Sistematika

Teologia Sistematika adalah teologia yang disusun berdasarkan penataan doktrin-doktrin iman Kristen secara sistematis dan logis.

Gereja; Mau Kemana? Konservatif dan Radikal

Dear e-Reformed Netters,

Selamat bertemu lagi!

Artikel ini saya kutip dari Majalah Momentum yang terbit tahun 1989 yang lalu. Menurut catatan Redaksi dari mana artikel ini diambil, dikatakan bahwa meskipun makalah ini ditulis lebih dari 10 tahun yang lalu (berarti sekarang sudah 24 tahun yang lalu) namun sangat cocok dengan situasi kekristenan di Indonesia sekarang. Saya juga setuju bahwa artikel ini masih cocok dengan situasi kekristenan di Indonesia tahun 2003. Oleh karena itu saya tertarik untuk membagikan artikel ini di milis e-Reformed. Setelah membaca artikel ini marilah kita belajar untuk mementingkan apa yang penting dan tidak mementingkan apa yang tidak penting. Esensi lebih penting dari yang bukan esensi. Nah, apakah esensi dari gereja dan apakah yang tidak esensi dari gereja? Silakan merenungkan artikel ini.

In Christ,

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Selamat bertemu lagi!

Artikel ini saya kutip dari Majalah Momentum yang terbit tahun 1989 yang lalu. Menurut catatan Redaksi dari mana artikel ini diambil, dikatakan bahwa meskipun makalah ini ditulis lebih dari 10 tahun yang lalu (berarti sekarang sudah 24 tahun yang lalu) namun sangat cocok dengan situasi kekristenan di Indonesia sekarang. Saya juga setuju bahwa artikel ini masih cocok dengan situasi kekristenan di Indonesia tahun 2003. Oleh karena itu saya tertarik untuk membagikan artikel ini di milis e-Reformed. Setelah membaca artikel ini marilah kita belajar untuk mementingkan apa yang penting dan tidak mementingkan apa yang tidak penting. Esensi lebih penting dari yang bukan esensi. Nah, apakah esensi dari gereja dan apakah yang tidak esensi dari gereja? Silakan merenungkan artikel ini.

In Christ,
Yulia

Penulis: 
John RW Stott
Edisi: 
042/VIII/2003
Isi: 

Di dalam gereja kontemporer ada dua ekstrim yang tidak seharusnya ada, yaitu aliran konservatif dan aliran radikal. Sebaiknya kita memberikan definisi untuk kedua istilah ini terlebih dahulu. Yang disebut aliran konservatif ditunjukkan kepada sebagian orang yang bertekad untuk memelihara hal-hal yang sudah lewat dan meneruskannya, sehingga menolak perubahan apapun. Sedangkan aliran radikal ditunjukkan kepada sebagian manusia yang melawan tradisi-tradisi yang sudah lampau sehingga senantiasa mencari perubahan di dalam kegelisahan.

Pada tahun 1968 saya mengikuti Sidang Raya IV dari Dewan Gereja Sedunia yang diadakan di Upsala, Swedia sebagai penasehat. Setiba di sana saya mendapatkan bahwa kami semua secara serentak sudah diklasifikasikan, khususnya di dalam surat kabar pada hari itu. Jika bukan dihina dan digolongkan sebagai aliran tradisionil yang konservatif, anti perombakan, pemelihara kondisi sekarang atau aliran tradisionil yang tidak menginginkan kemajuan, maka akan langsung digolongkan dan diterima secara hangat ke dalam aliran radikal yang bersifat perubahan dan revolusionir. Bukankah ini semua merupakan klasifikasi yang tidak berarti sama sekali? Sebenarnya setiap orang Kristen yang seimbang harus berjejak di atas kedua wilayah itu sekaligus. Ijinkan saya memberi penjelasan lebih mendetail mengapa setiap orang Kristen harus sekaligus menjadi konservatif dan juga radikal, khususnya di dalam pengertian tertentu.

Setiap orang Kristen seharusnya bersifat konservatif karena seluruh gereja dipanggil oleh Tuhan untuk memelihara Wahyu-Nya, sehingga boleh memelihara mandat yang diberikan serta mempertahankan kebenaran yang satu kali sudah diberikan kepada orang suci. (Yudas 17: "Ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus"). Tugas gereja bukan menemukan Injil yang baru secara terus menerus atau menemukan teologi baru atau moral baru atau kekristenan yang baru, melainkan menjadi pemelihara yang setia bagi satu-satunya Injil yang bersifat kekal. Wahyu yang diberikan Allah sendiri sudah sempurna di dalam AnakNya Yesus Kristus dan kesaksian- kesaksian rasul-rasulNya terhadap Kristus yang sudah dicatat di dalam seluruh Kitab Suci. Pewahyuan dari diri Allah tidak boleh diubah dengan bentuk dan cara apapun - tidak perduli ditambahkan atau dikurangi- kebenaran dan otoritas Kitab Suci tidak boleh diubah.

Penulis dari buku "Pertumbuhan Dan Persatuan" mengutarakan konsep ini dengan dinamis: "Tugas gereja yang utama adalah memelihara keutuhan Injil. Untuk membicarakan kebiasaan mental ini dengan maksud mengatakan, barang itu memang kuno serta penentang segala pikiran baru, sama sekali bukan maksud kita. Penggemar hal-hal kuno dan penentang pencerahan merupakan kebiasaan buruk orang Kristen, sedangkan konservatifisme merupakan kebajikan orang Kristen."

Namun disesalkan ada sebagian orang Kristen yang tidak hanya membatasi konservatifisme mereka di dalam teologi Alkitabiahnya, tetapi juga dalam hal-hal lain. Bahkan mereka memiliki kepribadian yang konservatif, sehingga mereka selalu bersifat konservatif di dalam pandangannya tentang politik dan sosial, di dalam bentuk hidupnya, pakaiannya, model rambutnya bahkan mode jenggotnya dan segala bentuk hidup yang bisa kita bayangkan. Mereka semua sangat kuno adanya. Bukan saja mereka telah menjerumuskan diri ke dalam lumpur saja, melainkan lumpur yang sudah membeku sebagai semen. Mereka membenci segala macam perubahan. Mereka mirip dengan seorang guru besar yang pernah berbicara di dalam universitas Cambridge pada masa mahasiswanya: "Perubahan macam apa saja di dalam waktu apa saja dengan alasan apa saja, semuanya harus disesalkan"! Motto yang paling digemari adalah "Sebagaimana permulaan dunia ini tetaplah sekarang dan selama-lamanya seperti itu juga sampai selama-lamanya, Amin!"

Di pihak lain aliran radikal adalah mereka yang bertanya-tanya tentang agama negara. Mereka menganggap tidak ada tradisi kebiasaan atau organisasi yang begitu suci sehingga tidak boleh diganggu atau diubah; juga menganggap tidak ada pribadi manusia yang begitu suci sehingga tidak boleh dikritik. Sebaliknya mereka bersedia untuk mengadakan penghakiman dan pengritikan terhadap segala sesuatu yang diwarisi dari masa lampau. Bukan saja demikian, penghakiman semacam ini senantiasa memimpinnya menuju perombakan yang tuntas, jika perlu menuju revolusi (sebagai seorang Kristen mungkin ia tidak memakai kekuatan yang rusuh).

Dilihat sepintas lalu aliran konservatif berlawanan dengan aliran radikal sehingga kita tidak mungkin menghindarkan diri dari keekstriman di dalam masalah ini, tetapi faktanya tidak demikian. Ini semua disebabkan oleh kurangnya pengertian kita bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah sekaligus konservatif dan radikal, tetapi di dalam segi- segi yang berbeda.

Sikap Tuhan terhadap Alkitab bersifat konservatif - kitab Suci tidak bisa digugurkan. Ia berkata, "Aku datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi melainkan untuk menggenapinya."(Matius 5:17). Juga berkata, "Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat sebelum semuanya terjadi." (Matius 5:18). Teguran utama Yesus terhadap pemimpin Yahudi sejamannya adalah mereka tidak menghormati kitab Suci Perjanjian Lama serta kekurangan ketaatan yang sejati terhadap otoritas kitab Suci yang kudus.

Tetapi Yesus juga sebenarnya harus disebut sebagai radikalis, Dia merupakan pengeritik yang tajam terhadap aliran penguasa Yahudi yang tajam, tanpa ketakutan apapun, bukan hanya karena mereka tidak setia kepada firman Allah secara sempurna, juga karena mereka terlampau setia kepada tradisi mereka sendiri. Yesus pernah secara tegas menghapuskan tradisi yang sudah diturunkan secara berabad-abad demi supaya firman Allah boleh dilihat kembali dengan jelas serta terpelihara.

Yesus sangat berani di dalam mendobrak segala kebiasaan sosial. Ia menegaskan pentingnya memperhatikan lapisan masyarakat yang rendah yang selalu dihina dan diabaikan. Ia berbicara dengan perempuan di hadapan umum, yang tidak diijinkan dalam jaman itu, Ia mengundang anak kecil datang kepadaNya, sedangkan di dalam masyarakat orang Romawi anak-anak buangan selalu terlantar dan sangat kotor sehingga umumnya manusia menganggap lumrah jika tidak mau diganggu oleh anak-anak kecil. Ia mengijinkan para pelacur mendekatiNya (umumnya orang Farisi menghindarkan diri dari perempuan macam ini karena membencinya), sedangkan Yesus sendiri sungguh-sungguh menjamah orang berpenyakit kusta yang sebenarnya dilarang untuk dijamah (orang Farisi umumnya melempar batu kepada mereka supaya memelihara diri dari mereka dalam jarak tertentu) di dalam cara-cara seperti ini dan sebagainya. Yesus menolak untuk diikat oleh kebiasaan dan adat manusia, hati nurani dan jiwaNya hanyalah diikat oleh firman Allah. Sebab itu Yesus merupakan sesuatu kombinasi yang unik dari sifat konservatif dan radikal. Ia bersifat konservatif terhadap Kitab Suci tetapi jika diperhatikan secara saksama Ia bersifat radikal terhadap hal-hal lain yang Ia temukan.

"Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya." (Matius 10:24) demikianlah perkataan Kristus yang pernah diucapkanNya. Maka jika Yesus dapat mengkombinasikan semangat radikal dan semangat konservatif, kita yang menyebut diri sebagai pengikutNya juga dapat meneladaniNya. Secara fakta jika kita hendak setia kepadaNya kita haruslah demikian. Pada masa ini kita sangat memerlukan lebih banyak orang-orang radikal konservatif sehingga orang Kristen Injili memperkembangkan daya penelitian yang lebih bersifat kritis untuk membedakan apakah yang boleh dan harus diubah serta apa yang tidak perlu dan tidak boleh diubah.

Yang lebih patut kita perhatikan adalah kita perlu lebih jelas di dalam membedakan Kitab Suci dan kebudayaan. Karena Kitab Suci merupakan firman Allah yang tidak berubah untuk selama-lamanya. Sedangkan kebudayaan dibentuk oleh tradisi gereja, kebiasaan dan adat masyarakat serta daya kreatif manusia. Segala otoritas yang dimiliki kebudayaan adalah diwarisi oleh masyarakat dan gereja[1]. Sebaliknya kebudayaan berubah sesuai jaman dan tempat. Lebih dari itu kita orang Kristen menyatakan kerelaan kita hidup di bawah otoritas firman Allah, maka seharusnya kita menaklukkan kebudayaan jaman kita di bawah penghakiman Alkitab yang terus menerus tanpa henti sehingga sama sekali tidak merasa bosan atau menentang perubahan kebudayaan. Kita seharusnya berpihak dan berdiri di front mereka yang mengusulkan serta merombak kebudayaan, sehingga kebudayaan boleh menyatakan dengan sungguh-sungguh kehormatan sifat manusia serta menyenangkan Allah Pencipta kita.

Pada suatu kunjungan saya ke sekolah teologi Trinitas di Deerfield, Illinois di Amerika Serikat, mahasiswa sekolah ini memberi kesan yang dalam bagi saya. Meskipun mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, namun mereka menemukan bersama bahwa di dalam pengabdian mereka terhadap Kekristenan yang Alkitabiah. Mereka bersatu untuk melepaskan diri dari agama Kristen Amerika kontemporer serta bertekad bulat untuk menerapkan Kitab Suci di dalam segala masalah besar hari ini. Maka mereka bersama-sama membentuk satu persekutuan doa dan studi yang bersifat gabungan. Organisasi tersebut bertumbuh menjadi kesatuan Kekristenan rakyat, sedangkan jurnal mereka adalah "Manusia Amerika yang berlalu". Cover edisi perdananya melukiskan Kristus yang sedang memakai mahkota duri, tangan yang terbelenggu sedang menudungi bendera yang bergaris dan berbintang. Ada yang menganggap gambaran ini bersifat menghujat tetapi saya tidak berpikir demikian. Lukisan ini merupakan pernyataan jenius yang memperhatikan kemuliaan Kristus. Jimmy Wallace di dalam tajuk rencananya mengumumkan: "Serangan terhadap agama yang ada berupa berita yang menjelekkan kekristenan yang bersifat melepaskan agama dari kebudayaan. Lembek dan tanpa daya hidup sehingga dengan sendirinya ditolak oleh generasi kita ini secara gampang... . Kita menemukan bahwa gereja Amerika sangat diikat oleh nilai kebudayaan kita dan bentuk kehidupan kita..."

Ikatan terhadap gereja yang bersifat Amerika ini mengakibatkan hal yang sangat disesalkan yaitu mempersamakan gaya hidup Amerika dengan gaya hidup Kekristenan. Di dalam tempat-tempat lain di dunia penyataan kebudayaan kekristenan juga demikian. Di dalam dunia ketiga dan bagi banyak gereja ini merupakan masalah utama. Kekristenan dicangkokkan oleh misionari dan Eropa dan Amerika Utara, sedangkan gereja sekarang sedang mencari identitas mereka dengan kebudayaan yang ada. Mereka menemukan masalah dalam menghadapi dua kebudayaan.

Pertama mengenai kebudayaan setempat atau suku mereka, khususnya di Afrika, pemimpin Kristen setempat menyadari meskipun banyak kebiasaan tradisional Afrika - yang berfungsi merefleksikan sumber kebudayaan mereka yang kafir tetapi bukan saja tidak merugikan iman, kasih, keadilan, dan hal-hal baik lainnya di dalam kemoralan dan kerohanian, secara faktual mereka harus menaati kedaulatan Kristus yang memungkinkan hidup secara kelimpahan.

Kedua adalah mengenai kebudayaan kafir (tidak perduli Eropa atau Amerika) yaitu masalah setelah Injil dikabarkan di dunia ketiga. Masalah ini sebagian disebabkan seolah-olah Injil, yang mengakibatkan kebudayaan kekristenan, merupakan penghinaan terhadap kehormatan kebudayaan bangsa mereka, sehingga seruan: "Usirlah agama orang putih!" timbul di sana sini. Padahal seruan ini salah adanya. Karena agama Kristen bukan milik orang putih atau organisasi yang lain. Yesus Kristus merupakan Tuhan dari setiap bangsa, negara dan segala usia, tanpa perbedaan. Tetapi untuk orang Asia, Afrika maupun Amerika Latin yang menemukan serta memperkembangkan cara untuk mengutarakan penerapan kebenaran Kristus dan kehidupan kekristenan melalui kebudayaan yang ada pada mereka merupakan hal yang tepat. R. Peddila di dalam kongres Penginjilan Sedunia di Lausanne pada tahun 1974 telah memperdebatkan lagi dengan semangat yang menggebu-gebu tentang masalah kebudayaan Kekristenan.

Itu sebabnya para pemimpin Kristen dari gereja-gereja Gerakan Baru bukan hanya memerlukan hikmat untuk membedakan kebudayaan bangsa dan kebudayaan impor, juga harus dapat membedakan kebudayaan yang bernilai dan kebudayaan yang tidak bernilai. Mereka juga harus memiliki keberanian untuk memelihara yang satu dan menolak yang lain.

Kekristenan di Eropa juga harus demikian, sebab sumbernya boleh ditelusuri sampai 2000 tahun yang lalu. Kekristenan di daerah ini juga terpendam di bawah kebudayaan Spanyol pada abad-abad tersebut. Pada saat kita membicarakan gereja Lutheran, Anglican, Presbyterian atau Brethern kita perlu membedakan secara saksama. Karena setiap aliran mengandung bentuk, tradisi atau kebudayaan Kekeristenan. Warna bentuk kebudayaan tradisionil bukan hanya ditemukan di dalam pengutaraan dotrinal, tetapi juga tidak luput dari liturgi dan musik, arsitektur dan gaya serta pandangan peranan ulama dan kaum awam, juga metode penggembalaan dan pemberitaan Injil. Pada faktanya setiap hal dalam gereja kita adalah demikian dan setiap hal harus ditaklukkan ke bawah penelitian Alkitab yang bersifat ketat dan kritis.

Maka pada saat kita menolak perubahan tidak peduli di dalam gereja atau masyarakat, kita perlu instrospeksi sendiri apakah ini sesuai dengan kitab Suci yang kita pertahankan (bila kebiasaan kita adalah mempertahankan secara ketat), atau hanya terbatas di dalam tradisi yang dihargai oleh sebagian tua-tua gereja atau tradisi kebudayaan saja. Ini tidak berarti semua tradisi harus dibuang hanya karena semua adalah tradisi. Aliran anti adat tanpa sifat kritis sama bodohnya dengan aliran konservatif tanpa kekritisan, bahkan kadang-kadang lebih berbahaya. Yang mau saya tegaskan adalah tidak ada tradisi yang berhak meloloskan diri dari penelitian ulang dan tidak ada hak istimewa pada tradisi tertentu.

Di lain pihak pada waktu kita tergesa-gesa di dalam perubahan, kita harus mengerti dengan jelas Alkitab tidak melawan hal-hal yang ingin kita ubah. Sebaliknya ada tradisi-tradisi yang tidak Alkitabiah sebenarnya boleh diteruskan serta memerlukan perubahan untuk membenarkannya. Jikalau ada yang tidak Alkitabiah dan nyata-nyata melawan prinsip Alkitab, kita harus berani mendongkel serta menghentikannya sekuat tenaga. Jika tradisi yang tidak Alkitabiah seolah-olah tidak relevan dengan Alkitab, minimalnya kita harus mempertimbangkannya dengan kritis.

Pada umumnya kita mengetahui dan mengakui sifat otoritas dari pikiran, kebudayaan yang kita bayangkan, namun kebenaran dan kekekalan hanya dimiliki Kitab Suci. Kebudayaan telah menjadi sebagian perasaan keamanan kita. Bila hal-hal ini diancam, kita juga merasakan ancaman itu sehingga kita selalu menghindari bahaya dan berusaha mempertahankannya.

Kadang-kadang kita kurang menaruh perhatian terhadap otoritas Alkitab. Kita memperlakukan Firman Allah sama dengan cara kita memperlakukan tradisi dan konsep manusia, sehingga gampang melalaikannya. Dengan ini membuktikan kita masih orang Kristen duniawi, yang secara tuntas sudah menerima sikap anti otoritas yang dimiliki oleh orang dunia, sehingga tidak bersedia hidup di bawah otoritas Allah serta otoritas pemerintahanNya terhadap umatNya.

Orang Kristen jaman ini dipanggil untuk menjalankan tali keseimbangan ini. Kita tidak menolak segala perubahan, juga tidak mengubahnya secara total secepat mungkin, lebih dari itu terhadap hal-hal yang diperbolehkan oleh Alkitab dan yang dapat diubah juga kita serang dengan serampangan. Setiap orang Kristen yang percaya Allah di dalam sejarah dan pekerjaan Roh Kudus sepanjang sejarah gereja tidak mungkin merasa senang untuk mengubah sesuatu hanya disebabkan ingin mengubahnya. Kadang-kadang yang lama ada juga baiknya, karena telah bertahan dalam ujian waktu. Kita perlu sikap peka terhadap orang Kristen tua yang beraliran konservatisme. Mereka tidak mudah membiasakan diri terhadap perubahan tetapi lebih gampang merugikan dan menghambat perubahan. Dari pandangan Alkitab kita mengetahui yang kita butuhkan adalah daya membedakan yang bijaksana. Maka kita harus bisa menikmati tradisi yang lampau serta berdaya responsif terhadap aliran- aliran baru. Hanya dengan demikian baru kita dapat mempergunakan penghakiman dari Kitab Suci yang radikal di dalam segala macam kebudayaan, serta di bawah pimpinan Tuhan baru mungkin mencapai perubahan yang lebih baik.

Kiranya Tuhan memberikan kebijaksanaan yang sama kepada kita saat ini. Kiranya Dia juga memberikan keberanian kepada kita sehingga mempergunakan kebijaksanaan ini bukan hanya untuk urusan gerejani, tetapi dapat juga diterapkan ke dalam wilayah sosial, etika, dan politik.

Mungkin saya boleh mempergunakan terminologi biologis untuk mengutarakan maksud saya. Yaitu kita memerlukan kutu sapi Kristen (orang yang membenci kita) untuk mengganggu dan menusuk kita sehingga kita melangsungkan perubahan. Pada saat yang sama kita juga memerlukan anjing penjaga Kristen (pengawal) pada saat kita menyatakan tanda- tanda mengkompromikan kebenaran Alkitab. Di dalam keadaan bagaimanapun, pengawal itu dapat menggonggong dengan suara keras yang bertahan lama. Tidak perduli yang menusuk orang atau menggonggong orang, kedua macam pribadi ini sulit kita ajak kerja sama. Mereka pun tidak gampang menemukan minat persamaan antara mereka sendiri. Namun yang menusuk harus tidak menggigit yang menggonggong dan yang menggonggong harus tidak menelan yang menusuk. Mereka harus belajar hidup rukun dalam gereja Kristus serta mengkonsentrasikan perhatian terhadap umat Tuhan yang begitu banyak, guna melaksanakan tugas mereka masing-masing. Kita sebenarnya sangat membutuhkan kedua macam hamba Tuhan ini.

Setelah peringatan tentang bahaya dari perubahan yang terlalu banyak dan perubahan yang terlalu sedikit, sekarang marilah kita mengambil kesimpulan, yaitu bahaya yang lebih besar (paling sedikit di dalam aliran Injili) adalah salah menanggapi unsur kebudayaan sebagai unsur Alkitabiah sampai akhirnya menjadi terlampau konservatif dan terlampau terikat oleh tradisi. Sehingga tidak bisa melihat hal-hal gerejawi dan sosial yang tidak berkenan kepada Tuhan. Konsekuensinya kita menjadi terlalu kolot di dalam ikatan kondisi sekarang serta menolak pengalaman yang paling tidak enak yaitu perubahan.

BENTUK DAN KEBEBASAN

Dari membicarakan ekstrim konservatif dan radikal mari kita beralih kepada ekstrim berorganisasi dan tidak berorganisasi. Organisasi sekuler sedang mengalami perpecahbelahan di sana sini. Secara global manusia melawan bentuk dan struktur yang kaku serta mengejar kebebasan dan fleksibilitas. Gereja Kristen telah diakui di seluruh dunia sebagai satu struktur organisasi yang menonjol dan mantap. Sehingga kita tidak mungkin luput dari tantangan jaman yang satu ini. Kita harus ingat tantangan ini berasal dari sudut internal maupun eksternal. Banyak orang Kristen yang muda sedang menuntut sesuatu agama Kristen tanpa organisasi untuk menanggalkan beban gereja Kristen yang harus ditanggungnya. Mari kita menganalisa gerakan ini di dalam 3 pernyataannya yang utama.

Pertama orang sedang mencari gereja yang tidak memiliki bentuk yang tetap. Kelompok-kelompok Kekristenan seluruh dunia sedang menerobos tradisi dan mengerjakan segala hal menurut caranya sendiri.

Kedua, orang Kristen sedang mencari macam penyembahan yang tidak terikat peraturan. Pendeta tidak lagi memimpin setiap upacara melainkan mendorong jemaat untuk berpartisipasi, organ sudah diganti oleh gitar, liturgi yang kuno sudah diganti oleh bahasa sehari-hari. Makin banyaknya kebebasan berarti makin sedikitnya upacara. Makin banyaknya inisiatif berarti makin sedikit hal-hal yang statis.

Ketiga, melawan denominasionalisme dan suatu hal yang ditekankan yaitu kebebasan. Rupanya generasi yang baru ini sangat puas dengan membuang segala sesuatu yang lampau. Bahkan semua ikatan gereja-gereja lain pada saat ini. Mereka suka menyebut diri sebagai Kristen dan tidak mau panji denominasi apapun.

Kita tidak perlu ragu bahwa ketiga tuntutan ini mempunyai kekuatan yang meyakinkan. Mereka memiliki perasaan yang berkobar-kobar dan mereka berbicara secara dinamis. Kita tidak bisa mengabaikannya atau menganggapnya sebagai gila, maupun menganggap mereka adalah kaum pemuda yang tidak bertanggung jawab. Karena ini merupakan sesuatu gejala global yang menuntut kebebasan, fleksibilitas, kemandirian dan non-organisasi. Orang Kristen generasi tua dan yang agak bersifat tradisionil perlu mengerti hal ini. Kita harus bisa bersimpati dan sebisa mungkin berjalan bersama dengan mereka. Kita harus mengakui bersama bahwa Roh Kudus mungkin dan kadang-kadang sudah dibelenggu di dalam struktur organisasi kita[2]. Dan terbatas di dalam bentuk yang ada pada kita.

Namun saya masih ingin sampaikan bahwa kebebasan dan kacau balau tidak mempunyai arti yang sama, apakah sebabnya kita memerlukan semacam bentuk dan organisasi tertentu.

Pertama, gereja yang berorganisasi. Orang Kristen berasal dari latar belakang gereja yang berbeda-beda dan mengasihi serta menghargai tradisi yang berbeda-beda. Meskipun tidak semuanya, tapi paling tidak mayoritas menyetujui bahwa pendiri gereja yang asli, yaitu Kristus, menghendaki gerejaNya mempunyai organisasi yang tampak. Gereja juga mempunyai aspek yang tidak bisa dilihat, ini merupakan satu fakta. Di situ hanya ada "orang-orang" yang diketahui sebagai milikNya sendiri. Tetapi tidak boleh kita memakai alasan bahwa gereja sejati adalah yang tidak kelihatan untuk menyangkal bahwa Yesus Kristus mengharapkan umatNya boleh dilihat dan diketahui oleh dunia, Dia sendirilah yang telah menetapkan sakramen pembaptisan sebagai upacara masuk ke dalam gereja, dan baptisan merupakan sesuatu yang terbuka dan bisa dilihat. Dia juga mendirikan sakramen perjamuan suci bagi persekutuan orang Kristen, yang melaluinya gereja boleh dipersatukan dan dengan ini pun mengeksklusifkan orang-orang yang bukan anggota. Sehingga boleh melaksanakan disiplin di dalam anggota-anggota gerejanya. Bukan saja demikian, Dia juga mengutus gembala-gembala untuk memelihara kaum dombaNya. Maka tidak perduli di mana pun, jika ada baptisan, perjamuan suci, pendeta atau istilah-istilah tradisionil, penginjil, sakramen, maka di sana ada organisasi. Mungkin organisasi ini bersifat lebih sederhana dari denominasi-denominasi historis. Mungkin lebih fleksibel tetapi tetap ada sesuatu organisasi yang jelas dan tegas. Lebih dari ini seseorang boleh menyatakan perlawanan yang keras terhadap nilai pemberitaan firman dan nilai sakramen namun pemberitaan firman dan sakramen tetap diakui bersama oleh gereja-gereja yang berbeda.

Kedua, penyembahan yang resmi. Secara pribadi saya sama sekali menyetujui penyembahan kaum muda yang timbul dari dalam hati yang melimpah dengan sukacita dan ramai-ramai. Meskipun kadang-kadang saya merasakan kepahitan di dalamnya seperti pengalaman saya satu kali di suatu tempat. Telinga saya hanya berjarak beberapa inchi dari loud speaker yang keras sekali.

Kadang-kadang penyembahan kita terlalu formil, terlalu tinggi dan monoton. Bahkan di dalam kebaktian modern boleh dikatakan sama sekali sudah kehilangan ibadat sehingga sangat merisaukan. Sebagian orang Kristen seolah-olah menganggap bukti utama penyertaan Roh Kudus adalah keramaian dan inspirasi inisiatif. Bukankah ini mengisyaratkan bahwa kita sudah melupakan bahwa merpati, angin, dan api sama-sama adalah tanda Roh Kudus? Pada saat Roh Kudus hadir dengan kuasa-Nya di tengah- tengah umat, kadang-kadang Ia mendatangkan ketenangan, kesejahteraan, keagungan dan mengakibatkan perasaan takut kepada Tuhan. Suara kecilNya boleh didengar. Di dalam ketakutan terhadap Roh, manusia berlutut di hadapan kuasa Allah yang hidup dan sejati. Menyembah dengan "hanya Tuhan ada di dalam BaitNya yang suci, manusia seluruh bumi sepatutnya berdiam diri dan hormat di hadapanNya". Saya tidak bermaksud untuk mengatakan ibadat dan bentuk pasti bersatu. Karena kebaktian yang tidak resmipun kadang-kadang bersifat ibadat. Sedang penyembahan resmi yang memakai upacara yang agung kadang-kadang tidak memiliki ibadat yang bersifat rohani. Namun di mana terjadi persatuan antara keagungan lahiriah dan ibadat batiniah, di sana penyembahan yang dipersembahkan paling memuliakan Allah.

Ketiga, prinsip yang berelasi. Mayoritas kita menegaskan gereja lokal paling sedikit harus memiliki sifat kemerdekaan tertentu. Sedangkan menurut Kitab Suci gereja lokal adalah penyataan yang nampak di dalam satu tempat yang bersifat gereja global. Sedangkan gereja lokal bukan saja adalah gereja global, juga disebut sebagai Bait Allah dan tubuh Kristus. (Gereja lokal: 1Korintus 3:16; 12:27, gereja global: Efesus 2:19-22; 4:4, 16). Namun gereja lokal mungkin terlalu menekankan prinsip otonomi gereja lokal ini sehingga melalaikan orang Kristen dari jaman lampau dan jaman sekarang. Pada saat terjadinya kondisi semacam ini gereja lokal akan menjadi terlampau memuaskan diri sehingga menekan gereja Tuhan baik secara waktu dan ruang.

Maka kita perlu mengingatkan diri tentang kebenaran-kebenaran Alkitab yang senantiasa mudah dilupakan oleh kaum muda. Apakah anda hanya tertarik dengan keadaan sekarang, apakah generasi ini khusus menggemari kalimat Henry Ford yang menganggap sejarah itu hampa adanya? Kadang-kadang seolah-olah ini benar. Namun Allah macam apakah yang anda percaya? Allah di dalam Kitab Suci adalah Allah sejati, Allah Abraham, Ishak, Yakub, Allah Musa dan nabi-nabi, Allah Yesus Kristus dan rasul-rasulNya, Allah gereja abad permulaan, Dialah yang melampaui segala abad untuk merealisasikan kehendakNya. Jika Allah memang adalah Tuhan sejarah, bagaimana kita boleh melalaikan sejarah atau tidak tertarik kepadanya? Ia adalah juga Allah dari seluruh gereja. Persatuan gereja berasal dari persatuan sifat ilahi karena hanya ada satu Bapa, satu keluarga, karena hanya ada satu Tuhan, satu iman, satu pengharapan, satu baptisan dan hanya karena ada satu Roh Kudus maka hanya ada satu tubuh (gereja).

Jikalau kita tidak boleh melalaikan masa lampau, maka kita juga tidak boleh melalaikan masa sekarang. Seluruh masalah yang berelasi dengan orang Kristen yang lain adalah sangat kompleks dan mudah menimbulkan perselisihan. Alkitab tidak memberikan jaminan untuk menemukan atau memelihara persatuan tanpa kebenaran, tetapi Alkitabpun juga tidak memberikan jaminan bahwa kita boleh menemukan kebenaran tanpa persatuan. Ini benar adanya namun persekutuan di dalam kepercayaan pengakuan bersama itu pun benar adanya.

Sekali lagi saya menyerukan di dalam masalah ini janganlah kita terus menempuh cara ekstrim. Di dalam gereja Kristus berorganisasi atau tanpa organisasi, formil atau tidak formil, suasana khidmat atau inspirasi inisiatif, independen atau bersekutu, kita harus memberikan tempat kepada keduanya.

