Praktika

Teologia Praktika adalah teologia yang berisi penerapan pengajaran Alkitab dalam kehidupan praktis untuk pembangunan, pengudusan, pembinaan, pendidikan dan pelayanan umat Tuhan.

Bahkan Para Pendeta pun Membutuhkan Teman

Dear e-Reformed netters,

Pertama-tama, maaf saya agak terlambat mengirimkan artikel bulan April. Juga saya ingin mengucapkan selamat berkenalan kepada rekan- rekan yang baru saja bergabung di bulan April ini. Semoga perjumpaan kita di dunia net ini dapat menjadi berkat satu dengan yang lain.

Artikel yang saya kirimkan kali ini bukan berupa uraian teologia yang berat, tapi hal yang sangat praktis. Saya tertarik mengirimkannya karena di satu pihak saya melihat banyak hamba Tuhan yang mengeluh bahwa mereka sering dilanda perasaan kesepian. Ingin sekali mereka punya teman untuk diajak ngobrol dan sharing pergumulan pribadi, tapi rasanya tidak ada yang bisa diajak untuk berteman. Sesama pendeta lain sibuk dan rasanya aneh kalau masalah pelayanan atau pergumulannya diceritakan ke mereka. Nanti rahasia gereja ikut terbongkar.... dlsb. Kalau mau berteman dengan jemaat juga sulit karena dia melihat dirinya seperti disorot dengan mikroskop ketika berhadapan dengan jemaat... Serba salah.

Di lain pihak saya melihat banyak jemaat yang ingin sekali berteman dengan pendetanya untuk ngobrol dan berbincang-bincang tentang masalah hidup, tapi kok rasanya "sungkan" (rasa tidak enak) karena dia pendeta. Jangan-jangan nanti mengganggu... bukankah pendeta banyak kerjaannya dan bukankah pendeta tidak perlu teman karena teman bergaulnya 'kan Tuhan. Mana mau dia meladeni orang-orang biasa seperti saya.... dlsb.

Nah, mudah-mudahan artikel ini dapat menolong baik pendeta maupun jemaat untuk saling mengenal kebutuhan masing-masing. Siapa tahu melalui artikel ini, akan lahir budaya "Christian Friendship" antara "clergy" dan "lay people" supaya hidup anak-anak Tuhan (baik yang pendeta maupun bukan) boleh semakin "real" dan "transparant".

Selamat berteman!

In His love,
Yulia

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Pertama-tama, maaf saya agak terlambat mengirimkan artikel bulan April. Juga saya ingin mengucapkan selamat berkenalan kepada rekan- rekan yang baru saja bergabung di bulan April ini. Semoga perjumpaan kita di dunia net ini dapat menjadi berkat satu dengan yang lain.

Artikel yang saya kirimkan kali ini bukan berupa uraian teologia yang berat, tapi hal yang sangat praktis. Saya tertarik mengirimkannya karena di satu pihak saya melihat banyak hamba Tuhan yang mengeluh bahwa mereka sering dilanda perasaan kesepian. Ingin sekali mereka punya teman untuk diajak ngobrol dan sharing pergumulan pribadi, tapi rasanya tidak ada yang bisa diajak untuk berteman. Sesama pendeta lain sibuk dan rasanya aneh kalau masalah pelayanan atau pergumulannya diceritakan ke mereka. Nanti rahasia gereja ikut terbongkar.... dlsb. Kalau mau berteman dengan jemaat juga sulit karena dia melihat dirinya seperti disorot dengan mikroskop ketika berhadapan dengan jemaat... Serba salah.

Di lain pihak saya melihat banyak jemaat yang ingin sekali berteman dengan pendetanya untuk ngobrol dan berbincang-bincang tentang masalah hidup, tapi kok rasanya "sungkan" (rasa tidak enak) karena dia pendeta. Jangan-jangan nanti mengganggu... bukankah pendeta banyak kerjaannya dan bukankah pendeta tidak perlu teman karena teman bergaulnya 'kan Tuhan. Mana mau dia meladeni orang-orang biasa seperti saya.... dlsb.

Nah, mudah-mudahan artikel ini dapat menolong baik pendeta maupun jemaat untuk saling mengenal kebutuhan masing-masing. Siapa tahu melalui artikel ini, akan lahir budaya "Christian Friendship" antara "clergy" dan "lay people" supaya hidup anak-anak Tuhan (baik yang pendeta maupun bukan) boleh semakin "real" dan "transparant".

Selamat berteman!

In His love,
Yulia

Edisi: 
028/IV/2002
Isi: 

Selama beberapa tahun yang lewat ini saya sering mendengar banyak alasan mengapa para pendeta harus menghindari segala bentuk ikatan persahabatan. Beberapa orang mengatakan bahwa teman-teman itu mungkin menyenangkan, tetapi waktu dan tenaga yang dibutuhkan dalam pelayanan sama sekali tidak memungkinkan menikmati kesenangan diri semacam itu. Banyak orang beranggapan bahwa persahabatan di dalam jemaat tentu akan melanggar batas, dan pendeta yang menikmati permainan golf dengan jemaat akan menimbulkan persoalan.

Meskipun belakangan ini sikap demikian telah agak berubah, namun bagi pendeta maupun jemaat tetap saja akan menghadapi kesulitan melihat pendeta yang terlibat dalam persahabatan yang begitu manusiawi. Banyak jemaat telah terbiasa dengan anggapan bahwa pendeta itu seharusnya hanya berdiri tegak di atas mimbar yang tinggi, dan banyak pendeta memang menyukai pemandangan dari atas mimbar itu. Mereka merasa enggan untuk turun dari tempat itu dan kemudian menjalin hubungan yang mudah mendatangkan kecaman serta terlalu akrab.

Seandainya persahabatan itu terjalin dengan seorang anggota gereja, maka jemaat lainnya akan mulai mencurigai. Tuduhan atas sikap pilih kasih dan pengaruh yang tidak semestinya akan mulai dibisik-bisikkan di gereja.

Sesungguhnya, tidak semua alasan ini dengan mudah dapat kita abaikan. Melangsungkan persahabatan memang menuntut "waktu dan tenaga" yang amat banyak (kedua unsur tersebut seringkali tidak dimiliki pendeta). Dan tentunya, beberapa tuduhan mengenai sikap pilih kasih dan pengaruh yang dimiliki itu memang ada dasarnya. Kadang-kadang para pendeta menyatakan pandangan yang tidak benar dan pendapat yang tidak begitu jelas karena menaruh kesetiaan yang tidak semestinya kepada satu atau dua anggota jemaat. Meskipun mungkin kita tak ingin mengakuinya, namun tidak ada peran, jubah, ataupun gelar kependetaan yang dapat menyembunyikan kenyataan bahwa kita adalah manusia. Manusia memerlukan teman -- termasuk manusia yang kebetulan saja menjadi pendeta.

Ada banyak contoh dalam Alkitab yang menopang pendapat ini. Dari Raja Daud sampai Yesus hingga Paulus. Orang-orang bijak itu senantiasa mengetahui bahwa tidaklah bijaksana untuk menempuh jalan kehidupan tanpa keceriaan, kesenangan, serta dorongan-dorongan semangat dari para sahabat. Di luar contoh yang ada dalam Alkitab tadi, ada tiga alasan terbaik yang dapat saya kemukakan untuk membina persahabatan. Orang-orang tersebut adalah: Dick, Jim, dan Gary.

REKAN SEKERJA

Dick adalah pendeta pembantu di gereja Lutheran yang terbesar di Northfield. Sedangkan saya adalah seorang pendeta Baptis di Northfield, Minnesota.

Saya dilahirkan dan dibesarkan di Ohio bagian selatan, serta mengikuti kuliah di Columbia, Carolina Selatan. Saya lulus dari sebuah seminari Baptis. Selama waktu itu saya telah menghirup udara Baptis. Tiba-tiba, beberapa tahun yang lalu, saya menemukan diri saya berada dalam lingkungan benteng kaum Lutheran asal Norwegia - ada lima buah jemaat Lutheran di kota yang berpenduduk dua belas ribu orang. Belum lagi Universitas Saint Olaf, sebuah sekolah Gereja Lutheran Amerika yang menguasai topografi dan teologi di Northfield.

Saya harus mempelajari kota Northfield. Saya mulai bertemu dengan sebuah kelompok studi untuk para pendeta yang terdiri dari lima orang Lutheran dan satu orang Baptis (tebak saja siapa?). Di situlah saya bertemu dengan Dick. Melalui sedikit usaha pendekatan -- undangan untuk makan siang, kunjungan-kunjungan secara mendadak ke kantornya - suatu persahabatan mulai berkembang. Sungguh, hubungan ini merupakan suatu anugerah Allah.

Pertama-tama, Dick telah menjadi penerjemah saya dalam ajaran Lutheran. Ia tidak secara formal mendaftarkan saya di kelas katekesasinya, tetapi ia toh mengajarkan sesuatu kepada saya. Selama pembicaraan yang kami adakan, saya telah mendapatkan pandangan yang berarti tentang mengapa orang-orang ini percaya dan bertindak sebagaimana yang mereka lakukan. Tak akan pernah saya lupakan kata seru "Aha!" ketika kami sedang mendiskusikan (berdebat?) tentang masalah baptisan. Tiba-tiba saja saya mulai mengerti mengapa kami selalu berselisih pendapat tanpa ada ujung pangkalnya, sedangkan kami toh memakai kata-kata yang sama juga dan membuka ayat-ayat yang sama di dalam Alkitab. Ternyata titik pandang Dick adalah pada aktivitas Allah dalam pembaptisan, sedangkan pandangan saya tertuju pada tanggapan orang percaya yang dibaptiskan. Secara mendadak pula saya menjadi mengerti tentang dasar pemikirannya mengenai baptisan bayi. (Tentunya, kami belum juga sepaham tentang hal itu, tetapi sekarang saya menjadi lebih mengerti mengapa ia berkepercayaan sedemikian aneh itu!)

Lebih jauh, disamping peranannya sebagai penerjemah, Dick telah menjadi pendorong bagi pertumbuhan pribadi serta perkembangan pekerjaanku. Kami berdua sama-sama gemar membaca buku, namun mempunyai selera yang berbeda-beda. Kegemarannya ialah membaca sejarah, sedangkan saya fiksi. Sambil minum-minum kopi, kami akan bertukar pikiran tentang buku-buku, pengarang-pengarang, tema-tema menarik, pandang-pandangan, serta ilustrasi khotbah yang baik. Saya masih belum bergabung dengan Kelompok Kelompok Pencinta Buku Sejarah (Dick berharap saya bergabung supaya dia bisa mendapat tiga buah buku gratis sebagai hadiah karena membawa seorang anggota baru :), tetapi saya telah memperluas selera bacaan saya lebih daripada buku-buku novel. Sama juga, Dick sudah mulai gemar membaca buku-buku Chaim Potok, Saul Bellow dan Frederick Buechner. Bersama-sama kami bergumul dengan buku Kierkegaard, Claus Westermann, dan Rabbi Harold Kushner. Ia merasa tertantang karena saya sering membuat khotbah-khotbah eksegesis berdasarkan teks Yunani yang saya kuasai. Saya menjadi kagum ketika saya mengetahui bahwa ia sedang membaca beberapa ayat dari Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani setiap malam sebelum beristirahat. 'Besi menajamkan besi' kata Kitab Amsal, dan otak saya kian menjadi tajam setelah diasah oleh sahabat saya ini.

Keluarga kami pun telah memperoleh manfaatnya dari hubungan persahabatan kami ini. Anak-anak kami kira-kira berusia sebaya dan isteri kami masing-masing bekerja sebagai jururawat di rumah sakit setempat. Kami merayakan hari-hari ulang tahun bersama-sama, saling mengundang untuk makan malam pada acara Pengucapan Syukur, dan sama-sama merasa kecapaian di sore hari Paskah setelah memimpin kebaktian secara terus-menerus sepanjang pagi harinya. Hubungan kami telah menambahkan suatu dimensi tertentu tentang kesehatan dan kemantapan dalam kehidupan kami sehingga kami pun dapat menyampaikan cerita-cerita yang indah kepada orang-orang lain yang bisa mengerti tentang kegembiraan serta trauma yang dialami oleh seorang pendeta dan keluarganya.

SANG PENASIHAT

Jim, adalah seorang teman saya yang lain. Dan akan lebih tepat jika saya memperkenalkan dia sebagai Dr. James Mason, sebab dia adalah salah seorang guru besar kesayangan saya selama berada di seminari. Maka, kini di samping menjadi sahabat saya, Jim tetap menjadi penasihat saya dalam pelayanan.

Dalam kitab Perjanjian Baru, menasihati itu merupakan suatu pola yang kuat sekali untuk mengembangkan pendeta-pendeta muda. Yesus memberikan nasihat kepada kedua belas muridNya, Barnabas membawa Paulus dan Markus, dan pada gilirannya Paulus pun menasihati Timotius dan Titus. Adalah sulit untuk membaca Kitab Injil atau pun Surat-Surat Penggembalaan tanpa merasakan adanya kehangatan persahabatan yang berkembang dan menghasilkan hubungan untuk menasihati ini.

Persahabatan saya dengan Jim telah dimulai sejak tahun terakhir saya di seminari dan sampai sekarang hubungan ini masih terpelihara dengan baiknya. Saya bekerja sebagai asisten dosen dan perkenalan ini bertumbuh di luar ruang kelas. Setelah berjalan melewati beberapa waktu yang penuh kesulitan bersama-sama, hubungan kami mulai bertumbuh. Ketika saya lulus, saya tidak menginginkan persahabatan itu hanya tinggal sebagai suatu kenangan indah. Jim pun berpikiran sama seperti saya.

Untuk memelihara ikatan kami itu diperlukan suatu tekad serta kesediaan untuk menanggung biayanya. Northfield berada dalam jarak kira-kira satu jam perjalanan dengan mobil dari Seminari Bethel dan pembicaraan lewat telepon adalah interlokal, tetapi biayanya masih bisa terjangkau. Di samping kesukaan dalam saling membagikan pengalaman kehidupan dan iman serta pelayanan dengan Jim, saya telah memperoleh manfaat lain-lainnya.

Dia mengenal saya. Saya berada di dalam kelasnya. Dia mengetahui jalan pikiran, prasangka-prasangka, harga diri, serta kelebihan dan kekurangan saya.

Selanjutnya, setelah Ia berkhotbah di gereja saya dan mengadakan percakapan dengan jemaat, maka dia mengetahui tentang hubungan saya dengan jemaat. Dia juga mengetahui hubungan-hubungan yang lebih luas tentang keadaan jemaat serta tradisi teologis dalam gereja yang saya layani. Waktu yang diluangkan untuk saling membagi cerita ini tak dapat dinilai dengan harta. Kapan saja saya menelepon dia untuk mendapatkan nasihatnya, maka dia langsung dapat menempatkan diri dalam situasi/keadaan saya. Jika saya menghadapi kesulitan dengan khotbah saya, dia segera dapat mengatasinya. Jika saya menghadapi konflik/bentrokan dengan jemaat saya, dia memberikan suatu jalan keluar dan menolong saya untuk bisa melihat persoalan itu dengan lebih jelas.

Saya tak dapat memastikan seberapa jauh persahabatan ini telah membuahkan kepuasan dan keberhasilan dalam pelayanan saya. Banyak lubang perangkap telah dapat saya hindari, berbagai masalah pelik dapat diatasi dengan baik, lebih dari satu kali khotbah menjadi tersusun lebih baik -- semua ini dilakukan dengan bantuan penasihat dan sahabat saya.

Jika saya merasa bergairah oleh suatu kesempatan yang baru, maka saya dapat meniupkan balon percobaan saya untuk memperoleh penilaian menurut pandangannya. Atau jika saya sedang mengalami kekecewaan, saya langsung dapat menumpahkan seluruh perasaan saya itu dihadapannya. Seperti yang dia katakan kepada saya pada satu hari Senin setelah melampaui hari Minggu yang suram, "Jangan khawatir soal itu. Tujuanmu yang terutama dalam beberapa minggu ini ialah hanya menyelesaikan masalah itu."

Saya yakin bahwa penasihat-penasihat yang mempunyai kemampuan seperti Jim sudah disediakan untuk setiap pendeta muda. Seluruh mantan mahaguru, pendeta yang telah berpengalaman, serta pendeta eksekutif yang melayani di wilayah sekitar merupakan penasihat- penasihat yang amat potensial. Persahabatan seperti ini jarang terjadi secara kebetulan saja. Di sini diperlukan sekali adanya maksud baik dan kesediaan untuk memberikan waktu dan pengorbanan uang. Tetapi untuk kedua belah pihak, penasihat maupun pendeta baru, kesukaan dalam kegiatan itu akan berlipat ganda apabila disampaikan kepada orang lain juga.

ORANG AWAM

Kelihatannya, persahabatan saya dengan Gary adalah yang paling mengandung risiko, namun sekaligus juga paling bermanfaat dari semua persahabatan yang saya alami. Gary adalah seorang awam yang kebetulan menjadi anggota dari gereja yang saya layani. Namun, faedahnya bagi diri saya (dan untuk jemaat) jauh lebih besar daripada risiko yang saya hadapi.

Sederhana saja, Gary menghargai kejujuran saya di dalam kehidupan kekristenan saya. Godaan yang paling besar bagi diri saya di dalam pelayanan adalah kecenderungan untuk menjadi seorang "Kristen yang profesional." Hal itu merupakan jebakan yang mudah. Saya dapat memberikan konseling dengan sebaik-baiknya, mengajarkan apa yang difirmankan oleh Alkitab, menyerukan keterikatan kepada jemaat supaya taat dan setia, kemudian pulang dengan anggapan bahwa saya sudah menjalan tugas kehidupan Kristen -- seolah-olah hidup saya bersama Tuhan hanya untuk menjalankan tugas penggembalaan atau melaksanakan tanggung jawab secara profesional saja. Gary tidak akan membiarkan saya bersikap demikian.

Dia memiliki suatu kedudukan yang khusus untuk bisa meminta pertanggungjawaban saya. Sebagai anggota yang aktif di dalam jemaat, dia mengetahui apa yang terjadi dalam kebaktian-kebaktian dan di pertemuan-pertemuan urusan gereja. Dia memperhatikan apa yang saya sampaikan dari atas mimbar dengan teliti, dan apa yang saya ajarkan di dalam ruang kelas. Dia juga mengetahui tentang semua keberhasilan maupun kegagalan saya dalam melaksanakan program gereja yang beraneka ragam. Dia mempunyai tempat dalam persahabatan kami untuk menantang diri saya menjadi apa yang saya percayai dan mempraktikkan apa yang saya sampaikan. Dia tidak terperanjat apabila saya berkhotbah tentang sesuatu hal yang tak dapat saya lakukan. Hal apakah yang tak dapat di khotbahkan oleh pendeta? Tetapi pada saat- saat sendagurau diantara kami berdua atau pada jam-jam doa mingguan, dia mendorong saya supaya menerapkan khotbah-khotbah saya untuk diri saya sendiri. Dia menantang "saya pribadi" untuk berbuat hal yang sama dengan "saya secara umum" atau jemaat.

Di samping memberikan dorongan secara langsung itu sesungguhnya kejujuran dalam kehidupannya merupakan motivasi yang sangat menekan kehidupan saya sendiri. Sebagai seorang pelatih bola basket di kampus, dia adalah salah seorang pekerja paling keras yang pernah saya jumpai. Meskipun demikian, persekutuan pribadinya dengan Tuhan, pelayanannya sebgai pemimpin kaum muda, serta keterlibatannya dalam proyek-proyek penjangkauan keluar gereja selalu diutamakan.

Dia adalah seorang Kristen yang penuh semangat, bukan seorang Kristen yang profesional. Dia menjadi "suatu peringatan" yang terus- menerus bagi diri saya untuk bersikap sama seperti dia.

TEMPAT UNTUK MENDAPATKAN SEORANG SAHABAT

Dalam menyatakan persahabatan yang saya alami, saya telah menyaring beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat mencari seorang sahabat.

  1. Patokan awal adalah pada diri Anda sendiri. Pepatah lama yang mengatakan "Mempunyai seorang sahabat, berarti harus bersatu" itu memang benar. Kebanyakan persahabatan tidak terjadi begitu saja; itu adalah hasil dari kehendak/keinginan dan rasa keterikatan. Untuk memperoleh faedah jangka panjang dalam persahabatan sangat memerlukan pengorbanan waktu dan tenaga.

    Hal ini tidak terjadi pada saya dengan sendirinya. Menyatakan 'ya' terhadap persahabatan biasanya berarti mengatakan 'tidak' terhadap hal-hal yang lain. Kepribadian Corak-A yang ada dalam diri saya, pada tahun-tahun awal saya, tidak banyak memberi kesempatan untuk mencari persahabatan yang sesungguhnya.

    Namun, selama berada di seminari, seorang teman sekelas dan Tuhan telah membuat banyak perubahan didalam diri saya. Steve dan saya bisa saling merasakan hubungan persahabatan yang indah, baik di dalam maupun di luar kelas, tetapi barangkali hubungan itu tidak akan berkelanjutan lebih jauh jika saja Steve tidak mempunyai kemauan yang keras. Upaya yang bertumbuh ini mencapai puncaknya ketika dia mengajak saya untuk mengikutinya bersama dua rekan sekelas lainnya menikmati masa liburan ke Minnesota bagian utara untuk memancing ikan.

    Sebelumnya saya tak pernah pergi memancing, dan ketika saya diberitahu bahwa kami akan berangkat sesaat setelah lewat tengah malam sehingga kami bisa tiba di danau itu sebelum fajar merekah, aku mulai berpikir seribu kali tentang petualangan itu. Tetapi toh, saya pergi juga. Kesukaan dalam menyaksikan matahari terbit di Minnesota, pemandangan yang baru pertama kali saya lihat, persahabatan dengan mereka -- semua pengalaman itu telah meyakinkan saya bahwa korban jam tidur yang tak seberapa itu adalah harga murah yang dibayarkan untuk mendapatkan kebijaksanaan yang besar dalam menumbuhkan persahabatan.

  2. Ciri yang paling penting yang perlu dimiliki seorang sahabat adalah membiarkan Anda tetap bersikap/berlaku sebagai Anda. Tanpa hal ini, persahabatan yang sesungguhnya tak mungkin bisa terjadi. Hal tersebut tampaknya cukup mendasar, tetapi khususnya para pendeta mengalami bahwa karakteristik atau sifat itu sulit sekali untuk ditemukan.

    Seorang pendeta harus bersedia untuk "ditanggalkan baju kependetanya", di dalam persahabatan itu. Dan sahabat itu pun harus bersedia menerima diri Anda tanpa jubah atau gelar kependetaan Anda. Persahabatan terjadi di antara dua orang, bukan hanya dari satu orang saja.

    Ketika saya tiba di Emmaus, keinginan saya adalah untuk menjadi orang yang sesuai dengan keberadaan saya sebenarnya, dan dalam arti yang lebih dalam menjadi seorang sahabat bagi segenap jemaat. Saya pun segera mengetahui bahwa betapa mustahil hal itu dapat terjadi. Namun di gereja-gereja kecil terdapat begitu banyak anggota jemaat yang dapat menikmati indahnya hubungan persahabatan yang erat dengan setiap orang lainnya. Lebih jauh, tidak semua orang menginginkan diri saya sebagai sahabat mereka (hal ini sungguh amat mengejutkan saya!) Beberapa orang jemaat lebih menyukai melihat diri saya sebagai pendeta mereka saja, bukan sebagai seorang sahabat. Saya harus bisa menerima kenyataan ini.

    Tetapi kenyataan ini justru membuat lebih penting untuk mempererat persahabatan akan memungkinkan saya menjadi diri saya sendiri. Jika saya ingin memandang tugas kependetaan saya sebagai sarana untuk pelayanan bukannya baju jabatan biasa saja, maka saya harus dapat melepaskannya sewaktu-waktu -- untuk menjadi Rick, bukan Pendeta. Teman-teman saya membiarkan saya berbuat demikian.

    Teman-teman seperti itu tidaklah mudah ditemukan. Tetapi saya telah mengetahui bahwa mereka memperbarui diri saya sebagai pribadi di hadapan Allah, sehingga peranan saya sebagai pendeta di bawah kuasa Allah semakin dipompa dan diteguhkan dengan rasa kemanusiaan yang sesungguhnya.

  3. Persahabatan itu bersifat timbal balik. Agar hal itu bisa terjadi, maka kedua belah pihak harus mendapatkan sesuatu dari hubungan itu.

    Secara sepintas hal itu nampaknya dingin dan terlalu bersifat ekonomis. Di dalam prakteknya hubungan itu dapat berkembang begitu hangat dan dalamnya. Suatu hubungan persabatan yang secara terus- menerus menguras salah seorang anggotanya, lambat laun pasti akan membosankan.

    Seorang sahabat yang sejati mempunyai sesuatu untuk diberikan dan pada suatu saat perlu juga menerima sesuatu. Tanpa keseimbangan ini, tak ada hubungan persahabatan yang lestari. Hubungan itu menjadi suatu pelayanan, bukan suatu persahabatan.

    Saya tidak suka mengakui hal itu.tetapi hal itu memang benar. Dan saya percaya bahwa sebagian alasan mengapa persahabatan saya dengan Dick, Jim dan Gary dapat berjalan dengan begitu baik ialah karena kami berada dalam lingkungan yang cukup berbeda sehingga persaingan bukan menjadi pokok persoalan. Kami sungguh-sungguh dapat merasakan kesukaan atas keberhasilan teman-teman kami dan merasa sedih atas kegagalan yang dialami oleh salah seorang di antara kami. Hal ini tak mungkin terjadi apabila terdapat sedikit saja perasaan iri hati di antara kami.

  4. Untuk mendapatkan banyak teman berarti harus selalu siap untuk mengutamakan kepentingan orang lain. Teman-teman itu dapat ditemukan dalam diri orang-orang yang paling asing atau aneh. Allah menyukai hal-hal yang tak terduga. Dan beberapa di antara hal-hal paling tak terduga yang tak dapat dipercaya sebgai teman- teman yang paling kita kasihi.

    Gary, misalnya, mula-mula sangat anti untuk memasuki gereja kami, karena kami adalah orang Baptis. Ketika dia dan isterinya pindah ke Northfield, saya mengunjungi mereka, setelah mereka mengadakan kunjungan perkenalan kepada kami, kebetulan gereja kami adalah yang terdekat dengan rumah mereka. Hanya sebegitu sajalah yang mungkin dapat mereka lakukan jikalau bukan Allah yang terus- menerus mengarahkan Gary dan Susie untuk bergabung ke gereja kami. Saya masih terheran-heran menyaksikan bahwa suatu kunjungan yang sangat kaku tahu-tahu telah berkembang menjadi salah satu dari hubungan persahabatan saya paling mendalam. Dan saya yakin bahwa salah satu alasan mengapa Tuhan mengarahkan Gary ke sini ialah agar masing- masing kami dapat memperoleh kekuatan dan dukungan satu sama lain mellaui persahabatan kami ini.

    Untuk menemukan kata yang jelas dari "Pengkhotbah" dalam Kitab Pengkhotabh mungkin akan merupakan masalah yang sulit. Namun, ada dasar yang kuat di dalam kata-kata ini.

    "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! (Pengkhotbah 4:9-10).

    Di tengah segala usaha pencarian dan pergumulannya, "sang Pengkhotbah" telah menemukan suatu kebenaran yang tetap menjadi nasihat yang benar bagi para pengkhotbah" yang hidup dalam masa ribuan tahun kemudian: Para pendeta pun membutuhkan teman-teman.

    Macam persahabatan yang saya anjurkan ini tidak memberi tempat bagi hak untuk menuntut kembali. Sama sekali benar untuk bersikap bersahabat kepada orang-orang yang tak bersahabat dan untuk mendapatkan kembali orang-orang yang dikalahkan oleh perubahan yang terjadi dalam kehidupan. Namun, tipe pelayanan ini hanya memerlukan sumber-sumber yang lebih besar untuk tetap memelihara diri Anda. Demikian pula, Anda tak dapat menempelkan diri Anda pada orang lain seperti lintah yang menghisap seluruh kehidupan orang itu. Jika suatu persabatan ingin bisa tetap lestari, maka persahabatan itu harus bersifat timbal balik.

  5. Meskipun kebanyakan di antara kita agaknya tak mau mengakuinya, barangkali kita tak akan mampu untuk mengembangkan suatu persahabatan yang mendalam dengan seseorang yang kita pandang sebagai saingan kita.

    Saya tahu bahwa seharusnya kita berbakti kepada Yesus Kristus tanpa memikirkan tentang kedudukan, tempat, atau hak istimewa -- dan semua rekan pelayan adalah saudara kita laki-laki dan perempuan, mereka bukan sebagai saingan kita. Saya percaya pada idealisme seperti itu. Namun, seringkali saya tak dapat meyakinkan perasaan- perasaan saya. Saya telah berupaya untuk melanjutkan persahabatan saya dengan teman baik saya diseminari maupun pada saat memancing. Steve. Kami sudah bersama-sama meluangkan waktu yang menyenangkan sejak kami melayani di gereja kami masing-masing, tetapi amatlah sulit dalam mengatasi kecenderungan untuk membanding-bandingkan. Diperlukan suatu upaya yang besar untuk mengatasi kecenderungan untuk membanding- bandingkan. Diperlukan suatu upaya yang besar untuk mengatasi daya saing yang mengarah pada sikap membela diri yang dapat merintangi terciptanya persahabatan yang akrab. Saya belum, dan tidak akan melepaskan keinginan saya untuk bersahabat dengan steve, tetapi rintangan ini harus diatas sebelum kami dapat menikmati ikatan persahabatan yang akrab seperti yang pernah kami alami.

Sumber: 

Sumber :

Judul Buku
Penulis
Penerbit
Halaman
:
:
:
:
Kepemimpinan (Vol. 10)
Rick McKinniss
Yayasan Andi, Yogyakarta
33-38

Engkau Tak Lagi Memberi Bunga Padaku

Dear e-Reformed Netters,

Dalam rangka hari Valentine, saya menemukan satu artikel yang pendek sekali tapi sangat praktis dan cocok untuk menolong mengingatkan cinta kasih kita pada pasangan kita masing-masing.
[Maaf, untuk anggota e-Reformed yang belum menikah, mungkin anda dapat menyimpan artikel ini untuk nanti kalau anda sudah menikah.]

In His Love,
Yulia

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Dalam rangka hari Valentine, saya menemukan satu artikel yang pendek sekali tapi sangat praktis dan cocok untuk menolong mengingatkan cinta kasih kita pada pasangan kita masing-masing.
[Maaf, untuk anggota e-Reformed yang belum menikah, mungkin anda dapat menyimpan artikel ini untuk nanti kalau anda sudah menikah.]

In His Love,
Yulia

Edisi: 
025/II/2002
Isi: 

INTRODUKSI

Berbicara tentang cinta, kita sering percaya pada mitos yang mengatakan bahwa kalau cinta kita untuk pasangan (suami atau istri) kita benar-benar "sejati" dan murni maka cinta itu tidak akan pernah pudar tapi akan abadi selamanya. Mitos yang sama beredar di antara orang Kristen yang mengatakan bahwa "perkawinan orang Kristen tidak mungkin berakhir dengan perceraian" dengan dasar dari ayat Matius 19:6 "apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Ayat ini sering ditafsirkan bahwa tidak mungkin terjadi perceraian di antara orang Kristen, karena Allah yang telah mempersatukannya.

Memang ada sebagian kebenaran dari mitos-mitos tsb., tapi tidak benar sepenuhnya. Karena sebagai orang percaya kita tahu bahwa meskipun cinta kita dikatakan "sejati", manusia pada dasarnya adalah berdosa. Keberdosaan manusia ini mudah sekali merusakkan cinta "sejati" itu. Cinta "sejati" pada suami atau istri kita tidak selamanya bertahan kuat kalau tidak kita pelihara baik-baik. Apalagi kalau tidak dikondisikan, maka lama-lama cinta "sejati" itu menjadi pudar. Logika kita mengakui bahwa cinta tidak datang dengan sendirinya, namun anehnya, tidak banyak pasangan Kristen yang memikirkan hal ini sampai keadaan sudah menjadi terlambat, yaitu ketika "tiba-tiba" mereka merasa bahwa hubungan pernikahannya tidak lagi harmonis, dan merasa bahwa mereka telah kehilangan cinta "mula-mula"nya.

Ada pepatah yang mengatakan, "Kota Roma tidak dibangun dalam semalam." Saya kira pepatah ini kalau dibalik juga masih berlaku, "Kota Roma tidak hancur dalam semalam" (tetapi saya harus mengakui itu lebih cepat untuk menghancurkan dari pada membangun). Demikian juga dengan perkawinan. Perkawinan yang tidak dipelihara hari demi hari akan berakhir dengan perceraian, sekalipun Tuhan yang telah mempersatukannya.

Di dalam Alkitab Tuhan Allah kita yang Mahakasih berulang-ulang memberikan contoh kepada kita bagaimana Ia memelihara kasih-Nya pada umat-Nya. Berkali-kali manusia mengkianati kasih Allah, namun Allah berkali-kali memperbaharuinya. Kalau bukan Allah yang terus menerus memelihara kasih-Nya pada kita, tidak mungkin kita saat ini masih bisa berkata bahwa kita mengasihi-Nya.

Nah, marilah kita mencontoh apa yang Allah telah lakukan bagi kita... Peliharalah perkawinan kita... sebelum terlambat. Beberapa petunjuk praktis dalam artikel di bawah ini mudah-mudahan dapat menolong kita semua untuk mengecek keadaan perkawinan kita masing-masing.

Eh.. satu lagi..... bagi suami-suami yang biasa memberi bunga untuk istri anda yang terkasih pada hari Valentine, jangan lupa beli bunga untuknya, ya. ... Bagi suami-suami yang tidak biasa memberi bunga untuk istri anda, tidak ada salahnya untuk memulainya sekarang .... (sedikit boros nggak apa-apa untuk membahagiakan kekasih kita....). Tapi kalau isteri anda alergi bunga, coklat juga masih enak ;-)

Selamat hari Valentine!



# INTERMEZO

ROSE

Mawar merah adalah kecintaannya, ... namanya sendiri juga Rose (artinya mawar). Dan setiap tahun suaminya selalu mengirimkan mawar- mawar itu, diikat dengan pita indah.

