Bahaya dari Kesombongan Teologis

Penulis_artikel: 
Stacy Reaoch
Tanggal_artikel: 
19 Februari 2019
Isi_artikel: 
Bahaya dari Kesombongan Teologis

Bahaya dari Kesombongan Teologis

Kesombongan teologis

Sebagai orang Kristen baru di kampus, saya seorang wanita muda yang gampang menerima pengaruh. Mempelajari Alkitab adalah hal baru bagi saya, dan saya bergantung pada bimbingan dan panduan dari beberapa wanita “yang lebih tua” untuk menolong saya mencari tahu bagaimana saya menjalani hidup Kristiani. Saya ingin sekali memahami firman Allah, dan banyak bertanya kepada teman-teman dan para pemimpin Kristen yang terlibat dalam pelayanan di kampus saya.

Tidak lama setelah menjadi percaya kepada Kristus saya menyadari ada dua kelompok yang berbeda dalam pelayanan di mana saya berada: mereka yang percaya predestinasi dan mereka yang tidak. Kemudian saya mengetahui sebutan formalnya yaitu penganut Calvin dan Armenian.

Wanita yang rendah hati dan lembut yang mendidik saya berpendapat bahwa Alkitab tidak berbicara jelas mengenai isu khusus ini. Oleh karena saya menganggap dia sebagai pembimbing utama saya untuk pemikiran Kristen waktu itu, maka saya juga mengadopsi sudut pandangnya untuk beberapa saat lamanya.

Akan tetapi, teman-teman yang berseberangan mulai membagikan perspektif mereka tentang hal itu. itu persuasif, dan dengan sedikitnya pengetahuan Alkitab yang saya miliki, saya mulai mencari tahu sendiri saat saya menggali Kitab Roma.

Namun, kemudian itu terjadi, seorang teman dari penganut Calvin memberitahu saya bahwa mereka punya julukan untuk sudut pandang yang bertentangan, “lelucon.” Orang bodoh seperti apa yang benar-benar percaya bahwa Alkitab tidak jelas berpandangan tentang predestinasi? Sikapnya yang arogan dan mengejek, disertai dengan respons yang angkuh, benar-benar membuat saya tidak suka. Tiba-tiba saya tidak tertarik mendengar pembuktian alkitabiah mereka. Kata-kata mereka yang tajam dengan cepat membabat sudut pandang wanita yang sangat saya hormati. Dan sekarang, saya bahkan tidak tertarik untuk memikirkan apakah yang mereka katakan itu mungkin benar. Mengapa saya mau menjadi orang Kristen yang brengsek?

Bahaya

Bahaya dari kesombongan teologis bersembunyi di balik banyak keyakinan kuat yang kita miliki dan perdebatan memanas yang sering kita ikuti –- entah di dalam studi Alkitab, di media sosial, atau di Sekolah Minggu. Kita yang antusias mempelajari Alkitab dan memahami firman Allah, sudah pasti akan mendapatkan keyakinan dalam hal seperti predestinasi, peran pria dan wanita, penggunaan alkohol, zaman akhir, dan berbagai topik lainnya.

Keyakinan adalah hal yang baik, dengan asumsi kita menyampaikannya kepada orang lain dengan sikap yang mengasihi. Jangan salah sangka, saya sepenuh hati setuju bahwa doktrin yang benar sangatlah penting. Paulus menasihati kita untuk “mengerjakan keselamatan (kita) dengan takut dan gentar” (Filipi 2:12). Kita harus memegang firman Allah dengan tekun dan sungguh. Yakobus mengingatkan kita bahwa jangan ada banyak dari kita yang ingin menjadi guru, karena kita akan dihakimi dengan ukuran yang lebih berat (Yakobus 3:1). Akan tetapi, sikap yang kita tunjukkan saat kita menyampaikan keyakinan kita, atau mengajarkannya kepada orang lain, memiliki kekuatan untuk menarik orang lain kepada Injil, atau malah membuat mereka menolaknya.

Dalam Wahyu 2, Yesus berbicara kepada gereja di Efesus. Dia mengakui pekerjaan mereka demi Injil, kesabaran mereka, dan kebencian mereka terhadap para pengajar palsu. Dia tahu mereka melakukan hal-hal ini tanpa lelah demi nama-Nya, tetapi ada satu hal yang Dia tegur: “kamu telah meninggalkan kasihmu yang semula” (Wahyu 2:4).

Mereka bertekun dalam pelayanan Injil tetapi tanpa unsur yang penting, yaitu kasih. Mereka jelas mengasihi kebenaran, yang membuat mereka menganggap rendah para pengajar palsu di zaman mereka. Akan tetapi, di tengah-tengah mengejar kekudusan, mereka kehilangan kasih dan perhatian yang pernah mereka miliki untuk orang-orang.

Jemaat di Efesus dinasihati agar mengingat di mana mereka telah jatuh dan supaya bertobat, untuk melakukan apa yang sudah mereka kerjakan semula (Wahyu 2:5). Jika tidak, Kristus akan “mengambil kaki dian dari tempatnya” atau, dengan kata lain, menghancurkan kesaksian gereja mereka (ayat 5). Allah tidak menganggap enteng dosa melakukan kekerasan pada orang lain dengan “kebenaran” tanpa unsur kasih yang diperlukan. Pengetahuan teologis tidak berarti apa-apa jika tidak dikomunikasikan dan dibagikan di dalam kasih.