Gereja masa permulaan telah memberikan teladan yang sempurna kepada kita di dalam masalah ini. Bukankah kita membaca setelah hari Pentakosta orang Kristen yang baru dipenuhi Roh Kudus berbakti ke dalam rumah sembahyang dan memecahkan roti di dalam rumah mereka sendiri. Maka mereka tidak langsung menolak gereja orang Yahudi, tetapi memperbaikinya berdasarkan Injil yang diterimanya, bahkan mereka memakai kebaktian di rumah mereka untuk mengisi penyembahan dan permintaan yang formal di dalam Bait Allah. Apa yang saya lihat di sini setiap gereja lokal seolah-olah harus menampung baik ibadah yang formal di dalam gereja dan persekutuan tidak formal di dalam rumah ke dalam pengaturan programnya. Sedangkan generasi tua dan anggota gereja tradisionil yang senang kepada penyembahan formal memerlukan pengalaman kebebasan dalam penyembahan keluarga. Sedangkan anggota gereja yang muda, yang gemar kepada keramaian dan inspirasi inisiatif memerlukan pengalaman penyembahan gerejani yang bersifat khidmat dan formil. Karena kombinasi semacam ini adalah sangat sehat.

Catatan dari Pdt. Dr. Stephen Tong:

  1. Hal ini merupakan refleksi masyarakat Barat di mana gereja mempunyai peranan penting dalam masyarakat, bukan refleksi masyarakat Timur di mana gereja merupakan minoritas masyarakat.
  2. Sebenarnya Roh Kudus yang membebaskan tidak mungkin dibelenggu oleh kita. Kalimat ini harus dimengerti sebagai berikut, yaitu: Jika kita mementingkan organisasi dan struktur kita, kita akan mengikat diri di dalam keterbatasan kita sendiri sehingga tidak mengalami berkat dan kuasa Roh Kudus yang melampaui keterbatasan kita, maka kitalah yang menjadi terbelenggu, bukan Roh Kudus.

Catatan tentang penulis:

Pendeta John Stott adalah pendeta emiritus dari gereja Segala Orang Suci di London. Seorang teolog Injili yang terkenal di seluruh dunia. Otak utama dari Lausanne Covenant. Beliau menulis banyak buku termasuk Keseimbangan Agama Kristen, Seni Berkhotbah Abad XX, Agama Kristen, Ajaran Khotbah di Bukit dll.

Sumber: 

Sumber:

Judul Buku: Momentum 7
Judul Artikel: Gereja; Mau Kemana? Konservatif dan Radikal
Penulis : John RW Stott
Penerjemah : -
Penerbit: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1989
Halaman: 6-11

Spiritualitas Injili: Suatu Tinjauan Ulang


Editorial: 
Penulis: 
Stanley J. Grenz
Edisi: 
037/III/2003
Isi: 

Lane Dennis mengatakan bahwa ciri khas Kaum Injili adalah penekanannya pada keselamatan yang dialami secara pribadi-komitmen kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat saya (pribadi). Kehebatan gerakan ini adalah mempersatukan pengalaman religius dengan bahasa teologis yang sama. Pengertian tentang natur Injili ini menunjukkan perubahan mendasar dari kesadaran Kaum Injili. Perubahan identitas yang berdasar pada pengakuan iman menuju kepada identitas yang berdasarkan spiritualitas.

William W. Wells menyatakan tiga karekteristik unik Gerakan Injil ini: orang Kristen Injili mempercayai otoritas Alkitab; menekankan pengampunan Allah dan hubungan pribadi yang indah dengan Allah melalui Kristus; dan menekankan perjuangan untuk hidup suci melalui disiplin rohani. Meskipun Gerakan Neo-Injili tetap berpegang kepada otoritas Alkitab, namun penekanan sekarang lebih kepada aspek spiritualitas, yang sebelumnya sering terselubungi oleh dimensi intelektual atau doktrinal.

Penekanan kepada dimensi spiritualitas sebenarnya sejalan dengan sejarah Gerakan Injil itu sendiri. Sebelum abad kedua puluh, Puritanisme dan Pietisme memberikan pengaruh yang signifikan terhadap gerakan injil ini. Puritanisme membangkitkan suatu bentuk kesalehan hidup sebagai respon terhadap doktrin pilihan dari Calvinisme. Calvinisme meletakkan keselamatan manusia dalam konteks pilihan Allah yang bersifat misteri. Meskipun teologi ini memelihara kedaulatan Allah, manusia menjadi tidak mempunyai kepastian bahwa dia memiliki status sebagai orang pilihan atau tidak. Karena itu, tidak ada pengakuan iman yang sungguh, tidak ada kesetiaan mengikuti sakramen, maupun serangkaian hidup yang suci, yang dapat menjamin bahwa seseorang merupakan umat pilihan Allah. Di tengah-tengah ketidakpastian inilah kaum Puritan menemukan satu tanda umat pilihan: pengalaman rohani secara pribadi terhadap anugerah keselamatan Allah. Dengan demikian, kepastian status pilihan menjadi bergantung kepada kemampuan seseorang menceritakan pengalaman pertobatannya. Lebih lagi, penekanan kembali kepada hal-hal yang bersifat spiritual ini merupakan pengaruh dari gerakan Pietis, khususnya keinginan mereka untuk mereformasi hidup dan bukan mereformasi doktrin.

Karena itu, seperti John Wesley katakan, titik temu antara Pietisme dan Gerakan Injili adalah pada: penggilan hidup baru, buah-buah rohani, dan suatu hidup yang berbeda dengan kemalasan gereja dan anggota-anggotanya yang sangat duniawi. Kaum Injili bersifat pietist dalam hal fokusnya pada dinamika kehadiran Kristus dalam hidup orang percaya. Hal ini menandai pergeseran dari gerakan sebelumnya yang menekankan pada aktifitas (doing), kepada hal-hal yang bersifat kontemplasi (being). Pembahasan lebih lanjut akan difokuskan kepada keunikan spiritualitas Kaum Injili.

Menuju Pengertian Spiritualitas Injili

Salah satu definisi 'spiritualitas' yang cukup baik diberikan oleh Robert Webber adalah: "Secara luas, spiritualitas dapat didefinisikan sebagai hidup yang sesuai dengan hidup Kristus. Hidup yang menyadari bahwa karya salib Kristus membuat kita menjadi warga negara sorga, dan sorgalah yang menjadi tujuan hidup kita di dunia. Perjalanan hidup ini dikerjakan dalam konteks kita sebagai anggota tubuh Kristus. Melalui ibadah kepada Allah, spiritualitas kita terus- menerus dibentuk. Dan misi kita di dunia adalah untuk memberitakan visi Kristen melalui perkataan dan tindakan kita." Karena itu dapat dikatakan bahwa spiritualitas adalah suatu perjuangan mengejar kesucian di bawah pimpinan Roh Kudus bersama-sama dengan seluruh orang percaya. Mengejar hidup yang dihidupi untuk memuliakan Allah, dalam persatuan dengan Kristus dan hasil dari ketaatan kepada Roh Kudus.

Sesuai dengan ajaran Paulus dalam 1Korintus 2:14-3:3, Kaum Injili sangat menekankan akan 'pola pikir rohani' yang dikontraskan dengan manusia duniawi. Dengan menggabungkan salib dan Pentakosta - yaitu bergantung pada kemenangan Kristus dan kehadiran Roh Kudus - Kaum Injili menjalani hidup yang disebut oleh Watchman Nee sebagai 'the normal Christian life', yaitu hidup yang semakin serupa dengan Kristus yang ditandai dengan ketaatan total kepada kehendak Allah. Dengan demikian Kaum Injili selalu menekankan hidup yang berkemenangan melalui peperangan melawan kuasa setan, manusia lama, dan dunia. Dan dengan kuasa Roh Kudus mengalahkan musuh-musuh rohani orang percaya.

Kita dapat melihat bahwa inti dari spiritualitas Injili adalah suatu usaha untuk menyeimbangkan dua prinsip yang kelihatan bertentangan, yaitu: bagian dalam dari manusia (inward) dengan bagian luar (outward), dan dimensi kesucian personal dengan komunal.

Keseimbangan Antara Inward dan Outward

Spiritualitas Kaum Injili mencoba menyeimbangkan kesucian hati dan aktifitas pelayanan. Hati orang percaya harus dipenuhi dengan kasih kepada Yesus Kristus. Komitmen ini lebih dari sekedar pengetahuan tentang karya Kristus dalam sejarah atau menerima doktrin tentang Kristus. Tetapi adanya suatu hubungan pribadi yang dekat dengan Yesus yang bangkit dan hidup. Karena itu, bagian dalam dari manusia (inward) merupakan fondasi dari spiritualitas. Akibatnya, Kaum Injili lebih tertarik kepada respon pribadi seseorang kepada Yesus daripada kemampuan mereka untuk memformulasikan atau menghafalkan pernyataan doktrinal tentang Yesus.

Kaum Injili juga lebih mementingkan motivasi hati dalam mengikuti ibadah dan perjamuan kudus daripada sekedar memenuhi kewajiban itu secara eksternal. Ibadah eksternal tanpa kesadaran internal hanya merupakan ritual yang mati. Karena itu, Kaum Injili tidak datang ke gereja demi memenuhi tuntutan ibadah secara eksternal, tetapi karena dorongah hati untuk memuliakan Allah dan bersekutu bersama umat percaya. Kita termotivasi dari dalam hati dan bukan dipaksa dari luar untuk menghadiri ibadah bersama. Sikap seperti ini dinyatakan dengan suatu pujian dari hati 'I'm so glad I'm a part of the family of God.'

Dalam kaitan dengan ini, spiritualitas Injili juga sangat menekankan pengalaman religius dalam hidup orang percaya. Penekanan ini berasal dari Gerakan Pietisme yang sangat menekankan teologi lahir baru yang bersumber pada Injil Yohanes: 'Iman harus menjadi nyata dalam pengalaman! Iman harus mentransformasi hidup!' Pengalaman lahir baru merupakan bagian sentral dan titik awal perjalanan hidup orang percaya bersama Tuhan, yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Tetapi kelahiran baru ini harus diikuti dengan perjalanan spiritual pribadi yang ditandai dengan pertumbuhan dalam kesucian. Di hadapan Kaum Injili, James Houston menggambarkan spiritualitas sebagai,

'The outworking...of the grace of God in the soul of man, beginning with conversion to conclusion in death or Christ's second advent. It is marked by growth and maturity in a Christlike life.' (Karya anugerah Allah dalam jiwa manusia, yang dimulai dengan kelahiran baru dan diakhiri dengan kematian atau kedatangan Kristus ke dua kali. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan dan kedewasaan dalam hidup seperti Kristus.)

Penekanan pada inward, sangat sentral dalam spiritualitas Injili dan akan membentuk ketegangan kreatif ketika digabungkan dengan bagian luar (outward) dari hidup Kristen. Spiritualitas memang bersumber pertama-tama dari dalam hati, tetapi hidup Kristen juga berarti pemuridan. Dan pemuridan bersifat outward. Faktanya, spiritualitas sejati harus dinyatakan dalam perbuatan yang kelihatan. Perubahan hati harus dinyatakan dalam hidup yang nyata. Tetapi perbuatan nyata ini bukan untuk mendapatkan anugerah Allah, melainkan sebagai wujud dari kerinduan kita untuk mengikuti jejak kaki Yesus. Natur dari kehidupan spiritualitas adalah meneladani Yesus (the imitation of Christ). Pemuridan berarti mengikuti model yang telah dinyatakan dalam hidup Yesus, karena orang Kristen sejati akan merefleksikan karakter Yesus dalam hidupnya.

Pengertian ini mempengaruhi Kaum Injili dalam memandang sakramen. Kita menolak pandangan ekstrem dari sakramentalisme maupun panghapusan sakramen. Di satu sisi, kita menolak memandang sakramen sebagai suatu alat magis untuk mendapatkan anugerah Allah (sakramentalisme), tetapi di lain sisi kita juga tidak membuang sakramen. Kita memandang sakramen (baptisan dan perjamuan kudus) sebagai suatu ibadah yang sangat penting untuk mengekspresikan secara fisik apa yang sudah dikerjakan Allah di dalam hati. Sakramen merupakan tanda yang kasat mata dari anugerah Allah yang tidak kasat mata.

Penekanan Kaum Injili tentang pemuridan sebagai meneladani Kristus juga mempengaruhi pengertian kita tentang kehidupan gereja. Kita menekankan mengikuti Kristus sebagai suatu ibadah setiap hari dan bukan hanya ibadah hari minggu. James Houston menekankan bahwa kekristenan bukanlah suatu acara khusus, tetapi merupakan gaya hidup (life style). Sikap seperti ini mengakibatkan motivasi utama untuk menghadiri ibadah bersama adalah untuk diajar, didorong, dan dikuatkan untuk memiliki gaya hidup yang berkenan kepada Allah. Poin yang terus- menerus ditekankan pada ibadah minggu adalah: 'Jika engkau adalah orang percaya, hidup suci harus menjadi nyata bukan hanya pada hari Minggu tetapi dari Minggu sampai Sabtu. Apa yang Anda dengar pada hari Minggu harus diterjemahkan dalam perbuatan sepanjang minggu. Jika tidak demikian, imanmu hanya merupakan iman hari Minggu.'

Dapat disimpulkan bahwa spiritualitas Injili mencoba menyeimbangkan dimensi dalam dan dimensi luar dari hidup Kristen. Kita mencoba menyeimbangkan hati yang hangat oleh kasih kepada Allah dengan hidup yang mengikuti teladan Yesus. Kita memprioritaskan dimensi dalam sebagai sumber dari dimensi luar, tetapi kita menganggap dimensi dalam mati jika tidak menghasilkan ekspresi luar yang seharusnya dalam hidup pemuridan. Lagu yang sering kita nyanyikan mengekspresikan dengan baik kedua dimensi ini, 'Trust and obey, for there's no other way, to be happy in Jesus, but to trust and obey.'

Keseimbangan Personal dan Komunal

Kekudusan hidup di antara Kaum Injili biasanya hanya dimengerti secara individu. 'Membaca Alkitab' berarti membaca secara pribadi; 'berdoa' berarti berdoa secara pribadi; 'keselamatan' berarti diselamatkan secara pribadi; 'hidup dalam Kristus' berarti memiliki hubungan pribadi dengan Kristus. Seperti dikatakan Daniel Stevick: 'Perjalanan Kristen dijalani sendiri, keselamatan dari Allah ditujukan kepada pribadi. Pertolongan-Nya selalu dalam konteks pribadi. Perjalanan diisi dengan penyucian secara pribadi dan tujuannya adalah istana yang dibangun bagi pribadi.'

Dalam pengertian tertentu, karakteristik yang digambarkan ini memang cukup tepat. Namun, pendekatan Kaum Injili terhadap perjalanan iman orang percaya secara pribadi tidak pernah dilihat sebagai bagian yang terisolasi, melainkan selalu dilihat dalam konteks persekutuan orang percaya. Di sinilah terdapat keseimbangan antara kehidupan personal dan komunal dari hidup spiritualitas.

Jelas kita mengerti spiritualitas Kristen sebagai sesuatu yang bersifat individu atau personal. Kelahiran baru dan pertumbuhan iman harus pertama-tama dialami secara individu. Masing-masing orang percaya harus bertanggung jawab terhadap spiritualitasnya secara pribadi. Setiap individu bertanggung jawab untuk hidup suci dan meneladani Kristus.

Penekanan pada tanggung jawab pribadi ini sejalan dengan prinsip tradisional Protestan tentang keimamatan orang percaya dan terutama penekanannya mengenai 'kompetensi individu'. Prinsip kompetensi individu menyatakan bahwa setiap pribadi bertanggung jawab secara pribadi kepada Allah dan dengan pertolongan Roh Kudus mampu berespon secara pribadi kepada Allah. Prinsip ini memberikan implikasi penting bagi spiritualitas. Hal ini berarti bahwa tidak ada seorang pun yang dapat diperdamaikan dengan Allah oleh orang lain ataupun oleh gereja. Tidak seorang pun dapat mengklaim dirinya sebagai orang Kristen berdasarkan iman orangtua, karena melakukan ritual tertentu, lahir dalam negara tertentu. Kaum Injili biasanya mengatakan: 'Allah hanya mempunyai anak-anak, tetapi tidak mempunyai cucu.' Karena itu para penginjil selalu menekankan: 'Keputusan untuk menerima Kristus atau menolak-Nya ada padamu; tidak ada seorang pun yang dapat menjawabnya bagimu.' Penekanan ini sangat jelas pada lagu yang begitu terkenal: 'Lemah, lembut, Tuhan Yesus memanggil,. Memanggil saya dan kau ...pulang, pulang, kau yang berlelah pulang.'

Karena spiritualitas adalah persoalan pribadi, Kaum Injili sangat menekankan disipllin rohani sebagai sarana untuk pertumbuhan rohani. Disiplin dalam membaca Alkitab setiap hari dengan apa yang disebut sebagai 'saat teduh'; bersaksi secara pribadi; dan juga hal yang tidak kalah pentingnya adalah menghadiri kebaktian secara rutin.

Penekanan pada aspek personal ini juga mempengaruhi strategi dalam misi Kaum Injili. Dalam abad-abad permulaan kekristenan mulai tersebar di luar Kerajaan Romawi ke daerah-daerah yang masih belum tersentuh peradaban. Para misionaris biasanya memfokuskan pemberitaan Injil kepada para pemimpin suku atau raja, sehingga ketika pemimpin ini dibaptis, seluruh rakyatnya juga ikut dibaptis. Kaum Injili sangat kuatir bahwa strategi ini hanya menghasilkan kekristenan yang bersifat pura-pura, dangkal dan bahkan bisa bersifat sinkretistik. Meskipun tidak menolak peran penting yang dimiliki para pemimpin, Kaum Injili sangat menekankan Injil yang diberitakan kepada setiap individu. Karena kita mengerti bahwa spiritualitas adalah tugas dari setiap pribadi.

Meskipun sangat menekankan dimensi personal bagi spiritualitas orang Kristen, Kaum Injili juga menyeimbangkannya dengan dimensi komunal atau korporat. Tidak seorang pun dapat hidup dan bertumbuh dalam mengikuti Yesus dalam isolasi. Tetapi setiap kita harus bersekutu supaya dapat bertumbuh secara dewasa. Analogi yang sering digunakan adalah bara api. Bara api akan saling membakar ketika dikumpulkan bersama. Tetapi ketika satu bara api dikeluarkan dari kelompoknya, dia akan segera padam dan menjadi dingin. Begitu juga hidup Kristen: orang Kristen yang menarik diri dari komunitas orang percaya akan sulit untuk bertumbuh dan cepat menjadi dingin. Tetapi ketika bersekutu bersama, orang Kristen akan saling mendukung dan dengan demikian akan terus hidup dan berapi-api bagi Tuhan.

Jadi dalam pandangan Kaum Injili, meskipun setiap orang bertanggung jawab atas pertumbuhan imannya sendiri, setiap orang juga bergantung kepada kelompok orang percaya. Setiap orang percaya membutuhkan dorongan dan nasihat dari saudara-saudara seiman lainnya.

Pandangan ini memberikan pengertian yang penting mengenai gereja. Jemaat gereja lokal harus merupakan suatu komunitas yang saling menasihatkan, mendukung dan mengajar satu dengan yang lainnya. Lebih jauh, setiap anggota dari persekutuan orang percaya harus terlibat dalam tugas-tugas yang dikerjakan bersama. Kita terpanggil bukan saja untuk beribadah bersama, tetapi juga untuk masuk menjadi bagian dari kehidupan keseharian anggota yang lain. Dengan demikian, setiap orang berpartisipasi dan berperan dalam kehidupan komunitas Kristen. Inilah esensi dari jemaat lokal dalam pandangan Injili.

Prinsip bahwa setiap orang percaya perlu bersekutu dengan yang lainnya menghasilkan suatu penekanan klasik Injili terhadap kehadiran dalam kebaktian. Kita harus hadir dalam kegiatan-kegiatan gerejawi secara bersama. Tetapi tujuan penekanan ini berbeda dengan gereja-gereja liturgikal. Kita tidak melihat kehadiran dalam kegiatan gereja sebagai sarana mendapat anugerah, tetapi dalam perkumpulan orang percaya inilah pengajaran dan kekuatan dinyatakan.

Pengertian di atas memberikan dampak terhadap apa yang dianggap paling penting dalam ibadah Minggu. Roma Katolik menekankan perjamuan kudus dalam ibadah, sedangkan gereja-gereja Injili memfokuskan ibadah minggu pada pemberitaan Firman Tuhan. Di atas segalanya, kita datang untuk mendengar kotbah, yang kita pandang sebagai sarana utama manusia bertemu dengan Allah. Kita mendengarkan kotbah dengan kerinduan untuk mendengar 'Allah sedang berkata-kata kepada saya secara pribadi.' Sebagai akibatnya, kita mendapat peringatan, kekuatan, dan bahkan arahan hidup melalui kehadiran kita dalam ibadah bersama. Kita berkumpul untuk mendengar Firman (Word), supaya kita bisa tersebar sebagai umat Allah di tengah-tengah dunia (world).

Tetapi akhir-akhir ini Kaum Injili memiliki pengertian yang lebih dalam lagi mengenai kepentingan ibadah bersama sebagai elemen yang sentral di samping kotbah. Salah satu pemimpin dalam hal ini adalah Robert Webber yang mengatakan:

'Worship is the rehearsal of our relationship to God. It is at that point through the preaching of the Word and through the administration of the sacrament, that God makes himself uniquely present in the body of Christ. Because worship is not entertainment, there must be a restoration of the incarnational understanding of worship, that is, in worship the divine meets the human. God speaks to us in his Word. He comes to us in the sacrament. We respond in faith and go out to act on it!' (Ibadah adalah gladi bersih dari hubungan kita dengan Allah. Pada titik itulah melalui pemberitaan Firman dan pelaksanaan sakramen, Allah hadir secara khusus dalam tubuh Kristus. Karena ibadah bukan merupakan hiburan, harus ada pengertian baru dari ibadah yang bersifat inkarnasi, yaitu Allah bertemu dengan manusia dalam ibadah. Allah berbicara kepada kita melalui Firman. Dia datang kepada kita dalam sakramen. Kita berespon dengan iman dan keluar untuk hidup sesuai dengan itu!)
Seperti dikatakan Webber, penekanan pada ibadah bersama bukan berarti meniadakan sentralitas kotbah dalam ibadah minggu. Tetapi hal ini lebih merupakan suatu usaha untuk kembali mendapat keseimbangan yang lebih baik lagi demi menjalankan tugas gereja dengan lebih efektif.

Di tengah-tengah penekanan Injili untuk 'menemukan pelayanan dalam gereja', kita mendiskusikan interaksi yang penting antara dimensi personal dan korporal dari iman Kristen. Kita mendorong setiap individu untuk 'menemukan pelayanan' dalam konteks gereja lokal. Dan hal ini jelas berkaitan dengan dimensi korporal dadri spiritualitas Kristen. Sewaktu kita terlibat pelayanan dalam komunitas Kristen, kita berpartisipasi dalam tugas mendorong pertumbuhan orang lain dan juga secara tidak langsung kepada diri kita sendiri. Keterlibatan dalam hidup orang lain merupakan kesempatan untuk mendorong, menasihati, dan memenuhi kebutuhan mereka. Tetapi tujuannya lebih dari itu: supaya mereka yang menerima pelayanan itu bisa bertumbuh dewasaa secara rohani dan kemudian akhirnya ikut melayani anggota lain dalam tubuh Kristus.

Pandangan ini berimplikasi pada eklesiologi. Bagi kita, gereja adalah persekutuan orang percaya, persekutuan murid Kristus, komunitas orang- orang yang dengan serius bertanggung jawab secara pribadi bagi spiritualitasnya dan pada saat yang sama terjun dalam pelayana untuk mendorong pertumbuhan rohani secara korporal. Kaum Injili yang bertanggung jawab bernyanyi bersama: 'Kami akan berjalan bersama, kami akan berjalan bergandengan tangan.' Karena jalan spiritualitas adalah jalan yang mengikat setiap individu bersama- sama.

[Catatan: Tulisan di atas disadur dari buku Stanley J. Grenz; Revisioning Evangelical Theology; A Fresh Agenda for the 21th Century, Downers Grove, Illinois; IVP, 1993. Hal. 37-59]

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Momentum 44/Triwulan III/2000
Judul Artikel : Spiritualitas Injili: Suatu Tinjauan Ulang
Penulis : Stanley J. Grenz
Penerjemah : -
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman : 29 - 36

Presuposisi Teologi


Editorial: 
Penulis: 
Sutjipto Subeno
Edisi: 
035/I/2003
Isi: 
LATAR BELAKANG

Di dalam kita menggumulkan suatu permasalahan yang dilontarkan seringkali saya mendapat kesan terjadi perdebatan yang serius dikarenakan bukan di dalam permasalahan itu sendiri, tetapi di dalam pola berpikir yang melandasi permasalahan. Inilah yang seringkali dikenal sebagai Problema Presuposisi (atau kemudian dikenal sebagai Pra-asumsi atau yang oleh Thomas Kuhn disebut sebagai Paradigma). Pada intinya, setiap argumentasi yang kita keluarkan, di belakangnya pasti ada satu set pola pikir yang melandasinya, entah ia sadari atau tidak sadari, terstruktur atau acak-acakan, integratif atau kontradiktif.

PROBLEMATIKA PRESUPOSISI

Jika kita menyadari hal ini, tentulah kita segera sadar bahwa akar permasalahan perdebatan kita disebabkan karena tidak adanya dasar pijak yang sama, dan lebih parah lagi, setiap kita (entah sadar atau tidak) tentunya memegang mati dasar pijak tersebut sebagai kebenaran mutlak yang tidak boleh salah. Hal ini dapat dimengerti, karena kalau ia sendiri belum yakin dasar pijaknya sebagai sesuatu yang mutlak benar, tentu ia tidak akan berargumentasi dengan orang lain. Paling jauh ia hanya berani bertanya atau memberi pertimbangan, tetapi tidak berargumentasi, apalagi berdebat. Ketika seseorang sudah berani berdebat, tentulah ia beranggapan dasar pijaknya mutlak benar.

Namun, masalahnya, apakah pasti benar dasar pijak yang dimutlakkan tersebut. Di sini terdapat problematika yang serius. Dengan orang bukan Kristen, pergunjingan ini bisa menimbulkan masalah besar, karena seringkali manusia tidak suka kalau dasar pijaknya mulai dipertanyakan (tentu dengan alasan tertentu, yang akan saya kemukakan kemudian), sehingga lebih menimbulkan amarah ketimbang penyelesaian. Tetapi, bagaimana di kalangan Kekristenan sendiri?

Di tengah Kekristenan, presuposisi ini bukannya tidak menjadi masalah. Tetapi seringkali di tengah era Post-Modernisme yang serba relatif dan dekonstruktif, maka manusia cenderung menolak adanya presuposisi ini, sekalipun penolakan presuposisi sebenarnya merupakan satu presuposisi juga (bahkan filsafat dasar bagi orang itu sekaligus merupakan presuposisi bagi pikiran dan hidupnya juga). Jelas perlu disadari dan diterima bahwa sekalipun sama-sama Kristen, presuposisi setiap orang Kristen tidaklah sama.

PRESUPOSISI DAN TEOLOGI

Banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa presuposisi Kristen identik dengan teologi yang dipegangnya. Padahal tidaklah demikian. Presuposisi justru masih berada di belakang teologi (doktrin) yang dipegangnya. Mengapa seseorang lebih mau menerima teologi A ketimbang teologi B, disebabkan karena ia sudah mempunyai 'ancang-ancang' yang baginya lebih 'cocok' dengan teologi A, ketimbang teologi B.

Persoalannya, jarang kita uji, mengapa kita lebih cocok dengan teologi A ketimbang B, atau lebih tajam lagi, betulkah sikap kita lebih mencocoki teologi A ketimbang teologi B? Apa dasar pembenaran, sehingga kita bisa mengatakan bahwa memang menerima dan menyetujui teologi A lebih bertanggung jawab dan lebih tepat benar ketimbang memegang teologi B. Dari pengertian ini, jelaslah bahwa presuposisi tidak sama dengan teologi.

Lebih jauh lagi, hal ini jika dipertajam lagi, menyebabkan seseorang sekalipun memegang teologi tertentu, kemudian dalam bidang-bidang atau aspek-aspek tertentu bisa tidak menyetujuinya, lalu berpindah ke tempat lain. Terkadang hal ini membuat konsep dan pengertian teologinya tidak terintegrasi lagi, alias saling berkontradiksi, karena ia sudah punya presuposisi yang mau dipasangnya.

Yang lebih membahayakan lagi, jika orang itu kemudian menggunakan dalih, yang kelihatannya sangat rohani, tetapi justru menggambarkan egoisme dan ke-'sok tahu'-annya dengan mengatakan bahwa ia tidak memegang teologi A atau B atau C, tetapi memegang teologi 'Yang Alkitabiah.' Di balik perkataan ini, ada presuposisi pribadi yang mengatakan bahwa semua teologi yang sekarang ada adalah teologi yang tidak atau kurang Alkitabiah, dan hanya teologi yang ia bangunlah yang alkitabiah. Kembali lagi, presuposisi ini didasarkan pada apa? Jika setiap orang melakukan ini, maka akan terjadi Anto-isme, Budi-isme, atau John-isme dan berbagai 'teologi baru' yang semuanya mengaku Alkitabiah, padahal justru mungkin paling tidak Alkitabiah. Semangat relativisme seperti ini merupakan bahaya besar di dalam dunia Kekristenan saat ini, karena setiap orang akhirnya menjadi bingung dan berdebat tanpa ujung pangkal, karena seluruh presuposisi yang dipegang setiap orang berbeda tanpa bisa ditelusur dan dibereskan lagi kebenarannya.

MEMBANGUN PRESUPOSISI YANG BENAR

Sentral pembahasan saya ada disini. Dan harus disadari terlebih dahulu, bahwa pembangunan presuposisi inipun merupakan satu presuposisi, sehingga jika ingin mengomentarinya, tentu haruslah juga kita mulai dari sini. Ada beberapa presuposisi dasar yang perlu dipakai untuk membangun suatu presuposisi utama dalam kita berteologi.

  1. Kebenaran sejati bersumber dari Allah sendiri Manusia bukanlah sumber kebenaran, karena manusia sendiri masih mencari kebenaran, dan manusia sendiri sadar bahwa tingkat pengetahuan kebenarannya tidaklah absolut (banyak kesalahan yang masih kita lakukan di dalam hidup kita). Karena itu, jika kita mau mencari kebenaran, haruslah kembali kepada Allah sendiri, yang menjadi sumber kebenaran dan dirinya kebenaran. Secara inkarnasi, maka di sepanjang sejarah, hanya satu 'manusia' saja yang berhak mengklaim diri sebagai Kebenaran, yaitu Yesus Kristus sendiri, Anak Allah yang Tunggal (Yoh 14:6).

  2. Allah mewahyukan kebenaran di dalam Alkitab. Allah menyatakan kebenaran-Nya kepada manusia melalui firman-Nya, yaitu Alkitab. Dengan kata lain, Alkitab merupakan satu-satunya sarana untuk manusia bisa kembali mengerti kebenaran yang paling hakiki. Inilah yang ditekankan dengan proklamasi: Sola Scriptura (Hanya Alkitab Saja). Dengan demikian, maka seluruh kebenaran harus berpresuposisi pada Alkitab. Dengan lebih kritis lagi, bahwa setiap kebenaran yang bisa kita dapat dan mengerti, jika memang benar, maka ia tidak bisa bertentangan dengan Alkitab.

  3. Alkitab merupakan satu kebenaran yang utuh dari Allah yang satu. Karena Allah yang sama mewahyukan seluruh bagian Alkitab, maka seluruh bagian Alkitab tidak bertentangan satu sama lain. Jika terjadi pertentangan, maka bukan pengertian Alkitab itu sendiri, tetapi kesulitan pikiran manusialah yang memang mempertentangkannya. Maka kembali lagi, presuposisi manusia di dalam menghadapi Alkitab adalah presuposisi keutuhan, bukan dekonstruktif.

DASAR PRESUPOSISI KRISTEN

Dalam acuan ini, Cornelius Van Til (18 -1987), seorang teolog dan filsuf abad ini telah dengan sedemikian serius menggumulkan permasalahan ini. Van Til melihat bahwa di dalam berpikir, yang mendasari seluruh konsep teologis dan praktis kehidupan seseorang, hanya ada dua presuposisi dasar yang sangat menentukan, yaitu: (1) Kedaulatan Allah atau (2) Otonomi manusia.

  1. Kedaulatan Allah dengan presuposisi ini, manusia akan mengacu dan melihat segala sesuatu dari aspek kedaulatan Allah. Allah dipandang sebagai Sumber segala sesuatu, Dasar dan Tujuan segala sesuatu (Rom 11:36). Inilah dasar yang benar bagi seluruh pemikiran manusia, apalagi orang Kristen. Kita percaya bahwa Allah adalah Pencipta, Penopang dan Penyempurna seluruh alam semesta, termasuk manusia. Hanya percaya pada kedaulatan Allah, manusia bisa mendapatkan arah dan patokan dasar berpikirnya secara benar.

