Historika

Teologia Historika adalah teologia yang dilihat menurut sejarah umat Allah dan Alkitab serta gereja sejak zaman Kristus.

John Calvin dan Inerrancy (II)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Banyak keberatan yang diajukan oleh para kritikus kepada John Calvin yang menyudutkan pemikiran-pemikirannya sebagai "anti-inerrancy". Namun, benarkah Calvin demikian? Benarkah dia menolak kebenaran mutlak Alkitab? Dalam edisi ini, kita akan melihat lanjutan pembahasan dari edisi bulan lalu. Edisi lanjutan ini akan membahas tentang asumsi/dugaan 5 enigma (kebingungan) yang akan diajukan oleh para kritikus kepada Calvin jika memang benar ia tidak mengakui doktrin inerrancy, dan bagaimana kesimpulan penulis terhadap hal ini. Selamat membaca. Kiranya kita boleh belajar untuk semakin kritis dalam mengerti kebenaran Alkitab.

Ayub T.

Redaksi e-Reformed,
Ayub T.

 
Edisi: 
Edisi 182/November 2016
Isi: 

John Calvin dan inerrancy (II)

Seorang akan meneliti bagaimana pernyataan yang tidak mempunyai bukti dari pandangan "limited inerrancy" (yaitu pandangan inerrancy yang terbatas hanya pada hal-hal yang berkenan dengan iman dan etika) dapat sesuai dengan seluruh skema dari pekerjaan Calvin sepanjang hidupnya. Hal ini yang akan dibahas dalam makalah ini. Jika diasumsikan bahwa Calvin tidak mengakui doktrin inerrancy, maka kemungkinannya menurut saya akan muncul lima enigma (kebingungan).

Enigma pertama, berhubungan dengan proposisi bahwa Calvin memisahkan diri dari doktrin inspirasi dari skolastik yang berlaku saat itu, termasuk inerrancy, yang pada saat itu telah diakui dan telah diterima secara lazim pada paruh pertama abad ke-16. Namun, tidak ada fakta bahwa ia menolak implikasi dari doktrin inerrancy. Karena itu, kita di sini mengonfrontasi usul yang tidak masuk akal, yaitu bahwa ketika dengan tegas Calvin mengungkapkan perbedaan yang sangat banyak dengan pandangan Roma Katholik. Di dalam banyak pendapat yang muncul, kadang kala ia membiarkan pandangan Alkitab mereka tidak diganggu gugat. Tentunya jika Calvin menegur Roma Katholik di dalam permasalahan ini, bukanlah karena mereka taat membabi buta kepada seluruh pernyataan Alkitab, tetapi LEBIH kepada karena mereka gagal untuk menaati Alkitab secara benar (sesuai dengan mandatnya) atau untuk mengikat diri dari mereka sendiri kepada apa yang dinyatakan oleh Alkitab. Sangatlah aneh jika seseorang yang dipimpin di dalam iman yang sebesar ini, yang telah mampu melepaskan diri dari cara penerimaan Alkitab yang membabi buta ini, gagal untuk menyatakan tidak sependapat dengan mereka yang masih berada di bawah kuk ini. Pasti akan dikatakan bahwa hal tersebut terjadi karena Calvin takut bahwa dirinya akan diserang oleh permasalahan yang sama yang akan mengakibatkan pengajarannya tidak diterima dan berdasarkan kecerdikannya. Ia merasa adalah lebih bijaksana untuk tidak melakukan hal itu demi masa depannya, khususnya yang berkenan dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai otoritas Alkitab. Rentetan alasan yang dimunculkan ini harus berhadapan dengan suatu keberatan yang serius, mengingat bahwa keterusterangan adalah tabiat Calvin untuk menyatakan suatu hal yang ia mengerti sebagai kebenaran.

Knowing yourself begins with knowing God -- John Calvin

Enigma kedua, timbul ketika asumsi tersebut dihubungkan dengan fakta bahwa Calvin dengan keras mengecam orang-orang seperti Servetus, Castellion, dan lain-lain, yang tidak menerima otoritas Alkitab atau tidak serius menerimanya. Di lain pihak, ia juga menentang mereka yang menerima apa saja sebagai otoritas, padahal tidak dimandatkan dengan jelas oleh Alkitab. Oleh karena itu, ketika Calvin menyanggah, baik kepada mereka yang tidak sepenuhnya menerima otoritas Alkitab maupun kepada mereka yang menerima otoritas yang tidak wajar di luar Alkitab, secara jelas, Calvin mengungkapkan keyakinan dan pengakuannya akan prinsip sola scriptura. Meyakini hal itu sambil memegang prinsip-prinsip sub rosa mengenai penerimaan yang utuh akan inspirasi Ilahi adalah merupakan suatu kepura-puraan atau sikap bermuka dua, dan sangat sulit menerima bahwa hal ini adalah karakteristik Calvin.

Enigma ketiga, berhubungan dengan kemampuan Calvin untuk bersahabat dengan orang-orang seperti Peter Martyr, Zanchius, dan lainnya, yang mengaku mengenal doktrin inspirasi, bahkan hingga ke poin dari penerimaan beberapa formula dari doktrin skholasitisme. Kita tidak pernah menemukan kritikan yang diajukan Calvin berkenaan dengan pandangan mereka. Tentunya, jika Calvin merasa bahwa pandangan yang kuat tentang inspirasi mampu membuat perpecahan yang serius di dalam gereja, ia tidak akan ragu-ragu untuk menyatakan ketidaksetujuannya ini. Yang terjadi adalah bahwa Calvin merekomendasikan penggantiannya, Theodore dari Beza, yang menurut para sarjana, secara praktis berorientasi kepada metodologi skolastik dan pandangan tentang Alkitabnya sesuai dengan kerja pikir inerrancy. Tidaklah benar jika mengatakan bahwa Calvin membuat rekomendasi tersebut karena ketidaktahuannya, karena ia mempunyai banyak kesempatan untuk mengenal keseluruhan pandangan dan metode dari Beza. Melalui pengaruh Calvinlah, Beza bekerja di Akademi Lausanne dan mendapat posisi sebagai direktur dari Akademi di Jenewa (1559) -- suatu proyek yang sangat penting dalam pandangan Calvin. Dalam lima tahun terakhir dari kehidupan Calvin, Beza mendiskusikan kepadanya tentang tanggung jawab dari pastoral konseling di Jenewa. Dengan restu Calvin, Beza berhasil menjadi konselor pernikahan di kota itu, di mana pengaruhnya berlangsung selama 40 tahun. Membayangkan bahwa Calvin dengan cara ini merekomendasikan seseorang yang mempunyai pandangan yang tidak dapat disetujuinya atau bahwa Calvin gagal melihat adanya jurang pemisah antara Beza dengan dirinya adalah hal yang tidak dapat diterima dan menggelikan, terutama sekali karena berdasarkan keberatan yang diajukan Beza yang tampaknya menolak pendekatan Calvin. Namun, fakta mengatakan bahwa jika ada satu keberatan muncul dari biografi Beza tentang Calvin, hal itu karena telah dibubuhi dengan beberapa elemen hagiography. Dengan demikian, Beza tidak lebih merasakan adanya jurang pemisah antara pandangan-pandangan Calvin dengan dirinya.

Enigma keempat, muncul dari fakta bahwa telah sangat lama berselang setelah kematian Calvin, tidak seorang pun berpikir bahwa Calvin memegang segala sesuatu kecuali pandangan yang ketat tentang doktrin inspirasi. Orang yang tidak setuju dengan pandangan demikian pasti akan memisahkan diri dari Calvin. Usaha-usaha orang mengepung Calvin untuk mendukung doktrin inerrancy yang terbatas, muncul menjadi suatu perkembangan pada akhir-akhir ini yang dibuat lebih tidak cocok dengan fakta karena hal ini timbul sangat terlambat di dalam sejarah pemikiran. Sulit untuk menerima bahwa pandangan Calvin telah disalahmengertikan oleh teman-teman dan musuh-musuhnya, dan bahwa kita harus menunggu sampai ke akhir abad 19 dan 20 untuk menangkap kembali kebenaran dari pandangannya. Jika ternyata Calvin berpandangan, misalnya seperti yang dikatakan oleh Rogers dan McKim, kita juga harus percaya bahwa Calvin berusaha keras untuk menyembunyikan pandangannya ini, tidak saja selama hidupnya, bahkan sampai 300 tahun setelah kematiannya. Hal ini adalah suatu mukjizat dalam hal menemukannya kembali tanpa menemukan sumber-sumber baru yang tidak terpecahkan oleh penulis-penulis sebelumnya. Pada faktanya adalah bahwa pandangan ini tidak pernah muncul terdokumentasi satu pun, baik oleh pernyataan-pernyataan Calvin maupun orang-orang sesamanya. Alasan utama yang menegaskan bahwa Calvin memegang doktrin inerrancy terbatas didasarkan pada keinginan banyak orang untuk memasukkan Calvin pada barisan orang-orang pendukung pendapat mereka. Namun, hal ini adalah ambisi yang tidak beralasan dan bukan keobjektifan akademis. Kita pasti bangga, bahwa banyak orang ingin untuk mendapat dukungan Calvin. Namun, keinginan ini tidaklah merupakan jaminan langsung untuk menyatakan bahwa Calvin mendukung pendapat yang baru-baru akhir ini saja ada di dalam teks.

Enigma kelima, berhubungan dengan sifat dasar dari fakta-fakta sebelumnya untuk membuktikan bahwa Calvin tidak memegang doktrin inerrancy.

Calvin dituduh bahwa ia mengakui kebebasan dari para penulis Perjanjian Baru dalam mengutip Perjanjian Lama -- dan ini sama dengan para penganut inerrancy yang modern -- tetapi Calvin memperlihatkan perhatian besar untuk menunjukkan keharmonisan arti dan kesesuaian metodologi dari para penulis Perjanjian Baru.

Calvin dituduh bahwa ia mengakui hanya perkiraan atau kurang ketepatan di dalam detail kronologis, akomodasi terhadap pandangan dunia, dan hidup dari dunia purbakala -- demikian juga pandangan inerrancy yang modern -- namun dia menimbulkan permasalahan ini untuk menunjukkan ketaatan dari praktis penulis-penulis Alkitab (misalnya bandingkan 1 Korintus 10:8).

Calvin dituduh menyamakan kekuatan kalimat pengajarannya dengan Alkitab -- dan demikian juga inerrancy yang modern -- namun hal itu adalah untuk menguraikan pengajarannya yang sesuai dengan pola dari kalimat-kalimat di dalam Alkitab. Bagi Calvin, mengajar adalah untuk menguraikan Alkitab secara terperinci dan tidak ada hal yang lain.

Calvin dituduh memperhatikan doktrin dan etika Firman, dan tidak mau menghabiskan waktunya dengan detail yang tidak mengenai pokok permasalahannya -- dan inerrancy yang modern tidak mempunyai alasan yang baik untuk bergabung dengannya --, namun hal ini tidak berarti bahwa Calvin berpandangan ada masalah-masalah minor yang bertentangan di dalam Alkitab autographa . Karena itu, di dalam pengajarannya, Calvin berusaha untuk mengorelasikan ayat-ayat Alkitab. Hal ini dicatat di dalam Commentary on the Harmony of the Gospel dan di dalam keseluruhan tulisannya. Beberapa orang menganggap penjelasan ini tidak masuk akal. Namun, makin banyak penjelasan yang ia berikan, lebih banyak lagi bukti yang menunjukkan kesatuan dan keharmonisan Alkitab.

Calvin dituduh menyatakan bahwa ada beberapa kesalahan di dalam Alkitab yang harus diperbaiki -- dan kaum inerrancy yang modern tidak mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan teks autographa -- tetapi hanya 2 contoh tipe ini yang dikemukakan dari tulisan Calvin, yaitu ulasan dari Matius 27:9 dan dari Kisah Para Rasul 7:16, dan kedua ayat ini lebih baik ditafsirkan sebagai perbedaan di dalam kritik tekstual (textual criticism) daripada koreksi Calvin dari pesan aslinya. Tentunya, jika ada pengakuan tentang adanya kesalahan yang tercantum di dalam tulisan Calvin, seseorang dari antara ke-28 sarjana di dalam daftar yang kedua di atas dapat menemukannya dan mengutipnya untuk membuktikan kebenaran pandangan mereka. Tentu, mereka tidak membiarkan permasalahan ini di dalam ketegangan dan tetap hanya mengutip bagian-bagian yang tidak meyakinkan.

When the Bible speaks, God speaks -- John Calvin

Saya sangat meyakini posisi saya dalam persoalan ini. Sebagai bukti dari keyakinan saya akan pengetahuan tentang John Calvin, maka saya siap untuk memberikan hadiah US$. 100.00 kepada orang pertama yang dapat membuktikan dari tulisan Calvin yang otentik bahwa Calvin menolak kebenaran dari teks autographa dari setiap pernyataan Alkitab.

Diambil dari:
Nama buku : Majalah Momentum
Judul artikel : John Calvin dan Inerrancy (II)
Penulis artikel : Roger Nicole
Penerbit : LRII, Jakarta, 1996
Halaman : 33-36

John Calvin dan Inerrancy (I)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Bulan ini adalah bulan Reformasi Gereja. Untuk memperingatinya, edisi e-Reformed kali ini menyajikan sebuah artikel yang mengupas satu isu penting yang menimpa salah satu reformator gereja dalam kiprahnya sebagai penafsir dan pengkhotbah yang alkitabiah. Tokoh yang saya maksud adalah John Calvin, "a man of the Bible", julukan yang cukup pantas diberikan kepadanya, seorang pemikir dan pengkhotbah Kristen yang mendobrak banyak kekeliruan gereja Roma Katolik semasa hidupnya hingga pertengahan abad ke-16. Banyak hal yang sudah ia kerjakan sebagai pelayan Tuhan terutama dalam penyelidikan teks Alkitab.

Karya-karya yang dikerjakan John Calvin semasa hidupnya menjadi salah satu referensi penting yang digunakan oleh banyak pemikir Kristen dan teolog modern untuk menyelidiki Alkitab. Ia memakai sebagian besar waktu hidupnya untuk menguraikan dan menjelaskan banyak buku dalam kitab suci. Tak hanya itu, sejarah gereja juga mencatat bahwa John Calvin telah berkhotbah ratusan kali di hadapan banyak orang. Seluruh tema khotbahnya dipusatkan pada pentingnya Alkitab dan manfaat pengajaran Alkitab. Namun, ia juga tidak luput dari tuduhan beberapa kritikus kristen yang menyatakan bahwa ia menolak doktrin "ineransi Alkitab". Kita akan melihat bersama kilas kehidupan sang reformator dan konflik yang dihadapinya dalam menegakkan iman Kristen. Karena artikel ini cukup panjang, redaksi membagi menjadi dua bagian. Bagian selanjutnya akan dipublikasikan dalam edisi e-Reformed bulan November. Selamat membaca. Soli Deo Gloria!

Ayub T.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub T.

Edisi: 
Edisi 181/Oktober 2016
Isi: 

Jika ada sesorang yang layak untuk menerima sebutan "manusia Alkitabiah" (a man of the Bible), maka John Calvin adalah orang yang memenuhi seluruh persyaratannya. Pengabdiannya kepada otoritas Firman Allah sangat jelas dalam karyanya Institutes I.vi-ix dan IV.viii, tanpa menyebutkan sejumlah halaman lainnya di dalam karyanya tersebut. Hal ini didukung dengan tujuannya yang jelas dalam bukunya, yaitu dari awal hingga akhir tidak menguraikan apapun secara terperinci, kecuali apa yang ada di dalam Alkitab. Penyusunan Institutes itu sistematis, di dalam natur isinya bertujuan untuk menjadikan karya tersebut Alkitabiah dan banyak mengacu pada Alkitab. Indeks buku ini di dalam terjemahan Beveridge ada 14 halaman yang masing-masing mempunyai 3 kolom (dengan tiap kutipan dihubungkan lebih dari satu kali) dengan kurang lebih 60 baris di setiap kolomnya. Jumlah ini mencapai lebih dari 2500 referensi. Calvin juga berusaha mengkhotbahkan seluruh Alkitab, namun batas hidupnya tidak memberikannya kesempatan untuk menyelesaikan seluruh rencana tersebut secara sempurna. Untuk memberikan gambaran tentang lingkup pekerjaan yang dilakukannya, dapat dicatat bahwa ia telah memberikan 200 khotbah dari kitab Ulangan, 159 khotbah dari kitab Ayub. Di dalam ke 22 khotbahnya dari kitab Mazmur 199, seluruh tema khotbah itu berpusat pada pentingnya Alkitab dan manfaat pengajaran Alkitab. Selain itu, Calvin mempersiapkan dan menerbitkan tafsiran yang luas dari kitab Kejadian hingga Yosua, Mazmur, dan seluruh kitab-kitab nabi Perjanjian Lama, kecuali Yehezkiel 21-48, demikian juga dengan Perjanjian Baru, kecuali 3 kitab ( 2 Yohanes, 3 Yohanes, dan Wahyu). Di dalam risalah dan surat-surat Calvin, kita menemukan lebih banyak lagi bukti mengenai minat dan ketaatannya kepada Kitab Suci.

Seluruh tulisan ini banyak pertanyaan langsung yang memberikan indikasi bahwa Allah adalah pengarang Alkitab, bahwa penulis-penulis kudus merupakan mata pena atau mulut Allah, bahwa Allah mendiktekan Alkitab kepada mereka, dan bahwa otoritas Alkitab didasarkan pada fakta dari keilahian pengarang-Nya. Secara harafiah, ada beberapa referensi yang dapat dan telah dikutip untuk mendukung pendapat ini. Tafsiran 2 Timotius 3:16 dari Calvin yang sangat terkenal, dapat dipakai sebagai contoh suatu pandangan yang menggambarkan Calvin.