Pada tahun suaminya meninggal, ... dia mendapat kiriman mawar lagi. Kartunya tertulis "Be My Valentine like all the years before". Sebelumnya, setiap tahun suaminya mengirimkan mawar, dan kartunya selalu tertulis, "Aku mencintaimu lebih lagi tahun ini, ... Kasihku selalu bertumbuh untukmu seturut waktu yang berlalu ..."

Dia tahu ini adalah terakhir kali suaminya mengirimkan mawar-mawar itu. Dia tahu suaminya memesan semua itu dengan bayar di muka sebelum hari pengiriman. Suaminya tentu tidak tahu kalau dia akan meninggal. Dia selalu suka melakukan segala sesuatu sebelum waktunya. Sehingga ketika suaminya sangat sibuk sekalipun, segala sesuatunya dapat berjalan dengan baik.

Lalu Rose memotong batang mawar-mawar itu dan menempatkan semuanya dalam satu vas bunga yang sangat indah. Dan meletakkan vas cantik itu di sebelah potret suaminya tercinta. Kemudian dia akan betah duduk berjam-jam di kursi kesayangan suaminya sambil memandangi potret suaminya dan bunga-bunga mawar itu.

Setahun telah lewat, dan itu adalah saat yang sangat sulit baginya. Dengan kesendiriannya dijalaninya semua. Sampai hari ini, hari Valentine .. Beberapa saat kemudian, bel pintu rumahnya berbunyi, ... seperti hari-hari Valentine sebelumnya ... Ketika dibukanya, dilihatnya buket mawar di depan pintunya. Dibawanya masuk, dan tiba- tiba seakan terkejut melihatnya. Kemudian dia langsung menelpon toko bunga itu ... Ditanyakannya kenapa ada seseorang yang begitu kejam melakukan semua itu padanya, ... membuat dia teringat kepada suaminya ... dan itu sangat menyakitkan ... Lalu pemilik toko itu menjawabnya, ... "Saya tahu kalau suami Nyonya telah meninggal lebih dari setahun yang lalu ... Saya tahu anda akan menelpon dan ingin tahu mengapa semua ini terjadi ... Begini Nyonya, ... bunga yang anda terima hari ini sudah di bayar di muka oleh suami anda, ... Suami anda selalu merencanakannya dulu dan rencana itu tidak akan berubah. Ada standing order di file saya, dan dia telah membayar semua ... maka anda akan menerima bunga-bunga itu setiap tahun. Ada lagi yang harus anda ketahui, ... Dia menulis surat special untuk anda ... ditulisnya bertahun-tahun yang lalu ... dimana harus saya kirimkan kepada anda satu tahun kemudian jika dia tidak muncul lagi di sini memesan bunga mawar untuk anda ... Lalu, tahun kemarin, saya tidak temukan dia di sini, ... maka surat itu harus saya kirimkan tahun berikutnya ... yaitu tahun ini, ... surat yang ada bersama dengan bunga itu sekarang ... di hadapan Nyonya saat ini."

Rose mengucapkan terima kasih dan menutup telepon, ... dia langsung menuju ke buket bunga mawar itu, ... Sedangkan air matanya terus menetes. Dengan tangan gemetar diambilnya surat itu ... Di dalam surat itu dilihatnya tulisan tangan suaminya menulis,

"Dear kekasihku, ... Aku tahu ini sudah setahun semenjak aku pergi. Aku harap tidak sulit bagimu untuk menghadapi semua ini. Kau tahu, semua cinta yang pernah kita jalani membuat segalanya indah bagiku, Kau adalah istri yang sempurna bagiku. Kau juga adalah seorang teman dan kekasihku yang memberikan semua kebutuhanku. Aku tahu ini baru setahun, ... Tapi tolong jangan bersedih ... Aku ingin kau selalu bahagia, ... walaupun saat ini kau sedang hapus air matamu ... Itulah mengapa mawar-mawar itu akan selalu dikirimkan kepadamu. Ketika kau terima mawar itu, ingatlah semua kebahagiaan kita, dan betapa kita begitu diberkati ... Aku selalu mengasihimu ... dan aku tahu akan selalu mengasihimu ... Tapi, ... istriku, kau harus tetap berjalan ... kau punya kehidupan ... Cobalah untuk mencari kebahagiaan untuk dirimu. Aku tahu tidak akan mudah ... tapi pasti ada jalan ... Bunga mawar itu akan selalu datang setiap tahun, ... dan hanya akan berhenti ketika pintu rumahmu tidak ada yang menjawab dan pengantar bunga berhenti mengetuk pintu rumahmu ... Tapi kemudian dia akan datang 5 kali hari itu, ... Takut kalau engkau sedang pergi ... Tapi jika pada kedatangannya yang terakhir dia tetap tidak menemukanmu ... Dia akan meletakkan bunga itu ke tempat yang ku suruh ... meletakkan bunga-bunga mawar itu ditempat dimana kita berdua dibaringkan .. untuk selamanya ... I LOVE YOU MORE THAN LAST YEAR, ... HONEY ..."

Sumber
[Diedit dari sumber: dari milis diskusi www.gerejakatolik.net]



# ARTIKEL

ENGKAU TAK LAGI MEMBERI BUNGA PADAKU

Tujuh tanda yang menunjukkan adanya jarak dalam suatu kehidupan pernikahan.

Menurut Alkitab, suatu pernikahan yang ideal membuat kita "menjadi satu daging" dengan pasangan kita. Jika rasa kesatuan dan kepenuhan mulai terkikis, hal itu tidak terjadi secara mendadak seperti suatu bencana alam. Tanda-tanda pengikisan mestinya menyadarkan kita tentang adanya suatu bahaya.

Anda mendapati diri Anda mencari alternatif lain untuk menggantikan pasangan Anda.

Untuk memperkokoh persatuan memerlukan waktu, namun jika hubungan pernikahan tergelincir tidak menjadi prioritas, maka keadaan itu makin lama akan makin parah. Mereka mungkin akan mengenakan topeng hanya sekadar memenuhi tuntutan formal -- bekerja, aktivitas kegerejaan dan kemasyarakatan, atau kepentingan anak- anak. Biasanya kita melakukan hal-hal tersebut dan mendapat pujian. Jika pernikahan tidak menghasilkan pujian atau penghargaan-penghargaan, hal itu akan ditolak.

Anda merasa makin jengkel saja dengan tingkah laku pasangan Anda.

Setiap pasangan dapat saling membuat daftar yang berisi kejengkelan-kejengkelan terhadap pasangannya. Istri saya, Mellisa, dapat, dan saya pun bisa melakukannya. Kita biasanya mengatasi atau menyesuaikan dengan hal-hal ini. Ketika ada sesuatu yang tidak mengenakkan, bagaimanapun hal itu menjadi demikian jelas dalam persepsi kita. Hasil dari perasaan frustasi nampak dalam kecaman, ejekan, maupun penolakan.

Anda tidak menanyakan pada pasangan Anda untuk melakukan sesuatu bagi Anda seperti biasanya.

Suatu pernikahan yang sehat memiliki kesaling-tergantungan seimbang yang dapat dinikmati pasangan itu (bukan "co- dependency", suatu dinamika tidak sehat yang menghasilkan sifat individualistik). Manakala salah satu atau kedua orang dari pasangan tersebut tidak menikmati kesatuan, ketergantungan itu akan muncul dalam bentuk rasa bersalah atau cemas. Ini akan memudahkan pasangan Anda mengalami kemunduran tingkat ketergantungannya pada Anda daripada pengertiannya atas kebutuhan-kebutuhan Anda.

Anda berhenti berbagi rasa secara detail tentang kehidupan Anda.

Dalam kehidupan rutin pada umumnya, informasi selalu berubah. Ketika hubungan antar pribadi macet, pengalaman berbagi rasa sangat berkurang dan rencana duniawi terasa mengancam.

Minat Anda terhadap seks berkurang.

Meski dengan dorongan seks yang tinggi dari seorang laki-laki dan kebutuhan yang kuat untuk dekat dari seorang wanita, jika daya tarik telah meninggalkan percintaan, demikian juga dengan hasrat seksual. Dengan sendirinya hal ini mungkin akan tampak dalam perasaan enggan, atau sedikit demi sedikit memberikan keluhan- keluhan fisik, alasan untuk pergi tidur, atau pola kebiasaan tidur yang berubah lebih awal.

Anda mulai menginginkan menjadi pribadi yang berlawanan dengan diri Anda.

Ingat tanda yang Anda rasakan saat pasangan Anda pertama kali hadir? Apa pun itu -- hormon-hormon, kebutuhan bawah sadar, keinginan bertanding, atau sentuhan surgawi -- para pecinta akan bergairah saat yang dicintai muncul. "The very thought of you, and I forget to do ..." ("Ingatan tentang kamu, dan aku lupa melakukan ...) tergambar melalui salah satu lagu lama kesukaan saya. Ketika Anda mendapati diri ingin menjadi orang lain, hati- hatilah!

Anda menyembunyikan sumber keuangan.

Semua pasangan mempunyai tanggung jawab yang sama dalam hal pemenuhan kebutuhan keuangan keluarganya. Ini mungkin tampak setelah sekian lama kesatuan itu pergi. Ketika pernikahan mulai gagal, masing-masing mulai mencari sesuatu di luar bagi dirinya sendiri. Penggunaan uang secara berterus terang mulai berkurang. Pembukaan rekening baru mungkin mereka lakukan, kadang-kadang secara sembunyi-sembunyi. Uang dan seks, merupakan barometer bagi sehatnya pernikahan, dan melaluinya dapat mengisyaratkan adanya masalah-masalah.

Sumber: 

Sumber :

Judul Buku
Judul Artikel
Penulis
Penerbit
Halaman
:
:
:
:
:
Kepemimpinan (Pengharapan) Vol. 38/Tahun X
Engkau Tak Lagi Memberi Bunga Padaku
Lois Mc. Burney (Psikiater dan pendiri Marble Retreat di Marble, Colorado)
Yayasan ANDI, Yogyakarta
31 - 32

Lagu Tentang Kehendak Tuhan

Dear e-Reformed Netters,

Tak terasa kita sudah melewati bulan pertama tahun 2002, dan sekarang kita sudah ada diawal bulan Februari. Bagaimana keadaan anda semua? Bersyukurkah anda dengan hari-hari yang telah anda lalui? Saya berharap kasih dan penyertaan Tuhan senantiasa kita rasakan dan nikmati, sehingga hidup kita boleh selalu memancarkan sukacita ilahi.

Biasanya setiap bulan saya selalu mengirim sebuah artikel, tapi karena bulan Februari ini ada perayaan Hari Kasih Sayang (Valentine), maka saya akan mengirimkan dua buah artikel. Satu artikel akan anda nikmati melalui surat saya hari ini. Artikel yang kedua akan saya kirim tgl. 14 Februari 2002 pada perayaan Hari Valentine.

Nah, bagi anda yang menyukai musik dan menghargai musik-musik rohani klasik, berikut ini saya kutipkan artikel yang menceritakan secara singkat hidup seorang pengarang lagu yang sangat indah luar biasa, yaitu lagu "Have Thine Own Way, Lord". Sebuah lagu yang telah menggugah banyak orang Kristen lahir baru untuk benar-benar mendedikasikan hidup sepenuhnya dalam kehendak Tuhan.

Selamat membaca,
Yulia

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Tak terasa kita sudah melewati bulan pertama tahun 2002, dan sekarang kita sudah ada diawal bulan Februari. Bagaimana keadaan anda semua? Bersyukurkah anda dengan hari-hari yang telah anda lalui? Saya berharap kasih dan penyertaan Tuhan senantiasa kita rasakan dan nikmati, sehingga hidup kita boleh selalu memancarkan sukacita ilahi.

Biasanya setiap bulan saya selalu mengirim sebuah artikel, tapi karena bulan Februari ini ada perayaan Hari Kasih Sayang (Valentine), maka saya akan mengirimkan dua buah artikel. Satu artikel akan anda nikmati melalui surat saya hari ini. Artikel yang kedua akan saya kirim tgl. 14 Februari 2002 pada perayaan Hari Valentine.

Nah, bagi anda yang menyukai musik dan menghargai musik-musik rohani klasik, berikut ini saya kutipkan artikel yang menceritakan secara singkat hidup seorang pengarang lagu yang sangat indah luar biasa, yaitu lagu "Have Thine Own Way, Lord". Sebuah lagu yang telah menggugah banyak orang Kristen lahir baru untuk benar-benar mendedikasikan hidup sepenuhnya dalam kehendak Tuhan.

Selamat membaca,
Yulia

Edisi: 
024/II/2002
Isi: 

Syair lagu "Have Thine Own Way, Lord" dalam bahasa Inggris:

HAVE THINE OWN WAY, LORD

Have thine own way, Lord, have thine own way! Thou art the Potter; I am the clay, Mould me and make me, After thy will, While I am waiting, Yielded and still.

Have thine own way, Lord, have thine own way! Search me and try me, Master, today! Whiter than snow, Lord, Wash me just now, As in thy presence Humbly I bow.
Have thine own way, Lord, have thine own way! Wounded and weary, Help me I pray! Power, all power, Surely is thine! Touch me and heal me, Saviour divine!

[[Syair: Have Thine Own Way, Lord
Oleh : Adelaide A. Pollard, 1907, Yesaya 64:8
Lagu : ADELAIDE, George C. Stebbins, 1907 ]]

Adelaide A. Pollard adalah seorang wanita yang lain daripada yang lain. Banyak pendapat dan perbuatannya yang bertentangan dengan cara berpikir dan bertindak yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang Kristen.

Namun Nona Pollard persis sama dengan saudara-saudara seimannya dalam satu hal, yaitu: Ia sungguh ingin supaya kehendak Tuhanlah yang terjadi. Keinginannya itu pernah dicetuskannya dalam sebuah nyanyian rohani, yang kini telah menjadi lagu pilihan umat Kristen di seluruh dunia.

MENGIKUTI JALANNYA SENDIRI

Sejak kecil pengarang wanita itu rupa-rupanya tidak begitu menghiraukan nasihat orang lain: Ia lebih suka mengikuti jalannya sendiri. Bahkan nama yang diberikan oleh orangtuanya itu tidak berkenan di hatinya. Maka ia sendiri kemudian mengganti nama itu sehingga "Sarah A. Pollard" menjadi "Adelaide A. Pollard."

Nona Pollard yang keras kepala itu memperoleh pendidikan yang baik. Ia lahir pada tahun 1862 di Iowa, dan bersekolah di negara bagian itu. Ia pun bersekolah di daerah-daerah Amerika Serikat yang lain, yaitu: Indiana dan Massachussets. Kemudian ia menjadi seorang guru di kota Chicago, Illinois.

Baik Adelaide maupun seluruh keluarga Pollard adalah orang-orang Kristen yang saleh. Namun setelah ia dewasa, Adelaide Pollard jarang bertemu lagi dengan sanak saudaranya. Mungkin salah satu sebabnya ialah, karena ia selalu tertarik pada aliran-aliran Kristen yang oleh orang lain dianggap "sekte yang aneh-aneh."

Selama beberapa waktu Nona Pollard menyokong usaha seorang penginjil yang mengutamakan penyembuhan ilahi. Menurut kesaksiannya sendiri, Adelaide Pollard disembuhkan dari penyakit kencing manis (walau pada hakekatnya kesehatan itu tetap kurang stabil). Kemudian ia beralih kepada seorang penginjil lainnya, yang mengutamakan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya.

Nona Pollard bekerja sama dengan penginjil itu untuk mengumpulkan dana agar dapat ikut serta dengan suatu rombongan utusan Injil ke benua Afrika. Tetapi usaha itu gagal. Lalu Adelaide Pollard mulai mengajar di sebuah sekolah tinggi tempat latihan untuk para calon utusan Injil.

Pada waktu ia sudah setengah umur, Nona Pollard akhirnya jadi juga pergi ke Afrika. Tetapi ia hanya sempat melayani di sana selama beberapa bulan saja. Pecahnya Perang Dunia I, memaksanya mengungsi ke negeri Skotlandia. Empat tahun kemudian, barulah ia dapat pulang ke negeri asalnya.

Sepanjang hidupnya, bahkan pada waktu ia sudah mulai berusia lanjut, Nona Pollard terus mengembara sambil mengabarkan Injil dan mengajarkan isi Alkitab. Sewaktu-waktu badannya menjadi lemah; hanya pada saat-saat itulah ia pulang ke keluarganya, sampai kesehatannya agak pulih kembali.

Menjelang Hari Natal tahun 1934, ketika umurnya sudah 72 tahun, Adelaide Pollard pergi ke stasiun besar di kota New York. Ia membeli sehelai karcis kereta api, karena hendak pergi ke kota Philadelphia untuk berperan serta dalam suatu kebaktian gereja di sana.

Tetapi Tuhan menghendaki agar Nona Pollard pergi ke suatu tempat tujuan yang lain daripada Philadelphia. Wanita yang sudah tua itu jatuh sakit sementara menunggu kereta api. Dalam waktu yang singkat ia sudah berpulang ke "Stasiun Surgawi"

MENGIKUTI JALAN TUHAN

Mungkin cara hidup Adelaide A. Pollard itu boleh dianggap agak aneh. Namun demikian, cukup jelaslah bahwa ia seorang wanita Kristen yang melayani Tuhan dengan rajin dan setia. Dalam beberapa hal ia memang bersikeras mengikuti jalannya sendiri. Tetapi dalam hal-hal yang sungguh berarti, ia selalu berusaha mengikuti jalan Tuhan.

Nona Pollard, sama seperti ibunya dulu, suka mengarang syair-syair rohani. Tidaklah diketahui beberapa banyak jumlah karangannya, oleh karena ia tidak suka membubuhi namanya pada semua hasil karyanya. Tetapi paling sedikit satu di antara sajak-sajak rohani buah penanya itu sudah ketahuan rahasia asal-usulnya, yakni: lagu pilihan yang diceritakan dalam artikel ini.

Pada suatu masa hampir satu abad yang lalu, Adelaide Pollard rindu sekali untuk pergi ke Afrika sebagai seorang pengabar Injil. Tetapi rupa-rupanya jalan menuju ke sana itu tertutup. Pada waktu hatinya diliputi rasa kecewa, ia menghadiri suatu pertemuan doa. Hadir juga pada saat itu seorang wanita Kristen yang sudah lanjut usianya. Dalam doanya, orang yang tua itu tidak memohon berkat-berkat Tuhan, seperti yang biasa dilakukan oleh umat Kristen. Sebaliknya, doanya berbunyi sebagai berikut:

"Tidaklah menjadi soal, apa saja yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita, hanya saja, semoga kehendak Tuhanlah yang jadi!"

Permohonan yang sederhana itu sangat berkesan dalam hati Adelaide Pollard. Ia merasa terdorong untuk memperbarui penyerahan dirinya kepada Tuhan. Kalau memang bukan kehendak Tuhan supaya ia pergi ke Afrika, maka hal itu tidaklah menjadi soal.

Sepulangnya dari pertemuan doa itu, Nona Pollard merenungkan dua ayat dari Kitab Nabi Yeremia: "Pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan. Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya" (Yeremia 18:3-4).

Jalan pikiran Adelaide Pollard pada malam itu kira-kira sebagai berikut: Rupa-rupanya hingga kini Tuhan telah membentuk hidupku, seperti tanah liat di dalam tangan-Nya. Tetapi mungkin kemauan keras hendak pergi ke Afrika itu telah membuat hidupku rusak, sehingga Tuhan harus membentuknya kembali 'menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangan-Nya'.

Rasa damai menenangkan jiwanya. Dan pada malam itu juga ia menulis sebuah "Lagu Tentang Kehendak Tuhan", yang sekarang dinyanyikan di seluruh dunia.

PANJANG SEKALI UMURNYA

Doa berupa syair karangan Adelaide A. Pollard itu dilengkapi dengan musik oleh George C. Stebbins. Ia dilahirkan pada tahun 1846, di negara bagian New York, Amerika Serikat. Pada umur tiga belas tahun ia sempat mengikuti suatu kursus musik. Sejak waktu itu, musiklah yang menjadi bidang kegiatannya sebagai seorang pengikut Kristus, bahkan sampai ia meninggal pada tahun 1945; umurnya 99 tahun!

Sebagai seorang pemuda, George Stebbins pindah ke kota besar Chicago. Di sana pekerjaannya merangkap: sebagai anggota staf penerbit musik rohani, dan sebagai pemimpin musik di gereja. Setelah beberapa tahun ia mulai mencurahkan sepenuh waktunya menjadi pemimpin musik di sebuah gereja yang besar. Kemudian ia pun menjadi pemimpin musik dalam kampanye-kampanye kebangunan rohani besar- besaran. Di samping itu semua, ia juga mengarang beratus-ratus lagu rohani.

Kampanye-kampanye penginjilan massal itu diadakan bukan hanya di Amerika, melainkan juga di Eropa dan di Asia. Salah satu nyanyian pujian yang paling disayangi hingga kini, pernah dikarang oleh George Stebbins pada saat ia sedang melayani Tuhan di negeri India. Dan dua di antara lagu-lagu karangannya yang terdapat dalam buku Dua Sahabat Lama, dengan aransemen-aransemen khusus untuk solo, duet, atau kwartet.

Pada tahun 1907 George C. Stebbins menerbitkan salah satu dari beberapa buku kumpulan nyanyian pujian yang pernah disusunnya. Untuk koleksi yang baru itu, ia mengarang sebuah melodi yang digabungkannya dengan sebuah syair karangan Adelaide A. Pollard. Maka terbentuklah "Lagu Tentang Kehendak Tuhan", yang telah menjadi sebuah lagu pilihan umat Kristen, baik di Indonesia maupun di mana- mana.

Inilah syair lagu "Biarlah KehendakMu Jadi, ya Tuhan" dalam bahasa Indonesia:

BIARLAH KEHENDAKMU JADI, YA TUHAN
Kehendak Tuhan laksanakan! Ku tanah liat, Kau Penjunan; Bentuklah aku sesukaMu; Aku menunggu di kakiMu
Kehendak Tuhan laksanakan! Tiliklah hatiku dan sucikan; dihadiratMu ku berserah; Yesus Tuhanku, O t'rimalah!
Kehendak Tuhan laksanakan! Tolonglah aku yang berbeban; Sembuhkan, Tuhan, hatiku resah; Yesus Penghibur Mahakuasa
Kehendak Tuhan laksanakan! Jiwa ragaku kendalikan, Isilah aku oleh RohMu; Hiduplah, Yesus, di hatiku! Amin.

Sumber: 

Sumber :

Judul Buku
Pengarang
Penerbit
Halaman
:
:
:
:
Riwayat Lagu Pilihan dari Nyanyian Pujian, Jilid 3
H.L. Cermat
LLB, Bandung
78 - 83

Pentingkan Relasi Kekinian, Bukan Berkat Masa Lalu

Dear e-Reformed Netters,

Selamat berjumpa lagi di tahun yang baru 2002 . Kenangan apa yang anda tinggalkan di tahun 2001? Bagaimana perasaan anda memasuki tahun 2002 ini? Harapan-harapan apa yang anda miliki untuk tahun 2002 ini?

Sementara anda memikirkan pertanyaan-pertanyaan di atas, silakan membaca artikel sajian bulan Januari ini. Kiranya menolong kita semua untuk merenungkan hubungan anda dengan Tuhan, Sang Pemberi berkat.

Selamat merenungkan,
Yulia

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Selamat berjumpa lagi di tahun yang baru 2002 . Kenangan apa yang anda tinggalkan di tahun 2001? Bagaimana perasaan anda memasuki tahun 2002 ini? Harapan-harapan apa yang anda miliki untuk tahun 2002 ini?

Sementara anda memikirkan pertanyaan-pertanyaan di atas, silakan membaca artikel sajian bulan Januari ini. Kiranya menolong kita semua untuk merenungkan hubungan anda dengan Tuhan, Sang Pemberi berkat.

Selamat merenungkan,
Yulia

Edisi: 
023/I/2002
Isi: 

(1Samuel 4:1b-22)

Kehidupan orang percaya tidak dapat dipisahkan dari penyertaan Tuhan. Kita percaya bahwa segala yang dilakukan hanya dapat terlaksana dengan pertolongan dan pimpinan-Nya. Walaupun demikian, seringkali terjadi dalam kehidupan kita lebih bersandar kepada berkat masa lalu daripada kepada Tuhan. Berkat masa lalu sering kita anggap sebagai simbol dari penyertaan Tuhan. Tidak salah jika kita mengatakan bahwa gedung gereja yang megah, keberhasilan pelayanan, atau berkat materi yang didapatkan adalah bukti penyertaan-Nya. Tetapi alangkah menyedihkan jika segala berkat itu membuat kita lupa kepada Tuhan, Sang Pemberinya. Karena itu relasi pribadi dengan Dia adalah sangat penting, lebih penting dari berkat masa lalu.

Firman Tuhan dalam 1Samuel 4 mengingatkan kita akan hal ini. Waktu itu Israel sedang berperang melawan Filistin, dan dalam peperangan itu ternyata Israel kalah dan kehilangan 4000 orang. Kekalahan itu membuat mereka berpikir tentang apa yang harus dilakukan supaya menang. Akhirnya timbul pikiran untuk mengambil tabut perjanjian TUHAN dari Silo dan membawanya ke medan pertempuran. Harapan mereka adalah supaya memenangkan peperangan (ay. 3). Tentu kita bertanya: Apa gunanya tabut itu dibawa ke medan pertempuran? Mengapa timbul ide seperti itu? Apakah tabut itu mampu melepaskan mereka dari musuh?

Sejarah Israel mencatat bahwa tabut itu sering memimpin mereka. Tabut TUHAN berjalan di depan, memimpin dan menuntun Israel di padang gurun (Bil. 10:33). Ketika masuk ke Kanaan di bawah pimpinan Yosua, mereka menyeberangi sungai Yordan dan tabut berjalan di depan mereka, dan sungai itu terbelah (Yos. 3:14-16). Pada penaklukan Yerikho, bukankah tabut itu yang ada di depan ketika tembok itu dikelilingi (Yos. 6)?

Ketika mengalami kekalahan dari Filistin, mereka berpikir jika ada tabut di tengah peperangan mereka akan menang. Reaksi yang ditimbulkan oleh hadirnya tabut di tengah peperangan sangat besar. Ketika tabut itu sampai ke perkemahan mereka bersorak dengan nyaring, karena sungguh yakin akan keampuhan tabut itu (ay. 4-5). Sebaliknya orang Filistin yang mendengar sorakan itu menjadi takut karena mengatahui ada tabut di perkemahan Israel dan tahu akan ada kuasa besar di tengah Israel. Sebab itu mereka berkata, "Celakalah kita! Siapakah yang menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Inilah juga Allah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai-bagai tulah di padang gurun" (ay. 7-8).

Kedatangan tabut pada satu pihak memberikan keyakinan kepada Israel tentang kemenangan, pada pihak lain bagi Filistin mendatangkan ketakutan. Tetapi, bagaimana kenyataannya di medan pertempuran? Apakah Israel menang dan Filistin kalah? Pada ayat 10 tercatat bahwa Israel justru mengalami kekalahan besar. Kekalahan yang ditimbulkan ketika membawa tabut itu jauh lebih besar dari kekalahan pertama. Mereka kehilangan 30000 orang, jauh lebih banyak dari peperangan pertama, yaitu 4000 orang (ay. 2,10), bahkan tabut itu dirampas.

Apakah tabut tidak memiliki kuasa lagi? Apakah Allah Israel tidak berkuasa lagi? Tabut memang menandakan kehadiran Allah dan penyertaan-Nya di tengah umat. Secara manusiawi kehadiran tabut seharusnya memberi kemenangan, tetapi ternyata tidak. Tabut ada di sana tetapi penyertaan Tuhan tidak. Allah Sang Pemberi kemenangan tidak memberikan hal itu kepada Israel. Hal ini tidak berarti Allah tidak berkuasa lagi. Kalau kita membaca pasal lima, terlihat kuasa Allah dinyatakan. Bukankah Dagon, dewa Filistin jatuh di hadapan tabut Tuhan? Kuasa Allah sungguh nyata dan ada. Tetapi mengapa mereka kalah? Jawabannya terletak pada keadaan mereka yang tidak memiliki hubungan dengan Allah. Itu sebabnya pada akhir pasal ini dicatat bahwa cucu Eli yang lahir pada masa itu diberi nama Ikabod karena "Telah lenyap kemuliaan dari Israel," sebab tabut Allah telah dirampas.

Waktu itu Israel mengalami krisis rohani sehingga mereka tidak lagi memiliki relasi dengan Tuhan. Ironisnya, hal itu terjadi di rumah Tuhan di Silo. Pemimpin mereka, imam Eli, ternyata tidak membawa umat lebih dekat kepada-Nya. Allah menegur Eli karena ia lebih menghormati anak-anaknya daripada Tuhan (2:29). Lebih lagi dalam 1Samuel 3:1, ketika Samuel dipanggil, Alkitab mencatat pada masa itu firman TUHAN jarang; penglihatan pun tidak sering. Bukankah itu menunjukkan mereka jarang berkomunikasi dengan Tuhan? Tidak mengherankan ketika Samuel dipanggil ia tidak mengerti suara Tuhan. Samuel tidak mengerti karena mungkin tidak pernah diajar akan hal itu. Bahkan Eli pun baru sadar setelah Tuhan memanggil Samuel beberapa kali. Sungguh ironis hal itu terjadi di pusat kerohanian Israel.

Keadaan menyedihkan ini merupakan teguran bagi Israel waktu itu. Dalam bagian ini terdapat hal-hal yang menarik untuk diperhatikan. Israel yang memiliki tabut mengalami kekalahan, sedang Filistin yang ketakutan justru menang. Pada pasal 7 keadaan menjadi terbalik; Filistin kalah. Apakah karena tabut ada di Filistin? Tidak! Tabut telah dikembalikan kepada Israel. Kuncinya ada di 1Samuel 7:3, yaitu pertobatan. Ketika Israel, bertobat, Tuhan memberi kemenangan. Yang menarik adalah kondisi mental mereka yang terbalik. Orang Israel dalam keadaan ketakutan, sedang Filistin dengan gagah maju mendatangi mereka (ay. 7). Namun justru di tengah ketakutan itulah Allah bekerja luar biasa dan mereka mememenangkan peperangan.

Dalam kitab ini kehidupan Samuel merupakan sentral. Dialah yang memimpin Israel untuk taat pada Tuhan. Hal itu bisa terlihat pada pasal 3:21, "Dan TUHAN selanjutnya menampakkan diri di Silo, sebab Ia menyatakan diri di Silo kepada Samuel dengan perantaraan firman-Nya." Suatu keadaan yang kontras dengan ayat 1 dimana firman Tuhan jarang dan penglihatan pun tidak sering. Samuel dekat dan mendengar suara Tuhan. Dia mengajar Israel taat kepada Tuhan, karena itu mereka menang.

Apa kepentingan tabut bagi Israel? Apa sebetulnya yang ada dalam tabut? Di dalam tabut ada dua loh batu, yang menunjukkan perjanjian Allah-Israel, yang berarti Ia akan memimpin Israel; Dialah Allah mereka dan Israel umat-Nya (Kel. 19-20; Bil. 5). Perjanjian ini juga berarti tuntutan agar Israel setia dan menaati perintah-Nya. Meskipun demikian Allah setia dan walau mereka pernah tidak taat pada-Nya, tetapi waktu mereka bertobat dan taat, Tuhan kembali memimpin dan menolong.

Kebenaran pengalaman Israel seharusnya mengingatkan kita untuk mengoreksi diri. Sering sebagai orang Kristen kita lebih mementingkan berkat masa lalu yang sebenarnya bukan jaminan. Allah lebih menghendaki ketaatan dan kesetiaan sebagai respons atas anugerah-Nya dalam Kristus. Allah memberikan perjanjian yang baru yang terpatri di dalam hati kita (2Kor. 3) Kesanggupan kita melayani juga adalah anugerah semata. Oleh karena itu, baiklah kita tetap waspada, mengarahkan hati pada-Nya, dan dalam menikmati segala berkat, jangan lupa kepada Tuhan Sang Pemberi berkat itu sendiri.

Sumber: 

Sumber :
Bulletin Seminari Alkitab Asia Tenggara, Edisi Oktober 2001

Berita Natal: Nubuat yang Digenapkan

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Melalui artikel Natal ini, saya mengucapkan:

"Selamat Hari Natal dan Tahun Baru!"

Tuhan memberkati kita semua,
Yulia

Edisi: 
022/XII/2001
Isi: 

"Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu." (2 Petrus 1:19)

Di sini rasul Petrus sedang memberikan apologetikanya. Ia sedang menghibur umat yang dalam kesusahan dan banyak kesukaran. Rasul Petrus mengingatkan mereka tentang ajaran-ajaran inti dan paling penting dari iman Kristen. Ia sedang menjawab suatu pertanyaan. Pertanyaan ini ditanyakan oleh orang-orang pada abad pertama dan hingga kini masih tetap ditanyakan. Pertanyaan itu adalah: "Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kedatangan Tuhan Yesus Kristus sebagai raja adalah benar? Apa dasar atau alasan yang kita miliki sehingga membuat kita bisa yakin, mempercayai dan menerima hal-hal ini?"

Rasul Petrus memberikan serangkaian jawaban terhadap pertanyaan tersebut dari ayat 2 Ptr. 1:16-18. Pertama adalah bahwa kita tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, tetapi kita memiliki bukti dan kesaksian dari para rasul. Rasul Petrus berkata, "Apa yang telah kami lihat dan dengar... ketika kami bersama-sama dengan-Nya di atas gunung yang kudus." Ada bukti dan kesaksian rasuli terhadap kehidupan dan mujizat Kristus, dan khususnya apa yang terjadi di Gunung di mana Tuhan Yesus dimuliakan. Kedua, unsur penting lain dalam keyakinan kita, yakni, fakta pewahyuan, penginspirasian Alkitab (2 Ptr. 1:20-21). Petrus secara khusus mengingatkan orang-orang ini tentang natur umum nubuat dan Alkitab, yakni, Allah berbicara. Alkitab bukanlah gagasan dari pikiran dan imajinasi manusia, tetapi semuanya adalah hasil dari intervensi Allah, di mana Allah yang penuh kemurahan menyatakan dan memanifestasikan Diri-Nya kepada kita.

