Sistematika

Teologia Sistematika adalah teologia yang disusun berdasarkan penataan doktrin-doktrin iman Kristen secara sistematis dan logis.

Kemuliaan Bagi Allah

Dear e-Reformed Netters,

Artikel yang saya kirimkan kepada para pembaca bulan ini, saya ambil dari Buletin Momentum yang diterbitkan oleh Lembaga Reformed Injili Indonesia. Saya harap, Anda akan mendapat beberapa 'insight' dari pembahasan tentang 'Kemuliaan bagi Allah" yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong ini.

Selamat membaca dan merenungkan!

In Christ,
Yulia Oen

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Artikel yang saya kirimkan kepada para pembaca bulan ini, saya ambil dari Buletin Momentum yang diterbitkan oleh Lembaga Reformed Injili Indonesia. Saya harap, Anda akan mendapat beberapa 'insight' dari pembahasan tentang 'Kemuliaan bagi Allah" yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong ini.

Selamat membaca dan merenungkan!

In Christ,
Yulia Oen

Penulis: 
Pdt. Dr. Stephen Tong
Edisi: 
053/VIII/2004
Isi: 

Catatan: Renungan ini ditranskrip dan diedit kembali dari khotbah Pdt. Dr. Stephen Tong di Mimbar Gereja Reformed Injil Indonesia di Jakarta. Kitab Roma 11:36 ini dikhotbahkan sebanyak 4 kali. Renungan ini merupakan khotbah keempat dari 4 seri itu.

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya." (Roma 11:36)

´Glory to God´ menjadi satu istilah, satu pemikiran yang begitu unik di dalam kekristenan dan tidak ditemui pada agama-agama lain. Agama lain lebih merasa takut kepada Tuhan, karena ilah mereka memberikan unsur kontrol kepada kepribadian. Tetapi dalam kekristenan tidaklah demikian. Dalam Kitab Yesaya 43:7 dikatakan dengan jelas, "Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku." We are created in order to glorify God, we are created for His own glory. Sebab itu, di dalam diri manusia, kita melihat peta dan teladan Tuhan, yaitu pancaran kemuliaan Tuhan yang mewakili sang Pencipta.

Apakah arti kemuliaan Tuhan itu? Kemuliaan merupakan satu hal yang abstrak. Jika dilihat dari ´linguistic philosophy´, kemuliaan itu tidak bisa diuji dan diverifikasikan di dalam laboratorium, sehingga tidak perlu banyak dibicarakan. Tetapi justru pada waktu tua, Ludwig Wittgenstein sendiri menarik kembali sedikit pikiran yang ditulis olehnya.

Istilah kemuliaan memang abstrak, tidak konkret, dan tidak berwujud. Tetapi, kemuliaan merupakan satu hal yang mau tidak mau akan mempengaruhi hidup kita. Mengapa kita takut nama kita dicemarkan oleh orang lain? Mengapa kita takut difitnah orang? Mengapa kalau ada orang yang salah ketika memberi informasi tentang kita, kita marah? Mengapa kita selalu membela sesuatu yang seharusnya tidak dirugikan, tetapi sudah dirugikan? Mengapa kita selalu berdebat? Ini semua karena ada unsur abstrak, unsur yang melampaui kekonkretan jasmaniah yang memang berada di dalam kebudayaan. Kita membutuhkan nama baik, membutuhkan kredibilitas, dan membutuhkan kepercayaan dari orang lain. Semua itu karena apa? Unsur kemuliaan. Meskipun sama-sama manusia, tetapi ada yang begitu bercahaya karakternya, ada yang begitu gelap hidupnya, ada yang begitu menyenangkan orang lain, dan ada yang membuat orang lain begitu benci, ini semua karena ada unsur abstrak atau tidak konkret yang ikut berperan di dalam dunia ini. Di dalam dunia bisnis, modal yang paling besar bukan uang yang Anda pinjam dari bank. Tetapi, modal yang paling besar adalah kepercayaan dan perasaan tanggung jawab yang membuat masyarakat mempunyai kesan terhadap diri Anda. Dengan modal seperti ini, meskipun Anda jatuh, mengalami musibah kebakaran, atau bangkrut sekali pun, tidak akan menjadi persoalan. Karena modal Anda adalah kredibilitas. Modal kepercayaan orang lain terhadap diri Anda, lebih kuat daripada modal yang berupa rupiah atau dollar. Jadi, yang konkret tidak lebih penting dari yang abstrak dan yang abstrak jauh lebih berperan daripada yang konkret ini. Itu sebabnya, kemuliaan justru tidak disangkutpautkan dengan materi. Orang biasa beranggapan kalau mempunyai giwang dengan berlian yang beberapa karat besarnya, atau mempunyai mutiara yang begitu cemerlang, tentu akan menarik orang, karena itu adalah kekayaan yang besar. Tetapi tidaklah demikian, kemuliaan tidak terletak pada berlian, pada perhiasan, atau pada pakaian yang bagus, kemuliaan justru terletak di dalam unsur abstrak: karakter atau kepribadian seseorang. Itu sebabnya, kita akan memikirkan tentang kemuliaan.

Kalau kita mengerti tentang kemuliaan, juga secara rohani, barulah kita merenungkan, mengapa segala kemuliaan harus kembali kepada Tuhan Allah? Kemuliaan mempunyai substansi yang menjadi pangkalan bagi penghargaan. Kita menghormati atau menghargai seseorang, justru karena dibalik orang yang kita hormati itu terdapat suatu substansi rohaniah yang melampaui nilai jasmani. Dan substansi rohaniah itu adalah Tuhan sendiri. ´God Himself is the substance and the original reality of the glory´. Apakah arti kemuliaan? Kemulian berasal dari Tuhan dan Tuhan sendiri adalah penghargaan yang tertinggi, nilai yang tertinggi, diri- Nya merupakan sumber segala penghargaan dan kehormatan. Sebab itu, tatkala manusia diciptakan menurut peta dan teladan Allah. Alkitab menulis, "Allah memahkotai manusia dengan kemuliaan dan kehormatan." Manusia adalah manusia, manusia menjadi manusia, dan manusia berharkat manusia karena manusia mempunyai kehormatan dan kemuliaan sebagai mahkota. Mahkota ini berasal dari Tuhan. Itu sebabnya, Tuhan adalah sumber kehormatan, sumber penghargaan, dan sumber kemuliaan. Yesus Kristus berkata, "Kemuliaan yang Kuterima, bukan dari manusia, melainkan dari Allah saja."

Pada waktu Yesus Kristus harus mati di atas kayu salib, pada detik- detik terakhir yang tercatat dalam Injil Yohanes pasal 13 sampai dengan 15, Dia berbicara banyak tentang ajaran-ajaran yang penting kepada murid-murid-Nya. Sedangkan dalam Injil Yohanes pasal 17 merupakan satu-satunya pasal yang mencatat bahwa Anak Allah yang suci itu berbicara kepada Allah Bapa yang suci. Semua isi doa itu diwahyukan kepada manusia. Sebenarnya, apa yang dibicarakan antara Allah Anak, Allah Bapa, dan Allah Roh Kudus selalu tidak kita ketahui. Tetapi, Injil Yohanes pasal 17 merupakan satu-satunya pasal, di mana seluruh pasal, kecuali kalimat pertama, berisi doa sang Anak kepada Bapa dalam bentuk literatur manusia, tetapi isinya adalah komunikasi antara Anak dan Bapa. Dalam pasal itu, kita melihat doa yang luar biasa. Yesus Kristus mengatakan, "Muliakanlah Aku, sebagaimana Aku di dunia sudah memuliakan Engkau. Istilah mulia di sini menjadi satu ´mutual communication´. Tuhan Yesus meminta supaya Bapa memuliakan Dia, apakah sebabnya? Sebab Dia sudah memuliakan Bapa. Maka, di sini kita dapat melihat, kemuliaan bersubstansi realita pada diri Bapa. Bapa menciptakan manusia dan mengutus Yesus ke dalam dunia ciptaan- Nya, justru untuk menyatakan kemuliaan Bapa itu sendiri. Sebab itu, sesuai dengan Kitab Yesaya 43:7, eksistensi hidup kita justru untuk memuliakan Tuhan Allah. Tetapi, hal ini sering tidak kita sadari atau insyafi.

Dalam Injil Yohanes 12:28, Yesus Kristus berkata, "Bapa, muliakanlah nama-Mu". Maka terdengarlah suara dari surga, "Aku telah memuliakan- Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi." Suara ini didengar oleh begitu banyak orang pada waktu itu. Tuhan Allah, sumber kemuliaan menginginkan manusia untuk memuliakan Dia. Barangsiapa memuliakan Tuhan, Tuhan rela memuliakan Dia pula.

Kemuliaan bersubstansi Tuhan Allah dan kemuliaan itu diwujudkan atau dinyatakan, sehingga kemuliaan menjadi suatu dasar kebudayaan, kredibilitas kepribadian, dan keagungan dari pada sejarah dan pemancaran moral. Kemuliaan itu diwujudkan melalui beberapa tahap:

  1. Allah menyatakan kemuliaan-Nya melalui inkarnasi.

    Selain penciptaan, di mana Tuhan menciptakan segala sesuatu untuk menyatakan kemuliaan-Nya, pernyataan kemuliaan yang paling konkret di dalam sejarah adalah melalui inkarnasi. Dari Injil Yohanes 1:14,18, kita melihat: pertama, substansi kemuliaan adalah Allah sendiri. Pernyataan kemuliaan, pertama-tama dapat kita lihat di dalam inkarnasi, yaitu Kristus menjadi manusia. Allah datang ke dalam dunia manusia, Roh menjadi daging, yang tidak kelihatan sekarang menjadi kelihatan, dari dunia mutlak masuk ke dalam dunia relatif, ´from the invisible world, He come into visible realm, to become man´. Dia menjadi manusia. Di sini dikatakan, kita sudah melihat kemuliaan Allah di dalam diri Kristus, Anak Allah yang tunggal yang dikaruniakan kepada manusia. Dalam ayat 18 dikatakan, "Tidak ada orang yang pernah melihat Allah, hanya Kristus, Anak tunggal Allah, yang berada di dalam pangkuan Allah itu, menyatakan Tuhan Allah kepada kita." Baca lagi, Kitab Ibrani 1:1-3. Ayat yang paling jelas, menjelaskan siapakah Kristus di dalam alam semesta; ´the cosmic Christ, not only the historical Christ, not only the Christ in the church´. Kita melihat Kristus, jauh lebih besar daripada apa yang kita tahu.

    Di University of Iowa, saya memberi judul khotbah saya, ´How big is Christ?´ Pada waktu mereka mendengar judul itu, mereka kaget, mengapa judul khotbah ini "Berapa Besarnya Kristus?" Saya berkata kepada mereka, berapa besar menurut pengertian Anda, akan mempengaruhi iman dan nilai hidup dalam seumur hidup Anda. Seluruh hidup Anda akan ditetapkan penilaiannya dengan pengertianmu tentang berapa besar Kristus, ´Christ is always bigger than you can imagine´, Kristus selalu lebih besar daripada apa yang bisa kita bayangkan. Kalau kita mengira Kristus sedemikian besar, Dia lebih besar daripada itu. Di sini kita melihat, ´the biggest posibility of understanding Christ´. Siapakah Kristus?

    1. Kristus ditetapkan berhak mewarisi sesuatu.
    2. Kristus ditetapkan menjadi pencipta segala sesuatu.
    3. Kristus ditetapkan menjadi penopang segala sesuatu.

    Segala sesuatu bersandar kepada Kristus, segala sesuatu diciptakan oleh Dia, dan segala sesuatu pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Kitab Ibrani 1:1-3 ini adalah ayat yang supplementary bila dibandingkan dengan Roma 11:36. "Nya" di sini adalah Tuhan Allah, yang di dalam Kristus. Maka, saya memberikan judul pada ayat-ayat ini: ´Christ in the Cosmic Christ´; Kristus adalah Kristus kosmos, Kristus alam semesta, Pencipta alam semesta, Penopang alam semesta, dan Pewaris alam semesta. Segala sesuatu adalah dari Dia, segala sesuatu bersandar kepada Dia, dan segala sesuatu kembali kepada Dia. Puji Tuhan!

    Di sini kita dapat melihat bahwa Dia adalah cahaya dari kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah, yaitu ´the visible glory and the visible light of the invisible God´; Allah berada di dalam cahaya yang tidak kelihatan, tetapi Kristus adalah cahaya Allah yang dapat kita lihat. Umpama saya bertanya kepada Saudara, pernahkah Saudara melihat matahari? Saudara akan menjawab, setiap hari saya melihat matahari, bahkan sejak kecil saya sudah melihatnya. Saya bertanya lagi, sanggupkah Saudara menatap matahari? Saudara mulai merasa ragu, apa maksud pertanyaan ini? mengapa Anda menanyakan hal ini? Saya berkata, Saudara belum pernah melihat matahari secara langsung. Dari ketiga pertanyaan tadi, pernahkah melihat matahari? Betulkah Saudara sudah melihatnya? Saudara belum pernah melihat langsung, tapi Saudara pasti tahu, ada suatu rahasia dibalik pertanyaan itu. Sebenarnya, kita tidak pernah melihat matahari, kita hanya melihat cahaya matahari. Yang kita lihat bukan mataharinya, tapi cahayanya. Kita belum pernah melihat matahari, kita hanya melihat satu substansi yang bercahaya begitu jelas, waktu kita melihat, kita tahu itu matahari, padahal yang kita lihat bukan elemen dari matahari sendiri, namun hanyalah cahaya yang mengeluarkan sinar, yang bersumber dan beradiasi dari matahari. Itu sebabnya, ´no one can see God´, tak seorang pun yang bisa melihat Allah, yang kita lihat adalah cahaya Allah itu sendiri. Ayat tadi mengatakan, "Dia adalah cahaya kemuliaan Allah, dan gambar wujud Allah", itu sebabnya kita masuk ke bagian lebih yang dalam.

    Pada waktu inkarnasi itu sudah terjadi, maka keberadaan Yesus, itu adalah wujud yang konkret, wakil yang mewakili kemuliaan Allah. Sebab itu, Yesus Kristus berani mengatakan satu kalimat, yang belum pernah, tidak mungkin, tidak akan pernah mungkin, tidak ada yang berani atau boleh diucapkan oleh siapa pun di dalam sejarah. "Kamu melihat Aku, bukan melihat Aku, melainkan melihat Dia, yang mengutus Aku." Adakah orang lain yang pernah mengatakan, "Kamu melihat aku, bukan melihat aku, melainkan melihat presiden Soeharto?" Tidak ada orang yang berani mengatakan hal itu, karena orang yang mengatakan hal itu bukan presiden Soeharto. Tetapi, Yesus berani mengatakan kalimat itu. Ini merupakan satu lompatan yang luar biasa. Dari fenomena agama umum, orang Yahudi tak mungkin pernah mengerti kalimat itu. Karena mereka tahu, Allah tidak bisa dilihat. Saat manusia melihat Allah dengan mata jasmani, saat itu pula manusia mati. Inilah pengertian orang Yahudi. Itu sebabnya, waktu Yesus mengatakan kalimat itu, mereka mengatakan Dia kurang ajar dan menghujat Allah. Padahal, Yesus Kristus tidak menghujat Allah. Tetapi Dia mengatakan satu fakta, karena Dia adalah satu- satunya cahaya kemuliaan Allah, satu-satunya wujud Dia, Dia adalah satu-satunya cahaya kemuliaan Allah, satu- satunya wujud substansi Allah, dan satu-satunya yang bisa menyatakan Allah yang tidak tampak. Kristus adalah wakil Allah di dalam dunia.

    Yesus Kristus berkata lagi, "Kamu percaya kepada-Ku, bukan percaya kepada-Ku, melainkan percaya kepada Dia yang mengutus Aku." Aku mewakili Allah. Inilah cahaya kemuliaan. Goethe, seorang Jerman, waktu dia muda, dia patah hati dan ingin bunuh diri, tetapi tidak jadi. Dia menuliskan niatnya ketika hendak bunuh diri ke dalam satu buku. Buku itu dicetak dan dalam 6 bulan, lebih dari 200 orang yang membaca buku itu bunuh diri. Lalu selama puluhan tahun, dia menyusun sebuah buku yang berjudul "Force" untuk menyatakan seluruh filsafat hidupnya dan akhirnya harus diakui, ´no one can surpass Jesus´, biar kebudayaan manusia terus maju, tidak akan mungkin melampaui orang Nazaret itu, tidak mungkin melampaui moral dan kemuliaan Yesus yang dicatat di dalam keempat Injil.

    Waktu saya membaca kalimat itu, saya sangat tergerak. Goethe, orang yang besar, yang hidup sezaman dengan Beethoven, Mendelssohn. Beethoven mati terlebih dulu dan dia masih hidup. Dia memanggil Mendelssohn ke rumahnya untuk memainkan piano, musik yang terbesar, yang pernah diciptakan di dalam sejarah. Mendelssohn yang muda menabuh dari Bach sampai pada Mozart, Haydn, Bethoven I, II, III, dan IV. Sampai Mendelssohn memainkan Beethoven symphoni V, baru selesai movement pertama, Goethe mengatakan, "Sudah Mendelssohn, stop jangan mainkan lagi." Mengapa? Karena waktu kau memainkan Beethoven V, sejahtera yang saya pupuk dan saya latih melalui meditasi dan lain-lain sejak saya muda, langsung hilang semuanya. Kamu telah mengacaukan sejahteraku. Apa artinya? Sejahtera manusia tidak bisa bertahan, hanya sejahtera yang dari Tuhan yang dapat bertahan. Waktu dia sudah tua, dia mengira sudah melatih sifat manusianya dan sudah sukses. Justru saat itulah, dia sama sekali gagal. Pada waktu Kristus akan dibunuh di atas kayu salib, Dia mengatakan, "Aku memberikan sejahtera-Ku kepadamu, dan sejahtera yang Kuberikan kepadamu, tidak mungkin diberikan oleh orang lain." Yesus mati dengan sejahtera, Yesus bangkit dengan sejahtera, setelah bangkit Dia mengatakan, "peace on you". Goethe mengetahui, ´no one can surpass Jesus´, tidak ada orang seperti Yesus, maka dia menuliskan, "Biar pun kebudayaan kebudayaan manusia terus maju, tak mungkin melampaui kemuliaan yang pernah dipancarkan Kristus."

    Kemuliaan yang bagaimana yang dipancarkan Yesus? Tema ini membutuhkan penguraian yang lebih panjang lagi. Tetapi secara singkat, saya berkata kepada Saudara, "Kemuliaan dipancarkan melalui hidup-Nya, melalui sengsara-Nya." Pada waktu Dia diumpat, difitnah, Dia sangat tenang. Kemuliaan Yesus, kemuliaan Ilahi mutlak dan tidak terbatas. Perhatikan teladan Yesus yang menyatakan kemuliaan Allah, pernah dinyatakan sampai puncaknya secara konkret di Alkitab. Injil Matius 17:2 mengatakan, "Wajah-Nya seperti matahari, pakaian-Nya seperti terang yang besar." Di dalam Alkitab, hal seperti ini pernah terjadi 3 kali: Pertama kali, waktu Yesus masih hidup di dunia. Kedua, waktu Dia memanggil Paulus. Lalu ketiga, waktu Dia menyatakan diri kepada Yohanes, rasul termuda di pulau Patmos. Ketiga-tiganya memberikan satu kesan bahwa Dia lebih bercahaya dibanding dengan matahari, sehingga pada waktu siang hari, waktu paling terang, Paulus justru melihat cahaya yang lebih terang daripada matahari. Bukan saja demikian, Yohanes melihat, Dia mempunyai mata seperti api yang menyala-nyala. Yesus Kristus adalah kemuliaan yang diwujudkan di dalam dunia. Pada waktu Petrus tua, dia melukiskan istilah kemuliaan hanya satu kali saja, istilah yang luar biasa berbeda dengan semua istilah yang ada di dalam Kitab Suci. 2Petrus 1:16, dalam terjemahan bahasa Indonesia "kebesaran- Nya", tetapi dalam bahasa Inggris "His majesty", dalam bahasa Mandarin, kemuliaan yang sangat serius dan berwibawa. Kata ´majesty´ dipakai untuk melukiskan keagungan seorang raja. Pada waktu Petrus menulis ayat ini, dia membandingkannya dengan berita isapan jempol. Ia berkata, "Karena kami pernah melihat dengan mata sendiri, satu ´majesty´ atau kemuliaan yang dahsyat dari Tuhan sendiri." Mengapa Petrus yang menuliskan hal ini? Karena Petrus, Yakobus, dan Yohanes tiga orang yang pernah melihat Yesus Kristus menyatakan kemuliaan Allah, melalui perubahan wajah; transfiguration; ´change His figure´. Bukan saja demikian, kita juga dapat membaca dari Wahyu 1:16-17, Kristus menyatakan diri dengan begitu mulia.

  2. Apa yang disebut dengan kemuliaan Allah?

    Pertama, kemuliaan Allah di dalam diri Kristus melalui inkarnasi. Kedua, kemuliaan Allah di dalam anugerah penebusan. Ini merupakan kemuliaan yang paling puncak, yang boleh kita terima di dalam pengalaman kita masing-masing. Kita bukan hanya mengenal Dia, tetapi kita mengalami. Kita bukan hanya mengetahui Dia, tetapi kita memiliki Dia melalui anugerah kemuliaan. Baca Efesus 1:6. "Kasih karunia yang mulia atau anugerah kemuliaan Tuhan. Apakah ini? Ini adalah kemuliaan yang bersifat paradoks. Anugerah kemuliaan di dalam penebusan itu bersifat paradoks artinya, justru semua kemuliaan itu tersimpan. Hal ini, dalam theologia Martin Luther disebut sebagai ´the hiddeness of God´: suatu ketersembunyian dari Tuhan Allah. Martin Luther menggambarkan dua macam hal yang kita kenal tentang Kristus, ´the glory of Christ and the cross of Christ´. Kita harus mengerti mengenai Kristus yang tersalib dan Kristus yang mulia. Banyak orang hanya mau Kristus yang mulia, tetapi tidak mau Kristus yang tersalib. Martin Luther mengatakan, "Dua-duanya penting. Sebagaimana kita menyaksikan bulan, yang menghadapkan kita pada satu aspek, sedangkan aspek yang lain tidak pernah bisa kita lihat, kecuali kita melintasinya dengan roket yang melebihi tempat itu, barulah kita bisa melihat belakangnya." Demikian juga Allah menyatakan kepada kita, aspek-aspek yang rela Dia wahyukan, tetapi aspek yang tidak dinyatakan, kita tidak tahu itu. Itu disebut sebagai ´the hiddenness of God´.

    Perhatikan, kemuliaan Allah yang kita lihat adalah Kristus yang menjadi contoh teladan moral dan hidup yang mewakili Allah di dalam dunia ini dan yang dahsyat kemuliaan-Nya, yang pernah Dia nyatakan kepada tiga orang murid-Nya dan Paulus. Tetapi kita mau melihat sifat paradoks dari aspek yang lain, yaitu kemuliaan yang terembunyi. Ketika raja menutup pakaian kerajaannya dengan pakaian pengemis, jangan Anda kira bahwa dia adalah seorang pengemis. Biar pun secara lahiriah, dia seorang yang miskin, tetapi dia adalah tetap seorang raja yang berhak duduk di atas tahta. Demikian juga pada waktu kita melihat kemuliaan yang tersembunyi, itu berarti kemuliaan paradoks. Pada waktu Yesus dipaku di atas kayu salib, di manakah kemuliaan Allah? Tidak ada. Pada waktu itu, seluruhnya sudah menjadi tertutup, kebijaksanaan dan kuasa-Nya tidak kelihatan dan segala kemungkinan kemuliaan sudah tertudung, sehingga orang melihat salib, tempat yang bukan menyatakan kemuliaan, melainkan tempat yang memalukan. Orang yang dipaku di atas kayu salib, pakaiannya dilepas, mungkin hanya sisa satu helai kain untuk menutupi kemaluannya, seluruh tubuh ditelanjangi dan dipamerkan di atas kayu salib. Itu adalah tempat yang sangat memalukan, tetapi Allah justru menyatakan bahwa inilah anugerah kemuliaan (bandingkan 1Korintus 1:25). Pada waktu kita tidak melihat kemuliaan Allah, tidak melihat pertolongan Allah, pada saat kita melihat hal demikian di bukit Golgota, justru Tuhan mengatakan, "Open your inner eyes, look penetrate into all the bondage, and you should understand more than just superficial fenomena. Then look at the inner side: the glory of God." Kemuliaan penebusan adalah kemuliaan yang ditudung anugerah yang tersembunyi, yaitu kemuliaan yang menjadi ujian bagi iman seluruh umat manusia. Puji Tuhan!

    Maafkan saya sekali lagi untuk mengatakan kalimat yang saya ucapkan dua tahun yang lalu, bahwa di dalam seluruh Kitab Suci, saya percaya orang yang imannya paling besar, bukan Paulus atau Petrus, melainkan perampok yang diselamatkan di atas kayu salib. Saya tercengang, apakah yang menyebabkan dia mempercayai Kristus? Kalau Petrus, Paulus, atau orang lain percaya Yesus adalah Kristus karena mereka melihat sesuatu yang agung, bukan ´the hidden side´, tapi ´the expose side´, bukan pada anugerah yang paradoks, tapi pada anugerah yang dipancarkan, yang kelihatan. Namun, perampok itu sama sekali tidak melihat apa-apa dalam diri Yesus Kristus, dia hanya melihat Yesus yang mengalirkan darah, menerima ketidakadilan, disiksa, menderita, tidak bisa membalas, tidak bisa berbuat apa- apa, dicemooh, dipaku, dihina, dan dibuang. Tetapi dia mempunyai iman, yang melampaui fenomena, yang menembus paradoks, langsung menanamkan imannya di dalam esensi yang melebihi lahiriah. Kalau Anda bertanya kepada perampok itu, mengapa Anda percaya kepada Yesus Kristus? Dia akan menjawab, saya tidak melihat kedahsyatan kemuliaan yang dinyatakan, justru saya melihat ke dalam sumsum, yang berada di balik penderitaan yang besar itu.

  3. Dengan apa kita memuliakan Allah?

    Sekarang, kita masuki bagian terakhir, saya akan membahas dengan ringkas, dengan apa kita memuliakan Allah?

    1. Dengan hidup yang ada, hidup yang diciptakan.
    2. Dengan pengalaman penebusan, kita memuliakan Allah.
    3. Dengan perbuatan dan kesempatan untuk bersaksi (Matius 5:13-16).
    4. Di dalam kesengsaraan dan dengan mulut kita.

    Kita perlu menderita bagi Tuhan supaya bisa mendapat kemuliaan. Sebab itu, waktu kita menderita bagi Tuhan, biarlah kita memakai mulut kita untuk memuliakan Allah. Pada waktu penganiayaan, kita tetap harus memuliakan Allah. Puji Tuhan! Ia ada dalam seumur hidup kita, kita harus memuliakan Allah.

    Siapakah orang yang memuliakan Allah? Mungkin Saudara berkata, orang-orang yang pandai menyanyi atau yang sering berkhotbah. Jika hanya orang yang berkhotbah dan yang menyanyi, yang memuliakan Allah, maka hanya segelintir orang Kristen di mimbar saja yang bisa memuliakan Allah. Setiap orang Kristen dapat memuliakan Allah dengan kesaksiannya. Masyarakat mengetahui bahwa kita adalah orang Kristen, kita tidak bisa omong kosong saja, kita harus melakukan semuanya dengan baik untuk memuliakan nama Tuhan.

    Ayat ini mudah kita baca, namun masyarakat akan mempermalukan Allah Saudara karena hidup Saudara yang sembrono. Saudara harus memuliakan Allah di dalam usaha Saudara, di dalam keluarga Saudara, dan di dalam pergaulan Saudara (el).

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Momentum 28 Desember 1995 -- Buletin
Judul Artikel : Kemulian bagi Allah
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerjemah : -
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1995
Halaman : 3 - 11

Spiritualitas Injili: Suatu Tinjauan Ulang

Dear e-Reformed Netters,

Salam sejahtera,

Semoga Anda semua baik-baik saja dan menikmati anugerah sukacita dari Tuhan.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat merenungkan tentang apa artinya spiritualitas. Hal ini bermula dari rasa penasaran karena pada kenyataannya tidak hanya para teolog atau orang beragama saja yang membicarakan tentang spiritualitas, tapi juga para intelektual (contohnya pencetus ide SQ -- Spiritual Intelligence). Sayangnya, rasa penasaran saya itu cepat sekali lenyap ketika mengetahui bahwa ternyata yang dimaksud dengan 'spiritual intelligence' tidak harus dihubungkan dengan hal-hal agamawi atau rohani, atau bahkan Tuhan. Menurut mereka, orang yang memiliki kecerdasan spiritualitas yang tinggi belum tentu memiliki agama atau tahu menahu tentang hal-hal rohani, apalagi mempercayai adanya Tuhan. Nah makanya jangan mudah terkecoh dengan istilah yang keren.

Namun, rasa penasaran saya kembali tertantang ketika melihat lunturnya semangat kaum Injili dalam menanggapi isu-isu tentang spiritualitas Kristen yang muncul akhir-akhir ini. Bahkan tidak lagi terdengar suara-suara orang Injili yang dapat menjadi tonggak dimana orang-orang Kristen bisa menambatkan perhatiannya sehingga terus menghargai keunikan spiritualitas Injili .... Saya tiba-tiba tersentak, ketika menyadari bahwa, mungkin, kalau kita tidak hati-hati, mungkin saja kita bisa kehilangan satu generasi orang Kristen yang tidak lagi menghargai, atau bahkan lebih parah lagi, mengenal apa itu semangat Injili, spiritualitas Injili ...?!

Ketika saya bertanya pada diri sendiri 'Apa yang bisa saya lakukan untuk generasi saya? Maka salah satu jawaban yang muncul adalah saya ingin terus menyuarakan kembali suara-suara kaum Injili. Inilah tujuan saya memilih artikel Stanley J. Grenz berikut ini. Saya harap melalui tulisan ini kita semua diingatkan lagi tentang "warisan" keyakinan yang sangat berharga, yang dibangun oleh para leluhur rohani kita sebelumnya, yang telah menggumuli poin-poin penting spiritualitas Injili yang penting untuk dilestarikan. Tulisan Stanley J. Grenz di bawah ini sekaligus dapat menjadi contoh bagaimana kita meneruskan semangat kaum Injili, misalnya dengan cara meninjau ulang agar menjadi semakin tajam dan aplikatif bagi generasi kita sekarang dan menjadi inspirasi bagi generasi anak-anak kita yang akan datang.

Mari kita suarakan kembali semangat Kaum Injili!

In Christ,

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Salam sejahtera,

Semoga Anda semua baik-baik saja dan menikmati anugerah sukacita dari Tuhan.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat merenungkan tentang apa artinya spiritualitas. Hal ini bermula dari rasa penasaran karena pada kenyataannya tidak hanya para teolog atau orang beragama saja yang membicarakan tentang spiritualitas, tapi juga para intelektual (contohnya pencetus ide SQ -- Spiritual Intelligence). Sayangnya, rasa penasaran saya itu cepat sekali lenyap ketika mengetahui bahwa ternyata yang dimaksud dengan 'spiritual intelligence' tidak harus dihubungkan dengan hal-hal agamawi atau rohani, atau bahkan Tuhan. Menurut mereka, orang yang memiliki kecerdasan spiritualitas yang tinggi belum tentu memiliki agama atau tahu menahu tentang hal-hal rohani, apalagi mempercayai adanya Tuhan. Nah makanya jangan mudah terkecoh dengan istilah yang keren.

Namun, rasa penasaran saya kembali tertantang ketika melihat lunturnya semangat kaum Injili dalam menanggapi isu-isu tentang spiritualitas Kristen yang muncul akhir-akhir ini. Bahkan tidak lagi terdengar suara-suara orang Injili yang dapat menjadi tonggak dimana orang-orang Kristen bisa menambatkan perhatiannya sehingga terus menghargai keunikan spiritualitas Injili .... Saya tiba-tiba tersentak, ketika menyadari bahwa, mungkin, kalau kita tidak hati-hati, mungkin saja kita bisa kehilangan satu generasi orang Kristen yang tidak lagi menghargai, atau bahkan lebih parah lagi, mengenal apa itu semangat Injili, spiritualitas Injili ...?!

Ketika saya bertanya pada diri sendiri 'Apa yang bisa saya lakukan untuk generasi saya? Maka salah satu jawaban yang muncul adalah saya ingin terus menyuarakan kembali suara-suara kaum Injili. Inilah tujuan saya memilih artikel Stanley J. Grenz berikut ini. Saya harap melalui tulisan ini kita semua diingatkan lagi tentang "warisan" keyakinan yang sangat berharga, yang dibangun oleh para leluhur rohani kita sebelumnya, yang telah menggumuli poin-poin penting spiritualitas Injili yang penting untuk dilestarikan. Tulisan Stanley J. Grenz di bawah ini sekaligus dapat menjadi contoh bagaimana kita meneruskan semangat kaum Injili, misalnya dengan cara meninjau ulang agar menjadi semakin tajam dan aplikatif bagi generasi kita sekarang dan menjadi inspirasi bagi generasi anak-anak kita yang akan datang.

Mari kita suarakan kembali semangat Kaum Injili!

In Christ,
Yulia Oen

Penulis: 
Stanley J. Grenz
Edisi: 
051/VI/2004
Isi: 

Disadur dari buku Stanley J. Grenz Revisioning Evangelical Theology: A Fresh Agenda for the 21th Century Downers Grove, Illinois: IVP, 1993. Hal. 31-59

Lane Dennis mengatakan bahwa ciri khas Kaum Injili adalah penekanannya pada keselamatan yang dialami secara pribadi -- komitmen kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat saya (pribadi). Kehebatan gerakan ini adalah mempersatukan pengalaman religius dengan bahasa teologis yang sama. Pengertian tentang natur Injili ini menunjukkan perubahan mendasar dari kesadaran Kaum Injili. Perubahan identitas yang berdasar pada pengakuan iman menuju kepada identitas yang berdasarkan spiritualitas.

William W. Wells menyatakan tiga karakteristik unik Gerakan Injili ini: orang Kristen Injili mempercayai otoritas Alkitab; menekankan pengampunan Allah dan hubungan pribadi yang indah dengan Allah melalui Kristus; dan menekankan perjuangan untuk hidup suci melalui disiplin rohani. Meskipun Gerakan Neo-Injili tetap berpegang kepada otoritas Alkitab, penekanan sekarang lebih kepada aspek spiritualitas, yang sebelumnya sering terselubungi oleh dimensi intelektual atau doktrinal.

Penekanan kepada dimensi spiritualitas sebenarnya sejalan dengan sejarah Gerakan Injili itu sendiri. Sebelum abad kedua puluh, Puritanisme dan Pietisme memberikan pengaruh yang signifikan terhadap Gerakan Injili ini. Puritanisme membangkitkan suatu bentuk kesalehan hidup sebagai respon terhadap Doktrin Pilihan dari Calvinisme. Calvinisme meletakkan keselamatan manusia dalam konteks pilihan Allah yang bersifat misteri. Meskipun teologi ini memelihara kedaulatan Allah, manusia menjadi tidak mempunyai kepastian bahwa dia memiliki status sebagai orang pilihan atau tidak. Karena itu, tidak ada pengakuan iman yang sungguh, tidak ada kesetiaan mengikuti sakramen, maupun serangkaian hidup yang suci, yang dapat menjamin bahwa seseorang merupakan umat pilihan Allah. Di tengah-tengah ketidakpastian inilah kaum Puritan menemukan satu tanda umat pilihan: pengalaman rohani secara pribadi terhadap anugerah keselamatan Allah. Dengan demikian, kepastian status pilihan menjadi bergantung kepada kemampuan seseorang menceritakan pengalaman pertobatannya. Lebih lagi, penekanan kembali kepada hal-hal yang bersifat spiritual ini merupakan pengaruh dari gerakan Pietis, khususnya keinginan mereka untuk mereformasi hidup dan bukan mereformasi doktrin.

Karena itu, seperti John Wesley katakan, titik temu antara Pietisme dan Gerakan Injili adalah pada: panggilan hidup baru, buah-buah rohani, dan suatu hidup yang berbeda dengan kemalasan gereja dan anggota-anggotanya yang sangat duniawi. Kaum Injili bersifat pietist dalam hal fokusnya pada dinamika kehadiran Kristus dalam hidup orang percaya. Hal ini menandai pergeseran dari gerakan sebelumnya yang menekankan pada aktivitas (doing), kepada hal-hal yang bersifat kontemplasi (being). Pembahasan lebih lanjut akan difokuskan kepada keunikkan spiritualitas Kaum Injili.

Menuju Pengertian Spiritualitas Injili

Salah satu definisi ´spiritualitas´ yang cukup baik diberikan oleh Robert Webber:

"Secara luas, spiritualitas dapat didefinisikan sebagai hidup yang sesuai dengan hidup Kristus. Hidup yang menyadari bahwa karya salib Kristus membuat kita menjadi warga negara sorga, dan sorgalah yang menjadi tujuan hidup kita di dunia. Perjalanan hidup ini dikerjakan dalam konteks kita sebagai anggota tubuh Kristus. Melalui ibadah kepada Allah, spiritualitas kita terus menerus dibentuk. Dan misi kita di dunia adalah untuk memberitakan visi Kristen melalui perkataan dan tindakan kita."

Karena itu dapat dikatakan bahwa spiritualitas adalah suatu perjuangan mengejar kesucian di bawah pimpinan Roh Kudus bersama-sama dengan seluruh orang percaya. Mengejar hidup yang dihidupi untuk memuliakan Allah, dalam persatuan dengan Kristus dan hasil dari ketaatan kepada Roh Kudus.

Sesuai dengan ajaran Paulus dalam 1Korintus 2:14-3:3, Kaum Injili sangat menekankan akan ´pola pikir rohani´ yang dikontraskan dengan manusia duniawi. Dengan menggabungkan salib dan Pentakosta -- yaitu bergantung pada kemenangan Kristus dan kehadiran Roh Kudus -- Kaum Injili menjalani hidup yang disebut oleh Watchman Nee sebagai ´the Normal Christian life´, yaitu hidup yang semakin serupa dengan Kristus yang ditandai dengan ketaatan total kepada kehendak Allah. Dengan demikian Kaum Injili selalu menekankan hidup yang berkemenangan melalui peperangan melawan kuasa setan, manusia lama, dan dunia. Dan dengan kuasa Roh Kudus mengalahkan musuh-musuh rohani orang percaya.

Kita dapat melihat bahwa inti dari spiritualitas Injili adalah suatu usaha untuk menyeimbangkan dua prinsip yang kelihatan bertentangan, yaitu: bagian dalam dari manusia (inward) dengan bagian luar (outward), dan dimensi kesucian personal dengan komunal.

