Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme

I. Pengakuan Iman

Pengakuan Iman Gereja Prancis (1559)

Dalam tahun 1550-an Reformasi Calvinis di Perancis mulai mantap. Para penganut Calvinisme membentuk jemaat-jemaat dan mulai mengembangkan bentuk tata gereja dan tata kebaktian sendiri. Kegiatan itu berlangsung di bawah pimpinan Calvin, yang dari kota Jenewa, dekat dengan perbatasan Perancis, memelihara hubungan erat dengan para penganut Reformasi di negeri asalnya. Pada tahun 1559 para utusan jemaat-jemaat Calvinis berkumpul di Paris. Sinode mereka yang pertama itu menerima pengakuan iman dan tata gereja tersendiri. Karena permusuhan para pemimpin Gereja Katolik bersama pemerintah Perancis, yang berupaya membasmi gerakan Protestan, semuanya harus berlangsung dengan serba rahasia. Akibatnya, tidak banyak diketahui mengenai asal usul pengakuan dan tata gereja tersebut. Sebab keduanya mencerminkan teologi Calvin, orang menduga Calvinlah yang merancangkannya. Mungkin juga seorang pendeta muda bernama Antonie de la Roche Chandieu yang menjadi pengarang pengakuan iman yang diterima di Sinode Paris tersebut. Dalam kepustakaan, pengakuan gereja Perancis sering diberi nama singkat, yaitu "Gallicana" (dari Latin Gallia = Perancis).

PENGAKUAN IMAN YANG DISEPAKATI ANTARA ORANG-ORANG PERANCIS YANG INGIN HIDUP MENURUT INJIL MURNI TUHAN KITA YESUS KRISTUS

Pasal I
Allah yang Esa

1. Kita percaya dan mengaku bahwa ada satu Allah yang esa; satu Zat yang esa dan sederhana,[a] yang rohani,[b] kekal,[c] tidak kelihatan,[d] tidak berubah-ubah,[e] tidak terhingga,[f] tidak terpahami,[g] tidak terkatakan, yang dapat melakukan segala sesuatu, yang berhikmat sempurna,[h] mahabaik,[i] mahaadil,[j] dan mahamurah.[k]

a. Ula 4:35, 39; 1Ko 8:4, 6. b. Kej 1:3; Yoh 4:24; 2Ko 3:17. c. Kel 3:15-16, 18. d. Rom 1:20; 1Ti 1:17. e. Mal 3:6. f. Rom 11:33; Kis 7:48. g. Yer 10:7,10; Luk 1:37. h. Rom 16:27. i. Mat 19:17. j. Yer 12:1. k. Kel 34:6-7.

2. Allah itu menyatakan diri demikian kepada manusia dengan cara ini. Pertama, melalui karya-karya-Nya,[a] yaitu baik oleh penciptaannya maupun oleh pemeliharaan dan pengendaliannya. Kedua, dengan lebih jelas, melalui Firman-Nya,[b] yang mula-mula diwahyukan dengan cara penyataan langsung,[1c] dan sesudahnya disusun secara tulisan[d] dalam kitab-kitab yang kita sebut Kitab Suci.[e]

a. Rom 1:20. b. Ibr 1:4. c. Kej 15:1. d. Kel 24:3-4. e. Rom 1:2.

Pasal III
Kitab-kitab Kanonik

3. Seluruh Kitab Suci itu tercantum dalam buku-buku kanonik Perjanjian lama dan Perjanjian Baru. Inilah daftarnya: Kelima kitab Musa, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan. Begitu pula Yosua, Kitab Hakim-Hakim, Kitab Rut, Kitab Samuel yang pertama dan yang kedua, Kitab Raja-Raja yang pertama dan yang kedua, Kitab Tawarikh yang pertama dan yang kedua, yang disebut juga Paralipomenon,[2] Kitab Ezra yang pertama,[3] begitu pula Kitab Nehemia, Kitab Ester, Ayub, Mazmur Daud, Amsal atau kata-kata mutiara Salomo, Kitab Ekklesiastes yang disebut Pengkhotbah, Kidung Agung Salomo. Begitu pula Kitab-kitab Yesaya, Yeremia, Ratapan Yeremia, Yeheskiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi. Begitu pula surat-surat Rasul Paulus, yaitu satu kepada jemaat di Roma, dua kepada jemaat di Korintus, satu kepada jemaat di Galatia, satu kepada jemaat di Efesus, satu kepada jemaat di Filipi, satu kepada jemaat Kolose, dua kepada jemaat di Tesalonika, dua kepada Timotius, satu kepada Titus, satu kepada Filemon. Begitu pula Surat kepada orang Ibrani, Surat Yakobus, Surat Petrus yang pertama dan yang kedua, Surat Yohanes yang pertama, yang kedua, dan yang ketiga, Surat Yudas. Begitu pula Kitab Apokalips atau Wahyu kepada Yohanes.

Pasal IV
Dasar Kewibawaan Kitab Suci

4. Kita mengetahui bahwa kitab-kitab itu bersifat kanonik dan merupakan patokan yang amat pasti bagi iman kita;[a] tidak hanya karena kesepakatan dan persetujuan gereja, tetapi terutama karena Roh Kudus dan keyakinan batin yang berasal dari-Nya, yang menyebabkan kita membedakannya dari kitab-kitab lain yang terdapat dalam Gereja. Kitab-kitab ini (meski bermanfaat) tidak dapat dijadikan dasar satu pasal iman sekalipun.

a. Maz 19:8 dan Maz 19:9.

Pasal V
Kesempurnaan Kitab Suci sebagai Satu-satunya Patokan bagi Iman Kita

5. Kita percaya, bahwa Firman Allah yang tercantum dalam kitab-kitab itu berasal dari Allah.[a] Wibawanya diperolehnya hanya dari Dia,[b] bukan dari manusia. Dan karena Firman itu merupakan patokan seluruh kebenaran dan berisi segala sesuatu yang perlu untuk berbakti kepada Allah dan demi keselamatan kita,[c] maka manusia, bahkan malaikat pun, tidak diperbolehkan menambahi, mengurangi, dan mengubahnya.[d] Maka dari itu, ketuaan, atau kebiasaan, atau jumlah besar orang, atau hikmat manusia, atau penilaian para ahli, atau keputusan-keputusan, atau edik-edik, atau dekrit-dekrit, atau konsili-konsili, atau penglihatan-penglihatan, atau mukjizat-mukjizat, tidak boleh dipertentangkan dengan Kitab Suci.[e] Bahkan sebaliknya, semua hal harus diselidiki, diatur, dan dibarui seturut Kitab Suci itu.[f] Oleh sebab itu, kita menerima ketiga pengakuan iman, yaitu Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea, dan Pengakuan Iman Athanasius, Karena ketiganya sesuai dengan Firman Allah.

a. 2Ti 3:15-16; 2Pe 1:21. b. Yoh 3:31,34; 1Ti 1:15. c. Yoh 15:11; Kis 20:27. d. Ula 4:1, 12:32; Gal 1:8; Wah 22:18-19. e. Mat 15:9; Kis 5:28-29. f. 1Ko 11:1-2,23.

Pasal VI
Trinitas

6. Kitab Suci itu mengajar kepada kita bahwa Zat ilahi yang esa dan sederhana[a] yang telah menjadi pokok pengakuan iman kita, ada tiga Pribadi, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus.[b] bapa adalah sebab pertama, awal, dan asal segala hal. Anak adalah Firman-Nya dan Hikmat-Nya yang kekal. Roh Kudus adalah kekuatan-Nya, kuasa-Nya, dan keampuhan-Nya.Anak diperanakkan oleh Bapa secara kekal. Roh Kudus keluar dari Keduanya secara kekal. Ketiga Pribadi itu bukan tercampur, melainkan berbeda, namun bukan terbagi, melainkan se-Zat, sama-sama kekal, sama-sama berkuasa, dan sederajat. Dalam hal ini kita menerima ketetapan-ketetapan Konsili-konsili lama, dan kita menjijikkan semua bidat dan ajaran sesat yang telah ditolak oleh Guru-guru suci, seperti Hilarius,[1] Athanasius,[2] Ambrosius,[3] dan Cyrillus.[4].

a. Ula 4:12. b. Mat 28:19; 2Ko 13:14; 1Yo 5:7; Yoh 1:1,17,32.

Pasal VII
Penciptaan Malaikat dan Iblis

7. Kita percaya, bahwa Allah, dalam tiga Pribadi yang bekerja sama, telah menciptakan segala sesuatu melalui kekuatan-Nya, hikmat-Nya, dan kebaikan-Nya yang tidak terpahami, baik langit dan bumi serta segala isinya maupun roh-roh yang tidak kelihatan.[1a] Di antara roh-roh ini, sebagian telah tersandung dan jatuh ke dalam kebinasaan,[b] sebagian lagi bertahan sehingga tetap taat.[c] Kita percaya bahwa yang pertama itu rusak, bergelimang kejahatan, sehingga mereka menjadi musuh segala kebaikan dan karena itu juga musuh seluruh Gereja.[d] Bagian kedua, yang dilindungi oleh anugerah Allah, menjadi hamba-hamba yang bertugas memuliakan nama Allah dan melayani orang pilihan demi keselamatan mereka.[e]

a. Kej 1:1; Yoh 1:3; Jud 1:6; Ibr 1:2. b. 2Pe 2:4. c. Maz 103:20-21. d. Yoh 8:44. e. Ibr 1:7,14.

Pasal VIII
Pemeliharaan Allah

8. Kita percaya, bahwa Dia tidak hanya telah menciptakan segala sesuatu, tetapi juga memerintah dan mengendalikannya,[a] sambil mengatur dan menetapkan sekehendak-Nya segala sesuatu yang terjadi dalam dunia ini.[b] Bukan seakan-akan Dia menjadikan apa yang jahat atau dapat dianggap bersalah atasnya,[c] sebab kehendak-Nya merupakan patokan berdaulat dan tidak mungkin bersalah untuk segala kebenaran dan keadilan.[d] Akan tetapi, Dia memiliki sarana-sarana yang mengagumkan untuk memperalatkan iblis dan orang jahat sedemikian rupa, hingga Dia tahu mengubah kejahatan yang mereka lakukan, dan yang menjadi kesalahan mereka, menjadi kebaikan.[e] Demikianlah, bila kita mengaku bahwa tidak terjadi apa-apa di luar pemeliharaan Allah, kita menyembah dengan rendah hati rahasia-rahasia yang tersembunyi bagi kita, tanpa mengusiknya dengan melewati batas ukuran kita. Sebaliknya, kita menerapkan pada keadaan kita sendiri apa yang ditunjukkan kepada kita dalam Kitab Suci, supaya kita tenteram dan terlindung dari bahaya.[f] Sebab, segala sesuatu tunduk kepada Allah, dan Dia menjaga kita, dan mengasuh kita laksana seorang bapak, begitu rupa, sehingga tak sehelai rambut kepala kita pun akan jatuh di luar kehendak-Nya.[g] Sementara itu, Dia mengekang setan-setan beserta semua musuh kita, sehingga mereka sama sekali tidak dapat merugikan kita di luar izin-Nya.[h]

a. Maz 104. b. Ams 16:4; Mat 10:29; Rom 9:11; Kis 17:24,26,28. c. 1Yo 2:16; Hos 13:9; 1Yo 3:8. d. Maz 5:5; Maz 119; Ayu 1:22. e. Kis 2:23-24,27. f. Rom 9:19-20; 11:33. g. Mat 10:30; Luk 21:18. h. Ayu 1:12; Kej 3:15.

Pasal IX
Manusia, Dosa, dan Kehendak Bebas

9. Kita percaya bahwa manusia, yang pernah diciptakan murni dan utuh serta serupa dengan gambar Allah, telah jatuh disebabkan kesalahannya sendiri, sehingga ia kehilangan karunia yang telah diperolehnya.[a] Dengan demikian manusia terasing dari Allah, sumber kebenaran dan segala kebaikan, begitu rupa, sehingga kodratnya sama sekali rusak. Dan karena rohnya menjadi buta dan hatinya bejat, manusia sama sekali kehilangan keutuhannya, sehingga tidak tersisa apa pun.[b] Dan kendati ia masih mampu sedikit banyak membedakan yang baik dari yang jahat,[c] kita mengatakan bahwa terang yang masih ada padanya berubah menjadi kegelapan kalau halnya mengenai mencari Allah, begitu rupa sehingga ia sama sekali tidak mampu mendekati-Nya melalui kecerdikan dan nalarnya.[d] Kendati ia memiliki kemauan yang mendorongnya untuk berbuat yang ini, atau yang itu, namun kemauan itu sama sekali dikuasai oleh dosa, sehingga ia tidak memiliki kebebasan untuk berbuat baik kecuali yang dianugerahkan kepadanya oleh Allah.[e]

a. Kej 1:26; Pengk 7:10; Efe 2:2-3. b. Kej 6:5, 8:21. c. Rom 1:21; 2:18-20. d. 1Ko 2:14. e. Yoh 1:4-5,7; 8:36; Rom 8:6-7.

Pasal X
Dosa Turunan

10. Kita percaya, bahwa seluruh keturunan Adam terjangkit oleh penyakit menular, yaitu dosa asli dan cacat turunan, bukan hanya peniruan, sebagaimana hendak dinyatakan kaum pengikut Pelagius. Kita menjijikkan mereka ini karena ajaran sesat mereka, dan kita menganggap tidak perlu menyelidiki bagaimana cara dosa menjalar dari seorang manusia kepada manusia lain, sebab sudah cukuplah bahwa apa yang Allah kenakan kepadanya[1] dimaksud bukan hanya bagi dirinya saja, melainkan juga bagi seluruh keturunannya. Maka dalam dirinya kita telah kehilangan segala kebaikan dan tersandung sehingga kita bergelimang kemalangan dan kutuk.[a]

a. Kej 8:21; Rom 5:12; Ayu 14:4.

11. Kita percaya juga, bahwa cacat itu benar-benar dosa, yang cukup untuk membuat seluruh umat manusia layak dihukum, sampai-sampai anak-anak kecil sejak dalam kandungan ibunya, dan kita percaya bahwa cacat itu memang dianggap dosa oleh Allah.[a] Bahkan, sesudah pembaptisan pun hal itu tetap merupakan dosa, sejauh menyangkut kesalahannya, meski dalam hal anak-anak Allah penghukumannya ditiadakan sebab Dia, karena kebaikan-Nya yang cuma-cuma tidak memperhitungkannya kepada mereka.[b] Selain,itu, kita percaya bahwa cacat itu merupakan kebobrokan yang terus-menerus menghasilkan kejahatan dan kedurhakaan,[c] begitu rupa sehingga orang yang paling suci pun, kendati mereka mencoba melawan, tetap dinodai oleh berbagai kelemahan dan kesalahan selama mereka tinggal di dunia ini.[d]

a. Maz 51:7; Rom 3:9-13; 5:12. b. Rom 7. c. Rom 7:5. d. Rom 7:18-19; 2Ko 12:7
.

Pasal XI
Pemilihan Allah

12. Kita percaya, bahwa dari kerusakan dan penghukuman umum yang telah menimpa semua orang itu, Allah menarik mereka yang dalam putusan-Nya yang kekal dan tidak berubah-ubah telah dipilih-Nya, hanya karena kebaikan-Nya dan belas kasihan-Nya, dalam Tuhan kita Yesus Kristus, dengan tiada memperhatikan perbuatan-perbuatan mereka.[a] Tetapi yang lain-lain ditinggalkan-Nya dalam kerusakan dan penghukuman itu, agar dalam diri mereka ditunjukkan-Nya keadilan-Nya, sebagaimana dalam diri orang yang disebut pertama Dia membuat bercahaya kekayaan belas kasihan-Nya.[b] Sebab mereka yang disebut pertama itu sama sekali tidak lebih baik daripada yang lain, sampai Allah membeda-bedakan mereka mereka menurut rencana-Nya yang tidak berubah-ubah yang telah Dia tetapkan di dalam Yesus Kristus sebelum penciptaan dunia. Juga tidak seorang pun dapat meraih harta itu dengan kekuatan sendiri, sebab menurut kodrat kita sendiri tidak mungkin kita memiliki satu pun gerakan, perasaan, atau pikiran yang baik, sampai Allah mendahului kita dan membuat kita rela.[c]

a. Rom 3:2, 9:23; 2Ti 1:9; 2:20; Tit 3:5; Efe 1:4. b. Kel 9:16; Rom 9:22. c. Yer 10:23; Efe 1:4-5.

Pasal XII
Seluruh Keselamatan Kita Tercantum dalam Diri Kristus

13. Kita percaya, bahwa dalam diri Yesus Kristus segala sesuatu yang diperlukan untuk keselamatan kita telah ditawarkan kepada kita dan dijadikan milik kita. Dia telah dianugerahkan kepada kita untuk keselamatan, dan telah dijadikan bagi kita hikmat, kebenaran, pengudusan, dan penebusan. Maka kalau orang berbalik dari Dia, orang menolak belas kasihan Sang Bapa, yang seharusnya menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi kita.[a]

a. 1Ko 1:30; Efe 1:6-7; Kol 1:13-14; Tit 2:14.

Pasal XIII
Kedua Tabiat Kristus

14. Kita percaya, bahwa Yesus Kristus, yang adalah hikmat Allah dan Anak-Nya yang kekal, telah mengenakan daging kita, untuk menjadi Allah dan manusia dalam satu Pribadi.[a] Dia menjadi manusia yang serupa dengan kita, yang dapat menderita dalam tubuh dan jiwa. Hanya saja, Dia suci, tanpa noda apa pun.[b] Dan menurut kemanusiaan-Nya Dia benar-benar keturunan Abraham dan Daud,[c] meskipun Dia dikandung oleh kekuatan tersembunyi Roh Kudus.[d] Dalam hal ini kita menjijikkan semua ajaran sesat yang pada zaman dahulu telah mengganggu Gereja-gereja, dan terutama juga khayalan setani Servet, yang beranggapan bahwa Tuhan Yesus memiliki tabiat keallahan dongengan, sebab ia mengatakan bahwa Dia adalah gambaran dan pola segala hal, dan menyebut Dia Anak Allah yang didalamnya Pribadi Allah terwujud, atau dilambangkan,[1] dan akhirnya mereka-reka bagi-Nya tubuh yang terdiri dari tiga unsur yang tidak diciptakan, sehingga ia membaurkan dan merusak kedua tabiat itu.

a. Yoh 1:14; Fil 2:6. b. Ibr 2:17; 2Ko 5:21. c. Kis 13:23; Rom 1:3; 8:3; 9:5; Fil 2:7; Ibr 2:14-16; Ibr 5. d. Mat 1:18; Luk 1:35.

15. Kita percaya, bahwa kedua tabiat itu digabungkan dan disatukan benar-benar dan secara tak terpisahkan dalam satu Pribadi yang tunggal, yaitu Yesus Kristus. Namun, masing-masing tetap memiliki sifatnya yang khas,' sehingga dalam gabungan itu tabiat keallahan tetap memiliki sifatnya sendiri dan tetap bersifat tidak diciptakan, tidak terhingga, dan memenuhi segala sesuatu; begitu pula tabiat kemanusiaan tetap bersifat berhingga dan memiliki bentuk, ukuran, dan sifatnya sendiri.b Dan kendati Yesus Kristus, ketika Dia bangkit, telah memberi tubuh-Nya ketidakfanaan, namun Dia tidak meniadakan keaslian tabiat-Nya. Maka kita memandang Dia dalam keilahian-Nya dengan cara yang tidak menanggalkan kemanusiaan-Nya.

a. Mat 1; Luk 1; Yoh 1:14; 1Ti 2:5; 3:16; Ibr 5:8. b. Luk 24:38-39; Rom 1:4; Fil 2:6-11.

Pasal XIV
Dalam Kristus, Allah Menyatakan Kasih-Nya dan Kemurahan-Nya

16. Kita percaya, bahwa Allah, dengan mengutus Anak-Nya, ingin memperlihatkan kasih dan kebaikan-Nya yang tidak ternilai terhadap kita. Dia telah menyerahkan-Nya ke dalam kematian dan membangkitkan-Nya untuk menggenapkan seluruh kebenaran dan untuk memperoleh kehidupan surgawi bagi kita.a

a. Yoh 3:16; 15:8.

Pasal XV
Pelunasan oleh Korban Yesus Kristus

17. Kita percaya, bahwa korban tunggal yang telah dipersembahkan oleh Tuhan Yesus di kayu salib' telah mendamaikan kita dengan Allah, sehingga kita dianggap sebagai orang benar di hadapan-Nya. Sebab, tidak mungkin kita berkenan kepada-Nya dan ikut mendapat bagian dalam pengangkatan menjadi anak Nya, kecuali kalau Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kita, dan menguburkannya. b Kita menyatakan pula bahwa Yesus Kristus adalah pembasuhan kita yang menyeluruh dan sempurna, bahwa dalam kematian-Nya kita memiliki pelunasan menyeluruh sehingga kita dinyatakan tidak bersalah berhubung dengan pelanggaran dan kejahatan kita, dan bahwa kita hanya dapat dibebaskan dengan cara itu.c

a. 2Ko 5:19; Ibr 5:7-9. b. 1Pe 2:24-25. c. Ibr 9:14; Efe 5:26; 1Pe 1:18-19.

Pasal XVI
Pembenaran Kita Berdasarkan Pengampunan Dosa Semata-mata

18. Kita percaya, bahwa seluruh kebenaran kita berdasarkan pengampunan dosa-dosa kita, dan bahwa di dalamnya terletak juga satu-satunya kebahagiaan kita, sebagaimana dikatakan oleh Daud.' Karena itu, kita menolak kemungkinan adanya sarana lain apa pun yang dapat membenarkan kita di hadapan Allah,' dan tanpa berangan-angan mengenai kebajikan atau jasa apa pun, kita hanya berpegang pada ketaatan Yesus Kristus, yang telah dibagikan kepada kita, baik untuk menutupi semua kesalahan kita maupun untuk memperoleh bagi kita anagerah di hadapan Allah. Dan kita sungguh-sungguh percaya bahwa, kalau kita menyimpang sedikit pun dari dasar ini, sama sekali tidak mungkin kita berteduh di tempat lain, tetapi kita terus menerus digoyangkan kegelisahan, karena kita tidak pernah akan berdamai dengan Allah sampai kita putus.niat un tuk dikasihi dalam Yesus Kristus, sebab dalam diri kita sendiri kita layak dibenci.

a. Yoh 17:23; Rom 4:7-8; 8:1-3; 2Ko 5:19-20. b. 1Ti 2:5; 1Yo 2:1; Rom 5:19; Kis 4:12.

Pasal XVII
Pengampunan Dosa Membuka pula Jalan kepada Allah bagi Kita

19. Kita percaya, bahwa melalui sarana itu kita mempunyai peluang dan berhak berseru kepada Allah dengan penuh kepercayaan bahwa Dia akan menyatakan did sebagai Bapa kita.' Sebab kita sama sekali tidak dapat datang kepada Bapa jika kita tidak dibimbing oleh Pengantara itu. Dan supaya kita didengar dalam nama-Nya, perlu kita menerima kehidupan kita dari Dia bagaikan dari Kepala kita.

a. Rom 5:12; 8:15; Gal 4:4-7; Efe 2:13-15.

Pasal XVIII
Kebenaran Hanya dapat Diperoleh Melalui Iman

20. Kita percaya, bahwa kita diberi bagian dalam kebenaran itu hanya oleh iman, sebab dikatakan bahwa Dia telah menderita sengsara untuk memperoleh keselamatan bagi kita, dengan maksud supaya setiap orang yang percaya ke pada-Nya tidak binasa.' Juga, bahwa hal itu terwujud sebab janji janji kehi dupan Yang diberikan kepada kita di dalam diri-Nya dijadikan milik kita untuk kita nikmati. Sambil menerimanya kita merasakan hasilnya, dengan tidak me ragukan bahwa kita tidak akan dikecewakan, sebab kita diberi kepastian dari mulut Allah sendiri.b Maka kebenaran yang kita peroleh melalui iman tergan tung pada janji janji yang diberikan dengan cuma-cuma, dan yang melaluinya Allah menyatakan dan membuktikan bahwa Dia mengasihi kita.[c]

a. Rom 3; Gal 2; Gal 3:24; Yoh 3:15. b. Mat 17:20; Yoh 3:16-17; 10:4. c. Rom 1:17; 3:24-25,27,30; 4:1-3; Gal 2:20-21.

Pasal XIX
Iman itu adalah Pemberian Allah

21. Kita percaya, bahwa kita dianugerahi terang iman oleh karunia tersembunyi Roh Kudus, begitu rupa, sehingga hal itu merupakan pemberian yang cuma-cuma dan istimewa, yang Allah bagikan kepada orang-orang menurut kehendak-Nya. Demikianlah orang percaya sama sekali tidak mempunyai alasan untuk bermegah karenanya; sebaliknya, mereka berhutang ganda karena mereka dipilih di atas orang lain. [a] Kita percaya juga bahwa iman itu tidak hanya diberikan satu kali saja kepada orang terpilih untuk membuat mereka masuk ke jalan yang benar, tetapi juga untuk membuat mereka berjalan terus di jalan itu sampai akhirnya.[b] Sebab, sebagaimana Allah-lah yang mengerjakan permulaannya, begitu pula Dialah yang menyelesaikannya.[c]

a. Efe 2:8; 1Te 1:5; 1Ko 2:12; 2Pe 1:3-4. b. 1Ko 1:8-9. c. Fil 1:6; 2:13.

Pasal XX
Iman dan Perbuatan Baik

22. Kita percaya, bahwa melalui iman itu kita dilahirkan kembali dalam kehidupan yang baru, sebab menurut kodrat kita, kita menjadi hamba dosa.[a] Maka melalui iman kita memperoleh anugerah ini: kita hidup suci dan dengan takut akan Allah, seraya menerima janji yang diberikan kepada kita melalui Injil, yaitu bahwa Allah akan mengaruniakan Roh Kudus-Nya kepada kita. Dengan demikian, iman tidak membuat hasrat hendak hidup baik dan suci memudar. Sebaliknya, olehnya hasrat itu lahir dan bangkit di dalam diri kita, sehingga iman tidak bisa tidak membawa hasil berupa perbuatan baik.[b] Kendati demikian, meskipun Allah mengerjakan keselamatan kita dengan membuat kita lahir kembali dan membentuk kita kembali agar kita berbuat baik,[c] kita mengakui bahwa perbuatan baik yang kita lakukan dengan bimbingan Roh-Nya sama sekali tidak dihitung sebagai alasan pembenaran kita dan tidak menjadikan kita layak untuk dianggap Allah sebagai anak-anak-Nya. Sebab, seandainya hati nurani kita tidak bertumpu pada pelunasan yang telah dibayar oleh Yesus Kristus untuk menjadikan kita milik-Nya, maka kita akan tetap terombang-ambing oleh keraguan dan kebimbangan.[d]

a. Rom 6:1-2; 7:1-2; Kol 1:13; 3:10; 1Pe 1:3. b. Yak 2; Gal 5:6; 1Yo 2:3-4; 5:18. c. Ula 30:6; Yoh 3:5. d. Luk 17:10; Maz 16:2; Rom 3 dan Rom 4; Tit 3:5.

Pasal XXI
Manfaat Hukum Taurat dan Kitab-kitab Para Nabi

23. Kita percaya, bahwa dengan kedatangan Yesus Kristus semua lambang hukum Taurat berkesudahan. Akan tetapi, meski upacara-upacara itu tidak dipakai lagi, hakikat dan kebenaran yang diungkapkan di dalamnya tetap tinggal bagi kita dalam diri Yesus Kristus,[a] sebab penggenapannya terletak dalam Dia.[b] Selain itu, kita perlu menggunakan bantuan yang diberikan hukum Taurat dan Kitab-kitab para Nabi untuk mengatur hidup kita dan supaya kita dijadikan lebih yakin akan janji-janji Injil.

a. Rom 10:4; Gal 3 dan Gal 4; Kol 2:17. b. 2Ti 3:16; 2Pe 1:19; 3:2.

Pasal XXII
Tidak ada Jalan Kepada Allah Selain Melalui Yesus Kristus

24. Kita percaya, bahwa Yesus Kristus telah diberikan kepada kita untuk menjadi satu-satunya Pembela kita.[a] Dia memerintahkan kita untuk menyendiri dan berdoa dalam nama-Nya[b] kepada Bapa-Nya; kita bahkan tidak diperbolehkan berdoa selain dengan memakai contoh yang telah Allah berikan kepada kita melalui Firman-Nya.[c] Oleh karena itu, segala rekaan manusia berkenaan dengan syafaat orang kudus yang telah meninggal merupakan tipu daya iblis semata-mata, yang bermaksud membuat orang menyeleweng dari cara berdoa yang baik.[d] Kita menolak juga semua sarana lain yang menurut sangkaan orang mereka miliki untuk melunasi utangnya di hadapan Allah, sebab sarana-sarana itu mengurangi nilai korban Yesus Kristus, yakni kematian dan penderitaan-Nya. Akhirnya, kita menganggap api penyucian sebagai khayalan, yang berasal dari bengkel yang sama yang juga telah menghasilkan kaul monastik, perziarahan, larangan kawin, larangan memakan daging, perayaan hari-hari tertentu dengan upacara, sakramen pengakuan dosa, surat penghapusan siksa, dan semua hal serupa, yang menurut dugaan orang merupakan amal yang membuat mereka layak menerima rahmat dan keselamatan.[e] Kita menolak semua itu, baik karena salah paham tentang amal yang padanya, maupun karena semua itu hasil rekaan manusia, yang merupakan beban bagi hati nurani.

a. 1Ti 2:5; Kis 4:12; 1Yo 2:1-2. b. Yoh 16:23-24. c. Mat 6:9; Luk 11:1. d. Kis 10:25-26; 14:14; Wah 19:10. e. Mat 15:11; Kis 10:14-15; Rom 4:1-4; Gal 4:9-10; Kol 2:18-23; 1Ti 4:2-5.

Pasal XXIII
Jabatan Pendeta

25. Karena kita menikmati Yesus Kristus hanya melalui Injil,[a] kita percaya bahwa tata gereja yang telah ditetapkan berdasarkan wewenang-Nya, harus dianggap suci dan tidak boleh diganggu gugat. Kita percaya juga bahwa Gereja tidak dapat berdiri tegak kalau tidak ada pendeta-pendeta yang diberi tugas mengajar.[b] maka mereka ini, kalau dipanggil secara sah dan menyelenggarakan jabatan mereka dengan setia, harus disegani dan didengarkan dengan rasa hormat.[c] Bukan seakan-akan Allah terikat pada pembantu atau sarana-sarana lebih rendah seperti mereka, melainkan karena Dia berkenan membimbing dan mengendalikan kita dengan cara demikian. Dalam hal ini kita menjijikkan semua pengkhayal yang berupaya sedapat mungkin untuk meniadakan jabatan pelayan dan pemberitaan Firman Allah bersama pelayanan sakramen-sakramen-Nya.

a. Rom 1:16-17; 10:3. b. Mat 18:20; Efe 1:22-23. c. Mat 10:40; Yoh 13:20; Rom 10:15.

Pasal XXIV
Semua Orang Wajib Bergabung dengan Gereja yang Sejati

26. Jadi, kita percaya bahwa tidak seorang pun patut mengasingkan diri dan berdiri sendiri dengan seenaknya. Sebaliknya, semua orang wajib bersama-sama mempertahankan dan memelihara kesatuan gereja, tunduk pada pengajaran umum dan pada kuk Yesus Kristus,[a] yaitu di mana saja Allah akan menetapkan tata gereja yang benar, sekalipun para penguasa dan ketentuan-ketentuan mereka menentangnya. Kita percaya juga, bahwa semua orang yang tidak bergabung dengannya, atau yang memisahkan diri darinya, melawan perintah Allah.[b]

a. Maz 5:8; 22:23; 42:5; Efe 4:11; Ibr 2:12. b. Kis 4:19-20; Ibr 10:25.

Pasal XXV
Ciri-ciri Gereja yang Sejati

27. Meskipun demikian, kita percaya bahwa orang patut berupaya dengan saksama dan arif agar mengenali Gereja yang sejati, sebab terlalu sering orang menyalahgunakan nama itu.[a] jadi, kita berkata, sesuai dengan Firman Allah, bahwa Gereja itu adalah perhimpunan orang-orang percaya, yang sepakat untuk mengikuti Firman itu beserta agama murni yang mengalir darinya, dan yang maju di dalamnya sepanjang hidup. Dalam diri mereka takut akan Allah semakin bertumbuh dan teguh, sesuai dengan kebutuhan mereka untuk semakin maju dalam perjalanannya.[b] Kita percaya juga bahwa, sekalipun mereka berupaya dengan sekuat tenaga, mereka sepatutnya dengan tiada henti-hentinya berlindung pada pengampunan dosa-dosa mereka.[c] Meskipun demikian, kita sama sekali tidak menyangkal bahwa di tengah orang percaya ada orang munafik dan orang tertolak. Namun, kejahatan mereka tidak dapat menghapuskan nama Gereja.[d]

a. Yer 7:4,8,11-12; Mat 3:9; 7:22; 24:5. b. Efe 2:20; 4:11-12; 1Ti 3:15; Ula 31:12. c. Rom 3:3. d. Mat 13:30; 1Ti 1:18-20.

Pasal XXVI
Penilaian terhadap Gereja Roma

28. Dengan bertolak dari keyakinan ini, kita menyatakan bahwa orang tidak dapat beranggapan ada Gereja dalam arti yang sebenarnya di tempat Firman Allah tidak diterima dan orang sama sekali tidak mengaku tunduk padanya, dan sakramen-sakramen tidak digunakan.{a] Karena itu, kita menolak kumpulan-kumpulan kepausan, sebab di situ kebenaran Allah yang murni dibuang, dan di dalamnya sakramen-sakramen telah dirusak, diganti oleh sakramen gadungan dan palsu, atau sama sekali ditiadakan, serta berlakulah segala macam takhayul serta penyembahan berhala. Maka kita berpendapat bahwa semua orang yang berpartisipasi dalam tindakan demikian dan mengambil bagian di dalamnya, memisahkan dan menceraikan diri dari tubuh Yesus Kristus.[b] Sekalipun demikian, masih tinggal sedikit bekas Gereja dalam kepausan, begitu pula hakikat Baptisan tetap terdapat di dalamnya. Lagi pula, keampuhan Baptisan tidak tergantung pada dia yang melayankannya. karena itu, kita mengakui bahwa mereka yang telah dibaptis di dalamnya tidak memerlukan pembaptisan kedua.[c] Akan tetapi, sebab di dalamnya terdapat begitu banyak kerusakan, tidak mungkin orang membawa anak untuk dibaptis di sana tanpa mencemarkan diri.

a. Mat 10:14-15; Yoh 10:1; 1Ko 3:12-13. b. 2Ko 6:14-16; 1Ko 6:15. c. Mat 3:11; 28:19; Mar 1:8; Kis 1:5; 11:15-17; 19:4-6.

Pasal XXVII
Pemerintahan Gereja

29. Berhubung dengan Gereja yang sejati kita percaya, bahwa Gereja itu harus diperintah menurut tatanan yang telah ditetapkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus.[a] Yaitu, harus ada pendeta-pendeta, penilik-penilik, dan diaken-diaken, supaya berlakulah kemurnian ajaran, pelanggaran-pelanggaran harus dibenahi dan ditekan, orang miskin dan semua orang susah yang lain harus ditolong dalam segala kebutuhan mereka, kumpulan-kumpulan harus berlangsung dalam nama Allah, dan di dalamnya orang besar kecil harus dibina.

a. Kis 6:3-5; Efe 4:11-13; 1Ti 3; Tit 1 dan Tit 2; Mat 18:17.

30. Kita percaya, bahwa semua pendeta sejati, di mana saja mereka berada, memiliki wewenang yang sama besar dan kuasa yang sama tinggi, di bawah satu Kepala, satu Penguasa, dan satu Uskup Am yang tunggal, yaitu Yesus Kristus.[1a] Karena itu, tidak satu pun Gereja boleh menuntut kuasa atau wewenang apa pun atas Gereja lain.

a. Mat 18:2-4; 20:26-27; 1Ko 3:1-6; Efe 1:22; Kol 1:18-19.

31. Kita percaya, bahwa tidak seorang pun boleh menyusup masuk ke dalam pemerintahan Gereja berdasarkan wewenangnya sendiri. Sebaliknya, orang harus memperoleh kedudukan pemerintahan melalui pemilihan, sejauh hal itu mungkin dan Allah mengizinkannya.[a] Kami sengaja menambahkan kekecualian ini, sebab sekali-sekali, bahkan juga pada masa kita sendiri, bila kehidupan Gereja terputus, Allah perlu membangkitkan orang dengan cara istimewa, untuk mendirikan kembali Gereja yang telah menjadi puing-puing dan hancur.[2] Bagaimanapun juga, kita percaya bahwa orang perlu senantiasa menaati patokan ini: semua pendeta, penilik, dan diaken harus memiliki bukti bahwa mereka telah dipanggil ke jabatan mereka.[b]

a. Mat 28:18-19; Mar 16:15; Yoh 15:16; Kis 1:21-26; 6:1-2; Rom 10:15; Tit 1:5-7. b. Gal 1:15; 1Ti 3:7-10,15.

32. Kita percaya juga, bahwa orang-orang percaya yang telah terpilih menjadi pemimpin sebaiknya berunding bersama-sama mengenai cara yang harus ditempuh dalam hal pemerintahan seluruh tubuh.[a] Dalam pada itu, mereka tidak boleh menyimpang sedikit pun dari apa yang telah diperintahkan kepada kita mengenai hal itu oleh Tuhan kita Yesus Kristus.[b] Hal ini tidak mencegah adanya beberapa ketentuan khusus di tiap tempat, sesuai dengan kebutuhan dalam praktek.

a. Kis 15:2,6-7,25,28; Rom 12:6-8; 1Ko 12:7-8. b. 1Pe 5; 1Ko 14:40.

33. namun, kita menolak semua hasil rekaan manusia, dan semua undang-undang yang hendak diberlakukan dengan dalih melayani Allah, untuk mengikat hati nurani orang dengannya.[a] kita hanya menerima apa yang berfungsi dan cocok untuk memelihara kerukunan, dan untuk membuat setiap orang tetap taat, dari yang pertama hingga yang terakhir. Dalam hal ini kita perlu mengikuti apa yang telah dinyatakan Tuhan kita berkenaan dengan pengucilan dari jemaat.[b] Pengucilan itu kita benarkan dan akui perlu, bersama segala sesuatu yang bersangkut paut dengannya.

a. Rom 16:17-18; 1Ko 3:11; Kol 2:6-8; Gal 5:1. b. Mat 18:17; 1Ko 5:5; 1Ti 1:9-10.

Pasal XXVIII
Sakramen-sakramen

34. Kita percaya, bahwa Sakramen-sakramen ditambahkan pada Firman menjadi peneguhan lebih jauh, supaya bagi kita merupakan petaruh dan meterai rahmat Allah dan dengan demikian membantu dan menghibur iman kita, disebabkan kelemahan dan kebodohan yang terdapat dalam diri kita.[a] Sakramen-sakramen itu merupakan tanda-tanda lahir, dalam arti bahwa Allah bertindak melaluinya, dalam kekuatan Roh-Nya, agar olehnya tidak ditandakan apa pun kepada kita dengan sia-sia.[b] Kendati demikian, kita yakin bahwa seluruh hakikat dan kebenaran yang diungkapkan di dalamnya ada dalam Yesus Kristus.[c] Kalau orang memisahkannya dari Dia, Sakramen itu tinggal bayangan dan asap semata-mata.

a. 1Ko 10; 11:23-24; Kel 12:12; Mat 26:26-27; Rom 4:11; Kis 22:16. b. Gal 3:27; Efe 5:26. c. Yoh 3:12; 6:50-57.

35. Menurut pengakuan iman kita, hanya ada dua Sakramen yang merupakan milik bersama seluruh Gereja. Yang pertama di antaranya, yaitu Baptisan, telah diberikan kepada kita agar menjadi kesaksian tentang pengangkatan kita sebagai anak. Sebab, di dalamnya kita dicangkokkan menjadi anggota tubuh Kristus, agar kita dibasuh dan dibersihkan oleh darah-Nya, lalu dibarui untuk menempuh hidup yang suci oleh Roh Kudus-Nya.[a] Juga, kendati kita hanya dibaptis satu kali, kita yakin bahwa manfaat yang ditandakan dalam baptisan itu mencakup baik kehidupan maupun kematian kita, agar kita memiliki tanda tangan yang memastikan terus-menerus bahwa Yesus Kristus senantiasa akan menjadi kebenaran dan kesucian bagi kita.[b] Baptisan memang merupakan sakramen iman dan pertobatan; namun, karena Allah menerima anak-anak kecil ke dalam Gereja-Nya bersama bapak-bapak mereka, kita berkata bahwa berdasarkan kuasa Yesus Kristus anak-anak kecil orang percaya harus dibaptis.[c]

a. Rom 6:3; Tit 3:5-6; Kis 22:16. b. Mat 3:11-12; Mar 16:16; Rom 6:1-4. c. Mat 19:14; 1Ko 7:14.

36. Kita mengaku, bahwa Perjamuan Kudus (yang merupakan Sakramen kedua) bagi kita merupakan kesaksian tentang kesatuan kita dengan Yesus Kristus.[a]Karena Dia tidak hanya sekali saja mati dan dibangkitkan bagi kita, tetapi juga benar-benar memberi makan dan mengenyangkan kita dengan daging serta darah-Nya, supaya kita menjadi satu dengan Dia dan kehidupan-Nya menjadi milik kita bersama.[b] Maka, meski Dia berada di surga sampai Dia datang untuk menghakimi seluruh dunia,[c] kita percaya bahwa melalui kekuatan Roh-Nya yang rahasia dan tak terpahami Dia memberi makan dan menghidupkan kita dengan zat tubuh dan darah-Nya.[d] Kita yakin bahwa hal itu berlangsung secara rohani, bukan karena kita hendak mengemukakan khayalan dan rekaan alih-alih hasil nyata dan kebenaran, melainkan karena kedalaman rahasia ini melebihi ukuran indera kita dan seluruh tatanan alam. Pendeknya, karena Dia bersifat sorgawi, Dia hanya dapat dipegang melalui iman.

a. 1Ko 10:16-17; 11:24. b. Yoh 6:57-57; 17:11,22. c. Mar 16:19; Kis 3:21. d. 1Ko 10:16; Yoh 6.

37. Sebagaimana telah dikatakan, kita percaya, bahwa baik dalam Perjamuan Malam maupun dalam Baptisan, Allah memberi kita dengan sungguh-sungguh dan ampuh apa yang Dia lambangkan di dalamnya. Oleh karena itu, dengan tanda-tanda kita hubungkan pemilikan dan kenikmatan yang sungguh-sungguh dari apa yang disodorkan kepada kita di dalamnya. Sebab itu, semua orang yang datang ke meja Kristus yang kudus dengan membawa serta iman benar, bagaikan bejana, benar-benar menerima apa yang diperlihatkan oleh tanda-tanda itu, yaitu bahwa tubuh dan darah Yesus Kristus berguna untuk memberi jiwa makan dan minum sama seperti roti dan anggur berguna untuk badan.[a]

a. 1Ko 11; Yoh 6.

38. Oleh karena itu, kita yakin bahwa air, kendati merupakan unsur yang cepat berlalu, terus-menerus dan benar-benar menandakan kepada kita pembasuhan batin jiwa kita dengan darah Yesus Kristus, oleh keampuhan Roh-Nya,[a] dan bahwa roti dan anggur yang disuguhkan kepada kita dalam Perjamuan Malam sungguh-sungguh berguna bagi kita sebagai makanan rohani, sebab membuat kita melihat seakan-akan dengan mata kepala sendiri bahwa daging Yesus Kristus adalah makanan bagi kita, dan darah-Nya minuman kita.[b] Dan kita menolak kaum sakramentaris pengkhayal,[1] yang tidak mau menerima tanda-tanda dan markah-markah[2] yang demikian. Sebab, Yesus Kristus menyatakan, "Inilah tubuh-Ku", dan "Cawan ini darah-Ku".[c]

a. Rom 6:3. b. Yoh 6; 1Ko 11. c. Mat 26:26; 1Ko 11.

Pasal XXIX
Jabatan Pemerintah Negara

39. Kita percaya, bahwa Allah menghendaki supaya dunia diperintah melalui hukum-hukum dan undang-undang, agar tersedia kekang untuk menekan nafsu dunia yang tak terkendali. Untuk itu, Dia telah menetapkan kerajaan-kerajaan, republik-republik, dan berbagai jenis negara lain, apakah kekuasaan dialihkan berdasarkan hukum waris atau dengan cara lain, dan seluruh aparat peradilan, dan mau dipandang sebagai pembuatnya. Karena itu, Dia telah membuat pemerintah menyandang pedang untuk menekan dosa-dosa yang dilakukan melawan Loh kedua hukum-hukum Allah, bahkan juga melawan Loh pertama. Maka demi Dialah orang wajib tidak hanya menerima bahwa para atas berkuasa,[a] tetapi juga menghormati mereka dan menjunjung tinggi mereka, dan memandang mereka sebagai wakil-wakil serta pejabat-pejabat-Nya yang diberi-Nya tugas menyelenggarakan jabatan yang sah dan kudus.[b]

a. Kel 18:20-21; Mat 17:24-27; Rom 13. b. 1Pe 2:13-14; 1Ti 2:2.

40. Oleh karena itu, kita berpendirian bahwa orang harus mematuhi hukum-hukum dan ketetapan-ketetapan mereka,[a] membayar pajak, cukai, serta semua hal lain yang menjadi kewajiban, dan menanggung kuk, artinya tunduk dengan sukarela, sekalipun mereka adalah orang tidak percaya, asal saja Kerajaan Allah yang berdaulat[1] tetap utuh.[b] Karena itu, kita menjijikkan mereka yang menolak lembaga-lembaga pemerintahan, yang ingin menciptakan kekacauan dengan menjadikan semua harta milik bersama, dan yang menumbangkan tata hukum.

a. Mat 17:24. b. Kis 4:17-20; 18:9.

Pengakuan Iman Gereja Belanda (1561)

Reformasi Calvinis memasuki negeri Belanda dari Selatan. Pada zaman itu wilayah negeri Belanda dan Belgia masih bersatu, di bawah pemerintahan Raja Filips II, yang juga Raja Spanyol. Bagian selatan, yaitu Belgia Selatan yang sekarang, berbahasa Perancis, daerah utara, dari Brussel ke atas, berbahasa Belanda. Masuk akallah kalau yang paling pertama menganut Calvinisme ialah penduduk bagian Selatan, yang berbahasa Perancis. Salah seorang pendeta mereka ialah Guido de Bres (1522-1567). Salah satu masalah besar yang dihadapi gerakan Calvinis ialah pandangan pemerintah bahwa para pengikut Calvin sama saja dengan kaum Anabaptis, yang dipandang sebagai perusuh. Karena itu, De Bres menyusun semacam pertanggungjawaban dengan maksud menjelaskan posisi kaum Calvinis kepada tokoh-tokoh pemerintahan (1559). Karangan itu disempurnakannya setelah berkonsultasi kepada beberapa rekan pendeta. Pada malam hari 2 November 1561, ia menyampaikannya kepada pemerintah bersama surat pengantar kepada Raja Filips, dengan cara melemparkannya kepada ke dalam benteng yang telah dibangun di kotanya, yaitu Tournai (Doornik). Karena gerakan Calvinis telah menyebar ke bagian Belanda yang berbahasa Belanda, satu tahun kemudian naskah berbahasa Perancis itu diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, dan pada tahun 1563 salah satu sinode wilayah menetapkan bahwa semua pendeta, penatua, dan diaken wajib menandatanganinya. Sinode-sinode yang diadakan di kemudian hari menegaskan status pengakuan iman Belanda ini sebagai salah satu "rumus keesaan", artinya karangan yang wajib (wajib) diakui oleh semua jemaat yang bergabung dalam Gereja Reformasi Belanda (bnd. Katekismus Heidelberg dan Pasal-pasal melawan orang Remonstran). Dalam kepustakaan, pengakuan gereja Belanda ini sering diberi nama singkat, yaitu "(Confessio) Belgica" dari Latin Belgium = wilayah Belanda dan Belgia sekarang).

Pasal 1
Allah yang esa

Kita semua percaya dengan hati, dan mengaku dengan mulut,
bahwa ada satu Zat Rohani yang esa dan sederhana,
yang kita namakan Allah.
Dia kekal, tidak terpahami, tidak kelihatan, tidak berubah-ubah, tak terhingga,
mahakuasa, berhikmat sempurna, mahaadil, mahabaik,
dan sumber serba berlimpah segala hal yang baik.

Pasal 2
Sarana-sarana untuk mengenal Allah

Kita mengenal Dia melalui dua sarana.
Pertama, melalui penciptaan, pemeliharaan, dan pemerintahan seluruh alam.
Sebab di depan mata kita alam itu bagaikan buku yang indah,
yang di dalamnya segala ciptaan Allah,
yang besar maupun kecil,
menjadi seperti huruf-huruf
yang menyatakan kepada kita
apa yang tidak tampak dari Allah,
yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya,
menurut perkataan Rasul Paulus dalam Rom 1:20.
Semua itu cukup untuk membuktikan kesalahan manusia
sehingga mereka tidak dapat berdalih.
Kedua, Dia memperkenalkan diri kepada kita
dengan lebih jelas dan sempurna lagi
oleh Firman-Nya yang kudus dan ilahi,
yaitu sekadar kebutuhan kita dalam hidup ini,
demi kemuliaan-Nya dan demi keselamatan orang-orang milik-Nya.

Pasal 3
Firman Allah yang tertulis

Kita mengaku, bahwa Firman Allah ini tidak disampaikan atau dihasilkan oleh
kehendak manusia,

tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah,
menurutperkataan Rasul Petrus dalam 2Pe 1:21.
Sesudah itu Allah,
karena perhatian-Nya yang khusus kepada kita dan keselamatan kita,
menyuruh hamba-hamba- Nya,
yaitu Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul,
membukukan Firman-Nya yang telah dinyatakan.
Dan Dia sendiri menulis dengan jari-Nya
kedua loh batu Taurat.
Oleh karena itu, kita menyebut tulisan- tulisan yang demikian
Kitab-kitab Suci dan Ilahi

Pasal 4
Kitab-kitab kanonik

Kita mengelompokkan Kitab Suci menjadi dua buku,
yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Kedua buku ini adalah kitab-kitab kanonik, yang tidak dapat dibantah.
Kitab- kitab tersebut didaftar di dalam gereja Allah sebagai berikut:
Kitab-kitab Perjanjian Lama:
kelima kitab Musa, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Kitab Yosua, Kitab Hakim-hakim, Kitab Rut,
kedua Kitab Samuel, kedua Kitab Raja-raja,
kedua Kitab Tawarikh,
Kitab Ezra yang pertama, (1)Kitab Nehemia, Ester, Ayub,
Mazmur Daud, ketiga Kitab Salomo, yaitu Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung,
Kitab keempat nabi yang besar, yaitu Yesaya, Yeremia,(2)Yehezkiel, dan Daniel,
dan selanjutnya kedua belas nabi kecil lainnya yang kecil,
yaitu Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.
Perjanjian Baru:
Keempat pengarang Kitab Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Kisah Para Rasul,
Keempat belas Surat Rasul Paulus, yaitu kepada jemaat di Roma, dua kepada jemaat di Korintus, kepada jemaat di Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, dua kepada jemaat di Tesalonika, dua kepada Timotius, kepada Titus, kepada Filemon, kepada orang Ibrani,(1)
ketujuh Surat Rasul-Rasul lain, yaitu Surat Yakobus, dua Surat Petrus, tiga Surat Yohanes, Surat Yudas,
dan Wahyu kepada Yohanes.

Pasal 5
Dasar kewibawaan Kitab Suci

Hanya semua kitab ini saja kita terima
sebagai kitab-kitab suci dan kanonik,
agar menjadi patokan, asas, dan penyangga iman kita.
Dan kita percaya akan semua hal yang tercakup di dalamnya,
dengan tidak menaruh wasangka.
Bukan hanya karena Gereja menerimanya, dan menganggapnya begitu,
melainkan terutama karena Roh Kudus menyaksikan di dalam hati kita,
bahwa kitab-kitab ini berasal dari Allah,
dan juga karena bukti tentang hal itu terkandung di dalamnya,
mengingat orang buta pun dapat meraba,
bahwa apa yang dinubuatkan di dalamnya sungguh terjadi.

Pasal 6
Perbedaan antara Kitab-kitab Kanonik dan Kitab- kitab Apokrif

Kita membedakan antara Kitab-kitab Kanonik dan Kitab-kitab Apokrif, yakni kitab Ezra yang ketiga dan keempat, Kitab Tobit, Kitab Yudit, Kitab Kebijaksanaan, Putera Sirakh, Barukh, Tambahan-tambahan pada kisah Ester, Doa ketiga orang dalam perapian, Kisah Susana, Patung Bel dan Naga, Doa Manasye, dan kedua Kitab Makabe.
Gereja memang boleh membaca kitab-kitab ini
dan mengambil pelajaran-pelajaran dari dalamnya juga,
sejauh isinya sesuai dengan Kitab-kitab Kanonik.
Akan tetapi, Kitab-kitab Apokrif ini tidak mempunyai kekuatan dan kuasa yang begitu rupa,
sehingga melalui kesaksian apa saja dari dalamnya orang dapat meneguhkan satu pasal sekalipun dari iman atau dari Agama Kristen.
Lebih-lebih, kitab-kitab itu tidak mungkin mengurangi wibawa kitab- kitab lain, yang suci.

Pasal 7
Kesempurnaan Kitab Suci sebagai satu-satunya patokan bagi iman kita

Kita percaya, bahwa Kitab Suci ini
berisi kehendak Allah secara sempurna,
dan bahwa segala sesuatu yang harus dipercayai manusia untuk diselamatkan diajarkan di dalamnya dengan secukupnya.
Sebab seluruh cara berbakti
yang dituntut Allah dari kita
tertulis di dalamnya dengan panjang lebar.
Oleh karena itu, tidak boleh seorang pun,
sekalipun ia seorang rasul,
membawa ajaran lain daripada yang telah diajarkan
kepada kita oleh Kitab Suci,
bahkan sekalipun ia seorang malaikat dari surga
menurut perkataan rasul Paulus dalam Gal 1:8
Larangan menambahi atau mengurangi Firman Allah (bnd. Ula 12:32)
menunjukkan betapa ajarannya sempurna dan lengkap.
Juga tidak boleh tulisan manusia,
betapapun sucinya,
disamakan dengan Kitab-kitab ilahi.
Pun tidak boleh kebiasaan disamakan dengan kebenaran Allah,
(sebab kebenaran melebihi segala sesuatu),
atau jumlah besar orang,
atau ketuaan,
atau suksesi zaman atau orang,
atau konsili-konsili, dekrit-dekrit atau keputusan-keputusan.
Sebab sekalian orang adalah sumber dusta
dan puncak kesia- siaan (bnd. Maz 62:10).
Oleh sebab itu,
kita menolak dengan sepenuh hati
segala sesuatu yang tidak sesuai dengan patokan yang tidak dapat bersalah itu, sebagaimana diajarkan kepada kita oleh para rasul,
katanya, Ujilah roh-roh, apakah mereka berasal dari Allah(1Yo 4:1),
begitu juga, jikalau seorang datang kepadamu,
dan ia tidak membawa ajaran ini,
janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu( 2Yo 10)

Pasal 8
Ketritunggalan Allah yang kudus

Sesuai dengan kebenaran dan Firman Allah itu
kita percaya kepada Allah yang esa,
yang adalah satu Zat yang tunggal,
yang di dalam-Nya ada tiga Pribadi,
yang sungguh- sungguh, benar-benar, dan dari kekekalan
berlainan menurut sifat- sifat Mereka yang tidak sama-sama Mereka miliki,
yaitu Bapa dan Anak dan Roh Kudus.
Bapa adalah sebab, asal, dan awal segala hal,
baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.
Anak adalah Firman, hikmat, dan gambar Bapa.
Roh Kudus adalah kuasa dan kekuatan yang kekal
yang keluar dari Bapa dan Anak.
Akan tetapi, perbedaan ini tidak menyebabkan Allah terbagi tiga,
sebab Kitab Suci mengajarkan kepada kita
bahwa Bapa dan Anak dan Roh Kudus
masing-masing mempunyai wujud-Nya sendiri,
yang berbeda karena sifat-sifat-Nya.
Tetapi begitu rupa, sehingga ketiga Pribadi ini
hanya merupakan satu Allah yang Esa.
Maka nyatalah Bapa bukan Anak dan Anak bukan Bapa,
demikian juga Roh Kudus bukan Bapa dan bukan juga Anak.
Sementara itu, ketiga Pribadi ini,
yang berbeda-beda seperti itu,
tidaklah terbagi,
tidak bercampur, dan tidak terbaur.
Sebab Bapa tidak mengenakan daging manusia,
Roh Kudus juga tidak,
tetapi hanya Anak saja.
Bapa tidak pernah tinggal sendiri,
tanpa Anak-Nya atau Roh-Nya yang Kudus.
Sebab ketiga-Nya sama-sama kekal
dalam satu Zat yang sama.
Tidak ada yang lebih dulu, tidak ada yang lebih kemudian,
sebab ketiga-Nya satu,
dalam kebenaran dan dalam kekuatan,
dalam kebaikan dan dalam kemurahan.

Pasal 9
Ketiga Pribadi dalam Allah yang esa

Semua itu kita ketahui
baik dari kesaksian- kesaksian Kitab Suci
maupun dari karya-karya Mereka,
dan terutama dari karya-karya
yang kita rasai di dalam diri kita.
Kesaksian-kesaksian Kitab-Kitab Suci, yang mengajari kita
percaya kepada Ketritunggalan ini,
tertulis dalam banyak nas Perjanjian Lama;
nas-nas itu tidak perlu dihitung,
tetapi harus dipilih dengan cermat.
Dalam Kejadian Kej 1:26-27 Allah berkata,
Baiklah Kita menjadikan manusia
menurut gambar dan rupa Kita, dst.
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya,
laki-laki dan perempuan diciptakan- Nya mereka.
Demikian juga dalam Kej 3:22,
Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita.
Dari situ nyatalah ada lebih dari satu Pribadi di dalam Keallahan,
bila Dia berfirman, Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar Kita.
Selanjutnya Dia menunjukkan kesatuan,
bila Dia berfirman, Maka Allah menciptakan.
Memang, Dia tidak berkata berapa jumlah Pribadi.
Tetapi, apa yang agak kurang terang bagi kita dalam Perjanjian Lama
menjadi sangat jelas dalam Perjanjian Baru.
Sebab waktu Tuhan kita dibaptis di Sungai Yordan,
terdengarlah suara Bapa, bunyinya,
Inilah Anak yang Kukasihi;
Anak tampak di dalam air,
dan Roh Kudus menyatakan diri dalam rupa burung merpati.
Juga, untuk Baptisan semua orang percaya
Kristus sudah menetapkan formula ini,
Baptislah semua bangsa dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus(Mat 28:19)
Dalam Injil Luk 1:35, malaikat Gabriel berkata kepada Maria, ibu Tuhan:
Roh Kudus akan Turun atasmu
dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau;
sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
Begitu juga, Kasih Karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah,
dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian (2Ko 13:13).
Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam surga, Bapa, Firman, dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu(1Yo 5:9)
Dalam semua nas itu kita diajari sepenuhnya
bahwa ada tiga Pribadi di dalam satu Zat ilahi yang esa.
Meskipun ajaran ini jauh melampaui daya tangkap manusia,
namun oleh Firman kita sekarang mempercayainya,
sambil merindukan kenikmatan pengetahuan dan hasilnya yang sempurna dalam surga.
Lagi pula, harus dicamkan juga jabatan-jabatan dan karya-karya ketiga pribadi itu terhadap kita.
Bapa dinamakan Khalik kita oleh karena kuasa-Nya;
Anak adalah Juruselamat dan Penebus kita oleh karena darah-Nya;
Roh Kudus adalah yang menyucikan kita
oleh karena hati kita dijadikan-Nya tempat kediaman-Nya.
Ajaran mengenai Ketritunggalan yang kudus ini
senantiasa dipertahankan dan dipelihara dalam Gereja yang sejati,
sejak zaman para rasul hingga sekarang,
melawan orang Yahudi, orang Islam,
dan beberapa orang Kristen palsu dan orang sesat,
seperti Marcion, Mani, Praxeas, Sabellius, Paulus dari Samosata, Arius, dan lain sebagainya,
yang telah ditolak dengan sepatutnya oleh bapa-bapa gereja yang suci.
Oleh karena itu, dalam bidang ini dengan rela hati kita menerima ketiga Pengakuan Iman, yaitu Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea, dan Pengakuan Iman Atanasius.
Dan juga keputusan-keputusan mengenai hal ini yang diambil oleh bapa-bapa Gereja Lama sesuai dengan pengakuan tersebut.

Pasal 10
Yesus Kristus adalah Allah sejati dan kekal

Kita percaya, bahwa Yesus Kristus, menurut tabiat keallahan-Nya,
adalah Anak Allah yang tunggal, yang diperanakkan dari kekekalan;
tidak dijadikan atau diciptakan
(sebab seandainya begitu Dia adalah ciptaan),
tetapi se-Zat dengan Bapa, sama kekal,
gambar teraan wujud Bapa dan cahaya kemuliaan- Nya(Ibr 1:3),
dalam segala hal setara dengan Dia (Fil 2:6).
Dia adalah Anak Allah,
bukan hanya sejak Dia mengenakan tabiat kita,
melainkan dari kekekalan,
sebagaimana diajarkan kepada kita oleh kesaksian-kesaksian ini
kalau dibandingkan satu dengan yang lain.
Musa berkata, bahwa Allah telah menciptakan dunia (Kej 1:1)
dan Yohanes berkata, bahwa segala sesuatu dijadikan oleh Firman,
yang dinamakannya Allah (1Yo 1:3).
Sang Rasul(1) berkata, bahwa Allah telah menciptakan alam semesta melalui Anak-Nya (Ibr 1:2),
begitu pula, bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu melalui Yesus Kristus (Kol 1:16).
Kesimpulannya ialah, Dia yang dinamakan Allah, Firman, Anak, dan Yesus Kristus sudah ada ketika segala sesuatu diciptakan melalui Dia.
Oleh sebab itu Nabi Mikha berkata,
Permulaan-Nya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala(Mik 5:1).
Dan Sang Rasul berkata, Hari-Nya tidak berawal dan hidup-Nya tidak berkesudahan (Ibr 7:3).
Maka Dia adalah Allah sejati dan kekal, Yang Mahakuasa. Kepada Dia kita berseru, menyembah, dan berbakti.

Pasal 11
Roh Kudus adalah Allah sejati dan kekal

Kita percaya dan mengaku juga,
bahwa Roh Kudus dari kekekalan keluar dari Bapa dan Anak.
Dia tidak dijadikan atau diciptakan, ataupun diperanakkan,
tetapi hanya keluar dari kedua- Nya itu.
Menurut urutan Dia adalah Pribadi yang ketiga dalam Ketritunggalan,
se-Zat, sama agungnya, sama mulianya dengan Bapa dan Anak;
Allah sejati dan kekal,
sebagaimana diajarkan kepada kita oleh Kitab-kitab Suci.

Pasal 12
Penciptaan segala sesuatu, khususnya penciptaan malaikat-malaikat

Kita percaya, bahwa Bapa,
melalui Firman-Nya, yaitu melalui Anak-Nya,
telah menciptakan langit, bumi, dan segala makhluk
dengan tidak memerlukan bahan apa pun,
yaitu ketika Dia berkenan
memberi tiap-tiap makhluk wujud, bentuk, dan rupa,
dan bermacam-macam tugas
untuk melayani Penciptanya.
Kita percaya, bahwa sekarang pun
Dia memelihara dan memerintah semua itu,
menurut pemeliharaan-Nya yang kekal,
dan oleh kuasa-Nya yang tidak terhingga,
agar melayani manusia,
dengan maksud supaya manusia melayani Allahnya.
Dia telah menciptakan pula malaikat-malaikat dengan baik,
agar menjadi utusan-utusan-Nya dan melayani orang-orang pilihan-Nya.
Di antaranya ada yang kehilangan keulungan,
yang di dalamnya mereka diciptakan Allah,
dan jatuh ke dalam kebinasaan kekal.
Adapun yang lain- lain, oleh rahmat Allah
mereka bertahan,
dan tetap tinggal dalam keadaan semula.
setan-setan dan roh-roh jahat itu begitu buruk,
sehingga mereka menjadi musuh Allah dan musuh segala kebaikan.
Mereka mengincar dengan sekuat tenaga Gereja dan setiap anggotanya bagaikan pembunuh
yang akan merusak dan membinasakan segala sesuatu
oleh tipu dayanya.
Oleh karena itu, karena kejahatannya sendiri, mereka dijatuhi hukuman kebinasaan kekal,
dan sehari-hari mereka menantikan siksaan yang ngeri.
Maka kita menolak dan menjijikkan ajaran sesat orang Saduki dalam hal ini, yang menyangkal adanya roh-roh dan malaikat-malaikat,
dan juga ajaran sesat kaum Manikheis,
yang mengatakan bahwa setan-setan berasal dari dirinya sendiri,
karena kejahatan mereka disebabkan kodratnya sendiri tanpa mengalami perusakan.

Pasal 13
Pemeliharaan dan pemerintahan Allah atas segala sesuatu

Kita percaya, bahwa Allah yang baik itu,
setelah menciptakan segala sesuatu, tidak membiarkannya,
dan tidak menyerahkannya kepada peruntungan atau kepada nasib.
Sebaliknya, Dia mengendalikan dan memerintah segala sesuatu
menurut kehendak- Nya yang kudus,
begitu rupa, sehingga dalam dunia ini tidak terjadi sesuatu apa pun tanpa aturan-Nya.
Meskipun demikian, Allah tidak menjadikan dosa yang terjadi,
dan Dia tidak bersalah atasnya.
Sebab kuasa dan kebaikan-Nya begitu besar
dan tidak terjangkau pengertian,
sehingga Dia mengatur dan melaksanakan karya-Nya dengan sangat baik dan adil,
sekalipun setan-setan dan orang fasik melakukan ketidakadilan.
Dan mengenai apa yang dilakukan-Nya dengan melampaui pikiran manusia,
kita tidak ingin mengusiknya, dengan melewati batas kemampuan kita.
Bahkan kita memuja dengan segala kerendahan hati dan rasa hormat
hukuman- hukuman Allah yang adil,
yang tersembunyi bagi kita.
Kita menganggap cukup menjadi murid-murid Kristus,
untuk sekadar mempelajari apa yang ditunjukkan-Nya kepada kita dalam Firman-Nya,
tanpa melewati batas-batas itu.
Ajaran ini memberi kita hiburan yang tak terkatakan,
sebab olehnya kita diajar,
bahwa apa saja yang menimpa kita tidak terjadi secara kebetulan,
tetapi semata- mata oleh ketentuan Bapa surgawi kita yang baik,
yang menjaga kita dan mengasuh kita laksana seorang bapak.
Dia memegang segala makhluk-Nya di bawah kuasa-Nya, begitu rupa
sehingga tak sehelai rambut kepala kita pun
(sebab terhitung semuanya)
bahkan seekor burung pipit pun,
dapat jatuh ke bumi di luar kehendak Bapa kita (Mat 10:30,29).
Di dalamnya kita berteduh,
karena kita mengetahui, bahwa Allah mengekang setan-setan
beserta semua musuh kita,
yang tak dapat merugikan kita di luar izin dan kehendak-Nya.
Dalam hal ini kita menolak ajaran sesat dan terkutuk kaum Epikureis,(1)
yang mengatakan, Allah tidak peduli,
dan membiarkan semua hal terjadi dengan cara kebetulan.

