RSS Blog Sabda

Syndicate content
melayani dengan berbagi
Updated: 15 weeks 5 days ago

Kunjungan SABDA ke Kota Pelajar (GKI Ngupasan)

13. June 2017 - 14:27

Shalom, Maskunarti kembali menyapa sahabat setia SABDA. Saya bersyukur bisa ikut roadshow tim SABDA bersama Ibu Yulia, Tika, dan Lukas. Kami berangkat ke Yogyakarta pada 13 Mei 2017, siang, dengan transportasi umum kereta api. Bersyukur, kami bisa dapat tempat duduk dan menikmati perjalanan dengan baik. Waktu menunjukkan pukul 15.24 ketika kami tiba di stasiun Tugu Yogyakarta. Dari sana, kami menggunakan taksi menuju GKI Ngupasan. Kondisi lalu lintas yang cukup lancar membuat kami tiba di lokasi sesuai jadwal.

Setibanya kami di GKI Ngupasan, kami dipersilakan menempati ruang pastori untuk meletakkan barang-barang dan beristirahat. Namun, karena waktu, kami memilih untuk menyiapkan meja booth SABDA lebih dahulu sebelum beristirahat dan mandi.

Saya melihat jemaat antusias mengikuti ibadah yang berlangsung pukul 17.30 sore itu. Mereka memuji Tuhan dengan sungguh-sungguh dan sukacita terpancar dari wajah mereka. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Ibu Yulia diambil dari Kisah Para Rasul 7:55-60, berjudul "Menjadi Saksi Tuhan Sampai Akhir Hayat" (Belajar dari tokoh Stefanus). Saya dan rekan-rekan yang lain mengikuti ibadah di luar ruangan sambil menjaga booth SABDA, dan bersyukur karena khotbah bisa kami dengarkan dengan baik dari luar.

Dari firman Tuhan Kisah Para Rasul 7:55-60, saya belajar tentang empat kuadran bagaimana saya bisa jadi pengikut Tuhan sampai akhir hayat, yaitu:
1. Menjadi saksi yang aktif.
2. Menjadi saksi yang bertanggung jawab pada imannya.
3. Menjadi saksi yang setia.
4. Menjadi saksi yang berani mati.
Jika para Sahabat SABDA ingin melihat presentasi PPT khotbah tersebut, silakan mengunduhnya slide share SABDA

Pada Minggu, 14 Mei 2017, Ibu Yulia berkhotbah dalam tiga ibadah raya, pukul 06.30 WIB, 09.00 WIB, dan 16.30 WIB dengan tema khotbah yang sama,yaitu "Menjadi Saksi Tuhan Sampai Akhir Hayat". Pada pkl. 10.00, kami juga memberikan pelatihan #Ayo_PA!kepada jemaat remaja GKI Ngupasan. Namun, selain generasi muda, ada juga warga dewasa yang mengikutinya. Jumlah peserta sekitar 40 orang lebih. Peserta antusias mengikuti pelatihan yang dibawakan oleh Tika. Para peserta yang generasi muda sangat fasih dalam mempraktikkan yang disampaikan dan disimulasikan oleh Tika. Bagi warga dewasa, meski belum begitu terampil dalam pengoperasian gadget, mereka memiliki keingintahuan yang tinggi dan berusaha untuk mengikuti pelatihan ini dengan baik. Kami bersyukur dapat membantu mereka melakukan instalasi aplikasi SABDA Android (Alkitab SABDA, AlkiPEDIA, Tafsiran, Kamus, Peta) di HP mereka.

Ini merupakan pengalaman kedua saya mengikuti roadshow SABDA. Saya belajar banyak hal, khususnya dalam berinteraksi dengan jemaat, memberikan penjelasan tentang booth SABDA, dan menginstal aplikasi-aplikasi SABDA Android. Saya berharap, SABDA semakin dipakai Tuhan untuk menolong banyak orang di berbagai penjuru Indonesia untuk menggunakan teknologi dalam belajar firman Tuhan dan melayani Tuhan lebih maksimal lagi. Segala kemuliaan bagi Tuhan. Amin.

Bertumbuh dan Berkembang di SABDA

9. June 2017 - 10:07

Hari-hari ini, saya merenungkan tentang kebaikan besar yang Tuhan lakukan dalam langkah iman dan hidup saya selama kurang lebih 2,5 tahun ini. Pada 7 Oktober 2014, untuk pertama kalinya saya bergabung dengan pelayanan YLSA, saya masih sangat mengingatnya. Di tempat ini, saya disambut dengan baik dan diterima dalam sebuah komunitas teman-teman yang mayoritas masih muda. Jika dibandingkan dengan saat pertama kali saya di tempat ini dan sekarang ini, saya jauh lebih bertumbuh dalam skill, jiwa, dan juga kerohanian. Selain itu, secara kepribadian saya juga berkembang.

Tuhan baik, saya beroleh kesempatan untuk berada dalam sebuah ladang yang tidak pernah saya pikirkan akan saya kerjakan, yaitu ladang digital. Ladang yang telah, sedang, dan akan terus digarap oleh YLSA. Saya seorang lulusan jurusan Pendidikan Agama Kristen yang ketika pertama kali berada di tempat ini merasa takut dan minder dengan banyak staf yang begitu pandai. Akan tetapi, di tempat ini saya diajari dan didorong untuk belajar mandiri dan mendapat banyak keterampilan. Tidak ada teman yang tidak mau menolong saya untuk berkembang, dan hal itu adalah sebuah kesempatan yang mahal. Saya dilibatkan dalam beberapa bidang pelayanan sehingga saya boleh banyak belajar sehingga pribadi dan potensi saya mengalami kemajuan di tempat ini. Saya bersyukur atas keberadaan pemimpin dan teman-teman saya, dalam suka dan duka, begitu menolong saya sehingga saya bisa terlibat dalam pelayanan ini. YLSA adalah alat Tuhan untuk menjangkau jiwa pada abad ke-21 ini.

