Besarlah Allahku

Penulis_artikel: 
Haryono Tafianoto
Tanggal_artikel: 
20 Juli 2018
Isi_artikel: 

Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dari keilahian-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. (Roma 1:19-20)

Mengunjungi berbagai wilayah di Nusantara adalah salah satu kegiatan yang paling menarik bagi sebagian orang. Melihat keindahan budaya, dan yang terutama, alam Nusantara yang tidak ada bandingannya adalah pengalaman yang tak ternilai. Banyak wisatawan yang sengaja bangun pagi-pagi buta untuk melihat fajar di Kelimutu atau Bromo. Atau, berjam-jam berkendaraan melewati jalan yang rusak untuk menuju Kiluan. Atau, menempuh perjalanan jauh, termasuk menggunakan kapal berjam-jam menyeberang lautan demi mencapai Derawan. Juga, menginap di kapal beberapa malam demi menikmati berbagai kepulauan di sekitar Flores dan Komodo. Tak tertinggal, menelusuri Samosir untuk menikmati keindahan alam di sekitar Danau Toba. Lalu, pengalaman apa yang mereka dapatkan dari perjalanan tersebut?

Mungkin ada yang tidak bisa menikmati perjalanan demikian. Namun, bagi yang melakukannya, paling sedikit ada dua respons yang diberikan. Yang pertama adalah mungkin seperti, “Wow! Indah!” “Keren!” “Luar biasa!” Tidak berhenti di situ, karena dianggap sebagai situs-situs instagrammable, banyak yang foto selfie untuk dipajang di akun sosmed mereka. Setelah puas dengan hasilnya, mereka pun beralih ke objek wisata lainnya sebagai target selfie. Mungkin wisatawan yang lebih sophisticated akan memandang sejenak dan mempelajari apa yang terjadi dengan alam sekitarnya untuk menambah wawasan.

Namun, respons yang satu lagi adalah kekaguman yang tak terkatakan. Bukan hanya takjub dengan pemandangan alam yang ada, rasa takjub itu justru ditujukan kepada Sang Seniman Agung, yaitu Allah Pencipta. Seperti lagu Besarlah Allahku, refrainnya berbunyi, “Maka jiwaku pun memuji-Mu, sungguh besar Kau Allahku.” Bukankah ketika melihat sebuah hasil karya yang sangat indah, sang seniman akan dikagumi lebih daripada karyanya? Demikianlah nyanyian yang muncul ketika melihat keindahan alam.

Sebagai orang yang mengaku percaya kepada Allah pencipta langit dan bumi, hal pertama yang muncul di benak kita seharusnya kekaguman kepada Allah ketika melihat ciptaan-Nya. Atau mungkin kita juga ber-selfie ria mengikuti hip kekinian? Jadi apa yang Anda pikirkan ketika melihat alam Nusantara nan indah? Semoga rasa kagum kita tidak berhenti hanya pada ciptaan-Nya saja, tapi melihat kemuliaan Sang Pencipta di dalamnya. How great Thou art! Soli Deo Gloria.

Sumber Artikel: 
Diambil dari:
Nama situs : Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia - Pillar
Alamat situs : http://www.buletinpillar.org/renungan/besarlah-allahku
Judul asli artikel : Besarlah Allahku
Penulis : Haryono Tafianoto
Tanggal akses : 18 Juli 2018

Julukan

Penulis_artikel: 
Haryono Tafianoto
Tanggal_artikel: 
18 Juli 2018
Isi_artikel: 

Salah satu bentuk perundungan yang sering terjadi di sekolah adalah memanggil seseorang dengan julukan atau istilah tertentu. Sadar atau tidak sadar, kita pasti pernah melakukannya. Biasanya tindakan ini, mengejek atau melabel, dianggap sebagai candaan, bukan satu hal yang serius. Namun, bisa juga dengan sengaja hinaan diberikan untuk merendahkan seseorang. Tidak jarang, orang-orang dewasa juga melakukannya baik terhadap rekannya maupun terhadap yang lebih muda darinya. Ironisnya, ini juga terjadi di lingkungan sekolah Kristen, atau bahkan di gereja.

Jika kita melihat pada Kisah Penciptaan, Kejadian 1:27, manusia dicipta di dalam gambar rupa Allah, imago Dei. Manusia sebagai representasi Allah adalah wakil-Nya atas seluruh ciptaan, dan membawa gambar Allah di dalam dirinya ke mana pun ia pergi. Sebagai gambar Allah, kita memiliki sifat-sifat Allah, di antaranya kekudusan, kasih, kebaikan, dan keadilan. Dalam menjalankan mandat budaya dan mandat Injil, manusia dipanggil memancarkan sifat- sifat Allah.

Lalu apa hubungannya imago Dei dengan menjuluki seseorang? Objek yang sedang dipermainkan adalah gambar Allah, ciptaan tertinggi yang menjadi wakil Allah untuk menaklukkan dan menguasai seluruh ciptaan (Kej. 1:28). Bayangkan jika Anda menghina penguasa sebuah negara. Tentunya akan ada konsekuensi hukum yang Anda alami. Namun, sekarang yang memberi mandat adalah Allah sendiri, dan yang dihina adalah gambar-Nya! Sebagaimana penghinaan terhadap perwakilan sebuah negara dianggap sebagai penghinaan terhadap negara tersebut, maka julukan yang ditujukan pada wakil Allah adalah penghinaan terhadap Allah!

Sebagaimana disebut di atas, manusia dipanggil untuk memancarkan sifat-sifat Allah, maka seharusnya yang kita pancarkan bukanlah ejekan, hinaan, dan pelabelan untuk merendahkan dan mem-bully sesama kita. Namun, kasih, kebaikan, kekudusan, dan keadilanlah yang seharusnya menjadi refleksi dari tindakan dan ucapan kita. Sudah pasti ejekan tidak memancarkan sifat Allah, bukan?

Ketika menyaksikan tindakan perundungan terjadi, sebagai gambar Allah, kita tidak bisa hanya diam saja. Sebagai pernyataan kasih dan keadilan, kita patut membela sang korban dan menegur si pelaku. Bukankah itu yang Yesus Kristus, sebagai gambar Allah yang sejati, lakukan, membela mereka yang tertindas dengan kasih. Ia bahkan menyatakan kasih dan keadilan Allah Bapa di atas kayu salib untuk melepaskan kita dari cengkraman penindasan si jahat.

Mengikuti teladan Yesus Kristus, marilah kita menghidupi natur kita yang seharusnya sebagai gambar dan rupa Allah. Bagaimana Anda akan memperlakukan sesamamu, gambar dan rupa Allah, mulai hari ini? Kiranya cinta kasih Allah terpancar dari hidup kita semua. Soli Deo gloria.