Keseimbangan Antara Inward dan Outward

Spiritualitas Kaum Injili mencoba menyeimbangkan kesucian hati dan aktivitas pelayanan. Hati orang percaya harus dipenuhi dengan kasih kepada Yesus Kristus. Komitmen ini lebih dari sekedar pengetahuan tentang karya Kristus dalam sejarah atau menerima doktrin tentang Kristus. Tetapi adanya suatu hubungan pribadi yang dekat dengan Yesus yang bangkit dan hidup. Karena itu, bagian dalam dari manusia (inward) merupakan fondasi dari spiritualitas. Akibatnya, Kaum Injili lebih tertarik kepada respon pribadi seseorang kepada Yesus daripada kemampuan mereka untuk memformulasikan atau menghafalkan pernyataan doktrinal tentang Yesus.

Kaum Injili juga lebih mementingkan motivasi hati dalam mengikuti ibadah dan perjamuan kudus daripada sekedar memenuhi kewajiban itu secara eksternal. Ibadah eksternal tanpa kesadaran internal hanya merupakan ritual yang mati. Karena itu, Kaum Injili tidak datang ke gereja demi memenuhi tuntutan ibadah secara eksternal, tetapi karena dorongan hati untuk memuliakan Allah dan bersekutu bersama umat percaya. Kita termotivasi dari dalam hati dan bukan dipaksa dari luar untuk menghadiri ibadah bersama. Sikap seperti ini dinyatakan dengan suatu pujian dari dari hati, "I´m so glad, I´m a part of the family of God."

Dalam kaitan dengan ini, spiritualitas Injili juga sangat menekankan pengalaman religius dalam hidup orang percaya. Penekanan ini berasal dari Gerakan Pietisme yang sangat menekankan teologi lahir baru yang bersumber pada Injil Yohanes: ´Iman harus menjadi nyata dalam pengalaman! Iman harus mentransformasi hidup!´ Pengalaman lahir baru merupakan bagian sentral dan titik awal perjalanan hidup orang percaya bersama Tuhan, yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Tetapi kelahiran baru ini harus diikuti dengan perjalanan spiritual pribadi yang ditandai dengan pertumbuhan dalam kesucian. Di hadapan Kaum Injili, James Houston menggambarkan spiritualitas sebagai,

´The outworking ... of the grace of God in the soul of man, beginning with conversion to conclusion in death or Christ´s second advent. It is marked by growth and maturity in a Christlike life.´[1] (Karya anugerah Allah dalam jiwa manusia, yang dimulai dengan kelahiran baru dan diakhiri dengan kematian atau kedatangan Kristus ke dua kali. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan dan kedewasaan dalam hidup seperti Kristus.)

Penekanan pada inward, sangat sentral dalam spiritualitas Injili dan akan membentuk ketegangan kreatif ketika digabungkan dengan bagian luar (outward) dari hidup Kristen. Spiritualitas memang bersumber pertama-tama dari dalam hati, tetapi hidup Kristen juga berarti pemuridan. Dan pemuridan bersifat outward. Faktanya, spiritualitas sejati harus dinyatakan dalam perbuatan yang kelihatan. Perubahan hati harus dinyatakan dalam hidup yang nyata. Tetapi perbuatan nyata ini bukan untuk mendapatkan anugerah Allah, melainkan sebagai wujud dari kerinduan kita untuk mengikuti jejak kaki Yesus. Natur dari kehidupan spiritualitas adalah meneladani Yesus (the imitation of Christ). Pemuridan berarti mengikuti model yang telah dinyatakan dalam hidup Yesus, karena orang Kristen sejati akan merefleksikan karakter Yesus dalam hidupnya.

Pengertian ini mempengaruhi Kaum Injili dalam memandang sakramen. Kita menolak pandangan ekstrem dari sakramentalisme maupun penghapusan sakramen. Di satu sisi, kita menolak memandang sakramen sebagai suatu alat magis untuk mendapatkan anugerah Allah (sakramentalisme), tetapi di lain sisi kita juga tidak membuang sakramen. Kita memandang sakramen (Baptisan dan Perjamuan Kudus) sebagai suatu ibadah yang sangat penting untuk mengekspresikan secara fisik apa yang sudah dikerjakan Allah di dalam hati. Sakramen merupakan tanda yang kasat mata dari anugerah Allah yang tidak kasat mata.

Penekanan Kaum Injili tentang pemuridan sebagai meneladani Kristus juga mempengaruhi pengertian kita tentang kehidupan gereja. Kita menekankan mengikut Kristus sebagai suatu ibadah setiap hari dan bukan hanya ibadah hari minggu. James Houston menekankan bahwa kekristenan bukanlah suatu acara khusus, tetapi merupakan gaya hidup (life style). Sikap seperti ini mengakibatkan motivasi utama untuk menghadiri ibadah bersama adalah untuk diajar, didorong, dan dikuatkan untuk memiliki gaya hidup yang berkenan kepada Allah. Poin yang terus-menerus ditekankan pada ibadah Minggu adalah: ´Jika engkau adalah orang percaya, hidup suci harus menjadi nyata bukan hanya pada hari Minggu tetapi dari Minggu sampai Sabtu. Apa yang Anda dengar pada hari Minggu harus diterjemahkan dalam perbuatan sepanjang minggu. Jika tidak demikian, imanmu hanya merupakan iman hari Minggu.´

Dapat disimpulkan bahwa spiritualitas Injili mencoba menyeimbangkan dimensi dalam dan dimensi luar dari hidup Kristen. Kita mencoba menyeimbangkan hati yang hangat oleh kasih kepada Allah dengan hidup yang mengikuti teladan Yesus. Kita memprioritaskan dimensi dalam sebagai sumber dari dimensi luar, tetapi kita menganggap dimensi dalam mati jika tidak menghasilkan ekspresi luar yang seharusnya dalam hidup pemuridan. Lagu yang sering kita nyanyikan mengekspresikan dengan baik kedua dimensi ini, ´Trust and obey, for there´s no other way, to be happy in Jesus, but to trust and obey.´

Keseimbangan Personal dan Komunal

Kekudusan hidup di antara Kaum Injili biasanya hanya dimengerti secara individu. ´Membaca Alkitab´ berarti membaca secara pribadi; ´berdoa´ berarti berdoa secara pribadi; ´keselamatan´ berarti diselamatkan secara pribadi; ´hidup dalam Kristus´ berarti memiliki hubungan pribadi dengan Kristus. Seperti dikatakan Daniel Stevick: "Perjalanan Kristen dijalani sendiri, keselamatan dari Allah ditujukan kepada pribadi. Pertolongan-Nya selalu dalam konteks pribadi. Perjalanan diisi dengan penyucian secara pribadi dan tujuannya adalah istana yang dibangun bagi pribadi."[2]

Dalam pengertian tertentu, karakteristik yang digambarkan ini memang cukup tepat. Namun, pendekatan Kaum Injili terhadap perjalanan iman orang percaya secara pribadi tidak pernah dilihat sebagai bagian yang terisolasi, melainkan selalu dilihat dalam konteks persekutuan orang percaya. Di sinilah terdapat keseimbangan antara kehidupan personal dan komunal dari hidup spiritualitas.

Jelas kita mengerti spiritualitas Kristen sebagai sesuatu yang bersifat individu atau personal. Kelahiran baru dan pertumbuhan iman harus pertama-tama dialami secara individu. Masing-masing orang percaya harus bertanggung jawab terhadap spiritualitasnya secara pribadi. Setiap individu bertanggung jawab untuk hidup suci dan meneladani Kristus.

Penekanan pada tanggung jawab pribadi ini sejalan dengan prinsip tradisional Prostestan tentang keimamatan orang percaya dan terutama penekanannya mengenai ´kompetensi individu´. Prinsip kompetensi individu menyatakan bahwa setiap pribadi bertanggung jawab secara pribadi kepada Allah dan dengan pertolongan Roh Kudus mampu berespons secara pribadi kepada Allah. Prinsip ini memberikan implikasi penting bagi spiritualitas. Hal ini berarti bahwa tidak ada seorang pun yang dapat diperdamaikan dengan Allah oleh orang lain ataupun oleh gereja. Tidak seorang pun dapat mengklaim dirinya sebagai orang Kristen berdasarkan iman orangtua, karena melakukan ritual tertentu, lahir dalam negara tertentu, atau bahkan karena beragama tertentu. Kaum Injili biasanya mengatakan: ´Allah hanya mempunyai anak-anak, tetapi tidak mempunyai cucu.´ Karena itu para penginjil selalu menekankan: ´Keputusan untuk menerima Kristus atau menolak-Nya ada padamu; tidak ada seorang pun yang dapat menjawabnya bagimu.´ Penekanan ini sangat jelas pada lagu yang begitu terkenal: ´Manis lembut, Tuhan Yesus memanggil. Memanggil saya dan kau ... pulang, pulang, kau yang berlelah pulang.´

Karena spiritualitas adalah persoalan pribadi, Kaum Injili sangat menekankan disiplin rohani sebagai sarana untuk pertumbuhan rohani. Disiplin dalam membaca Alkitab setiap hari dengan apa yang disebut sebagai ´saat teduh´; bersaksi secara pribadi; dan juga hal yang tidak kalah pentingnya adalah menghadiri kebaktian secara rutin.

Penekanan pada aspek personal ini juga mempengaruhi strategi dalam misi Kaum Injili. Dalam abad-abad permulaan kekristenan mulai tersebar di luar Kerajaan Romawi ke daerah-daerah yang masih belum tersentuh peradaban. Para misionaris biasanya memfokuskan pemberitaan Injil kepada para pemimpin suku atau raja, sehingga ketika pemimpin ini dibaptis, seluruh rakyatnya juga ikut dibaptis. Kaum Injili sangat kuatir bahwa strategi ini hanya menghasilkan kekristenan yang bersifat pura-pura, dangkal dan bahkan bisa bersifat sinkretistik. Meskipun tidak menolak peran penting yang dimiliki para pemimpin, Kaum Injili sangat menekankan Injil yang diberitakan kepada setiap individu. Karena kita mengerti bahwa spiritualitas adalah tugas dari setiap pribadi.

Meskipun sangat menekankan dimensi personal bagi spiritualitas orang Kristen, Kaum Injili juga menyeimbangkannya dengan dimensi komunal atau korporat. Tidak ada seorang pun dapat hidup dan bertumbuh dalam mengikuti Yesus dalam isolasi. Tetapi setiap kita harus bersekutu supaya dapat bertumbuh secara dewasa. Analogi yang sering digunakan adalah bara api. Bara api akan saling membakar ketika dikumpulkan bersama. Tetapi ketika satu bara api dikeluarkan dari kelompoknya, dia akan segera padam dan menjadi dingin. Begitu juga hidup Kristen: orang Kristen yang menarik diri dari komunitas orang percaya akan sulit untuk bertumbuh dan cepat menjadi dingin. Tetapi ketika bersekutu bersama, orang Kristen akan saling mendukung dan dengan demikian akan terus hidup dan berapi-api bagi Tuhan.

Jadi dalam pandangan Kaum Injili, meskipun setiap orang bertanggung jawab atas pertumbuhan imannya sendiri, setiap orang juga bergantung kepada kelompok orang percaya. Setiap orang percaya membutuhkan dorongan dan nasihat dari saudara-saudara seiman lainnya.

Pandangan ini memberikan pengertian yang penting mengenai gereja. Jemaat gereja lokal harus merupakan suatu komunitas yang saling menasihatkan, mendukung, dan mengajar satu dengan yang lainnya. Lebih jauh, setiap anggota dari persekutuan orang percaya harus terlibat dalam tugas-tugas yang dikerjakan bersama. Kita terpanggil bukan saja untuk beribadah bersama, tetapi juga untuk masuk menjadi bagian dari kehidupan keseharian anggota yang lain. Dengan demikian, setiap orang berpartisipasi dan berperan dalam kehidupan komunitas Kristen. Inilah esensi dari jemaat lokal dalam pandangan Injili.

Prinsip bahwa setiap orang percaya perlu bersekutu dengan yang lainnya menghasilkan suatu penekanan klasik Injili terhadap kehadiran dalam kebaktian. Kita harus hadir dalam kegiatan-kegiatan gerejawi secara bersama. Tetapi tujuan penekanan ini berbeda dengan gereja-gereja liturgikal. Kita tidak melihat kehadiran dalam kegiatan gereja sebagai sarana mendapat anugerah, tetapi dalam perkumpulan orang percaya inilah pengajaran dan kekuatan dinyatakan.

Pengertian di atas memberikan dampak terhadap apa yang dianggap paling penting dalam ibadah Minggu. Roma Katolik menekankan perjamuan kudus dalam ibadah, sedangkan gereja-gereja Injili memfokuskan ibadah Minggu pada pemberitaan Firman Tuhan. Di atas segalanya, kita datang untuk mendengar kotbah, yang kita pandang sebagai sarana utama manusia bertemu dengan Allah. Kita mendengarkan kotbah dengan kerinduan untuk mendengar ´Allah sedang berkata-kata kepada saya secara pribadi´. Sebagai akibatnya, kita mendapat peringatan, kekuatan, dan bahkan arahan hidup melalui kehadiran kita dalam ibadah bersama. Kita berkumpul untuk mendengar Firman (Word), supaya kita bisa tersebar sebagai umat Allah di tengah-tengah dunia (world).

Tetapi akhir-akhir ini Kaum Injili memiliki pengertian yang lebih dalam lagi mengenai kepentingan ibadah bersama sebagai elemen yang sentral di samping kotbah. Salah satu pemimpin dalam hal ini adalah Robert Webber yang mengatakan:

´Worship is the rehearsal of our relationship to God. It is at that point through the preaching of the Word and through the administration of the sacrament, that God makes himself uniquely present in the body of Christ. Because worship is not entertainment, there must be a restoration of the incarnational understanding of worship, that is, in worship the divine meets the human. God speaks to us in his Word. He comes to us in the sacrament. We respond in faith and go out to act on it!´[3] (Ibadah adalah gladi-bersih dari hubungan kita dengan Allah. Pada titik itulah melalui pemberitaan Firman dan pelaksanaan sakramen, Allah hadir secara khusus dalam tubuh Kristus. Karena ibadah bukan merupakan hiburan, harus ada pengertian baru dari ibadah yang bersifat inkarnasi, yaitu Allah bertemu dengan manusia dalam ibadah. Allah berbicara kepada kita melalui Firman. Dia datang kepada kita dalam sakramen. Kita berespon dengan iman dan keluar untuk hidup sesuai dengan itu!)

Seperti dikatakan Webber, penekanan pada ibadah bersama bukan berarti meniadakan sentralitas kotbah dalam ibadah Minggu. Tetapi hal ini lebih merupakan suatu usaha untuk kembali mendapat keseimbangan yang lebih baik demi menjalankan tugas gereja dengan lebih efektif.

Di tengah-tengah penekanan Injili untuk ´menemukan pelayanan dalam gereja´, kita mendiskusikan interaksi yang penting antara dimensi personal dan korporal dari iman Kristen. Kita mendorong setiap individu untuk ´menemukan pelayanan´ dalam konteks gereja lokal. Dan hal ini jelas berkaitan dengan dimensi korporal dari spiritualitas Kristen. Sewaktu kita terlibat pelayanan dalam komunitas Kristen, kita berpartisipasi dalam tugas mendorong pertumbuhan orang lain dan juga secara tidak langsung kepada diri kita sendiri. Keterlibatan dalam hidup orang lain merupakan kesempatan untuk mendorong, menasihati, dan memenuhi kebutuhan mereka. Tetapi tujuannya lebih dari itu: supaya mereka yang menerima pelayanan bisa bertumbuh dewasa secara rohani dan kemudian akhirnya ikut melayani anggota lain dalam tubuh Kristus.

Pandangan ini berimplikasi pada eklesiologi. Bagi kita, gereja adalah persekutuan orang percaya, persekutuan murid Kristus, komunitas orang- orang yang dengan serius bertanggung jawab secara pribadi bagi spiritualitasnya dan pada saat yang sama terjun dalam pelayanan untuk mendorong pertumbuhan rohani secara korporal. Kaum Injili yang bertanggung jawab bernyanyi bersama: ´Kami akan berjalan bersama, kami akan berjalan bergandengan tangan.´ Karena jalan spiritualitas adalah jalan yang mengikat setiap individu bersama-sama. (BS)

[1] James M. Houston, "Spirituality" in The Evangelical Dictionary of Theology, ed. Walter A. Elwell (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1984),1047.
[2] Daniel B. Stevick, Beyond Fundamentalism (Richmond, Va: John Knox Press, 1964),127.
[3] Robert Webber, The Majestic Tapestry (Nashville: Thomas Nelson,1986),129.
Sumber: 

Bahan di atas dikutip dari sumber:

Judul Buku: Momentum, Edisi 44, Triwulan III/Oktober 2000
Judul Artikel: Spiritualitas Injili: Suatu Tinjuan Ulang
Penulis: Stanley J. Grenz
Penerjemah : -
Penerbit: Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman: 29-36

"Yang Sangat Penting ..... Kristus Telah Mati"

Dear e-Reformed Netters,

Beberapa hari lagi kita akan merayakan Hari Kematian Kristus dan Hari Kebangkitan Kristus (PASKAH), perayaan dari peristiwa terbesar dalam sejarah kekristenan. Artikel yang saya sajikan berikut ini akan menolong kita memikirkan lebih dalam lagi tentang arti kematian dan kebagnkitan Kristus bagi kita, umat manusia yang dikasihi-Nya. Memang betul bahwa pikiran dan otak manusia tidak mungkin bisa mengetahui dan memahami dengan sejelas-jelasnya dan sedalam-dalamnya kesengsaraan yang dialami Kristus menjelang kematiannya. Tapi bukan berarti dengan demikian maka itu tidak penting untuk kita pikirkan. Uraian yang disampaikan Samuel Zwemer dalam artikel di bawah ini menolong kita melihat bagaimana Alkitab menyatakan bahwa kematian Kristus adalah segala-galanya bagi orang Kristen. Inilah inti dan pusat dari berita keselamatan yang dibawa Kristus ketika Ia datang ke dunia. Oleh karena itu jika seorang Kristen berbahagia menjadi orang Kristen bukan karena berita keselamatan bahwa "Kristus telah mati bagiku, bagi dosa- dosaku", maka kemungkinan besar ia sedang salah mengerti tentang kekristenan. Mengapa demikian? Silakan membaca artikel berikut ini.

SELAMAT MERAYAKAN HARI KEMATIAN DAN KEBANGKITAN KRISTUS!

In Christ,

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Beberapa hari lagi kita akan merayakan Hari Kematian Kristus dan Hari Kebangkitan Kristus (PASKAH), perayaan dari peristiwa terbesar dalam sejarah kekristenan. Artikel yang saya sajikan berikut ini akan menolong kita memikirkan lebih dalam lagi tentang arti kematian dan kebagnkitan Kristus bagi kita, umat manusia yang dikasihi-Nya. Memang betul bahwa pikiran dan otak manusia tidak mungkin bisa mengetahui dan memahami dengan sejelas-jelasnya dan sedalam-dalamnya kesengsaraan yang dialami Kristus menjelang kematiannya. Tapi bukan berarti dengan demikian maka itu tidak penting untuk kita pikirkan. Uraian yang disampaikan Samuel Zwemer dalam artikel di bawah ini menolong kita melihat bagaimana Alkitab menyatakan bahwa kematian Kristus adalah segala-galanya bagi orang Kristen. Inilah inti dan pusat dari berita keselamatan yang dibawa Kristus ketika Ia datang ke dunia. Oleh karena itu jika seorang Kristen berbahagia menjadi orang Kristen bukan karena berita keselamatan bahwa "Kristus telah mati bagiku, bagi dosa- dosaku", maka kemungkinan besar ia sedang salah mengerti tentang kekristenan. Mengapa demikian? Silakan membaca artikel berikut ini.

SELAMAT MERAYAKAN HARI KEMATIAN DAN KEBANGKITAN KRISTUS!

In Christ,
Yulia Oen

Catatan:
Ayat-ayat Alkitab yang dikutip dalam artikel ini diambil dari Alkitab LAI, Terjemahan Lama (TL).

Penulis: 
Samuel Zwemer
Edisi: 
049/IV/2004
Isi: 

"Yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu," kata Paulus dalam Surat Pertama kepada Gereja Korintus, "yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci," [Lihat 1Kor. 15:3] Pembaca yang teliti akan memperhatikan dari konteksnya, bahwa ini adalah pokok dari amanat Rasul Paulus, inti dari ajarannya, satu-satunya injilnya. Paulus mengatakan, bahwa dia menerimanya tidaklah terutama dan hanya dari anggota-anggota jemaat asli, tetapi langsung melalui wahyu (Gal. 1:15-19). Maka jemaat itu, dan Rasul Paulus sendiri, percaya, bahwa kebenaran pertama dan azasi dari iman Kristen adalah kematian Kristus karena dosa-dosa kita. Dan Rasul Paulus menerima dan mengajarkan kebenaran ini dalam waktu tujuh tahun setelah Kristus mati -- menurut penanggalan lain bahkan dalam waktu yang lebih pendek.

Kata Yunani yang diterjemahkan dengan "yang sangat penting" dapat juga diartikan "yang pertama-tama" atau paling depan dari segala kebenaran. Kematian Kristus disalib bagi Rasul Paulus adalah yang paling penting dan pasal yang berpengaruh dalam kepercayaannya. Ini adalah fundamental. Ini adalah rukun syarat dari batu pertama, batu pojok dari kuil kebenaran. Bahwa ini benar nampak jelas dari tempat yang diambil tentang kematian Kristus dalam Alkitab, dalam amanat kerasulan, dalam liturgi-liturgi dari kedua sakramen yang diselenggarakan oleh semua cabang Gereja dan dalam perbendaharaan nyanyian-nyanyian Kristus yang pertama-tama, maupun yang terakhir. Bukti itu bertambah-tambah dan melimpah. Salib itu bukan hanya merupakan lambang universil dari kekristenan; itu adalah amanatnya yang universal dan yang tak dapat disangsikan. Itu adalah pokok dari Injil -- firman yang "hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua."[Lihat Ibr. 4:12] Sebab tidak ada yang menimbulkan kesadaran akan dosa seperti salib.

Salib Kristus adalah lampu sorot Allah. Dia memperlihatkan kasih Allah dan dosa manusia, kekuasaan Allah dan kedaifan manusia, kesucian Allah dan kekotoran manusia. Bila mezbah dan korban penebusan adalah "yang pertama-tama" dalam Perjanjian Lama, maka salib dan perdamaian adalah "yang terutama" dalam Perjanjian Baru. Maka doktrin keselamatan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan segala sesuatu yang dicakupnya mengenai hati baru dan masyarakat baru, sorga baru dan dunia baru, dalam garis yang lurus menuju kembali ke arah pusat segala-galanya - "Anak Domba yang telah disembelih."[Lihat Wah. 13:8]

  1. Perhatikanlah tempat ditulisnya cerita mengenai penyaliban dalam Perjanjian Baru. Dia disebut dalam tiap buku kecuali dalam tiga surat-surat pendek, Filemon dan Yohanes 2 dan 3. Matius, Markus, dan Lukas memberikan tempat yang lebih banyak padanya daripada untuk aspek manapun dari hidup dan ajaran Kristus. Matius menceritakan tragedi ini dalam dua pasal dengan seratus empatpuluh satu ayat. Markus menulis seratus sembilan belas ayat mengenai cerita itu, dua pasal yang merupakan yang terpanjang dari enam belas pasal. Lukas menyediakan dua pasal panjang untuk melukiskan penangkapan dan penyaliban itu. Hampir separo dari Injil Yohanes mengisahkan minggu kesengsaraan Kristus.

    Dalam Kisah Para Rasul-rasul semua ajaran berpusat pada kematian dan kebangkitan. Inilah "Berita Baik." "Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup." Puncak dari kotbah Rasul Petrus pada Pentakosta adalah mengenai Yesus "yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya ....... disalibkan dan dibunuh oleh tangan orang-orang kafir". "Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus."[Lihat Kis. 1:3; 2:23, 36]

    Amanat itu diulangi lagi oleh Rasul Petrus dalam Bait Allah: "Kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh." "Dengan jalan demikian," Petrus kemukakan, "Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Kristus yang diutus-Nya harus menderita," tetapi "Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan memimpin kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu." Esok harinya dia kembali lagi pada tema "Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan." Dalam doa upacara pertama dari Gereja Mula-mula kita diingatkan kembali pada penderitaan dan kematian dari "Yesus Hamba-Mu yang kudus." Hasil dari amanat demikian dinyatakan dalam kata-kata yang isinya tidak meragukan: "Kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami." Tetapi rasul-rasul menjawab, "Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh ....... telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat."[Lihat Kis. 3:14, 18, 26; 4:10, 27; 5:28, 30-31]

    Stefanus menjadikan kematian Yesus Kristus sebagai tema pembelaannya yang disusul cepat dengan kesyahidannya sendiri (Kis. 7:51-54). Filipus mulai berbicara dan bertolak dari nas itu saat ia memberitakan Injil Yesus kepada sida-sida Ethiopia (Kis. 8:26-40). Kornelius menerima amanat yang sama mengenai Dia: "Mereka telah membunuh Dia dan menggantungkan Dia pada kayu salib. Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga."[Lihat Kis. 10:39-40]

    Di Antiokia Rasul Paulus bercerita tentang Kristus: "Mereka telah meminta kepada Pilatus supaya Ia dibunuh ......... mereka menurunkan Dia dari kayu salib, lalu membaringkan-Nya di dalam kubur. Tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati." Selama tiga sabat Rasul Paulus memberi uraian dari Perjanjian Lama di Tesalonika, "bahwa Kristus harus menderita dan bangkit dari antara orang mati." Di Anthena dia berkhotbah tentang kematian Yesus Kristus, di Korintus dia hanya mau tahu tentang Yesus Kristus dan bahwa Dia disalibkan. Sebagai kata yang searti dengan Injil dia pakai "pemberitaan tentang salib" atau "berita pendamaian." Festus melukiskan amanat Rasul Paulus sebagai sesuatu yang bersangkutan dengan "seorang yang bernama Yesus, yang sudah mati, sedangkan Paulus katakan dengan pasti, bahwa Ia hidup." Dalam pembelaannya di depan Festus, Rasul Paulus mengatakan, bahwa dia tidak mempunyai amanat lain "kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar. Dan apa yang kuberitakan itu tidak lain daripada yang sebelumnya yang telah diberitahukan oleh para nabi dan juga oleh Musa, yaitu bahwa Kristus harus menderita sengsara dan bahwa Ia adalah yang Pertama yang akan bangkit dari antara orang mati, dan bahwa Ia akan memberitakan terang kepada bangsa ini dan kepada orang-orang kafir."[Lihat Kis. 13:28-30; 17:3 1Kor. 1:18; 2Kor. 5:19; Kis. 25:19; 26:22-23]

    Dalam surat-surat Rasul Paulus kita sungguh kagum melihat jumlah yang berlimpah-limpah dari bukti-bukti, bahwa satu-satunya amanatnya adalah salib dan pendamaian. Dia telah memberitakan kabar baik ini selama limabelas tahun sebelum sepucukpun dari surat-suratnya dia tulis. Kita tidak dapat menemukan adanya perbedaan dalam tekanan antara surat- suratnya yang pertama dan yang terakhir dalam hal ini. Itulah yang menjadi pokok dari amanatnya kepada orang-orang Roma dan orang-orang Tesalonika. Kepada jemaat Galatia ia mengatakan dalam kata pendahuluannya bahwa Kristus Yesus "telah menyelamatkan diri-Nya karena dosa-dosa kita," dan (sesudah beberapa kalimat) dia meletus dengan perasaan berang: "Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu Injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia."[Lihat Gal. 1:4, 8]

    Bahwa Golgota yang menjadi pusat dari Injil Paulus, adalah jelas dari semua suratnya. Inkarnasi itu ada agar penebusan itu mungkin. Salib itu adalah luhur dan menentukan bagi Allah, bagi manusia dan bagi alam semesta. "Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa." "Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesuskah, yang telah mati?" "Kami memberitakan Kristus yang disalibkan ........ sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia, dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia," "Jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri." Semua orang Kristen, apabila mereka minum dari Cawan itu "memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang." "Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia." Kristus adalah "kekasih-Nya" yang "oleh darah-Nya kita beroleh penebusan. "Ini adalah rahasia dari abad-abad pelbagai ragam hikmat Allah yang dibukakan bagi kerajaan-kerajaan dan kekuasaan-kekuasaan melalui Gereja. Mereka yang merupakan "seteru salib Kristus," Rasul Paulus menceritakan kepada kita dengan airmata, bermegah dalam keaibannya dan mereka akan binasa. Kristus "yang lebih utama dalam segala sesuatu ........ dan oleh Dialah Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya ........ sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus." Salib itu adalah pusat dari alam semesta dan dari sejarah. Dia masih akan melihat pendamaian segala sesuatu baik yang ada di bumi maupun yang ada di sorga melalui darah-Nya."[Lihat Rom. 5:8; 8:33-34; 1Kor. 1:23, 25; Kis. 20:28; 1Kor. 11:26; Gal. 6:14; Ef. 1:6-7; Fil. 3:18; Kol. 1:18-20]

    Dalam surat kepada orang-orang Ibrani, kematian Kristus (Dia sendiri sebagai imam, korban, dan mezbah) begitu menonjol sehingga kita tidak perlu menunjukkannya lagi. Kristus adalah Imam Besar yang Agung, yang "menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya." Darah Yesus Kristus adalah darah perjanjian. Kristus adalah yang mengadakan dan menyempurnakan iman kita karena Dia telah "memikul salib." Darah-Nya yang dipercikkan "berbicara lebih kuat dari pada darah Habel" -- itu adalah "darah perjanjian yang kekal" ditumpahkan oleh "Gembala Agung dari segala domba."[Lihat Ibr. 9:26; 12:2, 24; 13:20]

    Surat-surat Petrus menggemakan pengajarannya yang paling pertama dan sangat banyak menyinggung kesengsaraan Kristus yang "sendiri telah memikul dosa kita dalam tubuh-Nya di kayu salib ........ oleh bilur- bilur-Nya kamu telah sembuh". Akhirnya dalam surat 1 Yohanes dan dalam Wahyu salib itu masih tetap merupakan yang utama. Melaluinya Yesus Kristus merupakan "perdamaian untuk segala dosa kita dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia." "Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita." "Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya ........ bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin." "Lihatlah, Ia datang dengan awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia."[Lihat 1Pet. 2:24; 1Yoh. 2:2; 3:16; Wah. 1:5-7]

  2. Kedua sakramen yang diterima oleh Gereja-gereja Timur dan Barat langsung menyebutkan kematian Kristus untuk dosa-dosa kita. Ini jelas, bukan hanya dari penempatan kata-katanya dalam Perjanjian Baru, melainkan juga dari banyak liturgi-liturgi dalam administrasinya. Di sini kita dapat katakan lagi bahwa "yang sangat penting" mereka memberitakan kematian Kristus yang merupakan penebusan kita dari dosa. Pembaptisan adalah upacara penerimaan dalam Kristus. Dimanapun Perjanjian Baru tidak ada menyebut orang-orang Kristen yang tidak dibaptiskan, dan orang-orang percaya yang primitif ini tahu apa yang dimaksudkan Rasul Paulus ketika ia mengatakan, bahwa semua "yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya." Pengampunan dosa dan pembaptisan berhubungan erat dalam pikiran mereka dengan air dan darah yang mengalir dari sisi Kristus yang robek itu. Kedua sakramen itu dimaksud untuk mengantar amanat Injil dalam perlambangan yang tak dapat disangsikan. Selama sakramen-sakramen itu mempertahankan tempatnya dalam Gereja, mereka adalah -- dengan adanya segala yang ditambahkan dengan upacara dan tahyul sekalipun -- saksi dari arti penyelamatan kematian Kristus, saksi dari sifat penggantiannya, keharusannya, dan wataknya yang menentukan. Gereja Mula-mula terus "bertekun dalam ....... memecahkan roti," karena dengan itu mereka ingin memberitakan kematian Kristus dan pengampunan dosa melalui darah-Nya. Itu adalah "persekutuan dengan darah Kristus ........ dengan tubuh Kristus," turutnya kita dalam "satu Roh," "pengampunan dosa," penyucian "batin kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia." Inilah yang membuat pemecahan roti itu begitu berharga bagi Gereja Mula-mula dan bagi semua Gereja selama duapuluh abad. [Lihat Rom. 6:3; Kis. 2:42; 1Kor. 10:16; 12:13; Mat. 26:28; Ibr. 9:14]

  3. Bila kita beralih dari liturgi pada kumpulan nyanyian gereja, kita akan mempunyai kesaksian yang sama. Dalam nyanyian-nyanyian Latin dan Yunani masa-masa pertama, dalam nyanyian Gereja-gereja Kopt dan Armenia, maupun dalam nyanyian-nyanyian Gereja Reformasi, salib itu adalah "yang sangat penting", dan kesengsaraaan Tuhan Yesus merupakan tema. Dalam nyanyian Gereja inilah kita menemukan kesatuan dan kedalaman teologi yang kadang-kadang tidak terdapat dalam kepercayaan- kepercayaan sekalipun.

    "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!" "Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu." Apapun yang tercipta turut dalam Paduan Suara Haleluya.[Lihat Wah. 5:12; 7:17]

    Anak-anak kecil di berbagai negeri dan bahasa menyanyikan inti dari Injil itu:

    "Yesus mati bagiku. Sorga, buka pintumu! Hutang dosa terhapus, Aku sudah ditebus."

    Betapa besar bagian dari nyanyian-nyanyian dari Gereja itu merupakan nyanyian kesengsaraan atau tafsiran dari penebusan yang dibuat di atas salib! Siapakah yang dapat melupakan pelukisan dalam begitu banyak bahasa dari "O, Haupt voll Blut und Wunden" (O, kepala yang penuh darah dan luka) atau kepiluan lagunya seperti yang dinyanyikan oleh orang Kristen Jerman?

    "..... Tidak cukup kuatku: hanya oleh sayang-Mu, oleh darah-Mu kudus, dapat aku ditebus."

    Andaikata Yesus dari Nasaret hanyalah manusia belaka dan bukan Anak Allah dan Juruselamat kita, kematian-Nya yang menyedihkan itu akan merupakan peristiwa yang terbesar juga dalam sejarah manusia. Banyaknya keterangan-keterangan yang teliti dalam catatan masanya mengenai kesengsaraaan-Nya dan penyaliban-Nya, segala hal-hal yang dahsyat yang menyertainya dalam alam; ketujuh kata dari salib, pengaruhnya terhadap mereka yang melihatnya dan terhadap segala abad dan bangsa -- semuanya ini jelas menunjukkan kepentingannya. Kita jangan mengubah tekanannya. Peristiwa yang utama dalam hidup Yesus Kristus dan bagi Dia sendiri, adalah kematian-Nya di atas salib karena dosa.

    Kata-kata dari James Denny tidaklah terlalu keras:

    "Jika penebusan itu, terlepas dari perumusan yang tepat, berarti sesuatu bagi jiwa, maka dia adalah segala-galanya. Penebusan itu adalah yang paling mendalam dari segala kebenaran dan yang paling kreatif. Lebih dari apapun juga dia menentukan konsepsi kita mengenai Tuhan, manusia, sejarah dan bahkan mengenai alam. Penebusan itu menentukan semuanya ini, karena dengan satu dan lain jalan kita harus menyesuaikan semuanya ini dengan pengertian ini. Penebusan itu adalah tema dari segala pikiran, yang akhir-akhirnya merupakan kunci bagi segala penderitaan. Penebusan manusia dari dosa ini adalah suatu kenyataan yang demikian rupa, sehingga dia tak dapat berkompromi. Maka bagi jiwa modern, maupun bagi yang kolot, daya penarik dan penolakan dari kekristenan itu berpusat pada suatu titik yang sama. Salib Kristus adalah satu-satunya kemuliaan manusia atau perintangannya yang terakhir."

Sumber: 

Bahan di atas dikutip dari sumber :

Judul Buku:Kemuliaan Salib
Judul Artikel : -
Penulis:Samuel Zwemer
Penerjemah : -
Penerbit:Badan Penerbit Kristen untuk OMF, 1970
Halaman:9-15

Calvin dan Tuduhan Skisma dari Katolik Roma Terhadap Para Reformator: Sebuah Studi Tentang Kesatuan Gereja (Bag. 2)

Dear e-Reformed Netters,

Selamat Hari Reformasi Gereja 2003!!
Mari kita hayati perjuangan para reformator dalam mengembalikan kemurnian ajaran gereja dengan hidup yang memelihara kesatuan Tubuh Kristus sesuai dengan Firman-Nya!

In Christ,
Yulia

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Selamat Hari Reformasi Gereja 2003!!
Mari kita hayati perjuangan para reformator dalam mengembalikan kemurnian ajaran gereja dengan hidup yang memelihara kesatuan Tubuh Kristus sesuai dengan Firman-Nya!

In Christ,
Yulia

Penulis: 
Hidalgo B. Garcia
Edisi: 
044/X/2003
Isi: 

PELAYANAN GEREJA DAN FIRMAN ALLAH

Salah satu isu yang Calvin bahas dengan Sadoleto adalah masalah jabatan-jabatan gereja. Ia mengamati dari surat Sadoleto bahwa Sadoleto menuntut ketaatan dan kesetiaan kepada pejabat-pejabat gereja dengan landasan bahwa mereka dianugerahkan otoritas. Calvin mengoreksi gagasan yang keliru ini. Baginya, otoritas dan kekuasaan orang-orang yang ditunjuk untuk jabatan gereja dibatasi dalam limit-limit tertentu sesuai jabatan mereka menurut firman Allah. Dalam limitasi ini Kristus membatasi penghormatan yang Ia haruskan untuk diberikan kepada para rasul dan, karena itu, juga kepada para gembala. Tugas utama para gembala adalah memberitakan dan mengajarkan sabda Tuhan guna memajukan gereja. Inilah satu-satunya tujuan kekuasaan rohani, yakni "to avail only for edification, to wear no semblance of domination, and not to be employed in subjugating faith."**46 Paus, meskipun mengklaim sebagai pengganti Petrus, juga tidak dibebaskan dari limitasi ini. Kemerosotan disiplin di kalangan para uskup Roma, menurut pengamatan Calvin, adalah salah satu alasan mengapa gereja telah jatuh ke dalam kondisi yang demikian menyedihkan. Disiplin gereja mempunyai beberapa implikasi bagi kesatuannya karena menurutnya, agar gereja bersatu harus diikat bersama-sama melalui disiplin seperti halnya tubuh yang diikat otot-ototnya. Dalam hal ini menuduh balik para pejabat Katolik Roma yang telah menghancurkan integritas gereja melalui penyalahgunaan jabatan eklesiastikal; merekalah yang menabur benih-benih perpecahan. Ia secara tegas menyangkal tuduhan Sadoleto yang mengatakan bahwa para Reformator melepaskan diri dari kuk tirani gereja agar mereka sendiri bebas untuk melakukan tindakan amoral yang tak terkendalikan.**47

Dalam The Necessity of Reforming the Church, Calvin mengevaluasi pertanyaan tentang suksesi yang berhubungan dengan masalah disiplin gereja, dan dengan demikian, seperti telah kita lihat di atas, berhubungan juga dengan kesatuan gereja. Mengenai hubungan antara kontinuitas (atau suksesi) dan kesatuan ia mengatakan, "no one, therefore, can lay claim to the right of ordaining, who does not, by purity of doctrine, preserve the unity of the Church."**48 Pernyataan ini merupakan reaksi terhadap klaim Katolik Roma bahwa hanya merekalah yang memiliki hak dan kekuasaan untuk menahbiskan orang-orang ke dalam pelayanan gereja dan menentukan bentuk ordinasinya. Para pengikut Paus menyebut kanon-kanon kuno yang mereka klaim telah memberikan superintendensi untuk masalah-masalah mengenai para uskup dan klerus.**49 Suksesi yang konstan telah dilimpahkan kepada mereka, bahkan itu berasal dari para rasul. Mereka menyangkal bahwa jabatan itu bisa ditransfer secara sah kepada orang lain. Dengan demikian, berkaitan dengan klaim suksesi ini, para Reformator yang menjalankan pelayanan tanpa otoritas Katolik Roma, telah merampas kekuasaan eklesiastikal dan telah melakukan invasi terhadap wewenang hierarki Katolik Roma.**50

Calvin membantah klaim suksesi ini dengan menyatakan bahwa suksesi apostolik telah lama diinterupsi oleh keuskupan Katolik Roma.