John Calvin

Inilah prinsip yang membedakan kepercayaan kita dari kepercayaan lainnya, yaitu kita tahu bahwa Allah telah berbicara kepada kita dan kita yakin sepenuhnya bahwa para nabi tidak berbicara dari dirinya sendiri, tetapi sebagai alat Roh Kudus. Mereka hanya mengungkapkan apa yang ditugaskan dari Surga. Setiap orang yang rindu untuk menerima pengajaran Alkitab, harus terlebih dahulu menerima hal ini sebagai prinsip dasar yang telah tegak berdiri, yaitu bahwa Taurat dan kitab para nabi tidak memberikan pengajaran untuk menyenangkan manusia atau bersumber dari pikiran manusia, tetapi yang didiktekan oleh Roh Kudus. Jika seseorang menolak dan bertanya bagaimana hal ini dapat diketahui, jawaban saya adalah bahwa hal ini dapat terjadi melalui wahyu dari Roh yang sama, yang dicurahkan baik kepada yang belajar maupun kepada pengajar-pengajar, yang akan mengungkapkan bahwa Allah adalah pengarang Alkitab. Musa dan para nabi tidak mengucapkannya secara gegabah maupun tidak teratur tentang apa yang telah kita terima dari mereka, tetapi berbicara berdasarkan dorongan dari Allah, sehingga dengan berani dan tanpa takut, mereka menyaksikan kebenaran, sebagaimana mulut Tuhan sendiri yang berbicara melalui mereka. Roh yang sama, yang telah meyakinkan Musa dan para nabi tentang pekerjaan mereka, kini bekerja juga di dalam hati kita, sehingga Dia berkenan memakai mereka sebagai pelayan-pelayan Firman untuk mengajarkan kepada kita. Inilah arti dari uraian pertama bahwa kita berhutang pada Alkitab, yaitu hutang kemuliaan yang sama seperti hutang kemuliaan kita kepada Allah, karena Alkitab bersumber dari Dia dan tidak bercampur dengan sumber dari manusia.

Di dalam menggunakan kata "dikte" yang akan sering kita jumpai di dalam karya Calvin, rupanya Calvin tidak bermaksud untuk mengindikasikan tentang metode tertentu yang mungkin digunakan Allah untuk mengomunikasikan isi Alkitab ke dalam pikiran para pengarangnya, manusia. Fokusnya adalah pada hasil akhirnya - yaitu pada fakta bahwa teks yang dihasilkan dari tangan penulis-penulis kudus tersebut, sesungguhnya adalah karya sejati Allah sendiri, kelihatannya seolah-olah Alkitab itu didiktekan langsung kata demi kata oleh Dia. Bagaimana Allah bekerja untuk mencapai tujuan ini, tanpa menggunakan metode khusus yang akan mengurangi sifat kemanusiaan pengarangnya dan merubahnya menjadi robot, tidak dijelaskan. Permasalahan seperti ini, yang terus menerus dihadapi oleh pemegang doktrin inspirasi plenary, memang muncul di dalam tulisan Calvin, tetapi di sini kita tidak menemukan suatu usaha rasional yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan tersebut.

Holy Bible

Pengakuan Calvin atas otoritas Alkitab dengan sangat jelas terlihat di dalam penyerangannya kepada teologi Roma Katolik di satu pihak, dan kepada kelompok yang hanya berdasarkan emosi atau semangat saja di lain pihak. Dalam serangannya kepada teologi Roma Katolik, harus diperhatikan bahwa ia tidak pernah mencaci mereka, karena kepatuhannya yang berlebihan kepada Alkitab. Sebaliknya, dengan penuh kerelaan dan tanpa syarat, ia menerima otoritas Alkitab yang kanon yang diterimanya melalui gereja Katolik. Batas-batas kanolikal tersebutlah yang perlu diselidiki, sehingga dalam hal ini pandangan Roma Katolik yang berkenan dengan hal ini harus diperbaiki. Tetapi, ketika yang berkenan dengan kitab yang diakui sehingga kitab kanon, tidak pernah Calvin berkeberatan dengan otoritas kitab-kitab tersebut.

Dalam hubungannya dengan golongan yang hanya berdasarkan emosi atau semangat di satu pihak, Calvin dengan keras menekankan bahwa pengetahuan manusia tentang Allah hanya bersumber dari Alkitab semata dan bahwa manusia tidak dapat memiliki wahyu-wahyu yang diterima pribadi yang setara dengan Alkitab, sehingga dapat menggantikannya atau bahkan dapat menambahkan ajaran-ajarannya. Dia menekankan pandangan yang sama ini ke dalam perbedaan dengan konsep Roma Katolik tentang tradisi dan meminta dengan tegas untuk menahan diri dari spekulasi, bahkan dari daya tarik yang besar yang mengarah kepada arah yang bertujuan untuk menjaga ketenangan hati seseorang. Kita dapat sekali lagi mengutip tafsiran 2 Timotius 3:16 kembali.

Dengan tidak langsung, dia menegur orang-orang yang suka melakukan hal yang sia-sia, yang memberikan makan orang-orang dengan spekulasi kosong seperti angin. Dengan alasan yang sama, saat ini kita mungkin menghukum setiap orang yang tidak peduli kepada pengajaran-pengajaran rohani dan yang dengan licik selalu mengganggu dengan pertanyaan yang tidak berguna. Setiap kali kelicikan seperti ini di bicarakan, mereka harus ditangkis dengan perisai, yakni frasa yang mengatakan, "Alkitab itu bermanfaat". Berdasarkan hal ini, maka menggunakan Alkitab secara sia-sia itu adalah salah.

Berdasarkan hal ini, terlihat aneh jika natur dari doktrin inspirasi Calvin yang setepat-tepatnya menjadi pokok pertengkaran yang luar begitu gencar dan secara terbuka. Karena doktrin ini merupakan poros bagi seluruh stuktur iman yang Calvin pahami, sehingga normal saja jika berharap bahwa Calvin menyatakan posisinya di dalam topik ini secara jelas. Inilah tujuan dari penulisan ini, bahwa Calvin secara fakta, melakukan hal itu dan pernyataan-pernyataan para sarjana Alkitab lainnya yang memberikan kesan bahwa Calvin mengakui tentang banyaknya limitasi tajam di dalam doktrin otoritas Alkitab adalah sangat mengaburkan permasalahan, itu hanya bertujuan untuk membuktikan bahwa kepercayaan Calvin sesuai dengan mereka dan/atau untuk menunjukan keraguan atau pertanyaan, yang secara sederhana mencerminkan adanya keraguan atau ketidakpastian sebagaimana yang telah diajukan sebelumnya oleh reformator Jenewa ini.

Knowing yourself begins with knowing God -- John Calvin

Kenyataan ini sangat jelas sehingga telah banyak tulisan diterbitkan berkenan dengan masalah tersebut. Di dalam 1900 bibliography Ericshon, telah ada 6 judul penulisan yang relevan, tanpa memperhitungkan lebih dari 16 karya yang berhubungan dengan Calvin sebagai seorang pengeksegese. Di dalam karya Niesel, yang diterbitkan tahun 1959 menambahkan jumlahnya menjadi 52 judul, dan D. Kempff menambahkan 70 lagi sampai tahun 1974. Hingga akhir tahun 1982, banyak sumbangan-sumbangan pemikiran yang lebih matang telah diterbitkan. Tentu saja, di dalam kerangka pikir satu makalah saja sangat sulit untuk menguraikan seluruh pokok-pokok permasalahan ini secara terperinci. Appendix bibliophical menyajikan hasil survey dari pekerjaan -pekerjaan tersebut yang diberikan kepada saya dengan evaluasi singkat mengenai hubungan mereka dengan sikap inerrancy Calvin. Dalam bagian ini, hanya disebutkan secara kronologis nama-nama penulis yang berpendapat bahwa Calvin menyetujui inspirasi verbal dan inerrancy, dan yang menolaknya, sehingga menyatakan bahwa mereka tidak layak diterima sebagai anggota dalam Evangelical Theological Society.

Penulis-penulis buku yang menyatakan bahwa Calvin memegang doktrin inerrancy (untuk pekerjaanya yang terperinci, lihat lembar appendix. Nama-nama mereka yang tidak memegang doktrin inerrancy ditandai dengan bintang, dan dukungan mereka sangat berarti karena mereka tidak bertujuan untuk mengasimilasikan/mencocokkan doktrin Calvin agar sesuai dengan doktrin mereka) termasuk L.Bost (1883). C.D.Moore (1893), *R.Seeberg (1905,1920), *O.Ritschl (1908), *P.Lobstein (1909), *J.orr (1909), B.B.Warfield (1909), *P.Wernle (1919), *A.M.Hunter (1902), *Herman Bauke (1922), D.J.de.Groot (1931), C.Edward (1931), T.C.Johnson (1932), A.Christie (1940), *R.Davies (1946), K.Kantzer (1950,1957), *E.Dowey (1952), *B.A.Gerrish (1957), *R.C.Johnson (1959), J.K.Mickelsen (1959), A.D.R.Polman (1959), L.Praamsma (1959), J.Murray (1960), P.Hughes (1961), *H.J.Forstman (1962), J.I.Packer (1974;1984), J.Gerstner (1978), R.A.Muller (1979), L.J.Mitchell (1981), J.Woodbridge (1982).

Penulis-penulis buku yang menyatakan bahwa Calvin menolak inspirasi verbal dan inerrancy Alkitab, adalah H.Heppe (1861), P.Menthonnex (1873), J.Cramer (1881), C.A.Briggs (1883, 1890, 1892), E.Rabaud (1883), A.Benezech (1890), J.Pannier (1893, 1906), E.Gauteron (1902), J.Chapuis (1909), E.Doumerge (1910), J.A.Cramer (1926), H.Clavier (1936), W.Niesel (1938), P.Lehmann (1946), F.Wemndel (1950), T.H.L.Parker (1952), H.Noltensmeier (1953), R.S.Wallace (1953), W.Kreck (1957), J.K.S.Reid (1957), J.T.McNeill (1959), L.deKoster (1959,1964), R.C.Prust (1967), F.L.Battles (1977), R.Stauffer (1967), J.Rogers and D.McKim (1979), D.W.Jellema (1980).

Di antara jumlah tersebut ada beberapa orang yang memegang pandangan yang agung (high view) tentang Alkitab, yang berusaha menyatakan bahwa Calvin mendukung pendapat mereka. Kasus yang berkenaan dengan hal ini ditemukan buku terbaru karya Rogers dan McKim, yang berjudul The Authority and Interpretation of the Bible (Otoritas dan penafsiran Alkitab). Mereka berpendapat bahwa dengan kecakapan kesarjanaannya yang luar biasa, Calvin membebaskan diri dari belenggu sistem Skolastisisme dan dari dominasi gereja Roma Katolik. Calvin benar-benar mendasarkan teologinya pada otoritas Alkitab, memandang Alkitab sebagai norma iman dan praktis diberikan oleh Allah secara khusus hanya untuk tujuan religius. Karena itu, jika mengembangkan materi yang menyangkut iman dan etika itu lebih jauh akan berbahaya. Allah menyatakan bahwa Alkitab secara keseluruhan dapat dipercaya, namun pengawasan Ilahi ini tidak meluas hingga sampai kepermasalahan yang tidak relevan dengan iman, seperti sejarah, geografi atau ilmu pengetahuan secara mendetail. Di dalam bidang ini Rogers dan McKim percaya, Calvin berpendapat bahwa para penulis Alkitab diizinkan untuk dipakai dalam keterbatasan pengetahuannya, sehingga mencampurkan ke dalam Alkitab catatan-catatan data yang salah. Hal ini ditekankan, khususnya di dalam tafsirannya, Calvin sendiri mengakui terlihat banyak ketidaksesuaian yang disebabkan oleh keterbatasan manusia. Kebebasan dalam pengutipan Perjanjian Lama yang dimasukkan ke dalam Perjanjian Baru, misalnya, adalah suatu bentuk kebebasan yang Calvin sering temui di banyak tempat di Perjanjian Baru, yang juga dipakai untuk mendukung pendapat ini.

When the Bible speaks, God speaks -- John Calvin

Sebagai jawaban dari seluruh pendekatan permasalahan ini terdapat 2 arah kesimpulan yang berbeda. Seorang dapat mempelajari secara terperinci contoh-contoh yang ditemukan untuk membuktikan bahwa Calvin mengakui adanya kesalahan di dalam teks asli Alkitab. Tentu saja hal ini harus diteliti karena jika ada pernyataan yang mengekspresikan adanya kesalahan tersebut, walaupun pada fakta hanya ada satu saja yang mengekspresikan hal itu, telah merupakan dasar yang kokoh untuk mengatakan bahwa doktrin Calvin tentang otoritas Alkitab tidak meliputi atau tidak berimplikasi kepada suatu penegasan doktrin inerrancy. Presuposisi yang diambil dari sini adalah bahwa Calvin konsisten dengan dirinya sendiri, sehingga ia tidak akan menegaskan sesuatu di satu tempat apa yang ia sangkal di tempat lainnya. Mereka yang mengenal karya Calvin akan langsung menyetujui presuposisi ini, karena asumsi ini bukan tidak beralasan. Penelitian-penelitian seperti ini telah sering dilakukan, namun maafkanlah saya, jika dalam penulisan ini saya tidak berusaha untuk mengulang kembali seluruh pernyataan tentang kesalahan-kesalahan yang tidak dapat dibuktikan ini.

Diambil dari:
Nama buku : Majalah Momentum
Judul artikel : John Calvin dan Inerrancy (I)
Penulis artikel : Roger Nicole
Penerbit : LRII, Jakarta, 1996
Halaman : 22-33

Mengapa Orang Benar Menderita?

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Kitab Ayub adalah salah satu kitab tertua dalam Perjanjian Lama yang berisi perkataan Hikmat. Unik sekali jika kita boleh menyelidiki kitab ini dengan seksama, hikmat yang diajarkan muncul dari realitas kehidupan seorang pria saleh bernama Ayub -- dalam bahasa aslinya berarti "yang tertindas". Ia dikenal sebagai orang saleh yang mendapat ujian dari Allah. Allah telah mengambil segala sesuatu yang dimilikinya, mulai dari harta, relasi, hingga kesehatan fisiknya hingga ia benar-benar mengalami kekosongan dan hanya Allah saja yang ada dalam hidupnya. Ia orang benar, taat, dan saleh, tetapi ia menderita dan tertindas.

Kesetiaan Ayub bagaikan emas yang telah teruji, dalam penderitaan yang ia hadapi, ia tetap beriman pada Allah dalam segala keadaan. Pada edisi bulan ini kita bersama akan belajar dari kitab Ayub, pelajaran hikmat yang akan menolong kita melihat kasih karunia Allah dalam hidup setiap anak-Nya. Allah kita adalah Allah yang mendidik dan memberi ujian hidup. Alkitab tidak pernah mengatakan, jika kita menjadi pengikut Kristus kita akan berlimpah materi dan kebahagiaan dunia. Jika ada khotbah yang demikian tentu adalah tipuan belaka. Justru sebaliknya, mengikut Kristus berarti siap menderita bagi Dia, pikul salib, dan menyangkal diri. Adalah suatu anugerah jika kita boleh mengambil bagian dalam penderitaan-Nya untuk menjadi saksi Kristus. Kiranya kita senantiasa boleh belajar mengerti maksud Allah di balik setiap penderitaan yang benar, bersabar menanggungnya dan saling menguatkan sebagai satu tubuh dalam Kristus. Selamat membaca. Soli Deo Gloria!

Ayub Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
Edisi: 
Edisi 177/Juni 2016
Isi: 

Kitab Ayub: Mengapa Orang Benar Menderita?

Di dalam bidang studi Alkitab, ada lima kitab yang secara umum dimasukkan ke dalam kategori "Literatur Hikmat" atau "Kitab Puisi di dalam Perjanjian Lama". Kelima kitab itu adalah Amsal, Mazmur, Pengkhotbah, Kidung Agung, dan Ayub. Dari kelima kitab ini, hanya ada satu yang menonjol dan terkesan berbeda dari keempat kitab lainnya. Kitab itu adalah Ayub. Hikmat yang diperoleh dari Kitab Ayub tidak disampaikan dalam bentuk amsal. Melainkan, Kitab Ayub berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan hikmat dalam konteks naratif yang bersentuhan dengan penderitaan besar yang dialami oleh Ayub. Latar belakang naratif ini ada dalam konteks masa patriarki. Banyak pertanyaan yang berkaitan dengan tujuan penulis kitab ini, apakah sebagai sejarah naratif dari seorang individu nyata atau apakah berkaitan dengan struktur mendasar kitab ini, yaitu sebagai sebuah drama dengan kalimat pembuka, termasuk adegan pembukaan di Surga yang melibatkan Allah dan Iblis, dan bergerak menuju klimaks di bagian penutup kitab, di mana hal-hal yang terhilang dari Ayub pada masa-masa pencobaan digantikan.

Stories of Suffering

Dalam segala aspek, pesan mendasar dari kitab Ayub adalah hikmat yang berkaitan dengan pertanyaan seperti bagaimana keterlibatan Allah di dalam penderitaan yang dialami manusia. Di dalam setiap generasi, protes bermunculan dan menyatakan bahwa jika Allah itu baik, seharusnya tidak ada penderitaan, penyakit, maupun kematian di dunia ini. Bersama dengan protes yang menentang hal-hal buruk yang terjadi di dalam kehidupan orang baik, ada juga beberapa usaha untuk menciptakan rumusan dari penderitaan, dengan mengasumsikan bahwa porsi penderitaan seseorang terkait dengan rasa bersalah yang mereka miliki, juga dosa yang sudah mereka lakukan. Respons yang cepat atas hal ini dapat dilihat di dalam Yohanes 9:2-3 ketika Yesus memberikan tanggapan pada pertanyaan para pengikut-Nya yang berkaitan dengan penyebab penderitaan dari seorang laki-laki yang terlahir buta.

