Artikel

Kebangkitan Kristus

Penulis_artikel: 
Pdt. Dr. Stephen Tong
Tanggal_artikel: 
7 Maret 2019
Isi_artikel: 
Kebangkitan Kristus

Kebangkitan Kristus

Kita bersyukur pada Tuhan karena Dia adalah Tuhan yang hidup. Kita melihat dalam 1 Korintus 15 dengan panjang lebar Paulus memaparkan kebenaran bahwa Yesus Tuhan adalah Tuhan yang sudah bangkit. Bahkan, tak ada satu agama yang besar di dalam dunia mempunyai konsep kebangkitan sebelum Yesus datang ke dalam dunia, baik dalam Konfusiusme, Taoisme, Budhisme, Hinduisme, Soroasterisme dsb. Jangankan fakta, konsep mengenai kebangkitan itu pun tidak ada dalam agama-agama tersebut. Namun sebenarnya, kebangkitan bukan dongeng atau mitos yang diketemukan oleh Kekristenan. Kebangkitan merupakan janji Allah kepada manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa dan yang sudah diikat oleh kuasa kematian.

Kubur kosong

Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati. Paulus menegaskan pada waktu orang-orang Korintus dilanda oleh semacam rasionalisme yang tidak bertangggung jawab. Mereka mengatakan, "Tidak mungkin ada orang yang mati dapat bangkit kembali." Maka Paulus berkata, "Jikalau Yesus Kristus tidak bangkit, sia-sialah kepercayaanku. Jikalau Yesus Kristus tidak bangkit percumalah pemberitaanku." Di dalam kalimatnya Paulus menegaskan, betapa pentingnya keharusan orang Kristen percaya Yesus Kristus bangkit. Yesus Kristus bangkit bukan suatu kepercayaan yang dipaksakan karena perlu akan hal ini. Yesus Kristus bangkit bukan sesuatu mitos orang kafir yang dialihkan ke dalam kekristenan. Yesus Kristus bangkit bukan satu kemauan manusia, yang menginginkan suatu penerobosan untuk mengalahkan kuasa kematian. Yesus Kristus bangkit merupakan rencana Allah sebelum dunia diciptakan.

Percaya kepada kebangkitan merupakan suatu sistem iman kepercayaan yang tidak ada di dalam agama yang tidak diwahyukan. Sistem keagamaan dan iman tentang kebangkitan merupakan suatu pewahyuan yang khusus dari Tuhan Allah sendiri.

Di luar Kekristenan, hanya ada konsep kebangkitan dari wahyu umum yang samar-samar, yang pernah terlintas dalam pikiran manusia.

Kebudayaan Mesir membuktikan hal ini. Karena mummi-mummi yang dibuat di Mesir, melambangkan suatu pengharapan bahwa setelah manusia mati tidak berarti habis; sebuah konsep immortalitas. The concept of immortality is very well express in the manifacture of the mummi. Orang-orang Mesir setelah menemukan bahwa orang yang dikasihi itu meninggal, mencari obat-obat untuk mengawetkan tubuh yang sudah mati itu dengan puluhan kilo obat-obat yang berbau wangi yang bisa menghindarkan atau mencegah kerusakan dari tubuh manusia yang telah mati itu, lalu dibungkus dengan kain yang begitu banyak.

Kalau Saudara menuju ke kota Paris di Loever, Saudara menuju ke Chicago; di Chicago Museum, saudara menuju ke New York, museum di Leningrad, museum di British Museum; museum-museum yang penting di seluruh dunia, negara-negara yang maju, Engkau akan menemukan satu atau dua mummi dari orang-orang Mesir. Ada yang sampai sekarang masih ada, dan pada waktu diperiksa dengan rontgen maka ada kulit yang masih baik sehingga tubuh itu masih dalam kondisi baik. Karena orang Mesir mempunyai konsep bahwa manusia tidak hidup di dalam dunia hanya untuk beberapa puluh tahun saja. Setelah mati, mereka masih menantikan suatu hari kebangkitan. Kebudayaan Mesir merupakan kebudayaan yang agung sekali.

Kebangkitan Kristus

Kebudayaan Mesir telah menangkap sesuatu unsur yang tidak ada pada kebudayaan-kebudayaan lain. Di dalam pembagian jenis kebudayaan, Prof. Dr. Sorokin, seorang sosiolog yang besar, telah memberikan pemisahan dan pengklasifikasian dari kebudayaan. Dan, bagi saya sendiri kebudayaan Mesir harus dipisahkan dari kebudayaan-kebudayaan yang lain. Karena dalam kebudayaan Mesir telah menangkap suatu konsep, meskipun samar sekali, yaitu tentang kebangkitan manusia, tetapi konsep ini tidak pernah muncul di dalam agama-agama yang lain.