  2. Otonomi Manusia Gejala ini muncul ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Manusia berusaha mencari kebenarannya sendiri di mulai dengan meragukan kebenaran dan kedaulatan Allah di taman Eden (Kej 3:6 dst.). Ciri ini merupakan ciri manusia berdosa di sepanjang sejarah zaman. Ketika manusia mulai berpikir menurut pikirannya sendiri, ada beberapa hal yang pasti akan terjadi:

    1. Non-proportional thinking.
      Manusia jadi tidak lagi bisa berpikir proporsional secara tepat. Karena titik acuannya tidak tepat, maka Martin Luther memisalkan keadaan seperti ini bagaikan roda yang as-nya tidak tepat di tengah. Manusia tidak lagi memiliki acuan yang tepat untuk berpikir, sehingga pemikirannya pasti tidak mungkin berdiri tegak dalam kebenaran yang asasi.

    2. Inconsistency
      Manusia tercemar oleh prinsip dosa, yaitu inkonsistensi. Manusia tidak dapat lagi konsisten secara murni di dalam cara berpikirnya. Akibatnya, manusia hidup terus dalam konflik (entah disadari atau tidak disadari). Dengan kembali kepada presuposisi yang benar, barulah kita bisa membangun seluruh teologi kita secara benar. Dan berdasarkan teologi yang benar, pembentukan konsep berpikir kita juga akan menjadi beres. Tanpa presuposisi yang tepat, maka teologi kita akan diwarnai oleh presuposisi yang tidak tepat, dan akibatnya hidup kitapun akan bercorak dosa. Inilah bahaya kesalahan presuposisi yang seringkali tidak disadari oleh orang Kristen.

PENUTUP

Sebagai penutup, saya ingin memberikan satu contoh kongkrit yang merupakan problematika presuposisi di tengah Kekristenan. Ketika seseorang berpresuposisi dasar 'otonomi manusia', yang berarti manusia menegakkan sendiri apa yang ia anggap benar, maka ia terlebih dahulu sudah menetapkan bahwa dirinya menjadi pusat segala sesuatu (bukan Allah dan kedaulatan-Nya). Dari sini, pasti ia akan memulai segala pemikiran yang akan memuaskan kepentingan dirinya. Itu kemudian tercermin di dalam ia berteologi. Teologi menjadi 'conveyor' (pembawa) pemuasan kepentingannya itu. Maka, karena ia menganggap bahwa hidup ini perlu mendapatkan kepuasan dan kenikmatan, perlu ditunjang dengan pemuasan keinginan duniawi, maka ia akan memperlakukan dan membentuk teologi yang sesuai dengan itu. Dari sini tercermin beberapa implikasi, seperti:

  1. Saya senang lho ke gereja anu, karena di situ saya bisa melepas stress saya, bisa bersukacita, atau

  2. Wah, kalau jadi Kristen ya musti kaya, karena Tuhan ingin kita kaya, nggak mau kita miskin. (Apa iya..?) atau

  3. Kalau saya disembuhkan dari penyakit saya, atau saya bisa sukses bisnis, atau saya bisa dapat pacar yang cantik, ya saya mau jadi Kristen, bahkan,

  4. Kristen memberikan keselamatan buat saya, tetapi cukup sampai sekian, kalau saya disuruh berkorban, ya saya keberatan, karena itu tidak cocok dengan semangat cinta kasih Kristen (Apa iya...?), atau

  5. Jadi Kristen jangan fanatik-fanatik, nanti rugi, apalagi kita nggak diberi makan oleh gereja, dll.

Saya rasa daftar di atas ini bisa diperpanjang tanpa batas, sejauh teologi dibangun berdasarkan Otonomi Manusia. Alkitab meminta kita untuk bertobat, menanggalkan segala pikiran dosa, menjauhkan diri dari nafsu daging dan keinginan daging yang mematikan dan kembali taat kepada kedaulatan Allah (Gal 5: 16 dst.).

Persoalannya, apakah di dunia modern ini, semua orang Kristen, termasuk para hamba Tuhan, menyadari kesalahan-kesalahan seperti ini? Apakah implikasi yang dihasilkan oleh gereja-gereja Kristen saat ini? Sudahkah betul-betul menghasilkan orang-orang Kristen yang bergumul terus semakin mendalam di dalam firman Tuhan, semakin mengerti kebenaran dan mengaplikasikan kebenaran? Ataukah kita hanya menghasilkan orang-orang yang ahli berdebat dan menggunakan argumentasi duniawi untuk menjadi acuan dasar atau presuposisi kita?

Biarlah perenungan ini bisa menjadi berkat bagi kita semua.
Soli Deo Gloria

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : -
Judul Artikel : -
Penulis : -
Penerjemah : -
Penerbit : website GRII Sby-Andhika, http:/www.griis.org
Halaman : -

Kematian Rohani dan Kehidupan Rohani

Dear Reformed Netters,

Howard F. Sugden dalam bukunya yang ditulis bersama-sama dengan Warren W. Wiersbe dan Paul R. Van Gorder, yang berjudul "Prioritas Seorang Pendeta" menuliskan:

"Ketika tiba saatnya untuk membicarakan tugas-tugas pelayanan pendeta, saya menyarankan agar digunakan kata 'gembala' sebagai salah satu istilah untuk menggambarkan pekerjaan yang harus dikerjakan oleh seorang hamba Tuhan dalam hubungan dengan jemaatnya (sebab istilah ini sesuai dengan Kitab Suci). Tetapi ada seseorang yang mengajukan sanggahan, 'Dewasa ini tidak seorang pun yang mengetahui apa gembala itu dan apa yang diperbuatnya dalam dunia kita sekarang ini.' Nampaknya ada pemikiran untuk memperbaharui anggaran dasar sekarang ini dan jangan kembali kepada jaman gembala dahulu.
Saya hampir tak sabar untuk kembali ke ruang belajar, membuka konkordansi dan kamus 'Theological Dictionary of the New Testament' karangan Kittel untuk menyegarkan kembali hati saya dengan kata 'gembala' yang dipakai untuk menyebut Tuhan kita dan hamba-Nya sepanjang jaman.

Editorial: 

Dear Reformed Netters,

Howard F. Sugden dalam bukunya yang ditulis bersama-sama dengan Warren W. Wiersbe dan Paul R. Van Gorder, yang berjudul "Prioritas Seorang Pendeta" menuliskan:

"Ketika tiba saatnya untuk membicarakan tugas-tugas pelayanan pendeta, saya menyarankan agar digunakan kata 'gembala' sebagai salah satu istilah untuk menggambarkan pekerjaan yang harus dikerjakan oleh seorang hamba Tuhan dalam hubungan dengan jemaatnya (sebab istilah ini sesuai dengan Kitab Suci). Tetapi ada seseorang yang mengajukan sanggahan, 'Dewasa ini tidak seorang pun yang mengetahui apa gembala itu dan apa yang diperbuatnya dalam dunia kita sekarang ini.' Nampaknya ada pemikiran untuk memperbaharui anggaran dasar sekarang ini dan jangan kembali kepada jaman gembala dahulu.
Saya hampir tak sabar untuk kembali ke ruang belajar, membuka konkordansi dan kamus 'Theological Dictionary of the New Testament' karangan Kittel untuk menyegarkan kembali hati saya dengan kata 'gembala' yang dipakai untuk menyebut Tuhan kita dan hamba-Nya sepanjang jaman. Saya menemukan bahwa kata 'gembala' atau 'domba' itu digunakan lebih dari empat puluh kali dalam kitab Perjanjian Baru, dan Kittel menjelaskan pokok itu sebanyak tujuh belas halaman.
Tapi betul juga teman saya yang membuat sanggahan itu. Siapakah orang yang hidup pada jaman ini; jaman dimana ada kota-kota besar dan ramai, jalan-jalan lintas cepat, dengan berbagai transportasi modern serta banyak tempat rekreasi, yang masih tahu memikirkan tentang 'domba' dan 'gembala'?"

Jika Anda adalah seorang "gembala" (pemimpin jemaat), ketika membaca kutipan di atas mungkin Anda merasa tersanjung mendapat sebutan sebagai seorang "gembala" karena Yesus sendiri menyebut diri sebagai "Gembala" dan tugas yang diemban oleh "gembala" sangatlah dihargai oleh Tuhan. Menjadi "gembala" merupakan panggilan yang mulia, melakukan tugas sebagai seorang "gembala" merupakan suatu "hak istimewa" yang tidak Tuhan berikan kepada setiap orang, tapi hanya kepada orang-orang tertentu saja.

Tapi jika Anda seorang "domba" (jemaat), maka kutipan di atas membuat anda merasa tersanjung, karena bagi "domba" memiliki "gembala" artinya seperti mendapatkan "hak istimewa" untuk dilayani. Maka tidak heran jika Anda menginginkan seorang "gembala" yang selalu siap sedia melayani dan melindungi 'domba-domba-Nya, kalau perlu 24 jam. Anda akan jengkel kalau mendengar "gembala" yang mengeluh atau mengharapkan pujian dari apa yang dilakukannya, karena sebagai seorang "gembala" sudah sepantasnya kalau ia menderita dan berkorban bagi domba-domba- Nya.

Melihat kontras dua pemikiran di atas, saya tertarik untuk mengutipkan beberapa surat-surat terbuka yang ditulis oleh 'domba-domba" yang ditujukan kepada "gembala-gembala"nya. Sangat menarik mengetahui apa yang dipikirkan oleh "domba-domba" tentang "gembala-gembala"nya. Namun sambil anda membaca kutipan surat-surat tsb., saya mengajak anda untuk merenungkan dan menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini:

  1. Jika anda seorang "gembala" jemaat:
    1. Pernahkah anda memahami tugas berat yang harus diemban seorang "gembala"?
    2. Apa reaksi anda bila anda menerima surat-surat seperti itu?
    3. Inginkah anda menerima surat-surat seperti itu dari "domba- domba" anda?
    4. Dalam hal bagaimana anda pantas menerima pujian-pujian dari "domba-domba" anda?
    5. Dalam hal bagaimana anda pantas menerima kritikan-kritikan dari "domba-domba" anda?
  2. Jika anda seorang "domba" jemaat:
    1. Pernahkan anda memahami beratnya tugas seorang "gembala" jemaat?
    2. Pernahkah anda mensyukuri apa yang "gembala" anda lakukan bagi "domba-domba" jemaatnya?
    3. Bagaimana reaksi "gembala" anda jika anda menulis surat-surat seperti itu kepadanya?
    4. Pernahkah anda menyatakan penghargaan kepada 'gembala" anda secara terbuka?
    5. Apa pentingnya bagi "gembala" anda untuk mengetahui apa yang anda pikirkan tentang dia dan tugasnya?

Selamat merenungkan. Kiranya kiriman saya ini dapat menjadi berkat bagi ke dua belah pihak; "gembala" dan "domba".

In Christ,
Yulia

Penulis: 
R.C. Sproul
Edisi: 
033/X/2002
Isi: 

Pasal 5 (Bag. 1)
KEMATIAN ROHANI DAN KEHIDUPAN ROHANI: KELAHIRAN BARU DAN IMAN

Teologi "Reformed" terkenal dengan singkatan TULIP yang dibuat untuk meringkas apa yang disebut "Five points of Calvinism." TULIP dijabarkan sebagai berikut:

T
U
L
I
P
:
:
:
:
:
Total Depravity
Unconditional Election
Limited Atonement
Irresistible Grace
Perseverance of the Saints

TULIP ini telah membantu banyak orang untuk mengingat keunikan teologi "Reformed". Tetapi, TULIP juga telah banyak menimbulkan kebingungan dan kesalahmengertian. Sebuah singkatan biasanya dibuat berdasarkan kata-kata yang telah ada dan disusun sedemikian rupa supaya terlihat indah. Tetapi singkatan ini hanya berfungsi sebagai alat bantu untuk mengingat.

Persoalan pertama tentang TULIP ini adalah dengan huruf pertama. Total Depravity merupakan istilah yang bisa membawa pada konsep yang sangat menyesatkan. Konsep dari "Total Depravity" sering disamakan dengan "Utter Depravity." Dalam teologi "Reformed", "Total Depravity" berarti bahwa seluruh kemanusiaan kita telah jatuh ke dalam dosa. Artinya tidak ada satu bagian pun dari diri kita yang tidak terkena pengaruh dari Kejatuhan itu. Dosa mempengaruhi kehendak kita, hati kita, pikiran kita, dan tubuh kita. Saya kira apabila Adam tidak pernah berdosa, ia tidak akan pernah membutuhkan kacamata plus pada waktu ia mencapai usia setengah baya. Bahkan istilah setengah baya tidak akan berarti apa-apa bagi Adam. Karena, apabila Adam tidak jatuh ke dalam dosa, maka Adam tidak akan mengalami kematian. Bila seseorang hidup untuk selama-lamanya, maka masa setengah baya tentu tidak berlaku bagi dirinya.

"Total Depravity" juga menekankan fakta bahwa dosa telah mencapai pusat dari keberadaan kita. Dosa bukan merupakan sesuatu yang berakibat pada kulitnya saja, atau setitik noda yang mengotori manusia yang sempurna. Dosa berakibat sangat radikal, oleh karena dosa telah menyentuh akar kehidupan kita.

"Total Depravity" bukan "Utter Depravity." "Utter Depravity" berarti bahwa kita semua adalah orang yang berdosa, dimana tidak ada kebaikan lagi yang dapat dihasilkan dari kita. Kita tahu bahwa bukan begitu yang terjadi pada diri manusia. Karena, seberapa pun jauhnya kita telah berbuat dosa, kita masih tetap dapat memikirkan dosa yang lebih buruk yang dapat kita lakukan. Bahkan Adolf Hitler tidak membunuh ibu kandungnya sendiri.

Oleh karena "Total Depravity" sering disamakan artinya dengan "Utter Depravity", maka saya lebih suka memakai istilah "radical corruption" (pencemaran yang radikal) dari manusia, meskipun itu akan mengacaukan singkatan kita. Pengertian karakter dosa yang radikal mungkin merupakan konsep yang paling penting untuk kita mengerti jika kita akan menjelaskan doktrin predestinasi yang Alkitabiah. Sebagaimana yang telah saya singgung dalam pembahasan kita tentang ketidakmampuan moral manusia, ini merupakan inti dari seluruh perdebatan tersebut.

Saya teringat pada waktu mengajar teologi di sebuah Sekolah Teologi. Kelas itu terdiri dari 25 mahasiswa yang berasal dari berbagai denominasi. Pada awal kuliah tentang predestinasi, saya bertanya kepada mereka, berapa orang di antara mereka yang menganggap dirinya memiliki pandangan predestinasi Calvinis. Hanya satu orang yang mengangkat tangannya.

Kami mulai dengan pelajaran tentang keberdosaan manusia. Setelah saya memberikan kuliah selama beberapa hari tentang topik ini, kemudian saya bertanya lagi, "Berapa banyak di antara kalian yang yakin bahwa apa yang baru saja kalian pelajari itu merupakan doktrin keberdosaan manusia yang diajarkan oleh Alkitab?" Semua mahasiswa mengangkat tangannya. Saya bertanya, "Apakah kalian yakin?" Mereka menegaskan bahwa mereka sungguh-sungguh yakin. Saya memberi peringatan selanjutnya, "Hati-hatilah sekarang. Hal ini bisa datang lagi membayangi kalian dalam kuliah-kuliah yang berikutnya." Tetapi, mereka tetap menegaskan bahwa mereka yakin.

Pada waktu itu saya menulis tanggal hari itu di sudut papan tulis. Tepat di samping tanggal itu saya menuliskan angka 25. Saya melingkari catatan itu dan memohon supaya petugas tidak menghapus tulisan tersebut.

Beberapa minggu kemudian, kami mulai belajar doktrin predestinasi. Ketika saya tiba pada topik mengenal ketidakmampuan moral manusia, maka timbul protes keras dari para mahasiswa. Saya kemudian menunjuk pada sudut papan tulis serta menunjukkan catatan persetujuan mereka. Saya membutuhkan waktu dua minggu untuk meyakinkan mereka bahwa jika mereka sungguh-sungguh menerima pandangan Alkitab tentang pencemaran yang terjadi pada umat manusia, maka perdebatan tentang predestinasi telah selesai.

Secara singkat, saya akan berusaha untuk melakukan hal yang sama dalam bagian ini. Saya melanjutkan dengan peringatan yang sama.

PANDANGAN ALKITAB TENTANG PENCEMARAN UMAT MANUSIA

Marilah kita mulai pelajaran kita ini tentang tingkat kejatuhan manusia dengan memperhatikan surat Roma Pasal 3. Di sini Paulus menulis:

"Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.
Tidak ada seorang pun yang berakal budi,
tidak ada seorang pun yang mencari Allah.
Semua orang telah menyeleweng,
mereka semua tidak berguna,
tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak."
(Rm. 3:10-12)

Di sini kita melihat pencemaran umat manusia yang bersifat universal. Dosa itu berakibat sangat luas dan telah mencapai setiap orang tanpa terkecuali. Paulus memakai kata-kata yang tegas untuk memperlihatkan bahwa tidak ada pengecualian di antara manusia yang telah jatuh dalam dosa. Tidak ada seorang pun yang benar, tidak ada seorang pun yang berbuat baik.

Pernyataan "tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak" adalah menentang asumsi kita yang telah membudaya. Kita bertumbuh menjadi dewasa serta mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna. Pernyataan bahwa kita adalah orang-orang berdosa merupakan pernyataan yang mudah kita terima, tetapi kita tidak dapat menerima pernyataan bahwa tak seorang pun diantara kita yang berbuat baik. Tidak ada satu orang pun di antara seribu orang yang mau mengakui bahwa dosa adalah masalah yang seserius ini.

Tidak ada seorang pun yang berbuat baik? Bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi? Setiap hari kita melihat orang-orang tidak percaya kepada Allah yang berbuat kebaikan. Kita melihat mereka bersedia untuk berkorban, bekerja dengan rajin, hati-hati, dan jujur. Dan kita melihat orang-orang yang tidak percaya itu dengan seksama menaati batas kecepatan, sedangkan mobil-mobil lain, yang menempelkan slogan-slogan Kristen, melaju cepat menyusul mereka.

Paulus pasti menggunakan gaya bahasa hiperbola di sini. Ia pasti dengan sengaja membesar-besarkan dengan maksud menekankan apa yang ia ingin sampaikan. Tetapi sesungguhnya pasti ada manusia yang berbuat baik. Tidak, anggapan itu salah! Allah yang benar, melalui Paulus menyatakan bahwa tidak ada orang yang berbuat baik, seorang pun tidak.

Kita tersandung di sini, karena kita mempunyai pengertian yang relatif tentang arti "baik" itu. Sesungguhnya baik itu adalah istilah yang relatif pula. Sesuatu itu hanya dapat dinilai baik menurut standar tertentu. Kita memakai istilah itu sebagai perbandingan di antara manusia. Ketika kita mengatakan bahwa orang itu baik, maksud kita adalah orang itu baik bila dibandingkan dengan orang-orang lain. Tetapi standar tertinggi untuk kebaikan, yaitu standar yang akan dipakai untuk menghakimi kita, adalah Hukum Allah. Hukum itu bukanlah Allah, tetapi hukum itu datang dari Allah dan merefleksikan karakter Allah yang sempurna. Jika penilaian terhadap manusia didasarkan pada standar Allah itu, maka tidak ada seorang pun yang baik.

Menurut kategori Alkitab, kebaikan diukur dari dua segi. Pertama, kesesuaian lahiriah dengan hukum Allah. Artinya, jika Allah melarang mencuri, maka adalah baik untuk tidak mencuri. Adalah baik untuk mengatakan kebenaran. Adalah baik untuk membayar hutang atau rekening kita tepat pada waktunya. Adalah baik untuk menolong orang lain yang sedang membutuhkan. Perbuatan-perbuatan lahiriah ini dilakukan setiap hari. Oleh karena itu, pada waktu kita melihat orang melakukan kebaikan-kebaikan itu, maka dengan cepat kita menyimpulkan bahwa orang itu sesungguhnya melakukan hal-hal yang baik.

Kedua, cara penilaian yang kedua inilah yang membawa kita pada kesulitan. Karena, sebelum Allah menyatakan bahwa perbuatan itu "baik", Ia tidak hanya menilai kesesuaian tindakan luarnya dengan Hukum Allah, melainkan juga motivasinya. Kita melihat secara lahiriah saja, tetapi Allah melihat apa yang ada di dalam hati kita. Suatu tindakan dinilai baik apabila tindakan itu sesuai dengan Hukum Allah secara lahiriah, dan dilakukan dengan motivasi yang tulus yaitu untuk mengasihi Allah.

Kita ingat Hukum Allah yang terutama, yaitu mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap kekuatan, dan dengan segenap akal budi...dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri. Setiap tindakan yang kita perbuat harus dimulai dari hati yang sepenuhnya mengasihi Allah.

Dari kerangka berpikir seperti ini, maka mudahlah bagi kita untuk melihat kenyataan bahwa tidak ada seorang pun yang berbuat baik. Tindakan-tindakan kita yang terbaik dinodai oleh motivasi yang tidak murni. Tidak ada seorang pun di antara kita yang pernah mengasihi Allah dengan segenap hati atau dengan segenap akal budinya. Ada unsur kedagingan kita yang selalu terlibat dalam semua tindakan kita, sehingga membuat tindakan kita tidak sempurna.

Jonathan Edwards menyatakan tentang konsep Pencerahan Interes Pribadi. Pencerahan Interes Pribadi menunjuk pada motivasi yang mendorong kita untuk melakukan tindakan lahiriah yang benar dan menahan diri terhadap dorongan-dorongan dari dalam diri kita sendiri yang mendorong kita untuk melakukan yang jahat. Ada waktu-waktu tertentu dan tempat-tempat tertentu di mana tindakan kriminal itu tidak menguntungkan. Jika tindakan kriminal itu menanggung resiko hukuman yang lebih berat dari pada upah yang kita terima, maka kita cenderung untuk tidak melakukannya. Sebaliknya, kita mungkin melakukan tindakan-tindakan yang saleh, tetapi hanya untuk mendapatkan sanjungan dari orang. Kita mungkin melakukan perbuatan-perbuatan tertentu yang baik, tetapi hanya untuk mendapat pujian dari guru atau penghargaan dari teman-teman kita.

Seluruh dunia menghargai para artis ketika mereka bersama-sama memproduksi rekaman sebuah album dengan tujuan khusus, yakni mengumpulkan dana untuk membantu bencana kelaparan di Etiopia. Tepukan dan sorakan biasanya tidak merugikan karier seorang artis. Meskipun ada pernyataan sinis yang mengatakan bahwa etika dan bisnis tidak berjalan bersama-sama. Sebaliknya, kebanyakan dari kita telah belajar bahwa etika mengembangkan reputasi kita dalam bisnis.

Saya tidak berpikir sebegitu sinis dengan anggapan bahwa apa yang dilakukan oleh para artis bagi Etiopia itu hanya sekedar untuk mendapatkan pujian bagi si artis itu sendiri semata-mata atau sekedar pertunjukan umum. Pasti ada motivasi yang kuat atas dasar belas kasihan dan perhatian terhadap orang-orang yang kelaparan. Tetapi, saya tidak berfikir sebegitu naif bahwa motivasi mereka sama sekali terlepas dari interes (kepentingan) pribadi. Belas kasihan mereka dapat dikatakan lebih besar dari pada interes pribadi mereka sendiri, tetapi betapapun kecilnya, pasti ada unsur interes pribadi yang terkandung di dalamnya. Hal ini selalu terjadi di dalam diri kita. Jika kita menyangkal akan hal ini, maka saya curiga bahwa penyangkalan kita tersebut sebagian dimotivasi oleh interes pribadi kita.

Kita mau menyangkali dugaan ini. Kita merasakan dalam hati kita sendiri bahwa kadang-kadang kita memiliki perasaan untuk melakukan sesuatu hanya sekedar untuk memenuhi kewajiban belaka. Kita suka beranggapan bahwa kita benar-benar tidak mementingkan diri sendiri. Tetapi tidak pernah seorang pun menyanjung kita lebih dari kita menyanjung diri kita sendiri. Kadang-kadang motivasi kita mungkin lebih cenderung kepada hal mementingkan orang lain, tetapi motivasi kita tidak pernah secara sempurna demi kepentingan orang lain.

Allah menuntut kita untuk sempurna. Tidak seorang pun di antara kita yang dapat melakukan perbuatan sampai pada taraf yang sempurna. Kita tidak pernah melakukan apa yang Allah perintahkan. Karena itu, tentu rasul Paulus tidak berlebih-lebihan. Penilaian-Nya adalah akurat. Tidak ada orang yang berbuat baik, seorang pun tidak. Tuhan Yesus sendiri menekankan hal ini pada waktu Ia berbicara dengan orang muda yang kaya. "... Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja" (Luk. 18:19).

Pernyataan yang lain dalam surat Roma, yang sama sukarnya dengan pernyataan ini, bisa lebih mencemaskan kita, khususnya bagi orang Kristen Injili yang berbicara dan berpikir bertentangan dengan pernyataan tersebut. Paulus menyatakan, "Tidak ada seorang pun yang mencari Allah."

Berapa kalikah Anda mendengar orang Kristen berkata, atau Anda sendiri pernah mengatakannya, "Si anu bukan orang Kristen, tetapi ia sedang mencari-cari?" Ini merupakan pernyataan yang biasa di dengar di kalangan orang Kristen. Idenya adalah bahwa ada manusia di dunia ini yang sedang mencari Allah. Persoalan mereka adalah bahwa mereka belum mampu untuk menemukan Dia. Ia sedang bermain "sembunyi-sembunyian". Ia sukar untuk diketemukan.

Di Taman Eden, pada saat dosa masuk ke dalam dunia, siapakah yang bersembunyi? Yesus datang ke dunia ini untuk mencari dan menyelamatkan yang tersesat. Bukan Yesus yang bersembunyi. Allah bukanlah buronan. Kita yang terus melarikan diri. Alkitab menyatakan bahwa orang fasik melarikan diri padahal tidak ada seorang pun yang mengejarnya. Seperti apa yang ditandaskan oleh Luther, "Orang yang tidak percaya Allah gemetar pada bunyi kerisik sehelai daun yang tertiup oleh angin." Ajaran Alkitab yang sama menyatakan bahwa manusia yang jatuh dalam dosa melarikan diri dari Allah. Tak seorang pun yang mencari Allah.

Ajaran Alkitab begitu jelas memaparkan bahwa tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Tetapi, mengapa orang Kristen bersikeras untuk menyatakan bahwa ada orang yang sedang mencari Allah tetapi orang itu belum menemukan Dia? Thomas Aquinas memberikan sedikit penjelasan tentang hal ini. Aquinas berkata bahwa kita dibingungkan dengan dua tindakan manusia yang serupa tapi tak sama. Kita melihat orang-orang yang berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan pikiran yang damai, kebebasan dari kesalahan, makna dan tujuan hidup, dan penerimaan yang penuh kasih. Kita tahu bahwa akhirnya hal-hal ini hanya dapat ditemukan di dalam Allah. Karena itu kita menyimpulkan bahwa oleh karena manusia sedang mencari hal-hal ini, maka mereka pasti sedang mencari Allah.

Manusia tidak mencari Allah. Mereka mencari keuntungan-keuntungan yang hanya dapat diberikan oleh Allah. Dosa dari manusia yang telah jatuh ke dalam dosa adalah: Manusia mencari keuntungan-keuntungan dari Allah dan pada waktu yang sama mereka melarikan diri dari Allah itu sendiri. Kita pada dasarnya adalah buronan.

Alkitab berulang kali memerintahkan kepada kita untuk mencari Allah. Perjanjian Lama berseru, "Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui..." (Yes. 55:6). Yesus bersabda,"... Carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu" (Mat. 7:7). Kesimpulan yang dapat kita ambil dari teks ini adalah bahwa oleh karena kita diperintahkan untuk mencari Allah, maka hal itu pasti berarti bahwa, biarpun kita dalam status telah jatuh ke dalam dosa, tetapi kita tetap mempunyai kemampuan moral untuk mencari-Nya. Tetapi kepada siapakah sebenarnya ayat-ayat ini ditujukan? Di dalam Perjanjian Lama, mereka adalah bangsa Israel yang dipanggil untuk mencari Tuhan. Di dalam Perjanjian Baru, ayat-ayat itu ditujukan kepada orang percaya yang dipanggil untuk mencari kerajaan Allah.

Kita mungkin pernah mendengar seorang hamba Tuhan mengutip dari kitab Wahyu: "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku" (Wahyu 3:20). Biasanya hamba Tuhan mengaplikasikan ayat ini kepada orang yang belum bertobat, dengan berkata, "Yesus sedang mengetok pintu hatimu. Jika engkau membuka pintu, maka Ia akan masuk." Padahal sebenarnya Yesus menujukan ayat ini kepada jemaat-Nya. Ayat ini sebenarnya bukan merupakan seruan penginjilan.

Jadi, orang yang tidak percaya tidak pernah mencari Allah berdasarkan kekuatannya sendiri atau inisiatifnya sendiri. Orang yang tidak percaya tidak akan mencari. Orang yang tidak percaya tidak akan mengetok. Mencari adalah urusan/kesibukan orang-orang percaya. Edwards berkata, "Mencari kerajaan Allah adalah urusan/kesibukan utama dalam kehidupan orang Kristen." Mencari adalah akibat atau hasil dari iman, bukan penyebab dari iman.

Ketika kita bertobat kepada Kristus, kita memakai kata menemukan untuk mengekspresikan pertobatan kita. Kita mengatakan bahwa kita telah menemukan Kristus. Kita mungkin mempunyai sejumlah stiker dengan tulisan, "SAYA TELAH MENEMUKANNYA" Pernyataan ini benar. Tetapi dalam arti sebagai berikut: Pada saat kita menemukan Kristus, saat itu bukan merupakan akhir dari pencarian kita, melainkan awal dari pencarian kita. Biasanya, pada saat kita mendapatkan apa yang kita cari, hal itu merupakan tanda berakhirnya pencarian kita. Tetapi, ketika kita "mendapatkan" Kristus, itu adalah awal dari pencarian kita. Kehidupan orang Kristen dimulai pada saat pertobatan, dan kehidupan ini tidak berakhir pada saat dimulai. Kehidupan ini bertumbuh, bergerak dari iman kepada iman, dari anugerah kepada anugerah, dari hidup kepada hidup. Gerakan pertumbuhan ini digerakkan oleh pencarian akan Allah secara terus menerus.

Ada satu hal lagi yang perlu kita pelajari secara singkat dari surat Roma pasal 3. Rasul Paulus tidak hanya menyatakan bahwa tidak ada seorangpun yang mencari Allah, tetapi ia juga menambahkan bahwa "mereka semua tidak berguna." Kita harus ingat bahwa di sini Paulus sedang berbicara mengenai manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, manusia alamiah, manusia yang belum bertobat. Ini adalah gambaran tentang manusia yang masih berada di dalam kedagingannya.

Apa yang dimaksudkan Paulus dengan "Tidak berguna"? Sebelumnya Yesus pernah berbicara tentang hamba yang tidak berguna. Berguna harus dikaitkan dengan nilai yang positif. Orang yang belum bertobat, berjalan dalam kedagingan, tidak menghasilkan nilai yang kekal. Dalam kedagingannya ia boleh mendapatkan seluruh dunia ini tetapi kehilangan hal yang paling berharga dari dirinya sendiri, yaitu jiwanya sendiri. Harta milik yang paling bernilai yang dapat dimiliki seseorang adalah Kristus. Ia adalah mutiara yang termahal. Memiliki Yesus Kristus berarti memiliki keuntungan/manfaat yang terbesar.

Seseorang yang mati secara rohani, maka ia, dengan kedagingannya, tidak dapat mendapatkan manfaat apa-apa dari Kristus. Ia dilukiskan sebagai orang yang tidak memiliki rasa takut akan Allah (Roma 3:18). Orang yang tidak benar, yang tidak berbuat baik, yang tidak pernah mencari Allah, yang sama sekali tak berguna, dan yang tidak takut akan Allah, tidak pernah mengarahkan hatinya kepada Kristus.


Pasal 5 (Bag. 2)
KEMATIAN ROHANI DAN KEHIDUPAN ROHANI: KELAHIRAN BARU DAN IMAN

(Oleh : R.C. Sproul)

KEBANGKITAN DARI KEMATIAN ROHANI

Penyembuhan bagi kematian rohani adalah dengan cara penciptaan kehidupan rohani di dalam jiwa kita oleh Allah Roh Kudus. Ringkasan pekerjaan ini diberikan kepada kita dalam Surat Efesus:

"Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa- dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih- Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita--oleh kasih karunia kamu diselamatkan-- dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya"(Ef. 2:1-10).

Di sini kita menemukan satu perikop tentang predestinasi yang sangat baik dan jelas. Perhatikanlah bahwa sepanjang perikop tersebut Paulus sangat menekankan akan kekayaan anugerah Allah. Kita tidak boleh meremehkan anugerah Allah itu. Perikop ini memproklamasikan kehidupan yang baru yang diciptakan oleh Roh Kudus di dalam diri kita.

