Skip navigation.

Mengenal Yesus Kristus

Editorial:

Dear e-Reformed Netters,
Kali ini saya akan menjumpai Anda dalam suasana PASKAH. Oleh karena
itu saya pilihkan satu artikel yang pas yang saya kutip dari buku
hasil seminar dari Pdt. Stephen Tong, yang berjudul: SIAPAKAH KRISTUS?
Jika orang bertanya kepada Anda, "ceritakan kepada saya, siapakah
Kristus?" Apakah jawaban Anda? Ada banyak orang Kristen yang mengenal
Kristus hanya sebatas dalam pengertian kognitif saja. Ibarat burung
beo yang pandai menirukan apa yang diajarkan tuannya. Bagaimana dengan
Anda? Pdt. Stephen Tong menyinggung satu fakta yang ironis, bahwa jika
kita dapat mendengar jawaban-jawaban yang diberikan oleh orang-orang
Kristen di Indonesia tentang siapakah Kristus, maka kita akan
mengetahui betapa simpang-siurnya kekristenan pada zaman ini.
Melalui peristiwa perayaan PASKAH, marilah kita mengambil waktu untuk
merenungkan pertanyaan ini: siapakah Kristus menurut Anda? Apakah Anda
mengenal Kristus secara pribadi, ataukah masih sebatas menurut apa
kata orang? Mengenal Kristus menurut apa yang orang lain katakan tentu
tidak sama dengan jika Anda mengenal-Nya sendiri secara pribadi.
Pengenalan pribadi melibatkan bukan hanya pikiran, tapi juga emosi,
yang kemudian tentu akan melahirkan satu tindakan yang nyata. Nah,
kiranya artikel berikut ini dapat menjadi pengantar akan perenungan
Anda tentang siapakah Kristus.
Selamat Hari PASKAH 2006.
In Christ,
Yulia
< yuliain-christ.net >

Penulis:
Pdt. Dr. Stephen Tong

Edisi:
072/III/2006

Penulis:
Pdt. Dr. Stephen Tong

Isi:

Secara lahiriah, Yesus tidak berbeda dengan manusia lainnya. Ia
dilahirkan oleh seorang perempuan, dibesarkan di desa, dan berkata-
kata dalam bahasa manusia. Ia tidak memiliki hal yang begitu hebat
sehingga kita harus memikirkan Dia sedalam-dalamnya. Namun, selain
menjadi batu sandungan bagi banyak orang, kemanusiaan Yesus ini juga
menimbulkan daya tarik dan tanda tanya yang mengagumkan sekaligus
memusingkan banyak orang.
Jika kita berbicara dan berpikir tentang Kristus, maka kita harus
kembali pada satu waktu di mana Kristus menuntut manusia memberikan
penilaian tentang diri-Nya. Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya,
"Menurut orang-orang, siapakah Aku?" Kalimat ini merupakan kalimat
yang sering kita tanyakan kepada diri kita sendiri. Setiap orang juga
pasti pernah mempunyai pertanyaan seperti itu dalam dirinya. Dalam
pertanyaan "siapakah saya?" terkandung tiga pertanyaan kecil.


  1. SIAPA YANG BERTANYA?
    Pertanyaan ini menimbulkan satu kesulitan karena adanya percampuran
    subjek dengan objek. Saat kita menanyakan siapakah diri kita, ada
    sesuatu yang tidak bisa dianalisa dengan jelas karena yang bertanya
    adalah yang ditanya; yang ingin mengetahui adalah yang ingin
    diketahui; yang diketahui adalah yang tidak diketahui dan yang ingin
    mengetahui sedang menanyakan tentang apa yang sedang diketahuinya. Ini
    merupakan suatu pertanyaan yang tidak mungkin dibereskan oleh manusia
    itu sendiri. Pada waktu Tuhan Yesus menanyakan hal tersebut, Ia bukan
    menanyakan hal itu kepada diri-Nya sendiri, tetapi kepada pengikut-
    pengikut-Nya yang sudah sekian lama melihat penyataan Kristus. Dialah
    yang memberikan penyataan kepada manusia dan diri-Nyalah yang
    dinyatakan. Dialah pewahyu sekaligus inti dari wahyu tersebut, yang
    mewahyukan diri-Nya kepada manusia.
    Waktu murid-murid-Nya secara mendadak menerima pertanyaan ini, mau
    tidak mau mereka harus mempertanggungjawabkan pemikiran mereka tentang
    Kristus. Momen seperti ini tidak bisa diciptakan manusia, tetapi
    diberikan oleh Tuhan. Sebagai orang Kristen, apakah setelah mendengar
    khotbah bertahun-tahun, membaca Kitab Suci, dibaptiskan dan menjadi
    orang Kristen sekian lama, kita sudah dapat menjawab pertanyaan
    tentang siapakah Kristus? Siapakah Dia?
    Murid-murid Yesus mulai memberikan evaluasi tentang Kristus kepada Dia
    yang menuntut evaluasi. Dari gudang pikiran mereka, mulailah timbul
    jawaban-jawaban; mereka mulai memikirkan kembali tentang siapakah
    Kristus. Ada yang menjawab bahwa Dia adalah seorang nabi; seorang nabi
    yang besar; yang lain menjawab bahwa Dia adalah Yeremia[1]. Yesus
    dinilai sebagai Yeremia karena dalam zaman yang sedang dilanda
    kesedihan, Ia mempunyai tangisan dan perasaan yang sama dengan seluruh
    zaman. Yang lain menjawab bahwa Ia adalah Yohanes Pembaptis yang
    bangkit dari kematian. Orang-orang itu menganggap bahwa kuasa Tuhan
    yang begitu besar dinyatakan-Nya dengan membangkitkan Yohanes
    Pembaptis yang sudah dibunuh oleh Raja Herodes. Dan Yohanes Pembaptis
    yang bangkit kembali itu adalah Yesus. Yang lain lagi menjawab bahwa
    Yesus adalah nabi yang pernah disebutkan Musa "barangsiapa yang
    mendengarkan Dia, akan hidup, tetapi barangsiapa tidak mendengarkan
    Dia akan binasa".
    Semua penilaian zaman itu diberikan kepada Yesus Kristus dalam waktu
    tidak lebih dari tiga setengah tahun. Yesus telah melakukan begitu
    banyak hal. Ia menyembuhkan, mengajar, dan membuktikan bahwa Dialah
    Allah yang berkuasa yang diutus ke dunia. Lalu pada waktu semua sudah
    memberikan penilaian-penilaiannya, Yesus tidak menanggapi apa-apa,
    tapi Ia mendorong lagi dengan satu kalimat, "Menurutmu, siapakah
    Aku?"[2] Pertanyaan ini penting karena bila kita memiliki pengenalan
    pribadi tentang Kristus berdasarkan firman Tuhan, barulah kita
    mempunyai kekuatan yang cukup untuk bersaksi bagi Dia. Apakah Kristus
    itu sekadar dokter yang paling mujarab? Apakah Kristus itu hakim yang
    keras? Mak comblang yang mencarikan jodoh bagi orang-orang muda? Ahli
    sulap yang membuat Anda kaya? Apakah Kristus itu sekadar pemuas emosi
    yang kita peroleh melalui kebaktian-kebaktian doa dan puji-pujian?
    Jika Anda mengetahui jawaban-jawaban yang diberikan oleh orang-orang
    Kristen di Indonesia, maka Anda akan mengetahui betapa simpang-siurnya
    kekristenan pada zaman ini.

