Hamba Tuhan dan Khotbah

Editorial: 

Dear e-Reformed Netters,

Salah satu sumbangsih Teologia Reformed yang memberikan pengaruh besar bagi gereja-gereja (termasuk yang bukan gereja Reformed) adalah penekanannya yang sangat kuat dalam "pelayanan Firman". Dengan membaca artikel yang saya ambil dari buku Rev. Yap Un Han, Th.M. ini, mudah-mudahan kita dapat diingatkan kembali akan urgensi dan keseriusan tugas "berkotbah".

Selamat merenungkan,
Yulia

Edisi: 
014/III/2001
Isi: 

Tugas apakah yang terpenting bagi seorang hamba Tuhan? Berdasarkan pengalaman penulis selama 56 tahun, penulis mengambil kesimpulan bahwa tugas yang terpenting dari seorang hamba Tuhan adalah menyampaikan Firman (berkotbah). Jika seorang hamba Tuhan tidak menyampaikan Firman, maka ia ibarat seekor kucing yang tidak mau menangkap tikus, seekor anjing yang tidak mau menjaga pintu, sehingga ia kehilangan fungsi dan tugasnya yang terpenting.

Dari pengamatan penulis selama puluhan tahun, penulis menemukan banyak sekali hamba Tuhan yang hanya berkhotbah satu kali sebulan dalam Kebaktian Hari Minggu di gerejanya dan jika sudah ditahbiskan menjadi pendeta, maka akan ditambah dengan khotbah pendek sebelum Perjamuan Kudus. Selebihnya selama tiga minggu gereja mengundang para dosen teologia, pimpinan organisasi rohani, pendeta yang sudah pensiun atau tamu yang kebetulan lewat untuk mengisi mimbar gereja. Gereja-gereja yang demikian ini, secara umum pasti tidak mempunyai program tema khotbah dan karena pengkhotbahnya terlalu sibuk maka ia selalu menyampaikan khotbah yang sudah pernah disampaikan sehingga penyampaiannya tidak lagi sesuai kebutuhan dan akibatnya anggota jemaat tentu tidak memperoleh apa-apa dari khotbahnya.

Memang diakui bahwa menyiapkan naskah khotbah tidak mudah. Apalagi naskah khotbah yang bisa mencukupi kebutuhan anggota jemaat, ini akan jauh lebih sulit. Penulis ingin membagikan pengalaman masa lalu yang cukup pahit. Pada waktu itu penulis memegang jabatan rangkap, disamping menjadi pendeta gereja juga menjadi dosen di sekolah teologia. Tugas "berkhotbah" penulis rasakan sebagai suatu beban yang berat. Jika Minggu itu kebetulan ada pendeta lain yang sedang lewat dan dapat diundang untuk berkhotbah, maka penulis merasa seperti baru saja terlepas dari pikulan yang berat dan sepanjang minggu itu, khususnya malam minggu, hati merasa ringan dan enak sekali.

Seorang hamba Tuhan yang dipanggil untuk menggembalakan, ia sebenarnya bukan saja bertanggung-jawab terhadap Tuhan dan bertanggung-jawab kepada gereja yang digembalakan tetapi ia juga bertanggung-jawab kepada ribuan jiwa yang belum diselamatkan. Menurut hemat penulis, tugas penting seorang hamba Tuhan dalam menggembalakan sidang adalah "menyampaikan Firman" (berkhotbah).

Hamba Tuhan yang menjadi gembala lebih mengetahui kebutuhan dari anggota jemaat dari pada pendeta tamu. Rasul Paulus menganggap hubungannya dengan anggota jemaat adalah seperti hubungan seorang ibu dengan anaknya. Ia pernah berkata kepada anggota jemaat di Tesalonika, "Tapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya" (1 Tes. 2:7). Tugas seorang ibu adalah menyusui bayi, dan ia tidak akan mengizinkan ibu lain untuk menggantikan tugasnya. Demikian juga, seorang hamba Tuhan yang bertanggung-jawab, ia akan menganggap bahwa "berkhotbah" adalah tugas yang mendesak, sehingga ia tidak akan dengan mudah dan sembarangan menyerahkan tugas mimbar kepada orang lain. Ia akan secara sistematis, berdasarkan kebenaran Alkitab dan sesuai dengan kebutuhan gereja dan masyarakat, mengajar dan membina para anggota jemaatnya.

