Progsif "Roh Kudus, Malaikat, dan Roh Jahat"

Oleh: N. Risanti

Senin, 25 Juni 2018, saya dan beberapa teman mengikuti acara progsif (program intensif) bertema "Roh Kudus, Malaikat, dan Roh Jahat" yang diadakan oleh STRIS (Sekolah Tinggi Reformed Injili Surakarta) di Hotel Adiwangsa. Progsif yang berlangsung sekitar 2,5 jam ini dibawakan oleh Pendeta Jimmy Pardede dari Jakarta, yang juga adalah dosen Perjanjian Lama. Berikut adalah beberapa hal yang saya dapatkan dari acara progsif tersebut.

Sebagai kalimat pembuka, Pendeta Jimmy Pardede menyatakan bahwa saat ini doktrin Roh Kudus sudah banyak dilupakan oleh gereja. Mengapa? Hal itu disebabkan karena gereja tidak lagi menggali doktrin Roh Kudus dan hanya berfokus pada doktrin keselamatan. Lalu, siapakah Roh Kudus, dan apa yang dikerjakan-Nya? Untuk memahami doktrin Roh Kudus ini, pertama-tama kita harus memahami tentang tema penciptaan, yang diawali dengan kitab Kejadian dan diakhiri oleh kitab Wahyu. Menurut Teolog, Gregory Beale, penciptaan adalah sesuatu yang religius, dan Allah tidak memisahkan antara yang suci dan sekuler, sebab segala sesuatu diciptakan-Nya dalam keadaan kudus. Kitab Suci sangat menekankan masalah penciptaan karena Allah bekerja dari awal hingga akhir dalam kerangka penciptaan, dan pada akhirnya Tuhan akan berdiam bersama-sama dengan manusia dalam langit dan bumi yang baru. Kita juga perlu mengetahui bahwa sesungguhnya keselamatan bukanlah tujuan akhir. Itu hanya merupakan awal karena kita diselamatkan untuk mengerjakan tujuan penciptaan, yaitu memuliakan Allah.

Irenaeus dari Lyon adalah salah satu tokoh yang sangat menegakkan ajaran Tritunggal yang terkait dengan penciptaan. Dia mengatakan bahwa tiga pribadi tidak boleh dikurangi atau ditambah karena ketiganya adalah Pencipta. Selain itu, teolog bernama Misael Welker dan Moltman pernah menyatakan bahwa Roh Allah menyatakan kuasa penciptaan. Kita mesti mengalami kuasa Allah karena kuasa-Nya adalah kuasa penciptaan. Apa yang dilakukan Allah dalam enam hari peristiwa penciptaan merupakan pola yang akan selalu kita lihat dari kuasa Allah serta menjadi tema yang berulang dalam PL dan PB. Apa itu kuasa penciptaan? Kuasa penciptaan adalah kuasa untuk menciptakan (yang hanya dimiliki oleh Allah), serta kuasa yang akan menyatakan kemuliaan melalui firman. Oleh karena memiliki perbedaan dengan kuasa dari dunia yang cenderung bertendensi untuk menghancurkan/melemahkan yang lain, maka kuasa penciptaan akan senantiasa berbenturan dengan kuasa dunia. Kuasa penciptaan menjadi kuasa yang saling berbagi kemuliaan dengan yang lain. Roh Kudus menyiapkan kemuliaan Sang Anak (Yesus), Yesus memberi kemuliaan kepada Bapa, Bapa memuliakan Anak, dan Anak menyatakan kemuliaan-Nya melalui pekerjaan Roh Kudus. Jika diri menjadi fokus atau tujuan, itu adalah kuasa dunia, dan tidak ada pekerjaan Roh Kudus di dalamnya. Dalam saling berbagi atau memberi, tidak ada yang akan mengalami pengurangan atau kehilangan, tetapi justru saling menambahkan.

