Besarlah Allahku

Penulis_artikel: 
Haryono Tafianoto
Tanggal_artikel: 
20 Juli 2018
Isi_artikel: 

Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dari keilahian-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. (Roma 1:19-20)

Mengunjungi berbagai wilayah di Nusantara adalah salah satu kegiatan yang paling menarik bagi sebagian orang. Melihat keindahan budaya, dan yang terutama, alam Nusantara yang tidak ada bandingannya adalah pengalaman yang tak ternilai. Banyak wisatawan yang sengaja bangun pagi-pagi buta untuk melihat fajar di Kelimutu atau Bromo. Atau, berjam-jam berkendaraan melewati jalan yang rusak untuk menuju Kiluan. Atau, menempuh perjalanan jauh, termasuk menggunakan kapal berjam-jam menyeberang lautan demi mencapai Derawan. Juga, menginap di kapal beberapa malam demi menikmati berbagai kepulauan di sekitar Flores dan Komodo. Tak tertinggal, menelusuri Samosir untuk menikmati keindahan alam di sekitar Danau Toba. Lalu, pengalaman apa yang mereka dapatkan dari perjalanan tersebut?

Mungkin ada yang tidak bisa menikmati perjalanan demikian. Namun, bagi yang melakukannya, paling sedikit ada dua respons yang diberikan. Yang pertama adalah mungkin seperti, “Wow! Indah!” “Keren!” “Luar biasa!” Tidak berhenti di situ, karena dianggap sebagai situs-situs instagrammable, banyak yang foto selfie untuk dipajang di akun sosmed mereka. Setelah puas dengan hasilnya, mereka pun beralih ke objek wisata lainnya sebagai target selfie. Mungkin wisatawan yang lebih sophisticated akan memandang sejenak dan mempelajari apa yang terjadi dengan alam sekitarnya untuk menambah wawasan.

Namun, respons yang satu lagi adalah kekaguman yang tak terkatakan. Bukan hanya takjub dengan pemandangan alam yang ada, rasa takjub itu justru ditujukan kepada Sang Seniman Agung, yaitu Allah Pencipta. Seperti lagu Besarlah Allahku, refrainnya berbunyi, “Maka jiwaku pun memuji-Mu, sungguh besar Kau Allahku.” Bukankah ketika melihat sebuah hasil karya yang sangat indah, sang seniman akan dikagumi lebih daripada karyanya? Demikianlah nyanyian yang muncul ketika melihat keindahan alam.

Sebagai orang yang mengaku percaya kepada Allah pencipta langit dan bumi, hal pertama yang muncul di benak kita seharusnya kekaguman kepada Allah ketika melihat ciptaan-Nya. Atau mungkin kita juga ber-selfie ria mengikuti hip kekinian? Jadi apa yang Anda pikirkan ketika melihat alam Nusantara nan indah? Semoga rasa kagum kita tidak berhenti hanya pada ciptaan-Nya saja, tapi melihat kemuliaan Sang Pencipta di dalamnya. How great Thou art! Soli Deo Gloria.

Sumber Artikel: 
Diambil dari:
Nama situs : Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia - Pillar
Alamat situs : http://www.buletinpillar.org/renungan/besarlah-allahku
Judul asli artikel : Besarlah Allahku
Penulis : Haryono Tafianoto
Tanggal akses : 18 Juli 2018

Julukan

Penulis_artikel: 
Haryono Tafianoto
Tanggal_artikel: 
18 Juli 2018
Isi_artikel: 

Salah satu bentuk perundungan yang sering terjadi di sekolah adalah memanggil seseorang dengan julukan atau istilah tertentu. Sadar atau tidak sadar, kita pasti pernah melakukannya. Biasanya tindakan ini, mengejek atau melabel, dianggap sebagai candaan, bukan satu hal yang serius. Namun, bisa juga dengan sengaja hinaan diberikan untuk merendahkan seseorang. Tidak jarang, orang-orang dewasa juga melakukannya baik terhadap rekannya maupun terhadap yang lebih muda darinya. Ironisnya, ini juga terjadi di lingkungan sekolah Kristen, atau bahkan di gereja.

Jika kita melihat pada Kisah Penciptaan, Kejadian 1:27, manusia dicipta di dalam gambar rupa Allah, imago Dei. Manusia sebagai representasi Allah adalah wakil-Nya atas seluruh ciptaan, dan membawa gambar Allah di dalam dirinya ke mana pun ia pergi. Sebagai gambar Allah, kita memiliki sifat-sifat Allah, di antaranya kekudusan, kasih, kebaikan, dan keadilan. Dalam menjalankan mandat budaya dan mandat Injil, manusia dipanggil memancarkan sifat- sifat Allah.

Lalu apa hubungannya imago Dei dengan menjuluki seseorang? Objek yang sedang dipermainkan adalah gambar Allah, ciptaan tertinggi yang menjadi wakil Allah untuk menaklukkan dan menguasai seluruh ciptaan (Kej. 1:28). Bayangkan jika Anda menghina penguasa sebuah negara. Tentunya akan ada konsekuensi hukum yang Anda alami. Namun, sekarang yang memberi mandat adalah Allah sendiri, dan yang dihina adalah gambar-Nya! Sebagaimana penghinaan terhadap perwakilan sebuah negara dianggap sebagai penghinaan terhadap negara tersebut, maka julukan yang ditujukan pada wakil Allah adalah penghinaan terhadap Allah!

Sebagaimana disebut di atas, manusia dipanggil untuk memancarkan sifat-sifat Allah, maka seharusnya yang kita pancarkan bukanlah ejekan, hinaan, dan pelabelan untuk merendahkan dan mem-bully sesama kita. Namun, kasih, kebaikan, kekudusan, dan keadilanlah yang seharusnya menjadi refleksi dari tindakan dan ucapan kita. Sudah pasti ejekan tidak memancarkan sifat Allah, bukan?

