Praktika

Teologia Praktika adalah teologia yang berisi penerapan pengajaran Alkitab dalam kehidupan praktis untuk pembangunan, pengudusan, pembinaan, pendidikan dan pelayanan umat Tuhan.

Tujuh Menit Bersama Tuhan

Edisi: 
036/II/2003
Isi: 
Cara Merencanakan Saat Teduh

,,, Istilah apa saja yang saudara pakai untuk "waktu bersekutu dengan Tuhan" bukan soal, misalnya: waktu teduh, saat teduh, sesaat dengan Allah, renungan pribadi, kebaktian perorangan atau lain sebagainya. Menit-menit yang suci pada permulaan tiap hari, itulah yang menjadi rahasia inti daripada kuasa kehidupan Kristen. Itulah yang menjadi benang emas yang mengikat satu dengan yang lain antara tiap-tiap orang yang dipakai Tuhan secara luar biasa dari Abraham sampai Billy Graham, orang kaya maupun orang miskin, orang pengusaha atau orang militer. Tiap-tiap orang Kristen yang mau dipakai oleh Tuhan harus mengutamakan rencana bersekutu bersama-sama dengan Tuhan tiap-tiap hari.

Daud berseru di Mazmur 37:8, "Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap ..." Hati yang siap dan mantap senantiasa menghasilkan hidup yang tidak mudah tergoyangkan. Hanyalah sedikit orang Kristen yang mempunyai hati dan hidup seperti itu. Salah satu kekurangan adalah rencana yang praktis untuk memulai dan melangsungkan pertemuan pribadi dengan Allah secara teratur tiap hari.

Saya ingin menyarankan kepada saudara mulai dengan membatasi waktu hanya tujuh menit saja. Apakah saudara rela memakai waktu sebanyak tujuh menit tiap-tiap hari untuk bersekutu bersama-sama dengan Tuhan? Bukan lima hari seminggu. Bukan juga enam hari seminggu untuk bersama Tuhan, tetapi tujuh hari dalam satu minggu bersama Tuhan! Mohonlah pertolongan Tuhan. Dalam permohonan itu mungkin saudara berkata, "Tuhan, saya ingin bertemu dengan Engkau besok pagi, selama sekurang- kurangnya tujuh menit. Besok pada jam 5.00 saya mempunyai rencana bertemu dengan Engkau."

Pagi harinya saudara harus berdoa lagi. Mungkin saudara ingin berdoa: "Tuhan, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu" (Mazmur 5:4).

Bagaimana caranya saudara memakai waktu tujuh menit itu? Inilah resepnya. Sesudah keluar dari tempat tidur dan membereskan keperluan pribadi, hendaklah saudara mencari tempat yang teduh dan suasana yang sunyi untuk menikmati persekutuan dengan Allah melalui membaca Firman-Nya dan berdoa.

DOA PERSIAPAN

Pakailah 30 detik yang pertama untuk mempersiapkan hati saudara. Ucapkanlah terima kasih atas pemeliharaan Tuhan semalam dan kesempatan-kesempatan dan pemeliharaan-Nya yang tersedia dalam hari yang baru itu.

Kemudian berdoalah seperti ini, "Tuhan Yesus, sucikanlah hatiku supaya Engkau dapat berbicara kepadaku melalui Firman-Mu. Bukalah hatiku! Penuhilah hatiku dengan Roh-Mu! Jadikanlah pikiranku tajam, jiwaku peka, hatiku terbuka! Tuhan Yesus, kelilingi aku dengan kebesaran kasih dan kuasaMu selama waktu ini! Dalam namaMu aku berdoa. Amin."

PEMBACAAN ALKITAB

Nah, sekarang selama empat menit saudara membaca Alkitab. Kebutuhan pertama adalah mendengarkan Firman dari Allah! Biarkanlah Firman itu memberi terang dalam hati saudara. Usahakanlah pertemuan dengan Tuhan seindah mungkin.

Mulailah pembacaan Alkitab dari salah satu kitab Injil, misalnya Injil Markus. Bacalah secara berurutan pasal demi pasal, ayat demi ayat. Bacalah ayat demi ayat pelan-pelan dengan penuh pengertian. Pembacaan Alkitab ini dilakukan semata-mata untuk menikmati Firman Allah dan mendengarkan Allah berbicara kepada saudara. Mungkin hanya 10 ayat, mungkin juga satu pasal penuh.

Apabila saudara telah menyelesaikan Injil Markus, lanjutkanlah dengan Injil Yohanes. Kemudian saudara perlu meneruskan sampai seluruh Perjanjian Baru selesai saudara baca dan selidiki.

Sesudah Tuhan berbicara kepada saudara melalui kitab-Nya, saudara perlu membalas dalam doa. Sekarang saudara mempunyai dua menit 30 detik untuk bersekutu dengan Dia dalam empat kawasan doa berikut.

DOA PUJIAN

Jenis doa ini adalah doa yang paling murni, sebab dalam doa ini tidak ada sama sekali unsur mementingkan atau menguntungkan diri. Sebagaimana saudara tidak boleh menghadap seorang raja tanpa kata-kata yang patut, demikian juga dengan Allah. Sembahlah Dia. Renungkan kebesaran-nya, kuasa-Nya dan kedaulatan-Nya!

DOA PENGAKUAN DOSA

Doa ini menyatakan kesadaran kita mengenai keberadaan kita dan keberadaan Allah. Dalam hal ini kita harus sadar bahwa Allah berada di tempat mahatinggi dan mahasuci, sedangkan kita berada di tempat kotor dan hina yang penuh dengan kenajisan. Keadaan kita yang penuh dengan dosa itulah yang harus kita akui di hadapan Allah dan harus kita tinggalkan pula bila kita menghadapi-Nya.

Dalam bahasa aslinya kata "pengakuan" berarti "menyetujui bersama dengan." Dalam hubungannya dengan hal dosa, "pengakuan" berarti "setuju dengan pendapat Allah tentang dosa itu." Supaya saudara mendapat gambaran yang jelas mengenai dosa itu dan sikap Allah terhadap dosa, bacalah Mazmur 66:18. "Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar." Oleh karena itu, akuilah dosa saudara.

DOA PENGUCAPAN SYUKUR

Doa ini menyatakan kesadaran kita akan besarnya pemeliharaan dan berkat Allah atas kita. Nyatakanlah terima kasih kepada Tuhan. Pertama-tama, karena pengampunan dosa saudara yang baru saja diampuni sesuai dengan janji-Nya dalam 1 Yohanes 1:9.

Ingatlah beberapa hal yang khusus yang mendorong saudara untuk mengucapkan syukur. Misalnya, ucaplah syukur atas pekerjaan saudara dan pelayanan saudara di gereja. Bersyukurlah atas ujian-ujian dan kesulitan-kesulitan yang saudara alami, yang semuanya dapat teratasi melalui pertolongan-Nya. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18).

DOA PERMOHONAN

Doa ini menyatakan keperluan yang saudara pinta kepada Allah. Meminta dengan sungguh-sungguh dan rendah hati. Meminta untuk orang lain, juga untuk diri sendiri.

Doakanlah orang-orang di keluarga dan di lingkungan sendiri. Doakanlah orang-orang di seluruh dunia, misalnya utusan-utusan Injil dan teman- teman di tempat yang jauh. Dan jangan lupa mendoakan jutaan orang di banyak negara yang belum pernah mendengar kabar kesukaan tentang Yesus Kristus.

Marilah kita menyimpulkan tujuh menit itu.

TUJUH MENIT BERSAMA TUHAN
1/2 menit - Doa PersiapanMazmur 143:8
4 menit - Pembacaan AlkitabMazmur 119:18
Doa
1/2 menit - Pujian1 Tawarikh 29:11
1/2 menit - Pengakuan Dosa1 Yohanes 1:9
1/2 menit - Pengucapan SyukurEfesus 5:20
Permohonan Untuk ...
1/2 menit - ... Diri SendiriMatius 7:7
1/2 menit - ... Orang LainEfesus 6:18-20

Rencana ini bukannya jimat, tetapi pedoman. Kalau saudara melakukannya dengan teratur, maka saudara akan merasakan bahwa waktu tujuh menit kurang cukup lama. Pasti saudara tidak mau lagi membatasi waktu saudara dengan Tuhan hanya tujuh menit. Nanti akan terjadi hal yang menakjubkan. Tujuh menit menjadi duapuluh menit, dan tidak lama kemudian saudara akan menikmati tigapuluh menit yang sangat indah dengan Dia. Janganlah melakukan hal di atas sebagai suatu kebiasaan saja, tetapi lakukanlah itu sebagai suatu pernyataan kerinduan bertemu dengan Yesus, Tuhan saudara. Tuhan telah memberi saudara kesempatan yang tak dapat dinilai harganya, yaitu kesempatan untuk bersekutu dengan dia.

Buatlah perjanjian dengan Allah sekarang juga untuk mengadakan memupuk dan melanjutkan terus-menerus pertemuan saudara dengan Tuhan selama tujuh menit atau lebih tiap-tiap hari. Bila saudara merasa bahwa tujuh menit itu tidak cukup lama, perpanjanglah waktu itu. Bolehlah 15 menit, 30 menit, satu jam, dan lain sebagainya.

Sumber: 

Sumber:Traktat
Catatan:Disadur dengan ijin Para Navigator Untuk Orang Kristen
Penerbit:LLB (LEMBAGA LITERATUR BAPTIS)

Surat-surat Terbuka kepada Pendeta

Dear Reformed Netters,

Howard F. Sugden dalam bukunya yang ditulis bersama-sama dengan Warren W. Wiersbe dan Paul R. Van Gorder, yang berjudul "Prioritas Seorang Pendeta" menuliskan:

"Ketika tiba saatnya untuk membicarakan tugas-tugas pelayanan pendeta, saya menyarankan agar digunakan kata 'gembala' sebagai salah satu istilah untuk menggambarkan pekerjaan yang harus dikerjakan oleh seorang hamba Tuhan dalam hubungan dengan jemaatnya (sebab istilah ini sesuai dengan Kitab Suci). Tetapi ada seseorang yang mengajukan sanggahan, 'Dewasa ini tidak seorang pun yang mengetahui apa gembala itu dan apa yang diperbuatnya dalam dunia kita sekarang ini.' Nampaknya ada pemikiran untuk memperbaharui anggaran dasar sekarang ini dan jangan kembali kepada jaman gembala dahulu.
Saya hampir tak sabar untuk kembali ke ruang belajar, membuka konkordansi dan kamus 'Theological Dictionary of the New Testament' karangan Kittel untuk menyegarkan kembali hati saya dengan kata 'gembala' yang dipakai untuk menyebut Tuhan kita dan hamba-Nya sepanjang jaman. Saya menemukan bahwa kata 'gembala' atau 'domba' itu digunakan lebih dari empat puluh kali dalam kitab Perjanjian Baru, dan Kittel menjelaskan pokok itu sebanyak tujuh belas halaman.
Tapi betul juga teman saya yang membuat sanggahan itu. Siapakah orang yang hidup pada jaman ini; jaman dimana ada kota-kota besar dan ramai, jalan-jalan lintas cepat, dengan berbagai transportasi modern serta banyak tempat rekreasi, yang masih tahu memikirkan tentang 'domba' dan 'gembala'?"

Jika Anda adalah seorang "gembala" (pemimpin jemaat), ketika membaca kutipan di atas mungkin Anda merasa tersanjung mendapat sebutan sebagai seorang "gembala" karena Yesus sendiri menyebut diri sebagai "Gembala" dan tugas yang diemban oleh "gembala" sangatlah dihargai oleh Tuhan. Menjadi "gembala" merupakan panggilan yang mulia, melakukan tugas sebagai seorang "gembala" merupakan suatu "hak istimewa" yang tidak Tuhan berikan kepada setiap orang, tapi hanya kepada orang-orang tertentu saja.

Tapi jika Anda seorang "domba" (jemaat), maka kutipan di atas membuat anda merasa tersanjung, karena bagi "domba" memiliki "gembala" artinya seperti mendapatkan "hak istimewa" untuk dilayani. Maka tidak heran jika Anda menginginkan seorang "gembala" yang selalu siap sedia melayani dan melindungi 'domba-domba-Nya, kalau perlu 24 jam. Anda akan jengkel kalau mendengar "gembala" yang mengeluh atau mengharapkan pujian dari apa yang dilakukannya, karena sebagai seorang "gembala" sudah sepantasnya kalau ia menderita dan berkorban bagi domba-domba- Nya.

Melihat kontras dua pemikiran di atas, saya tertarik untuk mengutipkan beberapa surat-surat terbuka yang ditulis oleh 'domba-domba" yang ditujukan kepada "gembala-gembala"nya. Sangat menarik mengetahui apa yang dipikirkan oleh "domba-domba" tentang "gembala-gembala"nya. Namun sambil anda membaca kutipan surat-surat tsb., saya mengajak anda untuk merenungkan dan menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini:

  1. Jika anda seorang "gembala" jemaat:
    1. Pernahkah anda memahami tugas berat yang harus diemban seorang "gembala"?
    2. Apa reaksi anda bila anda menerima surat-surat seperti itu?
    3. Inginkah anda menerima surat-surat seperti itu dari "domba- domba" anda?
    4. Dalam hal bagaimana anda pantas menerima pujian-pujian dari "domba-domba" anda?
    5. Dalam hal bagaimana anda pantas menerima kritikan-kritikan dari "domba-domba" anda?
  2. Jika anda seorang "domba" jemaat:
    1. Pernahkan anda memahami beratnya tugas seorang "gembala" jemaat?
    2. Pernahkah anda mensyukuri apa yang "gembala" anda lakukan bagi "domba-domba" jemaatnya?
    3. Bagaimana reaksi "gembala" anda jika anda menulis surat-surat seperti itu kepadanya?
    4. Pernahkah anda menyatakan penghargaan kepada 'gembala" anda secara terbuka?
    5. Apa pentingnya bagi "gembala" anda untuk mengetahui apa yang anda pikirkan tentang dia dan tugasnya?

Selamat merenungkan. Kiranya kiriman saya ini dapat menjadi berkat bagi ke dua belah pihak; "gembala" dan "domba".

In Christ,
Yulia

Editorial: 

Dear Reformed Netters,

Howard F. Sugden dalam bukunya yang ditulis bersama-sama dengan Warren W. Wiersbe dan Paul R. Van Gorder, yang berjudul "Prioritas Seorang Pendeta" menuliskan:

"Ketika tiba saatnya untuk membicarakan tugas-tugas pelayanan pendeta, saya menyarankan agar digunakan kata 'gembala' sebagai salah satu istilah untuk menggambarkan pekerjaan yang harus dikerjakan oleh seorang hamba Tuhan dalam hubungan dengan jemaatnya (sebab istilah ini sesuai dengan Kitab Suci). Tetapi ada seseorang yang mengajukan sanggahan, 'Dewasa ini tidak seorang pun yang mengetahui apa gembala itu dan apa yang diperbuatnya dalam dunia kita sekarang ini.' Nampaknya ada pemikiran untuk memperbaharui anggaran dasar sekarang ini dan jangan kembali kepada jaman gembala dahulu.
Saya hampir tak sabar untuk kembali ke ruang belajar, membuka konkordansi dan kamus 'Theological Dictionary of the New Testament' karangan Kittel untuk menyegarkan kembali hati saya dengan kata 'gembala' yang dipakai untuk menyebut Tuhan kita dan hamba-Nya sepanjang jaman. Saya menemukan bahwa kata 'gembala' atau 'domba' itu digunakan lebih dari empat puluh kali dalam kitab Perjanjian Baru, dan Kittel menjelaskan pokok itu sebanyak tujuh belas halaman.
Tapi betul juga teman saya yang membuat sanggahan itu. Siapakah orang yang hidup pada jaman ini; jaman dimana ada kota-kota besar dan ramai, jalan-jalan lintas cepat, dengan berbagai transportasi modern serta banyak tempat rekreasi, yang masih tahu memikirkan tentang 'domba' dan 'gembala'?"

Jika Anda adalah seorang "gembala" (pemimpin jemaat), ketika membaca kutipan di atas mungkin Anda merasa tersanjung mendapat sebutan sebagai seorang "gembala" karena Yesus sendiri menyebut diri sebagai "Gembala" dan tugas yang diemban oleh "gembala" sangatlah dihargai oleh Tuhan. Menjadi "gembala" merupakan panggilan yang mulia, melakukan tugas sebagai seorang "gembala" merupakan suatu "hak istimewa" yang tidak Tuhan berikan kepada setiap orang, tapi hanya kepada orang-orang tertentu saja.

Tapi jika Anda seorang "domba" (jemaat), maka kutipan di atas membuat anda merasa tersanjung, karena bagi "domba" memiliki "gembala" artinya seperti mendapatkan "hak istimewa" untuk dilayani. Maka tidak heran jika Anda menginginkan seorang "gembala" yang selalu siap sedia melayani dan melindungi 'domba-domba-Nya, kalau perlu 24 jam. Anda akan jengkel kalau mendengar "gembala" yang mengeluh atau mengharapkan pujian dari apa yang dilakukannya, karena sebagai seorang "gembala" sudah sepantasnya kalau ia menderita dan berkorban bagi domba-domba- Nya.

Melihat kontras dua pemikiran di atas, saya tertarik untuk mengutipkan beberapa surat-surat terbuka yang ditulis oleh 'domba-domba" yang ditujukan kepada "gembala-gembala"nya. Sangat menarik mengetahui apa yang dipikirkan oleh "domba-domba" tentang "gembala-gembala"nya. Namun sambil anda membaca kutipan surat-surat tsb., saya mengajak anda untuk merenungkan dan menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini:

  1. Jika anda seorang "gembala" jemaat:
    1. Pernahkah anda memahami tugas berat yang harus diemban seorang "gembala"?
    2. Apa reaksi anda bila anda menerima surat-surat seperti itu?
    3. Inginkah anda menerima surat-surat seperti itu dari "domba- domba" anda?
    4. Dalam hal bagaimana anda pantas menerima pujian-pujian dari "domba-domba" anda?
    5. Dalam hal bagaimana anda pantas menerima kritikan-kritikan dari "domba-domba" anda?
  2. Jika anda seorang "domba" jemaat:
    1. Pernahkan anda memahami beratnya tugas seorang "gembala" jemaat?
    2. Pernahkah anda mensyukuri apa yang "gembala" anda lakukan bagi "domba-domba" jemaatnya?
    3. Bagaimana reaksi "gembala" anda jika anda menulis surat-surat seperti itu kepadanya?
    4. Pernahkah anda menyatakan penghargaan kepada 'gembala" anda secara terbuka?
    5. Apa pentingnya bagi "gembala" anda untuk mengetahui apa yang anda pikirkan tentang dia dan tugasnya?

Selamat merenungkan. Kiranya kiriman saya ini dapat menjadi berkat bagi ke dua belah pihak; "gembala" dan "domba".

In Christ,
Yulia

Edisi: 
032/IX/2002
Isi: 

"Ketika tiba saatnya untuk membicarakan tugas-tugas pelayanan pendeta, saya menyarankan agar digunakan kata 'gembala' sebagai salah satu istilah untuk menggambarkan pekerjaan yang harus dikerjakan oleh seorang hamba Tuhan dalam hubungan dengan jemaatnya (sebab istilah ini sesuai dengan Kitab Suci). Tetapi ada seseorang yang mengajukan sanggahan, 'Dewasa ini tidak seorang pun yang mengetahui apa gembala itu dan apa yang diperbuatnya dalam dunia kita sekarang ini.' Nampaknya ada pemikiran untuk memperbaharui anggaran dasar sekarang ini dan jangan kembali kepada jaman gembala dahulu.

Saya hampir tak sabar untuk kembali ke ruang belajar, membuka konkordansi dan kamus 'Theological Dictionary of the New Testament' karangan Kittel untuk menyegarkan kembali hati saya dengan kata 'gembala' yang dipakai untuk menyebut Tuhan kita dan hamba-Nya sepanjang jaman. Saya menemukan bahwa kata 'gembala' atau 'domba' itu digunakan lebih dari empat puluh kali dalam kitab Perjanjian Baru, dan Kittel menjelaskan pokok itu sebanyak tujuh belas halaman.

Tapi betul juga teman saya yang membuat sanggahan itu. Siapakah orang yang hidup pada jaman ini; jaman dimana ada kota-kota besar dan ramai, jalan-jalan lintas cepat, dengan berbagai transportasi modern serta banyak tempat rekreasi, yang masih tahu memikirkan tentang 'domba' dan 'gembala'?"

Jika Anda adalah seorang "gembala" (pemimpin jemaat), ketika membaca kutipan di atas mungkin Anda merasa tersanjung mendapat sebutan sebagai seorang "gembala" karena Yesus sendiri menyebut diri sebagai "Gembala" dan tugas yang diemban oleh "gembala" sangatlah dihargai oleh Tuhan. Menjadi "gembala" merupakan panggilan yang mulia, melakukan tugas sebagai seorang "gembala" merupakan suatu "hak istimewa" yang tidak Tuhan berikan kepada setiap orang, tapi hanya kepada orang-orang tertentu saja.

Tapi jika Anda seorang "domba" (jemaat), maka kutipan di atas membuat anda merasa tersanjung, karena bagi "domba" memiliki "gembala" artinya seperti mendapatkan "hak istimewa" untuk dilayani. Maka tidak heran jika Anda menginginkan seorang "gembala" yang selalu siap sedia melayani dan melindungi 'domba-domba-Nya, kalau perlu 24 jam. Anda akan jengkel kalau mendengar "gembala" yang mengeluh atau mengharapkan pujian dari apa yang dilakukannya, karena sebagai seorang "gembala" sudah sepantasnya kalau ia menderita dan berkorban bagi domba-domba- Nya.

Melihat kontras dua pemikiran di atas, saya tertarik untuk mengutipkan beberapa surat-surat terbuka yang ditulis oleh 'domba-domba" yang ditujukan kepada "gembala-gembala"nya. Sangat menarik mengetahui apa yang dipikirkan oleh "domba-domba" tentang "gembala-gembala"nya. Namun sambil anda membaca kutipan surat-surat tsb., saya mengajak anda untuk merenungkan dan menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini:

  1. Jika anda seorang "gembala" jemaat:
    1. Pernahkah anda memahami tugas berat yang harus diemban seorang "gembala"?
    2. Apa reaksi anda bila anda menerima surat-surat seperti itu?
    3. Inginkah anda menerima surat-surat seperti itu dari "domba- domba" anda?
    4. Dalam hal bagaimana anda pantas menerima pujian-pujian dari "domba-domba" anda?
    5. Dalam hal bagaimana anda pantas menerima kritikan-kritikan dari "domba-domba" anda?
  2. Jika anda seorang "domba" jemaat:
    1. Pernahkan anda memahami beratnya tugas seorang "gembala" jemaat?
    2. Pernahkah anda mensyukuri apa yang "gembala" anda lakukan bagi "domba-domba" jemaatnya?
    3. Bagaimana reaksi "gembala" anda jika anda menulis surat-surat seperti itu kepadanya?
    4. Pernahkah anda menyatakan penghargaan kepada 'gembala" anda secara terbuka?
    5. Apa pentingnya bagi "gembala" anda untuk mengetahui apa yang anda pikirkan tentang dia dan tugasnya?

Selamat merenungkan. Kiranya kiriman saya ini dapat menjadi berkat bagi ke dua belah pihak; "gembala" dan "domba".

In Christ,
Yulia


SURAT-SURAT TERBUKA KEPADA PENDETA

# Surat (1)

Bapak Pendeta yang baik!

Mungkin Bapak Pendeta merasa luar biasa mendengarkan kabar dari saya. Sebelumnya saya tidak pernah berbicara kepada Bapak Pendeta dan Bapak juga tidak pernah bertanya kepada saya. Saya malu untuk menyebutkan hal-hal ini, tetapi bagi saya itu penting dan saya ingin Bapak mengetahuinya.

Pertama, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih atas pengabdian Bapak untuk melayani dan memimpin kami, sampai-sampai Bapak pernah tidak dapat hadir pada perayaan hari ulang tahun anak perempuan Bapak. Berapa kali istri Bapak menunggu untuk makan malam, atau Bapak harus makan makanan yang sudah dingin, bahkan makan sendirian. Pasti, Bapak ingat kesedihan putra Bapak yang berumur 10 tahun karena Bapak tidak dapat menyaksikan dia waktu pertama kali main dalam pertandingan sepak bola.

Setelah saya berterima kasih kepada Bapak, saya ingin menyarankan agar Bapak memberi perhatian yang selayaknya kepada keluarga Bapak. Bersenang-senanglah dengan mereka dan cintailah mereka, sebab hal itu termasuk melayani-Nya. Doronglah para pendeta muda untuk menyediakan waktu bagi keluarga mereka.

