Historika

Teologia Historika adalah teologia yang dilihat menurut sejarah umat Allah dan Alkitab serta gereja sejak zaman Kristus.

Sebuah Tinjauan Terhadap Teologi Feminisme Kristen

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Feminisme adalah paham yang pergerakannya dimulai sejak akhir abad ke-18, yang menuntut kesetaraan hak dan perlakukan yang adil bagi wanita. Satu hal yang mendasari dan menjadi keyakinan dari pergerakan ini adalah bahwa masyarakat beserta sistem dan tatanan hukum yang ada di dunia ini bersifat patriarki sehingga menyebabkan subordinasi atau penindasan pada kaum wanita. Kesetaraan hak dan perlakuan yang adil bagi wanita kemudian menjadi tujuan dari pergerakan kaum feminis demi mengakhiri penindasan terhadap kaum wanita, yang tak jarang juga terjadi dalam gereja dan komunitas Kristen. Tak pelak, feminisme sampai kini masih menjadi suatu perdebatan panjang di kalangan orang Kristen dan gereja-gereja Tuhan, meski tak semua pihak mampu memandang dan menyikapinya dalam kacamata iman dan perspektif yang benar.

Untuk mengetahui lebih banyak mengenai teologi feminisme, publikasi e-Reformed pada bulan Agustus ini akan mengetengahkan sebuah artikel yang berisi pandangan dari beberapa teolog feminis Kristen liberal mengenai feminisme beserta dasar-dasar teologi dari Alkitab yang digunakan untuk mendukung paham dan pergerakan feminisme. Kami berharap, suguhan e-Reformed edisi 167 ini akan semakin membukakan perspektif kita dalam memandang dan menyikapi teologi feminisme, terutama dari sudut pandang Alkitab.

Untuk ikut memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70 pada bulan Agustus ini, mari kita bersyukur kepada Tuhan atas kemerdekaan yang Tuhan telah berikan kepada negara kita yang tercinta ini. Biarlah Tuhan akan terus memberikan kejayaan bagi bangsa dan negara kita, Indonesia!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
N. Risanti
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
Edisi 167/Agustus 2015
Isi: 

Pendahuluan

"If I were only meant to tend the nest, then why does my imagination sail across the mountains and the seas .... Just tell me where, where is it written what it is I'm meant to be, that I can't dare," (Jika aku ditakdirkan untuk mendiami sangkar, lalu mengapa imajinasiku berlayar mengelilingi pegunungan dan lautan ... Katakan kepadaku, di manakah hal itu tertulis bahwa itu merupakan takdirku, yang tidak dapat kulangkahi. - Red.) demikian sepenggal lirik lagu tema film Yentl, sebuah film musikal yang berkisah tentang seorang gadis Yahudi yang dibesarkan di Eropa Timur pada awal abad kedua puluh. Penggalan lirik lagu di atas adalah sebagian kecil jeritan hati Yentl, gadis belia yang hasratnya untuk mempelajari Talmud terkungkung di balik jeruji patriarkhal Yahudi yang dengan keras melarang wanita belajar agama. Wanita dianggap hanya bisa dan boleh tahu urusan dapur, anak, dan rumah tangga. Kalaupun mereka boleh membaca, jenis bacaan yang "halal" bagi mereka hanyalah roman picisan atau komik bergambar.

Jeritan hati Yentl, lepas dari apakah tokoh dan kisah tersebut adalah rekaan sang pengarang, Isaac Bashevis Singer, atau kisah nyata, bukanlah yang pertama dan satu-satunya terdengar sejak dunia ini diciptakan. Dominasi kaum pria yang, anehnya, telah berlangsung secara mengglobal jauh sebelum era globalisasi, telah menggoreskan luka yang dalam di hati banyak wanita. John Stott menggambarkan kondisi ini dengan kata-kata yang cukup tajam:

For there is no doubt that in many cultures women have habitually been despised and demeaned by men. They have often been treated as mere playthings and sex objects, as unpaid cooks, housekeepers and child-minders, and as brainless simpletons incapable of engaging in rational discussion. Their gifts have been unappreciated, their personality smothered, their freedom curtailed, and their service in some areas exploited, in others refused. (Sebab, tidak ada keraguan bahwa dalam banyak kebudayaan perempuan biasa dihina dan direndahkan oleh laki-laki. Mereka sering diperlakukan hanya sebagai mainan dan objek seks, sebagai koki tidak dibayar, pembantu rumah tangga dan pengawal anak, dan seorang bodoh yang tidak mampu terlibat dalam diskusi rasional. Talenta mereka telah tidak dihargai, kepribadian mereka ditahan, kebebasan mereka dibatasi, dan layanan mereka di beberapa wilayah dieksploitasi, serta ditolak di wilayah lain. - Red.)

Tidak heran jika timbul berbagai reaksi dari kaum wanita, mulai dari yang sekadar memendam rasa tidak puas hingga yang berani bersuara bahkan yang lebih ekstrem, memberontak terhadap tatanan yang telah berurat berakar di masyarakat. Tidak heran pula jika di berbagai penjuru dunia akan menemukan gerakan kaum wanita yang dikenal dengan istilah "feminisme", suatu gerakan yang dilandasi oleh kesadaran kaum wanita bahwa mereka adalah makhluk yang Tuhan ciptakan sederajat dengan pria.

Gerakan ini sangat terasa khususnya dalam beberapa dasawarsa terakhir abad dua puluh, sekaligus telah membawa perubahan yang sangat besar dalam masyarakat pada saat ini. Kaum wanita yang dulunya tidak memiliki posisi yang cukup berarti dan dianggap sebagai kaum lemah dalam masyarakat kini mulai mengedepan. Sejumlah besar wanita memasuki panggung politik dunia saat ini; tidak sedikit yang memegang jabatan penting di perusahaan-perusahaan besar dan sebagian lainnya meraih prestasi puncak dalam bidang pendidikan. Singkatnya, wanita kini memiliki kesempatan dalam dunia kerja dan pendidikan yang lebih luas daripada sebelumnya.

Pengaruh gerakan ini juga merambah ke dalam dunia teologi abad 20. Pada paruh kedua tahun 1960-an, teolog-teolog wanita dan mahasiswi sekolah teologi telah mengembangkan satu genre baru dalam pemikiran Kristen kontemporer yang dikenal sebagai teologi feminis. Teologi ini memiliki spektrum yang luas dan terus berkembang sehingga kalau kita berbicara tentang teologi feminis Kristen, harus jelas teologi feminis Kristen yang mana, liberal, radikal atau evangelikal, karena masing-masing memiliki arah atau penekanan yang berbeda.

Walaupun usianya masih tergolong "muda", tetapi sejak kelahirannya teologi ini telah mengalami perkembangan yang amat pesat dan menjadi teologi yang sangat signifikan pada abad 20. Kendati demikian, hal ini tidak berarti teologi feminis diterima oleh semua pihak. Bahkan sebaliknya, tidak sedikit orang atau kelompok yang menolak dan mengajukan keberatan terhadap teologi ini, misalnya orang-orang yang menyebut diri sebagai tradisionalis. Keberatan yang paling umum diajukan adalah bahwa teologi feminis bersifat subjektif dan dianggap telah mendistorsi makna teks-teks Alkitab yang menjadi dasar teologi ini. Tidak mengherankan jika teologi feminis mendapat kritik, kecaman dan serangan, bahkan penolakan.

Apakah sebenarnya teologi feminis itu? Mengapa teologi ini mendapat banyak kritik di sana-sini? Apakah teologi ini mendapat dukungan yang cukup dari Alkitab sebagai sumber teologi Kristen yang berotoritas? Untuk menjawab pertanyaan ini, pada halaman-halaman berikut secara singkat kita akan mencoba mendefinisikan feminisme Kristen, kemudian mempelajari bagaimana pandangan feminisme terhadap Alkitab serta metode berteologinya. Mengingat luasnya lingkup feminis maka pembahasan difokuskan pada teologi feminis Kristen liberal yang diwakili oleh Rosemary Radford Ruether, Letty M. Russell, dan Elizabeth Schiissler Fiorenza. Namun, sebelum masuk ke dalam pembahasan tersebut, pada bagian berikut akan kita telusuri lebih dahulu latar belakang historisnya guna lebih memahami pandangan ini.

Latar Belakang Teologi Feminis

Pandangan yang merendahkan wanita bukan hanya ada di luar kekristenan. Di dalam gereja sendiri, tragisnya, sering kali wanita dipandang sebagai harta milik, objek, polusi yang membahayakan, dan yang paling keras adalah wanita dinilai tidak mampu menjadi gambar Allah sehingga mereka dilarang untuk menjadi pemimpin, pengkhotbah, dan pengajar dalam ibadah maupun pelayan di gereja.

Paulus dalam surat-suratnya pun seolah-olah "mengonfirmasi" status dan peran wanita dalam gereja, misalnya di 1 Korintus 14:34-35 dan 1 Timotius 2:12-16. Pada kedua bagian tersebut, Paulus melarang wanita berbicara dan mengajar dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Bahkan, secara tegas, ia menulis bahwa Hawa-lah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa. Sikap Paulus tersebut sangat memengaruhi cara gereja memperlakukan wanita. Selain oleh ayat-ayat tersebut, cara bapak-bapak gereja memperlakukan wanita juga banyak dipengaruhi oleh ajaran Yunani dan Talmud. Menurut William Barclay, pandangan orang Yahudi yang merendahkan wanita tampak dalam doa pagi pria Yahudi yang terdapat dalam Talmud. Di dalam doanya setiap pagi, seorang Yahudi bersyukur karena Tuhan tidak menciptakannya sebagai seorang kafir, budak, atau wanita. Tertullian, salah seorang bapak gereja, berkata, "You [wanita] are the devil's gateway; you are the unsealer of that (forbidden) tree; you are the first deserter of the divine law ...." ("Anda [wanita] adalah pintu setan; Andalah pendobrak pohon terlarang, Andalah pembelot pertama dari hukum ilahi ...." - Red.) Tidak mengherankan jika pada zaman bapak gereja, kaum wanita hampir-hampir tidak memiliki bagian di dalam gereja. Wanita pada masa itu dianggap rendah dan berada di bawah dominasi pria. Keadaan ini terus berlanjut selama berabad-abad tanpa ada perubahan.

Pada abad pertengahan, kaum wanita mulai menyadari bahwa mereka dimarginalkan dalam urusan gereja dan masyarakat; kesempatan yang mereka miliki sangat terbatas dan tempat yang tersedia bagi mereka hanyalah dalam rumah tangga. Kesadaran akan keadaan ini mulai membawa sedikit angin perubahan. Sejumlah wanita tampil sebagai penulis-penulis spiritual dan mistik pada masa ini. Beberapa karya tulis mereka menunjukkan adanya pengertian yang mendalam tentang isu-isu filsafat. Hanya, karya tulis tersebut tidak dalam bentuk seperti tulisan para teolog gereja, tetapi lebih bersifat kontemplatif yang memperlihatkan pendekatan mereka terhadap masalah-masalah kehidupan, di mana kunci jawabannya mereka cari di dalam hal-hal spiritual.

Keadaan kaum wanita secara perlahan-lahan mengalami sedikit perubahan pada zaman Pencerahan. Semangat abad Pencerahan memberi dampak besar bagi bangkitnya para wanita, terutama di Eropa. Beberapa wanita tampil ke permukaan dan melahirkan karya tulis ilmiah tentang wanita. Gagasan kesetaraan wanita dengan pria dituangkan dalam tulisan-tulisan mereka dalam bentuk esai, disertasi, dan sebagainya. Pada abad berikutnya, muncul beberapa wanita terkemuka yang memberikan kontribusi signifikan dalam bidang sains dan filsafat; sebagian lainnya memainkan peran penting di bidang seni, pendidikan, dan politik.

Gerakan ini makin terasa pada abad ke-20, khususnya di Barat. Di Amerika Serikat yang menjadi katalisator gerakan wanita modern adalah karya monumental Betty Friedan, The Feminine Mystique (1963), yang memberikan pengaruh yang sangat kuat bagi masyarakat di negara tersebut. Pengaruhnya dapat disejajarkan dengan karya Charles Darwin, The Origin of the Species. Sejak saat itu, gerakan ini seolah tak terbendung lagi. Kini, gerakan feminisme dapat kita jumpai di belahan bumi mana pun sehingga tidak heran jika kita mengenal adanya "black feminist theology" di Afrika, feminis Islam di Indonesia, feminis Yahudi, dan sebagainya.

Dari paparan di atas tampak bahwa teologi feminisme lahir sebagai reaksi protes terhadap penindasan atas kaum wanita yang berlangsung di dalam dan luar gereja selama berabad-abad. Teolog-teolog feminis sendiri yakin bahwa pendorong gerakan mereka berakar dari pengajaran PB tentang bagaimana seharusnya orang Kristen berelasi satu dengan yang lain. Model relasi orang Kristen, khususnya pria dan wanita tidak bersifat hierarki, melainkan kesederajatan yang sempurna dan tidak boleh ada lagi peran dalam masyarakat, gereja ataupun di rumah yang berdasar pada gender.

Definisi Feminisme

Apakah feminisme dan teologi feminis itu? Untuk mendefinisikannya bukanlah hal yang mudah karena tokoh-tokoh feminis itu sendiri sangat beragam. Menurut Marcia Bunge, ada perbedaan suara antara feminis yang satu dengan yang lain, yang terlihat melalui karya tulis mereka, baik buku-buku maupun artikel-artikel, yang belakangan ini semakin marak. Dengan bervariasinya tokoh, tulisan serta pandangan mereka, sulit untuk menentukan nuansa definisi feminisme yang jelas karena tidak ada kanon tradisi feminis yang normatif ataupun rumusan kredo yang jelas.

Kendati sangat beragam dalam struktur, bentuk, dan penekanan, tetapi itu tidak berarti sama sekali tidak ada kesamaan di antara para feminis. Pamela Dickey Young mencirikan empat tema yang mempersatukan gerakan para feminis di seluruh dunia, yaitu: pertama, teologi Kristen tradisional bersifat patriarkhal. "It has been written, almost totally, by men. It has been formulated, despite claims to universality, as though maleness were the normative form of humanity." ("Telah ditulis, hampir sepenuhnya, oleh laki-laki. Ini telah dirumuskan, meskipun klaim universalitas, seakan kelelakian adalah bentuk normatif kemanusiaan." - Red.) Kedua, teologi tradisional telah mengabaikan kaum wanita serta pengalaman mereka. Ketiga, natur teologi yang patriarkhal telah memberikan konsekuensi yang merusak bagi wanita. Keempat, sebagai solusi atas ketiga masalah di atas, wanita harus menjadi teolog yang memulai usaha teologis mereka. ... women must become equal shapers of the theological enterprise. (... para wanita harus menjadi pembentuk yang setara atas masalah teologis. - Red.) Karena itu, menurut Young, setiap doktrin serta konsep teologis harus diuji kembali dari sudut kesadaran kaum wanita yang tertindas. Hal senada juga diungkapkan oleh Tolbert, "... while others understand feminism to be primarily a movement toward human equality in which oppressed and oppressor are finally reconciled. (... sementara yang lain memahami feminisme pada dasarnya merupakan gerakan menuju kesetaraan manusia ketika yang tertindas dan penindas akhirnya didamaikan. - Red.)

Dari paparan singkat di atas tampak bahwa penekanan feminisme ialah "penindasan", "patriarkhal", dan "kesetaraan". Ketiga hal ini merupakan problem yang harus dihadapi oleh wanita; kaum wanita harus berjuang melawan penindasan yang diakibatkan oleh sistem patriarkhal guna mencapai kesetaraan dengan pria. Dengan kata lain, perjuangan kaum wanita pada dasarnya ialah perjuangan untuk meraih kebebasan. Secara ringkas, bisa disimpulkan bahwa feminisme pada hakikatnya adalah gerakan pembebasan kaum wanita dari sistem yang selama ini membuat posisi mereka berada di marginal, sedangkan teologi feminis bisa disebut sebagai usaha untuk menjelaskan kembali iman Kristen dari perspektif wanita sebagai kelompok yang tertindas.

Teologi Feminisme

Pandangan terhadap Alkitab

Kalau kita berbicara mengenai teologi seseorang atau sekelompok orang, salah satu pertanyaan yang penting dan perlu diajukan adalah bagaimana pandangan orang atau kelompok orang tersebut terhadap Alkitab? Apakah Alkitab diterima sebagai firman Allah yang berotoritas? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut setidaknya menunjukkan corak teologi yang dianut seseorang atau sekelompok orang tersebut. Pandangan Fiorenza mengenai Alkitab diungkapkan dalam kalimat berikut:

A feminist hermeneutics cannot trust or accept Bible and tradition simply as divine revelation. Rather it must critically evaluate them as patriarchal articulations, since even in the last century Sarah Grimke, Matilda Joslyn Gage, and Elizabeth Cady Stanton had recognized that biblical texts are not the words of God but the words of men. (Sebuah hermeneutika feminis tidak dapat memercayai atau menerima Alkitab dan tradisi hanya sebagai wahyu ilahi. Sebaliknya, hermeneutik feminis harus kritis menilai keduanya sebagai artikulasi patriarkhal, terlebih karena Sarah Grimke, Matilda Joslyn Gage, dan Elizabeth Cady Stanton pada abad terakhir telah mengakui bahwa teks Alkitab bukanlah kata-kata Tuhan, tetapi kata-kata manusia. - Red.)

Selanjutnya, ia mengatakan: "Feminist interpretation therefore begins with hermeneutics of suspicion that applies to both contemporary androcentric interpretations of the Bible and the biblical texts themselves." (Oleh karena itu, interpretasi feminis dimulai dengan hermeneutika kecurigaan yang berlaku untuk kedua interpretasi androsentrik kontemporer Alkitab dan teks-teks alkitabiah sendiri. - Red.). Sedangkan Ruether mengalimatkan demikian: "The Bible was shaped by males in a patriarchal culture, so much of its revelatory experiences were interpreted by men from a patriarchal perspective." ("Alkitab dibentuk oleh laki-laki dalam budaya patriarkhal, begitu banyak pengalaman pewahyuan yang ditafsirkan oleh manusia dari perspektif patriarki." - Red.) Secara ringkas yang ingin disampaikan kedua tokoh ini adalah Alkitab tidak boleh diterima mentah-mentah sebagai firman Allah karena banyak unsur manusia (baca: pria) di dalamnya.

Jika ditanya mengenai inspirasi Alkitab, para feminis akan segera menjawab bahwa mereka percaya inspirasi. Akan tetapi, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa itu artinya mereka masih berada di jalur iman Kristen yang ortodoks. Simak pernyataan Russell berikut: "The Bible is especially dangerous if we call it 'the Word of God' and think that divine inspiration means that everything we read is right." (Alkitab secara khusus bersifat berbahaya jika kita menyebutnya "Firman Allah" dan berpikir bahwa inspirasi ilahiah berarti bahwa segala sesuatu yang kita baca adalah benar. - Red.) Menurut Russell, inspirasi ilahi Alkitab berarti bahwa Roh Allah memiliki kuasa untuk membuat kisah Alkitab berbicara kepada kita dari iman menuju kepada iman. Alkitab diterima sebagai firman Allah apabila komunitas iman memahami Allah berbicara kepada mereka di dalam dan melalui berita Alkitab. Pandangan "miring" tersebut tidak aneh karena kelompok feminis yang menyebut diri evangelikal pun memiliki keyakinan serupa:

[T]he Spirit of God is the ultimate author of all Scripture. The Christian church, therefore, has rightly understood the phrase "the inspiration - of Scripture" to indicate that in and through the words employed by the biblical writers God has given his word to mankind. ... the Bible is a divine/human book ... as human, this light of revelation shines in and through the "dark glass" (1 Cor. 13:12) of the "earthen vessels" (2 Cor. 4:7) who were the authors of its content at the human level. (Roh Allah adalah penulis utama dari semua Kitab Suci. Gereja Kristen, oleh karena itu, telah benar memahami frase "inspirasi dari Kitab Suci" untuk menunjukkan bahwa di dalam dan melalui kata-kata yang digunakan oleh para penulis Alkitab, Allah telah memberikan firman-Nya kepada umat manusia .... Alkitab adalah sebuah buku yang ilahiah/manusia ... bagi manusia, cahaya wahyu ini bersinar di dalam dan melalui "kaca gelap" (1 Kor 13:12.) dari "bejana tanah liat" (2 Korintus 4:7), yang merupakan penulis isinya pada tingkat manusia. - Red.)

Menurut kelompok ini, Alkitab diinspirasikan oleh Allah dalam pengertian bahwa di dalam dan melalui kata-kata yang digunakan oleh penulis Alkitab, Allah memberikan firman-Nya. Allah memakai manusia yang terbatas untuk menyatakan kehendak-Nya. Firman Allah sempurna, tetapi manusia sebagai penulis Alkitab, terbatas. Jadi, ada peluang bagi ketidaksesuaian antara firman Allah yang kekal dan kata-kata yang digunakan oleh para penulis Alkitab. Atau, dengan kata lain, Alkitab bersifat falibel serta tunduk pada keterbatasan manusia dalam menuangkan maksud Allah dalam kata-kata.

Hal serupa diungkapkan oleh Russell ketika ia berbicara tentang otoritas Alkitab. Alkitab berotoritas dalam kehidupannya karena Alkitab memahami pengalamannya dan berbicara kepadanya tentang makna dan tujuan kemanusiaannya di dalam Yesus Kristus. Dengan demikian, meskipun Alkitab ditulis dari sudut pandang patriarkhal, dan juga terdapat ketidakkonsistenan atau kontradiksi, tetap saja Alkitab berotoritas dalam kehidupannya karena kisah Alkitab membawanya kepada satu visi tentang ciptaan baru. Kalau boleh saya simpulkan, otoritas Alkitab menurut Russell adalah otoritas yang pragmatis, tidak penting apakah Alkitab bisa salah atau tidak, yang penting baginya adalah Alkitab itu memiliki kebergunaan dalam kehidupannya.

Bertitik tolak dari sini, teolog feminis berani mengatakan bahwa Paulus tak memiliki pandangan yang konsisten tentang wanita. Hal ini terjadi karena Alkitab dibentuk oleh kaum pria dari budaya patriarkhal sehingga banyak pengalaman wahyunya diinterpretasi dan ditulis dari perspektif patriarkhal. Itu sebabnya, mengapa Paulus kadang-kadang menempatkan wanita dalam posisi lebih rendah daripada pria, tetapi kadang-kadang juga sebaliknya. Jadi, ketika kita membaca Alkitab, kita tidak boleh mengabsolutkan budaya pada saat Alkitab ditulis dan untuk memperoleh kebenaran Allah, kita harus menghilangkan unsur-unsur budaya ketika melakukan interpretasi.

Catatan: partriarkhal --> patrilineal: mengenai hubungan keturunan melalui garis kerabat pria saja, bapak (KBBI).

Sumber: 

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku: Veritas, Jurnal Teologi dan Pelayanan Volume 4
Judul bab: Sebuah Tinjauan terhadap Teologi Feminisme Kristen
Judul asli artikel : Teologi Feminisme
Penulis : Lie Ing Sian
Penerbit : SAAT, Malang 2003
Halaman : 263 -- 272

Galeri Pendukung dan Penentang Calvin

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Reformasi gereja abad 15 lahir sebagai upaya untuk mereformasi gereja Katolik, diprakarsai oleh umat Katolik Eropa Barat yang menentang doktrin-doktrin palsu dan malapraktik gerejawi, khususnya ajaran dan penjualan indulgensi, serta simoni, jual-beli jabatan rohaniwan. John Calvin adalah salah satu tokoh reformasi yang hidup di tengah gejolak masa itu. Dalam perjuangannya, ia mendapat dukungan dari beberapa tokoh reformasi, tetapi tak jarang ia juga mendapat kecaman dari berbagai pihak yang menentangnya.

Untuk mengetahui siapa saja orang yang mendukung maupun mengecam Calvin, e-Reformed edisi bulan Juli ini akan menyajikan sebuah artikel berjudul "Galeri Pendukung dan Penentang Calvin". Melalui artikel ini, kita akan mengenal beberapa tokoh lain yang berpengaruh dalam perjuangan John Calvin mereformasi gereja pada masa itu. Kiranya kita boleh semakin mengerti bahwa iman yang sejati kepada Kristus tidak mudah untuk diperjuangkan dan akan terus mendapat tantangan dan ujian sepanjang zaman, seperti yang di alami oleh John Calvin semasa hidupnya. Soli Deo Gloria.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
Edisi 166/Juli 2015
Isi: 

Olivetan (1503 -- 1535)

Nama aslinya adalah Pierre Robert, dan ia adalah sepupu Calvin. Olivetan, yang berarti "Minyak Tengah Malam", adalah nama panggilan yang diperolehnya karena kebiasaannya belajar sampai larut malam. Menurut Beza, Olivetanlah yang mengobarkan api penginjilan dalam hati Calvin.

Walaupun telah saling mengenal sejak di Noyon, kampung halaman Calvin, kedua sepupu ini baru menjadi akrab ketika sama-sama belajar di Paris dan Orleans. Olivetan yang sudah menjadi seorang Protestan membangkitkan kecurigaan pemerintah sehingga pada tahun 1528, ia terpaksa melarikan diri ke tempat Martin Bucer di Strasbourg.