URGENSI KHOTBAH

Mantan pendeta yang telah melayani selama 30 tahun di Westminster Chapel, Inggris, Dr. Martyn Lloyd-Jones, dalam bukunya yang berjudul "I Believe in Preaching" mengatakan, "Menurut hematku, 'berkhotah' adalah jabatan yang paling agung dan mulia dari semua jabatan yang ada. Jika anda mau lebih mengetahui hal ini, maka aku tanpa ragu-ragu mengatakan bahwa kebutuhan yang mendesak dari gereja-gereja Kristen adalah khotbah yang benar dan sejati." Lebih lanjut ia mengatakan, "Pekerjaan 'penyampaian Firman' tidak dapat dibandingkan dengan pekerjaan apapun yang lain. Berkhotbah adalah pekerjaan yang terbesar, yang patut digandrungi, yang patut dipuji, yang patut dikerjakan dan pekerjaan yang paling ajaib." Apakah pernyataan Dr. Lloyd-Jones ini berlebihan? Jawaban penulis adalah, "Tidak!".

Dalam bukunya yang berjudul "History of Preaching, E. C. Dargon mengatakan, "Berkhotbah adalah unsur dan ciri penting dari agama Kristen." Lebih lanjut ia mengatakan bahwa "Khotbah" adalah ciptaan dari agama Kristen. Mengapa demikian? Ia mengatakan, "Karena Pendiri Agama Kristen adalah seorang 'Pengkhotbah'. Baik pendahuluNya, yaitu Yohanes Pembaptis maupun penerusNya, yaitu para rasul, semuanya adalah pengkhotbah yang menyampaikan Firman Allah. Sebab itu, khotbah yang mengajar dan memproklamasikan Firman Tuhan, merupakan karakteristik dasar yang tidak berubah dari agama Kristen."

Injil Matius 9:35, "Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan."

Dengan berdirinya gereja hasil Pentakosta, para rasul disibukkan dengan urusan sosial, akhirnya mereka meminta pada anggota jemaat, agar mereka dilepaskan dari tugas sosial, sehingga dapat mengkonsentrasikan diri pada doa dan khotbah (Kis. 6:4).

Setelah itu, rasul Paulus yang dikenal sebagai rasulnya orang kafir, juga berpendapat bahwa tugas "berkhotbah" itu sangat penting. Ia mengatakan bahwa Kristus mengutusnya bukan untuk membaptis, melainkan untuk mengabarkan Injil. Ia menekankan bahwa "berkotbah" adalah model yang ditentukan Tuhan agar orang berdosa mendengar berita Injil dan dapat diselamatkan. Paulus dengan nada tanya, berkata, "Bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya." (Rom. 10:14). Ia bersaksi di dalam 2 Timotius 4:6, "Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat." Waktu menjelang ajalnya, ia merasa perlu menyampaikan pesan terakhirnya kepada Timotius. Apakah pesan terakhirnya itu? Tidak lain, yaitu: "Beritakanlah Firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya...." (2 Tim. 4:2)

Mari kita membaca sejarah dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh orang yang dipakai Tuhan tentang urgensinya "khotbah".

Reformator Martin Luther mengatakan, "Keberadaan dan hidup gereja adalah bersandarkan pada 'Firman' yang penuh berisi perjanjian Tuhan dan karena "Firman' inilah gereja didirikan, dibina dan bertahan. Lebih lanjut ia mengatakan, "Jiwa roh manusia, boleh tidak diisi oleh apapun, tapi tidak bisa jika tidak diisi oleh 'Firman Tuhan'.... dengan adanya 'Firman Tuhan' ia menjadi kaya dan tidak kekurangan apapun". Luther berpendapat bahwa "penyampaian Firman" tidak dapat ditawar-tawar, karena dengan menyampaikan tentang Kristus, berarti memberi makan pada jiwa roh manusia.

