Injil Kepada Semua Bangsa

Penulis_artikel: 
Tidak dicantumkan
Tanggal_artikel: 
26 Agustus 2016
Isi_artikel: 

Injil Kepada Semua Bangsa (Roma 10:14-17)

Saya ada beban. Beban itu adalah untuk meyakinkan gereja lokal kebutuhan membawa Injil kepada semua bangsa secara teratur. Tiga hal yang terlibat – untuk memastikan bahwa Injil diberitakan, untuk menjangkau semua bangsa, dan untuk berbicara dengan pendengar yang sama secara teratur selama itu mungkin. Mari kita pertimbangkan setiap satu mengikut gilirannya.

I. Memberitakan Injil dengan setia.

Perkara pertama adalah bahwa kita harus memberitakan Injil dengan setia. Apa gunanya memberitakan sesuatu yang bukan Injil ? Suatu Injil yang terputarbelit akan salah mengartikan Allah dan jalan keselamatan. Ia tidak akan menyelamatkan, sementara menyesatkan para pendengar untuk berpikir bahwa mereka adalah orang Kristen. Sekalipun terselamat, iman orang percaya itu akan sangat cacat. Banyak “operasi korektif” akan diperlukan kemudian untuk membawa orang percaya tersebut untuk menikmati penuh kehidupan Kristen. Jika tidak diperbaiki, dia mungkin menjadi masalah pastoral kepada gereja lokal. Dia bahkan mungkin menjadi bahaya bagi gereja pada umumnya dengan menyebarkan keyakinannya yang menyimpang itu. Rasul Paulus memperingatkan terhadap memberitakan Injil yang bukannya Injil (Galatia 1:8-9).

Apa Injil itu? Keadaan yang berbeda memberi peluang dan tantangan berbeda untuk penyanyampaian Injil . Injil dapat diuraikan seluas seluruh kitab Roma, atau dapat disajikan secara singkat seperti dalam 1 Timotius 1:15: ‘Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa.”Apakah diberitakan secara ekstensif atau singkat, isinya harus terdiri dari dua bahan dasar, yaitu pribadi Yesus Kristus sebagai Juruselamat, dan pekerjaan dilakukan dalam kematian-Nya. Paulus menyimpulkan Injil sebagai “Yesus Kristus dan Dia yang disalibkan” (1 Kor. 2:2). Tuhan yang dibangkitkan menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Kitab Suci PL berbicara tentang-Nya: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem (Lukas 24:46-47).”

Maka yang penting bukan berapa lama atau berapa pendek khotbah itu, tetapi isinya – apakah itu terdiri dari “Yesus Kristus dan Dia yang disalibkan”. Sekiranya disebarkan dengan benar, maka akan menjadi jelas bahwa keselamatan adalah “karena kasih karunia Allah, oleh iman di dalam Yesus Kristus saja”, dan bukan “karena perbuatan” (Efesus 2:8-9). Akan terlihat bahwa “manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat (Roma 3:28).” Sekiranya diberitakan dengan baik, Injil akan dipakaikan pada pendengar dengan bijaksana, sehingga mereka yakin akan kebutuhan untuk bertobat dari dosa dan beriman kepada Yesus Kristus. Mereka akan tergerak oleh kasih Allah yang ditunjukkan dalam memberikan Anak-Nya untuk menyelamatkan orang berdosa. Roh Kudus akan menggunakan Injil yang diberitakan untuk membawa keinsafan akan dosa, dan kebutuhan kebenaran Kristus untuk diterima oleh Allah.

Suatu kontroversi mengenai pemberitaan Injil dalam beberapa tahun terakhir adalah apakah perlu untuk memyampaikan berita Injil khas berbeda dengan uraian Alkitab berturut-turut. Ada orang yang berpendapat bahwa selama Alkitab diuraikan secara sistematis, Injil akan secara otomatis dapat ditemukan dalam eksposisi. Pendapat ini didasarkan pada firman Tuhan dalam Lukas 24:27, “Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi”, dan juga ayat 44, “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.”

