Kristus, Buah Sulung Kebangkitan

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Selamat bertemu kembali. Saya minta maaf sebesar-besarnya karena e-Reformed edisi Maret ini terlambat terbit. Tema yang diangkat adalah Paskah karena edisi ini sebenarnya memang dipersiapkan untuk menyambut Paskah.

Khotbah Pdt. Stephen Tong, yang dijadikan artikel di bawah ini sangat padat dengan uraian-uraian teologis yang penting tentang keyakinan iman kita akan Kristus yang bangkit dalam kemenangan. Inti khotbah beliau tercermin dalam beberapa kalimat yang saya kutipkan di bawah ini:

"Mengapa kita menjadi orang Kristen; mengapa kita harus menekankan begitu rupa akan kematian dan kebangkitan Kristus? Karena Injillah yang paling penting. Injil adalah rencana Allah dan pengharapan bagi dunia."

Inilah yang seharusnya menjadi fokus bagi jemaat dan gereja Tuhan, yaitu bahwa Injil adalah berita yang paling penting untuk dikumandangkan kepada jemaat dan kepada dunia. Jika tidak, maka gereja akan kehilangan misi-Nya dan gereja bukan lagi gereja, karena yang ada hanya papan nama gereja saja. Apakah saat ini gereja Anda mengumandangkan berita Injil? Apakah hidup Anda berpusat pada berita Injil? Melalui khotbah Paskah ini mari kita renungkan lebih jauh, apa yang seharusnya kita pentingkan dalam hidup ini dan apa yang harus gereja pentingkan saat ini?

In Christ,
Yulia
http://reformed.sabda.org
http://fb.sabda.org/reformed

Penulis: 
--
Edisi: 
119/III/2010
Tanggal: 
30-3-2010
Isi: 

Kristus, Buah Sulung Kebangkitan *)

(Oleh: Pdt. Dr. Stephen Tong)

*) Artikel ini disarikan dari khotbah yang disampaikan pada Kebaktian Paskah, 2000.

Percayakah Saudara bahwa Yesus sudah bangkit?

Percaya.

Yesus bangkit memberi kuasa yang terbesar bagi manusia; tapi mengapa hidupmu begitu tidak bergairah? Biarlah orang Kristen di dalam keadaan apa pun tetap bersemangat, karena kita tahu, Yesus yang bangkit menyertai kita. Puji Tuhan!

Nas: 1 Korintus 15:20-28, 44-45

Hari yang paling penting bagi gereja mula-mula bukanlah hari Natal, melainkan hari Paskah. Mengapa?

Manusia mulai menyadari bahwa titik akhir dari kehidupan bukanlah kematian. Setelah Kristus bangkit dari antara orang mati, keyakinan manusia terhadap kebangkitan-Nya adalah harapan baru untuk mengubah seluruh suasana kerajaan Romawi yang penuh dengan penindasan, perbudakan, ketidakadilan, segala macam kejahatan, imoralitas, dan dosa-dosa yang luar biasa. Kerajaan Roma begitu luas, menjangkau Asia Barat, Afrika Utara, dan hampir seluruh Eropa. Namun di dalam kerajaan yang paling besar, yang paling berkuasa dalam sepanjang sejarah di dunia Barat ini kita menemukan hidup manusia yang penuh dengan keluhan dan tidak memunyai pengharapan. Kecuali mereka yang memiliki kedudukan tinggi dan kuasa yang besar di dalam kerajaan tersebut, sebagian besar manusia saat itu hidup sebagai budak yang diperjualbelikan, tidak memunyai kemerdekaan yang selayaknya dinikmati oleh manusia pada umumnya. Kedatangan Yesus ke dunia merubah seluruh situasi, bahkan seluruh nasib umat manusia.

Kelahiran Yesus adalah pemberian Allah yang terbesar bagi umat manusia. Kitab Suci menuliskan: Firman itu telah menjadi daging dan tinggal di tengah-tengah kita, penuh dengan anugerah dan kebenaran; dua hal yang sangat dibutuhkan umat manusia.

