Skip to main content

Persahabatan-Persahabatan Calvin

Artikel ini menantang pandangan umum yang menganggap John Calvin sebagai sosok teolog yang kaku dan terisolasi. Sebaliknya, studi terhadap surat-surat dan catatan rekan-rekannya mengungkap bahwa Calvin adalah pribadi yang sangat hangat, setia, ramah, dan peduli. Kehangatan interpersonal ini tidak hanya menjadi aspek kehidupan pribadinya, tetapi juga fondasi bagi pengaruh intelektualnya; ia berhasil membangun sebuah gerakan Reformasi yang bersifat internasional melalui jaringan persahabatan dan kolaborasi erat dengan para reformator lainnya (seperti Theodore Beza). Kolaborasi inilah yang memungkinkan pengembangan gagasan teologi politik penting mengenai kedaulatan rakyat dan hak asasi manusia, menjadikan Calvin sebagai figur sentral bukan hanya karena ajarannya, tetapi juga karena kemampuan interpersonalnya dalam menyatukan banyak pihak demi cita-cita kebebasan.

  • John Calvin
  • Persahabatan
  • Reformasi Gereja
  • Teologi Politik
  • Kolaborasi Reformator
  • Kesetiaan dan Keramahan
  • John Calvin dipandang salah kaprah; ia adalah pribadi yang hangat dan sangat setia, jauh dari kesan kaku dan penyendiri.
  • Karya dan pengaruh terbesar Calvin dihasilkan bukan oleh genius tunggal, melainkan melalui jaringan persahabatan dan kolaborasi intens dengan para reformator lainnya (seperti Theodore Beza).
  • Persahabatan ini berperan penting dalam membentuk aliran intelektual yang mengembangkan teologi politik perlawanan terhadap tirani, serta gagasan tentang hak-hak asasi manusia.
  • Gerakan Reformasi adalah gerakan internasional yang distabilkan dan disatukan oleh kerjasama antar reformator dari berbagai negara (Jerman, Prancis, Inggris, dll.).

Dear e-Reformed Netters,

Sehubungan dengan hari Reformasi Gereja, yang akan diperingati tanggal 31 Oktober nanti, maka secara khusus edisi e-Reformed akan menyuguhkan sebuah artikel yang sedikit mengulik kehidupan sosial seorang tokoh besar reformasi, yaitu John Calvin. Di balik pribadinya yang begitu serius dan mungkin terkesan sangat kaku dalam prinsip-prinsip pemikiran Kristen, ternyata John Calvin memiliki sisi lain yang unik yang banyak tidak diketahui orang. Karena kesan sifat kakunya itu, banyak orang berpikir bahwa John Calvin tidak memiliki banyak rekan dan sahabat. Ternyata, pandangan itu salah besar. Jika kita mengenal John Calvin lebih dekat, sebagaimana dialami oleh rekan-rekan dekat John Calvin, kita akan mendapati dia ternyata seorang pribadi yang hangat, setia, dan sangat perhatian. Melalui artikel yang kami sajikan di bawah ini, kita akan lebih mengenal John Calvin, tidak hanya dalam intelektualitas teologinya, tetapi juga dalam hal berelasi dengan orang lain. Kiranya kita juga bisa belajar dari pribadi John Calvin yang tidak hanya serius dalam mengerjakan panggilannya, tetapi juga menjadi pribadi yang hangat dan setia pada sahabat-sahabatnya. Selamat membaca. Soli Deo Gloria.

Pemimpin Redaksi e-Reformed,
Ayub
< ayub(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org >

Edisi
Edisi 169/Oktober 2015
Template untuk Validasi

Persahabatan-Persahabatan Calvin

Seorang pembela Calvin mengatakan bahwa tidaklah mungkin bagi seseorang menjadi sangat dikasihi pada saat kematiannya apabila pada waktu hidupnya ia adalah seorang yang jahat. Bukan saja Calvin dipuji pada saat kematiannya, tetapi banyak temannya memiliki gagasan-gagasan yang sama dan terus melanjutkan usahanya.