Dari dalam hati saya, saya berdoa agar YLSA tetap melihat hati Tuhan dan menjalankan kehendak Tuhan. Terima kasih untuk YLSA yang telah menolong saya melihat hati Tuhan dan bangsa-bangsa yang sedang menantikan Kabar Baik.

Pengalaman Mengikuti Seminar “Gereja Misi Dunia”

31. May 2017 - 13:15

"Yulia sedang cari you. Saya pikir, dia punya sesuatu yang pasti you akan suka."

Mendengar pernyataan tersebut, saya langsung bergegas menemui Ibu Yulia untuk menanyakannya. Ternyata, benar saja, beliau menawarkan sebuah kesempatan yang bagi saya tidak ternilai harganya: menjadi salah satu penerjemah dalam acara seminar misi di Yogyakarta. Itu sama sekali di luar dugaan saya; tentu saja ini kesempatan yang tidak akan saya lewatkan! Tanpa berpikir panjang, saya pun langsung menerima tawaran tersebut. Dan, sebagai persiapan untuk itu, beliau memberikan saya softcopy dari buku World Mission Church (Gereja Misi Dunia) yang pengarangnya akan menjadi salah satu pembicara utama dalam seminar misi tersebut.

Demikianlah secuplik adegan yang menjadi prolog dari seluruh rangkaian episode yang akan saya tulis kali ini, yaitu tentang pengalaman saya mengikuti seminar misi di Yogyakarta pada 9 -- 10 Maret 2017 silam. Seminar misi ini sebenarnya bukanlah acara tersendiri, melainkan bagian dari acara rapat tahunan sinode Gereja Kristen Alkitab Indonesia (GKAI), yang diselenggarakan pada tanggal 8 -- 10 Maret 2017 di Villa Taman Eden 2 Kaliurang, Yogyakarta. Tim SABDA yang berangkat ke sana hanya Bu Yulia dan saya.

Singkat cerita, hari yang ditunggu pun tiba. Kami berangkat dari Solo sekitar pukul 08.30 dengan bus dan mampir ke Klaten untuk mengambil cetakan buku terjemahan "Gereja Misi Dunia" untuk dibagikan kepada peserta. Kami tiba di tempat acara, di Villa Taman Eden 2, sekitar hampir pukul 12.00. Setibanya di sana, kami disambut oleh empat orang bule yang tampaknya sudah menantikan kedatangan kami. Mereka adalah Pak Paul Jenks dan istrinya, Ibu Lois Jenks, dari AMG International, dan Ps. David Anderson, pengarang buku World Missions Church yang sudah saya singgung sebelumnya, dan rekannya, Pak Wick Jackson, dari Envoy International. Dua orang yang disebutkan terakhir adalah para pembicara yang akan menyampaikan materi dalam seminar misi nanti.

Setelah berkenalan dan berbincang sejenak dengan keempat orang ini, Bu Yulia dan saya lantas menyiapkan booth dan menata berbagai bahan untuk para peserta -- seperti berbagai CD audio Alkitab, DVD Library Anak, traktat pelayanan anak, dll.. Namun, sebelum saya lanjutkan, ada kejadian menarik yang ingin saya ceritakan terlebih dahulu.

Sekitar satu jam sebelum berangkat ke Yogyakarta pagi itu, Pak Paul Jenks menghubungi Ibu Yulia, menginformasikan bahwa ada workbook untuk peserta seminar yang masih perlu diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Akibatnya, pagi itu kami mencoba menerjemahkan sebanyak mungkin isi workbook tersebut sebelum berangkat. Bahkan, dalam perjalanan bus ke Yogyakarta, Ibu Yulia sibuk mengetik dengan laptopnya dan saya dengan ponsel saya, untuk mengerjakan sebanyak yang kami bisa. Namun, karena workbook itu cukup banyak halamannya, maka tidak bisa cepat diselesaikan, bahkan sampai malam kami masih harus bekerja keras sambil menjaga booth dan menjelaskan tentang produk-produk SABDA saat ada yang berkunjung ke booth. Ada juga yang minta diinstalkan aplikasi-aplikasi Android ke ponsel mereka. Sedangkan Ibu Yulia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruang pertemuan, mengikuti seminar, dan menerjemahkan beberapa sesi untuk para pembicara. Itulah hari pertama.

Pada hari kedua, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Para pembicara, Ps. David Anderson dan Pak Wick Jackson, sepertinya sangat senang jika Ibu Yulia yang menjadi penerjemah mereka. Tetapi masalahnya, Ibu Yulia tidak bisa tinggal lebih lama dan harus pulang siang itu karena harus mempersiapkan roadshow ke Lampung. Singkat cerita, setelah Ibu Yulia pergi, Ibu Lois meminta saya menjadi penerjemah untuk sesi kedua yang akan dibawakan oleh Pak Wick Jackson itu. Semuanya terjadi dengan begitu cepat, dan dalam waktu kurang dari 5 menit, saya sudah berada di samping Pak Wick di depan dengan memegang mikrofon, siap untuk menerjemahkan meski sedikit ragu dan tidak yakin. Namun, dengan pertolongan Tuhan, sesi tersebut bisa berjalan dengan baik dan materi bisa disampaikan seluruhnya kepada para peserta. Saya sangat bersyukur dalam hati.

