Surat-surat Terbuka kepada Pendeta

Editorial: 

Dear Reformed Netters,

Howard F. Sugden dalam bukunya yang ditulis bersama-sama dengan Warren W. Wiersbe dan Paul R. Van Gorder, yang berjudul "Prioritas Seorang Pendeta" menuliskan:

"Ketika tiba saatnya untuk membicarakan tugas-tugas pelayanan pendeta, saya menyarankan agar digunakan kata 'gembala' sebagai salah satu istilah untuk menggambarkan pekerjaan yang harus dikerjakan oleh seorang hamba Tuhan dalam hubungan dengan jemaatnya (sebab istilah ini sesuai dengan Kitab Suci). Tetapi ada seseorang yang mengajukan sanggahan, 'Dewasa ini tidak seorang pun yang mengetahui apa gembala itu dan apa yang diperbuatnya dalam dunia kita sekarang ini.' Nampaknya ada pemikiran untuk memperbaharui anggaran dasar sekarang ini dan jangan kembali kepada jaman gembala dahulu.
Saya hampir tak sabar untuk kembali ke ruang belajar, membuka konkordansi dan kamus 'Theological Dictionary of the New Testament' karangan Kittel untuk menyegarkan kembali hati saya dengan kata 'gembala' yang dipakai untuk menyebut Tuhan kita dan hamba-Nya sepanjang jaman. Saya menemukan bahwa kata 'gembala' atau 'domba' itu digunakan lebih dari empat puluh kali dalam kitab Perjanjian Baru, dan Kittel menjelaskan pokok itu sebanyak tujuh belas halaman.
Tapi betul juga teman saya yang membuat sanggahan itu. Siapakah orang yang hidup pada jaman ini; jaman dimana ada kota-kota besar dan ramai, jalan-jalan lintas cepat, dengan berbagai transportasi modern serta banyak tempat rekreasi, yang masih tahu memikirkan tentang 'domba' dan 'gembala'?"

Jika Anda adalah seorang "gembala" (pemimpin jemaat), ketika membaca kutipan di atas mungkin Anda merasa tersanjung mendapat sebutan sebagai seorang "gembala" karena Yesus sendiri menyebut diri sebagai "Gembala" dan tugas yang diemban oleh "gembala" sangatlah dihargai oleh Tuhan. Menjadi "gembala" merupakan panggilan yang mulia, melakukan tugas sebagai seorang "gembala" merupakan suatu "hak istimewa" yang tidak Tuhan berikan kepada setiap orang, tapi hanya kepada orang-orang tertentu saja.

Tapi jika Anda seorang "domba" (jemaat), maka kutipan di atas membuat anda merasa tersanjung, karena bagi "domba" memiliki "gembala" artinya seperti mendapatkan "hak istimewa" untuk dilayani. Maka tidak heran jika Anda menginginkan seorang "gembala" yang selalu siap sedia melayani dan melindungi 'domba-domba-Nya, kalau perlu 24 jam. Anda akan jengkel kalau mendengar "gembala" yang mengeluh atau mengharapkan pujian dari apa yang dilakukannya, karena sebagai seorang "gembala" sudah sepantasnya kalau ia menderita dan berkorban bagi domba-domba- Nya.

Melihat kontras dua pemikiran di atas, saya tertarik untuk mengutipkan beberapa surat-surat terbuka yang ditulis oleh 'domba-domba" yang ditujukan kepada "gembala-gembala"nya. Sangat menarik mengetahui apa yang dipikirkan oleh "domba-domba" tentang "gembala-gembala"nya. Namun sambil anda membaca kutipan surat-surat tsb., saya mengajak anda untuk merenungkan dan menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini:

  1. Jika anda seorang "gembala" jemaat:
    1. Pernahkah anda memahami tugas berat yang harus diemban seorang "gembala"?
    2. Apa reaksi anda bila anda menerima surat-surat seperti itu?
    3. Inginkah anda menerima surat-surat seperti itu dari "domba- domba" anda?
    4. Dalam hal bagaimana anda pantas menerima pujian-pujian dari "domba-domba" anda?
    5. Dalam hal bagaimana anda pantas menerima kritikan-kritikan dari "domba-domba" anda?
  2. Jika anda seorang "domba" jemaat:
    1. Pernahkan anda memahami beratnya tugas seorang "gembala" jemaat?
    2. Pernahkah anda mensyukuri apa yang "gembala" anda lakukan bagi "domba-domba" jemaatnya?
    3. Bagaimana reaksi "gembala" anda jika anda menulis surat-surat seperti itu kepadanya?
    4. Pernahkah anda menyatakan penghargaan kepada 'gembala" anda secara terbuka?
    5. Apa pentingnya bagi "gembala" anda untuk mengetahui apa yang anda pikirkan tentang dia dan tugasnya?