Konsep kebangkitan sebagai suatu pencetusan kepada immortalitas, the immortality, ketidakrusakan. Istilah immortalitas lebih tepat diterjemahkan ketidakrusakan daripada diterjemahkan sebagai kekekalan. Eternity itu kekekalan; immortality itu ketidakrusakan, dan ketidakrusakan itu merupakan sifat Allah. Satu-satunya oknum yang belum pernah mengalami kerusakan yaitu Allah sendiri. Alkitab mengatakan bahwa Dia adalah satu-satunya yang tidak rusak, yaitu Allah sendiri. Pada waktu Allah menciptakan manusia menurut peta dan teladan-Nya sendiri, maka manusia diberikan kekekalan. Manusia mempunyai kekekalan tetapi tidak mempunyai ketidakrusakan seperti Allah sendiri. We have the eternity but we do not have immortality like God Himself . Kalau kita mempunyai ketidakrusakan, maka itu adalah ketidakrusakan yang tidak sama dengan kualitas ketidakrusakan dari Allah. Manusia boleh tidak mempunyai ketidakrusakan sesudah manusia memiliki tebusan dari Yesus Kristus melalui kuasa kebangkitan. Kita memasuki hal yang besar, begitu penting karena iman orang Kristen lain dengan orang dunia yang hanya mencari hiburan di dalam agama. Iman Kristen merupakan suatu perjuangan, suatu substansi yang tidak ada di dalam kebudayaan manusia. Jikalau orang Mesir mempunyai konsep yang samar, konsep yang kurang jelas tentang kebangkitan tetapi mereka belum pernah bisa mencegah kerusakan. Sebelum mayat manusia dimummikan, kerusakan sudah terjadi. Pada tahun 1693, ada satu majalah Life di Amerika yang di dalamnya memuat satu penemuan dari Raamses 11 dari mumminya. Raamses 11 merupakan seorang Firaun, di mana waktu itu orang Israel keluar dari Mesir. Zaman-zaman itu Firaun mempunyai kuasa yang luar biasa, satu otoritas mengakibatkan ratusan ribu orang mati di bawah pemerintahannya. Maka dalam keadaan yang demikian, bila dia mau membangun piramid yang besar, atau mau membangun kota-kota yang baru, dia hanya memberikan perintah, maka orang Israel akan menjadi budak seperti yang diperintahkan oleh Firaun. Akan tetapi, Firaun yang seperti Raamses 11 yang berotoritas demikian tinggi, apakah dia memiliki hidup yang sangat bahagia? Tidak! Pada abad ke-20 ilmu kedokteran dengan rontgen membuktikan bahwa dia mempunyai sakit gigi yang luar biasa hebatnya. Rontgen membuktikan bahwa ia pernah hidup susah sekali. Pada waktu mummi-mummi diperiksa kembali, kita melihat kerusakan sudah terjadi sebelum mati, apalagi kerusakan yang melanda sesudah kematian lebih hebat. Sekarang kalau kita pergi ke Paris, ke Amerika, di museumnya kita akan menemukan mummi-mummi yang telah begitu rusak, begitu menakutkan. Itulah kebudayaan. Kebudayaan yang agung, kebudayaan yang besar, kebudayaan yang mempunyai konsep yang tinggi-tinggi, toh tetap tidak bisa memberikan jaminan yang sesungguhnya kepada manusia. Sampai pada hadirnya Anak Allah dalam sejarah dan berpartisipasi dalam hidup manusia.

Yesus Kristus lahir ke dalam dunia, mengalami pencobaan, mati menggantikan kita dan bangkit dari kematian dan naik ke sorga. Kelima hal ini, (1) inkarnasi, (2) kemenangan atas pencobaan, (3) kematian untuk menggantikan kita, (4) kebangkitan-Nya dari kematian dan (5) kenaikan-Nya ke sorga; kelima hal ini harus kita percayai dan harus betul-betul kita mengerti sebagai fakta sejarah. Mengapa saya harus menegaskan fakta, historical facts? Saya tegaskan sekali lagi, kita harus terima sebagai fakta-fakta sejarah, karena memang fakta-fakta yang terjadi di dalam sejarah. Karena teolog-teolog yang tidak bertanggung jawab mengatakan bahwa semua ini belum pernah terjadi. Yesus Kristus, kalau tidak pernah terjadi, dilahirkan melalui anak dara Maria, maka Yesus adalah seorang anak yang biasa, keturunan akibat dari persetubuhan antara seorang pria dan wanita. Jika Yesus Kristus sungguh-sungguh belum pernah terjadi mengalahkan pencobaan dari setan dan berdosa seperti saya dan Engkau, hanya moral-Nya lebih tinggi daripada kita; jikalau Yesus Kristus belum pernah mati menggantikan kita; jikalau kematian-Nya bukan sebagai pengganti atau suatu kematian yang menggantikan kita, to repay, to subtitute, maka kematian-Nya hanya menjadi seorang yang begitu hebat, yang begitu bermoral, yang begitu tinggi nilainya yang akhirnya mengorbankan diri-Nya agar menjadi contoh bagi Engkau dan saya saja. Jikalau Yesus Kristus tidak bangkit dari antara orang mati, maka Yesus Kristus hanya seorang penipu dan belum pernah Dia mempunyai cukup kuasa untuk menyelamatkan Engkau dan saya. Jikalau Yesus Kristus tidak bangkit dan naik ke sorga, tidak mungkin ada pengharapan kekal bagi Engkau dan saya.

Orang yang mengalami kuasa kebangkitan akan menjadikan Yesus sebagai tujuan hidupnya.