Namun, ketika kita melihat dengan lebih teliti pada konteksnya, kita mendapati bahwa Tuhan sedang mengacu pada hal-hal tertentu tentang diri-Nya. Dia mengatakan dalam ayat 26, “Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaanNya?” Dan dalam ayat 46-47, seperti yang kita telah mencatat, Tuhan berkata, “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.” Jadi, apa yang kita temukan adalah Tuhan mengatakan bahwa semua Kitab Suci Perjanjian Lama berbicara tentang Dia dan kematian-Nya dan bahwa berita keselamatan akan dinyatakan kepada semua bangsa. Terdapat berita tertentu yang memfokuskan pada diri-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan pengampunan dosa dalam nama-Nya. Maka jelaslah bahwa berita Injil yang khas dapat ditemukan dalam seluruh Kitab Suci Perjanjian Lama. Kita harus memyampaikan berita Injil khas untuk memenangkan jiwa bagi Kristus.

Pemberitaan Injil berbeda dari menguraikan ayat-ayat Alkitab demi membangun orang percaya. Meskipun ada tumpang tindih antara proklamasi Injil dan pengajaran yang membangun orang percaya, perbedaan antara keduanya harus diperhatikan. Karena tujuan berbeda, penekanan akan berbeda, dan isi yang diajukan akan berbeda. Dalam Amanat Agung Matius 28:18-20, berkhotbah untuk “memuridkan semua bangsa” adalah berbeda dari mengajar murid-murid baru “melakukan segala sesuatu” yang diperintahkan Tuhan. Dalam Kisah Para Rasul 20, Paulus mengingatkan para penatua Efesus bahwa sewaktu ia di Efesus, ia berkhotbah supaya orang “bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus”, dan ia juga menyatakan kepada orang percaya “seluruh maksud Allah” (Kisah Para Rasul 20:21, 27). Dalam Efesus 4:11, kita diberitahu bahwa rasul, nabi, penginjil , dan gembala dan pengajar yang diberikan oleh Tuhan yang bangkit adalah “untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus …” Para petugas luar biasa yaitu rasul, nabi, dan penginjil telah ditarik dengan selesainya Alkitab. Para pendeta dan guru tertinggal untuk melakukan pekerjaan “memperlengkapi orang-orang kudus” dan “membangun tubuh Kristus”. Gereja tidak boleh lalai dalam pekerjaan membangun orang percaya. Begitu juga ia tidak boleh lalai untuk menjangkau orang belum percaya dengan Injil .

Masalah lain berhubungan dengan berita Injil menyangkut bagaimana ia dinafikan oleh tindakan yang timbul dari proklamasinya. Praktek mengadakan “panggilan altar” dalam penginjil an massal dipopulerkan oleh Charles Grandison Finney (1792-1875) pada abad ke-19 di Amerika. Dalam praktek itu, orang-orang yang ingin menjadi Kristen diminta menunjukkan keinginan itu dengan berjalan ke depan jemaat supaya didoakan, atau dipimpin dalam doa. Orang Pentakosta mengadaptasi praktek itu dengan mencakup doa untuk menerima Roh Kudus, yang ditandai dengan berbahasa roh, atau untuk penyembuhan penyakit. Praktek mengadakan panggilan altar telah diikuti oleh orang-orang seperti Billy Graham dan Benny Hinn. Di Asia, ia diadopsi oleh John Sung (1901-1944) dari China dan dipraktekkan oleh seorang pendeta yang mengakui dirinya Reformed di Indonesia, Stephen Tong. Kononnya panggilan altar itu didasarkan pada Roma 12:1, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Suatu petikan lain yang digunakan adalah Matius 11:28, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Petikan-petikan ini, bagaimanapun, tidak ada hubungannya dengan berjalan secara fisik. Yang dimaksudkan adalah “mari” dalam hati. Panggilannya adalah kepada orang percaya untuk konsekrasi kepada Kristus dan kepada orang belum percaya untuk percaya Kristus. Kita tidak menemukan Tuhan mempraktikan panggilan altar. Kita tidak menemukan rasul Petrus mempraktikan panggilan altar pada hari Pentakosta. Kita tidak menemukan rasul Paulus mempraktikan panggilan altar dalam pelayanannya. Panggilan altar adalah rekaan manusia yang bertentangan dengan doktrin “keselamatan karena kasih karunia oleh iman dalam Kristus”. Ianya memberi kesan yang salah kepada si pendengar bahwa tindakan mereka berjalan ke depan jemaat telah memberikan kontribusi kepada keselamatan mereka. Ini merupakan sejenis doktrin keselamatan “iman-tambah-perbuatan”. Panggilan altar berdasarkan pada doktrin Arminian dimana kehendak manusia adalah bebas dari perbudakan dosa. Fokusnya adalah pada jumlah keputusan yang dibuat dalam pertemuan. Hal ini telah menghasilkan banyak orang percaya yang palsu yang tidak ditemukan menghadiri gereja selanjutnya.