Pasal 14
Penciptaan dan kejatuhan manusia, dan ketidakmampuan manusia untuk berbuat baik

Kita percaya, bahwa Allah telah menciptakan manusia dari debu tanah,
dan menjadikan serta membentuk dia menurut gambar dan rupa-Nya,
yaitu baik, benar, dan kudus.
Oleh kehendaknya manusia sanggup menyesuaikan diri dengan kehendak Allah
dalam segala hal.
Akan tetapi, ketika manusia sedang mulia ia tidak mempunyai pengertian,
dan tidak menyadari keulungannya.
Sebaliknya, dengan rela hati ia takluk kepada dosa,
dan oleh karena itu kepada maut dan kutuk,
karena membuka telinga untuk perkataan iblis.
Sebab hukum kehidupan yang telah diterimanya itu dilanggarnya,
dan oleh dosa ia memisahkan diri dari Allah,
yang adalah hidupnya yang sejati.
Ia telah merusak segenap kodratnya,
dan dengan demikian ia patut dihukum mati,
baik secara jasmani maupun secara rohani.
Oleh karena manusia menjadi fasik dan buruk,
serta bejat dalam segala jalannya,
maka ia kehilangan semua karunia gemilang,
yang telah diterimanya dari Allah,
sehingga tiada yang tinggal kecuali hanya sisa-sisa yang kecil saja.
Akan tetapi, sisa-sisa itu cukup sehingga manusia tidak dapat berdalih,
karena seluruh terang yang ada di dalam diri kita telah berubah menjadi kegelapan,
sebagaimana diajarkan Alkitab kepada kita, yang berbunyi,
Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak memahaminya'; di sini Yohanes menamakan manusia 'kegelapan'.
Karena itu, kita menolak segala ajaran yang bertentangan dengan hal-hal itu,
seakan-akan manusia memiliki kehendak bebas,
sebab manusia tidak lain dari hamba dosa
dan tidak dapat mengambil sesuatu bagi dirinya,
kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga.
Sebab siapakah yang akan memegahkan kemampuannya untuk berbuat sesuatu yang baik seakan-akan hal itu timbul dari dirinya sendiri,
sedangkan Kristus berkata:
Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku,
jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku?
Siapakah yang akan mengemukakan kehendaknya,
sedangkan ia memahami bahwa keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah?
Siapakah yang akan menyebut-nyebut pengetahuannya,
sedangkan ia melihat bahwa manusia duniawi tidak memahami apa yang berasal dari Roh Allah?
Pendeknya, siapakah yang akan mengajukan suatu pikiran,
sedangkan ia sadar bahwa dengan diri kita sendiri kita tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kita sendiri, tetapi bahwa kesanggupan kita adalah pekerjaan Allah?
Oleh karena itu, benar-benar patut apa yang dikatakan Sang Rasul tetap dianggap teguh dan pasti, yaitu bahwa Allahlah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.
Sebab tidak ada pengertian atau kehendak yang serupa dengan pengertian dan kehendak Allah,
kecuali yang dikerjakan Kristus di dalam manusia.
Hal itu diajarkan-Nya kepada kita, kata-Nya,
Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Pasal 15
Dosa turunan

Kita percaya, bahwa oleh ketidaktaatan Adam
dosa turunan sudah menjalar kepada seluruh umat manusia.
Dosa turunan itu adalah kerusakan seluruh kodrat,
dan cacat turunan.
Kanak-kanak pun sudah dicemari olehnya,
bahkan di dalam kandungan ibunya.
Dosa tersebut menghasilkan di dalam manusia bermacam-macam dosa,
seolah-olah menjadi akarnya di dalam dirinya.
Oleh karena itu, dosa turunan itu demikian buruk dan keji di hadapan Allah,
sehingga sudah cukup untuk menghukum seluruh umat manusia.
Bahkan, oleh baptisan pun dosa turunan itu tidak seluruhnya ditiadakan, dan akarnya tidak dicabut seluruhnya,
sebab dosa selalu memancar dari dalamnya
bagaikan air dari mata air yang mendatangkan celaka.
Meskipun demikian, kepada anak-anak Allah
dosa turunan itu tidak diperhitungkan menjadi sebab penghukuman,
tetapi diampuni, oleh rahmat dan kemurahan hati Allah,
bukan supaya mereka itu dapat tertidur dengan sentosa di tengah-tengah dosa,
melainkan supaya kesadaran akan kerusakan itu membuat orang percaya sering kali berkeluh
dan berkeinginan supaya dilepaskan dari tubuh maut.
Dalam hal ini kita menolak ajaran sesat kaum pengikut Pelagius,
yang menyatakan bahwa dosa itu hasil tiruan semata-mata.

Pasal 16
Pemilihan Allah yang kekal

Kita percaya, bahwa setelah seluruh keturunan Adam,
oleh dosa manusia pertama,
takluk pada kebinasaan dan keruntuhan,
Allah menyatakan diri-Nya sebagaimana ada-Nya,
yaitu penyayang dan adil.
Penyayang, sebab dari kebinasaan itu ditarik-Nya dan dilepaskan-Nya
mereka yang dalam rencana-Nya yang kekal dan tidak berubah-ubah
telah dipilih-Nya dalam Yesus Kristus, Tuhan kita,
hanya karena kebaikan-Nya semata-mata,
dengan tiada memperhitungkan sedikit pun perbuatan-perbuatan mereka.
Adil, karena yang lain-lain ditinggalkan-Nya
dalam kejatuhan dan kebinasaan
tempat mereka telah menghamburkan diri.

Pasal 17
Pemulihan manusia yang telah jatuh

Kita percaya, bahwa Allah kita yang baik,
- melihat bahwa dengan demikian manusia sudah menghamburkan diri
ke dalam maut jasmani maupun rohani,
dan sudah mencelakakan dirinya sama sekali -
karena hikmat dan kebaikan-Nya yang menakjubkan,
pergi sendiri mencari manusia,
ketika manusia itu lari dari-Nya dengan gemetar,
dan menghibur dia dengan perjanjian akan mengaruniakan Anak-Nya,
yang akan lahir dari seorang perempuan (Gal 4:4),
supaya ia meremukkan kepala ular (Kej 3:15),
dan membahagiakan manusia itu.

Pasal 18
Anak Allah menjadi manusia

Maka dari itu, kita mengaku, bahwa Allah sudah menggenapi janji,
yang telah diberikan-Nya kepada bapa-bapa leluhur
melalui mulut nabi-nabi-Nya yang kudus.
Dia telah mengutus Anak-Nya sendiri yang tunggal dan kekal
ke dalam dunia,
pada waktu yang telah ditentukan-Nya.
Dia telah mengambil rupa seorang hamba,
dan menjadi sama dengan manusia,
dengan sungguh-sungguh mengenakan tabiat manusia yang sejati
dengan segala kelemahannya (kecuali dosa).
Sebab Dia dikandung dalam badan anak dara Maria yang berbahagia,
oleh kekuatan Roh Kudus, tanpa perbuatan seorang laki-laki.
Dan Dia mengenakan tabiat manusia,
tidak hanya sejauh menyangkut tubuh saja,
tetapi juga jiwa manusia yang sejati,
supaya Dia menjadi manusia sejati.
Oleh sebab jiwa manusia sama binasa dengan tubuh
maka perlu dikenakan-Nya keduanya,
agar menyelamatkan keduanya.
Oleh sebab itu, kita mengaku
(dengan menolak ajaran sesat kaum Anabaptis
yang menyangkal bahwa Kristus menerima daging manusia dari ibu-Nya),
bahwa Kristus mendapat bagian dalam daging dan darah anak-anak (Ibr 2:14),
bahwa Dia terbit dari sulbi Daud menurut daging (Kis 2:30),
menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud (Rom 1:3),
buah rahim Maria (Luk 1:42),
lahir dari seorang perempuan (Gal 4:4),
tunas bagi Daud (Yer 33:15),
suatu tunas yang keluar dari tunggul Isai (Yes 11:1),
berasal dari suku Yehuda (Ibr 7:14),
keturunan orang Yahudi menurut daging (Rom 9:5),
keturunan Abraham, karena Dia telah menerima keturunan Abraham dan disamakan dengan saudara-saudara-Nya dalam segala hal, kecuali hal dosa (Ibr 2:16-17, Ibr 4:15),
Dengan demikian Dia sungguh-sungguh menjadi
Imanuel kita, yang berarti: Allah menyertai kita (Mat 1:23).

Pasal 19
Kesatuan dan perbedaan kedua tabiat Kristus dalam satu Pribadi

Kita percaya, bahwa oleh karena Dia dikandung
maka Pribadi Sang Anak disatukan dan digabungkan secara tak terpisahkan dengan tabiat manusia,
sedemikian rupa, hingga tidak ada dua Anak Allah,
dan tidak juga dua Pribadi,
tetapi dua tabiat yang disatukan menjadi satu Pribadi yang tunggal,
sedangkan tiap-tiap tabiat tetap memiliki sifat-sifatnya yang khas.
Maka itu, sebagaimana tabiat keallahan-Nya tetap tinggal tidak diciptakan,
dengan harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan,
dengan memenuhi langit dan bumi,
begitu juga tabiat kemanusiaan-Nya tidak kehilangan sifat-sifatnya sendiri,
tetapi tetap tinggal ciptaan,
dengan berawal hari dan dengan bersifat berhingga,
dengan tetap memiliki segala sesuatu yang termasuk tubuh yang sejati.
Meskipun oleh kebangkitan-Nya Dia memberinya ketidakfanaan,
tidak diubah-Nya keaslian tabiat kemanusiaan-Nya,
sebab keselamatan dan kebangkitan kita tergantung juga pada keaslian tubuh-Nya itu.
Akan tetapi, kedua tabiat itu disatukan menjadi satu Pribadi sedemikian rupa, hingga oleh kematian- Nya pun keduanya tidak diceraikan.
Jadi, apa yang diserahkan-Nya ke dalam tangan Bapa-Nya waktu mati,
ialah nyawa kemanusiaan yang sejati, yang keluar dari dalam tubuh-Nya.
Sementara itu, tabiat keallahan-Nya tetap bersatu dengan tabiat kemanusiaan, bahkan ketika Dia terbaring dalam kubur sekalipun.
Dan Keallahan tidak berhenti berada di dalam-Nya,
sebagaimana berada di dalam-Nya waktu Dia kanak-kanak,
meskipun selama beberapa waktu tidak menyatakan diri- Nya demikian.
Oleh sebab itu, kita mengaku, Dia adalah Allah sejati dan manusia sejati. Allah sejati, agar maut dikalahkan-Nya oleh kekuatan-Nya;
manusia sejati, supaya Dia dapat mati bagi kita menurut kelemahan daging-Nya.

Pasal 20
Allah menyatakan keadilan dan kemurahan-Nya dalam Kristus

Kita percaya, bahwa Allah,
yang mahamurah dan mahaadil,
telah mengutus Anak-Nya,
untuk menerima tabiat yang di dalamnya ketidaktaatan itu telah dilakukan, supaya dalam tabiat itu dijalani dan ditanggung-Nya hukuman atas dosa-dosa, yaitu oleh sengsara dan kematian-Nya yang amat pahit.
Dengan demikian, Allah telah menyatakan keadilan-Nya terhadap Anak-Nya, karena Dia mempertanggungkan dosa-dosa kita kepada-Nya,
dan mencurahkan kebaikan dan kemurahan-Nya atas kita yang bersalah dan patut menderita kebinasaan.
Dia menyerahkan Anak-Nya bagi kita, untuk dibunuh, oleh kasih yang amat sempurna,
dan Dia membangkitkan-Nya Dia demi membenarkan kita,
supaya melalui Dia kita miliki ketidakfanaan dan hidup yang kekal.

Pasal 21
Pelunasan oleh Kristus,Imam Besar kita satu- satunya, untuk dosa kita

Kita percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Imam Besar untuk selama-lamanya, dengan sumpah, menurut peraturan Melkisedek,
dan bahwa Dia telah menghadap Bapa-Nya atas nama kita,
untuk mendamaikan murka-Nya dengan memberi pelunasan(1) penuh.
Dia mengorbankan diri di kayu salib,
dan menumpahkan darah-Nya yang mahal demi membersihkan segala dosa kita,
seperti yang telah dinubuatkan oleh para nabi
Sebab tertulis, Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita,
ditimpakan kepada Anak Allah,

dan bahwa oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh,
bahwa Dia dibawa ke pembantaian seperti anak domba,
dan terhitung di antara orang-orang durhaka
(Yes 53:5,7,11).
Oleh Pontius Pilatus Dia dihukum sebagai seorang pejabat,
meskipun ia sudah menyatakan-Nya tidak bersalah.
Demikianlah Dia telah mengembalikan apa yang tidak dirampas-Nya (Maz 69:5),
dan menderita, Dia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar (1Pe 3:18),
yaitu baik dalam tubuh maupun dalam jiwa-Nya.
Dia telah merasakan hukuman mengerikan yang patut menjadi ganjaran bagi kita
atas dosa kita,
sehingga peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.
Dia telah berseru, Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Luk 22:44).
Dan semua itu di derita-Nya demi pengampunan dosa kita.
Oleh sebab itu tepatlah kita mengatakan bersama Paulus,
bahwa kita tidak mengetahui apa-apa selain Kristus, yaitu Dia yang disalibkan (1Ko 2:2);
segala sesuatu kita anggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhan kita, lebih mulia daripada semuanya (Fil 3:8).
Kita mendapat segala penghiburan dalam luka-luka-Nya
, dan tidak perlu lagi mencari atau memikirkan jalan lain apapun untuk memperdamaikan kita dengan Allah,
selain satu korban ini yang dipersembahkan satu kali saja,
yang olehnya orang percaya disempurnakan untuk selama-lamanya (Ibr 10:14).
Itulah juga sebabnya oleh Malaikat Allah Dia dinamakan Yesus, artinya Juruselamat,
karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Mat 1:21).

Pasal 22
Pembenaran kita oleh iman kepada Yesus Kristus

Kita percaya, bahwa, agar kita memperoleh pengetahuan yang benar tentang rahasia itu,
Roh Kudus menyalakan di dalam hati kita iman yang benar,
yang memeluk Yesus Kristus bersama segala jasa-Nya,
menjadikan Dia sebagai milik kita,
dan tidak lagi mencari barang apa pun di luar Dia.
Sebab hanya ada dua kemungkinan:
dalam Yesus Kristus tidak terdapat segala sesuatu yang perlu untuk keselamatan kita,
atau, kalau semua itu terdapat di dalam Dia, maka barang siapa memiliki Yesus Kristus oleh iman mempunyai seluruh keselamatannya.
Jadi, jikalau orang berkata bahwa Kristus tidak mencukupi,
tetapi masih perlu apa-apa di samping Dia,
maka hal itu merupakan hujat yang keterlaluan.
Sebab kesimpulannya ialah, Yesus Kristus merupakan setengah Juruselamat saja.
Oleh karena itu, dengan sesungguhnya kita berkata bersama Paulus,
bahwa kita dibenarkan hanya oleh iman, atau oleh iman tanpa perbuatan (Rom 3:28).
Akan tetapi, kita tidak beranggapan seolah-olah iman sendirilah yang membenarkan kita dalam arti yang sesungguhnya.
Sebab iman itu sekadar alat, yang dengannya kita memeluk Kristus, yang adalah kebenaran kita.
Akan tetapi, Yesus Kristus,
yang memperhitungkan kepada kita semua jasa-Nya
dan begitu banyak perbuatan suci
yang telah dilakukan-Nya bagi kita dan sebagai ganti kita,
Dialah kebenaran kita,
sedangkan iman adalah alat,
yang membuat kita tetap berada bersama Dia
dalam persekutuan dengan segala harta-Nya.
Setelah menjadi milik kita,
harta itu lebih dari cukup agar kita dibebaskan dari dosa- dosa kita.

Pasal 23
Pembenaran kita terdiri dari pengampunan dosa karena Kristus

Kita percaya, bahwa
kebahagiaan kita terletak dalam pengampunan dosa kita karena Yesus Kristus, dan pengampunan dosa itu merangkum kebenaran kita di hadapan Allah.
Demikianlah yang diajarkan kepada kita oleh Daud dan Paulus,
yang menyatakan manusia berbahagia bilamana Allah menganggapnya terbilang orang benar tidak berdasarkan perbuatan (Maz 32:2, Rom 4:6)
Dan Rasul itu juga berkata, bahwa kita telah dibenarkan dengan cuma-cuma atau oleh kasih karunia,
karena penebusan yang ada dalam Yesus Kristus (Rom 3:24).
Oleh sebab itu, kita senantiasa berpegang pada asas ini,
dengan mempersembahkan segala pujian kepada Allah,
seraya merendahkan diri kita dan mengaku keadaan kita sebagaimana adanya, tanpa berangan-angan mengenai diri kita sendiri atau jasa-jasa kita.
Dan kita hanya bertumpu pada ketaatan Kristus yang disalib itu,
dan semata-mata bernaung di dalamnya,
yang menjadi kepunyaan kita jika kita percaya kepada Dia.
Ketaatan itu cukup untuk menutupi segala kejahatan kita,
membebaskan hati nurani kita dari rasa takut, gentar dan ngeri,
dan memberi kita keberanian untuk menghampiri Allah,
tanpa berbuat seperti bapa leluhur kita yang pertama, yaitu Adam,
yang dengan gemetar mau menutupi dirinya dengan daun pohon ara.
Dan sesungguhnya, sekiranya kita harus menghadap Allah dengan bertumpu, betapapun sedikitnya,
pada diri kita sendiri atau pada makhluk apa pun yang lain,
maka - sial sekali - kita tidak bisa tidak ditelan.
Oleh karena itu, setiap orang wajib berkata bersama Daud;
Tuhan, janganlah berperkara dengan hamba-Mu ini,
sebab di antara yang hidup tidak seorangpun yang akan benar di hadapan-Mu (Maz 143:2).

Pasal 24
Pengudusan manusia dan perbuatan-perbuatan baik

Kita percaya, bahwa iman yang sejati itu,
yang dihasilkan dalam hati manusia
oleh pendengaran akan Firman Allah
dan oleh pekerjaan Roh Kudus,
membuat manusia lahir kembali dan menjadi manusia baru,
membuatnya hidup dalam kehidupan yang baru
dan memerdekakannya dari perhambaan dosa.
Oleh sebab itu, iman yang membenarkan itu
sekali-kali tidak mengurangi gairah manusia untuk hidup saleh dan suci.
Sebaliknya, tanpa iman itu manusia tidak akan berbuat sesuatu apa pun oleh kasih kepada Allah,
tetapi hanya oleh kasih kepada diri sendiri
dan karena takut di hukum.
Jadi, mustahil iman kudus itu menganggur dalam diri manusia,
mengingat kita tidak berbicara tentang iman yang hampa,
tetapi tentang iman yang oleh Alkitab disebut iman yang bekerja oleh kasih (Gal 5:6).
Iman ini menggerakkan manusia
agar mengupayakan perbuatan-perbuatan yang diperintahkan Allah dalam Firman-Nya.
Perbuatan-perbuatan itu baik dan berkenan kepada Allah
jika bertumbuh dari akar iman yang baik,
karena semuanya telah dikuduskan oleh kasih karunia-Nya.
Dalam pada itu, perbuatan-perbuatan itu tidak masuk perhitungan untuk membenarkan kita,
sebab oleh iman kepada Kristus maka kita dibenarkan,
bahkan sebelum kita melakukan perbuatan-perbuatan itu baik,
sebagaimana tidak mungkin buah pohon dapat menjadi baik sebelum pohon itu baik.
Jadi, kita melakukan perbuatan,
tetapi bukan dengan maksud memperoleh upah,
- sebab upah apa yang yang layak kita peroleh?-
tetapi kita malah wajib berterima kasih kepada Allah
atas perbuatan baik yang kita lakukan,
dan bukannya Dia yang harus berterima kasih kepada kita,
karena Dialah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya(Fil 2:13).
Maka baiklah kita memperhatikan apa yang tertulis,
Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata:
Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan (Luk 17:10).
Sementara itu, kita tidak hendak menyangkal
bahwa Allah mengganjar perbuatan-perbuatan baik.
Akan tetapi,oleh kasih karunia-Nya dimahkotai-Nya pemberian-Nya.
Lagi pula, meskipun kita melakukan perbuatan baik,
kita tidak akan menjadikannya dasar keselamatan kita,
sebab kita tidak dapat melakukan satu perbuatan pun
yang tidak dicemari oleh daging kita
dan patut mendapat hukuman.
Dan jikalau sekalipun kita dapat menunjukkan satu perbuatan yang baik,
namun kenangan pada satu dosa pun sudah cukup
untuk menyebabkan Allah menolak perbuatan itu.
Oleh karena itu, kita selalu bimbang, terombang- ambing,
tanpa kepastian apa pun,
dan hati nurani kita yang malang selalu tersiksa,
jika tidak bertumpu pada jasa yang terdapat dalam sengsara dan kematian Juruselamat kita.

Pasal 25
Penggenapan hukum upacara

Kita percaya, bahwa dengan kedatangan Kristus
maka upacara-upacara dan lambang-lambang hukum Taurat telah berhenti,
dan bahwa segala bayangan sudah berakhir,
sehingga pemakaiannya di tengah orang Kristen harus dihapuskan.
Namun, sebab semua itu mendapat penggenapannya di dalam Dia,
maka kebenaran dan hakikatnya tinggal tetap bagi kita dalam Kristus Yesus.
Dalam pada itu, kita tetap memakai kesaksian-kesaksian
yang diambil dari hukum Taurat dan dari para Nabi,
supaya olehnya kita makin diteguhkan dalam Injil,
dan mengatur hidup kita dalam segala kesopanan,
demi kemuliaan Allah, menurut kehendak-Nya.

Pasal 26
Kristus menjadi satu-satunya Pembela dan Jurusyafaat bagi kita

Kita percaya, bahwa kita tidak beroleh jalan masuk kepada Allah
selain oleh satu-satunya Pengantara dan Jurusyafaat kita,
Yesus Kristus, Yang benar.
Dia telah menjadi manusia,
dengan mempersatukan tabiat ilahi dan tabiat kemanusiaan,
supaya kita, manusia, beroleh jalan masuk kepada Kemuliaan Allah;
jika tidak demikian, maka jalan masuk itu tertutup bagi kita.
Akan tetapi, janganlah pengantara ini,
yang telah dianugerahkan kepada kita oleh Bapa
menjadi Pengantara antara diri-Nya dengan kita,
membuat kita terkejut oleh keagungan- Nya,
sehingga kita mencari seorang pengantara lain, menurut kesukaan kita.
Sebab tidak ada makhluk apa pun, di surga maupun di bumi,
yang mengasihi kita lebih daripada Yesus Kristus,
yang walaupun dalam rupa Allah,
telah mengosongkan diri- Nya sendiri,
dan mengambil rupa seorang manusia dan seorang hamba guna kita,
dan segala hal menjadi sama dengan saudara-saudara-Nya(Fil 2:6-7).
Jadi, andaikata kita harus mencari seorang pengantara lain,
yang mengasihi kita,
maka siapakah yang akan kita dapati yang mengasihi kita lebih daripada Dia, yang telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita,
ketika kita masih seteru-Nya (Rom 5:8,10)?
Dan andaikata kita mencari seorang pengantara yang berkuasa dan berkehormatan,
maka siapakah yang memiliki kuasa dan kehormatan sebanyak Dia,
yang duduk di sebelah kanan Bapa-Nya,
dan yang mempunyai segala kuasa di surga dan di bumi (Mat 28:18).
Dan siapakah yang akan lebih mudah dikabulkan daripada Anak Allah yang kekasih itu sendiri?
Maka hanya karena kurang percaya dimasukkanlah kebiasaan ini,
yang menistakan orang kudus alih-alih menghormati mereka,
yang melakukan apa yang tidak pernah mereka lakukan ataupun kehendaki,(1)
bahkan mereka sama sekali telah menolak hal itu, sesuai dengan kewajiban mereka,
sebagaimana dinyatakan oleh karangan-karangan mereka.
Dalam hal ini orang tidak perlu mengemukakan ketidaklayakan kita,
sebab di sini artinya(2)bukan bahwa kita memanjatkan doa-doa kita berdasarkan kelayakan kita.
Sebaliknya, kita hanya memanjatkannya berdasarkan keulungan dan kelayakan Tuhan kita Yesus Kristus,
yang kebenaran- Nya menjadi kepunyaan kita oleh iman.
Oleh sebab itu, Sang Rasul,
yang ingin mencabut rasa takut yang bebal,
atau lebih tepat, ketidakpercayaan itu dari kita,
berkata, Yesus Kristus telah menjadi sama dengan saudara-saudara-Nya dalam segala hal,
supaya dia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia, untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.
Sebab oleh karena Dia sendiri telah menderita karena pencobaan,
maka Dia dapat menolong mereka yang dicobai
(Ibr 2:17- 18).
Dan selanjutnya ia berkata, hendak menambahkan kebenaran kita untuk menghampiri-Nya,
Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung,
yang telah melintasi semua langit,
yaitu Yesus, Anak Allah,
baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.
Sebab Imam Besar yang kita punya,
bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita,
sebaliknya sama dengan kita, Dia telah dicobai,
hanya tidak berbuat dosa.
Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia,
supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia,
untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya (Ibr 4:14-16).
Rasul yang sama juga berkata,
bahwa oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus.
Karena itu, katanya, marilah kita menghadap Allah dengan keyakinan iman yang teguh, dst. (Ibr 10:19,22).
Begitu pula, Kristus memegang imamat yang tetap untuk selama-lamanya. Karena itu, Dia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Dia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka (Ibr 7:24-25).
Apalagi yang kurang, karena Kristus sendiri mengujar,
Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yoh 14:6).
Dengan maksud apa kita hendak mencari seorang pembela yang lain,
karena Allah memang berkenan menganugerahkan Anak-Nya menjadi Pembela kita?
Jangan kita meninggalkan Dia untuk menerima orang lain,
atau, lebih tepat, untuk mencari orang lain dengan tidak pernah mendapatinya.
Sebab waktu Allah menganugerahkan Dia, memang diketahui-Nya bahwa kita orang berdosa.
Oleh karena itu, sesuai dengan perintah Kristus,
kita berseru kepada Bapa Surgawi melalui Kristus,
satu-satunya Pengantara kita,
sebagaimana kita diajar dalam Doa Bapa Kami,
dengan penuh keyakinan bahwa segala sesuatu yang kita minta kepada Bapa dalam nama-Nya, akan diberikan kepada kita (Yoh 16:23).

Pasal 27
Gereja Kristen yang Am

Kita percaya dan mengaku satu Gereja yang Katolik atau Am,
yang adalah perkumpulan kudus orang-orang yang sungguh- sungguh percaya kepada Kristus,
yang mengharapkan segenap keselamatan mereka dalam Yesus Kristus, yang telah dicuci oleh darah- Nya,
yang dikuduskan dan dimeteraikan oleh Roh Kudus.
Gereja ini sudah ada sejak awal dunia
dan akan ada sampai akhir zaman,
mengingat Kristus adalah seorang Raja yang kekal,
yang tidak bisa memiliki rakyat.
Dan gereja yang kudus ini dipelihara atau dipertahankan Allah
terhadap amukan seluruh dunia,
meskipun kadang-kadang selama beberapa waktu waktu Gereja itu tampak sangat kecil di mata orang,
bahkan rupanya sudah punah.
Begitu pula pada masa gawat waktu pemerintahan Ahab itu,
Tuhan meninggalkan bagi diri-Nya
tujuh ribu orang yang tidak pernah sujud menyembah Baal.
Tambahan lagi, Gereja yang Kudus ini
tidak terletak, tidak terikat atau terbatas pada tempat tertentu,
atau pada pribadi-pribadi tertentu,
tetapi Gereja itu tersebar dan terserak di seluruh dunia.
Namun, Gereja itu dikumpulkan dan dipersatukan, sehati sekehendak, dalam satu Roh yang sama,
oleh kuasa iman.

Pasal 28
Kewajiban semua orang untuk bergabung dengan gereja yang sejati

Kita percaya,
karena perkumpulan yang kudus ini adalah perhimpunan orang-orang yang diselamatkan,
dan karena di luarnya tidak ada keselamatan,
maka tidak seorang pun - bagaimanapun tingkat dan kualitasnya -
patut mengasingkan diri untuk berdiri sendiri dengan seenaknya.
Sebaliknya, mereka semua harus bergabung dengan perkumpulan ini dan bersatu
dengannya, seraya memelihara kesatuan Gereja,
tunduk kepada pengajaran dan disiplinnya,
dan menundukkan tengkuknya di bawah kuk Yesus Kristus,
Mereka harus melayani pembinaan saudara-saudara,
menurut karunia-karunia yang dianugerahkan Allah kepadanya,
sebagai orang yang bersama-sama menjadi anggota satu tubuh.
Supaya hal ini dapat dipegang dengan lebih baik lagi,
maka menurut Firman Allah semua orang percaya wajib
melepaskan hubungan dengan orang yang tidak termasuk Gereja,
dan bergabung dengan perkumpulan ini,
di mana pun Allah menempatkannya,
sekalipun penguasa- penguasa dan ketentuan-ketentuan raja-raja menentangnya, dan sekalipun mereka harus menderita hukuman mati atau siksaan tubuh apapun karenanya.
Oleh sebab itu, semua orang yang memisahkan diri dari Gereja ini,
atau tidak bergabung dengannya,
melawan perintah Allah.

Pasal 29
Perbedaan antara Gereja yang sejati dan gereja yang palsu serta ciri-ciri masing-masing

Kita percaya, bahwa orang patut berupaya dengan seksama dan cermat dengan berdasarkan Firman Allah,
agar mengenali Gereja yang sejati,
sebab segala bidat yang dewasa ini terdapat di dunia
bersembunyi di bawah nama Gereja.
Di sini kita tidak berkata-kata tentang golongan orang munafik,
yang di dalam Gereja tercampur dengan orang-orang yang baik
namun tidak termasuk di dalamnya,
meskipun mereka secara jasmani berada di dalamnya.
Akan tetapi, kita berkata bahwa patutlah orang membedakan
antara tubuh serta persekutuan Gereja yang sejati
dan segala bidat, yang menamai dirinya Gereja.
Ciri-ciri pengenal Gereja yang sejati ialah,
jikalau Gereja memakai pemberitaan Injil yang murni,
jikalau Gereja memakai pelayanan sakramen-sakramen yang murni sebagai mana ditetapkan Kristus,
jikalau diselenggarakan disiplin gereja, untuk menghukum dosa.
Pendeknya, jika orang bertindak sesuai dengan Firman Allah yang murni dengan menolak segala sesuatu yang bertentangan dengannya,
seraya memandang Yesus Kristus sebagai satu-satunya Kepala.
Melalui hal-hal itu orang dapat mengenali Gereja yang sejati dengan pasti, dan tidak seorang pun diperbolehkan memisahkan diri darinya.
Adapun orang-orang yang termasuk Gereja itu
dapat dikenali dari ciri-ciri orang Kristen, yaitu dari iman,
dan jikalau mereka, setelah menerima satu-satunya Juruselamat Yesus Kristus, menjauhi dosa dan mengejar kebenaran,
mengasihi Allah yang sejati dan sesamanya manusia,
tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri,
dan menyalibkan dagingnya serta segala perbuatannya.
Namun, hal itu tidak berarti
bahwa tidak ada lagi kelemahan besar pada mereka.
Akan tetapi mereka berjuang melawan kelemahan itu oleh Roh, dalam setiap hari-hari kehidupannya,
sambil berlindung terus-menerus pada darah, kematian, sengsara, dan ketaatan Tuhan Yesus.
Di dalam-Nya mereka beroleh pengampunan dosa
oleh iman kepada-Nya.
Adapun gereja yang palsu menganggap dirinya dan peraturannya
lebih berkuasa dan berwenang daripada Firman Allah,
dan tidak mau tunduk pada kuk Kristus;
ia tidak melayankan sakramen-sakramen dengan cara yang ditetapkan Kristus dalam Firman-Nya,
tetapi mengurangi dan menambahinya dengan semau-maunya.
Gereja yang palsu itu lebih bertumpu pada manusia dibandingkan pada Kristus.
Gereja palsu itu menganiaya orang yang hidup suci menurut Firman Allah dan yang menegurnya karena cacatnya, keserakahannya, dan karena menyembah berhala-berhala.
Kedua gereja ini dengan mudah dikenali dan dibedakan satu sama lain.

Pasal 30
Pemerintahan gereja oleh jabatan-jabatan gerejawi

Kita percaya, bahwa Gereja yang sejati itu
harus diperintah menurut tatanan rohani yang diajarkan Tuhan kepada kita dalam Firman-Nya, yaitu,
bahwa harus ada pelayan-pelayan atau gembala-gembala,
untuk memberitakan Firman Allah dan melayankan sakramen-sakramen;
bahwa harus ada pula penilik-penilik dan diaken-diaken,
untuk bersama para gembala menjadi majelis gereja,
dan dengan cara itu memelihara agama yang benar serta memajukan ajaran yang benar,
juga supaya para pelanggar dihukum dan dikendalikan dengan cara rohani, dan orang miskin dan sudah ditolong serta dihibur sesuai dengan keperluan masing-masing.
Dengan sarana ini segala sesuatu dalam Gereja akan berlangsung dengan sopan dan teratur,
asal saja yang dipilih adalah orang-orang yang setia,
dan asal pemilihannya diadakan menurut peraturan yang diberikan Rasul Paulus dalam Surat kepada Timotius.

Pasal 31
Para Pelayan, Penatua, dan Diaken

Kita percaya, bahwa para Pelayan Firman Allah, para Penatua, dan Diaken harus dipilih untuk jabatan mereka oleh pemilihan gerejawi yang sah, dengan memanggil nama Allah, dan dengan memakai aturan yang baik, sebagaimana diajarkan oleh Firman Allah.
Jadi, setiap orang harus berhati-hati jangan sampai menyusup masuk dengan cara-cara yang tidak patut.
Sebaliknya, harus dinantikannya saat ia dipanggil Allah,
supaya ia mempunyai kesaksian tentang panggilannya,
sehingga ia merasa pasti dan yakin, bahwa panggilannya berasal dari Tuhan.
Adapun para Pelayan Firman, di mana saja mereka berada,
kuasa dan wewenang yang mereka miliki sama,
karena mereka semua adalah hamba Yesus Kristus,
yang adalah satu-satunya Uskup Am dan satu-satunya Kepala gereja.
Tambahan pula, supaya jangan peraturan Allah yang kudus dilanggar atau dihinakan,
maka kita berkata, bahwa setiap orang harus menghormati secara istimewa para Pelayan Firman dan para Penatua Gereja,
oleh karena pekerjaan yang mereka lakukan,
dan sedapat mungkin memelihara damai dengan mereka,
tanpa sungut, pertengkaran atau perselisihan.

Pasal 32
Tata gereja dan disiplin

Dalam pada itu, kita percaya,
memang berguna dan baik adanya, bahwa mereka yang memerintah Gereja menetapkan dan mempertahankan secara bersama tata gereja yang tertentu, guna pemeliharaan tubuh gereja.
Namun, haruslah mereka berhati-hati agar jangan sampai menyimpang dari apa yang diperintahkan kepada kita oleh Kristus,
satu-satunya Guru kita.
Oleh karena itu, kita menolak segala rekaan manusiawi
dan semua undang-undang yang hendak dimasukkan orang untuk melayani Allah,
dan untuk mengikat serta mengekang hati nurani,
dengan cara apapun juga.
Jadi, kita hanya menerima apa yang berguna demi memelihara dan menjaga persekutuan dan persatuan,
dan untuk mengasuh semuanya dalam ketaatan kepada Allah.
Untuk itu dibutuhkan pengucilan atau pengasingan dari gereja,
yang terjadi menurut Firman Allah,
bersama segala sesuatu yang bersangkut-paut dengannya.

Pasal 33
Sakramen-sakramen

Kita percaya, bahwa Allah kita yang baik,
dengan memperhatikan kebodohan dan kelemahan kita,
telah menetapkan sakramen-sakramen bagi kita,
untuk memeteraikan perjanjian-Nya pada kita,
dan agar menjadi petaruh-petaruh kemurahan dan kasih karunia Allah terhadap kita,
dan juga untuk memupuk serta memelihara iman kita.
Sakramen-sakramen ini ditambahkan Allah pada Firman Injil,
supaya dengan lebih jelas lagi diperlihatkan-Nya kepada indera kita yang lahiriah
baik apa yang diterangkan-Nya kepada kita melalui Firman-Nya,
maupun apa yang dikerjakan-Nya secara batin di dalam hati kita.
Dengan demikian diberlakukan-Nya secara batin di dalam hati kita.
Dengan demikian diberlakukan-Nya dan diteguhkan-Nya dalam diri kita
keselamatan yang dikaruniakan-Nya kepada kita.
Karena sakramen- sakramen itu adalah tanda-tanda dan meterai-meterai yang kelihatan
tentang hal batin yang tidak kelihatan,
dan melaluinya Allah bekerja di dalam diri kita,
oleh kuasa Roh Kudus,
Maka tanda- tanda ini bukan hampa atau tak berisi,
untuk menipu kita,
sebab kebenaran yang diungkapkan di dalamnya ialah Yesus Kristus,
dan tanpa Dia sakramen-sakramen itu tidak berarti sama sekali.
Selanjutnya, kita berpendapat cukuplah jumlah sakramen yang ditetapkan Kristus, Guru kita, yang jumlahnya tidak melebihi dua,
sakramen Baptisan
dan sakramen Perjamuan Kudus Yesus Kristus.

Pasal 34
Baptisan Kudus

Kita percaya dan mengaku, bahwa
Yesus Kristus, yang adalah kegenapan Hukum Taurat(Rom 10:4),
oleh penumpahan darah-Nya sudah menamatkan segala penumpahan darah lain, yang mungkin dapat atau hendak dilakukan orang
demi pendamaian dan pelunasan(1)dosa-dosa,
dan bahwa Dia, setelah membatalkan surat, yang berlangsung dengan darah, menetapkan sakramen Baptisan sebagai gantinya.
Oleh sakramen itu kita diterima ke dalam Gereja Allah,
dan dipisahkan dari semua bangsa lain dan agama asing,
supaya kita menjadi milik-Nya seluruhnya
yang menyandang tanda pengenal dan panji-Nya.
Baptisan itu menjadi kesaksian bagi kita,
bahwa Dialah Allah kita untuk selama-lamanya,
sebagai Bapa yang murah hati terhadap kita.
maka Kristus memerintahkan membaptis semua orang milik- Nya
dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat 28:19),
hanya dengan air bersih saja.
Dengan demikian Dia menjelaskan kepada kita,
sama seperti air membasuh kotoran tubuh waktu kita disiram air itu,
yaitu air yang kelihatan pada tubuh orang yang dibaptis dan yang memerciki dia,
begitu juga darah Kristus melakukan hal yang sama secara batin, di dalam jiwa, oleh Roh Kudus,
dengan memerciki jiwa dan membersihkannya dari dosa
dan dengan melahirkan kita kembali,
sehingga dari anak- anak murka menjadi anak-anak Allah.
Memang hal itu tidak dikerjakan oleh materi air,
tetapi oleh pemercikan dengan darah Anak Allah yang mahal,
yang adalah Laut Merah kita,
yang harus kita lintasi untuk luput dari penindasan Firaun, yaitu Iblis,
dan untuk masuk Tanah Kanaan yang rohani.
Maka para Pelayan di pihak mereka memberi kita sakramen, dan apa yang kelihatan,
tetapi Tuhan kita memberikan apa yang ditandai oleh sakramen,
yaitu semua karunia dan anugerah yang tidak kelihatan,
sambil membasuh, menyucikan, dan membersihkan jiwa kita dari segala kotoran dan kesalahan,
dan membarui hati kita serta memenuhinya dengan segala hiburan.
Dengan demikian diberikannya-Nya kepada kita keyakinan yang sungguh-sungguh akan kebaikan-Nya sebagai seorang Bapa,
dan kita dibuat-Nya mengenakan manusia baru serta menanggalkan manusia lama bersama segala perbuatannya.
Oleh sebab itu, kita percaya, bahwa orang yang hendak masuk ke dalam hidup kekal
hendaknya dibaptis hanya satu kali saja dengan baptisan yang satu-satunya, dengan tidak pernah mengulanginya,
sebab mustahil juga kita lahir dua kali.
Akan tetapi, baptisan itu tidak hanya berfaedah
selama air masih ada pada tubuh kita dan selama kita menerima air itu, tetapi sepanjang masa hidup kita.
Oleh karena itu, kita menolak ajaran sesat kaum Anabaptis,
yang tidak puas dengan satu baptisan yang pernah diterimanya,
dan yang juga menolak keras baptisan anak-anak orang percaya.
Menurut keyakinan kita, anak-anak ini patut dibaptis dan dimeteraikan dengan tanda perjanjian,
sama seperti anak-anak orang Israel disunat
berdasarkan janji-janji yang sama dengan yang diberikan kepada anak-anak kita.
Sesungguhnya, Kristus tidak kurang menumpahkan darah-Nya untuk membasuh anak-anak orang percaya
daripada untuk mencuci orang dewasa.
Oleh sebab itu, patut mereka menerima tanda dan sakramen
dari apa yang telah dilakukan Kristus bagi mereka,
sebagaimana dalam hukum Taurat Tuhan memerintahkan
agar kepada mereka dibagikan sakramen sengsara dan kematian Kristus tidak lama setelah mereka dilahirkan,
dengan mempersembahkan seekor anak domba,
yang menjadi sakramen Yesus Kristus.
Tambahan pula, apa yang dikerjakan oleh sunat untuk bangsa Yahudi, hal itu juga dikerjakan oleh Baptisan untuk anak-anak kita.
Oleh sebab itu, Rasul Paulus menamakan Baptisan itu sunat Kristus (Kol 2:11).

Pasal 35
Perjamuan Kudus Tuhan kita Yesus Kristus

Kita percaya dan mengaku, bahwa Juruselamat kita Yesus Kristus
telah memerintahkan dan menetapkan Perjamuan Kudus,
untuk memberikan makan dan memelihara mereka yang telah dilahirkan-Nya kembali
dan yang telah dicangkokkan-Nya menjadi anggota keluarga-Nya, yaitu Gereja-Nya.
Di dalam orang yang telah dilahirkan kembali itu terdapat kehidupan ganda.
Yang satu bersifat jasmani dan sementara;
mereka membawanya sejak kelahirannya yang pertama,
dan kehidupan itu dimiliki semua orang.
Yang lain bersifat rohani dan surgawi;
mereka dianugerahi kehidupan itu pada kelahiran kedua,
yang dikerjakan oleh Firman Injil, dalam persekutuan dengan tubuh Kristus.
Kehidupan yang kedua ini hanya menjadi milik orang-orang pilihan Allah semata-mata.
Maka untuk memelihara kehidupan jasmani di bumi ini,
Allah telah menetapkan bagi kita roti biasa dari bumi ini,
yang berguna untuk kehidupan jasmani
dan yang menjadi milik semua orang, sama seperti kehidupan itu sendiri.
Tetapi untuk memelihara kehidupan rohani dan surgawi,
yang dimiliki orang percaya,
Allah mengutus kepada mereka Roti yang hidup,
yang telah turun dari surga, yaitu Yesus Kristus.
Dia mengasuh dan memelihara kehidupan rohani orang percaya waktu Dia dimakan, artinya dijadikan milik dan diterima oleh iman, secara rohani.
Untuk menggambarkan roti rohani dan surgawi itu bagi kita,
Kristus telah menetapkan satu roti jasmani yang kasatmata,
yang merupakan sakramen tubuh-Nya,
dan air anggur, menjadi sakramen darah- Nya.
Maksud-Nya untuk menyaksikan kepada kita, bahwa
sama seperti kita menerima sakramen itu dan memegangnya dengan tangan kita serta memakan dan meminumnya dengan mulut kita,
sehingga sesudahnya kehidupan kita terpelihara dengannya,
begitu juga kita pasti menerima melalui iman
(yang merupakan tangan dan mulut jiwa kita)
tubuh sejati dan darah sejati Yesus Kristus,
satu- satunya Juruselamat kita,
untuk kehidupan kita yang rohani.
Jadi, pasti dan tidak dapat diragu-ragukan,
bahwa Yesus Kristus tidak sia-sia menganjurkan sakramen-sakramen-Nya kepada kita.
Maka demikianlah dikerjakan-Nya dalam diri kita
segala sesuatu yang dihadirkan-Nya di depan mata kita
melalui tanda-tanda yang kudus ini,
meskipun caranya melampaui akal budi kita
dan tidak dapat kita pahami,
sebagaimana juga cara kerja Roh Kudus tersembunyi dan tidak terpahami.
Walaupun begitu, tidak keliru kalau kita berkata,
bahwa apa yang kita makan dan minum itu
adalah tubuh Kristus sendiri, yang asli
dan darah-Nya sendiri,
tetapi cara kita makan tubuh dan darah itu
bukan cara mulut, melainkan cara roh, oleh iman.
Jadi, Yesus Kristus tetap duduk di sebelah kanan Allah Bapa-Nya, di surga, namun hal itu tidak mencegah Dia membagikan diri-Nya kepada kita oleh iman.
Perjamuan ini adalah meja rohani,
dan meja itu Kristus membagikan diri-Nya bersama segala harta-Nya kepada kita.
Padanya Kristus membuat kita menikmati diri-Nya maupun jasa sengsara dan kematian-Nya.
Dia mengasuh, menguatkan, dan menghibur jiwa kita yang malang dan putus asa dengan memberi makan, yaitu tubuh-Nya,
dan menyegarkan serta menyenangkan jiwa kita dengan minuman, yaitu darah-Nya.
Selanjutnya, meskipun sakramen-sakramen dan hal-hal yang ditandai olehnya digabung menjadi satu hal saja,
tidak semua orang menerima sakramen-sakramen itu bersama kedua hal tersebut.
Orang fasik memang menerima sakramen menjadi hukum baginya, tetapi ia tidak menerima kebenaran yang diungkapkan dalam sakramen itu, sama seperti Yudas dan Simon si tukang sihir,(1) yang memang telah menerima sakramen,
namun tidak menerima Kristus, yang ditandai olehnya,
yang hanya dibagikan kepada orang-orang percaya.
Akhirnya, kita menerima sakramen yang kudus itu di tengah perhimpunan umat Allah,
dengan rendah hati dan rasa hormat,
dengan mengadakan acara suci peringatan kematian Kristus, Juruselamat kita, disertai pengucapan syukur,
dan di situ kita mengikrarkan pengakuan iman kita dan agama Kristen.
Oleh sebab itu, jangan seorang pun menghampiri perjamuan itu
tanpa penguji dirinya baik-baik lebih dahulu,
supaya jangan, dengan makan roti ini dan minum dari cawan ini, ia mendatangkan hukuman atas dirinya( 1Ko 11:29).
Pendeknya, oleh pemakaian sakramen yang kudus ini kita digerakkan
pada kasih yang menyala- nyala terhadap Allah dan sesama kita manusia.
Oleh karena itu, kita menolak semua unsur campuran dan rekaan terkutuk, yang ditambahkan dan dicampurkan oleh manusia pada sakramen-sakramen itu, karena pada hemat kita unsur-unsur itu menajiskan sakramen-sakramen. Dan kita berkata, hendaklah orang puas dengan aturan
yang diajarkan kepada kita oleh Kristus dan Rasul-rasul-Nya,
dan berbicara tentangnya sesuai dengan cara mereka bicara tentangnya.

Pasal 36
Jabatan pemerintah

Kita percaya, bahwa Allah kita yang baik,
karena kerusakan keturunan manusia,
telah menetapkan raja-raja, pembesar-pembesar,
dan lembaga-lembaga pemerintahan,
sebab Dia menghendaki dunia diperintah oleh hukum-hukum dan undang-undang,
supaya sifat tak terkendali manusia di tekan
dan dalam masyarakat segala hal berjalan dengan teratur
Dengan tujuan itu, Dia membuat pemerintah menyandang pedang
untuk menghukum orang jahat (Rom 13:4)
dan melindungi orang lain.
Jabatannya bukan hanya untuk memperhatikan dan mengawasi urusan pemerintahan.
Juga, jabatan itu meliputi: mempertahankan pelayanan gereja yang kudus, memberantas dan memusnahkan seluruh penyembahan berhala dan agama palsu,
menjatuhkan kerajaan Anti-Kristus,
dan berikhtiar supaya Kerajaan Yesus Kristus berkembang,
berusaha agar Firman Injil dikabarkan ke mana-mana,
supaya Allah dimuliakan dan dilayani oleh tiap-tiap orang,
sebagaimana diperintahkan-Nya dalam Firman-Nya.
Selanjutnya, tiap-tiap orang, dari pangkat, tingkat, dan kedudukan apa pun, harus takluk pada lembaga-lembaga pemerintah,
membayar pajak,
menghormati dan menjunjung tinggi pemerintah,
dan mematuhinya dalam segala hal yang tidak bertentangan dengan Firman Allah,
sambil melakukan permohonan dalam doa-doanya
kiranya Tuhan membimbingnya dalam segala jalannya
dan kiranya kita dapat hidup tenang dan tenteram
dalam segala kesalehan dan kesopanan (1Ti 2:2).
Dalam hal ini kita menolak kaum Anabaptis dan pengacau lainnya,
dan semua orang pada umumnya yang menolak lembaga-lembaga pemerintahan dan penguasa-penguasa
dan ingin menumbangkan hukum,
dengan mengadakan persekutuan harta
dan merusak tata susila yang ditetapkan Allah dalam masyarakat.

Pasal 37
Hukuman terakhir

Akhirnya kita percaya, menurut Firman Allah,
bahwa setelah tiba hari yang ditentukan Allah
(yang tidak diketahui makhluk apa pun),
dan jumlah orang pilihan sudah genap,
maka Tuhan kita Yesus Kristus akan datang dari surga,
secara jasmani dan kelihatan,
dengan cara yang sama seperti Dia sudah naik ke sana (Kis 1:11),
dengan kemuliaan dan keagungan yang besar,
untuk menyatakan diri- Nya sebagai Hakim orang yang hidup dan yang mati, sambil membakar dunia lama ini dengan api, untuk memurnikannya.
Pada waktu itu semua orang akan menghadap Hakim yang Agung itu,
baik laki-laki maupun perempuan dan anak-anak,
yang telah ada sejak awal dunia ini sampai akhir zaman,
dan mereka akan dipanggil menghadap oleh suara penghulu malaikat dan oleh bunyi sangkakala Allah (1Te 4:16).
Sebab semua orang yang pada saat itu telah meninggal akan bangkit dari dalam tanah,
setelah jiwa-jiwa digabungkan dan dipersatukan dengan tubuhnya sendiri, yang di dalamnya mereka pernah hidup.
Adapun orang yang pada saat itu masih hidup
tidak akan mati sama seperti orang lain,
tetapi mereka akan diubah dalam sekejap mata,
dan dari keadaan dapat binasa mereka akan beralih ke keadaan tidak dapat binasa.
Pada waktu itu kitab-kitab (artinya, hati nurani) akan dibuka
dan orang-orang mati akan dihakimi (Wah 20:12),
sesuai dengan yang dilakukannya di dunia ini,
baik ataupun jahat (2Ko 5:10).
Bahkan orang akan mempertanggungjawabkan setiap kata sia-sia,
yang pernah diucapkannya (Mat 12:36),
sekalipun oleh dunia kata itu dianggap hanya permainan anak-anak dan perintang waktu saja.
Pada waktu itu semua rahasia dan kepura-puraan manusia akan dibuka di muka umum.
Oleh karena itu, dengan sewajarnya kesadaran akan hukuman itu menggentarkan dan mengejutkan orang jahat dan fasik,
tetapi sangat menggairahkan dan menghibur orang yang saleh dan terpilih, karena pada waktu itu kelepasan mereka yang sempurna akan terlaksana, dan karena di sana akan diterimanya buah perbuatan dan kesusahan yang telah mereka tanggung.
Ketidaksalahannya akan diakui oleh semua orang,
dan mereka akan melihat pembalasan yang mengerikan,
yang akan dilakukan Allah terhadap orang fasik
yang telah mengusik mereka dengan kejam, menindas, dan menyiksa mereka di dunia ini.
Kesalahan orang fasik itu akan dibuktikan oleh kesaksian hati nurani mereka sendiri.
Mereka pun akan mengalami keadaan tidak dapat mati,
tetapi begitu rupa, sehingga mereka harus disiksa dalam api yang kekal, yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya (Mat 25:41). Sebaliknya, orang-orang percaya dan terpilih akan dimahkotai kemuliaan dan hormat.
Anak Allah akan mengaku nama mereka di hadapan Allah, Bapa-Nya (Mat 10:32), dan malaikat-Nya yang terpilih,
dan segala air mata akan dihapus dari mata mereka (Wah 21:4).
Perkara mereka, yang kini dihukum banyak hakim dan lembaga-lembaga pemerintah,
karena dianggap tersesat dan fasik,
akan diakui merupakan perkara Anak Allah sendiri.
Dan sebagai ganjaran yang penuh kasih karunia,
Tuhan akan memberi mereka memiliki kemuliaan yang tak terpikirkan oleh hati manusia.
Oleh karena itu, kita menantikan hari agung itu dengan kerinduan besar, agar kita menikmati dengan sepenuhnya janji-janji Allah,
dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

3. PASAL-PASAL AJARAN DORDRECHT (1619)

Di wilayah Belanda yang berhasil melepaskan diri dari kuasa Raja Spanyol, Gereja Reformasi dapat berkembang dengan bebas. Dalam suasana yang relatif bebas itu, timbul perbedaan pendapat mengenai berbagai pokok teologi. Salah seorang teolog di Universitas Leiden, Yakobus Arminius, menyerang ajaran predestinasi yang telah dirumuskan oleh Calvin dalam kitab Institutio (III, xxi-xxiv) dan yang diterima oleh sebagian besar kaum teolog Calvinis, termasuk di negeri Belanda. Timbullah perselisihan yang hebat, yang menyebabkan keretakan, baik dalam gereja maupun dalam negara, sehingga negeri Belanda terancam perang saudara. Akhirnya Pangeran Maurits, panglima tentara Belanda, menjatuhkan pemerintah yang pro-Arminius. Pemerintah baru mengumpulkan sinode se-Belanda, yang juga dihadiri oleh utusan- utusan sejumlah besar Gereja Calvinis di Inggris, Jerman, dan Swis (Gereja Calvinis di Perancis dilarang pemerintahnya mengutus wakil- wakil ke Dordrecht). Dengan demikian, Sinode Dordrecht (1618-1619) bersifat internasional. Para pengikut Arminius (tokoh itu sendiri telah meninggal pada tahun 1608) disuruh menghadap, tapi akhirnya diusir dari sidang Sinode. Ajaran mereka dinyatakan bidat, dan sebuah panitia dari Sinode merancang pasal-pasal melawan ajaran itu. Pasal- pasal itu dibahas oleh Sinode pada bulan April 1619, lalu diterima dengan suara umum, dan ditandatangani oleh semua anggota, termasuk yang dari luar negeri. Sama seperti Pengakuan Iman Belanda dan Katekismus Heidelberg, Kelima pasal menentang orang Remonstran termasuk Ketiga Rumus Keesaan yang merupakan dasar bersama jemaat- jemaat Calvinis di Negeri Belanda.

Kelima Pasal menentang orang Remonstran
atau Keputusan Sinode Nasional Gereja-Gereja Reformasi Belanda Serikat
yang diadakan di Dordrecht pada tahun 1618 dan 1619
mengenai kelima pokok ajaran yang terkenal
yang telah menjadi pokok perselisihan
dalam Gereja-gereja Reformasi di Negeri Belanda Serikat

PASAL AJARAN YANG PERTAMA
Pemilihan dan penolakan ilahi

1. Semua orang telah berdosa di dalam Adam, dan patut menerima hukuman, yaitu kutuk Allah dan kematian yang kekal. Oleh karena itu, Allah tidak akan berbuat tidak adil terhadap siapapun, seandainya Dia telah memutuskan untuk membiarkan segenap umat manusia dalam dosa dan kutuk serta menghukumnya karena dosa, sesuai dengan perkataan Sang Rasul, 'Seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.' (Rom 3:19,23). Dan, 'Upah dosa ialah maut.'(Rom 6:23)

2. Akan tetapi, dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan, yaitu, bahwa Dia telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, tetapi beroleh hidup yang kekal.

3. Maka agar manusia dihantarkan pada iman, Allah berkenan mengutus pewarta-pewarta kabar yang amat gembira itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan bilamana Dia menghendakinya. Oleh pelayanan mereka itu manusia dipanggil untuk bertobat dan percaya kepada Kristus yang disalibkan itu. Karena, 'bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka dapat mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan- Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus?' (Rom 10:14-15).

4. Adapun mereka tidak percaya kepada Injil itu, murka Allah tetap berada di atas mereka. Sebaliknya, mereka yang menerimanya, dan yang memeluk Juruselamat Yesus dengan iman yang sejati dan hidup, akan dilepaskan oleh-Nya dari murka Allah dan kebinasaan serta dikaruniai hidup yang kekal.

5. Yang menjadi penyebab ketidakpercayaan itu dan yang harus dipersalahkan karenanya sama sekali bukan Allah, melainkan manusia, sama seperti dalam hal semua dosa lainnya. Sebaliknya, iman kepada Yesus Kristus dan keselamatan oleh-Nya adalah pemberian Allah yang cuma-cuma, seperti tertulis, 'Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah' (Efe 2:8). Juga, 'Sebab kepada kamu dikaruniakan untuk percaya kepada Kristus.' (Fil 1:29).

6. Kepada orang-orang tertentu Allah mengaruniakan iman dalam hidup ini, kepada orang lain tidak. Hal ini timbul dari keputusan-Nya yang kekal. 'Karena semua karya-Nya telah diketahui-Nya sejak semula' (Kis 15:18), dan, 'Segala sesuatu dikerjakan-Nya menurut keputusan kehendak-Nya' (Efe 1:11). Menurut keputusan ini, hati orang pilihan dilunakkan-Nya dengan penuh rahmat dan ditundukkan-Nya untuk percaya, meskipun hati itu keras. Sebaliknya, menurut keputusan yang sama, orang yang tidak terpilih dibiarkan-Nya dalam kejahatan dan kekerasan hati mereka sesuai dengan hukuman-Nya yang adil. Terutama di sinilah muncul di depan kita pembedaan yang tak terselami, yang penuh kemurahan dan sekaligus adil itu, yaitu pembedaan antara manusia yang telah sama- sama binasa, ataupun keputusan Pemilihan dan Penolakan, yang dinyatakan dalam Firman Allah. Oleh orang yang jahat, cemar, dan kurang mantap hal itu diputarbalikkan sehingga mereka binasa, tetapi bagi jiwa orang kudus dan yang takut akan Allah hal ini menyediakan hiburan yang tak terkatakan.

7. Pemilihan ini adalah rencana Allah yang tak berubah-ubah. Olehnya, sebelum dunia dijadikan, dipilih-Nya sejumlah orang dari segenap umat manusia yang karena kesalahannya sendiri kehilangan keutuhan yang semula dan jatuh ke dalam dosa dan kebinasaan itu, agar mereka memperoleh keselamatan. Orang yang dipilih itu tidak lebih baik atau lebih layak daripada orang lain, tetapi bersama dengan yang lain itu tergeletak dalam sengsara. Maka pemilihan mereka terjadi menurut perkenan kehendak-Nya yang sama sekali bebas, hanya karena kasih karunia saja, dan berlangsung di dalam Kristus, yang telah ditentukan-Nya dari kekal untuk menjadi Pengantara dan Kepala semua orang pilihan serta dasar keselamatan. Dan agar mereka diselamatkan oleh Kristus, maka Allah memutuskan juga untuk memberikan orang-orang pilihan itu kepada-Nya dan untuk memanggil serta menarik mereka dengan ampuh oleh Firman dan Roh-Nya pada persekutuan dengan-Nya. Atau, dengan perkataan lain, Allah telah memutuskan untuk mengaruniakan kepada mereka iman yang sejati kepada Kristus, membenarkan dan menguduskan mereka, dan akhirnya memuliakan mereka, setelah mereka tetap dipelihara dengan kuasa dalam persekutuan Anak-Nya. Semua itu dilakukan-Nya untuk menyatakan rahmat-Nya dan supaya terpujilah kekayaan kasih karunia-Nya yang mulia. Seperti tertulis, 'Sebab Allah telah memilih kita di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya dalam kasih. Melalui Yesus Kristus, Dia telah menentukan kita dari semula untuk menjadi anak-anak bagi diri-Nya, menurut perkenan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.' (Efe 1:4-6). Dan di tempat lain, 'Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.' (Rom 8:30).

8. Pemilihan ini bukan bermacam-macam, melainkan satu dan sama dalam hal semua orang yang hendak diselamatkan, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Karena Alkitab memang memberitakan kepada kita satu perkenan, satu maksud, dan satu keputusan kehendak Allah. Olehnya kita telah dipilih-Nya dari kekekalan untuk menerima baik kasih karunia maupun kemuliaan, baik keselamatan maupun jalan keselamatan yang telah dipersiapkan-Nya supaya kita berjalan di dalamnya (Efe 1:4-5 dan Efe 2:10).

9. Pemilihan tersebut telah terjadi, bukan berdasarkan iman dan ketaatan iman, kesucian ataupun sifat dan pembawaan lain yang baik yang mana pun, yang telah tampak terlebih dahulu, seakan-akan hal-hal itu menjadi sebab atau syarat yang seharusnya terdapat dalam diri manusia yang bakal dipilih, melainkan supaya menghasilkan iman, ketaatan iman, kekudusan, dan seterusnya. Maka pemilihan itu adalah sumber segala hal yang menyelamatkan. Sebagai hasil dan akibatnya mengalirkan darinya iman, kekudusan dan karunia-karunia lain yang membawa keselamatan, dan akhirnya kehidupan kekal sendiri. Hal ini sesuai dengan kesaksian Sang Rasul, 'Dia telah memilih kita' (bukan: sebab kita sudah kudus dan tak bercacat, melainkan) 'supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan- Nya.' (Efe 1:4).

10. Yang menjadi alasan pemilihan yang hanya berdasarkan rahmat ini hanyalah perkenan Allah. Perkenan ini bukanlah keputusan untuk memilih, dari semua syarat yang dapat diberlakukan, sifat atau perbuatan manusia yang tertentu menjadi syarat keselamatan. Sebaliknya, perkenan ini adalah keputusan untuk mengangkat orang-orang tertentu dari massa orang berdosa menjadi milik-Nya. Seperti tertulis, 'Waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat (...) dikatakan kepada Ribka: Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda, seperti tertulis, 'Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.' (Rom 9:11-13). Dan, 'Semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.' (Kis 13:48).

11. Sebagaimana Allah sendiri berhikmat sempurna, tidak berubah-ubah, maha mengetahui, dan mahakuasa, begitu pula pemilihan yang dilakukan-Nya tidak dapat ditiadakan dan dilakukan ulang, diubah, dibatalkan atau diputus, dan tidak mungkin juga orang- orang pilihan ditolak atau jumlah mereka dikurangi.

12. Orang-orang pilihan diyakinkan mengenai pemilihan mereka yang kekal dan yang tak berubah-ubah, yaitu pemilihan untuk menerima keselamatan. Mereka diyakinkan tentangnya masing-masing pada waktunya, walau tingkatnya berbeda-beda dan kadarnya tidak sama. Keyakinan ini tidak didapatkan orang pilihan dengan cara mengusut hal- hal yang tersembunyi dan rahasia-rahasia Allah yang dalam. Tetapi mereka mendapatkannya dengan mengamati pada diri mereka sendiri dengan kegembiraan rohani dan sukacita yang kudus berbagai hal yang dapat disangkal merupakan buah pemilihan dan yang ditunjukkan dalam Firman Allah, seperti umpamanya iman yang sejati kepada Kristus, takut akan Allah bagaikan seorang anak, dukacita menurut kehendak Allah karena dosa, lapar, dan haus akan kebenaran, dan seterusnya.

13. Kesadaran dan keyakinan akan pemilihan itu menyebabkan anak-anak Allah makin hari makin bertambah merendahkan diri di hadapan Allah, menyembah jurang kemurahan-Nya, menyucikan diri, dan membalas kasih Dia yang telah begitu mengasihi-Nya dengan kasih yang menyala-nyala. Maka ajaran pemilihan itu dan perenungan tentangnya sama sekali tidak membuat mereka menjadi malas melaksanakan perintah-perintah Allah, atau berlengah-lengah secara daging. Hal itu, menurut hukuman Allah yang adil, biasa dialami orang yang memang dengan gegabah menganggap dirinya sudah memiliki dirinya sudah memiliki anugerah pemilihan, ataupun berkhayal tentangnya dengan seenaknya dan lancang, namun tidak mau mengikuti jejak orang pilihan.

14. Menurut rencana Allah yang penuh hikmat, ajaran tentang pemilihan ilahi itu telah diberitakan oleh para Nabi, oleh Kristus sendiri, dan oleh para Rasul, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, dan sesudah itu dituliskan dan diwariskan di dalam Kitab-kitab Suci. Begitu pula, ajaran itu harus dikemukakan juga pada masa kini, pada saat dan tempat yang tepat, dalam gereja Allah, yang memang secara khusus menjadi tempat tujuannya. Hal itu hendaknya dilakukan dengan kemampuan membedakan, dengan takwa dan kudus, tanpa mengusut jalan-jalan Yang Mahatinggi, demi kemuliaan Nama Allah yang mahakudus dan demi penghiburan yang menggairahkan bagi umat-Nya.

