Skip to main content

Editorial

Dear e-Reformed Netters,

Gereja yang bertumbuh adalah gereja yang mau belajar dan mau diajar melalui khotbah-khotbah alkitabiah yang benar-benar dipersiapkan dengan matang. Artinya ada proses yang memang dikerjakan secara serius dan bertanggung jawab sebelum dikhotbahkan. Khotbah adalah salah satu cara yang dipakai Allah untuk menyampaikan atau mengomunikasikan pesan penting-Nya kepada banyak orang, baik disampaikan secara lisan maupun tulisan. Dalam tradisi Kristen, pesan ini haruslah firman-Nya yang tertulis di Alkitab atau yang biasa disebut Kabar Baik (Injil). Alkitab adalah satu-satunya sumber pemberitaan firman Tuhan, maka khotbah yang disampaikan seharusnya bukan pemikiran subjektif si pengkhotbah, melainkan pemikiran Alkitab yang telah diselidiki secara mendalam dan bertanggung jawab oleh si pengkotbah. Pesan utama dari khotbah harus senantiasa berpusat pada Kristus.

Kiranya melalui sajian artikel "Preach Thy Word" ini, kita akan bersama-sama melihat empat aspek utama teologia Marthin Luther dalam berkhotbah dan mempelajari hal penting yang harus tersirat dalam sebuah khotbah yang alkitabiah. Selamat membaca. Soli Deo Gloria!

Ayub Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
Edisi
Edisi 175/April 2016
Isi

ARTIKEL
PREACH THY WORD (Understanding Theology of Preaching on Martin Luther)

Di dalam "Teologi Khotbah", Marthin Luther memahami "Teologi" dan "Khotbah" adalah satu (integrated). Khotbah adalah sentral dari gereja yang benar. Dengan mendengar firman Tuhan, kita baru dapat hidup di dalam Tuhan dan melayani-Nya sebagai "integritas hidup teologis". Martin Luther menekankan bahwa mereka yang mendengar, melihat, dan melaksanakan khotbah yang diberitakan, diimani, diproklamasikan, dan dihidupi, mereka bukan orang sembarangan, mereka adalah bagian dari gereja yang kudus dan am. Jadi, khotbah memerankan peranan penting untuk menyatakan firman Tuhan yang masih bekerja sampai sekarang melalui pemberitaan Injil. Karena itu, Luther percaya bahwa "one must see the word of the preacher as God's Word" (seseorang harus melihat perkataan pengkhotbah sebagai firman Tuhan - Red.). Problemnya, bagaimana seorang pengkhotbah dapat memiliki "kejujuran hati" di dalam dirinya untuk memberitakan firman-Nya?

Bapa

4 aspek teologi Luther dalam berkhotbah:

  1. Doktrin firman Tuhan harus mendasari khotbah.

    Di dalam teologinya, Martin Luther terus menekankan pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib (Theology of the Cross) sebagai inti proklamasinya. Di atas kayu salib, Yesus dimuliakan. Jadi, teologi Kemuliaan (Theology of Glory) harus berhubungan dengan firman, inkarnasi Kristus, kematian Kristus, kebangkitan Kristus (Roma 1).

    1. Firman. Firman tidak bisa lepas dari "creation". Di dalam Kejadian, Luther memahami "Allah berfirman" bukan hanya ucapan saja, tetapi ada tindakan dan perbuatan Allah. Firman Tuhan menyatakan integritas diri-Nya dalam kehendak-Nya. Firman Tuhan datang kepada kita hanya melalui "perkataan-Nya". Bagi Luther, perkataan-Nya harus kita bedakan dengan perkataan para filsuf seperti Sokrates, Plato, Aristotle, dll.. Dalam Ibrani 4:12, firman Allah adalah "God's speaking to man" (no man speaking). John Piper dalam bukunya "Pierced by Word" mengangkat sebuah respons bahwa seharusnya kita mendengar dan gentar terhadap firman Tuhan karena Allah menciptakan ciptaan-Nya dengan firman-Nya, firman yang menggunduli hutan (Mazmur 29:9), firman yang seperti pedang tajam yang akan memukul bangsa-bangsa (Wahyu 19:15). Jadi, pengkhotbah harus sadar betul bahwa firman Tuhan bukanlah "human speech", tetapi firman Tuhan adalah firman yang "berbahaya" bagi diri mereka sebagai pembawa firman. Tidak boleh sembarangan berkhotbah, tidak boleh sembarangan menafsir, tidak boleh sembarangan mempermainkan inti khotbah di dalam Alkitab! Perkataan Allah adalah "sacred" bagi semuanya!

    2. Inkarnasi Kristus. Di dalam khotbah natalnya, Luther menekankan alasan dan kehendak kita untuk mencari Allah bukan dicari di atas sana, tetapi kita harus belajar "membungkukkan diri" melihat kepada seorang bayi yang lahir di palungan, Dialah Sang Pencipta. Mari kita berjalan bersamanya dengan takut akan Allah. Tidak ada jalan lain untuk kembali kepada Allah, hanya melalui bayi ini. Luar biasa! Sering kali kita kurang rendah hati mencari Tuhan karena kita menganggap diri mampu untuk mengenal Allah dengan inisiatif sendiri. Inisiatif manusia digambarkan dengan beberapa macam: terus melihat ke atas, terus berusaha mencari dengan agama, melihat ke bawah, juga berusaha mencari dengan filsafat. Mana yang benar? Melihat ke atas dan ke bawah! Karena Allah telah berinkarnasi ke dalam dunia, Ia lahir di palungan. Bungkukkan dirimu! "Theos" dan "Logos" yang ada di atas telah berinkarnasi turun ke bawah untuk menebus dosa kita! Inilah "Theology" yang melampaui setiap agama dan filsafat ("religion" dan "philosophy").

