Memperingati HUT e-Reformed ke-14 dan Hari Reformasi Gereja

Dua hari ini adalah hari yang bersejarah bagi e-Reformed.
Pada tgl 30 Oktober ini e-Reformed berulang tahun yang ke-14, dan besok tgl 31 Oktober adalah Hari Reformasi Gereja. Dalam rangka memperingati kedua hari bersejarah ini, kami membagikan sebuah artikel yang bertujuan untuk menyegarkan kita kembali akan prinsip-prinsip reformed yang dirumuskan oleh Martin Luther di dalam Lima Sola. Berharap artikel ini dapat menjadi berkat dan membangkitkan semangat reformasi bagi kita semua.

Selamat Ulang Tahun e-Reformed yang ke-14! Soli Deo Gloria!

HUT e-Reformed ke-14 dan Hari Reformasi Gereja : Mengingat Lima Sola

Hari ini adalah Hari Ulang Tahun e-Reformed ke-14 dan besok adalah Hari Reformasi Gereja. Kami redaksi e-Reformed mengucap syukur atas penyertaan Tuhan sejak 1517, Martin Luther, John Calvin, dan tokoh-tokoh reformasi lainnya memperjuangkan kebenaran di tengah kesesatan gereja pada masa itu, hingga hari ini perjuangan tersebut masih boleh diperingati sebagai Hari Reformasi Gereja tgl 31 Oktober. Gerakan Reformed inilah yang juga menjadi dasar lahirnya publikasi e-reformed tgl 30 Oktober 1999. selengkapnya...»

PERAYAAN 15 TAHUN SABDA

SABDA adalah Firman-NYA, dan Visi Biblical Computing bagi Indonesia, dan singkatan dari: Software Alkitab, Biblika, Dan Alat-Alat!!
PERAYAAN 15 TAHUN SABDA
(1994 -- 2009)

Merayakan kebaikan Tuhan adalah keharusan bagi orang-orang yang mengasihi Tuhan, demikian juga bagi Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Tahun 1994 adalah tahun istimewa karena walaupun organisasi YLSA belum lahir (akta resmi tahun 1995) tapi benih visi pelayanan YLSA dalam bidang "Biblical Computing" telah diberikan Tuhan kepada pendiri YLSA pada awal tahun itu. Dengan ditandai oleh hadirnya produk pertama pada bulan Oktober 1994, yaitu modul teks digital Alkitab TB dan BIS dari LAI yang dikerjakan untuk proyek OnLine Bible -- maka sejak itu YLSA dengan setia menjalankan visi "Biblical Computing" yang Tuhan taruh dalam hati kami. Tahun 2009 bulan Oktober menjadi peringatan 15 tahun sejak benih visi YLSA itu ditanamkan dan akhirnya menjelma menjadi SABDA, software Alkitab lengkap pertama dalam bahasa Indonesia yang sampai sekarang menjadi alat tercanggih yang sangat berguna untuk mempelajari Alkitab. Puji Tuhan! selengkapnya...»

Welcome Letter Situs SOTeRI


Selamat datang di Situs SOTeRI!

Doa dan harapan kami, bahan-bahan yang terdapat dalam situs ini dapat memberikan wawasan tentang corak pemahaman teologia Reformed yang alkitabiah. Biarlah dengan memiliki pengajaran Alkitab yang benar maka hidup kerohanian kita juga semakin berbuah dan memberikan kemuliaan hanya bagi Tuhan saja.

Soli Deo gloria!

Rasul untuk Bangsa-Bangsa Lain

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Menjadi rasul yang gigih dan tidak kenal lelah memberitakan Kabar Baik, bahkan menderita bagi Injil Kristus, menjadi gaya hidup Paulus sejak pertobatannya yang bersejarah di jalan menuju Damsyik. Siapa yang tidak familiar dengan kiprahnya yang mendominasi Kisah Para Rasul tulisan Lukas? Namun, sementara terpukau merenungkan sepak terjang sang rasul dalam pemberitaan Injil ke luar Palestina dengan segala tantangannya pada abad pertama, pernahkah kita berpikir mengapa Paulus yang dikhususkan untuk tugas tersebut? Baiklah, mungkin itu terlalu jauh, sebab kita percaya bahwa segala misteri "karena" adalah milik Tuhan, dan tidak semua pertanyaan "mengapa" yang kita ajukan harus mendapat jawaban komprehensif. Pada akhirnya, soal pemilihan adalah pertimbangan dan kedaulatan Allah sendiri, pemerintah semesta satu-satunya. Akan tetapi, setidaknya kita bisa melihat bagaimana latar belakang Paulus -- cara Allah mempersiapkannya -- dan pengaruhnya terhadap pemahaman serta Kabar yang ia bawa. Terlepas dari segala kekaguman kita pada sosok manusia Paulus, ia hanyalah sepotong kecil alat yang dilibatkan Allah dalam proyek besar-Nya. Dalam gambar besar inilah, kita semestinya memahami kisah Paulus. Seorang "mantan" Farisi garis keras dengan semangat membara membela kepercayaannya, berubah drastis setelah berjumpa dengan Kristus. Latar belakangnya dipakai Allah untuk mempersiapkan Paulus menjadi rasul dengan pemahaman yang solid.

Mari merenung sejenak. Setting seperti apa yang telah diatur Allah, yang Dia izinkan terjadi dalam kehidupan kita, baik yang lalu maupun sekarang? Tentunya, semua itu juga merupakan persiapan Allah untuk panggilan hidup kita masing-masing. Sebab, seperti Paulus, kita juga adalah potongan-potongan kecil dalam proyek besar, pemain-pemain pendukung dalam skenario ilahi yang dirancang Allah, dengan Diri-Nya sendiri sebagai pemeran utama. Selamat membaca.

Joy

Staf Redaksi e-Reformed,
Joy

Edisi: 
Edisi 194/November 2017
Isi: 

Pertobatan Paulus di Jalan Damsyik menunjukkan juga panggilannya untuk melayani sebagai misionaris bagi bangsa-bangsa. Ketika Paulus bertobat, Tuhan menjelaskan bahwa dia adalah "alat yang Kupilih untuk membawa nama-Ku ke hadapan bangsa-bangsa lain dan raja-raja serta bangsa Israel" (Kisah Para Rasul 9:15). Peran Paulus sebagai misionaris ditangkap melalui kata-kata yang diucapkan Yesus kepadanya di Jalan Damsyik sesuai dengan Kisah Para Rasul 26:18: "... untuk membuka mata mereka, sehingga mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka dapat menerima pengampunan atas dosa-dosa serta menerima bagian di antara orang-orang yang dikuduskan oleh iman di dalam Aku." Paulus adalah alat pilihan Allah untuk membawa berita keselamatan Allah ke ujung bumi.

Paulus

Sangat penting untuk melihat bahwa peran Paulus sebagai misionaris bagi bangsa-bangsa menggenapi nubuat Perjanjian Lama. Setelah "genap waktunya", Allah mengutus Anak-Nya, Yesus Kristus (Galatia 4:4). Pelayanan, kematian, dan kebangkitan Kristus memenuhi janji yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Namun, tidak pernah menjadi tujuan Allah bahwa berita keselamatan itu terbatas untuk bangsa Israel. Ketika Allah memilih Abraham, Ishak, dan Yakub, Dia menekankan bahwa semua bangsa akan diberkati melalui mereka (Kejadian 12:3; 18:18; 26:4; 28:14). Berkat universal yang dijanjikan ini belum tergenapi selama masa Perjanjian Lama. Memang, Tuhan tidak memaksudkan agar bangsa-bangsa diselamatkan dalam skala besar sebelum kedatangan Kristus karena kemuliaan Yesus dimaksimalkan saat bangsa-bangsa di dunia diselamatkan dengan memanggil nama-Nya dan mengetahui keselamatan besar yang diselesaikan-Nya.

Maka dari itu, Paulus menikmati hak istimewa yang luar biasa, sebagai orang yang tinggal di sisi lain salib, untuk membawa kabar baik tentang Yesus Kristus kepada orang Yahudi dan orang bukan Yahudi. Dalam kitab Kisah Para Rasul, tiga perjalanan misi yang berbeda dicatat: Perjalanan Paulus yang pertama berlangsung pada tahun 47 -- 48 M (bersama dengan Barnabas) ke pulau Siprus dan ke kota-kota di Turki modern (Kisah Para Rasul 13-14). Perjalanan kedua (tahun 49 -- 52 M) mencakup gereja-gereja yang dikunjungi kembali yang didirikan pada perjalanan misi pertama di Turki modern, kemudian Paulus dan rekan-rekannya menyeberangi Laut Aegea dan membangun gereja-gereja di Makedonia dan Yunani (Kisah Para Rasul 15:36-18:22). Perjalanan ketiga (Kisah Para Rasul 18:23-21:36, tahun 52 -- 55 M) termasuk mengunjungi gereja-gereja yang sudah mapan, dan termasuk ketika Paulus tinggal lebih lama di Efesus. Ketika Paulus kembali ke Yerusalem, suatu kerusuhan mulai terjadi di kota, dan dia dipenjara selama beberapa tahun di Kaisarea (tahun 57 -- 59 M) dan Roma (tahun 60 -- 62 M). Bahkan, selama pemenjaraannya, Paulus terus memberitakan Injil di hadapan raja-raja dan penguasa dan semua orang yang berhubungan dengannya. Ada alasan kuat untuk memercayai tradisi bahwa Paulus dibebaskan dari penjara setelah pemenjaraan pertama oleh Romawi, dan bahwa dia terus memberitakan Injil di berbagai tempat, dan mungkin pergi ke Spanyol untuk memberitakan Injil di sana. Kita tidak tahu detailnya, tetapi kemungkinan Paulus ditangkap lagi dan dipancung di Roma sekitar tahun 65 M.

Janganlah kita mengira bahwa Paulus adalah satu-satunya rasul yang memberitakan Injil di luar tanah Israel, atau bahwa dia adalah satu-satunya yang membawa Kabar Baik itu kepada orang-orang bukan Yahudi. Kita perlu mengingat bahwa Kisah Para Rasul bukanlah cerita komprehensif tentang aktivitas misi para rasul. Memang, satu-satunya rasul yang mendapat perhatian penting dalam Kisah Para Rasul adalah Petrus dan Paulus. Bukan berarti bahwa berdasarkan hal ini, para rasul yang lain gagal dan tidak terlibat dalam pelayanan. Memang, ada bukti signifikan dari sejarah bahwa banyak rasul memproklamasikan Injil di luar Israel. Lukas tidak pernah bermaksud untuk menulis laporan lengkap tentang pekerjaan misionaris gereja mula-mula.

Namun, fokus pada misi Paulus kepada orang-orang bukan Yahudi dalam Perjanjian Baru sangat penting karena setelah genap waktunya, Tuhan membangkitkan Paulus sebagai pengusaha teologi misi yang baru. Paulus dilatih secara teologis sebagai orang Farisi, dan oleh karenanya memiliki pengetahuan yang mendalam tentang Perjanjian Lama. Dia memahami bahwa pelayanan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus menggenapi janji yang diberikan kepada Abraham bahwa semua bangsa akan diberkati melalui keturunan Abraham. Paulus mengerti bahwa Yesus adalah keturunan Abraham (Galatia 3:16). Dengan kebangkitan-Nya, Dia ditahbiskan sebagai Raja Mesianik sehingga Dia jelas-jelas adalah pewaris takhta Daud, Mesias yang dijanjikan, dan Anak Allah (Roma 1:3-4; 2 Timotius 2:8).

Pelayanan Paulus

Pencurahan Roh Kudus kepada bangsa-bangsa lain (lihat Galatia 3:1-5, 14) menunjukkan penggenapan janji Allah bahwa pada zaman akhir, Dia akan mencurahkan Roh-Nya. Banyak nubuat Perjanjian Lama mengajarkan bahwa ketika masa penggenapan tiba, Tuhan akan memberkati umat-Nya dengan Roh Kudus (misalnya, Yesaya 32:15; 44:3; Yehezkiel 11:18-19; 36:26-27; Yoel 2:28). Pencurahan Roh Kudus kepada orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi berdasarkan kehidupan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus menandakan bahwa hari-hari akhir telah tiba. Ketika Paulus memproklamasikan Injil dalam perjalanan misionarisnya, dia berpendapat bahwa pemenuhan semua sejarah penyelamatan telah tiba di dalam Yesus. Perjanjian Baru sekarang menjadi kenyataan di dalam Yesus (Yeremia 31:31-34). Hukum Taurat tidak lagi ditulis hanya di atas loh batu, tetapi Roh Kudus sekarang ditanamkan ke dalam hati manusia (2 Korintus 3). Pengampunan dosa yang dijanjikan oleh Yeremia sekarang menjadi kenyataan berdasarkan kematian penebusan Yesus Kristus.

Paulus dengan teliti memahami pentingnya penggenapan janji keselamatan dalam Yesus Kristus. Pada era lama, orang Yahudi dan orang bukan Yahudi dipisahkan satu sama lain. Orang-orang Yahudi adalah umat perjanjian Allah, dan bangsa-bangsa lain berada di luar lingkaran janji keselamatan Allah (Efesus 2:11-12). Akan tetapi, dengan kedatangan Yesus, era lama telah berakhir. Sekarang, orang Yahudi dan bukan Yahudi dipersatukan sebagai anggota keluarga Allah berdasarkan karya Kristus di kayu salib (Efesus 2:13-22). Sekarang, mereka adalah anggota tubuh yang sama dan ahli waris dari janji yang sama (Efesus 3:6). Keselamatan orang bukan Yahudi di dalam Kristus bukanlah rencana B, melainkan pemenuhan atas apa yang Allah maksudkan saat Dia berjanji untuk menyelamatkan banyak bangsa melalui Abraham.

