Apakah Teologia Reformed Saya Sakit?

Penulis_artikel: 
Marshall Segal
Tanggal_artikel: 
02 Oktober 2018
Isi_artikel: 
Ujian Terbaik untuk Integritas Rohani

Kita tidak akan mengalami kehidupan dan harapan dan kebahagiaan yang sesungguhnya tanpa teologia yang baik. Akan tetapi, karena hati kita yang menyimpang, kita sering mencintai apa yang kita pelajari tentang Allah lebih daripada kita mencintai Allah itu sendiri. Kita sering lebih banyak tahu tentang Dia tanpa mengenal dan menikmati Dia dengan lebih baik. Dengan mudahnya terjadi putus hubungan antara kepala dan hati kita, dan jika dibiarkan tanpa diperiksa, itu bisa semakin parah saat kita semakin banyak tahu dan belajar.

Bertambah pengetahuan tentang Allah – lebih banyak teologia – bisa memenuhi iman kita dengan kasih sayang dan pengabdian dan rasa takjub yang lebih besar. Karena itu, teologia tidak ternilai. Akan tetapi, ketika kesombongan dan ketamakan dan rasa takut mengendalikan pengetahuan, pengetahuan yang sama itu bisa membutakan dan menyuramkan dan menggembungkan kita (1 Korintus 8:1). Bukannya lebih memahami Yesus, lebih mengenal akan Dia, teologia yang digunakan secara berdosa, membuat kita ingin menyaksikan hal yang lain. Kita mengganti saluran hati kita. Biasanya ke sesuatu yang lebih tentang kita, sesuatu yang membuat kita sedikit lebih mencintai diri kita sendiri. Karena itu, teologia juga bisa berbahaya.

Kita harus memberikan setiap hari yang kita miliki di bumi untuk lebih mengenal Allah yang besar, berdaulat, dan mulia – untuk mempelajari teologia yang baik. Dan, segala sesuatu yang kita pelajari seharusnya membuat kita lebih rendah hati dan lebih mengasihi Dia.

Ujian Terbaik

Jika lebih banyak mempelajari tentang Allah menjadikan kita kurang berdoa, maka mungkin kita membaca dan belajar dan tahu, tetapi tidak dengan hati kita. Apakah pengetahuan akan Allah yang lebih besar – lebih banyak khotbah, lebih banyak buku, lebih banyak podcast, lebih banyak kelas – membuat Anda lebih banyak berdoa?

Mungkin, ujian paling pasti tentang apakah teologia kita penuh ataukah kosong adalah apakah itu menghasilkan keintiman dengan Allah dalam doa yang lebih dalam. Tidak ada yang perlu mengoreksi Yesus dalam apa pun tentang pengenalan-Nya akan Allah, tetapi itu tidak menghilangkan kebutuhan-Nya atau keinginan-Nya untuk berdoa. Markus menulis, “Pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap, Yesus bangun dan pergi ke sebuah tempat yang sunyi, lalu Ia berdoa di sana” (Markus 1:35). Dia berdoa dengan semakin bergairah, bukan kurang atau malah sambil lalu.

Tim Keller berkata, "ujian yang sempurna untuk integritas rohani, kata Yesus, adalah kehidupan doa pribadi Anda. Banyak orang akan berdoa ketika mereka dituntut secara budaya atau sosial, atau mungkin karena takut dengan keadaan yang mengganggu. Mereka yang sungguh-sungguh menjalani relasi dengan Allah sebagai Bapa, bagaimanapun, di dalam dirinya akan ingin berdoa dan karena itu akan berdoa meskipun tidak ada apa pun dari luar dirinya yang memaksanya untuk melakukannya." (Doa)

Semakin kita mengenal dan mencintai Allah ini, semakin kita menyapih diri kita sendiri dari dunia ini dan pusat hati kita, ambisi kita, dan mendambakan Dia. Semakin banyak waktu dan tenaga yang kita pakai untuk mendengar dan melihat Dia. Semakin banyak kita berdoa.

Apa yang Anda ketahui tentang Allah yang membuat Anda lebih dekat kepada-Nya?

Mata Hati Anda

Jika kita mulai merasakan putusnya hubungan antara kepala kita dan hati kita – antara pembelajaran kita dan doa kita – solusinya bukan sekadar lebih banyak pengetahuan. Lebih banyak membaca. Lebih banyak mengikuti kelas. Lebih banyak definisi dan penjelasan dari Google. Pengetahuan tentang Allah adalah penting, tetapi itu bukan kunci untuk membangkitkan hati kita. Allah sendirilah yang melakukan itu. Pengetahuan saja tidak membuka mata dan telinga kita, tetapi dengan mengenal Allah.