Letakkan Sarung Tinju Anda

Dalam komunitas Reformed secara luas, saya memperhatikan adanya kecenderungan untuk menunjukkan apa atau siapa yang harus kita tentang dibandingkan mengajarkan di dalam kasih seperti yang seharusnya. Kelihatannya banyak yang memasang sarung tinju mereka dalam dunia teologis dan ingin bertarung memenangkan ajaran siapa yang harus kita setujui dan ajaran siapa yang harus kita buang (penuduh seringnya adalah penginjil yang mencintai Alkitab).

Hari ini, kita begitu cepat menuduh “doktrin sesat”. Meskipun saya menyadari sebagai orang Kristen kita tidak boleh menyetujui doktrin sesat, kita seharusnya lambat untuk menuduh seseorang dengan istilah yang berat itu hanya karena mereka tidak memiliki keyakinan yang sama seperti yang ada dalam lima pokok ajaran Calvin, atau apakah seorang wanita bisa bekerja sebagai polisi atau tidak.

Pengetahuan teologis tidak berarti apa-apa jika tidak dikomunikasikan dan dibagikan di dalam kasih.

Facebook Telegram Twitter WhatsApp

Baru-baru ini, suami saya yang pendeta menerima sebuah email dengan sebuah peringatan agar tidak berteman dengan beberapa pengajar Alkitab yang sangat terhormat karena mereka menggunakan platform yang sama di sebuah konferensi dengan sebuah kelompok yang pendapatnya tidak sama dengan orang ini. Jadi, tampak seperti kesalahan berdasarkan pertemanan. Apakah “pertengkaran” semacam ini di antara para penginjil mendatangkan kemuliaan bagi Allah? Apakah saksi garam dan terang semacam ini yang akan menarik orang-orang yang belum percaya untuk datang kepada Kristus?

Saya takut bahwa, di dalam semangat kita untuk memurnikan gereja dengan doktrin yang benar, kita melupakan kasih yang Kristus ingin untuk kita tunjukkan dalam hidup kita. Sebagaimana Paulus menasihati kita di Kitab Titus, supaya dalam segala hal kita“ memuliakan ajaran Allah, Juru Selamat kita” (Titus 2:10). Bagaimana kita menjalani hidup kita dan kata-kata yang terucap dari mulut kita menunjukkan Injil kepada dunia yang memperhatikan.

“Seorang Percaya yang Dewasa itu Mudah Diajar”

Saya bukan pendukung yang menerima atau bertoleransi dengan Injil palsu. Kita harus bijaksana dan cerdas, mendorong keyakinan-keyakinan kita dari firman Allah sendiri. Kita harus mengevaluasi studi Alkitab yang kita lakukan, buku-buku Kristen yang kita baca, dan para pengajar dan pengkhotbah yang kita dengarkan. Segala hal harus diukur dengan kebenaran Firman Allah. Akan tetapi, hanya karena seseorang tidak memiliki kepercayaan yang sama dengan saya tentang doktrin pemilihan atau pelengkap, tidak berarti segala hal yang mereka katakan tidak berharga.

Seorang profesor di seminari suami saya biasanya berkata, “Seorang percaya yang dewasa itu mudah untuk diajar.” Pada dasarnya, selalu ada hal-hal yang bisa kita pelajari dari orang lain, bahkan jika mereka tidak membubuhkan titik di atas huruf i dan menyilangkan garis di huruf t sama seperti cara kita melakukannya.

Wanita yang menjadi mentor saya di kampus mengajarkan kepada saya banyak tentang kerendahan hati, kemurahan, dan memiliki pernikahan yang saleh. Akan tetapi, ketika saya mempelajari Kitab Roma lebih dalam, melakukan satu tahun studi secara induktif, saya melihat keindahan dari kedaulatan tangan Allah di dalam doktrin pemilihan. Kelompok yang mengejek dan arogan di pelayanan kampus kami tidak meyakinkan saya, tetapi saya telah diyakinkan oleh firman Allah sendiri. Saya sadar bahwa saya tidak sepakat dalam isu khusus ini dengan wanita yang telah bertahun-tahun mengajar saya, tetapi hal ini sama sekali tidak mengurangi relasi Titus 2 yang indah antara saya dengan dia. Saya masih sangat menghormati dia dan banyak belajar darinya, bahkan jika kami memiliki perbedaan keyakinan tentang doktrin pemilihan.

Saya harap kita akan menguji hati kita sebelum berargumentasi dengan teman Kristen atau mem-posting sepenggal respons di media sosial kepada seseorang yang tidak memiliki keyakinan yang sama tentang hal teologis tertentu. Bagikanlah keyakinan kita dengan semangat dan penuh kasih, dibandingkan dengan mengutuk, sehingga bisa menghasilkan pengaruh yang lebih besar daripada yang bisa kita bayangkan. Marilah kita tidak mengabaikan kasih semula yang kita miliki, saat kita berusaha untuk menyebarkan nama Allah ke seluruh bangsa. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Desiring God
URL : https://www.desiringgod.org/articles/the-danger-of-theological-pride
Judul asli artikel : The Danger of Theological Pride
Penulis artikel : Stacy Reaoch
Tanggal akses : 14 Agustus 2018

Komentar