Kita Memerlukan Teologi Teknologi

Penulis_artikel: 
Will Sorell
Tanggal_artikel: 
4 Desember 2020
Isi_artikel: 
Kita Memerlukan Teologi Teknologi

Kita Memerlukan Teologi Teknologi

Awal bulan ini, Judah Smith mengumumkan dibukanya Churchome Global. Lokasi terbaru dari gereja raksasanya dalam berbagai tempat adalah telepon dalam kantong Anda. Tidak sama seperti aplikasi gereja tradisional yang menawarkan pesan dan informasi, Churchome Global mengutamakan label untuk membentuk kelompok komunitas secara daring, memberi untuk tujuan-tujuan dunia, dan bersekutu dengan orang lain sebelum ibadah di ruang masuk virtual. Pada label doa Anda bisa menaruh dua jari di layar untuk memberi tanda Anda sedang mendoakan pokok-pokok doa tertentu pada waktu sekarang. Tweet asli Smith menerima lebih dari 250 komentar, banyak yang mengkritisi -- cara bergereja yang baru -- ini.-

Perdebatan-perdebatannya adalah mengenai bagaimana dan mengapa menyediakan teknologi baru bukanlah hal yang baru. Percetakan, listrik, dan jaringan telah membantu Injil diberitakan secara internasional. Akan tetapi, banyak yang takut internet secara khusus menjadi sebuah ancaman bagi pelayanan yang bersifat inkarnasi. Satu kritik menanyakan tombol mana yang mengeluarkan perjamuan kudus.

Teknologi dapat membangkitkan jiwa atau sebaliknya membuat hati nurani takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang tampak tidak berakhir. Kita perlu menemukan pijakan di tengah antara menerima dan tidak menghiraukan. Pertama-tama, kita harus mengerti apa itu teknologi dan apa yang bukan teknologi. Kedua, kita harus bertanya bagaimana Firman Tuhan mendorong kita untuk meresponi.

Teknologi itu Tidak Bermoral

teknologi

Teknologi bukanlah akar dari semua kejahatan. Sama seperti kita bisa menggunakan uang untuk tujuan diri sendiri atau orang lain, cara-cara baru untuk berkomunikasi dan berinteraksi tidak memiliki nilai moral dalam dan dari dirinya sendiri. Teknologi mengandung energi potensial, baik bagi pengharapan maupun rasa takut, tetapi kita memberikan energi kinetis.

Kemajuan teknologi seringkali berusaha untuk memberikan tiga macam kenyamanan:

1. Teknologi membuat perdagangan nyaman.

Entah itu kendaraan yang dirakit robot, pertukaran uang via Venmo atau Vanguard, atau sistem pencatatan mata uang untuk memenangkan pasar, teknologi membuat pasar semakin efisien. Ini bisa mengurangi kendala-kendala untuk mencatat, meningkatkan persaingan, dan membantu pelanggan menikmati kualitas hidup yang lebih baik. Ini juga dapat menyebabkan para pekerja digantikan dan mengakibatkan terjadinya kecurangan.

2. Teknologi membuat perjalanan nyaman.

Otomotif dan perjalanan udara membuat dunia tampak kecil. Orang-orang bisa berkunjung ke sanak saudara yang tinggalnya jauh, mengawasi proyek melintasi lautan, dan menyelidiki ciptaan dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya. Demikian pula, kemajuan dalam perjalanan memampukan perdagangan seks, kecelakaan mobil dan kendaraan di udara yang mengerikan, dan meningkatkan polusi.

3. Teknologi membuat komunikasi nyaman.

Facebook baru-baru ini memperkenalkan Portal, sistem pesan-video yang baru dengan Alexa Amazon yang dibangun di dalamnya. Kata-kata pengenalnya – -Jika Anda tidak bisa hadir di sana, rasakan di sana- – melambangkan pengharapan bahwa keintiman manusia akan meningkat seiring dengan meningkatnya teknologi. Hal ini merupakan pengharapan Churchome yang ditekankan, juga. Akan tetapi, jika -- merasa di sana -- itu begitu mudahnya, akankah orang-orang jadi kurang termotivasi untuk hadir ketika mereka bisa hadir?

Energi potensial teknologi tidak dapat terus menjadi potensial selamanya. Saat agen moral menggunakannya, kita memberikan muatan moral kepadanya.

Kita Menggunakan Teknologi Secara Moral

Roma 6:13 memperingatkan semua orang percaya untuk mempersembahkan -- anggota-anggota tubuh -- mereka – setiap bagian dari diri mereka – tidak lagi kepada dosa tetapi bagi Allah. Saat penggunaan teknologi menjadi perluasan dari diri, kita membutuhkan teologi teknologi. Sekali lagi, teknologi itu tidak bermoral, seperti uang. Akan tetapi, saat kita menggunakannya, maka kita menghormati kerajaan atau menghalanginya. Kita menyembah Allah atau menyembah diri sendiri.

