Mengusahakan Pertumbuhan Pola Pikir Rohani

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters

Artikel yang saya kirimkan ke anda untuk edisi Mei ini, diambil dari cuplikkan sebuah buku mungil yang berjudul "Thinking Spiritually". Buku ini sebenarnya hanya merupakan "digest version" dari tulisan karya John Owen "The Grace and Duty of Being Spiritually Minded" yang aslinya jauh lebih sulit untuk dibaca khususnya untuk mereka yang kurang mahir dalam Bahasa Inggris. Tapi syukur kepada Tuhan karena Philip G. telah meringkaskannya dalam bahsa yang lebih mudah dan sederhana -- Buku ini telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Momentum dalam Bahasa Indonesia dengan judul "Berpola Pikir Rohani".

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk menjadi bacaan dan perenungan setiap orang Kristen yang sungguh-sungguh ingin hidup memuliakan Tuhan. Sekali anda baca, anda akan ingin terus membacanya sampai habis. Berikut ini saya hanya cuplikkan 3 artikel/bab dari 'Bagian Dua -- Mengusahakan Pertumbuhan Pola Pikir Rohani'. Kiranya melalui 3 bacaan/bab kecil ini anda dapat dirangsang untuk semakin memikirkan hidup dan pola pikir rohani kita masing-masing.

To God be the glory!

In Christ,
Yulia

Edisi: 
029/V/2002
Isi: 

CARA ALLAH MENDORONG KITA MEMILIKI POLA PIKIR ROHANI (Bab 11)

Suatu pola pikir rohani tumbuh serta terdiri dari kesukaan akan hal- hal rohani: apa yang kita cintai, itulah yang akan menawan diri kita. Pertandingan akbar antara sorga dan neraka dimaksudkan untuk melihat yang mana di antara keduanya yang paling kita cintai. Orang yang memiliki cinta kita akan memiliki seluruh diri kita. Cinta membuat kita memberikan seluruh diri kita, seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya. Cinta bagaikan kemudi kapal -- kemana kemudi itu mengarah, ke sanalah kapal tersebut akan menuju.

Tidak mengherankan bila dunia berusaha mendapatkan cinta kita. Dunia harus mencoba untuk menarik minat kita sekarang, selagi ada waktu, karena dunia ditakdirkan untuk berakhir nantinya. Tetapi yang mengejutkan adalah, bila ternyata Allah pun berusaha mendapatkan cinta kita (Amsal 23:26). Karena itulah, saya ingin menasihatkan agar Saudara memikirkan hal-hal yang dapat menolong mengalihkan cinta Saudara dari dunia ini, serta mengarahkannya kepada Allah. Mengabaikan ajaran Allah yang telah dinyatakan melalui pemeliharaan-Nya atas dunia, berarti juga menghina hikmat-Nya.

Allah telah menyatakan dengan jelas bahwa dibandingkan dengan hal-hal rohani, hal-hal duniawi adalah sia-sia. Sebelum kejatuhan manusia dalam dosa, Allah pernah menyatakan bahwa dunia ini amat baik adanya. Tetapi setelah peristiwa kejatuhan tersebut, dunia kemudian berada di bawah kutuk. Alkitab menasihati orang Kristen untuk tidak mengasihi dunia ini (1Yohanes 2:15-17). Melalui banyak hal yang telah dilakukan- Nya, Allah telah menyatakan dengan jelas bahwa dunia ini tidak layak mendapatkan cinta kita.

Contohnya, hakekat sejati dunia ini telah dinyatakan melalui reaksi manusia yang hidup di dalamnya terhadap Kristus, selama Ia ada di tengah-tengah mereka. Ia hidup dengan benar dan tak bercacat, tetapi dunia menolak-Nya. Penolakan Kristus oleh manusia di dunia semata-mata menunjukkan kebobrokan penilaian mereka sendiri. Mungkinkah orang percaya mencintai nilai-nilai serta pendapat dari orang-orang yang telah menyalibkan Tuhan mereka?