15. Anugerah pemilihan kita, yang abadi dan yang dikaruniakan dengan cuma-cuma, terutama ditunjukkan dan dianjurkan kepada kita oleh Kitab Suci ketika disaksikan selanjutnya, bahwa tidak semua orang dipilih. Ada yang tidak dipilih atau dilewatkan Allah dalam pemilihan-Nya yang kekal. Tentang mereka Allah telah memutuskan, menurut perkenan-Nya yang sama sekali bebas, adil, tak bercacat, dan tidak berubah-ubah, untuk membiarkan mereka dalam sengsara bersama, tempat mereka telah menjatuhkan diri oleh kesalahan mereka sendiri, dan untuk tidak mengaruniakan kepada mereka iman yang menyelamatkan dan karunia pertobatan, malah untuk membiarkan mereka di jalan-jalan mereka sendiri dan di bawah hukuman-Nya yang adil, dan untuk akhirnya menghakimi mereka dan menjatuhkan hukuman yang kekal atas mereka, bukan hanya karena ketidakpercayaan mereka, melainkan juga karena semua dosanya yang lain, supaya dengan demikian diperlihatkan-Nya keadilan-Nya. Inilah keputusan penolakan, yang tidak menjadikan Allah Penyebab dosa - pikiran itu hujat! - tetapi menetapkan Dia selaku Hakim dan Pembalas dosa yang dahsyat, tak bercacat, dan adil.

16. Ada orang yang belum merasakan dengan ampuh dalam dirinya iman yang hidup kepada Kristus atau keyakinan hati yang teguh, kedamaian hati nurani, pelaksanaan ketaatan bagaikan seorang anak, dan hal bermegah dalam Allah oleh Kristus, meskipun mereka memakai segala sarana yang, menurut janji Allah, dipakai-Nya untuk mengerjakan semua itu di dalam diri kita. Akan tetapi, janganlah hati mereka menjadi tawar, bila mereka mendengar orang berbicara tentang penolakan, dan janganlah mereka menganggap diri termasuk orang-orang yang ditolak. Sebaliknya, hendaklah mereka tetap memakai sarana-sarana itu dengan rajin, sangat merindukan saat karunia akan dianugerahkan dengan lebih berlimpah, dan menantikannya dengan penuh hormat serta rendah hati. Apalagi mereka yang sungguh ingin bertobat kepada Allah, yang hanya mau berkenan kepada-Nya saja, dan ingin dilepaskan dari tubuh maut ini, namun belum dapat maju di jalan kesalehan dan iman sejauh mereka kehendaki, mereka tidak usah merasa takut berhadapan dengan ajaran penolakan ini. Karena Allah yang penuh belas kasihan telah berjanji, bahwa sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan- Nya dan buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya. Akan tetapi, ajaran ini dengan selayaknya menakutkan mereka yang tidak mempedulikan Allah dan Kristus Sang Juruselamat, dan yang seluruhnya mengabdi kepada urusan-urusan dunia ini serta kepada hawa nafsu daging - setidak-tidaknya selama mereka tidak bertobat dengan sungguh-sungguh kepada Allah.

17. Tentang kehendak Allah harus kita tentukan pendapat hanya berdasarkan Firman-Nya sendiri. Firman itu menyaksikan kepada kita, bahwa anak-anak orang percaya adalah kudus, bukan karena kodrat mereka, melainkan karena perjanjian rahmat yang mencakup mereka bersama orangtua mereka. Maka orangtua yang saleh tidak perlu bimbang tentang pemilihan dan keselamatan anak-anak mereka yang diambil Allah dari hidup ini pada masa mereka masih kanak-kanak.

18. Kepada mereka yang bersungut-sungut karena anugerah pemilihan yang hanya berdasarkan rahmat, dan karena kekerasan penolakan yang adil, kita hadapkan perkataan rasul ini, 'Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah?' (Rom 9:20). Dan perkataan ini dari Juruselamat kita, 'Tidakkah Aku bebas mempergunakan milik-Ku menurut kehendak hati-Ku?' (Mat 20:15). Sebaliknya, kita menyembah rahasia-rahasia keselamatan ini dengan takwa dan berseru bersama rasul, 'O, alangkah dalamnya kekayaan hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasehat- Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Dia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.' (Rom 11:33-36).

Penolakan ajaran sesat yang telah mengacaukan
Gereja- gereja Belanda selama beberapa waktu

Setelah menguraikan ajaran ortodoks mengenai pemilihan dan penolakan, sinode menolak ajaran-ajaran sesat orang yang mengajar sebagai berikut:

1. Allah berkehendak menyelamatkan mereka yang bakal beriman dan bertekun dalam iman serta ketaatan iman itu; hanya itulah isi keputusan pemilihan untuk menerima keselamatan, dan dalam Firman Allah tidak dinyatakan sesuatu apa pun yang lain tentang keputusan itu.
Mereka ini menyesatkan orang-orang bersahaja dan nyata-nyata membantah Kitab Suci, yang menyaksikan bahwa Allah tidak hanya berkehendak menyelamatkan mereka yang bakal beriman, tetapi juga telah memilih dari kekekalan sejumlah orang yang tertentu. Kepada mereka ini, berbeda dengan orang lain, hendak dikaruniakan-Nya dalam hidup ini iman kepada Kristus dan ketekunan dalam iman itu. Seperti tertulis, 'Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia.' (Yoh 17:6). Dan, 'Semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.' (Kis 13:48). Dan, 'Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya' dan seterusnya (Efe 1:4).

2. Pemilihan oleh Allah untuk hidup yang kekal adalah bermacam-macam. Ada pemilihan yang umum dan tidak tentu, ada yang khusus dan tentu. Pemilihan yang disebut terakhir ini ada yang tidak tuntas, dapat dicabut, tidak bersifat menentukan, dan bersyarat, ada yang tuntas, tak dapat dicabut, bersifat menentukan, dan mutlak. Begitu pula: ada pemilihan untuk iman, ada pemilihan untuk keselamatan, sedemikian rupa hingga pemilihan untuk iman yang membenarkan tidak perlu disertai pemilihan yang bersifat menentukan untuk keselamatan.
Ajaran ini merupakan khayalan otak manusia, yang direka-reka di luar Alkitab. Olehnya ajaran mengenai pemilihan dirusak dan diputuskanlah rantai emas keselamatan kita ini, 'Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.' (Rom 8:30).

3. Isi perkenan dan rencana Allah, yang disebut- sebut oleh Alkitab dalam ajarannya tentang pemilihan, bukanlah bahwa Allah telah memilih sejumlah orang yang tertentu dengan tidak memilih orang lain. Sebaliknya, dari semua syarat yang dapat berlaku (di antaranya juga perbuatan hukum Taurat), ataupun dari segala hal ihwal yang ada, Allah telah memilih perbuatan iman, yang pada hakikatnya tidak berjasa, dan ketaatan iman yang tidak sempurna, menjadi syarat keselamatan. Ketaatan yang tidak sempurna itu dengan penuh kerahiman mau dinilai sempurna dan layak diupahi hidup yang kekal.
Ajaran sesat yang merusak ini menyebabkan perkenan Allah dan jasa Kristus hilang kekuatannya, dan membuat hati orang menyimpang, oleh pertanyaan-pertanyaan yang sia-sia, dari kebenaran yaitu pembenaran hanya berdasarkan rahmat, dan dari ajaran Alkitab yang sederhana. Lagi pula olehnya rasul dituduh berdusta, apabila ia berkata, 'Allah telah memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan rencana dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dianugerahkan kepada kita dalam Yesus Kristus sebelum permulaan zaman' (2Ti 1:9).

4. Dalam pemilihan untuk iman, manusia harus memenuhi lebih dahulu syarat yang berikut: ia harus memakai dengan baik cahaya alamiah, dan harus saleh, sederhana, rendah hati, serta layak untuk hidup yang kekal, seolah-olah pemilihan bergantung sedikit pun pada hal-hal itu.
Mereka ini serupa benar dengan Pelagius dan bertentangan dengan ajaran Rasul yang menulis, 'Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita - oleh kasih karunia kamu diselamatkan - dan di dalam Kristus Yesus Dia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga, supaya pada masa yang akan datang Dia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya, yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri' (Efe 2:3-9).

5. Pemilihan orang-orang tertentu untuk keselamatan, yaitu pemilihan yang tidak tuntas dan tidak bersifat menentukan telah terjadi berdasarkan iman, pertobatan, hidup suci dan saleh yang baru mulai ataupun telah berlangsung beberapa lama, dan yang sudah tampak terlebih dahulu. Sebaliknya, pemilihan yang tuntas dan bersifat menentukan berdasarkan ketekunan sampai akhir iman, pertobatan, hidup suci dan saleh yang sudah tampak terlebih dahulu itu. Inilah 'kelayakan yang penuh rahmat dan Injili', yang menyebabkan orang yang dipilih lebih layak daripada orang yang tidak dipilih. Itulah sebabnya iman, ketaatan iman, hidup suci dan saleh, serta ketekunan tidak merupakan hasil pemilihan yang tidak berubah-ubah untuk kemuliaan, tetapi menjadi syarat-syarat dan penyebab- penyebabnya. Syarat-syarat itu telah ditentukan lebih dahulu, dan sudah tampak lebih dahulu bahwa orang-orang yang bakal dipilih secara tuntas akan memenuhinya, dan tanpa penyebab-penyebab itu pemilihan yang tak berubah-ubah untuk kemuliaan tidak terjadi.

Hal ini bertentangan dengan seluruh Alkitab, yang terus-menerus menegaskan perkataan ini dan lain sebagainya dalam telinga dan hati kita, 'Pemilihan bukanlah berdasarkan perbuatan, melainkan dari Dia yang memanggil' (Rom 9:11). 'Dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya' (Kis 13:48). 'Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus' (Efe 1:4). 'Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu' (Yoh 15:16). 'Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan' (Rom 11:6). 'Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya' (1Yo 4:10).

6. Pemilihan untuk keselamatan tidak selalu bersifat tidak berubah-ubah. Sebaliknya, ada orang pilihan yang dapat binasa dan juga betul-betul binasa untuk selama-lamanya, meskipun ada keputusan Allah.
Melalui kesesatan kasar ini mereka menjadikan Allah sebagai Allah yang berubah-ubah dan menumbangkan hiburan yang diambil oleh orang saleh dari kepastian pemilihan mereka. Pun mereka menentang Kitab-kitab Suci, yang mengajar bahwa 'orang-orang pilihan tidak disesatkan' (Mat 24:24); bahwa 'Kristus tidak mungkin kehilangan mereka yang diberikan Bapa kepada-Nya' (Yoh 6:39); bahwa 'mereka yang ditentukan, dipanggil, dan dibenarkan Allah dari semula, juga dimuliakan-Nya' (Rom 8:30).

7. Di dalam kehidupan ini tidak ada buah pemilihan yang tidak berubah-ubah untuk kemuliaan dan tidak ada kesadaran tentangnya. Juga tidak ada kepastian tentangnya selain yang berdasarkan syarat yang berubah-ubah dan yang tidak pasti.
Tidak masuk akal menetapkan kepastian yang tidak pasti, lagi pula hal ini juga bertentangan dengan pengalaman orang kudus, yang berdasarkan kesadaran tentang pemilihan mereka bergembira bersama Rasul dan memuji-muji anugerah Allah itu (Efe 1). Sesuai dengan nasihat Kristus, mereka bersukacita bersama murid-murid-Nya, karena nama mereka terdaftar di surga (Luk 10:20).

Juga, mereka menjadikan kesadaran tentang pemilihan mereka itu sebagai penahan panah api godaan-godaan iblis, sambil bertanya, 'Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah?' (Rom 8:33).
8. Allah tidak pernah memutuskan, hanya berdasarkan kehendak-Nya yang adil semata-mata, untuk membiarkan seseorang dalam kejatuhan Adam dan dalam keadaan dosa serta hukuman yang berlaku umum, ataupun untuk melewatkan seseorang dalam pembagian anugerah yang diperlukan untuk iman dan pertobatan.

Sebab, yang ini sudah pasti, 'Dia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya' (Rom 9:18). Juga, 'Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak' (Mat 13:11). Demikian pula, 'Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu' (Mat 11:25,26).
9. Alasan yang menyebabkan Allah mengalamatkan Injil kepada bangsa yang satu alih-alih kepada bangsa yang lain, bukan hanya perkenan Allah semata-mata, melainkan karena bangsa yang satu lebih baik dan lebih layak daripada bangsa lain, yang tidak mendapat bagian dalam Injil.
Hal ini disangkal Musa, waktu ia berkata kepada bangsa Israel demikian, 'Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya; tetapi hanya oleh nenek moyangmulah hati TUHAN terpikat, sehingga Dia mengasihi mereka, dan keturunan merekalah, yakni kamu, yang dipilih-Nya dari segala bangsa, seperti sekarang ini.' (Ula 10:14-15). Dan Kristus berkata, 'Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.' (Mat 11:21).

PASAL AJARAN YANG KEDUA
Kematian Kristus dan penebusan manusia olehnya

1. Allah tidak hanya mahamurah, tetapi juga mahaadil. Maka keadilan-Nya itu - demikian Dia telah menyatakan diri dalam Firman-Nya - menuntut agar dosa-dosa yang telah kita perbuat terhadap keagungan-Nya yang tak terhingga itu mendapat hukuman-hukuman itu, kecuali jika tuntutan-tuntutan keadilan Allah dipenuhi.

2. Tetapi karena kita sendiri tidak sanggup menyediakan pelunasan dan melepaskan diri kita dari murka Allah, maka karena kasih-Nya yang tak terhingga Allah telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal menjadi jaminan bagi kita. Dia telah menjadi dosa dan kutuk di atas kayu salib karena kita dan sebagai ganti kita, untuk menyediakan pelunasan bagi kita.

3. Kematian Anak Allah ini adalah korban dan pelunasan yang satu-satunya dan sempurna untuk dosa. Kematian itu tidak terbatas kekuatan dan nilainya dan lebih dari cukup untuk mendamaikan dosa seluruh dunia.

4. Kematian ini demikian kuat dan bernilai, karena Pribadi yang telah mengalaminya itu bukan hanya manusia sejati dan benar-benar kudus, melainkan juga Anak Allah yang tunggal, yang se-Zat dengan Bapa dan Roh Kudus dan bersama-sama Mereka kekal dan tak terhingga sebagaimana seharusnya Dia yang menjadi Juruselamat kita. Tambahan lagi, karena kematian-Nya disertai kesadaran akan murka Allah dan akan kutuk yang patut menimpa kita karena dosa-dosa kita.

5. Selanjutnya janji Injil ialah, bahwa setiap orang yang percaya kepada Kristus yang disalibkan itu tidak binasa, tetapi beroleh hidup yang kekal. Janji itu harus diberitakan dan dimaklumkan kepada semua bangsa dan semua orang yang menurut perkenan Allah, menjadi alamat pemberitaan Injil-Nya, disertai perintah bertobat dan percaya, tanpa mengadakan pembedaan.

6. Banyak orang yang dipanggil oleh Injil, tidak bertobat dan tidak percaya kepada Kristus. Sebaliknya, mereka binasa dalam ketidakpercayaan. Akan tetapi, hal ini tidak terjadi oleh sebab korban Kristus di atas kayu salib bercacat atau berkekurangan, tetapi lantaran kesalahan mereka sendiri.

7. Akan tetapi, semua orang yang sungguh-sungguh percaya, dan oleh kematian Kristus dibebaskan dan diselamatkan dari dosa serta kebinasaan, menikmati anugerah ini hanya berdasarkan rahmat Allah. Rahmat itu dianugerahkan kepada mereka dari kekekalan, di dalam Kristus, walaupun Allah tidak berkeharusan menganugerahkannya kepada seorang pun.

8. Sebab inilah keputusan yang berdaulat, kehendak yang penuh rahmat, dan maksud Allah Bapa, yaitu agar keampuhan yang menghidupkan dan menyelamatkan yang terdapat dalam kematian Anak-Nya yang amat berharga itu menjangkau semua orang terpilih, untuk mengaruniakan hanya kepada mereka saja iman yang membenarkan, dan oleh iman itu dengan tak tergagalkan mengantarkan mereka kepada keselamatan. Dengan perkataan lain: Allah telah menghendaki agar Kristus, oleh penumpahan darah-Nya di atas salib (yang olehnya perjanjian baru telah diteguhkan-Nya), dari antara segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa menebus dengan ampuh semua orang - dan hanya mereka itu saja - yang dari kekekalan sudah terpilih untuk keselamatan dan yang telah diberikan Bapa kepada-Nya. Begitu pula, agar Kristus mengaruniakan kepada mereka iman, yang telah diperoleh-Nya bagi mereka oleh kematian-Nya, sama seperti karunia-karunia Roh Kudus yang lain yang membawa keselamatan. Begitu pula, agar Dia menyucikan mereka dengan darah-Nya dari semua dosa mereka, baik dari dosa bawaan maupun dari dosa-dosa yang nyata, yang mereka lakukan sebelum atau sesudah menjadi percaya, dan agar Dia memelihara mereka dengan setia sampai akhir, dan pada kesudahannya menempatkan mereka di hadapan diri-Nya dengan penuh kemuliaan, tanpa cacat atau kerut.

9. Keputusan ini, yang berasal dari kasih Allah yang abadi terhadap orang pilihan, telah digenapi secara kuat sejak awal dunia hingga dewasa ini, dan alam maut pun tidak berhasil melawannya. Keputusan itu akan digenapi juga untuk seterusnya, sedemikian rupa, hingga orang pilihan, masing-masing pada zamannya, akan dihimpun menjadi satu kumpulan, dan selalu akan ada Gereja orang- orang percaya, yang berdasarkan darah Kristus. Gereja itu tetap mengasihi Dia, Juruselamatnya, yang telah menyerahkan nyawa-Nya baginya di atas kayu salib, sama seperti seorang mempelai laki-laki menyerahkan nyawanya bagi mempelai perempuannya, bertekun beribadah kepada-Nya, dan memuji-muji Dia sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.

Penolakan ajaran sesat

Setelah menguraikan ajaran ortodoks maka sinode menolak ajaran-ajaran sesat orang yang mengajar sebagai berikut:

1. Allah Bapa telah menentukan Anak-Nya untuk mati di atas kayu salib tanpa adanya keputusan yang pasti dan tentu untuk menyelamatkan orang-orang tertentu. Malahan, andaipun penebusan yang diperoleh itu tidak pernah menjadi milik nyata satu orang pun, namun perlunya, manfaat, dan nilai yang tercantum di dalam apa yang diperoleh melalui kematian Kristus itu dapat saja tetap berlaku lengkap dan tetap tinggal sempurna, genap, dan utuh dalam semua bagiannya.

Ajaran ini adalah penghinaan terhadap hikmat Bapa dan jasa Yesus Kristus, dan bertentangan dengan Alkitab. Karena Juruselamat kita berkata, "Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku dan Aku mengenal mereka" (Yoh 10:15,27). Dan Nabi Yesaya berkata mengenai Juruselamat, "Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya" (Yes 53:10). Akhirnya ajaran ini menumbangkan pasal pengakuan iman yang mengandung kepercayaan kita akan "Gereja Kristen yang am".

2. Maksud kematian Kristus bukanlah agar perjanjian baru, yaitu perjanjian rahmat, sungguh-sungguh diteguhkan- Nya oleh darah-Nya, melainkan semata-mata agar bagi Bapa diperoleh-Nya hak untuk sekali lagi mengadakan perjanjian dengan manusia, entah perjanjian rahmat entah perjanjian perbuatan, sebagaimana dikehendaki Bapa.

Ajaran ini bertentangan dengan Alkitab, yang mengajar bahwa Kristus telah menjadi Jaminan dan Pengantara perjanjian yang lebih baik, yaitu perjanjian baru, dan bahwa surat wasiat barulah sah, bila pembuat wasiat itu telah mati.

3. Oleh pelunasan yang telah dilakukan-Nya, Kristus tidak memperoleh dengan pasti bagi seorang pun baik keselamatan sendiri maupun iman yang membuat pelunasan itu dengan ampuh diraih demi keselamatan. Sebaliknya, Dia hanya memperoleh bagi Bapa kuasa atau kemauan yang bulat untuk membuka babak baru dalam tindakannya terhadap manusia dan menentukan syarat-syarat baru apa saja yang dikehendaki-Nya. Apakah syarat-syarat itu dipenuhi, tergantung pada kehendak bebas manusia. Maka dapat saja terjadi, bahwa tidak seorang pun, ataupun semua orang memenuhinya.

Mereka ini meremehkan kematian Kristus, sama sekali tidak mengakui buah atau anugerah utama yang diperoleh melalui kematian itu, dan memanggil ajaran sesat Pelagius kembali dari neraka.

4. Isi perjanjian baru, yaitu perjanjian rahmat, yang telah diikat oleh Allah Bapa dengan manusia melalui kematian Kristus, bukanlah bahwa kita dibenarkan di hadapan Allah dan diselamatkan oleh iman sejauh iman ini meraih jasa Kristus. Sebaliknya, isinya bahwa Allah membatalkan tuntutan ketaatan sempurna terhadap hukum Taurat dan menganggap iman itu sendiri serta ketaatan iman, meskipun tidak sempurna, sebagai ketaatan sempurna kepada hukum Taurat serta dengan penuh rahmat menilainya layak diganjar hidup yang kekal.

Mereka ini membantah Alkitab, yang berkata, "Oleh kasih karunia mereka telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya (Rom 3:24-25). Bersama Socinus yang fasik itu mereka memasukkan ajaran yang baru dan asing tentang pembenaran manusia di hadapan Allah, yang bertentangan dengan perasaan bulat seluruh gereja.

5. Semua orang telah diterima oleh Allah, sehingga mereka diperdamaikan dengan Allah dan turut mengambil bagian dalam karunia perjanjian itu. Maka tidak seorang pun takluk pada hukuman kekal karena dosa turunan, dan tidak seorang pun akan dihukum karenanya. Sebaliknya, semua orang bebas dari kesalahan yang disebabkan dosa tersebut.

Pandangan ini bertentangan dengan Alkitab, yang menegaskan, bahwa "pada dasarnya kita adalah orang-orang yang harus dimurkai" (Efe 2:3).

6. Sejauh hal itu bergantung kepada Allah, Dia telah berkehendak mengaruniakan secara sama rata kepada semua orang anugerah-anugerah yang telah diperoleh oleh kematian Kristus. Jikalau ada orang yang mendapat bagian dalam pengampunan dosa dan hidup yang kekal sedangkan yang lain tidak, maka perbedaan itu bergantung pada kehendaknya yang bebas, yang meraih anugerah yang ditawarkan tanpa memandang bulu itu, bukan pada karunia khusus dari rahmat Allah, yang bekerja dalam orang itu dengan ampuh sehingga mereka memeluk kasih karunia itu, sedangkan yang lain tidak.

Mereka ini menyalahgunakan pembedaan antara hal memperoleh dan hal memeluk, untuk meresapkan pendapat tersebut ke dalam hati orang yang kurang hati-hati dan yang tidak berpengalaman. Mereka berbuat seolah- olah mereka mengemukakan pembedaan ini dalam arti yang sehat, namun mereka mencoba menyuguhkan kepada rakyat racun yang mematikan, yakni ajaran sesat kaum Pelagian.

7. Kristus tidak dapat dan tidak perlu mati bagi mereka yang dikasihi Allah dengan kasih yang tertinggi dan yang telah dipilih-Nya untuk hidup yang kekal. Dia memang tidak mati bagi mereka, karena orang yang sedemikian tidak memerlukan kematian Kristus.

Mereka membantah Sang Rasul, yang berkata bahwa Kristus "telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku" (Gal 2:20). Demikian juga, "Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati?", yaitu bagi mereka (Rom 8:33-34). Dan Juruselamat sendiri berkata, "Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku" (Yoh 10:15). Dan, "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya" (Yoh 15:12-13).

PASAL AJARAN YANG KETIGA DAN KEEMPAT
Kerusakan manusia. Pertobatannya kepada Allah serta cara pertobatan itu

1. Pada mulanya manusia diciptakan menurut gambar Allah dan diberi perlengkapan yang serba indah: dalam akal budinya terdapat pengetahuan yang benar dan menyelamatkan tentang Penciptanya serta tentang hal-hal rohani; dalam kehendak dan hatinya, kebenaran; dalam semua perasaan hatinya, kemurnian. Maka, ia sepenuhnya kudus. Tetapi oleh hasutan iblis dan kehendak bebasnya sendiri ia telah menyimpang dari Allah dan membuang karunia-karunia ulung itu. Dan sebagai gantinya manusia telah mendapatkan bagi dirinya: kebutaan, kegelapan yang mengerikan, pertimbangan yang bebal dan jahat dalam akal budinya; kekejian, pemberontakan, dan ketegaran dalam kehendak dan hatinya; lagi pula ketidakmurnian dalam perasaan hatinya.

2. Sama seperti keadaan manusia setelah ia jatuh, demikian pula keadaan anak-anaknya; manusia yang rusak memperanakkan anak-anak yang rusak. Dengan cara ini menurut hukuman Allah yang adil kerusakan menjalar dari Adam kepada semua anak cucunya - kecuali Yesus - bukan karena peniruan, sebagaimana dulu telah dikatakan oleh kaum Pelagian, melainkan karena pembiakan kodrat yang rusak itu.

3. Oleh karena itu, semua orang dikandung dalam dosa dan murka Allah sudah berada pada mereka saat mereka lahir. Mereka tidak sanggup berbuat kebaikan apa pun demi keselamatannya, tetapi mereka cenderung pada kejahatan, mereka mati di tengah dosa, dan menjadi hamba dosa. Mereka tidak mau dan tidak sanggup kembali kepada Allah dan membenahi kodrat mereka yang bejat ataupun menyiapkan diri untuk pembenahannya, tanpa karunia Roh Kudus yang melahirkan kembali.

4. Memang, setelah manusia jatuh masih tinggal di dalamnya sisa terang kodrati. Berkat terang itu, ia tetap memiliki pengetahuan sedikit tentang Allah, tentang alam dunia, tentang perbedaan antara apa yang bersusila dan yang aib, dan tampak berupaya seadanya untuk mengejar kebajikan serta ketertiban lahiriah. Akan tetapi, jangankan oleh terang kodrati itu memperoleh pengenalan yang menyelamatkan tentang Allah dan menjadi sanggup bertobat kepada-Nya, menggunakan terang itu dengan tepat dalam kehidupan sehari-hari dan dalam urusan-urusan kemasyarakatan pun manusia tidak bisa.

Bahkan, ia mengaburkan terang itu - bagaimanapun juga sifat terang ini - dengan berbagai cara dan menindasnya dalam kelaliman. Karena ia berbuat begitu, maka ia sama sekali tidak dapat lagi berdalih di hadapan Allah.

5. Apa yang berlaku terhadap terang kodrati itu, juga berlaku dalam hubungan ini terhadap hukum Kesepuluh Perintah yang diberikan Allah melalui Musa khususnya kepada orang Yahudi. Sebab hukum itu memang menyingkapkan kebesaran dosa dan makin lama makin meyakinkan manusia akan kesalahannya, tetapi menunjukkan obat penawarnya dan juga tidak memberikan kekuatan untuk luput dari sengsara itu. Karena hukum itu telah menjadi tidak berdaya oleh daging, dan membiarkan pelanggarnya tetap berada di bawah kutuk, maka tidak mungkin manusia memperoleh rahmat yang menyelamatkan melalui hukum itu.

6. Maka apa yang tidak mungkin dilakukan oleh terang kodrati dan hukum Taurat, itulah yang dikerjakan Allah oleh kuasa Roh Kudus dan oleh Firman atau pelayanan pendamaian, yakni Injil Mesias. Allah telah berkenan menyelamatkan orang percaya baik pada zaman Perjanjian Lama maupun pada zaman Perjanjian Baru oleh Injil itu.

7. Rahasia kehendak-Nya itu telah disingkapkan Allah kepada sejumlah kecil orang pada zaman Perjanjian Lama. Sebaliknya, pada zaman Perjanjian Baru (setelah perbedaan antara bangsa-bangsa ditiadakan) Allah telah menyatakannya kepada lebih banyak orang. Sebab perbedaan ini janganlah dicari dalam hal ini, bahwa bangsa yang satu lebih layak ataupun memanfaatkan terang kodrati dengan lebih baik dibandingkan bangsa lain, tetapi dalam perkenan Allah yang berdaulat dan dalam kasih-Nya yang diberikan secara cuma- cuma. Itulah sebabnya maka mereka yang dianugerahi karunia yang sedemikian besar - walaupun mereka sama sekali tidak layak menerimanya, bahkan berlawanan dengan semua yang patut mereka terima - harus mengakui karunia itu dengan rendah hati dan penuh syukur. Tetapi dalam hal orang-orang lain, yang tidak dianugerahi karunia itu, haruslah mereka bersama Sang Rasul menyembah kekerasan dan keadilan hukuman-hukuman Allah, dan sekali-kali tidak mengusut hukuman-hukuman itu.

8. Akan tetapi, semua orang yang dipanggil oleh Injil, dipanggil dengan sungguh-sungguh. Sebab dalam firman-Nya Allah memperlihatkan sungguh-sungguh dan dengan sebenarnya apa yang berkenan kepada-Nya, yaitu bahwa mereka yang dipanggil itu datang kepada-Nya dan percaya dijanjikan-Nya kesentosaan jiwa dan hidup yang kekal.

9. Banyak orang yang dipanggil oleh pelayanan Injil tidak datang dan tidak ditobatkan. Kesalahannya tidak dapat ditimpakan kepada Injil, atau kepada Kristus yang ditawarkan oleh Injil, dan tidak juga kepada Allah, yang memanggil orang melalui Injil dan bahkan memberikan berbagai karunia kepada mereka yang dipanggil-Nya. Kesalahannya terletak dalam diri mereka; ada yang memang menerimanya, tetapi tidak mengizinkannya masuk ke dalam hatinya, dan oleh sebab itu mundur lagi setelah sebentar bersukacita dalam iman yang sementara itu; ada yang menghimpit benih Firman di antara semak duri kekuatiran dan keriaan dunia dan tidak menghasilkan buah. Hal ini diajarkan Juruselamat kita dalam perumpamaan tentang benih.

10. Orang-orang lain yang dipanggil oleh pelayanan Injil, datang dan ditobatkan. Hal itu jangan dipulangkan kepada manusia, seolah-olah kehendaknya yang bebas menyebabkan ia berbeda dari orang-orang lain, yang diperlengkapi karunia yang sama besar atau paling tidak cukup agar mereka percaya dan bertobat (seperti yang dinyatakan oleh kesesatan sombong Pelagius). Sebaliknya, hal itu harus dipulangkan kepada Allah. Sebagaimana sejak semula orang-orang kepunyaan-Nya telah dipilih-Nya dalam Kristus, demikian juga mereka dipanggil-Nya dengan ampuh dalam hidup ini. Dia mengaruniakan kepada mereka iman dan pertobatan, dan setelah melepaskan mereka dari kuasa kegelapan memindahkan mereka ke dalam kerajaan Anak-Nya. Maksud-Nya agar mereka memasyhurkan perbuatan-perbuatan besar Dia, yang telah memanggil mereka ke luar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib, dan supaya jangan mereka bermegah dalam diri mereka sendiri, melainkan di dalam Tuhan, seperti yang disaksikan kitab-kitab para Rasul di mana-mana.

11. Akan tetapi, bilamana Allah melaksanakan perkenan-Nya itu di dalam orang pilihan, dan mengerjakan di dalam mereka pertobatan yang sejati, maka Dia telah hanya membuat Injil diberitakan kepada mereka dan tidak hanya menerangi pikiran mereka oleh Roh sedemikian kuat, hingga mereka memahami dengan baik dan menilai hal-hal yang berasal dari Roh Kudus. Dia bahkan juga masuk sampai ke dalam batin manusia dengan keampuhan Roh Kudus yang sama itu, yang mengerjakan kelahiran kembali; hati yang tertutup dibuka- Nya, apa yang keras dilunakkan-Nya, apa yang tidak bersunat disunati- Nya, dalam kehendak dituangkan-Nya sifat-sifat baru: kehendak yang tadinya mati dihidupkan-Nya, yang jahat dijadikan-Nya baik, yang tidak bersedia dijadikan-Nya bersedia, yang melawan dijadikan-Nya taat. Dia menggerakkan dan menguatkan kehendak sedemikian, hingga kehendak itu, seperti pohon yang baik, sanggup menghasilkan buah berupa perbuatan- perbuatan baik.

12. Inilah kelahiran kembali, pembaruan, penciptaan baru, pembangkitan dari antara orang mati, dan karya menghidupkan, yang dimasyhurkan dalam Alkitab dan yang dikerjakan oleh Allah tanpa kita di dalam kita. Kelahiran kembali itu tidak terjadi dalam diri kita hanya melalui bunyi kata-kata pemberitaan, tidak juga oleh nasihat yang lemah lembut ataupun karya yang begitu rupa sehingga setelah Allah menyelesaikan karya itu maka manusia masih dapat menentukan apakah ia dilahirkan kembali atau tidak dan ditobatkan atau tidak. Sebaliknya, hal itu jelas merupakan karya adikodrati, yang amat kuat sekaligus amat lembut, ajaib, tersembunyi, dan tak terkatakan. Menurut kesaksian Alkitab (yang diilhami oleh Dia yang melakukan karya itu), daya karya itu tidak kalah besar dibandingkan dengan penciptaan atau pembangkitan orang mati. Olehnya semua orang yang hatinya menjadi tempat Allah bekerja dengan cara yang menakjubkan ini, pasti dilahirkan kembali dengan cara yang tak tergagalkan dan ampuh, serta benar-benar menjadi percaya. Lalu kehendak yang telah diperbarui itu tidak hanya digerakkan dan didorong Allah, tetapi setelah digerakkan Allah, maka kehendak itu sendiri juga bergerak. Oleh sebab itu, dikatakan juga dengan tepat bahwa, oleh karunia yang telah diterimanya, manusia sendiri percaya dan bertobat.

13. Cara karya ini tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh orang percaya selama hidup ini. Sementara itu mereka merasa tenteram karena mengetahui dan merasa, bahwa oleh karunia Allah itu mereka percaya dengan hati dan mengasihi Juruselamat mereka.

14. Maka iman merupakan karunia Allah. Bukan karena iman itu ditawarkan Allah kepada manusia, agar manusia berbuat sekehendaknya, melainkan karena iman itu sesungguhnya diberikan, diilhamkan, dicurahkan kepada manusia. Bukan juga karena Allah hanya memberikan kemampuan untuk percaya, dan sesudah itu mengharapkan persetujuan atau percaya yang nyata dari kehendak manusia yang bebas, melainkan karena Dia yang mengerjakan baik kemauan maupun pekerjaan, bahkan mengerjakan semuanya di dalam semua orang, Dialah yang mengerjakan di dalam manusia baik kemauan untuk percaya maupun iman itu sendiri.

15. Allah tidak berkeharusan memberikan karunia ini kepada seorang pun. Sebab, apakah keharusan-Nya kepada seseorang yang tidak dapat terlebih dahulu memberikan kepada-Nya sesuatu apa pun yang wajib diganjar? Tambahan lagi, apakah gerangan keharusan Allah kepada seseorang yang hanya memiliki dosa dan dusta? Jadi, barang siapa yang menerima karunia ini, hanya kepada Allah ia berhutang syukur. Barang siapa yang tidak menerima karunia ini, ia sama sekali acuh tak acuh akan perkara-perkara rohani ini dan bersenang-senang atas hal-hal kepunyaannya, ataupun karena merasa aman ia bermegah dengan tidak beralasan seakan-akan memiliki apa yang tidak dimilikinya. Namun, sesuai dengan teladan para Rasul, mereka yang mengaku imannya secara lahiriah dan yang membenahi hidupnya, harus dinilai dan disebut dengan sebaik-baiknya, sebab kita tidak mengenal lubuk hati manusia. Adapun orang lain, yang belum terpanggil, orang harus mendoakan mereka pada Allah, yang menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada. Jangan sekali- kali kita berlaku sombong terhadap mereka, seolah-olah kita sendirilah yang menyebabkan kita berbeda dari mereka.

16. Akan tetapi, manusia, meskipun ia telah jatuh ke dalam dosa, adalah tetap manusia, yang diperlengkapi akal dan kehendak. Dan dosa, yang telah menjalar kepada seluruh umat manusia, tidak memusnahkan kodrat manusia itu, tetapi merusakkannya dan mematikannya secara rohani. Begitu pula, karunia ilahi, yakni kelahiran kembali itu juga tidak bekerja di dalam manusia seolah-olah ia adalah sebongkah kayu dan sebuah batu, dan karunia itu tidak memusnahkan kehendak manusia dan sifat-sifat kehendak itu, dan tidak memaksa manusia berlawanan dengan kehendaknya. Tetapi karunia ilahi itu menghidupkan kehendak secara rohani, menyembuhkannya, memperbaikinya, dan menundukkannya secara lembut sekaligus kuat. Maka, di mana dahulu kedegilan dan perlawanan daging merajalela, sekarang oleh Roh mulai berkuasa ketaatan yang rela dan tulus. Itulah yang merupakan pembaruan dan kebebasan kehendak kita yang sejati dan rohani. Ya, jika Pembuat segala sesuatu yang baik, yang patut dikagumi itu, tidak bertindak sedemikian rupa terhadap kita, maka janganlah manusia berharap dapat bangkit dari kejatuhan melalui kehendaknya yang bebas, yang olehnya ia telah menceburkan diri ke dalam kebinasaan pada waktu ia masih berdiri.

17. Karya Allah yang mahakuasa, yang olehnya Dia menciptakan hidup kodrati kita dan memeliharanya, tidak mencegah pemakaian sarana-sarana yang olehnya Allah dalam hikmat dan kebaikan- Nya yang tak terhingga ingin melaksanakan kekuatan-Nya itu, tetapi justru menuntut pemakaiannya. Demikian pula halnya karya adikodrati Allah yang tersebut di atas, yang olehnya kita dilahirkan-Nya kembali: karya ini sekali-kali tidak mencegah atau meniadakan pemakaian Injil yang telah ditentukan Allah yang berhikmat itu menjadi benih kelahiran kembali dan makanan bagi jiwa. Oleh karena itu, jangan sekali-kali tokoh-tokoh jemaat yang mengajar anggota-anggota jemaat lainnya, ataupun mereka yang diajar berani mencobai Allah dengan jalan menceraikan apa yang menurut perkenan-Nya dikehendaki-Nya supaya tetap tergabung erat. Begitu pula dahulu para Rasul, dan guru-guru yang telah menggantikan mereka, dengan penuh ketakwaan mengajar rakyat mengenai karunia Allah itu demi kemuliaan Allah dan untuk menekan seluruh keangkuhan manusia. Sementara itu, mereka rajin berupaya, melalui pengajaran kudus dari Injil, supaya rakyat itu tetap terkumpul di bawah pelayanan teratur Firman, sakramen-sakramen, dan disiplin gereja. Sebab, kasih karunia diberikan oleh pengajaran itu. Semakin Allah di dalam diri kita. Dengan demikian pekerjaan-Nya akan maju dengan cara yang paling tepat. Baik atas sarana-sarana itu, maupun atas buah dan keampuhannya yang mendatangkan keselamatan, hanya Allah saja yang patut menerima segala kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.

Penolakan ajaran sesat

Setelah menguraikan ajaran ortodoks maka sinode menolak ajaran-ajaran sesat orang yang mengajar sebagai berikut:

1. Sebenarnya tidak dapat dikatakan, bahwa dosa turunan sendiri sudah cukup untuk membuat segenap umat manusia dihukum atau patut diganjar hukuman pada masa kini dan untuk selama- lamanya.

Mereka ini membantah perkataan Sang Rasul, 'Sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa' (Rom 5:12). Dan, 'Penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman' (Rom 5:16). Dan 'Upah dosa ialah maut' (Rom 6:23).

2. Pada mulanya, waktu manusia diciptakan, maka karunia-karunia rohani, sifat-sifat baik, dan kebajikan-kebajikan, seperti kebaikan, kesucian, dan kebenaran, tidak mungkin ada dalam kehendak manusia. Itulah sebabnya karunia-karunia itu tidak mungkin juga dipisahkan dari kehendak itu oleh kejatuhan dalam dosa.

Hal ini bertentangan dengan pemerian manusia sebagai gambar Allah seperti yang disajikan Sang Rasul dalam Efe 4:24. Di sana ia mengatakan, bahwa gambar Allah itu terdiri dari kebenaran dan kekudusan, yang keduanya tanpa ragu-ragu bertempat dalam kehendak.

3. Dalam kematian rohani, karunia-karunia rohani yang dimiliki manusia tidak dipisahkan dari kehendak. Sebab, kehendak itu sendiri tidak pernah dirusak, tetapi hanya dirintangi oleh kegelapan akal-budi dan ketidaktetapan perasaan. Jika rintangan- rintangan ini dicabut, maka kehendak dapat memakai kekuatan yang bebas, yang telah ditanamkan ke dalamnya. Hal itu berarti, kehendak itu sanggup, dari dirinya sendiri, menghendaki dan memilih ataupun tidak menghendaki dan memilih hal apa pun yang baik yang dihadapkan kepadanya.

Ini ajaran baru dan sesat, yang cenderung memuji-muji kemampuan kehendak bebas. Hal ini bertentangan dengan perkataan Nabi Yeremia, 'Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya buruk' (Yer 17:9); dan dengan perkataan Sang Rasul, 'Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat' (Efe 2:3).

4. Manusia yang tidak dilahirkan kembali, sebenarnya tidak mati dalam dosa dalam arti yang sebenarnya dan secara menyeluruh. Pun ia tidak kehilangan sama sekali kekuatan untuk berbuat baik dalam arti rohani. Sebaliknya, ia masih dapat lapar dan haus akan kebenaran dan kehidupan serta mempersembahkan korban hati yang patah dan remuk, yang berkenan kepada Allah.

Hal-hal ini bertentangan dengan kesaksian-kesaksian Alkitab yang jelas, 'Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu' (Efe 2:1-5). Dan, 'Segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata' (Kej 6:5; 8:21). Lagi pula, hanya pada mereka yang dilahirkan kembali dan yang disebut berbahagialah terdapat lapar dan haus akan kelepasan dari sengsara dan akan kehidupan, dan hanya merekalah yang mempersembahkan korban hati yang patah kepada Allah (Mat 5:6 dan Maz 51:19).

5. Anugerah umum (yang menurut mereka adalah terang kodrati) atau karunia-karunia yang masih tinggal sesudah kejatuhan manusia, dapat digunakan manusia yang sudah rusak dan yang kodrati itu dengan begitu tepat, sehingga oleh penggunaannya yang baik itu lama-kelamaan dan selangkah demi selangkah dapat diperolehnya karunia yang lebih besar, yaitu karunia Injili atau yang menyelamatkan, bahkan keselamatan itu sendiri. Dengan cara itu Allah dari pihak-Nya memperlihatkan kesediaan-Nya untuk menyatakan Kristus kepada semua orang, karena Dia memang menyajikan dengan secukupnya dan ampuh sarana-sarana yang dibutuhkan untuk penyataan Kristus dan untuk iman serta pertobatan.

Selain pengalaman segala zaman, Alkitab juga bersaksi bahwa ajaran ini tidak benar, 'Dia memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan- ketetapan-Nya dan hukum-hukum-Nya kepada Israel. Dia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal' (Maz 147:19-20). 'Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing' (Kis 14:16). Dan, 'Roh Kudus mencegah mereka (Yaitu Paulus dan rekan-rekannya) untuk memberitakan Injil di Asia. Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka' (Kis 16:6-7).

6. Apabila manusia bertobat dengan sungguh- sungguh, Allah tidak mungkin mencurahkan sifat-sifat, kemampuan- kemampuan atau karunia-karunia yang baru ke dalam kehendaknya. Maka itu, iman - yang mengawali pertobatan kita dan yang menyebabkan kita disebut orang-orang beriman - bukanlah suatu sifat atau karunia yang dicurahkan Allah, melainkan perbuatan manusia semata-mata. Iman itu hanya dapat disebut 'karunia' dari sudut pandangan kemampuan untuk mencapainya.

Dengan hal ini, mereka membantah Kitab Suci, yang bersaksi bahwa Allah mencurahkan sifat-sifat baru dalam hati kita, yaitu iman, ketaatan, dan kesadaran akan kasih-Nya, 'Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka' (Yer 31:33). Dan, 'Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu' (Yes 44:3). Dan, 'kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita' (Rom 5:5). Begitu pula ajaran itu bertentangan dengan kebiasaan Gereja Allah yang tak berkeputusan, yang dalam Kitab Nabi Yeremia berdoa begini, 'bawalah aku kembali, supaya aku berbalik' (Yer 31:18).

7. Kasih karunia yang olehnya kita berpaling kepada Allah itu tidak lain dari suatu anjuran lembut. Atau (sebagaimana diterangkan orang-orang lain), cara kerja yang paling mulia dalam hal pertobatan manusia serta yang paling cocok dengan kodratnya, ialah cara kerja melalui anjuran-anjuran. Tidak ada alasan untuk beranggapan seakan-akan kasih karunia yang menganjurkan ini sendiri saja tidak cukup untuk membuat manusia kodrati menjadi manusia rohani. Bahkan, Allah tidak menghasilkan persetujuan kehendak selain melalui cara menganjurkan itu. Keampuhan karya Allah, yang menyebabkan karya itu melebihi karya iblis, terdiri dari hal ini, bahwa Allah menjanjikan harta kekal, sedangkan iblis menjanjikan harta sementara.

Hal ini seluruhnya sama dengan ajaran Pelagius dan bertentangan dengan seantero Kitab Suci. Selain cara tadi, Kitab Suci mengenal cara berkarya Roh Kudus yang lain lagi dalam pertobatan manusia, yang jauh lebih ampuh dan ilahi, sebagaimana terdapat dalam Yehezkiel, 'Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat' (Yeh 36:26).

8. Dalam hal kelahiran kembali manusia, Allah tidak memakai kekuatan-Nya yang mahakuasa, yang begitu rupa hingga olehnya kehendak manusia akan ditundukkan-Nya dengan cara yang unggul dan tak tergagalkan kepada iman dan pertobatan. Sebaliknya, meskipun semua karya kasih karunia sudah dilaksanakan, yang dipergunakan Allah untuk membuat manusia bertobat, namun manusia masih juga dapat melawan dan nyata-nyata melawan Allah dan Roh Kudus, yang berusaha demi kelahirannya kembali dan yang berkehendak melahirkannya kembali, sedemikian rupa hingga ia bahkan menghalangi sama sekali kelahirannya kembali. Maka itu, manusia sendiri berkuasa memutuskan apakah ia akan dilahirkan kembali atau tidak.

Hal ini tidak lain dan tidak bukan meniadakan sama sekali keampuhan kasih karunia Allah dalam pertobatan kita dan membuat kegiatan Allah yang mahakuasa kalah terhadap kehendak manusia. Hal ini bertentangan dengan apa yang diajarkan para rasul, 'Betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya' (Efe 1:19), dan, 'Supaya Allah dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu' (2Te 1:11), dan, 'Kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh' (2Pe 1:3).

9. Rahmat dan kehendak bebas mengerjakan secara bersama, masing-masing untuk sebagian, awal pertobatan, dan rahmat tidak mendahului kegiatan kehendak bebas dalam hal urutan sebab- akibat. Artinya, setelah kehendak sendiri bergerak dan menuju ke pertobatan, barulah Allah membantu kehendak manusia dengan ampuh.

Gereja Lama pun sudah menolak ajaran ini pada zaman dahulu, ketika menolak kaum Pelagian, berdasarkan perkataan Sang Rasul, 'Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah' (Rom 9:16). Demikian pula, 'Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?' (1Ko 4:7). 'Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya' (Fil 2:13).

PASAL AJARAN YANG KELIMA
Ketekunan orang kudus

1. Mereka yang oleh Allah, menurut rencana-Nya, dipanggil ke persekutuan dengan Anak-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus, dan yang dilahirkan-Nya kembali oleh Roh Kudus itu memang dilepaskan- Nya dari kekuasaan dan perhambaan dosa. Tetapi selama hidup ini Dia tidak melepaskan mereka sama sekali dari daging dan dari tubuh dosa.

2. Dari situlah timbul dosa-dosa yang setiap hari dilakukan akibat kelemahan, dan noda yang masih melekat para perbuatan-perbuatan orang-orang kudus yang paling baik pun. Hal ini bagi mereka senantiasa menjadi alasan untuk merendahkan diri di hadapan Allah dan mencari perlindungan pada Kristus yang disalibkan itu. Oleh karena itu, mereka juga kian mematikan daging dengan berdoa dalam Roh dan dengan latihan-latihan suci dalam hidup saleh, dan mereka sangat rindu akan tujuan, yaitu kesempurnaan. Mereka berbuat demikian sampai saat mereka dilepaskan dari tubuh maut lalu bersama dengan Anak Domba Allah akan memerintah di surga.

3. Lantaran sisa-sisa dosa yang masih tinggal di dalam mereka, dan juga oleh sebab godaan dunia dan iblis, maka orang- orang yang telah bertobat itu tidak sanggup bertekun dalam kasih karunia, seandainya mereka dibiarkan berusaha dengan kekuatan sendiri. Tetapi Allah adalah setia. Dengan penuh rahmat diteguhkan-Nya mereka dalam kasih karunia yang pernah diberikan kepada mereka, dan sampai akhirnya mereka dipelihara-Nya di dalamnya dengan kuat.

4. Kuasa Allah yang olehnya orang yang benar-benar percaya diteguhkan-Nya dan dipelihara-Nya dalam kasih karunia itu adalah begitu besar, sehingga tidak mungkin dikalahkan oleh daging. Namun bimbingan dan dorongan Allah terhadap orang yang telah bertobat itu tidak selalu bersifat begitu rupa, sehingga tidak mungkin dalam perbuatan-perbuatan yang tertentu, karena kesalahan mereka sendiri, mereka menyimpang dari bimbingan kasih karunia dan menuruti godaan keinginan-keinginan daging. Oleh sebab itu mereka harus senantiasa berjaga-jaga dan berdoa supaya mereka jangan dibawa ke dalam pencobaan. Jika mereka tidak berbuat ini, maka mereka bisa saja diseret oleh daging, dunia, dan iblis sehingga melakukan dosa-dosa yang berat dan ngeri. Bahkan kadang-kadang mereka memang diseret secara nyata, dengan izin Allah yang adil. Hal itu diperlihatkan oleh peristiwa-peristiwa Daud, Petrus, dan orang-orang kudus yang lain, yang jatuh ke dalam dosa dengan begitu menyedihkan, sebagaimana digambarkan bagi kita dalam Alkitab.

5. Dengan dosa yang sedemikian berat itu mereka sangat membangkitkan murka Allah; mereka melakukan kesalahan yang patut diganjar hukuman mati; mereka mendukakan Roh Kudus; untuk sementara waktu mereka menghentikan praktik kehidupan iman; mereka sangat melukai hati nurani dan kadang-kadang untuk sementara waktu mereka tidak merasakan lagi kasih karunia. Hal ini berlangsung sampai mereka membalik oleh penyesalan yang sungguh-sungguh, dan wajah kebapaan Allah kembali menyinari mereka.

6. Sebab Allah, yang kaya akan rahmat, sesuai dengan rencana pemilihan yang tidak berubah-ubah, tidak menjauhkan sama sekali Roh Kudus dari orang-orang milik-Nya, bahkan tidak juga apabila mereka telah jatuh ke dalam dosa dengan cara yang menyedihkan. Dia juga tidak membiarkan mereka tersandung sedemikian, hingga mereka kehilangan karunia pengangkatan menjadi anak-anak Allah dan kedudukan sebagai orang yang dibenarkan, atau hingga mereka berbuat dosa yang mendatangkan maut, atau dosa yang menentang Roh Kudus, dan sama sekali ditinggalkan oleh Allah lalu menceburkan diri ke dalam kebinasaan yang kekal.

7. Sebab, pertama-tama, tiap-tiap kali mereka jatuh ke dalam dosa dengan cara demikian, tetap dipelihara-Nya di dalam mereka benih-Nya yang tidak fana, yang olehnya mereka telah dilahirkan kembali, supaya benih itu tidak binasa atau terbuang. Selanjutnya sudah pasti mereka diperbarui-Nya dengan ampuh oleh Firman dan Roh- Nya, sehingga mereka bertobat. Maksudnya, supaya mereka sungguh- sungguh berdukacita menurut kehendak Allah karena dosa-dosa yang telah dilakukannya; oleh iman dan dengan hati yang patah dan remuk mereka memohon dan memperoleh pengampunan dalam darah Sang Pengantara; mereka merasakan kembali kasih karunia Allah, yang kini telah diperdamaikan dengan mereka; mereka menyembah kemurahan dan kesetiaan-Nya dan untuk selanjutnya mereka makin berusaha untuk mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan gentar.

8. Maka, bukan karena jasa atau kekuatan mereka sendiri, melainkan karena belas kasihan Allah yang diberikan dengan cuma-cuma itu mereka beroleh hal ini, yaitu bahwa mereka tidak sama sekali kehilangan iman dan kasih karunia, atau untuk selama-lamanya tinggal dalam kejatuhan mereka dan akan binasa. Sejauh tergantung pada mereka, hal itu mudah saja terjadi, bahkan tanpa ragu-ragu akan terjadi. Tetapi dari sudut Allah hal itu mustahil, sebab keputusan-Nya tidak dapat diubah, janji-Nya tidak dapat diingkari, dan panggilan menurut rencana-Nya tidak dapat dicabut; begitu pula jasa, doa syafaat, dan pemeliharaan Kristus tidak mungkin ditiadakan dan juga pemeteraian dengan Roh Kudus tidak dapat digagalkan atau dimusnahkan.

9. Orang percaya sendiri boleh yakin akan pemeliharaan orang-orang pilihan demi keselamatan mereka dan akan ketekunan iman orang yang sungguh-sungguh percaya. Mereka memang yakin akan hal itu, menurut ukuran iman yang membuat mereka percaya dengan teguh, bahwa mereka adalah anggota-anggota gereja yang sejati dan hidup, kini dan untuk selama-lamanya, dan bahwa mereka memiliki pengampunan dosa dan hidup yang kekal.

10. Jadi, kepastian itu tidak timbul dari salah satu penyataan khusus, yang berlangsung tanpa atau di luar Firman, tetapi dari hal-hal berikut: Pertama, dari kepercayaan kepada janji- janji Allah yang telah dinyatakan-Nya dengan begitu berlimpah-limpah dalam Firman-Nya demi penghiburan kita. Kemudian, dari kesaksian Roh Kudus yang bersaksi bersama dengan roh kita bahwa kita adalah anak dan ahli waris Allah. Akhirnya, dari upaya yang sungguh-sungguh dan suci untuk memelihara hati nurani yang tetap murni dan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Andaikata orang-orang pilihan Allah dalam dunia ini harus kehilangan hiburan yang teguh ini, yaitu bahwa mereka akan memperoleh kemenangan, dan andaikata mereka harus kehilangan jaminan kemuliaan yang kekal yang tak berdusta itu, maka mereka adalah orang-orang yang paling malang dari semua manusia.

11. Sementara itu, Alkitab bersaksi bahwa orang percaya selama hidup harus berjuang melawan bermacam-macam kebimbangan daging. Mereka dibuat menghadapi pencobaan yang berat sehingga tidak selalu merasakan keyakinan iman yang penuh dan kepastian tentang ketekunan ini. Tetapi Allah, sumber segala penghiburan, tidak akan membiarkan mereka dicobai melampaui kekuatan mereka, sebab di tengah pencobaan Dia memberikan juga jalan ke luar, dan oleh Roh Kudus Dia kembali merangsang di dalam mereka kepastian tentang ketekunan.

12. Akan tetapi, kepastian tentang ketekunan ini sekali-kali tidak membawa orang yang benar-benar percaya itu pada kesombongan dan ketidakacuhan menurut daging. Sebaliknya, ketekunan itu sungguh-sungguh menjadi akar kerendahan hati, keseganan seorang anak, kesalehan yang sejati, kesabaran dalam segala perjuangan, doa- doa yang berapi, ketabahan dalam memikul salib dan dalam mengaku kebenaran, serta juga sukacita yang teguh di dalam Allah. Begitu pula perenungan anugerah itu justru merangsang mereka untuk dengan sungguh- sungguh dan tetap melakukan pengucapan syukur dan perbuatan baik. Hal ini nyata dari kesaksian-kesaksian Alkitab dan dari teladan orang kudus.

13. Pada mereka yang dibangkitkan lagi sesudah jatuh ke dalam dosa, kepercayaan akan ketekunan itu tidak juga menghasilkan kecerobohan dan kealpaan dalam kesalehan, tetapi ikhtiar yang terlebih besar untuk mengikuti jalan-jalan Tuhan dengan saksama. Jalan-jalan itu telah dipersiapkan sebelumnya, supaya dengan menapakinya, mereka tetap memiliki kepastian tentang ketekunan mereka, dan supaya wajah Allah yang telah diperdamaikan dengan mereka tidak dipalingkan kembali dari mereka karena mereka telah menyalahgunakan kebaikan-Nya sebagai seorang Bapa, sehingga mereka jatuh ke dalam siksaan jiwa yang lebih berat lagi. Sebab bagi mereka yang takut akan Allah, memandang wajah-Nya itu lebih manis daripada hidup, tetapi apabila Allah menyembunyikan wajah-Nya maka bagi mereka hal itu lebih pahit daripada maut.

14. Sebagaimana Allah telah berkenan memulai pekerjaan kasih karunia-Nya itu di dalam kita oleh pemberitaan Injil, begitu pula Dia memelihara, meneruskan, dan menyelesaikan pekerjaan itu. Caranya, dengan mendengarkan, membaca, dan merenungkan Injil, dan dengan nasihat-nasihat, ancaman-ancaman, janji-janji, serta juga dengan menggunakan sakramen-sakramen kudus.

15. Ajaran tentang ketekunan orang yang sungguh- sungguh percaya dan kudus dan tentang kepastian tentang ketekunan itu, telah dinyatakan Allah dengan berlimpah-limpah dalam Firman-Nya demi kemuliaan nama-Nya dan demi penghiburan orang yang takut akan Dia, dan telah diterakan-Nya dalam hati orang percaya. Memang ajaran itu tidak dapat dipahami oleh daging, dibenci oleh iblis, diejek oleh dunia, disalahgunakan oleh mereka yang tidak memahaminya dan orang munafik, dan dibantah oleh para penyesat. Akan tetapi, mempelai perempuan Kristus senantiasa amat mengasihinya dan tetap membelanya sebagai suatu harta yang tak terkira nilainya. Allah akan menjaga, supaya ia akan berbuat seterusnya. Tidak ada rencana yang dapat dilaksanakan untuk melawan Dia dan tidak ada satu kuasa pun yang dapat bertahan terhadap Dia. Hanya Allah ini, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus, patut menerima hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.

Penolakan ajaran sesat

Setelah menguraikan ajaran ortodoks maka sinode menolak ajaran-ajaran sesat orang yang mengajar sebagai berikut:

1. Ketekunan orang-orang yang benar-benar percaya bukanlah hasil pemilihan atau pemberian Allah yang telah diperoleh melalui kematian Kristus, melainkan syarat perjanjian baru yang harus dipenuhi manusia melalui kehendaknya yang bebas, demi pemilihan dan pembenarannya yang menentukan (sebagaimana mereka menyebutnya).

Kitab Suci bersaksi, bahwa ketekunan merupakan akibat pemilihan dan diberikan kepada orang-orang pilihan oleh kekuatan kematian, kebangkitan, dan doa syafaat Kristus, 'Orang-orang yang terpilih telah memperolehnya. Dan orang-orang yang lain telah tegar hatinya' (Rom 11:7). Demikian pula, 'Dia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Dia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama- sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang telah menjadi Pembela bagi kita? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?' (Rom 8:32-35).

2. Allah memang mengaruniakan kepada orang percaya kekuatan-kekuatan yang cukup untuk bertekun, dan Dia bersedia memelihara kekuatan-kekuatan itu di dalamnya, jika orang ini menunaikan kewajibannya. Akan tetapi, setelah semua hal yang perlu untuk bertekun dalam iman dan yang kehendak Allah pakai untuk memelihara iman itu telah dipekerjakan, maka masih juga hal bertekun tidaknya manusia bergantung pada keputusan bebas kehendaknya.

Pandangan ini terang-terangan mengandung ajaran Pelagius. Maksudnya membebaskan manusia, namun pandangan ini menyebabkan manusia merampas kemuliaan Allah. Hal ini bertentangan dengan kesepakatan yang telah berlaku terus-menerus tentang ajaran Injil, yang membuat manusia kehilangan semua alasan untuk bermegah dan mengarahkan puji-pujian atas anugerah ini hanya kepada rahmat Allah semata-mata. Hal ini bertentangan juga dengan kesaksian Rasul, 'Dia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus' (1Ko 1:8).

3. Orang yang sungguh-sungguh beriman dan dilahirkan kembali dapat saja kehilangan iman yang membenarkan serta kasih karunia dan keselamatan itu secara menyeluruh dan untuk selama- lamanya. Mereka bahkan acap kali nyata-nyata kehilangan hal-hal ini dan binasa untuk selama-lamanya.

Pendapat ini meniadakan karunia pembenaran dan kelahiran kembali serta perlindungan terus-menerus oleh Kristus. Hal ini bertentangan dengan perkataan tegas Rasul Paulus, bahwa "Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah" (Rom 5:8-9). Hal ini bertentangan juga dengan apa yang dikatakan oleh Rasul Yohanes, "Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah" (1Yo 3:9). Juga dengan perkataan Yesus Kristus, "Aku memberikan hidup yang kekal kepada domba-domba-Ku dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada- Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa" (Yoh 10:28-29).

4. Orang yang sungguh-sungguh percaya dan dilahirkan kembali dapat melakukan dosa yang mendatangkan maut, atau dosa yang menentang Roh Kudus.

Dalam pasal kelima surat kirimannya yang pertama, Rasul Yohanes berbicara mengenai orang yang melakukan dosa yang mendatangkan maut, dan melarang mendoakan mereka (1Yo 5:16-17), lalu dalam ayat 18 segera ditambahkannya, "Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa" (yaitu dosa yang demikian); "tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan di jahat tidak dapat menjamahnya" (1Yo 5:18).

5. Dalam kehidupan ini, tak mungkin orang mendapat kepastian tentang ketekunannya di masa mendatang kalau tidak memperoleh penyataan khusus.

Ajaran ini mencabut hiburan teguh orang yang sungguh-sungguh percaya, yang mereka nikmati dalam hidup ini, dan kembali memasukkan kebimbangan orang Katolik Roma ke dalam Gereja. Di mana-mana Kitab Suci mengambil kepastian ini dari ciri-ciri khas anak-anak Allah, dan dari janji-janji Allah yang amat teguh, bukan dari suatu penyataan yang khusus dan luar biasa. Teristimewa Rasul Paulus, Makhluk apa pun tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (Rom 8:39). Dan Yohanes berkata, "Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Dia karuniakan kepada kita" (1Yo 3:24).

6. Ajaran tentang kepastian tentang ketekunan dan keselamatan itu pada hakikatnya bersifat "bantal bagi daging" dan merupakan bahaya bagi kesalehan, kesusilaan, doa-doa, dan semua hal lainnya, yang termasuk praktik hidup yang saleh. Sebaliknya, meragukan ajaran itu merupakan perbuatan yang terpuji.

Mereka ini memperlihatkan, bahwa mereka tidak mengenal keampuhan kasih karunia ilahi dan karya Roh Kudus yang berdiam di dalam manusia. Mereka juga membantah Rasul Yohanes yang dengan tegas mengajar yang sebaliknya, "Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan- Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada- Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci" (1Yo 3:2-3). Lagi pula ajaran ini dibantah oleh teladan orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Mereka merasa yakin akan ketekunan dan keselamatan mereka, namun tetap bertekun dalam doa dan dalam semua hal lainnya, yang termasuk praktik hidup yang saleh.

7. Iman orang-orang yang percaya untuk sementara waktu saja, tidak berbeda dari iman yang membenarkan dan yang menyelamatkan, kecuali dalam hal panjang waktunya.

Kristus sendiri dengan jelas menunjukkan tiga macam perbedaan lagi antara mereka yang hanya percaya untuk sementara waktu dan orang-orang yang benar-benar percaya. Dalam Mat 13:20 dyb. dan Luk 8:13 dyb. dikatakanNya, bahwa orang-orang yang percaya untuk sementara waktu menerima benih di tanah yang berbatu- batu; mereka tidak berakar dan tidak berbuah. SebaliknYa, orang-orang yang benar-benar percaya menerima benih di tanah yang baik atau di dalam hati yang baik; mereka berakar kuat dan dengan tiada henti- hentinya serta tekun menghasilkan buah, meskipun tidak sama jumlahnya.

8. Apabila manusia telah kehilangan kelahiran kembali yang pertama, maka tidak mustahil ia dilahirkan kembali sekali lagi, bahkan beberapa kati.

Melalui ajaran ini, mereka menyangkal ketidakfanaan benih Allah, yang olehnya kita dilahirkan kembali. Hal ini bertentangan dengan kesaksian Rasul Petrus, "Kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana" (1Pe 1:23).

9. Kristus tidak pernah berdoa, agar supaya orang-orang beriman akan bertekun dalam iman dengan tak tergagalkan.

Mereka membantah perkataan Kristus sendiri, "Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur" (Luk 22:32). Mereka juga membantah kesaksian pengarang Injil Yohanes, yaitu bahwa Kristus telah berdoa bukan hanya untuk rasul-rasul, tetapi juga untuk semua orang yang akan menjadi percaya melalui pemberitaan para rasul itu, "Ya Bapa yang kudus, Peliharalah mereka dalam nama-Mu; Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat (Yoh 17:11,15,20)."

KATA PENUTUP

Inilah uraian yang jelas, sederhana, dan jujur tentang ajaran ortodoks sehubungan dengan Kelima Pasal yang sedang dipersoalkan di Negeri Belanda, beserta penolakan ajaran-ajaran sesat yang telah menyebabkan Gereja-gereja Belanda dikacaukan selama beberapa waktu. Sinode berpendapat, uraian dan penolakan ini diambil dari Firman AllaH dan sesuai dengan pengakuan iman Gereja-gereja Reformasi. Dari sini nyatalah dengan jelas, bahwa, bertentangan dengan segala kebenaran, keadilan, dan kasih, orang-orang Yang justru sama sekali tidakpatut berbuat demikian telah berikhtiar membohongi rakyat dengan menyatakan:

Ajaran Gereja-gereja Reformasi mengenai Predestinasi dan mengenai pokok pokok yang berhubungan dengannya, karena sifatnya sendiri dan disebabkan dinamikanya sendiri, sama sekali mengasingkan hati manusia dari kesalehan dan peribadatan. Ajaran ini merupakan 'bantal bagi daging dan iblis' serta perbentengan iblis, dan menjadi titik tolaknya dalam menghadang semua orang, melukai kebanyakan orang, dan mematikan banyak orang dengan panah- panah keputusasaan atau ketidakacuhan.

Ajaran ini menjadikan Allah Pembuat dosa, Allah yang tidak adil, lalim, dan munafik. Ajaran ini tidak lain dan tidak bukan pembaruan ajaran Stoa,(1) Mani,(2) kaum Libertin,(3) dan Islam.

Ajaran ini membawa orang-orang kepada ketidakacuhan yang jasmani, karena mereka akan membohongi diri mereka, seakan-akan cara hidup orang pilihan sama sekali tidak menentukan keselamatan mereka, sehingga mereka dengan tenang saja boleh melakukan segala macam kejahatan yang ngeri.