Facebook Telegram Twitter WhatsApp

Jangan Saudara mempersamakan semua agama dan jangan mempersamakan semua agama yang lain dengan kekristenan. Di sini terletak perbedaan, di sini terletak kualitas kekristenan yang tidak ada bandingnya. Kristus dilahirkan di dalam sejarah, Kristus naik ke sorga sebagai fakta sejarah di antara inkarnasi dan kenaikan ke sorga sebagai klimaks dari wahyu Allah kepada manusia. Everything happen in Christ life is climax of God revelation for human being. Di dalam keadaan manusiawi kita memerlukan pengertian mengenai pengharapan yang sejati, berdasarkan tindakan Tuhan Allah sendiri. Ada perbedaan antara the virgin womb dan empty tomb. Virgin womb berarti rahim anak dara dan empty tomb berarti kubur yang kosong. Kedua hal ini mempunyai arti yang penting. Jika Yesus lahir seperti orang biasa dan jika Yesus mati juga seperti orang biasa maka tidak ada kekristenan yang sejati. Jika Yesus lahir bukan dari seorang anak dara, dan jika Yesus mati dan tidak bangkit dari kematian, sehingga kubur tetap terisi maka kita tidak mempunyai pengharapan menjadi orang Kristen. Roh Kudus yang memungkinkan yang kosong diisi dan juga Roh Kudus yang memungkinkan yang diisi menjadi kosong. Rahim seorang anak dara tidak boleh dan tidak mungkin diisi tetapi Allah yang memungkinkan. Jika kuburan yang telah penuh dengan mayat tidak seharusnya menjadi kosong dengan sendirinya, tetapi Roh Kudus telah mengosongkannya. Kubur dari pendiri-pendiri agama masih terisi dan pengikut mereka tetap kosong. Akan tetapi, kuburan Yesus sudah kosong dan pengikutnya yang diisi.

Pada waktu Yesus Kristus bangkit terjadi gempa bumi yang hebat. Prajurit-prajurit Romawi yang begitu berani terpaksa menjadi takut. Batu penutup kubur yang paling sedikit membutuhkan lima sampai enam orang untuk menggulingkannya sekarang terguling sendiri. Pada waktu itu beberapa orang wanita datang ke kubur Yesus. Ada lukisan yang menggambarkan tiga perempuan yang datang ke kubur Yesus. Pelukisnya menggambarkan kubur itu dari dalam lubang yang melihat ke luar. Keadaannya gelap tetapi di pintu kubur ada cahaya yang masuk. Dan, karena cahaya dari luar itu terlihat sayap dari malaikat yang sedang berkata-kata. Dua orang perempuan melihat malaikat itu, masuk ke kubur dan menjadi tercengang. Akan tetapi, satu perempuan yang lambat baru tiba di depan kubur itu dalam raut wajah yang sedih sekali. Pelukis ini berusaha untuk melukiskan ekspresi manusia sebelum dan sesudah mengerti kebangkitan Yesus. Yang sudah mengerti mempunyai pengharapan besar.

Waktu mereka datang ke kuburan tidak menyangka ada malaikat di sana. Malaikat ini bukan untuk menjaga kuburan dan bukan menjaga mayat Yesus. Akan tetapi, menunggu orang datang dan mengabarkan berita kebangkitan. "Ia tidak ada di sini. Dia sudah bangkit." Ini adalah kalimat yang penting di dalam Alkitab yang pernah dikatakan oleh malaikat. Mengapa mencari orang-orang hidup di tengah-tengah orang mati? Manusia yang mencari Tuhan selalu menganggap ada Tuhan di dalam agama mereka. Kong Hu Cu akhirnya meninggal dan Budha juga mati, akhirnya pengikut-pengikutnya pun mati. Pendiri-pendiri agama lain adalah juga manusia yang berdosa yang akan mati termasuk semua pengikutnya. Akan tetapi, ketika Engkau mengikut Yesus dan waktu mengikut Dia sampai ke kuburan, Engkau menemukan kalimat, "Mengapa engkau mencari orang yang hidup di tengah-tengah orang yang mati?" Perkataan ini memberikan pengharapan dengan kualitas yang berbeda, karena di dalam kubur Yesus ada kalimat yang mengatakan Ia tidak di sini. Yesus tidak bisa ditemukan di kuburan. Yang ke kuburan tidak bisa menemukan Yesus, yang ke kuburan bertemu dengan tengkorak, tengkorak Plato, Heraklitos, Herodotus, tengkorak dari orang-orang yang paling besar dalam sejarah. Tulang belulang dari Hitler, Napoleon, Jenghis Khan, Hanibal, Mao Tze Tung, Stalin, dan nanti tulang kita semua ada di kuburan, tetapi saudara tidak akan menemukan tulang Yesus!

Di Vatikan, ada beberapa paku yang memaku Yesus tetapi tidak terdapat tulang Yesus. Banyak relief-relief di gereja terdapat dari tulang belulang orang-orang orang suci di Sindhikia, seperti Golen, demikian pula tempat-tempat yang lain yang menyatakan peninggalan dari orang- orang lain yang berkenaan dengan kain tipis yang menutupi tubuh Yesus, hanya kain itu yang tersisa di Turino. Lalu, orang Amerika, Inggris dengan metode sinar X dan perhitungan yang lama akhirnya membuktikan kain itu palsu adanya, bukan kain yang menutupi tubuh Yesus. Banyak orang Katolik menyembah kain itu karena mereka mengira kain itu membungkus tubuh Yesus dan dari sinar X terlihat ada satu wajah yang seram, matanya tertutup, karena ada suatu cairan dari mayat itu yang membekas dan dari situ orang bisa melihat wajah Yesus, yang berbeda dari wajah yang pernah dilukis. Akan tetapi, itu pun sudah dibuktikan palsu.