    3. Kematian Kristus. Ulrich Asendorf, di dalam esai berjudul "Luther's Sermons on Advent as a Summary of His Theology", memberikan tanggapan bahwa ketika Luther berkhotbah saat itu, dirinya hanya menekankan "Immanuel" yang disalibkan, kerelaaan diri-Nya sebagai kebenaran ditukarkan dengan dosa-dosa manusia, di dalam anugerah-Nya. Seperti apa yang diserukan oleh Yohanes pembaptis dalam Injil Yohanes 1:29, "... Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia." Kematian Kristus adalah penting di dalam khotbah Kristen. Jika Kristus tidak mati bagi kita, kita tidak melihat aplikasi kasih Allah yang agung di dalam anugerah-Nya. Kita tidak mungkin dapat mengerti Tuhan, doktrin, aplikasi, dan penggenapan janji-Nya. Luther sadar betapa pentingnya kematian Kristus karena kesadaran dirinya yang penuh dosa di hadapan Allah yang adil membuatnya selalu merasa bersalah sebagai pendosa. Namun, ia melihat Kristus dan tidak fokus terhadap dosanya, di situlah ada pengharapan baginya untuk mencicipi keselamatan dan penebusan-Nya di dalam totalitas karya-Nya.

    4. Kebangkitan Kristus. Di dalam buku "From Faith to Faith: Dari Iman kepada Iman", Dr. Stephen Tong menuliskan bahwa di dalam aspek natural, mujizat Allah yang besar adalah menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada (creatio-ex-nihilo). Akan tetapi, mukjizat Allah yang terbesar adalah mengubah yang dari mati menjadi hidup. Itulah kebangkitan (resurrection). Inilah dua pekerjaan Tuhan yang besar sekali, yaitu penciptaan dan kebangkitan (Creation and Resurrection). Di dalam khotbah Paskah, Luther yang membahas Markus 16:1-8. Ia mengutip bahwa Rasul Paulus menuliskan dalam Roma 4:25, "Kristus telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita". Luther percaya bahwa Rasul Paulus memberitahukan kepada setiap kita secara akurat, mengapa dan tujuan dari penderitaan-Nya, yaitu Ia mati karena dosa-dosa kita dan bangkit karena pembenaran kita. Menurut Dr. Stephen Tong, di sini Kristus secara aktif menaklukkan diri-Nya kepada rencana Allah serta secara pasif menyerahkan diri-Nya untuk ditawan dan digantung di atas kayu salib menjadi penebus manusia! Saudara sekalian di dalam Kristus, berita ini harus kita bawa pulang ke dalam hati kita, jangan hanya mendengar dengan telinga kita atau hanya mengaku dengan mulut kita! Di dalam Roma 4:25, Luther dimengertikan bahwa perkataan-Nya telah membawa matanya tidak boleh lagi melihat kepada dosa-dosanya, tetapi matanya harus melihat kepada Kristus yang telah menebus dosa-dosanya, barulah saya dapat mengalami beristirahat dalam Kristus, tidak lagi membebani kesadaranku (rest upon Christ, no longer burden my conscience). Luther menjelaskan bahwa kita anak Adam, maka kita harus mati. Namun, karena Kristus telah mengambil dosa-dosa kita atas diri-Nya, telah mati bagi mereka, telah menderita untuk dibunuh karena dosa-dosa saya, dosa tidak bisa lagi membahayakan kita karena Kristus terlalu kuat untuk dikalahkan oleh dosa. Jadi, di dalam Kristus, sekarang kami memiliki hati nurani yang jelas, kami bahagia dan tidak takut terhadap dosa. Puji Tuhan!

  2. Hukum dan Injil dapat bersama-sama berfungsi di dalam satu khotbah yang sama.

    Pengajaran yang benar tentang teologi salib memaksa baik hukum maupun Injil harus dibedakan dan diterapkan dengan tepat (The proper preaching of the theology of the cross necessitates that both Law and Gospel be correctly distinguished and applied). Luther dengan tajam menggunakan hukum untuk mengungkap dosa manusia, kepalsuan dewa-dewa, membawa manusia berdosa sadar bahwa mereka membutuhkan Kristus, satu-satunya keselamatan kekal yang menyatakan kemurahan Allah, bukan hukum yang baru hukum sebagai karya-Nya yang mengutuk, melainkan agar kita dapat diselamatkan di dalam penebusan dosa, hanya di dalam Injil. Jadi, hukum dan Injil adalah pekerjaan Allah yang dinyatakan-Nya. Hukum tanpa Injil adalah gagal total. Hukum adalah kutuk bagi para pendosa (the work of damnation for sinners). Injil adalah karya keselamatan (the work of salvation for righteous man). Jadi, pelayanan firman Tuhan tidak boleh tidak, harus memberitakan hukum dan Injil sebagai kehendak Allah, seperti apa yang Kristus lakukan.

  3. Mengkhotbahkan Kristus sebagai sakramen dan teladan kita.

    Kristus adalah isi dari firman Tuhan. Luther mengutip Galatia 2:20, "Dengan Kristus aku telah disalibkan". Ia menjadi korban hidup yang telah mati untuk menebus dosa saya (Roma 13:14) - (sacramental) dan kita dipanggil untuk mengikuti teladan-Nya (1 Petrus 2:21)- (imitation of Christ). Ini warisan dari teologi Agustinus. Dengan demikian, Luther mengatakan, mengkotbahkan Kristus adalah memberi makan jiwa, membawa ke dalam kebenaran, mengalami kebebasan dan menerima keselamatan Kristus melalui kelahiran kembali dan pembaruan di dalam iman Kristus, bukan usaha mengimitasi Kristus saja. Jadi, hanya di dalam iman (yang dipahami oleh Luther sebagai iman inkarnasi, bukan iman hasil perbuatan manusia), setiap kita dapat menerima penebusan Kristus atas dosa-dosa kita. Ia adalah Kristus yang sama, nama yang disebut orang percaya, nama yang dikhotbah oleh hamba-hamba-Nya.