Ketika menyaksikan tindakan perundungan terjadi, sebagai gambar Allah, kita tidak bisa hanya diam saja. Sebagai pernyataan kasih dan keadilan, kita patut membela sang korban dan menegur si pelaku. Bukankah itu yang Yesus Kristus, sebagai gambar Allah yang sejati, lakukan, membela mereka yang tertindas dengan kasih. Ia bahkan menyatakan kasih dan keadilan Allah Bapa di atas kayu salib untuk melepaskan kita dari cengkraman penindasan si jahat.

Mengikuti teladan Yesus Kristus, marilah kita menghidupi natur kita yang seharusnya sebagai gambar dan rupa Allah. Bagaimana Anda akan memperlakukan sesamamu, gambar dan rupa Allah, mulai hari ini? Kiranya cinta kasih Allah terpancar dari hidup kita semua. Soli Deo gloria.

Sumber Artikel: 
Diambil dari:
Nama situs : Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia - Pillar
Alamat situs : http://www.buletinpillar.org/renungan/julukan
Judul asli artikel : Julukan
Penulis : Haryono Tafianoto
Tanggal akses : 18 Juli 2018

Progsif "Roh Kudus, Malaikat, dan Roh Jahat"

Oleh: N. Risanti

Senin, 25 Juni 2018, saya dan beberapa teman mengikuti acara progsif (program intensif) bertema "Roh Kudus, Malaikat, dan Roh Jahat" yang diadakan oleh STRIS (Sekolah Tinggi Reformed Injili Surakarta) di Hotel Adiwangsa. Progsif yang berlangsung sekitar 2,5 jam ini dibawakan oleh Pendeta Jimmy Pardede dari Jakarta, yang juga adalah dosen Perjanjian Lama. Berikut adalah beberapa hal yang saya dapatkan dari acara progsif tersebut. selengkapnya...»

Teologia Reformed adalah Teologia Perjanjian

Penulis_artikel: 
Richard Pratt Jr.
Tanggal_artikel: 
10 Januari 2018
Isi_artikel: 

Teologia Reformed adalah Teologia Perjanjian

Teologia Reformed sering kali dikaitkan dengan "teologia perjanjian". Jika Anda menyimak baik-baik, kerap akan Anda dengar para pendeta dan pengajar menyebut diri mereka (penganut aliran) "Reformed dan perjanjian." Istilah Reformed dan perjanjian secara umum digunakan berbarengan sehingga memaksa kita memahami mengapa keduanya terkait.

Teologia perjanjian merujuk pada salah satu kepercayaan mendasar yang dianut oleh Calvinis mengenai Alkitab. Semua orang Protestan yang tetap setia pada warisan (doktrin) mereka mengakui Sola Scriptura, yaitu keyakinan bahwa Alkitab merupakan otoritas tertinggi dan tak perlu diragukan. Akan tetapi, teologia perjanjian membedakan pandangan Reformed terhadap Alkitab dari pandangan aliran Protestan lain, dengan menekankan bahwa perjanjian ilahi mempersatukan semua ajaran dalam seluruh Alkitab.

Perkembangan yang lebih awal dalam Reformed, pengertian perjanjian Kitab Suci mencapai titik krusial pada abad ketujuh belas di Inggris dengan adanya Pengakuan Iman Westminster (1646), Deklarasi Savoy (1658), Pengakuan Gereja Baptis London 1689, masing-masing mewakili penganut Calvinist berbahasa Inggris dari kelompok yang berbeda. Dengan hanya sedikit perbedaan di antara mereka, dokumen-dokumen tersebut mendedikasikan satu bab utuh untuk membahas bagaimana perjanjian Allah dengan umat manusia menyingkapkan kesatuan seluruh pengajaran Alkitab.

Misalnya, Pengakuan Iman Westminster berbicara mengenai turunnya Allah untuk mewahyukan Diri kepada manusia dengan jalan perjanjian. Hal tersebut kemudian membagi seluruh sejarah dalam Alkitab menjadi hanya dua perjanjian: "Perjanjian kerja" dalam Adam dan "perjanjian anugrah" dalam Kristus. Perjanjian kerja merupakan kesepakatan Allah dengan Adam dan Hawa sebelum mereka jatuh dalam dosa. Perjanjian anugrah menguasai seluruh kisah Alkitab selebihnya. Menurut pandangan ini, semua tahap dalam perjanjian anugerah adalah sama secara substansi. Perbedaannya hanyalah bagaimana Allah menyelenggarakan satu perjanjian anugerah tersebut dalam Kristus dengan berbagai cara sepanjang sejarah Alkitab.

Selama itu juga, sejumlah teolog Reformed yang terkemudian menegaskan kesatuan perjanjian dalam Kitab Suci dengan menghubungkan perjanjian-perjanjian Alkitabiah dengan "Kerajaan Allah", sebagaiamana Perjanjian Baru menyebutnya. Yesus menunjukkan pentingnya Kerajaan Allah dalam kata-kata pembuka Doa Bapa Kami: "Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah Nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga" (Wahyu 11:15, pada akhir zaman, "Seluruh kerajaan dunia (akan) menjadi milik Tuhan kita dan Kristus, dan Ia akan memerintah selama-lamanya."

Penemuan arkeologis terbaru menunjukkan bagaimana perjanjian Allah terkait dengan kerajaan-Nya di bumi. Pada zaman alkitab, banyak raja-raja negeri sekeliling Israel menyelenggarakan ekspansi kerajaan mereka melalui perjanjian internasional. Para ahli biblika menemukan kesamaan yang mengagumkan antara kesepakatan kuno ini dan perjanjian alkitab dengan Adam, Nuh, Abraham, Musa, Daud, dan Kristus. Kesamaan ini menyatakan bahwa Kitab Suci menghadirkan perjanjian sebagai cara Allah memperluas kerajaan-Nya di bumi.