Tetapi itu belum semua; karena perlu pertimbangan: "kami makin diteguhkan oleh Firman yang telah disampaikan oleh para nabi." atau "kita juga memiliki suatu kata nubuat yang membuat kita lebih yakin". Ini menjadi suatu sumber penghiburan. Jika rasul Petrus hanya berkata bahwa nubuat itu lebih meyakinkan daripada dongeng-dongeng yang licik, ia tidak memberikan ketegasan apa-apa. Karena untuk menunjukkan bahwa sesuatu itu lebih baik daripada yang tidak ada, sesungguhnya sama sekali tidak perlu dipuji. Hal itu sudah seharusnya demikian.

Selanjutnya, apakah rasul Petrus berkata bahwa kata nubuatan lebih meyakinkan daripada kesaksian dan bukti rasuli? Meskipun banyak ekspositor yang setuju, tetapi bagi saya ini bukanlah penjelasan yang benar dari kata-kata ini, karena ada suatu pengertian bahwa tidak ada yang lebih besar dan penuh daripada yang mereka telah lihat di gunung, di mana Tuhan Yesus dimuliakan. Di sana mereka melihat Anak Allah itu berubah bentuk, sungguh-sungguh mendengar langsung suara dari surga yang merupakan sesuatu yang tidak bisa dibandingkan bahkan dengan suara yang sama yang berbicara melalui para nabi, yang diinspirasikan. Tetapi bagi saya yang membuat semua pendapat itu tidak dapat diterima adalah kalimat yang Petrus katakan "kami juga memiliki". Dengan perkataan lain, rasul Petrus tidak hanya-menunjuk kepada orang-orang lain, tetapi termasuk dirinya sendiri, dan ia berkata "kami", "para rasul" memiliki satu kata nubuatan yang lebih meyakinkan. Hanya ada satu dan satu-satunya penjelasan yang memadai dari kata-kata ini.

Rasul Petrus tidak sedang membandingkan perkataan nubuat ini dengan apa yang telah ia jelaskan. Sebenarnya ia sedang membandingkan perkataan nubuat yang diberikan pada zaman dulu kepada umat yang hidup pada waktu itu, dengan perkataan nubuat yang sama pada zamannya di mana banyak nubuat yang telah terjadi. Hal ini membuat perkataan nubuat itu makin diyakini. Ini berarti bahwa perkataan nubuat itu lebih meyakinkan dibandingkan yang lain karena penggenapannya dan karena fakta-faktanya. Dengan demikian rasul Petrus berkata bahwa ada fondasi-fondasi di mana kita berdiri dan mendasarkan segala sesuatu. Para nabi berbicara tentang hal-hal yang pasti akan terjadi. Bagi para nabi dan segenap umat yang kepadanya para nabi itu berbicara adalah suatu hal yang sangat menakjubkan dan ajaib. Tetapi ketika kami memperhatikan dan merenungkan segala hal-hal itu jelas tetap menakjubkan. Itulah argumentasi yang sering digunakan dalam Perjanjian Baru (bandingkan Ibrani 11). Tidak ada cara yang lebih menguntungkan selain cara yang diberikan Petrus di sini yaitu ketika kita merenungkan kelahiran Anak Allah dan kedatangan-Nya di dalam dunia, dengan cara kita merenungkannya dalam terang penggenapan dari nubuatannya. Rasul Petrus berpendapat ini cara yang paling menguatkan iman. Sesungguhnya ketika kita mempertimbangkan bukti dan kesaksian rasul, kita tidak lagi ragu-ragu. Tetapi lebih itu di dalam pengertian Perjanjian Baru segala sesuatu yang berhubungan dengan Natal dihubungkan langsung dengan penggenapan, yang sempurna tentang nubutan-nubuatan. Sebab inilah yang akan memberikan kita keyakinan yang tidak dapat digoyahkan ketika kita berada di dalam hari gelap dan sukar.

Saya akan menyatakan ini dalam bentuk beberapa preposisi. Pertama, Kristus dan kelahiran-Nya itu menggenapkan nubuat Perjanjian Lama. "Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh Firman yang telah disampaikan oleh para nabi." Dengan perkataan lain, kita mempunyai hak untuk mengatakan bahwa Perjanjian Lama dapat dimengerti sungguh-sungguh hanya di dalam Yesus Kristus. Inilah cara yang benar untuk membaca Perjanjian Lama; dengan sedapat mungkin memahaminya sebagai suatu kitab janji, sebuah kitab bayang-bayang, sebuah kitab contoh/type. Tetapi kejadian-kejadian yang dicatat di dalam Perjanjian Lama merupakan tindakan-tindakan yang tidak diragukan di dalam diri mereka sendiri dan mempunyai kepentingan serta signifikansi mereka sendiri.

Seluruh Perjanjian Lama merupakan buku bayangan dan pengharapan yang mencari, menunggu dan memperhatikan sesuatu. Sekarang kalimat agung yang diucapkan oleh rasul Petrus, yakni, kedatangan Kristus ke dalam dunia adalah menggenapkan segala sesuatu dan setiap hal yang telah dikatakan di Perjanjian Lama. Saudara tentu ingat bagaimana rasul Paulus meletakkan hal yang sama di dalam bahasa dan caranya sendiri ketika ia berkata, "Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan "Amin" untuk memuliakan Allah." Ada janji-janji di Perjanjian Lama, di dalam Kristus ada jawaban "ya" , "amin" membenarkan penggenapan segala sesuatu yang Allah telah katakan melalui para nabi-Nya di dalam Perjanjian Lama itu. Ini merupakan salah satu kunci utama untuk mengerti Alkitab yang sekali lagi mendemonstrasikan kesatuan yang menakjubkan dan ajaib dari Alkitab.

Kristus adalah pusat dari Alkitab; setiap bagian dari Perjanjian Lama melihat ke depan, kepada-Nya. Segala sesuatu di dalam Perjanjian Baru melihat ke belakang, kepada-Nya. Kristus adalah pusat dari sejarah. Kristus adalah titik api dari seluruh pergerakan umat manusia mulai dari penciptaan hingga akhir zaman. Saudara dapat mengumpulkan semua janji Allah sekaligus di dalam Kristus, di dalam Pribadi-Nya. Tetapi perhatikan momen penggenapan itu secara terperinci; karena ini sekali lagi merupakan sesuatu yang sungguh-sungguh sangat mengherankan dan ajaib. Kita juga tidak dapat melakukan sesuatu yang lebih baik selain mendekati hari Natal dengan mengingatkan diri kita sendiri akan natur penggenapan secara sangat detail. Bahkan jika hanya satu kalimat umum saja yang berkorespondensi dengan Perjanjian Baru itu akan menjadi sangat mengagumkan. Tetapi di sini ada penggenapan secara detail yang hanya dapat dijelaskan dengan dipandang dari fakta bahwa orang yang menulis nubuatan-nubuatan ini menulis dengan diinspirasikan oleh Allah.

Ini merupakan bukti lebih lanjut dari pernyataan bahwa nubuat-nubuat Kitab Suci itu tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, karena nubuat-nubuat masa lalu itu bukan datang dari kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah. Sekarang marilah kita secara cepat dan sepintas meninjau penggenapan detail ini. Detail-detail penggenapan ini adalah nilai yang agung. Perhatikan! Bayi yang dilahirkan di Betlehem itu termasuk suku apa? Jawabannya adalah dari suku Yehuda. Dari keturunan siapa di dalam suku Yehuda itu? Dari keturunan Daud. Kita berbalik ke belakang ke seribu tahun sebelum Natal pertama, bahkan sebelum itu, janji itu telah diberikan bahwa Kristus akan dari suku Yehuda dan dari keturunan Daud. Ketika Bayi itu lahir di Betlehem merupakan verifikasi dari janji itu.

Kapan kedatangan-Nya yang pertama itu terjadi? Ini adalah suatu hal yang sangat menarik dan penting jika Saudara mendekati kelahiran Kristus itu hanya melalui sudut pandang filsafat sejarah. Ketika Anak Allah, Sang Mesias, itu datang secara umum disetujui bahwa itu merupakan kemungkinan paling kecil untuk Ia datang. Sebab sesungguhnya waktu itu adalah waktu dimana tongkat kerajaan akan pindah dari suku Yehuda. Tetapi tepat apa yang telah dinubuatkan ratusan tahun sebelumnya, ketika tongkat kerajaan tampaknya lepas dari tangan suku Yehuda pada hari-hari yang akan datang, maka saat itu Raja dan Pemerintah yang sesungguhnya datang. Jika membaca sejarah kontemporer Saudara akan menemukan bahwa ini merupakan pandangan orang-orang Israel ketika Tuhan kita lahir.

Dipandang dari segi nubuat nabi Daniel (Daniel 9) dengan nubuatan tentang 70 minggu, maka di sana. Saudara akan menemukan kembali secara terperinci sekali, keadaan sebelum waktu kedatanganNya secara tepat. Proses yang luar biasa ini, ketepatan ini, dan nubuat yang disampaikan oleh nabi yang terperinci sekali ini merupakan suatu yang sangat mengherankan.

Kemudian mengenai ibu-Nya. Saudara akan ingat nubuat yang mengatakan bahwa seorang perempuan muda akan melahirkan seorang anak. Saya tahu bahwa nubuat ini segera dan paling langsung berhubungan dengan suatu peristiwa yang terjadi dalam sejarah pada saat itu. Namun tidak dapat membatasi hanya dalam hal itu saja. Ada suatu elemen ganda, fakta yang segera dan suatu penggenapan tersendiri "seorang anak dara akan melahirkan seorang anak". Juga mengenai tempat kelahiran-Nya. Saudara ingat bagaimana tempat itu telah diberikan oleh nabi Mikha; bahwa Ia harus dilahirkan di Betlehem. Saudara akan ingat kunjungan orang majus kepada Herodes ketika sudah genap waktunya Tuhan kita lahir. Karena Herodes tidak mengerti apa yang mereka laporkan maka ia berkonsultasi dengan para imam kepala dan ahli Taurat. Mereka memberikan jawaban bahwa Kristus harus lahir di Betlehem, tanah Yehuda, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi.

Sekarang ketika melihat Perjanjian Lama, kita melihat secara konstan dibentangkan kepada kita hal-hal yang luar biasa ini - bagaimana Allah memberikan kepada seseorang suatu fakta, kepada orang lain fakta yang lain. Hanya Mikha yang menyebutkan Betlehem. Allah memberikan kepada Mikha untuk menubuatkan fakta dan detail khusus yaitu tempat kelahiran-Nya.

Sekarang marilah kita memikirkan tentang perkataan-perkataan Tuhan Yesus sendiri. Jika Saudara membaca Yesaya 61, Saudara akan menemukan di sana bahwa nabi Yesaya menubuatkan bahwa Mesias akan mengucapkan kata-kata dan melakukan hal-hal tertentu. Pikirkanlah bahwa kejadian di rumah ibadat di Nazaret ketika Tuhan kita masuk ke rumah ibadat menurut kebiasaan­Nya. Kepada-Nya diberikan kitab suci untuk dibaca. Ia membaca dari Yesaya 61, dan setelah membaca, Ia berkata, "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.

Setiap perkataan-Nya, metode berbicara-Nya, cara mengajar-Nya, semua tindakannya ini telah dinubuatkan secara detail. Sekarang kita juga berpikir tentang karya-karya dan mujizat-mujizat-Nya. Kita membaca dalam Yesaya 35, bagaimana Ia mencelikkan mata orang-orang buta dan membuka telinga-telinga orang tuli, dan orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan orang bisu akan bersorak-sorai. Kemudian kita sampai ke Perjanjian Baru dan kita membaca laporan tentang hal-hal yang dikerjakan-Nya. Ingatlah! Yohanes Pembaptis di masa kesukarannya di penjara mengirim dua orang muridnya kepada Yesus untuk bertanya, "Engkaukah yang akan datang itu?". Tuhan Yesus berkata kedua orang ini, "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat; orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang tuli mendengar," dst. Di sini Yohanes diingatkan kembali kepada Yesaya 35. Tidak hanya itu, Saudara ingat Yesaya 53 tentang nubuat Hamba Tuhan yang memikul sakit-penyakit kita, dan ingat bagaimana Matius di dalam melukiskan mujizat penyembuhan yang dilakukan Tuhan kita dengan mengacu kepada nubuat itu, bahwa Ia akan memikul sakit-penyakit kita.

Ia memasuki Yerusalem dengan cara bagaimana juga telah dinubuatkan oleh nabi Zakharia, yaitu, mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda. Ini terjadi ketika ia memasuki Yerusalem dengan kemenangan. Ia akan dijual dengan harga 30 keping perak pun telah dinubuatkan. Penderitaan-Nya dideskripsikan secara detail, tidak hanya di dalam Yesaya 53 tetapi juga khususnya pada Mazmur 22 - bagaimana fakta bahwa tangan dan kaki-Nya ditusuk telah dinubuatkan - bagaimana setiap hal telah dinubuatkan secara detail. Semua nubuat ini telah dinubuatkan ratusan tahun sebelum semua nubuat itu terjadi. Fakta bahwa Ia akan dikubur di tempat khusus, kuburan milik orang kaya telah dinubuatkan. Memang ketika wafat, Ia dikuburkan dalam kubur dari Yusuf Arimatea. Baik kebangkitan maupun hari Pentakosta telah dinubuatkan juga. Saudara ingat bagaimana setelah kenaikan-Nya Ia mengirim Roh Kudus sesuai dengan janji-Nya, dan ketika orang-orang bingung dan mulai bertanya, apakah artinya ini? Rasul Petrus menjawab, "Itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel." Segala contoh ini, dan masih banyak contoh lain, menunjukkan bagaimana, secara detail, Tuhan Yesus melalui kedatangan-Nya, dan melalui segala yang dikerjakan dan dikatakan, telah membuat segala nubuat itu lebih meyakinkan. Semua penggenapan ini menakjubkan di dalam detailnya, tetapi juga memperlihatkan kemuliaan secara utuh. Saat kedatangan Kristus, kelahiran-Nya, Hidup-Nya dan segala tindakan-Nya di bumi menunjukkan Allah memelihara Firman yang telah disampaikan-Nya kepada orang-orang dalam masa Perjanjian Lama. Orang yang membaca Alkitab matanya akan terbuka melihat kemuliaan Kitab Suci yang unik

Beberapa dari umat itu berteriak di masa kesesakan, "Berapa lama lagi Tuhan Engkau lupa untuk bermurah hati?" Kami membaca janji-janji yang diberikan, tetapi melihat situasi demikian berlawanan. Apakah Allah lupa, apakah Ia lupa bermurah hati dan lupa akan janji-janji-Nya itu? Ketika bayi itu lahir di kandang di Betlehem, keputusan agung yang dibuat ini membuktikan bahwa Allah telah memelihara firman-Nya. Allah telah membuktikan bahwa janji-Nya adalah benar. Segala sesuatu yang Allah pernah janjikan digenapi di sini. Ini adalah deklarasi yang agung tentang ketidakberubahan Allah dalam rencana-Nya. Firman Allah itu pasti, mutlak dan kekal.

Saya akan coba menunjukkan kemuliaan semuanya ini dengan cara ini. Kita melihat bahwa Allah telah menggenapi semua janji-janji yang pernah Ia berikan kepada manusia yang berkenaan dengan keselamatan manusia. Alkitab adalah sejarah manusia di dalam hubungannya dengan Allah, sehingga kita dapat mendeskripsikan Alkitab sebagai sejarah keselamatan. Ini adalah sejarah dari seluruh umat manusia dari awal hingga akhir. Allah menciptakan manusia itu dengan sempurna, sehingga manusia memiliki persekutuan yang sempurna dengan Allah. Tetapi dosa masuk sehingga persekutuan itu hancur. Manusia membuat dirinya sendiri ada di bawah murka Allah dan menderita. Apa yang akan terjadi pada manusia?

Di sini Alkitab datang dengan beritanya yang agung. Segera sesudah kejatuhan itu Allah mulai membuat janji-janji dan semua janji itu berkenaan dengan manusia dan keselamatannya. Sekarang mulai dari kelahiran Kristus segala janji-janji itu terlaksana dan tergenapi. Jadi sejak semula ketika manusia itu jatuh, Allah menerangi kegelapan itu dengan memberikan suatu janji yang sangat berharga.

Manusia jatuh karena ditipu oleh ular, tetapi suatu saat Allah di dalam anugerah-Nya yang tidak terbatas itu memberikan suatu janji, bahwa "keturunan perempuan ini akan meremukkan kepala dari ular." Hal ini dikatakan sekitar 4000 tahun sebelum kelahiran Kristus. Janji ini merupakan janji Allah yang pertama, janji yang orisinil. Ketika Bayi itu lahir di Betlehem janji itu dilaksanakan - benih perempuan itu telah datang dan Ia telah bertindak menghancurkan kepala dari ular itu.

Salah satu janji agung yang lain adalah ketika kita ingat di dalam Ulangan 18:15, bagaimana Musa berkata, "Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku." Orang- orang pada masa Perjanjian Lama menyebutnya sebagai "kedatangan Nabi". Inilah yang dimaksud Yohanes Pembaptis ketika ia bertanya, "Engkaukah yang akan datang itu?" Mereka sedang menunggu Nabi itu, Pemimpin itu. Mereka menunggu seseorang yang lebih besar daripada Musa yang akan melepaskan mereka dari Mesir, yang akan memimpin mereka lepas dari perbudakan dosa dan perhambaan kesalahan. Di dalam Bayi Betlehem itulah kita mendapatkan Seorang yang dirindukan dan diharapkan yang juga adalah Nabi, Guru dan Pemimpin umat.

Dengan cara yang sama diberikan janji bahwa korban persembahan suatu hari akan cukup untuk menutup segala dosa. Di dalam periode Perjanjian Lama banyak tertulis tentang persembahan-persembahan dan korban- korban, mengenai darah lembu jantan dan domba jantan, mengenai korban anak domba dsb. Namun itu semuanya bersifat sementara. Seperti yang dikatakan penulis surat Ibrani, "Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa." Diperlukan korban yang agung, yang sungguh-sungguh berhasil dan yang memuaskan hati Allah. Hal ini terus berlangsung dalam Perjanjian Lama. "Orang ini" telah mempersembahkan Diri-Nya sendiri satu kali untuk selamanya dan yang sempurna. Perjanjian Lama juga menubuatkan bahwa seorang Imam Besar yang agung akan datang untuk mewakili kita dan memuliakan kita di hadapan Allah. Saudara ingat bahwa Harun diizinkan masuk ke ruangan "mahakudus" satu kali setahun, dan ia masuk dalam keadaan takut dan gentar. Tetapi Dia adalah merupakan Imam Besar yang sempurna, yang mengerti kelemahan kita, namun tidak berdosa.

Dia telah masuk ke dalam ruang yang mahakudus dengan suatu persembahan dan korban, yakni darah-Nya sendiri. Ia mewakili kita selama-lamanya dan terus menerus melayani, sehingga Ia dapat menyelamatkan semua orang yang datang kepada Allah melalui Dia. Ada suatu janji tentang Perjanjian baru. Allah membuat suatu perjanjian dengan manusia melalui Musa. Ini adalah suatu perjanjian hukum yang tidak dapat diperlihara oleh siapapun. Tetapi Allah juga berkata melalui nabi Yeremia, "Aku akan membuat perjanjian yang baru dengan kamu", bukan seperti perjanjian yang lama, yang menggunakan hukum-hukum yang di luar, tetapi Aku akan menulis hukum itu dalam hati dan batinmu, yakni suatu perjanjian yang baru. Nabi mana yang dapat menjadi pengantara perjanjian yang demikian? Tidak ada satu manusiapun yang layak; bahkan malaikatpun tidak memadai. Tetapi di sini, Bayi Betlehem itu adalah pengantara dari Perjanjian yang baru, seseorang yang akan memberikan Roh Kudus dan yang akan meletakkan hukum Allah itu ke dalam batin dan hati serta memberikan hidup kepada kita. Ia akan mengangkat hati yang membatu dan memberikan kita hati yang baru yang dengan hati itu kita dapat mengasihi Dia.

Tetapi di atas semua itu, ada suatu janji tentang datangnya suatu kerajaan. Melalui Perjanjian Lama gagasan tentang seorang raja yang akan datang dan memerintah, yang akan menaklukkan semua musuh dari umat serta menegakkan suatu kerajaan kebenaran dan damai sejahtera. Di mana Oknum yang demikian dapat ditemukan? Ia hanya dapat ditemukan di satu tempat. Ia adalah Bayi yang ada di palungan di Betlehem, yang adalah Raja segala raja dan Tuhan segala tuan. Karena itu orang Majus datang dan bersembah sujud serta memberikan persembahan mereka. Ia telah menaklukkan semua musuh, Setan, kematian dan neraka. Segala hal yang jahat telah dikalahkan - Ia adalah Raja universal, Yang Mahakuasa, dan Ia akan memerintah dari kutub ke kutub dan kerajaan-Nya tidak akan berakhir. Anak Allah, Raja yang kekal. Dengan demikian Saudara lihat bahwa Allah telah menggenapi, telah menyelesaikan segala janji-Nya. Akhir kata, apa yang saya simpulkan dari kata nubuat yang makin meneguhkan kita ini? Ada beberapa kesimpulan yang jelas dan tidak dapat ditolak. Keselamatan jelas hanya ada di dalam Kristus dan hanya di dalam Kristus. Kristus telah menggenapi semua janji itu. Di dalam Dialah Allah menyelamatkan umat manusia. Allah berjanji untuk menyelamatkan manusia. Kristus adalah penggenap segala janji.

Tidak ada juruselamat yang lain, dan tidak ada jalan yang lain seperti yang dikatakan rasul Petrus (Kis 4:12). Bayi Betlehem itu menggenapkan segala janji. Ia satu-satunya Juruselamat, satu-satunya jalan kepada Allah, satu-satu pengharapan akan pelepasan. Ia adalah Nabi, Ia adalah Imam, dan Ia adalah Raja. Kedua kita menyimpulkan bahwa seperti halnya kedatangan-Nya dan segala yang telah dilakukan dan dikatakan-Nya merupakan penggenapan dari semua yang telah dijanjikan oleh Allah, sehingga fakta itu sendiri telah memberikan suatu jaminan yang pasti bahwa segala sesuatu yang lain yang telah dijanjikan akan digenapi-Nya juga. Segala sesuatu yang telah dinubuatkan, diberitahukan lebih dulu, dijanjikan berkenaan dengan kedatangan-Nya yang pertama telah dilaksanakan secara tepat. Tetapi yang akan datang ada sesuatu yang lebih. Petrus sedang berbicara mengenai kedatangan-Nya yang kedua; dan meskipun kedatangan-Nya yang kedua aneh bagi kita saat ini sama seperti kedatangan-Nya yang pertama bagi orang-orang Perjanjian Lama, mari kita mengerjakan logika yang tidak dapat ditolak ini. Meskipun mereka tidak mengharapkan Dia, Ia tetap datang; meskipun banyak menertawakan gagasan itu, tidak menyiapkan Kedatangan-Nya; dan meskipun hal-hal ini tampak sebagai hal yang tidak mungkin bagi kita, apa yang telah terjadi merupakan bukti bahwa semua janji itu akan tiba juga.

Terakhir, mengenai penghiburan, kemuliaan dan sukacita. Karena inkarnasi Kristus dan segala sesuatu yang mengikuti meneguhkan nubuat. Ini memberitahukan saya bahwa Allah memelihara Firman-Nya dan melaksanakan rencana, janji dan maksud-Nya sendiri secara penuh di atas bumi. Maka saya mengambil kesimpulan bahwa, Firman Allah merupakan sesuatu yang terus dapat saya percaya. Firman Allah merupakan "janji-janji yang berharga dan yang sangat besar". Janji-janji yang diberikan kepada kita tatkala sakit, kehilangan, menjadi janda, yatim-piatu, menghadapi masalah, berduka-cita atau setiap kondisi yang mungkin terjadi dalam hidup anda dan saya itu dapat diselesaikan dengan janji-janji tersebut. Saudara, percayalah kepada janji­janji-Nya, simpanlah janji-janji itu dalam hatimu, buktikan bahwa Allah selalu setia kepada janji-janji-Nya. Ia tidak pernah gagal untuk memelihara Firman-Nya; setiap janji yang Ia berikan kepadamu adalah suatu janji yang bisa dipercaya dan turuti. Karena itu ketika saya membaca Firman-Nya lagi dan saya melihat janji-janji yang demikian seperti "Aku sekali-kali tidak pernah meninggallkanmu", "Aku akan menyertai kamu senantiasa", saya akan mempercayai janji-janji itu, Saya akan menerimanya. Saya menyatakan bahwa kedatangan Kristus membenarkan segala janji-Nya dan membuktikan bahwa segala janji-Nya itu benar. Ia. telah memberikan Firman-Nya, dan Firman-Nya dapat disandari; karena itu saya menerima-Nya berdasarkan pada Firman-Nya. Puji Tuhan! "Bersyukurlah kepada Tuhan atas karunia-karunia yang tak terkatakan itu" Bersyukurlah kepada Allah karena Kristus, di mana di dalam Dia segala janji Allah adalah ya dan amin tanpa suatu keraguan dan ketidaktentuan.

Catatan:

David Martyn Llyod-Jones (1899-1981) adalah pengkotbah eksposisi sistematis di Westminster Chapel, London. Kotbah Eksposisinya tentang Efesus (8 vol.), Roma 3-8 (6 vol) telah diterbitkan. Artikel ini disadur dari bukunya 2 Peter yang diterbitkan oleh "The Banner of Truth Trust".

Sumber: 

Sumber :
Majalah Momentum, yang diterbitkan oleh Lembaga Reformed Injili Indonesia, edisi Natal.
Artikel ini terdapat juga di Situs:
geocities.com/reformed_movement/artikel/natal02.html

Naskah Khotbah: Hamba Tuhan dan Bacaannya

Dear e-Reformed Netters,

Publikasi bulan Agustus ini akan menyajikan tulisan Daniel Lukas yang saya ambil dari JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN "VERITAS" Edisi 2, yang diterbitkan oleh Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT).

Setelah membaca artikel ini, silakan anda bagikan pengalaman anda sendiri dalam hal baca-membaca buku. Berapa banyak waktu yang anda luangkan untuk membaca buku-buku bermutu? Buku apakah yang terakhir anda baca? Mengapa hanya ada beberapa glintir penulis-penulis Kristen Indonesia yang menulis karya yang bermutu?

Selamat sharing.....

In Christ,
Yulia

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Publikasi bulan Agustus ini akan menyajikan tulisan Daniel Lukas yang saya ambil dari JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN "VERITAS" Edisi 2, yang diterbitkan oleh Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT).

Setelah membaca artikel ini, silakan anda bagikan pengalaman anda sendiri dalam hal baca-membaca buku. Berapa banyak waktu yang anda luangkan untuk membaca buku-buku bermutu? Buku apakah yang terakhir anda baca? Mengapa hanya ada beberapa glintir penulis-penulis Kristen Indonesia yang menulis karya yang bermutu?

Selamat sharing.....

In Christ,
Yulia

Edisi: 
019/VIII/2001
Isi: 

Nas Alkitab: II Timotius 4:13: "Jika engkau ke mari bawa juga... kitab- kitabku, terutama perkamen itu."

Antara tahun 1835-1910 hiduplah seorang yang bernama Samuel Langhorne Clemens atau yang lebih dikenal dengan nama Mark Twain. Ia adalah seorang penulis novel Amerika, khususnya novel anak-anak. Dua buah karyanya yang terkenal berjudul Huckleberry Finn dan Tom Sawyer. Sebagai seorang penulis yang cukup dikenal, pada suatu kali Mark Twain mengundang cukup banyak orang ke rumahnya untuk beramah-tamah. Istri Mark Twain yang bernama Olivia sibuk sekali mempersiapkan acara tersebut dan mengatur segala urusan rumah tangga. Tidak heran, karena mereka mengadakan arisan bagi para tamu di mana yang datang terutama adalah ibu-ibu tetangga mereka.

Ketika mereka sedang menikmati makanan kecil, salah seorang tamu bertanya tentang buku-buku yang dimiliki Mark Twain. Ia memang mempunyai banyak sekali buku. Ada yang berderet rapi dan ada juga yang berserakan di sana-sini. "Untuk apa buku sebanyak ini?" demikian tamu tersebut bertanya heran. Olivia yang sederhana dan memang lugu itu menjawab singkat: "Untuk dibaca." Mendengar jawaban singkat itu tamu tersebut bertambah penasaran sehingga ia bertanya lagi "Dibaca semuanya?" "Tentu. Bahkan, kadang-kadang ada buku yang dibaca berulang- ulang," sahut Olivia ringan.

Percakapan tersebut kebetulan didengar Mark Twain. Kemudian sesudah para tamunya pulang, ia berkata kepada istrinya: "Oliv-ku sayang, lain kali kalau ada tamu yang datang dan bertanya seperti itu lagi tentang buku kita, katakan saja bahwa buku-buku itu memiliki banyak kegunaan: buku itu ada yang tebal, yang tipis, dan yang sedang. Yang tebal bisa kita gunakan sebagai bantal, kalau kita tidak punya bantal; bisa juga kita pakai sebagai anak tangga, atau bisa juga untuk tempat duduk darurat kalau engkau sedang bekerja dan kebetulan tidak ada kursi. Sedangkan buku yang berukuran sedang bisa untuk mengganjal meja, kalau misalnya meja kita goyang-goyang, juga untuk mengganjal almari, dan bisa juga untuk melempar ayam, kucing, memukul kecoa atau apa saja. Buku yang tipis bisa dipakai untuk kipas-kipas, atau menyabet anak yang bandel dan anjing yang susah diatur dan perlu didisiplin. jadi, katakan kepada tamu kita bahwa buku itu mempunyai banyak sekali kegunaan." Begitu kira-kira sindiran Mark Twain untuk orang yang tidak mengerti apa artinya buku.

Bagi kita yang hidup di zaman modern ini, kalau suatu ketika kita berkunjung ke rumah seseorang yang makmur secara materi, kadang-kadang kita juga akan melihat berderet-deret buku diletakkan dengan sangat rapi di rak yang mahal bersama dengan benda-benda antik. Biasanya mereka juga meletakkan berbagai set ensiklopedia yang disorot dengan lampu yang tertata apik. Sebagai tamu mungkin kita masih boleh bertanya tentang apa nama atau judul buku tersebut. Tetapi sedapat mungkin jangan bertanya apa isinya, karena jangan-jangan tuan atau nyonya rumah akan kebingungan untuk menjawabnya. Mengapa? Karena sebagian orang akan lebih siap menjelaskan isi album foto, arti lukisan mahal yang dipajang, dan nilai atau harga barang hiasan dan benda-benda antik seperti patung, guci atau apa saja, daripada harus menjelaskan isi buku tertentu.

Buku ternyata sudah sedemikian bergeser fungsinya bagi sebagian orang. Saya tidak tahu bagaimana kebanyakan hamba Tuhan memperlakukan buku- buku yang dimilikinya. Berkaitan dengan buku, pada kesempatan ini saya mengajak kita memikirkan apa yang dapat kita pelajari dari rasul Paulus.

Pertama, bagi Paulus buku adalah bagian dari kehidupan yang esensial atau penting sifatnya. Ketika menulis ayat di atas, Paulus sedang bermukim di dalam penjara yang pengap. Bantalkah yang ia perlukan sehingga Paulus mencari buku? Tentunya tidak demikian. Saya kira Paulus juga bukan seperti orang modern yang saya sebutkan tadi yang menginginkan buku sekadar untuk koleksi saja; perkara dibaca atau tidaknya, itu urusan belakangan. Ia juga bukan sekadar ingin memperlihatkan kepada rekan kerja atau temannya dan juga orang lain di kota Roma bahwa ia mempunyai sedemikian banyak koleksi kitab. Sekali lagi, saya kira kita tidak akan berpikir demikian. Kemungkinan besar Paulus meminta kitab itu karena ia rindu untuk bisa membaca, ditengah- tengah kehidupan penjaranya yang terakhir itu. Bayangkan, seorang rasul seperti Paulus saja memerlukan buku untuk dibaca, apalagi kita yang bukan nabi dan rasul. Bayangkan juga, sebagai seorang rasul yang telah melayani selama lebih kurang 30 tahun -- suatu pengalaman yang panjang sekali -- Paulus tetap rindu membaca buku.

Saudara, Paulus adalah seorang rasul yang mempunyai banyak pengalaman spektakuer (mujizat, nubuat, penglihatan). Kita dapat menyimak fakta tersebut di Alkitab. Ia pernah berjumpa dengan Tuhan Yesus, pernah menyaksikan seseorang yang naik ke langit yang ketiga, pernah mendapatkan wahyu atau penyataan seperti yang disebutkan dalam Galatia 1:12. Semua pengalaman tersebut dapat dikatakan tidak pernah kita alami sekarang, kecuali ada tokoh aliran tertentu yang mengaku-aku demikian. Kalau kita perhatikan kesaksian-kesaksian orang-orang terkenal, misalnya seorang pengusaha besar, tokoh bisnis atau artis, atau bahkan kita sendiri yang mempunyai satu pengalaman pertobatan tertentu, seringkali ternyata pengalaman yang itu-itu saja dipakai terus-menerus baik untuk kesaksian, untuk pelayanan, untuk khotbah. Cerita yang disampaikan dari tempat yang satu ke tempat lainnya biasanya yang itu-itu juga. Oleh sebab itu, tidak heran kalau saudara menjumpai bacaan yang berisi kesaksian Catherine Baxter yang katanya dituntun oleh Tuhan Yesus 40 hari 40 malam turun ke neraka, dan ada begitu banyak orang yang tertarik untuk membaca tulisan tersebut. Berbeda sekali dengan rasul Paulus. Walaupun ia telah berjumpa dengan Tuhan Yesus, tetapi ketika menceritakan pengalaman spektakuler itu, Paulus melakukannya dengan sangat hati-hati dan ia tidak membanggakan pengalaman tersebut. justru yang kita lihat disini pada hari tuanya pun Paulus tetap rindu membaca buku. Padahal, kita pasti tahu bahwa biasanya orang-orang tua senang sekali menceritakan pengalaman masa lalunya, mengulang cerita yang itu-itu juga sampai-sampai yang mendengar menjadi jenuh karena terus-menerus mendengar pengulangan ceritanya.