Seusai sesi, saya juga berkesempatan untuk duduk dan makan bersama-sama dengan mereka dan membicarakan tentang banyak hal, salah satunya tentang apa yang baru saja kita bahas pada sesi sebelumnya, yaitu tentang pelayanan misi jangka pendek. Itu adalah pengalaman yang menyenangkan dan sangat berkesan bagi saya.

Sore harinya, saya harus kembali ke Solo. Saya ikut turun dari villa bersama-sama dengan rombongan Pak Paul, Ibu Lois, Pak David, dan Pak Wick, yang akan pulang ke hotel. Saya memanfaatkan kesempatan untuk berbincang dengan mereka, sekaligus meminta tanda tangan Pak David untuk salinan buku Gereja Misi Dunia yang saya punya. Pada kesempatan itu, Pak Paul juga menawarkan supaya saya menjadi penerjemah lagi untuk mini seminar dengan topik yang sama yang akan diselenggarakan di STT Berita Hidup pada 13 -- 14 Maret 2017. Sungguh kesempatan yang tidak ternilai bagi saya. Kemudian, setelah berpamitan dengan keempat orang tadi, saya diantarkan ke dekat bandara untuk bisa naik bus pulang ke Solo.

Sangat senang rasanya bisa turut ambil bagian dalam pelayanan serta mendapatkan pengalaman dan kesempatan yang berharga ini. Terlebih, saya sangat bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang seperti Pak David dan Pak Wick, yang benar-benar memiliki hati untuk misi dunia. Dari pengalaman mereka dan materi yang mereka bawakan dalam seminar ini, saya belajar banyak tentang bagaimana mengambil bagian secara pribadi dan bermakna dalam misi dunia. Kiranya segala sesuatu yang sudah terjadi boleh menjadi jalan bagi kemuliaan Allah untuk dinyatakan melalui umat-Nya. Haleluya!

Pelayanan SABDA di Pontianak

31. May 2017 - 11:49

Bersyukur kepada Tuhan karena pada tanggal 26 -- 29 April 2017, tim SABDA (saya dengan Ibu Yulia) mendapat kesempatan mengadakan roadshow ke Pontianak di tiga tempat, yaitu di STT Pontianak, acara IVEC, dan GKNI Pniel. Kami berangkat dari tempat yang berbeda. Saya berangkat dari Solo, sedangkan Bu Yulia berangkat dari Kupang bersama rombongan peserta IVEC dari luar negeri (seperti Taiwan, Hongkong, Amerika, Kanada, dan lain-lain).

Sesampainya di bandara Supadio, Pontianak, saya bertemu Bu Yulia dan langsung keluar bandara untuk menjumpai tim dari STT Pontianak yang sudah siap menjemput kami. Di STT Pontianak, kami akan memberikan pelatihan Software SABDA dan #Ayo_PA kepada lebih dari 100 mahasiswa dan beberapa dosen yang ikut hadir. Saya dibantu oleh Ronny, salah satu mahasiswa di sana, untuk menginstal Software SABDA pada laptop para peserta dan membantu jika ada yang mengalami kesulitan. Saya berharap 4 jam presentasi yang dibawakan oleh Bu Yulia dapat menjadi bekal berharga bagi para peserta dalam menggali firman Tuhan dan menyampaikan kebenaran di ladang yang Tuhan percayakan nanti.

Usai acara, kami diantar oleh Bapak Herwin, Dekan I STT Pontianak, ke rumah retret Tirta Ria, tempat berlangsungnya acara IVEC yang diselenggarakan tgl. 26 -- 28 April 2017. Jumlah peserta yang mengikuti acara tersebut lebih dari 200 orang. Selain 30 peserta dari luar negeri dan 10 peserta dari Jawa, sebagian besar adalah peserta dari berbagai gereja di Pontianak (seperti GKNI Pniel, GKKB, GPPIK, dll.) dan luar Pontianak (Singkawang, Ngabang, dll.). Selama acara berlangsung, tim SABDA membuka booth untuk membagikan produk-produk SABDA agar para peserta dari Pontianak juga mendapat berkat.

Pada 27 April 2017, pkl. 11.00, Ibu Yulia menjadi pembicara untuk menyampaikan tentang bagaimana menjalankan "Misi pada Era Digital". Karena peserta dari luar negeri kebanyakan berbahasa Chinese, maka hampir seluruh acara diterjemahkan dalam bahasa Mandarin, termasuk materi Bu Yulia. Meskipun penerjemah terbata-bata, hal itu tidak menghalangi materi disampaikan secara lengkap. Ini terlihat dari respons peserta setelah presentasi. Beberapa dari mereka menyampaikan ke Ibu secara langsung, sedangkan yang lain mendiskusikannya di depan booth tentang era digital dan mengaitkannya dengan bahan-bahan yang kami miliki. Di sana, saya melihat bagaimana Tuhan membukakan wawasan baru kepada mereka tentang ladang misi yang hampir terlupakan oleh mereka, yaitu ladang misi dunia digital.

Pada acara tersebut, saya juga mendapatkan beberapa teman baru yang memiliki ketertarikan dalam dunia pelayanan anak, yaitu Elisa (yang bergabung dalam pelayanan bimbel GKNI Pniel) dan Yudi (yang sedang aktif mencari bahan untuk panggung boneka bagi anak sekolah minggunya). Dari pengalaman mereka, saya turut merasakan pemeliharaan serta kasih Tuhan kepada anak-anak yang dipercayakan kepada kami. Sungguh merupakan kesempatan berharga untuk melihat seorang anak dapat bertumbuh dan berkembang menjadi orang yang mengasihi Tuhan.