Umat manusia membutuhkan anugerah agar hidupnya tidak mengarah pada maut, yang dibelenggu oleh dosa, hidup yang gelap, yang tidak memunyai arah di dalam kekekalan. Manusia membutuhkan anugerah, belas kasihan dan kita menatapnya dengan penuh penantian.

Berkat dari siapakah yang kita nantikan? Dari raja, jenderal, atau dari para konglomerat?

Itu semua hanya omong kosong.

Lalu berkat siapa yang kita nantikan?

Manusia di dunia tidak memunyai kekuatan untuk sekedar memelihara diri, kita membutuhkan anugerah Allah, Sang Pencipta yang rahmani dan rahimi.

Apakah yang diperlukan oleh dunia ini?

Kebenaran.

Pada saat Yesus di dunia, filsuf-filsuf Yunani, mulai dari Thales, Anaximandros, Anaximenes, Lucresius, Demokritos, Aristoteles sampai ke Plato, Sokrates sudah mengalami jalan buntu. Mereka mencari kebijaksanaan, ingin mengetahui semua rahasia penting yang ada di alam semesta, namun ketika mereka menyelidiki hal-hal yang ada di luar manusia, mereka melupakan apa yang ada di dalam dirinya. Maka, kebijaksanaan yang terdapat di dalam filsafat hanya merupakan permainan dari pengetahuan yang tidak mampu menolong atau mengubah situasi ketidakadilan yang terdapat di dalam masyarakat.

Meskipun kebudayaan Yunani telah menanamkan modal yang penting sekali dalam membentuk masyarakat yang adil, membentuk pemikiran tentang siapakah manusia yang paling ideal, yaitu mereka yang memiliki bijaksana, keadilan, keberanian, dan tahan nafsu, tetapi nyatanya pada zaman Romawi keempat hal tersebut tidak memunyai kekuatan apa-apa. Buktinya, orang Romawi berpikir tentang keadilan, namun mereka melakukan hal yang sama sekali tidak adil di pengadilan. Mereka berbicara tentang bijaksana, tapi pada waktu mereka dihadapkan dengan masalah untung rugi, mereka tidak menghiraukan semua hal yang pernah mereka pelajari itu. Mereka berbicara tentang keberanian, tapi keberanian malah berubah menjadi kebuasan, ke mana saja mereka menjajah selalu membunuh rakyat setempat dengan sewenang-wenang. Mereka berbicara tentang menahan nafsu, hal itu pun tidak terwujud. Buktinya, orang yang paling tidak bisa menahan nafsu adalah para kaisar di istana. Mereka tidak bisa menjadi contoh bagi para pejabat, begitu juga pejabat tidak bisa menjadi contoh bagi rakyat, rakyat juga tidak bisa menjadi contoh bagi anak-anak mereka yang sedang bertumbuh. Yang ada di dalam kerajaan itu hanyalah kuasa untuk membunuh, kuasa militer, dan bukan kuasa untuk membangun manusia, bukan kuasa moral untuk meningkatkan karakter manusia, bukan kuasa untuk memberi pengharapan bagi manusia. Itulah saatnya Yesus turun ke dunia.

Yesus turun ke dunia. Allah menjelma menjadi manusia yang berdaging, hidup di tengah-tengah kita. Memang kalimat itu sudah terlalu sering kita dengar, tetapi bayangkanlah, di dalam kerajaan Romawi, Allah yang bukan Yupiter, Mars, Arial, Venus, Merkurius, Hermes, ataupun dewa-dewa di bukit Olympus; melainkan Allah yang Mahatinggi, Allah Yang Esa, Dialah Allah yang menjelma menjadi manusia. Namun herannya, Allah justru memakai bahasa Yunani dan bukan bahasa lbrani sebagai bahasa pengantar Perjanjian Baru. Mengapa? Karena bahasa yang digunakan pada masa itu dan yang paling diterima oleh kalangan atas adalah bahasa Yunani, itulah sebabnya Injil tidak ditulis dalam bahasa lbrani melainkan bahasa Yunani, untuk menyatakan bahwa kehendak dan rencana keselamatan yang Allah berikan adalah bagi seluruh umat manusia. Di sini kita mendapatkan prinsip ini: bahasa adalah untuk Injil, Injil bukan untuk bahasa; kebudayaan adalah untuk Injil, Injil bukan untuk kebudayaan. Pada waktu kita masuk ke dalam gereja, pada waktu kita memberitakan Injil ke dunia, tinggalkanlah monopoli bahasa dan budaya. Jadilah global, supaya Injil bisa diberitakan ke seluruh muka bumi.