John Calvin

Sebuah studi mengenai surat-surat Calvin menyingkapkan suatu pola persahabatan dan perekanan. Tentu saja Calvin tidak memandang dirinya sebagai satu-satunya individu yang terlibat dalam masalah-masalah reformasi ini. Satu studi semacam itu adalah The Humanness of John Calvin oleh Richard Stauffer. Untuk "sisi lain dari kisah itu", kita perlu melihat karya pendek ini. Dalam kata pembukaan kepada monograf itu, sarjana Calvin yang terkemuka, J.T. McNeill, mengkronologikan bagaimana ia sampai mempertanyakan "desas-desus" tentang Calvin. Ketika McNeill membaca surat-surat Calvin, berlawanan dengan banyak legenda urban yang telah ia dengar, ia menemukan bahwa Calvin itu jelas-jelas peramah, berkawan dengan orang kaya maupun orang miskin, dan menunjukkan kesetiaan yang kokoh kepada teman-temannya. McNeill menemukan bahwa Calvin sesungguhnya lemah lembut, hangat, murah hati, dan ramah. Richard Stauffer mendokumentasikan "fitnah" yang telah Calvin terima dari musuh-musuhnya dan juga bagaimana ia telah "disalahpahami dan disalahtafsirkan oleh buyut-buyutnya".

Sejarawan lain mencatat bahwa tidak ada Reformator lain yang melebihi Calvin dalam menunjukkan kesetiaan pribadi. Emile Doumergue berkata demikian, "Hanya segelintir orang saja yang dapat memiliki banyak sahabat seperti Calvin dan yang tahu bagaimana mempertahankan bukan hanya rasa kagum, tetapi juga afeksi pribadi dari teman-temannya." Abel Lefranc mengekspresikan perasaan yang sama demikian: "Persahabatan yang ia inspirasikan dengan guru-gurunya maupun rekan-rekannya, merupakan kesaksian-kesaksian yang cukup kuat bagi fakta bahwa ia tahu bagaimana menggabungkan komitmennya yang sungguh-sungguh dan mendalam terhadap pekerjaan dengan keramahtamahan dan keluwesan yang mampu mengambil hati setiap orang terhadapnya."

Entah ia berada di lingkungan universitas atau mengambil pengalaman dari guru-gurunya untuk membantu dia, Calvin, tidak seperti dugaan tentang dirinya, lebih merupakan orang yang suka bergaul. Ia terbiasa menulis surat, berkoresponden dengan ahli-ahli hukum, gubernur-gubernur, orang kebanyakan, dan banyak hamba Tuhan. Surat-surat ini memberikan pandangan-pandangan sekilas ke dalam diri Calvin yang sesungguhnya. Dalam surat-surat ini, ia dapat menunjukkan afeksi yang ia miliki terhadap gurunya, Melchior Wolmar, dan pada waktu yang sama dapat meratapi meninggalnya seorang teman sepelayanan yang begitu mengejutkan sehingga membuatnya berdukacita.

Karakter dan denyut Calvinisme memengaruhi dunia melalui suatu persaudaraan dari teman-temannya yang setia dan berkomitmen. Teolog Amerika, Douglas Kelly, menegaskan bahwa tradisi Calvinistik mempunyai pengaruh jauh melampaui Swiss dan Prancis. Barangkali warisan yang paling abadi dari tradisi ini adalah penekanannya pada kedaulatan rakyat dan hak untuk melawan tirani, suatu ajaran yang "akan diteruskan (baik secara tidak langsung dan digabung dengan ide-ide dari sumber lainnya) ke dalam teori-teori politik di Inggris pada akhir abad ketujuh belas mengenai hak-hak asasi manusia ... [dan] debat-debat serupa di bidang hukum dan pemerintahan di Amerika pada abad kedelapan belas". Satu orang saja tidak dapat menabur begitu banyak benih; kemenangan-kemenangan ini didapat oleh suatu tim rekan-rekan.

Bukan saja Calvin dipuji pada saat kematiannya, tetapi banyak temannya memiliki gagasan-gagasan yang sama dan terus melanjutkan usahanya.
Facebook Telegram Twitter WhatsApp

Calvin adalah teoretikus Protestan yang utama, tetapi tentu saja bukan satu-satunya. Reformator-reformator lain yang ada dalam lingkungan persahabatannya mengartikulasikan secara tajam karya-karya politik yang sesungguhnya merupakan teologi-teologi tentang negara, dengan karya-karya seminar berikut yang muncul berturut-turut dengan cepatnya dalam waktu kurang dari tiga puluh tahun: buku Martin Bucer De Regno Christi (1551), buku John Ponet A Short Treatise of Political Power (1556), buku How Superior Powers Ought to Be Obeyed By Their Subjects: and Where in They May Lawfully By God's Word Be Disobeyed And Resisted (1558), buku Peter Viret The World and the Empire (1561), buku Francois Hotman Francogaltia (1573), buku Theodore Beza De Jure Magisterium (1574), buku ,George Buchanan De Jure Regni Apud Scotos (1579), dan buku Languet Vindiciae Contra Tyrannos (1579). Masing-masing karya ini melegitimasi gagasan tentang penolakan warga negara terhadap perluasan pemerintahan yang melampaui batas-batas semestinya. Menariknya, bagian terbesar dari pemikiran politis ini berasal dari lingkaran teman-teman yang erat, yang kebanyakan mempunyai kontak dengan Calvin. Sulit untuk mengatakan bahwa kesamaan pikiran yang sedemikian kokoh ini hanyalah kebetulan.

