Artikel

Artikel

Perintah Kasih

Penulis_artikel: 
-
Isi_artikel: 

"Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi." I Yohanes 4:7

Kapan terakhir kali seorang Kristen memanggil engkau, "Saudara yang kekasih"? Dalam pemakaian alkitabiah penyataan ini tidak bersifat sentimental. Paragraf teragung mengenai kasih dalam Alkitab dimulai pada I Yohanes 4:7 dengan kata-kata, "Saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, dinyatakan dalam dua kata Yunani yang penuh penekanan, "Agapetoi, agapomen," yang arti harafiahnya, "Engkau, yang telah dikasihi Allah, kasihilah satu sama lain."

Kita harus saling mengasihi dengan tiga alasan:

  1. Allah sendiri adalah kasih
  2. Pemberian Allah membuktikan kasih-Nya
  3. Kasih Allah sempurna di dalam kita ketika kita saling mengasihi

  1. Allah adalah kasih

    Dua kali dalam konteks ayat 8 dan 16 Yohanes menyatakan kebenaran ALLAH ADALAH KASIH! Cara mengekspresikan ini berarti bahwa kasih Allah tidak hanya salah satu sifat di antara sifat-sifat lainnya. Berarti bahwa Allah kasih dalam keberadaanNya terus menerus, secara instrinsik. Kesucian dan kasih menjadi karakteristik seluruh keberadaan Allah (I Yohanes 1:5).

    Fakta Kesatuan Allah dalam Tritunggal adalah dasar dari seluruh iman dan kehidupan praktika kita. Dalam Tiga Pribadi ada kasih yang sempurna. Bapa mengasihi Anak secara sempurna dan Anak kepada Bapa. Demikian pula Roh Kudus mengasihi Bapa dan Anak. Roh datang untuk membina kasih dalam seluruh anggota tubuh Kristus.

    Dalam Yudaisme tidak ada konsep kasih. Tetapi orang Yahudi juga dekat dengan Perjanjian Lama dimana Tritunggal tercakup secara implisit. Dalam Perjanjian Baru Tritunggal dinyatakan secara eksplisit. Jika kita melihat ketakutan dan kebencian pada orang bukan Kristen, bukankah itu menunjukkan tidak ada sumber di mana kasih Ilahi dapat dirasakan, diserap, dilaksanakan dan berbalasan?

    Teologi Reformed tidak mewarisi yang demikian. Tetapi atas hal ini kasih dari Allah Tritunggal dicurahkan.

  2. Pemberian Allah membuktikan kasih-Nya

    Alasan kedua yang mendorong motivasi untuk saling mengasihi didasarkan pada pemberian Bapa dalam sejarah. Ia "mengutus" Anak-Nya. Mengutus Dia berpresaposisi Ia adalah Allah dan memiliki pra-eksistansi-Nya. Pengutusan merupakan suatu pemberian demi keselamatan kita, pertama dengan menyediakan kebenaran melalui kehidupanNya yang sempurna bagi kita, dan kedua melalui pendamaian. Merupakan satu tindakan penuh kehinaan untuk mengambil rupa manusia namun dengan merendahkan diri sendiri, bahkan sampai mati di kayu salib, Ia menjadi korban penebusan bagi dosa kita; Penanggung murka, Pengganti posisi kita yang terhukum.

    Senjata kita untuk memenangkan dunia adalah kebenaran dan kasih

    Betapa Bapa yang penuh kasih tidak menderita ketika melihat Anak Tunggal-Nya mati dalam kehinaan? Tidak pernah terjadi, tidak sekali- kali terjadi, pengorbanan diri lebih besar dari pemberian Bapa akan Anak-Nya untuk menjadi korban penebusan atas murka Ilahi dan memuaskan keadilan Ilahi. Tidak ada pemberian lebih besar dari Bapa yang dapat dihitung karena tidak ada pemberian yang lebih besar yang mungkin diberikan. Itulah pemberian "tak terkatakan" (II Kor 9:15, juga I Yohanes 3:16; Roma 8:32). Dalam I Yohanes 4:7-12 kita mendapatkan penjelasan lebih jelas mengenai kasih Bapa. Patut dicatat pengekspresian kata "sedemikian mengasihi". Jika Allah sedemikian mengasihi kita, kita harus saling mengasihi.

    Kasih berarti mengampuni dosa orang yang kita kasihi dan tidak mengingatnya lagi. Inilah yang dilakukan Bapa kepada umat manusia yang memberontak; Ia mengampuni dosa terhadap-Nya dengan bayaran sendiri. Kita juga harus demikian. Merupakan sebuah perintah, "Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (Matius 11:26).

  3. Kasih Allah sempurna di dalam kita jika kita mengasihi satu dengan yang lain.

    "Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita." (I Yohanes 4:12). Ini merupakan pernyataan yang mengagetkan karena kita tahu bahwa kasih Allah sempurna dinyatakan dalam Ketritunggalan-Nya. Tetapi Yohanes menekankan bahwa kasih Allah dibawa kepada kesempurnaan di dalam kita ketika kita mengasihi sebagaimana seharusnya. Kasih Allah dinyatakan ulang dalam kita dan di antara kita ketika kita saling mengasihi satu dengan yang lain dalam kebenaran dan dalam tindakan.

    Kasih Allah sempurna ketika kita mengasihi satu dengan lain, bukannya perpecahan, saling menyerang, menganiaya dan menekan. Sesuatu yang mencengangkan malaikat adalah ketika mengobservasi kasih gagal dalam jemaat orang kudus khususnya di antara mereka yang mula-mula membenci satu dengan lainnya.

    Siapa yang mampu meletakkan api di atas sumur minyak di Kuwait? Seperti neraka yang mengamuk! Suatu neraka yang lebih besar yang tidak dapat dilacak, adalah lautan dari kebencian yang mengamuk dalam neraka; kebencian dari setan dan kebencian dari orang berdosa yang tidak bertobat. Untuk memiliki satu hati baru yang mengasihi, dan menanggalkan api kebencian kepada Allah dan manusia merupakan pekerjaan yang saling melengkapi. Menunjukkan kasih yang benar dalam gereja adalah pekerjaan sorgawi.

Aplikasi

Menghadapi mereka yang belum mau menerima Yesus Kristus membutuhkan pemikiran yang jernih dan pelaksanaan kasih yang dinyatakan dari pribadi kepada pribadi. Ketika Yesus berdoa untuk kesatuan dari Gereja-Nya (Yohanes 17:20-23), Ia membuktikan bahwa melalui kesatuan dalam kasih Roh Kudus memakainya untuk mempertobatkan dunia. Senjata kita untuk memenangkan dunia adalah kebenaran dan kasih.

Sumber Artikel: 

Sumber:

Nama Majalah : Momentum
Edisi : 12/Juni 1991
Judul Artikel : Perintah Kasih
Penulis : -
Halaman : 38-40

Tanda-Tanda Hari Pentakosta

Penulis_artikel: 
Abraham Kuyper
Isi_artikel: 

Artikel ini disarikan dari buku The Work of The Holy Spirit

Suara tiupan angin yang keras, lidah-lidah seperti nyala api, dan berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, merupakan tanda-tanda yang mengikuti peristiwa pencurahan Roh Kudus. Tanda-tanda ini bukan hanya memiliki pengertian simbolik. Berkata-kata dalam bahasa lain adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari peristiwa Pentakosta. Simbol bertujuan untuk mewakili atau menunjuk kepada sesuatu yang disimbolkan. Karena itu, simbol dapat dibuang tanpa mempengaruhi inti dari hal yang disimbolkannya. Seperti tanda penunjuk jalan, simbol dapat dibuang tanpa mempengaruhi jalan itu sendiri. Jika tanda-tanda hari Pentakosta hanya merupakan simbol, peristiwa Pentakosta akan tetap sama walaupun tanpa tanda-tanda tersebut. Tetapi tanda-tanda peristiwa Pentakosta lebih dari sekedar simbol. Jika tanda berkata- kata dalam bahasa lain tidak ada, hal ini akan merombak secara drastis karakter dari sejarah selanjutnya.

Hal ini membenarkan penjelasan bahwa tanda-tanda lain pada peristiwa Pentakosta merupakan bagian-bagian pokok dari mujizat yang terjadi. Fakta bahwa selama delapan belas abad para teolog tidak yakin akan signifikansi simbol-simbol ini, mendorong kesimpulan bahwa para rasul dan orang-orang pada waktu itu juga tidak segera mengerti signifikansi peristiwa ini. Hal ini didukung oleh narasi Kisah Para Rasul 2. Mereka semua tercengang dan termangu, sambil berkata seorang kepada yang lain, "Apakah artinya ini?" Dan ketika Petrus berdiri sebagai rasul untuk menjelaskan mujizat yang terjadi, dengan dipenuhi Roh Kudus dia tidak mengkaitkan segala signifikansi simbolik dengan tanda-tanda yang terjadi, melainkan Petrus langsung menyatakan bahwa peristiwa ini terjadi untuk menggenapi nubuat nabi Yoel.

Apakah peristiwa Pentakosta menggenapi seluruh nubuat nabi Yoel? Jelas tidak; karena matahari tidak menjadi gelap, bulan tidak menjadi darah, dan mereka tidak mendengar mimpi dari orang-orang tua. Memang penggenapan seluruh nubuat nabi Yoel dan banyak nubuat lain tidak akan terjadi sampai kedatangan Kristus kedua kali. Tetapi rasul Petrus menunjukkan bahwa melalui peristiwa ini Hari Tuhan menjadi semakin mendekat secara signifikan. Pencurahan Roh Kudus merupakan salah satu dari peristiwa-peristiwa besar yang mendahului hari yang agung itu. Tanpa pencurahan Roh Kudus, Hari Tuhan ini tidak akan terjadi. Dari sudut pandang Allah, hari Pentakosta adalah mujizat besar terakhir sebelum Hari Tuhan. Karena hari itu akan diwarnai dengan tanda-tanda yang mencengangkan, seperti yang terjadi pada hari Pentakosta. Petrus menyatukan keduanya dan membuatnya kelihatan seperti satu peristiwa. Hal ini menjelaskan bahwa nubuat nabi Yoel menunjuk kepada Hari Tuhan, tetapi sekaligus menunjuk kepada hari Pentakosta.

Jika tanda kedatangan Tuhan - darah, api, dan asap - bukan hanya merupakan simbol, tetapi merupakan unsur utama dari bagian akhir sejarah dunia, maka jelaslah bahwa Petrus tidak mengerti tanda-tanda hari Pentakosta ini sebagai simbolik. Pandangan yang menganggap bahwa tanda-tanda ini hanya untuk menarik perhatian massa, juga merupakan penjelasan yang tidak kuat.

Stimulasi indera penglihatan dan pendengaran adalah cara yang paling efektif untuk mempengaruhi kesadaran kita. Cara paling mudah untuk menarik perhatian dan menstimulan emosi seseorang adalah dengan memberikan suara ledakan yang dasyat dan kilatan cahaya yang sangat terang. Dengan memakai prinsip ini, beberapa kelompok Methodis pernah menggunakan senjata api pada waktu KKR, berharap supaya suara dan kilatan api akan mempengaruhi suasana hati agar dapat lebih kondusif bagi pekerjaan Roh Kudus. Pengalaman yang sama juga dilakukan oleh Bala Keselamatan.

Melalui penjelasan ini, tanda-tanda hari Pentakosta mempunyai karakteristik yang sama. Murid-murid berkumpul di ruang atas pada hari Pentakosta. Dan supaya menyadari akan pencurahan Roh Kudus, pendengaran dan penglihatan mereka harus di stimulan. Dan ketika orang-orang tercengang dan termangu-mangu karena suara dan penglihatan yang mereka alami, barulah tercapai kondisi yang diinginkan untuk menerima Roh Kudus dan pencurahan terjadi. Tetapi pandangan ini jelas tidak sesuai dengan ajaran Alkitab dan bahkan hal yang sangat keliru untuk membandingkan tanda-tanda Pentakosta dengan suara keras dari senjata. Karena itu satu-satunya penjelasan yang tepat adalah dengan memperhitungkan tanda-tanda hari Pentakosta sebagai unsur utama yang sungguh dari peristiwa tersebut. Tanda-tanda ini merupakan unsur yang sangat penting yang tidak dapat dibuang.

Ketika sebuah kapal memasuki pelabuhan kita melihat buih putih menempa sisi bawah kapal dan kita mendengar gemericik air yang berbenturan. Ketika seekor kuda berlari kencang, kita mendengar suara kakinya yang keras dan melihat debu di belakangnya. Tetapi apakah hal-hal yang dilihat dan didengar ini bersifat simbolik? Hal-hal ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peristiwa masing-masing dan tidak mungkin ada tanpa peristiwa tersebut. Demikian juga tanda-tanda Pentakosta bukan bersifat simbolik maupun hanya untuk menciptakan sensasi, tetapi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peristiwa pencurahan Roh Kudus dan disebabkan oleh peristiwa ini. Pencurahan Roh Kudus tidak mungkin terjadi tanpa adanya tanda-tanda ini. Ketika Roh Kudus turun dari gunung kekudusan Allah, bunyi tiupan angin yang keras akan terdengar, dan terang yang dasyat akan terlihat, dan berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain harus terjadi.

Pencurahan Roh Kudus adalah peristiwa yang nyata, bukan hanya kelihatannya. Kemuliaan yang diterima Kepala harus dialirkan dan dicurahkan dari sorga kepada tubuh Kristus. Dan jika semua ini terjadi pasti akan menghasilkan tanda-tanda tersebut.

Tetapi banyak hal yang masih belum kita mengerti. Di gunung Horeb, Eliyah mendengar Tuhan lewat hembusan angin; Yesaya mendengar bergeraknya pintu-pintu di bait Allah. Hal ini sepertinya menunjukkan bahwa kehadiran Ilahi dinyatakan dengan sesuatu yang dapat ditangkap dengan indera. Tetapi kita tidak mengetahui bagaimana caranya. Tetapi kita bisa memperhatikan beberapa hal:

Pertama, jelas bahwa roh dapat bekerja melalui materi. Roh kita bekerja melalui tubuh jasmani yang kelihatan dan dengan demikian dapat menghasilkan suara. Berbicara, menangis, bernyanyi adalah karya roh kita terhadap udara. Dan jika roh kita dapat melakukan hal itu, apalagi Roh Tuhan? Mengapa ketika Roh Kudus turun dan membawa dampak yang dapat dilihat dan didengar, kita anggap sebagai misteri?

Kedua, ketika membuat perjanjian dengan Israel di gunung Sinai, Tuhan Allah berbicara dalam guntur yang menggelegar, sehingga Musa berkata, "Aku begitu takut dan gemetar." Tetapi hal ini dilakukan Allah bukan bertujuan menakutkan manusia, tetapi Allah yang suci dan murka harus berbicara dengan cara demikian kepada angkatan yang berdosa ini. Karena itu tidak mengherankan bahwa kedatangan Allah kepada manusia dalam perjanjian yang baru juga diikuti dengan tanda-tanda yang mirip, bukan untuk menarik perhatian manusia, tetapi memang hal itu merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Hal yang sama juga berlaku pada lidah-lidah api. Manifestasi dari hal yang bersifat supranatural selalu dinyatakan melalui cahaya dan terang, khususnya ketika Allah Jehova atau malaikat-Nya hadir. Ingat peristiwa perjanjian Allah dengan Abraham atau peristiwa semak yang terbakar. Jadi mengapa kita heran dengan fenomena turunnya Roh Kudus yang mirip dengan yang dialami Eliyah di Horeb dan Musa di semak, Paulus dalam perjalanan ke Damaskus, dan Yohanes di pulau Patmos? Lidah-lidah seperti nyala api yang turun kepada setiap orang justru menunjukkan Allah yang menembus setiap hati manusia dan meninggalkan dampak yang kekal.

Pertanyaan tentang apakah lidah api itu berasal dari sorga atau merupakan akibat pekerjaan Allah terhadap elemen dalam dunia, tidak dapat dijawab dengan pasti. Kedua pandangan mempunyai kekuatan masing- masing. Tidak ada kegelapan di sorga; dan cahaya sorgawi pasti mempunyai natur yang lebih tinggi dari dunia, bahkan lebih dari terangnya matahari, menurut penggambaran Rasul Paulus tentang cahaya dalam perjalanan ke Damaskus. Karena itu dalam peristiwa Pentakosta sangat mungkin batasan antara sorga dan dunia menjadi tidak jelas dan kemuliaan yang lebih agung dinyatakan dalam dunia.

Tetapi, Roh Kudus mungkin juga menyatakan cahaya yang misterius ini dengan melakukan mujizat. Dan hal ini sepertinya dikonfirmasi berdasarkan fakta bahwa tanda-tanda yang diberikan di gunung Sinai, yang merupakan peristiwa yang paralel dengan peristiwa Pentakosta, bukan berasal dari atas tetapi dari materi di dunia.

Akhirnya perlu diperhatikan bahwa pencurahan Roh Kudus di rumah Kornelius dan murid-murid Apolos diikuti dengan perkataan dalam bahasa-bahasa lain, tetapi tidak dengan tanda yang lain. Hal ini mengkonfirmasi pengajaran yang telah diberikan, bahwa pencurahan di rumah Kornelius bukanlah kedatangan Roh Kudus ke dalam keluarga Kornelius, tetapi merupakan karya Roh Kudus yang dinyatakan pada bagian tubuh Kristus yang lain. Jika tanda-tanda itu merupakan simbol, tanda-tanda lain pasti juga harus ada. Tetapi hal itu tidak terjadi, karena tanda-tanda peristiwa Pentakosta itu bukan dimaksudkan sebagai simbol.(BS)

Sumber Artikel: 

Sumber:

Nama Majalah : Momentum
Edisi : 40/Triwulan II 1999
Judul Artikel : Tanda-Tanda Hari Pentakosta
Penulis : Abraham Kuyper
Halaman : 38-41

Kemuliaan Di Saat Kenaikan Kristus

Penulis_artikel: 
R C Sproul
Isi_artikel: 

R C Sproul adalah mantan profesor Sistematik Teologi di Reformed Theological Seminary, Jackson Mississippi. Artikel ini diambil dari bukunya yang berjudul "The Glory of God"

Gereja-gereja Protestan biasanya merayakan Natal, Jumat Agung, dan Paskah. Beberapa gereja juga merayakan hari Pentakosta. Tetapi sedikit gereja Protestan yang memberikan perhatian yang cukup pada hari Kenaikan Yesus. Barangkali hal ini menunjukan ketidakcukupan pemahaman akan pentingnya peristiwa ini. Kenaikan Yesus merupakan puncak dari pelayanan Yesus di bumi dan pantas diperlakukan sama seperti hari Jumat Agung, Paskah dan Pentakosta.

Peristiwa-peristiwa ini saling berhubungan satu sama lain. Tanpa salib tidak ada penebusan. Dan tanpa kebangkitan kita akan mengesampingkan 'Juruselamat' yang mati, dimana kuasa untuk menyelamatkan akan dipertanyakan. Kebangkitan menandakan persetujuan Allah atas pengorbanan Kristus. Adalah hal yang tidak terpikirkan jika memiliki salib tanpa kebangkitan. Seperti kotbah Petrus di saat Pentakosta, tidak mungkin jika Kristus tidak bangkit dari kematian. Kematian tidak berkuasa atas Dia. Karena itu kematian tidak akan menjadi bagian-Nya.

"Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan-tangan bangsa durhaka. Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu." (Kis 2:22-24)

Sama halnya bahwa tidak mungkin ada salib tanpa Kebangkitan, demikian pula dengan Kebangkitan tanpa Kenaikan. Jikalau tidak ada Kenaikan, tidak akan ada kemuliaan Kristus. Kita gagal memperoleh janji kemuliaan dari Allah. Tanpa Kenaikan, tidak ada Pentakosta dan tidak ada Kedatangan Kristus kedua kali.

Yesus sendiri mengajarkan murid-muridNya bahwa Kenaikan merupakan syarat penting terjadinya Pentakosta:

"Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tiada seorangpun di antara kamu yang bertanya kepadamu: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, sebab itu hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu." (Yoh. 16:5-7)

Barangkali penolakan dalam merayakan Kenaikan Yesus berakar pada problema yang sama yang dihadapi para murid. Kita tidak bersukacita akan ketidakhadiran Yesus di tengah kita.

Meskipun Ia berjanji bahwa Ia akan hadir bersama kita, namun itu merupakan kehadiran yang tidak kelihatan dan tidak dapat diraba. Kita menantikan kehadiran-Nya agar dapat melihat penampakan-Nya secara jasmani.

Sebagai makhluk jasmaniah kita lebih memberikan tekanan penting pada penampakan fisik dari mereka yang kita kasihi. Kita menggunakan frase di luar jangkauan pandangan, di luar jangkauan pikiran untuk menggambarkan kegagalan hasrat kita dalam hal ketidakhadiran seseorang. Perusahaan telepon menawarkan telepon jarak jauh yang disebut 'hal terbaik untuk berada di sana'. Tetapi sesungguhnya hal ini jauh dari konsep 'berada di sana dalam bentuk suatu pribadi'.

Para murid berdukacita ketika Yesus katakan bahwa Ia akan pergi meninggalkan mereka. Yesus menegur mereka karena bertanya, 'Ke mana Engkau akan pergi?' Ini merupakan pertanyaan mengenai ke mana sama halnya dengan mengapa Yesus pergi yang menjadi kesulitan dari gereja setiap jaman.

Murid Yesus sulit untuk memperoleh kebenaran bahwa Ia meninggalkan mereka untuk keuntungan mereka. Jikalau pengajaranNya benar, maka yang harusnya terjadi adalah barangsiapa yang hidup setelah Kenaikan harus membagikan keuntungan tersebut.

Jikalau kita percaya akan apa yang Yesus katakan pada para murid-Nya, kita harus menyimpulkan bahwa kita hidup dalam masa yang jauh lebih menguntungkan daripada masa selama pelayanan Yesus di bumi. Kita hidup dalam masa setelah Kenaikan dan setelah Pentakosta. Para murid hidup pada masa ketika Yesus merendahkan diri-Nya; kita hidup pada masa pemuliaan-Nya. Ini merupakan keuntungan yang sangat besar.

CATATAN MENGENAI KENAIKAN

Catatan mengenai Kenaikan Yesus sangat jelas dalam Perjanjian Baru. Banyak referensi Alkitab mengenai kisah ini. Markus menggambarkannya dalam satu kalimat (Mrk. 16:19). Injil Lukas menjelaskan dalam dua kalimat (Luk 24:50-51). Matius dan Yohanes tidak memberikan catatan sama sekali. Catatan yang paling utuh diberikan dalam Kisah Rasul:

"Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang - demikian kata-Nya - 'telah kamu dengar dari pada-Ku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.' Maka bertanyalah mereka yang berkumpul disitu: 'Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?' Jawab-Nya: 'Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa- Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.' Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka: 'Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus Ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga.'

Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit-bukit yang disebut bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem." (Kis 1:4-12).