Yohanes Kalvin juga sangat menitik-beratkan Firman Tuhan. Ia menekankan bahwa ciri gereja yang sejati adalah kesetiaannya dalam menyampaikan Firman Tuhan. Ia mengatakan, "Di mana saja, asal Firman Tuhan dijaga kemurniannya, lalu dikabarkan, diterima dan Perjamuan Kudus dilaksanakan sesuai dengan yang diadakan oleh Tuhan, maka di sana pasti gereja Tuhan itu eksis."

Pendiri gereja Methodis, John Wesley dalam buku hariannya menulis, "Aku dilahirkan adalah untuk menyampaikan Firman Tuhan." Pada usia yang ke 86, ia pernah berkunjung ke Irlandia memimpin Kebaktian Kebangunan Rohani. Ia menggunakan waktu selama sembilan minggu, mengunjungi 60 kota dan desa dan berkotbah sebanyak seratus kali dan enam kali berkotbah di lapangan terbuka.

Meskipun kita tidak menyetujui pandangan teologia Karl Barth, tapi kesaksiannya tentang penyampaian Firman Tuhan perlu kita dengar. Ia mengatakan, "Semua orang mengakui bahwa tidak ada satu pekerjaan yang lebih bernilai, lebih mendesak, lebih berguna, lebih bisa menyelamatkan, lebih berfaedah dari pada menyampaikan dan mendengarkan Firman Tuhan. Dari sudut langit dan bumi kita boleh melihat, tidak ada perkara yang situasinya lebih praktis dari pada menyampaikan dan mendengarkan Firman Tuhan."

Deitrich Benhoeffer meskipun pandangan teologianya dipermasalahkan, tapi mempunyai pandangan yang baik tentang penyampaian Firman Tuhan. Ia mengatakan "Keberadaan semua bahasa di dunia, dipakai untuk menyampaikan Firman Tuhan. Dengan berkotbah telah diletakkan dasar dunia baru. Melalui khotbah orang mendengarkan Firman Tuhan ....., setiap hamba Tuhan harus berkeyakinan bahwa Kristus akan masuk ke dalam setiap hati manusia melalui khotbah yang berlandaskan pada Alkitab."

KESUAMAN GEREJA DAN KHOTBAH

Mungkin banyak orang tidak menyetujui sebutan "kesuaman gereja" untuk mengungkapkan keadaan gereja masa kini. Memang benar, secara lahiriah, keadaan gereja sekarang menunjukkan kemajuan. Gereja-gereja di Amerika ramai dikunjungi orang dan gejala seperti ini belum pernah terlihat pada waktu-waktu sebelumnya. Dari segi kepadatan penduduk, Jamaika yang berada di Amerika Latin Tengah adalah negara yang paling banyak gedung gerejanya di seluruh dunia. Filipina adalah negara Katolik satu-satunya di Asia yang boleh dikatakan di setiap rumah ada tanda salib dan gereja setiap minggu dipenuhi dengan orang yang berbakti.

Tetapi jika diamati dengan seksama keadaan masyarakat Amerika, maka jelas terlihat kejahatan, kerawanan di bidang keamanan, kemerosotan moral dan kehancuran rumah tangga yang menjamur, menunjukkan ketimpangan yang menyolok dengan keadaaan pertumbuhan gereja. Kejahatan yang terjadi di Jamaika merupakan suatu pelecehan terhadap banyak gedung gereja di sana. Demikian pula dengan keadaaan yang terjadi di Filipina.

Pada abad ke-20 gereja dan jemaat di berbagai daerah Afrika dikabarkan makin bertambah dan berkembang secara pesat. Tetapi Afrika, yang pada abad ke 18 dikenal sebagai "tempat pemakaman para misionaris" yang gelap ini, sampai saat ini tetap dinaungi oleh suasana kegelapan, bahkan makin hari makin kelam. Banyak terjadi pembantaian etnis, sistem politik yang bobrok, perekonomian yang memprihatinkan, kemiskinan yang meluas, ditambah lagi dengan bencana alam dan sebagainya, sehingga nyawa penduduk tidak terjamin. Peristiwa yang terjadi di Afrika, menimbulkan suatu tanda tanya besar, berapa besarkah sebenarnya pengaruh pertambahan gereja dan Injil bagi suasana yang "gelap" di Afrika ini?

