Skip to main content

Roh Kudus: Oknum Ketiga Allah Tritunggal

Artikel ini menegaskan bahwa Roh Kudus bukan sekadar kuasa, prinsip kerja, atau gerakan dari Allah, melainkan adalah Pribadi yang mandiri dan setara sebagai Oknum Ketiga dalam konsep Allah Tritunggal. Berdasarkan Alkitab—seperti pengurapan Yesus oleh Bapa dan janji Kristus tentang Penolong—Roh Kudus memiliki atribut ilahi yang unik, termasuk kekekalan (selama-lamanya), tidak terbatas, serta sifat pribadi seperti rasio (Kebenaran), emosi (dapat berduka), dan kemauan (dapat membuat keputusan). Untuk membuktikan bahwa Roh Kudus adalah Pribadi, teks ini juga menyanggah ajaran bidat seperti Sabelianisme yang mereduksi Tritunggal menjadi konsep 'topeng' atau peran semata. Intinya, Roh Kudus memiliki eksistensi pribadi yang aktif dalam memimpin, memberi kesaksian kebenaran, dan menyatakan kemauan Allah.

  • Roh Kudus
  • Allah Tritunggal
  • Pribadi Allah
  • Tritunggal
  • Sabelianisme
  • Oknum Ketiga
  • Roh Kudus adalah Pribadi (Person) Ketiga dari Allah Tritunggal, bukan hanya kekuatan atau prinsip kerja.
  • Keilmuan Roh Kudus sebagai pribadi ditegaskan melalui sifat-sifat ilahi yang dimiliki: kekekalan, tidak terbatas, rasio (Sumber Kebenaran), emosi (dapat berduka atas dosa manusia), dan kemauan (dapat mengambil keputusan).
  • Bukti peran personalitas Roh Kudus ditemukan dalam kisah Alkitabiah, di mana Ia mengurapi, menyertai, memimpin umat-Nya, bahkan mencegah tindakan tertentu.
  • Artikel ini memberikan peringatan teologis terhadap ajaran sesat seperti Sabelianisme dan Modalism, yang salah menafsirkan Tritunggal sebagai konsep 'tunggal dengan banyak peranan' (topeng).

Dear e-Reformed Netters,

Selama bulan April -- Juni, kita merayakan empat peristiwa berturut-turut yang sangat penting dalam sejarah kekristenan, yaitu kematian Tuhan Yesus di kayu salib, kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian, kenaikan-Nya ke surga, dan penggenapan janji-Nya tentang Penolong yang akan datang, yaitu Roh Kudus, yang jatuh tepat pada Hari Raya Pentakosta. Dalam artikel bulan ini, kita akan melihat kepada Pribadi ketiga Allah Tritunggal. Pribadi Allah yang peran-Nya mungkin paling sering diremehkan oleh orang Kristen masa kini. Banyak orang Kristen salah dalam mengenali Roh Kudus: mereka sering kali menganggap bahwa Roh Kudus hanyalah kuasa dari Allah, keberadaan-Nya dibatasi hanya pada munculnya fenomena-fenomena rohani yang spektakuler, bahkan tidak jarang orang Kristen yang berusaha mengendalikan atau bersikap tidak hormat kepada Roh Kudus. Banyak juga lembaga gereja yang menuduh gereja lain "tidak ada Roh Kudusnya" hanya karena tidak pernah menggunakan "bahasa roh" di dalam ibadah.

Artikel di bawah ini diambil dari buku berjudul "Allah Tritunggal" yang ditulis oleh Pdt. Dr. Stephen Tong. Artikel ini berusaha meluruskan pandangan orang Kristen terhadap Roh Kudus dengan menunjukkan beberapa pengajaran yang salah mengenai Roh Kudus serta memberikan bukti-bukti bahwa Roh Kudus adalah Pribadi, Oknum ketiga dari Allah Tritunggal. Kiranya artikel ini dapat menjadi berkat bagi kita semua. Soli Deo Gloria!