Adapun mereka yang telah ditolak, sekalipun mereka sungguh-sungguh melaksanakan segala perbuatan orang-orang kudus, hal itu tidak mungkinbermanfaat bagi keselamatan mereka.

Dengan ajaran ini dikatakan bahwa Allah, hanya karena tindakan sewenang-wenang kehendak-Nya saja, tanpa memperhatikan atau mempedulikan dosa apa pun, telah menentukan dan menciptakan bagian terbesar dunia ini, bagi kebinasaan yang kekal.

Penolakan adalah penyebab ketidakpercayaan dan kefasikan, sama seperti pemilihan adalah sumber dan penyebab iman serta perbuatan yang baik.

Allah merenggut banyak anak orang percaya yang tak bersalah dari susu ibunya dan dengan lalim membuang mereka ke dalam api neraka, sehingga baik darah Kristus, maupun pembaptisan atau doa Gereja waktu mereka dibaptis tidak mungkin bermanfaat bagi mereka.

Dan banyak tuduhan sejenis, yang tidak termasuk pengakuan iman Gereja-gereja Reformasi, bahkan sama sekali ditolak Gereja-gereja itu dengan rasa jijik.

Itulah sebabnya Sinode Dordrecht ini meminta dengan mendesak, demi nama Tuhan, kepada semua orang yang dengan saleh memanggil nama Juruselamat kita Yesus Kristus, agar supaya mereka jangan menilai iman Gereja-gereja Reformasi atas dasar fitnah yang dikumpulkan dari sana sini, jangan juga atas dasar perkataan pribadi beberapa guru lama atau baru, yang sering dikutip dengan itikad jahat, diputarbalikkan, dan diterangkan dengan salah. Hendaklah mereka menilai iman Gereja-gereja Reformasi berdasarkan karangan-karangan pengakuan iman yang umum dari Gereja-gereja itu sendiri dan berdasarkan uraian ini mengenai ajaran yang benar, yang telah ditetapkan dengan persetujuan tiap-tiap anggota seluruh Sinode.

Selanjutnya Sinode dengan sungguh-sungguh menegur para pemfitnah agar mempertimbangkan betapa beratnya hukuman Allah yang mereka datangkan atas diri mereka sendiri, mereka yang mengucapkan kesaksian dusta terhadap sedemikian banyak gereja dan terhadap karangan-karangan pengakuan iman sedemikian banyak gereja, yang menggelisahkan hati nurani orang-orang yang imannya lemah dan yang berupaya untuk membuat banyak orang merasa curiga terhadap persekutuan orang yang benar-benar percaya.

Akhirnya Sinode ini mendorong semua rekan Pelayan dalam Injil Kristus, supaya mereka bertindak saleh dan alim bilamana mengupas ajaran ini di sekolah-sekolah dan di gereja-gereja. Hendaklah mereka mengarahkannya, baik secara lisan maupun secara tertulis, kepada kemuliaan Nama Allah, kesucian hidup, dan penghiburan hati yang hancur. Hendaklah juga dalam pikiran dan bicara mereka berpegang pada Alkitab, sesuai dengan kesepakatan bersama tentang iman. Akhirnya, hendaklah mereka menahan diri dari setiap cara bicara yang melewati batas-batas yang telah ditetapkan bagi kita dalam hal menentukan arti sebenarnya Kitab-kitab Suci, dan yang dapat menyediakan alasan yang wajar bagi orang yang suka menggunakan penalaran yang muluk-muluk tetapi menyesatkan, untuk menista atau memfitnah ajaran Gereja-gereja Reformasi.

Kami berdoa supaya Anak Allah, Yesus Kristus, yang sedang duduk di sebelah kanan Bapa-Nya dan yang memberi karunia- karunia kepada manusia, menguduskan kita dalam kebenaran, membawa mereka yang telah sesat itu kembali kepada kebenaran, menutupi mulut orang yang memfitnah ajaran sehat, dan mengaruniakan Roh hikmat dan pengertian kepada pelayan-pelayan Firman-Nya yang setia, agar semua perkataan mereka berguna bagi kemuliaan Allah dan bagi pembinaan para pendengarnya. Amin.

Pasal-pasal Ajaran Dordrecht (1619)

Di wilayah Belanda yang berhasil melepaskan diri dari kuasa Raja Spanyol, Gereja Reformasi dapat berkembang dengan bebas. Dalam suasana yang relatif bebas itu, timbul perbedaan pendapat mengenai berbagai pokok teologi. Salah seorang teolog di Universitas Leiden, Yakobus Arminius, menyerang ajaran predestinasi yang telah dirumuskan oleh Calvin dalam kitab Institutio (III, xxi-xxiv) dan yang diterima oleh sebagian besar kaum teolog Calvinis, termasuk di negeri Belanda. Timbullah perselisihan yang hebat, yang menyebabkan keretakan, baik dalam gereja maupun dalam negara, sehingga negeri Belanda terancam perang saudara. Akhirnya Pangeran Maurits, panglima tentara Belanda, menjatuhkan pemerintah yang pro-Arminius. Pemerintah baru mengumpulkan sinode se-Belanda, yang juga dihadiri oleh utusan-utusan sejumlah besar Gereja Calvinis di Inggris, Jerman, dan Swis (Gereja Calvinis di Perancis dilarang pemerintahnya mengutus wakil-wakil ke Dordrecht). Dengan demikian, Sinode Dordrecht (1618-1619) bersifat internasional. Para pengikut Arminius (tokoh itu sendiri telah meninggal pada tahun 1608) disuruh menghadap, tapi akhirnya diusir dari sidang Sinode. Ajaran mereka dinyatakan bidat, dan sebuah panitia dari Sinode merancang pasal-pasal melawan ajaran itu. Pasal-pasal itu dibahas oleh Sinode pada bulan April 1619, lalu diterima dengan suara umum, dan ditandatangani oleh semua anggota, termasuk yang dari luar negeri. Sama seperti Pengakuan Iman Belanda dan Katekismus Heidelberg, Kelima pasal menentang orang Remonstran termasuk Ketiga Rumus Keesaan yang merupakan dasar bersama jemaat-jemaat Calvinis di Negeri Belanda.

Kelima Pasal menentang orang Remonstran atau Keputusan Sinode Nasional Gereja-Gereja Reformasi Belanda Serikat yang diadakan di Dordrecht pada tahun 1618 dan 1619 mengenai kelima pokok ajaran yang terkenal yang telah menjadi pokok perselisihan dalam Gereja-gereja Reformasi di Negeri Belanda Serikat

PASAL AJARAN YANG PERTAMA
Pemilihan dan penolakan ilahi

1. Semua orang telah berdosa di dalam Adam, dan patut menerima hukuman, yaitu kutuk Allah dan kematian yang kekal. Oleh karena itu, Allah tidak akan berbuat tidak adil terhadap siapapun, seandainya Dia telah memutuskan untuk membiarkan segenap umat manusia dalam dosa dan kutuk serta menghukumnya karena dosa, sesuai dengan perkataan Sang Rasul, 'Seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.' (Rom 3:19,23). Dan, 'Upah dosa ialah maut.'(Rom 6:23)

2. Akan tetapi, dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan, yaitu, bahwa Dia telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, tetapi beroleh hidup yang kekal.

3. Maka agar manusia dihantarkan pada iman, Allah berkenan mengutus pewarta-pewarta kabar yang amat gembira itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan bilamana Dia menghendakinya. Oleh pelayanan mereka itu manusia dipanggil untuk bertobat dan percaya kepada Kristus yang disalibkan itu. Karena, 'bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka dapat mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus?' (Rom 10:14-15).

4. Adapun mereka tidak percaya kepada Injil itu, murka Allah tetap berada di atas mereka. Sebaliknya, mereka yang menerimanya, dan yang memeluk Juruselamat Yesus dengan iman yang sejati dan hidup, akan dilepaskan oleh-Nya dari murka Allah dan kebinasaan serta dikaruniai hidup yang kekal.

5. Yang menjadi penyebab ketidakpercayaan itu dan yang harus dipersalahkan karenanya sama sekali bukan Allah, melainkan manusia, sama seperti dalam hal semua dosa lainnya. Sebaliknya, iman kepada Yesus Kristus dan keselamatan oleh-Nya adalah pemberian Allah yang cuma-cuma, seperti tertulis, 'Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah' (Efe 2:8). Juga, 'Sebab kepada kamu dikaruniakan untuk percaya kepada Kristus.' (Fil 1:29).

6. Kepada orang-orang tertentu Allah mengaruniakan iman dalam hidup ini, kepada orang lain tidak. Hal ini timbul dari keputusan-Nya yang kekal. 'Karena semua karya-Nya telah diketahui-Nya sejak semula' (Kis 15:18), dan, 'Segala sesuatu dikerjakan-Nya menurut keputusan kehendak-Nya' (Efe 1:11). Menurut keputusan ini, hati orang pilihan dilunakkan-Nya dengan penuh rahmat dan ditundukkan-Nya untuk percaya, meskipun hati itu keras. Sebaliknya, menurut keputusan yang sama, orang yang tidak terpilih dibiarkan-Nya dalam kejahatan dan kekerasan hati mereka sesuai dengan hukuman-Nya yang adil. Terutama di sinilah muncul di depan kita pembedaan yang tak terselami, yang penuh kemurahan dan sekaligus adil itu, yaitu pembedaan antara manusia yang telah sama-sama binasa, ataupun keputusan Pemilihan dan Penolakan, yang dinyatakan dalam Firman Allah. Oleh orang yang jahat, cemar, dan kurang mantap hal itu diputarbalikkan sehingga mereka binasa, tetapi bagi jiwa orang kudus dan yang takut akan Allah hal ini menyediakan hiburan yang tak terkatakan.

7. Pemilihan ini adalah rencana Allah yang tak berubah-ubah. Olehnya, sebelum dunia dijadikan, dipilih-Nya sejumlah orang dari segenap umat manusia yang karena kesalahannya sendiri kehilangan keutuhan yang semula dan jatuh ke dalam dosa dan kebinasaan itu, agar mereka memperoleh keselamatan. Orang yang dipilih itu tidak lebih baik atau lebih layak daripada orang lain, tetapi bersama dengan yang lain itu tergeletak dalam sengsara. Maka pemilihan mereka terjadi menurut perkenan kehendak-Nya yang sama sekali bebas, hanya karena kasih karunia saja, dan berlangsung di dalam Kristus, yang telah ditentukan-Nya dari kekal untuk menjadi Pengantara dan Kepala semua orang pilihan serta dasar keselamatan. Dan agar mereka diselamatkan oleh Kristus, maka Allah memutuskan juga untuk memberikan orang-orang pilihan itu kepada-Nya dan untuk memanggil serta menarik mereka dengan ampuh oleh Firman dan Roh-Nya pada persekutuan dengan-Nya. Atau, dengan perkataan lain, Allah telah memutuskan untuk mengaruniakan kepada mereka iman yang sejati kepada Kristus, membenarkan dan menguduskan mereka, dan akhirnya memuliakan mereka, setelah mereka tetap dipelihara dengan kuasa dalam persekutuan Anak-Nya. Semua itu dilakukan-Nya untuk menyatakan rahmat-Nya dan supaya terpujilah kekayaan kasih karunia-Nya yang mulia. Seperti tertulis, 'Sebab Allah telah memilih kita di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya dalam kasih. Melalui Yesus Kristus, Dia telah menentukan kita dari semula untuk menjadi anak-anak bagi diri-Nya, menurut perkenan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.' (Efe 1:4-6). Dan di tempat lain, 'Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.' (Rom 8:30).

8. Pemilihan ini bukan bermacam-macam, melainkan satu dan sama dalam hal semua orang yang hendak diselamatkan, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Karena Alkitab memang memberitakan kepada kita satu perkenan, satu maksud, dan satu keputusan kehendak Allah. Olehnya kita telah dipilih-Nya dari kekekalan untuk menerima baik kasih karunia maupun kemuliaan, baik keselamatan maupun jalan keselamatan yang telah dipersiapkan-Nya supaya kita berjalan di dalamnya (Efe 1:4-5 dan Efe 2:10).

9. Pemilihan tersebut telah terjadi, bukan berdasarkan iman dan ketaatan iman, kesucian ataupun sifat dan pembawaan lain yang baik yang mana pun, yang telah tampak terlebih dahulu, seakan-akan hal-hal itu menjadi sebab atau syarat yang seharusnya terdapat dalam diri manusia yang bakal dipilih, melainkan supaya menghasilkan iman, ketaatan iman, kekudusan, dan seterusnya. Maka pemilihan itu adalah sumber segala hal yang menyelamatkan. Sebagai hasil dan akibatnya mengalirkan darinya iman, kekudusan dan karunia-karunia lain yang membawa keselamatan, dan akhirnya kehidupan kekal sendiri. Hal ini sesuai dengan kesaksian Sang Rasul, 'Dia telah memilih kita' (bukan: sebab kita sudah kudus dan tak bercacat, melainkan) 'supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.' (Efe 1:4).

10. Yang menjadi alasan pemilihan yang hanya berdasarkan rahmat ini hanyalah perkenan Allah. Perkenan ini bukanlah keputusan untuk memilih, dari semua syarat yang dapat diberlakukan, sifat atau perbuatan manusia yang tertentu menjadi syarat keselamatan. Sebaliknya, perkenan ini adalah keputusan untuk mengangkat orang-orang tertentu dari massa orang berdosa menjadi milik-Nya. Seperti tertulis, 'Waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat (...) dikatakan kepada Ribka: Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda, seperti tertulis, 'Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.' (Rom 9:11-13). Dan, 'Semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.' (Kis 13:48).

11. Sebagaimana Allah sendiri berhikmat sempurna, tidak berubah-ubah, maha mengetahui, dan mahakuasa, begitu pula pemilihan yang dilakukan-Nya tidak dapat ditiadakan dan dilakukan ulang, diubah, dibatalkan atau diputus, dan tidak mungkin juga orang-orang pilihan ditolak atau jumlah mereka dikurangi.

12. Orang-orang pilihan diyakinkan mengenai pemilihan mereka yang kekal dan yang tak berubah-ubah, yaitu pemilihan untuk menerima keselamatan. Mereka diyakinkan tentangnya masing-masing pada waktunya, walau tingkatnya berbeda-beda dan kadarnya tidak sama. Keyakinan ini tidak didapatkan orang pilihan dengan cara mengusut hal-hal yang tersembunyi dan rahasia-rahasia Allah yang dalam. Tetapi mereka mendapatkannya dengan mengamati pada diri mereka sendiri dengan kegembiraan rohani dan sukacita yang kudus berbagai hal yang dapat disangkal merupakan buah pemilihan dan yang ditunjukkan dalam Firman Allah, seperti umpamanya iman yang sejati kepada Kristus, takut akan Allah bagaikan seorang anak, dukacita menurut kehendak Allah karena dosa, lapar, dan haus akan kebenaran, dan seterusnya.

13. Kesadaran dan keyakinan akan pemilihan itu menyebabkan anak-anak Allah makin hari makin bertambah merendahkan diri di hadapan Allah, menyembah jurang kemurahan-Nya, menyucikan diri, dan membalas kasih Dia yang telah begitu mengasihi-Nya dengan kasih yang menyala-nyala. Maka ajaran pemilihan itu dan perenungan tentangnya sama sekali tidak membuat mereka menjadi malas melaksanakan perintah-perintah Allah, atau berlengah-lengah secara daging. Hal itu, menurut hukuman Allah yang adil, biasa dialami orang yang memang dengan gegabah menganggap dirinya sudah memiliki dirinya sudah memiliki anugerah pemilihan, ataupun berkhayal tentangnya dengan seenaknya dan lancang, namun tidak mau mengikuti jejak orang pilihan.

14. Menurut rencana Allah yang penuh hikmat, ajaran tentang pemilihan ilahi itu telah diberitakan oleh para Nabi, oleh Kristus sendiri, dan oleh para Rasul, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, dan sesudah itu dituliskan dan diwariskan di dalam Kitab-kitab Suci. Begitu pula, ajaran itu harus dikemukakan juga pada masa kini, pada saat dan tempat yang tepat, dalam gereja Allah, yang memang secara khusus menjadi tempat tujuannya. Hal itu hendaknya dilakukan dengan kemampuan membedakan, dengan takwa dan kudus, tanpa mengusut jalan-jalan Yang Mahatinggi, demi kemuliaan Nama Allah yang mahakudus dan demi penghiburan yang menggairahkan bagi umat-Nya.

15. Anugerah pemilihan kita, yang abadi dan yang dikaruniakan dengan cuma-cuma, terutama ditunjukkan dan dianjurkan kepada kita oleh Kitab Suci ketika disaksikan selanjutnya, bahwa tidak semua orang dipilih. Ada yang tidak dipilih atau dilewatkan Allah dalam pemilihan-Nya yang kekal. Tentang mereka Allah telah memutuskan, menurut perkenan-Nya yang sama sekali bebas, adil, tak bercacat, dan tidak berubah-ubah, untuk membiarkan mereka dalam sengsara bersama, tempat mereka telah menjatuhkan diri oleh kesalahan mereka sendiri, dan untuk tidak mengaruniakan kepada mereka iman yang menyelamatkan dan karunia pertobatan, malah untuk membiarkan mereka di jalan-jalan mereka sendiri dan di bawah hukuman-Nya yang adil, dan untuk akhirnya menghakimi mereka dan menjatuhkan hukuman yang kekal atas mereka, bukan hanya karena ketidakpercayaan mereka, melainkan juga karena semua dosanya yang lain, supaya dengan demikian diperlihatkan-Nya keadilan-Nya. Inilah keputusan penolakan, yang tidak menjadikan Allah Penyebab dosa - pikiran itu hujat! - tetapi menetapkan Dia selaku Hakim dan Pembalas dosa yang dahsyat, tak bercacat, dan adil.

16. Ada orang yang belum merasakan dengan ampuh dalam dirinya iman yang hidup kepada Kristus atau keyakinan hati yang teguh, kedamaian hati nurani, pelaksanaan ketaatan bagaikan seorang anak, dan hal bermegah dalam Allah oleh Kristus, meskipun mereka memakai segala sarana yang, menurut janji Allah, dipakai-Nya untuk mengerjakan semua itu di dalam diri kita. Akan tetapi, janganlah hati mereka menjadi tawar, bila mereka mendengar orang berbicara tentang penolakan, dan janganlah mereka menganggap diri termasuk orang-orang yang ditolak. Sebaliknya, hendaklah mereka tetap memakai sarana-sarana itu dengan rajin, sangat merindukan saat karunia akan dianugerahkan dengan lebih berlimpah, dan menantikannya dengan penuh hormat serta rendah hati. Apalagi mereka yang sungguh ingin bertobat kepada Allah, yang hanya mau berkenan kepada-Nya saja, dan ingin dilepaskan dari tubuh maut ini, namun belum dapat maju di jalan kesalehan dan iman sejauh mereka kehendaki, mereka tidak usah merasa takut berhadapan dengan ajaran penolakan ini. Karena Allah yang penuh belas kasihan telah berjanji, bahwa sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya dan buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya. Akan tetapi, ajaran ini dengan selayaknya menakutkan mereka yang tidak mempedulikan Allah dan Kristus Sang Juruselamat, dan yang seluruhnya mengabdi kepada urusan-urusan dunia ini serta kepada hawa nafsu daging - setidak-tidaknya selama mereka tidak bertobat dengan sungguh-sungguh kepada Allah.

17. Tentang kehendak Allah harus kita tentukan pendapat hanya berdasarkan Firman-Nya sendiri. Firman itu menyaksikan kepada kita, bahwa anak-anak orang percaya adalah kudus, bukan karena kodrat mereka, melainkan karena perjanjian rahmat yang mencakup mereka bersama orangtua mereka. Maka orangtua yang saleh tidak perlu bimbang tentang pemilihan dan keselamatan anak-anak mereka yang diambil Allah dari hidup ini pada masa mereka masih kanak-kanak.

18. Kepada mereka yang bersungut-sungut karena anugerah pemilihan yang hanya berdasarkan rahmat, dan karena kekerasan penolakan yang adil, kita hadapkan perkataan rasul ini, 'Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah?' (Rom 9:20). Dan perkataan ini dari Juruselamat kita, 'Tidakkah Aku bebas mempergunakan milik-Ku menurut kehendak hati-Ku?' (Mat 20:15). Sebaliknya, kita menyembah rahasia-rahasia keselamatan ini dengan takwa dan berseru bersama rasul, 'O, alangkah dalamnya kekayaan hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasehat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Dia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.' (Rom 11:33-36).

Penolakan ajaran sesat yang telah mengacaukan Gereja-gereja Belanda selama beberapa waktu

Setelah menguraikan ajaran ortodoks mengenai pemilihan dan penolakan, sinode menolak ajaran-ajaran sesat orang yang mengajar sebagai berikut:

1. Allah berkehendak menyelamatkan mereka yang bakal beriman dan bertekun dalam iman serta ketaatan iman itu; hanya itulah isi keputusan pemilihan untuk menerima keselamatan, dan dalam Firman Allah tidak dinyatakan sesuatu apa pun yang lain tentang keputusan itu.
Mereka ini menyesatkan orang-orang bersahaja dan nyata-nyata membantah Kitab Suci, yang menyaksikan bahwa Allah tidak hanya berkehendak menyelamatkan mereka yang bakal beriman, tetapi juga telah memilih dari kekekalan sejumlah orang yang tertentu. Kepada mereka ini, berbeda dengan orang lain, hendak dikaruniakan-Nya dalam hidup ini iman kepada Kristus dan ketekunan dalam iman itu. Seperti tertulis, 'Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia.' (Yoh 17:6). Dan, 'Semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.' (Kis 13:48). Dan, 'Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya' dan seterusnya (Efe 1:4).

2. Pemilihan oleh Allah untuk hidup yang kekal adalah bermacam-macam. Ada pemilihan yang umum dan tidak tentu, ada yang khusus dan tentu. Pemilihan yang disebut terakhir ini ada yang tidak tuntas, dapat dicabut, tidak bersifat menentukan, dan bersyarat, ada yang tuntas, tak dapat dicabut, bersifat menentukan, dan mutlak. Begitu pula: ada pemilihan untuk iman, ada pemilihan untuk keselamatan, sedemikian rupa hingga pemilihan untuk iman yang membenarkan tidak perlu disertai pemilihan yang bersifat menentukan untuk keselamatan.
Ajaran ini merupakan khayalan otak manusia, yang direka-reka di luar Alkitab. Olehnya ajaran mengenai pemilihan dirusak dan diputuskanlah rantai emas keselamatan kita ini, 'Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.' (Rom 8:30).

3. Isi perkenan dan rencana Allah, yang disebut-sebut oleh Alkitab dalam ajarannya tentang pemilihan, bukanlah bahwa Allah telah memilih sejumlah orang yang tertentu dengan tidak memilih orang lain. Sebaliknya, dari semua syarat yang dapat berlaku (di antaranya juga perbuatan hukum Taurat), ataupun dari segala hal ihwal yang ada, Allah telah memilih perbuatan iman, yang pada hakikatnya tidak berjasa, dan ketaatan iman yang tidak sempurna, menjadi syarat keselamatan. Ketaatan yang tidak sempurna itu dengan penuh kerahiman mau dinilai sempurna dan layak diupahi hidup yang kekal.
Ajaran sesat yang merusak ini menyebabkan perkenan Allah dan jasa Kristus hilang kekuatannya, dan membuat hati orang menyimpang, oleh pertanyaan-pertanyaan yang sia-sia, dari kebenaran yaitu pembenaran hanya berdasarkan rahmat, dan dari ajaran Alkitab yang sederhana. Lagi pula olehnya rasul dituduh berdusta, apabila ia berkata, 'Allah telah memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan rencana dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dianugerahkan kepada kita dalam Yesus Kristus sebelum permulaan zaman' (2Ti 1:9).

4. Dalam pemilihan untuk iman, manusia harus memenuhi lebih dahulu syarat yang berikut: ia harus memakai dengan baik cahaya alamiah, dan harus saleh, sederhana, rendah hati, serta layak untuk hidup yang kekal, seolah-olah pemilihan bergantung sedikit pun pada hal-hal itu.
Mereka ini serupa benar dengan Pelagius dan bertentangan dengan ajaran Rasul yang menulis, 'Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita - oleh kasih karunia kamu diselamatkan - dan di dalam Kristus Yesus Dia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga, supaya pada masa yang akan datang Dia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya, yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri' (Efe 2:3-9).

5. Pemilihan orang-orang tertentu untuk keselamatan, yaitu pemilihan yang tidak tuntas dan tidak bersifat menentukan telah terjadi berdasarkan iman, pertobatan, hidup suci dan saleh yang baru mulai ataupun telah berlangsung beberapa lama, dan yang sudah tampak terlebih dahulu. Sebaliknya, pemilihan yang tuntas dan bersifat menentukan berdasarkan ketekunan sampai akhir iman, pertobatan, hidup suci dan saleh yang sudah tampak terlebih dahulu itu. Inilah 'kelayakan yang penuh rahmat dan Injili', yang menyebabkan orang yang dipilih lebih layak daripada orang yang tidak dipilih. Itulah sebabnya iman, ketaatan iman, hidup suci dan saleh, serta ketekunan tidak merupakan hasil pemilihan yang tidak berubah-ubah untuk kemuliaan, tetapi menjadi syarat-syarat dan penyebab-penyebabnya. Syarat-syarat itu telah ditentukan lebih dahulu, dan sudah tampak lebih dahulu bahwa orang-orang yang bakal dipilih secara tuntas akan memenuhinya, dan tanpa penyebab-penyebab itu pemilihan yang tak berubah-ubah untuk kemuliaan tidak terjadi.

Hal ini bertentangan dengan seluruh Alkitab, yang terus-menerus menegaskan perkataan ini dan lain sebagainya dalam telinga dan hati kita, 'Pemilihan bukanlah berdasarkan perbuatan, melainkan dari Dia yang memanggil' (Rom 9:11). 'Dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya' (Kis 13:48). 'Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus' (Efe 1:4). 'Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu' (Yoh 15:16). 'Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan' (Rom 11:6). 'Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya' (1Yo 4:10).

6. Pemilihan untuk keselamatan tidak selalu bersifat tidak berubah-ubah. Sebaliknya, ada orang pilihan yang dapat binasa dan juga betul-betul binasa untuk selama-lamanya, meskipun ada keputusan Allah.
Melalui kesesatan kasar ini mereka menjadikan Allah sebagai Allah yang berubah-ubah dan menumbangkan hiburan yang diambil oleh orang saleh dari kepastian pemilihan mereka. Pun mereka menentang Kitab-kitab Suci, yang mengajar bahwa 'orang-orang pilihan tidak disesatkan' (Mat 24:24); bahwa 'Kristus tidak mungkin kehilangan mereka yang diberikan Bapa kepada-Nya' (Yoh 6:39); bahwa 'mereka yang ditentukan, dipanggil, dan dibenarkan Allah dari semula, juga dimuliakan-Nya' (Rom 8:30).

7. Di dalam kehidupan ini tidak ada buah pemilihan yang tidak berubah-ubah untuk kemuliaan dan tidak ada kesadaran tentangnya. Juga tidak ada kepastian tentangnya selain yang berdasarkan syarat yang berubah-ubah dan yang tidak pasti.
Tidak masuk akal menetapkan kepastian yang tidak pasti, lagi pula hal ini juga bertentangan dengan pengalaman orang kudus, yang berdasarkan kesadaran tentang pemilihan mereka bergembira bersama Rasul dan memuji-muji anugerah Allah itu (Efe 1). Sesuai dengan nasihat Kristus, mereka bersukacita bersama murid-murid-Nya, karena nama mereka terdaftar di surga (Luk 10:20).

Juga, mereka menjadikan kesadaran tentang pemilihan mereka itu sebagai penahan panah api godaan-godaan iblis, sambil bertanya, 'Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah?' (Rom 8:33).
8. Allah tidak pernah memutuskan, hanya berdasarkan kehendak-Nya yang adil semata-mata, untuk membiarkan seseorang dalam kejatuhan Adam dan dalam keadaan dosa serta hukuman yang berlaku umum, ataupun untuk melewatkan seseorang dalam pembagian anugerah yang diperlukan untuk iman dan pertobatan.

Sebab, yang ini sudah pasti, 'Dia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya' (Rom 9:18). Juga, 'Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak' (Mat 13:11). Demikian pula, 'Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu' (Mat 11:25,26).
9. Alasan yang menyebabkan Allah mengalamatkan Injil kepada bangsa yang satu alih-alih kepada bangsa yang lain, bukan hanya perkenan Allah semata-mata, melainkan karena bangsa yang satu lebih baik dan lebih layak daripada bangsa lain, yang tidak mendapat bagian dalam Injil.
Hal ini disangkal Musa, waktu ia berkata kepada bangsa Israel demikian, 'Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya; tetapi hanya oleh nenek moyangmulah hati TUHAN terpikat, sehingga Dia mengasihi mereka, dan keturunan merekalah, yakni kamu, yang dipilih-Nya dari segala bangsa, seperti sekarang ini.' (Ula 10:14-15). Dan Kristus berkata, 'Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.' (Mat 11:21).

PASAL AJARAN YANG KEDUA
Kematian Kristus dan penebusan manusia olehnya

1. Allah tidak hanya mahamurah, tetapi juga mahaadil. Maka keadilan-Nya itu - demikian Dia telah menyatakan diri dalam Firman-Nya - menuntut agar dosa-dosa yang telah kita perbuat terhadap keagungan-Nya yang tak terhingga itu mendapat hukuman-hukuman itu, kecuali jika tuntutan-tuntutan keadilan Allah dipenuhi.

2. Tetapi karena kita sendiri tidak sanggup menyediakan pelunasan dan melepaskan diri kita dari murka Allah, maka karena kasih-Nya yang tak terhingga Allah telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal menjadi jaminan bagi kita. Dia telah menjadi dosa dan kutuk di atas kayu salib karena kita dan sebagai ganti kita, untuk menyediakan pelunasan bagi kita.

3. Kematian Anak Allah ini adalah korban dan pelunasan yang satu-satunya dan sempurna untuk dosa. Kematian itu tidak terbatas kekuatan dan nilainya dan lebih dari cukup untuk mendamaikan dosa seluruh dunia.

4. Kematian ini demikian kuat dan bernilai, karena Pribadi yang telah mengalaminya itu bukan hanya manusia sejati dan benar-benar kudus, melainkan juga Anak Allah yang tunggal, yang se-Zat dengan Bapa dan Roh Kudus dan bersama-sama Mereka kekal dan tak terhingga sebagaimana seharusnya Dia yang menjadi Juruselamat kita. Tambahan lagi, karena kematian-Nya disertai kesadaran akan murka Allah dan akan kutuk yang patut menimpa kita karena dosa-dosa kita.

5. Selanjutnya janji Injil ialah, bahwa setiap orang yang percaya kepada Kristus yang disalibkan itu tidak binasa, tetapi beroleh hidup yang kekal. Janji itu harus diberitakan dan dimaklumkan kepada semua bangsa dan semua orang yang menurut perkenan Allah, menjadi alamat pemberitaan Injil-Nya, disertai perintah bertobat dan percaya, tanpa mengadakan pembedaan.

6. Banyak orang yang dipanggil oleh Injil, tidak bertobat dan tidak percaya kepada Kristus. Sebaliknya, mereka binasa dalam ketidakpercayaan. Akan tetapi, hal ini tidak terjadi oleh sebab korban Kristus di atas kayu salib bercacat atau berkekurangan, tetapi lantaran kesalahan mereka sendiri.

7. Akan tetapi, semua orang yang sungguh-sungguh percaya, dan oleh kematian Kristus dibebaskan dan diselamatkan dari dosa serta kebinasaan, menikmati anugerah ini hanya berdasarkan rahmat Allah. Rahmat itu dianugerahkan kepada mereka dari kekekalan, di dalam Kristus, walaupun Allah tidak berkeharusan menganugerahkannya kepada seorang pun.

8. Sebab inilah keputusan yang berdaulat, kehendak yang penuh rahmat, dan maksud Allah Bapa, yaitu agar keampuhan yang menghidupkan dan menyelamatkan yang terdapat dalam kematian Anak-Nya yang amat berharga itu menjangkau semua orang terpilih, untuk mengaruniakan hanya kepada mereka saja iman yang membenarkan, dan oleh iman itu dengan tak tergagalkan mengantarkan mereka kepada keselamatan. Dengan perkataan lain: Allah telah menghendaki agar Kristus, oleh penumpahan darah-Nya di atas salib (yang olehnya perjanjian baru telah diteguhkan-Nya), dari antara segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa menebus dengan ampuh semua orang - dan hanya mereka itu saja - yang dari kekekalan sudah terpilih untuk keselamatan dan yang telah diberikan Bapa kepada-Nya. Begitu pula, agar Kristus mengaruniakan kepada mereka iman, yang telah diperoleh-Nya bagi mereka oleh kematian-Nya, sama seperti karunia-karunia Roh Kudus yang lain yang membawa keselamatan. Begitu pula, agar Dia menyucikan mereka dengan darah-Nya dari semua dosa mereka, baik dari dosa bawaan maupun dari dosa-dosa yang nyata, yang mereka lakukan sebelum atau sesudah menjadi percaya, dan agar Dia memelihara mereka dengan setia sampai akhir, dan pada kesudahannya menempatkan mereka di hadapan diri-Nya dengan penuh kemuliaan, tanpa cacat atau kerut.

9. Keputusan ini, yang berasal dari kasih Allah yang abadi terhadap orang pilihan, telah digenapi secara kuat sejak awal dunia hingga dewasa ini, dan alam maut pun tidak berhasil melawannya. Keputusan itu akan digenapi juga untuk seterusnya, sedemikian rupa, hingga orang pilihan, masing-masing pada zamannya, akan dihimpun menjadi satu kumpulan, dan selalu akan ada Gereja orang-orang percaya, yang berdasarkan darah Kristus. Gereja itu tetap mengasihi Dia, Juruselamatnya, yang telah menyerahkan nyawa-Nya baginya di atas kayu salib, sama seperti seorang mempelai laki-laki menyerahkan nyawanya bagi mempelai perempuannya, bertekun beribadah kepada-Nya, dan memuji-muji Dia sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.

Penolakan ajaran sesat

Setelah menguraikan ajaran ortodoks maka sinode menolak ajaran-ajaran sesat orang yang mengajar sebagai berikut:

1. Allah Bapa telah menentukan Anak-Nya untuk mati di atas kayu salib tanpa adanya keputusan yang pasti dan tentu untuk menyelamatkan orang-orang tertentu. Malahan, andaipun penebusan yang diperoleh itu tidak pernah menjadi milik nyata satu orang pun, namun perlunya, manfaat, dan nilai yang tercantum di dalam apa yang diperoleh melalui kematian Kristus itu dapat saja tetap berlaku lengkap dan tetap tinggal sempurna, genap, dan utuh dalam semua bagiannya.

Ajaran ini adalah penghinaan terhadap hikmat Bapa dan jasa Yesus Kristus, dan bertentangan dengan Alkitab. Karena Juruselamat kita berkata, "Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku dan Aku mengenal mereka" (Yoh 10:15,27). Dan Nabi Yesaya berkata mengenai Juruselamat, "Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya" (Yes 53:10). Akhirnya ajaran ini menumbangkan pasal pengakuan iman yang mengandung kepercayaan kita akan "Gereja Kristen yang am".

2. Maksud kematian Kristus bukanlah agar perjanjian baru, yaitu perjanjian rahmat, sungguh-sungguh diteguhkan-Nya oleh darah-Nya, melainkan semata-mata agar bagi Bapa diperoleh-Nya hak untuk sekali lagi mengadakan perjanjian dengan manusia, entah perjanjian rahmat entah perjanjian perbuatan, sebagaimana dikehendaki Bapa.

Ajaran ini bertentangan dengan Alkitab, yang mengajar bahwa Kristus telah menjadi Jaminan dan Pengantara perjanjian yang lebih baik, yaitu perjanjian baru, dan bahwa surat wasiat barulah sah, bila pembuat wasiat itu telah mati.

3. Oleh pelunasan yang telah dilakukan-Nya, Kristus tidak memperoleh dengan pasti bagi seorang pun baik keselamatan sendiri maupun iman yang membuat pelunasan itu dengan ampuh diraih demi keselamatan. Sebaliknya, Dia hanya memperoleh bagi Bapa kuasa atau kemauan yang bulat untuk membuka babak baru dalam tindakannya terhadap manusia dan menentukan syarat-syarat baru apa saja yang dikehendaki-Nya. Apakah syarat-syarat itu dipenuhi, tergantung pada kehendak bebas manusia. Maka dapat saja terjadi, bahwa tidak seorang pun, ataupun semua orang memenuhinya.

Mereka ini meremehkan kematian Kristus, sama sekali tidak mengakui buah atau anugerah utama yang diperoleh melalui kematian itu, dan memanggil ajaran sesat Pelagius kembali dari neraka.

4. Isi perjanjian baru, yaitu perjanjian rahmat, yang telah diikat oleh Allah Bapa dengan manusia melalui kematian Kristus, bukanlah bahwa kita dibenarkan di hadapan Allah dan diselamatkan oleh iman sejauh iman ini meraih jasa Kristus. Sebaliknya, isinya bahwa Allah membatalkan tuntutan ketaatan sempurna terhadap hukum Taurat dan menganggap iman itu sendiri serta ketaatan iman, meskipun tidak sempurna, sebagai ketaatan sempurna kepada hukum Taurat serta dengan penuh rahmat menilainya layak diganjar hidup yang kekal.

Mereka ini membantah Alkitab, yang berkata, "Oleh kasih karunia mereka telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya (Rom 3:24-25). Bersama Socinus yang fasik itu mereka memasukkan ajaran yang baru dan asing tentang pembenaran manusia di hadapan Allah, yang bertentangan dengan perasaan bulat seluruh gereja.

5. Semua orang telah diterima oleh Allah, sehingga mereka diperdamaikan dengan Allah dan turut mengambil bagian dalam karunia perjanjian itu. Maka tidak seorang pun takluk pada hukuman kekal karena dosa turunan, dan tidak seorang pun akan dihukum karenanya. Sebaliknya, semua orang bebas dari kesalahan yang disebabkan dosa tersebut.

Pandangan ini bertentangan dengan Alkitab, yang menegaskan, bahwa "pada dasarnya kita adalah orang-orang yang harus dimurkai" (Efe 2:3).

6. Sejauh hal itu bergantung kepada Allah, Dia telah berkehendak mengaruniakan secara sama rata kepada semua orang anugerah-anugerah yang telah diperoleh oleh kematian Kristus. Jikalau ada orang yang mendapat bagian dalam pengampunan dosa dan hidup yang kekal sedangkan yang lain tidak, maka perbedaan itu bergantung pada kehendaknya yang bebas, yang meraih anugerah yang ditawarkan tanpa memandang bulu itu, bukan pada karunia khusus dari rahmat Allah, yang bekerja dalam orang itu dengan ampuh sehingga mereka memeluk kasih karunia itu, sedangkan yang lain tidak.

Mereka ini menyalahgunakan pembedaan antara hal memperoleh dan hal memeluk, untuk meresapkan pendapat tersebut ke dalam hati orang yang kurang hati-hati dan yang tidak berpengalaman. Mereka berbuat seolah-olah mereka mengemukakan pembedaan ini dalam arti yang sehat, namun mereka mencoba menyuguhkan kepada rakyat racun yang mematikan, yakni ajaran sesat kaum Pelagian.

7. Kristus tidak dapat dan tidak perlu mati bagi mereka yang dikasihi Allah dengan kasih yang tertinggi dan yang telah dipilih-Nya untuk hidup yang kekal. Dia memang tidak mati bagi mereka, karena orang yang sedemikian tidak memerlukan kematian Kristus.

Mereka membantah Sang Rasul, yang berkata bahwa Kristus "telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku" (Gal 2:20). Demikian juga, "Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati?", yaitu bagi mereka (Rom 8:33-34). Dan Juruselamat sendiri berkata, "Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku" (Yoh 10:15). Dan, "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya" (Yoh 15:12-13).

PASAL AJARAN YANG KETIGA DAN KEEMPAT
Kerusakan manusia. Pertobatannya kepada Allah serta cara pertobatan itu

1. Pada mulanya manusia diciptakan menurut gambar Allah dan diberi perlengkapan yang serba indah: dalam akal budinya terdapat pengetahuan yang benar dan menyelamatkan tentang Penciptanya serta tentang hal-hal rohani; dalam kehendak dan hatinya, kebenaran; dalam semua perasaan hatinya, kemurnian. Maka, ia sepenuhnya kudus. Tetapi oleh hasutan iblis dan kehendak bebasnya sendiri ia telah menyimpang dari Allah dan membuang karunia-karunia ulung itu. Dan sebagai gantinya manusia telah mendapatkan bagi dirinya: kebutaan, kegelapan yang mengerikan, pertimbangan yang bebal dan jahat dalam akal budinya; kekejian, pemberontakan, dan ketegaran dalam kehendak dan hatinya; lagi pula ketidakmurnian dalam perasaan hatinya.

2. Sama seperti keadaan manusia setelah ia jatuh, demikian pula keadaan anak-anaknya; manusia yang rusak memperanakkan anak-anak yang rusak. Dengan cara ini menurut hukuman Allah yang adil kerusakan menjalar dari Adam kepada semua anak cucunya - kecuali Yesus - bukan karena peniruan, sebagaimana dulu telah dikatakan oleh kaum Pelagian, melainkan karena pembiakan kodrat yang rusak itu.

3. Oleh karena itu, semua orang dikandung dalam dosa dan murka Allah sudah berada pada mereka saat mereka lahir. Mereka tidak sanggup berbuat kebaikan apa pun demi keselamatannya, tetapi mereka cenderung pada kejahatan, mereka mati di tengah dosa, dan menjadi hamba dosa. Mereka tidak mau dan tidak sanggup kembali kepada Allah dan membenahi kodrat mereka yang bejat ataupun menyiapkan diri untuk pembenahannya, tanpa karunia Roh Kudus yang melahirkan kembali.

4. Memang, setelah manusia jatuh masih tinggal di dalamnya sisa terang kodrati. Berkat terang itu, ia tetap memiliki pengetahuan sedikit tentang Allah, tentang alam dunia, tentang perbedaan antara apa yang bersusila dan yang aib, dan tampak berupaya seadanya untuk mengejar kebajikan serta ketertiban lahiriah. Akan tetapi, jangankan oleh terang kodrati itu memperoleh pengenalan yang menyelamatkan tentang Allah dan menjadi sanggup bertobat kepada-Nya, menggunakan terang itu dengan tepat dalam kehidupan sehari-hari dan dalam urusan-urusan kemasyarakatan pun manusia tidak bisa.

Bahkan, ia mengaburkan terang itu - bagaimanapun juga sifat terang ini - dengan berbagai cara dan menindasnya dalam kelaliman. Karena ia berbuat begitu, maka ia sama sekali tidak dapat lagi berdalih di hadapan Allah.

5. Apa yang berlaku terhadap terang kodrati itu, juga berlaku dalam hubungan ini terhadap hukum Kesepuluh Perintah yang diberikan Allah melalui Musa khususnya kepada orang Yahudi. Sebab hukum itu memang menyingkapkan kebesaran dosa dan makin lama makin meyakinkan manusia akan kesalahannya, tetapi menunjukkan obat penawarnya dan juga tidak memberikan kekuatan untuk luput dari sengsara itu. Karena hukum itu telah menjadi tidak berdaya oleh daging, dan membiarkan pelanggarnya tetap berada di bawah kutuk, maka tidak mungkin manusia memperoleh rahmat yang menyelamatkan melalui hukum itu.

6. Maka apa yang tidak mungkin dilakukan oleh terang kodrati dan hukum Taurat, itulah yang dikerjakan Allah oleh kuasa Roh Kudus dan oleh Firman atau pelayanan pendamaian, yakni Injil Mesias. Allah telah berkenan menyelamatkan orang percaya baik pada zaman Perjanjian Lama maupun pada zaman Perjanjian Baru oleh Injil itu.

7. Rahasia kehendak-Nya itu telah disingkapkan Allah kepada sejumlah kecil orang pada zaman Perjanjian Lama. Sebaliknya, pada zaman Perjanjian Baru (setelah perbedaan antara bangsa-bangsa ditiadakan) Allah telah menyatakannya kepada lebih banyak orang. Sebab perbedaan ini janganlah dicari dalam hal ini, bahwa bangsa yang satu lebih layak ataupun memanfaatkan terang kodrati dengan lebih baik dibandingkan bangsa lain, tetapi dalam perkenan Allah yang berdaulat dan dalam kasih-Nya yang diberikan secara cuma-cuma. Itulah sebabnya maka mereka yang dianugerahi karunia yang sedemikian besar - walaupun mereka sama sekali tidak layak menerimanya, bahkan berlawanan dengan semua yang patut mereka terima - harus mengakui karunia itu dengan rendah hati dan penuh syukur. Tetapi dalam hal orang-orang lain, yang tidak dianugerahi karunia itu, haruslah mereka bersama Sang Rasul menyembah kekerasan dan keadilan hukuman-hukuman Allah, dan sekali-kali tidak mengusut hukuman-hukuman itu.

8. Akan tetapi, semua orang yang dipanggil oleh Injil, dipanggil dengan sungguh-sungguh. Sebab dalam firman-Nya Allah memperlihatkan sungguh-sungguh dan dengan sebenarnya apa yang berkenan kepada-Nya, yaitu bahwa mereka yang dipanggil itu datang kepada-Nya dan percaya dijanjikan-Nya kesentosaan jiwa dan hidup yang kekal.

9. Banyak orang yang dipanggil oleh pelayanan Injil tidak datang dan tidak ditobatkan. Kesalahannya tidak dapat ditimpakan kepada Injil, atau kepada Kristus yang ditawarkan oleh Injil, dan tidak juga kepada Allah, yang memanggil orang melalui Injil dan bahkan memberikan berbagai karunia kepada mereka yang dipanggil-Nya. Kesalahannya terletak dalam diri mereka; ada yang memang menerimanya, tetapi tidak mengizinkannya masuk ke dalam hatinya, dan oleh sebab itu mundur lagi setelah sebentar bersukacita dalam iman yang sementara itu; ada yang menghimpit benih Firman di antara semak duri kekuatiran dan keriaan dunia dan tidak menghasilkan buah. Hal ini diajarkan Juruselamat kita dalam perumpamaan tentang benih.

10. Orang-orang lain yang dipanggil oleh pelayanan Injil, datang dan ditobatkan. Hal itu jangan dipulangkan kepada manusia, seolah-olah kehendaknya yang bebas menyebabkan ia berbeda dari orang-orang lain, yang diperlengkapi karunia yang sama besar atau paling tidak cukup agar mereka percaya dan bertobat (seperti yang dinyatakan oleh kesesatan sombong Pelagius). Sebaliknya, hal itu harus dipulangkan kepada Allah. Sebagaimana sejak semula orang-orang kepunyaan-Nya telah dipilih-Nya dalam Kristus, demikian juga mereka dipanggil-Nya dengan ampuh dalam hidup ini. Dia mengaruniakan kepada mereka iman dan pertobatan, dan setelah melepaskan mereka dari kuasa kegelapan memindahkan mereka ke dalam kerajaan Anak-Nya. Maksud-Nya agar mereka memasyhurkan perbuatan-perbuatan besar Dia, yang telah memanggil mereka ke luar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib, dan supaya jangan mereka bermegah dalam diri mereka sendiri, melainkan di dalam Tuhan, seperti yang disaksikan kitab-kitab para Rasul di mana-mana.

11. Akan tetapi, bilamana Allah melaksanakan perkenan-Nya itu di dalam orang pilihan, dan mengerjakan di dalam mereka pertobatan yang sejati, maka Dia telah hanya membuat Injil diberitakan kepada mereka dan tidak hanya menerangi pikiran mereka oleh Roh sedemikian kuat, hingga mereka memahami dengan baik dan menilai hal-hal yang berasal dari Roh Kudus. Dia bahkan juga masuk sampai ke dalam batin manusia dengan keampuhan Roh Kudus yang sama itu, yang mengerjakan kelahiran kembali; hati yang tertutup dibuka-Nya, apa yang keras dilunakkan-Nya, apa yang tidak bersunat disunati-Nya, dalam kehendak dituangkan-Nya sifat-sifat baru: kehendak yang tadinya mati dihidupkan-Nya, yang jahat dijadikan-Nya baik, yang tidak bersedia dijadikan-Nya bersedia, yang melawan dijadikan-Nya taat. Dia menggerakkan dan menguatkan kehendak sedemikian, hingga kehendak itu, seperti pohon yang baik, sanggup menghasilkan buah berupa perbuatan-perbuatan baik.

12. Inilah kelahiran kembali, pembaruan, penciptaan baru, pembangkitan dari antara orang mati, dan karya menghidupkan, yang dimasyhurkan dalam Alkitab dan yang dikerjakan oleh Allah tanpa kita di dalam kita. Kelahiran kembali itu tidak terjadi dalam diri kita hanya melalui bunyi kata-kata pemberitaan, tidak juga oleh nasihat yang lemah lembut ataupun karya yang begitu rupa sehingga setelah Allah menyelesaikan karya itu maka manusia masih dapat menentukan apakah ia dilahirkan kembali atau tidak dan ditobatkan atau tidak. Sebaliknya, hal itu jelas merupakan karya adikodrati, yang amat kuat sekaligus amat lembut, ajaib, tersembunyi, dan tak terkatakan. Menurut kesaksian Alkitab (yang diilhami oleh Dia yang melakukan karya itu), daya karya itu tidak kalah besar dibandingkan dengan penciptaan atau pembangkitan orang mati. Olehnya semua orang yang hatinya menjadi tempat Allah bekerja dengan cara yang menakjubkan ini, pasti dilahirkan kembali dengan cara yang tak tergagalkan dan ampuh, serta benar-benar menjadi percaya. Lalu kehendak yang telah diperbarui itu tidak hanya digerakkan dan didorong Allah, tetapi setelah digerakkan Allah, maka kehendak itu sendiri juga bergerak. Oleh sebab itu, dikatakan juga dengan tepat bahwa, oleh karunia yang telah diterimanya, manusia sendiri percaya dan bertobat.

13. Cara karya ini tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh orang percaya selama hidup ini. Sementara itu mereka merasa tenteram karena mengetahui dan merasa, bahwa oleh karunia Allah itu mereka percaya dengan hati dan mengasihi Juruselamat mereka.

14. Maka iman merupakan karunia Allah. Bukan karena iman itu ditawarkan Allah kepada manusia, agar manusia berbuat sekehendaknya, melainkan karena iman itu sesungguhnya diberikan, diilhamkan, dicurahkan kepada manusia. Bukan juga karena Allah hanya memberikan kemampuan untuk percaya, dan sesudah itu mengharapkan persetujuan atau percaya yang nyata dari kehendak manusia yang bebas, melainkan karena Dia yang mengerjakan baik kemauan maupun pekerjaan, bahkan mengerjakan semuanya di dalam semua orang, Dialah yang mengerjakan di dalam manusia baik kemauan untuk percaya maupun iman itu sendiri.

15. Allah tidak berkeharusan memberikan karunia ini kepada seorang pun. Sebab, apakah keharusan-Nya kepada seseorang yang tidak dapat terlebih dahulu memberikan kepada-Nya sesuatu apa pun yang wajib diganjar? Tambahan lagi, apakah gerangan keharusan Allah kepada seseorang yang hanya memiliki dosa dan dusta? Jadi, barang siapa yang menerima karunia ini, hanya kepada Allah ia berhutang syukur. Barang siapa yang tidak menerima karunia ini, ia sama sekali acuh tak acuh akan perkara-perkara rohani ini dan bersenang-senang atas hal-hal kepunyaannya, ataupun karena merasa aman ia bermegah dengan tidak beralasan seakan-akan memiliki apa yang tidak dimilikinya. Namun, sesuai dengan teladan para Rasul, mereka yang mengaku imannya secara lahiriah dan yang membenahi hidupnya, harus dinilai dan disebut dengan sebaik-baiknya, sebab kita tidak mengenal lubuk hati manusia. Adapun orang lain, yang belum terpanggil, orang harus mendoakan mereka pada Allah, yang menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada. Jangan sekali-kali kita berlaku sombong terhadap mereka, seolah-olah kita sendirilah yang menyebabkan kita berbeda dari mereka.

16. Akan tetapi, manusia, meskipun ia telah jatuh ke dalam dosa, adalah tetap manusia, yang diperlengkapi akal dan kehendak. Dan dosa, yang telah menjalar kepada seluruh umat manusia, tidak memusnahkan kodrat manusia itu, tetapi merusakkannya dan mematikannya secara rohani. Begitu pula, karunia ilahi, yakni kelahiran kembali itu juga tidak bekerja di dalam manusia seolah-olah ia adalah sebongkah kayu dan sebuah batu, dan karunia itu tidak memusnahkan kehendak manusia dan sifat-sifat kehendak itu, dan tidak memaksa manusia berlawanan dengan kehendaknya. Tetapi karunia ilahi itu menghidupkan kehendak secara rohani, menyembuhkannya, memperbaikinya, dan menundukkannya secara lembut sekaligus kuat. Maka, di mana dahulu kedegilan dan perlawanan daging merajalela, sekarang oleh Roh mulai berkuasa ketaatan yang rela dan tulus. Itulah yang merupakan pembaruan dan kebebasan kehendak kita yang sejati dan rohani. Ya, jika Pembuat segala sesuatu yang baik, yang patut dikagumi itu, tidak bertindak sedemikian rupa terhadap kita, maka janganlah manusia berharap dapat bangkit dari kejatuhan melalui kehendaknya yang bebas, yang olehnya ia telah menceburkan diri ke dalam kebinasaan pada waktu ia masih berdiri.

17. Karya Allah yang mahakuasa, yang olehnya Dia menciptakan hidup kodrati kita dan memeliharanya, tidak mencegah pemakaian sarana-sarana yang olehnya Allah dalam hikmat dan kebaikan-Nya yang tak terhingga ingin melaksanakan kekuatan-Nya itu, tetapi justru menuntut pemakaiannya. Demikian pula halnya karya adikodrati Allah yang tersebut di atas, yang olehnya kita dilahirkan-Nya kembali: karya ini sekali-kali tidak mencegah atau meniadakan pemakaian Injil yang telah ditentukan Allah yang berhikmat itu menjadi benih kelahiran kembali dan makanan bagi jiwa. Oleh karena itu, jangan sekali-kali tokoh-tokoh jemaat yang mengajar anggota-anggota jemaat lainnya, ataupun mereka yang diajar berani mencobai Allah dengan jalan menceraikan apa yang menurut perkenan-Nya dikehendaki-Nya supaya tetap tergabung erat. Begitu pula dahulu para Rasul, dan guru-guru yang telah menggantikan mereka, dengan penuh ketakwaan mengajar rakyat mengenai karunia Allah itu demi kemuliaan Allah dan untuk menekan seluruh keangkuhan manusia. Sementara itu, mereka rajin berupaya, melalui pengajaran kudus dari Injil, supaya rakyat itu tetap terkumpul di bawah pelayanan teratur Firman, sakramen-sakramen, dan disiplin gereja. Sebab, kasih karunia diberikan oleh pengajaran itu. Semakin Allah di dalam diri kita. Dengan demikian pekerjaan-Nya akan maju dengan cara yang paling tepat. Baik atas sarana-sarana itu, maupun atas buah dan keampuhannya yang mendatangkan keselamatan, hanya Allah saja yang patut menerima segala kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.

Penolakan ajaran sesat

Setelah menguraikan ajaran ortodoks maka sinode menolak ajaran-ajaran sesat orang yang mengajar sebagai berikut:

1. Sebenarnya tidak dapat dikatakan, bahwa dosa turunan sendiri sudah cukup untuk membuat segenap umat manusia dihukum atau patut diganjar hukuman pada masa kini dan untuk selama-lamanya.

Mereka ini membantah perkataan Sang Rasul, 'Sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa' (Rom 5:12). Dan, 'Penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman' (Rom 5:16). Dan 'Upah dosa ialah maut' (Rom 6:23).

2. Pada mulanya, waktu manusia diciptakan, maka karunia-karunia rohani, sifat-sifat baik, dan kebajikan-kebajikan, seperti kebaikan, kesucian, dan kebenaran, tidak mungkin ada dalam kehendak manusia. Itulah sebabnya karunia-karunia itu tidak mungkin juga dipisahkan dari kehendak itu oleh kejatuhan dalam dosa.

Hal ini bertentangan dengan pemerian manusia sebagai gambar Allah seperti yang disajikan Sang Rasul dalam Efe 4:24. Di sana ia mengatakan, bahwa gambar Allah itu terdiri dari kebenaran dan kekudusan, yang keduanya tanpa ragu-ragu bertempat dalam kehendak.

3. Dalam kematian rohani, karunia-karunia rohani yang dimiliki manusia tidak dipisahkan dari kehendak. Sebab, kehendak itu sendiri tidak pernah dirusak, tetapi hanya dirintangi oleh kegelapan akal-budi dan ketidaktetapan perasaan. Jika rintangan-rintangan ini dicabut, maka kehendak dapat memakai kekuatan yang bebas, yang telah ditanamkan ke dalamnya. Hal itu berarti, kehendak itu sanggup, dari dirinya sendiri, menghendaki dan memilih ataupun tidak menghendaki dan memilih hal apa pun yang baik yang dihadapkan kepadanya.

Ini ajaran baru dan sesat, yang cenderung memuji-muji kemampuan kehendak bebas. Hal ini bertentangan dengan perkataan Nabi Yeremia, 'Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya buruk' (Yer 17:9); dan dengan perkataan Sang Rasul, 'Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat' (Efe 2:3).

4. Manusia yang tidak dilahirkan kembali, sebenarnya tidak mati dalam dosa dalam arti yang sebenarnya dan secara menyeluruh. Pun ia tidak kehilangan sama sekali kekuatan untuk berbuat baik dalam arti rohani. Sebaliknya, ia masih dapat lapar dan haus akan kebenaran dan kehidupan serta mempersembahkan korban hati yang patah dan remuk, yang berkenan kepada Allah.

Hal-hal ini bertentangan dengan kesaksian-kesaksian Alkitab yang jelas, 'Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu' (Efe 2:1-5). Dan, 'Segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata' (Kej 6:5; 8:21). Lagi pula, hanya pada mereka yang dilahirkan kembali dan yang disebut berbahagialah terdapat lapar dan haus akan kelepasan dari sengsara dan akan kehidupan, dan hanya merekalah yang mempersembahkan korban hati yang patah kepada Allah (Mat 5:6 dan Maz 51:19).

5. Anugerah umum (yang menurut mereka adalah terang kodrati) atau karunia-karunia yang masih tinggal sesudah kejatuhan manusia, dapat digunakan manusia yang sudah rusak dan yang kodrati itu dengan begitu tepat, sehingga oleh penggunaannya yang baik itu lama-kelamaan dan selangkah demi selangkah dapat diperolehnya karunia yang lebih besar, yaitu karunia Injili atau yang menyelamatkan, bahkan keselamatan itu sendiri. Dengan cara itu Allah dari pihak-Nya memperlihatkan kesediaan-Nya untuk menyatakan Kristus kepada semua orang, karena Dia memang menyajikan dengan secukupnya dan ampuh sarana-sarana yang dibutuhkan untuk penyataan Kristus dan untuk iman serta pertobatan.

Selain pengalaman segala zaman, Alkitab juga bersaksi bahwa ajaran ini tidak benar, 'Dia memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan-ketetapan-Nya dan hukum-hukum-Nya kepada Israel. Dia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal' (Maz 147:19-20). 'Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing' (Kis 14:16). Dan, 'Roh Kudus mencegah mereka (Yaitu Paulus dan rekan-rekannya) untuk memberitakan Injil di Asia. Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka' (Kis 16:6-7).

6. Apabila manusia bertobat dengan sungguh-sungguh, Allah tidak mungkin mencurahkan sifat-sifat, kemampuan-kemampuan atau karunia-karunia yang baru ke dalam kehendaknya. Maka itu, iman - yang mengawali pertobatan kita dan yang menyebabkan kita disebut orang-orang beriman - bukanlah suatu sifat atau karunia yang dicurahkan Allah, melainkan perbuatan manusia semata-mata. Iman itu hanya dapat disebut 'karunia' dari sudut pandangan kemampuan untuk mencapainya.

Dengan hal ini, mereka membantah Kitab Suci, yang bersaksi bahwa Allah mencurahkan sifat-sifat baru dalam hati kita, yaitu iman, ketaatan, dan kesadaran akan kasih-Nya, 'Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka' (Yer 31:33). Dan, 'Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu' (Yes 44:3). Dan, 'kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita' (Rom 5:5). Begitu pula ajaran itu bertentangan dengan kebiasaan Gereja Allah yang tak berkeputusan, yang dalam Kitab Nabi Yeremia berdoa begini, 'bawalah aku kembali, supaya aku berbalik' (Yer 31:18).

7. Kasih karunia yang olehnya kita berpaling kepada Allah itu tidak lain dari suatu anjuran lembut. Atau (sebagaimana diterangkan orang-orang lain), cara kerja yang paling mulia dalam hal pertobatan manusia serta yang paling cocok dengan kodratnya, ialah cara kerja melalui anjuran-anjuran. Tidak ada alasan untuk beranggapan seakan-akan kasih karunia yang menganjurkan ini sendiri saja tidak cukup untuk membuat manusia kodrati menjadi manusia rohani. Bahkan, Allah tidak menghasilkan persetujuan kehendak selain melalui cara menganjurkan itu. Keampuhan karya Allah, yang menyebabkan karya itu melebihi karya iblis, terdiri dari hal ini, bahwa Allah menjanjikan harta kekal, sedangkan iblis menjanjikan harta sementara.

Hal ini seluruhnya sama dengan ajaran Pelagius dan bertentangan dengan seantero Kitab Suci. Selain cara tadi, Kitab Suci mengenal cara berkarya Roh Kudus yang lain lagi dalam pertobatan manusia, yang jauh lebih ampuh dan ilahi, sebagaimana terdapat dalam Yehezkiel, 'Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat' (Yeh 36:26).

8. Dalam hal kelahiran kembali manusia, Allah tidak memakai kekuatan-Nya yang mahakuasa, yang begitu rupa hingga olehnya kehendak manusia akan ditundukkan-Nya dengan cara yang unggul dan tak tergagalkan kepada iman dan pertobatan. Sebaliknya, meskipun semua karya kasih karunia sudah dilaksanakan, yang dipergunakan Allah untuk membuat manusia bertobat, namun manusia masih juga dapat melawan dan nyata-nyata melawan Allah dan Roh Kudus, yang berusaha demi kelahirannya kembali dan yang berkehendak melahirkannya kembali, sedemikian rupa hingga ia bahkan menghalangi sama sekali kelahirannya kembali. Maka itu, manusia sendiri berkuasa memutuskan apakah ia akan dilahirkan kembali atau tidak.

Hal ini tidak lain dan tidak bukan meniadakan sama sekali keampuhan kasih karunia Allah dalam pertobatan kita dan membuat kegiatan Allah yang mahakuasa kalah terhadap kehendak manusia. Hal ini bertentangan dengan apa yang diajarkan para rasul, 'Betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya' (Efe 1:19), dan, 'Supaya Allah dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu' (2Te 1:11), dan, 'Kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh' (2Pe 1:3).

9. Rahmat dan kehendak bebas mengerjakan secara bersama, masing-masing untuk sebagian, awal pertobatan, dan rahmat tidak mendahului kegiatan kehendak bebas dalam hal urutan sebab-akibat. Artinya, setelah kehendak sendiri bergerak dan menuju ke pertobatan, barulah Allah membantu kehendak manusia dengan ampuh.

Gereja Lama pun sudah menolak ajaran ini pada zaman dahulu, ketika menolak kaum Pelagian, berdasarkan perkataan Sang Rasul, 'Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah' (Rom 9:16). Demikian pula, 'Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?' (1Ko 4:7). 'Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya' (Fil 2:13).

PASAL AJARAN YANG KELIMA
Ketekunan orang kudus

1. Mereka yang oleh Allah, menurut rencana-Nya, dipanggil ke persekutuan dengan Anak-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus, dan yang dilahirkan-Nya kembali oleh Roh Kudus itu memang dilepaskan-Nya dari kekuasaan dan perhambaan dosa. Tetapi selama hidup ini Dia tidak melepaskan mereka sama sekali dari daging dan dari tubuh dosa.

2. Dari situlah timbul dosa-dosa yang setiap hari dilakukan akibat kelemahan, dan noda yang masih melekat para perbuatan-perbuatan orang-orang kudus yang paling baik pun. Hal ini bagi mereka senantiasa menjadi alasan untuk merendahkan diri di hadapan Allah dan mencari perlindungan pada Kristus yang disalibkan itu. Oleh karena itu, mereka juga kian mematikan daging dengan berdoa dalam Roh dan dengan latihan-latihan suci dalam hidup saleh, dan mereka sangat rindu akan tujuan, yaitu kesempurnaan. Mereka berbuat demikian sampai saat mereka dilepaskan dari tubuh maut lalu bersama dengan Anak Domba Allah akan memerintah di surga.

3. Lantaran sisa-sisa dosa yang masih tinggal di dalam mereka, dan juga oleh sebab godaan dunia dan iblis, maka orang-orang yang telah bertobat itu tidak sanggup bertekun dalam kasih karunia, seandainya mereka dibiarkan berusaha dengan kekuatan sendiri. Tetapi Allah adalah setia. Dengan penuh rahmat diteguhkan-Nya mereka dalam kasih karunia yang pernah diberikan kepada mereka, dan sampai akhirnya mereka dipelihara-Nya di dalamnya dengan kuat.

4. Kuasa Allah yang olehnya orang yang benar-benar percaya diteguhkan-Nya dan dipelihara-Nya dalam kasih karunia itu adalah begitu besar, sehingga tidak mungkin dikalahkan oleh daging. Namun bimbingan dan dorongan Allah terhadap orang yang telah bertobat itu tidak selalu bersifat begitu rupa, sehingga tidak mungkin dalam perbuatan-perbuatan yang tertentu, karena kesalahan mereka sendiri, mereka menyimpang dari bimbingan kasih karunia dan menuruti godaan keinginan-keinginan daging. Oleh sebab itu mereka harus senantiasa berjaga-jaga dan berdoa supaya mereka jangan dibawa ke dalam pencobaan. Jika mereka tidak berbuat ini, maka mereka bisa saja diseret oleh daging, dunia, dan iblis sehingga melakukan dosa-dosa yang berat dan ngeri. Bahkan kadang-kadang mereka memang diseret secara nyata, dengan izin Allah yang adil. Hal itu diperlihatkan oleh peristiwa-peristiwa Daud, Petrus, dan orang-orang kudus yang lain, yang jatuh ke dalam dosa dengan begitu menyedihkan, sebagaimana digambarkan bagi kita dalam Alkitab.

5. Dengan dosa yang sedemikian berat itu mereka sangat membangkitkan murka Allah; mereka melakukan kesalahan yang patut diganjar hukuman mati; mereka mendukakan Roh Kudus; untuk sementara waktu mereka menghentikan praktik kehidupan iman; mereka sangat melukai hati nurani dan kadang-kadang untuk sementara waktu mereka tidak merasakan lagi kasih karunia. Hal ini berlangsung sampai mereka membalik oleh penyesalan yang sungguh-sungguh, dan wajah kebapaan Allah kembali menyinari mereka.

