Mandat Budaya: Hidup sebagai Pembawa Rupa Ilahi

Penulis_artikel: 
Subby Szterszky
Tanggal_artikel: 
20 Mei 2021
Isi_artikel: 

Bagi banyak orang Kristen, mandat budaya mungkin terdengar lebih seperti resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa daripada pengajaran Kitab Suci. Akan tetapi, pada kenyataannya, itu adalah perintah pertama yang diberikan oleh Allah kepada pasangan manusia pertama. Juga dikenal sebagai mandat penciptaan, itu dapat ditemukan dalam Kejadian bab awal Kejadian:

"Lalu, Allah menciptakan manusia menurut rupa-Nya. Menurut rupa Allah, Dia menciptakannya. Laki-laki dan perempuan, demikianlah Dia menciptakan mereka. Allah memberkati mereka dan Allah berfirman kepada mereka, "Beranakcuculah dan berlipatgandalah, dan penuhilah bumi, dan kuasailah itu. Berkuasalah atas ikan-ikan di laut, atas burung-burung di udara, dan atas segala yang hidup yang bergerak di bumi." (Kejadian 1:27-28, AYT)

Kebenaran kuno permulaan ini mengungkap banyak segi dalam seluruh bagian Alkitab dan meluas ke setiap bidang kehidupan bagi sang pembawa rupa Allah. Akan tetapi, untuk semuanya itu, hal tersebut sering kali terdistorsi atau langsung diabaikan oleh petak besar dari komunitas agama, untuk tidak mengatakan apa-apa tentang hal-hal yang berada di luar itu. Namun, ketika dipahami dengan baik, mandat budaya tersebut memberikan visi yang menginspirasi dan menggembirakan bagi manusia untuk berkembang dalam tatanan ciptaan Allah.

Beberapa kesalahpahaman yang Dijawab

Salah satu rangkuman pendek terbaik tentang mandat budaya berasal dari Nancy Pearcey dalam bukunya, "Total Truth":

Dalam Kejadian, Allah memberikan apa yang kita sebut deskripsi dari pekerjaan pertama: "Beranakcuculah dan berlipatgandalah, dan penuhilah bumi" Ungkapan pertama, "Beranakcuculah dan berlipatgandalah" berarti mengembangkan dunia sosial: membangun keluarga, gereja, sekolah, kota, pemerintah, hukum. Ungkapan kedua, "penuhilah bumi," berarti memanfaatkan dunia alami: menanam tanaman, membangun jembatan, mendesain komputer, menggubah musik. Bagian ini kadang-kadang disebut Mandat Budaya karena memberi tahu kita bahwa tujuan awal kita adalah untuk menciptakan budaya, membangun peradaban - tidak kurang dari itu.

Tragisnya mandat ilahi ini sering disalahgunakan untuk membenarkan kesombongan budaya, penyalahgunaan alam, dan penaklukan brutal atas orang lain, semua dalam keyakinan bahwa "Allah di pihak kita." Pada ekstrem yang lain, ada orang-orang yang di dalam gereja yang merasakan mandat budaya tidak lagi berlaku di dunia yang jatuh dalam dosa. Dengan kedatangan Kristus, mereka berpendapat, yang terpenting adalah keselamatan individu. Di luar batas minimum, usaha atas budaya tidak relevan, bahkan lebih buruk lagi, berbahaya.

konten

Namun, syukurlah, bobot Kitab Suci menghancurkan semua gambaran omong kosong ini. Mandat budaya adalah tuntutan penciptaan, yang tak terhindarkan terkait dengan identitas kita sebagai pembawa rupa Allah. Meskipun dipengaruhi oleh dosa dan kejatuhan, itu tetap berlaku untuk semua orang setiap saat, orang Kristen dan yang bukan. Itu tidak mengizinkan manusia untuk bertindak seperti anak-anak yang dimanja oleh Allah, tetapi menyerukan penggunaan yang rendah hati, bersyukur, bertanggung jawab dan peduli apa yang telah dipercayakan kepada kita. Dan, karena Allah di dalam Kristus menebus seluruh ciptaan-Nya, Amanat Agung (yang lebih banyak akan dibicarakan nanti) tidak meniadakan mandat budaya, tetapi pada kenyataannya memenuhinya.