Kedua, saya ingin menyarankan kepada Bapak untuk menarik pelajaran dari kebungkaman saya selama bertahun-tahun, sehingga Bapak mulai bercakap-cakap dengan anggota-anggota jemaat. Tanyalah apa yang terjadi dalam kehidupan kami. Beberapa dari kami ingin sekali mengeluarkan apa yang ada dalam hati kami, sedangkan yang lain perlu didorong. Tanyalah bagaimana caranya meningkatkan pelayanan Bapak, dan bagaimana gereja kita bisa lebih maju. Percayalah dan mintalah kepada Tuhan kebijaksanaan, belas kasihan, dan kekuatan untuk mencapai umat-Nya dan memenuhi kebutuhan mereka.

Ketiga, izinkan saya mendorong Bapak agar tetap dalam keyakinan yang dinyatakan oleh Roh Kudus kepada Bapak. Saya tahu bahwa lebih mudah untuk kompromi atau mengabaikan dosa dan ketidakadilan, namun akibatnya ialah Kristus yang dicela dan pelayanan gereja akan kurang efektif. Sudah sering kami tidak mengatakan apa-apa, karena takut orang yang mendengar akan merasa tersinggung. Tempatkan pria dan wanita yang rohani dalam posisi pimpinan. Dengan demikian gereja akan lebih bertambah maju dan kuat.

Akhirnya, yang paling penting menyerahkan diri kepada Yesus Kristus. Biasanya, manusia merasa bangga dapat menemukan sesuatu sendiri. Memang, dengan kekuatan sendiri kita dapat berbuat kebajikan dan bisa melayani dengan baik dalam jabatan kita. Tetapi ini bukanlah cara Tuhan. Tuhan hanya senang kalau kita mengesampingkan keakuan kita dan mengizinkan Tuhan bekerja melalui kita. Maka, kekuatan-Nya, hikmat-Nya, dan belas kasihan-Nya itulah yang akan menjangkau dan melayani umat-Nya. Dengan demikian kebutuhan umat-Nya dicukupi, dan segala hormat kemuliaan diberikan kepada Tuhan.

Terima kasih atas kesediaan Bapak Pendeta untuk mendengarkan saran saya. Saya puji Tuhan karena kasih dan untuk semua yang Tuhan sudah lakukan bagi kami melalui Bapak Pendeta.

Hormat saya di dalam kasih-Nya.

# Surat (2)

Bapak Pendeta yang kekasih,

Pada hari-hari belakangan ini di mana banyak pendeta terus-menerus dikritik oleh jemaat yang tidak tahu berterima kasih, maka saya sungguh-sungguh berterima kasih kepada Bapak atas semua pekerjaan yang Bapak laksanakan demi gereja kita. Bapak tetap bersama-sama kami ketika.....

.....ada orang-orang Kristen yang belum dewasa meskipun dengan maksud baik hampir-hampir membuat perpecahan di gereja pada waktu rapat anggota gereja.

.....anggota-anggota gereja lama tetap berpegang pada pandangan yang kolot sehingga menghambat kemajuan.

.....seorang gadis remaja dari keluarga terpandang kedapatan hamil sebelum menikah.

....pasangan suami istri muda yang terancam perceraian datang kepada Bapak untuk konsultasi.

Bapak setia memberitakan Firman Allah. Karena demikian, maka kami melihat hal-hal ini terjadi......

......seorang suami yang belum selamat yang telah kita doakan selama bertahun-tahun, akhirnya diselamatkan.

......banyak kaum muda kini telah menikah dan membangun rumah tangga Kristen serta aktif dalam gereja.

.....majelis gereja telah mengambil alih lebih banyak tanggung jawab dalam gereja.

.....jemaat kita sangat lapar akan Firman Allah dan dengan penuh perhatian mendengarkan ajaran Firman Allah yang Bapak berikan.

Maka dari itu jangan menyerah! Tuhan memberkati gereja kita. Walaupun tidak sering saya mengatakan hal ini, tetapi sebetulnya Bapak adalah orang yang paling saya hormati dalam hidup ini. Saya mendoakan Bapak beserta keluarga Bapak setiap hari. Tuhan pasti menyediakan pahala yang istimewa karena pelayanan Bapak.

Terima kasih karena saya merasa diberkati oleh pelayanan Bapak.

Salam dari seorang anggota Bapak.

# Surat (3)

Bapak pendeta yang terkasih,

Saya hanya ingin minta waktu Bapak Pendeta beberapa menit untuk mengucapkan terima kasih atas pelayanan Bapak yang setia kepada kami.

Sebab gereja kita ini besar, saya kira akan mudah diperlakukan secara umum saja, yaitu sebagai satu jemaat. Tetapi Bapak benar- benar memperhatikan setiap individu. Bapak banyak meluangkan waktu untuk mengenal orang yang memerlukan pelayanan. Saya sering melihat Bapak menolong orang yang baru menerima Kristus, mengajar dan membimbing mereka dalam hidup mereka yang baru. Bapak telah menunjukkan mereka bagaimana mereka harus hidup dengan iman. Bapak mengajar kelas khusus di gereja bagi petobat-petobat baru dan menunjukkan mereka bagaimana mempelajari Alkitab.

Saya sangat menghargai cara Bapak mempraktekkan cara hidup orang Kristen dalam hidup sehari-hari. Hal itu nyata bagi kami sekalian karena Bapak menaruh perhatian kepada orang lain. Sekian.

Hormat dari seorang anggota yang sangat berterima kasih.

# Surat (4)

Bapak Pendeta yang terkasih,

Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih dan sangat menghargai teladan yang Bapak berikan kepada kami.

Ketika Bapak menjadi pendeta gereja kami, Bapak mengatakan kepada jemaat bahwa setiap hari Bapak akan melihat daftar anggota dan berdoa untuk lima keluarga. Hari berikutnya Bapak akan mendoakan lima keluarga yang lain, dan begitu seterusnya.

Bapak juga berkata bahwa bila staf berkumpul setiap pagi untuk saat teduh, Bapak akan mendoakan satu orang atau satu keluarga. Kemudian Bapak mengirim kartu kepada orang atau keluarga tersebut untuk mengatakan bahwa Bapak mencintai mereka dan banyak memikirkan mereka.

Berkali-kali kami mendengarkan orang berkata, "Jangan lupa berdoa untuk pendeta saudara." Saya sebagai anggota sangat berterima kasih, karena saya tidak perlu ragu-ragu apakah Bapak Pendeta berdoa buat saya ataukah tidak. Selama bertahun-tahun ini, kartu-kartu yang Bapak kirimkan sangat berarti bagi saya.

Terima kasih atas doa Bapak Pendeta untuk saya.

# Surat (5)

Bapak Pendeta yang terkasih,

Pertama, saya ingin mengucapkan syukur kepada Tuhan karena telah mengirim Bapak Pendeta ke gereja kami. Kami sangat menghargai cinta Bapak kepada Tuhan dan semangat untuk membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan.

Akan tetapi, saya harus mengakui bahwa saya agak bosan untuk terus- menerus mendengar khotbah evangelisasi sebagai makanan rohani. Memang, penting sekali untuk membawa jiwa-jiwa kepada keselamatan, dan kami sangat menghargai keinginan Bapak untuk mengisi bangku- bangku kosong yang mengganggu Bapak setiap hari Minggu.

Tetapi saya yakin bahwa perasaan ini terdapat pada banyak saudara yang telah lama menjadi orang Kristen. Bukan hanya susu yang kami perlukan. Kami memerlukan khotbah dan uraian yang lebih luas dan mendalam dari Firman Allah, ibarat daging keras yang perlu dikunyah. Penting juga bagi kami mengetahui sabda Tuhan dan bagaimana menggunakannya dalam hidup kami sekarang ini. Makin lama dunia makin mendesak kami untuk mengikuti modenya. Jika kami tidak berakar dalam Firman Allah, kami tidak dapat bertahan terhadap serangan si jahat itu.

Saya tahu Bapak pasti sibuk sekali dan banyak waktu Bapak disita oleh anggota-anggota jemaat. Namun jagalah, jangan sampai ada yang mengganggu pelajaran Bapak, sebab jam-jam Bapak untuk mempelajari Alkitab adalah sangat bermanfaat bagi Bapak dan kami.

Saya tidak marah atau kurang puas, tetapi ingin agar Bapak mengetahui perasaan saya. Saya mendoakan Bapak setiap hari.

Saudaramu di dalam Kristus.

# Surat (6)

Bapak Pendeta yang terkasih,

Saya menulis surat ini atas dorongan cinta kasih Kristus dan saya tidak bermaksud akan menyakiti hati Bapak Pendeta.

Bapak adalah seorang guru dan pengkhotbah yang baik sekali. Saya yakin tak ada seorang pun yang mencela pelayanan Bapak. Namun, dalam panggilan untuk tugas penggembalaan termasuk menggembalakan kawanan domba seluruhnya, inilah kekurangan yang banyak kami rasakan dalam pelayanan Bapak.

Memang baik membangun jemaat dengan pasangan suami istri yang muda, sebab mereka adalah sokoguru gereja di masa mendatang. Tetapi pada waktu yang bersamaan, domba-domba tua juga memerlukan seorang gembala. Ada baiknya jika Bapak Pendeta menyadari keperluan mereka. Bila mereka sakit, beritahukan melalui pengumuman di gereja sehingga orang lain dapat berdoa untuk mereka. Bila mereka menghadapi suatu masalah, tunjukkan perhatian agar mereka tahu bahwa Bapak juga ikut merasakan dan prihatin. Janganlah Bapak Pendeta menyerahkan semua itu kepada majelis gereja atau kepada pendeta pembantu.

Seorang gembala yang sejati memperhatikan semua domba, dan tidak hanya domba-domba muda dan anak domba. Kita semua juga ingin merasa dibutuhkan dan diperhatikan.

Saudaramu di dalam Kristus.

# Surat (7)

Bapak Pendeta yang terkasih,

Sebagai seorang anggota setia di jemaat Bapak, dan sebagai penyumbang dan pekerja di gereja, saya menghargai pengabdian Bapak Pendeta dan cita-cita Bapak dalam melayani Tuhan.

Baru-baru ini saya mendengar bahwa Bapak Pendeta menawarkan diri sebagai seorang calon untuk menggembalakan gereja yang lain. Saya tidak perlu mengetahui apakah betul atau tidak, tetapi hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan dalam pikiran saya tentang lamanya dan mutu pelayanan beberapa hamba Tuhan yang diberikan kepada jemaat mereka. Namun saya juga menyadari bahwa Bapak Pendeta ingin sekali mengetahui dan menuruti kehendak Tuhan.

Inilah beberapa masalah yang saya lihat:

  1. Bapak Pendeta baru bertugas selama 3 tahun di gereja kami. Rupanya Bapak pendeta lebih banyak memikirkan kesejahteraan Bapak sendiri daripada kesejahteraan kami.
  2. Apakah ada semacam promosi yang diharapkan para pendeta sesudah memberikan pelayanan di gereja-gereja yang kecil?
  3. Ketika gereja selalu mengalami pergantian pendeta yang hanya melayani 3 tahun, bagaimana anggotanya bisa belajar untuk saling mencintai dan saling menghormati?
  4. Saya harap Bapak Pendeta tidak salah paham. Saya adalah anggota lama di gereja ini. Namun sukar sekali untuk sering-sering menyesuaikan diri kembali setelah terjadi pergantian pendeta. Apakah kesejahteraan jemaat tidak begitu penting dibandingkan dengan "kehendak Tuhan" bagi pendeta?

Saya harap Bapak pendeta tidak merasa bahwa saya ini suka menggerutu. Saya hanya menginginkan informasi dan perhatian.

Dari seorang anggota yang merasa terganggu.

# Surat (8)

Bapak Pendeta yang terkasih,

Sungguh sukar bagi saya untuk menulis surat ini, karena cinta saya kepada gereja, dan keinginan saya agar Tuhan memakai Bapak Pendeta, oleh karena itu saya merasa perlu mengungkapkan isi hati saya.

Saya mengetahui kesukaran yang Bapak hadapi dapat melemahkan pelayanan Bapak. Jika Bapak Pendeta jujur, pasti akan mengakui bahwa Bapak tidak mempelajari Alkitab sebagaimana mestinya dan juga tidak pernah mengkhotbahkan Firman Allah. Agaknya, Bapak kurang memperhatikan kesejahteraan jemaat Bapak. Sebagai seorang gembala hal ini seharusnya merupakan tanggung jawab Bapak yang penting.

Saya tidak merasa kurang senang terhadap Bapak, bahkan saya selalu berdoa bagi Bapak Pendeta.

Bapak Pendeta yang baik, demi kebaikan Bapak dan gereja saya harap Bapak memperbaharui penyerahan Bapak kepada Tuhan. Setialah terhadap panggilan Tuhan bagi Bapak untuk menyampaikan sabda Allah dan memberi santapan rohani bagi kawanan domba itu. "Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri" (Kisah Para Rasul 20:28).

Salam kasih hangat seorang dari kawanan domba Bapak.

# Surat (9)

Bapak Pendeta yang terkasih,

Sebagai seorang jemaat Bapak, saya mengindahkan Bapak sebagai orang yang ditunjuk oleh Tuhan untuk menjadi gembala. Mengutip suatu bagian dari ucapan perpisahan rasul Paulus yang ditujukan kepada para penatua jemaat di Efesus, saya mohon demi diri sendiri dan seluruh jemaat agar Bapak menjaga diri sendiri dan menjaga seluruh jemaat. Bapak Pendeta telah dipimpin oleh Roh Kudus, dan dipanggil oleh Tuhan untuk melayani kami (Kisah Para Rasul 20:28). Berilah kami susu yang murni dan daging yang keras dari Firman Allah agar kami dapat bertumbuh dan menjadi orang-orang percaya yang dewasa.

Saya harap Bapak Pendeta akan mencintai dan memperhatikan domba yang hilang - mereka yang tidak pernah masuk gereja dan domba-domba lain yang terlepas dari kawanan dombanya.

Sebagai gembala yang baik, Bapak harus ulet. Mudah-mudahan Bapak selalu memiliki kekuatan di balik perisai iman untuk menangkis lawan, serta bijaksana dan mempunyai visi. Bapak harus waspada terhadap orang-orang yang menyelundup masuk untuk merusakkan kita, dan dengan tongkat kebenaran Bapak harus membela kawanan domba dari infiltrasi licik dan pengaruh mereka yang memecah-belahkan kita.

Di samping itu Bapak juga harus lemah lembut. Bapak harus memenuhi kebutuhan orang-orang yang menderita, orang lanjut usia, yang sakit dan yang hampir mati.

Saya rasa bahwa sebenarnya yang saya minta adalah agar Bapak mempunyai hati seorang gembala, yaitu berbelas kasihan, melindungi, dan penuh pengertian.

Dengan anugerah Tuhan saya akan membantu Bapak dengan doa dan kesetiaan saya. Saya berjanji bahwa hanya bila sangat perlu baru saya menelpon Bapak agar tidak mengganggu jam-jam belajar serta persekutuan Bapak dengan Tuhan. Tugas yang suci yaitu menyampaikan firman Allah harus didahulukan.

Sekali lagi, terima kasih!

Sumber: 

Judul Buku
Penulis
Judul Bab
Halaman
Penerbit
:
:
:
:
:
Prioritas Seorang Pendeta
Warren W.Wiersbe, Paul R.Van Gorder, Howard F. Sugden
Surat-surat Terbuka kepada Pendeta
69 - 85
Gandum Mas, 1982

Mengusahakan Pertumbuhan Pola Pikir Rohani

Dear e-Reformed Netters

Artikel yang saya kirimkan ke anda untuk edisi Mei ini, diambil dari cuplikkan sebuah buku mungil yang berjudul "Thinking Spiritually". Buku ini sebenarnya hanya merupakan "digest version" dari tulisan karya John Owen "The Grace and Duty of Being Spiritually Minded" yang aslinya jauh lebih sulit untuk dibaca khususnya untuk mereka yang kurang mahir dalam Bahasa Inggris. Tapi syukur kepada Tuhan karena Philip G. telah meringkaskannya dalam bahsa yang lebih mudah dan sederhana -- Buku ini telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Momentum dalam Bahasa Indonesia dengan judul "Berpola Pikir Rohani".

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk menjadi bacaan dan perenungan setiap orang Kristen yang sungguh-sungguh ingin hidup memuliakan Tuhan. Sekali anda baca, anda akan ingin terus membacanya sampai habis. Berikut ini saya hanya cuplikkan 3 artikel/bab dari 'Bagian Dua -- Mengusahakan Pertumbuhan Pola Pikir Rohani'. Kiranya melalui 3 bacaan/bab kecil ini anda dapat dirangsang untuk semakin memikirkan hidup dan pola pikir rohani kita masing-masing.

To God be the glory!

In Christ,
Yulia

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters

Artikel yang saya kirimkan ke anda untuk edisi Mei ini, diambil dari cuplikkan sebuah buku mungil yang berjudul "Thinking Spiritually". Buku ini sebenarnya hanya merupakan "digest version" dari tulisan karya John Owen "The Grace and Duty of Being Spiritually Minded" yang aslinya jauh lebih sulit untuk dibaca khususnya untuk mereka yang kurang mahir dalam Bahasa Inggris. Tapi syukur kepada Tuhan karena Philip G. telah meringkaskannya dalam bahsa yang lebih mudah dan sederhana -- Buku ini telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Momentum dalam Bahasa Indonesia dengan judul "Berpola Pikir Rohani".

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk menjadi bacaan dan perenungan setiap orang Kristen yang sungguh-sungguh ingin hidup memuliakan Tuhan. Sekali anda baca, anda akan ingin terus membacanya sampai habis. Berikut ini saya hanya cuplikkan 3 artikel/bab dari 'Bagian Dua -- Mengusahakan Pertumbuhan Pola Pikir Rohani'. Kiranya melalui 3 bacaan/bab kecil ini anda dapat dirangsang untuk semakin memikirkan hidup dan pola pikir rohani kita masing-masing.

To God be the glory!

In Christ,
Yulia

Edisi: 
029/V/2002
Isi: 

CARA ALLAH MENDORONG KITA MEMILIKI POLA PIKIR ROHANI (Bab 11)

Suatu pola pikir rohani tumbuh serta terdiri dari kesukaan akan hal- hal rohani: apa yang kita cintai, itulah yang akan menawan diri kita. Pertandingan akbar antara sorga dan neraka dimaksudkan untuk melihat yang mana di antara keduanya yang paling kita cintai. Orang yang memiliki cinta kita akan memiliki seluruh diri kita. Cinta membuat kita memberikan seluruh diri kita, seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya. Cinta bagaikan kemudi kapal -- kemana kemudi itu mengarah, ke sanalah kapal tersebut akan menuju.

Tidak mengherankan bila dunia berusaha mendapatkan cinta kita. Dunia harus mencoba untuk menarik minat kita sekarang, selagi ada waktu, karena dunia ditakdirkan untuk berakhir nantinya. Tetapi yang mengejutkan adalah, bila ternyata Allah pun berusaha mendapatkan cinta kita (Amsal 23:26). Karena itulah, saya ingin menasihatkan agar Saudara memikirkan hal-hal yang dapat menolong mengalihkan cinta Saudara dari dunia ini, serta mengarahkannya kepada Allah. Mengabaikan ajaran Allah yang telah dinyatakan melalui pemeliharaan-Nya atas dunia, berarti juga menghina hikmat-Nya.

Allah telah menyatakan dengan jelas bahwa dibandingkan dengan hal-hal rohani, hal-hal duniawi adalah sia-sia. Sebelum kejatuhan manusia dalam dosa, Allah pernah menyatakan bahwa dunia ini amat baik adanya. Tetapi setelah peristiwa kejatuhan tersebut, dunia kemudian berada di bawah kutuk. Alkitab menasihati orang Kristen untuk tidak mengasihi dunia ini (1Yohanes 2:15-17). Melalui banyak hal yang telah dilakukan- Nya, Allah telah menyatakan dengan jelas bahwa dunia ini tidak layak mendapatkan cinta kita.

Contohnya, hakekat sejati dunia ini telah dinyatakan melalui reaksi manusia yang hidup di dalamnya terhadap Kristus, selama Ia ada di tengah-tengah mereka. Ia hidup dengan benar dan tak bercacat, tetapi dunia menolak-Nya. Penolakan Kristus oleh manusia di dunia semata-mata menunjukkan kebobrokan penilaian mereka sendiri. Mungkinkah orang percaya mencintai nilai-nilai serta pendapat dari orang-orang yang telah menyalibkan Tuhan mereka?

Kemudian, Allah kembali menunjukkan hakekat dunia yang sudah berdosa ini melalui cara nenek moyang mereka memperlakukan para rasul. Apakah dengan para rasul berusaha menegakkan kemuliaan kerajaan Allah di dunia ini, maka kemudian dunia menerima mereka dengan penuh sukacita? Ternyata sebaliknya, mereka justru harus hidup dan mati di dalam kemuskinan dan aniaya (1Korintus 4:11-13).

Kita juga dapat melihat bagaimana Allah mengutuk dunia berdosa ini, melalui kenyataan bahwa Ia seringkali melimpahkan kekayaan dan kekuasaan justru kepada orang-orang tak beriman Tak akan ada yang menganggap berharga, benda-benda yang telah dlemparkan orang bijak kepada kawanan babi tersebut! Sebagian dari orang-orang yang paling kaya dan paling berkuasa di dunia ini adalah mereka yang tak beriman dan tak mengenal Tuhan. Tidakkah ini menyatakan kutukan Allah? Jika itu memang berharga, tidakkah Allah akan memberikan kepada mereka yang dikasihi-Nya?

Memang ada cara yang tepat dalam menggunakan hal-hal tersebut dan banyak masalah yang akan timbul bila manusia tidak mengetahuinya. Menurut saya, hanya mereka yang berpola pikir rohanilah yang dapat memiliki hikmat untuk menemukan cara tersebut. Orang-orang yang berpola pikir rohani akan mengerti bahaya dari itu. Mereka tidak akan memusingkan cara memperoleh semua itu, karena mereka menyadari bahwa kenikmatan hidup bukanlah diberikan untuk menjadi milik mereka, melainkan sekedar dipinjamkan kepada mereka agar dapat digunakan secara benar.

Sikap orang percaya terhadap hal-hal duniawi merupakan petunjuk yang akurat bagi kondisi kerohaniannya. Seseorang tidak mungkin dapat melepaskan diri dari hal-hal duniawi, kecuali hatinya melekat pada hal-hal rohani! Untuk dapat tidak memikirkan sesuatu hal, seseorang harus berusaha untuk lebih memikirkan hal-hal lainnya.

Kecintaan kita terhadap hal-hal duniawi benar-benar perlu ditertibkan. Bagaimana mungkin kita mencintai hal-hal yang dikutuk Allah? Kecintaan kita akan hal-hal duniawi tidak akan hilang dengan sendirinya. Kita perlu berjuang untuk menolak kuasanya atas diri kita. Seluruh hidup kita hendaknya dikendalikan oleh Firman Allah saja (1Yohanes 2:5).

Orang Kristen mungkin saja terlihat sangat bersemangat, tetapi bila mereka juga mencintai dunia ini, fakta inilah yang menjadi ukuran kerohanian mereka yang sesungguhnya, bukan semangat mereka tersebut. Jadi bagaimana kita dapat mengetahui kalau kita telah sungguh-sungguh mencintai hal-hal rohani? Inilah topik pembahasan kita untuk bab berikutnya.

CINTA SEJATI AKAN HAL-HAL ROHANI (Bab 12)

Tanpa adanya perasaan cinta dan sukacita atas hal-hal rohani, kita tidak akan dapat memiliki pola pikir rohani! Bagaimana kita tahu bahwa itu adalah cinta sejati? Apakah yang dimaksud dengan cinta rohaniah? Dalam beberapa bab berikut ini saya akan mencoba menguraikannya, menunjukkan ciri-cirinya sekaligus cara-cara meningkatkannya.

Hal utama yang harus kita ingat adalah: tidak akan ada cinta sejati atas hal-hal rohani dalam diri manusia, kecuali bila terjadi pembaharuan rohani atau kelahiran baru dalam hidup mereka, sebagai karya dari anugerah Allah dan kuasa Ilahi-Nya!

Kita hendaknya mulai dengan pernyataan tersebut, karena semua aktivitas alamiah jiwa kita memang telah dicemari oleh dosa (Titus 3:3). Karena ini bukan tempat yang tepat untuk mendiskusikan masalah tersebut secara terperinci, maka saya hanya akan memberikan sedikit komentar singkat. Fakta pencemaran jiwa kita oleh dosa telah dipahami oleh semua orang, termasuk oleh mereka yang tidak mempelajari Alkitab sekalipun. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di dalam diri kita senantiasa terdapat kesiapan untuk melakukan kesalahan. (Dan bila hanya dengan pemahaman akal manusia semata, kecemaran ini telah dapat menjadi nyata, betapa berdosanya mereka yang mengabaikan dan menolaknya justru setelah memperoleh pengajaran Alkitab tentang hal ini!)