Keprihatinan kita adalah supaya Injil diberitakan dengan setia, di mana isinya harus berputar di sekitar dua perkara, yaitu bahwa Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat orang-orang berdosa, dan bahwa kematian-Nya di kayu salib saja yang menebuskan dosa. Para pendengar harus dipanggil untuk bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus. Injil adalah berita tertentu yang merupakan inti ajaran Alkitab. Kami tidak harus mengubah atau mengaburkannya.

II. Menjangkau segala bangsa.

Kita mempertimbangkan perkara kedua, yaitu bahwa kita harus menjangkau semua bangsa dengan Injil . Perlu ditekankan bahwa “semua bangsa” dalam Amanat Agung Matius 28:18-20 berarti “semua kelompok etnis”. Tuhan menunjukkan, dalam Lukas 24:47 bahwa “dalam namaNya pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.” Dimana “semua bangsa” dapat ditemukan? Pada waktu Tuhan Yesus, “semua bangsa”, yaitu bangsa-bangsa bukan Yahudi, ditemukan di Israel juga. Pada awalnya Injil diberitakan hanya kepada orang-orang Yahudi, meskipun segelintir orang bukan Yahudi diuntungkan dari ajaran Tuhan Yesus (Lukas 7:1-10; Yohanes 12:20-21). Sejak saat itu, biji gandum telah jatuh ke dalam tanah dan mati, dan sekarang menghasilkan banyak buah. Anak Manusia telah ditinggikan dari bumi untuk menarik semua orang kepadaNya (Yohanes 3:14-15; 12:24, 32). Dia ingin umat-Nya memuridkan semua bangsa.

“Semua bangsa” ditemukan bahkan di depan pintu rumah kita. Kita harus memahami bahwa migrasi massal penduduk adalah fenomena yang terjadi dari zaman lampau. Dengan meningkatnya globalisasi dan perbaikan transportasi, banyak individu dan keluarga sedang bergerak, karena pendidikan, pekerjaan, dan alasan lainnya. Orang-orang dari latar belakang etnis beragam ditemukan di mana-mana. Bahkan dalam apa yang tampaknya suatu situasi homogen, terdapat kelompok dialek dan kelas yang berbeda, yang merupakan “semua bangsa”. Bangsa-bangsa ini harus dijangkau dengan Injil . Kami tidak perlu menyeberang lautan sebelum menemui “semua bangsa”. Ini bukan untuk menyangkal kesahan misi asing, tapi untuk menekankan bahwa gereja lokal mempunyai banyak yang harus dilakukan di wilayah sendiri, selain terlibat dalam misi asing.

Kebebasan individu dan inisiatif pribadi dalam pekerjaan Injil harus dihargai, terutama jika orang yang terlibat terikat pada gereja lokal dan beroperasi di bawah pengawasan umumnya. Memang terdapat prinsip “sentralitas dan keunikan gereja lokal dalam rencana Allah”. Namun demikian, kebanyakan anggota gereja sibuk dengan pekerjaan dan keluarga sendiri dan mengharapkan gereja mengaturkan jalan pelayanan untuk mereka. Tuhan Yesus mengaturkan kerja menjangkau dengan mengutuskan murid-muridNya berdua-dua untuk berkhotbah. Mereka juga melakukan perjalanan bersama-sama dengan Tuhan Yesus untuk berkhotbah. Ada kemungkinan keduanya digabungkan – bepergian sebagai suatu kelompok, dan berpecah menjadi pasangan bila perlu, dalam perjalanan. Rasul Paulus menunjukkan bahwa hal ini dilakukan dalam perjalanan misinya (misalnya Kis. 17:15-16; 18:5;. 1 Korintus 16:10-11).