Penulis sudah melayani selama 56 tahun, sebagian besar hidup penulis hanya mengerjakan satu hal, yaitu mengabarkan tentang Yesus Kristus. Melalui pengalaman dan penyelidikan selama 56 tahun ini, secara jujur dalam lubuk hati selalu timbul satu pertanyaan: pada abad yang menggalakkan gerakan misi ini, seberapa besarkah pengaruh yang telah diberikan oleh agama Kristen terhadap dunia ini? Kita sering melagukan bahwa agama Kristen adalah satu-satunya yang menyediakan keselamatan yang sejati, tapi sebenarnya berapakah diantara mereka yang ada di dunia ini sudah mendengar tentang berita keselamatan?

Sepertinya unsur yang ditekankan oleh "Ilmu Pertumbuhan Gereja", adalah "pertumbuhan" dari segi kwantitas di dalam gereja saja. Pimpinan gereja sering bergembira dan puas dengan bertambahnya anggota tetapi terhadap permintaan Tuhan Yesus agar anggota jemaat menjadi "garam dunia" dan gereja menjadi "terang dunia", masih jauh dari kenyataan.

Tidak dapat disangkal bahwa gereja masa kini termasuk gereja yang disebut Tuhan sebagai "Gereja Laodikia", yaitu gereja yang suam-suam. Memang tidak salah jika gereja masa kini disebut 'tidak dingin', karena seruan untuk mengerjakan pelayanan misi keluar begitu nyaring, tetapi didalamnya tidak ada kehangatan dan kegairahan. Tata ibadah dipersiapkan sedemikian baik, sehingga para pengunjung kebaktian merasa keenakan; khotbah yang disampaikan dengan sebutan yang terbaik itu, sering menjadi "irama yang membuaikan". Tetapi Tuhan mengatakan, "Aku tahu segala pekerjaanmu; engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas, jadi karena kamu suam-suam kuku.... Aku akan memuntahkan engkau dari mulutKu." (Wahyu 3:15-16).

Tuhan menghendaki gereja menjadi "panas" dan cobalah kita bertanya pada diri sendiri, "Apakah jiwa pelayanan kita "panas" (bergairah)? Apakah pelayanan mimbar kita "panas"? apakah kehidupan doa kita, juga "panas"? Apakah kita yang sering meninggikan "rasio", mencela "emosi" dan "gerakan" ini bersikap "suam-suam kuku" dalam memimpin jemaat, sehingga akhirnya menjadi orang dan gereja yang "dimuntahkan" Tuhan?

Menurut pendapat penulis, jika gereja mau memperoleh "kebangunan", tidak ada jalan lain kecuali kembali ke hadirat Tuhan yang menunggu "kebangunan" itu. Mencari kehendakNya, mentaati pimpinan Roh Kudus agar Tuhan memakai alat yang membangunkan gereja selama dua ribu tahun ini, yaitu: Khotbah!

Tuhan Yesus di dalam Matius 24:45 mengatakan, "Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makan pada waktunya?" Siapakah yang dimaksud hamba yang setia dan bijaksana itu? Mereka adalah hamba-hamba yang memberi makan orang-orang pada waktunya! Untuk memberi "pada waktunya", dibutuhkan "kesetiaan" sedangkan untuk memberi "makan", dibutuhkan "kebijaksanaan". Jika dipakai istilah masa kini, maka yang dimaksudkan memberi "makan" adalah "menyampaikan khotbah".

Dr. W. Sangster dalam bukunya yang berjudul "Skill Berkhotbah" tidak mempunyai kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan keagungan pekerjaan dari hamba Tuhan ini. Ia hanya menulis demikian, "Hamba Tuhan yang dipanggil, adalah orang yang diutus untuk mengajarkan kebenaran; adalah utusan dari Maha Raja adalah saksi dari Injil yang kekal! Adakah pekerjaan yang lebih mulia dari pekerjaan ini? Allah Bapa mengutus PutraNya adalah untuk mengerjakan pekerjan yang tidak ada bandingnya ini." Pada akhir dari bukunya, ia mengungkapkan kesannya dengan mengatakan, "Mengabarkan kabar baik tentang Yesus Kristus, adalah persembahan aktivitas yang tertinggi yang bisa dilakukan seseorang. Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang sangat dirindukan para malaekat, bahkan penghulu malaekat akan rela meninggalkan kedudukan tinggi di sorga, asal bisa mendapatkan pekerjaan ini."

