Memperingati HUT e-Reformed ke-14 dan Hari Reformasi Gereja

Dua hari ini adalah hari yang bersejarah bagi e-Reformed.
Pada tgl 30 Oktober ini e-Reformed berulang tahun yang ke-14, dan besok tgl 31 Oktober adalah Hari Reformasi Gereja. Dalam rangka memperingati kedua hari bersejarah ini, kami membagikan sebuah artikel yang bertujuan untuk menyegarkan kita kembali akan prinsip-prinsip reformed yang dirumuskan oleh Martin Luther di dalam Lima Sola. Berharap artikel ini dapat menjadi berkat dan membangkitkan semangat reformasi bagi kita semua.

Selamat Ulang Tahun e-Reformed yang ke-14! Soli Deo Gloria!

HUT e-Reformed ke-14 dan Hari Reformasi Gereja : Mengingat Lima Sola

Hari ini adalah Hari Ulang Tahun e-Reformed ke-14 dan besok adalah Hari Reformasi Gereja. Kami redaksi e-Reformed mengucap syukur atas penyertaan Tuhan sejak 1517, Martin Luther, John Calvin, dan tokoh-tokoh reformasi lainnya memperjuangkan kebenaran di tengah kesesatan gereja pada masa itu, hingga hari ini perjuangan tersebut masih boleh diperingati sebagai Hari Reformasi Gereja tgl 31 Oktober. Gerakan Reformed inilah yang juga menjadi dasar lahirnya publikasi e-reformed tgl 30 Oktober 1999. selengkapnya...»

PERAYAAN 15 TAHUN SABDA

SABDA adalah Firman-NYA, dan Visi Biblical Computing bagi Indonesia, dan singkatan dari: Software Alkitab, Biblika, Dan Alat-Alat!!
PERAYAAN 15 TAHUN SABDA
(1994 -- 2009)

Merayakan kebaikan Tuhan adalah keharusan bagi orang-orang yang mengasihi Tuhan, demikian juga bagi Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Tahun 1994 adalah tahun istimewa karena walaupun organisasi YLSA belum lahir (akta resmi tahun 1995) tapi benih visi pelayanan YLSA dalam bidang "Biblical Computing" telah diberikan Tuhan kepada pendiri YLSA pada awal tahun itu. Dengan ditandai oleh hadirnya produk pertama pada bulan Oktober 1994, yaitu modul teks digital Alkitab TB dan BIS dari LAI yang dikerjakan untuk proyek OnLine Bible -- maka sejak itu YLSA dengan setia menjalankan visi "Biblical Computing" yang Tuhan taruh dalam hati kami. Tahun 2009 bulan Oktober menjadi peringatan 15 tahun sejak benih visi YLSA itu ditanamkan dan akhirnya menjelma menjadi SABDA, software Alkitab lengkap pertama dalam bahasa Indonesia yang sampai sekarang menjadi alat tercanggih yang sangat berguna untuk mempelajari Alkitab. Puji Tuhan! selengkapnya...»

Welcome Letter Situs SOTeRI


Selamat datang di Situs SOTeRI!

Doa dan harapan kami, bahan-bahan yang terdapat dalam situs ini dapat memberikan wawasan tentang corak pemahaman teologia Reformed yang alkitabiah. Biarlah dengan memiliki pengajaran Alkitab yang benar maka hidup kerohanian kita juga semakin berbuah dan memberikan kemuliaan hanya bagi Tuhan saja.

Soli Deo gloria!

Anugerah Ditegaskan Melalui Perjanjian Lama

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Banyak orang Kristen yang tidak suka membaca kitab-kitab Perjanjian Lama dengan alasan bahwa Perjanjian Lama hanya untuk orang Israel. Oleh karena itu, orang Kristen hanya tahu tentang isi Perjanjian Baru dan tidak memperhatikan Perjanjian Lama. Alhasil, pemahaman orang Kristen terhadap keselamatan dalam Yesus Kristus menjadi sangat tidak lengkap, bahkan mungkin bisa salah. Seluruh dasar rencana keselamatan Allah justru didasarkan dari Perjanjian Lama, khususnya melalui hukum-hukum-Nya. Kalau tidak mempelajari Perjanjian Lama dengan baik, orang Kristen tidak melihat adanya konsep anugerah yang solid dalam Perjanjian Lama. Melalui hukum-hukum-Nya, terutama Hukum Taurat, kita bisa melihat sifat-sifat Allah yang sempurna. Mengapa bisa demikian? Silakan temukan jawabannya dalam artikel berikut ini.

Saudara yang terkasih, mari kita belajar tentang anugerah Allah dalam Perjanjian Lama melalui sajian publikasi e-Reformed ini. Biarlah Allah yang Pribadi dan yang telah berinisiatif untuk melimpahkan anugerah-Nya berkenan menyatakan diri-Nya secara lengkap kepada kita. Soli Deo Gloria!

Amidya

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Amidya

Edisi: 
Edisi 192/September 2017
Isi: 

ARTIKEL Anugerah Ditegaskan Melalui Perjanjian Lama

Bacaan: Galatia 3:6-29

Pengantar

Ulaslah perbedaan antara pesan Paulus dan penganut Yudaisme. Mengapa orang Yahudi begitu berhasil menyesatkan orang Kristen di Galatia? Sebagian dari jawabannya adalah karena sepertinya Perjanjian Lama sejalan dengan mereka dan bukan dengan Paulus.

Penyataan Allah

Perjanjian Lama memberi penekanan besar pada Hukum Allah. Empat dari lima kitab pertama di Perjanjian Lama berfokus pada Hukum Taurat, dan sebagian besar Perjanjian Lama lainnya berfokus pada bagaimana Allah memberkati Israel karena ketaatan mereka terhadap Hukum Taurat, atau menghukum mereka karena ketidaktaatan mereka. Mengapa Allah begitu menekankan hal ini jika mematuhi Hukum Allah tidak penting bagi keselamatan kita?

Hukum Taurat sebenarnya menyatakan "Lakukan ini dan hiduplah" (Imamat 18:5) -- yang setidaknya menyiratkan bahwa kita dapat memperoleh penerimaan Allah dengan mematuhi Hukum-Nya.

Jadi, Paulus harus menunjukkan dari Perjanjian Lama bahwa Tuhan selalu menerima orang oleh anugerah melalui iman saja dan bukan dengan perbuatan. Dan, dia harus menjelaskan mengapa Allah memberikan Hukum Taurat jika Dia tidak menginginkannya menjadi sarana untuk mendapatkan penerimaan-Nya. Inilah yang dilakukannya dalam Galatia 3:6-24. Ini adalah bagian yang sangat rumit -- dipenuhi dengan kutipan Perjanjian Lama dan kiasan mengenai prinsip-prinsip Perjanjian Lama yang tidak kita kenal. Kita tidak punya waktu untuk memeriksanya secara rinci -- tetapi kita bisa mendapatkan pokok-pokok argumen Paulus. Dia menjawab dua pertanyaan penting dalam bagian ini.

1. "Bagaimana orang mendapatkan penerimaan Allah di masa Perjanjian Lama?" (Galatia 3:6-14)

Bacalah Galatia 3:6-14. Apakah Anda melihat apa yang tadi saya maksud dengan "rumit"? Namun, poin utamanya cukup mudah dimengerti.

Allah selalu menerima orang melalui iman dan bukan perbuatan. Paulus membuktikan hal ini dengan dua cara:

  • Allah menerima Abraham atas dasar imannya. Abraham adalah bapa bangsa Yahudi. Jika Allah menerima Abraham oleh iman, tentu hal ini adalah contoh bagaimana Dia menerima orang-orang lain. Dan, Perjanjian Lama sangat jelas mengenai masalah ini.
  • Allah telah berjanji kepada Abraham (Kejadian 12:1-3) bahwa Dia akan membuat keturunan Abraham menjadi bangsa yang besar. Namun, Abraham telah berumur 75 tahun, sementara istrinya, Sara, berusia 65 (pasca menopause) serta mandul. Baca Kejadian 15:1-5 -- Allah mengulangi kembali janji-Nya. Kejadian 15:6a -- Abraham menaruh imannya kepada janji Allah. Dia tidak mengerjakan apa pun. Kejadian 15:6b -- Allah "memperhitungkannya sebagai orang benar karena imannya." (JANJI >> IMAN (SAJA) >> DITERIMA)

Apa yang tersirat oleh teladan Abraham secara tegas dinyatakan oleh Allah melalui nabi Habakuk (Galatia 3:11; Habakuk 2:4) -- setiap orang dibenarkan di hadapan Allah oleh iman.

