Besarlah Allahku

Penulis_artikel: 
Haryono Tafianoto
Tanggal_artikel: 
20 Juli 2018
Isi_artikel: 

Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dari keilahian-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. (Roma 1:19-20)

Mengunjungi berbagai wilayah di Nusantara adalah salah satu kegiatan yang paling menarik bagi sebagian orang. Melihat keindahan budaya, dan yang terutama, alam Nusantara yang tidak ada bandingannya adalah pengalaman yang tak ternilai. Banyak wisatawan yang sengaja bangun pagi-pagi buta untuk melihat fajar di Kelimutu atau Bromo. Atau, berjam-jam berkendaraan melewati jalan yang rusak untuk menuju Kiluan. Atau, menempuh perjalanan jauh, termasuk menggunakan kapal berjam-jam menyeberang lautan demi mencapai Derawan. Juga, menginap di kapal beberapa malam demi menikmati berbagai kepulauan di sekitar Flores dan Komodo. Tak tertinggal, menelusuri Samosir untuk menikmati keindahan alam di sekitar Danau Toba. Lalu, pengalaman apa yang mereka dapatkan dari perjalanan tersebut?

Mungkin ada yang tidak bisa menikmati perjalanan demikian. Namun, bagi yang melakukannya, paling sedikit ada dua respons yang diberikan. Yang pertama adalah mungkin seperti, “Wow! Indah!” “Keren!” “Luar biasa!” Tidak berhenti di situ, karena dianggap sebagai situs-situs instagrammable, banyak yang foto selfie untuk dipajang di akun sosmed mereka. Setelah puas dengan hasilnya, mereka pun beralih ke objek wisata lainnya sebagai target selfie. Mungkin wisatawan yang lebih sophisticated akan memandang sejenak dan mempelajari apa yang terjadi dengan alam sekitarnya untuk menambah wawasan.

Namun, respons yang satu lagi adalah kekaguman yang tak terkatakan. Bukan hanya takjub dengan pemandangan alam yang ada, rasa takjub itu justru ditujukan kepada Sang Seniman Agung, yaitu Allah Pencipta. Seperti lagu Besarlah Allahku, refrainnya berbunyi, “Maka jiwaku pun memuji-Mu, sungguh besar Kau Allahku.” Bukankah ketika melihat sebuah hasil karya yang sangat indah, sang seniman akan dikagumi lebih daripada karyanya? Demikianlah nyanyian yang muncul ketika melihat keindahan alam.

Sebagai orang yang mengaku percaya kepada Allah pencipta langit dan bumi, hal pertama yang muncul di benak kita seharusnya kekaguman kepada Allah ketika melihat ciptaan-Nya. Atau mungkin kita juga ber-selfie ria mengikuti hip kekinian? Jadi apa yang Anda pikirkan ketika melihat alam Nusantara nan indah? Semoga rasa kagum kita tidak berhenti hanya pada ciptaan-Nya saja, tapi melihat kemuliaan Sang Pencipta di dalamnya. How great Thou art! Soli Deo Gloria.

Sumber Artikel: 
Diambil dari:
Nama situs : Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia - Pillar
Alamat situs : http://www.buletinpillar.org/renungan/besarlah-allahku
Judul asli artikel : Besarlah Allahku
Penulis : Haryono Tafianoto
Tanggal akses : 18 Juli 2018

Julukan

Penulis_artikel: 
Haryono Tafianoto
Tanggal_artikel: 
18 Juli 2018
Isi_artikel: 

Salah satu bentuk perundungan yang sering terjadi di sekolah adalah memanggil seseorang dengan julukan atau istilah tertentu. Sadar atau tidak sadar, kita pasti pernah melakukannya. Biasanya tindakan ini, mengejek atau melabel, dianggap sebagai candaan, bukan satu hal yang serius. Namun, bisa juga dengan sengaja hinaan diberikan untuk merendahkan seseorang. Tidak jarang, orang-orang dewasa juga melakukannya baik terhadap rekannya maupun terhadap yang lebih muda darinya. Ironisnya, ini juga terjadi di lingkungan sekolah Kristen, atau bahkan di gereja.

Jika kita melihat pada Kisah Penciptaan, Kejadian 1:27, manusia dicipta di dalam gambar rupa Allah, imago Dei. Manusia sebagai representasi Allah adalah wakil-Nya atas seluruh ciptaan, dan membawa gambar Allah di dalam dirinya ke mana pun ia pergi. Sebagai gambar Allah, kita memiliki sifat-sifat Allah, di antaranya kekudusan, kasih, kebaikan, dan keadilan. Dalam menjalankan mandat budaya dan mandat Injil, manusia dipanggil memancarkan sifat- sifat Allah.