Yang kedua, bagi Paulus semua orang boleh meninggalkan dia, rekan kerja boleh pergi ke tempat yang lain, tetapi harus ada buku yang menemani untuk menghangatkan kehidupan. Kalau saudara membaca ayat 10, di sana dikatakan "Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku ... Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia." Lalu ayat 12, "Tikhikus telah kukirim ke Efesus." Kemudian juga di ayat 14 dan 15 kita membaca tentang seorang bernama Alexander yang menyakiti hati Paulus dengan cara berbuat jahat kepadanya. Pada ayat 16 Paulus mengatakan: "Pada waktu pembelaanku yang pertama, tidak seorang pun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku." Di tengah kesepian seperti itulah, Paulus rindu kepada satu itu yaitu kitab-kitab yang bisa dan biasa menemaninya. Memang kalau saudara perhatikan ayat 11, Paulus mengatakan hanya Lukas yang tinggal dengan dia. Dan kalau kita perhatikan sosok pribadi Lukas, selain disebut sebagai seorang dokter dan seorang sejarawan, ia juga dapat disebut sebagai seorang kutu buku, orang kitab. Yang menemani Paulus adalah orang yang mencintai kitab atau mencintai buku. Saya katakan demikian sebab Lukas mengatakan bahwa sebelum ia menulis Injil Lukas ia menyelidiki dengan teliti bahan-bahan yang ada, literatur yang ada. Jadi boleh dikata ia adalah seorang yang suka melakukan riset dan mencintai kitab. Paulus pun sama. Ia adalah seorang yang mencintai kitab.

Suatu kali saya pernah berjumpa dengan seorang teolog Injil ketika saya melanjutkan studi di Trinity Evangelical Divinity School. Ia adalah seorang yang sudah berusia tujuh puluhan dan dari caranya berjalan orang dapat menduga bahwa ia sudah cukup uzur. Orang itu sering memakai topi bila berjalan di udara terbuka karena ia sudah kehilangan banyak rambut alias botak. Walaupun ketika itu musim dingin, ia masih mengajar di sana padahal umurnya sudah kakek. Orang itu adalah Carl F.H. Henry. kalau ia masih hidup sekarang (tahun 2000) pasti usianya sudah 80 tahun lebih. Bayangkan, pada waktu itu ia masih rajin ke perpustakaan, rajin menulis dan rajin membaca buku. Saya yang masih muda merasa malu kalau saya menjadi sedikit malas ketika mengerjakan sesuatu. Setiap kali saya menjadi sedikit malas, saya teringat pada orang itu. Ia telah memberi teladan tentang suatu semangat hidup yang sedemikian besar. Jikalau dalam kehidupan kita sekarang ini kita cenderung bermalas-malasan baik dalam studi, pelayanan atau apa saja, kita seharusnya malu kepada orang-orang yang usianya lebuh tua dari kita tetapi masih tetap rajin. Oleh sebab itu marilah kita mengingat orang rajin yang usianya lebih tua dari kita seperti Carl Henry atau seperti Paulus. Suatu hari nanti, jika dalam pelayanan kita merasa tidak ada orang yang menemani, dan kebanyakan orang sudah meninggalkan kita atau meninggal lebih dulu, kita mewarisi suatu kebiasaan yang baik dari teladan rasul Paulus, yaitu buku yang bisa menemani kita dan tidak ada yang dapat digantikan dengan apa pun juga.

Yang ketiga, bagi Paulus sekalipun buku-buku adalah penting tetapi Kitab itu yang adalah firman Tuhan merupakan bagian yang paling utama. Saya katakan firman Tuhan karena disini ada dua istilah yang berbeda: kitab-kitab dan perkamen. Kitab (biblion) yaitu gulungan atau terjemahan. Biasanya satu gulungan adalah satu buku. Tetapi istilah "perkamen" (dalam bahasa Yunani "membrana"; bahasa Inggris "parchment") diterjemahkan oleh F.F. Bruce sebagai "let it be especially the Bible." Perkamen biasanya dibuat dari kulit binatang, misalnya kulit kambing, antope dan sebagainya. Oleh karena itu perkamen umumnya lebih tahan lama. Tetapi, selain itu, harganya lebih mahal. Dengan demikian jelaslah bagi kita mengapa materi perkamen dipakai untuk penulisan bagian dari firman Tuhan. Jadi yang Paulus maksud ketika ia meminta dibawakan perkamen itu ke penjara tempat ia ditahan, berarti ia minta dibawakan sebagian dari Alkitab Perjanjian Lama atau bagian dari Injil atau bagian dari surat-surat yang pernah ia tulis atau yang ditulis rasul lain. Yang mana yang Paulus minta tidak jelas, tetapi yang pasti itu adalah bagian dari Alkitab yang adalah firman Allah.

Coba kita perhatikan: pada waktu itu rasul Paulus sedang mengalami kesusahan yang besar. Ia harus berada dalam penjara yang sama sekali tidak menyenangkan di hari tuanya. Ia berada dalam keadaan kedinginan, kesepian, tetapi dalam keadaan demikian, selain buku, ia mencari firman Tuhan. Saya rasa Paulus sesungguhnya tahu cukup banyak tentang Alkitab Perjanjian Lama. Bahkan ia mungkin telah hafal bagian-bagian tertentu dari firman Tuhan, apalagi ia pernah mendapatkan wahyu secara langsung. Tetapi pada hari tuanya ia tetap minta dibawakan kitab-kitab dan perkamen dari kota yang bernama Troas yang jaraknya untuk waktu itu jauh sekali, yaitu kurang lebih 500 kilometer.

Bagi kita yang saat ini sedang melayani di ladang Tuhan atau yang sedang menempuh pendidikan di sekolah teologi, kita tidak boleh melupakan pentingnya membaca buku, terutama Alkitab. Jikalau kita tidak membiasakan diri membaca ketika masih berusia muda, tidak ada jaminan bahwa nanti setelah 10, 20 atau 30 tahun kemudian kita masih mau dan mampu membaca. Harapan dan doa saya adalah supaya kita semua yang dipanggil untuk melayani Dia, kita juga akan tetap mencintai buku- buku dan terutama firman Tuhan sepanjang hidup kita di dunia ini. Sebab, jikalau kita tidak melatih tubuh dan jiwa kita sekarang untuk mencintai firman Tuhan dan buku-buku, di tengah-tengah kesibukan pelayanan kita nanti di ladang Tuhan, agaknya kita tidak akan mempunyai cukup waktu lagi baik untuk persiapan pelayanan maupun untuk pertumbuhan kerohanian kita. Kiranya Tuhan mendorong kita semua supaya lebih mencintai literatur tetapi yang terutama adalah mencintai firman Tuhan. Amin.

Hamba Tuhan dan Khotbah

Dear e-Reformed Netters,

Salah satu sumbangsih Teologia Reformed yang memberikan pengaruh besar bagi gereja-gereja (termasuk yang bukan gereja Reformed) adalah penekanannya yang sangat kuat dalam "pelayanan Firman". Dengan membaca artikel yang saya ambil dari buku Rev. Yap Un Han, Th.M. ini, mudah-mudahan kita dapat diingatkan kembali akan urgensi dan keseriusan tugas "berkotbah".

Selamat merenungkan,
Yulia

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Salah satu sumbangsih Teologia Reformed yang memberikan pengaruh besar bagi gereja-gereja (termasuk yang bukan gereja Reformed) adalah penekanannya yang sangat kuat dalam "pelayanan Firman". Dengan membaca artikel yang saya ambil dari buku Rev. Yap Un Han, Th.M. ini, mudah-mudahan kita dapat diingatkan kembali akan urgensi dan keseriusan tugas "berkotbah".

Selamat merenungkan,
Yulia

Edisi: 
014/III/2001
Isi: 

Tugas apakah yang terpenting bagi seorang hamba Tuhan? Berdasarkan pengalaman penulis selama 56 tahun, penulis mengambil kesimpulan bahwa tugas yang terpenting dari seorang hamba Tuhan adalah menyampaikan Firman (berkotbah). Jika seorang hamba Tuhan tidak menyampaikan Firman, maka ia ibarat seekor kucing yang tidak mau menangkap tikus, seekor anjing yang tidak mau menjaga pintu, sehingga ia kehilangan fungsi dan tugasnya yang terpenting.

Dari pengamatan penulis selama puluhan tahun, penulis menemukan banyak sekali hamba Tuhan yang hanya berkhotbah satu kali sebulan dalam Kebaktian Hari Minggu di gerejanya dan jika sudah ditahbiskan menjadi pendeta, maka akan ditambah dengan khotbah pendek sebelum Perjamuan Kudus. Selebihnya selama tiga minggu gereja mengundang para dosen teologia, pimpinan organisasi rohani, pendeta yang sudah pensiun atau tamu yang kebetulan lewat untuk mengisi mimbar gereja. Gereja-gereja yang demikian ini, secara umum pasti tidak mempunyai program tema khotbah dan karena pengkhotbahnya terlalu sibuk maka ia selalu menyampaikan khotbah yang sudah pernah disampaikan sehingga penyampaiannya tidak lagi sesuai kebutuhan dan akibatnya anggota jemaat tentu tidak memperoleh apa-apa dari khotbahnya.

Memang diakui bahwa menyiapkan naskah khotbah tidak mudah. Apalagi naskah khotbah yang bisa mencukupi kebutuhan anggota jemaat, ini akan jauh lebih sulit. Penulis ingin membagikan pengalaman masa lalu yang cukup pahit. Pada waktu itu penulis memegang jabatan rangkap, disamping menjadi pendeta gereja juga menjadi dosen di sekolah teologia. Tugas "berkhotbah" penulis rasakan sebagai suatu beban yang berat. Jika Minggu itu kebetulan ada pendeta lain yang sedang lewat dan dapat diundang untuk berkhotbah, maka penulis merasa seperti baru saja terlepas dari pikulan yang berat dan sepanjang minggu itu, khususnya malam minggu, hati merasa ringan dan enak sekali.

Seorang hamba Tuhan yang dipanggil untuk menggembalakan, ia sebenarnya bukan saja bertanggung-jawab terhadap Tuhan dan bertanggung-jawab kepada gereja yang digembalakan tetapi ia juga bertanggung-jawab kepada ribuan jiwa yang belum diselamatkan. Menurut hemat penulis, tugas penting seorang hamba Tuhan dalam menggembalakan sidang adalah "menyampaikan Firman" (berkhotbah).

Hamba Tuhan yang menjadi gembala lebih mengetahui kebutuhan dari anggota jemaat dari pada pendeta tamu. Rasul Paulus menganggap hubungannya dengan anggota jemaat adalah seperti hubungan seorang ibu dengan anaknya. Ia pernah berkata kepada anggota jemaat di Tesalonika, "Tapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya" (1 Tes. 2:7). Tugas seorang ibu adalah menyusui bayi, dan ia tidak akan mengizinkan ibu lain untuk menggantikan tugasnya. Demikian juga, seorang hamba Tuhan yang bertanggung-jawab, ia akan menganggap bahwa "berkhotbah" adalah tugas yang mendesak, sehingga ia tidak akan dengan mudah dan sembarangan menyerahkan tugas mimbar kepada orang lain. Ia akan secara sistematis, berdasarkan kebenaran Alkitab dan sesuai dengan kebutuhan gereja dan masyarakat, mengajar dan membina para anggota jemaatnya.

URGENSI KHOTBAH

Mantan pendeta yang telah melayani selama 30 tahun di Westminster Chapel, Inggris, Dr. Martyn Lloyd-Jones, dalam bukunya yang berjudul "I Believe in Preaching" mengatakan, "Menurut hematku, 'berkhotah' adalah jabatan yang paling agung dan mulia dari semua jabatan yang ada. Jika anda mau lebih mengetahui hal ini, maka aku tanpa ragu-ragu mengatakan bahwa kebutuhan yang mendesak dari gereja-gereja Kristen adalah khotbah yang benar dan sejati." Lebih lanjut ia mengatakan, "Pekerjaan 'penyampaian Firman' tidak dapat dibandingkan dengan pekerjaan apapun yang lain. Berkhotbah adalah pekerjaan yang terbesar, yang patut digandrungi, yang patut dipuji, yang patut dikerjakan dan pekerjaan yang paling ajaib." Apakah pernyataan Dr. Lloyd-Jones ini berlebihan? Jawaban penulis adalah, "Tidak!".

Dalam bukunya yang berjudul "History of Preaching, E. C. Dargon mengatakan, "Berkhotbah adalah unsur dan ciri penting dari agama Kristen." Lebih lanjut ia mengatakan bahwa "Khotbah" adalah ciptaan dari agama Kristen. Mengapa demikian? Ia mengatakan, "Karena Pendiri Agama Kristen adalah seorang 'Pengkhotbah'. Baik pendahuluNya, yaitu Yohanes Pembaptis maupun penerusNya, yaitu para rasul, semuanya adalah pengkhotbah yang menyampaikan Firman Allah. Sebab itu, khotbah yang mengajar dan memproklamasikan Firman Tuhan, merupakan karakteristik dasar yang tidak berubah dari agama Kristen."

Injil Matius 9:35, "Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan."

Dengan berdirinya gereja hasil Pentakosta, para rasul disibukkan dengan urusan sosial, akhirnya mereka meminta pada anggota jemaat, agar mereka dilepaskan dari tugas sosial, sehingga dapat mengkonsentrasikan diri pada doa dan khotbah (Kis. 6:4).

Setelah itu, rasul Paulus yang dikenal sebagai rasulnya orang kafir, juga berpendapat bahwa tugas "berkhotbah" itu sangat penting. Ia mengatakan bahwa Kristus mengutusnya bukan untuk membaptis, melainkan untuk mengabarkan Injil. Ia menekankan bahwa "berkotbah" adalah model yang ditentukan Tuhan agar orang berdosa mendengar berita Injil dan dapat diselamatkan. Paulus dengan nada tanya, berkata, "Bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya." (Rom. 10:14). Ia bersaksi di dalam 2 Timotius 4:6, "Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat." Waktu menjelang ajalnya, ia merasa perlu menyampaikan pesan terakhirnya kepada Timotius. Apakah pesan terakhirnya itu? Tidak lain, yaitu: "Beritakanlah Firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya...." (2 Tim. 4:2)

Mari kita membaca sejarah dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh orang yang dipakai Tuhan tentang urgensinya "khotbah".

Reformator Martin Luther mengatakan, "Keberadaan dan hidup gereja adalah bersandarkan pada 'Firman' yang penuh berisi perjanjian Tuhan dan karena "Firman' inilah gereja didirikan, dibina dan bertahan. Lebih lanjut ia mengatakan, "Jiwa roh manusia, boleh tidak diisi oleh apapun, tapi tidak bisa jika tidak diisi oleh 'Firman Tuhan'.... dengan adanya 'Firman Tuhan' ia menjadi kaya dan tidak kekurangan apapun". Luther berpendapat bahwa "penyampaian Firman" tidak dapat ditawar-tawar, karena dengan menyampaikan tentang Kristus, berarti memberi makan pada jiwa roh manusia.

Yohanes Kalvin juga sangat menitik-beratkan Firman Tuhan. Ia menekankan bahwa ciri gereja yang sejati adalah kesetiaannya dalam menyampaikan Firman Tuhan. Ia mengatakan, "Di mana saja, asal Firman Tuhan dijaga kemurniannya, lalu dikabarkan, diterima dan Perjamuan Kudus dilaksanakan sesuai dengan yang diadakan oleh Tuhan, maka di sana pasti gereja Tuhan itu eksis."

Pendiri gereja Methodis, John Wesley dalam buku hariannya menulis, "Aku dilahirkan adalah untuk menyampaikan Firman Tuhan." Pada usia yang ke 86, ia pernah berkunjung ke Irlandia memimpin Kebaktian Kebangunan Rohani. Ia menggunakan waktu selama sembilan minggu, mengunjungi 60 kota dan desa dan berkotbah sebanyak seratus kali dan enam kali berkotbah di lapangan terbuka.

Meskipun kita tidak menyetujui pandangan teologia Karl Barth, tapi kesaksiannya tentang penyampaian Firman Tuhan perlu kita dengar. Ia mengatakan, "Semua orang mengakui bahwa tidak ada satu pekerjaan yang lebih bernilai, lebih mendesak, lebih berguna, lebih bisa menyelamatkan, lebih berfaedah dari pada menyampaikan dan mendengarkan Firman Tuhan. Dari sudut langit dan bumi kita boleh melihat, tidak ada perkara yang situasinya lebih praktis dari pada menyampaikan dan mendengarkan Firman Tuhan."

Deitrich Benhoeffer meskipun pandangan teologianya dipermasalahkan, tapi mempunyai pandangan yang baik tentang penyampaian Firman Tuhan. Ia mengatakan "Keberadaan semua bahasa di dunia, dipakai untuk menyampaikan Firman Tuhan. Dengan berkotbah telah diletakkan dasar dunia baru. Melalui khotbah orang mendengarkan Firman Tuhan ....., setiap hamba Tuhan harus berkeyakinan bahwa Kristus akan masuk ke dalam setiap hati manusia melalui khotbah yang berlandaskan pada Alkitab."

KESUAMAN GEREJA DAN KHOTBAH

Mungkin banyak orang tidak menyetujui sebutan "kesuaman gereja" untuk mengungkapkan keadaan gereja masa kini. Memang benar, secara lahiriah, keadaan gereja sekarang menunjukkan kemajuan. Gereja-gereja di Amerika ramai dikunjungi orang dan gejala seperti ini belum pernah terlihat pada waktu-waktu sebelumnya. Dari segi kepadatan penduduk, Jamaika yang berada di Amerika Latin Tengah adalah negara yang paling banyak gedung gerejanya di seluruh dunia. Filipina adalah negara Katolik satu-satunya di Asia yang boleh dikatakan di setiap rumah ada tanda salib dan gereja setiap minggu dipenuhi dengan orang yang berbakti.

Tetapi jika diamati dengan seksama keadaan masyarakat Amerika, maka jelas terlihat kejahatan, kerawanan di bidang keamanan, kemerosotan moral dan kehancuran rumah tangga yang menjamur, menunjukkan ketimpangan yang menyolok dengan keadaaan pertumbuhan gereja. Kejahatan yang terjadi di Jamaika merupakan suatu pelecehan terhadap banyak gedung gereja di sana. Demikian pula dengan keadaaan yang terjadi di Filipina.

Pada abad ke-20 gereja dan jemaat di berbagai daerah Afrika dikabarkan makin bertambah dan berkembang secara pesat. Tetapi Afrika, yang pada abad ke 18 dikenal sebagai "tempat pemakaman para misionaris" yang gelap ini, sampai saat ini tetap dinaungi oleh suasana kegelapan, bahkan makin hari makin kelam. Banyak terjadi pembantaian etnis, sistem politik yang bobrok, perekonomian yang memprihatinkan, kemiskinan yang meluas, ditambah lagi dengan bencana alam dan sebagainya, sehingga nyawa penduduk tidak terjamin. Peristiwa yang terjadi di Afrika, menimbulkan suatu tanda tanya besar, berapa besarkah sebenarnya pengaruh pertambahan gereja dan Injil bagi suasana yang "gelap" di Afrika ini?

Penulis sudah melayani selama 56 tahun, sebagian besar hidup penulis hanya mengerjakan satu hal, yaitu mengabarkan tentang Yesus Kristus. Melalui pengalaman dan penyelidikan selama 56 tahun ini, secara jujur dalam lubuk hati selalu timbul satu pertanyaan: pada abad yang menggalakkan gerakan misi ini, seberapa besarkah pengaruh yang telah diberikan oleh agama Kristen terhadap dunia ini? Kita sering melagukan bahwa agama Kristen adalah satu-satunya yang menyediakan keselamatan yang sejati, tapi sebenarnya berapakah diantara mereka yang ada di dunia ini sudah mendengar tentang berita keselamatan?

Sepertinya unsur yang ditekankan oleh "Ilmu Pertumbuhan Gereja", adalah "pertumbuhan" dari segi kwantitas di dalam gereja saja. Pimpinan gereja sering bergembira dan puas dengan bertambahnya anggota tetapi terhadap permintaan Tuhan Yesus agar anggota jemaat menjadi "garam dunia" dan gereja menjadi "terang dunia", masih jauh dari kenyataan.

Tidak dapat disangkal bahwa gereja masa kini termasuk gereja yang disebut Tuhan sebagai "Gereja Laodikia", yaitu gereja yang suam-suam. Memang tidak salah jika gereja masa kini disebut 'tidak dingin', karena seruan untuk mengerjakan pelayanan misi keluar begitu nyaring, tetapi didalamnya tidak ada kehangatan dan kegairahan. Tata ibadah dipersiapkan sedemikian baik, sehingga para pengunjung kebaktian merasa keenakan; khotbah yang disampaikan dengan sebutan yang terbaik itu, sering menjadi "irama yang membuaikan". Tetapi Tuhan mengatakan, "Aku tahu segala pekerjaanmu; engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas, jadi karena kamu suam-suam kuku.... Aku akan memuntahkan engkau dari mulutKu." (Wahyu 3:15-16).

Tuhan menghendaki gereja menjadi "panas" dan cobalah kita bertanya pada diri sendiri, "Apakah jiwa pelayanan kita "panas" (bergairah)? Apakah pelayanan mimbar kita "panas"? apakah kehidupan doa kita, juga "panas"? Apakah kita yang sering meninggikan "rasio", mencela "emosi" dan "gerakan" ini bersikap "suam-suam kuku" dalam memimpin jemaat, sehingga akhirnya menjadi orang dan gereja yang "dimuntahkan" Tuhan?

Menurut pendapat penulis, jika gereja mau memperoleh "kebangunan", tidak ada jalan lain kecuali kembali ke hadirat Tuhan yang menunggu "kebangunan" itu. Mencari kehendakNya, mentaati pimpinan Roh Kudus agar Tuhan memakai alat yang membangunkan gereja selama dua ribu tahun ini, yaitu: Khotbah!

Tuhan Yesus di dalam Matius 24:45 mengatakan, "Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makan pada waktunya?" Siapakah yang dimaksud hamba yang setia dan bijaksana itu? Mereka adalah hamba-hamba yang memberi makan orang-orang pada waktunya! Untuk memberi "pada waktunya", dibutuhkan "kesetiaan" sedangkan untuk memberi "makan", dibutuhkan "kebijaksanaan". Jika dipakai istilah masa kini, maka yang dimaksudkan memberi "makan" adalah "menyampaikan khotbah".

Dr. W. Sangster dalam bukunya yang berjudul "Skill Berkhotbah" tidak mempunyai kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan keagungan pekerjaan dari hamba Tuhan ini. Ia hanya menulis demikian, "Hamba Tuhan yang dipanggil, adalah orang yang diutus untuk mengajarkan kebenaran; adalah utusan dari Maha Raja adalah saksi dari Injil yang kekal! Adakah pekerjaan yang lebih mulia dari pekerjaan ini? Allah Bapa mengutus PutraNya adalah untuk mengerjakan pekerjan yang tidak ada bandingnya ini." Pada akhir dari bukunya, ia mengungkapkan kesannya dengan mengatakan, "Mengabarkan kabar baik tentang Yesus Kristus, adalah persembahan aktivitas yang tertinggi yang bisa dilakukan seseorang. Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang sangat dirindukan para malaekat, bahkan penghulu malaekat akan rela meninggalkan kedudukan tinggi di sorga, asal bisa mendapatkan pekerjaan ini."

Profesor Homiletik terkenal di Amerika, Dr. Andrew Blackwood mengatakan, "Profesi sebagai pengkhotbah, seyogyanya ditempatkan dijajaran yang tertinggi dari semua profesi yang ada." Berdasarkan penelitian pendeta terkenal asal Inggris, Dr. John Stott, ditemukan bahwa sejak tahun 60-an, secara umum kesan orang terhadap "khotbah" semakin hari semakin merendah. Menurut pendapatnya "kemerosotan" penilaian terhadap khotbah adalah suatu tanda dari kemerosotan gereja."

Pentingnya pengajaran "khotbah" yang dulu sering diabaikan oleh pihak Katolik, sekarang sudah mendapat tempat yang penting. Teolog Karl Rahner berpandangan bahwa hal yang urgen dan yang perlu diselesaikan sekarang adalah "kesulitan dalam berkhotbah". Masalah yang sangat berat yang sedang dihadapi gereja masa kini adalah ketidak serasian keyakinan Kristen dengan dunia nyata, ia mengatakan, "Banyak orang meninggalkan gereja, karena apa yang disampaikan melalui mimbar tidak berarti bagi mereka, tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan mereka. Banyak masalah dan tekanan yang dialami dalam kehidupan tetapi tidak dibicarakan dalam pelayanan mimbar; .... hal ini membawa problem yang semakin besar dalam "khotbah".

Uskup Agung gereja Anglikan di Inggris, Donald Logen berusaha menggalakkan pembaharuan dalam hal berkhotbah. Ia mengatakan, "Allah mengerjakan satu hal yang mengherankan, yaitu: yang berdiri di antara Allah Sang Pengampun dengan manusia yang berdosa adalah "pengkhotbah"; yang berdiri di antara Allah sebagai Pemberi dengan manusia sebagai penerima adalah "Pengkhotbah; yang berdiri di antara Allah sebagai Kebenaran dan manusia sebagai pencari Kebenaran adalah "pengkhotbah". Sebab itu fungsi dari pengkhotbah adalah pekerjaan "menyatukan" antara dosa manusia dengan pengampunan Allah, antara kebutuhan manusia dan kemahakuasaan Allah, antara yang didambakan manusia dengan wahyu dari Allah.

PEMBAHARUAN KHOTBAH

Kunci kebangunan gereja yang sebenarnya terletak pada kebangunan hamba Tuhan itu sendiri, dan salah satu tanda kebangunan hamba Tuhan tersebut adalah kesungguhannya, kehangatannnya dan kerajinan sikapnya dalam menyampaikan Firman Tuhan. Yang dimaksudkan dengan "kesungguhan" adalah sikapnya terhadap Tuhan; "kehangatan" adalah sikapnya terhadap orang yang mendengarkan khotbahnya; "kerajinan" adalah sikapnya dalam menyiapkan diri dalam khotbah.

KESUNGGUHAN - SIKAP TERHADAP TUHAN

Hamba Tuhan adalah orang yang berdiri antara Allah dan manusia, sebab itu seyogyanya ia menunjukkan kesungguhan sikap di hadapan Allah. Jika ia mengetahui bahwa dirinya adalah juru bicara Allah dan bertanggung- jawab terhadap Allah, maka ia tidak akan berani bersikap melecehkan tugas khotbah yang sangat kudus itu. Ia tentu saja juga tidak akan berani menganggap "berkhotbah" sebagai satu "pekerjaan", sehingga dirinya disebut "tukang khotbah" ... melainkan dengan sikap gentar dan takut ia akan berkata kepada Tuhan, "Tuhan, mohon rahmatMu untuk memakai dan memimpin saya, agar sebelum menyampaikan khotbah di depan orang banyak, saya tahu bahwa terlebih dahulu saya akan berkhotbah bagi diri sendiri. Dan saya lebih dulu akan memberi contoh dengan melaksanakan kebenaran tersebut; biarlah keberadaan saya di depan orang, bukan hanya menjadi "terompet" dari kebenaran itu, melainkan menjadi fakta kebenaran itu sendiri.

Pendeta Amerika yang terkenal di abad ke 19, Dr. Philips Brooks mengatakan, "Pengkhotbah adalah orang yang menyampaikan kebenaran kepada khalayak ramai. Di dalamnya terdapat dua unsur, yaitu: kebenaran dan karakter...... Pengkhotbah melalui karakternya menunjukkan kebenaran.... Kebenaran itu sendiri adalah unsur yang tidak berubah, tetapi karakter adalah unsur yang berubah dan bertumbuh."

Colin Morris mengatakan, "Berita yang mengandung kuasa, bukan disampaikan melalui mimbar, melainkan melalui salib. Khotbah yang berhasil, bukan hanya "didengar" tapi juga "dilihat". Jika hanya mengandalkan "kefasihan lidah", "skill berkhotbah", "pengetahuan Alkitab" hal itu belumlah cukup, karena masih perlu ditambah dengan kesedihan yang sangat, penderitaan, pergumulan, keringat, darah, sehingga bisa mengekspresikan kebenaran yang disampaikan. Hanya dengan demikianlah baru kita bisa menaklukkan hati para pendengar.

KEHANGATAN - SIKAP TERHADAP PARA PENDENGAR

Abad ini dikenal dengan abad yang menitik-beratkan pada "rasio". Banyak sekali cendekiawan dan pendeta besar berpendapat bahwa kita hanya bisa menggunakan "rasio" untuk menaklukkan hati para pendengar dan bukan dengan "emosi". Ada seorang pendeta yang bertemu dengan seorang aktor dan bertanya, bagaimana bisa memainkan peran yang begitu mengesankan dan menarik? Dimana letak rahasianya? Dan pendeta itu juga mengemukakan bahwa dalam menyampaikan khotbah, ia tidak mempunyai kekuatan seperti itu. Dengan tertawa aktor itu menjawabnya, "Peran yang kami tampilkan bisa sedemikian menarik karena cerita fiktif itu telah kami mainkan dengan sungguh-sungguh, sehingga cerita itu seperti sungguh-sungguh terjadi. Tetapi tidak demikian dengan kalian yang menyampaikan kebenaran yang sejati, anda menampilkannya dengan sembrono, sehingga orang menerimanya seperti berita yang hanya bohong-bohongan saja.

Siapa yang mengatakan bahwa dalam berkhotbah tidak diperlukan "emosi"? Tuhan Yesus menangis untuk penduduk Yerusalem yang tidak mau bertobat (Luk. 19:4). Paulus sangat marah terhadap orang Atena yang menyembah kepada berhala; demi Allah yang benar, hatinya menjadi panas (Kis. 17:16). Ia sangat peduli terhadap kemuliaan Allah, sebab itu ia memberitahukan orang di Filipi, "karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus." (Flp. 3:18). Paulus juga memberitahukan para penatua di Efesus, "Sebab itu, berjaga-jagalah dan ingatlah bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam dengan tiada berhenti-hentinya menasehati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata." (Kis. 20:31).

Jangan mengira mempunyai perasaan demikian (mengucurkan air mata), hanya berlaku pada masa Perjanjian Baru saja, karena kita juga harus memilikinya pada masa kini. James Alexander mengatakan, "Hamba Tuhan yang tidak memiliki perasaan yang demikian besar tidak akan bisa menjadi hamba Tuhan yang besar pula."

Pada waktu berdiri di atas mimbar, hendaklah ingat bahwa kita sedang mengurusi masalah antara hidup kekal dan mati kekal, dan kita berdiri di antara orang yang hidup dan mati. Sebab itu, hendaklah kita memandang penting pelayanan mimbar dan jauhkanlah sikap apatis dan anggapan bahwa mimbar hanya sebagai sarana untuk berbicara saja.

Richard Baxter pernah mengutarakan kata-kata bagi dirinya sebagai berikut: "Aku merasa heran terhadap diriku, bagaimana aku bisa berkhotbah dengan sikap yang dingin tanpa perasaan dan bagaimana aku bisa bersikap apatis terhadap mereka yang sedang berada di dalam belenggu dosa? Seharusnya aku mendatangi mereka dan memohon dengan sangat agar mereka demi kasih Tuhan bertobat.... Aku sering turun dari mimbar dengan hati nurani yang tidak tenang, karena merasa khotbahku tadi kurang sungguh-sungguh dan kurang semangat. Aku tidak mempersalahkan diri karena kurang fasih dalam berkata-kata dan aku juga tidak menyalahkan diri karena tidak menggunakan kata-kata yang tepat, tapi aku sering bertanya pada diri sendiri, 'bagaimana kamu bisa bersikap demikian di dalam menyampaikan masalah besar yang mempunyai kaitan mati dan hidupnya manusia, bukankah seharusnya aku menangis untuk mereka dan membiarkan air mataku menyela khotbahku? Bukankah seharusnya aku berteriak dengan kesungguhan untuk mengatakan dosa dan kesalahan mereka dan dengan sangat memohon seperti seorang yang sedang menghadapi pilihan antara hidup dan mati?"

John Stott menganggap sikap yang penuh dengan kesungguhan sangat mudah menarik hati dan perhatian orang. Dr. John R. Rice mengatakan, "Pada waktu seorang hamba Tuhan berdiri di mimbar, menyampaikan tema yang sangat penting dan serius tentang neraka dan api yang tanpa padam; seharusnya ini menyebabkan ia bertelut di hadapan Tuhan dan bersikap sungguh-sungguh dalam penyampaiannya. Tapi patut disesalkan, karena banyak hamba Tuhan dalam menyampaikan tema yang penting dan serius ini dengan sikap santai tanpa perasaaan. Berbicara panjang lebar tentang teologi "nekara" tanpa bara api dalam hati dan air di mata. Gembala Sidang di Inggris, Campbell Morgan mengatakan, tiga unsur khotbah adalah: kebenaran, kejelasan dan emosi."

RAJIN - SIKAP MEREVISI KHOTBAH

Seorang hamba Tuhan yang bersikap sungguh-sungguh pada Tuhan dan hangat pada para pendengarnya, pasti pula seorang hamba Tuhan yang rajin untuk selalu merevisi bahan khotbahnya. Ia pasti rajin membaca Alkitab dan berdoa, rajin pula menunggu berita dari hadirat Tuhan; rajin membaca buku-buku rohani dan buku-buku lain yang bisa menambah wawasannya; rajin berkunjung dan mengetahui secara jelas kebutuhan rohani dari individu maupun keluarga anggota gereja; rajin mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan khotbahnya.