Pekerjaan Roh Kudus ini kadang-kadang disebut "quickening" (pembangkitan kembali/pekerjaan menghidupkan kembali). Kata ini hampir tidak pernah kita dengar dalam percakapan sehari-hari. Istilah ini secara eksklusif dipakai untuk melukiskan suatu peristiwa yang terjadi pada waktu kehamilan. "Quickening" menunjuk pada perasaan yang pertama kali dirasakan oleh seorang wanita, yaitu adanya suatu kehidupan dari bayi yang ada di dalam kandungannya.

"Quickening" (pembangkitan kembali/hal menghidupkan kembali) di bagian lain dari Alkitab disebut "regeneration" (kelahiran baru). Istilah "regeneration" itu sendiri berarti "a generating again" (hal membangkitkan lagi atau hal menyebabkan terjadi/mulai lagi). "To generate" berarti menyebabkan terjadi/mulai. Contohnya kitab pertama dalam Alkitab merupakan tentang permulaan-permulaan yang disebut "Genesis". kata depan re berarti "lagi". Kata regeneration berarti memulai lagi sesuatu. Jadi yang kita bicarakan di sini adalah permulaan yang baru suatu kehidupan, yaitu permulaan kehidupan rohani.

Gambaran mengenai kehidupan ini dikontraskan dengan gambaran mengenai kematian. Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa dilukiskan sebagai manusia yang telah "mati di dalam dosanya". Untuk membuat manusia yang telah mati di hadapan Allah ini menjadi hidup di hadapan Allah, maka Allah harus melakukan sesuatu "terhadap" dan "untuk" dia. Orang yang telah mati tidak dapat menghidupkan dirinya sendiri. Orang yang telah mati tidak dapat menciptakan kehidupan rohani di dalam dirinya sendiri. Paulus dengan sangat jelas menyatakan bahwa hanya Allah yang dapat menghidupkan kembali manusia itu, dan hanya Allah saja yang dapat membangkitkan/menghidupkan kita dari kematian rohani.

Manusia yang telah jatuh dalam dosa adalah mati di dalam dosa. Ia dilukiskan di sini sebagai orang yang "pada dasarnya adalah orang yang dimurkai." Pola kehidupan orang yang telah jatuh ke dalam dosa adalah "mengikuti jalan dunia ini." Ketaatannya bukanlah kepada Allah, melainkan kepada penguasaan kerajaan angkasa. Paulus menandaskan bahwa ini bukan hanya merupakan kondisi dari orang-orang berdosa yang paling buruk, melainkan kondisi Paulus sendiri dan saudara-saudaranya yang seiman sebelum bertobat. ("Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menurut kehendak daging dan pikiran kami yang jahat...").

Kebanyakan, pandangan presdestinasi dari "Non-Reformed" tidak secara serius memperhatikan fakta bahwa manusia yang telah jatuh dalam dosa itu adalah mati secara rohani. Kaum Injili yang lain mengakui bahwa manusia telah jatuh ke dalam dosa dan kejatuhan manusia itu merupakan hal yang serius. Mereka bahkan mengakui bahwa dosa merupakan persoalan yang berakibat radikal. Mereka tidak ragu-ragu untuk mengemukakan bahwa manusia itu tidak hanya sekedar sakit, tetapi sakit yang bersifat kekal, sakit sampai mati. Tetapi manusia belum mati. Manusia masih memiliki nafas kehidupan rohani yang kecil yang tertinggal di dalam tubuhnya. Manusia masih memiliki sedikit kebenaran dalam hatinya, sedikit kemampuan moral yang tertinggal dalam kejatuhannya.

Saya pernah mendengar dua ilustrasi dari seorang hamba Tuhan yang memohon pertobatan dari para pendengarnya. Ilustrasi pertama adalah sebuah analogi tentang seseorang yang menderita penyakit yang mematikan. Orang berdosa sama seperti seseorang yang menderita penyakit yang mematikan. Ia tidak mampu untuk menyembuhkan dirinya sendiri dari penyakit itu. Ia terbaring di atas tempat tidur dengan keadaan hampir lumpuh total. Ia tidak dapat sembuh jika Allah tidak memberikan obat yang dapat menyembuhkannya. Orang itu sedemikian buruk kondisinya sehingga ia tidak mampu mengulurkan tangannya untuk menerima obat itu. Oleh karena itu, Allah bukan hanya menawarkan obat itu tetapi Allah harus meletakkan obat itu pada sebuah sendok dan kemudian menyodorkan pada mulut orang itu. Kalau Allah tidak melakukan hal itu, maka orang itu pasti meninggal. Tetapi walaupun Allah telah melakukan 99% dari apa yang harus diperbuat-Nya, orang itu masih tetap harus melakukan yang 1%lagi. Ia harus membuka mulutnya untuk memakan obat itu. Ini adalah saatnya bagi kehendak bebas untuk berperan, di mana keputusan yang diambil oleh orang itu akan menentukan apakah dia akan ke surga atau ke neraka. Orang yang membuka mulutnya untuk menerima pemberian obat itu akan diselamatkan. Sebaliknya, orang yang tetap mengatupkan mulutnya akan binasa.

Analogi ini hampir saja dengan benar menafsirkan pengajaran Alkitab dan pengajaran Paulus tentang anugerah kelahiran baru. Tetapi analogi tersebut tidak sepenuhnya tepat. Alkitab tidak membicarakan orang berdosa yang menderita sakit yang mematikan. Menurut Paulus, orang berdosa telah mati. Tidak ada sedikitpun kehidupan rohani yang teringgal di dalam dirinya. Jikalau orang berdosa mau dijadikan hidup, Allah harus berbuat lebih banyak dari pada sekedar memberikan obat baginya. Orang mati tidak akan membuka mulutnya untuk menerima apapun yang disodorkan. Rahang mereka sudah terkunci dalam kematian itu. Orang berdosa harus dibangkitkan dari kematiannya itu. Orang berdosa harus dibangkitkan dari kematian. Orang berdosa harus menjadi ciptaan baru yang diciptakan oleh Kristus dan dilahirkan kembali oleh Roh Kudus.

Ilustrasi kedua berikut ini merupakan ilustrasi yang juga sangat terkenal dalam usaha penginjilan. Dalam ilustrasi yang kedua ini, manusia yang telah jatuh ke dalam dosa digambarkan sebagai seseorang yang sedang tenggelam dan tidak dapat berenang. Orang ini telah timbul tenggelam cukup lama di dalam air. Jikalau ia terbenam ke dalam air sekali lagi, maka ia akan mati. Harapan satu-satunya ialah Allah melemparkan alat penyelamat kepadanya. Allah lalu melemparkan alat penyelamat itu tepat di sisi jari-jari orang yang akan tenggelam itu. Yang harus dilakukan orang itu supaya diselamatkan adalah memegang erat penyelamat itu. Jika ia memegang alat itu, maka Allah akan menariknya ke darat. Sebaliknya apabila ia menolak alat penyelamat itu, maka ia pasti akan binasa.

Sekali lagi, dalam ilustrasi ini jelas menunjukkan penekanan yang sama: ketidakberdayaan manusia tanpa pertolongan Allah. Orang yang tenggelam itu berada dalam kondisi serius. Ia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Tetapi, ia masih hidup. Ia masih dapat mengulurkan jari-jarinya serta memegang erat alat penyelamat itu. Jari-jarinya merupakan penghubung yang krusial dengan keselamatan dirinya. Nasibnya dalam kekekalan bergantung kepada apa yang dilakukannya dengan jari-jari tangannya itu.

Paulus berkata bahwa manusia telah mati. Manusia tidak hanya akan tenggelam, melainkan ia telah tenggelam di dasar lautan. Oleh karena itu, tidak ada gunanya melemparkan alat penyelamat kepada seorang yang sudah tenggelam. Menurut saya, apa yang dimaksudkan oleh Paulus ialah Allah menyelam ke dalam air serta menarik orang mati itu dari dasar lautan dan kemudian melakukan tindakan ilahi, yaitu menghembuskan nafas kepada orang mati itu dan memberikan hidup yang baru kepadanya.

Adalah penting untuk mengerti bahwa regenerasi itu berhubungan dengan hidup baru. Regenerasi berarti kelahiran baru atau dilahirkan kembali. Orang sering kali bingung dalam hal ini. Kelahiran baru yang disebut dalam Alkitab dikaitkan dengan kehidupan baru yang merupakan milik kita di dalam Kristus. Sama seperti di dalam ilmu biologi natural bahwa tidak akan ada kehidupan tanpa kelahiran, demikian pula halnya dalam hal-hal yang supranatural, yaitu tidak akan ada kehidupan baru tanpa kelahiran baru.

Kelahiran dan kehidupan memang berkaitan erat, tetapi keduanya bukan hal yang sama. Kelahiran adalah awal dari kehidupan yang baru. Kelahiran merupakan saat yang menentukan. Kita mengerti hal itu dalam masalah biologi yang umum. Setiap tahun kita merayakan hari kelahiran kita. Kita tidak sama dengan ratu dalam cerita Alice in wonderland yang merayakan semua hari yang bukan hari kelahirannya. Kelahiran adalah pengalaman satu kali. Hari itu bisa dirayakan tetapi tidak bisa di ulangi. Ini adalah momen transisi yang menentukan apakah seseorang itu sudah dilahirkan atau belum.

Demikian pula halnya dengan kelahiran kembali secara rohani. Kelahiran kembali menghasilkan kehidupan yang baru. Kelahiran kembali itu merupakan awal dari kehidupan baru tetapi bukan merupakan keseluruhan dari kehidupan yang baru. Kelahiran baru adalah momen transisi yang penting dari kematian rohani kepada kehidupan rohani. Seseorang tidak pernah dilahirkan kembali secara sebagian. Oleh karena itu, hanya ada satu kemungkinan: orang itu sudah dilahirkan baru atau belum dilahirkan baru.

Pengajaran Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa regenerasi merupakan pekerjaan Allah semata-mata. Kita tidak dapat melahirbarukan diri kita sendiri. Daging tidak dapat menghasilkan roh. Regenerasi merupakan tindakan penciptaan. Allah yang melakukan penciptaan itu.

Dalam teologi ada istilah teknis yang dapat membantu kita untuk lebih mengerti masalah ini, yaitu monergisme, yang berasal dari dua akar kata. Mono artinya "satu". Monopoli merupakan suatu usaha yang memiliki pasaran untuk dirinya sendiri. "Monoplane" merupakan pesawat terbang dengan single-winged (berbaling-baling satu). Erg menunjuk pada satuan usaha. Dari kata itu kita mendapat kata umum yang selalu dipakai yaitu energi.

Menggabungkan kedua akar kata tersebut, maka kita mendapatkan arti "one-working" (usaha satu pihak). Ketika kita mengatakan bahwa regenerasi adalah monergistik, maksud kita adalah bahwa hanya satu pihak saja yang melakukan pekerjaan itu. Pihak itu adalah Allah Roh Kudus. Dialah yang melahirbarukan kita. Kita tidak mampu untuk melakukannya sendiri, atau membantu-Nya untuk melaksanakan tugas itu.

Seolah-olah kita memperlakukan manusia seperti boneka. Boneka dibuat dari bahan kayu. Boneka tidak dapat memberikan tanggapan. Boneka itu lembam, tanpa kehidupan. Boneka itu digerakkan dengan tali-tali dalam pertunjukan panggung boneka. Tetapi, kita tidak berbicara tentang boneka. Manusia tidak sama dengan boneka. Kita berbicara tentang manusia yang merupakan mayat secara rohani. Manusia ini tidak memiliki hati yang terbuat dari serbuk gergaji, tetapi terbuat dari batu. Manusia ini tidak digerakkan oleh tali-temali. Secara biologis manusia ini masih hidup. Manusia ini dapat bergerak dan bertindak. Manusia ini membuat keputusan-keputusan, tetapi mereka tidak pernah mengambil keputusan bagi Allah.

Setelah Anda melahirbarukan jiwa manusia, yaitu setelah Allah membuat kita hidup kembali secara rohani, kita melakukan pemilihan. Kita percaya. Kita memiliki iman. Kita bersandar kepada Kristus. Perihal kita percaya kepada Kristus itu tidak diputuskan oleh Allah. Allah tidak memutuskan hal percaya itu bagi kita. Tetapi, kita sendirilah yang memutuskan untuk percaya kepada Kristus setelah kita dilahirbarukan oleh Allah. Jadi, iman itu tidak bersifat monergistic (one-working atau usaha satu pihak) seperti kelahiran baru.

Sebelumnya, kita telah membahas tentang keadaan yang buruk dari manusia yang telah jatuh ke dalam dosa dan status dari kehendak manusia itu. Kita menegaskan bahwa walaupun manusia telah jatuh ke dalam dosa, tetapi ia tetap memiliki kehendak bebas, dalam pengertian bahwa ia masih dapat melakukan pemilihan/memilih. Masalah manusia berdosa, yang kita definisikan sebagai ketidakmampuan secara moral, adalah tidak adanya keinginan untuk memilih Kristus. Manusia itu tidak mau dan tidak mempunyai inklinasi untuk memilih Kristus. Manusia harus memiliki keinginan untuk memilih Kristus terlebih dahulu, sebelum ia dapat memilih Kristus. Oleh karena itu, jika manusia manusia itu tidak mempunyai keinginan untuk memiliki Kristus, maka ia tidak akan pernah bersedia menerima Kristus.

Dalam kelahiran baru, Allah mengubah hati kita. Allah memberikan kepada kita karakter yang baru dan kecenderungan yang baru. Ia menanamkan keinginan terhadap Kristus di dalam hati kita. Kita tidak akan pernah percaya kepada Kristus untuk memperoleh keselamatan jika kita tidak terlebih dahulu memiliki keinginan akan Kristus. Itulah sebabnya kami mengatakan bahwa regenerasi mengawali atau mendahului iman. Tanpa kelahiran baru, kita tidak memiliki keinginan akan Kristus, kita tidak memilki keinginan akan Kristus. Tanpa keinginan akan Kristus, kita tidak akan pernah memilih Kristus. Karena itu, kita menyimpulkan bahwa sebelum seseorang akan percaya, dan sebelum seseorang akan percaya, dan sebelum seseorang dapat percaya, Allah terlebih dahulu harus mengubah karakter hati orang tersebut.

Tindakan Allah untuk melahirbarukan kita adalah merupakan tindakan anugerah. Mari kita lihat kembali Efesus 2:4-5.

"Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita..."

Ada sebuah cindera mata pada meja tulis saya yang disulam oleh seorang wanita di sebuah gereja yang pernah saya layani. Pada cindera mata yang sederhana itu tertulis satu kata saja yakni "Tetapi". Ketika Paulus berbicara mengenai keadaan kerohanian manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, pembicaraan itu cukup membuat kita putus asa. Akhirnya sampai kepada kata penting yang membuat kita bisa bernafas lega. "Tetapi". Tanpa kata "tetapi" ini, maka kita diperhadapkan pada kebinasaan. Kata "tetapi" ini menunjuk pada esensi dari kabar baik itu.

Paulus berkata, "Tetapi Allah, yang kaya dengan rahmat..." Perhatikan bahwa ia tidak berkata, "Tetapi manusia, yang kaya dengan rahmat." Hanya Allah saja yang membuat kita hidup. Kapankah Ia melakukan hal itu? Paulus tidak membiarkan kita untuk menebak. Ia berkata, "...ketika kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita." Ini adalah anugerah yang sangat ajaib, karena diberikan kepada kita ketika kita berada dalam kematian rohani.

Paulus menyimpulkan bahwa hal itu semata-mata merupakan anugerah dan bukan hasil usaha manusia. Sebagaimana yang ia nyatakan dalam kesimpulan berikut, "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah." Ayat ini harus menjadi meterai bagi masalah ini untuk selama-lamanya. Iman yang menyelamatkan kita merupakan pemberian. Ketika rasul Paulus mengatakan bahwa itu bukan keluar dari diri kita, ia tidak bermaksud bahwa iman itu bukan iman kita. Sekali lagi, Allah tidak membuat kepercayaan itu untuk kita. Iman merupakan iman kita sendiri, tetapi iman itu tidak berasal dari kita. Iman itu diberikan kepada kita. Pemberian itu bukan merupakan hasil usaha kita atau diberikan oleh karena kita layak menerimanya, tetapi merupakan pemberian yang berdasarkan anugerah semata-mata.

Sepanjang "Reformed" Protestan, ada tiga slogan yang menjadi sangat terkenal. Slogan itu dinyatakan dalam bahasa latin: Sola fide, Sola gratia, dan Solo deo gloria. Ketiga slogan ini saling berkaitan erat satu dengan yang lain. Ketiga slogan itu tidak boleh dipisahkan satu dengan yang lain. Slogan itu berarti: Hanya dengan iman, Hanya dengan anugerah, dan Kemuliaan hanya bagi Allah saja.

ANUGERAH YANG TIDAK DAPAT DITOLAK (IRRESSISTIBLE GRACE)

Kebanyakan orang Kristen setuju bahwa pekerjaan Allah dalam regenerasi merupakan anugerah. Titik permasalahan yang telah membuat kita menjadi kelompok-kelompok adalah persoalan tentang apakah anugerah ini dapat ditolak atau tidak dapat ditolak. Apakah mungkin jika seseorang menerima anugerah kelahiran baru tetapi di dalam diri orang itu tetap tidak timbul iman kepada Kristus?

Kaum Calvinis akan menjawab dengan tegas : "Tidak!" Tetapi bukan dalam pengertian bahwa anugerah keselamatan Allah itu secara harfiah tidak bisa ditolak. Sekali lagi kita terbentur pada singkatan TULIP. Kita telah merubah singkatan TULIP menjadi RULIP dan sekarang kita akan mengubahnya lagi menjadi RULEP.

Istilah Irresitible grace dapat menyelewengkan arti yang sebenarnya. Kaum Calvinis percaya bahwa manusia dapat menolak dan benar-benar menolak anugerah Allah. Pertanyaannya adalah, "Apakah anugerah regenerasi dapat gagal untuk menyelesaikan tujuannya?" Patut diingat bahwa manusia yang mati secara rohani adalah masih hidup secara biologis. Mereka masih memiliki kehendak untuk berpaling dari Allah. Mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk menolak anugerah Allah. Sejarah Israel merupakan sejarah kekerasan hati manusia dan sejarah ketegartengkukan manusia yang berulang kali menolak anugerah Allah.

Anugerah Allah dapat ditolak dalam pengertian bahwa kita dapat menolaknya dan memang pada dasarnya kita menolaknya. Anugerah Allah tidak dapat ditolak dalam pengertian bahwa anugerah Allah pasti mencapai tujuannya. Anugerah Allah telah menjadikan kerinduan Allah menjadi kenyataan. Oleh karena itu, saya lebih suka memakai istilah effectual grace, atau anugerah yang efektif.

Kita sedang berbicara mengenai anugerah kelahiran baru. Pada waktu kelahiran baru, Allah menciptakan keinginan terhadap Diri-Nya Sendiri di dalam diri manusia. Dan pada saat keinginan itu ditanamkan dalam diri kita, kita tetap akan bertindak sebagaimana biasanya, yakni kita membuat pilihan/memilih berdasarkan motivasi yang terkuat pada waktu itu. Jadi, apabila Allah memberikan kepada kita keinginan terhadap Kristus, maka kita akan bertindak berdasarkan keinginan itu. Kita pasti akan memilih objek dari keinginan yang ada di dalam diri kita itu, yaitu kita akan memilih Kristus. Pada saat Allah menghidupkan kita secara rohani, maka kita menjadi hidup secara rohani. Allah tidak sekedar menciptakan suatu kemungkinan untuk menjadi hidup secara rohani. Allah sungguh-sungguh menciptakan kehidupan secara rohani di dalam diri kita. Pada saat Allah berfirman, maka terciptalah segala sesuatu yang Ia Firmankan.

Kita berbicara mengenai "panggilan internal dari Allah." Panggilan internal dari Allah memiliki kuasa dan keefektifan yang sama dengan penggilan-Nya ketika ia menciptakan dunia ini. Allah tidak mengundang dunia untuk menjadi ada. Dengan mandat Ilahi-Nya Allah berfirman, "Jadilah terang!" maka jadilah terang itu, dan tidak dapat terjadi sesuatu yang berbeda dengan apa yang difirmankan oleh Allah. Terang itu harus mulai bersinar seketika itu juga.

Apakah Lazarus dapat tinggal dalam kuburan pada waktu Yesus memanggilnya keluar? Yesus berseru, "Lazarus marilah ke luar!" Lazarus segera keluar dari kuburan itu. Ketika Allah melakukan tindakan menciptakan, Allah menggunakan kuasa yang hanya dimiliki oleh Allah sendiri. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk menjadikan sesuatu dari yang tidak ada, dan menjadikan kehidupan dari kematian.

Sampai pada pernyataan ini, kita menemukan lebih banyak kebingungan lagi. Saya teringat akan pelajaran pertama yang pernah saya dengar dari John Gerstner, yaitu berkenaan dengan topik predestinasi. Pada waktu pelajaran diberikan, Dr. Gerstner diinterupsi oleh seorang murid yang mengangkat tangannya. Gerstner kemudian memberikan kesempatan kepada murid itu. Murid itu bertanya, "Dr. Gerstner, apakah saya dapat berasumsi bahwa Bapak adalah seorang Calvinis?" Gerstner menjawab, "Ya!" dan ia melanjutkan lagi pelajarannya. Beberapa menit kemudian Gerstner berbalik bertanya kepada muridnya, "Apakah definisimu tentang seorang Calvinis?"

Murid itu menjawab, "Seorang Calvinis adalah orang yang percaya bahwa Allah memaksa sejumlah orang untuk memilih Kristus dan menghalangi yang lain untuk dapat memilih Kristus." Gerstner sangat terkejut. Ia berkata, "Jikalau itu merupakan definisi seorang Calvinis, maka saya pasti bukan termasuk seorang Calvinis."

Pengertian yang salah akan anugerah yang tidak dapat ditolak telah tersebar luas. Pada suatu waktu saya pernah mendengar seorang rektor dari sebuah Seminari Presbiterian menyatakan, "Saya bukan seorang Calvinis, karena saya tidak percaya bahwa Allah memaksa sejumlah orang untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, padahal sebenarnya orang-orang tersebut menolak mati-matian akan kehendak Allah ini. Dan pada saat yang sama, Allah mengesampingkan orang-orang yang mati-matian ingin masuk ke dalam Kerajaan Surga."

Saya menjadi tercengang mendengar perkataan ini. Saya tidak mengira bahwa seorang rektor seminari Presbiterian dapat memiliki pandangan yang begitu menyimpang dan mengajarkan teologi itu pada gerejanya. Ia sedang menunjukkan gambaran dirinya yang sangat menyimpang dari Calvinisme yang sebenarnya.

Calvinisme tidak pernah mengajarkan bahwa Allah memaksa sejumlah orang yang mati-matian tidak mau untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, dan mengesampingkan orang-orang yang sangat ingin masuk ke sana. Perlu diingat bahwa butir yang paling utama dari doktrin predestinasi "Reformed" adalah terletak pada pengajaran Alkitab tentang kematian rohani manusia. Manusia secara natural tidak menginginkan Kristus. Manusia baru dapat menginginkan Kristus jika Allah menanamkan keinginan terhadap Kristus di dalam hatinya. Pada waktu kerinduan itu telah ditanamkan di dalam dirinya, maka manusia yang datang pada Kristus itu tidak akan datang sambil berteriak-teriak oleh karena dipaksa untuk melakukan sesuatu yang melawan kehendaknya sendiri. Mereka datang karena mereka ingin datang. Mereka sekarang menginginkan Kristus. Mereka segera berlari kepada Sang Juru selamat. Anugerah yang tidak dapat ditolak adalah kelahiran baru yang menghidupkan seseorang ke dalam kehidupan rohani sedemikian rupa, sehingga dapat melihat sifat baik Yesus yang tidak dapat mereka tolak. Yesus menjadi Pribadi yang tidak dapat ditolak oleh orang-orang yang telah dihidupkan keinginannya pada hal-hal yang berhubungan dengan Allah. Setiap jiwa yang hatinya berdegup dengan kehidupan di dalam Allah, maka orang itu akan selalu rindu kepada Kristus yang hidup. Semua yang Bapa berikan kepada Kristus akan datang kepada Kristus (Yoh. 6:37).

Istilah "Anugerah yang Efektif" dapat menghindarkan kita dari kebingungan. Anugerah yang Efektif merupakan anugerah yang secara efektif mewujudkan apa yang Allah inginkan.

Apakah perbedaan pandangan ini dengan pandangan regenerasi dari "Non-Reformed"? Alternatif lain yang sangat populer adalah pandangan Prevenient Grace.

PREVENIENT GRACE

Prevenient Grace adalah anugerah yang datang sebelum/mendahului sesuatu. Secara umum didefinisikan sebagai suatu pekerjaan yang Allah lakukan bagi setiap orang. Allah memberikan kepada semua orang anugerah yang cukup sehingga setiap orang dimungkinkan untuk dapat memberikan tanggapan yang benar kepada Yesus. Dengan kata lain, anugerah Allah cukup untuk memungkinkan seseorang dapat memilih Kristus. Orang-orang yang bersedia untuk bekerja sama dengan Allah dan mau menerima anugerah Allah ini adalah "orang-orang pilihan." Mereka yang menolak untuk bekerja sama dengan anugerah Allah ini adalah orang-orang yang terhilang."

Keunggulan dari pandangan ini adalah mengakui bahwa kondisi rohani menusia yang telah jatuh ke dalam dosa adalah sangat parah sehingga anugerah Allah dibutuhkan untuk menyelamatkannya. Kelemahan pandangan ini dapat dilihat dari dua segi. Pertama, jikalau prevenient grace ini hanya sekedar merupakan terobosan secara eksternal bagi manusia, maka keadaannya sama dengan analogi obat dari tali penyelamat yang sudah dibahas sebelumnya. Apakah manfaat prevenient grace jika diberikan dari luar kepada ciptaan yang mati secara rohani?

Pada segi lain, jikalau "prevenient grace" menunjuk pada sesuatu yang Allah perbuat di dalam hati manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, maka pertanyaan kita adalah: "Mengapa anugerah Allah ini tidak selalu efektif?" Mengapa ada manusia yang memutuskan untuk bekerja sama dengan "prevenient grace", dan ada manusia yang tidak mau? Bukankah setiap orang mendapatkan porsi "prevenient grace" yang sama?

Cobalah memikirkan hal ini, bagaimana kalau saudara sendiri yang mengalami secara pribadi. Saudara sebagai orang Kristen tentu dapat melihat orang-orang di sekitar Saudara yang bukan Kristen. Apakah yang membuat Saudara memilih Kristus? Mengapa Saudara berkata, "ya" kepada "prevenient grace" sedangkan mereka mengatakan "tidak"? Apakah karena saudara lebih benar daripada mereka? Apabila demikian, maka itu berarti Saudara memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan. Apakah kebenaran Saudara itu merupakan hal yang dicapai oleh usaha Saudara sendiri, atau kebenaran itu merupakan hasil pemberian Allah? Apabila kebenaran itu merupakan hasil usaha Saudara sendiri, maka pada dasarnya keselamatan Saudara bergantung kepada kebenaran Saudara sendiri. Apabila kebenaran itu merupakan pemberian Allah, lalu mengapa Allah tidak memberikan hal yang sama kepada setiap orang?

Mungkin bukan karena Saudara lebih benar dari pada orang lain. Mungkin karena Saudara lebih pandai dari mereka. Mengapa Saudara dapat lebih pandai? Apakah karena Saudara belajar lebih banyak (yang artinya sama dengan Saudara lebih benar dari orang lain)? Atau Saudara lebih pandai oleh karena Allah mengaruniakan kepandaian kepada Saudara yang Allah tidak berikan kepada orang lain?

Yang pasti, kebanyakan orang Kristen yang menganut pandangan "prevenient grace" ini menjadi kecil nyalinya menghadapi jawaban-jawaban seperti di atas. Mereka melihat kecongkakan terselubung di dalam jawaban itu. Walaupun biasanya mereka akan menjawab, "Tidak, saya memilih Kristus karena saya menyadari kebutuhan saya yang sangat serius akan Dia."

Ungkapan tersebut tentu saja nampaknya lebih rendah hati. Tetapi saya harus mengajukan pertanyaan lain. Mengapa Saudara dapat menyadari kebutuhan yang sangat serius akan Kristus sementara sesama Saudara tidak demikian? Apakah karena Saudara lebih benar dari sesama Saudara, atau lebih pandai dari mereka?

Pertanyaan utama bagi pendukung pandangan "prevenient grace" adalah: Mengapa ada orang yang bekerja sama dengan anugerah Allah dan ada orang yang tidak? Jawaban kita terhadap pertanyaan ini akan menyatakan kepercayaan atas keselamatan: keselamatan macam apa yang kita dapatkan.

Pertanyaan berikutnya adalah: "Apakah Alkitab mengajarkan doktrin "prevenient grace" kepada kita? Apabila "ya", di mana?

Kita menyimpulkan bahwa keselamatan kita adalah dari Tuhan. Dialah yang melahirbarukan kita. Orang yang telah dilahirbarukan pasti akan datang kepada Kristus. Jika tidak ada regenerasi maka tak seorang pun akan pernah datang kepada Kristus. Jika kita mengalami regenerasi, maka tidak ada seorang pun yang akan pernah menolak Dia. Anugerah keselamatan Allah itu mengefektifkan apa yang akan Allah kehendaki atas diri seseorang, sehingga apa yang Allah kehendaki itu terlaksana dengan efektif.

RINGKASAN PASAL LIMA:

  1. Keselamatan kita terjadi berdasarkan inisiatif Allah. Allah Roh Kudus yang membebaskan manusia dari belenggu dosa. Allah Roh Kudus yang telah meniupkan nafas kehidupan rohani ke dalam diri kita dan membangkitkan kita dari kematian rohani.
  2. Kondisi kita sebelum dibangkitkan adalah mati secara rohani. Kematian secara rohani ini lebih parah dari pada penyakit yang mematikan. Tidak ada kehidupan rohani sedikitpun di dalam diri kita jika Allah sendiri tidak menghidupkannya.
  3. Jika tidak ada kelahiran baru, maka tak seorang pun akan datang kepada Kristus. Semua orang yang telah dilahirkan baru pasti datang kepada kepada Kristus. Orang yang mati terhadap hal-hal yang berhubungan dengan Allah akan tetap mati terhadap Allah jika Allah tidak menghidupkannya kembali. Orang yang dibangkitkan oleh Allah akan hidup di hadapan Allah. Keselamatan adalah berasal dari Tuhan.

Sumber: 

Sumber diambil dari:
(Bag. 1)

Judul Buku
Judul Artikel
Penulis
Penerbit
Halaman
:
:
:
:
:
Kaum Pilihan Allah
Kematian Rohani dan Kehidupan Rohani: Kelahiran Baru dan Iman
R.C. Sproul
SAAT Malang, 1998
93-104

(Bag. 2)
Judul Buku
Judul Artikel
Penulis
Penerbit
Halaman
:
:
:
:
:
Kaum Pilihan Allah
Kematian Rohani dan Kehidupan Rohani: Kelahiran Baru dan Iman
R.C. Sproul
SAAT Malang, 1998
104-119

Doktrin Sola Scriptura

Dear e-Reformed netters,

Kiriman artikel bulan Juli ini diambil dari Majalah Veritas (Vol. 3, Nomor 1 - April 2002). Judul dan isi artikel ini saya yakin sangat menarik dan penting, yaitu "Doktrin Sola Scriptura", yang ditulis oleh Sdr. Yohanes Adrie Hartopo. Artikel sebelumnya telah disampaikan dalam Retreat Pembinaan Doktrinal yang diselenggarakan oleh Seminari Alkitab Asia Tenggara dalam rangka Hari Reformasi ke-484, di Hotel Kusuma Agrowisata, Batu, pada 29-31 Oktober 2001.

Selamat membaca.

In Christ,

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Kiriman artikel bulan Juli ini diambil dari Majalah Veritas (Vol. 3, Nomor 1 - April 2002). Judul dan isi artikel ini saya yakin sangat menarik dan penting, yaitu "Doktrin Sola Scriptura", yang ditulis oleh Sdr. Yohanes Adrie Hartopo. Artikel sebelumnya telah disampaikan dalam Retreat Pembinaan Doktrinal yang diselenggarakan oleh Seminari Alkitab Asia Tenggara dalam rangka Hari Reformasi ke-484, di Hotel Kusuma Agrowisata, Batu, pada 29-31 Oktober 2001.

Selamat membaca.

In Christ,
Yulia

Penulis: 
Yohanes Adrie Hartopo
Edisi: 
031/VII/2002
Isi: 

[Catatan : **Angka merah dalam artikel adalah Catatan Kaki yang dapat ditemukan pada akhir artikel]

PENDAHULUAN

"Unless I am convinced by Sacred Scriptura or by evident reason, I will not recant. My consience is held captive by the Word of God and to act against conscience is neither right nor safe."