Pembawa Rupa Laki-Laki dan Perempuan

Realitas paling mendasar dari keberadaan manusia adalah bahwa kita diciptakan oleh Allah dalam gambar-Nya sendiri untuk menjadi wakil-Nya di dunia ciptaan-Nya. Inilah yang memberi kita kemanusiaan yang unik, serta martabat dan nilai intrinsik setiap kehidupan manusia yang menyertainya. Sebagai pembawa citra Allah, kita mencerminkan atribut kepribadian-Nya: kesadaran diri, kapasitas relasional, kreativitas, kecerdasan, emosi, kemauan, agensi moral. Sebagai wakil Allah, kita menggunakan atribut-atribut ilahi itu untuk mengisi, mengembangkan, dan mengawasi ciptaan-Nya demi kemuliaan-Nya.

Menurut kisah penciptaan, status manusia sebagai pembawa gambar dan perwakilan ilahi ditanggung bersama oleh laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, dalam banyak masyarakat dan gereja itu sendiri, keseimbangan ini sering dijauhkan dari kaum perempuan, perannya dalam mandat budaya terbatas pada bagian tentang "Beranakcucu dan berlipatganda". Namun, halaman-halaman Alkitab dibumbui dengan kisah-kisah wanita – Miryam, Debora, Abigail, Hulda, Ester, Maria, Yohana, Lidia, Damaris, Priskila, dan banyak lagi - yang memimpin bangsa-bangsa, menasihati raja, menulis lagu dan puisi, menjalankan bisnis, terlibat dalam debat ilmiah, mengajar murid dan membiayai misi - serta mengasuh dan merawat anak-anak. Dalam dunia kepunyaan Allah, baik perempuan maupun laki-laki memainkan peran beragam dalam pekerjaan pertumbuhan manusia.

Keteraturan dari kekacauan

Pada awalnya, ciptaan Allah tidak berbentuk, kosong dan gelap, sebelum Dia berkata, "Jadilah terang." Dengan kata lain, Allah memilih untuk menciptakan alam semesta dengan membawa keteraturan dari kekacauan. Intinya, semua aktivitas kreatif manusia mencerminkan proses ini. Merancang bangunan baru, membersihkan dan mengatur ruang untuk keindahan dan kenyamanan, mengembangkan obat-obatan, menulis program komputer, melukis - semuanya melibatkan membawa struktur dan keteraturan pada bahan baku yang -- "semrawut" untuk kepentingan dan kesenangan manusia. Tidak seperti Allah, manusia tidak mencipta ex nihilo, dari ketiadaan. Akan tetapi, kita menggunakan pengetahuan dan bakat yang Dia berikan untuk mengatur ulang materi yang Dia sediakan. Meskipun demikian, prinsipnya tetap sama: keteraturan dari kekacauan.

Otoritas yang Baik, Penuh Kasih Sayang

Bagi banyak orang Kristen modern, istilah mandat budaya untuk menundukkan dan berkuasa tidak terlalu dirasa tepat. Hal ini dapat dimengerti, sampai pada titik tertentu, mengingat rekam jejak pelecehan yang dilakukan secara semena-mena dan berat pada masa lalu. Istilah yang lebih disukai hari ini adalah penatalayan dan akuntabilitas, yang meskipun membantu, berdampak menjadi semacam kata kunci dalam dunia politik dan perdagangan. Itu tidak hanya menjadi terlalu sering digunakan sampai pada titik klise, tetapi istilah tersebut juga menciptakan kesan umat manusia sebagai manajer menengah yang kejam, hitung-hitungan yang menghancurkan tanpa perasaan, dan menggerakan sumber daya.