Kesiapan untuk melakukan kesalahan yang merupakan kecenderungan alamiah setiap kita, terjadi bukan hanya pada satu macam dosa tertentu. Sebaliknya, kesiapan tersebut nampak dalam berbagai bidang kehidupan secara menyeluruh! Itulah sebabnya, tak satu pun dosa dapat ditanggalkan tanpa adanya pembaharuan pada hakekat keberdosaan seseorang. Kalaupun orang tersebut telah berhenti melakukan suatu jenis dosa tertentu, dosa-dosa lainnya akan segera bermunculan oleh adanya hakekat keberdosaan di dalam dirinya. Adanya hakekat berdosa dalam diri kita akan membuat kita memiliki kemungkinan melakukan dosa apa pun! Kita akan melakukan apa saja yang kita inginkan (Kolose 3:5-7). Bahkan meskipun akal kita telah memberitahukan kita bahwa menuruti naluri berdosa merupakan suatu kebodohan, namun kuasa naluri berdosa tersebut sedemikian kuat, hingga kita tetap melakukannya.

Bukti paling sederhana dari hakekatnya keberdosaan kita adalah: pertama, adanya kebencian terhadap Allah dan hal-hal rohaniah; dan kedua, adanya kecintaan akan dunia ini yang membuat kita sibuk mengejar keuntungan duniawi, bagaikan sekawanan lebah yang mengitari sebuah stoples madu.

Saya harus mengingatkan Saudara bahwa ada kemungkinan bagi seseorang untuk mengalami suatu pembaharuan dalam hidupnya, yang meskipun cukup penting tetapi tidak dapat menghasilkan suatu pola pikir rohani. Ini jelas bukan merupakan pembaharuan khusus Allah. Adakalanya seseorang untuk sementara waktu dapat dipengaruhi oleh pemberitahuan firman dari Alkitab (Matius 13:20-21). Kadang, seseorang juga dapat berubah oleh pendekatan suatu konsep filsafat, suatu pengalaman mengerikan, ataupun oleh pendidikan serta suatu tanggungjawab yang baru (1Samuel 10:9). Tetapi pembaharuan semacam itu tidak akan menghasilkan suatu pola pikir rohani, karena hanya mengubahkan arah keinginannya dari duniawi menjadi sorgawi. Mencintai hal-hal terindah didunia ini mungkin dapat membangun, tetapi tetap saja tidak ada keterlibatan konsep keagungan rohaniah di dalam hal-hal tersebut. Aroma darah akan segera membuat seekor hewan jinak menjadi liar kembali.

Kadangkala, orang-orang tidak beriman mempermalukan kita yang mengaku sebagai orang percaya, dengan cara hidup mereka yang demikian sabar, baik, dan bermanfaat bagi orang lain. Tetapi hanya pembaharuan yang dikaryakan oleh Roh Kudus di dalam diri seseoranglah, yang dapat mengubahkan inti dari hakekat kemanusiaannya dan dengan demikian, menjadikannya orang saleh sejati (Efesus 4:23).

SUKACITA SEJATI DALAM PENYEMBAHAN (Bab 15)

Orang-orang yang memiliki pola pikir rohani menemukan sukacita sejati dalam semua aspek penyembahan, sehingga mereka tidak ingin kehilangan kesempatan semacam itu. Karena itu pula terdapat begitu banyak martir -- mereka ini memilih untuk mati daripada harus berhenti melakukan penyembahan. Daud seringkali menyatakan kerinduannya untuk dapat memiliki pengalaman penyembahan seperti yang dinikmati oleh orang- orang dengan pola pikir rohani, justru ketika kesempatan tidak memungkinkan baginya (Mazmur 42:1-4; 63:1-5; 84:1-4). Selain itu, kesukaan Yesus Kristus akan kegiatan penyembahan tidak perlu diragukan lagi (Yohanes 2:17).

Bagaimanakah cara orang-orang saleh tersebut mendapatkan sukacita dari keterlibatan mereka dalam melakukan penyembahan? Apakah bedanya dengan pengalaman mereka yang tak beriman dalam memperoleh manfaat penyembahan? Saya akan menyatakan beberapa hal yang akan mengungkapkan perbedaan penting di antara keduanya.

Pertama, mereka yang mengalami pembaharuan rohani dalam hidupnya, akan dapat bersukacita dalam penyembahan karena mereka menemukan bahwa iman, kasih, dan sukacita mereka di dalam Allah dibangkitkan melaluinya. Mereka tidak sekedar menampilkan formalitas, suatu tingkah-laku agama yang pada dirinya sendiri tidak bernilai sama sekali di hadapan Allah (Yesaya 1:11; Yeremia 7:22-23). Jika Allah memerintahkan kita melakukan suatu perbuatan, seringkali itu bukan demi perbuatan itu sendiri,tetapi demi menumbuhkan kasih, iman, sukacita, dan hormat kita kepada Allah. Inilah yang dialami oleh orang yang sungguh-sungguh berpola pikir rohani. Bagi mereka penyembuhan merupakan cara menumbuhkan kasih kita kepada Allah!

Mereka yang tidak pernah mengalami pembaharuan rohani yang sesungguhnya, tidak akan dapat melakukan yang lain kecuali menampilkan formalitas. Yang menyedikan, sementara orang-orang tersebut mengira telah menyenangkan Allah, hal ini ternyata justru merupakan suatu penghinaan bagi Allah yang memang membenci formalitas kosong. Dan yang menjadi masalah adalah, tidak ada lagi hal yang dapat dilakukan oleh orang semacam itu. Ketidakpercayaan mereka yang sedemikian kuat telah menunjukkan tidak adanya hal lain dalam penyembahan mereka kecuali formalitas (Yesaya 29:13-14).

Untuk mengidari terjadinya formalitas penyembahan kosong semacam inilah, orang beriman sejati mempersiapkan diri agar dapat memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari kesempatan-kesempatan seperti ini. Mereka tahu bahwa iman merupakan satu-satunya jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah; kasih merupakan satu-satunya jalan bagi ketaatan total kepada-Nya; hormat dan sukacita merupakan satu-satunya jalan untuk hidup berkenan kepada-Nya. Mereka yang akan memperoleh manfaat dari suatu penyembahan adalah mereka yang berusaha melakukan penyembahan dengan segenap jiwa! Melakukan penyembahan tanpa memahami alasan ataupun caranya, bukan hanya akan membuat seseorang gagal memperoleh manfaatnya, tetapi juga membuatnya semakin jauh dari Allah.

Saya tidak pernah menemukan orang percaya yang menolak untuk terlibat dalam penyembahan bersama, tetapi dapat memiliki kehidupan rohani yang sejahtera. Karena itulah kita sebaiknya lebih memikirkan hakekat dari penyembahan semata-mata demi memeliharakan iman dan kasih kita. Tetapi, hal itu bukan terjadi dengan sendirinya! Kita perlu mempersiapkan diri sebelum melakukan penyembahan. Selain itu, kita hendaknya menyembah dengan segenap hati dan pikiran kita (Pengkhotbah 4:17-5:1). Hal ini diperlukan karena kita dapat dengan begitu mudah mengalahkan perhatian dan minat kita kepada hal-hal lahiriah, lebih daripada kepada kuasa dan makna yang sejati. Selanjutnya, kita juga harus dapat memastikan bahwa acara penyembahan tersebut hanya berisikan hal-hal yang diperintahkan oleh firman Allah sendiri. Berbagai kesukaan yang diperoleh melalui suatu aktivitas rohani, tetapi yang sebenarnya tidak dituntut dari diri kita bukanlah timbul dari iman, melainkan dari keinginan manusia semata!

Saya yakin terdapat lebih banyak kesukaan dalam diri seorang pemimpin pelayanan penyembahan dibandingkan dengan mereka yang lain. Ini bukan karena masalah perbedaan metode ataupun pendidikan, melainkan lebih disebabkan oleh perbedaan kesesuaian dengan kebutuhan kita masing- masing akan karunia rohani. Tetapi adanya perbedaan pengaruh penyembahan yang terjadi atas diri kita dari waktu ke waktu, tidak akan mengubahkan fakta bahwa kesukaan dari penyembahan sejati terletak pad kenyataan bahwa hal tersebut membangkitkan dan memperbaharui iman serta kasih mereka yang telah mengalami pembaharuan rohani. Bagi sebagian orang lainnya, sukacita mereka dalam penyembahan semata-mata diperoleh melalui penghargaan mereka terhadap kehebatan kemampuan manusia semata.

Alasan kedua yang membuat mereka yang telah mengalami pembaharuan rohani dapat bersukacita dalam penyembahan adalah, karena acara penyembahan itu sendiri (khotbah, doa, puji-pujian, persekutuan, dll.) merupakan jalan menuju pengalaman kehadiran Allah bagi mereka. Kita mendekatkan diri kepada Allah dengan harapan dapat menumbuhkan iman dan kasih kita; tetapi ketika harapan tersebut telah terpenuhi, sukacita kita ternyata ikut pula menjadi bertambah-tambah.

Melalui penyembahan, orang yang telah lahir baru menerima keyakinan akan kasih Kristus. Inilah karya Roh Kudus (Roma 5:5) melalui penyembahan.

Melalui penyembahan pula, orang yang telah lahir baru mendengar ketukan Sang Kristus pada pintu hatinya (Yohanes 14:23; Wahyu 3:20). Penyembahan bagaikan sebuah taman dimana Kristus menjumpai mereka yang dikasihi-Nya (Kidung Agung 7:21). Kenangan terhadap saat-saat dimana jiwa kita merasakan pengalaman kehadiran Kristus akan meningkatkan sukacita kita saat mengalami peristiwa-peristiwa berikutnya.

Melakukan penyembahan dengan pikiran yang sedang dipenuhi oleh pemikiran akan hal lain, atau tidak dengan diisi oleh pemikiran yang seharusnya, akan menimbulkan sikap suam-suam kuku, dingin, dan tidak perduli. Kita hendaknya segera mengenali tanda keberadaan proses pembusukan yang sedang terjadi dalam hati kita ini.

Alasan ketiga bagi mereka yang telah lahir baru untuk bersukacita dalam penyembahan adalah karena mereka mengetahui bahwa penyembahan merupakan cara untuk mempermuliakan Allah, yang memang adalah tujuan utama penyembahan. Yesus telah menyatakan hal ini dengan sangat jelas melalui doa yang dia ajarkan kepada murid-murid-Nya (Matius 6:9-13). Doa tersebut penuh dengan ungkapan kerinduan akan pernyataan kemuliaan Allah di dunia. Keselamatan maupun kesejahteraan rohani kita sebagai orang percaya tergantung pada realisasi doa tersebut. Kasih kita kepada Allah identik dengan motivasi kita dalam merindukan penyataan kemuliaa-Nya. Karena itulah, orang percaya senantiasa bersukacita untuk melakukan apa saja yang dapat menyatakan kemuliaan-Nya.

Barangsiapa tidak memiliki kerinduan seperti ini ketika melakukan penyembahan, tidak akan memperoleh sukacita sejati di dalamnya, kecuali sekedar perasaan senang yang bersumber dari anggapan pribadi mereka bahwa penyembahan tersebut mempermuliakan diri mereka sendiri di hadapan Allah -- yang seperti kita lihat, ternyata tidak demikian.

Sumber: 

Sumber :

Judul Buku
Penulis
Penerbit
Halaman
:
:
:
:
Berpola Pikir Rohani
John Owen
Momentum, Surabaya, 2001 (114 halaman)
67-78 dan 83-87

Bahkan Para Pendeta pun Membutuhkan Teman

Dear e-Reformed netters,

Pertama-tama, maaf saya agak terlambat mengirimkan artikel bulan April. Juga saya ingin mengucapkan selamat berkenalan kepada rekan- rekan yang baru saja bergabung di bulan April ini. Semoga perjumpaan kita di dunia net ini dapat menjadi berkat satu dengan yang lain.

Artikel yang saya kirimkan kali ini bukan berupa uraian teologia yang berat, tapi hal yang sangat praktis. Saya tertarik mengirimkannya karena di satu pihak saya melihat banyak hamba Tuhan yang mengeluh bahwa mereka sering dilanda perasaan kesepian. Ingin sekali mereka punya teman untuk diajak ngobrol dan sharing pergumulan pribadi, tapi rasanya tidak ada yang bisa diajak untuk berteman. Sesama pendeta lain sibuk dan rasanya aneh kalau masalah pelayanan atau pergumulannya diceritakan ke mereka. Nanti rahasia gereja ikut terbongkar.... dlsb. Kalau mau berteman dengan jemaat juga sulit karena dia melihat dirinya seperti disorot dengan mikroskop ketika berhadapan dengan jemaat... Serba salah.

Di lain pihak saya melihat banyak jemaat yang ingin sekali berteman dengan pendetanya untuk ngobrol dan berbincang-bincang tentang masalah hidup, tapi kok rasanya "sungkan" (rasa tidak enak) karena dia pendeta. Jangan-jangan nanti mengganggu... bukankah pendeta banyak kerjaannya dan bukankah pendeta tidak perlu teman karena teman bergaulnya 'kan Tuhan. Mana mau dia meladeni orang-orang biasa seperti saya.... dlsb.

Nah, mudah-mudahan artikel ini dapat menolong baik pendeta maupun jemaat untuk saling mengenal kebutuhan masing-masing. Siapa tahu melalui artikel ini, akan lahir budaya "Christian Friendship" antara "clergy" dan "lay people" supaya hidup anak-anak Tuhan (baik yang pendeta maupun bukan) boleh semakin "real" dan "transparant".

Selamat berteman!

In His love,
Yulia

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Pertama-tama, maaf saya agak terlambat mengirimkan artikel bulan April. Juga saya ingin mengucapkan selamat berkenalan kepada rekan- rekan yang baru saja bergabung di bulan April ini. Semoga perjumpaan kita di dunia net ini dapat menjadi berkat satu dengan yang lain.

Artikel yang saya kirimkan kali ini bukan berupa uraian teologia yang berat, tapi hal yang sangat praktis. Saya tertarik mengirimkannya karena di satu pihak saya melihat banyak hamba Tuhan yang mengeluh bahwa mereka sering dilanda perasaan kesepian. Ingin sekali mereka punya teman untuk diajak ngobrol dan sharing pergumulan pribadi, tapi rasanya tidak ada yang bisa diajak untuk berteman. Sesama pendeta lain sibuk dan rasanya aneh kalau masalah pelayanan atau pergumulannya diceritakan ke mereka. Nanti rahasia gereja ikut terbongkar.... dlsb. Kalau mau berteman dengan jemaat juga sulit karena dia melihat dirinya seperti disorot dengan mikroskop ketika berhadapan dengan jemaat... Serba salah.

Di lain pihak saya melihat banyak jemaat yang ingin sekali berteman dengan pendetanya untuk ngobrol dan berbincang-bincang tentang masalah hidup, tapi kok rasanya "sungkan" (rasa tidak enak) karena dia pendeta. Jangan-jangan nanti mengganggu... bukankah pendeta banyak kerjaannya dan bukankah pendeta tidak perlu teman karena teman bergaulnya 'kan Tuhan. Mana mau dia meladeni orang-orang biasa seperti saya.... dlsb.

Nah, mudah-mudahan artikel ini dapat menolong baik pendeta maupun jemaat untuk saling mengenal kebutuhan masing-masing. Siapa tahu melalui artikel ini, akan lahir budaya "Christian Friendship" antara "clergy" dan "lay people" supaya hidup anak-anak Tuhan (baik yang pendeta maupun bukan) boleh semakin "real" dan "transparant".

Selamat berteman!

In His love,
Yulia

Edisi: 
028/IV/2002
Isi: 

Selama beberapa tahun yang lewat ini saya sering mendengar banyak alasan mengapa para pendeta harus menghindari segala bentuk ikatan persahabatan. Beberapa orang mengatakan bahwa teman-teman itu mungkin menyenangkan, tetapi waktu dan tenaga yang dibutuhkan dalam pelayanan sama sekali tidak memungkinkan menikmati kesenangan diri semacam itu. Banyak orang beranggapan bahwa persahabatan di dalam jemaat tentu akan melanggar batas, dan pendeta yang menikmati permainan golf dengan jemaat akan menimbulkan persoalan.

Meskipun belakangan ini sikap demikian telah agak berubah, namun bagi pendeta maupun jemaat tetap saja akan menghadapi kesulitan melihat pendeta yang terlibat dalam persahabatan yang begitu manusiawi. Banyak jemaat telah terbiasa dengan anggapan bahwa pendeta itu seharusnya hanya berdiri tegak di atas mimbar yang tinggi, dan banyak pendeta memang menyukai pemandangan dari atas mimbar itu. Mereka merasa enggan untuk turun dari tempat itu dan kemudian menjalin hubungan yang mudah mendatangkan kecaman serta terlalu akrab.

Seandainya persahabatan itu terjalin dengan seorang anggota gereja, maka jemaat lainnya akan mulai mencurigai. Tuduhan atas sikap pilih kasih dan pengaruh yang tidak semestinya akan mulai dibisik-bisikkan di gereja.

Sesungguhnya, tidak semua alasan ini dengan mudah dapat kita abaikan. Melangsungkan persahabatan memang menuntut "waktu dan tenaga" yang amat banyak (kedua unsur tersebut seringkali tidak dimiliki pendeta). Dan tentunya, beberapa tuduhan mengenai sikap pilih kasih dan pengaruh yang dimiliki itu memang ada dasarnya. Kadang-kadang para pendeta menyatakan pandangan yang tidak benar dan pendapat yang tidak begitu jelas karena menaruh kesetiaan yang tidak semestinya kepada satu atau dua anggota jemaat. Meskipun mungkin kita tak ingin mengakuinya, namun tidak ada peran, jubah, ataupun gelar kependetaan yang dapat menyembunyikan kenyataan bahwa kita adalah manusia. Manusia memerlukan teman -- termasuk manusia yang kebetulan saja menjadi pendeta.

Ada banyak contoh dalam Alkitab yang menopang pendapat ini. Dari Raja Daud sampai Yesus hingga Paulus. Orang-orang bijak itu senantiasa mengetahui bahwa tidaklah bijaksana untuk menempuh jalan kehidupan tanpa keceriaan, kesenangan, serta dorongan-dorongan semangat dari para sahabat. Di luar contoh yang ada dalam Alkitab tadi, ada tiga alasan terbaik yang dapat saya kemukakan untuk membina persahabatan. Orang-orang tersebut adalah: Dick, Jim, dan Gary.

REKAN SEKERJA

Dick adalah pendeta pembantu di gereja Lutheran yang terbesar di Northfield. Sedangkan saya adalah seorang pendeta Baptis di Northfield, Minnesota.

Saya dilahirkan dan dibesarkan di Ohio bagian selatan, serta mengikuti kuliah di Columbia, Carolina Selatan. Saya lulus dari sebuah seminari Baptis. Selama waktu itu saya telah menghirup udara Baptis. Tiba-tiba, beberapa tahun yang lalu, saya menemukan diri saya berada dalam lingkungan benteng kaum Lutheran asal Norwegia - ada lima buah jemaat Lutheran di kota yang berpenduduk dua belas ribu orang. Belum lagi Universitas Saint Olaf, sebuah sekolah Gereja Lutheran Amerika yang menguasai topografi dan teologi di Northfield.

Saya harus mempelajari kota Northfield. Saya mulai bertemu dengan sebuah kelompok studi untuk para pendeta yang terdiri dari lima orang Lutheran dan satu orang Baptis (tebak saja siapa?). Di situlah saya bertemu dengan Dick. Melalui sedikit usaha pendekatan -- undangan untuk makan siang, kunjungan-kunjungan secara mendadak ke kantornya - suatu persahabatan mulai berkembang. Sungguh, hubungan ini merupakan suatu anugerah Allah.

Pertama-tama, Dick telah menjadi penerjemah saya dalam ajaran Lutheran. Ia tidak secara formal mendaftarkan saya di kelas katekesasinya, tetapi ia toh mengajarkan sesuatu kepada saya. Selama pembicaraan yang kami adakan, saya telah mendapatkan pandangan yang berarti tentang mengapa orang-orang ini percaya dan bertindak sebagaimana yang mereka lakukan. Tak akan pernah saya lupakan kata seru "Aha!" ketika kami sedang mendiskusikan (berdebat?) tentang masalah baptisan. Tiba-tiba saja saya mulai mengerti mengapa kami selalu berselisih pendapat tanpa ada ujung pangkalnya, sedangkan kami toh memakai kata-kata yang sama juga dan membuka ayat-ayat yang sama di dalam Alkitab. Ternyata titik pandang Dick adalah pada aktivitas Allah dalam pembaptisan, sedangkan pandangan saya tertuju pada tanggapan orang percaya yang dibaptiskan. Secara mendadak pula saya menjadi mengerti tentang dasar pemikirannya mengenai baptisan bayi. (Tentunya, kami belum juga sepaham tentang hal itu, tetapi sekarang saya menjadi lebih mengerti mengapa ia berkepercayaan sedemikian aneh itu!)

Lebih jauh, disamping peranannya sebagai penerjemah, Dick telah menjadi pendorong bagi pertumbuhan pribadi serta perkembangan pekerjaanku. Kami berdua sama-sama gemar membaca buku, namun mempunyai selera yang berbeda-beda. Kegemarannya ialah membaca sejarah, sedangkan saya fiksi. Sambil minum-minum kopi, kami akan bertukar pikiran tentang buku-buku, pengarang-pengarang, tema-tema menarik, pandang-pandangan, serta ilustrasi khotbah yang baik. Saya masih belum bergabung dengan Kelompok Kelompok Pencinta Buku Sejarah (Dick berharap saya bergabung supaya dia bisa mendapat tiga buah buku gratis sebagai hadiah karena membawa seorang anggota baru :), tetapi saya telah memperluas selera bacaan saya lebih daripada buku-buku novel. Sama juga, Dick sudah mulai gemar membaca buku-buku Chaim Potok, Saul Bellow dan Frederick Buechner. Bersama-sama kami bergumul dengan buku Kierkegaard, Claus Westermann, dan Rabbi Harold Kushner. Ia merasa tertantang karena saya sering membuat khotbah-khotbah eksegesis berdasarkan teks Yunani yang saya kuasai. Saya menjadi kagum ketika saya mengetahui bahwa ia sedang membaca beberapa ayat dari Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani setiap malam sebelum beristirahat. 'Besi menajamkan besi' kata Kitab Amsal, dan otak saya kian menjadi tajam setelah diasah oleh sahabat saya ini.

Keluarga kami pun telah memperoleh manfaatnya dari hubungan persahabatan kami ini. Anak-anak kami kira-kira berusia sebaya dan isteri kami masing-masing bekerja sebagai jururawat di rumah sakit setempat. Kami merayakan hari-hari ulang tahun bersama-sama, saling mengundang untuk makan malam pada acara Pengucapan Syukur, dan sama-sama merasa kecapaian di sore hari Paskah setelah memimpin kebaktian secara terus-menerus sepanjang pagi harinya. Hubungan kami telah menambahkan suatu dimensi tertentu tentang kesehatan dan kemantapan dalam kehidupan kami sehingga kami pun dapat menyampaikan cerita-cerita yang indah kepada orang-orang lain yang bisa mengerti tentang kegembiraan serta trauma yang dialami oleh seorang pendeta dan keluarganya.

SANG PENASIHAT

Jim, adalah seorang teman saya yang lain. Dan akan lebih tepat jika saya memperkenalkan dia sebagai Dr. James Mason, sebab dia adalah salah seorang guru besar kesayangan saya selama berada di seminari. Maka, kini di samping menjadi sahabat saya, Jim tetap menjadi penasihat saya dalam pelayanan.

Dalam kitab Perjanjian Baru, menasihati itu merupakan suatu pola yang kuat sekali untuk mengembangkan pendeta-pendeta muda. Yesus memberikan nasihat kepada kedua belas muridNya, Barnabas membawa Paulus dan Markus, dan pada gilirannya Paulus pun menasihati Timotius dan Titus. Adalah sulit untuk membaca Kitab Injil atau pun Surat-Surat Penggembalaan tanpa merasakan adanya kehangatan persahabatan yang berkembang dan menghasilkan hubungan untuk menasihati ini.

Persahabatan saya dengan Jim telah dimulai sejak tahun terakhir saya di seminari dan sampai sekarang hubungan ini masih terpelihara dengan baiknya. Saya bekerja sebagai asisten dosen dan perkenalan ini bertumbuh di luar ruang kelas. Setelah berjalan melewati beberapa waktu yang penuh kesulitan bersama-sama, hubungan kami mulai bertumbuh. Ketika saya lulus, saya tidak menginginkan persahabatan itu hanya tinggal sebagai suatu kenangan indah. Jim pun berpikiran sama seperti saya.

Untuk memelihara ikatan kami itu diperlukan suatu tekad serta kesediaan untuk menanggung biayanya. Northfield berada dalam jarak kira-kira satu jam perjalanan dengan mobil dari Seminari Bethel dan pembicaraan lewat telepon adalah interlokal, tetapi biayanya masih bisa terjangkau. Di samping kesukaan dalam saling membagikan pengalaman kehidupan dan iman serta pelayanan dengan Jim, saya telah memperoleh manfaat lain-lainnya.

