Skip to main content

Dataran Tinggi Doa Syafaat

Artikel ini membahas konsep dan praktik doa syafaat sebagai bentuk komunikasi tertinggi dengan Tuhan, yang harus dipahami bukan hanya sekadar permohonan bagi diri sendiri atau gereja sendiri, melainkan fokus utama pada kepentingan orang lain, jemaat Tuhan yang teraniaya, serta misi kemanusiaan. Penulis mengajak pembaca untuk mengoreksi pemahaman gereja yang cenderung menjadi tempat sosialisasi manusiawi (gereja manusia) daripada pusat misi Ilahi. Doa syafaat hakiki adalah doa yang digerakkan oleh kasih pengorbanan dan perhatian mendalam terhadap jiwa-jiwa yang hilang, serta telah terbukti memiliki kuasa luar biasa untuk memicu kebangunan rohani, mengubah nasib individu, bahkan mempengaruhi jalannya suatu bangsa, sebagaimana dicontohkan melalui kehidupan para pendoa syafaat seperti David Wilkerson dan Father Nash.

  • Doa Syafaat
  • International Day of Prayers (IDOP)
  • Kasih Pengorbanan
  • Kebangunan Rohani
  • Misi Tuhan
  • Penyatuan Diri
  • Perhatian terhadap Orang Lain
  • Jiwa yang Hilang
  • Definisi Doa Syafaat yang Benar: Doa syafaat adalah bentuk doa puncak yang esensinya berorientasi pada kebutuhan orang lain (jangkauan), bukan hanya kepentingan pribadi atau kelompok.
  • Perubahan Fungsi Gereja: Gereja harus menyadari bahwa fungsinya utama adalah mewakili misi Tuhan di dunia, dan tidak boleh tereduksi menjadi "gereja manusia" yang hanya fokus pada kegiatan internal dan kesejahteraan hamba-hambanya.
  • Tingkatan Doa yang Komprehensif: Terdapat tiga tingkatan doa—Persekutuan (hubungan baik dengan Allah tanpa permintaan khusus), Permintaan Doa (meminta kebutuhan spesifik), dan Doa Syafaat (doa untuk menjangkau orang lain).
  • Syarat Pendoa Syafaat yang Mendalam: Seorang pendoa syafaat harus mampu mencapai tiga hukum spiritual, yaitu penyatuan diri dengan sesama (melambangkan kasih kekal Kristus), mengalami penderitaan mendalam, dan memahami wewenang untuk menggerakkan hati Tuhan.
  • Dampak Kuasa Doa Syafaat: Melalui doa syafaat yang penuh perhatian dan pengorbanan, perubahan besar dapat terjadi—mulai dari pertobatan pribadi (Ayub) hingga menentukan nasib bangsa-bangsa (misalnya di Afrika Utara).

Dear e-Reformed Netters,

Artikel e-Reformed yang saya kirim kali ini memiliki dua tujuan:

1) Merayakan International Day of Prayers (IDOP).

Artikel ini khusus disajikan dalam rangka "International Day of Prayers" yang diadakan secara serentak di seluruh dunia pada tanggal 9 -- 16 November 2008.

Pada perayaan IDOP ini, gereja-gereja dan umat Kristen di seluruh dunia akan berdoa bersama secara serempak bagi gereja-gereja dan jemaat Tuhan yang teraniaya demi memertahankan iman mereka dalam Kristus Yesus. Saya mengajak Pembaca e-Reformed: para gembala sidang, pengajar, pemimpin, kaum muda, pendoa syafaat, dan semua orang percaya, bergabung dalam acara doa bersama ini.

Jika Anda ingin tahu tentang IDOP, silakan menyimak referensi di bawah ini:

  1. Sekilas Tentang IDOP International Day
  2. International Day of Prayer IDOP
  3. Persecuted Church
  4. The International

2) Mengoreksi pengertian gereja yang salah tentang doa syafaat.

Artikel ini sekaligus diharapkan dapat menolong gereja-gereja melihat konsep yang benar mengenai doa syafaat. Doa syafaat bukanlah doa untuk diri sendiri, atau gereja sendiri, atau anak dan keluarga kita sendiri, atau kegiatan kita sendiri. Artikel ini menjelaskan apa arti doa syafaat yang sesungguhnya bagi jemaat Tuhan.

Harapan saya, jika doa syafaat ini dilakukan dengan benar oleh jemaat, gereja pasti akan mengalami kebangunan rohani karena hati gereja akan diubahkan untuk memiliki hati Tuhan yang mengasihi jiwa-jiwa yang hilang. Kebanyakan gereja-gereja Kristen saat ini sudah kehilangan fungsinya sebagai gereja Tuhan karena lebih banyak berfungsi sebagai gereja manusia, yaitu tempat "christian gathering" (sosialisasi orang-orang Kristen) yang tidak peduli dengan misi Tuhan di dunia. Maka, tidak heran jika ada banyak gereja, yang kalau mau jujur, hanya tinggal papan nama saja, tapi Roh Tuhan sudah tidak ada di sana karena mereka hanya mendahulukan kepentingan manusia, bukan kepentingan Tuhan. Gereja kadang masih dipertahankan, bahkan direnovasi dan dibesarkan bangunannya, tapi sering hanya untuk memertahankan warisan pendiri-pendirinya saja dan menyenangkan kebutuhan jemaat, atau bahkan kalau mau blak-blakan, hanya untuk menyejahterakan hamba-hamba Tuhannya saja. Bagaimana kita tahu apakah gereja kita sudah menyeleweng dari tujuan Tuhan? Mudah, lihat saja dari laporan keuangan gereja, atau dengan kata lain, ke mana uang jemaat pergi. Digunakan untuk apa sebagian besar uang persembahan jemaat itu? - Untuk biaya operasional (administrasi)? - Untuk membangun sarana? - Untuk kegiatan perayaan? - Untuk menggaji hamba Tuhan/staf gereja? - Atau untuk pembinaan rohani jemaat dan penginjilan? Nah, Anda tahu sendiri jawabannya.

Selamat membaca dan selamat berdoa.

Catatan: Jika Anda ingin memberi tanggapan/komentar terhadap artikel di atas, silakan berkomentar di situs SOTeRI.

In Christ, Yulia < yulia(at)in-christ.net > <http://reformed.sabda.org >

[block:views=similarterms-block_1]
Penulis
Dick Eastman
Edisi
105/XI/2008
24-12-2008

Seorang hamba Tuhan berkata, "Berbicara dengan manusia atas nama Allah adalah hal yang mulia, tetapi berbicara dengan Allah atas nama manusia adalah lebih mulia." Doa syafaat ialah mengutamakan keperluan orang lain, dan bukan menaikkan permohonan doa bagi diri kita sendiri. Menaikkan doa syafaat tidak mudah. Pada dasarnya, manusia bersifat mementingkan diri dan kurang memerhatikan orang lain. Namun aneh sekali, ini bukanlah sifat orang-orang yang melintasi Dataran Tinggi Doa Syafaat. Menaruh perhatian pada orang lain adalah semboyan bagi mereka yang menempuh jalan yang sepi ini.

Puncak Doa

Berdoa Syafaat

Kita me