Dr. Harry E. Jesssop mengatakan, "Seorang hamba Tuhan yang tidak putus-putusnya menuntut kemajuan, bisa menjaga hati yang bersifat rohani dan sensitif akan memiliki otak yang terisi dengan pengetahuan yang luas. Seorang hamba Tuhan yang sudah berusia pertengahan, yang tidak lagi menuntut kemajuan, yang tidak lagi membaca buku-buku akan mendatangkan malapetaka bagi gereja. Hamba Tuhan yang demikian ini, bukan saja sering mengulang khotbah yang sudah disampaikan tapi juga malas untuk mengubah dan menyempurnakan bahan khotbahnya. Hamba Tuhan yang demikian ini, bukan saja kehilangan semangat untuk menyelamatkan jiwa yang tersesat, bahkan semangat untuk berdoa bagi jiwa-jiwa yang tersesat pun sudah tidak ada lagi.... Tidak ada hamba Tuhan yang karena usia tua tidak lagi perlu berkhotbah. Jika ia benar-benar rajin membaca, rajin berpikir, rajin berdoa, maka usianya yang tua bukan menjadi penghalang tapi sebaliknya menjadi sumber berkat!"

Sumber: 

Judul Buku
Pengarang
Penerbit

Tahun
Halaman
:
:
:

:
:
Problematika Hamba Tuhan
Rev. Yap Un Han, Th.M.
Persekutuan Alumni Singapore Bible College, Jakarta
dan Yayasan Daud Family, Menado,
1998
67 - 83

Etos Postmodern

Dear e-Reformed Netters,

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat bahan tentang Postmodernisme yang berjudul "POSTMODERNISME; Sebuah Pengenalan" yang ditulis oleh Stanley J. Grenz. Tulisan yang saya bagikan berikut ini adalah salah satu bagian dari buku tsb. Mudah-mudahan artikel ini menolong kita untuk mengenal fenomena Postmodernisme yang sedang terjadi di sekitar kehidupan kita.

In His grace,
Yulia Oen

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat bahan tentang Postmodernisme yang berjudul "POSTMODERNISME; Sebuah Pengenalan" yang ditulis oleh Stanley J. Grenz. Tulisan yang saya bagikan berikut ini adalah salah satu bagian dari buku tsb. Mudah-mudahan artikel ini menolong kita untuk mengenal fenomena Postmodernisme yang sedang terjadi di sekitar kehidupan kita.

In His grace,
Yulia Oen

Edisi: 
013/III/2001
Isi: 

Postmodernisme lahir di St. Louis, Missouri, 15 Juli 1972, pukul 3:32 sore. Ketika pertama kali didirikan, proyek rumah Pruitt-Igoe di St. Louis di anggap sebagai lambang arsitektur modern. Yang lebih penting, ia berdiri sebagai gambaran modernisme, yang menggunakan teknologi untuk menciptakan masyarakat utopia demi kesejahteraan manusia. Tetapi para penghuninya menghancurkan bangunan itu dengan sengaja. Pemerintah mencurahkan banyak dana untuk merenovasi bangunan tsb. Akhirnya, setelah menghabiskan jutaan dollar, pemerintah menyerah. Pada sore hari di bulan Juli 1972, bangunan itu diledakkan dengan dinamit. Menurut Charles Jencks, yang dianggap sebagai arsitek postmodern yang paling berpengaruh, peristiwa peledakan ini menandai kematian modernisme dan menandakan kelahiran postmodernisme.

Masyarakat kita berada dalam pergolakan dan pergeseran kebudayaan. Seperti proyek bangunan Pruitt-Igoe, pemikiran dan kebudayaan modernisme sedang hancur berkeping-keping. Ketika modernisme mati di sekeliling kita, kita sedang memasuki sebuah era baru - postmodern.

Fenomena postmodern mencakup banyak dimensi dari masyarakat kontemporer. Pada intinya, Postmodern adalah suasana intelektual atau "isme"- postmodernisme.

Para ahli saling berdebat untuk mencari aspek-aspek apa saja yang termasuk dalam postmodernism. Tetapi mereka telah mencapai kesepakatan pada satu butir: fenomena ini menandai berakhirnya sebuah cara pandang universal. Etos postmodern menolak penjelasan yang harmonis, universal, dan konsisten. Mereka menggantikan semua ini dengan sikap hormat kepada perbedaan dan penghargaan kepada yang khusus (partikular dan lokal) serta membuang yang universal. Postmodernisme menolak penekanan kepada penemuan ilmiah melalui metode sains, yang merupakan fondasi intelektual dari modernisme untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Pada dasarnya, postmodernisme adalah anti-modern.

Tetapi kata "postmodern" mencakup lebih dari sekedar suasana intelektual. Penolakan postmodernisme terhadap rasionalitas terwujud dalam banyak dimensi dari masyarakat kini. Tahun-tahun belakangan ini, pola pikir postmodern terwujud dalam banyak aspek kebudayaan, termasuk arsitektur, seni, dan drama. Postmodernisme telah merasuk ke dalam seluruh masyarakat. Kita dapat mencium pergeseran dari modern kepada postmodern dalam budaya pop, mulai dari video musik sampai kepada serial Star Trek. Tidak terkecuali, hal-hal seperti spiritualitas dan cara berpakaian juga terpengaruh.

Postmoderisme menunjuk kepada suasana intelektual dan sederetan wujud kebudayaan yang meragukan ide-ide, prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dianut oleh modernisme. Postmodernitas menunjuk kepada era yang sedang muncul, era di mana kita hidup, zaman di mana postmodernisme mencetak masyarakat kita. Postmodernitas adalah era di mana ide-ide, sikap-sikap, dan nilai-nilai postmodern bertahta - ketika postmodernisme membentuk kebudayaan. Inilah era masyarakat postmodern. Tujuan kita dalam bab ini adalah melihat dari dekat fenomena postmodern dan memahami sedikit tentang etos postmodernisme. Apakah tanda-tanda ekspresi budaya dan dimensi hidup sehari-hari dari "generasi mendatang ini?" Apakah buktinya bahwa pola pikir baru sedang menyerbu kehidupan masyarakat sekarang ini?

FENOMENA POSTMODERN

Postmodernisme menunjuk kepada suasana intelektual dan ekspresi kebudayaan yang sedang mendominasi masyarakat kini. Sekonyong-konyong kita sedang berpindah kepada sebuah era budaya baru, postmodernisme, tetapi kita harus memperinci apa saja yang tercakup dalam fenomena postmodern.

KESADARAN POSTMODERN

Bukti-bukti awal dari etos postmodernisme senantiasa negatif. Etos tersebut merupakan penolakan terhadap pola pikir Pencerahan yang melahirkan modernisme. Kita dapat melacak etos postmodern di mana-mana dalam masyarakat kita. Yang terpenting, postmodernisme telah merasuk jiwa dan kesadaran generasi sekarang ini. Ini merupakan perceraian radikal dengan pola pikir masa lalu.

Kesadaran postmodern telah melenyapkan optimisme "kemajuan" (progress) dari Pencerahan. Postmodern tidak mau mengambil sikap optimisme dari masa lalu. Mereka menumbuhkan sikap pesimisme. Untuk pertama kalinya, anak-anak pada masa kini berbeda keyakinan dengan orang tuanya. Mereka tidak percaya bahwa dunia akan menjadi lebih baik. Dari lubang yang besar di lapisan Ozon sampai kepada kekerasan antar remaja, mereka menyaksikan permasalahan semakin besar. Mereka tidak lagi percaya kalau manusia dapat menyelesaikan masalahnya dan kehidupan mereka akan lebih baik daripada orangtua mereka.

Generasi postmodern yakin bahwa hidup di muka bumi bersifat rawan. Mereka melihat bahwa model "manusia menguasai alam" dari Francis Bacon harus segera digantikan dengan sikap kooperatif dengan alam. Masa depan umat manusia sedang di persimpangan jalan.

Selain sikap pesimis, orang-orang postmodern mempunyai konsep kebenaran yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Pemahaman modern menghubungkan kebenaran dengan rasio sehingga rasio dan logika menjadi tolok ukur kebenaran. Kaum postmodern meragukan konsep kebenaran universal yang dibuktikan melalui usaha-usaha rasio. Mereka tidak mau menjadi rasio sebagai tolok ukur kebenaran. Postmodern mencari sesuatu yang lebih tinggi daripada rasio. Mereka menemukan cara-cara nonrasial untuk mencari pengetahuan, yaitu: melalui emosi dan intuisi.

Keinginan mencari model kooperatif dan penghargaan kepada cara nonrasional menciptakan sebuah dimensi holistik bagi kaum postmodern. Postmodern dengan holismenya menolak cita-cita Pencerahan, individu yang tidak berperasaan, otonom, dan rasional. Orang-orang postmodern tidak berusaha menjadi individu-individu yang mengatur dirinya secara penuh, tetapi menjadi pribadi-pribadi "seutuhnya".

Postmodern dengan holisme-nya mencakup integrasi seluruh dimensi dari kehidupan pribadi - perasaan, intuisi, dan kognitif. Keutuhan juga mencakup kesadaran akan lingkungan dari mana kita berasal. Tentu saja area ini mencakup "alam" (ekosistem). Tetapi ia juga komunitas. Konsep "keutuhan" postmodernisme mencakup aspek-aspek agama dan kerohanian. Postmodernisme menegaskan bahwa keberadaan diri dapat dikenal dalam lingkup ketuhanan.

Karena setiap orang selalu termasuk dalam konteks komunitas tertentu, maka memahami kebenaran haruslah bersama-sama. Keyakinan dan pemahaman kita akan kebenaran, berakar kepada komunitas dimana kita berada. Mereka menolak konsep Pencerahan yang universal, supra-kultur, dan permanen. Mereka lebih suka melihat kebenaran sebagai ekspresi dari komunitas tertentu. Mereka yakin bahwa kebenaran adalah aturan-aturan dasar yang bertujuan bagi kesejahteraan diri dan komunitas bersama- sama.

Dalam pengertian ini, kebenaran postmodern berhubungan dengan komunitas. Karena ada banyak komunitas, pasti ada kebenaran yang berbeda-beda. Banyak kaum postmodern percaya bahwa keanekaragaman kebenaran ini dapat hidup berdampingan bersama-sama. Kesadaran postmodern menganut sikap relativisme dan pluralisme.

Tentu saja, relativisme dan pluralisme bukanlah barang baru. Tetapi jenis pluralisme dan relativisme dari postmodern ini berbeda. Relatif pluralisme dari modernisme bersifat individualistik: pilihan dan cita rasa pribadi diagung-agungkan. Mottonya adalah "setiap orang berhak mengeluarkan pendapat."

Sebaliknya postmodernisme menekankan kelompok. Kaum postmodern hidup dalam kelompok-kelompok sosial yang memadai, dengan bahasa, keyakinan, dan nilai-nilainya tersendiri. Akibatnya pluralisme dan relativisme postmodern menyempitkan lingkup kebenaran menjadi "lokal". Suatu kepercayaan dianggap benar hanya dalam konteks komunitas yang meyakininya.

Karena itu ketika kaum postmodern memikirkan tentang kebenaran. Mereka tidak terlalu mementingkan pemikiran yang sistematis atau logis. Apa yang dahulu dianggap tidak cocok, kaum postmodern dengan tenang mengawinkannya. Mereka mengkombinasikan sistem-sistem kepercayaan yang dulu dianggap saling berbenturan, Misalnya, seorang Kristen postmodern percaya kepada doktrin-doktrin gereja sekaligus juga percaya kepada ajaran non-Kristen seperti reinkarnasi.

Orang-orang postmodern tidak merasa perlu membuktikan diri mereka benar dan orang lain salah. Bagi mereka, masalah keyakinan/kepercayaan adalah masalah konteks sosial. Mereka menyimpulkan,"Apa yang benar untuk kami, mungkin saja salah bagi Anda," dan "Apa yang salah bagi kami, mungkin saja benar atau cocok dalam konteks anda."

KELAHIRAN POSTMODERNITAS

Sebenarnya postmodernisme telah mengalami masa-masa inkubasi yang cukup lama. Meskipun para ahli saling berdebat mengenai siapakah yang pertama kali menggunakan istilah tersebut, terdapat kesepakatan bahwa istilah tersebut muncul pada suatu waktu pada tahun 1930-an.

Salah satu pemikir postmodernisme, Charles Jencks, menegaskan bahwa lahirnya konsep postmodernisme adalah dari tulisan seorang Spanyol Frederico de Onis. Dalam tulisannya "Antologia de la poesia espanola e hispanoamericana" (1934), de Onis memperkenalkan istilah tersebut untuk menggambarkan reaksi dalam lingkup modernisme.

Yang lebih sering dianggap sebagai pencetus istilah tersebut adalah Arnold Toynbee, dengan bukunya yang terkenal berjudul "Study of History". Toynbee yakin benar bahwa sebuah era sejarah baru telah dimulai, meskipun ia sendiri berubah pikirannya mengenai awal munculnya, entah pada saat Perang Dunia I berlangsung atau semenjak tahun 1870-an.

Menurut analisa Toynbee, era postmodern ditandai dengan berakhirnya dominasi Barat dan semakin merosotnya individualisme, kapitalisme, dan Kekristenan. Ia mengatakan bahwa transisi ini terjadi ketika peradaban Barat bergeser ke arah irasionalitas dan relativisme. Ketika hal ini terjadi, kekuasaan berpindah dari kebudayaan Barat ke kebudayaan non- Barat dan muncullah kebudayaan dunia pluralis yang baru.

Meskipun istilah ini muncul pada tahun 1930-an, postmodernisme sebagai sebuah fenomena kultural belum menjadi sebuah momentum sampai 40 tahun setelahnya. Ia muncul pertama-tama dalam lingkup kecil masyarakat. Selama tahun 1960-an, suasana yang menandai postmodernisme sangat menarik bagi para seniman, arsitek, dan pemikir yang sedang mencari alternatif untuk melawan dominasi kebudayaan modern. Bahkan beberapa teolog ikut tertarik dengan trend tersebut, antara lain William Hamilton dan Thomas J.J. Altizer yang "mengundang arwah" Nietzsche untuk memberitakan matinya Allah. Perkembangan yang beraneka ragam ini membuat "pengamat kebudayaan" Leslie Fiedler pada tahun 1965 menambahkan istilah "post" kepada kata modern sehingga menjadi postmodernisme yang menjadi simbol kontra-kultural pada zaman itu.

Selama tahun 1970-an tantangan postmodern menembus kepada arus budaya utama. Pada pertengahan tahun tersebut, muncullah seorang pembela postmodern yang paling konsisten mempropagandakan ide postmodern, yakni: Ihab Hassan. Ia menghubungkan postmodernisme dengan eksperimentalisme dalam bidang seni dan ultra teknologi dalam bidang arsitektur.

Tetapi etos postmodern secara tepat menjalar terus ke bidang-bidang lain. Profesor-profesor di universitas dalam berbagai fakultas mulai berbicara mengenai postmodernisme. Bahkan beberapa di antara mereka tenggelam dalam konsep-konsep postmodern.

Akhirnya penerimaan etos baru begitu menjalar terus ke mana-mana sehingga istilah "postmodern" menjadi label yang digunakan bagi berbagai fenomena sosial dan budaya. Gelombang postmodern menyeret berbagai aspek kebudayaan dan beberapa disiplin ilmu, khususnya sastra, arstektur, film, dan filsafat.

Pada tahun 1980-an, pergeseran dari lingkup kecil kepada lingkup besar terjadi. Secara bertahap, suasana postmodern menyerang budaya pop bahkan juga hidup sehari-hari masyarakat. Konsep-konsep postmodern bahkan bukan hanya diterima tetapi populer: sangat menyenangkan menjadi seorang postmodern. Akibatnya, para kritikus kebudayaan dapat berbicara mengenai "nikmatnya menjadi seorang postmodern." Ketika postmodernisme diterima sebagai bagian dari kebudayaan, lahirlah postmodernitas.

PENCETUS POSTMODERNITAS

Antara tahun 1960 dan 1990, postmodernisme muncul sebagai sebuah fenomena kebudayaan. Mengapa? Bagaimana kita menjelaskan munculnya etos ini dalam masyarakat kita? Banyak pengamat menghubungkan transisi ini dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat pada paruh kedua dari abad ke-20. Faktor pencetus terbesar adalah lahirnya era informasi. Penyebaran postmodernisme sejajar dan bergantung kepada transisi ke era informasi.

Banyak sejarahwan menyebut era modern sebagai "era" industrialisasi, karena era ini didominasi oleh produksi barang-barang. Karena fokusnya pada produksi material-material, modernisme menghasilkan masyarakat industri. Simbolnya adalah pabrik. Sebaliknya era postmodern mengarahkan fokus kepada informasi. Kita sedang menyaksikan sebuah transisi dari masyarakat industri ke masyarakat informasi. Simbolnya adalah komputer.

Statistik kerja membuktikan bahwa kita sedang mengalami perubahan dari masyarakat industri kepada masyarakat informasi. Pada era modern, mayoritas lapangan pekerjaan terbuka dalam bidang produksi barang. Pada tahun 1970-an, hanya 13% dari buruh-buruh di Amerika bekerja dalam produksi barang; 60% bekerja dalam bidang informasi. Pelatihan untuk karir yang berkaitan dengan informasi - baik prosesor data maupun konsultan - menjadi sangat penting.

Masyarakat informasi menghasilkan sekelompok orang baru. Ploretariat telah menyerahkan tempatnya kepada "cognitariat." Dan untuk bisnis, munculnya masyarakat postmodern berarti perubahan dari model "sentralisasi" kepada model "network." Struktur hirarki dalam pengambilan keputusan diganti dengan keputusan bersama.

Era informasi bukan hanya mengubah pekerjaan kita tetapi juga menghubungkan seluruh belahan dunia. Masyarakat informasi berfungsi berdasarkan jaringan komunikasi yang meliputi seluruh muka bumi. Efisiensi sistem tersebut sangat mengejutkan. Pada masa lalu, informasi tidak secepat perjalanan manusia. Tetapi sekarang informasi dapat mengalir ke seluruh dunia secepat cahaya. Yang lebih mengagumkan lagi adalah kemampuan era postmodern untuk mendapatkan informasi dari mana saja secara cepat.

Karena sistem komunikasi global yang begitu canggih, kita dapat mengetahui peristiwa apa saja di mana saja di dunia ini. Kita sedang menghuni sebuah desa global.

Munculnya desa global menghasilkan dampak yang kontradiktif. Budaya massal dan ekonomi global yang dihasilkan era informasi berusaha menyatukan dunia menjadi "McWorld." Ketika planet ini menyatu pada satu sisi, saat yang sama ia hancur berantakan pada sisi lainnya. Munculnya postmodernisme menghasilkan kesadaran global dan menipiskan nasionalisme.

Nasionalisme semakin suram dengan munculnya gerakan menuju "retribalisasi," menuju loyalitas kepada lingkungan lokal seseorang. Ini bukan hanya terjadi di Afrika tetapi juga di Kanada. Kanada berkali-kali terancam oleh disintegrasi antara kelompok berbahasa Perancis di propinsi Quebec dan propinsi-propinsi di sebelah barat. Orang-orang sedang mengikuti motto: "Berpikirlah secara global, bertindaklah secara lokal."

Munculnya masyarakat informasi memberikan dasar berpijak bagi etos postmodern. Hidup di desa global menyadarkan penduduknya mengenai keanekaragaman budaya di bumi ini. Kesadaran ini memaksa kita mengadopsi pola pikir pluralisme. Pola pikir ini bukan hanya bersikap toleran kepada kelompok lain, tetapi ia menegaskan dan merayakan keanekaragaman. Perayaan keanekaragaman budaya menuntut gaya baru - eklektisisme - gaya postmodernitas.

Masyarakat informasi telah menyaksikan perubahan besar dari poduksi massal kepada produksi segmen. Produksi barang-barang yang sama telah berubah menjadi produksi barang-barang yang beraneka ragam. Kita berada pada "budaya citarasa" yang menawarkan berbagai macam gaya yang tidak ada habisnya. Dulu siswa-siswi SMP dan SMU hanya memiliki tren suka-olahraga dan malas-belajar, sekarang mereka dapat mengadopsi tren apa saja sesuai cita-rasa dan gaya yang mereka sukai.

ALAM POSTMODERNISME TANPA TITIK PUSAT

Ciri khas postmodernisme adalah tidak adanya titik pusat yang mengontrol segala sesuatu. Meskipun postmodern dalam masyarakat bermacam-macam bentuknya, mereka sama-sama sepakat bahwa tidak ada fokus atau titik pusat. Tidak ada lagi standar umum yang dapat dipakai mengukur, menilai atau mengevaluasi konsep-konsep dan gaya hidup tertentu. Lenyaplah sudah usaha mencari sumber otoritas pusat. Lenyaplah sudah usaha untuk mencari kekuasaan yang absah dan berlaku untuk semua.

Titik pusat sudah bergeser, masyarakat kita seperti kumpulan barang- barang yang beraneka ragam. Unit-unit sosial yang lebih kecil hanya disatukan secara geografis.

Filsuf postmodern, Michel Foucault, menawarkan sebuah usulan nama bagi dunia tanpa titik pusat, yaitu "heterotopia." istilah Foucault menggarisbawahi perubahan besar yang sedang kita alami. Keyakinan Pencerahan akan suatu kemajuan ayng terus-menerus melahirkan visi modernisme. Arsitek modernisme berusaha membangun sebuah bangunan masyarakat yang sempurna. Kasih, keadilan, dan perdamaian akan memerintah masyarakat tersebut. kaum postmodern membuang jauh-jauh impian kosong tersebut. Mereka hanya menawarkan keanekaragaman yang tak terhitung banyaknya, "multiverse" telah menggantikan model "universe" dari modernisme.

POSTMODERNISME SEBAGAI SEBUAH FENOMENA KULTURAL

"Lenyapnya titik pusat" yang dipopulerkan oleh etos postmodern merupakan ciri utama situasi masa kini. Ini nampak jelas dalam kehidupan kultur masyarakat kita. Seni telah mengalami perubahan bersamaan dengan perubahan modern menjadi postmodern.

POSTMODERN MERAYAKAN KEANEKARAGAMAN

Ciri utama budaya postmodern adalah pluralisme. Untuk merayakan pluralisme ini, para seniman postmodern mencampurkan berbagai komponen yang saling bertentangan menjadi sebuah karya seni. Teknik seni yang demikian bukan hanya merayakan pluralisme, tetapi merupakan reaksi penolakan terhadap dominasi rasio melalui cara yang ironis. Buah karya postmodernisme selalu ambigu (mengandung dua makna). Kalaupun para seniman ini menggunakan sedikit gaya modern, tujuannya adalah menolak atau mencemooh sisi-sisi tertentu dari modernisme.

Post-modernisme adalah campuran antara macam-macam tradisi dan masa lalu. Post-Modernisme adalah kelanjutan dari modernisme, sekaligus melampaui modernisme. Ciri khas karya-karyanya adalah makna ganda,ironi, banyaknya pilihan, konflik, dan terpecahnya berbagai tradisi, karena heterogenitas sangat memadai bagi pluralisme.

Charles Jencks, What is Post-Modernisme? 3d ed. (New York: St Martin's Press, 1989), hal. 7

Salah satu tehnik campuran yang sering digunakan adalah "collage". "Collage" menawarkan suatu cara alamiah untuk mencampurkan bahan-bahan yang saling bertentangan. "Collage" menjadi wahana kritik postmodern terhadap mitos pengarang/seniman tunggal. Teknik lainnya adalah "bricolage", yaitu: penyusunan kembali berbagai objek untuk menyampaikan pesan ironis bagi situasi masa kini.

Seniman postmodern menggunakan berbagai gaya yang mencerminkan suatu eklektisisme yang diambil dari berbagai era dalam sejarah. Seniman umumnya menganggap cara demikian harus ditolak karena menghancurkan keutuhan gaya-gaya historis. Para kritikus tersebut menyalahkan gaya postmodern karena tidak ada ke dalaman atau keluasan, melanggar batas sejarah hanya demi memberikan kesan untuk masa kini. Gaya dan historis dibuat saling tumpang tindih. Mereka mendapatkan postmodernisme sangat kurang dalam orisinalitas dan tidak ada gaya sama sekali.

Namun ada prinsip lebih mendalam yang ditampilkan melalui ekspresi budaya postmodernisme. Maksud dan tujuan karya-karya postmodernisme bukanlah asal-asalan saja. Sebaliknya postmodern berusaha menyingkirkan konsep mengenai "seorang pengarang/pelukis asli yang merupakan pencetus suatu karya seni". Mereka berusaha menghancurkan ideologi "gaya tunggal" dari modernisme dan menggantikannya dengan budaya "banyak gaya". Untuk mencapai maksud tersebut, para seniman ini memperhadapkan para peminatnya dengan beraneka ragam gaya yang saling bertentangan dan tidak harmonis. Teknik ini - yang mencabut gaya dari akar sejarahnya - dianggap sebagai sesuatu yang aneh dan berusaha meruntuhkan sejarah.

Seniman-seniman postmodern sangat berpengaruh bagi budaya Barat masa kini. Pencampuran gaya, dengan penekanan kepada keanekaragaman, dan penolakan kepada rasionalitas menjadi ciri khas masyarakat kita. Ini semakin terbukti dalam banyak ekspresi kebudayaan lainnya.

ARSITEKTUR POSTMODERN

Modernisme mendominasi arsitektur (juga bidang lainnya) sampai pada tahun 1970-an. Para arsitek modern mengembangkan gaya yang terkenal dengan International style (gaya internasional). Arsitektur modern mempunyai keyakinan kepada rasio manusia dan pengharapan untuk menciptakan manusia idaman.

Berdasarkan prinsip tersebut, arsitek-arsitek modern mendirikan bangunan sesuai dengan prinsip kesatuan (unity). Frank Llyod Wright menjadi contoh bagi arsitek lainnya. Ia mengatakan bangunan-bangunan modern harus merupakan sebuah kesatuan organis. Bangunan harus merupakan "kesatuan yang agung" (one great thing) dan bukan kumpulan "bahan yang tidak agung" (little things). Sebuah bangunan harus mengekspresikan makna tunggal.

Karena memegang prinsip kesatuan, arsitektur modern mempunyai ciri khas "univalence." Bangunan-bangunan modern menunjukkan bentuk yang sederhana dan ini nyata dari pola glass-and-steel boxes. Arsitektur mencari bentuk sederhana yang dapat menyampaikan sebuah makna tunggal. Cara yang digunakan adalah "repetisi"(pengulangan). Karena mereka juga hendak sempurna dalam geometri, bangunan-bangunannya menyerupai model "dunia lain."

Arsitektur modern berkembang dan menjadi arus yang dominan. Ia memajukan program industrialisasi dan menyingkirkan aneka ragam corak lokal. Akibatnya ekspansi arsitektur modern sering menghancurkan struktur bangunan tradisional. Ia hampir meratakan semua bangunan tradisional dengan bulldozer. Bulldozer adalah alat yang merupakan cetusan jiwa modern untuk "maju"(progress).

Beberapa arsitek modern belum puas jika perubahan hanya dalam bidang arsitektur. Mereka ingin agar perubahan dalam bidang arsitek, terjadi juga dalam bidang-bidang seni, ilmu pengetahuan, dan industri.

Mari bersama-sama kita bayangkan, pikirkan, dan ciptakan sebuah struktur masa depan baru yang meliputi bidang arsitektur, seni pahat, seni lukis, sebagai sebuah kesatuan. Suatu hari semua ini akan menjulang sampai ke langit melalui tangan berjuta-juta seniman. Ini menjadi keyakinan baru seperti sebuah kristal.

Walter Gropius," Programme of the staatloches Bauhaus in Weimar" (1919), dalam Programmes and Manifestos on Twentieth-Century Architecture,ed. Ulrich Conrads, terj. Michael Bullock (London: Lund Humphries, 1970), Hal. 25.

Arsitektur postmodern muncul sebagai reaksi terhadap arsitektur modern. Postmodern merayakan sebuah konsep "Multivalence" (melawan "univalence" dari modernisme). Arsitektur postmodern menolak tuntutan modern di mana sebuah bangunan harus mencerminkan kesatuan. Justru sebaliknya buah karya postmodern berusaha menunjukkan dan memperlihatkan gaya, bentuk, corak, yang saling bertentangan.

Penolakan terhadap arsitektur modern nampak jelas dalam beberapa contoh. Misalnya, arsiterktur postmodern sengaja memberikan ornamen (hiasan). Ini merupakan lawan dari arsitektur modern yang membuang segala hiasan-hiasan yang tidak perlu. Contoh lain, arsitektur postmodern menggunakan beberapa teknik dan gaya seni tradisional, sedangkan arsitektur modern membuang segala gaya dan teknik seni tradisional.

Penolakan oleh postmodern terhadap modern di dasarkan kepada sebuah prinsip. Prinsip arsitektur postmodern adalah semua arsitektur bersifat simbolik. Semua bangunan, termasuk banguan modern, sebenarnya sedang berbahasa dengan bahasa tertentu. Karena terlalu memikirkan fungsi banyak arsitek modern menyingkirkan dimensi tersebut. Justru karena terlalu berfokus kepada fungsi (utility), karya seni modern hanya, merupakan sebuah teknik membangun tanpa nuansa artistik. Dimensi artistik telah lenyap dari karya seni modern. Padahal sebuah struktur bangunan memerlukan dimensi artistik agar dapat menyampaikan suatu kisah atau melambangkan suatu dunia imajiner. Karena terlalu menekankan fungsi. keajaiban dunia seperti bangunan Katedral masa silam tidak lagi populer pada zaman modern. Padahal bangunan seperti Katedral mengarahkan mata kita kepada suatu dunia lain. Ini yang dikritik oleh kaum postmodern terhadap kaum modern.

Sebuah bangunan mempunyai kekuatan untuk menjadi apa yang diinginkannya, mengatakan apa yang ingin dikatakannya sehingga telinga kita mulai mendengar apa yang ingin disampaikan oleh bangunan tersebut.

Charles Moore, dalam Conversations with Architecs, ed. John Cook Heeinrich dan Klotz (New York: Praeger, 1973), hal. 243.

Kaum Postmodern berusaha mengembalikan elemen "fiksi" dari sebuah arsitektur maka mereka menambahkan ornamen-ornamen pada arsitektur. Mereka ingin agar bidang arsitektur tidak terperangkap oleh pertanyaan "apa fungsinya?" Arsitektur harus kembali berperan untuk menciptakan "bangunan-bangunan yang kreatif dan imajinatif."

Kritik postmodern terhadap modern semakin menjadi-jadi. Kaum modern menekankan adanya universalitas dan adanya nilai-nilai yang tidak terbatas sejarah, dan ini ditolak secara tegas oleh kaum postmodern. Selama ini kaum kodern menganggap karya-karya mereka sebagai hasil rasio dan logika. Padahal kaum postmodern melihat dengan jelas semuanya itu hanyalah usaha mendapatkan kekuasaan dan menguasai orang lain. Bahasa modern adalah bahasa kekuasaan. Bangunan-bangunan modern menggunakan bahan-bahan industri dan mereka melayani sistem industri. Bentuk-bentuk demikian mewujudkan dunia baru yang dikuasai sains dan teknologi.

Kaum postmodern mau melenyapkan bahasa kekuasaan tersebut. Kaum modern menekankan konsep kesatuan dan keseragaman (uniformity) arsitektur yang ternyata sangat tidak manusiawi. Arsitektur demikian berbicara dengan bahasa produksi massal dan standar. Kaum postmodern menolak secara tegas konsep dan bahasa demikian. Mereka ingin menemukan sebuah bahasa baru yang menghargai keanekaragaman dan pluralisme.

POSTMODERN DALAM BIDANG SENI

Arsitektur postmodern lahir sebagai penolakan terhadap prinsip-prinsip arsitektur modern pada abad ke-20. Kehadiran postmodern dalam bidang seni juga menampakkan gejala penolakan yang serupa.

Arsitektur modern tidak menghargai gaya masa lalu. Pakar seni seperti Clement Greenberg menyatakan bahwa seni modern juga menolak gaya-gaya seni sebelumnya. Kaum modern menemukan identitas dirinya dengan membuang segala sesuatu yang lain dari dirinya; dengan cara ini, para seniman modern mengatakan bahwa hasil karya seni mereka bersifat "murni" (orisinal). Kecenderungan modern dalam bidang seni sama dengan bidang arsitektur, yaitu: "univalence". Melalui ini, kebanggaan seniman modern hanyalah jika mereka mempunyai "stylistic integrity" (integritas gaya).

Sebaliknya seni postmodern berangkat dengan kesadaran adanya hubungan erat antara miliknya dan milik orang lain. Karena itulah, seni postmodern menganut keanekaragaman gaya atau "multivalence". Kalau modern menyukai "murni." maka postmodern menyukai "tidak murni."

Pada dasarnya seni postmodern tidak eksklusif dan sempit tetapi berbauran (sintetis). Karya seni tersebut dengan bebas memasukkan berbagai macam kondisi, pengalaman, dan pengetahuan jauh melampaui obyek yang ada. Karya ini tidak melukiskan pengalaman tunggal dan utuh. Justru yang hendak dicapai adalah keadaan seperti sebuah ensiklopedia, yaitu: masuknya jutaan elemen, penafsiran, dan respons.

Howard Fox, "Avant-Garde in the Eighties", dalam The Post-Avant- Garde: Painting in the Eighties, ed. Charles Jencks (London: Academy Editions, 1987), hal. 29-30.

Banyak seniman postmodern menggabungkan keanekaragaman dengan teknik pencampuradukan. Seperti kita ketahui, teknik yang mereka sukai adalah "collage". Kenyataanya, Jacques Derrida (dijuluki "Aristoteles tukang campur") menegaskan collage sebagai bentuk utama dari wacana postmodern. Perlahan namun pasti, "collage" menarik para pecinta seni ke dalam makna yang dihasilkan "collage" tersebut. Karena "collage" bersifat heterogen, maka makna yang dihasilkannya tidak mungkin tunggal dan stabil. "Collage" menarik para pecinta seni untuk selalu memperoleh makna baru melalui aneka ragam campuran di dalamnya.

Akhirnya seni pencampuradukan menjadi sebuah "pastiche". Tujuan teknik ini (yang digunakan oleh high-culture dan Video MTV) adalah memperhadapkan para penonton dengan gambar-gambar yang saling bertentangan sehingga tidak ada lagi makna objektif. Dengan pola yang saling bertentangan, warna yang tidak selaras, dan tata huruf yang kacau, "pastiche" menyebar dari dunia seni menuju kehidupan sehari- hari. Ini nampak dari sampul buku, sampul majalah, dan iklan-iklan yang ada.