Pada saat Kenaikan-Nya, Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk tetap tinggal di Yerusalem menunggu kedatangan Roh Kudus. Pada momen terakhir bersama Yesus, mereka menanyakan pertanyaan terakhir kepada- Nya. Mereka bertanya apakah saat ini merupakan saat yang dikehendaki- Nya untuk membangun kembali kerajaan Israel. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa mereka masih belum memahami secara utuh tentang jabatan raja dari Kristus. Yesus tidak menegur mereka karena berpikir seperti itu. Tetapi ia berkata kepada mereka untuk tidak perlu mengetahui kapan waktunya. Dalam hal ini Ia menegaskan kepentingan dari misi mereka antara Kenaikan-Nya dan Kedatangan-Nya dalam kemuliaan. Ia katakan pada mereka bahwa mereka akan memperoleh kuasa untuk melakukan tugas tersebut selama Ia tidak bersama dengan mereka. Tugas mereka, dan juga tugas gereja Kristen, adalah menyaksikan tentang Dia.

Kita melihat bahwa tujuan Kenaikan Kristus adalah untuk berkuasa di sorga. Melalui Kenaikan-Nya, Ia mengambil peran Raja dari alam semesta. Kekuasaan-Nya pada masa ini tidak terlihat oleh penduduk dunia. Ini merupakan tugas para murid, dan sekarang kita, untuk menyaksikan kekuasaan yang tidak terlihat tersebut. Yohanes Calvin menegaskan bahwa ini merupakan tugas dari gereja yang kelihatan untuk memperlihatkan pada dunia akan pemerintahan Kristus yang tidak kelihatan. Ini merupakan tujuan dari pemberian Roh Kudus yang Yesus janjikan pada murid-murid-Nya.

Para murid merupakan saksi mata Kenaikan Yesus. Pada saat mereka melihatNya, Ia terangkat diatas awan. Hal ini jelas dari Alkitab bahwa awan pada saat Kenaikan adalah awan kemuliaan. Gambaran selanjutnya mengenai kedatangan-Nya didalam awan menegaskan konsep ini.

Para murid berdiri terpaku di bukit Zaitun ketika memandang kemuliaan kenaikan Yesus. Lamunan mereka terinterupsi oleh kehadiran malaikat. Malaikat bertanya, "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit?" Para murid begitu terpaku akan kemuliaan yang singkat pada saat kenaikan-Nya.

Perasaan para murid setelah Yesus meninggalkan mereka sangat berbeda dengan yang terekspresi pada saat Yesus pertama kali berbicara bahwa Ia akan meninggalkan mereka. Saat ini tidak ada lagi perasaan kesedihan. Catatan Lukas memperlihatkan keadaan emosi mereka:

"Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga. Mereka sujud menyembah kepadaNya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. (Luk. 24:51-52)

Pada ayat-ayat ini, Lukas menunjukkan bahwa para murid penuh dengan sukacita ketika mereka kembali ke Yerusalem. Perubahan perasaan ini tercatat dengan jelas. Ketika kita ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi, khususnya pada saat ketika kita tidak mungkin bertemu dengan- Nya di dunia ini lagi, maka saat itu merupakan saat yang penuh dengan dukacita.

Pada ayat-ayat ini, Lukas menunjukkan bahwa para murid penuh dengan sukacita ketika mereka kembali ke Yerusalem. Perubahan perasaan ini tercatat dengan jelas. Ketika kita ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi, khususnya pada saat ketika kita tidak mungkin bertemu dengan- Nya di dunia ini lagi, maka saat itu merupakan saat yang penuh dengan dukacita.

Selama pengajaran Kristus mengenai Roh Kudus di ruang atas, Ia menyampaikan perkataan-perkataan yang terus terdengar di telinga para murid ketika mereka kembali dari bukit Zaitun:

"Kamu telah mendengar bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada BapaKu, sebab Bapa lebih besar daripada Aku. Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi" (Yoh. 14:28-29)

Menurut Lukas, sukacita para murid menjadi sangat jelas setelah pada akhirnya mereka percaya akan pengajaran Yesus mengenai kepergian-Nya. Karena kasih yang sangat dalam mereka mampu bersukacita akan kenaikan- Nya kepada Bapa di sorga.

WARISAN DARI YESUS

Ada satu hal yang perlu ditambahkan di dalam sukacita para murid. Setelah Yesus meninggalkan mereka, mereka menerima warisan yang dijanjikan kepada mereka. Ketika seorang kaya meninggal, kesedihan keluarga mulai mereda ketika hendak membaca dan menerima warisan. Kadangkala karena mengharapkan warisan yang banyak menyebabkan anak- anak berharap agar kepergian orangtua dapat terjadi sesegera mungkin.

Yesus tidak meninggalkan harta duniawi. Warisan-Nya berbeda jenisnya. Ia memberikan kepada para murid-Nya Damai yang dimilikiNya, suatu hal yang tidak dapat diukur nilainya:

"Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. " (Yoh. 14:27)

Damai yang ditinggalkan Yesus kepada para murid-Nya bukanlah damai yang biasa. Yesus mendefinisikannya sebagai 'Damai sejahtera-Ku.' Ini merupakan damai yang transenden, suatu damai yang melampaui pemahaman manusia. Ini merupakan damai yang mampu mengatasi kekecewaan manusia. Ini merupakan damai yang setiap orang Yahudi impikan. Ini merupakan berkat tertinggi dari shalom.

Paulus menegaskan bahwa keuntungan pertama yang diperoleh dari pembenaran orang percaya adalah partisipasi dalam damai ini, yang meliputi damai dengan Allah:

"Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus" (Rom. 5:1). Pada tempat yang lain Paulus menyatakan: "Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan" (Ef. 2:14). Dalam meninggalkan warisan bagi gereja-Nya, Yesus memberikan diri-Nya sendiri didalam kehadiran-Nya melalui ikatan spiritual.

KEKUASAAN YESUS

Para murid mulai memahami bahwa Yesus pergi ke Bapa-Nya. Kenaikan-Nya bukan sekedar pergi 'ke surga.' Ada keunikan yang tidak diberikan kepada mereka yang sebelumnya pernah naik ke surga. Yesus naik dengan Cara yang berbeda dengan Henokh dan Elia. Yesus menegaskan hal ini dalam pengajaran-Nya: "Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia." (Yoh. 3:13) Dalam diskusi-Nya dengan Nikodemus, Yesus menunjukan keunikan Kenaikan-Nya. Yang lain telah pergi ke sorga, tapi tidak ada seorang pun yang naik dengan makna khusus seperti yang dilakukan-Nya. Hanya Dia yang turun dari sorga yang memiliki kualifikasi untuk naik dengan makna yang khusus. Di sini istilah naik mengandung pengertian lebih dalam daripada sekedar 'naik ke atas.' Istilah ini memiliki pengertian khusus: naik ke tempat yang khusus untuk menyiapkan tugas yang khusus. Yesus naik ke tempat di mana Ia akan memerintah sebagai Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuhan. Ia duduk di sebelah kanan Bapa di dalam tempat beradanya otoritas alam semesta.

Kenaikan Yesus menandai penggenapan dari nubuatan Mzm. 110:

Demikianlah firman Tuhan kepada tuanku:
"Duduklah di sebelah kanan-Ku,
sampai Kubuat musuh-musuhmu
menjadi tumpuan kakimu."
Tongkat kekuatanmu akan diulurkan Tuhan dari Sion:
memerintahlah di antara musuhmu!
Pada hari tentaramu bangsamu
merelakan diri untuk maju
dengan berhiaskan kekudusan;
dari kandungan fajar
tampil bagimu keremajaanmu seperti
embun
Tuhan telah bersumpah,
dan Ia tidak akan menyesal:
"Engkau adalah imam untuk selama-lamanya
menurut Melkisedek."
Tuhan ada disebelah kananmu;
Ia meremukkan raja-raja
pada hari murka-Nya,
Ia menghukum bangsa-bangsa,
sehingga mayat-mayat bergelimpangan;
Ia meremukkan orang-orang
yang menjadi kepala di negeri luas.
Dari sungai di tepi jalan ia minum,
oleh sebab itu ia mengangkat kepala.

Saya mengutip Mzm 110 karena ini merupakan bagian Perjanjian Lama yang paling banyak dikutip dan ditekankan dalam Perjanjian Baru. Mazmur ini mencakup seluruh penilaian mengenai keberadaan dari Mesias. Kerajaan Mesias digambarkan sebagai di sebelah kanan Allah, dimana Ia melakukan jabatan Raja yang diurapi Allah dan jabatan Imam Besar Agung.

Hal ini tergenapi pada saat Kenaikan seperti yang secara jelas ditegaskan Paulus:

Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadanya nama diatas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada dl bawah bumi, dan segala lidah mengaku: 'Yesus Kristus adalah Tuhan,' bagi kemuliaan Allah, Bapa!' (Fil. 2:9-11)

Di saat Kenaikan-Nya, Yesus menerima kedua jabatan tersebut dan sebutan Tuhan. Ia masuk dalam posisi di sebelah kanan Allah. Ini merupakan posisi kemuliaan, hormat, penguasaan dan kuasa. Hal ini menjadi pokok pujian malaikat di kitab Wahyu:

Maka Aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa, katanya dengan suara nyaring. 'Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian! 'Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata: 'Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji- pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!' Dan keempat makhluk Itu berkata: 'Amin' Dan tua-tua Itu jatuh tersungkur dan menyembah. (Why 5:11-14)

Kenaikan merupakan pusat daripada kerygma, pusat dari proklamasi kotbah para rasul. Hal ini terlihat dalam kotbah Petrus saat Pentakosta:

"Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal ini kami semua adalah saksi. Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini. Sebab bukan Daud yang naik ke Surga malahan Daud sendiri berkata:

'Tuhan telah berfirman kepada Tuanku. Duduklah di sebelah kananKu, sampai Kubuat musuh-musuhMu menjadi tumpuan kakiMu.'

Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus"(Kis. 2:32-36)

PERAN KRISTUS SEBAGAI JURU SYAFAAT

Pada saat Kenaikan, Yesus bukan saja menerima jabatan Raja tetapi juga Imam Besar kekal menurut peraturan Melkisedek. Kita telah melihat catatan mengenai doa syafaat Kristus selama ada di ruang atas. Hal ini penting untuk menyadari bahwa pekerjaan syafaat terus dilanjutkan hingga hari ini. Tema pelayanan sorgawi Yesus sebagai Imam Besar dibicarakan secara panjang lebar di dalam kitab ibrani:

"Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan Iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaiknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya." (Ibr. 4:14-16)

Pokok pembicaraan mengenai karya keimaman Kristus sangat penting bagi kita. Karya Imam Besar-Nya bersifat kekal.

Tetapi, karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain. Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.

Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi daripada tingkat-tingkat sorga, yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah Itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan dlri-Nya sendiri sebagai korban. Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah, yang diucapkan kemudian daripada hukum Taurat, menetapkan Anak, yang telah menjadi sempurna sampai selama-lamanya. Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga, dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu dl dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia. (Ibr. 7:24- 8:2)

YESUS SEBAGAI PEMBELA

Di dalam jabatan sorgawi sebagai Raja - Imam, Yesus melayani sebagai pembela kita. Meskipun ketika Alkitab bicara mengenai Yesus di dalam kemuliaan kenaikan-Nya sebagai duduk di sebelah kanan Allah, namun ada saatnya ketika Ia bangkit berdiri dan berbicara dalam membela orang- orang kudusNya. Hal ini teriihat pada saat akhir kehidupan Stefanus.

Stefanus telah mengkotbahkan suatu kotbah penghakiman yang tajam di hadapan penguasa-penguasa Yahudi. Reaksi mereka penuh dengan dendam; hati mereka tertusuk dan mereka menyambutnya dengan gertakan gigi. Ditengah-tengah krisis yang dihadapi, Stefanus dibawa ke penghakiman mahkamah agama Yahudi dan ia melihat kemuliaan Allah:

Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya: "Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah." (Kis 7:55-56)

Stefanus melihat Yesus 'berdiri' di sebelah kanan Allah. Di dalam ruang persidangan hanya dua orang yang berdiri, penuntut umum dan pembela. Hakim tetap duduk di tempatnya. Dalam peran-Nya sebagai Anak Manusia dan Tuhan yang naik ke sorga, Yesus duduk di tempat untuk memerintah dan menghakimi. Namun pada peristiwa ini, hakim illahi bangkit dari tempat duduknya dan mengambil peran pembela.

Peran yang Yesus pergunakan ini bukan saja ditujukan bagi Stefanus, tapi semua umatNya. Pada saat penghakiman terakhir, kita dapat yakin bahwa hakim kita juga akan melayani sebagai pembela kita. Ia adalah Pembela kita, bersama-sama dengan Bapa.

KENAIKAN DAN PENTAKOSTA

Yesus menggambarkan pentingnya hubungan antara Kenaikan-Nya di sebelah kanan Bapa dan pengutusan Roh Kudus kepada gereja. Karena pokok pembahasan pada artikel ini berfokus pada kemuliaan Yesus yang dibedakan dengan kemuliaan Roh Kudus, maka meskipun kita tetap akan membicarakan mengenai kemuliaan Roh Kudus, namun penekanannya lebih kepada peristiwa Pentakosta.

Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk, dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. (Kis 2:1-4)

Penyataan kemuliaan Allah pada saat Pentakosta sangat jelas terlihat. Manifestasi pertama yang muncul adalah dalam bentuk suara. Bunyi tersebut dilukiskan sebagai tiupan angin. Angin ini tidak seperti angin yang biasanya nampak pada mereka yang mendengarnya. Bagi agama Kristen dan Yahudi, hubungan antara angin dan Roh sangat dalam. Baik di dalam bahasa Ibrani maupun Yunani, istilah 'roh' sama dengan istilah 'angin' (ruach dalam Ibrani, pneuma dalam Yunani). Ketika berbicara mengenai kuasa Roh Kudus dalam proses lahir baru, Yesus berkata:

Angin bertiup kemana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu darimana ia datang atau kemana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh. (Yoh 3:8)

Yesus bicara mengenai kebebasan bertiupnya angin. Roh tidak dikontrol oleh manusia maupun kuasa alam lainnya. Roh Kudus bekerja sesuai dengan kebebasan kedaulatan Allah. Kita dapat mendengar angin bertiup, tetapi kita tidak dapat mengontrol sumbernya ataupun tujuannya. Dengan demikian angin yang bertiup dengan Cara yang luar biasa pada saat Pentakosta memanifestasikan kuasa dan kemuliaan dari kehadiran Roh Kudus.

Manifestasi kedua dari kedatangan Roh Kudus adalah suatu fenomena yang nampak. Mereka yang berkumpul saat itu melihat lidah-lidah api, hinggap pada setiap kepala para murid. Lidah api melambangkan berdiamnya kemuliaan illahi pada tempat tersebut. Sama seperti burung merpati yang turun dari sorga dan hinggap pada Yesus di saat pembaptisan, demikian juga sekarang Roh berdiam di atas umat-Nya. Kita melihat suatu paralel dari catatan Perjanjian Lama mengenai Roh yang hinggap pada Musa terdistribusi di antara ketujuh puluh tua-tua lainnya:

Lalu turunlah Tuhan dalam awan dan berbicara kepada Musa, kemudian diambilNya sebagian dari Roh yang hinggap padanya, dan ditaruh-Nya atas ketujuh puluh tua-tua itu; ketika Roh itu hinggap pada mereka, kepenuhanlah mereka seperti nabi, tetapi sesudah itu tidak lagi. (Bil 11:25)

Manifestasi ketiga turunnya Roh Kudus adalah bahasa lidah. Merupakan hal yang sulit untuk menetapkan apakah mujizat ini adalah mujizat dalam perkataan atau mujizat dalam pendengaran. Barangkali hal ini meliputi kedua hal di atas. Roh Kuduslah yang memberikan hal ini. Meskipun demikian bahasa yang diucapkan didengar secara bervariasi oleh pendengar di dalam bahasa mereka masing-masing. Pertanyaannya adalah: Apakah para murid diberikan kemampuan untuk berbicara dalam bahasa asing atau ada kuasa supranatural yang menerjemahkan saat itu? Hal ini kedengarannya seperti apa yang terjadi dalam pertemuan PBB, dimana seorang wakil asing memberikan perkataan-perkataannya - mereka yang mendengar dengan earphone, mendengar secara langsung penerjemahan dari perkataan pembicara tadi:

Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing- masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesapotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan perbuatan besar yang dilakukan Allah. Mereka semuanya tercengang- cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: "Apakah artinya ini" (Kis 2:5-12)

Mereka yang hadir bingung. Petrus kemudian berdiri dan mengkotbahkan sebuah kotbah yang memberikan suatu intepretasi historis terhadap peristiwa tersebut. Ia menjelaskan bahwa fenomena Pentakosta merupakan akibat dari kemuliaan Kristus dalam Kenaikan-Nya:

Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami adalah saksi. Dan sesudah ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkanNya apa yang kamu lihat dan dengar di sini. (Kis 2:32-33)

Bunyi dan penglihatan yang terjadi pada saat Pentakosta merupakan manifestasi yang nampak oleh mata dan merupakan kemuliaan yang dilimpahkan oleh Roh Kudus seperti yang telah dijanjikan kepada gereja-Nya.(TE)

Sumber Artikel: 

Sumber:

Nama Majalah : Momentum
Edisi : 40/Triwulan II 1999
Judul Artikel : Kemuliaan Di Saat Kenaikan Kristus
Penulis : R C Sproul
Halaman : 14-20, 25-27

Pentakosta Pada Masa Kini?

Penulis_artikel: 

Sinclair B Fergusson

Isi_artikel: 

Sinclair B Ferguson adalah asisten profesor Teologia Sistematika di Westminster Theological Seminary, Philadelphia, USA. Artikel ini disadur dari tulisannya berjudul "Countours of Christian Theology."

Turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta harus dilihat sebagai peristiwa kristologis. Karena itu, pengertian tentang karya Roh Kudus harus dipahami dari karya Kristus. Namun timbul satu pertanyaan: Apakah Pentakosta memiliki pengaruh yang menetap bagi kehidupan gereja?

Perjanjian Baru membukakan rincian dari titik-titik penting dalam karya Kristus, yakni: kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya (Rom. 6:1; Gal. 2:20; Kol. 2:11-3:4). Demikian pula dengan peristiwa pencurahan Roh Kudus: 'Kita semua dibaptis oleh satu Roh ke dalam satu tubuh - baik Yahudi maupun Yunani, budak maupun orang merdeka' (1 Kor. 12:13). Kata-kata ini sama dengan kata-kata yang digunakan dalam peristiwa Pentakosta (Luk. 3:16 dan Kis. 1:5, 11:16).

Pernyataan Paulus bersifat mencakup semua orang. Sebagaimana Paulus menulis kepada jemaat Korintus, hal ini juga berlaku bagi kita dan setiap orang percaya (melalui baptisan Roh, kita masuk ke dalam satu tubuh dimana semua orang percaya termasuk di dalamnya) dan semua jenis orang percaya (Yahudi, Yunani, budak, orang merdeka).

Beberapa pertanyaan penting muncul di sini - untuk membangun sebuah teologi tentang pengalaman gereja masa kini bersama Roh Kudus:

  1. Apakah hubungan antara Pentakosta dan pengalaman terdahulu dari para murid Yesus dengan Roh Kudus?

  2. Apakah hubungan antara Pentakosta dan pengalaman bersama Roh Kudus yang dicatat dalam Kisah Para Rasul, di Samaria (Kis. 8:4-25), di rumah Kornelius (Kis. 10:1), dan di Efesus (Kis. 19:1-7) - dalam ketiga-tiganya, nampaknya turunnya Roh Kudus menyusul setelah terjadi pertobatan. Apakah ini berarti adanya berkat kedua setelah pertobatan?

  3. Apakah hubungan antara Pentakosta dan baptisan Roh Kudus yang Paulus tuliskan dalam 1 Kor. 12:13?

  4. Unsur-unsur manakah dari Pentakosta yang tidak dapat terulangi, hanya satu kali terjadi? Manakah unsur-unsur yang dapat terulang, bahkan menjadi norma atau ketetapan bagi gereja masa kini?

Pentakosta dan Para Murid
Murid-murid yang berkumpul bersama setelah Yesus bangkit, adalah orang-orang yang sungguh percaya (Mat. 16:15-20); mereka sudah dibersihkan dan dipersekutukan dengan Kristus (Yoh. 15:1-11). Dengan demikian, ini adalah buah pekerjaan Roh Kudus dalam hidup mereka. Tetapi jelas bahwa mereka belum menerima baptisan Roh yang dijanjikan (Kis. 1:5). Pengalaman mereka bersama Roh Kudus bersifat progresif.

Dari hal ini, tidak mungkin kita menyimpulkan bahwa pengalaman para murid harus menjadi pengalaman kita juga pada masa kini. Pengalaman mereka bersifat unik karena mereka hidup dalam masa transisi dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru. Pengalaman mereka hanya terjadi satu kali dan tidak menjadi pola bagi kita untuk masa kini. Sebab masuknya mereka ke dalam kepenuhan Roh Kudus terjadi dalam dua tahap yang berbeda: mencerminkan sebuah pola kesinambungan dengan kita (Roh yang sama), dan pola ketidak-sinambungan (hanya dalam Pentakosta, Roh Kudus datang dalam tugas dan pelayanan-Nya sebagai Roh Kristus yang dimuliakan). Pola demikian didasarkan atas munculnya jaman baru dari jaman lama. Jadi terdapat keistimewaan dalam pengalaman murid-murid, sama seperti pengalaman mereka bersama Yesus.

Kaisarea, Samaria, Efesus
Bagaimana dengan turunnya Roh Kudus di Samaria (Kis. 8:9-25), di rumah Kornelius (Kis. 10:44-48), dan di Efesus (Kis. 19:17)? Yang paling mencolok adalah yang terjadi di rumah Kornelius karena istilah-istilah yang digunakan di dalamnya juga digunakan dalam Pentakosta. Misalnya: pencurahan (Kis. 2:17-18,33; 10:45); baptisan (Kis. 1:5; 11:16); dan karunia (Kis. 2:38; 11:17). Fenomena berbahasa roh juga terjadi lagi di sini (Kis. 2:4; 10:6). Lebih lanjut, Petrus melihat kesamaan antara kedua peristiwa: 'Roh Kudus telah datang kepada mereka seperti kepada kita dahulu. Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: 'Yohanes membaptis ... kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus...; ...Allah memberikan karunia kepada mereka sama seperti Ia telah berikan kepada kita ...' (Kis. 11:15-17).

Pengertian Petrus terhadap kejadian ini, sejalan dengan rencana dalam Kis. 1:8. Turunnya Roh Kudus kepada seisi rumah Kornelius menandai tersebarnya Injil ke daerah orang non-Yahudi. Ini ditegaskan oleh Gereja Yerusalem: 'Ketika mereka mendengar ini, mereka tidak lagi berkeberatan dan memuji Tuhan, katanya: "Jadi, Allah juga mengaruniakan pertobatan kepada orang non-Yahudi"' (Kis. 11:18). Kejadian ini dilihat sebagai kejadian yang hanya terjadi satu kali dan memang direncanakan secara khusus dan unik. Jadi ia lebih bersifat programatik daripada paradigmatik.

