Sistematika

Teologia Sistematika adalah teologia yang disusun berdasarkan penataan doktrin-doktrin iman Kristen secara sistematis dan logis.

Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam Doktrin Predestinasi (2)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Dalam edisi ini, kita akan melanjutkan bahasan tentang konteks teologi John Calvin dalam usahanya menjelaskan Predestinasi serta aplikasinya bagi hidup orang percaya. Kiranya dari artikel lanjutan ini, Anda semakin mengerti secara lengkap pendekatan-pendekatan yang Calvin lakukan dalam mengaitkan relevansi doktrin ini dengan hidup orang percaya, dan bersyukur atas pemilihan yang Allah lakukan dalam hikmat-Nya yang tak terukur. Mari langsung saja kita simak artikel ini. Selamat menyimak!

Tuhan memberkati.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< teddy(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
Edisi 145/Oktober 2013
Isi: 

PREDESTINASI SEBAGAI JAMINAN KESELAMATAN DAN PANGGILAN HIDUP KRISTEN YANG SALEH

Dengan ditempatkannya predestinasi di bawah topik keselamatan, Calvin ingin menunjukkan bahwa predestinasi pun merupakan bagian dari berkat-berkat yang diperoleh orang-orang percaya di dalam Kristus. Pengertian ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Itu sebabnya, sekalipun faktanya doktrin predestinasi mengandung "labyrinth" yang tak terselami sebagai bagian dari wahyu Allah, Calvin percaya bahwa predestinasi adalah "very sweet fruit",[18] atau sesuatu yang sangat bermanfaat bagi orang percaya.

Permasalahannya adalah dalam hal apa dan bagaimana memahami predestinasi secara benar sehingga doktrin ini benar-benar memberi manfaat bagi orang percaya? Ini merupakan tanggung jawab yang Calvin merasa yakin terpanggil untuk menjawabnya. Calvin percaya sepenuhnya bahwa rahasia kehendak Allah berdiri di balik realitas orang percaya dan tidak percaya. Namun, ia tidak mau berspekulasi lebih lanjut, tentang mengapa, bagaimana, atau seperti apa persisnya hal itu terjadi di dalam kekekalan karena Alkitab tidak mengatakannya.

Calvin yakin sepenuhnya berdasarkan Alkitab bahwa kehendak Allah sebagai dasar utama keselamatan harus ditegakkan. Kepentingannya adalah sebagai jaminan keselamatan, yaitu bahwa keselamatan bukan berdasarkan perbuatan baik kita, melainkan sepenuhnya karena kemurahan Allah. Masalahnya, jika kebebasan manusia memiliki peran yang signifikan dalam hal keselamatan, keselamatan menjadi sesuatu yang tidak pasti. Sebab, apa standarnya? Sampai batas mana manusia harus melakukan kebaikan? Belum lagi adanya realitas dosa yang sangat serius dalam diri manusia. Namun, jika keselamatan bergantung pada ketetapan Allah sendiri, tidak ada hal apa pun juga di bumi maupun di surga yang bisa membatalkan ketetapan Allah tersebut.

Dalam satu bab terakhir tentang predestinasi di dalam buku III "Institutes" (1559), ia menjelaskan relasi yang erat antara predestinasi dan soteriologi secara induktif (ordo cognoscendi) sehingga manfaat doktrin predestinasi sebagai jaminan keselamatan nampak sangat jelas. Ada beberapa hal penting yang bisa dipelajari dari pola pendekatan ordo cognoscendi dalam konteks soteriologi untuk memahami predestinasi yang akan diuraikan berikut ini.

Dari Sebab Dekat (Proximate Cause) ke Sebab Utama (Ultimate Cause)

Dalam tafsirannya terhadap Efesus 1:5-8, Calvin menyimpulkan ada empat sebab keselamatan yang terjadi pada diri seseorang: pertama, kehendak Allah (God's will) sebagai yang menyebabkan pilihan-Nya pasti terlaksana (efficient cause); kedua, sebab yang dapat dilihat (material cause), yaitu Yesus Kristus; ketiga, sebab yang membuat pilihan Allah teraplikasi dalam diri orang berdosa (final cause), yaitu anugerah; dan keempat, sebab yang membuat kebaikan atau anugerah Allah sampai kepada umat manusia (formal cause), yaitu pemberitaan Injil. Di antara keempat sebab ini, efficient dan final cause adalah bagian dari misteri Allah, yang pasti terjadi, tetapi tidak mungkin dapat diselami. Karena itu, pemilihan sebagai jaminan keselamatan hanya dapat dipahami ketika kita mulai menggumulinya mulai dari bagaimana anugerah pemilihan itu sampai kepada kita, yaitu jika kita memulainya dari material dan formal cause. Yesus Kristus sebagai material cause akan kita bahas kemudian. Pada bagian ini, kita akan membahas sedikit lebih jauh arti formal cause.

Formal cause -- sebab yang membuat anugerah atau kebaikan Allah itu sampai kepada kita -- terdiri dari tiga hal yang saling berkaitan, yaitu panggilan firman (calling), pekerjaan Allah Roh Kudus secara internal, dan iman. Menurut Calvin, jaminan keselamatan itu memang bersumber dari takhta Allah yang Mahakudus, tetapi Ia tidak pernah meminta kita untuk naik ke hadirat-Nya yang kudus (selama kita di bumi). Dengan menggumuli firman di dalam iman dan pekerjaan Roh Kudus itulah, kita akan dibawa kepada posisi rohani, yang membuat panggilan (klesis) dan pilihan (ekloge) kita semakin teguh (2 Petrus 1:10). Namun sekali lagi, di sini Calvin sama sekali bukan mengatakan bahwa usaha manusialah yang menyebabkan pilihan. Calvin lebih ingin menekankan bagaimana kita sampai kepada "pemilihan kekal Allah" sebagai jaminan keselamatan.

Kristus sebagai "The Mirror of Election"

Dari penjelasan sebelumnya, telah ditunjukkan keyakinan Calvin bahwa manusia tidak mungkin sanggup mendaki secara langsung ke dalam misteri ketetapan kekal Allah. Namun, terdorong oleh panggilan untuk membuktikan dan menunjukkan bahwa pemilihan kekal Allah merupakan jaminan keselamatan manusia dan bukan sebagai problem metafisika, maka berikutnya ia berusaha untuk tidak secara langsung menarik hubungan antara apa yang terjadi di dalam kekekalan (eternity) dan keselamatan yang terjadi pada manusia di dalam dunia ini (temporal). Artinya, ia tidak ingin terjebak di dalam silogisme: "Karena aku dipilih, maka aku diselamatkan". Sekalipun secara ontologi kalimat ini pasti ia setujui, tetapi ia memandang hal itu berbahaya.

Ia lebih mengarahkan argumentasi kepada keberadaan Yesus Kristus, yang adalah Allah sekaligus Manusia, sebagai titik temu antara apa yang terjadi di dalam kekekalan dan keselamatan yang dialami oleh manusia. Di sinilah, terjadi interpenetrasi antara paham tentang Kristus dan predestinasi. Mengarahkan iman kepada Kristus di sini memiliki makna yang sangat dalam, sebab berarti kita bukan sekadar "believe in Him" (Yohanes 3:16), tetapi lebih dari itu, kita percaya: (1) kepada Yesus Kristus sebagai dasar pilihan Allah di dalam kekekalan, yang sekaligus merupakan jaminan kekal yang tak tergoyahkan (Efesus 1:4-6); (2) Kristus di dalam sejarah, menyatakan pemilihan kita oleh Allah di dalam kekekalan (Efesus 1:7-9); (3) Kristus menyingkapkan tujuan pemilihan Allah, yaitu menjadi serupa dengan Kristus (Roma 8:29), mengenakan Kristus sebagai perlengkapan senjata terang (Roma 13:14), dan bertumbuh ke arah Kristus (Efesus 4:15). Hal yang terakhir ini menurut Calvin, sekaligus merupakan panggilan bagi setiap orang percaya untuk memiliki ketekunan dan hidup yang kudus. Melalui "union with Christ" inilah, kita juga akan dibawa kepada jaminan keselamatan yang berdasarkan pada pemilihan kekal Allah.

Reprobasi sebagai Misteri Penyataan Keadilan Allah

Ketika kita masuk ke dalam pembicaraan tentang reprobasi -- di mana Allah membiarkan sebagian orang dalam dosanya untuk menerima hukuman (reprobat) --, Calvin menekankan bahwa kita tidak bisa memikirkan reprobasi dan pemilihan Allah sebagai dua hal yang bersifat paralel. Artinya, sekalipun pemilihan dan reprobasi adalah dua hal yang memiliki "ultimate cause" di dalam misteri kehendak Allah, dan juga memiliki sebab yang dekat dengan manusia (proximate cause), tetapi ia melihat bahwa yang membedakan keduanya adalah jikalau dalam hal anugerah pemilihan proximate cause itu sama sekali tidak berasal dari manusia (perbuatan manusia tidak diperhitungkan sebagai penyebab), maka di dalam hal penghukuman kekal Allah (reprobation), proximate cause mengandung aspek kebebasan dan natur berdosa manusia (perbuatan berdosa manusia turut menyebabkan penghukuman). Namun, apakah hal ini berarti Allah secara aktif menyebabkan manusia berbuat dosa?

Calvin memang mengatakan bahwa "Kehendak dan ketetapan abadi Allah adalah penyebab tunggal dari segala sesuatu yang ada".[19] Namun, ia sama sekali tidak bermaksud untuk melemparkan tanggung jawab atas perbuatan dosa kepada "divine causality" (sebab ilahi) sehingga seolah-olah manusia tidak bertanggung jawab atau hanya merupakan alat saja di tangan Allah. Di dalam kasus kejatuhan Adam ke dalam dosa, ia mengatakan, "Adam dapat tetap teguh jika ia mau, namun kejatuhannya semata-mata karena kehendaknya sendiri".[20] Tetapi, bagaimana hal ini tidak berkontradiksi dengan pernyataan Calvin sebelumnya bahwa ketetapan Allah adalah "penyebab tunggal dari segala sesuatu yang ada?"

Pertama-tama, ia mengajak kita untuk menjauhkan Allah dari posisi yang secara aktif menyebabkan terjadinya dosa. Kedua, untuk menjawab problem di atas, Calvin tidak memilih argumentasi yang membedakan ketetapan Allah dengan izin Allah. Sebuah pembedaan yang pada hakikatnya sama saja. Namun, Calvin tetap percaya bahwa kehendak Allah adalah penyebab tunggal dari segala sesuatu yang ada. Jika demikian, bagaimana Allah bukan sebagai penyebab aktif perbuatan dosa manusia? Di dalam buku yang sama (Calvin's Calvinism), ia berangkat dari asumsi bahwa sebuah tindakan dikatakan berdosa adalah karena motivasi yang salah dan tujuan yang jahat. Jadi, ketika seseorang membunuh atau mencuri, perbuatan itu berdosa adalah karena motivasi yang salah dan tujuan yang jahat.

Dengan demikian, di dalam kasus-kasus seperti pengerasan hati Firaun atau Yudas, Calvin berpendapat, pertama, kita mesti melihat adanya tujuan mulia dari Allah yang tak terselami dan hikmat-Nya yang Mahabenar yang tak tergapai. Kedua, adanya perbedaan kategori yang tak terseberangi antara kekekalan dan kesementaraan sehingga kita tidak bisa mengukur apa yang Allah lakukan di dalam kekekalan dengan kategori temporal. Itu sebabnya, ia menutup penjelasannya tentang predestinasi dengan pernyataan, "Seperti pernyataan Agustinus, mereka yang mengukur keadilan ilahi dengan standar keadilan manusia telah bertindak salah."

Namun, kembali kepada konteks soteriologi dalam pembicaraan tentang predestinasi, maka fungsi paham reprobasi bagi orang-orang percaya menurut Calvin sebenarnya sama halnya dengan anugerah pemilihan Allah, yaitu menyadarkan orang-orang percaya supaya patuh, kagum, heran, rendah hati, dan gemetar di hadapan kemahakuasaan Allah yang tak terselami, namun yang telah dinyatakan dalam Alkitab.[21] Sebagai bagian dari predestinasi, maka sama seperti pemilihan Allah pula, paham reprobasi juga ada di ujung pergumulan iman orang-orang yang percaya kepada Kristus.

Kesimpulan

Dengan menempatkan doktrin predestinasi dalam konteks soteriologi, Calvin berusaha menunjukkan bahwa fungsionalitas doktrin predestinasi sebagai dasar jaminan keselamatan dapat ditimba oleh setiap orang percaya. Hal ini bisa terjadi apabila kita memulai pemahaman tentang predestinasi dengan berangkat dari tanda-tanda keselamatan yang Allah nyatakan kepada kita, dan dengan memandang kepada Yesus Kristus sebagai "the mirror of election". Cara seperti ini sudah tentu bukan jaminan untuk meniadakan sifat misteri doktrin predestinasi, melainkan justru karena kesadaran bahwa doktrin ini penuh dengan misteri ilahi.

Dengan demikian, cara yang dipakai oleh Calvin ini membawa orang percaya kepada sebuah relasi yang paradoks antara pergumulan iman tentang jaminan keselamatan dan predestinasi. Di satu pihak, predestinasi sebagai misteri (tetapi yang telah dinyatakan oleh Allah) adalah penyebab iman, di lain pihak, hal itu hanya bisa dipahami ketika iman sebagai jaminan yang membawa kita kepada rahasia predestinasi Allah. Jadi di sini, pergumulan dengan kebenaran predestinasi bersifat dua arah. Artinya, kita berangkat dari keyakinan akan berita Alkitab tentang ketetapan Allah sebagai sumber keselamatan kita, namun keyakinan itu baru dapat benar-benar kita gapai ketika kita menempatkan ketetapan Allah di ujung pergumulan iman kita.

Mengutip perkataan Agustinus, Calvin berkeyakinan bahwa menggumuli predestinasi berarti kita telah memasuki jalur iman.[22] Ketika iman kita membawa kepada keyakinan akan anugerah pemilihan Allah, dampak baliknya adalah penghiburan dan sekaligus panggilan untuk hidup suci. Namun, yang terpenting dalam usaha memahami predestinasi adalah "Mari kita berpegang teguh pada iman. Ia memimpin kita ke kamar Raja, tempat tersimpan seluruh harta pengetahuan dan kebijaksanaan."[23]

Catatan Kaki:

18. Institutes III.xxi.1.
19. Ibid. I.xvi.8; bdk. III.xxiii.7-8.
20. Ibid. I.xv.1, 8 [huruf tegak dari saya].
21. Ibid. III.xxi.1; III.xxiii.5; III.xxiv.17.
22. Ibid III.xxi.2.
23. Ibid.
Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul jurnal : Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 02, Nomor 02 (Oktober 2001)
Judul artikel: Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam Doktrin Predestinasi
Penulis : Kalvin S. Budiman
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang 2001
Halaman : 159 -- 175

Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam Doktrin Predestinasi (1)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Maafkan kami atas keterlambatan terbit yang sering terjadi akhir-akhir ini. Kami harap Anda dapat terus menikmati artikel-artikel yang kami kirimkan.

Artikel e-Reformed bulan September ini membahas seputar doktrin Predestinasi yang pasti sering kita dengar. Namun, dalam edisi ini, kita akan lebih berfokus pada konteks berteologi John Calvin ketika menggumuli doktrin ini. Sebagaimana yang kita tahu, doktrin ini menjadi perdebatan yang tidak pernah terselesaikan, terutama oleh kaum Calvinis dan Armenian. Hal ini terjadi karena banyak orang yang sesungguhnya tidak mengerti konteks ketika doktrin ini dicetuskan, dan menjadi salah kaprah ketika mengartikannya lepas dari konteks.

Oleh karena itu, artikel ini berusaha meluruskan kembali konteks pergumulan yang sebenarnya dialami oleh John Calvin ketika mencetuskan doktrin ini. Karena artikel yang asli relatif panjang untuk dimuat, redaksi berusaha memadatkan isi artikel ini sehingga dapat dimuat dalam 2 (dua) edisi September dan Oktober. Kiranya artikel ini dapat membukakan pengertian yang benar akan keagungan dan kekayaan Diri Allah yang tak terselami oleh pikiran manusia. Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< teddy(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Edisi: 
edisi 144/September 2013
Isi: 

Pendahuluan

Artikel ini tidak bermaksud secara langsung dan detail menguraikan doktrin predestinasi, atau bahkan menjawab serangkaian pertanyaan rumit yang sering kali muncul seputar doktrin ini. Artikel ini lebih merupakan suatu usaha untuk memahami kembali kerangka dasar atau konteks doktrin predestinasi sebagaimana diajarkan oleh John Calvin. Hal ini perlu kita lakukan karena di satu pihak, Calvin percaya bahwa doktrin predestinasi memberikan manfaat yang tidak sedikit dalam kehidupan orang percaya, tetapi di lain pihak, sejak awal ia sendiri telah menyadari banyaknya orang yang akan menyimpangkan ajarannya tentang predestinasi.

Penyimpangan-penyimpangan tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Henry Cole, telah mengakibatkan orang yang mempelajari doktrin predestinasi Calvin tidak dari sumber aslinya bukan saja menjadi salah mengerti, melainkan juga kehilangan "religious spirit" sebenarnya yang membangun.[1] Hal ini dapat terjadi karena doktrin predestinasi Calvin sering kali hanya dibicarakan secara terpotong-potong, lepas dari konteksnya.

Calvin memang bukan orang pertama dan satu-satunya yang mencetuskan doktrin predestinasi. Dalam tulisan-tulisannya, ia banyak memakai argumentasi Agustinus untuk menjelaskan beberapa masalah predestinasi. Namun, bila kemudian doktrin ini sering kali diidentikkan dengan Calvin, tidak lain karena dalam pemikirannya, paham predestinasi memperoleh pengupasan secara lebih komprehensif dan utuh.[2] Di samping itu, ia adalah tokoh yang paling gigih mengajarkan dan membela kebenaran doktrin ini, lebih dari siapa pun, bahkan teolog-teolog di masa kini.[3]

Barangkali, prinsip awal dan pertama yang kita bisa pelajari dari Calvin adalah sikapnya yang percaya sepenuhnya dan apa adanya terhadap wahyu Allah di dalam Alkitab. Sikap ini memberikan dua dampak. Pertama, ia berani masuk ke kedalaman firman Tuhan dan mengajarkannya, bahkan hal-hal yang tampaknya kontroversial, dengan suatu keyakinan bahwa baginya, tidak ada hal yang Allah wahyukan yang sifatnya sia-sia, termasuk kebenaran predestinasi. Ia meyakini sepenuhnya bahwa Allah dan firman-Nya adalah sumber kebenaran doktrin ini. Kedua, ia bukan saja dengan penuh rasa hormat kepada Allah berani mengajarkan doktrin predestinasi secara jujur, melainkan juga secara berhati-hati berusaha untuk tidak melampaui apa yang Alkitab katakan sehingga tidak jatuh ke dalam spekulasi metafisika.

Walaupun menelusuri sejarah pemikiran Calvin untuk mendapatkan keutuhan kerangka berpikirnya adalah hal yang hampir mustahil, tetapi saya berangkat dari keyakinan sebagaimana dikatakan oleh Richard Muller bahwa selama tulisan-tulisan Calvin masih dapat kita pelajari, berarti masih ada harapan.[4] Itu sebabnya, melalui tulisan ini, saya berharap cukup untuk memberikan kerangka dasar pemikiran Calvin tentang predestinasi, melalui penelusuran secara historis dan teologis terhadap tulisan-tulisan Calvin, khususnya "Institutes".[5]

Artikel ini dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama membahas konteks pemahaman doktrin predestinasi Calvin dengan mengamati perkembangan tulisan-tulisannya guna melihat kerangka atau pola dasar pemikirannya tentang predestinasi. Bagian kedua merupakan aplikasi pemahaman bagian pertama dalam membaca tulisan Calvin tentang predestinasi, dalam relevansinya dengan konteks yang ia maksud.

Survei Historis dan Teologis Pola Dasar Pemikiran Predestinasi Calvin

Doktrin predestinasi Calvin tidak ditulis dalam suasana yang "aman dan tentram". Doktrin ini mengalami proses perkembangan hingga menjadi benar-benar matang di dalam karya-karyanya, khususnya "Institutes" edisi 1559, setelah melalui berbagai perlawanan frontal dari lawan-lawannya. Perlawanan dari teolog Roma Katolik, Albertus Pighius, pada tahun 1543, mendorongnya untuk menulis "The Bondage and Liberation of the Will: A Defense of the Orthodox Doctrine of Human Choice against Pighius",[6] guna menolak konsep Pighius yang terlalu menekankan kebebasan manusia. Dua tahun kemudian, yaitu tahun 1545, ia menulis "Treatises Against the Anabaptists and Against the Libertines",[7] sebagai jawaban terhadap kelompok Libertines yang menolak dosa asal. Tahun 1552, ia menulis "Concerning the Eternal Predestination of God",[8] yang isinya bukan saja menjawab Georgius the Sicily, melainkan juga diarahkan kepada Pighius dalam kaitannya dengan problem prapengetahuan Allah dan, lagi-lagi, kebebasan manusia.

Di samping karya di atas, masih banyak karya lainnya yang hampir semuanya ditulis dalam suasana "pembelaan iman". Ia juga banyak dibantu oleh murid dan asistennya yang setia, Theodore Beza, dalam menegakkan kebenaran predestinasi, khususnya ketika ia terlibat dalam perdebatan panjang (tahun 1551 -- 1555) dengan Jerome Bolsec, menyangkut kekekalan, prapengetahuan Allah, dan iman.[9]

Dalam seluruh rangkaian perdebatan ini, Calvin tetap berpegang teguh pada tradisi monergisme Agustinian, sementara kebanyakan lawannya mengekspresikan pola teologi sinergisme yang merupakan sasaran utama penolakan para tokoh Reformasi. Tradisi monergisme Agustinian menekankan keselamatan yang sepenuhnya berdasarkan anugerah Allah, sedangkan tradisi sinergisme mendasarkan keselamatan kepada pra-pengetahuan Allah (divine foreknowledge) dan usaha iman dari manusia.

Pergumulan Calvin di atas, dan tulisan-tulisan lainnya, sudah tentu banyak memengaruhi tulisannya tentang predestinasi, terutama tafsirannya terhadap kitab Roma yang disebut-sebut paling banyak memengaruhi Calvin dalam menulis "Institutes" edisi terakhir (1559).[10] Mulai edisi pertama, 1536, hingga yang terakhir, 1559, "Institutes" mengalami perkembangan yang tidak sedikit, tetapi bukan dalam arti adanya pergeseran posisi atau pengubahan isi yang mendasar dari waktu ke waktu, melainkan usahanya untuk terus menambahkan pokok-pokok ajaran yang ia anggap penting. Sebuah fakta yang mengherankan ialah, ketika memberikan tambahan-tambahan, secara prinsip ia senantiasa konsisten dengan apa yang telah diajarkan sebelumnya.

Ketika Calvin menulis "Institutes" pada tahun 1536, doktrin predestinasi belum memperoleh pembahasan secara khusus. Di dalam enam bab tulisannya ini, paham predestinasi ia sisipkan dalam pembahasan tentang "turun ke dalam kerajaan maut" dari pengakuan iman rasuli dan penjelasan tentang hakikat gereja. Dalam penjelasan kalimat yang berdasarkan 1 Petrus 3:19 tersebut -- yang ia mengerti bukan secara harfiah, melainkan sebagai manifestasi kuasa penebusan Kristus kepada mereka yang telah mati pada zaman sebelum Kristus -- ia menyisipkan prinsip perbedaan dampak penebusan Kristus kepada orang-orang percaya dan orang-orang fasik. Sedangkan dalam pembahasan tentang gereja, pengertian predestinasi mendominasi penjelasannya tentang hakikat gereja. Berdasarkan Efesus 1:4, misalnya, ia mendefinisikan gereja sejati sebagai "orang-orang yang telah dipilih di dalam Dia sebelum dunia dijadikan, dengan tujuan agar semua dapat berkumpul di dalam Kerajaan Allah".[11] Gereja adalah universal karena orang-orang percaya di dalamnya dipilih dan dipersatukan di dalam Kristus (Efesus 1:22-23).[12] Hakikat gereja adalah kudus karena "orang-orang yang telah dipilih oleh providensi Allah untuk ditetapkan sebagai anggota-anggota gereja -- mereka dikuduskan oleh Tuhan (Yohanes 17:17-19)".[13]

Dari semua contoh di atas, jelas bahwa Calvin senantiasa berusaha untuk tidak melepaskan predestinasi dalam kaitannya dengan landasan bagi identitas umat tebusan Kristus. Pada tahun 1539, ketika "Institutes" bertambah menjadi tujuh belas bab, satu hal yang tetap konsisten adalah bahwa konteks praktis, eklesiologis, dan soteriologis, terus mewarnai pembicaraan tentang predestinasi. Namun, di dalam edisi ini, ia juga membahas predestinasi secara lebih luas sebagai penjelasan ontologis tentang kedaulatan Allah terhadap ciptaan-Nya, dengan tambahan konsep tentang providensi Allah.