Iman kita tidak boleh didasarkan pada suatu bekas peninggalan Yesus. Iman kita didasarkan kepada kebangkitan Yesus Kristus. Kalau Yesus Kristus tidak bangkit, iman itu sia-sia. Pengabaran Injil sia-sia, kegiatan rasul Paulus sia-sia. Iman kepercayaan, pemberitaan dan kebangkitan tidak bisa dipisahkan. Kebangkitan Yesus Kristus menjadi fondasi iman, yang menentukan hasil kepercayaan kita dan fungsi pemberitaan kita. Jika Yesus tidak bangkit tidak perlu menjadi orang Kristen. Jika Yesus tidak bangkit, tidak perlu mengabarkan Injil. Sejarah akan terus menerus membuktikan satu hal bahwa gereja yang tidak percaya akan kebangkitan Yesus Kristus tidak akan mempunyai iman yang sejati dan tidak mempunyai iman yang dapat diberitakan. Gereja yang hanya menganggap Yesus sebagai revolusioner, sebagai moralis yang besar, perombak sistem masyarakat, psikolog dan konselor terbesar adalah gereja yang lumpuh yang tidak mempunyai kekuatan. Puji Tuhan! Yesus Kristus bangkit dan Paulus berkata, kebangkitan menjadi jaminan iman, jaminan pemberitaan, dan jaminan kehidupan Kristen.

Paulus berkata, "Jikalau Yesus Kristus tidak bangkit maka kita adalah orang-orang yang paling malang." Mengapa kebangkitan Yesus menjadikan Kekristenan tidak sia-sia? Waktu Paulus menulis surat Korintus ini, sudah banyak orang Kristen dianiaya, dipenjarakan dan dibunuh. Orang Kristen tidak mempunyai hak apa-apa lagi. Orang Romawi memfitnah orang Kristen dengan alasan yang tidak jujur untuk menghancurkan kekristenan. Mereka dibuang ke lubang singa, dimakan di tengah-tengah arena yang besar oleh singa yang sengaja dibuat kelaparan. Ada seorang di antara beratus ribu penonton yang kemudian menjadi sejarawan besar mengatakan, "Saya heran berkali-kali melihat orang dimakan singa dengan berteriak dan ada yang jatuh pingsan. Akan tetapi, kali ini saya melihat orang Kristen mempunyai iman yang aneh dan menganggap seseorang yang sudah mati itu bangkit. Orang biasa itu adalah Yesus Kristus yang mereka anggap sebagai Allah. Para pengikut itu dilempar ke dekat mulut singa tetap bernyanyi memuji Tuhan." Pemuda ini akhirnya menjadi sejarahwan yang menulis tentang orang Israel khususnya sebelum dan sesudah kematian Yesus Kristus.

Kemenangan Kristus

Ketika Paulus menulis ayat ini, ia tahu apa yang pernah terjadi dan dia tahu akan penganiayaan yang akan datang. Jika Yesus tidak bangkit maka kita adalah orang yang paling malang karena kita mengikut Dia tanpa hasil. Jika Yesus tidak bangkit, apa yang kita perjuangkan menjadi hampa, keadaan dunia makin lama makin gawat. Karena kalau orang yang sebaik Yesus pun ajal-Nya begitu menakutkan, apalagi manusia yang lain. Jikalau Yesus tidak bangkit dunia tidak mempunyai jawaban bagi persoalan yang paling sulit dan yang paling lama yaitu mengapa orang benar menderita? Orang fasik menjadi makmur sedang orang jujur harus kelaparan; orang yang berdusta menjadi kaya, orang jahat berumur panjang sedangkan orang baik bermoral tinggi umurnya pendek. Di manakah keadilan, kuasa, penyertaan, dan berkat Tuhan? Di manakah keberadaan Tuhan? Bukankah demikian juga pada waktu Yesus dicaci? Pada waktu Yesus dipaku di atas kayu salib terlihat gelap menutupi. Yang jahat mengalahkan yang baik, ketidakadilan berkuasa atas keadilan; yang suci dihukum oleh yang tidak suci. Dalam dunia ini seluruhnya terbalik tidak ada norma/nilai yang beres. Seluruh dunia mempunyai keadilan yang tidak benar. Dunia sudah tidak lagi mengenai kebenaran, kesucian, keadilan, kebajikan. Yesus dengan kedua tangan-Nya menyembuhkan orang, sekarang tangan itu harus dipaku. Yesus dengan kedua kaki-Nya pergi memberitakan Injil, sekarang kaki itu ditusuk. Yesus mempunyai hati yang penuh cinta, yang merangkul seluruh dunia, sekarang ditusuk sehingga darah dan air yang keluar. Di manakah keadilan dan kebenaran? Tidak ada jawaban. Jawabannya hanya ada pada kebangkitan Yesus Kristus. Karena Yesus Kristus bangkit, Paulus berkata, "Pemberitaanku tidak sia-sia." Karena Yesus bangkit kita bukan orang yang paling malang melainkan orang yang paling berpengharapan di dalam Dia.

Kebangkitan Yesus Kristus adalah jaminan yang paling besar bagi mereka yang berjuang dalam sejarah. Oleh karena itu berjuanglah untuk hidup walau harus mengalami kesulitan dan perlakuan tidak adil.

Karena Yesus Kristus bangkit secara vertikal kita berdamai dengan Tuhan Allah. Dosa kita diampuni, jiwa kita diselamatkan, dan mengalami hidup yang baru di dalam Tuhan. Secara horizontal, kita berjuang di dalam dunia menjadi saksi kebangkitan Kristus.