Dia mengenal saya. Saya berada di dalam kelasnya. Dia mengetahui jalan pikiran, prasangka-prasangka, harga diri, serta kelebihan dan kekurangan saya.

Selanjutnya, setelah Ia berkhotbah di gereja saya dan mengadakan percakapan dengan jemaat, maka dia mengetahui tentang hubungan saya dengan jemaat. Dia juga mengetahui hubungan-hubungan yang lebih luas tentang keadaan jemaat serta tradisi teologis dalam gereja yang saya layani. Waktu yang diluangkan untuk saling membagi cerita ini tak dapat dinilai dengan harta. Kapan saja saya menelepon dia untuk mendapatkan nasihatnya, maka dia langsung dapat menempatkan diri dalam situasi/keadaan saya. Jika saya menghadapi kesulitan dengan khotbah saya, dia segera dapat mengatasinya. Jika saya menghadapi konflik/bentrokan dengan jemaat saya, dia memberikan suatu jalan keluar dan menolong saya untuk bisa melihat persoalan itu dengan lebih jelas.

Saya tak dapat memastikan seberapa jauh persahabatan ini telah membuahkan kepuasan dan keberhasilan dalam pelayanan saya. Banyak lubang perangkap telah dapat saya hindari, berbagai masalah pelik dapat diatasi dengan baik, lebih dari satu kali khotbah menjadi tersusun lebih baik -- semua ini dilakukan dengan bantuan penasihat dan sahabat saya.

Jika saya merasa bergairah oleh suatu kesempatan yang baru, maka saya dapat meniupkan balon percobaan saya untuk memperoleh penilaian menurut pandangannya. Atau jika saya sedang mengalami kekecewaan, saya langsung dapat menumpahkan seluruh perasaan saya itu dihadapannya. Seperti yang dia katakan kepada saya pada satu hari Senin setelah melampaui hari Minggu yang suram, "Jangan khawatir soal itu. Tujuanmu yang terutama dalam beberapa minggu ini ialah hanya menyelesaikan masalah itu."

Saya yakin bahwa penasihat-penasihat yang mempunyai kemampuan seperti Jim sudah disediakan untuk setiap pendeta muda. Seluruh mantan mahaguru, pendeta yang telah berpengalaman, serta pendeta eksekutif yang melayani di wilayah sekitar merupakan penasihat- penasihat yang amat potensial. Persahabatan seperti ini jarang terjadi secara kebetulan saja. Di sini diperlukan sekali adanya maksud baik dan kesediaan untuk memberikan waktu dan pengorbanan uang. Tetapi untuk kedua belah pihak, penasihat maupun pendeta baru, kesukaan dalam kegiatan itu akan berlipat ganda apabila disampaikan kepada orang lain juga.

ORANG AWAM

Kelihatannya, persahabatan saya dengan Gary adalah yang paling mengandung risiko, namun sekaligus juga paling bermanfaat dari semua persahabatan yang saya alami. Gary adalah seorang awam yang kebetulan menjadi anggota dari gereja yang saya layani. Namun, faedahnya bagi diri saya (dan untuk jemaat) jauh lebih besar daripada risiko yang saya hadapi.

Sederhana saja, Gary menghargai kejujuran saya di dalam kehidupan kekristenan saya. Godaan yang paling besar bagi diri saya di dalam pelayanan adalah kecenderungan untuk menjadi seorang "Kristen yang profesional." Hal itu merupakan jebakan yang mudah. Saya dapat memberikan konseling dengan sebaik-baiknya, mengajarkan apa yang difirmankan oleh Alkitab, menyerukan keterikatan kepada jemaat supaya taat dan setia, kemudian pulang dengan anggapan bahwa saya sudah menjalan tugas kehidupan Kristen -- seolah-olah hidup saya bersama Tuhan hanya untuk menjalankan tugas penggembalaan atau melaksanakan tanggung jawab secara profesional saja. Gary tidak akan membiarkan saya bersikap demikian.

Dia memiliki suatu kedudukan yang khusus untuk bisa meminta pertanggungjawaban saya. Sebagai anggota yang aktif di dalam jemaat, dia mengetahui apa yang terjadi dalam kebaktian-kebaktian dan di pertemuan-pertemuan urusan gereja. Dia memperhatikan apa yang saya sampaikan dari atas mimbar dengan teliti, dan apa yang saya ajarkan di dalam ruang kelas. Dia juga mengetahui tentang semua keberhasilan maupun kegagalan saya dalam melaksanakan program gereja yang beraneka ragam. Dia mempunyai tempat dalam persahabatan kami untuk menantang diri saya menjadi apa yang saya percayai dan mempraktikkan apa yang saya sampaikan. Dia tidak terperanjat apabila saya berkhotbah tentang sesuatu hal yang tak dapat saya lakukan. Hal apakah yang tak dapat di khotbahkan oleh pendeta? Tetapi pada saat- saat sendagurau diantara kami berdua atau pada jam-jam doa mingguan, dia mendorong saya supaya menerapkan khotbah-khotbah saya untuk diri saya sendiri. Dia menantang "saya pribadi" untuk berbuat hal yang sama dengan "saya secara umum" atau jemaat.

Di samping memberikan dorongan secara langsung itu sesungguhnya kejujuran dalam kehidupannya merupakan motivasi yang sangat menekan kehidupan saya sendiri. Sebagai seorang pelatih bola basket di kampus, dia adalah salah seorang pekerja paling keras yang pernah saya jumpai. Meskipun demikian, persekutuan pribadinya dengan Tuhan, pelayanannya sebgai pemimpin kaum muda, serta keterlibatannya dalam proyek-proyek penjangkauan keluar gereja selalu diutamakan.

Dia adalah seorang Kristen yang penuh semangat, bukan seorang Kristen yang profesional. Dia menjadi "suatu peringatan" yang terus- menerus bagi diri saya untuk bersikap sama seperti dia.

TEMPAT UNTUK MENDAPATKAN SEORANG SAHABAT

Dalam menyatakan persahabatan yang saya alami, saya telah menyaring beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat mencari seorang sahabat.

  1. Patokan awal adalah pada diri Anda sendiri. Pepatah lama yang mengatakan "Mempunyai seorang sahabat, berarti harus bersatu" itu memang benar. Kebanyakan persahabatan tidak terjadi begitu saja; itu adalah hasil dari kehendak/keinginan dan rasa keterikatan. Untuk memperoleh faedah jangka panjang dalam persahabatan sangat memerlukan pengorbanan waktu dan tenaga.

    Hal ini tidak terjadi pada saya dengan sendirinya. Menyatakan 'ya' terhadap persahabatan biasanya berarti mengatakan 'tidak' terhadap hal-hal yang lain. Kepribadian Corak-A yang ada dalam diri saya, pada tahun-tahun awal saya, tidak banyak memberi kesempatan untuk mencari persahabatan yang sesungguhnya.

    Namun, selama berada di seminari, seorang teman sekelas dan Tuhan telah membuat banyak perubahan didalam diri saya. Steve dan saya bisa saling merasakan hubungan persahabatan yang indah, baik di dalam maupun di luar kelas, tetapi barangkali hubungan itu tidak akan berkelanjutan lebih jauh jika saja Steve tidak mempunyai kemauan yang keras. Upaya yang bertumbuh ini mencapai puncaknya ketika dia mengajak saya untuk mengikutinya bersama dua rekan sekelas lainnya menikmati masa liburan ke Minnesota bagian utara untuk memancing ikan.

    Sebelumnya saya tak pernah pergi memancing, dan ketika saya diberitahu bahwa kami akan berangkat sesaat setelah lewat tengah malam sehingga kami bisa tiba di danau itu sebelum fajar merekah, aku mulai berpikir seribu kali tentang petualangan itu. Tetapi toh, saya pergi juga. Kesukaan dalam menyaksikan matahari terbit di Minnesota, pemandangan yang baru pertama kali saya lihat, persahabatan dengan mereka -- semua pengalaman itu telah meyakinkan saya bahwa korban jam tidur yang tak seberapa itu adalah harga murah yang dibayarkan untuk mendapatkan kebijaksanaan yang besar dalam menumbuhkan persahabatan.

  2. Ciri yang paling penting yang perlu dimiliki seorang sahabat adalah membiarkan Anda tetap bersikap/berlaku sebagai Anda. Tanpa hal ini, persahabatan yang sesungguhnya tak mungkin bisa terjadi. Hal tersebut tampaknya cukup mendasar, tetapi khususnya para pendeta mengalami bahwa karakteristik atau sifat itu sulit sekali untuk ditemukan.

    Seorang pendeta harus bersedia untuk "ditanggalkan baju kependetanya", di dalam persahabatan itu. Dan sahabat itu pun harus bersedia menerima diri Anda tanpa jubah atau gelar kependetaan Anda. Persahabatan terjadi di antara dua orang, bukan hanya dari satu orang saja.

    Ketika saya tiba di Emmaus, keinginan saya adalah untuk menjadi orang yang sesuai dengan keberadaan saya sebenarnya, dan dalam arti yang lebih dalam menjadi seorang sahabat bagi segenap jemaat. Saya pun segera mengetahui bahwa betapa mustahil hal itu dapat terjadi. Namun di gereja-gereja kecil terdapat begitu banyak anggota jemaat yang dapat menikmati indahnya hubungan persahabatan yang erat dengan setiap orang lainnya. Lebih jauh, tidak semua orang menginginkan diri saya sebagai sahabat mereka (hal ini sungguh amat mengejutkan saya!) Beberapa orang jemaat lebih menyukai melihat diri saya sebagai pendeta mereka saja, bukan sebagai seorang sahabat. Saya harus bisa menerima kenyataan ini.

    Tetapi kenyataan ini justru membuat lebih penting untuk mempererat persahabatan akan memungkinkan saya menjadi diri saya sendiri. Jika saya ingin memandang tugas kependetaan saya sebagai sarana untuk pelayanan bukannya baju jabatan biasa saja, maka saya harus dapat melepaskannya sewaktu-waktu -- untuk menjadi Rick, bukan Pendeta. Teman-teman saya membiarkan saya berbuat demikian.

    Teman-teman seperti itu tidaklah mudah ditemukan. Tetapi saya telah mengetahui bahwa mereka memperbarui diri saya sebagai pribadi di hadapan Allah, sehingga peranan saya sebagai pendeta di bawah kuasa Allah semakin dipompa dan diteguhkan dengan rasa kemanusiaan yang sesungguhnya.

  3. Persahabatan itu bersifat timbal balik. Agar hal itu bisa terjadi, maka kedua belah pihak harus mendapatkan sesuatu dari hubungan itu.

    Secara sepintas hal itu nampaknya dingin dan terlalu bersifat ekonomis. Di dalam prakteknya hubungan itu dapat berkembang begitu hangat dan dalamnya. Suatu hubungan persabatan yang secara terus- menerus menguras salah seorang anggotanya, lambat laun pasti akan membosankan.

    Seorang sahabat yang sejati mempunyai sesuatu untuk diberikan dan pada suatu saat perlu juga menerima sesuatu. Tanpa keseimbangan ini, tak ada hubungan persahabatan yang lestari. Hubungan itu menjadi suatu pelayanan, bukan suatu persahabatan.

    Saya tidak suka mengakui hal itu.tetapi hal itu memang benar. Dan saya percaya bahwa sebagian alasan mengapa persahabatan saya dengan Dick, Jim dan Gary dapat berjalan dengan begitu baik ialah karena kami berada dalam lingkungan yang cukup berbeda sehingga persaingan bukan menjadi pokok persoalan. Kami sungguh-sungguh dapat merasakan kesukaan atas keberhasilan teman-teman kami dan merasa sedih atas kegagalan yang dialami oleh salah seorang di antara kami. Hal ini tak mungkin terjadi apabila terdapat sedikit saja perasaan iri hati di antara kami.

  4. Untuk mendapatkan banyak teman berarti harus selalu siap untuk mengutamakan kepentingan orang lain. Teman-teman itu dapat ditemukan dalam diri orang-orang yang paling asing atau aneh. Allah menyukai hal-hal yang tak terduga. Dan beberapa di antara hal-hal paling tak terduga yang tak dapat dipercaya sebgai teman- teman yang paling kita kasihi.

    Gary, misalnya, mula-mula sangat anti untuk memasuki gereja kami, karena kami adalah orang Baptis. Ketika dia dan isterinya pindah ke Northfield, saya mengunjungi mereka, setelah mereka mengadakan kunjungan perkenalan kepada kami, kebetulan gereja kami adalah yang terdekat dengan rumah mereka. Hanya sebegitu sajalah yang mungkin dapat mereka lakukan jikalau bukan Allah yang terus- menerus mengarahkan Gary dan Susie untuk bergabung ke gereja kami. Saya masih terheran-heran menyaksikan bahwa suatu kunjungan yang sangat kaku tahu-tahu telah berkembang menjadi salah satu dari hubungan persahabatan saya paling mendalam. Dan saya yakin bahwa salah satu alasan mengapa Tuhan mengarahkan Gary ke sini ialah agar masing- masing kami dapat memperoleh kekuatan dan dukungan satu sama lain mellaui persahabatan kami ini.

    Untuk menemukan kata yang jelas dari "Pengkhotbah" dalam Kitab Pengkhotabh mungkin akan merupakan masalah yang sulit. Namun, ada dasar yang kuat di dalam kata-kata ini.

    "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! (Pengkhotbah 4:9-10).

    Di tengah segala usaha pencarian dan pergumulannya, "sang Pengkhotbah" telah menemukan suatu kebenaran yang tetap menjadi nasihat yang benar bagi para pengkhotbah" yang hidup dalam masa ribuan tahun kemudian: Para pendeta pun membutuhkan teman-teman.

    Macam persahabatan yang saya anjurkan ini tidak memberi tempat bagi hak untuk menuntut kembali. Sama sekali benar untuk bersikap bersahabat kepada orang-orang yang tak bersahabat dan untuk mendapatkan kembali orang-orang yang dikalahkan oleh perubahan yang terjadi dalam kehidupan. Namun, tipe pelayanan ini hanya memerlukan sumber-sumber yang lebih besar untuk tetap memelihara diri Anda. Demikian pula, Anda tak dapat menempelkan diri Anda pada orang lain seperti lintah yang menghisap seluruh kehidupan orang itu. Jika suatu persabatan ingin bisa tetap lestari, maka persahabatan itu harus bersifat timbal balik.

  5. Meskipun kebanyakan di antara kita agaknya tak mau mengakuinya, barangkali kita tak akan mampu untuk mengembangkan suatu persahabatan yang mendalam dengan seseorang yang kita pandang sebagai saingan kita.

    Saya tahu bahwa seharusnya kita berbakti kepada Yesus Kristus tanpa memikirkan tentang kedudukan, tempat, atau hak istimewa -- dan semua rekan pelayan adalah saudara kita laki-laki dan perempuan, mereka bukan sebagai saingan kita. Saya percaya pada idealisme seperti itu. Namun, seringkali saya tak dapat meyakinkan perasaan- perasaan saya. Saya telah berupaya untuk melanjutkan persahabatan saya dengan teman baik saya diseminari maupun pada saat memancing. Steve. Kami sudah bersama-sama meluangkan waktu yang menyenangkan sejak kami melayani di gereja kami masing-masing, tetapi amatlah sulit dalam mengatasi kecenderungan untuk membanding-bandingkan. Diperlukan suatu upaya yang besar untuk mengatasi kecenderungan untuk membanding- bandingkan. Diperlukan suatu upaya yang besar untuk mengatasi daya saing yang mengarah pada sikap membela diri yang dapat merintangi terciptanya persahabatan yang akrab. Saya belum, dan tidak akan melepaskan keinginan saya untuk bersahabat dengan steve, tetapi rintangan ini harus diatas sebelum kami dapat menikmati ikatan persahabatan yang akrab seperti yang pernah kami alami.

Sumber: 

Sumber :

Judul Buku
Penulis
Penerbit
Halaman
:
:
:
:
Kepemimpinan (Vol. 10)
Rick McKinniss
Yayasan Andi, Yogyakarta
33-38

Engkau Tak Lagi Memberi Bunga Padaku

Dear e-Reformed Netters,

Dalam rangka hari Valentine, saya menemukan satu artikel yang pendek sekali tapi sangat praktis dan cocok untuk menolong mengingatkan cinta kasih kita pada pasangan kita masing-masing.
[Maaf, untuk anggota e-Reformed yang belum menikah, mungkin anda dapat menyimpan artikel ini untuk nanti kalau anda sudah menikah.]

In His Love,
Yulia

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Dalam rangka hari Valentine, saya menemukan satu artikel yang pendek sekali tapi sangat praktis dan cocok untuk menolong mengingatkan cinta kasih kita pada pasangan kita masing-masing.
[Maaf, untuk anggota e-Reformed yang belum menikah, mungkin anda dapat menyimpan artikel ini untuk nanti kalau anda sudah menikah.]

In His Love,
Yulia

Edisi: 
025/II/2002
Isi: 

INTRODUKSI

Berbicara tentang cinta, kita sering percaya pada mitos yang mengatakan bahwa kalau cinta kita untuk pasangan (suami atau istri) kita benar-benar "sejati" dan murni maka cinta itu tidak akan pernah pudar tapi akan abadi selamanya. Mitos yang sama beredar di antara orang Kristen yang mengatakan bahwa "perkawinan orang Kristen tidak mungkin berakhir dengan perceraian" dengan dasar dari ayat Matius 19:6 "apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Ayat ini sering ditafsirkan bahwa tidak mungkin terjadi perceraian di antara orang Kristen, karena Allah yang telah mempersatukannya.

Memang ada sebagian kebenaran dari mitos-mitos tsb., tapi tidak benar sepenuhnya. Karena sebagai orang percaya kita tahu bahwa meskipun cinta kita dikatakan "sejati", manusia pada dasarnya adalah berdosa. Keberdosaan manusia ini mudah sekali merusakkan cinta "sejati" itu. Cinta "sejati" pada suami atau istri kita tidak selamanya bertahan kuat kalau tidak kita pelihara baik-baik. Apalagi kalau tidak dikondisikan, maka lama-lama cinta "sejati" itu menjadi pudar. Logika kita mengakui bahwa cinta tidak datang dengan sendirinya, namun anehnya, tidak banyak pasangan Kristen yang memikirkan hal ini sampai keadaan sudah menjadi terlambat, yaitu ketika "tiba-tiba" mereka merasa bahwa hubungan pernikahannya tidak lagi harmonis, dan merasa bahwa mereka telah kehilangan cinta "mula-mula"nya.

Ada pepatah yang mengatakan, "Kota Roma tidak dibangun dalam semalam." Saya kira pepatah ini kalau dibalik juga masih berlaku, "Kota Roma tidak hancur dalam semalam" (tetapi saya harus mengakui itu lebih cepat untuk menghancurkan dari pada membangun). Demikian juga dengan perkawinan. Perkawinan yang tidak dipelihara hari demi hari akan berakhir dengan perceraian, sekalipun Tuhan yang telah mempersatukannya.

Di dalam Alkitab Tuhan Allah kita yang Mahakasih berulang-ulang memberikan contoh kepada kita bagaimana Ia memelihara kasih-Nya pada umat-Nya. Berkali-kali manusia mengkianati kasih Allah, namun Allah berkali-kali memperbaharuinya. Kalau bukan Allah yang terus menerus memelihara kasih-Nya pada kita, tidak mungkin kita saat ini masih bisa berkata bahwa kita mengasihi-Nya.

Nah, marilah kita mencontoh apa yang Allah telah lakukan bagi kita... Peliharalah perkawinan kita... sebelum terlambat. Beberapa petunjuk praktis dalam artikel di bawah ini mudah-mudahan dapat menolong kita semua untuk mengecek keadaan perkawinan kita masing-masing.

Eh.. satu lagi..... bagi suami-suami yang biasa memberi bunga untuk istri anda yang terkasih pada hari Valentine, jangan lupa beli bunga untuknya, ya. ... Bagi suami-suami yang tidak biasa memberi bunga untuk istri anda, tidak ada salahnya untuk memulainya sekarang .... (sedikit boros nggak apa-apa untuk membahagiakan kekasih kita....). Tapi kalau isteri anda alergi bunga, coklat juga masih enak ;-)

Selamat hari Valentine!



# INTERMEZO

ROSE

Mawar merah adalah kecintaannya, ... namanya sendiri juga Rose (artinya mawar). Dan setiap tahun suaminya selalu mengirimkan mawar- mawar itu, diikat dengan pita indah.

Pada tahun suaminya meninggal, ... dia mendapat kiriman mawar lagi. Kartunya tertulis "Be My Valentine like all the years before". Sebelumnya, setiap tahun suaminya mengirimkan mawar, dan kartunya selalu tertulis, "Aku mencintaimu lebih lagi tahun ini, ... Kasihku selalu bertumbuh untukmu seturut waktu yang berlalu ..."

Dia tahu ini adalah terakhir kali suaminya mengirimkan mawar-mawar itu. Dia tahu suaminya memesan semua itu dengan bayar di muka sebelum hari pengiriman. Suaminya tentu tidak tahu kalau dia akan meninggal. Dia selalu suka melakukan segala sesuatu sebelum waktunya. Sehingga ketika suaminya sangat sibuk sekalipun, segala sesuatunya dapat berjalan dengan baik.

Lalu Rose memotong batang mawar-mawar itu dan menempatkan semuanya dalam satu vas bunga yang sangat indah. Dan meletakkan vas cantik itu di sebelah potret suaminya tercinta. Kemudian dia akan betah duduk berjam-jam di kursi kesayangan suaminya sambil memandangi potret suaminya dan bunga-bunga mawar itu.

Setahun telah lewat, dan itu adalah saat yang sangat sulit baginya. Dengan kesendiriannya dijalaninya semua. Sampai hari ini, hari Valentine .. Beberapa saat kemudian, bel pintu rumahnya berbunyi, ... seperti hari-hari Valentine sebelumnya ... Ketika dibukanya, dilihatnya buket mawar di depan pintunya. Dibawanya masuk, dan tiba- tiba seakan terkejut melihatnya. Kemudian dia langsung menelpon toko bunga itu ... Ditanyakannya kenapa ada seseorang yang begitu kejam melakukan semua itu padanya, ... membuat dia teringat kepada suaminya ... dan itu sangat menyakitkan ... Lalu pemilik toko itu menjawabnya, ... "Saya tahu kalau suami Nyonya telah meninggal lebih dari setahun yang lalu ... Saya tahu anda akan menelpon dan ingin tahu mengapa semua ini terjadi ... Begini Nyonya, ... bunga yang anda terima hari ini sudah di bayar di muka oleh suami anda, ... Suami anda selalu merencanakannya dulu dan rencana itu tidak akan berubah. Ada standing order di file saya, dan dia telah membayar semua ... maka anda akan menerima bunga-bunga itu setiap tahun. Ada lagi yang harus anda ketahui, ... Dia menulis surat special untuk anda ... ditulisnya bertahun-tahun yang lalu ... dimana harus saya kirimkan kepada anda satu tahun kemudian jika dia tidak muncul lagi di sini memesan bunga mawar untuk anda ... Lalu, tahun kemarin, saya tidak temukan dia di sini, ... maka surat itu harus saya kirimkan tahun berikutnya ... yaitu tahun ini, ... surat yang ada bersama dengan bunga itu sekarang ... di hadapan Nyonya saat ini."

Rose mengucapkan terima kasih dan menutup telepon, ... dia langsung menuju ke buket bunga mawar itu, ... Sedangkan air matanya terus menetes. Dengan tangan gemetar diambilnya surat itu ... Di dalam surat itu dilihatnya tulisan tangan suaminya menulis,

"Dear kekasihku, ... Aku tahu ini sudah setahun semenjak aku pergi. Aku harap tidak sulit bagimu untuk menghadapi semua ini. Kau tahu, semua cinta yang pernah kita jalani membuat segalanya indah bagiku, Kau adalah istri yang sempurna bagiku. Kau juga adalah seorang teman dan kekasihku yang memberikan semua kebutuhanku. Aku tahu ini baru setahun, ... Tapi tolong jangan bersedih ... Aku ingin kau selalu bahagia, ... walaupun saat ini kau sedang hapus air matamu ... Itulah mengapa mawar-mawar itu akan selalu dikirimkan kepadamu. Ketika kau terima mawar itu, ingatlah semua kebahagiaan kita, dan betapa kita begitu diberkati ... Aku selalu mengasihimu ... dan aku tahu akan selalu mengasihimu ... Tapi, ... istriku, kau harus tetap berjalan ... kau punya kehidupan ... Cobalah untuk mencari kebahagiaan untuk dirimu. Aku tahu tidak akan mudah ... tapi pasti ada jalan ... Bunga mawar itu akan selalu datang setiap tahun, ... dan hanya akan berhenti ketika pintu rumahmu tidak ada yang menjawab dan pengantar bunga berhenti mengetuk pintu rumahmu ... Tapi kemudian dia akan datang 5 kali hari itu, ... Takut kalau engkau sedang pergi ... Tapi jika pada kedatangannya yang terakhir dia tetap tidak menemukanmu ... Dia akan meletakkan bunga itu ke tempat yang ku suruh ... meletakkan bunga-bunga mawar itu ditempat dimana kita berdua dibaringkan .. untuk selamanya ... I LOVE YOU MORE THAN LAST YEAR, ... HONEY ..."