Pada tahun 1532, masyarakat Kristen Waldensia di daerah Piedmont, Italia, menggabungkan diri dengan gerakan reformasi. Olivetan mengunjungi kaum Waldensia, dan ia ditugaskan untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Perancis. Ketika Calvin melarikan diri dari Perancis ke Basel pada tahun 1535, Olivetan sedang berada di sana untuk menyelesaikan proyek perintisnya tersebut. Calvin mungkin membantu sepupunya dalam tahap terakhir penerjemahan Perjanjian Baru. Calvin menulis kata pengantar dalam Bahasa Perancis dan Bahasa Latin yang untuk pertama kalinya mencerminkan dengan jelas semangat penginjilannya.

Setelah membantu memenangkan Jenewa bagi gerakan reformasi pada tahun 1533 sampai 1535, Olivetan kembali ke kaum Waldensia di Italia. Ia meninggal pada usia 32 tahun. Hubungan kedua sepupu itu tampaknya cukup dekat karena Olivetan mewariskan perpustakaannya kepada Calvin.

Lefevre D'Etaples (1455 -- 1536)

Dalam masa pertumbuhan rohaninya, Calvin mulai mengenal gerakan reformasi Perancis yang dipelopori oleh Lefevre D'Etaples, seorang ahli Alkitab yang agung. Lefevre mempelajari Alkitab secara intensif, lalu menyimpulkan bahwa Alkitab haruslah menjadi satu-satunya sumber otoritas. Ia menganjurkan cara interpretasi Alkitab "literal-spiritual". Menurut argumentasi Lefevre, satu-satunya arti yang layak bagi ayat-ayat Alkitab adalah arti yang dimaksudkan oleh Roh Kudus. Martin Luther sangat dipengaruhi oleh cara interpretasi "literal-spiritual" ini.

Bersumber pada surat-surat rasul Paulus, Lefevre juga akhirnya menyadari bahwa manusia diselamatkan hanya oleh belas kasihan dan anugerah Allah yang diterima dengan iman saja. Perbuatan baik maupun jasa manusia sama sekali tidak berperan dalam keselamatan. Ia memelopori doktrin predestinasi yang ketat; pandangannya mengenai pembenaran hanya melalui iman mendahului pandangan Luther.

Ketika mempelajari Alkitab, Lefevre merasa takjub karena tidak menemukan istilah paus, indulgensia (surat pengampunan dosa), api penyucian, tujuh sakramen, wajib selibat pastor, atau penyembahan kepada Maria. Tidak mengherankan, ia dituduh bidat di Sorbonne pada tahun 1521. Setelah itu, Lefevre bergabung dengan muridnya, Bishop Briconnet, untuk membantu membentuk keuskupan di Meux. Guillaume Farel, yang belakangan memegang peranan penting bagi Calvin dan Jenewa, juga berada di Meux. Pada tahun 1525, kebencian terhadap gerakan reformasi Lefevre semakin meningkat sehingga ia terpaksa pergi ke Strasbourg dan tinggal di sana beberapa lama. Sekembalinya dari Strasbourg, ia tinggal di Nerac sampai tutup usia, dalam perlindungan Marguerite d'Angouleme, saudari Raja.

Calvin datang ke Nerac sebagai seorang pelarian dari kekuasaan Roma Katolik; di sana ia bertemu dengan Lefevre yang sudah tua pada musim semi tahun 1534. Menurut berita, Lefevre mengatakan bahwa Calvin kelak akan menjadi "sebuah instrumen dalam mendirikan Kerajaan Allah di Perancis". Nyata bahwa pertemuan dengan Lefevre itu meyakinkan Calvin bahwa reformasi tidak akan berhasil jika ia tetap berada dalam Gereja Roma Katholik. Tak lama kemudian, Calvin memutuskan untuk memisahkan diri dari Roma.

Francis I (1515 -- 1547)

Francis I adalah Raja Perancis yang berkuasa pada masa awal gerakan reformasi Calvin. Dalam hampir seluruh masa pemerintahannya, Francis terlibat peperangan melawan Charles V, Kaisar dan Holy Roman Empire (kekaisaran pada zaman itu yang wilayahnya mencakup Jerman, Belgia, Belanda, Swiss, dan Austria), sehingga ia tidak dapat mencurahkan perhatiannya kepada hal-hal agamawi. Pada awalnya, Francis sangat toleran kepada para tokoh reformasi Perancis karena pengaruh saudarinya, Marguerite d' Angouleme. Francis bahkan memiliki hubungan yang baik dengan Lefevre D'Etaples, perintis gerakan reformasi di Perancis. Akan tetapi, semua itu berubah pada bulan Oktober 1534.

Surat Calvin yang terkenal, yang menjadi kata pengantar untuk edisi pertama buku Institutio, ditujukan kepada Francis I. Raja ini sangat marah karena protes kaum Protestan Perancis, yang dikenal sebagai "Peristiwa Plakat". Pada pagi hari tanggal 18 Oktober 1534, di seluruh Paris kaum Protestan membagikan selebaran yang mencela misa Katolik. Salah satunya bahkan ditempelkan di pintu kamar tidur Raja. Francis menunjukkan kemarahannya dengan mengikuti suatu prosesi agamawi menuju Katedral Notre Dame, yang melambangkan penyucian Paris dari kebencian. Akan tetapi, kemarahan Raja tidak cukup sampai di situ. Ia meresmikan suatu peraturan untuk menganiaya kaum Protestan; peraturan ini berlaku sampai Dekrit Nantes tahun 1598. Ratusan kaum Protestan dipenjarakan oleh Francis, dan 35 orang dibakar, termasuk beberapa sahabat Calvin. Buku Institutio ditulis oleh Calvin dalam ingatan akan para martir Perancis ini. Dalam suratnya, Calvin menulis bahwa buku Institutio ditulis untuk "membersihkan nama saudara-saudaraku yang kematiannya berharga di mata Tuhan".

Francis juga berperan dalam kedatangan Calvin ke Jenewa. Calvin tidak dapat langsung menuju Strasbourg seperti yang semula direncanakan karena Francis sedang berperang melawan Charles V, kaisar dari Holy Roman Empire, dan terpaksa melakukan perubahan arah yang bersejarah ke Jenewa itu.

Guillaume Farel (1489 -- 1565)

Farel adalah orang yang membujuk Calvin, yang ketika itu masih muda, pemalu dan enggan, untuk melayani dalam gerakan reformasi di Jenewa. Calvin yang bermaksud hanya menginap semalam di Jenewa ditahan oleh Farel "bukan terutama dengan nasihat dan desakan", tulis Calvin, "tetapi dengan kata-kata menakutkan yang saya rasakan seolah-olah Tuhan dan surga menahan saya dengan tangan-Nya yang kuat". Si rambut merah yang berapi-api, Farel, bergabung dengan gerakan reformasi Perancis yang dipimpin oleh Lefevre D'Etaples. Ketika terpaksa melarikan diri karena ancaman penganiayaan pada tahun 1523, Farel memimpin sekelompok penginjil untuk berkhotbah terutama di daerah Swiss yang berbahasa Perancis. Ia juga berada di pusat gerakan penginjilan yang membawa kota Bern dan kota Jenewa ke dalam pelukan Protestan. Setelah Farel berhasil membujuk Calvin untuk menetap di Jenewa, mereka mengadakan banyak gerakan reformasi di kota itu. Mungkin Farel adalah teman terdekat Calvin pada masa itu. Mereka mengalami banyak hal bersama; mereka sama-sama diusir dari Jenewa pada tahun 1538. Karena dibujuk lagi oleh Farel, Calvin kembali ke Jenewa pada tahun 1541. Setelah itu, Farel pergi ke Neuchatel dan terus bekerja sama dengan Calvin yang berada di Jenewa.

Persahabatan mereka menjadi renggang pada tahun 1558 ketika Farel yang telah berusia 69 tahun menikah dengan seorang gadis muda. Calvin menolak hadir dalam upacara pernikahan, tetapi persahabatan mereka tidak putus. Salah satu surat terakhir Calvin ditulis untuk Farel, dan isinya meminta Farel "untuk mengingat persahabatan kita". Walaupun sudah tua dan lemah, Farel mengunjungi sahabatnya itu menjelang Calvin meninggal pada tahun 1564. Setahun kemudian, Farel menyusul Calvin.

Martin Bucer (1491 -- 1551)

Bucer adalah guru dan mentor Calvin dalam banyak hal. Semasa pengasingannya dari Jenewa, Calvin berada di bawah pengaruh Bucer di Strasbourg. Calvin diminta datang oleh jemaat berbahasa Perancis di Strasbourg, dan kemudian kedua tokoh reformasi itu menjadi sahabat. Selama 3 tahun masa pertumbuhannya (1538 -- 1541), Calvin berguru pada Bucer. Ia menyerap pandangan-pandangan Bucer mengenai predestinasi, organisasi gereja, dan oikoumene.

Bucer menjadi seorang Protestan ketika mendengar pembelaan Martin Luther dalam Pertentangan Heidelberg pada tahun 1518. Tak lama setelah itu, Bucer, Matthew Zell, Wolfgang Capito, dan Casper Hedio memimpin gerakan reformasi di Strasbourg. Bucer terkenal karena usahanya mempertemukan Ulrich Zwingli dan Martin Luther dalam hal Perjamuan Malam Terakhir. Walaupun gagal, Bucer meneruskan usahanya untuk mempersatukan kaum Lutheran dengan cabang-cabang reformasi dalam Protestan.

Ia diasingkan dari Strasbourg pada masa Interim Augsburg pada tahun 1548 dan pergi berlayar ke Inggris untuk membantu Archbishop Cranmer dalam gerakan reformasi Inggris. Bucer diangkat menjadi profesor Regius di Cambridge dan memengaruhi penulisan Buku Doa Umum pada tahun 1549. Pengaruhnya menghilang setelah ia meninggal di Inggris pada tahun 1551.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul buku: Momentum
Judul asli artikel : Galeri Pendukung & Penentang Calvin
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : LRII, Jakarta 1996
Halaman : 46 -- 49

Thomas Aquinas

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Apakah filsafat memiliki peran dalam teologi? Pemakaian filsafat dalam disiplin teologi memiliki sejarah yang panjang, dan sering kali diterima dengan rasa curiga dan was-was oleh banyak kalangan gereja. Mengapa demikian? Sebab, filsafat dianggap memiliki potensi membuat orang teracuni dalam memahami kebenaran Alkitab. Dalam edisi kali ini, e-Reformed menyajikan sebuah artikel yang ditulis oleh Kalvin S. Budiman, yang membahas kiprah seorang tokoh utama dalam sejarah gereja pada abad pertengahan, Thomas Aquinas, yang terkenal karena tafsirannya terhadap tulisan-tulisan filsuf besar Yunani, Aristoteles, dan karena usahanya untuk memakai filsafat dalam teologi.

Dalam perkembangannya, Aquinas lebih diingat sebagai seorang filsuf ketimbang seorang teolog, apalagi penafsir Alkitab. Padahal jabatan yang diemban oleh Aquinas semasa hidupnya adalah sebagai baccalaureus biblicus dan magister in theologia. Khususnya di kalangan kaum Injili, Aquinas memiliki reputasi yang kurang baik karena dianggap telah mencemari kemurnian Injil atau teologi Kristen dengan racun pemikiran manusia atau filsafat. Hal ini mungkin mengusik kita untuk mengenal kiprah seorang Aquinas dalam usahanya memakai filsafat dalam teologi. Mari menyimak bersama artikel berikut ini. Semoga ini menjadi berkat bagi kita semua. Soli Deo Gloria.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
Edisi 165/Juni 2015
Isi: 

Dalam membangun teologinya, Aquinas mencoba untuk menghindari dua ekstrem. Di satu pihak adalah dari Averroes, seorang filsuf dan teolog Islam yang hidup satu abad sebelum Aquinas. Bagi Averroes, filsafat Aristoteles adalah klimaks perkembangan filsafat Yunani. Akan tetapi, dalam beberapa topik, filsafat Aristoteles bertentangan dengan teologi Islam. Averroes berpendapat bahwa kebenaran dalam teologi dan kebenaran dalam filsafat sifatnya berbeda. Itu sebabnya, menurut Averroes, apa yang benar menurut filsafat, bisa salah menurut teologi. Sebaliknya, apa yang benar menurut teologi, bisa salah menurut filsafat. Misalnya, menurut filsafat Aristoteles, roh manusia sifatnya tidak kekal. Hal ini benar dalam filsafat karena menurut Averroes, Aristoteles memakai pembuktian secara akali. Sedangkan di dalam teologi Islam, roh manusia dikatakan kekal karena didasarkan pada wahyu Allah. Dengan demikian, bagi Averroes, dua pernyataan yang bertentangan, satu dari filsafat dan satu lagi dari teologi, dua-duanya bisa benar. Aquinas menolak pemahaman semacam ini karena bagi dia, hanya ada satu kebenaran yang berasal dari satu sumber, yaitu Allah sendiri. Kebenaran dalam filsafat mestinya tidak bertentangan dengan kebenaran dalam teologi. Jika bertentangan, filsafat harus ditundukkan di bawah terang teologi.

Di lain pihak, ekstrem lain yang Aquinas hindari adalah pendapat dari kelompok Franciscan pada zamannya, seperti Bonaventura. Sama seperti Aquinas, Bonaventura juga percaya hanya ada satu kebenaran karena hanya ada satu sumber kebenaran, yaitu Tuhan sendiri. Yang berbeda adalah bagaimana Bonaventura mengaplikasikan prinsip ini ke dalam konteks relasi antara filsafat dan teologi. Bonaventura percaya bahwa pengetahuan yang sejati sumbernya adalah iluminasi ilahi. Tanpa pencerahan dari iman, kebenaran yang seseorang pegang bukanlah kebenaran yang sejati. Walaupun ia mengakui bahwa filsafat seperti yang dikemukakan oleh Aristoteles mengandung kebenaran, tetapi itu bukanlah kebenaran yang sejati. Berangkat dari pemahaman ini, Bonaventura tidak memberi tempat untuk Aristoteles dalam teologinya.

Aquinas mengakui bahwa filsafat sifatnya terbatas, bahkan juga mengandung "sisi gelap". Ia juga mengakui bahwa walaupun filsafat memiliki beberapa kesamaan dengan teologi, filsafat juga sering kali berseberangan. Untuk mengatasi fakta ini, Aquinas menolak dua jalan keluar di atas. Ia setuju dengan Bonaventura bahwa filsafat harus ditundukkan di bawah terang iman, tetapi ia tidak setuju dengan Bonaventura bahwa kemudian ia harus membuang filsafat begitu saja. Menurut Aquinas, kedua bidang studi ini mesti dibedakan menurut hakikat (nature) dan ruang lingkupnya (scope). Filsafat dan teologi adalah seperti akal dan wahyu, keduanya tidak bertentangan kalau masing-masing hakikatnya dimengerti dengan tepat. Akal budi manusia pada hakikatnya hanya mendemonstrasikan kebenaran sejauh kebenaran itu berkaitan dengan dunia ciptaan ini. Sementara itu, kebenaran yang berasal dari pewahyuan ilahi yang diterima melalui iman sifatnya melampaui kebenaran yang berasal dari akal budi manusia. Dengan kata lain, bagi Aquinas, sumber kebenaran hanya satu, tetapi cara untuk manusia mencapai pengetahuan, bentuknya bermacam-macam, bergantung pada objeknya. Salah satunya adalah melalui proses berpikir (filsafat), tetapi yang utama adalah melalui pewahyuan (teologi). Asalkan akal budi diletakkan sesuai dengan tempat dan kapasitasnya, baik itu filsafat maupun ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, hasil pemikiran akal budi manusiawi dapat dimanfaatkan dalam teologi. Dalam salah satu bukunya, "Summa Contra Gentiles", Aquinas berkata, "Cara seseorang menyampaikan kebenaran tidak selalu sama, dan, seperti yang dengan tepat dikatakan oleh sang filsuf [Aristoteles], 'orang yang berpendidikan tahu bagaimana menggapai pemahaman sesuai konteks penyelidikannya.'" Artinya, setiap disiplin ilmu: matematika, biologi, tata bahasa, termasuk filsafat, masing-masing memiliki cara dan batasan pengetahuan yang dapat dihasilkan karena objeknya yang berbeda-beda. Tiap-tiap disiplin ini dapat memberikan sumbangsih pada teologi sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

Jadi, dalam berteologi, akal kita dapat mempelajari kebenaran tentang Allah sebatas, misalnya, tentang keberadaan Allah atau tentang beberapa sifat Allah, tetapi kebenaran-kebenaran teologis lainnya, seperti Allah Tritunggal, letaknya di luar jangkauan filsafat atau daya nalar manusia. Kita menerima Allah Tritunggal sesuai kapasitas akal kita, tetapi kita tidak mendasarkan pemahaman kita tentang Tritunggal pada akal budi kita, melainkan pada wahyu Allah. Aquinas melihat teologi sebagai sebuah pengetahuan (science), sama seperti pengetahuan-pengetahuan lainnya, tetapi teologi sifatnya kudus (sacred science). Teologi memiliki kualitas sebagai ilmu pengetahuan, sama seperti ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, tetapi bedanya adalah teologi berkaitan erat dengan iman kita kepada Allah. Teologi adalah seperti "jalan" yang membawa manusia kembali kepada Allah. Teologi membahas tentang Allah dan segala hal yang bersangkut paut dengan Allah sebagai yang memulai (beginning) dan tujuan (end) keberadaan segala hal tersebut. Dalam pembukaan "Summa Theologiae", Aquinas menulis: "Teologi tidak membahas tentang Allah dan ciptaan secara seimbang. Yang pertama dan utama, teologi adalah tentang Allah, kemudian tentang ciptaan sejauh ciptaan bergantung pada Allah sebagai yang mengawali dan yang dituju." Pengetahuan-pengetahuan manusiawi lainnya (filsafat, matematika, seni, dan lain sebagainya) sifatnya berdikari (independent) dan tidak bertentangan dengan kebenaran-kebenaran dalam teologi, tetapi sifatnya terbatas dibandingkan dengan teologi. Bahkan, bagi Aquinas, hanya dari kacamata teologilah seseorang dapat menyatukan kebenaran-kebenaran dalam berbagai bidang studi yang manusia pelajari. Di samping itu, menurut Aquinas, teologi (sacred science) melampaui pengetahuan-pengetahuan (science) manusia lainnya karena hanya teologi yang mencakup aspek kontemplatif dan praktis. Artinya, teologi membawa manusia ke dalam kebenaran-kebenaran abstrak yang sifatnya ilahi, tetapi juga mendorong manusia untuk mengaplikasikan kebenaran-kebenaran tersebut dalam perbuatan hidup sehari-hari. Tidak heran jikalau Aquinas menegaskan bahwa teologi sama dengan hikmat atau wisdom karena hanya teologi yang mempertimbangkan penyebab yang tertinggi (Allah) dan segala ciptaan di dalam relasinya dengan Allah.

Bagi Aquinas, segala filsafat dan ilmu pengetahuan manusia lainnya yang dibicarakan oleh Aristoteles atau para filsuf lainnya bersangkut paut dengan metafisika dalam wilayah dunia ciptaan Allah. Teologi mencoba memberikan penjelasan tentang realitas ciptaan dalam kaitannya dengan Sang Pencipta. Demikian pula, filsafat mencoba untuk memahami dan menjelaskan segala aspek dalam realitas sejauh pengamatan manusia. Cara pendekatan dan sifat pengetahuannya berbeda, tetapi kebenaran hasil pengamatan manusia tidak akan bertentangan dengan kebenaran wahyu ilahi karena sumbernya sama. Demikian pula, Aquinas percaya bahwa segala pengetahuan manusia memiliki tujuan tertinggi (final dan ultimate end) yang sama, yaitu pengetahuan tentang "the past Cause" itu sendiri. Karena itu, filsafat dan semua disiplin ilmu manusia lainnya perlu dipimpin dan diarahkan oleh teologi.

Barangkali, contoh pemakaian filsafat dalam teologi dari Aquinas yang sangat terkenal adalah lima argumen (five proofs atau five ways) yang Aquinas kemukakan tentang keberadaan Allah. Ia memakai filsafat Aristoteles tentang the first mover, efficient cause, being, teleology, dan the highest good untuk membuktikan bahwa keberadaan Allah dapat dipahami oleh akal manusia. Banyak orang salah mengerti bahwa melalui lima argumen ini, Aquinas membangun teologi di atas dasar filsafat. Kalau kita membaca dengan teliti bagian dalam "Summa Theologiae" tersebut, kita akan mendapati bahwa Aquinas bukan bermaksud untuk membuktikan keberadaan Allah, dan kemudian di atasnya ia membangun teologi. Yang ia maksud adalah bahwa iman kita kepada Allah bukanlah sekadar "wishful thinking", melainkan dapat dimengerti atau didemonstrasikan secara sah oleh akal sehat. Artinya, Aquinas bukan mengatakan bahwa tanpa lima argumen tersebut, kita tidak dapat memercayai Allah atau bahwa lima argumen tersebut adalah landasan iman kita. Argumen-argumen tersebut adalah sebuah penegasan tentang iman kita. Aquinas hendak menegaskan bahwa iman kita kepada Allah adalah iman yang bisa diuji kebenarannya dengan akal budi manusia. Dengan iman, kita menerima kebenaran yang melampaui akal, tetapi bukan kebenaran itu bertentangan dengan akal manusia. Dalam banyak aspek kebenaran teologi, kita bahkan dapat memakai akal untuk menjelaskan atau mempertahankan iman Kristen. Contohnya adalah lima argumen tentang keberadaan Allah dari Aquinas.

Di bagian lain lagi, Aquinas memakai filsafat Aristoteles sebagai kerangka pemikiran, tetapi mengubah isinya dengan pemahaman dari Alkitab. Di bagian tentang hakikat manusia dan prinsip hidup manusia, Aquinas menerima pendapat Aristoteles tentang prinsip hidup manusia yang sifatnya teleologis, yaitu bahwa setiap perbuatan manusia memiliki makna untuk mencapai tujuan atau kesempurnaan (telos) manusia yang tertinggi yang bukan hanya berbentuk aktualisasi segala potensi (moral maupun intelektual) pada diri manusia, tetapi juga partisipasi di dalam keberadaan Allah sendiri. Kita berusaha untuk berbuat yang baik dan yang benar karena di dalam diri kita ada dorongan untuk menjadi makin lama makin serupa dengan Allah. Bahasa yang dipakai oleh Aquinas adalah bahasa Aristoteles tentang natur manusia yang bersifat teleologis, tetapi isi yang Aquinas berikan dalam kerangka pikir ini sama sekali asing dari Aristoteles. Aquinas memperkenalkan, misalnya, bahwa untuk mencapai telos tersebut, manusia membutuhkan kehadiran anugerah -- sebuah konsep yang sepenuhnya Kristen. Dengan berbuat demikian, ia mendapati bahwa filsafat adalah alat bantu yang efektif untuk menjelaskan tentang Allah dan manusia menurut pola pikir yang dapat dipahami oleh akal budi kita, tanpa mengorbankan isi iman Kristen.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul buku: Veritas, Jurnal Teologi dan Pelayanan
Judul bab: Mengubah Air Filsafat Menjadi Anggur Teologi
Judul artikel : Thomas Aquinas
Penulis : Kalvin S. Budiman
Penerbit : SAAT, Malang 2010
Halaman : 175 -- 179

Himne Dalam Gereja Perjanjian Baru (2)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya. Setelah kita memahami bahwa gereja PB melanjutkan tradisi yang diturunkan oleh Alkitab Ibrani dan orang-orang Yahudi pada zaman pascapembuangan, pada artikel bagian dua ini kita akan melihat bersama sisi keindahan kitab Wahyu yang penuh dengan nyanyian kidung pujian, yang juga sarat dengan nuansa kidung kemenangan. Pada akhir artikel ini, terdapat kesimpulan dari artikel bagian satu dan dua. Mari kita simak lanjutan artikel ini. Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
edisi 162/Maret 2015
Isi: 

Kitab Wahyu

Dalam Wahyu pun bertebaran kidung puji-pujian yang diunjukkan bagi Kristus Pemenang. Wahyu dapat dipahami sebagai Kitab Konflik, Kitab Kemenangan, tetapi lebih dari itu Kitab Perayaan. Kitab ini merayakan kemenangan Kristus, dengan puji-pujian yang berpusatkan Kristus sebagai klimaks karya Allah. Wahyu merekam banyak sekali nyanyian ibadah jemaat yang bernuansa kidung kemenangan (mis. 5:9-10; 11:17-18; 12:10-12; 15:3-4; 19:6-8). Perhatikan Wahyu 4:8,

"Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah,
 Yang Mahakuasa, yang sudah ada
 dan yang ada
 dan yang akan datang."