Sebagai duta Allah, manusia memang adalah penatalayan yang bertanggung jawab kepada-Nya pada bagaimana kita menggunakan ciptaan-Nya. Akan tetapi, kita juga memiliki perintah yang asli untuk menggunakan otoritas yang murah hati - penguasaan dalam arti terbaik - atas ciptaan itu. Di luar kedua prinsip tersebut, bagaimanapun, kita harus mencerminkan hati Pencipta kita dalam menunjukkan perhatian dan penghargaan yang penuh kasih untuk hal-hal baik yang telah Dia ciptakan. Rasa hormat terhadap lingkungan, pemanfaatan tanah, kecintaan terhadap alam, perlakuan yang baik dan manusiawi terhadap hewan, semuanya berasal dari kesadaran Alkitab yang benar tentang peran kita sebagai penjaga dunia yang baik dari Allah.

Menjelajahi dan memanfaatkan ciptaan

Karena dunia kepunyaan Allah itu baik, itu juga layak untuk dijelajahi dan dimanfaatkan. Memang, atas perintah Allah sendiri, adalah hak istimewa dan kesenangan manusia untuk melakukannya. Pedoman kebenaran ini melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, seperti yang kita ketahui. Pria dan wanita beriman bertanya-tanya tentang misteri alam semesta dan menyelidiki rahasia-rahasianya, atau mereka mempelajari kompleksitas tubuh manusia, yang dibuat dengan cara yang dahsyat dan menakjubkan. Berdasarkan penemuan-penemuan itu, mereka menemukan cara-cara baru untuk menyembuhkan penyakit, meringankan penderitaan, dan meningkatkan kualitas hidup.

Bahkan hari ini, ketika banyak orang dari dunia ilmiah menolak Allah, mereka terus mengagumi keajaiban ciptaan-Nya ketika mereka menikmati manfaat yang diberikan oleh pemahaman yang lebih baik tentang itu. Beberapa dari mereka berpendapat bahwa semakin banyak kita tahu, semakin sedikit kita melihat misteri atau kebutuhan akan Pencipta. Akan tetapi, orang-orang dengan kebijaksanaan dan mata untuk melihat mengakui bahwa itu justru sebaliknya. Langit terus memberitakan kemuliaan Allah, dengan cara yang tidak pernah bisa dibayangkan oleh peradaban kuno.

Menciptakan dan menikmati keindahan

Dapat diperdebatkan, seperti yang dilakukan Dorothy Sayers dalam "The Mind of the Maker", bahwa kreativitas adalah atribut utama Allah yang ditunjukkan dalam Kejadian pasal pertama dalam Kejadian, dan dengan demikian pengertian utama di mana manusia diciptakan menurut gambar-Nya. Allah menyatakan semua ciptaan-Nya baik, dan adanya keindahan estetis, bersama dengan kemampuan kita untuk menghargainya, adalah bukti kuat bahwa Dia ada dan bahwa Dia telah merancang kita untuk mencerminkan keserupaan dengan-Nya. Dorongan yang ada dalam diri kita sendiri untuk mencipta dan menikmati hal-hal indah semakin memperkuat hubungan ilahi ini.

Anehnya, gereja kadang-kadang berusaha meredam dorongan kreatif, estetis ini sebagai hal yang duniawi atau berbahaya. Pada waktu lain, itu telah mengurangi aktivitas artistik menjadi tindakan pragmatis, hanya berguna untuk mengekspresikan tema-tema keagamaan yang terang-terangan. Akan tetapi, Kitab Suci tidak akan memiliki mentalitas "tidak merasakan, tidak menyentuh, tidak menangani". Isinya dipenuhi dengan citra yang menarik bagi indera dan imajinasi: kebun anggur, pohon ara, dan kebun zaitun; singa dan ular; langit malam memercik dengan bintang yang tak terhitung jumlahnya; prajurit gagah berani dan wanita cantik; makhluk bersayap banyak terbang melalui langit; makanan termewah dan anggur terbaik, disajikan dalam pesta pernikahan Anak Domba. Dalam pengalaman kita sendiri, kita memiliki makanan bercita rasa dan musik yang luar biasa serta film-film brilian dan gerhana matahari untuk mengingatkan kita bahwa Allah memang telah memberi kita semua hal-hal baik untuk diciptakan dan/atau dinikmati.