Kebangkitan Kristus

Sumber Artikel: 
Sumber:
Nama Majalah : Momentum
Edisi : 8/Juni 1990
Judul Artikel : Kebangkitan Kristus
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Halaman : 4-10

Mengapa Kita Memuliakan Allah

Penulis_artikel: 
Pdt. Dr. Stephen Tong
Tanggal_artikel: 
26-01-2006
Isi_artikel: 

"... semua orang yang disebutkan dengan namaKu, yang Kuciptakan untuk kemuliaanKu, " (Yesaya 43:7)

Tuhan menciptakan usia bukan supaya manusia hidup dan berbuat sekehendak hatinya. Tuhan menciptakan manusia supaya manusia tahu, ia harus memuliakan Allah Pencipta. lnilah tujuan kita diciptakan, tujuan kita ditebus.

Waktu saya masih kecil saya selalu ingat suatu ayat yang mengatakan, "muliakanlah Allah; muliakanlah Tuhan". Lalu saya berpikir, apakah Tuhan tidak malu, tidak sungkan, meminta orang memuliakan Dia? Saya tidak mengerti, maka saya tanya guru sekolah minggu saya. Guru menjawab, "Saya juga tidak mengerti!" Kalau guru tidak mengerti, mana saya bisa mengerti? Tetapi saya merasa, pasti ada jawaban dalam Kitab Suci, karena Allah tidak main-main. Kemudian saya temukan dalam Kitab Suci, dua kali Allah berkata, "Aku tidak akan memberikan kemulianKu kepada yang lain. Aku tidak mengizinkan kemuliaanKu diberikan kepada ilah-ilah yang palsu." (Yesaya 42:8)

Tidak lama setelah saya menjadi hamba Tuhan, pemuda-pemudi menanyakan pertanyaan sama, "Mengapa Allah minta kita memuliakan Dia?" Saya tanya kembali, "Sebelum kita memuliakan Allah, apakah kemuliaan Allah sudah sempurna?" Jawabnya: sudah! Kalau kemuliaan Allah sudah sempurna sebelum seseorang memuliakan Dia, mengapa Dia minta lagi supaya kemuliaan diberikan kepadaNya?

Saya sebenarnya tidak mengerti, tetapi satu hal saya mengerti. Matahari mempunyai cahaya sendiri, tetapi bulan tidak punya cahaya sendiri. Bulan hanya memantulkan 8% dari cahaya matahari yang diterimanya; dia menjadi reflektor untuk memancarkan kembali cahaya itu kepada benda-benda lain.

Andaikata saya mengambil cermin lalu memakainya sebagai reflektor untuk memantulkan kembali cahaya ke arah sumber cahaya tersebut, apakah dengan demikian sumber cahaya itu bisa menjadi lebih bercahaya? TIDAK! Tetapi di sini ada satu pengertian yang penting, yaitu KEMBALI KEPADA ASAL ltulah maknanya!

Allah mau kita kembali kepada asal. Allah mau kita hidup dalam arah yang benar. Berapa banyak orang yang mempunyai arah hidup yang salah? Berapa banyak orang yang mempunyai suara yang bagus tetapi tidak memakai suara itu untuk Tuhan? Berapa banyak orang yang namanya kristen tetapi menyanyi di kelab malam? Berapa banyak orang yang namanya anak-anak Tuhan tetapi menyanyi untuk memuja hawa nafsu? Di sinilah letak perbedaan antara anak-anak Tuhan dan mereka yang tidak mengenal Tuhan. Bagi anak-anak Tuhan, bakatku berasal dari Hu, uangku berasal dari Hu, kesehatanku berasal dari Hu. Berapa banyak orang yang dalam hal ini pun tidak mengerti! Mereka mengatakan, bakatku dariku, kepintaranku dariku, semua sukses dariku, segala keunggulanku adalah karena aku lebih dari orang lain.

Celakalah kalau kita menjadi orang yang tidak mengetahui sumber. Celakalah kalau kita tidak mengerti, bahwa Tuhan adalah sumber dari segala sesuatu yang kita terima. Sampai saat Roh Kudus menggerakkan hati kita, barulah kita menjadi sadar bahwa keberadaan kita pada hari ini adalah karena anugerah Tuhan saja. Demikian dikatakan Paulus, "Karen kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang." (I Korintus 15: 10)

Pada saat seorang Kristen mempunyai kesadaran sedemikian, pada saat dia mengerti akan sumbernya, dia sudah melangkah dalam hidup kerohaniannya ke pangkalan yang benar; dia berdiri di atas batu karang yang benar. Dia tahu, dia adalah dia; dia diciptakan oleh Tuhan, dia mempunyai kesehatan karena kemurahan Tuhan, dia menikmati sukses karena Tuhan. Suaranya diberi oleh Tuhan, waktu dan hidupnya berasal dari Tuhan. Kalau kesadaran ini sudah ada, mungkinkah seseorang menjadi sombong, congkak, membanggakan diri dan merebut kemuliaan Tuhan? Itu tidak mungkin!

Tetapi kesadaran jangan berhenti di situ saja. Kesadaran itu harus mengarahkan kita kembali kepada Tuhan. Kalau bakatku, suaraku, kesehatanku, berasal dari padaNya; kalau segala sesuatu yang baik dalam hidupku berasal dari padaNya, apakah yang seharusnya aku perbuat? Memakai semuanya untuk kemuliaan ALIah! Kesadaran itu membawa kita bukan hanya ingat akan sumber, tetapi kembali berarah kepada sumber.