But if we consider, first, the order in which for several ages have been advanced to this dignity, next the manner in which they conduct themselves in it, and lastly, the kind of persons whom they are accustomed to ordain, and to whom they commit the goverment of churches, we shall see that this succession on which they pride themselves was long ago interrupted.**51
Ia menguraikan tiga kategori aturan penunjukan para uskup, cara bagaimana mereka mengatur diri mereka sendiri dalam jabatan itu, dan jenis orang yang mereka tunjuk.**52 Pertama, oleh karena hierarki Katolik telah merebut bagi diri mereka sendiri kekuasaan tunggal untuk menunjuk para klerus, Calvin mendebatnya dengan bertitik tolak dari sejarah gereja, "the magistracy and people had a discretionary power (arbitrium) of approving or refusing the individual who was nominated by the clergy, in order that no man might be intruded on the unwilling or not consenting."**53 Dalam hal cara para uskup mengatur diri mereka, ia bersikeras agar siapapun yang mengatur gereja, hendaknya ia juga mengajar.**54 Tujuan Kristus menunjuk para uskup dan gembala ialah, seperti dinyatakan Paulus, agar mereka mengajar gereja dengan doktrin yang sehat. Menurut pandangan ini, seorang gembala gereja yang baik tidak mungkin tidak melaksanakan tugas mengajar.**55 Ia mengamati bahwa para uskup tidak melaksanakan tugas ini dengan setia. "As if they had been appointed to secular dominion, there is nothing they less think of than episcopal duty."**56 Tidak heran jika kemudian orang-orang yang mereka promosikan untuk mendapat kehormatan sebagai imam adalah mereka yang memiliki karakter serupa. Ia menuntut dengan tegas agar ada eksaminasi yang ketat terhadap kehidupan dan doktrin mereka yang ingin menjadi pendeta, seperti yang sekarang dilakukan di gereja-gereja para Reformator.**57 Mengenai upacara ordinasi, Calvin berargumen bahwa praktek Katolik Roma tidak bersumber dari Alkitab.**58 "Satu-satunya yang kita baca, seperti yang biasa dilakukan pada zaman kuno, adalah penumpangan tangan."**59

Hal yang sangat kritis dalam semua klaim suksesi apostolik ini ialah doktrin Injil yang murni. Keprihatinannya ini ia rangkum dengan kalimat, "Setiap orang yang melalui tingkah lakunya memperlihatkan bahwa ia adalah musuh dari doktrin yang sehat, apapun gelar yang mungkin ia banggakan, ia telah kehilangan semua otoritasnya dalam gereja,"**60 karena itu ia pun tidak bisa mengklaim suksesi apostolik. Pernyataan-pernyataan ini begitu signifikan sebab telah menggoncangkan fondasi utama gereja Roma.

KESATUAN DAN FIRMAN ALLAH

Pemahaman yang benar mengenai gereja dalam relasinya dengan firman Allah, batasan-batasan dan tujuan jabatan otoritas gereja dan disiplin, serta suksesi apostolik yang tepat telah meletakkan dasar bagi pembelaan Calvin terhadap tuduhan skisma dan bidat. Dalam jawabannya kepada Sadoleto, ia membuat pembelaan ini dengan mempertentangkan pengakuan dari orang Kristen Reformed dengan kesetiaan Katolik yang dipaparkan oleh Sadoleto. Reformator itu mengaku bahwa tidak ada hal lain yang ia lakukan kecuali percaya bahwa tidak ada kebenaran yang dapat mengarahkan jiwa seseorang menuju jalan kehidupan selain dari apa yang dikobarkan melalui firman itu. Segala hal lain yang berasal dari penemuan manusia adalah kesombongan yang sia-sia dan pemberhalaan.

Calvin berusaha menghadirkan dan menguraikan apa yang dipercayainya sebagai doktrin yang murni dan kebenaran Injil. Melalui hal ini ia memperjelas bahwa tujuan para Reformator adalah untuk kebangkitan gereja kembali. Ia memperhatikan bahwa sejumlah besar kebenaran dari doktrin kenabian dan evangelikal telah musnah dan telah "diusir dengan kasar oleh api dan pedang"**61 dalam gereja Roma. Ia menolak tuduhan Sadoleto bahwa semua yang coba dilakukan oleh para Reformator hanyalah untuk menghancurkan semua doktrin sehat yang telah disetujui oleh orang-orang beriman selama lima belas abad. Dengan gamblang ia menjelaskan bahwa para Reformator jauh lebih sesuai dengan zaman awal kekristenan dibanding gereja Roma,**62 dan Sadoleto sendiri tidak dapat menyangkalnya.

Bagi Calvin, bentuk gereja yang telah diinstitusikan oleh para rasul merupakan satu-satunya model yang benar, dan bentuk kuno gereja itu yang dibuktikan dalam tulisan-tulisan bapa-bapa gereja kini telah menjadi puing-puing. Ia memperjelas tujuan tindakan para Reformator yaitu untuk memperbarui gereja, dan perlunya melakukan hal itu bukan disebabkan oleh imoralitas dari keuskupan Roma seperti yang diklaim oleh Sadoleto. Menurut Calvin, yang mendorong para Reformator melakukan reformasi ialah karena "cahaya kebenaran ilahi itu telah dipadamkan, firman Allah telah dikubur, kebaikan Kristus tertinggal dalam pengabaian yang dalam, dan jabatan gembala ditumbangkan."**63 Dengan berjuang menentang kejahatan-kejahatan seperti itu, mereka tidak berperang melawan gereja, namun justru mendampingi gereja di tengah penderitaannya yang sangat.**64 Ia bertanya kepada Sadoleto dengan tajam, apakah seseorang yang "sangat giat untuk kesalehan dan kekudusan seperti pada zaman gereja mula-mula, yang tidak puas dengan kondisi yang ada dalam gereja yang pecah dan rusak, dan berusaha untuk memperbaiki kondisi gereja serta merestorasinya agar mencapai kemegahan yang sejati" akan dianggap sebagai musuh?**65 Pastor Jenewa itu menyebut dua tanda dari gereja yang telah disebutkan di atas dan bertanya kepada kardinal Katolik itu, "dengan yang manakah dari hal- hal ini yang kalian ingin kami gunakan untuk menilai gereja?"**66

Apa yang disebut skisma oleh orang-orang Katolik Roma, Calvin menyatakannya sebagai usaha para Reformator untuk membawa gereja yang terdisintegrasi itu kepada kesatuan.**67 Ia membuat sebuah analogi menarik antara orang yang melakukan Reformasi dan seseorang yang mengangkat panji pimpinan militer untuk memanggil prajurit-prajurit yang terpencar agar kembali ke pos mereka. Pemimpin militer itu adalah Kristus dan prajurit-prajurit yang terpencar itu ialah para pemimpin gereja. Orang yang mengangkat bendera pemimpin itu adalah Reformator, dan diangkatnya bendera menandakan sebuah panggilan bagi kesatuan, yang diekspresikan Calvin dengan tajam,

In order to bring them together, when thus scattered, I raised not a foreign standard, but that noble banner of thine whom we must follow, if we would classed among thy people .... Always, both by word and deed, have I protested how eager I was for unity. Mine, however, was a unity of the Church, which should begin with thee and end in thee. For as oft as thou didst recommend to us peace and concord, thou, at the same time, didst show that thopu wert the only bond for preserving it. But if I desired to be at peace with those who boasted of being the heads of the Church and pillars of faith, I behoved to purchase it with the denial of thy truth. I thought that any thing was to be endured sooner than stoop to such a nefarious paction.**68
Calvin menyamakan para klerus Roma dengan serigala yang sangat lapar dan nabi-nabi palsu yang Kristus prediksikan akan ada di antara umat- Nya. Tindakan para Reformator dibandingkan dengan pelayanan para nabi zaman kuno, yang tidak dianggap skismatik ketika mereka mengharapkan bangkitnya kembali agama yang telah terdekadensi. Mereka tetap berada di dalam kesatuan gereja,**69 "walaupun mereka ditetapkan untuk dihukum mati oleh para pendeta yang jahat, dan dianggap tidak layak memperoleh tempat di antara manusia ..... **70 Jelaslah bahwa motif para Reformator bukan untuk memecah-belah gereja tetapi untuk memperbaharuinya dan memimpin kelompok-kelompok Kristen ke dalam kesatuan.**71 Baginya ada perbedaan besar antara "skisma dari gereja dan belajar untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan di mana gereja sendiri pun telah terkontaminasi."**72 Skisma muncul ketika gereja Roma menolak untuk dikoreksi:
Thou, O Lord, knowest, and the fact itself has testified to men, that the only thing I asked was, that controversies should be decided by thy word, that thus both parties might unite with one mind to establish thy kingdom; and I declined not to restore peace to the Church at the expense of my head, if I were found to have been unnecessarily the cause of tumult. But what did our opponents?... Did they not spurn at all methods of pacification?**73
Ia mengakhiri jawabannya kepada Sadoleto dengan sebuah doa yang merefleksikan esensi responsnya atas tuduhan skisma Katolik Roma:
The Lord grant, Sadolet(o), that you and all your party may at length perceive, that the only true bond of Ecclesiastical unity would exist if Christ the Lord, who hath reconciled us to God the Father, were to gather us out of our present dispersion into the fellowship of his body, that so, through his one Word and Spirit, we might join together with one heart and one soul.**74

OTORITAS GEREJA DAN FIRMAN ALLAH

Kini kita akan mempertimbangkan Response (or Antidote) to Articles Agreed Upon by the Faculty of Sacred Theology of Paris (1543) dari Calvin. Walaupun kepentingan utama dari artikel itu adalah untuk menentukan doktrin-doktrin yang harus diajarkan dan dipercayai, artikel tersebut memiliki implikasi-implikasi penting bagi pemahaman Katolik Roma mengenai kesatuan. Artikel-artikel inilah yang mendefinisikan gereja Katolik yang satu dan kudus. Apa yang mereka sebar luaskan adalah cara Katolik Roma berjuang dengan kekuatan- kekuatan yang memecah-belah di dalamnya; artikel-artikel ini dimaksudkan untuk "menenangkan gelombang opini yang menentang."**75 Prolog dari artikel-artikel ini menyebut peringatan Paulus untuk kesatuan dalam kitab Efesus, yaitu agar mereka jangan "seperti anak- anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran." Menanggapi hal ini Calvin memberikan antidot pertama di mana ia menekankan firman Allah, dan bersikeras bahwa inilah (firman Allah) yang menjadi otoritas satu-satunya untuk menyelesaikan atau memutuskan kontroversi-kontroversi. Ia menyebut beberapa bagian dari Alkitab dan bapa-bapa leluhur gereja untuk membuktikan bahwa otoritas satu-satunya yang membuat gereja tetap bereksistensi adalah firman Allah. Ia menyimpulkan,

Oleh karena itu, di tengah pertanyaan-pertanyaan yang bertentangan di masa sekarang ini, marilah kita mengikuti nasihat yang menurut Theodoret, (Lib. I. Hist. Eccles. cap. 7) diberikan oleh Constantine kepada para uskup di konsili Nicea -- marilah kita mencari kebulatan hati dari sabda Allah yang murni.**76
Otoritas Alkitab menjadi sangat berarti ketika kita memperhatikan cara Calvin meletakkannya di atas dan terhadap otoritas gereja seperti yang diajukan dalam Artikel-artikel Iman, khususnya bab XVIII-XXIII, oleh Fakultas Teologi di Paris. Dengan berdasar pada otoritas Alkitab ia menantang klaim gereja mengenai otoritas. Pada Artikel XVII, bersama dengan orang-orang Katolik Roma, ia mengakui bahwa hanya ada satu gereja yang universal. Kendati demikian, pertanyaan yang lebih krusial bagi Calvin adalah bagaimana seseorang mengenali penampakan dari gereja. Jawabannya sederhana, yaitu firman Allah. "Kita menempatkannya di dalam firman Allah, atau, dengan kata lain, karena Kristus adalah Kepalanya, kita percaya bahwa gereja harus dilihat dalam Kristus sebagaimana seseorang dikenali melalui wajahnya."**77 Apa yang ia maksud dengan firman Allah dan Kristus adalah pemberitaan Injil? Baginya, pemberitaan Injil dan visibilitas Kristus dan gereja saling berkorelasi. "Sebagaimana pemberitaan Injil yang murni tidak selalu dinyatakan, maka wajah Kristus pun tidak selalu menarik perhatian,"**78 demikian juga gereja tidak selalu dapat dilihat.**79 Orang-orang Katolik Roma mendasarkan visibilitas dan otoritas gereja Katolik yang satu pada hierarkinya, sedangkan Calvin mendasarkannya pada pemberitaan firman.**80

Pada Artikel XIX, berkenaan dengan otoritas gereja yang visibel dalam mendefinisikan dan menentukan isu-isu kontroversial, Calvin menantang pemikiran bahwa yang visibel selalu benar seperti yang diperlihatkan dalam sejarah. Sikap ini berbahaya karena mereka "yang menerima definisi gereja yang visibel tanpa penilaian, dan tanpa terkecuali, bisa membuat seseorang terpaksa menyangkal Kristus."**81 Sekali lagi ia memberi penekanan pada firman untuk menyelesaikan perbantahan.

Jika muncul pertikaian diantara gereja-gereja, kita mengakui bahwa metode yang sah untuk menciptakan keharmonisan, yang selalu dicari-cari, adalah para pendeta itu berkumpul, dan mendefinisikan dari firman Allah tentang apa yang harus diikuti.**82
Pada artikel XX, berkaitan dengan hal-hal yang tidak diungkapkan secara jelas dan khusus di dalam Alkitab namun bagaimanapun juga harus dipercaya dan diterima oleh gereja melalui tradisi, Calvin mengutip Agustinus dan Chrysostom, selain dari Alkitab, segala sesuatu yang penting untuk keselamatan telah dinyatakan kepada kita dan hal-hal selain Injil tidak boleh dipercaya.

Berkaitan dengan kekuasaan ekskomunikasi, dalam artikel XXI ia mengakui bahwa kekuasaan untuk mengekskomunikasi telah diserahkan kepada gereja, begitu pula cara penggunaannya telah ditentukan (dalam firman Allah). Ini berarti ekskomunikasi harus dilakukan melalui "mulut Allah" dan tujuannya haruslah untuk pertumbuhan kerohanian/ kebaikan.**83 Hal ini jelas merupakan sebuah kontrol atau pembatasan terhadap penyalahgunaan kekuasaan ini yang dilakukan oleh hierarki Katolik yang, Fakultas Teologi di Paris mengakui, tidak boleh mempersoalkan apakah ekskomunikasi itu adil asalkan itu dilakukan dalam nama-Nya (Kristus).**84

Artikel XXII menyatakan bahwa otoritas konsili-konsili tidak dapat salah asal Paus memimpinnya dan bentuk-bentuk legal serta protokol dipelihara sebagaimana mestinya. Terhadap hal ini Calvin menekankan otoritas atau kepemimpinan Kristus. Ia tidak percaya konsili apapun yang hanya bersidang menurut aturan-aturan manusia sebagaimana mestinya, kecuali jika konsili itu dikumpulkan dalam nama Kristus. Maksudnya, Kristuslah yang memimpin, karena jika tidak konsili- konsili itu dipimpin berdasarkan pemikiran mereka sendiri dan karena itu yang mereka lakukan tidak lain dari kesalahan. Sebuah konsili yang berkumpul di dalam nama Kristus dipimpin oleh Roh Kudus, dan di bawah bimbingan-Nya, dipimpin kepada kebenaran.**85

Hal ini mengarah pada pertanyaan mengenai keutamaan Paus dalam Artikel XXII. Artikel ini lebih merupakan suatu pertahanan atas kepausan dari serangan kaum Lutheran, yang bersikeras bahwa Batu Karang itu adalah Kristus sebagai dasar gereja, dan menyangkal suksesi kepausan, serta tidak mau mengakui keutamaan Roma. Bagi Calvin, Kristuslah Kepala Gereja yang universal, bukannya Paus. Alkitab tidak berbicara mengenai pelayanan Paus, dan rasul Paulus pun tidak berpikir bahwa gereja merupakan satu keuskupan yang universal. "Sebagai penghargaan atas kesatuan, ia (Paulus) menyebut satu Tuhan, satu iman, satu baptisan (Efesus 4:11). Mengapa ia tidak menambahkan satu Paus sebagai kepala pelayanan?"**86 Ia menggambarkan relasi antara Petrus dan Paulus dan rasul-rasul yang lain, dan di dalam relasi itu tidak ada isyarat bahwa Petrus superior dibanding yang lain.**87 Bagi Calvin, gereja adalah tubuh Kristus di mana kepada setiap anggotanya diberikan "suatu ukuran yang pasti dan fungsi tertentu serta terbatas agar kekuasaan yang utama dari pemerintah terletak hanya pada Kristus."**88 Dalam keutamaan Kristus yang universal inilah terletak kesatuan dan katolisitas gereja, yang telah terbukti kebenarannya oleh bapa-bapa gereja, antara lain Cyprian dan Gregory. Cyprian secara khusus membuat analogi-analogi tentang satu cahaya (light) dengan banyak berkas cahaya (rays), satu batang yang ditunjang oleh akarnya dan memiliki banyak cabang, (rays), satu batang yang ditunjang oleh akarnya dan memiliki banyak cabang, satu sumber air dan banyak sungai, "demikian juga gereja, dengan diliputi cahaya dari Tuhan, ia mengirim berkas-berkas cahayanya tersebar ke mana-mana; gereja juga memperbanyak cabang-cabangnya, ia mencurahkan sungai-sungai turun ke seluruh dunia; namun tetap semuanya itu berasal dari satu kepala dan satu sumber."**89 Calvin berkomentar bahwa, menurut Cyprian, keuskupan Kristus ialah satu-satunya yang universal, dan ia mengajarkan agar bagian-bagian itu dipegang oleh para pelayan-Nya.**90

KESIMPULAN

Polemik-polemik Calvin dengan Roma mengenai tuduhan skisma tidak diragukan lagi telah menghasilkan refleksi-refleksi yang sangat dalam mengenai gereja dan kesatuannya. Isu dasarnya adalah pemahaman tentang gereja, tetapi tidak terlepas dari Kristus dan firman Allah. Gereja adalah milik Kristus dan dipersatukan di dalam Dia. Hal ini paling jelas terlihat melalui pemberitaan Injil dan pelaksanaan sakramen- sakramen yang tepat. Di dalam firman itulah terletak otoritas gereja. Semua kuasa dan fungsi pelayanan gereja dibatasi dalam firman Allah. Jabatan gereja, disiplin, dan aturan suksesi diatur oleh Roh Kristus menurut firman Allah dan semuanya itu dimaksudkan guna memajukan gereja. Calvin dan para Reformator percaya bahwa gereja Roma telah mengkorupsi doktrin Injil yang murni, menyalahgunakan kekuasaannya, dan mempromosikan segala jenis takhayul. Oleh karena itu, tujuan yang jelas dari para Reformator adalah membantu memulihkan atau memperbarui gereja Roma kepada keadaannya yang lebih murni sesuai pola gereja mula-mula seperti yang dikenal oleh bapa-bapa leluhur gereja. Calvin menganggap tuduhan skisma terhadap mereka sebagai suatu pertanyaan untuk memilih Kristus atau gereja Roma. Itu adalah pertanyaan mengenai yang manakah gereja sejati itu. Karena para Reformator taat kepada Kristus dan firman-Nya, mereka tetap berada dalam satu gereja yang sejati, dan oleh sebab itu mereka tidak dapat dianggap memisahkan diri dari gereja atau memecah-belahnya.

Calvin mencintai gereja seperti ia mencintai Kristus; kedua hal ini tidak dapat dipisahkan. Ia mengabdikan seluruh buku IV dari Institutes untuk menguraikan secara detail mengenai gereja Katolik yang kudus. Ia menyebut gereja itu sebagai ibu, karena Allah telah menyerahkan kita kepadanya agar kita bertumbuh dalam iman.**91 Itu sebabnya sangat penting untuk mengenalnya dan tidak mengabaikannya. Mereka yang tidak memiliki hubungan dengannya berarti juga tidak memiliki hubungan dengan Kristus, dan oleh karena itu mereka tidak memiliki keselamatan. Mereka yang mengabaikannya adalah orang-orang yang murtad, yang membelot dari kebenaran dan dari keluarga Allah, mereka adalah penyangkal-penyangkal Allah dan Kristus. Calvin percaya bahwa gereja terdiri dari semua orang pilihan Allah, termasuk mereka yang telah meninggal dunia. Gereja adalah katolik atau universal, yang berarti gereja adalah satu.

All the elect of God are so joined together in Christ, that as they depend on one head, so they are as it were compacted into one body, being knit together like its different members; made truly one by living together under the same Spirit of God in one faith, hope, and charity, called not only to the same inheritance of eternal life, but to participation in one God and Christ.**92
Sekalipun Calvin berbicara mengenai gereja yang tidak kelihatan, ia tidak mengabaikan berbicara tentang manifestasinya yang kelihatan, tentang jemaat lokal. Ia juga memberi perhatian besar untuk memperlihatkan karakternya yang visibel, yang ditandai terutama sekali dengan kesatuan:
This article of the Creed relates in some measure to the external Church, that every one of us must maintain brotherly concord with all the children of God, give due authority to the Church and, in short, conduct ourselves as sheep of the flock. And hence the additional expression, the "communion of the saints;"...just as it had been said, that saints are united in the fellowship of Christ on this condition, that all the blessings which God bestows upon them are mutually communicated to each other.**93
Tetapi kesatuan ini, agar terpelihara, harus diikat dengan aturan yang telah ditentukan Allah**94 dan dengan kebenaran doktrin ilahi.**95 Hal ini mungkin memberi kita suatu kesan bahwa Calvin adalah seorang pendeta yang tidak fleksibel. Namun bagaimanapun juga ia mengakui bahwa ketidaksempurnaan bisa timbul di dalam pemberitaan Injil dan pelaksanaan sakramen-sakramen. Ia membuat perbedaan antara doktrin-doktrin yang fundamental dengan yang sekunder (adiaphora), dan menyatakan bahwa semuanya ini tidak memiliki nilai yang sama**96. Semua perbedaan minor ini dalam cara apapun seharusnya tidak dijadikan alasan untuk mengabaikan gereja atau untuk menciptakan kelompok lain. "what I say is, that we are not on account of every minute difference to abandon a church, provided it retain sound and unimpaired that doctrine in which the safety of piety consists."**97 Ia juga tidak merekomendasikan agar seseorang meninggalkan gereja karena adanya penyelewengan moral di antara para anggotanya. "Kita terlalu sombong bila kita dengan segera membenarkan diri untuk keluar dari persekutuan gereja, karena kehidupan semua orang tidak sesuai dengan penilaian kita, atau bahkan dengan pernyataan Kristen."**98

Dari presentasi pandangan Calvin mengenai gereja dan kesatuannya, jelaslah bahwa perbedaan-perbedaan antara para Reformator dan gereja Roma pada hakikatnya bersifat fundamental, dan bahwa natur dari Reformasi pada dasarnya bersifat pembaharuan. Tetapi Calvin juga banyak berbicara menentang denominasionalisme dan fundamentalisme yang kaku, yang begitu tidak fleksibelnya sehingga hanya karena ketidaksepakatan doktrinal yang minor dan bahkan karena konflik- konflik pribadi, mereka memecah-belah atau memisahkan diri dari gereja. Boleh dibilang Calvin adalah seorang injili yang ekumenikal.



Catatan Kaki (Bag. 1):
  1. Ibid. 52. Bdk. "Confession of Faith in the Name of the Reformed Churches of France" dalam Tracts and Treatises 2.150-152; Institutes IV.iii.6.
  2. Ibid. 54.
  3. Ibid. 174. Bdk. Institutes IV.iii.10-12.
  4. Ibid. 170. Bdk. Institutes IV.ii.3.
  5. Ibid. 172.
  6. Ibid. 171.
  7. Institutes IV.ii.1-3.
  8. Tracts and Treatises 1.172. Bdk. Institutes IV.v.2. Pada zaman sebelum Calvin, pemerintah dan masyarakat memiliki kekuasaan dalam pengangkatan dan penolakan pejabat gerejawi.
  9. Ibid. 170.
  10. Ibid. 140.
  11. Ibid. 172. Bdk. 197, 198, 203, 204, 219; Institutes IV.v.1.
  12. Ibid. 170, 171, 204, 205. Bdk. "On Ceremonies and the Calling of the Ministers" dalam Calvin Ecclesiastical Advice (tr. Mary Beaty & Benjamin W. Farley; Louisville: Westminster/John Knox, 1991) 90,91.
  13. Ibid. 174, 175.
  14. Ibid. 174. Bdk. Institutes IV.iii.16.
  15. Ibid. 173.
  16. Ibid. 38.
  17. Ibid. 37-39, 48, 49, 66. Calvin sering menyebut bapa-bapa gereja untuk menyangkal tuduhan bahwa pengajaran para Reformator itu adalah inovasi-inovasi dan merupakan sesuatu yang baru. Ia tidak hanya yakin bahwa bapa-bapa gereja ada di pihaknya, tetapi ia juga yakin bahwa mereka adalah oposisi bagi gereja Roma sekarang. Untuk studi yang lebih jelas mengenai Calvin dan bapa-bapa gereja, lihat Anthony N. S. Lane, John Calvin: Student of the Church Fathers (Grand Rapids: Baker, 1999)
  18. Ibid. 49. Suatu pembelaan yang lebih singkat terhadap tuduhan skisma itu tetapi dalam konteks berbeda diberikan dalam "On Book One (of Pighius)" dalam The Bondage and Liberation of the Will: A Defense of the Orthodox Doctrine of Human Choice Against Pighius (ed. A. N. S. Lane; tr. G. I. Davies; Grand Rapids: Baker, 1996) 7-34. Karya itu (1543) adalah respons Calvin terhadap karya Albert Pighius, Ten Books on Human Free Choice and Divine Grace (1542), yang merupakan evaluasi atas Institutesnya Calvin (edisi 1539), khususnya bab 2 dan 8: "The Knowledge of Humanity and Free Choice," dan "The Predestination and Providence of God" secara berturut-turut.
  19. Ibid.
  20. Ibid.
  21. Ibid.
  22. Bdk. Institutes IV.ii.2.
  23. Tracts and Treatises, 1.59.
  24. Ibid. 60. Bdk. Institutes IV.ii.9, 10.
  25. Ibid. Bdk. Institutes IV.ii.10.
  26. Ibid. 67.
  27. Ibid. 63. Bdk. Institutes IV.ii.5
  28. Ibid.
  29. Ibid. 68.
  30. Tracts and Treatises 1.71.
  31. Ibid. 73. Bdk. Institutes IV.ii.10; IV.viii.5.
  32. Ibid. 102. Bdk. Institutes IV.viii.7.
  33. Ibid.
  34. Ibid.Bdk. G. C. Berkouwer, "Calvin and Rome" 185. Berkouwer menganggap pertanyaan mengenai otoritas gereja sebagai isu utama terhadap apa yang diarahkan Calvin dalam polemik-polemiknya.
  35. Ibid. 104.
  36. Ibid.
  37. Ibid. 106. Bdk. Institutes IV.xii.5.
  38. Ibid.
  39. Ibid. 108. Bdk. Institutes IV.viii.10,11;IV.ix.1-4. Dalam The Necessity of Reforming the Church and Canon and Decrees of the Council of Trent, with the Antidote, Calvin tidak melihat adanya pengharapan di dalam konsili yang bersidang atas inisiasi Paus. Dalam traktatnya yang pertama ia menyerukan kepada kaisar Charles V agar mengadakan konsili persidangan propinsi, yang memiliki preseden sejarah. "Sesering bidat-bidat baru muncul, ataupun gereja diganggu oleh beberapa perselisihan, bukankah merupakan suatu kebiasaan untuk segera mengadakan persidangan sinode secara propinsi, sehingga gangguan itu kemudian dapat diakhiri? Tidak pernah menjadi suatu kebiasaan untuk lagi-lagi mengadakan konsili umum sampai suatu cara lain telah diusahakan" (Tracts and Treatises 1.223). Di dalam pendahuluan antidotnya terhadap konsili Trent, Calvin memunculkan pertanyaan-pertanyaan serius mengenai persidangan dari konsili itu. Ia mengangkat pertanyaan mengenai masalah waktu, komposisi Trent, prosedur-prosedur, dan tujuannya. Menyadari bahwa Paus telah menentukan semua hal ini sebelumnya, Calvin membuang semua harapan akan adanya Reformasi di gereja Roma. "Apakah ini? Seluruh dunia mengharapkan adanya sebuah konsili di mana butir-butir yang bertentangan bisa tetap didiskusikan. Orang-orang ini mengakui bahwa mereka hadir tidak lain hanya untuk menghakimi apapun yang tidak sesuai dengan pikiran mereka. Dapatkah seseorang tetap sedemikian bodohnya dengan berpikir untuk mendapat bantuan atas kesusahan-kesusahan kita dari suatu konsili?" (Tracts and Treatises 3.39). Hal yang sama diungkapkan dalam artikel "If Christians Can be Given a Plan for a General Council" dalam Calvin's Ecclesiastical Advice 46-48.
  40. Ibid. 110. Bdk. "Confession of Faith in the Name of the Reformed Churches of France" dalam Tracts and Treatises 2.150, 151; Institutes IV.vi.10.
  41. Bdk. Institutes IV.vi.4.
  42. Ibid. 111. Bdk. Institutes IV.vi.1, 3, 6
  43. Ibid. 112. Bdk. Institutes IV.ii.6;IV.iv.16, 17.
  44. Ibid. Bdk. "The Necessity" 218, di mana Calvin menentang keutamaan Paus berdasarkan pada pemikiran apakah gereja Roma adalah gereja sejati dan apakah Paus adalah uskup yang benar. Demi kepentingan argumentasi jika kita mengatakan "bahwa keutamaan itu adalah dicurahkan secara ilahi pada keuskupan Roma, dan telah didukung oleh persetujuan bersama dari gereja mula-mula; kendati demikian keutamaan ini hanya mungkin jika Roma memiliki gereja dan juga uskup yang sejati. Karena penghormatan terhadap kursi jabatan tersebut tidak bisa tetap bertahan setelah kursi jabatan itu tidak ada lagi."
  45. Institutes IV.i.5.
  46. Ibid.IV.i.2. Bdk."Cathechism of the Church of Geneva" (1541, 1545) dalam Tracts and Treatises 2.50, 51.
  47. Ibid.IV.i.3.
  48. Ibid.IV.i.5.
  49. Ibid.IV.i.9.
  50. Ibid.IV.i.12.
  51. Ibid.
  52. Ibid.IV.i.18.


Sumber: 

Sumber diambil dari:


Judul Buku : Veritas Vol. 3/1 (April 2002)
Judul Artikel : Calvin dan Tuduhan Skisma Dari Katolik Roma Terhadap
Para Reformator: Sebuah Studi Tentang Kesatuan Gereja
Penulis : Hidalgo B. Garcia
Penerjemah : -
Penerbit : SAAT, Malang (2002)
Halaman : 48 - 59

Calvin dan Tuduhan Skisma dari Katolik Roma Terhadap Para Reformator: Sebuah Studi Tentang Kesatuan Gereja (Bag. 1)

Dear e-Reformed Netter,

Seperti yang Anda ketahui pada akhir Oktober nanti kita akan merayakan HARI REFORMASI GEREJA, jadi saya sengaja pilihkan artikel yang sesuai untuk menyambut hari besar gereja itu. Judulnya adalah:

CALVIN DAN TUDUHAN SKISMA DARI KATOLIK ROMA TERHADAP PARA
REFORMATOR: SEBUAH STUDI TENTANG KESATUAN GEREJA
oleh: HIDALGO B. GARCIA

Namun karena artikel ini sangat panjang maka akan bagi menjadi dua bagian. Bagian pertama akan saya kirimkan untuk Publikasi e-Reformed edisi September 2003 (maaf, baru dikirim awal Oktober 2003). Sedangkan bagian kedua akan saya kirimkan sebagai edisi akhir Oktober 2003. Semoga bahan ini bisa memperluas pemahaman kita tentang pandangan para Reformator, khususnya pandangan John Calvin tentang Kesatuan Gereja. Kiranya menjadi berkat.

In Christ,

Editorial: 

Dear e-Reformed Netter,

Seperti yang Anda ketahui pada akhir Oktober nanti kita akan merayakan HARI REFORMASI GEREJA, jadi saya sengaja pilihkan artikel yang sesuai untuk menyambut hari besar gereja itu. Judulnya adalah:

CALVIN DAN TUDUHAN SKISMA DARI KATOLIK ROMA TERHADAP PARA
REFORMATOR: SEBUAH STUDI TENTANG KESATUAN GEREJA
oleh: HIDALGO B. GARCIA

Namun karena artikel ini sangat panjang maka akan bagi menjadi dua bagian. Bagian pertama akan saya kirimkan untuk Publikasi e-Reformed edisi September 2003 (maaf, baru dikirim awal Oktober 2003). Sedangkan bagian kedua akan saya kirimkan sebagai edisi akhir Oktober 2003. Semoga bahan ini bisa memperluas pemahaman kita tentang pandangan para Reformator, khususnya pandangan John Calvin tentang Kesatuan Gereja. Kiranya menjadi berkat.

In Christ,
Yulia

Penulis: 
Hidalgo B. Garcia
Edisi: 
043/IX/2003
Isi: 

Calvin bisa dianggap sebagai seorang pemimpin gereja yang ekumenikal. Namun, dalam kebanyakan studi tentang sikap ekumenikal Calvin, mau tidak mau kita merasakan adanya prasuposisi yang tidak semestinya, yang tidak berhubungan dengan situasi aktual abad keenam belas dan tujuh belas. Mungkin sulit diperlihatkan sampai sejauh mana sikap seseorang terhadap gerakan ekumenikal saat ini mempengaruhi kesimpulannya tentang ekumenisme para Reformator. Studi-studi ekumenikal merupakan subjek persoalan yang sensitif dan melibatkan loyalitas subjektif yang tidak selalu diakui secara terbuka.

Masalah subjektivitas ini merupakan problem metodologis dalam studi mengenai ekumenisme Calvin. Sebelum melakukan pendekatan secara objektif mengenai posisinya terhadap gereja Katolik Roma, pertama- tama kita harus menyadari prasuposisinya yang mendasar dan harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat. Menurut saya, dari perspektif para Reformator, terutama Calvin, pertanyaannya bukanlah apakah seharusnya ada reuni dengan gereja Roma, tetapi, dengan cara bagaimana gereja itu bisa direformasi ke dalam keadaannya yang lebih murni. Ia tidak ragu-ragu mengatakan bahwa gereja Roma telah kehilangan status privilesenya sebagai gereja sejati.

Richard Stauffer, menurut hemat saya, melakukan pendekatan yang tepat terhadap posisi Calvin berkenaan dengan gereja Roma. Ia mengatakan bahwa kita harus kembali ke latar belakang polemik-polemik abad ke-16 untuk memahami pemosisian Calvin tentang Reformasi berkaitan dengan gereja Roma. "Dalam pandangan Reformator Jenewa itu, sesungguhnya hal itu merupakan masalah pembedaan antara gereja yang sejati dan yang palsu.".**1 Ia bersikeras bahwa hanya ada satu gereja yang katolik dan kudus dan bahwa para Reformator tidak sedang menciptakan gereja yang lain. Baginya, maksud dari Reformasi adalah untuk mereformasi gereja Roma, bukannya membentuk gereja yang lain. Ia mengakui bahwa jemaat-jemaat Protestan memang telah muncul sebagai akibat dari Reformasi, namun semuanya ini merupakan bagian atau ekspresi dari gereja katolik yang satu dan kudus, dan itu tidak dapat menghalangi seseorang dari persekutuan dengan orang-orang Kristen dari komunitas persekutuan lainnya. Dengan kata lain, bagi Calvin, denominasionalisme sebagaimana yang kita kenal sekarang merupakan sebuah anomali. Seharusnya ada partisipasi penuh dan pengakuan mutual serta penerimaan terhadap orang-orang Kristen dari jemaat manapun. Calvin bahkan akan mengingkari gagasan tentang "Calvinisme." Dalam kesemuanya ini, baik pendiriannya terhadap gereja Roma maupun relasinya dengan gereja-gereja Protestan, ia memperlihatkan bahwa maksud dari Reformasi adalah untuk merestorasi gereja katolik yang satu dan kudus itu ke dalam keadaan yang lebih murni. Menurut saya, setiap studi tentang sikap ekumenisme Calvin seharusnya bertolak dari maksud Reformasi ini.

Para sarjana baru-baru ini cenderung terfokus pada pertanyaan tentang apakah Calvin melakukan separasi atau mengupayakan kesatuan dengan gereja Roma. Jean Cadier**2 dan Martin Klauber**3, misalnya, yakin bahwa posisi Calvin adalah separasi dengan gereja Roma. Menurut saya, "separasi" bukanlah kategori yang tepat karena mengandung ambiguitas tertentu di dalamnya. Sebagaimana akan kita lihat yang terlibat adalah soal-soal yang lebih dalam daripada separasi dan Calvin bersikeras bahwa para Reformator bukanlah skismatik. Cadier menyebut konferensi-konferensi dengan Katolik Roma di mana Calvin berpartisipasi dengan begitu aktif. Jika pendirian Calvin terhadap gereja Roma pada intinya adalah separasi, satu pertanyaan perlu diajukan, biar bagaimanapun mengapa ia mau berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan seperti itu? Di sisi lain, pengakuan iman fundamental yang dipresentasikan Klauber, dapat, dan seharusnya, dilihat dengan cara berbeda, bukan hanya "sebagai basis untuk usaha persatuan eklesiastikal di antara berbagai kubu Protestan,"**4 namun juga sebagai dasar untuk diskusi dengan orang-orang Katolik.