Rasul Paulus berdoa, "aku tidak henti-hentinya mengucap syukur untukmu saat aku mengingat kamu dalam doa-doaku. Aku berdoa agar Allah dari Tuhan kita, Kristus Yesus, Bapa dari kemuliaan, memberimu roh hikmat dan penyataan dalam pengetahuan akan Dia. Aku berdoa supaya mata hatimu diterangi sehingga kamu dapat mengerti pengharapan yang terkandung dalam panggilan-Nya, kekayaan yang terkandung dalam warisan yang mulia bagi orang-orang kudus." (Efesus 1:16-18)

Paulus tidak berkata singkirkan wahyu Allah, atau abaikan teologia, dan pelajari tentang Allah, atau buang pertanyaan-pertanyaan sulit di Alkitab. Tidak, dia hanya berdoa agar Allah membuat semua pemikiran itu berkobar di dalam hati kita untuk mengenal-Nya.

Allah tidak mau Anda merasa bersalah dengan buku-buku yang telah Anda baca, pelajaran yang Anda ambil (atau pikirkan), atau ayat Alkitab yang telah Anda hafalkan. Namun, Dia tidak dihormati dengan pengetahuan akan Dia, kecuali pengetahuan kita dipenuhi dengan kasih. Paulus berkata, “Jika aku mengetahui semua rahasia dan pengetahuan….tetapi tidak mempunyai kasih, aku bukanlah apa-apa” (1 Korintus 13:2) Semua rahasia dan pengetahuan – dan bukan apa-apa. Tujuan teologia kita, karenanya, bukanlah pengetahuan itu sendiri, tetapi mengenal dan mengasihi Allah.

Hati yang Lebih Lapang, Sukacita yang Lebih Dalam

Jika kita serius tentang realita dan kekekalan, kita tidak mau membaca Alkitab untuk sepuluh tahun lagi, dan berakhir dengan agak lebih bosan dengan Allah. Kita tidak ingin hanya menetap di dalam gereja hari Minggu demi hari Minggu, dan secara diam-diam berharap kita ada di tempat lain, melakukan hal lain. Kita tidak mau menghadap Allah untuk berdoa besok, dan merasakan itu lebih seperti melakukan kewajiban daripada menggunakan waktu dengan Bapa Anda di surga yang mengasihi Anda. Kita tidak mau belajar lebih banyak tentang “misi gereja di Perjanjian Baru,” dan tetap mengabaikan dan menghindari jiwa yang terhilang yang tinggal di sebelah rumah kita. Kita tidak mau mengerti bacaan di Alkitab yang sulit, atau bisa menjelaskan doktrin yang sulit, tetapi kurang kagum dan takjub terhadap Allah.

Kita ingin teologia kita menjadi sehat dan hidup. Kita ingin setiap hal yang kita pelajari tentang Allah minggu ini, dan selama sisa hidup kita, lebih menambah-nambah kasih kita kepada Dia. Dan lebih meningkatkan sukacita kita di dalam Yesus. Dan lebih menghancurkan hati kita terhadap dosa. Dan lebih menumbuhkan kasih kita kepada orang lain.

Kaum Farisi (di Perjanjian Baru dan hari ini di gereja kita) tahu apa yang harus dibaca dan dikatakan, tetapi kebenaran tidak ada pada mereka – teologia yang baik dipagari di luar hati mereka. Yang gagal dilihat oleh orang-orang Farisi adalah bahwa Kitab Suci ditulis untuk menolong kita mengasihi Yesus. Yesus berkata kepada mereka, “Kamu mempelajari Kitab Suci karena kamu menyangka bahwa di dalam Kitab Suci kamu akan mendapatkan hidup yang kekal; dan Kitab Suci itu juga memberi kesaksian tentang Aku” (Yohanes 5:39). Kita harus melihat lebih dalam daripada yang mau dilihat oleh Kaum Farisi – ke dalam diri kita sendiri dan ke dalam Akitab, dan ke dalam Allah kita yang besar. Jika kita tidak lebih mencari Yesus saat kita mempelajari Alkitab dan belajar teologia, kita meleset dari tujuannya, dan bukan hanya menyia-nyiakan waktu kita, tetapi menjadi lebih buruk dengan itu.

Belajarlah untuk mengasihi. Membacalah untuk mengenal Dia. Belajarlah untuk menikmati Dia. Menghafallah untuk mengasihi Dia. Lakukanlah itu semua untuk manfaat yang lebih dari mengenal Dia. (t/Jing-Jing)

Sumber Artikel: 

Diterjemahkan dari:

Nama situs: Desiring God
URL: https://www.desiringgod.org/articles/is-my-reformed-theology-sick
Judul asli artikel: Is My Reformed Theology Sick?
Penulis artikel: Marshall Segal
Tanggal akses: 2 Oktober 2018

Komentar