Perjanjian Alkitab menekankan apa yang dibutuhkan pada setiap tahap Kerajaan Allah dengan mengembangkan prinsip perjanjian sebelumnya. Dimulai dengan Adam, Allah menyatakan Diri-Nya sebagai raja, peran umat manusia, dan tujuan akhir yang telah Ia rencakanakan bagi bumi (Kejadian 6, 9). Allah kemudian mengembangkan perjanjian sebelumnya dengan menjanjikan bahwa keturunan Abraham akan menjadi besar dan menyebarkan berkat-berkat Allah kepada bangsa-bangsa lain (Kejadian 15, 17). Di atas perjanjian-perjanjian tersebut, Allah memberkati Israel dengan memberikan hukum-Nya pada zaman Musa (Keluaran 19-24). Setiap perjanjian sebelumnya terus diperjelas selagi Allah mendirikan kerajaan Daud serta menjanjikan bahwa salah satu dari anaknya akan memerintah dengan keadilan atas Israel dan seluruh dunia (Mazmur 72; 89; 132). Semua perjanjian yang diadakan pada era Perjanjian Lama kemudian diteruskan dan digenapi dalam Kristus (Yeremia 31:31; 2 Korintus 1:19-20). Sebagai Anak Daud yang besar, kehidupan, kematian, kebangkitan, kenaikan, dan kedatangan Kristus yang kedua menjamin kepastian transformasi seluruh bumi menjadi Kerajaan Allah yang mulia.

Banyak orang Kristen Injili saat ini kesulitan untuk percaya bahwa segala sesuatu dalam Kitab Suci setelah Kejadian 3:15 ialah berkenaan dengan Kerajaan Allah yang dikelola melalui penyingkapan perjanjian anugerah. Mayoritas kaum Injili Amerika memandang Kitab Suci terbagi menjadi periode-periode waktu terpisah yang masing-masing diatur oleh prinsip teologis yang berbeda secara substansi. Bila orang Kristen mengikuti pandangan populer terhadap Alkitab ini, mereka akan segera terpengaruh bahwa perjanjian yang baru di zaman kita bertentangan dengan banyak aspek Perjanjian Lama.

Setidaknya ada tiga isu yang kerap diangkat: perbuatan dan anugerah, iman jemaat dan iman pribadi, serta perkara duniawi dan rohani. Pertama, banyak kaum injili meyakini bahwa penekanan Perjanjian Lama akan perbuatan baik tidak sesuai dengan keselamatan oleh anugerah melalui iman dalam Kristus. Kedua, hubungan jemaah Israel sebagai satu kesatuan komunitas dengan Allah tampaknya telah diganti dengan fokus pada hubungan tiap individu secara pribadi dengan Allah. Ketiga, banyak orang injili percaya bahwa panggilan Perjanjian Lama untuk mendirikan kerajaan Allah secara fisik di bumi kontras dengan penekanan Perjanjian Baru terhadap kerajaan rohani dalam Kristus.

Teologia perjanjian memampukan para teolog Reformed untuk melihat bahwa sesungguhnya Perjanjian Baru (PB) dan Perjanjian Lama (PL) sangat serupa dalam ketiga hal ini. Pertama, pandangan bahwa keselamatan oleh anugerah melalui iman dalam Kristus merupakan satu-satunya jalan keselamatan dalam PB maupun PL. Seluruh Alkitab menuntut perbuatan baik karena iman yang menyelamatkan selalu menghasilkan buah ketaatan kepada Allah. Kedua, teologia perjanjian membantu kita melihat bahwa baik PL maupun PB berbicara tentang relasi dengan Allah secara pribadi dan korporat. Seluruh perjanjian Allah meliputi kedua tataran tersebut. Ketiga, teologia perjanjian menunjukkan bahwa Kerajaan Allah sejak semula senantiasa bersifat rohani sekaligus berada di bumi. PL dan PB berfokus pada pelayanan kita dalam kedua ranah tersebut. Dalam hal-hal itu dan juga yang lain, teologia perjanjian memiliki pandangan yang lebih luas bagi kaum injili.

Lebih lagi, kita mendapati bahwa teologia Reformed telah dipersempit menjadi sesuatu yang sering kita sebut doktrin anugerah - kepercayaan terkenal seperti kerusakan total, pemilihan tak bersyarat, penebusan terbatas, anugerah yang tidak dapat ditolak, dan ketekunan orang kudus. Tentu kita harus menghargai nilai kebenaran Kitab Suci ini, tetapi, ketika gagal menekankan kerangka pikir teologia perjanjian yang lebih luas, pengertian kita tentang Alkitab akan segera jatuh ke dalam tiga area ini.

Pertama, doktrin anugerah tanpa teologia perjanjian telah membuat sebagian orang meyakini bahwa teologia Reformed terutama mengajarkan bahwa anugerah Allah menopang kehidupan orang Kristen sejak awal hingga akhir. Tentu saja hal ini benar. Namun, perjanjian dalam PL dan PB secara konsisten mengajarkan bahwa Allah selalu menuntut usaha sepenuh hati dari umat-Nya sebagai respon terhadap anugerah-Nya, dan bahwa Ia akan memberikan upah bagi ketaatan dan menghukum ketidaktaatan.

Kedua, terlepas dari teologia perjanjian, banyak orang dalam lingkaran kita tampaknya berpikir bahwa teologia kita hanyalah tentang mencari cara-cara Reformed yang unik bagi individu untuk meningkatkan hubungan mereka dengan Allah. Pada zaman kita, sejumlah jalan menuju kekudusan dan saat teduh pribadi telah dianggap fitur sentral dalam teologia Reformed. Padahal, teologia perjanjian juga menekankan relasi komunal kita dengan Allah, sama pentingnya seperti nilai seorang individu dalam Alkitab. Tidak ada perjanjian dalam Alkitab yang dibuat dengan satu orang saja. Perjanjian-perjanjian tersebut juga melibatkan relasi yang dibangun Allah dengan sekelompok orang. Karena alasan ini, kedua perjanjian mengajarkan bahwa keluarga umat percaya merupakan komunitas perjanjian yang di dalamnya anugerah Allah diteruskan dari generasi ke generasi. Selain itu, gereja yang kelihatan (visible church) dalam PL dan PB merupakan komunitas perjanjian yang melaluinya kita menerima injil dan anugerah.

