orang percaya diperoleh dari sifat gereja itu sendiri, yaitu umat Allah, tubuh Kristus, bangunan rohani, dan Bait Roh Kudus. Konsep itu diperluas sebagai berikut.

  1. Gereja adalah Umat Allah

  2. Artinya seluruh anggota gereja mempunyai persamaan yang mendasar. Tidak ada istilah kelas atau kasta dalam hubungan antar anggota, karena semuanya adalah: "orang-orang terpilih", "orang-orang kudus", "murid-murid", dan "saudara-saudara". Selain itu, "tidak ada jarak" antar anggota dan tidak ada penduduk kelas dua dalam keluarga Allah. Tentang persamaan, umat Allah diangkat martabatnya sebagai pelayan-pelayan Yesus Kristus. [17] Gibbs dan Morton dengan tegas menyatakan, "Doktrin sejati kaum awam sebagai umat Allah, yang bermitra bersama-sama tanpa perbedaan kelas." [18]

  3. Gereja adalah Tubuh Kristus

  4. Tentang karakter yang saling berkaitan dari anggota-anggota gereja (Roma 12:4-8; 1 Korintus 12:12), tubuh dibangun oleh anggota-anggota yang saling bergantung satu sama lain sebagai kesatuan tubuh. [19] Seluruh anggota tubuh Kristus memainkan peranan penting. Masing-masing memiliki martabat dan fungsi "semuanya saling melayani dalam simpati dan kasih yang menguntungkan, serta dalam sukacita". [20]

  5. Gereja adalah Bangunan/Bait Rohani

  6. Gereja adalah bangunan/bait rohani, yang berarti bahwa Roh Kudus tinggal di dalam seluruh orang-orang percaya (Kisah Para Rasul 2). Akibatnya, seluruh umat Kristen dibenarkan, dituntun dan dipimpin, serta hidup oleh Roh Kudus. Dalam 1 Korintus 3:16 dan Efesus 2:22, Rasul Paulus menekankan bahwa Roh Kudus berdiam dalam hati orang-orang percaya. Mereka adalah bait Allah yang kudus. Konsep bait Allah yang kudus di bumi dipersamakan dengan komunitas Kristen yang dimungkinkan hanya melalui Yesus Kristus; hanya melalui Dia, bait Allah yang kudus digantikan oleh "bangsa yang kudus".

  7. Gereja adalah Bait Roh Kudus

  8. Ketika suatu gereja dikatakan sebagai Bait Roh Kudus, hal itu mengandung arti setiap anggota gereja adalah suatu Bait yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Dalam bentuk ini, Bait tersebut dibangun atas "kunci kehidupan" dan "batu penjuru", Tuhan Yesus, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, batu hidup dan yang setia. Bentuk Bait Keimaman merupakan kelanjutan dari bentuk yang baru saja diperkenalkan (1 Petrus 2:4). Lebih lanjut dikatakan, konsep itu tidak diperuntukkan bagi keimaman resmi suatu kelompok Kristen tertentu, tapi bagi semua orang percaya. "Semua orang yang dipenuhi oleh Roh Kristus, menjadi suatu keimaman yang terpisah; seluruh umat Kristen adalah hamba Tuhan".

[Lanjutan artikel ini (Bagian 2) akan kami kirimkan dalam email yang terpisah.]

Catatan kaki:

  1. F.B Edge, "Into The World, so Send You' dalam The New Laity: Between Church and World, R.D Bucy, ed (Waco: World, 1978), 14

  2. Alexander Strauch, Biblical Eldership: An Urgent Call to Restore Biblical Church Leadership (Littleton: Lewis and Roth, 1986), 91

  3. Edge dalam The New Laity, 14

  4. Strauch, Biblical Eldership, 101

  5. R.P. Stevens, Liberating the Laity: Equipping All the Saints for Ministry (Downers Grove: InterVarsity, 1985), 21

  6. Edge, 14

  7. Howard A. Snyder, The Problem of Wine Skins: Church Stucture in A Technological Age (Downers Grove: InterVarsity, 1975), 102

  8. Dalam Bucy, The New Laity, 15

  9. Snyder, The Problem of Wine Skkins, 102

  10. F.B. Edge, The Doctrine of the Laity (Nashville: Convention, 1985), 28

  11. R.D. Nelson, Raising Up A Faithfull Priest: Community and Priesthood (Lousville: Westminster, 1003), 160

  12. Hans Kung, The Church (Garden City: Image 1976), 473

  13. Ibid

  14. G. Ogden, The New Reformation Returning, The Minitry to the People of God (Grand Rapids: Ministry Resourch Library), 11

  15. V.J. Dozier, Toward A Theology of Laity: Lay Leaders Resourch Notebook (Washington: Alban Intitute, 1976), 16

  16. R.P. Stevens, Liberating the Laity, 27

  17. M. Gibbs & T.R. Morton, God's Frozen People: A Book for and about Christian Layman (Philadelpihia: Westminster,1964), 15

  18. R.D. Dale, Sharing Ministry whit Volunteer Leaders (Nashville: Convention Press, 1986), 13

  19. Kung, the Church, 474

Sumber: 

Diambil dari:

Judul buku : Keunggulan Anugerah Mutlak: Kumpulan Refleksi Teologis Atas Iman Kristen
Judul artikel: Perspektif Alkitabiah Pelayanan Kaum Awam
Penyusun : Dr. Joseph Tong
Penerbit : Sekolah Tinggi Teologia Bandung, 2006
Halaman : 173 -- 177

Pengantar Mempersiapkan Khotbah Ekspositori: Motivasi, Definisi, dan Ikhtisar Proses Persiapan Khotbah

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Artikel ini adalah lanjutan dari kiriman saya sebelumnya.

Jika Anda ingin membacanya edisi sebelumnya, silakan berkunjung ke situs Soteri:

http://reformed.sabda.org/pengantar_mempersiapkan_khotbah_ekspositori_motivasi_definisi_dan_ikhtisar_proses_persiapan_khotbah_bag_1

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
edisi 137/Februari 2013
Isi: 

    2. Cara Khotbah Ekspositori

    Cara khotbah ekspositori berkaitan dengan proses. Mari melihat kembali definisi khotbah ekspositori berkaitan dengan proses persiapan kita dan penyampaian pokok teks: Khotbah Ekspositori adalah pemasakinian pernyataan pokok teks Alkitab yang "diperoleh dari metode penafsiran yang tepat serta dinyatakan melalui sarana komunikasi yang efektif" untuk menasihati pikiran, menginsafkan hati, dan memengaruhi perilaku menuju kesalehan.

      2.1. Penafsiran

      Kriteria utama metode penafsiran yang tepat adalah adanya hubungan yang dapat ditunjukkan dan dapat diandalkan antara pemahaman penulis dan pembaca asli suatu teks Alkitab dan penafsiran kita. Langkah 1 dari proses menyusun khotbah akan menggambarkan proses ini secara lebih terperinci.

      Memang benar, Alkitab dapat digunakan untuk mengatakan hampir semua hal yang Anda mungkin akan katakan. Pertanyaan kritisnya adalah: Apakah Anda mengatakan apa yang ingin Alkitab katakan? Sebagai contoh, saya pernah mendengar sebuah khotbah yang baik dari Lukas 19:29-40 yang menawarkan kebenaran berikut ini:

      "Yesus dan Keledai"

      1. Anda seperti keledai dalam kisah ini (ayat 29-30)

        1. Anda terikat kepada seseorang yang bukan pemilik Anda yang sebenarnya (ayat 30a)

        2. Anda masih muda -- belum ada yang mengendalikan hidup Anda (ayat 30b)

      2. Yesus menyuruh orang untuk membebaskan Anda (ayat 30c)

        1. Dia membebaskan Anda melalui murid-murid-Nya (ayat 31-32)

        2. Akan ada keberatan saat Anda dibebaskan untuk melayani Kristus (ayat 33)

        3. Namun Dia membutuhkan Anda (ayat 34)

      3. Apakah Anda keledai Kristus? (ayat 35-40)

        1. Apakah Dia mengendalikan hidup Anda?

        2. Apakah Anda menghadirkan pujian bagi Dia?

      Dapatkah khotbah ini dikhotbahkan? Kenyataannya sudah! Apakah khotbah ini setia kepada teks? Tidak! Mengapa? Tanyakan pertanyaan kritis ini: Apakah uraian tersebut adalah apa yang ingin disampaikan oleh penulis kitab dan apa yang dipahami oleh pembaca asli melalui kisah tersebut?

      Jenis khotbah ini sebenarnya pengajaran yang bersifat "moral". Berikut ini adalah beberapa persoalan dalam pengajaran yang bersifat moral:

      1. a. Anda tidak benar-benar membutuhkan Alkitab untuk memberikan nasihat-nasihat tersebut.

      2. Setiap kisah inspiratif pasti mengandung nilai-nilai moral. Setiap budaya memunyai perumpamaan-perumpamaan dan kumpulan cerita rakyat untuk menjadi pedoman bertindak dan berpri laku. Yang membedakan kisah Alkitab dengan kisah yang bersifat budaya adalah kehendak Roh Kudus yang disampaikan oleh penulis dalam teks dan dipahami oleh pembaca asli. Moralisme mengurangi Alkitab menjadi sekadar cerita bijak saja.

      3. b. Setiap teks menjadi sebuah ilustrasi untuk prinsip moral yang lebih tinggi.

      4. Teks digunakan sebagai ilustrasi dan bukan sebagai sumber uraian yang dibuat. Dalam kisah "keledai", pengkhotbah telah memutuskan bahwa si keledai adalah gambaran manusia.

      5. c. Khotbah Anda kekurangan otoritas tekstual.

      6. Dalam kisah keledai, dari bagian teks yang manakah pengkhotbah mendapat otoritas untuk menyamakan keledai dengan manusia? Atau anggaplah ketika menggunakan teks tentang Daud dan Goliat, pengkhotbah memutuskan bahwa orang-orang percaya akan dan harus menghadapi permasalahan yang sangat besar. Metode ilustrasi ini gagal karena Goliat tidak bangkit kembali. Kenyataannya, permasalahan-permasalahan yang sangat besar memiliki kemampuan untuk bangkit terus-menerus! Dengan demikian, ilustrasi ini kekurangan otoritas tekstual. Jika khotbah tidak menunjukkan bahwa penulis kitab bermaksud bahwa teks digunakan seperti ini, tidak ada otoritas untuk melakukannya.

      7. d. Penafsiran tertentu kekurangan kontrol objektif.

      8. Setiap pengkhotbah dapat menarik berapa pun ilustrasi dari teks yang diberikan. Akan tetapi, tidak ada yang mengendalikan kesimpulan yang dia tarik. Mengapa lima, bisa saja tiga hal atau dua hal, atau bahkan tujuh hal?

      9. e. Pernyataan pokok khotbah Anda tidak tampak terkait atau berasal dari pernyataan pokok teks.

      10. Penafsiran pengkhotbah (dan dengan demikian penekanan khotbah) menjadi manasuka. Jemaat akan mulai melihat khotbah sebagai penggunaan teks Alkitab yang digunakan oleh pengkhotbah secara tidak lazim.

      Metode penafsiran yang tepat harus menyusun kerangka inti khotbah. Pengkhotbah harus lebih dulu menjadi pelaku eksegesis Alkitab sebelum menjadi pelaku ekspositori Kitab Suci.

      2.2. Komunikasi

      Jika metode penafsiran yang tepat berkaitan dengan pemahaman penulis dan pembaca asli, komunikasi yang efektif berkaitan dengan hubungan antara pemahaman teks oleh pengkhotbah dan pembaca masa kini.

      Sebagai contoh, saya dan seorang rekan mengadakan seminar tentang penyusunan rencana bagi para pemimpin gereja lokal di Asia Timur. Rekan saya mengajar di sesi pertama mengenai mengapa kita harus membuat rencana. Inti pertama yang disampaikannya adalah kita harus berencana karena Allah berencana. Allah merencanakan penciptaan, penebusan, dan kerajaan-Nya. Dengan demikian, kita juga harus menyusun rencana.

      Masalahnya, presentasinya tidak mempertimbangkan pemahaman jemaat tentang kebenaran [yang disampaikan]. Pandangan umum, anggapan, nilai, dan keyakinan mereka semua bercampur dengan pemahaman terhadap maksud rekan saya. Sayangnya, kesimpulan yang mereka tarik setelah mengetahui rancangan ilahi justru bertolak belakang dengan maksud rekan saya. Mereka menyimpulkan: jika Allah berencana, kita tidak perlu menyusun rencana!

      Agar komunikasi kita efektif, kita harus memahami pandangan umum, proses berpikir, dan budaya jemaat (pendengar khotbah kita). Kemudian, barulah dengan menggunakan analogi dan ilustrasi, gaya dan penyampaian yang tepat, dan penerapan yang relevan kita akan memastikan ketaatan mereka. Kita akan mempertimbangkan beberapa aspek tersebut pada langkah ke-6 dari proses menyusun khotbah.

    3. Alasan Memberikan Khotbah Ekspositori

    Alasan memberikan khotbah ekspositori berkaitan dengan tujuan. Apa tujuan dari persiapan kita dan penyampaian khotbah ekspositori? Mari kembali ke definisi yang kita gunakan: Khotbah Ekspositori adalah pemasakinian pernyataan pokok teks Alkitab yang diperoleh dari metode penafsiran yang tepat serta dinyatakan melalui sarana komunikasi yang efektif, "untuk menasihati pikiran, menginsafkan hati, dan memengaruhi perilaku menuju kesalehan". Alasan khotbah ekspositori terutama berhubungan dengan unsur intelektual, afektif, dan keputusan dalam pengalaman kekristenan.

      3.1. Menasihati Pikiran

      Sebagai hasil dari mendengarkan khotbah, jemaat harus tahu dan memahami sesuatu, yakni kebenaran Allah. Normalnya, pengetahuan ini terkait dengan pernyataan pokok khotbah. Jika mereka tidak tahu lebih dari yang Allah katakan dan mengharapkan sebagai hasil pengkhotbahan kita, itu bukan bagian kita. Tuhan Yesus menambahkan "untuk mengasihi Allah dengan segenap akal budi kita" dalam versinya tentang hukum yang terutama (baca Matius 22:36-37).

      3.2. Menginsafkan Hati

      Tidak semua keputusan manusia dibuat secara masuk akal. Faktor emosi memainkan peran besar dalam keputusan penting. Akan tetapi, kita tidak boleh sekadar mengandalkan emosi. Hati harus diinsafkan sementara pikiran dinasihati. Memang penting dan tidak mustahil untuk membidik takhta semua emosi, yakni hati, melalui pengkhotbahan ekspositori. Pengkhotbah harus membuat jemaatnya antusias menaati Allah. Jika Firman sudah menginsafkan hati jemaat kita, kita bisa yakin bahwa perasaan itu tidak dibuat-buat. Sebagai hasil khotbah kita, jemaat harus merasakan sekaligus menginginkan sesuatu, yakni perlunya ketaatan pribadi akan kebenaran Allah.

      3.3. Memengaruhi Perilaku

      Ujian praktis dari khotbah yang baik adalah buah yang dihasilkannya dalam hidup. Alkitab diberikan untuk perubahan perilaku (2 Timotius 3:16-17). Iman harus diikuti dengan perbuatan (baca Kitab Yakobus). Sebagai hasil khotbah kita, jemaat akan melakukan sesuatu. Mereka akan taat. Kesalehan harus menjadi hasil dalam kehidupan mereka. Artinya, mimbar bukan hanya tempat untuk menaburkan lebih banyak informasi, namun menjadi panggung untuk mendorong jemaat kita untuk hidup saleh dengan teladan dan uraian. Mereka harus tahu apa yang Allah harapkan dan bagaimana mereka bisa menaati mandat Allah dari setiap teks dalam Kitab Suci. Pengkhotbahan harus menghasilkan kesalehan.

    Saya membuat komitmen kepada jemaat saya di New Delhi. Saya berkata kepada mereka, "Ketika saya berhenti memberi kalian sesuatu yang lebih untuk diketahui, sesuatu yang lebih untuk dirasakan, dan sesuatu yang lebih untuk dilakukan sebagai hasil dari saat-saat kita bersekutu dalam firman Allah, itulah saatnya memadamkan lampu gereja."

Dari Teks Menjadi Khotbah

-------------------------

Berikut ini adalah tujuh langkah dari teks menjadi khotbah dalam proses menyusun khotbah. Anda harus menghafal langkah-langkah tersebut.

Tujuh Langkah Proses Menyusun Khotbah

Pada kolom sebelah kanan, saya sudah mendaftar bagian-bagian dari patung hidup***** yang berusaha kita ciptakan melalui setiap khotbah.

  1. Mempelajari teks.

  2. Dengan mempelajari detail teks, kita memperoleh "daging" teks tersebut.

  3. Membuat kerangka teks.

  4. Dalam menyusun kerangka teks, kita mendapat gambaran rangka penyusun teks. Daging dan rangka membentuk bahan mentah teks untuk proses pemahatan.

  5. Pernyataan pokok teks.

  6. Dari rangka itu, kita melihat pernyataan pokok teks, "jantung", pokok dari khotbah itu.

  7. Jembatan tujuan.

  8. Dari jantung teks kita mengembangkan tujuan bagi jemaat. Tujuan khotbah ini adalah "otak" yang melaluinya pada akhirnya khotbah dirancang dan disampaikan.

  9. Pernyataan pokok khotbah.

  10. Otak akan memberi arah dan bentuk bagi jantung khotbah.

  11. Membuat kerangka khotbah.

  12. Dalam tahap ini khotbah membentuk citra dan kerangkanya sendiri. Kerangka pesan akan terlihat.

  13. Menyampaikan khotbah.

  14. Pada akhirnya, kita akan mengisi detail-detail daging sewaktu kita selesai memahat khotbah yang unik dan istimewa bagi jemaat secara khusus.

Cara lain untuk menggambarkan ketujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut:

Dari Teks Menjadi Khotbah

Setelah menyajikan sistem persiapan khotbah ini, saya melihat cara mudah untuk mengingat ketujuh langkah tersebut. Berikut ini disajikan beberapa petunjuk untuk membantu Anda mengingat urut-urutan ini.

  • Langkah 3 (kolom teks) dan langkah 5 (kolom khotbah) sejajar, berkaitan dengan jantung atau persoalan pokok.

  • Langkah 2 (kolom teks) dan langkah 6 (kolom khotbah) sama-sama berkaitan dengan rangka atau kerangka.

  • Langkah 1 (kolom teks) dan langkah 7 (kolom khotbah) berkaitan dengan daging atau unsur dasar.

  • Langkah 4 adalah jembatan atau otak yang membantu kita melakukan transisi dari teks menjadi khotbah.

Pemberian nomor atau angka pada langkah-langkah tersebut memberi kita pola yang mudah untuk diingat: 1234321 atau ABCDCBA. Omong-omong, bentuk kesejajaran ini juga ditemukan dalam Alkitab Ibrani dan dikenal dengan konstruksi kiastik. Kemiripan lahiriah dengan Alkitab tidak membuat sistem persiapan khotbah ini terpengaruh dan pasif. Akan tetapi, sistem ini akan memampukan Anda, manusia yang terbatas, untuk membuat khotbah inspiratif.

Berikut ini adalah gambaran ringkas setiap langkah dalam menyusun khotbah. Langkah-langkah ini berperan sebagai tinjauan sekilas untuk prosedur lengkapnya.

Langkah 1: Mempelajari Teks -- Daging Teks

Langkah 1 mengenalkan kita kepada proses mendasar yakni mempelajari teks. Langkah ini menyediakan beberapa kunci untuk menemukan makna teks. Langkah ini juga meletakkan pondasi untuk pendalaman teks dalam "melihat" dan "mencari" secara tepat apa yang Alkitab ingin sampaikan kepada semua orang.

Langkah 2: Membuat Kerangka Teks -- Rangka Teks

Langkah penting dalam proses pemahatan adalah memahami bagaimana penulis kitab menyusun teks. Dengan cara ini, kita bukan hanya mampu menyampaikan apa yang dikatakan penulis, tetapi bahkan menekankan bagaimana dia menyampaikannya. Langkah 2 memberi petunjuk bagaimana menemukan kerangka teks sehingga Anda dapat meringkas pengajaran setiap bagian teks.

Langkah 3: Pernyataan Pokok Teks -- Jantung Teks

Sebagaimana fungsi jantung bagi manusia, demikian juga pernyataan pokok bagi teks (dan selanjutnya bagi khotbah). Langkah 3 akan membantu Anda menemukan pengajaran dominan dalam teks, yakni apa yang dikemukakan teks, dalam dua segi:

Tema: Apa yang dibahas penulis?

Perspektif: Apa yang dikatakan penulis tentang apa yang dibahasnya?

Segala sesuatu dalam teks disulam dalam satu tema besar. Ketika tema/perspektif ditemukan, seseorang dapat dengan yakin menguraikan teks dalam otoritas Allah.

Langkah 4: Tujuan Khotbah -- Otak Khotbah

Langkah 4 sangat penting untuk membuat khotbah ekspositori relevan dengan jemaat. Tujuan adalah otak khotbah, penghubung kunci dari teks ke khotbah. Anda akan belajar untuk mengucapkan tujuan khotbah dengan jelas bagi jemaat Anda.

Langkah 5: Pernyataan Pokok Khotbah -- Jantung Khotbah

Sama halnya dengan teks yang memunyai tema/perspektif tunggal, khotbah Anda juga harus memunyai tema/perspektif tunggal. Pernyataan pokok khotbah Anda akan mengandung penekanan "tema" dan "perspektif" yang kembar. Dalam tahap ini pernyataan Alkitab (langkah 3) disalurkan lewat tujuan (langkah 4) dan dikontemporerisasi untuk dipahami dan ditaati oleh jemaat.