Ayub

Di dalam Kitab Ayub, sang tokoh utama digambarkan sebagai orang yang benar, bahkan orang yang paling benar hidupnya yang bisa ditemukan di seluruh bumi, namun menurut Iblis, Ayub bersikap benar hanya demi mendapatkan berkat dari tangan Allah. Allah telah membentengi hidupnya dan memberkati dia di antara segala manusia, namun Iblis menuduh bahwa Ayub melayani Allah hanya karena berkat-berkat yang diberikan oleh Penciptanya. Tantangannya adalah ketika Iblis menantang Allah untuk mengangkat semua perlindungan-Nya dari dalam hidup Ayub, untuk melihat apakah Ayub akan mulai mengutuki Allah. Seiring dengan berjalannya cerita, penderitaan Ayub bergerak cepat dari buruk, menjadi lebih buruk. Penderitaannya begitu besar sehingga ia sampai duduk di atas abu, mengutuki hari kelahirannya, dan menangis keras dalam penderitaan yang berkepanjangan. Penderitaannya begitu besar, sehingga istrinya sendiri menyarankannya untuk mengutuki Allah, supaya pada akhirnya ia bisa meninggal dan terlepas dari penderitaannya. Hal yang dinyatakan lebih lanjut di dalam kitab Ayub adalah ketika ketiga sahabat Ayub, yakni Elifas, Bildad, dan Zofar memberikan pendapat. Pernyataan mereka menunjukkan betapa rendah kesetiaan mereka pada Ayub, dan betapa pikiran mereka begitu cepat menilai Ayub (tanpa didasari pengetahuan yang benar), sehingga mereka berpikir bahwa penderitaan Ayub pastilah karena masalah karakter Ayub sendiri.

Penghiburan dan nasihat yang diterima Ayub mencapai tingkat yang lebih tinggi berkat pemahaman mendalam yang disampaikan oleh Elihu. Elihu memberikan beberapa pernyataan yang mengandung muatan hikmat yang alkitabiah, namun hikmat terakhir yang diperoleh dari dalam kitab yang hebat ini bukan datang dari teman-teman Ayub, bahkan Elihu, melainkan dari Allah sendiri. Ketika Ayub meminta jawaban dari Allah, Allah menjawab dengan jawaban keras: "Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan? Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberi tahu Aku" (Ayub 38:1-3). Ini adalah interogasi intens yang pernah dilakukan terhadap manusia oleh Pencipta-Nya. Kesan pertama yang ditangkap adalah Allah sedang mengolok-olok Ayub, ketika Ia bertanya, "Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!" (ayat 4). Allah kemudian mengajukan pertanyaan demi pertanyaan seperti, "Dapatkah engkau memberkas ikatan bintang Kartika, dan membuka belenggu bintang Belantik? Dapatkah engkau menerbitkan Mintakulburuj pada waktunya, dan memimpin bintang Biduk dengan pengiring-pengiringnya?" (Ayub 38:31-32). Sangat jelas bahwa jawaban yang bisa disampaikan terkait dengan pertanyaan retoris ini adalah selalu, "Tidak, tidak, tidak." Allah seakan-akan memukul kalah Ayub, dan melanjutkan pertanyaan demi pertanyaan mengenai kemampuan Ayub untuk melakukan suatu hal yang tidak mampu ia lakukan, namun sangat jelas dapat dilakukan oleh Allah.

Di dalam pasal 40, akhirnya Allah berkata kepada Ayub, "Apakah si pengecam hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa? Hendaklah yang mencela Allah menjawab!" (ayat 2). Sekarang, Ayub menjawab pertanyaan ini bukan dengan cara yang menyimpang, tetapi sebaliknya ia mengatakan, "Sesungguhnya, aku ini terlalu hina; jawab apakah yang dapat kuberikan kepada-Mu? Mulutku kututup dengan tangan. Satu kali aku berbicara, tetapi tidak akan kuulangi; bahkan dua kali, tetapi tidak akan kulanjutkan" (ayat 4-5). Dan kemudian Allah kembali menginterogasi Ayub dengan pertanyaan-pertanyaan yang jelas mengambarkan kekontrasan antara kuasa Allah, Siapakah Dia yang dikenal Ayub dengan nama El Shaddai, dan ketidakberartian Ayub. Akhirnya, Ayub mengakui bahwa hal-hal itu terlalu mustahil dan hebat untuk dilakukan olehnya. Dia mengatakan, "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu" (Ayub 42:5-6).

Apa yang berharga dari pelajaran ini adalah bahwa Allah tidak pernah secara langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan Ayub. Allah tidak mengatakan, "Ayub, alasan kamu mengalami penderitaan adalah ini dan itu." Sebaliknya, apa yang Allah lakukan di tengah misteri penderitaan yang hebat itu adalah dengan menjawab Ayub dengan Diri-Nya sendiri. Ini adalah hikmat yang menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan penderitaan manusia - bukan jawaban mengenai kenapa saya harus menderita dengan cara, situasi, dan waktu tertentu, namun di manakah (kepada Siapakah) pengharapan saya berlabuh di tengah penderitaan itu.

Why do the righteous suffer?

Jawaban terhadap pertanyaan itu dapat dengan jelas ditemukan di dalam kitab Ayub yang selaras dengan kitab-kitab hikmat lainnya: takut akan Allah adalah permulaan hikmat. Dan saat kita begitu disibukkan dan dibuat pusing oleh hal-hal yang tidak bisa kita pahami di dalam dunia ini, kita tidak selalu mencari jawaban yang spesifik atas pertanyaan spesifik yang kita ajukan, namun kita mencari pengenalan akan Allah dalam kekudusan-Nya, kebenaran-Nya, keadilan-Nya, dan dalam anugerah-Nya. Itulah hikmat yang bisa kita peroleh dari kitab Ayub.

Sumber: 
Diambil dari:
Nama Situs : Gospel Translations
Alamat URL : http://id.gospeltranslations.org/wiki/Kitab_Ayub:_Mengapa_Orang_Benar_Menderita%3F
Judul Artikel : Kitab Ayub: Mengapa Orang Benar Menderita
Penulis Artikel : R.C. Sproul
Penerjemah : Susan Margaretha
Tanggal Akses : 3 Maret 2016

Roh Kudus Penghibur yang Lain

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Roh Kudus adalah Penghibur dan Penolong yang diutus oleh Allah Bapa setelah kenaikan Allah Anak ke surga. Dialah Allah yang menyertai gereja-Nya senantiasa sampai kepada akhir zaman. Dia begitu mengasihi tiap-tiap gereja-Nya dengan kasih yang begitu dalam. Namun, tahukah kita betapa besarnya Roh Kudus mengasihi kita? Bisakah kita mengukur kasih Roh Kudus? Tahukah betapa besar perhatian-Nya kepada kita? "Tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia" (Mazmur 108:11). Ia mengasihi kita, selalu mengasihi, dan akan tetap mengasihi kita. Sungguh, Ia sendiri adalah anugerah terbesar yang diberikan bagi gereja-Nya sepanjang masa.

Dalam edisi bulan ini, kita akan bersama mengenal lebih jauh Pribadi Allah Roh Kudus yang diutus sebagai Sang Penghibur sejati bagi gereja-Nya, Ia membawa sukacita dan damai surga dalam tiap hati orang pilihan Allah. Kiranya melalui artikel yang kami sajikan ini, kita boleh semakin mengenal anugerah dan Pribadi Allah yang begitu mengasihi kita. Selamat membaca. Soli Deo Gloria

Ayub Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
Edisi: 
Edisi 176/Mei 2016
Isi: 

"Bapa...akan memberikan kepadamu Penolong yang lain, supaya Ia bersamamu selamanya."
( Yohanes 14:16 )

Roh Kudus adalah Penghibur yang penuh kasih. Anggaplah saya sedang dalam kedukaan dan butuh penghiburan. Ketika "orang-yang-melihat" mendengar kesusahan saya, Ia datang, duduk, dan berusaha menyemangati saya. Ia memperkatakan perkataan yang menenangkan, tetapi Ia tidak mengasihi saya. Ia orang asing; Ia tidak mengenal saya sama sekali; Ia hanya datang untuk mencoba melakukan apa yang Ia bisa lakukan. Apa akibatnya? Kata-katanya meluncur seperti minyak pada permukaan batu pualam. Kata-kata itu seperti tetesan hujan pada sebuah batu. Kata-kata itu tidak menghilangkan kesedihan saya, yang masih tak bergeming, karena Ia tidak memiliki kasih untuk saya.

Bapa

Akan tetapi, ketika ada seseorang yang begitu mengasihi saya seperti mengasihi hidupnya sendiri datang dan berdoa bersama saya, maka sesungguhnya kata-katanya adalah musik. Kata-kata itu terasa seperti madu. Ia tahu kunci untuk membuka pintu hati saya, dan telinga saya suka akan setiap perkataannya, karena kata itu bagaikan harmoni seruit surgawi. Oh, itu adalah suara kasih. Ia berbicara dalam bahasanya sendiri. Ia adalah sebuah idiom dan sebuah aksen yang dapat menjangkau hati yang berduka. Kasih adalah satu-satunya sapu tangan yang dapat membasuh air mata seorang pekabung.

Bukankah Roh Kudus adalah Penghibur yang pengasih? Orang kudus, tahukah Anda betapa besarnya Roh Kudus mengasihi Anda? Bisakah Anda mengukur kasih Roh Kudus? Tahukah Anda betapa besar perhatian-Nya kepada Anda? Pergilah, ukurlah surga dengan neraca; timbanglah gunung dalam ukuran yang bisa terhitung; ambillah air laut dan hitunglah tiap tetesnya; hitunglah pasir di atas pantai yang memanjang. Ketika Anda sudah melakukan semua ini, Anda akan tahu betapa besarnya Ia mengasihi Anda. Ia telah mengasihi Anda sejak lama. Ia mengasihi Anda dengan sungguh. Ia selalu mengasihi Anda, dan Ia akan tetap mengasihi Anda. Sungguh, Ia adalah pribadi yang bisa menghibur Anda karena Dia seorang pengasih. Terimalah Dia, kemudian, biarkan Ia masuk ke dalam hati Anda, hai orang percaya, supaya Ia menghibur Anda dalam kedukaan.

Dia adalah Penghibur yang setia. Kasih kadang kala terbukti tidak setia. Oh, lebih tajam dari taring ular, kawan yang tidak setia. Oh, lebih pahit daripada pahitnya empedu, seorang teman yang meninggalkan saya dalam kedukaan. Oh, betapa merananya, ketika orang yang mengasihi saya dalam kelimpahan saya meninggalkan saya dalam hari-hari gelap pergulatan saya! Sedih memang, tetapi Roh Allah tidak seperti itu. Roh Allah selalu mengasihi, bahkan sampai akhir -- seorang Penghibur yang setia.

Anak Allah, Anda yang ada dalam masalah. Baru saja, Anda menemukan Dia seorang Penghibur yang setia dan pengasih. Anda menerima kelegaan dari-Nya ketika orang lain bagaikan tadah yang bocor. Ia menaruh Anda di dada-Nya dan memikul Anda pada lengan-Nya. Mengapa Anda tidak memercayai-Nya sekarang ini? Jauhkanlah ketakutan karena Ia adalah Penghibur yang setia.

"Tapi," kata Anda. "Saya khawatir saya akan jatuh sakit dan tak sanggup melakukan perintah-Nya." Meski demikian, Ia akan mengunjungi Anda di samping tempat pembaringan Anda dan duduk di samping Anda untuk memberi Anda penghiburan. "Tetapi duka saya lebih dari apa yang apa yang dapat Anda pikirkan. Gelombang demi gelombang menimpa saya. Seperti terpaan air terjun yang deras" (lihat Mazmur 42:7). Meski demikian, Ia akan setia pada janji-Nya.

"Oh, tetapi saya sudah berdosa." Memang benar, tetapi dosa tidak memisahkan Anda dari kasih-Nya. Ia masih mengasihi Anda. Jangan berpikir, anak Allah yang malang, bahwa karena luka akibat dosa-dosa Anda yang lama, merusak keindahan Anda hingga kasih-Nya kepada Anda berkurang karena noda itu. Tidak! Ia mengasihi Anda ketika Ia sudah lebih dulu tahu bahwa Anda akan berdosa. Ia mengasihi Anda sembari mengetahui segala kejahatan Anda. Kasihn-Nya tidak berkurang kepada Anda saat ini. Datanglah kepada-Nya dengan keberanian dalam iman. Katakan kepada-Nya Anda telah membuat-Nya sedih. Ia akan melupakan pelanggaran Anda dan akan menerima Anda lagi. Sentuhan kasih-Nya akan diberikan-Nya untuk Anda. Lengan kemuliaan-Nya akan memeluk Anda. Ia setia, jadi percayalah kepada-Nya. Ia tidak akan pernah menipu Anda. Percayalah kepada-Nya karena Ia tidak akan pernah meninggalkan Anda.

Ia adalah seorang Penghibur yang teguh. Kadang kala saya mencoba menghibur seseorang yang sedang menghadapi cobaan. Dari dulu hingga kini, Anda mungkin menemui orang-orang gelisah seperti ini. Anda bertanya, "Apa masalah Anda?" Anda mendengarnya, dan Anda mencoba, jika mungkin, menghilangkan kegelisahannya. Akan tetapi, ketika Anda berusaha mencari inti masalahnya, Anda menemukan bahwa masalah itu bergeser ke persoalan lain. Anda mengubah argumen dan memulainya lagi, tetapi Anda tidak menemukannya. Anda menjadi bingung. Anda merasa seperti Hercules yang memotong kepala naga yang terus-menerus tumbuh lagi dan menyerah dalam keputusasaan. Anda bertemu dengan orang yang tidak mungkin dihibur, berpikir bahwa orang itu membelenggu dirinya sendiri dengan rantai dan membuang kuncinya sehingga tak seorang pun bisa membebaskan dia.

Saya menemukan sejumlah orang terikat dalam rantai keputusasaan. Mereka mengeluh, "Saya begitu menderita" (Ratapan 3:1). "Kasihani saya, kasihani saya, hai teman." Semakin Anda mencoba menghibur orang-orang macam ini, mereka makin terpuruk. Karena itu, dengan terpaksa, kita tinggalkan mereka bertanya-tanya sendirian di antara kuburan sukacita mereka di masa lalu. Namun, Roh Kudus tidak pernah kekurangan hati pada mereka yang dikehendaki-Nya memperoleh penghiburan. Roh Kudus berusaha menghibur kita, tetapi kita lari dari kebaikan yang Ia tawarkan. Ia memberi minuman yang manis demi menyembuhkan kita, tetapi kita tidak meminumnya. Ia menunjukkan sejumlah tanda-Nya yang ajaib untuk menghalau segala kesusahan kita, tetapi kita menampiknya. Namun, Ia terus bersikeras kepada kita. Meski kita mengatakan bahwa kita tidak mengalami penghiburan. Ia mengatakan kita akan mengalaminya. Dan, apa yang Ia katakan, Ia kerjakan. Ia tidak menyerah dengan semua dosa kita, tidak dengan segala sungut kita.

Betapa bijaknya Roh Kudus sebagai Penghibur. Ayub dikelilingi oleh para penghibur, dan saya pikir Ia benar ketika Ia berkata, "Kalian semua para penghibur yang menyedihkan" (Ayub 16:2). Namun, saya berani mengatakan bahwa teman-teman Ayub berpikir kalau mereka adalah orang yang bijaksana. Ketika seorang pemuda bernama Elihu mengangkat suaranya, mereka menilai Elihu lancang bicara. Bukankah mereka para mentor yang berpengaruh dan dihormati? Tidakkah mereka memahami duka dan kesengsaraan Ayub? Jika mereka tidak dapat menghibur Ayub, siapa dapat? Akan tetapi mereka tidak menemukan sebab (Ayub menderita).

Mereka berpikir Ayub bukan anak Allah sejati, dan bahwa ia merasa diri benar, dan lalu memberikan pengobatan yang keliru. Ketika seorang dokter salah menetapkan diagnosis, resep, dan lain-lain dan akibatnya mungkin, membunuh pasien, itu adalah sebuah malapetaka. Kadang-kadang, ketika kita mengunjungi seseorang, kita salah mengartikan sakit mereka. Kita ingin menghibur mereka pada titik ini, sementara mereka tidak membutuhkannya sama sekali, dan mereka lebih suka sendiri daripada diganggu oleh para penghibur yang buruk seperti kita.

Namun, betapa bijaksananya Roh Kudus itu! Ia menyapih jiwa, meletakkannya pada sebuah meja, dan membedahnya saat itu juga. Ia mampu menemukan akar masalah. Ia memahami apa yang sebenarnya menjadi keluhan, dan kemudian menggunakan pisau di tempat di mana sesuatu perlu diangkat dari situ, atau menempelkan sebuah plester di mana luka itu berada. Ia tidak pernah membuat kesalahan. Oh, betapa bijaksananya Roh Kudus! Saya berpaling dan meninggalkan semua penghibur karena Engkau sajalah yang memberi penghiburan terbaik.

Perhatikan juga betapa amannya cara Roh Kudus bekerja. Ingatlah bahwa tak semua penghiburan itu baik. Di suatu tempat, ada seorang pemuda yang sangat murung. Anda mengetahui penyebab kemurungannya. Ia masuk ke rumah Tuhan dan mendengar seorang pengkhotbah karismatik. Firman yang dibawakan memberkatinya dan menyadarkan dia akan dosanya. Ketika Ia pulang ke rumah, ayah dan kerabat lainnya menemukan ada sesuatu yang berbeda tentang dia. "Oh," kata mereka, "John sudah gila. Dia gila." Apa yang ibunya katakan? "Kirim dia ke pedesaan selama seminggu. Biarkan dia berpesta atau menonton pertunjukan." Beberapa waktu kemudian, mereka bertanya, "John, apakah kamu menemukan penghiburan di sana?" "Ah tidak, semua yang ada di sana membuat saya bertambah susah. Ketika saya berada di sana, saya berpikir neraka akan terbuka dan akan menelan saya." "Apakah kamu menemukan kelegaan dalam kefanaan dunia?" "Tidak," katanya, "saya pikir semua itu hanya membuang waktu." Duh! Itu penghiburan yang payah, tetapi seperti itulah penghiburan cara dunia.

Ketika seorang Kristen mengalami kesusahan, berapa orang akan merekomendasikan obat yang tidak tepat! Pergi dengarkanlah Pengkhotbah yang ini dan yang itu. Ajaklah beberapa teman datang ke rumah. Bacalah beberapa seri buku yang menghibur. Kemungkinan besar itu adalah cara-cara yang tidak aman dalam dunia ini. Iblis kadang kala masuk ke dalam jiwa seseorang sebagai penghibur yang palsu dan mengatakan kepada jiwa orang ini, "Apa gunanya semua hal yang berhubungan dengan pertobatan ini? Kamu tak lebih buruk dari orang lain." Ia berusaha membuat jiwa Anda percaya bahwa prasangka seseorang adalah penghiburan dari Roh Kudus. Dengan demikian, orang itu menyesatkan banyak orang lain melalui penghiburan palsu.