Ketiga, doktrin anugerah dengan mudah memberikan kesan bahwa teologia Reformed hanya mengurusi hal-hal spiritual. Banyak orang dalam lingkungan kita begitu peduli dengan transformasi batin melalui pengertian Kitab Suci yang benar. Namun, sering kali kita mengabaikan dampak fisik dan sosial dari dosa dan keselamatan. Teologia perjanjian memberi kita visi (pandangan) yang jauh lebih luas serta mengagumkan mengenai pengharapan kita sebagai orang Kristen. Dalam PL dan PB, orang percaya memperluas Kerajaan Allah baik secara rohani maupun jasmani. Kita harus mengajarkan Injil Kristus kepada segala bangsa supaya orang diubahkan dalam hal spiritual, tetapi pembaharuan spiritual ini ialah bagi perluasan kerajaan Kristus kepada setiap faset dan kultur di seluruh dunia.

Semua pembahasan di atas menyatakan bahwa teologia perjanjian memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada setiap orang Kristen. Jadi, ketika kita bertanya pada diri sendiri, "Apakah teologia Reformed itu?" kita dapat dengan yakin menjawab, "Teologia Reformed adalah teologia perjanjian."(t/joy)

Diambil dari:
Nama situs: Ligonier
Alamat: https://www.ligonier.org/learn/articles/reformed-theology-covenant-theology/
Judul asli: Reformed Theology is Covenant Theology
Penulis: Richard Pratt Jr.
Tanggal akses: 10 Januari 2018

Memperingati HUT e-Reformed ke-14 dan Hari Reformasi Gereja

Dua hari ini adalah hari yang bersejarah bagi e-Reformed.
Pada tgl 30 Oktober ini e-Reformed berulang tahun yang ke-14, dan besok tgl 31 Oktober adalah Hari Reformasi Gereja. Dalam rangka memperingati kedua hari bersejarah ini, kami membagikan sebuah artikel yang bertujuan untuk menyegarkan kita kembali akan prinsip-prinsip reformed yang dirumuskan oleh Martin Luther di dalam Lima Sola. Berharap artikel ini dapat menjadi berkat dan membangkitkan semangat reformasi bagi kita semua.

Selamat Ulang Tahun e-Reformed yang ke-14! Soli Deo Gloria!

HUT e-Reformed ke-14 dan Hari Reformasi Gereja : Mengingat Lima Sola

Hari ini adalah Hari Ulang Tahun e-Reformed ke-14 dan besok adalah Hari Reformasi Gereja. Kami redaksi e-Reformed mengucap syukur atas penyertaan Tuhan sejak 1517, Martin Luther, John Calvin, dan tokoh-tokoh reformasi lainnya memperjuangkan kebenaran di tengah kesesatan gereja pada masa itu, hingga hari ini perjuangan tersebut masih boleh diperingati sebagai Hari Reformasi Gereja tgl 31 Oktober. Gerakan Reformed inilah yang juga menjadi dasar lahirnya publikasi e-reformed tgl 30 Oktober 1999. selengkapnya...»

PERAYAAN 15 TAHUN SABDA

SABDA adalah Firman-NYA, dan Visi Biblical Computing bagi Indonesia, dan singkatan dari: Software Alkitab, Biblika, Dan Alat-Alat!!
PERAYAAN 15 TAHUN SABDA
(1994 -- 2009)

Merayakan kebaikan Tuhan adalah keharusan bagi orang-orang yang mengasihi Tuhan, demikian juga bagi Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Tahun 1994 adalah tahun istimewa karena walaupun organisasi YLSA belum lahir (akta resmi tahun 1995) tapi benih visi pelayanan YLSA dalam bidang "Biblical Computing" telah diberikan Tuhan kepada pendiri YLSA pada awal tahun itu. Dengan ditandai oleh hadirnya produk pertama pada bulan Oktober 1994, yaitu modul teks digital Alkitab TB dan BIS dari LAI yang dikerjakan untuk proyek OnLine Bible -- maka sejak itu YLSA dengan setia menjalankan visi "Biblical Computing" yang Tuhan taruh dalam hati kami. Tahun 2009 bulan Oktober menjadi peringatan 15 tahun sejak benih visi YLSA itu ditanamkan dan akhirnya menjelma menjadi SABDA, software Alkitab lengkap pertama dalam bahasa Indonesia yang sampai sekarang menjadi alat tercanggih yang sangat berguna untuk mempelajari Alkitab. Puji Tuhan! selengkapnya...»

Welcome Letter Situs SOTeRI


Selamat datang di Situs SOTeRI!

Doa dan harapan kami, bahan-bahan yang terdapat dalam situs ini dapat memberikan wawasan tentang corak pemahaman teologia Reformed yang alkitabiah. Biarlah dengan memiliki pengajaran Alkitab yang benar maka hidup kerohanian kita juga semakin berbuah dan memberikan kemuliaan hanya bagi Tuhan saja.

Soli Deo gloria!

Kekristenan dan Kesejahteraan Sosial

Penulis_artikel: 
Setffie Jessica
Tanggal_artikel: 
8 April 2019
Isi_artikel: 
Kekristenan dan Kesejahteraan Sosial

Kekristenan dan Kesejahteraan Sosial

Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.

Suatu fakta yang begitu ironis dalam zaman ini adalah kota metropolitan dengan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi dengan megahnya tetapi pengemis berkeliaran hampir di setiap sudut kota. Perekonomian yang semakin bertumbuh, kebudayaan yang semakin maju, teknologi yang semakin canggih, tidak menghapuskan fakta kemiskinan dalam masyarakat. Baik pengemis, maupun kemiskinan adalah realitas yang akan terus kita jumpai pada segala zaman maupun tempat. Inilah permasalahan sosial yang akan terus kita jumpai dalam hidup kita. Lalu, bagaimana teologi Reformed menjawab tantangan ini?

kondisi sosial

Sumber Permasalahan

Permasalahan sosial yang muncul di tengah kehidupan manusia merupakan buah dari kemerosotan rohani yang semakin lama semakin buruk. Menurut Kuyper, permasalahan ini berawal dari keinginan untuk memiliki kebebasan. Kebebasan hidup yang menolak pandangan bahwa kita harus senantiasa mengutamakan Allah di dalam setiap segi kehidupan ini. Kebebasan hidup semu yang membawa manusia terjerat oleh kemiskinan dan ketidakadilan baik jasmani maupun rohani. Mengapa hal ini dapat terjadi? Hal ini tidak terlepas dari fakta penciptaan dan juga kejatuhan manusia ke dalam dosa.