Bahasa tidak pernah menjadi penghalang dalam pekerjaan Injil . Selain waktu awal setelah Pentakosta, mukjizat karunia lidah tampaknya tidak berlanjutan. Paulus menggunakan lingua franka semasa, yaitu bahasa Yunani Koine, untuk berkomunikasi dengan orang-orang – seperti yang jelas dari surat-surat yang ditulisnya, yang menggunakan bahasa itu. Dia mungkin memerlukan penerjemah dalam beberapa situasi lokal, tapi itu tidak menghalangi dia dari berkhotbah. Alkitab harus diterjemahkan ke bahasa ibu setiap komunitas signifikan yang dijangkau, tapi itu adalah kerja para penerjemah Alkitab dan misionaris. Bangsa-bangsa di sekitar gereja lokal biasanya orang yang telah bermigrasi dari tempat lain dan telah beradaptasi dengan belajar bahasa dominan di tempat kediaman baru mereka. Gereja harus berusaha untuk menjangkau orang-orang ini menggunakan bahasa umum, sementara penerjemah bisa membantu dalam situasi di mana para migran belum menguasai bahasa umum.

Penjangkauan lokal termuat dalam kebenaran lebih luas bahwa “pertumbuhan gereja lokal harus berjalan seiring dengan penanaman gereja lebih jauh

”. Paulus berkata dalam 2 Korintus 10:15, “… apabila imanmu makin bertumbuh, kami akan mendapat penghormatan lebih besar lagi di antara kamu, jika dibandingkan gengan daerah kerja yang dipatok untuk kami.” Menurut konteksnya, Paulus sedang mengatakan bahwa jika orang Kristen di Korintus berhenti bertengkar di antara mereka sendiri dan tumbuh dalam kedewasaan rohani, Paulus dan rekan-rekannya akan mampu menyalurkan upaya menyelesaikan masalah mereka untuk pekerjaan misi yang lebih luas. Memang ada “simbiosis” antara penjangkauan lokal dan misi yang lebih luas. Dengan dihubungkan dengan gereja-gereja yang berpikiran sama di luar negeri, kita dapat terlibat dalam misi lebih luas dalam cara yang berarti. Namun, kerja lokal tidak boleh diabaikan. Jangkauan mingguan kepada bangsa-bangsa di sekitar kita harus diadakan. Anggota gereja akan merasa sangat senang untuk terlibat dalam penjangkauan teratur tersebut. Bagaimana bisa ini dilakukan?

III. Pergi ke pendengar yang sama secara teratur.

Ini membawa kita ke perkara ketiga, yaitu pentingnya pergi ke pendengar yang sama secara teratur. Mari kita mendirikan dasar alkitabiah praktek ini dahulu. Kita dapati tercatat dalam Markus 6:6, “Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.” Kata “keliling” (Yunani, kuklo) menyiratkan dua hal: pertama, perjalanan itu direncanakan dan, kedua, ini adalah perbuatan yang teratur. Selanjutnya, kita mempertimbangkan perjalanan misi rasul Paulus. Suatu keistimewaan yang menakjubkan adalah bahwa, pada setiap kali, ia kembali untuk mengunjungi gereja-gereja yang telah ditanam sebelumnya. Misalnya, kita membaca dalam Kisah Para Rasul 14:21, “Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid. Lalu kembalilah mereka ke Listra, Ikonium dan Antiokhia.”