Ada sekelompok sarjana lain**5 yang lebih positif memandang relasi Calvin dengan gereja Roma, dan mereka percaya bahwa meski Calvin bersikap nonkompromis dalam keyakinan teologisnya, namun ia tetap mengharapkan kesatuan gereja-gereja, termasuk gereja Roma. John T. McNeil memberikan analisa historis yang baik mengenai usaha-usaha ekumenikal Calvin dan menyimpulkan bahwa ia tidak akan mengalah untuk apa yang ia anggap sebagai kebenaran hakiki, demi memperoleh kedamaian di antara gereja dan menegakkan kebersamaan di antara mereka. Namun McNeil juga setuju dengan kebanyakan sarjana Calvin bahwa ia akan menyambut dengan senang hati setiap kesempatan berunding guna membentuk relasi maksimum dengan setiap gereja, termasuk gereja Roma.**6 I. John Hesselink tiba pada kesimpulan serupa dengan McNeill, meskipun melalui pendekatan berbeda.

Menurut Robert M. Kingdon, posisi Calvin bersifat terbuka dan sikap ini bisa ia pakai sebagai pendekatan ekumenikal. Kingdon mengakui adanya kesepakatan antara Katolikisme Tridentine dan Protestantisme Ortodoks dan ini dapat dipelajari oleh semua orang yang berusaha memahami kepedulian Protestan yang dalam, agar semua doktrin Kristen terkokoh berdasar pada Alkitab.**7 Theodore W. Casteel melihat reaksi Calvin terhadap konsili Trent dalam konteks pemikiran konsiliar sang Reformator. Ia menyimpulkan, "Reformator Jenewa itu melihat harapan terbaik akan adanya rekonsiliasi dalam sebuah konsili yang benar-benar ekumenikal--sebuah proyek yang ia perjuangkan hingga akhir hidupnya.**8

Pada dasarnya saya mengikuti kelompok kedua yang berpendapat bahwa Calvin bersikap nonkompromi dalam keyakinannya, kendati demikian ia tetap mengharapkan reformasi gereja Roma yang akan mengarah pada kesatuan. Saya akan mencoba menunjukkan hal ini dengan cara yang belum pernah ditempuh sebelumnya, yakni, menganalisa jawaban Calvin terhadap tuduhan Katolik Roma bahwa para Reformator adalah skismatik. Artikel ini berisi sebagai berikut: tuduhan skismatik dari Katolik Roma terhadap para Reformator, pemahaman Katolik Roma tentang kesatuan, respons Calvin atas tuduhan skisma, dan akhirnya, pada bagian kesimpulan, pengertian Calvin tentang kesatuan gereja, yang diintisarikan dari responsnya terhadap tuduhan skisma dan dari Institutes. Yang pertama dari tiga bagian ini akan diambil terutama dari traktat-traktat dan risalah-risalah yang berhubungan langsung dengan polemik-polemik Calvin-Roma Katolik.**9 Semua isu yang dipresentasikan dalam artikel ini, tentu saja, terdapat dalam Institutes, dan dengan demikian, saya akan mengutip bagian-bagian Institutes yang paralel dan relevan pada catatan kaki.

TUDUHAN SKISMA ROMA KATOLIK

Tuduhan skisma yang paling menonjol terdapat dalam surat yang ditulis oleh uskup Roma, Sadoleto, kepada senat dan masyarakat Jenewa (1539). Melalui surat ini, ia memanfaatkan kesempatan dalam peristiwa pengusiran Calvin dari Jenewa untuk membujuk penduduk Jenewa agar kembali ke sisi gereja Roma. Ia menggambarkan para Reformator sebagai musuh-musuh kesatuan dan kedamaian Kristen, yang menabur benih-benih perselisihan, dan membuat jemaat Kristus yang setia berbalik dari jalan bapa-bapa dan para leluhur mereka.**10 Ia membandingkan mereka seperti abses, "by which some corrupted flesh being torn off, is separated from the spirit which animates the body, and no longer belongs in substance to the body Ecclesiastic."**11 Paus Paulus III dalam suratnya kepada kaisar Charles V (1544) melukiskan para Reformator sebagai pengacau yang senang dengan pertikaian: "Nay, they rather entirely deprive the Church of all discipline, and of all order, without which no human society can be governed."**12

Sadoleto, dalam surat yang sama, meragukan ajaran-ajaran para Reformator sebab ajaran itu merupakan inovasi yang baru tercipta, yang usianya baru 25 tahun. Ia mengagungkan kemuliaan usia gereja Katolik Roma yang menurutnya telah hadir selama lebih dari 1500 tahun dan mengklaim bahwa bapa-bapa leluhur gereja berada di pihaknya. Klaim atas otoritas bapa-bapa leluhur gereja merupakan salah satu pokok persengketaan dalam polemik Calvin-gereja Roma. Bagi Sadoleto, yang menjadi soal perdebatan adalah apakah ia harus mengikuti gereja Katolik Roma kuno ataukah membenarkan para pendatang baru yang skismatik itu. "Inilah tempatnya, saudara yang terkasih, inilah jalan raya di mana jalan itu terbagi ke dua arah, yang satu mengarah pada kehidupan, dan yang lain pada kematian abadi."**13 Ini merupakan seruan kepada orang Katolik untuk memisahkan diri dari para Reformator, sebuah seruan yang semata-mata dibuat berdasar pada otoritas gereja dan tradisi yang diwarisi dari para orang tua. Dasar seruan ini dibuat menjadi lebih eksplisit melalui gambaran Sadoleto tentang dua pilihan atau dua cara, dengan menghadirkan dua orang yang diuji di hadapan Allah. Orang pertama, anggap saja seorang Katolik yang setia, akan mengakui imannya berdasar otoritas gereja Katolik dengan semua hukum, nasihat dan dekritnya. Ia tampil di hadapan Allah berdasar pada ketaatannya pada gereja bapa-bapanya dan bapa-bapa leluhurnya. Dalam pengakuannya itu terefleksikan tuduhan tanpa bukti terhadap para Reformator:

And though new men had come with the Scripture much in their mouths and hands, who attempted to stir some novelties, to pull down what was ancient, to argue against the Church, to snatch away and wrest from us the obedience which we all yielded to it, I was still desirous to adhere firmly to that which had been delivered to me by my parents, and observed from antiquity, with the consent of most holy and most learned Fathers.**14

Kesetiaan kepada gereja merupakan definisi dari hierarki Katolik tentang orang Kristen yang baik, karena di dalam gerejalah keselamatan kekal seseorang yang setia paling terjamin. Paulus III dalam surat tersebut di atas menasihati kaisar Charles V untuk tidak memberi kelonggaran pada kelompok Protestan dan tetap berpegang pada otoritas gereja:

But, dear son, everything depends on this, that you do not allow yourself to be withdrawn from the unity of the Church, that you do not backslide from the custom of the most religious Princes, your forefathers, but in everything pertaining to the discipline, order, and institutions of the Church, pursue the course by which you have, for many years, given the strongest proofs of heart-felt piety.**15

Selanjutnya, Sadoleto menggambarkan orang yang lain, anggaplah mewakili para Reformator, sebagai seorang yang iri dan dengki pada kekuasaan dan privilese hierarki Roma. Kegagalan para Reformator untuk berbagi kekayaan eklesiastikal telah menggerakkan mereka untuk menyerang gereja dan, "induced a great part of the people to contemn those rights of the Church, which had long before been ratified and inviolate."**16 Ia menuduh mereka semata-mata memberontak pada otoritas konsili, bapa-bapa gereja, para Paus Roma dan tradisi- tradisi.**17 Impresi yang ingin ia bentuk ialah bahwa pemberontak Reformed itu mengklaim mereka tahu lebih banyak dari ajaran-ajaran kuno. Tetapi rasa frustasi karena gagal untuk mengubah gereja akhirnya membuat mereka memecah-belahnya. Pernyataan terakhir sang Reformator yang merasa tidak puas itu, seperti digambarkan oleh Sadoleto, mengatakan demikian:

Having thus by repute for learning and genius acquired fame and estimation among the people, though, indeed, I was not able to overturn the whole authority of the Church, I was, however, the author of great seditions and schisms in it.**18

Di samping itu, tuduh Sadoleto, para Reformator bukan saja memecah gereja tetapi juga mengoyak-ngoyaknya. Ia mengamati bahwa sejak masa Reformasi sekte-sekte berkembang biak. "Sects not agreeing with them, and yet disagreeing with each other--a manifest indication of falsehood, as all doctrine declares."**19. Pemecahan dan pengoyakan gereja yang kudus itu, menurutnya, sepatutnya adalah pekerjaan setan, bukan pekerjaan Allah.

PEMAHAMAN KATOLIK ROMA MENGENAI KESATUAN

Tuduhan skisma yang sama dilakukan dalam Adultero-German Interim (1548),**20 meskipun tidak langsung seperti dalam surat-surat Sadoleto dan Paulus III. Menurut dekrit imperial ini ada dua tanda yang membedakan gereja dari kawanan skismatik dan bidat, yaitu kesatuan dan katolisitas. Di sini kesatuan dijabarkan sebagai ikatan kasih dan damai yang mempersatukan anggota-anggota gereja bersama-sama.**21 Perhatikan bahwa dalam kesatuan tersebut tidak disebutkan adanya fondasi doktrinal dan spiritual, kecuali ketaatan yang mutlak terhadap ajaran dan disiplin gereja. Lebih jauh lagi, gereja Roma menyombongkan diri sebagai katolik melalui klaimnya atas ekspansi geografis dan temporal serta suksesi apostolik: "diffused through all times and places, and through means of the Apostles and their successors, continued even to us, being propagated by succession even to the ends of the earth, according to the promises of God."**22 Skismatik dan bidat-bidat, sebagaimana dituduhkan kepada para Reformator, "break the bond of peace, and to their own destruction deprive themselves of Catholic union, while they prefer their own party to the whole universal Church."**23. Untuk memelihara kesatuan dan integritas gereja Katolik seseorang harus tunduk pada otoritasnya dengan kerendahan dan ketaatan. Sadoleto mengungkapkan sikap demikian:

For we do not arrogate to ourselves anything beyond the opinion and authority of the Church; we do not persuade ourselves that we are wise above what we ought to be; we do not show our pride in contemning the decrees of the Church; we do not make a display among the people of towering intellect or ingenuity, or some new wisdom; but (I speak of true and honest Christians) we proceed in humility and in obedience, and the things delivered to us, and fixed by the authority of our ancestors, (men of the greatest wisdom and holiness) we receive with all faith, as truly dictated and enjoined by the Holy Spirit.**24

Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa bagi gereja Roma makna kesatuan tidak lain dari sikap tunduk, yang menjadi dasar klaim infalibilitas dan otoritas gereja. Terhadap dasar inilah sekarang kita beralih.

Kesatuan gereja, menurut Katolik Roma, bertumpu pada infalibilitasnya. Hal ini terungkap jelas dalam Articles Agreed Upon by the Faculty of the Sacred Theology of Paris (1542).**25 Artikel XVIII menyatakan:

Every Christian is bound firmly to believe, that there is on earth one universal visible Church, incapable of erring in faith and manners, and which, in things which relate to faith and manners, all the faithful are bound to obey.**26

Dari artikel ini jelas terbukti bahwa otoritas gereja merupakan otoritas hierarki. Hierarki disamakan dengan gereja yang visibel dan infalibel. Karena visibilitas gereja didasarkan atas visibilitas hierarki, maka yang belakangan juga dianggap infalibel. Bukti kedua untuk infalibilitas hierarki (dan karena itu, otoritasnya juga) ialah suksesi yang terus-menerus dari Petrus. Karena doktrin inilah apapun yang telah ditentukan gereja Roma bersifat otoritatif. Hal ini juga didukung oleh klaim bahwa gereja dipimpin langsung oleh Roh Kudus, karena Roh Kudus tidak bisa salah, maka gereja pun demikian.**27

Infalibilitas gereja merupakan dasar otoritas gereja, dan menjadi perisai yang tak terkalahkan yang melindungi gereja dari serangan musuh-musuhnya, seperti dinyatakan oleh artikel XVII. Di atas dasar inilah bertumpu doktrin-doktrin dan kekuatan gereja. Artikel-artikel berikut**28 memperlihatkan otoritas infalibel gereja yang berakar dari artikel XVIII yang mendahuluinya:

Article XIX: That to the visible Church belongs definitions in doctrine. If any controversy or doubt arises with regard to any thing in the Scriptures, it belongs to the foresaid Church to define and determine.

Article XX: It is certain that many things are to be which are not expressly and specially delivered in the sacred Scriptures, but which are necessarily to be received from the Church by tradition.

Article XXI: With the same full conviction of its truth ought it to be received, that the power of excommunicating is immediately and of divine right granted to the Church of Christ, and that, on that account, ecclesiastical censures are to be greatly feared.

Article XXII: It is certain that a General Council, lawfully convened, representing the whole Church, cannot err in its determination of faith and practice

Article XXIII: Nor is it less certain that in the Church militant there is, by divine right, a Supreme Pontiff whom all christians are bound to obey, and who, indeed, has the power of granting indulgences.

Semua artikel iman ini dimaksudkan untuk memelihara kesatuan gereja, yang menurut pemahaman hierarki gereja Roma, berdasar pada infalibilitas dan otoritasnya. Calvin menolak semua ini dalam polemik- polemiknya dengan gereja Roma. Sebelum kita melihat penolakannya terhadap artikel-artikel iman Paris ini, kita akan menganalisa responsnya atas tuduhan skisma dari hierarki Katolik Roma.

FIRMAN ALLAH DAN GEREJA: RESPONS CALVIN TERHADAP TUDUHAN SKISMA

Isu mendasar berkaitan dengan tuduhan skisma ialah pemahaman tentang gereja. Pada prinsipnya Calvin sependapat dengan Sadoleto bahwa tidak ada yang lebih membahayakan bagi keselamatan kita daripada ibadah yang sia-sia dan menentang aturan Allah. Ia menganggap prinsip ini sebagai batu loncatan bagi pembelaannya atas tuduhan Sadoleto. Namun pertanyaannya, menurut Calvin, dari dua pihak ini manakah yang memelihara ibadah yang benar pada Allah? Bagi Sadoleto, tulis Calvin, ibadah yang benar adalah seperti yang ditentukan oleh gereja. Namun, ia mengajukan sebuah pertanyaan serius sehubungan dengan penggunaan kata "gereja" oleh Sadoleto dan para pengikut Paus. Ia menuduh Sadoleto memiliki delusi tentang istilah "gereja," atau paling tidak, secara sadar ia memberikan keterangan yang tampaknya mengesankan tetapi palsu. Dalam the Necessity of Reforming the Church, ia mendesak audiensinya untuk tidak merasa takut terhadap penggunaan kata "gereja" oleh para pengikut Paus.**29 Para nabi dan rasul telah berjuang melawan "gereja pura-pura" pada masa mereka. Mereka juga dituduh telah menghina kesatuan gereja. Namun pertanyaannya, gereja yang mana? Bagi Calvin tidaklah cukup hanya menggunakan nama gereja seperti yang dilakukan para pengikut Paus yang berusaha mengejutkan orang-orang dengan memutarbalikkan istilah gereja. "Penilaian harus dilakukan untuk memastikan yang mana gereja sejati, dan apa natur kesatuannya."**30

Menurutnya, ada dua tanda gereja yang sejati, yakni pemberitaan firman yang setia dan pelaksanaan sakramen yang tepat. Berkaitan dengan kesatuan gereja maka hal yang pertama-tama perlu diperhatikan adalah berhati-hati supaya gereja tidak terpisah dari Kristus, Kepalanya.**31 Ia menjabarkan apa yang ia maksud dengan Kristus, "Ketika saya mengatakan Kristus, maka termasuk dalam pengertiannya adalah doktrin-Nya yang Ia meteraikan dengan darah-Nya."**32 Melalui kesatuan antara gereja dan Kristus inilah Calvin menyangkal tuduhan bahwa ia dan para Reformator tidak sependapat dengan gereja.**33 Tuduhan skisma harus dianggap sebagai ketaatan kepada Kristus lebih dari ketaatan kepada gereja Roma. Dalam The Method of Giving Peace to Christendom and Reforming the Church, Calvin, mengutip Hilary, berkeyakinan bahwa satu-satunya kedamaian gereja ialah yang berasal dari Kristus. Ikatan kedamaian adalah kebenaran Injil.**34 Implikasi kesatuan itu diekspresikan demikian: "Wherefore, if we would unite in holding a unity of the Church, let it be by a common consent only to the truth of Christ."**35 Selanjutnya, dalam Remarks on the Letter of Pope Paul III (to the Emperor Charles V), ia mengusulkan sebuah pembedaan antara gereja yang sejati dan yang palsu berdasar pada kesetiaan kepada Kristus, yang merupakan dasar kesatuan.

Let Farnese (Pope) then show that Christ is on his side, and he will prove that unity of the Church is with him. But seeing it is impossible to adhere to him without denying Christ, he who turns aside from him makes no departure from the Church, but discriminates between the true Church and a church adulterous and false.**36

Calvin menekankan firman Allah dalam pemahamannya tentang gereja. Yang ia maksud dengan gereja ialah, "from incorruptible seed begets children for immortality, and, when begotten, nourishes them with spiritual food (the seed and food being the Word of God)."**37 Tempat bagi firman Allah adalah sesuatu yang hilang dalam pengertian gereja Roma. Kepada Sadoleto ia menyatakan,

In defining the term, you omit what would have helped you, is no small degree, to the right understanding of it. When you describe it as that which in all parts, as well as at the present time, in every region of the earth, being united and consenting in Christ, has been always and every where directed by the one Spirit of Christ, what comes of the Word of the Lord, that clearest of all marks, and which the Lord himself, in pointing out the Church, so often recommends to us? For seeing how dangerous it would be to boast of the Spirit without the Word, he declared that the Church is indeed governed by the Holy Spirit, but in order that that government might be not be vague and unstable, he annexed it to the Word of God.**38

Bagi Calvin, Roh dan firman tidak dapat dipisahkan. "Learn, then by your own experience, that it is no less unreasonable to boast of the Spirit without the Word, than it would be absurd to bring forward the Word itself without the Spirit."**39 Dengan prinsip ini, ia memberikan definisi yang lebih tepat tentang gereja, yaitu "sebuah kumpulan dari semua orang kudus, sebuah kumpulan yang menyebar ke seluruh dunia dan hadir di sepanjang zaman, namun terikat bersama- sama oleh satu doktrin, dan satu Roh Kristus, yang mempererat dan memelihara kesatuan iman dan harmoni persaudaraan."**40 Dari definisi ini ia kemudian membuat klaim yang pasti tentang kesatuan: "With this Church we deny that we have any disagreement. Nay, rather, as we revere her as our mother, so we desire to remain in her bosom."**41 Calvin menyatakan bahwa para Reformator menganggap kesatuan gereja sebagai sesuatu yang kudus dan mereka menyampaikan kutuk terhadap semua orang yang dengan cara apapun melanggarnya.**42 Ia memahami kesatuan gereja sebagai sesuatu yang berakar dari prinsip Kitab Suci, "satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua." Ia mencirikan iman dengan mengatakan, "Lebih jauh, kita harus ingat apa yang dikatakan dalam perikop lain, 'bahwa iman datang dari firman Allah.' Karena itu, biarlah itu menjadi poin yang pasti bahwa kesatuan yang kudus hadir di antara kita, ketika kita sepakat dalam doktrin yang murni kita dipersatukan dalam Kristus saja."**43 Syarat kedamaian adalah "Kebenaran Allah yang murni, suara dari Sang Gembala semata," sedangkan "terhadap suara orang-orang asing penjaga menentang dan menolaknya."**44 Melalui hal ini ia menekankan kesepakatan doktrinal lebih dari sekadar ketaatan eksternal kepada gereja. Ia memberikan komentar terhadap perkataan Paulus di Efesus 4:12-15:

Could he [Paul] more plainly comprise the whole unity of the Church in a holy agreement in a true doctrine, than when he calls us back to Christ and to faith, which is included in the knowledge of him, and to obedience to the truth?**45

[Bersambung -- ke Publikasi e-Reformed yang akan terbit pada akhir Oktober 2003.]



Catatan Kaki (Bag. 1):
  1. The Quest for Church Unity from John Calvin to Isaac d'Huisseau (Allison Park: Pickwick, 1986) 3. Pendirian ini dan yang saya anut mirip dengan pendirian Daniel Lucas Lukito dalam artikelnya, "Esensi dan Relevansi Teologi Reformasi," Veritas 2/2 (Oktober 2001) 149-157. Bdk. G. C. Berkouwer, "Calvin and Rome" dalam John Calvin: Contemporary Prophet, A. Symposium (ed. Jacob T. Hoogstra; Grand Rapids: Baker, 1959) 185. Untuk pengertian Calvin mengenai kebenaran, lih. Charles Partee, "Calvin's Polemic: Foundational Convictions in the Service of God's Truth" dalam Calvinus Sincerioris: Calvin as Protector of the Purer Religion (Sixteenth Century Essays and Studies vol. XXXVI; ed. Wilhelm Neuser & Brian G. Armstrong; Kirksville: Sixteenth Century Journal) 97-122.
  2. "Calvin and the Union of the Churches" dalam John Calvin (ed. G. E. Duffield; Grand Rapids: Eerdmans, 1966) 118.
  3. "Calvin on Fundamental Articles and Ecclesiastical Union," Westminster Theological Journal 54 (1992) 342-343.
  4. Ibid. 341
  5. John T. McNeill, "Calvin as an Ecumenical Churchman," Church History 32 (1963) 379 dst. Robert M. Kingdon, "Some French Reactions to the Council of Trent," Church History 33 (1964) 149 dst.; I. John Hesselink, "Calvinus Oecumenicus: Calvin's Vision of the Unity and Catholicity of the Church," Reformed World XXX; Theodore W. Casteel, "Calvin and Trent: Calvin's Reaction to the Council of Trent in the Context of His Conciliar Thought," Harvard Theological Review 63 (1970) 91 dst.
  6. "Calvin as an Ecumenical Churchman" 390-391.
  7. "Some French Reactions" 151.
  8. "Calvin and Trent" 117. Untuk pendapat kontra lih. Robert E. McNally, "The Council of Trent and the German Protestants," Theological Studies 25 (1964) 1-22.
  9. H. Beveridge memberikan introduksi yang baik untuk The Tracts and Treatises on the Reformation of the Church by John Calvin (3 vol.; tr. Henry Beveridge; Grand Rapids: Eerdmans, 1958) v-xli. Referensi selanjutnya bersumber dari buku ini, kecuali jika saya sebutkan lain. Untuk diskusi tentang risalah polemik Calvin, lih. Francis Higman, "I Came Not to Send Peace, But a Sword" dalam Calvinus Sincerioris 123-135.
  10. Tracts and Treatises 1.4,5.
  11. Ibid. 14.
  12. Ibid. 240. Surat Paus Paulus III kepada Charles V (1544) adalah teguran kepada sang kaisar yang memberi kelonggaran, meskipun hanya berupa sedikit keringanan dari tuduhan yang tidak adil kepada kaum Protestan, dan yang telah mengambil yurisdiksi dalam masalah-masalah agama yang berada di luar lingkup jabatannya. Paulus III mengeluh, "the Emperor, in claming illegal jurisdiction, had committed two sins: first, he had presumed, without consulting him, to promise a Council: and secondly, he had not hesitated to undertake an investigation alien to his office" (ibid. 238). Calvin memberi tanggapan yang tajam mengenai surat ini (1544). Ia mengekspos hipokrisi Paus dengan menunjukkan fakta bahwa semua konsili besar gereja pada masa-masa awal diputuskan bukan oleh para Paus atau uskup, tetapi oleh kaisar.
  13. Ibid. 16.
  14. Ibid. 16, 17.
  15. Ibid. 239.
  16. Ibid. 17, bdk. h.5.
  17. Ibid.
  18. Ibid. 18.
  19. Ibid. 19.
  20. Diumumkan secara resmi oleh kaisar Charles V, Interim diduga sebagai rencana kompromis antara orang-orang Katolik dan Protestan selama menunggu keputusan konsili umum. Kecuali artikel-artikel tentang Communion mengenai jenis dan pernikahan para imam, konstitusi imperial itu condong ke arah Katolik Roma. Apa yang dinamakan Common States (negeri-negeri Katolik) yang tetap setia kepada gereja Roma harus terus memelihara ordonansi-ordonansi dan anggaran dasar gereja yang universal, yakni, Katolik Roma, dan States (negeri-negeri protestan) yang telah memeluk apa yang disebut inovasi-inovasi itu diperingatkan untuk menghubungkan diri mereka kembali dengan Common States, dan sepakat dalam memelihara anggaran dasar dan upacara-upacara gereja Katolik yang universal (Tracts and Treatises 3.192).
  21. Ibid. 205.
  22. Ibid.
  23. Ibid.
  24. Tracts and Treatises 1.11.
  25. Sorbonne Theological Faculty pada tahun 1543, dengan otoritas dari Francis I, menyusun dan menerbitkan 25 artikel yang menolak ajaran Reformasi. Calvin menyangkal dan menerbitkan artikel-artikel tersebut pada tahun 1544. Di dalamnya ia memberikan teks dari setiap artikel diikuti dengan komentarnya terhadap artikel tersebut. Dengan status magisterial, artikel-artikel tersebut menentukan bahwa doktrin-doktrin itu mengikat dan harus diajar oleh para doktor dan pendeta dan dipercayai oleh orang-orang yang setia. Bahwa gereja adalah ekuivalen atau di atas Alkitab, terungkap secara eksplisit dalam dokumen ini. "The place ought to have very great authority in the Church; and although our masters are deficient in proofs from Scripture, they compensate the defect by another authority which they have, viz., that of the Church, which is equivalent to Scripture, or even (according to the Doctors) surpassed it in certainty" (ibid. 71, 72).
  26. Ibid. 101.
  27. Ibid. 102.
  28. Ibid. 103-112.
  29. Tracts and Treatises 1.212. "The Necessity of Reforming the Church" dipresentasikan di hadapan Imperial Diet di Spires tahun 1544, menyampaikan sebuah "Supplicatory Remonstrance" kepada kaisar Charles V, sehubungan dengan konsili umum gereja menurut cara gereja mula-mula. Bdk. Institutes IV.ii.2, 4.
  30. Ibid. 213.
  31. Ibid. Dalam Institutes IV.i.2-7, Calvin mengacu pada gereja bukan hanya gereja yang terlihat tetapi juga orang-orang pilihan Allah. Pemilihan sebagai dasar kesatuan gereja bukanlah tema umum dalam polemik-polemiknya dengan gereja Roma. Bdk. Arthur C. Cochrane, "The Mystery of the Continuity of the Church: A Study in Reformed Symbolics," Journal of Ecumenical Studies 2 (1965) 81-96. Cochrane mencatat bahwa menurut pengajaran Reformed misteri kontinuitas gereja terdapat dalam pilihan dan panggilannya, di dalam dan oleh Yesus Kristus.
  32. Ibid.
  33. Bdk. Institutes IV.ii.2.
  34. Tracts and Treaties 3.240. Salah satu traktat terpenting dan serupa isinya dengan "The Necessity of Reforming the Church," "The True Method of Giving Peace to Christendom and of Reforming the Church" (1547), adalah penolakan Calvin terhadap "The Adultero- German Interim."
  35. Ibid. 266.
  36. Tracts anda Treatises 1.259.
  37. Ibid. 214.
  38. Tracts and Treatises 1.35.
  39. Ibid. 37.
  40. Ibid.
  41. Ibid. Bdk. Institutes IV.i.1.
  42. Ibid. 214
  43. Ibid. 215. Bdk. Institutes IV.ii.5.
  44. "The True Method of Giving Peace" dalam Tracts and Treatises 3.242.
  45. Ibid.
Sumber: 

Sumber diambil dari:


Judul Buku : Veritas Vol. 3/1 (April 2002)
Judul Artikel : Calvin dan Tuduhan Skisma Dari Katolik Roma Terhadap
Para Reformator: Sebuah Studi Tentang Kesatuan Gereja
Penulis : Hidalgo B. Garcia
Penerjemah : -
Penerbit : SAAT, Malang (2002)
Halaman : 37 - 59

Gereja; Mau Kemana? Konservatif dan Radikal

Dear e-Reformed Netters,

Selamat bertemu lagi!

Artikel ini saya kutip dari Majalah Momentum yang terbit tahun 1989 yang lalu. Menurut catatan Redaksi dari mana artikel ini diambil, dikatakan bahwa meskipun makalah ini ditulis lebih dari 10 tahun yang lalu (berarti sekarang sudah 24 tahun yang lalu) namun sangat cocok dengan situasi kekristenan di Indonesia sekarang. Saya juga setuju bahwa artikel ini masih cocok dengan situasi kekristenan di Indonesia tahun 2003. Oleh karena itu saya tertarik untuk membagikan artikel ini di milis e-Reformed. Setelah membaca artikel ini marilah kita belajar untuk mementingkan apa yang penting dan tidak mementingkan apa yang tidak penting. Esensi lebih penting dari yang bukan esensi. Nah, apakah esensi dari gereja dan apakah yang tidak esensi dari gereja? Silakan merenungkan artikel ini.

In Christ,

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Selamat bertemu lagi!

Artikel ini saya kutip dari Majalah Momentum yang terbit tahun 1989 yang lalu. Menurut catatan Redaksi dari mana artikel ini diambil, dikatakan bahwa meskipun makalah ini ditulis lebih dari 10 tahun yang lalu (berarti sekarang sudah 24 tahun yang lalu) namun sangat cocok dengan situasi kekristenan di Indonesia sekarang. Saya juga setuju bahwa artikel ini masih cocok dengan situasi kekristenan di Indonesia tahun 2003. Oleh karena itu saya tertarik untuk membagikan artikel ini di milis e-Reformed. Setelah membaca artikel ini marilah kita belajar untuk mementingkan apa yang penting dan tidak mementingkan apa yang tidak penting. Esensi lebih penting dari yang bukan esensi. Nah, apakah esensi dari gereja dan apakah yang tidak esensi dari gereja? Silakan merenungkan artikel ini.

In Christ,
Yulia

Penulis: 
John RW Stott
Edisi: 
042/VIII/2003
Isi: 

Di dalam gereja kontemporer ada dua ekstrim yang tidak seharusnya ada, yaitu aliran konservatif dan aliran radikal. Sebaiknya kita memberikan definisi untuk kedua istilah ini terlebih dahulu. Yang disebut aliran konservatif ditunjukkan kepada sebagian orang yang bertekad untuk memelihara hal-hal yang sudah lewat dan meneruskannya, sehingga menolak perubahan apapun. Sedangkan aliran radikal ditunjukkan kepada sebagian manusia yang melawan tradisi-tradisi yang sudah lampau sehingga senantiasa mencari perubahan di dalam kegelisahan.

Pada tahun 1968 saya mengikuti Sidang Raya IV dari Dewan Gereja Sedunia yang diadakan di Upsala, Swedia sebagai penasehat. Setiba di sana saya mendapatkan bahwa kami semua secara serentak sudah diklasifikasikan, khususnya di dalam surat kabar pada hari itu. Jika bukan dihina dan digolongkan sebagai aliran tradisionil yang konservatif, anti perombakan, pemelihara kondisi sekarang atau aliran tradisionil yang tidak menginginkan kemajuan, maka akan langsung digolongkan dan diterima secara hangat ke dalam aliran radikal yang bersifat perubahan dan revolusionir. Bukankah ini semua merupakan klasifikasi yang tidak berarti sama sekali? Sebenarnya setiap orang Kristen yang seimbang harus berjejak di atas kedua wilayah itu sekaligus. Ijinkan saya memberi penjelasan lebih mendetail mengapa setiap orang Kristen harus sekaligus menjadi konservatif dan juga radikal, khususnya di dalam pengertian tertentu.

Setiap orang Kristen seharusnya bersifat konservatif karena seluruh gereja dipanggil oleh Tuhan untuk memelihara Wahyu-Nya, sehingga boleh memelihara mandat yang diberikan serta mempertahankan kebenaran yang satu kali sudah diberikan kepada orang suci. (Yudas 17: "Ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus"). Tugas gereja bukan menemukan Injil yang baru secara terus menerus atau menemukan teologi baru atau moral baru atau kekristenan yang baru, melainkan menjadi pemelihara yang setia bagi satu-satunya Injil yang bersifat kekal. Wahyu yang diberikan Allah sendiri sudah sempurna di dalam AnakNya Yesus Kristus dan kesaksian- kesaksian rasul-rasulNya terhadap Kristus yang sudah dicatat di dalam seluruh Kitab Suci. Pewahyuan dari diri Allah tidak boleh diubah dengan bentuk dan cara apapun - tidak perduli ditambahkan atau dikurangi- kebenaran dan otoritas Kitab Suci tidak boleh diubah.

Penulis dari buku "Pertumbuhan Dan Persatuan" mengutarakan konsep ini dengan dinamis: "Tugas gereja yang utama adalah memelihara keutuhan Injil. Untuk membicarakan kebiasaan mental ini dengan maksud mengatakan, barang itu memang kuno serta penentang segala pikiran baru, sama sekali bukan maksud kita. Penggemar hal-hal kuno dan penentang pencerahan merupakan kebiasaan buruk orang Kristen, sedangkan konservatifisme merupakan kebajikan orang Kristen."

Namun disesalkan ada sebagian orang Kristen yang tidak hanya membatasi konservatifisme mereka di dalam teologi Alkitabiahnya, tetapi juga dalam hal-hal lain. Bahkan mereka memiliki kepribadian yang konservatif, sehingga mereka selalu bersifat konservatif di dalam pandangannya tentang politik dan sosial, di dalam bentuk hidupnya, pakaiannya, model rambutnya bahkan mode jenggotnya dan segala bentuk hidup yang bisa kita bayangkan. Mereka semua sangat kuno adanya. Bukan saja mereka telah menjerumuskan diri ke dalam lumpur saja, melainkan lumpur yang sudah membeku sebagai semen. Mereka membenci segala macam perubahan. Mereka mirip dengan seorang guru besar yang pernah berbicara di dalam universitas Cambridge pada masa mahasiswanya: "Perubahan macam apa saja di dalam waktu apa saja dengan alasan apa saja, semuanya harus disesalkan"! Motto yang paling digemari adalah "Sebagaimana permulaan dunia ini tetaplah sekarang dan selama-lamanya seperti itu juga sampai selama-lamanya, Amin!"

Di pihak lain aliran radikal adalah mereka yang bertanya-tanya tentang agama negara. Mereka menganggap tidak ada tradisi kebiasaan atau organisasi yang begitu suci sehingga tidak boleh diganggu atau diubah; juga menganggap tidak ada pribadi manusia yang begitu suci sehingga tidak boleh dikritik. Sebaliknya mereka bersedia untuk mengadakan penghakiman dan pengritikan terhadap segala sesuatu yang diwarisi dari masa lampau. Bukan saja demikian, penghakiman semacam ini senantiasa memimpinnya menuju perombakan yang tuntas, jika perlu menuju revolusi (sebagai seorang Kristen mungkin ia tidak memakai kekuatan yang rusuh).

Dilihat sepintas lalu aliran konservatif berlawanan dengan aliran radikal sehingga kita tidak mungkin menghindarkan diri dari keekstriman di dalam masalah ini, tetapi faktanya tidak demikian. Ini semua disebabkan oleh kurangnya pengertian kita bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah sekaligus konservatif dan radikal, tetapi di dalam segi- segi yang berbeda.

Sikap Tuhan terhadap Alkitab bersifat konservatif - kitab Suci tidak bisa digugurkan. Ia berkata, "Aku datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi melainkan untuk menggenapinya."(Matius 5:17). Juga berkata, "Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat sebelum semuanya terjadi." (Matius 5:18). Teguran utama Yesus terhadap pemimpin Yahudi sejamannya adalah mereka tidak menghormati kitab Suci Perjanjian Lama serta kekurangan ketaatan yang sejati terhadap otoritas kitab Suci yang kudus.

Tetapi Yesus juga sebenarnya harus disebut sebagai radikalis, Dia merupakan pengeritik yang tajam terhadap aliran penguasa Yahudi yang tajam, tanpa ketakutan apapun, bukan hanya karena mereka tidak setia kepada firman Allah secara sempurna, juga karena mereka terlampau setia kepada tradisi mereka sendiri. Yesus pernah secara tegas menghapuskan tradisi yang sudah diturunkan secara berabad-abad demi supaya firman Allah boleh dilihat kembali dengan jelas serta terpelihara.

Yesus sangat berani di dalam mendobrak segala kebiasaan sosial. Ia menegaskan pentingnya memperhatikan lapisan masyarakat yang rendah yang selalu dihina dan diabaikan. Ia berbicara dengan perempuan di hadapan umum, yang tidak diijinkan dalam jaman itu, Ia mengundang anak kecil datang kepadaNya, sedangkan di dalam masyarakat orang Romawi anak-anak buangan selalu terlantar dan sangat kotor sehingga umumnya manusia menganggap lumrah jika tidak mau diganggu oleh anak-anak kecil. Ia mengijinkan para pelacur mendekatiNya (umumnya orang Farisi menghindarkan diri dari perempuan macam ini karena membencinya), sedangkan Yesus sendiri sungguh-sungguh menjamah orang berpenyakit kusta yang sebenarnya dilarang untuk dijamah (orang Farisi umumnya melempar batu kepada mereka supaya memelihara diri dari mereka dalam jarak tertentu) di dalam cara-cara seperti ini dan sebagainya. Yesus menolak untuk diikat oleh kebiasaan dan adat manusia, hati nurani dan jiwaNya hanyalah diikat oleh firman Allah. Sebab itu Yesus merupakan sesuatu kombinasi yang unik dari sifat konservatif dan radikal. Ia bersifat konservatif terhadap Kitab Suci tetapi jika diperhatikan secara saksama Ia bersifat radikal terhadap hal-hal lain yang Ia temukan.

"Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya." (Matius 10:24) demikianlah perkataan Kristus yang pernah diucapkanNya. Maka jika Yesus dapat mengkombinasikan semangat radikal dan semangat konservatif, kita yang menyebut diri sebagai pengikutNya juga dapat meneladaniNya. Secara fakta jika kita hendak setia kepadaNya kita haruslah demikian. Pada masa ini kita sangat memerlukan lebih banyak orang-orang radikal konservatif sehingga orang Kristen Injili memperkembangkan daya penelitian yang lebih bersifat kritis untuk membedakan apakah yang boleh dan harus diubah serta apa yang tidak perlu dan tidak boleh diubah.