  4. Firman Tuhan dan kuasa Roh Kudus bersama di dalam kesatuan memberitakan firman.

    Firman itu adalah saluran melalui mana Roh Kudus diberikan. Firman Tuhan mengajarkan, menasihati, membela, dan menolak kesalahan. Nah, bagaimana firman yang dikhotbahkan (the preached word) dapat menjadi perkataan pribadi (personal word)? Luther menjawab bahwa semuanya tidak mungkin terjadi, kecuali karya Roh Kudus(the work of Holy Spirit) memberikan pemahaman untuk mengerti Allah dan firman-Nya adalah kesatuan. Roh Kudus menciptakan iman di dalam Kristus. Maka, bagaimana seseorang dapat menjadi seorang Kristen? Tentu saja, bukan karena latihan rohani mistikal kita kepada Tuhan, tetapi karena ada karya Roh Kudus (the work of Holy Spirit) yang menjadikan setiap kita dapat beriman dengan mendengar firman-Nya. Luther memahami Roh dan firman seperti suara dan napas dalam sebuah pembicaraan. Firman menjadi daging melalui salib Kristus untuk memperkuat iman melalui firman Tuhan dan pengampunan dosa di kayu salib (theology of cross) dan kebangkitan-Nya (theology of victory). Oleh karena itu, marilah kita belajar untuk mengenal Kristus dengan benar, kembali kepada seluruh Alkitab, firman Tuhan yang memberikan kepada kita kebenaran, dan pengetahuan yang benar tentang Kristus di dalam pekerjaan Roh Kudus.

Kesimpulan

Keunikan teologi khotbah dari Martin Luther bukanlah didasarkan atas pidato manusia (human speech) tentang Allah, tetapi Allah sendiri berbicara dan beraktivitas kepada manusia. Berkhotbah bukan mengulang cerita Alkitab, tetapi pengajaran Allah sendiri kepada manusia (God's own preaching to man). Bagi Luther, khotbah bukanlah untuk memanipulasi emosi pendengar maupun mendukung penyingkapan politis (political disclosure) dari sosial politik, tetapi keagungan pengajaran Luther (the glory of Luther's preaching) hanya mengkhotbahkan Kristus. Sebab, Luther mengetahui bahwa iman "datang hanya melalui firman Tuhan atau Injil, yang mengajarkan Kristus, yang mengatakan bahwa Anak Allah dan Manusia, telah mati dan bangkit kembali karena kita. Inilah Kabar Baik untuk Anda!

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Nama situs : MRII Beijing
Alamat URL : http://mriibeijing.weebly.com/artikel.html
Judul asli : Preach Thy Word
Penulis artikel : Ev. Daniel Santoso
Tanggal akses : 3 Maret 2016

Penulis_artikel
Yonghan Lim
Tanggal_artikel
31 Maret 2016
Isi_artikel

Adalah benar, bahwa banyak jalan menuju Roma. Tapi, hanya ada satu jalan menuju surga. Hanya melalui Kristus, surga menanti di ujung kehidupanmu. Hanya di dalam Kristus, tidak ada lagi penghukuman; walau tetap masih ada penghakiman.

Demi memberitakan kebenaran ini, banyak air mata dan darah yang sudah tertumpah. Iblis tidak pernah ingin engkau tahu; tidak pernah ingin engkau paham.

Sepanjang sejarah umat manusia, mungkin pernah ada orang berdosa yang rela mati demi orang yang dianggap suci. Selain Yesus, pernahkah ada orang suci yang rela mati demi orang berdosa? Thomas Watson hanya bisa terkagum-kagum dan berkata, "Dia yang memahkotai langit dengan bintang-bintang, malah rela memahkotai kepala-Nya dengan duri."

Maukah engkau mengenal Allah yang sejati ini? Maukah engkau tahu di mana Jalan itu berada? Jika engkau menjawab "Ya", doa berikut mungkin bisa menuntunmu.

"Ya Tuhan Allahku, pencipta alam semesta, Engkau yang membentuk buah pinggangku dan menenunku dalam rahim ibuku, siapakah Engkau sebenarnya?"

Jangan biarkan hambaMu yang hina ini menyembah allah-allah palsu, tapi ijinkanlah hambaMu boleh mengenalMu, boleh menyembahMu, Allah yang sejati dan hidup.

Ada tertulis: "Allah membuat mereka tidur nyenyak, memberikan mata untuk tidak melihat dan telinga untuk tidak mendengar, sampai kepada hari sekarang ini." (Roma 11:8)

Karena itu, jangan biarkan kami binasa seperti mereka. Ya Allah, bangunkan kami, melekkan mata kami, dan buatlah kami mendengar. Supaya kami tidak harus binasa oleh murkaMu."

Setelah engkau mendoakan ini, mungkin doamu akan dijawab, mungkin tidak akan pernah. Mungkin dijawab malam ini, mungkin tujuh belas tahun lagi. Apapun itu, saya berdoa kiranya Allah berkenan menyatakan diriNya kepadamu.

Ketika doamu sudah dijawab, barulah saat itu engkau bisa paham kenapa Daud berkata, "Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu, daripada seribu hari di tempat lain."

http://youtu.be/7PLr7opRa8s

Soli Deo Gloria

Penulis_artikel
Yonghan Lim
Tanggal_artikel
31 Maret 2016
Isi_artikel

Malam itu, saya diijinkan mengalami mimpi di dalam mimpi; seolah-olah sudah terbangun, tapi sebenarnya masih tertidur.