Banyak orang seperti seorang bayi, dihancurkan oleh obat-obatan yang diberikan kepada mereka hingga mereka terlelap. Banyak orang kecewa oleh seruan "damai, damai, ketika tidak ada damai" (Yeremia 6:14), mendengar hal-hal yang menyenangkan ketika saatnya mereka perlu ditegur. Ular beludak Cleopatra diletakkan dalam keranjang bunga, dan kejatuhan manusia sering kali berasal dari perkataan yang baik dan menyenangkan. Akan tetapi, penghiburan dari Roh Kudus itu aman, dan Anda bisa merasa tenang. Biarkan Ia berbicara, dan akan ada sebuah realita dari sana. Biarkan Ia memberi secangkir penghiburan, dan Anda bisa meminumnya sampai tak tersisa, karena di dalamnya tidak ada obat penenang, tak ada racun atau kebinasaan. Semuanya aman.

Bapa

Terlebih lagi, Roh Kudus adalah Penghibur yang aktif; Dia tidak menghibur Anda dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan. Sejumlah penghiburan Ia berikan dengan, "menjadikan hangat dan kenyang; sementara [mereka] tidak menyediakan hal-hal yang dibutuhkan tubuh" (Yakobus 2:16). Namun, Roh Kudus memberikannya. Ia bersyafaat bagi kita. Ia memberi janji pada kita, Ia memberi kita kemuliaan, dan Ia menghibur kita. Ia selalu menjadi Penghibur yang sukses. Ia tidak pernah mencoba melakukan apa yang tak bisa diselesaikan-Nya.

Ia juga adalah Penghibur yang Mahahadir, sehingga Anda tak perlu memanggil-Nya. Allah Anda selalu berada di dekat Anda, dan ketika Anda membutuhkan penghiburan dalam kesusahan, ketahuilah, "perkataan-Nya dekat denganmu, bahkan dalam mulut dan hatimu" (Roma 10:8). Ia pertolongan yang selalu ada dalam kesusahan.

Diterjemahkan dari dari:
Judul Buku : Joy in Your Life
Judul Asli Artikel : The Holy Spirit, Another Comforter
Penulis : Charles Spurgeon
Penerjemah : Aji
Penerbit : Whitaker House, Pennsylvania 1998.
Halaman : 41 -- 47

Persahabatan-Persahabatan Calvin

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Sehubungan dengan hari Reformasi Gereja, yang akan diperingati tanggal 31 Oktober nanti, maka secara khusus edisi e-Reformed akan menyuguhkan sebuah artikel yang sedikit mengulik kehidupan sosial seorang tokoh besar reformasi, yaitu John Calvin. Di balik pribadinya yang begitu serius dan mungkin terkesan sangat kaku dalam prinsip-prinsip pemikiran Kristen, ternyata John Calvin memiliki sisi lain yang unik yang banyak tidak diketahui orang. Karena kesan sifat kakunya itu, banyak orang berpikir bahwa John Calvin tidak memiliki banyak rekan dan sahabat. Ternyata, pandangan itu salah besar. Jika kita mengenal John Calvin lebih dekat, sebagaimana dialami oleh rekan-rekan dekat John Calvin, kita akan mendapati dia ternyata seorang pribadi yang hangat, setia, dan sangat perhatian. Melalui artikel yang kami sajikan di bawah ini, kita akan lebih mengenal John Calvin, tidak hanya dalam intelektualitas teologinya, tetapi juga dalam hal berelasi dengan orang lain. Kiranya kita juga bisa belajar dari pribadi John Calvin yang tidak hanya serius dalam mengerjakan panggilannya, tetapi juga menjadi pribadi yang hangat dan setia pada sahabat-sahabatnya. Selamat membaca. Soli Deo Gloria.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
Edisi 169/Oktober 2015
Isi: 

Seorang pembela Calvin mengatakan bahwa tidaklah mungkin bagi seseorang menjadi sangat dikasihi pada saat kematiannya apabila pada waktu hidupnya ia adalah seorang yang jahat. Bukan saja Calvin dipuji pada saat kematiannya, tetapi banyak temannya memiliki gagasan-gagasan yang sama dan terus melanjutkan usahanya.

Sebuah studi mengenai surat-surat Calvin menyingkapkan suatu pola persahabatan dan perekanan. Tentu saja Calvin tidak memandang dirinya sebagai satu-satunya individu yang terlibat dalam masalah-masalah reformasi ini. Satu studi semacam itu adalah "The Humanness of John Calvin" oleh Richard Stauffer. Untuk "sisi lain dari kisah itu", kita perlu melihat karya pendek ini. Dalam kata pembukaan kepada monograf itu, sarjana Calvin yang terkemuka, J.T. McNeill, mengkronologikan bagaimana ia sampai mempertanyakan "desas-desus" tentang Calvin. Ketika McNeill membaca surat-surat Calvin, berlawanan dengan banyak legenda urban yang telah ia dengar, ia menemukan bahwa Calvin itu jelas-jelas peramah, berkawan dengan orang kaya maupun orang miskin, dan menunjukkan kesetiaan yang kokoh kepada teman-temannya. McNeill menemukan bahwa Calvin sesungguhnya lemah lembut, hangat, murah hati, dan ramah. Richard Stauffer mendokumentasikan "fitnah" yang telah Calvin terima dari musuh-musuhnya dan juga bagaimana ia telah "disalahpahami dan disalahtafsirkan oleh buyut-buyutnya".

Sejarawan lain mencatat bahwa tidak ada Reformator lain yang melebihi Calvin dalam menunjukkan kesetiaan pribadi. Emile Doumergue berkata demikian, "Hanya segelintir orang saja yang dapat memiliki banyak sahabat seperti Calvin dan yang tahu bagaimana mempertahankan bukan hanya rasa kagum, tetapi juga afeksi pribadi dari teman-temannya." Abel Lefranc mengekspresikan perasaan yang sama demikian: "Persahabatan yang ia inspirasikan dengan guru-gurunya maupun rekan-rekannya, merupakan kesaksian-kesaksian yang cukup kuat bagi fakta bahwa ia tahu bagaimana menggabungkan komitmennya yang sungguh-sungguh dan mendalam terhadap pekerjaan dengan keramahtamahan dan keluwesan yang mampu mengambil hati setiap orang terhadapnya."

Entah ia berada di lingkungan universitas atau mengambil pengalaman dari guru-gurunya untuk membantu dia, Calvin, tidak seperti dugaan tentang dirinya, lebih merupakan orang yang suka bergaul. Ia terbiasa menulis surat, berkoresponden dengan ahli-ahli hukum, gubernur-gubernur, orang kebanyakan, dan banyak hamba Tuhan. Surat-surat ini memberikan pandangan-pandangan sekilas ke dalam diri Calvin yang sesungguhnya. Dalam surat-surat ini, ia dapat menunjukkan afeksi yang ia miliki terhadap gurunya, Melchior Wolmar, dan pada waktu yang sama dapat meratapi meninggalnya seorang teman sepelayanan yang begitu mengejutkan sehingga membuatnya berdukacita.

Karakter dan denyut Calvinisme memengaruhi dunia melalui suatu persaudaraan dari teman-temannya yang setia dan berkomitmen. Teolog Amerika, Douglas Kelly, menegaskan bahwa tradisi Calvinistik mempunyai pengaruh jauh melampaui Swiss dan Prancis. Barangkali warisan yang paling abadi dari tradisi ini adalah penekanannya pada kedaulatan rakyat dan hak untuk melawan tirani, suatu ajaran yang "akan diteruskan (baik secara tidak langsung dan digabung dengan ide-ide dari sumber lainnya) ke dalam teori-teori politik di Inggris pada akhir abad ketujuh belas mengenai hak-hak asasi manusia ... [dan] debat-debat serupa di bidang hukum dan pemerintahan di Amerika pada abad kedelapan belas". Satu orang saja tidak dapat menabur begitu banyak benih; kemenangan-kemenangan ini didapat oleh suatu tim rekan-rekan.

Calvin adalah teoretikus Protestan yang utama, tetapi tentu saja bukan satu-satunya. Reformator-reformator lain yang ada dalam lingkungan persahabatannya mengartikulasikan secara tajam karya-karya politik yang sesungguhnya merupakan teologi-teologi tentang negara, dengan karya-karya seminar berikut yang muncul berturut-turut dengan cepatnya dalam waktu kurang dari tiga puluh tahun: buku "Martin Bucer De Regno Christi" (1551), buku "John Ponet A Short Treatise of Political Power" (1556), buku "How Superior Powers Ought to Be Obeyed By Their Subjects: and Where in They May Lawfully By God's Word Be Disobeyed And Resisted" (1558), buku "Peter Viret The World and the Empire" (1561), buku "Francois Hotman Francogaltia" (1573), buku "Theodore Beza De Jure Magisterium" (1574), buku "George Buchanan De Jure Regni Apud Scotos" (1579), dan buku "Languet Vindiciae Contra Tyrannos" (1579). Masing-masing karya ini melegitimasi gagasan tentang penolakan warga negara terhadap perluasan pemerintahan yang melampaui batas-batas semestinya. Menariknya, bagian terbesar dari pemikiran politis ini berasal dari lingkaran teman-teman yang erat, yang kebanyakan mempunyai kontak dengan Calvin. Sulit untuk mengatakan bahwa kesamaan pikiran yang sedemikian kokoh ini hanyalah kebetulan.

Persahabatan Calvin dengan Theodore Beza merupakan sebuah teladan dalam persahabatan. Di tengah-tengah semua masalah intelektual yang memusingkan kepala pada zaman itu dan tantangan-tantangan yang menyertainya, apa yang paling berkesan bagi Beza adalah dukungan pribadi dan persahabatan Calvin. Jadi, Beza (dan yang lain) menulis tentang persahabatan yang Calvin berikan kepada orang-orang di sekitarnya. Calvin merupakan contoh gagasan modern tentang perekanan, dan ia cukup bijaksana untuk menarik teman-teman yang brilian jika memungkinkan. Pernah, ketika Beza sakit, Calvin mengakui ketakutannya sendiri dan kesedihannya yang dalam setelah mengetahui penyakit rekannya. Ia menangis dan berduka, tampaknya karena terkejut akan kehilangan yang mungkin sekali terjadi pada gereja dan padanya secara pribadi. Untungnya, Beza sembuh.

Ada banyak teman yang lain di samping Beza. Jenis pemikiran yang sama yang mengalir melalui nadi-nadi literatur Bullinger, Bucer, Viret, dan Calvin -- segera ditambah oleh Knox, Beza, Hotman, dan Junius Brutus -- membentuk suatu tradisi intelektual dengan Jenewa sebagai episenternya dan Calvin sebagai bapaknya. Persahabatannya dengan para cendekiawan ini ternyata merupakan petunjuk yang menyatukan gerakan itu dalam masa pertumbuhannya yang sulit. J. H. Merle D'Aubigne mencatat saling menukar gagasan-gagasan ini dalam kata-kata berikut:

"Kekatolikan Reformasi merupakan ciri yang mulia dalam karakternya. Orang-orang Jerman masuk ke Swiss; orang Prancis ke Jerman; dalam waktu-waktu belakangan orang-orang dari Inggris dan Skotlandia pergi ke Eropa Daratan, dan doktor-doktor dari Eropa Daratan ke Inggris Raya. Reformator-reformator di negara-negara yang berbeda bermunculan hampir tanpa ada kaitannya satu sama lain, tetapi begitu muncul, mereka mengulurkan tangan persekutuan....Merupakan suatu kesalahan, dalam pendapat kami, jika menulis sebagaimana yang masih terjadi sampai sekarang, tentang sejarah Reformasi untuk satu negeri karena Reformasi itu satu.

Teman-teman Calvin berfungsi untuk menstabilkan dan menstandarisasi suatu gerakan internasional.

Calvin, Farel, dan Peter Viret disebut "tripod" atau "tiga bapak", karena begitu terkenalnya persahabatan mereka. Dalam "Commentary on Titus", Calvin menulis bahwa ia "tidak percaya kalau pernah ada teman-teman seperti itu yang hidup bersama-sama dalam persahabatan yang sedemikian erat dalam gaya hidup mereka sehari-hari di dunia ini seperti yang kami miliki dalam pelayanan kami". Bahkan, ketika ada ketidaksetujuan yang kuat, Calvin merupakan suatu paradigma persahabatan. Ketika Reformator-reformator ini mengalami pergumulan-pergumulan atau sukacita keluarga, Calvin menceritakannya dalam surat-suratnya. Surat-surat kepada berbagai Reformator ini penuh dengan simpati dan cepat menggambarkan kesetiaan yang sehat. Terlebih lagi, korespondensinya dengan pengungsi-pengungsi menunjukkan belas kasihnya yang besar. Bahkan, ia membangun jembatan-jembatan dengan murid-murid Luther setelah pemimpin Jerman itu mencelanya. Calvin menerjemahkan sebuah karya teologis Melanchthon, murid Luther yang terutama.

Apa yang dimulai di Jenewa dengan kader rekan-rekan multinasional, yang semuanya berusaha meluaskan "republik Kristus" bertumbuh menjadi suatu gerakan yang bercirikan teologi, gagasan-gagasan, dan pandangan unik tentang sejarah yang menyebar jauh melampaui kota Jenewa. Dengan keyakinan mereka kepada providensi Allah dan pemilihan ilahi, lingkaran teman-teman ini mendorong pemimpin-pemimpin sipil untuk mengadopsi pandangan-pandangan religius dan praktik-praktik politik mereka "yang menyatakan bahwa tidak ada perbatasan-perbatasan, batas-batas, kekang-kekang yang boleh membatasi semangat pangeran-pangeran yang saleh dalam hal kemuliaan Allah dan pemerintahan Kristus". Bagi sejumlah pihak, teologi mereka tentang perlawanan secara politik tampak subversif.

Kadang-kadang, sebagaimana dalam era mana pun, juga ada gangguan-gangguan persahabatan. Calvin harus membantu anggota-anggota gereja dalam hal hubungan-hubungan yang retak, dan ia harus menangani friksi di antara reformator-reformator Protestan. Tidak seorang pemimpin pun seharusnya mengharapkan bahwa segala sesuatu akan selalu berjalan lancar dalam bidang persahabatan. Meskipun demikian, Calvin belajar mendorong orang-orang di sekitarnya dan ia mendelegasikan beberapa tanggung jawab kepada teman-teman sejawatnya.

Richard Stauffer menyimpulkan bahwa Calvin jauh dari "pahlawan yang terisolasi atau jenius yang kesepian yang sering digambarkan tentang dirinya. Sepanjang kariernya, ia memiliki hubungan-hubungan dengan teman-teman yang menunjukkan afeksinya yang tidak ada habis-habisnya dan pengabdian yang tidak kenal lelah. Jika ia menunjukkan pesona seperti itu, hal itu pasti karena ia sendiri merupakan seorang teman yang tidak ada bandingannya. Untuk pengabdian yang orang tunjukkan kepadanya, ia membalas dengan kesetiaan yang tidak tergoyahkan." Setelah kematian Calvin, menjadi tugas rekan-rekannya yang ditunjukkan oleh patung Beza dalam pahatan terkenal pada dinding Reformasi di Jenewa -- untuk menyebarkan firman.

Sumber: 

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul asli buku: Legacy of John Calvin: His Influence on the Modern World
Judul buku terjemahan: Warisan John Calvin: Pengaruhnya di Dunia Modern
Judul bab: John Calvin: Suatu Kehidupan yang Patut Diketahui
Judul asli artikel : Persahabatan-persahabatan Calvin
Penulis : David W. Hall
Penerjemah : Lanna Wahyuni
Penerbit : Momentum, Surabaya 2010
Halaman : 69 -- 76

Sebuah Tinjauan Terhadap Teologi Feminisme Kristen (II)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel edisi sebelumnya. Setelah kita memahami latar belakang munculnya teologi feminisme, dalam artikel ini kita akan mempelajari dasar dan pandangan Alkitab yang dikutip oleh para teolog feminisme dalam mendukung gerakan feminisme serta evaluasi terhadap teologi feminisme. Kiranya sajian kami menjadi berkat bagi kita sekalian. Soli Deo Gloria.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
Edisi 168/Agustus 2015
Isi: 

Metode Teologi

".....otoritas Alkitab menurut Russell adalah otoritas yang pragmatis, tidak penting apakah Alkitab bisa salah atau tidak, yang penting baginya adalah Alkitab itu memiliki kebergunaan dalam kehidupannya."

Dengan pandangan yang cukup negatif tentang Alkitab seperti yang di uraikan di atas, timbul pertanyaan: berita positif apa yang terdapat dalam Alkitab bagi para feminis? Menurut Russell, Alkitab adalah firman yang memerdekakan (liberating word). Hal ini jelas terlihat sejak peristiwa eksodus yang dicatat dalam Alkitab sampai zaman para nabi dan kemudian jauh hingga zaman Tuhan Yesus. Peristiwa eksodus yang dicatat dalam kitab jelas memperlihatkan karya pembebasan Allah bagi Israel dari penindasan Mesir. Nubuat yang disampaikan para nabi pun berbicara tentang pembebasan dari penindasan, seperti yang dicatat dalam Yesaya 61:1-2. Teks ini pulalah yang dikutip oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 4:18 yang dilanjutkan dengan pernyataan Tuhan Yesus pada ayat 21, "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."

Selanjutnya, dengan sedikit permainan kata Russell mengatakan bahwa Alkitab bukan saja merupakan "the liberating word" tetapi juga harus menjadi "liberated word" (firman yang merdeka). Apa yang ia maksud dengan "the liberated word"? "The liberated word" berarti Alkitab dibebaskan dari cara pandang patriarkhal. Caranya adalah dengan membuang semua budaya patriarkhal yang telah membelenggu teks-teks Alkitab, untuk menemukan berita pembebasan kaum wanita.