  2. KEPADA SIAPA PERTANYAAN ITU DIAJUKAN?
    Pernahkah Anda memikirkan dengan baik tentang siapakah Kristus? Apakah
    artinya mengikut Kristus? Apakah artinya menjadi orang Kristen?
    Bukankah di Indonesia ada lebih banyak orang yang bukan Kristen
    daripada orang Kristen? Bukankah ada banyak agama-agama lain di
    Indonesia? Mengapa Anda menjadi orang Kristen? Yesus tidak menolak
    ataupun menghina jawaban dari dunia akademis tentang siapakah diri-
    Nya. Ia tahu apakah Anda memiliki penilaian-penilaian yang bersifat
    otoritatif. Tetapi Ia menuntut Anda secara pribadi untuk berakar,
    mempunyai iman yang sungguh-sungguh, dan mengenal-Nya dengan benar.
    Pada waktu Yesus menantang dengan pertanyaan demikian, maka seolah-
    olah semua murid-Nya tidak mempunyai jawaban. Tetapi ada satu murid
    yang menjawab dengan tegas, "Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup."
    Kalimat ini keluar dari mulut Petrus. Inilah suatu pengakuan iman
    pertama dalam sejarah gereja. Petruslah orang pertama yang mengaku
    tentang siapakah Yesus di hadapan orang banyak. Tidaklah mudah bagi
    Petrus untuk menyimpulkan dan mengatakan pengertiannya tentang
    siapakah Kristus. Ia bukanlah orang yang memiliki latar belakang
    pendidikan yang tinggi, juga bukan pengikut dari ahli-ahli Taurat yang
    belajar Perjanjian Lama dengan ketat, tapi dia hanyalah seorang
    nelayan. Seorang rakyat jelata yang mendengar bahwa seorang nabi telah
    muncul. Jadi selain menangkap ikan, Petrus juga mengikuti dan
    mendengarkan khotbah-khotbah Yohanes Pembaptis. Rupanya Petrus
    memperhatikan bahwa Yohanes Pembaptis membawa berita yang berfokuskan
    pada firman Allah, yaitu tentang kedatangan Kristus. Kedatangan
    Kristus adalah sumber pengharapan bangsa Israel sehingga mereka berdoa
    siang malam memohon kedatangan Mesias.
    Konsep bangsa Israel tentang Kristus pada masa itu adalah konsep yang
    sudah dibatasi oleh persepsi selektif. Pada waktu Petrus mengikut
    Yohanes Pembaptis, ia melihat perbedaan antara Yohanes dengan para
    ahli Taurat dan yang lainnya yang juga mengajarkan tentang kedatangan
    Kristus yang pertama. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi juga
    belajar tentang Kristus yang akan datang. Tetapi pada waktu
    mengajarkan tentang Kristus, pengajaran mereka dibatasi oleh persepsi
    selektif yang begitu sempit dan subjektif. Mereka tidak mau mengenal
    Allah melalui apa yang sudah diberikan Allah. Mereka tidak mau
    mengenal Kristus melalui wahyu yang sudah diberikan mengenai Dia.
    Mereka hanya memilih bagian-bagian yang cocok dengan apa yang mereka
    inginkan. Pada zaman sekarang juga ada begitu banyak orang yang tidak
    mau mengenal Kristus yang tersalib, tapi hanya mau Kristus yang
    menyembuhkan; mereka tidak mau mengenal Kristus yang menderita tetapi
    hanya mau Kristus yang memberikan kekayaan.
    Orang Yahudi terdampar dan dibuang oleh Tuhan karena mereka tidak
    mencapai fokus Kristologi dari seluruh Kitab Suci. Di dalam Perjanjian
    Lama Allah sudah berjanji bahwa Kristus akan datang, lahir di kota
    Bethlehem, dijual seharga 30 keping perak, menderita, dipaku di atas
    kayu salib, bahkan kedua tangan dan kaki-Nya akan ditusuk tanpa satu
    tulang pun dari tubuh-Nya yang akan patah. Semua ditulis dengan begitu
    jelas. Lalu pada aspek yang lain Alkitab menulis juga bahwa Kristus
    akan menjadi Raja, dan seluruh kuasa akan berada di atas bahu-Nya dan
    kuasa-Nya lebih besar daripada siapa pun. Dia akan melenyapkan kuasa
    musuh, membangun kembali kerajaan Israel, membalas dendam kepada
    mereka yang menginjak-injak kehormatan bani Israel; Kristus yang
    menang, yang memberikan keadilan, menegakkan satu sistem dan ordo
    politik dan militer yang baru di dalam dunia.
    Pada waktu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mempelajari
    Perjanjian Lama, mereka mempelajarinya dengan satu persepsi
    selektif[3] yang sudah menjadi kaku dan keras dalam hati mereka
    sehingga mereka menilai nubuat-nubuat mengenai Kristus yang dihina,
    dipaku dan tidak memiliki kemuliaan lahiriah sebagai hal-hal yang
    tidak benar. Mereka berdoa memohon kedatangan Kristus yang membalas
    dendam kepada orang- orang Romawi yang menjajah bangsa Yahudi serta
    yang akan mencuci noda sejarah bangsa Israel yang dijajah. Orang-orang
    Yahudi umumnya memohonkan kedatangan Kristus yang akan membawa bangsa
    Yahudi ke dalam zaman keemasan yang dulu pernah mereka capai dalam
    masa pemerintahan Daud. Doa-doa mereka dipengaruhi oleh persepsi
    selektif atas Kristologi yang sudah dicemarkan oleh keinginan dunia
    dan tidak lagi berfokus kepada Kristus dan salib-Nya.
    Petrus adalah murid dari Yohanes Pembaptis sebelum ia mengenal Yesus.
    Ia tidak tertarik oleh kedatangan Mesias seperti yang diajarkan oleh
    ahli-ahli Taurat dengan persepsi selektifnya yang subjektif. Tetapi ia
    tertarik dengan pengajaran Kristologi yang benar, yang lengkap,
    menyeluruh, dan harmonis.
    Pada waktu Adam makan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat,
    maka Allah membunuh binatang-binatang dan mengajarkan kepada Adam
    bahwa tanpa ada pengaliran darah, tidak ada pengampunan bagi manusia.
    Yohanes Pembaptis melihat dengan jelas bahwa Yesus Kristus adalah
    Domba Allah yang dijanjikan itu, yang menjadi korban pengganti
    manusia. Yohanes menyerukan, "Lihatlah anak Domba Allah yang menghapus
    dosa dunia!" Jadi semua khotbah yang muluk-muluk dan yang sudah
    diseleksi oleh para ahli tidak masuk ke telinga Petrus; khotbah yang
    berfokus kepada Kristus yang akan mati mengganti dosa umat manusia
    langsung masuk ke dalam hati dan pikiran Petrus. Itulah sebabnya pada
    waktu Yesus Kristus menanyakan tentang siapakah diri-Nya, Petrus
    langsung menjawab dengan tepat, "Engkaulah Kristus, Anak Allah yang
    hidup!" Pengakuan iman yang akurat dan dinamis yang pertama di dalam
    sejarah telah diucapkannya.
    Hari itu Yesus langsung menjawab Petrus dengan satu kalimat,
    "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus, karena apa yang kamu katakan
    itu bukan berasal dari manusia tetapi dari Bapa-Ku yang ada di surga."
    Yesus tidak pernah meremehkan doktrin-doktrin yang benar yang membuat
    Anda menyatakan pengakuan iman yang sungguh-sungguh berasal dari
    pengenalan yang benar yang merupakan sari dan kristalisasi tentang
    Dia. Bukan saja tidak meremehkan bahkan Kristus mengonfirmasikan bahwa
    hal itu bukan berasal dari manusia, tetapi dari Allah. Pada saat itu
    juga Kristus memberikan wahyu selanjutnya yang kedua yaitu mulai
    berdirinya gereja.