Yang lebih patut kita perhatikan adalah kita perlu lebih jelas di dalam membedakan Kitab Suci dan kebudayaan. Karena Kitab Suci merupakan firman Allah yang tidak berubah untuk selama-lamanya. Sedangkan kebudayaan dibentuk oleh tradisi gereja, kebiasaan dan adat masyarakat serta daya kreatif manusia. Segala otoritas yang dimiliki kebudayaan adalah diwarisi oleh masyarakat dan gereja[1]. Sebaliknya kebudayaan berubah sesuai jaman dan tempat. Lebih dari itu kita orang Kristen menyatakan kerelaan kita hidup di bawah otoritas firman Allah, maka seharusnya kita menaklukkan kebudayaan jaman kita di bawah penghakiman Alkitab yang terus menerus tanpa henti sehingga sama sekali tidak merasa bosan atau menentang perubahan kebudayaan. Kita seharusnya berpihak dan berdiri di front mereka yang mengusulkan serta merombak kebudayaan, sehingga kebudayaan boleh menyatakan dengan sungguh-sungguh kehormatan sifat manusia serta menyenangkan Allah Pencipta kita.

Pada suatu kunjungan saya ke sekolah teologi Trinitas di Deerfield, Illinois di Amerika Serikat, mahasiswa sekolah ini memberi kesan yang dalam bagi saya. Meskipun mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, namun mereka menemukan bersama bahwa di dalam pengabdian mereka terhadap Kekristenan yang Alkitabiah. Mereka bersatu untuk melepaskan diri dari agama Kristen Amerika kontemporer serta bertekad bulat untuk menerapkan Kitab Suci di dalam segala masalah besar hari ini. Maka mereka bersama-sama membentuk satu persekutuan doa dan studi yang bersifat gabungan. Organisasi tersebut bertumbuh menjadi kesatuan Kekristenan rakyat, sedangkan jurnal mereka adalah "Manusia Amerika yang berlalu". Cover edisi perdananya melukiskan Kristus yang sedang memakai mahkota duri, tangan yang terbelenggu sedang menudungi bendera yang bergaris dan berbintang. Ada yang menganggap gambaran ini bersifat menghujat tetapi saya tidak berpikir demikian. Lukisan ini merupakan pernyataan jenius yang memperhatikan kemuliaan Kristus. Jimmy Wallace di dalam tajuk rencananya mengumumkan: "Serangan terhadap agama yang ada berupa berita yang menjelekkan kekristenan yang bersifat melepaskan agama dari kebudayaan. Lembek dan tanpa daya hidup sehingga dengan sendirinya ditolak oleh generasi kita ini secara gampang... . Kita menemukan bahwa gereja Amerika sangat diikat oleh nilai kebudayaan kita dan bentuk kehidupan kita..."

Ikatan terhadap gereja yang bersifat Amerika ini mengakibatkan hal yang sangat disesalkan yaitu mempersamakan gaya hidup Amerika dengan gaya hidup Kekristenan. Di dalam tempat-tempat lain di dunia penyataan kebudayaan kekristenan juga demikian. Di dalam dunia ketiga dan bagi banyak gereja ini merupakan masalah utama. Kekristenan dicangkokkan oleh misionari dan Eropa dan Amerika Utara, sedangkan gereja sekarang sedang mencari identitas mereka dengan kebudayaan yang ada. Mereka menemukan masalah dalam menghadapi dua kebudayaan.

Pertama mengenai kebudayaan setempat atau suku mereka, khususnya di Afrika, pemimpin Kristen setempat menyadari meskipun banyak kebiasaan tradisional Afrika - yang berfungsi merefleksikan sumber kebudayaan mereka yang kafir tetapi bukan saja tidak merugikan iman, kasih, keadilan, dan hal-hal baik lainnya di dalam kemoralan dan kerohanian, secara faktual mereka harus menaati kedaulatan Kristus yang memungkinkan hidup secara kelimpahan.

Kedua adalah mengenai kebudayaan kafir (tidak perduli Eropa atau Amerika) yaitu masalah setelah Injil dikabarkan di dunia ketiga. Masalah ini sebagian disebabkan seolah-olah Injil, yang mengakibatkan kebudayaan kekristenan, merupakan penghinaan terhadap kehormatan kebudayaan bangsa mereka, sehingga seruan: "Usirlah agama orang putih!" timbul di sana sini. Padahal seruan ini salah adanya. Karena agama Kristen bukan milik orang putih atau organisasi yang lain. Yesus Kristus merupakan Tuhan dari setiap bangsa, negara dan segala usia, tanpa perbedaan. Tetapi untuk orang Asia, Afrika maupun Amerika Latin yang menemukan serta memperkembangkan cara untuk mengutarakan penerapan kebenaran Kristus dan kehidupan kekristenan melalui kebudayaan yang ada pada mereka merupakan hal yang tepat. R. Peddila di dalam kongres Penginjilan Sedunia di Lausanne pada tahun 1974 telah memperdebatkan lagi dengan semangat yang menggebu-gebu tentang masalah kebudayaan Kekristenan.

Itu sebabnya para pemimpin Kristen dari gereja-gereja Gerakan Baru bukan hanya memerlukan hikmat untuk membedakan kebudayaan bangsa dan kebudayaan impor, juga harus dapat membedakan kebudayaan yang bernilai dan kebudayaan yang tidak bernilai. Mereka juga harus memiliki keberanian untuk memelihara yang satu dan menolak yang lain.

Kekristenan di Eropa juga harus demikian, sebab sumbernya boleh ditelusuri sampai 2000 tahun yang lalu. Kekristenan di daerah ini juga terpendam di bawah kebudayaan Spanyol pada abad-abad tersebut. Pada saat kita membicarakan gereja Lutheran, Anglican, Presbyterian atau Brethern kita perlu membedakan secara saksama. Karena setiap aliran mengandung bentuk, tradisi atau kebudayaan Kekeristenan. Warna bentuk kebudayaan tradisionil bukan hanya ditemukan di dalam pengutaraan dotrinal, tetapi juga tidak luput dari liturgi dan musik, arsitektur dan gaya serta pandangan peranan ulama dan kaum awam, juga metode penggembalaan dan pemberitaan Injil. Pada faktanya setiap hal dalam gereja kita adalah demikian dan setiap hal harus ditaklukkan ke bawah penelitian Alkitab yang bersifat ketat dan kritis.

Maka pada saat kita menolak perubahan tidak peduli di dalam gereja atau masyarakat, kita perlu instrospeksi sendiri apakah ini sesuai dengan kitab Suci yang kita pertahankan (bila kebiasaan kita adalah mempertahankan secara ketat), atau hanya terbatas di dalam tradisi yang dihargai oleh sebagian tua-tua gereja atau tradisi kebudayaan saja. Ini tidak berarti semua tradisi harus dibuang hanya karena semua adalah tradisi. Aliran anti adat tanpa sifat kritis sama bodohnya dengan aliran konservatif tanpa kekritisan, bahkan kadang-kadang lebih berbahaya. Yang mau saya tegaskan adalah tidak ada tradisi yang berhak meloloskan diri dari penelitian ulang dan tidak ada hak istimewa pada tradisi tertentu.

Di lain pihak pada waktu kita tergesa-gesa di dalam perubahan, kita harus mengerti dengan jelas Alkitab tidak melawan hal-hal yang ingin kita ubah. Sebaliknya ada tradisi-tradisi yang tidak Alkitabiah sebenarnya boleh diteruskan serta memerlukan perubahan untuk membenarkannya. Jikalau ada yang tidak Alkitabiah dan nyata-nyata melawan prinsip Alkitab, kita harus berani mendongkel serta menghentikannya sekuat tenaga. Jika tradisi yang tidak Alkitabiah seolah-olah tidak relevan dengan Alkitab, minimalnya kita harus mempertimbangkannya dengan kritis.

Pada umumnya kita mengetahui dan mengakui sifat otoritas dari pikiran, kebudayaan yang kita bayangkan, namun kebenaran dan kekekalan hanya dimiliki Kitab Suci. Kebudayaan telah menjadi sebagian perasaan keamanan kita. Bila hal-hal ini diancam, kita juga merasakan ancaman itu sehingga kita selalu menghindari bahaya dan berusaha mempertahankannya.

Kadang-kadang kita kurang menaruh perhatian terhadap otoritas Alkitab. Kita memperlakukan Firman Allah sama dengan cara kita memperlakukan tradisi dan konsep manusia, sehingga gampang melalaikannya. Dengan ini membuktikan kita masih orang Kristen duniawi, yang secara tuntas sudah menerima sikap anti otoritas yang dimiliki oleh orang dunia, sehingga tidak bersedia hidup di bawah otoritas Allah serta otoritas pemerintahanNya terhadap umatNya.

Orang Kristen jaman ini dipanggil untuk menjalankan tali keseimbangan ini. Kita tidak menolak segala perubahan, juga tidak mengubahnya secara total secepat mungkin, lebih dari itu terhadap hal-hal yang diperbolehkan oleh Alkitab dan yang dapat diubah juga kita serang dengan serampangan. Setiap orang Kristen yang percaya Allah di dalam sejarah dan pekerjaan Roh Kudus sepanjang sejarah gereja tidak mungkin merasa senang untuk mengubah sesuatu hanya disebabkan ingin mengubahnya. Kadang-kadang yang lama ada juga baiknya, karena telah bertahan dalam ujian waktu. Kita perlu sikap peka terhadap orang Kristen tua yang beraliran konservatisme. Mereka tidak mudah membiasakan diri terhadap perubahan tetapi lebih gampang merugikan dan menghambat perubahan. Dari pandangan Alkitab kita mengetahui yang kita butuhkan adalah daya membedakan yang bijaksana. Maka kita harus bisa menikmati tradisi yang lampau serta berdaya responsif terhadap aliran- aliran baru. Hanya dengan demikian baru kita dapat mempergunakan penghakiman dari Kitab Suci yang radikal di dalam segala macam kebudayaan, serta di bawah pimpinan Tuhan baru mungkin mencapai perubahan yang lebih baik.

Kiranya Tuhan memberikan kebijaksanaan yang sama kepada kita saat ini. Kiranya Dia juga memberikan keberanian kepada kita sehingga mempergunakan kebijaksanaan ini bukan hanya untuk urusan gerejani, tetapi dapat juga diterapkan ke dalam wilayah sosial, etika, dan politik.

Mungkin saya boleh mempergunakan terminologi biologis untuk mengutarakan maksud saya. Yaitu kita memerlukan kutu sapi Kristen (orang yang membenci kita) untuk mengganggu dan menusuk kita sehingga kita melangsungkan perubahan. Pada saat yang sama kita juga memerlukan anjing penjaga Kristen (pengawal) pada saat kita menyatakan tanda- tanda mengkompromikan kebenaran Alkitab. Di dalam keadaan bagaimanapun, pengawal itu dapat menggonggong dengan suara keras yang bertahan lama. Tidak perduli yang menusuk orang atau menggonggong orang, kedua macam pribadi ini sulit kita ajak kerja sama. Mereka pun tidak gampang menemukan minat persamaan antara mereka sendiri. Namun yang menusuk harus tidak menggigit yang menggonggong dan yang menggonggong harus tidak menelan yang menusuk. Mereka harus belajar hidup rukun dalam gereja Kristus serta mengkonsentrasikan perhatian terhadap umat Tuhan yang begitu banyak, guna melaksanakan tugas mereka masing-masing. Kita sebenarnya sangat membutuhkan kedua macam hamba Tuhan ini.

Setelah peringatan tentang bahaya dari perubahan yang terlalu banyak dan perubahan yang terlalu sedikit, sekarang marilah kita mengambil kesimpulan, yaitu bahaya yang lebih besar (paling sedikit di dalam aliran Injili) adalah salah menanggapi unsur kebudayaan sebagai unsur Alkitabiah sampai akhirnya menjadi terlampau konservatif dan terlampau terikat oleh tradisi. Sehingga tidak bisa melihat hal-hal gerejawi dan sosial yang tidak berkenan kepada Tuhan. Konsekuensinya kita menjadi terlalu kolot di dalam ikatan kondisi sekarang serta menolak pengalaman yang paling tidak enak yaitu perubahan.

BENTUK DAN KEBEBASAN

Dari membicarakan ekstrim konservatif dan radikal mari kita beralih kepada ekstrim berorganisasi dan tidak berorganisasi. Organisasi sekuler sedang mengalami perpecahbelahan di sana sini. Secara global manusia melawan bentuk dan struktur yang kaku serta mengejar kebebasan dan fleksibilitas. Gereja Kristen telah diakui di seluruh dunia sebagai satu struktur organisasi yang menonjol dan mantap. Sehingga kita tidak mungkin luput dari tantangan jaman yang satu ini. Kita harus ingat tantangan ini berasal dari sudut internal maupun eksternal. Banyak orang Kristen yang muda sedang menuntut sesuatu agama Kristen tanpa organisasi untuk menanggalkan beban gereja Kristen yang harus ditanggungnya. Mari kita menganalisa gerakan ini di dalam 3 pernyataannya yang utama.

Pertama orang sedang mencari gereja yang tidak memiliki bentuk yang tetap. Kelompok-kelompok Kekristenan seluruh dunia sedang menerobos tradisi dan mengerjakan segala hal menurut caranya sendiri.

Kedua, orang Kristen sedang mencari macam penyembahan yang tidak terikat peraturan. Pendeta tidak lagi memimpin setiap upacara melainkan mendorong jemaat untuk berpartisipasi, organ sudah diganti oleh gitar, liturgi yang kuno sudah diganti oleh bahasa sehari-hari. Makin banyaknya kebebasan berarti makin sedikitnya upacara. Makin banyaknya inisiatif berarti makin sedikit hal-hal yang statis.

Ketiga, melawan denominasionalisme dan suatu hal yang ditekankan yaitu kebebasan. Rupanya generasi yang baru ini sangat puas dengan membuang segala sesuatu yang lampau. Bahkan semua ikatan gereja-gereja lain pada saat ini. Mereka suka menyebut diri sebagai Kristen dan tidak mau panji denominasi apapun.

Kita tidak perlu ragu bahwa ketiga tuntutan ini mempunyai kekuatan yang meyakinkan. Mereka memiliki perasaan yang berkobar-kobar dan mereka berbicara secara dinamis. Kita tidak bisa mengabaikannya atau menganggapnya sebagai gila, maupun menganggap mereka adalah kaum pemuda yang tidak bertanggung jawab. Karena ini merupakan sesuatu gejala global yang menuntut kebebasan, fleksibilitas, kemandirian dan non-organisasi. Orang Kristen generasi tua dan yang agak bersifat tradisionil perlu mengerti hal ini. Kita harus bisa bersimpati dan sebisa mungkin berjalan bersama dengan mereka. Kita harus mengakui bersama bahwa Roh Kudus mungkin dan kadang-kadang sudah dibelenggu di dalam struktur organisasi kita[2]. Dan terbatas di dalam bentuk yang ada pada kita.

Namun saya masih ingin sampaikan bahwa kebebasan dan kacau balau tidak mempunyai arti yang sama, apakah sebabnya kita memerlukan semacam bentuk dan organisasi tertentu.

Pertama, gereja yang berorganisasi. Orang Kristen berasal dari latar belakang gereja yang berbeda-beda dan mengasihi serta menghargai tradisi yang berbeda-beda. Meskipun tidak semuanya, tapi paling tidak mayoritas menyetujui bahwa pendiri gereja yang asli, yaitu Kristus, menghendaki gerejaNya mempunyai organisasi yang tampak. Gereja juga mempunyai aspek yang tidak bisa dilihat, ini merupakan satu fakta. Di situ hanya ada "orang-orang" yang diketahui sebagai milikNya sendiri. Tetapi tidak boleh kita memakai alasan bahwa gereja sejati adalah yang tidak kelihatan untuk menyangkal bahwa Yesus Kristus mengharapkan umatNya boleh dilihat dan diketahui oleh dunia, Dia sendirilah yang telah menetapkan sakramen pembaptisan sebagai upacara masuk ke dalam gereja, dan baptisan merupakan sesuatu yang terbuka dan bisa dilihat. Dia juga mendirikan sakramen perjamuan suci bagi persekutuan orang Kristen, yang melaluinya gereja boleh dipersatukan dan dengan ini pun mengeksklusifkan orang-orang yang bukan anggota. Sehingga boleh melaksanakan disiplin di dalam anggota-anggota gerejanya. Bukan saja demikian, Dia juga mengutus gembala-gembala untuk memelihara kaum dombaNya. Maka tidak perduli di mana pun, jika ada baptisan, perjamuan suci, pendeta atau istilah-istilah tradisionil, penginjil, sakramen, maka di sana ada organisasi. Mungkin organisasi ini bersifat lebih sederhana dari denominasi-denominasi historis. Mungkin lebih fleksibel tetapi tetap ada sesuatu organisasi yang jelas dan tegas. Lebih dari ini seseorang boleh menyatakan perlawanan yang keras terhadap nilai pemberitaan firman dan nilai sakramen namun pemberitaan firman dan sakramen tetap diakui bersama oleh gereja-gereja yang berbeda.

Kedua, penyembahan yang resmi. Secara pribadi saya sama sekali menyetujui penyembahan kaum muda yang timbul dari dalam hati yang melimpah dengan sukacita dan ramai-ramai. Meskipun kadang-kadang saya merasakan kepahitan di dalamnya seperti pengalaman saya satu kali di suatu tempat. Telinga saya hanya berjarak beberapa inchi dari loud speaker yang keras sekali.

Kadang-kadang penyembahan kita terlalu formil, terlalu tinggi dan monoton. Bahkan di dalam kebaktian modern boleh dikatakan sama sekali sudah kehilangan ibadat sehingga sangat merisaukan. Sebagian orang Kristen seolah-olah menganggap bukti utama penyertaan Roh Kudus adalah keramaian dan inspirasi inisiatif. Bukankah ini mengisyaratkan bahwa kita sudah melupakan bahwa merpati, angin, dan api sama-sama adalah tanda Roh Kudus? Pada saat Roh Kudus hadir dengan kuasa-Nya di tengah- tengah umat, kadang-kadang Ia mendatangkan ketenangan, kesejahteraan, keagungan dan mengakibatkan perasaan takut kepada Tuhan. Suara kecilNya boleh didengar. Di dalam ketakutan terhadap Roh, manusia berlutut di hadapan kuasa Allah yang hidup dan sejati. Menyembah dengan "hanya Tuhan ada di dalam BaitNya yang suci, manusia seluruh bumi sepatutnya berdiam diri dan hormat di hadapanNya". Saya tidak bermaksud untuk mengatakan ibadat dan bentuk pasti bersatu. Karena kebaktian yang tidak resmipun kadang-kadang bersifat ibadat. Sedang penyembahan resmi yang memakai upacara yang agung kadang-kadang tidak memiliki ibadat yang bersifat rohani. Namun di mana terjadi persatuan antara keagungan lahiriah dan ibadat batiniah, di sana penyembahan yang dipersembahkan paling memuliakan Allah.

Ketiga, prinsip yang berelasi. Mayoritas kita menegaskan gereja lokal paling sedikit harus memiliki sifat kemerdekaan tertentu. Sedangkan menurut Kitab Suci gereja lokal adalah penyataan yang nampak di dalam satu tempat yang bersifat gereja global. Sedangkan gereja lokal bukan saja adalah gereja global, juga disebut sebagai Bait Allah dan tubuh Kristus. (Gereja lokal: 1Korintus 3:16; 12:27, gereja global: Efesus 2:19-22; 4:4, 16). Namun gereja lokal mungkin terlalu menekankan prinsip otonomi gereja lokal ini sehingga melalaikan orang Kristen dari jaman lampau dan jaman sekarang. Pada saat terjadinya kondisi semacam ini gereja lokal akan menjadi terlampau memuaskan diri sehingga menekan gereja Tuhan baik secara waktu dan ruang.

Maka kita perlu mengingatkan diri tentang kebenaran-kebenaran Alkitab yang senantiasa mudah dilupakan oleh kaum muda. Apakah anda hanya tertarik dengan keadaan sekarang, apakah generasi ini khusus menggemari kalimat Henry Ford yang menganggap sejarah itu hampa adanya? Kadang-kadang seolah-olah ini benar. Namun Allah macam apakah yang anda percaya? Allah di dalam Kitab Suci adalah Allah sejati, Allah Abraham, Ishak, Yakub, Allah Musa dan nabi-nabi, Allah Yesus Kristus dan rasul-rasulNya, Allah gereja abad permulaan, Dialah yang melampaui segala abad untuk merealisasikan kehendakNya. Jika Allah memang adalah Tuhan sejarah, bagaimana kita boleh melalaikan sejarah atau tidak tertarik kepadanya? Ia adalah juga Allah dari seluruh gereja. Persatuan gereja berasal dari persatuan sifat ilahi karena hanya ada satu Bapa, satu keluarga, karena hanya ada satu Tuhan, satu iman, satu pengharapan, satu baptisan dan hanya karena ada satu Roh Kudus maka hanya ada satu tubuh (gereja).

Jikalau kita tidak boleh melalaikan masa lampau, maka kita juga tidak boleh melalaikan masa sekarang. Seluruh masalah yang berelasi dengan orang Kristen yang lain adalah sangat kompleks dan mudah menimbulkan perselisihan. Alkitab tidak memberikan jaminan untuk menemukan atau memelihara persatuan tanpa kebenaran, tetapi Alkitabpun juga tidak memberikan jaminan bahwa kita boleh menemukan kebenaran tanpa persatuan. Ini benar adanya namun persekutuan di dalam kepercayaan pengakuan bersama itu pun benar adanya.

Sekali lagi saya menyerukan di dalam masalah ini janganlah kita terus menempuh cara ekstrim. Di dalam gereja Kristus berorganisasi atau tanpa organisasi, formil atau tidak formil, suasana khidmat atau inspirasi inisiatif, independen atau bersekutu, kita harus memberikan tempat kepada keduanya.

Gereja masa permulaan telah memberikan teladan yang sempurna kepada kita di dalam masalah ini. Bukankah kita membaca setelah hari Pentakosta orang Kristen yang baru dipenuhi Roh Kudus berbakti ke dalam rumah sembahyang dan memecahkan roti di dalam rumah mereka sendiri. Maka mereka tidak langsung menolak gereja orang Yahudi, tetapi memperbaikinya berdasarkan Injil yang diterimanya, bahkan mereka memakai kebaktian di rumah mereka untuk mengisi penyembahan dan permintaan yang formal di dalam Bait Allah. Apa yang saya lihat di sini setiap gereja lokal seolah-olah harus menampung baik ibadah yang formal di dalam gereja dan persekutuan tidak formal di dalam rumah ke dalam pengaturan programnya. Sedangkan generasi tua dan anggota gereja tradisionil yang senang kepada penyembahan formal memerlukan pengalaman kebebasan dalam penyembahan keluarga. Sedangkan anggota gereja yang muda, yang gemar kepada keramaian dan inspirasi inisiatif memerlukan pengalaman penyembahan gerejani yang bersifat khidmat dan formil. Karena kombinasi semacam ini adalah sangat sehat.

Catatan dari Pdt. Dr. Stephen Tong:

  1. Hal ini merupakan refleksi masyarakat Barat di mana gereja mempunyai peranan penting dalam masyarakat, bukan refleksi masyarakat Timur di mana gereja merupakan minoritas masyarakat.
  2. Sebenarnya Roh Kudus yang membebaskan tidak mungkin dibelenggu oleh kita. Kalimat ini harus dimengerti sebagai berikut, yaitu: Jika kita mementingkan organisasi dan struktur kita, kita akan mengikat diri di dalam keterbatasan kita sendiri sehingga tidak mengalami berkat dan kuasa Roh Kudus yang melampaui keterbatasan kita, maka kitalah yang menjadi terbelenggu, bukan Roh Kudus.

Catatan tentang penulis:

Pendeta John Stott adalah pendeta emiritus dari gereja Segala Orang Suci di London. Seorang teolog Injili yang terkenal di seluruh dunia. Otak utama dari Lausanne Covenant. Beliau menulis banyak buku termasuk Keseimbangan Agama Kristen, Seni Berkhotbah Abad XX, Agama Kristen, Ajaran Khotbah di Bukit dll.

Sumber: 

Sumber:

Judul Buku: Momentum 7
Judul Artikel: Gereja; Mau Kemana? Konservatif dan Radikal
Penulis : John RW Stott
Penerjemah : -
Penerbit: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1989
Halaman: 6-11

Spiritualitas Injili: Suatu Tinjauan Ulang


Editorial: 
Penulis: 
Stanley J. Grenz
Edisi: 
037/III/2003
Isi: 

Lane Dennis mengatakan bahwa ciri khas Kaum Injili adalah penekanannya pada keselamatan yang dialami secara pribadi-komitmen kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat saya (pribadi). Kehebatan gerakan ini adalah mempersatukan pengalaman religius dengan bahasa teologis yang sama. Pengertian tentang natur Injili ini menunjukkan perubahan mendasar dari kesadaran Kaum Injili. Perubahan identitas yang berdasar pada pengakuan iman menuju kepada identitas yang berdasarkan spiritualitas.

William W. Wells menyatakan tiga karekteristik unik Gerakan Injil ini: orang Kristen Injili mempercayai otoritas Alkitab; menekankan pengampunan Allah dan hubungan pribadi yang indah dengan Allah melalui Kristus; dan menekankan perjuangan untuk hidup suci melalui disiplin rohani. Meskipun Gerakan Neo-Injili tetap berpegang kepada otoritas Alkitab, namun penekanan sekarang lebih kepada aspek spiritualitas, yang sebelumnya sering terselubungi oleh dimensi intelektual atau doktrinal.

Penekanan kepada dimensi spiritualitas sebenarnya sejalan dengan sejarah Gerakan Injil itu sendiri. Sebelum abad kedua puluh, Puritanisme dan Pietisme memberikan pengaruh yang signifikan terhadap gerakan injil ini. Puritanisme membangkitkan suatu bentuk kesalehan hidup sebagai respon terhadap doktrin pilihan dari Calvinisme. Calvinisme meletakkan keselamatan manusia dalam konteks pilihan Allah yang bersifat misteri. Meskipun teologi ini memelihara kedaulatan Allah, manusia menjadi tidak mempunyai kepastian bahwa dia memiliki status sebagai orang pilihan atau tidak. Karena itu, tidak ada pengakuan iman yang sungguh, tidak ada kesetiaan mengikuti sakramen, maupun serangkaian hidup yang suci, yang dapat menjamin bahwa seseorang merupakan umat pilihan Allah. Di tengah-tengah ketidakpastian inilah kaum Puritan menemukan satu tanda umat pilihan: pengalaman rohani secara pribadi terhadap anugerah keselamatan Allah. Dengan demikian, kepastian status pilihan menjadi bergantung kepada kemampuan seseorang menceritakan pengalaman pertobatannya. Lebih lagi, penekanan kembali kepada hal-hal yang bersifat spiritual ini merupakan pengaruh dari gerakan Pietis, khususnya keinginan mereka untuk mereformasi hidup dan bukan mereformasi doktrin.

Karena itu, seperti John Wesley katakan, titik temu antara Pietisme dan Gerakan Injili adalah pada: penggilan hidup baru, buah-buah rohani, dan suatu hidup yang berbeda dengan kemalasan gereja dan anggota-anggotanya yang sangat duniawi. Kaum Injili bersifat pietist dalam hal fokusnya pada dinamika kehadiran Kristus dalam hidup orang percaya. Hal ini menandai pergeseran dari gerakan sebelumnya yang menekankan pada aktifitas (doing), kepada hal-hal yang bersifat kontemplasi (being). Pembahasan lebih lanjut akan difokuskan kepada keunikan spiritualitas Kaum Injili.

Menuju Pengertian Spiritualitas Injili

Salah satu definisi 'spiritualitas' yang cukup baik diberikan oleh Robert Webber adalah: "Secara luas, spiritualitas dapat didefinisikan sebagai hidup yang sesuai dengan hidup Kristus. Hidup yang menyadari bahwa karya salib Kristus membuat kita menjadi warga negara sorga, dan sorgalah yang menjadi tujuan hidup kita di dunia. Perjalanan hidup ini dikerjakan dalam konteks kita sebagai anggota tubuh Kristus. Melalui ibadah kepada Allah, spiritualitas kita terus- menerus dibentuk. Dan misi kita di dunia adalah untuk memberitakan visi Kristen melalui perkataan dan tindakan kita." Karena itu dapat dikatakan bahwa spiritualitas adalah suatu perjuangan mengejar kesucian di bawah pimpinan Roh Kudus bersama-sama dengan seluruh orang percaya. Mengejar hidup yang dihidupi untuk memuliakan Allah, dalam persatuan dengan Kristus dan hasil dari ketaatan kepada Roh Kudus.

Sesuai dengan ajaran Paulus dalam 1Korintus 2:14-3:3, Kaum Injili sangat menekankan akan 'pola pikir rohani' yang dikontraskan dengan manusia duniawi. Dengan menggabungkan salib dan Pentakosta - yaitu bergantung pada kemenangan Kristus dan kehadiran Roh Kudus - Kaum Injili menjalani hidup yang disebut oleh Watchman Nee sebagai 'the normal Christian life', yaitu hidup yang semakin serupa dengan Kristus yang ditandai dengan ketaatan total kepada kehendak Allah. Dengan demikian Kaum Injili selalu menekankan hidup yang berkemenangan melalui peperangan melawan kuasa setan, manusia lama, dan dunia. Dan dengan kuasa Roh Kudus mengalahkan musuh-musuh rohani orang percaya.

Kita dapat melihat bahwa inti dari spiritualitas Injili adalah suatu usaha untuk menyeimbangkan dua prinsip yang kelihatan bertentangan, yaitu: bagian dalam dari manusia (inward) dengan bagian luar (outward), dan dimensi kesucian personal dengan komunal.

Keseimbangan Antara Inward dan Outward

Spiritualitas Kaum Injili mencoba menyeimbangkan kesucian hati dan aktifitas pelayanan. Hati orang percaya harus dipenuhi dengan kasih kepada Yesus Kristus. Komitmen ini lebih dari sekedar pengetahuan tentang karya Kristus dalam sejarah atau menerima doktrin tentang Kristus. Tetapi adanya suatu hubungan pribadi yang dekat dengan Yesus yang bangkit dan hidup. Karena itu, bagian dalam dari manusia (inward) merupakan fondasi dari spiritualitas. Akibatnya, Kaum Injili lebih tertarik kepada respon pribadi seseorang kepada Yesus daripada kemampuan mereka untuk memformulasikan atau menghafalkan pernyataan doktrinal tentang Yesus.

Kaum Injili juga lebih mementingkan motivasi hati dalam mengikuti ibadah dan perjamuan kudus daripada sekedar memenuhi kewajiban itu secara eksternal. Ibadah eksternal tanpa kesadaran internal hanya merupakan ritual yang mati. Karena itu, Kaum Injili tidak datang ke gereja demi memenuhi tuntutan ibadah secara eksternal, tetapi karena dorongah hati untuk memuliakan Allah dan bersekutu bersama umat percaya. Kita termotivasi dari dalam hati dan bukan dipaksa dari luar untuk menghadiri ibadah bersama. Sikap seperti ini dinyatakan dengan suatu pujian dari hati 'I'm so glad I'm a part of the family of God.'

Dalam kaitan dengan ini, spiritualitas Injili juga sangat menekankan pengalaman religius dalam hidup orang percaya. Penekanan ini berasal dari Gerakan Pietisme yang sangat menekankan teologi lahir baru yang bersumber pada Injil Yohanes: 'Iman harus menjadi nyata dalam pengalaman! Iman harus mentransformasi hidup!' Pengalaman lahir baru merupakan bagian sentral dan titik awal perjalanan hidup orang percaya bersama Tuhan, yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Tetapi kelahiran baru ini harus diikuti dengan perjalanan spiritual pribadi yang ditandai dengan pertumbuhan dalam kesucian. Di hadapan Kaum Injili, James Houston menggambarkan spiritualitas sebagai,

'The outworking...of the grace of God in the soul of man, beginning with conversion to conclusion in death or Christ's second advent. It is marked by growth and maturity in a Christlike life.' (Karya anugerah Allah dalam jiwa manusia, yang dimulai dengan kelahiran baru dan diakhiri dengan kematian atau kedatangan Kristus ke dua kali. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan dan kedewasaan dalam hidup seperti Kristus.)

Penekanan pada inward, sangat sentral dalam spiritualitas Injili dan akan membentuk ketegangan kreatif ketika digabungkan dengan bagian luar (outward) dari hidup Kristen. Spiritualitas memang bersumber pertama-tama dari dalam hati, tetapi hidup Kristen juga berarti pemuridan. Dan pemuridan bersifat outward. Faktanya, spiritualitas sejati harus dinyatakan dalam perbuatan yang kelihatan. Perubahan hati harus dinyatakan dalam hidup yang nyata. Tetapi perbuatan nyata ini bukan untuk mendapatkan anugerah Allah, melainkan sebagai wujud dari kerinduan kita untuk mengikuti jejak kaki Yesus. Natur dari kehidupan spiritualitas adalah meneladani Yesus (the imitation of Christ). Pemuridan berarti mengikuti model yang telah dinyatakan dalam hidup Yesus, karena orang Kristen sejati akan merefleksikan karakter Yesus dalam hidupnya.

Pengertian ini mempengaruhi Kaum Injili dalam memandang sakramen. Kita menolak pandangan ekstrem dari sakramentalisme maupun panghapusan sakramen. Di satu sisi, kita menolak memandang sakramen sebagai suatu alat magis untuk mendapatkan anugerah Allah (sakramentalisme), tetapi di lain sisi kita juga tidak membuang sakramen. Kita memandang sakramen (baptisan dan perjamuan kudus) sebagai suatu ibadah yang sangat penting untuk mengekspresikan secara fisik apa yang sudah dikerjakan Allah di dalam hati. Sakramen merupakan tanda yang kasat mata dari anugerah Allah yang tidak kasat mata.

Penekanan Kaum Injili tentang pemuridan sebagai meneladani Kristus juga mempengaruhi pengertian kita tentang kehidupan gereja. Kita menekankan mengikuti Kristus sebagai suatu ibadah setiap hari dan bukan hanya ibadah hari minggu. James Houston menekankan bahwa kekristenan bukanlah suatu acara khusus, tetapi merupakan gaya hidup (life style). Sikap seperti ini mengakibatkan motivasi utama untuk menghadiri ibadah bersama adalah untuk diajar, didorong, dan dikuatkan untuk memiliki gaya hidup yang berkenan kepada Allah. Poin yang terus- menerus ditekankan pada ibadah minggu adalah: 'Jika engkau adalah orang percaya, hidup suci harus menjadi nyata bukan hanya pada hari Minggu tetapi dari Minggu sampai Sabtu. Apa yang Anda dengar pada hari Minggu harus diterjemahkan dalam perbuatan sepanjang minggu. Jika tidak demikian, imanmu hanya merupakan iman hari Minggu.'

Dapat disimpulkan bahwa spiritualitas Injili mencoba menyeimbangkan dimensi dalam dan dimensi luar dari hidup Kristen. Kita mencoba menyeimbangkan hati yang hangat oleh kasih kepada Allah dengan hidup yang mengikuti teladan Yesus. Kita memprioritaskan dimensi dalam sebagai sumber dari dimensi luar, tetapi kita menganggap dimensi dalam mati jika tidak menghasilkan ekspresi luar yang seharusnya dalam hidup pemuridan. Lagu yang sering kita nyanyikan mengekspresikan dengan baik kedua dimensi ini, 'Trust and obey, for there's no other way, to be happy in Jesus, but to trust and obey.'

Keseimbangan Personal dan Komunal

Kekudusan hidup di antara Kaum Injili biasanya hanya dimengerti secara individu. 'Membaca Alkitab' berarti membaca secara pribadi; 'berdoa' berarti berdoa secara pribadi; 'keselamatan' berarti diselamatkan secara pribadi; 'hidup dalam Kristus' berarti memiliki hubungan pribadi dengan Kristus. Seperti dikatakan Daniel Stevick: 'Perjalanan Kristen dijalani sendiri, keselamatan dari Allah ditujukan kepada pribadi. Pertolongan-Nya selalu dalam konteks pribadi. Perjalanan diisi dengan penyucian secara pribadi dan tujuannya adalah istana yang dibangun bagi pribadi.'

Dalam pengertian tertentu, karakteristik yang digambarkan ini memang cukup tepat. Namun, pendekatan Kaum Injili terhadap perjalanan iman orang percaya secara pribadi tidak pernah dilihat sebagai bagian yang terisolasi, melainkan selalu dilihat dalam konteks persekutuan orang percaya. Di sinilah terdapat keseimbangan antara kehidupan personal dan komunal dari hidup spiritualitas.

Jelas kita mengerti spiritualitas Kristen sebagai sesuatu yang bersifat individu atau personal. Kelahiran baru dan pertumbuhan iman harus pertama-tama dialami secara individu. Masing-masing orang percaya harus bertanggung jawab terhadap spiritualitasnya secara pribadi. Setiap individu bertanggung jawab untuk hidup suci dan meneladani Kristus.

Penekanan pada tanggung jawab pribadi ini sejalan dengan prinsip tradisional Protestan tentang keimamatan orang percaya dan terutama penekanannya mengenai 'kompetensi individu'. Prinsip kompetensi individu menyatakan bahwa setiap pribadi bertanggung jawab secara pribadi kepada Allah dan dengan pertolongan Roh Kudus mampu berespon secara pribadi kepada Allah. Prinsip ini memberikan implikasi penting bagi spiritualitas. Hal ini berarti bahwa tidak ada seorang pun yang dapat diperdamaikan dengan Allah oleh orang lain ataupun oleh gereja. Tidak seorang pun dapat mengklaim dirinya sebagai orang Kristen berdasarkan iman orangtua, karena melakukan ritual tertentu, lahir dalam negara tertentu. Kaum Injili biasanya mengatakan: 'Allah hanya mempunyai anak-anak, tetapi tidak mempunyai cucu.' Karena itu para penginjil selalu menekankan: 'Keputusan untuk menerima Kristus atau menolak-Nya ada padamu; tidak ada seorang pun yang dapat menjawabnya bagimu.' Penekanan ini sangat jelas pada lagu yang begitu terkenal: 'Lemah, lembut, Tuhan Yesus memanggil,. Memanggil saya dan kau ...pulang, pulang, kau yang berlelah pulang.'

Karena spiritualitas adalah persoalan pribadi, Kaum Injili sangat menekankan disipllin rohani sebagai sarana untuk pertumbuhan rohani. Disiplin dalam membaca Alkitab setiap hari dengan apa yang disebut sebagai 'saat teduh'; bersaksi secara pribadi; dan juga hal yang tidak kalah pentingnya adalah menghadiri kebaktian secara rutin.

Penekanan pada aspek personal ini juga mempengaruhi strategi dalam misi Kaum Injili. Dalam abad-abad permulaan kekristenan mulai tersebar di luar Kerajaan Romawi ke daerah-daerah yang masih belum tersentuh peradaban. Para misionaris biasanya memfokuskan pemberitaan Injil kepada para pemimpin suku atau raja, sehingga ketika pemimpin ini dibaptis, seluruh rakyatnya juga ikut dibaptis. Kaum Injili sangat kuatir bahwa strategi ini hanya menghasilkan kekristenan yang bersifat pura-pura, dangkal dan bahkan bisa bersifat sinkretistik. Meskipun tidak menolak peran penting yang dimiliki para pemimpin, Kaum Injili sangat menekankan Injil yang diberitakan kepada setiap individu. Karena kita mengerti bahwa spiritualitas adalah tugas dari setiap pribadi.

