Orang Kristen yang Sejati dan yang Palsu

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Menjadi seorang Kristen sejati adalah anugerah Allah bagi umat yang dipilih-Nya. Kekristenan sejati tidak hanya berbicara mengenai status menganut agama Kristen, kegiatan ibadah di gereja, atau pelayanan di berbagai bidang dalam mendukung pertumbuhan gereja. Semua hal itu tidak pernah menjamin dan menunjukkan bahwa kita benar-benar seorang Kristen sejati di hadapan Allah.

Di dalam Matius 7:23, kita akan menemukan satu pernyataan ayat yang sangat mengerikan, "Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" Dalam ayat tersebut, siapa sangka orang yang bernubuat di dalam nama Yesus, mengusir setan di dalam nama Yesus, dan mungkin melakukan hal lain di dalam nama Yesus justru ditolak masuk kerajaan Allah, bahkan Yesus dengan tegas menjawab, "Aku tidak pernah mengenalmu!" dan mengusirnya dari hadapan-Nya, "Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" Tak semua orang yang mengaku Kristen adalah seorang Kristen sejati. Kristen sejati perlu diuji dan dibuktikan oleh tangan Allah sendiri di dalam segala zaman. Orang-orang Kristen sejati adalah orang-orang yang telah ditebus oleh Kristus melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Merekalah yang mau tersalib dan mati bersama-sama dengan Kristus, dan mengalami kebangkitan Kristus dalam hidupnya. Lalu, apakah yang membedakan Kristen sejati dan Kristen palsu? Menarik untuk kita simak bersama. Pada edisi kali ini, e-Reformed akan menyajikan satu artikel yang akan menolong kita untuk mengetahui perbedaan mendasar seorang Kristen sejati dan yang palsu.

Akhir kata, segenap redaksi publikasi e-Reformed mengucapkan "Selamat merayakan hari Paskah 2016". Kiranya melalui kematian Kristus dan kebangkitan-Nya, kita boleh semakin bermegah di dalam anugerah-Nya dan makin giat memberitakan penebusan salib Kristus bagi dunia. Soli Deo Gloria

Ayub Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
Edisi: 
Edisi 174/Maret 2016
Isi: 

Bab ini membicarakan perbedaan antara orang Kristen yang sejati dengan orang yang hanya tampaknya saja Kristen. Yesus membicarakan kedua macam orang ini (Yohanes 15:1-8). Yesus membandingkan orang-orang yang mengaku Kristen dengan ranting-ranting dari pohon anggur, ada yang berbuah dan ada yang tidak.

Pokok Anggur

Pertama, Yesus berkata bahwa Allah Bapa seperti tukang kebun yang memotong setiap ranting yang tidak berbuah (Yohanes 15:2). Ini menggambarkan bahwa mungkin orang-orang yang tampak seperti orang percaya sebenarnya bukan orang percaya yang sungguh-sungguh. Cara hidup mereka mungkin seperti orang Kristen, tetapi di dalam dirinya tidak ada kehidupan rohani, mereka mati secara rohani. Ketika Yesus berkata, "setiap ranting pada-Ku yang tidak menghasilkan buah," yang Ia maksudkan adalah "Setiap ranting yang memiliki hubungan dengan-Ku, tetapi hidupnya tidak bersumber dari pada-Ku".

Banyak orang yang mengagumi Yesus Kristus. Mereka menganggap Dia sebagai teladan untuk diikuti. Mereka bahkan mungkin mengatakan bahwa mereka menerima Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Namun, mereka tidak bersandar pada-Nya untuk menghapus dosa mereka dan mendamaikan mereka dengan Allah. Mereka yang berada "di dalam" Kristus hanya di dalam hal yang sangat umum. Mereka menyukai Dia, mereka mengakui hidup-Nya benar, mereka melakukan apa yang Ia lakukan. Namun, mereka tidak memperoleh dari-Nya seluruh pengharapan keselamatan dan kehidupan rohani mereka. Yesus mengatakan bahwa orang-orang seperti itu tidak berbuah.

Coba kita pikirkan seperti ini. Sebuah ranting yang diikat ke pohon bisa terlihat seperti ranting yang tumbuh dari pohon itu. Padahal, betapa berbeda keduanya! Ranting yang tumbuh dari pohon mendapatkan hidupnya dari pohon itu, ranting itu hidup! Ranting yang diikatkan ke pohon tidak mendapat kehidupan dari pohon, ranting itu mati! Demikian juga, mungkin ada orang-orang yang suka disebut Kristen, tetapi hanya menempel saja di bagian luar cara hidup Kristen.