  3. BERTANYA TENTANG APA?
    Sekarang marilah kita memperhatikan beberapa hal berikut ini.
    Gereja yang tidak mempunyai pengakuan iman tidak seharusnya berdiri
    sebagai gereja. Tidak seharusnya gereja berdiri hanya karena membawa
    orang beramai-ramai ikut kebaktian, tetapi tidak tahu apa yang akan
    didirikan. Kristus tak pernah mengatakan sebelumnya tentang ekklesia
    sampai Petrus mengeluarkan pengakuan iman yang benar itu. Gereja harus
    mempunyai pengakuan iman yang berfokus kepada Kristus. Jikalau gereja
    tidak mengaku Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, namun hanya
    berfokus kepada-Nya sebagai sumber kepercayaan, maka gereja itu pada
    suatu hari harus menutup pintunya sendiri. Bukankah pada saat ini
    begitu banyak orang mengakui Yesus? Tetapi sebagai apakah Yesus itu
    diakui? Sebagai pembagi rotikah? Sebagai pemberi berkatkah? Sumber
    anugerahkah? Tabibkah? Atau satu-satunya Juruselamat yang diutus Allah
    ke dalam dunia?
    Pada waktu Petrus mengatakan, "Engkaulah Mesias, Anak Allah yang
    hidup!" kita dapat memahami hal itu dalam pengertian sejarah dan
    suprasejarah yang difokuskan menjadi satu. Sepanjang sejarah, Kristus
    adalah yang dinanti-nantikan oleh umat manusia sepanjang zaman.
    Berarti pada titik kedatangan Kristus, apa yang diharapkan manusia
    dari zaman ke zaman sudah konkrit. Titik kedatangan Kristus juga
    berkait dengan kekekalan. Kristus yang datang ke dalam sejarah adalah
    Kristus yang berada dalam kekekalan yang melampaui sejarah.
    Pengharapan ini adalah suatu pengharapan sejati seluruh umat manusia,
    bukan hanya pengharapan dari bangsa Israel saja. Kekekalan dan
    kesementaraan hanya mempunyai satu titik kontak yaitu inkarnasi.
    Kita semua berada di dalam dunia yang bersifat sementara sedangkan
    Allah berada di surga yang bersifat kekal. Agama-agama lain begitu
    takut dan gentar kepada Allah karena mereka mengetahui bahwa yang
    sementara tidak mungkin mencapai yang kekal, tetapi yang kekal itu
    mungkin memberikan kemurahan kepada manusia. Namun, kemurahan itu
    belum dipastikan sehingga mereka hanya dapat berkata, "Mudah-mudahan
    dapat tempat yang baik di sisi Tuhan." Hal ini terjadi karena titik
    kontak itu tidak ada. Mengakui adanya Allah tidak berarti bahwa
    manusia pasti menikmati keberadaan-Nya. Tidak mengakui adanya Allah,
    tidak berarti bahwa manusia bisa meniadakan keberadaan-Nya. Mengakui
    adanya Allah dengan menikmati keberadaan Allah itu sama sekali
    berbeda.Perbedaannya terletak pada adanya titik kontak antara yang
    sementara dan yang kekal itu. Dan Kristus berada di titik kontak itu.
    Manusia dicipta di tengah-tengah dua wilayah yaitu wilayah yang
    kelihatan dan wilayah yang tidak kelihatan. Dalam wilayah yang
    kelihatan, manusia harus menerima segala sesuatu yang meneruskan
    keberadaannya di dalam alam materi, alam yang lebih rendah dari
    manusia itu sendiri. Tuhan Yesus berkata, "Manusia hidup bukan hanya
    bersandarkan roti saja, melainkan kepada setiap perkataan yang keluar
    dari mulut Allah." Wilayah kedua, adalah wilayah yang tidak bisa
    dilihat oleh manusia. Jadi, Allah mencipta dan menempatkan manusia
    untuk hidup sekaligus dalam dua dunia yang bersifat berbeda secara
    kualitas. Kaum komunis yang hanya mengakui keberadaan dunia materi
    akhirnya akan hancur sendiri. Demikian pula orang-orang yang hanya
    mengakui dunia spiritual seperti penganut-penganut ajaran mistik, akan
    hidup menjadi schizoprenis sehingga terlepas dari kebutuhan dan
    kesaksian sebagai wakil Tuhan di dalam dunia materi. Di dalam dunia
    materi yang tercampur dengan dunia spiritual ini, mau tidak mau kita
    harus mengakui terputusnya hubungan antara manusia dengan dunia yang
    tidak kelihatan sebagai akibat dosa. Hal ini tercantum dalam kitab
    Yes. 59:1,2. Dosa merupakan pemisah antara kita dan Pencipta dan
    Sumber hidup kita.
    Orang bisa menjadi kaya tanpa merasa sejahtera. Orang bisa mempunyai
    banyak uang tanpa mempunyai pengharapan. Orang boleh mempunyai
    kenikmatan dunia sebanyak mungkin, tapi tidak akan mempunyai kepuasan
    hidup sebab manusia sudah terpisah dari Allah. Manusia berusaha
    mencari titik kontak antara kesementaraan dan kekekalan, dan mereka
    mencarinya di dalam dirinya sendiri, di dalam agama, di dalam
    nabi-nabi dan pengajar-pengajar yang akhirnya juga mati dengan
    sendirinya. Ketidakmungkinan merajalela sehingga manusia mati dalam
    kekecewaan dan keputusasaan tanpa memiliki pengharapan apa pun. Mereka
    mati dan tidak tahu mau ke mana. Karena Tuhan mengasihi manusia, Ia
    menurunkan satu titik kontak; titik kontak ini bersumber dari atas ke
    bawah dan mengakibatkan inkarnasi. Inkarnasi berarti Tuhan menjadi
    daging; Tuhan yang tidak kelihatan sekarang bisa dilihat; Allah
    menyatakan diri dalam tubuh dan hidup sebagai manusia. Inilah fokus
    dari Kristologi.
    Melalui iman Petrus sudah mencapai pengertian yang jelas tentang
    pertemuan dua dunia, antara yang kekal dan yang sementara. Inilah
    kristalisasi iman Kristen yang benar. Kalau kita mempunyai pengenalan
    Kristologi seperti ini, kita tidak akan terjerumus seperti orang yang
    tidak mengenal Kristus. Kalau orang lain mengenal Kristus hanya
    sebagai pengubah moral, sosiolog yang besar, revolusionis dalam
    politik, pemimpin agama yang paling jenius, maka semua itu menjadi
    nihil pada akhirnya. Petrus berkata, "You are The Christ, The Son of
    The Living God." Istilah "are" berarti istilah yang menunjukkan
    kejadian yang terjadi sekarang, secara nyata dan jelas. Dengan
    kedatangan Kristus, kita tidak perlu lagi kembali kepada satu
    pengharapan yang hari depannya tidak diketahui dengan pasti, yang
    secara abstrak ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang tidak mengenal
    Yesus Kristus. Kata "The Son of The Living God", menunjukkan bahwa
    Yesus berasal dari dunia yang tidak kelihatan, dunia kekekalan dan
    sekarang Ia ada dan berwujud dalam dunia yang kelihatan, dunia
    sejarah. Inilah berkat terbesar di mana manusia boleh bertemu dengan
    Tuhan yang begitu prihatin kepada umat manusia.
    Sebenarnya, sebelum Petrus mengatakan hal itu, ada perkataan yang
    mirip yang keluar dari mulut seorang bernama Simeon kepada Yesus
    Kristus, kira-kira tiga puluh tahun sebelumnya. Simeon yang saat itu
    menggendong Yesus Kristus yang masih bayi, berkata, "Ya Allah,
    lepaskanlah kini hamba-Mu ke dalam damai karena hari ini dengan mataku
    sendiri, aku sudah melihat keselamatan yang dari pada-Mu." Kalimat itu
    merupakan kalimat yang agung karena sudah diurapi oleh Roh Kudus dan
    keluar dari bibir seseorang dengan begitu tepat, "Aku sudah melihat
    keselamatan yang dari pada-Mu."
    Keberadaan Kristus dalam sejarah merupakan suatu realisasi dari
    keselamatan yang dikaruniakan kepada manusia. Maka Tuhan Yesus
    berkata, "Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan gereja-Ku
    dan alam maut tidak akan menguasainya." Apakah artinya istilah batu
    karang? Orang-orang Katolik mengatakan bahwa istilah itu dikenakan
    kepada Petrus. Pengertian semacam ini tidak benar karena jika
    demikian, maka seluruh pemberitaan Kitab Suci harus mengubah arahnya
    karena seluruh Kitab Suci tidak pernah menyebut bahwa gereja didirikan
    di atas Petrus. Satu ayat pun tidak ada yang menunjang kalimat dari
    pengakuan iman Katolik tentang hal ini.
    Kitab Suci mengatakan bahwa gereja didirikan di atas nabi dan rasul,
    dan bentuk kata yang digunakan adalah bentuk yang jamak, bukan
    tunggal, nabi-nabi dan rasul-rasul, bukan hanya di atas Petrus.
    Istilah nabi-nabi dan rasul-rasul merupakan istilah yang menerangkan
    bahwa nabi-nabi mewakili Perjanjian Lama dan rasul-rasul mewakili
    Perjanjian Baru. Firman Tuhan dalam Perjanjian Lama dan dalam
    Perjanjian Baru itulah yang menjadi fondasi berdirinya gereja. Tapi
    inipun belum mencapai finalnya karena Alkitab mengatakan bahwa gereja
    didirikan di atas Batu Karang yang tidak pernah berubah. Siapakah Dia?
    Dialah Yesus Kristus. Gereja didirikan di atas para nabi dan para
    rasul. Ini berarti bahwa gereja yang benar, berdiri di atas
    kepercayaan pada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru; dan isi
    Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru difokuskan kepada Kristus. Tuhan
    tidak mengatakan bahwa Petruslah satu-satunya yang menjadi fondasi
    didirikannya gereja; tak pernah demikian. Kita menolak penafsiran
    demikian, tapi kita menerima kesaksian Kitab Suci yang mengatakan
    bahwa Petrus adalah nama baru yang diberikan Tuhan Yesus kepadanya.
    Yesus adalah Kristus di dalam sejarah dan Anak Allah dalam supra-
    sejarah. Iman menjelajah kedua wilayah, terlepas dari dunia yang
    kelihatan. Kita juga menikmati sekaligus dunia yang tidak kelihatan
    karena kita berada di dalam Kristus.