Profesor Homiletik terkenal di Amerika, Dr. Andrew Blackwood mengatakan, "Profesi sebagai pengkhotbah, seyogyanya ditempatkan dijajaran yang tertinggi dari semua profesi yang ada." Berdasarkan penelitian pendeta terkenal asal Inggris, Dr. John Stott, ditemukan bahwa sejak tahun 60-an, secara umum kesan orang terhadap "khotbah" semakin hari semakin merendah. Menurut pendapatnya "kemerosotan" penilaian terhadap khotbah adalah suatu tanda dari kemerosotan gereja."

Pentingnya pengajaran "khotbah" yang dulu sering diabaikan oleh pihak Katolik, sekarang sudah mendapat tempat yang penting. Teolog Karl Rahner berpandangan bahwa hal yang urgen dan yang perlu diselesaikan sekarang adalah "kesulitan dalam berkhotbah". Masalah yang sangat berat yang sedang dihadapi gereja masa kini adalah ketidak serasian keyakinan Kristen dengan dunia nyata, ia mengatakan, "Banyak orang meninggalkan gereja, karena apa yang disampaikan melalui mimbar tidak berarti bagi mereka, tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan mereka. Banyak masalah dan tekanan yang dialami dalam kehidupan tetapi tidak dibicarakan dalam pelayanan mimbar; .... hal ini membawa problem yang semakin besar dalam "khotbah".

Uskup Agung gereja Anglikan di Inggris, Donald Logen berusaha menggalakkan pembaharuan dalam hal berkhotbah. Ia mengatakan, "Allah mengerjakan satu hal yang mengherankan, yaitu: yang berdiri di antara Allah Sang Pengampun dengan manusia yang berdosa adalah "pengkhotbah"; yang berdiri di antara Allah sebagai Pemberi dengan manusia sebagai penerima adalah "Pengkhotbah; yang berdiri di antara Allah sebagai Kebenaran dan manusia sebagai pencari Kebenaran adalah "pengkhotbah". Sebab itu fungsi dari pengkhotbah adalah pekerjaan "menyatukan" antara dosa manusia dengan pengampunan Allah, antara kebutuhan manusia dan kemahakuasaan Allah, antara yang didambakan manusia dengan wahyu dari Allah.

PEMBAHARUAN KHOTBAH

Kunci kebangunan gereja yang sebenarnya terletak pada kebangunan hamba Tuhan itu sendiri, dan salah satu tanda kebangunan hamba Tuhan tersebut adalah kesungguhannya, kehangatannnya dan kerajinan sikapnya dalam menyampaikan Firman Tuhan. Yang dimaksudkan dengan "kesungguhan" adalah sikapnya terhadap Tuhan; "kehangatan" adalah sikapnya terhadap orang yang mendengarkan khotbahnya; "kerajinan" adalah sikapnya dalam menyiapkan diri dalam khotbah.

KESUNGGUHAN - SIKAP TERHADAP TUHAN

Hamba Tuhan adalah orang yang berdiri antara Allah dan manusia, sebab itu seyogyanya ia menunjukkan kesungguhan sikap di hadapan Allah. Jika ia mengetahui bahwa dirinya adalah juru bicara Allah dan bertanggung- jawab terhadap Allah, maka ia tidak akan berani bersikap melecehkan tugas khotbah yang sangat kudus itu. Ia tentu saja juga tidak akan berani menganggap "berkhotbah" sebagai satu "pekerjaan", sehingga dirinya disebut "tukang khotbah" ... melainkan dengan sikap gentar dan takut ia akan berkata kepada Tuhan, "Tuhan, mohon rahmatMu untuk memakai dan memimpin saya, agar sebelum menyampaikan khotbah di depan orang banyak, saya tahu bahwa terlebih dahulu saya akan berkhotbah bagi diri sendiri. Dan saya lebih dulu akan memberi contoh dengan melaksanakan kebenaran tersebut; biarlah keberadaan saya di depan orang, bukan hanya menjadi "terompet" dari kebenaran itu, melainkan menjadi fakta kebenaran itu sendiri.