Paulus juga menyadari di Jalan Damsyik bahwa pesan untuk misinya adalah pembenaran hanya melalui iman. Orang bukan Yahudi tidak menjadi anggota umat Allah dengan mematuhi hukum Musa dan mematuhi perjanjian Sinai. Memang, tidak ada yang bisa menjadi orang benar dengan melakukan hukum Taurat karena "semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23). Dia menyatakan kepada bangsa-bangsa lain bahwa satu-satunya cara untuk didamaikan dengan Allah adalah melalui iman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan yang disalibkan dan bangkit. Selain itu, Paulus memahami bahwa perjanjian Musa tidak lagi berlaku karena kedatangan Yesus Kristus (Roma 7:4-6; 2 Korintus 3:4-18; Galatia 3:15-4:7). Perjanjian Musa adalah perjanjian sementara, yang dimaksudkan untuk mengatur orang-orang Yahudi sampai munculnya iman kepada Kristus. Oleh karena itu, ketika guru-guru palsu yang mengikuti jejak misi Paulus berkeras agar orang-orang yang baru bertobat itu mematuhi hukum Musa dan melakukan sunat, Paulus mencela mereka karena memberitakan Injil palsu. Mereka memundurkan waktu dalam sejarah penyelamatan dan bersikeras supaya orang-orang bukan Yahudi bersikap seperti orang Yahudi untuk bergabung dengan umat Allah. Lebih jauh lagi, mereka memutarbalikkan Injil dengan mengajarkan bahwa orang didamaikan dengan Allah melalui perbuatan, bukan iman.

Satu dimensi terakhir dari kehidupan Paulus sebagai misionaris harus disebutkan. Bagian yang mencolok dari pelayanan Paulus adalah penderitaan yang dia alami sebagai misionaris. Tentu saja, penderitaan Paulus tidak untuk menebus seperti penderitaan Yesus Kristus. Namun, penderitaan yang dialami Paulus adalah sarana yang melaluinya Injil diperluas kepada bangsa-bangsa. Meskipun penderitaan Paulus tidak untuk menebus seperti Kristus, semua itu adalah akibat wajar dari penderitaan Kristus. Mereka bersaksi tentang keanggunan dan keindahan Injil karena Paulus bersedia memberikan hidupnya dan bahkan menghancurkan tubuhnya untuk membawa Injil ke bangsa-bangsa. Seperti yang Paulus ajarkan dalam Kolose 1:24-29, Allah menetapkan bahwa penderitaan Paulus akan menjadi sarana yang dengannya mereka yang belum menerima pesan tersebut akan mendengar kabar baik itu. Paulus percaya bahwa memberitakan Injil kepada semua orang benar-benar penting. Tidak ada manusia yang bisa diselamatkan melalui wahyu yang datang melalui alam karena semua orang menolak kesaksian ini dan oleh sebab itu ditinggalkan tanpa alasan (Roma 1:18-32). Satu-satunya jalan menuju keselamatan adalah lewat mendengar dan percaya kabar baik tentang Yesus Kristus (Roma 10:13-17). Orang harus memanggil nama Tuhan untuk diselamatkan. Oleh karena itu, Paulus begitu rela menderita untuk membawa pesan kehidupan kepada bangsa-bangsa.

Paulus secara unik dipanggil oleh Allah setelah genap waktunya. Dia memahami pentingnya Injil dihubungkan dengan Perjanjian Lama. Paulus bukanlah teolog menara gading. Dia adalah seorang misionaris yang mengambil risiko, yang menderita untuk membawa kabar baik yang diwahyukan kepadanya di Jalan Damsyik sampai ke ujung bumi. (t/Jing-Jing)

Audio Rasul untuk Bangsa Lain

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Ligonier
Alamat situs : http://www.ligonier.org/learn/articles/apostle-gentiles/
Judul asli artikel : Apostle to the Gentiles
Penulis artikel : Thomas Schreiner
Tanggal akses : 11 Desember 2016

Mengenang Reformasi

Editorial: 

Dear Netters,

Saya terkesan dengan cara Prof. Brooks menjelaskan sang Maskot Reformasi kepada mahasiswa yang diajarnya. Walaupun beberapa orang memandang sejarah reformasi hanya bagian dari sejarah, tidak bisa dimungkiri bahwa seorang Martin Luther telah membawa angin segar perubahan dalam sejarah kekristenan. Reformasi gereja tidak akan pernah terjadi jika tidak ada orang-orang yang bergerak untuk memperjuangkan prinsip-prinsip alkitabiah dan menolak tradisi agamawi yang bertentangan dengan Kitab Suci.

Saya percaya bahwa Reformasi Gereja adalah kairos Tuhan untuk mengembalikan gereja pada tatanan yang benar dan membawa seluruh jemaat untuk berpegang pada Alkitab sebagai pilar utama kebenaran iman Kristen. Saya mengingat dan menyetujui perkataan John Piper, "Reformasi Gereja bukanlah tentang Luther; Reformasi Gereja yang sejati hanyalah tentang Kristus." Luther hanyalah alat yang Tuhan pakai untuk membawa dan mengembalikan tatanan gereja ke posisinya yang semula. Akan tetapi, tujuan reformasi adalah untuk kemuliaan Kristus saja. Inilah saatnya kita mengenang reformasi dan bergerak bersama untuk mewujudkan cita-cita besar Luther dan para reformator. Saatnya kita mengisi reformasi dengan membawa semangat Reformasi untuk menjadi saksi Kristus pada era teknologi masa kini. Reformasi bukan bagian dari sejarah kekristenan 500 tahun yang lalu. Reformasi adalah gerakan yang harus dan terus diperjuangkan oleh umat Allah. Selamat memperingati 500 tahun reformasi gereja. Ecclesia Reformata Semper Reformanda!

Amidya

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Amidya

Edisi: 
Edisi 193/Oktober 2017
Isi: 

PENDAHULUAN

Pada tahun 1983, untuk peringatan 500 tahun kelahiran Martin Luther, Michael Mathias Prechtl melukis sebuah potret Luther berjudul "Martin Luther, inwendig voller Figur", "Martin Luther: Pribadi yang Penuh Figur". Pertama kali, saya melihat cetakannya ini di kantor Peter Newman Brooks di Cambridge (sekarang gambar itu ada di Gereja Lutheran Injili di England’s Westfield House, sebagai hadiah dari Prof. Brooks). Prof. Brooks sering menggelar kuliah tentang sejarah Reformasi di kantornya, dan ia memiliki kebiasaan yang menyenangkan, yaitu meninggalkan catatannya sebentar lantas melakukan dialog singkat dengan potret Luther yang tergantung di belakang kami, di bagian belakang ruangan. Saya bahkan ingat, pernah sekali waktu ia bangkit dari kursinya dan tersungkur berlutut di lantai dalam hormat kepada lukisan Luther, sang maskot Reformasi. Tentu saja, semua hal itu dilakukan dengan senda gurau, tetapi benar-benar membangkitkan sebuah pertanyaan menarik -- masih dapatkah seseorang bercakap dengan Luther? Apakah ia memiliki sesuatu yang relevan untuk disampaikan kepada kita pada era teknologi dan Twitter ini, atau apakah kita hanya bisa memandang Luther dengan kekaguman dari jauh dan berlutut kepada suatu relik dari masa lalu?

Gambar: 95 Tesis Martin Luther
Martin Luther memakukan 95 tesisnya di pintu gereja All Saints' Church di Wittenberg.

Peringatan lain sekarang sedang menanti di ambang pintu. Pada 31 Oktober 2017, seluruh dunia akan mengenang 500 tahun dari apa yang kerap dikenal sebagai permulaan Reformasi Protestan: deklarasi Martin Luther berisi 95 Tesis Menentang Indulgensia di Wittenberg. Karena berbagai alasan, momen ini melejitkan Luther ke mata publik, dan ia menjadi cambuk petir bagi reformasi gereja. Seperti halnya dengan banyak peristiwa peringatan besar, pertanyaan tentang relevansi kembali timbul: Mengapa reformasi penting? Apakah yang dipertaruhkan? Tentang apakah semuanya itu? Sepadankah hal tersebut? Apakah yang Luther katakan atau ajarkan bermakna bagi kita sekarang? Bagaimana kaum Lutheran dan pewaris Reformasi Protestan memandang Luther? Selagi hari peringatan 500 tahun Reformasi semakin mendekat, pertanyaan semacam itu bahkan akan mulai menarik mereka yang tidak memiliki komitmen religius pada apa yang terjadi pada waktu itu.

CITRA LUTHER DAN REFORMASI

Pada 1529, Johannes Cochaleus, salah satu lawan yang vokal bagi Luther, memublikasikan pamflet berjudul "Seven-headed Luther" (Luther Berkepala Tujuh). Di dalamnya, ia menggambarkan Luther sebagai binatang buas dengan kepala dokter, orang suci, penyesat, orang enthusiast (sebutan untuk penganut sekte Protestan dengan nama yang sama pada abad ke-16 dan ke-17 - Red.), imam, jemaat gereja, dan Barabas. Semuanya diinterpretasikan sedemikian hingga membuat Luther terlihat tidak terpercaya dan berbahaya. Sejak itu, ada banyak gambaran dan interpretasi tentang sang reformator -- sebagian memuji, yang lainnya tidak.

Saat ini, dengan lebih banyaknya buku yang telah ditulis tentang Luther daripada figur historis lain (kecuali Kristus), Anda dapat memastikan bahwa "kepala" Luther telah bertambah lebih banyak daripada tujuh. Pada zamannya sendiri, pengagum dan pengikut Luther meninggikannya sebagai nabi, alat yang dipakai Allah, dan pahlawan Jerman, dan sosok Hercules yang melawan tirani Roma. Namun, baik saat itu maupun setelah kematiannya, penekanan generasi Lutheran selanjutnya bukan lagi pada pribadi atau kehidupan Luther -- ia tidak seharusnya disegani atau ditiru, dan tentu saja tidak ada kisah mukjizat seperti cerita-cerita orang kudus abad pertengahan. Sebaliknya, fokusnya diarahkan pada pengajaran Luther, kekuatan pesannya, pemikirannya dalam Kitab Suci, dan penemuan kembali Injil sejati -- suatu hal yang diperkenan.

Abad-abad selanjutnya memandang Luther dan Reformasi melalui kacamata yang berbeda. Kaum rasionalis dari Abad Pencerahan pada abad ke-18 -- yang hanya punya sedikit waktu untuk bergumul tentang agama dalam bentuk apa pun -- meratapi bahwa begitu banyak kekacauan di Jerman disebabkan oleh "takhayul" dari Luther, dan di Inggris oleh cinta Raja Henry VIII kepada mata Anne Boleyn yang berwarna cokelat tua. Meski demikian, pihak lain bisa saja mengekspresikan pandangan yang lebih romantis, menempatkan Luther sebagai bapa kebebasan individu, yang melemparkan belenggu tradisi dan kuasa institusi gereja. Misalnya, penilaian oleh François Guizot, yang hidup tepat setelah Revolusi Perancis:

"Reformasi adalah usaha sangat besar yang dilakukan oleh umat manusia untuk mempertahankan kebebasannya; sebuah kerinduan baru untuk berpikir dan menilai dengan bebas terlepas dari gagasan dan pendapat lain, yang kemudian diterima oleh Eropa, dan dipaksa untuk menerimanya dari era terdahulu. Reformasi adalah upaya besar untuk menyejajarkan umat manusia dan untuk memberi nama yang layak bagi berbagai hal. Reformasi adalah pemberontakan dari pikiran manusia melawan kuasa absolut strata spiritual."

Di Jerman, Luther menjadi simbol patriot dan pahlawan nasional. Reformasi dianggap sebagai "pencapaian sempurna" Jerman, dan Luther adalah sang pemimpin kebebasan bagi kehidupan masyarakat Eropa. Hingga abad ke-19 dan awal abad ke-20, Reformasi sering diartikan sebagai gerakan tidak terhindarkan yang lebih dikendalikan oleh kekuatan sosial dan ekonomi daripada oleh pemikiran religius. Perang Petani tahun 1525 lebih signifikan bagi arah kehidupan abad ke-16 daripada khotbah Luther di hadapan kaisar di Diet of Worms (Sidang kekaisaran dari Kekaisaran Romawi Suci yang diadakan di Taman Heylshof di Worms, yang pada waktu itu adalah Kota Kekaisaran Bebas milik Kekaisaran Romawi - Red.).

Gambar: Diet of Worms
Luther Before the Diet of Worms oleh Anton von Werner (1843–1915).

Jadi, mana yang benar? Tentunya, Reformasi adalah suatu masa dan gerakan yang terlalu kompleks untuk dipahami sekadar sebagai satu tokoh atau satu persoalan. Sebab dan akibatnya menyentuh cakupan faktor sosial politik yang luas, gagasan teologis, pribadi-pribadi yang unik, dan tekanan gerejawi. Bahkan, beberapa orang mungkin akan berpendapat bahwa lebih baik menyebutnya "Reformations" (jamak) daripada gerakan tunggal dan terpadu.

Namun, terlepas dari kompleksitas Reformasi, 31 Oktober 1517 menandai suatu peristiwa spesifik dengan lingkup yang relatif sempit. Luther memublikasikan 95 tesisnya diakui sebagai pemantik yang menyalakan kobaran api, tetapi natur dari peristiwa ini sering kali dikaburkan oleh keributan yang muncul belakangan, bukan oleh tujuannya semula. Secara singkat, padat, dan jelas, 95 tesis Luther ditulis sebagai protes melawan pelayanan pastoral yang buruk, dan dari perspektif inilah orang semestinya mencoba memahami apa yang sebenarnya Luther lakukan pada tahun-tahun pertama Reformasi. Seperti dikatakan dengan amat baik oleh Jane Strohl, seorang ahli Reformasi, "Orang dapat mendeskripsikan karier Luther sebagai tindakan mengajukan gugatan malapraktik pastoral seumur hidup terhadap otoritas gereja pada tiap tingkatan hierarki."