Sumber Artikel: 
Diambil dari:
Nama situs : Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia - Pillar
Alamat situs : http://www.buletinpillar.org/renungan/julukan
Judul asli artikel : Julukan
Penulis : Haryono Tafianoto
Tanggal akses : 18 Juli 2018

Progsif "Roh Kudus, Malaikat, dan Roh Jahat"

Oleh: N. Risanti

Senin, 25 Juni 2018, saya dan beberapa teman mengikuti acara progsif (program intensif) bertema "Roh Kudus, Malaikat, dan Roh Jahat" yang diadakan oleh STRIS (Sekolah Tinggi Reformed Injili Surakarta) di Hotel Adiwangsa. Progsif yang berlangsung sekitar 2,5 jam ini dibawakan oleh Pendeta Jimmy Pardede dari Jakarta, yang juga adalah dosen Perjanjian Lama. Berikut adalah beberapa hal yang saya dapatkan dari acara progsif tersebut. selengkapnya...»

Teologia Reformed adalah Teologia Perjanjian

Penulis_artikel: 
Richard Pratt Jr.
Tanggal_artikel: 
10 Januari 2018
Isi_artikel: 

Teologia Reformed adalah Teologia Perjanjian

Teologia Reformed sering kali dikaitkan dengan "teologia perjanjian". Jika Anda menyimak baik-baik, kerap akan Anda dengar para pendeta dan pengajar menyebut diri mereka (penganut aliran) "Reformed dan perjanjian." Istilah Reformed dan perjanjian secara umum digunakan berbarengan sehingga memaksa kita memahami mengapa keduanya terkait.

Teologia perjanjian merujuk pada salah satu kepercayaan mendasar yang dianut oleh Calvinis mengenai Alkitab. Semua orang Protestan yang tetap setia pada warisan (doktrin) mereka mengakui Sola Scriptura, yaitu keyakinan bahwa Alkitab merupakan otoritas tertinggi dan tak perlu diragukan. Akan tetapi, teologia perjanjian membedakan pandangan Reformed terhadap Alkitab dari pandangan aliran Protestan lain, dengan menekankan bahwa perjanjian ilahi mempersatukan semua ajaran dalam seluruh Alkitab.

Perkembangan yang lebih awal dalam Reformed, pengertian perjanjian Kitab Suci mencapai titik krusial pada abad ketujuh belas di Inggris dengan adanya Pengakuan Iman Westminster (1646), Deklarasi Savoy (1658), Pengakuan Gereja Baptis London 1689, masing-masing mewakili penganut Calvinist berbahasa Inggris dari kelompok yang berbeda. Dengan hanya sedikit perbedaan di antara mereka, dokumen-dokumen tersebut mendedikasikan satu bab utuh untuk membahas bagaimana perjanjian Allah dengan umat manusia menyingkapkan kesatuan seluruh pengajaran Alkitab.

Misalnya, Pengakuan Iman Westminster berbicara mengenai turunnya Allah untuk mewahyukan Diri kepada manusia dengan jalan perjanjian. Hal tersebut kemudian membagi seluruh sejarah dalam Alkitab menjadi hanya dua perjanjian: "Perjanjian kerja" dalam Adam dan "perjanjian anugrah" dalam Kristus. Perjanjian kerja merupakan kesepakatan Allah dengan Adam dan Hawa sebelum mereka jatuh dalam dosa. Perjanjian anugrah menguasai seluruh kisah Alkitab selebihnya. Menurut pandangan ini, semua tahap dalam perjanjian anugerah adalah sama secara substansi. Perbedaannya hanyalah bagaimana Allah menyelenggarakan satu perjanjian anugerah tersebut dalam Kristus dengan berbagai cara sepanjang sejarah Alkitab.

Selama itu juga, sejumlah teolog Reformed yang terkemudian menegaskan kesatuan perjanjian dalam Kitab Suci dengan menghubungkan perjanjian-perjanjian Alkitabiah dengan "Kerajaan Allah", sebagaiamana Perjanjian Baru menyebutnya. Yesus menunjukkan pentingnya Kerajaan Allah dalam kata-kata pembuka Doa Bapa Kami: "Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah Nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga" (Wahyu 11:15, pada akhir zaman, "Seluruh kerajaan dunia (akan) menjadi milik Tuhan kita dan Kristus, dan Ia akan memerintah selama-lamanya."

Penemuan arkeologis terbaru menunjukkan bagaimana perjanjian Allah terkait dengan kerajaan-Nya di bumi. Pada zaman alkitab, banyak raja-raja negeri sekeliling Israel menyelenggarakan ekspansi kerajaan mereka melalui perjanjian internasional. Para ahli biblika menemukan kesamaan yang mengagumkan antara kesepakatan kuno ini dan perjanjian alkitab dengan Adam, Nuh, Abraham, Musa, Daud, dan Kristus. Kesamaan ini menyatakan bahwa Kitab Suci menghadirkan perjanjian sebagai cara Allah memperluas kerajaan-Nya di bumi.

Perjanjian Alkitab menekankan apa yang dibutuhkan pada setiap tahap Kerajaan Allah dengan mengembangkan prinsip perjanjian sebelumnya. Dimulai dengan Adam, Allah menyatakan Diri-Nya sebagai raja, peran umat manusia, dan tujuan akhir yang telah Ia rencakanakan bagi bumi (Kejadian 6, 9). Allah kemudian mengembangkan perjanjian sebelumnya dengan menjanjikan bahwa keturunan Abraham akan menjadi besar dan menyebarkan berkat-berkat Allah kepada bangsa-bangsa lain (Kejadian 15, 17). Di atas perjanjian-perjanjian tersebut, Allah memberkati Israel dengan memberikan hukum-Nya pada zaman Musa (Keluaran 19-24). Setiap perjanjian sebelumnya terus diperjelas selagi Allah mendirikan kerajaan Daud serta menjanjikan bahwa salah satu dari anaknya akan memerintah dengan keadilan atas Israel dan seluruh dunia (Mazmur 72; 89; 132). Semua perjanjian yang diadakan pada era Perjanjian Lama kemudian diteruskan dan digenapi dalam Kristus (Yeremia 31:31; 2 Korintus 1:19-20). Sebagai Anak Daud yang besar, kehidupan, kematian, kebangkitan, kenaikan, dan kedatangan Kristus yang kedua menjamin kepastian transformasi seluruh bumi menjadi Kerajaan Allah yang mulia.

Banyak orang Kristen Injili saat ini kesulitan untuk percaya bahwa segala sesuatu dalam Kitab Suci setelah Kejadian 3:15 ialah berkenaan dengan Kerajaan Allah yang dikelola melalui penyingkapan perjanjian anugerah. Mayoritas kaum Injili Amerika memandang Kitab Suci terbagi menjadi periode-periode waktu terpisah yang masing-masing diatur oleh prinsip teologis yang berbeda secara substansi. Bila orang Kristen mengikuti pandangan populer terhadap Alkitab ini, mereka akan segera terpengaruh bahwa perjanjian yang baru di zaman kita bertentangan dengan banyak aspek Perjanjian Lama.