Segala campuran dan keanekaragaman itu bukan hanya untuk menarik perhatian. Daya tarik sebenarnya tidak sedangkal itu, namun jauh lebih dalam. Ini merupakan bagian dari sikap postmodern, yaitu: menantang kekuatan modernisme yang ada dalam berbagai lembaga, tradisi, dan aturan. Seniman postmodern tidak suka kepada pengagung-agungan seorang seniman modern karena kemurnian hasil karyanya. Mereka tidak suka kepada apa yang disebut "stylistic integrity" (integritas gaya). Bagi mereka, tidak ada hasil karya seni yang tunggal. Mereka sengaja menggunakan metode pinjaman dari hasil karya lain, kutipan, petikan, kumpulan, dan pengulangan dari karya-karya yang ada. bagi mereka, "seniman tunggal yang menghasilkan karya tunggal" hanyalah dongeng belaka.

Kritik postmodern sangat radikal. Kritik tersebut dapat ditemukan dalam karya fotografi seorang bernama Sherrie Levine. Levine memfoto ulang foto-foto indah hasil karya dua fotografer terkenal Walker Evans dan Edward Weston. Setelah memfoto ulang, Levine menegaskan bahwa foto- foto itu adalah karya pribadinya. Pembajakannya sangat jelas sehingga orang lain tidak mudah mengecapnya sebagai plagiat (pengekor) biasa. Memang tujuannya bukanlah menipu orang-orang dengan mengatakan bahwa itu adalah hasil karyanya dan bukan hasil karya orang lain. Tujuan utamanya adalah membuat orang berfikir keras untuk membedakan manakah "yang asli" dan manakah yang "tiruan". Maka kesimpulannya: tidak ada perbedaan antara "karya asli" dan "karya tiruan."

POSTMODERN DALAM BIDANG TEATER

Teater adalah wujud penolakan postmodern terhadap modern yang paling jelas. Kaum modern melihat jelas sebuah karya seni sebagai karya yang tidak terikat waktu dan ide-ide yang tidak dibatasi waktu. Etos postmodern menyukai tragedi, dan tragedi selalu ada dalam setiap karya seni. Kaum postmodern melihat hidup ini seperti sebuah kumpulan cerita sandiwara yang terpotong-potong. Maka teater adalah sarana terbaik untuk menggambarkan tragedi dan pertunjukan.

Tidak setiap karya teater merupakan wujud nyata etos postmodern. Karya teater postmodern mulai timbul pada tahun 1960-an. Akarnya sudah ada sebelum tahun 1960-an, yaitu karya seorang penulis Perancis bernama Antonin Artaud pada tahun 1930-an.

Artaud menantang para seniman (khususnya dalam bidang drama) untuk memprotes dan menghancurkan pemujaan kepada karya seni klasik. Ia sangat mendukung pergantian drama tradisional dengan 'teater keberingasan." Ia berseru agar dihapuskannya gaya kuno yang berpusat kepada naskah. Ia mengusulkan gaya baru yang berpusat kepada simbol- simbol teater termasuk di dalamnya adalah: pencahayaan, susunan warna, pergerakan, gaya tubuh, dan lokasi. Artaud juga meniadakan perbedaan antara aktor dan penonton. Ia ingin agar penonton juga mengalami suasana dramatis seperti sang aktor. Tujuan Artaud adalah memaksa penonton untuk berhadapan dengan momentum kenyataan hidup secara langsung pada saat itu, yang bagaimanapun juga tidak akan terulang melalui aturan-aturan sosial sehari-hari.

Pada tahun 1960-an, sebagian impian Artaud menjadi kenyataan. Para ahli mulai memikirkan kembali hakikat dari teater. Maka mereka menyerukan agar terdapat kebebasan dalam penampilan. Penampilan tidak boleh diatur oleh otoritas apa pun.

Beberapa ahli ini menemukan bahwa naskah atau teks adalah otoritas yang menindas kebebasan. Untuk memecahkan masalah ini, mereka mengurangi naskah atau teks sehingga setiap penampilan menjadi spontan dan unik. Setelah beberapa sekali ditampilkan, tidak ada lagi pengulangan. Penampilan itu sekali saja dan akan hilang selama-lamanya setelah itu.

Ahli lainnya menganggap sutradara adalah orang yang menindas kebebasan penampilan. Mereka berusaha memecahkan masalah ini, dengan menekankan improvisasi dan memakai sutradara lebih dari satu orang. Maka produksi teater/film bukan lagi produksi tunggal dan utuh.

Teater postmodern menampilkan usulan-usulan para ahli di atas. Mereka membuat berbagai elemen dalam teater, seperti suara, cahaya, musik, bahasa, latar-belakang, dan gerakan saling berbenturan. Dengan demikian, teater postmodern sedang menggunakan teori tertentu yang disebut dengan estetika ketiadaan (berbeda dengan estetika kehadiran). Teori estetika ketiadaan menolak adanya konsep kebenaran yang mendasari dan mewarnai setiap penampilan. Yang ada dalam setia penampilan adalah kekosongan ("empty presence"). Seperti etos postmodern, makna sebuah penampilan hanya bersifat sementara, tergantung dari situasi dan konteksnya.

Panggung teater tidak lagi menjadi tempat pengulangan suatu peristiwa atau suatu obyek, entah yang ada sekarang atau sebelumnya. Teater tetap berfungsi tanpa kehadiran Allah.

Jacques Darrida, Writing and Difference, terj: Alan Bass (Chicago: Chicago University Press, 1978), hal. 237.

POSTMODERN DALAM BIDANG TULISAN-TULISAN FIKSI

Pengaruh etos postmodern dalam literatur sulit dicari. Para ahli sastra terus berdebat mengenai ciri utama fiksi postmodern yang membedakannya dari fiksi-fiksi sebelumnya. Namun gaya penulisan ini mencerminkan ciri utama yang telah kita saksikan dalam bidang-bidang lain.

Seperti gaya postmodern umumnya, tulisan fiksi postmodern menggunakan teknik pencampuradukan. Beberapa penulis mengambil elemen-elemen tradisional dan mencampurkannya secara berantakan untuk menyampaikan suatu ironi mengenai topik-topik yang biasa dibahas. Bahkan beberapa penulis lainnnya mencampurkan kejadian nyata dan khayalan.

Pencampuradukan ini terjadi bahkan kepada tokoh-tokoh fiksi tersebut. Beberapa penulis postmodern memusatkan perhatian kepada tokoh-tokoh khayalan dengan segala perilakunya. Pada saat yang sama, tokoh-tokoh khayalan itu adalah tokoh-tokoh yang nyata dalam sejarah manusia. Dengan cara ini, sang penulis berhasil menarik perhatian dan respons emosional dan moral para pembaca.

Beberapa penulis postmodern mencampuradukkan yang nyata dan yang khayal dengan menyisipkan diri mereka ke dalam cerita itu. Bahkan mereka pun turut membicarakan berbagai masalah dan proses yang diceritakannya. Melalui ini, sang penulis mencampurkan yang nyata dan yang fiksi. Teknik ini menekankan hubungan yang erat antara penulis dan tulisan fiksinya.

Tulisan fiksi adalah sarana yang dipakai oleh penulis untuk berbicara sehingga suara penulis tidak dapat dipisahkan dari kisah fiksi tersebut. Tulisan fiksi postmodern mencampuradukan dua dunia yang tidak ada hubungan satu sama lain. Dunia-dunia tersebut masing-masing otonom. Tokoh-tokoh dalam tulisan fiksi itu merasa bingung di dunia mana mereka berada, dan apa tindakan mereka berikutnya di tengah dunia- dunia yang saling bertubrukan.

Teknik pencampuradukan ini digunakan untuk menunjukkan sikap anti- modernisme. Tujuan para penulis modern adalah memperoleh makna tunggal. Sebaliknya, kaum postmodern ingin mengetahui bagaimana kenyataan-kenyataan yang amat berbeda, dapat berjalan dan saling bercampur.

Seperti kebudayaan postmodern lainnya, tulisan-tulisan ini memusatkan perhatian kepada kefanaan dan kesementaraan. Mereka menolak konsep kebenaran kekal dari kaum modern. Tulisan fiksi ini sengaja mengarahkan fokus kepada kesementaraan agar para pembaca tidak lagi melihat dunia ini dari titik puncak yang tidak terbatas oleh waktu. Mereka ingin agar para pembaca menyaksikan sebuah dunia yang hampa, tanpa adanya hal-hal yang kekal dan selalu berada dalam gelombang kesementaraan.

Dan perlukah kita berkata bahwa semakin jelas sang penulis menyatakan dirinya sendiri dalam teks-teks yang dia buat, secara paradoks juga makin tidak terelakan adanya kenyataan bahwa sang penulis tersebut, sebagai sebuah suara, hanyalah sebuah fungsi dari fiksinya sendiri, sebuah bangunan retorika, bukan seorang yang berotoritas tetapi justru menjadi obyek dan sasaran penafsiran pembaca?

David Lodge,"Mimesis and Diegesis in Modern Fiction," dalam The Post-Modern Reader, ed. Charles Jencks (New York: St. Martin's Press,1992), hal. 194-195.

Kadang-kadang para penulis tersebut menciptakan efek serupa dengan memasukkan bahasa yang membongkar struktur pikiran yang sudah baku. Mereka juga menolak rasio sebagai hakim yang memutuskan apakah sebuah cerita mampu memaparkan kejadian nyata.

Contoh umum dari fiksi modern adalah kisah detektif. Katakanlah cerita mengenai seorang detektif bernama Sherlock Holmes. Ia bertugas membongkar kebenaran-kebenaran yang tersembunyi. Kisah seperti ini hendak menunjukkan kekuatan rasio dan logika dalam memecahkan sebuah masalah atau misteri. Maka cerita ini merupakan sebuah cerita yang lengkap dan selesai.

Contoh dari fiksi postmodern adalah kisah mata-mata. Meskipun terjadinya dalam dunia nyata, kisah demikian selalu mencampurkan dua macam dunia yang berbeda. Apa yang dianggap nyata, ternyata terbukti hanyalah khayalan. Ada suatu dunia lain di balik dunia nyata ini, yang lebih jahat namun lebih nyata daripada dunia nyata.

Dengan mencampurkan dua macam dunia itu, kisah tersebut membuat pembaca merasa tidak tenang dan tidak nyaman. Apakah penampilan seseorang menunjukkan dirinya yang sesungguhnya? Manakah yang sebenarnya dan manakah yang tipuan?

Kisah mata-mata mendorong kita mempertanyakan dunia kehidupan kita. Apakah kita juga hidup dalam dua macam dunia? Apakah orang-orang di sekitar kita benar-benar seperti penampilan mereka di hadapan kita? Apakah peristiwa-peristiwa di sekitar kita benar-benar seperti yang nampak di depan mata kita?

Novel fiksi sains adalah salah satu bentuk sastra postmodern. Novel ini merupakan penolakan terhadap penelitian modern. Novel fiksi ini lebih suka mencari sesuatu yang baru, dan bukan menyibak misteri alam untuk menemukan rumus-rumus pasti. Novel ini mempertentangkan berbagai dunia dan realitas supaya nampak perbedaan dan pertentangan di antara mereka.

Novel fiksi sains tersebut membuat kita bertanya-tanya mengenai dunia kita: Apakah realitas itu? Apa yang mungkin? Kekuatan apa yang sedang bekerja sekarang?

POSTMODERNISME SEBUAH FENOMENA DALAM BUDAYA POP

Kebanyakan dari kita berhubungan langsung postmodernisme melalui novel fiksi sains dan novel mata-mata. Keduanya sangat berpengaruh dalam budaya populer kita sekarang. Namun secara tidak sadar, kita telah terbuka kepada etos postmodern.

Keterbukaan kepada etos postmodern melalui budaya pop adalah ciri khas postmodern. Ciri khas lainnya adalah tidak mau menempatkan "seni klasik tinggi" di atas budaya "pop." Postmodern unik karena ia menjangkau bukan kelas elite tetapi kelas masyarakat biasa, masyarakat yang terbiasa dengan budaya pop dan media massa.

Hasil karya postmodern juga bermakna ganda. Mereka berbicara dengan sebuah bahasa dan menggunakan elemen-elemen yang dapat diterima oleh orang-orang awam ataupun seniman dan arsitek handal. Dengan cara demikian, postmodernisme berhasil menyatukan dua alam yang berbeda, yaitu profesional dan populer.

PEMBUATAN FILM SEBAGAI DASAR PIJAKAN BUDAYA POSTMODERN

Perkembangan teknologi membantu penyebaran postmodern ke dalam sisi- sisi penting dan budaya pop. Salah satu sisi terpenting adalah industri film.

Teknologi pembuatan film sangat cocok dengan etos postmodern, yakni: film menggambarkan yang tidak ada menjadi seolah-olah ada. Sekilas lalu, film adalah sebuah cerita utuh yang ditampilkan oleh para aktor dan aktris. Kenyataannya, film adalah rekayasa teknologi dengan bantuan ahli-ahli spesialis dari berbagai bidang yang tidak jarang kelihatan dalam film. Adanya kesatuan dalam sebuah film sebenarnya adalah ilusi.

Film berbeda dengan teater. Film tidak pernah berisi penampilan sekelompok aktor/aktris sekaligus secara utuh dan berkesinambungan. Apa yang penonton lihat "berkesinambungan" adalah semacam sisa dari berbagai adegan dalam proses pembuatan film itu sendiri, yang tidak saling berhubungan baik secara waktu maupun tempat.

Alur cerita sebuah film hanyalah tipuan. Apa yang nampak "berhubungan" atau "berkesinambungan" sebenarnya hanyalah kumpulan adegan yang diambil pada waktu dan tempat yang berbeda-beda. Alur sebuah film yang kita lihat, ternyata tidak seperti demikian alurnya pada waktu film berada dalam proses pembuatan tersebut. Yang menyatukan adegan-adegan yang terpecah-pecah itu adalah seorang editor. Dialah yang menyambungkan adegan-adegan yang tidak ada hubungannya satu sama lain.

Kadang-kadang peran yang sama belum tentu diperankan oleh satu aktor. Sutradara sering menggunakan peran pengganti (stunt-man) untuk adegan- adegan berbahaya. Kemajuan teknologi memungkinkan edit untuk menduplikasi wajah sang aktor sehingga wajahnya dalam film lama dapat diambil dan dimasukkan dalam film yang baru. Semuanya ini adalah hasil rekayasa komputer.

Akhirnya, film yang kita tonton adalah produk kecanggihan teknologi. Tim-tim yang berbeda menggunakan fotografi dan metode lainnya untuk mengumpulkan bahan-bahan. Bahan-bahan ini digabungkan oleh editor untuk menghasilkan apa yang nampak sebagai "kesatuan" di depan mata penonton. Berbeda dengan teater, kesatuan dan kesinambungan sebuah film adalah jasa teknologi, dan bukan jasa aktor-aktornya.

Karena kesatuan sebuah film terletak dalam teknik pembuatannya, maka sutradara dan editor mempunyai kebebasan untuk mengatur dan memanipulasi jalannya cerita dengan berbagai cara. Mereka dapat mencampurkan adegan-adegan yang tidak saling berhubungan tanpa harus mengorbankan kesatuan film itu.

Pembuat film postmodern senang mengubah konsep tempat dan konsep waktu menjadi di sini dan kini selamanya. Usaha mereka dalam hal ini dipacu oleh banyaknya film yang telah diproduksi sebelumnya sehinga mereka mempunyai bahan untuk mencampurkannya. Misalnya: adegan Humphrey Bogart dalam film "The Last Action Hero" dan Groucho Marx dalam iklan Diet Pepsi. Kemajuan teknologi memungkinkan penggabungan keduanya, penggabungan "dunia nyata" dengan kenyataan lain. Contoh lain adalah penggabungan tokoh kartun dan tokoh manusia dalam film "Who Framed Roger Rabbit?"

Kemampuan seorang sutradara menggabungkan berbagai potongan menjadi sebuah film yang utuh, memungkinkannya untuk melenyapkan perbedaan antara kebenaran dan dongeng, kenyataan dan khayalan. Sutradara- sutradara postmodern menggunakan kesempatan ini untuk mewujudnyatakan etos postmodern. Misalnya, film-film postmodern membuat film fiksi dan fantasi seperti layaknya kejadian nyata (film "Groundhog Day"). Mereka menggabungkan kisah film fiksi dengan aspek dokumenter (film "The Gods Must Be Crazy"). Mereka mencampurkan sebagian catatan sejarah dengan spekulasi dan mencampurkan dunia-dunia yang tidak berhubungan yang dihuni oleh tokoh-tokoh yang tidak jelas majakah yang asli (film "Blue Velvet").

Hidup dalam era postmodern berarti hidup di dalam dunia yang menyerupai film. Sebuah dunia dimana kebenaran dan dongeng bercampur. Kita melihat dunia sama seperti kita melihat film, dan kita curiga apakah yang kita lihat hanyalah sebuah ilusi. Kita dapat memahami sesuatu dalam pikiran sang sutradara. Ia mengajak kita melihat sesuatu yang sering terabaikan/terlupakan dalam dunia yang film itu gambarkan. Sebaliknya ketika melihat dunia sebenarnya, kaum postmodern tidak lagi percaya adanya sebuah Pikiran di baliknya.

TELEVISI DAN PENYEBARAN BUDAYA POSTMODERN

Teknologi pembuatan film memberikan dasar pijakan untuk budaya pop postmodern. Namun televisi merupakan sarana yang lebih efisien untuk menyebarkan etos postmodern ke seluruh lapisan masyarakat.

Dilihat dari satu sisi, televisi hanyalah saranan yang efektif untuk menantikan turunnya film dari bioskop ke televisi. Banyak program televisi yang isinya hanya film-film, mulai dari yang pendek sampai miniseri. Televisi adalah sebuah sarana yang digunakan oleh film-film untuk menyerbu kehidupan sehari-hari jutaan orang. Sejauh ini, televisi hanyalah perpanjangangan tangan dari industri film.

Tetapi lepas dari hubungan dengan film, televisi memperlihatkan ciri khasnya sendiri. Dalam banyak hal, televisi jauh lebih fleksibel daripada film. Televisi melampaui film dengan menyajikan siaran langsung. Kamera televisi dapat menayangkan gambar kejadian langsung kepada pemirsa di seluruh belahan dunia.

Kemampuan untuk menyiarkan secara langsung membuat orang percaya bahwa televisi menyajikan peristiwa aktual yang benar-benar terjadi, tanpa adanya penafsiran, edit, atau komentar. Karena inilah televisi telah menjadi kriteria untuk membedakan yang nyata dan tidak. Banyak pemirsa tidak menganggap penting banyak hal. Tetapi jika CNN, Sixty Minutes menayangkannya, mereka akan segera merasa hal tersebut penting. Segala sesuatu tidak penting jika tidak ditayangkan televisi.

Televisi mampu menayangkan fakta secara langsung dan mampu menyebutkan produksi-produksi film. Kemampuan ganda demikian membuat televisi memiliki kekuatan yang unik. Ia mampu mencampurkan "kebenaran" (apa yang orang banyak anggap sebagai kejadian nyata) dengan "fiksi" (apa yang orang banyak anggap sebagai khayalan yang tidak pernah terjadi dalam kenyataan). Film tidak dapat melakukan ini. Televisi masa kini melakukan hal tersebut terus-menerus. Ketika ada siaran langsung, di tengah-tengah siaran itu selalu diputus oleh "pesan dari sponsor."

Televisi melampaui film untuk mewujudkan etos postmodern. Televisi komersil menyajikan berbagai gambar kepada permirsa. Berita sore akan menghantam penonton dengan gambar-gambar yang tidak saling berhubungan: perang di suatu daerah terpencil, pembunuhan di dekat rumah, ucapan dari seorang politikus, skandal seks terbaru, penemuan ilmiah baru, berita olahraga. Campuran-campuran ini disisipkan dengan iklan baterai yang tahan lama, sabun mandi yang lebih bersih, makan pagi yang lebih sehat, dan liburan yang lebih menyenangkan. Dengan menampilkan berbagai gambar tersebut (berita dan iklan), televisi menciptakan kesan bahwa berita dan iklan sama pentingnya.

Siaran berita diikuti oleh program-program utama yang terlalu banyak untuk menarik dan membuat pemirsa bertahan. Maka isi program-program tersebut adalah film laga, skandal, kekerasan, dan seks. Drama-drama malam hari mempunyai bobot yang sama dengan berita sebelumnya. Dengan cara ini, televisi melenyapkan perbedaan antara kebenaran dan fiksi, antara peristiwa yang benar-benar memilukan hati dan peristiwa sepele.

Ini terjadi bukan hanya pada satu saluran televisi, tetapi berpuluh bahkan ratusan saluran yang berbeda-beda. Hanya dengan sebuah remote control di tangan, seseorang dapat memilih apa pun yang ia suka, mulai dari berita terbaru, pertandingan tinju, laporan ekonomi, film kuno, laporan cuaca, film komedi, film dokumenter, dan sebagainya.

Dengan menawarkan begitu banyak campuran gambar, secara tidak sengaja televisi menyejajarkan hal-hal yang tidak saling cocok. Televisi membutuhkan kejelasan waktu dan tempat. Televisi mencampuradukkan masa lalu dan masa kini, yang jauh dan yang dekat, segala sesuatunya di- bawa menjadi kini dan di sini, di hadapan pemirsa televisi. Dengan cara ini, televisi memperlihatkan dua ciri khas postmodern: menghapus batas antara masa lalu dan masa kini; dan menempatkan pemirsa dalam ketegangan terus-menerus. Banyak pengamat sosial menganggap televisi sebagai cermin dari kondisi psikologis dan budaya postmodern. Televisi menyajikan begitu banyak gambar yang tidak berhubungan dengan realitas, gambar-gambar yang saling berinteraksi terus-menerus tanpa henti.

Film dan televisi telah di persatukan oleh sebuah alat yang lebih baru - komputer pribadi.

Lenyapnya ego adalah tanda kemenangan postmodernisme.... Sang diri diubahkan menjadi sebuah tampilan kosong yang berisi kebudayaan yang telah jenuh namun hiperteknis.

Arthur Kroker, Marilouise Kroker dan David Cook, "Panic Alphabet", dalam Panic Encyclopedia: The Definitive Guide to the Postmodern Scene (Montreal: New World Perspectives, 1989), hal. 16.

Munculnya "monitor" - layar bioskop, layar kaca televisi ataupun monitor computer, melenyapkan perbedaan antara diri sebagai subjek dan dunia sebagai objek. "Monitor" bukan sekadar objek di luar diri kita yang kita sedang lihat. Yang terjadi dalam monitor bukan sesuatu kejadian di luar sana dan diri kita di sini. "Monitor" membawa kita ke dunia luar sama seperti dunia luar masuk ke dalam diri kita. Yang terjadi dalam televisi merupakan manifestasi diri kita, yang terjadi dalam diri kita adalah penjelmaan televisi. Televisi telah menjadi sebuah wujud nyata dari jiwa kita.

Hidup dalam era postmodern berarti hidup dalam dunia yang dipenuhi oleh berbagai gambar yang bercampur-aduk. Dunia televisi memecahkan gambar-gambar menjadi potongan-potongan dan kaum postmodern tetap yakin bahwa itu hanyalah campuran gambar-gambar.

WUJUD-WUJUD LAIN POSTMOERNISME DALAM BUDAYA POP

Film telah menyajikan budaya postmodern, dan televisi menyebarkannya , tetapi musik rock merupakan ciri yang paling khas dari budaya pop postmodern. Lirik lagu-lagu rock mencerminkan semboyan postmodern. Hubungan antara music rock dan budaya postmodern lebih mendalam lagi. Musik rock memiliki ciri utama dari postmodern, yaitu: fokus kepada global dan lokal.

Musik rock kontemporer mendapatkan banyak penggemar dan mampu menyatukan seluruh dunia. Tentunya kita ingat dengan tokoh-tokoh musik rock yang melakukan tur keliling dunia. Pada saat yang sama, musik rock mempertahankan selera lokal. Dalam penampilan grup-grup rock yang besar maupun yang kecil (tidak terkenal), musik rock memperlihatkan pluralitas gaya yang diambil dari gaya musik setempat (lokal dan etnis tertentu).

Yang tidak kalah penting, musik rock juga menggunakan sarana produksi elektronik sebagaimana televisi dan film. Dimensi penting dari budaya rock adalah penampilan langsung dari bintang-bintangnya. Konser musik rock tidak seperti konser tradisional dimana sang penyanyi berusaha berkomunikasi secara akrab dengan penonton. Yang terjadi dalam konser musik rock adalah "kedekatan massal yang dibuat-buat."

Konser rock kini merupakan peristiwa massal, melibatkan puluhan ribu penggemar. Kebanyakan penggemar tidak dapat melihat penampilan sang bintang dari dekat. Namun mereka masih berusaha mengalami pengalaman tersebut. Penampilan tersebut diperlihatkan kepada mereka melalui banyak layar video yang menyorot wajah sang bintang dari dekat.

Tehnik ini menciptakan jarak antara sang bintang dan penonton. Penggemar kelompok rock Jubilant merasa dekat dengan idola mereka sekalipun hanya lewat layar televisi. Teknologi mengubah kedekatan dalam sebuah pertunjukkan langsung menjadi kumpulan ribuan penggemar yang menonton layar video bersama-sama sementara mereka diserbu dengan berbagai-bagai efek cahaya, suara dan sebagainya.

Teknologi melenyapkan perbedaan antara penampilan aslinya dan tayangannya di televisi. Teknologi melenyapkan perbedaan antara penampilan langsung dan duplikasinya dalam musik. Penampilan langsung bukan lagi realitas yang terdapat dalam konteks khusus. Ia adalah campuran antara apa yang sang bintang tampilkan dan apa yang teknologi hasilkan. Penampilan itu dibungkus dalam kemasan teknologi setelah itu baru disajikan kepada para penggemar.

Wujud etos postmodern yang lebih sederhana adalah cara berpakaian. Model pakaian postmodern mempunyai kecenderungan yang mirip dengan budaya pop lainnya. Kita melihat ditonjolkannya merek dan label produk. Ini melenyapkan perbedaan antara pakaian dan iklan pakaian.

Wajah postmodern nampak dalam "bricolage." Berbeda dengan pola pakaian tradisional yang menyatukan berbagai corak secara harmonis, gaya postmodern sengaja menggabungkan elemen-elemen yang bertentangan, misalnya: pakaian dan aksesoris dari 10, 20, 30 dan 40 tahun lalu dipakai bersama-sama.

Percampuran yang bertentangan tersebut dimaksudkan sebagai sebuah ironi atau ejekan terhadap model pakaian modern, bahkan terhadap seluruh industri pakaian modern.

Dari musik rock ke turisme ke televisi sampai ke bidang pendidikan, yang dipromosikan oleh iklan dan yang dicari oleh konsumen bukan lagi barang-barang, tetapi pengalaman.

Steven Connor, Postmodernist Culture (Oxford: Basil Blackwell, 1989), hal 154.

Budaya pop zaman kita mempunyai dua ciri khas postmodern: pluralisme dan anti-rasionalisme. Seperti nyata dari cara mereka berpakaian dan musik yang mereka dengar, kaum postmodern tidak lagi percaya kalau dunia mereka mempunyai sebuah fokus. mereka tidak lagi percaya bahwa rasio manusia dapat menangkap struktur logika alam semesta. Mereka hidup dalam dunia yang tidak membedakan antara kebenaran dan dongeng. Akibatnya mereka menjadi pengumpul bermacam-macam pengalaman, gudang yang brisi berbagai hal sementara, jembatan yang dilintasi bermacam-macam gambar, dan dihujani dengan aneka ragam media dalam masyarakat postmodern.

Postmodernisme memiliki asumsi yang bermacam-macam. Ini terbukti dari berbagai sikap dan ekspresi mereka dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan tersebut, kita menemukan bermacam-macam orang dalam masyarakat. Ekpresinya bervariasi dari cara berpakaian sampai televisi, termasuk musik dan film di dalamnya. Postmodernisme menjelma dalam beraneka ragam ekspresi budaya, termasuk arsitektur, seni, dan sastra. Lebih dari segalanya, postmodernisme adalah sebuah pemandangan intelektual.

Postmodernisme menolak gambaran mengenai seorang pemikir tunggal yang dilahirkan oleh Pencerahan. Postmodern mengejek mereka yang merasa yakin dapat melihat dunia dari suatu titik puncak seolah-olah mereka dapat berbicara demi kepentingan seluruh umat manusia. Postmodernisme telah menggantikan cita-cita pencerahan tersebut dengan keyakinan baru, yaitu: semua pernyataan mengenai kebenaran dan kebenaran itu sendiri terbatas oleh kondisi sosial.

Sumber: 

Sumber :

Judul Buku
Penulis
Penterjemah
Penerbit
:
:
:
:
Postmodernisme; Sebuah Pengenalan
Stanley J. Grenz
Wilson Suwanto
Sekolah Tinggi Teologi Reformed Injili Indonesia

Natal: Nubuat yang Digenapkan

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Sebuah artikel yang saya ambil dari Situs REFORMED MOVEMENT di alamat:

http://www.geocities.com/reformed_movement/artikel/natal02.html

sangat cocok kita renungkan untuk menyambut datangnya Natal.

Selamat membaca dan merenungkan,

In His grace,
Yulia

Red.: Sumber artikel ini mungkin dari Majalah Momentum, yang diterbitkan oleh Lembaga Reformed Injili Indonesia.
Edisi: 
011/XI/2000
Isi: 

David Martyn Llyod-Jones (1899-1981) adalah pengkotbah eksposisi sistematis di Westminster Chapel, London. Kotbah Eksposisinya tentang Efesus (8 vol.), Roma 3-8 (6 vol) telah diterbitkan. Artikel ini disadur dari bukunya 2 Peter terbitan The Banner of Truth Trust.

Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu. 2 Petrus 1:19.

Di sini rasul Petrus sedang memberikan apologetikanya. Ia sedang menghibur umat yang dalam kesusahan dan banyak kesukaran. Rasul Petrus mengingatkan mereka tentang ajaran-ajaran inti dan paling penting dari iman Kristen. Ia sedang melawan suatu pertanyaan. Pertanyaan ini ditanyakan oleh orang-orang pada abad pertama dan hingga kini masih tetap ditanyakan. Pertanyaan itu adalah: "Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kedatangan Tuhan Yesus Kristus sebagai raja adalah benar? Apa dasar atau alasan yang kita miliki sehingga membuat kita bisa yakin, mempercayai dan menerima hal-hal ini?"

Rasul Petrus memberikan serangkaian jawaban terhadap pertanyaan tersebut dalam ayat 2 Ptr 1:16-18. Pertama adalah bahwa kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, tetapi bukti dan kesaksian rasuli. Rasul Petrus berkata, "Apa yang telah kami lihat dan dengar... ketika kami bersama-sama dengan-Nya di atas gunung yang kudus." Ada bukti dan kesaksian rasuli terhadap kehidupan dan mujizat Kristus, dan khususnya apa yang terjadi di Gunung di mana Tuhan Yesus dimuliakan. Kedua, unsur penting lain dalam keyakinan kita, yakni, fakta pewahyuan, penginspirasian Alkitab (2Ptr 1:20-21). Petrus secara khusus mengingatkan orang-orang ini tentang natur umum nubuat dan Alkitab, yakni, Allah berbicara. Alkitab bukanlah gagasan dari pikiran dan imajinasi manusia, tetapi semuanya adalah hasil dari intervensi Allah, di mana Allah yang penuh kemurahan menyatakan dan memanifestasi kan Diri-Nya kepada kita.

Tetapi itu belum semua; karena perlu mempertimbangkan: "kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi." atau "kita juga memiliki suatu kata nubuat membuat kita lebih yakin". Ini menjadi suatu sumber dari penghiburan. Jika rasul Petrus hanya berkata bahwa nubuat itu lebih meyakinkan daripada dongeng-dongeng yang licik, ia tidak akan menegakkan sesuatu. Karena untuk menunjukkan bahwa sesuatu itu lebih baik daripada yang tidak ada, sesungguhnya sama sekali tidak perlu dipuji. Hal itu hanyalah seharusnya saja.

Selanjutnya, apakah rasul Petrus berkata bahwa kata nubuatan adalah lebih meyakinkan daripada kesaksian dan bukti rasuli? Meskipun banyak ekspositor yang setuju, tetapi bagi saya ini bukanlah penjelasan yang benar dari kata-kata ini, karena ada suatu pengertian bahwa tidak ada yang lebih besar dan penuh daripada yang mereka telah lihat di gunung, di mana Tuhan Yesus dimuliakan. Di sana mereka melihat Anak Allah itu berubah bentuk, sungguh-sungguh mendengar langsung suara dari surga yang merupakan sesuatu yang tidak bisa dibandingkan bahkan dengan suara yang sama yang berbicara melalui para nabi, yang diinspirasikan. Tetapi bagi saya yang membuat semua pendapat itu tidak dapat diterima adalah kalimat yang Petrus katakan "kami juga memiliki". Dengan perkataan lain, rasul Petrus tidak hanya-menunjuk kepada orang-orang lain, tetapi termasuk dirinya sendiri, dan ia berkata "kami", "para rasul" memiliki satu kata nubuatan yang lebih meyakinkan. Hanya ada satu dan satu-satunya penjelasan yang memadai dari kata-kata ini. Rasul Petrus tidak sedang membandingkan perkataan nubuat ini dengan apa yang telah ia jelaskan. Sebenamya ia sedang membandingkan perkataan nubuat yang diberikan pada zaman dulu kepada umat yang hidup pada waktu itu, dengan perkataan nubuat yang sama pada zamannya di mana banyak nubuat yang telah terjadi. Hal ini membuat perkataan nubuat itu makin diyakini. Ini berarti bahwa perkataan nubuat itu lebih meyakinkan dibandingkan yang lain karena penggenapannya dan karena fakta-faktanya. Dengan demikian rasul Petrus berkata bahwa ada fondasi-fondasi di mana kita berdiri dan mendasarkan segala sesuatu yang lain. Para nabi berbicara tentang hal-hal yang pasti akan terjadi. Bagi para nabi dan segenap umat yang kepadanya para nabi itu berbicara adalah suatu hal yang sangat menakjubkan dan ajaib. Tetapi ketika kami memperhatikan dan merenungkan segala hal-hal itu jelas tetap akan lebih menakjubkan. Itulah argumentasi yang sering digunakan dalam Perjanjian Baru (bandingkan Ibrani 11). Tidak ada cara yang lebih menguntungkan selain cara yang diberikan Petrus di sini yaitu ketika kita merenungkan kelahiran Anak Allah dan kedatangan-Nya di dalam dunia, dengan cara kita merenungkannya dalam terang penggenapan dari nubuatannya. Rasul Petrus berpendapat ini cara yang paling menguatkan iman. Sesungguhnya ketika kita mempertimbangkan bukti dan kesaksian rasul, kita tidak lagi ragu-ragu. Tetapi lebih itu di dalam pengertian Perjanjian Baru segala sesuatu yang berhubungan dengan Natal dihubungkan langsung dengan penggenapan, yang sempurna tentang nubatan-nubuatan. Sebab inilah yang akan memberikan kita keyakinan yang tidak dapat digoyahkan ketika kita berada di dalam hari gelap dan sukar.