Allah menciptakan manusia dengan segala kemampuan dan potensi untuk dapat mengusahakan dan memelihara alam. Bekerja adalah sebuah tugas mulia yang telah diberikan oleh Allah kepada kita manusia. Dengan bekerja dan berusaha manusia menyingkapkan kekayaan serta keajaiban dari alam yang telah Tuhan ciptakan. Namun, kejatuhan manusia ke dalam dosa telah membuat manusia kehilangan makna bekerja yang sesungguhnya. Bekerja menjadi suatu hal yang membebani dan membosankan. Tuhan tidak lagi menjadi tujuan utama dalam bekerja, tetapi diri manusia menjadi pusat dari segala yang mereka lakukan. Pekerjaan tidak lagi diperuntukkan bagi kemuliaan Allah melainkan kemuliaan diri, manusia memilih untuk menyembah hasil pekerjaannya sendiri dibandingkan Allah yang memberikan mereka kemampuan untuk bekerja. Pekerjaan tidak lagi dilihat sebagai panggilan, melainkan hanya sebuah sarana untuk mendapatkan materi semata. Harta yang paling berharga bukan lagi Allah, tetapi telah berubah menjadi angka yang menunjukkan berapa jumlah kekayaan materi masing-masing manusia.

Dosa telah membutakan manusia, menjadikan mereka makhluk-makhluk serakah yang rela menempuh segala cara untuk mendapatkan harta, bahkan bila mereka harus meninggalkan kemanusiaan mereka sekalipun. Manusia lain di luar diri ini tidak lagi dipandang sebagai sesama gambar dan rupa Allah, melainkan sebagai anak tangga yang harus diinjak untuk mencapai posisi kekayaan dan kekuasaan yang lebih tinggi. Kaum berkuasa menyalahgunakan posisinya untuk menekan mereka yang tidak berdaya. Kemalasan menimbulkan pertumbuhan yang cepat bagi praktik korupsi, segala sesuatu bisa dipercepat dan dipermudah dengan adanya uang tambahan. Rakyat kecil tidak dipandang sebagai pihak yang harus dilayani melainkan sebagai kantong-kantong uang yang harus diperas demi keuntungan diri sendiri.

Panggilan

Mengapa kita harus memerhatikan kesejahteraan sosial di tempat kita berada? Setiap orang Kristen dipanggil untuk menjadi garam dunia, menjadi pencegah kebusukan yang disebabkan kuasa dosa. Setiap orang Kristen dipanggil untuk menjadi terang di mana ia ditempatkan, berperan serta mengusir kegelapan yang menyelimuti kehidupan manusia. Setiap kita dipanggil untuk mengasihi Allah serta sesama, membagikan kasih yang telah terlebih dahulu kita terima kepada gambar dan rupa Allah di sekitar kita. Setiap kita juga dipanggil untuk mengusahakan dan berdoa bagi kesejahteraan kota di mana kita berada (Yer. 29:7).

Kekristenan dan Kesejahteraan Sosial

Pdt. Dr. Stephen Tong menjelaskan teologi Reformed berarti berakar ke dalam firman Tuhan dengan kokoh dan kuat sehingga tidak mudah digoyahkan, Injili artinya berbuah lebat keluar. Kita tidak dipanggil untuk menjadi seperti sebatang kayu yang semakin ditanam ke dalam semakin tidak terlihat di bagian luar dan semakin tidak leluasa bergerak ke arah mana pun. Kita dipanggil untuk menjadi seperti pohon, yang semakin berakar, semakin mampu menyerap nutrisi dan semakin bertumbuh serta berbuah sehingga menjadi berkat di tempat ia ditanam. Pelita yang diletakkan di bawah gantang tidak akan berguna berapa pun mahal dan baiknya pelita tersebut. Pelita yang terletak di atas kaki dian akan jauh lebih berguna dan lebih dihargai karena pelita tersebut mendatangkan kebaikan bagi seisi rumah.

Teladan Kristus

Lalu, apakah penyelesaian masalah dari semua krisis yang cukup mengerikan ini? Permasalahan sosial yang berasal dari kerusakan moral ini tidak akan cukup terselesaikan dengan mengatasi fenomena-fenomena yang muncul saja. Kerusakan moral harus diselesaikan secara tuntas agar masalah-masalah sosial yang ada dapat dihapuskan.

Bagaimana caranya merestorasi moral manusia yang sudah bobrok ini? Tak lain adalah dengan membawa mereka kepada Kristus. Kuyper mengatakan bahwa Kristus adalah seorang pembaru sosial. Akar kerusakan moral adalah kebutaan terhadap kebenaran. Dengan mengenal Kristus manusia mengenal kebenaran, dengan mengenal Kristus manusia mengenal keselamatan dan kebebasan dari dosa. Dengan mengenal kasih Kristus yang begitu besar manusia mampu mengasihi sesamanya. Dengan melihat kerelaan Kristus berkorban di atas kayu salib manusia mendapat kekuatan untuk berbelaskasihan terhadap sesamanya.

Memuliakan Tuhan dengan Harta

Ajaran Kristus tentang mengumpulkan harta di sorga tidaklah menjadi alasan bagi kita untuk bermalas-malasan bekerja mencari uang di dunia. Manusia membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Manusia membutuhkan uang untuk terus mengembangkan mandat Allah. Manusia membutuhkan uang untuk melaksanakan kehendak Allah. Tetapi uang bukanlah segalanya, uang tidak dapat disamakan dengan kehidupan itu sendiri.