Lalu apa hubungannya imago Dei dengan menjuluki seseorang? Objek yang sedang dipermainkan adalah gambar Allah, ciptaan tertinggi yang menjadi wakil Allah untuk menaklukkan dan menguasai seluruh ciptaan (Kej. 1:28). Bayangkan jika Anda menghina penguasa sebuah negara. Tentunya akan ada konsekuensi hukum yang Anda alami. Namun, sekarang yang memberi mandat adalah Allah sendiri, dan yang dihina adalah gambar-Nya! Sebagaimana penghinaan terhadap perwakilan sebuah negara dianggap sebagai penghinaan terhadap negara tersebut, maka julukan yang ditujukan pada wakil Allah adalah penghinaan terhadap Allah!

Sebagaimana disebut di atas, manusia dipanggil untuk memancarkan sifat-sifat Allah, maka seharusnya yang kita pancarkan bukanlah ejekan, hinaan, dan pelabelan untuk merendahkan dan mem-bully sesama kita. Namun, kasih, kebaikan, kekudusan, dan keadilanlah yang seharusnya menjadi refleksi dari tindakan dan ucapan kita. Sudah pasti ejekan tidak memancarkan sifat Allah, bukan?

Ketika menyaksikan tindakan perundungan terjadi, sebagai gambar Allah, kita tidak bisa hanya diam saja. Sebagai pernyataan kasih dan keadilan, kita patut membela sang korban dan menegur si pelaku. Bukankah itu yang Yesus Kristus, sebagai gambar Allah yang sejati, lakukan, membela mereka yang tertindas dengan kasih. Ia bahkan menyatakan kasih dan keadilan Allah Bapa di atas kayu salib untuk melepaskan kita dari cengkraman penindasan si jahat.

Mengikuti teladan Yesus Kristus, marilah kita menghidupi natur kita yang seharusnya sebagai gambar dan rupa Allah. Bagaimana Anda akan memperlakukan sesamamu, gambar dan rupa Allah, mulai hari ini? Kiranya cinta kasih Allah terpancar dari hidup kita semua. Soli Deo gloria.

Sumber Artikel: 
Diambil dari:
Nama situs : Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia - Pillar
Alamat situs : http://www.buletinpillar.org/renungan/julukan
Judul asli artikel : Julukan
Penulis : Haryono Tafianoto
Tanggal akses : 18 Juli 2018

Progsif "Roh Kudus, Malaikat, dan Roh Jahat"

Progsif <i>Roh Kudus, Malaikat, dan Roh Jahat</i>

Oleh: N. Risanti selengkapnya...»

Teologia Reformed adalah Teologia Perjanjian

Penulis_artikel: 
Richard Pratt Jr.
Tanggal_artikel: 
10 Januari 2018
Isi_artikel: 

Teologia Reformed adalah Teologia Perjanjian

Teologia Reformed sering kali dikaitkan dengan "teologia perjanjian". Jika Anda menyimak baik-baik, kerap akan Anda dengar para pendeta dan pengajar menyebut diri mereka (penganut aliran) "Reformed dan perjanjian." Istilah Reformed dan perjanjian secara umum digunakan berbarengan sehingga memaksa kita memahami mengapa keduanya terkait.

Teologia perjanjian merujuk pada salah satu kepercayaan mendasar yang dianut oleh Calvinis mengenai Alkitab. Semua orang Protestan yang tetap setia pada warisan (doktrin) mereka mengakui Sola Scriptura, yaitu keyakinan bahwa Alkitab merupakan otoritas tertinggi dan tak perlu diragukan. Akan tetapi, teologia perjanjian membedakan pandangan Reformed terhadap Alkitab dari pandangan aliran Protestan lain, dengan menekankan bahwa perjanjian ilahi mempersatukan semua ajaran dalam seluruh Alkitab.

Perkembangan yang lebih awal dalam Reformed, pengertian perjanjian Kitab Suci mencapai titik krusial pada abad ketujuh belas di Inggris dengan adanya Pengakuan Iman Westminster (1646), Deklarasi Savoy (1658), Pengakuan Gereja Baptis London 1689, masing-masing mewakili penganut Calvinist berbahasa Inggris dari kelompok yang berbeda. Dengan hanya sedikit perbedaan di antara mereka, dokumen-dokumen tersebut mendedikasikan satu bab utuh untuk membahas bagaimana perjanjian Allah dengan umat manusia menyingkapkan kesatuan seluruh pengajaran Alkitab.