Praktik Paulus adalah untuk berkhotbah kepada orang yang sama sampai mereka bertobat atau dia ditolak. Dia meregangkan dirinya untuk menjangkau lebih banyak orang, namun tidak sampai gagal untuk berkhotbah kepada orang yang sama secara teratur. Suatu contoh tercatat dalam Kisah Para Rasul 18:4-8:

Dan setiap hari Sabat, Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani. Ketika Silas dan Timotius datang dari Makedonia, Paulus dengan sepenuhnya dapat memberitakan firman, dimana ia memberi kesaksian kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesus adalah Mesias. Tetapi ketika orang-orang itu memusuhi dia dan menghujat, ia mengebaskan debu dari pakaiannya dan berkata kepada mereka: “Biarlah darahmu tertumpah ke atas kepalamu sendiri; aku bersih, tidak bersalah. Mulai dari sekarang aku akan pergi kepada bangsa-bangsa lain.” Maka keluarlah ia dari situ, lalu datang ke rumah seorang bernama Titius Yustus, yang beribadah kepada Allah, dan yang rumahnya berdampingan dengan rumah ibadat. Tetapi Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya kepada Tuhan bersama-sama dengan seisi rumahnya, dan banyak dari orang-orang Korintus, yang mendengarkan pemberitaan Paulus, menjadi percaya dan memberi diri mereka dibaptis.

Perhatikan bahwa dalam ayat 4, kita diberitahu, “setiap hari Sabat, Paulus berbicara dalam rumah ibadat …” Dalam ayat 7, begitu juga ia berkhotbah di rumah Yustus sampai ada banyak orang percaya. Kita diberitahu dalam ayat 11, “Maka tinggallah Paulus di situ selama satu tahun enam bulan dan ia mengajar firman Allah di tengah-tengah mereka.” Prinsip yang harus dipahami adalah bahwa kita harus memberitakan kepada orang-orang yang sama sampai mereka diubah atau kita tidak diinginkan. Bukankah Amanat Agung dalam Matius 28 menyuruh kita supaya “memuridkan semua bangsa”, yang berarti bahwa kita tidak hanya memberitakan Injil sepintas ke sebanyak orang mungkin tanpa melihat siapa pun diubah. Jikalau tidak diinginkan oleh pendengar, kita beralih untuk memberitakan Injil kepada orang lain (Mat. 10:14, Kisah Para Rasul 13:46, 18:6). Ada begitu banyak orang lain untuk dikenali, dikunjungi, dan diberitakan secara teratur.

Kami belum selesai dengan dasar alkitabiah praktek seperti itu. Rasul Paulus berkata dalam Kisah Para Rasul 20:20 bahwa ia mengajarkan “di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu”. Tuhan Yesus begitu juga mengajar di muka umum dan dari rumah ke rumah. Banyak orang mendengar-Nya secara umum, dan Dia membawa murid-muridNya untuk berkhotbah dari rumah ke rumah dalam sebuah rangkaian. Kita membaca dalam Matius 10:12-14, “Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya salammu itu turun keatasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Dan apabila seorang tidak menerima kamu, keluarlah dan tinggalkan rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu.” Jelaslah, Tuhan Yesus dan para murid-Nya tidak mungkin mengunjungi setiap satu rumah. Mereka harus telah mengunjungi rumah-rumah tertentu yang diketahui mereka, direkomenkan kepada mereka, atau yang mereka sengaja mengenali.

Kita telah melihat bahwa Paulus berkhotbah secara umum dan dari rumah ke rumah. Ia memberitakan Injil untuk memenangkan jiwa bagi Kristus, dan ia mengajar orang-orang percaya dengan tujuan membangun iman mereka. Pada masa sekarang, pengajaran umum akan dilakukan di gereja, dimana teman-teman dan sanak yang belum percaya diundang. Kita mungkin berkhotbah di lapangan terbuka atau di stadion, tetapi biaya dan logistik yang diperlukan akan menyebabkan pertemuan seperti itu sangat jarang. Perbuatan yang bijaksana adalah supaya memberitakan pada setiap minggu kepada kumpulan yang lebih kecil dalam gereja. Oleh karena ada dua kebutuhan yaitu memberitakan Injil kepada orang sesat serta mengajar orang percaya untuk membangun iman mereka, adalah lebih tepat diadakan dua kebaktian utama pada hari Tuhan. Salah satu kebaktian dikhususkan untuk mengajar orang-orang percaya, sementara yang lain dikhususkan untuk memenangkan jiwa. Anggota-anggota gereja akan menghadiri kedua-dua kebaktian untuk beribadah, terlepas dari tujuan pengkhotbahan. Sehubungan dengan memenuhi dua kebutuhan itu, terdapat juga keperluan untuk menguduskan hari Tuhan. Perhatikan bahwa yang dikuduskan adalah harinya, yang berarti bahwa adalah tepat untuk memulainya dengan ibadah dan mengakhirinya dengan ibadah juga. Hal ini setuju dengan ajaran dalam Perjanjian Lama tentang bagaimana sesuatu hari dikuduskan, yaitu bahwa ada pengorbanan waktu pagi dan pengorbanan waktu senja (Bilangan 28:1-10). Selain itu, hari Tuhan akan diisi dengan serangkaian kegiatan yang berbeda dari kerja yang dilakukan pada hari-hari lain (Kel. 31:12-17;. Yer 17:19-27). Golongan Puritan mengajarkan ini dan mengadakan dua kebaktian ibadah utama pada hari Tuhan. Praktik ini masih diteruskan oleh gereja-gereja yang sejarah mereka merentang ke zaman Puritan. Gereja yang didirikan pada hari terakhir cenderung mengadakan hanya satu kebaktian pada hari Tuhan.