Kemudian, Allah kembali menunjukkan hakekat dunia yang sudah berdosa ini melalui cara nenek moyang mereka memperlakukan para rasul. Apakah dengan para rasul berusaha menegakkan kemuliaan kerajaan Allah di dunia ini, maka kemudian dunia menerima mereka dengan penuh sukacita? Ternyata sebaliknya, mereka justru harus hidup dan mati di dalam kemuskinan dan aniaya (1Korintus 4:11-13).

Kita juga dapat melihat bagaimana Allah mengutuk dunia berdosa ini, melalui kenyataan bahwa Ia seringkali melimpahkan kekayaan dan kekuasaan justru kepada orang-orang tak beriman Tak akan ada yang menganggap berharga, benda-benda yang telah dlemparkan orang bijak kepada kawanan babi tersebut! Sebagian dari orang-orang yang paling kaya dan paling berkuasa di dunia ini adalah mereka yang tak beriman dan tak mengenal Tuhan. Tidakkah ini menyatakan kutukan Allah? Jika itu memang berharga, tidakkah Allah akan memberikan kepada mereka yang dikasihi-Nya?

Memang ada cara yang tepat dalam menggunakan hal-hal tersebut dan banyak masalah yang akan timbul bila manusia tidak mengetahuinya. Menurut saya, hanya mereka yang berpola pikir rohanilah yang dapat memiliki hikmat untuk menemukan cara tersebut. Orang-orang yang berpola pikir rohani akan mengerti bahaya dari itu. Mereka tidak akan memusingkan cara memperoleh semua itu, karena mereka menyadari bahwa kenikmatan hidup bukanlah diberikan untuk menjadi milik mereka, melainkan sekedar dipinjamkan kepada mereka agar dapat digunakan secara benar.

Sikap orang percaya terhadap hal-hal duniawi merupakan petunjuk yang akurat bagi kondisi kerohaniannya. Seseorang tidak mungkin dapat melepaskan diri dari hal-hal duniawi, kecuali hatinya melekat pada hal-hal rohani! Untuk dapat tidak memikirkan sesuatu hal, seseorang harus berusaha untuk lebih memikirkan hal-hal lainnya.

Kecintaan kita terhadap hal-hal duniawi benar-benar perlu ditertibkan. Bagaimana mungkin kita mencintai hal-hal yang dikutuk Allah? Kecintaan kita akan hal-hal duniawi tidak akan hilang dengan sendirinya. Kita perlu berjuang untuk menolak kuasanya atas diri kita. Seluruh hidup kita hendaknya dikendalikan oleh Firman Allah saja (1Yohanes 2:5).

Orang Kristen mungkin saja terlihat sangat bersemangat, tetapi bila mereka juga mencintai dunia ini, fakta inilah yang menjadi ukuran kerohanian mereka yang sesungguhnya, bukan semangat mereka tersebut. Jadi bagaimana kita dapat mengetahui kalau kita telah sungguh-sungguh mencintai hal-hal rohani? Inilah topik pembahasan kita untuk bab berikutnya.

CINTA SEJATI AKAN HAL-HAL ROHANI (Bab 12)

Tanpa adanya perasaan cinta dan sukacita atas hal-hal rohani, kita tidak akan dapat memiliki pola pikir rohani! Bagaimana kita tahu bahwa itu adalah cinta sejati? Apakah yang dimaksud dengan cinta rohaniah? Dalam beberapa bab berikut ini saya akan mencoba menguraikannya, menunjukkan ciri-cirinya sekaligus cara-cara meningkatkannya.

Hal utama yang harus kita ingat adalah: tidak akan ada cinta sejati atas hal-hal rohani dalam diri manusia, kecuali bila terjadi pembaharuan rohani atau kelahiran baru dalam hidup mereka, sebagai karya dari anugerah Allah dan kuasa Ilahi-Nya!