Misalnya, Pengakuan Iman Westminster berbicara mengenai turunnya Allah untuk mewahyukan Diri kepada manusia dengan jalan perjanjian. Hal tersebut kemudian membagi seluruh sejarah dalam Alkitab menjadi hanya dua perjanjian: "Perjanjian kerja" dalam Adam dan "perjanjian anugrah" dalam Kristus. Perjanjian kerja merupakan kesepakatan Allah dengan Adam dan Hawa sebelum mereka jatuh dalam dosa. Perjanjian anugrah menguasai seluruh kisah Alkitab selebihnya. Menurut pandangan ini, semua tahap dalam perjanjian anugerah adalah sama secara substansi. Perbedaannya hanyalah bagaimana Allah menyelenggarakan satu perjanjian anugerah tersebut dalam Kristus dengan berbagai cara sepanjang sejarah Alkitab.

Selama itu juga, sejumlah teolog Reformed yang terkemudian menegaskan kesatuan perjanjian dalam Kitab Suci dengan menghubungkan perjanjian-perjanjian Alkitabiah dengan "Kerajaan Allah", sebagaiamana Perjanjian Baru menyebutnya. Yesus menunjukkan pentingnya Kerajaan Allah dalam kata-kata pembuka Doa Bapa Kami: "Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah Nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga" (Wahyu 11:15, pada akhir zaman, "Seluruh kerajaan dunia (akan) menjadi milik Tuhan kita dan Kristus, dan Ia akan memerintah selama-lamanya."

Penemuan arkeologis terbaru menunjukkan bagaimana perjanjian Allah terkait dengan kerajaan-Nya di bumi. Pada zaman alkitab, banyak raja-raja negeri sekeliling Israel menyelenggarakan ekspansi kerajaan mereka melalui perjanjian internasional. Para ahli biblika menemukan kesamaan yang mengagumkan antara kesepakatan kuno ini dan perjanjian alkitab dengan Adam, Nuh, Abraham, Musa, Daud, dan Kristus. Kesamaan ini menyatakan bahwa Kitab Suci menghadirkan perjanjian sebagai cara Allah memperluas kerajaan-Nya di bumi.

Perjanjian Alkitab menekankan apa yang dibutuhkan pada setiap tahap Kerajaan Allah dengan mengembangkan prinsip perjanjian sebelumnya. Dimulai dengan Adam, Allah menyatakan Diri-Nya sebagai raja, peran umat manusia, dan tujuan akhir yang telah Ia rencakanakan bagi bumi (Kejadian 6, 9). Allah kemudian mengembangkan perjanjian sebelumnya dengan menjanjikan bahwa keturunan Abraham akan menjadi besar dan menyebarkan berkat-berkat Allah kepada bangsa-bangsa lain (Kejadian 15, 17). Di atas perjanjian-perjanjian tersebut, Allah memberkati Israel dengan memberikan hukum-Nya pada zaman Musa (Keluaran 19-24). Setiap perjanjian sebelumnya terus diperjelas selagi Allah mendirikan kerajaan Daud serta menjanjikan bahwa salah satu dari anaknya akan memerintah dengan keadilan atas Israel dan seluruh dunia (Mazmur 72; 89; 132). Semua perjanjian yang diadakan pada era Perjanjian Lama kemudian diteruskan dan digenapi dalam Kristus (Yeremia 31:31; 2 Korintus 1:19-20). Sebagai Anak Daud yang besar, kehidupan, kematian, kebangkitan, kenaikan, dan kedatangan Kristus yang kedua menjamin kepastian transformasi seluruh bumi menjadi Kerajaan Allah yang mulia.

Banyak orang Kristen Injili saat ini kesulitan untuk percaya bahwa segala sesuatu dalam Kitab Suci setelah Kejadian 3:15 ialah berkenaan dengan Kerajaan Allah yang dikelola melalui penyingkapan perjanjian anugerah. Mayoritas kaum Injili Amerika memandang Kitab Suci terbagi menjadi periode-periode waktu terpisah yang masing-masing diatur oleh prinsip teologis yang berbeda secara substansi. Bila orang Kristen mengikuti pandangan populer terhadap Alkitab ini, mereka akan segera terpengaruh bahwa perjanjian yang baru di zaman kita bertentangan dengan banyak aspek Perjanjian Lama.

