Legalisme: Musuh Mematikan dari Kebebasan Injil

Penulis_artikel: 
Andrew Jacobson
Tanggal_artikel: 
19 Februari 2019
Isi_artikel: 
Legalisme: Musuh Mematikan dari Kebebasan Injil

Legalisme: Musuh Mematikan dari Kebebasan Injil

Legalisme

Sebagai orang Kristen yang hidup di antara Hari-Kelahiran dan Hari-Kemenangan dari kedatangan pertama dan kedua Kristus, ada beberapa musuh yang harus kita waspadai. Musuh-musuh yang, meskipun di satu sisi sudah dikalahkan oleh Kristus, masih mendesak dengan pengaruh yang berbahaya. Di gereja setempat, saya pernah berkhotbah membahas Kitab Galatia dan satu musuh khusus yang terus-menerus diperingatkan oleh Paulus yaitu legalisme. Dan, dia mengingatkan bahwa itu bukan hanya musuh atas pembenaran kita (tindakan Allah yang menyatakan kita benar), tetapi juga musuh atas pengudusan kita (pekerjaan Allah yang menjadikan kita benar). Dalam Galatia 2:16 , Paulus menyatakan legalisme sebagai musuh pembenaran ketika dia berkata, “kita juga telah percaya kepada Yesus Kristus supaya kita dibenarkan oleh iman dalam Kristus, bukan karena melakukan Hukum Taurat.” Kemudian, dalam Galatia 3:3, Paulus menyatakan legalisme adalah musuh pengudusan ketika dia berkata, “Kamu telah memulai dengan Roh, apakah kamu sekarang ingin mengakhirinya dengan daging?”

Dalam seluruh Kitab Galatia, Paulus jelas sangat antusias mengenai hal bertekun dalam kemurnian Injil dan menegakkan kecukupan satu-satunya karya Juru Selamat. Hal ini dengan jelas ditunjukkan, salah satunya adalah di dalam semua serangannya terhadap legalisme, salah satu musuh terbesar dari Injil. Akan tetapi, apa sebetulnya legalisme itu? Ini adalah sebuah kata yang seringkali diputarbalikkan dan sepertinya oleh banyak “kalangan Kristen” disalahgunakan dan dikurangi artinya. Jadi, saya ingin berusaha untuk mengajukan pemahaman yang lebih jelas tentang apa itu legalisme dengan harapan bahwa ini akan menolong kita untuk mendeteksinya dengan lebih mudah, menyesalinya dengan lebih khusus, dan menerima penebusannya lebih dengan segenap hati.

Tipuan Legalisme

Sebelum saya memberi sebuah definisi Legalisme, adalah penting untuk diperhatikan bahwa legalisme memiliki banyak kesamaan dengan Caplak yang membawa Lyme Disease (penyakit getah bening - Red). Seperti caplak, legalisme terkadang tidak terdeteksi (caplak hanya bisa dilihat melalui mikroskop). Legalisme dengan mudah dapat dikira sebagai sesuatu yang sama sekali tidak berbahaya (caplak terlihat seperti bayi kumbang yang mungil). Jika itu menggigit, akan sulit didiagnosa (tahap awal Penyakit Getah Bening mirip dengan flu). Dan, jika dibiarkan tanpa diobati, dampaknya akan menghancurkan (penyakit getah bening yang tidak diobati bisa mengakibatkan sakit yang kronis). Itulah, sebagian, yang membuat legalisme begitu berbahaya.

Spektrum Legalisme

Selanjutnya, legalisme tidak terjadi dalam satu bentuk dan ukuran, seolah-olah itu adalah satu hal khusus yang bisa Anda tunjuk. Legalisme terjadi dalam berbagai rasa dan keberadaan pada sebuah spektrum. Misalnya, pada satu ujung spektrum, Anda melihat bentuk legalisme yang berhubungan dengan doktrin yang sesat. Ini merupakan kasus yang ekstrem dari legalisme yang menyelewengkan kebenaran Injil dengan begitu jauh sehingga mempercayainya atau mengajarkannya adalah perbuatan terkutuk/mencelakakan (Paulus kelihatannya berurusan dengan hal seperti ini dalam Galatia 1:6-9 ). Pada ujung spektrum yang satunya, Anda melihat kasus yang tidak terlalu ekstrem dari legalisme, yang meskipun tidak berhubungan dengan doktrin yang sesat tetapi tetap saja membahayakan (Paulus kelihatannya berurusan dengan hal semacam ini dalam Galatia 2:11-14).