Senada dengan pandangan di atas, menurut Ruether Alkitab harus dilihat sebagai tradisi profetik-mesianis, yakni melihat Alkitab dari perspektif kritis, ketika tradisi biblikal harus terus-menerus dievaluasi ulang dalam teks yang baru. Yang ia maksud dengan evaluasi ulang adalah melihat dan menilai Alkitab dengan paradigma pembebasan, dan konteksnya tidak lain adalah pengalaman kaum wanita. Sedangkan yang dimaksud tradisi profetik-mesianik adalah sebagaimana para nabi memberitakan penghakiman Allah, demikian juga para feminis memberitakan penghakiman atas ketidakadilan yang selama ini telah berlangsung, serta menuntut pertobatan dan adanya perubahan. Kaum feminis tidak hanya dipanggil untuk memberitakan berita penghakiman (profetik), tetapi ada juga unsur mesianisnya, artinya ada kabar "keselamatan" bagi kaum wanita, yakni pembebasan dari ketidakadilan. Masih menurut Ruether, tradisi profetik-mesianik ini menjadi ukuran atau norma untuk menilai teks-teks Alkitab yang lain."

Para feminis juga berpendapat bahwa teologi harus merupakan gabungan antara pertanyaan budaya kontemporer dan jawabannya, yang jawaban tersebut ditentukan oleh latar belakang budaya kontemporer (budaya pada waktu pertanyaan tersebut dilontarkan). Pada masa kini, situasi budaya ke mana tradisi Kristen itu harus dihubungkan adalah bertumbuhnya kesadaran wanita atau pengalaman kaum wanita di gereja. Oleh karena itu, pengalaman kaum wanita harus menjadi sumber dan norma bagi teologi Kristen kontemporer yang serius. Pendeknya, menurut Ruether, pengalaman manusia harus menjadi starting point dan ending point dalam berteologi.

Dasar Alkitab

Bagian Alkitab yang paling sering dikutip oleh teolog-teolog feminis dan diklaim sebagai dasar teologi mereka, yang juga dikenal sebagai "magna carta of humanity" adalah Galatia 3:28 yang berbunyi: "Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di alam Kristus Yesus." Galatia 3:28 dipandang sebagai ayat yang membebaskan wanita dari penindasan, dominasi, dan subordinasi pria. Bagian-bagian lain yang juga berbicara tentang kesederajatan adalah Kejadian 34:12; Keluaran 21:7; 22:17; Imamat 12:1-5; Ulangan 24:1-4; 1 Samuel 18:25 yang berbicara bahwa wanita dan pria memiliki status sosial yang sama; Hakim-hakim 4:4; 5:28-29; 2 Samuel 14:2; 20:16; 2 Raja-raja 1:3; 22:14; Nehemia 6:14 adalah ayat-ayat yang memperlihatkan bahwa wanita memiliki tempat dalam kehidupan religius dan sosial bangsa Israel, kecuali dalam hal keimaman; sedangkan dalam Kejadian 1:27 dikatakan bahwa wanita dan pria adalah makhluk yang sama-sama diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Berdasarkan penafsiran terhadap ayat-ayat di atas khususnya Galatia 3:28, para feminis menyimpulkan bahwa Paulus dengan jelas mengukuhkan kesetaraan antara pria dan wanita dalam komunitas Kristen; pria dan wanita memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang sama baik di gereja maupun dalam rumah tangga. Kesimpulan lain dari penafsiran ini ialah bahwa tujuan panggilan Kristen adalah kemerdekaan.

Selain itu, di dalam usaha menelaah sejarah kaum wanita di dalam Alkitab, teolog-teolog feminis tidak hanya menemukan ide tentang kesederajatan pria dan wanita. Di dalam Alkitab mereka juga menemukan bahwa Allah orang Kristen bukan Allah yang paternal; dari sejumlah ayat yang terdapat di Alkitab mereka menemukan bukti-bukti yang mendukung konsep Allah yang maternal. Itulah sebabnya, sebagian teolog feminis menuntut agar Allah tidak hanya disebut sebagai Bapa tetapi juga Ibu. Secara tajam mereka pun mengkritik rumusan baptisan yang berbunyi: dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus."

Kesimpulan

Dari pandangan mereka terhadap Alkitab secara ringkas dapat dikatakan bahwa bagi para feminis, esensi kekristenan adalah panggilan kenabian serta pembebasan bagi kaum tertindas. Atas dasar inilah para feminis menuntut adanya suatu pembaharuan dalam teologi. Menurut mereka, hingga awal abad ke-19 karya-karya teologis dan intelektual kebanyakan dihasilkan dari perspektif nonfeminis; dunia teologi dan intelektual pada masa itu adalah dunia kaum lelaki. Sudah tiba saatnya pengalaman kaum wanita menjadi pusat refleksi teologis dan menjadi kunci menuju hermeneutik atau teori interpretasi.

Evaluasi

Teologi feminis telah memberikan kontribusi yang sangat besar baik bagi gereja dan juga terutama bagi kaum wanita. Namun, di samping sumbangsih yang diberikannya, tidak dapat dimungkiri bahwa teologi ini juga problematik. Dalam bagian ini saya mencoba untuk mengevaluasi teologi feminis baik secara negatif maupun positif.

Salah satu hal penting dalam berteologi adalah sumber teologi itu sendiri. Teolog-teolog feminis beranggapan bahwa teologi mereka bersumber atau berdasar pada Alkitab, firman Allah yang diinspirasikan. Namun, ternyata yang dimaksud dengan diinspirasikan Allah menurut mereka tidak sama dengan yang diyakini oleh iman tradisional. Inspirasi menurut iman Kristen tradisional berarti pimpinan Roh Allah secara supernatural dalam pikiran para penulis Alkitab yang menjamin ineransi, infalibilitas, dan otoritasnya. Akan tetapi, inspirasi menurut feminis tidaklah demikian. Yang dimaksud dengan inspirasi adalah bahwa Allah menyampaikan firman-Nya di dalam dan melalui kata-kata manusia yang bisa saja salah. Bagi para feminis, inspirasi tidak menjamin otoritas dan ineransi Alkitab. Alkitab bisa saja salah, berkontradiksi, dan tidak konsisten karena adanya unsur keterbatasan manusia. Dengan demikian, bagi para feminis Alkitab tidak lebih dari "sumber" yang otoritasnya ditentukan oleh pembacanya, dalam hal ini adalah wanita. Alkitab bukan sumber yang normatif dan berotoritas karena yang menjadi norma adalah pengalaman dan perjuangan kaum wanita untuk mencapai kemerdekaan.

Pandangan demikian jelas tidak benar. Jika kita mendapat Alkitab yang falibel (yang dapat keliru - Red.) dari manusia yang juga falibel, lalu bagaimana kita menentukan mana yang benar dan mana yang salah? Yang cukup menggelikan adalah bagaimana mungkin teolog-teolog feminis menolak otoritas Alkitab, tetapi pada saat yang bersamaan mereka juga menggunakan Alkitab yang berotoritas sebagai dasar teologi mereka? Tolbert melihat hal ini sebagai sebuah paradoks: "So, one must struggle against God as enemy assisted by God as helper, or one must defeat the Bible as patriarchal authority by using the Bible as liberator. Feminist hermeneutics, then, is profoundly paradoxical." ("Jadi, seseorang harus berjuang melawan Allah sebagai musuh, yang dibantu oleh Allah sebagai penolong, atau seseorang harus mengalahkan Alkitab sebagai otoritas patriarkhal dengan menggunakan Alkitab sebagai pembebas. Jika demikian, hermeneutika feminis benar-benar paradoks." - Red.)

Masalah lain dengan teologi feminis adalah metode penghilangan budaya (dekulturisasi) mereka, yang sedikit banyak tidak jauh berbeda dengan metode demitologisasi Bultmann. Pertanyaannya adalah bagaimana kita tahu bahwa bagian-bagian Alkitab tertentu dikondisikan oleh budaya pada saat itu dan oleh karenanya tidak berotoritas? Bagian-bagian mana yang masih relevan hingga kini? Pertanyaan lebih lanjut, siapa yang berhak menentukan bagian mana yang terkondisi atau terpengaruh oleh budaya dan mana yang tidak? Atau, siapa yang dapat menjamin bahwa proses ini, dekulturisasi (dan juga demitologisasi) tidak akan menghapus berita esensial Alkitab?

Teologi feminis berpijak bukan pada firman Allah melainkan pada pengalaman kaum wanita yang tertindas. Jadi, dapat disimpulkan bahwa teologi ini bersifat eksistensialis karena lebih berpusat pada diri manusia daripada Allah. Teologi ini juga bersifat subjektif karena dipengaruhi oleh kepentingan dan keprihatinan terhadap wanita yang akhirnya mendistorsi berita itu sendiri. Seperti halnya teologi pembebasan yang dicetuskan Gustavo Gutierrez, injil sosialnya Walter Rauschenbusch, ataupun "black theology"-nya James Cone, teologi feminis dapat dikategorikan sebagai teologi protes. Dalam teologi "protestan," baik melawan ketidakadilan, kesenjangan sosial, gender, ataupun ras diskriminasi, akan ada bahaya bila seluruh energi serta perhatian kita dicurahkan hanya pada isu-isu yang dikemukakan dan lepas dari pusat teologi Kristen, yaitu karya Allah di dalam dan melalui Kristus. Berkaitan dengan feminis, bahaya yang ada misalnya, jika kita tidak lagi mengakui iman kita bahwa Yesus adalah Tuhan karena Ia adalah laki-laki dan laki-laki identik dengan musuh.

Seperti mata uang, teologi feminis juga memiliki dua sisi. Di samping yang negatif ada juga hal-hal positif yang dapat kita petik dari teologi ini. Memang tidak dapat disangkal bahwa penindasan terhadap wanita sudah berlangsung begitu lama dan melukai banyak wanita. Usaha para teolog feminis untuk kembali meneliti Alkitab memberikan sumbangsih yang sangat besar. Lepas dari subjektivitas penafsiran mereka, kita melihat bahwa Allah menciptakan manusia (baik pria maupun wanita), memiliki derajat yang sama sebagai gambar dan rupa-Nya. Dosa telah merusak keduanya, bukan hanya Hawa. Walaupun Paulus dalam 1 Timotius 2:14 berkata, "bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa," tidak berarti bahwa Adam bebas dari tanggung jawab. Teolog yang antifeminis mengutip ayat ini dan mengecam teologi feminis, tetapi mengabaikan perkataan Paulus dalam Roma 5 yang mengatakan bahwa dosa masuk ke dalam dunia oleh satu orang, yaitu Adam. Dari sini kita melihat bahwa acap kali kita memberi kritikan dan kecaman, tetapi pada dasarnya kita juga tidak fair (adil) dan jatuh pada kesalahan yang sama dengan teologi feminis yakni mengambil satu bagian Alkitab dan mengabaikan yang lain, hanya untuk mendukung argumentasi atau melegitimasi tindakan kita.

Teologi feminis dimulai dari situasi penindasan terhadap wanita baik di dalam gereja maupun masyarakat. Dengan demikian, teologi ini merupakan suatu refleksi kritis atas praksis. Jenis teologi kritis atau protes tampaknya menjadi ciri teologi masa kini. Dari berbagai kritik yang dilontarkan tersebut memang harus kita akui adanya kepincangan atau ketidakseimbangan antara teologi dan praksis. Tidak sedikit orang Kristen dan pemimpin gereja yang menguasai dengan sangat baik bermacam-macam doktrin dalam Alkitab, tetapi pengetahuan itu tidak terejawantahkan dalam kehidupan sehari-harinya. Karena itu, tidak mengherankan jika muncul teologi hitam, teologi pembebasan, dan teologi lain yang sejenis, yang berusaha merelevankan Alkitab ke dalam berbagai situasi kehidupan. Usaha para feminis dan juga tokoh pembebasan lainnya untuk membuat Alkitab relevan bagi setiap zaman, ataupun usaha mereka menjadi jembatan penghubung antara zaman Alkitab dengan situasi kontemporer merupakan suatu usaha yang sangat baik. Hanya, patut disayangkan, usaha tersebut lebih menitikberatkan unsur kepentingan manusia dan konteks sehingga mereka tidak segan-segan mengorbankan iman Kristen yang ortodoks. Namun, terlepas dari masalah tersebut, usaha untuk menyeimbangkan teologi dan praksis merupakan usaha yang juga harus dilakukan gereja masa kini.

Sumbangsih teologi feminis juga terasa di dalam gereja. Selama ini tidak sedikit gereja yang melarang kaum wanita mengambil bagian dalam pelayanan. Makin bertumbuhnya gerakan kaum wanita, mau tidak mau memaksa gereja dan para teolog untuk kembali melihat apa yang dikatakan Alkitab mengenai peran wanita dalam gereja. Sedikit demi sedikit gereja mulai membuka diri terhadap sumbangsih yang bisa diberikan oleh kaum wanita. Di lingkungan gereja di Indonesia, ada gereja tertentu yang dahulu "mengharamkan" pelayanan atau jabatan tertentu bagi wanita, tetapi saat ini ada cukup banyak gereja yang mulai membuka diri terhadap wanita. Ada gereja-gereja tertentu yang memberi kesempatan bagi jemaat wanitanya untuk mengambil dalam pelayanan dan yang menahbiskan rohaniwatinya ke dalam jabatan pendeta, suatu hal yang dahulu jarang terjadi. Menurut saya hal ini baik karena tidak sedikit wanita Indonesia pada masa kini yang memiliki bakat, kemampuan, dan tingkat kerohanian yang baik, bahkan juga tidak sedikit yang lebih baik dari pria. Mereka bisa melayani Tuhan sama baiknya dengan pria. Justru dengan natur pria dan wanita yang komplementer, saling melengkapi, memberikan tanda bahwa gereja akan diperkaya dengan adanya partisipasi wanita dalam pelayanan.

Penutup

"Liberation from a patriarchal worldview is never a finished task," ("Pembebasan dari pandangan dunia patriarkhal tidak pernah selesai," - Red.) demikian kata Russell. Saya tidak berani memastikan bagaimana masa depan teologi feminisme di dalam kekristenan atau dalam lingkup lainnya selama beberapa dasawarsa ke depan. Memang saat ini gerakan pemberdayaan kaum wanita muncul di mana-mana bagaikan cendawan pada musim hujan. Namun pertanyaannya, apakah perjuangan wanita-wanita Kristen pada era 1960-an masih akan tetap bergabung dan relevan pada abad ke-21 ini? Atau jika kita ganti pertanyaannya, apakah teologi feminis seperti yang dipaparkan di atas dalam beberapa dasawarsa mendatang masih bisa disebut teologi feminis Kristen? Sulit untuk menjawabnya. Namun, Ruether jauh sebelumnya (tahun 1983) sudah memberikan pernyataan: "The more one becomes a feminist the more difficult it becomes to go to church." ("Semakin seseorang menjadi seorang feminis, semakin sulit seseorang untuk pergi ke gereja." - Red.)

Sumber: 

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku: Veritas, Jurnal Teologi dan Pelayanan Volume 4
Judul bab: Sebuah Tinjauan terhadap Teologi Feminisme Kristen
Judul asli artikel : Teologi Feminisme
Penulis : Lie Ing Sian
Penerbit : SAAT, Malang 2003
Halaman : 272 -- 278

Sebuah Tinjauan Terhadap Teologi Feminisme Kristen (I)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Feminisme adalah paham yang pergerakannya dimulai sejak akhir abad ke-18, yang menuntut kesetaraan hak dan perlakukan yang adil bagi wanita. Satu hal yang mendasari dan menjadi keyakinan dari pergerakan ini adalah bahwa masyarakat beserta sistem dan tatanan hukum yang ada di dunia ini bersifat patriarki sehingga menyebabkan subordinasi atau penindasan pada kaum wanita. Kesetaraan hak dan perlakuan yang adil bagi wanita kemudian menjadi tujuan dari pergerakan kaum feminis demi mengakhiri penindasan terhadap kaum wanita, yang tak jarang juga terjadi dalam gereja dan komunitas Kristen. Tak pelak, feminisme sampai kini masih menjadi suatu perdebatan panjang di kalangan orang Kristen dan gereja-gereja Tuhan, meski tak semua pihak mampu memandang dan menyikapinya dalam kacamata iman dan perspektif yang benar.

Untuk mengetahui lebih banyak mengenai teologi feminisme, publikasi e-Reformed pada bulan Agustus ini akan mengetengahkan sebuah artikel yang berisi pandangan dari beberapa teolog feminis Kristen liberal mengenai feminisme beserta dasar-dasar teologi dari Alkitab yang digunakan untuk mendukung paham dan pergerakan feminisme. Kami berharap, suguhan e-Reformed edisi 167 ini akan semakin membukakan perspektif kita dalam memandang dan menyikapi teologi feminisme, terutama dari sudut pandang Alkitab.

Untuk ikut memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70 pada bulan Agustus ini, mari kita bersyukur kepada Tuhan atas kemerdekaan yang Tuhan telah berikan kepada negara kita yang tercinta ini. Biarlah Tuhan akan terus memberikan kejayaan bagi bangsa dan negara kita, Indonesia!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
N. Risanti
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
Edisi 167/Agustus 2015
Isi: 

Pendahuluan

"If I were only meant to tend the nest, then why does my imagination sail across the mountains and the seas .... Just tell me where, where is it written what it is I'm meant to be, that I can't dare," (Jika aku ditakdirkan untuk mendiami sangkar, lalu mengapa imajinasiku berlayar mengelilingi pegunungan dan lautan ... Katakan kepadaku, di manakah hal itu tertulis bahwa itu merupakan takdirku, yang tidak dapat kulangkahi. - Red.) demikian sepenggal lirik lagu tema film Yentl, sebuah film musikal yang berkisah tentang seorang gadis Yahudi yang dibesarkan di Eropa Timur pada awal abad kedua puluh. Penggalan lirik lagu di atas adalah sebagian kecil jeritan hati Yentl, gadis belia yang hasratnya untuk mempelajari Talmud terkungkung di balik jeruji patriarkhal Yahudi yang dengan keras melarang wanita belajar agama. Wanita dianggap hanya bisa dan boleh tahu urusan dapur, anak, dan rumah tangga. Kalaupun mereka boleh membaca, jenis bacaan yang "halal" bagi mereka hanyalah roman picisan atau komik bergambar.