Setidaknya ada tiga isu yang kerap diangkat: perbuatan dan anugerah, iman jemaat dan iman pribadi, serta perkara duniawi dan rohani. Pertama, banyak kaum injili meyakini bahwa penekanan Perjanjian Lama akan perbuatan baik tidak sesuai dengan keselamatan oleh anugerah melalui iman dalam Kristus. Kedua, hubungan jemaah Israel sebagai satu kesatuan komunitas dengan Allah tampaknya telah diganti dengan fokus pada hubungan tiap individu secara pribadi dengan Allah. Ketiga, banyak orang injili percaya bahwa panggilan Perjanjian Lama untuk mendirikan kerajaan Allah secara fisik di bumi kontras dengan penekanan Perjanjian Baru terhadap kerajaan rohani dalam Kristus.

Teologia perjanjian memampukan para teolog Reformed untuk melihat bahwa sesungguhnya Perjanjian Baru (PB) dan Perjanjian Lama (PL) sangat serupa dalam ketiga hal ini. Pertama, pandangan bahwa keselamatan oleh anugerah melalui iman dalam Kristus merupakan satu-satunya jalan keselamatan dalam PB maupun PL. Seluruh Alkitab menuntut perbuatan baik karena iman yang menyelamatkan selalu menghasilkan buah ketaatan kepada Allah. Kedua, teologia perjanjian membantu kita melihat bahwa baik PL maupun PB berbicara tentang relasi dengan Allah secara pribadi dan korporat. Seluruh perjanjian Allah meliputi kedua tataran tersebut. Ketiga, teologia perjanjian menunjukkan bahwa Kerajaan Allah sejak semula senantiasa bersifat rohani sekaligus berada di bumi. PL dan PB berfokus pada pelayanan kita dalam kedua ranah tersebut. Dalam hal-hal itu dan juga yang lain, teologia perjanjian memiliki pandangan yang lebih luas bagi kaum injili.

Lebih lagi, kita mendapati bahwa teologia Reformed telah dipersempit menjadi sesuatu yang sering kita sebut doktrin anugerah - kepercayaan terkenal seperti kerusakan total, pemilihan tak bersyarat, penebusan terbatas, anugerah yang tidak dapat ditolak, dan ketekunan orang kudus. Tentu kita harus menghargai nilai kebenaran Kitab Suci ini, tetapi, ketika gagal menekankan kerangka pikir teologia perjanjian yang lebih luas, pengertian kita tentang Alkitab akan segera jatuh ke dalam tiga area ini.

Pertama, doktrin anugerah tanpa teologia perjanjian telah membuat sebagian orang meyakini bahwa teologia Reformed terutama mengajarkan bahwa anugerah Allah menopang kehidupan orang Kristen sejak awal hingga akhir. Tentu saja hal ini benar. Namun, perjanjian dalam PL dan PB secara konsisten mengajarkan bahwa Allah selalu menuntut usaha sepenuh hati dari umat-Nya sebagai respon terhadap anugerah-Nya, dan bahwa Ia akan memberikan upah bagi ketaatan dan menghukum ketidaktaatan.

Kedua, terlepas dari teologia perjanjian, banyak orang dalam lingkaran kita tampaknya berpikir bahwa teologia kita hanyalah tentang mencari cara-cara Reformed yang unik bagi individu untuk meningkatkan hubungan mereka dengan Allah. Pada zaman kita, sejumlah jalan menuju kekudusan dan saat teduh pribadi telah dianggap fitur sentral dalam teologia Reformed. Padahal, teologia perjanjian juga menekankan relasi komunal kita dengan Allah, sama pentingnya seperti nilai seorang individu dalam Alkitab. Tidak ada perjanjian dalam Alkitab yang dibuat dengan satu orang saja. Perjanjian-perjanjian tersebut juga melibatkan relasi yang dibangun Allah dengan sekelompok orang. Karena alasan ini, kedua perjanjian mengajarkan bahwa keluarga umat percaya merupakan komunitas perjanjian yang di dalamnya anugerah Allah diteruskan dari generasi ke generasi. Selain itu, gereja yang kelihatan (visible church) dalam PL dan PB merupakan komunitas perjanjian yang melaluinya kita menerima injil dan anugerah.

