Login penggunaNavigasiKomentar terbaruSiapa yang onlineSaat ini terdapat 0 users dan %count Tamu yang online.
|
PraktikaPanggilan -- Apakah Pelayanan itu Suatu KarierEditorial: Dear e-Reformed Netters, Benar, bahwa semua pelayanan yang kita lakukan untuk Tuhan itu baik, tak peduli jabatan atau peran yang kita emban dalam melayani. Namun, kita harus selalu waspada karena tidak semua pelayanan yang kita lakukan menyenangkan hati Tuhan, meskipun apa yang kita lakukan itu baik. Salah satu hal yang membedakan pelayanan yang menyenangkan-Nya dan yang tidak adalah bagaimana cara kita memandang dan melakukan pelayanan yang saat ini sedang kita lakukan -- apakah sebagai panggilan atau sebagai karier? Saat ini banyak orang yang menganggap bahwa pelayanan yang mereka lakukan adalah sebuah panggilan, padahal bukan. Mereka sebenarnya menghidupi pelayanan mereka sebagaimana layaknya dalam berkarier. Pelayanan semacam itu jelas dapat merusak hubungan kita dengan Allah karena pada dasarnya hal inilah merupakan esensi dari sebuah panggilan untuk melayani. Melalui sajian di bawah ini, bersama-sama kita akan dibawa dalam suatu pemahaman mengenai apa artinya panggilan dan apa bedanya dengan pelayanan yang hanya merupakan karier. Tentu saja kami berharap agar kita semua memiliki jiwa pelayanan yang benar dan menghidupi pelayanan kita sebagai sebuah panggilan -- sebuah pelayanan yang Dia inginkan dan yang pasti berkenan di hati-Nya. Selamat menyimak. Redaksi Tamu e-Reformed, Penulis: Ben Patterson Edisi: 101 Tanggal: 19-7-2008 Isi: Cara kita memandang tugas dapat mengubah apa yang ada dalam dunia -- dan juga gereja. Saya sering dipusingkan dengan hal yang kita sebut sebagai "panggilan". Apa itu panggilan? Bagaimana cara Saudara mengetahui datangnya panggilan itu? Banyak yang tidak saya ketahui. Namun, satu hal yang benar-benar bisa saya jelaskan ialah bahwa panggilan bukanlah karier. Ada perbedaan mendasar di antara kedua hal ini. Penting bagi kita untuk mengerti apa itu panggilan Allah, khususnya pada saat ini. Kata "karier" itu sendiri sudah mengacu kepada pembedaan tersebut. Kata bahasa Inggris, "career", berasal dari bahasa Perancis, "carriere", yang berarti suatu jalan atau suatu "highway". Gambaran ini menyiratkan adanya satu tujuan dan peta jalan yang ada dalam genggaman, tujuan di depan mata, tempat-tempat berhenti untuk makan, penginapan, dan tempat pengisian bahan bakar. Dari gambaran sebelumnya, kita bisa menyebutkan bahwa karier seseorang ibarat sebuah jalan yang telah dia ambil. Semakin sering membicarakannya, semakin kita melihat jalur ke depan yang diambil dan direncanakan untuk kita lalui secara profesional. Ibarat suatu jalan yang peta dan rencananya telah dibuat, mencapai tujuan menjadi hal yang terutama. Jalannya telah ditandai dengan baik. Selanjutnya terserah kepada orang yang akan melakukan perjalanan tersebut. Tidak seperti karier, panggilan sama sekali tidak dipetakan. Tidak satu jalur pun yang akan diikuti. Tidak ada tujuan yang dapat dilihat. Panggilan lebih bersandar kepada mendengarkan "suara". Organ iman untuk panggilan adalah telinga, bukan mata. Yang pertama dan terakhir, itulah sesuatu yang perlu didengarkan oleh seseorang. Segala sesuatu hanya bersandar pada hubungan yang ada antara pendengar dan Dia yang memanggilnya. Bila karier berarti membuat sebuah formula dan cetak biru (blue print), suatu panggilan hanya bertujuan untuk membina hubungan. Suatu karier bisa didapat hanya dengan memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, sedangkan panggilan tidak. Ketika Musa mendengar Allah memanggilnya untuk membebaskan para budak di Mesir, tanggapan pertamanya adalah seolah-olah ia muncul dengan keputusan yang bersifat karier. Apakah dia memenuhi syarat? Apakah dia memunyai pengalaman cukup dan kemampuan khusus yang diperlukan untuk tugas semacam itu? Dia berbicara dengan Allah yang sepertinya sedang mengadakan wawancara untuk suatu pekerjaan. Siapakah saya yang melakukan pekerjaan semacam ini? Bagaimana jadinya kalau rakyat tidak mau menurut? Dan apakah Allah tidak tahu kalau Musa bukanlah orang yang pintar berbicara di muka umum? Semua hal tersebut tidak relevan bagi Allah. Selanjutnya, yang terjadi adalah Musa yakin bahwa Allah dapat dipercayai sehingga ia pun berkata, "Aku akan mengikuti-Mu." Pendeknya, yang menjadi perhatian adalah panggilan tersebut -- dan Musa pun mengikatkan dirinya pada Dia yang menyerukan panggilan itu. BAHAYA SEORANG PROFESIONAL Jika kita memandang panggilan kita sebagai suatu karier, kita merendahkan pelayan-pelayan Yesus sebagai seorang makhluk hambar yang disebut "kaum profesional". Berpakaian baik, berbicara dengan baik, dilengkapi dengan kepandaian, mengerti kepemimpinan, pintar dalam manajemen, dan belajar mengenai seluk-beluk pemasaran -- tentu saja semua itu baik kalau dipergunakan bagi sebuah pekerjaan. Kita ingin membuat tanda pada dunia, sedikit memberi respek pada para profesional, dan untuk selamanya memancarkan citra seperti Pendeta Rodley Dangerfield. Dengan perasaan yang realistis, kaum profesional berharap agar gereja memperlakukan mereka sebagai seorang profesional sehingga untuk berhubungan, diadakan perundingan tentang gaji dan keuntungan- keuntungan yang akan didapat. Sungguh suatu hal yang mengerikan ketika kita mendapati seorang rohaniwan yang akan memakai kepandaian dan kecanggihannya, berdagang misalnya, guna meningkatkan pendapatan secara luar biasa. Gereja- gereja mungkin akan bertumbuh -- dan rohaniwan melakukannya tanpa bersandar pada sesuatu pun. "Allah memerdekakan kita dari mereka yang memakai sikap profesional," kata Pendeta John Piper dari Minneapolis. Dengan mengikuti gema suara Paulus, dia bertanya, "Apakah Allah membuat hamba-hamba Tuhan menjadi yang terakhir dalam keseluruhan ciptaan dunia-Nya ini? Demi Kristus kita adalah orang-orang bodoh yang lemah. Menjadi seorang profesional memang bijaksana. Mereka yang profesional memang diangkat dengan kehormatan .... Namun, profesionalisme tidak ada hubungannya dengan inti dan hati pelayanan Kristen karena tidak ada seorang profesional yang seperti anak kecil. Tidak ada seorang profesional yang lemah lembut. Tidak ada seorang profesional yang mencari pertolongan kepada Allah." Bagaimana cara Saudara membawa salib secara profesional? Apakah arti beriman secara profesional itu? Karierisme telah mendorong adanya pemisahan antara Allah yang memanggil dan individu yang menjawab-Nya. Hal itu mengarahkan kita untuk percaya bahwa penampilan lebih penting daripada diri kita sehingga apa yang kita lakukan dalam lingkungan gereja tak ubahnya dengan pertemuan antara pembeli dan penjual (tempat seperti itu disebut pasar), di mana suasana lebih penting dibandingkan posisi kita di hadapan Allah. Karierisme akan memberikan rasa percaya diri pada kita. Padahal dalam melakukan panggilan, kita perlu gemetar dan berseru untuk pengampunan. Hal seperti itu tidak ada dalam silabus para profesional, padahal Paulus sendiri datang ke Kota Korintus dalam kelemahan dan kebodohan. Demikian pula Yeremia yang menelan firman Allah dan dari situ dia hanya mengecap rasa yang tidak enak. Atau pada Yesus yang mengakhiri hidupnya di depan umum di atas kayu salib. PANGGILAN ADALAH SESUATU YANG KITA DENGAR Sebenarnya dalam cerita rakyat tentang seorang ayah dan anak laki- lakinya, digambarkan hal yang penting mengenai panggilan. Mereka melakukan perjalanan ke suatu kota yang jauh, sedangkan mereka tidak memunyai peta. Perjalanan itu sangatlah panjang, tidak mulus, dan penuh dengan bahaya. Mereka menempuh banyak jalan yang tidak bisa mereka kenali dan sudah tidak berupa jalan lagi. Di tengah perjalanan, anak laki-lakinya bertanya-tanya. Dia ingin mengetahui apa gerangan yang ada di balik hutan, jauh di seberang tepian? Bisakah dia melintasi dan melihatnya? Ayahnya pun mengizinkannya. "Tetapi, Ayah, bagaimanakah caranya supaya saya tahu kalau-kalau saya telah berjalan terlalu jauh dari engkau? Bagaimanakah caranya supaya saya jangan sampai tersesat?" "Setiap menit," kata sang ayah, "saya akan memanggil namamu dan menunggu jawabanmu. Dengarkanlah suaraku, anakku. Di saat engkau tidak bisa lagi mendengar suara ayah, engkau akan tahu bahwa engkau telah pergi terlalu jauh." Pelayanan bukanlah suatu kedudukan, melainkan suatu panggilan. Bukan ijazah profesional yang diperlukan, melainkan kemampuan mendengar dan memerhatikan panggilan Allah. Cara yang sederhana ialah dengan cukup menyempatkan diri untuk mendekat dan mendengar suara-Nya. Keteguhan dalam melaksanakan tugas-tugas kita yang tidak terpikul hanya bisa diperoleh karena uluran tangan-Nya yang tidak pernah berakhir. PANGGILAN AKAN TETAP KUAT Bersatu dalam panggilan Allah merupakan sesuatu yang kejam yang tidak bisa dibantah. Dia memanggil, tetapi Dia tidak bisa dipanggil. Hanya Dialah yang melakukan panggilan itu, sedangkan kitalah yang menjawabnya. "Engkau tidak memilih-Ku; Akulah yang memilih kamu," kata Yesus kepada murid-murid-Nya. Panggilan Allah ini selalu mengandung paksaan. Bahkan sering terkesan kejam. Setelah pukulan yang membutakan di jalanan menuju Damaskus, akhirnya Paulus berkata dengan jelas, "Celakalah aku ini jika tidak mengkhotbahkan Injil!" Yeremia meratap bahwa Allah telah memaksakan panggilan yang dia terima dan tidak pernah membiarkannya untuk ingkar, tidak peduli seberapa parah luka yang terjadi, "Jika aku bisa berkata, `Aku tidak akan menyebutkan-Nya atau berbicara lagi dalam nama-Nya,` kata-kata-Nya seperti api dalam hatiku, api yang berada dalam tulang- tulangku. Aku lelah membawa-Nya; sesungguhnya aku tidak mampu." Spurgeon melihat penawaran secara ilahi ini sebagai tanda yang jelas dari suatu panggilan sehingga dia menasihati orang muda untuk memertimbangkan hal ini dan tidak mengambil jalur pelayanan jika mereka merasa bisa melakukan hal yang lain. Berkali-kali kami berusaha untuk menyederhanakan panggilan itu dengan menyamakannya dengan sebuah posisi staf gereja atau dalam organisasi keagamaan. Tetapi panggilan itu selalu mengalahkan segala sesuatu yang kami lakukan dengan terpaksa untuk mendapatkan uang. Bahkan jika perlu, kami juga melakukan itu di dalam gereja. Kami meminta pembedaan yang sama untuk dicatat dalam permohonan yang dimintakan pada kami. Panggilan kami di dalam Kristus adalah satu hal, sedangkan apa yang kami lakukan dalam kedudukan adalah hal yang lain. Panggilan kami adalah panggilan untuk melayani Kristus. Sementara itu, kami juga memiliki kedudukan untuk melakukan pekerjaan dalam dunia ini. Kami juga memiliki panggilan untuk memaksakan kedudukan pelayanan agar bisa masuk ke dalam panggilan kami. Berbahagialah laki-laki atau perempuan yang panggilan dan kedudukannya saling berdekatan. Tetapi tidak akan ada bencana jika mereka tidak melakukannya. Jika esok pagi saya dipecat dari pekerjaan saya sebagai hamba Tuhan di New Providence Presbyterian Church, dan saya terpaksa mencari pekerjaan di Stasiun Sunoco, panggilan saya akan tetap melekat. Saya akan tetap terpanggil untuk berkhotbah. Tidak ada yang dapat mengubah panggilan tersebut dengan nyata, kecuali ada situasi yang bisa melarutkan saya. Sebagaimana ditunjukkan oleh Ralph Turnbull, saya bisa berkhotbah seperti hamba Tuhan yang dibayar oleh