Kata "kudus" yang diulang tiga kali menyatakan penegasan. Dalam ilmu tafsir, pengulangan kata menunjukkan penekanan, maka pengulangan kata "kudus" hingga tiga kali menyatakan penekanan yang lebih lagi. Para ahli menyatakan bahwa Sanctus merupakan teks liturgis tertua yang dimiliki oleh gereja. Tak dapat diragukan, teks ini diambil dari Yesaya 6:3. Kekudusan Tuhan menarik garis antara Allah sebagai The Wholly Other, "Ia yang Sama Sekali Lain," dari ciptaan, dan Allah akan bersegera dalam menjalankan penghakiman-Nya. Allah disebut sebagai "Yang Mahakuasa" (ho pantokrator -- gelar teknis favorit penulis Wahyu bagi Allah), berarti Ia yang memiliki kuasa dan pemerintahan atas segala ciptaan. Yang "sudah ada, ada, dan akan datang" (bdk. Wahyu 1:8) menegaskan kekekalan dan kedaulatan mutlak Allah -- bahwa Allah saja yang mengendalikan masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Menurut Robert H. Mounce, ketiga penunjuk waktu ini merentangkan pemahaman mengenai penyataan nama "Yahweh" dalam Keluaran 3:14, "AKU ADALAH AKU."

Wahyu 5:9-10,

Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya:
 "Engkau layak menerima gulungan kitab itu
 dan membuka meterai-meterainya;
 karena Engkau telah disembelih
 dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka
 bagi Allah dari tiap-tiap suku
 dan bahasa
 dan kaum
 dan bangsa.
 Dan Engkau telah membuat mereka
 menjadi suatu kerajaan,
 dan menjadi imam-imam bagi Allah kita,
 dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi."

Ide "nyanyian baru" untuk merayakan kedaulatan dan betapa layaknya Allah sering muncul dalam Mazmur, di mana frasa itu mengungkapkan ibadah baru yang diilhami oleh kemurahan atau rahmat Allah. Dalam Yesaya 42:10, "nyanyian baru" berhubungan dengan eskatologi dan penyataan "hamba TUHAN" dan "sesuatu yang baru". Dalam Wahyu 14:3, "nyanyian baru" dihubungkan dengan kehadiran kerajaan akhir, dan di sini nyanyian yang baru merayakan fondasi kerajaan tersebut telah diletakkan, yaitu pengurbanan Sang Anak Domba Allah. Penggunaan kainos, "baru" di sini, dan bukan neos, "baru" -- kata terakhir tidak dipakai dalam Wahyu -- menegaskan sifat kualitatifnya, bukan perihal baru secara temporal, jenis atau gaya baru yang tidak kuno. Sifat kualitatif juga dipakai untuk "Yerusalem baru" serta "langit baru dan bumi baru"; sehingga nyanyian baru tersebut merupakan berita antisipatif akan zaman yang baru, yang akan segera datang itu, pemerintahan Kristus di dalam Kerajaan-Nya yang sempurna. Komposisi nyanyian ini adalah: (1) pernyataan betapa layaknya Sang Anak Domba, 5:9a; (2) karya keselamatan Sang Anak Domba, 5:9b; dan (3) efek bagi para pengikut Sang Anak Domba, 5:10.

Melihat keindahan kitab Wahyu yang penuh kidung pujian, maka tak berlebihan bila John Stott menyebut kitab ini sebagai sebuah sursum corda, "Angkatlah hatimu!" -- suatu seruan agar gereja bersorak-sorai oleh karena mahadaya karya Allah di dalam dan melalui Sang Mesias.

Kesimpulan

Pertama, isi berita nyanyian jemaat di PB merupakan gema crescendo dari nyanyian PL. Pusat pemberitaan nyanyian umat Allah adalah karya Allah yang mahadahsyat. Gereja memahami jati dirinya sebagai pewaris perjanjian Allah, yang sama dengan para leluhur iman di PL, dan karena itu, apa yang dinyatakan PB harus dilihat dalam kacamata teologi perjanjian. PB tidak akan pernah ada tanpa PL. PB juga tak dapat berdiri independen tanpa PL. Karena itu, warta yang terkandung dalam nyanyian-nyanyian jemaat di PB, sesungguhnya merupakan karya Allah yang sudah dinyatakan dalam PL, yang kini mencapai klimaksnya dalam Mesias Yesus dan Roh Kudus yang dicurahkan oleh Bapa serta Sang Mesias. Perhatikan Kolose 1:15-20,

15. Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan,
 yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,
16. karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu,
 yang ada di sorga dan yang ada di bumi,
 yang kelihatan dan yang tidak kelihatan,
 baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa;
 segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
17. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu,
 dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
18. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat.
 Ialah yang sulung,
 yang pertama bangkit dari antara orang mati,
 sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.
19. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia,
20. dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya,
 baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga,
 sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.

Kedua, nyanyian jemaat merupakan suatu dialog, semacam percakapan; subjek dan objek pembicaraan dalam nyanyian jemaat tidak selalu sama. Suatu kali, Allah sebagai subjek berbicara kepada manusia. Di kali lain, manusia kepada Allah. Lain kali lagi, manusia kepada manusia tentang Allah. Dan, pada kesempatan lain, manusia berbicara kepada dirinya sendiri. Oleh sebab itu, nyanyian jemaat tidak dibuat dalam bentuk-bentuk esoteris-ekstatis--bahasa-bahasa rahasia yang sulit dipahami, tetapi memakai bahasa yang menjadi alat komunikasi jemaat.

Ketiga, nyanyian jemaat memiliki pola atau patron yang khas. Dalam puisi Ibrani dikenal adanya sajak, paralelisme, dan majas. Puisi disajikan dalam baris baru, teratur dan terikat (tidak bebas), sangat memprioritaskan keselarasan bunyi bahasa, baik berupa kesepadanan bunyi, kekontrasan, maupun kesamaan. Ma Hopper menegaskan mengenai himne di PB, "These texts are set apart by the formal poetic structure and their ardor of enthusiasm". Nyanyian jemaat, dengan demikian, merupakan karya susastra bermutu tinggi dan dikerjakan dengan sangat serius serta melibatkan aspek intelektual. Inilah bukti bahwa Allah berkehendak agar umat mengasihi-Nya dengan segenap keberadaan mereka (lih. Ulangan 6:5; bdk. Markus 12:30 dan ayat-ayat paralelnya), dan adanya aturan untuk beribadah bagi umat Allah (Mazmur 122:4) sehingga segala sesuatu berlangsung dengan tertib, sopan, dan teratur (1 Korintus 14:33, 40).

Keempat, terdapat ruang yang cukup luas untuk berkreasi. Gubahan-gubahan kidung baru bertebaran di PB. Contohnya, Carmen Christi, "Kidung Kristus" dalam Filipi 2:6-11,

6. [Kristus] yang walaupun dalam rupa Allah, 
 tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu
 sebagai milik yang harus dipertahankan,
7. melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri,
 dan mengambil rupa seorang hamba,
 dan menjadi sama dengan manusia.
8. Dan dalam keadaan sebagai manusia,
 Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati,
 bahkan sampai mati di kayu salib.
9. Itulah sebabnya Allah
 sangat meninggikan Dia
 dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
10. supaya dalam nama Yesus
 bertekuk lutut
 segala yang ada di langit
 dan yang ada di atas bumi
 dan yang ada di bawah bumi,
11. dan segala lidah mengaku:
 "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Ada semacam deviasi dari kaidah standar puisi Ibrani dalam kidung di atas: tidak ada paralelisme antarbaris, dalam aturan syair, panjangnya serta suku-suku kata yang diberi tekanan. Dapat kita simpulkan, meski Allah menghendaki adanya ketertiban dengan adanya aturan dan patron yang jelas, Allah juga memberikan kemerdekaan dalam ibadah. Patron dan kemerdekaan adalah karakteristik ibadah Kristen yang dipertahankan dalam gereja-gereja Reformasi. Demikian pula seharusnya dalam puji-pujian jemaat.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul jurnal: Jurnal "Veritas" Volume 8 Nomor 2 (Oktober 2007)
Penulis artikel: Nindyo Sasongko
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara
Halaman : 207 -- 215

Himne Dalam Gereja Perjanjian Baru (1)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Pujian kepada Allah adalah bagian dari kehidupan Kristen sejati. Hidup Kristen adalah hidup yang memuji Allah sampai selama-lamanya. Kali ini, artikel e-Reformed diambil dari Veritas, Journal Teologi dan Pelayanan. Artikel ini akan membawa kita untuk mengetahui tradisi pujian yang berkembang pada gereja Perjanjian Baru, yang hari ini kita kenal sebagai himne. Gereja dalam Perjanjian Baru sebenarnya mewarisi tradisi memuji Allah dari Alkitab Ibrani dan orang-orang Yahudi pada zaman pascapembuangan dengan karakter dan ciri khas yang sama, yaitu lantunan nada dipakai dalam pembacaan kitab, doa-doa, dan bermazmur.

Namun, dalam perkembangannya, Rasul Paulus menyebutkan dalam Efesus 5:19 bahwa ada tiga jenis nyanyian umat pada masa itu: mazmur (psalmos), himne (hymnos), dan nyanyian rohani (ode) yang berkembang dalam gereja Perjanjian Baru. Tentu hal ini membuat kita semakin penasaran karena gereja perdana tampaknya memang memakai kitab kidung Mazmur, tetapi tidak berhenti sampai di situ saja, gereja Perjanjian Baru memiliki kecakapan untuk mengadaptasi tema-tema teologi Perjanjian Lama dan menggubahnya menjadi komposisi nyanyian Kristen. Hingga hari ini, keberadaan himne tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan berharga gereja. Selamat membaca, kiranya artikel ini menjadi berkat bagi diri dan pelayanan Anda. Soli Deo Gloria.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
Edisi 161/Februari 2015
Isi: 

Marilah kita mengamati tempat himne dalam gereja Perjanjian Baru (PB). Bila kita amati, gereja PB melanjutkan tradisi yang diturunkan oleh Alkitab Ibrani dan orang-orang Yahudi pada zaman pascapembuangan.

Prioritas Mazmur

Dalam Alkitab Ibrani, kitab kidung Mazmur tidak hanya berisi lagu-lagu religius, tetapi juga lagu-lagu lain yang mempunyai latar belakang dalam lagu sekuler dan populer pada zaman itu, seperti lagu-lagu untuk bekerja, gita cinta, dan gita pernikahan. Kebanyakan adalah lagu pujian, ucapan syukur, doa, dan pertobatan. Juga dapat ditemukan nyanyian (Yunani ode) bersejarah yang berhubungan dengan peristiwa besar di negara Israel, misalnya Mazmur 30 "untuk penahbisan Bait Suci", dan Mazmur 137, yang memotret penderitaan orang-orang Yahudi di pembuangan. Mazmur sendiri merupakan bagian penting dalam ibadah di Bait Suci; kitab kidung Mazmur menjadi buku kidung liturgis standar ibadah umat Allah.

Himne dalam Gereja Perdana

Gereja sebenarnya mewarisi harta karun di dalam Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) yang memuji Allah dengan: (1) menyanyikan lagu-lagu bernada sederhana dan beritme ajek, (2) nyanyian jemaat dengan pengulangan bercorak antifonal dan responsori (mazmur), (3) melodi-melodi yang diolah untuk satu kata (misalnya Alleluia). Dalam sinagoge Yahudi, gaya membaca dengan lantunan nada dipakai dalam pembacaan kitab, doa-doa, dan bermazmur.

Dari survei di atas, terlihat dengan jelas peran penting nyanyian jemaat dalam gereja PB. Mazmur tetap dipertahankan. Bahkan, Hughes Oliphant Old, teolog reformed sekaligus pakar liturgi Protestan, mengatakan bahwa Mazmur merupakan pusat puji-pujian gereja PB. Bentuk ini juga yang melahirkan "mazmur-mazmur PB", seperti Magnificat atau Nyanyian Maria (Luk. 1:46-55), Benedictus atau Nyanyian Zakharia (Luk. 1:68-79) serta Nunc Dimittis atau Nyanyian Simeon (Luk. 2:29-32).

Mazmur-mazmur PB ini ditulis dalam genre (jenis sastra) mazmur ucapan syukur (lih. Mzm. 100). Dari sudut pandang teologi perjanjian, ada indikasi yang kuat bahwa mazmur PB merupakan pemenuhan mazmur PL. Umat Ibrani mengucap syukur karena Allah memerintah umat dan alam semesta. Sekarang, Mesias Yesus memerintah segala sesuatu. Karena itu, bukanlah suatu konsep asing bila umat perjanjian baru menaikkan syukur atas pemerintahan Allah. Sementara itu, komposisi-komposisi baru kidung puji-pujian (himne) berkembang pula dengan pesatnya. Ada jenis nyanyian kuno lain lagi dalam PB, yakni lirik-lirik pendek yang didendangkan seperti "Amin" (Amen), "Alleluia", dan "Kudus, kudus, kudus" (Sanctus).

Surat-Surat Rasul Paulus

Rasul Paulus menyebut tiga jenis nyanyian umat: mazmur (psalmos), himne (hymnos), dan nyanyian rohani (ode). Ia menasihati jemaat dalam Efesus 5:19, "dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyilah dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati." Demikian juga dalam Kolose 3:16, "Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu."

Menyanyikan mazmur merupakan kebiasaan yang diwarisi dari ibadah di sinagoge, dan kita dapat berasumsi bahwa "mazmur" kristiani mengikuti gaya berkidung Yahudi. Istilah "himne" sangat mungkin mengacu pada teks-teks yang digubah dalam bentuk puisi, bisa jadi mengikuti model mazmur, hanya kini ditujukan untuk memuji Kristus. "Nyanyian" merujuk pada lagu yang lebih spontan, keluar dari hati yang meluap, bergaya kontemporer, dan dinyanyikan secara melismatic (dinyanyikan hanya dalam 1 nada) dan kemungkinan cikal bakal nyanyian Alleluia. Ada dugaan bahwa nyanyian ini mirip dengan yang ditemukan dalam kelompok mistik Yahudi, yakni doa yang dinyanyikan secara ekstatis, atau dendangan tanpa kata-kata. Namun, hal yang baru saja dikemukakan ini tidak dapat dijadikan norma bagi istilah "nyanyian".

"Mazmur" (psalmos) diturunkan dari kata psallo yang artinya "memetik atau memainkan (instrumen berdawai)", maka berarti "suatu nyanyian yang dilantunkan dengan alat musik berdawai". Penemuan Gulungan Laut Mati 1QH dan 11QPsa, dan kitab Mazmur Salomo memberikan titik terang kepada kita bahwa tradisi Yahudi pada abad I S.M., telah mempraktikkan nyanyian-nyanyian mazmur gaya baru untuk digunakan dalam ibadah di sinagoge, dan hal ini berlanjut hingga periode PB. Gereja perdana tampaknya memang memakai kitab kidung Mazmur, tetapi tidak berhenti sampai di situ saja. Gereja memiliki kecakapan untuk mengadaptasi tema-tema teologi PL dan menggubahnya menjadi komposisi nyanyian Kristen. Lebih kurang berpadanan dengan mazmur, yaitu "kidung pujian" (hymnos) merujuk pada kidung yang biasanya ditujukan bagi dewata atau para pahlawan dalam dunia Greko-Romawi. Di Kisah Para Rasul 16:25, Paulus dan Silas menyanyikan hymnos di dalam penjara. Di Ibrani 2:12, penulis mengutip Mazmur 22:23, di mana pemazmur memuji Allah di tengah-tengah jemaat. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa hymnos merupakan "nyanyian untuk memuji-muji Allah." J. B. Lightfoot pernah mengatakan bahwa mazmur adalah nyanyian yang digubah langsung dari Alkitab, sedangkan himne adalah karangan yang khas dari gereja Kristen; tetapi pandangan ini belumlah final. Dari penyelidikannya, James D. G. Dunn akhirnya menyimpulkan bahwa orang-orang Kristen perdana juga memakai himne-himne yang diambil dari luar Alkitab, dan hal ini tidak diperdebatkan hingga abad III M.

Kata ketiga, ode dipakai sebagai lagu penguburan jenazah dalam suatu tragedi, tetapi lebih sering mengacu pada nyanyian sukacita atau sekadar nyanyian saja. Di PB, ode dipakai pula dalam Wahyu 5:9; 14:3; 15:3. Kata sifat yang menyertainya, "rohani", merupakan suatu lagu yang dilantunkan oleh ilham langsung dari Roh Kudus (dalam Efesus 5:19, menyanyi berhubungan dengan kepenuhan Roh Kudus). Apakah ini merujuk pada glossolalia, ricauan ekstatis non-gramatik? (Red. kata-kata diluar bahasa yang bisa dimengerti, keluar secara emosional dan tidak bertata bahasa) Sangat sulit menyimpulkan demikian karena kata ini berada dalam konteks pengajaran dan kehidupan berjemaat yang saling menasihati; mungkinkah berkata-kata satu sama lain dalam bahasa-bahasa yang tidak dimengerti? Akan tetapi, yang jelas yakni adanya unsur spontanitas dari dalam hati. Menurut N. T. Wright, ketiga istilah yang dipakai di ayat ini menunjukkan betapa kaya dan beragamnya nyanyian-nyanyian Kristen, dan kiranya tidak dipersempit menjadi satu jenis saja atau dibatasi hanya untuk keperluan ibadah mingguan. "Pada akhirnya, kita mengerti bahwa gereja Paulin (berdasarkan tradisi Paulus) memandang penting puji-pujian kepada Allah."

Hal di atas semakin dapat kita pahami dengan jelas apabila memperhatikan parafrase Efesus 5:19,

"dengan berkata-kata seorang kepada yang lain dalam mazmur-mazmur, himne dan nyanyian-nyanyian yang diinspirasikan Roh, dengan menyanyikan nyanyian-nyanyian dan memainkan alat musik dengan segenap hatimu kepada Tuhan."

Tiap-tiap klausa memiliki fokus perhatian yang spesifik: Pertama, klausa pertama berdimensi horisontal dengan titik berat pada hubungan antarjemaat, sangat mungkin dalam ibadah formal tetapi bisa dalam kesempatan lain pula. Di Efesus, kata yang lebih umum dipakai, "berkata-kata", sedangkan di Kolose kata khusus "mengajar dan menegur". Dalam hal ini, rasul memaksudkan hal yang sama, yaitu adanya pengajaran, penguatan iman, dan penghiburan dengan cara beragam nyanyian yang diilhamkan Roh. Ragam nyanyian itu disebut "rohani" tidak semata-mata berciri spontan atau ekstatis (mengalami ekstase); fokus utamanya adalah Sumber inspirasi nyanyian itu -- Roh Kudus. Fakta bahwa seorang jemaat berkata-kata kepada yang lain mengungkapkan bahwa rasul menghendaki adanya komunikasi ibadah yang dapat dimengerti -- bukan meditasi, ucapan yang tidak dapat dimengerti atau glossolalia.

Kedua, klausa kedua berdimensi vertikal dengan titik berat pada menyanyi dengan seluruh keberadaan kepada Tuhan. "Hati" merujuk kepada totalitas kehidupan seorang Kristen. Maka, pujian seharusnya dipersembahkan dari dalam hati kepada Tuhan yang satu itu, yakni Yesus Kristus. Fokus nyanyian rohani adalah Yesus sebagai Tuhan, Sang Putra yang telah mewujudnyatakan pengharapan eskatologis.

Ketiga, keduanya bukan dua aktivitas yang berbeda. Berkata-kata dengan mazmur, kidung pujian, dan nyanyian mengingatkan jemaat yang lain kepada Allah yang berkarya di dalam Tuhan Yesus Kristus, tetapi sekaligus, pada momentum yang sama, jemaat menaikkan pujian kepada Tuhan Yesus "dengan seluruh keberadaannya". Jadi, dengan menyanyi dan memainkan musik, tiap-tiap jemaat diajar dan diteguhkan imannya dan pujian dipersembahkan kepada Tuhan Yesus. Satu nyanyian memiliki dua fungsi dan tujuan sekaligus!

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul jurnal: Jurnal "Veritas" Volume 8 Nomor 2 (Oktober 2007)
Penulis artikel: Nindyo Sasongko
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara
Halaman : 207 -- 215

Dietrich Bonhoeffer dan Konteks Gereja Pada Zamannya

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Sudah lama kita tidak membahas tentang tokoh dan sejarah. Oleh karena itu, pada bulan ini, saya memilih artikel yang membahas tentang seorang tokoh gereja yang berani memperjuangkan kebenaran sampai mati pada zamannya, yaitu Dietrich Bonhoeffer. Beliau dengan berani dan tegas melawan pemerintahan diktator Hitler, yang pada saat itu melumpuhkan peran gereja dalam masyarakat. Karena kekejaman dan kekuasaan Hitler saat itu, bahkan gereja pun tutup mulut dan tutup mata. Gereja tidak berani memberikan teguran dan kritikan pada pemerintahan Hitler. Sosok seperti Bonhoeffer inilah yang dibutuhkan oleh masyarakat. Orang yang di dalam minoritas, namun tetap berani bersuara memperjuangkan kebenaran.

Meskipun pada akhirnya beliau terlibat dalam organisasi yang merencanakan pembunuhan Hitler, tetapi kita dapat mengambil makna dari keberaniannya dalam memperjuangkan kebenaran. Untuk selengkapnya, silakan menyimak artikel berikut ini. Selamat menyimak.

Pemimpin Redaksi e-Reformed, Teddy Wirawan < teddy(at)in-christ.net > < http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
edisi 150/Maret 2014
Isi: 

Gereja dan negara adalah dua lembaga dalam masyarakat. Keduanya memiliki peran yang berbeda. Gereja adalah lembaga agama, sedangkan negara adalah lembaga politik. Dampak sekularisme menyebabkan gereja hanya berperan di wilayah privat, sedangkan negara berperan di wilayah publik. Akan tetapi, benarkah dikotomi seperti ini? Apakah gereja tidak memiliki peran apa pun dalam publik karena statusnya sebagai lembaga agama? Apakah gereja harus diam terhadap masalah-masalah sosial dan politik di dalam masyarakat? Dietrich Bonhoeffer akan menjawab dengan tegas, "Tidak."

Bonhoeffer adalah seorang teolog Jerman yang melakukan perlawanan terhadap rezim Hitler. Beliau menyadari kelumpuhan yang terjadi dalam gereja yang menutup mata terhadap kebijakan-kebijakan Hitler sampai akhirnya berujung pada Holocaust. Beliau menganggap urusan rohani bukan hanya terbatas di dalam gereja, melainkan juga di luar gereja.

Kehidupan Bonhoeffer

Sebelum melihat perlawanan Bonhoeffer, kita perlu memahami latar belakang kehidupannya. Bonhoeffer hidup pada tahun 1906-1945. Dia dilahirkan dalam keluarga terpelajar yang menekankan pentingnya ilmu pengetahuan. Ayahnya bernama Karl Ludwig Bonhoeffer, seorang profesor psikiatri dan saraf di Universitas Berlin, sedangkan ibunya bernama Paula von Hase, seorang guru yang menjadi ibu rumah tangga. Pada tahun 1924, Bonhoeffer mendaftar menjadi mahasiswa fakultas teologi di Universitas Berlin dan pada tahun 1927, ia mendapat gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul "Communio Sanctorum". Pada tahun 1929, ia memperoleh jabatan profesor setelah menyelesaikan habilitasi atau disertasi kedua yang berjudul "Act and Being".

Bonhoeffer adalah seorang akademisi. Dia menghabiskan waktunya dengan mengajar dan menulis. Beberapa karyanya yang sangat terkenal adalah "The Cost of Discipleship", "Life Together", dan "Ethics". Selain itu, dia juga aktif di dalam forum gereja-gereja, baik di Jerman maupun di dunia.

Ketika Bonhoeffer hidup, Jerman sedang mengalami perubahan politik. Perubahan yang pertama adalah kehancuran Kekaisaran Wilhelmine (Kaiserreich) yang disebabkan oleh Perang Dunia I. Kekaisaran Wilhelmine didirikan oleh Otto von Bismarck pada tahun 1871 untuk menjadikan Jerman sebagai negara paling kuat di Eropa. Pada masa itu, negara yang paling disegani di Eropa adalah Kerajaan Inggris Raya, dan untuk mengalahkan Inggris, Bismarck meningkatkan kekuatan militer dan industri Jerman. Keadaan ini membawa Jerman dalam Perang Dunia I, yang berakhir dengan kekalahan Jerman tahun 1918.

Perubahan yang kedua adalah kegagalan Republik Weimar. Setelah Perang Dunia I berakhir, Jerman kembali menata kehidupannya. Kekalahan Jerman dalam perang dianggap sebagai kegagalan sistem monarki yang didukung oleh kelompok intelektual dan industrialis. Sebab itu, kelompok oposisi, yaitu buruh, mengusulkan sistem parlementer. Gagasan ini kemudian dijalankan dalam bentuk republik yang dikenal sebagai Republik Weimar. Republik ini dibentuk dari koalisi kelompok-kelompok yang antimonarki. Akan tetapi, pemerintahan ini tidak berjalan dengan baik karena kelompok yang konservatif tetap ingin mempertahankan sistem monarki Wilhelmine. Dengan demikian, dalam negara Jerman terdapat dua kekuatan yang saling berlawanan, yaitu kelompok antimonarki dan kelompok antidemokrasi.