Ketiga, doktrin anugerah dengan mudah memberikan kesan bahwa teologia Reformed hanya mengurusi hal-hal spiritual. Banyak orang dalam lingkungan kita begitu peduli dengan transformasi batin melalui pengertian Kitab Suci yang benar. Namun, sering kali kita mengabaikan dampak fisik dan sosial dari dosa dan keselamatan. Teologia perjanjian memberi kita visi (pandangan) yang jauh lebih luas serta mengagumkan mengenai pengharapan kita sebagai orang Kristen. Dalam PL dan PB, orang percaya memperluas Kerajaan Allah baik secara rohani maupun jasmani. Kita harus mengajarkan Injil Kristus kepada segala bangsa supaya orang diubahkan dalam hal spiritual, tetapi pembaharuan spiritual ini ialah bagi perluasan kerajaan Kristus kepada setiap faset dan kultur di seluruh dunia.

Semua pembahasan di atas menyatakan bahwa teologia perjanjian memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada setiap orang Kristen. Jadi, ketika kita bertanya pada diri sendiri, "Apakah teologia Reformed itu?" kita dapat dengan yakin menjawab, "Teologia Reformed adalah teologia perjanjian."(t/joy)

Diambil dari:
Nama situs: Ligonier
Alamat: https://www.ligonier.org/learn/articles/reformed-theology-covenant-theology/
Judul asli: Reformed Theology is Covenant Theology
Penulis: Richard Pratt Jr.
Tanggal akses: 10 Januari 2018

Memperingati HUT e-Reformed ke-14 dan Hari Reformasi Gereja

Dua hari ini adalah hari yang bersejarah bagi e-Reformed.
Pada tgl 30 Oktober ini e-Reformed berulang tahun yang ke-14, dan besok tgl 31 Oktober adalah Hari Reformasi Gereja. Dalam rangka memperingati kedua hari bersejarah ini, kami membagikan sebuah artikel yang bertujuan untuk menyegarkan kita kembali akan prinsip-prinsip reformed yang dirumuskan oleh Martin Luther di dalam Lima Sola. Berharap artikel ini dapat menjadi berkat dan membangkitkan semangat reformasi bagi kita semua.

Selamat Ulang Tahun e-Reformed yang ke-14! Soli Deo Gloria!

HUT e-Reformed ke-14 dan Hari Reformasi Gereja : Mengingat Lima Sola

Hari ini adalah Hari Ulang Tahun e-Reformed ke-14 dan besok adalah Hari Reformasi Gereja. Kami redaksi e-Reformed mengucap syukur atas penyertaan Tuhan sejak 1517, Martin Luther, John Calvin, dan tokoh-tokoh reformasi lainnya memperjuangkan kebenaran di tengah kesesatan gereja pada masa itu, hingga hari ini perjuangan tersebut masih boleh diperingati sebagai Hari Reformasi Gereja tgl 31 Oktober. Gerakan Reformed inilah yang juga menjadi dasar lahirnya publikasi e-reformed tgl 30 Oktober 1999. selengkapnya...»

PERAYAAN 15 TAHUN SABDA

SABDA adalah Firman-NYA, dan Visi Biblical Computing bagi Indonesia, dan singkatan dari: Software Alkitab, Biblika, Dan Alat-Alat!!
PERAYAAN 15 TAHUN SABDA
(1994 -- 2009)

Merayakan kebaikan Tuhan adalah keharusan bagi orang-orang yang mengasihi Tuhan, demikian juga bagi Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Tahun 1994 adalah tahun istimewa karena walaupun organisasi YLSA belum lahir (akta resmi tahun 1995) tapi benih visi pelayanan YLSA dalam bidang "Biblical Computing" telah diberikan Tuhan kepada pendiri YLSA pada awal tahun itu. Dengan ditandai oleh hadirnya produk pertama pada bulan Oktober 1994, yaitu modul teks digital Alkitab TB dan BIS dari LAI yang dikerjakan untuk proyek OnLine Bible -- maka sejak itu YLSA dengan setia menjalankan visi "Biblical Computing" yang Tuhan taruh dalam hati kami. Tahun 2009 bulan Oktober menjadi peringatan 15 tahun sejak benih visi YLSA itu ditanamkan dan akhirnya menjelma menjadi SABDA, software Alkitab lengkap pertama dalam bahasa Indonesia yang sampai sekarang menjadi alat tercanggih yang sangat berguna untuk mempelajari Alkitab. Puji Tuhan! selengkapnya...»

Welcome Letter Situs SOTeRI


Selamat datang di Situs SOTeRI!

Doa dan harapan kami, bahan-bahan yang terdapat dalam situs ini dapat memberikan wawasan tentang corak pemahaman teologia Reformed yang alkitabiah. Biarlah dengan memiliki pengajaran Alkitab yang benar maka hidup kerohanian kita juga semakin berbuah dan memberikan kemuliaan hanya bagi Tuhan saja.