Setidaknya ada tiga isu yang kerap diangkat: perbuatan dan anugerah, iman jemaat dan iman pribadi, serta perkara duniawi dan rohani. Pertama, banyak kaum injili meyakini bahwa penekanan Perjanjian Lama akan perbuatan baik tidak sesuai dengan keselamatan oleh anugerah melalui iman dalam Kristus. Kedua, hubungan jemaah Israel sebagai satu kesatuan komunitas dengan Allah tampaknya telah diganti dengan fokus pada hubungan tiap individu secara pribadi dengan Allah. Ketiga, banyak orang injili percaya bahwa panggilan Perjanjian Lama untuk mendirikan kerajaan Allah secara fisik di bumi kontras dengan penekanan Perjanjian Baru terhadap kerajaan rohani dalam Kristus.

Teologia perjanjian memampukan para teolog Reformed untuk melihat bahwa sesungguhnya Perjanjian Baru (PB) dan Perjanjian Lama (PL) sangat serupa dalam ketiga hal ini. Pertama, pandangan bahwa keselamatan oleh anugerah melalui iman dalam Kristus merupakan satu-satunya jalan keselamatan dalam PB maupun PL. Seluruh Alkitab menuntut perbuatan baik karena iman yang menyelamatkan selalu menghasilkan buah ketaatan kepada Allah. Kedua, teologia perjanjian membantu kita melihat bahwa baik PL maupun PB berbicara tentang relasi dengan Allah secara pribadi dan korporat. Seluruh perjanjian Allah meliputi kedua tataran tersebut. Ketiga, teologia perjanjian menunjukkan bahwa Kerajaan Allah sejak semula senantiasa bersifat rohani sekaligus berada di bumi. PL dan PB berfokus pada pelayanan kita dalam kedua ranah tersebut. Dalam hal-hal itu dan juga yang lain, teologia perjanjian memiliki pandangan yang lebih luas bagi kaum injili.

Lebih lagi, kita mendapati bahwa teologia Reformed telah dipersempit menjadi sesuatu yang sering kita sebut doktrin anugerah - kepercayaan terkenal seperti kerusakan total, pemilihan tak bersyarat, penebusan terbatas, anugerah yang tidak dapat ditolak, dan ketekunan orang kudus. Tentu kita harus menghargai nilai kebenaran Kitab Suci ini, tetapi, ketika gagal menekankan kerangka pikir teologia perjanjian yang lebih luas, pengertian kita tentang Alkitab akan segera jatuh ke dalam tiga area ini.

Pertama, doktrin anugerah tanpa teologia perjanjian telah membuat sebagian orang meyakini bahwa teologia Reformed terutama mengajarkan bahwa anugerah Allah menopang kehidupan orang Kristen sejak awal hingga akhir. Tentu saja hal ini benar. Namun, perjanjian dalam PL dan PB secara konsisten mengajarkan bahwa Allah selalu menuntut usaha sepenuh hati dari umat-Nya sebagai respon terhadap anugerah-Nya, dan bahwa Ia akan memberikan upah bagi ketaatan dan menghukum ketidaktaatan.

Kedua, terlepas dari teologia perjanjian, banyak orang dalam lingkaran kita tampaknya berpikir bahwa teologia kita hanyalah tentang mencari cara-cara Reformed yang unik bagi individu untuk meningkatkan hubungan mereka dengan Allah. Pada zaman kita, sejumlah jalan menuju kekudusan dan saat teduh pribadi telah dianggap fitur sentral dalam teologia Reformed. Padahal, teologia perjanjian juga menekankan relasi komunal kita dengan Allah, sama pentingnya seperti nilai seorang individu dalam Alkitab. Tidak ada perjanjian dalam Alkitab yang dibuat dengan satu orang saja. Perjanjian-perjanjian tersebut juga melibatkan relasi yang dibangun Allah dengan sekelompok orang. Karena alasan ini, kedua perjanjian mengajarkan bahwa keluarga umat percaya merupakan komunitas perjanjian yang di dalamnya anugerah Allah diteruskan dari generasi ke generasi. Selain itu, gereja yang kelihatan (visible church) dalam PL dan PB merupakan komunitas perjanjian yang melaluinya kita menerima injil dan anugerah.

Ketiga, doktrin anugerah dengan mudah memberikan kesan bahwa teologia Reformed hanya mengurusi hal-hal spiritual. Banyak orang dalam lingkungan kita begitu peduli dengan transformasi batin melalui pengertian Kitab Suci yang benar. Namun, sering kali kita mengabaikan dampak fisik dan sosial dari dosa dan keselamatan. Teologia perjanjian memberi kita visi (pandangan) yang jauh lebih luas serta mengagumkan mengenai pengharapan kita sebagai orang Kristen. Dalam PL dan PB, orang percaya memperluas Kerajaan Allah baik secara rohani maupun jasmani. Kita harus mengajarkan Injil Kristus kepada segala bangsa supaya orang diubahkan dalam hal spiritual, tetapi pembaharuan spiritual ini ialah bagi perluasan kerajaan Kristus kepada setiap faset dan kultur di seluruh dunia.

Semua pembahasan di atas menyatakan bahwa teologia perjanjian memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada setiap orang Kristen. Jadi, ketika kita bertanya pada diri sendiri, "Apakah teologia Reformed itu?" kita dapat dengan yakin menjawab, "Teologia Reformed adalah teologia perjanjian."(t/joy)

Diambil dari:
Nama situs: Ligonier
Alamat: https://www.ligonier.org/learn/articles/reformed-theology-covenant-theology/
Judul asli: Reformed Theology is Covenant Theology
Penulis: Richard Pratt Jr.
Tanggal akses: 10 Januari 2018

Memperingati HUT e-Reformed ke-14 dan Hari Reformasi Gereja

Dua hari ini adalah hari yang bersejarah bagi e-Reformed.
Pada tgl 30 Oktober ini e-Reformed berulang tahun yang ke-14, dan besok tgl 31 Oktober adalah Hari Reformasi Gereja. Dalam rangka memperingati kedua hari bersejarah ini, kami membagikan sebuah artikel yang bertujuan untuk menyegarkan kita kembali akan prinsip-prinsip reformed yang dirumuskan oleh Martin Luther di dalam Lima Sola. Berharap artikel ini dapat menjadi berkat dan membangkitkan semangat reformasi bagi kita semua.

Selamat Ulang Tahun e-Reformed yang ke-14! Soli Deo Gloria!