Keadaan ini diperparah oleh masalah ekonomi. Pasca-Perang Dunia I, Jerman mengalami inflasi yang tinggi karena harus membayar utang perangnya, akibatnya pemerintah tidak sanggup mengatasi kekacauan ekonomi. Pemerintahan Weimar tidak dapat mengatasi keadaan ini sehingga harus berakhir pada tahun 1933.

Perubahan yang terakhir adalah berdirinya pemerintahan Nazi (Nasionalis Sosialis). Pada tahun 1933, Partai Nazi yang dipimpin oleh Hitler mengambil alih kekuasaan. Hitler diangkat menjadi kanselir dan berjanji akan mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran di Jerman. Sejarah masa lampau yang begitu gemilang dan kenyataan di depan mata yang begitu menyedihkan menyebabkan rakyat Jerman mengharapkan seorang pemimpin yang dapat mengembalikan kejayaan Jerman seperti di era Bismarck dan Wilhelmine. Bagi rakyat Jerman, pengembalian harga diri dan kebanggaan Jerman adalah prioritas utama dan siapa pun yang dapat melakukannya akan didukung sepenuhnya. Tidak mengherankan jika saat itu tidak banyak yang melakukan perlawanan terhadap Hitler.[1]

Hitler kemudian mengubah sistem parlementer menjadi sistem totaliter. Dia mengangkat dirinya menjadi Führer, yaitu pemimpin tertinggi. Walaupun hampir sama dengan monarki absolut, tetapi ada perbedaannya. Dalam monarki absolut masih terdapat hukum yang dibakukan, tetapi raja berada di atas hukum tersebut, sedangkan dalam sistem totaliter Hitler, seluruh hukum adalah produk dari nilai-nilai dan pengalaman pribadi Sang Führer.[2]

Kemunculan Hitler memang memberikan pengharapan kepada bangsa Jerman, tetapi menghasilkan ketakutan kepada bangsa Yahudi yang tinggal di Jerman. Demi mempersatukan semangat seluruh bangsa Jerman, Hitler meluncurkan propaganda tentang keunggulan ras Arya. Propaganda ini bertujuan untuk mengembalikan kepercayaan diri bangsa Jerman. Akan tetapi, propaganda ini kemudian diikuti dengan propaganda anti-Yahudi. Hitler menjadikan bangsa Yahudi yang tinggal di Jerman sebagai permasalahan bersama sehingga harus disingkirkan jika bangsa Jerman ingin mendapatkan kembali kejayaannya. Tentu saja propaganda ini mendapatkan dukungan dari rakyat Jerman yang sangat menginginkan Jerman kembali berjaya seperti dulu.

Hitler kemudian membuat kebijakan-kebijakan yang memisahkan bangsa Jerman dari bangsa Yahudi. Semua orang Yahudi, yang memiliki jabatan di pemerintahan ataupun universitas, diberhentikan. Bahkan, pada tanggal 1 April 1933, Hitler mengumumkan pemboikotan terhadap toko-toko yang dimiliki orang Yahudi. Toko-toko orang Yahudi dijaga oleh tentara dan diberi tanda supaya orang Jerman tidak berbelanja ke sana. Selain itu, seluruh percetakan dan penerbitan yang dimiliki orang Yahudi juga ditutup karena dituduh menyebarkan kebohongan tentang pemerintahan Nazi.

Sejak Sang Führer menduduki tampuk kekuasaan, Jerman memasuki kekelaman yang tidak disadari oleh semua orang, kecuali beberapa orang yang masih berhati nurani seperti Bonhoeffer.

Anugerah Murahan dan Harga Sebuah Pemuridan

Kebijakan anti-Yahudi ini juga berimbas pada gereja karena Hitler membuat sebuah aturan pada gereja yang disebut dengan Paragraf Aryan. Peraturan ini bertujuan agar gereja sinkron dengan kebijakan Hitler. Dalam peraturan tersebut dikatakan gereja Protestan Jerman hanya untuk keturunan Arya, dengan demikian semua orang Kristen keturunan Yahudi yang sudah dibaptis di gereja tersebut harus dikeluarkan dari keanggotaan gereja. Selain itu, semua pendeta yang berdarah Yahudi juga tidak boleh melayani dalam gereja tersebut.

Kebijakan ini disambut baik oleh sebagian besar tokoh gereja Protestan pada saat itu. Akan tetapi, bukankah kebijakan ini salah? Mengapa gereja malah mendukungnya? Semuanya ini hanya bisa dipahami dengan melihat kondisi gereja Protestan di Jerman saat itu.

Gereja Protestan di Jerman telah menempati posisi yang penting dalam negara sejak zaman Martin Luther. Penguasa negara memberikan perlindungan penuh kepada gereja Protestan dan sebaliknya, gereja pun memberikan dukungan kepada penguasa. Hubungan ini terus berlangsung pada zaman Kekaisaran Wilhelmine. Para tokoh gereja memberikan dukungan mereka kepada cita-cita Bismarck untuk menjadikan Jerman sebagai negara terkuat di seluruh Eropa dan dunia sekalipun sampai harus berperang dengan negara lain. Para tokoh gereja pada saat itu sangat dipengaruhi oleh filsafat Hegel yang menyatakan bahwa sejarah merupakan pewahyuan dari roh yang absolut sehingga mereka berpikir bahwa Jerman merupakan perwujudan dari roh yang absolut tersebut. Dengan demikian, jika Jerman menjadi penguasa dunia, berarti Kerajaan Allah sudah hadir.

Hubungan antara gereja dan negara telah menyebabkan gereja menganggap kebanggaan Jerman sebagai kebanggaan mereka juga. Dengan demikian, kekalahan Jerman dalam Perang Dunia I menyebabkan tokoh-tokoh gereja kehilangan kebanggaannya. Mereka menginginkan Jerman seperti pada era Kaisar Wilhelmine, maka tidak heran jika mereka menolak pemerintahan Republik Weimar.

Ketika Hitler muncul menjadi penguasa, dia berjanji akan mengembalikan kejayaan bangsa Jerman seperti masa lampau, tentu saja sebagian tokoh gereja bergairah mendengarkan hal ini. Selain itu, Hitler juga menunjukkan penghormatan yang tinggi kepada gereja. Dia tidak melarang gereja Protestan di Jerman bahkan menyatakan gereja merupakan sumber kebudayaan yang penting bagi rakyat Jerman. Selain itu, Hitler menyatakan ketegasannya terhadap pemerintah Stalin di Soviet yang komunis yang dianggap sebagai musuh Tuhan oleh tokoh gereja di Jerman. Keadaan inilah yang menyeret gereja kepada kampanye anti-Yahudi Hitler.

Bonhoeffer melihat kondisi ini lebih jauh. Dia menyatakan sikap gereja seperti ini disebabkan karena anugerah murahan yang telah diajarkan dalam gereja Protestan. Gereja mengajarkan tentang keselamatan melalui iman sehingga yang penting adalah percaya dan setelah itu menjadi anggota gereja dan mengikuti rutinitas gerejawi. Anugerah murahan ini menyebabkan orang-orang Kristen di Jerman sangat menyukai kenyamanan, khususnya di dalam gereja. Tidak mengherankan jika gereja tidak berani untuk menyatakan kesalahan Hitler karena Hitler tidak mengusik kenyamanan di gereja.

Bonhoeffer mengingatkan gereja pada saat itu bahwa Kristus bukan memberikan anugerah yang murah, tetapi anugerah yang mahal. Anugerah yang mahal menuntut setiap orang yang menerimanya untuk mengikut Yesus Kristus seumur hidupnya dan harus menyangkal diri dan memikul salib. Bonhoeffer menyatakan ini dalam kalimatnya yang terkenal, "Ketika Kristus memanggil seseorang, Dia memanggilnya untuk mati." Inilah yang disebut dengan harga sebuah pemuridan. Dengan demikian, setiap orang Kristen tidak boleh memikirkan kenyamanannya melainkan harus berani membayar harga demi ketaatannya pada Yesus Kristus, termasuk berani melawan pemerintah yang salah.

Gereja tidak boleh takut melawan kehendak Hitler jika memang tidak sesuai dengan kebenaran firman Allah. Bonhoeffer berkata, "The church has only one altar, the altar of the Almighty ... before which all creatures must kneel. Whoever seeks something other than this must keep away, he cannot join us in the house of God ... the church has only one pulpit, and from that pulpit, faith in God will be preached, and no other faith, and no other will than the will of God, however well-intentioned."

Bonhoeffer mendorong orang percaya agar tidak memerhatikan kenyamanan sendiri, melainkan juga kebutuhan orang lain termasuk orang tidak percaya. Gereja tidak boleh hanya memedulikan urusan internalnya, tetapi juga urusan lain yang terjadi di luar gereja. Bonhoeffer berkata, "The church is the church only when it exist for others. To make a start, it should give away all its property to those in need ... The church must share in the secular problems of ordinary human life, not dominating, but helping and serving."

Penutup

Kehidupan Bonhoeffer ditutup dengan tindakannya yang kontroversial, yaitu keterlibatannya dalam rencana pembunuhan Hitler. Hal ini menimbulkan sejumlah perdebatan etika di kalangan orang percaya. Kita tidak harus menyetujui tindakannya. Akan tetapi, Bonhoeffer menunjukkan sisi lain dari hubungan gereja dengan negara. Pada saat pemerintah melakukan keadilan, gereja harus menghormati otoritasnya tetapi ketika pemerintah melakukan ketidakadilan, bahkan kepada orang-orang di luar gereja, gereja seharusnya memberikan teguran kepada pemerintah.

Catatan Kaki:

  1. John A. Moses. Bonhoeffer’s Germany: the political context” dalam John W. de Gruchy (Ed.) “The Cambridge Companion to Dietrich Bonhoeffer” (Cambridge: Cambridge University Press, 1999), 17.

  2. Ibid, 16.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Nama situs : Buletin Pillar
Alamat situs atau URL : http://www.buletinpillar.org
Judul artikel : Dietrich Bonhoeffer
Penulis artikel : Calvin Bangun
Tanggal akses : 4 Februari 2014

Arsitek Teologi Reformasi: John Calvin

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Untuk kesekian kalinya kita akan membahas tentang Bapak Reformator yang sudah sangat kita kenal, yaitu Yohanes Calvin. Ia, bersama-sama dengan Zwingli, Farel, dan Bucer yang mendahuluinya, memberi jasa yang besar bagi perkembangan kekristenan di Indonesia. Anda mungkin bertanya: "Kok bisa?"

Jika kita membaca sejarah gerakan Reformasi, maka kita akan melihat bahwa selain di Swiss, salah satu pusat gerakannya adalah di Belanda. Semenjak abad ke-17, para misionaris Belanda, termasuk yang dikirim ke Indonesia, telah memperkenalkan Protestanisme. Diperkirakan ada 65 hingga 200 ribu jiwa yang menjadi percaya pada 1815 di bawah gereja Reformasi yang diakui pemerintah Belanda saat itu, yaitu Gereja Protestan Hindia Timur. Pada 1914, ada kira-kira setengah juta orang yang telah dibaptis di wilayah jajahan Hindia Belanda. Gerakan misi-misi Kristen ini memasuki wilayah-wilayah Indonesia yang terpencil dan mereka melayani melalui sekolah-sekolah dan balai-balai pengobatan. Mereka juga terlibat dalam memperkenalkan bahasa-bahasa daerah yang belum pernah mengenal sistem tulisan sebelumnya dengan menerbitkan bahasa cetak mereka yang pertama dalam buku-buku, terutama Alkitab dan buku-buku Kristen. Secara tidak langsung, hal-hal yang disebutkan di atas ini menjadi hasil dari buah karya gerakan Reformasi Calvin bagi gereja dan masyarakat Kristen Indonesia secara luas.

Kembali ke Eropa, hingga saat ini, kita masih bisa melihat dampak teologi Reformasi dengan melihat kota Jenewa pada khususnya dan negara Swiss pada umumnya. Negara ini terkenal sebagai wilayah yang paling rendah tingkat kriminalitasnya dan paling tinggi taraf hidup masyarakatnya. Mengapa dampak teologi Reformasi ini bisa sedemikian luas dan kuat? Silakan membaca artikel di bawah ini dan Anda akan memahami jawabannya.

In Christ,
Redaksi Tamu e-Reformed,
Kusuma Negara
http://reformed.sabda.org/

Penulis: 
W. Andrew Hoffecker
Edisi: 
111/V/2009
Tanggal: 
27-5-2009
Isi: 

Apabila Luther adalah prajurit yang meluncurkan tembakan pembukaan Reformasi, maka Calvin adalah pakar utama yang mengonsolidasikan hasil-hasil kemajuan Protestan. Ia berusaha mereformasi bukan hanya doktrin dan organisasi gereja, seperti yang dilakukan oleh Luther, tetapi juga tatanan sosial-politik sesuai dengan firman Allah. Lahir di Noyon, Perancis, pada tahun 1509, 8 tahun sebelum Luther memakukan 95 tesisnya di pintu gereja di Wittenberg, Calvin adalah tokoh Reformasi generasi kedua. Ia belajar di beberapa sekolah untuk mendapat pendidikan humanisme.

Setelah ayahnya meninggal, ia meninggalkan studi hukumnya dan beralih
ke teologi. Seperti Luther, ia mengalami pertobatan yang dramatis,
namun ia tidak digerakkan oleh rasa bersalah dan rasa takut yang
mencekam seperti rekan Jermannya itu. Ketika penganiayaan hebat pecah
menimpa para tokoh Reformasi Protestan, Calvin berpindah-pindah untuk
seketika lamanya di Perancis dengan beberapa nama samaran, dan
kemudian menetap di Basel, Swiss, di mana ia mulai menulis bukunya,
Institutes of the Christian Religion.

Di antara banyak kontribusi yang diberikan oleh Calvin bagi Reformasi, buku ini yang paling bertahan. Menjelang penerbitan edisi terakhirnya tahun 1559, buku ini telah bertumbuh dari eksposisi ringan doktrin Kristen (enam bab) menjadi karya teologi Reformasi yang paling signifikan. Mula-mula buku ini adalah suatu diskusi tentang Sepuluh Perintah Allah, Pengakuan Iman Rasuli, dan Doa Bapa Kami. Dalam bentuk finalnya yang terdiri dari delapan puluh bab, buku ini diorganisasi menjadi empat buku yang terdiri dari pokok bahasan tentang Allah, Kristus, Roh Kudus, dan gereja.

Pada tahun 1536, Calvin dengan enggan menyetujui untuk membantu William Farel, yang mengancam dia dengan hukuman ilahi apabila ia tidak mau bergabung dengan usaha Reformasi di Jenewa. Calvin dan Farel mencoba untuk menjadikan kota itu sebagai satu model komunitas Kristen dengan menegakkan hukum moralitas yang tinggi.

Tetapi orang-orang Jenewa yang liberal menghalangi usaha-usaha reformasi itu. Setelah diusir oleh kota itu, Calvin kemudian pergi ke Strassbourg di mana ia menggembalakan sebuah gereja dari para pengungsi Protestan Perancis selama 3 tahun. Itu adalah tahun-tahun kehidupannya yang paling bahagia. Ia mendapatkan seorang istri, menulis sebuah liturgi Protestan untuk menggantikan aturan ibadah Katolik, bekerja bersama para tokoh Reformasi Jerman untuk mempersatukan kembali gereja, dan mulai menulis tafsiran-tafsirannya, yang akhirnya meliputi 49 kitab Alkitab.

Kemudian Jenewa memanggilnya kembali. Melalui aklamasi publik, Calvin kembali pada tahun 1541 karena para penerusnya gagal dalam kepemimpinan mereka. Di bawah bimbingan Calvin, Jenewa menjadi sentra internasional gerakan Reformasi. Pandangan-pandangan teologis, sosial, dan politiknya dikagumi di banyak negara ketika para pengungsi Protestan dari seluruh Eropa berkumpul di Jenewa di mana mereka mendirikan gereja-gereja lokal mereka sendiri. Calvin menjadi satu-satunya tokoh Reformasi internasional melalui korespondensi yang luas dengan para pengungsi ini ketika mereka kembali ke negeri mereka masing-masing sebagai misionaris-misionaris bagi Protestanisme.

Teologi Calvin: Kedaulatan Allah

Ide-ide Calvin, seperti juga ide-ide Luther, pada dasarnya menghidupkan kembali Augustinianisme. Prinsip fundamental yang mengisi setiap bab Institutes-nya adalah pandangannya tentang Allah sebagai Raja yang berdaulat atas segala ciptaan. Kedaulatan Allah bukanlah suatu ide yang abstrak dan spekulatif, tetapi merupakan suatu prinsip yang dinamis, suatu realitas yang menginformasikan kehidupan yang konkret, yang membentuk diskusi Calvin tentang setiap doktrin. Calvin berkeinginan bahwa pengenalan orang-orang percaya akan Allah "lebih berisi pengalaman hidup daripada spekulasi yang melayang tinggi dan sia-sia" (Institutes 1. 10. 2).

Dari semua atribut Allah, yang paling penting untuk dialami secara pribadi adalah providensi-Nya karena atribut ini paling konkret menunjukkan kedaulatan-Nya. Providensi Allah tak dapat dipisahkan dari karya-Nya sebagai Pencipta. Tetapi jika Allah hanya sekadar Pencipta, Ia tidak akan berhubungan dengan ciptaan itu, sama seperti seorang pembuat jam yang tidak lagi terlibat dengan beroperasinya sebuah jam setelah ia membuatnya. Sebab itu, Calvin memandang providensi pemeliharaan Allah meliputi seluruh tatanan ciptaan. "Ia menopang, memberi makan, dan memerhatikan segala sesuatu yang telah dijadikan-Nya, bahkan burung pipit yang tak berarti sekalipun" (Institutes 1. 16. 1). Rencana rahasia Allah mengatur segala eksistensi, dari benda-benda yang tak berjiwa sampai kehidupan binatang dan juga manusia. Kehendak Allah yang tak terselidiki akan mengarahkan segala sesuatu. Implikasi-implikasi pandangan tentang Allah ini jelas sangat luas. Calvin bersikeras bahwa pandangannya tidak memimpin ke dalam fatalisme atau menolak tanggung jawab manusia. Berulang-ulang, ia menegaskan bahwa perhatian utamanya adalah menerangkan apa yang diajarkan oleh Alkitab tentang pokok yang sukar ini. Allah tidak berlaku seperti tuan tanah yang tidak ada di tempat. Ia secara akrab melibatkan diri dengan ciptaan. Calvin mengutip beberapa nas dari Perjanjian Lama maupun Baru untuk mendukung kendali Allah yang menyeluruh atas apa yang telah dijadikan-Nya. Sementara menegaskan providensi Allah, ia menolak gagasan tentang nasib, kebetulan, dan keberuntungan serta menganggapnya sebagai "temuan-temuan kafir".

Sebab itu, sejak awal Calvin membicarakan doktrin tentang Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara, bukan sebagai Penyebab pertama atau Penggerak yang tidak digerakkan, yang abstrak dan impersonal. Termasuk dalam gagasan tentang Allah sebagai Pencipta adalah bahwa Allah berpribadi dan bahwa Ia berkehendak dan mengatur apa yang telah dijadikan-Nya. Tidak seperti pandangan Aquinas, ide Calvin tentang Allah yang berpribadi tidak ditambahkan setelah ia terlebih dahulu membuktikan eksistensi-Nya (seperti yang dilakukan oleh Aquinas ketika mengadaptasi bukti-bukti rasional Aristoteles tentang suatu Penggerak yang tidak digerakkan atau Penyebab pertama). Calvin menolak dan menganggap tidak alkitabiah segala ide tentang Allah sebagai sekadar Penggerak pertama yang mengawali "suatu gerakan universal tertentu, menggerakkan seluruh mesin dunia dan masing-masing bagiannya" (Institutes 1. 16. 1). Allah itu berpribadi dan secara aktif berpartisipasi dalam ciptaan.

Dengan demikian, Calvin membicarakan providensi Allah tidak sekadar untuk isi intelektual dari providensi tersebut, tetapi untuk nilai religius praktis yang luar biasa besarnya bagi orang beriman. Kepercayaan pada providensi Allah memberi penghiburan besar kepada orang beriman bahwa segala kehidupan berada di bawah kendali Bapa surgawi yang penuh kasih. Pada saat yang sama, kepercayaan ini memberi suatu rasa takjub dan takut yang sepantasnya terhadap Allah, karena dalam rencana-Nya, Allah juga menyatakan kepada orang-orang Kristen tanggung jawab mereka untuk menemukan dan menggenapi kehendak-Nya. Berusaha mempertemukan kedaulatan Allah dengan tanggung jawab manusia, Calvin menegaskan penundukkan pada kehendak Allah dan mengakui serta menerima bagaimana Allah memakai keadaan-keadaan sekitar untuk mengajar kita taat pada firman-Nya.

Hati orang Kristen, karena ia telah diyakinkan bahwa segala sesuatu terjadi oleh rencana Allah, dan bahwa tidak ada suatu apa pun yang terjadi secara kebetulan, akan selalu melihat kepada-Nya sebagai Penyebab utama dari segala hal, tetapi juga akan memberi perhatian pada penyebab-penyebab kedua di tempat mereka yang sepantasnya .... Sejauh menyangkut manusia, apakah ia baik atau jahat, hati orang Kristen akan mengetahui bahwa segala rencana, kehendak, usaha, dan kemampuan manusia berada dalam tangan Allah; bahwa itu berada dalam pilihan-Nya untuk mengarahkannya sesuai dengan kehendak-Nya atau mengekangnya kapan pun Ia menghendakinya (Institutes 1. 17. 6).

Orang-orang Kristen tidak hanya mengerti dan mengalami providensi Allah melalui iman, tetapi juga menyerahkan kehendak mereka pada kedaulatan Allah untuk menaati perintah-perintah-Nya. Kaum Calvinis dilegakan dari kecemasan yang menulahi orang-orang tak percaya yang tidak menyadari maksud dan rencana Allah yang sedang dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun menjalankan tanggung jawab mereka sendiri untuk mengatur kehidupan mereka sehari-hari menurut prinsip-prinsip alkitabiah, kaum Calvinis mengakui dan menerima dengan iman yang sederhana bahwa apa pun yang terjadi berada di bawah pemeliharaan providensia Allah.

Antropologi Calvin: Penciptaan, Kejatuhan, Penebusan

Karena Allah adalah Raja yang berdaulat yang memerintah atas ciptaan-Nya, maka segala sesuatu yang diciptakan-Nya, termasuk manusia, harus melayani dan memuliakan Dia. Moto Calvin menjelaskan tugas kita: "Hatiku kupersembahkan kepada-Mu, O Tuhan, siap dan tulus."

Karena manusia telah berdosa, mereka tidak hidup sesuai maksud asali mereka. Seperti Luther, Augustinus, dan Paulus, Calvin dengan tajam mempertentangkan kemuliaan dan ketulusan asali manusia sebagai gambar Allah dengan kerusakan dan kefasikannya setelah kejatuhan.

Alkitab melukiskan manusia yang telah jatuh sebagai manusia yang tidak memunyai kebaikan dan kekuatan. Tidak ada perbuatan manusia yang tak ternodai oleh kerusakan yang diakibatkan oleh kejatuhan itu. Meskipun gambar ilahi tidak sama sekali rusak, tetapi gambar ini telah mengalami distorsi yang luar biasa. Dihukum karena dosanya dengan diambil hikmat dan kebenarannya, Adam menunjukkan kebodohan, kesia-siaan, dan kefasikan. Adam yang telah jatuh ini menurunkan pembawaan-pembawaan ini kepada keturunannya dalam kesalahan dan kerusakan yang disebut sebagai "dosa asal". Dosa asal bukan hanya kerusakan yang diwariskan, tetapi juga, menurut Calvin, merupakan kesalahan yang diimputasikan, suatu putusan hukum yang dikenakan oleh Allah seperti dalam sidang pengadilan. Mengulangi pengajaran Paulus dalam Roma 5, Calvin mengajarkan bahwa Adam berdosa bukan sekadar bagi dirinya, tetapi sebagai seorang wakil federal bagi seluruh umat manusia, sama seperti Kristus, "Adam Kedua", yang mati sebagai wakil bagi dosa manusia.

Kerusakan yang kita warisi berarti bahwa setiap kehendak individual diperbudak oleh dosa, dan kita sama sekali tidak dapat melakukan yang baik. Manusia yang jatuh tidak memunyai kehendak bebas moral. Karena kehendak manusia dalam keadaan naturalnya, belum ditebus, adalah hamba dosa, hanya orang-orang yang telah dibebaskan oleh anugerah Allah-lah yang adalah agen-agen moral yang bebas. Tidak setuju dengan banyak filsuf, Calvin bersikeras bahwa kehendak dan rasio manusia begitu dilumpuhkan oleh dosa sehingga ia tidak dapat berfungsi seperti yang dimaksudkan sejak asalnya, manusia tidak dapat berbuat baik dan menyembah Allah. Calvin berpendapat bahwa, di antara semua Bapa Gereja, hanya Augustinus yang mengenali cakupan sepenuhnya dari kerusakan manusia. Dosa begitu merusakkan natur manusia sehingga manusia dalam keberadaan totalnya (akal, kehendak, afeksi, dsb.) dapat melakukan yang baik yang diwajibkan Allah baginya hanya melalui anugerah Allah saja.