Soli Deo gloria!

Progsif: Jonathan, A Man Who Knows His Calling in Life

Setelah cukup lama tidak mengikuti progsif, pada Senin, 29 Juli 2019 lalu, saya berangkat untuk menghadiri progsif bertema Jonathan, A Man Who Knows His Calling in Life (Yonatan, Seseorang yang Mengetahui Panggilannya dalam Hidup) di Hotel Adhiwangsa, Solo, bersama dengan teman-teman staf YLSA lainnya. Pembawa materi dalam seminar pembinaan iman Kristen kali ini adalah Ev. Inawaty Teddy. Beliau adalah dosen tetap di STT Reformed Indonesia untuk bidang Perjanjian Lama yang tentunya sangat menguasai topik yang beliau bawakan malam itu. selengkapnya...»

Yeremia dan Doa

Penulis_artikel: 
Juan Intan Kanggrawan
Tanggal_artikel: 
3 Juli 2019
Isi_artikel: 
Yeremia dan Doa

Yeremia dan Doa

Yeremia

"Engkau telah membujuk aku, ya TUHAN, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk; Engkau terlalu kuat bagiku dan Engkau menundukkan aku. Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari, semuanya mereka mengolok-olokkan aku. Sebab setiap kali aku berbicara, terpaksa aku berteriak, terpaksa berseru: “Kelaliman! Aniaya!” Sebab firman TUHAN telah menjadi cela dan cemooh bagiku, sepanjang hari. Tetapi apabila aku berpikir: “Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya”, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup." (Yeremia 20:7-9).

Konteks Umum mengenai Doa

Dalam buku A Theological Guide to Calvin’s Institutes: Essays and Analysis, dijelaskan bahwa salah satu cara menakar kematangan seorang teolog (dalam konteks tersebut sedang membicarakan bidang Theologi Sistematika) adalah dengan memperhatikan berapa banyak tulisan yang didedikasikannya untuk topik doa. Buku tersebut kemudian memberikan apresiasi mendalam terhadap Yohanes Calvin yang mengalokasikan sekitar 52 sections (dalam Book 3, Chapter 20: Of Prayer – A Perpetual Exercise of Faith. The Daily Benefits Derived from It.) untuk membahas satu topik ini. Sedikit merujuk kepada tokoh-tokoh lain seperti Martin Luther, Billy Graham, dan Timothy Keller, mereka juga pernah mengeluarkan kalimat-kalimat pendek namun padat mengenai signifikansi doa. Luther mengidentikkan doa dengan nafas dalam kehidupan rohani orang Kristen. Tanpa doa, orang Kristen tidak mungkin bisa hidup kerohaniannya. Billy Graham juga pernah ditanyai mengenai momen-momen yang begitu sulit dalam hidupnya. Ia menjawab, "The Christian life is not a constant high. I have my moments of deep discouragement. I have to go to God in prayer with tears in my eyes, and say, ‘O God, forgive me,’ or, ‘Help me.’” Dalam satu kesempatan diskusi panel, Timothy Keller diminta menceritakan kegagalannya yang paling fatal dalam pelayanannya selama 20-30 tahun terakhir. Terlepas dari berbagai terobosan, pencapaian, dan kesuksesan pelayanannya di kota New York melalui Redeemer Presbyterian Church, Keller memberikan sebuah jawaban yang membuat saya merenung, "My biggest failure in ministry has been, it took me decades before I learn to pray, really pray. For good 20 years I was a hypocrite. You are telling people God is great. It is your job. But you are not finding God great yourself. Your prayer life is nowhere.”

Sosok Yeremia

Sedikit menyinggung konteks tema Buletin PILLAR, dalam waktu-waktu ke depan, tema yang akan dibahas adalah mengenai aspek kerohanian dari berbagai tokoh Alkitab. Aspek kerohanian ini bisa mencakup perjuangan, kegagalan, pembentukan, perubahan hidup, teladan, ataupun rajutan pimpinan Tuhan dalam tokoh-tokoh di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dalam waktu-waktu terakhir, penulis sendiri sedang membaca dan merenungkan sosok Yeremia. Penulis kagum akan ketaatan, pergumulan, dan terutama kejujuran dari seorang Yeremia. Dalam peliknya kesulitan pelayanan dan perjalanan mengikuti kehendak Tuhan, Yeremia tidak menutup-nutupi kelelahan, erangan, rintihan, dan pergolakan jiwanya di hadapan Allah. Karena begitu banyaknya kesedihan serta ratap tangis yang keluar dari diri Yeremia, ia pun dikenal dengan sebutan “the weeping prophet”. Melalui artikel singkat ini, penulis akan secara spesifik menyoroti aspek doa dari konteks hidup seorang Yeremia.