Saya akan menyatakan ini dalam bentuk beberapa proposisi. Pertama, Kristus dan kelahiran-Nya itu menggenapkan nubuat Perjanjian Lama. "Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi." Dengan perkataan lain, kita mempunyai hak untuk mengatakan bahwa Perjanjian Lama dapat dimengerti sungguh-sungguh hanya di dalam Yesus Kristus. Inilah cara yang benar untuk membaca Perjanjian Lama; dengan sedapat mungkin memahaminya sebagai suatu kitab janji, sebuah kitab bayang-bayang, sebuah kitab contoh/type. Tetapi kejadian-kejadian yang dicatat di dalam Perjanjian Lama merupakan tindakan-tindakan yang tidak diragukan di dalam diri mereka sendiri dan mempunyai kepentingan serta signifikansi mereka sendiri.

Seluruh Perjanjian Lama merupakan buku bayangan dan pengharapan, mencari, menunggu dan memperhatikan sesuatu. Sekarang kalimat agung yang diucapkan oleh rasul Petrus, yakni, kedatangan Kristus ke dalam dunia adalah menggenapkan segala sesuatu dan setiap hal yang telah dikatakan di Perjanjian Lama. Saudara tentu ingat bagaimana rasul Paulus meletakkan hal yang sama di dalam bahasa dan caranya sendiri ketika ia berkata, "Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan "Amin" untuk memuliakan Allah." Ada janji- janji di Perjanjian Lama, di dalam Kristus ada jawaban "ya" , "amin" membenarkan penggenapan segala sesuatu yang Allah telah katakan melalui para nabi-Nya di dalam Perjanjian Lama itu. Ini merupakan salah satu kunci utama untuk mengerti Alkitab yang sekali lagi mendemonstrasikan kesatuan yang menakjubkan dan ajaib dari Alkitab.

Kristus adalah pusat dari Alkitab; setiap bagian dari Perjanjian Lama melihat ke depan kepada-Nya, segala sesuatu di dalam Perjanjian Baru melihat ke belakang kepada-Nya. Kristus adalah pusat dari sejarah. Kristus adalah titik api dari seluruh pergerakan umat manusia mulai dari penciptaan hingga akhir zaman. Saudara dapat mengumpulkan semua janji Allah sekaligus di dalam Kristus, di dalam Pribadi-Nya. Tetapi perhatikan momen penggenapan itu secara terperinci; karena ini sekali lagi merupakan suatu yang sungguh-sungguh sangat mengherankan dan ajaib. Kita juga tidak dapat melakukan suatu lebih baik selain mendekati Natal dengan mengingatkan diri kita sendiri akan natur penggenapan au secara sangat detail. Bahkan jika hanya satu kalimat umum saja yang berkorespondensi dengan Perjanjian Baru itu akan menjadi sangat mengagumkan. Tetapi di sini ada penggenapan secara detail yang hanya dapat dijelaskan dengan dipandang dari fakta bahwa orang yang menulis nubuatan-nubuatan ini menulis dengan diinspirasikan oleh Allah.

Ini merupakan bukti lebih lanjut dari pernyataan bahwa nubuat-nubuat Kitab Suci itu tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, karena nubuat-nubuat masa lalu itu bukan datang dari kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah. Sekarang marilah kita secara cepat dan sepintas meninjau penggenapan detail ini. Detail-detail penggenapan ini adalah nilai yang agung. Perhatikan! Bayi yang dilahirkan di Betlehem itu termasuk suku apa? Jawabannya adalah dari suku Yehuda. Dari keturunan siapa di dalam suku Yehuda itu? Dari keturunan Daud. Kita berbalik ke belakang ke seribu tahun sebelum Natal pertama, bahkan sebelum itu, janji itu telah diberikan bahwa Kristus akan dari suku Yehuda dan dari keturunan Daud. Ketika Bayi itu lahir di Betlehem merupakan verifikasi dari janji itu.

Kapan kedatangan-Nya yang pertama itu terjadi? Ini adalah suatu hal yang sangat menarik dan penting jika Saudara mendekati kelahiran Kristus itu hanya melalui sudut pandang filsafat sejarah. Ketika Anak Allah, Sang Mesias, itu datang secara umum disetujui bahwa itu merupakan kemungkinan paling kecil untuk Ia datang. Sebab sesungguhnya waktu itu adalah waktu tampaknya tongkat kerajaan akan pindah dari suku Yehuda. Tetapi tepat apa yang telah dinubuatkan ratusan tahun sebelumnya, ketika tongkat kerajaan tampaknya lepas dari tangan suku Yehuda pada hari-hari yang akan datang, maka saat itu Raja dan Pemerintah yang sesungguhnya datang. Jika membaca sejarah kontemporer Saudara akan menemukan bahwa ini merupakan pandangan orang-orang Israel ketika Tuhan kita lahir.

Dipandang dari segi nubuat nabi Daniel (Daniel 9) dengan nubuatan tentang 70 minggu, maka di sana. Saudara akan menemukan kembali secara terperinci sekali, keadaan sebelum waktu kedatanganNya secara tepat. Proses yang luar biasa ini, ketepatan ini, dan nubuat yang disampaikan oleh nabi yang terperinci sekah ini merupakan suatu yang sangat mengherankan.

Kemudian mengenai ibu-Nya. Saudara akan ingat nubuat yang mengatakan bahwa seorang perempuan muda akan melahirkan seorang anak. Saya tahu bahwa nubuat ini segera dan paling langsung berhubungan dengan suatu peristiwa yang terjadi dalam sejarah pada saat itu. Namun tidak dapat membatasi hanya dalam hal itu saja. Ada suatu elemen ganda, fakta yang segera dan suatu penggenapan tersendiri "seorang anak dara akan melahirkan seorang anak". Juga mengenai tempat kelahiran-Nya. Saudara ingat bagaimana tempat itu telah diberikan oleh nabi Mikha; bahwa Ia harus dilahirkan di Betlehem. Saudara akan ingat kunjungan orang majus kepada Herodes ketika sudah genap waktunya Tuhan kita lahir. Karena Herodes tidak mengerti apa yang mereka laporkan maka ia berkonsultasi dengan para imam kepala dan ahli Taurat. Mereka memberikan jawaban bahwa Kristus harus lahir di Betlehem, tanah Yehuda, karena demikianlah ada tertulis kitab nabi.

Sekarang ketika melihat Perjanjian Lama, kita melihat secara konstan dibentangkan kepada kita hal-hal yang luar ini - bagaimana Allah memberikan kepada seseorang suatu fakta, kepada orang fakta yang lain. Hanya Mikha yang menyebutkan Betlehem. Allah memberikan kepada Mikha untuk menubuatkan fakta dan detail khusus yaitu tempat kelahiran-Nya.

Sekarang marilah kita memikirkan tentang perkataan-perkataan Tuhan Yesus sendiri. Jika Saudara membaca Yesaya 61, Saudara akan menemukan di sana bahwa nabi Yesaya menubuatkan bahwa Mesias akan mengucapkan kata-kata dan melakukan hal-hal tertentu. Pikirkanlah bahwa kejadian di rumah ibadat di Nazaret ketika Tuhan kita masuk ke rumah ibadat menurut kebiasaan­- Nya. Kepada-Nya diberikan kitab suci untuk dibaca. Ia membaca dari Yesaya 61, dan setelah membaca, Ia berkata, "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."

Setiap perkataan-Nya, metode berbicara-Nya, cara mengajar-Nya, semua tindakannya ini telah dinubuatkan secara detail. Sekarang kita juga berpikir tentang karya-karya dan mujizat-mujizat-Nya. Kita membaca dalam Yesaya 35, bagaimana Ia mencelikkan mata orang-orang buta dan membuka telinga-telinga orang tuli, dan orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan orang bisu akan bersorak-sorai. Kemudian kita sampai ke Perjanjian Baru dan kita membaca laporan tentang hal-hal yang dikerjakan-Nya. Ingatlah! Yohanes Pembaptis di masa kesukarannya di penjara mengirim dua orang muridnya kepada Yesus untuk bertanya, "Engkaukah yang akan datang itu?". Tuhan Yesus berkata kedua orang ini, "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat; orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang tuli mendengar," dst. Di sini Yohanes diingatkan kembali kepada Yesaya 35. Tidak hanya itu, Saudara ingat Yesaya 53 tentang nubuat Hamba Tuhan yang memikul sakit-penyakit kita, dan ingat bagaimana Matius di dalam melukiskan mujizat penyembuhan yang dilakukan Tuhan kita dengan mengacu kepada nubuat itu, bahwa Ia akan memikul sakit-penyakit kita.

Ia memasuki Yerusalem dengan cara yang bagaimanapun telah dinubuatkan oleh nabi Zakharia, yaitu, mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda. Ini terjadi ketika ia memasuki Yerusalem dengan kemenangan. Ia akan dijual karena 30 keping perak pun telah dinubuatkan. Penderitaan-Nya dideskripsikan secara detail, tidak hanya di dalam Yesaya 53 tetapi jugs khususnya pada Mazmur 22 - bagaimana fakta bahwa tangan dan kaki-Nya ditusuk telah dinubuatkan -bagaimana setiap hal telah dinubuatkan secara detail. Semua nubuat ini telah dinubuatkan ratusan tahun sebelum semua nubuat itu terjadi. Fakta bahwa Ia akan dikubur di tempat khusus, kuburan milik orang kaya telah dinubuatkan. Memang ketika wafat, Ia dikuburkan dalam kuburan Yusuf Arimatea. Baik kebangkitan maupun hari Pentakosta telah dinubuatkan juga. Saudara ingat bagaimana setelah kenaikan-Nya Ia mengirim Roh Kudus sesuai dengan janji-Nya, dan ketika orang-orang bingung dan mulai bertanya, apakah artinya ini? Rasul Petrus menjawab, "Itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel." Segala contoh ini, dan masih banyak contoh lain, menunjukkan bagaimana, secara detail, Tuhan Yesus melalui kedatangan-Nya, dan melalui segala yang dikerjakan dan dikatakan, telah membuat segala nubuat itu lebih meyakinkan. Semua penggenapan ini menakjubkan di dalam detailnya, tetapi juga memperlihatkan kemuliaan secara utuh. Saat kedatangan Kristus, kelahiran-Nya, Hidup-Nya dan segala tindakan-Nya di bumi menunjukkan Allah memelihara firman telah disampaikan-Nya kepada orang-orang dalam masa Perjanjian Lama. Orang yang membaca Alkitab matanya akan terbuka melihat kemuliaan kitab suci yang unik

Beberapa dari umat itu berteriak di masa kesesakan mereka, "Berapa lama lagi Tuhan Engkau lupa untuk bermurah hati?" Kami membaca janji-janji yang diberikan, tetapi melihat situasi demikian berlawanan. Apakah Allah lupa, apakah Ia lupa bermurah hati dan lupa akan janji-janji- Nya itu? Ketika bayi itu lahir di kandang di Betlehem, keputusan agung yang dibuat sini- Allah telah memelihara firman-Nya. Allah telah membuktikan bahwa janji-Nya adalah benar. Segala sesuatu yang Allah pernah janjikan digenapi di sini. Ini adalah deklarasi yang agung tentang ketidakberubahan Allah dalam rencana-Nya. Firman Allah itu pasti, mutlak dan kekal.

Saya akan coba menunjukkan kemuliaan semuanya ini dengan cara ini. Kita melihat bahwa Allah telah menggenapi semua janji-janji yang pernah Ia berikan kepada manusia yang berkenaan dengan keselamatan manusia. Alkitab adalah sejarah manusia di dalam hubungannya dengan Allah, sehingga kita dapat mendeskripsikan Alkitab sebagai sejarah keselamatan. Ini adalah sejarah dari seluruh umat manusia dari awal hingga akhir. Allah menciptakan manusia itu sempurna, sehing­ga manusia memiliki persekutuan yang sempurna dengan Allah. Tetapi dosa masuk sehingga persekutuan itu hancur. Manusia membuat dirinya sendiri ada di bawah murka Allah dan menderita. Apa yang akan terjadi pada manusia?

Di sini Alkitab datang dengan beritanya yang agung. Segera sesudah kejatuhan itu Allah mulai membuat janji-janji dan semua janji itu berkenaan dengan manusia dan keselamatannya. Sekarang mulai dari kelahiran Kristus segala janji-janji itu terlaksana dan tergenapi. Jadi sejak semula ketika manusia itu jatuh, Allah menerangi kegelapan itu dengan memberikan suatu janji yang sangat berharga.

Manusia jatuh karena ditipu oleh ular, tetapi suatu saat Allah di dalam anugerah-Nya yang tidak terbatas itu memberikan suatu janji, bahwa "keturunan perempuan ini akan meremukkan kepala dari ular." Hal ini dikatakan sekitar 4000 tahun sebelum kelahiran Kristus. Janji ini merupakan janji Allah yang pertama, janji yang orisinil. Ketika Bayi itu lahir di Betlehem janji itu dilaksanakan - benih perempuan itu telah datang dan Ia telah bertindak menghancurkan kepala dari ular itu.

Salah satu janji agung yang lain adalah ketika kita ingat di dalam Kis.3, bagaimana Musa berkata, "Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku." Orang-orang pada masa Perjanjian Lama menyebutnya sebagai "kedatangan Nabi". Inilah yang dimaksud Yohanes Pembaptis ketika ia bertanya, "Engkaukah yang akan datang itu?" Mereka sedang menunggu Nabi itu, Pemimpin itu, mereka menunggu seseorang yang lebih besar daripada Musa yang melepaskan mereka dari Mesir, yang akan memimpin mereka lepas dari perbudakan dosa dan perhambaan kesalahan. Di dalam Bayi Betlehem itulah kalian mendapatkan Seorang yang dirindukan dan diharapkan yang juga adalah Nabi, Guru dan Pemimpin umat.

Dengan cara yang sama diberikan janji bahwa korban persembahan suatu hari akan cukup untuk menutup segala dosa. Di dalam periode Perjanjian Lama banyak tertulis tentang persembahan-persembahan dan korban-korban, mengenai darah lembu jantan dan domba jantan, mengenai korban anak domba dsb. Namun itu semuanya bersifat sementara. Seperti yang dikatakan penulis surat Ibrani, "Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa." Diperlukan korban yang agung, yang sungguh-sungguh berhasil dan yang memuaskan hati Allah. Hal ini terus berlangsung dalam Perjanjian Lama. "Orang ini" telah mempersembahkan Diri-Nya sendiri satu kali untuk selamanya dan yang sempurna. Perjanjian Lama juga menubuatkan bahwa seorang Imam Besar yang agung akan datang untuk mewakili kita dan memuliakan kita di hadapan Allah. Saudara ingat bahwa Harun diizinkan masuk ke ruangan "mahakudus" satu kali setahun, dan ia masuk dalam keadaan takut dan gentar. Tetapi Dia adalah merupakan Imam Besar yang sempurna, yang mengerti kelemahan kita, namun tidak berdosa.

Dia telah masuk ke dalam ruang yang mahakudus dengan suatu persembahan dan korban, yakni darah-Nya sendiri. Ia mewakili kita selama-lamanya dan terus menerus melayani, sehingga Ia dapat menyelamatkan semua orang yang datang kepada Allah melalui Dia. Ada suatu janji tentang Perjanjian baru. Allah membuat suatu perjanjian dengan manusia melalui Musa. Ini adalah suatu perjanjian hukum yang tidak dapat diperlihara oleh siapapun. Tetapi Allah juga berkata melalui nabi Yeremia, "Aku akan membuat perjanjian yang baru dengan kamu", bukan seperti perjanjian yang lama, yang menggunakan hukum-hukum yang di luar, tetapi Aku akan menulis hukum itu dalam hati dan batinmu, yakni suatu perjanjian yang baru. Nabi mana yang dapat menjadi pengantara perjanjian yang demikian? Tidak ada satu manusiapun yang layak; bahkan malaikatpun tidak memadai. Tetapi di sini, Bayi Betlehem itu adalah pengantara dari Perjanjian yang baru, seseorang yang dapat memberikan Roh Kudus dan yang akan meletakkan hukum Allah itu ke dalam batin dan hati serta memberikan hidup kepada kita. Ia akan mengangkat hati yang membatu dan memberikan kita hati yang baru yang dengan hati itu kita dapat mengasihi Dia.

Tetapi di atas itu semua, ada suatu janji tentang datangnya suatu kerajaan. Melalui Perjanjian Lama gagasan tentang seorang raja yang akan datang dan memerintah, yang akan menaklukan semua musuh dari umat serta menegakkan suatu kerajaan kebenaran dan damai sejahtera. Di mana Oknum yang demikian dapat ditemukan? Ia hanya dapat ditemukan di satu tempat. Ia adalah Bayi yang ada di palungan di Betlehem, yang adalah Raja segala raja dan Tuhan segala tuan. Karena itu orang Majus datang dan bersembah sujud serta memberikan persembahan mereka. Ia telah menaklukkan semua musuh, Setan, kematian dan neraka. Segala hal yang jahat telah dikalahkan - Ia adalah Raja universal, Yang Mahakuasa, dan Ia akan memerintah dari kutub ke kutub dan kerajaan-Nya tidak akan berakhir. Anak Allah, Raja yang kekal. Dengan demikian Saudara lihat bahwa Allah telah menggenapi, telah menyelesaikan segala janji-Nya. Akhir kata, apa yang saya simpulkan dari kata nubuat yang makin meneguhkan kita ini? Ada beberapa kesimpulan yang jelas dan tidak dapat ditolak. Keselamatan jelas hanya ada di dalam Kristus dan hanya di dalam Kristus. Kristus telah menggenapi semua janji itu. Di dalam Dialah Allah menyelamatkan umat manusia. Allah berjanji untuk menyelamatkan manusia. Kristus adalah penggenap segala janji.

Tidak ada juruselamat yang lain, dan tidak ada jalan yang lain seperti yang dikatakan rasul Petrus (Kis 4:12). Bayi Betlehem itu menggenapkan segala janji itu. Ia satu-satunya Juruselamat, satu-satunya jalan kepada Allah, satu-satu pengharapan akan pelepasan. Ia adalah Nabi, Ia adalah Imam, dan Ia adalah Raja. Kedua kita menyimpulkan bahwa seperti halnya kedatangan-Nya dan segala yang. telah dilakukan dan dikatakan-Nya merupakan penggenapan dari semua yang telah dijanjikan oleh Allah, sehingga fakta itu sendiri telah memberikan suatu jaminan yang pasti bahwa segala sesuatu yang lain yang telah dijanjikan akan digenapi-Nya juga. Segala sesuatu yang telah dinubuatkan, diberitahukan lebih dulu, dijanjikan berkenaan dengan kedatangan-Nya yang pertama telah dilaksanakan secara tepat. Tetapi yang akan datang ada sesuatu yang lebih. Petrus sedang berbicara mengenai kedatangan-Nya yang kedua; dan meskipun kedatangan-Nya yang kedua aneh bagi kita saat ini sama seperti kedatangan-Nya yang pertama bagi orang-orang Perjanjian Lama, mari kita mengerjakan logika yang tidak dapat ditolak ini. Meskipun mereka tidak mengharapkan Dia, Ia tetap datang; meskipun banyak menertawakan gagasan itu, tidak menyiapkan Kedatangan-Nya; dan meskipun hal-hal ini tampak sebagai hal yang tidak mungkin bagi kita, apa yang telah terjadi merupakan bukti bahwa semua janji itu akan tiba juga.

Terakhir, mengenai penghiburan, kemuliaan dan sukacita. Karena inkarnasi Kristus dan segala sesuatu yang mengikuti meneguhkan nubuat. Ini memberitahukan saya bahwa Allah memelihara Firman-Nya dan melaksanakan rencana, janji dan maksud-Nya sendiri secara penuh di atas bumi. Maka saya mengambil kesimpulan bahwa, Firman Allah merupakan sesuatu yang terus dapat saya percaya. Firman Allah merupakan "janji-janji yang berharga dan yang sangat besar". Janji-janji yang diberikan kepadamu tatkala sakit, kehilangan, menjadi janda, yatim-piatu, menghadapi masalah, berduka-cita atau setiap kondisi yang mungkin terjadi dalam hidup anda dan saya itu dapat diselesaikan dengan janji-janji tersebut. Saudara, percayalah kepada janji­-janji-Nya, simpanlah janji janji itu dalam hatimu, buktikan bahwa Allah selalu setia kepada janji-janji-Nya. Ia tidak pernah gagal untuk memelihara Firman-Nya; setiap janji yang Ia berikan kepadamu adalah suatu janji yang bisa dipercaya dan turuti. Karena itu ketika saya membaca Firman-Nya lagi dan saya melihat janji janji yang demikian seperti "Aku sekali-kali tidak pernah meninggallkanmu", "Aku akan menyertai kamu senantiasa", saya akan mempercayai janji janji itu, Saya akan menerimanya. Saya menyatakan bahwa kedatangan Kristus membenarkan segala janji-Nya dan membuktikan segala bahwa segala janji-Nya itu benar. Ia. telah memberikan Firman-Nya, dan Firman-Nya dapat disandari; karena itu saya menerima-Nya berdasarkan pada Firman-Nya. Puji Tuhan! "Bersyukurlah kepada Tuhan atas karunia-karunia yang tak terkatakan itu" Bersyukurlah kepada Allah karena Kristus di mana di dalam Dia segala janji Allah adalah ya dan amin tanpa suatu keraguan dan ketidaktentuan.

Sumber: 

Sumber :
Reformed Movement,
geocities.com/reformed_movement/artikel/natal02.html

Kecenderungan Perkembangan Pemikiran Abad 21 (Sebuah Kajian Retrospektif dan Prospektif)

Dear e-Reformed netters,

Berikut ini adalah artikel yang saya ambil dari majalah Journal Teologi dan Pelayanan yang diterbitkan oleh Seminary Alkitab Asia Tenggara (SAAT). Karena panjangnya bahan ini maka akan dibagi menjadi dua:

Bagian pertama: Artikel
Bagian kedua : Catatan Kaki (yang terdapat dalam artikel)

Selamat membaca!

Yulia
Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Berikut ini adalah artikel yang saya ambil dari majalah Journal Teologi dan Pelayanan yang diterbitkan oleh Seminary Alkitab Asia Tenggara (SAAT). Karena panjangnya bahan ini maka akan dibagi menjadi dua:

Bagian pertama: Artikel
Bagian kedua : Catatan Kaki (yang terdapat dalam artikel)

Selamat membaca!

Yulia
Edisi: 
008/VIII/2000
Isi: 

[Catatan : **Angka merah dalam artikel adalah Catatan Kaki yang dapat ditemukan pada akhir artikel]

PENDAHULUAN

Sebentar lagi semua umat manusia yang menetap di planet yang pengap ini akan memasuki abad dan sekaligus millennium yang baru. Saya katakan "sebentar lagi" karena pada saat menuliskan artikel ini (Januari 2000) bagi sementara kalangan abad dan millennium yang baru itu seharusnya dimulai 1 Januari 2001 (misalnya, posisi Harian Umum Kompas). Saya kebetulan merasakan adanya logika yang sama dengan pendapat tersebut. Alasannya sederhana saja: Kalender Masehi tidak mengenal tahun yang dimulai dengan angka nol, sehingga tahun 2000 boleh dikategorikan termasuk dalam himpunan abad 20 dan millennium kedua.**1 Walaupun demikian semua sudah sama-sama tahu bahwa mayoritas penduduk globe ini menganggap bahwa sekaranglah abad dan millenium yang baru itu.

Sebetulnya untuk apa sih meributkan persoalan yang sepele dan sudah hampir basi ini? Saya akui ini boleh dibilang persoalan sepele dan provincial karena kebanyakan orang toh tidak peduli. Namun demikian kalau boleh saya memohon sedikit kesabaran pembaca untuk memperhatikan urusan "sepele" ini lebih jauh sedikit. Pertama, persoalan tersebut mengingatkan bahwa untuk suatu topik yang sedemikian obvious (mudah dimengerti), nyata dan gamblang, kebanyakan manusia bisa dengan mudah berbeda pandangan. Tetapi masalahnya bukan hanya itu saja, karena, kedua, manusia bukan hanya bersedia berbeda opini. Sebagian besar manusia ternyata bersedia menerima suatu pendapat yang less logical dan yang benar-benar keliru hanya karena mayoritas masyarakat dunia yang menyatakannya atau, lebih tepat, secara pelan dan pasti memaksa menyatakannya demikian. Hampir semua media raksasa di dunia ini menyatakan 1 Januari 2000 sebagai abad dan millennium baru. Jadi, karena media besar dan pemerintah adidaya sudah menyatakan suatu kesalahan sebagai kebenaran, maka terciptalah kesalahan "sepele" itu menjadi kebenaran yang sulit diganggugugat. Kebanyakan orang menjadi tidak peduli hal itu benar atau salah, karena "semua" orang, bahkan "seluruh" dunia mengatakan demikian. Orang cerewet mempermasalahkannya justru orang yang dianggap aneh sendiri.

Dari contoh urusan "sepele" tersebut kalau boleh saya katakan bahwa semangat dan cara pikir manusia sekarang dalam berteologi sedikit banyak mirip dengan kecenderungan di atas. Ada kalangan dalam gereja atau dunia kekristenan yang sepintas tidak peduli apakah suatu pandangan atau aliran teologi itu benar atau salah asalkan sudah cukup banyak orang yang menerimanya, atau karena yang menyatakannya adalah tokoh atau teolog yang beken. Apalagi jikalau mayoritas pengikut sudah mengafirmasikan demikian persis seperti beberapa ratus nabi (palsu) Baal secara aklamasi sepakat tentang sesuatu yang katanya dari Tuhan padahal bukan. Hanya nabi Mikha seorang diri (sebagai minoritas absolut!) yang berani menyatakan kebenaran dan berbeda dengan posisi yang lain (lih. 1Raj 22:1-38). Bagi sebagian orang lain, urusan benar atau salah seakan-akan menjadi kurang penting asalkan apa yang diajarkan itu "cocok bagi saya" dan sekaligus berkhasiat (misalnya, bisa mendatangkan berkat, kekayaan, kesehatan, kesembuhan, kelancaran, kedamaian, gereja bertumbuh pesat, pengikut membludak dan seterusnya). Orang yang menyampaikan ajaran yang benar dan berbeda dengan mayoritas akan dianggap sebagai orang yang aneh dan perlu dijauhi.

Persoalan yang dikemukakan di atas hanyalah sebuah contoh untuk mengantar pembaca memasuki tema tulisan ini. Di dalam artikel ini pembaca akan melihat berbagai kecenderungan dalam alam pemikiran dunia teologi pada tahun-tahun mendatang. Apa yang saya paparkan sebagian besar didasarkan apa yang pernah terjadi dalam dunia teologi di tahun-tahun yang lampau**2 dan merupakan prakiraan tentatif yang perlu diuji apakah tepat demikian. Hal ini berarti penulis tidak sedang membuat sebuah nubuat atau sebaliknya menciptakan dugaan yang mengada-ada. Istilah "Abad 21" pada judul artikel ini juga penulis rasakan terlalu bernada hiperbolis, karena siapa yang dapat memastikan apa yang terjadi 10, 20 atau 50 tahun mendatang berhubung perubahan sekarang selalu terjadi dengan begitu cepat. Sebab itu lebih tepat bila pembaca mengartikan "Abad 21" sebagai masa permulaan dunia memasuki suatu rentang yang baru sekali, yaitu abad 21, dan tidak mengartikannya sebagai masa sampai 100 tahun.

KECENDERUNGAN PERTAMA: TEOLOGI AKAN SECARA RADIKAL DIBANGUN DI ATAS LANDASAN IMMANENSI

Yang dimaksud dengan "immanensi" (Latin: immanere, to remain in) adalah kecenderungan manusia untuk menyimpulkan segala sesuatu dengan bertitik tolak semata-mata dari alam dan natur manusia. Dengan semakin bangkitnya ekonomi globlal, maraknya kemajuan teknologi dan sains serta semakin mantapnya segala kemajuan yang berasal dari, oleh dan untuk manusia, apa yang semakin terlihat dalam kehidupan sehari-hari adalah memudarnya sisi yang transenden dalam berteologi dan semakin bercahayanya sisi yang immanen, yakni alam dan manusia. Walaupun manusia masih berbicara tentang Allah dan karya-karya-Nya, sedemikian rupa sehingga Ia dibicarakan dengan titik tolak dari perspektif manusia dan alam. Topik pengetahuan tentang Allah menjadi terserap ke dalam topik yang mengacu pada manusia dan persoalan di sekitarnya.**3

Pendekatan teologis seperti ini akan lebih mengidentifikasikan kehadiran Allah secara absolut di dalam dunia, seolah-olah Allah tidak pernah terpisah jauh melampaui dunia sebagai Pribadi yang transenden seperti yang diajarkan Alkitab.**4 Keberadaan Allah sepertinya menyerap atau berbaur di dalam seluruh alam, peristiwa dan kehidupan manusia. Apa akibat dari pemikiran yang berat sebelah ini? Akibatnya, manusia mulai meragukan, meninggalkan dan sekaligus menolak segala sesuatu yang berbau supranatural, mujizat, ajaran tentang wahyu dan penebusan ilahi yang ajaib. Mengapa? Salah satu alasan yang utama adalah karena batas pemisah antara wilayah yang natural dan wilayah yang supranatural telah dihapuskan secara perlahan-lahan, atau lebih tepat dikatakan bahwa wilayah yang natural telah "mencaplok" atau telah "membaptis" wilayah supranatural. Hasilnya, wilayah yang supranatural-sekalipun masih ada dan masih disebut-sebut dalam diskusi teologi atau dunia kekristenan telah mendapatkan arti yang baru, yaitu mendapatkan muatan interpretasi yang berbeda yang diinfuskan ke dalamnya. Keberadaan Allah yang personal dan hidup seperti yang disaksikan dalam Alkitab digantikan dengan ungkapan-ungkapan tentang Allah dalam rumusan-rumusan pengetahuan yang diciptakan manusia dan dalam keindahan moral yang dibangun menurut standar manusia.

Apabila kecenderungan ini berlangsung terus-menerus dan semakin menguat, dunia teologi akan memasuki suatu suasana di mana manusia sadar atau tidak sadar semakin kehilangan sisi transendensi, yaitu konsep tentang adanya Allah yang berada di luar, di atas dan melampaui keberadaan manusia. Hal ini seharusnya tidak boleh terjadi jikalau kita hendak membangun teologi Kristen yang sehat dan bertanggung jawab. Teologi yang sehat dan bertanggung jawab itu semestinya seimbang dalam menekankan konsep transendensi dan konsep immanensi. Tidak boleh berat sebelah, apalagi saling meniadakan. Bila teologi kehilangan sisi berat sebelah, teologi bukan hanya "bergerilya" dan kemudian tersesat, tetapi teologi juga akan kehilangan relevansi dan konteks. Kehilangan relevansi, maksudnya ia (teologi) masih dibicarakan bahkan dirumuskan di sana-sini tetapi ia sama sekali terpisah dan tidak mengacu lagi pada realita tentang Allah yang hidup itu seperti yang diberitakan dalam Alkitab. Kehilangan konteks, maksudnya, sekalipun ia justru semakin mengena dalam lingkup persoalan manusia, tetapi teologi menjadi semakin jauh dari garis besar haluan kerajaan Allah dan kebenaran firman Allah.

KECENDERUNGAN KEDUA: TEOLOGI AKAN DIWARNAI OLEH SEMANGAT YANG SEMAKIN KUAT UNTUK MENSINTESISKAN LINGKUP SAKRAL DAN LINGKUP SEKULAR

Hampir sama dengan kecenderungan pertama, pada butir ini manusia secara eksplisit melihat realita hanya pada satu lapisan saja yakni dunia ini saja. Jikalau pada Karl Barth orang masih melihat adanya perbandingan Creator-creature, eternity-time, atau infinite quality-finite quality dengan penekanan yang kuat pada aspek transendensi, maka yang mencuat pada kecenderungan ini adalah sebaliknya, yaitu penekanan hanya pada aspek creature, time, finite quality. Apa arti semua ini? Artinya sama saja dengan menolak segala sesuatu yang berciri ilahi dan hukum moralitas yang teosentris. Prinsip uniformitas ini mengakibatkan manusia mengesampingkan segala yang unik dan normatif dalam kekristenan sekalipun semua fakta telah tercatat dalam sejarah dan peristiwa yang nyata dialami manusia.