Namun demikian, dalam kasus Samaria dan Efesus, nampak adanya tahap kedua dalam pengalaman mereka dengan Roh Kudus. Orang-orang Samaria percaya ketika Filipus memberitakan Injil Kerajaan Allah dan nama Yesus Kristus, dan dibaptis; tetapi hanya ketika Petrus dan Yohanes datang, barulah mereka didoakan agar mereka menerima Roh Kudus karena sampai saat itu Roh Kudus belum datang atas mereka; mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Maka Petrus dan Yohanes menumpangkan tangan atas mereka, dan mereka menerima Roh Kudus (Kis. 8:12, 15-17). Kemudian, Paulus bertanya kepada orang Efesus, 'Apakah kamu menerima Roh Kudus ketika kamu percaya?' Jawabannya mengherankan: 'Kami bahkan belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus.' Setelah memberitakan Kristus kepada mereka, 'Paulus menumpangkan tangannya atas mereka, Roh Kudus turun atas mereka dan mereka berbahasa roh dan bernubuat' (Kis. 19:1-7).

Sering dikatakan, berdasarkan pengalaman para rasul pada hari Pentakosta dan juga pengalaman di Samaria dan Efesus, maka Lukas dan Kisah Para Rasul mengajarkan dua tahap untuk masuk ke dalam kepenuhan Roh. Kira-kira pemikirannya seperti ini:

  1. Kelahiran kembali oleh Roh Kudus (pertobatan)
  2. Baptisan Roh

Jadi selama Yesus hidup di dunia, para murid hanya baru dilahirkan kembali. Nanti, pada hari Pentakosta, barulah mereka mengalami karya Roh Kudus: mereka dibaptis dan dipenuhi dengan Roh dan berbahasa roh sebagai bukti bahwa mereka sudah menerima Roh Kudus. Ini menjadi model bagi dua tahap karya Roh Kudus. Berdasarkan pengertian ini, di Samaria dan Efesus, kita menemukan orang-orang percaya (yang sudah dilahirkan kembali), namun belum menerima (belum dibaptis) dengan Roh Kudus. Tahap yang kedua ini dianggap berbeda dengan kelahiran kembali.

Kita sudah melihat sekalipun pengalaman para rasul terbagi dalam dua tahap, hal ini bukan menjadi contoh bagi kita. Namun bukankah seharusnya pengalaman para rasul menjadi pengalaman kita juga pada masa kini?

Pandangan dua tahap dari karya Roh Kudus bukan hanya dianut oleh golongan Pentakosta dan Karismatik, tetapi juga oleh Katolik. Dalam Katolik, seseorang dianggap masuk dalam persekutuan dengan Roh melalui penumpangan tangan (Kis. 8:17; 9:16). Dalam Pantekosta dan Karismatik, baptisan Roh diwujudkan dengan berbahasa roh, dan ini merupakan pengalaman kedua setelah pengalaman pertama (pertobatan).

Dalam Lukas dan Kisah Rasul, Pentakosta digambarkan sebagai kisah sejarah penebusan. Penafsirannya tidak boleh secara eksistensial dan pneumatologis, tetapi harus eskatologis dan kristologis. Secara mendasar, peristiwa Pentakosta bersifat terjadi satu kali saja sebagaimana seluruh kejadian dalam hidup Yesus (kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke surga). Dalam konteks ini, Kisah Para Rasul, bukanlah kisah Roh Kudus, tetapi kisah Yesus Kristus melalui Roh Kudus (implikasi dari Kis. 1:1-4 adalah bahwa kejadian yang dijanjikan dalam Kis. 1:5 menandai sebuah era baru dimana Yesus sendiri sebagai Tuhan yang mulia, akan bekerja dan mengajar).

Dipahami dalam kerangka pikir demikian, kejadian-kejadian di Samaria dan Kaisarea menandai dimulainya tahap kedua dan tahap ketiga dari penyebaran kerajaan Kristus seperti tertera dalam Kis. 1:8:

  1. Injil tiba di Yerusalem pada hari Pentakosta.
  2. Injil tiba di Samaria. Kis. 8 menggambarkan terjadinya kebangunan iman melalui pelayanan Filipus, diikuti oleh kunjungan Petrus dan Yohanes sebagai utusan rasuli (Kis. 8:14), dan pencurahan Roh Kudus setelahnya. Peristiwa-peristiwa ini dapat dipahami jika dimengerti dalam konteks tahap penyebaran injil seperti dijanjikan oleh Yesus. Karena itulah, kita tidak perlu berpikir bahwa orang- orang Samaria belum bertobat, sekalipun ada kemungkinan demikian.
  3. Injil sampai ke Kaisarea sebagai wakil dari dunia non-Yahudi ('ujung bumi', Kis. 1:8; khususnya Kis. 11:18). Banyaknya ayat yang membahas hal ini dalam Kisah Para Rasul (66 ayat) menunjukkan pentingnya peristiwa ini bagi Lukas. Hal ini lebih dari sekedar 'kisah pertobatan mendadak', sebuah paradigma yang berlaku bagi setiap zaman. Sebaliknya, peristiwa ini merupakan sebuah perkembangan yang spesifik dan strategis dari rencana misi dalam Kis. 8.

Kejadian-kejadian di Efesus berbeda dengan Samaria dan Kaisarea. Kelompok yang bertemu dengan Paulus, yang disebut sebagai 'beberapa murid' (Kis. 19:1), merupakan sesuatu yang unik. Lukas memberikan kesan kepada kita bahwa ia tidak melihat orang-orang ini sebagai 'orang Kristen' sesuai konsep Perjanjian Baru:

  1. Peristiwa tersebut terjadi dalam konteks pemahaman yang kurang utuh terhadap Injil, dimana hal ini juga terjadi dalam permulaan pelayanan Apollos; Lukas membeberkan fakta dimana 'ia hanya mengetahui baptisan Yohanes' (Kis. 18:25).
  2. Mereka yang hanya mengenal baptisan Yohanes merupakan kelompok yang khusus di Efesus. Mereka disebut sebagai 'beberapa murid' dengan asumsi bahwa banyak orang Kristen lainnya di Efesus. Lukas menyatakan dengan jelas bahwa hanya ada 12 orang dalam kelompok itu. Dengan demikian, kita tidak mungkin mengatakan bahwa semua orang Kristen harus seperti mereka. Dalam kenyataannya, mereka adalah para murid dari Yohanes Pembaptis.
  3. Mereka belum menerima baptisan Kristen. Hanya melalui baptisan Kristen dan penumpangan tangan, barulah Roh Kudus turun atas mereka dan mereka 'berbahasa roh dan bernubuat' (Kis. 19:6). Ini merupakan tanda tibanya Perjanjian Baru. Sebagaimana murid-murid pertama pada hari Pentakosta, banyak yang hanya menerima baptisan Yohanes. Jadi ke- 12 orang ini berada dalam tahap transisi dari tahap penantian kepada tahap penggenapan.

Kadang-kadang untuk melawan doktrin dua tahap, kita perlu kembali kepada prinsip dasar hermeneutik, yaitu: kita tidak boleh menyusun doktrin dari Kisah Para Rasul sebagaimana juga dari kitab Raja-raja. Kita harus menyusun doktrin dari bagian Alkitab lainnya, sementara Kisah Para Rasul (sebagai salah satu contoh kisah sejarah) menjadi ilustrasi bagi doktrin tersebut. Ini merupakan prinsip yang penting. Struktur teologi Kristen harus didasarkan dalam pemaparan teologis dan norma-norma dalam Alkitab, bukan diambil dari kejadian tertentu dalam sejarah (yang memang terjadi, tetapi tidak mutlak, dan harus ditafsirkan lebih lanjut secara teologis). Tetapi prinsip ini tidak terlalu relevan bagi pembelaan kita. Sebab Kisah Para Rasul sendiri menegaskan bahwa kejadian-kejadian yang ada tidak boleh dianggap sebagai paradigma, tetapi sebagai kejadian yang unik dan tidak terulang (sui generis).

Kisah Rasul tidak pernah mewajibkan kita mengalami pengalaman dua tahap seperti yang dialami para rasul. Pembelaan Petrus terhadap kejadian di Kaisarea bisa memberikan solusi. Ia menyamakan pengalaman seisi rumah Kornelius dengan pengalaman murid-murid pada hari Pentakosta (Kis. 11:15: 'Roh Kudus turun atas mereka seperti ia telah turun atas kita pada mulanya') dan memahami kejadian ini dalam pengertian berikut ini: 'Tuhan memberikan kepada mereka karunia yang sama seperti yang telah diberikan-Nya kepada kita yang percaya dalam Tuhan Yesus Kristus' (Kis. 11:17). Memang para murid sudah percaya kepada Yesus sebelum hari Pentakosta, tetapi yang baru dan berbeda dalam iman mereka adalah objek iman; sebelumnya mereka tertuju kepada Kristus yang sedang mengosongkan diri-Nya, kini iman mereka tertuju kepada Kristus sebagai Tuhan yang mulia sesuai janji Mesias (Mzm. 110:1).

Karena sejarah penebusan terus bergulir, maka dahulu rasul-rasul harus mengalami pengalaman dua tahap, sementara kita hanya mengalami satu tahap. Iman percaya tertuju kepada Kristus sebagai Tuhan, dan percaya kepada-Nya berarti menerima karunia yang sama seperti yang diterima murid-murid pertama pada hari Pentakosta, yaitu: Roh Kudus. Bahasa roh dan nubuat yang digambarkan dalam Kis. 10:46, 19:6, dan mungkin 8:17, bukanlah bukti bagi pengalaman tahap kedua, tetapi merupakan tanda- tanda bergulirnya sejarah penebusan kepada zaman perjanjian baru lebih lanjut. Perjanjian Baru tidak mengatakan bahwa Pentakosta memberikan kepada kita paradigma dua tahap untuk pengalaman pribadi kita dengan Roh Kudus. Sebaliknya, pada titik iman itu, kita menerima berkat turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta.

Abraham Kuyper memberikan sebuah analogi untuk menggambarkan perbandingan antara pengalaman bersama Roh Kudus sebelum dan sesudah Pentakosta, dan menjelaskan turunnya Roh Kudus kemudian. Karena keterbatasannya, analogi tersebut menegaskan bahwa Pentakosta dan kejadian-kejadian berikutnya membutuhkan sebuah metode penafsiran yang benar:

Ada sebuah kota dimana penduduknya minum dari pompanya masing-masing. Kini mereka hendak membuat sebuah PAM untuk menyediakan kebutuhan air bagi setiap rumah. Ketika pekerjaan itu selesai, air mengalir melalui sistem pusat dan pipa kepada setiap rumah ... Dalam kota itu terdapat dataran rendah dan dataran tinggi, keduanya harus disuplai oleh PAM yang sama. Pada saat acara pembukaan, penyaluran air terjadi namun hanya satu kali; saat penyaluran air di kota yang lebih tinggi, meskipun luar biasa, tetapi merupakan akibat dari peristiwa pembukaan sebelumnya...

Pada hari pentakosta, Ia (Roh Kudus) dicurahkan kepada semua orang percaya, tetapi hanya untuk menghilangkan dahaga satu bagian, yaitu: orang Yahudi. Inilah pencurahan original di Yerusalem pada hari Pentakosta, dan pencurahan tambahan di Kaisarea, bagi orang-orang non- Yahudi; kedua-duanya sama, tetapi masing-masing memiliki karakternya.

Disamping itu, ada pencurahan Roh Kudus yang khusus, terjadi melalui penumpangan tangan oleh para rasul. Dari waktu ke waktu, saluran baru dibuat antara rumah-rumah penduduk dan PAM, sehingga bagian-bagian baru dalam tubuh Kristus ditambahkan dari luar ke dalam gereja. Ke dalam inilah, Roh Kudus dicurahkan dari tubuh kepada anggota-anggota baru.

Apa yang terjadi di Samaria, di rumah Kornelius, dan di Efesus harus dimengerti dalam konteks keunikan sejarah dan latar belakang gereja mula-mula. Peristiwa Pentakosta tidak terulang, sama seperti kebangkitan Kristus. Namun kita memasukinya dengan cara demikian, sehingga Roh Kudus dicurahkan ke dalam hati kita melalui iman dalam Kristus (Rom. 5:5). Masing-masing minum dari Roh untuk dirinya (1 Kor. 12:13). Hal ini semakin jelas ketika kita melihat Pentakosta sebagai salah satu aspek karya Kristus, bukan sebuah peristiwa yang terpisah dari-Nya, atau sekedar tambahan. Ini adalah bukti nyata sebuah kemenangan. Peristiwa-peristiwa pada hari Pentakosta adalah pernyataan secara umum dari realita yang terselubung, yaitu: Kristus telah ditinggikan sebagai Tuhan yang mulia. Kini sebagai Pengantara bagi kita, permohonan-Nya agar turunnya Roh Kudus, telah dikabulkan.

Seperti kita tahu, ungkapan Petrus dalam Kis. 2:33 menunjuk kepada penggenapan dari janji Mesias dalam Mzm. 2:6-8: 'Aku telah melantik raja-Ku di Zion, gunung-Ku yang kudus .. Mintalah kepada-Ku, dan Aku akan memberikan bangsa-bangsa sebagai bagianMu, seluruh bumi sebagai milik-Mu'. Kristus yang telah naik ke surga, memohon agar Roh Kudus turun sebagai penggenapan janji yang sudah diberikan (Gal. 3:13-14; Yer. 31:31; Yoh. 14:16). Permohonan Kristus dikabulkan. Pentakosta, seperti peristiwa lainnya, pada diri-Nya bersifat unik. Pentakosta tidak bisa diulangi, seperti juga kematian, kebangkitan, atau kenaikan Yesus juga tidak bisa diulangi. Ia merupakan sebuah peristiwa (event) dalam sejarah penebusan (historia salutis), dan tidak boleh dipaksa menjadi peristiwa keselamatan pribadi (ordo salutis).

Turunnya Roh Kudus adalah bukti dari pelantikan Kristus, sama seperti kebangkitanNya adalah bukti kemenangan dalam kematian Kristus sebagai korban tebusan (Rom. 4:24). Ini tidak berarti Pentakosta tidak memiliki dimensi eksistensial atau relevansi. Tetapi ini berarti kita tidak mungkin mengharapkan Pentakosta bagi diri kita secara pribadi, sama seperti kita tidak mungkin mengharapkan terjadi lagi baptisan di sungai Yordan, pencobaan di Padang Gurun, pergumulan di Getsemani, atau penyaliban di Golgota dalam hidup kita. Jika kita berusaha mengulangi apa yang tidak bisa terulang, sama saja kita menyangkali kuasa dan signifikansi dari peristiwa tersebut.

Baptisan Roh yang Berbeda-Beda?
Apakah hubungan antara baptisan Roh dalam Kis. 2 dan baptisan Roh dalam surat Paulus 1 Kor. 12:13? Perjanjian Baru menekankan prinsip bahwa kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus membawa dampak pengaruh bagi pengalaman kita kini. Orang-orang percaya mendapatkan manfaat dari peristiwa sejarah penebusan seperti kematian, penguburan, kebangkitan, dan kenaikan Kristus (Rom. 6:1; Gal. 2:20; Kol. 2:9-3:4). Jadi meskipun Pentakosta hanya satu kali terjadi, baptisan Roh yang terjadi saat itu terus bergulir kepada jaman-jaman berikutnya. Sama seperti darah Kristus membersihkan orang dari setiap suku, bahasa, dan bangsa (Why. 5:9), maka Roh Kudus mengalir dari jasa Kristus pada hari Pentakosta ke Yerusalem, dan dari sana terus menyebar ke seluruh Yudea, mengumpulkan momentum ke Samaria sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8). Semua yang datang dan percaya kepada Kristus sebagai Tuhan, menerima karunia yang sama seperti yang diterima murid-murid. Akibatnya, orang-orang percaya masuk ke dalam manfaat dari Pentakosta, sama seperti mereka masuk ke dalam manfaat dari kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus: 'Kita semua telah dibaptiskan oleh satu Roh ke dalam satu tubuh' (1 Kor. 12:13).

Ada yang berpendapat bahwa di sini Paulus berbicara mengenai baptisan Roh yang berbeda dengan baptisan Roh yang dijanjikan oleh Yohanes dan Yesus pada hari Pentakosta. Dalam baptisan Roh yang dimaksudkan oleh Yohanes dan Yesus, Kristuslah Sang Pembaptis, dan Roh adalah elemen baptisan; sedangkan dalam baptisan Roh dalam 1 Kor. 12:13, Rohlah Sang Pembaptis, dan kita dibaptis ke dalam tubuh Kristus. Tetapi James Dunn mengatakan:

Dalam Perjanjian Baru kata 'en' dengan 'baptizein' tidak pernah menunjuk kepada orang yang membaptis; sebaliknya, ia selalu menunjuk elemen yang melaluinya baptisan itu dilakukan, kecuali jika ia merupakan bagian dari frase yang lebih panjang...

Sangat bertentangan dengan penafsiran umum jika kita membaca bahwa Yesus membaptis dengan Roh Kudus pada hari Pentakosta (Mat. 3:11; Mark. 1:8; Luk. 3:16; Yoh. 1:33; Kis. 1:5; 11:16) seolah-olah menunjukkan perbedaan kronologis dan perbedaan jenis baptisan.

Dalam 1 Kor. 12:13, Paulus menunjukkan bahwa semua orang percaya dibaptis dengan Roh dan minum dari air Roh. Elemen dari peristiwa Pentakosta diulang kembali dalam hidup orang percaya pada setiap jaman. Tetapi bagaimana kita bisa membedakan aspek sejarah penebusan (yang tidak terulang) dengan aspek eksistensial (yang bisa terulang)?

Beberapa elemen dari Pentakosta jelas merupakan aspek dari peristiwa yang tidak terulang (once-for-all event). Contohnya penantian para murid. Sama seperti munculnya bunyi angin dan lidah-lidah api. Ini bahkan tidak diulangi dalam Kisah Para Rasul. Sedangkan berbahasa roh diulangi dalam seisi rumah Kornelius (Kis. 10:46), dan di Efesus (Kis. 19:6). Banyak penafsir meyakini melalui penampakan Roh Kudus di Samaria (Kis. 8:7-18), bahasa roh juga terjadi di situ. Bahasa roh pada hari Pentakosta diulangi. Tetapi seperti kita tahu, tiga kejadian ini harus dilihat sebagai unik dan tiada bandingnya (idiosyncratic) dalam kitab Kisah Para Rasul. Fenomena ini tidak tercatat dalam kasus- kasus lainnya (mis. Sida-sida dari Etiopia, Saulus dari Tarsus, Lydia, kepala penjara Filipi). Pengulangan ini adalah aspek-aspek dari signifikansi yang khusus dari apa yang terjadi. Samaria dan Kaisarea adalah posko-posko yang termasuk dalam program Kis. 1:8; Efesus menandai transisi dari dunia Perjanjian Lama dan dunia baptisan Yohanes, kepada dunia Perjanjian Baru dan baptisan Roh yang datang dari Kristus. Di dalam Kisah Para Rasul (sama seperti dalam seluruh Perjanjian Baru), bahasa roh pada hari Pentakosta tidak pernah dilihat sebagai 'dapat terulang' dalam pengalaman orang-orang percaya pada waktu-waktu selanjutnya.

Tetapi ada aspek lebih lanjut dari Pentakosta. Yesus menjanjikan murid-muridNya, bahwa turunnya Roh Kudus akan membawa 'kuasa'. Sebagai akibatnya mereka akan menjadi saksi-saksi-Nya sampai ke ujung bumi (Luk. 24:49; Kis. 1:8). Pada hari Pentakosta, murid-murid dipenuhi dengan Roh Kudus sehingga mereka berbahasa roh. Sementara berbahasa roh jarang disebut lagi dalam Kisah Para Rasul, kekuatan (empowerment) dimana Roh Kudus memenuhi seseorang diulangi dalam banyak kejadian.

Lukas dan Kisah Para Rasul berbicara mengenai dipenuhi oleh Roh Kudus sebagai syarat yang berlaku terus, tetapi juga menggambarkan situasi khusus ketika seseorang mengalami kepenuhan yang unik (berbeda). Sebagai syarat yang berlaku terus, kata 'pleroo' digunakan (band. Luk. 4:1; Kis. 6:3; Ef. 5:18); sedangkan sebagai pengalaman khusus digunakan kata 'pimplemi' (Luk. 1:41,67; Kis. 2:4,4:8, 31,9:17). Dalam pengertian yang pertama, dipenuhi Roh Kudus menunjuk kepada menghasilkan buah Roh dalam kehidupan, dimana Roh Kudus memerintah atas orang itu (Ef. 5:18). Sedangkan dalam pengertian yang kedua, ini menunjuk kepada pemberian kemampuan dan kuasa khusus untuk melayani kerajaan Allah. Ini yang terdapat dalam Kis. 1:8, dan juga dalam Kis. 2:4. Yang menarik adalah, ini terkait dengan kata-kata dari orang yang dipenuhi Roh Kudus. Mereka menerima kuasa untuk menjadi saksi-saksi Kristus.

Pemberian kuasa pada hari Pentakosta, dan kepenuhan Roh, sekalipun luar biasa, bukanlah fenomena yang tersendiri dalam Kisah Para Rasul. Pengulangannya tidak selalu sama. Jadi dari karya Roh Kudus, aspek ini nampak dapat terulang.

Kebangunan
Aspek yang berhubungan dengan Pentakosta adalah 'kebangunan rohani'. Kebangunan rohani adalah orang-orang percaya dibangkitkan dan orang- orang non-Kristen dibawa kepada kerajaan Allah dalam jumlah besar- besaran. Masing-masing menyadari dosanya dan kebutuhannya akan Tuhan. Semua ini terjadi karena kehadiran dan kuasa Roh Kudus. Dalam beberapa hal, Pentakosta boleh disebut sebagai kebangunan rohani pada jaman Perjanjian Baru. Tentu saja ada kesadaran akan dosa, kekaguman yang ditimbulkan, dan model bagaimana seharusnya sebuah gereja itu. (Kis. 2:44-47). Inilah kebangunan rohani. Mengingat ilustrasi mengenai pipa air, kita dapat mengatakan bahwa kebangunan rohani adalah energi Roh Kudus yang tidak terhenti.

Dalam konteks ini, mengikuti pola Pentakosta, proklamasi orang-orang Kristen memiliki 'kuasa' sebagaimana Roh Kudus menyaksikan Kristus bersama dengan para murid (Yoh. 19:26-27; band. Kis. 4:33; 6:8; 10:38). Ini terbukti dalam misi Filipus di Samaria. Surat-surat Paulus menunjukkan bahwa ia mengalaminya dalam beberapa pelayanannya (1 Kor. 2:4; 1 Tes. 1:5). Turunnya kuasa Roh Kudus tidaklah menyelesaikan semua masalah. Kebangunan rohani yang terjadi selalu memiliki dampak yang bercampur, yaitu: rawan terhadap kesombongan rohani seperti di Korintus. Ini juga terjadi dalam kebangunan rohani pada waktu-waktu berikutnya. Karena itu, hal ini tidak mengejutkan kita.

Jonathan Edwards, teolog kebangunan rohani dari New England, bisa keliru karena ekstrim (over-emphasis). Ia menulis:

Harus diperhatikan, semenjak kejatuhan manusia sampai sekarang, karya penebusan dilaksanakan oleh Roh Kudus. Meskipun ada karya Roh Kudus yang konstan atau tetap, namun hal-hal yang terbesar yang telah dikerjakan selalu terjadi dalam waktu-waktu khusus, waktu kemurahan.