Barangkali, progresivitas yang paling radikal ada di dalam edisi terakhir, tahun 1559, ketika "Institutes" jadi lima kali lebih panjang dari edisi pertama, dan dibagi menjadi empat "buku", masing-masing dengan topik utama: "The Knowledge of God the Creator", "The Knowledge of God the Redeemer", "The Receiving of the Grace of Christ", dan "The Holy Catholic Church". Di dalam edisi ini, ia bukan saja membahas predestinasi secara khusus dan panjang (empat bab), tetapi ia juga memisahkan pembicaraan predestinasi dari providensi. Jika providensi ditempatkan di akhir pembahasan tentang doktrin Allah (I.xvi-xviii), maka ia meletakkan predestinasi di dalam konteks pembahasan soteriologi, di bawah topik besar "The Receiving of the Grace of Christ", atau tepatnya, sesudah pembicaraan tentang iman, pembenaran, dan doa (III.xxi-xxiv).

Dampak pemisahan ini, sekali lagi, bukan karena adanya perubahan konsep teologis dalam diri Calvin mengenai providensi dan predestinasi. Bukan pula pemisahan dalam arti pembedaan secara tajam antara providensi dan predestinasi.[14] Pemisahan tersebut dilakukan karena ia lebih memilih pendekatan "ordo cognoscendi" (urutan secara logis atau mana yang harus diketahui terlebih dahulu) dalam memahami predestinasi, ketimbang "ordo essendi" (urutan secara esensi atau ontologis).[15] Pola semacam ini tampaknya cukup berhasil membuatnya menjauhkan diri dari pembahasan spekulasi metafisika dan determinisme, dan sebaliknya, mendekatkan diri kepada pemahaman tentang predestinasi yang lebih menampung relevansi rohani secara praktis, khususnya dengan jaminan keselamatan orang percaya.

Secara praktis, prinsip di atas dapat dibahasakan sebagai berikut. Ketika kita mencoba memahami predestinasi dengan berangkat secara deduktif dari pernyataan seperti: "Kehendak Allah adalah penyebab segala sesuatu," akan menjadi lebih sulit dan tak terselami daripada jika kita mencoba memahami predestinasi dengan berangkat dari pertanyaan seperti: "Mengapa Tuhan mau mengampuni dosaku? Mengapa Yesus Kristus mau mati untukku?" Melalui pola pendekatan ordo cognoscendi, Calvin ingin paham predestinasi itu muncul melalui pemahaman terhadap aspek-aspek penebusan di dalam diri orang percaya. Begitu pemilihan itu telah muncul dalam pikiran dan dipercayai, atau paling tidak, secara samar-samar diterima oleh orang percaya, esensi pemilihan, sejauh yang Alkitab wahyukan, harus segera diajarkan.

Belajar dari Calvin, Beza menegaskan bahwa ketika kita mencoba memahami predestinasi dengan memulainya dari "first" atau "final causality" dalam rahasia kekekalan Allah, itu hanya menyebabkan kita tidak bisa menarik makna barang sedikit pun karena pada akhirnya, mata kita akan tertutup terhadap dinamika karya Allah dalam sejarah keselamatan manusia.[16] Sedangkan, Wendel menafsirkan bahwa Calvin memilih ordo cognoscendi dalam konteks soteriologis karena seseorang yang mempelajari doktrin predestinasi dengan berangkat dari hakikat ketetapan-ketetapan Allah atau providensi Allah, atau membawa predestinasi ke dalam kategori pembicaraan providensi Allah, hal itu memang bukan sesuatu yang sepenuhnya salah, tetapi tidak tepat dan bahkan berbahaya.[17]

Catatan kaki:

  1. Kata pengantar H. Cole dalam terjemahan buku "Calvin's Calvinism 6".

  2. McNeill, John T (ed.). "Calvin: On the Christian Faith". (New York: Bobbs-Merill, 1957) xxii.

  3. Cole. "Calvin's Calvinism 6".

  4. Muller, Richard A. "The Unaccommodated Calvin: Studies in the Foundation of Theological Tradition". (New York: Oxford, 2000) 3.

  5. Tentunya dengan tidak mengabaikan sumber-sumber tulisan Calvin lainnya.

  6. (Ed. A. N. S. Lane, tr. G. I. Davies; Grand Rapids: Baker, 1996); bah. Latin: Defensio sanae et orthodoxae doctrinae de servitute et liberatione humani arbitrii adversus calumnies Alberti Pighii Coampensis.

  7. (Tr. & ed. Benjamin W. Farley; Grand Rapids: Baker, 1982)&h. Prancis: Contre la secte phantastique et furieuse des Libertins que se nomment Spirituels.

  8. (Tr. J. K. S. Reid; London: Clarke, 1961); bah. Latin: Da aetema Dei praedestinatione; dan idem, Calvin's Calvinism.

  9. Lihat Muller, Richard A. "The Use and Abuse of a Document: Beza's Tabula Praedestinationis, The Bolsec Controversy, and the Origins of the Reformed Orthodoxy". dalam "Prostestant Scholasticism: Essays in Reassessment" (ed. Carl R. Trueman & R. Scott Clark; Cumbria: Paternoster, 1999) 40-41.

  10. Lihat Klooster. "Calvin's Doctrine of Predestination 21".

  11. Ibid. III.xxii.1.

  12. Ibid. IV i.2.

  13. Ibid. IV i.17.

  14. Providensi sering dimengerti sebagai ketetapan-ketetapan rahasia dan kekal Allah secara umum terhadap dunia ciptaan-Nya, sedangkan predestinasi berkaitan dengan pemilihan untuk hidup kekal atau membiarkan (passing by) orang di dalam dosa-dosanya (reprobation).

  15. Dowey, Edward A. Jr. "The Knowledge of God in Calvin's Theology". (Grand Rapids: Eerdmans, 1995) 218.

  16. Ibid.

  17. Wendel. "Calvin: Origins and Development of His Religious Thought". 268.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul jurnal : Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan, Volume 02, Nomor 02 (Oktober 2001)
Judul artikel: Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam Doktrin Predestinasi
Penulis : Kalvin S. Budiman
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 2001
Halaman : 159 -- 175

Budaya dan Alkitab (2)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Edisi kali ini masih merupakan kelanjutan dari artikel edisi yang lalu, yaitu tentang prinsip menafsirkan Alkitab berkaitan dengan konteks budaya. Pada edisi ini akan dijelaskan pedoman-pedoman praktis yang akan membantu kita untuk mengatasi masalah-masalah di dalam penafsiran. Tidak perlu berlama-lama, mari kita simak kelanjutan artikel berikut ini.

Selamat membaca. Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< teddy(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
edisi 143/Agustus 2013
Isi: 

Satu hal sudah jelas. Kita memerlukan semacam garis pedoman praktis untuk membantu kita menguraikan problem-problem seperti itu. Garis pedoman praktis berikut ini mestinya berfaedah.

Garis Pedoman Praktis

  1. Periksalah Alkitab itu sendiri untuk mencari bagian-bagiannya yang jelas berhubungan dengan adat.

  2. Dengan meneliti cermat Alkitab sendiri, kita dapat mengetahui bahwa Alkitab menunjukkan suatu ruang gerak adat tertentu. Misalnya, prinsip-prinsip ilahi dari budaya Perjanjian Lama telah dinyatakan ulang dalam budaya Perjanjian Baru. Dengan melihat hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang dinyatakan ulang dalam Perjanjian Lama, kita dapat melihat bahwa sejumlah prinsip inti yang umum dapat melampaui adat, budaya dan kebiasaan sosial. Pada saat yang sama, kita melihat sejumlah prinsip Perjanjian Lama (seperti hukum-hukum mengenai apa saja yang halal dan apa yang haram dalam Pentateukh atau kelima kitab Musa) dibatalkan dalam Perjanjian Baru. Ini tidak berarti bahwa hukum-hukum mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dimakan semata-mata hanya adat Yahudi, tetapi kita dapat melihat sebuah perbedaan dalam situasi sejarah penebusan waktu Kristus membatalkan hukum yang lama. Apa yang harus kita perhatikan dengan cermat ialah, bahwa baik pemikiran untuk memindahkan prinsip-prinsip Perjanjian Lama seluruhnya ke dalam Perjanjian Baru maupun sama sekali tidak mengindahkannya sedikit pun, tidak dapat dibenarkan oleh Alkitab sendiri.

    Adat-adat budaya macam apa yang mampu pindah? Bahasa adalah salah satu faktor budaya yang mudah pindah. Hukum-hukum Perjanjian Lama dapat dialihbahasakan dari bahasa Ibrani kepada bahasa Yunani. Paling tidak, hal ini memberikan kepada kita sebuah kunci kepada berbagai macam komunikasi verbal (bahasa). Ini berarti bahwa bahasa adalah sebuah aspek budaya yang terbuka untuk perubahan. Ini tidak berarti bahwa isi Alkitab dapat dibengkokkan secara linguistik, tetapi berarti bahwa Injil dapat dikhotbahkan, baik dalam bahasa Yunani maupun dalam bahasa Inggris.

    Kedua, kita lihat bahwa metode-metode pakaian Perjanjian Lama tidak selalu cocok di segala zaman untuk umat Allah. Prinsip-prinsip kesederhanaan tetap unggul, tetapi mode-mode pakaian lokal boleh berubah. Perjanjian Lama tidak memerintahkan supaya orang beriman harus memakai pakaian seragam ilahi yang bermode sama untuk segala abad. Perubahan-perubahan budaya lain yang normal, seperti sistem-sistem uang, jelas terbuka untuk perubahan. Orang-orang Kristen tidak diharuskan memakai dinar sebagai ganti dolar.

    Analisis cara-cara pengungkapan budaya seperti itu mungkin sederhana karena berhubungan dengan pakaian atau uang, tetapi persoalan-persoalan institusi-institusi budaya lebih sulit analisisnya. Misalnya, topik mengenai perbudakan sering diperkenalkan ke dalam perdebatan modern mengenai tidak adanya oposisi terhadap hukum atas dasar hati nurani, juga topik mengenai struktur-struktur otoritas pernikahan. Dalam konteks yang sama, waktu Paulus mengimbau wanita-wanita supaya tunduk pada suami-suami mereka, ia juga mengimbau para budak untuk tunduk kepada tuan-tuan mereka. Sejumlah orang telah berpendapat bahwa karena benih-benih penghapusan perbudakan, demikian juga benih-benih penghapusan sikap tunduk para wanita. Kedua hal tersebut mewakili struktur-struktur institusional yang dipengaruhi budaya jika ditinjau dari segi garis penalaran ini.

    Di sini, kita harus berhati-hati untuk membedakan antara institusi-institusi yang diakui oleh Alkitab hanya keberadaannya saja, seperti "pemerintah-pemerintah yang ada" (Roma 13:1), dan institusi-institusi yang jelas didirikan, diabsahkan dan ditahbiskan oleh Alkitab. Prinsip tunduk kepada struktur-struktur otoritas yang ada (misalnya pemerintah Roma), tidak mempunyai pengertian yang diperlukan untuk pengabsahan dari pihak Allah mengenai struktur-struktur, tetapi hanya merupakan panggilan untuk kerendahan hati dan kepatuhan hukum dan pemerintah. Allah, di dalam pemeliharaannya yang utama dan rahasia, dapat menetapkan bahwa ada Kaisar Agustus, tanpa mengabsahkan Kaisar sebagai teladan kebajikan Kristen. Namun, institusi struktur-struktur dan pola-pola otoritas pernikahan diberikan dalam konteks institusi dan pengabsahan yang positif dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tindakan menurut struktur-struktur alkitabiah mengenai rumah tangga setingkat dengan persoalan perbudakan, sama dengan usaha mengaburkan banyak perbedaan antara keduanya. Jadi, Alkitab menyediakan dasar bagi perilaku kristiani di tengah situasi-situasi yang menekan atau yang jahat, Alkitab juga menahbiskan struktur-struktur yang harus menjadi cermin bagi rancangan-rancangan penciptaan yang baik.

  3. Biarlah ada kekhususan-kekhususan Kristen abad pertama.

  4. Usaha memahami isi Alkitab dengan lebih gamblang, dengan cara menyelidiki situasi budaya abad pertama, tidak sama dengan usaha menafsir Perjanjian Baru seolah-olah itu hanya gema budaya abad pertama. Menyamakan kedua usaha tersebut sama dengan mengalami kegagalan dalam usaha menerangkan pertentangan yang serius, yang dialami oleh gereja waktu itu dalam menghadapi dunia abad pertama. Orang-orang Kristen waktu itu tidak dilemparkan ke dalam kandang singa kalau mereka cenderung menjadi konformis.

    Cara-cara halus untuk merelatifkan teks ialah dengan memasukkan pertimbangan-pertimbangan kultural kita sendiri ke dalam teks, yang sesungguhnya tidak ada dalam teks itu sendiri. Misalnya, sehubungan dengan persoalan kerudung di Korintus, banyak penafsir Epistola itu menunjukkan bahwa tanda lokal wanita tunasusila di Korintus adalah tidak berkerudung. Karena itu, mereka berpendapat inilah alasannya mengapa Paulus ingin para wanita mengerudungi kepala mereka ialah untuk menghindari penampilan wanita-wanita Kristen yang mirip wanita skandal.

    Apa yang salah pada spekulasi seperti ini? Problem dasar di sini ialah bahwa pengetahuan kita mengenai orang-orang Korintus dari abad pertama yang dikonstruksikan ulang, telah mengakibatkan kita melengkapi Paulus dengan rasional (dasar penalaran) yang asing bagi Paulus sendiri. Jikalau Paulus hanya menyuruh kaum wanita Korintus berkerudung, tanpa memberikan rasional untuk instruksi seperti itu, kita akan sangat cenderung untuk melengkapinya dengan pengetahuan kita sendiri mengenai budaya. Namun hal ini, Paulus menyediakan sebuah rasional yang didasarkan atas imbauan kepada yang alami, bukan kepada adat tunasusila Korintus. Kita harus berhati-hati agar semangat kita terhadap pengetahuan budaya tidak mengaburkan apa yang sebenarnya dikatakan oleh Alkitab. Meletakkan alasan Paulus yang telah dinyatakannya di bawah kekuasaan penalaran kita yang berperspektif spekulatif, sama dengan memfitnah rasul itu dan mengubah eksegesis menjadi metode eisegesis.

  5. Peraturan alam ciptaan Allah menunjukkan adanya prinsip-prinsip transtruktural.

  6. Jikalau prinsip-prinsip Alkitab melampaui adat-adat lokal, maka berarti prinsip-prinsip tersebut diambil dari yang alami. Dukungan dari peraturan-peraturan alam menunjukkan peraturan-peraturan Allah yang mengikat janji secara hukum dengan manusia dalam fungsi atau sifatnya sebagai manusia. Hukum-hukum alam tidak dibenarkan hanya kepada manusia Ibrani atau manusia Kristen atau manusia Korintus saja, tetapi berakar dalam tanggung jawab dasar semua manusia terhadap Allah. Menyingkirkan prinsip-prinsip alam dengan memandangnya sebagai adat lokal, sama dengan merelatifkan isi Alkitab dan menghilangkan isi Alkitab yang historis. Inilah cara penafsiran yang termasuk paling buruk. Namun, tepatnya dengan cara inilah banyak ahli telah merelatifkan prinsip-prinsip Alkitab. Di sinilah, kita melihat metode eksistensial beroperasi dengan cara yang paling nyata.

    Untuk menggambarkan pentingnya peraturan-peraturan alam ciptaan Allah, kita dapat meneliti bagaimana Tuhan Yesus menangani persoalan perceraian. Pada waktu orang-orang Farisi menguji Tuhan Yesus dengan bertanya apakah perceraian dibenarkan oleh hukum untuk alasan apa saja, Tuhan Yesus menjawab dengan cara menunjuk kepada aturan penciptaan mengenai pernikahan, "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Matius 19:4-6).

    Dengan jalan menyusun kembali situasi kehidupan narasi ini, mudah untuk melihat bahwa ujian dari pihak orang-orang Farisi berkaitan dengan keinginan mendapatkan pendapat Tuhan Yesus mengenai pokok persoalan yang secara tajam memisahkan mazhab-mazhab rabi yang bernama Shammai dan Hillel. Tuhan Yesus tidak berpihak kepada salah satu mazhab sepenuhnya, tetapi mengembalikan persoalannya kepada aturan-aturan alam penciptaan untuk mendapatkan norma-norma pernikahan secara tepat. Sudah barang tentu, Ia mengakui modifikasi Musa terhadap hukum penciptaan, tetapi Ia tidak bersedia untuk melemahkan norma itu lebih lanjut, dengan cara menyerah kepada tekanan orang banyak atau pendapat-pendapat budaya orang-orang yang hidup di zaman-Nya. Kesimpulan yang harus kita tarik ialah bahwa aturan-aturan penciptaan adalah normatif, kecuali jikalau secara eksplisit telah dimodifikasi oleh wahyu Alkitab yang lebih belakangan.

  7. Dalam hal-hal yang tidak pasti pakailah prinsip kerendahan hati.

  8. Bagaimana kalau setelah kita mempertimbangkan dengan cermat sebuah mandat Alkitab, kita masih saja belum yakin mengenai hakikinya, apakah itu prinsip ataukah itu adat? Jikalau kita dihadapkan kepada pilihan untuk memutuskan yang mana di antara keduanya yang betul, tetapi kita tidak mendapatkan sarana-sarana yang cukup dapat dipakai untuk pertimbangan bagi keputusan yang betul, apa yang harus kita lakukan? Di sini, prinsip Alkitab mengenai kerendahan hati dapat berfaedah. Persoalannya mudah. Mana yang lebih baik, menganggap apa yang kemungkinan adalah adat, sebagai prinsip, sehingga bersalah karena dalam usaha kita untuk mematuhi Allah ternyata tidak sesuai dengan kehendak-Nya; Ataukah lebih baik menganggap apa yang kemungkinan adalah prinsip, hanya sebagai adat saja, sehingga kita bersalah karena menurunkan kadar tuntutan Allah yang transenden (di luar pengertian dan pengalaman manusia biasa) kepada tingkat kebiasaan manusiawi saja? Saya harap jawabannya jelas.

    Jikalau prinsip kerendahan hati dipisahkan dari garis-garis pedoman lain yang telah disebutkan, sangat mudah disalahartikan sebagai dasar untuk legalisme. Kita tidak berhak mengatur hati nurani orang-orang Kristen padahal Allah sendiri tidak mengaturnya. Prinsip ini tidak dapat juga diterapkan, kalau Alkitab sendiri diam mengenai suatu hal yang sedang ditafsir. Prinsip ini dapat diterapkan di tempat yang jelas ada mandat-mandat Alkitab, tetapi hakikinya saja yang tidak pasti (apakah yang ditafsir itu memang adat, ataukah prinsip?), setelah kita bekerja keras untuk mengatasi kesulitan menafsir, dengan metode eksegesis secara tuntas.

    Kerja keras seperti ini tidak dapat digantikan hanya dengan berhati-hati secara biasa saja (seperti umumnya dilakukan orang yang tidak memakai metode eksegesis). Sikap pokoknya hati-hati menafsir meskipun tanpa eksegesis, berbahaya. Bahayanya ialah mengaburkan antara yang adat dan yang prinsip. Eksegesis harus dilakukan sejak dari awal penyelidikan Alkitab, bukan kalau sudah jalan lain tidak berhasil. Sikap ini dapat merusak kebenaran penafsiran.

    Problem persyaratan budaya benar-benar problem. Rintangan-rintangan waktu, tempat, dan bahasa sering menyulitkan komunikasi. Namun, rintangan-rintangan budaya tidak begitu keras sehingga menyebabkan kita bersikap skeptis atau putus asa memahami firman Allah. Untungnya, Alkitab benar-benar menunjukkan kemampuan khusus untuk berbicara kepada kebutuhan-kebutuhan manusia yang terdalam dan untuk mengomunikasikan Injil dengan efektif kepada segala bangsa dari segala waktu, tempat dan adat. Halangan budaya tidak dapat mengosongkan kuasa firman Allah.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul buku: Mengenal Alkitab
Judul bab : Budaya dan Alkitab
Penulis : R. C. Sproul
Penerbit : Departemen Literatur SAAT, Malang
Halaman : 121 -- 127

Budaya dan Alkitab (1)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Alkitab dan budaya adalah seperti dua sisi keping mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Ketika melakukan studi Alkitab, sering kali kita masih sulit untuk membedakan mana yang termasuk prinsip dan mana yang sekadar latar belakang budaya ketika Alkitab ditulis. Salah satu kesalahan terbesar dari Kaum Liberal di dalam menafsirkan Alkitab adalah merelatifkan prinsip-prinsip firman Tuhan untuk dikontekstualisasikan ke dalam konteks budaya sehingga beberapa prinsip menjadi berubah makna, bahkan dianggap tidak relevan lagi di dalam konteks zaman sekarang.

Kali ini, saya memilih artikel "Budaya dan Alkitab" (dengan beberapa perubahan dan penyesuaian) yang dituliskan oleh R. C. Sproul dalam bukunya "Mengenali Alkitab". Melalui artikel yang dibagi dalam edisi ini dan edisi berikutnya, saya berharap kita dapat mengerti prinsip-prinsip eksegesis menafsirkan Alkitab dalam relevansinya dengan konteks budaya pada masa Alkitab ditulis dengan konteks budaya pada masa sekarang. Selamat menyimak dan merenungkan artikel ini.

Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< teddy(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi: 
edisi 142/Juli 2013
Isi: 

Herman Melville, di dalam novelnya yang berjudul "Redburn", mengisahkan seorang pemuda yang naik kapal untuk pertama kalinya. Ketika ia berangkat menuju Inggris, ayahnya memberikan sebuah peta kota Liverpool yang sangat tua. Sesuai pelayaran yang sukar itu, Redburn memasuki kota Liverpool dengan keyakinan bahwa peta ayahnya dapat menunjukkan jalan di kota itu. Namun, peta itu tidak berguna baginya. Terlalu banyak perubahan terjadi sejak peta itu dibuat. Tanda-tanda tua telah hilang, jalan-jalan telah berubah nama dan tempat-tempat tinggal penduduk telah tidak ada lagi.

Ada orang-orang yang melihat dalam kisah Redburn itu, protes pribadi Melville terhadap Alkitab kuno yang tidak memadai untuk menunjukkan jalan baginya melewati kehidupan ini. Protes yang sama juga dilakukan oleh banyak orang di masa kini.

Kondisi Budaya dan Alkitab

Suatu pokok persoalan yang membara dalam dunia Kristen ialah mengenai persoalan pengertian dan tingkatan sampai mana Alkitab dipengaruhi oleh budaya. Apakah Alkitab ditulis hanya untuk orang-orang Kristen abad pertama? Ataukah Alkitab ditulis untuk orang-orang dari segala zaman? Kita boleh cepat menjawab menyetujui pertanyaan yang disebut terakhir, tetapi dapatkah kita mengatakannya tanpa syarat? Adakah bagian-bagian Alkitab yang terikat oleh latar budayanya, dan karena itu dalam penerapannya terbatas pada latar budayanya sendiri?

Kecuali, kalau kita teguh berpendapat bahwa Alkitab jatuh dari surga, ditulis oleh pena surgawi dalam bahasa surgawi, atau bahwa Alkitab didiktekan secara langsung dan segera oleh Allah tanpa referensi kepada kebiasaan lokal, gaya atau perspektif tertentu, maka kita akan terpaksa menghadapi kesenjangan budaya. Alkitab memantulkan budaya zamannya. Pertanyaannya kalau begitu, bagaimana Alkitab dapat memiliki otoritas atas kita pada zaman kita?

Suatu perdebatan gerejawi pada tahun 60-an menggambarkan problem budaya. Pada tahun 1967, United Presbyterian Church di Amerika memakai suatu pengakuan baru dengan pernyataan berikut ini mengenai Alkitab.

"Alkitab, yang diberikan di bawah bimbingan Roh Kudus, betapa pun adalah kata-kata manusia, yang dipengaruhi oleh bahasa, bentuk-bentuk pemikiran, gaya-gaya sastra, tempat-tempat, dan waktu-waktu pada waktu ia ditulis. Kitab-kitab dalam Alkitab memantulkan pandangan-pandangan hidup, sejarah dan kosmos yang beredar waktu itu. Karena itu, gereja berkewajiban mendekati Alkitab dengan pengertian sastra dan sejarah. Pada waktu Allah mengucapkan sabda-Nya dalam situasi budaya yang berbeda-beda, gereja yakin bahwa Ia akan tetap berbicara melalui Alkitab dalam dunia yang selalu sedang berubah dan juga dalam setiap bentuk budaya manusia."