HUT e-Reformed ke-14 dan Hari Reformasi Gereja : Mengingat Lima Sola

Hari ini adalah Hari Ulang Tahun e-Reformed ke-14 dan besok adalah Hari Reformasi Gereja. Kami redaksi e-Reformed mengucap syukur atas penyertaan Tuhan sejak 1517, Martin Luther, John Calvin, dan tokoh-tokoh reformasi lainnya memperjuangkan kebenaran di tengah kesesatan gereja pada masa itu, hingga hari ini perjuangan tersebut masih boleh diperingati sebagai Hari Reformasi Gereja tgl 31 Oktober. Gerakan Reformed inilah yang juga menjadi dasar lahirnya publikasi e-reformed tgl 30 Oktober 1999. selengkapnya...»

PERAYAAN 15 TAHUN SABDA

SABDA adalah Firman-NYA, dan Visi Biblical Computing bagi Indonesia, dan singkatan dari: Software Alkitab, Biblika, Dan Alat-Alat!!
PERAYAAN 15 TAHUN SABDA
(1994 -- 2009)

Merayakan kebaikan Tuhan adalah keharusan bagi orang-orang yang mengasihi Tuhan, demikian juga bagi Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Tahun 1994 adalah tahun istimewa karena walaupun organisasi YLSA belum lahir (akta resmi tahun 1995) tapi benih visi pelayanan YLSA dalam bidang "Biblical Computing" telah diberikan Tuhan kepada pendiri YLSA pada awal tahun itu. Dengan ditandai oleh hadirnya produk pertama pada bulan Oktober 1994, yaitu modul teks digital Alkitab TB dan BIS dari LAI yang dikerjakan untuk proyek OnLine Bible -- maka sejak itu YLSA dengan setia menjalankan visi "Biblical Computing" yang Tuhan taruh dalam hati kami. Tahun 2009 bulan Oktober menjadi peringatan 15 tahun sejak benih visi YLSA itu ditanamkan dan akhirnya menjelma menjadi SABDA, software Alkitab lengkap pertama dalam bahasa Indonesia yang sampai sekarang menjadi alat tercanggih yang sangat berguna untuk mempelajari Alkitab. Puji Tuhan! selengkapnya...»

Welcome Letter Situs SOTeRI


Selamat datang di Situs SOTeRI!

Doa dan harapan kami, bahan-bahan yang terdapat dalam situs ini dapat memberikan wawasan tentang corak pemahaman teologia Reformed yang alkitabiah. Biarlah dengan memiliki pengajaran Alkitab yang benar maka hidup kerohanian kita juga semakin berbuah dan memberikan kemuliaan hanya bagi Tuhan saja.

Soli Deo gloria!

Salah Satu Dosa Terbesar Gereja

Editorial: 

Dear Pembaca e-Reformed,

Gereja ada karena dibentuk dan didirikan oleh Tuhan Yesus (lihat Mat. 16:18), dan gereja-Nya ini bersifat kekal. Namun, gereja bukanlah institusi yang berdiri sebagai menara gading yang jauh dari peradaban dan masyarakat. Gereja justru dipanggil untuk berada di tengah masyarakat, yaitu masyarakat yang bersifat majemuk, yang di satu pihak memiliki perbedaan (ras, agama, dan budaya), tetapi di lain pihak memiliki kesamaan (kehidupan bersama sebagai manusia sosial yang saling membutuhkan dan dibutuhkan). Apakah dalam keberadaan yang demikian ini, jemaat Tuhan, yang menjadi inti gereja, dapat menjalankan fungsinya sebagai garam yang harus mengasinkan lingkungan tanpa harus bersikap arogan dan merendahkan mereka yang belum mengenal kebenaran?

Simak dan renungkanlah sajian e-Reformed bulan ini yang memuat sebuah artikel berjudul Salah Satu Dosa Terbesar Gereja. Kiranya Allah Roh Kudus memampukan kita untuk menjadi jemaat-Nya yang setia dan tidak terkikis oleh sikap yang justru tidak memuliakan Allah. Selamat menyimak. Soli Deo gloria!

Yulia Oeniyati

Redaksi e-Reformed,
Yulia Oeniyati

Edisi: 
Edisi 203/Agustus 2018
Isi: 

Di tengah-tengah berbagai macam masalah yang melanda kehidupan manusia pada era globalisasi ini, tanpa dapat dimungkiri, ada salah satu dosa terbesar yang dilakukan gereja: kepongahan rohani! Dosa yang satu ini memiliki berbagai muka.

Muka pertama: kita tanpa menyadari menjadi merasa paling suci, paling benar, paling sempurna dalam kehidupan keagamaan yang pluralistis dalam masyarakat yang majemuk ini!

Jangan salah mengerti! Bukan tujuan tulisan ini untuk membatalkan apa yang telah dinyatakan dalam Alkitab bahwa keselamatan hanya ada dalam Yesus Kristus (Yoh. 14:6; Kis. 4:12; Rm. 10:4-17; 1 Tim. 2:5). Justru di tengah-tengah era globalisasi ketika tembok-tembok pemisah antarnegara, bahasa, dan kebudayaan menjadi paling tidak lebih transparan, kita harus waspada agar kita jangan sampai mengorbankan atau menggadaikan kebenaran demi kerukunan atau persahabatan itu sendiri.

Meski demikian, kita juga harus berhati-hati agar kita mengingat dan memberlakukan secara jujur hukum emas yang dinyatakan oleh Tuhan kita:

The Golden Rule

"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Mat. 7:12)

Kebenaran jelas tidak boleh dikompromikan. Akan tetapi, hal itu tidak sama dengan memaksa orang lain harus menerima dan mengikuti apa yang kita yakini, apalagi dengan cara dan jiwa yang arogan!

Kita dapat belajar dari seorang yang kasar dan impulsif semacam Petrus. Pada hakikatnya, dia makin memahami hati Tuhannya. Dia meninggalkan warisan yang sangat indah dan penting untuk kita laksanakan dalam hidup bermasyarakat. Bobot nasihat Petrus ini menjadi makin penting untuk dipahami dalam konteks riil ketika dia menulis suratnya:

"Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik? Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar. Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu." (1 Ptr. 3:13-16)

Jelas, globalisasi menuntut kita agar kita tidak berpandangan sempit dan picik, tidak dapat mendengar dan tidak mau menghargai keyakinan atau kepercayaan orang lain. Kita harus dapat membedakan antara menghargai dan menghormati dari menerima, mengaminkan, dan mengimani! Agama dan kepercayaan boleh saja berbeda, tetapi janganlah kita membenci atau memusuhi mereka yang berbeda agama dan keyakinan dengan kita. Kita malah harus berupaya agar kita tetap mengasihi dia, menolong dia secara praktis, bahkan apabila kita dibenci, difitnah, bahkan dimusuhi sekalipun.