Karena itu, kehidupan di dunia bukanlah suatu hal yang dapat disia-siakan begitu saja. Kristus pun menghargai kehidupan manusia dengan kerelaan-Nya datang berinkarnasi dan menjalani hidup sebagai manusia di bumi ini. Memiliki banyak harta di dunia ini bukanlah suatu hal yang salah, Tuhan menciptakan manusia dengan potensi yang begitu menakjubkan dan bervariasi. Kemampuan untuk mengatur harta benda dan bekerja dengan baik merupakan anugerah dari Tuhan kepada kita yang harus kita pertanggungjawabkan pula dengan benar di hadapan-Nya. Paulus mengatakan di 1 Korintus 6:12, “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.”

Demikian juga di dalam surat Paulus kepada jemaat di Efesus berisi sebuah nasihat agar manusia tidak mencuri, melainkan manusia harus bekerja dengan tangannya sendiri, agar ia dapat memberi kepada mereka yang berkekurangan (Ef. 4: 28). Terdapat tiga buah cara hidup manusia yang disebutkan di sini:
1. Mencuri untuk mendapatkan segala sesuatu
2. Bekerja untuk mendapatkan segala sesuatu
3. Bekerja untuk mendapatkan kemungkinan dapat memberi

Cara pertama adalah cara yang ilegal untuk memenuhi keinginan manusia, sedangkan cara kedua merupakan cara hidup yang lebih baik untuk memuaskan kebutuhan manusia yaitu dengan melakukan apa yang menjadi panggilannya di dunia ini. Paulus berkata siapa yang tidak bekerja janganlah ia makan (2 Tes. 3:10). Dalam setiap jerih payah yang manusia lakukan pastilah ada keuntungan yang didapatkan untuk mencukupi kebutuhan manusia (Ams. 14:23). Namun, cara kedua ini sering kali menjadi budak kapitalisme yang memberhalakan pekerjaan untuk mencapai ambisi pribadi. Cara hidup yang ketiga merupakan cara hidup seorang yang telah mengenal Kristus, yaitu bekerja untuk memberi. Diri ini tidak lagi menjadi fokus, tetapi kehendak Allahlah yang menjadi tujuan utama hidup. Panggilan untuk menjadi terang dan garam dunia, perintah untuk mengasihi sesama manusia, perintah untuk tidak khawatir tetapi menyerahkan segalanya kepada Bapa yang memelihara diri ini. Perintah untuk “Jangan seorang pun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain” (1 Kor. 10:24).

Memberi Bantuan

Saat kita memiliki Tuhan yang begitu berharga di dalam hidup ini, tidak ada harta benda yang dapat mengalahkan kekayaan dan kemuliaan-Nya. Saat kita menyembah Tuhan di dalam segala segi kehidupan kita, seperti yang dikatakan Abraham Kuyper, tidak ada satu inci pun dari kehidupan kita yang tidak dimiliki oleh Allah, termasuk harta benda hasil jerih payah yang kita miliki. Karena itu setiap harta yang kita pakai, baiklah dipakai oleh Tuhan, bukan hanya dipakai bagi Tuhan. Apa yang Tuhan kehendaki dari harta yang kita hasilkan? Tuhan menghendaki kita semakin memper-Tuhan-kan Dia melaluinya, semakin berani menjalankan perintah-Nya, semakin rela memberikan diri untuk dipakai sebagai alat-Nya, semakin berani dan rela untuk memberi bagi mereka yang berkekurangan karena Tuhan menginginkannya.

Mungkin beberapa dari kita enggan memberi sedekah kepada pengemis di jalan karena beranggapan bahwa mereka hanyalah organisasi terstruktur yang mempermainkan empati manusia untuk mendapatkan uang. Bagaimanakah kita seharusnya memberi? Pada era John Calvin, bantuan diberikan untuk memungkinkan mereka memiliki cara hidup yang benar di hadapan Tuhan. Bantuan haruslah diberikan untuk memungkinkan seorang manusia hidup sebagai gambar dan rupa Allah. Seseorang manusia harus mampu hidup memenuhi panggilannya untuk bekerja dan mencukupi kebutuhan hidupnya. Tujuan ini diwujudkan dengan memberikan pelatihan keterampilan agar mereka dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka. Hal ini dilakukan dengan mengomunikasikan tujuan yang jelas sebelum memberikan bantuan tersebut. Pelayanan lainnya yang dilakukan termasuk melayani orang-orang yang sakit, merawat anak-anak mereka yang tidak mendapat perawatan yang layak, serta pelayanan bagi para janda.

"Dengan melihat kerelaan Kristus berkorban di atas kayu salib manusia mendapat kekuatan untuk berbelaskasihan terhadap sesamanya."

Facebook Telegram Twitter WhatsApp

Setiap bantuan yang diberikan merupakan sebuah kesempatan untuk memperkenalkan Kristus kepada manusia, kesempatan untuk memperbaiki kebobrokan moral yang sudah terlalu menyedihkan, kesempatan untuk mengurangi krisis kemanusiaan di tengah masyarakat yang telah buta terhadap kebenaran, kesempatan membawa manusia kembali hidup sebagai gambar dan rupa Allah di hadapan Sang Pencipta, karena itu hendaklah setiap bantuan diberikan dengan semangat pelayanan yang tulus serta motivasi untuk memuliakan Tuhan lewat apa yang kita lakukan.

Memberi tidaklah terbatas dalam bentuk materi, memberikan waktu, pikiran, perhatian, bahkan sebatas senyuman kepada mereka merupakan sebuah pemberian yang sungguh berarti bagi mereka yang membutuhkannya. Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang (Ams. 16:24). Manusia tidak hanya membutuhkan roti untuk bertahan hidup, mereka juga membutuhkan Injil untuk dapat hidup di dalam kebenaran, untuk mengenal kekekalan. Karena itu sekadar bantuan materi tidaklah cukup, jika tidak mencapai tujuan akhir seperti dibahas di atas.

