Membuka Alkitab adalah melangkah menuju sebuah dunia tempat penggembalaan domba, pertanian, dan mata bajak adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Pesan Injil dibubuhkan pada gambaran-gambaran semacam itu melalui perumpamaan dan metafora, tetapi tidak menjadi fosil dalam kebudayaan kuno. Justru, perumpamaan kuno Alkitab berperan sebagai pengingat akan betapa abadinya firman Allah. Saya masih menanti hari ketika bangsa-bangsa akan menempa pedang-pedang mereka menjadi mata-mata bajak, dan saya tahu bahwa janji kuno ini tetap, bahkan jika teknologi kuno itu tidak ada lagi.
Pelaksanaan kekuasaan atas bumi mengharuskan kita membangun, mengeksplorasi, menciptakan, dan menemukan. Dengan kata lain, hal itu menuntut adanya teknologi. Seperti halnya sebagian besar hal lainnya, bagaimanapun teknologi dapat digunakan untuk kebaikan atau kejahatan, jadi kita harus selalu berpikir dengan hati-hati tentang tujuan yang untuknya kita menerapkan teknologi. Sejak Menara Babel dibangun, teknologi menjadi sumber dan ungkapan kesombongan manusia. Di sisi lain, Bait Suci Salomo dan Terowongan Hizkia bergantung pada teknologi terbaik pada masa itu. World Wide Web yang sama yang membuka pandangan-pandangan baru bagi penyebaran Injil juga membawa pornografi masuk ke dalam jutaan rumah tangga. Teknologi bisa menjadi kekuatan yang berbahaya atau berkat yang sejati; kuncinya (seperti halnya dengan segala hal lainnya) adalah dengan membawanya ke bawah kekuasaan Yesus Kristus.
Hanya dalam waktu sekitar dua puluh tahun, pengalaman sehari-hari kita terhadap teknologi tumbuh dengan pesat sehingga komputer, ponsel pintar, media sosial, dan email adalah bagian-bagian standar dari rutinitas kita sehari-hari. Hidup menjadi lebih cepat karena hal-hal tersebut, tetapi kecepatan itu punya kelemahan. Sebagai contoh, kita bisa menggunakan banyak teknologi dalam kehidupan sehari-hari untuk mempersingkat waktu, tetapi kita jarang bertanya kepada diri kita sendiri -- mempersingkat waktu untuk apa? Apakah supaya kita bisa menebus waktu kita dengan cara tertentu bagi kemuliaan Allah (Ef. 5:15), atau supaya kita bisa membuang-buang waktu tersebut secara lebih kreatif? Tetap saja, saya menduga bahwa banyak dari teknologi penghemat waktu yang kita punya hanya menjadikan kita semakin sibuk, terkadang sampai merugikan kehidupan rohani kita.
Tidaklah melebih-lebihkan jika kita mengatakan bahwa media sosial telah menjadi gangguan budaya dari kehidupan nyata, bahkan menjadi suatu obsesi. Jarang sekali kita pergi ke mana pun dan tidak melihat seseorang dengan marah-marah berbicara dengan jempolnya, atau Facebook-an dalam waktu luang apa pun. Tetap terhubung menjadi jauh lebih mudah daripada sebelumnya, dan hal itu merupakan suatu berkat, tetapi apakah menggunakan media sosial menjadikan kita semakin sosial atau kurang sosial? Apakah media sosial menjadikan hubungan-hubungan kita semakin mendalam atau lebih berarti? Menghabiskan berjam-jam di media sosial adalah pertanda pasti bahwa alat yang berguna telah berubah menjadi tuan yang mengganggu. Dalam terang semua teknologi komunikasi modern ini, kritik Henry David Thoreau pada abad ke-19 tentang kantor pos membawa senyum pada wajah saya: "Bagi saya, saya bisa dengan mudah hidup tanpa kantor pos. Saya kira ada sedikit sekali komunikasi penting yang dilakukan melaluinya. Saya tidak pernah menerima lebih dari satu atau dua surat dalam hidup saya yang senilai dengan ongkos kirimnya." Orang pasti bertanya-tanya, berapa banyak dari tujuh triliun pesan teks yang dikirim tahun lalu saja yang "senilai dengan ongkos kirimnya". Kitab Amsal punya pendapat tentang "banyak bicara", dan itu tidaklah baik (Ams. 10:19).
Bagaimanapun, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh seorang Kristen di dalam dunia modern adalah untuk berpikir jelas tentang penggunaan mereka terhadap teknologi. Apakah teknologi menolong Anda mencapai tujuan-tujuan yang baik dalam panggilan surgawi dan pelayanan Anda kepada Kristus, ataukah ia adalah jalan bagi gangguan dan godaan? Akankah Yesus melihat dan berkata, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia"?
Apakah teknologi menolong Anda mencapai tujuan-tujuan yang baik dalam panggilan surgawi dan pelayanan Anda kepada Kristus, ataukah ia adalah jalan bagi gangguan dan godaan?