Ada orang yang bertanya kepada saya, mengapa pada hari Pentakosta, saat Roh Kudus turun, ada karunia lidah? Saya menjawab dengan dua alasan. Pertama, karunia lidah diberikan supaya mereka yang tadinya tidak mengerti Injil bisa mengerti Injil. Tetapi sekarang, yang disebut "karunia lidah" justru membuat orang yang sudah mengerti menjadi tidak mengerti. Alasan yang kedua, agar gereja tahu bahwa Injil bukan hanya untuk satu bangsa -- Israel -- melainkan untuk seluruh umat manusia. Yesus mati untuk menebus dosa manusia dari segala bangsa, segala suku, segala bahasa, dengan darah-Nya, agar mereka kembali menjadi milik Allah. Apa yang Yesus bawa ketika Dia datang ke dunia? Firman menjadi daging, hidup di tengah-tengah kita, untuk membawa anugerah dan kebenaran.

Sejak masa Helenistik, empat abad sebelum Kristus sampai empat abad setelah Kristus -- selama 800 tahun itu -- orang-orang mulai berpikir tentang apa arti hidup; mengapa saya hidup. Mereka terbagi dalam tiga arus yang besar:

  1. Stoasisme; hidup untuk mencari kebajikan, bukan hanya mencari uang saja.

  • Epikurianisme; hidup untuk mencari bahagia.
  • Skeptisisme; merasa bingung, tidak mengerti untuk apa mereka hidup.
  • Saya percaya, Pilatus mewakili orang-orang yang tidak bisa memberi jawaban mengenai apa itu kebenaran. Terbukti pada waktu dia bertanya kepada Yesus dengan nada memaksa: "Tidak tahukah kamu, bahwa aku memunyai kuasa untuk menjatuhkan hukuman yang menentukan hidup mati-Mu?" Yesus yang sejak semula membungkam mulai angkat bicara. Itulah saat yang tepat untuk Yesus harus mengoreksi pemikiran para penguasa dunia. Kata-Nya kepada Pilatus, "Bukan kamu yang berkuasa. Dengan sesungguh-sungguhnya Aku berkata kepadamu, jika Bapa-Ku yang di sorga tidak memberi kuasa kepadamu, kamu tidak berhak melakukan apa pun terhadap Aku." Di sini, Yesus menegaskan bahwa hak dan kuasa pemerintahan harus berada di bawah kuasa Allah. Itulah sebabnya dalam 1 Korintus 15 dituliskan: semua penguasa akan dilenyapkan oleh Kristus, sebab Kristuslah pemerintah dan penguasa yang tertinggi dan yang terakhir. Ini bukan main-main. Kristus yang Saudara kabarkan, yang kepada-Nya Saudara berdoa, yang Saudara sembah, bukanlah Kristus yang lemah. Dialah Kristus yang mengalahkan maut, dosa, setan, dan pada hari terakhir nanti, Dia akan memusnahkan semua pemerintah maupun semua penguasa di dunia. Dia sendiri akan memerintah sebagai Raja di atas segala raja. Dengan status itulah Dia memandang para penguasa yang berbicara sewenang-wenang dan Dia menunggu dengan sabar.