Pada 28 April, pkl. 14.00, acara IVEC selesai. Para peserta dari luar kota, luar pulau, dan luar negeri kembali ke tempat masing-masing, sedangkan kami melanjutkan pelayanan ke GKNI Pniel. Di gereja ini, SABDA memberikan pelatihan #Ayo_PA! yang dihadiri oleh jemaat dan anak-anak muda GKNI. Beberapa peserta dari gereja itu juga menjadi panitia pada acara IVEC sehingga kami tidak merasa asing lagi. Selain itu, hadir juga Pak Dedi dari GPPIK. Acara dibuka dan ditutup oleh Ibu Liliana, Gembala Sidang gereja ini. Saya terkesan dengan perhatian para peserta dalam mengikuti pelatihan #Ayo_PA!. Kiranya dengan pelatihan ini, kecintaan akan firman Tuhan dapat semakin menguatkan jemaat, terutama dengan bantuan teknologi.

Pagi-pagi benar, pada 29 April 2017, kami bergegas ke bandara untuk kembali ke Solo melalui Yogyakarta. Pesawat sempat mengalami delay 2 jam lebih. Sesampainya di Yogyakarta, kami transit ke Solo dengan menggunakan kereta api. Saya bersyukur untuk setiap pengalaman dan kesempatan, juga teman-teman baru yang Tuhan berikan selama roadshow di Pontianak. Kiranya semua yang sudah dibagikan dapat menjadi berkat dan nama Tuhan dimuliakan. Soli Deo Gloria!

Akhirnya, SABDA di Kupang

24. May 2017 - 13:42

Pada 22 -- 25 April 2017, saya dan Bu Yulia melakukan roadshow SABDA ke Kupang. Tujuan utama kami adalah menghadiri acara yang diadakan oleh K-Pact pada 24 -- 25 April, tetapi kami sengaja berangkat lebih awal, tgl. 22 April, dua hari sebelumnya, karena ingin menggunakan kesempatan ini untuk berbagi berkat kepada masyarakat Kristen di Kupang.

Gereja pertama yang kami layani adalah Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Jemaat Kotabaru. GMIT adalah sinode gereja yang besar di Kupang. Karena tgl. 21 April YLSA menyelenggarakan TED@SABDA, dan saya menjadi ketua panitia, sedangkan Bu Yulia jadi salah satu pembicara, maka kami baru bisa berangkat malam itu dengan bus ke Surabaya supaya besoknya pagi-pagi sekali bisa berangkat dengan pesawat dari Surabaya ke Kupang. Pesawat kami tiba di Kupang pkl. 11.00, tgl. 22 April. Langsung kami menuju ke GMIT Kobabaru karena pelatihan Software SABDA untuk hamba-hamba Tuhan akan dilaksanakan pkl. 13.00. Peserta yang hadir mencapai lebih dari 100 orang. Selain hamba Tuhan, ada juga para aktivis gereja. Mereka berasal dari dalam maupun luar gereja tersebut. Hampir 90% dari peserta membawa laptop. Kami sempat kewalahan saat menginstal Software SABDA di laptop-laptop peserta. Karena jumlah peserta yang banyak, sangat terasa bahwa pelatihan tidak berjalan dengan kondusif. Ada peserta yang mengobrol sendiri. Gedung gerejanya pun cukup besar sehingga ada peserta yang duduk terlalu belakang. Hal ini menyulitkan untuk interaksi. Hanya 3 -- 5 baris terdepan saja yang aktif berinteraksi saat Ibu Yulia mengajukan pertanyaan. Pelatihan ini selesai pukul 16.00.

Pada pkl. 17.00, kami melanjutkan kegiatan dengan pelatihan guru sekolah minggu. Ketika Ibu Yulia memberi presentasi bahan untuk mengajar sekolah minggu, saya menginstal Software SABDA ke beberapa laptop peserta yang sebelumnya telah dikumpulkan. Peserta terdiri dari sebagian peserta pelatihan Software SABDA ditambah dengan peserta-peserta baru. Selesai pelatihan, saya sempat mengobrol dengan beberapa peserta sambil menunggu proses instalasi di laptopnya selesai. Mereka mengatakan bahwa mereka senang mendapat materi ini karena menolong mereka untuk mengajar dengan cara yang berbeda di sekolah minggu.

Minggu pagi, setelah ibadah, kami melakukan pelatihan Ayo_PA!. Saat pelatihan ini, saya sempat mengalami kendala dengan Chromecast yang digunakan untuk casting layar smartphone ke LCD karena masalah jarak. Karena itu, saya harus membawa smartphone yang saya gunakan mendekat ke Chromecast-nya, bersyukur akhirnya bisa kembali lancar. Seusai pelatihan, saya dan Bu Yulia bertemu dengan Pak Hijayas dan Pak Anjelo. Pak Hijayas sudah lama membantu SABDA dengan menjadi moderator di Facebook Grup e-Santapan Harian. Sementara, Pak Anjelo aktif bergabung dalam komunitas SABDA di Facebook. Senang bisa bertemu secara langsung dengan para mitra SABDA. Sebelum pulang, Pak Hijayas pun memberikan testimoninya. Selain Pak Hijayas, ada 2 orang lain yang bersedia memberikan testimoni. Masing-masing mereka melayani di kampus dan memimpin sebuah kelompok PA. Mereka bersyukur sekali dengan pelatihan Ayo_PA ini, mereka ingin menggunakan teknologi yang ada untuk melayani Tuhan. Harapannya, mereka akan menerapkan apa yang sudah mereka dapat dalam kelompok PA mereka agar adik-adik PA mereka pun bisa membagikannya.