"Pro re theologica et salute fratrum" -- "Demi teologi dan keselamatan saudara-saudara." Luther menulis perkataan ini dalam sebuah surat kepada kawannya, Georg Spalatin, pada 19 Oktober 1516, hampir setahun sebelum proklamasi 95 tesisnya. Surat tersebut merupakan penilaian kritis terhadap seorang ahli terkenal, Erasmus, dan bukunya Perjanjian Baru berbahasa Yunani yang baru saja diterbitkan. Di satu sisi, Luther sangat menghargai karya Erasmus -- Luther baru saja menyelesaikan ceramahnya tentang surat Roma, yang semasa pengerjaannya, ia dipandu oleh teks Erasmus, dan baru saja hendak memulai seri ceramah baru tentang surat Galatia. Namun, ia tidak terlalu sependapat dengan pemahaman dan penafsiran Erasmus mengenai Rasul Paulus. Luther ingin Spalatin menyampaikan keberatannya terhadap Erasmus meskipun ia tahu bahwa kritiknya mungkin saja tidak akan didengar. Bagaimanapun, ia "bukan siapa-siapa", sedangkan Erasmus dikenal di seluruh Eropa sebagai "orang paling terpelajar". Meski demikian, Luther mengatakan bahwa ia merasa terdorong untuk menyampaikan sesuatu, sebab hal ini bukan semata persoalan perbedaan pendapat akademis -- suatu poin kabur yang bisa diperdebatkan di menara gading universitas. Tidak, Luther hanya tertarik pada hal-hal yang menyentuh jantung segala sesuatu -- seluruh teologi dan keselamatan semua orang sedang dipertaruhkan. Ketika Luther mulai mengubah beberapa hal dalam kurikulum Universitas Wittenberg tempat ia mengajar, ia melakukannya karena bagaimana hal itu dapat memengaruhi khotbah mingguan, pengajaran, dan pelayanan pastoral pada tingkat jemaat. Itulah tujuan reformasi bagi Luther.

Namun, apakah arti pelayanan pastoral sebelum Reformasi? Terdiri dari apa saja? Aspek kependetaan yang formal dan gerejawi dari pelayanan pastoral secara garis besar dapat dibagi menjadi: (1) sakramen pengakuan dosa, (2) penjualan/pembelian surat indulgensia, dan (3) massa yang tertutup. Di sisi lain, ada banyak praktik yang tidak terlalu formal, tetapi tersebar luas, yang tujuannya adalah merawat dan menentramkan jiwa: kisah kebajikan dan kejahatan, literatur renungan, seperti The Fourteen Consolations, The Art of Dying (Ars Moriendi), dan The Lives of the Saints, di samping sejumlah praktik spiritual lain, misalnya relik, ziarah, dan doa yang mengikuti pola kehidupan biara. "Geistlichkeiten" tersebut (secara harfiah: "spiritualitas"), demikian Luther menyebutnya, menjadi fokus dari banyak perjuangan reformasi Luther.

Lebih lazim untuk menganggap Luther sebagai reformator doktrin (mungkin doktrin spesifik, seperti pembenaran atau Perjamuan Terakhir) dan sebagai lawan yang kuat bagi otoritas kepausan. Akan tetapi, pertanyaan tentang doktrin dan otoritas teologis bangkit bagi Luther sebagai sarana menuju akhir yang lebih besar: pelayanan pastoral yang membina kehidupan Kristen murni. Dimulai dengan pencarian pribadinya akan penghiburan dan pengharapan, Luther mendorong dirinya melakukan praktik yang dapat memenuhi kehidupan orang dengan Firman Kristus. Hanya pada hubungan yang mendalam dengan Kristus inilah, Luther menemukan kebebasan dan kekuatan untuk hidup dalam dunia yang diwarnai pertentangan antara pemeliharaan Allah dan kehadiran dosa dan penderitaan terus-menerus.

Demikianlah kita melihat Luther secara berulang-ulang dan terprogram menyerang apa yang ia yakini sebagai “Geistlichkeiten” palsu -- praktik spiritual yang dengan berbagai cara mencoba mengatasi kontradiksi keberadaan kristiani dengan mendorong Allah kembali ke surga nun jauh terpisah dari dunia, dan mengurangi realitas hidup yang tidak menyenangkan dengan ilah-ilah yang lebih rendah, yaitu para orang kudus serta keamanan spiritual lainnya. Posisi orang kudus sebagai penengah memiliki manfaat ganda, yakni menjaga agar Allah tidak dipersalahkan atas adanya dosa dan melindungi orang dari penderitaan. Luther memublikasikan 95 Tesisnya tepat sebelum Hari Raya Semua Orang Kudus mungkin merupakan kebetulan, tetapi ada kepatutan tertentu dalam dekatnya serangannya terhadap (doktrin) perbendaharaan pahala orang kudus dan perayaan para orang suci tersebut.

Bagi Luther, usaha menutup-nutupi Allah dan realitas penderitaan adalah pemikiran yang tidak rasional serta membangun cara hidup yang membuat iman kepada Allah yang baik dan Bapa yang setia menjadi tidak jelas, bahkan mungkin tidak penting. Namun, karena dalam Kristus Luther menemukan (figur) Allah yang memasuki celah antara kebaikan dan dosa, penderitaan, dan keselamatan, Luther juga mampu menarik status para orang kudus kembali sebagai manusia biasa. Bagi Luther, orang kudus itulah yang kini menemukan harapan dalam pertentangan hidup dengan berpegang erat pada janji Allah, yang telah merendahkan diri untuk menderita bagi dan dengan manusia. Dan, dalam pengharapan tersebut, orang-orang kudus menemukan kekuatan untuk menghidupi kehidupan dalam ciptaan Allah -- untuk mengaguminya, menemukan keindahan padanya, menanam, memanen, menikah, dan membesarkan anak-anak -- meski wabah dan perang buruh berkecamuk.

Di sinilah, kita menyentuh hal yang mungkin merupakan dampak terluas Reformasi, yaitu subversinya mengenai orang kudus, pemaknaan ulang kehidupan religius, dan penyakralan sekuler. Dan, Luther melakukan hal ini dengan satu pernyataan tegas yang brilian, baik penahbisan maupun nazar agamawi tidak membuat orang menjadi spiritual atau religius, melainkan baptisan dan iman. Berlawanan dengan kesalehan yang berlaku secara umum, orang biasa adalah manusia spiritual. Orang biasa adalah imamat.

Dalam konteks abad pertengahan akhir, umat Kristen dapat dibagi menjadi dua tingkat kekristenan secara esensi. Tingkat yang atas adalah para elit spiritual, diwakili oleh anggota kehidupan biara, dan secara turunan, jajaran para imam. Setelah kemartiran, kehidupan biara telah lama dianggap sebagai bentuk religius Kristen yang ideal. Dalam usaha mewujudkan ajaran Injil yang lebih bersifat pengorbanan dan radikal, biarawan memisahkan dirinya dari orang Kristen biasa dengan sumpah kefakiran, kesucian, dan ketaatan. Sepuluh Hukum memang penting, tetapi "jika engkau hendak menjadi sempurna," kata Tuhan, "juallah segala milikmu, berikanlah kepada orang miskin, lalu datang dan ikutlah aku," padahal, berkata secara adil, biara tidak membedakan orang Kristen biasa dengan yang "sempurna"; ia menganggap sumpah dan kehidupannya sebagai bagian intrinsik pada panggilan pemuridan. Bagi biarawan, kekristenan sejati terlihat seperti monastisisme (kehidupan biara). Hal itu akan menjadi kesadaran gereja, sesuatu yang ideal di tengah kekristenan yang biasa-biasa saja.

Dengan pengertian tersebut, monastisisme sering kali merupakan katalis sekaligus tanda permanen bagi reformasi. Lebih seringnya, reformasi bukan sekadar menetapkan susunan monastik baru, melainkan terkadang akan tertumpah meliputi cakupan gereja yang lebih luas. Sebagai contoh, Reformasi Cluniac pada abad ke-10, di antara hal lainnya, membawa pentingnya sumpah hidup selibat ke dalam kehidupan kependetaan, memberi para pendeta kesetaraan kondisi spiritual yang lebih dalam. Demikian juga orang awam, ketika menghendaki kehidupan yang lebih religius dan beribadat, mereka menjadikan biara sebagai standar. Pada abad ke-15 dan ke-16, kesalehan biasa bertumbuh menjadi "ibadah modern" (devotio moderna), mengikuti kebiasaan dan praktik tertentu yang ada di biara. Singkatnya, kehidupan religius dahulu bukanlah kehidupan awam. Orang awam dan orang biasa secara de facto tidaklah spiritual.

Oleh karena itu, adalah suatu tuntutan yang revolusioner ketika Martin Luther (seorang biarawan Agustinian!) menyatakan bahwa semua orang Kristen awam bersifat spiritual dan religius. Hanya iman yang membuat seseorang spiritual, dan kehidupan dari seorang awam biasa adalah pengorbanan dan penyembahan religius sejati apabila dibentuk oleh perintah Allah. Hidup sebagai ayah atau ibu yang setia, pegawai yang taat, warga negara, atau pejabat temporal yang bertanggung jawab merupakan kehidupan religius sejati, lebih menyenangkan Allah daripada semua sumpah dan pelayanan harian bersama-sama. Monastisisme (kebiaraan) bukanlah bentuk ideal maupun pengantara moral bagi gereja, demikian pula kependetaan. Orang Kristen awam tidak membutuhkan pendeta untuk berdiri di antara yang biasa dan yang kudus. Dalam baptisan, semua orang Kristen turut serta dalam keimaman spiritual (1 Petrus 2:9), memiliki akses langsung kepada Allah melalui iman.

Hasilnya adalah kesalehan awam yang murni dengan kehidupan sekuler sebagai spiritualitas yang menunjukkan dirinya sendiri. Tanggung jawab sehari-hari merupakan panggilan ilahi. Ketika dikoordinasikan dengan tanggung jawab lain dan pekerjaan biasa, sesama dilayani dan dikasihi, dan komunitas bertumbuh. Tubuh Kristus memiliki banyak anggota dengan fungsi dan peranan masing-masing. Bahkan, yang terkecil dan terlemah harus dihormati sebagai bagian yang istimewa dan penting dari satu tubuh Kristus yang sama.

LUTHER PRAMODERN BAGI DUNIA PASCAMODERN

Penggambaran Luther tentang kehidupan Kristen di dunia terlihat indah meski kita tahu bahwa kehidupan tidaklah seperti itu. Kontradiksi antara kehadiran Allah, kehadiran dosa, dan kehadiran penderitaan terus ada. Panggilan hidup sehari-hari telah kehilangan arahan moral dan terus dimaknai ulang oleh norma sosial dan berbagai "-isme" -- kapitalisme, individualisme, konsumerisme, materialisme, dan ... pascamodernisme.

Pascamodernisme adalah kata yang sering digunakan untuk mendeskripsikan keadaan kita di dunia barat saat ini meski tidak selalu dimengerti. Sering kali, pascamodernisme didefinisikan sebagai relativisme -- tidak ada yang benar selain apa yang benar bagi saya. Namun, relativisme semacam itu bukan benar-benar gagasan baru. Kita dapat menemukan pandangan serupa dalam berbagai gerakan zaman dahulu, Renaisans dan Pencerahan -- kerap disebut Skeptisisme. Meskipun pascamodernisme dapat menuntun ke arah skeptisisme, ada yang lebih daripada itu. Secara sederhana, pascamodernisme menyatakan bahwa, entah kita menyukainya atau tidak, norma-norma lama yang terpercaya kini telah dipertanyakan. Apa yang kita sebut "fondasi" -- hal-hal yang dianggap menjadi dasar otoritas dan struktur kekuasaan, klaim kebenaran dan etis -- "fondasi" ini telah gugur. Dalam konteks ini, tidak ada yang objektif; segala sesuatu tergantung cara pandang kita; segala sesuatu hanyalah interpretasi; semua kesimpulan bersifat sementara. Tidak ada lagi satu bingkai referensi tunggal bagi pemahaman kita tentang diri sendiri atau dunia; sebaliknya, terus meningkat argumentasi bahwa kita hidup dalam jaringan narasi dan cerita, yang masing-masing saling bersaing untuk memberi makna bagi kita dan menjelaskan dunia. Kita memiliki kisah individual pribadi, tetapi juga cerita dan narasi budaya dan masyarakat -- metanarasi yang besar. Semua narasi dan kisah tersebut membentuk kita, mendefinisikan kita, memberi kita makna dan identitas, bahkan jika "kebenaran"nya tidak dapat dibuktikan sekalipun.

Gambar: The Eclipse of Biblical Narrative
The Eclipse of Biblical Narrative oleh Hans W. Frei.

Kebanyakan dari hal ini adalah reaksi terhadap keyakinan diri akan modernitas (itulah alasan kata "pasca" dari pascamodernisme) yang membangun fondasi rasio dan apa yang diketahui melalui observasi dan indra kita, mengabaikan pentingnya narasi dan kisah secara keseluruhan. Sebaliknya, narasi -- termasuk narasi Alkitab -- dianggap sebagai penghalang. Orang harus mencoba melihat apa yang ada di balik cerita untuk dapat menemukan kebenaran yang dapat diverifikasi, bersifat historis, rasional, dan dapat dipercaya. Hans Frei dalam bukunya The Eclipse of Biblical Narrative, secara mendasar menyebut pendekatan modern terhadap narasi sebagai "pembalikan penempatan". Dahulu, pada masa Reformasi, sebelum Abad Pencerahan, pembaca pramodern memandang Alkitab sebagai deskripsi yang akurat atas dunia mereka -- seperti yang ditekankan Frei, pembaca melihat "keberadaan dirinya, tindakan dan semangatnya, bentuk kehidupannya sendiri sebagaimana peristiwa dalam zamannya sebagai figur yang membentuk kisah dunia" dalam Alkitab. Dengan demikian, pembaca pada era pramodern menempatkan dunianya dan kisahnya dalam cerita Alkitab. Namun, pergeseran modernitas besar-besaran adalah "pembalikan penempatan": "Segala sesuatu sepanjang spektrum teologis telah mengalami pembalikan besar," kata Frei. "Interpretasi adalah soal menempatkan cerita Alkitab ke dalam dunia lain dengan kisah yang lain, bukannya menjadikan dunia lain tersebut sebagai bagian dari kisah Alkitab." Keberadaan kita saat ini menjadi hakim dan norma dan kunci interpretasi kisah Alkitab.