Kata-kata "Pengakuan 1967" ini menimbulkan banyak perdebatan selama kurun waktu enam puluhan. Perdebatannya dipusatkan pada apa yang tidak dikatakan, lebih daripada apa yang dikatakan oleh Pengakuan itu. Sayangnya, Pengakuan itu tidak menjelaskan dengan mendetail apa yang dimaksudkan oleh setiap pernyataan. Hasilnya ialah setiap kebebasan menarik implikasi-implikasi dan kesimpulan. Jikalau kita mempertimbangkan pernyataan tersebut hanya melalui apa yang dinyatakan secara eksplisit oleh kata-katanya, maka baik B. B. Warfield yang ortodoks maupun Rudolf Bultmann yang eksistensialis, dapat menyetujuinya. Berapa besar otoritas yang dilihat dalam Alkitab amat bergantung pada bagaimana orang memahami kata "dipengaruhi" dalam pengakuan itu. Pada waktu perdebatannya berlangsung, banyak orang konservatif menyatakan kesedihannya yang sangat kalau memikirkan pendapat bahwa Alkitab "dipengaruhi" dengan cara apa pun oleh kebudayaan kuno. Banyak orang liberal berpendapat bahwa Alkitab tidak saja dipengaruhi oleh kebudayaan, tapi terikat oleh kebudayaan.

Sebagai tambahan pada persoalan pengertian dan tingkatan sampai di mana pengaruh budaya pada Alkitab, adalah persoalan pengertian dan tingkatan sampai di mana Alkitab memantulkan pandangan-pandangan hidup, sejarah, dan kosmos zaman kuno. Apakah kata memantulkan berarti bahwa Alkitab mengajarkan pandangan-pandangan hidup, sejarah, dan kosmos yang benar, kuno atau tidak benar? Apakah perspektif budaya ini merupakan bagian inti berita Alkitab? Ataukah memantulkan berarti bahwa kita boleh membaca apa yang tersirat di antara kalimat-kalimat Alkitab hal-hal seperti bahasa fenomenal dan melihat latar belakang tempat berita yang melampaui budaya itu diberikan? Bagaimana cara kita menjawab pertanyaan-pertanyaan ini banyak mengungkapkan pandangan kita yang menyeluruh tentang Alkitab. Sekali lagi, hakiki Alkitab memengaruhi penafsiran kita. Pokok persoalannya di sini begini: Sampai di mana relevansi dan wewenang Alkitab dibatasi oleh struktur-struktur dan perspektif-perspektif manusia yang berubah-ubah, dalam teks Alkitab?

Seperti yang telah kita lihat, untuk menghasilkan eksegesis teks Alkitab yang akurat dan untuk memahami apa yang dikatakan oleh Alkitab dan apa yang dimaksudkannya, orang yang mempelajari Alkitab harus terlibat dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai bahasa (Ibrani, Aram, Yunani), gaya tulisan, sintaks, konteks sejarah dan geografi, penulis, tujuan, dan bentuk sastra. Analisis seperti ini diperlukan untuk menafsir buah sastra mana saja, bahkan sastra masa kini sekalipun.

Ringkasnya, semakin saya memahami budaya Palestina abad pertama, semakin mudah saya mendapat pemahaman yang akurat mengenai apa yang dikatakan. Namun, Alkitab ditulis lama berselang, dalam suatu latar budaya yang lain sekali dari budaya kita sendiri, dan tidak selalu mudah menjembatani kesenjangan waktu antara abad pertama dan abad ke-20.

Pengaruh Budaya dan Pembaca

Problemnya menjadi lebih berat kalau saya menyadari bahwa tidak saja Alkitab dipengaruhi oleh latar budayanya, tetapi bahwa kita juga dipengaruhi oleh latar budaya kita sendiri. Sering kali menjadi lebih sulit bagi saya untuk membaca dan memahami apa yang dikatakan oleh Alkitab karena saya memasukkan ke dalamnya banyak sekali anggapan yang di luar Alkitab. Inilah mungkin problema pengaruh budaya yang terbesar yang kita hadapi. Setiap dari kita telah menjadi produk zaman. Jika seandainya saya tahu ada ide-ide saya yang tidak cocok dengan Alkitab, saya akan mencoba mengubahnya. Namun, memisah-misahkan pandangan-pandangan saya sendiri tidak selalu mudah. Kita semua cenderung untuk membuat kesalahan yang sama itu berulang kali. Kelemahan kita disebut kelemahan karena kita tidak menyadarinya.

Saya yakin bahwa pengaruh tatanan pikiran sekuler abad ke-20 merupakan halangan yang lebih hebat kepada penafsiran Alkitab yang akurat daripada problem pengaruh budaya kuno. Inilah salah satu alasan dasar mengapa tokoh-tokoh Reformed mendekati eksegesis melalui teladan tabula rasa. Penafsir diharuskan berusaha sekeras-kerasnya untuk membaca teks secara objektif melalui metode gramatis historis. Meskipun pengaruh-pengaruh subjektif selalu menunjukkan bahaya pembengkokan yang jelas di zaman ini, orang yang mempelajari Alkitab diharapkan untuk memakai setiap penjagaan yang memungkinkan dalam usaha mengejar yang ideal, yaitu mendengarkan berita Alkitab tanpa mencampurnya dengan prasangkanya sendiri.

Pada tahun-tahun akhir ini, metode-metode baru penafsiran Alkitab telah berlomba-lomba untuk diterima. Salah satu metode yang paling penting di antaranya ialah metode eksistensial. Metode eksistensial telah berpaling dengan drastis dari metode klasik melalui hermeneutika yang baru. Misalnya, Bultmann tidak hanya berpendapat bahwa metode tabula rasa tidak mungkin dicapai, melainkan juga menandaskan bahwa itu tidak dikehendaki. Menurut Bultmann, Alkitab perlu dimodernisasikan supaya dapat menjadi relevan bagi kita. Sebabnya ialah karena menurut dia, Alkitab ditulis dalam zaman prasains dan merupakan hasil pengaruh situasi kehidupan masyarakat Kristen mula-mula yang bertumbuh. Bultmann mengimbau diperlukannya "pemahaman sebelumnya", bahkan sebelum kita membaca teks Alkitab itu. Jikalau manusia modern ingin mendapatkan jawaban-jawaban yang absah terhadap pertanyaan-pertanyaannya, dari Alkitab, pertama kali yang harus ia lakukan ialah datang kepada Alkitab itu dengan pertanyaan-pertanyaan tepat. Namun, pengertian seperti itu tidak boleh didapat dari Alkitab, melainkan harus diformulasikan dahulu sebelum membuka Alkitab. Di sinilah, tatanan pikiran abad ke-20 terang-terangan memengaruhi dan mengikat teks-teks abad pertama, berita abad pertama ditelan dan diserap oleh mentalitas abad ke-20.

Bahkan, seandainya para penafsir Alkitab dapat menyetujui metode eksegesis dan bahkan dapat menyetujui hasil eksegesis itu sendiri, bahwa Alkitab diinspirasikan oleh Allah dan tidak semata-mata merupakan produk penulis-penulis zaman prasains, kita masih dihadapkan kepada persoalan penerapan, relevansi, dan kewajiban yang dibebankan oleh teks itu. Apakah yang diperintahkan Alkitab supaya dilakukan oleh orang-orang Kristen abad pertama berlaku untuk diterapkan kepada kita? Dalam pengertian yang bagaimana Alkitab berhubungan dengan hati nurani kita sekarang ini?

Prinsip dan Adat

Dalam banyak kalangan di masa kini, persoalannya ialah prinsip dan adat. Kecuali, kalau kita menyimpulkan bahwa semua isi Alkitab itu prinsip sehingga mengikat semua orang di segala zaman, atau kalau kita berpendapat bahwa seluruh Alkitab adalah adat lokal tanpa relevansi di luar konteks historisnya yang langsung, maka kita dipaksa untuk menetapkan sejumlah kategori dan garis pedoman untuk mengetahui perbedaan antara kedua pendapat itu.

Untuk menggambarkan problemnya, marilah kita lihat apa yang terjadi waktu kita memercayai bahwa setiap halaman dalam Alkitab adalah prinsip dan tidak ada yang semata-mata hanya pantulan adat lokal. Jika demikian halnya, maka sejumlah perubahan radikal harus dilaksanakan dalam penginjilan jikalau kita ingin mematuhi Alkitab. Tuhan Yesus berkata, "Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan" (Lukas 10:4). Jika kita membuat teks ini suatu prinsip transkultural, maka sudah sewaktunya Billy Graham mulai berkhotbah tanpa sepatu! Jelas, maksud teks ini tidak menetapkan persyaratan abadi mengenai penginjilan tanpa sepatu. Namun hal-hal lain yang tidak begitu nyata, misalnya orang-orang Kristen masih belum bersepakat mengenai ritus mencuci kaki, apakah ini merupakan mandat abadi bagi gereja di segala abad, atau hanya adat lokal yang menggambarkan prinsip kerendahan hati seorang pelayan? Apakah prinsipnya tetap dan adatnya hilang dalam budaya memakai sepatu? Ataukah adatnya tetap bersama dengan prinsipnya, tidak peduli adat memakai sepatu atau tidak?

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul buku: Mengenal Alkitab
Judul bab : Budaya dan Alkitab
Penulis : R.C. Sproul
Penerbit : Departemen Literatur SAAT, Malang
Halaman : 112 -- 119

Dilahirkan Untuk Menderita

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Dari cuplikan tulisan khotbah Natal Pdt. DR. Stephen Tong ini, saya semakin menyadari bahwa kegembiraan Natal sekarang telah diselewengkan oleh Iblis untuk menipu banyak orang Kristen bahwa makna Natal adalah kegembiraan, makan-makan, hadiah-hadiah dan pesta-pesta. Padahal di balik suasana Natal, sebenarnya ada bayang-bayang Paskah... karena kematian Kristus sudah menantikan dengan sangat jelas. Satu-satunya kematian di jagad raya ini yang dikehendaki Tuhan. Manusia mati adalah bukan kehendak Tuhan, melainkan karena upah dari ketidaktaatan manusia. Manusia mati karena dosanya. Tetapi Kristus mati bukan karena untuk menerima hukuman dosa, melainkan untuk melaksanakan kehendak Tuhan, yaitu agar darah Kristus menebus manusia sehingga manusia dapat diperdamaikan dengan Allah. Betapa besarnya kasih Allah kepada manusia! Terpujilah Tuhan Allah yang kekal selamanya.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Penulis: 
pdt. DR. Stephen Tong
Edisi: 
135/Desember 2012
Tanggal: 
30-12-2012
Isi: 

Dilahirkan Untuk Menderita

Artikel ini disarikan dari khotbah Natal, Pdt. Dr. Stephen Tong, Tahun 1997.

Natal merupakan hari yang menyenangkan, dirayakan di tempat yang begitu meriah, begitu indah, makan makanan yang begitu mewah dan mahal. Namun, jikalau kita memikirkan kembali Natal yang pertama, biarlah hati kita sekali lagi tertarik oleh cinta kasih Tuhan, karena Natal pertama merupakan hari yang sangat hina. "Christianity starts from the very humble beginning". Inilah sebuah kalimat yang menjadi introduksi dalam film Jesus dari LPMI, Campus Crusade. Benar! "Christianity starts from the very very humble beginning".

Kekristenan tidak tiba dengan sesuatu yang meriah, mewah, dan hormat; tetapi kekristenan dimulai dari tempat yang hina. Selama lebih 40 tahun saya melayani Tuhan, tidak pernah sekalipun Natal saya rayakan dengan main-main; tetapi selalu saya rayakan dengan hati yang berat, karena ini merupakan satu titik permulaan firman Tuhan yang paling klimaks, yang disampaikan kepada umat manusia.

Beribu-ribu tahun Allah mempersiapkan nabi-nabi, bernubuat dan bernubuat. Istilah nabi dalam bahasa Ibrani berarti: yang mewakili Tuhan untuk berbicara. Mereka dipakai menjadi suara Tuhan. Mereka dipakai untuk mencetuskan apa yang menjadi isi hati Tuhan, supaya perkataan-perkataan Tuhan boleh terdengar di dunia yang sudah berdosa, yang sudah jauh dari Tuhan, yang sudah menyeleweng dari kebenaran. Tuhan ingin berkata-kata kepada manusia, tetapi manusia tidak ingin mendengarkan perkataan-perkataan dari Tuhan. Tuhan ingin mencetuskan hati-Nya kepada manusia, seperti orang tua yang tidak mau melihat anaknya menuju kepada jalan kebinasaan. Nasihat, peringatan, ajaran, didikan, dan kalimat-kalimat yang penuh dengan segala hal yang penting, diabaikan oleh mereka yang tidak memerlukannya. Mereka bukan tidak memerlukannya, tapi merasa belum memerlukannya. Mengapakah kita harus menunggu sampai betul-betul hancur, bangkrut, dan dibuang, baru mulai membuka telinganya kepada Tuhan?

Setiap kali merayakan Natal, saya tidak mengecualikan, memakai kebaktian ini sebagai kebaktian penginjilan, karena Injil mulai sejak hari Natal. Injil mulai sejak kelahiran Kristus. Istilah Injil di dalam Bahasa Gerika adalah "Euangelion". "Euangelion" berarti kabar kesukaan -- kabar kesukaan yang hanya singular, satu saja -- the only good news. Dalam dunia engkau melihat begitu banyak orang berani memakai kata: kabar kesukaan, kabar kesukaan. Tapi itu good news-good news yang tidak penting. Hanya ada satu good news, hanya ada satu kabar baik, yaitu: orang berdosa boleh kembali berdamai dengan Tuhan Allah. Kabar baik ini dimulai dari mana? Dari Yesus yang lahir ke dalam dunia.

Yesus hadir di dalam sejarah. Yesus lahir ke dalam dunia. Kitab Suci menyatakan Allah yang menyatakan diri di dalam daging. God manifested Himself in flesh -- Allah menyatakan diri di dalam daging. Inilah yang disebut sebagai firman menjadi tubuh, yang disebut logos menjadi flesh, menjadi bertubuh seperti manusia. Mungkinkah ini? Ini tidak terdapat dalam agama manapun. Di dalam agama-agama di seluruh dunia tidak pernah diajarkan bahwa Allah sendiri menjadi manusia, pernah sungguh-sungguh dilahirkan, pernah sungguh-sungguh berdaging, berdarah. Tidak! Tidak ada agama yang mengajar ini kecuali Kitab Suci, firman Tuhan yang berkata-kata kepada kita. Alangkah besarnya hal ini. Ini merupakan keajaiban besar rahasia ibadah, yaitu Allah menyatakan diri dalam daging.

Ibrani 2:14 mengatakan, "Sebagaimana saudara-saudara berdaging, berdarah, maka Anak Allah yang tunggal, Yesus Kristus, datang ke dunia juga bersalutkan dengan daging dan darah, seperti engkau dan saya." Siapakah yang mengerti sifat manusia kecuali manusia itu sendiri? Siapakah yang mengerti kesulitan-kesulitan, penderitaan, sengsara, dan segala kepahitan yang boleh dialami oleh manusia, kecuali manusia itu sendiri? Dalam 1 Korintus 2 dikatakan, selain roh manusia, siapakah yang mengerti manusia? Tetapi tidak berhenti di situ, ayat ini meloncat pada tingkatan yang lebih tinggi, "tanpa roh Allah juga tidak ada orang mengerti Allah." Di dalam psikologi, yang menjadi keindahan adalah pengertian antara manusia yang lebih berpengalaman menganalisa dan memberikan petunjuk kepada mereka yang kurang berpengalaman dan berada di dalam kesulitan. Itulah sifat konstruktif dari psikologi. Tetapi jikalau tidak berdasarkan kebenaran, tidak berdasarkan cinta kasih yang sesungguhnya, sebenarnya psikologi tidak bisa berbuat baik, tidak bisa berbuat banyak.

Kecuali roh manusia, siapa yang mengerti manusia? Waktu membaca dan merenungkan, saya langsung memusatkan konsentrasi kepada Tuhan yang rela menjadi manusia. Hal ini tidak berarti jikalau Yesus tidak pernah datang ke dalam dunia, maka Allah tidak mungkin mengerti kesengsaraan hidup manusia. Bukan! Allah bisa mengerti karena Dia Mahatahu. Dia tidak perlu harus memunyai pengalaman "menjadi" sebagai titik awal untuk pengertian. Tetapi Allah menyatakan diri hadir ke dalam dunia, menjelma menjadi manusia, dan bersalut dengan daging dan darah, justru untuk memberitahu engkau dan saya bahwa Dia adalah Allah yang care, Dia adalah Allah yang peduli, Dia adalah Allah yang memelihara! Ibrani 2:14 menyatakan, "Ia berdaging dan berdarah agar khusus melalui kematian, berperang bagi kita untuk mengalahkan si penguasa dari kematian, yaitu iblis." Dari sini terbitlah sesuatu pikiran di dalam hati saya: "Mengapa Yesus lahir?" Yesus dilahirkan untuk menderita.

Di Indonesia, ada lebih dari 50 juta orang mengalami hidup yang lebih pahit dari sebelumnya, setelah krisis moneter. Dan kali ini, suara dan ajaran Tuhan bukan hanya ditujukan kepada orang miskin, tetapi kepada semua lapisan, termasuk orang kaya. Biarlah manusia mendengar! Bukalah telingamu kepada Tuhan! Mazmur 49 berkata, "Orang atasan, orang bawahan, orang kaya, orang miskin, biarlah semua yang bertelinga mendengar firman Tuhan." Pemazmur mengatakan, "Aku akan mengatakan kalimat-kalimat yang berbijaksana melalui kecapi yang aku mainkan. Biarlah orang di aliran atas atau di aliran bawah, semua mendengarkan dengan baik karena ini adalah firman Tuhan." Kadang-kadang Tuhan memberikan pengajaran kepada satu lapisan, kadang-kadang kepada seluruh lapisan dunia ini. Biarlah kita mengerti suara Tuhan melalui Kristus yang lebih menderita dari siapapun yang ada di tengah-tengah kita.

Tidak pernah ada satu orang yang hidup lebih miskin, lebih susah dari Yesus. Lahir di tempat binatang, meminjam palungan yang bau dan hina. Mati meminjam kuburan orang kaya yang belum pernah dipakai untuk menguburkan orang lain. Yesus meminjam kuburan tersebut selama beberapa hari, lalu Ia bangkit. Di tengah-tengah kelahiran dan kebangkitan ada: kesengsaraan, pencobaan, pergumulan, tersendiri dan ditolak, diejek, dan akhirnya dipaku di atas kayu salib. Tidak ada orang yang lebih susah daripada Kristus, tidak ada orang yang lebih miskin dari Kristus, tidak ada orang yang lebih menanggung berat daripada Yesus, tidak ada orang yang lebih tersendiri dibanding Yesus.

Mengapa? Mengapa Anak Allah yang memunyai kemuliaan dan kehormatan demikian besar di Surga, harus turun untuk mencicipi, merasakan, mengalami, melewati semacam kehidupan yang begitu menderita? Begitu banyak sengsara? Jawabannya adalah karena kasih yang mendorong Dia turun dari surga ke dalam dunia. There is no greater love than the greatest love of Jesus Christ, came down from heaven to bear your sin, and hung on the cross to replace you and me. Waktu Yesus lahir ke dalam dunia, mari kita membayangkan apa yang menjadi persiapan hati Dia untuk turun ke dalam dunia.

Pertama, Yesus dilahirkan dengan persiapan hati untuk dibatasi. Kalimat ini begitu mudah dimengerti, begitu mudah dibatasi, tetapi kalau ada orang yang memiliki ketidakterbatasan masuk ke dalam keterbatasan, maka baru ia mengetahui apa artinya "dibatasi". Saya mengambil contoh, jikalau engkau setiap bulan boleh memakai 50 juta untuk kehidupanmu, tapi mulai bulan depan engkau hanya boleh memakai 50 ribu, engkau akan mengerti apa maksud kata "dibatasi" di atas. Bagi orang yang tadinya miskin lalu bebas boleh memakai uang dengan semena- mena, itu merupakan hal yang menyenangkan. Bagi orang yang dulunya terbatas, sekarang mendapatkan kebebasan yang besar, itu menyenangkan. Tetapi Tuhan Yesus tidak demikian.

Orang miskin menjadi kaya, itu enak. Tetapi tidak ada orang yang bisa mengerti bagaimana susahnya Yesus Kristus, karena dari surga yang tidak terbatas Ia menjadi seorang bayi di dalam palungan. Dari Allah yang mencipta menjadi seseorang di dalam dunia ciptaan yang hanya berpuluh kilo berat tubuh-Nya, hanya sekian liter darah di dalam tubuh-Nya dan berjalan di Galilea. Terbatas, terbatas, terbatas oleh apa? Terbatas oleh natural law, terbatas oleh physical law, terbatas oleh material law. Yesus dibatasi dalam hukum alam, hukum fisika, hukum tubuh, hukum materi. Yesus berada di dalam dunia dan hidup dalam keterbatasan. Dia berbeda dengan engkau. Memang engkau manusia dan saya manusia, tetapi Dia adalah Allah, Allah yang turun ke dalam dunia, Allah yang rela dibatasi. Inilah poin yang pertama dari "lahir untuk menderita".

Kedua, ketika Yesus turun ke dalam dunia, Dia siap untuk diikat dan dilimitasi oleh segala hukum Taurat. Kita suka kebebasan. Kalau mengemudi mobil, kita mengharapkan setiap kali sampai di persimpangan jalan, lampu berwarna hijau dan bukan merah. Jika kita mengendarai mobil begitu cepat, tetapi sampai di persimpangan jalan lampunya merah, saya sedikit jengkel. Saya akan mengharapkan lampu cepat-cepat berubah kuning, lalu hijau dan saya langsung akan tancap gas lagi. Yesus bukan saja dibatasi secara hukum alam, dibatasi hukum fisika, tetapi sekarang dibatasi dalam segala hukum Taurat.

Yesus harus berada di bawah pengasuhan Taurat 100%. Alkitab mengatakan, "Mengapakah Yesus dibaptiskan oleh seorang manusia yang namanya Yohanes Pembaptis?" Karena Dia harus menjalankan segala syariat Taurat. Alkitab mengatakan, "Yesus harus menunggu sampai umur 30 tahun, baru keluar menjadi Mesias." Mengapa demikian? Karena menurut Taurat, imam tidak boleh dilantik sebelum umur 30 tahun. Mengapa umur 12 tahun harus berjalan kaki berhari-hari dari Nazaret menuju Yerusalem? Karena Taurat menuntut anak berumur 12 untuk pergi ke Bait Allah dan ditahbiskan menjadi Bar-Mitzvah. Mengapakah Yesus Kristus harus dipaku diatas kayu salib? Karena Dia menanggung dosa engkau dan saya. Menurut Taurat, yang berdosa harus mati. Inilah poin kedua.

Yesus dilahirkan melalui seorang wanita, dilahirkan di bawah penguasaan Taurat. Dalam Matius 5 Yesus mengatakan, `Jangan kira Anak Manusia datang untuk meniadakan Hukum Taurat, bukanlah demikian. Aku datang justru untuk menggenapkan Taurat` Dan Dia harus taat - setiap titik, setiap nada, setiap huruf, setiap garis dan apa yang dicatat di dalam Taurat. Orang-orang Farisi telah memperkembangkan pengertian Taurat dengan teologi orang PL, dimana makin lama makin rumit, makin lama makin complicated. Akhirnya menjadi ribuan topik, ribuan syariat Taurat dan Yesus tidak melanggar satu pun di antara segala perintah- perintah itu. Di dalam sejarah, dalam seluruh dunia, ada satu orang yang pernah menggenapi seluruh Taurat. Bukan orang Yahudi, bukan rabi, bukan orang Farisi, bukan Musa, justru hanya satu orang, yaitu Yesus Kristus. Berapa banyak pemimpin-pemimpin agama yang munafik? Berapa banyak dosa yang disimpan di belakang jubah agama? Berapa banyak pemuka agama yang berbicara suci, tetapi hidupnya najis?

Dalam dunia begitu banyak orang mengetahui Taurat, agama, tetapi justru negara yang paling beragama adalah negara yang paling korupsi. Berapa banyak dosa disimpan di belakang jubah agama? Berapa banyak agama dipakai menjadi suatu kedok atau topeng yang menutup segala dosa? Ketika Yesus Kristus berada di dalam dunia, maka kalimat-kalimat yang paling sengit, perkataan-perkataan yang paling tajam, kritik- kritik yang paling ganas, paling kuat dari Dia dituduhkan kepada pemimpin-pemimpin agama; Celakalah engkau, hai ahli Taurat! Celakalah engkau, hai orang Farisi! Kau pura-pura! Yang kau katakan dan kau jalankan itu berlainan. Tuhan Allah melihat ke dalam sedalam-dalamnya hati sanubari manusia. Dia mengetahui bagaimana hidup kita. Apakah kita setiap minggu datang ke gereja dengan pakaian yang begitu bagus, dengan perkataan yang begitu indah, dengan nyanyian yang begitu merdu, tetapi jiwa kita lebih jahat dan ateis, komunisme dan mereka yang melawan Tuhan? BERTOBATLAH! Supaya kita mendapatkan satu kali lagi perdamaian dengan Tuhan Allah.