Langkah 6: Membuat Kerangka Khotbah -- Rangka Khotbah

Pada langkah ini, Anda akan mempertimbangkan cara-cara dasar dalam mengembangkan khotbah dengan kesatuan, kelanjutan, dan kemajuan. Contoh-contoh bentuk pengembangan yang memengaruhi pemahaman keseluruhan dan menghasilkan ketaatan akan dibahas.

Langkah 7: Menyampaikan Khotbah -- Daging Khotbah

Anda dapat meningkatkan dampak khotbah Anda melalui ilustrasi, penggunaan kata yang tepat, dan bahasa tubuh dalam penyampaian khotbah. Anda juga akan disarankan untuk menuliskan khotbah sebaik dan sebanyak mungkin yang Anda bisa sebelum menyampaikannya.

Anda berada di jalur yang tepat untuk membaca buku ini jika:

  • Anda ingin terlibat dalam pengkhotbahan ekspositori.

  • Anda ingin tahu lebih jelas tentang bagaimana mengambil bahan dari teks untuk khotbah Anda. (t/Dicky)

Sumber: 

Diterjemahkan dari:

Judul buku : Preparing Expository Sermons
Judul asli artikel: Motivation, Definition, and Overview of the Process
Penulis : Ramesh Richard
Penerbit : Baker Books, Michigan, 2001
Halaman : 15 -- 29

Pengantar Mempersiapkan Khotbah Ekspositori: Motivasi, Definisi, dan Ikhtisar Proses Persiapan Khotbah (Bag. 1)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Publikasi e-Reformed Januari dan Februari baru saja saya kirimkan ke mailbox Anda. Maaf untuk keterlambatannya.

Berhubung banyak di antara Anda yang mengakses email kami lewat fasilitas mobile, maka saya mencoba untuk tidak mengirimkan email yang besar/panjang. Karena itu, artikel yang saya kirimkan berikut ini saya bagi menjadi dua email (Bagian 1 dan Bagian 2), berarti dua kiriman. Demikian informasi singkat dari saya, selamat menyimak.

Artikel "PENGANTAR MEMPERSIAPKAN KHOTBAH EKSPOSITORI" ini, saya ambil dari tulisan Ramesh Richard, dalam bukunya yang berjudul "Preparing Expository Sermons". 'Simplicity' dan 'to the point', adalah kesan pertama saya ketika membaca buku ini. Keprihatinan dia dan kerinduan dia, menjadi keprihatinan saya dan kerinduan saya juga. Inilah alasan mengapa saya memilih artikel ini untuk edisi e-Reformed Januari dan Februari 2013.

Seandainya,... semua pengkhotbah bisa memahami kepentingan khotbah ekspositori, dan melakukan khotbah ekspositori dalam kebaktian hari Minggu, maka dijamin gereja akan memiliki fondasi yang kuat dan jemaat akan mendapat makanan yang bergizi sehingga memungkinkan mereka bertumbuh secara rohani. Karena itu, mari kita berdoa supaya kita bisa menjadi pengkhotbah ekspositori.

Seandainya,... Anda adalah pengkhotbah yang tidak percaya bahwa Alkitab adalah diinspirasikan oleh Allah, maka saya sarankan Anda untuk bertobat atau berhenti berkhotbah!

Seandainya,... Anda adalah pengkhotbah yang percaya bahwa untuk berkhotbah tidak perlu persiapan, maka saya sarankan Anda untuk bertobat atau berhenti berkhotbah!

Maka, kita tidak perlu berandai-andai lagi...

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
edisi 136/Juli 2013
Isi: 

Di sebuah kios seni di luar Hotel Kwara di Ilorin, Kwara, Nigeria, Anda bisa menemukan patung-patung kayu indah karya Daniel. Sebagai seorang pematung yang terampil, ia memilih kayu mahoni terbaik dan mengubahnya, seperti yang dikatakannya, menjadi "sebuah keindahan (dan terkadang kegembiraan) abadi."

Saya mendapat kesempatan untuk mengamati Daniel ketika dia memahat sepotong kayu. Di tangannya, sepotong kayu itu memiliki harapan. Memahat adalah sebuah seni sekaligus keahlian. Keahlian memahat dimiliki oleh semua pematung yang terampil. Akan tetapi, dimensi seni diperlukan untuk menciptakan sebentuk patung yang benar-benar indah. Setiap patung karya Daniel adalah ciri khas dari bakat seni, latihan, dan komitmennya dalam bekerja.

Kami mengawali percakapan. Dia menggambarkan prosesnya dengan cerdas, "Pohon adalah sesuatu yang dibuat Allah; patung adalah sesuatu yang dibuat oleh Daniel dari apa yang dibuat Allah."

Dalam ucapannya yang lugas itu, saya menemukan begitu banyak kesamaan dengan proses mempersiapkan dan menyampaikan sebuah khotbah ekspositori. Alkitab adalah sesuatu yang dibuat Allah; khotbah adalah sesuatu yang kita buat dari apa yang dibuat Allah. Banyak orang dapat mencontoh metodenya. Para pengkhotbah yang terampil memiliki ciri-ciri umum dalam pendalaman Alkitab dan penyampaian khotbah. Namun sebagai seni, khotbah Anda secara unik adalah karya Anda. Sebuah kombinasi dari bakat, latihan, dan kerja keras yang akan memberi sentuhan personal bagi karya Anda.

Tentu saja, ada perbedaan antara sebuah patung kayu dan khotbah Anda -- yaitu kehidupan itu sendiri! Sebuah pohon hidup diubah menjadi sebentuk keindahan yang mati. Khotbah Anda, dalam bimbingan Allah yang hidup, mengubah Firman yang hidup dari Allah menjadi sebuah khotbah yang menyatakan, menyampaikan, dan menciptakan kehidupan bagi para pendengar Anda. Khotbah Anda lebih dari sebuah keindahan dan kegembiraan abadi. Khotbah Anda adalah suatu kehidupan abadi.

Perlunya Khotbah Ekspositori

Sayangnya, beberapa pengkhotbah tidak memercayai bahwa Alkitab adalah sesuatu yang dibuat Allah. Ada pengkhotbah-pengkhotbah yang belum bertobat yang memenuhi mimbar-mimbar di seluruh dunia. Mereka tidak memercayai baik Firman dari Allah maupun Allah yang berfirman itu. Saya melakukan surat-menyurat rutin dengan seorang pendeta senior, seorang pria baik yang takut akan Allah yang dikelilingi para pendeta yang belum bertobat. Mereka telah mengancam untuk menyingkirkannya karena pendirian injilinya. Mereka tidak percaya bahwa Alkitab adalah firman yang diinspirasikan oleh Allah.

Beberapa pengkhotbah lain percaya bahwa khotbah dapat dibuat tanpa Alkitab. Mereka mencari perumpamaan masa kini atau peristiwa berita yang layak disampaikan di mimbar. Biasanya khotbah-khotbah semacam ini ditemukan di mimbar-mimbar kaum terpelajar dengan berbagai ilustrasi yang diambil dari dunia olahraga, musik, politik, dan kebudayaan, namun isi alkitabiah khotbah-khotbah itu sangat sedikit. Di sebuah kota besar di Asia, seorang awam yang cerdas mengeluhkan ketidakhadiran Alkitab dalam khotbah pendetanya. "Pendeta saya tidak percaya bahwa Alkitab cukup relevan bagi jemaatnya," katanya. "Pendeta saya tidak memberi makan domba-dombanya, tetapi dia menyapa jerapah!"

Sementara itu, ada beberapa pengkhotbah lain yang tidak percaya bahwa mereka harus mempersiapkan sebuah khotbah. Mereka tidak bekerja keras dalam pelayanan mimbar. Dengan sikap yang santai, mereka cenderung berharap akan dipenuhi secara ilahi menjelang waktu berkhotbah. Seorang rekan pendeta yang memegang falsafah persiapan khotbah seperti ini mengalami kejutan hebat di atas mimbar ketika dia menantikan perkataan dari surga di menit-menit terakhir. Suasana hening. Ia bercakap-cakap dengan Allah mengenai janji ilahi untuk memenuhi para hamba-Nya dengan pesan-pesan ilahi. Suasana hening. Akhirnya, dalam keputusasaan yang menyengsarakan dia memohon, "Ya Allah, beritahukanlah kepada hamba-Mu ini sesuatu untuk dikhotbahkan pagi ini." Lalu Allah menjawabnya, "Anakku, kamu tidak mempersiapkannya!"

Akhirnya, beberapa pengkhotbah tidak menjadikan khotbah sebagai ujung tombak dalam pelayanan mereka. Mereka tidak lagi menjadikan khotbah sebagai prioritas pelayanan, tapi malah mengangkat pelayanan konseling, kepengurusan dalam organisasi, atau beberapa acara yang mendesak lainnya menjadi prioritas lebih tinggi. Tugas mengajarkan Alkitab telah menjadi urutan kedua dalam hierarki tugas-tugas pelayanan, sedangkan kebutuhan-kebutuhan jemaat yang mendesak telah menyedot energi utama sang pengkhotbah.

Suatu pagi ketika seorang teman kembali dari menghadiri kebaktian di gereja, saya bertanya tentang khotbah disampaikan oleh pendeta. Ia menjawab bahwa tema kebaktian Minggu itu adalah "Tiga Kata yang Harus Digunakan Setiap Orang Kristen." "Lalu, apa saja tiga kata itu?" saya bertanya. Ia menjawab, "Terima kasih, tolong, dan maaf."

Seseorang tidak perlu pergi ke gereja untuk mempelajari aturan-aturan dalam tata krama sosial, meskipun tidak ada salahnya mempelajari hal-hal itu di sana. Pendeta macam apa yang tidak mengharapkan aturan-aturan kesopanan sosial tersebut berlaku di pertemuan majelis? Akan tetapi, jika hal-hal itu adalah bagian utama dalam menu rutin kebaktian Minggu, maka gereja, pendeta, dan jemaat akan mengalami kelaparan rohani.

Buku ini dirancang untuk membantu Anda mengatasi kelemahan-kelemahan pelayanan mimbar yang telah tertulis di atas dan mengajak Anda mengejar penyampaian khotbah ekspositori sebagai cara hidup dan pelayanan.

Pengaruh Khotbah Ekspositori

Khotbah ekspositori akan memengaruhi hidup Anda, yaitu dapat membantu Anda untuk:

  • bertumbuh secara pribadi dalam pengetahuan dan ketaatan melalui kontak dengan firman Allah secara disiplin,

  • menghemat waktu dan energi yang digunakan untuk memilih khotbah setiap minggu,

  • menyeimbangkan bidang "keahlian" dan tema-tema favorit Anda dengan luasnya pikiran Allah dalam Alkitab.

Khotbah ekspositori akan memengaruhi jemaat Anda karena membantu Anda untuk:

  • setia dengan teks dan relevan dengan konteks dalam pelayanan reguler Anda,

  • menerapkan strategi untuk melengkapi dan menyemangati jemaat Anda untuk memiliki kesetiaan jangka panjang kepada Allah dan pelayanan,

  • mengatasi kecenderungan untuk mengarahkan khotbah kepada pribadi atau kelompok tertentu dan terlindung dari tuduhan tersebut,

  • menghindari melompati tema yang tidak sesuai dengan selera atau temperamen Anda pada suatu hari,

  • melakukan pelayanan terpadu di tengah berbagai peran dan tuntutan kepada Anda sebagai gembala,

  • meningkatkan wibawa pelayanan pastoral karena Anda berdiri di bawah kuasa firman Allah ketika Anda berkhotbah,

  • mengintegrasikan percakapan di gereja dalam lingkup khotbah minggu itu,

  • menyampaikan maksud Allah bagi jemaat Anda seperti yang diperlihatkan oleh para pemimpin pelayanan,

  • mengarahkan jemaat pada visi bersama, dengan demikian membantu Anda menunjukkan kebutuhan pengerja untuk mencapai visi itu,

  • mendorong jemaat untuk bertindak dalam menerapkan program gereja dengan perkenan Allah,

  • mengumpulkan kredibilitas yang dibutuhkan untuk memimpin gereja menuju perubahan,

  • memberi contoh pelayanan efektif bagi pengajar dan pengkhotbah masa kini dan yang akan datang,

  • menyusun kerangka program kehidupan rohani bersama,

  • membuat jemaat Anda terdidik secara alkitabiah.

Pada intinya, khotbah ekspositori akan membantu pengkhotbah menyebarluaskan rancangan Allah bagi jemaat-Nya.

Oleh karena itu, mempersiapkan sebuah khotbah adalah sebuah seni, keahlian, kedisiplinan diri, dan relasi. Khotbah yang efektif adalah hasil perpaduan antara dinamika rohani dengan metode terperinci. Dinamika persiapan khotbah muncul dari relasi pengkhotbah dengan Tuhan sumber firman. Hal ini merupakan latihan serius yang harus dibungkus dalam doa supaya ia dimampukan oleh Roh Kudus, mulai dari kontak pertama pengkhotbah dengan teks Alkitab.

Bagaimanapun juga, buku ini bertujuan untuk membahas mekanisme persiapan khotbah -- yakni aspek seni dan keahlian dalam penyusunan khotbah dari Kitab Suci.

Definisi

Khotbah ekspositori adalah tentang Alkitab dan jemaat Anda. Ada banyak definisi yang baik tentang khotbah ekspositori. Berikut ini adalah definisi yang saya gunakan: Khotbah ekspositori adalah pemasakinian pernyataan pokok teks Alkitab yang berasal dari metode penafsiran yang tepat serta dinyatakan melalui sarana komunikasi yang efektif untuk menasihati pikiran, menginsafkan hati, dan memengaruhi perilaku menuju kesalehan. Unsur-unsur definisi tersebut membantu kita memahami tugas ekspositori dari berbagai dimensi dan dalam berbagai tingkatan.

  1. Hakikat Khotbah Ekspositori

  2. Hakikat khotbah ekspositori berkaitan dengan isi. Mari melihat kembali definisinya untuk menggarisbawahi inti eksposisi tekstual: Khotbah Ekspositori adalah "pemasakinian pernyataan pokok teks Alkitab" yang diperoleh dari metode penafsiran yang tepat serta dinyatakan melalui sarana komunikasi yang efektif untuk menasihati pikiran, menginsafkan hati, dan memengaruhi perilaku menuju kesalehan.

    1.1. Pemasakinian

    Pemasakinian adalah tugas utama pengkhotbah ekspositori, dia mengambil apa yang ditulis berabad-abad lampau dan menyajikan relevansinya bagi jemaat masa kini. Dia tidak memperbaiki Kitab Suci. Alkitab sudah relevan dengan persoalan-persoalan manusia. Akan tetapi, pengkhotbah membuat pernyataan-pernyataan Allah bermakna bagi jemaat lokal. Khotbah ekspositori menyajikan secara modern kehendak-kehendak Allah bagi jemaat.

    Pengkhotbah menghadapi dua kenyataan mendasar: teks Alkitab dari abad awal dan konteksnya untuk abad ini. Beberapa pengkhotbah memberi penekanan pada teks tetapi membuatnya tidak relevan dengan konteks modern. Yang lainnya memberi penekanan pada konteks modern dan tidak setia pada teks.

    Seseorang yang ahli dalam eksegesis mempelajari makna teks Kitab Suci untuk mencari tahu apa yang Allah katakan ketika teks itu ditulis. Pengkhotbah yang alkitabiah melakukan percakapan kreatif dan menyeimbangkan tuntutan teks dan konteksnya untuk menyatakan signifikansi Kitab Suci bagi kita di masa kini. Dia tidak mengingkari ataupun mengompromikan kenyataan dalam teks kuno ataupun konteks modern. Berikut ini adalah diagram proses pemasakinian:

    1.2. Pernyataan Pokok Teks Alkitab

    Sepanjang sejarah khotbah ekspositori (dan teori komunikasi), kebanyakan ahli homiletika telah diyakinkan bahwa pernyataan tunggal harus meresapi keseluruhan khotbah. Perbedaannya terletak pada di bagian mana dan bagaimana orang mendapatkan pernyataan pokok ini.

    Dalam menguraikan Alkitab, ada dua kemungkinan sumber pokok pikiran. Pengkhotbah yang memberikannya atau teks Alkitab yang menyediakannya. Dalam eksposisi topikal, pengkhotbahlah yang memilih tema. Dalam eksposisi tekstual, teks Alkitablah yang menyediakan tema. Perbandingan berikut ini menunjukkan sifat, kelebihan, dan kekurangan eksposisi topikal dan eksposisi tekstual:

    1. Eksposisi Topikal

    2. Sifat : Pengkhotbah memilih tema dan menentukan pengembangan khotbah.
      Kelebihan : - Relevansi langsung
      - Sepertinya lebih mudah dilakukan.
      Kekurangan : - Teks di bawah kuasa pengkhotbah
      - Energi terbuang ketika memilih tema-tema khotbah.
    3. Eksposisi Tekstual

    4. Sifat : Teks Alkitab menyediakan tema dan menentukan tujuan, tolok ukur, dan persiapan khotbah.
      Kelebihan : - Relevansi jangka panjang
      - Membutuhkan kedisiplinan dari pihak pengkhotbah.
      Kekurangan : - Pengkhotbah di bawah kuasa teks
      - Membutuhkan kedisiplinan dari pihak pengkhotbah
      - Pengkhotbah mungkin mengalami kebuntuan dalam hal-hal kecil.

    Eksposisi adalah suatu kata multidimensi yang muncul dari akar bahasa Latin, expositio(-onis) artinya "menyatakan". Eksposisi Alkitab menguraikan, mengungkapkan, dan menyingkapkan Alkitab kepada jemaat dan jemaat kepada Alkitab. Eksposisi tekstual menguraikan makna teks Alkitab dan signifikansinya untuk konteks saat ini. Eksposisi ini mengungkapkan pernyataan tunggal yang dirangkaikan ke dalam khotbah. Eksposisi ini juga membawa jemaat masa kini kepada kebenaran-kebenaran dan pernyataan-pernyataan Allah yang ditemukan dalam teks tertentu.

    Tiga Pertanyaan untuk Diajukan tentang Isi Eksposisi Tekstual

  3. Sudahkah saya menguraikan apa yang dinyatakan dalam teks?

  4. Sudahkah saya mengungkapkan pernyataan pokok teks itu dalam kata-kata yang jelas dan kontemporer?

  5. Sudahkah saya membawa jemaat kepada kebenaran-kebenaran dan pernyataan-pernyataan Allah untuk kemudian mempelajari dan menaatinya? (/t Dicky)

Sumber: 

Diterjemahkan dari:

Judul buku : Preparing Expository Sermons
Judul asli artikel: Motivation, Definition, and Overview of the Process
Penulis : Ramesh Richard
Penerbit : Baker Books, Michigan, 2001
Halaman : 15 -- 29

Bapa, Ke Dalam Tangan-Mu Kuserahkan Nyawaku!

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Segenap Redaksi e-Reformed mengucapkan: Selamat PASKAH, kepada semua anggota e-Reformed. Kiranya tulisan yang saya kirimkan ini boleh menjadi khotbah Paskah yang akan menggugah kita untuk menghargai pengorbanan Kristus, sekaligus menjadikan Dia teladan abadi bagi ketaatan kita. Selamat menyimak.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Penulis: 
Dr. Pdt. Stephen Tong
Edisi: 
Edisi 138/Maret 2013
Tanggal: 
28 Maret 2013
Isi: 

Tidak mungkin seseorang tidak akan berbahagia, ketika ia mengingat kematian Kristus, mengerti akan kasih-Nya, dan membagi-bagikan kasih Kristus kepada sesama. Tidak ada seorang pun yang tidak berbahagia, karena ia dapat dengan sungguh-sungguh melayani Kristus yang sudah mati dan bangkit dengan pengabdian yang penuh. Firman Tuhan adalah sumber kekuatan dan satu keajaiban yang memberikan iman yang sejati.

Kegenapan yang digenapkan Yesus Kristus adalah kegenapan yang bersifat paradoks. Menurut pandangan manusia, Kristus tidak menggenapkan apa-apa, Kristus tidak menyukseskan apa-apa, dan Kristus tidak menghasilkan apa-apa. Menurut manusia, seseorang yang bergantung di atas kayu salib tidak memiliki kesuksesan ataupun keunggulan apa pun. Akan tetapi, dari permulaan kitab suci sampai pada akhirnya, kita dididik oleh Tuhan Allah untuk tidak melihat segala sesuatu secara lahiriah. Allah mendidik kita untuk tidak melihat segala sesuatu hanya dengan pandangan mata lahiriah yang sudah ditipu oleh iblis. Biarlah kita memiliki pandangan seperti pandangan Tuhan Allah sendiri yang melihat sampai ke batin. Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati sanubari (1 Samuel 16:7). Bagi manusia, Kristus dilihat sebagai manusia yang tidak memiliki keunggulan ataupun kesuksesan, tetapi sebagai manusia yang gagal. Namun, Yesus Kristus yang kelihatan gagal adalah Yesus Kristus yang meneriakkan perkataan, "Tetelesthai! Genaplah!"

Apakah yang telah digenapkan-Nya? Apakah Dia sudah mendirikan satu gedung yang besar? Sekolah Kristen yang mewah? Buku Kristen yang tebal? Sistem pendidikan yang baru? Sistem filsafat yang melawan sistem filsafat yang lain? Tidak. Tetapi apa yang digenapkan Yesus Kristus di atas kayu salib adalah apa yang tidak mungkin digenapkan oleh politik, militer, ekonomi, kebudayaan, pendidikan, filsafat, dan segala ilmu dunia. Di dalam perkataan Kristus yang ke-6, manusia boleh melemparkan jangkar pengharapannya. Manusia boleh mengembuskan napas yang terakhir dengan satu jaminan yang pasti. Genaplah!