Kata "teknologi" menyulap gambaran-gambaran tentang sesuatu yang kompleks dan rumit; hidup kita merefleksikan gambaran yang sama pada era teknologi ini. Namun, Alkitab, yang tenggelam dalam kesederhanaan dari zaman yang lain, mengingatkan kita bahwa iman yang hidup bergantung pada sesuatu yang kekal dan sederhana, yaitu kasih karunia Allah yang hidup. Bapa-bapa iman kita -- para gembala, petani, dan nelayan -- mengingatkan kita bahwa hidup yang taat tidak perlu menjadi hidup yang rumit. Bersama-sama dengan mereka, kita masih bersukacita dalam janji itu, dan menanti hari ketika kita akan menempa pedang-pedang kita menjadi mata-mata bajak (satu ungkapan yang berarti mengubah segala sesuatu yang merugikan menjadi berguna - Red.). Sampai waktu itu tiba, adalah hal yang baik untuk merangkul pesan Injil dalam segala kesederhanaannya yang mulia, dan menjalani hidup kita seturut dengannya. (t/Odysius)
"Hari gini gak punya Facebook?" Mungkin kalimat ini yang akan kita lontarkan apabila mengetahui bahwa seseorang tidak (atau belum) memiliki akun Facebook. Kalau tidak punya akun Facebook itu rasanya "aneh" – apalagi kalau ia adalah seorang anak muda. Bahkan mungkin pada era digital dan internet ini seorang anak muda yang paling kuper sekalipun paling tidak memiliki akun Facebook (terlepas dari ia menggunakannya secara aktif atau tidak). Hidup kita hari ini, entah kita sadari atau tidak, sudah begitu dekat dengan apa yang disebut sebagai media sosial (dan budaya internet) – Facebook, Twitter, dan tak lupa pula situs video sharing yang begitu fenomenal, Youtube. Pulang dari kantor, kuliah atau sekolah, mungkin banyak dari kita akan duduk di depan laptop atau komputer dan secara otomatis membuka Facebook -- atau setidaknya Facebook menjadi salah satu dari sekian banyak tab yang kita buka. Atau bagi pengguna smartphone seperti Blackberry, aplikasi Facebook atau Twitter for Blackberry menjadi penting untuk ada dan setiap hari (atau bahkan setiap jam, setiap menit) kita bisa begitu tergerak untuk membukanya, meng-update status, dan sebagainya.
Mungkin beberapa dari Anda berpikir bahwa yang akan dibahas di sini adalah bagaimana situs-situs jejaring sosial seperti Facebook ini dapat mengalihkan perhatian kita dari kehidupan kerohanian, menimbulkan adiksi, dan distraksi besar-besaran. Akan tetapi, isu yang hendak diangkat adalah bukanlah kampanye stop menggunakan media sosial, tetapi kalau pun kita menggunakannya, untuk apa dan bagaimana kita menggunakannya? Fenomena media sosial memang tak terelakkan dan nyaris tak bisa dibendung, maka dari itu pertanyaannya adalah bagaimana kita sebagai orang Kristen -- khususnya pemuda Kristen Reformed -- menggunakannya? Apakah selama ini kita menggunakan media sosial sama saja (atau bahkan lebih buruk) daripada orang-orang dunia?
Pertama-tama, sebelum menelaah media sosial itu sendiri, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu, mengapa sih anak muda dapat begitu dekat dengan media sosial dan budaya internet lainnya? Hal ini disebabkan oleh karena kita sebagai anak muda, khususnya Generasi Y (generasi yang lahir pada akhir tahun 1970-an hingga tahun 1994), dan termasuk juga Generasi Z (lahir mulai dari tahun 1995 hingga hari ini) disebut sebagai the digital natives. Generasi Y-Z lahir pada era saat internet lahir ke dalam dunia; ibarat kata, kita lahir ke dalam dunia digital. Maka dari itu, kita sebagai anak-anak muda disebut sebagai "warga pribumi" dalam dunia digital, sedangkan generasi yang lahir sebelum internet ada disebut sebagai the digital immigrants (warga digital yang imigran). Tak heran, umumnya anak-anak muda (dan bahkan anak-anak zaman sekarang kebanyakan) lebih fasih dalam menggunakan gadgets dan memahami bahasa digital -- karena memang itu adalah "bahasa ibu" kita. Di sisi lain, anak muda memiliki kecenderungan untuk suka mencoba sesuatu yang baru, dan hal ini membuat kita sebagai anak muda menjadi kelompok early adopters (pengguna pertama) dari internet maupun media sosial.
What Can be Done with Social Media?
Walaupun sudah menggunakan media sosial sekian lama, mungkin kita tidak begitu menyadari apa-apa saja yang media sosial ini telah lakukan dalam kehidupan kita. Yang pasti, kehadiran media sosial dan sebenarnya internet itu sendiri telah menciptakan begitu banyak kemungkinan baru yang hampir tidak dapat dilakukan dalam kehidupan nyata. Yang mungkin paling jelas dan nyata adalah kemampuan media sosial untuk "menghilangkan" batasan ruang dan waktu, sehingga kita dapat berinteraksi dengan siapapun, kapan pun, di mana pun. Juga kemampuannya untuk menghubungkan orang-orang yang sudah terpisah sekian lama, menjadi ajang mencari teman baru, dan sebagainya. Akan tetapi, ada begitu banyak batasan lain yang menjadi runtuh atau bahkan hilang berkat adanya media sosial maupun internet secara umum. Batasan pertama yang diruntuhkan adalah batasan bahwa seseorang hanya bisa memiliki satu identitas saja. Dalam dunia nyata, seseorang memiliki keterbatasan dalam menunjukkan identitasnya. Kadang dibatasi atau terhalang oleh opini orang, norma sosial, dan lain sebagainya. Namun, dalam dunia maya, hal ini tidak terjadi oleh karena semua orang dapat menjadi siapa pun yang ia mau. Seseorang dapat menampilkan dirinya segamblang mungkin atau justru seminim mungkin. Seseorang dapat dengan baik mengatur dan menyeleksi apa-apa saja dari dalam dirinya yang mau ditampilkan dalam dunia maya -- yang mana sering kali dalam kehidupan nyata hal ini cukup sulit dilakukan. Hal ini disebut sebagai selective self-disclosure yaitu ketika seseorang dengan begitu selektif mengatur bagian-bagian mana saja dari dirinya yang akan diungkap lewat media sosial. Selain itu, melalui media sosial seseorang juga dapat memiliki identitas lebih dari satu, di mana setiap identitas itu dapat benar-benar berbeda dari kehidupan nyatanya. Oleh karena ada begitu beragamnya platform media sosial -- mulai dari Facebook, Twitter, Blogger, Tumblr, dan sekarang terdapat Instagram, Path, dan lain sebagainya -- maka yang dapat terjadi adalah identitas diri yang beragam.