Bagaimana cara mengenali kekristenan nominal ini? Ia tidak berbuah, tidak ada tanda-tanda kehidupan rohani, tidak ada dukacita terhadap dosa, tidak ada seruan kepada Allah untuk memohon pengampunan dan belas kasih-Nya, tidak ada kebergantungan sepenuhnya pada Yesus Kristus untuk berdamai dengan Allah, tidak ada kerinduan untuk hidup bagi Yesus Kristus sehingga ia dapat menyenangkan Allah. Karakter orang Kristen nominal sama sekali tidak akan menyerupai Yesus Kristus. Mereka tidak memiliki kerendahan hati, mereka tidak mengontrol kekuatannya, mereka merasa sulit menyangkal diri, mereka tidak membenci dosa, dan mereka tidak hidup seperti orang yang sedang bersiap untuk masuk ke dalam kekekalan. Tentu saja tanda-tanda ini tidak selalu dapat terlihat karena kehidupan rohani sebagian besar tersembunyi.

Namun demikian, kadang-kadang kehidupan seseorang tidak berbuah dapat tampak dengan jelas: masalah-masalah, pencobaan-pencobaan, atau keberhasilan memperlihatkan kekosongan kehidupan rohani seseorang. Karena itu, marilah kita melihat diri kita sendiri. Apakah kita berbuah atau tidak? Apakah kita hanya sekadar tertarik kepada cara hidup orang Kristen, atau apakah kita bersandar pada Yesus Kristus untuk kehidupan rohani kita?

Kedua, Yesus berbicara tentang membersihkan ranting yang berbuah, yaitu orang-orang yang memiliki kehidupan baru dari Allah di dalam mereka. Paulus berkata, "Barangsiapa dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru" (2 Korintus 5:17). Berada "di dalam Kristus" berarti orang-orang percaya dipilih Allah untuk menerima hidup baru ini; bahwa Allah telah mengampuni mereka karena penderitaan dan kematian Kristus di kayu salib dan telah menyatakan mereka benar di hadapan-Nya. Sekarang, mereka memiliki iman yang hidup dan kudus. Sebagaimana Paulus berkata, "Tetapi bukan lagi aku sendiri lagi yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku" (Galatia 2:20). Orang-orang percaya demikian bagaikan ranting yang memperoleh hidupnya dari pohon. Yesus berkata, "Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak berbuah di dalam Aku" (Yohanes 15:4). Buah yang dimaksudkan oleh Yesus adalah hati yang hancur karena dosa, jiwa yang menyesal, kerendahan hati dalam memandang diri, dan bersandar sepenuhnya pada Yesus untuk memperoleh keselamatan. Apakah kita mengerti hidup yang menghasilkan buah ini? Hidup seperti ini akan menghasilkan hidup yang kudus, itulah kehidupan rohani yang sesungguhnya.

Yang dimaksud Yesus dengan "memangkas" atau "membersihkan" adalah bahwa Allah akan mengambil dari kita hal-hal yang mengganggu kehidupan rohani kita. Alkitab mengatakan bahwa Allah memperbaiki kehidupan orang-orang percaya, atau "memangkas" mereka, karena Ia mengasihi mereka (Ibrani 12:10). Orang-orang Kristen tidak selalu mengerti cara kerja Allah atas hidup mereka. Mengapa ada orang-orang Kristen yang saleh, tulus, penuh kasih, harus menderita kesulitan dan kekecewaan? Mereka tidak dapat menjawabnya, tetapi mereka tahu bahwa Allah hanya akan memberikan yang terbaik bagi mereka. Mereka tahu bahwa segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk kebaikan mereka (Roma 8:28).

Pokok Anggur

Pemangkasan atau pembersihan ini tidak melemahkan kehidupan rohani orang-orang percaya. Allah memelihara kehidupan yang telah diberikan-Nya sendiri sejak awal. Maksud dari pemangkasan adalah, seperti kata Yesus, "supaya lebih banyak berbuah" (Yohanes 15:2). Koreksi dari Allah, apabila sungguh-sungguh diterima, membuat orang-orang percaya semakin mengasihi Tuhan Yesus Kristus dan membuat mereka menjadi seperti Dia.

Apakah kita adalah orang Kristen yang berbuah? Allah memiliki rencana supaya umat-Nya berbuah lebih banyak. "Dalam hal inilah Bapaku dipermuliakan," kata Yesus, "yaitu jika kamu berbuah banyak." (Yohanes 15:8)

Sumber: 
Diambil dari:
Judul buku  :  Kebangunan Rohani Pribadi
Judul Asli  :  The Christian's Inner Life
Judul Artikel  :  Orang Kristen yang Sejati dan yang Palsu
Penulis  :  Octavius Winslow
Penerjemah  :  Yulvita Hadi Yarti
Penerbit  :  Momentum, Surabaya 2010
Halaman  :  61 -- 66

Komentar