Di seluruh kitab Ibrani kalimat yang penting antara lain adalah kesejatian. Sungguh sejati, sungguh benar, menjadi tuntutan tertinggi dari orang-orang Yahudi. Tetapi justru kalimat itulah yang paling banyak dikritik oleh Yesus Kristus: engkau bukan sunat, engkau pura- pura, engkau munafik, engkau palsu adanya. Yesus datang ke dalam dunia, menjalankan hukum Taurat, dan satu titik, satu nada pun tidak dilanggar. Kadang-kadang saya tidak bisa membayangkan jikalau Yesus di dalam dunia selama 33 1/2 tahun, pernah 1 menit atau 1 detik berdosa. Bagaimana jika itu terjadi? Ini menyangkut isu teologis yang penting. Mungkinkah Yesus berbuat dosa di dunia? Selama di dunia 33 1/2 tahun, Dia mungkin berbuat dosa atau tidak? Jawabannya adalah Yes & No!

Jikalau kita mengatakan bahwa Yesus tidak mungkin berbuat dosa, Dia bermain sandiwara, bukan? Dia datang hanya berpura-pura menjadi manusia, padahal Dia tidak mungkin berbuat dosa. Berarti pasti Dia menang, bukan? Kalau demikian, semua pencobaan-pencobaan yang datang kepada Yesus Kristus tidak mempunyai arti apapun. Maka saya berkata, Yesus pasti punya kemungkinan berbuat dosa. Kalau tidak demikian, segala pencobaan yang diijinkan kepada Dia merupakan semacam permainan saja, sandiwara dari Tuhan Allah saja. Tetapi kalau ini dimutlakkan, menjadi bahaya besar. Alkitab mengatakan Yesus tidak berbuat dosa. Alkitab tidak mengatakan Yesus tidak mungkin tidak berbuat dosa. Alkitab hanya mengatakan Yesus tidak berbuat dosa, maka jawaban Yes & No harus dimengerti sebagai berikut: Ontnologically: No!, Logically: Yes! Secara logika, Yesus mungkin berbuat dosa. Secara Ontologikal (secara being), Yesus tidak pernah berbuat dosa. Maka itu hanya menjadi suatu perbincangan teologis yang tidak pernah ada tunjangan dari fakta sejarah. Yesus tidak berdosa, kenapa? Karena Dia sudah menggenapi segala tuntutan Taurat. 100% tuntutan Taurat dijalankan oleh Dia, inilah poin kedua.

Ketiga, Yesus Kristus bersiap turun ke dalam dunia, bersiap untuk dipermalukan dan dihina di dalam dunia. Dalam Lukas dikatakan, "Tidak ada waktu bagi-Nya untuk makan." Kadang-kadang begitu sibuk sampai tidak ada waktu untuk makan, tidak ada tempat untuk berhenti. Pada waktu melayani, sekian banyak orang sakit datang kepada Dia, dan Dia terus melayani. Bukan saja demikian, setelah melayani apa yang menjadi imbalan-Nya? Imbalan-Nya adalah penghinaan, ejekan, olokan, umpatan, fitnahan dari orang yang melawan Dia.

Memang menjadi manusia tidak mudah. Engkau menjadi orang jahat ada banyak pendukungnya, menjadi orang baik banyak musuhnya. Enak yang mana? Menjadi orang baik banyak musuh, tapi menjadi orang jahat ada pendukung. Kalau begini, baik atau jahat sama saja, pokoknya nasib. Kalau engkau berbuat jahat masih banyak pendukung, jahatnya masih sukses. Kalau engkau begitu baik tapi masih banyak musuh, baikmu itu tetap gagal. Maka di dalam dunia ini sudah banyak orang yang hidup beyond good & evil. Tidak lagi mempunyai pikiran "harus berbuat baik atau jahat". Karena hal itu menjadi tidak praktis, tidak harus dipertahankan. Manusia hanya mencari untung dan rugi, tidak mementingkan mencari kebenaran atau tidak. Pemuda pemudi dalam mencari kawan dan sahabat, temuilah mereka dan hargai mereka yang mementingkan baik-jahat lebih daripada mementingkan untung-rugi. Mereka akan menjadi kawan yang sangat berguna. Jikalau engkau hanya berkawan dengan mereka yang mempunyai profit minded only, hanya memperhatikan keuntungan, di dalam keadaan rugi, mereka akan membuang engkau.

Yesus datang ke dalam dunia justru pada waktu paling susah, paling sengsara. Waktu ada keuntungan Dia mundur ke belakang, waktu ada kerugian Dia maju ke depan. Orang seperti ini terlalu sedikit, bukan? Dari mana kita melihat ini? Alkitab mengatakan pada waktu sudah mengenyangkan 5000 orang dengan roti, mereka mengatakan, "Kalau demikian, kita tidak usah lagi memilih raja yang mana, kita tidak perlu lagi memilih presiden yang mana. Ini saja, karena Dia bisa mengenyangkan kita, kalau Dia menjadi presiden, selesai. Sandang, pangan tidak menjadi persoalan lagi." Kalau Yesus menjadi presiden, semua kemiskinan akan dibasmi. Waktu Yesus memunyai kesempatan politik menjadi tempat yang nomor satu, tempat yang paling tinggi, Alkitab mengatakan, "Dia mengundurkan diri, naik ke bukit dan sepanjang malam berdoa kepada Allah." Adakah politikus seperti ini? Adakah pemimpin masyarakat seperti ini? Terlalu sedikit.

Yesus telah memberikan pelajaran kepada kita dan menjadi contoh bagi kita. Waktu ada keuntungan, Ia tidak merebut, waktu ada kesulitan, Dia tampil ke depan. Satu kalimat yang sangat menggerakkan hati saya, yaitu pada waktu di Getsemani Yudas datang dengan musuh-musuh karena uang. Yudas menjual Gurunya. Para musuh, karena iri dan benci, ingin membunuh Yesus Kristus. Pada waktu menangkap Yesus Kristus di Getsemani, Dia mengatakan satu kalimat: "Jika engkau menangkap Aku, biarlah orang-orang-Ku ini pergi." Berarti Dia tidak mau bawahan-Nya dirugikan karena Dia. Orang seperti ini sangat sulit ditemukan. Biasanya seorang yang mempunyai bawahan, bawahan itu boleh mati untuk saya, tetapi saya tidak akan mati untuknya.

Alkitab mengajarkan kepada kita, barangsiapa menjadi pemimpin yang mengorbankan rakyat untuk keuntungan diri, pastilah didongkel habis. Barangsiapa rela berjuang sampai mati untuk rakyat, pasti dijadikan pahlawan. Hanya ada dua macam pemimpin. Yesus pemimpin seperti apa? Yesus pemimpin yang pada waktu hendak ditangkap, diadili, dan dipaku di atas kayu salib, mengatakan: "Kalau engkau mau menangkap Saya, biarkanlah bawahan Saya pergi, lepaskanlah mereka." Pemimpin seperti ini menggerakkan hati manusia selama 2000 tahun. Tidak ada orang lain yang memunyai pengikut lebih banyak seperti Yesus Kristus, yang rela mati bagi kita. Yesus Kristus adalah pemimpin yang menyerahkan diri bagi orang lain, bukan pemimpin yang menyuruh orang lain mati bagi Dia. Inilah butir ketiga.

Keempat, ketika Yesus Kristus turun ke dalam dunia, Ia bersiap untuk menjadi budak yang taat - the Obedient Slave. Dia datang ke dalam dunia menjadi budak. Mengapa? Karena Dia datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani. Yesus Kristus berkata, "Bukankah engkau memanggil Aku Rabbi? Bukankah engkau memanggil Aku Tuhan? Tetapi di tengah-tengah engkau, Aku seperti budak, Aku melayani." Dia betul- betul menyatakan hidup, fakta realita yang tidak bisa disangkal oleh siapapun. Sehari sebelum naik ke atas kayu salib, Dia masih menjongkokkan tubuh, masih membasahkan tangan, dan mencuci kaki murid- murid-Nya. Filipi 2 mengatakan, "Dia taat sampai mati - obey to death." Dia taat sampai mati - lahir untuk taat - taat untuk mati. Inilah Yesus Kristus, inilah inkarnasi. Inilah hari Natal. Inilah yang disebut inkarnasi.

Pada waktu Yesus Kristus dilahirkan dalam dunia, malaikat berkata: "Namai Dia Immanuel." Imanu-el. El adalah Elohim, El adalah Allah, El adalah Tuhan Allah, dan Imanu berarti beserta - Tuhan beserta dengan kita. Kehadiran Kristus adalah kehadiran Allah. Kehadiran Kristus adalah kehadiran surga. Kehadiran Kristus adalah kehadiran semangat inkarnasi. Kehadiran Kristus adalah kehadiran pengorbanan. Kehadiran Kristus adalah kehadiran teladan, contoh, rela menyerahkan diri. Tuhan di surga akan melihat siapa yang seperti Anak Sulung-Nya. Anak-anak Allah, belajarlah dari Kakakmu yang sulung. Siapakah Anak Sulung? Siapakah Anak Sulung yang lebih daripada kita sebagai anak-anak Allah? Dia adalah Yesus Kristus. Sebagaimana anak sulung taat mutlak 100% kepada Allah, Tuhan mengatakan, "Alangkah bersukacitanya jikalau menemukan di dalam gereja ada orang Kristen yang taat kepada Tuhan."

Jangan kira Tuhan memerlukan uang kita, persembahan kita, sepertinya Dia pengemis yang paling besar. Segala sesuatu yang kau berikan kepada Tuhan adalah dari Tuhan Allah dan apa yang kau persembahkan tidak pernah satu sen pun dikirim ke surga. Itu hanya dipakai untuk sesamamu di dunia, di dalam berbakti, di dalam menginjili, di dalam diakonia, di dalam kesulitan dan di dalam segala pekerjaan yang membawa manusia kembali kepada kebenaran. Tuhan tidak memerlukan uang persembahanmu dan persembahanku untuk menyambung hidup-Nya. Tidak! Lalu mengapa Tuhan memberikan kepada kita kesempatan untuk mempersembahkan sesuatu? Itu untuk menguji sejauh mana ketaatanmu kepada-Nya. Itu adalah kesempatan, dimana kita boleh belajar seperti Yesus Kristus, menjadi anak Allah yang taat.

Dalam Kitab Samuel dikatakan, ketaatan lebih indah dari persembahan. Kau mempersembahkan segala sesuatu lalu memberontak, lalu melawan Tuhan, Tuhan akan menanyakan kepadamu, "Apakah engkau mengira Aku memerlukan uangmu? Yang Aku tuntut daripadamu adalah hidup taat. Jalankan kehendak-Ku, sesudah itu baru memberikan persembahan kepada- Ku." Puji Tuhan, Yesus menjadi contoh ketaatan!

Itu sebabnya Ibrani 5:7-8 mengatakan, "Meskipun Dia adalah anak, Dia telah memelajari ketaatan melalui penderitaan supaya menjadi sempurna dan akhirnya boleh menjadi sumber keselamatan bagi segala bangsa yang taat kepada Dia." Our obedience in Jesus Christ is our obedience to the Lord, through Jesus" obedience to His Father - Ketaatan kita kepada Yesus Kristus adalah ketaatan kita kepada Allah Bapa melalui ketaatan Kristus yang menjadi contoh. Dia adalah sumber dan dasar ketaatan. Dia adalah pangkalan dan fondasi ketaatan. Dia adalah segala ketaatan kita terhadap Dia. Ketaatan kita hanya diakui dan diterima oleh Allah Bapa, melalui ketaatan Anak-Nya yang tunggal. Yesus Kristus sebagai Anak Sulung yang membawa kita untuk menerima hak menjadi anak karena ketaatan kepada Dia. Inilah butir yang keempat.

Butir kelima, Yesus dilahirkan dengan mempersiapkan diri untuk dibuang, untuk diejek, ditolak, untuk tidak diterima dengan baik, untuk dilupakan dan untuk dilawan oleh orang. Sedikit bukan, orang melahirkan anak dan membiarkan anaknya boleh diejek, ditolak, difitnah, diumpat, dikritik dan dilawan oleh banyak orang seperti Yesus Kristus? Pada waktu Yesus masih kecil, kira-kira berumur 11 tahun, terjadi satu hal di kota asal-Nya, yaitu Nazaret. Kota Nazaret, karena melawan Kaisar Roma, mengakibatkan lebih dari 100 orang digantung di kayu salib. Di pinggir jalan sepanjang Nazaret, orang- orang itu ditancapkan seperti tiang lampu, satu orang demi satu disalibkan. Bayangkan bagaimana Yesus berumur 11 tahun, masih kecil, berjalan-jalan dengan kawan-kawan-Nya. Di tengah-tengah jalan Dia melihat banyak kayu salib yang dipancangkan di situ. Dia menemukan arti itulah orang yang dipaku di atas kayu salib. Untuk pertama kalinya suatu fakta yang begitu riil, begitu kejam, begitu mengerikan, masuk ke dalam impression Yesus Kristus sebagai kanak-kanak. Dan Dia berkata, "Memang Aku datang untuk menjalankan kehendak Tuhan Allah."

Di SAAT (Seminari Alkitab Asia Tenggara), ada sebuah ukiran yang melukiskan Yesus sebelum disalib, dua perampok sudah berada di atas, dan Yesus belum dipaku. Dia sedang berdiri, salib sudah ditaruh di tempat tersebut dan orang yang membawa palu sudah berada di dekat situ. Detik terakhir Yesus menengadah ke atas langit dan ada cahaya yang datang dari langit kepada Dia. Dia membuka mulut-Nya seolah-olah berkata, Ya Bapa, Aku datang untuk menjalankan kehendak-Mu." Lukisan itu sangat mempengaruhi pelayanan saya.

Mudahkah menjalankan kehendak Tuhan? Tidak mudah! Jikalau engkau mau menjalankan kehendak setan, itu mudah. Jika engkau mau mentaati Tuhan, tidak mudah. Engkau harus bersiap. Bersiap untuk apa? Untuk diejek orang, dibuang orang, dihina orang, difitnah, diumpat orang.

Pada waktu seseorang dalam kongres internasional mengatakan, "Do you know who is the most criticized Christian in the world? Siapakah yang paling banyak dikritik di seluruh dunia?" Saya katakan, "I don`t know." Jawabannya adalah Billy Graham. Dia yang melayani Tuhan begitu besar, tapi dikritik, dimaki, dihina, diejek sana-sini. Saya bayangkan: mungkin kalau orang mempunyai banyak kawan, sekaligus mempunyai banyak lawan. Tetapi pernahkah Billy Graham diejek seperti Yesus Kristus? Tidak!

Yesus dipukul, dihina, dipasang mahkota duri! Waktu masih muda, Dia diejek, Ini anak haram. Mama-Nya tidak malu, tidak menikah tapi sudah bersetubuh sampai melahirkan-Nya." Kalimat-kalimat yang menusuk hati- Nya sejak kecil, Dia tahu semuanya. Padahal itu adalah mujizat terbesar dalam dunia genetika, yaitu Maria, anak dara yang tidak menikah, dinaungi oleh Roh Kudus melahirkan Firman ke dalam dunia. Semua tusukan perkataan, hinaan, fitnahan, ejekan diterima-Nya. Yesus, seumur hidup, selama 33 1/2 tahun dan detik-detik di kayu salib masih mendengar mereka berkata, "Turun! Turun dari salib! Jikalau Allah adalah Bapa-Mu, Dia akan menyelamatkan Engkau. Hai Tabib, Engkau bisa menyembuhkan orang lain, tapi tidak bisa menyembuhkan diri-Mu sendiri? Turun! Jika Kau turun, aku percaya kepada-Mu!" Yesus turun atau tidak? Tidak! Mengapa tidak? Karena Dia tahu, kalau Dia turun, hari ini engkau dan saya hanya menunggu masuk neraka. Dia tidak boleh turun, Dia harus menjalankan kepahitan itu. Menerima penderitaan, kesengsaraan itu sampai tuntas. Dia harus menghabisi setiap tetes kepahitan dari kemarahan Tuhan yang dijatuhkan kepada orang berdosa. Padahal Dia yang tidak berdosa telah dijadikan dosa. Karena engkau dan saya, Dia tidak turun. Yesus menerimanya dan karena ini Dia dilahirkan untuk menderita. Ini adalah butir yang kelima.

Butir keenam, Yesus dilahirkan untuk diadili secara tidak adil. Waktu Yesus berada di dalam dunia, Dia berada dalam posisi orang berdosa. Padahal Dia tidak berdosa. Kalau kita masuk ke dalam kamar Intensive Care Unit (ICU), biasanya kita disuruh memakai pakaian rumah sakit, setelah itu baru masuk. Waktu saya masuk ruangan ICU, mendoakan orang sakit, dan memakai pakaian itu saya merasa tidak enak sekali. Saya rasa tidak sakit, dan ini bukan bajuku. Demikian juga kalau kita masuk ke dalam penjara, disuruh membuka jas dan memakai baju penjara baru boleh berkhotbah. Waktu saya memakai baju penjara, saya masuk dan semua orang melihat saya. Stephen Tong masuk penjara. Saya katakan, "Saya tidak masuk penjara yah, ini cuma mau berkhotbah, maka disuruh memakainya, nanti dicopot lagi." Itulah perasaan Yesus Kristus. Waktu Yesus turun ke dalam dunia bersalut dengan daging. Dia bersalutkan daging dari orang berdosa. Padahal Dia tidak berdosa. Ini tidak adilnya. Yang tidak berdosa bersalut dengan daging, berpeta teladan orang berdosa. Ini dicatat dalam Roma 8:3.

Dalam Filipi 2 ada istilah "Peta Teladan Budak", juga ada istilah "Peta Teladan Allah", dan di dalam Roma 8:3 "Peta Teladan Berdosa". Yesus Kristus adalah peta teladan Allah yang asli, dimana kita semua dicopy dari Dia, sehingga kita menurut Peta Teladan Allah. Tetapi yang asli telah datang ke dalam dunia memakai peta teladan budak dan peta teladan dosa. Sewaktu saya membaca Roma 8:3, Filipi 2:5-7, saya ingin menangis, karena Dia yang tidak berdosa harus berpeta teladan seperti itu mengganti engkau dan saya, supaya satu hari nanti kita boleh melepaskan peta teladan orang berdosa dan peta teladan budak, lalu boleh mendapatkan kebebasan, kemerdekaan peta teladan Allah. Inilah butir keenam. Dia diadili.

Selama 24 jam, Dia diadili 6 kali oleh 4 macam manusia. Yang pertama, Herodes, mewakili politik yang tidak beres. Kedua, Pilatus, yang mewakili korupsi antara hukum dan politik. Ketiga, diadili oleh orang Yahudi yang mewakili massa yang buta. Keempat, Dia diadili oleh imam besar yang mewakili agama yang munafik. Yesus, di dalam 24 jam itu, sepanjang malam setelah keluar dari tempat perjamuan suci menuju Getsemani, setelah berdoa 3 kali, Dia meneteskan keringat seperti darah, "O, Bapa, singkirkan cawan ini daripada-Ku." Sesudah itu Ia mengatakan,"Kehendak-Mu yang jadi, bukan kehendak-Ku." Lalu Yesus dibawa, sepanjang macam 6 kali diadili dan Dia tidak mengeluarkan satu kalimat pun membela diri. Satu kalimat pun tidak keluar dari mulut Yesus untuk membela diri. Dia diam, menyerahkan diri di hadapan Allah yang Maha Adil. Biar diejek, dipukul, ditolak dihakimi, dihina, namun Dia tinggal diam.

Sampai pada kesempatan-Nya, Dia baru berbicara. "Apakah Kau Anak Allah?" Dia menjawab, "Ya." "Apakah Kau raja orang Yahudi?" "Ya." Yesus tidak boleh tidak mengatakan "Ya" pada saat-saat itu. Jikalau Yesus menyangkal, berarti seluruh ajaran-Nya selama 3 tahun itu adalah omong kosong. Yesus, pada saat paling krisis, harus mempertahankan kebenaran yang tidak tergoncangkan. Memang Saya Anak Allah. Memang Saya Kristus. Memang Saya dilahirkan sebagai Raja. Dia menjawab pemimpin-pemimpin agama, pemimpin-pemimpin politik, dengan kalimat yang tegas. Dan hal itulah yang mengakibatkan Dia harus mati, tapi Dia sudah bersedia karena memang Dia dilahirkan untuk diadili.

Terakhir, Yesus dilahirkan untuk dikorbankan di atas kayu salib. Dilahirkan untuk dipaku di atas Golgota. Dilahirkan untuk mati. Kita semua yang pernah menjadi ayah dan ibu, mengetahui bagaimana bersukacita mendapatkan anak, bukan? Pada waktu anak itu lahir, apa perasaanmu? Oh, semua orang yang pertama kali menjadi ayah mempunyai perasaan, "Saya menjadi papa, loh!" Hati menjadi sangat senang. Siapa yang pada saat memperoleh anak mengatakan, "Anak kalau sudah dilahirkan, besok akan mati." Di hari pertama tentunya tidak ada yang berbicara seperti ini, bukan? Hanya ada satu orang yang dilahirkan pasti mati dan matinya bukan karena dosa sendiri. Mati karena orang lain. Siapakah? Yesus Kristus.

Mari kita merenungkan kembali malam pertama Natal. Perasaan-perasaan di surga, ada 2 macam. Satu macam perasaan adalah perasaan Sang Bapa dan Roh Kudus, Oknum pertama dan ketiga Allah Tritunggal. Mereka melihat oknum kedua turun ke dalam dunia dan dengan segala keadaan yang serius menunggu bagaimana manusia menyambut Yesus Kristus. Dia tidak diterima di hotel yang indah, Dia tidak diterima di dalam istana, tetapi Dia diterima di kandang binatang. Pada waktu hari Natal, kita melihat kandang binatang di sini, coba lihat, bagus... bersih... Baunya juga enak. Tapi waktu Yesus lahir bukan di tempat seperti ini! Ini cuma modelnya. Ada orang membuat baju gembala bagus sekali. Saya kira itu tidak benar. Mesti membuat baju gembala seperti pengemis karena gembala-gembala waktu itu memang miskin. Sekarang kita memperindah semuanya, pohon Natal indah, semua indah. Ini semua omong kosong!

Ketika lahir di dunia, Yesus betul-betul berada di tempat binatang, bau, kotor. Kalau pada hari pertama Yesus lahir, engkau berada di kandang, pasti engkau lari. Apalagi yang suka pakai parfum. Engkau menjadi orang "Kristen Parfum", mau pikul salib? Saya tidak percaya engkau bisa memikul salib. Omong-kosong. Itulah poin terakhir, Dia dilahirkan untuk mati. YESUS KRISTUS DILAHIRKAN UNTUK MENDERITA. (H D)

Sumber: 

Diambil dari:

Nama buletin : Momentum, Edisi 45 -- Triwulan IV, 2000
Penulis : HD
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta
Halaman : 3 -- 13

Diselamatkan dalam Pengharapan (3)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Berikut adalah bagian terakhir dari artikel bersambung tulisan Charles Spurgeon yang saya kirimkan untuk e-Reformed. Saya sangat kagum dengan kekayaan kata-kata Spurgeon yang menjelaskan tentang pengharapan akan keselamatan yang kekal. Luar biasa! Bagi Anda yang mungkin saat ini sedang memikirkan kematian yang menakutkan, saya sangat sarankan Anda untuk membaca keseluruhan artikel ini dan mencernanya dengan perlahan- lahan. Anda akan merasakan jiwa Anda perlahan-lahan mengalami kelegaan dan sukacita akan merayapi pikiran dan hati Anda. Terpujilah Tuhan Yesus Kristus, Allah yang kekal!

Selamat membaca dan jangan takut mati lagi.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Penulis: 
Charles Spurgeon
Edisi: 
130/Juli 2012
Tanggal: 
05-07-2012
Isi: 

Diselamatkan dalam Pengharapan (3)

Menantikan Pengharapan Kita

Dalam kenyataannya, kita telah menerima keselamatan yang lebih besar, yang tentangnya telah saya tuliskan. Ini terjadi ketika kita pertama kali mengerti dan menerima pengharapan akan kehidupan kekal. Dengan iman, kita telah memperoleh bagian pertama dari keselamatan, yaitu pengampunan dari dosa dan pembenaran melalui Kristus. Dan oleh iman, kita juga memiliki persekutuan dengan Allah, dan jalan masuk menuju berkat-berkat-Nya yang tak terhingga. Beberapa dari kita menyadari hal ini sama seperti kita makan dan minum. Tetapi, di samping semuanya ini, melalui pengharapan kita, kita telah menerima uang muka dari jangkauan keselamatan yang lebih penuh, yaitu pembebasan total dari dosa dan penebusan sempurna tubuh kita dari rasa sakit dan kematian. Kita memiliki keselamatan ini dalam pengharapan dan kita "bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah." (Roma 5:2) Nah, apa arti semuanya ini?