Sebagai konsekuensinya, manusia akan memasuki suatu suasana dengan paradigma atau model yang sama sekali baru dalam pendekatan teologi, yaitu manusia betul-betul menampakkan ciri yang otonom dan terlepas dari otoritas manapun.**5 Dari satu sudut dapat dikatakan paradigma ini sudah dimulai oleh J.A.T. Robinson**6 atau Harvey Cox**7 dan "keponakan-keponakan "-nya dalam death-of-God theology movement(seperti misalnya Gabriel Vahanian,Thomas Altizer,Paul van Buren,William Hamilton). Mereka berpegang pada sejenis prinsip naturalisme radikal yang terang-terangan menegaskan bahwa segala sesuatu (termasuk teologi atau iman Kristen) harus berselaraskan dengan gejala alam dan dengan demikian terbatas dalam lingkup alam. Bukan hanya itu saja. Mereka merasa mendapatkan "darah segar" atau dukungan bagi posisi otonom tersebut dari tulisan Dietrich Bonhoeffer.**8 Padahal yang terjadi adalah mereka salah menafsirkan dan bahkan mendistorsikan**9 maksud dari Bonhoeffer, karena ia memang tidak bermaksud mengajukan dirinya sebagai perintis atau perancang teologi Allah mati, apalagi supaya manusia menjadi otonom dan menggantikan Allah.**10

Semangat untuk mensistesiskan lingkup sakral dan sekuler ini sedikit berbeda dengan semangat sekularisme. Bila sekularisme merupakan semangat manusia yang membatasi segala realita dari dan pada dunia ini serta dalam prosesnya cenderung menyangkali adanya realita yang transenden diluar dunia ini,**11 maka semangat sintesis di atas mengakui adanya realita yang transenden tersebut tetapi realita itu dileburkan ke dalam lingkup yang sekuler. Bila dalam semangat sekularisme segala unsur otoritas keagamaan hanya berusaha direduksi atau "dikavling" eksistensinya, maka semangat sintesis di atas akan "memakan habis" untuk otoritas keagamaan tersebut sehingga eksistensinya seolah-olah tidak ada lagi. Sintesis seperti ini dikata hasilnya akan lebih parah dari pada semangat lainya seperti pragmatisme,induvidualisme, atau pun humanisme.**12

Sebenarnya baik lingkup sakral maupun lingkup sekuler perlu dimengerti secara benar dan seimbang. Lingkup sekuler jangan dijauhi atau di-anathema-kan oleh orang percaya karena lingkup itu pada mulanya adalah dunia ciptaan Allah seberapa pun bobrok keadaannya pada saat ini. Allah yang berada pada lingkup sakral perlu dihadirkan dalam dunia ini dalam batas tertentu melalui kesaksian iman orang percaya. Tetapi dalam hal ini tidak berarti kedua lingkup tersebut dapat secara mudah disatukan secara integral sehingga tidak ada lagi ketegangan antara keduanya. Ketegangan antara keduanya tetap akan ada selama orang percaya menyaksikan keberadaan dan keselamatan Allah dalam dunia. Mengapa? Karena dunia akan selalu berada dan dipengaruhi oleh sistem yang bertentangan dengan Allah; sedangkan orang percaya harus selalu memproklamirkan keberadaan Allah yang ditentang oleh dunia.

Barangkali untuk memahami hal ini perlu dipinjam pola penyelesaian yang pernah diusulkan oleh H.Richard Niebuhr. Melalui pemaparannya tentang Kristus/Injil dan kebudayaan, Niebuhr seakan-akan hendak mengatakan bahwa seseorang tidak boleh mengkutubkan atau mendikotomikan kedua lingkup tersebut. Artinya, jangan mengambil salah satu lingkup dan memusuhi yang lain. Kedua lingkup tersebut harus dipahami dan diterima dalam satu hubungan yang paradoks.**13 Maksudnya, sekalipun antara keduanya kelihatan seakan berkontradiksi, orang Kristen harus mengupayakan suatu sikap penerimaan terhadap orang Kristen harus mengupayakan suatu sikap penerimaan terhadap dunia/kebudayaan melalui cara yang akomodatif, korelatif dan relevan. Tetapi, sekalipun upaya penerimaan itu sudah dilakukan, tidak berarti ketegangan antara lingkup spiritual/sakral dan lingkup temporal/sekural akan lenyap seketika. Ketegangan tersebut akan berlanjut terus dalam suatu suasana yang ambigu, yaitu suasana yang paradoks di mana orang percaya mau tidak mau harus hidup dengan seimbang antara mengabdi kepada Kristus (yang mewakili lingkup sakral) dan menjadi garam bagi dunia (lingkup sekuler). Hanya dengan cara demikian orang Kristen dapat mengadakan transformasi yang kreatif dalam dunia sekaligus mengadakan introspeksi terhadap pendirian teologinya.

KECENDERUNGAN KETIGA: TEOLOGI AKAN MELANJUTKAN SUBJEKTIVISME EKSISTENSIALISME

Eksistensialisme adalah usaha untuk membangun sistem filsafat yang berangkat dari titik tolak manusia sebagai pembuat dan penentu atas pemikiran dan segala sesuatu yang beredar dalam lingkaran kehidupan ini. Pemeluk eksistensialisme percaya bahwa manusia memiliki kapasitas eksistensi yang potensial dalam kehidupannya. Melalui karya tulis berupa pemikiran filsafat, novel dan drama, pra eksistensialis menjabarkan, menjelaskan dan menganalisis eksistensi manusia dengan amat realitis. Mereka membedah kenyataan hidup ini yang penuh dengan problema melalui satu penegasan yang berani, yaitu bahwa manusia adalah pencipta dan penyembuh bagi dirinya sendiri. Oleh sebab itu manusia modern yang hidup dalam dunia sekular harus berani berhadapan dan mengatasi ketakutan terhadap diri sendiri, orang lain, maupun ketakutan terhadap kematian. Selain itu manusia juga didorong untuk berani menghadapi setiap jenis keterbatasan, perasaan bersalah, kekuatiran, yang kesemuanya itu hanyalah merupakan bentuk dari inauthentic existence. Sebagai hasilnya, para eksistensialis umumnya menolak keberadaan Allah dan ciptaan-Nya dan menolak Alkitab sebagai firman Allah.**14

Sepanjang berlangsungnya teologi di abad 20, eksistensialisme telah memiliki pengaruh yang kuat pada teolog bersar seperti Barth, Tillich dan Bultmann. Apabila kita melihat teologi neo-ortodoks yang sedemikian kuat pada ketiga tokoh tersebut dan kelihatannya teologi itu akan terus kuat pada ketiga tokoh tersebut dan kelihatannya teologi itu akan terus berlanjut di abad 21, maka tidak berlebihan bila dikatakan bahwa eksistensialisme yang menjadi fondasi teologi tersebut juga akan terus berlanjut. Barthianisme, misalnya, yang menekankan dengan optimal konsep wahyu yang dialektis persis seperti yang pernah dicetuskan oleh pelopornya, Soren Abby Kierkegaard (1813-1855),**15 akan terus berlanjut seturut dengan semakin disukainya eksistensialisme model Kierkegaard.

Dikatakan "disukai" karena Kierkegaard menampilkan suatu bentuk eksistensialisme yang tidak ateistis tetapi juga tidak ortodoks. Tidak ateistis, maksudnya, tidak seperti pendirian para eksistensialis yang belakangan (misalnya, Sartre atau Heidegger) yang menolak ide tentang adanya Allah Pencipta yang hidup, Kierkegaard sebaliknya menegaskan eksistensi Allah yang berinkarnasi dalam Kristus Yesus. Tidak ortodoks, maksudnya, tidak seperti pendirian teologi ortodoks yang menekankan keseimbangan pengertian antara Allah yang transenden dan imanen, Kiekegaard secara radikal hanya menekankan ketransendenan Allah. Menurut Kierkegaard, Allah sama sekali jauh dan berbeda dengan yang lain khususnya manusia (the wholly other God). Ia tersembunyi dari kemampuan rasio manusia untuk mengerti. Mengapa demikian? Karena menurutnya yang namanya kebenaran akan selalu bersifat impersonal dan tidak dapat dijangkau oleh pikiran yang terbatas.**16 Artinya, kebenaran tidak bersifat objektif (yaitu, terbuka dan mudah diselidiki karena fenomenanya dapat terobservasi oleh banyak pihak), melainkan subjektif (yakni, tersembunyi dan berlangsung di dalam pikiran individu yang bersifat personal). Jadi, kebenaran tentang Allah pun bersifat subjektif dan personal, yakni dimulai dalam situasi tertentu pada kehidupan seseorang.

Apa akibat yang riil dari pandangan seperti di atas? Bagi saya, posisi Kierkegaard tersebut tidak lain merupakan benih munculnya posisi teologi pascamodern pada permulaan 1960.**17 Seperti halnya Kierkegaard, inti dari posisi pemikiran para teolog yang terbawa pada arus pascamodernisme adalah pada umumnya mereka menolak adanya suatu klaim atau prinsip kebenaran yang universal sifatnya.**18 Apabila pada zaman Pencerahan (Enlightenment) orang menyerang dan menolak kekristenan karena dianggap berseberangan dengan penemuan-penemuan baru di bidang sains (misalnya, teori Copernicus), maka pada periode pascamodern orang menyerang dan menolak keristenan hanya karena klaim kebenaran objektif yang ada di dalamnya.**19 Dengan perkataan lain, manusia pascamodern tidak suka pada prinsip kebenaran yang universal dan objektif sifatnya. Mengapa demikian? Jawabnya, adalah karena, seperti Kierkegaard, pendirian teolog pascamodern adalah: truth is subjectivity. Penekanan kebenaran yang universal dan objektif menurut mereka bukan hanya tidak masuk di akal tetapi juga berbahaya bagi perkembangan teologi. Pendirian seperti ini memperlihatkan bahwa teolog pascamodernisme bahkan lebih eksistensialis dari eksistensialisme yang dipelopori oleh Kierkegaard. Dengan demikian semangat eksistensialisme dan pascamodernisme adalah semangat "saudara sekandung" manusia zaman sekarang yang cenderung menolak kebenaran yang objektif.

KECENDERUNGAN KEEMPAT: TEOLOGI AKAN SEMAKIN GENCAR MENGADAPTASI PLURALISME

Dalam suasana dunia yang serba semakin menyatu dewasa ini fakta tentang pluralitas kehidupan manusia bukanlah sesuatu yang baru. Menurut Leslie Newbigin langkah awal untuk memahami keadaan ini adalah dengan terlebih mengakui adanya pluralitas itu sendiri.

It has become a commonplace to say that we live in a pluralist society not merely a society which is in fact plural in the variety of cultures, religions and lifestyles which it embraces, but pluralist in the sense that this plurality is celebrate as things to be approved and cherished.**20

Demikian pula ketika gereja dalam perjalanan sejarahnya harus berhadapan dengan masyarakat yang pluralis dimana-mana, mau tak mau realita pluralitas iman sebagai sebuah fakta kehidupan harus diakui dan diterima. Sebagai contoh, ketika umat Kristen mula-mula melakukan pekabaran Injil, mereka melakukannya di tengah dunia pluralis dengan lingkaran konteks masyarakat Yudaisme, Hellenisme, paganisme Romawi,**21 bahkan sampai melebar ke daerah sebelah tenggara India dengan didirikannya gereja Mar Thoma. Data ini memberi indikasi bahwa gereja mula-mula telah menyadari dan mereka benar-benar berhadapan dengan pluralitas budaya dan pluralitas keyakinan yang ada pada waktu itu.

Namun demikian dalam konteks pembahasan subtopik ini, istilah "pluralisme" mengandung pengertian yang lebih mendalam bagi masyarakat dunia sekarang. Pluralisme bukan hanya diartikan sekedar menjamurnya kepelbagaian iman, suku, ras dan nilai-nilai yang berbeda yang harus diakui keberagamannya; pluralisme ternyata telah memiliki muatan filsafatis di mana masyarakat dunia didorong (atau lebih tepat terdorong) untuk meninggikan nilai toleransi dengan mengakui bahwa masing-masing keyakinan yang berbeda-beda mempunyai nilai kebenaran tersendiri. Akibatnya, tidak boleh ada satu keyakinan iman yang dapat mengklaim adanya kebenaran yang absolut di tengah kepelbagaian tersebut.**22

Pendekatan radikal seperti di atas sebenarnya telah ada dalam pembicaraan teologi abad 19 atau awal abad 20. Sebagai contoh, Ernst Troeltsch**23 yang hidup di Jerman antara 1865-1923 adalah seorang teolog yang boleh dikata sangat memberi inspirasi bagi perkembangan teologi kekinian yang berbicara tentang pluralisme. Melalui tulisannya ia mengembangkan intisari konsep mengenai teologi ke dalam beberapa pendekatan. Pertama, pendekatan kritisisme, yaitu keyakinan bahwa pertimbangan atau keputusan pada waktu seseorang memikirkan tentang sejarah masa lalu ia harus melakukannya dengan pendekatan benar atau salah. Maksudnya, tidak ada penelitian sejarah yang dapat menetapkan segala sesuatu melampaui garis yang disebut garis probabilitas. Yang dapat terjadi secara maksimal adalah suatu probabilitas yang lebih besar atau yang lebih kecil, tetapi itu adalah tetap probabilitas bukan keabsokutisan. Penelitian sejarah itu sendiri harus selalu terbuka untuk mengalami kritik demi kritik, serta perubahan demi perubahan. Dengan demikian, setiap penelitian dan interpretasi sejarah tidak akan pernah mencapai titik persetujuan yang universal. Demikian pula semua kesimpulan yang pernah dibuat dalam penelitian sejarah atau yang akan dibuat, adalah bersifat tentatif atau sementara dan harus terbuka untuk mengalami revisi di bawah penelitian-penelitian atau bukti-bukti baru.

Kedua, pendekatan analogi, yaitu pendekatan-pendekatan yang berdasarkan pada keyakinan akan garis probabilitas di atas di mana ia melihat bahwa pengalaman yang dialami sekarang inipun secara radikal tidak berbeda dari pengalaman orang-orang di masa lampau. Alasannya, sejarah keagamaan yang ada di mana-mana selalu berada pada satu garis lurus yang sama. Sebagai akibatnya, semua doktrin atau ajaran yang paling esensial dalam kekristenan pun pasti memiliki padanan atau analoginya di dalam agama-agama lain, artinya vis-a-vis berbanding lurus, berelasi dengan agama lain.

Ketiga, pendekatan korelasi, yaitu keyakinan Troeltsch bahwa fenomena dari kehidupan sejarah manusia dapat dikatakan memiliki relasi dan interdependensi satu dengan yang lainnya, sehingga tidak ada perubahan radikal yang berlangsung pada titik sejarah tanpa memberikan efek perubahan pada sejarah manusia di sekitarnya. Dengan demikian, dalam rangka menjelaskan tentang sejarah (termasuk sejarah iman atau keagamaan),seseorang juga harus menjelaskan tentang sejarah yang berlangsung sebelum dan sesudahnya beserta dengan segala terisolasi dari ruang dan waktu yang terkondisi oleh sejarah di sekitarnya.

Keempat, pendekatan universalisme, yaitu pendekatan yang menekankan kasih kepada sesama manusia selain kasih kepada Allah. Kasih kepada manusia adalah esensial karena hal itu adalah suatu pemikiran yang mengandung unsur revolusioner dan bersifat murni keagamaan. Yang dimaksud dengan revolusioner adalah bahwa kasih kepada manusia akan secara universal merembes ke dalam masyarakat serta mempengaruhi kehidupan komunitas manusia,kebudayaan,bahkan keluarga, yaitu unit terkecil di populasi. Karena konsep universal yang satu inilah, kekristenan menjadi satu agama yang berbeda dan tidak terlampaui oleh misalnya Stoisisme dalam dasar pemikirannya, pendekatannya serta hasil yang dicapainya. Walaupun demikian kekristenan harus mengakui adanya kemungkinan timbulnya kasih yang universal itu di antara keyakinan iman yang lain.

Kelima, pendekatan akomodasi,yaitu upaya adaptasi dan kompromi yang dilakukan oleh gereja sepanjang sejarah mula-mula sampai hari ini. Tipologi gereja (church type) yang dimaksud adalah satu jenis adaptasi yang selalu dilakukan oleh gereja dalam rangka menyesuaikan keberadaan dan misinya di dalam dunia. Menurut Troektsch, tipologi gereja yang melakukan akomodasi terindentifikasikan pada ajaran dan misiologi dari rasul Paulus. Gereja dalam tipologi ini walaupun berada pada posisi konservatif dalam hal etika sosial, namun demikian gereja yang diwakili mulai dari rasul Paulus ini senantiasa menerima atau merangkul sebanyak mungkin strata-strata sosial yang sekuler. Menurutnya, Gereja Roma Katolik adalah contoh dari tipologi ini, yaitu gereja yang selalu konsisten dalam melakukan akomodasi. Sedangkan Gereja Protestan gagal mengembangkan pola akomodasi yang sama.**24

Dalam konteks pemikiran Troeltsch demikian, semangat yang mewarnai teologi di masa mendatang agaknya masih sedikit banyak tertumpu pada dasat tersebut. Misalnya, ketika teologi Kristen menghadirkan ajaran tentang finalitas atau inkarnasi Kristus dalam lingkup kristologi, cukup banyak teolog di masa kini baik yang modern atau pascamodern yang mempermasalahkannya. Sebagai contoh, menurut Wilfred Cantwell Smith, seorang teolog terkemuka dari Harvard, ajaran mengenai finalitas Kristus hanya dianggap benar bagi orang yang menerimanya secara pribadi.**25 Benar bagi anda, tetapi tentu tidak demikian bagi saya. Maka bagi Smith hanya melalui pendekatan subjektif inilah, yaitu mengakui adanya analogi iman di antara agama-agama, kekristenan dapat menjadi relevan dan beradaptasi dengan keyakinan iman lainnya tanpa harus menegaskan unsur yang sifatnya absolut yang akhirnya hanya melahirkan konflik.

Teolog lain yang berpendirian sama seperti di atas adalah John Hick. Selain menolah klaim yang eksklusif berkenaan dengan finalitas Kristus, Hick mengajukan sebuah bentuk pemahaman yang baru yang diyakininya mengena bagi semua agama, yaitu bahwa manusia harus menerima konsep adanya "The Eternal One" atau "The Real" yang tidak lain adalah "Allah" sebagai pusat dari semua kesadaran beragama. Dengan membentuk dan mengakui tataran baru tersebut, semua agama--yang walaupun berbeda pada segi gambaran dan pengenalan ilahinya--harus melakukan refleksi dan mengacu pada "The Eternal One."**26 Dari sini semakin jelas terjadi pergeseran paradigma dari kristosentrisme kepada teosentrisme, dari pembicaraan yang berpusat pada Kristus kepada "Allah" dari semua agama.**27

Pendekatan model ini yang disukai oleh tokoh pluralisme lain yang bernama Paul Knitter, seorang teolog dari kalangan Katolik Roma. Menurutnya, kepercayaan akan finalitas dan normativitas Kristus yang merupakan pemberitaan esensial orang Kristen harus ditinggalkan.**28 Alasannya, orang yang berpegang pada keyakinan pluralisme hanya dapat bertumpu pada "a theo-centric theology of religions, based on a theocentric, nonnormative reinterpretation of the uniqueness of Jesus Christ."**29 Dengan perkataan lain pendirian eksklusif yang seringkali dijumpai ada pada kalangan injili harus ditinggalkan, karena "new perception of religious is pushing our cultural consciousness toward the simple but profound insight that there is no one and only way."**30

Di kalangan kaum pluralis ada satu keyakinan bahwa Yesus Kristus sendiri tidak pernah memberikan penegasan mengenai keunikan dan finalitas tentang diri-Nya; Ia tidak pernah mengklaim diri-Nya sebagai Allah. Yang membesar-besarkan ajaran tersebut sebenarnya hanyalah para rasul yang mengkotbahkan suatu jenis kristologi yang Yesus sendiri tidak pernah ajarkan. Apa yang justru dapat dipelajari dari Yesus adalah Ia membawakan suatu injil bukan tentang diri-Nya, melainkan tentang Allah Bapa yang mengasihi semua manusia. Jadi, tekanannya adalah pada suatu paradigma Kristen yang teosentris bukan kristosentris.**31 Posisi yang demikianlah yang dengan bangga disebut oleh John Hick sebagai sebuah "Revolusi Copernicus" dalam kristologi, yaitu suatu pergeseran yang drastis dan berani dari pandangan Kristen tradisional yang terfokus pada Kristus memasuki suatu jenis perspektif yang berpusat pada Allah. Alhasil, kekristenan yang tadinya ada di tengah lingkaran sebagai pusat dan agama lain mengintari lingkaran, sekarang telah digeser menjadi: kekristenan bersama-sama agama lain mengintari lingkaran di mana yang berperan sebagai pusat adalah Allah.**32

Dengan posisi pandangan seperti di atas, dapatkah teologi yang dibangun oleh para tokoh pluralisme tetap dianggap sebagai teologi yang selaras dengan dasar iman Kristen? Jawabnya adalah jelas tidak. Menurut Alister E. McGrat,

Pluralism...possesses a certain tendency to self-destruction ... Pluralism is fatally vulnerable to the charge that it reaches an accommodation between Christianity and other religions traditions by wilfully discarding every distinctive Christian doctrine traditionally regarded as identity-giving and identity-preserving... The "Christianity" that is declared to be homogeneous with all other "higher religions" would not be recognizable as such to most of its adherents. It would be a theologically, Christologically and soteriologically reduced version of the real thing.**33

Dengan perkataan lain, tindakan melakukan akomodasi dan reduksi terhadap iman Kristen demi untuk dialog dan toleransi terhadap agama lain telah menyebabkan kaum pluralis menjual murah dasar iman Kristen serta sekaligus membentuk sejenis teologi yang asing bagi orang Kristen sendiri. Apakah ini harga yang harus dibayar untuk yang namanya "keterbukaan" dan "relevansi" iman? Rasanya terlalu "dilelang" murah nilai iman Kristen itu sendiri.

PENUTUP

Di dalam artikel ini penulis telah mencoba memberikan sedikit gambaran peta pengaruh teologi di masa lampau (segi retrospektif) serta kemungkinan arah bergeraknya kecenderungan perkembangan teologi di masa mendatang (segi prospektif). Apa yang telah dipaparkan tersebut dapat terjadi seluruhnya atau barangkali hanya sebagian saja. Tetapi sebagai seorang pengamat teologi dan pengajar, penulis melihat suatu kenyataan saat ini yang belum tentu terlalu enak untuk dikatakan di sini: Gereja sepertinya belum siap menghadapi laju perkembangan dunia yang semakin jauh dari kehendak Tuhan dan firman-Nya. Sebagian orang Kristen justru terlihat terlalu sibuk dengan urusan sekular, bahkan larut dan menjadi serupa dengan dunia ini yang telah memiliki pola berpikir yang jauh berbeda dengan pola berpikir kerajaan Allah. Sebagian lagi larut di dalam pesta pentas kehidupan rohani yang seolah terpisah dari dunia dan sekaligus tidak ada waktu lagi untuk memandang keluar untuk membedakan dan menguji mana "Roh kebenaran" dan mana "roh yang menyesatkan" yang ada dalam dunia ini (1Yoh 4:6).

Akibatnya, orang Kristen awam akan terbawa dalam arus dan gelombang sekular tersebut dan mulai meragukan posisi teologi ortodoks yang telah berlangsung selama berabad-abad. Tetapi hal ini tidak boleh berlangsung terus menerus. Kita harus menutup abad 20 ini tidak seperti ketika teologi liberalisme memulainya, yaitu mengisi tahun-tahun kehidupan gereja dengan kegelapan karena tidak ada firman Tuhan di sana. Maka yang terpenting sekarang adalah gereja dan orang Kristen harus sungguh-sungguh menjelang millenium yang baru berusaha mengerti kecenderungan yang berkembang pada zaman ini, menyadari arah berubahnya teologi dan menyiapkan cara-cara untuk menghadapinya agar iman Kristen yang unik itu tetap dapat disampaikan secara efektif dan produktif bagi zaman ini.

Catatan Kaki :

**1. Abad ialah masa seratus tahun, yaitu dari tahun satu hingga seratus, sehingga abad pertama mulai pada hari pertama tahun 1 sampai ke hari terahir tahun 100. Abad 20 Masehi berarti dimulai pada 1 Januari 1901 dan akan berakhir pada 31 dan akan berakhir pada 31 Desember 2000. Dengan demikian awal abad 21 baru mulai pada 1 Januari 2001 dan tidak pada tahun 2000. Hal ini juga berarti masa tahun 1 hingga tahun 1000 adalah masa satu millenium atau millennium pertama, dan tahun 1001 hingga 2000 adalah masa satu millenium atau millenium kedua, dan tahun 2001 hingga tahun 3000 nanti (kalau ada yang masih bisa hidup sampai waktu itu) adalah juga masa satu millennium atau millenium ketiga.

**2. Bdk. apa yang pernah terjadi dalam perkembangan pemikiran teknologi karya: H. Berkhot, Two Hundred Years of Theology: Report of a Personal Journey (Grand Rapids: Eerdmans, 1989), G.C. Berkouwer, A Half Century of Theology: Movements and Motives (Grand Rapids: Eerdmans, 1979).

**3. Itulah sebabnya dari satu sisi C.S. Song tidak dapat terlalu disalahkan ketika ia mengumandangkan bahasa "Theo-logy must be anthro-pology" (Tell Us Our Names: Story Theology from an Asian Perspective [Maryknoll: Orbis, 1984] 37). Tetapi persoalannya: Dapatkah teologi secara radikal dikonversikan menjadi anthropologi?

**4. Alkitab justru secara seimbang mengajarkan keberadaan Allah yang transenden (mis. 1Raj 8:23; Yes 6:1; Pkh 5:2) tetapi juga yang sekaligus immanen (1Raj 8:11; Kis 17:27-28).

**5. Bdk. Klaas Runia, "The Challenge of the Modern World to the Chruch," Evangelical Review of Theology 18/4 (October 1994) 304-305.

**6. Melalui karyanya yang terkenal Honest to God (Philadelphia: Westminster, 1963).

**7. Bukunya yang terkenal The Secular City (New York: Macmillan, 1965).

**8. Dalam karyanya Letters and Papers from Prison (London: Collins, Fontana Books, 1953), Bonhoeffer memang menuliskan bahwa dunia dan manusia akan memasuki zaman yang baru di mana manusia akan mendapatkan suatu bentuk kekristenan yang lepas dari "cengkraman" sekat keagamaan (religionless Christianity). Bukan itu saja, dunia juga akan memasuki masa absennya Allah (the world without God). Kebanyakan teolog merasakan adanya hal yang belum jelas tentang apa yang dimaksudkan oleh Bonhoeffer. Paling banter yang dapat dikatakan adalah bahwa ia hanya menyediakan terminologi yang rupanya amat digemari oleh teolog ekstrim waktu itu.

**9. Dalam bahasa Carl F.H. Henry, Bonhoeffer tidak pernah memaksudkan tulisannya sebagai suatu "prolegomenon to religious positivism ("Where is Modern Theology Going?," Bulletin of the Evangelical Theological Society 11/1 [Winter 1968] 4; bdk. Georg Huntemann, The Other Bonhoeffer: An Evangelical Reasessment of Dietrich Bonhoeffer [Grand Rapids: Baker, 1993] 161).

**10. Majalah TIME edisi Januari 1998 dalam rubrik Science melaporkan berita tentang seorang ahli fisika yang eksentrik, Richard Seed, yang berniat membuka sebuah klinik khusus untuk meng-clone atau menggandakan manusia di Chicago, Amerika Serikat. Ia berkata: "God made man in his own image....God intended for man to become one with God. Cloning...is the first serious step in becoming one with God" (h. 32). Semangat otonom seperti ini lambat laun juga akan terus merambah dunia teologi.

**11. Lih. pandangan Wolfhart Pannenberg, "How to Think About Secularism," First Things 64 (June-July 1996) 27-32.

**12. Misalnya, seburuk-buruknya humanisme sekular yang dianut oleh Julian Huxley, ia masih kadang-kadang mengakui bahwa posisinya adalah agnostik tentang keberadaan Allah, yang artinya dia tidak tahu ada tidaknya Allah. Ia mengaku bahwa dibutuhkan sejenis "iman" untuk membangun kepercayaan tentang Allah yang baginya tidak mungkin dijangkau manusia (Religion Without Revalition [New York: Mentor 1957] 16, 18). Masalah yang utama bagi Huxley adalah ia tidak mau percaya dan sekaligus bersikap agnostik yang sama saja dengan menyangkali kemampuan dirinya atau orang lain untuk mengetahui keberadaan Allah itu (h. 19).

**13. Christ and Culture (New York: Happer Torchbooks, 1951) 149 dst. Pada subjudul aslinya Niebuhr memberi tema "Christ and Culture in Paradox."

**14. Lih. F. H. Klooster, "Revelation and Scripture in existentialist Theology" dalam Challenges to Inerrancy: A Theological Response (ed. G. R. Lewis & B. Demarest; Chicago; Moody, 1984) 178-179.

**15. Walaupun terdapat tokoh eksistensialis lain yang cukup terkenal (seperti Martin Heidegger, Friedrich Nietzche, Fedor Dostoevsky, Karl Jaspers, Albert Camus dan Jean Paul Sartre), Kierkegraad tetap masih dianggap sebagai perintis di abad 19.

**16. Colin brown, Philosophy and the Christian Faith (London: Tyndale, 1968) 128.

**17. Menurut Carl F.H. Henry, istilah postmodernis pertama kali dipergunakan oleh John Cobb pada tahun 1964; kemudian penggunaan istilah itu diikuti oleh Jacques Derrida, Richard Rorty, Michael Foucalt, Stanley Fish, David Tracy, George Lindbeck of Postmodernism: An Evangelical Engagement [ed. D. S. Dockery; Wheaton: BridgePoint, 1995] 35).

**18. Bdk. Charles Colson dan Nancy Pearcey, "Poster Boy for Postmodernism," Christianity Today 42/13 (November 16, 1998) 120.

**19. Bila ada yang bertanya: Bagaimana caranya mereka menolak kebenaran yang objektif itu, maka jawabnya adalah dengan mengembangkan tradisi interpretasi terhadap cerita yang bersifat lokal atau naratif. Validitas yang dibangun adalah validitas interpretasi yang terbatas dan subjektif. Karena sifatnya yang terbatas dan subjektif, maka interpretasi terhadap naratif yang berasal dari manapun tidak boleh dimutlakkan, termasuk semua cerita yang ada dalam Alkitab.

**20. The Gospel in a Pluralist Society (Grand Rapids: Eerdmans, 1989). 1. Karena pelayanannya melayani sebagai missionaris di India selama hampir 40 tahun, rasanya cukup tepat bagi Newbigin untuk memaparkan sekelumit masalah perjumpaan iman Kristen ketika berhadapan dengan masyarakat pluralis dalam konteks pelayanannya di sana.

**21. Untuk mempelajari bagaimana bapa-bapa gereja menghadapi peganisme Romawi, lihat R. L. Wilken, "Religious Pluralism and Early Christian Theology," Interpretation 40/4 (October 1986) 379-391.

**22. D. A. Carson, "Christian Witness in an Age of Pluralism" dalam God and Culture: Essays in Honor of Carl F. H. Henry (ed. D. A. Carson & J. Woodbridge; Grand Rapids; Eerdmans, 1993). 33

**23. Sebenarnya Troeltsch adalah seorang filsuf dan ahli teori ilmu sosial. Ia pernah mengecap pendidikan di Erlangen, Berlin dan Gottingen, ia belajar di bawah bimbingan Albrecht Titschl, salah seorang tokoh teologi liberalisme. Dalam karirnya ia menjadi profesor di Universitas Heidelberg pada usia yang masih amat muda, yaitu 29 tahun. Ia juga adalah seorang ahli politik serta memiliki pandangan teologi yang tidak jauh berbeda dari gurunya, yaitu teologi liberalisme.

**24. Lih. Ernst Troeltsch, The Social Teaching of the Christian Churches (2 vols. ET; Chicago: University of Chicago, Press, 1960) 61-68, 328-343.

**25. "A Human View of Truth" dalam Truth and Dialogue in World Religons: Conflicting Truth-Claims (ed. J. Hick; Philadelphia: Westminster, 1974) 35; bdk. tulisan Smith yang lain: The Meaning and End of Religion (New York: Harper and Row, 1978) 322 dan Questions of Religious Truth (London: V. Gollancz, 1967). 67-68.

**26. God Has Many Names (Philadelphia: Westminster, 1982) 36. Sama seperti Hick, menurut J. Dupuis: "If Christianity sincerely seeks a dialogue with other religious traditions--which it can only seek on a footing of equality--it must first of al renounce any claim to uniqueness for the person and work of Jesus Christ as a universal constitutive element of salvation" (Jesus Christ at the Encounter of World Religions [Faith Meet Faith Series; Maryknoll: Orbis, 1991] 106).

**27. Hal inilah yang diamati oleh John Sanders yang terjadi pada para penganut pluralisme. Menurutnya: "Radical pluralists do not believe that Christianity is the one true or even highest religion in which the other major religions find their fulfillment; they believe that all religions are valid and none may truthfully claim supremacy. They urge Christians to move from a Christ-centered faith that excludes other people to a God-centered faith that includes other by claiming that all religions are acceptable. It is not enough, say pluralists, to say all people will be saved in the lifeboat of Christ; we need to affirm that all people already have their own lifeboat and don't need another one" (No Other Name: An Invetigation into the Destiny of the Destiny of the Univangelized [Grand Rapids: Eerdmans, 1992] 115-116).

**28. No other Name?: A Critical Survey of Christian Attitudes Toward the World Religions (Maryknoll: orbis, 1986) 143.

29. Ibid. 200.

**30. Ibid. 5 [penegasan ada pada tulisan aslinya]. Jikalau kita bertanya: Bagaimana bangsa-bangsa lain diselamatkan? Knitter akan menjawab: "The universal possibility of salvation was clearly recognized but especially during the first half of twentieth century Catholic theologians came up with ingenious concepts to include within the church all traces of salvation outside it; saved non-Christians belonged to the 'soul' of the church; they members 'imperfectially,' 'potentially (h. 123).

**31. S. W. Ariarajah, The Bible and People of Other Faiths (Geneva: WCC, 1985) 21-31. Lih. juga pendapat dari penulis yang sama dalam "Religious Plurality and Its Challenge to Christian Theology," Perspectives 5/2 (February 1990) 9.

**32. God and the Universe of Faith (London: Collins, 1977) 131.

**33. "The Christian Chruch's Response to Pluralism," Journal of the Evangelical Teological Society 35/4 (December 1992) 489.

Sumber: 

Judul
Volume
Halaman
Penulis
Penerbit
:
:
:
:
:
Jurnal Teologi dan Pelayanan "Veritas"
I No. 1 (April 2000)
3 - 17, 115 - 121
Daniel Lukas Lukito
Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT)

Komentar


Syndicate content