Petrus akhirnya benar-benar mengerti apa yang dikehendaki Tuhannya. Dia pernah mengayunkan pedang dan sempat memotong telinga orang yang menangkap Yesus, tetapi pada hari tuanya, bukan karena dia telah berubah atau menjadi lemah, bukan juga karena dia mau berkompromi, tetapi sebaliknya, dia malah menjadi begitu mantap dan menghayati ajaran Tuhan dan Gurunya sehingga dia sanggup mengungkapkan kebenaran yang begitu indah dan mulianya. Petrus telah belajar untuk memberlakukan perintah Tuhan agar dia mengasihi, bahkan musuhnya, dan mendoakan orang yang menganiayanya (bdk. Mat. 5:43-44).

Muka yang lain dari salah satu dosa gereja yang terbesar adalah menjadi begitu sombong dan merasa paling benar dan paling sempurna dengan keyakinan dan denominasinya.

Kita tidak jarang mengecap orang (Kristen) lain yang tidak memiliki keyakinan dan ajaran yang persis sama dengan kita sebagai orang sesat! Barangkali kita perlu belajar dari seorang tokoh bapa gereja, Agustinus. Dia memberikan ajaran yang bijaksana:

"Dalam hal yang mendasar (prinsip), jangan berkompromi; dalam hal yang tidak mendasar, biarlah kita tidak menjadi dogmatis (kaku); dalam segala hal, kasih!"

Kadang-kadang, tanpa terlalu disadari sepenuhnya, kita malah membuat kaum awam yang sudah bingung dengan berbagai macam masalah mereka menjadi lebih bingung karena sebagai orang yang dianggap dapat memberi terang kepada yang gelap, justru kita, meminjam bahasa Ayub, "menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan" (Ayb. 38:1).

Sering kali, kita memperdebatkan masalah (cara) baptisan, masalah berbagai macam karunia rohani, masalah kedatangan Yesus yang kedua kali (antimilenialis, remilenialis, pascamilenialis), atau masalah tetek bengek lainnya dengan begitu bersemangat dan berapi-api sehingga kadang kala, kita tidak mampu mengendalikan diri kita, lalu saling menuding dan menyerang antarsesama gereja.

Gereja yang memang sudah terpisah-pisah karena kedaerahan, kesukuan, adat istiadat, dan karena sejarah misa makin kita tercabik-cabik lagi menjadi sempalan-sempalan kecil denominasi (yang makna aslinya berarti "pecahan") -- jikalau perlu, kita buat denominasi baru lagi yang diimbuhi dengan label "Injili".

Sekali lagi, kita perlu mengundang seorang hamba Tuhan senior yang "karismatik", yang telah berhasil mendirikan dan membangun banyak gereja dengan harga yang sangat mahal untuk bersaksi.

Mercy&Justice

Kita tahu bahwa Paulus bukan sembarang orang. Dia mantan Farisi, dan salah seorang murid Gamaliel. Dia menerima penyataan langsung dari Tuhan sendiri (1 Kor. 2:13-16; Gal. 1:17; 2 Kor. 12:1-4). Dia menulis banyak surat. Dia memiliki iman yang begitu kuat dan mantap sehingga dia berani mengungkapkan kesaksian yang sangat menantang semacam Gal. 2:19,20; Flp. 1:6,21; dan sebagainya. Namun, toh orang yang sama tersebut pandai "ilmu padi", makin berisi, makin tunduk!

Siapakah yang menduga bahwa dia sampai menulis sebagai berikut:

"Ketika kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Karena sekarang (walaupun sudah dewasa) kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar; tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku (yang sudah dewasa) hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal." (1 Kor. 13:11-12)

Bolehkah kita menyimpulkan bahwa seorang Rasul Paulus hanya berani mengklaim bahwa pengetahuan serta pengenalannya (sekarang) hanya parsial, belum lengkap dan belum sempurna sepenuhnya? Mungkinkah sekarang ini banyak di antara kita yang lebih hebat dari dia?

Kalau kesimpulan di atas barangkali terlalu sembrono, marilah kita bandingkan apa yang dia tulis kepada jemaat Efesus:

"Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh RohNya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah." (Ef. 3:16-19)

Yang tersirat dari doa Paulus ialah agar jemaat Efesus, yang bukan hanya dilayani oleh Paulus, tetapi juga oleh hamba Tuhan lainnya (Apolos), jangan terjebak ke dalam polarisasi teologi Paulus atau teologi Apolos saja. Belajarlah pula dengan rendah hati dari dan dengan semua orang kudus!

Rupanya, Paulus begitu konsisten. Dia juga menulis sekaligus bersaksi kepada jemaat di Filipi dengan jiwa yang sama:

"Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, ...." (Flp. 3:10)

Jelas bahwa Paulus tidak pernah merasa sudah mengenal Yesus begitu rupa sehingga dia tidak perlu belajar lagi untuk mengenal-Nya secara lebih mendalam. Herankah kita bahwa dari buah penanya, tentunya berkat bimbingan Roh Kudus, gereja kita mewarisi banyak bukunya?

Tulisan ini memang bukan dimaksudkan untuk membahas permasalahan oikumene. Akan tetapi, di tengah-tengah semangat toleransi dan keterbukaan yang makin melonggar, bagaimana mungkin kita menjadi makin sempit dan kaku? Mengapa kita cenderung menjadi kian sektarian dan menjurus kepada "pemujaan" primordial?

Sekali lagi, rupanya bukan hanya bangsa Israel yang tidak dapat belajar dari sejarah! Gereja-gereja juga tidak dapat belajar dari sejarah gereja. Kita tahu bahwa tidak semua bapa gereja memiliki teologi yang selalu sama. Sekolah Alexandria berbeda dari bapa gereja Latin. Sejarah gereja mencatat bukan saja dengan tinta hitam, melainkan juga merah bersimbah darah karena masing-masing merasa paling benar, saling mengucilkan, dan saling membantai lawannya. Di antara para reformator yang besar-besar sekalipun, sering terjadi selisih pendapat dan keyakinan, khususnya dalam soal-soal yang periferal. Bagaimana mungkin kita berani begitu dogmatis (buldog-matis) tentang hal-hal tertentu sehingga nyaris menjadikannya doktrin denominasi?

Kita sering kali mengejek gerakan ekumenis yang tidak pernah berhasil untuk bersatu. Paling-paling hanya semu. Bukan kesatuan, melainkan keserupaan, dan itupun sejauh atau secetek naskah-naskah tertulis. Bagaimana dengan so-called 'evangelical churches'?

Kesatuan Gereja

Kalau dunia yang memasuki era globalisasi ini harus mendengar kesaksian kita, paling tidak kita harus semakin serius dalam menjiwai dan menghayati harapan dan doa Tuhan untuk gereja.

"Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." (Yoh. 17:20-21)

Audio Salah Satu Dosa Terbesar Gereja

Diambil dari:
Nama situs : Alkitab SABDA
Alamat URL : http://alkitab.sabda.org/resource.php
Judul asli artikel : Salah Satu Dosa Terbesar Gereja
Penulis artikel : Charles Christano
Tanggal akses : 23 Oktober 2017

Hati yang Luas

Penulis_artikel: 
Howard Louis
Tanggal_artikel: 
14 Agustus 2018
Isi_artikel: 

Daud adalah seorang yang berkenan di hati Tuhan. Dia bahkan mendapat julukan “a man after His own heart” dari Tuhan sendiri. Ketika kita menelusuri perjalanan hidup orang yang berkenan di hati Tuhan ini, kita akan menyadari bahwa ternyata perjalanan hidupnya bukanlah sesuatu yang sempurna dan tidak bercacat. Daud adalah seorang yang pernah jatuh ke dalam dosa yang begitu jahat dan keji, bahkan patut diberi hukuman mati jika mengikuti aturan dari Taurat. Selain itu, Daud juga pernah mengalami penderitaan yang sangat besar semasa hidupnya. Ia dipandang sebelah mata dan dikejar-kejar oleh Saul, bahkan Absalom, anaknya, pun mengejar untuk membunuhnya. Ia juga harus hidup di tengah relasi politik dalam keluarganya sendiri yang berusaha merebut takhtanya. Pergumulan yang ia hadapi dalam hidupnya sangat banyak dan seakan tidak pernah berakhir. Statusnya sebagai seorang tentara, panglima, raja, gembala, penyair, dan nabi menjadikannya harus dengan setia menggumulkan setiap aspek hidupnya demi Tuhan.

Namun, hidupnya tidak hanya penuh dengan kesusahan, sebab kita juga melihat bahwa Daud memegang peranan yang begitu besar dalam Kerajaan Israel. Dia mempersatukan Israel, mendidik mereka menjadi negara yang begitu berkuasa, menaklukkan Tanah Kanaan seluruhnya melalui perang dengan bangsa Filistin (tidak diselesaikan dari zaman Yosua), dan mengusir penyembahan berhala dari Israel. Alkitab mempresentasikan seluruhnya dengan gamblang agar kita melihat hidup seseorang yang diperkenan Tuhan. Bahwa hidup seseorang yang berkenan di hati Tuhan adalah ketika seseorang rela melakukan segala sesuatunya demi Tuhan. Hatinya hanya berpaut kepada Tuhan, memiliki iman yang absolut kepada Tuhan, mencintai firman-Nya, dan mengenal isi hati Tuhan.

Dalam artikel singkat ini, kita akan sejenak merenungkan kembali salah satu bagian hidup Daud, yaitu mengenai hatinya yang luas.

Konteks Bangsa Israel

Bangsa Israel memiliki posisi yang sangat penting di dalam Perjanjian Lama. Israel bukanlah sebuah bangsa di antara bangsa-bangsa lain di dunia saja, melainkan mereka adalah bangsa yang dimiliki oleh Tuhan. Tuhan memakai Israel untuk menjadi wakil-Nya di bumi. Oleh sebab itu, Tuhan membentuk Israel dari nol. Tuhan tidak mengambil suatu bangsa yang sudah ada, tetapi memilih untuk menjadikan suatu bangsa yang baru. Dapat dikatakan Israel adalah bangsa yang dilahirkan oleh Tuhan. Ia memulai pembentukan bangsa Israel dari perjanjian-Nya dengan seorang yang bernama Abraham. Abraham dijanjikan oleh Tuhan untuk memiliki keturunan yang banyak dan mereka akan mendiami sebuah Tanah Perjanjian yaitu Kanaan. Melalui keturunan inilah Tuhan akan memberkati banyak bangsa.

Keturunan-keturunan ini akan menjadi sebuah bangsa yang disebut sebagai umat Allah, di mana Allah sendiri akan menjadi Rajanya. Ini adalah perjanjian yang dibuat setelah keturunan Abraham dipanggil keluar dari Mesir sebagai simbol pembebasan. Perjanjian ini dibuat di Gunung Sinai melalui Musa. Di sana Tuhan memberikan Hukum Taurat sebagai hukum yang berlaku di Israel. Hukum ini memiliki banyak aturan yang berkaitan dengan identitas bangsa Israel di tengah-tengah bangsa lain. Segala bentuk simbol dan pekerjaan yang dianggap sama dengan bangsa lain, dilarang oleh Tuhan.Di sini, Tuhan sedang melatih umat-Nya menjadi umat yang kudus, yang dipisahkan dari dunia, yang berbeda dari dunia. Bangsa ini dilatih untuk hidup dipimpin oleh Tuhan dan menjalankan perintah-Nya dengan baik. Dalam kehidupan berbangsa, Israel pun dilatih secara berbeda dibanding dengan bangsa yang lain, sebab Tuhan sendirilah yang menjadi Raja mereka. Imam dan nabi diangkat sebagai wakil Tuhan, tetapi posisi raja dipegang oleh Tuhan sendiri.

Hal ini terlihat sejak perjalanan 40 tahun bangsa Israel ke Kanaan. Bangsa Israel dipimpin oleh tiang awan dan tiang api yang melambangkan kehadiran Tuhan. Hal ini berarti Tuhan memimpin kapan dan ke mana bangsa Israel harus berjalan. Ketika tiang itu diam, dengan taat Isreal pun harus diam. Ketika tiang itu berjalan, dalam kondisi apa pun bangsa Israel harus siap mengikuti pimpinan dari Sang Raja. Selain itu, Musa juga mengatur seluruh kehidupan berbangsa di Israel agar selalu melihat kepada keputusan Tuhan. Segala perintah yang Tuhan berikan kepada Musa, harus ia beri tahukan kepada bangsa Israel untuk dilaksanakan. Sehingga, bangsa Israel adalah bangsa yang dipimpin secara langsung oleh Tuhan.

Pada zaman Yosua, bangsa Israel harus menaklukkan Kanaan yang adalah Tanah Perjanjian. Tuhan telah mempersiapkan tanah tersebut bagi bangsa Israel, tetapi mereka harus bekerja keras untuk menumpas segala bangsa yang mendiami tanah tersebut.

Penumpasan ini harus dibarengi dengan menghabiskan seluruh budaya penyembahan berhala yang ada di sana. Akan tetapi, pekerjaan ini tidak terselesaikan di zaman Yosua. Israel di bawah kepemimpinan Yosua telah menaklukkan banyak daerah, namun belum sempurna. Masih ada daerah-daerah yang belum ditaklukkan oleh mereka. Perjuangan ini tidak pernah terselesaikan di zaman hakim-hakim.

Namun, Israel masih melakukan hal yang jahat di mata Tuhan. Mereka mengompromikan iman dan budaya mereka dengan konsep kafir. Hal ini menjadikan Tuhan begitu sedih hingga berulang kali memberikan hukuman. Akan tetapi, melalui kemurahan Tuhan, Israel terus mendapat pengampunan ketika mereka bertobat, kembali kepada Tuhan.