Kemudian, batasan kedua yang hilang semenjak adanya media sosial adalah batasan antara ranah privat dan publik. Sesuatu yang kita share yang sebenarnya bersifat pribadi, di media sosial akhirnya menjadi konsumsi publik dan sebaliknya. Yang ketiga, batasan yang hilang adalah batasan antara produsen dan konsumen. Yang dimaksud dengan hal ini adalah keberadaan media sosial dan internet secara umum meruntuhkan batasan antara produsen dan konsumen pesan: seseorang dapat menjadi produsen pesan/konten sekaligus konsumennya. Misalnya, dengan kita mem-post status terbaru di Facebook atau Twitter, sebenarnya kita telah menjadi produsen sebuah konten -- dan pada saat yang sama kita dapat "mengonsumsi" konten yang kita sendiri telah buat. Sama halnya dengan kita menulis sebuah tulisan di Blog atau Tumblr, ataupun mengunggah video di Youtube. Dahulu, hanya orang-orang tertentu yang dikatakan sebagai profesional dengan kredibilitas tertentu yang ibarat kata "layak" untuk menciptakan suatu konten. Sedangkan sekarang, hal ini tidak lagi terjadi, orang-orang awam dapat dengan bebas menciptakan konten yang diinginkannya tanpa penghalang yang berarti. Contohnya adalah fenomena citizen journalism (jurnalisme warga),di mana warga biasa dapat menciptakan suatu konten beritanya sendiri, dengan mengambil gambar atau video sendiri, menulis beritanya sendiri, dan sebagainya. Fenomena ini disebut oleh Marshall McLuhan sebagai "prosumer" (akronim dari produser-consumer atau juga professional-consumer). Dan tak lupa pula yang terakhir, media sosial memiliki sifat yang begitu viral alias begitu cepat penyebarannya.
Media Sosial Pedang Bermata Dua
Namun ternyata, kelebihan-kelebihan yang media sosial tawarkan seperti yang sudah disinggung sebelumnya ini menghasilkan ekses-ekses negatif. Kelebihan-kelebihan tersebut ternyata di sisi lain dapat sekaligus menjadi kekurangan atau bumerang: ibarat pedang bermata dua. Segala batasan-batasan yang runtuh tersebut pertama-tama menghasilkan adanya identitas yang terfragmentasi. Adanya kemungkinan bagi kita untuk menjadi apa pun yang kita mau telah menghasilkan suatu identitas diri yang dualistik atau bahkan lebih -- identitas yang ditampilkan dalam dunia maya berbeda dengan apa yang ada di dunia nyata, atau bahkan dalam dunia maya itu sendiri dapat terjadi fragmentasi identitas yang lebih banyak lagi. Saya dalam Facebook berbeda dengan saya yang ada di Twitter, berbeda dengan saya yang ada di Blog, berbeda dengan saya yang ada di dunia nyata. Film Surrogates (2009) yang dibintangi Bruce Willis cukup baik dalam menggambarkan hal ini walaupun dengan ekstrem. Dalam film ini digambarkan bagaimana kehidupan manusia sudah begitu terisolasi dan berinteraksi dengan dunia luar menggunakan robot-robot surrogate yang sebenarnya merupakan hasil proyeksi dari keinginan terdalam seseorang. Misalnya, dalam film tersebut digambarkan bagaimana seorang pria tua yang gemuk dan tidak menarik menampilkan robot surrogate-nya sebagai seorang wanita cantik yang menarik -- identitas diri yang asli sangatlah bertolak belakang dengan identitas yang ditampilkan dalam dunia maya. Media sosial dapat menjadi sarana proyeksi akan identitas diri yang mungkin tak dapat terlampiaskan dalam dunia nyata. Misalkan kita ingin orang lain melihat diri kita sebagai orang yang populer dan banyak teman, maka kita akan dengan giat menambah teman kita di Facebook hingga ribuan lebih -- padahal dalam kenyataannya kita adalah orang yang susah bergaul. Hal ini dapat disebut juga sebagai "manajemen impresi", kita mengatur kesan orang terhadap kita sedemikian rupa. Dalam kasus lain misalnya, di dunia nyata kita terkenal begitu rohani dan anak yang taat, akan tetapi sebenarnya dalam diri kita yang terdalam tersimpan suatu keinginan untuk melampiaskan segala kesenangan, "kegilaan", ataupun "ke-galau-an" – media sosial pun dapat mengakomodasi hal ini. Tentu saja hal ini tidak dapat sejalan dengan prinsip Reformed yang senantiasa dikumandangkan yaitu kehidupan yang utuh dan integratif. Hidup kita yang sudah cukup terfragmentasi sekarang semakin terfragmentasi dengan adanya media sosial. Kehidupan di dunia nyata yang tidak sejalan dengan yang di dunia maya ini menghasilkan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah kehidupan dunia maya kita terlihat lebih baik dan "suci" dibanding kehidupan nyata kita. Hal ini misalnya menimbulkan selentingan: "Ah, dia mah keliatannya aja di Facebook nge-share ayat-ayat Alkitab, I Love Jesus, dan lain-lain, tetapi kelakuannya minta ampun." Atau kemungkinan kedua, media sosial menjadi ajang di mana kita melampiaskan kehidupan "lama" kita yang berdosa yang belum dibereskan, yang dalam dunia nyata tak mungkin kita tampilkan oleh karena terhalang oleh opini orang lain. Misalnya X yang terkenal aktif pelayanan di gereja, tetapi ternyata di Facebook: foto-foto clubbing, atau di Twitter: keluar semua kata-kata kebun binatang, dan sebagainya.
Sadarkah kita, bahwa kemudahan sebagai prosumer untuk menciptakan konten sendiri yang bersifat viral ini adalah suatu peluang besar dalam menyebarkan Injil, teologi Reformed, maupun mandat budaya?