    Anak Domba Allah ini sebenarnya adalah Singa dari Yehuda. Oleh karena itu, saat Dia mendengar orang yang bernama Pilatus berbicara dengan sewenang-wenang, "Tidak tahukah Kamu bahwa aku berkuasa untuk membunuh Kamu?", Yesus menjawab, "Jikalau bukan Bapa-Ku yang memberimu kuasa, kamu tidak bisa berbuat apa pun atas diri-Ku. Namun demikian, Aku berkata kepadamu, Akulah Raja orang Yahudi. Aku datang ke dunia untuk menjadi saksi bagi kebenaran." Sejarah filosofi kekaisaran Romawi dan Yunani yang panjang berakhir pada pernyataan skeptis Pilatus ini, ketika ia bertanya, "Apa itu kebenaran?" Kristus lalu menyatakan, "Aku adalah saksi kebenaran." Sebenarnya Pilatus bukannya bertanya. Motivasi manusia bertanya bisa karena ingin tahu, ingin percaya, atau karena tidak mau percaya dan ingin menjatuhkan/menghina orang yang memberitakan firman Tuhan. Pilatus mengajukan pertanyaan itu untuk menyatakan penghinaannya terhadap kebenaran. Maka Tuhan tidak menjawab dan Pilatus juga tidak bertanya lagi. Itulah kalimat terakhir di dalam pertemuan antara Anak Allah yang begitu merendahkan diri dengan anak manusia yang begitu meninggikan diri. Sejak detik itu, Pilatus tidak memunyai kesempatan untuk bertemu dengan Yesus lagi. Pilatus sudah diberi kesempatan, tapi dia meremehkannya.

    Inilah pertemuan yang paling kritis, paling ironis, paradoks, dan inspiratif di dalam sepanjang sejarah. Dari zaman ke zaman, kita perlu merenungkan saat-saat Yesus paling merendahkan diri, perkataan apa yang Dia lontarkan? Dan kala manusia paling congkak, perkataan apa yang dia ucapkan? Saat Yesus paling merendahkan diri, Dia berkata, "Aku adalah saksi dari kebenaran." Kala manusia begitu congkak, dia berkata, "Apa itu kebenaran?" Sampai sekarang, sejarah terus berada di dua jalur ini: percaya kepada Tuhan lalu mendapat anugerah dan kebenaran, atau menghina anugerah dan kebenaran lalu akhirnya harus mati di dalam dosa. Setelah pengadilan yang tidak adil itu selesai, Pilatus membiarkan Yesus dikenakan mahkota duri, dikenakan pakaian yang mempermalukan diri-Nya dan dicambuk.

    Kalau Saudara pernah menyaksikan lukisan Mathias Grundewall, seorang Jerman, hatimu tidak mungkin tidak tersentuh. Grundewall melukiskan daging di tubuh Kristus tidak lagi licin, tapi membengkak dan membiru akibat duri yang dipasang pada ujung cambuk itu menusuk badan-Nya. Ketika cambuk itu ditarik, keluarlah darah yang bercampur dengan karat di sekujur tubuh-Nya. Begitu mengerikan. Di dalam sejarah, tidak ada orang yang mungkin, atau pernah melukis lukisan Yesus dipaku di atas kayu salib sebaik lukisan Mathis Grunewald. Yang heran adalah, dia memakai pemikiran yang berbeda dengan pemikiran pelukis-pelukis lain. Dia melukiskan Yohanes Pembaptis, yang sudah mati, berdiri di samping Tuhan Yesus. Karena di dalam pikirannya, kesementaraan bisa disejajarkan dengan kekekalan: Yohanes Pembaptis memegang sebuah kitab di tangannya, sambil menunjuk pada Yesus yang tersalib. Wajahnya seolah-olah berkata kepada orang yang menyaksikan lukisan itu, "Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia." Di sebelah kanannya terdapat Maria, ibu Yesus secara jasmani yang menangis dengan kesedihan yang luar biasa. Kepalanya, bahkan seluruh tubuhnya membungkuk ke bawah karena dia tak tahan menyaksikan ketidakadilan yang diperlakukan atas diri Yesus. Salib memang merupakan sindiran bagi dunia. Adakah kebenaran? Adakah kasih? Adakah kebajikan? Adakah keadilan?

    Jika manusia memang memunyai kebudayaan selama ribuan tahun, izinkan saya bertanya, mengapa orang yang baik seperti Yesus Kristus harus diperlakukan seperti itu? Jawablah hai manusia! Untuk apa Saudara dididik dan dididik sampai sekolah tinggi, lalu setelah menjadi orang yang tertinggi di bidang politik atau kebudayaan, malah melakukan ketidakadilan seperti itu? Coba buktikan kalau manusia sudah maju, sudah bermoral! Buktikan bahwa kerajaan yang terbesar itu telah melakukan hal yang terbaik! Semuanya terbalik! Pada waktu Yesus disalib, di sanalah keadilan dikalahkan oleh ketidakadilan, kesucian dikalahkan oleh kenajisan, kebajikan dikalahkan oleh kejahatan; Allah dikalahkan oleh orang berdosa. Itulah sebabnya, jika Yesus tidak bangkit, tidak ada pengharapan untuk dunia ini. Jika Yesus tidak bangkit, kebudayaan justru akan menyatakan kerusakan manusia yang konon sudah menjadi semakin hebat.