Jeritan hati Yentl, lepas dari apakah tokoh dan kisah tersebut adalah rekaan sang pengarang, Isaac Bashevis Singer, atau kisah nyata, bukanlah yang pertama dan satu-satunya terdengar sejak dunia ini diciptakan. Dominasi kaum pria yang, anehnya, telah berlangsung secara mengglobal jauh sebelum era globalisasi, telah menggoreskan luka yang dalam di hati banyak wanita. John Stott menggambarkan kondisi ini dengan kata-kata yang cukup tajam:

For there is no doubt that in many cultures women have habitually been despised and demeaned by men. They have often been treated as mere playthings and sex objects, as unpaid cooks, housekeepers and child-minders, and as brainless simpletons incapable of engaging in rational discussion. Their gifts have been unappreciated, their personality smothered, their freedom curtailed, and their service in some areas exploited, in others refused. (Sebab, tidak ada keraguan bahwa dalam banyak kebudayaan perempuan biasa dihina dan direndahkan oleh laki-laki. Mereka sering diperlakukan hanya sebagai mainan dan objek seks, sebagai koki tidak dibayar, pembantu rumah tangga dan pengawal anak, dan seorang bodoh yang tidak mampu terlibat dalam diskusi rasional. Talenta mereka telah tidak dihargai, kepribadian mereka ditahan, kebebasan mereka dibatasi, dan layanan mereka di beberapa wilayah dieksploitasi, serta ditolak di wilayah lain. - Red.)

Tidak heran jika timbul berbagai reaksi dari kaum wanita, mulai dari yang sekadar memendam rasa tidak puas hingga yang berani bersuara bahkan yang lebih ekstrem, memberontak terhadap tatanan yang telah berurat berakar di masyarakat. Tidak heran pula jika di berbagai penjuru dunia akan menemukan gerakan kaum wanita yang dikenal dengan istilah "feminisme", suatu gerakan yang dilandasi oleh kesadaran kaum wanita bahwa mereka adalah makhluk yang Tuhan ciptakan sederajat dengan pria.

Gerakan ini sangat terasa khususnya dalam beberapa dasawarsa terakhir abad dua puluh, sekaligus telah membawa perubahan yang sangat besar dalam masyarakat pada saat ini. Kaum wanita yang dulunya tidak memiliki posisi yang cukup berarti dan dianggap sebagai kaum lemah dalam masyarakat kini mulai mengedepan. Sejumlah besar wanita memasuki panggung politik dunia saat ini; tidak sedikit yang memegang jabatan penting di perusahaan-perusahaan besar dan sebagian lainnya meraih prestasi puncak dalam bidang pendidikan. Singkatnya, wanita kini memiliki kesempatan dalam dunia kerja dan pendidikan yang lebih luas daripada sebelumnya.

Pengaruh gerakan ini juga merambah ke dalam dunia teologi abad 20. Pada paruh kedua tahun 1960-an, teolog-teolog wanita dan mahasiswi sekolah teologi telah mengembangkan satu genre baru dalam pemikiran Kristen kontemporer yang dikenal sebagai teologi feminis. Teologi ini memiliki spektrum yang luas dan terus berkembang sehingga kalau kita berbicara tentang teologi feminis Kristen, harus jelas teologi feminis Kristen yang mana, liberal, radikal atau evangelikal, karena masing-masing memiliki arah atau penekanan yang berbeda.

Walaupun usianya masih tergolong "muda", tetapi sejak kelahirannya teologi ini telah mengalami perkembangan yang amat pesat dan menjadi teologi yang sangat signifikan pada abad 20. Kendati demikian, hal ini tidak berarti teologi feminis diterima oleh semua pihak. Bahkan sebaliknya, tidak sedikit orang atau kelompok yang menolak dan mengajukan keberatan terhadap teologi ini, misalnya orang-orang yang menyebut diri sebagai tradisionalis. Keberatan yang paling umum diajukan adalah bahwa teologi feminis bersifat subjektif dan dianggap telah mendistorsi makna teks-teks Alkitab yang menjadi dasar teologi ini. Tidak mengherankan jika teologi feminis mendapat kritik, kecaman dan serangan, bahkan penolakan.

Apakah sebenarnya teologi feminis itu? Mengapa teologi ini mendapat banyak kritik di sana-sini? Apakah teologi ini mendapat dukungan yang cukup dari Alkitab sebagai sumber teologi Kristen yang berotoritas? Untuk menjawab pertanyaan ini, pada halaman-halaman berikut secara singkat kita akan mencoba mendefinisikan feminisme Kristen, kemudian mempelajari bagaimana pandangan feminisme terhadap Alkitab serta metode berteologinya. Mengingat luasnya lingkup feminis maka pembahasan difokuskan pada teologi feminis Kristen liberal yang diwakili oleh Rosemary Radford Ruether, Letty M. Russell, dan Elizabeth Schiissler Fiorenza. Namun, sebelum masuk ke dalam pembahasan tersebut, pada bagian berikut akan kita telusuri lebih dahulu latar belakang historisnya guna lebih memahami pandangan ini.

Latar Belakang Teologi Feminis

Pandangan yang merendahkan wanita bukan hanya ada di luar kekristenan. Di dalam gereja sendiri, tragisnya, sering kali wanita dipandang sebagai harta milik, objek, polusi yang membahayakan, dan yang paling keras adalah wanita dinilai tidak mampu menjadi gambar Allah sehingga mereka dilarang untuk menjadi pemimpin, pengkhotbah, dan pengajar dalam ibadah maupun pelayan di gereja.

Paulus dalam surat-suratnya pun seolah-olah "mengonfirmasi" status dan peran wanita dalam gereja, misalnya di 1 Korintus 14:34-35 dan 1 Timotius 2:12-16. Pada kedua bagian tersebut, Paulus melarang wanita berbicara dan mengajar dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Bahkan, secara tegas, ia menulis bahwa Hawa-lah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa. Sikap Paulus tersebut sangat memengaruhi cara gereja memperlakukan wanita. Selain oleh ayat-ayat tersebut, cara bapak-bapak gereja memperlakukan wanita juga banyak dipengaruhi oleh ajaran Yunani dan Talmud. Menurut William Barclay, pandangan orang Yahudi yang merendahkan wanita tampak dalam doa pagi pria Yahudi yang terdapat dalam Talmud. Di dalam doanya setiap pagi, seorang Yahudi bersyukur karena Tuhan tidak menciptakannya sebagai seorang kafir, budak, atau wanita. Tertullian, salah seorang bapak gereja, berkata, "You [wanita] are the devil's gateway; you are the unsealer of that (forbidden) tree; you are the first deserter of the divine law ...." ("Anda [wanita] adalah pintu setan; Andalah pendobrak pohon terlarang, Andalah pembelot pertama dari hukum ilahi ...." - Red.) Tidak mengherankan jika pada zaman bapak gereja, kaum wanita hampir-hampir tidak memiliki bagian di dalam gereja. Wanita pada masa itu dianggap rendah dan berada di bawah dominasi pria. Keadaan ini terus berlanjut selama berabad-abad tanpa ada perubahan.

Pada abad pertengahan, kaum wanita mulai menyadari bahwa mereka dimarginalkan dalam urusan gereja dan masyarakat; kesempatan yang mereka miliki sangat terbatas dan tempat yang tersedia bagi mereka hanyalah dalam rumah tangga. Kesadaran akan keadaan ini mulai membawa sedikit angin perubahan. Sejumlah wanita tampil sebagai penulis-penulis spiritual dan mistik pada masa ini. Beberapa karya tulis mereka menunjukkan adanya pengertian yang mendalam tentang isu-isu filsafat. Hanya, karya tulis tersebut tidak dalam bentuk seperti tulisan para teolog gereja, tetapi lebih bersifat kontemplatif yang memperlihatkan pendekatan mereka terhadap masalah-masalah kehidupan, di mana kunci jawabannya mereka cari di dalam hal-hal spiritual.

Keadaan kaum wanita secara perlahan-lahan mengalami sedikit perubahan pada zaman Pencerahan. Semangat abad Pencerahan memberi dampak besar bagi bangkitnya para wanita, terutama di Eropa. Beberapa wanita tampil ke permukaan dan melahirkan karya tulis ilmiah tentang wanita. Gagasan kesetaraan wanita dengan pria dituangkan dalam tulisan-tulisan mereka dalam bentuk esai, disertasi, dan sebagainya. Pada abad berikutnya, muncul beberapa wanita terkemuka yang memberikan kontribusi signifikan dalam bidang sains dan filsafat; sebagian lainnya memainkan peran penting di bidang seni, pendidikan, dan politik.

Gerakan ini makin terasa pada abad ke-20, khususnya di Barat. Di Amerika Serikat yang menjadi katalisator gerakan wanita modern adalah karya monumental Betty Friedan, The Feminine Mystique (1963), yang memberikan pengaruh yang sangat kuat bagi masyarakat di negara tersebut. Pengaruhnya dapat disejajarkan dengan karya Charles Darwin, The Origin of the Species. Sejak saat itu, gerakan ini seolah tak terbendung lagi. Kini, gerakan feminisme dapat kita jumpai di belahan bumi mana pun sehingga tidak heran jika kita mengenal adanya "black feminist theology" di Afrika, feminis Islam di Indonesia, feminis Yahudi, dan sebagainya.

Dari paparan di atas tampak bahwa teologi feminisme lahir sebagai reaksi protes terhadap penindasan atas kaum wanita yang berlangsung di dalam dan luar gereja selama berabad-abad. Teolog-teolog feminis sendiri yakin bahwa pendorong gerakan mereka berakar dari pengajaran PB tentang bagaimana seharusnya orang Kristen berelasi satu dengan yang lain. Model relasi orang Kristen, khususnya pria dan wanita tidak bersifat hierarki, melainkan kesederajatan yang sempurna dan tidak boleh ada lagi peran dalam masyarakat, gereja ataupun di rumah yang berdasar pada gender.

Definisi Feminisme

Apakah feminisme dan teologi feminis itu? Untuk mendefinisikannya bukanlah hal yang mudah karena tokoh-tokoh feminis itu sendiri sangat beragam. Menurut Marcia Bunge, ada perbedaan suara antara feminis yang satu dengan yang lain, yang terlihat melalui karya tulis mereka, baik buku-buku maupun artikel-artikel, yang belakangan ini semakin marak. Dengan bervariasinya tokoh, tulisan serta pandangan mereka, sulit untuk menentukan nuansa definisi feminisme yang jelas karena tidak ada kanon tradisi feminis yang normatif ataupun rumusan kredo yang jelas.

Kendati sangat beragam dalam struktur, bentuk, dan penekanan, tetapi itu tidak berarti sama sekali tidak ada kesamaan di antara para feminis. Pamela Dickey Young mencirikan empat tema yang mempersatukan gerakan para feminis di seluruh dunia, yaitu: pertama, teologi Kristen tradisional bersifat patriarkhal. "It has been written, almost totally, by men. It has been formulated, despite claims to universality, as though maleness were the normative form of humanity." ("Telah ditulis, hampir sepenuhnya, oleh laki-laki. Ini telah dirumuskan, meskipun klaim universalitas, seakan kelelakian adalah bentuk normatif kemanusiaan." - Red.) Kedua, teologi tradisional telah mengabaikan kaum wanita serta pengalaman mereka. Ketiga, natur teologi yang patriarkhal telah memberikan konsekuensi yang merusak bagi wanita. Keempat, sebagai solusi atas ketiga masalah di atas, wanita harus menjadi teolog yang memulai usaha teologis mereka. ... women must become equal shapers of the theological enterprise. (... para wanita harus menjadi pembentuk yang setara atas masalah teologis. - Red.) Karena itu, menurut Young, setiap doktrin serta konsep teologis harus diuji kembali dari sudut kesadaran kaum wanita yang tertindas. Hal senada juga diungkapkan oleh Tolbert, "... while others understand feminism to be primarily a movement toward human equality in which oppressed and oppressor are finally reconciled. (... sementara yang lain memahami feminisme pada dasarnya merupakan gerakan menuju kesetaraan manusia ketika yang tertindas dan penindas akhirnya didamaikan. - Red.)

Dari paparan singkat di atas tampak bahwa penekanan feminisme ialah "penindasan", "patriarkhal", dan "kesetaraan". Ketiga hal ini merupakan problem yang harus dihadapi oleh wanita; kaum wanita harus berjuang melawan penindasan yang diakibatkan oleh sistem patriarkhal guna mencapai kesetaraan dengan pria. Dengan kata lain, perjuangan kaum wanita pada dasarnya ialah perjuangan untuk meraih kebebasan. Secara ringkas, bisa disimpulkan bahwa feminisme pada hakikatnya adalah gerakan pembebasan kaum wanita dari sistem yang selama ini membuat posisi mereka berada di marginal, sedangkan teologi feminis bisa disebut sebagai usaha untuk menjelaskan kembali iman Kristen dari perspektif wanita sebagai kelompok yang tertindas.

Teologi Feminisme

Pandangan terhadap Alkitab

Kalau kita berbicara mengenai teologi seseorang atau sekelompok orang, salah satu pertanyaan yang penting dan perlu diajukan adalah bagaimana pandangan orang atau kelompok orang tersebut terhadap Alkitab? Apakah Alkitab diterima sebagai firman Allah yang berotoritas? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut setidaknya menunjukkan corak teologi yang dianut seseorang atau sekelompok orang tersebut. Pandangan Fiorenza mengenai Alkitab diungkapkan dalam kalimat berikut:

A feminist hermeneutics cannot trust or accept Bible and tradition simply as divine revelation. Rather it must critically evaluate them as patriarchal articulations, since even in the last century Sarah Grimke, Matilda Joslyn Gage, and Elizabeth Cady Stanton had recognized that biblical texts are not the words of God but the words of men. (Sebuah hermeneutika feminis tidak dapat memercayai atau menerima Alkitab dan tradisi hanya sebagai wahyu ilahi. Sebaliknya, hermeneutik feminis harus kritis menilai keduanya sebagai artikulasi patriarkhal, terlebih karena Sarah Grimke, Matilda Joslyn Gage, dan Elizabeth Cady Stanton pada abad terakhir telah mengakui bahwa teks Alkitab bukanlah kata-kata Tuhan, tetapi kata-kata manusia. - Red.)

Selanjutnya, ia mengatakan: "Feminist interpretation therefore begins with hermeneutics of suspicion that applies to both contemporary androcentric interpretations of the Bible and the biblical texts themselves." (Oleh karena itu, interpretasi feminis dimulai dengan hermeneutika kecurigaan yang berlaku untuk kedua interpretasi androsentrik kontemporer Alkitab dan teks-teks alkitabiah sendiri. - Red.). Sedangkan Ruether mengalimatkan demikian: "The Bible was shaped by males in a patriarchal culture, so much of its revelatory experiences were interpreted by men from a patriarchal perspective." ("Alkitab dibentuk oleh laki-laki dalam budaya patriarkhal, begitu banyak pengalaman pewahyuan yang ditafsirkan oleh manusia dari perspektif patriarki." - Red.) Secara ringkas yang ingin disampaikan kedua tokoh ini adalah Alkitab tidak boleh diterima mentah-mentah sebagai firman Allah karena banyak unsur manusia (baca: pria) di dalamnya.

Jika ditanya mengenai inspirasi Alkitab, para feminis akan segera menjawab bahwa mereka percaya inspirasi. Akan tetapi, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa itu artinya mereka masih berada di jalur iman Kristen yang ortodoks. Simak pernyataan Russell berikut: "The Bible is especially dangerous if we call it 'the Word of God' and think that divine inspiration means that everything we read is right." (Alkitab secara khusus bersifat berbahaya jika kita menyebutnya "Firman Allah" dan berpikir bahwa inspirasi ilahiah berarti bahwa segala sesuatu yang kita baca adalah benar. - Red.) Menurut Russell, inspirasi ilahi Alkitab berarti bahwa Roh Allah memiliki kuasa untuk membuat kisah Alkitab berbicara kepada kita dari iman menuju kepada iman. Alkitab diterima sebagai firman Allah apabila komunitas iman memahami Allah berbicara kepada mereka di dalam dan melalui berita Alkitab. Pandangan "miring" tersebut tidak aneh karena kelompok feminis yang menyebut diri evangelikal pun memiliki keyakinan serupa:

[T]he Spirit of God is the ultimate author of all Scripture. The Christian church, therefore, has rightly understood the phrase "the inspiration - of Scripture" to indicate that in and through the words employed by the biblical writers God has given his word to mankind. ... the Bible is a divine/human book ... as human, this light of revelation shines in and through the "dark glass" (1 Cor. 13:12) of the "earthen vessels" (2 Cor. 4:7) who were the authors of its content at the human level. (Roh Allah adalah penulis utama dari semua Kitab Suci. Gereja Kristen, oleh karena itu, telah benar memahami frase "inspirasi dari Kitab Suci" untuk menunjukkan bahwa di dalam dan melalui kata-kata yang digunakan oleh para penulis Alkitab, Allah telah memberikan firman-Nya kepada umat manusia .... Alkitab adalah sebuah buku yang ilahiah/manusia ... bagi manusia, cahaya wahyu ini bersinar di dalam dan melalui "kaca gelap" (1 Kor 13:12.) dari "bejana tanah liat" (2 Korintus 4:7), yang merupakan penulis isinya pada tingkat manusia. - Red.)

Menurut kelompok ini, Alkitab diinspirasikan oleh Allah dalam pengertian bahwa di dalam dan melalui kata-kata yang digunakan oleh penulis Alkitab, Allah memberikan firman-Nya. Allah memakai manusia yang terbatas untuk menyatakan kehendak-Nya. Firman Allah sempurna, tetapi manusia sebagai penulis Alkitab, terbatas. Jadi, ada peluang bagi ketidaksesuaian antara firman Allah yang kekal dan kata-kata yang digunakan oleh para penulis Alkitab. Atau, dengan kata lain, Alkitab bersifat falibel serta tunduk pada keterbatasan manusia dalam menuangkan maksud Allah dalam kata-kata.

Hal serupa diungkapkan oleh Russell ketika ia berbicara tentang otoritas Alkitab. Alkitab berotoritas dalam kehidupannya karena Alkitab memahami pengalamannya dan berbicara kepadanya tentang makna dan tujuan kemanusiaannya di dalam Yesus Kristus. Dengan demikian, meskipun Alkitab ditulis dari sudut pandang patriarkhal, dan juga terdapat ketidakkonsistenan atau kontradiksi, tetap saja Alkitab berotoritas dalam kehidupannya karena kisah Alkitab membawanya kepada satu visi tentang ciptaan baru. Kalau boleh saya simpulkan, otoritas Alkitab menurut Russell adalah otoritas yang pragmatis, tidak penting apakah Alkitab bisa salah atau tidak, yang penting baginya adalah Alkitab itu memiliki kebergunaan dalam kehidupannya.