Ketika saya berumur 17 tahun, oleh pekerjaan Roh Kudus saya teringat akan cinta kasih Kristus di atas kayu salib. Sekali lagi saya berkata kepada Tuhan, "Di sini hambaMu, aku doulosMu, aku hambaMu, karena aku telah ditebus dengan harga tunai, dengan darah Kristus yang mahal." Dalam Alkitab, Petrus menyebut tentang darah yang sangat bernilai, the precious blood of Christ( I Petrus I : 19). Pertanyaan ini muncul satu kali saja dalam Alkitab - darah yang amat berharga, darah dari anak Allah sendiri, yang telah menebus saya. Siapakah saya? Saya adalah tebusan Tuhan.

Seorang pendeta yang tua sekali di Tiongkok, dalam khotbahnya 50 tahun lalu berkata demikian, "Sebelum suatu barang saya beli, barang itu milik toko. Setelah saya beli, barang itu milik saya. Mengapa saya membelinya? Karena saya mau mempunyai hak milik atas barang itu." Apa sebabnya saudara ditebus oleh Tuhan? Apa sebabnya saudara dibeli dengan darah yang begitu mahal? Karena Tuhan mau mempergunakan hak milik atas dirimu! Saudara-saudara, Dia mau memakai saya, Dia mau memakai saudara, dan Dia mau berkata kepada saudara, "Muliakanlah Aku oleh karena darah AnakKu yang tunggal. Aku sudah menebus engkau, Aku sudah membeli engkau dan sekarang Aku mau engkau memuliakan Aku." Umat Kristen memiliki agama yang bernyanyi. Kita tahu kita bernyanyi karena ada yang kita puji, yaitu Tuhan penebus kita.

Lagu-lagu yang dikumandangkan dalam pergelaran perdana Jakarta Oratorio Society berbicara tentang Kristus, Kristus, Kristus. Kita diingatkan kembali akan Kristus, domba Allah, yang sudah mati disembelih untuk mengangkut dosa dunia; domba Allah yang membersihkan hati nurani kita masing-masing. Dia patut dipuji dan dimuliakan. Marilah kita bersama-sama memuji Dia, bersyukur kepadaNya dengan hati nurani yang bersih. Mari kita kembalikan kemuliaan kepada Tuhan!

download audio
Sumber Artikel: 
Sumber:
Nama Majalah : Momentum
Edisi : 2/Juli 1987
Judul Artikel: Mengapa Kita Memuliakan Allah
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Halaman : 2-3

Seni dalam Perspektif Kekristenan

Penulis_artikel: 
Paul Hidayat STh.
Isi_artikel: 

Karya-karya seni sepanjang sejarah kemanusiaan merupakan bukti tentang kehebatan manusia, yang jauh mengungguli makhluk-makhluk lainnya. Untuk memperbesar kekaguman kita akan kemanusiaan, cukup kita pergi ke museum, atau ke peninggalan-peninggalan purba, atau ke gedung orkestra, atau ke suatu pameran lukisan. Arsitektur, musik, lukisan, karya pahat, film, fotografi, tari-tarian, tulisan, dan sebagainya, akan segera membangkitkan rasa kagum kita tadi, sebab karya-karya seni ini menggemakan kehebatan manusia. Siapa tidak kagum melihat lukisan- lukisan karya Basuki Abdullah atau Affandi? Siapa tidak tenggelam dalam kedalaman pengisahan tulisan penulis-penulis besar seperti Tolstoy, Tagore, Dostoevsky, Mangunwijaya, dsb? Siapa tidak takjub melihat arsitektur kuno seperti Borobudur maupun arsitektur modern seperti Opera House di Sidney? Siapa pula tidak terbuai oleh musik- musik indah karya komponis agung seperti Bach, Mozart, Vivaldi, Tschaikovsky, dsb? Siapa pula dari kita yang tidak bangga dengan aneka ragam kesenian Indonesia dari Sabang sampai Merauke?

Seni tanda keagungan manusia yang membuat hidup ini terasa lebih indah, tidak lepas dari permasalahan. Misalnya, ada seni pahat yang indah, ada pula yang dijadikan berhala yang disembah manusia. Ada lukisan dan foto-foto seni yang mengagumkan, ada pula yang menggiurkan merangsang nafsu. Ada musik yang menyentuh kalbu dan menyegarkan jiwa, ada pula yang mengaduk perasaan menjadi galau. Orang Kristen tinggal di tengah-tengah dunia yang dibanjiri oleh berbagai trend kesenian, masing-masing lengkap dengan produknya. Kita harus memilih dan menentukan sikap. Apalagi karena kini seni dengan penggabungan teknologi canggih (misalnya lewat video, majalah, kaset, dsb), mampu dimassalkan menerobos segala bentuk batasan, dan memperhadapkan kita langsung dengan berbagai pilihan seni. Patokan apa dapat kita pakai untuk menilai dan memilih?

Bukan hanya itu. Kekristenan bukan saja bergumul tentang seni di luar dirinya, yang harus disaringnya sebelum dapat diterima, tetapi seni di dalam kekristenan pun wajib kita pergumulkan. Seni, karunia Tuhan yang agung itu, tidak saja mampu membawa kita ke dalam suasana indah, tetapi kadang-kadang membuat kita bingung dalam pemilihan sikap. Bagaimanakah sikap Alkitab terhadap seni? Apa tanggung jawab dan peran Kristen dalam bidang seni? Seni yang bagaimana yang sebaiknya kita kembangkan dalam corak ibadah dan pelayanan Kristen?

Seni menurut Alkitab

Barangsiapa mencari dukungan Alkitab untuk sikap antipatinya terhadap seni, akan kecewa. Sebaliknya orang yang mencari dukungan Alkitab atas sikap pro seni tanpa pandang bulu, juga akan dikecewakan. Kedua sikap pro dan kontra dapat kita temui dengan jelas diajarkan dalam Alkitab.