Ekses negatif lainnya adalah dengan adanya kebebasan untuk menghasilkan pesan/konten apa pun, membuat kebebasan ini menjadi tidak terkendali. Bahkan kita sebagai orang Kristen pun akhirnya sama saja dengan dunia yang mem-post apa pun di media sosial, secara suka-suka gue tanpa memikirkan dampak dari apa yang kita posting. Sering kali yang terjadi adalah kita akhirnya menganggap sepele hal ini dan dengan kurang berpikir matang menampilkan pesan atau konten apa pun lewat media sosial. Maka dari itu tak heran berkat adanya media sosial, segala sesuatu apa pun itu ada dan dapat muncul. Status Facebook berisi curhat "galau" cinta, tweet-tweet dalam Twitter yang isinya hanya, duh gue laper nih, video Youtube tentang seorang polisi yang kurang kerjaan menari-nari India, dan lain sebagainya. Kemudian, kebebasan sebagai seorang prosumer ini menghasilkan berbagai macam tipe karakter anak muda di media sosial yang bervariasi entah itu Kristen ataupun non-Kristen. Adapun ini contoh-contoh tipe karakter anak muda di media sosial berdasarkan pengamatan pribadi:
Tipe Narsisistik: hampir selalu menampilkan foto-foto dirinya sendiri.
Tipe Gamer: 90% kegiatannya di Facebook adalah bermain game dan mem-post pencapaian skornya yang tertinggi.
Tipe Sosialita: sering sekali mengunggah foto-foto dirinya yang sedang nongkrong-nongkrong asyik di cafe atau bar bersama teman se-geng-nya.
Tipe Mr./Ms. Sibuk: senantiasa meng-update kegiatan-kegiatannya sehari-hari.
Tipe Pujangga: anak-anak muda yang begitu mahirnya dalam berpuisi dan menumpahkan isi perasaannya lewat media sosial (ada kemungkinan tipe ini sedikit mirip dengan anak-anak muda yang doyannya "galau").
Dan, masih banyak lagi tipe-tipe karakter anak muda dalam media sosial.
Jika kita mengamati pengguna media sosial secara umum, rata-rata para pengguna media sosial memiliki kecenderungan untuk menggunakannya untuk hal-hal trivial. Hal ini disebabkan oleh karena media sosial dilihat sebagai salah satu bentuk "pelarian" dari hiruk-pikuknya kegiatan di dunia nyata, sebagai ajang untuk fun semata,dan meluangkan waktu senggang atau sekadar untuk hobi serta minat pribadi. Hal ini tentu saja tidaklah salah, akan tetapi dengan kemampuan media sosial yang memungkinkan kita menjadi seorang prosumer dan sifatnya yang viral, bukankah justru kita dapat melakukan sesuatu yang "lebih" dari sekadar hal-hal trivial yang sebenarnya kurang penting?
Redeeming the Social Media & Our Lives
Setelah melihat semua hal ini, lantas apa yang harus kita lakukan? Bukan menerima dan mengakomodasinya secara mentah-mentah, bukan pula menutup diri dan menolaknya, tetapi menebusnya. Kembali lagi ke pertanyaan awal, sebagai seorang pemuda Reformed bagaimanakah kita selama ini menggunakan media sosial? Dunia sendiri mengakui bahwa keberadaan media sosial dan internet telah menciptakan pribadi-pribadi yang terfragmentasi. Dunia mengatakan bahwa Anda bisa menjadi siapa pun, mem-post apa pun sesuka Anda. Lalu, apakah kita sebagai orang-orang yang sudah ditebus oleh Tuhan dan berprinsip hidup "tidak boleh sama seperti dunia ini" pun turut melakukan apa yang dunia katakan? Seorang hamba Tuhan GRII suatu kali menyatakan bahwa ketika dunia ini memiliki sebatas average spirit (semangat yang sedang-sedang saja), kita sebagai orang Kristen seharusnya melampaui itu. Dengan anugerah Tuhan yang begitu besar dalam kehidupan kita, kita tidak boleh hanya memiliki average spirit. Sama halnya dengan menggunakan media sosial, ketika dunia ini menggunakannya hanya sebatas pada hal-hal yang average maupun trivial, kita sebagai orang-orang Reformed -- khususnya pemuda/i -- seharusnya dapat menggunakannya untuk sesuatu yang "lebih" dan beyond average. Generasi kita sekarang ini telah mendapatkan anugerah double: anugerah sorgawi yakni pemahaman firman Tuhan yang kuat dan Injil yang sejati serta anugerah "duniawi" yaitu teknologi informasi dan komunikasi berupa media sosial yang memberi kita banyak kemudahan. Akankah kita menyia-nyiakan anugerah double ini dengan hanya menggunakan Facebook untuk berlomba-lomba mengunggah foto narsis terbaik, atau menggunakan Twitter untuk memberi tahu seluruh dunia bahwa kita sedang galau, atau mengunggah video-video tidak bermakna ke Youtube? Sadarkah kita, bahwa kemudahan sebagai prosumer untuk menciptakan konten sendiri yang bersifat viral ini adalah suatu peluang besar dalam menyebarkan Injil, teologi Reformed, maupun mandat budaya? Kita sering kali mengeluh, tidak berani penginjilan karena takut ditolak, tidak ada waktu, malu, sibuk, dan beribu alasan lainnya. media sosial dan internet yang sifatnya bukan komunikasi face-to-face bisa dimanfaatkan untuk mengatasi persoalan ini (walaupun tetap saja, komunikasi tatap muka tidak bisa sepenuhnya digantikan dengan komunikasi yang dimediasi oleh komputer).
Kemudian, selain kesaksian verbal dan kesaksian dari hidup kita di dunia nyata, "gerak-gerik" kita dalam media sosial pun dapat menjadi sarana kesaksian hidup, di mana orang-orang luar juga turut memerhatikan hidup kita melalui media sosial. Bukan berarti kita melakukan sesuatu demi agar dilihat orang lain, akan tetapi adalah suatu fakta yang tak dapat dipungkiri bahwa kehidupan orang Kristen menjadi "tontonan" dunia -- termasuk kehidupan di dunia maya. Adalah hal yang sangat disayangkan apabila kita menjadi batu sandungan bukan melalui perkataan kita, tindakan kita, tetapi melalui apa yang kita posting di media sosial, bukan?