Meskipun sangat menekankan dimensi personal bagi spiritualitas orang Kristen, Kaum Injili juga menyeimbangkannya dengan dimensi komunal atau korporat. Tidak seorang pun dapat hidup dan bertumbuh dalam mengikuti Yesus dalam isolasi. Tetapi setiap kita harus bersekutu supaya dapat bertumbuh secara dewasa. Analogi yang sering digunakan adalah bara api. Bara api akan saling membakar ketika dikumpulkan bersama. Tetapi ketika satu bara api dikeluarkan dari kelompoknya, dia akan segera padam dan menjadi dingin. Begitu juga hidup Kristen: orang Kristen yang menarik diri dari komunitas orang percaya akan sulit untuk bertumbuh dan cepat menjadi dingin. Tetapi ketika bersekutu bersama, orang Kristen akan saling mendukung dan dengan demikian akan terus hidup dan berapi-api bagi Tuhan.

Jadi dalam pandangan Kaum Injili, meskipun setiap orang bertanggung jawab atas pertumbuhan imannya sendiri, setiap orang juga bergantung kepada kelompok orang percaya. Setiap orang percaya membutuhkan dorongan dan nasihat dari saudara-saudara seiman lainnya.

Pandangan ini memberikan pengertian yang penting mengenai gereja. Jemaat gereja lokal harus merupakan suatu komunitas yang saling menasihatkan, mendukung dan mengajar satu dengan yang lainnya. Lebih jauh, setiap anggota dari persekutuan orang percaya harus terlibat dalam tugas-tugas yang dikerjakan bersama. Kita terpanggil bukan saja untuk beribadah bersama, tetapi juga untuk masuk menjadi bagian dari kehidupan keseharian anggota yang lain. Dengan demikian, setiap orang berpartisipasi dan berperan dalam kehidupan komunitas Kristen. Inilah esensi dari jemaat lokal dalam pandangan Injili.

Prinsip bahwa setiap orang percaya perlu bersekutu dengan yang lainnya menghasilkan suatu penekanan klasik Injili terhadap kehadiran dalam kebaktian. Kita harus hadir dalam kegiatan-kegiatan gerejawi secara bersama. Tetapi tujuan penekanan ini berbeda dengan gereja-gereja liturgikal. Kita tidak melihat kehadiran dalam kegiatan gereja sebagai sarana mendapat anugerah, tetapi dalam perkumpulan orang percaya inilah pengajaran dan kekuatan dinyatakan.

Pengertian di atas memberikan dampak terhadap apa yang dianggap paling penting dalam ibadah Minggu. Roma Katolik menekankan perjamuan kudus dalam ibadah, sedangkan gereja-gereja Injili memfokuskan ibadah minggu pada pemberitaan Firman Tuhan. Di atas segalanya, kita datang untuk mendengar kotbah, yang kita pandang sebagai sarana utama manusia bertemu dengan Allah. Kita mendengarkan kotbah dengan kerinduan untuk mendengar 'Allah sedang berkata-kata kepada saya secara pribadi.' Sebagai akibatnya, kita mendapat peringatan, kekuatan, dan bahkan arahan hidup melalui kehadiran kita dalam ibadah bersama. Kita berkumpul untuk mendengar Firman (Word), supaya kita bisa tersebar sebagai umat Allah di tengah-tengah dunia (world).

Tetapi akhir-akhir ini Kaum Injili memiliki pengertian yang lebih dalam lagi mengenai kepentingan ibadah bersama sebagai elemen yang sentral di samping kotbah. Salah satu pemimpin dalam hal ini adalah Robert Webber yang mengatakan:

'Worship is the rehearsal of our relationship to God. It is at that point through the preaching of the Word and through the administration of the sacrament, that God makes himself uniquely present in the body of Christ. Because worship is not entertainment, there must be a restoration of the incarnational understanding of worship, that is, in worship the divine meets the human. God speaks to us in his Word. He comes to us in the sacrament. We respond in faith and go out to act on it!' (Ibadah adalah gladi bersih dari hubungan kita dengan Allah. Pada titik itulah melalui pemberitaan Firman dan pelaksanaan sakramen, Allah hadir secara khusus dalam tubuh Kristus. Karena ibadah bukan merupakan hiburan, harus ada pengertian baru dari ibadah yang bersifat inkarnasi, yaitu Allah bertemu dengan manusia dalam ibadah. Allah berbicara kepada kita melalui Firman. Dia datang kepada kita dalam sakramen. Kita berespon dengan iman dan keluar untuk hidup sesuai dengan itu!)
Seperti dikatakan Webber, penekanan pada ibadah bersama bukan berarti meniadakan sentralitas kotbah dalam ibadah minggu. Tetapi hal ini lebih merupakan suatu usaha untuk kembali mendapat keseimbangan yang lebih baik lagi demi menjalankan tugas gereja dengan lebih efektif.

Di tengah-tengah penekanan Injili untuk 'menemukan pelayanan dalam gereja', kita mendiskusikan interaksi yang penting antara dimensi personal dan korporal dari iman Kristen. Kita mendorong setiap individu untuk 'menemukan pelayanan' dalam konteks gereja lokal. Dan hal ini jelas berkaitan dengan dimensi korporal dadri spiritualitas Kristen. Sewaktu kita terlibat pelayanan dalam komunitas Kristen, kita berpartisipasi dalam tugas mendorong pertumbuhan orang lain dan juga secara tidak langsung kepada diri kita sendiri. Keterlibatan dalam hidup orang lain merupakan kesempatan untuk mendorong, menasihati, dan memenuhi kebutuhan mereka. Tetapi tujuannya lebih dari itu: supaya mereka yang menerima pelayanan itu bisa bertumbuh dewasaa secara rohani dan kemudian akhirnya ikut melayani anggota lain dalam tubuh Kristus.

Pandangan ini berimplikasi pada eklesiologi. Bagi kita, gereja adalah persekutuan orang percaya, persekutuan murid Kristus, komunitas orang- orang yang dengan serius bertanggung jawab secara pribadi bagi spiritualitasnya dan pada saat yang sama terjun dalam pelayana untuk mendorong pertumbuhan rohani secara korporal. Kaum Injili yang bertanggung jawab bernyanyi bersama: 'Kami akan berjalan bersama, kami akan berjalan bergandengan tangan.' Karena jalan spiritualitas adalah jalan yang mengikat setiap individu bersama- sama.

[Catatan: Tulisan di atas disadur dari buku Stanley J. Grenz; Revisioning Evangelical Theology; A Fresh Agenda for the 21th Century, Downers Grove, Illinois; IVP, 1993. Hal. 37-59]

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Momentum 44/Triwulan III/2000
Judul Artikel : Spiritualitas Injili: Suatu Tinjauan Ulang
Penulis : Stanley J. Grenz
Penerjemah : -
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman : 29 - 36

Presuposisi Teologi


Editorial: 
Penulis: 
Sutjipto Subeno
Edisi: 
035/I/2003
Isi: 
LATAR BELAKANG

Di dalam kita menggumulkan suatu permasalahan yang dilontarkan seringkali saya mendapat kesan terjadi perdebatan yang serius dikarenakan bukan di dalam permasalahan itu sendiri, tetapi di dalam pola berpikir yang melandasi permasalahan. Inilah yang seringkali dikenal sebagai Problema Presuposisi (atau kemudian dikenal sebagai Pra-asumsi atau yang oleh Thomas Kuhn disebut sebagai Paradigma). Pada intinya, setiap argumentasi yang kita keluarkan, di belakangnya pasti ada satu set pola pikir yang melandasinya, entah ia sadari atau tidak sadari, terstruktur atau acak-acakan, integratif atau kontradiktif.

PROBLEMATIKA PRESUPOSISI

Jika kita menyadari hal ini, tentulah kita segera sadar bahwa akar permasalahan perdebatan kita disebabkan karena tidak adanya dasar pijak yang sama, dan lebih parah lagi, setiap kita (entah sadar atau tidak) tentunya memegang mati dasar pijak tersebut sebagai kebenaran mutlak yang tidak boleh salah. Hal ini dapat dimengerti, karena kalau ia sendiri belum yakin dasar pijaknya sebagai sesuatu yang mutlak benar, tentu ia tidak akan berargumentasi dengan orang lain. Paling jauh ia hanya berani bertanya atau memberi pertimbangan, tetapi tidak berargumentasi, apalagi berdebat. Ketika seseorang sudah berani berdebat, tentulah ia beranggapan dasar pijaknya mutlak benar.

Namun, masalahnya, apakah pasti benar dasar pijak yang dimutlakkan tersebut. Di sini terdapat problematika yang serius. Dengan orang bukan Kristen, pergunjingan ini bisa menimbulkan masalah besar, karena seringkali manusia tidak suka kalau dasar pijaknya mulai dipertanyakan (tentu dengan alasan tertentu, yang akan saya kemukakan kemudian), sehingga lebih menimbulkan amarah ketimbang penyelesaian. Tetapi, bagaimana di kalangan Kekristenan sendiri?

Di tengah Kekristenan, presuposisi ini bukannya tidak menjadi masalah. Tetapi seringkali di tengah era Post-Modernisme yang serba relatif dan dekonstruktif, maka manusia cenderung menolak adanya presuposisi ini, sekalipun penolakan presuposisi sebenarnya merupakan satu presuposisi juga (bahkan filsafat dasar bagi orang itu sekaligus merupakan presuposisi bagi pikiran dan hidupnya juga). Jelas perlu disadari dan diterima bahwa sekalipun sama-sama Kristen, presuposisi setiap orang Kristen tidaklah sama.

PRESUPOSISI DAN TEOLOGI

Banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa presuposisi Kristen identik dengan teologi yang dipegangnya. Padahal tidaklah demikian. Presuposisi justru masih berada di belakang teologi (doktrin) yang dipegangnya. Mengapa seseorang lebih mau menerima teologi A ketimbang teologi B, disebabkan karena ia sudah mempunyai 'ancang-ancang' yang baginya lebih 'cocok' dengan teologi A, ketimbang teologi B.

Persoalannya, jarang kita uji, mengapa kita lebih cocok dengan teologi A ketimbang B, atau lebih tajam lagi, betulkah sikap kita lebih mencocoki teologi A ketimbang teologi B? Apa dasar pembenaran, sehingga kita bisa mengatakan bahwa memang menerima dan menyetujui teologi A lebih bertanggung jawab dan lebih tepat benar ketimbang memegang teologi B. Dari pengertian ini, jelaslah bahwa presuposisi tidak sama dengan teologi.

Lebih jauh lagi, hal ini jika dipertajam lagi, menyebabkan seseorang sekalipun memegang teologi tertentu, kemudian dalam bidang-bidang atau aspek-aspek tertentu bisa tidak menyetujuinya, lalu berpindah ke tempat lain. Terkadang hal ini membuat konsep dan pengertian teologinya tidak terintegrasi lagi, alias saling berkontradiksi, karena ia sudah punya presuposisi yang mau dipasangnya.

Yang lebih membahayakan lagi, jika orang itu kemudian menggunakan dalih, yang kelihatannya sangat rohani, tetapi justru menggambarkan egoisme dan ke-'sok tahu'-annya dengan mengatakan bahwa ia tidak memegang teologi A atau B atau C, tetapi memegang teologi 'Yang Alkitabiah.' Di balik perkataan ini, ada presuposisi pribadi yang mengatakan bahwa semua teologi yang sekarang ada adalah teologi yang tidak atau kurang Alkitabiah, dan hanya teologi yang ia bangunlah yang alkitabiah. Kembali lagi, presuposisi ini didasarkan pada apa? Jika setiap orang melakukan ini, maka akan terjadi Anto-isme, Budi-isme, atau John-isme dan berbagai 'teologi baru' yang semuanya mengaku Alkitabiah, padahal justru mungkin paling tidak Alkitabiah. Semangat relativisme seperti ini merupakan bahaya besar di dalam dunia Kekristenan saat ini, karena setiap orang akhirnya menjadi bingung dan berdebat tanpa ujung pangkal, karena seluruh presuposisi yang dipegang setiap orang berbeda tanpa bisa ditelusur dan dibereskan lagi kebenarannya.

MEMBANGUN PRESUPOSISI YANG BENAR

Sentral pembahasan saya ada disini. Dan harus disadari terlebih dahulu, bahwa pembangunan presuposisi inipun merupakan satu presuposisi, sehingga jika ingin mengomentarinya, tentu haruslah juga kita mulai dari sini. Ada beberapa presuposisi dasar yang perlu dipakai untuk membangun suatu presuposisi utama dalam kita berteologi.

  1. Kebenaran sejati bersumber dari Allah sendiri Manusia bukanlah sumber kebenaran, karena manusia sendiri masih mencari kebenaran, dan manusia sendiri sadar bahwa tingkat pengetahuan kebenarannya tidaklah absolut (banyak kesalahan yang masih kita lakukan di dalam hidup kita). Karena itu, jika kita mau mencari kebenaran, haruslah kembali kepada Allah sendiri, yang menjadi sumber kebenaran dan dirinya kebenaran. Secara inkarnasi, maka di sepanjang sejarah, hanya satu 'manusia' saja yang berhak mengklaim diri sebagai Kebenaran, yaitu Yesus Kristus sendiri, Anak Allah yang Tunggal (Yoh 14:6).

  2. Allah mewahyukan kebenaran di dalam Alkitab. Allah menyatakan kebenaran-Nya kepada manusia melalui firman-Nya, yaitu Alkitab. Dengan kata lain, Alkitab merupakan satu-satunya sarana untuk manusia bisa kembali mengerti kebenaran yang paling hakiki. Inilah yang ditekankan dengan proklamasi: Sola Scriptura (Hanya Alkitab Saja). Dengan demikian, maka seluruh kebenaran harus berpresuposisi pada Alkitab. Dengan lebih kritis lagi, bahwa setiap kebenaran yang bisa kita dapat dan mengerti, jika memang benar, maka ia tidak bisa bertentangan dengan Alkitab.

  3. Alkitab merupakan satu kebenaran yang utuh dari Allah yang satu. Karena Allah yang sama mewahyukan seluruh bagian Alkitab, maka seluruh bagian Alkitab tidak bertentangan satu sama lain. Jika terjadi pertentangan, maka bukan pengertian Alkitab itu sendiri, tetapi kesulitan pikiran manusialah yang memang mempertentangkannya. Maka kembali lagi, presuposisi manusia di dalam menghadapi Alkitab adalah presuposisi keutuhan, bukan dekonstruktif.

DASAR PRESUPOSISI KRISTEN

Dalam acuan ini, Cornelius Van Til (18 -1987), seorang teolog dan filsuf abad ini telah dengan sedemikian serius menggumulkan permasalahan ini. Van Til melihat bahwa di dalam berpikir, yang mendasari seluruh konsep teologis dan praktis kehidupan seseorang, hanya ada dua presuposisi dasar yang sangat menentukan, yaitu: (1) Kedaulatan Allah atau (2) Otonomi manusia.

  1. Kedaulatan Allah dengan presuposisi ini, manusia akan mengacu dan melihat segala sesuatu dari aspek kedaulatan Allah. Allah dipandang sebagai Sumber segala sesuatu, Dasar dan Tujuan segala sesuatu (Rom 11:36). Inilah dasar yang benar bagi seluruh pemikiran manusia, apalagi orang Kristen. Kita percaya bahwa Allah adalah Pencipta, Penopang dan Penyempurna seluruh alam semesta, termasuk manusia. Hanya percaya pada kedaulatan Allah, manusia bisa mendapatkan arah dan patokan dasar berpikirnya secara benar.

  2. Otonomi Manusia Gejala ini muncul ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Manusia berusaha mencari kebenarannya sendiri di mulai dengan meragukan kebenaran dan kedaulatan Allah di taman Eden (Kej 3:6 dst.). Ciri ini merupakan ciri manusia berdosa di sepanjang sejarah zaman. Ketika manusia mulai berpikir menurut pikirannya sendiri, ada beberapa hal yang pasti akan terjadi:

    1. Non-proportional thinking.
      Manusia jadi tidak lagi bisa berpikir proporsional secara tepat. Karena titik acuannya tidak tepat, maka Martin Luther memisalkan keadaan seperti ini bagaikan roda yang as-nya tidak tepat di tengah. Manusia tidak lagi memiliki acuan yang tepat untuk berpikir, sehingga pemikirannya pasti tidak mungkin berdiri tegak dalam kebenaran yang asasi.

    2. Inconsistency
      Manusia tercemar oleh prinsip dosa, yaitu inkonsistensi. Manusia tidak dapat lagi konsisten secara murni di dalam cara berpikirnya. Akibatnya, manusia hidup terus dalam konflik (entah disadari atau tidak disadari). Dengan kembali kepada presuposisi yang benar, barulah kita bisa membangun seluruh teologi kita secara benar. Dan berdasarkan teologi yang benar, pembentukan konsep berpikir kita juga akan menjadi beres. Tanpa presuposisi yang tepat, maka teologi kita akan diwarnai oleh presuposisi yang tidak tepat, dan akibatnya hidup kitapun akan bercorak dosa. Inilah bahaya kesalahan presuposisi yang seringkali tidak disadari oleh orang Kristen.

PENUTUP

Sebagai penutup, saya ingin memberikan satu contoh kongkrit yang merupakan problematika presuposisi di tengah Kekristenan. Ketika seseorang berpresuposisi dasar 'otonomi manusia', yang berarti manusia menegakkan sendiri apa yang ia anggap benar, maka ia terlebih dahulu sudah menetapkan bahwa dirinya menjadi pusat segala sesuatu (bukan Allah dan kedaulatan-Nya). Dari sini, pasti ia akan memulai segala pemikiran yang akan memuaskan kepentingan dirinya. Itu kemudian tercermin di dalam ia berteologi. Teologi menjadi 'conveyor' (pembawa) pemuasan kepentingannya itu. Maka, karena ia menganggap bahwa hidup ini perlu mendapatkan kepuasan dan kenikmatan, perlu ditunjang dengan pemuasan keinginan duniawi, maka ia akan memperlakukan dan membentuk teologi yang sesuai dengan itu. Dari sini tercermin beberapa implikasi, seperti:

  1. Saya senang lho ke gereja anu, karena di situ saya bisa melepas stress saya, bisa bersukacita, atau

  2. Wah, kalau jadi Kristen ya musti kaya, karena Tuhan ingin kita kaya, nggak mau kita miskin. (Apa iya..?) atau

  3. Kalau saya disembuhkan dari penyakit saya, atau saya bisa sukses bisnis, atau saya bisa dapat pacar yang cantik, ya saya mau jadi Kristen, bahkan,

  4. Kristen memberikan keselamatan buat saya, tetapi cukup sampai sekian, kalau saya disuruh berkorban, ya saya keberatan, karena itu tidak cocok dengan semangat cinta kasih Kristen (Apa iya...?), atau

  5. Jadi Kristen jangan fanatik-fanatik, nanti rugi, apalagi kita nggak diberi makan oleh gereja, dll.

Saya rasa daftar di atas ini bisa diperpanjang tanpa batas, sejauh teologi dibangun berdasarkan Otonomi Manusia. Alkitab meminta kita untuk bertobat, menanggalkan segala pikiran dosa, menjauhkan diri dari nafsu daging dan keinginan daging yang mematikan dan kembali taat kepada kedaulatan Allah (Gal 5: 16 dst.).

Persoalannya, apakah di dunia modern ini, semua orang Kristen, termasuk para hamba Tuhan, menyadari kesalahan-kesalahan seperti ini? Apakah implikasi yang dihasilkan oleh gereja-gereja Kristen saat ini? Sudahkah betul-betul menghasilkan orang-orang Kristen yang bergumul terus semakin mendalam di dalam firman Tuhan, semakin mengerti kebenaran dan mengaplikasikan kebenaran? Ataukah kita hanya menghasilkan orang-orang yang ahli berdebat dan menggunakan argumentasi duniawi untuk menjadi acuan dasar atau presuposisi kita?

Biarlah perenungan ini bisa menjadi berkat bagi kita semua.
Soli Deo Gloria

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : -
Judul Artikel : -
Penulis : -
Penerjemah : -
Penerbit : website GRII Sby-Andhika, http:/www.griis.org
Halaman : -

Kematian Rohani dan Kehidupan Rohani

Dear Reformed Netters,

Howard F. Sugden dalam bukunya yang ditulis bersama-sama dengan Warren W. Wiersbe dan Paul R. Van Gorder, yang berjudul "Prioritas Seorang Pendeta" menuliskan:

"Ketika tiba saatnya untuk membicarakan tugas-tugas pelayanan pendeta, saya menyarankan agar digunakan kata 'gembala' sebagai salah satu istilah untuk menggambarkan pekerjaan yang harus dikerjakan oleh seorang hamba Tuhan dalam hubungan dengan jemaatnya (sebab istilah ini sesuai dengan Kitab Suci). Tetapi ada seseorang yang mengajukan sanggahan, 'Dewasa ini tidak seorang pun yang mengetahui apa gembala itu dan apa yang diperbuatnya dalam dunia kita sekarang ini.' Nampaknya ada pemikiran untuk memperbaharui anggaran dasar sekarang ini dan jangan kembali kepada jaman gembala dahulu.
Saya hampir tak sabar untuk kembali ke ruang belajar, membuka konkordansi dan kamus 'Theological Dictionary of the New Testament' karangan Kittel untuk menyegarkan kembali hati saya dengan kata 'gembala' yang dipakai untuk menyebut Tuhan kita dan hamba-Nya sepanjang jaman.

Editorial: 

Dear Reformed Netters,

Howard F. Sugden dalam bukunya yang ditulis bersama-sama dengan Warren W. Wiersbe dan Paul R. Van Gorder, yang berjudul "Prioritas Seorang Pendeta" menuliskan:

"Ketika tiba saatnya untuk membicarakan tugas-tugas pelayanan pendeta, saya menyarankan agar digunakan kata 'gembala' sebagai salah satu istilah untuk menggambarkan pekerjaan yang harus dikerjakan oleh seorang hamba Tuhan dalam hubungan dengan jemaatnya (sebab istilah ini sesuai dengan Kitab Suci). Tetapi ada seseorang yang mengajukan sanggahan, 'Dewasa ini tidak seorang pun yang mengetahui apa gembala itu dan apa yang diperbuatnya dalam dunia kita sekarang ini.' Nampaknya ada pemikiran untuk memperbaharui anggaran dasar sekarang ini dan jangan kembali kepada jaman gembala dahulu.
Saya hampir tak sabar untuk kembali ke ruang belajar, membuka konkordansi dan kamus 'Theological Dictionary of the New Testament' karangan Kittel untuk menyegarkan kembali hati saya dengan kata 'gembala' yang dipakai untuk menyebut Tuhan kita dan hamba-Nya sepanjang jaman. Saya menemukan bahwa kata 'gembala' atau 'domba' itu digunakan lebih dari empat puluh kali dalam kitab Perjanjian Baru, dan Kittel menjelaskan pokok itu sebanyak tujuh belas halaman.
Tapi betul juga teman saya yang membuat sanggahan itu. Siapakah orang yang hidup pada jaman ini; jaman dimana ada kota-kota besar dan ramai, jalan-jalan lintas cepat, dengan berbagai transportasi modern serta banyak tempat rekreasi, yang masih tahu memikirkan tentang 'domba' dan 'gembala'?"

Jika Anda adalah seorang "gembala" (pemimpin jemaat), ketika membaca kutipan di atas mungkin Anda merasa tersanjung mendapat sebutan sebagai seorang "gembala" karena Yesus sendiri menyebut diri sebagai "Gembala" dan tugas yang diemban oleh "gembala" sangatlah dihargai oleh Tuhan. Menjadi "gembala" merupakan panggilan yang mulia, melakukan tugas sebagai seorang "gembala" merupakan suatu "hak istimewa" yang tidak Tuhan berikan kepada setiap orang, tapi hanya kepada orang-orang tertentu saja.

Tapi jika Anda seorang "domba" (jemaat), maka kutipan di atas membuat anda merasa tersanjung, karena bagi "domba" memiliki "gembala" artinya seperti mendapatkan "hak istimewa" untuk dilayani. Maka tidak heran jika Anda menginginkan seorang "gembala" yang selalu siap sedia melayani dan melindungi 'domba-domba-Nya, kalau perlu 24 jam. Anda akan jengkel kalau mendengar "gembala" yang mengeluh atau mengharapkan pujian dari apa yang dilakukannya, karena sebagai seorang "gembala" sudah sepantasnya kalau ia menderita dan berkorban bagi domba-domba- Nya.

Melihat kontras dua pemikiran di atas, saya tertarik untuk mengutipkan beberapa surat-surat terbuka yang ditulis oleh 'domba-domba" yang ditujukan kepada "gembala-gembala"nya. Sangat menarik mengetahui apa yang dipikirkan oleh "domba-domba" tentang "gembala-gembala"nya. Namun sambil anda membaca kutipan surat-surat tsb., saya mengajak anda untuk merenungkan dan menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini:

  1. Jika anda seorang "gembala" jemaat:
    1. Pernahkah anda memahami tugas berat yang harus diemban seorang "gembala"?
    2. Apa reaksi anda bila anda menerima surat-surat seperti itu?
    3. Inginkah anda menerima surat-surat seperti itu dari "domba- domba" anda?
    4. Dalam hal bagaimana anda pantas menerima pujian-pujian dari "domba-domba" anda?
    5. Dalam hal bagaimana anda pantas menerima kritikan-kritikan dari "domba-domba" anda?
  2. Jika anda seorang "domba" jemaat:
    1. Pernahkan anda memahami beratnya tugas seorang "gembala" jemaat?
    2. Pernahkah anda mensyukuri apa yang "gembala" anda lakukan bagi "domba-domba" jemaatnya?
    3. Bagaimana reaksi "gembala" anda jika anda menulis surat-surat seperti itu kepadanya?
    4. Pernahkah anda menyatakan penghargaan kepada 'gembala" anda secara terbuka?
    5. Apa pentingnya bagi "gembala" anda untuk mengetahui apa yang anda pikirkan tentang dia dan tugasnya?

Selamat merenungkan. Kiranya kiriman saya ini dapat menjadi berkat bagi ke dua belah pihak; "gembala" dan "domba".

In Christ,
Yulia

Penulis: 
R.C. Sproul
Edisi: 
033/X/2002
Isi: 

Pasal 5 (Bag. 1)
KEMATIAN ROHANI DAN KEHIDUPAN ROHANI: KELAHIRAN BARU DAN IMAN

Teologi "Reformed" terkenal dengan singkatan TULIP yang dibuat untuk meringkas apa yang disebut "Five points of Calvinism." TULIP dijabarkan sebagai berikut:

T
U
L
I
P
:
:
:
:
:
Total Depravity
Unconditional Election
Limited Atonement
Irresistible Grace
Perseverance of the Saints

TULIP ini telah membantu banyak orang untuk mengingat keunikan teologi "Reformed". Tetapi, TULIP juga telah banyak menimbulkan kebingungan dan kesalahmengertian. Sebuah singkatan biasanya dibuat berdasarkan kata-kata yang telah ada dan disusun sedemikian rupa supaya terlihat indah. Tetapi singkatan ini hanya berfungsi sebagai alat bantu untuk mengingat.

Persoalan pertama tentang TULIP ini adalah dengan huruf pertama. Total Depravity merupakan istilah yang bisa membawa pada konsep yang sangat menyesatkan. Konsep dari "Total Depravity" sering disamakan dengan "Utter Depravity." Dalam teologi "Reformed", "Total Depravity" berarti bahwa seluruh kemanusiaan kita telah jatuh ke dalam dosa. Artinya tidak ada satu bagian pun dari diri kita yang tidak terkena pengaruh dari Kejatuhan itu. Dosa mempengaruhi kehendak kita, hati kita, pikiran kita, dan tubuh kita. Saya kira apabila Adam tidak pernah berdosa, ia tidak akan pernah membutuhkan kacamata plus pada waktu ia mencapai usia setengah baya. Bahkan istilah setengah baya tidak akan berarti apa-apa bagi Adam. Karena, apabila Adam tidak jatuh ke dalam dosa, maka Adam tidak akan mengalami kematian. Bila seseorang hidup untuk selama-lamanya, maka masa setengah baya tentu tidak berlaku bagi dirinya.

"Total Depravity" juga menekankan fakta bahwa dosa telah mencapai pusat dari keberadaan kita. Dosa bukan merupakan sesuatu yang berakibat pada kulitnya saja, atau setitik noda yang mengotori manusia yang sempurna. Dosa berakibat sangat radikal, oleh karena dosa telah menyentuh akar kehidupan kita.

"Total Depravity" bukan "Utter Depravity." "Utter Depravity" berarti bahwa kita semua adalah orang yang berdosa, dimana tidak ada kebaikan lagi yang dapat dihasilkan dari kita. Kita tahu bahwa bukan begitu yang terjadi pada diri manusia. Karena, seberapa pun jauhnya kita telah berbuat dosa, kita masih tetap dapat memikirkan dosa yang lebih buruk yang dapat kita lakukan. Bahkan Adolf Hitler tidak membunuh ibu kandungnya sendiri.

Oleh karena "Total Depravity" sering disamakan artinya dengan "Utter Depravity", maka saya lebih suka memakai istilah "radical corruption" (pencemaran yang radikal) dari manusia, meskipun itu akan mengacaukan singkatan kita. Pengertian karakter dosa yang radikal mungkin merupakan konsep yang paling penting untuk kita mengerti jika kita akan menjelaskan doktrin predestinasi yang Alkitabiah. Sebagaimana yang telah saya singgung dalam pembahasan kita tentang ketidakmampuan moral manusia, ini merupakan inti dari seluruh perdebatan tersebut.

Saya teringat pada waktu mengajar teologi di sebuah Sekolah Teologi. Kelas itu terdiri dari 25 mahasiswa yang berasal dari berbagai denominasi. Pada awal kuliah tentang predestinasi, saya bertanya kepada mereka, berapa orang di antara mereka yang menganggap dirinya memiliki pandangan predestinasi Calvinis. Hanya satu orang yang mengangkat tangannya.

Kami mulai dengan pelajaran tentang keberdosaan manusia. Setelah saya memberikan kuliah selama beberapa hari tentang topik ini, kemudian saya bertanya lagi, "Berapa banyak di antara kalian yang yakin bahwa apa yang baru saja kalian pelajari itu merupakan doktrin keberdosaan manusia yang diajarkan oleh Alkitab?" Semua mahasiswa mengangkat tangannya. Saya bertanya, "Apakah kalian yakin?" Mereka menegaskan bahwa mereka sungguh-sungguh yakin. Saya memberi peringatan selanjutnya, "Hati-hatilah sekarang. Hal ini bisa datang lagi membayangi kalian dalam kuliah-kuliah yang berikutnya." Tetapi, mereka tetap menegaskan bahwa mereka yakin.

Pada waktu itu saya menulis tanggal hari itu di sudut papan tulis. Tepat di samping tanggal itu saya menuliskan angka 25. Saya melingkari catatan itu dan memohon supaya petugas tidak menghapus tulisan tersebut.

Beberapa minggu kemudian, kami mulai belajar doktrin predestinasi. Ketika saya tiba pada topik mengenal ketidakmampuan moral manusia, maka timbul protes keras dari para mahasiswa. Saya kemudian menunjuk pada sudut papan tulis serta menunjukkan catatan persetujuan mereka. Saya membutuhkan waktu dua minggu untuk meyakinkan mereka bahwa jika mereka sungguh-sungguh menerima pandangan Alkitab tentang pencemaran yang terjadi pada umat manusia, maka perdebatan tentang predestinasi telah selesai.

Secara singkat, saya akan berusaha untuk melakukan hal yang sama dalam bagian ini. Saya melanjutkan dengan peringatan yang sama.

PANDANGAN ALKITAB TENTANG PENCEMARAN UMAT MANUSIA

Marilah kita mulai pelajaran kita ini tentang tingkat kejatuhan manusia dengan memperhatikan surat Roma Pasal 3. Di sini Paulus menulis:

"Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.
Tidak ada seorang pun yang berakal budi,
tidak ada seorang pun yang mencari Allah.
Semua orang telah menyeleweng,
mereka semua tidak berguna,
tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak."
(Rm. 3:10-12)

Di sini kita melihat pencemaran umat manusia yang bersifat universal. Dosa itu berakibat sangat luas dan telah mencapai setiap orang tanpa terkecuali. Paulus memakai kata-kata yang tegas untuk memperlihatkan bahwa tidak ada pengecualian di antara manusia yang telah jatuh dalam dosa. Tidak ada seorang pun yang benar, tidak ada seorang pun yang berbuat baik.

Pernyataan "tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak" adalah menentang asumsi kita yang telah membudaya. Kita bertumbuh menjadi dewasa serta mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna. Pernyataan bahwa kita adalah orang-orang berdosa merupakan pernyataan yang mudah kita terima, tetapi kita tidak dapat menerima pernyataan bahwa tak seorang pun diantara kita yang berbuat baik. Tidak ada satu orang pun di antara seribu orang yang mau mengakui bahwa dosa adalah masalah yang seserius ini.

Tidak ada seorang pun yang berbuat baik? Bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi? Setiap hari kita melihat orang-orang tidak percaya kepada Allah yang berbuat kebaikan. Kita melihat mereka bersedia untuk berkorban, bekerja dengan rajin, hati-hati, dan jujur. Dan kita melihat orang-orang yang tidak percaya itu dengan seksama menaati batas kecepatan, sedangkan mobil-mobil lain, yang menempelkan slogan-slogan Kristen, melaju cepat menyusul mereka.

Paulus pasti menggunakan gaya bahasa hiperbola di sini. Ia pasti dengan sengaja membesar-besarkan dengan maksud menekankan apa yang ia ingin sampaikan. Tetapi sesungguhnya pasti ada manusia yang berbuat baik. Tidak, anggapan itu salah! Allah yang benar, melalui Paulus menyatakan bahwa tidak ada orang yang berbuat baik, seorang pun tidak.

Kita tersandung di sini, karena kita mempunyai pengertian yang relatif tentang arti "baik" itu. Sesungguhnya baik itu adalah istilah yang relatif pula. Sesuatu itu hanya dapat dinilai baik menurut standar tertentu. Kita memakai istilah itu sebagai perbandingan di antara manusia. Ketika kita mengatakan bahwa orang itu baik, maksud kita adalah orang itu baik bila dibandingkan dengan orang-orang lain. Tetapi standar tertinggi untuk kebaikan, yaitu standar yang akan dipakai untuk menghakimi kita, adalah Hukum Allah. Hukum itu bukanlah Allah, tetapi hukum itu datang dari Allah dan merefleksikan karakter Allah yang sempurna. Jika penilaian terhadap manusia didasarkan pada standar Allah itu, maka tidak ada seorang pun yang baik.

Menurut kategori Alkitab, kebaikan diukur dari dua segi. Pertama, kesesuaian lahiriah dengan hukum Allah. Artinya, jika Allah melarang mencuri, maka adalah baik untuk tidak mencuri. Adalah baik untuk mengatakan kebenaran. Adalah baik untuk membayar hutang atau rekening kita tepat pada waktunya. Adalah baik untuk menolong orang lain yang sedang membutuhkan. Perbuatan-perbuatan lahiriah ini dilakukan setiap hari. Oleh karena itu, pada waktu kita melihat orang melakukan kebaikan-kebaikan itu, maka dengan cepat kita menyimpulkan bahwa orang itu sesungguhnya melakukan hal-hal yang baik.

Kedua, cara penilaian yang kedua inilah yang membawa kita pada kesulitan. Karena, sebelum Allah menyatakan bahwa perbuatan itu "baik", Ia tidak hanya menilai kesesuaian tindakan luarnya dengan Hukum Allah, melainkan juga motivasinya. Kita melihat secara lahiriah saja, tetapi Allah melihat apa yang ada di dalam hati kita. Suatu tindakan dinilai baik apabila tindakan itu sesuai dengan Hukum Allah secara lahiriah, dan dilakukan dengan motivasi yang tulus yaitu untuk mengasihi Allah.

Kita ingat Hukum Allah yang terutama, yaitu mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap kekuatan, dan dengan segenap akal budi...dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri. Setiap tindakan yang kita perbuat harus dimulai dari hati yang sepenuhnya mengasihi Allah.

Dari kerangka berpikir seperti ini, maka mudahlah bagi kita untuk melihat kenyataan bahwa tidak ada seorang pun yang berbuat baik. Tindakan-tindakan kita yang terbaik dinodai oleh motivasi yang tidak murni. Tidak ada seorang pun di antara kita yang pernah mengasihi Allah dengan segenap hati atau dengan segenap akal budinya. Ada unsur kedagingan kita yang selalu terlibat dalam semua tindakan kita, sehingga membuat tindakan kita tidak sempurna.

Jonathan Edwards menyatakan tentang konsep Pencerahan Interes Pribadi. Pencerahan Interes Pribadi menunjuk pada motivasi yang mendorong kita untuk melakukan tindakan lahiriah yang benar dan menahan diri terhadap dorongan-dorongan dari dalam diri kita sendiri yang mendorong kita untuk melakukan yang jahat. Ada waktu-waktu tertentu dan tempat-tempat tertentu di mana tindakan kriminal itu tidak menguntungkan. Jika tindakan kriminal itu menanggung resiko hukuman yang lebih berat dari pada upah yang kita terima, maka kita cenderung untuk tidak melakukannya. Sebaliknya, kita mungkin melakukan tindakan-tindakan yang saleh, tetapi hanya untuk mendapatkan sanjungan dari orang. Kita mungkin melakukan perbuatan-perbuatan tertentu yang baik, tetapi hanya untuk mendapat pujian dari guru atau penghargaan dari teman-teman kita.

Seluruh dunia menghargai para artis ketika mereka bersama-sama memproduksi rekaman sebuah album dengan tujuan khusus, yakni mengumpulkan dana untuk membantu bencana kelaparan di Etiopia. Tepukan dan sorakan biasanya tidak merugikan karier seorang artis. Meskipun ada pernyataan sinis yang mengatakan bahwa etika dan bisnis tidak berjalan bersama-sama. Sebaliknya, kebanyakan dari kita telah belajar bahwa etika mengembangkan reputasi kita dalam bisnis.

Saya tidak berpikir sebegitu sinis dengan anggapan bahwa apa yang dilakukan oleh para artis bagi Etiopia itu hanya sekedar untuk mendapatkan pujian bagi si artis itu sendiri semata-mata atau sekedar pertunjukan umum. Pasti ada motivasi yang kuat atas dasar belas kasihan dan perhatian terhadap orang-orang yang kelaparan. Tetapi, saya tidak berfikir sebegitu naif bahwa motivasi mereka sama sekali terlepas dari interes (kepentingan) pribadi. Belas kasihan mereka dapat dikatakan lebih besar dari pada interes pribadi mereka sendiri, tetapi betapapun kecilnya, pasti ada unsur interes pribadi yang terkandung di dalamnya. Hal ini selalu terjadi di dalam diri kita. Jika kita menyangkal akan hal ini, maka saya curiga bahwa penyangkalan kita tersebut sebagian dimotivasi oleh interes pribadi kita.