Catatan kaki:


  1. Yeremia adalah seorang nabi yang penuh dengan perasaan cinta kasih kepada orang-orang yang perlu dikasihani dan ia juga penuh dengan kesedihan dan prihatin. Jadi mereka berpendapat bahwa Yesus adalah orang penuh dengan prihatin dan penuh dengan belas kasihan. Di dalam Kitab Suci dicatat ada sepuluh kali Yesus "jatuh hati oleh belas kasihan" (compassion); Dia sehati dengan mereka yang menangis, dengan mereka yang membutuhkan, dengan mereka yang sedih.

  2. Saya sangat tertarik dengan pertanyaan ini karena ada begitu banyak pemuda-pemudi yang belajar Kristologi, belajar tentang Tuhan, tetapi tidak belajar dari Tuhan sendiri melainkan belajar dari orang-orang lain tentang Tuhan. Cara mereka menerangkan Tuhan adalah dengan mengutip pandangan Kristus menurut Karl Barth, Emille Brunner, Rudolf Bultmann, Jurgen Moltmann, Wolfhart Panennberg, dsb. Tetapi jika ditanya tentang Kristus berdasarkan pengertian pribadi mereka, ternyata mereka melarikan diri dari tanggung jawab kepercayaan mereka.

  3. Tukang parkir tidak memperhatikan suara apa pun yang masuk ke telinganya selain dari bunyi mobil yang baru distarter. Setiap suara yang masuk ke telinga disaringnya. Tapi hanya suara mobil yang baru distarter yang membuatnya bereaksi untuk menagih uang parkir. Konsep penyaringan seperti itulah yang kita sebut sebagai persepsi selektif.

Bahan di atas diambil dan diedit dari sumber: Judul Buku : Siapakah Kristus? Sifat dan Karya Kristus Judul Artikel : - Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong Penerjemah : - Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 2002 Halaman : 11 - 21

Editorial:

Dear e-Reformed Netters,

Kali ini saya akan menjumpai Anda dalam suasana PASKAH. Oleh karena
itu saya pilihkan satu artikel yang pas yang saya kutip dari buku
hasil seminar dari Pdt. Stephen Tong, yang berjudul: SIAPAKAH KRISTUS?

Jika orang bertanya kepada Anda, "ceritakan kepada saya, siapakah
Kristus?" Apakah jawaban Anda? Ada banyak orang Kristen yang mengenal
Kristus hanya sebatas dalam pengertian kognitif saja. Ibarat burung
beo yang pandai menirukan apa yang diajarkan tuannya. Bagaimana dengan
Anda? Pdt. Stephen Tong menyinggung satu fakta yang ironis, bahwa jika
kita dapat mendengar jawaban-jawaban yang diberikan oleh orang-orang
Kristen di Indonesia tentang siapakah Kristus, maka kita akan
mengetahui betapa simpang-siurnya kekristenan pada zaman ini.

Melalui peristiwa perayaan PASKAH, marilah kita mengambil waktu untuk
merenungkan pertanyaan ini: siapakah Kristus menurut Anda? Apakah Anda
mengenal Kristus secara pribadi, ataukah masih sebatas menurut apa
kata orang? Mengenal Kristus menurut apa yang orang lain katakan tentu
tidak sama dengan jika Anda mengenal-Nya sendiri secara pribadi.
Pengenalan pribadi melibatkan bukan hanya pikiran, tapi juga emosi,
yang kemudian tentu akan melahirkan satu tindakan yang nyata. Nah,
kiranya artikel berikut ini dapat menjadi pengantar akan perenungan
Anda tentang siapakah Kristus.