Melalui mimpi itu, doa saya tujuh belas tahun sebelumnya akhirnya dijawab oleh Allah; tahulah saya sekarang kalau Yesus itu benar-benar Anak Allah, dan juga benar-benar Allah. Yang saya dulu pikir salah, sekarang jelas terlihat benar. Yang saya dulu pikir tidak penting, sekarang jelas terlihat penting. Yang saya dulu pikir tidak perlu diutamakan, sekarang jelas harus diutamakan.

Pagi-pagi, sekitar pukul 5.45 pagi, di tepi Danau Toba, saya dibangunkan oleh lagu Amazing Grace yang diputar pemilik losmen. Sayup-sayup, suara itu begitu lembut membangunkanku.

Entah kebetulan atau tidak, beberapa minggu sebelumnya, saya sudah pernah berpesan ke istri; andai saya duluan yang berpulang, tolong lagu ini yang dipakai untuk mengiringi saya ke tempat peristirahatan terakhir. Saya suka iramanya, tapi tidak pernah tahu sejarah lagu ini; yang kisah terciptanya ternyata begitu agung.

Kok bisa kebetulan lagu ini yang membangunkanku setelah diberi mimpi yang begitu mengguncang ini? Seolah-olah, Allah ingin berkata, "Saatnya engkau di"mati"kan, supaya engkau bisa di"lahir"kan kembali."

Saya langsung meminta untuk segera dibaptis pagi itu juga. Pak Pendeta sempat ragu-ragu dan menolak, tapi saya ceritakan apa yang terjadi dan dia langsung paham: inilah pengaturan Ilahi.

Maka, di umur tiga puluh tahun, menjelang tiga puluh satu tahun, di Danau Toba-lah saya menyatakan pertobatanku; berhenti dan menyerah sebagai musuh Allah. Return to God, back to God.

Saya sekarang paham kenapa Allah menunda jawaban itu selama tujuh belas tahun, bukannya cepat-cepat dijawab.

Andai dijawab sejak saya berumur tiga belas tahun, saya mungkin tidak perlu terjatuh dalam berbagai dosa. Tapi melalui kejadian ini, barulah saya memahami fakta berikut ini dengan baik:

Bukankah orang yang sedang kehausan, yang baru sadar betapa segarnya segelas air putih itu?

Bukankah orang yang sedang tersesat di gunung, yang baru paham kelegaan ketika diselamatkan tim SAR itu seperti apa?

Bukankah orang yang tadinya terkutuk, yang baru akan tahu betapa indah dan nikmatnya kasih karunia itu?

Bersambung..Soli Deo Gloria

Penulis_artikel
Yonghan Lim
Tanggal_artikel
31 Maret 2016
Isi_artikel

Bulan Juni 2013, perjalanan iman membawa saya sampai ke Medan. Ada satu pendeta yang perlu saya cari tahu mengenai pergumulan imannya setelah badai kehidupan baru melandanya; apakah dia membenci atau tetap mengasihi Kristus?

Sejak muda, ia sudah rajin melayani Kristus; membawa jiwa-jiwa mengenal-Nya. Hidupnya saleh dan sungguh-sungguh mengikuti pimpinan Tuhan. Memuridkan orang di dalam Kristus menjadi lifestyle-nya.

Badai kehidupan terbesarnya datang ketika putra pertamanya lahir. Di hari ketiga, ditemukan ada kelainan pada usus anaknya sehingga harus dioperasi. Setelah dioperasi, anaknya tidak kunjung membaik dan akhirnya harus berpulang ke Ilahi. Anak-anaknya bandar narkoba banyak yang sehat-sehat saja, tidak harus melewati tragedi seperti ini. Kenapa pendeta harus mengalami yang gini-gini?

Setelah setia melayani Tuhan sejak muda, inikah upah melayani-Nya? Tuhan macam apa ini yang tidak mampu menjaga pengikut-Nya dari tragedi? "Kalau saya jadi Abang, sudah saya bubarkan gereja," tegasku. "Abang sebaliknya, Dek. Hari ketika Joshua berpulang, abang dengan hati yang remuk redam hanya bisa berteriak, Bapa, saya tetap mencintaiMu. Saya tetap mau melayaniMu," ceritanya. Di hari pemakaman anaknya, mentor rohani pendeta ini berpesan, "Hari ini, kalian berdua tahu perasaan Bapa di surga seperti apa ketika harus melihat anakNya disalib, mati, dan dikuburkan demi menebus umat manusia. Pengalaman ini baik bagi kalian, supaya bisa lebih mengasihi jiwa-jiwa."

What?! Hello... iman macam apa ini? Karena sedang di Medan, pendeta ini menawarkan opsi sekalian jalan-jalan ke Danau Toba besok paginya. Maka, berangkatlah kami pagi-pagi esoknya. Dalam perjalanan empat jam kami, saya cecar terus apa yang menjadi dasar imannya. Saya uji terus kesabarannya dengan pertanyaan sulit dan sukar. Pendeta ini tampak kewalahan meladeni pertanyaan-pertanyaan ini. Sesampai di Danau Toba, pertanyaan-pertanyaan masih tidak habis habis, bahkan diskusi kami berlanjut sampai dengan pukul 23. Tidak ada ampun; cecar terus, tanya terus. Akhirnya, karena kami berdua sudah kelelahan, kami sudahi sesi pemuridan itu dan langsung pergi tidur. Tak disangka-sangka, malam itu ternyata akan menjadi malam yang revolusioner. Allah akan merubah segalanya, tanpa pernah saya sangka- sangka dan antisipasi.