Kesempatan demikian sesuai dengan kata-kata Petrus dalam Kis. 3:19: 'Bertobatlah dan berbaliklah kepada Allah sehingga dosa-dosamu dihapuskan, sehingga waktu-waktu pemulihan datang dari Tuhan, dan Ia mengutus Kristus ...' Urutan kalimat di sini (pengampunan, pemulihan, kedatangan Kristus) menegaskan waktu-waktu pembaharuan dan kebangunan yang dimaksudkan oleh Petrus.

Kita menemukan dua fenomena dalam Kisah Para Rasul. Kita mendapatkan 'kasus khusus' dalam karya Roh Kudus melalui kelahiran kembali dan pertobatan. Tetapi melalui kuasa Roh Kudus (pertama kali dalam Pentakosta) terjadilah peristiwa monumental dalam Kerajaan Kristus. Pencurahan Roh Kudus menciptakan gelombang di seluruh dunia ketika Roh Kudus terus bekerja dengan kuasa. Pentakosta adalah pusat, tetapi gempa bumi memberikan guncangan lanjutan. Suara-suara tersebut terus berlanjut pada setiap jaman. Pentakosta sendiri tidak terulang; tetapi teologi Roh yang tidak memasukkan doa untuk kebangunan rohani, bukanlah teologi Roh Kudus yang benar.

Tujuan
Kita telah melihat bahwa ada dua dimensi dari Pentakosta: sejarah penebusan dan pengalaman pribadi. Yang pertama hanya satu kali dan tidak terulangi; sedangkan yang kedua adalah pelayanan Roh Kudus yang terus-menerus sampai sekarang.

Sebagai tambahan, tugas Roh Kudus adalah mengembalikan kemuliaan kepada ciptaan yang sudah jatuh dalam dosa. Seperti Calvin katakan, dunia ini diciptakan sebagai sebuah teater untuk kemuliaan Allah. Sepanjang sejarah, dunia ini selalu menampilkan kesempurnaan Allah yang tidak nampak. Khususnya di dalam pria dan wanita, gambar dan rupa Allah, kemuliaan ini harus dipancarkan. Tetapi mereka menolak memuliakan Allah (Rom. 1:21); mereka menajiskan diri sendiri (Rom. 1:28), dan kehilangan kemuliaan Allah (Rom. 3:23).

Tetapi kini, di dalam Kristus yang adalah cahaya kemuliaan Allah (Ibr. 1:3) kemuliaan itu dipulihkan. Ia telah berinkarnasi bagi kita, dan kini Ia dimuliakan di dalam tubuh kemuliaan. Ciptaan ini sedang menuju kepada eskatologi, dan semua ini sudah dimulai dengan diri Kristus sebagai buah sulung. Kini Ia mengutus Roh Kudus, rekan kerja yang akrab dalam seluruh hidup-Nya di dunia ini, untuk mengembalikan kemuliaan dalam kita. Sehingga kita, yang dengan wajah yang tak terselubung memancarkan kemuliaan Allah, diperbarui serupa dengan gambar-Nya dengan kemuliaan yang semakin bertambah, yang datang dari Tuhan, yang adalah Roh (2 Kor. 3:18). Tujuan diberikannya Roh Kudus tidak lain adalah untuk pemulihan gambar Allah kembali, yaitu: transformasi menuju keserupaan dengan Kristus yang adalah Gambar Allah. Menerima Roh Kudus berarti dibangkitkan ke dalam kuasa pelayanan-Nya senantiasa.

Menerima Roh Kudus
Perjanjian Baru menggambarkan persekutuan dengan Roh Kudus dari dua sudut pandang: karunia Allah dan penerimaan manusia. Roh Kudus diberikan oleh Bapa (Luk. 11:13). Tetapi Roh Kudus juga diterima oleh individu (Yoh. 7:39; Kis. 19:2; Rom. 8:15; Gal. 3:2). Dalam satu konteks dimana ia merenungkan mengenai keadaan jiwa kita, Paulus menegaskan bahwa ini terjadi 'melalui apa yang kamu dengar.' Ini dikontraskan dengan 'memelihara Taurat' (Gal. 3:2,5). Roh Kudus diterima dalam konteks seseorang beriman kepada Kristus sebagai Tuhan. Bagi Paulus, dalam pengalaman normal di dunia non-Yahudi, Roh Kudus diterima tidak terpisah dari iman kepada Kristus. Hanya dengan percaya kepada Kristus, Roh Kristus diterima. Karena percaya kepada Kristus berarti menerima Dia dan kediaman-Nya dalam kita. Ini adalah realita yang satu dan sama dengan penerimaan Roh Kudus dan kediaman-Nya, karena di dalam dan melaluiNya, Kristus datang untuk tinggal di dalam kita. Interaksi antara kediaman Kristus dan kediaman Roh Kudus dalam kita, Roma 8:8-9 menjelaskan bahwa kedua realita tersebut adalah satu dan dialami oleh satu individu. Tidak ada cara lain untuk menerima Roh Kudus kecuali melalui iman kepada Kristus. Memiliki Kristus adalah memiliki Roh Kudus. Bagaimana ini terjadi, dan apa implikasinya, merupakan topik pembahasan yang berbeda. (WS)

Sumber Artikel: 

Sumber:

Nama Majalah : Momentum
Edisi : 40/Triwulan II 1999
Judul Artikel : Pentakosta Pada Masa Kini?
Penulis : Sinclair B Fergusson
Halaman : 28-37,41

Siapakah Kristus Yang Naik Ke Surga?

Penulis_artikel: 
Pdt. Dr. Stephen Tong
Isi_artikel: 

Artikel ini disarikan dari Kotbah Pdt. Dr. Stephen Tong di GRII Jakarta

Dalam Mazmur 24:7-10, kita membaca ada pintu kekekalan, dan pintu kekekalan itu dibuka, menyambut seorang pemenang untuk selama-lamanya. Di Vatikan, di dalam gereja Basilica of Saint Peter, ada pintu yang hanya boleh dibuka satu kali dalam 50 tahun. Pada waktu mereka membuka pintu itu, kadang-kadang mereka membaca ayat ini. Mereka menganggap itu merupakan suatu upacara yang agung sekali. Sebenarnya pintu itu tidak mempunyai makna terlalu berarti dibandingkan dengan ayat-ayat yang tercantum di sini.

'Semua pintu gerbang, terbukalah!' Untuk siapa pintu yang kekal dibuka? 'Untuk raja yang pernah berperang di dalam medan peperangan.' Siapakah raja yang pernah menang perang di medan peperangan? 'Yaitu yang diutus oleh Yehovah, yang menjadi Tuhan di atas segala sesuatu.

'Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang! Dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad supaya masuk Raja Kemuliaan!' Siapakah dia itu Raja Kemuliaan? 'Tuhan semesta alam, Dialah raja semesta alam, Dia Raja Kemuliaan.'

Tapi Dia pernah datang, pernah dicobai, pernah diberikan kesempatan untuk berjuang, untuk bertarung dengan kuasa-kuasa kejahatan; Iblis berusaha untuk meremukkan Dia, iblis berusaha menjatuhkan Dia, tetapi Kristus naik ke surga. Ini membuktikan bahwa Dia adalah Raja yang mulia, Raja yang menang, Raja yang pernah bertempur di dalam medan pertempuran rohani menggantikan engkau dan saya.

'Hai pintu gerbang, gerbang yang mulia, pintu yang kekal, bukalah! Angkatlah kepalamu, bukalah pintumu menyambut Yesus Kristus sebagai yang menang!'

Di dalam Pengakuan iman Rasuli tertulis: 'Dia naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa.' Bagian ini jangan dimengerti sebagai suatu lokasi atau semacam pengertian secara tata ruang. Jikalau Yesus betul- betul berada di sebelah kanan, artinya ada lokasinya. Bukankah ini juga berarti bahwa Bapa berada di sebelah kiri Yesus? Kalau begitu, arti seperti ini akan membuat kita kurang jelas tentang apa arti rohaninya. Jikalau Bapa berada di kiri, lalu Yesus di kanan, yang mana yang lebih besar? Yang di kanan atau yang kiri? Lalu, Roh Kudus akan berada di mana? Dan sebagainya. Itu tidak akan ada habisnya.

Seperti juga kita membaca bahwa Lazarus berada di dalam pangkuan Abraham. Apakah Lazarus betul-betul dipangku Abraham? Kalau ya, waktu kita datang, Lazarus akan menjadi penyek, bukan? Pengertian tempat seperti itu mempunyai arti rohani yang jauh lebih dalam.

Di dalam pemikiran Kitab Suci, tempat kanan mempunyai tiga arti:

  • Arti pertama, Yesus Kristus adalah orang yang sudah diterima dengan suka hati oleh Tuhan Allah. Ini adalah delighted decision. Suatu tempat yang diterima dengan baik, suatu tempat yang diberikan karena yang memberi begitu senang kepada Dia. Kristus adalah Anak kesayangan Bapa. 'Dengarlah Dia! Dengarlah Anak yang Aku suka ini.' Itu arti yang pertama.

  • Arti kedua, tempat sebelah kanan berarti tempat pemenang. Setelah orang yang bertempur dalam medan peperangan pulang, ia diberikan tempat di sebelah kanan oleh raja. Jenderal yang menang, jenderal yang begitu penting, duduk di sebelah kanan. Yesus Kristus menjadi pemenang di dalam medan peperangan. Itu sebabnya Ia duduk di sebelah kanan Bapa.

  • Ketiga, tempat kanan berarti tempat penguasa. Tuhan memberikan kekuatan kepada Dia, memberikan kuasa kepada dia, mandat yang melampaui segala surga dan bumi. Itulah kuasa yang diberikan kepada Yesus Kristus.

Puji Tuhan! 'Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang! Dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan. Siapakah Dia, Raja Kemuliaan itu?' Itulah Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan

Bagian kedua diambil dari Matius 28:18 dst. Yesus Kristus bukan saja seorang pemenang, tapi Dia naik ke surga. Pada waktu Dia naik ke surga, Dia memberikan suatu amanat yang paling agung kepada semua orang yang mengikuti Dia.

Pada jaman reformasi, orang-orang reformasi, khususnya orang-orang yang berada di Jenewa, menganggap amanat agung hanya diberikan kepada rasul-rasul pada waktu itu. Ini merupakan suatu kelemahan yang besar yang mengakibatkan kira-kira selama dua abad orang-orang reformasi, orang-orang lutheran, selain mengerjakan pekerjaan penggembalaan di Eropa mereka tidak mengutus orang ke luar untuk mengabarkan Injil. Karena kesalahan tanggapan itu, akhirnya menjadikan gereja lemah di dalam penginjilan.

Tetapi lambat laun Tuhan membangkitkan orang-orang untuk membawa kita kembali kepada visi yang benar, bahwa penginjilan itu bukan tugas gereja mula-mula saja, tetapi tugas segala jaman. Penginjilan bukan sudah tidak ada, tetapi ada pada setiap jaman. Para rasul memang sudah tidak ada, para nabi juga sudah tidak ada, yang ada hanya fungsi- fungsi kerasulan, fungsi-fungsi kenabian. Jadi yang diutus dan yang mewakili Tuhan berbicara adalah fungsi yang masih berada dalam segala jaman. Maka kita harus menegaskan juga hal ini. Pengertian tentang kesadaran semacam ini akan mengubah dan akan menggugat kembali tugas kita terhadap dunia ini.

Yesus berkata, "Pergilah ke seluruh dunia dan jadikan segala bangsa murid-Ku." Ini merupakan suatu penanaman visi, semacam pikiran yang begitu besar kepada gereja. Di jaman yang tidak ada visi, jaman itu penuh dengan kekacauan. Gereja yang sudah kehilangan ketajaman melihat visi, di situ gereja menjadi tidak berdaya, tidak dinamis lagi. Tetapi kapan saja visi itu kembali dipertajam, visi itu sekali lagi menggugah hati manusia, dan mau tidak mau gereja menjadi gereja yang militan dan dinamis di dalam pelayanan.

Begitu banyak orang Kristen yang malas, begitu banyak orang Kristen yang imannya kendor, hidup rohaninya begitu sembarangan dan etikanya begitu tidak bertanggung jawab karena mereka sudah kehilangan ketajaman dan keinsyafan tentang visi dan mandat dari Tuhan! Tetapi puji Tuhan! Yesus bukan memberikan suatu kotbah dan amanat yang agung itu kepada mereka di tempat sembarangan. Mereka naik ke gunung dan di atas gunung itu Yesus mengutus mereka.

Pada waktu kita naik ke atas bukit, berada di tempat yang tinggi, kita akan melihat suatu dataran yang lebih besar, kita akan mempunyai pemandangan yang jauh lebih luas dan di situ Tuhan membentuk suatu pemikiran atau semacam wawasan yang luas bagi orang-orang yang mau mengabarkan Injil. Barangsiapa yang tidak mempunyai hati yang luas, barangsiapa yang tidak mempunyai pandangan rohani dengan wawasan yang luas, tidak mungkin mempunyai penginjilan yang kekuatannya lebih besar daripada pelayanan yang lain. Di sini kita melihat, gereja harus kembali mengikuti teladan dan menaati perintah Yesus Kristus.

Yesus yang naik ke surga; Bukan hanya merupakan suatu catatan sejarah, tapi ini merupakan suatu amanat: Dia pergi dan tugasNya dikerjakan oleh engkau dan saya. Barangsiapa merayakan hari kenaikan, barangsiapa mengingat Kristus naik ke surga, dia juga harus ingat apa pesan Yesus sebelum Ia pergi.

Pesannya adalah: 'Pergilah ke seluruh dunia, jadikan segala bangsa murid-Ku. Apa yang Aku katakan kepadamu ajarkanlah mereka, supaya mereka menjalankannya dan engkau yang mengabarkan Injil akan Kusertai, sampai kesudahan, sampai selama-lamanya.'

Yang ketiga, kita akan melihat apa yang dikaitkan dengan kenaikkan Yesus ke surga. Dalam Yohanes 16:7-8, tertera suatu perjanjian yang lebih penting lagi. Jikalau Yesus Kristus, yang sudah memberikan suatu perintah untuk pergi mengabarkan Injil ke seluruh dunia hanya membiarkan pengikut-pengikut-Nya dengan keadaan yang begitu sulit, dengan penganiayaan-penganiayaan yang kejam, yang ganas dan tidak berprikemanusiaan, maka bukankah Tuhan juga adalah Tuhan yang meletakkan kewajiban dan pergi melarikan diri? Tetapi bukanlah demikian. Alkitab mengatakan: 'Aku pergi justru berfaedah besar bagimu. Aku pergi untuk kamu, karena jikalau Aku tidak pergi Roh Kudus tidak turun.' Di sini Yesus Kristus mengaitkan kenaikkan-Nya ke surga dengan rencana yang berkesinambungan di dalam konsistensi pikiran Tuhan Allah yang kekal.

Allah, bukanlah Allah yang tidak berprogram. Allah, adalah Allah yang mempunyai program yang tertinggi. Allah, adalah Allah yang mempunyai cara berorganisasi dan mempunyai cara pemikiran dan jadwal yang paling tepat. Itu sebabnya Tuhan berkata: 'Jikalau Aku tidak pergi, tidak ada faedahnya bagimu, tetapi jikalau Aku pergi itu akan mendatangkan keuntungan bagimu, sebab setelah Aku pergi akan dikirim Roh Kudus, turun dan menyertai serta menjadi penghibur bagimu.'

Siapakah Kristus yang naik ke surga? Kristus yang naik ke surga adalah Kristus, Raja pemenang. Siapakah Kristus yang naik ke surga? Kristus yang naik ke surga adalah Kristus, yang mengutus kita mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Siapakah Kristus yang naik ke surga? Kristus yang naik ke surga adalah Kristus, yang bersama dengan Bapa mengutus Roh Kudus menjadi pendamping bagi gereja.

Jikalau kita melihat ke dalam abad pertama, kita mengetahui bahwa orang Kristen bukan saja minoritas, orang Kristen berada di kalangan bawah. Yang menjadi orang Kristen kebanyakan adalah: budak, nelayan, orang miskin, orang di pasar dan sedikit sekali pejabat-pejabat tinggi, konglomerat atau orang-orang yang penting di dalam masyarakat yang beriman kepada Yesus Kristus. Dari antara 12 murid Yesus, kita melihat begitu banyak nelayan, yang Yesus panggil. Pengaruh mereka mulai dari grass-root, mulai dari lapisan yang paling bawah sekali. Yesus menjadi teman, menjadi kawan dari pemungut cukai, dari orang- orang berdosa; Ia menerima orang-orang yang dibuang oleh masyarakat.

Melalui kira-kira 300 tahun, kita melihat pengaruh kekristenan sudah mengakibatkan Raja Konstantin akhirnya harus berlutut di hadapan Yesus dan mengaku Dia sebagai Tuhan. Di sini kita melihat di dalam 300 tahun permulaaan itu, gereja mengalami penganiayaan, pengucilan, dibunuh, disiksa. Begitu banyak martir yang mati mengalirkan darah, mati syahid bagi kepercayaan dan iman kekristenan yang mereka yakini.

Siapakah yang memberikan kekuatan? Bagaimana mereka bisa bertahan, kecuali ada kuasa yang tidak kelihatan, ada penolong yang setiap saat berada dengan mereka, yang mempunyai kuasa ilahi, yang berada di tengah-tengah mereka? Siapakah Dia? Dia adalah Roh Kudus.

Maka Yesus berkata, "Aku harus pergi. Aku pergi, maka Dia akan datang. Aku pergi dan bersama dengan Bapa mengirim Roh Kudus agar turun ke atas kamu. Roh Kudus turun ke atas kamu, maka kamu akan berkuasa."

Berkuasa atas apa? Berkuasa untuk tahan menderita. Berkuasa atas apa? Berkuasa untuk dapat tahan penganiayaan. Berkuasa atas apa? Berkuasa agar di dalam segala kesulitan tetap memegang imanmu.

Di dalam Perjanjian Lama dan di dalam masyarakat sekarang umumnya mengerti kuasa Allah dengan penolongan dan dengan suatu kelancaran hidup dan pemberian berkat secara materi atau jasmani. Tetapi kuasa yang kita lihat dalam Perjanjian Baru setelah Kristus naik justru sama sekali terbalik. Kalau Tuhan berkuasa, kenapa tidak menyembuhkan saya? Kalau Tuhan berkuasa kenapa tidak menyertai? Kalau Tuhan berkuasa, kenapa situasi politik dan situasi ekonomi begitu jelek? Kalau Tuhan berkuasa, mengapa Nero saja bisa menganiaya rasul? Bisa memaku mati Petrus secara terbalik? Di mana kuasa Tuhan?

Justru iman kekristenan mengerti kuasa dari kerajaan Tuhan secara antitesis. Di dalam penganiayaan, di dalam kesulitan, di dalam desakan, di dalam kesempitan, di dalam segala sesuatu: kesulitan, sengsara, penderitaan politik, ekonomi dan apapun juga, iman orang Kristen tidak berkompromi, orang Kristen tidak menyerah kepada musuh. Itulah kuasa dan itu namanya kuasa Roh Kudus.

Saya sangat takut kalau gereja sudah menjadi kaya sekali. Saya sangat takut kalau hamba Tuhan sudah diberikan segala kelonggaran, sehingga akibatnya mereka tidak lagi bersandar kepada Tuhan. Pada waktu gereja berada dalam kemiskinan, kesulitan; justru iman mempunyai kesempatan untuk dilatih, menjadi suatu kekayaan rohani. Tetapi pada waktu kita sudah mempunyai segala sesuatu, kita menjadi sangat miskin di dalam iman.

Tuhan berkata, "Aku pergi dan Aku mengirim Roh Kudus. Roh Kudus mendampingi engkau, saat engkau diutus ke dalam dunia sebagai utusan Tuhan."

Saya minta maaf jikalau saya harus memakai suatu kalimat: itu adalah pengutusan yang paling kejam dalam sejarah. Jangan heran jikalau ada orang Kristen dibunuh. Jangan heran kalau gereja dianiaya. Jangan heran kalau kadang-kadang kita dibiarkan miskin dan sulit luar biasa. Jangan ngomel, jangan heran, karena itu cara pengutusan dari Tuhan. 'Aku mengutus engkau seperti domba di tengah-tengah kawanan serigala!' Bukankah itu hal yang paling kejam? Coba Saudara bayangkan, seekor domba yang begitu tersendiri dikelilingi oleh kawanan serigala yang begitu kejam. Serigala mempunyai gigi yang begitu tajam, mempunyai sifat yang begitu keras, kelompok yang begitu banyak kawannya. Domba hanya seekor. Itulah namanya utusan Tuhan. 'Aku mengutus engkau seperti domba di tengah-tengah serigala.

Itu sebabnya saya minta maaf kalau saya katakan utusan Tuhan adalah utusan yang kejam. Tetapi tidak menjadi soal, jikalau domba itu mengerti bahwa Roh Kudus sedang diutus untuk menyertainya. 'Aku pergi supaya Roh Kudus turun! Inilah sudut ketiga yang kita lihat dari kenaikkan Yesus ke surga.

Siapakah Dia yang naik ke surga? Dia Raja yang menang di dalam pertempuran rohani. Siapakah Dia yang naik ke surga? Dia adalah Tuhan yang memberikan mandat kepada kita, amanat yang paling agung: mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Siapakah Yesus yang naik ke surga? Dia adalah yang mengutus Roh Kudus yang menjadi parakletos, menjadi penghibur, pendamping untuk kita.

Keempat kita membaca dalam Ibrani 4:14-16. Dalam ayat-ayat ini, dikatakan bahwa kita memiliki seorang Imam Besar yang sudah melintasi segala langit. Yesus naik ke surga bukan berarti dia menghilang dari bumi ini setelah + selama 33 tahun berada di dunia. Atau seperti yang dikatakan oleh doketisme, hanya suatu dokaio saja, Dia hanya dlbayang- bayangkan pernah datang ke dalam dunia, lalu hilang. Yesus, setelah Ia pergi, Ia naik ke surga, Ia melintasi segala langit. Ini merupakan suatu ajaran yang begitu besar.

Pada hari kenaikan ini, saya merenungkan, terus merenungkan tentang kenaikan Yesus Kristus. Lalu saya berkata, "Puji Tuhan! Agama lain tak pernah mempunyai seorang pendiri, tak pernah mempunyai seorang penghulu agama yang datang dari sana ke sini, dan juga tidak pernah ada yang dari sini ke sana dengan melintasi segala langit, kecuali Yesus Kristus. Mereka hanya membayangkan ada satu allah. Allah, yang belum pernah datang ke dunia. Allah, yang katanya mungkin dia yang mencipta, katanya dia menyelamatkan, dia mengampuni, dia satu-satunya, dia adalah rahmani, rahimi. Tapi mereka yang membayangkan allah berbeda dengan Yesus Kristus, yang adalah Allah yang pernah meninjau sendiri, pernah datang sendiri, pernah menyelamatkan kita, pernah hidup di tengah-tengah kita, pernah juga dengan mulut-Nya, memakai bahasa manusia memberikan pengajaran yang terindah di dalam sejarah kepada kita. Sesudah itu Ia pergi, setelah Ia menyelesaikan tugas di bumi.