gereja, tetapi saya tidak dibayar untuk berkhotbah. Saya diberi izin, oleh karena itu saya bisa lebih bebas berkhotbah. Berkali-kali kami mencoba menyederhanakan panggilan itu dengan menjadikannya sebagai seorang rohaniwan. Pendidikan seminari (teologi) tidaklah membuat seseorang memenuhi syarat untuk ditahbiskan menjadi pendeta, tidak juga dengan bertambahnya penguatan oleh tes-tes psikologis dan pengalaman kerja. Tentu saja hal-hal itu bisa berharga, bahkan perlu bagi pelayanan. Tetapi tidak satu pun dari persyaratan itu, baik secara terpisah atau pun seluruhnya, bisa memenuhi syarat. Tidak ada kantor atau posisi yang bisa disamakan dengan panggilan. Tidak pula ijazah, pendidikan, atau juga tes yang bisa memermudahnya. Pelatihan, pengalaman, atau pun sukses dalam hal kegerejaan tidak akan bisa mengambil alih sebuah panggilan. "Patterson, coba pikirkanlah apa yang sedang Anda lakukan saat ini?" Jawaban saya adalah mencoba untuk mengikuti panggilan tersebut. Hanya panggilan yang bisa memberi kepuasan. Yang lain hanya sekadar catatan kaki dan komentar. Catatan: Ben Patterson adalah pendeta New Providence (New Jersey) Presbyterian Church. MENEMUKAN PANGGILAN HIDUP PADA MOBILITAS YANG MENURUNDulu saya menyenangkan hati ayah dan ibu sebaik mungkin dengan belajar, lalu mengajar dan menjadi terkenal. Dengan pergi ke Notre Dame, Yale, dan Harvard, saya menyenangkan hati banyak orang dan hal itu juga menggembirakan saya sendiri. Tetapi saya bertanya-tanya, apakah masih ada panggilan lain dalam hidup saya. Saya mulai memerhatikan hal ini pada saat menemukan diri saya sedang berbicara kepada ribuan orang mengenai kemanusiaan dan pada saat yang bersamaan saya bertanya apakah yang mereka pikirkan tentang hidup saya. Sesungguhnya saya tidak merasakan damai sejahtera, saya kesepian. Saya tidak tahu menjadi bagian dari siapa. Di mimbar, saya bisa berbicara dengan baik sekali, tetapi hati saya tidaklah selalu demikian. Timbul keragu-raguan, apakah karier saya ini tidak sesuai dengan panggilan saya yang sesungguhnya. Maka saya mulai berdoa, "Tuhan Yesus, biarlah saya mengetahui ke mana Engkau mengutus saya untuk pergi dan saya akan mengikuti-Mu. Tetapi buatlah agar terlihat jelas. Jangan berupa pesan-pesan yang membingungkan saja!" Saya mendoakan hal ini terus-menerus. Pada saat itu saya tinggal di Yale. Pada pagi hari pukul 09.00, seseorang menekan bel apartemen saya. Ketika membuka pintu, saya berhadapan dengan seorang perempuan muda. "Apakah Anda Henri Nouwen?" "Ya." "Saya datang membawa salam dari Jean Vanier," katanya. Pada saat itu nama Jean Vanier tidaklah berkesan di hati saya. Saya hanya mendengar bahwa dia adalah pendiri L`Arche Communities (L`Arche artinya Bahtera Nuh) dan ia bekerja untuk orang-orang yang menderita cacat mental. Hanya itu saja yang saya ketahui. Saya berkata, "Oh, menyenangkan. Terima kasih. Apa yang bisa saya lakukan buat Anda?" "Tidak, tidak," jawabnya. "Saya datang untuk menyampaikan salam Jean Vanier." Saya berkata lagi, "Terima kasih. Tapi apakah ia menginginkan agar saya berbicara di suatu tempat atau menulis sesuatu atau memberikan kuliah?" "Tidak, tidak," dia tetap bertahan, "saya hanya datang untuk memberitahukan bahwa Jean Vanier mengirimkan salam buat Anda." Ketika wanita itu sudah pergi, saya duduk di kursi dan berpikir, ini sesuatu yang khusus. Bisa jadi Allah sedang menjawab doa saya, membawa suatu pesan dan memanggil saya untuk sesuatu yang baru. Saya tidak diminta untuk mendapatkan pekerjaan baru atau mengerjakan proyek yang lain. Saya tidak diminta agar berguna bagi orang lain. Tetapi cuma diundang untuk mengetahui bahwa ada manusia lain yang pernah mendengar tentang saya. Hal itu terjadi kira-kira tiga tahun sebelum saya benar-benar bertemu dengan Jean. Kami bertemu dalam suasana yang tenang pada suatu retret di mana tidak satu patah kata pun yang terucap. Dan pada akhirnya Jean berkata, "Henri, mungkin kami -- masyarakat orang cacat -- dapat menawarkan rumah, tempat di mana Anda dapat merasa aman, di mana Anda dapat bertemu dengan Allah dengan cara yang benar-benar baru." Dia tidak meminta saya agar lebih berguna; dia tidak menyuruh saya agar bekerja untuk orang-orang cacat; dia tidak mengatakan bahwa dia membutuhkan hamba Tuhan yang lain. Dia hanya mengatakan, "Mungkin kami dapat menawari Anda sebuah rumah." Sedikit demi sedikit, saya mulai menyadari kalau saya menjawab panggilan itu secara serius. Saya tinggalkan universitas dan pergi ke L`Arche Community di Trosly Brevil, Perancis. Setelah setahun tinggal dengan para penderita cacat mental dan para perawat yang hidup dengan semangat "beatitudes", saya pun menjawab panggilan untuk menjadi hamba Tuhan di Daybreak, di L`Arche Community dekat Toronto, sebuah komunitas yang beranggotakan sekitar seratus orang dengan lima puluh orang cacat dan lima puluh orang asisten perawatnya. Tugas pertama yang dipercayakan kepada saya adalah bekerja melayani Adam. (Dari semua nama yang ada, Adam yang diberikan kepada saya! Kedengarannya seperti bekerja untuk kemanusiaan itu sendiri.) Adam, pria berusia 24 tahun yang tidak bisa berbicara. Dia tidak bisa berjalan. Dia tidak dapat mengenakan atau pun menanggalkan pakaiannya sendiri. Anda tidak yakin apakah dia mengenali Anda atau tidak. Tubuhnya cacat, punggungnya rusak, dan dia menderita karena sering terserang epilepsi. Pada mulanya saya takut terhadap Adam. "Jangan kuatir," demikian mereka meyakinkan saya. Saya seorang profesor dari suatu universitas. Saya belum pernah menyentuh seseorang begitu dekat. Dan kini Adam, saya memeluk dia. Pada jam tujuh pagi, saya pergi ke kamarnya. Saya menanggalkan pakaiannya, menolong dia berdiri, dan memapahnya dengan hati-hati ke kamar mandi. Saya takut karena berpikir bahwa dia bisa terserang epilepsi secara mendadak. Saya berjuang memeras tenaga untuk mengangkatnya ke dalam bak rendam (bathtub) karena berat badannya sama dengan berat badan saya. Saya mulai menyiram air pada tubuhnya dan mengangkatnya keluar dari bak rendam untuk menyikat giginya, menyisir rambutnya, dan mengembalikan dia ke tempat tidurnya. Setelah itu, saya mengenakan bajunya dengan pakaian yang dapat saya temukan dan membawanya ke dapur. Saya dudukkan dia di depan meja dan mulai memberinya sarapan. Satu- satunya pekerjaan yang dapat dilakukannya adalah mengangkat sendok ke mulutnya. Saya duduk dan melihat dia makan. Memakan waktu satu jam. Saya belum pernah bersama dengan seseorang selama satu jam penuh hanya untuk melihat apakah dia bisa makan. Kemudian ada suatu kemajuan. Setelah dua minggu, saya tidak terlalu takut lagi. Setelah tiga atau empat minggu, barulah saya menyadari bahwa saya banyak berpikir tentang Adam dan berharap untuk hidup dengan dia. Saya menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di antara kami -- sesuatu yang akrab dan indah dari Allah. Bahkan saya tidak tahu bagaimanakah caranya agar bisa menjelaskannya dengan baik. Orang yang kurang berarti ini menjadi sarana Allah untuk berbicara kepada saya dengan cara-Nya yang baru. Sedikit demi sedikit, saya menemukan kasih dalam diri saya dan percaya bahwa Adam dan saya saling memiliki. Secara sederhana, Adam mengajar saya tentang kasih Allah secara nyata. Pertama, dia mengajari saya bahwa hidup adalah lebih penting daripada melakukan sesuatu karena Allah ingin agar saya bersama-Nya dan tidak melakukan segala macam pekerjaan yang tujuannya untuk membuktikan bahwa saya berarti. Hidup saya dulu adalah kerja, kerja, dan kerja. Saya adalah seorang yang penuh semangat, ingin melakukan ribuan perkara sehingga saya dapat memamerkannya -- seperti itulah hingga akhirnya saya rasa saya berarti. Orang biasa berkata begini, "Henri, Anda baik-baik saja." Tetapi saat sekarang, di sini dengan Adam, saya mendengar, "Saya tidak peduli dengan apa yang Anda lakukan, asal Anda tetap bersamaku." Tidaklah mudah tinggal dengan Adam. Tidaklah mudah untuk hidup dengan seseorang yang tidak bisa melakukan banyak hal. Adam mengajari saya sesuatu yang lain. Hati itu lebih penting daripada pikiran. Kalau Anda lulusan suatu universitas, akan terasa sukar untuk memahaminya. Berpikir logis, berargumentasi, berdiskusi, menulis, bekerja -- itulah manusia. Tidakkah Thomas Aquinas mengatakan bahwa manusia adalah hewan yang berpikir? Memang, Adam tidak berpikir. Tetapi Adam memiliki hati, sungguh- sungguh hati manusia. Berkenaan dengan itu, saya melihat bahwa apa yang membuat seorang manusia menjadi manusia adalah hati. Hati membuat manusia bisa memberi atau menerima rasa kasih. Adam sedang memberikan kasih Allah yang begitu besar dan saya sedang memberikan kasih saya buat Adam. Ada suatu keakraban yang jauh melampaui perkataan maupun tindakan. Saya juga menyadari kalau Adam bukan sekadar orang yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri, manusia yang tidak utuh, seperti saya atau pun orang lain. Adam itu sepenuhnya manusia, begitu penuh sehingga dia dipilih Allah untuk menjadi alat bagi kasih-Nya. Adam begitu rapuh, lemah, dan begitu polos sehingga dia menjadi hati saya sendiri -- hati di mana Allah ingin bertakhta, di mana Ia ingin berbicara kepada mereka yang datang dengan hati yang rapuh. Adam adalah manusia yang utuh, bukan setengah manusia atau manusia yang tidak lengkap. Saya menemukan Adam sebagai manusia seutuhnya. Saya pun menjadi mengerti apa yang sudah saya dengar di Amerika Latin, mengapa pilihan khusus Allah diberikan kepada orang miskin. Sungguh, Allah mengasihi mereka yang miskin dan khususnya Ia sangat mengasihi Adam. Dia ingin berdiam dalam diri Adam yang cacat itu sehingga Dia dapat berbicara dari ketidakmampuan ke dalam dunia yang kuat dan memanggil orang-orang untuk menjadi tidak mampu. Akhirnya, Adam mengajarkan sesuatu yang nyata kepada saya. Melakukan pekerjaan-pekerjaan secara gotong royong itu lebih penting daripada melakukannya sendiri-sendiri. Saya datang dari dunia yang biasa bertindak secara mandiri, tetapi di sini ada Adam yang begitu lemah dan tidak mampu. Saya tidak bisa sendirian menolong Adam. Kami membutuhkan segala macam orang dari Brasil, Amerika Serikat, Kanada dan Belanda -- tua muda, hidup bersama di sekitar Adam dan para penderita cacat lainnya di satu rumah. Saya mengerti bahwa Adam, paling lemah di antara kami, telah membuat lingkungan yang begitu bersifat persaudaraan. Dialah yang mempersatukan kami; kebutuhan-kebutuhannya dan ketidakmampuannya membuat kami ada dalam masyarakat persaudaraan yang murni. Dengan seluruh perbedaan kami, kami tidak dapat bertahan sebagai suatu lingkungan masyarakat yang kompak apabila tidak ada Adam di situ. Kelemahannya menjadi kekuatan kami. Kelemahannya membuat kami ada dalam suatu lingkungan masyarakat yang penuh kasih. Kelemahannya mengundang kami memaafkan satu terhadap yang lain, menyabarkan perbantahan kami, agar bersama dengannya. Itulah yang saya pelajari. Saya baru ada di Daybreak tiga tahun dan itu tidaklah mudah. Dalam banyak hal, Notre Dame, Yale, dan Harvard lebih mudah. Tetapi inilah panggilan hidup saya. Saya ingin tetap setia. -- Henri Nouwen, Daybreak, Richmond Hill, Ontario Diambil dan disunting seperlunya dari:
Tak Ada Kebangunan Rohani Tanpa ReformasiEditorial: Dear e-Reformed Netters, Sering kali kita kelihatan memiliki konsep dan pola pikir yang rohani, namun ternyata tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Seperti isu tentang "kebangunan rohani" yang dikemukakan oleh A.W. Tozer dalam bukunya yang berjudul "Keys to the Deeper Life" di bawah ini. Kecenderungannya, kebaktian "kebangunan rohani" diadakan untuk membangkitkan kembali iman orang Kristen agar hidup sesuai dengan firman Tuhan. Padahal, yang benar adalah jika kita hidup sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, maka Dia yang akan memberikan kebangunan rohani tersebut. Kebangunan rohani bukanlah sebab, tetapi akibat. Janganlah mengulangi kesalahan yang telah dilakukan oleh gereja dan orang Kristen pada masa lalu. "Kita harus kembali pada kekristenan Perjanjian Baru, bukan hanya dalam hal doktrin, melainkan seluruh tata cara hidup," demikian ajakan A.W. Tozer beberapa puluh tahun yang lalu. Biarlah kita mendengarkan ajakannya tersebut sehingga pembaharuan dalam kehidupan gereja masa kini dapat terjadi. Kebangunan rohani tidak lagi sekadar kegiatan kebaktian, namun menjadi kesaksian yang nyata dalam kehidupan setiap orang Kristen. Amin! In Christ, Penulis: A.W. Tozer Edisi: 100/VI/2008 Tanggal: 19-06-2008 Isi: Pada saat orang-orang Kristen membicarakan hal-hal rohani, bisa dipastikan akan muncul sebuah frasa yang akan diucapkan berulang kali, yaitu "kebangunan rohani". Melalui khotbah, pujian, dan doa, kita seakan-akan mengingatkan Tuhan dan orang lain bahwa yang harus kita lakukan untuk memecahkan semua masalah kerohanian kita adalah dengan mengadakan "kebangunan rohani yang dahsyat". Media-media rohani pun secara luas mengatakan bahwa kebangunan rohani besar adalah sebuah kebutuhan terbesar saat ini. Sementara itu, para penulis Kristen yang menuliskan apa pun tentang kebangunan rohani bisa dipastikan akan dengan mudah mendapatkan editor yang dengan senang hati mau menerbitkan tulisan mereka. Akibat gencarnya isu kebangunan rohani ini, hampir tidak ada orang yang berani mengungkapkan pendapat yang berseberangan dengan masalah ini, meski bisa saja kebenaran justru terletak di arah yang berseberangan itu. Kini, popularitas agama telah menyamai filsafat, politik, dan mode pakaian wanita. Sepanjang sejarah, agama-agama besar di dunia telah mengalami masa-masa kemunduran dan juga kebangkitan kembali, yang secara sembrono disebut oleh para pengamat sebagai kebangunan rohani. Kita tidak bisa mengesampingkan fakta bahwa beberapa wilayah non- Kristen sekarang ini juga sedang menikmati kebangunan rohani. Laporan terakhir dari Jepang memberitakan kejayaan kembali agama Shinto setelah sempat mengalami kemunduran akibat Perang Dunia II. Di Amerika sendiri, agama Katholik Roma, sebagaimana aliran Protestan Liberal, telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Akhirnya, keseluruhan fenomena ini mungkin bisa disebut sebagai kebangunan rohani mendunia, meskipun hal ini dikatakan tanpa melihat apakah ada peningkatan standar moral dari para pengikutnya. Agama apa pun, termasuk Kristen, dapat mengalami ledakan rohani yang besar tanpa campur tangan Roh Kudus. Namun, jumlah generasi yang menjauhi gereja ternyata juga lebih meningkat dibanding sebelum ledakan tersebut. Saya percaya bahwa kebutuhan yang paling mendesak saat ini bukan sekadar kebangunan rohani. Harus ada perubahan radikal pada akar moralitas dan penyakit-penyakit rohani lainnya; harus lebih diarahkan untuk mencari penyebabnya daripada konsekuensinya; pada penyakit itu sendiri daripada hanya sekadar gejala-gejalanya. Saat ini, saya malah berpendapat bahwa kita sebenarnya tidak menginginkan kebangunan rohani sama sekali. Barangkali, kebangunan rohani Kristen yang terjadi secara meluas sekarang ini malah akan membuktikan telah terjadinya tragedi moral yang tidak akan dapat diperbaiki dalam seratus tahun ke depan. Saya akan memaparkan sejumlah alasan mengenai hal ini. Satu generasi yang lalu, sebagai reaksi atas "kritik tinggi" (higher criticism) dan penerusnya, yakni modernisme, muncul gerakan yang kuat untuk memertahankan iman Kristen yang sesuai dengan sejarah dari kelompok Protestan. Untuk alasan yang jelas, gerakan ini lalu dikenal sebagai "fundamentalisme". Gerakan ini kurang lebih muncul secara spontan tanpa organisasi yang rapi, namun di mana pun gerakan ini muncul, tujuannya sama, yaitu menahan "bertambahnya gelombang penyangkalan" terhadap teologi Kristen sekaligus menyatakan kembali dan memertahankan doktrin-doktrin dasar kekristenan Perjanjian Baru. Sejauh ini, semua itu hanya tinggal sejarah. KORBAN YANG JATUH DARI KEBIJAKAN ITU Fundamentalisme, sebagaimana tersebar di berbagai denominasi dan non- denominasi, telah menjatuhkan banyak korban sebagai akibat kebijakannya sendiri. Firman itu akhirnya mati di tangan sahabatnya sendiri. Inspirasi Alkitab secara lisan (doktrin yang selalu dan selamanya saya pegang) misalnya, akan menjadi kaku. Suara para nabi dibungkam dan para penafsir Alkitab akan menguasai pikiran iman kita. Dalam lingkup yang lebih besar, imajinasi rohani akan memudar. Kekuasaan tak resmi yang akan memutuskan apa yang harus dipercayai umat Kristen; bukan Alkitab, melainkan tafsiran Alkitablah yang akan menjadi sumber pengajaran. Kampus-kampus Kristen, seminari-seminari, sekolah-sekolah Alkitab, pertemuan-pertemuan Alkitab, dan para pengamat Alkitab populer, semuanya bergabung untuk mempromosikan budaya tekstual, penemuan sebuah sistem yang secara ekstrim memberikan dispensasi dengan membebaskan orang Kristen dari keharusan bertobat, taat, dan kewajiban memikul salib, lebih dari hal-hal formal lainnya. Keseluruhan bagian Perjanjian Baru diambil dari gereja dan diatur sedemikian rupa melalui sebuah sistem yang kaku dalam "pemisahan firman kebenaran". Semuanya ini telah mengakibatkan mentalitas rohani yang membahayakan kebenaran Kristus yang sejati. Ada sejenis awan dingin yang menaungi fundamentalisme. Wilayah di bawahnya sudah cukup dikenal, yaitu Perjanjian Baru. Doktrin dasar kekristenan memang ada di situ, hanya saja iklimnya tidak mendukung munculnya buah Roh yang manis. Situasi yang berbeda dialami oleh gereja mula-mula yang mengalami penderitaan. Saat itu, mereka tetap bernyanyi dan menyembah Tuhan. Meskipun doktrin-doktrinnya terdengar hebat, pengajaran yang benar tidak pernah diizinkan untuk bertumbuh. Suara sang merpati jarang terdengar di wilayah itu; hanya seekor kakaktua yang terlihat menghinggapi pijakan imitasi dan mengulangi apa yang diajarkan padanya, sedangkan suaranya sangat parau dan tanpa perasaan. Iman -- doktrin yang paling penting dan berkuasa di mulut para rasul -- telah kehilangan kuasanya ketika para penafsir Alkitab menyampaikannya. Ketika kata-kata dan teks diagung-agungkan, Roh akan pergi dan tekstualisme menjadi raja. Inilah masa di mana orang-orang percaya terperangkap dalam zaman Kerajaan Babel. Saya hanya menyampaikan kondisi yang umumnya terjadi. Tentunya ada beberapa orang yang merindukan teolog yang lebih baik dari para pengajar mereka saat ini. Kerinduan ini akhirnya akan mengarah pada sebuah kekuatan besar yang tak dapat dimengerti oleh yang lain. Namun, akibat jumlah yang tak banyak, perbedaan-perbedaan itu akan terlalu besar; mereka tidak dapat menghalau awan yang menaungi wilayah itu. Kesalahan tekstualisme bukan terletak pada doktrinnya. Kesalahannya jauh lebih halus dan lebih sulit ditemukan. Namun, dampaknya sama-sama fatal. Bukan kepercayaan teologis mereka yang salah, melainkan penafsirannya. Wujud penafsiran mereka misalnya seperti ini, jika kita memiliki firman tentang sesuatu, sesuatu itu adalah milik kita. Jika suatu hal itu ada di dalam Alkitab, hal itu ada di dalam kita. Jika memiliki doktrinnya, kita juga memunyai pengalamannya. Jadi, sesuatu yang benar tentang Paulus adalah kebenaran kita juga karena kita telah menerima surat-surat Paulus sebagai inspirasi ilahi kita. Alkitab berbicara mengenai bagaimana kita bisa diselamatkan, namun tekstualisme lebih lanjut mengatakan bahwa kita telah diselamatkan, suatu hal yang tidak dapat terjadi secara alamiah. Dengan demikian, kepastian akan keselamatan pribadi tidak lebih dari sekadar kesimpulan logika pikiran yang didapat dari premis-premis doktrin tersebut, dan kesimpulan pengalamannya hanya bersifat rasio. MEMBERONTAK DARI KEDIKTATORAN PIKIRAN Kemudian pemberontakan pun muncul. Pikiran manusia hanya dapat bertahan dengan tekstualisme sejauh belum ditemukannya sebuah jalan keluar. Secara perlahan dan tanpa disadari, para pendukung fundamentalisme pun bereaksi; bukan berdasarkan pengajaran alkitabiah, melainkan atas kediktatoran pikiran para penafsir Alkitab. Atas kecerobohan dalam membenamkan orang-orang ini, mereka memerjuangkan hak untuk bernapas dan menyerang secara membabi buta demi kebebasan yang lebih besar dan tuntutan alamiah atas kepuasan emosional mereka yang selama ini diabaikan oleh para guru mereka. Akibat dari apa yang telah terjadi selama dua puluh tahun belakangan ini adalah kerusakan moral rohani yang susah dicari bandingannya sejak bangsa Israel menyembah anak lembu emas. Tentang kita, Alkitab mungkin secara jujur telah mengatakan bahwa kita "duduk, makan, minum, dan tumbuh untuk bermain". Garis pemisah antara gereja dan dunia telah dihapuskan. Terpisah dari beberapa dosa besar, dosa-dosa dunia yang belum diubahkan ini sekarang malah disetujui oleh mereka yang mengaku diri sebagai orang Kristen "lahir baru" dengan jumlah yang mengejutkan dan diikuti yang lainnya secara terang-terangan. Para anak muda Kristen menyanjung dan menjadikan nilai-nilai duniawi sebagai patokan mereka, serta sebisa mungkin meniru mereka. Para pemimpin rohani telah menerapkan cara-cara ahli periklanan. Tindakan seperti menyombongkan diri, mengejek, dan suka membesar-besarkan sesuatu tanpa malu-malu, sekarang telah dipandang sebagai suatu cara yang biasa dalam pelayanan gereja. Ukuran moral bukan lagi didapat dari Perjanjian Baru, melainkan dari Hollywood atau Broadway. Kebanyakan penginjil tidak lagi suka berinisiatif. Mereka hanya suka meniru dunia ini. Iman suci atas Bapa kita di berbagai tempat telah dipakai sebagai sarana hiburan. Namun, kenyataan yang lebih mengerikan adalah bahwa semua ini telah dikonsumsi oleh masyarakat atas prakarsa mereka yang ada di atas. Surat protes, yang dimulai dengan Perjanjian Baru yang selalu terdengar paling keras pada masa gereja menjadi paling berkuasa, berhasil dibungkam. Unsur keradikalan dalam bersaksi dan dalam kehidupan yang dulu pernah membuat orang Kristen dibenci oleh dunia, telah menghilang dari penginjilan masa kini. Orang Kristen yang pernah menjadi begitu revolusioner -- dalam hal moral, bukan politik -- kini telah kehilangan sifat tersebut. Kini, menjadi orang Kristen bukan lagi suatu hal yang berbahaya dan perlu pengorbanan. Kini, anugerah telah menjadi hal yang murahan. Saat ini, kita sudah terlampau sibuk untuk membuktikan kepada dunia bahwa kita dapat memeroleh keuntungan Injil tanpa harus mengalami ketidaknyamanan hidup. Ini semuanya adalah Kerajaan Allah juga. Meski tidak terjadi di seluruh dunia, penggambaran orang Kristen modern ini memang terjadi pada mayoritas kekristenan pada masa kini. Karena alasan ini, sejumlah orang percaya beranggapan bahwa tidak ada gunanya memohon kepada Tuhan