Dalam pengharapan kita, kita melihat bahwa keselamatan telah dijamin bagi kita oleh janji kasih karunia. Segera saat kita percaya dalam Kristus, iman kita menjamin pengampunan bagi kita dan kita berseru, "Kami belum dibebaskan dari kecenderungan kami untuk berdosa, tapi karena kami telah percaya di dalam Kristus untuk keselamatan, kami pasti akan disempurnakan. Dia tentu saja tidak akan memberikan kepada kami keselamatan yang sebagian saja dan tidak sempurna. Dia akan menyempurnakan segala sesuatu yang menyangkut kami." Dalam pengharapan, kita melihat banyak hal yang belum kita alami dalam janji keselamatan. Mengetahui bahwa keseluruhan janji tersebut sama pastinya, kita mengharapkan belas kasihan yang akan datang sama pastinya seperti di dalam iman, kita menikmati berkat di masa kini.

Lebih lagi, dalam pengharapan, kita melihat janji tuaian penuh di dalam hasil pertama. Dosa telah ditaklukkan oleh kasih karunia, tapi kita berharap untuk melihatnya benar-benar dimusnahkan. Ketika Roh Kudus datang untuk tinggal di dalam kita, pengharapan kita menyimpulkan bahwa tubuh akan dibebaskan sepasti jiwa telah dibebaskan. Saat iman memperkenalkan pengharapan ke dalam hati, pengharapan berkata, "Aku telah menyelesaikan keselamatan bukan dalam pengertian bahwa aku sedang mengalaminya sekarang, tapi Kristus Yesus menyimpannya untukku."

Seperti imam dalam Perjanjian Lama melambaikan berkas hasil pertamanya di hadapan Tuhan sebagai sebuah persembahan yang berkenan, kita, dalam pengharapan, memberikan hasil pertama dari iman kita kepada Tuhan, dan dengan demikian mengambil kepemilikan atas tuaian penuh keselamatan. Ketika Allah memberikan kepada Anda dan saya kasih akan Yesus dan pembebasan dari kuasa jahat, hasil pertama ini menandakan sebuah keselamatan yang sempurna, yang masih harus disingkapkan di dalam kita. Sukacita pertama kita dalam keselamatan adalah seperti menyetem harpa kita untuk lagu abadi. Kedamaian pertama kita adalah seperti cahaya fajar yang tak pernah berakhir. Ketika kita pertama kalinya melihat Kristus dan menyembah Dia, kekaguman kita adalah tahap awal penyembahan di hadapan takhta Allah dan Anak Domba. Karena itu di dalam pengharapan, kita diselamatkan. Pengharapan membawakan bagi kita sumber kesempurnaan, janji akan kekekalan, permulaan akan kemuliaan.

Lebih lagi, di dalam pengharapan, kita begitu yakin mengenai berkat yang akan datang ini, sehingga kita menganggap bahwa itu sudah diperoleh. Misalkan Anda mendapat konfirmasi dari seorang pedagang, yang dengannya Anda telah mengadakan bisnis luar negeri. Dia berkata, "Barang-barang yang Anda pesan sudah ada dan saya akan mengirimkannya dengan kapal berikutnya, yang kemungkinan akan tiba hari ini." Kemudian pedagang yang lainnya menghubungi dan bertanya kepada Anda, apakah Anda ingin membeli jenis barang yang sama, maka Anda menjawab, "Tidak, saya sudah memilikinya." Apakah Anda telah mengatakan yang sebenarnya? Tentu saja, karena meskipun Anda belum memilikinya di dalam gudang Anda, barang-barang itu telah dibuatkan fakturnya untuk Anda. Anda tahu bahwa barang-barang itu sedang dalam perjalanan, dan Anda begitu terbiasa memercayai pedagang asing Anda, sehingga Anda menganggap barang-barang tersebut sebagai milik Anda. Perjanjian telah dibuat bahwa barang-barang itu milik Anda.

Demikian juga halnya dengan surga, kesempurnaan, dan kekekalan. Perbuatan yang telah dilakukan membuat hal-hal ini menjadi warisan orang-orang percaya. Kita memiliki peneguhan dari Pribadi yang tidak dapat kita ragukan, Tuhan kita Yesus, bahwa Dia telah pergi ke surga untuk menyiapkan sebuah tempat bagi kita, dan bahwa Dia akan datang kembali dan menerima kita sebagai kepunyaan-Nya. Dalam pengharapan, kita begitu yakin terhadap fakta ini, sehingga kita menganggap bahwa itu telah terlaksana. Kita juga bisa menarik kesimpulan-kesimpulan praktis dari pengharapan kita.

Sebuah peribahasa lama mengatakan, "Jangan menghitung laba sebelum berusaha." Namun dalam kasus ini, Anda boleh menghitung labanya sementara berusaha, karena Rasul Paulus mengatakan, "Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita." (Roma 8:18) Dia begitu yakin terhadap pengharapan akan kehidupan kekal, sehingga dia menuliskannya. Dia menuliskan penderitaan hidupnya di dalam kolom pengeluaran, dan menempatkan kemuliaan yang akan dinyatakan di antara aset-asetnya. Dia menyatakan bahwa aset-asetnya sangat banyak, tetapi pengeluarannya begitu tidak penting sama sekali, sehingga mereka tidak layak untuk diperhatikan.

Lebih lagi, Rasul Paulus begitu yakin bahwa dia akan menerima warisannya, sehingga dia sangat merindukannya. Kita yang berada di dalam tubuh ini mengerang untuk pengangkatan penuh kita sebagai anak-anak Allah. Erangan kita tidak muncul dari keraguan tapi dari keinginan yang kuat. Pengharapan kita yang pasti menyebabkan kita memiliki keinginan yang kuat untuk menerima apa yang telah dijanjikan kepada kita. Tidak ada gunanya menangisi apa yang tidak akan pernah Anda miliki. Seorang anak yang menangis karena dia tidak dapat memiliki bulan adalah kebodohan. Tetapi mengerang untuk sesuatu yang saya yakin akan diterima adalah layak dan pantas dan menunjukkan kekuatan iman saya.

Rasul Paulus begitu yakin bahwa dia menerima pengharapan keselamatannya, sehingga dia berkemenangan di dalamnya. Dia mengatakan bahwa kita "lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Roma 8:37) Dengan kata lain, meskipun kita belum sempurna, dan meskipun tubuh kita belum dibebaskan dari rasa sakit, kita begitu yakin akan kesempurnaan dan pembebasan sepenuhnya, sehingga kita dengan penuh sukacita menanggung segala sesuatu, menang atas setiap kesukaran.

Saudara, Anda tidak akan miskin lebih lama lagi. Anda akan hidup di mana jalan-jalannya terbuat dari emas. Kepala Anda tidak akan sakit lebih lama lagi, karena kepala Anda akan mengenakan sebuah mahkota kemuliaan dan kebahagiaan. Jangan izinkan rasa malu mengganggu Anda, karena orang-orang tidak akan mampu menertawakan Anda lebih lama lagi. Anda akan berada di sebelah kanan Allah Bapa, dan kemuliaan Kristus akan melingkupi Anda selamanya. Merupakan suatu berkat yang tak terhingga bahwa kita memiliki sebuah pengharapan yang demikian, dan begitu yakin akannya, sehingga kita menanti-nantikan sukacita darinya sebelum itu benar-benar datang kepada kita. Ya, kita diselamatkan dalam pengharapan.

Ruang Lingkup Pengharapan Kita

Ruang lingkup pengharapan kita adalah "segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1) Seperti yang dikatakan ayat firman Tuhan, "pengharapan yang dilihat bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?" Oleh karena itu, yang menjadi milik orang Kristen yang sesungguhnya bukanlah apa yang dia lihat. Itu dapat diumpamakan dengan Tuhan yang membuat seorang Kristen menjadi makmur di dunia ini dan dia memiliki kekayaan. Menjadikan dia bersyukur, tapi juga membuat dia mengakui bahwa ini semua bukanlah hartanya. Satu jam bersama Tuhan Yesus Kristus akan memberi lebih banyak kepuasan bagi orang percaya daripada sejumlah besar kekayaan. Meskipun orang percaya mungkin makmur di dunia ini, dia akan menertawakan gagasan untuk membuat dunia sebagai warisannya. Seribu dunia, dengan seluruh sukacita yang dapat mereka berikan, tidak ada artinya dibandingkan dengan warisan yang dijanjikan kepada kita. Pengharapan kita bukanlah mengenai hal-hal yang tidak berarti. Pengharapan kita membubung tinggi pada sayap rajawali, di mana sukacita yang lebih mulia sedang menanti untuk diterima.

Melampaui, melampaui langit yang lebih rendah ini, Di atas sana adalah tempat di mana zaman kekal berputar-putar; Di mana kesenangan-kesenangan yang mendalam tidak pernah mati, Dan buah-buah kekekalan menyenangkan jiwa.

Namun, jelas bahwa pada masa kini, kita tidak menikmati hal-hal mulia yang kita harapkan ini. Orang-orang tidak percaya mengatakan, "Di mana pengharapanmu?" Dan kita mengakui bahwa kita tidak melihat objek-objek pengharapan kita. Contohnya, kita tidak dapat mengklaim bahwa kita sudah sempurna. Ataupun kita berharap menjadi sempurna sewaktu kita berada di dalam tubuh ini. Tetapi kita percaya bahwa kita akan disempurnakan dalam gambar Kristus pada waktu yang ditentukan oleh Bapa. Bukan berarti tubuh kita sama sekali terbebas dari penyakit saat ini. Sakit-penyakit dan keletihan mengingatkan kita bahwa tubuh kita berada di bawah kuasa kematian karena dosa. Namun, keyakinan teguh kita adalah bahwa kita akan mengenakan rupa surgawi, sama seperti kita sekarang mengenakan rupa duniawi.

Inilah subjek-subjek dari pengharapan, dan karena itu mereka melampaui pengalaman kita saat ini. Biarlah kita tidak menjadi patah semangat tentang hal ini. Pengharapan harus memiliki sesuatu untuk dimakan. Kita tidak dapat memiliki seluruh surga namun tetap berada di bumi. Saudara seiman yang terkasih, jika Anda merasa disiksa oleh dosa di dalam Anda dan kekudusan Anda tampak terpukul dan ternoda, Anda dapat sepenuhnya yakin bahwa Dia yang telah menjanjikan keselamatan yang sempurna, sanggup untuk melakukannya.

Jangan lagi menilai diri Anda sendiri dengan apa yang Anda lakukan, Anda lihat, Anda rasakan, atau siapa Anda. Bangkitlah menuju ruang lingkup berbagai hal yang akan terjadi. Ketika tidak ada sukacita di masa kini, Anda bisa tahu bahwa ada sukacita yang tak terbatas di masa depan. Jangan katakan, "Oh, tapi itu masih lama waktunya." Itu tidak benar. Banyak orang yang membaca buku ini mungkin berusia enam puluh, tujuh puluh, atau bahkan delapan puluh tahun. Waktu Anda untuk bersama Kristus tidak pernah terlampau jauh, karena benang kehidupan Anda putus. Beberapa dari kita berusia paruh baya, tapi karena kita telah mencapai usia kehidupan rata-rata, kita harus mengakui bahwa kesempatan kita akan segera berakhir juga. Dan, karena begitu banyak orang diambil pada usia terbaik mereka, kita mungkin dapat ditangkap menuju negeri yang kita harapkan kapan saja.

Kita seharusnya tidak khawatir mengenai apa yang akan kita lakukan sepuluh tahun dari sekarang, karena sangat besar kemungkinannya dari waktu itu kita telah masuk menuju perhentian yang dijanjikan. Kita akan melayani Tuhan siang dan malam di bait-Nya, dan akan memandang wajah-Nya dengan sukacita yang tak terkatakan. Bahkan, jika beberapa dari kita harus dihukum dan dibuang dari surga selama lima puluh tahun, waktu tersebut akan segera berakhir.

Marilah kita bekerja sekuat-kuatnya bagi kemuliaan Tuhan selagi kita masih berada di bumi ini, karena waktu-waktu itu akan berakhir. Apakah Anda ingat waktu ini tahun lalu? Tampaknya itu baru saja terjadi kemarin. Anak-anak perempuan dan laki-laki berpikir bahwa satu tahun merupakan waktu yang panjang, tapi orang-orang yang lebih tua memiliki opini yang berbeda. Tahun-tahun tidak lagi kelihatan panjang bagi kita, karena kita sedang bertumbuh semakin tua. Bagi saya, waktu bepergian begitu cepat, sehingga as rodanya panas karena kecepatannya.

Ketakutan berseru, "Oh, tinggal sedikit ruang untuk bernapas!" Tetapi pengharapan menjawab, "Tidak, biarkan tahun-tahun berlalu, karena dengan demikian kita akan lekas tiba di rumah."

Hanya ada selangkah antara kita dengan surga. Janganlah kita khawatir tentang hal-hal yang ada di bawah. Kita sama seperti orang-orang yang menaiki kereta api ekspres, yang melihat pemandangan yang tidak menyenangkan dari jendela; pemandangan tersebut hilang sebelum mereka memiliki waktu untuk memikirkannya. Dan, jika mereka mengalami ketidaknyamanan di sepanjang perjalanan, jika mereka ditempatkan di kelas tiga padahal mereka memiliki tiket kelas satu, mereka tidak mengkhawatirkan hal itu jika itu adalah perjalanan yang singkat. "Tidak apa-apa," kata mereka. "Kami baru saja melewati stasiun terakhir dan tidak lama lagi akan tiba di terminal."

Mari kita memproyeksikan diri kita sendiri menuju masa depan. Kita tidak memerlukan banyak dinamit imajinasi untuk mengirim kita ke sana. Kita dapat melompati jarak yang pendek itu dengan pengharapan dan mendudukkan diri kita di antara takhta-takhta di atas. Putuskan, paling tidak untuk hari ini, bahwa Anda tidak akan tetap tinggal dalam kerangka berpikir dunia yang tidak jelas, tapi akan naik menuju kekekalan yang cemerlang dan jelas. Oh, tinggalkan aliran-aliran yang berlumpur ini, dan berendamlah di dalam sungai pengharapan, di mana airnya sejernih kristal mengalir dari air mancur sukacita ilahi yang murni.

Efek dari Pengharapan Kita

Sekarang mari kita lihat efek dari pengharapan kita, yang digambarkan ayat Alkitab demikian: "Kita dengan sabar menantikannya." Kita menanti dan kita harus menanti, tapi tidak seperti penjahat yang menantikan hukuman mati mereka. Kita menanti seperti seorang mempelai wanita yang mengharapkan pernikahannya. Kita menanti dengan kesabaran, kekonsistenan, kerinduan yang kuat, dan penundukan diri. Sukacita pasti akan datang; kita tidak meragukannya. Karena itu, kita tidak mengeluh dan menggerutu, seakan-akan Tuhan telah melalaikan janji-Nya dan telah menunda kita dengan tidak semestinya. Tidak, waktu yang telah Tuhan putuskan adalah yang terbaik, dan kita puas dengannya.

Kita seharusnya tidak menginginkan untuk tetap tinggal di sini ataupun pergi dari dunia ini kapan saja, kecuali pada waktu yang ditetapkan Tuhan. Rowland Hill, pembaru kartu pos Inggris, dikatakan harus mencari seorang teman berusia lanjut yang sedang sekarat, supaya dia dapat mengirimkan sebuah pesan kepada teman-temannya yang berada di surga. Dengan kata-kata lucu, dia menambahkan sebuah kata pengharapan agar sang Tuan tidak melupakan si tua Rowland, dan mau mengizinkan dia kembali "ke rumah" pada waktunya. Namun, dia tidak pernah memimpikan bahwa sesungguhnya dia bisa tertinggal. Di antara ucapan-ucapan terakhir dari John Donne yang terkenal adalah berikut ini: "Saya sedih bila saya mungkin tidak mati." Memang ini akan menjadi sebuah dunia yang mengerikan jika kita dihukum untuk hidup di dalamnya selamanya. Bayangkan kenyataan yang mengerikan seperti itu.

Saya bertemu dengan seorang pria beberapa waktu yang lalu, yang memberi tahu saya bahwa dia tidak akan pernah mati, tapi pada jangka waktu tertentu, akan menanggalkan efek-efek penuaan dan memulai fase baru kehidupan. Dia dengan berbaik hati datang untuk memberi tahu saya bagaimana saya dapat menikmati hal yang sama, tapi karena saya tidak memiliki ambisi untuk kekekalan duniawi, tawaran seperti itu tidak menggoda saya. Dia memberi tahu saya bahwa dia bisa memperbarui keremajaan saya dan menjadi muda kembali selama beratus-ratus tahun, tapi saya menolaknya. Saya tidak memiliki keinginan pada apa pun yang berlangsung hanya sementara saja. Harapan yang paling menyenangkan saya tentang kehidupan ini adalah bahwa itu akan beralih menjadi kehidupan yang kekal.

Bagi saya, hal yang paling menggembirakan tentang kehidupan yang paling penuh dengan sukacita di bumi ini adalah bahwa itu mengangkat kita ke suatu keadaan yang berbeda dan lebih baik. Saya bukannya tidak bahagia atau tidak puas, pengharapan yang baik bahwa jiwa dan tubuh saya akan disempurnakan, dan sebuah harapan yang pasti bahwa saya akan bersekutu muka ke muka dengan Allah, bagaimana mungkin saya bisa mengucapkan sesuatu yang baik tentang hal apa pun yang memisahkan saya dari sukacita saya itu?

Ya, kehidupan kekal pasti akan datang; karena itu, biarlah kita bersabar menantikannya. Ketika setan menyerang kita, ketika godaan mengancam untuk mengalahkan kita, ketika penderitaan melelahkan kita, ketika keraguan menyiksa kita, biarlah kita berdiri teguh dan menanggung pencobaan sementara itu, karena kita segera akan terbebas dari semuanya itu. Penyempurnaan akan datang; itu harus datang, dan ketika itu datang, kita tidak lagi akan mengingat penderitaan kita lagi. Kita akan dipenuhi dengan sukacita, karena surga telah dilahirkan bagi kita dan kita bagi surga.

Lalu sekarang, jika Anda tidak percaya kepada Tuhan, beri tahu saya apa pengharapan Anda. Biarkan itu diketahui dan biarkan setiap orang menilainya. Apakah pengharapan Anda? Hidup lebih lama? Ya, kemudian apa? Membesarkan sebuah keluarga? Ya, kemudian apa? Melihat anak-anak Anda hidup nyaman? Ya, kemudian apa? Menjadi kakek-nenek dari cucu-cucu yang banyak? Ya, kemudian apa? Menghabiskan masa pensiun penuh kedamaian pada usia yang sangat lanjut? Ya, kemudian apa? Waktu berakhir. Kuburan. Takhta Allah. Roh Anda dihukum. Sangkakala kebangkitan terdengar. Penghukuman terakhir. Tubuh dan roh di neraka selamanya.

Tanpa Kristus, Anda tidak memiliki pengharapan yang lebih baik dari pada itu. Saya memohon dengan sangat kepada Anda untuk membuka mata Anda dan melihat apa yang harus dilihat. Kiranya Tuhan berbelas kasihan kepada Anda, dan memberikan sebuah pengharapan yang lebih baik kepada Anda. Bagi Anda yang memercayai Kristus, saya mendorong Anda untuk mulai menyanyikan lagu-lagu kehidupan kekal. Ringankan kehidupan ziarah Anda dengan lagu-lagu Pengharapan.

(selesai)

Sumber: 

Diambil dari:

Judul asli buku :Finding Peace in Life`s Storms
Judul buku :Menemukan Kedamaian dalam Badai Kehidupan
Judul artikel :Diselamatkan dalam Pengharapan
Penulis :Charles Spurgeon
Penerjemah :Marlina Nadeak
Penerbit :Light Publishing, 2009
Halaman :1 -- 27

Diselamatkan dalam Pengharapan (2)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Berikut adalah lanjutan artikel e-Reformed edisi 128. Doa saya, kiranya artikel yang kita baca ini semakin memberanikan kita untuk menyongsong hari kematian jasmani, karena tubuh sempurna sudah menanti bagi kita, dimana kita tidak lagi akan mengalami sakit penyakit dan kelemahan badan. Dan kita akan hidup bersama DIA yang memberikan keselamatan sempurna. Soli Deo gloria!

Selamat menyimak.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Penulis: 
Charles Spurgeon
Edisi: 
129/Juni 2012
Tanggal: 
30 Juni 2012
Isi: 

Diselamatkan dalam Pengharapan (2)

Penebusan Tubuh Kita

Tujuan lainnya adalah penebusan tubuh kita. Bacalah ayat ini di mana Paulus mengajarkan kebenaran itu: "Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh roh-Nya, yang diam di dalam kamu." (Roma 8:10-11)

Waktu kita mati, kita akan meninggalkan tubuh kita untuk sementara. Oleh karena itu, berkenaan dengan seluruh tubuh kita, kita tidak akan menjadi sempurna sampai kebangkitan. Secara moral kita akan menjadi sempurna, tapi karena seorang pribadi yang sempurna terbuat dari tubuh dan jiwa, secara fisik kita tidak akan menjadi sempurna jika satu bagian dari kita tetap tinggal di dalam kubur. Saat sangkakala kebangkitan berbunyi, tubuh kita akan bangkit, tapi mereka akan bangkit dalam keadaan ditebus. Roh kita yang diperbarui sangat berbeda dari roh kita sebelumnya, di mana mereka berada di bawah perbudakan dosa. Dengan cara yang sama, saat tubuh kita dibangkitkan, mereka akan menjadi sangat berbeda dari yang sekarang ini.

Berbagai penyakit yang disebabkan oleh penyakit dan usia akan tidak dikenal di antara orang-orang percaya yang dimuliakan, karena mereka akan menjadi seperti malaikat-malaikat Tuhan. Tidak seorang pun akan masuk ke dalam kemuliaan dalam keadaan timpang, buntung, lemah, atau cacat. Tidak seorang pun akan menjadi buta atau tuli. Tidak akan ada kelumpuhan atau TBC. Kita akan memiliki kemudaan yang berlangsung selamanya. Tubuh yang ditabur dalam kelemahan, akan dibangkitkan dalam kuasa dan akan segera menaati perintah Tuhannya. Paulus mengatakan, "yang ditaburkan adalah tubuh alamiah" (1 Korintus 15:44), pantas untuk jiwa, dan "yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah" (ayat 44), pantas untuk roh, sifat alamiah manusia yang tertinggi. Saya menduga kita akan mendiami jenis tubuh yang digunakan kerubim saat mereka terbang, "Ia mengendarai kerub, lalu terbang" (2 Samuel 22:11), atau jenis tubuh yang didiami serafim ketika seperti "nyala api" (Ibrani 1:7), mereka tergesa-gesa untuk menaati perintah-perintah Yehova. Akan menjadi apa pun mereka, tubuh kita yang buruk akan menjadi sangat berbeda dari keadaan mereka yang sekarang. Sekarang ini mereka adalah bola lampu-bola lampu redup, yang akan ditempatkan ke dalam dunia. Tapi, mereka akan bangkit seperti bunga-bungaan yang mulia, cangkir-cangkir emas untuk menampung pancaran wajah Tuhan yang bagaikan cahaya matahari.

Kita belum mengetahui kebesaran dari kemuliaan mereka, kecuali bahwa mereka akan dibentuk seperti tubuh kemuliaan Tuhan Yesus. Karena itu, ini adalah tujuan kedua dari pengharapan kita, bahwa kita akan menerima tubuh kemuliaan yang akan mampu untuk menyatu dengan roh kita yang dimurnikan.

Warisan Rohani Kita

Dipandang dari terang lainnya, tujuan dari pengharapan kita adalah bahwa kita akan masuk ke dalam warisan rohani kita. Paulus berkata, "Dan jika kita adalah anak maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus." (Roma 8:17) Entah kita hanya memiliki sedikit atau banyak di dalam hidup ini, kekayaan kita tidak ada artinya bila dibandingkan dengan apa yang Tuhan simpan untuk kita, apa yang telah Dia janjikan bahwa kita akan menerimanya pada hari di mana kita mengalami akil balik. Kepenuhan Allah adalah warisan orang-orang percaya. Semua yang dapat membuat seseorang diberkati, mulia, dan sempurna disediakan bagi kita. Ukurlah, jika Anda bisa, warisan dari Kristus, yang merupakan ahli waris dari segala sesuatu! Apa yang seharusnya menjadi bagian dari Anak yang terkasih dari Allah yang Mahatinggi? Apa pun itu, warisan tersebut adalah milik kita, karena kita adalah ahli waris bersama dengan Kristus. Kita akan bersama Dia dan melihat kemuliaan-Nya; kita akan mengenakan gambaran-Nya; kita akan duduk di takhta-Nya. Saya tidak dapat mengatakan lebih banyak kepada Anda, karena kata-kata saya sangat terbatas. Saya berharap agar kita semua, mau merenungkan apa yang dinyatakan Alkitab tentang hal ini, sampai kita mengetahui segala sesuatu yang dapat diketahui tentang hal tersebut. Pengharapan kita mencari banyak hal; pengharapan kita mencari segala sesuatu. Sungai kebahagiaan, kebahagiaan untuk selamanya, sedang mengalir untuk kita dari tangan kanan Allah.