Kristus mengucapkan, "Genaplah!" dengan satu kepastian yang sungguh. Perkataan ini menembus dunia malaikat dan mencengangkan mereka, menembus dunia manusia dan memberi pengharapan terbesar kepada mereka, menembus alam maut dan menggoncangkan neraka.

Jika Tuhan mengatakan "Gagallah!" maka meskipun Dia bangkit, kita tidak mengetahui dalam hal apa Dia menjanjikan jaminan keselamatan. Akan tetapi, karena Tuhan Yesus mengatakan "Genaplah!" maka inilah jaminan yang pasti akan kebangkitan kita! Tidak ada seorang pun pernah memiliki kegagalan secara lahiriah lebih dari apa yang dinyatakan Yesus, Orang Nazaret yang tergantung di atas kayu salib. Namun sesungguhnya, tidak ada seorang pun yang pernah mencapai kemenangan, kesuksesan, dan keunggulan yang lebih besar dari apa yang pernah dinyatakan Yesus Kristus yang mati terpaku semacam itu. Di atas kematian Yesus Kristus ada satu perubahan atau transformasi yang besar atas segala konsep, sistem, dan segala arah di dalam alam semesta. Arah manusia berdosa yang menuju kepada neraka karena melawan Tuhan Allah harus berubah di muka kayu salib. Segala sistem yang lama harus berubah menjadi sistem yang baru, menurut arah sinar cahaya yang keluar dari takhta Allah dan Anak Domba yang pernah disembelih di atas Golgota.

Pada waktu Yesus Kristus mengatakan "Tetelesthai!", maka terbelahlah tirai yang memisahkan tempat suci dan tempat maha suci di bait Allah dari atas sampai ke bawah. Bukan tangan manusia yang melakukannya, bukan pisau atau gunting, tetapi kuasa Allah sendiri yang menjalankan hal ini. Di dalam keempat Injil dicatat bahwa sebelum Kristus mati, Ia mengucapkan perkataan dengan seruan yang nyaring, suara teriakan yang keras. Jelas bagi kita bahwa itu adalah hal yang tidak logis, di luar logika. Orang yang disalibkan diperkirakan akan mati dalam 2 - 4 hari. Dan sejak hari pertama disalibkan, orang tersebut akan mengalami satu gejala yang tidak akan berubah sampai beberapa hari kemudian. Gejala itu timbul karena banyaknya darah yang mengalir keluar dari tubuh orang yang disalibkan. Darah yang berkurang akan makin mengental dan darah yang menuju ke bagian kepala akan berbeda jumlahnya dengan darah yang beredar di bagian tubuh yang lebih bawah. Lambat laun, karena kekurangan darah yang naik ke atas kepala, maka belum sampai satu hari, semua kekuatan di leher orang tersebut akan lenyap, sehingga orang yang disalibkan harus menundukkan kepala.

Gejala kekaburan atau kepusingan juga akan dialami tetapi orang tersebut belum akan mati. Belum mati, tetapi tidak akan mungkin hidup lagi seperti biasa. Tubuh akan menggetar, makin lama makin lemah dan manusia yang disalibkan akan mati secara perlahan. Detik demi detik ia akan mati dalam kekejaman dan kesulitan yang tidak mungkin ditolak. Lebih mudah mati digantung, ditembak, kursi listrik, atau dipenggal dibandingkan mati disalib. Beratnya tubuh yang tergantung mengakibatkan lubang paku menjadi besar dan untuk menjaga supaya seluruh tubuh tidak jatuh, maka orang tersebut diikat pada kaki dan tangannya. Akan tetapi, tali tersebut justru mengakibatkan kematian yang pelan-pelan karena darah yang mengalir keluar tertahan oleh ikatan tali. Orang yang menyalibkan orang lain adalah orang yang suka melihat orang lain mati secara perlahan. Di dalam kondisi semacam itu, hanya Kristus satu-satunya yang berbeda dengan orang lain. Sebelum mati, Ia menengadah dan berkata kepada Allah dengan kekuatan yang luar biasa. Suara-Nya nyaring dan dengan teriakan, khususnya pada waktu mengatakan empat perkataan terakhir.

Pada saat orang normal tidak bisa berteriak karena tidak mampu, justru saat itu Kristus berteriak dengan keras. Sesudah enam jam disalibkan, siapakah yang bisa berteriak? Sesudah mengatakan "Genaplah!", maka tirai di bait suci terbelah. Lalu Kristus mengatakan kalimat terakhir, "Bapa, Aku menyerahkan jiwa-Ku ke dalam tangan-Mu!" Setelah itu, Dia mengembuskan napas yang terakhir. Ini satu mujizat. Ini satu hal yang luar biasa. Ini satu hal yang sama sekali berbeda dengan tradisi dan catatan sejarah. Kristus satu-satunya yang menyerahkan nyawa-Nya di dalam kekuatan yang luar biasa. Jiwa Kristus bukan dirampas oleh kematian. Pada waktu hidup-Nya, Kristus dirampas. Keadilan bagi-Nya dirampas, hak-Nya dirampas, pembelaan-Nya dirampas, dan kebajikan bagi-Nya pun dirampas. Manusia tidak memedulikan bahwa dengan tangan-Nya, Kristus menyembuhkan orang lain. Tangan yang menyembuhkan orang lain dipakukan. Kepala-Nya yang memikirkan firman Allah dan hal-hal ilahi dimahkotai mahkota duri. Kaki yang berjalan ke sana kemari mencari domba yang sesat adalah kaki yang ditusuk. Tuhan Yesus memiliki cinta yang tidak ada bandingnya. Tuhan Yesus Juru Selamat satu-satunya. Pada waktu disalibkan, Ia mengucapkan kalimat yang terakhir, "Bapa, Aku menyerahkan Roh-Ku ke dalam tangan-Mu!"

Ucapan Kristus di atas kayu salib dimulai dengan "Bapa..." dan diakhiri dengan "Bapa..." Ini menjadi satu elemen paling pokok bagi pelayanan kita. Di atas kayu salib, Yesus Kristus tidak berkata banyak kepada manusia. Bagi Kristus yang penting adalah satu kesetiaan kepada Bapa. Yang mengutus Kristus adalah Bapa, dan yang akan menerima Kristus kembali ke sorga juga adalah Bapa. Jikalau yang memanggil Yesus Kristus adalah uang, maka Dia akan melayani uang. Akan tetapi, karena yang memanggil Kristus adalah Bapa, maka Kristus memiliki prinsip yang memulai pelayanan-Nya dengan Bapa dan mengakhirinya juga dengan Bapa. Allah Bapa yang memulai, Allah Bapa juga yang menjadi Penggenap. Bapa yang menciptakan segala sesuatu terjadi dan segala sesuatu ini juga akan disempurnakan oleh Bapa yang mengizinkan segala sesuatu ini terjadi. "The Creator is also The Consummator". Allah yang mengerjakan pekerjaan kebajikan adalah Allah yang akan menggenapi pekerjaan kebajikan itu. Dan, Kristus yang telah diutus oleh Allah mengetahui bahwa Dia tidak boleh hidup untuk diri-Nya sendiri.

Sebagaimana apa yang pernah didoakan dan dinyatakan Kristus dalam ucapan yang agung di Getsemani, "Bapa, bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi" (Lukas 22:42), demikian pula di atas kayu salib, Kristus mengucapkan tujuh kalimat yang menunjukkan relasi vertikal antara Dia dengan Allah Bapa. Kalimat pertama adalah "Ya, Bapa, ampunilah mereka ...", kalimat terakhir adalah "Ya, Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku!" Kristus memohonkan pengampunan bagi manusia berdosa kepada Bapa dengan kematian-Nya. Kristus yang mati bagi manusia menurut kehendak Bapa sekarang menyerahkan jiwa-Nya kepada Bapa. Perkataan pertama dimulai dengan "Bapa", perkataan terakhir diakhiri dengan "Bapa". Tetapi perkataan keempat yang ada di bagian tengah adalah "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Di tengah-tengah antara Alfa sampai Omega, ada lembah bayang-bayang maut.

Pada permulaan, dengan girang kita menjalankan kehendak Allah. Di saat terakhir, relakah kita menyerahkan seluruh hidup kepada Allah? Di tengah-tengah perjalanan panjang kehidupan, Allah mengizinkan orang yang menjalankan kehendak-Nya untuk mengalami bayang-bayang maut yang menakutkan. Lembah bayang-bayang maut adalah lembah yang pernah dijalani Kristus secara sendirian. Saat itu Bapa tidak mendampingi Dia. Kristus menjalaninya sendiri. Itulah sebabnya, sejak hari itu, barangsiapa harus menjalani bayang-bayang maut boleh berkata kepada Tuhan Yesus, "Engkau beserta dengan aku." Kristus sudah menjalani jalan itu. Apakah Anda takut akan hari depan? Bagi Kristus, hari depan kita adalah hari kemarin. Pada waktu Kristus mengatakan "Genaplah!" dan "Ya, Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan Roh-Ku!", janganlah kita lupa bahwa mengatakan hal seperti itu memerlukan iman kepercayaan yang bukan main besarnya.

Pada waktu Yesus dibaptiskan, Allah Bapa bersaksi dengan langit yang terbuka dan suara yang nyaring, "Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." (Lukas 3:22) Pada waktu di bukit Hermon, Yesus Kristus menyatakan diri-Nya dalam kemuliaan beserta dengan Musa dan Elia, Allah sekali lagi berkata dari langit, "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia." (Lukas 9:35) Namun, justru di dalam kepicikan, kepedihan, dan sengsara yang paling besar yang dialami Kristus di atas kayu salib, Allah seolah-olah menudungi muka-Nya dan seakan-akan tidak melihat akan sengsara Yesus Kristus.

Saat Yesus berteriak, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" adalah saat yang sungguh-sungguh mengerikan. Akan tetapi, pada waktu Yesus mengatakan "Sudan genap!", Yesus mengatakannya di dalam keadaan yang tidak berubah apa-apa. Dia tetap tergantung di atas salib. Tidak ada pertolongan dari Allah. Orang-orang di bawah salib menunggu apakah pertolongan dari Allah akan datang. Orang-orang pernah mendengar bahwa pada waktu Kristus berdoa di bukit Hermon, Elia dan Musa datang mendampingi Dia. Jadi, sekarang mereka menantikan apakah hal itu akan terulang lagi. Tetapi kondisi tidak berubah. Doa Kristus seakan-akan tidak dijawab. Kesulitan seolah-olah makin menjadi besar. Kelemahan makin menjadi nyata. Darah terus mengalir. Segala sesuatu makin menjadi gelap. Orang-orang di bawah salib tetap menghinakan Dia. Dengan demikian, apakah kesuksesan yang dinyatakan Kristus dengan perkataan "Genaplah"? Apakah yang dinyatakan-Nya dengan perkataan "Ya, Bapa, Aku menyerahkan Roh-Ku ke dalam tangan-Mu"?

Dengan melihat Kristus, kita melihat manusia pertama di dalam sejarah yang menerjunkan diri ke dalam kekekalan -- dalam keadaan yang tanpa kegentaran sama sekali. Kristus yang sudah menang memimpin kita masuk ke dalam kemuliaan. Dia menjadi teladan bagi Anda dan saya. Betapa banyak orang yang pada waktu hidupnya memiliki keberanian, tetapi pada waktu menghadapi kematian, segala keberaniannya hilang sama sekali. Namun Kristus, di dalam kalimat terakhir sebelum mengembuskan napas-Nya yang terakhir, memberi contoh bagi kita. Jikalau segala kepicikan belum berubah, kepedihan masih dialami, bahaya masih mengancam, dan segala situasi tetap sama, padahal saat kematian kita semakin mendekat, bisakah kita tetap memanggil Allah sebagai Bapa kita? Apakah Allah tetap menjadi Bapa kita? Apakah dari dulu sampai sekarang Dia tetap menjadi Bapa Anda? Apakah kita tetap bisa melihat anugerah-Nya tetap mengelilingi kita? Jika kita memanggil Allah sebagai Bapa, hanya karena kita sudah menikmati segala berkat dari-Nya, bagaimana jika semua berkat sudah tidak ada lagi? Bagaimana jika segala yang indah sudah hilang dan segala kepicikan kita alami? Apakah kita tetap memanggil Allah sebagai Bapa kita pada detik terakhir sebelum kita mati? Apakah Anda masih bisa memanggil Bapa? Apakah doa Anda masih didengarkan oleh-Nya? Ya. Karena Yesus Kristus menjadi teladan kita. "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan Roh-Ku."

Sumber: 

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : 7 Perkataan Salib
Judul artikel: Ya, Bapa ke dalam tangan-mu Kuserahkan nyawa-Ku
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1992
Halaman : 133 -- 140

Dilahirkan Untuk Menderita

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Dari cuplikan tulisan khotbah Natal Pdt. DR. Stephen Tong ini, saya semakin menyadari bahwa kegembiraan Natal sekarang telah diselewengkan oleh Iblis untuk menipu banyak orang Kristen bahwa makna Natal adalah kegembiraan, makan-makan, hadiah-hadiah dan pesta-pesta. Padahal di balik suasana Natal, sebenarnya ada bayang-bayang Paskah... karena kematian Kristus sudah menantikan dengan sangat jelas. Satu-satunya kematian di jagad raya ini yang dikehendaki Tuhan. Manusia mati adalah bukan kehendak Tuhan, melainkan karena upah dari ketidaktaatan manusia. Manusia mati karena dosanya. Tetapi Kristus mati bukan karena untuk menerima hukuman dosa, melainkan untuk melaksanakan kehendak Tuhan, yaitu agar darah Kristus menebus manusia sehingga manusia dapat diperdamaikan dengan Allah. Betapa besarnya kasih Allah kepada manusia! Terpujilah Tuhan Allah yang kekal selamanya.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Penulis: 
pdt. DR. Stephen Tong
Edisi: 
135/Desember 2012
Tanggal: 
30-12-2012
Isi: 

Dilahirkan Untuk Menderita

Artikel ini disarikan dari khotbah Natal, Pdt. Dr. Stephen Tong, Tahun 1997.

Natal merupakan hari yang menyenangkan, dirayakan di tempat yang begitu meriah, begitu indah, makan makanan yang begitu mewah dan mahal. Namun, jikalau kita memikirkan kembali Natal yang pertama, biarlah hati kita sekali lagi tertarik oleh cinta kasih Tuhan, karena Natal pertama merupakan hari yang sangat hina. "Christianity starts from the very humble beginning". Inilah sebuah kalimat yang menjadi introduksi dalam film Jesus dari LPMI, Campus Crusade. Benar! "Christianity starts from the very very humble beginning".

Kekristenan tidak tiba dengan sesuatu yang meriah, mewah, dan hormat; tetapi kekristenan dimulai dari tempat yang hina. Selama lebih 40 tahun saya melayani Tuhan, tidak pernah sekalipun Natal saya rayakan dengan main-main; tetapi selalu saya rayakan dengan hati yang berat, karena ini merupakan satu titik permulaan firman Tuhan yang paling klimaks, yang disampaikan kepada umat manusia.

Beribu-ribu tahun Allah mempersiapkan nabi-nabi, bernubuat dan bernubuat. Istilah nabi dalam bahasa Ibrani berarti: yang mewakili Tuhan untuk berbicara. Mereka dipakai menjadi suara Tuhan. Mereka dipakai untuk mencetuskan apa yang menjadi isi hati Tuhan, supaya perkataan-perkataan Tuhan boleh terdengar di dunia yang sudah berdosa, yang sudah jauh dari Tuhan, yang sudah menyeleweng dari kebenaran. Tuhan ingin berkata-kata kepada manusia, tetapi manusia tidak ingin mendengarkan perkataan-perkataan dari Tuhan. Tuhan ingin mencetuskan hati-Nya kepada manusia, seperti orang tua yang tidak mau melihat anaknya menuju kepada jalan kebinasaan. Nasihat, peringatan, ajaran, didikan, dan kalimat-kalimat yang penuh dengan segala hal yang penting, diabaikan oleh mereka yang tidak memerlukannya. Mereka bukan tidak memerlukannya, tapi merasa belum memerlukannya. Mengapakah kita harus menunggu sampai betul-betul hancur, bangkrut, dan dibuang, baru mulai membuka telinganya kepada Tuhan?

Setiap kali merayakan Natal, saya tidak mengecualikan, memakai kebaktian ini sebagai kebaktian penginjilan, karena Injil mulai sejak hari Natal. Injil mulai sejak kelahiran Kristus. Istilah Injil di dalam Bahasa Gerika adalah "Euangelion". "Euangelion" berarti kabar kesukaan -- kabar kesukaan yang hanya singular, satu saja -- the only good news. Dalam dunia engkau melihat begitu banyak orang berani memakai kata: kabar kesukaan, kabar kesukaan. Tapi itu good news-good news yang tidak penting. Hanya ada satu good news, hanya ada satu kabar baik, yaitu: orang berdosa boleh kembali berdamai dengan Tuhan Allah. Kabar baik ini dimulai dari mana? Dari Yesus yang lahir ke dalam dunia.

Yesus hadir di dalam sejarah. Yesus lahir ke dalam dunia. Kitab Suci menyatakan Allah yang menyatakan diri di dalam daging. God manifested Himself in flesh -- Allah menyatakan diri di dalam daging. Inilah yang disebut sebagai firman menjadi tubuh, yang disebut logos menjadi flesh, menjadi bertubuh seperti manusia. Mungkinkah ini? Ini tidak terdapat dalam agama manapun. Di dalam agama-agama di seluruh dunia tidak pernah diajarkan bahwa Allah sendiri menjadi manusia, pernah sungguh-sungguh dilahirkan, pernah sungguh-sungguh berdaging, berdarah. Tidak! Tidak ada agama yang mengajar ini kecuali Kitab Suci, firman Tuhan yang berkata-kata kepada kita. Alangkah besarnya hal ini. Ini merupakan keajaiban besar rahasia ibadah, yaitu Allah menyatakan diri dalam daging.

Ibrani 2:14 mengatakan, "Sebagaimana saudara-saudara berdaging, berdarah, maka Anak Allah yang tunggal, Yesus Kristus, datang ke dunia juga bersalutkan dengan daging dan darah, seperti engkau dan saya." Siapakah yang mengerti sifat manusia kecuali manusia itu sendiri? Siapakah yang mengerti kesulitan-kesulitan, penderitaan, sengsara, dan segala kepahitan yang boleh dialami oleh manusia, kecuali manusia itu sendiri? Dalam 1 Korintus 2 dikatakan, selain roh manusia, siapakah yang mengerti manusia? Tetapi tidak berhenti di situ, ayat ini meloncat pada tingkatan yang lebih tinggi, "tanpa roh Allah juga tidak ada orang mengerti Allah." Di dalam psikologi, yang menjadi keindahan adalah pengertian antara manusia yang lebih berpengalaman menganalisa dan memberikan petunjuk kepada mereka yang kurang berpengalaman dan berada di dalam kesulitan. Itulah sifat konstruktif dari psikologi. Tetapi jikalau tidak berdasarkan kebenaran, tidak berdasarkan cinta kasih yang sesungguhnya, sebenarnya psikologi tidak bisa berbuat baik, tidak bisa berbuat banyak.

Kecuali roh manusia, siapa yang mengerti manusia? Waktu membaca dan merenungkan, saya langsung memusatkan konsentrasi kepada Tuhan yang rela menjadi manusia. Hal ini tidak berarti jikalau Yesus tidak pernah datang ke dalam dunia, maka Allah tidak mungkin mengerti kesengsaraan hidup manusia. Bukan! Allah bisa mengerti karena Dia Mahatahu. Dia tidak perlu harus memunyai pengalaman "menjadi" sebagai titik awal untuk pengertian. Tetapi Allah menyatakan diri hadir ke dalam dunia, menjelma menjadi manusia, dan bersalut dengan daging dan darah, justru untuk memberitahu engkau dan saya bahwa Dia adalah Allah yang care, Dia adalah Allah yang peduli, Dia adalah Allah yang memelihara! Ibrani 2:14 menyatakan, "Ia berdaging dan berdarah agar khusus melalui kematian, berperang bagi kita untuk mengalahkan si penguasa dari kematian, yaitu iblis." Dari sini terbitlah sesuatu pikiran di dalam hati saya: "Mengapa Yesus lahir?" Yesus dilahirkan untuk menderita.

Di Indonesia, ada lebih dari 50 juta orang mengalami hidup yang lebih pahit dari sebelumnya, setelah krisis moneter. Dan kali ini, suara dan ajaran Tuhan bukan hanya ditujukan kepada orang miskin, tetapi kepada semua lapisan, termasuk orang kaya. Biarlah manusia mendengar! Bukalah telingamu kepada Tuhan! Mazmur 49 berkata, "Orang atasan, orang bawahan, orang kaya, orang miskin, biarlah semua yang bertelinga mendengar firman Tuhan." Pemazmur mengatakan, "Aku akan mengatakan kalimat-kalimat yang berbijaksana melalui kecapi yang aku mainkan. Biarlah orang di aliran atas atau di aliran bawah, semua mendengarkan dengan baik karena ini adalah firman Tuhan." Kadang-kadang Tuhan memberikan pengajaran kepada satu lapisan, kadang-kadang kepada seluruh lapisan dunia ini. Biarlah kita mengerti suara Tuhan melalui Kristus yang lebih menderita dari siapapun yang ada di tengah-tengah kita.