Maka, kembali ke persoalan yang sudah disinggung sebelumnya, bagaimana kita menampilkan identitas kita sebagai pemuda Kristen, Reformed di media sosial? Sejalankah dengan apa yang kita yakini dan pelajari selama ini? Apakah jangan-jangan media sosial menjadi ajang pelampiasan kehidupan lama kita yang belum ditebus? Atau, jangan-jangan kita menampilkan diri dengan begitu rohaninya di media sosial hanya sebatas pencitraan, padahal diri sendiri belum sepenuhnya beres? Pada akhirnya, yang pertama perlu dibereskan adalah diri kita sendiri terlebih dahulu, khususnya hati, karena dari hatilah terpancar segala sesuatu. Jika hati kita sendiri belum beres, apa pun yang keluar dari dalam diri kita tidak akan beres -- termasuk dengan apa yang kita tampilkan dalam media sosial. Kiranya kemuliaan Tuhan pun juga dapat tampak bukan hanya di dunia nyata, melainkan pula di dunia maya. Ketika semua orang di dunia ini menggunakan media sosial dengan cara-cara yang average maupun trivial, hendaknya kita sebagai pemuda Reformed bangkit melawan arus ini dan menciptakan suatu budaya baru yang sesuai dengan firman Tuhan. Jangan sampai anugerah sorgawi dan "duniawi" yang sudah kita dapatkan ini disia-siakan begitu saja. Kiranya kita boleh menjadi pemuda dan pemudi yang terus berjuang memperjuangkan suatu kehidupan yang utuh serta menebus kebudayaan ini menjadi suatu sarana di mana kemuliaan Tuhan dapat tampak. Soli Deo Gloria!
Cara kita membaca Alkitab berubah, tetapi apakah itu penting, dan jika ya, mengapa? Dr. Stephen Holmes menyelidiki.
Saya memiliki sebuah Alkitab bersampul kulit yang bagus, sebuah pemberian, tetapi di masa kini saya membaca Kitab Suci dari layar jauh lebih sering daripada buku.
Ketika saya melihat ke sekeling keluarga gereja saya pada hari Minggu pagi, saya jauh dari ketidaklaziman dalam hal ini. Kita telah berubah dalam cara melihat lagu-lagu dan himne-himne dari buku menjadi ke layar proyektor; tampaknya kita pun berubah dalam cara kita melihat Kitab Suci dari buku ke layar hp atau tablet. Kita mungkin bertanya apakah ini penting.
Di satu sisi, kita mungkin menyatakan bahwa bukan tentang hal mendasar yaitu kata-katanya adalah sama dari mana pun kita membacanya. Memang benar bahwa kata-kata itu, kurang lebih, adalah sama (saya akan kembali kepada 'kurang lebih' itu), tetapi Allah menciptakan alam semesta secara fisik dan mengatakan bahwa itu adalah baik, dan demikian pula relasi kita dengan itu, dan penggunaannya, benda fisik bukan hanya tidak relevan. Bentuk fisik bisa penting dan demikian pula teknologi yang kita pakai untuk melihat teks Alkitab bisa penting juga. Kata-kata di Kitab Suci adalah, tentu saja, hal yang vital, tetapi kata-kata yang disampaikan dalam bentuk itu memiliki potensi mengubah relasi kita dengan kata-katanya.
Ada cara umum berkaitan dengan hal ini, yang disalahmengerti: kita mudah beranggapan bahwa iPad yang baru adalah 'teknologi', sedangkan buku yang kuno hanyalah biasa, jadi tidak ada bedanya. Tentu saja, ini adalah salah: buku yang dicetak dan dijilid adalah teknologi membaca yang sama baiknya dengan tablet layar sentuh. Kenyataannya, kita telah mengalami perubahan teknologi membaca beberapa kali dalam sejarah gereja Kristen, dan setiap kalinya itu telah mengubah pandangan kita dan cara kita menggunakan Kitab Suci.
Mungkin 2 Timotius 4:13 adalah ayat yang paling jarang dikhotbahkan dari seluruh kumpulan tulisan Paulus.1 "Jika kamu datang, bawalah jubah yang kutinggalkan kepada Karpus di Troas dan juga buku-bukuku, terutama semua perkamen itu." Dua kata yang tidak diterjemahkan menunjuk kepada teknologi membaca. NRSV menuliskan 'juga buku-buku, dan terutama semua perkamen' tetapi ini adalah bahaya yang bisa menyesatkan. Biblion memiliki akar yang berkaitan dengan papirus, namun umumnya penggunaan bahasa Yunani menunjuk ke dokumen apa saja dan semua, bagaimana pun itu ditulis, dan apa pun yang dituliskan. Jadi Paulus - saya tidak menyatakan tentang kepengarangan 2 Timotius, tetapi ayat ini begitu bersifat pribadi sehingga saya terdorong berpendapat bahkan jika sebagain besar dari surat itu adalah karya yang secara keliru dikaitkan dengan nama yang bukan penulis sebenarnya, atau sebuah karya yang oleh penulis sejati dikaitkan dengan sosok tokoh masa lalu, terdapat setitik teks asli di sini - Paulus meminta jubah dan beberapa dokumen yang dia tinggalkan agar dikirim kepadanya - tetapi kemudian menekankan pentingnya dia memiliki membranai di antara dokumen-dokumen itu.
Nah, kata dasar membrana artinya kertas kulit 'perkamen', yaitu materi menulis yang mahal dan tahan lama yang terbuat dari kulit binatang, kebalikan dari materi yang terbuat dari papirus; mungkin karena itulah, Paulus menginginkan buku-bukunya yang bersampul keras terutama karena dia mendapatkannya dengan harga yang lebih mahal. Akan tetapi, ada sebuah pendapat yang bagus bahwa membrana, meskipun aslinya ada di perkamen, biasanya diartikan sebagai sesuatu yang tertulis pada bentuk 'codex', kebalikan dari sesuatu yang ditulis dalam bentuk 'gulungan'. Sebuah gulungan adalah sebuah lembaran papirus atau perkamen panjang yang digulung sehingga bisa dibaca sedikit demi sedikit; sebuah codex adalah kumpulan lembaran papirus atau perkamen (atau bahkan kayu parafin) yang dijadikan satu di ujungnya - atau istilah kita, sebuah buku. Paulus menginginkan semua perpustakaannya dikirimkan, tetapi terutama buku-buku, bukan gulungan-gulungan.