Sewaktu kita mengenang Kristus, kita mengenang Allah yang pernah datang. Wujud-Nya begitu konkrit, begitu sungguh-sungguh intim hubungan Tuhan dengan kita. Dalam bagian Firman ini dikatakan suatu kalimat yang begitu menyentuh: kita bukan mempunyai seorang Imam yang tidak mengerti segala kelemahan kita. Saya percaya di dalam hidup setiap orang, sedalam-dalamnya ada keluhan kesusahan hidup dalam dunia. Baik engkau orang kaya atau engkau orang miskin, baik engkau orang sukses atau orang yang penuh dengan kegagalan, baik engkau yang kelihatan mempunyai materi yang begitu besar, begitu banyak, atau mereka yang selalu mengejar hanya untuk menyambung hidup saja.

Siapapun mempunyai keluhan akan hal yang begitu sulit, mempunyai air mata sedalam-dalamnya di dalam hatinya. Saya ingin bertanya, siapakah yang sungguh-sungguh mengerti setiap orang? Suami ingin dimengerti oleh isteri. Tapi justru isteri ingin dimengerti oleh suami! Kekuatan kita untuk mengerti dan kemampuan kita untuk mau mengerti dibandingkan dengan kebutuhan kita untuk dimengerti, selalu tidak seimbang.

Adakah yang mengerti? Ada! Yesus Kristus. Dia pernah datang. Dia pernah dilahirkan di dalam tempat binatang. Dia pernah diejek oleh bangsanya sendiri. Dia pernah seorang diri mengalami puasa 40 hari dan dicobai oleh iblis. Dia pernah menanggung berat. Dia pernah menderita, berkorban emosi, berkorban perasaan. Yesus Kristus mengerti segala kelemahan kita. Dia mengerti karena Dia sama seperti kita. Dia merasakan segala pengalaman kita. Sebaliknya sama seperti kita, Ia telah dicobai tetapi ia tidak berbuat dosa.

Yesus yang telah naik ke surga menjadi Imam Besar. Imam Besar ini adalah imam yang membawa kesulitan kita kepada Allah yang sulit kita capai. Ia juga membawa anugerah dari Allah kepada kita, anugerah yang tidak layak kita terima.

Inilah pekerjaan Imam! Imam yang berada di tengah-tengah yang hidup dan yang mati. Imam yang berada di tengah-tengah yang tidak kelihatan dan yang kelihatan. Imam berada di tengah-tengah Allah dan manusia. Kristus adalah pengantara yang menjalankan tugas imam, sekaligus Ia adalah korban. Di sini perbedaan imam yang berada di dalam sejarah orang Yahudi dibandingkan dengan Imam yang paling besar, Yesus Kristus, bagi gereja-Nya. Karena imam-iman yang lain itu tidak menjadi korban. Mereka mengkorbankan korban, mereka mempersembahkan korban dan mereka sendiri bukan korban. Yesus Kristus adalah Iman Besar yang sekaligus menjadi korban.

Kalimat manusia bagaimanapun tidak akan sempat, tidak akan cukup dan tidak akan layak untuk mengungkapkan betapa agungnya, betapa besarnya cinta kasih Tuhan: Imam Besar yang sekaligus korban. Ia mempersembahkan diri, dengan roh-Nya yang kekal, dengan darah-Nya yang suci tidak bercacat cela untuk membersihkan kita dan menjadikan kita milik-Nya yang dilayakkan untuk berdamai dengan Tuhan Allah. Inilah Imam kita. Dan inilah bagian keempat yang kita lihat.

Kita akan bersama-sama melihat lagi dalam Ibrani 7:24-25. Di sini kita melihat bahwa Yesus Kristus mempunyai pekerjaan lain setelah Ia naik ke surga. Berlainan dengan imam-imam yang lain, yang tugasnya terputus-putus karena kematian mereka. Mereka tidak mempunyai kekekalan. Yesus Kristus mempunyai hidup yang tidak berkebinasaan.

Dalam ayat 26, dikatakan bahwa Yesus Kristus mempunyai tingkatan yang tertinggi dan Yesus Kristus menjadi pengantara untuk berdoa syafaat bagi kita masing-masing. Dalam pasal 7, ayat 27-28 serta pasal 9, ayat 27-28, terlihat di sini bahwa Dialah yang menanggung dosa kita dan yang menjadi pengantara yang berdoa syafaat bagi setiap orang yang percaya kepada Dia.

Siapakah Kristus? Dia pemenang, bukan? Siapakah Kristus? Dia pengutus, bukan? Siapakah Kristus? Dia yang memberikan Roh Kudus kepada kita. Siapakah Kristus? Dia yang berdoa bagi kita dengan pengertian, karena Ia sendiri pernah datang ke dalam dunia ini. Bukan saja demikian. Siapakah Yesus Kristus? Yesus Kristus juga menyiapkan tempat bagi kita.

Kita baca dari Injil Yohanes 14:1-4: 'Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu. Jikalau Aku tidak pergi tidak ada yang menyediakan tempat bagimu dan Jikalau Aku sudah menyediakan tempat bagimu Aku pasti akan datang kembali lagi. Di mana Aku ada disana pun engkau akan berada.'

Adakah penghiburan yang lebih besar dari ini? Tidak ada. Adakah seorang Juruselamat seperti Kristus? Tidak ada. Dialah satu-satunya dan Dialah yang paling sempurna di dalam menyediakan segala sesuatu bagi umatNya. 'Di jalan itu Aku pergi. Jalan satu-satunya dan engkau tahu juga.

Pada waktu Filipus bertanya kepada Dia, "Hai Guru, tunjukan jalan itu kepada kami. Maka Yesus Kristus dengan menggelengkan kepala-Nya bertanya, "Sudah sekian lama engkau mengikut Aku, engkau masih belum tahu dimana jalan itu? Dengan sesungguh-sungguhnya Aku berkata kepadamu: "Akulah jalan, Akulah kebenaran dan Akulah hidup."

Saya membagi ketiga titik, ketiga butir ini menjadi satu gambaran tentang seluruh dunia: didalam filsafat, didalam kebudayaan agama dan didalam bijaksana, segala sesuatu yang paling kristalisasi di dalam dunia mental manusia.

'Akulah jalan, Akulah kebenaran.' Mengapa Yesus mengatakan: 'Akulah jalan?' Karena di dalam agama semua mencari jalan. Itulah yang dibutuhkan oleh orang di Timur. 'Akulah kebenaran.' Mengapa Yesus menyatakan kebenaran diidentikkan dengan diri-Nya? Karena manusia di Barat mencari filsafat dan ingin mengetahui kebenaran dan Yesus mengisi kebutuhan itu. Pada waktu Yesus mengatakan: 'Akulah jalan', Ia sedang menunjukkan kepada orang Timur yang mau mendapatkan jalan di dalam agama. Ia berkata, "The way is not there. The way you are seeking is not in religion, but in me, in my life." 'Akulah jalan, Akulah kebenaran.'

Yesus telah mengajak, baik dunia Timur maupun dunia Barat dan Ia menyimpulkan dengan satu kalimat, "Akulah hidup yang tidak ada pada agama-agama, tidak ada pada filsafat-filsafat dan sistem epistemologi dunia; Karena semua pendiri agama akhirnya mati di tengah-tengah usahanya mencari jalan, semua filsuf akhirnya mati di tengah-tengah usahanya mencari kebenaran. Dan Kristus akhirnya berkata, "Jalan itu dimana? Akulah jalan itu. Kebenaran itu, di mana? Akulah kebenaran itu. Dan Aku adalah hidup."

Ini adalah solusi satu-satunya. The only solution, the only answer, for seeking the truth in way thru philosophy, religion, culture and human wisdom concluded only in Jesus Christ, the truth revelation of God in human form. Puji Tuhan! Dia adalah pernyataan Allah yang berbentuk manusia, yang telah menyimpulkan segala sesuatu yang sedang digumuli dan dicari agama maupun filsafat.

Paul Tillich seorang teolog besar mengatakan, munculnya Yesus di dalam sejarah harus menghentikan usaha dari semua agama mencari hal apapun yang paling berharga yang mereka inginkan. The revelation of Christ, the appearance of Chrsit in history is to cease off the effort of seeking truth and way in religions. Puji Tuhan!

'Akulah jalan, dan jalan itu bukan dari sini ke sana, jalan itu adalah dari sana ke sini. Akulah yang menghampiri manusia'

Adalah mustahil manusia dengan usaha dan kekuatan sendiri pergi kepada tahta Allah, karena Ia suci dan engkau berdosa, Ia kekal dan engkau sementara. Bagaimana dari suatu yang terbatas, yang dicipta, yang bisa rusak, dapat menghampiri Tuhan yang tidak terbatas, yang kekal? Itu tidak mungkin. Kecuali hanya dari tahta yang tidak terbatas, yang kekal, yang tidak bisa rusak, rela mengirim turun, lalu rela pergi kembali untuk menjadi jaminan kita.

Kalau agama-agama lain adalah one way traffic in human effort, jalan yang hanya satu arah dari usaha manusia, kekristenan percaya kepada suatu sistem keselamatan yang adalah two way traffic which initiative from God and assured in the term of God. Kita percaya pada sistem dua jalur dari sana telah ke sini dan membawa kita dari sini ke sana, dan dijamin di dalam segala kekuatan, yang kekal di dalam tahta Tuhan. Puji Tuhan!

'Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu. Aku pergi untuk mempersiapkan segala sesuatu bagimu dan Aku akan datang kembali untuk menyambut engkau sebagai seorang mempelai lelaki yang akan menyambut mempelai perempuan: Gereja harus siap sedia, gereja harus mempersiapkan diri senantiasa dengan tidak menodai, tidak mencemari tubuh Kristus; Yaitu gereja yang disiapkan untuk menjadi mempelai perempuan Kristus, yang akan bersatu dengan kita di dalam cinta kasih yang paling inti yang digambarkan dalam hubungan suami isteri.

Ia akan datang kembali dan Ia telah menyediakan tempat bagi kita. Ia berkata, "Di mana Aku berada, engkau pun akan berada."

Bagian terakhir kita baca dari Kisah Para Rasul 1:9-11. 'Hai orang Galilea, mengapa engkau melihat seperti ini? Ingatlah, Yesus yang kau lihat diangkat ke surga, akan datang dengan cara yang sama, kembali ke dalam dunia ini!

Seluruh Kitab Suci mempunyai suatu konsistensi, mempunyai suatu hubungan organis yang begitu erat, sehingga tidak bisa dipisah- pisahkan sembarangan, kecuali oleh mereka yang sengaja atau mereka yang tidak mengerti.

Di dalam seluruh Kitab Suci kita melihat rencana Allah yang sudah terbentuk begitu sempurna. Yesus Kristus naik ke surga bukan karena Ia melarikan diri. Ia tidak menyembunyikan diri. Ia pergi dengan tugas. Ia pergi dengan rencana Allah yang sudah ditetapkan dan itu bukan akhir, itu bukan titik yang terakhir. Itu merupakan suatu janji bahwa suatu hari kelak Ia akan datang kembali dengan cara yang sama, kembali ke dalam dunia.

Saya membayangkan orang-orang Galilea: Petrus, Yohanes, mereka yang sudah terbiasa didampingi oleh Yesus, mereka yang kalau ada kesulitan langsung beralih kepada Yesus. 'Bagaimanakah Tuhan, bagaimanakah Guru cara-Mu menangani kesulitan ini?' Mereka sudah terbiasa disertai, ditolong dan berada bersama dengan Yesus Kristus. Tetapi sekarang di dalam hidup mereka, pertama kalinya meraka sadar bahwa Yesus tidak selamanya berada di samping mereka. Yesus harus pergi dan mereka harus menghadapi dunia secara faktual, menghadapi dunia ini dengan segala sesuatu yang tidak terlalu bersahabat dengan orang Kristen. 'Akan bagaimana perlakuan Herodes terhadap kita? Akan bagaimana Pilatus terhadap kita? Dan bagaimana prinsip Kaisar dan politikus-politikus Romawi? Dan jika berganti gubernur yang lain, akan bagaimana? Kami tidak tahu.

Mereka hanya tahu Yesus pergi. 'Lalu 3 1/2 tahun yang lampau itu, mimpikah? Itu janji kosongkah? Itu suatu hal yang menjadi catatan sejarahkah? Atau itu suatu kesempatan yang belum pernah ada dalam sejarah, sehingga kami sendiri memiliki. Tetapi kalau Tuhan sudah pernah turun, kenapa pergi lagi? Kalau Dia sudah menyertai, kenapa naik lagi? Setelah naik, lalu bagaimana?'

Kenaikan Yesus Kristus memaksa mereka harus memikirkan pertangungjawaban iman mereka, respon mereka kepada setiap kalimat nubuat yang pernah diucapkan oleh Yesus. Mereka harus memberikan semacam tantangan kepada setiap orang yang percaya. Mereka harus mempertanggung-jawabkan tentang bagaimana mereka meresponi, bagaimana mereka beriman, bagaimana mereka mengaplikasikan setiap kalimat nubuat yang pernah diucapkan waktu Yesus ada di dunia.

Kadang-kadang saat papa dan mama ada, kita tidak menghargai mereka. Sampai Tuhan memanggil papa kita pulang, memanggil mama kita pulang baru kita mulai sadar, baru kita kalang kabut. 'Sekarang kita harus bagaimana menghadapi hidup di dalam dunia ini? Baru kita ditantang untuk berpikir kembali: dulu papa pernah berkata kalau menghadapi orang yang begini harus bagaimana?' Sekarang mulai mengingat-ingat. Sama persis dengan keadaan pada waktu Yesus naik ke surga.

Waktu Yesus naik ke surga Ia berkata, "Aku akan mengirim Roh Kudus untuk mengingatkanmu kembali akan perkataan-perkataan yang sudah pernah Aku katakan kepadamu."

Itu sebabnya Saudara-saudara, tantangan respon, tantangan tanggung jawab, tantangan berdikari, tantangan gereja menjadi wakil Tuhan di dalam dunia, bagaimana memuliakan Tuhan, bagaimana merefleksikan segala moral kesucian, keadilan, cinta kasih Allah dalam jaman ke jaman; Ini menjadi tugas gereja.

'Hai Orang Galilea, untuk apa melihat terus ke awan? Hai Orang Galilea, mengapa melihat terus ke langit? Yesus yang pernah beserta denganmu, Yesus yang pernah kau saksikan pelayanan-Nya, sekarang sudah naik ke surga dan akan datang kembali.'

Setelah kita membaca enam bagian Kitab Suci yang begitu penting ini, kita akan melihat; Jikalau kita sungguh-sungguh menunggu Yesus Kristus datang kembali, jikalau kita sungguh-sungguh mengharapkan Yesus Kristus datang kembali, maka ada dua hal penting yang harus kita kerjakan.

Pertama, kita harus mengabarkan Injil kepada sesama. Tidak ada jalan lain. Ini merupakan keikhlasan orang yang menantikan kedatangan Yesus Kristus. Jikalau Injil ini dikabarkan ke seluruh dunia, maka hari itu akan tiba. Berarti sebelum Injil dikabarkan kepada segala bangsa, segala suku, segala sudut, Kristus tidak akan kembali.

Saya betul-betul salut, sedalam-dalamnya dari dalam hati saya kepada orang di Wiclyfe Bible Translation Association, orang berada di dalam lembaga Alkitab yang khusus menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa- bahasa yang terpencil di daerah-daerah yang dilupakan oleh manusia. Kepada mereka yang pergi ke tempat yang begitu terpelosok, begitu dalam, begitu sulit dicapai, di pegunungan, di pedesaan. Saya salut melihat mereka.

Saya berdoa dan mengajak kita semua supaya menjadikan gereja kita gereja yang mau mendukung penginjilan, gereja yang menghasilkan penginjil, gereja yang mengerti makna Injil dan gereja yang mau melibatkan diri ke dalam penginjilan misi seluruh dunia. Menunggu Yesus datang kembali dengan hati yang sungguh-sungguh ikhlas haruslah dengan kita menunjang dan melibatkan diri ke dalam penginjilan.

'Hai Orang-orang Galilea, mengapa melihat seperti ini? Mengapa terus menengadah ke langit? Memang Yesus sudah naik, tapi tugasmu bukan memandang Dia, tetapi pergi ke dunia mengabarkan Injil!'

Kedua, orang yang sungguh-sungguh menanti kedatangan Yesus Kristus adalah mereka yang menjaga hidup di dalam kesucian. Hidup di dalam kesucian, berarti kita terus memelihara diri kita supaya pada waktu Ia datang kembali kita sudah siap, boleh menerima Dia dan boleh diterima oleh Dia. Barangsiapa yang menaruh pengharapan semacam ini kepada Dia, biarlah ia membersihkan dirinya! Ini adalah perintah dari Yohanes di dalam 1 Yohanes pasal 3. Barangsiapa yang menaruh pengharapan kepada kedatangan Kristus biarlah ia menjaga dirinya, memelihara kesucian dan menunggu di dalam doa akan kedatangan Yesus Kristus.

Terakhir kita akan membaca ayat terakhir dari seluruh Kitab Suci, yaitu dalam Wahyu 22:20-21. Ayat terakhir dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, diakhiri dengan kutukan. Ayat terakhir dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, diakhiri dengan berkat.

Ia dalam ayat 20, siapakah ini? Ia, yang memberikan kesaksian tentang semuanya ini berfirman. Jadi, Yesus Kristus berkata: 'Ya, Aku datang segera. Aku akan datang kembali secepat mungkin.' 'Amin. Datanglah Tuhan Yesus.' Atau terjemahan lain: 'Oh Yesus, aku mengharapkan Engkau datang! Yesus berkata, "Ya, aku datang segera." Gereja menjawab, "Amin. Kami menunggu kedatangan-Mu."

Kiranya Tuhan memberkati kita masing-masing di dalam hidup kita sebagai orang Kristen di dunia. Kita mengingat Dia naik ke surga. Kita kembali menyadari Ia pemenang, Ia pemberi Roh Kudus, Ia pendoa syafaat bagi kita, Ia mengerti kesengsaraan kita, Ia menyediakan tempat di sorga bagi kita, Ia akan datang kembali dan kita bersedia untuk menanti kedatangan Tuhan kedua kalinya.(EL)

Sumber Artikel: 

Sumber:

Nama Majalah : Momentum
Edisi : 40/Triwulan II 1999
Judul Artikel : Siapakah Kristus Yang Naik Ke Surga?
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Halaman : 3-13

Yohanes Pembaptis: Pelita yang Terpasang dan Bercahaya

Penulis_artikel: 
Pdt. Dr. Stephen Tong
Isi_artikel: 

Dalam Dia (Yesus) ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia (Yohanes) datang sebagai saksi untuk memberikan kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya." (Yohanes 1:4-7). "Ia adalah pelita yang menyala dan bercahaya." (Yohanes 5:35) Terjemahan lain mengatakan, "Ia menjadi pelita yang menyala dan bercahaya." "Ia merupakan satu pelita yang sudah disulut, yang sudah terpasang dan sekarang bercahaya."

Yohanes Pembaptis merupakan seorang yang mengagumkan dan menjadi teladan bagi setiap orang yang mau melayani Tuhan. Ia mempunyai posisi yang paling unik. Ia adalah nabi terakhir dalam Perjanjian Lama, tetapi juga nabi pemula dalam Perjanjian Baru. Ia mengakhiri seluruh Perjanjian Lama, dan merintis Perjanjian Baru. Melalui Yohaneslah segala yang dinubuatkan nabi-nabi Perjanjian Lama menjadi suatu puncak pernyataan yang jelas tentang Mesias kepada manusia. Melalui Yohanes juga seluruh zaman setelah Kristus dapat melihat bahwa dialah yang memberi petunjuk untuk zaman selanjutnya bahwa Kristus membuka Perjanjian Baru dengan darah yang dicurahkan, "Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia." (Yohanes 1:29). Ucapan ini mengakhiri nubuat dan ucapan para nabi mengenai Kristus dalam Perjanjian Lama dan membuka satu jalan baru supaya orang-orang dalam Perjanjian Baru dan dalam sejarah melihat bahwa Yesus adalah sungguh Domba yang disembelih, seperti yang dilambangkan pada hari Paskah dalam Perjanjian Lama.

Siapakah Yohanes? Ia bersaksi bagi Terang tetapi mengaku bahwa ia bukan Terang itu. Siapakah Yohanes? Ia bersaksi bagi Kebenaran dan ia mengetahui bahwa ia bukan Kebenaran itu sendiri melainkan Kristus. Siapakah Yohanes? Ia bersaksi bagi Mesias tetapi ia mengakui bahwa ia bukan Mesias. Ia hanya seorang yang merintis jalan bagi kedatangan Sang Mesias.

Yohanes begitu mengenal keberadaannya sendiri. Ia yang agung, besar, dipenuhi Roh Kudus, tetapi juga begitu rendah hati. Orang yang agung tidak angkuh. Orang yang angkuh selalu tidak agung. Semakin besar jiwa seseorang, semakin tinggi rohaninya, yang selalu merasa kurang dan tidak cukup secara paradoks. Orang yang merasa diri cukup adalah orang yang kurang rohani dan kurang agung. Yohanes adalah orang yang begitu rendah hati sampai ia pernah mengatakan satu kalimat, yang boleh disebut sebagai pepatah emas yang harus diukir dengan pena mas dan tinta mas, "Membuka tali kasut-Nya (Mesias) pun aku tidak layak." (Yohanes 1:27). Seorang pelayan yang mengambil kemuliaan tuannya adalah pelayan yang kurang ajar. Ketika ada hamba Tuhan atau pemimpin gereja yang mengambil alih kuasa Allah Bari takhta-Nya dengan menganggap diri setara dengan Allah, menerima hormat manusia mengganti Allah, di sanalah mulai kegagalan dalam pelayanan.

Pada zaman itu dianggap ada dua orang besar yaitu Yohanes dan Yesus. Yohanes tidak berkhotbah di mimbar terkenal atau di gedung besar di Yerusalem. Ia berkhotbah dan menegakkan mimbar yang ada di padang belantara. Ia tidak tahu siapa yang akan datang tetapi ia tahu bahwa ia mempunyai firman yang harus disampaikan dan Roh Kudus memenuhinya. Sehingga padang belantara menjadi terlalu ramai karena ribuan orang datang. Ia tidak perlu merebut suatu kemuliaan tetapi tahu bagaimana bersaksi dan memberitakan firman Tuhan. Di tempat Roh Kudus turun, di sana tanah yang kering dan gersang menjadi sawah yang subur. Allah yang sejati adalah Allah yang membuka jalan di tengah laut. Allah yang menyediakan satu jalan lapang di tengah padang belantara. Allah yang mematahkan segala rantai dan belenggu, halangan pintu besi maupun tembaga. Yohanes Pembaptis disebut sebagai saksi yang diutus oleh Allah (The Witness send by God.). Seorang yang bersaksi, berarti kesaksiannya dan saksi itu sendiri merupakan utusan Allah. Seorang yang diutus Tuhan untuk memberitakan kebenaran. Dari mulut Yesus Kristus sendiri keluar satu kalimat indah tentang Yohanes bahwa ia adalah pelita yang terpasang dan bercahaya.