Kita mau menyangkali dugaan ini. Kita merasakan dalam hati kita sendiri bahwa kadang-kadang kita memiliki perasaan untuk melakukan sesuatu hanya sekedar untuk memenuhi kewajiban belaka. Kita suka beranggapan bahwa kita benar-benar tidak mementingkan diri sendiri. Tetapi tidak pernah seorang pun menyanjung kita lebih dari kita menyanjung diri kita sendiri. Kadang-kadang motivasi kita mungkin lebih cenderung kepada hal mementingkan orang lain, tetapi motivasi kita tidak pernah secara sempurna demi kepentingan orang lain.

Allah menuntut kita untuk sempurna. Tidak seorang pun di antara kita yang dapat melakukan perbuatan sampai pada taraf yang sempurna. Kita tidak pernah melakukan apa yang Allah perintahkan. Karena itu, tentu rasul Paulus tidak berlebih-lebihan. Penilaian-Nya adalah akurat. Tidak ada orang yang berbuat baik, seorang pun tidak. Tuhan Yesus sendiri menekankan hal ini pada waktu Ia berbicara dengan orang muda yang kaya. "... Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja" (Luk. 18:19).

Pernyataan yang lain dalam surat Roma, yang sama sukarnya dengan pernyataan ini, bisa lebih mencemaskan kita, khususnya bagi orang Kristen Injili yang berbicara dan berpikir bertentangan dengan pernyataan tersebut. Paulus menyatakan, "Tidak ada seorang pun yang mencari Allah."

Berapa kalikah Anda mendengar orang Kristen berkata, atau Anda sendiri pernah mengatakannya, "Si anu bukan orang Kristen, tetapi ia sedang mencari-cari?" Ini merupakan pernyataan yang biasa di dengar di kalangan orang Kristen. Idenya adalah bahwa ada manusia di dunia ini yang sedang mencari Allah. Persoalan mereka adalah bahwa mereka belum mampu untuk menemukan Dia. Ia sedang bermain "sembunyi-sembunyian". Ia sukar untuk diketemukan.

Di Taman Eden, pada saat dosa masuk ke dalam dunia, siapakah yang bersembunyi? Yesus datang ke dunia ini untuk mencari dan menyelamatkan yang tersesat. Bukan Yesus yang bersembunyi. Allah bukanlah buronan. Kita yang terus melarikan diri. Alkitab menyatakan bahwa orang fasik melarikan diri padahal tidak ada seorang pun yang mengejarnya. Seperti apa yang ditandaskan oleh Luther, "Orang yang tidak percaya Allah gemetar pada bunyi kerisik sehelai daun yang tertiup oleh angin." Ajaran Alkitab yang sama menyatakan bahwa manusia yang jatuh dalam dosa melarikan diri dari Allah. Tak seorang pun yang mencari Allah.

Ajaran Alkitab begitu jelas memaparkan bahwa tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Tetapi, mengapa orang Kristen bersikeras untuk menyatakan bahwa ada orang yang sedang mencari Allah tetapi orang itu belum menemukan Dia? Thomas Aquinas memberikan sedikit penjelasan tentang hal ini. Aquinas berkata bahwa kita dibingungkan dengan dua tindakan manusia yang serupa tapi tak sama. Kita melihat orang-orang yang berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan pikiran yang damai, kebebasan dari kesalahan, makna dan tujuan hidup, dan penerimaan yang penuh kasih. Kita tahu bahwa akhirnya hal-hal ini hanya dapat ditemukan di dalam Allah. Karena itu kita menyimpulkan bahwa oleh karena manusia sedang mencari hal-hal ini, maka mereka pasti sedang mencari Allah.

Manusia tidak mencari Allah. Mereka mencari keuntungan-keuntungan yang hanya dapat diberikan oleh Allah. Dosa dari manusia yang telah jatuh ke dalam dosa adalah: Manusia mencari keuntungan-keuntungan dari Allah dan pada waktu yang sama mereka melarikan diri dari Allah itu sendiri. Kita pada dasarnya adalah buronan.

Alkitab berulang kali memerintahkan kepada kita untuk mencari Allah. Perjanjian Lama berseru, "Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui..." (Yes. 55:6). Yesus bersabda,"... Carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu" (Mat. 7:7). Kesimpulan yang dapat kita ambil dari teks ini adalah bahwa oleh karena kita diperintahkan untuk mencari Allah, maka hal itu pasti berarti bahwa, biarpun kita dalam status telah jatuh ke dalam dosa, tetapi kita tetap mempunyai kemampuan moral untuk mencari-Nya. Tetapi kepada siapakah sebenarnya ayat-ayat ini ditujukan? Di dalam Perjanjian Lama, mereka adalah bangsa Israel yang dipanggil untuk mencari Tuhan. Di dalam Perjanjian Baru, ayat-ayat itu ditujukan kepada orang percaya yang dipanggil untuk mencari kerajaan Allah.

Kita mungkin pernah mendengar seorang hamba Tuhan mengutip dari kitab Wahyu: "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku" (Wahyu 3:20). Biasanya hamba Tuhan mengaplikasikan ayat ini kepada orang yang belum bertobat, dengan berkata, "Yesus sedang mengetok pintu hatimu. Jika engkau membuka pintu, maka Ia akan masuk." Padahal sebenarnya Yesus menujukan ayat ini kepada jemaat-Nya. Ayat ini sebenarnya bukan merupakan seruan penginjilan.

Jadi, orang yang tidak percaya tidak pernah mencari Allah berdasarkan kekuatannya sendiri atau inisiatifnya sendiri. Orang yang tidak percaya tidak akan mencari. Orang yang tidak percaya tidak akan mengetok. Mencari adalah urusan/kesibukan orang-orang percaya. Edwards berkata, "Mencari kerajaan Allah adalah urusan/kesibukan utama dalam kehidupan orang Kristen." Mencari adalah akibat atau hasil dari iman, bukan penyebab dari iman.

Ketika kita bertobat kepada Kristus, kita memakai kata menemukan untuk mengekspresikan pertobatan kita. Kita mengatakan bahwa kita telah menemukan Kristus. Kita mungkin mempunyai sejumlah stiker dengan tulisan, "SAYA TELAH MENEMUKANNYA" Pernyataan ini benar. Tetapi dalam arti sebagai berikut: Pada saat kita menemukan Kristus, saat itu bukan merupakan akhir dari pencarian kita, melainkan awal dari pencarian kita. Biasanya, pada saat kita mendapatkan apa yang kita cari, hal itu merupakan tanda berakhirnya pencarian kita. Tetapi, ketika kita "mendapatkan" Kristus, itu adalah awal dari pencarian kita. Kehidupan orang Kristen dimulai pada saat pertobatan, dan kehidupan ini tidak berakhir pada saat dimulai. Kehidupan ini bertumbuh, bergerak dari iman kepada iman, dari anugerah kepada anugerah, dari hidup kepada hidup. Gerakan pertumbuhan ini digerakkan oleh pencarian akan Allah secara terus menerus.

Ada satu hal lagi yang perlu kita pelajari secara singkat dari surat Roma pasal 3. Rasul Paulus tidak hanya menyatakan bahwa tidak ada seorangpun yang mencari Allah, tetapi ia juga menambahkan bahwa "mereka semua tidak berguna." Kita harus ingat bahwa di sini Paulus sedang berbicara mengenai manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, manusia alamiah, manusia yang belum bertobat. Ini adalah gambaran tentang manusia yang masih berada di dalam kedagingannya.

Apa yang dimaksudkan Paulus dengan "Tidak berguna"? Sebelumnya Yesus pernah berbicara tentang hamba yang tidak berguna. Berguna harus dikaitkan dengan nilai yang positif. Orang yang belum bertobat, berjalan dalam kedagingan, tidak menghasilkan nilai yang kekal. Dalam kedagingannya ia boleh mendapatkan seluruh dunia ini tetapi kehilangan hal yang paling berharga dari dirinya sendiri, yaitu jiwanya sendiri. Harta milik yang paling bernilai yang dapat dimiliki seseorang adalah Kristus. Ia adalah mutiara yang termahal. Memiliki Yesus Kristus berarti memiliki keuntungan/manfaat yang terbesar.

Seseorang yang mati secara rohani, maka ia, dengan kedagingannya, tidak dapat mendapatkan manfaat apa-apa dari Kristus. Ia dilukiskan sebagai orang yang tidak memiliki rasa takut akan Allah (Roma 3:18). Orang yang tidak benar, yang tidak berbuat baik, yang tidak pernah mencari Allah, yang sama sekali tak berguna, dan yang tidak takut akan Allah, tidak pernah mengarahkan hatinya kepada Kristus.


Pasal 5 (Bag. 2)
KEMATIAN ROHANI DAN KEHIDUPAN ROHANI: KELAHIRAN BARU DAN IMAN

(Oleh : R.C. Sproul)

KEBANGKITAN DARI KEMATIAN ROHANI

Penyembuhan bagi kematian rohani adalah dengan cara penciptaan kehidupan rohani di dalam jiwa kita oleh Allah Roh Kudus. Ringkasan pekerjaan ini diberikan kepada kita dalam Surat Efesus:

"Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa- dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih- Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita--oleh kasih karunia kamu diselamatkan-- dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya"(Ef. 2:1-10).

Di sini kita menemukan satu perikop tentang predestinasi yang sangat baik dan jelas. Perhatikanlah bahwa sepanjang perikop tersebut Paulus sangat menekankan akan kekayaan anugerah Allah. Kita tidak boleh meremehkan anugerah Allah itu. Perikop ini memproklamasikan kehidupan yang baru yang diciptakan oleh Roh Kudus di dalam diri kita.

Pekerjaan Roh Kudus ini kadang-kadang disebut "quickening" (pembangkitan kembali/pekerjaan menghidupkan kembali). Kata ini hampir tidak pernah kita dengar dalam percakapan sehari-hari. Istilah ini secara eksklusif dipakai untuk melukiskan suatu peristiwa yang terjadi pada waktu kehamilan. "Quickening" menunjuk pada perasaan yang pertama kali dirasakan oleh seorang wanita, yaitu adanya suatu kehidupan dari bayi yang ada di dalam kandungannya.

"Quickening" (pembangkitan kembali/hal menghidupkan kembali) di bagian lain dari Alkitab disebut "regeneration" (kelahiran baru). Istilah "regeneration" itu sendiri berarti "a generating again" (hal membangkitkan lagi atau hal menyebabkan terjadi/mulai lagi). "To generate" berarti menyebabkan terjadi/mulai. Contohnya kitab pertama dalam Alkitab merupakan tentang permulaan-permulaan yang disebut "Genesis". kata depan re berarti "lagi". Kata regeneration berarti memulai lagi sesuatu. Jadi yang kita bicarakan di sini adalah permulaan yang baru suatu kehidupan, yaitu permulaan kehidupan rohani.

Gambaran mengenai kehidupan ini dikontraskan dengan gambaran mengenai kematian. Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa dilukiskan sebagai manusia yang telah "mati di dalam dosanya". Untuk membuat manusia yang telah mati di hadapan Allah ini menjadi hidup di hadapan Allah, maka Allah harus melakukan sesuatu "terhadap" dan "untuk" dia. Orang yang telah mati tidak dapat menghidupkan dirinya sendiri. Orang yang telah mati tidak dapat menciptakan kehidupan rohani di dalam dirinya sendiri. Paulus dengan sangat jelas menyatakan bahwa hanya Allah yang dapat menghidupkan kembali manusia itu, dan hanya Allah saja yang dapat membangkitkan/menghidupkan kita dari kematian rohani.

Manusia yang telah jatuh dalam dosa adalah mati di dalam dosa. Ia dilukiskan di sini sebagai orang yang "pada dasarnya adalah orang yang dimurkai." Pola kehidupan orang yang telah jatuh ke dalam dosa adalah "mengikuti jalan dunia ini." Ketaatannya bukanlah kepada Allah, melainkan kepada penguasaan kerajaan angkasa. Paulus menandaskan bahwa ini bukan hanya merupakan kondisi dari orang-orang berdosa yang paling buruk, melainkan kondisi Paulus sendiri dan saudara-saudaranya yang seiman sebelum bertobat. ("Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menurut kehendak daging dan pikiran kami yang jahat...").

Kebanyakan, pandangan presdestinasi dari "Non-Reformed" tidak secara serius memperhatikan fakta bahwa manusia yang telah jatuh dalam dosa itu adalah mati secara rohani. Kaum Injili yang lain mengakui bahwa manusia telah jatuh ke dalam dosa dan kejatuhan manusia itu merupakan hal yang serius. Mereka bahkan mengakui bahwa dosa merupakan persoalan yang berakibat radikal. Mereka tidak ragu-ragu untuk mengemukakan bahwa manusia itu tidak hanya sekedar sakit, tetapi sakit yang bersifat kekal, sakit sampai mati. Tetapi manusia belum mati. Manusia masih memiliki nafas kehidupan rohani yang kecil yang tertinggal di dalam tubuhnya. Manusia masih memiliki sedikit kebenaran dalam hatinya, sedikit kemampuan moral yang tertinggal dalam kejatuhannya.

Saya pernah mendengar dua ilustrasi dari seorang hamba Tuhan yang memohon pertobatan dari para pendengarnya. Ilustrasi pertama adalah sebuah analogi tentang seseorang yang menderita penyakit yang mematikan. Orang berdosa sama seperti seseorang yang menderita penyakit yang mematikan. Ia tidak mampu untuk menyembuhkan dirinya sendiri dari penyakit itu. Ia terbaring di atas tempat tidur dengan keadaan hampir lumpuh total. Ia tidak dapat sembuh jika Allah tidak memberikan obat yang dapat menyembuhkannya. Orang itu sedemikian buruk kondisinya sehingga ia tidak mampu mengulurkan tangannya untuk menerima obat itu. Oleh karena itu, Allah bukan hanya menawarkan obat itu tetapi Allah harus meletakkan obat itu pada sebuah sendok dan kemudian menyodorkan pada mulut orang itu. Kalau Allah tidak melakukan hal itu, maka orang itu pasti meninggal. Tetapi walaupun Allah telah melakukan 99% dari apa yang harus diperbuat-Nya, orang itu masih tetap harus melakukan yang 1%lagi. Ia harus membuka mulutnya untuk memakan obat itu. Ini adalah saatnya bagi kehendak bebas untuk berperan, di mana keputusan yang diambil oleh orang itu akan menentukan apakah dia akan ke surga atau ke neraka. Orang yang membuka mulutnya untuk menerima pemberian obat itu akan diselamatkan. Sebaliknya, orang yang tetap mengatupkan mulutnya akan binasa.

Analogi ini hampir saja dengan benar menafsirkan pengajaran Alkitab dan pengajaran Paulus tentang anugerah kelahiran baru. Tetapi analogi tersebut tidak sepenuhnya tepat. Alkitab tidak membicarakan orang berdosa yang menderita sakit yang mematikan. Menurut Paulus, orang berdosa telah mati. Tidak ada sedikitpun kehidupan rohani yang teringgal di dalam dirinya. Jikalau orang berdosa mau dijadikan hidup, Allah harus berbuat lebih banyak dari pada sekedar memberikan obat baginya. Orang mati tidak akan membuka mulutnya untuk menerima apapun yang disodorkan. Rahang mereka sudah terkunci dalam kematian itu. Orang berdosa harus dibangkitkan dari kematiannya itu. Orang berdosa harus dibangkitkan dari kematian. Orang berdosa harus menjadi ciptaan baru yang diciptakan oleh Kristus dan dilahirkan kembali oleh Roh Kudus.

Ilustrasi kedua berikut ini merupakan ilustrasi yang juga sangat terkenal dalam usaha penginjilan. Dalam ilustrasi yang kedua ini, manusia yang telah jatuh ke dalam dosa digambarkan sebagai seseorang yang sedang tenggelam dan tidak dapat berenang. Orang ini telah timbul tenggelam cukup lama di dalam air. Jikalau ia terbenam ke dalam air sekali lagi, maka ia akan mati. Harapan satu-satunya ialah Allah melemparkan alat penyelamat kepadanya. Allah lalu melemparkan alat penyelamat itu tepat di sisi jari-jari orang yang akan tenggelam itu. Yang harus dilakukan orang itu supaya diselamatkan adalah memegang erat penyelamat itu. Jika ia memegang alat itu, maka Allah akan menariknya ke darat. Sebaliknya apabila ia menolak alat penyelamat itu, maka ia pasti akan binasa.

Sekali lagi, dalam ilustrasi ini jelas menunjukkan penekanan yang sama: ketidakberdayaan manusia tanpa pertolongan Allah. Orang yang tenggelam itu berada dalam kondisi serius. Ia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Tetapi, ia masih hidup. Ia masih dapat mengulurkan jari-jarinya serta memegang erat alat penyelamat itu. Jari-jarinya merupakan penghubung yang krusial dengan keselamatan dirinya. Nasibnya dalam kekekalan bergantung kepada apa yang dilakukannya dengan jari-jari tangannya itu.

Paulus berkata bahwa manusia telah mati. Manusia tidak hanya akan tenggelam, melainkan ia telah tenggelam di dasar lautan. Oleh karena itu, tidak ada gunanya melemparkan alat penyelamat kepada seorang yang sudah tenggelam. Menurut saya, apa yang dimaksudkan oleh Paulus ialah Allah menyelam ke dalam air serta menarik orang mati itu dari dasar lautan dan kemudian melakukan tindakan ilahi, yaitu menghembuskan nafas kepada orang mati itu dan memberikan hidup yang baru kepadanya.

Adalah penting untuk mengerti bahwa regenerasi itu berhubungan dengan hidup baru. Regenerasi berarti kelahiran baru atau dilahirkan kembali. Orang sering kali bingung dalam hal ini. Kelahiran baru yang disebut dalam Alkitab dikaitkan dengan kehidupan baru yang merupakan milik kita di dalam Kristus. Sama seperti di dalam ilmu biologi natural bahwa tidak akan ada kehidupan tanpa kelahiran, demikian pula halnya dalam hal-hal yang supranatural, yaitu tidak akan ada kehidupan baru tanpa kelahiran baru.

Kelahiran dan kehidupan memang berkaitan erat, tetapi keduanya bukan hal yang sama. Kelahiran adalah awal dari kehidupan yang baru. Kelahiran merupakan saat yang menentukan. Kita mengerti hal itu dalam masalah biologi yang umum. Setiap tahun kita merayakan hari kelahiran kita. Kita tidak sama dengan ratu dalam cerita Alice in wonderland yang merayakan semua hari yang bukan hari kelahirannya. Kelahiran adalah pengalaman satu kali. Hari itu bisa dirayakan tetapi tidak bisa di ulangi. Ini adalah momen transisi yang menentukan apakah seseorang itu sudah dilahirkan atau belum.

Demikian pula halnya dengan kelahiran kembali secara rohani. Kelahiran kembali menghasilkan kehidupan yang baru. Kelahiran kembali itu merupakan awal dari kehidupan baru tetapi bukan merupakan keseluruhan dari kehidupan yang baru. Kelahiran baru adalah momen transisi yang penting dari kematian rohani kepada kehidupan rohani. Seseorang tidak pernah dilahirkan kembali secara sebagian. Oleh karena itu, hanya ada satu kemungkinan: orang itu sudah dilahirkan baru atau belum dilahirkan baru.

Pengajaran Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa regenerasi merupakan pekerjaan Allah semata-mata. Kita tidak dapat melahirbarukan diri kita sendiri. Daging tidak dapat menghasilkan roh. Regenerasi merupakan tindakan penciptaan. Allah yang melakukan penciptaan itu.

Dalam teologi ada istilah teknis yang dapat membantu kita untuk lebih mengerti masalah ini, yaitu monergisme, yang berasal dari dua akar kata. Mono artinya "satu". Monopoli merupakan suatu usaha yang memiliki pasaran untuk dirinya sendiri. "Monoplane" merupakan pesawat terbang dengan single-winged (berbaling-baling satu). Erg menunjuk pada satuan usaha. Dari kata itu kita mendapat kata umum yang selalu dipakai yaitu energi.

Menggabungkan kedua akar kata tersebut, maka kita mendapatkan arti "one-working" (usaha satu pihak). Ketika kita mengatakan bahwa regenerasi adalah monergistik, maksud kita adalah bahwa hanya satu pihak saja yang melakukan pekerjaan itu. Pihak itu adalah Allah Roh Kudus. Dialah yang melahirbarukan kita. Kita tidak mampu untuk melakukannya sendiri, atau membantu-Nya untuk melaksanakan tugas itu.

Seolah-olah kita memperlakukan manusia seperti boneka. Boneka dibuat dari bahan kayu. Boneka tidak dapat memberikan tanggapan. Boneka itu lembam, tanpa kehidupan. Boneka itu digerakkan dengan tali-tali dalam pertunjukan panggung boneka. Tetapi, kita tidak berbicara tentang boneka. Manusia tidak sama dengan boneka. Kita berbicara tentang manusia yang merupakan mayat secara rohani. Manusia ini tidak memiliki hati yang terbuat dari serbuk gergaji, tetapi terbuat dari batu. Manusia ini tidak digerakkan oleh tali-temali. Secara biologis manusia ini masih hidup. Manusia ini dapat bergerak dan bertindak. Manusia ini membuat keputusan-keputusan, tetapi mereka tidak pernah mengambil keputusan bagi Allah.

Setelah Anda melahirbarukan jiwa manusia, yaitu setelah Allah membuat kita hidup kembali secara rohani, kita melakukan pemilihan. Kita percaya. Kita memiliki iman. Kita bersandar kepada Kristus. Perihal kita percaya kepada Kristus itu tidak diputuskan oleh Allah. Allah tidak memutuskan hal percaya itu bagi kita. Tetapi, kita sendirilah yang memutuskan untuk percaya kepada Kristus setelah kita dilahirbarukan oleh Allah. Jadi, iman itu tidak bersifat monergistic (one-working atau usaha satu pihak) seperti kelahiran baru.

Sebelumnya, kita telah membahas tentang keadaan yang buruk dari manusia yang telah jatuh ke dalam dosa dan status dari kehendak manusia itu. Kita menegaskan bahwa walaupun manusia telah jatuh ke dalam dosa, tetapi ia tetap memiliki kehendak bebas, dalam pengertian bahwa ia masih dapat melakukan pemilihan/memilih. Masalah manusia berdosa, yang kita definisikan sebagai ketidakmampuan secara moral, adalah tidak adanya keinginan untuk memilih Kristus. Manusia itu tidak mau dan tidak mempunyai inklinasi untuk memilih Kristus. Manusia harus memiliki keinginan untuk memilih Kristus terlebih dahulu, sebelum ia dapat memilih Kristus. Oleh karena itu, jika manusia manusia itu tidak mempunyai keinginan untuk memiliki Kristus, maka ia tidak akan pernah bersedia menerima Kristus.

Dalam kelahiran baru, Allah mengubah hati kita. Allah memberikan kepada kita karakter yang baru dan kecenderungan yang baru. Ia menanamkan keinginan terhadap Kristus di dalam hati kita. Kita tidak akan pernah percaya kepada Kristus untuk memperoleh keselamatan jika kita tidak terlebih dahulu memiliki keinginan akan Kristus. Itulah sebabnya kami mengatakan bahwa regenerasi mengawali atau mendahului iman. Tanpa kelahiran baru, kita tidak memiliki keinginan akan Kristus, kita tidak memilki keinginan akan Kristus. Tanpa keinginan akan Kristus, kita tidak akan pernah memilih Kristus. Karena itu, kita menyimpulkan bahwa sebelum seseorang akan percaya, dan sebelum seseorang akan percaya, dan sebelum seseorang dapat percaya, Allah terlebih dahulu harus mengubah karakter hati orang tersebut.

Tindakan Allah untuk melahirbarukan kita adalah merupakan tindakan anugerah. Mari kita lihat kembali Efesus 2:4-5.

"Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita..."

Ada sebuah cindera mata pada meja tulis saya yang disulam oleh seorang wanita di sebuah gereja yang pernah saya layani. Pada cindera mata yang sederhana itu tertulis satu kata saja yakni "Tetapi". Ketika Paulus berbicara mengenai keadaan kerohanian manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, pembicaraan itu cukup membuat kita putus asa. Akhirnya sampai kepada kata penting yang membuat kita bisa bernafas lega. "Tetapi". Tanpa kata "tetapi" ini, maka kita diperhadapkan pada kebinasaan. Kata "tetapi" ini menunjuk pada esensi dari kabar baik itu.

Paulus berkata, "Tetapi Allah, yang kaya dengan rahmat..." Perhatikan bahwa ia tidak berkata, "Tetapi manusia, yang kaya dengan rahmat." Hanya Allah saja yang membuat kita hidup. Kapankah Ia melakukan hal itu? Paulus tidak membiarkan kita untuk menebak. Ia berkata, "...ketika kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita." Ini adalah anugerah yang sangat ajaib, karena diberikan kepada kita ketika kita berada dalam kematian rohani.

Paulus menyimpulkan bahwa hal itu semata-mata merupakan anugerah dan bukan hasil usaha manusia. Sebagaimana yang ia nyatakan dalam kesimpulan berikut, "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah." Ayat ini harus menjadi meterai bagi masalah ini untuk selama-lamanya. Iman yang menyelamatkan kita merupakan pemberian. Ketika rasul Paulus mengatakan bahwa itu bukan keluar dari diri kita, ia tidak bermaksud bahwa iman itu bukan iman kita. Sekali lagi, Allah tidak membuat kepercayaan itu untuk kita. Iman merupakan iman kita sendiri, tetapi iman itu tidak berasal dari kita. Iman itu diberikan kepada kita. Pemberian itu bukan merupakan hasil usaha kita atau diberikan oleh karena kita layak menerimanya, tetapi merupakan pemberian yang berdasarkan anugerah semata-mata.

Sepanjang "Reformed" Protestan, ada tiga slogan yang menjadi sangat terkenal. Slogan itu dinyatakan dalam bahasa latin: Sola fide, Sola gratia, dan Solo deo gloria. Ketiga slogan ini saling berkaitan erat satu dengan yang lain. Ketiga slogan itu tidak boleh dipisahkan satu dengan yang lain. Slogan itu berarti: Hanya dengan iman, Hanya dengan anugerah, dan Kemuliaan hanya bagi Allah saja.

ANUGERAH YANG TIDAK DAPAT DITOLAK (IRRESSISTIBLE GRACE)

Kebanyakan orang Kristen setuju bahwa pekerjaan Allah dalam regenerasi merupakan anugerah. Titik permasalahan yang telah membuat kita menjadi kelompok-kelompok adalah persoalan tentang apakah anugerah ini dapat ditolak atau tidak dapat ditolak. Apakah mungkin jika seseorang menerima anugerah kelahiran baru tetapi di dalam diri orang itu tetap tidak timbul iman kepada Kristus?

Kaum Calvinis akan menjawab dengan tegas : "Tidak!" Tetapi bukan dalam pengertian bahwa anugerah keselamatan Allah itu secara harfiah tidak bisa ditolak. Sekali lagi kita terbentur pada singkatan TULIP. Kita telah merubah singkatan TULIP menjadi RULIP dan sekarang kita akan mengubahnya lagi menjadi RULEP.

Istilah Irresitible grace dapat menyelewengkan arti yang sebenarnya. Kaum Calvinis percaya bahwa manusia dapat menolak dan benar-benar menolak anugerah Allah. Pertanyaannya adalah, "Apakah anugerah regenerasi dapat gagal untuk menyelesaikan tujuannya?" Patut diingat bahwa manusia yang mati secara rohani adalah masih hidup secara biologis. Mereka masih memiliki kehendak untuk berpaling dari Allah. Mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk menolak anugerah Allah. Sejarah Israel merupakan sejarah kekerasan hati manusia dan sejarah ketegartengkukan manusia yang berulang kali menolak anugerah Allah.

Anugerah Allah dapat ditolak dalam pengertian bahwa kita dapat menolaknya dan memang pada dasarnya kita menolaknya. Anugerah Allah tidak dapat ditolak dalam pengertian bahwa anugerah Allah pasti mencapai tujuannya. Anugerah Allah telah menjadikan kerinduan Allah menjadi kenyataan. Oleh karena itu, saya lebih suka memakai istilah effectual grace, atau anugerah yang efektif.

Kita sedang berbicara mengenai anugerah kelahiran baru. Pada waktu kelahiran baru, Allah menciptakan keinginan terhadap Diri-Nya Sendiri di dalam diri manusia. Dan pada saat keinginan itu ditanamkan dalam diri kita, kita tetap akan bertindak sebagaimana biasanya, yakni kita membuat pilihan/memilih berdasarkan motivasi yang terkuat pada waktu itu. Jadi, apabila Allah memberikan kepada kita keinginan terhadap Kristus, maka kita akan bertindak berdasarkan keinginan itu. Kita pasti akan memilih objek dari keinginan yang ada di dalam diri kita itu, yaitu kita akan memilih Kristus. Pada saat Allah menghidupkan kita secara rohani, maka kita menjadi hidup secara rohani. Allah tidak sekedar menciptakan suatu kemungkinan untuk menjadi hidup secara rohani. Allah sungguh-sungguh menciptakan kehidupan secara rohani di dalam diri kita. Pada saat Allah berfirman, maka terciptalah segala sesuatu yang Ia Firmankan.

Kita berbicara mengenai "panggilan internal dari Allah." Panggilan internal dari Allah memiliki kuasa dan keefektifan yang sama dengan penggilan-Nya ketika ia menciptakan dunia ini. Allah tidak mengundang dunia untuk menjadi ada. Dengan mandat Ilahi-Nya Allah berfirman, "Jadilah terang!" maka jadilah terang itu, dan tidak dapat terjadi sesuatu yang berbeda dengan apa yang difirmankan oleh Allah. Terang itu harus mulai bersinar seketika itu juga.

Apakah Lazarus dapat tinggal dalam kuburan pada waktu Yesus memanggilnya keluar? Yesus berseru, "Lazarus marilah ke luar!" Lazarus segera keluar dari kuburan itu. Ketika Allah melakukan tindakan menciptakan, Allah menggunakan kuasa yang hanya dimiliki oleh Allah sendiri. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk menjadikan sesuatu dari yang tidak ada, dan menjadikan kehidupan dari kematian.

Sampai pada pernyataan ini, kita menemukan lebih banyak kebingungan lagi. Saya teringat akan pelajaran pertama yang pernah saya dengar dari John Gerstner, yaitu berkenaan dengan topik predestinasi. Pada waktu pelajaran diberikan, Dr. Gerstner diinterupsi oleh seorang murid yang mengangkat tangannya. Gerstner kemudian memberikan kesempatan kepada murid itu. Murid itu bertanya, "Dr. Gerstner, apakah saya dapat berasumsi bahwa Bapak adalah seorang Calvinis?" Gerstner menjawab, "Ya!" dan ia melanjutkan lagi pelajarannya. Beberapa menit kemudian Gerstner berbalik bertanya kepada muridnya, "Apakah definisimu tentang seorang Calvinis?"

Murid itu menjawab, "Seorang Calvinis adalah orang yang percaya bahwa Allah memaksa sejumlah orang untuk memilih Kristus dan menghalangi yang lain untuk dapat memilih Kristus." Gerstner sangat terkejut. Ia berkata, "Jikalau itu merupakan definisi seorang Calvinis, maka saya pasti bukan termasuk seorang Calvinis."

Pengertian yang salah akan anugerah yang tidak dapat ditolak telah tersebar luas. Pada suatu waktu saya pernah mendengar seorang rektor dari sebuah Seminari Presbiterian menyatakan, "Saya bukan seorang Calvinis, karena saya tidak percaya bahwa Allah memaksa sejumlah orang untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, padahal sebenarnya orang-orang tersebut menolak mati-matian akan kehendak Allah ini. Dan pada saat yang sama, Allah mengesampingkan orang-orang yang mati-matian ingin masuk ke dalam Kerajaan Surga."

Saya menjadi tercengang mendengar perkataan ini. Saya tidak mengira bahwa seorang rektor seminari Presbiterian dapat memiliki pandangan yang begitu menyimpang dan mengajarkan teologi itu pada gerejanya. Ia sedang menunjukkan gambaran dirinya yang sangat menyimpang dari Calvinisme yang sebenarnya.

Calvinisme tidak pernah mengajarkan bahwa Allah memaksa sejumlah orang yang mati-matian tidak mau untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, dan mengesampingkan orang-orang yang sangat ingin masuk ke sana. Perlu diingat bahwa butir yang paling utama dari doktrin predestinasi "Reformed" adalah terletak pada pengajaran Alkitab tentang kematian rohani manusia. Manusia secara natural tidak menginginkan Kristus. Manusia baru dapat menginginkan Kristus jika Allah menanamkan keinginan terhadap Kristus di dalam hatinya. Pada waktu kerinduan itu telah ditanamkan di dalam dirinya, maka manusia yang datang pada Kristus itu tidak akan datang sambil berteriak-teriak oleh karena dipaksa untuk melakukan sesuatu yang melawan kehendaknya sendiri. Mereka datang karena mereka ingin datang. Mereka sekarang menginginkan Kristus. Mereka segera berlari kepada Sang Juru selamat. Anugerah yang tidak dapat ditolak adalah kelahiran baru yang menghidupkan seseorang ke dalam kehidupan rohani sedemikian rupa, sehingga dapat melihat sifat baik Yesus yang tidak dapat mereka tolak. Yesus menjadi Pribadi yang tidak dapat ditolak oleh orang-orang yang telah dihidupkan keinginannya pada hal-hal yang berhubungan dengan Allah. Setiap jiwa yang hatinya berdegup dengan kehidupan di dalam Allah, maka orang itu akan selalu rindu kepada Kristus yang hidup. Semua yang Bapa berikan kepada Kristus akan datang kepada Kristus (Yoh. 6:37).

Istilah "Anugerah yang Efektif" dapat menghindarkan kita dari kebingungan. Anugerah yang Efektif merupakan anugerah yang secara efektif mewujudkan apa yang Allah inginkan.

Apakah perbedaan pandangan ini dengan pandangan regenerasi dari "Non-Reformed"? Alternatif lain yang sangat populer adalah pandangan Prevenient Grace.

PREVENIENT GRACE

Prevenient Grace adalah anugerah yang datang sebelum/mendahului sesuatu. Secara umum didefinisikan sebagai suatu pekerjaan yang Allah lakukan bagi setiap orang. Allah memberikan kepada semua orang anugerah yang cukup sehingga setiap orang dimungkinkan untuk dapat memberikan tanggapan yang benar kepada Yesus. Dengan kata lain, anugerah Allah cukup untuk memungkinkan seseorang dapat memilih Kristus. Orang-orang yang bersedia untuk bekerja sama dengan Allah dan mau menerima anugerah Allah ini adalah "orang-orang pilihan." Mereka yang menolak untuk bekerja sama dengan anugerah Allah ini adalah orang-orang yang terhilang."

Keunggulan dari pandangan ini adalah mengakui bahwa kondisi rohani menusia yang telah jatuh ke dalam dosa adalah sangat parah sehingga anugerah Allah dibutuhkan untuk menyelamatkannya. Kelemahan pandangan ini dapat dilihat dari dua segi. Pertama, jikalau prevenient grace ini hanya sekedar merupakan terobosan secara eksternal bagi manusia, maka keadaannya sama dengan analogi obat dari tali penyelamat yang sudah dibahas sebelumnya. Apakah manfaat prevenient grace jika diberikan dari luar kepada ciptaan yang mati secara rohani?

Pada segi lain, jikalau "prevenient grace" menunjuk pada sesuatu yang Allah perbuat di dalam hati manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, maka pertanyaan kita adalah: "Mengapa anugerah Allah ini tidak selalu efektif?" Mengapa ada manusia yang memutuskan untuk bekerja sama dengan "prevenient grace", dan ada manusia yang tidak mau? Bukankah setiap orang mendapatkan porsi "prevenient grace" yang sama?

Cobalah memikirkan hal ini, bagaimana kalau saudara sendiri yang mengalami secara pribadi. Saudara sebagai orang Kristen tentu dapat melihat orang-orang di sekitar Saudara yang bukan Kristen. Apakah yang membuat Saudara memilih Kristus? Mengapa Saudara berkata, "ya" kepada "prevenient grace" sedangkan mereka mengatakan "tidak"? Apakah karena saudara lebih benar daripada mereka? Apabila demikian, maka itu berarti Saudara memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan. Apakah kebenaran Saudara itu merupakan hal yang dicapai oleh usaha Saudara sendiri, atau kebenaran itu merupakan hasil pemberian Allah? Apabila kebenaran itu merupakan hasil usaha Saudara sendiri, maka pada dasarnya keselamatan Saudara bergantung kepada kebenaran Saudara sendiri. Apabila kebenaran itu merupakan pemberian Allah, lalu mengapa Allah tidak memberikan hal yang sama kepada setiap orang?

Mungkin bukan karena Saudara lebih benar dari pada orang lain. Mungkin karena Saudara lebih pandai dari mereka. Mengapa Saudara dapat lebih pandai? Apakah karena Saudara belajar lebih banyak (yang artinya sama dengan Saudara lebih benar dari orang lain)? Atau Saudara lebih pandai oleh karena Allah mengaruniakan kepandaian kepada Saudara yang Allah tidak berikan kepada orang lain?

Yang pasti, kebanyakan orang Kristen yang menganut pandangan "prevenient grace" ini menjadi kecil nyalinya menghadapi jawaban-jawaban seperti di atas. Mereka melihat kecongkakan terselubung di dalam jawaban itu. Walaupun biasanya mereka akan menjawab, "Tidak, saya memilih Kristus karena saya menyadari kebutuhan saya yang sangat serius akan Dia."

Ungkapan tersebut tentu saja nampaknya lebih rendah hati. Tetapi saya harus mengajukan pertanyaan lain. Mengapa Saudara dapat menyadari kebutuhan yang sangat serius akan Kristus sementara sesama Saudara tidak demikian? Apakah karena Saudara lebih benar dari sesama Saudara, atau lebih pandai dari mereka?

Pertanyaan utama bagi pendukung pandangan "prevenient grace" adalah: Mengapa ada orang yang bekerja sama dengan anugerah Allah dan ada orang yang tidak? Jawaban kita terhadap pertanyaan ini akan menyatakan kepercayaan atas keselamatan: keselamatan macam apa yang kita dapatkan.

Pertanyaan berikutnya adalah: "Apakah Alkitab mengajarkan doktrin "prevenient grace" kepada kita? Apabila "ya", di mana?

Kita menyimpulkan bahwa keselamatan kita adalah dari Tuhan. Dialah yang melahirbarukan kita. Orang yang telah dilahirbarukan pasti akan datang kepada Kristus. Jika tidak ada regenerasi maka tak seorang pun akan pernah datang kepada Kristus. Jika kita mengalami regenerasi, maka tidak ada seorang pun yang akan pernah menolak Dia. Anugerah keselamatan Allah itu mengefektifkan apa yang akan Allah kehendaki atas diri seseorang, sehingga apa yang Allah kehendaki itu terlaksana dengan efektif.