Kata-kata ini diucapkan oleh Martin Luther pada 18 April 1521 ketika ia diajukan pada sidang kekaisaran di kota Worms di hadapan kaisar Charles V yang menjadi penguasa Jerman (dan beberapa bagian Eropa lainnya) pada saat itu, serta di hadapan para pemimpin gerejawi. Luther dipanggil ke kota ini dengan tujuan supaya ia menarik kembali perkataan dan pengajarannya. Ia diminta mengaku salah di depan publik untuk apa yang ia tuliskan dan ajarkan tentang Injil, keselamatan melalui iman, dan hakikat gereja. Tetapi ia tidak bersedia melakukannya.**1

Mengapa Luther tidak bersedia? Sebab hati nuraninya dikuasai sepenuhnya oleh firman Tuhan. Ia yakin sepenuhnya bahwa Alkitab dengan jelas mengajarkan kebenaran tentang manusia, jalan keselamatan, dan kehidupan Kristen. Ia melihat bahwa kebenaran-kebenaran yang penting ini sudah dikaburkan dan diselewengkan oleh gereja-gereja pada saat itu, yang seharusnya justru menjadi pembela yang setia. Di mata Luther, dasar penyelewengan gereja pada saat itu adalah pengajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab.**2 Ia tidak dapat tahan lagi melihat kerusakan gereja yang telah melawan Alkitab, yang juga sudah mencemari aspek-aspek kehidupan gereja lainnya.

Di sinilah kita melihat sikap Reformasi terhadap Alkitab. Prinsip penting yang ditegakkan dalam gerakan Reformasi adalah Sola Scriptura (hanya percaya kepada apa yang dikatakan oleh Alkitab yang adalah firman Tuhan, karena hanya Alkitab yang memiliki otoritas tertinggi). Kita mengetahui dua ungkapan yang mewakili gerakan Reformasi yaitu Sola Fide dan Sola Scriptura. Sering dikatakan bahwa Sola Fide adalah prinsip material dari pengajaran Reformasi, sedangkan Sola Scriptura adalah prinsip formalnya.**3 Kalau ditelusuri lebih dalam lagi maka jelaslah bahwa prinsip Sola Scriptura ada di balik semua perdebatan mengenai pembenaran melalui iman, karena Luther yakin sekali bahwa kebenaran ini diajarkan di dalam Alkitab.**4

SOLA SCRIPTURA DAN KEWIBAWAAN ALKITAB

Para Reformator tidak pernah berusaha menegakkan doktrin yang baru atau berminat mendirikan gereja yang lain, yang mereka inginkan ialah mereformasi gereja,**5 dalam pengertian mereka ingin menghidupkan kembali kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek gerejawi yang murni berdasarkan Alkitab. John R. de Witt mengatakan, "The Reformation rediscovered and accentuated afresh the authority of the Bible."**6 Para Reformator memiliki semangat untuk mengembalikan iman orang Kristen dan kekristenan kepada otoritas Alkitab. John Calvin mengemukakan,

Biarlah hal ini kemudian menjadi suatu aksioma yang pasti: bahwa tidak ada yang lain yang harus diakui di dalam gereja sebagai firman Allah kecuali apa yang termuat, pertama dalam Torah dan Kitab Nabi- nabi, dan kedua dalam tulisan-tulisan para Rasul; dan bahwa tidak ada metode pengajaran lain di dalam gereja yang berlainan dari apa yang sesuai dengan ketentuan dan aturan dari firman-Nya.**7

Prinsip Sola Scriptura dengan jelas mendobrak tirani dari suatu hierarki gerejawi yang sudah "corrupt" karena gereja menempatkan dirinya lebih tinggi dari firman Tuhan. Padahal, berdasarkan Efesus 2:20 dapat dikatakan bahwa otoritas Alkitab sudah lebih dulu ada sebelum gereja berdiri karena gereja didirikan di atas dasar pengajaran para rasul dan para nabi. Pengajaran para rasul dan nabi adalah pengajaran firman Tuhan, yang jelas bukan hanya lebih tua tetapi juga lebih tinggi dari pengajaran gereja. Alkitab mampu memberikan penilaian atas gereja sekaligus memberikan model bagi gereja yang benar.

Para Reformator memiliki pendapat yang tegas bahwa wewenang gereja dan para penjabatnya (para Paus, dewan-dewan dan teolog-teolog) berada di bawah Alkitab. Ini tidak berarti mereka tidak memiliki wewenang. Namun, sebagaimana diungkapkan Alister McGrath, wewenang tersebut berasal dari Alkitab dan berada di bawah Alkitab.**8 Kewibawaan mereka dilandaskan pada kesetiaan mereka pada firman Allah. Selanjutnya McGrath mengatakan, "Bila orang-orang Katolik menekankan pentingnya kesinambungan historis, para Reformator dengan bobot yang sama menekankan makna penting dari kesinambungan ajaran.**9

Jadi, prinsip Sola Scriptura menolak otoritas tradisi gereja yang disetarakan dengan otoritas Alkitab. Sebuah catatan perlu diberikan di sini guna menghindari kesalahpahaman yang sudah cukup umum. Banyak orang berpikir bahwa para Reformator percaya kepada otoritas Alkitab yang tanpa salah, sedangkan gereja Roma Katolik percaya hanya kepada otoritas gereja dan tradisinya yang tanpa salah. Ini suatu kekeliruan. Pada masa Reformasi, kedua pihak sama-sama mengakui otoritas Alkitab.**10 Contohnya, bagi sebagian besar teolog abad pertengahan, Alkitab merupakan sumber yang mencukupi untuk ajaran Kristen.**11 Yang menjadi pertanyaan dan perdebatan ialah: "Is the Bible the only infallible source of special revelation?"**12

Gereja Roma Katolik mengajarkan ada dua sumber wahyu khusus, yaitu Alkitab dan tradisi. Tradisi di sini dimengerti sebagai satu sumber yang berbeda, di samping Alkitab. Alkitab tidak berkata apa-apa mengenai sejumlah pokok masalah atau doktrin, dan Allah telah menetapkan suatu sumber wahyu kedua untuk melengkapi kekurangan ini. Ini adalah suatu tradisi yang tidak tertulis. Jikalau ditelusuri lebih mendalam, tradisi yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya di dalam gereja, itu dianggap berasal dari para rasul. Jadi tradisi yang dimaksud di sini adalah "a separate, unwritten source handed down by apostolic succession."**13 Dengan demikian, suatu kepercayaan yang tidak ditemukan dalam Alkitab, dapat dibenarkan dengan mengacu pada tradisi yang tidak tertulis tersebut.

Gereja Roma Katolik memberikan otoritas kepada tradisi ini, karena itu mereka tidak mengizinkan siapapun menafsir Alkitab dengan cara yang bertentangan dengan tradisi tersebut. Jelas mereka meninggikan tradisi melebihi Alkitab, bahkan menganggap bahwa Alkitab hanya bisa ditafsirkan dan diajarkan dengan perantaraan Paus atau konsili gerejawi. Para Reformator dengan tegas melawan konsep ini. Dalam perdebatan dengan teolog-teolog Roma Katolik, Luther dengan berani menegaskan bahwa adalah mungkin bagi Paus dan konsili gerejawi untuk melakukan kesalahan.

Prinsip Sola Scriptura juga tidak dapat dilepaskan dari masalah kanon Alkitab. Istilah "kanon" (aturan, norma) digunakan untuk merujuk pada kitab-kitab yang oleh gereja dianggap otentik. Bagi teolog-teolog abad pertengahan dan gereja Roma Katolik, yang dimaksud dengan Alkitab ialah karya-karya yang tercakup dalam Vulgata. Di dalamnya terdapat tambahan kitab-kitab yang sering disebut kitab-kitab Apokrifa, yang tidak terdapat dalam PL bahasa Ibrani. Para Reformator tidak setuju dengan adanya tambahan tersebut, dan mereka merasa berwenang untuk mempersoalkan penilaian ini. Menurut mereka, tulisan-tulisan PL yang dapat diakui untuk masuk ke dalam kanon Alkitab hanyalah yang asli terdapat di dalam Alkitab Ibrani.**14 Kitab-kitab Apokrifa memang merupakan bacaan yang berguna, tetapi tidak bisa digunakan sebagai dasar ajaran.**15 Penegasan Sola Scriptura mengakibatkan mereka menyingkirkan semua kitab di luar keenam puluh enam kitab dalam Alkitab. Perbedaan ini tetap ada sampai sekarang.**16

Mengapa para Reformator sangat menjunjung tinggi otoritas Alkitab? Jawabannya sederhana sekali: karena Alkitab adalah firman Tuhan, maka Alkitab dengan sendirinya memiliki kewibawaan atau otoritas. Luther berkata, "The Scriptures, although they also were written by men, are not of men nor from men, but from God."**17 Sedangkan menurut Calvin,

The Scriptures are the only records in which God has been pleased to consign his truth to perpetual rememberance, the full authority which they ought to possess with faithful is not recognized, unless they are believed to have come from heaven, as directly as if God had been heard giving utterance to them.**18

Jadi ada konsensus bahwa Alkitab harus diterima seakan-akan Allah sendirilah yang sedang berbicara.

Otoritas Alkitab berakar dan berdasarkan pada fakta bahwa Alkitab diberikan melalui inspirasi Allah sendiri (2Tim. 3:16). Inspirasi adalah cara di mana Allah memampukan penulis-penulis manusia dari Alkitab untuk menulis semua perkataan di bawah pengawasan Allah sendiri. Kepribadian dan kemanusiawian para penulis Alkitab diakui aktif dalam proses di mana Roh Allah memimpin mereka dalam proses inspirasi tersebut. Karena itu apa yang ditulis bukan semata-mata tulisan mereka sendiri tetapi firman Allah yang sejati. Calvin memberi komentar mengenai 2Timotius 3:16,

This is the principles that distinguishes our religion from all others, that we know that God hath spoken to us and are fully convinced that the prophets did not speak of themselves, but as organs of the Holy Spirit uttered only that which they had been commissioned from heaven to declare. All those who wish to profit from the Scriptures must first accept this as a settled principle, that the Law and the prophets are not teachings handed on at the pleasure of men, or produced by men's minds as their source, but are dictated by the Holly Spirit.**19

Bagaimana sebenarnya cara atau metode mengenai inspirasi ilahi ini tidak dipaparkan secara jelas dalam Alkitab.**20 Butir yang lebih krusial adalah fakta bahwa "the Scriptures are the direct result of the breathing out of God."**21 B.B. Warfield memberikan komentar yang sangat baik mengenai kata Yunani theopneustos:

The Greek term has...nothing to say inspiring or of inspiration: it speaks only of a "spiring" or "spiration." What it says of Scripture is, not that it is "breathed into by God" or that it is the product of the Divine "inbreathing" into its human authors, but that it is breathed out by God...when Paul declares, then, that "every scripture," or "all scripture" is the product of the Divine breath, "is God-breathed," he asserts with as much energy as he could employ that Scripture is the product of a specifically Divine operation.**22

Ini berarti semua yang ditulis para penulis Alkitab itu berasal dari Allah. Jadi, Alkitab berotoritas adalah karena kenyataan dirinya sebagai penyataan ilahi yang diberikan melalui inspirasi ilahi.

Pertanyaan penting berkaitan dengan otoritas Alkitab ialah: Berdasarkan apa kita menerima otoritas Alkitab tersebut? Bagaimana kita tahu dan yakin bahwa yang kita tegaskan tentang otoritas Alkitab itu benar adanya? Apakah melalui gereja kita mengerti dan diyakinkan akan otoritas Alkitab sebagai firman Allah (pandangan gereja Roma Katolik yang tradisional)? Di dalam sejarah gereja kita melihat ada banyak orang berusaha memberikan argumen-argumen yang rasional guna mendukung klaim bahwa Alkitab adalah firman Tuhan. Tetapi kita pun tahu bahwa sering argumen-argumen itu, meskipun perlu dan penting, tidak sepenuhnya "convincing."

Di sini kita melihat satu pokok pikiran Calvin yang sangat penting berkaitan dengan masalah ini. Ia dengan tidak henti-hentinya menegaskan bahwa dasar satu-satunya yang meyakinkan mengapa kita percaya otoritas Alkitab adalah kesaksian Roh Kudus sendiri. Kita percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah karena kesaksian Roh Kudus. Ia mengatakan:

The testimony of the Spirit is more excellent than all reason. For as God alone is a fit witness of himself in his Word, so also the Word will not find acceptance in men's hearts before it is sealed by the inward testimony of the Spirit. The same Spirit, therefore, who has spoken through the mouths of the prophets must penetrate into our hearts to persuade us that they faithfully proclaimed what had been divinely commanded.**23

Jadi, otoritas Alkitab tidak tergantung pada bukti-bukti kehebatan dan kesempurnaannya, tetapi oleh karena iman yang Roh Kudus sudah kerjakan dalam hidup orang-orang percaya sehingga mereka mempercayai kebenaran Alkitab dan menaklukkan diri di bawah otoritas tersebut. James M. Boice mengutarakan bahwa kesaksian Roh Kudus ini adalah "the subjective or internal counterpart of the objective or external revelation."**24

Apa yang Calvin ajarkan di sini sesuai dengan perkataan Paulus di 1Korintus 2:13-14. Jadi, jelas sekali bahwa terlepas dari karya Roh Kudus seseorang tidak akan menerima kebenaran-kebenaran rohani dan secara khusus tidak akan menerima kebenaran bahwa perkataan-perkataan Alkitab adalah firman Allah. Calvin juga mengatakan, "But it is foolish to attempt to prove to infidels that the Scripture is the Word of God. This it cannot be known to be, except by faith."**25

Keyakinan yang datangnya dari kesaksian Roh Kudus adalah keyakinan yang muncul ketika kita membaca firman Tuhan dan mendengar suara Tuhan berbicara melalui perkataan-perkataan Alkitab tersebut serta menyadari bahwa ini bukanlah kitab biasa. Roh Kudus berbicara di dalam (in) dan melalui (through) perkataan-perkataan Alkitab dalam memberikan keyakinan ini.**26 Tepatlah apa yang dikatakan oleh seorang pastor, "If you have the Bible without the Spirit, you will dry up. If you have the Spirit without the Bible, you will blow up. But if you have both the Bible and the Spirit together, you will grow up."

Setelah zaman Reformasi, pandangan ortodoks mengenai Alkitab mendapat serangan demi serangan. Gereja Roma Katolik bahkan secara resmi pada tahun 1546 (konsili Trent) menempatkan tradisi gereja berdampingan dan setara dengan Alkitab sebagai sumber penyataan. Serangan lain datang dari golongan rasionalis pada abad 18 dan 19. Alkitab bukanlah "God word to man" tetapi "man's word about God and man." Alkitab hanya berisi kesaksian atau catatan manusia tentang karya penyataan dan keselamatan Allah dalam sejarah. Sifat ilahi yang unik dari Alkitab ditolak, sehingga otoritasnya pun ditolak. Otoritas tertinggi ialah rasio manusia. Rasio menusia memiliki kebebasan mutlak yang harus terlepas dari klaim-klaim teologis.**27

Bagaimana dengan sikap gereja-gereja Tuhan terhadap Alkitab? Sola Scriptura adalah doktrin yang menegaskan bahwa Alkitab, dan hanya Alkitab, yang memiliki kata akhir untuk semua pengajaran dan kehidupan kita. Seluruh aspek pemikiran dan kehidupan kita harus tunduk pada firman Allah. Benarkah demikian? David Well, dalam bukunya, No Place for Truth,**28 memberikan kritik tajam kepada golongan injili yang sudah jatuh ke dalam berbagai pencobaan zaman modern, sehingga akhirnya kebenaran Allah sudah tidak lagi mengatur gereja-gereja. Hal-hal apa sajakah yang menjadi mentalitas zaman ini? Menurut Well ada beberapa, yakni:

  1. Subjectivism: basing one's life upon human experience rather than upon objective truth
  2. Psychological therapy as the way to deal with human needs
  3. A preoccupation with "professionalism," especially business management and marketing techniques as the model for achievement any kind of common enterprise
  4. Consumerism: the notion that we must always give people what they want or what they can be induced to buy
  5. Pragmatism: the view that results are the ultimate justification for any idea or action

Akibatnya, masih menurut Wells, Allah tidak lagi menjadi sesuatu yang penting dalam hidup manusia. Kebenaran tidak lagi menguasai gereja. Teologi tidak memberikan daya tarik. Khotbah-khotbah hanya berpusatkan pada "felt needs." Teori-teori marketing dan manajemen dalam pertumbuhan gereja menggantikan prinsip-prinsip Alkitab. Hal ini perlu menjadi pemikiran serius bagi gereja-gereja Tuhan.

Bagaimana sikap para hamba Tuhan terhadap Alkitab? Panggilan hamba Tuhan ialah panggilan untuk mempelajari dan menguraikan firman Tuhan (bdk. Kis 20:27, dimana Paulus mengajarkan "the whole counsel of God" selama pelayanannya di Efesus). Menurut de Witt, salah satu ciri khas teologi Reformed ialah pandangan mengenai berkhotbah (preaching) yang distingtif. Ia menulis, "It is by preaching that God confronts people and draws them to himself, conforming them to the pattern of his Son; indeed, it is by preaching that Jesus addresses himself to the hearts and consciences of men (Rom. 10:14)."**29 Berdasarkan apa yang dinyatakan di dalam Alkitab, preaching adalah eksposisi dan aplikasi firman Tuhan. Tugas ini dipercayakan kepada para hamba Tuhan (bdk. Kis. 6:1 dst.). John Stott dengan keras berkata, "Sehat tidaknya keadaan jemaat-jemaat kita lebih banyak tergantung pada mutu pelayanan pemberitaan firman Tuhan daripada hal-hal lainnya...apa yang terjadi di bangku jemaat memancarkan apa yang terjadi di mimbar."**30 Apakah tugas ini sudah kita jalankan dengan penuh kesungguhan dan keseriusan karena kita memberitakan firman yang memiliki otoritas dari Allah?

SOLA SCRIPTURA DAN PENAFSIRAN ALKITAB

Elemen baru di dalam pengajaran Sola Scriptura dari para Reformator sebenarnya bukanlah permasalahan otoritas Alkitab, karena gereja Roma Katolik juga berpegang pada hal itu. Elemen yang baru berkaitan dengan masalah penafsiran Alkitab. Bukanlah hal yang berlebihan kalau dikatakan bahwa Reformasi pada abad 16 tersebut pada dasarnya adalah suatu revolusi hermeneutik.**31 Gerakan Reformasi menolak penafsiran otoritatif terhadap Alkitab, khususnya dari gereja Roma Katolik yang menekankan bahwa Paus atau konsili gerejawilah yang memiliki otoritas untuk menafsirkan Alkitab. Sampai zaman Reformasi Alkitab masih dianggap oleh kebanyakan orang sebagai kitab yang "obscure." Orang awan biasa tidak dapat diharapkan untuk mengertinya, sehingga mereka tidak didorong untuk membacanya. Bahkan Alkitab tidak tersedia dalam bahasa yang mereka mengerti. Mereka jelas bergantung sepenuhnya pada penafsiran gereja yang bersifat otoritatif. Pengajaran Alkitab dikomunikasikan kepada orang-orang Kristen hanya melalui perantaraan Paul, konsili, atau pastor.

Para Reformator sangat menekankan prinsip "private interpretation," yakni hak untuk menafsirkan Alkitab secara pribadi. Dengan demikian setiap orang Kristen memiliki hak untuk membaca dan menafsirkan Alkitab untuk dirinya sendiri.**32 Tetapi ini bukan berarti kepada setiap individu diberikan hak untuk menyelewengkan atau mendistorsi Alkitab. Ini adalah prinsip yang berasumsi bahwa Allah yang hidup berbicara kepada umat-Nya secara langsung dan otoritatif melalui Alkitab. Karena itu orang Kristen harus didorong untuk membaca Alkitab. Alkitab harus diterjemahkan kedalam bahasa umum. Luther, contohnya, sangat menekankan hal ini, sehingga ia menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman.

Para tokoh Reformator sendiri tampaknya menekankan pengertian mereka terhadap Alkitab dengan tidak mempedulikan apakah pengajaran mereka bertentangan dengan keputusan-keputusan konsili atau penafsir-penafsir gerejawi lainnya. Bagi mereka gereja bukanlah penentu arti Alkitab, justru Alkitablah yang harus mengoreksi dan menghakimi gereja. Tetapi pertanyaannya: apakah memang tidak ada peranan pengajaran (tradisi) gereja sama sekali dalam hal ini? Reformasi sering kali dilihat mempunyai ciri khas yaitu suatu "massive break" dengan tradisi gereja. Yang benar adalah, para Reformator menentang otoritas tradisi dan otoritas gereja, hanya sejauh otoritas tersebut mengungguli otoritas Alkitab.**33

Para Reformator tidak pernah menolak tradisi eksegetis dan teologis dari gereja yang didasarkan dan tunduk pada kebenaran Alkitab. Mereka menghormati tradisi, khususnya yang diajarkan oleh bapa-bapa gereja (terutama Agustinus). Luther berkata, "The teachings of the Fathers are useful only to lead us to the Scriptures as they were led, and then we must hold to the Scriptures alone."**34 Calvin, sebagai contoh, menulis edisi Institutes pertama pada tahun 1536 ketika ia masih berusia dua puluhan. Buku ini mengalami revisi beberapa kali, dan edisi akhir adalah tahun 1559. Selama masa dua dekade tersebut ia berkecimpung dan sibuk memberikan eksposisi Alkitab dan berkhotbah. Dalam hal ini ia berinteraksi banyak dengan penafsiran penafsir-penafsir sebelumnya. T. H. L. Parker berkata tentang Calvin:

As his understanding of the Bible broadened and deepened, so the subject matter of the bible demanded ever new understanding in its interrelation within itself, in its relations with secular philosophy, in its interpretation by previous commentators.**35

Maka jelaslah, seperti yang Silva katakan, "the reformation marked a break with the abuse of tradition but not with the tradition itself."**36 Kritik yang diberikan adalah terhadap ajaran dan praktek yang sudah menyeleweng dari, atau bertentangan dengan, Alkitab. Para Reformator masih mempertahankan ajaran-ajaran gereja yang paling tradisional (seperti keilahian Kristus, Trinitas, baptisan anak, dan sebagainya) karena ajaran-ajaran tersebut sesuai dengan Alkitab. Mereka menghargai tulisan-tulisan bapa-bapa gereja yang adalah pembela-pembela kebenaran Alkitab.

Hak "private interpretation" haruslah disertai dengan tanggung jawab untuk memakai dan menafsirkan Alkitab dengan hati-hati dan akurat. Karena itu dalam hal ini kebutuhan akan penafsir dan guru sangat diperlukan. Memang Alkitab dapat dibaca dan dimengerti oleh orang-orang percaya (doktrin the clarity or perspicuity of Scripture), tetapi masih ada hal-hal tertentu yang masih belum jelas dan sulit bagi banyak orang yang sudah tentu membutuhkan suatu penyelidikan dan penelitian akademik. Ketidakjelasan atau kekaburan tersebut lebih banyak disebabkan oleh ketidaktahuan akan bahasa, tata bahasa, dan budaya dari penulis Alkitab, daripada dikarenakan isi pengajaran atau subject-matter-nya. Oleh sebab itu, "biblical scholarship" sangat penting dan diperlukan.

Kontribusi penting dari para Reformator terhadap penafsiran Alkitab ialah penegasan mereka mengenai "plain meaning" (arti yang alamiah atau wajar) dari Alkitab. Secara khusus kepedulian mereka adalah menyelamatkan Alkitab dari penafsiran alegoris yang masih terus ada saat itu.**37 Luther mengungkapkan, "The Holy Spirit is the plainest writer and speaker in heaven and earth and therefore His words cannot have more than one, and that the very simplest sense, which we call the literal, ordinary, natural sense." Apa yang ditekankan di sini bukanlah penafsiran harafiah yang kaku. Prinsip ini menegaskan bahwa "the Bible must be interpreted according to the manner in which it is written."**39 Arti yang "plain" dari Alkitab adalah arti yang dimaksudkan oleh penulis manusia, dan hal itu hanya dapat dimengerti melalui analisa konteks sastra dan sejarah. Jadi jelaslah ada aturan- aturan dalam penafsiran yang harus diikuti untuk menghindari penafsiran yang subjektif dan aneh-aneh. Pengaruh dari semangat Renaissance dalam hal ini tidak bisa dipungkiri. Kita melihat adanya suatu ketertarikan baru terhadap sifat historis dari tulisan-tulisan kuno, di mana Alkitab termasuk di dalamnya.**40

Ada yang mengatakan, "It is almost a truism to say that modern historical study of the Bible could not have come into existence without the Reformation."**41 Prinsip Reformasi ini terkait erat dengan apa yang kita sebut metode penafsiran "Grammatical-Historical," yang berfokus pada "historical setting" dan "grammatical structure" dari bagian-bagian Alkitab. Dalam hal ini para Reformator berfokus pada sifat manusiawi dari Alkitab itu sendiri. Ekses negatif dari pendekatan ini adalah pendapat yang mengatakan bahwa Alkitab harus dimengerti dan ditafsirkan seperti buku biasa lainnya. Inilah yang membuka jalan untuk pendekatan "Historical-Critical" yang berkembang pada abad 18-19. Bedanya dengan pendekatan Reformasi adalah, iman atau komitmen teologi tidak diperbolehkan mempengaruhi penafsiran.**42 Mereka berusaha untuk netral, tetapi sebenarnya tidak dapat netral karena mereka sudah berpegang pada "teologi" (iman) mereka sendiri yaitu teologi yang tidak percaya adanya intervensi Allah dalam dunia ini. Sumbangsih gerakan Reformasi dalam hal penafsiran Alkitab sangat penting, di mana prasuposisi iman tidak mungkin dilepaskan dari penafsiran Alkitab.

Pemikiran Reformasi mengenai penafsiran Alkitab juga menolong kita untuk berhati-hati di dalam merespons segala bentuk pendekatan atau metode penafsiran posmodernisme, yang secara khusus memberikan penekanan pada respons dari pembaca masa kini (reader-response approach). Pendekatan ini beranggapan bahwa tidak ada "meaning" yang pasti dan benar, yang ada hanyalah "meanings" yang muncul atau dihasilkan dari pembaca sendiri. Bahaya subjektivisme dan relativisme sangat terlihat di sini. Memang betul penafsiran Alkitab tidak hanya berhenti pada interpretasi, tetapi aplikasi. Kendati demikian ini bukan berarti aplikasi yang tidak terkontrol dan sembarangan di mana seolah-olah pembacanya yang menentukan arti dan aplikasinya.**43

Gerakan Reformasi juga menetapkan suatu prinsip penting dalam penafsiran yaitu "Scripture is to interpret itself" (Sacra Scriptura sui interpres). Kita menafsirkan Alkitab dengan Alkitab. Oleh sebab itu, kita tidak mempertentangkan satu bagian Alkitab dengan bagian lainnya. Apa yang tidak jelas di suatu bagian mungkin dapat dijelaskan oleh bagian lain. Di balik prinsip ini ada sebuah keyakinan bahwa jikalau Alkitab ialah firman Allah maka ia bersifat koheren dan konsisten pada dirinya sendiri. Allah tidak mungkin berkontradiksi dengan diri-Nya sendiri. Memang benar Alkitab dituliskan oleh orang-orang yang berbeda, yang hidup pada zaman yang berbeda pula. Tetapi kita juga menyadari bahwa Allah adalah Penulis aslinya, sehingga jelas ada kesatuan dan koherensi. Ini tidak sama artinya dengan uniformitas (keseragaman). Para penulis manusia menunjukan tulisan mereka pada situasi yang nyata, tetapi Allah dalam kedaulatan-Nya menuntun mereka dan situasi mereka, bahkan secara langsung mempengaruhi dan mengajar mereka (bdk. 2Ptr. 1:21), sehingga kita melihat kesatuan pikiran di balik semua itu. Untuk mengetahui maksud Allah tidak mungkin kita memperhatikan "bits" dan "pieces" saja. Kita harus melihat Alkitab secara keseluruhan, sama seperti ketika kita bermaksud mengetahui maksud penulis manusia, yaitu dengan membaca hasil akhir karyanya.

Jelaskan bahwa Alkitab menyajikan tujuan ilahi. Concern Alkitab adalah memberitahukan kepada kita suatu "story," yaitu cerita mengenai karya penebusan Allah bagi umat-Nya melalui Yesus Kristus. Alkitab menyajikan kepada kita "Redemptive History." Oleh sebab itu ayat-ayat dalam Alkitab tidak pernah dapat ditafsirkan lepas dari konteks kesatuan keseluruhan Alkitab. Setiap bagian Alkitab berkaitan erat dan tidak boleh ditafsirkan di luar konteks rencana dan aktivitas Allah yang bersifat "redemptive-historical" dan "covenantal" (relasi antara Allah dan umat-Nya).

PENUTUP

Apakah doktrin Sola Scriptura masih relevan untuk dipertahankan? Melihat situasi yang kita hadapi saat ini maka penegasan doktrin yang mendasar ini masih sangat penting. Kita sekarang hidup pada zaman yang sering kali disebut sebagai zaman pascamodernisme. Apa yang menjadi mentalitas zaman ini? William Edgar mengemukakan, "at the heart of the postmodern mentalily is a culture of extreme skepticism... According to many postmodernists, knowledge is no longer objective-nor even useful-and ethics is not universal."**44 Inilah dunia yang tidak kompatibel dengan kebenaran injil, dan di dalam dunia yang seperti ini Tuhan memanggil kita untuk mempertahankan kebenaran firman-Nya.

Daftar Catatan Kaki

**1. Earle E. Cairns, Christianity Through the Centuries (Edisi ketiga; GrandRapids: Zondervan, 1996) 284.

**2. Stephen Tong, Reformasi & Teologi Reformed (Jakarta: LRII, 1991) 13.

**3. Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi (Jakarta: Gunung Mulia, 1999) 174.

**4. R. C. Sproul, Grace Unknown: The Heart of Reformed Theology (Grand Rapids: Baker, 1997) 42.

**5. Tony Lane, The Lion Concise Book of Christian Thought (Tring: Lion, 1984) 110-111.

**6. What is the Reformed Faith? (Edinburgh: Banner of Truth, 1981) 5.

**7. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi 182.

**8. Ibid. 185. McGrath juga mengutip Calvin yang mengatakan, "... kita berpegang bahwa....bapa-bapa gereja dan dewan-dewan hanya berwibawa sejauh mereka sesuai dengan aturan dari firman itu, kita masih memberikan kepada dewan-dewan dan bapa-bapa gereja kehormatan dan kedudukan seperti yang sesuai untuk mereka miliki di bawah Kristus" (Sejarah Pemikiran Reformasi 186).

**9. Ibid. 186.

**10. J.M. Boice, Foundations of the Christian Faith (Downers Grove: IVP, 1986) 48.

**11. Alister McGrath, The Intellectual Origins the European Reformation (Oxford: Oxford University Press, 1987) 140-151.

**12. Sproul, Grace Unknown 42.

**13. J. Van Engen, "Tradition" dalam Evangelical Dictionary of Theology (ed. Walter Elwell; Grand Rapids: Baker, 1984) 1105.

**14. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi 182-183.

**15. Contohnya, pengajaran Roma Katolik mengenai doa untuk orang mati didasarkan pada 2Makabe 12:40-46. Bagi para Reformator, kebiasaan ini tidak mempunyai dasar alkitabiah, karena kitab tersebut adalah kitab Apokrifa.

**16. Konsili Trent 1546 tetap mendifinisikan kanon sesuai dengan apa yang ada di dalam Alkitab Vulgata.

**17. "That Doctrines of Men Are to Be Rejected" dalam What Luther Says: An Anthology (ed. Elwald M. Plass; St. Louis:Concordia, 1959) 1.63.

**18. Institutes of the Cristian Relegion (tr. H. Beveridge; London: James Clarke, 1953) I.vii.1.

**19. Calvin's New Testament Commentaries (tr. T. A. Small; Grand Rapids: Eerdmands, 1964) 10.330.

**20. Luther sendiri juga tidak pernah mengembangkan teologi tentang inspirasi Alkitab.

**21. Boice, Foundations 39.

**22. The Inspiration and Authority of the Bible (ed. Samuel G. Craig London: Marshall & Scott, 1959) 133.

**23. Institutes I. vii. 4.

**24. Foundation 49.

**25. Institutes I.viii. 13.

**26. Dalam hal inilah kita berbeda dengan pandangan Neo-Ortodoksi mengenai Alkitab. Kita percaya bahwa tulisan-tulisan dalam Alkitab adalah perkataan Allah kepada kita, terlepas dari apakah kita membacanya, mengerti, menerimanya atau tidak. Status Alkitab tidak ditentukan oleh respons manusia. Neo-Ortodoksi menekankan bahwa Alkitab menjadi firman Allah pada saat ada "encounter." Ketika tidak ada encounter, maka Alkitab hanyalah kata-kata manusia belaka yang menuliskannya. Sebenarnya pengertian wahyu sebagai suatu "encounter" tersebut adalah apa yang kita mengerti sebagai iluminasi. Pada saat seseorang diyakinkan akan suatu kebenaran tertentu, itu berarti illuminasi sedang terjadi.