Allah tidak pernah menerima siapa pun melalui perbuatan. Ya, Hukum Taurat mengajarkan "Lakukanlah ini (yaitu, melakukan Hukum Taurat) dan kamu akan hidup" (Galatia 3:12; Imamat 18:5). Namun, itu ternyata hanya sebuah kemungkinan teoritis -- bukan sesuatu yang bisa dicapai siapa pun. Mengapa? Sebab, Hukum Taurat itu sendiri menyatakan bahwa Allah menuntut ketaatan sempurna atas semua hukum-Nya, dan bahwa setiap ketidaktaatan menjadikan seseorang ada di bawah penghukuman/kutukan Allah (Galatia 3:10, 11a; Ulangan 27:26). Karena standar yang sempurna ini, satu-satunya hal yang diberikan Hukum Taurat kepada seseorang adalah kutukan Allah!

Inilah sebabnya Yesus datang -- untuk menyelamatkan kita dari kutuk Hukum Taurat dengan mengutuk diri-Nya sendiri (Galatia 3:13). Ya, Hukum Taurat tersebut dengan tegas menyatakan bahwa penjahat besar (dilempari batu dan kemudian digantung) berada di bawah penghukuman Allah (Ulangan 21:23). Ya, fakta bahwa Yesus "digantung" membuktikan bahwa ia berada di bawah penghukuman Allah. Akan tetapi, Dia dikutuk oleh Tuhan bukan karena dosa-dosa-Nya sendiri, melainkan karena Dia dengan sukarela mengambil penghukuman kita untuk diri-Nya sendiri. Dengan melakukannya, Dia memenuhi sistem pengorbanan dalam Perjanjian Lama (di mana Allah menyediakan pengganti yang tidak bersalah, kematian-Nya membayar dosa-dosa kita) dan juga nubuat dalam Yesaya 53 (baca Yesaya 53:4b, 5a, 6b).

Jadi, pesan Paulus sejalan -- tidak bertentangan -- dengan Perjanjian Lama! Orang-orang dalam Perjanjian Lama tidak pernah bisa mendapatkan penerimaan Allah dengan mematuhi Hukum Taurat-Nya. Sebaliknya, orang-orang di Perjanjian Lama mendapatkan penerimaan Allah dengan cara yang sama seperti sekarang -- dengan hanya memercayai janji Allah. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa mereka menaruh kepercayaan mereka pada janji Allah sebelum Dia memenuhinya melalui kematian Yesus (dibantu dengan keadaan dan nubuat), sementara kita menaruh kepercayaan kita kepada janji Allah setelah Dia memenuhinya dalam sejarah.

2. "Mengapa Tuhan memberikan Hukum Taurat?" (Galatia 3:15-24)

Musa dan Dua Loh Batu

Hal ini menimbulkan pertanyaan yang jelas, bukan? Jika Allah tidak memberikan Hukum Taurat sebagai sarana untuk memperoleh penerimaan-Nya, mengapa Ia memberikannya? Paulus menjawab pertanyaan ini dengan dua cara:

  • Bacalah Galatia 3:15-18. Ada beberapa bahasa yang rumit di sini (Galatia 3:16 adalah poin argumen yang diilhamkan!), tetapi pokok utamanya jelas.

Dalam hukum Romawi, begitu seseorang menunjuk ahli warisnya sesuai kehendaknya dan mengesahkannya, hal itu tidak dapat diubah oleh kondisi apa pun. Mereka bisa masuk ke dalam pengaturan hukum lain dengan ahli warisnya untuk tujuan yang berbeda -- tetapi pengaturan itu tidak dapat mengubah warisan mereka. Dengan cara yang sama, Paulus mengatakan, Allah memberikan janji-Nya untuk menerima orang melalui iman jauh sebelum Dia memberikan Hukum Taurat (Kejadian 15:6). Oleh karena itu, apa pun tujuan-Nya atas Hukum Taurat, hal tersebut tidak mungkin dimaksudkan untuk mengubah landasan cara-Nya menerima orang -- karena janji Allah tidak dapat diubah.

Ini sangat ironis. Kaum Yudaisme mengatakan bahwa pesan Paulus tidak mungkin benar karena itu berarti bahwa Tuhan berubah pikiran tentang bagaimana menerima orang. Sebenarnya, Paulus mengatakan, pesan Yudaismelah yang mengubah pikiran-Nya, bukan Tuhan!

Lalu, mengapa Allah memberikan Hukum Taurat?

  • Bacalah Galatia 3:19-24. Ada lebih banyak pokok argumen yang diilhamkan di sini, tetapi sekali lagi, intinya jelas. Allah memberikan Hukum Taurat, bukan untuk menjadi sarana penerimaan Allah, melainkan untuk meyakinkan kita mengenai adanya kebutuhan akan iman kepada Kristus dengan menyingkapkan dosa dan kesalahan kita.

Masalah terbesar kita bukanlah dosa/pelanggaran kita -- Allah telah memberikan solusi untuk hal ini melalui Yesus. Masalahnya adalah kecenderungan terdalam kita untuk tidak mengakui bahwa kita membutuhkan solusi dari Allah. Ini seperti yang dokter sebut sebagai "penyangkalan". Seorang pasien sakit parah, tetapi dokter memiliki pengobatan untuk menyembuhkan pasien. Masalahnya, si pasien berada dalam penyangkalan. Jadi, sebelum pasien itu mau menerima pengobatan, dokter harus terlebih dahulu meyakinkannya bahwa dia membutuhkannya. Bagaimana dokter bisa melakukan ini? Dengan menunjukkan kepadanya bukti penyakitnya, dengan menunjukkan kepadanya kasus yang terjadi pada orang-orang yang menolak pengobatan, dst..

Dengan cara yang sama, Allah menggunakan Hukum Taurat untuk menerobos penyangkalan kita atas pelanggaran radikal kita sehingga kita mau menerima pengampunan-Nya melalui Yesus. Paulus menjelaskan bagaimana Hukum Taurat memenuhi tujuan ini (bagi Israel secara historis, dan bagi kita masing-masing) dalam tiga cara:

1. Hukum Taurat "menunjukkan kepada manusia dosa-dosa mereka" (Galatia 3:19). Hukum Taurat memberikan gambaran objektif tentang kebenaran sempurna Allah dan bagaimana kita melanggarnya. Hukum Taurat itu seperti X-Ray atau tes darah. Mereka tidak menyembuhkan kita -- mereka menyingkapkan masalah yang membutuhkan penyembuhan Kristus.

2. Hukum Taurat "menempatkan kita di bawah pengawasan sebagai tahanan" (Galatia 3:22, 23). Hukum Taurat tidak hanya mendakwa dosa dan kesalahan kita -- juga membuat kita tetap berada dalam tahanan sebagai terdakwa penjahat yang menunggu penghakiman Allah.

3. Hukum Taurat "adalah penjaga kita" (Galatia 3:24). Ini adalah terjemahan yang buruk. Seorang "penjaga" (paidagogos) adalah "pengawas-anak" -- seorang pendisiplin yang keras, seperti pengasuh super ketat, yang pergi ke mana-mana dengan anak-anak kecil dan menghukum mereka setiap kali mereka tidak taat. Hukum Taurat itu seperti pengasuh super ketat yang selalu menangkap kita dan mengeluarkan deklarasi baru atas kesalahan kita.

Dipahami secara demikian, hukum sangatlah penting. Hukum tidak bisa menyembuhkan kita, tetapi bisa menerobos penyangkalan kita dan meyakinkan bahwa kita sakit dan perlu disembuhkan oleh dokter. Hukum tidak bisa menyelamatkan kita, tetapi bisa menerobos kebenaran diri sendiri dan meyakinkan kita bahwa kita membutuhkan keselamatan dari Allah.

Iman dalam Kristus

Apa yang terjadi bila Anda meletakkan iman Anda dalam Kristus?

Begitu Hukum Taurat membawa Anda menuju iman dalam Kristus, lalu apa? Kemudian, Anda menjadi manusia baru! Paulus menjelaskan tiga perubahan besar yang terjadi saat Anda menerima Kristus.