Tidak pernah ada satu orang yang hidup lebih miskin, lebih susah dari Yesus. Lahir di tempat binatang, meminjam palungan yang bau dan hina. Mati meminjam kuburan orang kaya yang belum pernah dipakai untuk menguburkan orang lain. Yesus meminjam kuburan tersebut selama beberapa hari, lalu Ia bangkit. Di tengah-tengah kelahiran dan kebangkitan ada: kesengsaraan, pencobaan, pergumulan, tersendiri dan ditolak, diejek, dan akhirnya dipaku di atas kayu salib. Tidak ada orang yang lebih susah daripada Kristus, tidak ada orang yang lebih miskin dari Kristus, tidak ada orang yang lebih menanggung berat daripada Yesus, tidak ada orang yang lebih tersendiri dibanding Yesus.

Mengapa? Mengapa Anak Allah yang memunyai kemuliaan dan kehormatan demikian besar di Surga, harus turun untuk mencicipi, merasakan, mengalami, melewati semacam kehidupan yang begitu menderita? Begitu banyak sengsara? Jawabannya adalah karena kasih yang mendorong Dia turun dari surga ke dalam dunia. There is no greater love than the greatest love of Jesus Christ, came down from heaven to bear your sin, and hung on the cross to replace you and me. Waktu Yesus lahir ke dalam dunia, mari kita membayangkan apa yang menjadi persiapan hati Dia untuk turun ke dalam dunia.

Pertama, Yesus dilahirkan dengan persiapan hati untuk dibatasi. Kalimat ini begitu mudah dimengerti, begitu mudah dibatasi, tetapi kalau ada orang yang memiliki ketidakterbatasan masuk ke dalam keterbatasan, maka baru ia mengetahui apa artinya "dibatasi". Saya mengambil contoh, jikalau engkau setiap bulan boleh memakai 50 juta untuk kehidupanmu, tapi mulai bulan depan engkau hanya boleh memakai 50 ribu, engkau akan mengerti apa maksud kata "dibatasi" di atas. Bagi orang yang tadinya miskin lalu bebas boleh memakai uang dengan semena- mena, itu merupakan hal yang menyenangkan. Bagi orang yang dulunya terbatas, sekarang mendapatkan kebebasan yang besar, itu menyenangkan. Tetapi Tuhan Yesus tidak demikian.

Orang miskin menjadi kaya, itu enak. Tetapi tidak ada orang yang bisa mengerti bagaimana susahnya Yesus Kristus, karena dari surga yang tidak terbatas Ia menjadi seorang bayi di dalam palungan. Dari Allah yang mencipta menjadi seseorang di dalam dunia ciptaan yang hanya berpuluh kilo berat tubuh-Nya, hanya sekian liter darah di dalam tubuh-Nya dan berjalan di Galilea. Terbatas, terbatas, terbatas oleh apa? Terbatas oleh natural law, terbatas oleh physical law, terbatas oleh material law. Yesus dibatasi dalam hukum alam, hukum fisika, hukum tubuh, hukum materi. Yesus berada di dalam dunia dan hidup dalam keterbatasan. Dia berbeda dengan engkau. Memang engkau manusia dan saya manusia, tetapi Dia adalah Allah, Allah yang turun ke dalam dunia, Allah yang rela dibatasi. Inilah poin yang pertama dari "lahir untuk menderita".

Kedua, ketika Yesus turun ke dalam dunia, Dia siap untuk diikat dan dilimitasi oleh segala hukum Taurat. Kita suka kebebasan. Kalau mengemudi mobil, kita mengharapkan setiap kali sampai di persimpangan jalan, lampu berwarna hijau dan bukan merah. Jika kita mengendarai mobil begitu cepat, tetapi sampai di persimpangan jalan lampunya merah, saya sedikit jengkel. Saya akan mengharapkan lampu cepat-cepat berubah kuning, lalu hijau dan saya langsung akan tancap gas lagi. Yesus bukan saja dibatasi secara hukum alam, dibatasi hukum fisika, tetapi sekarang dibatasi dalam segala hukum Taurat.

Yesus harus berada di bawah pengasuhan Taurat 100%. Alkitab mengatakan, "Mengapakah Yesus dibaptiskan oleh seorang manusia yang namanya Yohanes Pembaptis?" Karena Dia harus menjalankan segala syariat Taurat. Alkitab mengatakan, "Yesus harus menunggu sampai umur 30 tahun, baru keluar menjadi Mesias." Mengapa demikian? Karena menurut Taurat, imam tidak boleh dilantik sebelum umur 30 tahun. Mengapa umur 12 tahun harus berjalan kaki berhari-hari dari Nazaret menuju Yerusalem? Karena Taurat menuntut anak berumur 12 untuk pergi ke Bait Allah dan ditahbiskan menjadi Bar-Mitzvah. Mengapakah Yesus Kristus harus dipaku diatas kayu salib? Karena Dia menanggung dosa engkau dan saya. Menurut Taurat, yang berdosa harus mati. Inilah poin kedua.

Yesus dilahirkan melalui seorang wanita, dilahirkan di bawah penguasaan Taurat. Dalam Matius 5 Yesus mengatakan, `Jangan kira Anak Manusia datang untuk meniadakan Hukum Taurat, bukanlah demikian. Aku datang justru untuk menggenapkan Taurat` Dan Dia harus taat - setiap titik, setiap nada, setiap huruf, setiap garis dan apa yang dicatat di dalam Taurat. Orang-orang Farisi telah memperkembangkan pengertian Taurat dengan teologi orang PL, dimana makin lama makin rumit, makin lama makin complicated. Akhirnya menjadi ribuan topik, ribuan syariat Taurat dan Yesus tidak melanggar satu pun di antara segala perintah- perintah itu. Di dalam sejarah, dalam seluruh dunia, ada satu orang yang pernah menggenapi seluruh Taurat. Bukan orang Yahudi, bukan rabi, bukan orang Farisi, bukan Musa, justru hanya satu orang, yaitu Yesus Kristus. Berapa banyak pemimpin-pemimpin agama yang munafik? Berapa banyak dosa yang disimpan di belakang jubah agama? Berapa banyak pemuka agama yang berbicara suci, tetapi hidupnya najis?

Dalam dunia begitu banyak orang mengetahui Taurat, agama, tetapi justru negara yang paling beragama adalah negara yang paling korupsi. Berapa banyak dosa disimpan di belakang jubah agama? Berapa banyak agama dipakai menjadi suatu kedok atau topeng yang menutup segala dosa? Ketika Yesus Kristus berada di dalam dunia, maka kalimat-kalimat yang paling sengit, perkataan-perkataan yang paling tajam, kritik- kritik yang paling ganas, paling kuat dari Dia dituduhkan kepada pemimpin-pemimpin agama; Celakalah engkau, hai ahli Taurat! Celakalah engkau, hai orang Farisi! Kau pura-pura! Yang kau katakan dan kau jalankan itu berlainan. Tuhan Allah melihat ke dalam sedalam-dalamnya hati sanubari manusia. Dia mengetahui bagaimana hidup kita. Apakah kita setiap minggu datang ke gereja dengan pakaian yang begitu bagus, dengan perkataan yang begitu indah, dengan nyanyian yang begitu merdu, tetapi jiwa kita lebih jahat dan ateis, komunisme dan mereka yang melawan Tuhan? BERTOBATLAH! Supaya kita mendapatkan satu kali lagi perdamaian dengan Tuhan Allah.

Di seluruh kitab Ibrani kalimat yang penting antara lain adalah kesejatian. Sungguh sejati, sungguh benar, menjadi tuntutan tertinggi dari orang-orang Yahudi. Tetapi justru kalimat itulah yang paling banyak dikritik oleh Yesus Kristus: engkau bukan sunat, engkau pura- pura, engkau munafik, engkau palsu adanya. Yesus datang ke dalam dunia, menjalankan hukum Taurat, dan satu titik, satu nada pun tidak dilanggar. Kadang-kadang saya tidak bisa membayangkan jikalau Yesus di dalam dunia selama 33 1/2 tahun, pernah 1 menit atau 1 detik berdosa. Bagaimana jika itu terjadi? Ini menyangkut isu teologis yang penting. Mungkinkah Yesus berbuat dosa di dunia? Selama di dunia 33 1/2 tahun, Dia mungkin berbuat dosa atau tidak? Jawabannya adalah Yes & No!

Jikalau kita mengatakan bahwa Yesus tidak mungkin berbuat dosa, Dia bermain sandiwara, bukan? Dia datang hanya berpura-pura menjadi manusia, padahal Dia tidak mungkin berbuat dosa. Berarti pasti Dia menang, bukan? Kalau demikian, semua pencobaan-pencobaan yang datang kepada Yesus Kristus tidak mempunyai arti apapun. Maka saya berkata, Yesus pasti punya kemungkinan berbuat dosa. Kalau tidak demikian, segala pencobaan yang diijinkan kepada Dia merupakan semacam permainan saja, sandiwara dari Tuhan Allah saja. Tetapi kalau ini dimutlakkan, menjadi bahaya besar. Alkitab mengatakan Yesus tidak berbuat dosa. Alkitab tidak mengatakan Yesus tidak mungkin tidak berbuat dosa. Alkitab hanya mengatakan Yesus tidak berbuat dosa, maka jawaban Yes & No harus dimengerti sebagai berikut: Ontnologically: No!, Logically: Yes! Secara logika, Yesus mungkin berbuat dosa. Secara Ontologikal (secara being), Yesus tidak pernah berbuat dosa. Maka itu hanya menjadi suatu perbincangan teologis yang tidak pernah ada tunjangan dari fakta sejarah. Yesus tidak berdosa, kenapa? Karena Dia sudah menggenapi segala tuntutan Taurat. 100% tuntutan Taurat dijalankan oleh Dia, inilah poin kedua.

Ketiga, Yesus Kristus bersiap turun ke dalam dunia, bersiap untuk dipermalukan dan dihina di dalam dunia. Dalam Lukas dikatakan, "Tidak ada waktu bagi-Nya untuk makan." Kadang-kadang begitu sibuk sampai tidak ada waktu untuk makan, tidak ada tempat untuk berhenti. Pada waktu melayani, sekian banyak orang sakit datang kepada Dia, dan Dia terus melayani. Bukan saja demikian, setelah melayani apa yang menjadi imbalan-Nya? Imbalan-Nya adalah penghinaan, ejekan, olokan, umpatan, fitnahan dari orang yang melawan Dia.

Memang menjadi manusia tidak mudah. Engkau menjadi orang jahat ada banyak pendukungnya, menjadi orang baik banyak musuhnya. Enak yang mana? Menjadi orang baik banyak musuh, tapi menjadi orang jahat ada pendukung. Kalau begini, baik atau jahat sama saja, pokoknya nasib. Kalau engkau berbuat jahat masih banyak pendukung, jahatnya masih sukses. Kalau engkau begitu baik tapi masih banyak musuh, baikmu itu tetap gagal. Maka di dalam dunia ini sudah banyak orang yang hidup beyond good & evil. Tidak lagi mempunyai pikiran "harus berbuat baik atau jahat". Karena hal itu menjadi tidak praktis, tidak harus dipertahankan. Manusia hanya mencari untung dan rugi, tidak mementingkan mencari kebenaran atau tidak. Pemuda pemudi dalam mencari kawan dan sahabat, temuilah mereka dan hargai mereka yang mementingkan baik-jahat lebih daripada mementingkan untung-rugi. Mereka akan menjadi kawan yang sangat berguna. Jikalau engkau hanya berkawan dengan mereka yang mempunyai profit minded only, hanya memperhatikan keuntungan, di dalam keadaan rugi, mereka akan membuang engkau.

Yesus datang ke dalam dunia justru pada waktu paling susah, paling sengsara. Waktu ada keuntungan Dia mundur ke belakang, waktu ada kerugian Dia maju ke depan. Orang seperti ini terlalu sedikit, bukan? Dari mana kita melihat ini? Alkitab mengatakan pada waktu sudah mengenyangkan 5000 orang dengan roti, mereka mengatakan, "Kalau demikian, kita tidak usah lagi memilih raja yang mana, kita tidak perlu lagi memilih presiden yang mana. Ini saja, karena Dia bisa mengenyangkan kita, kalau Dia menjadi presiden, selesai. Sandang, pangan tidak menjadi persoalan lagi." Kalau Yesus menjadi presiden, semua kemiskinan akan dibasmi. Waktu Yesus memunyai kesempatan politik menjadi tempat yang nomor satu, tempat yang paling tinggi, Alkitab mengatakan, "Dia mengundurkan diri, naik ke bukit dan sepanjang malam berdoa kepada Allah." Adakah politikus seperti ini? Adakah pemimpin masyarakat seperti ini? Terlalu sedikit.

Yesus telah memberikan pelajaran kepada kita dan menjadi contoh bagi kita. Waktu ada keuntungan, Ia tidak merebut, waktu ada kesulitan, Dia tampil ke depan. Satu kalimat yang sangat menggerakkan hati saya, yaitu pada waktu di Getsemani Yudas datang dengan musuh-musuh karena uang. Yudas menjual Gurunya. Para musuh, karena iri dan benci, ingin membunuh Yesus Kristus. Pada waktu menangkap Yesus Kristus di Getsemani, Dia mengatakan satu kalimat: "Jika engkau menangkap Aku, biarlah orang-orang-Ku ini pergi." Berarti Dia tidak mau bawahan-Nya dirugikan karena Dia. Orang seperti ini sangat sulit ditemukan. Biasanya seorang yang mempunyai bawahan, bawahan itu boleh mati untuk saya, tetapi saya tidak akan mati untuknya.

Alkitab mengajarkan kepada kita, barangsiapa menjadi pemimpin yang mengorbankan rakyat untuk keuntungan diri, pastilah didongkel habis. Barangsiapa rela berjuang sampai mati untuk rakyat, pasti dijadikan pahlawan. Hanya ada dua macam pemimpin. Yesus pemimpin seperti apa? Yesus pemimpin yang pada waktu hendak ditangkap, diadili, dan dipaku di atas kayu salib, mengatakan: "Kalau engkau mau menangkap Saya, biarkanlah bawahan Saya pergi, lepaskanlah mereka." Pemimpin seperti ini menggerakkan hati manusia selama 2000 tahun. Tidak ada orang lain yang memunyai pengikut lebih banyak seperti Yesus Kristus, yang rela mati bagi kita. Yesus Kristus adalah pemimpin yang menyerahkan diri bagi orang lain, bukan pemimpin yang menyuruh orang lain mati bagi Dia. Inilah butir ketiga.

Keempat, ketika Yesus Kristus turun ke dalam dunia, Ia bersiap untuk menjadi budak yang taat - the Obedient Slave. Dia datang ke dalam dunia menjadi budak. Mengapa? Karena Dia datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani. Yesus Kristus berkata, "Bukankah engkau memanggil Aku Rabbi? Bukankah engkau memanggil Aku Tuhan? Tetapi di tengah-tengah engkau, Aku seperti budak, Aku melayani." Dia betul- betul menyatakan hidup, fakta realita yang tidak bisa disangkal oleh siapapun. Sehari sebelum naik ke atas kayu salib, Dia masih menjongkokkan tubuh, masih membasahkan tangan, dan mencuci kaki murid- murid-Nya. Filipi 2 mengatakan, "Dia taat sampai mati - obey to death." Dia taat sampai mati - lahir untuk taat - taat untuk mati. Inilah Yesus Kristus, inilah inkarnasi. Inilah hari Natal. Inilah yang disebut inkarnasi.

Pada waktu Yesus Kristus dilahirkan dalam dunia, malaikat berkata: "Namai Dia Immanuel." Imanu-el. El adalah Elohim, El adalah Allah, El adalah Tuhan Allah, dan Imanu berarti beserta - Tuhan beserta dengan kita. Kehadiran Kristus adalah kehadiran Allah. Kehadiran Kristus adalah kehadiran surga. Kehadiran Kristus adalah kehadiran semangat inkarnasi. Kehadiran Kristus adalah kehadiran pengorbanan. Kehadiran Kristus adalah kehadiran teladan, contoh, rela menyerahkan diri. Tuhan di surga akan melihat siapa yang seperti Anak Sulung-Nya. Anak-anak Allah, belajarlah dari Kakakmu yang sulung. Siapakah Anak Sulung? Siapakah Anak Sulung yang lebih daripada kita sebagai anak-anak Allah? Dia adalah Yesus Kristus. Sebagaimana anak sulung taat mutlak 100% kepada Allah, Tuhan mengatakan, "Alangkah bersukacitanya jikalau menemukan di dalam gereja ada orang Kristen yang taat kepada Tuhan."

Jangan kira Tuhan memerlukan uang kita, persembahan kita, sepertinya Dia pengemis yang paling besar. Segala sesuatu yang kau berikan kepada Tuhan adalah dari Tuhan Allah dan apa yang kau persembahkan tidak pernah satu sen pun dikirim ke surga. Itu hanya dipakai untuk sesamamu di dunia, di dalam berbakti, di dalam menginjili, di dalam diakonia, di dalam kesulitan dan di dalam segala pekerjaan yang membawa manusia kembali kepada kebenaran. Tuhan tidak memerlukan uang persembahanmu dan persembahanku untuk menyambung hidup-Nya. Tidak! Lalu mengapa Tuhan memberikan kepada kita kesempatan untuk mempersembahkan sesuatu? Itu untuk menguji sejauh mana ketaatanmu kepada-Nya. Itu adalah kesempatan, dimana kita boleh belajar seperti Yesus Kristus, menjadi anak Allah yang taat.

Dalam Kitab Samuel dikatakan, ketaatan lebih indah dari persembahan. Kau mempersembahkan segala sesuatu lalu memberontak, lalu melawan Tuhan, Tuhan akan menanyakan kepadamu, "Apakah engkau mengira Aku memerlukan uangmu? Yang Aku tuntut daripadamu adalah hidup taat. Jalankan kehendak-Ku, sesudah itu baru memberikan persembahan kepada- Ku." Puji Tuhan, Yesus menjadi contoh ketaatan!

Itu sebabnya Ibrani 5:7-8 mengatakan, "Meskipun Dia adalah anak, Dia telah memelajari ketaatan melalui penderitaan supaya menjadi sempurna dan akhirnya boleh menjadi sumber keselamatan bagi segala bangsa yang taat kepada Dia." Our obedience in Jesus Christ is our obedience to the Lord, through Jesus" obedience to His Father - Ketaatan kita kepada Yesus Kristus adalah ketaatan kita kepada Allah Bapa melalui ketaatan Kristus yang menjadi contoh. Dia adalah sumber dan dasar ketaatan. Dia adalah pangkalan dan fondasi ketaatan. Dia adalah segala ketaatan kita terhadap Dia. Ketaatan kita hanya diakui dan diterima oleh Allah Bapa, melalui ketaatan Anak-Nya yang tunggal. Yesus Kristus sebagai Anak Sulung yang membawa kita untuk menerima hak menjadi anak karena ketaatan kepada Dia. Inilah butir yang keempat.

Butir kelima, Yesus dilahirkan dengan mempersiapkan diri untuk dibuang, untuk diejek, ditolak, untuk tidak diterima dengan baik, untuk dilupakan dan untuk dilawan oleh orang. Sedikit bukan, orang melahirkan anak dan membiarkan anaknya boleh diejek, ditolak, difitnah, diumpat, dikritik dan dilawan oleh banyak orang seperti Yesus Kristus? Pada waktu Yesus masih kecil, kira-kira berumur 11 tahun, terjadi satu hal di kota asal-Nya, yaitu Nazaret. Kota Nazaret, karena melawan Kaisar Roma, mengakibatkan lebih dari 100 orang digantung di kayu salib. Di pinggir jalan sepanjang Nazaret, orang- orang itu ditancapkan seperti tiang lampu, satu orang demi satu disalibkan. Bayangkan bagaimana Yesus berumur 11 tahun, masih kecil, berjalan-jalan dengan kawan-kawan-Nya. Di tengah-tengah jalan Dia melihat banyak kayu salib yang dipancangkan di situ. Dia menemukan arti itulah orang yang dipaku di atas kayu salib. Untuk pertama kalinya suatu fakta yang begitu riil, begitu kejam, begitu mengerikan, masuk ke dalam impression Yesus Kristus sebagai kanak-kanak. Dan Dia berkata, "Memang Aku datang untuk menjalankan kehendak Tuhan Allah."

Di SAAT (Seminari Alkitab Asia Tenggara), ada sebuah ukiran yang melukiskan Yesus sebelum disalib, dua perampok sudah berada di atas, dan Yesus belum dipaku. Dia sedang berdiri, salib sudah ditaruh di tempat tersebut dan orang yang membawa palu sudah berada di dekat situ. Detik terakhir Yesus menengadah ke atas langit dan ada cahaya yang datang dari langit kepada Dia. Dia membuka mulut-Nya seolah-olah berkata, Ya Bapa, Aku datang untuk menjalankan kehendak-Mu." Lukisan itu sangat mempengaruhi pelayanan saya.

Mudahkah menjalankan kehendak Tuhan? Tidak mudah! Jikalau engkau mau menjalankan kehendak setan, itu mudah. Jika engkau mau mentaati Tuhan, tidak mudah. Engkau harus bersiap. Bersiap untuk apa? Untuk diejek orang, dibuang orang, dihina orang, difitnah, diumpat orang.

Pada waktu seseorang dalam kongres internasional mengatakan, "Do you know who is the most criticized Christian in the world? Siapakah yang paling banyak dikritik di seluruh dunia?" Saya katakan, "I don`t know." Jawabannya adalah Billy Graham. Dia yang melayani Tuhan begitu besar, tapi dikritik, dimaki, dihina, diejek sana-sini. Saya bayangkan: mungkin kalau orang mempunyai banyak kawan, sekaligus mempunyai banyak lawan. Tetapi pernahkah Billy Graham diejek seperti Yesus Kristus? Tidak!