Bersambung... Soli Deo Gloria

Penulis_artikel
Yonghan Lim
Tanggal_artikel
31 Maret 2016
Isi_artikel

Siapa sebenarnya Yesus itu sangat penting dan urgent untuk diketahui umat manusia.

Jika Ia cuma penipu, maka ada 2.2 milyar manusia yang tertipu oleh-Nya saat ini, yaitu semua orang yang menyebut dirinya Kristen. Sebaliknya, jika Ia benar Pribadi kedua dari Allah Tritunggal, ada 5.1 milyar manusia yang terancam berakhir di api kekekalan. Jika kemungkinan kedua ini benar, banyak sahabat-sahabatku ada di antara kelompok 5,1 milyar ini. Termasuk, papa dan kakekku.

Padahal, hidup mereka mungkin lebih suci dan saleh dariku. Misalnya saja sahabat-sahabat Muslim-ku; ketika saya masih tidur, mereka sudah bersih-bersih untuk sholat subuh. Dalam sehari, mereka wajib berdoa lima kali.

Atau sahabat-sahabat Budhist-ku; mereka orang-orang yang begitu lemah lembut. Semut pun mereka berhati-hati jangan sampai terinjak. Sampai dengan hari ini, organisasi Tzu Chi melakukan kebajikan yang jauh-jauh lebih nyata dan tulus dibanding organisasi Kekristenan mana pun yang saya kenal di Indonesia.

Lantas, hanya karena tidak percaya Kristus, pintu surga harus tertutup bagi mereka? Sungguh tidak adil dan masuk akal. Tuhan macam apa yang membuat situasi buah simalakama seperti ini bagi manusia ciptaanNya?

Siapakah Yesus menurut diriNya sendiri kalau begitu? "Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Dengan statement semutlak itu: jika Yesus bukan benar-benar Allah, pastilah ia gila. Jika ia tidak gila, pastilah Ia penipu. Nietzsche dengan lantang berkata, "Yesus mengatakan banyak hal yang tidak mungkin dijalankan, dan sayangnya Dia mati begitu dini tanpa sempat menyesali apa yang pernah Dia katakan."

Namun bagi C.S Lewis, setelah melalui penyelidikan yang panjang dan seksama, ia mengambil kesimpulan: "Jika Yesus bukan Tuhan, siapakah Dia?"

Karena ucapan-ucapanNya, jika Yesus bukan Allah, Ia sekarang pasti sudah binasa di neraka. Hanya ada dua opsi bagi umat manusia untuk memahami Yesus. Bagi Nietzche, Ia adalah orang yang congkak. Bagi C.S Lewis, Ia adalah Allah.

Yang lebih penting, siapakah Yesus bagiku? Pertanyaan yang terus membuatku gelisah saat itu.

http://youtu.be/wSX6B6qoszY

Bersambung...Soli Deo Gloria

Penulis_artikel
Yonghan Lim
Tanggal_artikel
8 Maret 2016
Isi_artikel

Umur tiga belas tahun, saya mulai mencari tahu jawaban dari pertanyaan yang penting dan urgent ini. Mana yang benar dari tiga agama ini?

Saya tahu kalau ini sesuatu yang tidak boleh sampai salah pilih, karena konsekuensinya itu kekal.

Tuhan, siapa pun diriMu, jika Engkau mau menjawab pertanyaan-pertanyaanku, saya berjanji akan memberitakan kebenaran ini kepada orang-orang; kepada bangsa-bangsa," pintaku dalam doa."

Tapi, Tuhan tidak menjawab-jawab. Bahkan, hingga saya menginjak SMU. Saya diterima di sekolah asrama yang dikelola dengan gaya semi-militer. Satu angkatan hanya ada dua puluh orang; sebelas siswa, sembilan siswi.

Komposisi pemeluk agama yang tinggal seatap denganku saat itu cukup berwarna. Enam Muslim, satu anak pendeta, satu penganut universalisme, satu Katolik, dan satu agnostik.

Satu asrama dengan orang dari berbagai iman, menjadi "lab" yang ideal bagiku untuk mencari tahu dan melakukan observasi; kenapa seseorang memilih iman A, bukannya B.

Makin cari tahu, malah makin bingung. Makin tanya, malah makin tidak paham. Makin tidak paham, malah makin pusing. Sampai-sampai, saya tidak tahu lagi apa definisi dari kebenaran itu. "Benarkah yang saya pikir benar itu benar-benar kebenaran?"

Tahu-tahu, tak terasa tujuh belas tahun pun berlalu, tapi jawaban itu belum juga kunjung tiba. Allah tidak menjawab- jawab doaku. "Ah, jangan-jangan Tuhan itu memang cuma ilusi manusia?" simpulku.

Satu teori menawarkan jawaban yang masuk akal. Jangan- jangan, Yesus itu anak korban perkosaan tentara Romawi? Karena besar tanpa figur Bapa, bukankah wajar jika ia banyak berkhotbah tentang Bapa di Surga?

Mungkinkah ini kebenarannya? Mungkinkah kekristenan itu hanyalah dongeng, hasil konspirasi para rasul semata?

Kalau Hollywood bisa menciptakan tokoh Rambo menjadi tokoh yang seolah-olah nyata, mungkinkah metode yang sama diterapkan pada tokoh Yesus ini?

>http://youtu.be/TywlLxR7kQs

Bersambung...Soli Deo Gloria

Penulis_artikel
Yonghan Lim
Tanggal_artikel
8 Maret 2016
Isi_artikel

Sampai dengan hari ini, banyak allah-alah palsu telah diciptakan manusia.