Ini menarik karena nilainya adalah terbalik. Gulungan adalah buku yang bersampul keras pada zaman itu; hal-hal yang penting dituliskan pada gulungan; buku adalah pencatat bagi murid-murid untuk dipraktikkan. Seorang penulis merekomendasikan menyusun sebuah buku, karena materinya dapat ditambahkan ke dalamnya dengan lebih mudah. Akan tetapi, dia bersikeras, ketika pekerjaan itu selesai, maka harus disalin ke sebuah gulungan. Jadi, mengapa Paulus begitu khawatir dengan buku-bukunya?
Ini jadi lebih membingungkan ketika kita menyadari bahwa pilihan pada buku ini berurat akar dalam jemaat mula-mula. Para perintis iman kita membuat pilihan perjumpaan-kultural mengenai pilihan teknologi membaca mereka; dalam sebuah dunia yang menghargai gulungan, mereka memilih buku. Permanent Display koleksi British Library menyimpan banyak benda yang berharga, termasuk Codex Sinaiticus, salah satu naskah Perjanjian Baru paling kuno yang lengkap. Di antara banyaknya hal-hal menakjubkan tentang codex, buku; sesuatu yang benar-benar penting seharusnya adalah sebuah gulungan.
Mengapa jemaat Kristen mula-mula, mulai dari Paulus dan selanjutnya, menghargai buku? Kita bisa memikirkan berbagai argumen: mungkin karena buku lebih murah, atau lebih mudah dibawa-bawa, misalnya. Akan tetapi, Francis Watson berpendapat bahwa itu berkaitan dengan bentuk teknologi membaca buku, codex, yang ditawarkan. Kita tahu bahwa jemaat Kristen mula-mula menyebutkan hal-hal yang Yesus pernah katakan; menyebutkan ayat-ayat di Kitab Suci Ibrani yang kelihatannya merupakan nubuat-nubuat tentang kehidupan Yesus, dan seterusnya. Buku adalah baik untuk daftar-daftar, khususnya, buku adalah baik untuk daftar-daftar jika Anda ingin melihat sedikit demi sedikit dan potongan-potongan, bukan dalam urutan. Sebuah gulungan baik untuk dibaca dari hal 1 sampai ke hal 329; jika Anda ingin membaca hal 2, lalu 312, lalu 154, lalu 83, maka sebuah buku adalah jauh lebih mudah. Demikian juga buku adalah bagus untuk semacam materi yang sebagian besar bernilai bagi jemaat Kristen mula-mula, hal-hal yang mereka katakan mengenai Tuhan. Kita mungkin mengira bahwa Paulus menginginkan buku-bukunya terutama karena berisikan daftar-daftarnya, tautan-tautannya yang sangat penting tentang Yesus.
Entah untuk alasan ini atau yang lainnya, gereja Kristen menerima sebuah bentuk teknologi membaca yang baru, buku (yang tertulis). Hanya dalam beberapa abad kita lupa bahwa selalu ada pilihan, dan buku menjadi satu-satunya bentuk teknologi membaca yang kita semua ketahui. Akan tetapi, buku-buku yang tertulis itu tebal; seluruh Alkitab sayangnya adalah tebal. Jadi kitab-kitab lebih pendek, atau dijadikan beberapa bagian. Ini artinya tidak seorang pun yang memiliki sebuah 'Alkitab'. Sebagian besar orang buta huruf, tentu saja, tetapi seseorang yang bisa membaca, dan yang kebetulan tinggal di suatu tempat dengan sebuah perpustakaan akan mendapati bahwa perpustakaan yang berisikan buku-buku yang sekarang kita sebut 'alkitabiah' dan juga buku-buku lainnya, ditempatkan tanpa pemisahan yang jelas. Sehingga ada sesuatu yang kurang seperti mengembangkan pemahaman tentang apa yang alkitabiah dan apa yang tidak.
Kita bisa melihat bukti akan hal ini dalam karya Hugh of St Victor, Didascalion, sebuah teks standar abad kedua puluh, yang ditulis sebagai sebuah panduan bacaan seni bagi murid-murid pemula. Tiga buku pertamanya wajib dibaca secara umum; tiga buku berikutnya bacaan tentang ayat-ayat Kitab Suci. Daftar Hugh di buku-buku itu yang dianggap sebagai ayat-ayat Kitab suci adalah mengagumkan, tidak termasuk buku-buku seperti Wisdom, Tobit, Judith, dan Makabe, tetapi meliputi hampir semua bapa gereja sampai ke Augustine di abad keempat dan seterusnya. Dia memasukkan Origen, dengan sedikit tanda tanya; untuk beberapa alasan dia secara khusus mengeluarkan Shepherd of Hermas. Akan tetapi, sebagian besar tulisan-tulisan Kristen, bagi Hugh, adalah Kitab Suci, sama seperti Roma dan Yohanes adalah Kitab Suci.