  • Bacalah Galatia 3:25-27. Iman kepada Kristus membuat Anda dibenarkan di hadapan Allah. Anda tidak lagi berada di bawah Hukum Taurat untuk mengingatkan akan kesalahan Anda -- sekarang, Anda adalah anak Allah secara penuh dan sepenuhnya benar di hadapan Allah. Dalam masyarakat Romawi, ketika seorang anak laki-laki menjadi dewasa, dia menyingkirkan pengawas anaknya dan mengenakan toga baru yang menandakan status barunya. Demikian juga, ketika Anda menerima Kristus, Anda menyisihkan Hukum Taurat sebagai penjaga Anda dan "mengenakan" kebenaran Kristus di hadapan Allah. Ini memberi Anda kepercayaan akan hubungan Anda dengan Tuhan (Efesus 12:12) -- karena penerimaan Anda tidak bergantung pada kebenaran Anda, melainkan pada kebenaran Kristus.
  • Bacalah Galatia 3:28. Iman kepada Kristus tidak hanya membuat Anda menjadi anak Allah -- iman juga membuat Anda menjadi anggota keluarga Allah yang setara. Di dunia orang didefinisikan oleh ras, status sosial ekonomi, dan jenis kelamin mereka. Karena itu, dahulu (masih sampai sekarang) pernyataan di atas dianggap revolusioner. Rabi-rabi Yahudi berdoa, "Saya bersyukur kepada-Mu, Allah, bahwa Engkau tidak menjadikanku seorang yang bukan Yahudi, seorang budak, atau seorang wanita." Di luar Kristus, orang memiliki identitas mereka berdasarkan ras, status sosial ekonomi, dan jenis kelamin -– serta (secara salah) merasa lebih tinggi atau lebih rendah daripada orang lain atas dasar ini. Akan tetapi, Paulus mengatakan bahwa meskipun perbedaan itu nyata, hal tersebut tidak penting bagi Allah. Apakah Anda berasal dari latar belakang yang istimewa? Anda tetap orang berdosa yang diselamatkan hanya oleh anugerah Allah. Apakah Anda dulunya tertindas? Anda sekarang memiliki martabat yang tinggi sebagai anak Allah. Ini memberi kita dasar bagi komunitas yang sesungguhnya -- kesempatan untuk membangun persahabatan rohani yang mengubah hidup berdasarkan kesamaan hubungan kita dengan Kristus.
  • Bacalah Galatia 3:29, iman kepada Kristus juga memberi Anda peran penting dalam sejarah. Menjadi anak Abraham dan pewaris janji Allah berarti bahwa Anda telah menjadi bagian dari rencana panjang yang telah berlangsung selama berabad-abad untuk menyelamatkan umat manusia yang hancur. Hidup Anda sekarang memiliki tujuan yang mulia dan terhormat (untuk membantu orang lain datang kepada Kristus dan menjadi dewasa dalam Dia), dan Anda memiliki peran unik untuk dimainkan dalam tujuan itu. Anda tidak lagi perlu berkeliaran tanpa tujuan, atau mencoba menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa menghasilkan lebih banyak uang (atau membeli mobil lebih bagus atau liburan lebih baik atau mendapatkan gelar lain, dll.) layak untuk dijalani. Anda bisa hidup bagi Allah dan bagi tujuan-Nya -- dan ini akan memberi arti dan makna hidup Anda yang sebenarnya!

Saya dapat mengatakan bahwa menaruh iman saya pada Kristus telah membawa ketiga perubahan ini dalam hidup saya. Saya diterima oleh Allah, yang memberi saya rasa aman yang mendalam. Saya memiliki kesetaraan dan persatuan yang nyata dengan saudara-saudari saya di dalam Kristus, yang memberi saya komunitas sesungguhnya. Dan, saya memiliki peranan unik dalam rencana Allah, yang mengisi hidup saya dengan hal yang benar-benar penting. Allah berkata, "Barangsiapa yang percaya kepada-Ku tidak akan kecewa." Saya telah mengalami pemenuhan janji itu. Dan Anda juga bisa.

Sebenarnya, ada beberapa jawaban untuk pertanyaan ini. Allah memberikan Hukum Taurat untuk mengungkapkan karakter moral-Nya dan kehendak moral-Nya untuk hidup kita. Dia memberikannya untuk menyediakan gambaran tentang kematian penebusan Kristus di masa depan. Dia memberikannya untuk menyediakan kondisi bagi Israel untuk bisa tinggal di tanah Kanaan. Dia memberikannya untuk menyediakan sebuah pemerintahan sipil bagi orang Israel. Di sinilah Paulus menjelaskan tujuan Hukum Allah secara khusus sehubungan dengan bagaimana kita mendapatkan penerimaan-Nya. (t/Jing-Jing)

Audio Anugerah Dinyatakan

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Xenos Christian Fellowship
Alamat situs : http://www.xenos.org/teachings/?teaching=1313
Judul asli artikel : Grace Confirmed By the Old Testament
Penulis artikel : Gary DeLashmutt
Tanggal akses : 26 April 2017

Kebebasan Kristen

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Kebebasan adalah privilege yang Tuhan berikan kepada manusia, yang membuat manusia memiliki kehendak bebas untuk mencipta, merasa, dan berkarya. Namun, dalam praktiknya, kebebasan itulah yang justru menjerumuskan manusia ke dalam kejatuhan. Mengapa manusia sering salah mengerti tentang arti kebebasan?

Banyak orang mengidamkan kebebasan dalam arti yang liar, yaitu sebebas-bebasnya tanpa ikatan atau batasan. Tahukah kita bahwa kebebasan seperti itu justru akan menjerumuskan kita ke pengertian yang salah dan tidak alkitabiah. Melalui artikel yang berjudul "Kebebasan Kristen", yang merupakan refleksi teologis dari kitab 1 Korintus 9:1-6, mari kita belajar tentang arti sesungguhnya dari kebebasan. Selamat membaca. Salam MERDEKA! Tuhan memberkati Indonesia.

Ayub T.

Redaksi Tamu e-Reformed,
Ayub T.

Edisi: 
Edisi 191/Agustus 2017
Isi: 

1 Korintus 9:1-13

Kata kebebasan dalam bahasa Inggris ada dua macam, yaitu freedom dan liberty. Karl Barth lebih suka memakai kata freedom. Kata liberty mempunyai nuansa yang lebih bersifat sekuler. Patung Liberty di New York berasal dari Prancis, yang menghadiahkan patung tersebut dalam semangat revolusi dengan mereka mengangkat slogan egalite (equality/kesejajaran), fraternite (brotherhood/persaudaraan), dan liberte (liberty/kebebasan). Kebebasan maksudnya adalah bebas dari otoritas gereja, agama, dan kekuasaan dari raja atau bangsawan yang tidak mereka sukai. Semboyan ini adalah semboyan humanisme suatu konsep kebebasan yang liar, tanpa ada ikatan apa-apa, tidak dibatasi, dan tidak ada atasan atau otoritas.

Dalam konsep kekristenan, freedom (kebebasan) itu mempunyai batasan; dan kita juga mengatakan bahwa Tuhan pun dalam kebebasan-Nya rela "membatasi" diri. Sebebas-bebasnya Tuhan, tetap tidak mungkin Ia berbuat dosa. Ini berarti Tuhan juga tidak menggunakan kebebasan dalam pengertian bebas melakukan apa saja karena Tuhan tidak mungkin bertindak melawan natur-Nya. Kita percaya bahwa kebebasan ini adalah kebebasan yang rela membatasi diri. Bahkan, Tuhan Yesus turun menjadi manusia merupakan suatu ekspresi kebebasan yang luar biasa, ketika kita justru menjadi kagum, ketika Allah yang Mahabebas rela membatasi diri. Kebebasan yang tidak bisa membatasi diri bukanlah kebebasan. Dengan kata lain, orang yang demikian sebenarnya terikat. Kalau saya betul-betul mengatakan diri saya adalah orang yang bebas, saya juga bebas untuk membatasi diri -- itu baru dikatakan bebas. Kalau saya tidak mau dibatasi, berarti saya terikat oleh ketidakmauan membatasi diri. Itu adalah suatu hal yang keliru. Kita bisa melihat teladan Yesus Kristus sendiri yang walaupun bebas, rela membatasi diri.