RINGKASAN PASAL LIMA:

  1. Keselamatan kita terjadi berdasarkan inisiatif Allah. Allah Roh Kudus yang membebaskan manusia dari belenggu dosa. Allah Roh Kudus yang telah meniupkan nafas kehidupan rohani ke dalam diri kita dan membangkitkan kita dari kematian rohani.
  2. Kondisi kita sebelum dibangkitkan adalah mati secara rohani. Kematian secara rohani ini lebih parah dari pada penyakit yang mematikan. Tidak ada kehidupan rohani sedikitpun di dalam diri kita jika Allah sendiri tidak menghidupkannya.
  3. Jika tidak ada kelahiran baru, maka tak seorang pun akan datang kepada Kristus. Semua orang yang telah dilahirkan baru pasti datang kepada kepada Kristus. Orang yang mati terhadap hal-hal yang berhubungan dengan Allah akan tetap mati terhadap Allah jika Allah tidak menghidupkannya kembali. Orang yang dibangkitkan oleh Allah akan hidup di hadapan Allah. Keselamatan adalah berasal dari Tuhan.

Sumber: 

Sumber diambil dari:
(Bag. 1)

Judul Buku
Judul Artikel
Penulis
Penerbit
Halaman
:
:
:
:
:
Kaum Pilihan Allah
Kematian Rohani dan Kehidupan Rohani: Kelahiran Baru dan Iman
R.C. Sproul
SAAT Malang, 1998
93-104

(Bag. 2)
Judul Buku
Judul Artikel
Penulis
Penerbit
Halaman
:
:
:
:
:
Kaum Pilihan Allah
Kematian Rohani dan Kehidupan Rohani: Kelahiran Baru dan Iman
R.C. Sproul
SAAT Malang, 1998
104-119

Doktrin Sola Scriptura

Dear e-Reformed netters,

Kiriman artikel bulan Juli ini diambil dari Majalah Veritas (Vol. 3, Nomor 1 - April 2002). Judul dan isi artikel ini saya yakin sangat menarik dan penting, yaitu "Doktrin Sola Scriptura", yang ditulis oleh Sdr. Yohanes Adrie Hartopo. Artikel sebelumnya telah disampaikan dalam Retreat Pembinaan Doktrinal yang diselenggarakan oleh Seminari Alkitab Asia Tenggara dalam rangka Hari Reformasi ke-484, di Hotel Kusuma Agrowisata, Batu, pada 29-31 Oktober 2001.

Selamat membaca.

In Christ,

Editorial: 

Dear e-Reformed netters,

Kiriman artikel bulan Juli ini diambil dari Majalah Veritas (Vol. 3, Nomor 1 - April 2002). Judul dan isi artikel ini saya yakin sangat menarik dan penting, yaitu "Doktrin Sola Scriptura", yang ditulis oleh Sdr. Yohanes Adrie Hartopo. Artikel sebelumnya telah disampaikan dalam Retreat Pembinaan Doktrinal yang diselenggarakan oleh Seminari Alkitab Asia Tenggara dalam rangka Hari Reformasi ke-484, di Hotel Kusuma Agrowisata, Batu, pada 29-31 Oktober 2001.

Selamat membaca.

In Christ,
Yulia

Penulis: 
Yohanes Adrie Hartopo
Edisi: 
031/VII/2002
Isi: 

[Catatan : **Angka merah dalam artikel adalah Catatan Kaki yang dapat ditemukan pada akhir artikel]

PENDAHULUAN

"Unless I am convinced by Sacred Scriptura or by evident reason, I will not recant. My consience is held captive by the Word of God and to act against conscience is neither right nor safe."

Kata-kata ini diucapkan oleh Martin Luther pada 18 April 1521 ketika ia diajukan pada sidang kekaisaran di kota Worms di hadapan kaisar Charles V yang menjadi penguasa Jerman (dan beberapa bagian Eropa lainnya) pada saat itu, serta di hadapan para pemimpin gerejawi. Luther dipanggil ke kota ini dengan tujuan supaya ia menarik kembali perkataan dan pengajarannya. Ia diminta mengaku salah di depan publik untuk apa yang ia tuliskan dan ajarkan tentang Injil, keselamatan melalui iman, dan hakikat gereja. Tetapi ia tidak bersedia melakukannya.**1

Mengapa Luther tidak bersedia? Sebab hati nuraninya dikuasai sepenuhnya oleh firman Tuhan. Ia yakin sepenuhnya bahwa Alkitab dengan jelas mengajarkan kebenaran tentang manusia, jalan keselamatan, dan kehidupan Kristen. Ia melihat bahwa kebenaran-kebenaran yang penting ini sudah dikaburkan dan diselewengkan oleh gereja-gereja pada saat itu, yang seharusnya justru menjadi pembela yang setia. Di mata Luther, dasar penyelewengan gereja pada saat itu adalah pengajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab.**2 Ia tidak dapat tahan lagi melihat kerusakan gereja yang telah melawan Alkitab, yang juga sudah mencemari aspek-aspek kehidupan gereja lainnya.

Di sinilah kita melihat sikap Reformasi terhadap Alkitab. Prinsip penting yang ditegakkan dalam gerakan Reformasi adalah Sola Scriptura (hanya percaya kepada apa yang dikatakan oleh Alkitab yang adalah firman Tuhan, karena hanya Alkitab yang memiliki otoritas tertinggi). Kita mengetahui dua ungkapan yang mewakili gerakan Reformasi yaitu Sola Fide dan Sola Scriptura. Sering dikatakan bahwa Sola Fide adalah prinsip material dari pengajaran Reformasi, sedangkan Sola Scriptura adalah prinsip formalnya.**3 Kalau ditelusuri lebih dalam lagi maka jelaslah bahwa prinsip Sola Scriptura ada di balik semua perdebatan mengenai pembenaran melalui iman, karena Luther yakin sekali bahwa kebenaran ini diajarkan di dalam Alkitab.**4

SOLA SCRIPTURA DAN KEWIBAWAAN ALKITAB

Para Reformator tidak pernah berusaha menegakkan doktrin yang baru atau berminat mendirikan gereja yang lain, yang mereka inginkan ialah mereformasi gereja,**5 dalam pengertian mereka ingin menghidupkan kembali kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek gerejawi yang murni berdasarkan Alkitab. John R. de Witt mengatakan, "The Reformation rediscovered and accentuated afresh the authority of the Bible."**6 Para Reformator memiliki semangat untuk mengembalikan iman orang Kristen dan kekristenan kepada otoritas Alkitab. John Calvin mengemukakan,

Biarlah hal ini kemudian menjadi suatu aksioma yang pasti: bahwa tidak ada yang lain yang harus diakui di dalam gereja sebagai firman Allah kecuali apa yang termuat, pertama dalam Torah dan Kitab Nabi- nabi, dan kedua dalam tulisan-tulisan para Rasul; dan bahwa tidak ada metode pengajaran lain di dalam gereja yang berlainan dari apa yang sesuai dengan ketentuan dan aturan dari firman-Nya.**7

Prinsip Sola Scriptura dengan jelas mendobrak tirani dari suatu hierarki gerejawi yang sudah "corrupt" karena gereja menempatkan dirinya lebih tinggi dari firman Tuhan. Padahal, berdasarkan Efesus 2:20 dapat dikatakan bahwa otoritas Alkitab sudah lebih dulu ada sebelum gereja berdiri karena gereja didirikan di atas dasar pengajaran para rasul dan para nabi. Pengajaran para rasul dan nabi adalah pengajaran firman Tuhan, yang jelas bukan hanya lebih tua tetapi juga lebih tinggi dari pengajaran gereja. Alkitab mampu memberikan penilaian atas gereja sekaligus memberikan model bagi gereja yang benar.

Para Reformator memiliki pendapat yang tegas bahwa wewenang gereja dan para penjabatnya (para Paus, dewan-dewan dan teolog-teolog) berada di bawah Alkitab. Ini tidak berarti mereka tidak memiliki wewenang. Namun, sebagaimana diungkapkan Alister McGrath, wewenang tersebut berasal dari Alkitab dan berada di bawah Alkitab.**8 Kewibawaan mereka dilandaskan pada kesetiaan mereka pada firman Allah. Selanjutnya McGrath mengatakan, "Bila orang-orang Katolik menekankan pentingnya kesinambungan historis, para Reformator dengan bobot yang sama menekankan makna penting dari kesinambungan ajaran.**9

Jadi, prinsip Sola Scriptura menolak otoritas tradisi gereja yang disetarakan dengan otoritas Alkitab. Sebuah catatan perlu diberikan di sini guna menghindari kesalahpahaman yang sudah cukup umum. Banyak orang berpikir bahwa para Reformator percaya kepada otoritas Alkitab yang tanpa salah, sedangkan gereja Roma Katolik percaya hanya kepada otoritas gereja dan tradisinya yang tanpa salah. Ini suatu kekeliruan. Pada masa Reformasi, kedua pihak sama-sama mengakui otoritas Alkitab.**10 Contohnya, bagi sebagian besar teolog abad pertengahan, Alkitab merupakan sumber yang mencukupi untuk ajaran Kristen.**11 Yang menjadi pertanyaan dan perdebatan ialah: "Is the Bible the only infallible source of special revelation?"**12

Gereja Roma Katolik mengajarkan ada dua sumber wahyu khusus, yaitu Alkitab dan tradisi. Tradisi di sini dimengerti sebagai satu sumber yang berbeda, di samping Alkitab. Alkitab tidak berkata apa-apa mengenai sejumlah pokok masalah atau doktrin, dan Allah telah menetapkan suatu sumber wahyu kedua untuk melengkapi kekurangan ini. Ini adalah suatu tradisi yang tidak tertulis. Jikalau ditelusuri lebih mendalam, tradisi yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya di dalam gereja, itu dianggap berasal dari para rasul. Jadi tradisi yang dimaksud di sini adalah "a separate, unwritten source handed down by apostolic succession."**13 Dengan demikian, suatu kepercayaan yang tidak ditemukan dalam Alkitab, dapat dibenarkan dengan mengacu pada tradisi yang tidak tertulis tersebut.

Gereja Roma Katolik memberikan otoritas kepada tradisi ini, karena itu mereka tidak mengizinkan siapapun menafsir Alkitab dengan cara yang bertentangan dengan tradisi tersebut. Jelas mereka meninggikan tradisi melebihi Alkitab, bahkan menganggap bahwa Alkitab hanya bisa ditafsirkan dan diajarkan dengan perantaraan Paus atau konsili gerejawi. Para Reformator dengan tegas melawan konsep ini. Dalam perdebatan dengan teolog-teolog Roma Katolik, Luther dengan berani menegaskan bahwa adalah mungkin bagi Paus dan konsili gerejawi untuk melakukan kesalahan.

Prinsip Sola Scriptura juga tidak dapat dilepaskan dari masalah kanon Alkitab. Istilah "kanon" (aturan, norma) digunakan untuk merujuk pada kitab-kitab yang oleh gereja dianggap otentik. Bagi teolog-teolog abad pertengahan dan gereja Roma Katolik, yang dimaksud dengan Alkitab ialah karya-karya yang tercakup dalam Vulgata. Di dalamnya terdapat tambahan kitab-kitab yang sering disebut kitab-kitab Apokrifa, yang tidak terdapat dalam PL bahasa Ibrani. Para Reformator tidak setuju dengan adanya tambahan tersebut, dan mereka merasa berwenang untuk mempersoalkan penilaian ini. Menurut mereka, tulisan-tulisan PL yang dapat diakui untuk masuk ke dalam kanon Alkitab hanyalah yang asli terdapat di dalam Alkitab Ibrani.**14 Kitab-kitab Apokrifa memang merupakan bacaan yang berguna, tetapi tidak bisa digunakan sebagai dasar ajaran.**15 Penegasan Sola Scriptura mengakibatkan mereka menyingkirkan semua kitab di luar keenam puluh enam kitab dalam Alkitab. Perbedaan ini tetap ada sampai sekarang.**16

Mengapa para Reformator sangat menjunjung tinggi otoritas Alkitab? Jawabannya sederhana sekali: karena Alkitab adalah firman Tuhan, maka Alkitab dengan sendirinya memiliki kewibawaan atau otoritas. Luther berkata, "The Scriptures, although they also were written by men, are not of men nor from men, but from God."**17 Sedangkan menurut Calvin,

The Scriptures are the only records in which God has been pleased to consign his truth to perpetual rememberance, the full authority which they ought to possess with faithful is not recognized, unless they are believed to have come from heaven, as directly as if God had been heard giving utterance to them.**18

Jadi ada konsensus bahwa Alkitab harus diterima seakan-akan Allah sendirilah yang sedang berbicara.

Otoritas Alkitab berakar dan berdasarkan pada fakta bahwa Alkitab diberikan melalui inspirasi Allah sendiri (2Tim. 3:16). Inspirasi adalah cara di mana Allah memampukan penulis-penulis manusia dari Alkitab untuk menulis semua perkataan di bawah pengawasan Allah sendiri. Kepribadian dan kemanusiawian para penulis Alkitab diakui aktif dalam proses di mana Roh Allah memimpin mereka dalam proses inspirasi tersebut. Karena itu apa yang ditulis bukan semata-mata tulisan mereka sendiri tetapi firman Allah yang sejati. Calvin memberi komentar mengenai 2Timotius 3:16,

This is the principles that distinguishes our religion from all others, that we know that God hath spoken to us and are fully convinced that the prophets did not speak of themselves, but as organs of the Holy Spirit uttered only that which they had been commissioned from heaven to declare. All those who wish to profit from the Scriptures must first accept this as a settled principle, that the Law and the prophets are not teachings handed on at the pleasure of men, or produced by men's minds as their source, but are dictated by the Holly Spirit.**19

Bagaimana sebenarnya cara atau metode mengenai inspirasi ilahi ini tidak dipaparkan secara jelas dalam Alkitab.**20 Butir yang lebih krusial adalah fakta bahwa "the Scriptures are the direct result of the breathing out of God."**21 B.B. Warfield memberikan komentar yang sangat baik mengenai kata Yunani theopneustos:

The Greek term has...nothing to say inspiring or of inspiration: it speaks only of a "spiring" or "spiration." What it says of Scripture is, not that it is "breathed into by God" or that it is the product of the Divine "inbreathing" into its human authors, but that it is breathed out by God...when Paul declares, then, that "every scripture," or "all scripture" is the product of the Divine breath, "is God-breathed," he asserts with as much energy as he could employ that Scripture is the product of a specifically Divine operation.**22

Ini berarti semua yang ditulis para penulis Alkitab itu berasal dari Allah. Jadi, Alkitab berotoritas adalah karena kenyataan dirinya sebagai penyataan ilahi yang diberikan melalui inspirasi ilahi.

Pertanyaan penting berkaitan dengan otoritas Alkitab ialah: Berdasarkan apa kita menerima otoritas Alkitab tersebut? Bagaimana kita tahu dan yakin bahwa yang kita tegaskan tentang otoritas Alkitab itu benar adanya? Apakah melalui gereja kita mengerti dan diyakinkan akan otoritas Alkitab sebagai firman Allah (pandangan gereja Roma Katolik yang tradisional)? Di dalam sejarah gereja kita melihat ada banyak orang berusaha memberikan argumen-argumen yang rasional guna mendukung klaim bahwa Alkitab adalah firman Tuhan. Tetapi kita pun tahu bahwa sering argumen-argumen itu, meskipun perlu dan penting, tidak sepenuhnya "convincing."

Di sini kita melihat satu pokok pikiran Calvin yang sangat penting berkaitan dengan masalah ini. Ia dengan tidak henti-hentinya menegaskan bahwa dasar satu-satunya yang meyakinkan mengapa kita percaya otoritas Alkitab adalah kesaksian Roh Kudus sendiri. Kita percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah karena kesaksian Roh Kudus. Ia mengatakan:

The testimony of the Spirit is more excellent than all reason. For as God alone is a fit witness of himself in his Word, so also the Word will not find acceptance in men's hearts before it is sealed by the inward testimony of the Spirit. The same Spirit, therefore, who has spoken through the mouths of the prophets must penetrate into our hearts to persuade us that they faithfully proclaimed what had been divinely commanded.**23

Jadi, otoritas Alkitab tidak tergantung pada bukti-bukti kehebatan dan kesempurnaannya, tetapi oleh karena iman yang Roh Kudus sudah kerjakan dalam hidup orang-orang percaya sehingga mereka mempercayai kebenaran Alkitab dan menaklukkan diri di bawah otoritas tersebut. James M. Boice mengutarakan bahwa kesaksian Roh Kudus ini adalah "the subjective or internal counterpart of the objective or external revelation."**24

Apa yang Calvin ajarkan di sini sesuai dengan perkataan Paulus di 1Korintus 2:13-14. Jadi, jelas sekali bahwa terlepas dari karya Roh Kudus seseorang tidak akan menerima kebenaran-kebenaran rohani dan secara khusus tidak akan menerima kebenaran bahwa perkataan-perkataan Alkitab adalah firman Allah. Calvin juga mengatakan, "But it is foolish to attempt to prove to infidels that the Scripture is the Word of God. This it cannot be known to be, except by faith."**25

Keyakinan yang datangnya dari kesaksian Roh Kudus adalah keyakinan yang muncul ketika kita membaca firman Tuhan dan mendengar suara Tuhan berbicara melalui perkataan-perkataan Alkitab tersebut serta menyadari bahwa ini bukanlah kitab biasa. Roh Kudus berbicara di dalam (in) dan melalui (through) perkataan-perkataan Alkitab dalam memberikan keyakinan ini.**26 Tepatlah apa yang dikatakan oleh seorang pastor, "If you have the Bible without the Spirit, you will dry up. If you have the Spirit without the Bible, you will blow up. But if you have both the Bible and the Spirit together, you will grow up."

Setelah zaman Reformasi, pandangan ortodoks mengenai Alkitab mendapat serangan demi serangan. Gereja Roma Katolik bahkan secara resmi pada tahun 1546 (konsili Trent) menempatkan tradisi gereja berdampingan dan setara dengan Alkitab sebagai sumber penyataan. Serangan lain datang dari golongan rasionalis pada abad 18 dan 19. Alkitab bukanlah "God word to man" tetapi "man's word about God and man." Alkitab hanya berisi kesaksian atau catatan manusia tentang karya penyataan dan keselamatan Allah dalam sejarah. Sifat ilahi yang unik dari Alkitab ditolak, sehingga otoritasnya pun ditolak. Otoritas tertinggi ialah rasio manusia. Rasio menusia memiliki kebebasan mutlak yang harus terlepas dari klaim-klaim teologis.**27

Bagaimana dengan sikap gereja-gereja Tuhan terhadap Alkitab? Sola Scriptura adalah doktrin yang menegaskan bahwa Alkitab, dan hanya Alkitab, yang memiliki kata akhir untuk semua pengajaran dan kehidupan kita. Seluruh aspek pemikiran dan kehidupan kita harus tunduk pada firman Allah. Benarkah demikian? David Well, dalam bukunya, No Place for Truth,**28 memberikan kritik tajam kepada golongan injili yang sudah jatuh ke dalam berbagai pencobaan zaman modern, sehingga akhirnya kebenaran Allah sudah tidak lagi mengatur gereja-gereja. Hal-hal apa sajakah yang menjadi mentalitas zaman ini? Menurut Well ada beberapa, yakni:

  1. Subjectivism: basing one's life upon human experience rather than upon objective truth
  2. Psychological therapy as the way to deal with human needs
  3. A preoccupation with "professionalism," especially business management and marketing techniques as the model for achievement any kind of common enterprise
  4. Consumerism: the notion that we must always give people what they want or what they can be induced to buy
  5. Pragmatism: the view that results are the ultimate justification for any idea or action

Akibatnya, masih menurut Wells, Allah tidak lagi menjadi sesuatu yang penting dalam hidup manusia. Kebenaran tidak lagi menguasai gereja. Teologi tidak memberikan daya tarik. Khotbah-khotbah hanya berpusatkan pada "felt needs." Teori-teori marketing dan manajemen dalam pertumbuhan gereja menggantikan prinsip-prinsip Alkitab. Hal ini perlu menjadi pemikiran serius bagi gereja-gereja Tuhan.

Bagaimana sikap para hamba Tuhan terhadap Alkitab? Panggilan hamba Tuhan ialah panggilan untuk mempelajari dan menguraikan firman Tuhan (bdk. Kis 20:27, dimana Paulus mengajarkan "the whole counsel of God" selama pelayanannya di Efesus). Menurut de Witt, salah satu ciri khas teologi Reformed ialah pandangan mengenai berkhotbah (preaching) yang distingtif. Ia menulis, "It is by preaching that God confronts people and draws them to himself, conforming them to the pattern of his Son; indeed, it is by preaching that Jesus addresses himself to the hearts and consciences of men (Rom. 10:14)."**29 Berdasarkan apa yang dinyatakan di dalam Alkitab, preaching adalah eksposisi dan aplikasi firman Tuhan. Tugas ini dipercayakan kepada para hamba Tuhan (bdk. Kis. 6:1 dst.). John Stott dengan keras berkata, "Sehat tidaknya keadaan jemaat-jemaat kita lebih banyak tergantung pada mutu pelayanan pemberitaan firman Tuhan daripada hal-hal lainnya...apa yang terjadi di bangku jemaat memancarkan apa yang terjadi di mimbar."**30 Apakah tugas ini sudah kita jalankan dengan penuh kesungguhan dan keseriusan karena kita memberitakan firman yang memiliki otoritas dari Allah?

SOLA SCRIPTURA DAN PENAFSIRAN ALKITAB

Elemen baru di dalam pengajaran Sola Scriptura dari para Reformator sebenarnya bukanlah permasalahan otoritas Alkitab, karena gereja Roma Katolik juga berpegang pada hal itu. Elemen yang baru berkaitan dengan masalah penafsiran Alkitab. Bukanlah hal yang berlebihan kalau dikatakan bahwa Reformasi pada abad 16 tersebut pada dasarnya adalah suatu revolusi hermeneutik.**31 Gerakan Reformasi menolak penafsiran otoritatif terhadap Alkitab, khususnya dari gereja Roma Katolik yang menekankan bahwa Paus atau konsili gerejawilah yang memiliki otoritas untuk menafsirkan Alkitab. Sampai zaman Reformasi Alkitab masih dianggap oleh kebanyakan orang sebagai kitab yang "obscure." Orang awan biasa tidak dapat diharapkan untuk mengertinya, sehingga mereka tidak didorong untuk membacanya. Bahkan Alkitab tidak tersedia dalam bahasa yang mereka mengerti. Mereka jelas bergantung sepenuhnya pada penafsiran gereja yang bersifat otoritatif. Pengajaran Alkitab dikomunikasikan kepada orang-orang Kristen hanya melalui perantaraan Paul, konsili, atau pastor.

Para Reformator sangat menekankan prinsip "private interpretation," yakni hak untuk menafsirkan Alkitab secara pribadi. Dengan demikian setiap orang Kristen memiliki hak untuk membaca dan menafsirkan Alkitab untuk dirinya sendiri.**32 Tetapi ini bukan berarti kepada setiap individu diberikan hak untuk menyelewengkan atau mendistorsi Alkitab. Ini adalah prinsip yang berasumsi bahwa Allah yang hidup berbicara kepada umat-Nya secara langsung dan otoritatif melalui Alkitab. Karena itu orang Kristen harus didorong untuk membaca Alkitab. Alkitab harus diterjemahkan kedalam bahasa umum. Luther, contohnya, sangat menekankan hal ini, sehingga ia menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman.

Para tokoh Reformator sendiri tampaknya menekankan pengertian mereka terhadap Alkitab dengan tidak mempedulikan apakah pengajaran mereka bertentangan dengan keputusan-keputusan konsili atau penafsir-penafsir gerejawi lainnya. Bagi mereka gereja bukanlah penentu arti Alkitab, justru Alkitablah yang harus mengoreksi dan menghakimi gereja. Tetapi pertanyaannya: apakah memang tidak ada peranan pengajaran (tradisi) gereja sama sekali dalam hal ini? Reformasi sering kali dilihat mempunyai ciri khas yaitu suatu "massive break" dengan tradisi gereja. Yang benar adalah, para Reformator menentang otoritas tradisi dan otoritas gereja, hanya sejauh otoritas tersebut mengungguli otoritas Alkitab.**33

Para Reformator tidak pernah menolak tradisi eksegetis dan teologis dari gereja yang didasarkan dan tunduk pada kebenaran Alkitab. Mereka menghormati tradisi, khususnya yang diajarkan oleh bapa-bapa gereja (terutama Agustinus). Luther berkata, "The teachings of the Fathers are useful only to lead us to the Scriptures as they were led, and then we must hold to the Scriptures alone."**34 Calvin, sebagai contoh, menulis edisi Institutes pertama pada tahun 1536 ketika ia masih berusia dua puluhan. Buku ini mengalami revisi beberapa kali, dan edisi akhir adalah tahun 1559. Selama masa dua dekade tersebut ia berkecimpung dan sibuk memberikan eksposisi Alkitab dan berkhotbah. Dalam hal ini ia berinteraksi banyak dengan penafsiran penafsir-penafsir sebelumnya. T. H. L. Parker berkata tentang Calvin:

As his understanding of the Bible broadened and deepened, so the subject matter of the bible demanded ever new understanding in its interrelation within itself, in its relations with secular philosophy, in its interpretation by previous commentators.**35

Maka jelaslah, seperti yang Silva katakan, "the reformation marked a break with the abuse of tradition but not with the tradition itself."**36 Kritik yang diberikan adalah terhadap ajaran dan praktek yang sudah menyeleweng dari, atau bertentangan dengan, Alkitab. Para Reformator masih mempertahankan ajaran-ajaran gereja yang paling tradisional (seperti keilahian Kristus, Trinitas, baptisan anak, dan sebagainya) karena ajaran-ajaran tersebut sesuai dengan Alkitab. Mereka menghargai tulisan-tulisan bapa-bapa gereja yang adalah pembela-pembela kebenaran Alkitab.

Hak "private interpretation" haruslah disertai dengan tanggung jawab untuk memakai dan menafsirkan Alkitab dengan hati-hati dan akurat. Karena itu dalam hal ini kebutuhan akan penafsir dan guru sangat diperlukan. Memang Alkitab dapat dibaca dan dimengerti oleh orang-orang percaya (doktrin the clarity or perspicuity of Scripture), tetapi masih ada hal-hal tertentu yang masih belum jelas dan sulit bagi banyak orang yang sudah tentu membutuhkan suatu penyelidikan dan penelitian akademik. Ketidakjelasan atau kekaburan tersebut lebih banyak disebabkan oleh ketidaktahuan akan bahasa, tata bahasa, dan budaya dari penulis Alkitab, daripada dikarenakan isi pengajaran atau subject-matter-nya. Oleh sebab itu, "biblical scholarship" sangat penting dan diperlukan.

Kontribusi penting dari para Reformator terhadap penafsiran Alkitab ialah penegasan mereka mengenai "plain meaning" (arti yang alamiah atau wajar) dari Alkitab. Secara khusus kepedulian mereka adalah menyelamatkan Alkitab dari penafsiran alegoris yang masih terus ada saat itu.**37 Luther mengungkapkan, "The Holy Spirit is the plainest writer and speaker in heaven and earth and therefore His words cannot have more than one, and that the very simplest sense, which we call the literal, ordinary, natural sense." Apa yang ditekankan di sini bukanlah penafsiran harafiah yang kaku. Prinsip ini menegaskan bahwa "the Bible must be interpreted according to the manner in which it is written."**39 Arti yang "plain" dari Alkitab adalah arti yang dimaksudkan oleh penulis manusia, dan hal itu hanya dapat dimengerti melalui analisa konteks sastra dan sejarah. Jadi jelaslah ada aturan- aturan dalam penafsiran yang harus diikuti untuk menghindari penafsiran yang subjektif dan aneh-aneh. Pengaruh dari semangat Renaissance dalam hal ini tidak bisa dipungkiri. Kita melihat adanya suatu ketertarikan baru terhadap sifat historis dari tulisan-tulisan kuno, di mana Alkitab termasuk di dalamnya.**40

Ada yang mengatakan, "It is almost a truism to say that modern historical study of the Bible could not have come into existence without the Reformation."**41 Prinsip Reformasi ini terkait erat dengan apa yang kita sebut metode penafsiran "Grammatical-Historical," yang berfokus pada "historical setting" dan "grammatical structure" dari bagian-bagian Alkitab. Dalam hal ini para Reformator berfokus pada sifat manusiawi dari Alkitab itu sendiri. Ekses negatif dari pendekatan ini adalah pendapat yang mengatakan bahwa Alkitab harus dimengerti dan ditafsirkan seperti buku biasa lainnya. Inilah yang membuka jalan untuk pendekatan "Historical-Critical" yang berkembang pada abad 18-19. Bedanya dengan pendekatan Reformasi adalah, iman atau komitmen teologi tidak diperbolehkan mempengaruhi penafsiran.**42 Mereka berusaha untuk netral, tetapi sebenarnya tidak dapat netral karena mereka sudah berpegang pada "teologi" (iman) mereka sendiri yaitu teologi yang tidak percaya adanya intervensi Allah dalam dunia ini. Sumbangsih gerakan Reformasi dalam hal penafsiran Alkitab sangat penting, di mana prasuposisi iman tidak mungkin dilepaskan dari penafsiran Alkitab.

Pemikiran Reformasi mengenai penafsiran Alkitab juga menolong kita untuk berhati-hati di dalam merespons segala bentuk pendekatan atau metode penafsiran posmodernisme, yang secara khusus memberikan penekanan pada respons dari pembaca masa kini (reader-response approach). Pendekatan ini beranggapan bahwa tidak ada "meaning" yang pasti dan benar, yang ada hanyalah "meanings" yang muncul atau dihasilkan dari pembaca sendiri. Bahaya subjektivisme dan relativisme sangat terlihat di sini. Memang betul penafsiran Alkitab tidak hanya berhenti pada interpretasi, tetapi aplikasi. Kendati demikian ini bukan berarti aplikasi yang tidak terkontrol dan sembarangan di mana seolah-olah pembacanya yang menentukan arti dan aplikasinya.**43

Gerakan Reformasi juga menetapkan suatu prinsip penting dalam penafsiran yaitu "Scripture is to interpret itself" (Sacra Scriptura sui interpres). Kita menafsirkan Alkitab dengan Alkitab. Oleh sebab itu, kita tidak mempertentangkan satu bagian Alkitab dengan bagian lainnya. Apa yang tidak jelas di suatu bagian mungkin dapat dijelaskan oleh bagian lain. Di balik prinsip ini ada sebuah keyakinan bahwa jikalau Alkitab ialah firman Allah maka ia bersifat koheren dan konsisten pada dirinya sendiri. Allah tidak mungkin berkontradiksi dengan diri-Nya sendiri. Memang benar Alkitab dituliskan oleh orang-orang yang berbeda, yang hidup pada zaman yang berbeda pula. Tetapi kita juga menyadari bahwa Allah adalah Penulis aslinya, sehingga jelas ada kesatuan dan koherensi. Ini tidak sama artinya dengan uniformitas (keseragaman). Para penulis manusia menunjukan tulisan mereka pada situasi yang nyata, tetapi Allah dalam kedaulatan-Nya menuntun mereka dan situasi mereka, bahkan secara langsung mempengaruhi dan mengajar mereka (bdk. 2Ptr. 1:21), sehingga kita melihat kesatuan pikiran di balik semua itu. Untuk mengetahui maksud Allah tidak mungkin kita memperhatikan "bits" dan "pieces" saja. Kita harus melihat Alkitab secara keseluruhan, sama seperti ketika kita bermaksud mengetahui maksud penulis manusia, yaitu dengan membaca hasil akhir karyanya.

Jelaskan bahwa Alkitab menyajikan tujuan ilahi. Concern Alkitab adalah memberitahukan kepada kita suatu "story," yaitu cerita mengenai karya penebusan Allah bagi umat-Nya melalui Yesus Kristus. Alkitab menyajikan kepada kita "Redemptive History." Oleh sebab itu ayat-ayat dalam Alkitab tidak pernah dapat ditafsirkan lepas dari konteks kesatuan keseluruhan Alkitab. Setiap bagian Alkitab berkaitan erat dan tidak boleh ditafsirkan di luar konteks rencana dan aktivitas Allah yang bersifat "redemptive-historical" dan "covenantal" (relasi antara Allah dan umat-Nya).

PENUTUP

Apakah doktrin Sola Scriptura masih relevan untuk dipertahankan? Melihat situasi yang kita hadapi saat ini maka penegasan doktrin yang mendasar ini masih sangat penting. Kita sekarang hidup pada zaman yang sering kali disebut sebagai zaman pascamodernisme. Apa yang menjadi mentalitas zaman ini? William Edgar mengemukakan, "at the heart of the postmodern mentalily is a culture of extreme skepticism... According to many postmodernists, knowledge is no longer objective-nor even useful-and ethics is not universal."**44 Inilah dunia yang tidak kompatibel dengan kebenaran injil, dan di dalam dunia yang seperti ini Tuhan memanggil kita untuk mempertahankan kebenaran firman-Nya.

Daftar Catatan Kaki

**1. Earle E. Cairns, Christianity Through the Centuries (Edisi ketiga; GrandRapids: Zondervan, 1996) 284.

**2. Stephen Tong, Reformasi & Teologi Reformed (Jakarta: LRII, 1991) 13.

**3. Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi (Jakarta: Gunung Mulia, 1999) 174.

**4. R. C. Sproul, Grace Unknown: The Heart of Reformed Theology (Grand Rapids: Baker, 1997) 42.

**5. Tony Lane, The Lion Concise Book of Christian Thought (Tring: Lion, 1984) 110-111.

**6. What is the Reformed Faith? (Edinburgh: Banner of Truth, 1981) 5.

**7. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi 182.

**8. Ibid. 185. McGrath juga mengutip Calvin yang mengatakan, "... kita berpegang bahwa....bapa-bapa gereja dan dewan-dewan hanya berwibawa sejauh mereka sesuai dengan aturan dari firman itu, kita masih memberikan kepada dewan-dewan dan bapa-bapa gereja kehormatan dan kedudukan seperti yang sesuai untuk mereka miliki di bawah Kristus" (Sejarah Pemikiran Reformasi 186).

**9. Ibid. 186.

**10. J.M. Boice, Foundations of the Christian Faith (Downers Grove: IVP, 1986) 48.

**11. Alister McGrath, The Intellectual Origins the European Reformation (Oxford: Oxford University Press, 1987) 140-151.

**12. Sproul, Grace Unknown 42.

**13. J. Van Engen, "Tradition" dalam Evangelical Dictionary of Theology (ed. Walter Elwell; Grand Rapids: Baker, 1984) 1105.

**14. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi 182-183.

**15. Contohnya, pengajaran Roma Katolik mengenai doa untuk orang mati didasarkan pada 2Makabe 12:40-46. Bagi para Reformator, kebiasaan ini tidak mempunyai dasar alkitabiah, karena kitab tersebut adalah kitab Apokrifa.

**16. Konsili Trent 1546 tetap mendifinisikan kanon sesuai dengan apa yang ada di dalam Alkitab Vulgata.

**17. "That Doctrines of Men Are to Be Rejected" dalam What Luther Says: An Anthology (ed. Elwald M. Plass; St. Louis:Concordia, 1959) 1.63.

**18. Institutes of the Cristian Relegion (tr. H. Beveridge; London: James Clarke, 1953) I.vii.1.

**19. Calvin's New Testament Commentaries (tr. T. A. Small; Grand Rapids: Eerdmands, 1964) 10.330.

**20. Luther sendiri juga tidak pernah mengembangkan teologi tentang inspirasi Alkitab.

**21. Boice, Foundations 39.

**22. The Inspiration and Authority of the Bible (ed. Samuel G. Craig London: Marshall & Scott, 1959) 133.

**23. Institutes I. vii. 4.

**24. Foundation 49.

**25. Institutes I.viii. 13.

**26. Dalam hal inilah kita berbeda dengan pandangan Neo-Ortodoksi mengenai Alkitab. Kita percaya bahwa tulisan-tulisan dalam Alkitab adalah perkataan Allah kepada kita, terlepas dari apakah kita membacanya, mengerti, menerimanya atau tidak. Status Alkitab tidak ditentukan oleh respons manusia. Neo-Ortodoksi menekankan bahwa Alkitab menjadi firman Allah pada saat ada "encounter." Ketika tidak ada encounter, maka Alkitab hanyalah kata-kata manusia belaka yang menuliskannya. Sebenarnya pengertian wahyu sebagai suatu "encounter" tersebut adalah apa yang kita mengerti sebagai iluminasi. Pada saat seseorang diyakinkan akan suatu kebenaran tertentu, itu berarti illuminasi sedang terjadi.

**27. Robert M. Grant dan David Tracy, A Short History of the Interpretation of the Bible (Edisi kedua; Minneapolis: Fortress, 1984) 100-109. Tepatlah apa yang dikatakan Boice, "The Catholic Church weakened the orthodox view of the Bible by exalting human traditions to the stature of Scripture. Protestans weakened the orthodox view of Scripture by lowering the Bible to the level of traditions" (Foundations 70)

**28. Atau Whatever Happened to Evangelical Theology? (Grand Rapids: Eerdmans,1993).

**29. What is the Reformed Faith? 17-18

**30. Alkitab: Buku Untuk Masa Kini (tr. Paul Hidayat; Jakarta: PPA, 1987)60-61.

**31. Moises Silva, Has the Church Misread the Bible? (Grand Rapids:Zondervan, 1987)77.

**32. Sproul, Grace Unknown 55.

**33. Silva, Has the Church 95.

**34. Dikutip dari Dan McCartney dan Charles Clayton, Let the Reader Understand: A Guide to Interpreting and Applying the Bible (Wheathon: Bridgepoint, 1994) 93.

**35. John Calvin: A Biography (Philadelphia: Westminster, 1975) 132.

**36. Silva, Has the Church 96.

**37. Ibid. 77-78.

**38. Works of Martin kLuther (Philadelpia: Holman, 1930) 3.350

**39. Sproul, Grace Unknown 56.

**40. Edgar Krentz, The Historical-Critical Method (Philadelphia: Fortress, 1975) 7-10.

**41. Grant and Tracy, A Short History 92.

**42. Krentz, The Historical 16-30.

**43. Lihat ulasan yang menarik oleh Kevn J. Vanhoozer, Is There A Meaning in the Text? The Bible the Reader, and the Morality of Literary Knowledge (Grand Rapids: Zondervan, 1998) khususnya pasal 4 & 7.

**44. Reasons of the Heart: Recovering Christian Persuasion (Grand Rapids: Baker, 1996) 25.

Sumber: 

Sumber diambil dari:

Judul Buku : Majalah Veritas (Vol. 3, Nomor 1 - April 2002)
Judul Artikel : Doktrin Sola Scriptura
Penulis : Yohanes Adrie Hartopo
Penerjemah : -
Penerbit : -
Halaman : -

Komentar


Syndicate content