Mendefinisikan Legalisme

Sekarang, tanpa interupsi lebih jauh, berikut adalah usaha saya untuk mendefinisikan legalisme:

Legalisme adalah setiap penyelewengan/penyalahgunaan atau penambahan yang dibuat manusia terhadap keselamatan atau perintah-perintah yang ada dalam Kitab Suci, yang kita gunakan untuk mendapatkan, memelihara, atau mengembangkan posisi kita di hadapan Allah dan yang kita tetapkan kepada orang lain dan yang dengan itu kita menilai orang lain.

Itu sangat panjang jadi saya akan menjelaskan bagian per bagian untuk menunjukkan kepada Anda mengapa saya menyusun definisi tersebut seperti ini. Saat saya membagi definisi itu saya juga ingin menunjukkan kepada Anda mengapa legalisme adalah musuh yang serius dan mematikan dari Kebebasan-Injil.

1. Legalisme Menyelewengkan Firman Allah

Legalisme adalah “setiap penyelewengan/penyalahgunaan” Hukum Allah. Dalam konteks modern kita, legalisme biasanya hanya berbicara tentang “menambahkan ke” Kitab Suci. Akan tetapi, legalisme juga dapat menerima Kitab Suci sebagaimana adanya dan menyelewengkannya. Kita dipanggil untuk menjadi orang-orang yang secara benar menggunakan Firman Kebenaran. Penafsiran yang buruk membahayakan jiwa. Dalam Galatia hal ini ditunjukkan dalam bentuk menyelewengkan peraturan tentang makanan dalam Perjanjian Lama. Allah memberikan peraturan tentang makanan yang berkaitan dengan tujuan nubuatan yang sementara. Semua aspek peraturan tentang makanan dalam Perjanjian Lama tidak mungkin dijelaskan di sini tetapi cukup dikatakan bahwa fungsinya adalah menunjukkan kekudusan Allah, keberdosaan manusia, dan pribadi dan karya Juru Selamat Pribadi yang benar-benar Kudus. Para pengajar palsu di Galatia tidak mengerti sifat sementara dan nubuatan dari peraturan tentang makanan ini dan berusaha untuk memaksakannya kepada orang-orang non-Yahudi, meskipun Allah sudah mencabut peraturan itu (bandingkan Kis. 10).

2. Legalisme Merampas Otoritas Allah

Legalisme membuat “tambahan buatan manusia” terhadap hal-hal yang hanya Allah yang memiliki otoritas untuk mengatakannya. Dalam arti, legalisme adalah “orang bodoh yang masuk ke tempat di mana para malaikat takut untuk melangkah ke dalamnya.” Kitab Suci memiliki satu Penulis tertinggi, dan itu bukanlah kita. Hanya Allah yang memiliki hak prerogatif untuk berkata “demikianlah firman Tuhan.” Legalisme berusaha untuk mengatakan “demikianlah firman Tuhan” tanpa meminta izin.

3. Legalisme Meremehkan Kecukupan akan Kristus

Legalisme membuat “tambahan buatan manusia terhadap keselamatan.” Dengan menambahkan kriteria apa pun kepada keselamatan selain “percaya kepada Tuhan Yesus,” legalisme mengatakan bahwa Yesus tidak cukup, karya-Nya belum cukup, dibutuhkan lebih banyak. Ini terjadi bukan hanya dalam cara yang formal, di mana seseorang menyatakan “Anda harus disunat jika mau selamat.” Itu juga terjadi dalam cara yang fungsional, tidak ada orang yang menyatakan atau menuliskan sebuah pendapat di atas kertas, tetapi orang-orang menganggap memilih golongan republik atau homeschooling atau paham suka damai sebagai kriteria yang penting dari seorang Kristen. Ini memotong inti dari Injil, yaitu ketika legalisme mulai (dan seringkali berakhir) bekerja dari hanya membahayakan menjadi doktrin yang benar-benar sesat.