selama berjam-jam untuk mengirimkan kebangunan rohani; kecuali kita juga hendak mengubah kebiasaan kita sehingga tidak perlu berdoa. Kebangunan rohani sejati tidak akan ada kecuali para pendoa telah memiliki kemampuan dan iman untuk mengubah cara hidup mereka sesuai dengan patokan Perjanjian Baru. KETIKA BERDOA ITU SALAH Terkadang berdoa bukan hanya tidak berguna, melainkan salah. Kita dapat melihat Israel sebagai contohnya. Saat Israel dikalahkan di Ai, Yosua mengoyakkan pakaiannya lalu menelungkupkan wajahnya ke tanah di depan tabut Tuhan sampai matahari terbenam; dia dan para tua-tua Israel menaburkan abu di atas kepala mereka. Mengenai kebangunan rohani, filsafat modern kita beranggapan bahwa itulah yang harus dilakukan. Jika dilakukan cukup lama, mungkin hal itu akan menggerakkan hati Tuhan sehingga Ia menurunkan berkat-Nya. Namun, Tuhan berkata kepada Yosua: "Bangkitlah engkau; mengapa engkau menelungkupkan wajahmu ke tanah? Israel telah berdosa dan mereka telah melanggar perintah-Ku. Bangunlah, kuduskanlah bangsa itu dan katakan: Kuduskanlah dirimu untuk esok hari, sebab, demikianlah firman TUHAN, Allah Israel: Hai, orang Israel ada barang-barang yang dikhususkan di tengah-tengahmu; kamu tidak akan dapat bertahan menghadapi musuhmu sebelum barang-barang yang dikhususkan itu kamu jauhkan dari tengah-tengah kamu." Gereja harus melakukan perubahan. Tindakan memohon berkat oleh mereka yang masih menjalankan kehidupan lama serta gereja yang tidak setia, hanya menjadi usaha yang membuang-buang waktu. Gelombang ketertarikan orang akan agama pun hanya akan menambah jumlah gereja yang tidak berpusat pada Yesus sebagai Tuhan dan melaksanakan perintah-Nya dengan taat. Tuhan tidak tertarik akan bertambahnya jumlah pengunjung gereja, kecuali mereka memperbaharui cara hidup mereka dan memulai cara hidup yang kudus. Berkaitan dengan hal tersebut, Tuhan pernah menyampaikan firman berikut ini melalui Nabi Yesaya. "Untuk apa korban-korbanmu itu? firman TUHAN; Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu yang gemuk; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sepenuh hati, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan .... Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda! ... Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil yang baik dari negeri itu." Doa bagi kebangunan rohani akan berhasil jika didahului oleh perubahan hidup yang radikal, bukan sebaliknya. Acara doa semalam suntuk yang tidak dilakukan oleh mereka yang benar-benar telah bertobat, bisa jadi malah akan membuat Tuhan tak berkenan. "Ketaatan lebih baik daripada persembahan". Kita harus kembali pada kekristenan Perjanjian Baru, bukan hanya dalam hal doktrin, melainkan seluruh tata cara hidup. Ketidakserupaan dengan dunia, ketaatan, kerendahan hati, kesederhanaan, perhatian, penguasaan diri, kesopanan, memikul salib, semuanya harus diperlakukan sebagai bagian kehidupan dari konsep kekristenan yang sejati dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus membersihkan Bait Allah dari para pedagang dan penukar uang dan kembali kepada kepemimpinan Tuhan kita yang telah bangkit. Dan ini juga berlaku bagi saya sendiri sebagai penulis sebagaimana untuk semua orang yang ada dalam nama Yesus. Setelah itu, kita pun akan dapat berdoa dengan yakin dan mengharapkan datangnya kebangunan rohani yang sejati. (t/Ary) Diterjemahkan dan disunting seperlunya dari:
Bagi Joel Osteen, Teologi Bukan Suatu KeharusanEditorial: Dear e-Reformed Netters, Tahukah Anda bahwa sekarang ini buku-buku tentang pengembangan diri adalah buku yang paling laris manis di pasaran? Para penerbit, termasuk para penulis tentunya dapat membaca dengan jeli kebutuhan pasar, yaitu kehausan akan apa yang dinamakan "penggembungan identitas diri". Apakah orang-orang Kristen termasuk dalam pasar ini? Sayang sekali karena jawabannya adalah "ya". Banyak orang Kristen yang sangat giat mengikuti seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan seperti ini, karena penyelenggaranya adalah juga notabene orang Kristen. Bahkan banyak pembicara Kristen yang dengan sengaja menerjunkan diri dalam bisnis pengembangan diri ini. Apakah salah? Ya, apabila usaha-usaha ini didasari oleh:
Salah satu contoh pembicara Kristen yang terkenal, bahkan ia adalah seorang pendeta yang sukses dalam bisnis memotivasi orang adalah Joel Osteen. Berangkat dari motivasi yang mulia, yaitu menolong orang lain agar berhasil dan mengalami hidup yang lebih baik, Joel Osteen lupa bahwa panggilan sebagai seorang Kristen bukanlah membawa dan menjadikan "manusia lama" kita menjadi lebih baik, tapi membawa "manusia lama" kita kepada Kristus untuk mati sehingga bisa dibangkitkan dan hidup sebagai "manusia baru" yang hidup dalam kepenuhan kekayaan anugerah-Nya. Silakan mengikuti laporan tanyangan wawancara dengan Joel Osteen di bawah ini. Pimpinan Redaksi e-Reformed, Penulis: Paul Edward Edisi: 095/I/2008 Tanggal: 17-01-2008 Isi: Oleh: Paul Edward "Saya berusaha membuat mereka lebih berhasil daripada sebelumnya," begitulah Joel Esteen mengungkapkan apa yang menjadi tujuan akhir organisasi pelayanan pengembangan diri miliknya yang bernilai jutaan dolar dalam sebuah tayangan TV berdurasi dua belas menit di program CBN "60 Minutes" yang berjudul "Joel Osteen Answers His Critics (Joel Osteen Menjawab Kritik-kritik yang Ditujukan Kepadanya)". Tapi jauh dari yang diharapkan, bukannya menjawab kritik, tayangan tersebut kemungkinan justru membuatnya semakin dihujani kritik. Dalam tayangan pendek berdurasi dua belas menit itu, Osteen berhasil mengakui bahwa pelayanannya lebih kepada tentang menunjukkan daripada mengajarkan sesuatu yang berisi substansi, bahwa ia segan untuk berdoktrin dan berteologi, bahwa ia tidak bertalenta menjadi pengajar firman Tuhan, bahwa ia lebih memilih untuk memberi inspirasi dan motivasi daripada memenuhi mandat biblika yang diberikan kepada pendeta untuk menegur dan mengajar, dan bahwa apa yang dia ajarkan lebih dekat seperti Dr. Phil dan Oprah daripada Yesus atau Rasul Paulus. Dengan kata lain yang lebih terang-terangan, Joel Osteen, dari apa yang kita lihat, lebih cocok dikualifikasikan sebagai pembicara motivator, dan kurang berkualifikasi untuk dianggap sebagai gembala dan pendeta jemaat Tuhan. Byron Pitts, reporter CBN News yang mewawancarai Osteen dalam tayangan itu, terus menekankan bagian di mana pengajaran Osteen telah melenceng dari Alkitab dan ortodoksi historis. Pada satu saat, Pitts membacakan sebuah potongan singkat dari buku Osteen yang baru saja dirilis, "Become a Better You", dan kemudian Pitts memberikan sanggahan, "Sama sekali tidak ada kata Allah dalam tulisan Anda. Sama sekali juga tidak disebutkan tentang Yesus Kristus." Dan Osteen pun menjawab, "Ada Alkitab di sana yang mendukung semua tulisan saya itu," sebuah jawaban yang kelihatannya tegas, tapi menunjukkan betapa bahayanya cara Osteen memperlakukan Kitab Suci selama ini. Osteen tidak memahami bahwa kita tidak membawa kesimpulan tentang hidup dan kehidupan ke Alkitab dan mencari ayat-ayat Alkitab yang mendukung kesimpulan kita itu. Kita seharusnya mengawalinya dengan Alkitab, memelajari ayat-ayatnya dengan saksama, membiarkan Roh Kudus -- penulis ayat-ayat itu -- memberikan kepada kita kesimpulan-Nya mengenai hidup dan kehidupan. Alkitab bukanlah tulisan pendukung untuk prinsip-prinsip yang Anda impikan untuk menghasilkan "kehidupan yang terbaik" untuk saat ini. Dengan enteng, Osteen mengakui bahwa ia tidak mampu memperlakukan Alkitab secara tepat, katanya kepada Pitts, "... ada banyak orang yang lebih memenuhi syarat untuk berkata, `Ini ada buku yang akan menjelaskan kepadamu tentang Alkitab.` Saya pikir itu bukanlah talentaku." Ia menghabiskan hari Rabu sampai Sabtu untuk belajar di rumah menyiapkan khotbah mingguannya. Orang bisa bayangkan bahwa ia dengan rajinnya memelajari Alkitab. Ternyata tidak juga. Ia berkata kepada Byron Pitts, "... aku memikirkannya dalam beberapa hari dan aku kembali ke sini memberi makan jemaat, dan melakukan yang terbaik, menginspirasi mereka dan memberikan cerita-cerita yang bagus, dan membuat mereka terus mendengarkanku ...." Tidak ada di mana pun di Alkitab yang mengatakan bahwa pelayan Tuhan diperintahkan untuk "menjadi yang terbaik" dan "menginspirasi orang lain" dan "menceritakan kisah-kisah yang bagus" atau bahkan "membuat mereka terus mendengarkannya". Sebaliknya, firman Tuhan jelas mengatakan bahwa kita dari dalam diri kita tidak mampu untuk memproklamirkan firman Tuhan (2 Kor. 3:5,6); bukanlah tujuan kita untuk menginspirasi, tujuan kita adalah untuk "menegur, mengajar, dan mendorong"; dan kita mencapai tujuan itu tidak dengan "kisah-kisah yang bagus", namun dengan "segala kesabaran dan pengajaran" (2 Tim. 4:1-6). Pengajaran atau doktrin bukanlah pusat perhatian Osteen. Osteen berkata kepada Pitts bahwa panggilannya bukanlah untuk membuat orang- orang terkesan dengan "kata-kata Yunani dan doktrin". Namun, ia memandang panggilannya sebagai membantu orang untuk "memiliki pikiran yang benar pada zaman ini". Sementara Osteen mungkin menganggap bahwa mengajar firman Tuhan bukanlah talentanya, namun bagaimanapun Tuhan menuntut para pemimpin gereja Tuhan untuk memiliki kemampuan mengajar firman-Nya (1 Tim. 3:2; 2 Tim. 2:24). Dalam hal ini, Osteen telah mendiskualifikasi diri sendiri. Osteen mengukur kesuksesan pelayanannya bukan dari pertumbuhan spiritual jemaatnya, namun dari "ratusan orang yang berkata kepadanya, `Anda telah mengubahkan hidupku.`" Tragisnya, pesan yang seharusnya mengubah begitu banyak orang itu adalah kebohongan (placebo). Osteen menggambarkan substansi pesannya sebagai sesuatu yang mendorong orang- orang untuk "berpikir positif dalam situasi yang buruk, dan itu akan membantu Anda untuk terus memiliki harapan". Pitts menunjukkan pada Osteen bahwa ada banyak teolog yang menganggap apa yang dikatakannya itu berbahaya, yang kemudian dijawab Osteen, "Aku tidak tahu mengapa memberi orang harapan dianggap sebagai sesuatu hal yang berbahaya." Harapan menjadi berbahaya jika harapan itu adalah harapan palsu. Memiliki sikap berpikir positif saat rumah sekeliling saya terbakar mungkin akan memberi saya harapan, namun satu-satunya hal yang dapat menyelamatkan saya adalah keluar dari rumah yang terbakar itu. Harapan memang dapat membuat orang bertahan, namun tak akan memberikan keselamatan. Osteen lebih menunjukkan pada orang bahwa harapan akan menyelamatkan mereka, bukan Yesus Kristus yang adalah satu-satunya Orang yang dapat membebaskan kita dari dosa (yang diistilahkan Osteen sebagai "situasi buruk"). Jaminan yang sejati di tengah tragedi hidup dan pencobaan tidak datang dengan percaya pada diri sendiri, melainkan dengan percaya pada Sosok yang membangkitkan Kristus dari kematian, dan menyadari bahwa kita telah dibangkitkan bersama Kristus melalui iman dalam karya Allah yang penuh kuasa, bahwa Allah telah menghapus dosa yang membelenggu kita dan memakukannya pada salib Anak-Nya yang tunggal (Kol. 2:8-15), yang membuat tak seorang pun mampu untuk menghukum dan memisahkan kita dari kasih Allah kepada kita melalui Kristus (Rm. 8:31-39). Dalam segala situasi buruk dalam hidup kita, kita lebih dari pemenang -- bukan karena kita melibas kesadaran kita dengan terus berpikir positif, namun karena Tuhan selalu membawa kita kepada kemenangan melalui pengorbanan-Nya yang sempurna bagi kita. Semua pengajaran dan pelayanan Osteen yang salah itu berangkat dari fakta bahwa ia memandang teologi yang serius sebagai sesuatu yang tidak harus ada (optional). Jika kita tahu bahwa cara Joel Osteen mendekati dan menangani firman Tuhan adalah dengan cara yang tidak serius (casual), kita akan cukup tahu untuk menjauhkan diri dari pelayanannya, sebuah pelayanan yang mengaku menyiapkan orang untuk memiliki kehidupan yang terbaik, namun ternyata belum dapat melakukan apa-apa untuk menyiapkan mereka pada sebuah keabadian di luar kehidupan ini karena yang Osteen tahu hanyalah kehidupan di dunia ini saja. Ia belum meluangkan waktu untuk memahami Alkitab pada tingkat yang cukup dalam untuk menyadari bahwa "jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh harapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia". (t/Dian) Catatan: Paul Edward adalah seorang pendeta dan pemandu acara Paul Edward Program yang disiarkan setiap hari di WLQV di Detroit dan godandculture.com Diterjemahkan dari:
Kemuliaan dan Damai SejahteraEditorial: Dear Reformed Netters, Wah ..., tidak terasa tahun 2007 sudah akan meninggalkan kita dan tahun 2008 akan segera menyambut kita. Namun, melihat keadaan dunia yang kian tak menentu ini, kita tidak tahu apakah tahun 2008 akan menyambut kita dengan senyuman atau dengan tangisan. Tapi puji Tuhan, sebagai orang yang percaya, senyuman atau tangisan bukanlah hal yang perlu kita kuatirkan karena jika Tuhan ada di pihak kita, siapakah lawan kita? Sebelum menutup sajian e-Reformed tahun ini, saya ingin mengucap syukur kepada Tuhan atas kebaikan-Nya yang telah menyertai pelayanan e-Reformed hingga saat ini. Pemeliharaan Tuhan sungguh sangat nyata. Saya yakin Anda pun pasti bisa memberikan kesaksian akan kebaikan Tuhan atas hidup Anda selama tahun 2007 ini. Nah, ucaplah syukur karena semua itu merupakan pengalaman yang sangat berharga yang membangun iman kita. Tak lupa saya juga mengucapkan terima kasih untuk semua anggota e- Reformed yang dengan setia terus bergabung bersama-sama sampai akhir tahun ini. Harapan saya, Anda mendapat berkat melalui keikutsertaan Anda di e-Reformed ini. Mari doakan agar hikmat Tuhan terus menyertai pelayanan e-Reformed di tahun 2008 dan biarlah pelayanan ini bisa semakin ditingkatkan. Bagaimana caranya? Saya menantikan usulan-usulan Anda. Sebelum kita berpisah di tahun ini, saya juga ingin mengucapkan `Selamat Hari Natal 2007 kepada semua anggota e-Reformed`, damai sejahtera Tuhan kiranya senantiasa menyertai kita semua, dari sekarang sampai Maranatha. Sebagai hadiah Natal, silakan nikmati renungan Natal yang disampaikan oleh Pdt. Albert Konaniah di bawah ini. Biarlah pada perayaan Natal ini, kita dapat merasakan kemuliaan Allah yang ada di tempat yang mahatinggi, karena tanpa Dia ditinggikan, tidak ada damai sejahtera yang akan turun ke bumi. Haleluya! Bagi Dia kemuliaan untuk selama-lamanya. Redaksi e-Reformed, Penulis: Pdt. Albert Konaniah Edisi: 094/XII/2007 Tanggal: 17-12-2007 Isi: Pada malam ketika Tuhan Yesus dilahirkan, para malaikat dan bala tentara surga memuji Allah dan berkata, "KEMULIAAN BAGI ALLAH DI TEMPAT YANG MAHA TINGGI DAN DAMAI SEJAHTERA DI BUMI DI ANTARA MANUSIA YANG BERKENAN KEPADANYA" (Lukas 2:14). Betapa sederhananya kedua kalimat pujian tersebut, namun di dalamnya terkandung dua pemberitaan penting, yakni: KEMULIAAN dan DAMAI SEJAHTERA. Berita pertama berkenaan dengan yang berada di tempat yang mahatinggi dan berita kedua berkenaan dengan yang berada di bumi. Di tempat yang mahatinggi ada KEMULIAAN dan di bumi ada DAMAI SEJAHTERA. KEMULIAAN dan DAMAI SEJAHTERA saling berkaitan erat, tetapi urutannya terlebih dahulu harus ada KEMULIAAN di tempat yang mahatinggi, barulah kemudian ada DAMAI SEJAHTERA di bumi. Jika kita terlebih dahulu mengutamakan KEMULIAAN di surga, barulah kita bisa mendapatkan DAMAI SEJAHTERA Allah di bumi.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Pentingnya Pekerjaan Anda di Mata TuhanEditorial: Dear e-Reformed Netters, Artikel yang saya kirimkan ke mailbox Anda ini sudah cukup panjang. Jadi, saya tidak perlu menambah dengan komentar lagi. Saya hanya ingin menegaskan bahwa artikel ini akan menjadi jawaban dari dua pertanyaan yang banyak ditanyakan oleh orang awam.
Selamat menemukan jawabannya. In Christ, Penulis: Neil Hood Edisi: 093/XI/2007 Tanggal: 19-11-2007 Isi: "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran." (Yoh. 1:14) Sebelum kita melihat lebih jauh mengenai bagaimana memahami dunia kerja melalui sudut pandang alkitabiah, kita perlu mempertimbangkan bagaimana Tuhan memandang pekerjaan kita. Jika kita tidak tahu apa arti pekerjaan kita dan dampaknya bagi Tuhan dan kerajaan-Nya, kita berisiko memandang iman dalam bekerja sebagai sesuatu yang tak penting. Topik ini menghadirkan dua pertanyaan pokok dan kemudian kita akan melihat sekilas apa yang dikatakan Alkitab mengenai sikap yang Tuhan inginkan dalam kita bekerja. Apa istimewanya pekerjaan saya? Kita akan membahas beberapa prinsip berkenaan dengan pekerjaan secara mendalam dan praktis sembari kita berusaha mencari jawaban atas pertanyaan utama: "Pekerjaan siapakah ini sebenarnya?" Sangat mudah bagi kita untuk terjebak dalam rutinitas sehari-hari -- keasyikan dalam mengerjakan tugas dan memenuhi tenggat waktu, pentingnya menanggapi tekanan, dan tuntutan kerja yang berubah-ubah -- sehingga kita tidak lagi bepikir bahwa sebenarnya pekerjaan kita berarti untuk Tuhan. Orang Kristen dianjurkan untuk memulai harinya bersama Tuhan dan menegaskan kembali tujuan dan misinya dalam bekerja. Namun, kedisiplinan untuk melakukan anjuran itu sangat mudah sekali dilindas oleh semangat dan kesibukan dalam bekerja. Kedisiplinan itu memang penting, tapi itu saja tidak cukup untuk membuat kita sadar bahwa pekerjaan yang kita lakukan, demikian halnya dengan sikap kita saat bekerja, benar-benar berarti bagi Tuhan. Jika saya dapat memahami tujuan Tuhan dalam pekerjaan saya, sejauh manakah saya dapat memahaminya? Dengan segala aspeknya, pekerjaan dapat membuat kita sangat sibuk saat jam kerja (dan jam di luar jam kerja) sehingga kita melupakan rencana indah di balik posisi yang Tuhan berikan kepada kita sekarang ini. Malahan, banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa ada rencana di balik semua hal yang kita lakukan. Ada banyak orang (termasuk orang Kristen) yang akan membuat Anda bosan selama berjam-jam saat mereka menceritakan segala rincian tentang apa yang istimewa dari pekerjaan mereka. Mereka bisa dengan kesungguhan menjawab pertanyaan, "Apa istimewanya pekerjaan saya?". Sisi negatifnya, jenis pembicaraan seperti ini menyingkapkan keistimewaan diri, kekuasaan, status profesional, permainan kekuasaan, dan sebagainya. Sedangkan sisi positifnya, semua orang perlu memiliki pemikiran bahwa pekerjaan mereka berarti dan berperan dalam kebutuhan mereka dan dalam masyarakat. Walaupun kenyataannya ada orang-orang yang tidak suka membicarakan pekerjaan mereka. Kita mencari jawaban untuk pertanyaan yang sedikit berbeda, yaitu "Apa istimewanya pekerjaan saya bagi Tuhan?" Untuk menjawabnya, kita perlu memahami kehendak Tuhan atas para murid-Nya. Sangat tidak mungkin jika Tuhan yang memanggil kita untuk mengikut-Nya, tidak memiliki tujuan saat menempatkan kita pada tempat di mana kita menghabiskan dua pertiga waktu kita dan setengah dari hidup kita. Menyangkali tujuan Tuhan berarti menganggap panggilan itu hanya setengah-setengah dan pemuridan itu adalah palsu. Untuk memahami arti pemuridan, kita perlu mempertimbangkan semangat dan sikap kita dalam bekerja. Doa John Oxenham sangat menantang: "Tuhan, ubahlah rutinitas pekerjaan menjadi perayaan kasih". Saya menyadari bahwa saya takkan pernah dapat melakukan hal itu sampai saya bisa menjawab pertanyaan utama kita. Jadi, saya harus menanyakan apa sebenarnya keistimewaan pekerjaan saya bagi Tuhan? Sikap seperti apa yang Tuhan ingin saya lakukan dalam bekerja? Empat sikap ilahi berikut akan menuntun kita kepada jawabannya. Menjadi saksi Kita bisa menerapkan Amanat Agung Yesus hanya jika kita bersedia menerima dan menaati perintah-Nya. "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat. 28:18-20). Karena ayat ini tidak menjelaskan secara gamblang mengenai pekerjaan sekular, sulit untuk melihat bagaimana murid yang potensial bisa dijangkau atau diajar tanpa perlu melibatkan diri dengan mereka dalam situasi kerja. Yesus tidak hanya bekerja sebagai tukang kayu, Ia juga mengunjungi orang- orang di tempat kerja mereka (di perahu, kantor pemungut pajak, dsb.) dan menantang serta mengajar mereka menerapkan iman mereka dalam situasi kerja. Amanat Agung meliputi perintah untuk mengajar semua bangsa "segala sesuatu" yang diperintahkan Yesus -- dan Ia mengajarkan banyak hal tentang sikap dalam bekerja! Sikap Yesus terhadap pekerjaan kita adalah kunci mengapa pekerjaan kita penting dan yang akan menghancurkan pemikiran kita bahwa iman dan pekerjaan itu harus dipisahkan. Mungkin tempat kerja kita adalah satu-satunya tempat di mana rekan kerja kita bisa mengenal kekristenan. Tapi apakah itu berarti kita harus memprioritaskan penginjilan di tempat kerja kita? Jika memang demikian, pekerjaan yang kita lakukan sekarang akan menjadi pekerjaan sambilan yang tidak terlalu penting. Mungkin kemudian kita menganggap pekerjaan kita "hanyalah sebuah pekerjaan" dan sebuah sarana untuk mencapai tujuan akhir. Dengan sikap seperti itu, kita tidak akan memuliakan Tuhan melalui performa dan sikap kita dalam bekerja. Pekerjaan kita kemudian akan tidak sesuai dengan beberapa aturan standar yang ada di Alkitab. Efesus, misalnya, mendorong murid untuk "... dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan" (Ef. 6:7-8). Ayat tersebut jelas-jelas menyatakan bahwa Tuhan mengharapkan sebuah pekerjaan yang dikerjakan dengan sangat baik karena dari situlah kesaksian yang efektif akan muncul. Kombinasi pekerjaan yang seperti itulah yang Ia inginkan. Kekristenan akan bekerja saat kita menjadi teladan yang hidup. Dibentuk oleh Tuhan Saya memerlukan beberapa waktu untuk bisa melihat bagaimana Tuhan telah memakai pengalaman kerja saya yang beragam -- yang baik dan yang buruk -- guna membentuk saya untuk kepentingan pelayanannya. Terkadang sulit untuk kita pahami bagaimana Tuhan membentuk hidup kita ketika atasan kita selalu dipuji atau selalu dapat menghadapi konflik dalam semua hubungan kerjanya, atau ketika rekan kerja kita bersikap sinis terhadap agama kita. Pengalaman seperti itu nampaknya bukanlah suatu pembentukan yang positif. Namun, bagi kebanyakan orang, tempat di mana kita bekerja dan menghabiskan sebagian besar hidup, berperan penting bagi perkembangan iman kita kepada Tuhan. Dan setiap kita telah dibentuk dengan cara yang berbeda. Terkadang, semakin buruk situasi kerja kita, semakin teguh kita memegang iman kita. Tuhan tidak selalu mengubahkan pekerjaan, tapi Ia mengubah pekerja-Nya. Paulus mengaitkan proses ilahi itu dalam frasa "kita adalah ciptaan Tuhan" (Ef.2:10) -- secara harafiah, ini berarti kita adalah hasil karya-Nya yang hidup, dengan segala keterampilan