Selamat Hari PASKAH 2006.

In Christ,

Yulia

< yuliain-christ.net >

Penulis:

Pdt. Dr. Stephen Tong

Edisi:

072/III/2006

Isi:

Secara lahiriah, Yesus tidak berbeda dengan manusia lainnya. Ia
dilahirkan oleh seorang perempuan, dibesarkan di desa, dan berkata-
kata dalam bahasa manusia. Ia tidak memiliki hal yang begitu hebat
sehingga kita harus memikirkan Dia sedalam-dalamnya. Namun, selain
menjadi batu sandungan bagi banyak orang, kemanusiaan Yesus ini juga
menimbulkan daya tarik dan tanda tanya yang mengagumkan sekaligus
memusingkan banyak orang.

Jika kita berbicara dan berpikir tentang Kristus, maka kita harus
kembali pada satu waktu di mana Kristus menuntut manusia memberikan
penilaian tentang diri-Nya. Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya,
"Menurut orang-orang, siapakah Aku?" Kalimat ini merupakan kalimat
yang sering kita tanyakan kepada diri kita sendiri. Setiap orang juga
pasti pernah mempunyai pertanyaan seperti itu dalam dirinya. Dalam
pertanyaan "siapakah saya?" terkandung tiga pertanyaan kecil.

  1. SIAPA YANG BERTANYA?

    Pertanyaan ini menimbulkan satu kesulitan karena adanya percampuran
    subjek dengan objek. Saat kita menanyakan siapakah diri kita, ada
    sesuatu yang tidak bisa dianalisa dengan jelas karena yang bertanya
    adalah yang ditanya; yang ingin mengetahui adalah yang ingin
    diketahui; yang diketahui adalah yang tidak diketahui dan yang ingin
    mengetahui sedang menanyakan tentang apa yang sedang diketahuinya. Ini
    merupakan suatu pertanyaan yang tidak mungkin dibereskan oleh manusia
    itu sendiri. Pada waktu Tuhan Yesus menanyakan hal tersebut, Ia bukan
    menanyakan hal itu kepada diri-Nya sendiri, tetapi kepada pengikut-
    pengikut-Nya yang sudah sekian lama melihat penyataan Kristus. Dialah
    yang memberikan penyataan kepada manusia dan diri-Nyalah yang
    dinyatakan. Dialah pewahyu sekaligus inti dari wahyu tersebut, yang
    mewahyukan diri-Nya kepada manusia.

    Waktu murid-murid-Nya secara mendadak menerima pertanyaan ini, mau
    tidak mau mereka harus mempertanggungjawabkan pemikiran mereka tentang
    Kristus. Momen seperti ini tidak bisa diciptakan manusia, tetapi
    diberikan oleh Tuhan. Sebagai orang Kristen, apakah setelah mendengar
    khotbah bertahun-tahun, membaca Kitab Suci, dibaptiskan dan menjadi
    orang Kristen sekian lama, kita sudah dapat menjawab pertanyaan
    tentang siapakah Kristus? Siapakah Dia?

    Murid-murid Yesus mulai memberikan evaluasi tentang Kristus kepada Dia
    yang menuntut evaluasi. Dari gudang pikiran mereka, mulailah timbul
    jawaban-jawaban; mereka mulai memikirkan kembali tentang siapakah
    Kristus. Ada yang menjawab bahwa Dia adalah seorang nabi; seorang nabi
    yang besar; yang lain menjawab bahwa Dia adalah Yeremia[1]. Yesus
    dinilai sebagai Yeremia karena dalam zaman yang sedang dilanda
    kesedihan, Ia mempunyai tangisan dan perasaan yang sama dengan seluruh
    zaman. Yang lain menjawab bahwa Ia adalah Yohanes Pembaptis yang
    bangkit dari kematian. Orang-orang itu menganggap bahwa kuasa Tuhan
    yang begitu besar dinyatakan-Nya dengan membangkitkan Yohanes
    Pembaptis yang sudah dibunuh oleh Raja Herodes. Dan Yohanes Pembaptis
    yang bangkit kembali itu adalah Yesus. Yang lain lagi menjawab bahwa
    Yesus adalah nabi yang pernah disebutkan Musa "barangsiapa yang
    mendengarkan Dia, akan hidup, tetapi barangsiapa tidak mendengarkan
    Dia akan binasa".

    Semua penilaian zaman itu diberikan kepada Yesus Kristus dalam waktu
    tidak lebih dari tiga setengah tahun. Yesus telah melakukan begitu
    banyak hal. Ia menyembuhkan, mengajar, dan membuktikan bahwa Dialah
    Allah yang berkuasa yang diutus ke dunia. Lalu pada waktu semua sudah
    memberikan penilaian-penilaiannya, Yesus tidak menanggapi apa-apa,
    tapi Ia mendorong lagi dengan satu kalimat, "Menurutmu, siapakah
    Aku?"[2] Pertanyaan ini penting karena bila kita memiliki pengenalan
    pribadi tentang Kristus berdasarkan firman Tuhan, barulah kita
    mempunyai kekuatan yang cukup untuk bersaksi bagi Dia. Apakah Kristus
    itu sekadar dokter yang paling mujarab? Apakah Kristus itu hakim yang
    keras? Mak comblang yang mencarikan jodoh bagi orang-orang muda? Ahli
    sulap yang membuat Anda kaya? Apakah Kristus itu sekadar pemuas emosi
    yang kita peroleh melalui kebaktian-kebaktian doa dan puji-pujian?
    Jika Anda mengetahui jawaban-jawaban yang diberikan oleh orang-orang
    Kristen di Indonesia, maka Anda akan mengetahui betapa simpang-siurnya
    kekristenan pada zaman ini.

  2. KEPADA SIAPA PERTANYAAN ITU DIAJUKAN?

    Pernahkah Anda memikirkan dengan baik tentang siapakah Kristus? Apakah
    artinya mengikut Kristus? Apakah artinya menjadi orang Kristen?
    Bukankah di Indonesia ada lebih banyak orang yang bukan Kristen
    daripada orang Kristen? Bukankah ada banyak agama-agama lain di
    Indonesia? Mengapa Anda menjadi orang Kristen? Yesus tidak menolak
    ataupun menghina jawaban dari dunia akademis tentang siapakah diri-
    Nya. Ia tahu apakah Anda memiliki penilaian-penilaian yang bersifat
    otoritatif. Tetapi Ia menuntut Anda secara pribadi untuk berakar,
    mempunyai iman yang sungguh-sungguh, dan mengenal-Nya dengan benar.
    Pada waktu Yesus menantang dengan pertanyaan demikian, maka seolah-
    olah semua murid-Nya tidak mempunyai jawaban. Tetapi ada satu murid
    yang menjawab dengan tegas, "Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup."
    Kalimat ini keluar dari mulut Petrus. Inilah suatu pengakuan iman
    pertama dalam sejarah gereja. Petruslah orang pertama yang mengaku
    tentang siapakah Yesus di hadapan orang banyak. Tidaklah mudah bagi
    Petrus untuk menyimpulkan dan mengatakan pengertiannya tentang
    siapakah Kristus. Ia bukanlah orang yang memiliki latar belakang
    pendidikan yang tinggi, juga bukan pengikut dari ahli-ahli Taurat yang
    belajar Perjanjian Lama dengan ketat, tapi dia hanyalah seorang
    nelayan. Seorang rakyat jelata yang mendengar bahwa seorang nabi telah
    muncul. Jadi selain menangkap ikan, Petrus juga mengikuti dan
    mendengarkan khotbah-khotbah Yohanes Pembaptis. Rupanya Petrus
    memperhatikan bahwa Yohanes Pembaptis membawa berita yang berfokuskan
    pada firman Allah, yaitu tentang kedatangan Kristus. Kedatangan
    Kristus adalah sumber pengharapan bangsa Israel sehingga mereka berdoa
    siang malam memohon kedatangan Mesias.