Mengejar keunggulan

Orang Yunani kuno memiliki istilah, arete, yang diterjemahkan sebagai keunggulan atau kebajikan, untuk mengekspresikan gagasan bahwa semua orang dan semua hal harus meningkat pada potensi terbaik mereka. Para penulis Perjanjian Baru mengadopsi istilah ini untuk menggambarkan kebajikan etis, budaya dan intelektual, dan untuk mendesak orang percaya untuk merenungkan dan mengejar hal-hal yang sangat baik. Ini berlaku dalam setiap jalan kehidupan, tetapi mungkin yang paling konkret adalah dalam bidang pekerjaan dan panggilan. Dalam terang mandat budaya, tidak ada perbedaan nyata antara panggilan sakral dan sekuler. Para dokter, guru, ibu rumah tangga, seniman, dan pekerja konstruksi semuanya melakukan pekerjaan yang ditugaskan Allah kepada mereka, tidak lebih rendah dari pekerjaan pendeta dan misionaris. Dengan demikian, masing-masing akan mengejar panggilan mereka bukan secara obsesif, tetapi dengan tujuan untuk melakukannya dengan keunggulan.

Kesejahteraan kota

Salah satu cara utama mandat budaya menggemakan karakter Allah adalah dalam fokus lahiriahnya, dalam orientasinya untuk berbuat baik kepada orang lain dan kepada dunia pada umumnya. Allah memanggil manusia untuk mengusahakan kesejahteraan kota, dengan kata lain masyarakat tempat Dia menempatkan mereka. Dia sendiri melakukannya sendiri, seperti ketika Dia mengirim Yunus untuk berkhotbah ke Niniwe, sehingga Dia dapat menunjukkan belas kasihan kepada -- kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak."

Perintah ini akan mengambil bentuk yang berbeda, untuk orang yang berbeda, pada waktu yang berbeda. Dalam banyak masyarakat pada masa lalu dan sekarang, warga pada umumnya tidak memiliki suara politik yang nyata, sementara dalam masyarakat lainnya, mereka mampu bekerja untuk perubahan sosial yang substansial. Melalui pekerjaan mereka dan kegiatan lainnya, mereka dapat berkontribusi pada kesejahteraan ekonomi dan usaha memperkaya budaya masyarakat mereka. Dalam semua kasus, baik dengan cara besar maupun kecil, mereka dapat membela kepentingan kaum terpinggirkan dan tertindas, dan mendorong perdamaian dan keadilan di wilayah tempat mereka tinggal.

Semua kebenaran adalah kebenaran Allah

Selama abad-abad awal gereja, ada perselisihan antara Tertullian, yang merasa bahwa filsafat pagan tidak memiliki apa pun yang berguna untuk ditawarkan, dan Justin Martyr, yang percaya bahwa semua kebenaran adalah kebenaran Allah, terlepas dari sumbernya. Namun, dengan memasukkan pandangan mandat budaya - belum lagi fakta bahwa Rasul Paulus mengutip dari beberapa filsuf dalam khotbah dan surat-suratnya - akan terlihat bahwa Justin Martyr adalah orang yang memahaminya dengan benar.

Allah mengirimkan matahari dan hujan-Nya bagi orang benar dan orang tidak benar. Dia memberikan talenta dan kebijaksanaan kepada mereka yang tidak mengenal-Nya. Dia memberikan kemampuan untuk melakukan yang baik, menunjukkan kebaikan dan menciptakan keindahan, bahkan bagi mereka yang menolak Dia. Inilah yang oleh para teolog disebut anugerah umum. Disadari atau tidak, semua orang berpartisipasi dalam pekerjaan Allah untuk memberi keteraturan dan memberi manfaat bagi ciptaan-Nya.

Amanat Agung

Sejak awal, manusia diberi mandat untuk menjadi wakil Allah, membangun budaya dan membawa shalom (keutuhan) ke dunia-Nya.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Menurut rencana kekal Allah, Anak-Nya adalah Anak Domba yang disembelih sebelum dunia dijadikan, untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka. Akan tetapi, rencana itu mencakup hal yang jauh lebih dari itu. Melalui Kristus, Allah sedang dalam proses menebus seluruh ciptaan-Nya, untuk pujian dan kemuliaan nama-Nya. Rencana ini dikenal sebagai drama kosmik, kisah agung tentang Penciptaan, Kejatuhan, Penebusan, dan Pemulihan.