Kita telah menyimpang sedikit untuk membahas tentang pertemuan yang diadakan di kawasan gereja. Injil harus diberitakan di gereja pada setiap minggu, dimana orang belum percaya diundang. Selain itu, ada anak-anak orang percaya yang perlu mendengar Injil juga. Sungguhpun pemberitaan Injil dilakukan di banyak gereja sekarang, tampaknya ada ketidakpahaman bahwa perkara ini harus dilakukan di rumah-rumah secara teratur. Apa yang kita maksudkan adalah pertemuan penginjil an di rumah kontak kita, bukannya rumah anggota gereja kita. Bukankah pengubahan dan baptisan banyak keluarga di bawah pelayanan Paulus itu sesuatu yang bearti? Terdapat keluarga Lydia, keluarga kepala penjara Filipi, keluarga Krispus, dan keluarga Stefanus (Kis. 16:11 db.; 16:25 db.; 18:8; 1 Kor. 1:16 bd. (Kis. 16:1). Timotius juga berubah dalam keluarga di mana ibu dan neneknya adalah orang percaya (2 Tim. 1:5 bd. (Kis. 16:1). Kita tahu ini bukan kasus di mana suatu orang percaya bagi pihak yang lain di dalam keluarga. Ini juga tahu ini bukan kasus baptisan bayi karena orang-orang yang dibaptis itu semuanya telah percaya. Ini adalah kasus keluarga-keluarga diInjil i sampailah mereka percaya. Bagi banyak gereja pada masa sekarang, penjangkauan kepada masyarakat dilakukan secara sporadis, jika ada dilakukan, dan ini pun secara sepintas dan tidak secara teratur. Pengedaran traktat merupakan kegiatan terpuji, dan begitu juga khotbah terbuka di sekitar gereja. Tapi di mana praktek alkitabiah mengadakan pedalaman Alkitab penginjil an di rumah secara teratur? Apabila ditantang berkenaan dengan hal ini, alasan yang umum diberikan adalah bahwa zaman telah berubah, dan budaya lokal tidak mengizinkan praktek ini. Atau pun didakwa bahwa gereja itu memiliki pelayanan khusus untuk sekelompok orang tertentu. Bukankah semua ini alasan belaka? Apakah kita masih belum yakin akan praktek Alkitabiah ini? Harapan saya adalah bahwa banyak dari kita di sini teryakin akan ajaran alkitabiah untuk memberitakan Injil kepada orang-orang yang sama secara teratur, sampai mereka percaya atau kita ditolak.