Disebutkannya Makabe dan seterusnya mungkin memunculkan pertanyaan yang terkadang diajukan murid-murid ketika mempelajari Reformasi: apa kanon Perjanjian Lama sebelum abad keenam belas, daftar Roma - dengan Makabe, kesimpulan- atau daftar Reformasi, tanpa mereka? Jawaban yang paling jujur dalam sejarah adalah itu tidak ditetapkan; tidak ada keputusan kanonikal di gereja Barat. (Gereja Yunani membuat keputusan untuk Septuaginta, terjemahan bahasa Yunani untuk beberapa teks bahasa Ibrani, sehingga memiliki sebuah daftar.) Terdapat sebuah kanon Yahudi, yang nantinya diadopsi oleh kaum Reformasi, tetapi gereja Kristen Barat tidak membuat keputusan formal. Yang menarik, kanon Yahudi, kelihatannya, ditetapkan dengan teknologi-teknologi membaca: pemahaman terbaik kita mengenai asal mula kanon Yahudi berdasarkan model penyimpanan gulungan-gulungan. Buku-buku yang dimasukkan sebagai kanon disimpan di rak yang berbeda, atau di ruangan yang berbeda, di perpustakaan bait suci atau sinagoge. Kanonisasi merupakan sebuah konsep bergantung, di bawah Allah, bagian dari pengaturan mode teknologi membaca.
Apa komitmen Reformasi untuk sola scriptura? Terlalu sering itu membicarakan sesuatu yang seolah-olah baru, tetapi sola scriptura adalah sebuah doktrin abad ketiga belas, yang dikembangkan oleh para ahli teologi Katolik, sebagian untuk menyatakan posisi mereka menentang para pembela kanon. Pembacaan Kitab Suci Reformed sama sekali berbeda dari apa yang telah ada sebelumnya, tetapi bukan karena adanya sebuah komitmen pada otoritas Kitab suci, atau karena komitmen pada satu-satunya otoritas Kitab Suci. Para ahli sejarah berbicara tentang komitmen Reformed pada 'hermeneutika humanistik'.
Ini adalah sebuah tindakan membaca keseluruhan buku dalam bahasa asli mereka, daripada berfokus pada satu kalimat demi satu kalimat, seringkali cukup dalam terjemahan. Perubahan lain dalam teknologi membaca adalah bagian yang signifikan dari hal ini. Ketika orang-orang hanya memiliki buku-buku yang tertulis, dan sedikit jumlahnya, maka tidaklah mengejutkan bahwa mereka berfokus pada kalimat-kalimat tertentu. (kita tahu bahwa bahkan para ahli terbesar di abad pertengahan mengakses penulis-penulis kuno melalui daftar kalimat-kalimat yang signifikan). Ketika buku-buku cetak tersedia maka itu memungkinkan kita dan mendorong kita untuk membaca teks seluruhnya.
Hugh menulis sekitar tiga abad sebelum Reformasi; jika kita melihat seabad seblumnya atau lebih, pertanyaan tentang kanon, yang bagi Hugh adalah berubah-ubah, telah menjadi tetap. Saya mengajarkan tentang pertanyaan-pertanyaan mengenai Kitab Suci dan interpretasi sebagai bagian dari perayaan 400 gerakan Baptis beberapa waktu yang lalu di Oxford. Kemudian seseorang bertanya apakah ada orang Baptis pada zaman dulu yang bertanya tentang kanon, yang meragukan apakah kitab-kitab di dalam Alkitab itu benar? Saya tidak tahu (dan belum menemukan sejak itu) apakah ada sebuah contoh, dan demikian juga tidak seorang pun yang lain di ruangan ini yang tahu. Kaum Baptist itu meniadakan hubungan negara-gereja, menolak bentuk pemerintahan gereja yang ada, mengabaikan rangkaian liturgi, bahkan membunuh seorang raja; mereka menantang dan mempertanyakan segala hal - mengapa mereka tidak mempertanyakan kanon juga?
Jawabannya sekali lagi terletak pada teknologi membaca. Di perpustakaan Hugh di St Victor semua buku alkitabiah dan belasan buku lainnya ditempatkan di rak yang sama; tidak ada batasan yang jelas yang memisahkan satu dengan yang lainnya. Kaum Baptis awal memiliki buku-buku cetak dengan sampul kulit hitam dengan dicap 'Kitab Suci' di lapisannya yang berkilat. Bahkan jika mereka mencoba untuk mempertanyakan segala hal, mereka terkalahkan oleh tersedianya buku yang dijilid itu. Penemuan mesin cetak menjadikan 'Alkitab' benda yang mungkin, dan setelah itu ada, maka tidak bisa diragukan. Lebih dari sekitar dua abad, pertanyaan seputar kanon telah berubah dari yang tidak terbayangkan menjadi dapat dibayangkan.
Bagi orang-orang di antara kita yang tumbuh besar dengan Alkitab yang dicetak tahu apa itu 'sebuah Alkitab'; isinya adalah tetap dan pasti. Dan, isinya yang tetap itu - sebuah produk, pemberitahuan, tentang teknologi membaca yang baru - mengubah cara kita berhubungan dengan teks lagi. Dalam Sejarah Kekristenan modern, ada bagian dari sejarah perdebatan terhadap hal-hal kecil tentang inspirasi Alkitab: di Eropa pada abad ketujuh belas muncul sebuah perdebatan mengenai titik-titik huruf hidup bahasa Ibrani. (Bahasa Ibrani ditulis tanpa ada huruf hidup, dan pada beberapa kasus pilihan huruf hidup dapat mengubah arti agak signifikan; lama setelah teks Alkitab bahasa Ibrani ditulis, ahli-ahli Farisi Yahudi yang disebut Kaum Masoret mengembangkan sebuah sistem tanda-tanda untuk menunjukkan huruf-huruf hidup mana yang seharusnya dimasukkan, dan pertanyaan pun diajukan, apakah ini diinspirasi oleh Allah atau bukan? Pada abad kesembilan belas seorang Skot yang eksentrik dalam pengasingan di Geneva mengembangkan sebuah teori tentang pleno inspirasi verbal, yang berpendapat bahwa setiap kata diinspirasikan; pada abad kedua puluh beberapa orang di USA sampai pada pandangan bahwa Allah menginspirasi satu terjemahan hanya dalam sebuah bahasa yang diberikan, sehingga orang-orang yang menggunakan bahasa Inggris harus membaca King James Bible saja. Pada setiap kasus, pertanyaan-pertanyaannya hanya dapat dibayangkan karena cetakan memungkinkan adanya teks yang pasti.