Sumber
[Diedit dari sumber: dari milis diskusi www.gerejakatolik.net]



# ARTIKEL

ENGKAU TAK LAGI MEMBERI BUNGA PADAKU

Tujuh tanda yang menunjukkan adanya jarak dalam suatu kehidupan pernikahan.

Menurut Alkitab, suatu pernikahan yang ideal membuat kita "menjadi satu daging" dengan pasangan kita. Jika rasa kesatuan dan kepenuhan mulai terkikis, hal itu tidak terjadi secara mendadak seperti suatu bencana alam. Tanda-tanda pengikisan mestinya menyadarkan kita tentang adanya suatu bahaya.

Anda mendapati diri Anda mencari alternatif lain untuk menggantikan pasangan Anda.

Untuk memperkokoh persatuan memerlukan waktu, namun jika hubungan pernikahan tergelincir tidak menjadi prioritas, maka keadaan itu makin lama akan makin parah. Mereka mungkin akan mengenakan topeng hanya sekadar memenuhi tuntutan formal -- bekerja, aktivitas kegerejaan dan kemasyarakatan, atau kepentingan anak- anak. Biasanya kita melakukan hal-hal tersebut dan mendapat pujian. Jika pernikahan tidak menghasilkan pujian atau penghargaan-penghargaan, hal itu akan ditolak.

Anda merasa makin jengkel saja dengan tingkah laku pasangan Anda.

Setiap pasangan dapat saling membuat daftar yang berisi kejengkelan-kejengkelan terhadap pasangannya. Istri saya, Mellisa, dapat, dan saya pun bisa melakukannya. Kita biasanya mengatasi atau menyesuaikan dengan hal-hal ini. Ketika ada sesuatu yang tidak mengenakkan, bagaimanapun hal itu menjadi demikian jelas dalam persepsi kita. Hasil dari perasaan frustasi nampak dalam kecaman, ejekan, maupun penolakan.

Anda tidak menanyakan pada pasangan Anda untuk melakukan sesuatu bagi Anda seperti biasanya.

Suatu pernikahan yang sehat memiliki kesaling-tergantungan seimbang yang dapat dinikmati pasangan itu (bukan "co- dependency", suatu dinamika tidak sehat yang menghasilkan sifat individualistik). Manakala salah satu atau kedua orang dari pasangan tersebut tidak menikmati kesatuan, ketergantungan itu akan muncul dalam bentuk rasa bersalah atau cemas. Ini akan memudahkan pasangan Anda mengalami kemunduran tingkat ketergantungannya pada Anda daripada pengertiannya atas kebutuhan-kebutuhan Anda.

Anda berhenti berbagi rasa secara detail tentang kehidupan Anda.

Dalam kehidupan rutin pada umumnya, informasi selalu berubah. Ketika hubungan antar pribadi macet, pengalaman berbagi rasa sangat berkurang dan rencana duniawi terasa mengancam.

Minat Anda terhadap seks berkurang.

Meski dengan dorongan seks yang tinggi dari seorang laki-laki dan kebutuhan yang kuat untuk dekat dari seorang wanita, jika daya tarik telah meninggalkan percintaan, demikian juga dengan hasrat seksual. Dengan sendirinya hal ini mungkin akan tampak dalam perasaan enggan, atau sedikit demi sedikit memberikan keluhan- keluhan fisik, alasan untuk pergi tidur, atau pola kebiasaan tidur yang berubah lebih awal.

Anda mulai menginginkan menjadi pribadi yang berlawanan dengan diri Anda.

Ingat tanda yang Anda rasakan saat pasangan Anda pertama kali hadir? Apa pun itu -- hormon-hormon, kebutuhan bawah sadar, keinginan bertanding, atau sentuhan surgawi -- para pecinta akan bergairah saat yang dicintai muncul. "The very thought of you, and I forget to do ..." ("Ingatan tentang kamu, dan aku lupa melakukan ...) tergambar melalui salah satu lagu lama kesukaan saya. Ketika Anda mendapati diri ingin menjadi orang lain, hati- hatilah!

Anda menyembunyikan sumber keuangan.

Semua pasangan mempunyai tanggung jawab yang sama dalam hal pemenuhan kebutuhan keuangan keluarganya. Ini mungkin tampak setelah sekian lama kesatuan itu pergi. Ketika pernikahan mulai gagal, masing-masing mulai mencari sesuatu di luar bagi dirinya sendiri. Penggunaan uang secara berterus terang mulai berkurang. Pembukaan rekening baru mungkin mereka lakukan, kadang-kadang secara sembunyi-sembunyi. Uang dan seks, merupakan barometer bagi sehatnya pernikahan, dan melaluinya dapat mengisyaratkan adanya masalah-masalah.

Sumber: 

Sumber :

Judul Buku
Judul Artikel
Penulis
Penerbit
Halaman
:
:
:
:
:
Kepemimpinan (Pengharapan) Vol. 38/Tahun X
Engkau Tak Lagi Memberi Bunga Padaku
Lois Mc. Burney (Psikiater dan pendiri Marble Retreat di Marble, Colorado)
Yayasan ANDI, Yogyakarta
31 - 32

Lagu Tentang Kehendak Tuhan

Dear e-Reformed Netters,

Tak terasa kita sudah melewati bulan pertama tahun 2002, dan sekarang kita sudah ada diawal bulan Februari. Bagaimana keadaan anda semua? Bersyukurkah anda dengan hari-hari yang telah anda lalui? Saya berharap kasih dan penyertaan Tuhan senantiasa kita rasakan dan nikmati, sehingga hidup kita boleh selalu memancarkan sukacita ilahi.

Biasanya setiap bulan saya selalu mengirim sebuah artikel, tapi karena bulan Februari ini ada perayaan Hari Kasih Sayang (Valentine), maka saya akan mengirimkan dua buah artikel. Satu artikel akan anda nikmati melalui surat saya hari ini. Artikel yang kedua akan saya kirim tgl. 14 Februari 2002 pada perayaan Hari Valentine.

Nah, bagi anda yang menyukai musik dan menghargai musik-musik rohani klasik, berikut ini saya kutipkan artikel yang menceritakan secara singkat hidup seorang pengarang lagu yang sangat indah luar biasa, yaitu lagu "Have Thine Own Way, Lord". Sebuah lagu yang telah menggugah banyak orang Kristen lahir baru untuk benar-benar mendedikasikan hidup sepenuhnya dalam kehendak Tuhan.

Selamat membaca,
Yulia

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Tak terasa kita sudah melewati bulan pertama tahun 2002, dan sekarang kita sudah ada diawal bulan Februari. Bagaimana keadaan anda semua? Bersyukurkah anda dengan hari-hari yang telah anda lalui? Saya berharap kasih dan penyertaan Tuhan senantiasa kita rasakan dan nikmati, sehingga hidup kita boleh selalu memancarkan sukacita ilahi.

Biasanya setiap bulan saya selalu mengirim sebuah artikel, tapi karena bulan Februari ini ada perayaan Hari Kasih Sayang (Valentine), maka saya akan mengirimkan dua buah artikel. Satu artikel akan anda nikmati melalui surat saya hari ini. Artikel yang kedua akan saya kirim tgl. 14 Februari 2002 pada perayaan Hari Valentine.

Nah, bagi anda yang menyukai musik dan menghargai musik-musik rohani klasik, berikut ini saya kutipkan artikel yang menceritakan secara singkat hidup seorang pengarang lagu yang sangat indah luar biasa, yaitu lagu "Have Thine Own Way, Lord". Sebuah lagu yang telah menggugah banyak orang Kristen lahir baru untuk benar-benar mendedikasikan hidup sepenuhnya dalam kehendak Tuhan.

Selamat membaca,
Yulia

Edisi: 
024/II/2002
Isi: 

Syair lagu "Have Thine Own Way, Lord" dalam bahasa Inggris:

HAVE THINE OWN WAY, LORD

Have thine own way, Lord, have thine own way! Thou art the Potter; I am the clay, Mould me and make me, After thy will, While I am waiting, Yielded and still.

Have thine own way, Lord, have thine own way! Search me and try me, Master, today! Whiter than snow, Lord, Wash me just now, As in thy presence Humbly I bow.
Have thine own way, Lord, have thine own way! Wounded and weary, Help me I pray! Power, all power, Surely is thine! Touch me and heal me, Saviour divine!

[[Syair: Have Thine Own Way, Lord
Oleh : Adelaide A. Pollard, 1907, Yesaya 64:8
Lagu : ADELAIDE, George C. Stebbins, 1907 ]]

Adelaide A. Pollard adalah seorang wanita yang lain daripada yang lain. Banyak pendapat dan perbuatannya yang bertentangan dengan cara berpikir dan bertindak yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang Kristen.

Namun Nona Pollard persis sama dengan saudara-saudara seimannya dalam satu hal, yaitu: Ia sungguh ingin supaya kehendak Tuhanlah yang terjadi. Keinginannya itu pernah dicetuskannya dalam sebuah nyanyian rohani, yang kini telah menjadi lagu pilihan umat Kristen di seluruh dunia.

MENGIKUTI JALANNYA SENDIRI

Sejak kecil pengarang wanita itu rupa-rupanya tidak begitu menghiraukan nasihat orang lain: Ia lebih suka mengikuti jalannya sendiri. Bahkan nama yang diberikan oleh orangtuanya itu tidak berkenan di hatinya. Maka ia sendiri kemudian mengganti nama itu sehingga "Sarah A. Pollard" menjadi "Adelaide A. Pollard."

Nona Pollard yang keras kepala itu memperoleh pendidikan yang baik. Ia lahir pada tahun 1862 di Iowa, dan bersekolah di negara bagian itu. Ia pun bersekolah di daerah-daerah Amerika Serikat yang lain, yaitu: Indiana dan Massachussets. Kemudian ia menjadi seorang guru di kota Chicago, Illinois.

Baik Adelaide maupun seluruh keluarga Pollard adalah orang-orang Kristen yang saleh. Namun setelah ia dewasa, Adelaide Pollard jarang bertemu lagi dengan sanak saudaranya. Mungkin salah satu sebabnya ialah, karena ia selalu tertarik pada aliran-aliran Kristen yang oleh orang lain dianggap "sekte yang aneh-aneh."

Selama beberapa waktu Nona Pollard menyokong usaha seorang penginjil yang mengutamakan penyembuhan ilahi. Menurut kesaksiannya sendiri, Adelaide Pollard disembuhkan dari penyakit kencing manis (walau pada hakekatnya kesehatan itu tetap kurang stabil). Kemudian ia beralih kepada seorang penginjil lainnya, yang mengutamakan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya.

Nona Pollard bekerja sama dengan penginjil itu untuk mengumpulkan dana agar dapat ikut serta dengan suatu rombongan utusan Injil ke benua Afrika. Tetapi usaha itu gagal. Lalu Adelaide Pollard mulai mengajar di sebuah sekolah tinggi tempat latihan untuk para calon utusan Injil.

Pada waktu ia sudah setengah umur, Nona Pollard akhirnya jadi juga pergi ke Afrika. Tetapi ia hanya sempat melayani di sana selama beberapa bulan saja. Pecahnya Perang Dunia I, memaksanya mengungsi ke negeri Skotlandia. Empat tahun kemudian, barulah ia dapat pulang ke negeri asalnya.

Sepanjang hidupnya, bahkan pada waktu ia sudah mulai berusia lanjut, Nona Pollard terus mengembara sambil mengabarkan Injil dan mengajarkan isi Alkitab. Sewaktu-waktu badannya menjadi lemah; hanya pada saat-saat itulah ia pulang ke keluarganya, sampai kesehatannya agak pulih kembali.

Menjelang Hari Natal tahun 1934, ketika umurnya sudah 72 tahun, Adelaide Pollard pergi ke stasiun besar di kota New York. Ia membeli sehelai karcis kereta api, karena hendak pergi ke kota Philadelphia untuk berperan serta dalam suatu kebaktian gereja di sana.

Tetapi Tuhan menghendaki agar Nona Pollard pergi ke suatu tempat tujuan yang lain daripada Philadelphia. Wanita yang sudah tua itu jatuh sakit sementara menunggu kereta api. Dalam waktu yang singkat ia sudah berpulang ke "Stasiun Surgawi"

MENGIKUTI JALAN TUHAN

Mungkin cara hidup Adelaide A. Pollard itu boleh dianggap agak aneh. Namun demikian, cukup jelaslah bahwa ia seorang wanita Kristen yang melayani Tuhan dengan rajin dan setia. Dalam beberapa hal ia memang bersikeras mengikuti jalannya sendiri. Tetapi dalam hal-hal yang sungguh berarti, ia selalu berusaha mengikuti jalan Tuhan.

Nona Pollard, sama seperti ibunya dulu, suka mengarang syair-syair rohani. Tidaklah diketahui beberapa banyak jumlah karangannya, oleh karena ia tidak suka membubuhi namanya pada semua hasil karyanya. Tetapi paling sedikit satu di antara sajak-sajak rohani buah penanya itu sudah ketahuan rahasia asal-usulnya, yakni: lagu pilihan yang diceritakan dalam artikel ini.

Pada suatu masa hampir satu abad yang lalu, Adelaide Pollard rindu sekali untuk pergi ke Afrika sebagai seorang pengabar Injil. Tetapi rupa-rupanya jalan menuju ke sana itu tertutup. Pada waktu hatinya diliputi rasa kecewa, ia menghadiri suatu pertemuan doa. Hadir juga pada saat itu seorang wanita Kristen yang sudah lanjut usianya. Dalam doanya, orang yang tua itu tidak memohon berkat-berkat Tuhan, seperti yang biasa dilakukan oleh umat Kristen. Sebaliknya, doanya berbunyi sebagai berikut:

"Tidaklah menjadi soal, apa saja yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita, hanya saja, semoga kehendak Tuhanlah yang jadi!"

Permohonan yang sederhana itu sangat berkesan dalam hati Adelaide Pollard. Ia merasa terdorong untuk memperbarui penyerahan dirinya kepada Tuhan. Kalau memang bukan kehendak Tuhan supaya ia pergi ke Afrika, maka hal itu tidaklah menjadi soal.

Sepulangnya dari pertemuan doa itu, Nona Pollard merenungkan dua ayat dari Kitab Nabi Yeremia: "Pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan. Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya" (Yeremia 18:3-4).

Jalan pikiran Adelaide Pollard pada malam itu kira-kira sebagai berikut: Rupa-rupanya hingga kini Tuhan telah membentuk hidupku, seperti tanah liat di dalam tangan-Nya. Tetapi mungkin kemauan keras hendak pergi ke Afrika itu telah membuat hidupku rusak, sehingga Tuhan harus membentuknya kembali 'menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangan-Nya'.

Rasa damai menenangkan jiwanya. Dan pada malam itu juga ia menulis sebuah "Lagu Tentang Kehendak Tuhan", yang sekarang dinyanyikan di seluruh dunia.

PANJANG SEKALI UMURNYA

Doa berupa syair karangan Adelaide A. Pollard itu dilengkapi dengan musik oleh George C. Stebbins. Ia dilahirkan pada tahun 1846, di negara bagian New York, Amerika Serikat. Pada umur tiga belas tahun ia sempat mengikuti suatu kursus musik. Sejak waktu itu, musiklah yang menjadi bidang kegiatannya sebagai seorang pengikut Kristus, bahkan sampai ia meninggal pada tahun 1945; umurnya 99 tahun!

Sebagai seorang pemuda, George Stebbins pindah ke kota besar Chicago. Di sana pekerjaannya merangkap: sebagai anggota staf penerbit musik rohani, dan sebagai pemimpin musik di gereja. Setelah beberapa tahun ia mulai mencurahkan sepenuh waktunya menjadi pemimpin musik di sebuah gereja yang besar. Kemudian ia pun menjadi pemimpin musik dalam kampanye-kampanye kebangunan rohani besar- besaran. Di samping itu semua, ia juga mengarang beratus-ratus lagu rohani.

Kampanye-kampanye penginjilan massal itu diadakan bukan hanya di Amerika, melainkan juga di Eropa dan di Asia. Salah satu nyanyian pujian yang paling disayangi hingga kini, pernah dikarang oleh George Stebbins pada saat ia sedang melayani Tuhan di negeri India. Dan dua di antara lagu-lagu karangannya yang terdapat dalam buku Dua Sahabat Lama, dengan aransemen-aransemen khusus untuk solo, duet, atau kwartet.

Pada tahun 1907 George C. Stebbins menerbitkan salah satu dari beberapa buku kumpulan nyanyian pujian yang pernah disusunnya. Untuk koleksi yang baru itu, ia mengarang sebuah melodi yang digabungkannya dengan sebuah syair karangan Adelaide A. Pollard. Maka terbentuklah "Lagu Tentang Kehendak Tuhan", yang telah menjadi sebuah lagu pilihan umat Kristen, baik di Indonesia maupun di mana- mana.

Inilah syair lagu "Biarlah KehendakMu Jadi, ya Tuhan" dalam bahasa Indonesia:

BIARLAH KEHENDAKMU JADI, YA TUHAN
Kehendak Tuhan laksanakan! Ku tanah liat, Kau Penjunan; Bentuklah aku sesukaMu; Aku menunggu di kakiMu
Kehendak Tuhan laksanakan! Tiliklah hatiku dan sucikan; dihadiratMu ku berserah; Yesus Tuhanku, O t'rimalah!
Kehendak Tuhan laksanakan! Tolonglah aku yang berbeban; Sembuhkan, Tuhan, hatiku resah; Yesus Penghibur Mahakuasa
Kehendak Tuhan laksanakan! Jiwa ragaku kendalikan, Isilah aku oleh RohMu; Hiduplah, Yesus, di hatiku! Amin.

Sumber: 

Sumber :

Judul Buku
Pengarang
Penerbit
Halaman
:
:
:
:
Riwayat Lagu Pilihan dari Nyanyian Pujian, Jilid 3
H.L. Cermat
LLB, Bandung
78 - 83

Pentingkan Relasi Kekinian, Bukan Berkat Masa Lalu

Dear e-Reformed Netters,

Selamat berjumpa lagi di tahun yang baru 2002 . Kenangan apa yang anda tinggalkan di tahun 2001? Bagaimana perasaan anda memasuki tahun 2002 ini? Harapan-harapan apa yang anda miliki untuk tahun 2002 ini?

Sementara anda memikirkan pertanyaan-pertanyaan di atas, silakan membaca artikel sajian bulan Januari ini. Kiranya menolong kita semua untuk merenungkan hubungan anda dengan Tuhan, Sang Pemberi berkat.

Selamat merenungkan,
Yulia

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Selamat berjumpa lagi di tahun yang baru 2002 . Kenangan apa yang anda tinggalkan di tahun 2001? Bagaimana perasaan anda memasuki tahun 2002 ini? Harapan-harapan apa yang anda miliki untuk tahun 2002 ini?

Sementara anda memikirkan pertanyaan-pertanyaan di atas, silakan membaca artikel sajian bulan Januari ini. Kiranya menolong kita semua untuk merenungkan hubungan anda dengan Tuhan, Sang Pemberi berkat.

Selamat merenungkan,
Yulia

Edisi: 
023/I/2002
Isi: 

(1Samuel 4:1b-22)

Kehidupan orang percaya tidak dapat dipisahkan dari penyertaan Tuhan. Kita percaya bahwa segala yang dilakukan hanya dapat terlaksana dengan pertolongan dan pimpinan-Nya. Walaupun demikian, seringkali terjadi dalam kehidupan kita lebih bersandar kepada berkat masa lalu daripada kepada Tuhan. Berkat masa lalu sering kita anggap sebagai simbol dari penyertaan Tuhan. Tidak salah jika kita mengatakan bahwa gedung gereja yang megah, keberhasilan pelayanan, atau berkat materi yang didapatkan adalah bukti penyertaan-Nya. Tetapi alangkah menyedihkan jika segala berkat itu membuat kita lupa kepada Tuhan, Sang Pemberinya. Karena itu relasi pribadi dengan Dia adalah sangat penting, lebih penting dari berkat masa lalu.

Firman Tuhan dalam 1Samuel 4 mengingatkan kita akan hal ini. Waktu itu Israel sedang berperang melawan Filistin, dan dalam peperangan itu ternyata Israel kalah dan kehilangan 4000 orang. Kekalahan itu membuat mereka berpikir tentang apa yang harus dilakukan supaya menang. Akhirnya timbul pikiran untuk mengambil tabut perjanjian TUHAN dari Silo dan membawanya ke medan pertempuran. Harapan mereka adalah supaya memenangkan peperangan (ay. 3). Tentu kita bertanya: Apa gunanya tabut itu dibawa ke medan pertempuran? Mengapa timbul ide seperti itu? Apakah tabut itu mampu melepaskan mereka dari musuh?

Sejarah Israel mencatat bahwa tabut itu sering memimpin mereka. Tabut TUHAN berjalan di depan, memimpin dan menuntun Israel di padang gurun (Bil. 10:33). Ketika masuk ke Kanaan di bawah pimpinan Yosua, mereka menyeberangi sungai Yordan dan tabut berjalan di depan mereka, dan sungai itu terbelah (Yos. 3:14-16). Pada penaklukan Yerikho, bukankah tabut itu yang ada di depan ketika tembok itu dikelilingi (Yos. 6)?

Ketika mengalami kekalahan dari Filistin, mereka berpikir jika ada tabut di tengah peperangan mereka akan menang. Reaksi yang ditimbulkan oleh hadirnya tabut di tengah peperangan sangat besar. Ketika tabut itu sampai ke perkemahan mereka bersorak dengan nyaring, karena sungguh yakin akan keampuhan tabut itu (ay. 4-5). Sebaliknya orang Filistin yang mendengar sorakan itu menjadi takut karena mengatahui ada tabut di perkemahan Israel dan tahu akan ada kuasa besar di tengah Israel. Sebab itu mereka berkata, "Celakalah kita! Siapakah yang menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Inilah juga Allah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai-bagai tulah di padang gurun" (ay. 7-8).

Kedatangan tabut pada satu pihak memberikan keyakinan kepada Israel tentang kemenangan, pada pihak lain bagi Filistin mendatangkan ketakutan. Tetapi, bagaimana kenyataannya di medan pertempuran? Apakah Israel menang dan Filistin kalah? Pada ayat 10 tercatat bahwa Israel justru mengalami kekalahan besar. Kekalahan yang ditimbulkan ketika membawa tabut itu jauh lebih besar dari kekalahan pertama. Mereka kehilangan 30000 orang, jauh lebih banyak dari peperangan pertama, yaitu 4000 orang (ay. 2,10), bahkan tabut itu dirampas.

Apakah tabut tidak memiliki kuasa lagi? Apakah Allah Israel tidak berkuasa lagi? Tabut memang menandakan kehadiran Allah dan penyertaan-Nya di tengah umat. Secara manusiawi kehadiran tabut seharusnya memberi kemenangan, tetapi ternyata tidak. Tabut ada di sana tetapi penyertaan Tuhan tidak. Allah Sang Pemberi kemenangan tidak memberikan hal itu kepada Israel. Hal ini tidak berarti Allah tidak berkuasa lagi. Kalau kita membaca pasal lima, terlihat kuasa Allah dinyatakan. Bukankah Dagon, dewa Filistin jatuh di hadapan tabut Tuhan? Kuasa Allah sungguh nyata dan ada. Tetapi mengapa mereka kalah? Jawabannya terletak pada keadaan mereka yang tidak memiliki hubungan dengan Allah. Itu sebabnya pada akhir pasal ini dicatat bahwa cucu Eli yang lahir pada masa itu diberi nama Ikabod karena "Telah lenyap kemuliaan dari Israel," sebab tabut Allah telah dirampas.

Waktu itu Israel mengalami krisis rohani sehingga mereka tidak lagi memiliki relasi dengan Tuhan. Ironisnya, hal itu terjadi di rumah Tuhan di Silo. Pemimpin mereka, imam Eli, ternyata tidak membawa umat lebih dekat kepada-Nya. Allah menegur Eli karena ia lebih menghormati anak-anaknya daripada Tuhan (2:29). Lebih lagi dalam 1Samuel 3:1, ketika Samuel dipanggil, Alkitab mencatat pada masa itu firman TUHAN jarang; penglihatan pun tidak sering. Bukankah itu menunjukkan mereka jarang berkomunikasi dengan Tuhan? Tidak mengherankan ketika Samuel dipanggil ia tidak mengerti suara Tuhan. Samuel tidak mengerti karena mungkin tidak pernah diajar akan hal itu. Bahkan Eli pun baru sadar setelah Tuhan memanggil Samuel beberapa kali. Sungguh ironis hal itu terjadi di pusat kerohanian Israel.