Zeus dan kawan kawan, misalnya. Kuil-kuil megah di Yunani pernah dibangun untuk mereka. Tapi, berhubung Zeus dan kawan-kawan itu allah-allah palsu, tidak ada yang merasa perlu menyembah mereka lagi di jaman ini. Maka, mereka "mati" begitu saja.

Asia menjadi tempat kelahiran agama-agama besar di dunia. Di Asia Timur, India melahirkan Hindu dan Budha, sementara Tiongkok melahirkan Konfusiusme dan Taoisme.

Walaupun diposisikan sebagai orang suci, para pendiri agama ini tidak pernah mengaku mendapat wahyu dari Allah. Konfusius malah mengatakan, "Terkait alam dan kebenaran langit, saya sungguh tidak mampu mengerti. Saya tidak mungkin mengerti firman surgawi."

Karena itu, agama-agama ini semakin kehilangan bobotnya bagi umat manusia di jaman ini. Di hadapan manusia, mereka tidak punya atribut ilahi untuk mewakili Allah. Di hadapan Allah,mereka tidak punya otoritas mewakili manusia. Sebaliknya, di Asia Barat, tiga agama malah berani mengaku menerima wahyu dari Allah; yaitu Yudaisme, Kekristenan, dan Islam.

Walau sama-sama mengaku mendapat pewahyuan dari Allah, mereka berbeda prinsip antara satu isu dengan isu lainnya. Salah satunya mengenai status Yesus.

Islam menyatakan Yesus sebagai Nabi.

Yudaisme menganggapNya sebagai satu di antara sekian mesias palsu dalam sejarah. Karenanya, mereka malah menyalibkanNya dan masih menunggu kedatangan Mesias yang dijanjikan, sampai dengan hari ini.

Kekristenan menganggapNya Pribadi kedua dari Allah Tritunggal, yaitu Allah Putera, yang sengaja berinkarnasi ke dunia demi menebus dosa-dosa umat manusia.

Yesus itu Allah, tapi juga Anak Allah. Ia Anak Allah, tapi juga Allah. Ia 100% Allah, tapi juga 100% manusia.

Kalau begitu, mana yang benar? Tiga-tiganya tidak mungkin benar semua. Jika semua benar, malah jadinya semua salah. Hanya mungkin satu yang benar, dua lainnya pasti salah. Hanya satu yang bisa menuntun manusia ke surga, dua lainnya pasti tidak bisa.

Jawaban atas pertanyaan ini benar-benar penting dan urgent untuk dicari tahu. Bisa dibayangkan nasib mereka yang dulu menyembah Zeus dan kawan-kawan? Ada di mana mereka sekarang?

download audio
http://youtu.be/RuNglxgXdx0

Bersambung...Soli Deo Gloria

Penulis_artikel
Yonghan Lim
Tanggal_artikel
8 Maret 2016
Isi_artikel

Buat apa debat politik dan agama itu?" tanya seorang teman.

"Debat politik menentukan nasibmu lima tahun ke depan. Kalau salah, tinggal diubah pilihanmu di Pemilu berikutnya. Debat agama menentukan nasibmu setelah kematian. Benar atau salah pilihanmu, konsekuensinya kekal," jawabku.

Allah itu ada, dari kekekalan sampai dengan kekekalan. Berbeda dengan keberadaan Allah, semua yang diciptakan Allah itu dari tadinya "tidak ada", lantas menjadi "ada."

Ciptaan pasti memiliki awal, walau tidak semua memiliki akhir. Simpanse memiliki awal; dari yang tadinya "tidak ada," ia kemudian menjadi "ada." Ia memiliki akhir, karena ketika ia mati, maka dari "ada" langsung menjadi "tidak ada."

Menurut para ahli, simpanse memiliki kesamaan genetik dengan manusia hingga 98%. Andai ini benar, walau cuma berbeda 2%, nasib kedua ciptaan ini berbeda total.

Manusia memiliki awal; dari yang tadinya "tidak ada," ia kemudian menjadi "ada." Tapi, ia tidak memiliki akhir; karena ketika ia mati, jiwanya tetap "ada;" tidak lantas lalu menjadi "tidak ada."

Sejelek apapun wajahmu saat ini, engkau tercipta untuk kekekalan; tanpa ada akhir. Karena itu, setiap manusia, sejahat apapun, pernah berdoa dalam hidupnya. Ada satu kesadaran dalam sanubarinya kalau hidup di dunia ini tidak akan berakhir begitu saja.

Stephen Hawking pernah menyatakan hidup manusia itu seperti komputer. Ketika sudah dimatikan listriknya, ya sudah, mati begitu saja. Hati terdalam kita langsung tahu bahwa itu pemikiran yang salah, walau kita bukan PhD (Doktor filsafat, gelar akademik tertinggi pada banyak bidang keilmuan - Red.) di bidang kosmologi seperti dia.

Ada suara yang terus mengingatkan kalau hidup ini cuma sementara; bahwa ada kelanjutannya ketika semua ini telah berakhir.

Lantas, Allah yang mana yang menanti manusia di akhir kehidupannya kalau begitu?

Salah pilih istri, pahit-pahitnya mungkin cuma untuk lima puluh sampai enam puluh tahun ke depan. Salah pilih teman bisnis, pahit-pahitnya cuma bangkrut saja. Tapi kalau sampai salah pilih Allah, konsekuensinya itu kekal.

Ini urusan yang teramat penting untuk dicari tahu jawabannya. Tidak bisa “tarsok-tarsok”, karena mungkin tidak pernah ada hari esok lagi untukmu; seperti halnya bagi para penumpang MH370 (Malaysia Airlines Penerbangan 370 - Red.), yang entah ada di mana sekarang sampai dengan hari ini.

download audio
http://youtu.be/85eOEHl-PqM bersambung...