Bertitik tolak dari sini, teolog feminis berani mengatakan bahwa Paulus tak memiliki pandangan yang konsisten tentang wanita. Hal ini terjadi karena Alkitab dibentuk oleh kaum pria dari budaya patriarkhal sehingga banyak pengalaman wahyunya diinterpretasi dan ditulis dari perspektif patriarkhal. Itu sebabnya, mengapa Paulus kadang-kadang menempatkan wanita dalam posisi lebih rendah daripada pria, tetapi kadang-kadang juga sebaliknya. Jadi, ketika kita membaca Alkitab, kita tidak boleh mengabsolutkan budaya pada saat Alkitab ditulis dan untuk memperoleh kebenaran Allah, kita harus menghilangkan unsur-unsur budaya ketika melakukan interpretasi.

Catatan: partriarkhal --> patrilineal: mengenai hubungan keturunan melalui garis kerabat pria saja, bapak (KBBI).

Sumber: 

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku: Veritas, Jurnal Teologi dan Pelayanan Volume 4
Judul bab: Sebuah Tinjauan terhadap Teologi Feminisme Kristen
Judul asli artikel : Teologi Feminisme
Penulis : Lie Ing Sian
Penerbit : SAAT, Malang 2003
Halaman : 263 -- 272

Galeri Pendukung dan Penentang Calvin

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Reformasi gereja abad 15 lahir sebagai upaya untuk mereformasi gereja Katolik, diprakarsai oleh umat Katolik Eropa Barat yang menentang doktrin-doktrin palsu dan malapraktik gerejawi, khususnya ajaran dan penjualan indulgensi, serta simoni, jual-beli jabatan rohaniwan. John Calvin adalah salah satu tokoh reformasi yang hidup di tengah gejolak masa itu. Dalam perjuangannya, ia mendapat dukungan dari beberapa tokoh reformasi, tetapi tak jarang ia juga mendapat kecaman dari berbagai pihak yang menentangnya.

Untuk mengetahui siapa saja orang yang mendukung maupun mengecam Calvin, e-Reformed edisi bulan Juli ini akan menyajikan sebuah artikel berjudul "Galeri Pendukung dan Penentang Calvin". Melalui artikel ini, kita akan mengenal beberapa tokoh lain yang berpengaruh dalam perjuangan John Calvin mereformasi gereja pada masa itu. Kiranya kita boleh semakin mengerti bahwa iman yang sejati kepada Kristus tidak mudah untuk diperjuangkan dan akan terus mendapat tantangan dan ujian sepanjang zaman, seperti yang di alami oleh John Calvin semasa hidupnya. Soli Deo Gloria.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
Edisi 166/Juli 2015
Isi: 

Olivetan (1503 -- 1535)

Nama aslinya adalah Pierre Robert, dan ia adalah sepupu Calvin. Olivetan, yang berarti "Minyak Tengah Malam", adalah nama panggilan yang diperolehnya karena kebiasaannya belajar sampai larut malam. Menurut Beza, Olivetanlah yang mengobarkan api penginjilan dalam hati Calvin.

Walaupun telah saling mengenal sejak di Noyon, kampung halaman Calvin, kedua sepupu ini baru menjadi akrab ketika sama-sama belajar di Paris dan Orleans. Olivetan yang sudah menjadi seorang Protestan membangkitkan kecurigaan pemerintah sehingga pada tahun 1528, ia terpaksa melarikan diri ke tempat Martin Bucer di Strasbourg.

Pada tahun 1532, masyarakat Kristen Waldensia di daerah Piedmont, Italia, menggabungkan diri dengan gerakan reformasi. Olivetan mengunjungi kaum Waldensia, dan ia ditugaskan untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Perancis. Ketika Calvin melarikan diri dari Perancis ke Basel pada tahun 1535, Olivetan sedang berada di sana untuk menyelesaikan proyek perintisnya tersebut. Calvin mungkin membantu sepupunya dalam tahap terakhir penerjemahan Perjanjian Baru. Calvin menulis kata pengantar dalam Bahasa Perancis dan Bahasa Latin yang untuk pertama kalinya mencerminkan dengan jelas semangat penginjilannya.

Setelah membantu memenangkan Jenewa bagi gerakan reformasi pada tahun 1533 sampai 1535, Olivetan kembali ke kaum Waldensia di Italia. Ia meninggal pada usia 32 tahun. Hubungan kedua sepupu itu tampaknya cukup dekat karena Olivetan mewariskan perpustakaannya kepada Calvin.

Lefevre D'Etaples (1455 -- 1536)

Dalam masa pertumbuhan rohaninya, Calvin mulai mengenal gerakan reformasi Perancis yang dipelopori oleh Lefevre D'Etaples, seorang ahli Alkitab yang agung. Lefevre mempelajari Alkitab secara intensif, lalu menyimpulkan bahwa Alkitab haruslah menjadi satu-satunya sumber otoritas. Ia menganjurkan cara interpretasi Alkitab "literal-spiritual". Menurut argumentasi Lefevre, satu-satunya arti yang layak bagi ayat-ayat Alkitab adalah arti yang dimaksudkan oleh Roh Kudus. Martin Luther sangat dipengaruhi oleh cara interpretasi "literal-spiritual" ini.

Bersumber pada surat-surat rasul Paulus, Lefevre juga akhirnya menyadari bahwa manusia diselamatkan hanya oleh belas kasihan dan anugerah Allah yang diterima dengan iman saja. Perbuatan baik maupun jasa manusia sama sekali tidak berperan dalam keselamatan. Ia memelopori doktrin predestinasi yang ketat; pandangannya mengenai pembenaran hanya melalui iman mendahului pandangan Luther.

Ketika mempelajari Alkitab, Lefevre merasa takjub karena tidak menemukan istilah paus, indulgensia (surat pengampunan dosa), api penyucian, tujuh sakramen, wajib selibat pastor, atau penyembahan kepada Maria. Tidak mengherankan, ia dituduh bidat di Sorbonne pada tahun 1521. Setelah itu, Lefevre bergabung dengan muridnya, Bishop Briconnet, untuk membantu membentuk keuskupan di Meux. Guillaume Farel, yang belakangan memegang peranan penting bagi Calvin dan Jenewa, juga berada di Meux. Pada tahun 1525, kebencian terhadap gerakan reformasi Lefevre semakin meningkat sehingga ia terpaksa pergi ke Strasbourg dan tinggal di sana beberapa lama. Sekembalinya dari Strasbourg, ia tinggal di Nerac sampai tutup usia, dalam perlindungan Marguerite d'Angouleme, saudari Raja.

Calvin datang ke Nerac sebagai seorang pelarian dari kekuasaan Roma Katolik; di sana ia bertemu dengan Lefevre yang sudah tua pada musim semi tahun 1534. Menurut berita, Lefevre mengatakan bahwa Calvin kelak akan menjadi "sebuah instrumen dalam mendirikan Kerajaan Allah di Perancis". Nyata bahwa pertemuan dengan Lefevre itu meyakinkan Calvin bahwa reformasi tidak akan berhasil jika ia tetap berada dalam Gereja Roma Katholik. Tak lama kemudian, Calvin memutuskan untuk memisahkan diri dari Roma.

Francis I (1515 -- 1547)

Francis I adalah Raja Perancis yang berkuasa pada masa awal gerakan reformasi Calvin. Dalam hampir seluruh masa pemerintahannya, Francis terlibat peperangan melawan Charles V, Kaisar dan Holy Roman Empire (kekaisaran pada zaman itu yang wilayahnya mencakup Jerman, Belgia, Belanda, Swiss, dan Austria), sehingga ia tidak dapat mencurahkan perhatiannya kepada hal-hal agamawi. Pada awalnya, Francis sangat toleran kepada para tokoh reformasi Perancis karena pengaruh saudarinya, Marguerite d' Angouleme. Francis bahkan memiliki hubungan yang baik dengan Lefevre D'Etaples, perintis gerakan reformasi di Perancis. Akan tetapi, semua itu berubah pada bulan Oktober 1534.

Surat Calvin yang terkenal, yang menjadi kata pengantar untuk edisi pertama buku Institutio, ditujukan kepada Francis I. Raja ini sangat marah karena protes kaum Protestan Perancis, yang dikenal sebagai "Peristiwa Plakat". Pada pagi hari tanggal 18 Oktober 1534, di seluruh Paris kaum Protestan membagikan selebaran yang mencela misa Katolik. Salah satunya bahkan ditempelkan di pintu kamar tidur Raja. Francis menunjukkan kemarahannya dengan mengikuti suatu prosesi agamawi menuju Katedral Notre Dame, yang melambangkan penyucian Paris dari kebencian. Akan tetapi, kemarahan Raja tidak cukup sampai di situ. Ia meresmikan suatu peraturan untuk menganiaya kaum Protestan; peraturan ini berlaku sampai Dekrit Nantes tahun 1598. Ratusan kaum Protestan dipenjarakan oleh Francis, dan 35 orang dibakar, termasuk beberapa sahabat Calvin. Buku Institutio ditulis oleh Calvin dalam ingatan akan para martir Perancis ini. Dalam suratnya, Calvin menulis bahwa buku Institutio ditulis untuk "membersihkan nama saudara-saudaraku yang kematiannya berharga di mata Tuhan".

Francis juga berperan dalam kedatangan Calvin ke Jenewa. Calvin tidak dapat langsung menuju Strasbourg seperti yang semula direncanakan karena Francis sedang berperang melawan Charles V, kaisar dari Holy Roman Empire, dan terpaksa melakukan perubahan arah yang bersejarah ke Jenewa itu.

Guillaume Farel (1489 -- 1565)

Farel adalah orang yang membujuk Calvin, yang ketika itu masih muda, pemalu dan enggan, untuk melayani dalam gerakan reformasi di Jenewa. Calvin yang bermaksud hanya menginap semalam di Jenewa ditahan oleh Farel "bukan terutama dengan nasihat dan desakan", tulis Calvin, "tetapi dengan kata-kata menakutkan yang saya rasakan seolah-olah Tuhan dan surga menahan saya dengan tangan-Nya yang kuat". Si rambut merah yang berapi-api, Farel, bergabung dengan gerakan reformasi Perancis yang dipimpin oleh Lefevre D'Etaples. Ketika terpaksa melarikan diri karena ancaman penganiayaan pada tahun 1523, Farel memimpin sekelompok penginjil untuk berkhotbah terutama di daerah Swiss yang berbahasa Perancis. Ia juga berada di pusat gerakan penginjilan yang membawa kota Bern dan kota Jenewa ke dalam pelukan Protestan. Setelah Farel berhasil membujuk Calvin untuk menetap di Jenewa, mereka mengadakan banyak gerakan reformasi di kota itu. Mungkin Farel adalah teman terdekat Calvin pada masa itu. Mereka mengalami banyak hal bersama; mereka sama-sama diusir dari Jenewa pada tahun 1538. Karena dibujuk lagi oleh Farel, Calvin kembali ke Jenewa pada tahun 1541. Setelah itu, Farel pergi ke Neuchatel dan terus bekerja sama dengan Calvin yang berada di Jenewa.

Persahabatan mereka menjadi renggang pada tahun 1558 ketika Farel yang telah berusia 69 tahun menikah dengan seorang gadis muda. Calvin menolak hadir dalam upacara pernikahan, tetapi persahabatan mereka tidak putus. Salah satu surat terakhir Calvin ditulis untuk Farel, dan isinya meminta Farel "untuk mengingat persahabatan kita". Walaupun sudah tua dan lemah, Farel mengunjungi sahabatnya itu menjelang Calvin meninggal pada tahun 1564. Setahun kemudian, Farel menyusul Calvin.

Martin Bucer (1491 -- 1551)

Bucer adalah guru dan mentor Calvin dalam banyak hal. Semasa pengasingannya dari Jenewa, Calvin berada di bawah pengaruh Bucer di Strasbourg. Calvin diminta datang oleh jemaat berbahasa Perancis di Strasbourg, dan kemudian kedua tokoh reformasi itu menjadi sahabat. Selama 3 tahun masa pertumbuhannya (1538 -- 1541), Calvin berguru pada Bucer. Ia menyerap pandangan-pandangan Bucer mengenai predestinasi, organisasi gereja, dan oikoumene.

Bucer menjadi seorang Protestan ketika mendengar pembelaan Martin Luther dalam Pertentangan Heidelberg pada tahun 1518. Tak lama setelah itu, Bucer, Matthew Zell, Wolfgang Capito, dan Casper Hedio memimpin gerakan reformasi di Strasbourg. Bucer terkenal karena usahanya mempertemukan Ulrich Zwingli dan Martin Luther dalam hal Perjamuan Malam Terakhir. Walaupun gagal, Bucer meneruskan usahanya untuk mempersatukan kaum Lutheran dengan cabang-cabang reformasi dalam Protestan.

Ia diasingkan dari Strasbourg pada masa Interim Augsburg pada tahun 1548 dan pergi berlayar ke Inggris untuk membantu Archbishop Cranmer dalam gerakan reformasi Inggris. Bucer diangkat menjadi profesor Regius di Cambridge dan memengaruhi penulisan Buku Doa Umum pada tahun 1549. Pengaruhnya menghilang setelah ia meninggal di Inggris pada tahun 1551.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul buku: Momentum
Judul asli artikel : Galeri Pendukung & Penentang Calvin
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : LRII, Jakarta 1996
Halaman : 46 -- 49

Thomas Aquinas

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Apakah filsafat memiliki peran dalam teologi? Pemakaian filsafat dalam disiplin teologi memiliki sejarah yang panjang, dan sering kali diterima dengan rasa curiga dan was-was oleh banyak kalangan gereja. Mengapa demikian? Sebab, filsafat dianggap memiliki potensi membuat orang teracuni dalam memahami kebenaran Alkitab. Dalam edisi kali ini, e-Reformed menyajikan sebuah artikel yang ditulis oleh Kalvin S. Budiman, yang membahas kiprah seorang tokoh utama dalam sejarah gereja pada abad pertengahan, Thomas Aquinas, yang terkenal karena tafsirannya terhadap tulisan-tulisan filsuf besar Yunani, Aristoteles, dan karena usahanya untuk memakai filsafat dalam teologi.

Dalam perkembangannya, Aquinas lebih diingat sebagai seorang filsuf ketimbang seorang teolog, apalagi penafsir Alkitab. Padahal jabatan yang diemban oleh Aquinas semasa hidupnya adalah sebagai baccalaureus biblicus dan magister in theologia. Khususnya di kalangan kaum Injili, Aquinas memiliki reputasi yang kurang baik karena dianggap telah mencemari kemurnian Injil atau teologi Kristen dengan racun pemikiran manusia atau filsafat. Hal ini mungkin mengusik kita untuk mengenal kiprah seorang Aquinas dalam usahanya memakai filsafat dalam teologi. Mari menyimak bersama artikel berikut ini. Semoga ini menjadi berkat bagi kita semua. Soli Deo Gloria.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
Edisi 165/Juni 2015
Isi: 

Dalam membangun teologinya, Aquinas mencoba untuk menghindari dua ekstrem. Di satu pihak adalah dari Averroes, seorang filsuf dan teolog Islam yang hidup satu abad sebelum Aquinas. Bagi Averroes, filsafat Aristoteles adalah klimaks perkembangan filsafat Yunani. Akan tetapi, dalam beberapa topik, filsafat Aristoteles bertentangan dengan teologi Islam. Averroes berpendapat bahwa kebenaran dalam teologi dan kebenaran dalam filsafat sifatnya berbeda. Itu sebabnya, menurut Averroes, apa yang benar menurut filsafat, bisa salah menurut teologi. Sebaliknya, apa yang benar menurut teologi, bisa salah menurut filsafat. Misalnya, menurut filsafat Aristoteles, roh manusia sifatnya tidak kekal. Hal ini benar dalam filsafat karena menurut Averroes, Aristoteles memakai pembuktian secara akali. Sedangkan di dalam teologi Islam, roh manusia dikatakan kekal karena didasarkan pada wahyu Allah. Dengan demikian, bagi Averroes, dua pernyataan yang bertentangan, satu dari filsafat dan satu lagi dari teologi, dua-duanya bisa benar. Aquinas menolak pemahaman semacam ini karena bagi dia, hanya ada satu kebenaran yang berasal dari satu sumber, yaitu Allah sendiri. Kebenaran dalam filsafat mestinya tidak bertentangan dengan kebenaran dalam teologi. Jika bertentangan, filsafat harus ditundukkan di bawah terang teologi.

Di lain pihak, ekstrem lain yang Aquinas hindari adalah pendapat dari kelompok Franciscan pada zamannya, seperti Bonaventura. Sama seperti Aquinas, Bonaventura juga percaya hanya ada satu kebenaran karena hanya ada satu sumber kebenaran, yaitu Tuhan sendiri. Yang berbeda adalah bagaimana Bonaventura mengaplikasikan prinsip ini ke dalam konteks relasi antara filsafat dan teologi. Bonaventura percaya bahwa pengetahuan yang sejati sumbernya adalah iluminasi ilahi. Tanpa pencerahan dari iman, kebenaran yang seseorang pegang bukanlah kebenaran yang sejati. Walaupun ia mengakui bahwa filsafat seperti yang dikemukakan oleh Aristoteles mengandung kebenaran, tetapi itu bukanlah kebenaran yang sejati. Berangkat dari pemahaman ini, Bonaventura tidak memberi tempat untuk Aristoteles dalam teologinya.