**27. Robert M. Grant dan David Tracy, A Short History of the Interpretation of the Bible (Edisi kedua; Minneapolis: Fortress, 1984) 100-109. Tepatlah apa yang dikatakan Boice, "The Catholic Church weakened the orthodox view of the Bible by exalting human traditions to the stature of Scripture. Protestans weakened the orthodox view of Scripture by lowering the Bible to the level of traditions" (Foundations 70)

**28. Atau Whatever Happened to Evangelical Theology? (Grand Rapids: Eerdmans,1993).

**29. What is the Reformed Faith? 17-18

**30. Alkitab: Buku Untuk Masa Kini (tr. Paul Hidayat; Jakarta: PPA, 1987)60-61.

**31. Moises Silva, Has the Church Misread the Bible? (Grand Rapids:Zondervan, 1987)77.

**32. Sproul, Grace Unknown 55.

**33. Silva, Has the Church 95.

**34. Dikutip dari Dan McCartney dan Charles Clayton, Let the Reader Understand: A Guide to Interpreting and Applying the Bible (Wheathon: Bridgepoint, 1994) 93.

**35. John Calvin: A Biography (Philadelphia: Westminster, 1975) 132.

**36. Silva, Has the Church 96.

**37. Ibid. 77-78.

**38. Works of Martin kLuther (Philadelpia: Holman, 1930) 3.350

**39. Sproul, Grace Unknown 56.

**40. Edgar Krentz, The Historical-Critical Method (Philadelphia: Fortress, 1975) 7-10.

**41. Grant and Tracy, A Short History 92.

**42. Krentz, The Historical 16-30.

**43. Lihat ulasan yang menarik oleh Kevn J. Vanhoozer, Is There A Meaning in the Text? The Bible the Reader, and the Morality of Literary Knowledge (Grand Rapids: Zondervan, 1998) khususnya pasal 4 & 7.

**44. Reasons of the Heart: Recovering Christian Persuasion (Grand Rapids: Baker, 1996) 25.

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Majalah Veritas (Vol. 3, Nomor 1 - April 2002)
Judul Artikel : Doktrin Sola Scriptura
Penulis : Yohanes Adrie Hartopo
Penerjemah : -
Penerbit : -
Halaman : -

Kita Percaya bahwa Kita adalah, dan Selalu akan Menjadi Pakar dalam Berbuat Dosa

Dear e-Reformed netters,

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke sebuah toko buku Kristen. Di antara buku-buku menarik yang saya amati ada satu buku yang berjudul:

"12 Langkah Penyembuhan bagi Orang Farisi (seperti saya); Temukan Kasih Karunia agar Hidup Tanpa Topeng". [John Fischer]

Dari membolak-balik buku itu saya mulai melihat beberapa poin yang menarik dan membuat saya melihat diri saya sendiri (sebagai orang Reformed) dengan kacamata yang lain.....

Nah,...

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke sebuah toko buku Kristen. Di antara buku-buku menarik yang saya amati ada satu buku yang berjudul:

"12 Langkah Penyembuhan bagi Orang Farisi (seperti saya); Temukan Kasih Karunia agar Hidup Tanpa Topeng". [John Fischer]

Dari membolak-balik buku itu saya mulai melihat beberapa poin yang menarik dan membuat saya melihat diri saya sendiri (sebagai orang Reformed) dengan kacamata yang lain.....

Nah,... lepas dari setuju atau tidak setuju pendapat anda dengan isi keseluruhan dari buku tsb., ada satu Bab dalam buku itu yang ingin sekali saya bagikan dengan anda semua. Mudah-mudahan ini bisa menjadi pemacu untuk kita terpaksa mengintrospeksi diri kita sendiri ....

Selamat membaca!

In Christ,
Yulia

Penulis: 
John Fischer
Edisi: 
030/VI/2002
Isi: 

"Dosa adalah sifatku, satu-satunya hal yang aku tahu bagaimana melakukannya."
(Brother Lawrence)

Dalam sebuah percakapan pribadi antara ibu saya dan istri saya, ibu saya mengatakan bahwa saya tidak pernah berbuat dosa. Istri dan saya sudah 10 tahun hidup bersama jadi tentu saja ia mempunyai pendapat yang berbeda tentang masalah ada atau tidaknya dosa pada saya. Saya sendiri kaget mendengar tanggapan ibu saya bahwa saya sempurna, dan meskipun saya ingin seperti yang dikatakan ibu saya, saya takut bahwa istri saya tahu lebih baik. Sekalipun kami sekarang sering berkelakar mengenai hal itu, saya bertanya-tanya apa yang membuat ibu saya berpendapat yang tidak masuk akal seperti itu. Selain dari mitos "anak-saya-tidak-dapat-berbuat-salah" milik para ibu, adakah hal lain yang lebih diungkapan dalam penilaian ini? Saya percaya mungkin ada.

Banyak penginjil salah mengerti bahwa kerohanian dan kedekatan seseorang dengan Tuhan dapat menunjukkan jumlah dosa yang ada di dalam diri orang itu. Banyak dosa, kurang dekat dengan Tuhan. Dekat Tuhan, sedikit, tujuan terakhir adalah untuk menjadi tidak berdosa -- suatu keadaan yang tak seorang pun di dunia ini telah benar-benar meraihnya, tetapi secara teori ini sepertinya masuk akal. Mungkin ibu saya berpikir karena saya dekat dengan Tuhan maka saya tidak mempunyai dosa.

Kenyataan ini memang didukung oleh kesaksian yang menakjubkan dan reputasi mendekati-sempurna dari mereka yang dekat dengan Tuhan. Pendeta-pendeta dan mereka yang berada dalam "pelayanan Kristen purnawaktu" lebih dekat Tuhan daripada siapa pun dan oleh karenanya paling jauh dari dosa. Inilah sebabnya begitu menghancurkan gereja bila orang-orang mendekati-sempurna ini menjadi mangsa kegagalan moral yang mengerikan. Hasilnya, keterkejutan dan ketidakpercayaan. Mereka begitu rohani; bagaimana ini bisa terjadi?

Kebohonongan Besar Orang Kristen

Dalam novelnya yang menarik untuk zamannya yang berjudul "Portofino", Frank Schaeffer, putra Francis dan Edith Schaeffer, dua orang pemikir Kristen yang penting dalam tiga abad terakhir ini mengikis lapisan pengertian peradaban dari apa yang dianggap banyak orang sebagai keluarga Kristen ideal.

Frank -- dahulunya Franky -- menceritakan tentang keluarga penginjil yang tengah berlibur di Itali selama dua musim panas. Kesamaan antara cerita itu dengan kejadian sebenarnya yang dialami Frank sewaktu kecil ditemukan pada banyak bagian dari novel itu. Di dalam cerita itu kita mendapatkan gambaran seorang ayah yang pendiam, yang di luar terlihat mempertahankan kekolotan yang secara budaya cocok dengan Alkitab, tetapi di rumah cenderung tidak stabil dan berperangai keras. Lalu seorang istri yang bertengkar dengan suaminya mengenai siapa di antara mereka yang lebih rohani, dan anak-anak yang dipaksa untuk menjadi lebih "alkitabiah" sebelum mereka tahu apa pun mengenai artinya. Kendati sejumlah situasi itu lucu dan menarik, sisanya terlalu menyakitkan untuk ditertawakan. Karena bertumbuh dalam keluarga injili yang serupa dan standar ganda, baik di rumah maupun di luar rumah, saya memandang "Portofino" ini setidaknya bisa dianggap sebagai obat pencuci perut.

Dalam mencermati buku ini, saya mempunyai dua reaksi terhadap keluarga Kristen ini. Yang pertama, saya senang melihat kekurangan mereka karena saya merasa lebih baik. Reaksi kedua, saya kecewa karena hati kecil saya berharap bahwa seharusnya Frank tidak menelanjangi potret keluarga yang tidak sempurna ini sehingga saya kemudian bisa tetap percaya bahwa setidaknya orang yang saya hormati, seperti Francis dan Edith Schaeffer, telah menjadi orang benar.

Terlintas dalam pikiran saya bahwa reaksi kedua ini bisa dianggap sebagai kebohongan besar yang dilakukan orang Kristen. Artinya, kepercayaan bahwa seseorang, entah di mana, bisa menjadi benar. Bukankah kita selalu berkumpul dengan pembicara dan penyanyi yang berada di depan dan penting karena mereka sudah menjadi benar, dan bukankah mereka berada di atas mimbar sana karena kita berharap bahwa mereka benar? Bila dengan menyakitkan kita tahu jelas bahwa mereka tidak benar dalam sejumlah segi kehidupan, bukankah mereka langsung disingkirkan dari kedudukan mereka? Bukankah semua orang yang tengah tersenyum di kulit muka buku-buku Kristen memberi tahu kita bagaimana kita, juga, dapat menjadi benar jika mengikuti saran mereka?

Tetapi jangan khawatir, para pengusaha Kristen, pasaran buku Kristen tidak sedang goyah, karena imbauan ini telah tertanam sejak Musa turun dari gunung Sinai dengan Sepuluh Perintah Allah untuk menjadi benar. Dan kita terus membawa kebohongan ini.

Daya Pikat dari "Hampir"

Ternyata bukan menjadi benar yang merupakan persoalannya. Bila kita semua menghadapi dosa dengan lebih realistis, kita tidak akan begitu terkejut ketika muncul dosa dalam kehidupan seorang pemimpin rohani. (Saya takut apa yang akan ditulis anak-anak saya tentang saya nanti.) Bila kita jujur pada diri sendiri tentang siapa kita -- semua di antara kita -- kita akan tahu bahwa pemimpin kita juga manusia biasa, sama seperti kita.

Kadang-kadang saya ingin tahu apakah kita ingin para pemimpin rohani kita menjadi sempurna agar kita tidak perlu sempurna. Selama kita percaya ada orang yang sempurna, kita bisa terus mengabadikan mitos bahwa kesempurnaan itu mungkin dan kita terus membungkus dosa kita sendiri dengan baik di balik dusta dari "hampir". Kita hampir berada di sana. Kita hampir tiba di sana. Kita hampir kudus. Satu buku lagi, satu seminar lagi, satu pelayanan kebangunan rohani lagi, dan kita akan persis seperti orang yang ada di kulit muka buku itu atau brosur itu. Tiba-tiba saja, kehidupan rohani yang kita coba miliki ini makin jauh daripada yang kita inginkan. "Hampir" bahkan belum dekat. Pendeta saja jatuh, bagaimana dengan kesempatan untuk kita jatuh?

Bila kita jujur kepada diri sendiri, kita tahu bahwa pertanyaan riilnya bukanlah bagaimana orang yang begitu tinggi dapat jatuh begitu dalam, tetapi kenapa terjadinya tidak lebih awal di dalam atmosfer yang tidak mustahil? Apa yang dilakukan orang-orang ini di atas sana, dan mengapa kita tempatkan mereka di sana? Persoalan riilnya dalam hal ini bukanlah dengan dosa, tetapi dengan pengertian kita yang salah mengenai siapa diri kita menurut kita. Kita perlu mengerti bahwa bila seseorang jatuh, itu bukan akhir dari segalanya; itu baru kebenaran yang akhirnya terungkap. Sebetulnya baik bila kita semua kembali pada Injil, di mana seharusnya kita sudah sejak dahulu berada di sana (kejatuhan).

Saya sering bertanya-tanya bagaimana Injil yang hanya didasarkan pada jasa-jasa seseorang yang sudah mati untuk menghapus dosa dapat diabadikan pada jasa-jasa mereka yang kelihatannya tidak memerlukannya. Bila seluruh maksud dari Injil adalah pengampunan dosa, mengapa kita selalu memaksa untuk memamerkan kehidupan yang "hampir sempurna" di depan sesama kita? Bagaimana orang yang menyatakan tidak mempunyai dosa untuk diampuni? Bagaimana sebuah gereja yang dahulunya bahagia dan terdiri atas nelayan, pelacur, dan pemungut cukai sekarang berubah menjadi tempat kaum elit rohani? Tak pelak lagi, banyak jawaban rumit atas pertanyaan-pertanyaan ini, tetapi saya percaya pada akar dari semua pertanyaan itu sedang tersembunyi masalah orang Farisi.

PANGGILAN ORANG FARISI ZAMAN DAHULU

Dosa hanya muncul ke permukaan pada bagian awal dari keselamatan. Orang-orang berdosa adalah mereka yang perlu diselamatkan, tetapi begitu mereka diselamatkan, kita jarang mendengar tentang dosa lagi. Benar, dosa masih muncul dalam pengertian pada semua orang berdosa yang ada "di luar sana" yang memerlukan Kristus, tetapi bukankah kita yang "di sini" memerlukan Yesus sebanyak ketika kita telah diselamatkan?

Seakan-akan kita percaya ada suatu standar lain yang terjadi begitu kita menjadi orang Kristen. Orang yang tidak percaya perlu menerima pengampunan dosa, akan tetapi orang percaya hanya perlu berhenti berdosa. Darah Yesus menutup dosa saya ketika saya menjadi orang Kristen, tetapi bahwa sekarang saya sudah diselamatkan, saya harus berbenah diri dan menjadi benar. Keselamatan dimaksudkan bagi mereka yang perlu diselamatkan, bukan bagi mereka yang sudah diselamatkan. Dan apabila "tidak berdosa" harus lebih diutamakan daripada "pengampunan dosa" ,... berhati-hatilah hai orang Farisi.

"Siapa di antara kamu yang tidak berdosa?" itu adalah pertanyaan keras yang Yesus ajukan kepada orang-orang Farisi. Kita seharusnya mengajukan kepada diri kita pertanyaan yang sama. Yohanes mengatakannya demikian, "Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita" (1Yohanes 1:8). Walaupun demikian, kita ingin terus ditipu -- untuk mengabadikan mitos tentang diri kita sendiri dan pemimpin-pemimpin kita yang membuat dosa kita tersembunyi karena alternatifnya --menjadi bersih -- begitu menakutkan. Kendati tidak berdosa bukannya tidak mungkin, kita lebih suka untuk mengabadikan keyakinan palsu bahwa ia memang palsu, bukannya menghadapi kenyataan. Kita menciptakan pendeta dan pemimpin terutama untuk membuktikan bahwa tidak berdosa itu dapat dilakukan; tetapi orang-orang itu menjalani kehidupan di luar nilai-nilai rohani. Jika penilaian saya benar, ini sebetulnya karena kasih karunia Tuhan yang diwahyukan sehingga kita semua bisa menghadapi kondisi yang sebenarnya.

Saya bertumbuh dewasa berdasarkan lirik lagu pujian berikut ini: "Siapa yang dapat membasuh dosaku? Tak seorang pun kecuali darah Yesus." Saya perhatikan bahwa penulisnya menggunakan keterangan waktu sekarang, yang berarti bahwa dosa adalah sebuah realitas yang terjadi setiap hari dalam kehidupan orang percaya. Tetapi banyak orang menyanyikannya seakan-akan itu sudah terjadi di masa lalu, "apa yang telah menghapus dosaku?" Seolah-olah dosa kini berada di belakang kita -- sisa dari dosa kita sebelum menjadi orang Kristen.

Orang dapat melihat bagaimana dengan tidak kelihatan kita dapat menjadi calon utama untuk masuk dalam kelompok Farisi. Ketika menjadi sempurna lebih penting daripada diselamatkan -- ketika tidak berdosa lebih diutamakan daripada menangani dosa dengan jujur -- semua kekuatan yang menggoda Saulus dari Tarsus, sekarang siap untuk memberi kita kekuatan yang palsu. Yang dianggap kesempurnaan, susunan standar untuk membuat penghancurannya nyaris tidak mungkin dilakukan, penghakiman atas orang lain, persembunyian, dan tentu saja, kemunafikan, semata-mata terlalu menggoda untuk ditolak.

ORANG GALATIA YANG BODOH

"Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu?" tulis Paulus. "Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?" (Galatia 3:1,3).

Agaknya, ini bukan persoalan baru. Kita memulai dengan Roh; kita mulai dengan keselamatan; dengan kasih karunia Tuhan yang tidak patut kita terima, tetapi kemudian upaya manusia merayap kembali masuk ke dalam kehidupan kita seperti tanaman liar di kebun. Kita mulai melihat ke dalam diri kita sendiri sambil berpikir bahwa kita harus menemukan apa yang kita perlukan untuk menjadi orang Kristen yang baik, dan pada detik kita mulai melihat diri kita sendiri, kita mulai menutupi dan melindungi dan membandingkan diri kita dengan orang lain, sama seperti orang-orang Farisi. Ini tidak dapat dihindari. Di mana ada perpaduan rohani dengan upaya manusia, di situlah akan ada kejatuhan dari orang-orang Farisi yang menggeliat seperti ular berbisa sedang menunggu ada orang terjerat jatuh.

Jika diperlukan Roh untuk menyelamatkan kita, Paulus berkata, maka dengan Rohlah kita tetap selamat. Mulailah dengan Roh, tetaplah dengan Roh; mulailah dengan keselamatan, tetaplah dengan keselamatan; mulailah dengan kasih karunia, tetaplah dengan kasih karunia. Bagaimana kita dapat menambahkan sesuatu pada apa yang telah Kristus lakukan? Kita diselamatkan setiap kalinya. Kita menyerahkan hidup kita yang penuh dosa kepada-Nya, dengan berbalik dari ketergantungan pada diri sendiri lalu berserah kepada-Nya, dengan berbalik dari ketergantungan pada diri sendiri lalu berserah kepada-Nya, dan menerima hidup-Nya sebagai ganti hidup kita. Kini tidak ada bedanya. Ini adalah transaksi detik-demi-detik.

Orang-orang Galatia mencoba untuk menyempurnakan lewat upaya sendiri apa yang telah dimulai oleh Roh, sementara itu mereka mengingkari Roh yang benar bagi hidup mereka. Masalah mereka sama seperti masalah orang Farisi: ingin menguasai proses itu. Mereka ingin mengembalikan apa yang telah mereka hentikan. Agaknya, mereka merasa terlalu tidak nyaman kalau tidak menguasai. siapa lagi yang mau menolak kasih karunia Tuhan kecuali orang yang tidak ingin mendapat kasih karunia itu? Tragis sekali bahwa sementara ada kasih karunia untuk menutup semua dosa kita, masih ada orang-orang berdosa yang tidak tahu tentang itu dan orang-orang Farisi yang tidak ingin tahu.

KESELAMATAN: DAHULU, SEKARANG, DAN KEMUDIAN

Pengakuan dosa dalam kebanyakan gereja kita berasal dari mereka yang baru saja diselamatkan. Kita mendengar kisah-kisah mereka sebagai gambaran-gambaran "masa lalu" seperti dalam iklan penyedotan lemak dengan semua gelambir lemak yang menjijikkan dan bergantungan ke luar dari baju renang yang tidak pas. Anggapannya adalah, banyak di antara kita telah membuat semua dosa tersedot ke luar dari perut dan bagian belakang tubuh kita, dan sekarang kita sedang menikmati tubuh langsing "sesudah" lemak disedot. Jika dosa dapat mencuat di kemudian hari dalam hidup orang percaya, ini adalah hasil dari kebiasaan kembali ke hidup lama untuk sekian waktu. Kadang kala ini kebetulan menjadi yang terbaik dari kita. Ini dapat "dipecahkan" dengan penyerahan kembali hidup kita kepada Tuhan -- semacam "penyegaran keselamatan". Dosa jarang, seandainya pernah, disebut sebagai bagian yang normal dari pengalaman orang percaya setiap hari.

Apakah keselamatan terjadi satu kali dalam hidup kita atau sesuatu yang kita perlukan setiap hari dalam hidup kita? Jawabannya ya dan ya. Ini sebenarnya dua aspek dari sebuah proses tiga cabang dari keselamatan -- masa yang lalu, sekarang, dan kemudian. Nama teologinya adalah dibenarkan, dikuduskan, dan dimuliakan. Dibenarkan adalah apa yang terjadi terhadap kita dalam kaitannya dengan dosa kita, sekali dan selamanya, di kayu salib. Kematian Yesus sebagai ganti kita telah membenarkan kita selamanya di hadapan Allah sehingga kita dapat bersatu dengan Allah.

Tetapi ini bukan berarti bahwa kita tidak mempunyai dosa. Paulus menyebutnya sebagai "tubuh kematian" yang masih harus kita bawa dalam kehidupan, meskipun kita sudah menerima buah sulung Roh, di dalam hati (Roma 8:23). Kita sering kali terperangkap antara kemuliaan abadi bagi kita ketika kita menerima tubuh yang sudah dibangkitkan seperti Kristus, dan pembenaran kita di masa lalu yang sudah dilakukan oleh Yesus di salib. Segala sesuatu di antara itu adalah pengalaman masa kini dari proses pengudusan.

Orang percaya tidak selalu kembali ke hidup lama yang tercela. Juga tidak selalu tidak taat dengan sengaja. Sering kali, bentuknya hanya dinyatakan atau diperlihatkan karena karya Roh Kudus dalam mengelupasi sifat dosa kita seperti lapisan-lapisan bawang bombay. Kadang kala diungkapkan karena kerja Roh Kudus yang mengupas kita seperti bawang. Makin lama kita mengikut Kristus, makin kita tahu betapa dalam dosa itu berakar, dan betapa dalam dan lebarnya kemurahan dan kasih-Nya. Menyadari dosa, mengaku dosa, dan meminta pengampunan berlangsung sementara kita makin mengenali diri sendiri. Ini menyakitkan, karena kita terus menemukan seberapa jauh kita masih harus pergi, tetapi bermanfaat karena kita terus menemukan, juga, seberapa banyak Kristus telah lakukan untuk kita. Itulah sebabnya mengapa orang percaya yang lebih lama selalu merasa mempunyai pertalian dengan orang percaya baru. Ini adalah proses yang sama. Orang percaya baru mungkin mengalami pengampunan Allah untuk pertama kali, tetapi pengalaman ini langsung, nyata dan perlu bagi keduanya.

Ini juga yang menjadi alasan mengapa orang percaya baru dan orang percaya lama dapat menyanyikan lagu yang sama, menceritakan kisah Injil yang sama, membicarakan pengampunan yang sama yang langsung dari pengalaman masing-masing yang paling mutakhir. Perhatikan lagu ini: [diterjemahkan bebas dari lagu "At the Cross"]

Disalib, disalib, pertama kulihat t'rang, Dan beban hatiku lenyap; Dengan iman kudicelikkan Kini, kusenang selamanya.

Apakah orang yang sudah 20 tahun percaya menyanyikan lagu ini sambil mengingat ke masa 20 tahun yang lalu ketika ia menerima pengampunan? Apakah ia mengingat dan mengalami sendiri pengampunannya itu melalui tangisan seorang petobat baru? Ataukah air matanya tergenang sementara menyanyikan lagu ini untuk kesekian kalinya, karena ia menyadari maknanya jauh lebih dalam dibandingkan ketika ia menyanyikannya karena dosanya baru saja diampuni?

"Tell Me the Old, Old Story" adalah lagu lain yang sering dinyanyikan sewaktu saya kecil. Tetapi lagu lama bisa menjadi lagu baru bila kita mengerti dan mengalami proses pengudusan yang menyakitkan tetapi memuliakan.

MAKIN BANYAK DOSA, MAKIN BANYAK DARI TUHAN

"Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah" (Roma 5:20).

Pada permulaan bab ini, saya membicarakan tentang persamaan yang salah: makin banyak dosa, kurang dari Tuhan; makin banyak dari Tuhan, sedikit dosa. Sekarang saya ingin memberi persamaan yang berbeda. Saya ingin memberitahukan bahwa lebih banyak dosa di sini artinya lebih sadar bahwa dosa saya banyak. Jadi, orang yang dekat Tuhan menjadi makin sadar akan dosa daripada yang jauh, dan oleh karenanya, orang itu akan mempunyai lebih banyak pengalaman terkait dengan Tuhan sementara imannya bertumbuh.

Inilah sebabnya mengapa orang-orang Kristen yang dewasa terus menjadi lebih rendah hati sementara mereka semakin tua. Mereka terus menemukan betapa berdosanya mereka dan betapa sabarnya Tuhan terhadap mereka.

Paulus menyatakannya demikian. "Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: 'Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,' dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian, aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal" (1Timotius 1:15-16).

Di sini Paulus membuatnya pernyataan yang benar-benar menantang. Orang akan berpikir bahwa pemimpin besar seperti Paulus dapat menyatakan dirinya sebagai teladan untuk orang benar dan orang kudus, tetapi Paulus tidak melakukannya. Ia menyatakan kebalikannya; ia membanggakan diri sebagai orang yang paling hina di antara orang berdosa. Ia lebih suka menjadikan dirinya contoh dengan cara ini sehingga orang-orang lain bisa mempunyai harapan. Jika Kristus masih bisa bersabar terhadap Paulus -- orang berdosa terbesar -- tidak ada orang berdosa yang tidak bisa dijangkau oleh kasih Tuhan.

Inilah hak membanggakan yang benar-benar tidak biasa. Pada hakikatnya, Paulus berkata ia lebih berdosa dibandingkan orang lain, jadi tidak seorangpun dapat mempunyai alasan yang sah untuk tidak diampuni Tuhan. Bila ada harapan untuk Paulus, pasti ada buat yang lain. "Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku" (1Korintus 15:9-10).

Untuk memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan dalam pernyataan Paulus, saya menyodorkan alinea berikut:

Apakah engkau pikir dosamu terlalu besar sehingga Tuhan tidak mungkin mengampunimu? Nah, pikirkan sekali lagi. Aku membunuh orang-orang Kristen karena iman mereka. Aku menghakimi orang-orang yang Tuhan panggil untuk melaksanakan pekerjaan-Nya. Jubah yang dipakai ketika membunuh teronggok di kakiku. Hal-hal menjijikkan telah dilaksanakan, atas perintahku, terhadap lebih banyak orang yang, dibandingkan yang dapat kuhitung, dahulu dan sekarang adalah saudaraku; dan tanggung jawab untuk ini semua ada dipundakku.

Lebih banyak dari Tuhan, lebih peka terhadap dosa. Semakin saya mencari Tuhan, semakin saya sadar bahwa yang ada di dalam saya bukan berasal dari Tuhan. Itulah sebabnya mengapa pernyataan Paulus di sini menggunakan keterangan waktu sekarang. "Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa -- di mana akulah yang paling berdosa. Kenyataan bahwa ia berdosa semutakhir dan sesegar kenyataan kasih karunia Tuhan. Ia tahu bahwa ia tidak benar-benar mengenal kasih karunia Tuhan tanpa mengetahui dosanya dan betapa ia kurang layak untuk mendapat apa yang sedang ia terima. Jika layak, maka itu bukan lagi kasih karunia.

Bila kita ingin sembuh dari kepalsuan Farisi ini, kita harus sadar dosa-dosa kita sekarang. Kita perlu menjadi ahli dalam menemukan dan menggali dosa-dosa kita sendiri -- bukan dosa orang lain. Kita punya banyak dosa yang harus dibereskan dengan segenap hati tanpa harus mengurus dosa orang lain untuk dikaji. Saya tahu saya adalah orang berdosa paling besar, semata-mata karena saya lebih mengenal diri saya dibandingkan orang lain. Dosa saya adalah yang terburuk karena itu adalah dosa saya. Saya sangat terlibat dalam dosa itu. Saya tahu semua nuansanya yang tak kelihatan, pandangannya yang menyesatkan, pencarian dalihnya dan bagaimana dosa itu ditutup-tutupi. Tentang dosa saya, sayalah pakarnya. Dosa orang lain bukan urusan saya.

Dan ikutilah ini: Yeremia mengatakan bahwa pengetahuan kita "yang canggih" dalam hal dosa masih terbatas. Lebih dalam dari apa yang kita ketahui tentang dosa kita terletak dari apa yang tidak kita ketahui. "Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya" (17:9). Ini suatu sarana pengingat bahwa, bagaimanapun banyaknya kita ketahui mengenai dosa kita, kita masih tidak tahu sama sekali.

Paulus menggunakan tema ini dalam 1Korintus 4:4, "Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan." Dosa yang Paulus sadari telah ia bawa kepada Tuhan dan ia sudah menerima pengampunan; apa yang tidak ia ketahui telah diketahui oleh Tuhan dan akan dinyatakan pada waktunya.

Maka, sebuah hati nurani yang bersih tidak berarti kita tidak berdosa. Sebaliknya, ini berarti bahwa kita ditutup oleh darah Yesus untuk apa yang kita ketahui dan apa yang tidak kita ketahui. Ini harus membuat kita rendah hati sampai Dia datang kembali. "Sebab Allah yang telah berfirman: 'Dari dalam gelap akan terbit terang!', Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus" (2Korintus 4:6).

PERNYATAAN IMAN ORANG FARISI YANG INGIN SEMBUH

Bila saya berbicara tentang dosa, saya tidak lagi membicarakannya sebagai sesuatu yang terjadi dahulu sekali. Bila saya membicarakan pengampunan, maksud saya bukan pengampunan yang saya terima pertama kali ketika saya menjadi orang Kristen. Saya akan membicarakan dosa dan pengampunan yang saya alami setiap hari -- yang saya alami sekarang ini -- yang memungkinkan saya menjadi manusiawi, riil dan jujur tentang siapa saya sekarang dan siapa saya kelak. Dan, bila percakapan berubah membahas tentang orang berdosa, saya sadar bahwa percakapan itu benar-benar tentang saya. Saya akan selalu tahu bahwa saya adalah orang yang paling hina dari semua orang berdosa. Saya menempatkan Yesus di salib; dosa saya memaku-Nya di sana. Dan, jika saya pernah sengaja merenungkan bahwa ada orang berdosa yang lebih buruk daripada saya di dunia ini, apa pun kadar kejahatannya, maka pada saat itu saya telah melangkahi batas kemunafikan dan saya sedang membicarakan sesuatu yang saya sendiri tidak tahu apa-apa. Mengenai dosa, saya hanya bisa berbicara tentang diri sendiri tanpa kepastian yang mutlak, dan dalam kaitan dengan diri saya dan dosa, saya yakin mengenai yang satu ini: bahwa saya ahli dalam dosa dan pengampunan. Dosa mendatangkan kesedihan dan pengampunan mendatangkan kebahagiaan. Yang luar biasa bukanlah bahwa saya berdosa, tetapi bahwa, sekalipun saya berdosa, saya masih bisa bersekutu dengan Tuhan dan dipakai oleh Dia untuk rencana-rencana-Nya di dunia ini.

"Sebab itu siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1Korintus 10:12).

ORANG FARISI TANPA NAMA

Penyembuhan dari kecanduan, baik alkohol, obat-obatan, seks, atau apa saja, tidak pernah sempurna. Tidak pernah selesai. Itulah sebabnya mengapa selalu ada kelompok penyembuhan. Kelompok ini dibentuk bukan saja untuk membantu melepaskan seseorang dari kecanduannya. Pencandu yang berpengalaman tahu bahwa mereka tidak pernah benar-benar "sembuh", artinya bahwa mereka tidak pernah sepenuhnya tidak berisiko untuk kembali pada kecanduan. Peminum tidak berhenti jadi peminum, ia hanya berhenti minum, dan keputusan ini dibuat setiap hari.

Dosa sama saja. Kita tidak menghentikan perjuangan kita untuk mengalahkan dosa setelah kita selamat, seakan-akan tidak lagi bisa berdosa, tetapi kita berupaya dengan kuasa Roh Kudus yang ada di dalam kita agar berhenti berdosa. Bahkan upaya menutupi dosa juga sama. Peminum yang tidak berani menghadapi kebiasaan minumnya, tetapi berpura-pura menjalani kehidupan normal di dalam masyarakat seakan-akan tidak ada yang tidak beres, bagaimanapun juga akan mencuri-curi untuk minum. Dengan cara-cara yang sama, orang Kristen yang berpura-pura menang atas dosa sedang menyembunyikan sesuatu. Orang Farisi selalu pandai menyamar.

Cara penyembuhan ini sama persis dengan orang berdosa yang sudah diselamatkan. Walaupun menyakitkan untuk masuk ke dalam ruang itu dan mengakui siapa kita sebenarnya, tetapi amat menenteramkan dan melegakan untuk menghadapi kebenaran dan tidak melarikan diri dari diri kita sendiri lagi. "Hai, saya John. Saya orang berdosa," tiba-tiba saja tidak lagi menjadi suatu kutukan, melainkan cara memperkenalkan diri kepada kelompok orang yang tahu dan sedang melihat bersama saya apa artinya. Inilah proses penyucian diri yang dibawa ke dalam masyrakat. Setelah bertahun-tahun mencoba dan gagal melawan dosa dengan cara sendiri, kita bisa mendapatkan bantuan, dukungan, dan pertanggungjawaban dari diri orang lain. Dan, orang-orang ini tidak menolak Anda. Tidak pernah. Tidak ada yang lebih buruk daripada yang lain di dalam kelompok ini. Ceritakan kisah Anda di situ dan itu tidak akan membuat satu orang pun terkejut.