Namun, kita diperintahkan untuk hidup dalam "pascamodernitas". Dan, dalam konteks ini, sekali lagi kita sedang melihat pendekatan narasi dan cerita, dan kita dapat menyaksikannya dalam hampir tiap area: filsafat, etika, dan politik, serta -- dalam seperempat abad terakhir -- narasi juga menempati posisi sentral dalam teologi. Narasi, cerita, tampaknya sangat penting bagi kondisi pascamodern ... cerita adalah raja.

Namun, Luther telah sejak dahulu mengetahui hal ini. Atau, setidaknya, ia menjadi tahu sepenuhnya tatkala ia berjuang melawan keraguan dan ketidakpastiannya sendiri. Pada akhirnya, hanya kisah Kitab Suci, kisah Allah dan umat-Nya, kisah Kristus, yang memenuhi wawasan Luther dan menggantikan rasa aman palsu dan fondasi zamannya yang sedang runtuh dengan kepastian baru. Saya hendak mengajukan pendapat bahwa natur penggunaan Kitab Suci oleh Luther sebagai narasi -- sebagai kisah yang membentuk identitas -- adalah poin relevan yang layak diangkat kembali bagi zaman kita.

Dalam banyak hal, Luther adalah tipe penafsir Alkitab pramodern (meski intensitas pekerjaannya dengan Kitab Suci memisahkannya dari tradisi biara). Tetap saja, seperti orang sezamannya, Luther menemukan kesatuan narasi Alkitab sebagai penjelasan definitif bagi dunianya sendiri. Hubungan antara sejarah dunia dan sejarah keselamatan sudah diasumsikan meskipun tidak selalu terlihat jelas. Pada awalnya, ia mengikuti metode tradisional penafsiran Alkitab rangkap empat yang mencoba menghubungkan keduanya melalui serangkaian pembacaan Alkitab secara figuratif dan alegoris. Namun, belakangan, Luther menghindarinya karena metode tersebut mendukung pandangan sejarah keselamatan yang secara kontinu berubah, yakni bahwa Kristus dan Injil muncul hanya sebagai versi baru yang lebih baik dari Musa dan Taurat. Sebaliknya, Luther mulai menemukan metanarasi berbeda yang menjalar sepanjang Kitab Suci mengatasi pandangan tentang sekadar figur dan pemenuhan, atau kesesuaian dan pertentangan.

Gambar: Alkitab
Alkitab yang terbuka.

Dalam peristiwa apa pun, Luther memberikan pemikiran yang lebih terencana mengenai bagaimana Kitab Suci berperan sebagai Firman Allah. Ada pepatah mengatakan "ada buku yang Anda baca, ada juga buku yang membaca Anda". Bagi Luther, Alkitab adalah jenis yang kedua. Ia tidak memandang Kitab Suci terutama sebagai objek penafsiran kita, sebaliknya, kitalah objek yang diinterpretasikan oleh Kitab Suci. Hal ini bukan untuk mengatakan bahwa Luther menganggap tidak perlu mencoba memahami teks (Alkitab), atau bahwa Kitab Suci tidak menuntut pembelajaran dan penjelasan. Hanya saja bahwa bagi Luther, fungsi utama Kitab Suci ialah untuk membentuk (menempa) kita, menyusun diri kita, memimpin kita menjadi ciptaan baru, mematikan dan menghidupkan kita kembali. Ia menulis, "Ingatlah baik-baik, bahwa kuasa Kitab Suci ialah: ia tidak akan berubah oleh karena seseorang mempelajarinya; sebaliknya ia mentransformasi orang yang mencintainya. Ia menarik seseorang ke dalam -- kepada dirinya -- dan kepada kuasanya". Kitab Suci menarik Anda -- ke dalam dunianya, sejarahnya, kisahnya -- sehingga kita membaca dunia kita, sejarah kita, kisah kita menurut latar belakang Alkitab. Narasi Alkitab menjadi kunci untuk memahami kehidupan kita, kisah yang mendefinisikan dan menginterpretasikan dunia kita. Bukan berarti kita melihat Alkitab bermakna bagi kehidupan kita, melainkan sebaliknya, makna kehidupan kita didapat dari Alkitab. Hal ini, tentu saja, sepenuhnya berlawanan dengan pendekatan modern, tetapi menariknya, tidak terlalu asing bagi pemahaman pascamodern mengenai narasi.

Bagi Luther, Kitab Suci bukan sekadar cadangan kebenaran ilahi yang proporsional. Memang ia berisi kebenaran, tetapi Kitab Suci lebih dari itu. Ia adalah kisah Allah Israel yang hidup, yang membuat raja-raja dan orang-orang besar menjadi tidak berarti, serta meninggikan orang kecil dan anak yatim, yang mengeluarkan mata air di padang gurun dan taman di tempat gersang, yang menjadikan bapa-bapa leluhur dari bangsa yang sesat, yang memangkas pohon zaitun dan membuat tunggulnya bertunas, yang memilih hal-hal yang diremehkan, membuat yang terpandang menjadi remeh. Dan, lebih lagi, kisah ini mengonfrontasi kita dengan klaim mencengangkan bahwa itu merupakan kisah kita juga.

Kita dapat melihat pandangan terhadap Kitab Suci ini dalam bagaimana Luther terus memahami peristiwa-peristiwa kontemporer di sekitarnya dalam terang sejarah keselamatan. Luther selalu melihat lebih daripada sekadar kaisar dan pembesar, buruh dan paus. Ia memandang tindakan mereka serta tindakannya sendiri dengan eskatalogi sebagai latar belakang sejarah keselamatan yang di dalamnya, seperti dikatakan Rasul Paulus, perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, melainkan melawan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa ... melawan kegelapan saat ini -- Luther melihat dunia penuh dengan manusia, tetapi juga penuh dengan kuasa jahat! Pertimbangkanlah potret Prechtl tentang Luther lagi -- Luther penuh dengan figur dari sejarahnya sendiri -- buruh tani berbaris melawan prajurit bersenjata: Perang Petani yang mengerikan pada tahun 1525! Namun, bagi Luther, ini bukan kebangkitan sosial semata, pertempuran kelas sosial -- membaca sejarahnya dengan latar belakang kisah Alkitab, Luther melihat peristiwa ini dalam bentuk apokaliptik. Memang, apa yang bisa lebih apokaliptik daripada kekerasan besar yang mengubah dunia dan tatanannya? (Seorang ahli teologi Luther, Oswald Bayer, telah menunjukkan bahwa hal ini tidak meluputkan sang seniman yang melukis para ksatria dengan gaya lukisan Four Horsemen of the Apocalypse (Empat Penunggang Kuda Akhir Zaman) karya Albrecht Dürer.)

Akan tetapi, tidakkah paham apokaliptik Luther biasanya disoroti sebagai bukti jarak yang terbentang antara ia dan kita daripada sebagai relevansi kontemporer zamannya? Dan, bukankah pandangan terhadap sejarah semacam itu berbahaya? Bagaimanapun, inilah yang dilakukan salah satu orang sezamannya, Thomas Müntzer, dalam memimpin Perang Petani. Müntzer menggunakan Kitab Suci untuk menafsirkan peristiwa pada masanya secara apokaliptik, terinspirasi oleh kisah-kisah Alkitab yang menggambarkan perang yang akan pecah antara kebaikan dan kejahatan pada hari-hari terakhir. Sesungguhnya, kadang terlihat bahwa Luther juga dapat terjatuh dalam bahaya penafsiran apokaliptik semacam itu -- penilaiannya terhadap orang Yahudi menjadi contoh yang paling mengejutkan.

Namun, lebih sering, paham apokaliptik Luther tidak seperti Müntzer atau figur-figur profetik lain dari abad ke-16 yang mencoba mencengkeram kekang sejarah politik dalam nama Allah. Kata "apokalips" artinya membukakan apa yang tersembunyi, menyatakan apa yang sebelumnya tidak diketahui dunia. Hal tersebut menyatakan bahwa tanpa penyataan seperti itu, makna dunia yang sesungguhnya akan tetap tersembunyi. Dalam Disputation Against Scholastic Theology (Disputasi Melawan Teologi Skolastik) karyanya pada tahun 1517, dan bahkan lebih jelas lagi dalam Heidelberg Disputation (Disputasi Heidelberg) pada tahun 1518, Luther menolak teologi yang dibentuk tanpa apokalips, tanpa pewahyuan -- ketika seseorang dapat dengan mudah melihat hal dari Tuhan yang tersembunyi dan tidak terlihat. "Teologi kemuliaan" seperti itu, demikian ia menyebutnya, menekan dunia Alkitab menjadi dunia yang dipahami dengan logika, filsafat, dan pengalaman manusia. Dampaknya, pandangan semacam itu berusaha mencocokkan kisah Alkitab dengan kisah dunia, entah dunia filsafat dan sains, atau dunia buruh dan pembesar. Dengan pembalikan rasio dan pewahyuan, dialektik dan apokaliptik, kaum skolastik akan berusaha menyesuaikan kebenaran Allah dengan kebenaran manusia, dan orang seperti Thomas Müntzer akan mencari kekuatan eskatologis Allah dalam kekuatan tentara buruh.

Namun, pandangan apokaliptik Luther mengenai peristiwa pada sejarahnya sendiri sama sekali tidak dikendalikan oleh ketidakadilan paus atau pembesar, ancaman buruh maupun wabah, perang dan rumor perang, bahkan bukan oleh amukan kuasa jahat, melainkan itulah misteri yang tersimpan selama berabad-abad, hikmat yang disembunyikan dari orang bijak, tetapi dinyatakan pada orang-orang kecil, sebuah "teologi salib" yang menyatakan bahwa akhir zaman telah tiba dengan adanya Kristus yang Tersalib. Inilah apokalips yang, bagi Luther, menafsirkan dunianya dan akhir zaman: Yang Tersalib telah mengenakan seluruh kejahatan dan dosa pada Diri-Nya dan mengalahkan mereka di kayu salib. Mengikuti rangkuman Paulus tentang narasi Alkitab, khususnya sapuan sejarah besar keselamatan yang diceritakan dalam Surat Roma dan ditunjukkan dalam Surat Galatia, Luther berfokus pada kisah janji -- janji Allah. Sejak permulaan kisah Alkitab sampai akhir, Luther menyaksikan janji Allah secara terus-menerus, menembus kehidupan umat-Nya untuk mengklaim kata terakhir supaya segala sesuatu berakhir -- dosa, maut, iblis -- bahkan hukum. Hanya oleh janjilah Israel hidup dalam iman, dan hanya melalui iman dalam janji (Allah) orang non-Yahudi menemukan perhentian spiritual mereka, karena "Kristus adalah penggenapan seluruh janji Allah" (2 Korintus 1:20). Dan, kisah janji ini menantang kita sebagaimana sebuah janji -- Kristus bagi kita. Jadi, Kitab Suci menantang kita sebagai sebuah janji, menuntut dan menghasilkan iman. Karena itu, di tengah kehancuran, ketakutan akan maut, keraguan, dan pencobaan yang tampak bertentangan dengan kuasa dan belas kasih dan keadilan Allah, kematian dan kebangkitan Kristuslah yang tetap menjanjikan pengharapan dan memberi makna serta tujuan bagi kisah hidup tiap orang.

Gambar: Katharina von Bora
Katharina von Bora, istri Luther, oleh Lucas Cranach the Elder, 1526.

Tanpa adanya penyingkapan janji ini, tanpa kisah yang lain ini -- pernyataan dan tindakan Luther dapat terdengar absurd. Tentu Anda pernah mendengar pepatah yang secara tidak benar diatasnamakan kepada Luther, "Bila saya tahu dunia akan berakhir besok, saya akan menanam pohon apel hari ini." Kalimat ini bukanlah perkataan Luther, tetapi tampaknya mirip dengan pemikirannya. Yang mungkin lebih mengejutkan ialah kalimat berikut, yang benar-benar pernah ia katakan: di tengah kegelapan dan kebisingan Perang Petani, Luther melakukan sesuatu yang lebih absurd daripada menanam pohon apel -- ia memutuskan untuk menikah. Sembari menulis surat kepada seorang kerabat tentang kemungkinan kematiannya di tangan para petani, ia berhenti sejenak dan berkata, "Bila saya dapat mengaturnya, sebelum mati, saya tetap akan menikahi Katie untuk menghina sang Iblis, meski saya harus mendengar perang petani berlanjut. Saya percaya mereka tidak akan mencuri semangat dan sukacita saya." Suatu momen yang mengagumkan: secara paradoks, Luther memamerkan undur dirinya dari tengah dunia sekaligus pada saat yang sama keyakinan dan kebebasannya untuk hidup dan berinvestasi di dunia. Ia melakukan hal ini karena kisah Kitab Suci -- yang dibubuhkan pada tiap halaman dengan darah Kristus! -- menjanjikan padanya bahwa Allah yang menghancurkan kuasa dosa, maut, dan Iblis adalah Allahnya. Dalam iman ini, kisah keselamatan dari Alkitab menjadi kisahnya sendiri, memaknai dan membentuk setiap momen dalam hidupnya. Hanya dengan "kesadaran yang ditawan oleh Firman Allah" ia benar-benar menemukan kebebasan sejati.