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Teddy Wirawan
< teddy(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >
Penulis
Pdt. Dr. Stephen Tong
Edisi
edisi 152 - Roh Kudus: Oknum Ketiga Allah Tritunggal
Roh Kudus: Oknum Ketiga Allah Tritunggal

Roh Kudus: Oknum Ketiga Allah Tritunggal

Roh Kudus

Pada waktu Yesus baru memulai pekerjaan-Nya sebagai Mesias, Dia mengutip dari Kitab Yesaya, sebagai berikut:

"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." (Lukas 4:18-19)

Dalam ayat ini, kita melihat dengan jelas ketiga Pribadi: Allah Bapa mengurapi Yesus Kristus dengan pengurapan Roh Kudus dan mengutus Dia masuk ke dalam dunia. Hal yang sama terlihat dalam Kisah Para Rasul 10:38,

"yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia."

Di sini, sekali lagi, muncul tiga Pribadi; Allah Bapa mengurapi Allah Anak dengan Allah Roh Kudus. Yang mengurapi adalah Bapa, yang diurapi adalah Kristus, dengan urapan Roh Kudus.

Pada waktu Yesus Kristus berada di dunia, Ia pernah mengajarkan mengenai Roh Kudus kepada murid-murid-Nya. Dalam pengajaran-Nya itu, dengan sangat jelas Ia memberitahukan beberapa sifat Roh Kudus yang hanya dimiliki oleh Allah. Yesus pernah mengajar murid-murid-Nya dengan berkata,

"Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni." (Lukas 12:10)

Apa arti ayat di atas? Ada dua kemungkinan interpretasi yang salah terhadap ayat ini, yaitu (1) Tafsiran yang salah menganggap Roh Kudus lebih besar daripada Pribadi yang lain (Yesus Kristus, Anak Allah) sehingga kalau berdosa terhadap Anak masih bisa diampuni, sedangkan berdosa terhadap Roh Kudus tidak bisa diampuni lagi, sebab tingkatnya lebih tinggi. (2) Roh Kudus mempunyai sifat yang lebih keras sehingga tidak mau mengampuni kesalahan orang; sedangkan Pribadi yang lain (Anak Allah) lebih bersifat rahmani, murah hati, dan suka mengampuni. Walaupun kedua interpretasi di atas salah, tetapi paling tidak kita mengetahui bahwa Roh Kudus mempunyai hak, kedudukan sebagai Allah yang tidak bisa lebih rendah dari Pribadi yang lain (Anak Allah). Siapakah Roh Kudus itu?

Dalam Wahyu yang progresif (Progressive Revelation) dan dalam mengajarkan tentang Roh Kudus yang akan datang, Kristus sudah memberitahukan beberapa sifat Roh Kudus yang penting berikut ini:

"Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya," (Yohanes 14:16)

Ada Alkitab bahasa Indonesia yang tidak mencantumkan kata "selama-lamanya" pada ayat ini. Kata ini memang tidak ada di dalam Alkitab bahasa aslinya. Namun, kata yang dipakai (aorist tense) di sini menunjukkan arti selama-lamanya. Jadi, sifat kekal dari Roh Kudus dinyatakan oleh Tuhan Yesus di sini. Adakah, pernahkah, seorang nabi atau seorang rasul yang hidup di dunia ini menyertai murid-muridnya atau para pengikutnya sampai selama-lamanya? Tidak ada. Jika demikian, siapakah Dia yang dijanjikan oleh Kristus kepada mund-murid-Nya ini? Dalam ayat selanjutnya (ayat 17) dijawab:

"yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu."

Justru inilah yang membuat jaminan hidup kekal menjadi mungkin karena Roh itu adalah Roh Pemberi Hidup, dan Roh itu akan bersama-sama dengan kita untuk selama-lamanya. Itulah sifat kekekalan yang dimiliki oleh Roh Kudus, sifat Allah, sifat yang tidak lebih kecil daripada Anak. Sifat ilahi dari Roh Kudus juga diberitahukan di dalam Yohanes 3:34:

"Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas."

Tidak terbatas adalah ousia atau sifat asasi dari Allah. Siapakah yang tidak terbatas, selain Allah sendiri? Di sini, dikatakan bahwa Roh Kudus tidak terbatas, berarti Roh Kudus mempunyai sifat yang hanya ada pada Allah.

