Bekerja adalah Ibadah

Penulis_artikel: 
Darren Bosch
Tanggal_artikel: 
6 Mei 2019
Isi_artikel: 
Bekerja adalah Ibadah

Bekerja adalah Ibadah

Bekerja

Bertindak Benar, adalah Sebuah Ekspresi Karakter dan Keindahan Allah

Di sana, kami duduk di bawah langit berbintang, berbicara tentang iman, keluarga, kesenangan, dan pekerjaan. Suatu tempat yang familiar. Seperti banyak dari Anda, saya menikmati percakapan di tenda yang nyaman di setiap musim panas. Akan tetapi, malam khusus ini menantang saya. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi percakapan tentang pekerjaan dari teman yang mengaku percaya Kristus dan pemimpin tempat jual beli ini membuat saya bersedih. “Kami berusaha berinvestasi pada orang-orang selama bertahun-tahun, bahkan mempekerjakan konsultan untuk membantu kami! Pada akhirnya, tidak ada yang berhasil. Kami baru saja mengundurkan diri sehingga hanya ada satu alasan bagi kami berada dalam pekerjaan: untuk menghasilkan uang. Pada dasarnya, semua ini adalah tentang itu.”

Mirip dengan itu, seorang pemilik bisnis Kristen baru-baru ini memberitahu saya tujuan dari bisnisnya adalah pensiun dengan tabungan yang banyak supaya dia tidak perlu kuatir. Itu adalah cara bisnis yang umum dari Penipu besar.

Pandangan yang Miring

Lihat, banyak orang Kristen memegang pandangan yang miring tentang kerja. Beberapa orang memandangnya sesederhana kutukan yang ada di Kitab Kejadian 3. Yang lain, membuat pemisahan yang salah antara apa yang mereka rasa sebagai yang kudus (Allah), dan yang sekuler (hal lainnya), memisahkan ibadah hari Minggu dari pekerjaan pada hari Senin.

Masalah tentang ini adalah bahwa pandangan tentang kerja seperti ini selalu mengecewakan. Mereka memaksa kita untuk memandang Allah sebagai pemberi tugas yang jahat dan Anda hanya harus bersemangat karena “itulah jatah Anda dalam hidup.” Atau, ketika identitas saya tidak mencerminkan karakter dan rancangan Allah, itu adalah karena saya memilih untuk menjalani bagian dari hidup saya sendirian, terima kasih banyak.

Kedua pendekatan untuk pekerjaan ini akan membuat Anda berusaha terus-menerus tanpa hasil apa pun – kita mendambakan sesuatu yang lebih, karena kita tidak tidak melibatkan Allah.

Pekerjaan adalah Sebuah Karunia

Pekerjaan adalah karunia Allah untuk kita. Itu bukanlah akibat kejatuhan dalam dosa. Ketika memberikan kepada Adam dan Hawa pekerjaan untuk mengembangkan dan merawat taman, Dia bukan hanya membuatkan mereka lapangan pertamanya, Dia merancang DNA mereka sehingga apa pun yang kepala mereka, hati mereka, dan tangan mereka taruh, itu merupakan bentuk ibadah. Hal yang sama berlaku atas kita. Diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya, pekerjaan merupakan perluasan pekerjaan Allah untuk memelihara dan mencukupi kebutuhan ciptaan-Nya, mendatangkan kemuliaan-Nya dan menikmati Dia.

Ratusan kali di dalam Alkitab kata bahasa Ibrani avodah digunakan untuk mengartikan “bekerja” dan juga “beribadah”. Pekerjaan kita dimaksudkan untuk melayani tujuan Allah lebih daripada tujuan diri kita sendiri, yang menghalangi kita untuk bisa melihat pekerjaan sebagai alat untuk memenuhi peti simpanan kita, mempersiapkan diri kita untuk pensiun, atau hanya terus bekerja keras karena itu adalah beban kebutuhan.