Kita hendaknya mulai dengan pernyataan tersebut, karena semua aktivitas alamiah jiwa kita memang telah dicemari oleh dosa (Titus 3:3). Karena ini bukan tempat yang tepat untuk mendiskusikan masalah tersebut secara terperinci, maka saya hanya akan memberikan sedikit komentar singkat. Fakta pencemaran jiwa kita oleh dosa telah dipahami oleh semua orang, termasuk oleh mereka yang tidak mempelajari Alkitab sekalipun. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di dalam diri kita senantiasa terdapat kesiapan untuk melakukan kesalahan. (Dan bila hanya dengan pemahaman akal manusia semata, kecemaran ini telah dapat menjadi nyata, betapa berdosanya mereka yang mengabaikan dan menolaknya justru setelah memperoleh pengajaran Alkitab tentang hal ini!)

Kesiapan untuk melakukan kesalahan yang merupakan kecenderungan alamiah setiap kita, terjadi bukan hanya pada satu macam dosa tertentu. Sebaliknya, kesiapan tersebut nampak dalam berbagai bidang kehidupan secara menyeluruh! Itulah sebabnya, tak satu pun dosa dapat ditanggalkan tanpa adanya pembaharuan pada hakekat keberdosaan seseorang. Kalaupun orang tersebut telah berhenti melakukan suatu jenis dosa tertentu, dosa-dosa lainnya akan segera bermunculan oleh adanya hakekat keberdosaan di dalam dirinya. Adanya hakekat berdosa dalam diri kita akan membuat kita memiliki kemungkinan melakukan dosa apa pun! Kita akan melakukan apa saja yang kita inginkan (Kolose 3:5-7). Bahkan meskipun akal kita telah memberitahukan kita bahwa menuruti naluri berdosa merupakan suatu kebodohan, namun kuasa naluri berdosa tersebut sedemikian kuat, hingga kita tetap melakukannya.

Bukti paling sederhana dari hakekatnya keberdosaan kita adalah: pertama, adanya kebencian terhadap Allah dan hal-hal rohaniah; dan kedua, adanya kecintaan akan dunia ini yang membuat kita sibuk mengejar keuntungan duniawi, bagaikan sekawanan lebah yang mengitari sebuah stoples madu.

Saya harus mengingatkan Saudara bahwa ada kemungkinan bagi seseorang untuk mengalami suatu pembaharuan dalam hidupnya, yang meskipun cukup penting tetapi tidak dapat menghasilkan suatu pola pikir rohani. Ini jelas bukan merupakan pembaharuan khusus Allah. Adakalanya seseorang untuk sementara waktu dapat dipengaruhi oleh pemberitahuan firman dari Alkitab (Matius 13:20-21). Kadang, seseorang juga dapat berubah oleh pendekatan suatu konsep filsafat, suatu pengalaman mengerikan, ataupun oleh pendidikan serta suatu tanggungjawab yang baru (1Samuel 10:9). Tetapi pembaharuan semacam itu tidak akan menghasilkan suatu pola pikir rohani, karena hanya mengubahkan arah keinginannya dari duniawi menjadi sorgawi. Mencintai hal-hal terindah didunia ini mungkin dapat membangun, tetapi tetap saja tidak ada keterlibatan konsep keagungan rohaniah di dalam hal-hal tersebut. Aroma darah akan segera membuat seekor hewan jinak menjadi liar kembali.

Kadangkala, orang-orang tidak beriman mempermalukan kita yang mengaku sebagai orang percaya, dengan cara hidup mereka yang demikian sabar, baik, dan bermanfaat bagi orang lain. Tetapi hanya pembaharuan yang dikaryakan oleh Roh Kudus di dalam diri seseoranglah, yang dapat mengubahkan inti dari hakekat kemanusiaannya dan dengan demikian, menjadikannya orang saleh sejati (Efesus 4:23).

SUKACITA SEJATI DALAM PENYEMBAHAN (Bab 15)

Orang-orang yang memiliki pola pikir rohani menemukan sukacita sejati dalam semua aspek penyembahan, sehingga mereka tidak ingin kehilangan kesempatan semacam itu. Karena itu pula terdapat begitu banyak martir -- mereka ini memilih untuk mati daripada harus berhenti melakukan penyembahan. Daud seringkali menyatakan kerinduannya untuk dapat memiliki pengalaman penyembahan seperti yang dinikmati oleh orang- orang dengan pola pikir rohani, justru ketika kesempatan tidak memungkinkan baginya (Mazmur 42:1-4; 63:1-5; 84:1-4). Selain itu, kesukaan Yesus Kristus akan kegiatan penyembahan tidak perlu diragukan lagi (Yohanes 2:17).