6. Sebab Allah, yang kaya akan rahmat, sesuai dengan rencana pemilihan yang tidak berubah-ubah, tidak menjauhkan sama sekali Roh Kudus dari orang-orang milik-Nya, bahkan tidak juga apabila mereka telah jatuh ke dalam dosa dengan cara yang menyedihkan. Dia juga tidak membiarkan mereka tersandung sedemikian, hingga mereka kehilangan karunia pengangkatan menjadi anak-anak Allah dan kedudukan sebagai orang yang dibenarkan, atau hingga mereka berbuat dosa yang mendatangkan maut, atau dosa yang menentang Roh Kudus, dan sama sekali ditinggalkan oleh Allah lalu menceburkan diri ke dalam kebinasaan yang kekal.

7. Sebab, pertama-tama, tiap-tiap kali mereka jatuh ke dalam dosa dengan cara demikian, tetap dipelihara-Nya di dalam mereka benih-Nya yang tidak fana, yang olehnya mereka telah dilahirkan kembali, supaya benih itu tidak binasa atau terbuang. Selanjutnya sudah pasti mereka diperbarui-Nya dengan ampuh oleh Firman dan Roh-Nya, sehingga mereka bertobat. Maksudnya, supaya mereka sungguh-sungguh berdukacita menurut kehendak Allah karena dosa-dosa yang telah dilakukannya; oleh iman dan dengan hati yang patah dan remuk mereka memohon dan memperoleh pengampunan dalam darah Sang Pengantara; mereka merasakan kembali kasih karunia Allah, yang kini telah diperdamaikan dengan mereka; mereka menyembah kemurahan dan kesetiaan-Nya dan untuk selanjutnya mereka makin berusaha untuk mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan gentar.

8. Maka, bukan karena jasa atau kekuatan mereka sendiri, melainkan karena belas kasihan Allah yang diberikan dengan cuma-cuma itu mereka beroleh hal ini, yaitu bahwa mereka tidak sama sekali kehilangan iman dan kasih karunia, atau untuk selama-lamanya tinggal dalam kejatuhan mereka dan akan binasa. Sejauh tergantung pada mereka, hal itu mudah saja terjadi, bahkan tanpa ragu-ragu akan terjadi. Tetapi dari sudut Allah hal itu mustahil, sebab keputusan-Nya tidak dapat diubah, janji-Nya tidak dapat diingkari, dan panggilan menurut rencana-Nya tidak dapat dicabut; begitu pula jasa, doa syafaat, dan pemeliharaan Kristus tidak mungkin ditiadakan dan juga pemeteraian dengan Roh Kudus tidak dapat digagalkan atau dimusnahkan.

9. Orang percaya sendiri boleh yakin akan pemeliharaan orang-orang pilihan demi keselamatan mereka dan akan ketekunan iman orang yang sungguh-sungguh percaya. Mereka memang yakin akan hal itu, menurut ukuran iman yang membuat mereka percaya dengan teguh, bahwa mereka adalah anggota-anggota gereja yang sejati dan hidup, kini dan untuk selama-lamanya, dan bahwa mereka memiliki pengampunan dosa dan hidup yang kekal.

10. Jadi, kepastian itu tidak timbul dari salah satu penyataan khusus, yang berlangsung tanpa atau di luar Firman, tetapi dari hal-hal berikut: Pertama, dari kepercayaan kepada janji-janji Allah yang telah dinyatakan-Nya dengan begitu berlimpah-limpah dalam Firman-Nya demi penghiburan kita. Kemudian, dari kesaksian Roh Kudus yang bersaksi bersama dengan roh kita bahwa kita adalah anak dan ahli waris Allah. Akhirnya, dari upaya yang sungguh-sungguh dan suci untuk memelihara hati nurani yang tetap murni dan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Andaikata orang-orang pilihan Allah dalam dunia ini harus kehilangan hiburan yang teguh ini, yaitu bahwa mereka akan memperoleh kemenangan, dan andaikata mereka harus kehilangan jaminan kemuliaan yang kekal yang tak berdusta itu, maka mereka adalah orang-orang yang paling malang dari semua manusia.

11. Sementara itu, Alkitab bersaksi bahwa orang percaya selama hidup harus berjuang melawan bermacam-macam kebimbangan daging. Mereka dibuat menghadapi pencobaan yang berat sehingga tidak selalu merasakan keyakinan iman yang penuh dan kepastian tentang ketekunan ini. Tetapi Allah, sumber segala penghiburan, tidak akan membiarkan mereka dicobai melampaui kekuatan mereka, sebab di tengah pencobaan Dia memberikan juga jalan ke luar, dan oleh Roh Kudus Dia kembali merangsang di dalam mereka kepastian tentang ketekunan.

12. Akan tetapi, kepastian tentang ketekunan ini sekali-kali tidak membawa orang yang benar-benar percaya itu pada kesombongan dan ketidakacuhan menurut daging. Sebaliknya, ketekunan itu sungguh-sungguh menjadi akar kerendahan hati, keseganan seorang anak, kesalehan yang sejati, kesabaran dalam segala perjuangan, doa-doa yang berapi, ketabahan dalam memikul salib dan dalam mengaku kebenaran, serta juga sukacita yang teguh di dalam Allah. Begitu pula perenungan anugerah itu justru merangsang mereka untuk dengan sungguh-sungguh dan tetap melakukan pengucapan syukur dan perbuatan baik. Hal ini nyata dari kesaksian-kesaksian Alkitab dan dari teladan orang kudus.

13. Pada mereka yang dibangkitkan lagi sesudah jatuh ke dalam dosa, kepercayaan akan ketekunan itu tidak juga menghasilkan kecerobohan dan kealpaan dalam kesalehan, tetapi ikhtiar yang terlebih besar untuk mengikuti jalan-jalan Tuhan dengan saksama. Jalan-jalan itu telah dipersiapkan sebelumnya, supaya dengan menapakinya, mereka tetap memiliki kepastian tentang ketekunan mereka, dan supaya wajah Allah yang telah diperdamaikan dengan mereka tidak dipalingkan kembali dari mereka karena mereka telah menyalahgunakan kebaikan-Nya sebagai seorang Bapa, sehingga mereka jatuh ke dalam siksaan jiwa yang lebih berat lagi. Sebab bagi mereka yang takut akan Allah, memandang wajah-Nya itu lebih manis daripada hidup, tetapi apabila Allah menyembunyikan wajah-Nya maka bagi mereka hal itu lebih pahit daripada maut.

14. Sebagaimana Allah telah berkenan memulai pekerjaan kasih karunia-Nya itu di dalam kita oleh pemberitaan Injil, begitu pula Dia memelihara, meneruskan, dan menyelesaikan pekerjaan itu. Caranya, dengan mendengarkan, membaca, dan merenungkan Injil, dan dengan nasihat-nasihat, ancaman-ancaman, janji-janji, serta juga dengan menggunakan sakramen-sakramen kudus.

15. Ajaran tentang ketekunan orang yang sungguh-sungguh percaya dan kudus dan tentang kepastian tentang ketekunan itu, telah dinyatakan Allah dengan berlimpah-limpah dalam Firman-Nya demi kemuliaan nama-Nya dan demi penghiburan orang yang takut akan Dia, dan telah diterakan-Nya dalam hati orang percaya. Memang ajaran itu tidak dapat dipahami oleh daging, dibenci oleh iblis, diejek oleh dunia, disalahgunakan oleh mereka yang tidak memahaminya dan orang munafik, dan dibantah oleh para penyesat. Akan tetapi, mempelai perempuan Kristus senantiasa amat mengasihinya dan tetap membelanya sebagai suatu harta yang tak terkira nilainya. Allah akan menjaga, supaya ia akan berbuat seterusnya. Tidak ada rencana yang dapat dilaksanakan untuk melawan Dia dan tidak ada satu kuasa pun yang dapat bertahan terhadap Dia. Hanya Allah ini, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus, patut menerima hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.

Penolakan ajaran sesat

Setelah menguraikan ajaran ortodoks maka sinode menolak ajaran-ajaran sesat orang yang mengajar sebagai berikut:

1. Ketekunan orang-orang yang benar-benar percaya bukanlah hasil pemilihan atau pemberian Allah yang telah diperoleh melalui kematian Kristus, melainkan syarat perjanjian baru yang harus dipenuhi manusia melalui kehendaknya yang bebas, demi pemilihan dan pembenarannya yang menentukan (sebagaimana mereka menyebutnya).

Kitab Suci bersaksi, bahwa ketekunan merupakan akibat pemilihan dan diberikan kepada orang-orang pilihan oleh kekuatan kematian, kebangkitan, dan doa syafaat Kristus, 'Orang-orang yang terpilih telah memperolehnya. Dan orang-orang yang lain telah tegar hatinya' (Rom 11:7). Demikian pula, 'Dia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Dia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang telah menjadi Pembela bagi kita? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?' (Rom 8:32-35).

2. Allah memang mengaruniakan kepada orang percaya kekuatan-kekuatan yang cukup untuk bertekun, dan Dia bersedia memelihara kekuatan-kekuatan itu di dalamnya, jika orang ini menunaikan kewajibannya. Akan tetapi, setelah semua hal yang perlu untuk bertekun dalam iman dan yang kehendak Allah pakai untuk memelihara iman itu telah dipekerjakan, maka masih juga hal bertekun tidaknya manusia bergantung pada keputusan bebas kehendaknya.

Pandangan ini terang-terangan mengandung ajaran Pelagius. Maksudnya membebaskan manusia, namun pandangan ini menyebabkan manusia merampas kemuliaan Allah. Hal ini bertentangan dengan kesepakatan yang telah berlaku terus-menerus tentang ajaran Injil, yang membuat manusia kehilangan semua alasan untuk bermegah dan mengarahkan puji-pujian atas anugerah ini hanya kepada rahmat Allah semata-mata. Hal ini bertentangan juga dengan kesaksian Rasul, 'Dia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus' (1Ko 1:8).

3. Orang yang sungguh-sungguh beriman dan dilahirkan kembali dapat saja kehilangan iman yang membenarkan serta kasih karunia dan keselamatan itu secara menyeluruh dan untuk selama-lamanya. Mereka bahkan acap kali nyata-nyata kehilangan hal-hal ini dan binasa untuk selama-lamanya.

Pendapat ini meniadakan karunia pembenaran dan kelahiran kembali serta perlindungan terus-menerus oleh Kristus. Hal ini bertentangan dengan perkataan tegas Rasul Paulus, bahwa "Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah" (Rom 5:8-9). Hal ini bertentangan juga dengan apa yang dikatakan oleh Rasul Yohanes, "Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah" (1Yo 3:9). Juga dengan perkataan Yesus Kristus, "Aku memberikan hidup yang kekal kepada domba-domba-Ku dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa" (Yoh 10:28-29).

4. Orang yang sungguh-sungguh percaya dan dilahirkan kembali dapat melakukan dosa yang mendatangkan maut, atau dosa yang menentang Roh Kudus.

Dalam pasal kelima surat kirimannya yang pertama, Rasul Yohanes berbicara mengenai orang yang melakukan dosa yang mendatangkan maut, dan melarang mendoakan mereka (1Yo 5:16-17), lalu dalam ayat 18 segera ditambahkannya, "Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa" (yaitu dosa yang demikian); "tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan di jahat tidak dapat menjamahnya" (1Yo 5:18).

5. Dalam kehidupan ini, tak mungkin orang mendapat kepastian tentang ketekunannya di masa mendatang kalau tidak memperoleh penyataan khusus.

Ajaran ini mencabut hiburan teguh orang yang sungguh-sungguh percaya, yang mereka nikmati dalam hidup ini, dan kembali memasukkan kebimbangan orang Katolik Roma ke dalam Gereja. Di mana-mana Kitab Suci mengambil kepastian ini dari ciri-ciri khas anak-anak Allah, dan dari janji-janji Allah yang amat teguh, bukan dari suatu penyataan yang khusus dan luar biasa. Teristimewa Rasul Paulus, Makhluk apa pun tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (Rom 8:39). Dan Yohanes berkata, "Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Dia karuniakan kepada kita" (1Yo 3:24).

6. Ajaran tentang kepastian tentang ketekunan dan keselamatan itu pada hakikatnya bersifat "bantal bagi daging" dan merupakan bahaya bagi kesalehan, kesusilaan, doa-doa, dan semua hal lainnya, yang termasuk praktik hidup yang saleh. Sebaliknya, meragukan ajaran itu merupakan perbuatan yang terpuji.

Mereka ini memperlihatkan, bahwa mereka tidak mengenal keampuhan kasih karunia ilahi dan karya Roh Kudus yang berdiam di dalam manusia. Mereka juga membantah Rasul Yohanes yang dengan tegas mengajar yang sebaliknya, "Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci" (1Yo 3:2-3). Lagi pula ajaran ini dibantah oleh teladan orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Mereka merasa yakin akan ketekunan dan keselamatan mereka, namun tetap bertekun dalam doa dan dalam semua hal lainnya, yang termasuk praktik hidup yang saleh.

7. Iman orang-orang yang percaya untuk sementara waktu saja, tidak berbeda dari iman yang membenarkan dan yang menyelamatkan, kecuali dalam hal panjang waktunya.

Kristus sendiri dengan jelas menunjukkan tiga macam perbedaan lagi antara mereka yang hanya percaya untuk sementara waktu dan orang-orang yang benar-benar percaya. Dalam Mat 13:20 dyb. dan Luk 8:13 dyb. dikatakanNya, bahwa orang-orang yang percaya untuk sementara waktu menerima benih di tanah yang berbatu-batu; mereka tidak berakar dan tidak berbuah. SebaliknYa, orang-orang yang benar-benar percaya menerima benih di tanah yang baik atau di dalam hati yang baik; mereka berakar kuat dan dengan tiada henti-hentinya serta tekun menghasilkan buah, meskipun tidak sama jumlahnya.

8. Apabila manusia telah kehilangan kelahiran kembali yang pertama, maka tidak mustahil ia dilahirkan kembali sekali lagi, bahkan beberapa kati.

Melalui ajaran ini, mereka menyangkal ketidakfanaan benih Allah, yang olehnya kita dilahirkan kembali. Hal ini bertentangan dengan kesaksian Rasul Petrus, "Kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana" (1Pe 1:23).

9. Kristus tidak pernah berdoa, agar supaya orang-orang beriman akan bertekun dalam iman dengan tak tergagalkan.

Mereka membantah perkataan Kristus sendiri, "Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur" (Luk 22:32). Mereka juga membantah kesaksian pengarang Injil Yohanes, yaitu bahwa Kristus telah berdoa bukan hanya untuk rasul-rasul, tetapi juga untuk semua orang yang akan menjadi percaya melalui pemberitaan para rasul itu, "Ya Bapa yang kudus, Peliharalah mereka dalam nama-Mu; Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat (Yoh 17:11,15,20)."

KATA PENUTUP

Inilah uraian yang jelas, sederhana, dan jujur tentang ajaran ortodoks sehubungan dengan Kelima Pasal yang sedang dipersoalkan di Negeri Belanda, beserta penolakan ajaran-ajaran sesat yang telah menyebabkan Gereja-gereja Belanda dikacaukan selama beberapa waktu. Sinode berpendapat, uraian dan penolakan ini diambil dari Firman AllaH dan sesuai dengan pengakuan iman Gereja-gereja Reformasi. Dari sini nyatalah dengan jelas, bahwa, bertentangan dengan segala kebenaran, keadilan, dan kasih, orang-orang Yang justru sama sekali tidakpatut berbuat demikian telah berikhtiar membohongi rakyat dengan menyatakan:

Ajaran Gereja-gereja Reformasi mengenai Predestinasi dan mengenai pokok pokok yang berhubungan dengannya, karena sifatnya sendiri dan disebabkan dinamikanya sendiri, sama sekali mengasingkan hati manusia dari kesalehan dan peribadatan. Ajaran ini merupakan 'bantal bagi daging dan iblis' serta perbentengan iblis, dan menjadi titik tolaknya dalam menghadang semua orang, melukai kebanyakan orang, dan mematikan banyak orang dengan panah-panah keputusasaan atau ketidakacuhan.

Ajaran ini menjadikan Allah Pembuat dosa, Allah yang tidak adil, lalim, dan munafik. Ajaran ini tidak lain dan tidak bukan pembaruan ajaran Stoa,(1) Mani,(2) kaum Libertin,(3) dan Islam.

Ajaran ini membawa orang-orang kepada ketidakacuhan yang jasmani, karena mereka akan membohongi diri mereka, seakan-akan cara hidup orang pilihan sama sekali tidak menentukan keselamatan mereka, sehingga mereka dengan tenang saja boleh melakukan segala macam kejahatan yang ngeri.

Adapun mereka yang telah ditolak, sekalipun mereka sungguh-sungguh melaksanakan segala perbuatan orang-orang kudus, hal itu tidak mungkinbermanfaat bagi keselamatan mereka.

Dengan ajaran ini dikatakan bahwa Allah, hanya karena tindakan sewenang-wenang kehendak-Nya saja, tanpa memperhatikan atau mempedulikan dosa apa pun, telah menentukan dan menciptakan bagian terbesar dunia ini, bagi kebinasaan yang kekal.

Penolakan adalah penyebab ketidakpercayaan dan kefasikan, sama seperti pemilihan adalah sumber dan penyebab iman serta perbuatan yang baik.

Allah merenggut banyak anak orang percaya yang tak bersalah dari susu ibunya dan dengan lalim membuang mereka ke dalam api neraka, sehingga baik darah Kristus, maupun pembaptisan atau doa Gereja waktu mereka dibaptis tidak mungkin bermanfaat bagi mereka.

Dan banyak tuduhan sejenis, yang tidak termasuk pengakuan iman Gereja-gereja Reformasi, bahkan sama sekali ditolak Gereja-gereja itu dengan rasa jijik.

Itulah sebabnya Sinode Dordrecht ini meminta dengan mendesak, demi nama Tuhan, kepada semua orang yang dengan saleh memanggil nama Juruselamat kita Yesus Kristus, agar supaya mereka jangan menilai iman Gereja-gereja Reformasi atas dasar fitnah yang dikumpulkan dari sana sini, jangan juga atas dasar perkataan pribadi beberapa guru lama atau baru, yang sering dikutip dengan itikad jahat, diputarbalikkan, dan diterangkan dengan salah. Hendaklah mereka menilai iman Gereja-gereja Reformasi berdasarkan karangan-karangan pengakuan iman yang umum dari Gereja-gereja itu sendiri dan berdasarkan uraian ini mengenai ajaran yang benar, yang telah ditetapkan dengan persetujuan tiap-tiap anggota seluruh Sinode.

Selanjutnya Sinode dengan sungguh-sungguh menegur para pemfitnah agar mempertimbangkan betapa beratnya hukuman Allah yang mereka datangkan atas diri mereka sendiri, mereka yang mengucapkan kesaksian dusta terhadap sedemikian banyak gereja dan terhadap karangan-karangan pengakuan iman sedemikian banyak gereja, yang menggelisahkan hati nurani orang-orang yang imannya lemah dan yang berupaya untuk membuat banyak orang merasa curiga terhadap persekutuan orang yang benar-benar percaya.

Akhirnya Sinode ini mendorong semua rekan Pelayan dalam Injil Kristus, supaya mereka bertindak saleh dan alim bilamana mengupas ajaran ini di sekolah-sekolah dan di gereja-gereja. Hendaklah mereka mengarahkannya, baik secara lisan maupun secara tertulis, kepada kemuliaan Nama Allah, kesucian hidup, dan penghiburan hati yang hancur. Hendaklah juga dalam pikiran dan bicara mereka berpegang pada Alkitab, sesuai dengan kesepakatan bersama tentang iman. Akhirnya, hendaklah mereka menahan diri dari setiap cara bicara yang melewati batas-batas yang telah ditetapkan bagi kita dalam hal menentukan arti sebenarnya Kitab-kitab Suci, dan yang dapat menyediakan alasan yang wajar bagi orang yang suka menggunakan penalaran yang muluk-muluk tetapi menyesatkan, untuk menista atau memfitnah ajaran Gereja-gereja Reformasi.

Kami berdoa supaya Anak Allah, Yesus Kristus, yang sedang duduk di sebelah kanan Bapa-Nya dan yang memberi karunia-karunia kepada manusia, menguduskan kita dalam kebenaran, membawa mereka yang telah sesat itu kembali kepada kebenaran, menutupi mulut orang yang memfitnah ajaran sehat, dan mengaruniakan Roh hikmat dan pengertian kepada pelayan-pelayan Firman-Nya yang setia, agar semua perkataan mereka berguna bagi kemuliaan Allah dan bagi pembinaan para pendengarnya. Amin.

Pengakuan Iman Westminster (1647)

Pada tahun 1642 mulailah di negeri Inggris perang saudara antara Raja Charles I dan Parlemen, yang berakhir dengan pelaksanaan hukuman mati atas Charles pada tahun 1649 dan dengan pengumuman Republik (Commonwealth). Kekuatan oposisi sebagian besar terdiri dari kaum Puritan (mereka yang ingin menghilangkan segala ketidakmurnian dari gereja, dari Latin purus=murni), yaitu para penganut Calvinisme, namun berbeda pendapat dalam hal tata gereja dan peranan negara di dalam gereja. Kaum Puritan berhasil menghapuskan jabatan uskup dalam Gereja Anglikan, dan memulai reformasi tuntas gereja itu dalam Sinode Westminster (1643-1647), Westminster adalah gedung gereja di kota London). Dalam sinode itu kaum Puritan merupakan kekuatan dominan. Pada tahun 1648 sinode menerima karangan pengakuan iman yang baru(yang telah disusun dua tahun dua tahun sebelumnya), yang sama sekali berjiwa Calvinis. Dalam Gereja Inggris, pengakuan iman Westminster itu sama seperti tata gereja presbiterial, hanya berlaku selama beberapa tahun. Pada tahun 1660 putera sulung Charles I diakui sebagai Raja Inggris dengan nama Charles II, dan reformasi Gereja Anglikan ditiadakan. Akan tetapi sementara itu Gereja Presbiterian di Skotlandia menerima pula Pengakuan iman Westminster(1646). Dan dalam abad-abad yang berikut semua gereja yang serumpun dengannya dalam dunia berbahasa Inggris ikut menerimanya, sehingga pengakuan iman Westminster merupakan pengakuan iman yang paling tersebar luas dalam lingkungan Calvinisme.

Acuan ke nas-nas Alkitab berbeda-beda dalam berbagai edisi Pengakuan iman Westminster yang ada; kami mengambilnya dari edisi kritis terbitan S.W. Carruther, The Westminster Confenssion of Faith, Manchester [1938].

Bab I. Kitab Suci

1. Terang alam dan karya-karya penciptaan serta pemeliharaan memperlihatkan kebaikan hikmat, dan kuasa Allah sedemikian rupa, hingga manusia tidak dapat berdalih. [a]"Namun, semua ini tidak cukup untuk memberi pengetahuan mengenai Allah dan kehendak-Nya yang perlu untuk keselamatan.[b] Oleh karena itu, Tuhan berkenan menyatakan diri dan menampakkan kehendak-Nya itu kepada Gereja-Nya pada berbagai masa serta dengan berbagai cara,[c]dan kemudian menyajikannya seluruhnya secara tertulis, dengan maksud supaya kebenaran dipelihara dan disebarkan dengan lebih baik dan supaya Gereja diteguhkan dan dihibur berhadapan dengan godaan daging dan dengan kebencian Iblis serta dunia.[d] Maka itu, Kitab Suci sangat perlu,[e] sebab cara-cara yang dulu Allah pakai untuk menyatakan kehendak kehendak-Nya kepada umat-Nya kini telah berhenti.[f]

a. Rom 2:14-15; 1:19-20; Maz 19:1-3; Rom 1:32 dan Rom 2:1. b. 1Ko 1:21; 1Ko 2:13-14. c. Ibr 1:1. d. Ams 22:19-21; Luk 1:3-4; Rom 15:4; Mat 4:4,7,10; Yes 8:19-20. e. 2Ti 3:15; 2Pe 1:19. f. Ibr 1:1-2.

2. Dalam apa yang dinamakan Kitab Suci atau Firman Allah yang tertulis, kini dicakup semua Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yaitu yang ini: Dalam Perjanjian Lama: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-hakim, Rut, 1 Samuel, 2 Samuel, 1 Raja-Raja, 2 Raja-Raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Ezra, Nehemia, Ester, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.

Dalam Perjanjian Baru: Injil menurut Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Kisah Para Rasul, Surat Paulus kepada jemaat di Roma, 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 Tesalonika, 2 Tesalonika, 1 Timotius, 2 Timotius, Titus, Filemon, Surat kepada orang Ibrani, Surat Yakobus, Surat Petrus yang pertama dan kedua, Surat Yohanes yang pertama, kedua, dan ketiga, Surat Yudas, Wahyu.

Semua Kitab itu diberikan melalui ilham dari Allah, agar menjadi patokan iman dan kehidupan.(a)

a. Luk 16:29, 31; Efe 2:20; Wah 22:18-19; 2Ti 3:16.

3. Kitab-Kitab yang lazim dinamakan Kitab-Kitab Apokrif tidak diilhami oleh Allah, dan sebab itu tidak termasuk Kanon Alkitab. Oleh karena itu, kitab-kitab tersebut tidak berwibawa dalam Gereja Allah dan seharusnya tidak diterima secara resmi atau digunakan dengan cara lain dari tulisan-tulisan manusiawi lainnya.(a)

a. Luk 24:27,44; Rom 3:2; 2Pe 1:21.

4. Wibawa Kitab Suci, yang membuatnya layak dipercayai dan dipatuhi, tidak tergantung pada kesaksian seorang pun atau gereja apa pun, tetapi seluruhnya tergantung pada Allah, Pengarangnya(yang adalah kebenaran sendiri). Oleh karena itu, Kitab Suci itu harus diterima, sebab Kitab itu adalah Firman Allah."

a. 2Pe 1:19-20; 2Ti 3:16; 1Yo 5:9; 1Te 2:13.

5. Kita boleh saja terdorong dan terbawa untuk memandang tinggi dan menghormati Kitab Suci oleh kesaksian Gereja.[a] Lagi pula, sejumlah alasan lain lagi menghasilkan bukti berlimpah-limpah bahwa Kitab Suci itu Firman Allah, yaitu sifat surgawi isinya, keampuhan ajarannya, keluhuran gaya bahasanya, keselarasan semua bagiannya, tujuan keseluruhannya (yakni memberi segala kemuliaan kepada Allah), disingkapkannya sepenuhnya satu-satunya jalan keselamatan untuk manusia, keunggulannya yang tidak tertandingi dari sejumlah besar segi lain, dan kesempurnaannya yang genap. Kendati demikian, kita yakin dan pasti sepenuhnya tentang kebenarannya yang tidak bisa mengandung kesalahan dan tentang wibawanya yang ilahi, berdasarkan karya Roh Kudus dalam batin kita, yang memberi kesaksian melalui dan bersama Firman itu dalam hati kita.[b]

a. 2Ti 3:15-17. b. 1Yo 2:20,27; Yoh 16:13-14; 1Ko 2:10-12; Yes 59:21.

6. Seluruh rencana Allah mengenai segala sesuatu yang perlu demi kemuliaan-Nya sendiri dan demi keselamatan, iman, serta kehidupan manusia, tercantum secara tersurat dalam Alkitab atau dapat dijabarkan dari Alkitab melalui penalaran yang tepat dan tak terelakkan.

Kapan pun, tidak satu pun boleh ditambahkan padanya, apakah oleh wahyu-wahyu baru dari Roh, atau oleh tradisi-tradisi manusia.[a] Meskipun demikian, kami mengakui bahwa diperlukan penerangan batin oleh Roh Allah agar kita memahami hal-hal yang dinyatakan dalam Firman dan dengan demikian memperoleh keselamatan.[b] Kami mengakui pula bahwa dalam ibadah kepada Allah dan dalam pemerintahan oleh Gereja terdapat situasi yang serupa dengan yang pada galibnya muncul dalam urusan manusiawi dan dalam masyarakat umum. Hal-hal seperti itu harus diatur dengan memakai terang kodrati dan kebijaksanaan Kristen, menurut kaidah-kaidah umum dalam Firman, yang senantiasa perlu diperhatikan.[c]

a. 2Ti 3:15-17; Gal 1:8-9; 2Te 2:2; b. Yoh 6:45; 1Ko 2:9-12. c. 1Ko 11:13-14; 14:26,40.

7. Tidak semua hal dalam Alkitab sama-sama jelas dengan sendirinya, sama-sama terang bagi semua orang.[a] Akan tetapi, hal-hal yang perlu diketahui, dipercayai, dan dipatuhi demi keselamatan dikemukakan dan disingkapkan dengan begitu jelas dalam salah satu bagiannya, sehingga baik orang berpendidikan maupun orang yang tidak berpendidikan, sanggup mencapai pengertian memadai tentangnya.[b]

a. 2Pe 3:16. b. Maz 119:105, 130.

8. Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani(bahasa ibu umat Allah pada zaman dulu) dan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani (yang ada pada masa Perjanjian Baru ditulis umum dikenal bangsa-bangsa) diilhamkan secara langsung oleh Allah. Dia menjaga juga, melalui perhatian dan pemeliharaan-Nya yang khusus, supaya keduanya tetap murni sepanjang zaman. Oleh karena itu, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu autentik,[a] sehingga, bila timbul perselisihan pendapat dalam hal agama, Gereja selalu harus menjadikannya sebagai instansi banding yang tertinggi.[b] Tetapi, bahasa-bahasa asli itu tidak dikenal oleh seluruh umat Allah, padahal umat itu berhak atas Alkitab dan Alkitab itu penting bagi mereka, dan mereka diperintahkan membaca serta menyelidikinya dengan rasa takut kepada Allah.[c] Oleh karena itu, bila Alkitab datang kepada sesuatu bangsa, orang wajib menerjemahkannya ke dalam bahasa rakyat,[e] supaya Firman Allah diam secara berlimpah dalam semua orang, sehingga mereka menyembah Dia dengan cara yang dapat berkenan kepada-Nya dan mempunyai pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.[f]

a. Mat 5:18. b. Yes 8:20; Kis 15:15; Yoh 5:39,46. c. Yoh 5:39. d. 1Ko 14:6,9,11-12,24,27-28. e. Kol 3:16; Rom 15:4.

9. Yang menjadi kaidah yang tidak dapat keliru dalam menafsirkan Alkitab ialah Alkitab itu sendiri. Oleh karena itu, bila timbul persoalan berkenaan dengan arti yang sebenarnya dan genap salah satu nas Alkitab - arti itu bukannya jamak, melainkan tanggal - maka nas itu harus diselidiki dan dipahami melalui nas-nas lain, yang berbicara lebih jelas.

a. 2Pe 1:20-21; Kis 15:15-16.

10. Hakim Tertinggi, yang olehnya semua perselisihan pendapat perihal agama mesti diputuskan, dan semua dekret konsili-konsili, pendapat pengarang-pengarang kuno, ajaran manusia, dan ucapan-ucapan Roh melalui orang-orang perseorangan [1] harus diperiksa, dan yang keputusan-Nya wajib kita terima dengan patuh, tidak lain adalah Roh Kudus, yang bersabda dalam Alkitab.[a]

a. Mat 22:29, 31; Efe 2:20 bersama Kis 28:25.

Bab II. Allah dan Trinitas yang Kudus

1. Hanya ada satu [a] Allah yang esa,yang hidup dan sejati. [b] Zat-Nya dan kesempurnaan-Nya tidak terbatas;[c] Dia adalah Roh yang maha murni.[d]tidak kelihatan,[e] tidak memiliki badan, anggota-anggota badan, [f]atau bernafsu, [g] tidak berubah-ubah;[h] tidak terhingga, [i] abadi,[j]tidak terpahami; [k] mahakuasa, [l]berhikmat sempurna,[m]mahakudus,[n]mahabebas,(O)mahamutlak. [p]Dia menjadikan segala sesuatu demi kemulian-Nya sendiri[q]menurut rencana kehendak- Nyayang tidak berubah-ubah dan mahaadil. [r]Dia mahapengasih,[s] mahamurah,penyayang, panjang sabar, berlimpah kebaikan dan kebenaran-Nya. Dia mengampuni kesalahan, pelanggarang, dan dosa.[t] Dia adalah Pemberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.[u] Tetapi juga mahaadil dan mahadasyat dalam hukuman-hukuman-Nya;[v]Dia membenci segala dosa,[w] dan sekali-kali tidak akan membebaskan orang yang bersalah dari hukuman.[x]

a. Ula 6:4; 1Ko 8:4,6. b. 1Te 1:9; Yer 10:10. c. Ayu 11:7-9; Ayu 26:14. d. Yoh 4:24. e. 1Ti 1:17. f. Ula 4:15-16; Yoh 4:24 bersama Luk 24:39. g. Kis 14:11,15. h. Yak 1:17; Mal 3:6. i. 1Ra 8:27; Yer 23:23-24. j. Maz 90:2; 1Ti 1:17. k. Maz 145:3. l. Kej 17:1; Wah 4:8. m. Rom 16:27. n. Yes 6:3; Wah 4:8. o. Maz 115:3. p. Kel 3:14. q. Ams 16:4; Rom 11:36. r. Efe 1:11. s. 1Yo 4:8,16. t. Kel 34:6-7. u. Ibr 11:6. v. Neh 9:32-33. w. Maz 5:5-6. x. Nah 1:2-3; Kel 34:7.

2. Allah mempunyai seluruh hidup,[a]kemuliaan, [b]kebaikan, [c]kebahagiaan,[d] dari dalam diri-Nya serta tidak memerlukan makhluk apa pun yang telah dijadikan- Nya [e]dan tidak mendapatkan kemuliaan apa pun dari mereka, [f] tetapi hanya memperlihatkan kemuliaan-Nya sendiri di dalam, melalui, untuk dan terhadap mereka. Hanya Dia saja sumber segala sesuatu yang ada. Segala sesuatu adalah dari Dia; oleh Dia, dan kepada Dia, [g] dan Dia berdaulat mutlak atasnya sehingga dapat berbuat olehnya, untuknya, atau terhadapnya apa saja yang berkenan kepada-Nya. [h]Dalam pandangan-Nya semua hal terbuka dan nyata. [i]Pengetahuan-Nya tak mengenal batas, tak dapat keliru dan tidak tergantung pada makhluk,[j] sehingga bagi-Nya tidak ada yang kebetulan atau tak pasti.[k] Dia mahakudus dalam segala perintah-Nya. [l] Kepada-Nya layak diberikan oleh malaikat, atau kepatuhan apa pun yang berkenaan kepada-Nya untuk menuntutnya dari mereka.[m]

a. Yoh 5:26. b. Kis 7:2. c. Maz 119:68. d. 1Ti 6:15; Rom 9:5. e. Kis 17:24-25. f. Ayu 22:2-3. g. Rom 11:36. h. Wah 4:11; 1Ti 6:15; Dan 4:25,35. i. Ibr 4:13. j. Rom 11:33-3; Maz 147:5. k. Kis 15:18; Yeh 11:5. l. Maz 145:17; Rom 7:12. m. Wah 5:12-14.

3. Dalam kesatuan keAllahan ada tiga Pribadi, yang satu dalam hal Zat-Nya, kuasa-Nya, dan kekekalan-Nya, yaitu Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus,[a] Sang Bapa tidak berasal dari siapa pun, tidak diperanakkan dan tidak keluar; Sang Anak secara kekal diperanakkan dari Sang Bapa;[b] Roh Kudus secara kekal keluar dari Sang Bapa dan Sang Anak.[c]

a. 1Yo 5:7; Mat 3:16-17; 28:12; 2Ko 13;14; lihat Efe 2:18. b. Yoh 1:14,18. c. Yoh 15:26; Gal 4:6.

Bab III. Putusan Allah yang Kekal

1. Allah, dari kekal, telah menetapkan segala sesuatu yang terjadi, melalui rencana kehendak-Nya sendiri yang berhikmat sempurna dan mahakudus, dengan bebas dan tidak dapat diubah-ubah. [a] Namun, dengan demikian Allah tidak menjadi Penyebab dosa, [b] kehendak makhluk tidak diperkosa, dan kebebasan atau sifat kebetulan sebab-sebab sekunder[1] tidak dihapuskan, malah diteguhkan. [c]

a. Efe 1:11; Rom 11:33; Ibr 6:17; Rom 9:15,18. b. Yak 1:13,17; 1Yo 1:5. c. Kis 2:23; Mat 17:12; Kis 4:27,28; Yoh 19:11; Ams 16:33.

2. Meskipun Allah mengetahui segala sesuatu yan8g akan atau dapat terjadi dalam keadaan apa pun yang dapat diandaikan,[a] Dia tidak memutuskan sesuatu apa pun karena dilihat-Nya lebih dahulu bahwa hal itu bakal berlangsung, atau akan terjadi kalau keadaan ini atau itu berlaku.[b]

a. Kis 15:18; 1Sa 23:11-12; Mat 11:21,23. b. Rom 9:11,13,16,18.

3. Oleh keputusan Allah, demi pernyataan kemuliaan-Nya, beberapa orang dan malaikat[a] dipredestinasi untuk kehidupan yang kekal, beberapa lagi telah dari semula telah ditentukan untuk kematian yang kekal. [b]

a. 1Ti 5:21; Mat 25:41. b. Rom 9:22-23; Efe 1:5-6; Ams 16:4.

4. Malaikat-malaikat dan orang-orang yang telah dipredestinasikan dan dari semula ditentukan dengan demikian itu, ditunjukkan secara khusus dan penunjukan itu tidak mungkin diubah. Jumlah mereka begitu pasti dan definitif, sehingga tidak dapat ditambahkan atau dikurangkan. [a]

a. 1Ti 5:21; Mat 25:41. b. Rom 9:22-23; Efe 1:5-6; Ams 16:4.

4. Malaikat-malaikat dan orang-orang yang telah dipredestinasikan dan dari semula ditentukan dengan demikian itu, ditunjukkan secara khusus dan penunjukan itu tidak mungkin diubah. Jumlah mereka begitu pasti dan definitif, sehingga tidak dapat ditambahkan atau dikurangkan.[a]

a. 2Ti 2:19; Yoh 13:18.

5. Anggota umat manusia yang dipredestinasi untuk kehidupan, telah dipilih Allah sebelum dasar dunia diletakkan, menurut maksud-Nya yang kekal dan yang tak dapat berubah-ubah, dan menurut rencana yang tersembunyi serta perkenan kehendak-Nya. Dia telah memilih mereka di dalam Kristus untuk menerima kemuliaan kekal,[a]semata-mata berdasarkan rahmat-Nya yang cuma-cuma dan kasih-Nya. Iman, atau perbuatan baik, atau ketekunan dalam iman atau perbuatan baik itu, atau hal lain apapun yang bagaimanapun dilihat-Nya lebih dahulu alam makhluk, tidak mungkin menjadi syarat atau sebab yang mendorong Dia untuk berbuat begitu.[b] Semua itu dilakukan-Nya demi pujian rahmat-Nya yang mulia.[c]

a. Efe 1:4,9,11; Rom 8:30; 2Ti 1:9; 1Te 5:9. b. Rom 9:11,13,15-16; Efe 1:4,9. c. Efe 1:6,12.

6. Sebagaimana Allah telah menentukan orang-orang terpilih untuk kemuliaan, begitu pula, oleh maksud kekal dan mahabebas kehendak-Nya, telah ditentukan-Nya dari semula semua sarana untuk itu.[a] Oleh karena itu, orang terpilih, yang telah jatuh dalam diri Adam, ditebus oleh Kristus,[b] dipanggil dengan ampuh untuk percaya kepada Kristus oleh Roh-Nya yang bekerja pada waktu yang tepat, dibenarkan, diangkat menjadi anak, dikuduskan,[c] dan dipelihara oleh kekuatan- Nya melalui iman, hingga menerima keselamatan.[d] Tidak ada yang ditebus oleh Kristus, dipanggil dengan ampuh, dibenarkan, diangkat menjadi anak, dikuduskan, dan diselamatkan selain mereka yang dipilih saja.[e]

a. 1Pe 1:1-2; Efe 1:4-5; 2:10; 2Te 2:13. b. 1Te 5:9-10; Tit 2:14. c. Rom 8:30; Efe 1:5; 2Te 2:13. d. 1Pe 1:5. e. Yoh 17:9; Rom 8:28-39; Yoh 6:64-65; 10:26; Yoh 8:47; 1Yo 2:19.

7. Menurut rencana kehendak-Nya yang tidak terselami, yang membuat Dia mengulurkan atau menahan anugerah menurut perkenan-Nya, demi kemuliaan kedaualatan-Nya atas makhluk-Nya, Allah telah berkenan untuk melewatkan umat manusia selebihnya, dan menentukan agar mereka dikenai keaiban dan murka atas dosa mereka, demi pujian keadilan-Nya yang mulia.[a]

a. Mat 11:25-26; Rom 9:17-18,21-22; 2Ti 2:19-20; Yud 1:4; 1Pe 2:8.

8. Ajaran tentang misteri luhur ini, yaitu predestinasi, harus diuraikan dengan kearifan yang khusus dan sangat hati-hati,[a] supaya orang-orang yang menaruh perhatian kepada kehendak Allah yang dinyatakan dalam Firman-Nya, dan yang mematuhinya, boleh menimba keyakinan akan pemilihan kekal mereka dari kepastian panggilan mereka yang ampuh.[b] Maka itu, ajaran ini akan menyediakan bahan pujian, penghormatan, dan kekaguman terhadap Allah, [c] dan kerendahan hati, kerajinan, dan penghiburan berlimpah bagi semua orang yang sungguh-sungguh taat kepada Injil.[d]

a. Rom 9:20; 11:33; Ula 29:29. b. 2Pe 1:10. c. Efe 1:6; Rom 11:33. d. Rom 11:5, 6, 20; 2Pe 1:10; Rom 8:33; Luk 10:20.

Bab IV. Penciptaan

1. Allah, Bapa, Anak, dan Roh Kudus [a] telah berkenan, demi penyataan kemuliaan kekuasaan, hikmat, dan kebaikan-Nya yang kekal, [b] pada mulanya menciptakan, artinya menjadikan dari yang tiada dunia beserta segala isinya yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, dalam waktu enam hari, dan semuanya sungguh amat baik.[c]

a. Ibr 1:2; Yoh 1:2-3; Kej 1:2; Ayu 26:13; 33:4. b. Rom 1:20; Yer 10:12; Maz 104:24; 33:5-6. c. Kej 1:1-31; Ibr 11:3; Kol 1:16; Kis 17:24.

2. Setelah Allah menjadikan semua makhluk lainnya, Dia menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan, [a] dengan jiwa yang berbudi dan tak dapat mati,[b] diperlengkapi dengan pengetahuan, kebenaran dan kekudusan sejati, menurut gambar-Nya sendiri,[c] dengan isi hukum Allah tertulis dalam hati mereka[d] dan dengan kemampuan memenuhinya.[e] Namun, manusia itu dapat melakukannya sendiri, yang dapat mengalami perubahan. [f] Di samping hukum ini, yang tertulis dalam hatinya, mereka diperintahkan untuk tidak makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Selama dengan mematuhi perintah itu, mereka berbahagia oleh persekutuan dengan Allah,[g] dan mereka berkuasa atas segala makhluk.[h]

a. Kej 1:27. b. Kej 2:7 bersama Pengk 12:7 dan Luk 23:43 serta Mat 10:28. c. Kej 1:26; Kol 3:10; Efe 4:24. d. Rom 2:14-15. e. Pengk 7:29. f. Kej 3:6, 17; Pengk 7:29. g. Kej 2:17; 3:8-11, 23. h. Kej 1:26, 28.

Bab V. Pemeliharaan

1. Allah, Pencipta Agung segala sesuatu, menopang,[a] mengendalikan, mengatur, dan memerintah semua makhluk, kejadian, dan dalam hal,[b] dari yang paling besar hingga yang paling kecil,[c] melalui pemeliharaan-Nya yang berhikmat sempurna dan mahakudus, [d] menurut pra-pengetahuan-Nya yang tidak dapat keliru,[e] dan menurut rencana kehendak-Nya sendiri, yang bebas dan tak dapat berubah-ubah,[f] agar kemuliaan hikmat, kuasa, keadilan, kebaikan, dan kemurahan dipuji-puji.[g]

a. Ibr 1:3. b. Dan 4:34-35; Maz 135:6; Kis 17:25,26,28; Ayu 38:1-41:34. c. Mat 10:29-31. d. Ams 15:3; Maz 104:24; 145:17. e. Kis 15:18; Maz 94:8-11. f. Efe 1:11; Maz 33:10-11. g. Yes 63:14; Efe 3:10; Rom 9:17; Kej 45:7; Maz 145:7.

2. Dari sudut pandangan pra-pengetahuan dan dekret Allah, yang adalah Penyebab pertama, semua hal berlangsung dengan cara yang tidak dapat diubah atau digagalkan.[a] Namun, oleh pemeliharaan yang sama, ditetapkan-Nya agar semua hal itu terjadi secara mutlak perlu, bebas, atau kebetulan, sesuai dengan sifat sebab-sebab sekunder.[b]

a. Kis 2:23. b. Kej 8:22; Yer 31:35; Kel 21:13 bersama Ula 19:5; 1Ra 22:28, 34; Yes 10:6,7.

3. Dalam pemeliharaan-Nya yang biasa, Allah menggunakan sarana-sarana.[a] Kendati demikian, Dia bebas berkarya di luar.[b] di atas,[c] dan bertentangan dengannya, menurut perkenan-Nya.[d]

a. Kis 27:31, 44; Yes 55:10-11; Hos 2:20-21. b. Hos 1:7; Mat 4:4; Ayu 34:20. c. Rom 4:19-21. d. 2Ra 6:6; Dan 3:27.

4. Kuasa Allah yang mahakuat, hikmat-Nya yang tidak terselami, dan kebaikan-Nya yang tidak terhingga tampak dalam pemeliharan-Nya sedemikian rupa, hingga bahkan juga meliputi kejatuhan pertama dan semua dosa itu dibiarkan saja.[b] Sebaliknya, Dia membiarkan dosa-dosa itu sekaligus membatasinya dengan cara yang berhikmat sempurna dan mahakuat,[c] dan selain itu mengatur dan mengendalikannya, dengan perencanaan yang beraneka ragam, demi tujuan-Nya yang kudus. [d] Sekalipun demikian, sifatnya yang berdosa datang dari makhluk, bukan dari Allah, sebab Dia, yang adalah mahakudus dan mahaadil, tidak mungkin menyebabkan atau membenarkan dosa.[e]

a. Rom 11:32-34; 2Sa 24:1 bersama 1Ta 21:1; 1Ra 22:22-23; 1Ta 10:4,13-14; 2Sa 16:10; Kis 2:23; 4:27-28. b. Kis 14:16. c. Maz 76:10; 2Ra 19:28. d. Kej 50:20; Yes 10:6-7,12. e. Yak 1:13-14,17; 1Yo 2:16; Maz 50:21.

5. Allah yang berhikmat sempurna, mahaadil, dan mahamurah itu sering membiarkan anak-anak-Nya untuk sementara waktu menghadapi berbagai godaan dan kerusakan hati mereka sendiri, untuk menghukum mereka atas dosa-dosa mereka di masa lalu atau untuk membuka mata mereka bagi kekuatan tersembunyi kerusakan dan tipu daya hatinya. Maksud-Nya agar mereka dibuat rendah hati, [a] dan untuk membuat mereka semakin erat dan terus menerus tergantung pada sokongan dari diri-Nya, dan semakin waspada terhadap segala kesempatan berdosa yang bakal timbul. Di samping itu, ada lagi berbagai tujuan lain yang adil serta kudus.[b]

a. 2Taw 32:25-26,31; 2Sa 24:1. b. 2Ko 12:7-9; Maz 73:1-28; 77:1-12; Mar 14:66-72 bersama Yoh 21:15-17.

6. Hati orang-orang jahat dan fasik dibutakan dan ditegarkan Allah, [a] selaku Hakim yang adil, karena dosanya di masa lalu. Dia menahan anugerah-Nya dari mereka, yang sanggup menerangi akal budi mereka dan mempengaruhi hati mereka.;[b] adakalanya Dia malah mencabut pemberian yang telah mereka peroleh,[c] dan menghadapkan mereka pada hal-hal yang, karena kerusakan mereka, menjadi alasan untuk berdosa. [d] serta menyerahkan mereka pada hawa nafsu mereka sendiri, godaan dunia, dan kuasa iblis.[e] Oleh karena itu, hati mereka malah bertambah keras, pun sementara mereka berada dalam lingkungan pengaruh sarana- sarana yang Allah pakai untuk memperlunak hati orang-orang lain.[f]

a. Rom 1:24,26,28; 11:7-8. b. Ula 29:4. c. Mat 13:12; 25:29. d. Ula 2:30; 2Ra 8:12-13. e. Maz 81:12-13; 2Te 2:10-12. f. Kel 7:3 bersama Kel 8:15, 32; 2Ko 2;15-16; Yes 8:14; 1Pe 2:7-8; Yes 6:9-10 bersama Kis 28:26-27.

7. Sebagaimana pemeliharaan Allah secara umum menjangkau semua makhluk, begitu juga dengan cara yang sangat istimewa pemeliharaan itu mengasuh Gereja-Nya dan mengatur segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi Gereja itu.[a]

a. 1Ti 4:10; Amo 9:8-9; Rom 4:8; Yes 43:3-5, 14.

Bab VI. Kejatuhan manusia, dosa, dan hukuman atas dosa itu

1. Nenek moyang kita yang pertama dibujuk oleh kelicikan dan godaan iblis, dan berdoa dengan memakan buah yang terlarang.[a] Allah berkenan, menurut rencana- Nya yang hikmat dan kudus, membiarkan dosa mereka itu terjadi, sebab dia bermaksud hendak memberinya tempat demi kemuliaan-Nya sendiri.[b]

a. Kej 3:13; 2Ko 11:3. b. Rom 11:32.

2. Oleh dosa itu mereka jatuh sehingga kehilangan kebenaran mereka yang semula dan persekutuan dengan Allah. [a] Dengan demikian mereka mati dalam dosa[b]dan sama sekali tercemar dalam segala bakat serta bagian jiwa dan tubuh mereka.[c]

a. Kej 3:6-8; Pengk 7:29; Rom 3:23. b. Kej 2:17; Efe 2:1. c. Tit 1:15; Kej 6:5; Yer 17:9; Rom 3:10-19.

3. Oleh karena mereka adalah cikal bakal seluruh umat manusia maka kesalahan yang disebabkan dosa ini dianggap sebagai kesalahan seluruh keturunannya, [a] yang berasal dari mereka karena diperanakkan dengan cara yang biasa.[b], dan kematian dalam dosa dan kodrat yang rusak itu diteruskan kepada mereka ini.

a. Kej 1:27-28 dan Kej 2:16, 17 serta Kis 17:26 bersama Rom 5:12, 15-19 dan 1Ko 15:21, 22, 49. b. Maz 51:5; Kej 5:3; Ayu 14:4; Ayu 15:14.

4. Kerusakan semula ini membuat kita sama sekali kehilangan kemampuan dan kekuatan kita serta menentang segala kebaikan,[a] dan dengan senang hati melakukan apa saja yang jahat.[b] Darinya berasal segala pelanggaran nyata.[c]

a. Rom 5:6; 8:7; 7:18; Kol 1:21. b. Kej 6:5; 8:21; Rom 3:10-12. c. Yak 1:14-15; Efe 2:2-3; Mat 15:19.

5. Selama hidup ini, kerusakan kodrat itu tetap ada dalam diri mereka yang telah dilahirkan kembali. [a] Meskipun kerusakan itu telah diampuni dan dimatikan melalui Kristus, kerusakan itu sendiri dan semua gerak geriknya sungguh-sungguh merupakan dosa dalam arti yang sebenarnya.[b]

a. 1Yo 1:8, 10; Rom 7:14, 17-18, 23; Ams 20:9; Pengk 7:20; b. Rom 6:23.

6. Tiap-tiap dosa, baik yang asli maupun yang nyata, merupakan pelanggaran hukum Allah yang adil, dan bertentangan dengan hukum itu. [a] Karena itu, dosa itu, karena sifatnya sendiri, mendatangkan kesalahan pada orang berdosa, [b] yang menyebabkan ia tidak bisa tidak kena murka Allah [c] dan kutuk hukum Taurat, [d] dan dengan demikian harus mengalami kematian [e] bersama dengan segala kemalangan, yang rohani,[f] jasmani,[g] dan kekal.[h]

a. 1Yo 3:4. b. Rom 2:15; 3:9, 19. c. Ef 2:3. d Gal 3:10. e. Rom 6:23. f. Efe 4:18. g. Rom 8:20; Rat 3:39. h. Mat 25:41; 2Te 1:9.

Bab VII. Perjanjian Allah dengan Manusia

1. Jarak antara Allah dengan ciptaan sangat besar. Makhluk-makhluk berbudi harus mematuhi Dia sebagai Pencipta mereka, namun mereka tidak dapat bersukacita dalam Dia sebagai kebahagiaan dan pahala mereka kecuali karena keramahan Allah yang datang dari kehendak-Nya yang bebas. Sikap ramah itu berkenan diungkapkan-Nya dengan cara perjanjian.[a]

a. Yes 40:13-17; Ayu 9:32-33; 1Sa 2:25; Maz 113:5-6; Maz 100:2-3; Ayu 22:2-3; 35:7-8; Luk 17:10; Kis 17:24-25.

2. Perjanjian pertama yang diikat dengan manusia, adalah perjanjian perbuatan.[a] Di dalamnya, kepada Adam dan dalam dia kepada keturunannya,[b] dijanjikan kehidupan, dengan syarat ketaatan yang sempurna dan perseorangan.[c]

a. Gal 3:12. b. Rom 10:5; 5:12-20. c. Kej 2:17; Gal 3:10.

3. Oleh kejatuhannya, manusia telah membuat dirinya tidak sanggup lagi memperoleh kehidupan melalui perjanjian itu. Maka itu, Tuhan berkenan membuat perjanjian yang kedua,[a] yang lazim disebut perjanjian anugerah. Di dalamnya Dia menawarkan kepada orang-orang berdosa kehidupan dan keselamatan oleh Yesus Kristus, berdasarkan rahmat semata-mata. Tawaran itu disertai tuntutan agar mereka percaya kepada-Nya demi keselamatannya, [b] dan janji akan menganugerahkan Roh Kudus-Nya kepada semua orang yang ditentukan akan memperoleh kehidupan kekal, untuk menjadikan mereka rela dan sanggup percaya.[c]

a. Gal 3:21; Rom 8:3; 3:20-21; Kej 3:15; Yes 42:6. b. Mar 16:15-16; Yoh 3:16; Rom 10:6, 9; Gal 3:11. c. Yeh 36:26-27; Yoh 6:44-45.

4. Perjanjian anugerah itu acap kali dikemukakan dalam Alkitab dengan nama wasiat. Nama itu mengacu pada kematian Yesus Kristus, yang adalah pembuat wasiat itu, dan pada warisan kekal serta segala hal yang termasuk padanya, yang diwariskan di dalam wasiat itu.[a]

a. Ibr 9:15-17; 7:22; Luk 22:20; 1Ko 11:25.

5. Perjanjian itu diselenggarakan dengan cara yang berlainan pada masa hukum Taurat dan pada masa Injil.[a] Pada zaman hukum Taurat, perjanjian itu diselenggarakan melalui janji-janji, nubuat-nubuat, kurban-kurban persembahan, sunat, anak domba Paskah, dan kias-kias serta pranata-pranata lain yang diberikan kepada bangsa Yahudi dan yang semuanya merupakan perlambang yang menunjuk kepada Kristus yang akan datang.[b] Untuk masa itu, hal-hal tersebut memadai dan ampuh, sehingga, melalui karya Roh Kudus, dapat mengajarkan dan membina orang-orang terpilih dalam kepercayaan kepada Mesias yang telah dijanjikan. [c] Oleh Dia mereka pun beroleh pengampunan penuh dosa-dosa mereka dan keselamatan kekal. Pada zaman itu, perjanjian tersebut disebut Perjanjian Lama.[d]

a. 2Ko 3:6-9. b. Ibr 8-10; Rom 4:11; Kol 2:11-12; 1Ko 5:7. c. 1Ko 10:1-4; Ibr 11:13; Yoh 8:56. d. Gal 3:7-9,14.

6. Pada zaman Injil, ketika Kristus, yang adalah wujudnya,[a] telah diperkenalkan, lembaga-lembaga yang menjadi sarana pelaksanaan perjanjian anugerah itu adalah pemberitaan Firman dan pelayanan sakramen Baptisan dan Perjamuan Tuhan.[b] Jumlahnya memang kurang, dan pelayanannya lebih sederhana dan kurang megah secara lahiriah. Namun, di dalamnya perjanjian itu diperkenalkan secara lebih penuh dan nyata serta dengan keampuhan rohani yang lebih besar,[c] kepada semua bangsa, baik orang Yahudi maupun bangsa-bangsa.[d] Pada zaman itu, perjanjian tersebut disebut Perjanjian Baru.[e] Jadi, tidak ada dan perjanjian anugerah, yang berbeda wujudnya, tetapi satu saja, yang berlainan cara pelaksanaannya.[f]

a. Kol 2:17. b. Mat 28:19-20; 1Ko 11:23-25. c. Ibr 12:22-28; Yer 31:33-34. d. Mat 28:19; Efe 2:15-19. e. Luk 22:20. f. Gal 3:14, 16; Rom 3:21-23,30; Maz 32:1 bersama Rom 4:3, 6, 16, 17, 23, 24; Ibr 13:8; 1Ki 15:11.

Bab VIII. Kristus Pengantara

1. Allah telah berkenan, dalam rencana-Nya yang kekal, memilih dan menetapkan Tuhan Yesus, Anak-Nya yang tunggal, menjadi Pengantara Antara Allah dan manusia,[a] Nabi,[b] dan Raja,[d] Kepala dan Juruselamat Gereja-Nya,[e] Ahli Waris segala sesuatu, [f] dan Hakim dunia.[g] Kepada-Nya diberikan-Nya, dari kekekalan, suatu umat agar menjadi keturunan-Nya[h] dan agar pada waktunya ditebus, dipanggil, dibenarkan, dikuduskan, dan dimuliakan oleh-Nya.[i]

a. Yes 42:1; 1Pe 1:19-20; Yoh 3:16; 1Ti 2:5. b. Kis 3:22. c. Ibr 5:5-6. d. Maz 2:6; Luk 1:33. e. Efe 5:23. f. Ibr 1:2. G. Kis 17:31. h. Yoh 17:6; Maz 22:30; Yes 53:10. i. 1Ti 2:6; Yes 55:4-5; 1Ko 1:30.

2. Anak Allah, Pribadi yang kedua dalam Trinitas, yang adalah Allah yang sejati dan kekal, se-Zat dan setara dengan Sang Bapa, setelah genap waktunya mengenakan tabiat manusiawi[a] bersama segala sifat hakiki dan kelemahan umumnya, namun tanpa dosa, [b] ketika Dia di kandung oleh kuasa Roh Kudus dalam kandungan Anak Dara Maria, dari zatnya. Caranya begitu rupa, sehingga dua tabiat utuh, sempurna, dan berbeda, yaitu keAllahan dan kemanusiaan, dipertautkan secara tidak terpisahkan dalam satu Pribadi, tanpa perubahan, pembauran atau pencampuran.[d] Pribadi itu adalah Allah sejati dan manusia sejati, namun satu Kristus, satu-satunya Pengantara antara Allah dan manusia.[e]

a. Yoh 1:1,14; 1Yo 5:20; Fil 2:6; Gal 4:4. b. Ibr 2:14,16-17; 4:15. c. Luk 1:27,31,35; Gal 4:4. d. Luk 1:35; Kol 2:9; Rom 9:5; 1Pe 3:18; 1Ti 3:16. e. Rom 1:3, 4; 1Ti 2:5.

3. Tuhan Yesus, yang dengan demikian dalam tabiat kemanusiaan-Nya disatukan dengan tabiat keAllahan, dikuduskan dan diurapi dengan Roh Kudus dengan tidak terbatas.[a] Dalam diri-Nya Dia memiliki segala harta hikmat dan pengetahuan.[b] dan menurut perkenan Sang Bapa seluruh kepenuhan harus tinggal di dalam- Nya.[c]Maksudnya supaya Dia, yang kudus, tanpa salah, tanpa noda, penuh kasih karunia dan kebenaran,[d] memiliki seluruh perlengkapan yang perlu untuk menjalankan jabatan Pengantara dan menjadi Jaminan.[e] Dia itu oleh Bapa-Nya, [f] yang menyerahkan segala kuasa dan penghakiman kepada-Nya dan memberi-Nya perintah melaksanakannya.[g]

a. Maz 45:7; Yoh 3:34. b. Kol 2:3. c. Kol 1:19. d. Ibr 7:26; Yoh 1:14. e. Kis 10:38; Ibr 12:24; 7:22. f. Ibr 5;4-5. g. Yoh 5:22,27; Mat 28:18; Kis 2:36.

4. Tuhan Yesus mengemban jabatan itu dengan penuh kerelaan.[a] Agar Dia dapat melaksanakannya, Dia dibuat takluk kepada hukum Taurat, [b] Dia menggenapi hukum itu dengan cara paling sempurna,[c] Dia menanggung sengsara yang paling hebat langsung di dalam jiwa-Nya[d] dan penderitaan yang paling menyakitkan di dalam tubuh-Nya.[e] Dia disalibkan dan mati,[f] Dia dikuburkan dan berada dalam kuasa maut, namun Dia tidak melihat kebinasaan.[g] Pada hari yang ketiga Dia bangkit dari antara orang mati,[h] dengan tubuh yang sama seperti yang telah dikenakan- Nya ketika Dia menderita.[i] Dengan tubuh itu juga Dia naik ke surga. Di sana Dia duduk di sebelah kanan Bapa-Nya[j] dan menjadi Jurusyafaat,[k] dan dari sana Dia akan kembali untuk menghakimi manusia dan para malaikat pada akhir dunia.[l]

a. Maz 40:7-8 bersama Ibr 10:5-10; Yoh 10:18; Fil 2:8. b. Gal 4:4. c. Mat 3:15; 5:17. d. Mat 26:37-38; Luk 22:44; Mat 27:46. e. Mat 26; 27. f. Fil 2:8. g. Kis 2:23-24,27; 13:37; Rom 6:9. h. 1Ko 15:3-4. i. Yoh 20:25,27. j. Mar 16:19. k. Rom 8:34; Ibr 9:24; 7:25. l. Rom 14:9-10; Kis 1:11; 10:42; Mat 13:40-42; Yud :6; 2Pet 2:4.

5. Oleh ketaatan-Nya yang sempurna, dan oleh karena Dia telah mempersembahkan diri-Nya sendiri satu kali kepada Allah oleh Roh yang kekal, Tuhan Yesus telah memuaskan sepenuhnya keadilan Bapa-Nya, [a] dan memperoleh pendamaian, bahkan juga warisan kekal dalam kerajaan Surga, bagi semua orang yang telah diberikan kepada-Nya oleh Bapa.[b]

a. Rom 5:19; Ibr 9:14; 10:14; Efe 5:2; Rom 3:25-26. b. Dan 9:24,26; Kol 1:19-20; Efe 1:11,14; Yoh 17:2; Ibr 9:12,15.

6. Karya penebusan baru dikerjakan Kristus secara nyata sesudah inkarnasi-Nya. Namun, kekuatan, keampuhan, dan kebaikan yang dihasilkan oleh karya itu dianugerahkan kepada orang-orang terpilih segala zaman berturut-turut, sejak permulaan dunia, di dalam dan melalui janji-janji, kias-kias, dan kurban-kurban persembahan. Dalam semua itu Dian dinyatakan dan ditandakan sebagai keturunan sang perempuan yang hendak meremukkan kepala ular, dan anak domba yang telah disembelih sejak permulaan dunia, yang tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.[a]

a. Gal 4:4-5; Kej 3:15; Wah 13:8; Ibr 13:8.

7. Dalam karya pengantaraan, Kristus bertindak sesuai dengan kedua tabiat-Nya. Melalui tiap-tiap tabiat dilakukan-Nya apa yang cocok dengan sifatnya masing- masing.[a] Akan tetapi, karena kesatuan Pribadi maka dalam Alkitab apa yang cocok dengan sifat satu tabiat kadang-kadang dihubungkan dengan Pribadi yang diberi nama menurut tabiat yang lain.[b]

a. Ibr 9:14; 1Pe 3:18. b. Kis 20:28; Yoh 3:13; 1Yo 3:16.

8. Kristus dengan pasti dan ampuh menerapkan dan memberikan penebusan kepada semua orang yang untuknya Dia telah memperolehnya.[a] Dia menjadi Jurusyafaat mereka[b] dan menyatakan kepada mereka rahasia-rahasia keselamatan,[c] dalam dan melalui Firman. Melalui Roh-Nya, Dia mendorong mereka dengan ampuh untuk percaya dan menjadi taat; melalui Firman dan Roh-Nya Dia mengendalikan hati mereka;[d] Dia mengalahkan semua musuh mereka dengan kekuatan dan hikmat-Nya yang mahakuasa, dengan memakai cara dan jalan yang paling sesuai dengan rencana keselamatan-Nya yang patut dikagumi dan yang tidak terselami.[e]

a. Yoh 6:37; 10:15-16. b. 1Yo 2:1; 1Yo 2:1; Rom 8:34. c. Yoh 15:13,15; Efe 1:9; Yoh 17:6. d. Yoh 14;26; Ibr 12:2; 2Ko 4:13; Rom 8:9,14; 15:18-19; Yoh 17:17. e. Maz 110:1; 1Ko 15:25-26; Mal 4:2-3; Kol 2:15.

Bab IX. Kehendak bebas

1. Allah telah memperlengkapi kehendak manusia dengan kebebasan kodrati yang tidak dipaksa dan tidak ditentukan oleh keharusan alamiah apa pun untuk berbuat baik atau jahat.[a]

a. Mat 17:12; Yak 1:14; Ula 30:19.

2. Ketika masih berada dalam kedudukan tidak bersalah, manusia memiliki kebebasan dan kuasa yang membuatnya mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik dan berkenan dan kepada Allah. [a] Akan tetapi, dalam hal itu ia peka terhadap perubahan, sehingga ia dapat saja jatuh dan kehilangan kemampuan itu.[b]

a. Pengk 7:29; Kej 1:26. b. Kej 2:16-17; 3:6.

3. Karena jatuh ke dalam keadaan berdosa, manusia sama sekali kehilangan kemampuan menghendaki harta rohani apapun yang menyertai keselamatan.[a] Maka itu, manusia kodrati sama sekali menolak harta itu[b] dan mati dalam dosa,[c] sehingga ia tidak mampu untuk dengan kekuatannya sendiri bertobat atau mempersiapkan diri untuk bertobat.[d]

a. Rom 5:6; 8:7; Yoh 15:5. b. Rom 3:10,12. c. Efe 2:1,5; Kol 2:13. d. Yoh 6:44,65; Efe 2:2-5; 1Ko 2:14; Tit 3:3-5.