Sederhananya, bekerja adalah beribadah. Injil sebenarnya memberi kita lensa yang baru untuk melihat melaluinya: kita sebenarnya bekerja untuk Allah itu sendiri! Perhatikan Efesus 6:

“Budak-budak, taatilah tuanmu yang ada di dunia ini dengan hormat dan gentar, dan dengan ketulusan hati seperti untuk Kristus. Jangan seperti orang-orang yang mengerjakan pekerjaan hanya untuk dilihat orang – untuk menyenangkan manusia, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang melakukan kehendak Allah dari hati. Melayani dengan sepenuh hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia .... ”

Nah, sekarang, ada alasan untuk bangun di pagi hari!

Mengapa itu Penting?

Martin Luther berkata bahwa Anda bisa memerah susu sapi untuk kemuliaan Allah. Mengapa? Sikap Andalah yang menyatakan, “Tuhan, aku melakukannya untuk-Mu.” Jadi, entah Anda memotong ubin batu besar atau memotong rambut seseorang hari ini, pekerjaan tangan Anda, bahkan yang tidak sempurna, adalah untuk kemuliaan Allah. Anda dan pekerjaan Anda adalah sebuah ekspresi dari kreativitas-Nya, karena kita diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya. Itu adalah sebuah panggilan. Itu adalah ibadah!

Pekerjaan Anda adalah ibadah. Itu adalah hidup yang mengubahkan.

FacebookTwitterWhatsAppTelegram

Jadi, mengapa memiliki pemahaman yang benar tentang pekerjaan itu penting? Karena hanya ketika kita memahaminya dengan benar maka kita bisa memaksimalkan hal itu:
BERIKAN KEMULIAAN BAGI ALLAH: sebuah respons syukur atas apa yang Dia lakukan bagi kita.
MENCERMINKAN KARAKTER-NYA: diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya, kita perlu menunjukkan ini kepada orang lain.
MELAYANI ORANG-ORANG: kita harus menjadi saluran untuk anugerah Allah dan memperluas kerajaan Allah.
MEMBERI: kita menghasilkan supaya kita bisa memberi kepada orang lain.
MEMENUHI KEBUTUHAN KITA DAN MENGINVESTASIKAN TALENTA KITA: dengan mengembangkan karunia yang diberi oleh Allah yang Dia sediakan bagi kita.

Jadi, lain kali ketika Anda sampai ke kantor Anda, di lantai Anda sendiri atau di tempat klien Anda, ingatlah siapa diri Anda, lalu perhatikan apa yang akan Anda lakukan. Kehidupan rohani Anda dinyatakan melalui pekerjaan Anda. Pekerjaan Anda adalah ibadah. Itu adalah hidup yang mengubahkan.

Kol. 3:23 berkata, “Apa saja yang kamu lakukan, lakukanlah dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Doa saya adalah agar Anda memandang pekerjaan Anda penting dan melihat pentingnya itu menurut perkenan dan rencana Allah. Kita diciptakan untuk mengenal Allah dengan intim, memuliakan Dia dan menikmati Dia selama-lamanya. Mari lakukan itu dalam pekerjaan kita!

Membahas Aplikasi:

Bagaimana melihat pekerjaan sebagai bentuk dari ibadah mengubah tujuan dan nilai perusahaan saya? Jika saya mulai melakukan segala hal “seperti saya bekerja untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (diri sendiri atau orang lain), bagaimana itu akan mengubah cara saya bekerja?

Karena Allah menyukai bisnis dan perdagangan, dan karena kita disebut peniru-peniru Allah (Efesus 5:1) mari kita pikirkan, bagaimana Yesus akan melakukan pekerjaan saya? Orang mana yang akan Dia layani? Apakah yang akan menjadi visi atau tujuan S.M.A.R.T (atau specific (khusus), measurable (dapat diukur), achievable (dapat dicapai), relevant (relevan), dan time (waktu))

Ketika kita menyelesaikan sebuah pekerjaan, dapatkah kita berkata, “Terima kasih Bapa, karena menciptakanku untuk tujuan ini”? (t/Jing-Jing)

Diambil dari:
Nama situs : Reformed Perspectives
URL : https://reformedperspective.ca/work-is-worship/
Judul asli artikel : Work is Worship
Penulis artikel : Darren Bosch
Tanggal akses : 16 Agustus 2018

Komentar