Kebebasan Kristen

Bebas yang rela membatasi diri itulah yang dibahas oleh Rasul Paulus mengenai kebebasan Kristen (Christian freedom). Dalam 1 Korintus 9 tertulis bahwa ia belajar untuk menahan diri dalam kebebasan Kristen yang dimilikinya. 1 Korintus 9:1 berkata, "Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas?" Paulus bukan hanya memiliki pengetahuan, ia bahkan seorang rasul yang mempunyai jangkauan pengetahuan yang lebih luas dan dalam daripada banyak orang di Korintus. Ia mengatakan bahwa ia adalah seorang rasul dan ia juga mempunyai kebebasan. Kebebasan Paulus sebagai seorang rasul sebetulnya lebih dari sekadar kebebasan Kristen biasa karena jika kebebasan itu dikaitkan dengan pengetahuan, ia sesungguhnya sangat bebas.

Pada zaman dahulu, seseorang yang dianggap rasul harus mempunyai pergaulan yang langsung dengan Tuhan Yesus, seperti Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Kapan Paulus melihat Yesus? Pada saat ia dalam perjalanan ke Damsyik. Dalam Surat Galatia dikatakan bahwa Paulus pernah belajar di tanah Arab selama tiga tahun, saat Paulus mempunyai pergaulan yang erat dengan Tuhan (Galatia 1:15-18). Catatan tentang hal ini sangat minim dan kita tidak bisa mengutarakan terlalu banyak, tetapi ia mempunyai hubungan dan pergaulan yang erat dengan Yesus Kristus. Paulus telah melihat Yesus, dan kerasulannya sah -- bukan kerasulan yang dimeteraikan dan diteguhkan oleh manusia, tetapi dipanggil oleh Yesus Kristus sendiri. Akan tetapi, dalam pelayanannya di Korintus, ada sebagian orang yang tidak mengakui kerasulan Paulus. Mereka meragukan dan mempertanyakan apakah Paulus adalah seorang rasul.

1 Korintus 9:2 mengatakan, "Sekalipun bagi orang lain aku bukanlah rasul, tetapi bagi kamu aku adalah rasul." Paulus tidak terpanggil untuk menyatakan keuniversalan kerasulannya. Ini adalah poin yang penting. Ia adalah rasul sejati di hadapan Tuhan, maka di hadapan seluruh dunia ia adalah rasul. Ia tidak terpanggil dan tidak merasa perlu membuktikan bahwa ia benar-benar rasul dan harus diterima oleh seluruh dunia atau oleh mereka yang menolak kerasulannya. Demikian juga dengan kehidupan orang percaya. Meskipun kita sudah hidup benar, mungkin orang lain tidak mengakui kebenaran kehidupan kita sebagai seorang Kristen, mungkin kita dibenci, atau dikatakan fanatik. Itu adalah sesuatu yang wajar. Sebagaimana Tuhan Yesus datang ke dalam dunia, banyak orang tidak menerima Dia sebagai Tuhan. Hanya sebagian kecil yang mengakui Dia sebagai Tuhan. Begitu juga dengan pelayanan Paulus. Hanya sebagian orang yang menganggapnya rasul, dan Paulus memang tidak terpanggil untuk menyatakan dirinya sebagai rasul yang harus diterima oleh setiap orang.

Freedom

Lalu, Paulus berkata, "Sebab hidupmu dalam Tuhan adalah meterai dari kerasulanku" (1 Korintus 9:2). Ini merupakan suatu gambaran yang luar biasa. Paulus menunjuk dengan sangat tepat. Mengapa ia tidak mengacu pada penglihatan yang ia terima secara langsung? Banyak orang mau mengakui kebesaran seorang hamba Tuhan jika hamba Tuhan itu mengatakan ia sudah banyak mendapatkan penglihatan dari Tuhan dan bisa melakukan mukjizat yang orang lain tidak bisa. Pada zaman ini, hal ini sering dianggap sebagai validitas seorang hamba Tuhan. Paulus mempunyai banyak alasan untuk mengacu kepada hal tersebut. Ia telah mendapatkan penglihatan yang khusus dari Tuhan pada saat ia dalam perjalanan ke Damsyik, dan juga pembentukan dari Tuhan selama tiga tahun di tanah Arab. Ini merupakan suatu pergaulan yang indah dengan Tuhan, tetapi Paulus tidak mengacu kepada hal itu. Ia tidak berargumentasi dengan menggunakan hal-hal tersebut karena itu bukan kebanggaannya. Paulus tidak menggunakan hak istimewa tersebut karena bagi Paulus kemegahan kerasulannya adalah jemaat Korintus. Ini merupakan suatu hal yang sangat menarik.

Mengapa Paulus mengacu kepada jemaat Korintus, bukan mengacu kepada kekhususan hubungannya dengan Tuhan? Paulus ingin kemegahannya dibangun dengan benar. Kemegahan yang sesungguhnya adalah pelayanannya yang dikerjakan pada orang-orang Korintus. Ketika orang-orang Korintus mendengar hal tersebut, mereka tidak bisa berdalih lebih lanjut lagi. Andai kata Paulus mengatakan bahwa ia bisa berbahasa lidah, mungkin orang Korintus mengatakan bahwa mereka juga bisa berbahasa lidah. Itu bukan sesuatu yang unik. Atau, jika Paulus mengatakan ia sudah bertemu dengan Tuhan Yesus, orang Korintus dapat mengatakan mungkin itu penglihatan yang palsu. Akan tetapi, ketika Paulus mengatakan bahwa meterai kerasulannya adalah orang Korintus, mereka tidak bisa menghina diri sendiri. Orang-orang Korintus yang sombong tidak berani menghina diri mereka sendiri. Alangkah bijaksananya Paulus yang meletakkan validitasnya justru pada jemaat Korintus!

Zinzendorf, seorang tokoh pietis yang penting, yang dipakai Tuhan secara luar biasa. Semenjak umur empat tahun, ia sudah berpikir untuk menjadi penginjil, dan Tuhan memakainya sebagai seorang misionaris. Setelah kematian istri pertamanya, ia menikah lagi. Istri keduanya punya kecenderungan mistik yang kurang sehat. Ia terpengaruh dan menekankan suatu "persatuan mistik" dalam luka-luka Kristus sampai akhirnya lalai menjalankan panggilan penginjilan. Hal ini tidak sesuai dengan Alkitab. Musa berbicara dengan Tuhan muka dengan muka selama 40 hari 40 malam, begitu khusus, begitu dekat, sampai wajahnya bercahaya. Namun, setelah itu Musa mengerjakan pekerjaan Tuhan. Lain halnya dengan Petrus yang kurang mengerti, di mana pada peristiwa transfigurasi Tuhan Yesus (yang disertai panampakan Musa dan Elia), ia begitu bahagianya sampai enggan kalau harus turun dari gunung. Ini sama dengan orang-orang yang hanya mau menikmati karunia tanpa mau melayani orang lain. Akan tetapi, kesejatian kerasulan Paulus adalah dalam pelayanannya, bukan pada "pengalaman mistiknya".

Dalam 1 Korintus 9:3 dikatakan bahwa Paulus melakukan suatu pembelaan bukan untuk mengharapkan orang lain akhirnya menerima dia. Pledoi sedemikian pada dasarnya bersifat menjelaskan supaya tidak didiskreditkan dan supaya orang mengetahui bahwa apa yang dikerjakan bisa dipertanggungjawabkan. Paulus melakukan pembelaan bukan dengan harapan agar orang-orang yang tidak percaya kerasulannya akhirnya menyesal. Pada intinya, Paulus hendak mengajar mereka yang tidak meragukan kerasulannya mengenai penyangkalan kebebasan Kristen. Validitas kerasulan Paulus adalah jemaat Korintus, buah pelayanannya, dan juga semangat menyangkal diri. Kesejatian kerasulannya adalah penyangkalan dirinya. Banyak karunia, tetapi tidak mau menyangkal diri tidak membuktikan kesejatian seorang hamba Tuhan. Demikian juga, kesejatian dari kekristenan kita adalah kehidupan penyangkalan diri.

Paulus di Korintus

Paulus juga tidak mengambil upah dari jemaat. Paulus bekerja dan melayani jemaat Korintus, tetapi ia tidak mau menjadi beban bagi jemaat (1 Korintus 9:6). Demikian juga dengan urusan makan dan minum, Paulus menyangkal untuk makan makanan yang paling wajar sekalipun karena tidak mau menjadi batu sandungan (1 Korintus 9:4). Spiritualitas yang benar adalah spiritualitas yang diekspresikan dalam seluruh aspek hidup kita, termasuk cara kita makan dan minum. Kedua, tentang hal menikah (1 Korintus 9:5). Meskipun menikah bukan dosa dan itu wajar, Paulus menyangkal dirinya untuk mengambil seorang istri.