Yesus dipukul, dihina, dipasang mahkota duri! Waktu masih muda, Dia diejek, Ini anak haram. Mama-Nya tidak malu, tidak menikah tapi sudah bersetubuh sampai melahirkan-Nya." Kalimat-kalimat yang menusuk hati- Nya sejak kecil, Dia tahu semuanya. Padahal itu adalah mujizat terbesar dalam dunia genetika, yaitu Maria, anak dara yang tidak menikah, dinaungi oleh Roh Kudus melahirkan Firman ke dalam dunia. Semua tusukan perkataan, hinaan, fitnahan, ejekan diterima-Nya. Yesus, seumur hidup, selama 33 1/2 tahun dan detik-detik di kayu salib masih mendengar mereka berkata, "Turun! Turun dari salib! Jikalau Allah adalah Bapa-Mu, Dia akan menyelamatkan Engkau. Hai Tabib, Engkau bisa menyembuhkan orang lain, tapi tidak bisa menyembuhkan diri-Mu sendiri? Turun! Jika Kau turun, aku percaya kepada-Mu!" Yesus turun atau tidak? Tidak! Mengapa tidak? Karena Dia tahu, kalau Dia turun, hari ini engkau dan saya hanya menunggu masuk neraka. Dia tidak boleh turun, Dia harus menjalankan kepahitan itu. Menerima penderitaan, kesengsaraan itu sampai tuntas. Dia harus menghabisi setiap tetes kepahitan dari kemarahan Tuhan yang dijatuhkan kepada orang berdosa. Padahal Dia yang tidak berdosa telah dijadikan dosa. Karena engkau dan saya, Dia tidak turun. Yesus menerimanya dan karena ini Dia dilahirkan untuk menderita. Ini adalah butir yang kelima.

Butir keenam, Yesus dilahirkan untuk diadili secara tidak adil. Waktu Yesus berada di dalam dunia, Dia berada dalam posisi orang berdosa. Padahal Dia tidak berdosa. Kalau kita masuk ke dalam kamar Intensive Care Unit (ICU), biasanya kita disuruh memakai pakaian rumah sakit, setelah itu baru masuk. Waktu saya masuk ruangan ICU, mendoakan orang sakit, dan memakai pakaian itu saya merasa tidak enak sekali. Saya rasa tidak sakit, dan ini bukan bajuku. Demikian juga kalau kita masuk ke dalam penjara, disuruh membuka jas dan memakai baju penjara baru boleh berkhotbah. Waktu saya memakai baju penjara, saya masuk dan semua orang melihat saya. Stephen Tong masuk penjara. Saya katakan, "Saya tidak masuk penjara yah, ini cuma mau berkhotbah, maka disuruh memakainya, nanti dicopot lagi." Itulah perasaan Yesus Kristus. Waktu Yesus turun ke dalam dunia bersalut dengan daging. Dia bersalutkan daging dari orang berdosa. Padahal Dia tidak berdosa. Ini tidak adilnya. Yang tidak berdosa bersalut dengan daging, berpeta teladan orang berdosa. Ini dicatat dalam Roma 8:3.

Dalam Filipi 2 ada istilah "Peta Teladan Budak", juga ada istilah "Peta Teladan Allah", dan di dalam Roma 8:3 "Peta Teladan Berdosa". Yesus Kristus adalah peta teladan Allah yang asli, dimana kita semua dicopy dari Dia, sehingga kita menurut Peta Teladan Allah. Tetapi yang asli telah datang ke dalam dunia memakai peta teladan budak dan peta teladan dosa. Sewaktu saya membaca Roma 8:3, Filipi 2:5-7, saya ingin menangis, karena Dia yang tidak berdosa harus berpeta teladan seperti itu mengganti engkau dan saya, supaya satu hari nanti kita boleh melepaskan peta teladan orang berdosa dan peta teladan budak, lalu boleh mendapatkan kebebasan, kemerdekaan peta teladan Allah. Inilah butir keenam. Dia diadili.

Selama 24 jam, Dia diadili 6 kali oleh 4 macam manusia. Yang pertama, Herodes, mewakili politik yang tidak beres. Kedua, Pilatus, yang mewakili korupsi antara hukum dan politik. Ketiga, diadili oleh orang Yahudi yang mewakili massa yang buta. Keempat, Dia diadili oleh imam besar yang mewakili agama yang munafik. Yesus, di dalam 24 jam itu, sepanjang malam setelah keluar dari tempat perjamuan suci menuju Getsemani, setelah berdoa 3 kali, Dia meneteskan keringat seperti darah, "O, Bapa, singkirkan cawan ini daripada-Ku." Sesudah itu Ia mengatakan,"Kehendak-Mu yang jadi, bukan kehendak-Ku." Lalu Yesus dibawa, sepanjang macam 6 kali diadili dan Dia tidak mengeluarkan satu kalimat pun membela diri. Satu kalimat pun tidak keluar dari mulut Yesus untuk membela diri. Dia diam, menyerahkan diri di hadapan Allah yang Maha Adil. Biar diejek, dipukul, ditolak dihakimi, dihina, namun Dia tinggal diam.

Sampai pada kesempatan-Nya, Dia baru berbicara. "Apakah Kau Anak Allah?" Dia menjawab, "Ya." "Apakah Kau raja orang Yahudi?" "Ya." Yesus tidak boleh tidak mengatakan "Ya" pada saat-saat itu. Jikalau Yesus menyangkal, berarti seluruh ajaran-Nya selama 3 tahun itu adalah omong kosong. Yesus, pada saat paling krisis, harus mempertahankan kebenaran yang tidak tergoncangkan. Memang Saya Anak Allah. Memang Saya Kristus. Memang Saya dilahirkan sebagai Raja. Dia menjawab pemimpin-pemimpin agama, pemimpin-pemimpin politik, dengan kalimat yang tegas. Dan hal itulah yang mengakibatkan Dia harus mati, tapi Dia sudah bersedia karena memang Dia dilahirkan untuk diadili.

Terakhir, Yesus dilahirkan untuk dikorbankan di atas kayu salib. Dilahirkan untuk dipaku di atas Golgota. Dilahirkan untuk mati. Kita semua yang pernah menjadi ayah dan ibu, mengetahui bagaimana bersukacita mendapatkan anak, bukan? Pada waktu anak itu lahir, apa perasaanmu? Oh, semua orang yang pertama kali menjadi ayah mempunyai perasaan, "Saya menjadi papa, loh!" Hati menjadi sangat senang. Siapa yang pada saat memperoleh anak mengatakan, "Anak kalau sudah dilahirkan, besok akan mati." Di hari pertama tentunya tidak ada yang berbicara seperti ini, bukan? Hanya ada satu orang yang dilahirkan pasti mati dan matinya bukan karena dosa sendiri. Mati karena orang lain. Siapakah? Yesus Kristus.

Mari kita merenungkan kembali malam pertama Natal. Perasaan-perasaan di surga, ada 2 macam. Satu macam perasaan adalah perasaan Sang Bapa dan Roh Kudus, Oknum pertama dan ketiga Allah Tritunggal. Mereka melihat oknum kedua turun ke dalam dunia dan dengan segala keadaan yang serius menunggu bagaimana manusia menyambut Yesus Kristus. Dia tidak diterima di hotel yang indah, Dia tidak diterima di dalam istana, tetapi Dia diterima di kandang binatang. Pada waktu hari Natal, kita melihat kandang binatang di sini, coba lihat, bagus... bersih... Baunya juga enak. Tapi waktu Yesus lahir bukan di tempat seperti ini! Ini cuma modelnya. Ada orang membuat baju gembala bagus sekali. Saya kira itu tidak benar. Mesti membuat baju gembala seperti pengemis karena gembala-gembala waktu itu memang miskin. Sekarang kita memperindah semuanya, pohon Natal indah, semua indah. Ini semua omong kosong!

Ketika lahir di dunia, Yesus betul-betul berada di tempat binatang, bau, kotor. Kalau pada hari pertama Yesus lahir, engkau berada di kandang, pasti engkau lari. Apalagi yang suka pakai parfum. Engkau menjadi orang "Kristen Parfum", mau pikul salib? Saya tidak percaya engkau bisa memikul salib. Omong-kosong. Itulah poin terakhir, Dia dilahirkan untuk mati. YESUS KRISTUS DILAHIRKAN UNTUK MENDERITA. (H D)

Sumber: 

Diambil dari:

Nama buletin : Momentum, Edisi 45 -- Triwulan IV, 2000
Penulis : HD
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta
Halaman : 3 -- 13

Aksi Sosial Kristen dan Kepedulian Kepada Orang Miskin

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Menjalani abad 21 ini, perkembangan karya manusia begitu cepat, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan. Hal ini memengaruhi budaya dan pola pikir manusia pada umumnya, tak terkecuali orang-orang Kristen. Kemajuan jaman seringkali justru semakin mempermudah orang Kristen hidup dan memikirkan hanya untuk dirinya sendiri, sehingga rasa kemanusiaan semakin terkikis oleh nafsu duniawi yang berpusat pada diri.

Pada edisi e-Reformed 134 ini, artikel yang disuguhkan ingin menggedor sensitivitas kita sebagai bagian dari Tubuh Kristus, untuk berani menyikapi tindakan orang Kristen yang mulai terprovokasi untuk melawan dunia (kemiskinan, kelaparan, terpinggirkan), tetapi tidak mengubah dunia dengan kasih Kristus. Dr. Joseph Tong, penulis artikel ini, mendorong kita untuk merenungkan 2 hal yang sangat penting dalam menjalankan tindakan sosial Kristen: kemampuan memberi dan kuasa memberi. Silakan merenungkan pembahasan beliau karena hal ini akan menolong mengubah pola pikir kita dalam hal memberi agar semakin serupa dengan ajaran Kristus. Selamat menerungkan.

Staf Redaksi e-Reformed,
Yonathan Sigit
< http://reformed.sabda.org >

Penulis: 
Dr. Joseph Tong
Edisi: 
134/november 2012
Tanggal: 
27 november 2012
Isi: 

Aksi Sosial Kristen dan Kepedulian Kepada Orang Miskin

Menjadi orang Kristen di dunia sekuler tidak mudah, terutama dalam abad ke-21 ini. Kesadaran sosial telah membawa pada realitas yang belum terlihat sekarang, yaitu gejala dari sisi tergelap manusia. Hal- hal yang belum pernah kita dengar, bahkan belum pernah terbayangkan di masa lalu, telah menjadi hal yang biasa pada tahun-tahun terakhir ini. Mereka menuntut hak-hak legal dengan berani di pengadilan publik, lembaga-lembaga hukum dan legislatif, serta melanjutkan tuntutan akan pengakuan dalam segala bidang kehidupan, termasuk agama dan moralitas. Cukup aneh. Hal-hal ini bukan saja merembes dan mengubah moralitas Dunia Barat, tetapi juga memenangkan tempat dalam banyak negara yang baru terbentuk dari budaya dan tradisi yang paling ortodoks. Dapat dikatakan, dunia ini nampaknya akan dijungkirbalikkan secara moral. Inilah pasang-surut zaman. Nampaknya, suatu gelombang yang tidak tertahankan sedang memenangkan lahan komunitas Kristen. Mendapati diri kita sendiri dalam suatu situasi semacam ini, roh kita tergugah, seperti ketika Paulus ada di tengah-tengah para pemuja berhala Athena.

Orang Kristen dan Perhatian Sosialnya

Dari waktu ke waktu kita melihat ada orang-orang Kristen yang akan berdiri tegak bagi Yesus, sebagaimana yang dihimbaukan oleh himne terkait, berperang dalam "pertempuran yang baik". Untuk membalikkan situasi dengan mengambil tindakan sosial, mereka tidak raga-ragu membawa kasus itu ke tempat terbuka, ke jalan, untuk memprotes tempat perdagangan dan mengawali keributan. Mereka siap mengambil risiko ditahan demi mengingatkan kesadaran sosial dan hati nurani publik untuk membangkitkan perubahan sosial. Suatu kasus klasik pemberontakan sipil. Beberapa bahkan mengambil suatu sikap militan, tanpa maksud mengabaikan provokasi apa pun, bahkan yang terkecil sekalipun. Sayangnya, semangat untuk melawan balik telah menjadi suatu tanggapan refleks bagi mereka, bahkan kadang kala tercampur dengan sikap membenci dan kekerasan.

Dalam konteks diskusi isu relasi antara gereja dan masyarakat, kita semua sepakat bahwa gereja akan selalu berfungsi sebagai "hati nurani sosial" dan menjadi "referensi sosial", serta pada waktunya akan mengambil peran "Agen perubahan sosial". Memenuhi panggilan dan mandat semacam itu, apa yang seharusnya menjadi sikap gereja dan apa yang akan menjadi tindakan Kristen? Bagi beberapa orang Kristen, apa pun yang terjadi di dalam dunia yang tidak kristiani, di mata mereka selalu membangkitkan kemurkaan. Dengan menanggapi secara kasar rangsangan provokatif itu, orang-orang Kristen kelihatannya selalu siap bergerak untuk mengambil tindakan. Murka Allah adalah model mereka. Sayangnya dalam analisis finalnya, kita selalu melihat bahwa tindakan-tindakan mereka hanyalah ledakan dari roh batiniah yang tidak tenang, yang pada akhirnya menghabiskan energi untuk menanggung kesaksian hidup bagi Injil yang penuh anugerah dan Yesus Kristus. Sayangnya, walaupun mereka mungkin berhasil dalam tindakan, mereka harus membayar harganya, yaitu menjadi hangus sama sekali.

Provokasi atau Tantangan?

Apakah orang-orang Kristen itu mudah terprovokasi kapan saja? Tentu saja tidak. Secara etimologi, terprovokasi adalah tergugah ke arah kemarahan dan terbangkitkan secara emosional untuk melakukan tindakan spontan. Ketika Kristus menjanjikan damai sejahtera-Nya bagi para murid-Nya, Ia memang mengingatkan mereka akan masa kesusahan, perlawanan, dan situasi-situasi antagonistik. Sewaktu mengingatkan mereka akan situasi-situasi demikian, Ia berkata, "Damai-Ku, Kutinggalkan bagimu." Ketika berhadapan dengan hakim-hakim yang tidak adil dan saksi palsu, bahkan pencuri yang disalibkan, Ia dengan tegas menolak penuduhan. Dengan damai Ia menolak kejahatan dan membuktikan diri sendiri kebal terhadap provokasi. Khotbah di bukit yang Ia sampaikan memberikan prinsip-prinsip kehidupan bagi murid-murid-Nya. Mereka harus menjalani kehidupan yang sederhana dan penuh kedamaian. Mereka harus kebal terhadap provokasi, bahkan terhadap provokasi yang paling tidak adil dan jahat.

Contoh praktis yang Ia berikan adalah bahwa mereka harus membiarkan orang lain memiliki baju sekaligus jubah, memberkati orang yang mengutuk mereka, dan bahkan memberikan pipi yang sebelahnya kepada orang yang menampar mereka. Orang-orang Kristen harus memiliki hati yang penuh damai dan membiarkan Tuhan yang memegang kendali. Demikianlah mereka akan membuktikan roh yang tidak dapat diprovokasi dan iman yang tidak berubah-ubah. Mereka diingatkan akan perintah Tuhan: "diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Tuhan." (Mazmur 46:10)

Kalau begitu, apakah kita ini lamban? Tentu saja tidak. Kita juga tidak apatis. Di hadapan kejahatan dan ketidakadilan, terutama dalam konteks tindakan sosial, orang-orang Kristen memiliki sisi lain dari kuasa yang hakiki, kuasa dari maksud Injil, yaitu kuasa penyelamatan Kristus. Kuasa untuk menerima tantangan, bukannya terprovokasi. Kuasa ini bukanlah untuk bertempur melawan dunia, tetapi untuk mengubah dunia dan membaruinya.

Diperhadapkan dengan gejala sosial yang tidak menyenangkan, seperti permasalahan moral, ketidakadilan, dan praktik-praktik yang tidak etis, maka orang-orang Kristen dipanggil untuk mengambil posisi damai dan memproklamasikan firman Tuhan yang hidup. Orang-orang Kristen dipanggil untuk mempertahankan jati diri sebelum mempertahankan hak- hak mereka. Untuk memberi pertanggungjawaban iman dan menerima undang- undang, bukan provokasi-provokasi, untuk menanggapi panggilan realitas demi mengemban kesaksian untuk kebenaran. Motivasi utama di sini adalah untuk bersaksi ketimbang bertindak. Dengan demikian, daripada memilih jalur tanggapan untuk memenangkan pujian dan upah, saya percaya adalah tugas kita untuk menanggapi dengan menerima tantangan sebagai imamat yang rajani, untuk memproklamasikan dekret Ilahi dengan hati yang berdoa. Adalah suatu mandat Kristiani untuk terlibat dalam cabang-cabang pemerintahan eksekutif, legislatif, dan hukum. Bersikap baik, ramah, dan penuh kuasa, akan selalu membuat suatu pembedaan antara provokasi dan tantangan, serta membuktikan bahwa kita bukan anak-anak jalanan, yang cocok dan yang memilih untuk tanggapan refleks, berupa angkara dan perkelahian yang tidak ada gunanya, kecuali untuk provokasi.

Prinsip Kristen Tentang "Memberi"

Dalam pemberian Kristen, dua hal harus selalu tampil sebagai aspek yang sangat penting dari memberi: kemampuan memberi dan kuasa memberi. Supaya seseorang dapat memberi, ia harus memiliki sesuatu untuk diberikan. Apa yang dimilikinya memampukan dia untuk memberi. Tentu saja kalau ia memiliki hati, dorongan, dan niat baik untuk memberi.

Bagi beberapa pengumpul dana profesional, demi memotivasi seseorang untuk memberi dengan murah hati, mereka perlu membangkitkan dorongan. Dalam istilah psikologi, memicu "n-succorant -- need-succorant" (suatu kebutuhan yang kuat atau tak tertahankan untuk menolong orang lain) -- Begitu seseorang telah tergugah simpatinya, ia pasti akan memberi, bahkan memberi melebihi kemampuannya. Seseorang perlu didorong untuk meningkatkan level empatinya dan kesadaran kemanusiaannya, atau dengan meningkatkan level kekhawatirannya, dengan cara menghadapkan seseorang pada kebutuhan orang lain, maka orang tersebut pasti akan membuka hati dan dompetnya pula. Ini prosedur normal dari praktik mengumpulkan dana. Ini adalah suatu praktik yang sama sekali dapat diterima di antara kegiatan para pengumpul dana kemanusiaan.

Nah, sekarang bagaimana dengan pandangan Kristen tentang memberi? Atau untuk lebih konkretnya, atas dasar apa kita meminta orang-orang, terutama umat Tuhan untuk memberi? Adakah sesuatu selain praktik umum para pengumpul dana yang dapat kita gunakan, demi menjaga perbedaan dan mencapai sasaran yang diharapkan? Saya percaya, isu semacam ini menuntut perenungan yang cermat dari diri kita.

Secara alkitabiah, kita memberi oleh karena kita telah lebih dulu menerima. Tuhan sebagai sumber dari segala berkat, pertama-tama telah memberi kita Putra-Nya, dan bersama dengan Dia, Ia telah dengan murah hati memberi kita segala sesuatu (Roma 8:32). Memberi itu adalah Ilahi, tetapi menerima tidak selalu manusiawi. Hanya apabila seseorang dipanggil oleh kemurahan Tuhan, pada iman dalam Kristus, ia tahu apa yang harus diterima, bukan untuk mengambil. Untuk dapat menerima, seseorang harus mengakui keadaannya yang kekurangan dan kebutuhannya. Demikianlah ia mengakui tindakan belas kasihan dari Sang Pemberi. Pada waktu Yohanes memproklamasikan, "Semua orang yang menerima-Nya diberi- Nya `kuasa` supaya menjadi anak-anak Allah," hal ini menyiratkan bahwa seseorang yang menerima, diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Tuhan dalam konteks anugerah. Dengan pemahaman seperti ini, menerima anugerah Tuhan berarti menerima kuasa untuk menjadi apa yang Tuhan inginkan: anak-anak Tuhan.

Dalam konteks ini, kita mengamati lebih dekat interaksi dengan sesama -- terutama mereka yang kurang beruntung dan dilanda kemiskinan -- Saya percaya, kita akan membedakan kuasa memberi dan kemampuan memberi. Sementara, baik kuasa maupun kemampuan memberi adalah aspek- aspek memberi sebagai tanda kemurahan hati manusia terhadap sesamanya; kemampuan memberi banyak tergantung pada sumber yang dimiliki seseorang, daripada kondisinya. Seseorang dapat memberi karena ia memiliki sesuatu untuk diberikan. Ia telah mencapai hal-hal tertentu atau ia memiliki akses kepada sumber-sumber itu, maka ia memberi. Ia tidak dapat memberi, jika ia tidak memunyai apa-apa untuk diberikan. Jika ia miskin, tidak ada yang menyalahkannya karena tidak ada yang mengharapkan sesuatu darinya. Peraturannya adalah bahwa seorang pengemis tidak akan meminta sedekah dari pengemis lainnya.

Orang-orang Kristen memunyai peraturan lain. Mereka memahami aspek yang mendasar dari memberi, yaitu kuasa memberi dalam tindakan memberi. Dalam pemberian Kristen, kita tertarik pada fakta bahwa kita mengambil bagian dalam tindakan Tuhan dalam penyediaan-Nya yang baik. Seperti orang-orang Kristen di Makedonia, di tengah-tengah kemiskinan ekstrem, sukacita mereka yang berlimpah-limpah meluap dengan penuh kemurahan hati (2 Korintus 8:1). Fakta bahwa Tuhanlah yang pertama- tama memberi mereka anugerah adalah alasan yang cukup bagi mereka untuk memberi.