Senin pagi, kami dijemput oleh Ezra, anak dari Pdt. Thomas Eny. Pdt. Thomas Eny adalah gembala sidang di Gereja Kemah Injil Efata Kupang, tempat kami mengadakan pelatihan Software SABDA dan Ayo_PA! pada hari itu. Peserta pelatihan kali ini berjumlah 25 orang. Mayoritas mereka adalah teman-teman Pdt. Thomas, hamba-hamba Tuhan dari gereja-gereja di Kupang. Selain itu, ada juga dosen di salah satu STT di Kupang. Jika di GMIT Kotabaru para pesertanya belum familiar dengan produk SABDA, beda halnya dengan pelatihan di gereja ini. Ada peserta yang sudah menggunakan Software SABDA sejak dari versi 3. Dari pelatihan di gereja ini, kami mendapat masukkan agar dokumentasi berupa video dari pelatihan SABDA bisa dibagikan juga kepada mereka. Jadi, jika mereka lupa, mereka bisa melihat video tutorial dari Software SABDA.

Selesai pelatihan, kami dijamu makan oleh Pdt. Thomas sekeluarga. Makanan yang tak mungkin dilupakan saat berada di Kupang adalah se'i atau daging babi asap serta jagung bose. Makanan ini merupakan makanan khas Kupang. Hampir di setiap kami diajak makan pasti ada menu se'i.

Sekitar pukul 15.00, kami diantar ke hotel tempat kami mengikuti acara dari K-Pact, yaitu Indonesia for God's Glory Vision Exploration Conference (IVEC). Setelah bertemu dengan panitia, kami menyiapkan booth SABDA. Peserta IVEC berasal dari dalam dan luar Indonesia. Acara ini dibuka dengan tarian daerah Kupang, vokal grup, dan kesaksian dari beberapa orang tentang mengapa mereka ada di Indonesia dan pelayanan yang telah mereka lakukan di negara mereka.

Sesi hari ke-2 IVEC banyak diisi dengan presentasi dari lembaga-lembaga Kristen yang melayani di Indonesia. Ada presentasi dari Our Daily Bread Ministries, Pak Hagai dari Iota Project, dan dari beberapa lembaga lainnya. Siangnya sebelum break, Bu Yulia memberikan presentasi tentang SABDA kepada para peserta. Respons peserta sangat positif. Saat break, beberapa peserta, terutama yang berasal dari luar Indonesia, mampir ke booth SABDA. Mayoritas peserta yang dari luar Indonesia fasih berbahasa Mandarin dan senang sekali bisa mendapatkan CD Alkitab audio berbahasa Mandarin. Ada juga yang membawa CD Alkitab Audio bahasa Indonesia untuk dibagikan kepada orang-orang Indonesia yang dia layani, baik di Taiwan maupun Hongkong.

Setelah makan siang, semua peserta diajak mengunjungi Kupang Christian Center (KCC), di mana ada sekolah Kristen dari TK hingga SMA. Sekolah ini dibuka sejak tahun 2012. Saat kami tiba dan diajak untuk keliling melihat sekolah itu, pembangunan kelas-kelas baru telah selesai. Selain sekolah, di tempat ini juga ada asrama bagi anak-anak yang sekolah di situ. Acara ini ditutup dengan tarian daerah Kupang yang dibawakan oleh anak-anak dari sekolah tersebut. Terakhir, mereka memakai pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia dan menyanyikan lagu "Indonesia bagi Kemuliaan-Mu" dalam tiga bahasa, yaitu Mandarin, Inggris, dan Indonesia.

Saya bersyukur mengikuti acara ini karena melihat pekerjaan Tuhan yang begitu besar di Indonesia. Dan, pekerjaan itu terlalu besar untuk dikerjakan sendiri. Kiranya SABDA bisa mengambil bagian dengan memperlengkapi mereka dengan bahan-bahan untuk menunjang kemajuan pelayanan mereka. Soli deo Gloria!

Roadshow SABDA di Pulau Dewata (II)

13. March 2017 - 11:50

Paruh pertama kegiatan roadshow SABDA di Pulau Bali, 24 -- 26 Februari 2017, sudah kami lewati, seperti yang bisa Anda baca melalui blog yang ditulis oleh Elly. Namun, sepeninggal Hadi dan Elly, acara masih harus berlanjut sampai 28 Februari 2017 dengan hanya Bu Yulia dan saya. Menurut saya, dua hari terakhir justru lebih padat dan berat karena dalam sehari ada dua tempat pelayanan, bahkan pada hari terakhir ada tiga pelayanan yang harus kami lakukan.

Pada Senin pagi, 27 Februari 2017, kami mengadakan pelatihan Software SABDA dan Ayo_PA di STT Johanes Calvin. Satu hal yang menggembirakan kami adalah ketika mendengar bahwa sudah beberapa tahun terakhir mahasiswa memang diharuskan memakai Software SABDA. Karena itu, kedatangan kami sangat dinantikan oleh kira-kira 80 orang mahasiswa dan dosen untuk mendapatkan pelatihan dari sumbernya. Demikian juga di STTII Denpasar pada hari berikutnya, yang dihadiri oleh lebih dari 50 mahasiswa dan dosen. Mereka rata-rata sudah memakai Software SABDA sehingga sangat senang menyambut kedatangan kami. Selain Software SABDA, sebagai penekanan utama, kami juga memperkenalkan gerakan #Ayo_PA! sebagai kebutuhan setiap jemaat Tuhan untuk memakai teknologi untuk belajar firman Tuhan. Harapan kami, anak-anak muda ini dapat menularkan semangat ber-PA dengan gawainya kepada anak-anak muda yang lain yang mereka layani.