Pandangan Calvin tentang keselamatan adalah bahwa dalam kasih dan ketaatan dan sebagai pengganti, Kristus telah membayar hukuman bagi dosa di Kalvari untuk menyelamatkan orang-orang yang telah dipilih Allah untuk diselamatkan. Dalam penebusan, anugerah Allah diimputasikan kepada (dianggap sebagai milik) orang-orang percaya, bukan diinfusikan (dicurahkan) ke dalam diri orang-orang percaya. Calvin menerangkan doktrin keselamatan dalam pembicaraannya tentang karya Roh Kudus, yang menerapkan karya Kristus kepada orang percaya. Roh menciptakan pertobatan dan iman dalam hati serta memperbarui gambar Allah dalam orang-orang yang telah dipilih untuk ditebus itu. Mengikuti Paulus dalam Efesus 2:8-9, Calvin menyatakan bahwa iman adalah sarana yang melaluinya orang-orang percaya dipersatukan dengan Allah, tetapi iman itu sendiri adalah suatu pemberian dari Allah. Perbuatan baik mengikuti iman, tetapi tidak dapat menjadi dasar bagi keselamatan. Dalam keselamatan, seperti dalam penciptaan dan penataan dunia, tema Calvin yang berulang adalah kebergantungan manusia pada kedaulatan Allah.

Calvin memakai istilah pemilihan untuk menerangkan bagaimana kedaulatan Allah beroperasi dalam keselamatan. Hanya setelah memahami kondisi keberdosaan manusia, kita dapat memahami keniscayaan adanya pilihan. Orang-orang yang tidak menegaskan pemilihan oleh Allah, menurut pendapat Calvin, cenderung kepada berbagai bentuk Pelagianisme, yang mengajarkan bahwa manusia dapat mengusahakan keselamatan mereka sendiri tanpa anugerah Allah atau memerlukan anugerah untuk membantu mereka dalam usaha menyelamatkan diri sendiri. Doktrin Calvin tentang pilihan atau predestinasi menentang pandangan Renaisans tentang "homo mensura" (manusia adalah ukurannya) dan gagasan abad pertengahan tentang anugerah kooperatif, yang keduanya mendukung otonomi manusia.

Dalam menerangkan tentang doktrin pilihan, Calvin menegaskan hanya ide-ide yang secara jelas diajarkan dalam Alkitab. Ia mencela setiap teologi yang melampaui pengajaran eksplisit Alkitab sebagai pemikiran spekulatif. Sebab itu, argumen pertamanya adalah bahwa Alkitab secara gamblang mengajarkan tentang pemilihan melalui istilah-istilah seperti memilih, mempredestinasi, dan lain-lain. Misalnya, dalam Perjanjian Lama, Allah memilih Israel untuk menerima penyataan khususnya dalam kovenan dengan Musa. Allah memilih Israel bukan karena ada jasa atau ada kualitas tertentu yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi, tetapi hanya karena Ia berkehendak menunjukkan anugerah-Nya dengan menebus mereka sebagai satu umat (lih. Ul. 7:7-8). Bahkan di dalam Israel, tidak semua orang dipilih, tetapi hanya satu "sisa" (Kej. 45:7; Yes. 10:21). Calvin mengutip kedaulatan Allah dalam "memilih Yakub dan menolak Esau" sebagai contoh pemilihan (Rm. 9:13). Dengan demikian, pemilihan bersifat kolektif dan juga individual dalam Alkitab. Dari Abraham sampai para nabi, Allah memanggil satu bangsa untuk menjadi milik-Nya.

Calvin mencatat banyak nas dalam Perjanjian Baru yang mengilustrasikan kedaulatan Allah dalam pemilihan dan predestinasi. Misalnya, pernyataan Yesus: "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu" (Yoh. 15:16) (*1), dan perkataan Paulus, "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan .... Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya" (Ef. 1:4-5) (*2), meneguhkan kedaulatan Allah dalam pilihan. Calvin menyimpulkan bahwa Alkitab dengan jelas mengajarkan predestinasi. Kedaulatan anugerah Allah dalam pemilihan adalah keniscayaan karena manusia mati dalam dosa, tanpa kebebasan kehendak yang sejati, manusia tidak dapat memilih Allah bagi dirinya sendiri. Tanpa predestinasi, Allah tidak berdaulat, umat manusia akan terhilang dalam dosa secara kekal. Dalam rencana penebusan-Nya, Allah memilih untuk menebus sebagian manusia untuk memuliakan nama-Nya yang kudus. Alasan mengapa Ia memilih metode keselamatan seperti itu berada dalam kehendak-Nya sendiri yang berdaulat.

Akhirnya, Calvin menjawab keberatan-keberatan yang diajukan terhadap doktrin pemilihan. Tanggapan-tanggapan mengambil beberapa bentuk:

(1) Sebelumnya ia telah menyatakan bahwa kehendak bebas adalah suatu ciptaan filsafat yang keliru. Jika manusia "mati dalam dosa" (Ef. 2:1), maka hanya anugerah Allah saja yang dapat menyelamatkannya. Pengajaran alkitabiah tentang dosa asal menjawab banyak keberatan terhadap doktrin pilihan, karena kerusakan manusia adalah suatu presuposisi penting tentang keniscayaan predestinasi Allah yang berdaulat.

(2) Sebagian keberatan adalah karena menganggap pemilihan itu tidak adil, membuat rasa tanggung jawab kita menjadi tidak ada artinya. Calvin menjawab bahwa dalam Alkitab, Allah sendiri adalah prinsip keadilan yang tertinggi. Seperti yang terlihat jelas dalam contoh Perjanjian Lama tentang Ayub, manusia tidak boleh memegahkan diri dan menuduh Allah tidak adil jika Ia memilih sebagian dan menolak sebagian lainnya. Mempertanyakan tindakan Allah menyiratkan bahwa kita dapat meminta pertanggungjawaban dari Allah, yang berarti menempatkan diri kita atau klaim-klaim kita di atas Dia. Itu adalah puncak arogansi manusia. Keadilan Allah jauh lebih tinggi melampaui segala konsepsi manusia tentang keadilan.

Bertentangan dengan pendapat umum, kata Calvin, kedaulatan Allah tidak meniadakan tanggung jawab manusia. Meskipun kedua hal ini tampaknya tidak dapat diperdamaikan, Alkitab meneguhkan kedua fakta ini, yaitu bahwa anugerah yang berdaulat adalah satu-satunya sarana yang melaluinya kita dapat diselamatkan dan bahwa kita masih harus mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatan kita. Meskipun penalaran manusia yang terbatas tidak dapat menyelesaikan dua fakta yang kelihatan bertentangan ini, kita harus meneguhkan keduanya sebagai kebenaran. Kedaulatan Allah dan akuntabilitas manusia, keduanya diajarkan dalam Alkitab, dan hubungan di antara keduanya sesungguhnya adalah suatu misteri besar. Kedaulatan Allah sendiri mengesahkan tanggung jawab manusia. Pandangan-pandangan yang mengajarkan kehendak bebas sebagai dasar satu-satunya bagi tanggung jawab moral memberikan otonomi kepada pilihan manusia, otonomi yang justru diajarkan oleh Alkitab sebagai milik Allah sendiri saja. Pandangan Calvin lebih seimbang daripada yang sering diakui oleh orang-orang yang meremehkannya. Orang-orang Kristen harus menegaskan kedaulatan Allah atas seluruh tatanan ciptaan, sehingga segala sesuatu ditentukan oleh kehendak Allah yang tak terselidiki, dan tanggung jawab moral dan spiritual kita. Dengan cara yang misterius, di luar pemahaman manusia, Allah menuntut tanggung jawab manusia atas segala tindakannya.

Suatu nas klasik Perjanjian Baru yang mengajarkan tentang predestinasi sekaligus tanggung jawab manusia adalah Kisah Para Rasul 2:23. Dalam khotbah Pentakostanya, Petrus menyatakan bahwa Allah telah mempredestinasikan kematian Yesus di atas salib sebagai bagian dari rencana keselamatan ilahi. Tetapi Petrus juga menyatakan bahwa orang-orang yang menyalibkan Yesus bertanggung jawab atas kematian Sang Anak Allah. Baik predestinasi Allah maupun tanggung jawab manusia tidak dikompromikan, karena keduanya dinyatakan dengan tegas. Tanpa sepenuhnya memahami bagaimana keduanya adalah benar, orang-orang Kristen diserukan untuk menekankan keduanya secara seimbang karena keduanya diajarkan dalam Alkitab.

(3) Dalam mempertahankan doktrin pilihan, Calvin juga merujuk kepada pengalaman eksistensial kita bahwa kita tidak mampu untuk melakukan apa yang diwajibkan oleh Allah dalam firman-Nya. Ia mengutip Pernyataan Paulus dalam Roma 7:15-20 bahwa meskipun kita mengetahui dan ingin melakukan yang baik, kita masih melakukan yang jahat. Kita mendapati dalam firman Allah bahwa anugerah adalah keniscayaan dan dijanjikan kepada kita dan diteguhkan dalam pengalaman kita sendiri. Di samping itu, doktrin pilihan ilahi tidak dimaksudkan untuk membuat orang-orang percaya cemas tentang apakah mereka dipilih atau tidak, tetapi justru mengantisipasi kecemasan seperti itu dengan memberikan keyakinan keselamatan dan penghiburan. Jauh dari sekadar suatu ide spekulatif tentang bagaimana Allah berhubungan dengan ciptaan-Nya, kedaulatan Allah dalam predestinasi, ketika dipahami secara benar, akan memberi nilai praktis yang besar dalam kehidupan sehari-hari. Pengajaran ini memberi kita keyakinan bahwa Allah menjalankan pemeliharan pribadi atas segala peristiwa. Kepercayaan bahwa Allah adalah Tuhan dan Juru Selamat kehidupan pribadi kita menangkal keputusasaan.

Pada akhir abad keenam belas dan permulaan abad ketujuh belas, Jacob Arminius, seorang teolog Belanda, mengajukan suatu alternatif bagi pandangan tentang predestinasi yang dipegang oleh Augustinus, Luther, dan Calvin. Arminius percaya bahwa prapengetahuan Allah mendahului predestinasi-Nya, sebab itu, pilihan Allah tidak absolut, tetapi bersyarat. Allah memilih orang-orang berdasarkan prapengetahuan-Nya tentang apakah mereka akan menerima atau menolak Kristus dan karya keselamatan-Nya. Arminius berusaha mencari dasar pijak antara kepercayaan Calvin pada predestinasi absolut Allah dan pengajaran Pelagius tentang otonomi manusia. Tidak seperti Pelagius, Arminius percaya bahwa dosa asal tidak hanya melumpuhkan kehendak manusia, tetapi juga menjadikannya sama sekali tidak mampu melakukan apa yang baik terlepas dari anugerah Allah. Tanpa anugerah Allah yang mempersiapkannya, manusia mati dalam dosa. Arminius juga percaya bahwa Kristus tidak membayar hukuman bagi dosa setiap orang, tetapi bahwa penderitaan Kristus tersedia hanya bagi orang-orang yang memilih untuk menerima Dia. Allah mengampuni dosa orang yang bertobat dan percaya. Keselamatan, dengan demikian, adalah suatu usaha kerja sama antara manusia dan Allah, sama seperti yang diajarkan Thomas Aquinas dalam sintesis Abad Pertengahannya.

Teologi Arminius dengan kuat memengaruhi pemikiran Protestan, khususnya evangelikalisme, di kedua sisi benua Atlantik. John Wesley memopulerkan ide-ide Arminian dalam Kebangunan Rohani Injili Inggris pada abad kedelapan belas dan menjadikannya inti teologi Metodis. Banyak denominasi Amerika, seperti Baptis, kaum independen, dan kelompok-kelompok kekudusan, berkomitmen pada pandangan-pandangan Arminian.

Ringkasan Reformasi

Teologi dan antropologi para tokoh Reformasi melukiskan bagaimana telitinya mereka merevisi doktrin dan kehidupan gereja Kristen (*3). Pandangan yang mereka rumuskan dengan sukses menantang mentalitas sintesis yang telah mendominasi gereja selama berabad-abad. Dan mereka tidak menciptakan suatu bentuk baru dari kekristenan, suatu perspektif yang sebelumnya tidak pernah dikenal dalam gereja. Tidak dimotivasi oleh suatu semangat untuk mencari yang baru, para tokoh Reformasi mengembangkan ide-ide alkitabiah yang di atasnya gereja secara asali didirikan. Mereka berusaha untuk melenyapkan segala sistem filsafat asing dari pemikiran Kristen dan kembali kepada pengajaran-pengajaran Paulus dan Augustinus untuk membentuk ulang setiap area doktrin dan praktik.

Karena asumsi-asumsi para tokoh Reformasi berbeda begitu tajam dengan asumsi-asumsi para pendahulu mereka, perubahan-perubahan radikal terjadi. Otoritas-otoritas lama yang mencampur Alkitab dengan filsafat, sejarah, dan tradisi ditolak dan digantikan dengan mereka yang secara sadar menerima Alkitab sendiri sebagai dasar bagi iman dan kehidupan. Luther menentang otoritas Paus dan juga Kaisar. Calvin membawa misi Reformasi lebih jauh untuk memikirkan kembali keseluruhan doktrin Kristen. Pekerjaan mereka memecah gereja Barat menjadi dua bagian, suatu perpecahan yang telah berlangsung sampai masa kita sekarang. Orang-orang Katolik memulai Kontra-Reformasi untuk menjawab tuduhan-tuduhan kaum Protestan dan juga untuk mereformasi berbagai penyalahgunaan yang menghalangi pelayanan mereka sendiri. Hal yang sentral bagi Kontra Reformasi adalah Konsili Trent (1545 -- 1563), yang menegaskan kembali kebanyakan doktrin Abad Pertengahan, termasuk sintesis Thomas Aquinas tentang ide-ide Aristotelian dan alkitabiah.

Para tokoh Reformasi bukannya sudah sempurna. Sebagian pengikut Luther dan Calvin telah memodifikasi pandangan-pandangan mereka. Tetapi dua pilar Reformasi ini dengan kuat menegaskan kedaulatan Allah dan mendesak orang-orang untuk mengakui bahwa satu-satunya alternatif bagi kedaulatan Allah adalah kecenderungan, kuat atau lemah, pada otonomi manusia, yang menjadi kata favorit dalam era modern.

(*1) Bdk. Yoh. 6:39, 44-45; 13:18; 17:9
(*2) Bdk. Rm. 8:29; 9:10-13
(*3) Untuk sederhananya, kami membatasi studi kita tentang Protestanisme sebagai satu wawasan dunia pada ide-ide Luther dan Calvin saja. Dengan demikian, kami meniadakan berbagai kelompok yang disebut para tokoh Reformasi radikal dan kaum Anabaptis dan sekte-sekte Reformasi lainnya. Karena kami percaya ide-ide mereka memunyai signifikansi yang lebih besar bagi implikasi-implikasi sosial wawasan dunia, kami menyimpan diskusi tentang ide-ide mereka ini untuk pembahasan kita tentang masyarakat dalam jilid 2.

Untuk Bacaan Lebih Lanjut

Althaus, P. The Theology of Martin Luther. Philadelphia: Fortress, 1966.

Bainton, Roland H. Here I Stand: A Life of Martin Luther. New York: Abingdon Cokesbury, 1950.

Bangs, C. D. Arminius. A Study in the Dutch Reformation. Nashville: Abingdon, 1971.

______. The Reformation of the Sixteenth Century. Boston: Beacon, 1952.

Chadwick, Owen. The Reformation. Baltimore: Penguin, 1968.

Dickens, A. G. The Counter Reformation. New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1963.

Duffield, John, ed. John Calvin. Grand Rapids: Eerdmans, 1966.

Leith, John. An Introduction to the Reformed Tradition. Atlanta: John Knox Press, 1977.

McNeill, John T. The History and Character of Calvinism. New York: Oxford University Press, 1954.

McNeill, John T. dan Ford Lewis Battles, ed. John Calvin: Institutes of the Christian Religion. Philadelphia: Westminster Press, 1960.

Niesel, W. The Theology of Calvin. London, 1956.

Ozment, Steven. The Age of Reform: An Intellectual and Religious History of Late Medieval and Reformation Europe. New Haven: Yale University Press, 1980.

Parker, T. H. L. John Calvin: A Biography. Philadelphia: Westminster Press, 1975.

Pelikan, J. dan H. T. Lehmann, ed. Luther's Works. 55 vol. St. Louis: Concordia, 1955-76.

Schwiebert, E. G. Luther and His Times. St. Louis: Concordia, 1950.

Wendel, Francois. Calvin: The Origin and Development of His Religious Thought. New York: Oxford, 1954.

Sumber: 

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Membangun Wawasan Dunia Kristen, Volume 1: Allah, Manusia, dan Pengetahuan
Judul asli buku : Building Christian Worldview, Vol 1: God, Man, and Knowledge
Penulis : W. Andrew Hoffecker
Penerjemah : Peter Suwandi Wong
Penerbit : Penerbit Momentum, Surabaya 2006
Halaman : 138 -- 148

Sumber: 

Seputar Reformasi, Teologi Reformed, dan Tokoh Reformasi

Bacaan Pilihan

  1. Sekilas Hidup Reformator John Calvin di Jenewa dan di Strasburg
    http://reformed.sabda.org/sekilas_hidup_reformator_john_calvin_di_jenewa_dan_di_strasburg

  • John Calvin Mencari Istri Yang Tepat, Idelette
    http://reformed.sabda.org/john_calvin_mencari_istri_yang_tepat_idelette
  • Sejarah dan Pentingnya Alkitab Geneva
    http://reformed.sabda.org/sejarah_dan_pentingnya_alkitab_geneva
  • Tokoh Reformasi

    1. Martin Luther (1483 -- 1546)
      http://biokristi.sabda.org/martin_luther_1483_1546

  • Johanes Calvin: Pelopor Gerakan Reformasi Gereja
    http://biokristi.sabda.org/johanes_calvin
  • Biografi Singkat Abraham Kuyper
    http://biokristi.sabda.org/biografi_singkat_abraham_kuyper
  • Ziarah Spiritual Martin Luther

    Editorial: 

    Dear e-Reformed Netters,

    Senang sekali bisa bertemu Anda lagi di edisi April e-Reformed. Kutipan kecil tentang seorang tokoh Reformasi, Martin Luther, ini saya ambil dari buku "Membangun Wawasan Dunia Kristen, Volume 1: Allah, Manusia, dan Pengetahuan", yang diterbitkan oleh Penerbit Momentum (2006).

    Kita tahu bahwa kekristenan bukan sekadar agama, melainkan sebuah iman percaya pada Kristus Yesus yang bangkit pada hari Paskah, yang baru saja kita rayakan. Luther lahir di keluarga yang taat dan kemudian setelah dewasa menjadi biarawan. Tidak berhenti di sana, ia mempelajari dan mempraktikkan ritus-ritus keagamaan dengan ketat, namun ternyata ia belum "mengalami Tuhan" secara pribadi sampai pada suatu ketika ia membaca dan memahami perkataan Paulus di dalam kitab Roma.

    Mungkin kita atau anak-anak kita sudah sejak lahir hidup di keluarga Kristen, memiliki nama Kristen, besar di lingkungan gereja, sekolah di sekolah Kristen, dan seumur hidupnya dikepung dengan budaya kekristenan, namun jika kita atau anak-anak kita belum memiliki perjumpaan pribadi dengan Allah, berdoalah supaya iman itu hidup dan tumbuh, bukan sebagai pengetahuan saja, tapi sebagai kuasa yang memperbarui hidup yang dari dalam. Dari perjumpaan pribadi dengan Kristus itu akhirnya kita tidak hanya akan menyembah Dia sebagai Tuhan di dalam agama Kristen, tapi sebagai Tuhan di dalam hidup kita yang sesungguhnya, yang membuahkan perubahan cara pandang dan pola pikir yang sesuai dengan firman-Nya.

    Akhir kata, mari sebelum kita menyimak artikel di bawah, kita amini syair pujian berikut. Selamat belajar!

    "Ku telah mati
    dan tinggalkan
    cara hidupku yang lama.

    Semuanya sia-sia
    dan tak berarti lagi.

    Hidup ini kuserahkan
    pada mezbah-Mu ya, Tuhan.

    Jadilah pada-Mu seperti
    yang Kau ingini."

    Dalam anugerah-Nya,
    Kusuma Negara

    Penulis: 
    W. Andrew Hoffecker
    Edisi: 
    110/IV/2009
    Tanggal: 
    30-4-2009
    Isi: 

    ZIARAH SPIRITUAL MARTIN LUTHER

    Orang yang berhasil membawa reformasi bagi gereja di mana orang-orang lain telah gagal ini berasal dari latar belakang yang sederhana. Martin Luther dilahirkan pada tahun 1483 dan dibesarkan menjadi seorang Katolik yang taat oleh kedua orang tuanya yang petani itu. Sebagai seorang anak, ia mempelajari kredo-kredo, Doa Bapa Kami, dan Sepuluh Perintah serta menghormati gereja dan para santo/santa. Ia berumur 20 tahun sebelum ia mulai membaca Alkitab, dan ia kemudian melaporkan bahwa ia terkejut menemukan bahwa Alkitab berisi jauh lebih banyak daripada yang diduganya. Luther belajar untuk sebuah karier dalam bidang hukum, tetapi kematian seorang kawan secara mendadak dan lolosnya dia dari sambaran kilat dalam suatu badai guruh memimpin dia untuk masuk biara Augustinian pada tahun 1505. Karena sangat mengkhawatirkan jiwanya, ia menjadi seorang biarawan yang sangat cermat, terkesan berlebihan, dan ia menghukum diri secara berat karena dosa-dosanya. Ia kemudian menyatakan bahwa jika seorang bisa diselamatkan karena kebiarawanannya, maka ia adalah orangnya!

    "Saya sendiri adalah seorang biarawan selama 20 tahun dan begitu berjerih lelah dalam doa, puasa, tidak tidur, dan kedinginan sehingga saya hampir mati karena kedinginan .... Apa lagi yang harus saya cari melalui ini kecuali Allah yang melihat bagaimana saya menaati peraturan-peraturan dan menjalani suatu kehidupan yang begitu kaku?" (Werke 49, 27).

    Pada tahun 1507, ia ditahbiskan menjadi imam, tetapi ia melanjutkan kehidupan studinya dan menjadi seorang guru besar bidang teologi di Universitas Wittenberg di Jerman. Tugas-tugasnya termasuk mengajar berbagai bagian Alkitab.

    Luther menyelesaikan gelar doktornya pada tahun 1512 dan memperoleh penghargaan karena kemampuan-kemampuan praktisnya dan kecemerlangannya sebagai seorang cendekiawan dan teolog dengan memimpin sebelas biara. Ia juga berkembang menjadi seorang pengkhotbah yang penuh kuasa dan memakai talentanya untuk mengomunikasikan dengan efektif pesan sederhana Alkitab yang diperolehnya dari hasil penelitiannya. Studinya tentang Augustinus membuatnya menjadi seorang Augustinian yang lebih dari sekadar nama, dan menolak Aristoteles dan tradisi teologi Kristen yang bertumpu pada fondasi-fondasi Aristotelian. Pada tahun 1516, sementara mengajar Surat Roma, ia memahami untuk pertama kalinya pengajaran Paulus tentang pembenaran oleh iman dengan cara yang sangat pribadi. Sebelumnya, rasa bersalah dan berdosa telah membuat dia takut pada keadilan Allah. Tentang hal ini ia berkata:

    "Siang dan malam saya merenungkan sampai saya dapat melihat hubungan antara keadilan Allah dan pernyataan bahwa 'orang benar akan hidup oleh iman'. Kemudian saya menangkap bahwa keadilan Allah adalah kebenaran, yang dengannya, melalui anugerah dan rahmat, Allah membenarkan kita melalui iman. Di sana saya merasa diri saya dilahirkan kembali dan mengalami pintu firdaus terbuka. Keseluruhan Alkitab diberikan dalam kasih yang lebih besar. Nas Paulus ini bagi saya menjadi satu pintu gerbang ke surga ...." (Lectures on Romans).

    Suatu hubungan iman pribadi dengan Allah melalui Yesus Kristus mengubah hidupnya dan perspektifnya. Pada tahun 1517, pandangannya bahwa keselamatan yang dihasilkan oleh iman kepada Kristus menyebabkan dia menantang klaim Gereja Katolik Roma yang mengeluarkan surat indulgensi sebagai pengampunan dosa. Indulgensi ini, surat yang dibeli dengan sejumlah uang, membebaskan seseorang dari kewajiban melakukan suatu perbuatan melalui sakramen pertobatan. Praktik ini bermula pada waktu perang salib, ketika orang-orang kaya membeli indulgensi daripada ikut berperang dalam perang salib. Setiap orang yang berpartisipasi, baik dengan ikut berperang ke Tanah Suci atau ikut menyokong dana, secara otomatis menerima janji bahwa ia tidak akan dihukum atas dosa-dosanya dalam api penyucian (purgatori).