Sifat-sifat ilahi Roh Kudus muncul dalam banyak ayat lainnya. Hal ini disangkal oleh aliran-aliran yang disebut Saksi Yehovah, Unitarianisme, Monarchianisme, Modalistic Monarchianisme atau yang disebut juga Sabelianisme, serta Liberalisme. Kita hanya akan membahas sedikit mengenai Sabelianisme di sini karena secara tidak disadari, ajaran ini sekarang sedang menjalar di Indonesia.

Sabelianisme mengajarkan bahwa Allah itu Esa, tetapi mereka tidak percaya adanya tiga Pribadi. Mereka berusaha menjelaskan segala indikasi yang menunjukkan bahwa Allah Tritunggal di dalam Alkitab hanya sebagai semacam persona (Pribadi) yang diartikan sebagai topeng. (Sangat disesalkan, bahwa istilah persone dalam bahasa Latin, yang kemudian diterjemahkan menjadi person di dalam bahasa Inggris dan menjadi pribadi dalam bahasa Indonesia, mula-mula mempunyai pengertian topeng, yaitu topeng yang dipakai di dalam sandiwara.) Maksudnya, seorang pelaku sandiwara dapat berperan sebagai dua atau lebih tokoh dengan menggunakan topeng. Misalnya, pada babak pertama, dia berperan sebagai orang tua dengan memakai topeng orang tua, kemudian pada babak yang lain dia berperan sebagai anaknya sendiri dengan memakai topeng seorang anak. Dengan demikian, seorang pelaku dapat muncul beberapa kali dengan topeng yang berbeda-beda. Tentu saja, para penontonnya tidak tahu; mereka tertipu oleh topeng-topeng itu. Istilah persone inilah yang diambil oleh segolongan orang dan mengartikannya sebagai topeng-topeng untuk memainkan peranan yang berbeda-beda. Maka, golongan Sabelianisme merasa mudah untuk mengartikan Allah Tritunggal, yaitu sebagai Allah Yang Esa yang mempunyai tiga peranan: dalam zaman Perjanjian Lama, Allah berperan sebagai pelaku pertama dengan memakai topeng Bapa; kemudian dalam zaman Perjanjian Baru, Allah yang sama muncul dengan memakai topeng Anak berperan sebagai Allah Anak; dan setelah Yesus naik ke surga, Dia datang kembali dengan memakai topeng ketiga sebagai Roh Kudus. Bandingkan dengan, misalnya: Pada waktu saya di mimbar, saya berperan sebagai pengkhotbah; di rumah saya sebagai seorang ayah atau kepala keluarga; pada waktu saya mengajar di sekolah saya sebagai seorang guru atau dosen.

Itu bukan konsep Tritunggal, melainkan tunggal yang tritopeng, triperanan atau tripelaku, dan trifungsi. Seorang pelaku yang memerankan tiga tokoh dengan tiga topeng; kelihatannya seperti ada tiga pelaku, padahal cuma seorang pelaku dengan tiga peranan. Demikianlah Sabelianisme (dari seorang yang bernama Sabelius yang hidup pada abad kedua) atau Modalistic Monarchianime menjelaskan mengenai Tritunggal. Ajaran ini termasuk bidat, bukan ajaran Tritunggal yang sesuai dengan Alkitab.

Di dalam Tritunggal, Pribadi Pertama bukan Pribadi Kedua, dan Pribadi Kedua bukan Pribadi Ketiga. Berlainan Pribadi bukan berarti lain Allah, melainkan tetap satu Allah; satu Allah mempunyai tiga Pribadi, dan tiga Pribadi berada di dalam satu esensi Allah; inilah Tritunggal.

Roh Kudus bukan hanya kuasa, gerakan, atau prinsip kerja Allah; Roh Kudus adalah satu Pribadi yang mempunyai kemauan serta kemampuan memberikan keputusan atau ketetapan.

FacebookTwitterWhatsAppTelegram

Jika kita menerima ajaran Sabelianisme, kita menerima