Jadi, di dalam iman kita telah menerima dan di dalam tindakan menerima, kita dijadikan alat oleh Tuhan untuk menjadi anak-anak-Nya di dunia ini. Dalam memberi dan bertindak sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak memberikan apa yang kita miliki, tetapi apa yang telah Tuhan berikan kepada kita sebagai hasil dari apa yang Tuhan perbuat. Kita bertindak demi Dia dalam membagi-bagikan anugerah-Nya dan karunia-karunia-Nya. Untuk tindakan-tindakan semacam itu, kita tidak memerlukan apa-apa, kecuali wewenang Tuhan dan kuasa memberi, supaya penerimanya juga dimampukan oleh anugerah-Nya, sehingga ia akan menjadi seorang pemberi, bukan sekadar penerima.

Inilah pembedaan antara pemberian Kristiani dan pemberian kemanusiaan belaka. Amal sosial telah menjadi dan selalu merupakan relasi dan interaksi antara dan di antara kelembagaan mereka "yang punya" dan mereka "yang tidak punya". Demikianlah para sponsor telah tanpa sengaja atau bahkan adakalanya sengaja, bertanggung jawab atas adanya pembedaan antara strata sosial yang tidak adil, praktik pemisahan, dan diskriminasi. Pihak yang menerima, tanpa sengaja ataupun dengan sengaja dilukai justru dalam tindakan memberi dan menolong. Luka dan rasa sakit, entah ditingkatkan atau diabaikan dari waktu ke waktu. Kita melakukan hal yang baik, tetapi mungkin masih jauh dari melakukan hal yang benar.

Kuasa Memberi

Apabila seseorang memahami kuasa memberi dalam konteks Kristen dan memberi sebagai pelaksanaan kuasa memberi, maka ia dapat melihat bahwa pemberiannya tidak bergantung pada kemampuannya memberi. Dengan memandang melampaui dirinya sendiri, si pemberi akan selalu melihat kepada pihak penerima dan pemberiannya: di sana ada sesamanya yang sama seperti dia, seseorang yang memantulkan citra Tuhan. Oleh anugerah Tuhan dan penyediaan-Nya, maka sesamanya ditempatkan di hadapannya, supaya ia dapat melaksanakan kuasa memberi. Dengan berbuat demikian, boleh jadi mendayakan di dalam dirinya kuasa Tuhan untuk menjadikan sesamanya seorang anak Tuhan. Suatu pribadi yang bermartabat kerajaan dan mulia, daripada seorang pengemis yang dilanda kemiskinan dan patut dikasihani. Dengan kuasa memberi, maka ia akan memberi. Dalam konteks semacam ini, memberi tidak lagi sekadar tindakan kemanusiaan, tetapi suatu mandat Ilahi, yang pada gilirannya akan membuat si penerima melihat Bapa segala terang, yang daripada-Nya berasal segala hadiah yang baik dan sempurna (Yakobus 1:16). Dengan demikian, kita telah melaksanakan anugerah Allah, "kuasa memberi".

Sumber: 

Tulisan "Aksi Sosial Kristen dan Kepedulian Kepada Orang Miskin" pernah dimuat dalam Jurnal Teologi STULOS 3/2, STT Bandung, Desember 2004, Hal. 1-12.

Judul buku :Keunggulan Anugerah Mutlak: Kumpulan Refleksi Teologis Atas Iman Kristen
Judul artikel :Aksi Sosial Kristen dan Kepedulian Kepada Orang Miskin
Penulis :Dr. Joseph Tong
Penerbit :Sekolah Tinggi Teologia Bandung, 2006
Halaman :203 -- 215

Kepedulian Terhadap Ciptaan

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Salah satu kelebihan yang saya lihat dalam teologia Reformed adalah penekanannya yang sangat jelas akan kepemilikan Allah atas dunia dan jagat raya alam ini. Berdasarkan ayat Alkitab, "Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya." (Ulangan 10:14), kita diingatkan bahwa manusia bukan pemilik dunia ini, tetapi Tuhan. Karena itu di dalam teologia Reformed, disamping "mandat penginjilan", "mandat budaya", juga menjadi satu tugas yang tidak boleh diabaikan oleh umat Kristen. Dengan memelihara alam semesta, sebagaimana yang Tuhan kehendaki, maka kita telah mewujudkan salah satu bentuk ibadah yang diperkenan oleh Tuhan.

Nah, artikel e-Reformed yang saya pilihkan bulan ini yang berjudul, "Kepedulian Terhadap Ciptaan", semoga menjadi teguran untuk kita semua, apakah sebagai anak Tuhan kita sudah bertanggung jawab dengan lingkungan dan bumi tempat kita tinggal ini? Silakan direnungkan dan kiranya dapat mengetuk kesadaran kita, sehingga kita mau ambil bagian dalam penyelamatan bumi dan lingkungan sekitar kita dari perusakan yang dilakukan oleh manusia yang tidak bertanggung jawab.

Selamat membaca dan merenungkan!

In Christ, Yulia Oen < http://reformed.sabda.org >

Penulis: 
John R.W. Stott
Edisi: 
133/Oktober 2012
Tanggal: 
30 Oktober 2012
Isi: 

Kepedulian Terhadap Ciptaan

Dalam menunjukkan apa yang (dalam pandangan saya) merupakan beberapa aspek yang terlupakan dari pemuridan yang radikal, kita tidak boleh menyangka bahwa hal-hal ini terbatas pada ranah-ranah personal dan individual. Kita juga harus memerhatikan dalam perspektif yang lebih luas tentang tugas kita kepada Allah dan sesama kita, yang sebagian merupakan bagian dari topik pada bab ini: kepedulian terhadap lingkungan hidup kita.

Alkitab mengatakan kepada kita bahwa dalam penciptaan, Allah mendirikan bagi manusia tiga relasi yang sangat fundamental: pertama relasi terhadap diri-Nya sendiri, sebab Ia menciptakan mereka dalam gambar dan rupa-Nya; kedua relasi satu terhadap yang lain, sebab umat manusia merupakan makhluk yang majemuk sejak mulanya; dan ketiga, relasi terhadap bumi yang diciptakan, beserta dengan segala ciptaan di dalamnya.

Selanjutnya, ketiga relasi ini menyimpang akibat kejatuhan. Adam dan Hawa terpisah dari hadirat Tuhan Allah di taman tersebut, mereka saling menyalahkan satu dengan yang lain untuk apa yang telah terjadi, dan bumi yang baik terkutuk akibat ketidaktaatan mereka.

Ini kemudian menjadi alasan yang kuat mengapa rencana pemulihan Allah tidak hanya meliputi pendamaian kita dengan Allah dan sesama, namun juga pembebasan terhadap ciptaan yang sama-sama sedang merintih. Kita dapat dengan pasti meyakini bahwa satu hari kelak akan hadir surga dan bumi yang baru (2 Petrus 3:13; Wahyu 21:1), sebab ini merupakan bagian yang esensial dari pengharapan kita bagi kesempurnaan masa depan yang sedang menanti kita pada akhir masa. Namun sementara itu, seluruh ciptaan sedang merintih, mengalami sakit bersalin dari ciptaan baru (Roma 8:18-23). Sampai sejauh mana tujuan akhir bumi akan dapat dialami/dinikmati saat ini, masih merupakan bahan yang dapat diperdebatkan. Namun, kita dapat dengan pasti mengatakan bahwa sebagaimana pemahaman kita terhadap tujuan akhir dari tubuh kebangkitan kita, harusnya memengaruhi cara berpikir kita dan cara kita memperlakukan tubuh kita sekarang ini, sehingga pengetahuan kita akan langit dan bumi baru seharusnya memengaruhi dan meningkatkan penghargaan akan bumi melalui cara kita memperlakukannya sekarang.

Jadi, bagaimana seharusnya sikap kita terhadap bumi? Alkitab menunjukkan caranya dengan membuat dua penguatan yang sangat mendasar: "Tuhanlah yang empunya bumi" (Mazmur 24:1), dan "Langit itu langit kepunyaan TUHAN, dan bumi itu telah diberikan-Nya kepada anak-anak manusia" (Mazmur 115:16).

Pada bulan Mei 1999, saya mendapatkan hak istimewa untuk mengambil bagian dalam seminar sehari di Nairobi dengan tema "Kekristenan dan Lingkungan Hidup". Yang menjadi pembicara bersama saya adalah Dr. Calvin De Witt, dari "Au Sable Institute" Michigan dan Peter Harris dari "A Rocha International". Para peserta yang hadir saat itu termasuk para pemimpin Kenya, baik dari kalangan pemerintahan maupun wakil dari gereja-gereja, organisasi-organisasi misi, dan berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM). Pertemuan ini mendapatkan perhatian luas. Ini merupakan bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan hidup bukanlah kepentingan egois yang dikembangkan oleh negara-negara maju, atau pun antusiasme minoritas yang semata-mata milik para pengamat burung atau pecinta bunga, namun secara perlahan-lahan tapi pasti, hal ini menjadi perhatian dari kekristenan arus utama.

Segera sesudah itu, Deklarasi Kaum Injili tentang "Evangelical Declaration on the Care of Creation" (Kepedulian terhadap Lingkungan Hidup) diterbitkan (1999), dan pada tahun berikutnya, sebuah penjelasan yang penting tentang deklarasi ini muncul, disunting oleh R.J. Berry dan berjudul "The Care of Creation" (Kepedulian terhadap Alam Ciptaan). [1]

Pernyataan bahwa "Tuhanlah yang empunya bumi" dan bahwa "bumi itu telah diberikan-Nya kepada anak-anak manusia", merupakan dua hal yang saling melengkapi dan tidaklah saling bertentangan. Sebab bumi merupakan milik Allah, karena memang diciptakan oleh Allah dan merupakan milik kita, karena didelegasikan oleh Allah. Ini tidak berarti bahwa Allah telah menyerahkannya kepada kita, sehingga Ia kehilangan hak atasnya, namun ini berarti bahwa Ia telah memberikan kepada kita tanggung jawab untuk menjaga dan mengembangkan bumi ini demi Dia.

Jika demikian, bagaimana seharusnya kita berelasi dengan bumi ini? Jika kita mengingat bahwa ciptaan dihadirkan oleh Allah dan didelegasikan kepada kita, kita akan menghindarkan diri dari dua posisi ekstrem yang saling bertolak belakang, dan sebaliknya kita akan mengembangkan relasi ketiga dan yang lebih baik dengan alam.

Pertama, kita akan menghindarkan diri dari mengilahkan alam. Inilah kesalahan kaum panteis yang mengindentifikasikan Pencipta dengan ciptaan-Nya, atau dari kepercayaan animisme yang percaya bahwa dunia natural dipenuhi oleh roh-roh, dan dari Zaman Baru yaitu Gerakan "Gaia" (Gerakan ini memercayai bahwa bumi adalah superorganisme yang mampu menyesuaikan diri dan juga memelihara kehidupan yang berjalan di dalamnya) yang menyatakan bahwa sifat pada alam itu mandiri, memiliki mekanisme keteraturan sendiri, dan mampu memperbarui diri sendiri. Namun, semua pandangan yang membingungkan ini menghina Sang Pencipta. Kesadaran umat kristiani bahwa alam merupakan ciptaan bukan Pencipta, merupakan pengantar yang tak terbantahkan bagi seluruh upaya ilmu pengetahuan, dan sangat penting bagi pengembangan sumber daya yang dimiliki bumi saat ini. Kita menghargai alam sebab Allah menjadikannya; kita tidak menyembah alam seolah-olah itu adalah Allah sendiri.

Kedua, kita harus menghindarkan diri dari posisi ekstrem yang sebaliknya, yakni eksploitasi alam. Ini bukanlah tindakan menjilat alam seolah-olah ia adalah Allah, namun ini adalah tindakan yang arogan terhadap alam bahwa seolah-olah kita adalah Allah. Kejadian 1 dengan tidak adil telah dipersalahkan akibat kerusakan lingkungan. Memang benar Allah memerintahkan umat manusia untuk "memerintah atas" bumi dan untuk "menaklukkannya" (Kejadian 1:26-28) dan memang benar bahwa dua kata kerja Ibrani ini adalah kata yang kuat. Namun sangat menggelikan bila membayangkan bahwa Ia yang telah "menciptakan" bumi ini, kemudian menyerahkannya kepada kita untuk "dihancurkan". Tentu tidak, kuasa Allah yang telah diberikan kepada kita seharusnya dilihat sebagai sebuah tanggung jawab pelayanan, bukan sebuah dominasi yang menghancurkan.

Relasi ketiga dan yang tepat antara umat manusia dan alam adalah kerja sama dengan Allah. Tentu saja, kita sendiri adalah bagian dari ciptaan, sama bergantungnya kepada Pencipta sebagaimana semua ciptaan-Nya yang lain. Namun pada saat yang sama, Ia telah dengan sengaja merendahkan dirinya untuk menjadikan sebuah kemitraan bersama Allah -- manusia yang diperlukan. Ia menciptakan bumi ini, namun kemudian memerintahkan kita untuk menaklukkannya. Ia menjadikan sebuah taman, namun kemudian menempatkan Adam di dalamnya "untuk mengusahakan dan memeliharanya" (Kejadian 2:15). Ini sering disebut sebagai mandat budaya. Sebab apa yang telah Allah berikan kepada kita disebut "alam", sedangkan apa yang kita lakukan terhadap alam disebut "budaya". Kita tidak hanya dipanggil untuk melestarikan alam, tapi juga untuk mengembangkan sumber-sumber daya yang ada di dalamnya bagi kebaikan bersama.

Panggilan bekerja sama dengan Allah untuk menggenapi rencana-Nya, dalam mentransformasi seluruh ciptaan untuk kenikmatan dan keuntungan semua merupakan panggilan yang sangat mulia. Dalam hal inilah pekerjaan kita semestinya menjadi sebuah ekspresi dari ibadah kita, sebab kepedulian kita terhadap lingkungan akan mencerminkan kasih kita terhadap Sang Pencipta.

Pandangan yang lain: sangat mungkin terjadi penekanan yang berlebihan terhadap upaya manusia dalam konservasi dan transformasi lingkungan hidup. Dalam eksposisinya yang sangat baik terhadap tiga pasal pertama dari Kitab Kejadian, lewat bukunya "In the Beginning", [2] Henri Blocher menyatakan bahwa puncak dari Kejadian pasal 1 bukanlah penciptaan dari manusia sebagai pekerja, melainkan institusi Sabat bagi umat manusia sebagai penyembah-penyembah Allah. Puncak dari semuanya ini bukanlah kerja keras kita (menaklukkan bumi ini), melainkan tindakan meninggalkan kerja keras kita pada hari Sabat (perhentian). Sebab Sabat menempatkan pentingnya pekerjaan dalam perspektif yang tepat. Sabat melindungi kita dari penghisapan total diri kita ke dalam pekerjaan, seolah-olah hanya itulah arti dan tujuan keberadaan diri kita. Ini tidak benar. Kita sebagai manusia menemukan kemanusiaan kita tidak hanya dari relasi kita dengan bumi ini, yang memang menjadi panggilan kita untuk mentransformasinya, melainkan dalam relasi dengan Allah yang haruslah kita sembah; tidak hanya dalam kaitannya dengan ciptaan, tapi terutama relasi dengan Sang Pencipta. Allah menginginkan agar pekerjaan kita merupakan ekspresi dari penyembahan kita, dan kepedulian kita terhadap ciptaan merupakan cerminan dari kasih kita kepada-Nya. Hanya dengan demikianlah, apa pun yang kita lakukan, dalam kata dan karya, kita sanggup melakukannya bagi kemuliaan Allah (1 Korintus 10:31).

Hal-hal ini dan tema-tema Alkitab yang lain dibukakan, baik lewat "Deklarasi Kaum Injili tentang Kepedulian terhadap Lingkungan Hidup" maupun dalam penjelasannya. Hal-hal ini layak untuk kita pelajari dengan saksama. [3]

Krisis Ekologi

Ini adalah latar belakang pengajaran alkitabiah yang sangat penting, yang kita perlukan untuk menghadapi krisis ekologi yang terjadi saat ini. Hal ini telah ditelaah dalam pelbagai cara, namun setiap analisis yang ada tersebut mengandung empat aspek berikut.

  1. Terjadi percepatan pertumbuhan penduduk dunia.

  2. Berdasarkan perkiraan divisi populasi Perserikatan Bangsa-Bangsa, penghitungan dimulai dari tahun 1804 SM, ketika penduduk dunia mencapai 1 milyar jiwa. [4] Pada permulaan abad ke-20, populasi dunia tersebut telah mencapai angka 6,8 milyar jiwa, dan pada pertengahan abad ini diperkirakan angkanya akan mencapai jumlah yang luar biasa yaitu, 9,5 milyar jiwa.

    Karena agak sulit mengingat angka-angka dalam statistik, maka sebuah "jembatan keledai" sederhana mungkin dapat membantu kita untuk mengingat hal ini:

    Masa lampau -- 1804 SM -- 1 milyar
    Masa kini -- 2000 M -- 6,8 milyar
    Masa depan -- 2050 M -- 9,5 milyar

    Bagaimana mungkin memberi makan sedemikian banyak orang, terutama ketika seperlima dari mereka tidak memiliki kebutuhan pokok untuk bertahan hidup?

  3. Semakin menipisnya sumber daya alam yang dimiliki bumi.

  4. E.F. Shumacher, dalam buku populernya "Small is Beautiful", [5] melukiskan perhatian dunia terhadap perbedaan antara modal dan pendapatan. Sebagai contoh, bahan bakar fosil merupakan modal habis, sekali mereka digunakan, mereka tidak dapat digantikan. Proses mengerikan yang disebut deforestatifikasi dan penggurunan juga merupakan contoh-contoh yang sama dengan apa yang terjadi pada bahan bakar fosil. Contoh-contoh yang lain adalah terjadinya degradasi atau polusi terhadap habitat plankton di laut lepas, dataran hijau di bumi, makhluk hidup, dan habitat makhluk hidup yang sangat bergantung kepada ketersediaan udara dan air bersih.

  5. Masalah pembuangan limbah.

  6. Populasi penduduk yang meningkat turut mendorong peningkatan masalah diakibatkan oleh perlu dipikirkannya cara penanganan pembuangan limbah proses produksi, pengepakan, dan konsumsi yang aman. Rata-rata orang di Inggris membuang sampah yang setara dengan berat badan mereka setiap tiga bulan. Pada tahun 1994, sebuah laporan dari Inggris bertajuk "Sustainable Development: The UK Strategy" merekomendasikan empat cara "hiraki dari manajemen limbah" sebagai upaya mewadahi masalah yang terus meningkat ini.

  7. Perubahan iklim.

  8. Dari semua tantangan global yang dihadapi oleh planet kita, ini adalah tantangan yang paling serius.

    Lapisan atmosfer melindungi kita dari radiasi Ultraviolet, dan jika lapisan ozon rusak, sinar tersebut dapat masuk kemudian menyebabkan kanker kulit dan mengganggu sistem kekebalan kita. Itulah sebabnya ketika tahun 1983, sebuah lubang besar pada lapisan ozon tampak di atas daerah Antartika dan pada negara-negara sekitarnya, hal tersebut membangkitkan peringatan besar dari khalayak umum.

    Beberapa tahun kemudian, lubang yang sama tampak di atas hemisphere bagian Utara. Dari peristiwa itu diketahui bahwa penipisan ozon tersebut diakibatkan oleh kloroflurokarbon (CFC), bahan kimia yang digunakan dalam pendingin ruangan, lemari es, dan propelan. Protokol Montreal menyerukan kepada semua negara untuk mengurangi setengah emisi CFC mulai tahun 1997.

    Perubahan iklim adalah masalah yang berkaitan dengan hal ini. Pemanasan permukaan bumi (hal yang sangat esensial bagi kelangsungan planet kita) diakibatkan oleh kombinasi dari radiasi sinar matahari dan radiasi inframerah yang dipantulkan ke angkasa. Ini disebut "efek rumah kaca." Polusi atmosfir oleh "gas-gas yang menyebabkan efek rumah kaca" (khususnya karbondioksida) mengurangi emisi inframerah dan meningkatkan temperatur dari permukaan bumi. Inilah gambaran dari pemanasan global yang sangat mungkin dapat mengakibatkan malapetaka terhadap susunan geografis dunia dan pola iklim. [6]

Berefleksi dari empat bahaya terhadap lingkungan ini, kita dapat melihat bahwa planet kita sedang ada dalam bahaya yang besar. "Krisis" bukanlah kata yang terlalu dramatis untuk digunakan. Respons seperti apa yang tepat dalam situasi seperti ini? Untuk memulainya, kita patut berterima kasih bahwa pada akhirnya di tahun 1992, pertemuan yang disebut "Earth Summit" (KTT tentang Bumi) dilangsungkan di Rio de Janeiro dan dihasilkan sebuah kesepakatan "global sustainable development". Pertemuan-pertemuan berikutnya telah memberi kepastian bahwa persoalan-persoalan lingkungan hidup telah menjadi perhatian para pemimpin dunia.

Namun disamping pertemuan-pertemuan para pemimpin ini, beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) telah bermunculan. Saya hanya akan menyebutkan dua organisasi Kristen yang paling terdepan, yakni "Tearfund" dan "A Rocha", keduanya baru saja merayakan hari jadi mereka yang spesial (masing-masing 40 tahun dan 20 tahun).