    Konsep bangsa Israel tentang Kristus pada masa itu adalah konsep yang
    sudah dibatasi oleh persepsi selektif. Pada waktu Petrus mengikut
    Yohanes Pembaptis, ia melihat perbedaan antara Yohanes dengan para
    ahli Taurat dan yang lainnya yang juga mengajarkan tentang kedatangan
    Kristus yang pertama. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi juga
    belajar tentang Kristus yang akan datang. Tetapi pada waktu
    mengajarkan tentang Kristus, pengajaran mereka dibatasi oleh persepsi
    selektif yang begitu sempit dan subjektif. Mereka tidak mau mengenal
    Allah melalui apa yang sudah diberikan Allah. Mereka tidak mau
    mengenal Kristus melalui wahyu yang sudah diberikan mengenai Dia.
    Mereka hanya memilih bagian-bagian yang cocok dengan apa yang mereka
    inginkan. Pada zaman sekarang juga ada begitu banyak orang yang tidak
    mau mengenal Kristus yang tersalib, tapi hanya mau Kristus yang
    menyembuhkan; mereka tidak mau mengenal Kristus yang menderita tetapi
    hanya mau Kristus yang memberikan kekayaan.

    Orang Yahudi terdampar dan dibuang oleh Tuhan karena mereka tidak
    mencapai fokus Kristologi dari seluruh Kitab Suci. Di dalam Perjanjian
    Lama Allah sudah berjanji bahwa Kristus akan datang, lahir di kota
    Bethlehem, dijual seharga 30 keping perak, menderita, dipaku di atas
    kayu salib, bahkan kedua tangan dan kaki-Nya akan ditusuk tanpa satu
    tulang pun dari tubuh-Nya yang akan patah. Semua ditulis dengan begitu
    jelas. Lalu pada aspek yang lain Alkitab menulis juga bahwa Kristus
    akan menjadi Raja, dan seluruh kuasa akan berada di atas bahu-Nya dan
    kuasa-Nya lebih besar daripada siapa pun. Dia akan melenyapkan kuasa
    musuh, membangun kembali kerajaan Israel, membalas dendam kepada
    mereka yang menginjak-injak kehormatan bani Israel; Kristus yang
    menang, yang memberikan keadilan, menegakkan satu sistem dan ordo
    politik dan militer yang baru di dalam dunia.

    Pada waktu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mempelajari
    Perjanjian Lama, mereka mempelajarinya dengan satu persepsi
    selektif[3] yang sudah menjadi kaku dan keras dalam hati mereka
    sehingga mereka menilai nubuat-nubuat mengenai Kristus yang dihina,
    dipaku dan tidak memiliki kemuliaan lahiriah sebagai hal-hal yang
    tidak benar. Mereka berdoa memohon kedatangan Kristus yang membalas
    dendam kepada orang- orang Romawi yang menjajah bangsa Yahudi serta
    yang akan mencuci noda sejarah bangsa Israel yang dijajah. Orang-orang
    Yahudi umumnya memohonkan kedatangan Kristus yang akan membawa bangsa
    Yahudi ke dalam zaman keemasan yang dulu pernah mereka capai dalam
    masa pemerintahan Daud. Doa-doa mereka dipengaruhi oleh persepsi
    selektif atas Kristologi yang sudah dicemarkan oleh keinginan dunia
    dan tidak lagi berfokus kepada Kristus dan salib-Nya.

    Petrus adalah murid dari Yohanes Pembaptis sebelum ia mengenal Yesus.
    Ia tidak tertarik oleh kedatangan Mesias seperti yang diajarkan oleh
    ahli-ahli Taurat dengan persepsi selektifnya yang subjektif. Tetapi ia
    tertarik dengan pengajaran Kristologi yang benar, yang lengkap,
    menyeluruh, dan harmonis.

    Pada waktu Adam makan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat,
    maka Allah membunuh binatang-binatang dan mengajarkan kepada Adam
    bahwa tanpa ada pengaliran darah, tidak ada pengampunan bagi manusia.
    Yohanes Pembaptis melihat dengan jelas bahwa Yesus Kristus adalah
    Domba Allah yang dijanjikan itu, yang menjadi korban pengganti
    manusia. Yohanes menyerukan, "Lihatlah anak Domba Allah yang menghapus
    dosa dunia!" Jadi semua khotbah yang muluk-muluk dan yang sudah
    diseleksi oleh para ahli tidak masuk ke telinga Petrus; khotbah yang
    berfokus kepada Kristus yang akan mati mengganti dosa umat manusia
    langsung masuk ke dalam hati dan pikiran Petrus. Itulah sebabnya pada
    waktu Yesus Kristus menanyakan tentang siapakah diri-Nya, Petrus
    langsung menjawab dengan tepat, "Engkaulah Kristus, Anak Allah yang
    hidup!" Pengakuan iman yang akurat dan dinamis yang pertama di dalam
    sejarah telah diucapkannya.

    Hari itu Yesus langsung menjawab Petrus dengan satu kalimat,
    "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus, karena apa yang kamu katakan
    itu bukan berasal dari manusia tetapi dari Bapa-Ku yang ada di surga."
    Yesus tidak pernah meremehkan doktrin-doktrin yang benar yang membuat
    Anda menyatakan pengakuan iman yang sungguh-sungguh berasal dari
    pengenalan yang benar yang merupakan sari dan kristalisasi tentang
    Dia. Bukan saja tidak meremehkan bahkan Kristus mengonfirmasikan bahwa
    hal itu bukan berasal dari manusia, tetapi dari Allah. Pada saat itu
    juga Kristus memberikan wahyu selanjutnya yang kedua yaitu mulai
    berdirinya gereja.

  3. BERTANYA TENTANG APA?

    Sekarang marilah kita memperhatikan beberapa hal berikut ini.

    Gereja yang tidak mempunyai pengakuan iman tidak seharusnya berdiri
    sebagai gereja. Tidak seharusnya gereja berdiri hanya karena membawa
    orang beramai-ramai ikut kebaktian, tetapi tidak tahu apa yang akan
    didirikan. Kristus tak pernah mengatakan sebelumnya tentang ekklesia
    sampai Petrus mengeluarkan pengakuan iman yang benar itu. Gereja harus
    mempunyai pengakuan iman yang berfokus kepada Kristus. Jikalau gereja
    tidak mengaku Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, namun hanya
    berfokus kepada-Nya sebagai sumber kepercayaan, maka gereja itu pada
    suatu hari harus menutup pintunya sendiri. Bukankah pada saat ini
    begitu banyak orang mengakui Yesus? Tetapi sebagai apakah Yesus itu
    diakui? Sebagai pembagi rotikah? Sebagai pemberi berkatkah? Sumber
    anugerahkah? Tabibkah? Atau satu-satunya Juruselamat yang diutus Allah
    ke dalam dunia?