Banyak cerita dalam kehidupan para misionaris yang mengalami kehidupan keluarga yang tidak wajar. Ada yang demi pekerjaan Tuhan, akhirnya harus berpisah dengan keluarga untuk jangka waku yang cukup panjang. Orang-orang yang melayani Tuhan, tetapi tidak bertanggung jawab pada keluarga merupakan kehidupan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Sebaliknya, kita tidak boleh begitu terikat dengan keluarga hingga akhirnya kita gagal berbuah bagi Tuhan. Bagi kita -- orang-orang yang "wajar" -- kehidupan para misionaris itu tampak sangat tidak wajar (atau jangan-jangan kita mengategorikan mereka sebagai cacat dalam kehidupan keluarganya); di hadapan Tuhan, mungkin mereka lebih mengerti bagaimana mengasihi Tuhan.

Kita sering terjerat untuk lebih mementingkan diri kita dan segala sesuatu yang ada pada kita melebihi Tuhan sehingga pelayanan kita tidak berkuasa. Dalam suatu konseling pranikah, seorang hamba Tuhan mengatakan bahwa dalam melayani Tuhan, seorang pelayan Tuhan memang harus belajar mengorbankan keluarga, dan begitu juga sebaliknya; pasangannya harus bisa mengorbankan suami/istri yang sedang melayani. Kita berkorban untuk Tuhan, dan di sisi yang lain, keluarga kita juga harus belajar mengorbankan kita. Pengorbanan harus terjadi pada kedua belah pihak. Saya bukan hanya mengorbankan diri saya bagi Tuhan, tetapi juga harus berani mengorbankan anggota keluarga saya bagi Tuhan. Ini dua hal yang berbeda. Yang berkorban aktif meninggalkan, tetapi yang ditinggalkan bukan berarti tidak memikul salib, mungkin justru salibnya lebih berat.

Paulus adalah seseorang yang menyangkal diri, no family at all. Kehidupan yang dipersembahkan kepada Tuhan berhak dipimpin oleh Tuhan dengan cara bagaimanapun. Hak yang terbesar adalah hak untuk menyangkal hak (ini adalah kesimpulan sebuah buku yang ditulis oleh seorang misionaris; buku ini sekarang menjadi bacaan wajib dalam suatu badan misi). Kalau kita menjalankan kewajiban, wajar jika kita menuntut hak. Akan tetapi, dalam kekristenan, hak yang dimiliki oleh orang Kristen adalah hak untuk menyangkal hak tersebut. Paulus bukan saja menyangkal hak untuk makan dan minum, tetapi ia juga menyangkal hak untuk menikah dan mendapat upah dari pelayanannya. Bagaimana dengan hidup kita? Marilah kita minta pada Tuhan untuk menolong kita belajar menyangkal diri sebagai meterai kesejatian pengikutan kita kepada Kristus. Orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan adalah orang yang bersedia kehilangan haknya. Tuhan Yesus, Paulus, dan semua hamba Tuhan di sepanjang sejarah telah belajar menyangkal diri. Kiranya kita belajar taat mengerjakan bagian yang dipercayakan kepada kita. Kiranya Tuhan memakai kita untuk menjadi berkat bagi banyak orang.

Audio Kebebasan Kristen

Diambil dari:
Judul buku : Ajar Kami Bertumbuh
Judul artikel : Kebebasan Kristen
Penulis : Billy Kristanto
Penerbit : Momentum, Surabaya 2006
Halaman : 125 -- 130

Penyebaran Reformasi Zwingli

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Ulrich Zwingli adalah seorang pembina Protestanisme dan reformis pertama di Swiss. Dia tidak seterkenal Calvin ataupun Luther, tetapi dia adalah reformator yang berhasil masuk ke dalam pemerintahan. Reformasi yang dilakukan Zwingli didukung oleh pemerintah dan penduduk Zürich. Zwingli membawa perubahan-perubahan penting dalam kehidupan masyarakat dan urusan-urusan negara di Zürich. Pengaruh aksinya dalam reformasi gereja membawa dampak yang besar bagi Swiss serta penyebarannya ke daerah Eropa lain.

Dalam edisi yang tersaji kali ini, kita akan bersama-sama melihat karya reformasi oleh Zwingli di Eropa dan gagasan penting Zwingli yang berhasil mengusik beberapa pengikutnya: Bullinger, Schlatter, dan Schaff -- yang telah membawa gagasan-gagasan Zwingli untuk dapat tersebar ke berbagai penjuru Eropa. Selamat membaca. Tuhan Yesus memberkati.

Ayub T.

Staf redaksi e-Reformed,
Ayub T.

Edisi: 
Edisi 190/Juli 2017
Isi: 

Zwingli meninggal sebelum mimpinya terpenuhi, tetapi pengikutnya, terutama Heinrich Bullinger, menyebarkan pengaruh Reformed ke seluruh Eropa, ke Inggris, dan akhirnya ke Amerika. [Christian History awalnya menerbitkan artikel ini dalam Christian History Edisi 4 pada tahun 1984.]

Ulrich Zwingli adalah bapak Reformasi Reformed di Swiss, tetapi sosoknya merupakan yang paling tidak diingat oleh para reformator generasi pertama. Dia selalu dibayangi oleh Luther. Dan, fakta bahwa dia meninggal dalam pertempuran telah meninggalkan banyak pertanyaan tak terjawab tentang karier Zwingli.

Zwingly

Zwingli berharap, pertama-tama mendirikan gereja di Kanton (bagian dari suatu negara - Red.) Zürich yang akan menjadi model bagi Gereja Protestan Nasional Swiss. Setelah hal itu dilakukan, dia berencana untuk menyebarkan doktrin reformasi di seluruh Eropa sehingga sebuah gereja Protestan internasional akan didirikan, yang akan mempertahankan tradisi terbaik dari gereja universal Abad Pertengahan, tetapi pada saat bersamaan akan terbebas gereja dari pelanggaran terburuk lama dan tidak lagi diperintah oleh Paus dan pengadilannya yang korup di Roma.

Gereja Katolik yang direformasi di seluruh Eropa yang dibayangkan Zwingli tidak pernah didirikan. Namun, Zwingli berhasil memperkenalkan konsepsi tentang reformasi gereja yang tepat ke dalam Kanton-kanton Perkotaan utama, Kanton-kanton yang didominasi oleh kota-kota Swiss Jerman. Di Berne, Basel, Shafthausen, dan Zürich, konsepsi Zwingli tentang bagaimana gereja harus direformasi diikuti. Bagi Zwingli, hal ini, tentu saja, hanyalah langkah awal, dan untuk sementara waktu sepertinya program Zwingli akan berhasil di tempat lain di Swiss.

Perdamaian di Kappel pada tahun 1529 membuat orang-orang Protestan bebas menyebarkan doktrin mereka di wilayah Konfederasi Swiss yang dikelola bersama oleh anggota asli konfederasi. Masing-masing jemaat di daerah ini diberi kebebasan untuk memutuskan apakah akan menerima reformasi atau tidak. Secara teori, kebebasan yang sama harus diperluas ke kongregasi Kanton-kanton Hutan atau Pegunungan dari Konfederasi: Schwyz, Uri, Niedwald, dan Lucerne dan sekutu mereka, Kanton Zug. Solusi ini sebenarnya tidak dapat diterima oleh umat Katolik.

Yang juga tidak dapat diterima adalah keinginan orang-orang Protestan untuk mengakhiri kebiasaan menjual tentara untuk dinas bayaran ke Perancis dan Kepausan. Tanpa uang yang diperoleh dari praktik ini, Kanton-kanton Hutan percaya bahwa mereka tidak dapat membeli gandum yang diperlukan untuk memberi makan penduduk di negara-negara bagian mereka yang bergunung-gunung.

Yang lebih buruk lagi, Kanton-kanton Protestan mulai memblokade pengiriman gandum ke wilayah-wilayah Katolik untuk memaksa mereka menerima penyebaran Protestanisme di wilayah mereka. Zwingli menentang kebijakan ini dan menegaskan bahwa akan lebih bijaksana untuk berperang dengan wilayah Katolik daripada menundukkan mereka dengan kelaparan yang berjalan lambat.