    Pada masa Luther, uang yang didapat dari penjualan indulgensi itu biasanya digunakan untuk membangun katedral Santo Petrus di Roma. Lutther sadar bahwa praktik-praktik seperti itu bertentangan dengan pengajaran Alkitab. Hanya hubungan yang benar dengan Allah melalui iman yang dapat membawa pengampunan dosa dan keselamatan. Sebab itu, ia menantang apa yang dianggapnya memperdagangkan anugerah Allah.

    Pada 31 Oktober 1517, Luther memakukan 95 tesisnya pada pintu gereja di Wittenberg. Menempel pengumuman-pengumuman seperti itu, yang sebenarnya hanya untuk mengundang perdebatan dan diskusi tentang hal-hal yang tercantum di dalamnya, merupakan hal yang biasa dilakukan pada masa Abad Pertengahan. Namun, tanggapan positif terhadap tesis-tesis Luther membawa perubahan yang revolusioner pada gereja. Tesis kuncinya adalah nomor 62, yang menyatakan, "Perbendaharaan (harta karun) yang sejati dari gereja adalah Injil suci kemuliaan dan anugerah Allah." Dengan kata-kata ini, Luther dengan berani menolak gagasan Abad Pertengahan tentang perbendaharaan jasa-jasa yang diatur melalui hierarki gereja. Tesis-tesis lain menegaskan kerusakan manusia, perlunya pertobatan seumur hidup (bertentangan dengan remisi instan dari melalui pembayaran uang), dan anugerah Allah yang sepenuhnya dan cuma-cuma dalam Kristus. Tesis-tesis Luther menantang beberapa dogma dan praktik Katolisisme Abad Pertengahan. Karena tesis-tesis itu, ia diekskomunikasikan oleh Paus dan dicap sebagai pelanggar hukum oleh keputusan kaisar setelah suatu pertemuan yang dramatis di hadapan Kaisar Charles V di Diet of Worms.

    Ide-ide Luther mulai mendapat bentuknya yang pasti pada tahun 1520. Tiga prinsipnya menjadi semboyan teologi Reformasi.

    1. Sola Scriptura: Sebagai firman Allah yang diilhamkan, Alkitab adalah satu-satunya dasar otoritatif bagi semua doktrin Kristen. Tradisi -- pengajaran lisan dan tertulis dari para bapa gereja mula-mula dan para teolog Abad Pertengahan -- yang dipakai untuk mengesahkan penjualan indulgensi dan praktik-praktik gereja lainnya, termasuk penambahan beberapa sakramen, tidak boleh dipakai sebagai suatu otoritas yang setara dengan Alkitab.

    2. Sola Gratia: "Hanya Anugerah" -- digabung dengan Sola Fide, "Hanya Iman" -- menjelaskan pandangan alkitabiah tentang penebusan. Keselamatan hanya dihasilkan oleh anugerah Allah yang berdaulat dalam mengutus Kristus. Kematian-Nya di atas salib dan kebangkitan-Nya dari kematian adalah satu-satunya penyembuh bagi dosa manusia. Kebenaran diimputasikan kepada manusia atas dasar karya penebusan Kristus di atas salib. Tanggapan manusia kepada anugerah Allah adalah iman kepada janji-janji Allah, secara spesifik adalah bahwa Allah akan menyelamatkan semua orang yang percaya bahwa kematian dan kebangkitan Kristus telah dilaksanakan bagi mereka. Keselamatan seluruhnya adalah hasil anugerah Allah, dan kita memperoleh keselamatan bukan oleh usaha atau perbuatan kita, tetapi hanya atas dasar iman kepada provisi Allah. Mengikuti Rasul Paulus dalam Surat Roma, Luther mengajarkan bahwa orang-orang percaya dibenarkan dalam pandangan Allah bukan melalui usaha manusia, tetapi melalui iman sederhana kepada janji-janji Allah yang dinyatakan dalam Kristus. Betapa jauhnya perjalanan yang telah dilakukan Martin Luther sejak hari-harinya dalam biara ketika ia percaya bahwa ia harus membuat dirinya layak bagi anugerah Allah!

    3. Keimaman bagi semua orang percaya. Gereja tidak memerlukan satu kelas imam untuk menjadi pengantara antara orang percaya dan Allah. Sebaliknya, setiap orang menjadi imam bagi dirinya sendiri dan memunyai akses langsung kepada Allah melalui Kristus. Kristus adalah Imam Besar Agung kita yang menggantikan semua imam manusia. Melalui iman kita kepada Kristus, kita berdiri di hadapan Allah sebagai imam dan tidak memerlukan lembaga manusia mana pun untuk bersyafaat bagi kita.

    Tiga ide ini mendasar bagi Reformasi dan menjadi doktrin-doktrin fundamental Protestanisme. Semua perubahan dalam doktrin, spiritualitas, dan organisasi gereja yang menghasilkan terbentuknya berbagai kelompok Protestan adalah didasarkan pada prinsip-prinsip ini.

    Bangkitnya Kembali Teologi dan
    Antropologi Alkitabiah oleh Luther

    Pandangan-pandangan Luther tentang Allah terus berkembang ketika ia memperdalam pengetahuannya tentang Alkitab dan meneliti implikasi-implikasi tiga prinsip utamanya. Selama tahun-tahun awal dalam biara, ia mengalami rasa berdosa dan kecemasan karena ketakutannya pada Allah dan keadilan-Nya. Namun, setelah mengalami anugerah Allah, Luther memahami keadilan Allah dalam terang kasih-Nya. Penolakannya terhadap gagasan apa pun tentang Allah yang berasal dari Alkitab membuatnya secara terbuka menertawakan keberadaan pertamanya Aristoteles. Di samping itu, ia mengkritik Thomas karena mengambil pandangan-pandangannya tentang Allah dari Aristoteles dan bukan dari Alkitab. Keyakinan-keyakinan Augustinian Luther memimpin dia bahkan lebih keras lagi mencela pengaruh Aristoteles pada interpretasi Abad Pertengahan tentang manusia. Menolak pernyataan Aristoteles dari "On the Saul" bahwa "jiwa mati bersama dengan tubuh", Luther berkata:

    "Seolah-olah kita tidak memunyai Alkitab di mana kita menemukan pengajaran yang luar biasa melimpahnya tentang seluruh pokok itu, yang justru tak pernah terpikirkan oleh Aristoteles. Tetapi orang kafir yang sudah binasa ini justru telah memeroleh supremasi, menghambat, dan hampir menindas Kitab Suci dari Allah yang hidup." (An Appeal to the Ruling Class).

    Berdasar pada Alkitab, khususnya Kitab Kejadian dan tulisan-tulisan Paulus, Luther menyimpulkan seperti Augustinus bahwa masalah dosa berakar pada ketidakpercayaan Adam. Gambar Allah setelah kejatuhan "begitu ternoda dan dikaburkan oleh dosa" dan "begitu berkusta dan najis" sehingga kita hampir tidak dapat memahaminya. Gambar Allah "hampir seluruhnya hilang" (Commentary on Genesis). Berbagai pandangan antropologi-antropologi Abad Pertengahan memperlihatkan bahaya dari membentuk pandangan-pandangan Kristen di bawah pengaruh pemikiran sintesis. Bagi Luther, dosa yang terbesar adalah kesombongan, ketidaksediaan kita untuk mengakui kondisi kita yang telah jatuh dan berdosa. Dosa kini menjalankan kekuasaan sedemikian rupa sehingga kehendak manusia jatuh tertelungkup dan tak berdaya sampai anugerah Allah membebaskannya.

    Ide tentang manusia yang tidak memunyai kebebasan moral begitu sentral bagi seluruh antropologi Luther sehingga ia menulis "The Bondage of the Will", suatu jawaban yang keras terhadap Erasmus, pakar humanis terbesar yang mempertahankan kehendak bebas manusia. Di dalamnya, Luther menulis:

    "Ketika manusia tanpa Roh Allah, perbuatan jahatnya bukan bertentangan dengan kehendaknya, tetapi perbuatan itu sesuai dengan kehendaknya sendiri .... Dan kesediaan ini ... tak dapat ia tiadakan, dilawan, atau diubah dengan kekuatannya sendiri .... Artinya adalah bahwa kehendak itu tidak dapat mengubah dirinya sendiri dan berbelok ke arah yang berlainan .... Pilihan bebas tanpa anugerah Allah sama sekali tidak bebas, tetapi terus menjadi tawanan dan budak kejahatan karena pilihan itu tidak dapat mengubah dirinya sendiri ke arah yang baik."

    Ini adalah suatu ringkasan yang sangat baik dari prinsip "non posse non peccare" Augustinus. Seperti pendahulu teologinya itu, Luther terutama ingin menunjukkan bahwa anugerah Allah secara mutlak esensial bagi keselamatan. Jika manusia mampu memilih kebaikan moral dan spiritual, maka keselamatan akan menjadi suatu usaha kerja sama antara Allah dan manusia. Luther menolak posisi Semi-Pelagian ini karena jika manusia dapat mengawali suatu hubungan dengan Allah, maka anugerah hanya merupakan suatu bantuan bagi usaha manusia dan bukan sebagai keharusan seperti yang dikatakan Alkitab.

    Teologi Luther menghidupkan kembali tekanan-tekanan utama Augustinus. Tokoh Reformasi itu mencela pembedaan-pembedaan Aquinas antara anugerah operatif dan kooperatif, dan antara kebajikan natural dan supernatural. Sampai anugerah Allah membebaskan manusia dari belenggu dosa dan kejahatannya, manusia tidak memunyai kehendak "bebas". Satu-satunya kehendak "bebas" yang sesungguhnya adalah bebas melakukan apa yang baik. Karena dosa melumpuhkan kehendak manusia, kehendak kita tidak memiliki kuasa seperti itu. Dosa sangat merusak kapasitas manusia untuk melakukan apa yang baik secara moral. Hanya oleh anugerah Allah kita mampu melakukan kebaikan moral.

    Tiga Tulisan Luther

    Perpecahan awal Luther dengan Roma menjadi tak dapat diperbaiki ketika ia menerbitkan tiga tulisan utama pada tahun 1520. Tulisan-tulisan ini meringkaskan pemikirannya. Traktatnya yang pertama, "An Appeal to the Ruling Class", adalah suatu seruan lantang kepada para petinggi Jerman untuk mereformasi gereja. Di dalamnya, ia berusaha meruntuhkan apa yang disebutnya "tiga tembok" yang telah didirikan oleh kaum "Romanis" untuk memperkuat kendali para rohaniwan terhadap gereja. Luther dengan kuat menyangkal bahwa Alkitab membedakan antara orang-orang Kristen awam dan para rohaniwan. Pernyataan Petrus tentang "imamat yang rajani" (1 Ptr. 2:9) berarti bahwa semua orang Kristen, bukan hanya sebagian tertentu, adalah imam. Para teolog Abad Pertengahan secara tak layak telah meninggikan kelas imam, kaum rohaniwan, di atas orang-orang percaya biasa, dan menyebut mereka "religius" dalam pengertian jabatan mereka yang tinggi. Tetapi Luther menunjukkan bahwa pengajaran Petrus tentang keimaman semua orang percaya berarti bahwa karena anugerah Allah, setiap orang Kristen berdiri dalam Yesus Kristus di hadapan Allah dan tidak memerlukan seorang pun dari kelas istimewa untuk menjadi perantara antara Allah dan dia sendiri.

    "Tembok" kedua yang hendak diruntuhkan Luther adalah keutamaan Paus sebagai penafsir Alkitab. Setiap orang percaya wajib membaca Alkitab bagi dirinya sendiri dan tidak bergantung pada Paus atau gereja untuk menafsirkan Alkitab bagi dia. Bagaimanapun, para Paus telah berbuat salah di masa lampau, dan otoritas spiritual diberikan kepada semua rasul dalam Perjanjian Baru, bukan hanya kepada salah satu di antara mereka. Setiap orang Kristen wajib memajukan iman mereka, memahaminya, dan membelanya.

    "Tembok" ketiga yang dibangun oleh para teolog Abad Pertengahan untuk mempertahankan gereja agar berada di bawah kendali kaum rohaniwan adalah ide bahwa hanya Paus yang dapat mengadakan konsili untuk mereformasi gereja. Luther percaya bahwa gereja sangat membutuhkan reformasi, dan karena kaum rohaniwan tidak bersedia untuk melaksanakan tanggung jawab ini, maka ia mendesak para penguasa sekuler, kaum ningrat Jerman, untuk meruntuhkan "tembok" ketiga dengan mengadakan konsili umum untuk mengawali reformasi. Inilah sebabnya mengapa tulisan itu ditujukan kepada kelas penguasa di Jerman. Karena dua "tembok" pertama secara tak layak memberi kuasa kepada Paus dan para imam, orang-orang Kristen tidak perlu menunggu mereka untuk mendesak dilakukannya reformasi yang sangat dibutuhkan. Penginterpretasian ulang tentang peran orang-orang percaya Kristen dan posisi mereka dalam gereja ini memberi kesaksian tentang sifat radikal dari bentrokan Luther dengan Roma.

    Dalam tulisannya yang kedua, "The Babylonian Captivity of the Church", Luther memfokuskan perhatiannya pada masalah-masalah lain dengan kekristenan Abad Pertengahan. Jika tulisan pertamanya menyerang struktur hierarki gereja, maka yang kedua adalah untuk menentang penempatan sakramen gereja di bawah kendali total para rohaniwan. Dengan melakukan hal ini, gereja berada di bawah tawanan hierarki tersebut, sama seperti orang-orang Babel menawan orang-orang Yahudi pada abad keenam SM. Luther berpendapat bahwa Kristus hanya melembagakan dua sakramen selama pelayanannya di bumi, yaitu Baptisan dan Perjamuan Kudus. Namun, para pemimpin gereja pada Abad Pertengahan, tanpa dukungan alkitabiah, telah menambahkannya sampai tujuh. Di samping itu, para teolog Abad Pertengahan menempatkan hierarki pejabat gereja untuk memegang kendali atas sakramen-sakramen. Lagipula, para rohaniwan telah menyalahgunakan otoritas ini dengan menegaskan bahwa jasa yang menyelamatkan orang-orarg dari dosa-dosa mereka diberikan hanya melalui sakramen-sakramen tersebut.

    Luther juga menolak posisi Abad Pertengahan bahwa nilai satu-satunya dari suatu sakramen terletak dalam hubungannya dengan jasa-jasa yang terkumpul yang disalurkan melalui para rohaniwan yang melakukan sakramen. Sebaliknya, Luther menegaskan, nilai dari sakramen-sakramen terletak pada janji Allah. Dengan demikian, Allah sendiri, bukan kaum rohaniwan, yang memberikan anugerah-Nya, bukan menurut perbuatan yang berjasa, tetapi menurut iman orang percaya tersebut kepada janji firman Allah. Karena itu, Luther setuju bahwa sakramen penting karena mengomunikasikan anugerah Allah kepada orang-orang yang ambil bagian dalam sakramen. Tetapi pengakuan dosa dan hidup saleh lebih penting dari partisipasi ritualistis dalam sakramen-sakramen. Jadi, Luther secara tajam menyingkirkan pandangan Abad Pertengahan tentang kehidupan Kristen yang bertumpu terutama pada partisipasi dalam kehidupan sakramen gereja institusional. Allah menetapkan sarana-sarana anugerah yang lain di samping sakramen-sakramen yang harus dipelihara oleh semua orang percaya dalam hubungan dengan Allah, seperti doa dan pembacaan Alkitab.

    Tulisan Luther yang ketiga, "Freedom of the Christian Man", barangkali adalah yang terbaik dalam meringkaskan teologinya. Tulisan ini adalah suatu pernyataan klasik Reformasi tentang natur kehidupan Kristen, khususnya tentang hubungan antara hukum dan iman dalam pengalaman Kristen. Orang-orang Kristen bebas dalam pengertian bahwa mereka tidak lagi terikat untuk menaati Perjanjian Lama untuk menegakkan suatu hubungan yang benar dengan Allah. Sebaliknya, orang-orang Kristen dibenarkan melalui iman kepada Kristus, yang diberi oleh Allah sebagai suatu karunia yang cuma-cuma. Perbuatan seseorang sama sekali tidak ada nilainya untuk memperoleh keselamatan. Manusia ditebus bukan karena perbuatan baik mereka sendiri, tetapi karena kematian Kristus bagi mereka di atas salib. Orang-orang yang mengakui bahwa Kristus menanggung dosa mereka dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka memunyai kebenaran Kristus yang diimputasikan kepada mereka. Pada saat yang sama, setiap orang Kristen terikat pada sesamanya oleh hukum kasih. Perbuatan baik tidak membenarkan seseorang dalam pemandangan Allah. Namun, perbuatan baik adalah hasil dari pembenaran, yang dilakukan orang-orang Kristen dari keinginan spontan untuk menaati kehendak Allah. Jadi, Luther menyajikan suatu pandangan Reformed tentang hubungan antara Taurat dan Injil, yang secara tajam berbeda dengan pandangan dominan yang diekspresikan dalam penjualan surat indulgensi dan iman kepada perbendaharaan jasa.

    Kontribusi besar Luther bagi Reformasi adalah usahanya menghidupkan kembali interpretasi Augustinus tentang kekristenan yang alkitabiah. Luther menegaskan jurang pemisah antara Allah dan manusia berdosa dan menekankan pada keniscayaan anugerah dan rahmat Allah bagi keselamatan manusia. Dengan melakukan hal ini, ia menolak Semi-Pelagianisme dan Aristotelianisme dari para pendahulunya. Dengan menyuarakan kembali ajaran Paulus, dengan menyatakan bahwa tanpa Allah manusia tersesat, dan penalaran serta pengetahuan sedikit gunanya kecuali mereka didasarkan pada Alkitab. Orang-orang Katolik menyatakan bahwa Luther terlalu berlebihan dalam menekankan kerusakan manusia dalam reaksinya terhadap optimisme kaum Thomis dan Renaisans tentang manusia natural dan kemampuannya. Para pengikut Luther menjawab bahwa dalam hal menjadi tawanan firman Allah, Luther, seperti Augustinus sebelum dia, hanya menyatakan kembali dan menerangkan pengajaran alkitabiah tentang Allah dan manusia.

    Untuk Bacaan Lebih Lanjut

    Althaus, P. "The Theology of Martin Luther". Philadelphia: Fortress, 1966.

    Bainton, Roland H. "Here I Stand: A Life of Martin Luther". New York: Abingdon Cokesbury, 1950.

    Bangs, C. D. Arminius. "A Study in the Dutch Reformation". Nashville: Abingdon, 1971.

    ______. "The Reformation of the Sixteenth Century". Boston: Beacon, 1952.

    Chadwick, Owen. "The Reformation". Baltimore: Penguin, 1968.

    Dickens, A. G. "The Counter Reformation". New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1963.

    Duffield, John, ed. "John Calvin". Grand Rapids: Eerdmans, 1966.

    Leith, John. "An Introduction to the Reformed Tradition". Atlanta: John Knox Press, 1977.

    McNeill, John T. "The History and Character of Calvinism". New York: Oxford University Press, 1954.

    McNeill, John T. dan Ford Lewis Battles, ed. "John Calvin: Institutes of the Christian Religion". Philadelphia: Westminster Press, 1960.

    Niesel, W. "The Theology of Calvin". London, 1956.

    Ozment, Steven. "The Age of Reform: An Intellectual and Religious History of Late Medieval and Reformation Europe". New Haven: Yale University Press, 1980.

    Parker, T. H. L. "John Calvin: A Biography". Philadelphia: Westminster Press, 1975.

    Pelikan, J. dan H. T. Lehmann, ed. Luther's Works. "55 vol". St. Louis: Concordia, 1955-76.

    Schwiebert, E. G. "Luther and His Times". St. Louis: Concordia, 1950.

    Wendel, Francois. "Calvin: The Origin and Development of His Religious Thought". New York: Oxford, 1954.

    Sumber: 

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : Membangun Wawasan Dunia Kristen, Volume 1: Allah, Manusia, dan Pengetahuan
    Judul buku asli : Building Christian Worldview, Vol. 1: God, Man, and Knowledge
    Penulis : W. Andrew Hoffecker
    Penerjemah : Peter Suwandi Wong
    Penerbit : Momentum, Surabaya 2006
    Halaman : 129 -- 137

    Sekilas Hidup Reformator John Calvin di Jenewa dan di Strasburg

    Editorial: 

    Dear e-Reformed Netters,

    Dari sejarah gereja, kita mengenal beberapa tokoh yang selalu berjuang mereformasi ajaran-ajaran gereja yang tidak sesuai dengan Alkitab dan berusaha mengembalikan ajaran kekristenan pada otoritas yang benar, yaitu Alkitab yang adalah firman Allah, dan kedaulatan Allah atas segala sesuatu. Salah satu tokoh yang kita kenal sebagai reformator yang paling berpengaruh adalah John Calvin.

    Teolog asal Perancis ini menjadi tokoh sentral dalam pengembangan dan penyebaran Calvinisme, sebuah sistem teologi yang menekankan pada otoritas Alkitab dan kedaulatan Allah atas segala sesuatu. "Oleh pertobatan yang tiba-tiba terjadi, Allah menaklukkan jiwaku kepada kemauan (untuk menurut)," kata-kata yang beliau ucapkan inilah yang mungkin menjadi titik awal perannya yang sangat besar dalam gerakan reformasi gereja. Calvinlah yang membangun fondasi ajaran Reformed secara sistematis dan paling lengkap. Bagaimana semua itu terjadi? Tentunya semua ini tak lepas dari perjuangan hidup dan pelayanan beliau yang tak kenal lelah itu.

    Menyambut Hari Reformasi tanggal 31 Oktober ini, mari kita simak edisi e-Reformed yang menyajikan riwayat hidup dan pelayanan John Calvin. Kiranya perjuangan dan semangat yang Calvin tunjukkan, dapat memberi inspirasi bagi kehidupan Kristen kita saat ini, khususnya semangat untuk mereformasi gereja kita masing-masing.

    Untuk melengkapi artikel ini, kami ajak Anda pula untuk menyimak referensi seputar Reformasi, teologi Reformed, dan tokoh Reformasi yang kami tambahkan di bagian bawah artikel ini. Kiranya menjadi berkat.

    Redaksi Tamu e-Reformed,
    Dian Pradana

    http://reformed.sabda.org

    Penulis: 

    Dr. J.L.Ch. Abineno

    Edisi: 

    104/X/2008

    Tanggal: 

    31-10-2008

    Isi: 

    Sekilas Hidup Reformator John Calvin di Jenewa dan di Strasburg

    Pendahuluan

    Calvin dilahirkan pada tahun 1509 di Noyon, Perancis Utara. Tahun 1523, ia memulai studinya di sekolah menengah di Paris. Di sekolahnya, ia diarahkan kepada humanisme dan tradisi Abad Pertengahan. Sesuai dengan kemauan ayahnya, ia kemudian melanjutkan studinya di bidang ilmu hukum di Orleans dan di Bourges. Ketika itu, pengaruh humanisme di Perancis sangat besar. Di situ, Erasmus, humanis Belanda, sangat dihormati dan dijunjung tinggi.

    Sejak akhir Abad Pertengahan, hubungan antara gereja dan negara erat sekali. Karena itu, orang-orang Perancis sangat memusuhi reformasi. Mungkin dari kawan-kawannya, ia memeroleh bacaan yang memperkenalkannya pada reformasi. Mula-mula, ia tidak merasa tertarik pada "ajaran baru" itu. Tetapi pada akhir tahun 1533, tiba-tiba terjadi perubahan di dalam hidupnya. Calvin sendiri tidak banyak berbicara tentang hal ini. Hanya beberapa kali saja ia menulis tentang pertobatannya. Ia katakan: "Oleh pertobatan yang tiba-tiba terjadi, Allah menaklukkan jiwaku kepada kemauan (untuk menurut)."

    Secara teologis, hal ini berarti bahwa sejak saat itu, pengaruh Lutherlah yang memimpin, bukan lagi Erasmus. Ia mau menggunakan ilmunya untuk pelayanan Injil yang ia temukan kembali. Tidak lama sesudah pertobatannya, "penyiksaan" terhadap orang-orang Kristen Perancis yang mengikuti "ajaran baru" itu memaksanya untuk meninggalkan tanah airnya. Mula-mula, Calvin pergi ke Strasburg. Namun tidak lama kemudian, ia melanjutkan perjalanannya ke Basel. Di sini, ia berharap dapat melanjutkan studinya dengan tenang. Di sinilah ia menyelesaikan karyanya, "Institutio" (edisi pertama). Tahun 1536, karyanya ini diterbitkan dalam bentuk buku. Edisi pertama dari karyanya ini hanya berfungsi sebagai semacam "katekismus" bagi orang-orang Perancis yang mengikuti gereja reformasi.