    Pada waktu Petrus mengatakan, "Engkaulah Mesias, Anak Allah yang
    hidup!" kita dapat memahami hal itu dalam pengertian sejarah dan
    suprasejarah yang difokuskan menjadi satu. Sepanjang sejarah, Kristus
    adalah yang dinanti-nantikan oleh umat manusia sepanjang zaman.
    Berarti pada titik kedatangan Kristus, apa yang diharapkan manusia
    dari zaman ke zaman sudah konkrit. Titik kedatangan Kristus juga
    berkait dengan kekekalan. Kristus yang datang ke dalam sejarah adalah
    Kristus yang berada dalam kekekalan yang melampaui sejarah.
    Pengharapan ini adalah suatu pengharapan sejati seluruh umat manusia,
    bukan hanya pengharapan dari bangsa Israel saja. Kekekalan dan
    kesementaraan hanya mempunyai satu titik kontak yaitu inkarnasi.
    Kita semua berada di dalam dunia yang bersifat sementara sedangkan
    Allah berada di surga yang bersifat kekal. Agama-agama lain begitu
    takut dan gentar kepada Allah karena mereka mengetahui bahwa yang
    sementara tidak mungkin mencapai yang kekal, tetapi yang kekal itu
    mungkin memberikan kemurahan kepada manusia. Namun, kemurahan itu
    belum dipastikan sehingga mereka hanya dapat berkata, "Mudah-mudahan
    dapat tempat yang baik di sisi Tuhan." Hal ini terjadi karena titik
    kontak itu tidak ada. Mengakui adanya Allah tidak berarti bahwa
    manusia pasti menikmati keberadaan-Nya. Tidak mengakui adanya Allah,
    tidak berarti bahwa manusia bisa meniadakan keberadaan-Nya. Mengakui
    adanya Allah dengan menikmati keberadaan Allah itu sama sekali
    berbeda.Perbedaannya terletak pada adanya titik kontak antara yang
    sementara dan yang kekal itu. Dan Kristus berada di titik kontak itu.

    Manusia dicipta di tengah-tengah dua wilayah yaitu wilayah yang
    kelihatan dan wilayah yang tidak kelihatan. Dalam wilayah yang
    kelihatan, manusia harus menerima segala sesuatu yang meneruskan
    keberadaannya di dalam alam materi, alam yang lebih rendah dari
    manusia itu sendiri. Tuhan Yesus berkata, "Manusia hidup bukan hanya
    bersandarkan roti saja, melainkan kepada setiap perkataan yang keluar
    dari mulut Allah." Wilayah kedua, adalah wilayah yang tidak bisa
    dilihat oleh manusia. Jadi, Allah mencipta dan menempatkan manusia
    untuk hidup sekaligus dalam dua dunia yang bersifat berbeda secara
    kualitas. Kaum komunis yang hanya mengakui keberadaan dunia materi
    akhirnya akan hancur sendiri. Demikian pula orang-orang yang hanya
    mengakui dunia spiritual seperti penganut-penganut ajaran mistik, akan
    hidup menjadi schizoprenis sehingga terlepas dari kebutuhan dan
    kesaksian sebagai wakil Tuhan di dalam dunia materi. Di dalam dunia
    materi yang tercampur dengan dunia spiritual ini, mau tidak mau kita
    harus mengakui terputusnya hubungan antara manusia dengan dunia yang
    tidak kelihatan sebagai akibat dosa. Hal ini tercantum dalam kitab
    Yes. 59:1,2. Dosa merupakan pemisah antara kita dan Pencipta dan
    Sumber hidup kita.

    Orang bisa menjadi kaya tanpa merasa sejahtera. Orang bisa mempunyai
    banyak uang tanpa mempunyai pengharapan. Orang boleh mempunyai
    kenikmatan dunia sebanyak mungkin, tapi tidak akan mempunyai kepuasan
    hidup sebab manusia sudah terpisah dari Allah. Manusia berusaha
    mencari titik kontak antara kesementaraan dan kekekalan, dan mereka
    mencarinya di dalam dirinya sendiri, di dalam agama, di dalam
    nabi-nabi dan pengajar-pengajar yang akhirnya juga mati dengan
    sendirinya. Ketidakmungkinan merajalela sehingga manusia mati dalam
    kekecewaan dan keputusasaan tanpa memiliki pengharapan apa pun. Mereka
    mati dan tidak tahu mau ke mana. Karena Tuhan mengasihi manusia, Ia
    menurunkan satu titik kontak; titik kontak ini bersumber dari atas ke
    bawah dan mengakibatkan inkarnasi. Inkarnasi berarti Tuhan menjadi
    daging; Tuhan yang tidak kelihatan sekarang bisa dilihat; Allah
    menyatakan diri dalam tubuh dan hidup sebagai manusia. Inilah fokus
    dari Kristologi.

    Melalui iman Petrus sudah mencapai pengertian yang jelas tentang
    pertemuan dua dunia, antara yang kekal dan yang sementara. Inilah
    kristalisasi iman Kristen yang benar. Kalau kita mempunyai pengenalan
    Kristologi seperti ini, kita tidak akan terjerumus seperti orang yang
    tidak mengenal Kristus. Kalau orang lain mengenal Kristus hanya
    sebagai pengubah moral, sosiolog yang besar, revolusionis dalam
    politik, pemimpin agama yang paling jenius, maka semua itu menjadi
    nihil pada akhirnya. Petrus berkata, "You are The Christ, The Son of
    The Living God." Istilah "are" berarti istilah yang menunjukkan
    kejadian yang terjadi sekarang, secara nyata dan jelas. Dengan
    kedatangan Kristus, kita tidak perlu lagi kembali kepada satu
    pengharapan yang hari depannya tidak diketahui dengan pasti, yang
    secara abstrak ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang tidak mengenal
    Yesus Kristus. Kata "The Son of The Living God", menunjukkan bahwa
    Yesus berasal dari dunia yang tidak kelihatan, dunia kekekalan dan
    sekarang Ia ada dan berwujud dalam dunia yang kelihatan, dunia
    sejarah. Inilah berkat terbesar di mana manusia boleh bertemu dengan
    Tuhan yang begitu prihatin kepada umat manusia.

    Sebenarnya, sebelum Petrus mengatakan hal itu, ada perkataan yang
    mirip yang keluar dari mulut seorang bernama Simeon kepada Yesus
    Kristus, kira-kira tiga puluh tahun sebelumnya. Simeon yang saat itu
    menggendong Yesus Kristus yang masih bayi, berkata, "Ya Allah,
    lepaskanlah kini hamba-Mu ke dalam damai karena hari ini dengan mataku
    sendiri, aku sudah melihat keselamatan yang dari pada-Mu." Kalimat itu
    merupakan kalimat yang agung karena sudah diurapi oleh Roh Kudus dan
    keluar dari bibir seseorang dengan begitu tepat, "Aku sudah melihat
    keselamatan yang dari pada-Mu."