Alkitab bukan saja mendukung pengembangan kesenian, tetapi bahkan memerintahkan kita untuk mengembangkannya. Seni sebagai bagian dari panggilan dan karunia budaya, jelas merupakan suatu karunia yang harus dikembangkan oleh manusia. Bukankah kreativitas manusia merupakan salah satu aspek dari keberadaan manusia sebagai gambar Allah, Sang Pencipta yang Maha kreatif itu? Maka mengembangkan daya seni yang Tuhan telah tanamkan dalam diri kita adalah bentuk ketaatan kita terhadap panggilan-Nya untuk mencerminkan Dia melalui hidup dan karya kita.

Sepanjang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru kita menjumpai perkenan Allah atas berbagai upaya dan karya seni: Bezaleel dan Aholiab (Kel 31:1-11), desainer seni Kemah Sembahyang; mazmur-mazmur; hymnologi yang diungkapkan Paulus dalam surat-suratnya (Fil 2:6-11; Kol 1:15- 23); sampai ke doxologi di Kitab Wahyu, semuanya menyaksikan fakta ini dengan jelas.

Bila kita telusuri kisah Bezaleel dengan lebih teliti, kita dapat menarik beberapa kesimpulan tentang seni. Pertama, seni ada dalam cakupan kehendak Allah, sebab Allah sendiri yang memerintahkan pembuatan Kemah Sembahyang secara berseni. Allah menginginkan tempat ibadah umatNya itu memiliki penampilan bercita-rasa seni tinggi (Kel 25-28). Kedua, kemampuan seni adalah karunia Allah. "Lalu Musa memanggil Bezaleel dan Aholiab dan setiap orang yang ahli, yang dalam hatinya telah ditanam TUHAN keahlian..." (Kel 36:2). Dalam tafsirannya tentang bagian ini, Calvin menandaskan bahwa setiap kemampuan seni atau ilmiah, bahkan juga yang dimiliki mereka yang tidak beriman, adalah karunia Roh Kudus. "The knowledge of all that is most excellent in human life is said to be communicated to us through the Spirit of God" (Institutes 2.2.16). Maksud Calvin bukanlan bahwa seniman yang tak beriman memiliki Roh Kudus, tetapi bahwa semua kemampuan dalam diri manusia adalah akibat pekerjaan Roh Kudus dalam anugerah umum.

Lebih jauh, Keluaran 31 mengembalikan seluruh detil kemampuan seni yang dibutuhkan untuk merancang interior maupun eksterior Kemah Sembahyang itu sebagai karunia Roh Kudus. (Perhatikan kata-kata "Kutunjuk", "Kupenuhi", "Kuperintahkan" 31:2-6).

Seni selain merupakan karunia, juga merupakan panggilan hidup dari Allah. Banyak kaum injili masa kini mengkategorikan hanya pelayanan gerejawi sebagai panggilan hidup dari Tuhan. Tetapi melalui gerakan Reformasi kita disadarkan bahwa seluruh kehidupan kita adalah pelayanan dan ibadah untuk Tuhan, dan karena itu, adalah panggilan Tuhan untuk kita. Bezaleel menerima panggilan itu. Panggilan di bidang seni, seperti halnya panggilan di bidang pelayanan Firman, atau di bidang ilmu, tidak berlaku umum tetapi berlaku khusus. Tuhan memanggil secara pribadi. Seseorang bisa dipanggil Tuhan menjadi pendeta atau missionaris atau guru atau ilmuwan, bisa pula dipanggil-Nya menjadi seniman!

Walaupun terhadap seniman-seniman bukan Kristen tidak dapat kita katakan bahwa "ilham" yang mereka terima adalah bukti mereka dipimpin oleh Roh Kudus, namun dalam kasus seniman Kristen (seperti halnya Bezaleel dalam Kel 35:30) dapat disimpulkan adanya hubungan erat antara mutu kerohanian dengan mutu seninya. Urutannya jelas: "memenuhinya dengan Roh Allah, dengan keahlian, pengertian dan pengetahuan dalam segala macam pekerjaan..." (Kel. 35:31). Juga kepandaian untuk mengajar (ayat 34). Melalui kisah Bezaleel ini kita menarik pelajaran indah bahwa seni adalah karunia yang Tuhan berikan kepada manusia dan merupakan panggilan khusus untuk orang tertentu yang dipanggil-Nya menjadi seniman. Pelayanan dalam bidang seni ini meliputi prinsip pimpinan Roh, pemberian kemampuan, penggunaan akal dan pengetahuan serta pengembangannya melalui jalur ajar-mengajar.

Di pihak lain, Alkitab juga mengungkapkan penyalahgunaan seni oleh manusia. Firman Tuhan melarang pembuatan patung dan berbagai simbol lainnya untuk disembah (Kel 20:4,5). Harun dengan lembu emasnya, Nebukadnezar dengan patung raksasanya, dan kitab-kitab petenung zaman Kisah Para Rasul, cukup menjadi bukti betapa mudahnya daya seni manusia itu dipakai untuk menghasilkan hal-hal yang jahat, buruk dan melawan Tuhan. Teologi Reformed mengingatkan kita bahwa kejatuhan manusia dalam dosa mencemarkan seluruh aspek kemanusiaan kita, termasuk kepekaan dan daya seni manusia.