Paulus menulis tentang "kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita" (Roma 8:18). Dia mengatakan bahwa itu merupakan "kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya" (2 Korintus 4:17). Kemuliaan -- sungguh sebuah kata yang luar biasa! Kemuliaan akan menjadi milik kita, meskipun kita adalah orang-orang berdosa yang malang. Kasih karunia sungguh indah, tetapi betapa lebih lagi kemuliaan itu? Dan kemuliaan ini akan dinyatakan di dalam kita, di sekeliling kita, atas kita, dan melalui kita, untuk kekekalan.

Paulus juga menulis tentang "kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah" (Roma 8:21). Kemerdekaan merupakan sebuah kata yang menyukakan! Kita menyukai gagasan tentang kemerdekaan, terutama ketika kita mendengar suara kemerdekaan yang datang dari terompet perak milik mereka yang berperang melawan para pemimpin yang lalim. Tetapi, betapa lebih menyukakan lagi ketika sangkakala surga memproklamasikan kemerdekaan kekal bagi setiap budak rohani! Tidak ada bandingannya antara kemerdekaan manusia dengan kemerdekaan surgawi, kemerdekaan dari anak-anak Allah. Kita akan memiliki kemerdekaan itu untuk masuk ke dalam Ruang Mahakudus, untuk tinggal dalam hadirat Allah, dan untuk memandang wajah-Nya selama-lamanya.

Rasul Paulus juga berbicara tentang "saat anak-anak Allah dinyatakan" (ayat 19). Di bumi ini, kita disembunyikan di dalam Kristus sebagai mutiara-mutiara dalam sebuah kotak perhiasan. Nantinya, kita akan dinyatakan sebagai perhiasan-perhiasan dalam sebuah mahkota. Kristus dinyatakan kepada orang-orang non Yahudi, setelah Dia disembunyikan untuk sementara waktu. Dengan cara yang sama, kita yang saat ini tidak dikenal akan dinyatakan di hadapan manusia dan para malaikat. "Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam kerajaan Bapa mereka." (Matius 13:43) Saya tidak dapat mengatakan kepada Anda akan seperti apa manifestasi ini. "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9) Dan, meskipun kepada kita "Allah telah menyatakannya oleh Roh" (ayat 10), roh kita hanya mampu menerima sebagian kecil dari pewahyuan ini.

Saya menduga, bahwa hanya seseorang yang telah memiliki hak istimewa untuk melihat rumah kekal milik mereka yang telah disempurnakan di dalam Kristuslah yang dapat memberi tahu kita seperti apa itu kelihatannya. Dan saya membayangkan, kalau dia bahkan tidak dapat melakukannya karena kata-kata tidak dapat menggambarkannya. Ketika Paulus berada di firdaus, dia mendengar perkataan, tetapi dia tidak memberi tahu kita apa perkataan itu, karena dia mengatakan bahwa itu tidak boleh diucapkan manusia. Itu terlalu kudus untuk diucapkan oleh lidah yang fana.

Objek pengharapan kita belum dinyatakan kepada kita, tapi nantinya itu akan dinyatakan. Jangan lengah untuk memikirkan tentang hal itu karena itu akan tiba di masa mendatang, karena jarak waktu tidak bertalian. Apakah itu berbulan-bulan atau bertahun-tahun? Bagaimana jika beratus-ratus tahun berselang sebelum kita dibangkitkan? Mereka dengan cepat akan terlewatkan oleh kita, seperti sayap dari seekor burung, dan kemudian! Oh, kemudian! Apa yang tak kelihatan akan menjadi kelihatan; apa yang tak dapat diucapkan akan didengar; kehidupan kekal akan menjadi milik kita selama-lamanya. Ini adalah pengharapan kita.

Sifat Pengharapan Kita

Sekarang, pengharapan ini yang di dalamnya kita diselamatkan, terdiri dari tiga hal: kepercayaan, kerinduan, dan pengharapan.

Pengharapan kita untuk benar-benar dibebaskan dari dosa di dalam roh kita dan untuk diselamatkan dari semua penyakit di dalam tubuh kita, muncul dari suatu kepastian yang sungguh-sungguh akan keselamatan kita. Pewahyuan tentang Dia yang telah membawa kehidupan dan kekekalan disingkapkan, memberi kesaksian kepada kita bahwa kita juga akan memperoleh kemuliaan dan kekekalan. Kita akan dibangkitkan dalam gambaran Kristus dan akan berbagi dalam kemuliaan-Nya. Ini adalah kepercayaan kita, karena kita tahu bahwa Kristus telah dibangkitkan dan dimuliakan, dan bahwa kita satu dengan Dia.

Kita tidak hanya memercayai ini, tapi kita sungguh merindukannya. Kita sangat merindukannya sehingga, terkadang, kita ingin mati supaya kita boleh masuk ke dalamnya. Sepanjang waktu, khususnya ketika kita mendapatkan sebuah kilasan tentang Kristus, jiwa kita rindu untuk bersama-sama dengan Dia.

Kerinduan ini disertai dengan pengharapan yang penuh keyakinan. Kita berharap melihat kemuliaan Kristus dan berbagi di dalamnya, sebesar kita mengharapkan datangnya fajar. Sesungguhnya, kita mungkin saja tidak hidup untuk melihat matahari esok, tapi kita pasti akan melihat Raja dalam keindahan-Nya di negeri yang sangat jauh.

Kita memercayainya, merindukannya, dan mengharapkannya. Itulah sifat dasar dari pengharapan kita. Itu bukanlah pengharapan yang tak tentu, tak jelas, dan tak berdasar bahwa segalanya akan baik-baik saja, seperti ketika orang-orang berkata, "Saya harap segalanya akan berjalan dengan baik dalam hidup saya," meskipun mereka hidup dengan ceroboh dan tidak mencari Allah. Tetapi pengharapan yang dimaksud lebih kepada pengharapan yang terbentuk dari pengetahuan yang akurat, kepercayaan yang teguh, kerinduan rohani, dan sebuah pengharapan yang sepenuhnya terjamin.

Pengharapan ini didasarkan pada firman Allah. Tuhan telah menjanjikan kepada kita keselamatan yang sempurna; oleh karena itu, kita memercayainya, merindukannya, dan mengharapkannya. Yesus telah berkata, "Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan." (Markus 16:16) Arti yang paling luas, yang dapat kita berikan kepada kata diselamatkan, haruslah sesuai dengan apa yang Allah maksudkan dengan kata itu, karena pemikiran-Nya selalu di atas pemikiran kita. Kita mengharapkan Tuhan untuk melakukan apa yang telah Dia katakan, dengan segala janji yang Dia berikan, karena Dia tidak akan pernah mundur dari firman-Nya atau gagal untuk menepati komitmen-Nya. Kita telah memberikan jiwa kita ke dalam pemeliharaan Juru Selamat, yang telah menyatakan bahwa Dia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka. Kita percaya kepada Penebus kita.

"Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah." (Ayub 19:25-26)

Tubuh kita akan dibangkitkan dengan keadaan tidak dapat dibinasakan. Firman Tuhan berisi banyak kata berharga yang memiliki maksud yang sama, dan kita berpegang padanya, yakin bahwa Allah sanggup melaksanakan apa yang telah Dia janjikan. Kita akan mati tanpa keraguan apa pun bahwa kita akan bangkit kembali, bahkan saat kita telah bergabung bersama debu dari orang-orang yang kita kasihi dalam pengharapan yang kuat dan pasti akan kebangkitan mereka pada kehidupan kekal. Petani menaburkan benihnya ke tanah dan tidak ragu bahwa dia akan melihat benih itu muncul kembali. Demikian juga kita menguburkan tubuh orang-orang percaya, dan pada akhirnya akan menyerahkan tubuh kita sendiri ke dalam kubur dalam pengharapan yang pasti bahwa mereka akan hidup kembali sepasti mereka telah hidup. Ini adalah sebuah pengharapan yang layak dimiliki, karena itu didasarkan pada firman Tuhan, kesetiaan Allah, dan kuasa-Nya untuk melaksanakan janji-Nya sendiri. Oleh karena itu, kita memiliki sebuah pengharapan yang pasti dan tetap, dan orang yang memilikinya tidak akan dipermalukan.

Pengharapan ini dikobarkan di dalam kita oleh Roh Allah. Kita tidak akan pernah mengetahui pengharapan ini jika Roh Kudus tidak membangkitkannya di dalam hati kita. Orang-orang yang tidak mengenal Tuhan tidak memiliki pengharapan seperti itu, dan mereka tidak akan pernah memilikinya. Hanya ketika orang-orang diperbarui barulah pengharapan ini memasuki mereka, karena sejak saat itu Roh Kudus tinggal di dalam mereka. Dan, karena hal ini, saya bergirang dengan sukacita yang tak terkatakan. Jika pengharapan saya akan kesempurnaan dan keabadian telah ditanam di dalam saya oleh Tuhan, maka itu harus digenapi, karena Tuhan tidak akan pernah menginspirasikan sebuah pengharapan yang akan mempermalukan umat-Nya. Allah yang benar tidak akan pernah memberikan sebuah pengharapan palsu kepada umat manusia. Itu tidak akan pernah bisa terjadi. Allah pengharapan, yang telah mengajar Anda untuk mengharapkan keselamatan dari dosa dan semua dampaknya, akan melakukan bagi Anda menurut pengharapan yang telah diinspirasikan oleh diri-Nya sendiri. Oleh karena itu, jadilah orang yang yakin dan dengan sabar menantikan hari yang penuh sukacita di mana Tuhan akan muncul.

Pengharapan ini bekerja di dalam kita dengan cara yang kudus, seperti yang harus dilakukan setiap hal yang baik dan kudus yang berasal dari Allah. Itu menyucikan kita, sebagaimana Yohanes mengatakan: "Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci." (1 Yohanes 3:3) Kita begitu yakin akan warisan ini, sehingga kita bersiap sedia untuknya, dengan menanggalkan semua hal yang bertentangan dengannya dan mengenakan semua hal yang cocok dengannya. Kita berusaha untuk hidup dalam pengharapan akan kemuliaan.

Berapa sering terjadi pada saya (dan saya membayangkan itu terjadi pada Anda juga), di mana saya mengatakan mengenai sesuatu, "Bagaimana ini akan terlihat pada Hari Penghakiman?" Kita telah bertindak dengan murah hati atau menyucikan diri kita, bukan karena kita peduli dengan apa pun yang akan dipikirkan orang mengenainya, tetapi karena kita memandangnya dalam terang kemuliaan yang akan datang. Motivasi terbesar kita adalah bahwa ada sebuah mahkota kehidupan yang tidak akan pernah pudar tersedia bagi kita.

Pengharapan yang diberkati ini membuat kita merasa bahwa adalah memalukan bagi kita untuk berbuat dosa, memalukan kalau putra dan putri kerajaan harus bermain di dalam lumpur seperti anak-anak gelandangan. Sebaliknya, kita dengan rela hidup seperti mereka yang ditakdirkan untuk hidup selamanya dalam terang yang tak terkatakan. Kita tidak dapat berjalan dalam kegelapan, karena kita akan hidup dalam sebuah kemegahan yang membuat matahari tampak pucat. Kita harus tenggelam dalam persekutuan dengan Tritunggal. Oleh karenanya, haruskah kita menjadi budak setan atau hamba dosa? Sekali-kali tidak! Pengharapan yang diberkati ini menarik kita mendekat kepada Allah dan mengangkat kita keluar dari lubang dosa.

(bersambung ke Edisi e-Reformed 130)

Sumber: 

Diambil dari:

Judul asli buku :Finding Peace in Life`s Storms
Judul buku :Menemukan Kedamaian dalam Badai Kehidupan
Judul artikel :Diselamatkan dalam Pengharapan
Penulis :Charles Spurgeon
Penerjemah :Marlina Nadeak
Penerbit :Light Publishing, 2009
Halaman :1 -- 27

Diselamatkan dalam Pengharapan (1)

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Artikel yang saya tampilkan dalam e-Reformed bulan ini, yaitu "Diselamatkan dalam Pengharapan", diambil dari buku tulisan Charles Spurgeon yang berjudul: "Menemukan Kedamaian dalam Badai Kehidupan". Artikel ini sangat bagus tapi juga sangat panjang, dan pasti akan menyulitkan Anda yang membacanya lewat alat mobile (HP). Karena itu, saya akan membaginya menjadi 3 bagian, yang akan diterbitkan dalam 3 edisi, yaitu edisi e-Reformed Mei (28), Juni (29) dan Juli (30).

Supaya Anda tidak menunggu terlalu lama, maka 3 edisi ini akan saya kirimkan 3 hari berturut-turut, mulai hari ini, sehingga Anda bisa mendapatkan seluruh artikel walaupun dikirim dalam 3 surat terpisah.

Tulisan Spurgeon ini semoga mengingatkan kita semua, orang-orang Kristen pada umumnya, yang mulai merasa nyaman tinggal di dunia ini dan melupakan tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu tinggal bersama Tuhan kita Yesus Kristus di surga. Biarlah kepenuhan keselamatan terus menjadi pengharapan kita bersama, dan kerinduan untuk bertemu Bapa di surga menjadi cita-cita utama kita.

Selamat membaca.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Penulis: 
Charles Spurgeon
Edisi: 
128/Mei 2012
Tanggal: 
5 Juli 2012
Isi: 

Diselamatkan dalam Pengharapan (1)

"Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun." (Roma 8:24-25)

Kita -- orang-orang percaya, diselamatkan sekarang juga. Tanpa ragu-ragu, kita benar-benar diselamatkan. Kita sepenuhnya diselamatkan dari kesalahan akibat dosa. Tuhan Yesus mengambil dosa kita dan menanggung itu pada tubuh-Nya di atas kayu salib. Dia memberikan sebuah penebusan yang berkenan, yang menghapuskan kesalahan seluruh umat-Nya sekali untuk selamanya. Hukum dosa telah dibayar oleh Pengganti agung kita dan oleh iman kita telah menerima pengorbanan-Nya. "Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum." (Yohanes 3:18)

Saat kita menerima Kristus dengan iman, kita dengan segera diselamatkan dari kejahatan yang mencemari dan memiliki akses bebas kepada Allah Bapa kita. Dengan iman, kita diselamatkan dari kuasa dosa yang menguasai hidup kita. Seperti yang dikatakan di dalam Roma 6:14, "Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia." Di dalam hati setiap orang Kristen, mahkota tersebut telah diangkat dari kepala dosa dan kekuatan lengannya telah dihancurkan oleh kuasa iman. Dosa berusaha keras untuk memperoleh kendali, tapi dosa tidak bisa menang, karena mereka yang lahir dari Allah tidak bersuka dalam melakukan dosa. Mereka tidak melakukan dosa sebagai kebiasaan sehari-hari. Sebaliknya, orang-orang percaya menjaga dan melindungi diri mereka supaya si jahat tidak menyentuh mereka.

Ayat firman Tuhan yang akan kita fokuskan sekarang terambil dari Roma 8, yang menuliskan, "kita diselamatkan dalam pengharapan". Namun, kelihatannya ini tidak selaras dengan bagian-bagian lain dari Alkitab. Di mana pun dalam firman Tuhan, kita diberi tahu bahwa kita diselamatkan oleh iman. Sebagai contoh, Roma 5:1, "Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman." Iman bukan pengharapan, yang merupakan anugerah yang menyelamatkan, kecuali bahwa dalam beberapa hal, pengharapan sama dengan iman. Di dalam bahasa Yunani, arti dari Roma 8:24 adalah, "Kita diselamatkan dalam pengharapan." Jika ayat tersebut diterjemahkan dengan cara ini, maka itu akan mencegah kesalahpahaman, seperti yang dikatakan oleh Bengel -- komentator terkenal:

"Kata-kata tersebut tidak menggambarkan artinya, tetapi cara dari keselamatan. Setelah kita diselamatkan, mungkin masih tersisa sesuatu yang dapat kita harapkan, baik keselamatan maupun kemuliaan."

Orang-orang percaya menerima keselamatan jiwa mereka sebagai puncak dari iman mereka. Mereka menerima keselamatan oleh iman, sehingga mereka juga menerimanya dengan kasih karunia. Kita diselamatkan oleh iman dan dalam pengharapan.

Oleh karena itu, kita bersukacita saat ini di dalam keselamatan yang telah kita peroleh dan nikmati oleh iman di dalam Kristus Yesus. Namun, kita sadar bahwa ada sesuatu yang lebih dari ini untuk diperoleh. Kita akan menerima keselamatan dalam pengertian yang lebih luas, yang belum kita lihat. Pada saat ini kita menemukan diri kita sendiri hidup di dalam kemah yang fana -- "Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan." (2 Korintus 5:4) Dan di sekeliling kita, makhluk ciptaan dengan jelas mengalami rasa sakit bekerja. Kita dapat melihat tanda-tanda dari penyusutan bumi dalam kejadian di alam yang bergolak, rusuh, dan penuh penderitaan.

Segala sesuatu tidak lagi sesuai dengan bentuk asli saat Tuhan menciptakannya. Duri-duri bertumbuh di ladang-ladang yang dibajak di bumi; penyakit menjangkiti bunga-bunganya; ada jamur di atas padinya. Langit menangis dan memenuhi hasil panen; kedalaman bumi bergerak dan mengguncangkan kota-kota kita dengan gempa bumi. Berbagai tragedi dan bencana yang sering kali terjadi memberi pertanda sebuah masa depan besar akan dilahirkan sebagai hasil dari rasa sakit bekerja ini.

Tidak ada firdaus yang sempurna, yang dapat ditemukan di belahan bumi mana pun. Bahkan, hal-hal terbaik dari dunia kita menunjuk kepada sesuatu yang lebih baik. Dan semua makhluk ciptaan mengerang bersama kita dalam rasa sakit bekerja. Bahkan, kita yang telah menerima buah sulung dari Roh, diberkati, dan diselamatkan, mengerang di dalam diri kita sendiri, menantikan sesuatu yang lebih jauh, suatu kemuliaan yang belum terlihat. Kita belum mencapai keselamatan, tapi sedang mengejarnya. Kehausan yang pertama dari jiwa kita yang berdosa telah dipuaskan, tapi kita masih memiliki keinginan-keinginan yang lebih besar di dalam kita. Kita lapar dan haus akan kebenaran dengan kerinduan yang tidak pernah puas. Sebelum kita memakan Roti dari Surga, kita lapar akan sesuatu yang sama dengan makanan babi. Namun sekarang, sifat dasar kelahiran baru kita telah membawakan kita pada suatu hasrat yang baru, yang tidak dapat dipuaskan oleh seluruh dunia.

Apakah penyebab dari rasa lapar ini? Itu bukan sebuah pertanyaan yang sulit dijawab. Dukacita, kerinduan, dan hasrat kita yang tak terpuaskan mencakup dua area umum. Pertama, kita rindu untuk sepenuhnya bebas dari dosa dalam setiap bentuk. Kedua, kita rindu untuk dibebaskan dari tubuh jasmani kita dan menerima tubuh kebangkitan kita.

Merindukan Kemerdekaan dari Dosa

Kita dibebani oleh kejahatan yang ada di dalam dunia. Kita diganggu oleh percakapan-percakapan jahat dari orang-orang yang tidak saleh, dan kita berduka oleh godaan dan penganiayaan mereka. Kenyataannya adalah "seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat" (1 Yohanes 5:19), dan orang-orang yang menolak Kristus dan binasa dalam ketidakpercayaan itu merupakan sumber dari kesedihan besar bagi kita. Kita bahkan mungkin berharap untuk hidup di sebuah daerah yang sunyi, jauh dari peradaban, supaya kita dapat bersekutu dengan Tuhan dalam damai dan tidak pernah mendengar apa pun tentang hujatan, gosip, kebejatan moral, dan kejahatan. Dunia ini bukan rumah kita, karena dunia ini telah tercemar. Kita sedang mencari suatu kelepasan yang besar, ketika kita akan diambil dari dunia ini untuk tinggal di dalam persekutuan yang sempurna dengan yang lainnya.

Bahkan, kehadiran orang-orang jahat bisa menjadi sebuah masalah yang kecil, jika kita dapat sepenuhnya dibebaskan dari dosa di dalam diri kita sendiri. Ini berada di antara "segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1), yang akan digenapi pada waktu yang akan datang. Jika seseorang dibebaskan dari kecenderungan untuk berbuat dosa, dia tidak lagi akan mempan terhadap godaan. Dia tidak perlu menjaga diri terhadapnya. Jika sesuatu tidak mungkin dibakar dan dijadikan abu, api tidak akan bisa menyakitinya. Namun, kita merasa bahwa kita harus menghindari godaan karena kita sadar kalau ada balok-balok kayu atau ranting-ranting kecil di dalam kita, yang dapat dengan mudah tersulut oleh api. Tuhan kita berkata, "penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku" (Yohanes 14:30). Tetapi ketika musuh menghampiri kita, dia tidak hanya menemukan sesuatu, tapi banyak yang cocok dengan tujuan-tujuannya. Hati kita semua terlalu mudah menggemakan suara setan. Ketika dia menyebarkan ilalangnya, ladang-ladang dari sifat lama kita segera menghasilkan tuaian. Yang jahat tetap tinggal bahkan di dalam mereka yang telah ditebus, dan itu menjangkiti kemampuan berpikir mereka.

Oh, seandainya saja kita dapat membuang ingatan akan dosa! Sungguh suatu siksaan bagi kita mengingat kata-kata kotor dari lagu-lagu cabul. Seandainya saja pikiran kita dibebaskan dari dosa! Apakah kita cukup berduka atas dosa-dosa dalam pikiran dan imajinasi kita? Seseorang bisa berdosa, dan berdosa dengan sangat mengerikan dalam pikirannya, meskipun dia mungkin tidak berdosa dalam perbuatan-perbuatannya. Banyak orang telah melakukan perzinahan, percabulan, pencurian, dan bahkan pembunuhan di dalam imajinasi mereka dengan menemukan kesenangan ketika memikirkannya, namun mereka mungkin tidak pernah jatuh ke dalam dosa-dosa ini secara terang-terangan. Seandainya saja imajinasi dan seluruh sifat-sifat dasar batiniah kita dibersihkan dari kecemaran yang ada di dalamnya.

Ada sesuatu yang jahat di dalam diri kita, yang membuat kita berseru dari hari ke hari, "Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?" (Roma 7:24) Jika seseorang yang sedang membaca buku ini berkata, "Saya tidak pernah merasa seperti itu," saya berdoa kepada Tuhan agar kiranya dia segera mengalaminya. Mereka yang puas dengan diri mereka sendiri sangat sedikit tahu tentang kesempurnaan kerohanian yang sejati. Seorang anak yang sehat bertumbuh, demikian juga seorang anak Tuhan yang sehat. Semakin dekat kita kepada kebersihan hati yang sempurna, semakin kita akan berduka atas noda-noda dosa terkecil sekalipun dan semakin kita akan mengakui hal-hal berdosa yang dahulu kita maklumi. Orang yang paling serupa dengan Kristus adalah orang yang paling menyadari tentang ketidaksempurnaan, dan tidak sabar untuk mengenyahkan dosa yang paling kecil sekalipun. Ketika seseorang berkata, "Saya telah mencapai tujuan itu," saya sangat prihatin terhadapnya, karena saya percaya dia bahkan belum mulai berlari.

Untuk saya sendiri, saya menanggung banyak penderitaan yang semakin bertumbuh, dan merasa sangat kurang disenangkan dengan diri saya sendiri daripada yang dulu saya rasakan. Saya memiliki pengharapan yang kuat akan sesuatu yang lebih baik, tapi jika bukan karena pengharapan, saya akan menganggap diri saya benar-benar tidak bahagia karena menjadi begitu sadar akan kebutuhan saya dan begitu tersiksa dengan keinginan-keinginan. Oleh karena itu, ini adalah satu sumber utama dari erangan rohani kita. Kita diselamatkan, tapi kita tidak sepenuhnya dibebaskan dari kecenderungan-kecenderungan untuk berbuat dosa. Kita juga belum mencapai kekudusan penuh. "Dari negeri ini masih amat banyak yang belum diduduki." (Yosua 13:1)

Merindukan Tubuh Kebangkitan Kita

Alasan lainnya untuk "ketidakpuasan kita" adalah tubuh kita. Paulus menyebut tubuh tersebut "hina" (Filipi 3:21), dan memang demikian ketika dibandingkan dengan akan menjadi apa tubuh itu ketika dibentuk di dalam gambar Yesus Kristus. Tubuh itu sendiri tidak hina, dipandang sebagai ciptaan Tuhan, karena tubuh itu diciptakan dengan dahsyat dan ajaib (Mazmur 139:14). Ada sesuatu yang sangat mulia mengenai tubuh manusia, yang telah diciptakan untuk berjalan dengan dua kaki dan untuk melihat ke atas dan memandang ke surga. Sebuah tubuh yang telah dipersiapkan dengan begitu mengagumkan untuk menjadi tempat kediaman pikiran dan untuk menaati perintah-perintah jiwa, bukan untuk dipandang hina. Sebuah tubuh yang dapat menjadi bait Roh Kudus bukanlah struktur rendahan; oleh karenanya, biarlah kita tidak memandangnya dengan hina. Kita seharusnya selalu bersyukur, bahwa kita telah diciptakan sebagai manusia -- yang artinya kita juga telah dibuat menjadi ciptaan baru di dalam Kristus Yesus dan telah "mengenakan manusia baru" (Efesus 4:24). Tubuh sekarang berada di bawah kuasa maut karena "kejatuhan" manusia dalam dosa, dan itu tetap tinggal di bawah kuasanya. Karena itu cepat atau lambat, tubuh tersebut ditujukan untuk mati, kecuali jika Tuhan secara tiba-tiba datang kembali. Dan bahkan pada waktu itu, tubuh tersebut harus diubahkan, karena darah dan daging, dalam keadaannya saat ini, tidak dapat mewarisi kerajaan Allah.