Apa sifat lain dari kuasa penciptaan? Selain menjadi kuasa yang menyatakan kemuliaan melalui firman, kuasa penciptaan itu menyatakan keberagaman. Keberagaman membuat kita belajar keluasan, dan membuat kita memiliki cara pandang yang berbeda dalam mengamati sesuatu. Ketiga, kuasa penciptaan itu juga berada dalam keteraturan, yaitu dengan relasi yang saling menjaga, melindungi, dan membangkitkan. Apa artinya itu? Dengan perkataan lain, kuasa penciptaan Tuhan ada dalam keberagaman, tetapi diikat dalam keteraturan sehingga tidak ada kebosanan serta perpecahan/chaos. Keberagaman yang berdiri sendiri tidak mencerminkan kuasa penciptaan, dan keteraturan tanpa keberagaman akan menjadikannya membosankan. Keempat, kuasa penciptaan Tuhan adalah kuasa yang membangkitkan yang lemah atau dari sesuatu yang buruk. Dengan perkataan lain, penciptaan selalu diawali dari keadaan yang buruk, dan setelah disentuh oleh Allah dalam penciptaan, sesuatu itu akan menjadi baik. Lihatlah hal tersebut dalam peristiwa penciptaan, mukjizat Yesus, kebangkitan Kristus. Kemiripan pola dalam Alkitab yang saling membentuk kaitan akan membuat kita semakin memahami makna dari berbagai peristiwa tersebut. Kuasa penciptaan Tuhan adalah kuasa yang menyatakan kehadiran dalam ibadah. Ada relasi antara pencipta dengan ciptaan, di mana relasi ini diikat oleh Roh Kudus sehingga dapat mengikat apa yang sesungguhnya tidak dapat disatukan (ex: Allah dan manusia berdosa). Terakhir, kuasa penciptaan ada dalam kuasa penebusan, di mana di dalam Kristus ciptaan, segala sesuatu menjadi baru.

Mengenai malaikat, Pendeta Jimmy menyatakan bahwa Kerub adalah malaikat yang menjaga kekudusan Tuhan, dilambangkan dengan api. Seraph adalah malaikat yang lebih terkait dengan ibadah, juga dilambangkan dengan api (atau malaikat yang memuji Tuhan, yang akan menjadi rekan dalam beribadah). Ada juga malaikat-malaikat lain yang bertugas membantu terwujudnya ciptaan baru, yaitu Gabriel dan Mikael. Gabriel terkait dengan politik, yang tugasnya untuk membangkitkan atau menghancurkan. Ia merupakan malaikat yang Tuhan kirim membawa kekacauan pada kerajaan di bumi supaya pada akhirnya kerajaan Allah dinyatakan. Mengapa Gabriel dikirim kepada Maria? Karena Maria adalah calon ibu dari Raja, yang akan berkuasa atas umat manusia. Sementara itu, Mikael adalah malaikat yang bertugas menjaga kedaulatan surga, memerangi Setan di surga. Hal ini dapat dilihat ketika Mikael disebutkan sedang memerangi Pangeran-Pangeran Persia (Setan) dalam kitab Daniel. Yang dilempar oleh Mikael adalah malaikat yang menentang Tuhan yang menginginkan kerajaan Israel, atau dengan kata lain, ingin mengambil kerajaan yang Allah dirikan di bumi.

Sayang sekali, tidak banyak yang dibahas oleh Pendeta Jimmy Pardede tentang Roh Jahat. Beliau hanya sedikit menyinggung tentang Roh Jahat sebagai si penipu yang mirip utusan Allah. Ia berbahaya ketika menyamar menjadi malaikat terang karena akan ada banyak orang terkecoh oleh ucapan atau perkataannya.

Demikian pelajaran dari Progsif "Roh Kudus, Malaikat, dan Roh Jahat" yang dapat saya sampaikan berkat uraian yang cukup sistematis dari Pendeta Jimmy Pardede. Sampai jumpa lagi dalam blog progsif berikutnya. Soli Deo Gloria!

Komentar