Cobalah dan rasakan hasilnya. "Hai, saya ----, dan saya orang berdosa." Dalam kelompok penyembuhan yang sejati ini seruan itu akan segera dibalas dengan "Hai, -----!" yang tulus dari yang berada di kelompok tersebut. Dengan cara itu, mereka sebetulnya menyatakan bahwa mereka mengerti bagaimna rasanya menjadi orang berdosa. Bukan karena dosa atau mabuk-mabukkan itu dianggap benar tetapi bahwa itu tidak masalah karena kita sama-sama di dalam pertempuran ini dan ada harapan. Ada pengampunan. Orang lain mengatakan mereka berdosa juga; mereka ingin melakukan sesuatu seperti kita, dan itulah sebabnya kita semua ada di situ. Bukankah senang rasanya kalau berada di antara sesama teman? Bukankah enak rasanya kalau tidak perlu berbohong lagi? Tidakkah Anda ingin bahwa gereja bisa menjadi lebih daripada sekadar seperti sekarang?

Seperti gereja, dalam setiap kelompok ini, orang ada di dalam bermacam tingkatan dan tahapan dalam pertumbuhan mereka. Beberapa orang sudah ada di sana selama bertahun-tahun dan sekarang sedang mensponsori orang lain dengan membantunya agar sanggup melewati satu hari lagi, bersedia ditelepon atau siap ditemui di kantor bila ada yang jatuh dan perlu ditolong segera. Ada yang baru tiba dan masuk dengan gelisah dan tidak tahu apa yang harus mereka harapkan. Mereka semua berada di sana untuk mendapatkan kasih dan pengertian, dan yang paling utama -- pertolongan.

Di sinilah sebenarnya gereja bisa lebih berperan daripada kelompok A.A. atau kelompok penyembuhan lain apa pun namanya. "Alcoholiscs Anonymous", yang menjadi pencetus penyembuhan ini, dengan tujuan menjaga dua sikap bertentangan yang agamawi, hanya dapat menuntun para pecandu pada satu "Kuasa yang Lebih Tinggi". Gereja menawarkan kepada semua orang sebuah persekutuan yang akrab dengan Yesus Kristus, yang telah mati untuk membebaskan kita dari dosa. Ini sukar ditandingi.

Jadi, sekarang saya menghadapi dosa-dosa saya dan saya telah diampuni dan disokong oleh orang berdosa lain yang sudah mendapat pengampunan juga. Saya hanya berharap bahwa ada sesuatu yang dapat saya lakukan sehubungan dengan kecenderungan membenarkan diri sendiri setelah saya sudah menjadi orang Kristen. Mungkin ada caranya ....

"Hai, saya John, dan saya orang Farisi."

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : 12 Langkah Penyembuhan bagi Orang Farisi
Judul Artikel : -
Penulis : John Fischer
Penerjemah : -
Penerbit : Yayasan Pekabaran Injil IMMANUEL
Halaman : 86 - 98

Apakah Tujuan Kematian Kristus?

Dear e-Reformed Netters,

Pada kesempatan perayaan Hari PASKAH 2002 ini, saya tertarik untuk mengutipkan dua bab pendek dari buku klasik karya John Owen yang berjudul "The Death of Death in the Death of Christ". Dalam 2 bab ini dijelaskan tentang untuk siapa Kristus mati dan untuk tujuan apa Kristus mati.

Kiranya sebagian tulisan John Owen ini menolong kita untuk sekali lagi menyadari betapa pentingnya arti kematian Kristus bagi hidup kita masing-masing pribadi yang telah ditebus-Nya. Kematian Kristus bukan hanya menjadi fakta sejarah yang harus kita terima tetapi juga menjadi fakta pembebasan kita dari kuasa dosa dan si jahat, dan sekaligus menjadi kekuatan yang memungkinkan kita untuk hidup kudus di hadapan- Nya.

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Pada kesempatan perayaan Hari PASKAH 2002 ini, saya tertarik untuk mengutipkan dua bab pendek dari buku klasik karya John Owen yang berjudul "The Death of Death in the Death of Christ". Dalam 2 bab ini dijelaskan tentang untuk siapa Kristus mati dan untuk tujuan apa Kristus mati.

Kiranya sebagian tulisan John Owen ini menolong kita untuk sekali lagi menyadari betapa pentingnya arti kematian Kristus bagi hidup kita masing-masing pribadi yang telah ditebus-Nya. Kematian Kristus bukan hanya menjadi fakta sejarah yang harus kita terima tetapi juga menjadi fakta pembebasan kita dari kuasa dosa dan si jahat, dan sekaligus menjadi kekuatan yang memungkinkan kita untuk hidup kudus di hadapan- Nya. Oleh karena kematian-Nya, maka kita sekarang boleh hidup dengan kuat kuasa-Nya!

Selamat PASKAH!

In Christ,
Yulia

Penulis: 
John Owen
Edisi: 
027/III/2002
Isi: 

Pada kesempatan perayaan Hari PASKAH 2002 ini, saya tertarik untuk mengutipkan dua bab pendek dari buku klasik karya John Owen yang berjudul "The Death of Death in the Death of Christ". Dalam 2 bab ini dijelaskan tentang untuk siapa Kristus mati dan untuk tujuan apa Kristus mati.

Kiranya sebagian tulisan John Owen ini menolong kita untuk sekali lagi menyadari betapa pentingnya arti kematian Kristus bagi hidup kita masing-masing pribadi yang telah ditebus-Nya. Kematian Kristus bukan hanya menjadi fakta sejarah yang harus kita terima tetapi juga menjadi fakta pembebasan kita dari kuasa dosa dan si jahat, dan sekaligus menjadi kekuatan yang memungkinkan kita untuk hidup kudus di hadapan- Nya. Oleh karena kematian-Nya, maka kita sekarang boleh hidup dengan kuat kuasa-Nya!

BAB 2
UNTUK SIAPAKAH KRISTUS MATI?

Kita perlu memiliki kejelasan tentang untuk siapakah yang sebenarnya mendapatkan manfaat dari kematian Kristus. Ada tiga kemungkinan:

  1. Mungkin Allah Bapa, atau
  2. Mungkin Kristus sendiri, atau
  3. Mungkin kita

Ingatlah bahwa di sini saya sedang berbicara mengenai tujuan sekunder dari kematian Kristus; dengan pengertian ini, kita dapat menunjukkan bahwa kematian Kristus bukan bertujuan untuk memberikan manfaat bagi Allah Bapa.

Kadangkala ada pendapat yang menyatakan bahwa Kristus mati untuk memungkinkan Allah mengampuni orang-orang berdosa, seakan-akan jika tidak menggunakan cara demikian Allah tidak mampu mengampuni kita. Pernyataan tersebut mengesankan bahwa tujuan sekunder kematian Kristus adalah untuk memberikan maanfaat kepada Bapa. Pandangan semacam ini tidak benar dan bodoh berdasarkan alasan-alasan berikut:

  1. Hal itu berarti Kristus mati untuk membebaskan Allah Bapa dari hal-hal yang menghalangi-Nya untuk berbuat yang Ia inginkan (misal, mengampuni orang berdosa) ketimbang membebaskan kita dari dosa kita. Tetapi seluruh bagian Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa Kristus mati untuk membebaskan kita dari dosa.
  2. Pernyataan tersebut berarti bahwa tidak ada seorangpun yang secara aktual telah diselamatkan dari dosa. Jika Kristus hanya mendapatkan kebebasan dari Bapa mungkin menggunakan - atau tidak menggunakan kebebasan tersebut! Jadi kematian Kristus tidak secara aktual telah mendatangkan keselamatan kita. Namun Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa Kristus benar-benar datang untuk menyelamatkan yang terhilang.

Berikutnya, kita dapat menunjukkan dengan pasti bahwa kematian Kristus bukan untuk memberikan manfaat bagi diri-Nya sendiri.

  1. Karena Kristus adalah Allah, Ia telah memiliki semua kemuliaan dan kuasa yang dapat Ia miliki. Maka, di penghujung kehidupan-Nya di dunia, Ia tidak meminta kemuliaan lain selain kemuliaan yang telah Ia miliki sebelumnya (Yoh. 17:5). Ia tidak perlu mati untuk mendapatkan manfaat baru lainnya bagi diri-Nya sendiri.
  2. Kadangkala muncul pendapat bahwa dengan kematian-Nya, Kristus memperoleh hak untuk menjadi Hakim atas segala sesuatu. Tetapi jika tujuan kematian-Nya adalah demi mendapatkan kuasa untuk menghukum sebagian manusia, maka tidak mungkin Ia telah mati untuk menyelamatkan mereka! Jadi sekalipun seandainya kita menerima pendapat tersebut, kita tidak dapat menggunakannya untuk membuktikan bahwa Kristus mati untuk menyelamatkan seluruh manusia.

Karena itu, dapat kita simpulkan bahwa kematian Kristus pastilah bertujuan untuk memberikan manfaat bagi kita. Kematian Kristus bukanlah supaya Bapa dapat menolong kita, jika Ia menginginkan. Bukan juga untuk mendapatkan beberapa manfaat baru bagi Kristus sendiri. Oleh karena itu, pastilah bahwa kematian Kristus secara aktual menghasilkan semua hal baik yang dijanjikan berdasarkan persetujuan-Nya dengan Bapa, yaitu untuk memberikan manfaat bagi mereka yang untuknya Ia telah mati. Jadi Ia mati hanya untuk mereka yang secara aktual menerima manfaat tersebut. Juga untuk membuktikan apa yang dikatakan Alkitab mengenal semua hal baik yang sekarang kita miliki.

Bab 3
APAKAH TUJUAN DARI KEMATIAN KRISTUS?

Kita akan mengulas tiga bagian ayat Alkitab yang berbicara mengenai apa yang dicapai melalui kematian Kristus.

Pertama, terdapat ayat-ayat Alkitab yang menunjukkan apa yang Allah ingin kerjakan melalui kematian Kristus. Saya telah memilih delapan ayat untuk kita amati walaupun masih banyak ayat lain yang dapat kita lihat.

  1. Lukas 19:10. "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." Jelaslah bahwa Allah sungguh-sungguh bermaksud menyelamatkan yang terhilang melalui kematian Kristus.
  2. Matius 1:21. "... engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." Segala hal yang perlu dilakukan untuk secara aktual menyelamatkan orang-orang berdosa akan dilakukan oleh Yesus Kristus.
  3. 1 Timotius 1:15. "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa." Ayat ini tidak mengijinkan kita untuk beranggapan bahwa Kristus datang semata-mata untuk membuat keselamatan orang-orang berdosa dimungkinkan; ayat tersebut menegaskan bahwa Ia datang untuk secara aktual menyelamatkan mereka.
  4. Ibrani 2:14, 15. "... supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jelan demikian Ia membebaskan mereka ... yang ... berada dalam perhambaan ..." Apa lagi yang dapat lebih jelas dari ayat ini? Kristus datang untuk secara aktual membebaskan orang-orang berdosa.
  5. Efesus 5:25-27. "Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya [jemaat] untuk menguduskannya ... supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang ... kudus dan tidak bercela." Saya tidak dapat mengatakan yang lebih jelas daripada yang telah dikerjakan Roh Kudus dalam ayat ayat tersebut; Kristus mati untuk menyucikan, menguduskan dan memuliakan gereja.
  6. Yohanes 17:19. " ... Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran." Tentu saja kita harus mendengar sang Penebus sendiri menyatakan maksud kematian-Nya? Ia mati agar sebagian manusia (bukan seluruh manusia, karena Ia tidak berdoa bagi seluruh manusia - ayat 9) benar-benar dikuduskan.
  7. Galatia 1:4. " ... yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita ..." Sekali lagi, ayat ini menyatakan maksud kematian Kristus, yaitu untuk secara aktual membebaskan kita.
  8. 2Korintus 5:21. "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah." Demikianlah kita menjadi tahu bahwa Kristus datang supaya orang- orang berdosa menjadi orang benar.

Dari semua ayat-ayat tersebut, jelaslah bahwa kematian Kristus dimaksudkan untuk menyelamatkan, membebaskan, menguduskan dan membenarkan semua yang untuknya Ia mati. Saya bertanya, apakah dengan demikian semua manusia akan diselamatkan, dibebaskan, dikuduskan dan dibenarkan? Ataukan Kristus telah gagal mencapai maksud-Nya? Karena itu, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah Kristus mati untuk semua manusia, atau hanya untuk mereka yang secara aktual diselamatkan dan dibenarkan!

Kedua, terdapat ayat-ayat Alkitab yang berbicara bukan hanya mengenai apa maksud kematian Kristus, tetapi juga mengenai apa yang secara aktual telah dicapai oleh kematian tersebut. Saya telah memilih enam perikop:

  1. Ibrani 9:12, 14. "dengan membawa darah-Nya sendiri ... Ia telah mendapat kelepasan yang kekal ... dan ... menyucikan hati nurani kita dari perbuatan yang sia-sia." Di sini disebutkan dua akibat langsung dari kematian Kristus - kelepasan yang kekal dan hati nurani yang disucikan. Barangsiapa memiliki hal-hal yang tersebut adalah salah seorang dari mereka yang untuknya Kristus mati.
  2. Ibrani 1:3. "Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Maha-besar, di tempat yang tinggi." Jadi ada penyucian rohani bagi mereka yang untuknya Kristus mati.
  3. 1Petrus 2:24. "Ia sendiri telah memikul dosa kita." Di sini kita mendapatkan pernyataan mengenai apa yang dilakukan Kristus - Ia memikul dosa kita di atas kayu salib.
  4. Kolose 1:21,22. "Juga kamu ... sekarang diperdamaikan-Nya ..." Suatu keadaan damai secara aktual telah tercapai antara mereka yang untuknya Ia telah mati dengan Allah Bapa.
  5. Wahyu 5:9-10. "Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam ..." Jelas ayat-ayat ini berbicara mengenai apa yang terjadi kepada mereka yang untuknya Kristus mati, bukan mengenai semua manusia.
  6. Yohanes 10:28. "Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka ..." Kristus sendiri menjelaskan bahwa hidup diberikan kepada domba- domba-Nya (ayat 27). Kehidupan rohani yang dinikmati orang-orang percaya didapati mereka melalui kematian Kristus.

Dari keenam ayat-ayat ini (dan masih banyak lagi yang digunakan), kita dapat mengatakan bahwa jika kematian Kristus secara aktual membawa pembebasan, pembersihan, penyucian, penghapusan dosa, perdamaian, hidup kekal dan kewarganegaraan surgawi, maka Ia pasti telah mati hanya untuk mereka yang benar-benar mendapatkan hal-hal tersebut. Jelas, bahwa tidak semua orang memperoleh semua anugerah tersebut! Oleh karena itu tidak mungkin kematian Kristus bertujuan untuk keselamatan seluruh manusia.

Ketiga, ayat-ayat Alkitab yang menjelaskan mengenai orang-orang yang untuknya Kristus mati, dimana mereka sering disebut "banyak" - contohnya: Yesaya 53:11; Markus 10:45; Ibrani 2:10. Tetapi kata-kata "banyak" ini di banyak ayat Alkitab juga disebut sebagai:

Domba-domba Kristus
Anak-anak Allah
Anak-anak yang telah diberikan Allah kepada Kristus
Umat pilihan
Umat yang dipilih Allah
Jemaat Allah
Mereka yang dosanya ditanggung-Nya
  Yohanes 10:15
Yohanes 11:52
Yohanes 17:9; Ibrani 2:13
Roma 8:33
Roma 11:2
Kisah 20:28
Ibrani 9:28

Sebutan-sebutan semacam itu tentu saja tidak ditujukan pada semua manusia. Jadi anda lihat bahwa tujuan kematian Kristus seperti yang tertuang dalam Alkitab, tidak dimaksudkan bagi keselamatan setiap manusia.

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Kematian yang Menghidupkan
(The Death of Death in the Death of Christ)
Judul Bagian : Tujuan Sebenarnya dari Kematian Kristus;
Apa yang Telah Ia Capai
Judul Artikel : Bab 2: Untuk Siapakah Kristus Mati? ;
Bab 3: Apakah Tujuan dari Kristus Mati?
Penulis : John Owen
Penerjemah : -
Penerbit : Momentum
Halaman : 47 - 55

Teologia Reformed dan Relevansinya bagi Gereja Masa Kini

Dear All,

Pertama-tama, mohon maaf karena pengiriman artikel bulan ini agak terlambat.

Artikel yang saya muat bulan ini diambil dari buku "Sebuah Bunga Rampai dalam Peringatan 25 Tahun Kependetaan Caleb Tong."
Mudah-mudahan artikel ini menjadi berkat dan mendorong kita untuk semakin mengenal dan menghargai semangat gerakan Reformed. Selain itu harapan saya inti dari gerakan Reformed dapat semakin nampak di gereja kita dan kehidupan kita masing-masing.

In Christ,
Yulia

Editorial: 

Dear All,

Pertama-tama, mohon maaf karena pengiriman artikel bulan ini agak terlambat.

Artikel yang saya muat bulan ini diambil dari buku "Sebuah Bunga Rampai dalam Peringatan 25 Tahun Kependetaan Caleb Tong."
Mudah-mudahan artikel ini menjadi berkat dan mendorong kita untuk semakin mengenal dan menghargai semangat gerakan Reformed. Selain itu harapan saya inti dari gerakan Reformed dapat semakin nampak di gereja kita dan kehidupan kita masing-masing.

In Christ,
Yulia

Penulis: 
Stephen Tong
Edisi: 
026/III/2002
Isi: 

PENDAHULUAN

Teologia Reformed merupakan sesuatu gerakan pengertian firman Tuhan yang berdasarkan hati nurani yang murni dan perasaan tanggung jawab yang sungguh-sungguh kepada Tuhan. Baik dari Martin Luther, Zwingli maupun Calvin mereka sebenarnya tidak ada maksud untuk memecah gereja, mengajarkan doktrin-doktrin yang baru atau memisahkan sebagian orang untuk memihak mereka, melainkan mereka benar-benar terdorong oleh suatu keadaan yang menyedihkan yaitu penyelewengan-penyelewengan yang terjadi dalam gereja terhadap Alkitab dan doktrin-doktrin yang diajarkan dari jaman ke jaman.

Para Reformator adalah orang-orang jujur yang mau kembali setia kepada Allah dan mereka juga mau mempengaruhi gereja agar kembali setia kepada Allah. Mereka tidak menegakkan doktrin yang baru, melainkan menjelaskan doktrin yang dari kekal sampai kekal tidak berubah berdasarkan firman Tuhan yang diwahyukan dalam Kitab Suci. Khususnya Calvin, dalam "Institutes of the Christian Religion", mempunyai motivasi supaya manusia mengenal bahwa ajaran-ajaran Reformed adalah sesuai dengan ajaran-ajaran Kitab Suci. Boleh dikatakan ini adalah semacam kebangunan doktrinal yang bersangkut-paut dengan pengertian kepada interpretasi yang sah terhadap iman rasuli. Selain daripada pengaruh dalam hal doktrin yang benar, kekristenan juga membawa kita sebagai anak-anak Tuhan yang setia menjalankan tugas kehidupan di dalam dunia ini untuk mempunyai perasaan tanggung-jawab kultural dan sosial. Baik di dalam aliran Lutheran maupun Calvinis keduanya memiliki gagasan bagaimana orang Kristen hidup sebagai warga negara yang harus menjadi terang dunia dan dapat mempengaruhi kebudayaan serta membawa Kekristenan kepada Kristus yang sebenarnya adalah Raja di atas segala bidang dan aspek kebudayaan. Dengan demikian di mana teologi Reformed berada, daerah itu menerima pengaruh daripada kebenaran di dalam semua aspek kebudayaan.

Selain kembali kepada ajaran Kitab Suci dan hidup bertanggung jawab dan memberi pengaruh kebudayaan, Calvin juga mementingkan:

  1. Kedaulatan Allah di dalam seluruh dunia, khususnya di dalam Tubuh Kristus,
  2. hanya berdasarkan iman saja manusia dibenarkan.

Di dalam kedua hal di atas, boleh dikatakan bahwa kedua Reformator mendapat pengaruh dari Agustinus. Doktrin anugerah, doktrin keselamatan, doktrin Allah dan Injil yang murni ditegakkan kembali di dalam ajaran teologia Reformed sehingga kita tidak asing dengan istilah-istilah: sola scriptura, solagratia, sola fide, soli Deo gloria dan lain-lain. Kesemuanya adalah cetusan istilah yang begitu singkat namun tepat untuk melukiskan tekanan-tekanan dari gerakan Reformasi pada jaman itu yang berpengaruh ke segala jaman.

Itulah sebabnya sejak Reformasi, 470 tahun lebih y.l., kita melihat pengaruh Teologi Reformed sangat menonjol, seperti:

  1. Di mana pengajaran Reformed disebarkan di sana penghargaan terhadap kehormatan atau martabat manusia tidak terlepas dari gerakannya. Dan akibat dari penghargaan terhadap hak manusia ini maka di mana Calvinisme berada di sana boleh dikatakan menjadi tempat-tempat suburnya demokrasi di dalam pembentukan masyarakat dan politik mereka.
  2. Selain daripada itu aliran Lutheran dan Calvinis juga berpengaruh di bidang sastra, bahasa maupun musik. Ini merupakan suatu kontribusi yang penting. Sesudah beberapa ratus tahun kemudian, mandat kultural menjadi sesuatu aspek yang dipentingkan dan ditekankan oleh kaum Calvinis. Maka kita melihat semua negara Protestan mencapai kemajuan di dalam bidang industri, ilmiah lebih pesat daripada negara-negara yang tidak dipengaruhi oleh teologia Protestan. Sampai hari ini produksi-produksi yang paling akurat dan dapat diandalkan, misalnya, adalah berasal dari Jerman, Swedia dan sebagainya. Ini adalah pengaruh tidak langsung dari Reformasi. Hal yang sama juga terjadi di bidang musik. Jadi boleh dikatakan bahwa pengaruh ini telah meluas dan mencapai segala bidang, seperti yang dikatakan oleh Abraham Kuyper bahwa tidak ada satu inci pun di dalam bidang hidup manusia yang Kristus tidak ada takhtanya.

TEOLOGIA REFORMASI DI TENGAH-TENGAH KONTEKS BERGEREJA DI INDONESIA

Indonesia pernah dijajah oleh Belanda sehingga gereja Protestan merupakan gereja yang sangat luas dan berakar di Indonesia semasa penjajahan. Kami pikir gereja pada waktu itu merupakan gereja dari lapisan kelompok masyarakat yang agak tinggi sehingga Keristenan sebenarnya masih belum terlalu mendarat dan berakar dalam masyarakat umum. Menunggu sampai Gereja Pentakosta timbul di Indonesia, barulah Injil dikabarkan kepada khalayak yang lebih banyak. Khususnya melalui karunia-karunia seperti kesembuhan dan sebagainya. Hal ini menarik banyak orang miskin datang kepada Kekristenan sehingga Kekristenan menurun kepada lapisan yang lebih rendah.

Sedikit berbeda dengan penginjilan di daratan Tiongkok yang pada waktu itu lapisan masyarakat atasnya adalah penganut Konfusianisme, mereka bersikap antipati kepada Keristenan. Karena itu Kekristenan melalui OMF (dahulu CIM) hanya mencapai kebanyakan orang dari lapisan bawah atau rendah. Sedangkan di Indonesia karena gereja adalah milik lapisan yang agak atas atau tinggi, kecuali di beberapa tempat yang dahulunya merupakan daerah animisme dan kemudian ada sebagian yang menjadi daerah Kristen, maka kami tidak berpandangan bahwa orang-orang Kristen itu sudah menerima dengan jelas atau mempunyai posisi teologia Reformed dengan pengertian dan kepercayaan yang kuat di dalam kondisi sedemikian. Setelah gereja-gereja harus menghadapi kultur yang lebih bersifat pluralistik, kita melihat banyak gereja Protestan mempunyai gejala yang sangat tidak normal. Misalnya sebagian dari mereka tidak puas dengan pelayanan gereja masing-masing sehingga banyak yang terpengaruh dan menuju kepada gereja-gereja yang lebih bercorak emosional maupun gerakan pengalaman ke gerakan Karismatik atau Pentakostal dan sebagainya. Sementara banyak orang yang dulunya anggota Protestan masih menyimpan jimat-jimat dan berhala-berhala sebagai pengaruh kebudayaan lama yang tidak mereka lepaskan sesudah menamakan dirinya Kristen. Di sini terlihat bahwa gerakan Protestan sendiri masih berusaha di dalam suatu ketidak-stabilan teologia maupun iman kepercayaan dan pengalaman agama yang sesuai dengan teologia itu. Karenanya teologia Reformed perlu cepat-cepat ditanamkan dengan sebenar-benarnya dan sekokoh-kokohnya kepada jemaat yang ada bahkan hendaknya mulai berpengaruh dinamik kepada orang-orang yang belum mengenal teologia Reformed.

Pada dewasa ini sebagian dari pemimpin-pemimpin gereja Reformed sudah terlalu menyimpang dan jauh dari ajaran Reformed yang asli. Misalnya mereka tidak lagi memegang prinsip-prinsip dari jaman Reformasi, termasuk sola scriptura, sola gratia, sola fide dan sebagainya sehingga orang-orang gereja Protestan sudah dipengaruhi oleh teologia- teologia kontemporer yang menamakan dirinya tetap bertradisi Reformed tetapi yang sebenarnya sudah banyak menyimpang. Misalnya: aliran neo- ortodoks, baik dari Karl Barth maupun Emil Brunner semuanya menganggap diri beraliran Reformed. Mereka menganggap sendiri tetap membela teologia Reformed tetapi dari semangat dan prinsip dasarnya sudah jauh sekali dari Reformed yang asli. Kalau orang Kristen di Indonesia sudah banyak terpengaruh oleh mereka sehingga mereka menganggap diri juga termasuk orang-orang Reformed yang bersifat lebih dinamis karena merasa gereja harus menyesuaikan atau mempunyai semangat adaptasi di dalam setiap jaman dan sebagainya, maka kami kira ada bahaya yang harus cepat disadari oleh para pemimpin gereja maupun orang-orang Kristen di Indonesia pada jaman ini.

PERKEMBANGAN MANDAT KULTURAL DAN SOSIAL DALAM TRADISI REFORMASI

Teologia Reformed mempunyai satu ciri khas selain memberitakan Injil sebagai mandat utama juga ada mandat kultural yang harus kita kerjakan sehingga ini memungkinkan orang Kristen menjadi terang di dalam segala bidang kehidupan. Jikalau kita mau menyaksikan Kristus bukan hanya di dalam lingkup gereja, maka kita harus mempunyai semangat Kekristenan yang harus dibawa ke dalam bidang-bidang di mana kita diutus sebagai hakim, profesor, presiden, guru, dokter, pedagang dan sebagainya seharusnya membawa "tanda" dari iman Kristen dan semangat Kekristenan untuk mempengaruhi bidang-bidang di mana mereka berada. Di dalam hal ini terlihat bahwa negara-negara Barat menjunjung tinggi kejujuran lebih daripada negara-negara yang bukan dipengaruhi oleh Kekristenan. Sedangkan kejujuran ini menjadi suatu hal yang dianggap sangat merugikan diri di banyak kebudayaan Timur yang kuno, maka akhirnya kita melihat nilai kejujuran itu bukan saja tidak merugikan Barat karena negara-negara yang menjunjung tinggi kejujuran malah diberkati oleh Tuhan dengan kekuatan yang melebihi negara-negara agama lain maupun negara-negara komunis. Bagi Mao Ze Dong dan bagi Moscow, Watergate Affair merupakan suatu hal yang tidak perlu diperjuangkan, tetapi bagi orang-orang yang dipengaruhi oleh Protestantisme, hal itu merupakan suatu hal yang penting sekali bagi filsafat negara mereka. Ini adalah suatu contoh kasus untuk membuktikan pengaruh tidak langsung dari Kekristenan di Barat.

Selain daripada itu pengaruh pertemuan-pertemuan ilmiah menjadi makin pesat sekali bertumbuh di bawah pengaruh langsung maupun tak langsung Kekristenan di Barat sehingga negara-negara Protestan jauh lebih cepat maju dibanding dengan negara-negara Katholik maupun negara-negara beragama lainnya. Dan di bidang politik karena mereka meninggikan hak azasi manusia sebagai ciptaan Allah menurut peta dan teladan-Nya, ini mengakibatkan kesama-rataan dan penghormatan terhadap harkat manusia menjadi mungkin. Hal inilah yang menjadi dasar yang penting dari demokrasi di Barat. Meskipun banyak yang belum bisa menjalankan demokrasi ini, seperti politik Apartheid (diskriminasi) dan sebagainya, namun hal ini sebenarnya bertentangan dengan semangat Kekristenan.

Musik sebelum Johan Sebastian Bach dikatakan kebanyakan dimonopoli di Italia daerah Katholik, tetapi Jerman merupakan suatu negara yang mengalami Reformasi sehingga semacam semangat keketatan dan semangat ketelitian diwarisi di sana sampai sekarang ini. Dan Martin Luther adalah seorang petani yang mempunyai semangat keakuratan, ketelitian, kejujuran serta kesungguhan yang tak bisa dikompromikan. Hal seperti ini juga mengakibatkan timbulnya semacam pengalaman peitisme ditambah dengan semangat keakuratan yang telah berakar menyebabkan Johann Sebastian Bach dan lain-lainnya mencetuskan musik-musik yang sampai kini diakui amat tepat dengan presisi yang tinggi bahkan setelah diuji dan dianalisa dengan komputer. Baik George Frederick Handel maupun Bach adalah orang-orang Protestan. Semuanya ini merupakan permulaan kebangunan musik di daerah Jerman yang sebelumnya tidak pernah mencapai mutu setinggi ini di dalam dunia musik. Kedua orang Jerman ini telah dikagumi baik oleh Joseph Haydn, Mozart maupun Ludwig van Beethoven. Dan ketiga orang yang disebutkan belakangan ini adalan orang-orang Katholik, namun pengaruh dari Handel dan Bach sudah meresap mendalam kepada mereka.

MISI DAN PEKABARAN INJIL DALAM TRADISI REFORMASI

Sepanjang sejarah penginjilan terlihat Reformasilah yang mengembalikan Kekristenan kepada Injil yang paling murni dengan pemberitaan, kepercayaan dan dasar teologi yang tidak berkompromi. Skop Injil ini adalah bahwa hanya dengan mengenal Tuhan Yesus saja kita diselamatkan, hanya melalui iman saja kita diterima dan hanya melalui kedaulatan Tuhan kita boleh menjadi anak-anakNya serta hanya melalui Kristus saja kita ditebus. Maka Reformasi ini merupakan satu-satunya era yang begitu kompak dan murni untuk kembali kepada Injil yang asli sehingga teologi Reformed itu juga disebut teologia Injili. Dan dari permulaan gereja Lutheran disebut evangelical church sehingga nama "Injili" merupakan suatu istilah yang tak terpisahkan dari gereja-gereja Protestan. Misalnya pada waktu Injil disebarkan di Indonesia, gereja-gereja Protestan selalu tidak lupa mencantumkan istilah tersebut dalam nama lengkapnya. Contohnya: Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM), Gereja Masehi Injili Timor (GMIT), Gereja Masehi Injil Sangir-Talaud (GMIST) dan istilah-istilah ini adalah suatu indikasi yang menunjukkan bahwa Injil memang sangat penting. Dan di mana gereja Protestan berada di sana banyak orang kembali kepada Tuhan sehingga boleh dikatakan bahwa gereja Protestan mempunyai jiwa injili yang luar biasa. Namun fakta juga menunjukkan banyak gereja Reformed sesudah melalui suatu jangka waktu mereka lupa akan anugerah Tuhan atau menginterpretasikannya secara tidak benar. Kita mengambil contoh: karena segala sesuatu berdasarkan anugerah maka kalau berdosapun akan diampuni dan lain sebagainya. Ini mengakibatkan etika dan moral gereja-gereja Protestan itu tidak ditekankan. Dengan perkataan lain kesalah-pengertian ini telah mengakibatkan banyak orang Kristen hidup tak sesuai dengan ajaran kepercayaannya. Hal ini tentu sangat disesalkan dan menyedihkan.