Selamat merenungkan. Kiranya kiriman saya ini dapat menjadi berkat bagi ke dua belah pihak; "gembala" dan "domba".

In Christ,
Yulia

Edisi: 
032/IX/2002
Isi: 

"Ketika tiba saatnya untuk membicarakan tugas-tugas pelayanan pendeta, saya menyarankan agar digunakan kata 'gembala' sebagai salah satu istilah untuk menggambarkan pekerjaan yang harus dikerjakan oleh seorang hamba Tuhan dalam hubungan dengan jemaatnya (sebab istilah ini sesuai dengan Kitab Suci). Tetapi ada seseorang yang mengajukan sanggahan, 'Dewasa ini tidak seorang pun yang mengetahui apa gembala itu dan apa yang diperbuatnya dalam dunia kita sekarang ini.' Nampaknya ada pemikiran untuk memperbaharui anggaran dasar sekarang ini dan jangan kembali kepada jaman gembala dahulu.

Saya hampir tak sabar untuk kembali ke ruang belajar, membuka konkordansi dan kamus 'Theological Dictionary of the New Testament' karangan Kittel untuk menyegarkan kembali hati saya dengan kata 'gembala' yang dipakai untuk menyebut Tuhan kita dan hamba-Nya sepanjang jaman. Saya menemukan bahwa kata 'gembala' atau 'domba' itu digunakan lebih dari empat puluh kali dalam kitab Perjanjian Baru, dan Kittel menjelaskan pokok itu sebanyak tujuh belas halaman.

Tapi betul juga teman saya yang membuat sanggahan itu. Siapakah orang yang hidup pada jaman ini; jaman dimana ada kota-kota besar dan ramai, jalan-jalan lintas cepat, dengan berbagai transportasi modern serta banyak tempat rekreasi, yang masih tahu memikirkan tentang 'domba' dan 'gembala'?"

Jika Anda adalah seorang "gembala" (pemimpin jemaat), ketika membaca kutipan di atas mungkin Anda merasa tersanjung mendapat sebutan sebagai seorang "gembala" karena Yesus sendiri menyebut diri sebagai "Gembala" dan tugas yang diemban oleh "gembala" sangatlah dihargai oleh Tuhan. Menjadi "gembala" merupakan panggilan yang mulia, melakukan tugas sebagai seorang "gembala" merupakan suatu "hak istimewa" yang tidak Tuhan berikan kepada setiap orang, tapi hanya kepada orang-orang tertentu saja.

Tapi jika Anda seorang "domba" (jemaat), maka kutipan di atas membuat anda merasa tersanjung, karena bagi "domba" memiliki "gembala" artinya seperti mendapatkan "hak istimewa" untuk dilayani. Maka tidak heran jika Anda menginginkan seorang "gembala" yang selalu siap sedia melayani dan melindungi 'domba-domba-Nya, kalau perlu 24 jam. Anda akan jengkel kalau mendengar "gembala" yang mengeluh atau mengharapkan pujian dari apa yang dilakukannya, karena sebagai seorang "gembala" sudah sepantasnya kalau ia menderita dan berkorban bagi domba-domba- Nya.

Melihat kontras dua pemikiran di atas, saya tertarik untuk mengutipkan beberapa surat-surat terbuka yang ditulis oleh 'domba-domba" yang ditujukan kepada "gembala-gembala"nya. Sangat menarik mengetahui apa yang dipikirkan oleh "domba-domba" tentang "gembala-gembala"nya. Namun sambil anda membaca kutipan surat-surat tsb., saya mengajak anda untuk merenungkan dan menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini:

  1. Jika anda seorang "gembala" jemaat:
    1. Pernahkah anda memahami tugas berat yang harus diemban seorang "gembala"?
    2. Apa reaksi anda bila anda menerima surat-surat seperti itu?
    3. Inginkah anda menerima surat-surat seperti itu dari "domba- domba" anda?
    4. Dalam hal bagaimana anda pantas menerima pujian-pujian dari "domba-domba" anda?
    5. Dalam hal bagaimana anda pantas menerima kritikan-kritikan dari "domba-domba" anda?
  2. Jika anda seorang "domba" jemaat:
    1. Pernahkan anda memahami beratnya tugas seorang "gembala" jemaat?
    2. Pernahkah anda mensyukuri apa yang "gembala" anda lakukan bagi "domba-domba" jemaatnya?
    3. Bagaimana reaksi "gembala" anda jika anda menulis surat-surat seperti itu kepadanya?
    4. Pernahkah anda menyatakan penghargaan kepada 'gembala" anda secara terbuka?
    5. Apa pentingnya bagi "gembala" anda untuk mengetahui apa yang anda pikirkan tentang dia dan tugasnya?