Sebagai gambaran singkat, Yeremia adalah anak dari Hilkia, seorang imam Yahudi yang berasal dari Anatot (daerah suku Benyamin). Pada awalnya ia menolak panggilan Tuhan karena ia masih merasa dirinya terlalu muda. Sebagai tanggapan akan keberatan Yeremia, Tuhan menjanjikan penyertaan-Nya, juga konfirmasi untuk menaruh firman dalam mulut Yeremia. Tuhan mengangkat Yeremia atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan, untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam. Inilah konteks panggilan Yeremia yang begitu jelas dan serius. Namun, tidak berhenti di sana, Tuhan juga menyatakan bahwa pelayanan Yeremia akan penuh dengan tantangan dan kesulitan. Ia harus “berperang” dengan Israel, bangsanya sendiri, yang sudah begitu jauh meninggalkan Tuhan dan menyembah Baal.

Kesulitan hidup Yeremia semakin menjadi-jadi ketika ia harus memproklamasikan kebejatan dan kehancuran Yerusalem. Kalimat-kalimat yang pedas dan tajam berhamburan keluar dari mulut Nabi Yeremia: (i) bangsa dari utara akan datang dan menghancurkan Yerusalem, (ii) umat Israel telah melanggar dan memutuskan perjanjian (covenant) dengan Allah, (iii) Israel sudah begitu meninggalkan Allah dan menyembah dewa-dewa lain, bahkan membunuh anak-anak mereka untuk dikorbankan kepada ilah-ilah tersebut, (iv) dosa kesombongan, tipu muslihat, kemunafikan, penindasan, keserakahan, percabulan, dan ketidakadilan sudah begitu mendarah daging dalam keseharian umat Israel, (v) Israel akan dilanda oleh bencana kelaparan, perampasan, dan penjajahan. Sampai titik ini, pembaca Buletin PILLAR bisa berhenti membaca dan sedikit membayangkan konteks pergumulan hidup Yeremia. Setelah melontarkan kalimat-kalimat seperti itu, sikap dan reaksi seperti apa yang diberikan oleh orang Israel? Tekanan batin Yeremia semakin “lengkap” ketika bahkan di rumahnya sendiri, ia menerima ancaman pembunuhan dan sanak keluarga sendiri berusaha mengkhianati dan meringkusnya.

Doa, Tangisan, dan Ratapan

Bahkan dalam kondisi yang begitu sulit sekalipun, Yeremia tetap berjuang untuk tetap mengingat kasih setia Allah dan kembali mengarahkan hidupnya kepada Allah.

FacebookTwitterWhatsAppTelegram

Pdt. Dr. Stephen Tong pernah berkhotbah bahwa dalam momen-momen kesendirian dan kekelaman yang tidak bisa dimengerti oleh orang lain, apa yang kita pikirkan, refleksikan, dan katakan kepada Tuhan dan diri sendiri akan menentukan arah hidup kita selanjutnya. Ekspresi seperti ini kerap dapat kita baca dalam Kitab Yeremia dan Ratapan. Lebih tragis lagi, yang menjadi salah satu kesedihan besar bagi Yeremia adalah ketika ia sendiri harus menjadi saksi hidup akan segala nubuat bencana, kutukan, dan malapetaka atas bangsanya sendiri.

Dalam pergumulan pelayanannya, Yeremia tidak menghantarkan doa sekadar dengan kata-kata yang manis dan “steril”. Seperti Ayub yang juga pernah menderita begitu rupa, Yeremia dengan terbuka mengutarakan kalimat-kalimat yang sepertinya kurang pantas kepada Allah. Yeremia pernah berseru bahwa baginya, Allah seperti berlaku curang dan sulit dipercaya. Dalam momen lain, Yeremia pernah berpikir untuk menyerah dan berhenti. Ia mau menetapkan hati untuk berhenti memberitakan firman Tuhan. Namun, kemudian ia mengaku bahwa ia tidak berdaya. Firman Tuhan, yang telah dinyatakan kepadanya, bergelora seperti api di dalam tulang dan ia tidak sanggup menahannya.