Memberi bantuan materi tanpa memberikan sentuhan kemanusiaan sama halnya seperti orang tua yang bekerja menafkahi anaknya, tetapi terlalu sibuk untuk menyisihkan waktu untuk memberi perhatian kepada anaknya. Anak ini akan tumbuh sehat secara jasmani, tetapi tidak secara rohani. Sama seperti orang-orang yang sekadar menerima bantuan materi, mungkin mereka akan sehat secara finansial, tetapi mereka tetap mengalami kerusakan moral.

Terdapat begitu banyak permasalahan sosial di sekitar kita, terdapat pula kerusakan moral yang begitu serius tetapi tidak jarang terlewatkan oleh kebanyakan orang. Yohanes 12:8 dengan jelas mengatakan bahwa orang miskin akan terus bersama dengan kita. Inilah bagian dari kehidupan yang kita semua harus pertanggungjawabkan juga di hadapan-Nya. Menjadikan diri kita berkat rohani maupun jasmani secara simultan adalah langkah yang paling tepat dan harus kita jalankan. John Calvin adalah contoh dari seorang yang menjalankan panggilan hidupnya dan menjadi berkat baik rohani maupun jasmani.

Marilah kita menghidupi panggilan hidup ini sebagai garam yang mencegah terjadinya kebusukan di dalam setiap manusia ciptaan Tuhan di sekitar kita, marilah kita menghidupi panggilan hidup sebagai terang yang membawa cahaya kebenaran ke dalam kehidupan mereka yang telah dibutakan oleh kekayaan duniawi. Marilah kita memperkenalkan kasih Kristus yang melimpah dengan membagikannya kepada gambar dan rupa Allah yang kita temui, marilah kita memberitakan Sang Kebenaran melalui setiap inci dari kehidupan kita di dunia ini.

Audio: Kekristenan dan Kesejahteraan Sosial

Sumber Artikel: 
Diambil dari:
Nama situs : Buletin Pillar
Alamat Situs : http://www.buletinpillar.org/artikel/kekristenan-dan-kesejahteraan-sosial
Judul asli artikel : Kekristenan dan Kesejahteraan Sosial
Penulis artikel : Steffie Jessica

Pembuat Sepatu

Penulis_artikel: 
Les Lanphere
Tanggal_artikel: 
16 Agustus 2018
Isi_artikel: 

Seorang yang baru saja menjadi Kristen berlari mengejar Martin Luther dengan semangat dan bertanya kepadanya tentang apa yang harus dia lakukan sekarang dengan hidupnya yang telah ditebus. Dia membayangkan akan mendapatkan jawaban yang akan membuat dirinya memakai jubah biarawan atau membagikan anggur kepada jemaat yang menerima komuni.

Luther bertanya kepadanya, “Apa pekerjaanmu saat ini?”

“Saya pembuat sepatu.”

Luther menjawab, “Kalau begitu, buatlah sepatu yang bagus, dan juallah dengan harga yang pantas.”

Pembuat sepatu

Ini adalah kisah terkenal yang menjelaskan indahnya doktrin reformed tentang pekerjaan. Anda lihat, sebelum reformasi Protestan, seorang rohaniwan tidak hanya dihormati oleh manusia, tetapi juga dianggap memiliki keuntungan rohani di hadapan Allah. Jika kebenaran diibaratkan sebagai sebuah tangga, menjadi seorang imam adalah anak tangga yang dekat ujung atas, dan pembuat sepatu rendahan mungkin masih berdiri di tanah.

Ketika keindahan Injil ditunjukkan pada abad ke-16, memiliki karier yang baik di dunia diakui sebagai hal yang tidak kurang menyenangkan di hadapan Tuhan dibandingkan menjadi seorang pendeta. Anda bisa menjadi petugas pajak, membersihkan toilet, atau membuat sepatu, dan tetap dengan sempurna dibenarkan di hadapan Allah melalui iman dalam Kristus. Apa pun posisi tempat Tuhan menempatkan Anda harus digunakan untuk menghormati Dia dan melayani sesama Anda.

Pembuat sepatu tidak harus selalu membuat sandal seperti yang dipakai oleh Yesus. Dia tidak perlu membubuhkan cap bentuk salib di setiap sisi sepatu untuk menyucikannya. Bahkan, dia tidak perlu menulis Yohanes 3:16 di dalam lidah sepatu supaya orang-orang yang memakainya secara diam-diam membawa firman Allah. Dia dipanggil untuk menghidupi kehidupannya, bekerja keras dan jujur, dan melakukannya bagi kemuliaan Allah.

“Kamu telah ditebus dengan harga lunas, karena itu janganlah kamu menjadi budak manusia. Saudara-saudara, hendaklah setiap orang tetap tinggal bersama Allah, dalam keadaan ketika ia dipanggil.” (1 Kor. 7:24)

Kata “R”

Luther menyuruh si pembuat sepatu melakukan pekerjaannya sedemikian rupa sehingga menyenangkan Allah dan melayani sesamanya. Buatlah produk yang terbaik dan juallah dengan harga yang pantas. Ini termasuk bersentuhan dengan teknologi sepatu dan teknik membuat sepatu yang baru. Orang Kristen bertanggung jawab untuk hadir di pasar tempat dia melayani. Jika dia tidak memperhatikan tren sepatu, selambat apa pun tren itu berkembang saat itu, bisnisnya akan rugi, dan dia akan gagal untuk mengikuti perintah Luther. Pada zaman modern, kita mungkin bisa mengatakan bahwa si pembuat sepatu, dalam beberapa hal, diminta untuk tetap “relevan” dengan industrinya.

Ya. Saya menggunakan kata yang tercela itu, dan suara gaduh yang Anda dengar adalah suara dari 10.000 blogger sesama orang Kristen yang secara bersamaan memutar mata untuk menunjukkan ketidaksukaan mereka. Bagaimanapun, ini adalah blog teologi reformed, dan kata “relevan” adalah kata yang memalukan dalam dunia kecil kita. Mengapa? Sebab, kata itu telah disalahgunakan.