Sementara itu, untuk persekutuan umum di GKY Kuta Bali dan GPI Adonai, kami lebih berfokus pada pelatihan gerakan #Ayo_PA! Sayangnya, tak banyak anak muda yang ikut hadir pada acara ini. Kami melihat rata-rata peserta dari jemaat umum GKY sudah memakai aplikasi SABDA Android, tetapi setelah pelatihan mereka menyadari ternyata mereka belum memakai fitur-fitur yang ada dengan maksimal. Bahkan, mereka tidak menyadari bahwa kelima aplikasi SABDA (Alkitab, Kamus, Alkitab PEDIA, Tafsiran, dan Peta) sudah terintegrasi sehingga bisa dipakai dengan sangat efektif. Banyak peserta senang sekali mengetahui informasi ini dan menjadi sangat bersemangat. Lain halnya dengan acara lansia di GKY Kuta Bali, pada Selasa pagi. Pada kesempatan ini, Bu Yulia memberikan presentasi tentang bahan-bahan SABDA audio. Jemaat lansia menjadi sangat tertarik untuk mendapatkan bahan-bahan audio. Sayang, karena waktu yang sangat mepet sekali, kami tidak bisa menolong menginstalkan bahan-bahan tersebut ke HP para lansia. Semoga ada jemaat kaum muda yang tergerak menolong.

Selama dua hari acara berlangsung, saya dan Ibu Yulia selalu bergantian dalam menyampaikan presentasi. Untuk presentasi Software SABDA di STT, tugas saya adalah menyampaikan materi pendahuluan, dan Ibu Yulia menyampaikan sesi penjelasan teknis. Dan, sebaliknya dengan presentasi #Ayo_PA!, Ibu Yulia menyampaikan materi pendahuluan, sedangkan saya menyampaikan sesi penggunaan aplikasi dan penjelasan metode S.A.B.D.A. Akan tetapi, untuk acara lansia dan jemaat umum, presentasi dibawakan oleh Ibu Yulia. Saya salut dengan cara Ibu Yulia menyampaikan materi karena beliau tidak hanya menekankan pada "what" dan "how" dari Software SABDA atau PA dengan gadget, tetapi juga "why", yaitu mengapa mereka harus mengaplikasikan kedua teknologi dalam pembelajaran Alkitab. Saya bisa melihat bahwa melalui presentasi seperti itu, para peserta jadi tahu kepentingan mereka menggunakan software SABDA ataupun aplikasi SABDA. Dengan demikian, peserta juga dibekali dengan pentingnya firman Tuhan. Puji syukur, mayoritas peserta menunjukkan minatnya dan mengikuti proses pembelajaran dengan tekun walaupun ada beberapa peserta mengakui bahwa mereka cukup lelah mengikuti pelatihan dari awal hingga akhir.

Ada beberapa pelajaran penting yang bisa saya petik. Jika roadshow SABDA harus dilakukan hanya dengan dua orang staf, dua orang ini harus cukup mahir dan fleksibel menjalankan semua peran dan tugas. Karena itu, persiapan harus dilakukan dengan matang, punya strategi sehingga bisa membekali staf yang melayani roadshow untuk bisa menangani berapa pun jumlah peserta. Kiranya ini bisa menjadi masukan yang baik bagi Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).

Saya pribadi bersyukur, di tengah kekurangan di sana-sini, saya masih bisa mensyukuri banyak hal. Keseriusan peserta dalam belajar, ketertarikan mereka dengan bahan-bahan SABDA, dan doa-doa mereka yang tulus untuk kemajuan pelayanan kami, seakan menebus segala kekecewaan saya. Rasa lelah saya bisa terobati melihat begitu semangatnya mereka menerima materi yang kami sampaikan. Semangat mereka lantas menjadi dorongan bagi saya untuk memperbaiki cara kerja dan pelayanan saya pada masa mendatang.

Saya berdoa bagi para peserta roadshow yang sudah kami tinggalkan, kiranya mereka tidak lupa dan terus mempraktikkan apa yang sudah kami bagikan. Bahkan, mengajarkannya kepada hamba-hamba Tuhan yang lain. Teknologi telah merasuk ke dalam kehidupan banyak orang, mengubah wajah pelayanan dan cara seseorang membagikan firman. Mau tak mau, kita harus beradaptasi dengan kencangnya perkembangan teknologi agar tidak kehilangan ladang tuaian yang terbesar, yaitu dunia digital, di mana masyarakat modern saat ini berada. Mari kita semua memanfaatkan teknologi untuk melayani Tuhan dan mengabarkan karya keselamatan Allah kepada semakin banyak orang. Teknologi telah diciptakan oleh Tuhan, dan harus kita pergunakan kembali untuk memuliakan nama-Nya. Selamat melayani untuk kita semua.