Selamat merenungkan. Kiranya kiriman saya ini dapat menjadi berkat bagi ke dua belah pihak; "gembala" dan "domba".

In Christ,
Yulia


SURAT-SURAT TERBUKA KEPADA PENDETA

# Surat (1)

Bapak Pendeta yang baik!

Mungkin Bapak Pendeta merasa luar biasa mendengarkan kabar dari saya. Sebelumnya saya tidak pernah berbicara kepada Bapak Pendeta dan Bapak juga tidak pernah bertanya kepada saya. Saya malu untuk menyebutkan hal-hal ini, tetapi bagi saya itu penting dan saya ingin Bapak mengetahuinya.

Pertama, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih atas pengabdian Bapak untuk melayani dan memimpin kami, sampai-sampai Bapak pernah tidak dapat hadir pada perayaan hari ulang tahun anak perempuan Bapak. Berapa kali istri Bapak menunggu untuk makan malam, atau Bapak harus makan makanan yang sudah dingin, bahkan makan sendirian. Pasti, Bapak ingat kesedihan putra Bapak yang berumur 10 tahun karena Bapak tidak dapat menyaksikan dia waktu pertama kali main dalam pertandingan sepak bola.

Setelah saya berterima kasih kepada Bapak, saya ingin menyarankan agar Bapak memberi perhatian yang selayaknya kepada keluarga Bapak. Bersenang-senanglah dengan mereka dan cintailah mereka, sebab hal itu termasuk melayani-Nya. Doronglah para pendeta muda untuk menyediakan waktu bagi keluarga mereka.

Kedua, saya ingin menyarankan kepada Bapak untuk menarik pelajaran dari kebungkaman saya selama bertahun-tahun, sehingga Bapak mulai bercakap-cakap dengan anggota-anggota jemaat. Tanyalah apa yang terjadi dalam kehidupan kami. Beberapa dari kami ingin sekali mengeluarkan apa yang ada dalam hati kami, sedangkan yang lain perlu didorong. Tanyalah bagaimana caranya meningkatkan pelayanan Bapak, dan bagaimana gereja kita bisa lebih maju. Percayalah dan mintalah kepada Tuhan kebijaksanaan, belas kasihan, dan kekuatan untuk mencapai umat-Nya dan memenuhi kebutuhan mereka.

Ketiga, izinkan saya mendorong Bapak agar tetap dalam keyakinan yang dinyatakan oleh Roh Kudus kepada Bapak. Saya tahu bahwa lebih mudah untuk kompromi atau mengabaikan dosa dan ketidakadilan, namun akibatnya ialah Kristus yang dicela dan pelayanan gereja akan kurang efektif. Sudah sering kami tidak mengatakan apa-apa, karena takut orang yang mendengar akan merasa tersinggung. Tempatkan pria dan wanita yang rohani dalam posisi pimpinan. Dengan demikian gereja akan lebih bertambah maju dan kuat.

Akhirnya, yang paling penting menyerahkan diri kepada Yesus Kristus. Biasanya, manusia merasa bangga dapat menemukan sesuatu sendiri. Memang, dengan kekuatan sendiri kita dapat berbuat kebajikan dan bisa melayani dengan baik dalam jabatan kita. Tetapi ini bukanlah cara Tuhan. Tuhan hanya senang kalau kita mengesampingkan keakuan kita dan mengizinkan Tuhan bekerja melalui kita. Maka, kekuatan-Nya, hikmat-Nya, dan belas kasihan-Nya itulah yang akan menjangkau dan melayani umat-Nya. Dengan demikian kebutuhan umat-Nya dicukupi, dan segala hormat kemuliaan diberikan kepada Tuhan.

Terima kasih atas kesediaan Bapak Pendeta untuk mendengarkan saran saya. Saya puji Tuhan karena kasih dan untuk semua yang Tuhan sudah lakukan bagi kami melalui Bapak Pendeta.

Hormat saya di dalam kasih-Nya.