Ada penggunaan kata "relevan" di kalangan Kristen Injili yang berarti sesuatu yang sama dengan menarik ulur pesan dan praktik kekristenan sampai terlihat dan terasa seperti budaya di sekitar kita. Karena Injil adalah benar dan bermakna terlepas dari ruang dan waktu, lanjut pemikiran itu, Injil bisa dilihat dan dirasakan benar di rumah, di klub hiburan malam, atau di jalanan pinggir kota.

Relevan

Ini benar, tetapi hanya sebagian. Injil itu benar dan bermakna untuk semua wilayah kehidupan, tetapi hanya sejauh saat Injil itu dikomunikasikan sebagaimana seharusnya. Apakah budaya ini menuruti dosa dan membutuhkan penebusan dan pengajaran tentang kekudusan? Sempurna, kita mendapatkan hal yang tepat. Injil bersifat objektif, dan tidak terentang serta berkembang terhadap hal-hal di sekitarnya. Injil bersifat universal karena dosa dan nilai manusia bersifat universal, dan Injil adalah satu-satunya solusi. Satu-satunya pemahaman untuk pernyataan kekristenan “relevan secara budaya” adalah bahwa firman Allah yang tidak berubah adalah selalu dan satu-satunya alat yang membawa keselamatan apa pun batasan kulturalnya.

Kita tidak dipanggil untuk menjadikan kekristenan relevan melalui penemuan manusia. Kita membiarkan kekristenan seperti ketika itu disampaikan kepada kita, sebagai hal sempurna, yang cukup untuk mendakwa dan menyelamatkan orang-orang berdosa, lalu mengajar mereka untuk menjalani hidup yang kudus.

Jadi, Injil tidak berubah. Akan tetapi, budaya berubah. Dunia tempat pekerjaan kita dilakukan selalu berubah sehingga kita harus selalu memperhatikannya. Dalam pengertian ini, menjadi relevan bagi dunia itu baik dan perlu. Bukan relevan secara religius, tetapi relevan dalam pekerjaan, sambil membawa Injil yang murni bersama dengan kita.

Apa pun posisi tempat Tuhan menempatkan Anda harus digunakan untuk menghormati Dia dan melayani sesama Anda.

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Misalnya, saya seorang perancang desain, dan saya juga bekerja dalam industri film. Agar menjadi sukses dalam industri saya, saya harus mengikuti tren. Mungkin lebih daripada yang dilakukan si pembuat sepatu, saya perlu melihat apa yang sudah dikerjakan baru-baru ini dalam dunia desain, apa yang terjadi dalam industri film, tren apa yang digunakan dalam efek visual, dst.. Sebagai seorang suami dan ayah, yang diberi talenta dan gairah tertentu, saya bertanggung jawab untuk bekerja keras dan secara aktif mengasah keterampilan saya. Jika tidak, saya akan menjadi tidak relevan dengan industri saya, menghasilkan sedikit uang, dan mungkin kehilangan pekerjaan saya sekaligus.

Tentu saja, kecermatan harus digunakan dan standar alkitabiah harus diterapkan dalam kehidupan kita di lingkungan sosial. Bagaimanapun, kita adalah orang Kristen, dan kita harusnya paling dikenali melalui gaya hidup kita yang unik dan saleh.

Jika Anda Tetap Relevan, Gereja Tersebar Luas

Tetap relevan secara budaya sebenarnya merupakan bagian yang sangat penting dari kebebasan alkitabiah yang indah ketika kita harus menjadi garam dan terang dunia. Bukan dengan membuat Injil menjadi relevan, tetapi dengan menghidupi doktrin tentang pekerjaan dengan baik. Melakukan pekerjaan yang baik, dan dengan jujur. Mengasihi dan melayani sesama Anda sambil menghormati Allah. Gagal memahami dunia pekerjaan yang harus dilakukan secara jelas merupakan penatalayanan yang buruk dari pekerjaan yang menjadi panggilan Allah untuk Anda.

“Janganlah menjadi sama dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,” (Roma 12:2a)

Memahami dan berinteraksi dengan dunia bukanlah sesuatu yang memalukan selama Anda tidak hidup dalam dosa atau menyukai apa yang dibenci oleh Allah. Panggilan seorang Kristen adalah benar-benar hidup di dalam dunia, tetapi tidak menjadi sama dengan dunia.

Tidak serupa dunia

Mengajarkan bahwa menjadi relevan secara budaya adalah hal yang tidak saleh dalam cara tertentu berarti anti-reformed karena itu merendahkan seluruh doktrin tentang pekerjaan. Ini merupakan sebuah tindakan yang melampaui batas bagi mereka yang ingin menyesuaikan kekristenan dengan kebudayaan. Pada intinya, penolakan mentah-mentah atas “relevansi” mengomunikasikan bahwa kecuali Anda menjalani setiap detik kehidupan Anda mempelajari Kitab Suci, mendengar dan mempersiapkan khotbah, atau melayani gereja, maka Anda tidak menyenangkan Allah. Mempelajari budaya itu buruk. Mencari tahu cara untuk menjual produk Anda itu buruk. Memahami tren itu buruk. Hal-hal ini secara tidak kentara berarti kembali ke sistem tangga kependetaan itu.

Sangat mudah untuk mengatakan bahwa gereja itu baik dan dunia itu buruk. Yang lebih sulit, dan membutuhkan pemikiran serta pemilahan secara cermat, adalah untuk mengetahui bagaimana seharusnya kita berada di dunia, tetapi bukan berasal dari dunia.

Pembuat sepatu itu relevan secara budaya, dan Allah berkenan kepadanya. (t/Jing-Jing)

Pembuat Sepatu

Diterjemahkan dari:
Nama Situs : Reformedpub.com
Alamat situs : http://reformedpub.com/cultural-relevance-and-the-doctrine-of-vocation/
Judul asli artikel : Cultural Relevance and The Doctrine of Vocation
Penulis artikel : Les Lanphere
Tanggal akses : 16 Agustus 2018

Komentar


Syndicate content