Keadaan menyedihkan ini merupakan teguran bagi Israel waktu itu. Dalam bagian ini terdapat hal-hal yang menarik untuk diperhatikan. Israel yang memiliki tabut mengalami kekalahan, sedang Filistin yang ketakutan justru menang. Pada pasal 7 keadaan menjadi terbalik; Filistin kalah. Apakah karena tabut ada di Filistin? Tidak! Tabut telah dikembalikan kepada Israel. Kuncinya ada di 1Samuel 7:3, yaitu pertobatan. Ketika Israel, bertobat, Tuhan memberi kemenangan. Yang menarik adalah kondisi mental mereka yang terbalik. Orang Israel dalam keadaan ketakutan, sedang Filistin dengan gagah maju mendatangi mereka (ay. 7). Namun justru di tengah ketakutan itulah Allah bekerja luar biasa dan mereka mememenangkan peperangan.

Dalam kitab ini kehidupan Samuel merupakan sentral. Dialah yang memimpin Israel untuk taat pada Tuhan. Hal itu bisa terlihat pada pasal 3:21, "Dan TUHAN selanjutnya menampakkan diri di Silo, sebab Ia menyatakan diri di Silo kepada Samuel dengan perantaraan firman-Nya." Suatu keadaan yang kontras dengan ayat 1 dimana firman Tuhan jarang dan penglihatan pun tidak sering. Samuel dekat dan mendengar suara Tuhan. Dia mengajar Israel taat kepada Tuhan, karena itu mereka menang.

Apa kepentingan tabut bagi Israel? Apa sebetulnya yang ada dalam tabut? Di dalam tabut ada dua loh batu, yang menunjukkan perjanjian Allah-Israel, yang berarti Ia akan memimpin Israel; Dialah Allah mereka dan Israel umat-Nya (Kel. 19-20; Bil. 5). Perjanjian ini juga berarti tuntutan agar Israel setia dan menaati perintah-Nya. Meskipun demikian Allah setia dan walau mereka pernah tidak taat pada-Nya, tetapi waktu mereka bertobat dan taat, Tuhan kembali memimpin dan menolong.

Kebenaran pengalaman Israel seharusnya mengingatkan kita untuk mengoreksi diri. Sering sebagai orang Kristen kita lebih mementingkan berkat masa lalu yang sebenarnya bukan jaminan. Allah lebih menghendaki ketaatan dan kesetiaan sebagai respons atas anugerah-Nya dalam Kristus. Allah memberikan perjanjian yang baru yang terpatri di dalam hati kita (2Kor. 3) Kesanggupan kita melayani juga adalah anugerah semata. Oleh karena itu, baiklah kita tetap waspada, mengarahkan hati pada-Nya, dan dalam menikmati segala berkat, jangan lupa kepada Tuhan Sang Pemberi berkat itu sendiri.

Sumber: 

Sumber :
Bulletin Seminari Alkitab Asia Tenggara, Edisi Oktober 2001

Berita Natal: Nubuat yang Digenapkan

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Melalui artikel Natal ini, saya mengucapkan:

"Selamat Hari Natal dan Tahun Baru!"

Tuhan memberkati kita semua,
Yulia

Edisi: 
022/XII/2001
Isi: 

"Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu." (2 Petrus 1:19)

Di sini rasul Petrus sedang memberikan apologetikanya. Ia sedang menghibur umat yang dalam kesusahan dan banyak kesukaran. Rasul Petrus mengingatkan mereka tentang ajaran-ajaran inti dan paling penting dari iman Kristen. Ia sedang menjawab suatu pertanyaan. Pertanyaan ini ditanyakan oleh orang-orang pada abad pertama dan hingga kini masih tetap ditanyakan. Pertanyaan itu adalah: "Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kedatangan Tuhan Yesus Kristus sebagai raja adalah benar? Apa dasar atau alasan yang kita miliki sehingga membuat kita bisa yakin, mempercayai dan menerima hal-hal ini?"

Rasul Petrus memberikan serangkaian jawaban terhadap pertanyaan tersebut dari ayat 2 Ptr. 1:16-18. Pertama adalah bahwa kita tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, tetapi kita memiliki bukti dan kesaksian dari para rasul. Rasul Petrus berkata, "Apa yang telah kami lihat dan dengar... ketika kami bersama-sama dengan-Nya di atas gunung yang kudus." Ada bukti dan kesaksian rasuli terhadap kehidupan dan mujizat Kristus, dan khususnya apa yang terjadi di Gunung di mana Tuhan Yesus dimuliakan. Kedua, unsur penting lain dalam keyakinan kita, yakni, fakta pewahyuan, penginspirasian Alkitab (2 Ptr. 1:20-21). Petrus secara khusus mengingatkan orang-orang ini tentang natur umum nubuat dan Alkitab, yakni, Allah berbicara. Alkitab bukanlah gagasan dari pikiran dan imajinasi manusia, tetapi semuanya adalah hasil dari intervensi Allah, di mana Allah yang penuh kemurahan menyatakan dan memanifestasikan Diri-Nya kepada kita.

Tetapi itu belum semua; karena perlu pertimbangan: "kami makin diteguhkan oleh Firman yang telah disampaikan oleh para nabi." atau "kita juga memiliki suatu kata nubuat yang membuat kita lebih yakin". Ini menjadi suatu sumber penghiburan. Jika rasul Petrus hanya berkata bahwa nubuat itu lebih meyakinkan daripada dongeng-dongeng yang licik, ia tidak memberikan ketegasan apa-apa. Karena untuk menunjukkan bahwa sesuatu itu lebih baik daripada yang tidak ada, sesungguhnya sama sekali tidak perlu dipuji. Hal itu sudah seharusnya demikian.

Selanjutnya, apakah rasul Petrus berkata bahwa kata nubuatan lebih meyakinkan daripada kesaksian dan bukti rasuli? Meskipun banyak ekspositor yang setuju, tetapi bagi saya ini bukanlah penjelasan yang benar dari kata-kata ini, karena ada suatu pengertian bahwa tidak ada yang lebih besar dan penuh daripada yang mereka telah lihat di gunung, di mana Tuhan Yesus dimuliakan. Di sana mereka melihat Anak Allah itu berubah bentuk, sungguh-sungguh mendengar langsung suara dari surga yang merupakan sesuatu yang tidak bisa dibandingkan bahkan dengan suara yang sama yang berbicara melalui para nabi, yang diinspirasikan. Tetapi bagi saya yang membuat semua pendapat itu tidak dapat diterima adalah kalimat yang Petrus katakan "kami juga memiliki". Dengan perkataan lain, rasul Petrus tidak hanya-menunjuk kepada orang-orang lain, tetapi termasuk dirinya sendiri, dan ia berkata "kami", "para rasul" memiliki satu kata nubuatan yang lebih meyakinkan. Hanya ada satu dan satu-satunya penjelasan yang memadai dari kata-kata ini.

Rasul Petrus tidak sedang membandingkan perkataan nubuat ini dengan apa yang telah ia jelaskan. Sebenarnya ia sedang membandingkan perkataan nubuat yang diberikan pada zaman dulu kepada umat yang hidup pada waktu itu, dengan perkataan nubuat yang sama pada zamannya di mana banyak nubuat yang telah terjadi. Hal ini membuat perkataan nubuat itu makin diyakini. Ini berarti bahwa perkataan nubuat itu lebih meyakinkan dibandingkan yang lain karena penggenapannya dan karena fakta-faktanya. Dengan demikian rasul Petrus berkata bahwa ada fondasi-fondasi di mana kita berdiri dan mendasarkan segala sesuatu. Para nabi berbicara tentang hal-hal yang pasti akan terjadi. Bagi para nabi dan segenap umat yang kepadanya para nabi itu berbicara adalah suatu hal yang sangat menakjubkan dan ajaib. Tetapi ketika kami memperhatikan dan merenungkan segala hal-hal itu jelas tetap menakjubkan. Itulah argumentasi yang sering digunakan dalam Perjanjian Baru (bandingkan Ibrani 11). Tidak ada cara yang lebih menguntungkan selain cara yang diberikan Petrus di sini yaitu ketika kita merenungkan kelahiran Anak Allah dan kedatangan-Nya di dalam dunia, dengan cara kita merenungkannya dalam terang penggenapan dari nubuatannya. Rasul Petrus berpendapat ini cara yang paling menguatkan iman. Sesungguhnya ketika kita mempertimbangkan bukti dan kesaksian rasul, kita tidak lagi ragu-ragu. Tetapi lebih itu di dalam pengertian Perjanjian Baru segala sesuatu yang berhubungan dengan Natal dihubungkan langsung dengan penggenapan, yang sempurna tentang nubutan-nubuatan. Sebab inilah yang akan memberikan kita keyakinan yang tidak dapat digoyahkan ketika kita berada di dalam hari gelap dan sukar.

Saya akan menyatakan ini dalam bentuk beberapa preposisi. Pertama, Kristus dan kelahiran-Nya itu menggenapkan nubuat Perjanjian Lama. "Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh Firman yang telah disampaikan oleh para nabi." Dengan perkataan lain, kita mempunyai hak untuk mengatakan bahwa Perjanjian Lama dapat dimengerti sungguh-sungguh hanya di dalam Yesus Kristus. Inilah cara yang benar untuk membaca Perjanjian Lama; dengan sedapat mungkin memahaminya sebagai suatu kitab janji, sebuah kitab bayang-bayang, sebuah kitab contoh/type. Tetapi kejadian-kejadian yang dicatat di dalam Perjanjian Lama merupakan tindakan-tindakan yang tidak diragukan di dalam diri mereka sendiri dan mempunyai kepentingan serta signifikansi mereka sendiri.

Seluruh Perjanjian Lama merupakan buku bayangan dan pengharapan yang mencari, menunggu dan memperhatikan sesuatu. Sekarang kalimat agung yang diucapkan oleh rasul Petrus, yakni, kedatangan Kristus ke dalam dunia adalah menggenapkan segala sesuatu dan setiap hal yang telah dikatakan di Perjanjian Lama. Saudara tentu ingat bagaimana rasul Paulus meletakkan hal yang sama di dalam bahasa dan caranya sendiri ketika ia berkata, "Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan "Amin" untuk memuliakan Allah." Ada janji-janji di Perjanjian Lama, di dalam Kristus ada jawaban "ya" , "amin" membenarkan penggenapan segala sesuatu yang Allah telah katakan melalui para nabi-Nya di dalam Perjanjian Lama itu. Ini merupakan salah satu kunci utama untuk mengerti Alkitab yang sekali lagi mendemonstrasikan kesatuan yang menakjubkan dan ajaib dari Alkitab.

Kristus adalah pusat dari Alkitab; setiap bagian dari Perjanjian Lama melihat ke depan, kepada-Nya. Segala sesuatu di dalam Perjanjian Baru melihat ke belakang, kepada-Nya. Kristus adalah pusat dari sejarah. Kristus adalah titik api dari seluruh pergerakan umat manusia mulai dari penciptaan hingga akhir zaman. Saudara dapat mengumpulkan semua janji Allah sekaligus di dalam Kristus, di dalam Pribadi-Nya. Tetapi perhatikan momen penggenapan itu secara terperinci; karena ini sekali lagi merupakan sesuatu yang sungguh-sungguh sangat mengherankan dan ajaib. Kita juga tidak dapat melakukan sesuatu yang lebih baik selain mendekati hari Natal dengan mengingatkan diri kita sendiri akan natur penggenapan secara sangat detail. Bahkan jika hanya satu kalimat umum saja yang berkorespondensi dengan Perjanjian Baru itu akan menjadi sangat mengagumkan. Tetapi di sini ada penggenapan secara detail yang hanya dapat dijelaskan dengan dipandang dari fakta bahwa orang yang menulis nubuatan-nubuatan ini menulis dengan diinspirasikan oleh Allah.

Ini merupakan bukti lebih lanjut dari pernyataan bahwa nubuat-nubuat Kitab Suci itu tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, karena nubuat-nubuat masa lalu itu bukan datang dari kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah. Sekarang marilah kita secara cepat dan sepintas meninjau penggenapan detail ini. Detail-detail penggenapan ini adalah nilai yang agung. Perhatikan! Bayi yang dilahirkan di Betlehem itu termasuk suku apa? Jawabannya adalah dari suku Yehuda. Dari keturunan siapa di dalam suku Yehuda itu? Dari keturunan Daud. Kita berbalik ke belakang ke seribu tahun sebelum Natal pertama, bahkan sebelum itu, janji itu telah diberikan bahwa Kristus akan dari suku Yehuda dan dari keturunan Daud. Ketika Bayi itu lahir di Betlehem merupakan verifikasi dari janji itu.

Kapan kedatangan-Nya yang pertama itu terjadi? Ini adalah suatu hal yang sangat menarik dan penting jika Saudara mendekati kelahiran Kristus itu hanya melalui sudut pandang filsafat sejarah. Ketika Anak Allah, Sang Mesias, itu datang secara umum disetujui bahwa itu merupakan kemungkinan paling kecil untuk Ia datang. Sebab sesungguhnya waktu itu adalah waktu dimana tongkat kerajaan akan pindah dari suku Yehuda. Tetapi tepat apa yang telah dinubuatkan ratusan tahun sebelumnya, ketika tongkat kerajaan tampaknya lepas dari tangan suku Yehuda pada hari-hari yang akan datang, maka saat itu Raja dan Pemerintah yang sesungguhnya datang. Jika membaca sejarah kontemporer Saudara akan menemukan bahwa ini merupakan pandangan orang-orang Israel ketika Tuhan kita lahir.

Dipandang dari segi nubuat nabi Daniel (Daniel 9) dengan nubuatan tentang 70 minggu, maka di sana. Saudara akan menemukan kembali secara terperinci sekali, keadaan sebelum waktu kedatanganNya secara tepat. Proses yang luar biasa ini, ketepatan ini, dan nubuat yang disampaikan oleh nabi yang terperinci sekali ini merupakan suatu yang sangat mengherankan.

Kemudian mengenai ibu-Nya. Saudara akan ingat nubuat yang mengatakan bahwa seorang perempuan muda akan melahirkan seorang anak. Saya tahu bahwa nubuat ini segera dan paling langsung berhubungan dengan suatu peristiwa yang terjadi dalam sejarah pada saat itu. Namun tidak dapat membatasi hanya dalam hal itu saja. Ada suatu elemen ganda, fakta yang segera dan suatu penggenapan tersendiri "seorang anak dara akan melahirkan seorang anak". Juga mengenai tempat kelahiran-Nya. Saudara ingat bagaimana tempat itu telah diberikan oleh nabi Mikha; bahwa Ia harus dilahirkan di Betlehem. Saudara akan ingat kunjungan orang majus kepada Herodes ketika sudah genap waktunya Tuhan kita lahir. Karena Herodes tidak mengerti apa yang mereka laporkan maka ia berkonsultasi dengan para imam kepala dan ahli Taurat. Mereka memberikan jawaban bahwa Kristus harus lahir di Betlehem, tanah Yehuda, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi.

Sekarang ketika melihat Perjanjian Lama, kita melihat secara konstan dibentangkan kepada kita hal-hal yang luar biasa ini - bagaimana Allah memberikan kepada seseorang suatu fakta, kepada orang lain fakta yang lain. Hanya Mikha yang menyebutkan Betlehem. Allah memberikan kepada Mikha untuk menubuatkan fakta dan detail khusus yaitu tempat kelahiran-Nya.

Sekarang marilah kita memikirkan tentang perkataan-perkataan Tuhan Yesus sendiri. Jika Saudara membaca Yesaya 61, Saudara akan menemukan di sana bahwa nabi Yesaya menubuatkan bahwa Mesias akan mengucapkan kata-kata dan melakukan hal-hal tertentu. Pikirkanlah bahwa kejadian di rumah ibadat di Nazaret ketika Tuhan kita masuk ke rumah ibadat menurut kebiasaan­Nya. Kepada-Nya diberikan kitab suci untuk dibaca. Ia membaca dari Yesaya 61, dan setelah membaca, Ia berkata, "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.

Setiap perkataan-Nya, metode berbicara-Nya, cara mengajar-Nya, semua tindakannya ini telah dinubuatkan secara detail. Sekarang kita juga berpikir tentang karya-karya dan mujizat-mujizat-Nya. Kita membaca dalam Yesaya 35, bagaimana Ia mencelikkan mata orang-orang buta dan membuka telinga-telinga orang tuli, dan orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan orang bisu akan bersorak-sorai. Kemudian kita sampai ke Perjanjian Baru dan kita membaca laporan tentang hal-hal yang dikerjakan-Nya. Ingatlah! Yohanes Pembaptis di masa kesukarannya di penjara mengirim dua orang muridnya kepada Yesus untuk bertanya, "Engkaukah yang akan datang itu?". Tuhan Yesus berkata kedua orang ini, "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat; orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang tuli mendengar," dst. Di sini Yohanes diingatkan kembali kepada Yesaya 35. Tidak hanya itu, Saudara ingat Yesaya 53 tentang nubuat Hamba Tuhan yang memikul sakit-penyakit kita, dan ingat bagaimana Matius di dalam melukiskan mujizat penyembuhan yang dilakukan Tuhan kita dengan mengacu kepada nubuat itu, bahwa Ia akan memikul sakit-penyakit kita.

Ia memasuki Yerusalem dengan cara bagaimana juga telah dinubuatkan oleh nabi Zakharia, yaitu, mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda. Ini terjadi ketika ia memasuki Yerusalem dengan kemenangan. Ia akan dijual dengan harga 30 keping perak pun telah dinubuatkan. Penderitaan-Nya dideskripsikan secara detail, tidak hanya di dalam Yesaya 53 tetapi juga khususnya pada Mazmur 22 - bagaimana fakta bahwa tangan dan kaki-Nya ditusuk telah dinubuatkan - bagaimana setiap hal telah dinubuatkan secara detail. Semua nubuat ini telah dinubuatkan ratusan tahun sebelum semua nubuat itu terjadi. Fakta bahwa Ia akan dikubur di tempat khusus, kuburan milik orang kaya telah dinubuatkan. Memang ketika wafat, Ia dikuburkan dalam kubur dari Yusuf Arimatea. Baik kebangkitan maupun hari Pentakosta telah dinubuatkan juga. Saudara ingat bagaimana setelah kenaikan-Nya Ia mengirim Roh Kudus sesuai dengan janji-Nya, dan ketika orang-orang bingung dan mulai bertanya, apakah artinya ini? Rasul Petrus menjawab, "Itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel." Segala contoh ini, dan masih banyak contoh lain, menunjukkan bagaimana, secara detail, Tuhan Yesus melalui kedatangan-Nya, dan melalui segala yang dikerjakan dan dikatakan, telah membuat segala nubuat itu lebih meyakinkan. Semua penggenapan ini menakjubkan di dalam detailnya, tetapi juga memperlihatkan kemuliaan secara utuh. Saat kedatangan Kristus, kelahiran-Nya, Hidup-Nya dan segala tindakan-Nya di bumi menunjukkan Allah memelihara Firman yang telah disampaikan-Nya kepada orang-orang dalam masa Perjanjian Lama. Orang yang membaca Alkitab matanya akan terbuka melihat kemuliaan Kitab Suci yang unik

Beberapa dari umat itu berteriak di masa kesesakan, "Berapa lama lagi Tuhan Engkau lupa untuk bermurah hati?" Kami membaca janji-janji yang diberikan, tetapi melihat situasi demikian berlawanan. Apakah Allah lupa, apakah Ia lupa bermurah hati dan lupa akan janji-janji-Nya itu? Ketika bayi itu lahir di kandang di Betlehem, keputusan agung yang dibuat ini membuktikan bahwa Allah telah memelihara firman-Nya. Allah telah membuktikan bahwa janji-Nya adalah benar. Segala sesuatu yang Allah pernah janjikan digenapi di sini. Ini adalah deklarasi yang agung tentang ketidakberubahan Allah dalam rencana-Nya. Firman Allah itu pasti, mutlak dan kekal.

Saya akan coba menunjukkan kemuliaan semuanya ini dengan cara ini. Kita melihat bahwa Allah telah menggenapi semua janji-janji yang pernah Ia berikan kepada manusia yang berkenaan dengan keselamatan manusia. Alkitab adalah sejarah manusia di dalam hubungannya dengan Allah, sehingga kita dapat mendeskripsikan Alkitab sebagai sejarah keselamatan. Ini adalah sejarah dari seluruh umat manusia dari awal hingga akhir. Allah menciptakan manusia itu dengan sempurna, sehingga manusia memiliki persekutuan yang sempurna dengan Allah. Tetapi dosa masuk sehingga persekutuan itu hancur. Manusia membuat dirinya sendiri ada di bawah murka Allah dan menderita. Apa yang akan terjadi pada manusia?

Di sini Alkitab datang dengan beritanya yang agung. Segera sesudah kejatuhan itu Allah mulai membuat janji-janji dan semua janji itu berkenaan dengan manusia dan keselamatannya. Sekarang mulai dari kelahiran Kristus segala janji-janji itu terlaksana dan tergenapi. Jadi sejak semula ketika manusia itu jatuh, Allah menerangi kegelapan itu dengan memberikan suatu janji yang sangat berharga.

Manusia jatuh karena ditipu oleh ular, tetapi suatu saat Allah di dalam anugerah-Nya yang tidak terbatas itu memberikan suatu janji, bahwa "keturunan perempuan ini akan meremukkan kepala dari ular." Hal ini dikatakan sekitar 4000 tahun sebelum kelahiran Kristus. Janji ini merupakan janji Allah yang pertama, janji yang orisinil. Ketika Bayi itu lahir di Betlehem janji itu dilaksanakan - benih perempuan itu telah datang dan Ia telah bertindak menghancurkan kepala dari ular itu.

Salah satu janji agung yang lain adalah ketika kita ingat di dalam Ulangan 18:15, bagaimana Musa berkata, "Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku." Orang- orang pada masa Perjanjian Lama menyebutnya sebagai "kedatangan Nabi". Inilah yang dimaksud Yohanes Pembaptis ketika ia bertanya, "Engkaukah yang akan datang itu?" Mereka sedang menunggu Nabi itu, Pemimpin itu. Mereka menunggu seseorang yang lebih besar daripada Musa yang akan melepaskan mereka dari Mesir, yang akan memimpin mereka lepas dari perbudakan dosa dan perhambaan kesalahan. Di dalam Bayi Betlehem itulah kita mendapatkan Seorang yang dirindukan dan diharapkan yang juga adalah Nabi, Guru dan Pemimpin umat.

Dengan cara yang sama diberikan janji bahwa korban persembahan suatu hari akan cukup untuk menutup segala dosa. Di dalam periode Perjanjian Lama banyak tertulis tentang persembahan-persembahan dan korban- korban, mengenai darah lembu jantan dan domba jantan, mengenai korban anak domba dsb. Namun itu semuanya bersifat sementara. Seperti yang dikatakan penulis surat Ibrani, "Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa." Diperlukan korban yang agung, yang sungguh-sungguh berhasil dan yang memuaskan hati Allah. Hal ini terus berlangsung dalam Perjanjian Lama. "Orang ini" telah mempersembahkan Diri-Nya sendiri satu kali untuk selamanya dan yang sempurna. Perjanjian Lama juga menubuatkan bahwa seorang Imam Besar yang agung akan datang untuk mewakili kita dan memuliakan kita di hadapan Allah. Saudara ingat bahwa Harun diizinkan masuk ke ruangan "mahakudus" satu kali setahun, dan ia masuk dalam keadaan takut dan gentar. Tetapi Dia adalah merupakan Imam Besar yang sempurna, yang mengerti kelemahan kita, namun tidak berdosa.

Dia telah masuk ke dalam ruang yang mahakudus dengan suatu persembahan dan korban, yakni darah-Nya sendiri. Ia mewakili kita selama-lamanya dan terus menerus melayani, sehingga Ia dapat menyelamatkan semua orang yang datang kepada Allah melalui Dia. Ada suatu janji tentang Perjanjian baru. Allah membuat suatu perjanjian dengan manusia melalui Musa. Ini adalah suatu perjanjian hukum yang tidak dapat diperlihara oleh siapapun. Tetapi Allah juga berkata melalui nabi Yeremia, "Aku akan membuat perjanjian yang baru dengan kamu", bukan seperti perjanjian yang lama, yang menggunakan hukum-hukum yang di luar, tetapi Aku akan menulis hukum itu dalam hati dan batinmu, yakni suatu perjanjian yang baru. Nabi mana yang dapat menjadi pengantara perjanjian yang demikian? Tidak ada satu manusiapun yang layak; bahkan malaikatpun tidak memadai. Tetapi di sini, Bayi Betlehem itu adalah pengantara dari Perjanjian yang baru, seseorang yang akan memberikan Roh Kudus dan yang akan meletakkan hukum Allah itu ke dalam batin dan hati serta memberikan hidup kepada kita. Ia akan mengangkat hati yang membatu dan memberikan kita hati yang baru yang dengan hati itu kita dapat mengasihi Dia.