# Surat (2)

Bapak Pendeta yang kekasih,

Pada hari-hari belakangan ini di mana banyak pendeta terus-menerus dikritik oleh jemaat yang tidak tahu berterima kasih, maka saya sungguh-sungguh berterima kasih kepada Bapak atas semua pekerjaan yang Bapak laksanakan demi gereja kita. Bapak tetap bersama-sama kami ketika.....

.....ada orang-orang Kristen yang belum dewasa meskipun dengan maksud baik hampir-hampir membuat perpecahan di gereja pada waktu rapat anggota gereja.

.....anggota-anggota gereja lama tetap berpegang pada pandangan yang kolot sehingga menghambat kemajuan.

.....seorang gadis remaja dari keluarga terpandang kedapatan hamil sebelum menikah.

....pasangan suami istri muda yang terancam perceraian datang kepada Bapak untuk konsultasi.

Bapak setia memberitakan Firman Allah. Karena demikian, maka kami melihat hal-hal ini terjadi......

......seorang suami yang belum selamat yang telah kita doakan selama bertahun-tahun, akhirnya diselamatkan.

......banyak kaum muda kini telah menikah dan membangun rumah tangga Kristen serta aktif dalam gereja.

.....majelis gereja telah mengambil alih lebih banyak tanggung jawab dalam gereja.

.....jemaat kita sangat lapar akan Firman Allah dan dengan penuh perhatian mendengarkan ajaran Firman Allah yang Bapak berikan.

Maka dari itu jangan menyerah! Tuhan memberkati gereja kita. Walaupun tidak sering saya mengatakan hal ini, tetapi sebetulnya Bapak adalah orang yang paling saya hormati dalam hidup ini. Saya mendoakan Bapak beserta keluarga Bapak setiap hari. Tuhan pasti menyediakan pahala yang istimewa karena pelayanan Bapak.

Terima kasih karena saya merasa diberkati oleh pelayanan Bapak.

Salam dari seorang anggota Bapak.

# Surat (3)

Bapak pendeta yang terkasih,

Saya hanya ingin minta waktu Bapak Pendeta beberapa menit untuk mengucapkan terima kasih atas pelayanan Bapak yang setia kepada kami.

Sebab gereja kita ini besar, saya kira akan mudah diperlakukan secara umum saja, yaitu sebagai satu jemaat. Tetapi Bapak benar- benar memperhatikan setiap individu. Bapak banyak meluangkan waktu untuk mengenal orang yang memerlukan pelayanan. Saya sering melihat Bapak menolong orang yang baru menerima Kristus, mengajar dan membimbing mereka dalam hidup mereka yang baru. Bapak telah menunjukkan mereka bagaimana mereka harus hidup dengan iman. Bapak mengajar kelas khusus di gereja bagi petobat-petobat baru dan menunjukkan mereka bagaimana mempelajari Alkitab.

Saya sangat menghargai cara Bapak mempraktekkan cara hidup orang Kristen dalam hidup sehari-hari. Hal itu nyata bagi kami sekalian karena Bapak menaruh perhatian kepada orang lain. Sekian.

Hormat dari seorang anggota yang sangat berterima kasih.

# Surat (4)

Bapak Pendeta yang terkasih,

Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih dan sangat menghargai teladan yang Bapak berikan kepada kami.

Ketika Bapak menjadi pendeta gereja kami, Bapak mengatakan kepada jemaat bahwa setiap hari Bapak akan melihat daftar anggota dan berdoa untuk lima keluarga. Hari berikutnya Bapak akan mendoakan lima keluarga yang lain, dan begitu seterusnya.

Bapak juga berkata bahwa bila staf berkumpul setiap pagi untuk saat teduh, Bapak akan mendoakan satu orang atau satu keluarga. Kemudian Bapak mengirim kartu kepada orang atau keluarga tersebut untuk mengatakan bahwa Bapak mencintai mereka dan banyak memikirkan mereka.

Berkali-kali kami mendengarkan orang berkata, "Jangan lupa berdoa untuk pendeta saudara." Saya sebagai anggota sangat berterima kasih, karena saya tidak perlu ragu-ragu apakah Bapak Pendeta berdoa buat saya ataukah tidak. Selama bertahun-tahun ini, kartu-kartu yang Bapak kirimkan sangat berarti bagi saya.

Terima kasih atas doa Bapak Pendeta untuk saya.

# Surat (5)

Bapak Pendeta yang terkasih,

Pertama, saya ingin mengucapkan syukur kepada Tuhan karena telah mengirim Bapak Pendeta ke gereja kami. Kami sangat menghargai cinta Bapak kepada Tuhan dan semangat untuk membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan.