Saya memiliki sebuah teori bahwa fundamentalisme yang benar bergantung pada mesin cetak. Sikap seorang fundamentalis terhadap Kitab Suci, adalah, bergantung pada teks tertulis yang tetap; jika setiap Alkitab (atau Quran, atau apa pun) sedikit berbeda, pembaca bisa menjadi marah, susah, dan berbahaya dengan mengetahui beberapa arahan yang berbeda, tetapi mereka tidak akan pernah menjadi seorang fundamentalis; posisi tertentu itu tidak dimungkinkan jika teksnya tidak stabil. Akan tetapi, Alkitab Elektronik di-update secara teratur, membetulkan yang salah, atau mengembangkan versi, sehingga mereka tidak stabil. Steve Jobs mungkin belum mengetahui telah membunuh fundamentalisme Amerika!
Bagaimana perubahan ke teks elektronik akan mengubah sikap kita terhadap Kitab Suci? Saya kira, pertama, kita akan dipaksa untuk belajar lagi semangat dari teksnya. Seorang teman saya, seorang pendeta Presbiterian di Highlands, memiliki kebiasaan membaca dari aplikasi Alkitabnya saat dia memimpin ibadah; gerejanya memakai NIV. Dia memberitahu saya baru-baru ini tentang kengeriannya saat dia mulai membaca di gereja dan menyadari kata-katanya telah berubah - aplikasinya diam-diam telah di-update dari NIV 1984 ke NIV 2011. Dan, jika itu tampak seperti hal yang kecil, ingatlah bahwa ini adalah update ke versi bahasa gender-inklusif, sesuatu yang tidak selalu diketahui oleh gereja-gereja konservatif Preabyterian di Highlands supaya bisa ditoleransi.
semua teknologi membaca kita yang beragam memiliki keterbatasan, dan kita selalu memodifikasi dan mengembangkan teknologi untuk berusaha mengatasi keterbatasan-keterbatasan itu.
Akan tetapi, berbicara tentang 'NIV 1984' dan 'NIV 2011' masih ada dalam teknologi mesin cetak; sebuah versi elektronik bisa di-update setiap minggu atau setiap hari. Sebuah Alkitab yang benar-benar digital dapat menerima semua kemajuan dalam ilmu pengetahuan tekstual pada hari itu dibuat, atau dapat mengulas dan meng-update satu buku setiap bulan. Sebuah teks secara aslinya akan ada dalam sebuah keadaan yang berubah terus-menerus - sama tidak stabilnya dengan salinan teks yang semua orang dalam dunia Kristen lakukan sebelum abad kelima belas. Dan mengapa tetap dengan NIV? Aplikasi laptop saya bisa memiliki beberapa jendela yang dibuka sekaligus - saya sering membuka terjemahan bahasa Inggris, bahasa Yunani atau Ibrani asli, sebuah tafsiran, dan leksikon Yunani/Ibrani di depan saya. Saya bisa segera melihat variasi dan terjemahan-terjemahan yang diperdebatkan. Kesulitan-kesulitan tekstual tidak bisa lagi disembunyikan oleh suatu pernyataan yang mensahkan penerbitan sebuah buku oleh komite editorial; kerapian buatan yang dipaksakan melalui teknologi membaca buku itu akan hilang; dan kita akan tahu sekali lagi rapuhnya Firman yang menghidupkan dengan perbedaan-perbedaan bacaan dan adalah sulit-untuk-menerjemahkan kalimat-kalimat.
Tentu saja, kembali ke menggunakan layar akan membuatnya jadi lebih sulit untuk menandai Kitab Suci; di gereja lokal saya seorang anggota dari tim pengkhotbah tertentu akan sering mengajak kita untuk dengan cepat beralih ke teks ini lalu ke teks itu; semua mahasiswa kami duduk di sana, jari jempol mereka bergerak dengan sangat cepat, saat mereka berusaha untuk tetap mengikuti pergerakan di layar. Ini merupakan sebuah kerugian, mungkin: Paulus terutama menginginkan membranai, buku-bukunya karena menggunakan gulungan adalah berat. Apakah ini sebuah argumen untuk menolak perubahan teknologi, untuk tetap pada buku? Bukan; semua teknologi membaca kita yang beragam memiliki keterbatasan, dan kita selalu memodifikasi dan mengembangkan teknologi untuk berusaha mengatasi keterbatasan-keterbatasan itu.
Kaum Masoret memberi angka dan tanda pada gulungan-gulungan mereka, yang menunjukkan berapa jauh kita sedang ada di buku, berapa banyak kata, bahkan huruf, telah dilewati dan berapa banyak yang akan datang. Ketika kita beralih ke buku, kita segera memiliki tabel korespondensi, daftar isi, lalu jumlah pasal dan jumlah ayat dan konkordansi untuk membantu kita membaca buku. Kita membuat/melakukan pemberian tanda-tanda baca. Dan catatan-catatan kaki. Dan sistem lintas-referensi. Dan pita, dimasukkan ke dalam punggung buku sehingga kita bisa membuat beberapa tempat terbuka sekaligus. Kita membuat konkordansi, dan sinopsis. Kita memodifikasi untuk membuat Alkitab kita lebih menarik tanpa henti untuk membuat mereka menjadi mesin yang berkadar oktan tinggi.
Saya membaca dari layar karena bagi saya, dengan memakai aplikasi yang saya gunakan (yang sangat bagus; membuat universitas saya membayar dengan mahal) keuntungannya lebih banyak daripada kerugiannya. Terdapat kelemahan, ya, tetapi aplikasi akan diperbarui minggu depan, dan akan mengatasi beberapa kelemahannya. Cara itu update, teknologi baru, akan membentuk keterlibatan saya dengan Kitab Suci-sama seperti buku cetak yang saya beli ketika baru saja diganti di akhir tahun 1980-an, dan sama seperti gulungan dan codex yang Paulus baca dan pelajari dengan teliti. (t/Jing-Jing)