    Pada zaman Romawi, manusia merayakan kesuksesan, namun kesuksesan berakhir dengan kegagalan yang terbesar karena mereka tidak bisa memperlakukan Yesus -- orang yang paling baik di dalam sejarah -- dengan adil, bahkan harus dipaku di atas kayu salib. Itulah sebabnya Paulus berkata: "Jika Yesus tidak bangkit, sia-sialah apa yang aku beritakan." Jika Yesus tidak bangkit, apa yang Saudara percaya adalah omong kosong belaka. Jika Yesus tidak bangkit, percumalah hidup kita di dunia. Jika Yesus tidak bangkit, berarti kita hanya berhadapan dengan Yesus yang hanya hidup selama 33,5 tahun saja. Jika Yesus tidak bangkit, pengharapan kita hanya di dunia ini saja. Jika Yesus tidak bangkit, di antara semua manusia yang pernah hidup di dunia, kita adalah orang yang paling malang. Kalau Dia adalah orang mati yang tidak pernah bangkit, buat apa kita percaya kepada-Nya? Kita perlu menyadari, secara agama, kekristenan kalah dengan agama Buddha, Islam, Katolik, dan agama apa pun. Secara agama, kita kurang mistis, liturgis, serta kurang unsur-unsur lain yang diperlukan untuk membentuk satu agama yang besar. Tapi lepas dari semua itu, kita memunyai Kristus yang mati dan bangkit, yang tidak terdapat di dalam agama mana pun. Itulah yang membuat kita hidup. Jika orang Kristen Protestan tidak tahu hal ini, dia pasti akan memasuki era pascakekristenan; seperti halnya kekristenan di Eropa, gereja-gereja besar yang bisa memuat 20.000 orang, sekarang hanya dihadiri oleh 120 atau 200 orang, sisanya untuk para turis berfoto, menikmati arsitektur Gotik, Rokoko, Barok, dan menjadi tempat cari uang bagi para pemandu wisata.

    Apakah kekristenan itu? Kalau orang Kristen tidak lagi percaya kepada Kristus yang lahir, mati, dan bangkit untuk kita, kekristenan hanyamenjadi salah satu atraksi bagi para turis saja. Paulus berkata, "Celakalah kamu, jika kamu tidak percaya Yesus bangkit." Kebangkitan Yesus menjadi pengharapan terbesar bagi kita dan membuat kita berbeda dengan semua agama lain. Pendiri-pendiri agama lain masih berada di dalam kubur, disakralkan, dijadikan museum yang terbesar, tapi kuburannya masih berisi. Karena kubur mereka masih terisi, maka penglkutnya hidup dalam kekosongan. Kuburan Yesus kosong karena Ia sekarang hidup. Dia sudah keluar dari kubur. Oleh karena itu, hati para pengikut-Nya tidak kosong karena Dia bisa berada di dalam hati kita. Puji Tuhan!