Supaya jelas, Luther tidak memaksudkan agar setiap kisah dalam Kitab Suci harus disederhanakan menjadi peringatan "bertobatlah" dan "percayalah". Janji Allah dan iman yang dipanggil menjadi nyata tidak datang secara umum, melainkan di tengah kekhususan kehidupan dan sejarah manusia. (Pepatah "iblis berada dalam detail" betul-betul salah -- iblis jauh lebih baik dalam pernyataan yang bersifat umum; Allah itulah yang merendahkan diri ke dalam keringat dan darah sejarah manusia -- seperti dikatakan Luther, "Ke dalam debu dan kerja yang membuat kulitnya terbakar.") Dalam kehidupan nyata, dengan segala pertentangan dan ketidakpastiannya, Allah berbicara kepada kita, Ia mendekat kepada kita dalam inkarnasi Allah Anak.

Di sinilah, dalam kisah janji Allah, saya hendak mengajukan bahwa teologi Luther bahkan lebih penting dan mendesak bagi zaman kita. Meski benar bahwa penghancuran yang dilakukan pascamodernisme terhadap asumsi dan fondasi tradisional menyatakan kenaifan dan kesombongan manusia modern, hal tersebut juga telah meninggalkan masyarakat kita dalam keadaan hilang arah, kekecewaan, kecemasan. Tampaknya, ada budaya "Anfechtung" yang terus bertumbuh, yang secara simultan menolak segala otoritas, tetapi masih mendambakan kepastian. Di tengah iklim yang tidak pasti dengan segala kontradiksi dan keraguan hidup, hal itu meninggikan autentisitas melebihi otoritas, dan kepenuhan akan kebenaran melebihi kebenaran, teologi Luther menunjuk pada -- bukan seperangkat rasa aman, pegangan, atau fondasi objektif lain yang dapat diverifikasi -- melainkan sebuah janji, Firman yang sepenuhnya bergantung pada kasih dan kesetiaan Dia yang menyatakannya. Himne Luther Benteng yang Teguh mengatakan bahwa itu hanya "sepatah kata", tetapi kata dan cerita adalah satu-satunya yang kita miliki -- dan "penuh pun dunia dengan setan", terhadap pemerintah dunia ini, "kuasanya ditebang dengan sepatah kata".

Kisah dan janji -- tentunya, yang kita bicarakan tentang teologi Luther adalah Firman. Lagi pula, jika Luther memang masih berbicara kepada kita pada saat ini, bukan karena kata-katanya sedemikian penting, melainkan karena ia mengarahkan kita untuk mendengar Dia yang Firman-Nya menjanjikan pengharapan dan kehidupan bagi dunia. Di hadapan Firman inilah, kita, demikian tulis Luther dalam kata-kata terakhirnya, "aller Bettler" -- kita semua pengemis. Hal ini benar adanya. (t/Joy)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Lutheran Reformation
Alamat situs : https://lutheranreformation.org/wp-content/uploads/2015/10/ref500-paper-ReformationRemembered.pdf
Judul asli artikel : REFORMATION Remembered
Penulis artikel : Erik H. Herrmann
Tanggal akses : 2 Oktober 2017

Anugerah Ditegaskan Melalui Perjanjian Lama

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Banyak orang Kristen yang tidak suka membaca kitab-kitab Perjanjian Lama dengan alasan bahwa Perjanjian Lama hanya untuk orang Israel. Oleh karena itu, orang Kristen hanya tahu tentang isi Perjanjian Baru dan tidak memperhatikan Perjanjian Lama. Alhasil, pemahaman orang Kristen terhadap keselamatan dalam Yesus Kristus menjadi sangat tidak lengkap, bahkan mungkin bisa salah. Seluruh dasar rencana keselamatan Allah justru didasarkan dari Perjanjian Lama, khususnya melalui hukum-hukum-Nya. Kalau tidak mempelajari Perjanjian Lama dengan baik, orang Kristen tidak melihat adanya konsep anugerah yang solid dalam Perjanjian Lama. Melalui hukum-hukum-Nya, terutama Hukum Taurat, kita bisa melihat sifat-sifat Allah yang sempurna. Mengapa bisa demikian? Silakan temukan jawabannya dalam artikel berikut ini.

Saudara yang terkasih, mari kita belajar tentang anugerah Allah dalam Perjanjian Lama melalui sajian publikasi e-Reformed ini. Biarlah Allah yang Pribadi dan yang telah berinisiatif untuk melimpahkan anugerah-Nya berkenan menyatakan diri-Nya secara lengkap kepada kita. Soli Deo Gloria!

Amidya

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Amidya

Edisi: 
Edisi 192/September 2017
Isi: 

ARTIKEL Anugerah Ditegaskan Melalui Perjanjian Lama

Bacaan: Galatia 3:6-29

Pengantar

Ulaslah perbedaan antara pesan Paulus dan penganut Yudaisme. Mengapa orang Yahudi begitu berhasil menyesatkan orang Kristen di Galatia? Sebagian dari jawabannya adalah karena sepertinya Perjanjian Lama sejalan dengan mereka dan bukan dengan Paulus.

Penyataan Allah

Perjanjian Lama memberi penekanan besar pada Hukum Allah. Empat dari lima kitab pertama di Perjanjian Lama berfokus pada Hukum Taurat, dan sebagian besar Perjanjian Lama lainnya berfokus pada bagaimana Allah memberkati Israel karena ketaatan mereka terhadap Hukum Taurat, atau menghukum mereka karena ketidaktaatan mereka. Mengapa Allah begitu menekankan hal ini jika mematuhi Hukum Allah tidak penting bagi keselamatan kita?

Hukum Taurat sebenarnya menyatakan "Lakukan ini dan hiduplah" (Imamat 18:5) -- yang setidaknya menyiratkan bahwa kita dapat memperoleh penerimaan Allah dengan mematuhi Hukum-Nya.

Jadi, Paulus harus menunjukkan dari Perjanjian Lama bahwa Tuhan selalu menerima orang oleh anugerah melalui iman saja dan bukan dengan perbuatan. Dan, dia harus menjelaskan mengapa Allah memberikan Hukum Taurat jika Dia tidak menginginkannya menjadi sarana untuk mendapatkan penerimaan-Nya. Inilah yang dilakukannya dalam Galatia 3:6-24. Ini adalah bagian yang sangat rumit -- dipenuhi dengan kutipan Perjanjian Lama dan kiasan mengenai prinsip-prinsip Perjanjian Lama yang tidak kita kenal. Kita tidak punya waktu untuk memeriksanya secara rinci -- tetapi kita bisa mendapatkan pokok-pokok argumen Paulus. Dia menjawab dua pertanyaan penting dalam bagian ini.

1. "Bagaimana orang mendapatkan penerimaan Allah di masa Perjanjian Lama?" (Galatia 3:6-14)

Bacalah Galatia 3:6-14. Apakah Anda melihat apa yang tadi saya maksud dengan "rumit"? Namun, poin utamanya cukup mudah dimengerti.

Allah selalu menerima orang melalui iman dan bukan perbuatan. Paulus membuktikan hal ini dengan dua cara:

  • Allah menerima Abraham atas dasar imannya. Abraham adalah bapa bangsa Yahudi. Jika Allah menerima Abraham oleh iman, tentu hal ini adalah contoh bagaimana Dia menerima orang-orang lain. Dan, Perjanjian Lama sangat jelas mengenai masalah ini.
  • Allah telah berjanji kepada Abraham (Kejadian 12:1-3) bahwa Dia akan membuat keturunan Abraham menjadi bangsa yang besar. Namun, Abraham telah berumur 75 tahun, sementara istrinya, Sara, berusia 65 (pasca menopause) serta mandul. Baca Kejadian 15:1-5 -- Allah mengulangi kembali janji-Nya. Kejadian 15:6a -- Abraham menaruh imannya kepada janji Allah. Dia tidak mengerjakan apa pun. Kejadian 15:6b -- Allah "memperhitungkannya sebagai orang benar karena imannya." (JANJI >> IMAN (SAJA) >> DITERIMA)

Apa yang tersirat oleh teladan Abraham secara tegas dinyatakan oleh Allah melalui nabi Habakuk (Galatia 3:11; Habakuk 2:4) -- setiap orang dibenarkan di hadapan Allah oleh iman.

Allah tidak pernah menerima siapa pun melalui perbuatan. Ya, Hukum Taurat mengajarkan "Lakukanlah ini (yaitu, melakukan Hukum Taurat) dan kamu akan hidup" (Galatia 3:12; Imamat 18:5). Namun, itu ternyata hanya sebuah kemungkinan teoritis -- bukan sesuatu yang bisa dicapai siapa pun. Mengapa? Sebab, Hukum Taurat itu sendiri menyatakan bahwa Allah menuntut ketaatan sempurna atas semua hukum-Nya, dan bahwa setiap ketidaktaatan menjadikan seseorang ada di bawah penghukuman/kutukan Allah (Galatia 3:10, 11a; Ulangan 27:26). Karena standar yang sempurna ini, satu-satunya hal yang diberikan Hukum Taurat kepada seseorang adalah kutukan Allah!

Inilah sebabnya Yesus datang -- untuk menyelamatkan kita dari kutuk Hukum Taurat dengan mengutuk diri-Nya sendiri (Galatia 3:13). Ya, Hukum Taurat tersebut dengan tegas menyatakan bahwa penjahat besar (dilempari batu dan kemudian digantung) berada di bawah penghukuman Allah (Ulangan 21:23). Ya, fakta bahwa Yesus "digantung" membuktikan bahwa ia berada di bawah penghukuman Allah. Akan tetapi, Dia dikutuk oleh Tuhan bukan karena dosa-dosa-Nya sendiri, melainkan karena Dia dengan sukarela mengambil penghukuman kita untuk diri-Nya sendiri. Dengan melakukannya, Dia memenuhi sistem pengorbanan dalam Perjanjian Lama (di mana Allah menyediakan pengganti yang tidak bersalah, kematian-Nya membayar dosa-dosa kita) dan juga nubuat dalam Yesaya 53 (baca Yesaya 53:4b, 5a, 6b).

Jadi, pesan Paulus sejalan -- tidak bertentangan -- dengan Perjanjian Lama! Orang-orang dalam Perjanjian Lama tidak pernah bisa mendapatkan penerimaan Allah dengan mematuhi Hukum Taurat-Nya. Sebaliknya, orang-orang di Perjanjian Lama mendapatkan penerimaan Allah dengan cara yang sama seperti sekarang -- dengan hanya memercayai janji Allah. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa mereka menaruh kepercayaan mereka pada janji Allah sebelum Dia memenuhinya melalui kematian Yesus (dibantu dengan keadaan dan nubuat), sementara kita menaruh kepercayaan kita kepada janji Allah setelah Dia memenuhinya dalam sejarah.

2. "Mengapa Tuhan memberikan Hukum Taurat?" (Galatia 3:15-24)

Musa dan Dua Loh Batu

Hal ini menimbulkan pertanyaan yang jelas, bukan? Jika Allah tidak memberikan Hukum Taurat sebagai sarana untuk memperoleh penerimaan-Nya, mengapa Ia memberikannya? Paulus menjawab pertanyaan ini dengan dua cara:

  • Bacalah Galatia 3:15-18. Ada beberapa bahasa yang rumit di sini (Galatia 3:16 adalah poin argumen yang diilhamkan!), tetapi pokok utamanya jelas.

Dalam hukum Romawi, begitu seseorang menunjuk ahli warisnya sesuai kehendaknya dan mengesahkannya, hal itu tidak dapat diubah oleh kondisi apa pun. Mereka bisa masuk ke dalam pengaturan hukum lain dengan ahli warisnya untuk tujuan yang berbeda -- tetapi pengaturan itu tidak dapat mengubah warisan mereka. Dengan cara yang sama, Paulus mengatakan, Allah memberikan janji-Nya untuk menerima orang melalui iman jauh sebelum Dia memberikan Hukum Taurat (Kejadian 15:6). Oleh karena itu, apa pun tujuan-Nya atas Hukum Taurat, hal tersebut tidak mungkin dimaksudkan untuk mengubah landasan cara-Nya menerima orang -- karena janji Allah tidak dapat diubah.

Ini sangat ironis. Kaum Yudaisme mengatakan bahwa pesan Paulus tidak mungkin benar karena itu berarti bahwa Tuhan berubah pikiran tentang bagaimana menerima orang. Sebenarnya, Paulus mengatakan, pesan Yudaismelah yang mengubah pikiran-Nya, bukan Tuhan!

Lalu, mengapa Allah memberikan Hukum Taurat?

  • Bacalah Galatia 3:19-24. Ada lebih banyak pokok argumen yang diilhamkan di sini, tetapi sekali lagi, intinya jelas. Allah memberikan Hukum Taurat, bukan untuk menjadi sarana penerimaan Allah, melainkan untuk meyakinkan kita mengenai adanya kebutuhan akan iman kepada Kristus dengan menyingkapkan dosa dan kesalahan kita.

Masalah terbesar kita bukanlah dosa/pelanggaran kita -- Allah telah memberikan solusi untuk hal ini melalui Yesus. Masalahnya adalah kecenderungan terdalam kita untuk tidak mengakui bahwa kita membutuhkan solusi dari Allah. Ini seperti yang dokter sebut sebagai "penyangkalan". Seorang pasien sakit parah, tetapi dokter memiliki pengobatan untuk menyembuhkan pasien. Masalahnya, si pasien berada dalam penyangkalan. Jadi, sebelum pasien itu mau menerima pengobatan, dokter harus terlebih dahulu meyakinkannya bahwa dia membutuhkannya. Bagaimana dokter bisa melakukan ini? Dengan menunjukkan kepadanya bukti penyakitnya, dengan menunjukkan kepadanya kasus yang terjadi pada orang-orang yang menolak pengobatan, dst..