Saat manusia memandang Yohanes dan Yesus sama besar, Yesus tahu siapa diri-Nya dan siapa Yohanes. Yohanes pun tahu siapa Yesus dan siapa dia. Orang luar hanya melihat secara lahiriah tetapi kedua orang ini melihat ke dalam jiwa mereka. Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa apa yang mereka nilai itu salah, ia terlalu kecil dan Yesus terlalu besar. Yohanes adalah pelita yang terpasang dan bercahaya, yang menyinarkan untuk seketika akan Terang itu. Tetapi Yesus adalah Terang yang sesungguhnya. Jika Yesus adalah matahari maka Yohaneslah bulan yang memantulkan cahaya matahari itu. Setiap kali kita melihat cahaya asli dari Kristus, kita harus ingat yang memantulkan itu hanya sekejap mata, sebagai pelita yang hanya memberikan sedikit kesaksian untuk sekejap waktu saja. Kembali kepada Kristus itu menjadi hal yang penting. Siapakah Billy Graham, Luis Palau, Stephen Tong? Hanya seorang saksi saja. Kita tidak menjadi pengikut manusia tetapi pengikut Kristus. Agustinus memberikan satu kalimat yang menjadi contoh bagi setiap hamba Tuhan dalam sejarah, "Jikalau engkau menemukan tulisan atau khotbah saya sesuai dengan Alkitab, buanglah saya kembali sesuai dengan Firman." Itulah keagungan sejati seorang hamba Tuhan, yang jujur melayani Tuhan.

Yohanes Pembaptis menjadi pelita yang terpasang dan bercahaya bukan melalui mulutnya sendiri. Sebutan yang indah ini keluar dari mulut Yesus bahwa ia adalah pelita yang terpasang dan bercahaya. Di sini terlihat tiga macam pelayanan (1) Sudah menjadi pelita (2) Mau terpasang (3) Mau terus bercahaya. Ada orang yang sudah menjadi pelita tetapi tidak mau terpasang. Ada orang yang sudah terpasang tetapi tidak mau bercahaya terus.

Pelita itu merupakan suatu wadah. Dipasang itu merupakan suatu tindakan untuk memulai pelayanan. Bercahaya adalah satu konsistensi dari kesaksian yang terus berjalan. Pelita seperti bola lampu, lalu pasang itu seperti listrik atau minyak atau api yang sudah dinyalakan dan bercahaya berarti segala hambatan sudah disingkirkan sehingga terang itu boleh sampai ke tempat yang lain.

Istilah kesaksian yang dipakai oleh Alkitab bukan terbentuk dari kata kerja melainkan kata benda, "Ye must be the witness of Me, ye are My witnesses. "Kamu adalah saksi-saksiKu." Jadi istilah kesaksian berbeda dengan gerakan kekristenan dalam zaman ini. Pengertian sekarang, ada orang yang berbicara dan kita mendengar. Kesaksian itu bukan cerita, bukan pengalaman. Kesaksian sebenarnya adalah satu kedudukan menjadi saksi Kristus (the position of the witness of God). Sesudah itu baru saksi itu mengeluarkan kalimat untuk menyatakan kedudukannya, itu arti bersaksi.

Dalam Yohanes 1:6 dikatakan seorang yang dikirim oleh Allah, bersaksi bagi Terang itu. Dalam 5:35 Yesus mengatakan ia adalah pelita yang terpasang berarti setelah ia memiliki kedudukan sebagai saksi, baru ia bersaksi. Alkitab mengatakan Ye are the witnesses of My resurrection, kamu adalah saksi kebangkitanKu. Dalam bersaksi bukan pengalaman kita yang dipentingkan melainkan kebenaran bahwa Kristus yang mati dan bangkit, menjadi satu-satunya pengharapan untuk penginjilan seluruh dunia.

Dulu kamu adalah alat setan, yang memihak kepada iblis dan kegelapan. Sekarang kedudukanmu diubah. Posisimu sekarang adalah saksi Tuhan. Yohanes adalah pelita yang terpasang dan bercahaya. Berarti selain ia sudah mempunyai kedudukan itu, ia mau disulut. Dia mau diberikan satu permulaan yang tidak berasal dari dirinya sendiri. Sebuah kesaksian menuntut kesungguhan dalam hidupmu. Bukan hanya perkataanmu tetapi hidupmu sungguh sesuai dengan kebenaran, baru mulutmu pun menjadi alat kebenaran. Celakalah orang yang mengeluarkan suatu perkataan dengan tidak mempunyai kesungguhan; yang mengeluarkan kalimat yang bukan menjadi kepercayaannya.

Yohanes menjadi saksi yang akhirnya betul-betul mati karena kesungguhannya menjadi pelita. Ia adalah pelita yang terpasang dan bercahaya. Jika pelita disimpan ia tidak perlu mati karena tidak dibakar dan tidak bercahaya. Pelita yang terpasang dan bercahaya akan mati.

Peribahasa Tionghoa mengatakan di tengah kemewahan tidak jatuh dalam perzinahan dan tidak menjual diri; di dalam kemiskinan dan kepicikan tidak berubah hati; di bawah kuasa dan otoritas yang paling besar tidak menaklukkan diri. Inilah mutu watak kekristenan yang harus kita perjuangkan. Berapa banyak orang yang berkata-kata dengan muluk-muluk, tinggi-tinggi, syair yang indah tetapi pada waktu godaan tiba, langsung berubah arus, waktu miskin langsung kejujuran hilang. Mungkinkah engkau memelihara dirimu di tengah kesulitan, di tengah kepicikan, di tengah kemiskinan namun tetap jujur dan tidak berubah pendirian, bisa tetap berpegang pada prinsip-prinsip kejujuran dan kesucian. Bisakah engkau memelihara diri di tengah kekayaan dan kemewahan dan tidak sembarangan menghancurkan diri, berzinah dan melakukan tindakan yang amoral? Bisakah engkau menahan diri waktu diberi ancaman? Bisakah di bawah otoritas kuasa politik yang besar engkau tidak takluk dan tidak berkompromi? Itulah kesaksian yang menyatakan mutu seseorang.

Ada pepatah yang mengatakan, Kalau jalan tidak jauh, tidak tahu tenaga kuda. Kalau hari tidak panjang tidak diketahui tenaga dan hati manusia. Dalam jangka waktu panjang baru dapat diketahui kondisi hati seseorang. Ketika ujian datang baru diketahui bagaimana kesetiaanmu. Ketika jarak pendek kelihatan semua kuda sama kuat. Tetapi setelah menempuh jarak jauh baru terlihat kekuatan masing-masing. Setelah berpuluh-puluh tahun baru kelihatan kekonsistenan seseorang. Tuhan tidak melihat permulaan. Dalam permulaan terlalu banyak orang yang mengatakan, Saya sungguh bersedia mati bagi Tuhan. Setelah itu konsistensi sangat penting. Tuhan ingin kita mempunyai waktu pelayanan yang konsisten dan sungguh-sungguh. Ketika saya menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan saya berkata, "Peliharalah saya sampai mati, kesungguhan, pengabdian, kesetiaan sampai mati. Saya minta Tuhan peliharakan." Bila waktu tidak panjang tidak akan diketahui kesetiaan seseorang. Kalau ujian tidak berat, tidak ketahuan ketahanan seseorang. Bersyukurlah kalau Tuhan mengijinkan kau mengalami ujian berat, menandakan bahwa Ia percaya kepadamu dan akan memakai engkau lebih berat lagi. Jangan melarikan diri dari kesulitan, dari kesulitan, kepicikan, kemiskinan, yang seringkali diartikan senjata- senjata dari setan dan kutukan Allah. Tetapi kadang Tuhan memperbolehkan engkau dikutuk orang lain, diberi penyakit, mengalami bahaya, mengalami kesulitan. Ketika semua ini diijinkan datang, jangan memaki Tuhan. Pertama, koreksi diri apakah ada dosa yang perlu kau akui di hadapan Tuhan. Purify yourself. Intropeksi diri, bila ada kesalahan bertobat dan Tuhan akan memberkati engkau. Tidak semua sengsara dari setan, tidak semua kegagalan dari iblis. Kadang itu merupakan ujian dari Tuhan. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa ujian akan memberikan ketekunan yang luar biasa sehingga engkau boleh dipakai lebih hebat daripada waktu-waktu yang lalu. Yohanes Pembaptis dipenuhi Roh Kudus tetapi hidupnya tidak lancar. Berapa lama ia melayani? Alkitab tidak mengatakan dengan jelas, mungkin tidak sampai satu tahun, lalu kepalanya dipenggal. Sejak dalam kandungan ia sudah dipenuhi Roh Kudus, tetapi mengalami kematian yang tragis. Kematian Yohanes adalah kehendak Tuhan. Apakah ini berarti Allah tidak Mahakuasa? Bukan. Mengapa Tuhan tidak menyelamatkan nyawanya? Tidak mendengar doanya? Ketika Yohanes mengutus orang datang kepada Yesus untuk bertanya, "Engkaukah Mesias atau kami harus menanti yang lain?" Tidak ada satu kegagalan yang lebih besar lagi daripada Yohanes yang mempertanyakan pertanyaan yang begitu mengerikan. Bukankah dia yang memberitakan Yesus? Bukankah dia yang memberikan pernyataan pada jamannya, "Inilah Kristus, Anak Domba Allah"? Tetapi pada waktu dalam kepicikan, imannya goncang. "Tuhan, Engkau melihat aku sebagai rekan- Mu yang masuk penjara tetapi mengapa tidak ditolong? Apakah Engkau tidak melihat air mata dan kesengsaraanku? Di mana kuasa-Mu sebagai Mesias? Dulu aku bersaksi mengenai Engkau adalah Anak Domba Allah tetapi ketika aku sakit Engkau membiarkan aku, waktu aku di penjara Engkau tidak datang menjenguk aku atau menegur Herodes." Teologi Yohanes menjadi goncang dan Kristologinya kabur. Tetapi Yesus tetap tidak menjenguk atau melepaskannya dari penjara.

Yesus tidak datang dan tidak merubah situasi, tetapi mengatakan, "Barangsiapa yang tidak jatuh karena Aku berbahagialah dia." Bila engkau benar-benar saksi-Ku dan sekarang tidak melihat Aku menolongmu, engkau tetap tidak jatuh, maka berbahagialah engkau.

Tetapi jika engkau jatuh karena Aku, mengapa bisa jatuh karena Tuhan? Apakah Tuhan membiarkan dia mati terpelanting karena jatuh? Apakah Tuhan yang merencanakan kejatuhan dia? Yesus berkata, "Berbahagialah yang tidak jatuh karena Aku." Berarti ada kemungkinan kita jatuh karena Tuhan. Apa artinya kita jatuh karena Tuhan? Doa tidak dijawab, penyakit tidak disembuhkan, anak yang paling dicintai, diambil Tuhan. Apa maksud Tuhan, begitu kejam?! Seseorang jatuh disebabkan ia mempunyai pengenalan yang salah terhadap Tuhan. Yesus Kristus tidak pernah memberikan konsep-konsep yang mengacaukan pikiran kita tetapi Ia hanya menjernihkan pikiran kita yang kacau, tidak akan mengacaukan pikiran-pikiran yang benar. Ia membawa kita kembali kepada Firman, bukan mau menyelewengkan kita untuk keluar dari prinsip-prinsip Alkitab.

Yesus menjawab Yohanes, "Engkau melihat orang buta celik, orang mati dibangkitkan, orang miskin mendengarkan Injil. Bila ini masih tidak cukup biarlah engkau jatuh karena Aku. Dan kalau ini sudah cukup, meskipun orang lain yang buta dicelikkan, yang lumpuh berjalan, yang mati bangkit, engkau tdak dibangkitkan dan tidak dikeluarkan dari penjara tetap engkau harus beriman bahwa Aku adalah Kristus." Yesus tidak melepaskan Yohanes tetapi menyuruh orang memberitahu bahwa ada orang lain yang sudah mendapat kesembuhan. Yesus tidak memberikan anugerah pada Yohanes tetapi Ia menyuruh orang memberitahu bahwa orang lain sudah mendapat anugerah. Bukankah ini siksaan batin, suatu pschycology pressure, diskriminasi yang tidak adil? Tetapi kedaulatan Allah yang terus ditekankan dalam Teologi Reformed harus kita mengerti. Bahwa Allah berhak menyembuhkan dia dan tidak menyembuhkan engkau sekarang, berhak memberi kebangkitan pada orang mati dan membiarkan engkau tetap dalam penjara dan dipenggal sampai mati, karena Dia adalah Allah. Karena Dia adalah Allah, jangan memaksa Dia untuk bekerja menurut perintahmu, itu berarti memperhamba Allah. Kalau Dia Allah biarlah Dia yang mendapat kemuliaan yang terbesar melalui segala sesuatu menurut kehendak Dia sendiri. Yohanes Pembaptis tidak dilepaskan dan akhirnya mati. Pada waktu ia mati apakah ia menyangkal? Tidak. Setelah dia mendengar jawaban dan mengerti, ia setia sampai mati.

Yohanes memberikan lima teladan yang indah. Pertama, ia dipenuhi Roh Kudus. Menjadi pelita yang terpasang berarti harus mempunyai minyak. Sebelum ada listrik pelita adalah suatu benda yang bentuknya sebagai wadah minyak yang ada tutupnya, dan dipinggir diberi sumbu yang keluar dari mulut pelita untuk menyalurkan minyak itu ke atas lalu membakar jika ia adalah sumbu yang terpasang dan menyala karena ada minyak. Orang yang mau melayani Tuhan, yang benar-benar mau menyatakan terang, harus dipenuhi Roh Kudus. Dipenuhi Roh Kudus berarti buah-buah Roh akan mengalir keluar. Kalau Roh memenuhi engkau Kristus akan diberitakan. Pada waktu Roh itu memenuhi engkau maka hidupmu dipenuhi kesucian, tidak menghitung untung rugi tetapi memikirkan kemuliaan Tuhan.

Kedua, ia menjadi pelita yang terpasang dan menyala karena ia melayani Tuhan dengan prinsip yang penting seumur hidup. Ini dinubuatkan pada waktu kelahirannya yaitu kesucian dan keadilan. Pelayanan yang suci tetapi tidak adil adalah pelayanan yang timpang. Pelayanan yang adil tetapi tidak suci adalah usaha membereskan segala sesuatu tapi pada dirinya tidak mempunyai sifat ilahi yang jelas, moral Allah. Hidup suci yaitu tidak berkompromi untuk menghadapi segala sesuatu yang tidak beres, dosa dan segala kecemaran dalam diri kita. Keadilan dan kesucian adalah dua pokok pelayanan. Kalau saya hidup tidak suci dan menghadapi orang dengan tidak adil saya tidak mungkin menjadi pemimpin. Hidup suci berarti takut akan Tuhan Allah dan benar-benar sesuai dengan kehendak-Nya, tidak dicemari oleh dosa sehingga ada kuasa. Keadilan membuat kita bisa menghadapi segala macam orang. Adakah senyummu hanya untuk orang-orang tertentu yang agak kaya, agak mewah, agak ada kedudukan? Tetapi selalu ada paras yang lain pada yang miskin? Adakah engkau mempunyai tanggapan yang berlainan dengan orang yang begitu dihargai dan dihormati di masyarakat dan selalu ada kekerasan terhadap mereka yang dipandang ringan di masyarakat?

Ketiga, Yohanes menjadi pelita yang terpasang dan bercahaya karena ia mempunyai keberanian, salah satu pusaka yang besar dalam pelayanan kita. Kalimat-kalimat yang seharusnya kamu katakan pada waktu dan tempat yang seharusnya, tetapi tidak dikatakan berarti kehilangan kesempatan. Berbicara pada tempat, waktu yang tepat barulah itu seorang hamba Tuhan. Berani berkata pada orang yang perlu dan saat yang perlu di tempat yang sudah Tuhan berikan bagimu berarti sejarah ditenun bersama dengan kebenaran. Jika pada saat itu engkau tidak lakukan yang seharusnya maka tenunan kebenaran dengan sejarah itu lepas. Yohanes adalah orang yang menulis dan menenun kalimat penting dalam sejarah melalui keberanian yang Tuhan berikan. Jikalau bukan Yohanes tidak ada orang yang berani menegor Herodes. Jika tidak ada Yohanes tidak ada orang yang memberi tahu siapakah Yesus. Jika bukan Yohanes tidak ada orang yang berani memberikan kritik kepada pemimpin agama yang tidak beres. Kronos telah dijadikan kairos oleh Yohanes. Karakter agung dari seorang hamba Tuhan sering terbentuk pada waktu ia harus berkata dan sesudah ia berkata. Bila prinsip ini diabaikan ia akan menjual diri sebagai anak sulung yang tidak lagi mempunyai kuasa. Martin Luther dipaksa untuk membongkar dan membakar semua buku yang pernah ditulisnya. Tetapi ia berkata, "Di sini saya berdiri di atas firman Tuhan. Kecuali kalian membuktikan apa yang saya katakan dalam buku saya tidak berdasarkan firman maka saya tidak akan menarik kembali semua buku yang saya tulis. Inilah momen yang menenun kebenaran bersama sejarah.

Keempat, kesaksiannya selalu ditujukan kepada Kristus. Ia tidak meninggikan diri, tidak meninggikan pengalaman, tetapi kesaksiannya ditujukan kepada Kristus. Alkitab berkata, "Ia diutus untuk bersaksi bagi kebenaran supaya orang bisa percaya." (Yohanes 1:6). Tidak satu kali pun mujizat dilakukan oleh Yohanes. Tetapi banyak orang menjadi percaya karena dia. Di sini prinsip Alkitab menyatakan bahwa iman tidak didasarkan pada suatu pengalaman mujizat. Iman harus didasarkan pada firman. Dari mana datang iman? Dari pendengaran. Dan pendengaran datang dari firman Allah. Inilah prinsip Alkitab yang tidak pernah berubah dan tidak pernah putus, dari alfa sampai omega. Tuhan Yesus melakukan mujizat tetapi tidak pernah berkata hanya melalui itu kamu beriman. Tuhan berkata iman berdasarkan firman. Jika kesaksian senantiasa berpusat pada Kristus maka ia bukan memakai keajaiban kuasa tetapi dengan keberanian menyaksikan Kristus, menegur dosa dan membongkar hati nurani manusia, supaya orang bertobat.

Kelima, ia adalah pelita yang bercahaya dan terpasang dengan syarat ia konsisten, terus membiarkan diri dibakar sampai habis. Lilin yang bercahaya, setiap detik dalam bercahaya, berarti setiap detik ia menghancurkan diri. Makin lama makin pendek. Bila ia tidak melelehkan diri, tidak menghancurkan diri, tidak mungkin bisa terus menerus bercahaya. Ketika Yesus berkata bahwa ia adalah pelita yang terpasang dan bercahaya berarti dia sedang mengorbankan diri. Matahari harus meledakkan bahan yang ada pada dirinya sendiri, setiap detik kira-kira enam puluh juta ton supaya matahari tetap bercahaya dan kita tetap mempunyai kehangatan seperti di atas bumi. Untuk satu detik enam puluh juta ton. Betapa besar bahan matahari untuk bertahan berpuluh-puluh ribu tahun sehingga dunia ini mempunyai sinar cahaya sedemikian. Sepanjang sejarah kekristenan kalau orang Kristen mau bercahaya dan bila saksi-saksi mau terpasang dan bercahaya tidak ada jalan lain, yaitu rela berkorban diri bagi Kristus. Pengorbanan yang terus menerus menjamin terang itu terus menerus menyala, bercahaya. Maukah engkau terjun, berbagian dan melibatkan diri menjadi saksi Tuhan?

Sumber Artikel: 
Sumber:
Nama Majalah : Momentum
Edisi : 8/Juni 1990
Judul Artikel: Yohanes Pembaptis: Pelita yang Terpasang dan Bercahaya
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Halaman : 14-21

Kebangkitan Kristus

Penulis_artikel: 
Pdt. Dr. Stephen Tong
Isi_artikel: 

Percaya kepada kebangkitan merupakan suatu sistem iman kepercayaan yang tidak ada di dalam agama yang tidak diwahyukan. Sistem keagamaan dan iman tentang kebangkitan merupakan suatu pewahyuan yang khusus dari Tuhan Allah sendiri.

Kita bersyukur pada Tuhan karena Dia adalah Tuhan yang hidup. Kita melihat dalam I Korintus 15 dengan panjang lebar Paulus memaparkan kebenaran bahwa Yesus Tuhan adalah Tuhan yang sudah bangkit. Bahkan tak ada satu agama yang besar di dalam dunia mempunyai konsep kebangkitan sebelum Yesus datang ke dalam dunia, baik dalam Konfusiusme, Taoisme, Budhisme, Hinduisme, Soroasterisme dsb. Jangankan fakta, konsep mengenai kebangkitan itu pun tidak ada dalam agama-agama tersebut. Namun sebenarnya kebangkitan bukan dongeng atau mitos yang diketemukan oleh Kekristenan. Kebangkitan merupakan janji Allah kepada manusia yamg sudah jatuh ke dalam dosa dan yang sudah diikat oleh kuasa kematian.

Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati. Paulus menegaskan pada waktu orang-orang Korintus dilanda oleh semacam rasionalisme yang tidak bertangggung jawab. Mereka mengatakan, "Tidak mungkin ada orang yang mati dapat bangkit kembali." Maka Paulus berkata, "Jikalau Yesus Kristus tidak bangkit, sia-sialah kepercayaanku. Jikalau Yesus Kristus tidak bangkit percumalah pemberitaanku." Di dalam kalimatnya Paulus menegaskan, betapa pentingnya keharusan orang Kristen percaya Yesus Kristus bangkit. Yesus Kristus bangkit bukan suatu kepercayaan yang dipaksakan karena perlu akan hal ini. Yesus Kristus bangkit bukan sesuatu mitos orang kafir yang dialihkan ke dalam kekristenan. Yesus Kristus bangkit bukan satu kemauan manusia, yang menginginkan suatu penerobosan untuk mengalahkan kuasa kematian. Yesus Kristus bangkit merupakan rencana Allah sebelum dunia diciptakan.

Percaya kepada kebangkitan merupakan suatu sistem iman kepercayaan yang tidak ada di dalam agama yang tidak diwahyukan. Sistem keagamaan dan iman tentang kebangkitan merupakan suatu pewahyuan yang khusus dari Tuhan Allah sendiri.

Di luar Kekristenan hanya ada konsep kebangkitan dari wahyu umum yang samar-samar, yang pernah terlintas dalam pikiran manusia.

Kebudayaan Mesir membuktikan hal ini. Karena mummi-mummi yang dibuat di Mesir, melambangkan suatu pengharapan bahwa setelah manusia mati tidak berarti habis; sebuah konsep immortalitas. The concept of immortality is very well express in the manifacture of the mummi. Orang-orang Mesir setelah menemukan bahwa orang yang dikasihi itu meninggal, mencari obat-obat untuk mengawetkan tubuh yang sudah mati itu dengan puluhan kilo obat-obat yang berbau wangi yang bisa menghindarkan atau mencegah kerusakan dari tubuh manusia yang telah mati itu, lalu dibungkus dengan kain yang begitu banyak.