Akan tetapi, saya harus mengakui bahwa saya agak bosan untuk terus- menerus mendengar khotbah evangelisasi sebagai makanan rohani. Memang, penting sekali untuk membawa jiwa-jiwa kepada keselamatan, dan kami sangat menghargai keinginan Bapak untuk mengisi bangku- bangku kosong yang mengganggu Bapak setiap hari Minggu.

Tetapi saya yakin bahwa perasaan ini terdapat pada banyak saudara yang telah lama menjadi orang Kristen. Bukan hanya susu yang kami perlukan. Kami memerlukan khotbah dan uraian yang lebih luas dan mendalam dari Firman Allah, ibarat daging keras yang perlu dikunyah. Penting juga bagi kami mengetahui sabda Tuhan dan bagaimana menggunakannya dalam hidup kami sekarang ini. Makin lama dunia makin mendesak kami untuk mengikuti modenya. Jika kami tidak berakar dalam Firman Allah, kami tidak dapat bertahan terhadap serangan si jahat itu.

Saya tahu Bapak pasti sibuk sekali dan banyak waktu Bapak disita oleh anggota-anggota jemaat. Namun jagalah, jangan sampai ada yang mengganggu pelajaran Bapak, sebab jam-jam Bapak untuk mempelajari Alkitab adalah sangat bermanfaat bagi Bapak dan kami.

Saya tidak marah atau kurang puas, tetapi ingin agar Bapak mengetahui perasaan saya. Saya mendoakan Bapak setiap hari.

Saudaramu di dalam Kristus.

# Surat (6)

Bapak Pendeta yang terkasih,

Saya menulis surat ini atas dorongan cinta kasih Kristus dan saya tidak bermaksud akan menyakiti hati Bapak Pendeta.

Bapak adalah seorang guru dan pengkhotbah yang baik sekali. Saya yakin tak ada seorang pun yang mencela pelayanan Bapak. Namun, dalam panggilan untuk tugas penggembalaan termasuk menggembalakan kawanan domba seluruhnya, inilah kekurangan yang banyak kami rasakan dalam pelayanan Bapak.

Memang baik membangun jemaat dengan pasangan suami istri yang muda, sebab mereka adalah sokoguru gereja di masa mendatang. Tetapi pada waktu yang bersamaan, domba-domba tua juga memerlukan seorang gembala. Ada baiknya jika Bapak Pendeta menyadari keperluan mereka. Bila mereka sakit, beritahukan melalui pengumuman di gereja sehingga orang lain dapat berdoa untuk mereka. Bila mereka menghadapi suatu masalah, tunjukkan perhatian agar mereka tahu bahwa Bapak juga ikut merasakan dan prihatin. Janganlah Bapak Pendeta menyerahkan semua itu kepada majelis gereja atau kepada pendeta pembantu.

Seorang gembala yang sejati memperhatikan semua domba, dan tidak hanya domba-domba muda dan anak domba. Kita semua juga ingin merasa dibutuhkan dan diperhatikan.

Saudaramu di dalam Kristus.

# Surat (7)

Bapak Pendeta yang terkasih,

Sebagai seorang anggota setia di jemaat Bapak, dan sebagai penyumbang dan pekerja di gereja, saya menghargai pengabdian Bapak Pendeta dan cita-cita Bapak dalam melayani Tuhan.

Baru-baru ini saya mendengar bahwa Bapak Pendeta menawarkan diri sebagai seorang calon untuk menggembalakan gereja yang lain. Saya tidak perlu mengetahui apakah betul atau tidak, tetapi hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan dalam pikiran saya tentang lamanya dan mutu pelayanan beberapa hamba Tuhan yang diberikan kepada jemaat mereka. Namun saya juga menyadari bahwa Bapak Pendeta ingin sekali mengetahui dan menuruti kehendak Tuhan.

Inilah beberapa masalah yang saya lihat:

  1. Bapak Pendeta baru bertugas selama 3 tahun di gereja kami. Rupanya Bapak pendeta lebih banyak memikirkan kesejahteraan Bapak sendiri daripada kesejahteraan kami.
  2. Apakah ada semacam promosi yang diharapkan para pendeta sesudah memberikan pelayanan di gereja-gereja yang kecil?
  3. Ketika gereja selalu mengalami pergantian pendeta yang hanya melayani 3 tahun, bagaimana anggotanya bisa belajar untuk saling mencintai dan saling menghormati?
  4. Saya harap Bapak Pendeta tidak salah paham. Saya adalah anggota lama di gereja ini. Namun sukar sekali untuk sering-sering menyesuaikan diri kembali setelah terjadi pergantian pendeta. Apakah kesejahteraan jemaat tidak begitu penting dibandingkan dengan "kehendak Tuhan" bagi pendeta?