Berikut adalah beberapa penggalan ayat yang merefleksikan seruan-seruan Yeremia kepada Tuhan:

Engkau memang benar, ya TUHAN, bilamana aku berbantah dengan Engkau! Tetapi aku mau berbicara dengan Engkau tentang keadilan: Mengapakah mujur hidup orang-orang fasik, sentosa semua orang yang berlaku tidak setia? (Yeremia 12:1)

Celaka aku, ya ibuku, bahwa engkau melahirkan aku, seorang yang menjadi buah perbantahan dan buah percederaan bagi seluruh negeri. Aku bukan orang yang menghutangkan ataupun orang yang menghutang kepada siapa pun, tetapi mereka semuanya mengutuki aku. (Yeremia 15:10)

Mengapakah penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan? Sungguh, Engkau seperti sungai yang curang bagiku, air yang tidak dapat dipercayai. (Yeremia 15:18)

Tetapi apabila aku berpikir: “Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya”, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup. (Yeremia 20:9)

Dalam perjalanan kehidupan doa Yeremia, ia juga pernah merasakan bahwa sepertinya Allah tidak mendengarkan doa yang ia panjatkan. Ketika ia mengerang dan menjerit, Allah sepertinya diam membisu. Ia pun bertanya mengapa Allah tidak menggubrisnya. Suatu pertanyaan dan ekspresi yang begitu jujur dan nyata dari si nabi. Namun perenungan kita mengenai doa Yeremia tidak bisa sekadar berhenti di sini. Yeremia berseru seperti demikian bukan hanya untuk melampiaskan emosi semata. Sebab jika hanya berhenti di sana, apa yang membedakan seruan umat Allah dengan orang-orang di luar Tuhan yang juga bisa berdukacita atau berkabung dengan cara yang begitu ekspresif? Yang membedakan, seruan-seruan dari Yeremia sebetulnya juga “memaksa” dirinya untuk dapat mengarahkan matanya untuk kembali tertuju kepada Allah. Doa dan ratapan Yeremia tidak sekadar terapung-apung atau mengambang dalam ketidakjelasan. Bahkan dalam kondisi yang begitu sulit sekalipun, Yeremia tetap berjuang untuk tetap mengingat kasih setia Allah dan kembali mengarahkan hidupnya kepada Allah.

Refleksi dan Penutup

Dalam bagian akhir artikel ini, penulis hanya ingin memberikan pertanyaan dan ajakan sederhana untuk pembaca Buletin PILLAR. Bagaimanakah kehidupan doa kita di hadapan Tuhan? Jangan-jangan setelah puluhan tahun melayani Tuhan, kita kembali menyesali kurangnya kesungguhan doa sebagai kegagalan utama kita dalam pelayanan. Semoga kehidupan doa Nabi Yeremia bisa mendorong kita untuk berdoa secara jujur, terbuka, dan sepenuh hati di hadapan Tuhan.

Sebagai penutup, penulis tergerak membagikan penggalan lirik lagu yang dinyanyikan di ibadah sore GRII Singapura, sekitar 3-4 minggu sebelum dimulainya penulisan artikel ini. Lagu yang mengingatkan kita bahwa ada masa-masa di mana kita sulit dan tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun untuk berdoa. Namun dalam keadaan demikian, Roh Kudus yang membantu kita untuk berdoa di tengah-tengah segala kelemahan kita.

My voice is weak from calling to You both night and day.
How long will You be silent? Why do You turn away?
Spirit, come and rest Your ear upon my heart;
Come and hear my wordless prayer,
my silent plea and take them far away from me.
Take them from this heart of mine to the Father’s heart divine.
Speak in tones unknown to man that God may hear and understand.

(My Wordless Prayer)

Referensi:

Grant Skeldon Interviews: https://www.youtube.com/watch?v=OIBoLLUauWI.

Jeremiah the Weeping Prophet: https://www.ligonier.org/learn/devotionals/jeremiah-weeping-prophet/.

Matthew Henry Commentary, Book of Jeremiah: https://www.ccel.org/ccel/henry/mhc4.Jer.i.html.

You Cannot Handle Your Pain, Looking for God in Lament: https://www.desiringgod.org/articles/you-cannot-handle-your-pain.

Audio: Yeremia dan Doa

Sumber Artikel: 
Diambil dari:
Nama situs : Buletin Pillar
URL : http://www.buletinpillar.org/artikel/yeremia-dan-doa#hal-1
Judul asli artikel : Yeremia dan Doa
Penulis artikel : Juan Intan Kanggrawan
Tanggal akses : 8 Agustus 2018

Komentar


Syndicate content