4. Bila Allah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa[a] dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan dia mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani.[b] Akan tetapi, caranya begitu rupa sehingga, disebabkan kerusakan yang masih tinggal padanya, ia tidak menghendaki apa yang baik itu secara sempurna, dan hanya itu saja, tetapi menghendaki juga apa yang jahat.[c]

a. Kol 1:13; Yoh 8:34,36. b. Fil 2:13; Rom 6:18,22. c. Gal 5:17; Rom 7:15,18,19,21,23.

5. Baru dalam keadaan yang dicapainya setelah dimuliakan, kehendak manusia dikaruniai kebebasan yang sempurna dan tidak peka terhadap perubahan untuk menghendaki apa yang baik semata-mata.[a]

a. Efe 4:13; Ibr 12:23; 1Yo 3:2; Yud 1:24.

Bab X. Panggilan yang ampuh

1. Allah berkenan memanggil semua orang yang telah dipredestinasikan-Nya untuk beroleh hidup yang, IV-x/1 kekal, dan hanya mereka itu saja, pada waktu yang telah ditentukan dan disetujui-Nya, dengan ampuh,[a] melalui Firman dan Roh- Nya,[b] dari dalam keadaan yang ditandakan dosa dan maut tempat mereka berada menurut kodratnya, menuju ke rahmat dan keselamatan oleh Yesus Kristus.[c] Dia menerangi akal budi mereka dengan cara rohani dan yang menyelamatkan, agar memahami hal-hal yang dari Allah;[d] Dia menjauhkan dari mereka yang keras seperti batu dan memberi mereka hati yang lunak seperti daging;[e] Dia membaharui kehendak mereka dan dengan kekuatan-Nya yang mahakuasa mengarahkan mereka pada apa yang baik;[f] Dia menarik mereka dengan ampuh kepada Yesus Kristus.[g] Namun, hal itu dilakukan-Nya sedemikian rupa, hingga mereka datang dengan sukarela, karena mereka dibuat rela oleh anugerah-Nya.[h]

a. Rom 8:30; 11:7; Efe 1:10,11. b. 2Te 2:13-14; 2Ko 3:3,6. c. Rom 8:2; Efe 2:5; 2Ti 1:9-10. d. Kis 26:18; 1Ko 2:10,12; Efe 1:17-18. e. Yeh 11:19; Fil 2:13; Ula 30:6; Yeh 36:27. g. Efe 1:19; Yoh 6:44-45. h. Kid 1:4; Maz 110:3; Yoh 6:37; Rom 6:16-18.

2. Panggilan yang ampuh itu berasal dari rahmat Allah yang bebas dan khusus semata-mata, bukan dari apa pun yang dilihat lebih dahulu akan ada dalam diri manusia.[a] Dalam hal ini manusia sama sekali pasif, hingga dia, karena dihidupkan dan dibarui oleh Roh Kudus,[b] dijadikan mampu menjawab panggilan itu dan memeluk anugerah yang ditawarkan dan disampaikan didalamnya.[c]

a. 2Ti 1;9; Tit 3:4-5; Efe 2:4-5; 8-9; Rom 1:11. b. 1Ko 2:14; Rom 8:7; Efe 2:5. d. Yoh 6:37; Yeh 36:27; Yoh 5:25.

3. Anak-anak yang terpilih dan yang meninggal dunia waktu masih kanak-kanak, dilahirkan kembali dan diselamatkan oleh Kristus melalui Roh[a] yang berkarya bila, di mana, dan dengan memakai cara yang dikehendaki-Nya[b]). Begitu pula halnya semua orang terpilih lainnya yang tidak dapat dipanggil secara lahiriah melalui pelayanan Firman. [c]

a. Luk 18:15-16 dan Kis 2:39 serta Yoh 3:3,5; 1Yo 5:12; bnd. Rom 8:9. b. Yoh 3:8. c. 1Yo 5:12; Kis 4:12.

4. Orang-orang lain, yang tidak terpilih, dapat saja dipanggil melalui pelayan Firman[a] dan mengalami pengaruh umum karya Roh dalam beberapa hal.[b] Namun, mereka tidak pernah datang sungguh-sungguh kepada Kristus dan karena itu mereka tidak dapat diselamatkan dengan cara lain apa pun, betapapun mereka berupaya menempuh kehidupan yang sesuai dengan terang kodrati dan dengan hukum agama yang mereka anut.[d] Menyatakan dan mempertahankan dalil mereka bahwa mereka dapat diselamatkan dengan cara lain adalah perbuatan yang merusak dan menjijikkan.[e]

a. Mat 22:14. b. Mat 7:22; 13:20-21; Ibr 6:4-5. c. Yoh 6:64-66; 8:24. d. Kis 4:12; Yoh 14:6; Efe 2:12; Yoh 4:22; 17:3. e. 2Yo :9-11; 1Ko 16:22; Gal 1:6-8.

Bab XI. Pembenaran

1. Mereka yang Allah panggil dengan ampuh, dibenarkan-Nya juga dengan cuma- cuma.[a] Mereka tidak dibenarkan dengan cara mencurahkan kebenaran ke dalam diri mereka, tetapi dengan mengampuni dosa mereka dan menganggap serta menerima diri mereka sebagai orang benar. Pun mereka tidak dibenarkan berdasarkan sesuatu apa pun yang telah dikerjakan dalam diri mereka, atau yang dilakukan oleh mereka, tetapi karena Kristus semata-mata. Pun mereka tidak dibenarkan dengan cara memperhitungkan iman sendiri, yakni perbuatan percaya, atau ketaatan injili apa pun yang lain kepada mereka sebagai kebenaran, tetapi dengan cara memperperhitungkan ketaatan Kristus dan pelunasan oleh-Nya kepada mereka,[b] sedangkan mereka Dia dan bertumpu pada-Nya dan pada kebenaran-Nya oleh iman, yang tidak mereka peroleh dari dirinya sendiri, tetapi merupakan karunia Allah.[c]

a. Rom 8;30; 3:24. b. Rom 4:5-8; 2Ko 5:19,21; Rom 3:22,24-25,27-28; Tit 3:5,7; Efe 1:7; Yer 23:6; 1Ko 1;30-31; Rom 5:17-19. c. Kis 10:43; Gal 2:16; Fil 3:9; Kis 13:38-39; Efe 2:7-8.

2. Iman yang dengan cara demikian menerima Kristus dan kebenaran-Nya serta dan bertumpu pada-Nya itu merupakan satu-satunya sarana pembenaran.[a] Namun, dalam arti orang yang dibenarkan itu iman itu tidak sendiri, tetapi selalu disertai semua anugerah yang menyelamatkan lainnya. Pun iman itu tidak mati, tetapi bekerja oleh kasih.[b]

a. Yoh 1:12; Rom 3:28; 5:1. b. Yak 2:17,22,26; Gal 5:6.

3. Oleh ketaatan dan kematian-Nya, Kristus membayar sepenuhnya utang semua orang yang dibenarkan dengan cara demikian, dan sebagai ganti mereka melakukan pelunasan yang sebenarnya, sungguh-sungguh, dan penuh terhadap keadilan Bapa- Nya.[a] Namun, Dia diserahkan oleh Bapa bagi mereka,[b] dan pelunasan-Nya diterima Bapa sebagai ganti mereka,[c] berdasarkan rahmat, bukan berdasarkan sesuatu apa pun dalam diri mereka sendiri. Karena itu, pembenaran mereka terjadi hanya berdasarkan rahmat yang bebas,[d] supaya baik keadilan Allah yang cermat maupun rahmatnya yang berlimpah dimuliakan olehnya dalam pembenaran orang-orang berdosa.[e].

a. Rom 5:8-10,19; 1Ti 2:5-6; Ibr 10:10,14; Dan 9:24, 26; Yes 53:4-6,10-12. b. Rom 8:32. c. 2Ko 5:21; Mat 3:17; Efe 5:2. d. Rom 3:24; Efe 1:7. e. Rom 3:26; Efe 2:7.

4. Dari kekekalan, Allah memutuskan untuk membenarkan semua orang terpilih,[a] dan setelah genap waktunya Kristus telah mati karena dosa mereka dan bangkit pula demi pembenaran mereka.[b] Meskipun demikian, mereka baru dibenarkan bila Roh Kudus, ketika saatnya tiba, membuat Kristus berhasil guna bagi mereka.[c]

a. Gal 3:8; 1Pe 1:2,19-20; Rom 8;30. b. Gal 4:4; 1Ti 2:6; Rom 4:25. c. Kol 1:21-22; Gal 2:16; Tit 3:3-7.

5. Allah telah mengampuni dosa-dosa mereka yang dibenarkan.[a] Meski mereka tidak mungkin kehilangan kedudukan selaku orang yang telah dibenarkan,[b] mungkin saja karena dosa-dosa mereka Allah bersikap tidak senang bagaikan seorang bapak terhadap mereka; maka wajah-Nya baru akan menyinari mereka kembali bila mereka merendahkan diri, mengaku dosanya, mohon diampuni, dan membaharui iman dan pertobatannya.[c]

a. Mat 6:12; 1Yo 1:7,9; 2:1-2. b. Luk 22:32; Yoh 10:28; Ibr 10:14. c. Maz 89:31-33; 51:7-12; 32:5; 1Ko 11:30; Luk 1:20.

6. Pembenaran orang-orang percaya pada masa Perjanjian Lama dari semua sudut itu sama saja dengan pembenaran orang percaya pada masa Perjanjian Baru.[a]

a. Gal 3:9,13-14; Rom 4:22; Ibr 13:8.

Bab XII. Pengangkatan sebagai anak-anak

1. Allah sudi memberi semua orang yang telah dibenarkan mengambil bagian dalam karunia pengangkatan sebagai anak.[a] di dalam dan karena Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Oleh karena itu mereka terhisap anak-anak Allah dan menikmati kebebasan serta hak-hak istimewa mereka;[b] nama Allah dan menikmati kebebasan serta hak-hak istimewa mereka;[b] nama Allah tertera pada mereka;[c] mereka menerima Roh yang menjadikan mereka anak Allah;[d] mereka beroleh keberanian dan jalan masuk kepada tahta anugerah;[e] mereka dibuat sanggup berseru, ya Abba, ya Bapa!;[f] Dia mengasihani,[g] melindungi,[h] mengasuh mereka,[i] dan menghukum mereka bagaikan seorang bapak ;[j] namun mereka tidak pernah dikucilkan,[k] tetapi mereka dimeteraikan menjelang hari penyelamatan,[l]dan mewarisi janji- janji,[m] selaku ahli waris keselamatan yang kekal.[n]

a. Efe 1:5; Gal 4:4-5. b. Rom 8:17; Yoh 1:12. c. Yer 14:9; 2Ko 6:18; Wah 3:12. d. Rom 8:15. e. Efe 3:12; Rom 5:2. f. Gal 4:6. g. Maz 103:13. h. Ams 14:26. i. Mat 6:30,32; 1Pe 5:7. j. Ibr 12:6. k. Rat 3:31. l. Efe 4:30. m. Ibr 6:12. n. 1Pe 1:3-4; Ibr 1:14.

Bab XIII. Pengudusan

1. Dalam diri mereka yang dipanggil dengan ampuh dan dilahirkan kembali, diciptakan hati baru dan roh baru, dan mereka dikuduskan lebih jauh, sungguh- sungguh dan secara perseorangan, oleh kekuatan kematian dan kebangkitan Kristus,[a] melalui Firman dan Roh-Nya yang diam dalam diri mereka.[b] Kuasa seluruh tubuh dosa dihancurkan[e] dan berbagai hawa nafsunya makin hari makin dihidupkan dan diperkuat dalam semua anugerah-yang-menyelamatkan,[e] menuju ke praktik kekudusan yang sejati, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.[f]

a. 1Ko 6:11; Kis 20:32; Fil 3:10; Rom 6:5-6. b. Yoh 17:17,19; Efe 5:26; 2Te 2:13. c. Rom 6:6,14. d. Gal 5:24; Rom 8:13. e. Kol 1:11; Efe 16-19. f. 2Ko 7:1; Ibr 12:14.

2. Pengudusan itu bersifat menyeluruh dan menyangkut manusia seutuhnya,[a] namun tidak sempurna dalam hidup ini, sebab di semua bagiannya masih tinggal beberapa sisa kerusakan.[b] Dari situlah lahirlah peperangan yang terus menerus dan yang tidak dapat diakhiri dengan pendamaian, sebab keinginan daging berlawanan dengan Roh, dan keinginan Roh berlawanan dengan daging.[c]

a. 1Te 5:23. b. 1Yo 1:10; Rom 7:18; Fil 3:12. c. Gal 5:17; 1Pe 2:11.

3. Dalam peperangan ini, kerusakan yang masih tinggal dapat saja untuk sementara waktu berada di atas angin.[a] Namun, karena Roh Kristus yang menguduskan terus- menerus menyediakan kekuatan baru maka bagian yang telah dilahirkan kembali akhirnya menang.[b] Dengan demikian orang-orang kudus bertumbuh dalam kasih karunia[c] dan menyempurnakan kekudusannya dalam takut akan Allah.[d]

a. Rom 7:23. b. Rom 6:14; 1Yo 5:4; Efe 4:14-16. c. 2Pe 3:18; 2Ko 3:18. d. 2Ko 7:1.

Bab XIV. Iman yang Menyelamatkan

1. Karunia iman, yang membuat orang-orang terpilih sanggup menjadi percaya, demi keselamatan jiwanya,[a] merupakan karya Roh Kristus di dalam hati mereka,[b] dan biasanya dikerjakan melalui pelayanan Firman.[c] Olehnya, dan oleh pelayanan sakramen-sakramen serta doa, iman itu juga bertambah besar dan kuat.[d]

a. Ibr 10:39. b. 2Ko 4:13; Efe 1:17-19; 2:8. c. Rom 10:14,17. d. 1Pe 2:2; Kis 20:32; Rom 4:11; Luk 17:5; Rom 1:16-17.

2. Oleh iman itu seorang Kristen percaya bahwa apa pun yang dinyatakan dalam Firman Adalah benar, karena kewibawaan Allah sendiri yang bersabda di dalamnya.[a] Ia menanggapi isi tiap-tiap bagaimana cara yang berbeda-beda. Perintah-perintah ditaatinya;[b] berhadapan dengan ancaman-ancaman ia gemetar; (c) dan janji-janji Allah untuk hidup ini dan hidup yang akan datang dipeluknya. [d] Akan tetapi, perbuatan-perbuatan utama iman yang menyelamatkan adalah, menyambut dan meraih Kristus serta bertumpu pada Dia seorang demi pembenaran, pengudusan, dan kehidupan kekal, yang diperoleh melalui perjanjian anugerah.[e]

a. Yoh 4:42; 1Te 2:13; 1Yo 5:10; Kis 24:14. b. Rom 16:26. c. Yes 66:2. d. Ibr 11:13; 1Ti 4:8. e. Yoh 1:12; Kis 16:31; Gal 2:20; Kis 15:11.

3. Iman itu berbeda-beda tingkat kekuatannya,[a] dan dapat saja sering dan dengan berbagai cara diserang dan diperlemah, namun beroleh kemenangan[b] dan dalam banyak orang bertumbuh hingga mencapai keyakinan penuh oleh Kristus,[c] yang menciptakan iman kita dan membawanya ke kesempurnaan.[d]

a. Ibr 5:13-14; Rom 4:19-20; 14:1-2; Mat 6:30; 8:10. b. Luk 22:31-32; Efe 6:16; 1Yo 5:4-5. c. Ibr 6:11-12; 10:22; Kol 2:2. d. Ibr 12:2.

Bab XV. Penyesalan yang membawa ke kehidupan

1. Penyesalan yang membawa ke kehidupan adalah anugerah injili. [a] Ajarannya perlu diberitakan oleh tiap-tiap pelayan Injil, sebagaimana diberitakannya pula iman kepada Kristus.[b]

a. Zak 12:10; Kis 11:18. b. Luk 24:47; Mar 1:15; Kis 20:21.

2. Olehnya orang berdosa, yang melihat dan menyadari betapa dosa-dosanya berbahaya, tetapi juga betapa dosa itu kotor serta menjijikkan karena berlawanan dengan kodrat Allah yang kudus dan hukum-Nya yang adil,dan yang mengamati rahmat-Nya dalam Kristus kepada mereka yang menyesal, begitu menangisi dan membenci dosa-dosanya itu, sehingga ia berbalik dari semua dosa itu dan berpaling kepada Allah,[a] dan berniat serta berupaya hendak berjalan bersama Dia dalam semua jalan perintah-perintah-Nya.[b]

a. Yeh 18:30-31; 36:31; Yes 30:22; Maz 51;4; Yer 31:18-19; Yoe 2:12-13; Ams 5:15; Maz 119:128; 2Ko 7:11. b. Maz 119:6,59,106; Luk 1:6; 2Ra 23:25.

3. Penyesalan tidak boleh diandalkan seakan-akan merupakan cara melunasi dosa atau salah satu sebab pengampunannya,[a] karena pengampunan itu adalah tindakan rahmat Allah yang bebas di dalam Kristus. [b] Namun, penyesalan itu begitu perlu bagi semua orang berdosa, sehingga tanpa itu tidak seorang pun dapat mengharapkan pengampunan.[c]

a. Yeh 36:31-32; 16:61-63. b. Hos 14:2,4; Rom 3:24; Efe 1:7. c. Luk 13:3,5; Kis 17:30-31.

4. Sebagaimana dosa yang paling kecil pun patut diganjar dengan hukuman kekal, [a] begitu pula dosa yang paling besar pun tidak dapat mendatangkan hukuman kematian kekal atas orang-orang yang sungguh-sungguh menyesal.[b]

a. Rom 6:23; 5:12; Mat 12:36. b. Yes 55:7; Rom 8:1; Yes 1:16-18.

5. Seharusnya orang tidak puas dengan penyesalan yang bersifat umum saja. Sebaliknya, tiap-tiap orang wajib berupaya untuk secara khusus menyesali tiap- tiap dosanya yang khusus.[a]

a. Maz 19:13; Luk 19:8; 1Ti 1:13,15.

6. Setiap orang wajib mengaku dosanya secara pribadi kepada Allah sambil berdoa memohon pengampunannya.[a] Bila ia melakukan pengakuan dan menanggalkan dosa- dosa itu, ia akan beroleh anugerah.[b] Begitu pula ia yang menjadi batu sandungan bagi saudaranya atau bagi Gereja Kristus seharusnya bersedia menyatakan penyesalannya kepada mereka yang dilukai hatinya, melalui pengakuan pribadi atau di depan umum dan kesedihan atas dosanya.[c]. Lalu mereka itu harus berdamai kembali dengan dia dan menyambut dia dalam kasih.[d]

a. Maz 51:4-5,7,9,14; 32:5-6. b. Ams 28:13; 1Yo 1:9. c. Yak 5:16; Luk 17:3-4; Yos 7:19; Maz 51. d. 2Ko 2:8.

Bab XVI. Perbuatan baik

1. Yang merupakan perbuatan baik hanya perbuatan yang Allah perintahkan dalam Firman-Nya yang kudus, [a] bukan yang tanpa perintah Firman itu direka-reka oleh manusia, karena fanatisme buta atau dengan dalih mengupayakan sesuatu yang baik.[b]

a. Mik 6:8; Rom 12:2; Ibr 13:21. b. Mat 15:9; Yes 29:13; 1Pe 1:18; Rom 10:2; Yoh 16:2; Rom 10:2; 1Sa 15:21-23.

2. Perbuatan baik itu, yang dilakukan dalam ketaatan pada perintah-perintah Allah, adalah buah dan bukti iman yang sejati dan hidup.[a] Olehnya orang percaya menunjukkan rasa terima kasih,[b] menguatkan keyakinan mereka,[c] membangun saudara-saudaranya,[d] menjadikan lebih indah pengakuan mereka tentang Injil,[e] menyumbat mulut kaum lawan,[f] dan memuliakan Allah. [g] Mereka itu buatan Dia, diciptakan dalam Yesus Kristus dengan maksud[h] supaya beroleh buah yang membawa pada kekudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.[i].

a. Yak 2:18,22. b. Maz 116:12-13; 1Pe 2:9. c. 1Yo 2:3; 5:2; 2Pe 1:5-10. d. 2Ko 9:2; Mat 5:16. e. Tit 2:5,9-12; 1Ti 6:1. f. 1Pe 2:12; Fil 1:11; Yoh 15:8. h. Efe 2:10. i. Rom 6:22.

3. Kemampuan mereka untuk melakukan perbuatan baik sama sekali tidak datang dari mereka sendiri, tetapi seluruhnya dari Roh Kristus.[a] Supaya mereka dibuat mampu, diperlukan, selain karunia-karunia yang telah mereka terima, pengaruh nyata Roh Kudus itu untuk mengerjakan dalam diri mereka baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.[b] Namun, seharusnya hal ini tidak menyebabkan mereka menjadi lalai, seakan-akan mereka tidak terikat untuk menunaikan tugas kewajiban apa pun kecuali atas dorongan khusus dari Roh. Sebaliknya, mereka harus berupaya membangkitkan karunia Allah yang ada dalam diri mereka.[c]

a. Yoh 15:4-6; Yeh 36:26-27. b. Fil 2:13; 4:13; 2Ko 3:5. c. Fil 2:12; Ibr 6:11-12; 2Pe 1:3,5,10-11; Yes 64:7; 2Ti 1:6; Kis 26:6-7; Yud :20-21.

4. Pun mereka yang dalam hal ketaatan telah mencapai tingkat ketaatan tertinggi yang dapat dijangkau dalam kehidupan ini, sama sekali tidak mampu menghasilkan amal berlebih dan berbuat melebihi tuntutan Allah. Mereka malah ketinggalan dalam banyak hal yang sesungguhnya wajib mereka laksanakan.[a]

a. Luk 17:10; Neh 13:22; Ayu 9:2-3; Gal 5:17.

5. Kita tidak layak memperoleh pengampunan dosa atau hidup kekal dari Allah karena perbuatan kita yang baik pun, karena perbuatan itu sama sekali tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan datang, dan karena jarak tidak terhingga yang ada antara kita dengan Allah. Alasannya, tidak mungkin melalui perbuatan itu kita membawa manfaat bagi Dia atau melunasi utang dosa kita yang sudah- sudah.[a] Sebaliknya, apabila kami telah berbuat sedapat mungkin, tidak berguna.[b] Lagi pula, sejauh perbuatan itu baik, datangnya dari Roh-Nya,[c] dan sejauh merupakan hasil upaya kita, perbuatan itu tercemar dan tercampur dengan kelemahan dan ketidaksempurnaan begitu rupa, sehingga tidak mungkin perbuatan itu bertahan di hadapan pengadilan Allah yang keras.(4)

a. Rom 3:20; 4:2,4,6; Efe 2:8-9; Tit 3:5-7; Rom 8:18; Maz 16:2; Ayu 22:2-3; 35:7-8. b. Luk 17:10. c. Gal 5:22-23. d. Yes 64:6; Gal 5:17; Rom 7:15,18; Maz 143:2; 130:3.

6. Meskipun demikian, karena orang-orang percaya sendiri telah diterima oleh karena Kristus maka juga perbuatan baik mereka diterima di dalam Dia.[a] Bukan seolah-olah perbuatan itu dalam hidup ini sama sekali tidak tercela dan tidak pantas ditegur dalam pandangan Allah,[b]tetapi Dia memandangnya dalam diri Anak- Nya dan karena itu berkenan menerima dan mengganjar perbuatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, meskipun disertai banyak kelemahan dan ketidaksempurnaan.[c]

a. Efe 1:6; 1Pe 2:5; Kel 28:38; Kej 4:4 bersama Ibr 11:4. b. Ayu 9:20; Maz 143:2. c. Ibr 13:20-21; 6:10; Mat 25:21,23.

7. Adapun perbuatan yang dilakukan manusia yang tidak dilahirkan kembali, menurut misterinya dapat saja sesuai dengan perintah Allah dan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain.[a] Akan tetapi, perbuatan itu tidak keluar dari hati yang disucikan oleh iman[b] dan tidak dilakukan dengan cara yang benar seturut Firman,[c] tidak juga tertuju ke tujuan yang tepat, yaitu kemuliaan Allah.[d] Karena itu, perbuatan itu penuh dosa dan tidak mungkin berkenan kepada Allah atau membuat seorang manusia layak menerima anugerah Allah.[e] Namun, kalau orang-orang itu mengabaikannya, mereka bertambah berdosa dan tidak mungkin menyenangkan Allah.[f]

a. 2Ra 10:30-31; 1Ra 21:27,29; Fil 1:15-16,18. b. Kej 4:5 bersama Ibr 11:4; Ibr 11:6. c. 1Ko 13:3; Yes 1:12. d. Mat 6:2,5,16. e. Hag 2:14; Tit 1:15; Ams 5:21-22; Mar 7:6-7; Hos 1;4; Rom 9:16; Tit 3:5. f. Maz 14:4; 36:3; Ayu 21:14-15; Mat 25:41-45; 23:23.

Bab. XVII. Ketekunan orang-orang kudus

1. Mereka yang telah diterima Allah di dalam Yang Dikasihi-Nya, yang telah dipanggil-Nya dengan ampuh, dan yang telah dikuduskan-Nya oleh Roh-Nya, tidak mungkin jatuh seluruhnya dan untuk seterusnya sehingga mereka kehilangan kedudukan seorang yang telah beroleh rahMat Mereka pasti akan bertekun dalam kedudukan seorang yang telah beroleh rahMat Mereka pasti akan bertekun dalam kedudukan itu sampai pada akhirnya dan akan memperoleh keselamatan kekal.[a]

a. Fil 1:6; 2Pe 1:10; Yoh 10:28-29; 1Yo 3:9; 1Pe 1:5,9.

2. Ketekunan orang-orang kudus ini tidak tergantung pada kehendak bebas mereka sendiri, tetapi pada sifat tak berubah-ubah dekret pemilihan, yang mengalir dari kasih Allah Bapa yang cuma-cuma dan tidak berubah-ubah,[a] dan pada keampuhan jasa dan syafaat Yesus Kristus,[b] diamnya Roh dan benih ilahi di dalam mereka,[c] serta sifat perjanjian anugerah.[d] Semua itu juga menyebabkan ketekunan tersebut pasti dan tidak dapat keliru.[e]

a. 2Ti 2:18-19. Yer 31:3. b. Ibr 10:10,14; 13:20-21; 9:12-15; Rom 8:33-39; Yoh 17:11, 24; Luk 22:32; Ibr 7:25. c. Yoh 14:16-17; Yoh 14:16-17; 1Yo 2:27; 3:9. d. Yer 32:40. e. Yoh 10:28; 2Te 3:3; 1Yo 2:19.

3. Meskipun demikian, oleh sebab godaan iblis dan dunia, kekuatan kerusakan yang masih tinggal dalam diri mereka, dan pengabaian sarana-sarana yang bertujuan hendak melindungi mereka, orang kudus dapat jatuh ke dalam dosa gawat[a] dan selama beberapa waktu berkanjang dalam dosa itu.[b] Olehnya mereka mendatangkan ketidaksenangan Allah atas diri mereka[c] dan mendukakan Roh-Nya yang Kudus;[d] mereka sampai tingkat tertentu kehilangan anugerah dan penghiburan yang telah diperolehnya;[e] hati mereka dikeraskan[f] dan hati nurani mereka luka;[g] mereka merugikan orang lain dan menjadi batu sandungan baginya; [h] dan mereka mendatangkan hukuman-hukuman sementara atas diri mereka.[l]

a. Mat 26:70,72,74. b. Maz 51, judul dan :16. c. Yes 54:5,7,9; 2Sa 11:27. d. Efe 4:30. e. Maz 51:8,10,12; Wah 2:4; Kid 5:2-4,6. f. Yes 63:17; Mar 6:52; 16:14. g. Maz 32:3-4; 51:8. h. 2Sa 12:14. i. Maz 89:31-32; 1Ko 11:32.

Bab XVIII. Kepastian tentang anugerah dan keselamatan

1. Orang munafik dan orang lain yang tidak dilahirkan kembali dapat saja menipu diri sendiri dengan pengharapan sia-sia dan dengan anggapan yang bersifat daging seolah-olah mereka telah beroleh anugerah Allah dan kedudukan seorang yang diselamatkan.[a] Pengharapan itu akan musnah.[b] Akan tetapi, mereka yang benar- benar percaya kepada Tuhan Yesus, sungguh-sungguh mengasihi Dia, dan berikhtiar untuk hidup di hadapan-Nya dengan hati nurani yang murni, dapat dalam kehidupan ini merasa pasti telah menerima kedudukan orang yang beroleh rahmat,[c] dan mereka boleh bersukacita dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Pengharapan itu tidak akan mengecewakan mereka.[d]

a. Ayu 8:13-14; Mik 3:11; Ula 29:19; Yoh 8:41. b. 1Yo 2:3; 3:14,18-19,21,24; 1Yo 5:13. d. Rom 5:2,5.

2. Kepastian itu bukanlah keyakinan yang bersifat dugaan dan kemungkinan belaka, yang berlandaskan pengharapan yang dapat saja keliru,[a] melainkan kepastian iman, yang tidak mungkin keliru. Dasarnya ialah janji-janji keselamatan,[b] yang benar karena datang dari Allah, kehadiran nyata karunia-karunia yang menjadi pokok janji-janji itu dalam batin,[c] kesaksian Roh yang menjadikan kita anak Allah, yang bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita anak-anak Allah.[d] Roh itulah jaminan warisan kira, dan Dia memeteraikan kita menjelang hari penyelamatan.[e]

a. Ibr 6:11,19. b. Ibr 6:17-18. c. 2Pe 1:4-5,10-11; 1Yo 2:3; 3:14; 2Ko 1:12. d. Rom 8:15-16. e. Efe 1:13-14; 4:30; 2Ko 1:21-22.

3. Kepastian yang tidak mungkin keliru itu termasuk hakikat iman. Kendati demikian, mungkin saja seorang yang benar-benar percaya harus menunggu lama dan mengalami banyak kesulitan sebelum mendapat bagian di dalamnya.[a] Namun, karena oleh Roh ia dibuat mampu mengetahui apa yang Allah karuniakan kepadanya dengan cuma-cuma, ia dapat mencapai kepastian itu tanpa wahyu yang luar biasa, dengan memakai sarana-sarana biasa secara tepat.[b] Karena itu, tiap-tiap orang harus sungguh-sungguh berusaha supaya panggilan dan pilihannya semakin teguh,[c] supaya dengan demikian hatinya dilapangkan dengan damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus, dengan kasih dan rasa syukur kepada Allah, dan dengan kekuatan serta kegirangan dalam menunaikan tugas-tugas kewajibannya. Semua itu merupakan buah wajar kepastian itu;[d] jadi, kepastian itu sama sekali tidak membuat manusia cenderung untuk sembrono.

a. 1Yo 5:13; Yes 50:10; Mar 9:24; Maz 88; Maz 77:1-12. b. 1Ko 2:12; 1Yo 4:13; Ibr 6:11-12; Efe 3:17-19. c. 2Pe 1:10. d. Rom 5:1-2,5; Rom 14:17; 15:13; Efe 1:3-4; Maz 4:6-7; 119:32. e. 1Yo 2:1-2; Tit 2:11-12,14; 2Ko 7:1; Rom 8:1,12; 1Yo 3:2-3; Maz 130:4; 1Yo 1:6-7.

4. Pada orang-orang yang benar-benar percaya, kepastian mengenai keselamatan mereka dapat dengan berbagai cara mengalami goncangan dan pengurangan, bahkan untuk sementara waktu menghilang. Sebabnya antara lain kelalaian dalam upaya memeliharanya, kejatuhan dalam dosa berat yang tertentu, atau godaan yang datang tiba-tiba atau yang sangat hebat; kadang-kadang juga Allah menyembunyikan cahaya wajah-Nya dan membiarkan mereka yang takut akan Dia pun berjalan dalam kegelapan dan tidak mendapat terang.[a] Namun, mereka tidak pernah kehilangan sama sekali benih ilahi, kehidupan iman, kasih kepada Kristus dan saudara-saudaranya, ketulusan hatinya, dan kesadaran akan tugas dan kewajibannya, yang sesudah waktu tertentu menjadi pangkal karya Roh Kudus yang menghidupkan kembali kepastian itu.[b] Hal-hal itu juga untuk sementara waktu menjadi sokongan bagi mereka sehingga mereka tidak putus asa.[c]

a. Kid 5:2-3,6; Maz 51:8,12,14; Efe 4:30-31; Maz 77:1-10; Mat 26:69-72; Maz 31:22; Maz 88; Yes 50:10. b. 1Yo 3:9; Luk 22:32; Ayu 13:15; Maz 73:15; Maz 51:8,12; Yes 50:10. c. Mik 7:7-9; Yer 32:40; Yes 54:7-10; Maz 22:1; Maz 88.

Bab XIX. Hukum Allah

1. Allah telah memberikan hukum kepada Adam, yang berupa perjanjian perbuatan. Olehnya Dia mengikat Adam dan seluruh keturunannya agar taat secara perseorangan, menyeluruh, cermat, dan sepanjang waktu. Dia menjanjikan kehidupan kalau hukum itu digenapi dan mengancamkan kematian kalau hukum itu dilanggar. Dia juga memperlengkapi Adam dengan kekuatan dan kemampuan mematuhinya.[a]

a. Kej 1:26-27; 2:17; Rom 2:14-15; 10:5; 5:12,19; Gal 3:10,12; Pengk 7:29; Ayu 28:28.

2. Sesudah kejatuhan Adam, hukum itu tetap merupakan kaidah kebenaran yang sempurna. Allah menyampaikannya di gunung Sinai, tercakup dalam sepuluh perintah dan tertulis pada dua loh batu,[a] agar menjadi kaidah seperti itu. Keempat perintah yang pertama berisi kewajiban kita terhadap Allah, dan keenam lainnya kewajiban kita terhadap sesama kita manusia.[b]

a. Yak 1:25; 2:8, 10-12; Rom 13:8-9; Ula 5:32; 10:4; Kel 34:1. b. Kel 30:3-17; Mat 22:37-40.

3. Selain hukum itu, yang biasanya disebut hukum kesusilaan, Allah berkenan memberikan hukum-hukum upacara kepada umat Israel, yang merupakan Gereja yang belum akil balig. Hukum itu mengandung sejumlah ketentuan yang bersifat lambang. Sebagian menyangkut ibadah dan merupakan perlambang yang menunjuk kepada Kristus dan semua anugerah-Nya, perbuatan-Nya, penderitaan-Nya, dan karunia-Nya.[a] sebagian lagi memperkenalkan bermacam-macam arahan mengenai kewajiban-kewajiban kesusilaan.[b] Kini, pada masa Perjanjian Baru, semua hukum upacara ini telah dihapuskan.[c]

a. Ibr 9; Ibr 10:1; Gal 4:1-3; Kol 2:17. b. 1Ko 5:7; 2Ko 6:17; Yud :23. c. Kol 2:14, 16-17; Dan 9:27; Efe 2:15-16.

4. Dia memberikan juga kepada mereka, sebagai umat bernegara, berbagai hukum di bidang peradilan. Masa berlaku hukum-hukum ini berakhir bersamaan dengan akhir negara bangsa itu, dan kini tidak mengikat bangsa lain apa pun, kecuali sejauh diperlukan mengingat bahwa hukum-hukum itu pada umumnya memang wajar.[a]

a. Kel 21:1-22:19; Kej 49:10 bersama 1Pe 2:13-14; Mat 5:17 bersama Mat 5:38-39; 1Ko 9:8-10.

5. Hukum kesusilaan tetap mengikat semua orang. Baik mereka yang telah dibenarkan maupun yang lain-lain harus mematuhinya,[a] bukan hanya berkenaan dengan materinya, melainkan juga dari sudut kewibawaan Allah Pencipta yang telah memberikannya.[b] Kristus pun dalam Injil sama sekali tidak meniadakan keharusan ini, bahkan Dia menguatkannya.[c]

a. Rom 13:8-10; Efe 6:2; 1Yo 2:3-4,7-8. b. Yak 2:10-11. c. Mat 5:17-19; Yak 2:8; Rom 3:31.

6. Orang-orang yang benar-benar percaya tidak berada dibawah hukum sebagai perjanjian perbuatan, sehingga mereka dapat dibenarkan atau dihukum olehnya.[a] Namun, hukum itu amat berguna bagi mereka, dan juga bagi orang lain, sebab hukum itu, sebagai kaidah kehidupan, menjelaskan kehendak Allah dan tugas kewajiban mereka dan dengan demikian mengarahkan dan mewajibkan mereka untuk hidup sesuai dengannya.[b] Hukum itu juga menyingkapkan kecemaran berdosa kodrat, hati, dan kehidupan mereka.[c] Dengan menguji dirinya berdasarkan hukum itu, mereka dapat semakin yakin akan dosanya, merendahkan diri karenanya, dan membencinya.[d] sekaligus melihat dengan lebih jelas betapa mereka membutuhkan Kristus dan kesempurnaan ketaatan-Nya.[e] Hukum itu bermanfaat juga bagi mereka yang dilahirkan kembali, karena melarang dosa,[f] sehingga menahan laju kerusakan mereka. Ancaman-ancaman yang tercantum di dalamnya memperlihatkan ganjaran yang selayaknya mereka terima atas dosa-dosa mereka dan kesusahan yang harus mereka nantikan dalam kehidupan ini sebagai balasannya, meskipun mereka dibebaskan dari kutuknya yang diancamkan dalam hukum.[g] Begitu pula janji-janjinya menunjukkan kepada mereka restu Allah atas ketaatan, dan berkat yang boleh mereka harapkan dari pelaksanaannya.[h] walaupun berkat itu tidak semestinya di anugerahkan kepada mereka menurut hukum sebagai perjanjian perbuatan.[i] Maka bahwasanya seseorang berbuat baik dan menjauhi kejahatan sebab hukum menganjurkan yang satu dan mencegah orang berbuat yang lain, tidak membuktikan orang itu berada dibawah hukum dan bukan di bawah anugerah.[j]

a. Rom 6:14; Gal 2:16; 3:13; 4:4-5; Kis 13:39; Rom 8:1. b. Rom 7:12,22,25; Maz 119:4-6; 1Ko 7:19; Gal 5:14-23. c. Rom 7:7; 3:20. d. Yak 1:23-25; Rom 7:9,14,24. e. Gal 3:24; Rom 7:24-25; 8:3-4. f. Yak 2:11; Maz 119:101,104,128. g. Ezr 9:13-14; Maz 89:30-34. h. Ima 26:1-14 bersama 2Ko 6:16; Efe 6:2-3; Maz 37:11 bersama Mat 5:5; Maz 19:11 bersama Mat 5:5; Maz 19:11. i. Gal 2:16; Luk 17:10. j. Rom 6:12,14; 1Pe 3:8-12 bersama Maz 34:12-16; Ibr 12:28-29.

7. Penggunaan hukum dengan cara-cara tersebut di atas tidak juga bertentangan dengan anugerah yang terdapat dalam Injil, tetapi selaras dengannya.[a] Sebab, Roh Kristus menundukkan kehendak manusia dan menjadikannya sanggup berbuat dengan rela dan sukacita apa yang dituntut oleh kehendak Allah yang dinyatakan dalam hukum.[b]

a. Gal 3:21. b. Yeh 36:27; Ibr 8:10 bersama Yer 31:33.

Bab XX. Kebebasan Kristen dan kebebasan hati nurani

1. Kebebasan yang telah Kristus peroleh untuk orang-orang percaya yang berada di bawah Injil mencakup kebebasan mereka dari kesalahan dosa dari murka Allah yang menghukum mereka, dan dari kutuk hukum kesusilaan.[a] Mereka dibebaskan pula dari dunia ini yang jahat, dari perhambaan kepada iblis dan kuasa dosa,[b] dari beban kesusahan, sengat maut, kemenangan kubur, dan hukuman kekal.[c] Juga mereka beroleh jalan masuk kepada Allah,[d] dan mereka taat kepada-Nya bukan karena takut bagaikan seorang budak melainkan karena kasih seorang anak dan dengan hati yang rela. [e] Semua hal itu dimiliki juga oleh orang-orang percaya yang masih berada di bawah hukum,[f] tetapi pada masa Perjanjian Baru kemerdekaan orang-orang Kristen diperluas lagi. Mereka bebas dari kuk hukum upacara yang kepadanya Gereja Yahudi pernah tunduk,[g] mereka lebih berani menghampiri takhta kasih karunia,[h] dan mereka menerima karunia-karunia Roh Allah yang merdeka[1] dengan lebih berlimpah dibandingkan dengan yang biasanya dimiliki orang-orang percaya yang berada di bawah hukum.[i]

a. Tit 2:14; 1Te 1:10; Gal 3:13. b. Gal 1:4; Kol 1:13; Kis 26:18; Rom 6:14. c. Rom 8:28; Maz 119:71; 2Ko 4:15-18; 1Ko 15:54-57; Rom 8:1. d. Rom 5:1-2. e. Rom 8:14-15; 1Yo 4:18; Gal 4:6. f. Gal 3:9,14. g. Gal 4:1-3,6-7; 5:1; Kis 15:10-11. h. Ibr 4:14,16; 10:19-22. i. Yoh 7:38-39; 2Ko 3:13,17-18.

2. Allah satu-satunya Tuhan hati nurani.[a] Dia membuat hati nurani itu bebas dalam hubungan dengan ajaran-ajaran dan perintah-perintah manusia yang dalam hal apa pun bertentangan dengan Firman-Nya atau menambahkan sesuatu padanya dalam hal iman dan ibadah.[b] Jadi, mempercayai ajaran-ajaran seperti itu atau mematuhi perintah-perintah seperti itu seakan-akan itu merupakan kewajiban hati nurani, berarti mengkhianati kebebasan hati nurani yang sebenarnya.[c] Begitu juga, menuntut kepercayaan implisit(2) dan kepatuhan mutlak serta buta berarti merusak kebebasan hati nurani dan juga kebebasan akal budi.[d]

a. Yak 4:12; Rom 14:4. b. Kis 4:19; 5:29; 1Ko 7:23; Mat 23:8-10; 2Ko 1:24; Mat 15:9. c. Kol 2:20,22-23; Gal 1:10; 2:4-5; 5:1. d. Rom 10:17; 14:23; Yes 8:20; Kis 17:11; Yoh 4:22; Hos 5:11; Wah 13:12, 16-17; Yer 8:9.

3. Mereka yang dengan memakai dalih kebebasan Kristen melakukan sesuatu dosa atau mengumbar hawa nafsu, dengan demikian merusak tujuan kebebasan Kristen, yaitu bahwa kita, setelah dilepaskan dari tangan musuh kita, mengabdi kepada Tuhan tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya, sepanjang hidup kita.[a]

a. Gal 5:13; 1Pe 2:16; 2Pe 2:19; Yoh 8:34; Luk 1:74-75.

4. Allah tidak bermaksud supaya kekuasaan yang telah ditetapkan-Nya dan kebebasan yang diperoleh Kristus saling merusak, tetapi supaya keduanya saling menunjang dan mempertahankan. Maka itu, mereka yang dengan dalih kebebasan Kristen melawan kekuasaan apa pun yang sah atau pelaksanaan kekuasaan itu dengan cara yang ah, apakah itu kuasa negara atau gereja, melawan ketetapan Allah.[a] Bila mereka menyiarkan pendapat-pendapat atau mempraktikkan cara-cara seperti itu, yang bertentangan dengan terang kodrati atau dengan asas-asas agama Kristen yang umum dikenal - apakah berkenaan dengan hal iman, ibadah atau tata kebiasaan - atau yang bertentangan dengan pengaruh kesalehan[1] maka dapat saja mereka dimintai mempertanggungjawabkan perbuatannya, dan boleh diambil tindakan melawan mereka melalui disiplin gereja[b] dan melalui kekuasaan pemerintah negara. [c] begitu juga bila mereka menyiarkan pendapat-pendapat atau mempraktikkan cara- cara keliru yang, karena sifatnya sendiri atau disebabkan cara menyiarkan dan mempraktikkannya, merusak kedamaian dan tata tertib lahiriah yang telah Kristus tetapkan dalam gereja.

a. Mat 12:25; 1Pe 2:13-14, 16; Rom 13:1-8; Ibr 13:17. b. Rom 1:32 bersama 1Ko 5:1, 5, 11, 13; 2Yo :10-11 dan 2Te 3:14 dan 1Ti 6:3-5 dan 1Ti 1:19-20 serta Tit 1:10-11, 13-14 dan Tit 3:10 bersama Mat 18:15-17; Wah 2:2,14-15,20; 3:9. c. Ula 13:6-12; Rom 13:3-4 bersama 2Yo 10-11; Ezr 7:23,25-28; Wah 17:12,16,17; Neh 13:15,17,21-22,25,30; 2Ra 23:5-6,9,20-21; 2Ta 15:12-13,16; Dan 3:29; 1Ti 2:2; Yes 49:23; Zak 13:2-3.

Bab XXI. Ibadah keagamaan dan hari Sabat

1. Terang kodrati memperlihatkan bahwa ada satu Allah, yang berkuasa sebagai Tuhan dan berdaulat atas segala sesuatu. Dia baik, dan berbuat baik kepada segala sesuatu. Oleh karena itu, Dia harus disegani, dikasihi, dipuji, diseru, dipercayai, dan dilayani dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan.[a] Akan tetapi, cara menyembah Allah yang sejati yang dapat diterima-Nya telah ditetapkan-Nya sendiri, dan melalui penyataan kehendak-Nya Dia membatasinya begitu rupa, sehingga Dia tidak boleh disembah menurut rekaan atau akal manusia, atau bisikan iblis, dengan memakai rupa yang kasatmata, atau dengan cara lain apa pun yang tidak diperintahkan dalam Kitab Suci.[b]

a. Rom 1:20; Kis 17:24; Maz 119:68; Yer 10:7; Maz 31:23; Maz 18:3; Rom 10:12; Maz 62:8; Yos 24:14; Mar 12:33. b. Ula 12:32; Mat 15:9; Kis 17:25; Mat 4:9-10; Ula 4:15-20; Kel 20:4-6; Kol 2:23.

2. Ibadah keagamaan harus ditunjukkan kepada Allah, Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan hanya kepada Dia,[a] bukan kepada malaikat, orang kudus, atau makhluk lain apa pun,[b] dan, sejak kejatuhan ke dalam dosa, tidak tanpa seorang Pengantara, tidak juga dengan pengantaraan siapa pun kecuali Kristus seorang.[c]

a. Mat 4:10 bersama Yoh 5:23 dan 2Ko 13:14. b. Kol 2:18; Wah 19:10; Rom 1:25. c. Yoh 14:6; 1Ti 2:5; Efe 2:18; Kol 3:17.

3. Doa dan pengucapan syukur merupakan bagian khusus ibadah keagamaan.[a] Allah menuntutnya dari semua orang.[b] Agar diterima, doa itu harus dilakukan dalam nama Anak,[c] dengan pertolongan Roh-Nya,[d] sesuai dengan kehendak-Nya.[e] dengan pengertian baik, rasa hormat, kerendahan hati, kehangatan iman, kasih dan ketekunan,[f] dan, kalau doa itu diucapkan dengan suara nyaring, dan dalam bahasa yang dikenal baik.[g]

a. Fil 4:6. b. Maz 65:2. c. Yoh 14:13-14; 1Pe 2:5. d. Rom 8:26. e. 1Yo 5:14. f. Maz 47:7; Pengk 5:1-2; Ibr 12:28; Kej 18:27; Yak 5:16; 1:6-7; Mar 11:24; Mat 6:12, 14-15; Kol 4:2; Efe 6:18. g. 1Ko 14:14.

4. Doa itu harus dilakukan bagi semua perkara yang sah (a) dan bagi semua jenis orang yang hidup sekarang atau yang akan hidup di masa mendatang,[b] tetapi bukan bagi orang mati,[c] dan bukan juga bagi mereka yang diketahui telah melakukan dosa yang mendatangkan maut.[d]

a. 1Yo 5:14. b. 1Ti 2:1-2; Yoh 17:20; 2Sa 7:29; Rut 2:12. c. 2Sa 12:21-23 bersama Luk 16:25-26; Wah 14:13. d. 1Yo 5:16.

5. Membacakan Alkitab dengan keseganan yang saleh,[a] memberitakan Firman secara sehat,[b] dan mendengarkan pemberitaan itu dengan takwa, dalam ketaatan kepada Allah, dengan pengertian baik, iman dan rasa hormat,[c] menyanyikan mazmur- mazmur dengan hati yang bersyukur,[d] begitu juga pelayanan sakramen-sakramen yang telah Kristus tetapkan dengan cara yang patut dan penerimaannya dengan cara yang layak - semua hal ini termasuk ibadah keagamaan yang biasa kepada Allah.[e] Di samping itu ada sumpah keagamaan,[f] nazar,[g] puasa khidmat,[h] dan pengucapan syukur, pada kesempatan-kesempatan khusus.[i] Hal itu perlu dipakai dengan cara kudus dan religius pada waktu dan kesempatan masing-masing.[j]

a. Kis 15:21; Wah 1:3. b. 2Ti 4:2. c. Yak 1:22; Kis 10:33; Mat 13:19; Ibr 4:2; Yes 66:2. d. Kol 3:16; Efe 5:19; Yak 5:13. e. Mat 28:19; 1Ko 11:23-29; Kis 2:42. f. Ula 6:13 bersama Neh 10:29. g. Yes 19:21 bersama Pengk 5:4-5. h. Yoe 2:12; Est 4:16; Mat 9:15; 1Ko 7:5. i. Maz 107:1-43; Est 9:22. j. Ibr 12:28.

6. Pada masa Injil ini, baik doa maupun bagian lain apa pun ibadah keagamaan tidak terikat pada tempat penyelenggaraannya atau pengiblatannya, dan tidak menjadi lebih layak diterima karenanya.[a] Sebaliknya, Allah seharusnya disembah disetiap tempat,[b] dalam roh dan kebenaran,[c] baik dalam lingkungan keluarga[d] dan secara tersembunyi oleh tiap-tiap orang secara tersendiri.[e] tiap-tiap hari,[f] maupun dengan cara lebih khidmat dalam kumpulan-kumpulan umum, yang tidak boleh diabaikan atau dihentikan secara sembrono atau semau kita, setiap kali Allah melalui Firman-Nya atau pemeliharaan-Nya memanggil kita padanya.[g]

a. Yoh 4:21. b. Mal 1:11; 1Ti 2:8. c. Yoh 4:23-24. d. Yer 10:25; Ula 6;6-7; Ayu 1:5; 2Sa 6:18,20; 1Pe 3:7; Kis 10:2. e. Mat 6:11. f. Mat 6:6; Efe 6:18. g. Yes 56:6, 7; Ibr 10:25; Pengk 1:20-21, 24; Kis 13:42; Luk 4:16; Kis 2:42.

7. Menurut hukum alam, seharusnya manusia menyisihkan bagian waktu secara umum untuk menyembah Allah. Begitu pula dalam Firman-Nya Dia menetapkan secara khusus satu hari dari ketujuh hari menjadi Hari Sabat, yang perlu dikuduskan untuk Dia. Hal itu Dia lakukan melalui suatu perintah yang tegas, yang termasuk hukum kesusilaan, yang berlaku untuk selamanya, dan yang mengikat semua orang dari segala umur.[a] Sejak permulaan dunia hingga kebangkitan Kristus hari itu adalah hari terakhir tiap-tiap minggu.[b] dan sejak kebangkitan Kristus hari itu diubah menjadi hari pertama tiap-tiap minggu. Dalam Alkitab hari itu disebut Hari Tuhan.[c] dan perayaannya harus diteruskan sampai akhir dunia, sebagai Hari Sabat Kristen.[d]

a. Kel 20:8,10:11; Yes 56:2-4,6-7. b. Kej 2:2-3; 1Ko 16:1-2; Kis 20:7. c. Wah 1:10. d. Kel 20:8,10 bersama Mat 5:17-18.

8. Hari Sabat itu dikuduskan untuk Tuhan bila orang, setelah menyiapkan hatinya dan mengatur urusan-urusannya yang biasa dengan sepatutnya, menjalankan istirahat kudus sepanjang hari dari perbuatan, perkataan, dan pikiran mereka sendiri berkenaan dengan kesibukan dan hiburan duniawi mereka,[a] dan juga menyibukkan diri seluruh waktu itu dalam pelaksanaan ibadah umum dan perseorangan, dan dalam tugas-tugas yang memang mutlak perlu serta dalam perbuatan belas kasih.[b]

a. Kel 20:8; 16:23, 25, 26, 29, 30; 20:8; 31:15-17; Yes 58:13; Neh 13:15-19, 21-22. b. Yes 58:13; Mat 12:1-13.

Bab XXII. Sumpah dan nazar yang sah

1. Sumpah yang sah termasuk ibadah keagamaan.[a] Melaluinya, pada kesempatan yang tepat, orang yang bersumpah memanggil Allah dengan khidmat supaya Dia menjadi saksi pernyataan atau janjinya dan menilai dia menurut benar tidaknya sumpahnya.[b]

a. Ula 10:20. b. Kel 20:7; Ima 19:12; 2Ko 1:23; 2Ta 6:22-23.

2. Seharusnya orang bersumpah demi nama Allah semata-mata, dan nama itu wajib dipakai dalam sumpah dengan segala rasa takut dan hormat yang kudus.[a] Karena itu, bersumpah secara sembarangan atau sembrono demi nama yang mulia dan dahsyat itu, atau bersumpah demi barang apa yang lain adalah perbuatan berdosa dan patut dijauhi dengan gemetar.[b] Meskipun demikian, Firman Allah membenarkan sumpah dalam perkara-perkara yang berbobot dan penting, baik pada masa Perjanjian Baru maupun pada masa Perjanjian lama.[c] Oleh karena itu, dalam perkara-perkara seperti orang harus mengangkat sumpah yang sah, yang diharuskan oleh penguasa yang sah.[d]

a. Ula 6:13. b. Kel 20:7; Yer 5:7; Mat 5:34,37; Yak 5:12. c. Ibr 6:16; 2Ko 1:23; Yes 65:16. d. 1Ra 8:31; Neh 13:25; Ezr 10:5.

3. Barangsiapa mengangkat sumpah seharusnya mempertimbangkan baik-baik dalam hati beratnya perbuatan yang begitu khidmat, dan di dalamnya menyatakan hanya apa yang ia yakini sepenuhnya merupakan kebenaran.[a] Tidak seorang pun boleh mengikat diri dengan sumpah pada sesuatu hal kecuali pada yang baik dan benar saja, dan pada apa yang ia percayai benar-benar demikian, memberi sumpah berkenaan dengan sesuatu yang baik dan adil, yang diharuskan oleh penguasa yang sah, adalah dosa.

a. Kel 20:7; Yer 4:2. b. Kej 24:2-3,5-9. c. Bil 5:19,21; Neh 5:12; Kel 22:7-11.

4. Sumpah harus diangkat dengan memakai kata-kata menurut artinya yang biasa dan umum, tanpa kekaburan dan tanpa menyembunyikan maksud yang sebenarnya.[a] Sumpah itu tidak boleh mewajibkan orang untuk berdosa, tetapi dalam semua hal yang tidak berdosa, sumpah itu, setelah diangkat, bersifat mengikat dan harus dilaksanakan walaupun merugikan orangnya.[b] Sumpah itu tidak boleh dilanggar, meski diucapkan kepada orang-orang bidat atau non-Kristen.

a. Yer 4:2; Maz 24:4. b. 1Sa 25:22,32-34; Maz 15:4. c. Yeh 17:16-18,19; Yos 9:19 bersama 2Sa 21:1.

5. Nazar serupa dengan sumpah janji, dan patut diucapkan dengan sikap hati-hati, yang didasari rasa keagamaan, serta dilaksanakan dengan kesetiaan yang sama seperti sumpah itu.[a]

a. Yes 19:21; Pengk 5:4-6; Maz 61:8; 66:13-14.

6. Nazar itu tidak boleh dilakukan kepada makhluk apa pun, tetapi hanya kepada Allah.[a] Supaya dapat diterima, nazar itu harus dilakukan dengan sukarela, berdasarkan iman dan kesadaran akan tugas kewajiban, sebagai ucapan syukur atas anugerah yang telah diterima, atau demi memperoleh apa yang kita ingini. Melaluinya kita mengikat diri dengan lebih ketat pada tugas kewajiban atau pada hal-hal lain, sejauh dan selama nazar itu bermanfaat untuknya.[b]

a. Maz 76:11; Yer 44:25-26. b. Ula 23:21-23; Maz 50:14; Kej 28:20-22; 1Sa 1:11; Maz 66:13-14; 132:2-5.

7. Tidak seorangpun boleh bernazar hendak melakukan sesuatu yang dilarang dalam Firman Allah, atau yang menjadi rintangan bagi pelaksana tugas kewajiban apapun yang diperintahkan dalam Firman itu, atau yang tidak terjangkau olehnya dan yang pelaksanaannya tidak dimungkinkan oleh janji atau kemampuan yang diterimanya dari Allah.[a] Dari sudut pandangan ini, kaul yang biasa diucapkan dalam gereja Katolik Roma, untuk tetap hidup sebagai orang yang tidak menikah, miskin, dan taat pada aturan ordo, sama sekali tidak merupakan tingkat kesempurnaan yang lebih tinggi, bahkan merupakan jerat yang penuh ketakhyulan dan dosa, dan tidak satu orang Kristen pun boleh membiarkan dirinya terjerat di dalamnya.[b]

a. Kis 23:12,14; Mar 6:26; Bil 30:5,8,12-13. b. Mat 19:11-12; 1Ko 7:2,9; Efe 4:28; 1Pe 4:2; 1Ko 7:23.

Bab XXIII. Pemerintahan Negara

1. Allah, Tuhan dan Raja tertinggi semesta alam, telah menetapkan pemerintah negara agar, di bawah diri-Nya sendiri, berkuasa atas rakyat, demi kemuliaan-Nya sendiri dan demi kebaikan umum. Untuk tujuan itu Dia telah membuatnya menyandang pedang, untuk melindungi dan memberi semangat mereka yang baik dan untuk menghukum mereka yang berbuat jahat.[a]

a. Rom 13:1-4; 1Pe 2:13-14.

2. Orang-orang Kristen boleh menerima dan menjalankan jabatan pemerintahan bila mereka dipanggil untuk itu.[a] Dan penyelenggaraan jabatan itu sepatutnya mereka mempertahankan kesalehan, keadilan, dan kedamaian, seturut undang-undang sehat tiap-tiap negara.[b] Karena mereka boleh, pada masa Perjanjian Baru ini, dalam perkara yang adil dan perlu, menjalankan perang untuk perkara itu. [c]

a. Ams 8:15-16; Rom 13:1-2,4. b. Maz 2:10-12; 1Ti 2:2; Maz 82:3-4; 2Sa 23:3; 1Pe 2:13. c. Luk 3:14; Rom 13:4; Mat 8:9-10; Kis 10:1-2; Wah 17:14,16.

3. Pemerintah negara tidak boleh menyerobot pelayanan Firman dan sakramen- sakramen atau kuasa kunci-kunci Kerajaan Surga.[a] Namun, pemerintah itu berwenang dan bertugas berupaya agar kerukunan dan kedamaian dipelihara di dalam Gereja, agar kebenaran Allah dijaga kemurnian dan keutuhannya, agar semua hujat dan bidat ditekan, semua kerusakan dan kebiasaan yang keliru dalam hal ibadah dan disiplin gereja dicegah atau dibenahi, dan semua pranata yang diperintahkan Allah diatur dalam undang-undang, dilaksanakan, dan dipatuhi.[b] Agar semua hal itu dapat dilakukan dengan lebih baik maka pemerintah berwenang memanggil sinode-sinode bersidang, menghadiri sidang-sidang sinode itu, dan berupaya agar semua keputusan yang diambil di dalamnya sesuai dengan kehendak Allah.[1][c]

a. 2Ta 26:18 bersama Mat 18:17 dan Mat 16:19; 1Ko 12:28-29; Efe 4:11-12; 1Ko 4:1-2; Rom 10:15; Ibr 5:4. b. Yes 49:23; Maz 122:9; Ezr 7:23,25-28; Ima 24:16; Ula 13:5,6,12; 2Ra 18:4; 1Ta 13:1-9; 2Ra 23:1-26; 2Ta 34:33; 2Ta 15:12-13. c. 2Ta 19:8-11; 2Ta 29 dan 2Ta 30; Mat 2:4-5.

4. Rakyat wajib, oleh karena hati nurani, mendoakan tokoh-tokoh pemerintaan,[a] menghormati pribadi-pribadi mereka, [b] membayar pajak dan cukai kepada mereka,[c] mematuhi perintah-perintah mereka yang sesuai dengan hukum dan tunduk kepada wewenang mereka. [d] Kalau pemerintah itu terdiri dari orang yang tidak setia kepada agama, atau beragama lain, hal itu terdiri dari orang yang tidak setia pada agama, atau beragama lain, hal itu tidak meniadakan wewenang mereka yang sah sesuai dengan hukum, dan tidak membebaskan rakyat dari kepatuhan yang seharusnya kepadanya.[e] Dalam hal ini tokoh-tokoh gerejawi tidak terkecuali.[f] Secara khusus, Paus tidak memiliki wewenang atau kuasa hukum apa pun atas pemerintah dalam wilayah kekuasaannya atau atas siapa pun dari rakyatnya, apalagi untuk merampas wilayah kekuasaannya atau nyawanya bila ia menilai mereka penganut bidat, atau dengan dalih apa pun yang lain.[g]

a. 1Ti 2:1-2. b. 1Pe 2:17. c. Rom 13:6-7. d. Rom 13:5; Tit 3:1. e. 1Pe 2:13-14,16. f. Rom 13:1; 1Ra 2:35; Kis 25:9-11; 2Pe 2:1,10-11; Yud :8-11. g. 2Te 2:4; Wah 13:15-17.

Bab XXIV. Perkawinan dan perceraian

1. Perkawinan seharusnya diikat antara satu orang laki-laki dan satu orang perempuan. Tidak sesuai dengan hukum kalau seorang laki-laki beristri lebih dari seorang, dan seorang perempuan bersuami lebih dari seorang, dalam waktu yang bersamaan.[a]

a. Kej 2:24; Mat 19:5-6; Ams 2:17.

2. Perkawinan ditetapkan dengan maksud agar suami-isteri saling membantu,[a]agar umat manusia bertambah dengan adanya keturunan yang sah dan Gereja bertambah dengan adanya benih kudus,[b] dan agar perbuatan tidak senonoh dicegah.[c]

a. Kej 2:18. b. Mal 2:15. c. 1Ko 7:2,9.

3. Menurut undang-undang, semua jenis orang yang mampu memberi persetujuan berdasarkan penilaian yang sehat boleh kawin.[a] Namun, orang-orang Kristen wajib menikah hanya dalam Tuhan.[b] Oleh karena itu, hendaklah para penganut agama Reformasi yang benar jangan menikah dengan orang-orang bukan Kristen, orang Katolik Roma, atau penyembah berhala lainnya; jangan juga orang-orang saleh membentuk pasangan yang tidak seimbang dengan menikahi orang yang terkenal jahat hidupnya atau menganut ajaran bidat yang terkutuk.[c]

a. Ibr 13:4; 1Ti 4:3; 1Ko 7:36-38; Kej 24:57-58. b. 1Ko 7:39. c. Kej 34:14; Kel 34:16; Ula 7:3-4; 1Ra 11:4; Neh 13:25-27; Mal 2:11-12; 2Ko 6:14.

4. Perkawinan jangan diikat di dalam batas tingkat kekerabatan atau pertalian darah yang dilarang dalam Firman.[a] Perkawinan sumbang seperti itu tidak mungkin disahkan oleh hukum manusia atau kesepakatan pihak-pihak yang bersangkutan, sehingga kedua orang itu dapat hidup bersama selaku suami- isteri.[b] Seorang laki-laki tidak boleh menikahi salah seorang kerabat isterinya yang lebih dekat pertalian darahnya daripada yang diperbolehkan sehubungan dengan kaum kerabatnya sendiri, dan seorang perempuan tidak boleh menikahi salah seorang kerabat suaminya yang lebih dekat pertalian darahnya daripada yang diperbolehkan sehubungan dengan kaum kerabatnya sendiri.[c]

a. Ima 18; 1Ko 5:1; Ams 2:7. b. Mar 6:18; Ima 18:24-28. c. Ima 20:19-21.

5. Perzinahan dan perbuatan cabul yang dilakukan sesudah kontrak pertunangan dan yang tersingkap sebelum upacara perkawinan, merupakan alasan yang tepat bagi pihak yang bersalah untuk membatalkan kontrak itu. [a] Dalam peristiwa perzinahan sesudah pernikahan, pihak yang tidak bersalah boleh menuntut cerai[b] dan sesudah perceraian menikah dengan seorang lain seolah-olah pihak yang bersalah itu sudah meninggal dunia.[c]

a. Mat 1:18-20. b. Mat 5:31, 32. c. Mat 19:9; Rom 7:2-3.

6. Kerusakan manusia begitu besar, hingga ia cenderung mencari alasan-alasan untuk menceraikan dengan cara tidak sah apa yang telah Allah satukan dalam perkawinan. Meskipun demikian, hanya perzinahan atau perbuatan meninggalkan yang sama tidak dapat diatasi oleh Gereja atau oleh pemerintah negara merupakan alasan yang memadai untuk menguraikan ikatan perkawinan.[a] Dalam hal ini orang harus memakai prosedur yang resmi dan tertib, dan orang-orang yang bersangkutan tidak boleh dibiarkan mengikuti kemauan dan pertimbangan sendiri dalam kasus mereka.[b]

a. Mat 19:8-9; 1Ko 7:15; Mat 19:6. b. Ula 24:1-4.

Bab XXV. Gereja

1. Gereja yang katolik atau am, yang tidak kelihatan, terdiri atas seluruh jumlah orang terpilih, yang telah, sedang, dan akan dihimpun menjadi satu di bawah Kristus, Kepalanya. Gereja itu adalah pengantin perempuan, tubuh, kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu.[a]

a. Efe 1:10, 22-23; 5:23, 27,32; Kol 1:18.

2. Gereja yang kelihatan, yang pada masa Injil juga katolik atau am(tidak terbatas pada satu bangsa, seperti sebelumnya pada masa hukum Taurat), terdiri atas semua orang di seluruh dunia yang menganut agama yang benar,[a] dan atas anak-anak mereka.[b] Gereja itu adalah Kerajaan Yesus Kristus,[c] Bait Allah, dan Keluarga Allah.[d] Menurut aturan biasa, di luarnya tidak ada kemungkinan memperoleh keselamatan.(1e)

a. 1Ko 1:2; 12:12-13; Maz 2:8; Wah 7:9; Rom 15:9-12. b. 1Ko 7:14; Kis 2:39; Yeh 16:20-21; Rom 11:16; Kej 3:15; 17:7. c. Mat 13:47; Yes 9:7. d. Efe 2:19; 3:15. e. Kis 2:47.