Roadshow SABDA di Pulau Dewata (I)

9. March 2017 - 15:36

Tahun lalu, Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) menerima permintaan pelayanan dari STT Kingdom (GBI Rock Lembah Pujian), Bali, untuk pelatihan Software SABDA kepada mahasiswa dan jemaat di sana. Bu Yulia, Ketua YLSA, menerima tawaran tersebut dan memutuskan untuk diadakan pada 25 Februari 2017. Setelah bertemu dengan Pdt. Jenik dari Bali dan menghubungi beberapa gereja serta sekolah teologi di Bali, kesempatan pelayanan pun menjadi berkembang hingga akhirnya diputuskan untuk berada di Bali sampai 28 Februari 2017. Puji Tuhan!

Tim SABDA yang berangkat adalah Bu Yulia, Aji, Hadi, dan saya. Karena keluarga dan kesibukan di kantor, diputuskan saya dan Hadi akan ikut pada 24 -- 26 Februari 2017 saja, sedangkan Bu Yulia dan Aji akan tinggal sampai tanggal 28 Februari. Kami berangkat Jumat pagi, 24 Februari 2017. Ini adalah perjalanan saya yang pertama dengan pesawat ke Bali. Setibanya di Bandara I Gusti Ngurah Rai, kami dijemput oleh tim penjemputan GBI Rock Bali untuk menuju ke lokasi pelatihan di STT Kingdom. Kami segera survei tempat dan menata booth. Kami sengaja melakukan persiapan awal agar keesokan harinya tidak perlu tergesa-gesa. Selesai mengerjakan itu semua, kami langsung ke "guest house" tempat kami akan menginap selama pelatihan di GBI Rock. Rencananya, kami akan segera mandi dan bersiap untuk pergi ke acara persekutuan Lansia GKA Zion (GKAZ) jam 18.00. Akan tetapi, baru 10 menit di "guest house", sebelum bisa mandi semua, kami sudah dijemput jam 17.00 oleh Ibu Henny (istri Pdt. Jenik dari GKAZ). Ibu Henny sangat ramah menjelaskan kepada kami hal-hal apa saja yang perlu diketahui untuk pelayanan di GKAZ sore itu dan Minggu nanti.

Setibanya di GKAZ, kami bersyukur karena acara diawali dengan makan malam sehingga kami bisa mengisi perut dan mulai mengenal beberapa lansia. Ibadah lansia dibuka dengan sharing dari jemaat dan dilanjutkan dengan khotbah oleh Ibu Henny tentang "Hidup yang Berdampak" (Kej. 12:13 & Mat. 5:16). Selesai berkhotbah, Ibu Henny memberi pengantar bahwa Ibu Yulia akan berbagi berkat Tuhan. Berkat tersebut adalah bahan-bahan audio dari YLSA yang bisa dinikmati lansia untuk bisa semakin dekat dengan Tuhan. Empat puluh anggota lansia yang hadir dapat menyimak dengan penuh perhatian dan bersemangat. Bahkan, sesekali saya melihat banyak yang setuju dengan keluhan-keluhan lansia ketika belajar firman Tuhan, yaitu susah membaca huruf-huruf Alkitab yang kecil-kecil dan cepat capai ketika membaca. Untuk itu, SABDA menyediakan bahan-bahan audio sehingga lansia tidak perlu membaca lagi, tinggal mendengarkan saja. Bahan-bahan Alkitab audio dari SABDA kami instalkan ke HP dan tablet jemaat setelah selesai ibadah. Tetapi sayang, hanya beberapa jemaat yang tinggal karena hari sudah keburu malam. Senang melihat antusiasme para lansia.

Pelatihan SABDA pada Sabtu, 25 Februari 2017 di STT Kingdom adalah pelatihan software SABDA dan #Ayo_PA dari pkl. 09.00 sampai 16.00 Wita. Akan tetapi, acara agak molor karena panitia masih harus mempersiapkan peralatan listrik di ruangan dan kami melakukan instalasi Software SABDA. Setelah mengisi buku tamu, peserta mendapat 1 paket DVD SABDA dan laptop diinstal dengan sofware SABDA. Di antara peserta, ternyata beberapa sudah pernah mengikuti pelatihan Software SABDA kira-kira 8 tahun y.l.. Mereka ikut lagi karena program SABDA belum banyak mereka pakai sehingga banyak yang lupa. Puji Tuhan, acara pelatihan Software SABDA yang dibawakan oleh Bu Yulia berlangsung dengan lancar dan peserta antusias mengikutinya. Bahkan, ketika pkl. 12.00 tiba (waktunya makan siang), mereka lebih memilih untuk menyelesaikan pelatihan Software SABDA daripada berhenti untuk makan siang. Tim SABDA diajak panitia makan siang Babi Guling, makanan khas Bali yang enak. Setelah makan siang, pelatihan dilanjutkan dengan materi #Ayo_PA! yang disampaikan oleh Aji. Saya bersyukur bisa melayani peserta dengan menjaga booth, sedangkan Hadi mengurus semua urusan teknis dan menjadi operator saat presentasi berlangsung. Bersyukur, kami bisa beristirahat pkl. 18.00 Wita. Namun, belum sempat mandi, kami sudah dijemput panitia untuk makan malam ikan bakar khas Bali yang juga sangat lezat. Kecapaian sepanjang hari ini dibalas dengan tidur pulas untuk persiapan keesokan harinya.

Pada Minggu, 26 Februari 2017, jam 06.00, kami sudah siap makan pagi dan memulai pelayanan dengan membuka booth bagi jemaat yang datang di ibadah pagi GBI Rock Lembah Pujian. Sayangnya, booth SABDA tidak terlalu banyak dikunjungi, mungkin karena gereja tidak memberikan penjelasan tentang adanya booth SABDA kepada jemaat.