Pendeta Amerika yang terkenal di abad ke 19, Dr. Philips Brooks mengatakan, "Pengkhotbah adalah orang yang menyampaikan kebenaran kepada khalayak ramai. Di dalamnya terdapat dua unsur, yaitu: kebenaran dan karakter...... Pengkhotbah melalui karakternya menunjukkan kebenaran.... Kebenaran itu sendiri adalah unsur yang tidak berubah, tetapi karakter adalah unsur yang berubah dan bertumbuh."

Colin Morris mengatakan, "Berita yang mengandung kuasa, bukan disampaikan melalui mimbar, melainkan melalui salib. Khotbah yang berhasil, bukan hanya "didengar" tapi juga "dilihat". Jika hanya mengandalkan "kefasihan lidah", "skill berkhotbah", "pengetahuan Alkitab" hal itu belumlah cukup, karena masih perlu ditambah dengan kesedihan yang sangat, penderitaan, pergumulan, keringat, darah, sehingga bisa mengekspresikan kebenaran yang disampaikan. Hanya dengan demikianlah baru kita bisa menaklukkan hati para pendengar.

KEHANGATAN - SIKAP TERHADAP PARA PENDENGAR

Abad ini dikenal dengan abad yang menitik-beratkan pada "rasio". Banyak sekali cendekiawan dan pendeta besar berpendapat bahwa kita hanya bisa menggunakan "rasio" untuk menaklukkan hati para pendengar dan bukan dengan "emosi". Ada seorang pendeta yang bertemu dengan seorang aktor dan bertanya, bagaimana bisa memainkan peran yang begitu mengesankan dan menarik? Dimana letak rahasianya? Dan pendeta itu juga mengemukakan bahwa dalam menyampaikan khotbah, ia tidak mempunyai kekuatan seperti itu. Dengan tertawa aktor itu menjawabnya, "Peran yang kami tampilkan bisa sedemikian menarik karena cerita fiktif itu telah kami mainkan dengan sungguh-sungguh, sehingga cerita itu seperti sungguh-sungguh terjadi. Tetapi tidak demikian dengan kalian yang menyampaikan kebenaran yang sejati, anda menampilkannya dengan sembrono, sehingga orang menerimanya seperti berita yang hanya bohong-bohongan saja.

Siapa yang mengatakan bahwa dalam berkhotbah tidak diperlukan "emosi"? Tuhan Yesus menangis untuk penduduk Yerusalem yang tidak mau bertobat (Luk. 19:4). Paulus sangat marah terhadap orang Atena yang menyembah kepada berhala; demi Allah yang benar, hatinya menjadi panas (Kis. 17:16). Ia sangat peduli terhadap kemuliaan Allah, sebab itu ia memberitahukan orang di Filipi, "karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus." (Flp. 3:18). Paulus juga memberitahukan para penatua di Efesus, "Sebab itu, berjaga-jagalah dan ingatlah bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam dengan tiada berhenti-hentinya menasehati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata." (Kis. 20:31).

Jangan mengira mempunyai perasaan demikian (mengucurkan air mata), hanya berlaku pada masa Perjanjian Baru saja, karena kita juga harus memilikinya pada masa kini. James Alexander mengatakan, "Hamba Tuhan yang tidak memiliki perasaan yang demikian besar tidak akan bisa menjadi hamba Tuhan yang besar pula."

Pada waktu berdiri di atas mimbar, hendaklah ingat bahwa kita sedang mengurusi masalah antara hidup kekal dan mati kekal, dan kita berdiri di antara orang yang hidup dan mati. Sebab itu, hendaklah kita memandang penting pelayanan mimbar dan jauhkanlah sikap apatis dan anggapan bahwa mimbar hanya sebagai sarana untuk berbicara saja.