dan keunikan yang terpancar darinya. Melalui proses "berjalan dalam Roh" (Gal. 5:25), kita telah menjadi seperti itu. Sayangnya, tidak semua orang Kristen teguh ketika melalui ujian itu. Saya mengenal begitu banyak profesional Kristen muda yang dibentuk oleh ambisi, uang, dan kekuasaan daripada oleh iman. Hubungan mereka dengan Tuhan adalah hubungan yang salah. Sebaliknya, lihatlah bagimana kemampuan Yusuf dalam memimpin Mesir diasah oleh pengalamannya dibuang dan diperbudak. Proses hidup yang menyakitkan itu membawanya ke dalam istana dan posisi istimewa dalam kepemimpinan. Daniel juga berubah dari seorang tawanan menjadi seorang pemimpin yang memimpin sepertiga kerajaan Babilonia. Dari awal, perannya sebagai saksi dalam pekerjaan sangat luar biasa. Dalam hal performa kerja, dia dan teman-temannya lebih baik sepuluh kali lipat daripada mereka yang tidak mengenal Tuhan (Dan. 1:20). Kebanyakan dari kita sudah merasa senang bila kita lebih baik dua kali lipat daripada orang lain. Jika kita mengizinkan Tuhan membentuk kita sesuai keinginan-Nya, Ia akan memiliki pelayan- pelayan handal di tempat kita bekerja. Terkadang ada kehampaan dalam kita bekerja -- kehampaan yang muncul akibat penolakan kita terhadap tujuan-Nya. Prinsip bagaimana kita memandang pekerjaan dalam konteks hubungan yang benar dengan Tuhan mencakup banyak bidang pekerjaan. Kita semua perlu mengetahui jawaban pertanyaan "pekerjaan siapakah ini sebenarnya?" Dalam kitab Kolose, misalnya, dikatakan untuk budak (kelas masyarakat yang paling rendah): "taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. (Kol. 3:22-24)" Kita jarang membayangkan pekerjaan kasar, rendah, dan buruk yang dilakukan oleh budak-budak pada masa itu. Namun, Tuhan sendiri menghargai pekerjaan itu karena pekerjaan itu dilakukan untuk-Nya. Sebaliknya, anggota masyarakat yang paling berkuasa yang telah menjadi Kristen diminta untuk bersikap lain dari pada yang biasa mereka lakukan di masa lalu. Di dunia di mana budak tidak memiliki suatu hak apapun juga, Tuhan memerintah para penguasa: "berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga" (Kol. 4:1). Sungguh suatu cerminan dampak Roh Kudus dalam hidup mereka! Kristus memperkenalkan dua kelas masyarakat itu kepada dimensi pekerjaan mereka yang lebih tinggi, kepada apa yang menjadi kewajiban mereka dalam bekerja. Yesus Kristus mengingatkan mereka bahwa Ialah penguasa lingkungan kerja mereka. Mungkin mengejutkan bahwa asumsi dari ayat itu adalah Tuhan mendominasi pekerjaan kita. Mungkin kita bisa membatasi-Nya, tapi itu jelas bukan rencana-Nya. Kita harus masuk dalam rencana-Nya! Menyaksikan kasih Tuhan dalam tindakan Menyaksikan kasih Tuhan memang berkaitan dengan peran khusus kita sebagai saksi, lebih spesifik dengan sikap kita dalam pekerjaan. Kini kita berada dalam bagian yang sulit. Perilaku kerja orang Kristen banyak yang tidak menunjukkan keilahian Tuhan. Beberapa orang Kristen cenderung dikarakterisasi oleh kekakuan, kearoganan, kepicikan, dan mulut besar mereka daripada keilahian Tuhan. Kelemahan gereja yang paling besar adalah kehidupan jemaatnya yang tidak mencerminkan Kristus. C.H. Spurgeon pernah menyatakan, "Jika pengetahuan teologi Anda tidak bisa mengubah Anda, maka nasib Anda juga tidak bisa berubah." Ketika ditanya tentang perintah Allah yang terbesar, Yesus menjawab, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu." ... Dan yang kedua adalah: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Mat. 22:37,39). Hal tersebut adalah sebuah mandat yang menantang -- mengasihi Tuhan, sesama, dan diri kita sendiri. Makna praktis mandat tersebut sangat luas. Mengasihi Tuhan memerlukan ketaatan. Seberapa sering kita merenungkan pekerjaan dan sikap kita dalam bekerja? Seberapa sering kita bertanya apakah dan di mana kasih Tuhan nyata dalam sikap kita? Haruskah kasih kita kepada Tuhan tampak dalam cara kita memperlakukan orang, cara kerja, kinerja, motivasi kita, dsb.? Misalnya, bagaimana kasih itu bisa tampak ketika melayani pelanggan yang merepotkan di toko? Bagaimana kasih itu bisa nampak dalam hubungan seorang manajer dengan pegawai yang kaku? Dalam kehidupan seorang perawat yang kelelahan merawat pasien yang tidak tahu terima kasih? Kita mungkin tergoda untuk menanyakan, "Apa hubungan kasih dengan pekerjaanku?" Jawaban Alkitabiah untuk pertanyaan itu adalah -- segalanya. Namun ada sebuah misteri dan kenyataan dalam hal ini. Tuhan bisa saja dengan mudah mengkloning kita saat Ia memanggil kita. Namun ternyata Ia memanggil kita dengan segala kesalahan kita. Dan melalui kuasa Roh Kudus, Tuhan mampu mengubah kita sehingga kita bisa mengekspresikan kasih-Nya dalam tindakan dan pekerjaan kita. Seperti itulah seharusnya seorang tukang kayu, bankir, sopir truk, dokter, tukang ledeng, atau guru dalam mengerjakan pekerjaan Tuhan. Sebagian dari kasih ini dinyatakan melalui hubungan di tempat kerja. Selain itu, kasih juga harus terlihat nyata melalui bentuk pelayanan kita yang lain seperti membantu sesama dan peduli kepada keluarga dan mereka yang membutuhkan. Meskipun William Tyndale mengatakan beberapa abad yang lalu, namun perkataannya itu sepenuhnya alkitabiah dan tidak ketinggalan zaman dalam penerapannya. "Tidak ada pekerjaan yang lebih baik dalam menyukakan Tuhan; menuangkan air, mencuci piring, menjadi tukang sepatu, atau rasul, semuanya sama; mencuci piring dan berkhotbah adalah sama, semuanya untuk menyenangkan Tuhan." Untuk memuliakan Tuhan Dalam hal yang penting ini, kita menghadapi tantangan besar. Dalam pekerjaan, kita dituntut untuk memimpin orang-orang yang berinteraksi dengan kita untuk bersyukur dan memuliakan-Nya. Mungkin Anda bertanya, untuk apa? Untuk mereka melihat Kristus dalam diri kita; untuk mereka melihat perbedaan yang disebabkan oleh Roh dalam hidup kita, untuk mereka melihat perbuatan kita yang menyatakan kasih Kristus; untuk mereka melihat penyataan iman kita; untuk mereka melihat integritas kita, untuk mereka melihat kepedulian kita terhadap orang lain, dsb.. Kalimat "supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya" (Ef. 1:12) menyiratkan hal itu, bahkan lebih. Sangat mudah untuk menyerah dan mengatakan bahwa panggilan ini adalah mustahil karena beberapa alasan. "Saya bekerja dengan orang-orang yang tidak mengenal atau memuji Tuhan"; "tidak ada seorang pun di sini yang berpikiran seperti itu -- jika saya seorang yang baik, mereka tidak akan tahu kepada siapa mereka harus berterima kasih (itupun jika mereka terpikir untuk berterima kasih)"; "orang-orang memerhatikan perbedaan, namun hanya dalam hal yang umum -- baik atau buruk, ramah atau kasar, dll. -- mengapa mereka perlu sebuah alasan?"; "situasi kerja di sini sangat tidak menyenangkan, Tuhan tidak mungkin akan dimuliakan di sini". Semua tanggapan ini mengarah kepada satu jawaban yang masuk akal. Saya harus hidup sebagai pengikut Kristus dan berbicara tentang-Nya. Bagaimana lagi orang Kristen harus bersikap? Orang Kristen terpanggil untuk menjadi lebih dari sekadar "orang yang baik". Hal itu menghadirkan masalah untuk beberapa orang Kristen. Mereka berpendapat, lebih baik bertindak daripada berbicara. Sebenarnya, keduanya penting. Kebanyakan dari kita tinggal dalam dunia yang maju, di tengah masyarakat yang mungkin post-Kristen. Banyak orang yang lupa akan arti mengikut Kristus. Menurut mereka, menjadi orang Kristen bukanlah menjadi sesuatu yang berbeda, sama saja. Orang lain membutuhkan penjelasan mengapa kita melakukan hal tertentu, dan kita harus menjelaskannya kepada mereka. Penulis Perjanjian Baru dengan konsisten mengatakan kepada kita bahwa kemuliaan sifat, karakter, kekuasaan, dan tujuan Allah terlihat dalam diri Yesus. Seperti yang dikatakan penulis kitab Ibrani, misalnya, "Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan" (Ibr. 1:3). Yohanes menulis sabda Allah melalui Alkitab dengan kuasa Roh Kudus. Yesus ada dalam diri kita melalui Roh Kudus -- dan saat ini kita memang menjadi bagian dari sabda-Nya. Dalam segala hal, pekerjaan "memuliakan" tetap diteruskan melalui kita. Tapi bagaimana kita tahu bahwa kita memuliakan Tuhan? Mungkin kita tidak akan pernah menyadarinya. Memang ada alat untuk mengetahui tingkat kolesterol, tekanan darah, atau keadaan jantung kita, namun tidak ada yang namanya "alat pengukur kemuliaan". Namun, kita diyakinkan bahwa Tuhan senang karena kita menaati panggilan-Nya, dan ketaatan itu akan dengan sendirinya membawa kemuliaan bagi nama-Nya. Tugas kita adalah mengatur pekerjaan kita, dan Tuhan yang akan menilai hasilnya. Namun begitu, ada aspek lain yang juga penting dalam memuliakan Tuhan. Dalam Alkitab, pekerjaan dan penyembahan sangat berkaitan. Bahkan, kata "bekerja" dalam bahasa Ibrani terkadang diartikan sebagai `penyembahan`. Mark Greene mengaitkannya setelah mengamati bahwa "bekerja adalah kata yang dibentuk oleh tujuh huruf"[1]. Ketika seorang Kristen bekerja, dia juga sedang menyembah. Apakah Anda merasa sudah melakukannya setiap hari? Cara kerja dan cara menyikapi pekerjaan yang buruk akan mengarah kepada penyembahan yang berkualitas buruk pula -- atau tidak menyembah sama sekali. Jika itu terjadi, kemuliaan Allah sedang dirampok sebanyak dua laki lipat -- karena kita tidak mendorong orang lain untuk memuliakan-Nya karena kita sendiri pun tidak memuliakan-Nya. Doa Daud, ketika dia mempersiapkan Bait Allah yang kelak akan dibangun oleh anaknya, Salomo, menyiratkan pola penyembahan dalam Alkitab: "Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala" (1Taw. 29:11). Yesus mengambil inti dari doa itu yang kemudian Dia ajarkan kepada murid-murid-Nya (Mat.6:9-13). Seperti yang dikatakan William Barclay, "Saya tidak bisa mengatakan amin (untuk doa itu) kecuali saya bisa mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Karena bagaimanapun juga itu adalah doa saya." Sungguh-sungguh suatu tantangan yang besar untuk memuliakan Tuhan dalam hidup dan pekerjaan kita [2]. Aksi: Kita telah membahas empat cara agar pekerjaan kita bisa memuliakan Tuhan. Periksa dan nilailah pekerjaan Anda sekarang berdasar empat prinsip ini. Berdoalah agar Anda mampu bersikap jujur dan objektif. Kita semua perlu belajar banyak dan mencoba menerapkannya dengan lebih baik. Bagaimana Anda menjawab pertanyaan, "Apa pentingnya pekerjaanku bagi Tuhan?" Apakah Tuhan tercermin dalam sikap kerjaku? Sikap kerja kita berperan penting dalam menentukan peran unik kita nantinya. Ketika Anda mengerjakan beberapa aksi di atas, Anda mungkin merasakan kepedihan akan sikap Anda yang sekarang. Saya sendiri merasakan seperti itu. Mari kita bahas hal ini lebih dalam dengan melihat "semangat zaman" ini. Bagaimana dan di mana semangat zaman ini bisa memengaruhi kerja kita yang begitu dipedulikan Tuhan? Saya mencari profil seseorang atau perusahaan untuk mengetahui sikap yang umum dilakukan dalam bekerja. Saya tidak butuh waktu lama untuk menemukan apa yang saya cari -- profil-profil seperti itu banyak terdapat dalam media massa dan pelatihan yang ada di seluruh dunia. Mereka inilah yang membentuk opini yang memengaruhi kita dalam menetapkan konteks mengenai bagaimana orang Kristen harus bekerja. Inilah sepuluh pandangan mereka tentang diri mereka sendiri atau orang lain yang mereka kagumi.