Apakah kita sedang melewati orang yang melakukan perjalanan yang dirampok dan terluka karena kita terlalu terobsesi dengan kelekatan kita pada tweet terbaru? Apakah kita memberikan persepuluhan secara digital untuk menghindari pertanggungjawaban pribadi pada hari Minggu? Apakah kita mengonsumsi -- konten paling baru setiap harinya,- atau apakah kita tunduk pada Firman Tuhan agar berlaku dalam konteks masyarakat?

Lalu, Bagaimana Kita Akan Memulai?

Churchome Global hanyalah ujung dari gunung es teknologi. Kita membutuhkan tanggapan dari studi gereja terhadap realita virtual, dan kita membutuhkannya sekarang.

Itu berarti, kita harus proaktif membentuk teologi teknologi kita, bukan sekadar reaktif. Ibadah yang disiarkan langsung melalui internet, misalnya, bisa menjadi sebuah berkat bagi para misionaris yang kesepian. Akan tetapi, itu bisa menjadi sebuah kutukan bagi orang tua yang gagal untuk membangunkan anak-anak mereka dan kemudian memperkenalkan headset sebagai pengganti komunitas.

Jadi, kepentingan apa yang kita miliki ketika kita dan gereja kita membuat keputusan yang berkaitan dengan teknologi? Berikut adalah tiga pedoman yang bermanfaat dalam membentuk sebuah teologi teknologi.

1. Prioritaskan belas kasih lebih daripada rasa nyaman.

Teknologi mengandung energi potensial, baik bagi pengharapan maupun rasa takut, tetapi kita memberikan energi kinetis.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Apakah penggunaan teknologi di gereja Anda memperbesar empati dan aksi bagi para janda, yatim-piatu, dan pendatang? Pendeta, apakah Anda mengeluarkan sebuah khotbah podcast karena Anda ingin meninggalkan warisan, atau karena hati Anda rindu kepada orang-orang yang sakit dan yang dipenjara?

Kita sebaiknya berfokus pada menjadi tangan dan kaki Kristus kepada orang-orang yang sakit daripada sekadar (membuat) video dan audio kepada orang-orang yang sehat.

Meskipun teknologi merupakan alat yang luar biasa untuk menyampaikan Firman Tuhan baik secara lokal maupun global, kita sebaiknya berfokus untuk menjadi tangan dan kaki Kristus kepada orang-orang yang sakit daripada sekadar video dan audio untuk orang-orang yang sehat.

2. Prioritaskan kehadiran lebih daripada kedekatan.

Jika Kristus sendiri menganggap adalah prioritas untuk ada di tengah-tengah umat-Nya, maka kita juga harus memprioritaskan kehadiran (Mat. 18:20; 28:20). Pendeta, apakah jemaat Anda membaca postingan Anda dan mendengarkan khotbah Anda karena mereka adalah bagian dari gereja Anda, atau karena mereka ingin merasa dimasukkan tanpa komitmen janji? Apakah penggunaan media sosial gereja Anda mendorong orang-orang untuk berpartisipasi dalam studi Alkitab, pertemuan ibadah, dan waktu persekutuan, atau apakah Anda mempromosikan postingan untuk menambah jumlah kehadiran dan arus pendapatan?

Adalah jauh lebih mudah untuk menyembunyikan patah hati kita dan rasa malu kita di balik aplikasi pesan daripada menyampaikannya waktu makan malam bersama.

Keintiman paling baik dilakukan dengan bertemu langsung. Adalah jauh lebih mudah untuk menyembunyikan patah hati kita dan rasa malu kita di balik aplikasi pesan daripada menyampaikannya waktu makan malam bersama. Kita ingin melihat orang-orang secara langsung sekarang karena kita ingin mereka melihat Yesus – dan menjadi seperti Dia – pada zaman akhir (1 Yoh. 3:1–3).

3. Prioritaskan komunitas lebih daripada konten.

Saya pernah mendengar seorang pendeta yang mengurangi perjamuan kudus menjadi sekali dalam tiga bulan dalam ibadah sore yang kurang banyak dihadiri orang-orang, karena ia -- merasa terpanggil untuk mendahulukan pelayanan televisinya.- Dia lebih peduli dengan khotbah hari Minggunya pada stasiun lokal daripada dia bersama dengan orang-orang yang dipersatukan untuk menerima tanda dan meterai kematian Kristus dan janji kedatangan-Nya kembali. Kristus berjanji untuk membangun gereja-Nya dan menyerahkan gereja kepada diri-Nya dalam kemegahan (Mat. 6:18; Why. 21:2), bukan menyampaikan khotbah yang sempurna dan serinya. Marilah berpegang pada perkataan-Nya dan berinvestasi satu terhadap yang lain.

Kenyamanan, kedekatan, dan konten adalah hal-hal baik yang bisa menolong untuk membawa jiwa-jiwa kepada pembenaran dan pengudusan. Akan tetapi, tidak ada pengganti tiruan untuk belas kasih, kehadiran, dan komunitas. Prioritas Yesus harus menjadi prioritas gereja-Nya.(t/Jing-Jing)

Sumber Artikel: 
Diterjemahkan dari:
Nama situs : The Gospel Coalition
URL : https://www.thegospelcoalition.org/article/need-theology-technology/
Judul asli artikel : We Need a Theology of Technology
Penulis artikel : Will Sorell

Komentar