Bagaimanakah cara orang-orang saleh tersebut mendapatkan sukacita dari keterlibatan mereka dalam melakukan penyembahan? Apakah bedanya dengan pengalaman mereka yang tak beriman dalam memperoleh manfaat penyembahan? Saya akan menyatakan beberapa hal yang akan mengungkapkan perbedaan penting di antara keduanya.

Pertama, mereka yang mengalami pembaharuan rohani dalam hidupnya, akan dapat bersukacita dalam penyembahan karena mereka menemukan bahwa iman, kasih, dan sukacita mereka di dalam Allah dibangkitkan melaluinya. Mereka tidak sekedar menampilkan formalitas, suatu tingkah-laku agama yang pada dirinya sendiri tidak bernilai sama sekali di hadapan Allah (Yesaya 1:11; Yeremia 7:22-23). Jika Allah memerintahkan kita melakukan suatu perbuatan, seringkali itu bukan demi perbuatan itu sendiri,tetapi demi menumbuhkan kasih, iman, sukacita, dan hormat kita kepada Allah. Inilah yang dialami oleh orang yang sungguh-sungguh berpola pikir rohani. Bagi mereka penyembuhan merupakan cara menumbuhkan kasih kita kepada Allah!

Mereka yang tidak pernah mengalami pembaharuan rohani yang sesungguhnya, tidak akan dapat melakukan yang lain kecuali menampilkan formalitas. Yang menyedikan, sementara orang-orang tersebut mengira telah menyenangkan Allah, hal ini ternyata justru merupakan suatu penghinaan bagi Allah yang memang membenci formalitas kosong. Dan yang menjadi masalah adalah, tidak ada lagi hal yang dapat dilakukan oleh orang semacam itu. Ketidakpercayaan mereka yang sedemikian kuat telah menunjukkan tidak adanya hal lain dalam penyembahan mereka kecuali formalitas (Yesaya 29:13-14).

Untuk mengidari terjadinya formalitas penyembahan kosong semacam inilah, orang beriman sejati mempersiapkan diri agar dapat memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari kesempatan-kesempatan seperti ini. Mereka tahu bahwa iman merupakan satu-satunya jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah; kasih merupakan satu-satunya jalan bagi ketaatan total kepada-Nya; hormat dan sukacita merupakan satu-satunya jalan untuk hidup berkenan kepada-Nya. Mereka yang akan memperoleh manfaat dari suatu penyembahan adalah mereka yang berusaha melakukan penyembahan dengan segenap jiwa! Melakukan penyembahan tanpa memahami alasan ataupun caranya, bukan hanya akan membuat seseorang gagal memperoleh manfaatnya, tetapi juga membuatnya semakin jauh dari Allah.

Saya tidak pernah menemukan orang percaya yang menolak untuk terlibat dalam penyembahan bersama, tetapi dapat memiliki kehidupan rohani yang sejahtera. Karena itulah kita sebaiknya lebih memikirkan hakekat dari penyembahan semata-mata demi memeliharakan iman dan kasih kita. Tetapi, hal itu bukan terjadi dengan sendirinya! Kita perlu mempersiapkan diri sebelum melakukan penyembahan. Selain itu, kita hendaknya menyembah dengan segenap hati dan pikiran kita (Pengkhotbah 4:17-5:1). Hal ini diperlukan karena kita dapat dengan begitu mudah mengalahkan perhatian dan minat kita kepada hal-hal lahiriah, lebih daripada kepada kuasa dan makna yang sejati. Selanjutnya, kita juga harus dapat memastikan bahwa acara penyembahan tersebut hanya berisikan hal-hal yang diperintahkan oleh firman Allah sendiri. Berbagai kesukaan yang diperoleh melalui suatu aktivitas rohani, tetapi yang sebenarnya tidak dituntut dari diri kita bukanlah timbul dari iman, melainkan dari keinginan manusia semata!