Dengan cara yang sama, Allah menggunakan Hukum Taurat untuk menerobos penyangkalan kita atas pelanggaran radikal kita sehingga kita mau menerima pengampunan-Nya melalui Yesus. Paulus menjelaskan bagaimana Hukum Taurat memenuhi tujuan ini (bagi Israel secara historis, dan bagi kita masing-masing) dalam tiga cara:

1. Hukum Taurat "menunjukkan kepada manusia dosa-dosa mereka" (Galatia 3:19). Hukum Taurat memberikan gambaran objektif tentang kebenaran sempurna Allah dan bagaimana kita melanggarnya. Hukum Taurat itu seperti X-Ray atau tes darah. Mereka tidak menyembuhkan kita -- mereka menyingkapkan masalah yang membutuhkan penyembuhan Kristus.

2. Hukum Taurat "menempatkan kita di bawah pengawasan sebagai tahanan" (Galatia 3:22, 23). Hukum Taurat tidak hanya mendakwa dosa dan kesalahan kita -- juga membuat kita tetap berada dalam tahanan sebagai terdakwa penjahat yang menunggu penghakiman Allah.

3. Hukum Taurat "adalah penjaga kita" (Galatia 3:24). Ini adalah terjemahan yang buruk. Seorang "penjaga" (paidagogos) adalah "pengawas-anak" -- seorang pendisiplin yang keras, seperti pengasuh super ketat, yang pergi ke mana-mana dengan anak-anak kecil dan menghukum mereka setiap kali mereka tidak taat. Hukum Taurat itu seperti pengasuh super ketat yang selalu menangkap kita dan mengeluarkan deklarasi baru atas kesalahan kita.

Dipahami secara demikian, hukum sangatlah penting. Hukum tidak bisa menyembuhkan kita, tetapi bisa menerobos penyangkalan kita dan meyakinkan bahwa kita sakit dan perlu disembuhkan oleh dokter. Hukum tidak bisa menyelamatkan kita, tetapi bisa menerobos kebenaran diri sendiri dan meyakinkan kita bahwa kita membutuhkan keselamatan dari Allah.

Iman dalam Kristus

Apa yang terjadi bila Anda meletakkan iman Anda dalam Kristus?

Begitu Hukum Taurat membawa Anda menuju iman dalam Kristus, lalu apa? Kemudian, Anda menjadi manusia baru! Paulus menjelaskan tiga perubahan besar yang terjadi saat Anda menerima Kristus.

  • Bacalah Galatia 3:25-27. Iman kepada Kristus membuat Anda dibenarkan di hadapan Allah. Anda tidak lagi berada di bawah Hukum Taurat untuk mengingatkan akan kesalahan Anda -- sekarang, Anda adalah anak Allah secara penuh dan sepenuhnya benar di hadapan Allah. Dalam masyarakat Romawi, ketika seorang anak laki-laki menjadi dewasa, dia menyingkirkan pengawas anaknya dan mengenakan toga baru yang menandakan status barunya. Demikian juga, ketika Anda menerima Kristus, Anda menyisihkan Hukum Taurat sebagai penjaga Anda dan "mengenakan" kebenaran Kristus di hadapan Allah. Ini memberi Anda kepercayaan akan hubungan Anda dengan Tuhan (Efesus 12:12) -- karena penerimaan Anda tidak bergantung pada kebenaran Anda, melainkan pada kebenaran Kristus.
  • Bacalah Galatia 3:28. Iman kepada Kristus tidak hanya membuat Anda menjadi anak Allah -- iman juga membuat Anda menjadi anggota keluarga Allah yang setara. Di dunia orang didefinisikan oleh ras, status sosial ekonomi, dan jenis kelamin mereka. Karena itu, dahulu (masih sampai sekarang) pernyataan di atas dianggap revolusioner. Rabi-rabi Yahudi berdoa, "Saya bersyukur kepada-Mu, Allah, bahwa Engkau tidak menjadikanku seorang yang bukan Yahudi, seorang budak, atau seorang wanita." Di luar Kristus, orang memiliki identitas mereka berdasarkan ras, status sosial ekonomi, dan jenis kelamin -– serta (secara salah) merasa lebih tinggi atau lebih rendah daripada orang lain atas dasar ini. Akan tetapi, Paulus mengatakan bahwa meskipun perbedaan itu nyata, hal tersebut tidak penting bagi Allah. Apakah Anda berasal dari latar belakang yang istimewa? Anda tetap orang berdosa yang diselamatkan hanya oleh anugerah Allah. Apakah Anda dulunya tertindas? Anda sekarang memiliki martabat yang tinggi sebagai anak Allah. Ini memberi kita dasar bagi komunitas yang sesungguhnya -- kesempatan untuk membangun persahabatan rohani yang mengubah hidup berdasarkan kesamaan hubungan kita dengan Kristus.
  • Bacalah Galatia 3:29, iman kepada Kristus juga memberi Anda peran penting dalam sejarah. Menjadi anak Abraham dan pewaris janji Allah berarti bahwa Anda telah menjadi bagian dari rencana panjang yang telah berlangsung selama berabad-abad untuk menyelamatkan umat manusia yang hancur. Hidup Anda sekarang memiliki tujuan yang mulia dan terhormat (untuk membantu orang lain datang kepada Kristus dan menjadi dewasa dalam Dia), dan Anda memiliki peran unik untuk dimainkan dalam tujuan itu. Anda tidak lagi perlu berkeliaran tanpa tujuan, atau mencoba menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa menghasilkan lebih banyak uang (atau membeli mobil lebih bagus atau liburan lebih baik atau mendapatkan gelar lain, dll.) layak untuk dijalani. Anda bisa hidup bagi Allah dan bagi tujuan-Nya -- dan ini akan memberi arti dan makna hidup Anda yang sebenarnya!

Saya dapat mengatakan bahwa menaruh iman saya pada Kristus telah membawa ketiga perubahan ini dalam hidup saya. Saya diterima oleh Allah, yang memberi saya rasa aman yang mendalam. Saya memiliki kesetaraan dan persatuan yang nyata dengan saudara-saudari saya di dalam Kristus, yang memberi saya komunitas sesungguhnya. Dan, saya memiliki peranan unik dalam rencana Allah, yang mengisi hidup saya dengan hal yang benar-benar penting. Allah berkata, "Barangsiapa yang percaya kepada-Ku tidak akan kecewa." Saya telah mengalami pemenuhan janji itu. Dan Anda juga bisa.

Sebenarnya, ada beberapa jawaban untuk pertanyaan ini. Allah memberikan Hukum Taurat untuk mengungkapkan karakter moral-Nya dan kehendak moral-Nya untuk hidup kita. Dia memberikannya untuk menyediakan gambaran tentang kematian penebusan Kristus di masa depan. Dia memberikannya untuk menyediakan kondisi bagi Israel untuk bisa tinggal di tanah Kanaan. Dia memberikannya untuk menyediakan sebuah pemerintahan sipil bagi orang Israel. Di sinilah Paulus menjelaskan tujuan Hukum Allah secara khusus sehubungan dengan bagaimana kita mendapatkan penerimaan-Nya. (t/Jing-Jing)

Audio Anugerah Dinyatakan

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Xenos Christian Fellowship
Alamat situs : http://www.xenos.org/teachings/?teaching=1313
Judul asli artikel : Grace Confirmed By the Old Testament
Penulis artikel : Gary DeLashmutt
Tanggal akses : 26 April 2017

Kebebasan Kristen

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Kebebasan adalah privilege yang Tuhan berikan kepada manusia, yang membuat manusia memiliki kehendak bebas untuk mencipta, merasa, dan berkarya. Namun, dalam praktiknya, kebebasan itulah yang justru menjerumuskan manusia ke dalam kejatuhan. Mengapa manusia sering salah mengerti tentang arti kebebasan?

Banyak orang mengidamkan kebebasan dalam arti yang liar, yaitu sebebas-bebasnya tanpa ikatan atau batasan. Tahukah kita bahwa kebebasan seperti itu justru akan menjerumuskan kita ke pengertian yang salah dan tidak alkitabiah. Melalui artikel yang berjudul "Kebebasan Kristen", yang merupakan refleksi teologis dari kitab 1 Korintus 9:1-6, mari kita belajar tentang arti sesungguhnya dari kebebasan. Selamat membaca. Salam MERDEKA! Tuhan memberkati Indonesia.

Ayub T.

Redaksi Tamu e-Reformed,
Ayub T.

Edisi: 
Edisi 191/Agustus 2017
Isi: 

1 Korintus 9:1-13

Kata kebebasan dalam bahasa Inggris ada dua macam, yaitu freedom dan liberty. Karl Barth lebih suka memakai kata freedom. Kata liberty mempunyai nuansa yang lebih bersifat sekuler. Patung Liberty di New York berasal dari Prancis, yang menghadiahkan patung tersebut dalam semangat revolusi dengan mereka mengangkat slogan egalite (equality/kesejajaran), fraternite (brotherhood/persaudaraan), dan liberte (liberty/kebebasan). Kebebasan maksudnya adalah bebas dari otoritas gereja, agama, dan kekuasaan dari raja atau bangsawan yang tidak mereka sukai. Semboyan ini adalah semboyan humanisme suatu konsep kebebasan yang liar, tanpa ada ikatan apa-apa, tidak dibatasi, dan tidak ada atasan atau otoritas.

Dalam konsep kekristenan, freedom (kebebasan) itu mempunyai batasan; dan kita juga mengatakan bahwa Tuhan pun dalam kebebasan-Nya rela "membatasi" diri. Sebebas-bebasnya Tuhan, tetap tidak mungkin Ia berbuat dosa. Ini berarti Tuhan juga tidak menggunakan kebebasan dalam pengertian bebas melakukan apa saja karena Tuhan tidak mungkin bertindak melawan natur-Nya. Kita percaya bahwa kebebasan ini adalah kebebasan yang rela membatasi diri. Bahkan, Tuhan Yesus turun menjadi manusia merupakan suatu ekspresi kebebasan yang luar biasa, ketika kita justru menjadi kagum, ketika Allah yang Mahabebas rela membatasi diri. Kebebasan yang tidak bisa membatasi diri bukanlah kebebasan. Dengan kata lain, orang yang demikian sebenarnya terikat. Kalau saya betul-betul mengatakan diri saya adalah orang yang bebas, saya juga bebas untuk membatasi diri -- itu baru dikatakan bebas. Kalau saya tidak mau dibatasi, berarti saya terikat oleh ketidakmauan membatasi diri. Itu adalah suatu hal yang keliru. Kita bisa melihat teladan Yesus Kristus sendiri yang walaupun bebas, rela membatasi diri.

Kebebasan Kristen

Bebas yang rela membatasi diri itulah yang dibahas oleh Rasul Paulus mengenai kebebasan Kristen (Christian freedom). Dalam 1 Korintus 9 tertulis bahwa ia belajar untuk menahan diri dalam kebebasan Kristen yang dimilikinya. 1 Korintus 9:1 berkata, "Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas?" Paulus bukan hanya memiliki pengetahuan, ia bahkan seorang rasul yang mempunyai jangkauan pengetahuan yang lebih luas dan dalam daripada banyak orang di Korintus. Ia mengatakan bahwa ia adalah seorang rasul dan ia juga mempunyai kebebasan. Kebebasan Paulus sebagai seorang rasul sebetulnya lebih dari sekadar kebebasan Kristen biasa karena jika kebebasan itu dikaitkan dengan pengetahuan, ia sesungguhnya sangat bebas.

Pada zaman dahulu, seseorang yang dianggap rasul harus mempunyai pergaulan yang langsung dengan Tuhan Yesus, seperti Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Kapan Paulus melihat Yesus? Pada saat ia dalam perjalanan ke Damsyik. Dalam Surat Galatia dikatakan bahwa Paulus pernah belajar di tanah Arab selama tiga tahun, saat Paulus mempunyai pergaulan yang erat dengan Tuhan (Galatia 1:15-18). Catatan tentang hal ini sangat minim dan kita tidak bisa mengutarakan terlalu banyak, tetapi ia mempunyai hubungan dan pergaulan yang erat dengan Yesus Kristus. Paulus telah melihat Yesus, dan kerasulannya sah -- bukan kerasulan yang dimeteraikan dan diteguhkan oleh manusia, tetapi dipanggil oleh Yesus Kristus sendiri. Akan tetapi, dalam pelayanannya di Korintus, ada sebagian orang yang tidak mengakui kerasulan Paulus. Mereka meragukan dan mempertanyakan apakah Paulus adalah seorang rasul.

1 Korintus 9:2 mengatakan, "Sekalipun bagi orang lain aku bukanlah rasul, tetapi bagi kamu aku adalah rasul." Paulus tidak terpanggil untuk menyatakan keuniversalan kerasulannya. Ini adalah poin yang penting. Ia adalah rasul sejati di hadapan Tuhan, maka di hadapan seluruh dunia ia adalah rasul. Ia tidak terpanggil dan tidak merasa perlu membuktikan bahwa ia benar-benar rasul dan harus diterima oleh seluruh dunia atau oleh mereka yang menolak kerasulannya. Demikian juga dengan kehidupan orang percaya. Meskipun kita sudah hidup benar, mungkin orang lain tidak mengakui kebenaran kehidupan kita sebagai seorang Kristen, mungkin kita dibenci, atau dikatakan fanatik. Itu adalah sesuatu yang wajar. Sebagaimana Tuhan Yesus datang ke dalam dunia, banyak orang tidak menerima Dia sebagai Tuhan. Hanya sebagian kecil yang mengakui Dia sebagai Tuhan. Begitu juga dengan pelayanan Paulus. Hanya sebagian orang yang menganggapnya rasul, dan Paulus memang tidak terpanggil untuk menyatakan dirinya sebagai rasul yang harus diterima oleh setiap orang.