Karena putus asa, Kanton-kanton Katolik memutuskan untuk berperang melawan orang-orang Protestan. Mereka meluncurkan serangan mereka ke pusat Protestanisme di Swiss, Kanton Zürich, pada awal Oktober 1531. Kanton-kanton Protestan telah menandatangani sebuah aliansi militer (the Christian Civic Union) untuk melindungi diri mereka dari perkembangan semacam itu, tetapi mereka tidak siap untuk perang dan terdapat perpecahan internal di antara orang-orang Protestan.

Mimpi Zwingli Tidak Terpenuhi

Pada tahun-tahun sebelum pecahnya apa yang umumnya disebut Perang Kappel Kedua pada bulan Oktober 1531, Zwingli pernah bermimpi untuk menciptakan aliansi luas Eropa melawan Hapsburg, dan bahkan percaya bahwa orang Perancis Katolik di bawah Raja Francis I akan bergabung dengan aliansi ini. Skema ini sangat tidak realistis dan menunjukkan pemahaman terbatas yang dimiliki Zwingli atas situasi diplomatik di Eropa dan bagaimana dia meremehkan ketidaksukaan para penguasa Katolik, seperti Francis I, terhadap ajaran Protestanisme.

Dalam mengejar harapan ini dan dengan dorongan dari Landgrave Philip of Hesse, dia juga mengusahakan pangeran liansi dengan para Protestan di Jerman. Kondisi untuk aliansi semacam itu merupakan kesepakatan teologis antara Kanton Swiss, yang adalah negara-negara teritorial Protestan dan Lutheran. Landgrave Philip of Hesse mengatur pertemuan antara Zwingli dan Luther di Marburg pada tahun 1529, yang dikenal sebagai Marburg Colloquy. Zwingli dan Luther menyetujui empat belas poin doktrin, tetapi tidak dengan poin yang ke-15 yang melibatkan kehadiran Kristus dalam Perjamuan Tuhan. Ketidaksepakatan mendasar ini mencegah aliansi dengan negara-negara bagian Lutheran. Kecuali Berne, orang-orang Protestan Swiss tidak beraliansi dengan Hesse, Strassburg, dan Constance yang bukan bagian dari Konfederasi Swiss, tetapi Swiss Protestan sebenarnya diasingkan pada saat Hapsburg berdiri tepat di belakang Kanton-kanton Katolik sebagai sesama Anggota Aliansi Kristen.

Zwingli juga salah memperhitungkan situasi di Swiss. Berne adalah kunci bagi aliansi Protestan, the Christian Civic Union, karena ia adalah Kanton militer besar dari Konfederasi lama. Zwingli bergantung pada temannya di Berne, Nicholas Manuel, untuk tetap mengendalikan urusan di Berne dan untuk menjaga kota tetap kuat dalam aliansi Protestan. Manuel meninggal pada bulan Maret 1530, dan Zwingli kehilangan kontak dengan situasi di Berne. Mayoritas orang Berne memilih kebijakan ekspansi ke arah barat dengan mengorbankan Duke of Savoy dan sebuah aliansi dengan Perancis. Mereka juga tidak antusias untuk berperang dengan Kanton Katolik karena mereka merasa bahwa hal ini hanya akan memperkuat Zürich dengan menambah wilayah dan kekuatan militernya.

Ketika serangan Katolik dimulai, Zürich pada awalnya sendirian. Sebelum Berne datang membantunya, Zürich dikalahkan oleh umat Katolik. Zwingli meninggal dalam pertempuran kedua dalam Pertempuran Kappel Kedua bersama tiga puluh pastor lainnya di gereja Kanton. Zürich dan Berne berdamai dengan orang-orang Katolik dan penyebaran Protestanisme selanjutnya dihentikan di Swiss Jerman. Rencana Zwingli akan pembentukan aliansi anti-Hapsburg Eropa dan sebuah gereja Protestan Eropa mati bersamanya.

Hasil akhir dari perang yang kalah adalah bahwa Berne bebas untuk melanjutkan penaklukan Kanton Vaud yang diduduki pada tahun 1536. Kemajuan ini menyebarkan ajaran Protestan ke perbatasan kota Jenewa, yang penguasanya adalah Duke of Savoy. Sebagai hasil dari perkembangan ini, mengenalkan Protestanisme ke Jenewa menjadi dimungkinkan dengan bantuan orang Berne. Tanpa dukungan Berne, Jenewa tidak akan pernah bisa menjadi pusat Protestanisme internasional di bawah kepemimpinan John Calvin. Memang, pada akhirnya Jenewa menjadi lebih penting bagi pengembangan Protestanisme yang direformasi internasional daripada Zürich.

Bullinger Menyebarkan Gagasan Zwingli

Itu diserahkan kepada penerus Zwingli sebagai Uskup Zürich, Heinrich Bullinger, yang bertugas selama empat dasawarsa antara 1531 dan 1575, untuk membangun Zürich sebagai pusat Protestanisme internasional. Sampai berdirinya Genevan Academy pada tahun 1556, Carolinum di Zürich adalah satu-satunya sekolah tinggi teologi di Eropa tempat para siswa dapat mempelajari teologi Reformed. Di kemudian hari, Zürich dan Jenewa dibayangi oleh Heidelberg dan universitas-universitas Belanda yang menjadi pusat pemikiran Reformed pada awal abad ke-17. Kendati demikian, kepemimpinan Bullinger memberi kontribusi penting bagi Protestanisme Reformed.

Decades of Sermons (Dekade Khotbah) oleh Bullinger, yang mulai muncul pada tahun 1549, lebih banyak dibaca di beberapa wilayah di Eropa daripada Institutio karya Calvin. Setelah 1586, karya itu menjadi bacaan wajib bagi pendeta Inggris yang belum mengambil gelar universitas. Kapal-kapal dari Perusahaan Hindia Timur Belanda membawa Decades sejauh Jawa dan Sumatra. Commentaries on the Pauline Epistles (Tafsiran Surat-Surat Paulus) oleh Bullinger terbit sampai tujuh edisi dan kemungkinan besar lebih luas disebarluaskan daripada milik Calvin. Teologi perjanjian baru yang ada dalam tulisan-tulisan Zwingli diuraikan lebih lanjut dalam De Testamento dan Der alte Gloub oleh Bullinger. Konsepsi Bullinger mengenai teologi perjanjian tidak diragukan lagi memainkan peranannya dalam pengembangan teologi perjanjian Reformed normatif, yaitu teologi federal pada awal Abad ke-17. Teologi ini dibawa ke Amerika Utara oleh kaum Puritan. Bullinger juga memperdalam teologi Ekaristi Zwingli yang tentu saja memengaruhi perkembangan doktrin Anglikan tentang Perjamuan Tuhan.

Bullinger juga menerima gagasan Zwingli bahwa kontrol ekskomunikasi harus berada di tangan hakim. Upaya Bullinger untuk menyebarkan doktrin ini di Rhineland-Palatinate melalui teman dan sesama orang Aargau, sang dokter, Thomas Erastus, berakhir dengan kegagalan. Konflik dengan Jenewa mengenai konsep ekskomunikasi Jenewa yang berarti bahwa gereja tersebut harus melarang pelaku kejahatan mengikuti Perjamuan Tuhan membayangi tahun-tahun terakhir Bullinger sebagai Uskup Zürich. Empat belas tahun setelah kematiannya, pembelaan Erastus terhadap konsepsi ekskomunikasi Zürich diterbitkan di London dengan bantuan Uskup Agung Canterbury, John Whitgift.

Hubungan Bullinger dengan Inggris dan Hongaria sangat berhasil. Keberhasilan ini sebagian merupakan hasil korespondensi luar biasa yang dilakukan Bullinger dengan para teolog dan pemimpin politik di seluruh wilayah Eropa. Hal itu menjadikannya sebagai salah satu orang dengan informasi terbaik pada masanya. Pada bulan Februari 1567, Sinode pertama Gereja Reformed Hungaria bertemu di Debrecen, yang dipersiapkan untuk menjadi pusat pendidikan Reformed utama, dan menerima pengakuan Confessio Helvetica Posterior oleh Bullinger sebagai pengakuan gereja nasional mereka.