Anda akan melihat betapa tegas dan kerasnya pernyataan-pernyataan di atas. Ada beberapa pernyataan yang sangat ekstrem, dan kebanyakan terkesan negatif. Ambisi dan persaingan memang dibutuhkan agar kinerja seseorang baik -- pada tingkat tertentu, hal itu akan membawa kemuliaan bagi Tuhan. Tapi bagian-bagian lain, seperti meniadakan moral atau tidak ingin berkeluarga, tidak bisa disebut sebagai prinsip orang Kristen. Anda mungkin mengenal banyak orang seperti itu atau jangan-jangan Anda sendiri memiliki pemikiran seperti itu, tergantung dari jenis pekerjaan yang Anda lakukan. Mungkin Anda baru saja memulai karir dan mengabaikan hal ini, atau mungkin Anda berada di pertengahan karier dan semua ini terdengar seperti "memang seperti itulah bisnis". Bukan hanya "pemimpin dunia industri" yang menggunakan pernyataan- pernyataan seperti itu. Saya sudah bertemu dengan orang-orang seperti ini dalam jalan kehidupan yang sangat berbeda. Banyak dari mereka yang mengganggap bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah suatu kehormatan. Meskipun ada yang melecehkan sikap-sikap seperti itu, tapi pada kenyataannya banyak yang memercayai dan melakukannya. Dan sebagian dari mereka adalah orang-orang Kristen. Kini kita tahu bahwa pekerjaan kita berarti untuk Tuhan -- setidaknya itulah yang diharapkan Tuhan. Namun, berarti atau tidaknya pekerjaaan kita tergantung dari sikap dan perilaku kita. Cermati lagi kesepuluh perilaku di atas. Pikirkanlah kesepuluh hal itu sebagai tempat kita bercermin, yang mana yang ada pada diri Anda dan lingkungan kerja Anda. Tanggapan: Apakah Anda mengekpresikan salah satu dari karakteristik ekstrem di atas ketika Anda bekerja? Jika ya, pikirkanlah bagaimana sikap itu mempengaruhi peran pekerjaan yang Tuhan inginkan. Jika Anda cukup berani, mintalah pendapat dari rekan kerja untuk melihat bagaimana mereka menanggapi Anda. Apa yang akan Anda lakukan untuk mengubah sikap yang tidak ilahi ini? Jika Anda memiliki karakteristik- karakteristik seperti itu, berdoalah agar Anda dilepaskan dari pencemarannya. Sikap dalam pekerjaan yang Tuhan inginkan Sang Pencipta tahu semua kelemahan dan kelebihan kita -- dan diberikan-Nyalah Alkitab sebagai penuntun hidup kita. Karena etika Kristen tidak dikembangkan dalam gereja atau untuk gereja, John Stotts kemudian meneliti, "... konteks Perjanjian Baru bagi kehidupan Kristen adalah ramai, sibuk, dan menantang di tempat kerja dan lingkungan bisnis." [3] Apa yang kita lakukan di sini adalah mengaitkan apa yang telah lama terpisahkan. Kita bisa dengan yakin mengatakan Tuhan tidak bermaksud untuk memisahkan pekerjaan dan kehidupan dari iman. Dan untuk itu, Alkitab memiliki banyak pandangan yang sangat membantu untuk mengetahui sikap yang diperlukan untuk dapat bersaksi tentang Tuhan melalui pekerjaan kita. Segera, kita akan membahas ketiga sikap itu. Bait Allah Dalam 1Korintus 3:16, Paulus mengemukakan pertanyaan, "Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?" (1Kor 3:16). Maksudnya adalah bahwa bait Allah itu sangat suci dan "Anda adalah bait itu. Ini adalah metafora yang sangat luar biasa dan memandang manusia dengan sangat tinggi. Bagi sebagian dari kita, pandangan ini mungkin terlalu tinggi. Apa yang dikatakan dalam ayat itu, mungkin sulit untuk kita penuhi -- terutama dalam lingkungan kerja. Meski begitu, nilai yang dimiliki orang Kristen di dunia ini terletak pada hubungan istimewa mereka dengan Tuhan. Itulah pekerjaan yang dimaksudkan Alkitab. Untuk itulah Kristus mati. Lebih jauh lagi, kita perlu bertanya pada diri sendiri mengenai kegiatan yang dilakukan dalam bait ini, di tempat yang sebenarnya adalah milik Tuhan. Siapa lagi yang tinggal di dalamnya? Apakah bait kita hanyalah sekadar bangunan sejarah atau tempat untuk menyembah dan bersaksi? Lebih dalam lagi, ini berarti bahwa Anda membawa serta Roh Kudus saat Anda bersikap tanpa kasih, mencaci maki orang lain atau bawahan Anda. Roh Kudus ada ketika Anda berbohong kepada seorang pelanggan tentang permasalahan produk yang Anda miliki. Roh Kudus melihat Anda sedang berbohong saat mengajukan klaim. Roh Kudus di sana, menunggu, ketika sebenarnya Anda memiliki kesempatan untuk bersaksi, namun tidak pernah menyatukan iman dan pekerjaan sebagai sebuah prinsip. Jika hal itu membuat Anda menangis, menangislah. Kadangkala, inilah fakta menyedihkan kehidupan seorang Kristen di tempat kerjanya. Masalahnya bukanlah bagaimana saya dapat hidup seperti Kristus, melainkan bagaimana saya mengizinkan Kristus hidup di dalam saya. Tubuh saya adalah rumah -- apakah Roh Kudus sudah tinggal di dalamnya? Partner Allah Bersekutu dan berbagi adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan Kristen. Prinsip bersekutu mengakar dalam bidang bisnis dan komersial. Namun, hal ini sangat relevan dengan pembahasan kita. Tidak akan ada persekutuan jika kedua belah pihak tidak memiliki tujuan yang sama; harus ada alasan kuat untuk terlibat dalam hubungan tersebut, dan alasan itu harus mampu bertahan dalam keadaan baik ataupun buruk. Persekutuan jarang dapat bertahan lama jika salah satu pihak "tidur", atau bersikap pasif. Apakah Anda pernah "bersekutu dengan Kristus"? Apakah Anda pernah berpikir untuk melakukan (atau tak melakukan) pekerjaan Tuhan? Tanpa terkecuali, semua orang Kristen disebut sebagai rekan dalam anugerah Tuhan. Paulus mendapat gagasan ini saat ia bersyukur pada Tuhan karena "persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus (Fil. 1:5-6)." Sungguh melegakan karena Alkitab ternyata mengerti kebutuhan kita yang selalu membutuhkan bantuan untuk menjalankan peran kita. Selain kekuatan, persekutuan juga memerlukan semangat yang benar. Hal itu tidak bisa dijalankan bila saya merasa terpaksa membawa masuk Tuhan dalam kerja saya. Anda bisa beranggapan bahwa Tuhan memunyai suatu pekerjaan untuk Anda lakukan bersama-sama di tempat kerja Anda; namun terkadang Anda tidak selalu menjadi rekan yang mau bekerja dengan-Nya. Murid-murid Allah Karakter orang Kristen sesungguhnya adalah sebagai murid. Ini merupakan tujuan hidup -- berdasar sikap rendah hati yang rindu untuk mengenal dengan lebih dalam tentang orang yang diikutinya. Bagi sebagian besar dari kita, kerja bisa menjadi lingkungan yang keras -- serta merupakan tempat di mana kita semua melakukan kesalahan. Aturan pertama untuk semua murid adalah mengakui bahwa orang lain mungkin benar dan dia bisa saja salah. Perkataan spontan, situasi yang tak terduga, rekan kerja yang tidak mau menolong adalah beberapa hal yang bisa menyebabkan perilaku kita tidak mencerminkan Kristus. Kita perlu ingat bahwa apa yang sedang kita pelajari adalah tentang kebesaran dan kemampuan Tuhan dalam mengatasi setiap tantangan-tantangan hidup kita. Orang lain perlu (beberapa orang ingin) untuk belajar dari kita. Banyak orang tidak membaca Alkitab. Dalam kehidupan kerja kita, kita tidak selalu mendengarnya dalam perkataan yang ditujukan untuk Filipus, "Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus" (Yoh. 12:21). Para pencari kebenaran dari Yunani ini menggambarkan kehausan akan Tuhan yang tidak selalu dimiliki sesama kita. "Permintaan" itu terkadang tidak diekspresikan; situasi kantor biasa-biasa saja, terkadang muncul pertanyaan yang sinis dan mencemooh, ada juga kata-kata celaan. Namun pada kenyataannya, orang-orang memang mencari fakta dari pembelajaran dan kepengikutan kita akan Tuhan. Apa yang mereka lihat? Jika mereka mencatat di buku harian, apakah yang akan mereka tulis tentang "kehidupan seorang Kristen"? Tantangan Bahasan dalam artikel ini meliputi beberapa materi yang agak pribadi mengenai keinginan Tuhan, sikap kita, dan pekerjaan kita. Luangkanlah beberapa menit untuk merenungkan hal-hal berikut.