Freedom

Lalu, Paulus berkata, "Sebab hidupmu dalam Tuhan adalah meterai dari kerasulanku" (1 Korintus 9:2). Ini merupakan suatu gambaran yang luar biasa. Paulus menunjuk dengan sangat tepat. Mengapa ia tidak mengacu pada penglihatan yang ia terima secara langsung? Banyak orang mau mengakui kebesaran seorang hamba Tuhan jika hamba Tuhan itu mengatakan ia sudah banyak mendapatkan penglihatan dari Tuhan dan bisa melakukan mukjizat yang orang lain tidak bisa. Pada zaman ini, hal ini sering dianggap sebagai validitas seorang hamba Tuhan. Paulus mempunyai banyak alasan untuk mengacu kepada hal tersebut. Ia telah mendapatkan penglihatan yang khusus dari Tuhan pada saat ia dalam perjalanan ke Damsyik, dan juga pembentukan dari Tuhan selama tiga tahun di tanah Arab. Ini merupakan suatu pergaulan yang indah dengan Tuhan, tetapi Paulus tidak mengacu kepada hal itu. Ia tidak berargumentasi dengan menggunakan hal-hal tersebut karena itu bukan kebanggaannya. Paulus tidak menggunakan hak istimewa tersebut karena bagi Paulus kemegahan kerasulannya adalah jemaat Korintus. Ini merupakan suatu hal yang sangat menarik.

Mengapa Paulus mengacu kepada jemaat Korintus, bukan mengacu kepada kekhususan hubungannya dengan Tuhan? Paulus ingin kemegahannya dibangun dengan benar. Kemegahan yang sesungguhnya adalah pelayanannya yang dikerjakan pada orang-orang Korintus. Ketika orang-orang Korintus mendengar hal tersebut, mereka tidak bisa berdalih lebih lanjut lagi. Andai kata Paulus mengatakan bahwa ia bisa berbahasa lidah, mungkin orang Korintus mengatakan bahwa mereka juga bisa berbahasa lidah. Itu bukan sesuatu yang unik. Atau, jika Paulus mengatakan ia sudah bertemu dengan Tuhan Yesus, orang Korintus dapat mengatakan mungkin itu penglihatan yang palsu. Akan tetapi, ketika Paulus mengatakan bahwa meterai kerasulannya adalah orang Korintus, mereka tidak bisa menghina diri sendiri. Orang-orang Korintus yang sombong tidak berani menghina diri mereka sendiri. Alangkah bijaksananya Paulus yang meletakkan validitasnya justru pada jemaat Korintus!

Zinzendorf, seorang tokoh pietis yang penting, yang dipakai Tuhan secara luar biasa. Semenjak umur empat tahun, ia sudah berpikir untuk menjadi penginjil, dan Tuhan memakainya sebagai seorang misionaris. Setelah kematian istri pertamanya, ia menikah lagi. Istri keduanya punya kecenderungan mistik yang kurang sehat. Ia terpengaruh dan menekankan suatu "persatuan mistik" dalam luka-luka Kristus sampai akhirnya lalai menjalankan panggilan penginjilan. Hal ini tidak sesuai dengan Alkitab. Musa berbicara dengan Tuhan muka dengan muka selama 40 hari 40 malam, begitu khusus, begitu dekat, sampai wajahnya bercahaya. Namun, setelah itu Musa mengerjakan pekerjaan Tuhan. Lain halnya dengan Petrus yang kurang mengerti, di mana pada peristiwa transfigurasi Tuhan Yesus (yang disertai panampakan Musa dan Elia), ia begitu bahagianya sampai enggan kalau harus turun dari gunung. Ini sama dengan orang-orang yang hanya mau menikmati karunia tanpa mau melayani orang lain. Akan tetapi, kesejatian kerasulan Paulus adalah dalam pelayanannya, bukan pada "pengalaman mistiknya".

Dalam 1 Korintus 9:3 dikatakan bahwa Paulus melakukan suatu pembelaan bukan untuk mengharapkan orang lain akhirnya menerima dia. Pledoi sedemikian pada dasarnya bersifat menjelaskan supaya tidak didiskreditkan dan supaya orang mengetahui bahwa apa yang dikerjakan bisa dipertanggungjawabkan. Paulus melakukan pembelaan bukan dengan harapan agar orang-orang yang tidak percaya kerasulannya akhirnya menyesal. Pada intinya, Paulus hendak mengajar mereka yang tidak meragukan kerasulannya mengenai penyangkalan kebebasan Kristen. Validitas kerasulan Paulus adalah jemaat Korintus, buah pelayanannya, dan juga semangat menyangkal diri. Kesejatian kerasulannya adalah penyangkalan dirinya. Banyak karunia, tetapi tidak mau menyangkal diri tidak membuktikan kesejatian seorang hamba Tuhan. Demikian juga, kesejatian dari kekristenan kita adalah kehidupan penyangkalan diri.

Paulus di Korintus

Paulus juga tidak mengambil upah dari jemaat. Paulus bekerja dan melayani jemaat Korintus, tetapi ia tidak mau menjadi beban bagi jemaat (1 Korintus 9:6). Demikian juga dengan urusan makan dan minum, Paulus menyangkal untuk makan makanan yang paling wajar sekalipun karena tidak mau menjadi batu sandungan (1 Korintus 9:4). Spiritualitas yang benar adalah spiritualitas yang diekspresikan dalam seluruh aspek hidup kita, termasuk cara kita makan dan minum. Kedua, tentang hal menikah (1 Korintus 9:5). Meskipun menikah bukan dosa dan itu wajar, Paulus menyangkal dirinya untuk mengambil seorang istri.

Banyak cerita dalam kehidupan para misionaris yang mengalami kehidupan keluarga yang tidak wajar. Ada yang demi pekerjaan Tuhan, akhirnya harus berpisah dengan keluarga untuk jangka waku yang cukup panjang. Orang-orang yang melayani Tuhan, tetapi tidak bertanggung jawab pada keluarga merupakan kehidupan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Sebaliknya, kita tidak boleh begitu terikat dengan keluarga hingga akhirnya kita gagal berbuah bagi Tuhan. Bagi kita -- orang-orang yang "wajar" -- kehidupan para misionaris itu tampak sangat tidak wajar (atau jangan-jangan kita mengategorikan mereka sebagai cacat dalam kehidupan keluarganya); di hadapan Tuhan, mungkin mereka lebih mengerti bagaimana mengasihi Tuhan.

Kita sering terjerat untuk lebih mementingkan diri kita dan segala sesuatu yang ada pada kita melebihi Tuhan sehingga pelayanan kita tidak berkuasa. Dalam suatu konseling pranikah, seorang hamba Tuhan mengatakan bahwa dalam melayani Tuhan, seorang pelayan Tuhan memang harus belajar mengorbankan keluarga, dan begitu juga sebaliknya; pasangannya harus bisa mengorbankan suami/istri yang sedang melayani. Kita berkorban untuk Tuhan, dan di sisi yang lain, keluarga kita juga harus belajar mengorbankan kita. Pengorbanan harus terjadi pada kedua belah pihak. Saya bukan hanya mengorbankan diri saya bagi Tuhan, tetapi juga harus berani mengorbankan anggota keluarga saya bagi Tuhan. Ini dua hal yang berbeda. Yang berkorban aktif meninggalkan, tetapi yang ditinggalkan bukan berarti tidak memikul salib, mungkin justru salibnya lebih berat.

Paulus adalah seseorang yang menyangkal diri, no family at all. Kehidupan yang dipersembahkan kepada Tuhan berhak dipimpin oleh Tuhan dengan cara bagaimanapun. Hak yang terbesar adalah hak untuk menyangkal hak (ini adalah kesimpulan sebuah buku yang ditulis oleh seorang misionaris; buku ini sekarang menjadi bacaan wajib dalam suatu badan misi). Kalau kita menjalankan kewajiban, wajar jika kita menuntut hak. Akan tetapi, dalam kekristenan, hak yang dimiliki oleh orang Kristen adalah hak untuk menyangkal hak tersebut. Paulus bukan saja menyangkal hak untuk makan dan minum, tetapi ia juga menyangkal hak untuk menikah dan mendapat upah dari pelayanannya. Bagaimana dengan hidup kita? Marilah kita minta pada Tuhan untuk menolong kita belajar menyangkal diri sebagai meterai kesejatian pengikutan kita kepada Kristus. Orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan adalah orang yang bersedia kehilangan haknya. Tuhan Yesus, Paulus, dan semua hamba Tuhan di sepanjang sejarah telah belajar menyangkal diri. Kiranya kita belajar taat mengerjakan bagian yang dipercayakan kepada kita. Kiranya Tuhan memakai kita untuk menjadi berkat bagi banyak orang.

Audio Kebebasan Kristen

Diambil dari:
Judul buku : Ajar Kami Bertumbuh
Judul artikel : Kebebasan Kristen
Penulis : Billy Kristanto
Penerbit : Momentum, Surabaya 2006
Halaman : 125 -- 130

Penyebaran Reformasi Zwingli

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Ulrich Zwingli adalah seorang pembina Protestanisme dan reformis pertama di Swiss. Dia tidak seterkenal Calvin ataupun Luther, tetapi dia adalah reformator yang berhasil masuk ke dalam pemerintahan. Reformasi yang dilakukan Zwingli didukung oleh pemerintah dan penduduk Zürich. Zwingli membawa perubahan-perubahan penting dalam kehidupan masyarakat dan urusan-urusan negara di Zürich. Pengaruh aksinya dalam reformasi gereja membawa dampak yang besar bagi Swiss serta penyebarannya ke daerah Eropa lain.

Dalam edisi yang tersaji kali ini, kita akan bersama-sama melihat karya reformasi oleh Zwingli di Eropa dan gagasan penting Zwingli yang berhasil mengusik beberapa pengikutnya: Bullinger, Schlatter, dan Schaff -- yang telah membawa gagasan-gagasan Zwingli untuk dapat tersebar ke berbagai penjuru Eropa. Selamat membaca. Tuhan Yesus memberkati.

Ayub T.

Staf redaksi e-Reformed,
Ayub T.

Edisi: 
Edisi 190/Juli 2017
Isi: 

Zwingli meninggal sebelum mimpinya terpenuhi, tetapi pengikutnya, terutama Heinrich Bullinger, menyebarkan pengaruh Reformed ke seluruh Eropa, ke Inggris, dan akhirnya ke Amerika. [Christian History awalnya menerbitkan artikel ini dalam Christian History Edisi 4 pada tahun 1984.]

Ulrich Zwingli adalah bapak Reformasi Reformed di Swiss, tetapi sosoknya merupakan yang paling tidak diingat oleh para reformator generasi pertama. Dia selalu dibayangi oleh Luther. Dan, fakta bahwa dia meninggal dalam pertempuran telah meninggalkan banyak pertanyaan tak terjawab tentang karier Zwingli.

Zwingly

Zwingli berharap, pertama-tama mendirikan gereja di Kanton (bagian dari suatu negara - Red.) Zürich yang akan menjadi model bagi Gereja Protestan Nasional Swiss. Setelah hal itu dilakukan, dia berencana untuk menyebarkan doktrin reformasi di seluruh Eropa sehingga sebuah gereja Protestan internasional akan didirikan, yang akan mempertahankan tradisi terbaik dari gereja universal Abad Pertengahan, tetapi pada saat bersamaan akan terbebas gereja dari pelanggaran terburuk lama dan tidak lagi diperintah oleh Paus dan pengadilannya yang korup di Roma.

Gereja Katolik yang direformasi di seluruh Eropa yang dibayangkan Zwingli tidak pernah didirikan. Namun, Zwingli berhasil memperkenalkan konsepsi tentang reformasi gereja yang tepat ke dalam Kanton-kanton Perkotaan utama, Kanton-kanton yang didominasi oleh kota-kota Swiss Jerman. Di Berne, Basel, Shafthausen, dan Zürich, konsepsi Zwingli tentang bagaimana gereja harus direformasi diikuti. Bagi Zwingli, hal ini, tentu saja, hanyalah langkah awal, dan untuk sementara waktu sepertinya program Zwingli akan berhasil di tempat lain di Swiss.

Perdamaian di Kappel pada tahun 1529 membuat orang-orang Protestan bebas menyebarkan doktrin mereka di wilayah Konfederasi Swiss yang dikelola bersama oleh anggota asli konfederasi. Masing-masing jemaat di daerah ini diberi kebebasan untuk memutuskan apakah akan menerima reformasi atau tidak. Secara teori, kebebasan yang sama harus diperluas ke kongregasi Kanton-kanton Hutan atau Pegunungan dari Konfederasi: Schwyz, Uri, Niedwald, dan Lucerne dan sekutu mereka, Kanton Zug. Solusi ini sebenarnya tidak dapat diterima oleh umat Katolik.

Yang juga tidak dapat diterima adalah keinginan orang-orang Protestan untuk mengakhiri kebiasaan menjual tentara untuk dinas bayaran ke Perancis dan Kepausan. Tanpa uang yang diperoleh dari praktik ini, Kanton-kanton Hutan percaya bahwa mereka tidak dapat membeli gandum yang diperlukan untuk memberi makan penduduk di negara-negara bagian mereka yang bergunung-gunung.

Yang lebih buruk lagi, Kanton-kanton Protestan mulai memblokade pengiriman gandum ke wilayah-wilayah Katolik untuk memaksa mereka menerima penyebaran Protestanisme di wilayah mereka. Zwingli menentang kebijakan ini dan menegaskan bahwa akan lebih bijaksana untuk berperang dengan wilayah Katolik daripada menundukkan mereka dengan kelaparan yang berjalan lambat.