Penulis_artikel
Yonghan Lim
Tanggal_artikel
26 Februari 2016
Isi_artikel

Iman kekristenan itu sebenarnya begitu rumit untuk diberitakan kepada orang-orang.

Orang Kristen menyembah "Allah Yang Maha Esa,” tapi tiga Pribadi; tiga Pribadi, tapi bukan tiga Allah; dan hanya satu Allah,bukannya tiga Allah.

Yesus itu 100% Allah, tapi juga 100% manusia. Ia satu Pribadi tapi dengan dua natur; bukannya dua Pribadi dengan satu natur; apalagi dua Pribadi dengan dua natur. Bagaimana memberitakan ini supaya bisa dipahami orang-orang?

Saking rumitnya untuk dipahami, bagi sebagian besar orang, iman kekristenan malahan terdengar seperti omong kosong. Voltaire, seorang filsuf Perancis, pernah berkata, “Biarlah Yesus bersama dengan dua belas orang Galilea itu menegakkan kekristenan; tapi biarlah saya, seorang diri, orang Perancis, menghancurkan mereka semua.”

Untuk iman yang sekompleks ini untuk dipahami, kenapa bisa ada jutaan orang yang rela dianiaya demi iman ini? Bahkan sampai dengan hari ini?

Di beberapa negara, menyatakan diri sebagai orang Kristen sama saja dengan menyatakan dirinya sebagai pemegang "licence to be killed;" sah dan legal untuk dibunuh.

Menurut Open Doors Ministry, saat ini, diperkirakan ada empat ratus ribu orang Kristen di Korea Utara; seperempatnya sedang disiksa di kamp konsentrasi, demi mempertahankan imannya.

Diperkirakan, di seluruh dunia ada seratus juta orang Kristen yang sedang dianiaya; tiga ratus dua puluh dua orang Kristen dibunuh setiap bulan, demi mempertahankan imannya.

Jika iman bahwa Yesus benar-benar bangkit dari kematian ini hanyalah kebohongan, hasil konspirasi para rasul semata;kenapa sejak abad pertama begitu banyak orang yang tetap mempertahankan imannya, sampai rela dianiaya, dipenjara,bahkan disiksa hingga mati?

Orang mungkin bersedia mati untuk apa yang mereka percaya sebagai kebenaran. Tapi, adakah yang bersedia mati untuk apa yang mereka sudah tahu sebagai kebohongan?

Bukankah cukup kesaksian satu orang untuk memastikan kalau ini semua hanyalah kebohongan?

Faktanya, tidak pernah ada catatan apapun dalam sejarah mengenai orang Kristen mula-mula yang menyangkal iman mereka demi terhindari dari penyiksaan.

Iman macam apa ini? Makin disiksa, malah makin subur?

download audio

http://youtu.be/tIeM7aeX8pk?
Bersambung...Soli Deo Gloria

Penulis_artikel
Antonius Steven Un
Tanggal_artikel
23 Februari 2016
Isi_artikel

Senin, 29 Oktober ini, merupakan peringatan 170 tahun lahirnya politikus, jurnalis, pendidik, teolog, filsuf Belanda, Abraham Kuyper (1837-1920). Nama ini mungkin terasa asing di kuping pembaca, tetapi jika menyebut Vrije Universiteit Amsterdam, publik Indonesia tentu lebih familiar.

Universitas yang memberi gelar Doctor Honoris Causa kepada tokoh hukum dan HAM almarhum Yap Thiam Hien (1980) dan gelar Doctor of Philosophy kepada Ekonom Hendrawan Supratikno (1998) didirikan oleh Kuyper.

Signifikansi eksistensi dan peran Kuyper di negeri kincir angin tidak terbatas hanya dalam politik dan pendidikan, tetapi amat kompleks dan komprehensif. Selain mendirikan Vrije Universiteit, Kuyper juga pernah menjadi Perdana Menteri Belanda periode 1901-1905. Ia juga pernah menjadi editor kepala koran harian De Standaard dan editor koran mingguan De Heraut selama lebih dari 45 tahun.

Peran nyatanya telah menjadi berkah bagi masyarakat di tempat ia berada. Mengenang Kuyper, penulis memperkenalkan pemikiran politiknya, khususnya dalam memandang eksistensi dan peran pemerintahan.

Kuyper memandang eksistensi pemerintahan sebagai order of preservation, bentuk pemeliharaan Tuhan akibat manusia sudah jatuh dalam dosa. Baginya, tanpa negara, hukum dan pemerintahan, serta otoritas yang berkuasa, maka akan terjadi neraka di bumi.

Hal ini diakibatkan, realitas kejahatan dalam natur berdosa manusia, menjadikan manusia berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri sehingga menghasilkan kondisi amat mengerikan, sebagaimana digambarkan oleh Thomas Hobbes (1588-1679), Homo Homini Lupus (manusia adalah serigala pada sesamanya).

Realitas kejahatan dalam kehidupan manusia mengakibatkan filsuf Niccolo Machiavelli (1469-1527), misalnya, mengambil jalan ekstrem dengan menempatkan penguasa tirani bagai binatang buas yang menghalalkan segala cara melawan anarkisme. Meskipun tidak seekstrem Machiavelli, Kuyper juga memandang institusi pemerintahan sebagai mutlak dibutuhkan dan bahkan kita harus bersyukur untuk kehadirannya. Ia memandang pemerintahan sebagai ”an instrument of ‘common grace’ to thwart all license and outrage and to shield the good against the evil” (1898).

Sakralisasi
Kuyper menyebut institusi pemerintahan sebagai “hamba-Nya” untuk melindungi manusia dari kehancuran total. Itu sebabnya, warga negara harus menaati pemerintahan bukan karena ketakutan kepada hukuman, tetapi karena kesadaran nurani.