Persahabatan Calvin dengan Theodore Beza merupakan sebuah teladan dalam persahabatan. Di tengah-tengah semua masalah intelektual yang memusingkan kepala pada zaman itu dan tantangan-tantangan yang menyertainya, apa yang paling berkesan bagi Beza adalah dukungan pribadi dan persahabatan Calvin. Jadi, Beza (dan yang lain) menulis tentang persahabatan yang Calvin berikan kepada orang-orang di sekitarnya. Calvin merupakan contoh gagasan modern tentang perekanan, dan ia cukup bijaksana untuk menarik teman-teman yang brilian jika memungkinkan. Pernah, ketika Beza sakit, Calvin mengakui ketakutannya sendiri dan kesedihannya yang dalam setelah mengetahui penyakit rekannya. Ia menangis dan berduka, tampaknya karena terkejut akan kehilangan yang mungkin sekali terjadi pada gereja dan padanya secara pribadi. Untungnya, Beza sembuh.

Ada banyak teman yang lain di samping Beza. Jenis pemikiran yang sama yang mengalir melalui nadi-nadi literatur Bullinger, Bucer, Viret, dan Calvin -- segera ditambah oleh Knox, Beza, Hotman, dan Junius Brutus -- membentuk suatu tradisi intelektual dengan Jenewa sebagai episenternya dan Calvin sebagai bapaknya. Persahabatannya dengan para cendekiawan ini ternyata merupakan petunjuk yang menyatukan gerakan itu dalam masa pertumbuhannya yang sulit. J. H. Merle D'Aubigne mencatat saling menukar gagasan-gagasan ini dalam kata-kata berikut:

"Kekatolikan Reformasi merupakan ciri yang mulia dalam karakternya. Orang-orang Jerman masuk ke Swiss; orang Prancis ke Jerman; dalam waktu-waktu belakangan orang-orang dari Inggris dan Skotlandia pergi ke Eropa Daratan, dan doktor-doktor dari Eropa Daratan ke Inggris Raya. Reformator-reformator di negara-negara yang berbeda bermunculan hampir tanpa ada kaitannya satu sama lain, tetapi begitu muncul, mereka mengulurkan tangan persekutuan .... Merupakan suatu kesalahan, dalam pendapat kami, jika menulis sebagaimana yang masih terjadi sampai sekarang, tentang sejarah Reformasi untuk satu negeri karena Reformasi itu satu.

Teman-teman Calvin berfungsi untuk menstabilkan dan menstandarisasi suatu gerakan internasional.

Calvin, Farel, dan Peter Viret disebut "tripod" atau "tiga bapak", karena begitu terkenalnya persahabatan mereka. Dalam "Commentary on Titus", Calvin menulis bahwa ia "tidak percaya kalau pernah ada teman-teman seperti itu yang hidup bersama-sama dalam persahabatan yang sedemikian erat dalam gaya hidup mereka sehari-hari di dunia ini seperti yang kami miliki dalam pelayanan kami". Bahkan, ketika ada ketidaksetujuan yang kuat, Calvin merupakan suatu paradigma persahabatan. Ketika Reformator-reformator ini mengalami pergumulan-pergumulan atau sukacita keluarga, Calvin menceritakannya dalam surat-suratnya. Surat-surat kepada berbagai Reformator ini penuh dengan simpati dan cepat menggambarkan kesetiaan yang sehat. Terlebih lagi, korespondensinya dengan pengungsi-pengungsi menunjukkan belas kasihnya yang besar. Bahkan, ia membangun jembatan-jembatan dengan murid-murid Luther setelah pemimpin Jerman itu mencelanya. Calvin menerjemahkan sebuah karya teologis Melanchthon, murid Luther yang terutama.

Persahabatan Calvin

Apa yang dimulai di Jenewa dengan kader rekan-rekan multinasional, yang semuanya berusaha meluaskan "republik Kristus" bertumbuh menjadi suatu gerakan yang bercirikan teologi, gagasan-gagasan, dan pandangan unik tentang sejarah yang menyebar jauh melampaui kota Jenewa. Dengan keyakinan mereka kepada