Karena putus asa, Kanton-kanton Katolik memutuskan untuk berperang melawan orang-orang Protestan. Mereka meluncurkan serangan mereka ke pusat Protestanisme di Swiss, Kanton Zürich, pada awal Oktober 1531. Kanton-kanton Protestan telah menandatangani sebuah aliansi militer (the Christian Civic Union) untuk melindungi diri mereka dari perkembangan semacam itu, tetapi mereka tidak siap untuk perang dan terdapat perpecahan internal di antara orang-orang Protestan.

Mimpi Zwingli Tidak Terpenuhi

Pada tahun-tahun sebelum pecahnya apa yang umumnya disebut Perang Kappel Kedua pada bulan Oktober 1531, Zwingli pernah bermimpi untuk menciptakan aliansi luas Eropa melawan Hapsburg, dan bahkan percaya bahwa orang Perancis Katolik di bawah Raja Francis I akan bergabung dengan aliansi ini. Skema ini sangat tidak realistis dan menunjukkan pemahaman terbatas yang dimiliki Zwingli atas situasi diplomatik di Eropa dan bagaimana dia meremehkan ketidaksukaan para penguasa Katolik, seperti Francis I, terhadap ajaran Protestanisme.

Dalam mengejar harapan ini dan dengan dorongan dari Landgrave Philip of Hesse, dia juga mengusahakan pangeran liansi dengan para Protestan di Jerman. Kondisi untuk aliansi semacam itu merupakan kesepakatan teologis antara Kanton Swiss, yang adalah negara-negara teritorial Protestan dan Lutheran. Landgrave Philip of Hesse mengatur pertemuan antara Zwingli dan Luther di Marburg pada tahun 1529, yang dikenal sebagai Marburg Colloquy. Zwingli dan Luther menyetujui empat belas poin doktrin, tetapi tidak dengan poin yang ke-15 yang melibatkan kehadiran Kristus dalam Perjamuan Tuhan. Ketidaksepakatan mendasar ini mencegah aliansi dengan negara-negara bagian Lutheran. Kecuali Berne, orang-orang Protestan Swiss tidak beraliansi dengan Hesse, Strassburg, dan Constance yang bukan bagian dari Konfederasi Swiss, tetapi Swiss Protestan sebenarnya diasingkan pada saat Hapsburg berdiri tepat di belakang Kanton-kanton Katolik sebagai sesama Anggota Aliansi Kristen.

Zwingli juga salah memperhitungkan situasi di Swiss. Berne adalah kunci bagi aliansi Protestan, the Christian Civic Union, karena ia adalah Kanton militer besar dari Konfederasi lama. Zwingli bergantung pada temannya di Berne, Nicholas Manuel, untuk tetap mengendalikan urusan di Berne dan untuk menjaga kota tetap kuat dalam aliansi Protestan. Manuel meninggal pada bulan Maret 1530, dan Zwingli kehilangan kontak dengan situasi di Berne. Mayoritas orang Berne memilih kebijakan ekspansi ke arah barat dengan mengorbankan Duke of Savoy dan sebuah aliansi dengan Perancis. Mereka juga tidak antusias untuk berperang dengan Kanton Katolik karena mereka merasa bahwa hal ini hanya akan memperkuat Zürich dengan menambah wilayah dan kekuatan militernya.

Ketika serangan Katolik dimulai, Zürich pada awalnya sendirian. Sebelum Berne datang membantunya, Zürich dikalahkan oleh umat Katolik. Zwingli meninggal dalam pertempuran kedua dalam Pertempuran Kappel Kedua bersama tiga puluh pastor lainnya di gereja Kanton. Zürich dan Berne berdamai dengan orang-orang Katolik dan penyebaran Protestanisme selanjutnya dihentikan di Swiss Jerman. Rencana Zwingli akan pembentukan aliansi anti-Hapsburg Eropa dan sebuah gereja Protestan Eropa mati bersamanya.

Hasil akhir dari perang yang kalah adalah bahwa Berne bebas untuk melanjutkan penaklukan Kanton Vaud yang diduduki pada tahun 1536. Kemajuan ini menyebarkan ajaran Protestan ke perbatasan kota Jenewa, yang penguasanya adalah Duke of Savoy. Sebagai hasil dari perkembangan ini, mengenalkan Protestanisme ke Jenewa menjadi dimungkinkan dengan bantuan orang Berne. Tanpa dukungan Berne, Jenewa tidak akan pernah bisa menjadi pusat Protestanisme internasional di bawah kepemimpinan John Calvin. Memang, pada akhirnya Jenewa menjadi lebih penting bagi pengembangan Protestanisme yang direformasi internasional daripada Zürich.

Bullinger Menyebarkan Gagasan Zwingli

Itu diserahkan kepada penerus Zwingli sebagai Uskup Zürich, Heinrich Bullinger, yang bertugas selama empat dasawarsa antara 1531 dan 1575, untuk membangun Zürich sebagai pusat Protestanisme internasional. Sampai berdirinya Genevan Academy pada tahun 1556, Carolinum di Zürich adalah satu-satunya sekolah tinggi teologi di Eropa tempat para siswa dapat mempelajari teologi Reformed. Di kemudian hari, Zürich dan Jenewa dibayangi oleh Heidelberg dan universitas-universitas Belanda yang menjadi pusat pemikiran Reformed pada awal abad ke-17. Kendati demikian, kepemimpinan Bullinger memberi kontribusi penting bagi Protestanisme Reformed.

Decades of Sermons (Dekade Khotbah) oleh Bullinger, yang mulai muncul pada tahun 1549, lebih banyak dibaca di beberapa wilayah di Eropa daripada Institutio karya Calvin. Setelah 1586, karya itu menjadi bacaan wajib bagi pendeta Inggris yang belum mengambil gelar universitas. Kapal-kapal dari Perusahaan Hindia Timur Belanda membawa Decades sejauh Jawa dan Sumatra. Commentaries on the Pauline Epistles (Tafsiran Surat-Surat Paulus) oleh Bullinger terbit sampai tujuh edisi dan kemungkinan besar lebih luas disebarluaskan daripada milik Calvin. Teologi perjanjian baru yang ada dalam tulisan-tulisan Zwingli diuraikan lebih lanjut dalam De Testamento dan Der alte Gloub oleh Bullinger. Konsepsi Bullinger mengenai teologi perjanjian tidak diragukan lagi memainkan peranannya dalam pengembangan teologi perjanjian Reformed normatif, yaitu teologi federal pada awal Abad ke-17. Teologi ini dibawa ke Amerika Utara oleh kaum Puritan. Bullinger juga memperdalam teologi Ekaristi Zwingli yang tentu saja memengaruhi perkembangan doktrin Anglikan tentang Perjamuan Tuhan.

Bullinger juga menerima gagasan Zwingli bahwa kontrol ekskomunikasi harus berada di tangan hakim. Upaya Bullinger untuk menyebarkan doktrin ini di Rhineland-Palatinate melalui teman dan sesama orang Aargau, sang dokter, Thomas Erastus, berakhir dengan kegagalan. Konflik dengan Jenewa mengenai konsep ekskomunikasi Jenewa yang berarti bahwa gereja tersebut harus melarang pelaku kejahatan mengikuti Perjamuan Tuhan membayangi tahun-tahun terakhir Bullinger sebagai Uskup Zürich. Empat belas tahun setelah kematiannya, pembelaan Erastus terhadap konsepsi ekskomunikasi Zürich diterbitkan di London dengan bantuan Uskup Agung Canterbury, John Whitgift.

Hubungan Bullinger dengan Inggris dan Hongaria sangat berhasil. Keberhasilan ini sebagian merupakan hasil korespondensi luar biasa yang dilakukan Bullinger dengan para teolog dan pemimpin politik di seluruh wilayah Eropa. Hal itu menjadikannya sebagai salah satu orang dengan informasi terbaik pada masanya. Pada bulan Februari 1567, Sinode pertama Gereja Reformed Hungaria bertemu di Debrecen, yang dipersiapkan untuk menjadi pusat pendidikan Reformed utama, dan menerima pengakuan Confessio Helvetica Posterior oleh Bullinger sebagai pengakuan gereja nasional mereka.

Kontak Bullinger dengan Inggris memperluas awal kecil yang telah dibuat menjelang akhir kehidupan Zwingli, ketika para artis Zürich diminta memberikan pendapatnya tentang validitas pernikahan Henry VIII dengan Catherine of Aragon. Pada tahun 1538, Bullinger telah mendedikasikan karyanya, De Scripturae Sanctoe Authoritate dan De Episcoparum qui verbi ministri sunt, kepada Raja Henry VIII. Kontak awal ini tentu didorong oleh wakil bupati Henry, Thomas Cromwell, meskipun tidak ada kontak langsung antara Bullinger dan Cromwell. Decades of Sermons ketiga dan keempat yang disusun oleh Bullinger kemudian dipersembahkan kepada putra Henry, Edward VI (1547 -- 1553), yang merupakan indikasi bahwa hubungan antara Zürich dan Inggris semakin dalam seiring berjalannya waktu.

Keramahan Bullinger kepada sekelompok orang Marian exile (orang-orang Protestan Inggris yang melarikan diri dari Eropa pada masa pemerintahan Ratu Mary I yang beragama Katolik - Red.) antara tahun 1553 dan 1558 memperkuat hubungan dekatnya dengan Gereja Inggris. Kelompok ini di dalamnya termasuk ahli apologi masa depan untuk Gereja Inggris, John Jewel, yang kemudian menjadi Uskup Salisbury, dan Archbishop York, Edmund Sandys, serta Cox of Ely, dan Parkhurst of Norwich, dan Earl of the Bedford yang berpengaruh. Bullinger bekerja sama dengan para uskup ini untuk menjaga agar pengikut doktrin Luther tentang Perjamuan Tuhan tidak musnah di paroki Gereja Elizabeth. Dia juga membantu dan mendukung mereka dalam setiap cara dalam perjuangan melawan orang-orang Puritan yang dipimpin oleh Thomas Cartwright, seperti juga ajudannya, Rudolph Gwalther. Dasar untuk kerja sama mereka adalah kepercayaan bersama bahwa negara harus mengendalikan urusan eksternal gereja dan sebuah keyakinan dari pihak Bullinger dan para uskup Inggris bahwa keuskupan yang direformasi adalah bentuk pemerintahan yang tepat untuk Gereja Kristus. Orang Inggris tidak mengadopsi konsepsi Zürich tentang peran hakim dan pendeta dalam mengatur masyarakat Kristen seperti yang diklaim beberapa orang. Mereka telah mengembangkan konsepsi serupa sebelum mereka mengetahui bagaimana Gereja Zürich diperintah. Setelah kematian Bullinger, hubungan Swiss dengan Inggris pun berakhir.

Zwingly dan Reformasi

Schlatter dan Schaff

Dua pendeta Reformed Swiss memiliki pengaruh yang penting dalam sejarah gereja Amerika Utara. Michael Schlatter (1716 -- 1790) adalah penduduk asli St. Gall dan datang ke Amerika pada tahun 1746 sebagai perwakilan dari klasis Reformed orang Belanda dari Amsterdam. Karyanya dalam mengorganisir coetus (sinode) Gereja Reformed Jerman di Koloni Tengah berhasil. Namun, kesediaannya untuk bekerja sama dengan Anglican Society for the Propagation of the Knowledge of God (Masyarakat Anglikan untuk Penambahan Pengetahuan tentang Tuhan) untuk membantu orang-orang Reformed Jerman, dan kesulitannya dengan kaum pietis radikal yang dipimpin oleh Philip William Otterbein (1726 -- 1813) banyak memberikan pengaruh pada tahun-tahun terakhirnya di koloni.

Pendeta Reformed Swiss yang kedua sekaligus ilmuwan yang berpengaruh adalah Philip Schaff (1819 -- 1893), yang datang dari Berlin ke Mercersburg pada tahun 1843 dan bersama-sama dengan John Williamson Nevin (1803 -- 1886) mengembangkan Teologi Mercersburg. Teologi ini benar-benar teologi Amerika pertama yang memperhitungkan kontribusi teologi Jerman dan kritik alkitabiah terhadap pemikiran religius modern. Fakta ini tidak membuatnya populer di Amerika dan pernyataan Schaff dalam bukunya The Principe of Protestantism, as Related to the Present State of the Church bahwa Reformasi mencerminkan tumbuhnya Katolik Abad Pertengahan membuat banyak orang marah.

Schaff benar-benar adalah bapak dari studi "ilmiah" tentang sejarah gereja di Amerika. Karyanya, What Is Church History? A Vindication of the Idea of Historical Development (Apa Itu Sejarah Gereja? Pemulihan Nama Baik Gagasan tentang Perkembangan Historis), sangat penting bagi sejarawan gereja Amerika. Volume 7 dari History of the Christian Church: Modern Christianity The Swiss Reformation (Sejarah tentang Gereja Kristen: Kekristenan Modern Reformasi Swiss) oleh Schaff mengingatkan orang Amerika akan pentingnya moderasi dalam teologi Zwingli. Gambaran Schaff tentang Zwingli menawarkan sebuah alternatif terhadap konsep teologi Reformed yang lebih kaku yang diajukan oleh penganut Calvin dan para pengikutnya. Berkat Schaff, Zwingli akhirnya mulai memainkan peran kecil dalam pemikiran religius Amerika. (t/Jing-Jing)

Audio Penyebaran Reformasi Zwingli

Diambil dari:
Nama situs : Christian History Institute
Alamat situs : https://www.christianhistoryinstitute.org/magazine/article/spread-of-zwingli-reformation/christian-mission/
Judul asli artikel : The Spread of Zwingli Reformation
Penulis artikel : Dr. Robert C Walton
Tanggal akses : 26 April 2017

Situs Ayo-PA.net: Komunitas PA Abad ke-21!

Stop Press! Situs Ayo-PA.net: Komunitas PA Abad ke-21!

selengkapnya...»

Komentar


Syndicate content