Kalau Saudara menuju ke kota Paris di Loever, Saudara menuju ke Chicago; di Chicago Museum, saudara menuju ke New York, museum di Leningrard, museum di British Museum; museum-museum yang penting di seluruh dunia, negara-negara yang maju engkau akan menemukan satu atau dua mummi dari orang-orang Mesir. Ada yang sampai sekarang masih ada dan pada waktu diperiksa dengan rontgen maka ada kulit yang masih baik, sehingga tubuh itu masih dalam kondisi baik. Karena orang Mesir mempunyai konsep bahwa manusia tidak hidup di dalam dunia hanya untuk beberapa puluh tahun saja. Setelah mati, mereka masih menantikan suatu hari kebangkitan. Kebudayaan Mesir merupakan kebudayaan yang agung sekali.

Kebudayaan Mesir telah menangkap sesuatu unsur yang tidak ada pada kebudayaan-kebudayaan lain. Di dalam pembagian jenis kebudayaan, Prof. Dr. Sorokin, seorang sosiolog yang besar, telah memberikan pemisahan dan pengklasifikasian dari kebudayaan. Dan bagi saya sendiri kebudayaan Mesir harus dipisahkan dari kebudayaan-kebudayaan yang lain. Karena dalam kebudayaan Mesir telah menangkap suatu konsep, meskipun samar sekali, yaitu tentang kebangkitan manusia, tetapi konsep ini tidak pernah muncul di dalam agama-agama yang lain.

Konsep kebangkitan sebagai suatu pencentusan kepada immortalitas, the immortality, ketidakrusakan. Istilah immortalitas lebih tepat diterjemahkan ketidakrusakan daripada diterjemahkan sebagai kekekalan. Eternity itu kekekalan; immortality itu ketidakrusakan dan ketidakrusakan itu merupakan sifat Allah. Satu-satunya oknum yang belum pernah mengalami kerusakan yaitu Allah sendiri. Alkitab mengatakan bahwa Dia adalah satu-satunya yang tidak rusak, yaitu Allah sendiri. Pada waktu Allah menciptakan manusia menurut peta dan teladan-Nya sendiri, maka manusia diberikan kekekalan. Manusia mempunyai kekekalan tetapi tidak mempunyai ketidakrusakan seperti Allah sendiri. We have the eternity but we do not have immortality like God Himself. Kalau kita mempunyai ketidakrusakan, maka itu adalah ketidakrusakan yang tidak sama dengan kualitas ketidakrusakan dari Allah. Manusia boleh tidak mempunyai ketidakrusakan sesudah manusia memiliki tebusan dari Yesus Kristus melalui kuasa kebangkitan. Kita memasuki hal yang besar, begitu penting karena iman orang Kristen lain dengan orang dunia yang hanya mencari hiburan di dalam agama. Iman Kristen merupakan suatu perjuangan, suatu substansi yang tidak ada di dalam kebudayaan manusia. Jikalau orang Mesir mempunyai konsep yang samar, konsep yang kurang jelas tentang kebangkitan tetapi mereka belum pernah bisa mencegah kerusakan. Sebelum mayat manusia dimummikan, kerusakan sudah terjadi. Pada tahun 1693, ada satu majalah Life di Amerika yang di dalamnya memuat satu penemuan dari Raamses 11 dari mumminya. Raamses 11 merupakan seorang Firaun, dimana waktu itu orang Israel keluar dari Mesir. Zaman-zaman itu Firaun mempunyai kuasa yang luar biasa, satu otoritas mengakibatkan ratusan ribu orang mati di bawah pemerintahannya. Maka dalam keadaan yang demikian, bila dia mau membangun piramid yang besar, atau mau membangun kota-kota yang baru, dia hanya memberikan perintah, maka orang Israel akan menjadi budak seperti yang diperintahkan oleh Firaun. Tetapi Firaun yang seperti Raamses 11 yang berotoritas demikian tinggi, apakah dia memiliki hidup yang sangat bahagia? Tidak! Pada abad ke-20 ilmu kedokteran dengan rontgen membuktikan bahwa dia mempunyai sakit gigi yang luar biasa hebatnya. Rontgen membuktikan bahwa ia pernah hidup susah sekali. Pada waktu mummi-mummi diperiksa kembali, kita melihat kerusakan sudah terjadi sebelum mati, apalagi kerusakan yang melanda sesudah kematian lebih hebat. Sekarang kalau kita pergi ke Paris, ke Amerika, di museumnya kita akan menemukan mummi-mummi yang telah begitu rusak, begitu menakutkan. Itulah kebudayaan. Kebudayaan yang agung, kebudayaan yang besar, kebudayaan yang mempunyai konsep yang tinggi-tinggi, toh tetap tidak bisa memberikan jaminan yang sesungguhnya kepada manusia. Sampai pada hadirnya Anak Allah dalam sejarah dan berpartisipasi dalam hidup manusia.

Karena teolog-teolog yang tidak bertanggung jawab mengatakan bahwa semua ini belum pernah terjadi. Yesus Kristus, kalau tidak pernah terjadi, dilahirkan melalui anak dara Maria, maka Yesus adalah seaorang anak gang biasa, keturunan akibat dari persetubuhan antara seorang pria dan wanita.

Yesus Kristus lahir ke dalam dunia, mengalami pencobaan, mati menggantikan kita dan bangkit dari kematian dan naik ke sorga. Kelima hal ini, (1) inkarnasi, (2) kemenangan atas pencobaan, (3) kematian untuk menggantikan kita, (4) kebangkitan-Nya dari kematian dan (5) kenaikan-Nya ke sorga; kelima hal ini harus kita percayai dan harus betul-betul kita mengerti sebagai fakta sejarah. Mengapa saya harus menegaskan fakta, historical facts? Saya tegaskan sekali lagi, kita harus terima sebagai fakta-fakta sejarah, karena memang fakta-fakta yang terjadi di dalam sejarah. Karena teolog-teolog yang tidak bertanggung jawab mengatakan bahwa semua ini belum pernah terjadi. Yesus Kristus, kalau tidak pernah terjadi, dilahirkan melalui anak dara Maria, maka Yesus adalah seorang anak yang biasa, keturunan akibat dari persetubuhan antara seorang pria dan wanita. Jika Yesus Kristus sungguh-sungguh belum pernah terjadi mengalahkan pencobaan dari setan dan berdosa seperti saya dan engkau, hanya moral-Nya lebih tinggi daripada kita; jikalau Yesus Kristus belum pernah mati menggantikan kita; jikalau kematian-Nya bukan sebagai pengganti atau suatu kematian yang menggantikan kita, to repay, to subtitute, maka kematian-Nya hanya menjadi seorang yang begitu hebat, yang begitu bermoral, yang begitu tinggi nilainya yang akhirnya mengorbankan diri-Nya agar menjadi contoh bagi engkau dan saya saja. Jikalau Yesus Kristus tidak bangkit dari antara orang mati, maka Yesus Kristus hanya seorang penipu dan belum pernah Dia mempunyai cukup kuasa untuk menyelamatkan engkau dan saya. Jikalau Yesus Kristus tidak bangkit dan naik ke sorga, tidak mungkin ada pengharapan kekal bagi engkau dan saya.

Jangan Saudara mempersamakan semua agama dan jangan mempersamakan semua agama yang lain dengan kekristenan. Di sini terletak perbedaan, di sini terletak kualitas kekristenan yang tidak ada bandingnya. Kristus dilahirkan di dalam sejarah, Kristus naik ke sorga sebagai fakta sejarah di antara inkarnasi dan kenaikan ke sorga sebagai klimaks dari wahyu Allah kepada manusia. Everything happen in Christ life is climax of God revelation for human being. Di dalam keadaan manusiawi kita memerlukan pengertian mengenai pengharapan yang sejati, berdasarkan tindakan Tuhan Allah sendiri. Ada perbedaan antara the virgin womb dan empty tomb. Virgin womb berarti rahim anak dara dan empty tomb berarti kubur yang kosong. Kedua hal ini mempunyai arti yang penting. Jika Yesus lahir seperti orang biasa dan jika Yesus mati juga seperti orang biasa maka tidak ada kekristenan yang sejati. Jika Yesus lahir bukan dari seorang anak dara, dan jika Yesus mati dan tidak bangkit dari kematian, sehingga kubur tetap terisi maka kita tidak mempunyai pengharapan menjadi orang Kristen. Roh Kudus yang memungkinkan yang kosong diisi dan juga Roh Kudus yang memungkinkan yang diisi menjadi kosong. Rahim seorang anak dara tidak boleh dan tidak mungkin diisi tetapi Allah yang memungkinkan. Jika kuburan yang telah penuh dengan mayat tidak seharusnya menjadi kosong dengan sendirinya, tetapi Roh Kudus telah mengosongkannya. Kubur dari pendiri-pendiri agama masih terisi dan pengikut mereka tetap kosong. Tetapi kuburan Yesus sudah kosong dan pengikutnya yang diisi.

Manusia yang mencari Tuhan selalu menganggap ada Tuhan di dalam agama mereka. Kong Hu Cu akhirnya meninggal dan Budha juga mati, akhirnya pengikut-pengikutnyapun mati. Pendiri-pendiri agama lain adalah juga manusia yang berdosa yang akan mati termasuk semua pengikutnya.

Pada waktu Yesus Kristus bangkit terjadi gempa bumi yang hebat. Prajurit-prajurit Romawi yang begitu berani terpaksa menjadi takut. Batu penutup kubur yang paling sedikit membutuhkan lima sampai enam orang untuk menggulingkannya sekarang terguling sendiri. Pada waktu itu beberapa orang wanita datang ke kubur Yesus. Ada lukisan yang menggambarkan tiga perempuan yang datang ke kubur Yesus. Pelukisnya menggambarkan kubur itu dari dalam lubang yang melihat ke luar. Keadaannya gelap tetapi di pintu kubur ada cahaya yang masuk. Dan karena cahaya dari luar itu terlihat sayap dari malaikat yang sedang berkata-kata. Dua orang perempuan melihat malaikat itu, masuk ke kubur dan menjadi tercengang. Tetapi satu perempuan yang lambat baru tiba di depan kubur itu dalam raut wajah yang sedih sekali. Pelukis ini berusaha untuk melukiskan ekspresi manusia sebelum dan sesudah mengerti kebangkitan Yesus. Yang sudah mengerti mempunyai pengharapan besar.

Waktu mereka datang ke kuburan tidak menyangka ada malaikat di sana. Malaikat ini bukan untuk menjaga kuburan dan bukan menjaga mayat Yesus. Tetapi menunggu orang datang dan mengabarkan berita kebangkitan. "Ia tidak ada di sini. Dia sudah bangkit." Ini adalah kalimat yang penting di dalam Alkitab yang pernah dikatakan oleh malaikat. Mengapa mencari orang-orang hidup di tengah-tengah orang mati? Manusia yang mencari Tuhan selalu menganggap ada Tuhan di dalam agama mereka. Kong Hu Cu akhirnya meninggal dan Budha juga mati, akhirnya pengikut-pengikutnyapun mati. Pendiri-pendiri agama lain adalah juga manusia yang berdosa yang akan mati termasuk semua pengikutnya. Tetapi ketika engkau mengikut Yesus dan waktu mengikut Dia sampai ke kuburan engkau menemukan kalimat, "Mengapa engkau mencari orang yang hidup di tengah-tengah orang yang mati?" Perkataan ini memberikan pengharapan dengan kualitas yang berbeda, karena di dalam kubur Yesus ada kalimat yang mengatakan Ia tidak di sini. Yesus tidak bisa ditemukan di kuburan. Yang ke kuburan tidak bisa menemukan Yesus, yang ke kuburan bertemu dengan tengkorak, tengkorak Plato, Heraklitos, Herodotus, tengkorak dari orang-orang yang paling besar dalam sejarah. Tulang belulang dari Hitler, Napoleon, Jenghis Khan, Hanibal, Mao Tze Tung, Stalin, dan nanti tulang kita semua ada di kuburan, tetapi saudara tidak akan menemukan tulang Yesus!

Di Vatikan, ada beberapa paku yang memaku Yesus tetapi tidak terdapat tulang Yesus. Banyak relief-relief di gereja terdapat dari tulang belulang orang-orang orang suci di Sindhikia, seperti Golen, demikian pula tempat-tempat yang lain yang menyatakan peninggalan dari orang- orang lain yang berkenaan dengan kain tipis yang menutupi tubuh Yesus, hanya kain itu yang tersisa di Turino. Lalu orang Amerika, Inggris dengan metode sinar X dan perhitungan yang lama akhirnya membuktikan kain itu palsu adanya, bukan kain yang menutupi tubuh Yesus. Banyak orang Katolik menyembah kain itu karena mereka mengira kain itu membungkus tubuh Yesus dan dari sinar X terlihat ada satu wajah yang seram, matanya tertutup, karena ada suatu cairan dari mayat itu yang membekas dan dari situ orang bisa melihat wajah Yesus, yang berbeda dari wajah yang pernah dilukis. Tetapi itupun sudah dibuktikan palsu.

Iman kita tidak boleh didasarkan pada suatu bekas peninggalan Yesus. Iman kita di dasarkan kepada kebangkitan Yesus Kristus. Kalau Yesus Kristus tidak bangkit, iman itu sia-sia. Pengabaran Injil sia-sia, kegiatan rasul Paulus sia-sia. Iman kepercayaan, pemberitaan dan kebangkitan tidak bisa dipisahkan. Kebangkitan Yesus Kristus menjadi fondasi iman, yang menentukan hasil kepercayaan kita dan fungsi pemberitaan kita. Jika Yesus tidak bangkit tidak perlu menjadi orang Kristen. Jika Yesus tidak bangkit, tidak perlu mengabarkan Injil. Sejarah akan terus menerus membuktikan satu hal bahwa gereja yang tidak percaya akan kebangkitan Yesus Kristus tidak akan mempunyai iman yang sejati dan tidak mempunyai iman yang dapat diberitakan. Gereja yang hanya menganggap Yesus sebagai revolusioner, sebagai moralis yang besar, perombak sistem masyarakat, psikolog dan konselor terbesar adalah gereja yang lumpuh yang tidak mempunyai kekuatan. Puji Tuhan! Yesus Kristus bangkit dan Paulus berkata, kebangkitan menjadi jaminan iman, jaminan pemberitaan dan jaminan kehidupan Kristen.

Paulus berkata, "Jikalau Yesus Kristus tidak bangkit maka kita adalah orang-orang yang paling malang." Mengapa kebangkitan Yesus menjadikan Kekristenan tidak sia-sia? Waktu Paulus menulis surat Korintus ini, sudah banyak orang Kristen dianiaya, dipenjarakan dan dibunuh. Orang Kristen tidak mempunyai hak apa-apa lagi. Orang Romawi memfitnah orang Kristen dengan alasan yang tidak jujur untuk menghancurkan kekristenan. Mereka dibuang ke lobang singa, di makan di tengah-tengah arena yang besar oleh singa yang sengaja dibuat kelaparan. Ada seorang di antara beratus ribu penonton yang kemudian menjadi sejarahwan besar mengatakan, "Saya heran berkali-kali melihat orang di makan singa dengan berteriak dan ada yang jatuh pingsan. Tetapi kali ini saya melihat orang Kristen mempunyai iman yang aneh dan menganggap seseorang yang sudah mati itu bangkit. Orang biasa itu adalah Yesus Kristus yang mereka anggap sebagai Allah. Para pengikut itu dilempar ke dekat mulut singa tetap bernyanyi memuji Tuhan." Pemuda ini akhirnya menjadi sejarahwan yang menulis tentang orang Israel khususnya sebelum dan sesudah kematian Yesus Kristus.

Ketika Paulus menulis ayat ini ia tahu apa yang pernah terjadi dan dia tahu akan penganiayaan yang akan datang. Jika Yesus tidak bangkit maka kita adalah orang yang paling malang karena kita mengikut Dia tanpa hasil. Jika Yesus tidak bangkit, apa yang kita perjuangkan menjadi hampa, keadaan dunia makin lama makin gawat. Karena kalau orang yang sebaik Yesus pun ajal-Nya begitu menakutkan, apalagi manusia yang lain. Jikalau Yesus tidak bangkit dunia tidak mempunyai jawaban bagi persoalan yang paling sulit dan yang paling lama yaitu mengapa orang benar menderita? Orang fasik menjadi makmur sedang orang jujur harus kelaparan; orang yang berdusta menjadi kaya, orang jahat berumur panjang sedangkan orang baik bermoral tinggi umurnya pendek. Dimanakah keadilan, kuasa, penyertaan, dan berkat Tuhan? Dimanakah keberadaan Tuhan? Bukankah demikian juga pada waktu Yesus dicaci? Pada waktu Yesus dipaku di atas kayu salib terlihat gelap menutupi. Yang jahat mengalahkan yang baik, ketidakadilan berkuasa atas keadilan; yang suci dihukum oleh yang tidak suci. Dalam dunia ini seluruhnya terbalik tidak ada norma/nilai yang beres. Seluruh dunia mempunyai keadilan yang tidak benar. Dunia sudah tidak lagi mengenai kebenaran, kesucian, keadilan, kebajikan. Yesus dengan kedua tangan-Nya menyembuhkan orang, sekarang tangan itu harus dipaku. Yesus dengan kedua kaki-Nya pergi memberittakan Injil, sekarang kaki itu ditusuk. Yesus mempunyai hati yang penuh cinta, yang merangkul seluruh dunia, sekarang ditusuk sehingga darah dan air yang keluar. Dimanakah keadilan dan kebenaran? Tidak ada jawaban. Jawabannya hanya ada pada kebangkitan Yesus Kristus. Karena Yesus Kristus bangkit Paulus berkata, "Pemberitaanku tidak sia-sia." Karena Yesus bangkit kita bukan orang yang paling malang melainkan orang yang paling berpengharapan di dalam Dia.

Kebangkitan Yesus Kristus adalah jaminan yang paling besar bagi mereka yang berjuang dalam sejarah. Oleh karena itu berjuanglah untuk hidup walau harus mengalami kesulitan dan perlakuan tidak adil.

Karena Yesus Kristus bangkit secara vertikal kita berdamai dengan Tuhan Allah. Dosa kita diampuni, jiwa kita diselamatkan dan mengalami hidup yang baru di dalam Tuhan. Secara horizontal, kita berjuang di dalam dunia menjadi saksi kebangkitan Kristus.

Sumber Artikel: 
Sumber:
Nama Majalah : Momentum
Edisi : 8/Juni 1990
Judul Artikel : Kebangkitan Kristus
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Halaman : 4-10

Berkhotbah adalah Hal yang Serius

Penulis_artikel: 
James Edward, McGoldrick
Isi_artikel: 

Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: "Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" Matius 3:1-2

Dalam tahun 1956 orang-orang Hongaria yang bersemangat bangkit dalam revolusi melawan pemimpin-pemimpin komunis mereka, dan untuk beberapa hari, kota Budapest berkobar dengan perlawanan kepada tirani Soviet. Ketika bantuan yang diharapkan dari dunia bebas tidak datang juga, Pasukan Merah Soviet menekan para pemberontak tanpa belas kasihan, dan sekitar 200.000 pencinta kebebasan Hongaria lari ke Barat. Satu dari pengungsi menjadi profesor di Temple University di Filadelfia, setelah meninggalkan posisinya di Universitas Budapest. Tak lama setelah mulai mengajar di Filadelfia, sarjana Hongaria ini bertanya kepada sebuah kelas pastoral, "Mengapa pendeta Amerika memulai khotbah mereka dengan sebuah lelucon?" Ia mengindikasikan bahwa Hongaria tidak menolerir ketidakseriusan sedemikian dalam mimbar, karena di sanalah orang-orang Kristen memegang Firman Tuhan dengan serius. Ketika memarahi pengkhotbah-pengkhotbah Amerika, profesor menasehati mahasiswa- mahasiswanya untuk menyadari bahwa gereja bukan teater, mimbar bukan panggung, dan oleh sebab itu pengkhotbah tidak boleh menjadi artis (performer). Dengan kata lain, khotbah adalah hal yang serius.

Yohanes Pembaptis adalah contoh alkitabiah dari khotbah yang serius. Ia memulai proklamasinya sekitar tahun 26 M di sungai Yordan di dekat Betani, dan dengan melakukannya ia menggenapi nubuat Perjanjian Lama. Melalui nabi Maleakhi, Allah telah berjanji, "Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu." (Maleakhi 4:5). Elia termasuk pengkhotbah paling serius dari seluruh zaman. Ia tidak membuka khotbahnya dengan sebuah lelucon. Ia tidak menggunakan khotbah sebagai sarana untuk menyenangkan massa, karena ia berbicara dengan keyakinan bahwa Allah telah berbicara kepadanya.

Dalam Perjanjian Baru, terbukti bahwa Yohanes Pembaptis menyerupai Elia begitu dekat dalam isi berita dan dalam penampilan. Ia adalah "orang yang diutus Allah" (Yohanes 1:6) untuk "menyaksikan tentang Terang (Kristus), supaya oleh Dia semua orang menjadi percaya" (Yohanes 1:6-7). Yohanes datang dalam kuasa dan roh Elia untuk mengumumkan kedatangan Juruselamat yang sudah dekat. Ia mengumumkan bahwa suatu hari baru tentang penyataan mulai terbit untuk umat Allah, suatu hari berkat dan penebusan, karena Mesias yang telah lama ditunggu datang menyatakan diri. Ini adalah hal yang serius. Bukan waktunya untuk membuat lelucon dan main-main.

Kedatangan Yohanes Pembaptis telah dinubuatkan oleh Yesaya, pengkhotbah dengan kuasa besar yang lain. Nabi Perjanjian Lama ini telah menjanjikan "suara orang berseru: 'Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN.' (Yesaya 40:3). Yohanes dinubuatkan sebagai pendahulu bagi Kristus, seorang yang menyiapkan jalan untuk kedatangan Raja.

Pada zaman dulu jalan-jalan sering dalam keadaan buruk, tetapi ketika pemerintah tahu bahwa ada seorang anggota keluarga kerajaan akan lewat di jalan itu, mereka menutup lobang-lobang dan meratakan jalan agar siap untuk digunakan oleh raja. Setelah anggota kerajaan itu menggunakan jalan tersebut, maka jalan itu dikenal sebagai jalan raya milik raja.

Yohanes Pembaptis menyiapkan jalan, tidak untuk semua raja, tetapi untuk Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuan. Sebuah tanggung jawab yang serius. Bukan waktunya untuk menghibur manusia dengan lelucon. Yohanes mempunyai misi serius untuk diberitakan, dan dalam menjalankan tugasnya, ia menerapkan sebuah contoh semangat bagi setiap lapisan generasi pengkhotbah-pengkhotbah. Ia memberitakan seluruh kebenaran yang Allah telah nyatakan kepadanya. Ia mengkhotbahkan kebenaran, meskipun itu tidak menyenangkan. Ia mengkhotbahkan kebenaran ketika berita itu tidak dapat diterima oleh telinga para pendengar. Meskipun demikian ia mengkhotbahkan kebenaran.