    Keberadaan Kristus dalam sejarah merupakan suatu realisasi dari
    keselamatan yang dikaruniakan kepada manusia. Maka Tuhan Yesus
    berkata, "Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan gereja-Ku
    dan alam maut tidak akan menguasainya." Apakah artinya istilah batu
    karang? Orang-orang Katolik mengatakan bahwa istilah itu dikenakan
    kepada Petrus. Pengertian semacam ini tidak benar karena jika
    demikian, maka seluruh pemberitaan Kitab Suci harus mengubah arahnya
    karena seluruh Kitab Suci tidak pernah menyebut bahwa gereja didirikan
    di atas Petrus. Satu ayat pun tidak ada yang menunjang kalimat dari
    pengakuan iman Katolik tentang hal ini.

    Kitab Suci mengatakan bahwa gereja didirikan di atas nabi dan rasul,
    dan bentuk kata yang digunakan adalah bentuk yang jamak, bukan
    tunggal, nabi-nabi dan rasul-rasul, bukan hanya di atas Petrus.
    Istilah nabi-nabi dan rasul-rasul merupakan istilah yang menerangkan
    bahwa nabi-nabi mewakili Perjanjian Lama dan rasul-rasul mewakili
    Perjanjian Baru. Firman Tuhan dalam Perjanjian Lama dan dalam
    Perjanjian Baru itulah yang menjadi fondasi berdirinya gereja. Tapi
    inipun belum mencapai finalnya karena Alkitab mengatakan bahwa gereja
    didirikan di atas Batu Karang yang tidak pernah berubah. Siapakah Dia?
    Dialah Yesus Kristus. Gereja didirikan di atas para nabi dan para
    rasul. Ini berarti bahwa gereja yang benar, berdiri di atas
    kepercayaan pada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru; dan isi
    Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru difokuskan kepada Kristus. Tuhan
    tidak mengatakan bahwa Petruslah satu-satunya yang menjadi fondasi
    didirikannya gereja; tak pernah demikian. Kita menolak penafsiran
    demikian, tapi kita menerima kesaksian Kitab Suci yang mengatakan
    bahwa Petrus adalah nama baru yang diberikan Tuhan Yesus kepadanya.
    Yesus adalah Kristus di dalam sejarah dan Anak Allah dalam supra-
    sejarah. Iman menjelajah kedua wilayah, terlepas dari dunia yang
    kelihatan. Kita juga menikmati sekaligus dunia yang tidak kelihatan
    karena kita berada di dalam Kristus.


Catatan kaki:



  1. Yeremia adalah seorang nabi yang penuh dengan perasaan cinta kasih kepada orang-orang yang perlu dikasihani dan ia juga penuh dengan kesedihan dan prihatin. Jadi mereka berpendapat bahwa Yesus adalah orang penuh dengan prihatin dan penuh dengan belas kasihan. Di dalam Kitab Suci dicatat ada sepuluh kali Yesus "jatuh hati oleh belas kasihan" (compassion); Dia sehati dengan mereka yang menangis, dengan mereka yang membutuhkan, dengan mereka yang sedih.

  2. Saya sangat tertarik dengan pertanyaan ini karena ada begitu banyak pemuda-pemudi yang belajar Kristologi, belajar tentang Tuhan, tetapi tidak belajar dari Tuhan sendiri melainkan belajar dari orang-orang lain tentang Tuhan. Cara mereka menerangkan Tuhan adalah dengan mengutip pandangan Kristus menurut Karl Barth, Emille Brunner, Rudolf Bultmann, Jurgen Moltmann, Wolfhart Panennberg, dsb. Tetapi jika ditanya tentang Kristus berdasarkan pengertian pribadi mereka, ternyata mereka melarikan diri dari tanggung jawab kepercayaan mereka.

  3. Tukang parkir tidak memperhatikan suara apa pun yang masuk ke telinganya selain dari bunyi mobil yang baru distarter. Setiap suara yang masuk ke telinga disaringnya. Tapi hanya suara mobil yang baru distarter yang membuatnya bereaksi untuk menagih uang parkir. Konsep penyaringan seperti itulah yang kita sebut sebagai persepsi selektif.


:

Bahan di atas diambil dan diedit dari sumber:

Judul Buku : Siapakah Kristus? Sifat dan Karya Kristus
Judul Artikel : -
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerjemah : -
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 2002
Halaman : 11 - 21

Mengenal Yesus Kristus

Shallom, Saya merupakan pembaca dari Sarawak, Malaysia dan pertama kali saya mengunjungi laman web ini. Ternyata bahawa situs ini sangat memberkati. Ketika saya membaca artikel ini dan renungan yang ada, mengalir air mata saya oleh kerana rasa tersentuh. Moga staf situs ini terus diberkati. Ya memang artikel tentang perayaan Paskah - "MENGENAL YESUS KRISTUS" ini menyentuh hati saya, kerana saya sangat-sangat sedih bagaimana ada segelintir orang Kristen yang menyambut perayaan Paskah dengan cara yang tidak benar. Untuk pengetahuan kalian, saya baru 1 bulan lebih mendapat pekerjaan yang baru dan ditempatkan di sebuah perkampungan dan penduduknya adalah dirumah panjang. Sebenarnya penduduknya adalah bangsa saya sendiri. Ternyata di tempat itu 99% saya yakin bahawa daripada mereka tidak mengenali siapakah Yesus walaupun status keagamaan mereka adalah kristen. Saya sangat bersetuju dengan artikel yang ditulis oleh saudari Yulia ini dan apa yang pernah ditanya oleh Pdt. Stephen Tong tentang siapakah Kristus dan sebenarnya bukan sahaja orang Kristen di Indonesia saja yang tidak dapat memberi jawaban dengan jelas siapa Yesus itu bahkan orang-orang kristen di Sarawak juga! Kalian tahu bagaimana orang kristen di tempat saya baru-baru ini merayakan hari Paskah? Mereka merayakan dengan ada kebaktian diwaktu paginya, kemudian mereka berpesta-pora dan mabuk dan menyanyikan lagu-lagu duniawi (karaoke), dan sebagainya. Saya sangat sedih dan bahkan mereka juga masih menggunakan azimat dan mengamalkan kepercayaan nenek moyang yang menyembah tuhan bangsa kami. Namun selepas membaca artikel ini, sememangnya ia dapat mengukuhkan lagi tentang siapa Yesus itu dalam peribadi saya dan mendorong saya lebih mempersoalkan siapa Kristus menurut saya dan bukannya menurut kata orang. Saya sangat senang jika ada kalian yang ingin berkongsi pengalaman dan dorongan secara terus kepada saya melalui email. Tuhan memberkati.

Mengenal Yesus Kristus

jika orang bertanya kepada saya siapakah Yesus maka saya tidak akan merumuskan dengan rumusan telogis yang membuat orang mungkin akan bertambah pusing, saya akan menjawabnya aku merasa ada suatu prubahan dalam hidupku ketika IA aku undang masuk dalam hidupku, dan menjadi Tuan atas hidupku. Karena saya yakin tidak ada satu rumusanpun yang dapat menjawab tentang pribadi Yesusu yg sangat mulia itu. tanks