Kitab Hakim-hakim memperlihatkan bagaimana kondisi bangsa Israel yang begitu merosot dari hakim pertama hingga terakhir. Mereka sudah sangat jauh dari Tuhan, tetapi Ia masih menunjukkan belas kasihan-Nya dan tetap memimpin mereka.

Kebobrokan Israel menuju tingkat yang sangat parah ketika mereka meminta seorang raja kepada Tuhan melalui Samuel, dengan alasan agar mereka sama seperti bangsa lain. Ini adalah permintaan yang begitu kurang ajar dan tidak tahu diri. Keinginan mereka untuk memiliki raja lain yang dapat dilihat oleh mata sama seperti memberontak kepada Tuhan yang adalah Raja mereka pada saat itu. Mereka ingin memiliki seorang raja, mereka ingin sama seperti bangsa lain, ketika Tuhan ingin membentuk umat-Nya menjadi bangsa yang berbeda dengan dunia. Mereka tidak mau dipimpin langsung oleh Tuhan melainkan dipimpin oleh seorang raja yang terlihat. Meskipun memang, dalam sejarah kita dapat melihat bahwa Tuhan menghendaki seorang Raja yang akan memerintah di Israel sebagai penggenapan janji-Nya yang akan mengukuhkan takhta dari suku Yehuda. Namun, posisi itu seharusnya dipersiapkan bagi Sang Mesias yang akan memerintah bangsa-bangsa. Akhirnya Tuhan membiarkan mereka mengangkat seorang raja yang sangat “terlihat”. Saul memiliki kualitas yang terlihat (visible qualities) untuk menjadi seorang raja. Perawakannya yang tinggi besar dan parasnya yang elok menjadi idaman bagi rakyat, tetapi akhir hidupnya jauh dari Tuhan.

Pemilihan Daud

Ketika kehidupan Saul semakin lalim, Tuhan mengangkat Daud sebagai raja yang baru. Pengangkatan Daud ini adalah sebuah kisah yang unik karena kehidupannya dikontraskan dengan Saul. Bermula dari Samuel yang diutus oleh Tuhan kepada Isai, seorang dari Betlehem. Samuel membawa tabung tanduknya dengan minyak sebagai persiapan untuk mengurapi seorang raja. Di sana dia mempersembahkan korban melalui upacara pengorbanan dan menyucikan Isai beserta anak-anaknya laki-laki. Ketika ia melihat Eliab, seseorang yang gagah dengan perawakan yang tinggi, Samuel langsung merasa orang inilah yang ditentukan oleh Tuhan. Namun, kali ini Tuhan menyatakan dengan spesifik bahwa Tuhan tidak melihat apa yang manusia lihat, Tuhan melihat hati. Satu per satu anak dari Isai keluar dan tidak ada satu pun yang diperkenan oleh Tuhan. Hingga ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetap Tuhan tidak berkenan kepada satu pun dari antara mereka.

Ternyata, Isai menyembunyikan seorang anaknya yang paling bungsu. Di dalam kebudayaan Yahudi, angka adalah simbol yang penting. Angka tujuh merupakan angka yang melambangkan kesempurnaan. Sehingga, tujuh anak dianggap sebagai lambang dari kesempurnaan. Hal ini terlihat seperti di kisah Ayub. Ayub diceritakan memiliki 7 anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Angka tujuh melambangkan kesempurnaan dan angka sepuluh melambangkan kegenapan. Sehingga memiliki 7 anak laki-laki dan 3 anak perempuan berarti Ayub memiliki keluarga yang sempurna. Isai pun demikian, ia menganggap ketujuh anak laki-laki pertama sebagai yang baik, sehingga anak kedelapan menjadi anak yang dipandang sebelah mata. Daud adalah anak kedelapan dan di dalam keluarganya, ia tidak mendapatkan penerimaan yang baik. Dia diberikan tugas sebagai gembala kambing domba, sebuah pekerjaan yang rendah di Israel, sedangkan kakak-kakaknya diutus menjadi prajurit yang berperang bagi bangsa Israel. Akan tetapi, Tuhan malah berkenan kepada Daud, dan bukan kepada kakak-kakaknya. Akhirnya, Samuel mengurapi Daud menjadi raja dan sejak hari itu Roh Tuhan berkuasa atas Daud.

Ini menjadi prinsip dan standar Tuhan dalam melihat seseorang. Raja Saul dipilih oleh rakyat karena perawakan dan parasnya, namun Tuhan memilih seorang raja bukan dengan standar manusia. Tuhan menggunakan ukuran-Nya untuk menentukan siapa yang layak menjadi raja. Zaman kita sangat menekankan apa yang dapat dipamerkan kepada mata. Kita sering kali mempunyai penilaian (prejudice) terhadap orang seturut apa yang terlihat oleh mata. Sedikit banyak, kita telah dipengaruhi budaya yang begitu pragmatis-hedonis ini sehingga seluruh standar nilai kita bergeser. Kita lebih mengutamakan hal-hal yang menempel di tubuh kita atau pada nama kita. Pengakuan dan penilaian orang kita kejar. Status sosial menjadi hal yang kita cari. Akan tetapi, Tuhan memilih orang yang secara status sosial dipandang rendah dan hina, bahkan di dalam lingkungan keluarga sendiri. Dengan cara ini, Tuhan mendidik kita untuk melihat dengan cara Tuhan melihat agar kita mempunyai hati yang luas. Hati yang luas berarti tidak menggunakan cara pandang dunia ini untuk menilai manusia, melainkan menggunakan penilaian Tuhan untuk menilai.

Karakter Daud

Daud pun memiliki hati yang luas untuk menerima panggilan Tuhan. Dia tidak merasa minder atau mengalami inferiority complex. Dia rela taat dan mau menjalankan apa yang Tuhan kehendaki. Meskipun Daud sudah diurapi menjadi raja atas Israel, dia harus menunggu terlebih dahulu. Dia tidak dengan otoritas mengklaim takhta yang sedang diduduki oleh Saul. Dia rela menunggu dengan hati yang luas akan rencana Tuhan. Terlebih lagi, dia rela menjadi pelayan dari Saul. Daud tidak mengambil sikap yang melawan Saul meskipun dia berhak melakukannya. Namun, dia tetap rendah hati dan mau taat di bawah pimpinan Saul. Sikap ini terlihat di sepanjang hidupnya. Ketika Daud dikejar oleh Saul, Daud tidak mengangkat senjata untuk melawan Saul. Daud pun tidak menggunakan urapannya sebagai raja menjadi cara untuk memenangkan rakyat agar berbalik melawan Saul. Dia melarikan diri dan harus hidup tanpa mempunyai tempat tinggal.