    Pada tahun 1536, Calvin pergi ke Italia. Beberapa waktu lamanya, ia tinggal di istana seorang bangsawan wanita. Dari situ, ia pergi lagi ke sebelah utara dan berencana tinggal di Strasburg atau di Basel. Dalam perjalanannya itu, ia singgah dan bermalam di Jenewa. Pendeta Farel dari Jenewa mendengar bahwa orang muda Perancis -- yang telah ia dengar namanya sebagai seorang anak muda yang pandai -- sedang berada di kotanya. Ia segera pergi mengunjungi Calvin dan meminta dengan sangat agar ia tinggal di Jenewa, supaya keduanya bekerja sama untuk memajukan reformasi di kota itu. Mula-mula, Calvin menolak karena ia ingin belajar dengan tenang. Namun, Farel mendesaknya dengan kata-kata yang keras, bahkan dengan ancaman kutuk. Hal itu melunakkan hatinya, dan Calvin mengambil keputusan untuk memenuhi permintaan Farel.

    I

    Dalam pelayanannya yang pertama di Jenewa, Calvin bekerja dua tahun lamanya (1536 -- 1538) bersama-sama dengan Farel. Ia mula-mula diangkat oleh Dewan Kota sebagai lektor dan ditugaskan untuk mengajar pengetahuan Kitab Suci di St. Pierre (gedung gereja St. Petrus). Kemudian, Calvin diangkat menjadi pendeta. Tugas mengajar yang dipercayakan kepadanya, ia tunaikan dengan membahas surat-surat Rasul Paulus.

    Pada bulan Oktober 1536, Calvin diundang menghadiri diskusi di Lausanne, tempat Farel membela ajarannya tentang "pembenaran oleh iman" serta penolakannya terhadap ajaran Gereja Katolik Roma tentang transsubstansiasi dan seremoni-seremoni gereja itu serta beberapa pokok yang lain.

    Calvin juga mengambil bagian dalam diskusi itu. Banyak orang yang hadir, kagum terhadap pengetahuannya akan ajaran bapa-bapa gereja, seperti Tertulianus, Chrysostomus, dan Augustinus, mengenai pokok-pokok yang dibicarakan. Oleh pengetahuannya yang mengagumkan itu, banyak orang dimenangkan untuk reformasi. Nama Calvin segera tersebar ke mana-mana hingga pada tahun 1537, ia dan Farel dapat memulai pekerjaan reformasi mereka di Jenewa.

    Pada tahun itu juga, Dewan Kota mengesahkan "Peraturan tentang Pemerintahan (Pimpinan) Gereja". Dalam peraturan itu, antara lain diatur perayaan Perjamuan Malam. Calvin berpendapat bahwa Perjamuan Malam harus dirayakan tiap-tiap minggu. Sungguhpun demikian, ia dapat menerima bahwa perayaan itu hanya diselenggarakan sekali sebulan, yaitu di dalam salah satu dari tiga gedung gereja besar di Jenewa. Untuk itu, perlu diadakan disiplin gerejawi yang dilakukan oleh gereja, dan bukan oleh pemerintah, sama seperti yang terjadi di mana-mana, karena orang mengikuti kebiasaan Luther dan Zwingli. Kita harus ingat -- katanya -- bahwa Kristus adalah Tuhan gereja. Karena itu, pemerintah tidak memunyai hak untuk mencampuri pelayanan -- soal-soal -- intern gereja. Dengan jalan ini, Calvin menegaskan bahwa Kristuslah yang memerintah gereja, juga hidup lahiriahnya. Dalam ibadah harus dinyanyikan mazmur-mazmur.

    Di dalam jemaat, timbul keberatan terhadap pandangan-pandangan di atas. Calvin dituduh sebagai pengikut Arminianisme. Dewan Kota setuju dengan keberatan itu karena Dewan Kota sendiri mau menjalankan disiplin. Dengan demikian, Dewan Kota merendahkan disiplin gerejawi menjadi semacam "pengawasan-polisi". Ketegangan ini mencapai puncaknya pada tahun 1538. Ketika itu diadakan pemilihan Dewan Kota. Dalam pemilihan itu nyata bahwa jumlah terbesar dari anggota-anggota Dewan Kota yang baru memihak kepada orang-orang yang menentang Calvin. Dewan Kota menuntut supaya Jenewa hidup menurut seremoni-seremoni Bern, supaya bejana-bejana baptisan yang dibuat dari batu digunakan lagi, dan supaya dalam Perjamuan Kudus digunakan roti yang tidak beragi.

    II

    Calvin dan Farel melawan tuntutan pemerintah tersebut. Mereka tidak setuju karena menurut mereka pemerintah sudah bertindak melampaui batas wewenangnya dan mencampuri hal-hal yang hanya boleh diatur oleh gereja. Mereka berjuang memertahankan kebebasan gereja. Sebagai jawaban atas sikap tersebut, pemerintah melarang mereka untuk memberitakan firman dalam ibadah. Namun, mereka tidak menghiraukan larangan itu. Akhirnya, pada bulan April 1538, pemerintah memecat Calvin dan Farel dan menyuruh mereka meninggalkan Jenewa.

    Farel pergi ke Neuchatel. Dari situ, ia mengikuti perkembangan-perkembangan yang berlangsung di Jenewa. Calvin merasa tersinggung, tetapi juga senang, sebab kini ia dapat melanjutkan studinya dengan tenang.

    Ia mula-mula pergi ke Bern dan sesudah itu ke Basel. Di kota ini, Bucer mengirim surat kepadanya dan memintanya datang ke Strasburg untuk memimpin jemaat Perancis yang terdiri dari orang-orang Perancis yang melarikan diri dan mencari perlindungan di Strasburg. Mula-mula, ia agak ragu. Namun, karena Bucer terus mendesaknya melalui surat-suratnya, akhirnya ia memenuhi permintaan Bucer dan berangkat ke Strasburg.

    III

    Di kota ini, Calvin bekerja tiga tahun lamanya (1538 -- 1541) sebagai pendeta dari jemaat orang-orang pelarian yang tinggal di Strasburg. Atas permintaan Capito, ia juga segera memulai suatu kursus teologi. Sama seperti di Jenewa, ia juga bekerja keras di Strasburg. Ia berkhotbah empat kali seminggu. Liturgi untuk ibadah, sebagian besar ia ambil alih dari liturgi Jerman yang banyak digunakan di Strasburg. Ciri khas liturgi ini ialah pengakuan dosa, pembacaan kesepuluh firman, penggunaan mazmur-mazmur sebagai nyanyian jemaat dalam ibadah Minggu pagi, dan berlutut ketika berdoa.

    Di dalam gedung-gedung besar, Perjamuan Kudus dilayani setiap minggu, tetapi dalam jemaat Perancis dilakukan sekali sebulan. Calvin berpendapat bahwa dalam Gereja Katolik Roma, tugas jemaat di bidang puji-pujian (nyanyian) telah diambil alih oleh paduan suara dan organ. Karena itu, ia hendak mengembalikan tugas itu kepada jemaat. Tahun 1539, ia menerbitkan Kitab Nyanyian Mazmur yang memuat delapan belas mazmur dalam bentuk sajak, tujuh mazmur berasal dari dia sendiri, dan delapan mazmur dari Marot. Di samping itu, ditambahkan juga "sepuluh firman", "nyanyian puji-pujian dari Simeon", dan "Pengakuan Iman Rasuli (Apostolicum)". Kemudian, di Jenewa, ia menugaskan Marot dan Beza untuk menerjemahkan dan menuangkan seluruh kitab Mazmur dalam bentuk sajak, supaya dapat dinyanyikan oleh jemaat. Sebagai melodi untuk mazmur-mazmur ini, digunakan melodi-melodi dari Matthias Greiter, Louis Bourgeois, dan Maitre Pierre. Mazmur-mazmur tersebut dinyanyikan tanpa iringan organ.

    Selain Kitab Nyanyian Mazmur, Calvin juga menyusun suatu formulir baptisan untuk memelihara jemaat dari ajaran kaum pembaptis ulang. Tahun 1539, ia menerbitkan edisi kedua dari karyanya, Institutio, yang tiga kali lebih tebal daripada edisi pertama. Dalam edisi kedua ini, ia juga membahas pengetahuan tentang Allah dan manusia, inspirasi Kitab Suci, kesaksian Roh Kudus, dan predestinasi kembar. Di samping itu, ia juga menerbitkan suatu tafsiran tentang surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma. Banyak ahli menganggap tafsiran ini sebagai suatu contoh dari karya ilmiah dan praktis.

    Tahun 1540, ia menikah dengan Idelette de Bure, janda Jean Stordeur dari Luik, yang ia tobatkan dan mengikuti reformasi. Idelette membawa dua anak dari perkawinannya yang pertama. Dari perkawinannya dengan Calvin, ia memeroleh seorang anak laki-laki, tetapi anak itu meninggal dalam usia muda.

    Seperti kita ketahui, Calvin adalah seseorang yang mencintai kesatuan gereja. Untuk mencapai kesatuan ini, diadakan diskusi antara teolog-teolog Katolik Roma dan teolog-teolog Protestan. Upaya itu dilakukan berturut-turut di Frankfurt (1539), di Hanegau (1540), di Worms (1540 --1541), dan di Regensburg (1541). Di Frankfurt, ia bertemu dengan Melanchton dan menjalin persahabatan dengannya. Di Regensburg, ia tidak puas dengan formulir-formulir "perdamaian" (antara Gereja Katolik Roma dan gereja-gereja Protestan) yang dirumuskan oleh Melanchton dan Bucer tentang ajaran Gereja Katolik Roma mengenai transsubstansiasi. Menurut Calvin, formulir-formulir itu agak jauh menyimpang dari ajaran reformasi.

    IV

    Sementara itu, pelayanan dalam jemaat di Jenewa tidak berjalan lancar. Pelayanan itu menemui banyak kesulitan. Pendeta-pendeta baru yang menggantikan Calvin dan Farel tidak memenuhi harapan Dewan Kota. Mereka juga tidak sepandai Calvin dan Farel. Hal itu antara lain terbukti dari surat Sadoletus, Uskup Carpentras. Ia menulis surat kepada jemaat di Jenewa dengan isi yang menarik. Ia mengatakan bahwa ia menolak perpecahan gereja -- maksudnya antara Gereja Katolik Roma dan gereja-gereja Protestan -- dan menyetujui, malahan memuji, firman Allah dan ajaran tentang pembenaran oleh iman. Karena itu, ia membujuk jemaat di Jenewa untuk kembali ke Gereja Katolik Roma. Dewan Kota berusaha untuk memeroleh bantuan dari berbagai pihak. Namun, usaha itu tidak berhasil. Tidak ada orang yang dapat membantu. Karena itu, sebagai usaha yang terakhir, Dewan Kota menulis surat kepada Calvin untuk meminta bantuannya. Calvin setuju. Dalam waktu enam hari, ia mengirim "jawaban" yang diminta oleh Dewan Kota di Jenewa (1539). Jawaban itu begitu baik, sehingga Uskup Sadoletus menghentikan bujukannya kepada jemaat di Jenewa.

    Dewan Kota sangat berterima kasih atas surat itu. Karena itu, dalam suatu rapat, mereka mengambil keputusan untuk meminta Calvin kembali ke Jenewa, terutama karena timbulnya ketegangan-ketegangan politik di kota itu. Ketegangan-ketegangan politik itu makin lama makin bertambah besar. Mula-mula, permintaan Dewan Kota itu ditolak Calvin. Ia tidak mau melibatkan dirinya dalam kekacauan politik di Jenewa. Tetapi, pada tahun 1541, Farel menulis surat kepadanya dan meminta dengan sangat supaya permintaan Dewan Kota Jenewa itu diterima. Menurut Farel, Calvin harus melihat permintaan itu sebagai suatu panggilan Allah. Surat Farel itu dapat melunakkan hati Calvin. Ia menulis surat kepada Farel antara lain dengan kata-kata berikut: "Aku memersembahkan hatiku kepada Allah sebagai kurban." Kata-kata ini kemudian ia gunakan sebagai "semboyan" hidupnya.

    V

    Calvin kembali lagi ke Jenewa pada bulan September 1541 setelah hampir 3,5 tahun lamanya ia meninggalkan kota itu. Masa pelayanan Calvin yang kedua kali di Jenewa ini lamanya 23 tahun. Masa 14 tahun yang pertama (1541 -- 1555) penuh dengan perjuangan. Ia segera mulai dengan "peratuan-peraturan gerejanya". Di situ -- seperti yang telah kita dengar -- tercipta empat macam jabatan: pendeta (untuk pemberitaan firman), pengajar (untuk katekisasi dan pengajaran teologis), penatua (untuk penggembalaan dan disiplin), dan diaken (untuk pelayanan orang miskin dan orang sakit).

    Pendeta-pendeta dan penatua-penatua merupakan "konsistori" yang memimpin jemaat dan melayani penggembalaan dan menyelenggarakan disiplin. Untuk pertama kalinya, gereja di Jenewa menjalankan pimpinannya sendiri. Maksud Calvin lebih jauh daripada itu. Ia mau supaya Kristus saja yang memunyai kuasa mutlak di dalam gereja. Dengan kata lain, "kristokrasi" ia jalankan dengan perantaraan pejabat-pejabat-Nya yang tunduk kepada firman-Nya. Dengan jalan itu, terhindarlah setiap campur tangan dari luar. Disiplin diselenggarakan dengan hukuman. Tiap-tiap penatua memunyai wilayahnya sendiri dan berhak mengunjungi tiap-tiap rumah tangga. Ia menciptakan berbagai alat disiplin: nasihat, pengakuan dosa, larangan untuk menghadiri perayaan Perjamuan, dan ekskomunikasi. Kalau semuanya ini tidak membantu, orang-orang yang bersangkutan diserahkan kepada pemerintah.

    Pemerintah menghendaki perayaan Perjamuan Malam hanya dilayani empat kali setahun, juga bahwa dalam beberapa hal pemerintah lebih banyak memunyai hak daripada yang dikehendaki Calvin. Tetapi Calvin tidak setuju, juga waktu pemerintah berusaha untuk menguasai dan menyelenggarakan disiplin.

    Calvin tidak berkata-kata lagi tentang keharusan untuk menandatangani pengakuan iman. Sebagai gantinya, ia meletakkan dasar yang kuat untuk pengajaran katekisasi dengan jalan menulis sendiri Katekismus Jenewa. Di situ dibahas tentang iman, perintah, doa, dan sakramen. Buku ini kemudian ditiru oleh gereja-gereja lain dan besar sekali pengaruhnya atas Katekismus Heidelberg. Bukan saja pengajaran katekisasi, ia juga menyusun liturgi-liturgi untuk ibadah jemaat. Dalam pekerjaan penyusunannya, ia menggunakan liturgi-liturgi yang ada pada waktu itu sebagai bahan. Namun, ia mengubahnya sesuai dengan liturgi yang digunakan di Strasburg. Dapat kita katakan bahwa Strasburg adalah tempat lahirnya bentuk "liturgi Reformed". Tetapi bentuk itu mula-mula jauh lebih kaya daripada bentuk yang digunakan pada saat ini.

    Tadi kita telah mendengar tentang nyanyian jemaat (mazmur-mazmur) yang diusahakan oleh Calvin dan kawan-kawannya, yakni penyair mazmur Perancis, Clement Marot, dan Theodorus Beza (yang melanjutkan pekerjaan Marot). Melodi-melodi untuk nyanyian jemaat itu mula-mula diambil alih Calvin dari melodi-melodi yang digubah oleh Matthias Greiter dari Strasburg. Salah satu di antaranya ialah Mazmur 68 yang kita miliki sampai sekarang. Kemudian, di Jenewa, Calvin menugaskan Louis Bourgeois untuk melengkapi melodi-melodi yang telah ada. Ada 104 melodi yang berasal darinya. Kadang-kadang, ia mengubah lagu rakyat menjadi melodi gerejawi. Ketika Louis Bourgeois berselisih dengan Calvin dan meninggalkan Jenewa, tugasnya diambil alih oleh Maistre Pierre. Strasburg bukan saja tempat lahirnya bentuk "liturgi Reformed", melainkan juga tempat lahirnya "nyanyian Reformed". Nyanyian-nyanyian yang mereka susun memunyai nilai yang sangat besar bagi jemaat, bahkan hingga saat ini. Calvin juga menyuruh agar segala sesuatu yang dapat mengingatkan jemaat kepada gereja Katolik Roma -- seperti mazbah-mazbah, patung-patung, salib-salib, dan organ -- dikeluarkan dari gedung gereja.

    Setelah waktu-waktu perjuangan, kini tibalah saatnya Calvin dapat bekerja dengan tenang (1555 -- 1564). Pengaruhnya saat itu makin bertambah besar, juga di bidang politik. Terhadap Bern dan lawan-lawannya, Calvin mengambil sikap bijaksana dan penuh perdamaian.

    Sebagian besar pengaruh Calvin diperoleh dari karya-karyanya, terutama dari bukunya, Institutio, juga dari tafsiran-tafsirannya yang mencakup hampir seluruh Kitab Suci, dan kuliah-kuliahnya. Di samping itu, kita juga harus menyebut korespondensinya dengan pemimpin-pemimpin reformasi di hampir seluruh Eropa, terutama dengan orang-orang Perancis yang seiman dengannya. Buku-bukunya ia persembahkan kepada raja-raja dan orang-orang yang ternama di Inggris, Polandia, Swedia, Denmark, dan di tempat-tempat lain. Dengan jalan itu, ia sering menjalin hubungan baik dengan mereka.

    Satu hal lagi yang menyebarkan pengaruh Calvin ke mana-mana, yakni Akademi Teologi yang ia dirikan di Jenewa. Mula-mula, akademi itu dipimpin oleh Castellio. Ia tidak bisa diangkat menjadi pendeta karena tidak mengakui Kidung Agung sebagai bagian dari Kitab Suci dan tidak mau menerima pengakuan mengenai "turunnya Yesus ke dalam kerajaan maut". Ketika ia ditegur oleh Dewan Kota, ia tidak terima. Ia lalu meninggalkan Jenewa. Hal itu menyebabkan mutu pendidikan di akademi itu makin lama makin merosot.

    Pada tahun 1559, Dewan Kota di Bern mengusir pengajar-pengajar calvinis yang bertugas di Akademi Lausanne. Mereka pergi ke Jenewa, tempat akademi teologi baru dibuka. Yang menjabat sebagai rektor dari akademi itu ialah Theodorus Beza, teman Calvin, yang juga datang dari Lausanne. Akademi itu -- menurut rencana Calvin -- berfungsi sebagai alat untuk mendidik suatu generasi yang baru, yang saleh, dan yang berani berjuang. Bentuk humanitas di sini diisi dengan suatu esensi teokratis yang ketat. Akademi ini merupakan suatu pusat internasional. Banyak tokoh reformasi terkenal pernah belajar di akademi ini, antara lain John Knox (dari Skotlandia), Marnix St. Aldegonde (dari Belanda), dan Caspar Olevianus (salah satu dari penyusun Katekismus Heidelberg yang terkenal juga di Indonesia). Murid-murid ini kemudian menyebarkan reformasi -- sesuai dengan ajaran Calvin -- ke seluruh Eropa.

    Calvin menghendaki agar seluruh rakyat di Jenewa ditempatkan di bawah hukum Allah. Untuk itu, bagi tiap-tiap golongan ditetapkan "kemewahannya". Bahkan, orang tidak bebas dalam pemilihan makanan dan pakaian. Maksud Calvin ialah untuk mendidik rakyat agar hidup hemat dan rajin bekerja. Untuk mencapai hal itu, pengaturan disiplin diterapkan secara ketat. Juga perselisihan dalam keluarga, kekerasan dalam pendidikan anak-anak, penipuan dalam perdagangan, dan sebagainya, dikenakan disiplin gerejawi. Dalam hal ini, tidak ada orang yang dikecualikan, juga keluarga Calvin sendiri. Demikianlah gaya hidup yang diciptakan Calvin di Jenewa. Melalui gaya hidup ini, lahirlah suatu generasi baru yang rajin bekerja. Hal itu menambah kesejahteraan hidup di Jenewa. Di mana-mana di Eropa, orang berusaha untuk mengikuti gaya hidup ini.

    Dalam hidup dan pekerjaannya, Calvin -- di sana-sini -- dipengaruhi oleh reformator-reformator yang lain, juga oleh Bucer, terutama saat mereka bekerja sama di Strasburg. Ia menghargai Bucer. Bucer juga menghargainya. Bukan hanya Bucer, juga pendeta-pendeta di Strasburg. Hal itu mereka ungkapkan dalam "surat kesaksian" yang mereka berikan kepadanya ketika ia berpisah dengan mereka dan akan kembali ke Jenewa. Dalam "surat kesaksian" itu, mereka antara lain mengatakan bahwa Calvin adalah "suatu alat yang sangat berharga dari Kristus, suatu alat ... yang tidak ada bandingannya, kalau ditinjau dari sudut kerajinannya yang luar biasa untuk membangun jemaat dan dari kemampuannya untuk membela dan menguatkannya melalui tulisan-tulisannya".

    Sumber: 

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : Bucer & Calvin: Suatu Perbandingan Singkat
    Penulis : Dr. J.L.Ch. Abineno
    Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta 2006
    Halaman : 1 -- 5

    Gereja dan Alkitab (2)

    Dear e-Reformed Netters,

    Artikel berikut ini merupakan sambungan dari bagian (1) yang sudah saya kirim sebelumnya. Jika Anda ternyata belum mendapatkan bagian sebelumnya, silakan berkirim surat ke saya dan saya akan mengirimkannya untuk Anda.

    Selamat melanjutkan perenungan Anda.

    In Christ,
    Yulia
    yulia(at)in-christ.net

    Editorial: 

    Dear e-Reformed Netters,

    Artikel berikut ini merupakan sambungan dari bagian (1) yang sudah saya kirim sebelumnya. Jika Anda ternyata belum mendapatkan bagian sebelumnya, silakan berkirim surat ke saya dan saya akan mengirimkannya untuk Anda.

    Selamat melanjutkan perenungan Anda.

    In Christ, Yulia yulia(at)in-christ.net

    Penulis: 
    T.B. Simatupang
    Edisi: 
    087/IV/2007
    Isi: 
    GEREJA DAN ALKITAB (2)
    Sejarah perkembangan penerjemahan dan penggunaan Alkitab ditinjau dari segi perkembangan dan persatuan bangsa serta kesatuan umat Tuhan di Indonesia
    Oleh: T.B. SIMATUPANG

    (Sambungan dari bagian 1)

    Waktu Injil tiba di Indonesia untuk pertama kali pada abad ke-7 dan untuk kedua kali dalam abad ke-16, Indonesia telah memunyai perkembangan yang menarik dari segi sejarah dan dari segi agama serta kebudayaan. Injil tidak tiba di Indonesia dalam keadaan yang "kosong" dari segi agama dan kebudayaan. Dapat kita catat adanya beberapa "lapisan" dalam sejarah keagamaan dan kebudayaan kita sehingga Indonesia dapat kita lihat sebagai suatu kue lapis yang memperlihatkan lapisan-lapisan keagamaan dan kebudayaan yang memunyai coraknya masing-masing.

    Lapisan pertama ialah lapisan kebudayaan dan keagamaan Indonesia asli, yang memperlihatkan persamaan-persamaan yang mendasar di samping perbedaan-perbedaan dari suatu daerah ke daerah yang lain. Studi-studi mengenai kebahasaan dan adat-istiadat yang dahulu banyak dijalankan oleh sarjana-sarjana Belanda, mencatat persamaan-persamaan yang pokok di samping adanya perbedaan-perbedaan dalam lapisan Indonesia asli ini di berbagai daerah dan kalangan berbagai suku. Di beberapa daerah, lapisan asli ini masih tampak pada permukaan kehidupan kebudayaan dan adat istiadat, seperti di Tanah Batak, di Tanah Toraja, dan di Sumba. Lapisan-lapisan kedua dan ketiga yang akan kita bicarakan di bawah, tidak banyak memengaruhi keadaan dan keagamaan di daerah-daerah itu.

    Lapisan kedua ialah pengaruh kebudayaan dan keagamaan yang datang dari India. Selama lebih dari seribu tahun, pengaruh kebudayaan dari keagamaan yang berasal dari India ini sangat berakar di Pulau Jawa dan Bali dan sebagian Pulau Sumatera. Lapisan ini menghasilkan Kerajaan Sriwijaya yang beragama Budha dan Kerajaan Majapahit yang beragama Hindu. Kedua kerajaan itu pernah mempersatukan seluruh kepulauan Indonesia. Sampai sekarang, pengaruh dari lapisan yang berasal dari India ini masih tetap sangat kuat di Pulau Jawa dan Bali. Seperti telah kita catat tadi, Injil telah tiba di Indonesia pada abad ke-7 dalam kurun tibanya lapisan kedua ini di Indonesia, tetapi pengaruh Injil itu hanya terbatas kepada Fansur (Barus) saja dan pengaruh itu kemudian lenyap tanpa meninggalkan bekas.