Saya harap Bapak pendeta tidak merasa bahwa saya ini suka menggerutu. Saya hanya menginginkan informasi dan perhatian.

Dari seorang anggota yang merasa terganggu.

# Surat (8)

Bapak Pendeta yang terkasih,

Sungguh sukar bagi saya untuk menulis surat ini, karena cinta saya kepada gereja, dan keinginan saya agar Tuhan memakai Bapak Pendeta, oleh karena itu saya merasa perlu mengungkapkan isi hati saya.

Saya mengetahui kesukaran yang Bapak hadapi dapat melemahkan pelayanan Bapak. Jika Bapak Pendeta jujur, pasti akan mengakui bahwa Bapak tidak mempelajari Alkitab sebagaimana mestinya dan juga tidak pernah mengkhotbahkan Firman Allah. Agaknya, Bapak kurang memperhatikan kesejahteraan jemaat Bapak. Sebagai seorang gembala hal ini seharusnya merupakan tanggung jawab Bapak yang penting.

Saya tidak merasa kurang senang terhadap Bapak, bahkan saya selalu berdoa bagi Bapak Pendeta.

Bapak Pendeta yang baik, demi kebaikan Bapak dan gereja saya harap Bapak memperbaharui penyerahan Bapak kepada Tuhan. Setialah terhadap panggilan Tuhan bagi Bapak untuk menyampaikan sabda Allah dan memberi santapan rohani bagi kawanan domba itu. "Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri" (Kisah Para Rasul 20:28).

Salam kasih hangat seorang dari kawanan domba Bapak.

# Surat (9)

Bapak Pendeta yang terkasih,

Sebagai seorang jemaat Bapak, saya mengindahkan Bapak sebagai orang yang ditunjuk oleh Tuhan untuk menjadi gembala. Mengutip suatu bagian dari ucapan perpisahan rasul Paulus yang ditujukan kepada para penatua jemaat di Efesus, saya mohon demi diri sendiri dan seluruh jemaat agar Bapak menjaga diri sendiri dan menjaga seluruh jemaat. Bapak Pendeta telah dipimpin oleh Roh Kudus, dan dipanggil oleh Tuhan untuk melayani kami (Kisah Para Rasul 20:28). Berilah kami susu yang murni dan daging yang keras dari Firman Allah agar kami dapat bertumbuh dan menjadi orang-orang percaya yang dewasa.

Saya harap Bapak Pendeta akan mencintai dan memperhatikan domba yang hilang - mereka yang tidak pernah masuk gereja dan domba-domba lain yang terlepas dari kawanan dombanya.

Sebagai gembala yang baik, Bapak harus ulet. Mudah-mudahan Bapak selalu memiliki kekuatan di balik perisai iman untuk menangkis lawan, serta bijaksana dan mempunyai visi. Bapak harus waspada terhadap orang-orang yang menyelundup masuk untuk merusakkan kita, dan dengan tongkat kebenaran Bapak harus membela kawanan domba dari infiltrasi licik dan pengaruh mereka yang memecah-belahkan kita.

Di samping itu Bapak juga harus lemah lembut. Bapak harus memenuhi kebutuhan orang-orang yang menderita, orang lanjut usia, yang sakit dan yang hampir mati.

Saya rasa bahwa sebenarnya yang saya minta adalah agar Bapak mempunyai hati seorang gembala, yaitu berbelas kasihan, melindungi, dan penuh pengertian.

Dengan anugerah Tuhan saya akan membantu Bapak dengan doa dan kesetiaan saya. Saya berjanji bahwa hanya bila sangat perlu baru saya menelpon Bapak agar tidak mengganggu jam-jam belajar serta persekutuan Bapak dengan Tuhan. Tugas yang suci yaitu menyampaikan firman Allah harus didahulukan.

Sekali lagi, terima kasih!

Sumber: 

Judul Buku
Penulis
Judul Bab
Halaman
Penerbit
:
:
:
:
:
Prioritas Seorang Pendeta
Warren W.Wiersbe, Paul R.Van Gorder, Howard F. Sugden
Surat-surat Terbuka kepada Pendeta
69 - 85
Gandum Mas, 1982

Komentar