Kontak Bullinger dengan Inggris memperluas awal kecil yang telah dibuat menjelang akhir kehidupan Zwingli, ketika para artis Zürich diminta memberikan pendapatnya tentang validitas pernikahan Henry VIII dengan Catherine of Aragon. Pada tahun 1538, Bullinger telah mendedikasikan karyanya, De Scripturae Sanctoe Authoritate dan De Episcoparum qui verbi ministri sunt, kepada Raja Henry VIII. Kontak awal ini tentu didorong oleh wakil bupati Henry, Thomas Cromwell, meskipun tidak ada kontak langsung antara Bullinger dan Cromwell. Decades of Sermons ketiga dan keempat yang disusun oleh Bullinger kemudian dipersembahkan kepada putra Henry, Edward VI (1547 -- 1553), yang merupakan indikasi bahwa hubungan antara Zürich dan Inggris semakin dalam seiring berjalannya waktu.

Keramahan Bullinger kepada sekelompok orang Marian exile (orang-orang Protestan Inggris yang melarikan diri dari Eropa pada masa pemerintahan Ratu Mary I yang beragama Katolik - Red.) antara tahun 1553 dan 1558 memperkuat hubungan dekatnya dengan Gereja Inggris. Kelompok ini di dalamnya termasuk ahli apologi masa depan untuk Gereja Inggris, John Jewel, yang kemudian menjadi Uskup Salisbury, dan Archbishop York, Edmund Sandys, serta Cox of Ely, dan Parkhurst of Norwich, dan Earl of the Bedford yang berpengaruh. Bullinger bekerja sama dengan para uskup ini untuk menjaga agar pengikut doktrin Luther tentang Perjamuan Tuhan tidak musnah di paroki Gereja Elizabeth. Dia juga membantu dan mendukung mereka dalam setiap cara dalam perjuangan melawan orang-orang Puritan yang dipimpin oleh Thomas Cartwright, seperti juga ajudannya, Rudolph Gwalther. Dasar untuk kerja sama mereka adalah kepercayaan bersama bahwa negara harus mengendalikan urusan eksternal gereja dan sebuah keyakinan dari pihak Bullinger dan para uskup Inggris bahwa keuskupan yang direformasi adalah bentuk pemerintahan yang tepat untuk Gereja Kristus. Orang Inggris tidak mengadopsi konsepsi Zürich tentang peran hakim dan pendeta dalam mengatur masyarakat Kristen seperti yang diklaim beberapa orang. Mereka telah mengembangkan konsepsi serupa sebelum mereka mengetahui bagaimana Gereja Zürich diperintah. Setelah kematian Bullinger, hubungan Swiss dengan Inggris pun berakhir.

Zwingly dan Reformasi

Schlatter dan Schaff

Dua pendeta Reformed Swiss memiliki pengaruh yang penting dalam sejarah gereja Amerika Utara. Michael Schlatter (1716 -- 1790) adalah penduduk asli St. Gall dan datang ke Amerika pada tahun 1746 sebagai perwakilan dari klasis Reformed orang Belanda dari Amsterdam. Karyanya dalam mengorganisir coetus (sinode) Gereja Reformed Jerman di Koloni Tengah berhasil. Namun, kesediaannya untuk bekerja sama dengan Anglican Society for the Propagation of the Knowledge of God (Masyarakat Anglikan untuk Penambahan Pengetahuan tentang Tuhan) untuk membantu orang-orang Reformed Jerman, dan kesulitannya dengan kaum pietis radikal yang dipimpin oleh Philip William Otterbein (1726 -- 1813) banyak memberikan pengaruh pada tahun-tahun terakhirnya di koloni.

Pendeta Reformed Swiss yang kedua sekaligus ilmuwan yang berpengaruh adalah Philip Schaff (1819 -- 1893), yang datang dari Berlin ke Mercersburg pada tahun 1843 dan bersama-sama dengan John Williamson Nevin (1803 -- 1886) mengembangkan Teologi Mercersburg. Teologi ini benar-benar teologi Amerika pertama yang memperhitungkan kontribusi teologi Jerman dan kritik alkitabiah terhadap pemikiran religius modern. Fakta ini tidak membuatnya populer di Amerika dan pernyataan Schaff dalam bukunya The Principe of Protestantism, as Related to the Present State of the Church bahwa Reformasi mencerminkan tumbuhnya Katolik Abad Pertengahan membuat banyak orang marah.

Schaff benar-benar adalah bapak dari studi "ilmiah" tentang sejarah gereja di Amerika. Karyanya, What Is Church History? A Vindication of the Idea of Historical Development (Apa Itu Sejarah Gereja? Pemulihan Nama Baik Gagasan tentang Perkembangan Historis), sangat penting bagi sejarawan gereja Amerika. Volume 7 dari History of the Christian Church: Modern Christianity The Swiss Reformation (Sejarah tentang Gereja Kristen: Kekristenan Modern Reformasi Swiss) oleh Schaff mengingatkan orang Amerika akan pentingnya moderasi dalam teologi Zwingli. Gambaran Schaff tentang Zwingli menawarkan sebuah alternatif terhadap konsep teologi Reformed yang lebih kaku yang diajukan oleh penganut Calvin dan para pengikutnya. Berkat Schaff, Zwingli akhirnya mulai memainkan peran kecil dalam pemikiran religius Amerika. (t/Jing-Jing)

Audio Penyebaran Reformasi Zwingli

Diambil dari:
Nama situs : Christian History Institute
Alamat situs : https://www.christianhistoryinstitute.org/magazine/article/spread-of-zwingli-reformation/christian-mission/
Judul asli artikel : The Spread of Zwingli Reformation
Penulis artikel : Dr. Robert C Walton
Tanggal akses : 26 April 2017

Situs Ayo-PA.net: Komunitas PA Abad ke-21!

Stop Press! Situs Ayo-PA.net: Komunitas PA Abad ke-21!

selengkapnya...»

Penghiburan dan Pergumulan Pengikut Kristus

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Sebagai seorang pengikut Kristus, kita senantiasa dituntut untuk berjuang hingga garis akhir. Menjadi seorang murid bukan berarti bahwa kita berada di dalam zona aman dan nyaman. Justru ketika menjadi murid Kristus, kita ditantang untuk melakukan apa yang Yesus telah lakukan. Sebagaimana yang dituliskan dalam Yohanes 1:12-13, menjadi murid Kristus berarti kita beroleh status yang baru, yaitu status bahwa kita bukan lagi diperanakkan melalui darah dan daging, melainkan kita telah diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Untuk itu, keberadaan kita "dalam Kristus" menjadi satu penghiburan sejati untuk bergumul menjalani hari-hari sebagai pengikut Kristus.

Apabila hidup tidak seturut dengan yang Tuhan kehendaki, ajaran sesat telah mengintip dan dapat menjerat kita kapan saja. Apakah kita ingin menjadi serupa dengan dunia ini dan kehilangan penghiburan dalam penderitaan dan salib Kristus? Hendaknya kita bisa terus hidup berpadanan dengan firman Tuhan setiap hari hingga Tuhan mendapati kita setia di hadapan-Nya. Soli Deo Gloria!

Amidya

Staf redaksi e-Reformed,
Amidya

Edisi: 
Edisi 189/Juni 2017
Isi: 

ARTIKEL Penghiburan dan Pergumulan Pengikut Kristus

Pernahkah engkau merasa letih dalam perjuanganmu sebagai pengikut Kristus? Engkau melihat guru-guru di sekolahmu mengajarkan hal-hal yang melawan firman Allah, engkau melihat hidup sahabat-sahabatmu yang tidak kudus, dan engkau ditolak oleh mereka ketika engkau mau hidup kudus. Engkau melihat kecurangan di kantormu, tetapi engkau merasa tidak bisa berbuat apa-apa karena kecurangan itu telah menjadi sistem. Bahkan, engkau melihat dengan jelas dalam dirimu sendiri bahwa ketika engkau ingin mengikut Kristus, terdapat kekuatan yang menarik engkau untuk berdosa lagi, berdosa lagi, berdosa lagi, sehingga dalam bebanmu yang berat, engkau berteriak kepada Allah, "Ya Allah, saya letih!"

Wajarkah pergumulan-pergumulan yang demikian? Ya, pergumulan-pergumulan di atas adalah pergumulan-pergumulan yang wajar dialami orang Kristen di dunia ini. Dan, sebenarnya pergumulan-pergumulan tersebut adalah tanda kehidupan rohani kita -- tanda kehidupan yang menunjukkan adanya ketegangan antara hidup kita yang sudah dihidupkan dengan dunia berdosa yang mati, antara diri kita yang sudah ditebus dengan kehidupan lama kita yang masih bercokol.