Tambahan Catatan Kaki [1] Mark Greene, `Thank God It`s Monday; Ministry in the Workplace (London: Scripture Union, 1994), hal. 36. [2] William Barclay, The Plain Man Looks at the Lord`s Prayer (London: Collins, 1964. [3] John Stott, The Incomparable Christ (Leicester: IVP, 2001), hal 96-97. Diterjemahkan dari:
Beritakan Injil; Standar Alkitabiah Bagi PenginjilEditorial: Dear e-Reformed Netters, Selamat berjumpa lagi dalam kasih Kristus. Walaupun tugas penginjilan ditujukan bagi semua orang Kristen, tidak semua orang Kristen mengetahui adanya standar tertentu yang harus dipenuhi ketika kita menginjili. Kebanyakan kita mempelajari penginjilan hanya sekadar metode yang harus dipelajari. Padahal ada esensi penting yang harus diberitakan dan dikerjakan sehingga sebuah penginjilan bisa disebut penginjilan yang bertanggung jawab. Esensi penginjilan adalah perintah Alkitab yang seharusnya memiliki isi yang sama untuk semua orang Kristen di seluruh dunia. Apakah isi esensi penginjilan itu? Konferensi Internasional Bagi Penginjil Keliling, yang diselenggarakan oleh Lembaga Penginjilan Billy Graham di Amsterdam pada tahun 1983, telah melahirkan Lima Belas Pengukuhan penting tentang esensi penginjilan itu. Sebagai pemrakarsa konprensi ini, Billy Graham didaulat untuk memberikan uraian/penjelasan tentang Lima Belas Pengukuhan yang telah disampaikan dalam konferensi tersebut dalam sebuah buku, yang dalam terjemahan bahasa Indonesianya berjudul "Beritakan Injil: Standar Alkitabiah bagi Penginjil". Nah, saya anjurkan Anda membeli buku tersebut sehingga dapat membaca dengan jelas uraian yang disampaikan di dalamnya. Bagi Anda yang tidak dapat menikmati bukunya, saya ingin memberikan cuplikannya saja, khususnya prakata buku tersebut yang disampaikan oleh Billy Graham sendiri. Bagian prakata ini sangat penting untuk memahami latar belakang dan motivasi lahirnya Lima Belas Pengukuhan yang dideklarasikan dalam konferensi internasional bagi para penginjil ini. Untuk itu, silakan simak artikel berikut ini yang sebenarnya adalah prakata dari buku yang aslinya berjudul "A Biblical Standard for Evangelists." Untuk melengkapinya, saya tambahkan juga pokok penting dari Lima Belas Pengukuhan di bagian bawah artikel ini. Namun, saya minta maaf karena isinya hanyalah rumusannya saja dan tidak ada uraiannya. Untuk mendapatkan uraiannya, belilah bukunya. In Christ, Penulis: Billy Graham Edisi: 088/IV/2007 Tanggal: 01-10-2007 Isi:
STANDAR ALKITABIAH BAGI PENGINJIL Konferensi Internasional bagi Penginjil Keliling -- Amsterdam `83 -- tidak hanya merupakan kejadian penting dalam kehidupan saya sebagai penginjil, tetapi juga merupakan konferensi yang bersejarah. Baru pertama kali dalam sejarah, konferensi semacam itu diselenggarakan. Pada puncak konferensi itu, terjadilah saat-saat yang khidmat, yaitu janji penyerahan diri. Rekan-rekan sepanggilan -- para penginjil dari berbagai benua -- termasuk saya, menyerahkan diri kembali untuk melayani Tuhan kita, Yesus Kristus. Dengan bersuara, kami mengucapkan kata-kata yang sangat berarti, yang kami sebut sebagai "Pengukuhan-Pengukuhan Amsterdam". Kelima Belas Pengukuhan itu memuat patokan alkitabiah bagi mereka yang dikhususkan Tuhan untuk "melakukan pekerjaan seorang penginjil". Lebih daripada itu, Kelima Belas Pengukuhan tersebut juga ada hubungannya dengan seluruh keluarga besar Allah. Bukankah kita semua dipanggil untuk menjadi saksi-saksi-Nya? Oleh karena itulah buku ini, yang berisi ulasan tentang Kelima Belas Pengukuhan tersebut, ditulis untuk menjangkau kalangan yang lebih luas. Perkenankan saya mengenang sejenak. Bertahun-tahun yang lalu, Tuhan memberi visi kepada saya untuk menghimpun penginjil-penginjil dari berbagai penjuru dunia dalam sebuah konferensi. Pada waktu itu, hal tersebut tampaknya tidak mungkin terjadi. Saya masih terlalu muda. Penginjil-penginjil yang lebih tua dan yang lebih berpengalaman daripada saya mungkin saja tidak menyukai prakarsa saya itu. Namun, gagasan itu tidak pernah memudar. Saya tidak pernah meragukan bahwa pada suatu hari, konferensi itu akan terlaksana. Hanya saja, saya harus peka terhadap "waktu" Tuhan, kapan Ia menghendaki konferensi itu diselenggarakan. Kalau kami mengenang kembali, kami dapat merasakan bimbingan-Nya langkah demi langkah sampai konferensi tersebut terselenggara. Sementara itu, Lembaga Penginjilan Billy Graham sering mengadakan dan membiayai berbagai kegiatan serupa lainnya. Kongres Pekabaran Injil se-Dunia diadakan di Berlin pada tahun 1966. Setelah itu, berbagai konferensi regional, termasuk konferensi untuk para pemimpin injili se-Asia diadakan di Singapura pada tahun 1968. Konferensi Pekabaran Injil se-Eropa diadakan pada tahun 1971. Setelah itu, kami menyelenggarakan konferensi sedunia lagi di Laussane, Swis, pada tahun 1974. Walaupun semua konferensi itu diorganisasikan dan dibiayai oleh Lembaga Penginjilan Billy Graham, dan sebagian besar tanggung jawab jatuh di bahu saya, sebagai ketua kehormatan, saya mengangkat ketua- ketua rapat dan ketua-ketua panitia sebagai orang-orang yang bertanggung jawab atas kelangsungan konferensi itu. Pertemuan-pertemuan itu menghimpun para teolog, para pakar pendidikan, ketua-ketua badan zending, pendeta-pendeta, pemimpin-pemimpin gereja dan para penginjil, sangat mengesankan dan bermanfaat. Kalau kami tinjau kembali, rupanya mereka telah menjadi peletak dasar terwujudnya Konferensi Amsterdam `83. Namun, dalam benak dan hati saya, selalu terbayang visi konferensi khusus bagi para penginjil. Masalahnya: Bagaimana kita dapat membedakan antara pendeta yang memunyai karunia sebagai penginjil, dengan orang yang seperti saya, berkeliling mewartakan Injil dari satu tempat ke tempat yang lain? Kami berpendapat kata "keliling" ini telah memperjelas perbedaannya. Anehnya, waktu kami membicarakan kemungkinan dilaksanakannya konferensi itu, ternyata hanya sedikit orang saja yang memunyai visi yang sama. Namun, sementara waktu berjalan, kami heran bahwa ada antusias yang kian meningkat selagi publikasi tentang konferensi itu beredar. Pada masa itu, anggaran yang kami perkirakan tidak lebih dari sejuta dolar. Kami tidak pernah menduga bahwa anggaran yang diperlukan dapat melonjak sampai delapan juta dolar! Pada waktu itu, kami juga tidak dapat memperkirakan berapa banyak penginjil yang akan turut berperan serta, dan dari mana saja mereka akan berdatangan. Kendati biayanya sampai mencapai delapan juta dolar, saya yakin setiap dolar yang dikeluarkan tidaklah sia-sia. Bagaimana Tuhan menyediakan dana -- hal itu menakjubkan sekali. Orang-orang dari seluruh dunia mengirim sumbangan. Sementara masa persiapan terus bergerak maju, orang-orang Kristen di berbagai negara terus berdoa. Tuhan mengabulkan doa-doa mereka -- lebih dari apa yang kami harapkan. Di mana konferensi akan diselenggarakan? Maka Amsterdamlah yang terpilih menjadi tuan tamu. Bangsa Belanda dikenal sebagai orang-orang yang suka menerima tamu. Dan kami mengetahui bahwa tidak ada kesulitan untuk mendapatkan visa bagi para peserta dari berbagai negara. Ada fasilitas istimewa yang membuat Amsterdam menjadi salah satu tempat konferensi yang terbaik di dunia -- sanggup menyediakan seratus delapan puluh tempat lokakarya (dengan banyak ruang cadangan). Maskapai Penerbangan Belanda, KLM, berjanji untuk membantu, tidak saja dalam hal transportasi tetapi juga mau menyediakan makanan bagi setiap peserta selama konferensi berlangsung. Mereka menepati janji dengan memberi makan lima ribu orang secara serentak dalam waktu kurang dari lima puluh menit. Tuhan menyediakan beberapa orang untuk menjabat sebagai pemimpin. Walter H. Smyth, yang bertugas menangani urusan internasional. Orang yang diangkat menjadi direktur adalah teman lama saya. Dia juga teman sejawat saya dan menjabat sebagai ketua dari pelayanan organisasi kami di Jerman, yaitu Werner Burklin. Ia membawa timnya yang terdiri dari orang-orang yang melayani tanpa pamrih. Leighton Ford diminta menjadi ketua rapat. Campus Crusade for Christ mengutus Paul Eshleman untuk melayani sebagai ketua acara. Saya ingat, pada suatu rapat panitia, Paul mengutarakan garis besar dari visinya; ia meluaskan pikiran saya seribu kali lipat tentang kemungkinan-kemungkinan jangka panjang yang dapat lahir dari konferensi itu. Bob William, dari staf kami, diminta untuk memimpin bagian penyeleksian para peserta. Mula-mula kami mengira hanya ada beberapa ratus Penginjil Keliling saja yang akan hadir. Kami tidak mengira bahwa ada begitu banyak Penginjil Keliling di dunia ini. Selama beberapa tahun, kami mengumpulkan nama-nama Penginjil Keliling. Itu merupakan pekerjaan yang belum pernah kami lakukan. Besarnya jumlah penginjil melebihi perkiraan kami. Formulir-formulir pendaftaran peserta terus mengalir masuk, melebihi jumlah kursi yang tersedia. Sekitar dua ratus panitia di seluruh dunia membantu untuk menyeleksi pesertanya. Kami memerhatikan secara khusus agar para penginjil yang tidak terkenal namanya, yang setia melayani di bagian bumi yang paling jauh dari kami, jangan sampai terlewat. Saya tidak dapat melupakan hari pembukaan konferensi itu. Hari itu adalah hari yang terpanas di Amsterdam. Ruangan konferensi bagaikan sebuah oven raksasa. Dengan mengenakan jas biru, seratus lima puluh penerima tamu dari universitas Kristen dan berbagai organisasi Kristen mengantar sekitar empat ribu hadirin (ditambah dengan seribu orang lainnya yang terdiri dari para pemantau, tamu, wartawan, dll.) ke tempat duduk mereka masing-masing. Sementara saya menatap lautan manusia itu dari panggung, hati saya penuh dengan rasa terima kasih kepada Tuhan. Visi yang Ia berikan kepada saya bertahun-tahun yang lalu telah digenapi pada waktu-Nya yang tepat. Dalam upacara pembukaan diadakan pawai dengan membawa bendera dari seratus tiga puluh tiga negara yang diwakilinya. Di hadapan saya terhimpun penginjil-penginjil yang menjadi bagian dari pasukan Allah. Mereka adalah orang-orang yang bertekad melaksanakan Amanat Agung Yesus Kristus. Dari wajah mereka dan dari sinar mata mereka tercermin bahwa mereka datang dengan penuh antusias. Banyak di antara mereka ada yang baru pertama kali bepergian keluar dari negara mereka, bahkan ada yang baru kali itu bepergian keluar dari provinsinya! Sebagian ada yang baru pertama kali menumpang pesawat udara. Kedatangan mereka di Amsterdam merupakan pengalaman yang istimewa. Segala sesuatunya baru. Melalui pantulan sinar mata mereka, tercerminlah sekilas pandangan baru tentang dunia ini. Kesungguhan mereka dalam menyimak apa yang kami sampaikan merupakan tanda betapa dalamnya pengabdian mereka. Di dalam buku karangan Dave Foster mengenai konferensi itu yang berjudul Billy Graham, "A Vision Imparted", ia menggambarkan saat-saat saya mengakhiri sidang pembukaan itu: "Pada waktu ia mengakhiri kata-kata pembukaannya dan memimpin doa pengabdian dan penyerahan diri, konferensi itu seakan-akan `tersulut api`. Di situ dapat dirasakan sudah terjadi pembaharuan rohani dalam hati para peserta. Hal itu nampak jelas dari ungkapan hati mereka waktu menyanyikan lagu penutup yang berbunyi:
Tuhanku Allahku -- penuh kasih karunia, "Ketika Walter Smyth turun dari panggung, ... ia berkata bahwa kehadiran Roh Kudus dan persatuan di dalam kasih Kristus sudah terasa. Suasana dipenuhi puji-pujian dan penyembahan kepada Tuhan. Konferensi ini tampaknya dimulai dengan suasana yang pada umumnya terjadi pada penutupan suatu konferensi." Sahabat karib saya, yang juga teman sejawat saya, Cliff Barrows, adalah seorang yang sangat besar peran sertanya dalam konferensi tersebut sehingga tercipta suasana yang seperti itu. Dialah yang bertugas mengurus panggung selama konferensi berlangsung. Sepanjang masa pelayanan saya, saya belum pernah menemukan orang lain yang dapat lebih baik melakukan pekerjaan semacam itu daripada dia. Acara musik yang dipimpinnya di Amsterdam betul-betul mengagumkan. Lagu-lagu rohani yang telah dipilihnya dengan baik, berikut refrein-refreinnya sangat berkaitan dengan peristiwa besar itu. Setiap kali saya mendengar atau menyanyi lagu "Emmanuel, God with us" atau "Freely, freely, you have received ...", saya pasti terkenang akan konferensi di Amsterdam. Konferensi itu lebih daripada sekadar kesempatan istimewa untuk bersekutu dan berbakti bersama para penginjil -- rekan-rekan sepanggilan. Konferensi itu merupakan kesempatan untuk berpikir dengan sungguh-sungguh mengenai strategi penginjilan, kesempatan untuk berdoa bagi terlaksananya Amanat Agung. Umpamanya, banyak gagasan berbobot telah terkumpul untuk menerbitkan sebuah buku penuntun bagi para Penginjil Keliling di seluruh dunia. Banyak sekali penginjil yang berminat akan hal itu. Dr. Lewis Drummond, seorang profesor bidang penginjilan di Southern Baptist Theological Seminary, Louisvi |