3. Kristus telah menyerahkan kepada Gereja yang katolik dan am itu pelayanan, sabda, dan pranata-pranata yang ditetapkan Allah untuk mengumpulkan dan menyempurnakan orang-orang kudus dalam kehidupan ini, sampai akhir dunia. Sesuai dengan janji-Nya, melalui kehadiran-Nya dan Roh-Nya Dia membuat semua sarana tersebut menjadi berhasil guna demi tercapainya tujuan tersebut.[a]

a. 1Ko 12:28; Efe 4:11-13; Mat 28:19-20; Yes 59:12.

4. Di masa lampau, Gereja yang katolik ini terkadang kelihatan, terkadang juga kurang kelihatan.[a] Gereja-gereja tertentu, yang menjadi bagian Gereja katolik itu, berbeda tingkat kemurniannya, menurut tingkat kemurnian cara ajaran Injil diajarkan dan dianut, pranata-pranata yang ditetapkan Allah dilayankan, dan ibadah umum dirayakan di dalamnya.[b]

a. Rom 11:3-4; Wah 12:6,14. b. Wah 2:3; 1Ko 5:6-7.

5. Semurni apa pun Gereja-gereja di bawah kolong langit, bisa saja mereka bersifat campuran dan kena ajaran sesat.[a] Ada yang telah begitu merosot, sehingga bukan lagi Gereja Kristus, melainkan jemaah iblis.(1b) Meskipun demikian, senantiasa akan ada Gereja di dunia ini, untuk memuja Allah dengan cara yang sesuai dengan kehendak-Nya.[c]

a. 1Ko 13:12; Wah 2:3; Mat 13:24-30,47. b. Wah 18:2; Rom 11:18-22. c. Mat 16:18; Maz 72:17; 102:28; Mat 28:19-20.

6. Tidak ada Kepala Gereja selain Tuhan Yesus Kristus.[a] Paus di Roma pun tidak dapat menjadi kepalanya dalam arti apapun. Sebaliknya, Dia yang adalah Anti- Kristus, manusia durhaka yang harus binasa, yang meninggikan diri di dalam Gereja melawan Kristus dan melawan segala yang disebut Allah.

a. Kol 1:18; Efe 1:22. b. Mat 23:8-10; 2Te 2;3-4,8-9; Wah 13:6.

Bab XXVI. Persekutuan orang kudus

1. Semua orang kudus yang disatukan dengan Yesus Kristus, Kepala mereka, oleh Roh-Nya dan oleh iman, bersekutu dengan Dia dalam karunia-karunia-Nya, dalam penderitaan-Nya, dalam kematian-Nya, dalam kebangkitan-Nya, dan dalam kemulian- Nya.[a] Dan karena mereka disatukan yang seorang dengan yang lain dalam kasih, maka karunia-karunia dan anugerah-anugerah mereka masing-masing menjadi milik bersama;[b]lagi pula, mereka wajib menunaikan tugas-tugas, dalam lingkungan masyarakat dan pribadi, yang mendatangkan kebaikan bagi masing-masing, baik sejauh menyangkut manusia batin maupun sejauh menyangkut manusia lahir.[c]

a. 1Yo 1:3; Efe 3:16-19; Yoh 1:16; Efe 2:5-6; Fil 3:10; Rom 6:5-6; 8:17; 2Ti 2:12. b. Efe 4:15-16; 1Ko 12:7; 3:21-23; Kol 2:19. c. 1Te 5:11,14; Rom 1:11-12,14; 1Yo 3;16-18; Gal 6:10.

2. Mereka yang mengaku orang-orang kudus wajib memelihara persaudaraan dan persekutuan dalam ibadah kepada Allah dan dalam pelaksanaan pelayanan-pelayanan rohani yang lain, yang berguna untuk saling membangun.[a] Mereka wajib juga saling meringankan beban dalam hal-hal lahiriah, menurut kemampuan dan kebutuhan masing-masing. Persekutuan itu harus diperluas, menurut kesempatan yang Allah berikan, hingga menjangkau semua orang yang, di tempat apa pun, berseru kepada nama Tuhan Yesus.[b]

a. Ibr 10:24-25; Kis 2:42, 46; Yes 2:3; 1Ko 11:20. b. Kis 2;44-45; 1Yo 3:17; 2Ko 8-9; Kis 11:29-30.

3. Persekutuan orang-orang kudus dengan Kristus itu tidak membuat mereka dengan cara apa pun mengambil bagian dalam hakikat keAllahan-Nya atau menjadi setara dengan Kristus dari sudut pandangan apa pun. Menyatakan salah satu dari kedua pendapat ini fasik dan hujat.[a] Persekutuan mereka yang seorang dengan yang lain sebagai orang-orang kudus tidak juga meniadakan atau merongrong hak dan kemilikan tiap-tiap orang atas hartanya.(1b)

a. Kol 1:18-19; 1Ko 8:6; Yes 42:8; 1Ti 6:15; Maz 45:7 bersama Ibr 1:8-9. b. Kel 20:15; Efe 4:28; Kis 5:4.

Bab XXVII. Sakramen-sakramen

1. Sakramen-sakramen adalah tanda dan meterai kudus perjanjian anugerah,[a] yang langsung di tetapkan oleh Allah.[b] Melaluinya Allah hendak menggambarkan Kristus dan anugerah-Nya serta meneguhkan bahwa kita berhak mengambil bagian di dalam Dia,[c] mendirikan tanda pemisah yang kelihatan antara mereka yang termasuk Gereja dan isi dunia lainnya,[d] dan mengikat mereka dengan upacara khidmat agar mengabdikan diri kepada Allah di dalam Kristus, sesuai dengan Firman-Nya.[e]

a. Rom 4:11; Kej 17:7,10. b. Mat 28:19; 1Ko 11:23. c. 1Ko 10:16; 1Ko 11:25-26; Gal 3:17. d. Rom 15:8; Kel 12:48; Kej 34:14. e. Rom 6:3-4; 1Ko 10:16,21.

2. Dalam tiap-tiap sakramen ada hubungan rohani, atau persatuan sakramental, antara tanda dan hal yang ditandakan. Oleh karena itu, kadang-kadang hal yang ditandakan disebut dengan nama dan hasil tandanya, dan sebaliknya.[a]

a. Kej 17:10; Mat 26:27-28; Tit 3:5.

3. Anugerah yang diperlihatkan di dalam atau melalui sakramen-sakramen kalau orang menggunakannya dengan semestinya, tidak dikaruniakan oleh kuasa yang ada di dalamnya. Begitu juga salah satu sakramen tidak dibuat berhasil guna oleh kesalehan atau maksud tokoh yang melayankannya,[a] tetapi oleh karya Roh[b] dan perkataan-perkataan penetapannya, yang, di samping perintah yang mengaruniakan wewenang menggunakan sakramen, mengandung juga janji kebaikan kepada orang-orang yang menerimanya dengan cara yang laYak[c]

a. Rom 2:28-29; 1Pe 3:21. b. Mat 3:11; 1Ko 12:13. c. Mat 26:27-28; Mat 28:19-20.

4. Hanya dua sakramen yang ditetapkan oleh Kristus Tuhan kita dalam Injil, yaitu Baptisan dan Perjamuan Malam Tuhan. Keduanya tidak boleh dilayankan selain oleh seorang pelayan Firman yang diteguhkan dengan cara yang sah.[a]

a. Mat 28:19; 1Ko 11:20-23; 1Ko 4:1; Ibr 5:4.

5. Sakramen-sakramen Perjanjian Lama pada hakikatnya sama dengan sakramen- sakramen Perjanjian Baru dari sudut pandangan hal-hal rohani yang ditandakan dan diperlihatkan olehnya.[a]

a. 1Ko 10:1-4.

Bab XXVIII. Baptisan

1. Baptisan adalah suatu sakramen Perjanjian Baru yang ditetapkan oleh Yesus Kristus.[a] Maksudnya bukan hanya agar pihak yang dibaptis diterima ke dalam Gereja yang kelihatan dengan upacara yang khidmat,[b] melainkan juga supaya baginya baptisan menandakan dan memeteraikan perjanjian anugerah,[c] pencangkokannya pada Kristus,[d] kelahiran kembali,[e] pengampunan dosa,[f] dan penyerahan diri kepada Allah, melalui Yesus Kristus, untuk menempuh hidup yang baru.[g] Menurut pesan Kristus sendiri, sakramen ini harus diteruskan dalam Gereja-Nya sampai akhir dunia.[h]

a. Mat 28:19. b. 1Ko 12:13. c. Rom 4:11 bersama Kol 2:11-12. d. Gal 3:27; Rom 6:5. e. Tit 3:5. f. Mar 1:4. g. Rom 6:3-4. h. Mat 28:19-20.

2. Unsur lahiriah yang harus dipakai dalam sakramen ini ialah air. Dengan air itu pihak yang dibaptis harus dibaptis dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, oleh seorang pelayan Injil yang dipanggil untuk itu dengan cara yang sah.[a]

a. Mat 3:11; Yoh 1:33; Mat 28:19-20.

3. Menyelamatkan orangnya ke dalam air tidak perlu. Cara pelayanan yang tepat ialah dengan mencurahkan atau memercikkan air atas orang itu.[a]

a. Ibr 9:10, 19-22; Kis 2:41; 16:33; Mar 7:4.

4. Yang harus dibaptis bukan hanya mereka yang nyata-nyata mengikrarkan iman dan kepatuhannya kepada Kristus,[a] melainkan juga kanak-kanak, bila satu orang tua atau keduanya adalah orang percaya.[b]

a. Mar 16:15-16; Kis 8:37-38. b. Kej 17:7,9-10 bersama Gal 3:9, 14 dan Kol 2:11-12 serta Kis 2:38-39 dan Rom 4:11-12; 1Ko 7:14; Mat 28:19; Mar 10:13-16; Luk 18:15.

5. Menghina atau mengabaikan pranata yang ditetapkan Allah ini adalah dosa besar.[a] Namun, rahmat dan keselamatan tidak dikaitkan padanya secara tak terpisahkan, seolah-olah tidak seorang pun dapat dilahirkan kembali atau diselamatkan tanpa pranata itu,[b] atau seolah-olah tidak perlu disangsikan semua orang yang telah dibaptis telah dilahirkan kembali.[c]

a. Luk 7:30 dan Kel 4:24-26. b. Rom 4:11; Kis 10:2,4,22,31,45,47. c. Kis 8:13,23.

6. Keampuhan baptisan tidak terikat pada saat pelayanannya.[a] Meskipun demikian, melalui penggunaan pranata ini dengan cara yang tepat, anugerah yang dijanjikan tidak hanya ditawarkan tetapi juga nyata-nyata diperlihatkan dan dilimpahkan oleh Roh Kudus kepada orang-orang (apakah mereka orang dewasa atau kanak-kanak) yang patut menerima anugerah itu, menurut rencana kehendak Allah, pada waktu yang Dia tentukan.[b]

a. Yoh 3:5, 8. b. Gal 3:27; Tit 3:5; Efe 5:25-26; Kis 2:38,41.

7. Seharusnya sakramen baptisan dilayankan kepada seseorang hanya satu kali.[a]

a. Tit 3:5.

Bab XXIX. Perjamuan Tuhan

1. Tuhan kita Yesus, pada malam waktu Dia diserahkan, menetapkan sakramen tubuh dan darah-Nya, yang disebut Perjamuan Malam Tuhan, agar diselenggarakan dalam Gereja-Nya sampai akhir dunia. Maksudnya supaya sakramen itu untuk selama- lamanya menjadi peringatan akan penyerahan diri-Nya sebagai kurban dalam kematian-Nya, memeteraikan semua kebaikan kurban itu bagi orang-orang yang benar-benar percaya, menyediakan bagi mereka makanan dan pertumbuhan rohani di dalam Dia, dan membuat mereka semakin rajin menunaikan semua kewajiban mereka terhadap dia. Juga, sakramen itu harus menjadi tali dan jaminan persekutuan mereka dengan Dia dan di antara mereka sendiri sebagai anggota-anggota tubuh mistik-Nya.[a]

a. 1Ko 11:23-26; 1Ko 10:16-17, 21; 12:13.

2. Dalam sakramen itu Kristus tidak dipersembahkan sebagai kurban kepada Bapa- Nya, dan sama sekali tidak dipersembahkan kurban nyata apa pun demi pengampunan dosa orang yang hidup atau yang mati.[a] Sakramen itu hanya merupakan peringatan akan perbuatan-Nya mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban satu-satunya di kayu salib, satu kali untuk selama-lamanya. Di samping itu, sakramen itu merupakan persembahan rohani berupa pelbagai pujian kepada Allah atas kurban itu.[b] Karena itu, apa yang disebut kurban misa Gereja Katolik Roma merupakan nistaan yang menjijikkan terhadap kurban Kristus yang tunggal, yang merupakan satu- satunya pendamaian semua dosa orang terpilih.[c]

a. Ibr 9:22,25-26, 28; 10:10-14. b. 1Ko 11:24-26; Mat 26:26-27. c. Ibr 7:23-24,27; 10:11-12,14,18.

3. Tuhan Yesus, dalam pranata ini, memesankan kepada para pelayan-Nya mengucapkan firman penetapan-Nya itu kepada umat, berdoa, mengucapkan berkat atas unsur-unsur roti dan anggur dan dengan demikian menguntukkannya bagi pemakaian khusus, bukan biasa lagi; juga mengambil dan memecah-mecahkan roti, mengambil cawan, dan memberi keduanya kepada mereka yang turut mengambil bagian di dalamnya),[a] tetapi bukan kepada orang-orang yang pada saat itu tidak hadir dalam kumpulan jemaat.[b]

a. Mat 26:26-28 dan Mar 14:22-24 serta Luk 22:19-20 bersama 1Ko 11:23-26. b. Kis 20:7; 1Ko 11:20.

4. Misa-misa pribadi, yaitu penerimaan sakramen ini oleh imam atau salah seorang lain seorang diri,[a] begitu pula hal tidak membolehkan umat menerima cawan,[b] menyembah unsur-unsurnya,[1] mengangkatnya atau mengaraknya berkeliling supaya disembah, dan menyimpannya untuk digunakan demi tujuan yang dinamakan religius - semua hal itu bertentangan dengan sifat sakramen ini dan dengan penetapan Kristus.[c]

a. 1Ko 10:16. b. Mar 14:23; 1Ko 11:25-29. c. Mat 15:9.

5. Unsur-unsur lahiriah dalam sakramen ini, telah diuntukkan bagi pemakaian khusus sebagaimana ditetapkan oleh Kristus, mempunyai hubungan dengan Kristus yang telah disalibkan itu sedemikian rupa, hingga dengan sebenarnya, meski hanya secara sakramental, unsur-unsur itu kadang-kadang disebut dengan nama hal-hal yang digambarkan olehnya, setelah diuntukkan bagi pemakaian khusus sebagaimana ditetapkan oleh Kristus, mempunyai hubungan dengan Kristus yang disalibkan itu sedemikian rupa, hingga dengan sebenarnya, meski hanya secara sakramental, unsur-unsur itu kadang-kadang disebut dengan nama hal-hal yang digambarkan olehnya, yaitu tubuh dan darah Kristus.[a] Meskipun demikian, menurut zat dan sifatnya, unsur-unsur itu tetap sungguh-sungguh merupakan roti dan anggur semata-mata, sama seperti sebelumnya.[b]

a. Mat 26:26-28. b. 1Ko 11:26-28; Mat 26:29.

6. Ajaran yang menegaskan bahwa zat roti dan anggur berubah menjadi zat tubuh dan darah Kristus (yang biasanya dinamakan transubstansiasi) melalui konsekrasi oleh seorang imam, atau dengan cara apa pun yang lain, bertentangan dengan Alkitab, bahkan juga dengan pikiran sehat dan nalar. Ajaran itu memutarbalikkan sifat sakramen itu dan sejak dulu menjadi sebab berbagai takhyul, bahkan penyembahan berhala yang kasar.[a]

a. Kis 3:21; 1Ko 11:24-26; Luk 24:6,39.

7. Orang-orang yang menerima sakramen itu dengan cara yang layak, dan yang turut mengambil bagian dalam unsur-unsur kelihatan sakramen ini,[a] dengan demikian menerima dan mengecap juga Kristus yang disalibkan dan semua kebaikan yang dihasilkan oleh kematian-Nya, secara batin, melalui iman, sungguh-sungguh dan secara nyata, namun tidak secara badaniah dan jasmani, tetapi secara rohani. Tubuh dan darah Kristus memang tidak berada di dalam bersama dengan, atau di bawah roti dan anggur secara jasmani atau badaniah. Namun, dalam pranata itu tubuh dan darah itu hadir bagi iman orang percaya sama nyatanya (tetapi secara rohani), seperti unsur-unsur itu sendiri hadir bagi indera mereka lahiriah.[b]

a. 1Ko 11:28. b. 1Ko 10:16.

8. Meski orang yang tidak mempunyai pengertian dan yang jahat menerima unsur- unsur lahiriah dalam sakramen ini, mereka tidak menerima hal yang ditandakan olehnya. Sebaliknya, karena mereka menghampiri sakramen itu dengan cara yang tidak layak, mereka bersalah terhadap tubuh dan darah Tuhan dengan akibat mendatangkan hukuman atas dirinya. Oleh karena itu, semua orang yang tidak mempunyai pengertian dan tidak saleh, tidak layak diterima pada meja Tuhan, sebagaimana mereka juga tidak cocok untuk menikmati persekutuan dengan Dia. Selama mereka tetap demikian, mereka tidak dapat turut mengambil bagian dalam rahasia-rahasia kudus ini[a] atau diterima padanya tanpa berdosa berat terhadap Kristus.[b]

a. 1Ko 11:27-29; 2Ko 6:14-16. b. 1Ko 5:6-7, 13; 2Te 3:6, 14-15; Mat 7:6.

Bab XXX. Disiplin Gereja

1. Tuhan Yesus, sebagai Raja dan Kepala Gereja-Nya, telah mengangkat pemerintah didalamnya, yang berada di tangan para pejabat Gereja,dan yang berbeda dengan pemerintah negara.[a]

a. Yes 9:6-7; 1Ti 5:17; 1Te 5;12; Kis 20:17, 28; Ibr 13;7, 17,24; 1Ko 12:28; Mat 28:18-20.

2. Kepada para pejabat itu diserahkan kunci-kunci Kerajaan Surga. Olehnya mereka berwewenang mengampuni atau tidak mengampuni dosa-dosa, menutup Kerajaan itu, melalui Firman dan disiplin gereja, bagi orang yang tidak menyesal, dan membukanya, melalui pelayanan Injil dan pembebasan dari tindakan disiplin, bagi orang berdosa yang menyesal, masing-masing sebagaimana dituntut oleh keadaan.[a]

a. Mat 16:19; 18:17-18; Yoh 20:21-23; 2Ko 2:6-8.

3. Tindakan-tindakan disiplin gereja perlu untuk menarik dan memikat saudara- saudara yang telah melakukan kejahatan, untuk mencegah orang lain melakukan kejahatan yang serupa, untuk membuang ragi yang dapat mengkhamiri seluruh adonan, untuk mempertahankan kehormatan Kristus dan pengakuan Injil yang kudus, dan untuk menghindari murka Allah, yang mungkin dengan sepantasnya akan menimpa Gereja kalau Gereja itu membiarkan perjanjian-Nya serta meterai-meterai perjanjian itu dicemarkan oleh orang-orang yang melanggarnya secara mencolok dan nekad.[a]

a. 1Ko 5:1-13; 1Ti 5:20; Mat 7:6; 1Ti 1:20; 1Ko 11:27-34 bersama Yud :23.

4. Agar semua tujuan itu tercapai dengan lebih baik, para pejabat Gereja harus mengambil tindakan berupa teguran, larangan sementara untuk mengambil bagian dalam perayaan sakramen Perjamuan Malam Tuhan, dan pengucilan dari Gereja, sesuai dengan sifat kejahatan orang yang bersangkutan dan dengan ganjaran yang layak ia terima.[a]

a. 1Te 5:12; 2Te 3:6, 14-15; 1Ko 5:4-5, 13; Mat 18:17; Tit 3:10.

Bab XXXI. Sinode-sinode dan Konsili-konsili

1. Supaya pemerintahan dan pembinaan Gereja berlangsung dengan lebih baik harus ada sidang-sidang yang biasanya dinamakan Sinode atau Konsili.(1a)

a. Kis 15:2,4,6.

2. Pemerintah negara memang boleh dengan sah mengadakan sinode para pelayan Firman dan tokoh-tokoh lain yang cakap, untuk berunding dengan mereka dan meminta nasihat mereka perihal agama.[a] Begitu pula, kalau pemerintah menjadi musuh terbuka Gereja, para pelayan Kristus boleh, atas prakarsa sendiri, berdasarkan wewenang jabatan mereka, juga mereka tokoh-tokoh lain yang cakap, setelah diutus oleh Gerejanya menjadi wakilnya, berkumpul dalam sidang-sidang yang demikian.(1b)

a. Yes 49:23; 1Ti 2:1, 2; 2Ta 19:8-11, 2Ta 29 dan 2Ta 30; Mat 2:4, 5; Ams 11:14. b. Kis 15:4,22-23,25.

3. Sinode-sinode dan konsili-konsili bertugas menyelesaikan perselisihan paham mengenai iman dan kasus-kasus yang menyangkut hati nurani, dengan cara yang pantas bagi para pelayan gereja, menetapkan peraturan-peraturan dan petunjuk- petunjuk bagi penertiban ibadah umum kepada Allah dan bagi pemerintah Gereja- Nya, menerima keluhan-keluhan bila seseorang menjalankan jabatannya dengan cara kurang baik dan untuk menyelesaikan keluhan itu. Kalau dekret-dekret dan keputusan-keputusan itu sesuai dengan Firman Allah, orang harus menerimanya dengan rasa hormat dan takluk, bukan hanya karena memang sesuai dengan Firman, tetapi juga karena wewenang badan yang mengeluarkannya, karena Allah telah menetapkan wewenang itu dalam Firman-Nya khusus untuk tujuan itu.[a]

a. Kis 15:15, 19, 24, 27-31; 16:4; Mat 18:17-20.

4. Semua sinode atau konsili sejak zaman para rasul, baik yang am maupun yang khusus, dapat keliru dan banyak di antaranya memang keliru. Oleh karena itu, mereka tidak boleh dijadikan sebagai patokan iman atau praktik, tetapi harus dipakai sebagai sarana pembantu dalam kedua bidang itu.[a]

a. Efe 2:20; Kis 17:11; 1Ko 2:5; 2Ko 1:24.

5. Sinode-sinode dan konsili-konsili tidak boleh membahas atau memutuskan sesuatu apa pun selain hal-hal yang bersifat gerejawi. Mereka tidak boleh campur tangan dalam perkara-perkara politis yang menyangkut negara, kecuali dengan cara mengajukan permohonan dengan rendah hati dan dalam hal-hal luar biasa, atau dengan cara memberi nasihat, bila pemerintah negara memintanya dari mereka, demi memenuhi kebutuhan hati nuraninya.[a]

a. Luk 12:13-14; Yoh 18:36.

Bab XXXII. Keadaan manusia sesudah kematian; kebangkitan orang mati.

1. Sesudah kematian, tubuh manusia kembali menjadi debu, dan diserahkan kepada kebinasaan. [a] Tetapi jiwa mereka (yang tidak mati dan tidak juga tidur)berwujud tidak dapat mati dan langsung kembali kepada Allah yang telah menganugerahkannya. [b] Pada waktu itu, orang-orang benar akan disempurnakan dalam kekudusan dan akan diterima dalam surga tertinggi. Di sana mereka memandang wajah Allah dalam cahaya dan kemuliaan sambil menantikan pelepasan sepenuhnya tubuh mereka. [c] Jiwa orang-orang jahat dibuang ke dalam neraka dan di sana mereka tetap tinggal, dalam penganiayaan dan kegelapan yang paling pekat, sampai penghakiman pada hari besar.[d] Alkitab tidak mengenal tempat tujuan jiwa-jiwa yang terpisah dari tubuhnya selain kedua tempat tersebut.

a. Kej 3:19; Kis 13:36. b. Luk 23:43; Pengk 12:7. c. Ibr 12:23; 2Ko 5:1,6,8; Fil 1:23 bersama Kis 3:21 dan Efe 4:10. d. Luk 16:23-24; Kis 1:25; Yud 6-7; 1Pe 3:19.

2. Pada hari terakhir, mereka yang didapati masih hidup tidak akan mati, tetapi mereka akan diubah, [a] dan semua orang akan dibangkitkan dengan tubuh yang sama juga, dan bukan tubuh lain, meski sifatnya memang lain, yang akan disatukan kembali dengan jiwa mereka untuk selama-lamanya.[b]

a. 1Te 4:17; 1Ko 15:51-52. b. Ayu 19:26-27; 1Ko 15:42-44.

3. Tubuh orang-orang yang tidak benar akan dibangkitkan oleh kuasa Kristus untuk keaiban. Tubuh orang-orang benar, oleh Roh-Nya, akan dibangkitkan untuk kehormatan dan akan dijadikan serupa dengan tubuh-Nya yang mulia.[a]

a. Kis 24:15; Yoh 5:28-29; 1Ko 15:43; Fil 3:21.

Bab XXXIII. Penghakiman yang terakhir

1. Allah telah menetapkan hari Dia akan menghakimi dunia dengan adil oleh Yesus Kristus,[a] yang telah menerima segala kuasa dan penghakiman dari Bapa-Nya. [b]Pada hari itu malaikat-malaikat yang murtad akan dihukum; [c] begitu juga semua orang yang pernah hidup di bumi akan menghadap tahta Kristus, untuk memberi pertanggungjawaban tentang pikiran, perkataan, dan perbuatan mereka, serta untuk menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka sewaktu dalam tubuh, yang baik atau yang jahat.[d]

a. Kis 17:31. b. Yoh 5:22,27. c. 1Ko 6:3; Yud 6; 2Pe 2:4. d. 2Ko 5:10; Pengk 12:14; Rom 2:16; 14:10,12; Mat 12:36-37.

2. Tujuan penetapan hari itu oleh Allah ialah kemuliaan rahmat-Nya dalam penghukuman orang-orang yang ditolak, yang jahat dan tidak taat. Sebab, pada waktu itu orang-orang benar tidak akan masuk ke dalam hidup yang kekal dan akan menerima kelimpahan kegembiraan dan kesejukan yang akan datang dari hadirat Tuhan. Akan tetapi, orang-orang jahat, yang tidak mengenal Allah dan tidak taat pada Injil Yesus Kristus, akan dibuang ke dalam penganiayaan kekal, dan menjalani hukuman kebinasaan untuk selama-lamanya, jauh dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kuasa-Nya.[a]

a. Mat 25:31-46; Rom 2:5-6; 9:22-23; Mat 25:21; Kis 3:19; 2Te 1:7-10.

3. Kristus menghendaki supaya kita benar-benar yakin akan adanya hari penghukuman, baik untuk membuat orang jera berbuat dosa maupun untuk menyediakan hiburan yang lebih besar bagi orang-orang saleh di tengah kesusahan yang mereka alami.[a] Di pihak lain, Dia tidak mau hari itu diketahui manusia, agar mereka menanggalkan seluruhnya rasa aman secara daging, dan selalu berjaga-jaga, karena mereka tidak tahu saat Tuhan akan datang, dan agar mereka senantiasa siap berkata, 'Datanglah, Tuhan Yesus, datang segera!'[b] Amin

a. 2Pe 3:11,14; 2Ko 5:10-11; 2Te 1:5-7; Luk 21:27-28; Rom 8:23-25. b. Mat 24:36,42-44; Mar 13:35-37; Luk 12:35-36; Wah 22:20.

II. Katekismus

Katekismus Jenewa (1542)

Perkataan 'katekismus' berkaitan dengan kata kerja Yunani katekhein, 'memberitahukan dari atas (panggung, mimbar) ke bawah', dari situ juga 'mengajarkan'. Mulai abad pertama (Luk 1:4, Kis 18:25, Gal 6:6) katekhein menjadi istilah baku yang mengacu ke kegiatan membimbing masuk anggota baru ke dalam iman Kristen, apakah mereka orang dewasa yang baru menjadi percaya, atau anak-anak yang telah dibaptis tetapi masih perlu menerima pengajaran. Pengajaran itu diberikan secara lisan. Memang ada pembimbing tertulis (a.l. kitab 'Didache', yang ditulis sekitar tahun 100, dan 'pengajaran pertama kepada para calon anggota Gereja' karangan Augustinus), tetapi tulisan itu tidak mendapat status resmi. Luther yang pertama kali menerbitkan katekismus dalam arti buku pelajaran yang membahas pokok-pokok iman Kristen yang dengan sistematis, dan yang umum dipakai sebagai pedoman dalam pengajaran iman. Katekismus Besar dan Kecil karangan Luther menjadi buku katekisasi di seluruh Gereja Lutheran. Akan tetapi, karena Reformasi beraneka ragam, dan menekankan pemakaian bahasa nasional, maka muncullah sejumlah besar katekismus lain. Katekismus Jenewa (Katekismus Calvin, 1573/1542) diterima umum di gereja-gereja Calvinis berbahasa Perancis. Katekismus Anglikan (1549) ditujukan kepada Gereja Nasional Kerajaan Inggris. Katekismus Heidelberg(1563) menjadi pedoman pengajaran agama dan kitab pengakuan iman dalam gereja-gereja Calvinis berbahasa Jerman dan Belanda. Dan Katekismus Westminster, yang Besar dan yang Kecil (1647), sampai sekarang berwibawa besar dalam Gereja-gereja Calvinis berbahasa Inggris. Gereja Katolik Roma pun pada zaman itu menerbitkan katekismus resmi sendiri, yaitu Catechismus Romanus (1566), yang merupakan buku pedoman untuk kaum klerus.

Katekismus Jenewa merupakan karya Yohanes Calvin. Pada tahun 1541 Calvin dipanggil pulang dari kota Straatsburg ke Jenewa. Pemerintah kota telah mengusir dia tiga tahun sebelumnya, karena perselisihan paham mengenai cara melaksanakan reformasi agama di kota itu. Setibanya di Jenewa Calvin cepat-cepat menyusun tiga dokumen pokok, yakni tata gereja, tata kebaktian (lihat di depan, no. 12 dan 15), dan kitab katekismus. Calvin hanya bersedia kembali mengemban pelayanan pendeta di 'kota seram' itu kalau tata gereja dan katekismus itu ditandatangani oleh pemerintah kota. Memang itulah yang terjadi. Sementara ia menulisnya, pesuruh percetakan sudah datang mengambil lembar-lembarnya satu-satu. Meskipun Katekismus Jenewa disusun tergesa-gesa. Calvin tidak sempat merevisi naskahnya. Maka naskah di bawah ini merupakan terjemahan katekismus yang ditulis Calvin pada bulan Desember 1541/Januari 1542 itu. Hanya, dalam edisi asli pertanyaan/jawaban belum memakai nomor urutan; nomor itu baru disisipkan dalam edisi tahun 1551.

Di Jenewa, Katekismus Calvin merupakan bahan pelajaran dalam kegiatan katekisasi yang berlangsung tiap-tiap hari Minggu pukul 12 dalam gedung-gedung gereja. Isinya diperkenalkan kepada anak-anak berumur 10 sampai 15 tahun, sebagai persiapan upacara sidi (lihat Tata Gereja Jenewa, pasal 40 dan 141, di depan no. 9). Pada saat melakukan sidi, anak-anak harus melafalkan isi pokoknya.

Di samping pemakaiannya sebagai bahan katekisasi, Katekismus Jenewa berfungsi juga sebagai semacam pengakuan iman atau rumus keesaan. Sebab, pasal 7 Tata Gereja Jenewa menetapkan,'untuk menghindari seluruh bahaya kalau-kalau orang [yaitu pendeta] yang mau diterima memegang pendapat yang salah, wajiblah ia menyatakan berpegang pada ajaran yang telah diterima resmi dalam Gereja, terutama sesuai dengan isi Katekismus'. Dengan perkataan lain, para pendeta wajib menandatangani Katekismus Calvin.

Tiga tahun kemudian (1545), Calvin menerbitkan terjemahan Katekismusnya ke dalam bahasa Latin. Dengan demikian, isinya bisa juga digunakan oleh kaum teolog yang tidak menguasai bahasa Perancis. Tidak lama kemudian menyusullah edisi-edisi dalam bahasa Yunani dan Ibrani (terjemahan ke dalam bahasa Ibrani dibuat oleh seorang Kristen asal Yahudi bernama Immanuel Tremellius), Italia dan Spanyol, Inggris dan Jerman.

Katekismus Gereja Jenewa, artinya Rumus untuk mengajarkan agama
Kristen kepada anak-anak, yang disusun dengan memakai pola dialog:
Pelayan mengajukan pertanyaan, dan anak menjawab.
Oleh Yohanes Calvin

Efe 2:20. Dasar Gereja ialah ajaran para Nabi dan Rasul.

PASAL-PASAL IMAN

  • 1. Pelayan: Apa tujuan utama kehidupan manusia?
    Anak: Tujuannya yang utama ialah mengenai Allah.
  • 2. P. Mengapa engkau berkata demikian?
    A. Sebab Dia telah menciptakan kita dan menempatkan kita dalam dunia ini dengan maksud supaya Dia dimuliakan di dalam kita. Memang wajarlah kita mengarahkan hidup kita ke kemuliaan-Nya, sebab Dia awal mulanya.
  • 3. P. Dan apa harta tertinggi[1] manusia?
    A. Itu juga.
  • 4. P. Mengapa engkau menyebutnya 'harta tertinggi'?
    A. Tanpa itu keadaan kita lebih celaka daripada keadaan binatang dungu.
  • 5. P. Jadi, kita melihat bahwa yang paling celaka ialah hidup tidak menurut Allah?
    A. Benar
  • 6. P. Akan tetapi, apa cara mengenal Allah yang sejati dan benar?
    A. Bahwa orang mengenal Dia untuk menghormati Dia.
  • 7. P. Dengan cara apa kita benar-benar menghormati Dia?
    A. Cara yang benar ialah dengan menaruh kepercayaan penuh kepada-Nya melayani Dia seraya mematuhi kehendak-Nya; mengajukan permintaan kepada-Nya dalam semua kebutuhan kita seraya mencari keselamatan dan semua harta dalam Dia; mengaku dalam hati dan dengan mulut bahwa semua harta berasal dari Dia sendiri.
  • 8. P. Apa titik permulaan bila kita hendak menguraikan hal-hal ini dengan teratur dan menjelaskan agak panjang lebar?
    A. Bahwa kita menaruh kepercayaan kepada Allah.
  • 9. P. Bagaimana orang dapat berbuat begitu?
    A. Pertama, dengan mengenal Dia sebagai Yang Mahakuasa dan Yang Mahabaik.
  • 10. P. Apakah itu cukup?
    A. Tidak.
  • 11. P. Mengapa tidak?
    A. Sebab kita tidak layak, sehingga tidak patut Dia menunjukkan kuasa-Nya untuk menolong kita, atau memakai kebaikan-Nya terhadap kita.
  • 12. P. Apa lagi yang diperlukan?
    A. Kita harus yakin Dia mengasihi kita dan mau menjadi Bapa dan Penyelamat kita.
  • 13. P. Bagaimana kita mengetahui hal itu?
    A. Melalui Firman-Nya. Dalam Firman itu Dia menyatakan kepada kita kemurahan-Nya dalam Yesus Kristus, dan memberi kita kepastian tentang cinta kasih-Nya kepada kita.
  • 14. P. Jadi, dasar yang memungkinkan kita benar-benar mempercayai Allah ialah mengenai Dia dalam Yesus Kristus (Yoh 17:3)?
    A. Benar.
  • 15. P. Akan tetapi, apa inti pokok pengetahuan itu?
    A. Pengetahuan itu tercantum dalam pengakuan iman, yang diikrarkan semua orang Kristen. Biasanya orang menyebut pengakuan iman itu 'Pengakuan Iman Rasuli', sebab pengakuan itu merupakan ikhtisar kepercayaan yang benar, yang senantiasa dianut di kalangan orang Kristen, dan yang disimpulkan dari ajaran rasuli yang murni.
  • 16. P. Tuturkan isi pengakuan itu.
    A. Aku percaya kepada Allah Bapa, Yang mahakuasa, Khalik langit dan bumi. Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita, yang dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria, yang menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut, pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati, naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang Mahakuasa, dan akan datang dari sana untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Aku percaya kepada Roh Kudus. Aku percaya adanya Gereja yang kudus dan am, persekutuan orang kudus, pengampunan dosa, kebangkitan daging dan hidup yang kekal.
  • 17. P. Atas berapa bagian kita bagikan pengakuan iman itu, untuk menjelaskannya secara rinci?
    A. Atas empat bagian utama.
  • 18. P. Apa bagian-bagian itu?
    A. Bagian pertama mengenai Allah Bapa. Yang kedua mengenai Anak-Nya Yesus Kristus; dalam bagian itu dituturkan seluruh sejarah penebusan kita. Yang ketiga mengenai Roh Kudus. Yang keempat mengenai Gereja dan mengenai karunia-karunia yang Allah anugerahkan kepadanya.
  • 19. P. Melihat bahwa hanya ada satu Allah, apa yang mendorongmu untuk dalam tuturmu menyebut Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yang adalah tiga?
    A. Sebab dalam satu Hakikat ilahi yang tunggal kita harus memperhatikan Bapa sebagai awal dan asal, atau sebab pertama segala sesuatu; sesudah itu Anak-Nya, yang adalah hikmat kekal; dan Roh Kudus, yang adalah kekuatan dan kuasa-Nya, yang tersebar dalam seluruh ciptaan, namun tetap berdiam dalam Dia.
  • 20. P. Apakah dengan demikian engkau hendak berkata bahwa tidak ada alasan yang mencegah kita menganggap dalam keAllahan yang sama ada tiga Pribadi secara tersendiri, dan bahwa Allah tidak juga terbagi.
    A. Begitulah.
  • 21. P. Tuturkan sekarang bagian pertama.
    A. 'Aku percaya kepada Allah Bapa, Yang mahakuasa, Khalik langit dan bumi.'
  • 22. P. Mengapa engkau menyebut Dia 'Bapa'?
    A. Dengan memperhatikan Yesus Kristus, yang adalah Firman kekal, yang diperanakkan dari-Nya sebelum segala abad, kemudian, setelah tampil ke dalam dunia, diteguhkan dan dinyatakan sebagai Anak-Nya. Tetapi, karena Allah adalah Bapa Yesus Kristus, maka Dia adalah juga Bapa kita.
  • 23. P. Apa maksudmu bila kaukatakan Dia Mahakuasa?
    A. Hal itu tidak hanya berarti bahwa Dia memiliki kuasa, namun tidak mempergunakannya. Sebaliknya, seluruh ciptaan berada di tangan-Nya dan tunduk pada-Nya; Dia mengatur semua hal melalui pemeliharaan-Nya, memerintah dunia melalui kehendak-Nya, dan mengendalikan segala kejadian sekehendak hati-Nya.
  • 24. P. Jadi, menurut perkataanmu, kuasa Allah bukannya menganggur, melainkan berdampak; artinya, tangan-Nya senantiasa bekerja dan tidak terjadi apa pun kecuali oleh Dia atau dengan izin dan putusan-Nya?
    A. Begitulah.
  • 25. P. Mengapa kautambahkan bahwa Dia adalah Khalik langit dan bumi?
    A. Karena Dia telah menampakkan diri kepada kita melalui karya-Nya maka kita perlu mencari Dia di dalamnya (Maz 104; Rom 1:20). Daya tangkap kita tidak mampu memahami hakikat-Nya, tetapi bagi kita dunia bagaikan cermin; di dalam cermin itu kita dapat memandangi Dia dan mengenai Dia dengan cara yang sesuai bagi kita.
  • 26. P. Bila kaukatakan 'langit' dan 'bumi', bukankah kaumaksud juga ciptaan selebihnya?
    A. Sudah tentu. Tetapi semua itu tercakup dalam kedua perkataan itu, sebab semua itu termasuk langit atau bumi.
  • 27. P. Dan mengapa engkau menyebut Allah hanya sebagai Khalik? Bukankah memelihara ciptaan dan menjaga supaya ciptaan itu tetap utuh jauh lebih besar daripada satu kali menciptakannya
    A. Perkataan itu tidak hanya mengandung arti, bahwa Dia telah menjadikan karya-karya-Nya sekaligus, dengan maksud kemudian membiarkannya dan tidak mempedulikannya lagi. Sebaliknya, inilah paham yang harus kita pegang: sebagaimana dunia telah dijadikan oleh-Nya pada mulanya, begitu pula sekarang Dia menjaga supaya dunia itu tetap utuh, begitu rupa, sehingga langit, bumi, dan semua makhluk hanya dapat ada terus karena kekuatan- Nya. Lagi pula, sebab dengan demikian semua hal berada di tangan-Nya, maka Dia memegang pemerintahnya dan Dialah Tuhannya. Demikianlah, karena Dia adalah Khalik langit dan bumi, maka Dialah yang melalui kebaikan-Nya, kekuatan-Nya, dan hikmat-Nya mengendalikan seluruh tatanan alam; Dia- lah yang mengirim hujan dan kemarau, hujan es, angin badai dan cuaca cerah, kesuburan dan kemandulan, kesehatan dan penyakit. Pendeknya, Dia memegang pimpinan segala hal, dan menggunakannya sekehendak hati-Nya.
  • 28. P. Apakah setan-setan dan orang jahat juga tunduk kepada-Nya?
    A. Meskipun Dia tidak membimbing mereka dengan Roh Kudus-Nya, namun Dia mengekang mereka, begitu rupa, sehingga mereka tidak dapat berkuti kalau Dia tidak mengizinkannya. Dia bahkan memaksa mereka melaksanakan kehendak-Nya kendati berlawanan dengan maksud dan rencana mereka.
  • 29. P. Apa gunanya bagimu kalau engkau mengetahui hal itu?
    A. Gunanya besar sekali, sebab sangat buruklah jika setan-setan dan orang jahat sanggup berbuat sesuatu bertentangan dengan kemauan Allah. Seandainya demikian, nurani kita sama sekali tidak dapat tenang lagi, sebab kita selalu terancam bahaya dari pihak mereka. Sebaiknya, bila kita mengetahui bahwa Allah mengekang mereka erat-erat sehingga mereka tidak dapat berbuat apa-apa kecuali dengan seizin-Nya maka kenyataan itu membuat kita tenang dan bersukacita, sebab Allah berjanji menjadi Pelindung kita dan membela kita.
  • 30. P. Marilah kita memasuki bagian kedua.
    A. 'Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, dst.'
  • 31. P. Apa isi pokoknya?
    A. Bahwa kita mengenal Anak Allah sebagai Juruselamat kita, dan cara Dia melepaskan kita dari maut dan memperoleh keselamatan bagi kita.
  • 32. P. Apa arti nama 'Yesus' yang kaupakai itu?
    A. Artinya 'Juruselamat'. Atas perintah Allah, nama itu diberikan kepada-Nya oleh malaikat (Mat 1:21).
  • 33. P. Apakah pemberian nama dengan cara itu bernilai khusus dibandingkan dengan pemberian nama oleh seorang manusia?
    A. Sudah tentu! Allah menghendaki supaya Dia diberi nama itu, maka perlu Dia benar-benar JuruselaMat
  • 34. P. Apa arti perkataan 'Kristus' yang datang sesudahnya?
    A. Oleh gelar itu jabatan-Nya dinyatakan dengan lebih jelas lagi. Dia telah diurapi oleh Bapa sorgawi untuk menetapkan-Nya sebagai Raja, Imam atau tokok yang bertugas mempersembahkan korban, dan Nabi.
  • 35. P.Dari mana engkau mengetahui hal itu?
    A. Menurut Alkitab pengurapan harus dipakai untuk ketiga jabatan itu. Dan berkali-kali juga Dia dikatakan menyandang jabatan-jabatan itu.
  • 36. P. Akan tetapi, apa jenis minyak yang dipakai untuk mengurapi Dia?
    A. Bukan minyak kasatmata yang dipakai, seperti dalam hal para raja, imam, dan nabi dulu. Sebaliknya, Dia telah diurapi dengan karunia-karunia Roh Kudus. Karunia itulah kenyataan yang diungkapkan oleh pengurapan lahiriah yang diselenggarakan pada zaman dahulu (Yes 61:1; Maz 45:8).
  • 37. P. Engkau memakai istilah 'Kerajaan'. Kerajaan apa itu?
    A. Kerajaan itu bersifat rohani, dan terdiri dari Firman dan Roh Allah, yang mengandung kebenaran dan kehidupan.
  • 38. P. Dan jabatan Imam?
    A. Sebab dengan turun ke dunia (Yes 7:14) Dia menjadi Utusan dan Duta berkuasa penuh dari Allah, Bapa-Nya, untuk menerangkan sepenuhnya kehendak-Nya kepada seisi dunia dan dengan demikian mengakhiri semua nubuat dan waktu (Ibr 1:2).
  • 40. P. Apa hal itu membawa manfaat bagimu?
    A. Semua itu berguna bagi kita. Sebab Yesus Kristus telah menerima segala pemberian itu dengan maksdu memberi kita mengambil bagian di dalamnya, supaya kita semua menerima dari kepenuhan-Nya (Yoh 1:16).
  • 41. P. Jelaskan hal itu lebih jauh kepadaku.
    A. Dia telah menerima Roh Kudus bersama semua karunia-Nya dengan sempurna, untuk menghadiahkan dan membagikannya kepada kita, yaitu masing-masing menurut ukuran dan jatah yang Allah tahu cocok baginya (Efe 4:7).
    Dengan demikian kita menimba dari Dia, bagaikan dari sumber semua harta rohani yang kita miliki.
  • 42. P. Apa manfaat Kerajaan-Nya bagi kita?
    A. Oleh Dia hati nurani kita dijadikan bebas dan kita dipenuhi kekayaan rohani-Nya, agar kita hidup dalam kebenaran dan kekudusan. Dengan demikian kita memiliki juga kekuatan yang perlu untuk mengalahkan iblis, dosa, daging, dan dunia, yang menjadi musuh jiwa kita.
  • 43. P. Dan Imamat-Nya?
    A. Pertama, bahwa Dia adalah Pengantara bagi kita, untuk mendamaikan kita dengan Allah Bapa-Nya. Selanjutnya, bahwa melalui Dia kita dapat menghampiri Allah dan menghadap Dia dan mempersembahkan korban yaitu diri kita sendiri bersama dengan segala sesuatu yang kita hasilkan. Dalam hal itu kita ikut mengambil bagian dalam Imamat-Nya (Ibr 7:10, 13).
  • 44. P. Tinggallah jabatan Nabi.
    A. Jabatan itu diberikan kepada Tuhan Yesus agar Dia menjadi Guru dan Pengajar semua orang milik-Nya. Tujuannya ialah supaya kita dibimbing ke pengetahuan sejati tentang Bapa dan kebenaran-Nya, begitu rupa sehingga kita menjadi murid dan anggota keluarga Allah.
  • 45. P. Jadi, engkau hendak menyimpulkan bahwa gelar 'Kristus' itu mencakup tiga jabatan, yang Allah berikan kepada Anak-Nya agar Dia membagikan hasil dan kekuatannya kepada orang-orang percaya milik-Nya?
    A. Benar.
  • 46. P. Mengapakah engkau menamakan Dia 'Anak Allah yang tunggal'? Bukankah Allah menyebut kita semua sebagai anak-Nya?
    A. Kita anak-anak Allah bukan menurut kodrat kita, melainkan hanya melalui pengangkatan dan oleh rahmat, yaitu karena Allah mau menganggap kita demikian (Efe 1:5). Sebaliknya Tuhan Yesus, yang telah diperanakkan dari Zat Bapa-Nya, dan yang sehakikat dengan-Nya, dengan sewajarnya disebur Anak yang tunggal (Yoh 1:14; Ibr 1:2), sebab hanya Dialah yang menjadi Anak menurut kodrat-Nya.
  • 47. P. Jadi, engkau hendak berkata bahwa hanya Dialah yang layak menerima penghormatan itu, dan memilikinya menurut kodrat-Nya, sedangkan kepada kita hal itu diberikan sebagai anugerah, dengan cuma-cuma, sejauh kita adalah anggota-anggota-Nya?
    A. Itulah. Karena itulah, dengan memandang ke pemberian itu, di tempat lain Dia disebut Yang sulung di antara banyak saudara (Rom 8:29; Kol 1:15).[1]
  • 48. P. Apa maksud kata-kata berikut?
    A. Kata-kata itu menjelaskan cara Anak Allah diurapi oleh Bapa agar Dia menjadi Juruselamat kita. Yaitu, dengan menerima daging kita yang menusiawi, dan menggenapkan hal-hal yang diperlukan untuk penebusan kita, sebagaimana dituturkan di sini.
  • 49. P. Bagaimana engkau mengartikan kedua ungkapan 'dikandung dari Roh Kudus' dan 'lahir dari anak dara Maria'?
    A. Dia telah dibentuk dalam kandungan anak dara Maria, dari zatnya sendiri, supaya Dia adalah keturunan Daud, sebagaimana telah dinubuatkan (Maz 132:11). Namun, hal itu terjadi oleh mukjizat, yaitu karya Roh Kudus, tanpa peranan seorang laki-laki.
  • 50. P. Apakah perlu Dia mengenakan daging kita?
    A. Perlu. Sebab ketidaktaatan manusia terhadap Allah perlu di benahi dalam kodrat manusia (Rom 5:15). Juga, hanya dengan cara itulah Dia dapat menjadi Pengantara kita, yang menyatukan kita dengan Allah, Bapa- Nya (1Ti 2:5; Ibr 4:15).
  • 51. P. Jadi, engkau berkata bahwa Yesus Kristus perlu menjadi manusia untuk menyelenggarakan jabatan Juruselamat seakan-akan dalam pribadi kita?
    A. Benar. Sebab di dalam diri-Nya kita perlu memperoleh segala sesuatu yang kurang dalam diri kita sendiri. hal itu tidak mungkin terjadi dengan cara lain.
  • 52. P. Akan tetapi, mengapakah hal itu terjadi 'dari Roh Kudus', bukan oleh perbuatan manusia, menurut aturan alam?
    A. Karena benih manusia sendiri rusak maka perlulah kekuatan Roh Kudus turun tangan dalam peristiwa mengandung ini, untuk mencegah Tuhan kita kena kerusakan apa pun dan untuk memenuhi Dia dengan kekudusan.
  • 53. P. Jadi, dengan cara itu ditunjukkan kepada kita bahwa Dia yang harus mengukuskan orang-orang lain itu bebas noda apa pun; bahwa sejak dalam kandungan ibu-Nya Dia dipersembahkan kepada Allah dalam kesucian yang semula, agar Dia tidak kena kerusakan umum yang telah melanda umat manusia?
    A. Demikianlah pengertianku.
  • 54. P. Bagaimana Dia menjadi 'Tuhan kita'?
    A. Dia ditetapkan oleh Bapa untuk memegang pemerintah atas kita, supaya Dia menyelenggarakan Kerajaan dan Ketuhanan Allah, di sorga dan dibumi, dan menjadi Kepala para malaikat serta orang percaya (Efe 5:23; Kol 1:18).
  • 55. P. Mengapa dari kelahiran engaku langsung beralih ke kematian, dengan melewatkan seluruh riwayat hidup-Nya?
    A. Karena yang dibicarakan di sini hany apa yang termasuk pokok penebusan kita.
  • 56. P. Mengapa tidak dikatakan dengan singkat bahwa Dia telah mati, tetapi disebut juga nama Pontius Pilatus, ketika dikatakan bahwa Dia menderita di bawah pemerintahannya?
    A. Tidak hanya untuk memberi kita kepastian bahwa peristiwa itu benar-benar historis, tetapi juga untuk menjelaskan bahwa kematian-Nya disertai penghukuman.
  • 57. P. Bagaimana?
    A. Dia telah mati untuk menanggung hukuman yang seharusnya kami terima dan untuk dengan cara itu membebaskan kita dari hukuman itu. Dan sebab kita bersalah di hadapan pengadilan Allah, karena kita telah berbuat jahat, maka untuk mewakili kita Dia mau menghadap takhta seorang hakim duniawi dan menerima hukuman yang diucapkan olehnya, dengan maksud menyatakan kita tidak bersalah di hadapan Takhta Hakim sorgawi.
  • 58. P. Kendati demikian, Pilatus telah menyatakan Dia tidak bersalah; dengan demikian ia tidak menjatuhkan hukuman atas Dia, seakan-akan dengan sepatutnya Dia tidak dihukum (Mat 27:24; Luk 23:14).
    A. Ada dua segi. Dia memang dibenarkan melalui kesaksian hakim itu supaya terbukti Dia tidak menderita karena kesalahan-Nya sendiri, tetapi karena kesalahan kita. Namun, Dia dihukum dengan resmi, dengan hukuman yang diucapkan oleh hakim itu juga, untuk menunjukkan bahwa Dia benar-benar menjadi penanggung bagi kita, yang menerima penghukuman sebagai ganti kita supaya kita dibebaskan dari hukuman itu.
  • 59. P. Perkataanmu baik. Sebab seandainya Dia seorang berdosa, maka tidak mungkin Dia menanggung kematian sebagai ganti orang-orang lain. Meskipun demikian, supaya penghukuman-Nya membawa pembebasan bagi kita, perlu Dia terhitung di antara para penjahat (Yes 53:12).
    A. Demikianlah pengertianku.
  • 60. P. Dia disalibkan. Apakah hal ini mengandung makna khusus dibandingkan dengan pembunuhan dengan cara lain?
    A. Ya. Rasul pun menegaskannya, ketika ia berkata bahwa Dia digantung di kayu salib untuk mengalihkan kutuk kita kepada diri-Nya, agar kita dibebaskan dari kutuk itu (Gal 3:13). Sebab, kematian dengan cara itu terkutuk oleh Allah (Ula 21:23).
  • 61. P. Bagaimana? Bukankah penghinaan terhadap Tuhan Yesus bila kita berkata bahwa Dia telah menanggung kutuk, bahkan di hadapan Allah?
    A. Sama sekali tidak. Sebab, ketika Dia menerima kutuk itu, Dia meniadakannya, oleh kekuatan-Nya begitu rupa, sehingga Dia tetap direstui Allah agar kita dipenuhi-Nya dengan restu itu.
  • 62. P. Jelaskan apa yang berikut.
    A. Kematian merupakan kutuk, yang menimpa manusia karena dosa. Oleh sebab itu, Yesus Kristus telah menanggung kematian itu dan sambil menanggungnya Dia mengalahkannya. Dan untuk menunjukkan bahwa kematian-Nya benar-benar kematian, Dia mau diletakkan dalam kuburan, sama seperti manusia selebihnya.
  • 63. P. Akan tetapi, tampaknya kemenangan itu tidak membawa kebaikan apapun bagi kita, mengingat kita ini tetap mati.
    A. Kenyataan itu tidak menghalangi adanya hasil. Sebabl kini kematian orang percaya tidak lain ialah peralihan, yang membuat mereka memasuki kehidupan yang lebih jelas.
  • 64. P. Kesimpulannya ialah, kita tidak usah lagi takut akan kematian seakan-akan kematian itu mengerikan. Sebaliknya, kita perlu mengikut Kepala dan Panglima kita Yesus Kristus dengan sukarela. Dia telah mendahului kita dalam kematian bukan dengan maksud agar kita binasa olehnya, melainkan untuk menyelamatkan kita.
    A. Begitulah.
  • 65. P. Apa arti kata-kata yang ditambahkan, 'turun ke dalam kerajaan maut'?
    A. Dia tidak hanya mengalami kematian kodrat, yaitu pemisahan antara jiwa dan raga. Juga jiwa-Nya diliputi kegelisahan luar biasa, yang oleh Petrus disebut 'sengsara maut' (Kis 2:24).
  • 66. P. Sebab apa dan dengan cara apa hal itu terjadi?
    A. Agar Dia menghadap Allah untuk melakukan pelunasan atas nama orang berdosa, perlulah Dia merasakan kecemasan yang mengerikan itu dalam nurani-Nya, seolah-olah Dia ditinggallkan oleh Allah, bahkan seolah-olah Allah memurkai diri-Nya. Ketika berada dalam jurang itu, Dia berseru, 'Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?' (Mat 27:46; Mar 15:34).
  • 67. P. Apakah Allah memang memurkai Dia?
    A. Tidak. Kendati demikian, perlulah Allah membuat Dia sengsara begitu, agar genaplah nubuat Yesaya, 'Dia diremukkan oleh tangan Bapa oleh karena dosa-dosa kita, dan Dia telah memikul kejahatan kita' (Yes 53:5 dan 1Pe 2:24).
  • 68. P. Akan tetapi, bagaimana mungkin Dia diliputi rasa takut yang begitu besar, seakan-akan Dia telah ditinggalkan oleh Allah, padahal Dia adalah Allah sendiri?
    A. Hal itu harus dipahami sebagai berikut. Dia berada dala keadaan yang melampaui batas itu menurut tabiat kemanusiaa-Nya. Untuk itu, selama beberapa waktu keallahan-Nya seakan-akan bersembunyi, artinya, tidak menyatakan kekuatannya.
  • 69. P. Akan tetapi, bagaimana bisa terjadi bahwa Yesus Kristus, keselamatan dunia, tertimpa oleh hukum itu?
    A. Dia tidak tertimpa olehnya untuk seterusnya. Sebab, serangan rasa ngeri tersebut tadi begitu rupa, sehingga Dia tidak tertindas olehnya. Sebaliknya, Dia bertempur melawan kuasa neraka, untuk mematahkan dan menghancurkannya.
  • 70. P. Dengan demikian tampak oleh kita perbedaan antara siksaan yang telah Dia derita dan yang dialami orang berdosa, yang dihukum oleh Allah dalam murka-Nya. Sebab, apa yang bersifat sementara di dalam Dia berlangsung untuk selamanya pada mereka itu. Dan apa yang bagi Dia hanya merupakan sengat yang menusuk, bagi mereka menjadi pedang yang melukai hati mereka hingga mati.
    A. Itulah. Sebab di tengah kecemasan yang begitu besar, Yesus Kristus tetap menaruh harapan pada Allah. Sebaliknya, orang berdosa yang kena hukuman Allah menjadi putus asa dan mendongkol kepada-Nya sampai-sampai menghujat Dia.
  • 71. P. Bukankah dari situ kita dapat menyimpulkan apa hasil yang kita peroleh dari kematian Yesus Kristus?
    A. Dapat. Pertama, kita melihat bahwa kematian itu adalah persembahan korban. Melaluinya Dia melakukan pelunasan bagi kita dalam penghukuman Allah, dan dengan cara itu Dia telah meredakan murka Allah terhadap kita dan mendamaikan kita dengan Dia. Kedua, darah-Nya adalah pembasuhan yang olehnya jiwa kita dibersihkan sehingga tidak tinggal noda satu pun. Akhirnya, oleh kematian itu dosa-dosa kita dihapuskan, sehingga Allah sama sekali tidak mengingatnya lagi dan surat utang yang mendakwa kita ditiadakan.
  • 72. P. Apakah kita tidak menarik manfaat lain lagi dari kematian itu?
    A. Sudah tentu. Jika kita benar-benar anggota Kristus, manusia lama kita disalibkan, daging kita dimatikan, supaya nafsu-nafsu jahat tidak lagi berkuasa dalam diri kita.
  • 73. P. Jelaskanlah pasal berikut.
    A. Pada hari ketiga Dia bangkit. Dengan perbuatan itu Dia menunjukkan kemenangan-Nya atas maut dan dosa. Sebab oleh kebangkitan-Nya Dia telah menelan maut, mematahkan belenggu iblis, dan menghancurkan seluruh kuasanya (1Pe 3:21).
  • 74. P. Dengan berapa cara kebangkitan itu bermanfaat bagi kita?
    A. Pertama, di dalamnya diperoleh kebenaran sepenuhnya bagi kita (Rom 4:24).
    Kedua, kebangkitan itu menjadi jaminan yang pasti bagi kita bahwa kita pun pada suatu waktu akan bangkit dalam ketidakfanaan yang mulia (1Ko 15:20-23). Ketiga, kalau kita benar-benar mengambil bagian di dalamnya, mulai kita bangkit dalam kebaruan hidup, untuk melayani Allah dan hidup suci menurut perkenan-Nya (Rom 6:4).
  • 75. P. Mari kita teuskan.
    A. 'Dia naik ke sorga'
  • 76. P. Apakah Dia naik begitu rupa, sehingga Dia tidak lagi berada di bumi?
    A. Benar. Sebab Dia telah melaksanakan segala sesuatu yang diperintahkan kepada-Nya oleh Bapa-Nya dan yang diperlukan demi keselamatan kita, maka tidak perlu lagi Dia tinggal di dunia ini.
  • 77. P. Apa manfaat kenaikan ke sorga itu bagi kita?
    A. Kenaikan itu bermanfaat ganda. Karena Yesus Kristus telah masuk ke sorga atas nama kita, sebagaimana Dia telah turun meninggalkan sorga demi kita, dia membukakan kita jalan masuk dan meyakinkan kita bahwa pintu yang telah tertutup bagi kita karena dosa kita kini terbuka bagi kita (Rom 6:8-11). Kedua, di situ Dia menghadap Sang Bapa, agar menjadi Jurusyafaat dan Pembela kita (Ibr 7:25).
  • 78. P. Akan tetapi, apakah kenaikan Yesus Kristus ke sorga berarti, Dia telah menjauh dari dunia begitu rupa, sehingga Dia tidak lagi bersama kita?
    A. Tidak. Hal itu bertentangan dengan ucapan-Nya, bahwa Dia akan menyertai kita hingga akhir zaman (Mat 28:20).
  • 79. P. Apakah kata-kata 'Aku menyertai kamu' berarti bahwa Dia hadir dengan cara badani?
    A. Tidak. Sebab lain tubuh-Nya, yang telah terangkat (Luk 24:51), lain kekuatan-Nya, yang tersebar di mana-mana (Kis 2:33).
  • 80. P. Bagaimana kaupahami kata-kata, 'duduk di sebelah kana Allah, Bapa-Nya'?
    A. Dia telah diberi kuasa sebagai Tuhan sorga dan bumi, agar Dia memerintah dan mengendalikan segala sesuatu (Mat 28:18).
  • 81. P. Akan tetapi, apa arti kata-kata 'sebelah kanan' dan 'duduk' yang dipakai di sini?
    A. Kata-kata itu merupakan kiasan, yang diambil dari contoh raja-raja di bumi, yang mendudukkan di sebelah kanannya mereka yang ditetapkannya sebagai wakilnya, untuk memerintah atas namanya.
  • 82. P. Jadi, pahammu tidak berbeda dengan perkataan Paulus, yakni bahwa Dia telah ditetapkan menjadi Kepala Gereja (Efe 1:22 dan Efe 4:15) dan ditinggikan di atas segala kerajaan, dan dikaruniai naman di atas segala nama (Fil 2:9)?
    A. Tidak.
  • 83. P. Teruskan lagi.
    A. 'Dan akan datang dari sana untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.' Artinya, pada suatu kelak Dia akan tampil dari sorga untuk menghakimi, dengan cara yang sama seperti orang melihat Dia naik ke sorga (Kis 1:11).
  • 84. P. Penghukumna itu akan berlangsung pada akhir zaman, maka bagaimana engkau dapat berkata bahwa waktu itu akan ada yang hidup, sedangkan yang lain telah mati? Bukankah semua orang ditetapkan untuk mati satu kali saja (Ibr 9:27-28)?
    A. Rasul Paulus menjawab pertanyaan ini dengan berkata bahwa mereka yang pada waktu itu masih hidup akan diubah dalam sekejap mata, supaya kefanaan mereka ditiadakan dan tubuh mereka dibarui menjadi tidak dapat binasa (1Ko 15:52; 1Te 4:17).
  • 85. P. Jadi, menurut pengertianmu bagi mereka perubahan itu bagaikan kematian, sebab dalam peristiwa itu kodrat asli mereka akan diadakan dan mereka akan dibangkitkan dalam keadaan lain?
    A. Itulah.
  • 86. P. Apakah kenyataan bahwa pada suatu waktu Yesus Kristus akan datang untuk menghakimi dunia merupakan penghiburan bagi kita?
    A. Penghiburan yang luar biasa. Sebab kita yakin bahwa Dia akan tampil hanya demi keselamatan kita.
  • 87. P. Jadi, kita tidak perlu takut akan hukuman terakhir, sebab peris- tiwa itu tidak mengerikan bagi kita?
    A. Tidak. Sebab kita tidak usah menghadap seorang hakim selain Dia yang juga adalah Pembela kita dan yang telah menangani perkara kita untuk memperjuangkannya.
  • 88. P. Marilah kita memasuki bagian ketiga.
    A. Itu mengenai percaya kepada Roh Kudus.
  • 89. P. Apa manfaatnya bagi kita?
    A. Supaya kita memahami bahwa, sama seperti Allah telah membeli dan menyelamatkan kita di dalam Yesus Kristus, begitu pula oleh Roh Kudus-Nya Dia membuat kita mengambil bagian dalam penebusan dan keselamatan itu.
  • 90. P. Bagaimana caranya?
    A. Sebagaimana cara Yesus Kristus merupakan pembasuhan kita, begitu pula perlu Roh Kudus memerciki hati nurani kita dengannya supaya nurani itu dibasuh (1Pe 1:2).
  • 91. P. Masih diperlukan penjelasan yang lebih tegas.
    A. Artinya bahwa Roh Kudus, yangdiam dalam hati kita, membuat kita merasakan kekuatan Tuhan kita Yesus (Rom 5:5). Sebab Dia menerangi kita, agar kita mengenal karunia-karunia-Nya; Dia memeteraikannya dan menerakannya dalam jiwa kita dan memberinya tempat dalam diri kita (Efe 1:13). Dia membuat kita dilahirkan kembali dan menjadikan kita ciptaan baru (Tit 3:5). Dengan demikian, melalui Dia kita menerima semua kebaikan dan karunia yang disediakan bagi kita dalam Yesus Kristus.
  • 92. P. Yang berikut?
    A. Bagian keempat. Di sana dikatakan bahwa kita percaya adanya gereja yang am.
  • 93. P. Apa itu, Gereja am?
    A. Gereja Am itu adalah perhimpunan orang-orang percaya yang ditetapkan dan dipilih Allah akan menerima hidup kekal.
  • 94. P. Apakah perlu kita mengimani pasal ini?
    A. Tentu. Kalau tidak, kita menjadikan kematian Yesus Kristus sia-sia, bersama segala sesuatu yang telah dituturkan di atas, sebab buah yang dihasilkan olehnya ialah Gereja.
  • 95. P. Jadi, engkau berkata bahwa hingga saat ini yang menjadi pokok pembicaraan ialah sebab dan dasar keselamatan, yaitu bahwa, melalui Yesus Kristus, Allah telah menerima kita dengan penuh kasih, serta meneguhkan anugerah itu dalam diri kita oleh Roh Kudus-Nya. Sebaliknya, sekarang ditunjukkan hasil dan pelaksanaan semua itu, agar keyakinan tentangnya semakin kokoh?
    A. Begitulah.
  • 96. P. Apa artinya bila kaukatakan bahwa Gereja itu 'kudus'?
    A. Bahwa Allah membenarkan dan menyucikan mereka yang telah dipilih-Nya, agar mereka kudus dan tak bersalah, supaya kemuliaan-Nya bercahaya dalam diri mereka (Rom 8:30). Demikianlah Yesus Kristus, setelah membeli Gereja-Nya, menguduskannya juga, supaya Gereja itu mulai dan tidak bercela (Efe 5:25-27).
  • 97. P. Apa yang hendak diungkapkan dengan perkataan 'Katolik' atau 'Am'?
    A. Perkataan itu berarti bahwa, sebagaimana hanya ada satu Kepala orang- orang percaya (Efe 4:15), begitu pula mereka semua harus tetap bersatu dalam satu tubuh (1Ko 12:12, 27). Dengan demikian tidak ada sejumlah Gereja, tetapi satu Gereja saja, yang tersebar di seluruh dunia.
  • 98. P. Apa makna khusus kata-kata berikut, 'persekutuan orang kudus'?
    A. Tidak, selama Gereja itu masih berjuang di tengah dunia ini. Sebab masih tetap ada sisa-sisa kelemahan, yang tidak akan dihilangkan sampai Gereja itu disatukan sepenuhnya dengan Kepala nya, Yesus Kristus, yang telah menguduskannya.
  • 100. P. Dapatkan Gereja itu dikenal selain dengan percaya adanya Gereja itu?
    A. Memang ada Gereja Allah yang kelihatan, yang tanda pengenalnya telah diberitahukan-Nya kepada kita. Tetapi di sini yang menjadi pokok pembicaraan ialah perhimpunan orang yang terpilih oleh Allah untuk menyelamatkan mereka. Gereja itu tidak dapat sepenuh- nya dilihat dengan mata.
  • 101. P. Yang berikut?
    A. 'Aku percaya pengampunan dosa.'
  • 102. P. Apa arti kata 'pengampunan' menurut engkau?
    A. Allah, karena kebaikan-Nya yang cuma-cuma, mengampuni dan menghapuskan kesalahan orang-orang percaya milik-Nya, sehingga kesalahan itu sama sekali tidak diperhitungkan lagi di depan pengadilan-Nya untuk menghukum mereka karenanya.
  • 103. P. Apakah kita dapat menyimpulkan, kita tidak layak mendapat pengampunan Allah karena perbuatan kita sendiri melakukan pelunasan?
    A. Benar. Sebab Tuhan Yesus Kristus telah melakukan pembayaran untuknya dan menanggung hukuman atasnya. Adapun kita tidak dapat membawa imbalan apa pun, tetapi kita perlu mendapat pengampunan semua dosa kita oleh kemurahan Allah semata-mata.
  • 104. P. Mengapa pasal ini kautempatkan sesudah pasal tentang Gereja?
    A. Sebab, tidak seorang pun memperoleh pengampunan dosanya kecuali kalau sebelumnya ia dimasukkan menjadi anggota umat Allah, menekuni persatuan serta persekutuan dengan tubuh Kristus, dan dengan cara itu benar-benar menjadi anggota Gereja.
  • 105. P. Jadi, di luar Gereja hanya ada kutuk dan maut?
    A. Sudah pasti begitu. Sebab semua orang yang memisahkan dari persekutuan orang percaya untuk mendirikan bidat tersendiri, tidak dapat mengharapkan keselamatan selama mereka hidup terpisah.
  • 106. P. Yang berikut?
    A. 'Kebangkitan daging, dan hidup yang kekal.'
  • 107. P. Mengapa pasal ini dibubuhkan?
    A. Pasal ini dibubuhkan dengan maksud menunjukkan kepada kita bahwa kebagahiaan kita tidak terletak di bumi ini. Hal ini bertujuan ganda. Pertama, agar kita belajar berjalan melewati dunia ini bagaikan negeri asing sambil menganggap remeh semua perkara di bumi dan tidak menaruh perhatian padanya. Selanjutnya juga, supaya, meski hasil anugerah yang telah Tuhan sediakan bagi kita dalam Yesus Kristus belum tampak oleh kita, kita tidak patah semangat, tetapi menantikannya dengan sabar, hingga waktu penyataannya.
  • 108. P. Bagaimana kebangkitan itu akan berlangsung?
    A. Mereka yang telah meninggal dunia sebelumnya akan mengenakan kembali tubuh mereka, kendati tubuh itu akan bersifat lain, yaitu tidak tunduk lagi pada kefanaan dan kebinasaan, meski zatnya tetap sama. Dan mereka yang masih hidup akan dibangkitkan Allah dengan cara ajaib, dengan perubahan mendadak yang telah disebut di atas (1Ko 15:52).
  • 109. P. Bukankah kebangkitan itu akan sama-sama dialami oleh orang jahat dan orang baik?
    A. Benar, tetapi dalam keadaan yang jauh beda. Sebab kelompok yang satu akan bangkit untuk menerima keselamatan dan kesukaan, sedangkan yang lain untuk menerima hukuman dan kematian (Yoh 5:29; Mat 25:46).
  • 110. P. Kalau begitu, mengapa pasal ini hanya menyebut hidup yang kekal, bukan juga neraka?
    A. Sebab dalam iktisar ini hanya dicantumkan apa yang termasuk hal-hal yang secara khusus menghibur nurani orang percaya; di dalamnya hanya dituturkan kebaikan-kebaikan yang Allah berikan kepada para hamba-Nya. Maka orang-orang fasik, yang tidak boleh masuk ke dalam Kerajaan-Nya, tidak disebut-sebut di sini.
  • 111. P. Kini kita telah memiliki dasar tumpuan iman. Maka bukankah kita bisa saja menyimpulkan darinya apa itu iman sejati?
    A. Bisa. Yakni, pengetahuan yang pasti dan kokok tentang kasih Allah terhadap kita, sebagaimana melalui Injil-Nya Dia menyata- kan diri sebagai Bapa dan Penyelamat kita dengan perantaraan Yesus Kristus.
  • 112. P. Dapat kita memiliki iman itu dari kita sendiri, atau datangnya dari Allah?
    A. Alkitab mengajar kepada kita bahwa iman merupakan karunia khusus Roh Kudus. Hal itu juga dibuktikan oleh pengalaman.
  • 113. P. Bagaimana?
    A. Sebab daya paham kita begitu lemah, sehingga tidak sanggup memahami hikmat rohani Allah yang dinyatakan kepada kita oleh iman, dan hati kita cenderung tidak percaya, atau percaya secara keliru yaitu menaruh kepercayaan pada diri kita sendiri atau pada makhluk-makhLuk Sebaliknya, Roh Kudus menerangi kita untuk menjadikan kita sanggup memahami apa yang tidak dapat kita mengerti dengan cara lain. Dan Dia membuat keyakinan kita semakin kokoh, dengan memeteraikan dan menerakan janji-janji keselamatan di dalam hati kita.
  • 114. P. Kebaikan apa yang iman itu hasilkan bagi kita, bila kita memilikinya?
    A. Iman itu menjadikan kita benar di hadapan Allah, sehingga kita memperoleh hidup yang kekal.
  • 115. P. Bagaimana? Bukankah manusia dibenarkan oleh perbuatan baik, dengan hidup suci dan menurut kehendak Allah?
    A. Seandainya terdapat seseorang yang begitu sempurna, sesungguhnyalah ia boleh disebut benar. Tetapi karena kita semua orang berdosa yang malang, kita perlu mencari di tempat lain sesuatu yang membuat kita layak, agar kita sanggup memberi pertanggungjawaban di depan pengadilan Allah.
  • 116. P. Apakah semua perbuatan kita betul-betul begitu keji, sehingga tidak mungkin perbuatan itu menjadikan kita layak mendapat anugerah di hadapan Allah?
    A. Pertama, semua perbuatan yang kita lakukan dari kodrat kita sendiri bersifat bejat, dan karena itu tidak dapat berkenan kepada Allah; sebaliknya, semuanya dihukum oleh-Nya.
  • 117. P. Jadi, kaukatakan bahwa sebelum Allah menerima dan menganugerahi kita, kita tidak dapat tidak berdosa, sebagaimana pohon jahat hanya menghasilkan buah yang jahat (Mat 7:17)?
    A. Begitulah. Meski perbuatan kita tampak bagus dari luar, namun jahat adanya, sebab hari buruk, dan hati itulah yang dilihat Allah.
  • 118. P. Jadi, engkau menarik kesimpulan bahwa tidak mungkin kita mendahului Allah dengan amal kita sehingga Dia terdorong melakukan kebaikan kepada kita, bahkan bahwa kita hanya menimbulkan kemarahan-Nya terhadap kita?
    A. Benar. Namun, saya berkata bahwa tidak kemurahan-Nya dan kebaikan hati-Nya, tanpa memperhatikan perbuatan kita dengan cara apa pun, dia menyenangi kita dalam Yesus Kristus sambil memperhitungkan kebenaran- Nya kepada kita dan tidak menanggungkan kesalahan kita kepada kita (Tit 3:5-7).
  • 119. P. Maka bagaimana maksudnya bila engkau berkata bahwa manusia dibenarkan oleh iman?
    A. Bahwa dengan jalan percaya dan menerima janji-janji Injil dengan sepenuh hati, kita menjadi pemilik kebenaran itu.
  • 120. P. Jadi, menurut lpengertianmu, sebagaimana Allah menawarkannya melalui Injil, begitu juga cara menerimanya ialah iman?
    A. Ya.
  • 121. P. Akan tetapi, bukankah, setelah Allah menerima kita, perbuatan yang oleh anugerah-Nya kita lakukan menyenangkan Dia?
    A. Benar, sebab Dia menerimanya dengan penuh kemurahan, bukan karena perbuatan itu sendiri layak diterima.
  • 122. P. Bagaimana? Apakah perbuatan itu tidak layak diterima, padahal datangnya dari Roh Kudus?
    A. Tidak. Sebab perbuatan itu selalu dihinggapi salah satu kelemahan daging kita, yang mengotorinya.
  • 123. P. Jadi, apa cara membuat perbuatan itu menyenangkan Dia?
    A. Jika perbuatan itu dilakukan dalam iman. Artinya, orang yang melakukannya harus yakin dalam nuraninya bahwa Allah tidak akan memeriksanya dengan ketat, tetapi akan memandangnya sempurna sebab Dia menutupi ketidaksempurnaan dan nodanya dengan kesucian Yesus Kristus.
  • 124. P. Apakah karena itu kita hendak berkata bahwa seorang Kristen dibenarkan oleh perbuatannya, setelah Allah memanggilnya? Atau bahwa perbuatannya menjadikan dia layak dikasihi Allah, sehingga ia beroleh keselamatan?
    A. Tidak. Sebaliknya, ada tertulis bahwa tidak seorang pun yang benar di hadapan-Nya (Maz 143:2). Karena itu, kita harus berdoa agar Dia jangan berperkara dengan kita.
  • 125. P. Apakah karena itu engkau berpendapat bahwa perbuatan orang percaya tidak berguna?
    A. Tidak. Sebab Allah berjanji hendak memberi imbalan yang berlimpah, bauk di dunia ini maupun dalam Firdaus. Tetapi semua it berpangkal pada yang ini: Dia mengasihi kita meski tidak ada alasan dalam diri kita, dan menguburkan semua kesalahan kita, untuk tidak mengingatnya lagi.
  • 126. P. Akan tetapi, dapatkah kita memiliki iman yang membenarkan tanpa melakukan perbuatan baik?
    A. Hal itu mustahil. Sebab percaya kepada Yesus Kristus berarti, menerima Dia sebagaimana Dia memberikan diri-Nya kepada kita. Tetapi Dia tidak hanya berjanji akan membebaskan kita dari maut dan membuat kita mendapat kembali anugerah Allah, Bapa-Nya, karena Dia bebas dari segala kesalahan, tetapi juga akan melahirkan kita kembali oleh Roh-Nya, untuk membuat kita hidup suci.
  • 127. P. Jadi, iman tidak membuat kita bersikap acuh tak acuh terhadap perbuatan baik, bahkan merupakan akar yang menghasilkannya?
    A. Begitulah. Dan karena itu ajaran Injil tercantum dalam kedua hal ini, yakni iman dan pertobatan.
  • 128. P. Apa itu pertobatan?
    A. Pertobatan adalah rasa benci terhadap kejahatan dan cinta akan kebaikan, yang berasal dari takut akan Allah dan yang mendorong kita untuk mematikan daging kita, supaya kita diperintah oleh Roh Kudus dan dibimbing oleh-Nya menuju ke pengapdian kepada Allah.
  • 129. P. Jadi, pertobatan itu merupakan yang kedua di antara unsur-unsur kehidupan Kristen yang telah kita singgung?[1]
    A. Benar, dan kami telah berkata bahwa pengabdian yang benar dan sah ialah mematuhi kehendak-Nya.
  • 130. P. Mengapa?
    A. Karena Dia mau dilayani bukan dengan cara yang kita rekakan, melainkan dengan cara yang berkenan kepada-Nya. HUKUM ALLAH
  • HUKUM ALLAH