Demikian juga tubuh kita yang lemah, tidak cocok dengan jiwa kita yang lahir baru, karena mereka belum dilahirkan kembali. Tubuh kita adalah tempat tinggal yang membosankan dan suram bagi roh yang dilahirkan oleh surga! Dengan rasa sakit dan penderitaan, mereka mengalami kelelahan dan kelemahan; kebutuhan akan makanan, pakaian, dan tidur; rentan terhadap sesuatu yang dingin, panas, kecelakaan, dan kerusakan, dan juga terhadap kerja yang berlebihan dan kerja keras yang melelahkan, mereka dengan menyedihkan tidak mampu melayani orang-orang yang dikuduskan. Mereka menarik turun dan menghalangi roh yang sebenarnya dapat membumbung sangat tinggi. Pikirkan betapa seringnya kesehatan yang buruk memadamkan kobaran mulia yang dihasilkan oleh keteguhan hati yang kuat dan keinginan-keinginan yang kudus. Pikirkan betapa seringnya penderitaan dan kelemahan membekukan aliran jiwa yang gembira. Kapan kita akan dibebaskan dari rantai tubuh alamiah ini dan mengenakan pakaian pengantin tubuh rohaniah? Karena dosa tinggal di dalam hati kita dan kita berada dalam tubuh tanah liat yang fana, kita bersuka karena keselamatan kita lebih dekat pada kita sekarang daripada ketika kita percaya pertama kali, dan kita rindu untuk masuk ke dalam kenikmatan yang dihasilkan olehnya.

Ayat Alkitab memberikan kita sejumlah dorongan mengenai ini. Akan tiba suatu waktu, di mana kita akan sepenuhnya dibebaskan dari penyebab kita mengerang saat ini. Kita akan menerima sebuah keselamatan yang begitu besar, sehingga itu akan menutupi semua kebutuhan kita dan bahkan semua keinginan kita. Sebuah keselamatan menantikan kita yang batasannya kekal dan sangat luas. Apa pun yang dapat kita harapkan tercakup di dalamnya. Inilah yang sedang dibicarakan oleh ayat kita ketika dikatakan, "kita diselamatkan dalam pengharapan." Dengan pengharapan, kita berpegang pada keselamatan yang besar dan luas ini.

Dengan mengetahui hal ini, saya ingin menjelaskan untuk Anda jenis pengharapan, yang memiliki suatu genggaman yang kuat pada keselamatan yang lebih besar yang kita rindukan.

Tujuan dari Pengharapan Kita

Kesempurnaan yang Menyeluruh

Pengharapan kita yang terutama, berada di dalam kesempurnaan kita yang menyeluruh di dalam Kristus. Kita telah mengarahkan wajah kita kepada kekudusan, dan oleh kasih karunia Allah kita tidak akan pernah beristirahat sampai kita mencapainya. Setiap dosa yang ada di dalam kita adalah malapetaka, tidak hanya untuk ditaklukkan, tetapi kita harus mematikannya. Kasih karunia Allah tidak menolong kita untuk menyembunyikan dosa-dosa kita, tapi untuk menghancurkan mereka.

Kita harus menangani dosa sama seperti Yosua menangani lima raja musuh ketika mereka bersembunyi di dalam gua di Makeda. Sementara Yosua sibuk dengan peperangan tersebut, dia berkata, "Gulingkanlah batu-batu yang besar ke mulut gua itu." (Yosua 10:18) Untuk sementara waktu, dosa-dosa kita dikunci oleh kasih karunia yang menahan, seperti di dalam sebuah gua. Batu-batu yang besar digulingkan ke mulut gua, karena dosa-dosa kita akan melarikan diri jika mereka bisa, dan sekali lagi mengambil kendali atas hidup kita dengan cepat. Namun, kita bermaksud untuk berurusan dengan dosa-dosa kita dengan lebih efektif dalam kuasa Roh Kudus. Ketika Yosua berkata, "Bukalah mulut gua dan keluarkanlah kelima raja itu dari dalam dan bawa kepadaku" (Yosua 10:22), dia menyerang dan membunuh mereka, kemudian menggantung mereka. Oleh kasih karunia Allah, kita tidak akan pernah puas sampai kita membenci dan meninggalkan semua kecenderungan-kecenderungan alami kita terhadap dosa dan mereka benar-benar dihancurkan. Kita berharap dalam pengharapan untuk suatu hari, di mana tidak ada sebuah noda dari dosa masa lalu, atau suatu kecenderungan untuk melakukan dosa di masa yang akan datang akan tetap tinggal di dalam kita. Kita akan tetap memakai kehendak bebas dan kebebasan untuk memilih, tapi kita hanya akan memilih yang baik. Orang-orang percaya yang sekarang berada di surga, bukanlah orang-orang yang pasif, yang digerakkan di sepanjang jalan ketaatan oleh sebuah kekuatan yang tidak dapat mereka tahan. Sebagai makhluk yang berakal budi dengan kehendak bebas, mereka bebas memilih untuk menjadi kudus di hadapan Tuhan. Kita juga akan menikmati kebebasan anak-anak Allah yang mulia untuk selamanya, yang selalu memilih apa yang baik dan benar secara terus-menerus. Dengan cara ini, kita akan mengalami kebahagiaan yang terus-menerus. Kebodohan tidak lagi akan ada, karena kita semua akan diajar oleh Tuhan dan akan kenal seperti kita sendiri dikenal. Kita akan menjadi sempurna di dalam pelayanan kita kepada Tuhan, dan sepenuhnya dibebaskan dari semua keinginan diri dan hasrat daging; kita akan dekat kepada Tuhan kita dan akan menjadi serupa dengan Dia. Seperti yang telah dituliskan oleh Isaac Watts:

Dosa, musuh terburuk saya sebelumnya,
Tidak lagi akan menyakiti mata dan telinga saya;
Musuh-musuh di dalam saya semuanya akan dibunuh,
Setan tidak lagi menghancurkan kedamaian saya.

Sungguh sesuatu yang luar biasa! Saya rasa jika saya dapat menjadi benar-benar bebas dari setiap kecenderungan untuk berdosa, saya tidak akan peduli di mana saya hidup di bumi atau di surga, di dasar laut bersama Yunus atau di penjara bawah tanah bersama Yeremia. Kemurnian adalah kedamaian; kekudusan adalah kebahagiaan. Mereka yang kudus seperti Allah adalah kudus akan menjadi bahagia seperti Allah bahagia. Ini adalah tujuan utama dari pengharapan kita.

(bersambung ke Edisi e-Reformed 129)

Sumber: 

Diambil dari:

Judul asli buku :Finding Peace in Life`s Storms
Judul buku :Menemukan Kedamaian dalam Badai Kehidupan
Judul artikel :Diselamatkan dalam Pengharapan
Penulis :Charles Spurgeon
Penerjemah :Marlina Nadeak
Penerbit :Light Publishing, 2009
Halaman :1 -- 27

Pemeliharaan Selamanya

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Senang sekali bisa berjumpa Anda di akhir bulan Februari ini. Semoga Anda dan keluarga dalam keadaan sehat walafiat.

Perjumpaan dengan edisi e-Reformed bulan ini akan membawa Anda pada sebuah artikel yang ditulis dengan sangat sederhana tentang doktrin Providensia Allah. Namun, walaupun kelihatannya sederhana, di dalamnya kita bisa belajar banyak hal tentang sifat-sifat Allah dengan cara yang sangat praktis.

Dalam artikel ini berkali-kali ditegaskan bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu. Kehidupan yang dialami manusia bagaikan wadah tempat manusia belajar bagaimana memandang Allah dengan cara yang benar. Manusia sering mengambil cara pintas untuk mengerti bagaimana Allah bekerja. Pada saat mengalami keberhasilan, dan hidup terasa mudah dan lancar, manusia berpikir bahwa Tuhan sedang bekerja. Namun, pada waktu menghadapi masalah yang tak terpecahkan, manusia berpikir bahwa Tuhan sudah meninggalkannya dan tidak lagi mau menolong. Melalui artikel ini biarlah mata rohani kita dibukakan untuk belajar mempercayai siapakah Tuhan yang sesungguhnya, tentang karakter-Nya yang dapat kita andalkan dan kesetiaan-Nya yang tidak pernah luntur, walaupun manusia sering mengecewakan-Nya. Kiranya artikel ini dapat membawa perenungan yang dalam dan mendorong Anda untuk semakin menganggumi kasih-Nya yang tak berkesudahan terhadap anak-anak-Nya.

Selamat membaca dan merenungkan.

Staf Redaksi e-Reformed,
Yonathan Sigit
< http://reformed.sabda.org >

Penulis: 
Warren W. Wiersbe
Edisi: 
125/Februari 2012
Tanggal: 
1 Maret 2012
Isi: 

Pemeliharaan Selamanya

Teman saya mengirimkan kepada saya sepotong syair sederhana tetapi menguatkan.

Kemarin Tuhan menolong saya.
Hari ini Dia akan berbuat yang sama.
Berapa lama ini akan berjalan?
Selamanya -- pujilah nama-Nya!

Ya, Allah yang sama, yang telah menolong kita kemarin dan sedang menolong kita hari ini, akan terus menolong kita sepanjang hari esok kita dan sampai akhir zaman. Dalam Mazmur 54:6 Daud menulis, "Sesungguhnya, Allah adalah Penolongku!"

Satu masalah yang kita hadapi sebagai manusia adalah kelirunya fungsi ingatan. Terlalu sering kita ingat hal yang seharusnya kita lupakan, dan kita melupakan apa yang sebenarnya harus kita ingat. Allah berkata: "Dosa-dosamu dan kejahatan-kejahatanmu tidak Aku ingat lagi." Tetapi banyak orang Kristen hidup tertekan karena mengingat dosa-dosa yang sudah Allah lupakan. Paulus berkata: "Lupakan semua hal yang di belakang kita", akan tetapi begitu banyak orang yang saya jumpai masih terikat pada kegagalan dan kesalahan dalam waktu yang lampau. Mintalah kepada Allah ingatan yang lemah, kalau itu mengenai dosa di waktu yang lalu yang sudah Allah ampuni, kubur, dan lupakan.

Sebaliknya, mintalah kepada Allah ingatan yang kuat, mengenai pertolongan yang telah Dia berikan kepada Anda pada tahun-tahun yang lalu dalam hidup Anda. Karena alasan-alasan tertentu, kita melupakan kemurahan dan berkat masa lalu; dan oleh sebab itu, kita merasa kurang gairah pada masa sekarang dan menjadi takut pada masa depan. Allah telah memelihara Anda sampai saat ini dan Ia tidak akan pernah meninggalkan Anda!

Pertolongan Allah dan pemeliharaan-Nya adalah pokok pembicaraan dalam Kitab Ulangan. Musa sedang mempersiapkan bani Israel untuk masuk Tanah Perjanjian. Bagaimana dia melakukannya? Dia mengingatkan mereka bahwa selama 40 tahun Allah telah memelihara mereka, dan pemeliharaan Allah tidak akan berhenti kalau mereka menyeberangi sungai. Musa berkata: "Engkau harus ingat semua jalan di mana Tuhan telah memimpinmu...." Engkau lapar, Allah memberimu makan; engkau dahaga Allah memberimu minum. Engkau diserang musuh, Allah memberimu kemenangan; engkau berdosa, Tuhan mengampunimu. Tidak ada satu keadaan yang terlalu sulit bagi Allah.

Seorang filsuf terkenal pernah berkata, "Mereka yang tidak ingat masa lalu akan dihukum supaya mengulangi hal yang sama." Itu sebabnya, Musa memerintahkan kaum ayah di Israel untuk memberikan pelajaran kepada anak-anak mereka tentang firman Tuhan, dan mengingatkan kepada mereka hal-hal yang besar, yang telah Allah perbuat kepada bangsa Israel.

Kemarin Allah telah menolong kita, sebab kalau tidak, kita tidak berada di sini. Seperti Nabi Samuel, kita dapat mendirikan mezbah peringatan tentang kesetiaan Allah. Samuel menamakan batu peringatan itu EBENHAEZAR -- sampai di sini Tuhan telah menolong kita. Dan seperti Abraham, kita dapat memandang ke depan dan mengetahui bahwa Allah akan terus menolong kita. Abraham menamakan batu peringatannya JEHOVAH JIREH -- Tuhan akan memerhatikan kita.

Jadi, Anda dan saya tidak perlu menyusahkan diri tentang waktu yang lalu dan cemas tentang hari yang akan datang, sebab Allah adalah Penolong kita yang tak pernah gagal.

Pemeliharaan Allah terhadap milik-Nya bukan hanya sewaktu-waktu tetapi terus menerus. Allah bukan seperti seorang dokter yang datang kepada kita bila ada persoalan. Dia selalu berjalan bersama kita dan mengawasi kita. Bila kita harus melalui api, Dia beserta seperti halnya Dia menyertai tiga anak Ibrani di Babilon. Kalau kita harus melalui air, Dia beserta kita seperti Dia menyertai murid-murid-Nya di tasik Galilea. Ya, kalau kita harus melalui bayangan maut sekalipun, Dia akan beserta kita. "Aku tidak akan pernah membiarkan engkau atau meninggalkan engkau", janji-Nya pasti.

Musuh menginginkan kita berpendapat bahwa Allah tidak memerhatikan kita, atau bahwa Allah telah meninggalkan kita. Apabila jalan kehidupan menjadi sulit, musuh berkata: "Jika Allah betul-betul mengasihi engkau, hal ini tidak akan terjadi." Berapa kali iblis mencoba membuat kita bimbang pada waktu kita sakit atau sedih terhadap kasih dan kesetiaan Allah. Sering kali kita memunyai gambaran bahwa Allah beserta kita bila jalan kehidupan mudah, tetapi apabila itu menjadi berat, Allah telah meninggalkan kita. Tetapi yang benar adalah justru sebaliknya. Betapa seringnya kita lupa kepada Allah bila jalan hidup kita mudah, dan mulailah kita bersandar kepada kepandaian dan kekuatan kita sendiri. Bila jalan hidup menjadi berat, barulah kita benar-benar mengetahui betapa dekatnya Allah dengan anak-anak-Nya yang perlu pertolongan.

Ada pepatah yang penuh hikmat berkata: "Jangan sekali-kali bimbang di dalam kegelapan tentang apa yang telah Allah katakan kepada Anda di dalam terang." Firman Tuhan menyatakan dengan jelas bahwa Allah memerhatikan milik-Nya. Tuhan tidak menjanjikan jalan yang senang, tetapi Dia berjanji untuk menolong kita dan membawa kita keluar dari persoalan. Tuhan tidak membuang batu-batu dari jalan kita, tetapi Dia akan memerintahkan para malaikat-Nya untuk memastikan bahwa kita tidak akan terantuk pada batu-batu itu. Kita adalah anak-anak Allah, dan Bapa surgawi yang penuh kasih itu sekali-kali tidak akan meninggalkan kita pada musuh kita. Sekalipun iman kita goyah, Allah tetap setia dan firman-Nya tidak pernah berubah.

Mengapa Allah mau menolong kita? Apakah kita berhak atas itu? Tentu tidak! Bila Allah memberikan sesuatu yang kita berhak atasnya, maka sekarang ini kita berada di dalam kegelapan penghukuman. Tuhan menolong kita sebab Dia mencintai kita. Seperti ayah di dunia ini memelihara anak-anaknya, demikian Bapa surgawi memelihara kita. Sebab oleh kemurahan-Nya kita diselamatkan. Allah telah mencurahkan kepada kita kekayaan-Nya dalam kemurahan dan kasih-Nya. Kita adalah milik-Nya dan Dia tidak akan membiarkan kita jatuh.

Banyak orang mengira bahwa kehidupan orang Kristen dimulai dengan iman dalam Kristus, tetapi dilanjutkan berdasarkan kekuatan kita sendiri. Hal ini tidak benar. Kita telah diselamatkan karena iman dan kita akan hidup di dalam iman. Jika Kristus dapat melakukan yang terberat yakni menyelamatkan jiwa kita dari penghukuman, maka tentulah Dia dapat melakukan hal-hal yang lebih mudah, misalnya memelihara kita dan menyediakan kebutuhan kita tiap hari.

Dalam pelayanan, sering saya harus pergi ke kota lain. Setelah saya memasuki pesawat dan mengenakan sabuk pengaman, maka saya santai dan menyerahkan seluruh penerbangan itu kepada Allah dan pilot. Saya tidak akan mencoba untuk menerbangkan pesawat itu sendiri. Semua kekhawatiran dan ketakutan saya tidak akan dapat mengubah apa pun dalam pesawat itu. Kehidupan kita juga seperti itu. Anda telah percaya Kristus sebagai Juru Selamat dan Anda telah menjadi milik-Nya. Istirahatlah dalam Dia. Jangan mencoba menerbangkan pesawat -- serahkan saja kepada Kristus dan biarkan kasih setia-Nya menaungi Anda.

Pada hakikatnya, Tuhan tidak dapat meninggalkan kita. Bila Dia gagal, maka segala sesuatu akan hancur. Allah harus benar terhadap Diri sendiri dan terhadap firman-Nya. Allah tidak dapat berdusta. Semua janji-Nya tetap dan pasti. Bila Allah satu kali gagal memelihara salah seorang anak-Nya, Dia akan kehilangan jauh lebih banyak dari kita. Kepribadian-Nya dipertaruhkan. Dia telah berjanji untuk memelihara kita, dan kalau Dia tidak memegang janji-Nya maka Dia berhenti menjadi Allah. Anda dapat pastikan bahwa hal ini tidak akan terjadi.

Pada saat-saat kita berpikir bahwa Tuhan meninggalkan kita, maka justru pada saat itulah Dia sedang mengadakan sesuatu yang mengherankan untuk kepentingan kita. Yakub mengira Yusuf telah mati, tetapi sebenarnya dia sedang menyediakan tempat tinggal di Mesir. "Semua perkara ini melawan aku!" keluh Yakub, ketika sebenarnya segala sesuatu berjalan bersama untuk kebaikannya.

Kemarin Tuhan menolong saya,
Hari ini Dia akan berbuat yang sama.
Berapa lama ini akan berjalan?
Selamanya -- Puji Nama-Nya!
Sumber: 

Diambil dari:

Judul asli buku :The Bumps are What You Climb On
Judul buku :Kekuatan untuk Menghadapi Masa Sukar
Penulis :Warren W. Wiersbe
penerjemah :Andreas Haryanto
Penerbit :Yayasan ANDI, Yogyakarta 1986
Halaman :31 -- 37

"Ekklesia" -- Gereja

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Saya terkesan sekali dengan penjelasan John Stott tentang gereja, karena beliau memaparkannya dengan sangat jelas dan tepat. Separuh dari artikel ini berbicara tentang pengertian gereja yang diambil dari Alkitab, bahwa umat Allah yang dipanggil keluar ini adalah untuk menjadi satu tubuh yang tidak lagi membedakan suku bangsa, tingkatan, ataupun jenis kelamin. Namun pada kenyataannya, sering kali gereja justru menciptakan perbedaan-perbedaan baru. Karena itu dengan berani John Stott tanpa ragu berkata, "menafsirkan gereja dipandang dari segi pembedaan kasta yang memberikan hak istimewa kepada golongan pendeta atau struktur yang bersifat hierarki telah menghancurkan doktrin Perjanjian Baru mengenai gereja."

Sebaliknya, jemaat yang mengingkari tanggung jawab untuk melayani, bersaksi, dan memenangkan jiwa bagi Kristus, tetapi menyerahkan tugas itu hanya kepada pendeta saja juga salah. John Stott menyimpulkan, "Allah memanggil pendeta untuk suatu tugas yang penting, namun kedudukan mereka harus selalu tunduk kepada gereja secara keseluruhan, sebagai persekutuan yang ditebus oleh Allah sendiri. Kaum awam hanya akan menemukan tempat mereka yang sesungguhnya jika kebenaran yang sederhana ini disadari, yakni pendeta berada di tengah-tengah mereka untuk melayani gereja, bukannya gereja melayani pendeta."

Memang kebenaran yang dipaparkan oleh John Stott itu cukup keras, dan mungkin sulit diterima oleh mereka yang sudah terbiasa hidup dalam gereja yang sangat meninggikan kedudukan pendeta. Akan tetapi marilah kita menerima kebenaran ini sebagai koreksi Allah atas gereja-Nya supaya gereja-Nya semakin tunduk pada kehendak-Nya, sang Pemilik gereja.

In Christ,

Yulia
< yulia(at)in-christ.net >
http://reformed.sabda.org
http://fb.sabda.org/reformed

Penulis: 
John Stott
Edisi: 
121/V/2010
Tanggal: 
26-5-2010
Isi: 

"Ekklesia" -- Gereja

(Oleh: John Stott)

Pertanyaan yang harus kita ajukan sebelum kita mulai ialah: Apakah gereja itu sebenarnya?

Gereja adalah jemaat, suatu perhimpunan orang yang memperlihatkan eksistensi, solidaritas, yang berbeda dari perhimpunan-perhimpunan lain untuk satu hal, yakni "panggilan Allah".

Semua itu dimulai dari Abraham, yang dipanggil Allah untuk meninggalkan negerinya sendiri dan keluarganya. Allah berjanji kepada Abraham bahwa ia akan diberikan negeri dan kaum keluarganya akan menjadi suatu bangsa yang besar, dan melaluinya segala bangsa di muka bumi ini akan diberkati. Berulang kali perjanjian anugerah ini ditegaskan kepada Abraham, yakni melalui keturunannya semua bangsa di bumi akan diberkati.[1] Janji ini selanjutnya ditegaskan kepada Ishak, dan kepada Yakub. Tetapi Yakub meninggal di dalam tawanan. Demikian juga anaknya yang terkenal, Yusuf.

Memang, di akhir kitab Kejadian dijelaskan bahwa sesudah Yusuf meninggal dunia, mayatnya dibalsam dan "ditaruh dalam peti mati di Mesir." (Kejadian 50:26) Namun langkah-langkah pertama menuju penggenapan janji Allah baru terjadi ketika Ia, melalui Musa, dari keturunan Lewi bin Yakub, menyelamatkan bangsa itu dari perbudakan. "Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu." (Hosea 11:1) Tiga bulan sesudah keluar mereka memasuki padang gurun Sinai, dan Tuhan memerintahkan Musa untuk mengatakan kepada bangsa itu:

"Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan iman dan bangsa yang kudus." (Keluaran 19:4-6)

Maka perjanjian disahkan, hukum diberikan, kemah suci didirikan, dan ibadah dimulai. Kemudian tanah perjanjian ditaklukkan, dan setelah itu pemerintahan diteguhkan. Tetapi semuanya itu berakhir dengan malapetaka. Umat Allah melanggar perjanjian-Nya, menolak hukum-Nya, dan meremehkan nabi-nabi-Nya, sehingga tidak ada pertolongan bagi mereka. Penghukuman Allah ditimpakan atas mereka, dan penawanan kedua (ke Babel) dimulai.

Namun Allah tidak membiarkan umat-Nya. Pada waktunya, sesuai dengan janji-Nya, Ia akan memberkati mereka. Ia memanggil mereka keluar dari Babel -- sebagaimana Ia telah memanggil mereka keluar dari Mesir -- serta mengembalikan mereka ke tanah air mereka sendiri. Seperti yang dikatakan Allah melalui Yeremia:

"Sebab itu, demikianlah firman Tuhan, sesungguhnya waktunya akan datang, bahwa tidak dikatakan orang lagi: Demi Tuhan yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir!, melainkan: Demi Tuhan yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah utara dan dari segala negeri kemana Ia telah mencerai-beraikan mereka! Sebab Aku akan membawa mereka pulang ke tanahyang telah Kuberikan kepada nenek moyang mereka." (Yeremia 16:14-15)

Tetapi Allah juga telah menjanjikan bahwa melalui umat-Nya Ia akan memberkati semua bangsa di dunia; dan ini digenapi melalui Kristus. Sebab panggilan Allah -- mula-mula kepada keluarga Abraham dari Ur dan dari Haran untuk memasuki tanah Kanaan, kemudian terhadap keturunan Yakub dari Mesir, dan setelah itu terhadap sisa-sisa suku Yehuda dari Babel -- semuanya memberikan bayangan akan suatu panggilan yang lebih baik, penebusan yang lebih besar, dan warisan yang lebih berlimpah. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, Allah bermaksud memanggil keluar dari dunia ini suatu umat pilihan bagi diri-Nya sendiri, menebus mereka dari dosa, dan membuat mereka mewarisi janji-janji keselamatan-Nya.