    Jika Yesus datang ke dalam dunia untuk menyatakan cinta kasih, anugerah, dan kebenaran Tuhan, izinkan saya bertanya, kebenaran itu adalah kebenaran yang seperti apa? Anugerah itu adalah anugerah yang seperti apa? Jika Saudara berkata, anugerah itu memberiku kekayaan, kelancaran, dan kesembuhan, itu adalah anugerah yang dituntut oleh orang-orang duniawi dan mereka yang menganut teologi kemakmuran, yang tidak mengenal Injil. Apa jadinya kalau gereja menyimpang dari Injil? Kalau gereja tidak mengerti bahwa Yesus datang untuk membereskan dosa, melepaskan kita dari kuasa maut, dan membebaskan kita dari cengkeraman setan, gereja akan mengarah ke mana? Jika Yesus tidak mati, dosamu tidak akan diampuni! Jika Yesus tidak bangkit, Saudara tidak akan diberi hidup baru! Jika Yesus tidak mati dan bangkit bagi kita, kita tidak bisa berdamai dengan Allah! Inilah tujuan utama Allah mengutus Anak-Nya ke dunia: supaya orang yang percaya kepada-Nya jangan binasa, melainkan beroleh ... kekayaan? Bukan! Melainkan beroleh hidup yang kekal. Kita akan menekankan dan menekankan kembali tentang Firman, Injil, kedaulatan Allah, dan tidak ada hal yang lain. Saya mengharapkan semua murid saya di sekolah teologi dan rekan-rekan mewarisi semangat yang sama, sehingga gereja, bukan jatuh ke dalam wilayah agama dan kehilangan kuasa Injil.

    Ketika mengutarakan kalimat-kalimat ini, Paulus bagaikan sedang mengoyak-ngoyak jiwanya, agar orang Korintus mengerti apa yang kita percaya. Mengapa kita menjadi orang Kristen; mengapa kita harus menekankan begitu rupa kematian dan kebangkitan Kristus? Karena Injillah yang paling penting. Injil adalah rencana Allah dan pengharapan bagi dunia. Pada 400 tahun pertama pada masa PB, kita menyaksikan seluruh kerajaan Romawi diguncangkan. Bukan oleh pisau, bukan oleh pedang, atau oleh militer, melainkan oleh Yesus Kristus. Orang yang sudah menerima Yesus, hidupnya berubah. Mereka memunyai pengharapan. Meskipun hidup sebagai budak, tetapi mereka suka bernyanyi karena mereka tahu Yesus hidup di dalam hati mereka. Mereka pun tahu bahwa mereka menyembah Dia yang hidup, bukan yang mati. Bila dibandingkan dengan semua dewa-dewa yang disembah oleh orang Yunani dan orang Romawi, memang sangat berbeda karena mereka terpengaruh oleh orang Kristen yang menerima Yesus, yang beribadah kepada satu-satunya Allah. Pengaruh terbesar dalam sejarah adalah pengaruh dari Yesus yang datang ke dunia. Dan pengaruh yang ditimbulkan dari mereka yang betul-betul mengenal Yesus yang bangkit adalah mereka telah merubah dunia.

    Banyak orang di dalam kerajaan Romawi yang menjadi Kristen tetapi tidak secara terang-terangan menyatakan diri sebagai orang Kristen. Mereka berkumpul di "katakombe" [ruangan makam, Red.] di bawah kota Roma. Ada orang mengatakan, kalau katakombe-katakombe itu digabungkan, maka kira-kira akan menjadi 1.700 meter panjangnya. Artinya ada ratusan ribu atau bahkan jutaan orang menjadi Kristen. Banyak orang masuk ke sana dan mereka menerima Injil. Sampai abad ke-4, barulah kaisar Roma mengatakan: Yesuslah yang benar, Roma tidak benar. Konstantin, Kaisar Romawi mengumumkan: "Kristus benar. Kristus Tuhan saya. Saya percaya Yesus dan agama Kristen yang dulu dianiaya kini menjadi agama resmi. Orang Kristen yang lemah, yang menjadi budak, yang dihina tidak perlu takut. Karena kita memiliki Kristus yang sudah bangkit dari antara orang mati."

    Kitab Suci mengatakan bahwa manusia pertama, Adam, membawa kematian ke dalam dunia, Adam yang kedua atau Adam terakhir, Kristus, membawa hidup ke dalam dunia;

    Adam yang pertama dicipta, Adam yang kedua mencipta;

    Adam yang pertama tidak taat, Adam yang kedua taat;

    Adam yang pertama berdosa, Adam yang kedua menolak dosa;

    Adam yang pertama melanggar Tuhan, Adam yang kedua membawa manusia kembali kepada Tuhan;

    Adam yang pertama mati di dalam dosanya, Adam yang kedua membawa manusia keluar dari kematian dan dosa, memberikan hidup yang baru;

    Itu sebabnya, Adam yang pertama menjadi manusia yang hidup, Adam yang kedua menjadi Roh yang menghidupkan manusia. Puji Tuhan! Dialah yang disebut Buah Sulung Kebangkitan.