    Lapisan ketiga dengan datangnya Islam. Di banyak daerah di Indonesia peta keagamaan dan kebudayaan mengalami perubahan yang mendasar sebagai akibat kedatangan Islam itu. Muncullah banyak kerajaan Islam di berbagai daerah, tetapi tidak sempat ada kerajaan Islam yang mempersatukan seluruh kepulauan Indonesia, seperti pernah terjadi oleh Kerajaan Budha Sriwijaya dan oleh Kerajaan Hindu Majapahit. Injil tidak hadir di Indonesia selama tibanya lapisan ketiga ini.

    Masih ada pengaruh kebudayaan yang cukup luas yang berasal dari Cina. Tetapi pengaruh ini tidak pernah sempat menjadi suatu lapisan tersendiri dalam peta keagamaan dan kebudayaan di Indonesia. Hal Ini berbeda dengan sejarah Vietnam, di mana pengaruh kebudayaan dan keagamaan yang berasal dari Cina merupakan lapisan yang utama.

    Lapisan keempat tiba di Indonesia dengan datangnya pengaruh kebudayaan dan keagamaan yang berasal dari Eropa atau lebih tepat dari Eropa Barat atau Barat yang modern. Mula-mula datang orang-orang Portugis dan kemudian orang-orang Belanda. Injil tiba di Indonesia untuk kedua kalinya bersamaan dengan kedatangan lapisan keempat yang berasal dari Eropa atau Barat modern ini.

    Namun, Injil tidak identik dengan Eropa. Injil mula-mula justru telah tiba di Eropa dari Asia, yaitu dari Yerusalem. Telah kita lihat bahwa Rasul Paulus dituntun oleh Roh Kudus untuk membawa Injil dari Asia ke Eropa. Agama Kristen bukan agama Eropa. Eropa justru telah mengalami perubahan yang mendasar sebagai akibat dari datangnya kekristenan dari Asia ke Eropa. Perubahan yang sangat penting terjadi setelah Renaissance pada abad ke-14. Sebagai hasil dari proses perubahan sejak Renaissance itu, muncullah di Eropa apa yang disebut peradaban modern. Eropa beralih dari pramodern menjadi modern. Dengan ini, Eropa Barat mengembangkan peradaban modern yang pertama di dunia kita ini.

    Apakah yang disebut modern itu? Pada dasarnya, peradaban yang modern itu memperlihatkan pola pikir, pola kerja, dan pola hidup baru yang paling sedikit memperlihatkan dua ciri yang tidak terdapat pada peradaban-peradaban pramodern, yaitu ciri kerasionalan dan ciri kedinamikaan. Mengapa kemodernan itu muncul untuk pertama kali di Eropa Barat, sedangkan sebelum itu banyak peradaban di luar Eropa Barat termasuk peradaban Arab-Islam, yang lebih unggul dari peradaban Eropa Barat itu? Ada pandangan yang melihat adanya dua sumber utama bagi lahirnya kemodernan itu di Eropa Barat. Pertama, rasionalitas yang berasal dari filsafat Yunani dan kedua kedinamikaan yang berasal dari perkembangan dari suatu Alkitab yang melihat adanya dinamika perubahan dalam sejarah awal menuju suatu tujuan atau penggenapan yang terletak di depan. Dengan demikian pemikiran modern berorientasi ke masa depan, dan tidak ke masa lampau, seperti halnya dalam pemikiran pramodern yang tradisional.

    Setelah Eropa Barat menjadi modern, mereka menjalankan ekspansi dan eksploitasi di seluruh dunia. Rahasia keunggulan Barat selama beberapa abad tidak terletak pada ke-Baratannya, tetapi pada kemodernannya. Semua perlawanan dari bangsa-bangsa non-Barat terhadap ekspansi dan eksploitasi oleh Eropa modern itu, yang dijalankan secara pramodern, menemui kekalahan. Di Amerika dan Australia, penduduk asli praktis dimusnahkan oleh ekspansi dan eksploitasi oleh Barat modern itu. Kedua benua itu praktis menjadi perluasan dari dunia Barat. Cina tidak ditaklukkan tetapi mengalami revolusi yang berkepanjangan, yang tampaknya masih terus berlangsung sampai sekarang ini. Jepang berhasil untuk mengambil alih kemodernan dan mengalahkan bangsa Barat dalam perang Rusia 1904 -- 1905. Ini membuktikan bahwa apabila suatu bangsa non-Barat berhasil menguasai kemodernan, dia tidak akan terus mengalami kekalahan dari bangsa Barat.

    India, Indonesia, Vietnam, dan bangsa-bangsa lain dijadikan jajahan dalam rangka ekspansi dan eksploitasi oleh Barat modern itu, yang mula-mula dipelopori oleh Spanyol dan Portugal, yang diperintah oleh raja-raja yang beragama Roma Katolik. Raja-raja itu memerintahkan armada-armada mereka berlayar ke Amerika dan ke Asia untuk menaklukkan daerah-daerah dan bangsa-bangsa yang mereka temui guna memperoleh keuntungan dan sekaligus guna menyebarkan Agama Kristen Katolik. Kemudian yang menjadi pelopor-pelopor dalam ekspansi dan eksploitasi oleh Barat modern itu ialah orang-orang Inggris dan Belanda, yang merupakan bangsa-bangsa Kristen Protestan. Mereka ini memusatkan perhatiannya terutama kepada keuntungan. Mereka hanya memunyai perhatian yang sangat terbatas pada penyebaran Agama Kristen Protestan melalui penaklukan seperti dijalankan oleh Spanyol dan Portugal. Apa yang dialami oleh bangsa-bangsa non-Barat dan non-modern yang lain, kita alami juga di Indonesia. Dalam semua perlawanan yang kita jalankan secara pramodern terhadap ekspansi dan eksploitasi oleh Barat modern yang datang tanpa diundang itu, kita mengalami kekalahan. Orang-orang Portugis yang mula-mula datang menyebarkan agama Kristen Katolik di beberapa daerah, yaitu di Maluku, Flores, dan di daerah lain seperti Timor. Belanda yang tiba belakangan mengusir orang-orang Portugis dan lambat laun mereka menegakkan kekuasaannya. Di Maluku, sebagian besar orang-orang Kristen Katolik menjadi Kristen Protestan setelah Belanda berkuasa di sana, tetapi pada umumnya Belanda yang Protestan itu memunyai perhatian yang terbatas pada penyebaran agama Kristen melalui penaklukan dibandingkan dengan orang-orang Portugis. Penyebaran Agama Kristen yang kemudian terjadi di berbagai daerah adalah terutama hasil pekerjaan dari perkumpulan-perkumpulan pekabaran Injil, yang tidak ada kaitannya dengan Pemerintah Belanda. Sebagian dari perkumpulan-perkumpulan pekabaran Injil itu tidak berpangkalan di negeri Belanda, tetapi di Jerman dan Swiss. Di beberapa daerah, yang sebelumnya tidak atau hampir tidak disentuh oleh apa yang kita sebut dengan lapisan kedua dan ketiga, yaitu lapisan yang berasal dari India dan lapisan Islam, agama Kristen menjadi agama rakyat. Kita sebut sebagai contoh, Tapanuli Utara, Simalungun, Karo, Nias, Toraja, Minahasa, Sangir, sebagian Sulawesi Tengah, Kalimantan Tengah, Sumba, Timor, Flores, Maluku, dan Irian Jaya.

    Di banyak daerah lain, lahir gereja-gereja yang jumlah anggotanya relatif kecil dibanding dengan penduduk daerah itu, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara. Ada juga gereja-gereja yang mula-mula beranggotakan keturunan Cina. Di beberapa daerah gereja hampir tidak sempat berakar. Dengan demikian, telah diletakkan landasan bagi peta keagamaan dan kebudayaan di Indonesia, yang pada dasarnya masih tetap bertahan sampai sekarang ini.

    Dalam hubungan itulah, kita harus tempatkan peristiwa yang terjadi 360 tahun yang lalu (sesuai tahun penulisan buku ini -- Red.), yaitu penerbitan kitab pertama dari Alkitab dalam bahasa Indonesia (Melayu). Hal itu penting sebab bahasa Melayu memunyai posisi yang penting di seluruh kepulauan Indonesia bahkan juga di beberapa daerah di luar Indonesia, sebagai bahasa pergaulan dengan bangsa-bangsa asing. Posisi bahasa Melayu itu dapat dibandingkan dengan posisi bahasa Yunani di kawasan sekitar Laut Tengah sebelum dan sesudah lahirnya gereja purba. Penerbitan kitab pertama dari Alkitab dalam bahasa Melayu yang terjadi 360 tahun yang lalu telah disusul oleh upaya penerjemahan dan penerbitan yang lebih lanjut sehingga akhirnya tersedia Alkitab yang lengkap dalam bahasa Melayu. Yang paling terkenal ialah terjemahan Leydecker, yang memunyai pengaruh yang sangat luas, antara lain di bagian timur Indonesia.

    Setelah pemerintahan selingan Inggris pada awal abad ke-19 berakhir, kembalinya kekuasaan Belanda telah disambut dengan pemberontakan-pemberontakan di tiga daerah, yaitu pemberontakan Paderi di Sumatera Barat, yang bercorak Islam Wahabi; pemberontakan Pangeran Diponegoro di pulau Jawa yang bercorak Islam Jawa; dan pemberontakan Pattimura di Maluku yang bercorak Kristen Ambon. Konon waktu Pattimura terpaksa harus meninggalkan Kota Saparua, dia telah meninggalkan Alkitab di mimbar gereja Saparua yang terbuka pada Mazmur 17, dengan kalimat-kalimat awalnya yang berbunyi:

    "Dengarlah, Tuhan, perkara yang benar, perhatikanlah seruanku; berilah telinga akan doaku, dari bibir yang tidak menipu. Dari pada-Mulah kiranya datang penghakiman; mata-Mu kiranya melihat apa yang benar".

    Melalui Mazmur 17 itu Pattimura rupanya ingin menyampaikan pesan kepada komandan pasukan Belanda yang memasuki kota Saparua, bahwa sekalipun Belanda menang, kebenaran adalah di pihak Pattimura dan teman-teman seperjuangannya. Alkitab yang ditinggalkan oleh Pattimura terbuka pada Mazmur 17 di mimbar gereja Saparua agaknya ialah Alkitab terjemahan Leydecker.

    Dalam rangka pekabaran Injil di berbagai daerah yang dijalankan secara intensif sejak abad ke-19 dan yang seperti kita lihat tadi banyak dijalankan oleh perkumpulan-perkumpulan pekabaran injil yang tidak terkait dengan Pemerintah Kolonial Belanda, dengan sendirinya telah lahir terjemahan-terjemahan Alkitab dalam berbagai bahasa daerah. Untuk itu, bahasa-bahasa daerah itu telah dipelajari sebaik-baiknya secara ilmiah. Dalam hubungan itu, salah satu tokoh yang paling menarik ialah Herman Neubronner van der Tuuk (1824-1894). Atas penugasan oleh Lembaga Alkitab Belanda, van der Tuuk telah memelopori upaya untuk mempelajari bahasa Batak dan kemudian bahasa Bali secara ilmiah.

    Pada peresmian Perpustakaan Nasional pada tanggal 11 Maret 1989 di Jakarta, Presiden Soeharto berkata bahwa di Perpustakaan Nasional itu terdapat naskah terjemahan Alkitab dalam bahasa dan aksara Batak. Naskah itu agaknya adalah terjemahan oleh van der Tuuk, yang di Tanah Batak terkenal dengan nama Pandortuk. Di Bali dia terkenal dengan nama Tuan Dertik.

    INDONESIA MEMASUKI ERA MODERN

    Sejarah modern Indonesia dapat dianggap mulai dengan Kebangkitan Nasional pada tahun 1908. Sebelum itu, bangsa kita selalu mengalami kekalahan dari Belanda, oleh karena kita menjalankan perang-perang lokal secara pramodern, sedangkan Belanda menjalankan peperangan secara modern serta strategi yang mencakup seluruh Hindia Belanda. Peperangan-peperangan lokal dan pramodern yang terakhir ialah Perang Aceh, Perang Batak, dan Perang Bali. Waktu Perang Aceh, Perang Batak, dan Perang Bali itu berakhir pada awal abad ke-20, di Jakarta (Batavia) telah ada pemuda-pemuda terpelajar yang mendirikan Budi Utomo pada tahun 1908. Sejak Kebangkitan Nasional 1908 itu, kita melanjutkan perlawanan terhadap Belanda yang sebelumnya kita jalankan secara lokal dan pramodern dengan cara-cara yang secara berangsur-angsur makin bersifat nasional dan makin bersifat modern.

    Gerakan-gerakan pemuda yang mula-mula bersifat kedaerahan, di mana pemuda-pemuda Kristen dari daerah-daerah yang bersangkutan aktif mengambil bagian, menjadi gerakan Pemuda Nasional dengan Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Dengan Sumpah Pemuda itu, bahasa Indonesia memperoleh kedudukan sebagai bahasa persatuan dan bahasa Nasional.

    Dalam iklim yang dijiwai oleh cita-cita kemerdekaan Nasional itu, telah lahir pula gereja-gereja yang mandiri di berbagai daerah. Banyak di antara gereja-gereja itu menggunakan Alkitab dalam bahasa daerah masing-masing. Tetapi berdasarkan keyakinan bahwa bahasa Indonesia akan memunyai tempat yang menentukan dalam perkembangan persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan di masa depan, diadakan juga terjemahan dalam bahasa Indonesia di bawah pimpinan Bode. Dengan didirikannya Hoogere Theologische School (HTS) pada tahun 1934 yang sekarang menjadi Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta, dimulailah pendidikan calon-calon pendeta yang berwawasan persatuan bangsa dan kesatuan gereja untuk semua gereja. Para lulusan dari HTS itu kemudian menjadi pelopor-pelopor bagi gerakan menuju kesatuan gereja.

    Dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, bangsa kita memasuki era yang baru, yaitu era bangsa dan negara yang merdeka. Dalam hubungan ini, perlu dicatat bahwa dasar negara yang diterima secara bulat pada tahun 1945, yaitu Pancasila, terbukti merupakan dasar yang sangat tepat yang telah mampu menjamin persatuan dan kesatuan bangsa yang terus makin kokoh serta kerukunan antar umat beragama. Kita lihat bahwa banyak negara baru yang lain telah mengalami pergolakan serta konflik-konflik antar agama yang berkepanjangan.

    Menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 terdapat pertentangan yang tajam antara dua konsep kenegaraan, yaitu konsep negara agama dan konsep negara nasional. Dengan Pancasila, kita telah menghindarkan perpecahan dan sejak itu, persatuan bangsa kita terwujud waktu proklamasi. Dalam sejarah India, pertentangan antara konsep negara agama dan konsep negara nasional telah menghasilkan dua dan kemudian tiga negara.

    Pada perang kemerdekaan (1945 -- 1949) melawan Belanda, kita menjalankan strategi nasional yang modern yang terdiri dari kombinasi antara strategi militer yang modern dan strategi diplomasi yang modern telah menghasilkan kemenangan bagi kita dalam arti Belanda mengakui kedaulatan kita. Dalam perjuangan yang kita jalankan secara nasional dan modern antara 1945 dan 1949, kita dapat mengalahkan Belanda, sedangkan dalam peperangan-peperangan sebelum Kebangkitan Nasional 1908, yang kita jalankan secara lokal dan pramodern, kita selalu mengalami kekalahan dari Belanda.

    Perang Kemerdekaan itu telah meningkatkan kesadaran mengenai kesatuan dan persatuan nasional di semua golongan dan lapisan bangsa kita, termasuk di kalangan umat Kristen. Orang-orang Kristen mengambil bagian dalam Perang Kemerdekaan itu secara bahu-membahu dengan saudara-saudaranya yang menganut agama-agama lain, seperti yang kita lihat ketika kita mengunjungi Taman-taman Pahlawan di seluruh tanah air. Setelah Perang Kemerdekaan berakhir dengan pengakuan kedaulatan kita menjelang akhir tahun 1949, pada tahun 1950 pemimpin-pemimpin dari gereja-gereja di Indonesia mendirikan Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) dengan tujuan mendirikan Gereja Kristen yang Esa di Indonesia. Dengan perkataan lain, para pemimpin gereja hendak mewujudkan kesatuan umat Tuhan di Indonesia dalam rangka persatuan bangsa. Tetapi kesatuan umat Tuhan itu tentu lebih luas daripada persatuan bangsa. Kesatuan umat Tuhan mencakup umat Tuhan di semua tempat dan sepanjang zaman. Kesatuan umat Tuhan yang merupakan inti dari gerakan Oikumenis bersumber pada Injil. Tuhan Yesus berdoa, "Supaya mereka menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku" (Yohanes 17:21). Dengan demikian, jelas bahwa yang Oikumenis tidak dapat dipertentangkan dengan yang Injili. Yang Oikumenis adalah di dalam yang Injili dan yang Injili adalah di dalam yang Oikumenis. Baik yang Injili, maupun yang Oikumenis sama-sama bersumber pada Alkitab. Mereka dipersatukan oleh Alkitab yang satu.

    Setelah pengakuan kedaulatan kita pada tahun 1950, lahirlah pula Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) pada tahun 1954. Dalam rangka persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan, lahir pula terjemahan dalam bahasa Indonesia modern, di mana terdapat kerja sama yang erat antara LAI dengan semua gereja di Indonesia, termasuk Gereja Roma Katolik. Dalam rangka persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan itu pulalah terjemahan dalam banyak bahasa daerah dibaharui dan terjemahan-terjemahan dalam bahasa-bahasa yang belum mengenal terjemahan Alkitab terus diadakan. Dalam hubungan persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan itu pula, dirasakan kebutuhan akan terjemahan-terjemahan dalam bahasa-bahasa sehari-hari, agar Alkitab itu dapat lebih mudah dibaca dan dipahami di tengah-tengah kehidupan sehari-hari.

    Waktu bangsa kita hidup dalam iklim revolusi selama Demokrasi Terpimpin dengan kecenderungannya untuk menuntut penyesuaian secara total dengan ketentuan-ketentuan revolusi, dalam gereja-gereja kita banyak mempelajari Roma 12:2 yang berbunyi "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna". Itulah yang melahirkan rumus yang terkenal bahwa dalam terang Injil Kerajaan Allah: kita mengambil bagian dalam revolusi secara positif, kreatif, kritis, dan realistis. Waktu kita memasuki era pembangunan, rumus tersebut dilanjutkan dengan mengatakan bahwa dalam terang Injil Kerajaan Allah kita mengambil bagian dalam pembangunan secara positif, kreatif, kritis, dan realistis.

    Dalam hubungan penerjemahan dengan penggunaan Alkitab dalam rangka persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan, dapat dicatat pengalaman kita dalam rangka perjuangan untuk mengintegrasikan Irian Jaya (sekarang Papua -- Red.) ke dalam persatuan bangsa dan usaha untuk mengintegrasikan Gereja Kristen Injili di Irian Jaya ke dalam persatuan umat Tuhan di Indonesia. Pada waktu itu, Belanda bekerja keras untuk memisahkan Irian Jaya dari bagian-bagian yang lain dari Indonesia, antara lain dengan mengusahakan agar Gereja Kristen Injili di Irian Jaya dan rakyat di Irian Jaya umumnya, tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia. Usaha Belanda itu telah gagal karena gereja dan rakyat di Irian Jaya tidak bersedia untuk melepaskan bahasa Indonesia dan Alkitab dalam bahasa Indonesia. Alkitab dalam bahasa Indonesia yang dibaca luas di Irian Jaya merupakan salah satu sebab yang utama bagi kegagalan upaya Belanda untuk memisahkan rakyat Irian Jaya dan untuk memisahkan Gereja Kristen Injili di Irian Jaya dari persatuan bangsa dan dari kesatuan umat Tuhan di Indonesia.

    Kita telah mencapai kemajuan yang besar dalam proses untuk terus-menerus memperkuat persatuan bangsa antara lain dengan memantapkan Pancasila sebagai satu-satunya alas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara pada tahun 1985. Kita telah mencapai kemajuan dalam proses yang terus-menerus untuk membaharui, menumbuhkan, membangun, dan mempersatukan umat Tuhan antara lain dengan peningkatan Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) menjadi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) pada tahun 1984. Dalam rangka persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan itu, penerjemahan dan penggunaan Alkitab akan terus kita tingkatkan di masa depan.

    MELIHAT KE MUKA

    Dalam memperingati penerbitan bagian Alkitab dalam bahasa Indonesia (Melayu) 360 tahun yang lalu, pada satu pihak kita melihat ke belakang dengan mengucap syukur atas pekerjaan yang telah dijalankan oleh begitu banyak hamba Tuhan yang setia di masa lampau dalam menerjermahkan, menerbitkan, dan mendistribusikan Alkitab, dengan tujuan agar semua orang di Indonesia dapat membawa Alkitab dalam bahasanya sendiri, dengan harga yang terjangkau oleh orang banyak.

    Pada pihak lain kita melihat ke muka untuk melihat tanda-tanda zaman yang dapat membantu kita menjalankan persiapan-persiapan agar kita dapat menghadapi perkembangan di masa depan sebaik-baiknya, baik dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara kita, maupun dalam kehidupan gereja-gereja kita dan demikian juga dalam kehidupan Lembaga Alkitab di Indonesia (LAI). Masyarakat, bangsa dan negara kita sedang bersiap-siap untuk menjalankan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas menjelang akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 agar kita dapat "naik kelas" dari negara berkembang menjadi negara maju yang membangun masyarakat Pancasila yang maju, adil, makmur dan lestari, yang akan dapat memberikan sumbangan yang sebesar-besarnya dalam upaya umat manusia untuk membangun masyarakat dunia dengan berpedoman kepada keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan.

    Ilmu dan teknologi yang harus makin maju dan makin canggih akan menjadikan dunia dan juga Indonesia makin kecil dan makin bersatu. Ancaman-ancaman baru yang dapat membawa kepada kehancuran akan dihadapi, di samping peluang-peluang yang baru untuk membangun masyarakat dunia dan juga masyarakat Indonesia yang makin adil, makin damai, dan makin mampu untuk menjamin keutuhan ciptaan.

    Apakah akan ada perbedaan dalam masa depan dunia dan dalam masa Indonesia tanpa atau dengan kehadiran serta partisipasi gereja? Perbedaan itu tentu ada sebab gereja telah ditempatkan oleh Tuhannya di dunia ini, termasuk di Indonesia yang menjalankan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas, sebagai "garam", "terang", dan berkat bagi semua orang. Untuk itu, gereja harus menjalankan tugasnya yang tidak berubah di semua tempat dan sepanjang zaman, seperti telah dirumuskan bersama-sama oleh gereja-gereja di Indonesia dalam Sidang Raya DGI 1984, sebagai berikut.

    1. Memberitakan Injil kepada semua makhluk (Markus 16:15).
    2. Menampakkan keesaan mereka seperti keesaan Tubuh Kristus dengan rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh (I Korintus 12:4).
    3. Menjalankan pelayanan dalam kasih dan usaha menegakkan keadilan (Markus 10:45, Lukas 4:18, 10:25-37; Yohanes 15:16).

    Dalam menjalankan tugas panggilannya tadi di tengah-tengah perkembangan dunia umumnya dan juga di tengah-tengah perkembangan Indonesia, gereja-gereja di seluruh dunia termasuk di Indonesia berbicara mengenai Kisah Para Rasul Kontemporer. Dalam Kisah Para Rasul, kita baca bahwa setelah bertemu dengan Kristus yang bangkit dan memperoleh kuasa dari Roh Kudus menjadi saksi di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi, gereja purba telah keluar dari keterbatasannya semula sebagai gereja dari dan untuk orang-orang Yahudi, untuk menjadi gereja bagi semua orang dalam Kerajaan Romawi dengan tidak mengadakan diskriminasi antara Yahudi, Yunani, dan seterusnya.

    Dalam menjalankan Kisah Para Rasul kontemporer di dunia umumnya dan khususnya di Indonesia di tengah-tengah pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas menjelang akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, gereja-gereja di Indonesia berdoa agar mereka bertemu dengan Kristus yang bangkit dan memperoleh kuasa Roh Kudus untuk menjadi aksi sampai ke ujung Indonesia bahkan sampai ke ujung bumi. Untuk itu, gereja harus keluar dari berbagai bentuk keterbatasannya sehingga gereja-gereja di Indonesia itu bersama-sama menjadi gereja bagi semua orang di Indonesia di tengah-tengah pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas. Dalam hubungan itulah penerjemahan, penerbitan, dan distribusi Alkitab akan terus ditingkatkan agar Alkitab yang dapat dibaca oleh semua orang dalam bahasanya sendiri dengan harga yang terjangkau oleh orang banyak menjadi pelita yang menerangi jalan bagi semua orang dalam hubungan peningkatan persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan, di tengah-tengah pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas menjelang akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21.

    Sumber: 

    Diambil dan diedit seperlunya dari:

    Judul buku : Tantangan Gereja di Indonesia
    Editor : Pusat Literatur Euangelion
    Penerbit : Pusat Literatur Euangelion dan
    Yayasan Penerbit Kristen Injili (YAKIN)
    Judul artikel : Gereja dan Alkitab
    Penulis : T.B. Simatupang
    Halaman : 5 -- 14

    Komentar


    Syndicate content