"Tearfund" didirikan oleh George Hoffman, berkomitmen pada pengembangan dalam makna yang luas, dan bekerja sama secara dekat dengan "partner" di negara-negara berkembang. Kisah yang sangat indah dari "Tearfund" telah didokumentasikan oleh Mike Hollow dalam bukunya "A Future and a Hope".[7]

"A Rocha" memiliki perbedaan sebab berada pada lingkup yang lebih kecil. Lembaga ini didirikan pada tahun 1983 oleh Peter Harris, yang telah mendokumentasikan pertumbuhan lembaga ini dalam dua buku: "Under the Bright Wings" (sepuluh tahun pertama dari organisasi ini) dan "Kingfisher`s Fire" (memberikan informasi aktual dari kisah lembaga ini).[8] Perkembangan yang perlahan namun terus-menerus dari lembaga ini sangat mengagumkan, saat ini mereka bekerja di delapan belas negara, mendirikan pusat studi keilmuan di semua benua di dunia.

Merupakan hal yang sangat baik untuk memberi dukungan kepada LSM-LSM Kristen yang bergerak di bidang lingkungan hidup, namun apa bentuk tanggung jawab pribadi kita? Saya mengizinkan Chris Wright untuk menjawab pertanyaan ini, Apa yang dapat dilakukan oleh seorang murid yang radikal bagi alam ciptaan ini?

Chris memimpikan hadirnya sekumpulan besar orang-orang Kristen yang peduli dengan alam dan mereka memegang tanggung jawab lingkungan hidup secara serius: "Mereka memilih untuk menggunakan bentuk-bentuk energi yang dapat bertahan lama ketika memungkinkan. Mereka mematikan alat-alat elektronik yang tidak diperlukan. Mereka membeli makanan, barang-barang, dan layanan sedapat mungkin dari perusahaan-perusahaan yang dalam etikanya memberlakukan kebijakan-kebijakan terhadap lingkungan hidup. Mereka bergabung dalam perhimpunan-perhimpunan konservasi lingkungan hidup. Mereka menghindarkan diri dari konsumsi yang berlebihan dan limbah yang tidak diperlukan dan menggunakan bahan- bahan daur ulang sebanyak mungkin." [9]

Chris juga rindu melihat semakin banyaknya orang-orang Kristen yang turut menyertakan kepedulian terhadap lingkungan hidup dalam pemahaman alkitabiah mereka terhadap misi: "Pada waktu lampau, kekristenan secara spontan sangat peduli terhadap isu-isu yang besar dan penting dalam setiap generasi.... Hal-hal ini termasuk bahaya dari penyakit, perbudakan, dan bentuk-bentuk kekejaman dan eksploitasi dalam berbagai bentuk. Orang-orang Kristen mengambil tanggung jawab bagi para janda, anak-anak yatim piatu, pengungsi akibat peperangan, tawanan perang, orang-orang sakit jiwa, orang-orang kelaparan -- dan yang terkini makin banyak orang-orang Kristen yang berkomitmen untuk `membuat kemiskinan tinggal sejarah`."

Saya ingin menggemakan kesimpulan Chris Wright yang mengesankan: "Ada satu hal yang bagi saya sulit dijelaskan, mengapa ada sebagian orang Kristen yang mengklaim bahwa mengasihi dan menyembah Allah juga menjadi murid Yesus, namun tidak punya kepedulian terhadap bumi yang justru membuktikan secara sah kepemilikan Allah. Mereka tidak peduli terhadap penyalahgunaan bumi dan bahkan, oleh gaya hidup mereka yang boros dan terlampau konsumtif, mereka juga termasuk di dalamnya. Allah menghendaki... kepedulian kita terhadap ciptaan, mencerminkan kasih kita kepada Sang Pencipta." [10]

"Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya." (Ulangan 10:14)

Keterangan:

[1] IVP, 2000.
[2] IVP, 1984
[3] Diadaptasi dengan izin dari Kata Pengantar saya dalam buku The Care of Creation. Dua buku baru yang sangat berguna tentang pokok ini adalah R.J. Berry (ed.), When Enough is Enough: A Christian Framework for Environmental Sustainability (Appollos, 2007) dan Dave Bookless, Planetwise: Dare to Care for God`s World (IVP, 2008).
[4] "1 milyar" digunakan di Inggris yang berarti satu juta juta. Namun kini istilah ini hampir merupakan ungkapan universal untuk seribu juta.
[5] Sphere, 1973.
[6] Untuk isi dari bab ini lihatlah Bab 5, "Caring for Creation" dalam John Stott, Issues Facing Christian Today (Zondervan, 4th edition, 2006,), sepenuhnya telah diperbarui oleh Roy McCloughry.
[7] Monarch Books, 2008
[8] Peter Harris, Under the Bright Wings (Regent College Publishing,2000); Kingfisher`s Fire (Monarch, 2008)
[9] Kutipan ini dan selanjutnya diambil dari buku Chris Wright,The Mission of God (IVP, 2008)
[10] Dikutip dari kata pengantar John Stott untuk The Care of Creation.
Sumber: 

Diambil dari:

Judul asli buku: The Radical Discipline
Judul buku : The Radical Discipline (Murid yang Radikal)
Judul artikel : Kepedulian terhadap Ciptaan
Penulis : John R.W. Stott
Penerjemah : Perdian K.M. Tumanan
Penerbit : Literatur Perkantas Jawa Timur, Surabaya 2010
Halaman : 45 -- 54

Memahami Alkitab Secara Menyeluruh

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Artikel yang ditulis oleh Christopher J.H. Wright dengan judul "Memahami Alkitab Secara Menyeluruh" ini, sangat menolong saya untuk melihat kronologi "Perjanjian" (Covenant) yang Allah berikan dan turunkan dari Nuh sampai ke Daud, bahkan sampai masa Perjanjian Baru. Jika orang Kristen dapat memahami kronologi ini, maka saya yakin banyak orang Kristen akan melihat Alkitab dengan cara yang jauh lebih jelas. Kita tidak lagi berani mencomot kisah dalam Alkitab dan melepaskannya dari konteks keseluruhan Alkitab. Kisah-kisah dalam Alkitab saling berhubungan dan memberi makna secara luas dan mendalam sebagaimana maksud misi agung Allah. Cara berpikir kita pun akan dibentuk oleh pola pikir Alkitab, sehingga kita mulai dapat melihat ayat-ayat Alkitab selaras dengan maksud pemikiran Allah. Ini merupakan pencerahan pemikiran Kristen yang luar biasa. Melalui artikel ini kita akan diyakinkan bahwa kekristenan benar-benar berbeda dengan agama- agama lain.

Oleh sebab itu, saya sangat merekomendasikan Anda membaca artikel di bawah ini dengan teliti dan perlahan-lahan. Setiap bagian harus dicerna dengan baik-baik. Setelah membaca artikel ini, Anda pun harus perlahan-lahan mengubah cara berpikir lama Anda supaya Anda bisa melihat Alkitab secara utuh. Saya yakin Anda akan semakin bergairah dalam mempelajari Alkitab karena Anda akan semakin mengerti cara pikir Allah. Selamat membaca.

Redaksi e-Reformed,
Yulia Oeniyati
< http://reformed.sabda.org >

Penulis: 
Christopher J.H. Wright
Edisi: 
132/September 2012
Tanggal: 
Oktober 2012
Isi: 

Memahami Alkitab Secara Menyeluruh

Dalam memahami Alkitab, kita perlu melihat Alkitab dengan cara "melihat ke atas". Tujuannya adalah supaya kita dapat memercayai Alkitab sebagai firman Allah. Namun, kita juga perlu "melihat ke bawah" supaya dapat memelajari Alkitab yang disampaikan dalam wujud kata-kata penulisnya, yang adalah manusia, yang hidup dalam konteks mereka masing-masing. Langkah kita berikutnya adalah mengakui bahwa setiap perikop di dalam Alkitab merupakan bagian dari suatu kerangka keseluruhan Alkitab. Di satu sisi, pemahaman kita tentang suatu perikop tertentu akan dipengaruhi oleh posisinya sebagai bagian dari Alkitab, yang merupakan satu kesatuan dan kita juga harus mengartikannya di bawah terang bagian Alkitab lainnya. Di sisi lain, perikop tunggal itu sendiri memberikan sumbangannya -- entah kecil atau besar -- kepada pesan Alkitab secara keseluruhan. Seluruh bagian lain dalam Alkitab akan memengaruhi pemahaman kita mengenai suatu perikop tertentu, sementara pemahaman kita tentang masing-masing perikop akan memengaruhi pemahaman kita tentang bagian Alkitab lainnya secara menyeluruh.

Karena alasan di atas, kita perlu memahami Alkitab secara keseluruhan dan mengerti tentang Penyataan-Nya (wahyu) yang luar biasa luas. Demikian juga, saat memelajari suatu perikop, kita perlu "melihat ke belakang" dan "melihat ke depan" isi Alkitab secara keseluruhan, untuk memerhatikan hal-hal yang mendahului dan mengikuti suatu perikop. Setelah kita membaca perikop secara berulang-ulang dengan melihat perikop-perikop Alkitab yang lain, kita sebenarnya sedang membangun sebuah pola pandang alkitabiah. Artinya, Alkitab sebagai suatu keseluruhan akan menjadi lensa/kaca mata yang kita pakai, yang melaluinya kita menafsirkan kehidupan, juga berbagai peristiwa dan gagasan. Secara berangsur-angsur, kita bukan lagi sekadar memikirkan "tentang" Alkitab, melainkan "berpikir selaras dengan" pola pikir Alkitab.

Mari kita mengambil contoh dari Rasul Paulus mengenai pendekatan sistematis terhadap Alkitab ini. Paulus tampaknya menggunakan sebagian besar waktunya untuk membimbing jemaat di Efesus. Dari Alkitab, kita tahu bahwa di kota Efesus ini Paulus mengajar di sebuah ruang kuliah sewaan setiap hari, dan juga menjadi gembala bagi jemaat di kota serta mengunjungi rumah-rumah mereka. Ia menggambarkan tiga tahun pelayanannya kepada jemaat dengan dua cara, yaitu saat ia mengucapkan perpisahan kepada para penatua jemaat di Efesus sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul 20.

Pertama, dalam ayat 20 Paulus berkata, "Sungguh pun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu."

Jadi, pengajaran dan pemberitaan Paulus memunyai relevansi lokal dan kontekstual -- "aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu." Ia langsung mengatasi kebutuhan dan menjawab berbagai pertanyaan mereka. Namun, fakta bahwa ia "memberitakan" dan "mengajar" hampir dipastikan mengandung makna bahwa ia menggunakan firman Allah (yang sekarang kita sebut Perjanjian Lama) untuk melakukannya. Ia menggunakan dan menerapkan firman Allah pada masalah-masalah yang dihadapi oleh orang percaya di Efesus pada masa hidup mereka. Cara pengajaran Paulus serupa dengan apa yang sekarang kita sebut sebagai khotbah topikal dan tematis.

Namun, di ayat 27 Paulus menambahkan, "Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu". Bagi Paulus "seluruh maksud Allah" atau seluruh kehendak, atau seluruh pendapat Allah berarti seluruh wahyu Allah yang tertuang di dalam Alkitab. Jelas bahwa Paulus memahami tujuan dan misi Allah melalui firman Allah pada waktu itu (yaitu Perjanjian Lama) melalui penciptaan dan sejarah Israel dalam PL. Firman Allah menyatakan urutan janji-janji dalam perjanjian Allah yang luar biasa, yang melaluinya Allah menyatakan komitmen-Nya untuk memberkati Israel, bangsa-bangsa, dan seluruh dunia. Dengan demikian, Paulus secara sistematis mengajarkan kepada orang-orang percaya baru segala pengajaran alkitabiah, yaitu hukum, sejarah, nabi-nabi, Mazmur, dan kitab-kitab hikmat, yang merupakan bagian yang menyusun "seluruh maksud Allah".

Tujuan kita membaca dan memahami Alkitab semestinya juga sama. Seperti Paulus, kita harus menggunakan Alkitab dalam cara yang relevan dengan kebutuhan nyata orang-orang zaman sekarang. Sebagaimana Paulus, kita semestinya menggunakan Alkitab saat kita melayani kebutuhan mereka. Jadi, tugas kita adalah untuk memadukan:

  • seluruh kebutuhan orang-orang yang kita layani, dengan
  • firman Allah secara menyeluruh.

"Bukan" -- menyampaikan pesan yang relevan dengan kebutuhan orang-orang tanpa mengacu pada Alkitab.

"Bukan" -- mengajarkan Alkitab tanpa ada relevansinya dengan kebutuhan orang-orang yang kita layani.

Memperlakukan Alkitab Secara Keseluruhan: Memahami Kesatuan Isi Alkitab

Membahas kesatuan Alkitab adalah salah satu implikasi dari pengakuan kita bahwa Alkitab adalah firman Allah, yang penulisnya secara keseluruhan adalah Allah sendiri. Namun, kami juga sudah menunjukkan bahwa kesatuan ini memiliki arti ada suatu tema utama secara keseluruhan, yang bagian-bagiannya bisa dinalar dengan jelas dan setiap bagian itu saling memengaruhi. Kesatuan di sini bukan berarti keseragaman karena Alkitab mengandung banyak sekali keragaman.

Alkitab tidak seperti sebuah kanal yang aliran airnya mengalir mulus melalui satu saluran, yang tepiannya ditandai dengan jelas dan mengarah ke satu tujuan tertentu saja. Alkitab lebih menyerupai sebuah sistem sungai yang besar. Ada banyak anak sungai dan belokan-belokan serta perubahan arah aliran airnya. Ada banyak pulau dan danau di sepanjang alirannya. Demikian juga, ada banyak tempat yang airnya mengalir lurus, dalam, dan tenang; sementara tempat lainnya dipenuhi dengan batu-batu besar dan riam berair deras yang menghasilkan berbagai bunyi dan percikan air; ada air terjun dan kolam-kolam; ada jarak yang panjang sekali antara sumber air dan muara sungai, dan ada rentang waktu yang panjang yang dibutuhkan oleh air sungai itu untuk menempuh jarak yang jauh. Namun, pada akhirnya semua aliran air yang membentuk suatu sistem sungai besar itu merupakan satu kesatuan, dan semua airnya akan menuju ke arah yang sama, yaitu laut. Demikian pula dengan Alkitab, yang dalam segala kekayaan keragamannya memiliki satu kesatuan tujuan; semua bagiannya turut memberikan sumbangan dan seluruhnya bergerak mencapai tujuan akhir, yaitu ke arah Kristus sebagai pusatnya dan ciptaan baru sebagai titik terakhirnya.

Ada berbagai cara yang bisa digunakan untuk mencoba mengungkapkan nuansa kesatuan Alkitab. Berikut ini beberapa contoh, tetapi tidak ada satu pun cara yang "paling benar" atau "terbaik". Semuanya menggunakan penalaran dan mengandung sejumlah kebenaran. Anda bahkan bisa merancang skema Anda sendiri. Semua skema yang disarankan ini memunyai satu kesamaan, yaitu fokusnya adalah Yesus Kristus, faktor pemersatu dalam semua penafsiran Kristen tentang Alkitab (sebagaimana yang ditunjukkan Yesus kepada dua orang murid dalam perjalanan ke Emaus).

Berikut beberapa contoh kemungkinan cara yang bisa digunakan untuk melihat kesatuan struktur Alkitab secara keseluruhan:

Kisah Agung Karya Allah: Dari Penciptaan Sampai Penciptaan Baru

Sesungguhnya, Alkitab adalah sebuah kisah. Kisah ini diawali dengan penciptaan dan diakhiri dengan penciptaan baru. Di antara dua titik ini, Alkitab menceritakan berbagai masalah mengerikan yang disebabkan oleh dosa manusia dan pemberontakannya (kejatuhan manusia dalam dosa), kemudian dilanjutkan (dalam bagian terbesar di Alkitab) dengan kisah berbagai tindakan karya penebusan Allah yang dilakukan-Nya di sepanjang sejarah. Melalui tindakan-tindakan ini Allah mengatasi masalah dosa, menebus umat manusia, dan memulihkan seluruh ciptaan-Nya. Kisah ini bagaikan suatu garis tebal yang terbagi menjadi empat bagian utama. Bagian-bagian ini secara bersama-sama merupakan empat pilar alkitabiah yang mendasari iman Kristen: Penciptaan, Kejatuhan Manusia, Sejarah Karya Penebusan, dan Harapan Masa Depan.

Alur kisah Alkitab yang sangat jelas ini, yang mencakup kesatuan berbagai kitab dalam Alkitab yang saling memengaruhi, merupakan satu keistimewaan Alkitab yang membedakannya dari kitab-kitab suci agama lain.

Karena itu, penting sekali bagi kita untuk memiliki pandangan menyeluruh mengenai kisah agung dalam Alkitab. Kita perlu memahami perikop mana saja yang sedang kita pelajari, bukan hanya dalam konteks sejarah dan sastra di mana perikop itu berada, melainkan juga meletakkannya dalam konteks alur kisah secara keseluruhan di dalam Alkitab. Kita perlu mengetahui di titik mana suatu perikop berada dalam alur utama Alkitab, sehingga kita bisa mengerti maknanya dengan diterangi oleh bagaimana Allah berhadapan dengan umat-Nya, sampai di titik tersebut. Kita tidak semestinya membaca Alkitab dengan pola pikir seakan-akan semua isinya diberikan pada waktu yang sama, dan semua tokoh yang ada di dalamnya mengerti segala sesuatu sebagaimana yang kita ketahui sekarang. Kita tahu isi Alkitab dengan lengkap karena sudah membaca semuanya. Allah memilih memberikan firman-Nya melalui media sejarah, sehingga kita perlu memperhitungkan hal ini ketika berusaha memahami setiap bagiannya dalam terang kisah secara keseluruhan. Mengetahui keseluruhan kisah juga penting karena dua alasan.

Pertama, keseluruhan kisah ini masuk akal bagi kita sebagai orang Kristen yang melihatnya dalam terang Yesus Kristus dari Nazaret, Mesias bagi Israel, dan Juru Selamat dunia. Seluruh Perjanjian Lama menunjuk Yesus sebagai titik klimaks (sebagaimana ditunjukkan Matius yang memulai Injilnya dengan menuliskan silsilah Yesus, yang mengingatkan keseluruhan narasi PL sejak dari Abraham). Perjanjian Lama menceritakan kisah yang semuanya digenapi di dalam Kristus dan menyatakan janji yang kemudian dipenuhi di dalam Yesus. Perjanjian Lama itu bagaikan perjalanan panjang di mana Kristus adalah tujuan akhirnya. Selanjutnya, tentu saja, PB menunjukkan bagaimana kisah yang sama itu bergerak maju dengan cepat ke arah masyarakat multinasional, terus berkembang sepanjang sejarah dan wilayah geografis, sampai misi Allah yang luar biasa terpenuhi bagi setiap ciptaan ketika Kristus datang kembali nanti. Dengan demikian, supaya bisa memahami Kristus, yaitu pribadi-Nya, misi-Nya, kehidupan, dan kematian-Nya, serta pentingnya Kristus bagi semua bangsa dan semua ciptaan, kita perlu memahami keseluruhan kisah dalam Alkitab.

Alasan penting yang kedua adalah karena kisah agung ini merupakan dasar bagi pola pandang Kristen. Semua elemen kunci yang merupakan dasar keyakinan kita sebagai orang Kristen bersumber dari narasi agung ini. Misalnya, coba pikirkan semua doktrin utama kekristenan. Anda pasti akan melihat bagaimana doktrin-doktrin itu secara bersama-sama saling terkait di sepanjang kisah agung ini: doktrin-doktrin tentang Allah, penciptaan, umat manusia, dosa, keselamatan, kristologi, doktrin tentang Roh Kudus, gereja, misi, dan eskatologi. Semua doktrin ini bukan sekadar keyakinan filosofis yang abstrak, melainkan merupakan ringkasan pernyataan mengenai makna semua momen agung yang ada di dalam kisah-kisah Alkitab. Kita perlu memiliki pemahaman yang saling terkait tentang iman kita, dengan sebuah pola pandang yang konsisten. Karena itu, kita perlu menangkap kisah Alkitab sebagai satu keseluruhan. Dalam penjelasan berikut ini, kita akan memerhatikan betapa pentingnya membangun sebuah pola pandang alkitabiah.

1. Penciptaan 2. Kejatuhan 3. Sejarah Penebusan 4. Ciptaan Baru
----------------------------------------------------------------->
Dari penciptaan sampai ke ciptaan baru.

Urutan Sejumlah Perjanjian Allah

Salah satu cara lain yang bisa digunakan untuk melihat saling keterkaitan isi Alkitab secara keseluruhan adalah dengan mengamati bagaimana suatu kisah terurai melalui serangkaian perjanjian. Di titik-titik kunci, Allah memberikan sebuah janji khusus dan panggilan-panggilan yang menuntut respons yang tepat dari pihak yang melakukan perjanjian dengan Allah. Cara pemahaman ini juga bisa digambarkan dengan sebuah garis. Rangkaian perjanjian yang dicatat dalam Alkitab ini bagaikan sederetan tanda penunjuk arah dalam kisah respons Allah yang bergerak maju dalam menyelamatkan umat manusia dari keadaan yang begitu menyedihkan. Masing-masing tanda menunjuk kepada tanda berikutnya, dan semua tanda secara bersama-sama menunjuk kepada tujuan akhir Allah untuk menyelamatkan ciptaan-Nya dan umat manusia. Sesungguhnya, mengamati jejak urutan berbagai perjanjian utama yang ada di dalam Alkitab merupakan cara yang sangat menolong untuk memandang Alkitab sebagai satu kesatuan, yaitu untuk melihat alur cerita yang saling bertalian di dalam seluruh bagiannya. Jadi, marilah kita dengan cepat dan ringkas mengamati perjanjian-perjanjian utama ini secara berurutan. Saya mengulas secara rinci tentang hal ini dalam buku "Knowing Jesus through the Old Testament", khususnya Bab 11 yang membahas kepentingan misi dalam perjanjian-perjanjian ini.