Pertanyaan praktis yang muncul adalah bagaimana hal ini dapat dilakukan. Biasanya, pendeta, dan mungkin beberapa saudara berbakat dalam gereja, memulai pertemuan tersebut. Sebuah tim terdiri dari dua sampai lima orang, termasuk pria dan wanita, kemudian mengunjungi keluarga itu secara teratur, di mana pemimpin tim akan mengajar. Anggota lain dalam tim memberikan dukungan moral kepada sang pendeta, dan memberikan keselamatan dalam jumlah. Dengan waktu, beberapa dari mereka akan berkembang menjadi pemimpin tim. Adalah baik jika rumah yang sama dikunjungi setiap minggu dan, jika tidak setiap minggu, setiap dua minggu. Pedalaman Alkitab singkat selama sepuluh menit diadakan, di mana berita “Yesus Kristus dan Dia yang disalibkan” ditarik keluar dan diterapkan. Ya, sepuluh menit sudah cukup! Praktek kami adalah dimana sang pendeta membuat ringkasan dari khotbah kebaktian pagi untuk tim yang berkumpul, berfokus pada ayat-ayat kunci saja. Dia menunjukkan bagaimana khotbah – sekalipun yang bertujuan membangun orang percaya – dapat disesuaikan untuk menunjuk ke “Yesus Kristus dan Dia yang disalibkan”. Setelah pendeta menyerahkan tim-tim kepada Allah dalam doa, mereka keluar untuk masing-masing mengunjungi sampai lima rumah. Tim-tim kembali ke gereja untuk ibadah malam pada waktu yang berbeda, tergantung pada berapa banyak rumah yang penghuninya ada pada hari itu. Hal yang sama dapat dilakukan pada hari lain, dan tidak hanya pada hari Tuhan. Khotbah dari kebaktian malam dapat digunakan kali ini. Dengan cara ini, pemimpin tim terhindar dari kesulitan mempersiapkan pelajaran sendiri.

Kesimpulan

Mari kita menyimpulkan. Saya ada beban. Beban itu adalah untuk melihat kedua-dua khotbah untuk membangun iman orang percaya, dan untuk memenangkan jiwa bagi Kristus, dipulihkan di gereja-gereja. Beban itu adalah untuk melihat kedua-dua memberitakan Injil kepada orang di dalam gereja, dan di rumah-rumah pribadi, dipulihkan. Beban itu adalah untuk melihat Injil “Yesus Kristus dan Dia yang disalibkan” diproklamirkan secara setia, dari setiap bagian Alkitab. Beban itu adalah untuk melihat semua bangsa dijangkau oleh setiap gereja lokal yang setia kepada ajaran Alkitab.

Bukan kita yang harus menilai keberkesanan kerja Injil orang Kristen lain. Namun, jika iman timbul dari pendengaran Injil yang diberitakan, adalah tidak mungkin terdapat Iman yang benar pada mereka yang menyambut Injil palsu. Jika itu sudah terjadi, alangkah tersia-sia waktu, tenaga dan kesempatan dalam pemberitaan orang-orang Kristen itu! Dan berapa banyak orang yang telah disesatkan untuk berpikir bahwa mereka diselamatkan padahal mereka belum benar-benar diperbarui! Kita yang lebih tahu tidak harus cuai untuk menjangkau orang-orang belum percaya dengan Injil . Adalah bukan urusan kita untuk menghakimi orang lain. Urusan kita adalah supaya sibuk dalam pekerjaan Tuhan.

Kita berterima kasih atas pemulihan pemberitaan Injil secara umum di banyak gereja. Tapi di mana pemberitaan Injil teratur dari rumah ke rumah? Satu gereja dapat mencapai hanya begitu banyak. Sepuluh gereja yang melakukan hal yang sama akan melipatgandakan efeknya sepuluh kali lipat. Seratus gereja akan kalikan efeknya seratus kali lipat. Pertimbangkan efeknya upaya seratus gereja sepanjang tahun – bukankah itu berarti? Pertimbangkan sebaliknya seratus gereja yang tidak melakukan hal itu – bukankah itu sayang sekali? Dan sayang sekali sudah, karena ini belum dilakukan secara ekstensif! Ingatlah bahwa kita tidak berbicara tentang jumlah orang yang percaya, tetapi efek dari pemberitaan Injil yang mungkin, atau mungkin tidak, termasuk orang yang percaya. Sekalipun kita ingin memenangkan banyak jiwa bagi Kristus, adalah Allah yang memberi pertumbuhan.

Kita hanya bisa merayu kepada Allah untuk menggerakkan umat-Nya supaya menangkap visi melaksanakan Amanat Agung dengan kepenuhannya, dan dengan seluruh hati. Ya Tuhan, kasihanilah kami, umat-Mu!

Sumber Artikel: 

Komentar