Itulah sebabnya juga setelah 150 tahun dari gerakan Reformasi Martin Luther, gerakan Pietisme berusaha merubah kesulitan-kesulitan yang timbul. Di Indonesia banyak orang Kristen di daerah Protestan yang sangat tidak mementingkan hidup sesuai dengan panggilan sebagai saksi Kristus di dalam dunia ini. Salah satu sebab lainnya adalah karena di dalam gerakan Reformed, Protestan sangat mementingkan penanaman dan penyebaran gereja, maka banyak yang menjadi anggota gereja tanpa mempunyai pengalaman sendiri bergumul untuk bertobat, menerima Kristus secara pribadi dan lain sebagainya. Karena di dalam gereja Protestan umumnya orang mempercayai akan perjanjian keluarga sehingga seisi keluarga menjadi orang Kristen, maka amat mungkin sebagian dari anak- anak yang dibaptiskan itu belum atau tidak mengalami pertobatan pribadi. Dapat dikatakan inilah letak titik kelemahan jiwa atau semangat penginjilan dalam gereja-gereja bertradisi Reformed.

ANTARA PROTESTANTISME DAN KAPITALISME

Bagi kami, Kapitalisme adalah semacam hasil dari keserakahan manusia yang egosentris dan usaha mendapatkan uang melalui cara-cara yang tidak adil di dalam masyarakat. Maka menurut Max Webber, hal sedemikian ini makin menonjol sesudah Protestantisme timbul. Tetapi kita harus mengetahui dan memisahkan hal ini dengan jelas. Sebelum terjadi Reformasi, Kapitalisme sudah ada. Kapitalisme merupakan semacam gejala masyarakat yang konsisten semenjak permulaan sejarah sampai akhir jaman. Tetapi mengapakah kapitalisme dianggap menonjol sesudah Reformasi timbul, khususnya Calvinisme? Ini adalah karena ajaran penatalayanan (stewardship) yaitu manusia adalah juru kunci di hadapan Allah yang harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu termasuk kesehatan, waktu, uang, bakat dan seluruh karunia yang diberikan-Nya. Ajaran ini menyebabkan semua orang Kristen harus baik- baik memakai waktunya untuk bekerja. Uang yang mereka dapatkan tidak boleh dihamburkan untuk berjudi, bermabuk-mabukan, berzinah dan sebagainya sehingga dengan penghematan sedemikian mereka justru menyimpan uang lebih banyak lagi. Uang yang banyak ini ditambah dengan rasa tanggungjawab terhadap Tuhan mengakibatkan mereka tidak secara sembarangan mempergunakannya. Maka mereka menanam modal dan bekerja lagi sampai mendapatkan uang (kapital) yang lebih besar lagi. Jadi kita tidak bisa tidak mengakui bahwa karena konsep bekerja keras, penghematan dan rasa tanggungjawab kepada Tuhan telah mengakibatkan dimana Protestantisme sejati berada di sana pasti ada kekayaan yang lebih besar dibandingkan masyarakat yang bukan Protestan.

Sebagai contoh kita melihat bahwa masyarakat Bali memakai uang yang banyak hasil kerja mereka untuk upacara pemakaman dan sebagainya, sehingga bagaimanapun juga mereka tidak akan menjadi terlalu kaya. Ini merupakan kenyataan bagaimana agama mempengaruhi hidup perekonomian manusia.

Tetapi karena sesudah negara-negara kapitalis menjadi kaya, lalu mereka berusaha meminjamkan uang kepada negara-negara miskin, maka secara tidak langsung ini menimbulkan penindasan antara manusia dengan manusia melalui penerimaan suku bunga dan sebagainya. Semuanya ini merupakan suatu hal yang tak bisa dihindarkan. Namun sekalipun demikian, kita harus membedakan antara Kapitalisme dengan prinsip Kekristenan. Banyak negara meskipun mayoritas penduduknya Kristen tetapi tidak menjalankan prinsip Kekristenan karena pemerintahan di sana dipegang oleh orang-orang yang tidak setia kepada Kekristenan yang sejati.

MEMPERTAHANKAN TRADISI REFORMASI DALAM KONTEKS GEREJA KONTEMPORER MASA KINI

Kita harus membagi teologia dan aplikasinya secara jelas. Teologia berarti pengertian manusia secara ilmiah akan Allah, sedangkan aplikasinya yaitu bagaimana menyatakan iman kita dan fungsi iman di dalam hidup sehari-hari. Teologia Reformed mengajarkan tentang Allah Tritunggal, Kristus adalah Mediator satu-satunya, Roh Kudus adalah diri-Nya Allah, dan Alkitab adalah firman Tuhan yang diwahyukan serta gereja adalah orang-orang Kristen yang ditebus oleh Tuhan, juga melalui pertobatan dan diperanakkan pula manusia menjadi anak-anak Allah dan lain sebagainya. Kesemuanya adalah ajaran yang bukan saja harus dipertahankan, melainkan tidak boleh berubah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Dan ini dimasukkan ke dalam kategori iman kepercayaan yang bersifat mutlak dan melampaui segala jaman dan daerah. Kita harus mempertahankan, memperjuangkan dan memperdebatkan hal ini dalam keadaan bagaimanapun demi menjaga kemurnian kepercayaan maupun substansi dari Kekristenan itu sendiri.

Sedangkan di dalam masyarakat orang Kristen harus menjadi terang atau cahaya kesaksian melalui pengamalan akan sifat kasih, keadilan dan kesucian Allah dalam hidup kita. Hal ini merupakan sesuatu yang harus kita pelajari yakni bagaimana memancarkan kemuliaan Allah di dalam setiap jaman yang berbeda. Di samping itu harus diketahui bagaimana mempertahankan hidup Kekristenan dan bahkan bisa mempengaruhi orang lain melalui sifat-sifat ilahi yang bersangkut-paut dengan etika serta penerapannya di dalam masyarakat yang sangat pluralistik.

Dalam katekismus Heidelberg dikatakan bahwa gereja yang benar dan sejati harus mengajarkan kebenaran firman Tuhan dengan benar dan ketat, lalu menjalankan sakramen dengan benar serta melaksanakan disiplin gereja dengan benar pula. Selain itu gereja harus memberitakan Injil demi menjamin kelangsungan dan kesehatan pertumbuhan gereja secara konsisten.

Apa yang seharusnya gereja bina pada masa kini?

Gereja yang baik, pertama, harus membenahi doktrin-doktrin kepercayaannya sehingga berakar dengan mengetahui siapa, apa dan mengapa kita percaya. Kedua, pengajaran tentang hidup bertanggung jawab kepada Allah menurut etika yang sesuai dengan ajaran Alkitab yakni memancarkan sifat ilahi di bidang moral kepada sesama manusia. Ketiga, membenahi akan makna hidup dan pelayanan. Sebagaimana kita adalah orang-orang Kristen maka kita harus hidup dan melayani orang lain sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Keempat, kita harus berusaha membina orang Kristen untuk memuliakan Tuhan di bidang- bidang yang berbeda dalam masyarakat luas. Kelima, bagaimana gereja mendorong pelebaran pekabaran Injil di dalam melaksnakan tugas Amanat Agung.

Akhirnya, bagaimana gereja bisa mempunyai orang-orang yang mampu memimpin di dalam masyarakat?

Kecuali gereja bisa memberikan isi pemberitaan dan pengajaran yang dirasakan cukup oleh orang-orang berpotensi maka barulah kita bisa mendapatkan orang-orang yang bermutu bagi Kekristenan. Mereka yang berkualitas ini harus membimbing agar lebih berkembang, potensi mereka perlu digali serta diarahkan dengan benar. Dengan demikian, untuk mengharapkan munculnya pemimpin-pemimpin yang menjadi kunci dalam masyarakat maka seharusnya para pemimpin gereja pada masa kini memiliki hati yang lapang, visi yang jauh, pandangan yang tepat serta cinta kasih yang limpah dan bijaksana. Jikalau tidak, maka Kekristenan akan selalu tertinggal di belakang. Di lain pihak kepemimpinan itu bukanlah sekedar bisa dilatih atau dicetak oleh usaha manusia, melainkan dibangkitkan oleh Tuhan ditambah dengan penggalian dan latihan sehingga segenap potensi dapat diperkembangkan. Juga harus diciptakan kemungkinan praktek di ladang sebagai sarana output dari apa yang sudah ada padanya ditambah dengan ujian yang lama barulah seseorang bisa menjadi pemimpin yang kuat yang hebat!

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Menuju Tahun 2000; Tantangan Gereja
Di Indonesia
Judul Artikel : Teologia Reformed dan Revelansinya Bagi
Gereja Masa Kini
Penulis : -
Penerjemah : -
Penerbit : Momentum
Halaman : 47 - 55

Jika Kristus Tidak Dibangkitkan

Dear Reformed Netters,

Saya ingin mengucapkan, "SELAMAT PASKAH" kepada semua anggota e-Reformed. Sehubungan dengan perayaan PASKAH 2001 kita akan menikmati kotbah Pak Bob Jokiman yang disampaikan pada perayaan PASKAH y.l.

"Thanks, Pak Bob."

In His mercy,
Yulia

Editorial: 

Dear Reformed Netters,

Saya ingin mengucapkan, "SELAMAT PASKAH" kepada semua anggota e-Reformed. Sehubungan dengan perayaan PASKAH 2001 kita akan menikmati kotbah Pak Bob Jokiman yang disampaikan pada perayaan PASKAH y.l.

"Thanks, Pak Bob."

In His mercy,
Yulia

Edisi: 
015/IV/2001
Isi: 

Rasul Paulus, salah seorang pengikut Kristus yang sebelumnya bertobat menjadi penantang Tuhan bahkan membunuh orang-orang Kristen, menulis bahwa jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kita (1Korintus 15:14,17), karena seluruh iman kristiani di dasarkan pada kebangkitan tersebut. Josh McDowell, seorang apologet dari Campus Crusade for Christ, dalam bukunya yang telah menjadi klasik "Evidence That Demands a Verdict", mengutip H.P.Liddon yang berkata: "Faith in the resurrection is the very keystone of the arch of Christian faith, and, when it is removed, all must inevitably crumble into ruin." Iman kristiani yang didasarkan pada kenyataan dan kepercayaan bahwa Tuhan Yesus Kristus, yang disalibkan dan bangkit kembali pada hari yang ketiga kurang-lebih 2000 tahun yang lalu di Yerusalem, bukan saja merupakan dasar iman kristiani yang kokoh tetapi juga bila terus-menerus dihayati akan menjadi sumber sukacita dan harapan yang tidak dapat surut dalam hidup kita sebagai orang-orang percaya. Tanpa Kebangkitan Kristus tiada Jaminan Pengampunan Dosa. Kebangkitan Kristus dapat menjadi sumber sukacita karena menjamin pengampunan bagi umat manusia.

Sejak manusia jatuh dalam dosa, manusia telah berusaha dengan berbagai cara untuk kembali kepada Allah. Umat manusia yang berdosa menganggap bahwa untuk memperoleh pengampunan Allah adalah dengan melakukan perbuatan baik, amal dan memberikan korban atau sesajian. Namun sayang semuanya itu tidak berhasil, semuanya itu tidak menjamin pengampunan dosa umat manusia. Firman Allah menyatakan dengan tegas bahwa kita sekalian seperti orang najis dan segala kesalehan kita seperti kain kotor, kita seperti daun yang layu dan akan dilenyapkan oleh kejahatan kita seperti daun layu yang dilenyapkan oleh angin (Yesaya 64:6). Itulah sebabnya semua agama di dunia ini mendoakan kerabat dan keluarganya yang meninggal supaya dosa-dosa mereka diampuni dan semoga diterima disisi Allah, membuktikan bahwa pengampunan dosa bagi mereka belum merupakan suatu kepastian, pengampunan dosa belum terjamin. Sekalipun selama hidupnya mereka dikenal saleh bahkan menjadi tokoh agama atau rohaniwan sekalipun.

Namun tidak demikian dengan iman kristiani. Alkitab mengajarkan bahwa pengampunan dosa dan kepastian memasuki sorga hanya dapat tercapai apabila kita mengikuti cara yang ditentukan oleh Allah, yang empunya sorga. Seperti halnya kita yang datang ke Amerika, kita baru dapat masuk ke Amerika secara sah apabila kita mendapatkan visa yang dikeluarkan Pemerintah Amerika, yang punya negara ini. Hanya dengan visa tersebut barulah kita dapat masuk ke negara ini. Anda boleh menganggap, berpikir, merencanakan dan melakukan apa saja, tetapi tanpa visa anda tidak boleh masuk, titik! Siapapun anda, pejabat atau jelata, konglomerat atau kaum melarat, profesor atau buta huruf persyaratannya sama, harus punya visa! Kita tidak boleh masuk menurut kehendak dan cara sendiri, tanpa visa kita adalah ilegal dan dapat dideportasi. Kalau dideportasi dari Amerika, masih lumayan kita bisa kembali ke negara kita; Indonesia tercinta. Namun kalau dideportasi dari sorga, mau ke mana kita, tiada tempat lain hanya neraka jahanam, yang sebenarnya disediakan bagi iblis dan para begundalnya!

Kita patut bersyukur, karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga dikaruniakanNya AnakNya yang tunggal supaya barang siapa yang percaya padaNya tidak binasa melainkan peroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). AnakNya itu telah mati di kayu salib dan dikuburkan, namun pada hari yang ketiga telah bangkit dari antara orang mati, seperti yang dinubuatkan-Nya sendiri (Markus 9:30-32). Kebangkitan tersebut bukan saja menyatakan kebenaran Yesus dengan tergenapi nubuatan tersebut, tetapi juga menyatakan bahwa pengorbanan-Nya diterima Allah. Dalam surat Roma 4:25 dikatakan bahwa Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita! Itulah permakluman Allah terhadap karya penebusan Kristus! Kematian Kristus menyatakan kasih serta pengorbannanNya bagi umat manusia dan kebangkitanNya menyatakan pembenaran Allah terhadap pengorbanan Kristus, pengorbananNya untuk penebusan umat manusia telah diterima Allah! KebangkitanNya adalah bukti bahwa Allah mengesahkan pengorbanan Kristus dan dengan demikian mengesahkan pula pengampunan dan penebusanNya bagi umat manusia! Itulah berita sukacita teragung dan yang didambakan seluruh umat manusia. Pengampunan dan penebusan bagi umat manusia dijamin oleh kebangkitan Kristus. Yesus Kristus adalah visa ke sorga, Dialah satu-satunya jalan menuju sorga (Yohanes 14:6)!

Tanpa Kebangkitan Kristus tiada Harapan Hidup Kekal Kebangkitan Kristus dapat menjadi sumber harapan kekal karena menyatakan bahwa Kristus adalah Allah yang tidak terkalahkan oleh maut, sehingga kematian bagi orang percaya tidak lagi menakutkan. Dalam pergaulan sehari-hari, di mana dan kapan saja, kita sering mendengar keluhan- keluhan tanpa harapan dalam hidup seseorang entah ia itu anggota keluarga, teman sekerja maupun sesama umat beragama. Mengapa banyak orang tidak punya harapan dalam hidupnya? Memang ada banyak alasan yang dapat kita berikan, namun dalam pengamatan penulis semua itu terjadi karena kita tidak mempunyai konsep yang benar terhadap kematian sehingga kita tidak memiliki perspektif yang tepat dalam hidup ini.

Salah satu cara untuk mendapatkan konsep yang benar terhadap kematian dan perspektif yang tepat terhadap hidup ini adalah melalui penghayatan Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus yang kita peringati pada Paskah tanggal 15 April ini. Sebagai Gembala Sidang, penulis sering memimpin dan menghadiri Kebaktian-kebaktian Pemakaman, Pengenangan (Memorial Service) atau Penghiburan yang diadakan bagi saudara/i seiman yang ditinggalkan oleh ayahanda, ibunda atau anggota keluarga dekat baik di Los Angeles maupun di Indonesia. Khusus bagi mereka yang ditinggalkan oleh anggota keluarga yang di Indonesia tentu membawa kesedihan tersendiri. Sebagai perantau-perantau di negara asing ini, adalah merupakan kesedihan tersendiri apabila kita tidak sempat mendampingi orang-tua kita tatkala beliau akan menghembuskan nafas terahkir ataupun menghadiri pemakaman orang yang melahirkan, mengasuh, membesarkan serta yang kita kasihi dan hormati. Sebagai manusia biasa; kita patut bersedih namun sebagai orang-orang percaya bagaimanakah kita menanggapi dan menyikapi kematian tersebut?

Melalui kebangkitan Tuhan, maut dan kematian telah dikalahkan. Kebangkitan Tuhan menyatakan bahwa maut tidak sanggup dan tidak berkuasa menawan atau mengalahkan Kristus, karena Dia adalah Allah, Sumber Hidup itu sendiri, bahkan sebaliknya Kristus telah mengalahkan maut! Sehingga dengan gagah kita dapat berkata seperti Paulus:" Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut dimanakah sengatmu?" (1Korintus 15:54-55). Karena kebangkitan Kristus, maut dan kematian tidak lagi menakutkan bagi orang-orang percaya bahkan maut telah menjadi batu loncatan bagi kita menuju kebahagiaan yang tidak bersudahan di sorga.

Maut bukanlah akhir dari segala-galanya melainkan awal dari kekekalan. Kematian bagi orang percaya bukanlah perpisahan yang abadi melainkan perpisahan sementara yang menuju ke pertemuan kekal, penuh sukacita sorgawi. Dan kelak pada kedatanganNya yang kedua kali, semua orang percaya baik yang sudah mati atau yang masih hidup dalam sekejap mata akan memperoleh tubuh yang mulia, tubuh yang akan hidup selama- lamanya, tubuh yang tidak dapat binasa, tubuh yang layak sebagai penghuni sorga karena kebangkitan Kristus adalah buah sulung dan jaminan bagi kebangkitan semua orang percaya! Maut bukan lagi sesuatu yang perlu kita takuti atau sesuatu yang menakutkan, itulah konsep yang benar terhadap kematian. Oleh karena itu perpisahan dengan orang-orang yang kita kasihi tidak harus melarutkan kita dalam kesedihan terus- menerus melainkan menghibur kita bahwa mereka telah bersama Tuhan Yesus, di rumah Bapa di mana masih banyak tempat yang tersedia bagi kita. Di sana mereka telah bebas dari semua penderitaan duniawi! Andaikata Kristus tidak dibangkitkan mereka semua akan binasa selama- lamanya, kita menjadi orang-orang yang tidak berpengharapan.

Rasul Paulus mengajarkan bahwa tanpa kebangkitan Kristus, kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia (1Korintus 15:19b), namun kita bersyukur bahwa kubur yang kosong bukan suatu khayalan melainkan kenyataan. Kebangkitan Kristus, adalah fakta sejarah, sehingga iman kristiani tidak didasarkan pada dongeng. Tubuh kebangkitan Kristus mungkin sesuatu yang misterius namun tubuhNya yang lenyap dari kubur adalah bukti sejarah yang tidak dapat disangkal. Kebangkitan Kristus bukan hanya penting sebagai bukti sejarah serta makna teologis; tetapi sangat penting dalam membentuk perspektif yang tepat dalam kehidupan umat manusia yaitu hidup dengan penuh harapan yang tidak pernah mengecewakan di tengah dunia yang mengecewakan ini, sehingga hidup ini dapat menjadi berkat bagi orang banyak dan lebih bermakna. Tuhan yang Bangkit Menantikan Undangan Anda. Allah tidak pernah menghendaki umat manusia mati.

Di dalam Taman Firdaus tidak ada kematian, tidak ada kesakitan, tidak ada air-mata dan tidak ada penderitaan. Tetapi karena dosa, maut telah datang dan menguasai seluruh umat mansuia hingga hari ini. Alkitab mengajarkan bahwa upah dosa adalah maut (Roma 6:23), seluruh umat manusia; termasuk anda dan saya tanpa terkecuali adalah orang- orang berdosa, itulah sebabnya kita menjadi tua dan merosot kesehatan kita untuk menuju kepada kematian. Semua itu adalah akibat dosa! Namun Alkitab juga mengajarkan bahwa musuh tersebut, yaitu dosa dan maut telah dikalahkan oleh kematian Kristus di kayu salib dan kebangkitanNya dari kubur. Di atas kayu salib Yesus mati menggantikan kita, di situ Dia menanggung dosa dan hukuman yang harus kita terima. Namun kisah tersebut tidak berhenti sampai di sana saja, pada hari yang ketiga setelah kematianNya Dia bangkit, kuburNya telah kosong! Dia hidup dan akan datang kembali untuk menjemput umatNya.

Keyakinan dan kepastian pengampunan dosa serta hidup kekal di dalam Kristus yang bangkit itu terungkap dengan jelas dalam iman Rasul Paulus:"Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus--itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu (Filipi 1:21-24). Orang percaya yang mati di dalam Tuhan, rohnya tidak akan menjelajah atau singgah ke mana-mana, tempat yang akan dituju sudah pasti yaitu rumah Bapa di sorga, karena Tuhan berkata:'... apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada." (Yohanes 14:3).

Di mana sekarang Tuhan Yesus yang telah dibangkitkan itu berada? Ibrani 8:1 menyatakan:"Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga," Hanya di dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus ada pengampunan dosa dan kepastian keselamatan kekal. Apakah Anda telah memiliki keyakian tersebut? Apakah Anda merindukan keyakinan yang sama dengan keyakinan yang dimiliki Rasul Paulus? Sudahkah Anda percaya pada-Nya? Maukah Anda percaya pada- Nya? Ucapkanlah dengan iman dan penuh percaya doa yang singkat dan sederhana ini: "Tuhan Yesus, saya bersyukur mengetahui dengan pasti bahwa hanya di dalam Dikau yang telah mati disalibkan dan dibangkitkan ada pengampunan dan keselamatan kekal. Saya adalah orang berdosa, saya mengakui dan menyesali dosa-dosa saya saat ini. Ampunilah saya dan masuklah dalam hati serta hidup saya sebagai Juruselamat dan Tuhan. Dalam nama-Mu yang berkuasa saya berdoa. Amin." Jika Anda sudah dengan tulus dan sungguh-sungguh hati mengundang Tuhan Yesus masuk ke dalam hati Anda maka percayalah bahwa sekarang juga ia sudah berada dalam hati Anda, Sebab Dia berkata:'Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku' (Wahyu 3:20) Semoga dalam merayakan Paskah kali ini bukan saja Anda lebih mengenal Tuhan yang bangkit itu, tetapi juga telah mengundang-Nya dalam hati dan hidup Anda, serta memperoleh Jaminan serta Harapan kekal di dalam Dia. Semoga Anda hidup dengan penuh sukacita dan harapan kekal.

Selamat Hari Paskah. Amin.

Sumber: 

Sumber : Khotbah Pdt. Bob Jokiman,
(Gembala Sidang Gereja Kristen Indonesia Monrovia di California)

Christ's Church and Our Calling

Editorial: 

Dear Reformed Netters,

Bertepatan dengan HARI REFORMASI GEREJA (31 Oktober 2000), maka e-Reformed menyajikan sebuah artikel yang sangat menarik tentang GEREJA, yang ditulis oleh Pdt. Dr. R. Dean Anderson.

Maaf, artikel ini memang dengan sengaja tidak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia (untuk menghindarkan dari salah interpretasi).

Selamat merenungkan, dan selamat HARI REFORMASI GEREJA!

Yulia Oeniyati
Edisi: 
010/X/2000
Isi: 

"It is the duty of all believers, according to the Word of God, to separate from those who do not belong to the Church and to join this assembly (of God's true Church) wherever He has established it. They should do so even though the rulers and edicts of princes were against it, and death or physical punishment might follow." (Belgic Confession, Article 28)

That is not a small thing! It is important to ensure that one is at the correct church address. It is so important, according to the confession, that you will even have to risk death because of it. And this is not just idle talk, since at the time these words were written it often came to that. Every Sunday morning you and your family had to make a choice; either go to the Roman Catholic church and listen to a sermon from a priest, or go to the Reformed church. And in those days the Reformed church was strictly off limits. You could be dragged off to prison just for having Reformed literature in your house.

In the confession the issue is not the belief of the individual person in the congregation or in the church. The issue is not what a particular minister might happen to think. Rather, the issue is about the church being church. The confession holds that there are some churches which must be called "false". Now that word "false" sounds very strong. In this context it actually means nothing other than "illegitimate", i.e. church that Christ no longer recongnizes as a legitimate gathering of His sheep.

Is that possible? Is it true that Christ will sometimes refuse to recognize churches as legitimate gatherings? Many people don't think so. They say: A church always remains church of Christ. She is our mother - even if she becomes seriously ill. You don't abandon a sick mother, do you?

And yet the Reformed believe that it is necessary to leave a church that has so degenerated that it can no longer be accepted as legitimate. Just as our Confession states, it is the duty of every believer to leave any unlawful church and to join themselves to the lawful (=true) church.

PERSONAL FAITH

But back to our original question. is the address of the church truly as important as our confession makes out? Isn't it sufficient to have an upright personal faith and to belong to a reasonable local congregation?

A personal faith that comes from an upright heart is truly essential. I, myself, personally must learn to depend on Jesus Christ. I must learn to praise and thank Him for the forgiveness of my sins. Christ has paid the ultimate penalty for me. Christ, not I, was crucified for my sins. And, miracle of miracles, I learn that He has given me that personal faith, and regularly feeds it with His Word and spirit. There is then a sudden change from "me" to "God".

When we have received that living faith in our heart, we have a personal relationship with God. It cannot be otherwise. For then Christ lives in our hearts through his Spirit. Then the Holy Spirit is part of our lives. That's why the Bible warns us as believers: "do not grieve the Holy Spirit of God, in whom you were sealed for the day of redemption." (Eph. 4:30). The Spirit places God's mark on us. On the last day we may show that mark, "Look! This is a person for whom Christ has paid!"

But if I have such a personal relationship, through faith, then, surely, I wouldn't loose it just by going to another - what one might call a false or unlawful - church, would I? No, but that wasn't the question. I could pray to god in such a church too, and I could praise and thank him there. yes, but that wasn't the question either.

What is the question then? This: Do you sit in a gathering that Christ recognize as His church? You can go and sit anywhere and praise God. And Christ, if you have true faith, will continue to acknowledge you as one of His sheep. But does he acknowledge that gathering as His church? That is a completely different question.

What, then, is Christ church? Does't He say, "where two or three are gathered in my name, there am I in the midst of them" (Matt. 18:20)? Yes He does say that, but there He is not speaking about the church. In that passage He is speaking to His disciples and promises them that when they follow the procedure for discipline (Matt. 18:15-20) He will be with them. The "two or three" are sithnesses concerning the unforgiven sin of straying bother.

WHAT IS CHRIST'S CHURCH?

The confession correctly states that the church is the gathering of true believers, and a gathering that God wishes to establish in every local place. Just before His ascension into heaven the Lord Jesus gave His great missionary mandate to His disciples. They had to go into the whole world with the gospel. That was the beginning of the New Testament church. We read about the institution of these new churches in every place in the Book of Acts. That's where we see the apostles travelling, preaching, and instituting churches. How does a church become instituted? By establishing a gathering of believers over elders are placed who, in the name of Christ, feed this congregatoion (=gathering). Te elders bear the final responsibility for such a local congregation of church (cf. Heb. 13:17).

It is of such a local church that we are members. Each local church is a complete church of the Lord Jesus Christ, His body (1 Cor. 10:17; 12:12ff and especially v. 27).

HOW DOES CHRIST SPEAK ABOUT HIS ACKNOWLEDGEMENT OF THESE CHURCHES?

If you are a member of Christ's church, then you have also received responsibilities from Him. As a member of His church you must use your gifts for the upbuilding of this congregation, you must help ensure that He receives His rightful honour and that sin isn't tolerated there.

Christ rules over His local churches. We see a good example of this in Rev. 1-3. In Rev. 1:9-20 John sees a vision of the glorified Jesus walking in the middle of the seven golden lampstands, the seven churches of Asia Minor. In chapter two and three Christ writes letters to the seven congregations. Some of the congregations are comforted, some are warned. Of importance to our topic are warnings.

Take, for example, the congregation in Ephesus (Rev. 2:1-7). She had lost her first love (v.4). The Lord calls her to repentance. Then He says, "If not I will come to you and remove your lampstand from its place, unless you repent." (v.5).

To whom is Christ speacking? To the church/congregation as a whole.

What does it mean, that He would remove His lampstand? Then they would no longer be church of the Lord Jesus (cf. Red. 1:12-13, 20).

Sure, they would continue to come together and conduct worship services. They would still consider themselves to be a church of Jesus Christ. But Christ says, "I have removed my lampstand! I am no longer in your midst!"

Christ gives the same warning to the church at Laodicea. He reproves them for being neither hot nor cold. They have no zeal for the gospel. What does Christ say to them? "So, because you are lukewarm, and neither cold not hot, I will spew you out of my mouth." What does that mean? Christ will no longer acknowledge this church, this congregation.

Just imagine that you were a member of one of these congregations! Just imagine if your congregation received such a letter from the Lord Jesus Christ. What would happen? You would surely do your best to become actively involved in the congregation, but, well, if the majority of the congregation didn't make any changes - what then? At a certain moment, if the congregation as a whole did not repent, the Lord would activate His warning. He would no longer acknowledge this congregation as His own. If you want to remain true to Jesus you must now leave this congregation and join one that He does acknowledge as His church. The church you leave behind will, most likely, continue to call itself a church of Christ. Likely there will still be sheep of Christ left behind, sheep who have not yet seen that Jesus no longer acknowledges that congregation as His church. That would be a sad thing, and you would certainly do your best to convince these believers that Jesus wants to be served in a church which He recognizes, a church which remains true to His Word.

It is, of course, not always easy to determine that a church is no longer acknowledged by Christ. Jesus does not give direct revelation about htis. You will not receive a vision, or get a message from an angel. You must determine it for yourself, from what Christ has revealed about His church and His gospel in His Word. But if you notice that a church refuses to repent you cannot hold out until a new generation appears. The warnings for the churches of Ephesus and Laodicea were given to the congregations as they were at that time. Jesus warns them that if they do not repent he will spit them out of His mouth and remove His lampstand from them.

During the time of the New Testament you can already notice the beginnings of the church struggle. In his letters (in particular Galatians and 2 Corinthians), Paul speaks about the activities of false preachers and apostles who preach in various places and establish churches. He calls their preaching a false gospel and says that their followers are cursed (cf. Gal. 1:6-9). Even in the first century the choice of a church was not easy, but surely important!

OUR CHOICE OF CHURCH

When we look at churches around us such as the Roman Catholic Church or other churches which have become generally apostate then two things soon become clear. Firstly, there are still many sheep of Jesus Christ to be found there - people who are truly believers and who want to serve God with their whole life. Secondly, such churches have often become so tolerant or apostate that for years the gospel has been completely denied. Yes, there may still be ministers who preach the true gospel. But the persistent denial of cardinal doctrines such as the resurrection, of Christ's crucifixion for our sins is often quietly tolerated. Church discipline against those who teach heresy is such a situation unheard of because "doctrinal freedom" must be maintained. Even reasonably conservative congregations within a generally liberal denomination of churches are not free from the consequences of an organizational denial of Scripture. Local congregations will still be bound by the decisions of their liberal synods.

This article is not the place to expand upon the problems within such churches. But one point should be clear. if we pay close attention to what Jesus says about His churches in the New Testament then we cannot and may not acknowledge such churches as true churches of Christ. The warnings of Christ in His Word go unheeded for years and even for generations. There can be no other possibility but that Christ has acted on His warnings.

OUR RESPONSIBILITY

How does all this concern us? In the first place we are all responsible before Christ concerning the choice of church we make. If He has forgiven our sins by His crucifixion then He asks more from us. We are all also responsible to use all our gifts for the building up of that church which He acknowledges. This means that we may not lean back in our lazy chair and leave all of the concerns of the congregation over to others, but that we honestly ask ourselves how we can be of benefit in building and sustaining Christ's church in this place. Last, but certainly not least, is our responsibility toward those sheep who remain in a church that Christ no longer acknowledges. With great care, wisdom and love we must excercise our calling to convince such people to consider their church situation and to call them to become members of a church that Christ does recognize. We may not keep silent about this matter. The love for Christ, as well as the love for these brothers and sisters must stimulate each of us to activity in this matter. Do you have friends, acquaintances or even family in such churches? If you remain silent about their choice of church in order to "keep the peace" you rather show yourself to be love-less toward them. The love of Christ is a love that will put everything on the line in order to convince others to worship and thank Him in the manner He as asked for in His Word.

It may be that this means that you must study more about the doctrine of the church and some more recent church history. Then do not neglect to do so. Let us pray that our local churches become known, not as exclusive clubs with people who don't pay any attention to others, but as congregations that are actively busy with the Word of God, and always willing and ready to speak about it in the love of Christ - all in order to see to it that our Lord is honoured and worshipped. Let it be said of us - that's where you see the Spirit of God at work, that's where you find people who put the Word of God above all else. only God can work that in us, through His Word and Spirit. Let us direct our efforts towards Him.

Sumber: 

*) A version of this paper adapted to the Dutch situation can be found at:

http://katwijk.gkv.nl/anderson/pdfenglish/Christ_church.pdf

Komentar


Syndicate content