Tetapi di atas semua itu, ada suatu janji tentang datangnya suatu kerajaan. Melalui Perjanjian Lama gagasan tentang seorang raja yang akan datang dan memerintah, yang akan menaklukkan semua musuh dari umat serta menegakkan suatu kerajaan kebenaran dan damai sejahtera. Di mana Oknum yang demikian dapat ditemukan? Ia hanya dapat ditemukan di satu tempat. Ia adalah Bayi yang ada di palungan di Betlehem, yang adalah Raja segala raja dan Tuhan segala tuan. Karena itu orang Majus datang dan bersembah sujud serta memberikan persembahan mereka. Ia telah menaklukkan semua musuh, Setan, kematian dan neraka. Segala hal yang jahat telah dikalahkan - Ia adalah Raja universal, Yang Mahakuasa, dan Ia akan memerintah dari kutub ke kutub dan kerajaan-Nya tidak akan berakhir. Anak Allah, Raja yang kekal. Dengan demikian Saudara lihat bahwa Allah telah menggenapi, telah menyelesaikan segala janji-Nya. Akhir kata, apa yang saya simpulkan dari kata nubuat yang makin meneguhkan kita ini? Ada beberapa kesimpulan yang jelas dan tidak dapat ditolak. Keselamatan jelas hanya ada di dalam Kristus dan hanya di dalam Kristus. Kristus telah menggenapi semua janji itu. Di dalam Dialah Allah menyelamatkan umat manusia. Allah berjanji untuk menyelamatkan manusia. Kristus adalah penggenap segala janji.

Tidak ada juruselamat yang lain, dan tidak ada jalan yang lain seperti yang dikatakan rasul Petrus (Kis 4:12). Bayi Betlehem itu menggenapkan segala janji. Ia satu-satunya Juruselamat, satu-satunya jalan kepada Allah, satu-satu pengharapan akan pelepasan. Ia adalah Nabi, Ia adalah Imam, dan Ia adalah Raja. Kedua kita menyimpulkan bahwa seperti halnya kedatangan-Nya dan segala yang telah dilakukan dan dikatakan-Nya merupakan penggenapan dari semua yang telah dijanjikan oleh Allah, sehingga fakta itu sendiri telah memberikan suatu jaminan yang pasti bahwa segala sesuatu yang lain yang telah dijanjikan akan digenapi-Nya juga. Segala sesuatu yang telah dinubuatkan, diberitahukan lebih dulu, dijanjikan berkenaan dengan kedatangan-Nya yang pertama telah dilaksanakan secara tepat. Tetapi yang akan datang ada sesuatu yang lebih. Petrus sedang berbicara mengenai kedatangan-Nya yang kedua; dan meskipun kedatangan-Nya yang kedua aneh bagi kita saat ini sama seperti kedatangan-Nya yang pertama bagi orang-orang Perjanjian Lama, mari kita mengerjakan logika yang tidak dapat ditolak ini. Meskipun mereka tidak mengharapkan Dia, Ia tetap datang; meskipun banyak menertawakan gagasan itu, tidak menyiapkan Kedatangan-Nya; dan meskipun hal-hal ini tampak sebagai hal yang tidak mungkin bagi kita, apa yang telah terjadi merupakan bukti bahwa semua janji itu akan tiba juga.

Terakhir, mengenai penghiburan, kemuliaan dan sukacita. Karena inkarnasi Kristus dan segala sesuatu yang mengikuti meneguhkan nubuat. Ini memberitahukan saya bahwa Allah memelihara Firman-Nya dan melaksanakan rencana, janji dan maksud-Nya sendiri secara penuh di atas bumi. Maka saya mengambil kesimpulan bahwa, Firman Allah merupakan sesuatu yang terus dapat saya percaya. Firman Allah merupakan "janji-janji yang berharga dan yang sangat besar". Janji-janji yang diberikan kepada kita tatkala sakit, kehilangan, menjadi janda, yatim-piatu, menghadapi masalah, berduka-cita atau setiap kondisi yang mungkin terjadi dalam hidup anda dan saya itu dapat diselesaikan dengan janji-janji tersebut. Saudara, percayalah kepada janji­janji-Nya, simpanlah janji-janji itu dalam hatimu, buktikan bahwa Allah selalu setia kepada janji-janji-Nya. Ia tidak pernah gagal untuk memelihara Firman-Nya; setiap janji yang Ia berikan kepadamu adalah suatu janji yang bisa dipercaya dan turuti. Karena itu ketika saya membaca Firman-Nya lagi dan saya melihat janji-janji yang demikian seperti "Aku sekali-kali tidak pernah meninggallkanmu", "Aku akan menyertai kamu senantiasa", saya akan mempercayai janji-janji itu, Saya akan menerimanya. Saya menyatakan bahwa kedatangan Kristus membenarkan segala janji-Nya dan membuktikan bahwa segala janji-Nya itu benar. Ia. telah memberikan Firman-Nya, dan Firman-Nya dapat disandari; karena itu saya menerima-Nya berdasarkan pada Firman-Nya. Puji Tuhan! "Bersyukurlah kepada Tuhan atas karunia-karunia yang tak terkatakan itu" Bersyukurlah kepada Allah karena Kristus, di mana di dalam Dia segala janji Allah adalah ya dan amin tanpa suatu keraguan dan ketidaktentuan.

Catatan:

David Martyn Llyod-Jones (1899-1981) adalah pengkotbah eksposisi sistematis di Westminster Chapel, London. Kotbah Eksposisinya tentang Efesus (8 vol.), Roma 3-8 (6 vol) telah diterbitkan. Artikel ini disadur dari bukunya 2 Peter yang diterbitkan oleh "The Banner of Truth Trust".

Sumber: 

Sumber :
Majalah Momentum, yang diterbitkan oleh Lembaga Reformed Injili Indonesia, edisi Natal.
Artikel ini terdapat juga di Situs:
geocities.com/reformed_movement/artikel/natal02.html

Naskah Khotbah: Hamba Tuhan dan Bacaannya

Dear e-Reformed Netters,

Publikasi bulan Agustus ini akan menyajikan tulisan Daniel Lukas yang saya ambil dari JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN "VERITAS" Edisi 2, yang diterbitkan oleh Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT).

Setelah membaca artikel ini, silakan anda bagikan pengalaman anda sendiri dalam hal baca-membaca buku. Berapa banyak waktu yang anda luangkan untuk membaca buku-buku bermutu? Buku apakah yang terakhir anda baca? Mengapa hanya ada beberapa glintir penulis-penulis Kristen Indonesia yang menulis karya yang bermutu?

Selamat sharing.....

In Christ,
Yulia

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Publikasi bulan Agustus ini akan menyajikan tulisan Daniel Lukas yang saya ambil dari JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN "VERITAS" Edisi 2, yang diterbitkan oleh Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT).

Setelah membaca artikel ini, silakan anda bagikan pengalaman anda sendiri dalam hal baca-membaca buku. Berapa banyak waktu yang anda luangkan untuk membaca buku-buku bermutu? Buku apakah yang terakhir anda baca? Mengapa hanya ada beberapa glintir penulis-penulis Kristen Indonesia yang menulis karya yang bermutu?

Selamat sharing.....

In Christ,
Yulia

Edisi: 
019/VIII/2001
Isi: 

Nas Alkitab: II Timotius 4:13: "Jika engkau ke mari bawa juga... kitab- kitabku, terutama perkamen itu."

Antara tahun 1835-1910 hiduplah seorang yang bernama Samuel Langhorne Clemens atau yang lebih dikenal dengan nama Mark Twain. Ia adalah seorang penulis novel Amerika, khususnya novel anak-anak. Dua buah karyanya yang terkenal berjudul Huckleberry Finn dan Tom Sawyer. Sebagai seorang penulis yang cukup dikenal, pada suatu kali Mark Twain mengundang cukup banyak orang ke rumahnya untuk beramah-tamah. Istri Mark Twain yang bernama Olivia sibuk sekali mempersiapkan acara tersebut dan mengatur segala urusan rumah tangga. Tidak heran, karena mereka mengadakan arisan bagi para tamu di mana yang datang terutama adalah ibu-ibu tetangga mereka.

Ketika mereka sedang menikmati makanan kecil, salah seorang tamu bertanya tentang buku-buku yang dimiliki Mark Twain. Ia memang mempunyai banyak sekali buku. Ada yang berderet rapi dan ada juga yang berserakan di sana-sini. "Untuk apa buku sebanyak ini?" demikian tamu tersebut bertanya heran. Olivia yang sederhana dan memang lugu itu menjawab singkat: "Untuk dibaca." Mendengar jawaban singkat itu tamu tersebut bertambah penasaran sehingga ia bertanya lagi "Dibaca semuanya?" "Tentu. Bahkan, kadang-kadang ada buku yang dibaca berulang- ulang," sahut Olivia ringan.

Percakapan tersebut kebetulan didengar Mark Twain. Kemudian sesudah para tamunya pulang, ia berkata kepada istrinya: "Oliv-ku sayang, lain kali kalau ada tamu yang datang dan bertanya seperti itu lagi tentang buku kita, katakan saja bahwa buku-buku itu memiliki banyak kegunaan: buku itu ada yang tebal, yang tipis, dan yang sedang. Yang tebal bisa kita gunakan sebagai bantal, kalau kita tidak punya bantal; bisa juga kita pakai sebagai anak tangga, atau bisa juga untuk tempat duduk darurat kalau engkau sedang bekerja dan kebetulan tidak ada kursi. Sedangkan buku yang berukuran sedang bisa untuk mengganjal meja, kalau misalnya meja kita goyang-goyang, juga untuk mengganjal almari, dan bisa juga untuk melempar ayam, kucing, memukul kecoa atau apa saja. Buku yang tipis bisa dipakai untuk kipas-kipas, atau menyabet anak yang bandel dan anjing yang susah diatur dan perlu didisiplin. jadi, katakan kepada tamu kita bahwa buku itu mempunyai banyak sekali kegunaan." Begitu kira-kira sindiran Mark Twain untuk orang yang tidak mengerti apa artinya buku.

Bagi kita yang hidup di zaman modern ini, kalau suatu ketika kita berkunjung ke rumah seseorang yang makmur secara materi, kadang-kadang kita juga akan melihat berderet-deret buku diletakkan dengan sangat rapi di rak yang mahal bersama dengan benda-benda antik. Biasanya mereka juga meletakkan berbagai set ensiklopedia yang disorot dengan lampu yang tertata apik. Sebagai tamu mungkin kita masih boleh bertanya tentang apa nama atau judul buku tersebut. Tetapi sedapat mungkin jangan bertanya apa isinya, karena jangan-jangan tuan atau nyonya rumah akan kebingungan untuk menjawabnya. Mengapa? Karena sebagian orang akan lebih siap menjelaskan isi album foto, arti lukisan mahal yang dipajang, dan nilai atau harga barang hiasan dan benda-benda antik seperti patung, guci atau apa saja, daripada harus menjelaskan isi buku tertentu.

Buku ternyata sudah sedemikian bergeser fungsinya bagi sebagian orang. Saya tidak tahu bagaimana kebanyakan hamba Tuhan memperlakukan buku- buku yang dimilikinya. Berkaitan dengan buku, pada kesempatan ini saya mengajak kita memikirkan apa yang dapat kita pelajari dari rasul Paulus.

Pertama, bagi Paulus buku adalah bagian dari kehidupan yang esensial atau penting sifatnya. Ketika menulis ayat di atas, Paulus sedang bermukim di dalam penjara yang pengap. Bantalkah yang ia perlukan sehingga Paulus mencari buku? Tentunya tidak demikian. Saya kira Paulus juga bukan seperti orang modern yang saya sebutkan tadi yang menginginkan buku sekadar untuk koleksi saja; perkara dibaca atau tidaknya, itu urusan belakangan. Ia juga bukan sekadar ingin memperlihatkan kepada rekan kerja atau temannya dan juga orang lain di kota Roma bahwa ia mempunyai sedemikian banyak koleksi kitab. Sekali lagi, saya kira kita tidak akan berpikir demikian. Kemungkinan besar Paulus meminta kitab itu karena ia rindu untuk bisa membaca, ditengah- tengah kehidupan penjaranya yang terakhir itu. Bayangkan, seorang rasul seperti Paulus saja memerlukan buku untuk dibaca, apalagi kita yang bukan nabi dan rasul. Bayangkan juga, sebagai seorang rasul yang telah melayani selama lebih kurang 30 tahun -- suatu pengalaman yang panjang sekali -- Paulus tetap rindu membaca buku.

Saudara, Paulus adalah seorang rasul yang mempunyai banyak pengalaman spektakuer (mujizat, nubuat, penglihatan). Kita dapat menyimak fakta tersebut di Alkitab. Ia pernah berjumpa dengan Tuhan Yesus, pernah menyaksikan seseorang yang naik ke langit yang ketiga, pernah mendapatkan wahyu atau penyataan seperti yang disebutkan dalam Galatia 1:12. Semua pengalaman tersebut dapat dikatakan tidak pernah kita alami sekarang, kecuali ada tokoh aliran tertentu yang mengaku-aku demikian. Kalau kita perhatikan kesaksian-kesaksian orang-orang terkenal, misalnya seorang pengusaha besar, tokoh bisnis atau artis, atau bahkan kita sendiri yang mempunyai satu pengalaman pertobatan tertentu, seringkali ternyata pengalaman yang itu-itu saja dipakai terus-menerus baik untuk kesaksian, untuk pelayanan, untuk khotbah. Cerita yang disampaikan dari tempat yang satu ke tempat lainnya biasanya yang itu-itu juga. Oleh sebab itu, tidak heran kalau saudara menjumpai bacaan yang berisi kesaksian Catherine Baxter yang katanya dituntun oleh Tuhan Yesus 40 hari 40 malam turun ke neraka, dan ada begitu banyak orang yang tertarik untuk membaca tulisan tersebut. Berbeda sekali dengan rasul Paulus. Walaupun ia telah berjumpa dengan Tuhan Yesus, tetapi ketika menceritakan pengalaman spektakuler itu, Paulus melakukannya dengan sangat hati-hati dan ia tidak membanggakan pengalaman tersebut. justru yang kita lihat disini pada hari tuanya pun Paulus tetap rindu membaca buku. Padahal, kita pasti tahu bahwa biasanya orang-orang tua senang sekali menceritakan pengalaman masa lalunya, mengulang cerita yang itu-itu juga sampai-sampai yang mendengar menjadi jenuh karena terus-menerus mendengar pengulangan ceritanya.

Yang kedua, bagi Paulus semua orang boleh meninggalkan dia, rekan kerja boleh pergi ke tempat yang lain, tetapi harus ada buku yang menemani untuk menghangatkan kehidupan. Kalau saudara membaca ayat 10, di sana dikatakan "Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku ... Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia." Lalu ayat 12, "Tikhikus telah kukirim ke Efesus." Kemudian juga di ayat 14 dan 15 kita membaca tentang seorang bernama Alexander yang menyakiti hati Paulus dengan cara berbuat jahat kepadanya. Pada ayat 16 Paulus mengatakan: "Pada waktu pembelaanku yang pertama, tidak seorang pun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku." Di tengah kesepian seperti itulah, Paulus rindu kepada satu itu yaitu kitab-kitab yang bisa dan biasa menemaninya. Memang kalau saudara perhatikan ayat 11, Paulus mengatakan hanya Lukas yang tinggal dengan dia. Dan kalau kita perhatikan sosok pribadi Lukas, selain disebut sebagai seorang dokter dan seorang sejarawan, ia juga dapat disebut sebagai seorang kutu buku, orang kitab. Yang menemani Paulus adalah orang yang mencintai kitab atau mencintai buku. Saya katakan demikian sebab Lukas mengatakan bahwa sebelum ia menulis Injil Lukas ia menyelidiki dengan teliti bahan-bahan yang ada, literatur yang ada. Jadi boleh dikata ia adalah seorang yang suka melakukan riset dan mencintai kitab. Paulus pun sama. Ia adalah seorang yang mencintai kitab.

Suatu kali saya pernah berjumpa dengan seorang teolog Injil ketika saya melanjutkan studi di Trinity Evangelical Divinity School. Ia adalah seorang yang sudah berusia tujuh puluhan dan dari caranya berjalan orang dapat menduga bahwa ia sudah cukup uzur. Orang itu sering memakai topi bila berjalan di udara terbuka karena ia sudah kehilangan banyak rambut alias botak. Walaupun ketika itu musim dingin, ia masih mengajar di sana padahal umurnya sudah kakek. Orang itu adalah Carl F.H. Henry. kalau ia masih hidup sekarang (tahun 2000) pasti usianya sudah 80 tahun lebih. Bayangkan, pada waktu itu ia masih rajin ke perpustakaan, rajin menulis dan rajin membaca buku. Saya yang masih muda merasa malu kalau saya menjadi sedikit malas ketika mengerjakan sesuatu. Setiap kali saya menjadi sedikit malas, saya teringat pada orang itu. Ia telah memberi teladan tentang suatu semangat hidup yang sedemikian besar. Jikalau dalam kehidupan kita sekarang ini kita cenderung bermalas-malasan baik dalam studi, pelayanan atau apa saja, kita seharusnya malu kepada orang-orang yang usianya lebuh tua dari kita tetapi masih tetap rajin. Oleh sebab itu marilah kita mengingat orang rajin yang usianya lebih tua dari kita seperti Carl Henry atau seperti Paulus. Suatu hari nanti, jika dalam pelayanan kita merasa tidak ada orang yang menemani, dan kebanyakan orang sudah meninggalkan kita atau meninggal lebih dulu, kita mewarisi suatu kebiasaan yang baik dari teladan rasul Paulus, yaitu buku yang bisa menemani kita dan tidak ada yang dapat digantikan dengan apa pun juga.

Yang ketiga, bagi Paulus sekalipun buku-buku adalah penting tetapi Kitab itu yang adalah firman Tuhan merupakan bagian yang paling utama. Saya katakan firman Tuhan karena disini ada dua istilah yang berbeda: kitab-kitab dan perkamen. Kitab (biblion) yaitu gulungan atau terjemahan. Biasanya satu gulungan adalah satu buku. Tetapi istilah "perkamen" (dalam bahasa Yunani "membrana"; bahasa Inggris "parchment") diterjemahkan oleh F.F. Bruce sebagai "let it be especially the Bible." Perkamen biasanya dibuat dari kulit binatang, misalnya kulit kambing, antope dan sebagainya. Oleh karena itu perkamen umumnya lebih tahan lama. Tetapi, selain itu, harganya lebih mahal. Dengan demikian jelaslah bagi kita mengapa materi perkamen dipakai untuk penulisan bagian dari firman Tuhan. Jadi yang Paulus maksud ketika ia meminta dibawakan perkamen itu ke penjara tempat ia ditahan, berarti ia minta dibawakan sebagian dari Alkitab Perjanjian Lama atau bagian dari Injil atau bagian dari surat-surat yang pernah ia tulis atau yang ditulis rasul lain. Yang mana yang Paulus minta tidak jelas, tetapi yang pasti itu adalah bagian dari Alkitab yang adalah firman Allah.

Coba kita perhatikan: pada waktu itu rasul Paulus sedang mengalami kesusahan yang besar. Ia harus berada dalam penjara yang sama sekali tidak menyenangkan di hari tuanya. Ia berada dalam keadaan kedinginan, kesepian, tetapi dalam keadaan demikian, selain buku, ia mencari firman Tuhan. Saya rasa Paulus sesungguhnya tahu cukup banyak tentang Alkitab Perjanjian Lama. Bahkan ia mungkin telah hafal bagian-bagian tertentu dari firman Tuhan, apalagi ia pernah mendapatkan wahyu secara langsung. Tetapi pada hari tuanya ia tetap minta dibawakan kitab-kitab dan perkamen dari kota yang bernama Troas yang jaraknya untuk waktu itu jauh sekali, yaitu kurang lebih 500 kilometer.

Bagi kita yang saat ini sedang melayani di ladang Tuhan atau yang sedang menempuh pendidikan di sekolah teologi, kita tidak boleh melupakan pentingnya membaca buku, terutama Alkitab. Jikalau kita tidak membiasakan diri membaca ketika masih berusia muda, tidak ada jaminan bahwa nanti setelah 10, 20 atau 30 tahun kemudian kita masih mau dan mampu membaca. Harapan dan doa saya adalah supaya kita semua yang dipanggil untuk melayani Dia, kita juga akan tetap mencintai buku- buku dan terutama firman Tuhan sepanjang hidup kita di dunia ini. Sebab, jikalau kita tidak melatih tubuh dan jiwa kita sekarang untuk mencintai firman Tuhan dan buku-buku, di tengah-tengah kesibukan pelayanan kita nanti di ladang Tuhan, agaknya kita tidak akan mempunyai cukup waktu lagi baik untuk persiapan pelayanan maupun untuk pertumbuhan kerohanian kita. Kiranya Tuhan mendorong kita semua supaya lebih mencintai literatur tetapi yang terutama adalah mencintai firman Tuhan. Amin.

Hamba Tuhan dan Khotbah

Dear e-Reformed Netters,

Salah satu sumbangsih Teologia Reformed yang memberikan pengaruh besar bagi gereja-gereja (termasuk yang bukan gereja Reformed) adalah penekanannya yang sangat kuat dalam "pelayanan Firman". Dengan membaca artikel yang saya ambil dari buku Rev. Yap Un Han, Th.M. ini, mudah-mudahan kita dapat diingatkan kembali akan urgensi dan keseriusan tugas "berkotbah".

Selamat merenungkan,
Yulia

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Salah satu sumbangsih Teologia Reformed yang memberikan pengaruh besar bagi gereja-gereja (termasuk yang bukan gereja Reformed) adalah penekanannya yang sangat kuat dalam "pelayanan Firman". Dengan membaca artikel yang saya ambil dari buku Rev. Yap Un Han, Th.M. ini, mudah-mudahan kita dapat diingatkan kembali akan urgensi dan keseriusan tugas "berkotbah".

Selamat merenungkan,
Yulia

Edisi: 
014/III/2001
Isi: 

Tugas apakah yang terpenting bagi seorang hamba Tuhan? Berdasarkan pengalaman penulis selama 56 tahun, penulis mengambil kesimpulan bahwa tugas yang terpenting dari seorang hamba Tuhan adalah menyampaikan Firman (berkotbah). Jika seorang hamba Tuhan tidak menyampaikan Firman, maka ia ibarat seekor kucing yang tidak mau menangkap tikus, seekor anjing yang tidak mau menjaga pintu, sehingga ia kehilangan fungsi dan tugasnya yang terpenting.

Dari pengamatan penulis selama puluhan tahun, penulis menemukan banyak sekali hamba Tuhan yang hanya berkhotbah satu kali sebulan dalam Kebaktian Hari Minggu di gerejanya dan jika sudah ditahbiskan menjadi pendeta, maka akan ditambah dengan khotbah pendek sebelum Perjamuan Kudus. Selebihnya selama tiga minggu gereja mengundang para dosen teologia, pimpinan organisasi rohani, pendeta yang sudah pensiun atau tamu yang kebetulan lewat untuk mengisi mimbar gereja. Gereja-gereja yang demikian ini, secara umum pasti tidak mempunyai program tema khotbah dan karena pengkhotbahnya terlalu sibuk maka ia selalu menyampaikan khotbah yang sudah pernah disampaikan sehingga penyampaiannya tidak lagi sesuai kebutuhan dan akibatnya anggota jemaat tentu tidak memperoleh apa-apa dari khotbahnya.

Memang diakui bahwa menyiapkan naskah khotbah tidak mudah. Apalagi naskah khotbah yang bisa mencukupi kebutuhan anggota jemaat, ini akan jauh lebih sulit. Penulis ingin membagikan pengalaman masa lalu yang cukup pahit. Pada waktu itu penulis memegang jabatan rangkap, disamping menjadi pendeta gereja juga menjadi dosen di sekolah teologia. Tugas "berkhotbah" penulis rasakan sebagai suatu beban yang berat. Jika Minggu itu kebetulan ada pendeta lain yang sedang lewat dan dapat diundang untuk berkhotbah, maka penulis merasa seperti baru saja terlepas dari pikulan yang berat dan sepanjang minggu itu, khususnya malam minggu, hati merasa ringan dan enak sekali.

Seorang hamba Tuhan yang dipanggil untuk menggembalakan, ia sebenarnya bukan saja bertanggung-jawab terhadap Tuhan dan bertanggung-jawab kepada gereja yang digembalakan tetapi ia juga bertanggung-jawab kepada ribuan jiwa yang belum diselamatkan. Menurut hemat penulis, tugas penting seorang hamba Tuhan dalam menggembalakan sidang adalah "menyampaikan Firman" (berkhotbah).