Nuh

Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya, "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam."

(Kejadian 8:21-22)

Nuh -- Abraham -- Musa -- Daud -- Perjanjian Baru (Kristus)
------------------------------------------------------------>
Urutan berbagai perjanjian Allah.

Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia: "Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. Maka Ku adakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi." Dan Allah berfirman: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup. Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi." Berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi." (Kejadian 9:8-17)

Perjanjian dengan Nuh, yang dicatat dalam Kejadian 8:20-9:17, memastikan kelangsungan kehidupan di atas bumi ini. Perjanjian ini memberikan landasan universal yang memungkinkan kita untuk hidup sebagai umat manusia yang berdosa di sebuah planet yang terkutuk, tetapi dengan tingkat keyakinan bahwa kita bisa bertahan hidup. Dibandingkan dengan semua perjanjian yang ada, ini merupakan perjanjian yang paling "luas". Sebab, di dalamnya Allah membuat janji yang menyangkut "bumi sebagai suatu keseluruhan" -- bukan hanya janji kepada umat manusia saja. Janji ini diberikan sesudah terjadinya Air Bah -- sebuah kisah yang sekaligus mencakup pengadilan Allah atas dunia yang berdosa dan karya penyelamatan Allah atas Nuh dan keluarganya.

Jadi, perjanjian Allah dengan Nuh, sama seperti perjanjian-perjanjian lainnya, diletakkan di atas dasar kasih karunia Allah yang menyelamatkan dan kehendak Allah yang sangat kuat untuk memberkati. Perjanjian ini akhirnya menunjuk ke masa depan yang baik bagi bumi dan umat manusia.

Abraham

Perjanjian dengan Abraham adalah titik awal sejarah penyelamatan dalam Alkitab. Janji ini memunculkan umat yang diberkati, yaitu mereka yang akan diberkati dalam hubungannya dengan Allah, dan sekaligus menjadi alat yang membuat semua bangsa mengalami berkat-berkat Allah. Perjanjian ini pertama dicatat dalam Kejadian 12:1-3, tetapi ungkapan yang masih segar dan merupakan pengembangannya bisa ditemukan dalam Kejadian 15, 17, dan 22.

Abraham adalah bapak bagi semua umat Allah, nenek moyang (fisik) bangsa Israel dalam Perjanjian Lama, dan bapak rohani bagi semua orang dari segala bangsa yang diselamatkan melalui Kristus. Ketika menjelaskan kesatuan yang utama dari orang-orang yang memiliki iman seperti Abraham, Paulus berkata:

"Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, seperti ada tertulis: `Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa` di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada." (Roma 4:16-17)

Elemen universal ini ("olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat") merupakan inti perjanjian Allah dengan Abraham. Abraham adalah titik awal kisah tentang respons penebusan Allah atas masalah yang dimulai oleh Adam, yaitu pemberontakan dan dosa manusia. Dan karena dosa adalah masalah universal (memengaruhi semua orang dari segala bangsa), maka janji Allah juga bersifat universal (orang dari segala bangsa akan mendapatkan berkat melalui apa yang dilakukan Allah melalui Abraham dan pada akhirnya melalui Kristus). Dalam pengertian inilah perjanjian dengan Abraham menjadi landasan bagi doktrin tentang gereja dan misi kita.

Musa

Perjanjian di Sinai yang dilakukan Allah dengan Musa mengikat umat Israel sebagai bangsa di dalam PL dengan Yahweh, Allah mereka. Perjanjian ini dilakukan setelah tindakan perkasa Allah menyelamatkan mereka, yaitu peristiwa keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir. Jelas sekali bahwa tindakan penyelamatan ini didasarkan pada perjanjian Allah dengan Abraham. Allah bertindak membebaskan bangsa Israel dari tanah Mesir karena ia "mengingat" perjanjian-Nya dengan Abraham (Keluaran 2:24; 3:6,15; 6:2-8). Namun, bukan berarti bahwa waktu itu Allah "lupa" dengan perjanjian-Nya itu. Sebaliknya, kisah ini lebih menunjukkan bahwa waktunya sudah tiba bagi Allah untuk mengambil tindakan berdasarkan janji-Nya.

Karena itu, kita semestinya tidak menganggap bahwa perjanjian di Sinai itu adalah bagian yang terpisah, atau lebih tinggi dari perjanjian dengan Abraham. Sebaliknya, kita harus memandangnya sebagai peneguhan dari apa yang sudah dijanjikan Allah kepada Abraham dan sekarang satu bagian dari janji itu sudah terpenuhi, yaitu kenyataan bahwa keturunannya sudah menjadi bangsa yang besar (Keluaran 1:7). Misi Allah (yaitu tujuan akhirnya) tetaplah sama, yaitu untuk memberkati bangsa-bangsa melalui keturunan Abraham. Namun sebagai satu bangsa, umat Israel juga perlu memberi respons kepada Allah seperti yang dilakukan oleh Abraham, yaitu melalui iman dan ketaatan. Inilah intisari perjanjian yang diterakan (disebutkan secara tertulis, Red.) di Sinai.

Pembukaan dari pemberian hukum-hukum dan perjanjian di Sinai jelas menunjukkan bahwa asal perjanjian ini adalah karya penyelamatan Allah sendiri ("Aku telah membawamu keluar dari tanah Mesir"), dan tujuannya terkait dengan peran Israel di antara segala bangsa di atas bumi yang adalah milik Allah juga ("Akulah yang empunya seluruh bumi").

"Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel." (Keluaran 19:4-6)

Perjanjian Sinai memuat hukum-hukum Allah. Namun, hukum-hukum itu pun merupakan kasih karunia yang dimaksudkan untuk membentuk Israel menjadi umat yang berbeda dan menjadi bangsa yang kudus: syarat yang mereka perlukan untuk menjadi "imam" di antara bangsa-bangsa. Pemberian hukum-hukum ini terjadi "sesudah" Israel keluar dari Mesir. Sebelum perjanjian Sinai, Kitab Keluaran telah mencatat 18 pasal yang berbicara tentang penyelamatan yang dilakukan Allah sebelum satu pasal pun di dalamnya yang berbicara tentang hukum. Setelah kisah penyelamatan (pasal 19), Sepuluh Perintah Allah (pasal 20), dan pembuatan perjanjian (pasal 24), kita hanya sampai pada Perjanjian Sinai .

Perjanjian Sinai, sama seperti semua perjanjian alkitabiah lainnya, didasarkan atas kasih karunia Allah dan dimotivasi oleh misi Allah sendiri. Artinya, perjanjian ini "melihat ke belakang", melihat pada karya yang sudah dilakukan Allah bagi bangsa Israel oleh karena kasih dan kasih karunia-Nya dalam membebaskan mereka dari perbudakan. Perjanjian ini juga "melihat ke depan" kepada tujuan Allah dalam sejarah yang dilakukan-Nya melalui Israel, yaitu menjadikan mereka sebagai alat bagi-Nya untuk memberkati bangsa-bangsa. Hukum-hukum yang diberikan terkait dengan dua sudut pandang ini. Dengan demikian, kita seharusnya tidak menafsirkan hukum-hukum PL secara tersendiri, terpisah dari narasi dan konteks teologis di mana hukum tersebut diberikan. Hukum-hukum itu juga tidak diberikan sebagai alat bagi bangsa Israel untuk mencapai atau menjadikan diri mereka layak mendapatkan keselamatan dari Allah. Hukum itu juga tidak diberikan sebagai peraturan-peraturan kekal yang harus diterapkan secara universal dan harfiah yang kaku. Hukum ini sesungguhnya diberikan kepada umat Allah yang sudah ditebus, untuk memampukan mereka, dalam konteks sejarah dan budaya mereka sendiri. Fungsinya adalah untuk memampukan mereka merespons dengan tepat kasih karunia Allah yang menyelamatkan dan untuk hidup dengan cara menunjukkan watak dan kehendak Allah bagi bangsa-bangsa.

Daud

Penetapan raja di Israel diwarnai banyak kelemahan, yang disebabkan oleh kegagalan manusia dan motivasi yang salah. Namun Allah, sebagaimana yang sering terjadi, bahkan mengambil inisiatif manusia yang penuh kekurangan sekali pun, dan membangunnya untuk mencapai tujuan-Nya yang agung dan menyelamatkan. Allah juga membuat perjanjian dengan Daud (2 Samuel 7).

Oleh sebab itu, beginilah kaukatakan kepada hamba-Ku Daud: "Beginilah firman TUHAN semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel. Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala musuhmu dari depanmu. Aku membuat besar namamu seperti nama orang-orang besar yang ada di bumi. Aku menentukan tempat bagi umat-Ku Israel dan menanamkannya, sehingga ia dapat diam di tempatnya sendiri dengan tidak lagi dikejutkan dan tidak pula ditindas oleh orang-orang lalim seperti dahulu, sejak Aku mengangkat hakim-hakim atas umatKu Israel. Aku mengaruniakan keamanan kepadamu dari pada semua musuhmu. Juga diberitahukan TUHAN kepadamu: TUHAN akan memberikan keturunan kepadamu. Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia. Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama- lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya." (2 Samuel 7:8-16)

Sesungguhnya dalam 2 Samuel 7 itu sendiri tidak ada kata "perjanjian" tetapi ada bagian perikop lainnya yang dengan jelas memahami dan memuat janji yang dibuat Allah ini sebagai sebuah perjanjian: "Sebab Ia menegakkan bagiku suatu perjanjian kekal, teratur dalam segala-galanya dan terjamin" (2 Samuel 23:5). Baca juga Mazmur 89:4-5, "Engkau telah berkata: `Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun.`"

Sekali lagi kita melihat bahwa inisiatif perjanjian ini datang dari Allah, dan ini adalah sebuah tindakan kemurahan karunia dan kasih-Nya. Daud hanya bisa memberi respons dengan keheranan dan ucapan syukur.

Perjanjian dengan Daud juga menggemakan perjanjian yang pernah dibuat dengan Abraham. Sama seperti perjanjian dengan Abraham:

  • Perjanjian dengan Daud dibuat dengan seorang individu, tetapi dengan implikasi yang akan dirasakan oleh keturunannya;
  • Allah berjanji untuk membuat nama Daud menjadi besar;
  • Allah juga menjanjikan seorang anak kepadanya. Melalui anak itu janji-janji ini akan terus bersinambungan.

Selain itu, perjanjian dengan Daud akhirnya menjadi "dasar pengharapan akan Mesias" dalam PL, yaitu pengharapan bahwa Allah akan membangkitkan Anak Daud yang sejati, yang akan menyelamatkan umat Allah dari semua musuhnya, dan kemudian memerintah atas umat Allah dalam kedamaian dan keadilan yang sempurna, kekal selamanya. Pada akhirnya, PB melihat pemenuhan perjanjian Daud ini dalam diri Yesus.

PERJANJIAN YANG BARU

Sederetan raja-raja di Yehuda dan Israel bisa dikatakan bergerak dari yang buruk menjadi lebih buruk lagi (dengan beberapa pengecualian yang patut dicatat, seperti Hizkia dan Yosia). Bangsa Israel jatuh ke dalam lubang pemberontakan yang semakin dalam, melawan Allah dan mengabaikan hukum-hukum serta perjanjian-Nya. Pada akhirnya, Allah menyatakan bahwa ancaman yang termuat sebagai bagian tak terpisahkan dari perjanjian itu harus dipenuhi. Karena itu, Allah mengirim Israel ke pembuangan sebagai bentuk penghukuman. Yerusalem dihancurkan oleh Nebukadnezar dan orang-orang Israel digiring sebagai tawanan di Babel.

Namun demikian, janji Allah kepada Abraham tidak pernah dilupakan. Di balik hukuman itu masih ada harapan karena kesetiaan Allah terhadap misi yang sudah dicanangkan-Nya. Harapan inilah yang disampaikan oleh nabi-nabi sebelum masa pembuangan, dan yang diteguhkan kembali oleh nabi-nabi pada masa pembuangan.

Maka bangkitlah visi tentang sebuah perjanjian baru. Visi ini bukan merupakan sesuatu yang berbeda sekali dari perjanjian aslinya, tetapi sebagai sebuah perjanjian yang lebih lengkap dan memberikan kesempurnaan dalam hubungan Allah dengan umat-Nya. Pernyataan yang paling jelas terdapat dalam Yeremia 31:31-34, yang kita kenal dengan baik karena ayat-ayat ini dikutip dua kali dalam surat Ibrani. Yeremialah yang mengungkapkannya dalam kata-kata yang sangat tepat, yaitu sebuah "perjanjian baru":

"Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka." (Yeremia 31:31-34)

Konsep dan janji akan adanya sebuah rencana perjanjian baru antara Allah dan umat-Nya juga terdapat di beberapa tempat lainnya dalam tulisan para nabi.

Misalnya, Yehezkiel pasal 34-37 melihat pemulihan di masa depan dan pembentukan ulang Israel dalam bahasa yang menggemakan semua perjanjian dengan Nuh, Daud, dan yang di Sinai (misalnya, Yehezkiel 34:23-31). Seluruh nada penglihatan Yehezkiel tentang masa depan sangat bernuansa perjanjian.

Kitab Yesaya juga menggunakan bahasa perjanjian untuk mengekspresikan masa depan secara universal, yang mencakup bangsa-bangsa. Yesaya 42:6 dan 49:6 menyatakan bahwa salah satu misi hamba TUHAN adalah menjadi "perjanjian bagi umat manusia yang harus dipahami sebagai setara dengan menjadi `terang bagi bangsa-bangsa`". Perjanjian dengan Daud disebutkan dalam Yesaya 55:3-5, tetapi janji itu menjadi universal dan meluas menjangkau seluruh umat manusia. Bahkan perjanjian dengan Nuh dikukuhkan dengan tingkat kepastian berkat janji Allah bagi umat-Nya di masa depan, yaitu dalam Yesaya 54:7-10.

Semua nubuatan Perjanjian Lama tentang perjanjian yang baru tentu saja diteruskan oleh PB dan diterapkan kepada Yesus. Ia dipandang sebagai yang menghadirkan perjanjian baru, dan meluaskan janji itu kepada semua orang dalam rangka pemenuhan perjanjian kepada Abraham. Yesus sendiri, dalam perjamuan malam terakhir di malam Paskah sebelum disalibkan, berbicara tentang anggur dengan menggunakan istilah yang sangat sarat makna: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu." (Lukas 22:20) Dengan kata lain, darah Yesus yang ditumpahkan di kayu salib, memeteraikan perjanjian yang baru, yang melaluinya memungkinkan keselamatan dan pengampunan dosa.

Karena itu tidak mengejutkan jika dokumen-dokumen yang akhirnya dikumpulkan bersama-sama, yang memberi kesaksian tentang Yesus, menceritakan kematian-Nya dan kebangkitan-Nya, karunia-karunia Roh Kudus, dan tugas misi awal pengikut-Nya dalam kehidupan bangsa-bangsa bukan Yahudi, secara keseluruhan disebut "Perjanjian Baru". Dasar kesatuan antara PL dan PB adalah perjanjian Allah.

Akhirnya, Alkitab menunjukkan kepada kita pemenuhan kesempurnaan perjanjian Allah dengan Abraham dalam kitab Wahyu. Bahkan semua perjanjian agung di Alkitab ada di dalam kitab ini.

  • Nuh ada di sana, dalam visi tentang ciptaan baru, surga, dan bumi yang baru sesudah penghakiman.
  • Abraham ada di sana, dalam bangsa-bangsa dari berbagai lidah dan bahasa yang berkumpul dan diberkatinya.
  • Musa ada di sana, dalam tulisan yang sangat meneguhkan bahwa "Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka." Dan "kehadiran Allah di antara manusia dan Allah akan hidup bersama mereka."
  • Daud ada di sana, di Kota Kudus, Yerusalem Baru, dan dalam identitas Yesus sebagai Singa dari Yehuda dan keturunan Daud.
  • Perjanjian Baru ada di sana, dalam pernyataan bahwa semua nubuatan tersebut akan terpenuhi oleh karena darah Anak Domba yang disembelih.

Semua contoh di atas menunjukkan klimaks agung sejarah panjang perjanjian di seluruh Alkitab. Semua perjanjian tersebut secara bersama-sama menyatakan misi Allah untuk memenuhi janji yang akan ditepati-Nya bagi bangsa-bangsa dan seluruh ciptaan. Kitab Wahyu bisa dianggap sebagai deklarasi perjanjian yang terakhir: "Misi telah terlaksana!"

TUJUAN MISI ALLAH

Cara lain yang bisa dipakai untuk memahami pesan Alkitab sebagai suatu keseluruhan adalah dengan memikirkan Alkitab dalam hubungannya dengan misi Allah. Maksud saya di sini bukanlah sekadar misi kita (atau sejumlah misi), yaitu pelayanan gereja mengirimkan misionarisnya melayani ke luar negara mereka. Maksud saya mengenai misi adalah misi agung Allah untuk mendatangkan penebusan dan pemulihan bagi seluruh ciptaan, termasuk keselamatan manusia dan segala bangsa dan menggandeng mereka sebagai bagian dalam umat manusia baru yang telah ditebus sebagai ciptaan yang baru.

Bagian akhir Alkitab memiliki gema yang sama luar biasanya dengan di bagian awalnya, sehingga sangat menolong kita dalam memahami isi sepanjang bagian tengahnya.

Kejadian dimulai dengan penciptaan, kemudian bergerak memasuki dunia bangsa-bangsa. Pemberontakan dan dosa mereka membuat manusia terpecah menyebar ke mana-mana dan ada di bawah kutuk. Kitab Wahyu menggambarkan bagaimana bangsa-bangsa dipulihkan saat mereka nantinya berkumpul bersama dalam satu kesatuan, di bawah berkat Allah, dalam pujian dan penyembahan. Kemudian dari sini semuanya bergerak menuju ciptaan baru, di mana Allah sekali lagi berdiam di antara umat-Nya.

Sesudah cerita Menara Babel dalam Kejadian 11 (klimaks dari cerita pemberontakan manusia), Allah kemudian memanggil Abraham (Kejadian 12) untuk menjadi titik awal dari rencana-Nya memberkati semua bangsa. Dari Abraham, Allah menciptakan satu bangsa, yaitu bangsa Israel dalam PL. Mereka dipanggil untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa, untuk memenuhi janji Allah kepada Abraham. Dalam banyak hal Israel telah gagal. Namun karena kesetiaan akan janji-Nya, Allah mengirim Hamba dan Anak-Nya, Yesus dari Nazaret, untuk mewujudkan identitas Israel dan misinya (sebagai Mesias), dan untuk memungkinkan Injil Keselamatan disampaikan kepada bangsa-bangsa melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Kemudian dalam PB, kita melihat pertumbuhan umat Allah, yang berawal dari satu etnik tunggal (kaum Israel) menjadi jemaat multinasional dari berbagai bangsa, yang semuanya dipersatukan di dalam Yesus sang Mesias.

Setiap kali Injil Yesus melintasi etnik lain, menerobos penghalang-penghalang budaya dan bahasa, sebenarnya Allah sedang memenuhi janji-Nya kepada Abraham. Allah berjanji bahwa "melaluimu segala bangsa akan diberkati." Inilah yang sebenarnya terus berlangsung melalui tugas misi Umat Allah, yaitu mewujudkan misi Allah, karena misi kita pada dasarnya mengalir dari misi Allah. Pada akhirnya nanti, janji kepada Abraham dalam kitab Kejadian itu akan dipenuhi seperti yang dicatat oleh kitab Wahyu, ketika "sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba." (Wahyu 7:9)

Banyak bangsa ------> Semua bangsa
(Kejadian) (Wahyu)

---Satu bangsa: Satu manusia-Kristus: Gereja Multibangsa------>

Dari Kejadian ke Wahyu

Kejadian Wahyu
Ciptaan Ciptaan baru
Bangsa-bangsa berdosa dan memberontak Bangsa-bangsa dipulihkan
Bangsa-bangsa terpecah dan tersebar Bangsa-bangsa dikumpulkan dalam suatu kesatuan
Kutuk Berkat

Jadi, sekali lagi kita menemukan bahwa Alkitab secara keseluruhan memiliki alur yang kuat di sekitar tema inti ini. Mungkin inilah yang dimaksud Rasul Paulus ketika mengatakan bahwa ia sudah mengajarkan kepada orang-orang Kristen di Efesus tentang "seluruh maksud Allah".

Ada tiga cara yang bisa digunakan untuk menyatakan kesatuan Alkitab yang memengaruhi seluruh bagiannya sebagai satu keutuhan. Mungkin Anda bisa memikirkan cara lainnya. Namun yang penting, kita selalu berlatih menerapkan mentalitas "memandang Alkitab secara keseluruhan". Maksudnya, ketika Anda bermaksud mempelajari dan menggunakan perikop tertentu dalam Alkitab, pikirkanlah perikop itu dalam konteks Alkitab yang lebih luas. Kapan saja Anda mencari sudut pandang alkitabiah mengenai suatu masalah tertentu atau pertanyaan atau gagasan kontemporer yang sedang mengemuka, jangan sekadar mencari satu atau dua ayat secara acak yang menurut Anda relevan. Namun, tatalah masalah itu secara berurut dalam terang seluruh kisah Alkitab, dan perhatikan terang apa yang menerangi masalah tersebut dari semua bagian-bagian utama yang ada di Alkitab.

Sumber: 

Diambil dari:

Judul buku : Memahami dan Berbagi Firman Tuhan
Judul asli buku : Society for Promoting Christian Knowledge
Judul artikel : Memahami Alkitab Secara Menyeluruh
Penulis : Christopher J.H. Wright
Penerbit : Yayasan Pancar Pijar Alkitab, Jakarta 2009
Halaman : 40 -- 52

Komentar


Syndicate content