Maka gereja adalah umat Allah, "ekklesia"-Nya, yang dipanggil keluar dari dunia ini untuk menjadi milik-Nya, dan eksis sebagai entitas yang sungguh-sungguh ada dan terpisah, semata-mata hanya karena panggilan- Nya. Perjanjian Baru sangat menuntut serta menekankan hal ini. Allah telah memanggil kita "kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita," memanggil kita "menjadi milik Kristus". (1 Korintus 1:9, Roma 1:6) Panggilan ilahi ini adalah suatu "panggilan kudus". (2 Timotius 1:9, 1 Tesalonika 4:7) Allah memanggil kita untuk hidup kudus karena Dia adalah Allah yang kudus, dan "supaya hidup [kita] sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu" (1 Petrus 1:15,16; Efesus 4:1), sehingga dengan kuasa penyucian dari Roh Kudus kita boleh berubah di dalam karakter dan tingkah laku sesuai dengan status kita, yakni sebagai "orang-orang kudus", yang berbeda, terpisah; umat yang dikuduskan bagi Allah.[2]

Namun, panggilan itu tidak dimaksudkan agar gereja menarik diri keluar dari dunia kepada kehidupan pietisme. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Uskup Lesslie Newbigin, "Gereja ... adalah sekelompok musafir yang sedang dalam perjalanan menuju akhir dari dunia dan waktu." Dan pula, gereja merupakan khafilah umat Allah. Mereka sedang bergerak -- bergegas menuju akhir dari dunia ini dan memohon agar semua orang didamaikan dengan Allah, dan bersegera menuju akhir waktu untuk menjumpai Tuhannya yang akan mengumpulkan semua orang menjadi satu.

Itulah sebabnya, lebih lanjut Newbigin mengemukakan, "Gereja tidak mungkin dimengerti secara tepat kecuali di dalam suatu sudut pandang misioner dan eskatologis sekaligus."[3] Oleh karena itu, penulis- penulis Perjanjian Baru mengemukakan, Allah yang telah memanggil kita keluar dari dunia ini telah mengutus kita kembali ke dalam dunia:

"Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib." (1 Petrus 2:9)

Dia juga telah memanggil kita sebagaimana Kristus telah menderita karena perlakuan yang tidak adil di dunia ini, dan melalui penderitaan-Nya Dia telah memanggil kita "kepada kemuliaan-Nya yang kekal dalam Kristus." (1 Petrus 2:20,21; 5:10)

Demikianlah gereja, umat Allah, yang dipanggil keluar dari dunia bagi Dia sendiri, dipanggil untuk suatu misi, dipanggil untuk menderita, dan dipanggil melalui penderitaan kepada kemuliaan.

Gereja Allah adalah Gereja yang Esa

Panggilan terhadap gereja ini juga merupakan panggilan terhadap seluruh gereja dan setiap anggota dari gereja, tanpa suatu perbedaan atau pembagian apa pun. Sebelumnya, panggilan Allah hanya ditujukan kepada Abraham dan keturunannya, yang secara jasmaniah adalah bangsa Israel, sedangkan bangsa-bangsa non-Yahudi "tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan." (Efesus 2:12) Namun sekarang janji kepada Abraham itu telah menjangkau dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain juga. Maka Paulus menuliskan kepada jemaat di Efesus:

"Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu `jauh`, sudah menjadi `dekat` oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan matinya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu." (Efesus 2:13-16)

Kita tidak boleh menghilangkan penjelasan Rasul Paulus mengenai peniadaan dan penciptaan ini. Allah telah meniadakan (menghapuskan) aspek dari hukum Taurat itu yang telah membuat Israel menjadi bangsa yang terpisah, dan Dia menciptakan "seorang manusia baru."

Umat manusia yang baru ini, yakni gereja, merupakan perkumpulan yang mengagumkan dan meliputi banyak hal. Kristus telah meniadakan lebih dari sekadar penghalang-penghalang kesukuan dan kebangsaan; Dia telah menghapuskan juga penghalang-penghalang kelas dan gender: "... tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus." (Galatia 3:28) Hari-hari diskriminasi telah berlalu. Umat Kristus yang baru telah diciptakan di dalam gereja tanpa memedulikan perbedaan suku bangsa, tingkatan, ataupun jenis kelamin. Ini tidak berarti bahwa persamaan di dalam kekristenan itu sinonim dengan anarki -- sebab Paulus juga mengimbau para istri agar taat terhadap suaminya dan budak-budak tunduk terhadap tuannya, tetapi lebih berarti bahwa segala hak istimewa dan berkat rohani di hadapan Allah telah dikeluarkan:

"Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan." (Roma 10:12,13)

Sebagai akibatnya, semua orang Kristen yang percaya, baik Yahudi maupun non-Yahudi, laki-laki atau perempuan, budak atau orang merdeka, orang Yunani yang terpelajar atau orang barbar yang tidak beradab adalah "kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah", dan juga "ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus karena berita Injil." (Kolose 3:11, Efesus 2:19, 3:6) Di dalam ayat-ayat ini Paulus memakai empat kata majemuk dari bahasa Yunani yang kemudian diterjemahkan menjadi "para kawan sewarga" ("sumpolitai"), "para ahli waris" ("sugkleronoma"), "para anggota" ("sussoma"), dan "para pengambil bagian" ("summetocha")[4] untuk menegaskan dengan sejelas mungkin mengenai partisipasi umum yang tidak boleh dibeda-bedakan dari seluruh umat Allah dalam segala berkat yang terdapat di dalam Injil. Paulus juga mengajarkan kebenaran yang sama dalam daftar kesatuan yang dibuatnya:

"Hanya ada satu tubuh dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua." (Efesus 4:4-6)

Tetapi apakah kaitan atau hubungan antara hal ini dengan buku mengenai kaum awam? Mengapa saya berpikir bahwa penting sekali bagi kita untuk mempertegas kembali mengenai peniadaan hak istimewa dan penciptaan satu umat yang baru dengan persamaan hak ini? Masalah sebenarnya dalam sistem yang membedakan antara pendeta dengan kaum awam nampaknya hanya sebagai usaha menentang dasar kesamaan dan kesatuan umat Allah. Hal yang senantiasa dilakukan sistem ini, yakni memusatkan kekuasaan dan hak istimewa di tangan pendeta, telah menyembunyikan, bahkan membinasakan hakikat kesatuan umat Allah.

Kedua pihak yang telah disatukan oleh Kristus dipisahkan menjadi dua lagi oleh pemikiran sistem ini, yang satu lebih tinggi dan yang lainnya lebih rendah, yang satu aktif dan yang lainnya pasif, yang satu benar-benar penting karena sangat diperlukan bagi kehidupan gereja, yang lainnya tidak terlalu diperlukan sehingga tidak terlalu penting. Saya tidak ragu-ragu mengatakan bahwa menafsirkan gereja dipandang dari segi pembedaan kasta yang memberikan hak istimewa kepada golongan pendeta, atau struktur yang bersifat hierarki, berarti menghancurkan doktrin Perjanjian Baru mengenai gereja.

Tetapi kita memunyai kebebasan menafsirkan gereja dipandang dari sudut pandang seorang pendeta, dan mudah sekali bagi orang-orang yang berpikiran demikian tergelincir ke dalam pola pemikiran di atas. Untuk memaparkan hal ini, kita akan meninjau kembali beberapa penggambaran penting berdasarkan Alkitab mengenai gereja. Kita tidak dapat melakukan pemeriksaan secara lengkap dan mendalam, tetapi pemeriksaan kita akan cukup untuk membuktikan hal ini: setiap gambaran Alkitab mengenai gereja memberikan iluminasi mengenai hubungan antara umat Allah dengan Allah sendiri di dalam Kristus dan/atau dengan sesamanya. Hanya sedikit perhatian diarahkan kepada golongan pendeta sebagai pihak ketiga yang berbeda dari yang lainnya. Dengan kata lain, dalam pemaparan sifat dan tugas gereja, kebanyakan pokok pikiran Perjanjian Baru bukanlah mengenai kedudukan pendeta, juga bukan tentang hubungan antara pendeta dan kaum awam, melainkan mengenai keseluruhan umat Allah dalam hubungan mereka dengan Dia dan antara satu dengan yang lain; umat yang khusus yang telah dipanggil oleh anugerah-Nya untuk menjadi ahli waris-Nya serta duta-Nya di dunia.

Kiasan-Kiasan tentang Gereja

Tiga di antara gambaran yang paling indah mengenai gereja dalam Perjanjian Baru diambil dari Perjanjian Lama. Ketiganya melukiskan umat Allah sebagai pengantin wanita-Nya, kebun anggur-Nya, dan kawanan domba-Nya. Semuanya menyoroti hubungan langsung yang telah diteguhkan Allah dengan umat-Nya dan yang telah mereka nikmati bersama-Nya.

Allah telah memandang Israel sejak masa mudanya, mempertunangkan dia dengan diri-Nya sendiri sebagai pengantin perempuan-Nya, untuk selanjutnya memasuki perjanjian nikah dengan-Nya. (Yehezkiel 16, Yeremia 2:2, 31:32, Yesaya 62:5) Tetapi kemudian Allah mengeluh tentang ketidaksetiaan Israel, dan tindakan-tindakan persundalan serta perzinahannya (Hosea 2).

Allah telah mengambil sebatang pohon anggur dari Mesir dan menanamnya di Kanaan, sebuah "lereng bukit yang subur." Di sana pohon itu berakar dan bertumbuh memenuhi negeri itu. Ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya untuk mengawasinya dan sebuah tempat memeras anggur untuk mempersiapkan panen anggur. Ia mengharapkan kebun anggur-Nya itu menghasilkan buah anggur yang baik tetapi yang dihasilkannya ialah buah-buah anggur yang asam. Maka Allah membiarkan kebun anggur-Nya diinjak-injak dan ditelantarkan. Allah menantikan Israel berbuah keadilan, tetapi yang dihasilkannya adalah buah kelaliman; Dia mengharapkan kebenaran, namun yang ada hanya keonaran (Mazmur 80:9-20, Yesaya 5:1-7).

Allah adalah Gembala Israel. Dia menggiring Yusuf bagaikan kawanan domba. Sebagaimana Dia telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, "mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala", demikian juga sesudah penawanan di Babel Dia akan menghimpun domba- domba-Nya dalam tangan-Nya, anak-anak domba dipangku-Nya dan induk- induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati (Mazmur 80:2, Yesaya 63:9, 40:11).

Setiap gambaran di atas menekankan tindakan langsung dari kehendak Allah terhadap umat-Nya sebagai satu bangsa, pemerintahan yang berasal dari-Nya; Ia berinisiatif menyelamatkan mereka. Allah memilih Israel sebagai pengantin wanita-Nya, Ia menanam dan merawat kebun anggur-Nya, dan Ia menggembalakan kawanan domba-Nya. Dan ketika Yesus dengan berani menerapkan kembali kiasan atau gambaran-gambaran ini untuk diri-Nya, Dia bahkan lebih kuat menekankan hubungan pribadi yang dimaksudkan oleh masing-masing kiasan itu.

Yesus adalah mempelai laki-laki, dan karena Ia hadir bersama-sama para tamu maka mereka tidak pantas untuk berpuasa (Markus 2:18-20). Paulus mengembangkan kiasan ini lebih rinci dengan penjelasan mengenai kasih dan pengurbanan Kristus bagi gereja. Kepemimpinan-Nya atas gereja serta tujuan akhir dari gereja ialah supaya gereja ditempatkan di hadapan-Nya "dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa." (Efesus 5:27; 5:22-33) Pada akhir kitab Wahyu pertama-tama kita membaca bahwa "hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia" dan "kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya."(Wahyu 19:7, 21:2)

Yesus mengambil gambaran mengenai kebun anggur di dalam perumpamaan- Nya mengenai penggarap-penggarap kebun yang jahat (Markus 12:1-12), namun Dia juga melanjutkan hal itu, sebab Dia menegaskan bahwa Dia sendirilah pokok anggur yang benar, carang-carangnya bergantung kepada-Nya untuk dapat berbuah baik dengan tetap tinggal di dalam Dia dan juga dengan dibersihkan oleh tukang-tukang kebun (Yohanes 15:1-8).

Yesus menyebut diri-Nya sendiri "Gembala Yang Baik" yang mencari serta menyelamatkan domba yang hilang -- sekalipun hanya seekor domba-Nya yang hilang, yang mempertaruhkan nyawa-Nya demi domba-domba-Nya, dan yang memimpin mereka ke padang rumput yang segar serta melindungi mereka dari ancaman serigala (Lukas 15:3-7, Yohanes 10).

Empat kiasan lainnya mengenai gereja yang terdapat di dalam Alkitab intinya juga mengiluminasikan hubungan yang telah diteguhkan Allah dengan umat-Nya, sekalipun semuanya itu juga menuntut pengertian lebih lanjut.

Pertama, umat Allah adalah suatu kerajaan, tempat Allah menjalankan peraturan-peraturan-Nya; "wilayah kekuasaan-Nya" (Mazmur 114:2). Pemerintahan teokrasi Israel yang sesungguhnya, yang telah ditolak ketika bangsa itu menuntut seorang raja seperti yang dimiliki oleh bangsa-bangsa kafir, telah dipulihkan dan dirohanikan melalui Kristus. Dalam menyelamatkan kita, Allah "telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam kerajaan Anak-Nya yang kekasih" (Kolose 1:13) dan Kristus menjalankan pemerintahan-Nya di antara umat-Nya melalui Roh-Nya, "sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus." (Roma 14:17)

Selanjutnya, umat Allah adalah rumah tangga atau keluarga-Nya. Apa yang samar-samar terbayang di dalam Perjanjian Lama, yaitu ketika Israel disebut anak Allah (Hosea 11:1), secara lengkap dipaparkan di dalam Perjanjian Baru. Di dalam Kristus, Allah melahirkan kita kembali, menjadikan kita sebagai anak-anak-Nya, mengadopsi kita ke dalam keluarga-Nya, serta mengirim Roh-Nya ke dalam hati kita sehingga kita boleh memanggil Dia "Abba, Bapa."[5] Banyak hal dalam kehidupan Kristen ditentukan -- seperti yang diajarkan Yesus -- oleh hubungan yang intim dan terbuka seperti gambaran Allah dengan anak ini. Kita tidak perlu lagi merasa khawatir memikirkan segala kebutuhan hidup kita sehari-hari, karena Bapa surgawi kita mengetahui segala yang kita perlukan. Kita cukup menyesuaikan diri dengan-Nya, dengan kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya, menyerahkan diri kita dan kehidupan kita sehari- hari kepada-Nya, memercayai Dia yang memelihara kita, serta percaya bahwa segala yang kita perlukan akan Ia berikan (Matius 6:7-13, 25-34, 7:7-11).

Ketiga, umat Allah adalah suatu bangunan "yang tidak dibuat oleh tangan manusia", suatu bangunan yang dirancang oleh Allah sendiri, bait Allah rohani yang dibangun kembali, dengan Yesus sebagai satu- satunya dasar -- seperti yang dipersaksikan oleh para rasul dan para nabi -- dan Roh Kudus di tempat mahasuci (1 Korintus 3:11, 16, Efesus 2:20-22).

Keempat, umat Allah adalah tubuh Kristus, gambaran yang paling menonjol di dalam surat-surat Paulus dan satu-satunya yang tidak memunyai padanan dengan Perjanjian Lama, dengan Kristus sebagai Kepala yang mengatur dan memberi makan seluruh tubuh-Nya dan Roh Kudus sebagai nafas yang memberi inspirasi kepada [gereja] (Efesus 4:4,15,16, Kolose 2:19).

Tetapi masing-masing dari keempat gambaran ini lebih dari sekadar memberikan iluminasi mengenai hubungan antara Allah dengan umat-Nya. Masing-masing menggambarkan juga hubungan-hubungan timbal balik serta tugas dan tanggung jawab yang dimiliki umat Allah. Kita adalah kawan sewarga dari kerajaan Allah, saudara-saudara di dalam keluarga, batu- batu hidup untuk pembangunan rumah yang rohani, dan lebih dari semuanya itu, anggota-anggota tubuh Kristus, yang bukan hanya menerima hidup dan perintah dari Kepala, tetapi kita sendiri berperan aktif dan saling bergantung satu dengan yang lainnya, dan oleh karenanya kita tidak boleh saling merendahkan atau iri terhadap yang lain (1 Korintus 12:14-26).

Banyak Kiasan -- Satu Berita

Semua kekayaan kiasan ini menunjukkan maksud yang sama. Dalam setiap gambaran itu penekanannya adalah pada inisiatif Allah yang sangat ramah. Dia sebagai Suami, [Pemilik Kebun], Gembala, Raja, Bapa, Pembuat Bangunan, dan [Kepala]. Umat-Nya sebagai sekelompok orang yang ditebus, baik sebagai pengantin-Nya, kawanan domba-Nya, keluarga-Nya, tubuh-Nya, dan lain-lain. Hubungan satu dengan yang lain sebagai carang-carang pada Pokok Anggur yang sama, domba-domba dalam kawanan yang sama, anak-anak di dalam keluarga yang sama, anggota-anggota tubuh yang sama. Tidak ada satu pun kiasan, baik yang menunjang maupun yang menentang, membicarakan mengenai pendeta. [Subjek tentang pendeta] sama sekali bukan yang dimaksud oleh Alkitab mengenai gereja.

Tepat sekali Paulus menyamakan dirinya dengan sahabat mempelai laki- laki pada pesta perkawinan, seperti yang juga diungkapkan Yohanes Pembaptis sebelumnya (2 Korintus 11:2, Yohanes 3:29). Dia juga membicarakan mengenai pelayanan mengajar yang dilakukannya bersama Apolos di Korintus dengan gambaran orang yang menanam dan menyiram benih di ladang Tuhan dan orang yang meletakkan dasar serta membangun rumah Tuhan (1 Korintus 3:5-15). Sama halnya, pelayan-pelayan gereja juga digambarkan sebagai gembala-gembala pengawas yang dipercayakan memelihara kawanan domba[6] sebagai hulubalang-hulubalang kerajaan, sebagai pelayan-pelayan rumah tangga, dan sering kali juga digambarkan sebagai pengasuh-pengasuh di dalam keluarga[7]. Di samping itu juga, meskipun setiap orang Kristen di gereja sebagai anggota tubuh Kristus memunyai peranannya masing-masing, namun beberapa organ nampak memunyai peranan yang lebih penting daripada yang lainnya, misalnya, kepala lebih penting dari kaki dan mata lebih penting dari tangan (1 Korintus 12:21), meskipun masing-masing saling membutuhkan dan tidak dapat melepaskan diri.

Meskipun demikian, setiap uraian menunjukkan suatu tambahan pada kiasan itu. Kiasan atau gambaran itu sendiri sudah lengkap tanpa tambahan-tambahan tersebut, dan lebih jelas lagi dikatakan, tidak bergantung pada hal-hal tambahan itu. Semuanya memunyai bagian masing- masing untuk dilakukan, tetapi hanya sebagai bagian yang bersifat tambahan, dan boleh ditambahkan, bagian yang dapat digantikan. Seorang sahabat pengantin laki-laki memang memunyai peranan yang sangat penting pada pesta perkawinan, tetapi tanpa dia pun pengantin pria dan wanita dapat tetap melangsungkan pernikahan mereka. Pelayan-pelayan dan perawat-perawat sangat berperan penting dalam suatu rumah tangga, tetapi seorang ayah tidak akan membiarkan anak-anaknya mati hanya karena tidak ada mereka. Tidak. Kebenaran-kebenaran yang paling penting yang digarisbawahi oleh kiasan-kiasan mengenai gereja ini ialah sikap Allah yang ramah terhadap umat-Nya dan tugas-tugas mereka yang bertanggung jawab terhadap Dia dan terhadap yang lainnya.

Kesatuan hakiki gereja, yang dimulai di dalam panggilan Allah dan digambarkan di dalam kiasan-kiasan Alkitab, memimpin kita sampai pada kesimpulan ini: Segala tanggung jawab yang dipercayakan Allah kepada gereja-Nya telah dipercayakan-Nya kepada seluruh Gereja-Nya. Siapakah mereka yang dimaksudkan? "Kamu yang dahulu bukan umat Allah," Petrus menulis, "tetapi sekarang telah menjadi umat-Nya." Dan dia menjelaskan lebih lanjut, umat Allah adalah imamat kudus, [yang diciptakan] untuk mempersembahkan kepada-Nya persembahan-persembahan yang rohani dan yang berkenan kepada-Nya berupa puji-pujian dan doa, dan juga suatu umat yang misioner, [yang diciptakan] untuk memberitahukan kepada orang-orang lain perbuatan-perbuatan yang besar dari Allah mereka, Allah yang telah memanggil mereka kepada terang-Nya yang ajaib dan yang telah menaruh belas kasihan atas mereka (1 Petrus 2:5,9,10). Singkatnya, umat Allah memiliki tujuan untuk menjadi persekutuan orang-orang yang beribadah kepada Dia serta menyaksikan kemuliaan dan kebesaran-Nya. Dan kedua tugas ini menjadi tanggung jawab segenap gereja sebagai Gereja-Nya. Pendeta tidak dapat memonopolinya, demikian juga kaum awam atau jemaat tidak boleh melarikan diri dari tanggung jawab ini. Baik pendeta maupun anggota jemaat tidak dapat melimpahkan tanggung jawab ini kepada orang lain; tidak mungkin ibadah dan kesaksian diwakili oleh orang lain.

Mempertahankan hal ini adalah suatu koreksi yang sehat terhadap sistem yang terlalu melebih-lebihkan pendeta, yang sudah terlalu sering dan cukup lama menempatkan kaum awam dan menyingkirkan mereka ke posisi yang lebih rendah dan nonaktif. Hal ini tentu saja juga mengaburkan gambaran mengenai gereja. Sudah barang tentu, Allah memanggil pendeta untuk suatu tugas yang penting, namun kedudukan mereka harus selalu tunduk kepada gereja secara keseluruhan, sebagai persekutuan yang ditebus oleh Allah sendiri. Kaum awam hanya akan menemukan tempat mereka yang sesungguhnya jika kebenaran yang sederhana ini disadari, yakni pendeta berada di tengah-tengah mereka untuk melayani gereja, bukannya gereja melayani pendeta. Agar benar-benar mengerti kebenaran ini, kita harus menemukan kembali ajaran Alkitab mengenai gereja sebagai umat Allah, dan khususnya kebenaran-kebenaran ini -- yakni bahwa dalam hal kedudukan dan hak umat Allah oleh panggilan-Nya dipersatukan dan tidak dapat dibedakan, dan bahwa mempersembahkan ibadah serta bersaksi kepada dunia merupakan hak yang tidak dapat dicabut serta tugas dari jemaat yang satu ini, yakni keseluruhan gereja, pendeta bersama-sama kaum awam.

Catatan Kaki:

[1] Misalnya, Kejadian 22:17,18.
[2] Misalnya, Roma 1:7, 1 Korintus 1:2, lihat juga Kisah Para Rasul 15:14, Titus 2:14.
[3] Lesslie Newbigin, The Household of God, hal. 31,25 -- "eskhatologis," berasal dari kata "eskhatos" (akhir) atau "eskhaton" (selesai), merujuk kepada akhir zaman dan hal-hal yang terakhir, penyempurnaan yang terjadi di luar sejarah.
[4] Tidak ada padanan bahasa Indonesia yang tepat untuk kata-kata gabungan tersebut. Buku "Satu Umat" menerjemahkan "fellow citizens" - kawan sewarga; "fellow heirs" - ahli-ahli waris; "fellow members" - anggota-anggota; dan "fellow partakers", peserta-peserta.
[5] Misalnya, 1 Yohanes 2:29-3:3, 3:9,10, Roma 8:14-17, Galatia 4:4-7.
[6] Misalnya, Kisah Para Rasul 20:28, 1 Petrus 5:1-4.
[7] Misalnya, Kisah Para Rasul 20:25, 1 Korintus 4:1, 1 Tesalonika 2:7.

Sumber: 

Diambil dan disunting dari:

Judul asli artikel : Perkumpulan Kristen (Ekklesia)
Judul buku : Satu Umat
Judul asli buku : One People
Penulis : John Stott
Penerjemah : Lena Suryana Himtoro
Penerbit : SAAT, Malang 1992
Halaman : 8--22 dan 140--141

Komentar


Syndicate content