Hamba Tuhan yang menjadi gembala lebih mengetahui kebutuhan dari anggota jemaat dari pada pendeta tamu. Rasul Paulus menganggap hubungannya dengan anggota jemaat adalah seperti hubungan seorang ibu dengan anaknya. Ia pernah berkata kepada anggota jemaat di Tesalonika, "Tapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya" (1 Tes. 2:7). Tugas seorang ibu adalah menyusui bayi, dan ia tidak akan mengizinkan ibu lain untuk menggantikan tugasnya. Demikian juga, seorang hamba Tuhan yang bertanggung-jawab, ia akan menganggap bahwa "berkhotbah" adalah tugas yang mendesak, sehingga ia tidak akan dengan mudah dan sembarangan menyerahkan tugas mimbar kepada orang lain. Ia akan secara sistematis, berdasarkan kebenaran Alkitab dan sesuai dengan kebutuhan gereja dan masyarakat, mengajar dan membina para anggota jemaatnya.

URGENSI KHOTBAH

Mantan pendeta yang telah melayani selama 30 tahun di Westminster Chapel, Inggris, Dr. Martyn Lloyd-Jones, dalam bukunya yang berjudul "I Believe in Preaching" mengatakan, "Menurut hematku, 'berkhotah' adalah jabatan yang paling agung dan mulia dari semua jabatan yang ada. Jika anda mau lebih mengetahui hal ini, maka aku tanpa ragu-ragu mengatakan bahwa kebutuhan yang mendesak dari gereja-gereja Kristen adalah khotbah yang benar dan sejati." Lebih lanjut ia mengatakan, "Pekerjaan 'penyampaian Firman' tidak dapat dibandingkan dengan pekerjaan apapun yang lain. Berkhotbah adalah pekerjaan yang terbesar, yang patut digandrungi, yang patut dipuji, yang patut dikerjakan dan pekerjaan yang paling ajaib." Apakah pernyataan Dr. Lloyd-Jones ini berlebihan? Jawaban penulis adalah, "Tidak!".

Dalam bukunya yang berjudul "History of Preaching, E. C. Dargon mengatakan, "Berkhotbah adalah unsur dan ciri penting dari agama Kristen." Lebih lanjut ia mengatakan bahwa "Khotbah" adalah ciptaan dari agama Kristen. Mengapa demikian? Ia mengatakan, "Karena Pendiri Agama Kristen adalah seorang 'Pengkhotbah'. Baik pendahuluNya, yaitu Yohanes Pembaptis maupun penerusNya, yaitu para rasul, semuanya adalah pengkhotbah yang menyampaikan Firman Allah. Sebab itu, khotbah yang mengajar dan memproklamasikan Firman Tuhan, merupakan karakteristik dasar yang tidak berubah dari agama Kristen."

Injil Matius 9:35, "Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan."

Dengan berdirinya gereja hasil Pentakosta, para rasul disibukkan dengan urusan sosial, akhirnya mereka meminta pada anggota jemaat, agar mereka dilepaskan dari tugas sosial, sehingga dapat mengkonsentrasikan diri pada doa dan khotbah (Kis. 6:4).

Setelah itu, rasul Paulus yang dikenal sebagai rasulnya orang kafir, juga berpendapat bahwa tugas "berkhotbah" itu sangat penting. Ia mengatakan bahwa Kristus mengutusnya bukan untuk membaptis, melainkan untuk mengabarkan Injil. Ia menekankan bahwa "berkotbah" adalah model yang ditentukan Tuhan agar orang berdosa mendengar berita Injil dan dapat diselamatkan. Paulus dengan nada tanya, berkata, "Bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya." (Rom. 10:14). Ia bersaksi di dalam 2 Timotius 4:6, "Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat." Waktu menjelang ajalnya, ia merasa perlu menyampaikan pesan terakhirnya kepada Timotius. Apakah pesan terakhirnya itu? Tidak lain, yaitu: "Beritakanlah Firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya...." (2 Tim. 4:2)

Mari kita membaca sejarah dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh orang yang dipakai Tuhan tentang urgensinya "khotbah".

Reformator Martin Luther mengatakan, "Keberadaan dan hidup gereja adalah bersandarkan pada 'Firman' yang penuh berisi perjanjian Tuhan dan karena "Firman' inilah gereja didirikan, dibina dan bertahan. Lebih lanjut ia mengatakan, "Jiwa roh manusia, boleh tidak diisi oleh apapun, tapi tidak bisa jika tidak diisi oleh 'Firman Tuhan'.... dengan adanya 'Firman Tuhan' ia menjadi kaya dan tidak kekurangan apapun". Luther berpendapat bahwa "penyampaian Firman" tidak dapat ditawar-tawar, karena dengan menyampaikan tentang Kristus, berarti memberi makan pada jiwa roh manusia.

Yohanes Kalvin juga sangat menitik-beratkan Firman Tuhan. Ia menekankan bahwa ciri gereja yang sejati adalah kesetiaannya dalam menyampaikan Firman Tuhan. Ia mengatakan, "Di mana saja, asal Firman Tuhan dijaga kemurniannya, lalu dikabarkan, diterima dan Perjamuan Kudus dilaksanakan sesuai dengan yang diadakan oleh Tuhan, maka di sana pasti gereja Tuhan itu eksis."

Pendiri gereja Methodis, John Wesley dalam buku hariannya menulis, "Aku dilahirkan adalah untuk menyampaikan Firman Tuhan." Pada usia yang ke 86, ia pernah berkunjung ke Irlandia memimpin Kebaktian Kebangunan Rohani. Ia menggunakan waktu selama sembilan minggu, mengunjungi 60 kota dan desa dan berkotbah sebanyak seratus kali dan enam kali berkotbah di lapangan terbuka.

Meskipun kita tidak menyetujui pandangan teologia Karl Barth, tapi kesaksiannya tentang penyampaian Firman Tuhan perlu kita dengar. Ia mengatakan, "Semua orang mengakui bahwa tidak ada satu pekerjaan yang lebih bernilai, lebih mendesak, lebih berguna, lebih bisa menyelamatkan, lebih berfaedah dari pada menyampaikan dan mendengarkan Firman Tuhan. Dari sudut langit dan bumi kita boleh melihat, tidak ada perkara yang situasinya lebih praktis dari pada menyampaikan dan mendengarkan Firman Tuhan."

Deitrich Benhoeffer meskipun pandangan teologianya dipermasalahkan, tapi mempunyai pandangan yang baik tentang penyampaian Firman Tuhan. Ia mengatakan "Keberadaan semua bahasa di dunia, dipakai untuk menyampaikan Firman Tuhan. Dengan berkotbah telah diletakkan dasar dunia baru. Melalui khotbah orang mendengarkan Firman Tuhan ....., setiap hamba Tuhan harus berkeyakinan bahwa Kristus akan masuk ke dalam setiap hati manusia melalui khotbah yang berlandaskan pada Alkitab."

KESUAMAN GEREJA DAN KHOTBAH

Mungkin banyak orang tidak menyetujui sebutan "kesuaman gereja" untuk mengungkapkan keadaan gereja masa kini. Memang benar, secara lahiriah, keadaan gereja sekarang menunjukkan kemajuan. Gereja-gereja di Amerika ramai dikunjungi orang dan gejala seperti ini belum pernah terlihat pada waktu-waktu sebelumnya. Dari segi kepadatan penduduk, Jamaika yang berada di Amerika Latin Tengah adalah negara yang paling banyak gedung gerejanya di seluruh dunia. Filipina adalah negara Katolik satu-satunya di Asia yang boleh dikatakan di setiap rumah ada tanda salib dan gereja setiap minggu dipenuhi dengan orang yang berbakti.

Tetapi jika diamati dengan seksama keadaan masyarakat Amerika, maka jelas terlihat kejahatan, kerawanan di bidang keamanan, kemerosotan moral dan kehancuran rumah tangga yang menjamur, menunjukkan ketimpangan yang menyolok dengan keadaaan pertumbuhan gereja. Kejahatan yang terjadi di Jamaika merupakan suatu pelecehan terhadap banyak gedung gereja di sana. Demikian pula dengan keadaaan yang terjadi di Filipina.

Pada abad ke-20 gereja dan jemaat di berbagai daerah Afrika dikabarkan makin bertambah dan berkembang secara pesat. Tetapi Afrika, yang pada abad ke 18 dikenal sebagai "tempat pemakaman para misionaris" yang gelap ini, sampai saat ini tetap dinaungi oleh suasana kegelapan, bahkan makin hari makin kelam. Banyak terjadi pembantaian etnis, sistem politik yang bobrok, perekonomian yang memprihatinkan, kemiskinan yang meluas, ditambah lagi dengan bencana alam dan sebagainya, sehingga nyawa penduduk tidak terjamin. Peristiwa yang terjadi di Afrika, menimbulkan suatu tanda tanya besar, berapa besarkah sebenarnya pengaruh pertambahan gereja dan Injil bagi suasana yang "gelap" di Afrika ini?

Penulis sudah melayani selama 56 tahun, sebagian besar hidup penulis hanya mengerjakan satu hal, yaitu mengabarkan tentang Yesus Kristus. Melalui pengalaman dan penyelidikan selama 56 tahun ini, secara jujur dalam lubuk hati selalu timbul satu pertanyaan: pada abad yang menggalakkan gerakan misi ini, seberapa besarkah pengaruh yang telah diberikan oleh agama Kristen terhadap dunia ini? Kita sering melagukan bahwa agama Kristen adalah satu-satunya yang menyediakan keselamatan yang sejati, tapi sebenarnya berapakah diantara mereka yang ada di dunia ini sudah mendengar tentang berita keselamatan?

Sepertinya unsur yang ditekankan oleh "Ilmu Pertumbuhan Gereja", adalah "pertumbuhan" dari segi kwantitas di dalam gereja saja. Pimpinan gereja sering bergembira dan puas dengan bertambahnya anggota tetapi terhadap permintaan Tuhan Yesus agar anggota jemaat menjadi "garam dunia" dan gereja menjadi "terang dunia", masih jauh dari kenyataan.

Tidak dapat disangkal bahwa gereja masa kini termasuk gereja yang disebut Tuhan sebagai "Gereja Laodikia", yaitu gereja yang suam-suam. Memang tidak salah jika gereja masa kini disebut 'tidak dingin', karena seruan untuk mengerjakan pelayanan misi keluar begitu nyaring, tetapi didalamnya tidak ada kehangatan dan kegairahan. Tata ibadah dipersiapkan sedemikian baik, sehingga para pengunjung kebaktian merasa keenakan; khotbah yang disampaikan dengan sebutan yang terbaik itu, sering menjadi "irama yang membuaikan". Tetapi Tuhan mengatakan, "Aku tahu segala pekerjaanmu; engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas, jadi karena kamu suam-suam kuku.... Aku akan memuntahkan engkau dari mulutKu." (Wahyu 3:15-16).

Tuhan menghendaki gereja menjadi "panas" dan cobalah kita bertanya pada diri sendiri, "Apakah jiwa pelayanan kita "panas" (bergairah)? Apakah pelayanan mimbar kita "panas"? apakah kehidupan doa kita, juga "panas"? Apakah kita yang sering meninggikan "rasio", mencela "emosi" dan "gerakan" ini bersikap "suam-suam kuku" dalam memimpin jemaat, sehingga akhirnya menjadi orang dan gereja yang "dimuntahkan" Tuhan?

Menurut pendapat penulis, jika gereja mau memperoleh "kebangunan", tidak ada jalan lain kecuali kembali ke hadirat Tuhan yang menunggu "kebangunan" itu. Mencari kehendakNya, mentaati pimpinan Roh Kudus agar Tuhan memakai alat yang membangunkan gereja selama dua ribu tahun ini, yaitu: Khotbah!

Tuhan Yesus di dalam Matius 24:45 mengatakan, "Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makan pada waktunya?" Siapakah yang dimaksud hamba yang setia dan bijaksana itu? Mereka adalah hamba-hamba yang memberi makan orang-orang pada waktunya! Untuk memberi "pada waktunya", dibutuhkan "kesetiaan" sedangkan untuk memberi "makan", dibutuhkan "kebijaksanaan". Jika dipakai istilah masa kini, maka yang dimaksudkan memberi "makan" adalah "menyampaikan khotbah".

Dr. W. Sangster dalam bukunya yang berjudul "Skill Berkhotbah" tidak mempunyai kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan keagungan pekerjaan dari hamba Tuhan ini. Ia hanya menulis demikian, "Hamba Tuhan yang dipanggil, adalah orang yang diutus untuk mengajarkan kebenaran; adalah utusan dari Maha Raja adalah saksi dari Injil yang kekal! Adakah pekerjaan yang lebih mulia dari pekerjaan ini? Allah Bapa mengutus PutraNya adalah untuk mengerjakan pekerjan yang tidak ada bandingnya ini." Pada akhir dari bukunya, ia mengungkapkan kesannya dengan mengatakan, "Mengabarkan kabar baik tentang Yesus Kristus, adalah persembahan aktivitas yang tertinggi yang bisa dilakukan seseorang. Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang sangat dirindukan para malaekat, bahkan penghulu malaekat akan rela meninggalkan kedudukan tinggi di sorga, asal bisa mendapatkan pekerjaan ini."

Profesor Homiletik terkenal di Amerika, Dr. Andrew Blackwood mengatakan, "Profesi sebagai pengkhotbah, seyogyanya ditempatkan dijajaran yang tertinggi dari semua profesi yang ada." Berdasarkan penelitian pendeta terkenal asal Inggris, Dr. John Stott, ditemukan bahwa sejak tahun 60-an, secara umum kesan orang terhadap "khotbah" semakin hari semakin merendah. Menurut pendapatnya "kemerosotan" penilaian terhadap khotbah adalah suatu tanda dari kemerosotan gereja."

Pentingnya pengajaran "khotbah" yang dulu sering diabaikan oleh pihak Katolik, sekarang sudah mendapat tempat yang penting. Teolog Karl Rahner berpandangan bahwa hal yang urgen dan yang perlu diselesaikan sekarang adalah "kesulitan dalam berkhotbah". Masalah yang sangat berat yang sedang dihadapi gereja masa kini adalah ketidak serasian keyakinan Kristen dengan dunia nyata, ia mengatakan, "Banyak orang meninggalkan gereja, karena apa yang disampaikan melalui mimbar tidak berarti bagi mereka, tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan mereka. Banyak masalah dan tekanan yang dialami dalam kehidupan tetapi tidak dibicarakan dalam pelayanan mimbar; .... hal ini membawa problem yang semakin besar dalam "khotbah".

Uskup Agung gereja Anglikan di Inggris, Donald Logen berusaha menggalakkan pembaharuan dalam hal berkhotbah. Ia mengatakan, "Allah mengerjakan satu hal yang mengherankan, yaitu: yang berdiri di antara Allah Sang Pengampun dengan manusia yang berdosa adalah "pengkhotbah"; yang berdiri di antara Allah sebagai Pemberi dengan manusia sebagai penerima adalah "Pengkhotbah; yang berdiri di antara Allah sebagai Kebenaran dan manusia sebagai pencari Kebenaran adalah "pengkhotbah". Sebab itu fungsi dari pengkhotbah adalah pekerjaan "menyatukan" antara dosa manusia dengan pengampunan Allah, antara kebutuhan manusia dan kemahakuasaan Allah, antara yang didambakan manusia dengan wahyu dari Allah.

PEMBAHARUAN KHOTBAH

Kunci kebangunan gereja yang sebenarnya terletak pada kebangunan hamba Tuhan itu sendiri, dan salah satu tanda kebangunan hamba Tuhan tersebut adalah kesungguhannya, kehangatannnya dan kerajinan sikapnya dalam menyampaikan Firman Tuhan. Yang dimaksudkan dengan "kesungguhan" adalah sikapnya terhadap Tuhan; "kehangatan" adalah sikapnya terhadap orang yang mendengarkan khotbahnya; "kerajinan" adalah sikapnya dalam menyiapkan diri dalam khotbah.

KESUNGGUHAN - SIKAP TERHADAP TUHAN

Hamba Tuhan adalah orang yang berdiri antara Allah dan manusia, sebab itu seyogyanya ia menunjukkan kesungguhan sikap di hadapan Allah. Jika ia mengetahui bahwa dirinya adalah juru bicara Allah dan bertanggung- jawab terhadap Allah, maka ia tidak akan berani bersikap melecehkan tugas khotbah yang sangat kudus itu. Ia tentu saja juga tidak akan berani menganggap "berkhotbah" sebagai satu "pekerjaan", sehingga dirinya disebut "tukang khotbah" ... melainkan dengan sikap gentar dan takut ia akan berkata kepada Tuhan, "Tuhan, mohon rahmatMu untuk memakai dan memimpin saya, agar sebelum menyampaikan khotbah di depan orang banyak, saya tahu bahwa terlebih dahulu saya akan berkhotbah bagi diri sendiri. Dan saya lebih dulu akan memberi contoh dengan melaksanakan kebenaran tersebut; biarlah keberadaan saya di depan orang, bukan hanya menjadi "terompet" dari kebenaran itu, melainkan menjadi fakta kebenaran itu sendiri.

Pendeta Amerika yang terkenal di abad ke 19, Dr. Philips Brooks mengatakan, "Pengkhotbah adalah orang yang menyampaikan kebenaran kepada khalayak ramai. Di dalamnya terdapat dua unsur, yaitu: kebenaran dan karakter...... Pengkhotbah melalui karakternya menunjukkan kebenaran.... Kebenaran itu sendiri adalah unsur yang tidak berubah, tetapi karakter adalah unsur yang berubah dan bertumbuh."

Colin Morris mengatakan, "Berita yang mengandung kuasa, bukan disampaikan melalui mimbar, melainkan melalui salib. Khotbah yang berhasil, bukan hanya "didengar" tapi juga "dilihat". Jika hanya mengandalkan "kefasihan lidah", "skill berkhotbah", "pengetahuan Alkitab" hal itu belumlah cukup, karena masih perlu ditambah dengan kesedihan yang sangat, penderitaan, pergumulan, keringat, darah, sehingga bisa mengekspresikan kebenaran yang disampaikan. Hanya dengan demikianlah baru kita bisa menaklukkan hati para pendengar.

KEHANGATAN - SIKAP TERHADAP PARA PENDENGAR

Abad ini dikenal dengan abad yang menitik-beratkan pada "rasio". Banyak sekali cendekiawan dan pendeta besar berpendapat bahwa kita hanya bisa menggunakan "rasio" untuk menaklukkan hati para pendengar dan bukan dengan "emosi". Ada seorang pendeta yang bertemu dengan seorang aktor dan bertanya, bagaimana bisa memainkan peran yang begitu mengesankan dan menarik? Dimana letak rahasianya? Dan pendeta itu juga mengemukakan bahwa dalam menyampaikan khotbah, ia tidak mempunyai kekuatan seperti itu. Dengan tertawa aktor itu menjawabnya, "Peran yang kami tampilkan bisa sedemikian menarik karena cerita fiktif itu telah kami mainkan dengan sungguh-sungguh, sehingga cerita itu seperti sungguh-sungguh terjadi. Tetapi tidak demikian dengan kalian yang menyampaikan kebenaran yang sejati, anda menampilkannya dengan sembrono, sehingga orang menerimanya seperti berita yang hanya bohong-bohongan saja.

Siapa yang mengatakan bahwa dalam berkhotbah tidak diperlukan "emosi"? Tuhan Yesus menangis untuk penduduk Yerusalem yang tidak mau bertobat (Luk. 19:4). Paulus sangat marah terhadap orang Atena yang menyembah kepada berhala; demi Allah yang benar, hatinya menjadi panas (Kis. 17:16). Ia sangat peduli terhadap kemuliaan Allah, sebab itu ia memberitahukan orang di Filipi, "karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus." (Flp. 3:18). Paulus juga memberitahukan para penatua di Efesus, "Sebab itu, berjaga-jagalah dan ingatlah bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam dengan tiada berhenti-hentinya menasehati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata." (Kis. 20:31).

Jangan mengira mempunyai perasaan demikian (mengucurkan air mata), hanya berlaku pada masa Perjanjian Baru saja, karena kita juga harus memilikinya pada masa kini. James Alexander mengatakan, "Hamba Tuhan yang tidak memiliki perasaan yang demikian besar tidak akan bisa menjadi hamba Tuhan yang besar pula."

Pada waktu berdiri di atas mimbar, hendaklah ingat bahwa kita sedang mengurusi masalah antara hidup kekal dan mati kekal, dan kita berdiri di antara orang yang hidup dan mati. Sebab itu, hendaklah kita memandang penting pelayanan mimbar dan jauhkanlah sikap apatis dan anggapan bahwa mimbar hanya sebagai sarana untuk berbicara saja.

Richard Baxter pernah mengutarakan kata-kata bagi dirinya sebagai berikut: "Aku merasa heran terhadap diriku, bagaimana aku bisa berkhotbah dengan sikap yang dingin tanpa perasaan dan bagaimana aku bisa bersikap apatis terhadap mereka yang sedang berada di dalam belenggu dosa? Seharusnya aku mendatangi mereka dan memohon dengan sangat agar mereka demi kasih Tuhan bertobat.... Aku sering turun dari mimbar dengan hati nurani yang tidak tenang, karena merasa khotbahku tadi kurang sungguh-sungguh dan kurang semangat. Aku tidak mempersalahkan diri karena kurang fasih dalam berkata-kata dan aku juga tidak menyalahkan diri karena tidak menggunakan kata-kata yang tepat, tapi aku sering bertanya pada diri sendiri, 'bagaimana kamu bisa bersikap demikian di dalam menyampaikan masalah besar yang mempunyai kaitan mati dan hidupnya manusia, bukankah seharusnya aku menangis untuk mereka dan membiarkan air mataku menyela khotbahku? Bukankah seharusnya aku berteriak dengan kesungguhan untuk mengatakan dosa dan kesalahan mereka dan dengan sangat memohon seperti seorang yang sedang menghadapi pilihan antara hidup dan mati?"

John Stott menganggap sikap yang penuh dengan kesungguhan sangat mudah menarik hati dan perhatian orang. Dr. John R. Rice mengatakan, "Pada waktu seorang hamba Tuhan berdiri di mimbar, menyampaikan tema yang sangat penting dan serius tentang neraka dan api yang tanpa padam; seharusnya ini menyebabkan ia bertelut di hadapan Tuhan dan bersikap sungguh-sungguh dalam penyampaiannya. Tapi patut disesalkan, karena banyak hamba Tuhan dalam menyampaikan tema yang penting dan serius ini dengan sikap santai tanpa perasaaan. Berbicara panjang lebar tentang teologi "nekara" tanpa bara api dalam hati dan air di mata. Gembala Sidang di Inggris, Campbell Morgan mengatakan, tiga unsur khotbah adalah: kebenaran, kejelasan dan emosi."

RAJIN - SIKAP MEREVISI KHOTBAH

Seorang hamba Tuhan yang bersikap sungguh-sungguh pada Tuhan dan hangat pada para pendengarnya, pasti pula seorang hamba Tuhan yang rajin untuk selalu merevisi bahan khotbahnya. Ia pasti rajin membaca Alkitab dan berdoa, rajin pula menunggu berita dari hadirat Tuhan; rajin membaca buku-buku rohani dan buku-buku lain yang bisa menambah wawasannya; rajin berkunjung dan mengetahui secara jelas kebutuhan rohani dari individu maupun keluarga anggota gereja; rajin mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan khotbahnya.

Dr. Harry E. Jesssop mengatakan, "Seorang hamba Tuhan yang tidak putus-putusnya menuntut kemajuan, bisa menjaga hati yang bersifat rohani dan sensitif akan memiliki otak yang terisi dengan pengetahuan yang luas. Seorang hamba Tuhan yang sudah berusia pertengahan, yang tidak lagi menuntut kemajuan, yang tidak lagi membaca buku-buku akan mendatangkan malapetaka bagi gereja. Hamba Tuhan yang demikian ini, bukan saja sering mengulang khotbah yang sudah disampaikan tapi juga malas untuk mengubah dan menyempurnakan bahan khotbahnya. Hamba Tuhan yang demikian ini, bukan saja kehilangan semangat untuk menyelamatkan jiwa yang tersesat, bahkan semangat untuk berdoa bagi jiwa-jiwa yang tersesat pun sudah tidak ada lagi.... Tidak ada hamba Tuhan yang karena usia tua tidak lagi perlu berkhotbah. Jika ia benar-benar rajin membaca, rajin berpikir, rajin berdoa, maka usianya yang tua bukan menjadi penghalang tapi sebaliknya menjadi sumber berkat!"

Sumber: 

Judul Buku
Pengarang
Penerbit

Tahun
Halaman
:
:
:

:
:
Problematika Hamba Tuhan
Rev. Yap Un Han, Th.M.
Persekutuan Alumni Singapore Bible College, Jakarta
dan Yayasan Daud Family, Menado,
1998
67 - 83

Komentar


Syndicate content