    Mungkin Saudara bertanya-tanya, bagaimana keadaan tubuh Kristus yang bangkit? Apakah artinya kita yang mengikuti Dia akan menjadi seperti Dia? 1 Korintus 15 mengajarkan kepada kita, Yesus Kristus adalah Buah Sulung dari Kebangkitan. Jadi, tubuh kebangkitan memunyai lima ciri khas.

    Yang pertama, tubuh kita yang sekarang adalah tubuh jasmaniah yang dicipta oleh Tuhan dari tanah liat, tapi tubuh kebangkitan adalah tubuh rohani, di dalam tubuh tersebut kemuliaan dan kuasa Tuhan akan merubah kita. Pada waktu kita bangkit dari kematian, kita akan memiliki tubuh kebangkitan seperti tubuh kebangkitan Kristus. Dia adalah Buah Sulung Kebangkitan, kebangkitan yang pertama, yang berbeda dengan kebangkitan-kebangkitan yang lain. Sebenarnya, sebelum Yesus bangkit, sudah ada orang-orang yang pernah dibangkitkan oleh nabi-nabi: misalnya Elia membangkitkan seorang anak atau Elisa membangkitkan seorang anak. Tetapi kebangkitan mereka berbeda dengan kebangkitan Yesus Kristus. Mereka yang pernah dibangkitkan oleh Elia dan Elisa akhirnya harus mati lagi. Tetapi kebangkitan Yesus adalah kebangkitan yang sekaligus mengalahkan kematian dan tidak mati lagi. Kebangkitan Yesus juga berbeda dengan ketiga orang yang pernah Dia bangkitkan: anak Yairus, anak janda di kota Nain, dan Lazarus. Apakah ada perbedaan antara cara Yesus membangkitkan ketiga orang itu dengan cara Elia dan Elisa membangkitkan kedua anak itu? Berbeda. Elia dan Elisa hanya berdoa dan membangkitkan dalam nama Allah karena mereka hanyalah manusia. Sedangkan pada saat Yesus membangkitkan, Dia tidak perlu membangkitkan demi nama Allah, Dia hanya perlu mengucapkan satu kalimat yang berupa titah Allah: "bangkitlah kamu" atau "Lazarus keluar", lalu mereka pun bangkit. Yesus bukan pengantara, Dia adalah Allah, Dia Pemberi hidup. Tubuh kita adalah tubuh jasmaniah, tetapi tubuh kebangkitan adalah tubuh rohani.

    Kedua, tubuh kita yang sekarang adalah tubuh yang penuh dengan kelemahan, tapi tubuh kebangkitan adalah tubuh yang kuat, perkasa. Tubuh kita ini masih bisa mengalami sakit penyakit, bisa merasakan letih. Karena tubuh jasmani ini terbentuk dari tulang, urat, daging, kulit, yang memunyai kemungkinan terserang oleh virus, bakteri yang mengakibatkan sakit. Tubuh kita adalah tubuh yang lemah, tetapi pada kebangkitan nanti, kita akan diberi tubuh yang kuat, dan perkasa.

    Ketiga, tubuh kita yang sekarang adalah tubuh yang bisa rusak, yang fana, tapi tubuh kebangkitan adalah tubuh yang kekal. Kerusakan tubuh memang sangat menakutkan. Seorang murid saya, yang tadinya begitu cantik, begitu lincah, tidak lama setelah dia menikah, ia menderita sakit dan akhirnya meninggal dunia. Ketika saya pergi melayatnya, saya melihat dia yang baru mati 2 hari, separuh wajahnya sudah hitam dan seluruh tubuhnya sudah mulai rusak. Siapakah kita? Kita adalah manusia yang memunyai tubuh fana, tetapi Allah berjanji akan memberikan tubuh kekal, sifat ilahi Allah yang diberikan pada kita. Waktu hari itu tiba, malaikat akan membunyikan sangkakala, lalu orang yang hidup akan berubah dan yang mati akan dibangkitkan. Saat itu, kita akan mendapatkan tubuh kebangkitan yang kekal; yang fana akan menjadi kekal.