Pada pkl. 11.00 Wita, kami dijemput mobil GKAZ untuk memberikan pelatihan #Ayo_PA! Puji Tuhan! Ada lebih dari 130 jemaat yang hadir siang itu untuk mengikuti pelatihan, baik remaja, pemuda, dewasa maupun lansia. Sebelum pelatihan, panitia telah menyediakan makan siang untuk semua peserta dan mereka juga harus menginstal 5 aplikasi SABDA Android di HP mereka. Sungguh menyenangkan melihat keluarga besar GKAZ berkumpul bersama memakai gadget untuk belajar firman Tuhan. Ketika pelatihan berlangsung, peserta diminta untuk mempraktikkan apa yang diajarkan. Rata-rata mereka dapat mengikuti dengan baik meski beberapa orang tua harus dibantu. Setelah selesai, Ibu Yulia diberi waktu untuk memberikan presentasi tentang DVD Library Anak kepada guru-guru SM. Sementara itu, Hadi dan Aji menolong peserta yang ingin mendapatkan Alkitab audio dan aplikasi Alkitab di HP mereka, dan saya melayani di booth untuk jemaat yang membutuhkan CD-CD Alkitab Audio.

Puji Tuhan! Acara sepanjang hari itu memberikan kelelahkan yang menyenangkan. Setelah beristirahat sebentar, pkl. 17.00 Wita saya dan Hadi diantar ke bandara untuk kembali ke Solo. Sementara itu, Ibu Yulia dan Aji masih akan tinggal sampai tanggal 28 Februari 2017.

Senang rasanya mengikuti roadshow kali ini. Melihat semangat peserta membuat saya ikut bersemangat, khususnya melihat para lansia yang punya kemauan belajar tinggi, bahkan belajar mengunduh aplikasi sendiri dan berbagi mengajari rekan-rekan samping kanan kirinya. Ini pengalaman pertama saya roadshow SABDA di luar Pulau Jawa Puji Tuhan!

Selanjutnya, silakan Anda membaca tulisan Aji dalam blog Roadshow SABDA di Pulau Dewata (II).

#Ayo_PA! di PPA GBI Banaran

6. March 2017 - 10:17

Untuk ke sekian kalinya, tim #Ayo_PA! melayani anak-anak Pusat Pengembangan Anak (PPA). Kali ini, kami melakukan pelayanan di PPA IO-837 Banaran, Surakarta. Dalam roadshow kali ini, yang bertugas melayani adalah saya, Tika, dan Pio. Ibadah PPA dimulai pukul 16.00 sehingga kami harus bersiap-siap berangkat pukul 15.00 untuk menyiapkan booth dan peralatan teknis (LCD, laptop, cek sound). Setelah berdoa bersama, kami berangkat tepat pukul 15.00 dan dijemput oleh Ardi, staf PPA Banaran yang sering kami hubungi.

Pada pukul 15.45, anak-anak mulai berdatangan di lokasi ibadah, tetapi ada yang salah nih, kok yang datang masih kecil-kecil begitu ya? Namun, yang namanya pelayanan kepada Tuhan harus total, jadi siapa pun yang datang harus tetap dilayani walaupun harus fleksibel dalam menyampaikan presentasi. Ketika anak-anak datang, mereka langsung menuju ke booth, dan saya melayani mereka. Mereka tertarik dengan CD-CD audio Alkitab, dan ada yang ingin memberikan CD tersebut kepada tetangga mereka yang sudah tua dan tidak bisa membaca Alkitab lagi. Puji Tuhan, senang rasanya melihat ada anak yang peka dan memiliki kepedulian.

Ibadah dimulai tepat pukul 16.00. Ardi mengawali dengan doa dan memimpin beberapa lagu pujian. Setelah itu, Ardi mempersilakan kami untuk mulai memberikan presentasi. Presentasi yang pertama dibawakan oleh Tika. Tika tampil cukup akrab di hadapan anak-anak. Meskipun saat itu Tika sedang sakit, ia tetap berusaha melayani sebaik mungkin. Ia menjelaskan bahwa anak-anak termasuk dalam generasi digital native. Sebagai generasi digital native Kristen, anak-anak harus berbeda dengan teman-temannya. Salah satu perbedaannya adalah apa yang ada di dalam HP mereka? Apakah sudah ada Alkitab atau aplikasi-aplikasi lainnya yang dapat menolong mereka bertumbuh dalam Tuhan?

Selanjutnya, saya bertugas menyampaikan materi presentasi kedua. Awalnya, saya bingung karena dari 29 anak yang datang, hanya 1 anak yang membawa HP, padahal saya akan menyampaikan materi yang sangat teknis dan mereka harus langsung mempraktikkannya dengan HP-nya masing-masing. Kemudian, saya sadar bahwa metode PA S.A.B.D.A (Simak, Analisa, Belajar, Doa/Diskusi, Aplikasi) yang saya bawakan bukanlah tentang masalah "device"-nya. Yang terpenting adalah bagaimana metode S.A.B.D.A ini dipahami oleh anak-anak dan mereka tertarik melakukan PA dengan metode tersebut, dengan atau tanpa device mereka. Akhirnya, saya memberi penekanan dalam melakukan metode S.A.B.D.A.

Memang, dalam roadshow kali ini, ada beberapa hal yang tidak berjalan sesuai perkiraan kami. Dari roadshow kali ini, saya belajar bahwa kita harus siap kapan pun dan dalam situasi apa pun untuk melayani Tuhan. Sebab, kita tidak tahu jika nanti ada hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana/persiapan kita. Tetap semangat melayani Tuhan! #Ayo_PA!

Komentar