  • 131. P. Apa pedoman yang telah diberikan-Nya kepada kita untuk memerintah kita?
    A. Hukum-Nya.
  • 132. P. Apa yang tercantum di dalamnya?
    A. Hukum itu terbagi dua. Dalam bagian pertama tercantum empat perintah, dalam yang kedua enam; maka jumlahnya sepuluh.
  • 133. P. Siapa yang mengadakan pembagian itu?
    A. Allah sendiri. Dia telah memberikan hukum itu secara tertulis kepada Musa, terbagi atas dua loh batu, dan Dia menyatakan bahwa isinya terdiri dari sepuluh firman (Kel 32:15 dan Kel 34:29; U1. 4:13 dan Ul 10:1).
  • 134. P. Pokok apa yang dibahas dalam loh pertama
    A. Loh pertama itu menyangkut cara yang benar menghormati Allah.
  • 135. P. Dan pokok loh kedua?
    A. Bagaimana seharusnya kita bergaul dengan sesama kita dan apa kewajiban kita terhadap mereka.
  • 136. P. Tuturkan hukum yang pertama.
    A. 'Dengarlah Israel, Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain dihadapan-Ku.' (Kel 20:2, 3).
  • 137. P. Jelaskan artinya.
    A. Permulaannya seakan-akan merupakan mukadimah seluruh Hukum. Sebab dengan menyebut nama-Nya, TUHAN' dan Pencipta dunia, Dia menuntut wewenang memerintah; sesudah itu Dia berkata bahwa Dia Allah kita, untuk membuat kita mengasihi hukum-Nya. Sebab, jika Dia adalah Penyelamat kita, pantaslah kita menjadi umat-Nya yang patuh.
  • 138. P. Bukankah apa yang dikrtakan-Nya sesudahnya tentang pembebasan dari tanah Mesir diarahkan secara khusus kepada bangsa Israel?
    A. Benar, kalau diartikan secara harfiah. Tetapi hal itu juga menyangkut kita semua secara umum, sebab Dia telah membebaskan jiwa kita dari tahanan rohani dalam dosa, dan dari kuasa lalim si iblis.
  • 139. P. Mengapa hal itu disebut-Nya pada permulaan hukum-Nya?
    A. Untuk memperingatkan kita bahwa kita wajib mengikuti kehendakNya, dan bahwa kita sangat tidak tahu berterima kasih bila kita berbuat yang berlawanan dengannya.
  • 140. P. Maka apa yang pada pokoknya Dia tuntut dalam hukum pertama ini?
    A. Agar kita memberi penghormatan yang pantas diberikan kepada-Nya hanya kepada Dia, dan tidak mengalihkannya ke sesuatu yang lain.
  • 141. P. Apa penghormatan yang seharusnya diberikan kepada-Nya?
    A. Menyembah Dia saja, berseru kepada-Nya, menaruh kepercayaan kita pada- Nya, dan hal-hal serupa yang sesuai dengan keagungan-Nya.
  • 142. P. Mengapa dikatakan-Nya, 'di hadapan-Ku'?
    A. Sebab, Dia melihat dan mengetahui segala sesuatu, dan menilai pikiran manusia yang rahasia pun. Artinya, Dia mau diakui sebagai Allah, tidak hanya dengan pengakuan lahiriah, tetapi juga dengan hati yang ikhlas dan penuh kasih.
  • 143. P. Katakanlah hukum yang kedua.
    A. 'Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air dibawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya.'
  • 144. P. Apakah Dia hendak melarang sama sekali membuat patung apa pun?
    A. Tidak. Tetapi Dia melarang membuat patung apa pun untuk menggambarkan Allah, atau untuk disembah. 168 (V) Katekismus Jenewa
  • 145. P. Mengapa orang sama sekali tidak boleh membuat gambar Allah yang kelihatan?
    A. Sebab sama sekali tidak ada kesesuaian antara Dia, Roh Abadi, yang tidak terpahami, dengan bahan jasmani, mati, yang dapat binasa, dan kelihatan (Ula 4:15; Yes 41:7; Rom 6 dan Rom 7; Kis 17:24-25).
  • 146. P. Jadi, menurut pengertianmu, membuat gambar-Nya dengan cara itu adalah menghina keagungan-Nya?
    A. Benar.
  • 147. P. Jenis penyembahan apa yang dihukum di sini?
    A. Berdiri di hadapan sebuah gambar untuk memanjatkan doa, berlutut di depannya, atau memberi tanda penghormatan yang lain, seolah-olah di tempat itu Allah memperlihatkan diri-Nya kepada kita.
  • 148. P. Jadi, tidak perlu mengartikan hukum ini seakan-akan setiap patung atau lukisan dilarang secara umum? Yang dilarang hanyalah patung-patung yang dibuat untuk beribadah kepada Allah atau untuk menghormati Dia dalam benda-benda yang kasatmata, atau untuk menjadikannya patung berhala, dengan cara apa pun juga?
    A. Begitulah.
  • 149. P. Ke tujuan apa kita mengarahkan hukum ini?
    A. Dalam hukum pertama, Allah telah menyatakan bahwa hanya Dialah yang harus disembah, dan bukan allah lain. Begitu pula di sini Dia menunjukkan caranya yang tepat, untuk menjauhkan kita dari segala macam takhayul dan cara-cara daging.
  • 150. P. Marilah kita maju terus.
    A. Dia menambahkan ancaman: bahwa Dia, TUHAN, Allah kita, kuat, cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Dia.
  • 151. P. Mengapa disebut-Nya kekuatan-Nya?
    A. Untuk menyatakan bahwa Dia sanggup mempertahankan kemuliaanNya.
  • 152. P. Apa yang ditandakan-Nya dengan kata 'cemburu'?
    A. Bahwa Dia tidak mau disekutukan. Dia telah memberikan diri-Nya kepada kita karena kebaikan-Nya yang tak terhingga, maka Dia menghendaki agar kita seluruhnya milik Dia. Mengabdikan diri kepada Dia, berbakti kepada- Nya, itulah kesucian jiwa kita. Di pihak lain, berpaling ke salah satu takhayul adalah perzinaan rohani.
  • 153. P. Bagaimana seharusnya diartikan bahwa Dia 'membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya'?
    A. Untuk membuat kita lebih takut, Dia berkata, Dia tidak hanya akan membalas dendan kepada mereka yang menyakiti hati-Nya, tetapi keturunan mereka akan terkutuk pula.
  • 154. P. Bukankah hal itu bertentangan dengan keadilan Allah, yakni menghukum seorang karena kesalahan orang lain?
    A. Bila kita memperhatikan keadaan umat manusia, persoalan ini segera selesai. Sebab, menurut kodrat kita, kita semua terkutuk, dan kita tidak boleh mengeluh tentang Allah sekiranya Dia membiarkan kita tetap dalam keadaan kita sekarang. Maka, sebagaimana Dia menunjukkan rahmat-Nya dan kasih-Nya kepada para pelayan-Nya dengan memberkati anak-anak mereka, begitu pula Dia memperlihatkan dendam-Nya terhadap orang jahat bila keturunan mereka dibiarkan-Nya dalam keadaan terkutuk.
  • 155. P. Apa yang Dia katakan lagi?
    A. Untuk merangsang kita juga dengan kelembutan, Dia berkata bahwa Dia menunjukkan kasih setia kepada seribu angkatan, yaitu mereka yang mengasihi Dia dan yang berpegang pada perintah-perintah-Nya.
  • 156. P. Apakah maksudnya bahwa kepaturan orang percaya akan menyelamatkan seluruh keturunannya, kendati mereka jahat?
    A. Tidak. Akan tetapi, Dia akan membentangkan kebaikan-Nya kepada orang percaya begitu jauh, sehingga karena kasih setia-Nya terhadap mereka Dia akan memperkenalkan diri kepada anak-anak mereka, dan tidak hanya menyejahterakan mereka secara jasmani, tetapi juga menguduskan mereka oleh Roh Kudus-Nya, untuk membuat mereka patuh pada kehendak-Nya.
  • 157. P. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku untuk selamanya.
    A. Memang tidak untuk selamanya. Sebagaimana Tuhan tetap mempertahankan kebebasan-Nya untuk berbelas kasihan kepada anak-anak orang jahat, begitu pula di pihak lain Dia tetap dapat memilih atau menolak orang- orang tertentu di antara keturunan orang percaya sekehendak hatiNya (Rom 9:15-22). Meskipun demildan, Dia melakukannya begitu rupa, sehingga orang dapat mengetahui bahwa janji itu tidak hampa atau sia-sia (Rom 2:6-10).
  • 158. P. Mengapa di sini dikatakan-Nya 'seribu angkatan', sedangkan dalam ancaman-Nya Dia hanya menyebut tiga atau empat?
    A. Untuk menunjukkan bahwa Dia lebih condong memakai kebaikan dan kelembutan daripada kekerasan dan kekejaman, sesuai dengan pernyataan- Nya bahwa Dia cenderung menunjukkan kebaikan dan tidak cepat murka (Kel 34:6-7; Maz 103:8).
  • 159. P. Marilah kita terus ke hukum yang ketiga.
    A. 'Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan.'
  • 160. P. Apa artinya?
    A. Hukum itu melarang kita menyalahgunakan nama Allah, baik dalam sumpah palsu maupun dengan mengucapkan sumpah yang tidak perlu dan sia-sia.
  • 161. P. Apakah orang boleh saja memakai nama Allah dalam sumpah?
    A. Boleh, yaitu dalam sumpah yang memang dibutuhkan, artinya, untuk menegakkan kebenaran bilamana perlu, dan untuk memelihara kasih dan persekutuan antara kita.
  • 162. P. Apakah hukum ini hanya bermaksud hendak mencegah sumpah yang merupakan penghinaan Allah?
    A. Melalui satu contoh, hukum ini mengajar kita secara umum agar kita tidak pernah mengemukakan nama Allah selain dengan rasa takut dan rendah hati, dengan maksud memuliakan Dia. Sebab Dia kudus dan agung, kita harus menjaga jangan sampai kita mengucapkannya dengan cara yang membuat orang mengira kita memandangnya remeh atau memberi alasan untuk menistanya.
  • 163. P. Bagaimana hal itu dilakukan?
    A. Bila kita tidak memakai nama Allah dalam pikiran atau perkataan kita, dan tidak berpikir atau berbicara mengenai perbuatan-Nya selain dengan hormat dan untuk memuji Dia.
  • 164. P. Apa yang menyusul?
    A. Menyusullah ancaman, yaitu bahwa Dia akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
  • 165. P. Di tempat lain Dia telah menyatakan secara umum bahwa Dia akan menghukum semua orang yang melanggar hukum-Nya; apa yang tercantum di sini di luar itu?
    A. Dengan cara ini Dia hendak memberitahukan betapa Dia anggap penting kemuliaan nama-Nya dihormati, sambil mengatakan dengan tegas bahwa Dia tidak akan membiarkan orang menghinanya, supaya kita lebih rajin menaruh hormat kepadanya.
  • 166. P. Marilah kita sampai pada hukum yang keempat.
    A. 'Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu: maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki- laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu, atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Dia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.'
  • 167. P. Apakah Dia memerintahkan orang bekerja enam hari seminggu dan beristirahat pada hari ketujuh?
    A. Perintah itu tidak bersifat mutlak. Tetapi sementara Dia mengizinkan orang bekerja selama enam hari, Dia menyisihkan yang ketujuh; pada hari itu orang tidak boleh berusaha.
  • 168. P. Jadi, Dia melarang kita melakukan usaha apa pun satu hari seminggu?
    A. Dalam arti tertentu, hukum ini bersifat khusus. Sebab, kepatuhan terhadap perintah beristirahat itu termasuk upacara-upacara hukum larva. Oleh karena itu, pada waktu kedatangan Yesus Kristus perintah itu dihapuskan.
  • 169. P. Apakah engkau hendak mengatakan bahwa hukum ini secara khusus menyangkut orang Yahudi, dan diberikan untuk zaman Perjanjian Lama?
    A. Benar, sejauh hukum ini bersifat upacara.
  • 170. P. Bagaimana? Apakah dalam hukum ini ada sesuatu selain upacara?
    A. Hukum ini diberikan karena tiga alasan.
  • 171. P. Alasan apa?
    A. Untuk melambangkan istirahat rohani, demi tata tertib gerejawi, dan untuk menghibur para hamba.'
  • 172. P. Apa istirahat rohani itu?
    A. Berhenti berkarya sendiri, supaya Tuhan berkarya dalam diri kita.
  • 173. P. Bagaimana kita berbuat demikian?
    A. Dengan mematikan daging kita, artinya, menyangkal kodrat kita supaya Allah memerintah kita oleh Roh-Nya.
  • 174. P. Apakah hal itu hanya perlu dilakukan satu hari seminggu?
    A. Hal itu perlu dilakukan terus-menerus. Sebab setelah kita memulainya, kita perlu meneruskan sepanjang hidup.
  • 175. P. Maka mengapa ditetapkan hari tertentu untuk melambangkan hal itu?
    A. Lambang itu tidak perlu seluruhnya sama dengan kenyataan; cukuplah kalau agak mirip.'
  • 176. P. Mengapa hari ketujuh yang ditetapkan dan bukan hari lain?
    A. Dalam Alkitab, angka tujuh mengandung arti kesempurnaan. Maka angka itu cocok untuk mengungkapkan kelanggengan. Juga, olehnya kita diperingatkan bahwa selama hidup sekarang ini istirahat rohani kita baru mulai dan tidak akan sempurna sebelum kita meninggalkan dunia ini.
  • 177. P. Akan tetapi, apa makna alasan yang di sini dikemukakan oleh Tuhan kita, yaitu bahwa kita perlu beristirahat sebagaimana Dia telah beristirahat?
    A. Setelah menciptakan semua karya-Nya dalam enam hari, Dia mengkhususkan yang ketujuh untuk menyimaknya. Dan agar kita lebih terdorong untuk berbuat begitu, Dia menyebut contoh-Nya sendiri. Sebab yang paling perlu kita inginkan ialah menjadi serupa dengan Dia.
  • 178. P. Apakah orang harus senantiasa merenungkan karya Allah, atau cukuplah satu hari seminggu?
    A. Hal itu harus dilakukan tiap-tiap hari. Tetapi karena kelemahan kita ditetapkan satu hari secara khusus. Itulah tata tertib yang kusebut tadi.(2)
  • 179. P. Apa aturan yang perlu orang pegang pada hari itu?
    A. Bahwa umat berkumpul untuk diberi pelajaran mengenai kebenaran Allah, melakukan doa-doa bersama, dan mengikrarkan pengakuan iman serta agamanya.
  • 180. P. Apa maksudmu ketika engkau berkata bahwa hukum ini diberikan pula untuk menghibur para hamba?
    A. Untuk memberikan kesempatan bersantai sebentar kepada mereka yang berada di bawah kuasa orang lain. Dan hal ini berguna juga bagi ketertiban umum. Sebab jika ada satu hari istirahat maka tiap-tiap orang membiasakan diri untuk bekerja pada waktu yang lain.'
  • 181. P. Marilah kini kita mengatakan apa pesan hukum ini bagi kita.
    A. Sejauh menyangkut upacaranya, hukum ini telah dihapuskan (Kol 2:16). Sebab, kita telah memiliki penggenapannya dalam Yesus Kristus.
  • 182. P. Bagaimana?
    A. Manusia lama kita telah disalibkan oleh kekuatan kematian-Nya, dan oleh kebangkitan-Nya kita bangkit dalam hidup yang baru (Rom 6:6).
  • 183. P. Jadi, apa di dalamnya yang tetap tinggal bagi kita?
    A. Bahwa kita mematuhi aturan yang telah ditetapkan di dalam gereja, untuk mendengarkan Firman Tuhan, turut melakukan doa-doa bersama dan merayakan sakramen-sakramen. Dan bahwa kita tidak bertindak berlawanan dengan ketertiban rohani yang berlaku dalam lingkungan orang-orang percaya.
  • 184. P. Dan lambang itu ddak membawa manfaat apa-apa bagi kita?
    A. Benar begitu. Sebab kita harus kembali dari lambang itu ke kenyataan yang diungkapkan olehnya, yaitu bahwa sebagai anggota sejati tubuh Kristus kita meninggalkan perbuatan kita sendiri dan menyerahkan diri kita kepada-Nya agar Dia memerintah kita.
  • 185. P. Marilah kita sampai pada loh kedua.
    A. 'Hormatilah ayahmu dan ibumu.'
  • 186. P. Apa arti 'menghormati' menurut engkau?
    A. Bahwa anak-anak bersifat sopan dan taat pada ayah dan ibu mereka, menaruh hormat dan takzim kepada mereka, membantu mereka, dan mematuhi perintah-perintah mereka, sebagaimana sepatutnya mereka lakukan.
  • 187. P. Lanjutkan.
    A. Pada hukum ini Allah membubuhkan janji, dengan mengatakan, 'supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu'.
  • 188. P. Apa artinya?
    A. Bahwa Allah akan memberikan umur panjang kepada mereka yang menghormati ayah dan ibu mereka sebagaimana mestinya.
  • 189. P. Kehidupan ini penuh sengsara. Maka bagaimana Allah menyatakan kepada manusia bahwa Dia akan memberinya hidup panjang, seolah-olah hal itu merupakan anugerah?
    A. Semalang apa pun kehidupan di bumi ini, hidup ini merupakan pemberian Allah kepada orang yang setia. Salah satu sebabnya ialah, dengan memelihara dia sehingga hidup terus, Allah memperlihatkan kepadanya kasih-Nya sebagai seorang bapa.
  • 190. P. Apakah kita dapat menarik kesimpulan bahwa sebaliknya orang yang mati pada waktu masih muda terkutuk oleh Allah?
    A. Tidak. Bahkan, kadang-kadang Tuhan mengambil lebih cepat dari dunia ini mereka yang paling dikasihi-Nya.
  • 191. P. Bagaimana Dia menepati janji-Nya bila Dia berbuat begitu?
    A. Segala janji Allah berhubung dengan harta duniawi barns kita anggap bersyarat, yaitu berlaku sejauh berguna bagi keselamatan rohani kita. Sebab kurang baiklah sekiranya keselamatan itu tidak diutamakan terus.
  • 192. P. Dan bagaimana halnya mereka yang mendurhaka terhadap ayah dan ibunya?
    A. Allah akan menghukum mereka pada hari penghakiman, tetapi Dia akan membalaskannya juga kepada kehidupan jasmani mereka, dengan membuat mereka mati sebelum usia mereka genap, atau dengan cara yang nista, atau dengan salah satu cara lain.
  • 193. P. Apakah dalam janji ini Dia secara khusus berbicara mengenai tanah Kanaan?
    A. Ya, sejauh halnya menyangkut bani Israel. Tetapi dewasa ini kita harus mengartikan perkataan ini secara lebih umum. Sebab apa pun negeri kediaman kita, Dialah yang empunya bumi, dan di bumi itu diberikanNya kepada kita tempat pemukiman kita (Maz 24:1, 89:12; Maz 115:16).
  • 194. P. Apakah itu saja seluruh isi hukum ini?
    A. Kendati yang disebut hanya ayah dan ibu, itu harus diartikan sebagai 'semua atasan', sebab alasannya sama.
  • 195. P. Apa alasan itu?
    A. Bahwa Allah telah mengangkat mereka ke tempat keutamaan. Sebab tidak ada kekuasaan, apakah itu kekuasaan ayah atau raja atau atasan apa pun yang lain, yang tidak ditetapkan oleh Allah (Rom 13:1).
  • 196. P. Katakanlah hukum yang keenam.
    A. 'Jangan membunuh.'
  • 197. P. Apakah hukum ini melarang juga hal-hal lain selain menjadi pembunuh?
    A. Benar begitu. Allahlah yang berfirman, maka hukum yang Dia berikan itu berlaku tidak hanya berkenaan dengan perbuatan kita yang lahiriah, tetapi terutama juga dengan perasaan hati kita.
  • 198. P. Jadi, menurut engkau ada semacam pembunuhan batin, yang di sini dilarang oleh Allah?
    A. Benar, yaitu kebencian dan kedengkian, dan hasrat merugikan sesama kita.
  • 199. P. Apakah cukup kalau kita tidak membenci dan tidak berperasaan buruk?
    A. Tidak. Sebab, dengan menghukum kebencian, Allah menjelaskan bahwa Dia menuntut supaya kita mengasihi sesama kita dan berupaya demi keselamatan mereka, dan supaya kita melakukan semua itu dengan hati yang ikhlas, tanpa berpura-pura.
  • 200. P. Katakanlah hukum yang ketujuh.
    A. 'Jangan berzina.'
  • 201. P. Apa inti pokoknya?
    A. Bahwa Allah mengutuk segala perbuatan zina; karena itu kita harus menghindari perbuatan itu agar kita tidak membangkitkan murka-Nya terhadap diri kita.
  • 202. P. Bukankah hukum ini menuntut juga hal lain?
    A. Kita harus senantiasa memperhatikan sifat Pemberi Hukum. Dia tidak hanya melihat perbuatan lahiriah, tetapi meminta pula perasaan hati.
  • 203. P. Maka apa cakupan hukum ini?
    A. Badan dan jiwa kita adalah Bait Roh Kudus (1Ko 3:16 dan 1Ko 6:15; 2Ko 6:16). Sebab itu, kita harus menjaga agar keduanya tetap sopan, dan kita harus hidup suci, tidak hanya sejauh menyangkut perbuatan kita, tetapi juga dalam keinginan, perkataan, dan isyarat kita. Maka dalam diri kits tidak boleh ada bagian yang dinodai oleh apa yang tidak senonoh.
  • 204. P. Marilah kita sampai pada hukum yang kedelapan.
    A. 'Jangan mencuri'.
  • 205. P. Apakah hukum ini hanya mengandung larangan terhadap pencurian yang dihukum lewat peradilan, atau mempunyai cakupan lebih luas?
    A. Hukum ini mencakup semua praktik jahat dan cara tidak wajar merebut harta milik sesama kita, apakah dengan kekerasan, atau dengan tipu daya, atau dengan cara lain apa pun yang tidak dibenarkan oleh Allah.
  • 206. P. Sudah cukupkah kalau kita menghindari perbuatannya? Apakah keinginan termasuk juga?
    A. Kita barus selalu kembali ke pedoman ini: sebab Pemberi Hukum bersifat rohani, perkataan-Nya tidak hanya menyangkut pencurian lahiriah, tetapi juga upaya, kemauan, dan pertimbangan yang bermaksud hendak memperkaya diri kita dengan mengorbankan kepentingan sesama kita.
  • 207. P. Jadi, apa yang diperlukan?
    A. Berupaya supaya tiap orang tetap memegang harta miliknya sendiri.
  • 208. P. Apa hukum yang kesembilan?
    A. 'Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu'.
  • 209. P. Apakah hukum ini melarang kita mengucapkan sumpah palsu di pengadilan, atau melarang secara umum berdusta kepada sesama kita?
    A. Dengan memberi contoh, hukum ini mengemukakan ajaran umum, yaitu bahwa kita tidak boleh mengata-ngatai sesama kita dengan tak berdasar, dan tidak boleh merusak harta milik serta nama baiknya dengan fitnahan dan dusta kita.
  • 210. P. Apa sebabnya hukum ini menonjolkan sumpah palsu di depan umum?
    A. Agar kita lebih menjijikkan kejahatan mengata-ngatai dan memfitnah itu. Sebab dengan cara ini Dia menunjukkan bahwa barang siapa membiasakan diri memfitnah dan menjelek-jelekkan sesamanya segera juga akan mengucapkan sumpah palsu dipengadilan.
  • 211. P. Apakah hukum ini hanya melarang perkataan jelek, atau mencakup juga pikiran yang jelek?
    A. Baik yang satu maupun yang lain, sesuai dengan pedoman tersebut di atas. Sebab, apa yang buruk kalau kita melakukannya di depan manusia, buruk juga kalau kita menghendakinya di depan Allah.
  • 212. P. Maka tuturkan makna hukum ini dengan singkat.
    A. Hukum ini mengajarkan kepada kita tidak mudah menilai negatif atau, fitnah sesama kita, tetapi lebih suka menghargai sesama kita sejauh hal itu sesuai dengan kebenaran, dan melindungi nama baik mereka dalam bicara kita.
  • 213. P. Marilah kita sampai pada hukum yang terakhir.
    A. 'Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu'.
  • 214. P. Sebagaimana telah kaukatakan, seluruh Hukum bersifat rohani, dan hukum- hukum lain mau mengatur baik perbuatan lahiriah maupun perasaan hati. Maka apa lagi yang hendak dinyatakan di sini?
    A. Melalui hukum-hukum lain Tuhan hendak mengendalikan perasaan dan kemauan kita. Di sini Dia hendak mengekang juga pikiran kita yang memang membawa serta keinginan dan hasrat yang tertentu, namun belum sampai menjadi niat hati.
  • 215. P. Apakah pada hematmu godaan paling kecil pun yang muncul dalam pikiran seseorang percaya adalah dosa, meski ia melawan dan sekali-kali tidak menyetujuinya?
    A. Sudah pasti bahwa semua pikiran jahat berasal dari kelemahan daging kita, kendati tidak disetujui. Tetapi kukatakan bahwa yang dimaksud hukum ini ialah keinginan-keinginan yang menggelitik dan merangsang hati manusia meski tidak sampai rencana yang matang.
  • 216. P. Jadi, kaukatakan bahwa perasaan hati yang jahat, yang membawa serta niat yang sudah putus, telah dihukum di atas ini, tetapi bahwa di sini Tuban menuntut ketulusan had yang begitu besar, sehingga nafsu jahat apa pun tidak masuk ke dalam hati ki ta untuk menggerakkan dan mendorongnya pada yang jahat?
    A. Begitulah.
  • 217. P. Apakah kini kita bisa membuat ikhtisar seluruh Hukum?
    A. Bisa, dengan menyederhanakannya menjadi dua pasal. Yang pertama adalah, bahwa kita harus mengasihi Allah kita dengan segenap hati kita, dengan segenap jiwa kita, dan dengan segenap kekuatan kita. Dan yang lain, bahwa kita hams mengasihi sesama kita manusia seperti diri kita sendiri.
  • 218. P. Apa yang tercantum dalam kasih kepada Allah?
    A. Bahwa kita mengasihi Dia sebagaimana mestinya Allah dikasihi, yaitu dengan menerima Dia sebagai Tuhan, Yang Empunya kita, Penyelamat, dan Bapa kita. Maka selain mengasihi Dia kita perlu takut akan Dia, berbakti kepada-Nya, menaruh kepercayaan kepada-Nya, dan menaati Dia.
  • 219. P. Apa artinya 'dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan dengan segenap kekuatan kita'?
    A. Artinya, dengan semangat dan kegairahan yang begitu besar, sehingga tidak tinggal dalam diri kita keinginan, kehendak, gerak hati, atau pikiran apa pun yang bertentangan dengan kasih itu.
  • 220. P. Apa makna pasal kedua?
    A. Menurut sifat asli kita, kita condong begitu mengasihi diri kita sendiri, sehingga perasaan itu lebih kuat daripada semua perasaan lain. Begitu pula, kasih kepada sesama kita manusia harus begitu berkuasa dalam hati kita, sehingga kasih itu mengendalikan dan membimbing kita dan merupakan kaidah seluruh pikiran dan perbuatan kita.
  • 221. P. Dan apa arti 'sesama kita manusia' menurut engkau?
    A. Bukan hanya orangtua dan sahabat kita, atau kenalan kita, melainkan juga mereka yang tidak kita kenal, bahkan juga musuh kita.
  • 222. P. Antara mereka ini dan kita ada hubungan apa?
    A. Hubungan seperti yang ditetapkan oleh Allah antara semua orang di muka bumi. Hubungan itu tidak boleh diganggu gugat dan tidak dapat diputuskan oleh maksud jahat seorang pun.
  • 223. P. Jadi, kaukatakan bahwa bila seseorang membenci kita, itu urusannya sendiri, namun, menurut tertib yang ditentukan oleh Allah, ia tetap menjadi sesama kita manusia dan kita tetap harus memandang dia sebagai sesama kita?
    A. Benar.
  • 224. P. Hukum mengandung cara melayani Allah dengan baik. Maka bukankah seorang Kristen harus hidup sesuai dengan perintah-perintahnya?
    A. Sudah tentu. Akan tetapi, semua orang mengidap kelemahan yang begitu parah, sehingga tidak seorang pun berhasil melaksanakannya dengan sempurna.
  • 225. P. Maka mengapakah Tuhan menuntut kesempurnaan yang melebihi kemampuan kita?
    A. Dia tidak menuntut apa pun yang bukan kewajiban kita. Namun, asalkan kita berupaya mengatur hidup kita menurut apa yang ditirmankan-Nya dalam Hukum-Nya, Dia tidak memperhitungkan kekurangannya kepada kita,sekalipun kita masih jauh dari tujuannya, yaitu kesempurnaan.
  • 226. P. Apakah perkataanmu ini menyangkut semua orang pada umumnya, atau hanya orang percaya?
    A. Orang yang tidak dilahirkan kembali oleh Roh Allah, tidak sanggup mulai melaksanakan butirnya yang paling kecil pun. Lagi pula, andaipun terdapat satu orang yang melaksanakan salah satu bagiannya, ia belum juga bebas dari utang. Sebab, Tuhan kita menyatakan bahwa terkutuklah setiap orang yang tidak melakukan seluruh isinya dengan sempurna (Ula 27:26; Gal 3:10).
  • 227. P. Apakah kita harus menyimpulkan bahwa Hukum berfungsi ganda, sebagaimana ada dua jenis manusia?
    A. Benar. Sebab berhubung dengan orang tidak percaya, gunanya Hukum itu hanya untuk mendakwa mereka dan menyebabkan mereka semakin tidak dapat berdalih di hadapan Allah (Rom 1:20). Hal itu dinyatakan pula oleh Rasul Paulus, yaitu bahwa Hukum itu adalah 'pelayanan yang memimpin kepada kematian dan penghukuman' (2Ko 3:6, 9). Berhubung dengan orang percaya sama sekali berbeda kegunaannya.
  • 228. P. Apa kegunaannya itu?
    A. Pertama, Hukum itu menunjukkan kepada mereka bahwa mereka tidak dapat memperoleh kebenaran melalui perbuatan. Lantaran Hukum itu, mereka rendah hati dan dengan demikian membuat mereka siap untuk mencari keselamatannya dalam Yesus Kristus (Rom 5:18-21). Selanjutnya, sebab tuntutan Hukum melebihi kemampuan mereka, Hukum itu mendorong mereka untuk berdoa kepada Tuhan memohon kekuatan dan kemampuan (Gal 4:6), dan untuk sekaligus menyadari bahwa mereka tetap bersalah, supaya mereka tidak membanggakannya. Ketiga, bagi mereka Hukum itu bagaikan kekang, yang membuat mereka tidak melepaskan takut akan Allah.
  • 229. P. Jadi, kita akan berkata bahwa, meskipun selama kehidupan fana ini kita tidak pernah menepati Hukum, bukan tidak bergunalah tuntutan Hukum itu supaya kita melaksanakannya dengan sempurna? Sebab, Hukum itu memperlihatkan kepada kita tujuan yang harus kita kejar, supaya kita, masing-masing menurut anugerah yang diterimanya dari Allah, berupaya terus untuk mengejarnya dan untuk dari hari ke hari mencapai kemajuan. A. Begitulah pada hematku.
  • 230. P. Bukankah bagi kita Hukum itu merupakan kaidah sempurna segala kebaikan? A. Ya. Begitu sempurna Hukum itu, sehingga Allah tidak menuntut apa. apa melainkan supaya kita menurutinya; sebaliknya, Dia menganggap sia-sia dan menolak segala upaya manusia di luar apa yang tercantum di dalamnya. Sebab Dia tidak menuntut korban persembahan selain kepatuhan (1Sa 15:22; Yer 7:21-23).
  • 231. P. Maka apa gunanya semua peringatan, teguran, perintah, dan nasihat yang diberikan para Nabi dan Rasul?
    A. Semua itu hanyalah penjelasan Hukum, dan tidak diberikan untuk membuat kita menyimpang dari jalan ketaatan padanya, tetapi untuk membimbing kita ke jalan itu.
  • 232. P. Apakah Hukum itu tidak membahas panggilan tiap-tiap orang di tempat khususnya?
    A. Hukum itu menyatakan bahwa kita harus memberikan kepada tiap-tiap orang apa yang menjadi haknya. Dari situ kita dapat menarik kesimpulan mengenai kewajiban-kewajiban yang melekat pada kedudukan kita, masing- masing di tempatnya sendiri. Lagi pula, sebagaimana dikatakan tadi, kita memiliki penjelasan-penjelasan yang diberikan di seluruh Alkitab. Sebab apa yang dirangkumkan oleh Tuhan di sini, itu diuraikan-Nya di berbagai tempat untuk memberi kita pelajaran lebih lanjut.
  • DOA

  • 233. P. Kini kita sudah cukup berbicara mengenai hal melayani Allah, yang merupakan cara kedua menghormati Dia.' Marilah kita membicarakan cara ketiga.
    A. Kita telah berkata bahwa cara ketiga itu ialah berseru kepada-Nya dalam semua kebutuhan kita.
  • 234. P. Apakah maksudmj bahwa kita harus berseru hanya kepada Dia Baja?
    A. Ya. Demikianlah tuntutan-Nya, sebab itulah penghormatan yang patut kepada ke-Allahan-Nya.
  • 235. P. Kalau halnya begitu, maka dengan cara bagaimana kita diperbolehkan meminta bantuan dari pihak manusia?
    A. Kedua hal ini berbeda benar. Sebab kita berseru kepada Allah untuk menyatakan bahwa kita tidak mengharapkan kebaikan selain dari Dia, dan bahwa bagi kita tidak ada pertolongan lain. Dalam pada itu, kita mencari dari pihak manusia sejauh Dia mengizinkannya dan memberi mekemampuan dan sarana untuk membantu kita.
  • 236. P. Pada hematmu, meminta pertolongan dari pihak manusia tidak bertentangan dengan keharusan berseru kepada Allah saja, asal saja kita menaruh kepercayaan kita pada mereka dan tidak mencari bantuan reka kecuali sebab Allah telah menetapkan mereka sebagai pelayan dan bagi kebaikan- kebaikan-Nya dan memberi mereka tugas memenuhi butuhan kita dengannya?
    A. Benar. Memang, semua kebaikan yang kita terima dari manusia harus anggap berasal dari Allah sendiri, sebab sesungguhnya Dia menda ya kepada kita melalui tangan mereka.
  • 237. P. Kendati demikian halnya, bukankah kita harus tahu berterima kasih juga kepada manusia atas kebaikan yang mereka lakukan terhadap kita?'
    A. Tentu saja kita harus tahu berterima kasih. Salah satu alasannya, karena Allah menghormati mereka dengan cara menyalurkan kebaikan-Nya da kita melalui tangan mereka. Sebab dengan demikian Dia membuat berutang budi kepada mereka, dan Dia menghendaki agar kita nginsafi hal itu.
  • 238. P. Bukankah dari hal ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa orang tidak boleh berseru kepada para malaikat atau orang kudus yang telah meninggal dunia?(2)
    A. Benar. Sebab Allah tidak menugasi orang-orang kudus membantu kita memenuhi kebutuhan kita. Adapun para malaikat memang dipekerjakan -Nya untuk berupaya demi keselamatan kita; namun Dia tidak mau berseru kepada mereka atau meminta pertolongan dari mereka.
  • 239. P. Jadi, kaukatakan bahwa segala sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan telah dipasang oleh Tuhan bertentangan dengan kehendak-Nya?
    A. Benar. Sebab jika, setelah menerima pemberian Tuhan, kita tidak puas, hal itu merupakan tanda jelas ketidakpercayaan kita. Lagi pula, jika kita meminta pertolongan mereka dan menaruh kepercayaan kita pada mereka, walau hanya untuk sebagian, alih-alih mencari tempat berlindung hanya pada Allah, sesuai dengan perintah-Nya, maka hal itu merupakan penyembahan berhala, sebab kita mengalihkan kepada mereka apa yang Allah simpan bagi diri-Nya.
  • 240. P. Marilah kini kita berbicara mengenai cara berdoa kepada Allah. Apakah cukup kalau kita berdoa hanya dengan mulut? Bukankah doa memerlukan pula batin dan hati kita?
    A. Mulut tidak selalu perlu. Tetapi orang harus selalu berdoa dengan sadar dan dengan perasaan hati.
  • 241. P. Bagaimana engkau dapat membuktikan hal itu?
    A. Allah Roh adanya. Karena itu, Dia senantiasa meminta hati manusia, khususnya dalam doa, yang merupakan sarana mengadakan hubungan dengan Dia. Kendati demikian, hanya kepada orang-orang yang berseru kepada-Nya dalam kebenaran Dia berjanji akan dekat pada mereka (Maz 145:18); sebaliknya, Dia mengutuki semua orang yang melakukannya dengan pura- pura, dan tanpa perasaan hati (Yes 29:13-14).
  • 242. P. Jadi, semua doa yang dilakukan hanya dengan mulut tidak perlu?
    A. Doa itu tidak perlu, bahkan tidak menyenangkan Allah.
  • 243. P. Perasaan hati apa yang harus ada dalam doa?
    A. Pertama, seharusnya kita merasakan kemalangan dan kemiskinan kita, dan perasaan itu menimbulkan dalam diri kita kesedihan serta kegelisahan. Selanjutnya, kita harus merindukan anugerah Allah, dan kerinduan itu harus membuat hati kita bernyala-nyala dan menghasilkan dalam diri kita kegairahan berdoa.
  • 244. P. Apakah hal itu datang dari sifat asli kita atau dari anugerah Allah?
    A. Hal itu perlu dikerjakan oleh Allah, sebab terlalu besar ketumpulan kits. Akan tetapi, Roh Allah mendorong kita mengeluarkan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan dan membentuk dalam hati kita perasaan dan semangat yang dituntut oleh Allah, sebagaimana dikatakan Rasu1 Paulus (Rom 8:26; Gal 4:6).
  • 245. P. Apakah hal itu berarti bahwa kita tidak usah bergairah dan bersemangat untuk berdoa kepada Allah?
    A. Tidak. Sebaliknya, bilamana kita tidak merasakan dalam diri kita suasana hati yang demikian, kita harus berdoa kepada Tuhan memohon agar Dia memberikannya, untuk menjadikan kita sanggup dan mampu untuk berdoa kepada-Nya dengan cara yang patut.
  • 246. P. Akan tetapi, bukan maksudmu mengatakan bahwa lidah sama sekali tidak berguna dalam doa?
    A. Tidak. Kadang-kadang lidah itu membantu roh, dan menguatkannya supaya tetap terpikat, agar tidak cepat berbalik dari Allah. Selanjutnya, lidah dibentuk agar memuliakan Allah melebihi semua anggota badan lainnya; maka wajarlah Gdah itu berupaya memuliakan-Nya dengan bermacam-macam cara. Lagi pula, sering hati begitu berkobar semangat dan kegairahannya, sehingga lidah terdorong untuk berbicara tidak disengaja.
  • 247. P. Kalau halnya begitu, apa itu berdoa dalam bahasa lidah?'
    A. Hal itu adalah mencemooh Allah dan kemunafikan yang busuk (1Ko 14).
  • 248. P. Apakah kita berdoa kepada Allah secara untung-untungan, karena kita tidak tahu apakah doa itu akan membawa manfaat atau tidak? Atau haruskah kita yakin bahwa doa kita akan dikabulkan?
    A. Inilah keyakinan yang senantiasa harus mendasari doa-doa kita, yaitu bahwa doa itu akan diterima oleh Allah dan bahwa kita akan memperoleh apa yang kita pinta, sejauh bermanfaat. Karena itulah Rasul Paulus mengatakan bahwa cara berseru yang benar datang dari iman (Rom 10:14). Sebab, kalau kita tidak menaruh kepercayaan kepada kebaikan Allah, mustahil kita berseru kepada-Nya dalam kebenaran.
  • 249. P. Dan bagaimana halnya mereka yang ragu-ragu dan yang tidak tabu apakah Allah mendengarkan mereka?
    A. Doa mereka sama sekali tidak bersungguh-sungguh, sebab tidak didukung janji apa pun. Sebab dikatakan bahwa kita harus meminta dengan penuh kepercayaan, dan permintaan itu akan dipenuhi (Mat 21:22; Mar 11:24).
  • 250. P. Tinggal mendapat tahu bagaimana dan dengan hak apa kita memberanikan diri untuk menghadap Allah, sebab kita sama sekali tidak layak menghadap Dia.
    A. Pertama, kita memiliki janji janji, yang seharusnya menjadi pegangan kita, tanpa memperhatikan layak tidaknya kita (Maz 50:15; 91:3; 145:18; Yes 30:15, 65:24; Yer 29:12; Yoe 3:5). Kedua, kalau kita memang anak Allah, Dia mendorong dan merangsang kita oleh Roh KudusNya agar kita mendatangi Dia secara akrab, bagaikan Bapa kita (Mat 9:2, 22 dan lain-lain tempat). Dan agar kita ini, yang hanya bejana tanah liat yang kasar dan orang berdosa yang malang, tidak segan tampil di hadapan keagungan-Nya yang mulia, Dia memberi kita Tuhan kita Yesus menjadi Pengantara (1Ti 2:5; Ibr 4:16; 1Yo 2:1), supaya dengan pengantaraan Dia kita mempunyai jalan masuk dan sama sekali tidak ragu- ragu apakah kita hendak mendapat anugerah.
  • 251. P. Apakah yang kaumaksud ialah bahwa kita perlu berseru kepada Allah hanya dalam nama Yesus Kristus?
    A. Memang demikianlah maksudku, sebab hal itu diperintahkan kepada kita dengan tegas. Dan kita diberi janji bahwa kalau kita berbuat demikian maka permintaan kita akan dikabulkan berkat kekuatan pengantaraan-Nya (Yoh 14:13).
  • 252. P. Maka bukanlah kesembronoan atau keangkuhan edan kalau kita berani menyapa Allah secara akrab, asal saja Yesus Kristus menjadi Pembela kita dan kita menempatkan Dia di muka, agar melalui Dia Allah menyenangi kita dan mendengarkan kita?
    A. Bukan. Sebab kita seolah-olah berdoa melalui mulut-Nya, karena Dia membukakan kita jalan masuk dan membuat kita didengar, dan menjadi Jurusyafaat bagi kita (Rom 8:34).
  • 253. P. Marilah kini kita membicarakan isi doa-doa kita. Apakah kita boleh meminta apa saja yang timbul dalam benak kita, atau ada kaidahnya?
    A. Kalau kita mengikuti ulah hati kita, doa kita akan benar-benar semrawut. Sebab kita ini begitu bodoh, sehingga kita tidak sanggup menilai apa yang sebaiknya kita pinta; lagi pula keinginan kita begitu kacau, sehingga mestinya kita tidak mengendurkan tali kekangnya.
  • 254. P. Maka apa yang perlu?
    A. Perlu Allah sendiri mengajar kita, dengan cara yang Dia tahu cocok bagi kita, dan seakan-akan menuntun kita, sedangkan kita hanya mengikut saja.
  • 255. P. Apa pelajaran yang telah diberikan-Nya kepada kita berhubung dengan hal itu?
    A. Di seluruh Alkitab Dia telah memberikan pelajaran dengan panjang lebar. Tetapi, untuk mengarahkan kita ke tujuannya dengan lebih pasti maka Dia telah menyediakan rumus. Di dalamnya Dia telah mencantumkan semua hal yang boleh kita minta dan yang bennanfaat bagi kita.
  • 256. P. Tuturkan rumus itu.
    A. Ketika para murid-Nya meminta agar Tuhan kita Yesus mengajar mereka berdoa, Dia menjawab, 'Apabila kamu berdoa, katakanlah, Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah KerajaanMu, jadilah kehendak- Mu, di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya, dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami, dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi 4 paskanlah kami dari yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama- lamanya. Amin.' (Mat 6:9-13, Luk 11:1-4).
  • 257. P. Agar lebih mudah memahaminya, katakanlah jumlah pasal yang tercantum di dalam doa itu.
    A. Enam. Ketiga yang pertama mengenai kemuliaan Allah, tanpa memperhatikan diri kita sendiri; yang lain-lain menyangkut kita dan berhubungan dengan hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi kita.
  • 258. P. Bagaimana? Apakah kita harus meminta dari Allah hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat apa pun bagi kita?
    A. Memang benar, oleh kebaikan-Nya yang tak terhingga Dia menata dan mengatur segala hal begitu rupa, sehingga tidak ada yang memuliakan Nama- Nya kalau tidak juga bermanfaat bagi keselamatan kita. Maka bila nama- Nya dikuduskan, Dia membuat hal itu berguna demi pengudusan kita; bila kerajaan-Nya datang, kita bagaimanapun mengambil bagian di dalamnya. Akan tetapi, bila kita mengingini dan memohon hal-hal itu, seharusnya kita hanya memperhatikan kemuliaan-Nya, tanpa memikirkan kepentingan kita sendiri atau mencari keuntungan bagi diri kita sendiri dengan cara apa pun.
  • 259. P. Menurut perkataanmu ketiga permohonan pertama itu memang bermanfaat bagi kita, tetapi tidak boleh dilakukan selain dengan maksud mengingini agar Allah dimuliakan?
    A. Benar. Dan kendati ketiga yang terakhir rupanya dimasukkan dengan maksud mengingini apa yang bermanfaat bagi kita, namun di dalamnya pun kemuliaan Allah harus menjadi pokok perhatian kita, sehingga itulah yang menjadi tujuan seluruh keinginan kita.
  • 260. P. Marilah kita memulai penjelasannya. Sebelum masuk lebih jauh, kita bertanya, mengapa di sini Allah disebut dengan nama 'Bapa kita' dan bukan dengan sebutan lain?
    A. Perlulah nurani kita yakin benar bila sampai berdoa, maka bila Allah kita menyebut nama-Nya Dia memakai sebutan yang mengandung arti kelembutan dan kemanisan semata-mata. Dengan demikian Dia menghilangkan seluruh kebimbangan dan kebingungan kita serta membuat kata berani mendatangi Dia secara akrab.
  • 261. P. Maka apakah kita boleh berani mendatangi Allah secara akrab, bagaikan seorang anak menyapa bapaknya?
    A. Boleh. Bahkan, kita melakukannya dengan keyakinan lebih besar lagi bahwa kita akan memperoleh apa yang kita pinta. Sebab kalau kita, yang jahat, tidak sanggup menolak permintaan anak kita agar diberi roti atau daging, apalagi Bapa kita yang di sorga tidak akan berbuat begitu. Sebab Dia tidak hanya baik; Dia adalah kebaikan tertinggi (Mat 7:11).
  • 262. P. Bukankah dari Nama itu sendiri kita dapat mengambil bukti bahwa benarlah apa yang dikatakan, yaitu bahwa doa perlu didasari syafaat Yesus Kristus?
    A. Sudah tentu, sebab Allah tidak mengakui kita selaku anak-Nya kecuali kalau kita adalah anggota tubuh Anak-Nya.
  • 263. P. Mengapa engkau tidak menyebut Allah Bapa'ku', tetapi Bapa 'kita' bersama?
    A. Tiap-tiap orang percaya boleh saja menamakan Dia Bapanya secara khusus. Akan tetapi, dalam rumus doa ini Yesus Kristus mengajar kita berdoa bersama-sama, dengan maksud memperingatkan kita bahwa kita harus melakukan perbuatan kasih terhadap sesama kits dengan cara berdoa, dan tidak hanya memperhatikan urusan kita sendiri.
  • 264. P. Apa arti kata-kata 'yang di sorga'?
    A. Hal itu sama seperti menyebut Dia 'Tinggi', 'Berkuasa', 'Tidak, terpahami'.
  • 265. P. Apa maknanya? Dan apa maksudnya?
    A. Maksudnya supaya dengan berseru kepada-Nya kita belajar mengangkat pikiran kita ke atas, agar kita sekali-kali tidak membayangkan Dia secara jasmani atau duniawi, dan tidak mengukur Dia dengan ukuran pehaman kita, dan tidak menundukkan Dia pada kehendak kita, tetapi me nyembah keagungan-Nya yang mulia dengan rendah hati, dan juga agar kita mempercayai-Nya dengan semakin teguh, sebab Dialah Yang Memerintah dan Yang Empunya segala sesuatu.
  • 266. P. Jelaskanlah kini permohonan yang pertama.
    A. Nama Allah adalah kemasyhuran-Nya, yang menjadi sebab Dia dipuji-puji di bumi manusia. Karma itu, kita ingin supaya kemuliaan-Nya diagungkan di mana-mana dan dalam segala hal.
  • 267. P. Apakah menurut engkau Nama itu dapat bertambah besar atau berkurang?
    A. Bukan dalam dirinya sendiri. Artinya bahwa Nama itu dinyatakan sebagaimana seharusnya, dan bahwa, apa pun yang Allah lakukan, semua karya-Nya tampak mulia, sesuai dengan kenyataannya, sehingga Dia di muliakan dengan segala cara.
  • 268. P. Apa menurut engkau 'Kerajaan Allah' dalam permohonan yang kedua?
    A. Kerajaan Allah terutama terdiri dari dua hal. Dia membimbing orang-orang milik-Nya dan memerintah mereka melalui Roh-Nya; sebaliknya, menghajar dan membingungkan orang durhaka, yang tidak mau tunduk pada kekuasaan- Nya, agar tampak jelas bahwa tidak ada kuasa yang sanggup bertahan terhadap kuasa-Nya.
  • 269. P. Apa arti doamu meminta agar Kerajaan itu datang?
    A. Aku berdoa meminta supaya dari hari ke hari Tuhan membuat jumlah yang percaya kepada-Nya bertambah besar; supaya dari hari ke hari membuat anugerah-Nya atas mereka semakin berlimpah hingga Dia memenuhi mereka seluruhnya; supaya Dia juga membuat kebenaran-Nya semakin bercahaya; supaya Dia menyatakan keadilan-Nya yang menyebabkan iblis dan kerajaannya yang gelap dijungkirbalikkan; dan supaya, seluruh kefasikan dihancurkan dan ditiadakan.
  • 270. P. Bukankah semua itu terjadi juga dewasa ini?
    A. Memang, untuk sebagian. Tetapi kita ingin supaya Kerajaan-Nya ber terus- menerus dan maju hingga akhirnya mencapai kesempurnaan yaitu pada hari Penghukuman. Pada hari itu Allah sendiri yang ditinggikan, dan semua makhluk akan ditaklukkan pada kebesaran-Nya; bahkan, Dia akan menjadi semua di dalam semua (1Ko 15:28).
  • 271. P. Apa arti permintaanmu supaya jadilah kehendak Allah?
    A. Supaya semua makhluk takluk pada-Nya sehingga mematuhi Dia, dan sesuatu berlangsung menurut perkenan-Nya.
  • 272. P. Apakah menurut engkau orang dapat berbuat apa-apa bertentangan dengan kehendak-Nya?
    A. Kita tidak hanya meminta agar segala hal dikendalikan-Nya sedemikian rupa, hingga terwujudlah apa yang telah ditetapkan-Nya dalam putusan- Nya, tetapi juga agar setiap pemberontakan dipadamkan dan tiap-tiap kehendak ditaklukkan-Nya pada kehendak-Nya sendiri.
  • 273. P. Bukankah dengan demikian kita melepaskan kehendak kita sendiri?
    A. Begitulah. Dan dengan demikian kita tidak hanya meminta agar kehendak kita yang bertentangan dengan perkenan-Nya dijungkir-Nya sehingga Dia menjadikannya sia-sia dan hampa, tetapi juga agar diciptakanNya dalam diri kita roh baru dan hati yang baru, sehingga kita tidak menghendaki apa-apa dari kita sendiri, tetapi Roh-Nyalah yang menghendaki dalam diri kita, untuk membuat kita sepenuhnya seperasaan dengan Dia.
  • 274. P. Mengapa engkau menambahkan kata-kata 'di bumi seperti di sorga'?
    A. Makhluk-Nya di sorga, yaitu malaikat-Nya, berdaya upaya hanya untuk mematuhi Dia dengan rela hati, tanpa perlawanan sedikit pun. Maka kita ingin supaya terjadi hal serupa di bumi, artinya, supaya semua orang takluk pada-Nya dalam kepatuhan sukarela.
  • 275. P. Marilah kita sampai pada bagian kedua. Apa menurut engkau 'makanan kami sehari-hari', yang kaupinta?
    A. Semua hal yang berkaitan dengan kebutuhan tubuh kita secara umum, tidak hanya di bidang makanan dan pakaian, tetapi juga apa saja yang Allah tahu bermanfaat bagi kita, supaya kita dapat menyantap makanan kita dalam suasana damai.
  • 276. P. Apa arti permintaanmu kepada Allah agar Dia memberikan kepadamu makananmu, padahal Dia menyuruh kita mendapatkannya melalui pekerjaan tangan kita?
    A. Kita memang harus bekerja untuk mencari nafkah. Meskipun demikian, yang membuat kita makan bukanlah kegiatan, kerajinan, dau semangat kita, melainkan hanya restu Allah atas tangan dan kegiatan kita, yang membuatnya membawa hasil. Lagi pula, kita harus mengerti bahwa bukan santapanlah yang memenuhi kebutuhan kita akan makanan, sekali. pun tersedia bagi kita dengan berlimpah, melainkan hanya kekuatan Tuhan, yang memakainya sebagai sarana (Ula 8:3, 17).
  • 277. P. Mengapa engkau menyebutnya 'makanan kami', padahal engkau meminta agar makanan itu diberikan kepadamu?
    A. Oleh kebaikan Allah-lah maka makanan itu dijadikan makanan kita, meski Dia sama sekali tidak wajib memberikannya kepada kita. Juga, dengan Cara itu kita diperingatkan agar tidak mengingini makanan orang lain, tetapi hanya makanan yang kita peroleh dengan cara yang sah, sesuai dengan perintah Allah.
  • 278. P. Mengapa kaukatakan 'sehari-hari', dan 'pada hari ini'?
    A. Agar kita belajar berpuas