Hal ini tidak berarti Kuyper menyetujui sistem pemerintahan tirani seperti Machiavelli, tetapi ia sendiri mendorong warga negara untuk menjalankan fungsi pengawasan justru karena menyadari bahwa pejabat pemerintahan juga adalah manusia berdosa yang tidak luput dari ambisi despotisme.

Pemahaman ini setidaknya menghasilkan dua implikasi. Pertama, dengan menyebut pemerintah sebagai ”hamba-Nya” berarti Kuyper melakukan sakralisasi. Sakralisasi ini tidak boleh dibaca sebagai dasar legitimasi pemerintah melakukan eksploitasi terhadap rakyat.

Sebaliknya, sakralisasi harus didorong berperan positif dalam dua sisi. Pada satu sisi mengingatkan pejabat pemerintah agar tidak mempelacurkan jabatan itu secara reduktif, semata-mata untuk profit finansial. Pejabat pemerintah perlu senantiasa menyadari bahwa jabatan tersebut adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan bukan saja kepada konstituen, tetapi kepada Tuhan, sumber segala berkah.

Pemerintah adalah hamba Allah bagi kebaikan masyarakat bukan menjadikan masyarakat hamba bagi kebaikan dan keuntungan sendiri. Karena pemerintah adalah hamba, ia harus mendedikasikan hidupnya bagi kemaslahatan rakyat dengan mementingkan tanggung jawab bukan fasilitas dan tunjangan. Pada sisi lain, sakralisasi juga harus dibaca sebagai what ought yang menjadi kriteria bagi masyarakat untuk mengawasi dan mendorong pemerintah menjalankan karakter kudusnya.

kehilangan kekuatan untuk mengendalikan gejala-gejala kepentingan dan kekuasaan lokal yang tidak bias dipungkiri, kerap menggunakan kekerasan secara tidak terukur.

Contoh kasus cukup banyak: Ambon, Poso, Alas Tlogo dan sebagainya. Kuyper jelas menolak pemerintahan tirani, tetapi tidak berarti ia setuju dengan masyarakat anarkis.

Artinya, pemerintah harus dikerangka dan dibingkai oleh publik agar menggunakan kekuasaannya secara terukur, tetapi sebaliknya, pemerintah juga harus berperan efektif-efisien dalam membingkai penggunaan kekuasaan dan kekerasan di masyarakat secara terukur sehingga menghasilkan masyarakat yang equilibrium.

Menyandang Tiga Pedang
Dalam menggambarkan peran pemerintahan sebagai hamba Tuhan, Kuyper menggunakan analogi ”penguasa menyandang pedang”. Pemerintah dituntut menjalankan tiga ”pedang” yakni sword of justice, sword of war dan sword of order (Lectures on Calvinism, 1931, h. 93). Pedang pertama berfungsi untuk menjatuhkan hukuman terhadap pelaku kejahatan/ kriminalisme.

Pedang kedua berfungsi untuk membela kehormatan dan hak serta kepentingan negara terhadap musuh-musuhnya. Pedang ketiga untuk menghalau pemberontakan. Ketiga pedang ini dibingkai dalam kewajiban-kewajiban tertinggi pemerintah, yakni untuk mengusahakan keadilan dan integrasi bangsa.

Hal ini membawa kepada sejumlah langkah praktis. Pertama, perlunya kembali kepada prinsip ruled by law sehingga law enforcement harus terus menerus diupayakan guna mencapai keadilan secara substantif, bukan keadilan prosedural administratif semata.

Kasus tertangkapnya Irawady Joenoes amat menyayat hati karena menjadi indikasi bahwa law enforcement di negara kita rapor merah. Jika anggota komisi yang mengawasi lembaga peradilan saja melakukan tindak pidana suap bagaimana dengan lembaga yang diawasinya. Apa perlu mendirikan lagi komisi untuk mengawasi komisi yang mengawasi lembaga peradilan.

Kedua, keadilan dan integrasi sebagai visi menuntut pemerintah untuk melakukan perlindungan maksimum terhadap minoritas. Eksistensi minoritas tidak boleh diparadigma sebagai beban dan penyakit yang harus disingkirkan melainkan sebagai batu ujian bagi pemerintah dalam menjalankan hukum dan keadilan.

Jika pemerintah sanggup melindungi minoritas, otomatis mayoritas akan dilindungi karena pada dasarnya pemerintah lebih mudah mengakomodasi mayoritas ketimbang minoritas. Minoritas yang mengalami keadilan substantif akan membangun kekuatan legitimasi pemerintah dalam mengupayakan integrasi bangsa.

Ketiga, keadilan dan integrasi harus diparadigma sebagai satu kesatuan. Tanpa keadilan tidak mungkin integrasi berjalan mulus. Integrasi adalah buah dari keadilan substantif yang dialami.

Jika kebijakan pemerintah dirasakan tidak adil,keinginan untuk disintegrasi akan semakin besar. Hal ini berarti promosi terbaik dari integrasi adalah keadilan yang bukan berhenti pada level wacana dan perundangan strategis pada konstitusi, tetapi benar-benar terekspresi dalam perundangan teknis.

Sebagai contoh, konstitusi mengamanatkan anggaran pendidikan dua puluh persen, tetapi ternyata belum dapat diwujudkan hingga ke tataran praktis. (Sinar Harapan, 30 Oktober 2007)

Audio: Kuyper dan Sakralisasi Pemerintahan

Sumber Artikel

Nama situs :Reformed Center For Religion and Society
URL:http://www.reformed-crs.org/ind/article/kuyper_dan_sakralisasi_pemerintahan.html
Penulis : Antonius Steven Un (Peneliti Reformed Center for Religion Society)