Khotbah yang serius seringkali menggusarkan penentang-penentang, sehingga Yohanes menghadapi kesulitan dari berbagai pihak oposisi. Jika ia memberikan khotbahnya dengan cara yang membuat orang lain tertawa, ia tidak akan membuat marah siapapun. Namun Yohanes ada dalam misi bagi Allah. Karena ia harus mengumumkan kedatangan Mesias, tidak ada waktu untuk kebodohan dan ketidakseriusan. Konsekwensinya, Yohanes membuat marah orang-orang dengan memberitakan kebenaran kepada mereka, tanpa bumbu yang sepele. Seperti pendahulunya, Elia, Yohanes adalah nabi yang benar, seorang penyampai suara Allah.

Mereka yang sekarang berhasrat untuk berkhotbah harus menghargai Yohanes sebagai sebuah teladan. Yaitu mereka harus berkhotbah dengan serius dan tidak menjalankan peran sebagai pelawak gereja. Pendeta tidak mempunyai kewajiban untuk menyenangkan siapapun juga, tidak dengan kesembronoan maupun dengan menceritakan diri sendiri. Khotbah alkitabiah tidak bersifat cerita komik atau kesaksian pribadi. Khotbah bukan alat untuk menceritakan pengalaman seseorang. Ingat Yunus. Pengalamannya luarbiasa, tetapi ketika ia pergi ke Niniwe, ia tidak menyinggung pengalaman itu, tetapi memproklamasikan Firman Tuhan. Tidak ada tanggung jawab yang lebih serius dalam hidup ini selain memberitakan kabar Allah. Yohanes Pembaptis, seperti Yunus, tahu hal itu, dan ia menyerahkan diri sendiri untuk tugas itu dengan kesungguhan hati.

Yohanes Pembaptis memberitakan ... "Bertobatlah, karena Kerajaan Allah sudah dekat." (Matius 3:1-2). Di mana pun juga Yohanes menghadapi kejahatan, semua diserangnya, di antara pemerintah yang berotoritas, dalam pelayan rohani, dan dalam masyarakat luas. Meskipun beritanya kaya dengan janji akan datangnya penebusan, Yohanes mengumumkan peringatan yang mengerikan, seperti ketika melancarkan serangan melawan dosa. Karena ia adalah orang yang diutus oleh Allah, Yohanes tidak dapat memberikan saringan berita yang baik saja kepada manusia, dan ia tidak mencari kesempatan untuk mendemonstrasikan kefasihan bicara. Dalam mengkhotbahkan berita dari Allah, ia menjadi "terang untuk menerangi kegelapan, suara yang menentang dosa, ... dan petunjuk jalan kepada Allah." Ia tidak memfokuskan perhatian pada diri sendiri dengan memberitakan secara terperinci tentang dirinya. Sebaliknya, ia berusaha untuk mengarahkan perhatian langsung kepada Kristus. Ketika Yesus muncul di hadapan publik, Yohanes menunjukNya sebagai Mesias dan berkata, "Lihat, Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia." (Yohanes 1:29). "Ia harus makin bertambah dan aku harus makin kecil." (Yohanes 3:30). Yohanes tidak menarik perhatian kepada dirinya sendiri tetapi ia berusaha agar dalam tiap kesempatan menarik perhatian kepada Anak Domba Allah.

Seperti Yohanes, semua pengkhotbah besar dalam Alkitab bersikap serius dalam pelayanan mereka. Rasul Paulus berkata, "Bukan dari kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus." (2 Korintus 4:5). Paulus bukan pelawak dan juga bukan pemberita pengalaman pribadi tetapi seorang pengkhotbah tentang Kristus yang serius dan bertanggung jawab. Pengkhotbah abad XX dan mereka yang berhasrat untuk berkhotbah harus memperhatikan hal ini baik-baik.

Khotbah harus dengan eksposisi yang setia dan aplikasi praktis dari Firman Tuhan. Khotbah demikian menuntut persiapan ekstensif, dan tidak boleh mempunyai keberanian untuk berdiri di mimbar sampai telah menghabiskan beberapa jam untuk persiapan. Menceritakan lelucon dan memasuki kisah pribadi memerlukan persiapan yang relatif kecil, tetapi seorang yang ingin sungguh-sungguh menjadi pengkhotbah alkitabiah harus menghabiskan banyak waktu dalam studi. Setiap khotbah harus berdasarkan exegese dari Alkitab dan menghabiskan waktu berjam-jam dalam persiapan, jika tidak orang itu tidak layak untuk berdiri di mimbar.

Contoh Yohanes Pembaptis harus meyakinkan semua pelayan Tuhan bahwa pengkhotbah yang sesungguhnya tidak akan memikirkan apa yang menyenangkan telinga para pendengarnya. Ia harus memberitakan seluruh kebenaran, bahkan ketika itu tidak enak bagi telinga pendengar dan membangkitkan oposisi mereka. Dengan semangat dari keyakinan tadi, Yohanes sama sekali serius dalam pelayanannya. Seorang pengkhotbah dari seluruh kebenaran harus menyatakan berita seakan-akan disampaikan oleh Yesus Kristus. Mimbar bukan tempat untuk inovasi dan menunjukkan kepandaian. Pelayan Tuhan harus tidak boleh menambahkan atau mengurangi Injil yang kekal. Dengan keyakinan sepenuhnya dalam Firman Tuhan, ia harus memberitakan berita Allah yang telah dinyatakan, dan ia harus melakukannya dengan penuh kesungguhan, berdoa, menggali Alkitab dan dengan segala aplikasi pada kebutuhan kontemporer.

Berita Yesus adalah, "Bertobatlah dan percaya kepada Injil." (Markus 1:14). Sepertinya Yohanes berteriak, "Bertobatlah, karena Kerajaan Allah sudah dekat." (Matius 3:2). Beritanya harus diharmonisasikan secara sempurna dengan berita Kristus. Karena menuntut pertobatan, Yesus dan Yohanes membangkitkan kemarahan orang-orang. Khotbah seperti itu tidak menyenangkan sama sekali. Untuk mengatakan kepada orang- orang bahwa mereka harus bertobat adalah memberikan penjelasan bahwa mereka adalah orang-orang berdosa yang ada di bawah murka Allah, dan ini bukan tugas yang menyenangkan. Tidak ada satu orangpun yang senang ketika dikatakan bahwa ia seorang berdosa, tetapi itulah yang diproklamasikan oleh Elia, Yohanes Pembaptis, Paulus, dan Yesus. Pertobatan menyangkut perubahan meninggalkan kejahatan dan berbalik arah kepada Allah. Seperti yang ditekankan oleh Yesaya:

Carilah TUHAN selama Ia berkenan di temui; berserulah kepadaNya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. Yesaya 55:6-7

Pertobatan menuntut suatu perubahan pikiran yang radikal yang menghasilkan perubahan hidup dan tingkah laku. Hal ini tidak bisa diabaikan dan tidak akan ada khotbah yang benar tanpa tuntutan akan hal ini. "Allah ... sekarang memerintahkan semua manusia di mana pun harus bertobat." (Kisah 17:30). Inilah khotbah para rasul. Setiap manusia harus bertobat. Pendeta tidak menggembalakan jemaat mereka ketika menyenangkan mereka dengan lelucon dan cerita pribadi. Manusia tidak membutuhkan atraksi seperti itu; mereka membutuhkan Firman Tuhan, dan kebutuhan ini sangat mendesak. Mereka harus tahu akan realita tidak menyenangkan mengenai dosa mereka. Mereka harus diubah secara drastis, dan pertobatan adalah inti untuk dapat berubah.

Pertobatan menyangkut suatu dukacita murni atas dosa. Westminster Katekismus mengemukakan demikian:

Bertobat kepada hidup adalah anugerah keselamatan, di mana seorang berdosa, keluar dengan pengertian yang benar atas dosanya dan menghampiri belas kasihan? Allah dalam Kristus, melakukannya dengan dukacita dan membenci dosanya, berbalik dari dosa kepada Allah, dengan tujuan penuh dan bertekun di dalamnya, yaitu ketaatan yang baru.

Ketika seseorang mengalami dukacita dan membenci dosanya, itu adalah hal yang serius. Lelucon dan pengalaman pribadi tidak mempunyai kekuatan untuk pertobatan semacam itu dan juga tidak layak untuk mengundang mereka.

Pertobatan menuntut pengakuan jujur atas kesalahan dan tanggungjawab seseorang atas dosa-dosanya. Sebuah penyesalan yang benar berhubungan dengan deklarasi Alkitabiah bahwa "hati lebih licik dari segala sesuatu." (Yeremia 17:9). Ia tahu akan keadaan hatinya sendiri. Banyolan dari mimbar tidak akan memimpin seseorang kepada keyakinan tersebut. Khotbah yang serius, kenabian dan kerasulan sangat penting.

Dalam bidang nubuat, Yohanes memanggil untuk pertobatan. Banyak orang Farisi dan Saduki datang kepadanya untuk dibaptis, tetapi kita harus memperhatikan bagaimana Yohanes berespon atas permintaan mereka. Ia menolak aplikasi mereka. Ia berkata kepada mereka," Kamu kawanan ular beludak! Siapa melepaskan kamu dari murka Allah yang akan datang? Hasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan. (Matius 3:7-8). Tidak heran bila Yohanes menghadapi begitu banyak musuh. Ia mengatakan orang-orang terbaik di Israel dalam keadaan sangat membutuhkan pertobatan. Ia tidak sama dengan pengkhotbah modern yang pergi mengatakan kepada orang-orang, "Tersenyumlah! Allah mencintai kamu dan mempunyai rencana indah bagi hidupmu." Yohanes memulai penginjilannya tidak dengan mengumumkan kasih Allah tetapi menekankan murka Allah. Ia menetapkan fakta dosa dan mengingatkan akan datangnya penghakiman. Tidak ada alasan bagi pendengarnya untuk tersenyum. Yohanes tahu mereka di bawah murka Allah, dan ia menetapkan bahwa mereka harus tahu itu. Bukan waktunya untuk menghiburkan mereka. Melainkan sekarang perlu untuk mengkonfrontasikan mereka dengan realita.

Yohanes Pembaptis mengatakan kepada pemimpin rohani orang Israel bahwa mereka harus bertobat. Ia mengingatkan mereka untuk tidak bersandar pada warisan sebagai keturunan Abraham, karena "dari batu-batu ini Allah dapat membangkitkan anak-anak bagi Abraham." (Matius 3:9). Ada sebuah keganjilan dalam mitologi Yahudi yang berpendapat bahwa Abraham duduk di pintu gerbang neraka dan menghalangi jalan sehingga tidak ada seorang Yahudi pun dapat memasukinya. Tetapi Yohanes membuatnya jelas bahwa warisan agama seseorang dan nenek moyangnya tidak akan berarti apa-apa jika ia tidak bertobat. Ia memberi dua alternatif; dibaptiskan di atas dasar pertobatan yang benar atau berada dalam api penghakiman ilahi.

John Bunyan, dalam satu bukunya, menanyakan, "Akankah engkau meninggalkan dosamu dan pergi ke sorga, atau engkau mempertahankan dosamu dan pergi ke neraka?" Inilah khotbah alkitabiah. Inilah penginjilan nabi dan rasul. Elia, Yohanes Pembaptis, rasul Paulus, Yesus sendiri, John Bunyan dan sekelompok pemberita lain dari kebenaran selalu serius dalam berkhotbah. Mereka percaya bahwa gereja bukan teater, dan mimbar bukan panggung. Oleh sebab itu pengkhotbah harus tidak menjadi artis. Doa seorang pengkhotbah adalah: Kiranya perkataan dari mulutku dan renungan hatiku berkenan di hadapanMu, oh Tuhan, Gunung Batu dan Penebusku." Mazmur 19:14

Diambil dari Banner of Truth edisi Juni 1989 Issue 309

Sumber Artikel: 
Sumber:
Nama Majalah : Momentum
Edisi : 8/Juni 1990
Judul Artikel: Berkhotbah Adalah Hal Yang Serius
Penulis : James Edward, McGoldrick
Halaman : 28-33

Ciri-ciri Remaja dan Cara Menanggapinya

Penulis_artikel: 
-
Isi_artikel: 

(Daftar ini tidak dimaksudkan sebagai daftar lengkap; para pembimbing remaja dapat menambahkan sendiri hasil pengamatannya)

Ciri-ciri fisik
Pertumbuhan badan remaja sangat cepat. Sistem koordinasi tubuh mereka menjadi kurang seimbang akibat pertumbuhan yang cepat itu. Mereka mengalami masa-masa energetik dan lelah silih berganti.

Cara menanggapi
Bersabarlah dengan kecanggungan mereka. Jangan membuat kegiatan-kegiatan terlalu kompetitif atau terlalu menegangkan. Jangan salah mengerti kelelahan mereka dan menyamakannya dengan kemalasan.

Ciri-ciri mental
Mereka manyukai petualangan dan penemuan YralItal baru, dan mereka mempunyai imajinasi yang aktif. Mereka senang humor. Mereka mampu berpikir serius, dan memiliki kesanggupan untuk berpikir abstrak maupun kongkret sekaligus. Tetapi pengetahuan mereka berkembang lebih cepat daripada pengalaman.

Cara menanggapi
Tanggapi ciri-ciri ini secara positif. Bantulah mereka memakai imajinasinya untuk membuat Alkitab lebih hidup. Tertawa bersama mereka. Gunakan•humor. Bimbinglah mereka agar dapat memikirkan sendiri masalah-masalahnya. Arahkan mereka kepada Alkitab untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sulit.

Ciri-ciri sosial
Mereka ingin menjadi dewasa dan tidak tergantung pada orang dewasa. Namun dalam banyak hal mereka masih bertindak seperti kanak-kanak. Mereka ingin dianggap "termasuk" atau "milik" gang-nya dan punya rasa setia kawan yang besar terhadap teman-teman sebayanya. Mereka malu-malu dan sangat peka akan keadaan dirinya.

Cara menanggapi
Jangan memanggil mereka "anak-anak". Beri mereka tanggung jawab, tetapi jangan kecewa kalau mereka bertindak kurang bertanggung jawab. Hormatilah kesetiakawanan mereka. Doronglah mereka supaya memilih teman-teman yang baik. Arahkan kesetiakawanan mereka kepada Tuhan. Jangan mengejek mereka, apalagi melontarkan sindiran tajam. Tunjukkan kepada setiap remaja bahwa Anda mengasihi dan mempedulikan mereka

Ciri-ciri emosional
Emosi mereka kuat sekali dan sering naik turun. Mereka sulit mengendalikan emosinya karena begitu banyak perubahan sedang terjadi di dalam tubuhnya. Mereka merasa tak seorang pun memahami mereka.

Cara menanggapi
Jangan timbulkan gangguan emosional pada mereka. Jangan membuat acara permainan yang gaduh, yang langsung diikuti oleh kebaktian serius; mereka tidak dapat menenangkan diri secepat itu. Sediakan waktu untuk mengenal mereka satu per satu secara pribadi.

Ciri-ciri rohani
Mereka menginginkan agama yang praktis. Mereka punya banyak keraguan mengenai agama. Mereka mencari keteladanan.

Cara menanggapi
Tunjukkan selalu bahwa kebenaran-kebenaran Alkitab itu relevan untuk situasi kehidupan mereka. Terimalah keraguan ini sebagai bagian dari proses pertumbuhan. Sambutlah sifat itu sebagai pertanda bahwa para remaja ini sedang menjadikan imannya sebagai iman mereka sendiri, bukan iman yang diwarisi dari orang tua. Arahkan keinginan ini kepada Kristus dan teladan yang la berikan kepada kita di dalam Alkitab.

Sumber Artikel: 
Sumber:
Nama Majalah : Momentum
Edisi : 1/Maret 1987
Judul Artikel: Ciri-ciri Remaja dan Cara Menanggapinya
Halaman : 12

Hati Nurani dan Moral

Penulis_artikel: 
DR. R.C. SPROUL
Isi_artikel: 

Keterangan tentang penulis: Dr. R.C. Sproul adalah seorang teolog, pendeta, pengarang, guru. Video dan penginjilannya mencapai tingkat internasional. Isinya meliputi pernikahan, watak Kristen, hidup doa dan kesucian ilahi. Sproul lulusan dari Westminster Theological Seminary, Pittsburgh Theological Seminary dan Universitas Bebas di Amsterdam. Sekarang beliau menjabat sebagai profesor sistematik teologi dan apologetika di Reformed Theological Seminary.

Ketika kita harus memilih di dalam bidang moral maka nyatalah fungsi hati nurani sangat rumit. Hukum Allah memang tidak berubah untuk selamanya. Namun disamping taat kepada hukum-hukum ini kita juga perlu mengusahakan agar hukum-hukum ini mencapai keharmonisan dalam hati kita. Standar dari organ intern ini disebut "hati nurani". Ada orang melukiskan suara intern yang samar-samar ini sebagai suara Allah di dalam diri manusia. Memang hati nurani merupakan bagian yang sangat mistik di dalam diri manusia. Di dalam hati nurani manusia, yaitu tempat yang sangat tersembunyi terdapat keberadaan pribadi, karena ini bersifat tersembunyi sehingga kita sangat sulit mengenal fungsinya. Freud telah memasukkan psikologi ke dalam istana ilmiah sehingga manusia mulai menyelidiki alam bawah sadar, menggali lubang-lubang yang paling dalam di dalam pribadi manusia. Sehingga manusia takut dan kagum waktu menghadapi hati nurani. Apa yang dinyatakan oleh suara intern ini mungkin seperti komentar seorang psikolog sebagai "menemukan neraka".

Namun kita harus memandang hati nurani sebagai sesuatu yang bersifat sorgawi, sesuatu yang berhubungan dengan Allah dan bukanlah organ yang berasal dari neraka. Mari kita membayangkan tokoh di dalam film kartun, pada waktu ia diperhadapkan untuk memilih dalam bidang moral maka ada malaikat dan setan, yang masing-masing hinggap di kiri kanan bahunya. Keduanya berusaha menarik dia seperti menarik gergaji untuk memperoleh otak manusia yang malang ini. Hati nurani dapat merupakan suara dari sorga dan juga dapat berasal dari neraka. Dia mungkin berbohong, juga mungkin mendorong kita mencapai kebenaran. Dua macam hal yang dapat keluar dari satu mulut. Jika bukan melakukan tuduhan maka ia melakukan pengampunan.

Slogan Walt Disney yang terkenal: "Biarlah hati nuranimu memimpin engkau" sangat populer. Namun ini paling banyak hanya bisa dipandang sebagai teologi untuk anak kecil. Sedangkan terhadap orang Kristen hati nurani bukanlah pengadilan tertinggi untuk memutuskan kelakuan yang benar. Hati nurani sangat penting tetapi tidak cukup sebagai standar, dia selalu berkemungkinan untuk menjadi bengkok dan salah memimpin. Di dalam Perjanjian Baru 31 kali menyebut tentang hati nurani sepenuhnya menyatakan kemungkinan terjadi perubahan hati nurani. Hati nurani sudah hangus oleh besi panas sehingga tidak lagi berperasaan dan apatis. Hati nurani juga mungkin telah digerogoti menjadi keropos atau karena kerap kali berdosa sehingga kebal. Yeremia melukiskan orang Israel dengan istilah "bermuka pelacur." Ini disebabkan orang Israel terus menerus berdosa sehingga kehilangan perasaan malu di dalam hatinya. Mereka menegarkan tengkuk, membekukan hati, sehingga hati nurani mereka tidak berfungsi lagi. Demikian juga orang-orang yang anti masyarakat mungkin setelah membunuh manusia tetap tidak merasa menyesal dan hilanglah fungsi teguran hati nurani yang normal.

Meskipun hati nurani bukan hakim tertinggi di dalam prinsip moral, namun melakukan sesuatu yang melanggar hati nurani tetap suatu hal yang berbahaya. Ingatlah pada waktu Martin Luther di dalam sidang Worms menghadapi tekanan moral yang luar biasa besarnya dan gentar di tengah kepahitan yang optimal itu. Ada orang menganjurkan untuk menyerahkan iman, maka di antara jawabannya terdapat, "Hati nuraniku telah ditawan oleh Firman Allah." Melakukan sesuatu yang melanggar hati nurani adalah tidak benar dan merupakan hal yang tidak aman dan berbahaya sekali.

Begitu hidup Luther melukiskan dinamika emosi semacam ini pada waktu ia mempergunakan istilah "ditawan". Hati nurani dapat bekerja secara penuh di dalam diri manusia. Pada saat manusia dipegang oleh suara hati nurani sehingga menghasilkan kekuatan maka dengan sendirinya timbul keberanian yang luarbiasa. Hati nurani yang ditawan oleh Firman Allah adalah hati nurani yang anggun dan berdinamika.

"Bertindak melanggar hati nurani adalah tidak benar dan bahaya." Benarkah kalimat Luther ini? Kita harus berhati-hati menjelajahinya sehingga dapat mencegah langkah-langkah yang dapat melukai jari kaki kita yang berjalan di tepi pisau cukur kriteria moral ini. Jikalau hati nurani mungkin disalahtafsirkan atau salah arah mengapa kita harus tidak berani bertindak melanggarnya? Apakah kita harus masuk ke dalam dosa karena mengikuti hati nurani? Kita berada di tengah-tengah kedua bahaya ini sehingga bergerak, maju maupun mundur. Jikalau kita dikatakan berdosa menurut hati nurani, perlu diingat meskipun sudah bertobat hati nurani tetap memerlukan Firman Tuhan untuk memberikan pimpinan yang benar. Namun jikalau kita bertindak melanggar hati nurani kita tetap telah melakukan dosa. Dosa ini mungkin tidak tergantung apa yang sudah kita perbuat tetapi tergantung fakta bahwa kita yang sudah mengetahui dengan jelas sesuatu yang jahat tetap terjun ke dalamnya, ini menyangkut prinsip Alkitab yang menyatakan "segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa". Misalnya (sekali lagi misalnya) ada orang diajar dan percaya bahwa memakai lipstick adalah berdosa tetapi ia tetap memakainya maka orang ini sudah berbuat dosa. Sebenarnya dosa bukan tergantung pada lipstick itu tetapi tergantung pada usahanya untuk melanggar perintah Allah.

Penguasaan terhadap hati nurani merupakan semacam kekuatan dengan daya pemusnahan di dalam gereja. Orang legalis selalu menitikberatkan penguasaan dosa, sedangkan orang antilegalis selalu secara diam-diam menyangkal dosa. Hati nurani adalah semacam alat yang rumit yang harus kita hargai. Jikalau seseorang mau mempengaruhi hati nurani orang lain maka ia menghadapi tugas berat, ia harus memelihara kepribadian orang lain menjadi sempurna seperti pada saat diciptakan Allah. Jikalau kita mempersalahkan orang lain dengan penghakiman yang bersifat memaksa dan tidak benar maka kita mengakibatkan tetangga kita terikat kaki tangannya berarti kita memberikan rantai kepada mereka yang sudah dibebaskan Allah. Tetapi jikalau kita secara paksa mengakibatkan orang berdosa, menganggap diri tidak bersalah maka kita akan mendorong mereka lebih terjerumus ke dalam dosa. Dan akan menerima hukum Allah yang seharusnya dapat dihindarkan.

Sumber Artikel: 
Sumber:
Nama Majalah : Momentum
Edisi : 8/Juni 1990
Judul Artikel : Hati Nurani Dan Moral
Penulis : DR. R.C. SPROUL
Halaman : 26-28

Komentar


Syndicate content