Richard Baxter pernah mengutarakan kata-kata bagi dirinya sebagai berikut: "Aku merasa heran terhadap diriku, bagaimana aku bisa berkhotbah dengan sikap yang dingin tanpa perasaan dan bagaimana aku bisa bersikap apatis terhadap mereka yang sedang berada di dalam belenggu dosa? Seharusnya aku mendatangi mereka dan memohon dengan sangat agar mereka demi kasih Tuhan bertobat.... Aku sering turun dari mimbar dengan hati nurani yang tidak tenang, karena merasa khotbahku tadi kurang sungguh-sungguh dan kurang semangat. Aku tidak mempersalahkan diri karena kurang fasih dalam berkata-kata dan aku juga tidak menyalahkan diri karena tidak menggunakan kata-kata yang tepat, tapi aku sering bertanya pada diri sendiri, 'bagaimana kamu bisa bersikap demikian di dalam menyampaikan masalah besar yang mempunyai kaitan mati dan hidupnya manusia, bukankah seharusnya aku menangis untuk mereka dan membiarkan air mataku menyela khotbahku? Bukankah seharusnya aku berteriak dengan kesungguhan untuk mengatakan dosa dan kesalahan mereka dan dengan sangat memohon seperti seorang yang sedang menghadapi pilihan antara hidup dan mati?"

John Stott menganggap sikap yang penuh dengan kesungguhan sangat mudah menarik hati dan perhatian orang. Dr. John R. Rice mengatakan, "Pada waktu seorang hamba Tuhan berdiri di mimbar, menyampaikan tema yang sangat penting dan serius tentang neraka dan api yang tanpa padam; seharusnya ini menyebabkan ia bertelut di hadapan Tuhan dan bersikap sungguh-sungguh dalam penyampaiannya. Tapi patut disesalkan, karena banyak hamba Tuhan dalam menyampaikan tema yang penting dan serius ini dengan sikap santai tanpa perasaaan. Berbicara panjang lebar tentang teologi "nekara" tanpa bara api dalam hati dan air di mata. Gembala Sidang di Inggris, Campbell Morgan mengatakan, tiga unsur khotbah adalah: kebenaran, kejelasan dan emosi."

RAJIN - SIKAP MEREVISI KHOTBAH

Seorang hamba Tuhan yang bersikap sungguh-sungguh pada Tuhan dan hangat pada para pendengarnya, pasti pula seorang hamba Tuhan yang rajin untuk selalu merevisi bahan khotbahnya. Ia pasti rajin membaca Alkitab dan berdoa, rajin pula menunggu berita dari hadirat Tuhan; rajin membaca buku-buku rohani dan buku-buku lain yang bisa menambah wawasannya; rajin berkunjung dan mengetahui secara jelas kebutuhan rohani dari individu maupun keluarga anggota gereja; rajin mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan khotbahnya.

Dr. Harry E. Jesssop mengatakan, "Seorang hamba Tuhan yang tidak putus-putusnya menuntut kemajuan, bisa menjaga hati yang bersifat rohani dan sensitif akan memiliki otak yang terisi dengan pengetahuan yang luas. Seorang hamba Tuhan yang sudah berusia pertengahan, yang tidak lagi menuntut kemajuan, yang tidak lagi membaca buku-buku akan mendatangkan malapetaka bagi gereja. Hamba Tuhan yang demikian ini, bukan saja sering mengulang khotbah yang sudah disampaikan tapi juga malas untuk mengubah dan menyempurnakan bahan khotbahnya. Hamba Tuhan yang demikian ini, bukan saja kehilangan semangat untuk menyelamatkan jiwa yang tersesat, bahkan semangat untuk berdoa bagi jiwa-jiwa yang tersesat pun sudah tidak ada lagi.... Tidak ada hamba Tuhan yang karena usia tua tidak lagi perlu berkhotbah. Jika ia benar-benar rajin membaca, rajin berpikir, rajin berdoa, maka usianya yang tua bukan menjadi penghalang tapi sebaliknya menjadi sumber berkat!"

Sumber: 

Judul Buku
Pengarang
Penerbit

Tahun
Halaman
:
:
:

:
:
Problematika Hamba Tuhan
Rev. Yap Un Han, Th.M.
Persekutuan Alumni Singapore Bible College, Jakarta
dan Yayasan Daud Family, Menado,
1998
67 - 83

Komentar