Aquinas mengakui bahwa filsafat sifatnya terbatas, bahkan juga mengandung "sisi gelap". Ia juga mengakui bahwa walaupun filsafat memiliki beberapa kesamaan dengan teologi, filsafat juga sering kali berseberangan. Untuk mengatasi fakta ini, Aquinas menolak dua jalan keluar di atas. Ia setuju dengan Bonaventura bahwa filsafat harus ditundukkan di bawah terang iman, tetapi ia tidak setuju dengan Bonaventura bahwa kemudian ia harus membuang filsafat begitu saja. Menurut Aquinas, kedua bidang studi ini mesti dibedakan menurut hakikat (nature) dan ruang lingkupnya (scope). Filsafat dan teologi adalah seperti akal dan wahyu, keduanya tidak bertentangan kalau masing-masing hakikatnya dimengerti dengan tepat. Akal budi manusia pada hakikatnya hanya mendemonstrasikan kebenaran sejauh kebenaran itu berkaitan dengan dunia ciptaan ini. Sementara itu, kebenaran yang berasal dari pewahyuan ilahi yang diterima melalui iman sifatnya melampaui kebenaran yang berasal dari akal budi manusia. Dengan kata lain, bagi Aquinas, sumber kebenaran hanya satu, tetapi cara untuk manusia mencapai pengetahuan, bentuknya bermacam-macam, bergantung pada objeknya. Salah satunya adalah melalui proses berpikir (filsafat), tetapi yang utama adalah melalui pewahyuan (teologi). Asalkan akal budi diletakkan sesuai dengan tempat dan kapasitasnya, baik itu filsafat maupun ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, hasil pemikiran akal budi manusiawi dapat dimanfaatkan dalam teologi. Dalam salah satu bukunya, "Summa Contra Gentiles", Aquinas berkata, "Cara seseorang menyampaikan kebenaran tidak selalu sama, dan, seperti yang dengan tepat dikatakan oleh sang filsuf [Aristoteles], 'orang yang berpendidikan tahu bagaimana menggapai pemahaman sesuai konteks penyelidikannya.'" Artinya, setiap disiplin ilmu: matematika, biologi, tata bahasa, termasuk filsafat, masing-masing memiliki cara dan batasan pengetahuan yang dapat dihasilkan karena objeknya yang berbeda-beda. Tiap-tiap disiplin ini dapat memberikan sumbangsih pada teologi sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

Jadi, dalam berteologi, akal kita dapat mempelajari kebenaran tentang Allah sebatas, misalnya, tentang keberadaan Allah atau tentang beberapa sifat Allah, tetapi kebenaran-kebenaran teologis lainnya, seperti Allah Tritunggal, letaknya di luar jangkauan filsafat atau daya nalar manusia. Kita menerima Allah Tritunggal sesuai kapasitas akal kita, tetapi kita tidak mendasarkan pemahaman kita tentang Tritunggal pada akal budi kita, melainkan pada wahyu Allah. Aquinas melihat teologi sebagai sebuah pengetahuan (science), sama seperti pengetahuan-pengetahuan lainnya, tetapi teologi sifatnya kudus (sacred science). Teologi memiliki kualitas sebagai ilmu pengetahuan, sama seperti ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, tetapi bedanya adalah teologi berkaitan erat dengan iman kita kepada Allah. Teologi adalah seperti "jalan" yang membawa manusia kembali kepada Allah. Teologi membahas tentang Allah dan segala hal yang bersangkut paut dengan Allah sebagai yang memulai (beginning) dan tujuan (end) keberadaan segala hal tersebut. Dalam pembukaan "Summa Theologiae", Aquinas menulis: "Teologi tidak membahas tentang Allah dan ciptaan secara seimbang. Yang pertama dan utama, teologi adalah tentang Allah, kemudian tentang ciptaan sejauh ciptaan bergantung pada Allah sebagai yang mengawali dan yang dituju." Pengetahuan-pengetahuan manusiawi lainnya (filsafat, matematika, seni, dan lain sebagainya) sifatnya berdikari (independent) dan tidak bertentangan dengan kebenaran-kebenaran dalam teologi, tetapi sifatnya terbatas dibandingkan dengan teologi. Bahkan, bagi Aquinas, hanya dari kacamata teologilah seseorang dapat menyatukan kebenaran-kebenaran dalam berbagai bidang studi yang manusia pelajari. Di samping itu, menurut Aquinas, teologi (sacred science) melampaui pengetahuan-pengetahuan (science) manusia lainnya karena hanya teologi yang mencakup aspek kontemplatif dan praktis. Artinya, teologi membawa manusia ke dalam kebenaran-kebenaran abstrak yang sifatnya ilahi, tetapi juga mendorong manusia untuk mengaplikasikan kebenaran-kebenaran tersebut dalam perbuatan hidup sehari-hari. Tidak heran jikalau Aquinas menegaskan bahwa teologi sama dengan hikmat atau wisdom karena hanya teologi yang mempertimbangkan penyebab yang tertinggi (Allah) dan segala ciptaan di dalam relasinya dengan Allah.

Bagi Aquinas, segala filsafat dan ilmu pengetahuan manusia lainnya yang dibicarakan oleh Aristoteles atau para filsuf lainnya bersangkut paut dengan metafisika dalam wilayah dunia ciptaan Allah. Teologi mencoba memberikan penjelasan tentang realitas ciptaan dalam kaitannya dengan Sang Pencipta. Demikian pula, filsafat mencoba untuk memahami dan menjelaskan segala aspek dalam realitas sejauh pengamatan manusia. Cara pendekatan dan sifat pengetahuannya berbeda, tetapi kebenaran hasil pengamatan manusia tidak akan bertentangan dengan kebenaran wahyu ilahi karena sumbernya sama. Demikian pula, Aquinas percaya bahwa segala pengetahuan manusia memiliki tujuan tertinggi (final dan ultimate end) yang sama, yaitu pengetahuan tentang "the past Cause" itu sendiri. Karena itu, filsafat dan semua disiplin ilmu manusia lainnya perlu dipimpin dan diarahkan oleh teologi.

Barangkali, contoh pemakaian filsafat dalam teologi dari Aquinas yang sangat terkenal adalah lima argumen (five proofs atau five ways) yang Aquinas kemukakan tentang keberadaan Allah. Ia memakai filsafat Aristoteles tentang the first mover, efficient cause, being, teleology, dan the highest good untuk membuktikan bahwa keberadaan Allah dapat dipahami oleh akal manusia. Banyak orang salah mengerti bahwa melalui lima argumen ini, Aquinas membangun teologi di atas dasar filsafat. Kalau kita membaca dengan teliti bagian dalam "Summa Theologiae" tersebut, kita akan mendapati bahwa Aquinas bukan bermaksud untuk membuktikan keberadaan Allah, dan kemudian di atasnya ia membangun teologi. Yang ia maksud adalah bahwa iman kita kepada Allah bukanlah sekadar "wishful thinking", melainkan dapat dimengerti atau didemonstrasikan secara sah oleh akal sehat. Artinya, Aquinas bukan mengatakan bahwa tanpa lima argumen tersebut, kita tidak dapat memercayai Allah atau bahwa lima argumen tersebut adalah landasan iman kita. Argumen-argumen tersebut adalah sebuah penegasan tentang iman kita. Aquinas hendak menegaskan bahwa iman kita kepada Allah adalah iman yang bisa diuji kebenarannya dengan akal budi manusia. Dengan iman, kita menerima kebenaran yang melampaui akal, tetapi bukan kebenaran itu bertentangan dengan akal manusia. Dalam banyak aspek kebenaran teologi, kita bahkan dapat memakai akal untuk menjelaskan atau mempertahankan iman Kristen. Contohnya adalah lima argumen tentang keberadaan Allah dari Aquinas.

Di bagian lain lagi, Aquinas memakai filsafat Aristoteles sebagai kerangka pemikiran, tetapi mengubah isinya dengan pemahaman dari Alkitab. Di bagian tentang hakikat manusia dan prinsip hidup manusia, Aquinas menerima pendapat Aristoteles tentang prinsip hidup manusia yang sifatnya teleologis, yaitu bahwa setiap perbuatan manusia memiliki makna untuk mencapai tujuan atau kesempurnaan (telos) manusia yang tertinggi yang bukan hanya berbentuk aktualisasi segala potensi (moral maupun intelektual) pada diri manusia, tetapi juga partisipasi di dalam keberadaan Allah sendiri. Kita berusaha untuk berbuat yang baik dan yang benar karena di dalam diri kita ada dorongan untuk menjadi makin lama makin serupa dengan Allah. Bahasa yang dipakai oleh Aquinas adalah bahasa Aristoteles tentang natur manusia yang bersifat teleologis, tetapi isi yang Aquinas berikan dalam kerangka pikir ini sama sekali asing dari Aristoteles. Aquinas memperkenalkan, misalnya, bahwa untuk mencapai telos tersebut, manusia membutuhkan kehadiran anugerah -- sebuah konsep yang sepenuhnya Kristen. Dengan berbuat demikian, ia mendapati bahwa filsafat adalah alat bantu yang efektif untuk menjelaskan tentang Allah dan manusia menurut pola pikir yang dapat dipahami oleh akal budi kita, tanpa mengorbankan isi iman Kristen.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul buku: Veritas, Jurnal Teologi dan Pelayanan
Judul bab: Mengubah Air Filsafat Menjadi Anggur Teologi
Judul artikel : Thomas Aquinas
Penulis : Kalvin S. Budiman
Penerbit : SAAT, Malang 2010
Halaman : 175 -- 179

Himne Dalam Gereja Perjanjian Baru (2)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya. Setelah kita memahami bahwa gereja PB melanjutkan tradisi yang diturunkan oleh Alkitab Ibrani dan orang-orang Yahudi pada zaman pascapembuangan, pada artikel bagian dua ini kita akan melihat bersama sisi keindahan kitab Wahyu yang penuh dengan nyanyian kidung pujian, yang juga sarat dengan nuansa kidung kemenangan. Pada akhir artikel ini, terdapat kesimpulan dari artikel bagian satu dan dua. Mari kita simak lanjutan artikel ini. Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
edisi 162/Maret 2015
Isi: 

Kitab Wahyu

Dalam Wahyu pun bertebaran kidung puji-pujian yang diunjukkan bagi Kristus Pemenang. Wahyu dapat dipahami sebagai Kitab Konflik, Kitab Kemenangan, tetapi lebih dari itu Kitab Perayaan. Kitab ini merayakan kemenangan Kristus, dengan puji-pujian yang berpusatkan Kristus sebagai klimaks karya Allah. Wahyu merekam banyak sekali nyanyian ibadah jemaat yang bernuansa kidung kemenangan (mis. 5:9-10; 11:17-18; 12:10-12; 15:3-4; 19:6-8). Perhatikan Wahyu 4:8,

"Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah,
 Yang Mahakuasa, yang sudah ada
 dan yang ada
 dan yang akan datang."

Kata "kudus" yang diulang tiga kali menyatakan penegasan. Dalam ilmu tafsir, pengulangan kata menunjukkan penekanan, maka pengulangan kata "kudus" hingga tiga kali menyatakan penekanan yang lebih lagi. Para ahli menyatakan bahwa Sanctus merupakan teks liturgis tertua yang dimiliki oleh gereja. Tak dapat diragukan, teks ini diambil dari Yesaya 6:3. Kekudusan Tuhan menarik garis antara Allah sebagai The Wholly Other, "Ia yang Sama Sekali Lain," dari ciptaan, dan Allah akan bersegera dalam menjalankan penghakiman-Nya. Allah disebut sebagai "Yang Mahakuasa" (ho pantokrator -- gelar teknis favorit penulis Wahyu bagi Allah), berarti Ia yang memiliki kuasa dan pemerintahan atas segala ciptaan. Yang "sudah ada, ada, dan akan datang" (bdk. Wahyu 1:8) menegaskan kekekalan dan kedaulatan mutlak Allah -- bahwa Allah saja yang mengendalikan masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Menurut Robert H. Mounce, ketiga penunjuk waktu ini merentangkan pemahaman mengenai penyataan nama "Yahweh" dalam Keluaran 3:14, "AKU ADALAH AKU."

Wahyu 5:9-10,

Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya:
 "Engkau layak menerima gulungan kitab itu
 dan membuka meterai-meterainya;
 karena Engkau telah disembelih
 dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka
 bagi Allah dari tiap-tiap suku
 dan bahasa
 dan kaum
 dan bangsa.
 Dan Engkau telah membuat mereka
 menjadi suatu kerajaan,
 dan menjadi imam-imam bagi Allah kita,
 dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi."

Ide "nyanyian baru" untuk merayakan kedaulatan dan betapa layaknya Allah sering muncul dalam Mazmur, di mana frasa itu mengungkapkan ibadah baru yang diilhami oleh kemurahan atau rahmat Allah. Dalam Yesaya 42:10, "nyanyian baru" berhubungan dengan eskatologi dan penyataan "hamba TUHAN" dan "sesuatu yang baru". Dalam Wahyu 14:3, "nyanyian baru" dihubungkan dengan kehadiran kerajaan akhir, dan di sini nyanyian yang baru merayakan fondasi kerajaan tersebut telah diletakkan, yaitu pengurbanan Sang Anak Domba Allah. Penggunaan kainos, "baru" di sini, dan bukan neos, "baru" -- kata terakhir tidak dipakai dalam Wahyu -- menegaskan sifat kualitatifnya, bukan perihal baru secara temporal, jenis atau gaya baru yang tidak kuno. Sifat kualitatif juga dipakai untuk "Yerusalem baru" serta "langit baru dan bumi baru"; sehingga nyanyian baru tersebut merupakan berita antisipatif akan zaman yang baru, yang akan segera datang itu, pemerintahan Kristus di dalam Kerajaan-Nya yang sempurna. Komposisi nyanyian ini adalah: (1) pernyataan betapa layaknya Sang Anak Domba, 5:9a; (2) karya keselamatan Sang Anak Domba, 5:9b; dan (3) efek bagi para pengikut Sang Anak Domba, 5:10.

Melihat keindahan kitab Wahyu yang penuh kidung pujian, maka tak berlebihan bila John Stott menyebut kitab ini sebagai sebuah sursum corda, "Angkatlah hatimu!" -- suatu seruan agar gereja bersorak-sorai oleh karena mahadaya karya Allah di dalam dan melalui Sang Mesias.

Kesimpulan

Pertama, isi berita nyanyian jemaat di PB merupakan gema crescendo dari nyanyian PL. Pusat pemberitaan nyanyian umat Allah adalah karya Allah yang mahadahsyat. Gereja memahami jati dirinya sebagai pewaris perjanjian Allah, yang sama dengan para leluhur iman di PL, dan karena itu, apa yang dinyatakan PB harus dilihat dalam kacamata teologi perjanjian. PB tidak akan pernah ada tanpa PL. PB juga tak dapat berdiri independen tanpa PL. Karena itu, warta yang terkandung dalam nyanyian-nyanyian jemaat di PB, sesungguhnya merupakan karya Allah yang sudah dinyatakan dalam PL, yang kini mencapai klimaksnya dalam Mesias Yesus dan Roh Kudus yang dicurahkan oleh Bapa serta Sang Mesias. Perhatikan Kolose 1:15-20,

15. Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan,
 yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,
16. karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu,
 yang ada di sorga dan yang ada di bumi,
 yang kelihatan dan yang tidak kelihatan,
 baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa;
 segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
17. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu,
 dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
18. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat.
 Ialah yang sulung,
 yang pertama bangkit dari antara orang mati,
 sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.
19. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia,
20. dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya,
 baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga,
 sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.

Kedua, nyanyian jemaat merupakan suatu dialog, semacam percakapan; subjek dan objek pembicaraan dalam nyanyian jemaat tidak selalu sama. Suatu kali, Allah sebagai subjek berbicara kepada manusia. Di kali lain, manusia kepada Allah. Lain kali lagi, manusia kepada manusia tentang Allah. Dan, pada kesempatan lain, manusia berbicara kepada dirinya sendiri. Oleh sebab itu, nyanyian jemaat tidak dibuat dalam bentuk-bentuk esoteris-ekstatis--bahasa-bahasa rahasia yang sulit dipahami, tetapi memakai bahasa yang menjadi alat komunikasi jemaat.

Ketiga, nyanyian jemaat memiliki pola atau patron yang khas. Dalam puisi Ibrani dikenal adanya sajak, paralelisme, dan majas. Puisi disajikan dalam baris baru, teratur dan terikat (tidak bebas), sangat memprioritaskan keselarasan bunyi bahasa, baik berupa kesepadanan bunyi, kekontrasan, maupun kesamaan. Ma Hopper menegaskan mengenai himne di PB, "These texts are set apart by the formal poetic structure and their ardor of enthusiasm". Nyanyian jemaat, dengan demikian, merupakan karya susastra bermutu tinggi dan dikerjakan dengan sangat serius serta melibatkan aspek intelektual. Inilah bukti bahwa Allah berkehendak agar umat mengasihi-Nya dengan segenap keberadaan mereka (lih. Ulangan 6:5; bdk. Markus 12:30 dan ayat-ayat paralelnya), dan adanya aturan untuk beribadah bagi umat Allah (Mazmur 122:4) sehingga segala sesuatu berlangsung dengan tertib, sopan, dan teratur (1 Korintus 14:33, 40).

Keempat, terdapat ruang yang cukup luas untuk berkreasi. Gubahan-gubahan kidung baru bertebaran di PB. Contohnya, Carmen Christi, "Kidung Kristus" dalam Filipi 2:6-11,

6. [Kristus] yang walaupun dalam rupa Allah, 
 tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu
 sebagai milik yang harus dipertahankan,
7. melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri,
 dan mengambil rupa seorang hamba,
 dan menjadi sama dengan manusia.
8. Dan dalam keadaan sebagai manusia,
 Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati,
 bahkan sampai mati di kayu salib.
9. Itulah sebabnya Allah
 sangat meninggikan Dia
 dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
10. supaya dalam nama Yesus
 bertekuk lutut
 segala yang ada di langit
 dan yang ada di atas bumi
 dan yang ada di bawah bumi,
11. dan segala lidah mengaku:
 "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Ada semacam deviasi dari kaidah standar puisi Ibrani dalam kidung di atas: tidak ada paralelisme antarbaris, dalam aturan syair, panjangnya serta suku-suku kata yang diberi tekanan. Dapat kita simpulkan, meski Allah menghendaki adanya ketertiban dengan adanya aturan dan patron yang jelas, Allah juga memberikan kemerdekaan dalam ibadah. Patron dan kemerdekaan adalah karakteristik ibadah Kristen yang dipertahankan dalam gereja-gereja Reformasi. Demikian pula seharusnya dalam puji-pujian jemaat.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul jurnal: Jurnal "Veritas" Volume 8 Nomor 2 (Oktober 2007)
Penulis artikel: Nindyo Sasongko
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara
Halaman : 207 -- 215

Komentar


Syndicate content