4. Legalisme Menentang Hikmat Allah

Legalisme membuat “tambahan buatan manusia terhadap … perintah-perintah dalam Kitab Suci.” Dengan menambahkan apa pun kepada perintah-perintah dalam Kitab Suci, Legalisme bertindak seolah-olah lebih berhikmat daripada Allah. Ada banyak bidang kehidupan di mana Allah, di dalam hikmat-Nya, tidak berkata “demikianlah firman Tuhan, lakukan ini dan jangan lakukan itu.” Ini adalah bidang Kebebasan orang Kristen, atau yang terkadang disebut sebagai panggilan hati nurani. Legalisme berusaha untuk menghilangkan kebebasan dalam bidang-bidang ini dan mengikat hati nurani sebagai tawanan. Sebagai akibatnya, legalisme mengatakan jika Allah berhikmat seperti saya, Dia juga akan berkata “jangan lakukan _____.”

Satu klarifikasi di sini: ketaatan tidak dipertanyakan. Ketika Allah memberikan perintah, kita sebagai orang Kristen harus “beribadah kepada Tuhan dengan sukacita” (Mazmur 100:2). Akan tetapi, kita tidak wajib dalam cara apa pun untuk tunduk pada tambahan yang dibuat oleh manusia kepada perintah Allah. Itulah beda antara menaati Allah dengan legalisme. (lihat Westminster Confession Chapter 20)

5. Legalisme Melanggar Hukum yang Terutama

Legalisme menggunakan ketaatan untuk “mendapatkan, memelihara, atau mengembangkan posisi kita di hadapan Allah.” Ketika kita melakukan ini kita melanggar apa yang disebut oleh Yesus sebagai “hukum yang terutama”: untuk MENGASIHI Tuhan Allahmu. Bukannya sungguh-sungguh mengasihi Allah, legalisme menjadi sebuah cara untuk berusaha memanipulasi Allah dan menempatkan Dia berutang kepada kita. Inilah sebabnya mengapa Anda tidak akan pernah menemukan sukacita dalam sebuah lingkungan yang legalistik. Penganut legalisme tidak memandang Allah dengan benar untuk mendapatkan sukacita yang berasal dari pengenalan yang sungguh akan Dia. Melainkan, legalisme menutup mata kita dari kebesaran Allah dan berusaha agar Allah melihat kepada kebesaran yang kita rasakan.

6. Legalisme Melanggar Hukum Terutama yang Kedua

Yang terakhir, Legalisme “menetapkan dirinya sendiri terhadap orang lain dan menilai orang lain” dengan standarnya yang tidak alkitabiah. Sehingga, legalisme bukan hanya mempengaruhi hal-hal pada level vertikal, tetapi juga mempengaruhi hal-hal pada level horizontal dengan melanggar hukum terutama yang kedua: “Kasihilah sesamamu.” Legalisme membuat kita mengira diri kita lebih baik dibandingkan sesama kita karena kita telah meraih ketinggian kekudusan yang hanya bisa mereka angankan. Dalam pemikiran yang demikian, bukannya merendah kepada sesama kita dan melayani mereka, kita berdiri di atas sesama kita dan menghakimi mereka karena tidak sama seperti kita. Inilah sebabnya mengapa Anda tidak akan pernah menemukan komunitas yang tulus di dalam sebuah lingkungan yang legalistik. Satu-satunya “komunitas” yang akan cocok adalah kelompok yang terdiri dari orang-orang yang juga memiliki kecenderungan legalistik yang sama.

“Demi kemerdekaan, Kristus telah membebaskan kita” (Galatia 5:1). Legalisme adalah musuh mematikan yang ingin menghentikan itu. Semakin kita mengetahuinya, semakin kita diperlengkapi untuk langsung membidiknya di tempat. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : The Reformed pub.
URL : http://reformedpub.com/legalism-a-lethal-enemy-of-gospel-freedom/
Judul asli artikel : Legalism: A Lethal Enemy of Gospel Freedom
Penulis artikel : Andrew Jacobson
Tanggal akses : 16 Agustus 2018

Komentar