Salah satu alasan mengapa Daud tidak melakukan demikian adalah karena Daud mengetahui siapa yang seharusnya menjadi musuhnya. Daud tidak ingin terjadi perpecahan di dalam bangsa Israel sendiri. Selain itu, Daud juga mengetahui posisi penting yang Israel emban sebagai umat Tuhan. Dia melihat bangsanya sebagai umat Tuhan dan Daud sangat berhati-hati dalam memperlakukan mereka. Daud tidak berdebat dengan Saul mengenai siapa yang berhak menjadi raja, melainkan dia tetap tunduk dan tidak memberontak. Dia menghargai Saul sebagai orang yang telah ditunjuk Tuhan menjadi raja sebelum dia. Dia juga menghargai Saul sebagai seorang keturunan Israel, sebagai umat milik Tuhan. Daud pun tidak mengambil nyawa Saul ketika dia memiliki kesempatan itu. Daud menghargai umat Tuhan dan menilai mereka sesuai dengan penilaian Tuhan. Meskipun umat Tuhan begitu rusak dan bobrok, Daud tidak menjadikan mereka musuh. Dia rela menanggung masa pelarian itu dan dia tidak ingin memusuhi umat Tuhan.

Namun demikian, Daud bukanlah seorang yang penakut. Sebab, Daud berani berhadapan dengan Goliat ketika tidak ada pasukan yang berani berhadapan dengannya. Mengapa Daud berani menghadapi Goliat? Hal ini juga berkaitan dengan penilaian Daud terhadap orang-orang di sekitarnya. Daud memiliki sikap yang berbeda ketika berelasi dengan umat Tuhan dibandingkan dengan umat lain, khususnya bangsa Filistin dalam konteks ini. Dia sadar bagaimana tugas Israel belum selesai untuk menghabisi orang Filistin dan menyatukan Israel. Daud hanya berpegang kepada janji Tuhan bahwa seluruh Kanaan akan menjadi tanah yang sepenuhnya milik Israel. Sehingga dengan berani Daud menantang Goliat dan berperang melawannya. Keberanian ini keluar bukan dari kekuatannya, bukan dari kelihaiannya berperang. Melainkan keberanian yang keluar dari pengenalannya akan Tuhan dan janji-Nya. Keberanian ini juga keluar dari hati yang luas menerima rencana Tuhan dan taat kepada Tuhan. Tuhan akhirnya memberkati Daud dengan mengizinkannya membunuh Goliat. Peristiwa ini menjadi simbol bahwa Daud adalah orang yang dibangkitkan Tuhan untuk menghabisi bangsa Filistin dan mempersatukan bangsa Israel. Daud berhasil dalam menjalankan panggilannya sebagai raja Israel.

Refleksi

Hati seperti Daud sangat jarang kita temukan di zaman sekarang. Setelah Kristus membuka keselamatan bagi banyak bangsa, posisi bangsa Israel sekarang diteruskan bukan lagi oleh sebuah bangsa secara fisik, melainkan diteruskan oleh gereja Tuhan. Gereja Tuhan memiliki posisi sebagai pernyataan wakil Tuhan di bumi ini. Di satu sisi sebagai orang Kristen, kita sering kali salah memilih musuh. Kita sangat sering berselisih paham dan bertengkar dengan gereja Tuhan sendiri. Kita mempermasalahkan hal-hal yang sangat remeh. Karena kepentingan diri atau kelompok, gereja Tuhan terpecah. Karena hal-hal yang tidak penting, gereja-gereja saling bertengkar. Dan penyakit itu sedikit banyak ada pada sikap iri hati kita masing-masing. Sering kali pertikaian dengan orang lain bermotifkan egoisme diri, bukan karena adanya perbedaan prinsip kebenaran. Malahan, prinsip kebenaran dijadikan sebagai rasionalisasi motif egois kita. Sehingga, terlihatnya kita memperdebatkan prinsip kebenaran, padahal di baliknya adalah perjuangan membela egoisme masing-masing. Ini bukanlah semangat dari kekristenan. Musuh kita adalah kefasikan dan kelaliman, tetapi orang fasik dan orang lalim adalah objek dari pemberitaan Injil kita, yang harus kita sampaikan dengan kasih. Kristus di atas kayu salib mengerti siapa musuh-Nya. Dosa dan si Jahatlah musuh-Nya. Karena itu di atas kayu salib Ia rela menghadapi maut sampai tuntas. Kristus tidak membenci orang-orang yang menyalibkan-Nya, bahkan Ia begitu mengasihi mereka dan memohon kepada Bapa yang di sorga untuk mengampuni mereka karena ketidakmengertian mereka. Oleh sebab itu, kita harus belajar memiliki hati yang luas seperti Kristus dan Daud dalam bersikap kepada sesama umat manusia. Jangan sampai egoisme kita menjadikan kita seperti orang Farisi yang memiliki self-righteousness yang begitu besar tetapi menyelubunginya dengan memanfaatkan kalimat-kalimat kebenaran, padahal sebenarnya hanyalah sebuah tipuan. Sikap demikian menjauhkan kita dari salib yang seharusnya kita junjung tinggi.

Di sisi yang lain kita juga harus melihat bahwa ketika keselamatan terbuka bagi bangsa-bangsa, hal ini menjadikan kita manusia yang siap menerima bangsa apa pun di dalam segala keberagaman mereka. Karena perbedaan batas ini disingkirkan, kita harus juga menerima satu dengan yang lainnya dengan hati yang luas. Sebab, mungkin dalam waktu ini, mereka masih menyembah berhala atau melakukan praktik agama yang salah. Akan tetapi, suatu saat nanti mungkin Tuhan akan menggerakkan hati mereka untuk kembali kepada Tuhan. Dengan latar belakang apa pun, gereja Tuhan harus siap menerima setiap orang yang ingin kembali kepada Tuhan dan hal ini perlu dilatih dengan baik.

Karena itu, kita harus memiliki pengertian yang benar mengenai siapa musuh kita di dalam dunia ini. Bangsa lain tidak lagi menjadi musuh kita, apalagi umat Tuhan di dalam gereja. Yang menjadi musuh kita adalah penguasa di angkasa dan dosa. Dengan berfokus kepada panggilan kita masing-masing untuk membereskan pengaruh dosa di dalam konteks kita, kita akan menjauhkan diri dari segala permasalahan yang tidak perlu. Kiranya kita belajar dari Daud untuk memiliki hati yang luas. Hati yang siap menunggu pimpinan Tuhan, yang tidak dicemari dengan prasangka dan penilaian yang salah dari tradisi dan budaya, melainkan yang dengan tepat mengerti isi hati Tuhan dan melawan apa yang keji di hadapan Tuhan.

Diambil dari:

Nama situs: Buletin Pillar.org
URL: http://www.buletinpillar.org/artikel/hati-yang-luas#hal-1
Judul asli artikel: Hati yang Luas
Penulis artikel: Howard Louis
Tanggal akses: 14 Agustus 2018

Komentar


Syndicate content