Saya yakin terdapat lebih banyak kesukaan dalam diri seorang pemimpin pelayanan penyembahan dibandingkan dengan mereka yang lain. Ini bukan karena masalah perbedaan metode ataupun pendidikan, melainkan lebih disebabkan oleh perbedaan kesesuaian dengan kebutuhan kita masing- masing akan karunia rohani. Tetapi adanya perbedaan pengaruh penyembahan yang terjadi atas diri kita dari waktu ke waktu, tidak akan mengubahkan fakta bahwa kesukaan dari penyembahan sejati terletak pad kenyataan bahwa hal tersebut membangkitkan dan memperbaharui iman serta kasih mereka yang telah mengalami pembaharuan rohani. Bagi sebagian orang lainnya, sukacita mereka dalam penyembahan semata-mata diperoleh melalui penghargaan mereka terhadap kehebatan kemampuan manusia semata.

Alasan kedua yang membuat mereka yang telah mengalami pembaharuan rohani dapat bersukacita dalam penyembahan adalah, karena acara penyembahan itu sendiri (khotbah, doa, puji-pujian, persekutuan, dll.) merupakan jalan menuju pengalaman kehadiran Allah bagi mereka. Kita mendekatkan diri kepada Allah dengan harapan dapat menumbuhkan iman dan kasih kita; tetapi ketika harapan tersebut telah terpenuhi, sukacita kita ternyata ikut pula menjadi bertambah-tambah.

Melalui penyembahan, orang yang telah lahir baru menerima keyakinan akan kasih Kristus. Inilah karya Roh Kudus (Roma 5:5) melalui penyembahan.

Melalui penyembahan pula, orang yang telah lahir baru mendengar ketukan Sang Kristus pada pintu hatinya (Yohanes 14:23; Wahyu 3:20). Penyembahan bagaikan sebuah taman dimana Kristus menjumpai mereka yang dikasihi-Nya (Kidung Agung 7:21). Kenangan terhadap saat-saat dimana jiwa kita merasakan pengalaman kehadiran Kristus akan meningkatkan sukacita kita saat mengalami peristiwa-peristiwa berikutnya.

Melakukan penyembahan dengan pikiran yang sedang dipenuhi oleh pemikiran akan hal lain, atau tidak dengan diisi oleh pemikiran yang seharusnya, akan menimbulkan sikap suam-suam kuku, dingin, dan tidak perduli. Kita hendaknya segera mengenali tanda keberadaan proses pembusukan yang sedang terjadi dalam hati kita ini.

Alasan ketiga bagi mereka yang telah lahir baru untuk bersukacita dalam penyembahan adalah karena mereka mengetahui bahwa penyembahan merupakan cara untuk mempermuliakan Allah, yang memang adalah tujuan utama penyembahan. Yesus telah menyatakan hal ini dengan sangat jelas melalui doa yang dia ajarkan kepada murid-murid-Nya (Matius 6:9-13). Doa tersebut penuh dengan ungkapan kerinduan akan pernyataan kemuliaan Allah di dunia. Keselamatan maupun kesejahteraan rohani kita sebagai orang percaya tergantung pada realisasi doa tersebut. Kasih kita kepada Allah identik dengan motivasi kita dalam merindukan penyataan kemuliaa-Nya. Karena itulah, orang percaya senantiasa bersukacita untuk melakukan apa saja yang dapat menyatakan kemuliaan-Nya.

Barangsiapa tidak memiliki kerinduan seperti ini ketika melakukan penyembahan, tidak akan memperoleh sukacita sejati di dalamnya, kecuali sekedar perasaan senang yang bersumber dari anggapan pribadi mereka bahwa penyembahan tersebut mempermuliakan diri mereka sendiri di hadapan Allah -- yang seperti kita lihat, ternyata tidak demikian.

Sumber: 

Sumber :

Judul Buku
Penulis
Penerbit
Halaman
:
:
:
:
Berpola Pikir Rohani
John Owen
Momentum, Surabaya, 2001 (114 halaman)
67-78 dan 83-87

Komentar