    Keempat, tubuh kita yang sekarang adalah tubuh yang hina, tapi tubuh kebangkitan adalah tubuh yang mulia. Sebenarnya manusia memunyai tubuh yang tercantik di antara semua makhluk, tetapi tubuh ini perlu menggunakan busana dan perlu ditutupi. Mengapa? Karena dalam tubuh ini sudah ada dosa. Busana adalah bukti dari adanya dosa asal. Karena itulah, tubuh membuat kita merasa malu. Mengapa? Kemuliaan yang tadinya membungkus tubuhnya, sekarang sudah hilang, tetapi waktu kebangkitan nanti, kemuliaan akan kembali menutupi kita, kita memunyai tubuh mulia seperti tubuh kebangkitan Kristus.

    Kelima, tubuh yang sekarang adalah tubuh yang sementara, tapi tubuh kebangkitan adalah tubuh yang kekal, yang tidak berubah untuk selama-lamanya. Kelak ketika nanti kita di surga, kita akan mengingat setiap orang, mengenali dia, Tuhan telah mengabadikan keadaan yang paling mulia, paling cantik dalam masa hidupnya untuk selama-lamanya. Puji Tuhan!

    Yesus bangkit, menjadi Buah Sulung Kebangkitan. Apa yang dimaksudkan dengan buah sulung? Buah sulung adalah sampel, teladan, contoh. Allah adalah setia dan jujur, sebagaimana kebangkitan Kristus. Kita juga akan dibangkitkan; sebagaimana Kristus memiliki tubuh yang mulia, kita juga akan memiliki tubuh yang mulia. Sebagaimana Kristus memiliki tubuh yang tidak rusak, kita juga akan memiliki tubuh yang tidak rusak. Sebagaimana Yesus memiliki tubuh sorgawi, kita juga akan mendapatkan tubuh surgawi. Sebagaimana tubuh Yesus yang kekal, yang tidak berubah lagi, kita pun demikian. Sekarang ketika Saudara bercermin, Saudara menemukan diri terlihat keriput dan lelah. Katakanlah kepada cermin: ini adalah keadaanku yang sekarang, kelak pada saat hari kebangkitan, tubuhku akan lain! Jangan mau diperdaya oleh tubuhmu, tidak usah takut pada kelemahan tubuh karena kepada kita telah dijanjikan tubuh yang kuat. Sekarang, selama tubuh yang lemah ini masih bisa menjadi alat untuk memuliakan Tuhan, marilah kita menggunakannya dengan baik untuk Tuhan.

    Hari itu, kita akan mendapatkan tubuh yang mulia; tidak ada sakit penyakit, tapi kita perlu berkata kepada Tuhan, semasa kita masih di dunia, di dalam tubuh kita yang sakit, yang lemah, yang duniawi, yang jasmani, yang terbatas, yang memunyai banyak kesulitan, "hidup di dunia ini bahkan untuk satu hari saja sudah merupakan suatu kehormatan yang besar!" Bila Anda ingin melayani Tuhan, jangan tunggu sampai mati, karena saat itu, kalaupun Saudara ingin ikut terjun melayani Anda sudah tidak bisa lagi. Jadi, sekarang inilah saatnya kita melayani Tuhan dengan baik. Suatu hari nanti, kita akan berkumpul lagi. Bukan di sini, tapi di surga. Di sana kita akan memiliki tubuh kebangkitan yang mulia, yang surgawi, yang kuat, yang tidak rusak, yang kekal, dan yang betul-betul bersifat rohani untuk selama-lamanya. Apakah Saudara telah menerima Tuhan sebagai Juru Selamat? Apakah Saudara hidup di dalam pengharapan? Apakah Saudara sudah mengakui segala dosa kepada-Nya dan menerima keselamatan, kebenaran, anugerah yang Allah sediakan?

    Sumber: 

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul asli artikel : Kristus, Buah Sulung Kebangkitan
    Judul majalah : Momentum edisi 43, Triwulan II tahun 2000
    Penulis ringkasan : EL
    khotbah
    Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
    Halaman : 3 - 11

    Komentar