Dalam Yohanes 17:14-16, Tuhan Yesus mengatakan bahwa pengikut-Nya bukan berasal dari dunia, tetapi mereka berada di dalam dunia. Kita telah diberikan hidup yang baru, kesadaran yang baru, hati yang baru oleh Allah. Hidup yang baru ini betul-betul bertolak belakang dengan hidup lama yang dari dunia. Inilah penyebab pergumulan dan konflik kita dengan dunia yang kita hidupi saat ini. Jika kita masih dapat merasakan sakit, tandanya kita masih hidup. Orang mati tidak merasa sakit, tetapi orang hidup merasa sakit jika ada sesuatu yang merusak tubuhnya. Begitu juga dengan hidup rohani kita. Kita perlu bersyukur jika kita mengalami pergumulan karena justru orang yang mati rohani yang tidak mungkin bergumul karena ketegangan antara hidup baru dan dunia yang mati tidak ada.

Jika demikian, apakah penghiburan kita ketika kita bergumul melawan dosa, baik di dalam maupun di luar diri kita? Terpujilah Allah yang telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, Allah sejati, untuk menjadi manusia seperti kita. Anak Allah bukanlah Allah yang jauh, melainkan Immanuel, Allah yang dekat dengan kita. Anak Allah rela menjadi manusia, rela dibatasi, untuk menjadi Imam Besar yang dapat menaruh belas kasihan kepada kita. Ia mengalami pergumulan-pergumulan yang kita alami, bahkan dalam takaran yang jauh lebih berat daripada yang kita alami.

Sebelum Yesus menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi kita, Ia telah mengalami pencobaan, penghinaan, dan ketersendirian; segala pergumulan yang kita alami, Ia mengalaminya, karena Ia adalah manusia sejati. Tuhan Yesus memiliki tubuh, sama seperti kita memiliki tubuh. Ia memiliki perut yang bisa lapar ketika tidak makan selama 40 hari; Ia memiliki kulit kepala yang bisa luka ketika tertusuk-tusuk mahkota duri; Ia memiliki tubuh yang bisa letih ketika Ia membawa kayu besar "terkutuk" di atas pundak-Nya. He is the man of sorrow and acquainted with grief. Anak Allah tidaklah berpura-pura karena Ia adalah Kebenaran. Tuhan Yesus adalah manusia sejati yang sungguh dapat mengalami kesakitan seperti kita karena Ia tidak mungkin berbohong.

Ajaran sesat yang mengajarkan bahwa Yesus bukan betul-betul manusia bersumber dari filsafat Yunani Gnosticism. Orang-orang yang percaya ajaran sesat inilah yang disebut anti-Kristus oleh Rasul Yohanes dalam suratnya:

"Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia (KJV: Jesus Christ is come in the flesh), berasal dari Allah, dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus ...." (1 Yohanes 4:2-3)

Ajaran Gnosticism secara umum mengajarkan bahwa jiwa/roh itu suci, sedangkan materi itu jahat. Maka berdasarkan asumsi sesat itu, mereka mengatakan bahwa tidaklah mungkin Allah sejati menjadi manusia sejati. Manusia sejati mempunyai tubuh yang berupa materi, dan materi itu pada dasarnya jahat. Maka ajaran sesat kekristenan yang dipengaruhi Gnosticism, mengajarkan bahwa Tuhan Yesus bukan betul-betul Allah menjadi manusia. Ada dua macam ajaran sesat Kristen yang dipengaruhi Gnosticism:

1. Docetism

Docetism berasal dari bahasa Yunani dokeo, yang artinya "kelihatannya". Ajaran ini mengajarkan bahwa Tuhan Yesus hanya "kelihatannya" memiliki tubuh, padahal tidak.

2. Cerinthianism

Cerinthianism mengajarkan bahwa Kristus yang ilahi bergabung dengan manusia Yesus pada saat peristiwa pembaptisan, dan meninggalkan manusia Yesus sebelum Dia mati. Cerinthianism berasal dari kata Cerinthus, yang merupakan pengajar utama dari ajaran sesat ini.

Berbeda mutlak dengan ajaran Gnosticism, Alkitab dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru mengajarkan bahwa segala ciptaan Tuhan itu baik, termasuk materi. Tubuh bukanlah penjara jiwa, seperti diajarkan oleh Gnosticism. Tubuh adalah ciptaan Allah yang indah untuk melaksanakan kehendak Allah. Itulah tujuan Yesus datang ke dunia ini menjadi manusia sejati, yaitu untuk melaksanakan kehendak Allah Bapa. Tubuh mencapai tujuan eksistensinya yang ultima ketika dipakai untuk menggenapkan kehendak Allah. Tuhan Yesus berkata:

"Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki -- tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku, ... untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku." (Ibrani 10:5,7)

Jika kita betul-betul menghayati hal ini, kita akan lebih menghargai hidup ini dengan penuh ucapan syukur. Kita juga lebih mudah mengerti pentingnya mandat budaya jika kita mengerti bahwa materi itu dikehendaki Allah. Orang-orang Kristen yang hanya memikirkan tentang kehidupan di sana (other worldly) tanpa mau bekerja di sini (this worldly) mungkin dipengaruhi Gnosticism atau Platonism. Teknologi, pendidikan, politik, dan lain-lain adalah aspek-aspek kehidupan yang perlu direbut kembali bagi ketuhanan Kristus, bukan hanya jiwa/roh manusia.

Kita baru bisa mendapat penghiburan yang sejati untuk menjalani kehidupan Kristen kita jika mengerti bahwa Yesus Kristus juga adalah manusia sejati, yang bertubuh materi untuk menjalankan dan menggenapi kehendak Bapa di surga, serta yang mengalami pergumulan dan kesakitan yang kita alami. Penulis kitab Ibrani mengatakan bahwa Anak Allah menjadi manusia adalah suatu keharusan, "supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa". Tuhan Yesus menaruh belas kasihan terhadap kita. Ia mengerti pergumulan kita dalam usaha kita menjalankan kehendak Bapa karena Ia telah mengalami pergumulan-pergumulan di dunia dalam keberadaan-Nya sebagai manusia seperti kita.

Apakah pergumulanmu seberat pergumulan Kristus? Adakah kesedihan yang lebih besar dari kesedihan Pencipta yang ditolak oleh kepunyaan-Nya sendiri? Adakah pergumulan yang lebih besar dari pergumulan yang Mahakudus untuk hidup di tengah-tengah dunia yang penuh dengan dosa dan kejijikan? Dalam pergumulan, kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah! Pandanglah kepada Kristus dalam waktu-waktu pergumulanmu; di sanalah letak penghiburanmu. Pandanglah salib Kristus, tempat tubuh-Nya dipaku sebagai tebusan dosa kita; di sanalah letak kekuatan imanmu. Pandanglah kubur Kristus, tempat Yesus dibangkitkan dengan tubuh yang baru; di sanalah letak pengharapanmu.

Dan, terlebih lagi sekarang, Tuhan kita yang sudah bangkit sedang berdoa dan terus berdoa bagi kita di surga. Tuhan Yesus terus-menerus menjadi satu-satunya Pengantara kita kepada Allah Bapa; Ia terus-menerus bersyafaat bagi kita. Apakah yang kurang dari sukacita hidup orang Kristen? Tidaklah mungkin kita mengerti apa artinya sukacita berjalan bersama dengan Tuhan tanpa kita mengerti apa artinya bergumul dalam pimpinan Tuhan.

Dalam letihnya perjuangan kita, ada penghiburan yang teguh: We do not struggle alone, the LORD Himself became man and struggled like us. The LORD understands our struggle and now He is watching and praying for us. What a wonderful Savior the LORD is!

I have a Savior, He's pleading in glory,

A dear, loving Savior though earth friends be few;

And now He is watching in tenderness over me;

And oh, that my Savior is your Savior, too.

?For you I am praying, for you I am praying,

For you I am praying, I'm praying for you.?

Unduh Audio

Diambil dari:
Nama situs : Buletin Pillar
Alamat situs : http://www.buletinpillar.org/artikel/penghiburan-dalam-pergumulan-pengikut-kristus#hal-1
Judul asli artikel : Penghiburan dalam Pergumulan Pengikut Kristus
Penulis artikel : Andi Soemarli Rasak
Tanggal akses : 19 Juni 2017
Halaman : 22-25

Komentar


Syndicate content