Namun, dalam benak banyak orang Kristen, adegan-adegan pertama dan terakhir dalam kisah itu dipotong, meninggalkan bagian tengah yang terputus dari Kejatuhan dan Penebusan. Ini mengarah pada pandangan yang menyimpang bahwa keselamatan individu adalah satu-satunya perhatian yang relevan bagi orang percaya. Yang terbaik adalah dengan menjauh dari dunia dan membiarkannya bergerak dengan caranya sendiri. Selain itu, adalah tindakan yang sia-sia dan godaan berbahaya dari keduniawian.

Namun, kisah penebusan yang utuh tidak memungkinkan opsi ini. Sejak awal, manusia diberi mandat untuk menjadi wakil Allah, membangun budaya dan membawa shalom (keutuhan) ke dunia-Nya. Meskipun dirusak oleh Kejatuhan, mandat (budaya) tetap berlaku dan pada kenyataannya digenapi dalam Kristus, Allah yang sejati dan manusia sejati yang pada akhirnya akan memulihkan ciptaan-Nya.

Melalui Amanat Agung, Yesus memberi tahu para murid-Nya untuk mengajarkan semua yang Dia perintahkan kepada mereka. Inti dari pengajaran ini adalah pesan Injil tentang kematian dan kebangkitan Yesus atas nama orang berdosa. Namun, itu juga mencakup segala sesuatu yang lain dalam Alkitab, termasuk perintah pertama Allah kepada pasangan manusia pertama. Semua itu menemukan bentuknya dan mengalir dari Injil, dengan membawa otoritas Yesus. Maka, mandat budaya terus menjadi sarana pertumbuhan bagi semua orang, dan terutama bagi mereka yang mengenal Tuhan.

Sumber dan bacaan lebih lanjut

D.A. Carson, "Christ and Culture Revisited", Grand Rapids MI: Eerdmans Publishing, 2008.

Joe Carter, "Be fruitful. Multiply. We may be creating a harmful misperception of the true meaning of the cultural mandate" Cardus Comment, November 5, 2010.

Joe Carter, "How God makes a pencil" The Gospel Coalition, February 3, 2015.

Charles Colson and Nancy Pearcey, "How Now Shall We Live?" Carol Stream IL: Tyndale House Publishers, 1999.

Jonathan Dodson, "Missional discipleship: reinterpreting the Great Commission" Boundless, February 12, 2008.

David T. Koyzis, "What the cultural mandate is not" First Things, November 30, 2011.

Art Lindsley, "Creation, fall, redemption" C.S. Lewis Institute: Knowing & Doing, Winter 2009.

Art Lindsley, "The call to creativity" Institute for Faith, Work & Economics, October 7, 2013.

Gabe Lyons, "Cultural influence: an opportunity for the church" Cardus Comment, March 1, 2008.

Dustin Messer, "The cultural mandate: being God’s servants in God’s world" Kuyperian Commentary, May 27, 2015.

Nancy Pearcey, "Total Truth: Liberating Christianity from its Cultural Captivity" Wheaton IL: Crossway Books, 2004.

John Piper, "How to engage culture and swim against it" Desiring God, September 11, 2015.

Irene Smith, "What’s missing from the American dream for women? Look to the cultural mandate" Institute for Faith, Work & Economics, April 7, 2016.

Hugh Whelchel, "Carrying out the cultural mandate is essential for Biblical flourishing" Institute for Faith, Work & Economics, May 18, 2015.

Andrew Wilson, "Four views on Christians and culture" Think Theology, February 25, 2013.

Andrew Wilson, "Christians and culture: a proposa," Think Theology, February 27, 2013.

Ravi Zacharias, "Culture, grace, and glory" Ravi Zacharias International Ministries, November 1, 1999.

(t/N. Risanti)

Sumber Artikel: 
Diterjemahkan dari:
Nama situs : Focus on The Family
URL : https://www.focusonthefamily.ca/content/the-cultural-mandate-living-as-divine-image-bearers
Judul asli artikel : The cultural mandate: living as divine image-bearers
Penulis artikel : Subby Szterszky

Komentar