Bila Alkitab bersikap seperti itu, kita pun seharusnya bersikap demikian. Kita patut bersikap positif, menerima dengan syukur dan mengembangkan potensi seni yang Tuhan titipkan pada kita. Di lain pihak kita wajib sadar akan pengaruh dosa yang mungkin membelokkan arah seni dari memuliakan Tuhan dan membangun kemanusiaan menjadi sesuatu yang memberontak melawan Allah dan menghancurkan kemanusiaan.

Peran Kristen terhadap kesenian

Terhadap kesenian, orang Kristen dan gereja wajib menjalankan perannya sebagai imam, nabi dan raja. Sebagai imam, kita dipanggil untuk "menyelamatkan" kesenian dalam arti menyaksikan prinsip-prinsip Kristen ke dalam pergumulan dan pengungkapan seni dunia di sekitar kita. Sebagai nabi kita dipanggil untuk menyuarakan kebenaran dan menilai kesenian dalam terang kebenaran Firman Tuhan. Sebagai raja kita dipanggil untuk memerintah, menguasai, mempengaruhi kesenian, terutama dengan jalan menciptakan ungkapan-ungkapan kesenian yang dinafasi oleh kekristenan dalam keterlibatan penuh kita di dalam kesenian.

Bila semua peran itu kita jalankan, maka timbullah beberapa konsekuensi praktis dalam sikap kita terhadap kesenian. Ada kemungkinan kita harus membuangnya, sebab karya seni bersangkutan sudah sedemikian dirusak oleh ketidakbenaran dan kejahatan (misalnya: berhala-berhala, kitab primbon, film porno, dsb). Ada pula saat ketika kita boleh menerima karya seni bersangkutan karena prinsip isi dan bentuknya tidak menyimpang dari kekristenan. Lebih dari itu, orang Kristen terpanggil untuk mengembangkan daya seninya sedemikian rupa sampai mampu mencetuskan karya-karya seni yang berprinsip Kristen dan mempengaruhi dunia.

Kesenian gerejawi

Dalam sejarah terbukti bahwa kesenian yang dikembangkan dalam konteks gereja sempat menjadi ratu yang berpengaruh dan ditiru kesenian dunia ini. Arsitektur gereja dan musik gereja adalah dua contoh paling jelas tentang hal ini. Tetapi apa yang dulu merupakan kebanggaan gereja rupanya kini sudah berbalik. Dalam banyak hal, gereja paling ketinggalan dalam kesenian di zaman ini. Kenyataan ini merupakan cambuk yang melecut kita untuk mawas diri dan bangun dari ketiduran kita dalam bidang seni gerejawi. Di manakah dramawan, musikus, pelukis, arsitek, pemahat, novelis Kristen abad ini yang mau menggeluti ulang panggilan Tuhan untuk bidang seni dan menghasilkan karya-karya berkaliber?

Seni Kristen/gerejawi bukan saja yang semata merupakan ungkapan kisah- kisah Alkitab. Karya-karya Dostoevsky (The Brother's Karamazov) yang sarat dengan masalah filsafat, religius, dan sosiologis juga dapat dipakai Tuhan untuk mentobatkan orang. Karya Tolkien mungkin lebih mampu berkomunikasi dengan banyak orang tentang kebenaran Kristen. Karena itu kita perlu lebih banyak seniman Kristen yang menempatkan ulang Kekristenan di panggung pergelaran seni dunia.

Namun demikian, sisi lainnya tidak boleh kita lupakan. Seperti yang Tuhan Yesus ingatkan, semua orang yang ingin taat kepada-Nya pasti akan menerima salibnya sendiri. Dalam bentuk penghinaan, dipandang tak berarti, dianggap tidak sesuai trend, dan sebagainya. Demikian pula tidak selamanya Tuhan mengijinkan kesenian gerejawi diterima di panggung kesenian dunia ini. Selama penolakan dunia atas kesenian gerejawi dan orang Kristen bukan disebabkan oleh kelalaian, kebodohan atau kemalasan kita sendiri dalam mengembangkan seni, maka jelas bahwa itu adalah konsekuensi kemuridan kita mengiring Kristus.

Konklusi

Orang Kristen dan gereja tidak dapat mengelak dari keharusan terlibat dalam kesenian, paling tidak menikmatinya. Kita disadarkan bahwa daya seni manusia adalah suatu karunia yang sangat mulia yang menunjukkan aspek kemanusiaan kita sebagai gambar Allah. Dalam Alkitab sendiri, kesenian bisa dikatakan sebagai puncak ibadah yang dimulai dari iman (doktrin), dilanjutkan oleh kasih (dalam etika) dan diakhiri dengan doxology (estetika). Itu sebabnya, Kristen harus terlibat dalam kesenian dan mengupayakan kesenian yang bermutu tinggi.

Di pihak lain, kita disadarkan bahwa dosa dan pengaruh iblis merembes masuk ke semua kapasitas kemanusiaan kita, tidak terkecuali daya seni kita. Karena karya seni adalah karya manusia berdosa, seni pun besar kemungkinan tercemar oleh dosa.

Karena itu, Kristen terpanggil menjalankan perannya sebagai imam, nabi dan raja. Kesenian harus dikembalikan kepada tempatnya semula, yaitu sebagai alat untuk memuliakan Tuhan, mengungkapkan keindahanNya dan ciptaanNya dalam ungkapan-ungkapan artistik dan menunjukkan kebenaran. Seni bukan tujuan akhir yang diberhalakan dan memperbudak manusia. Seni dapat memuliakan Allah, mencerminkan kebenaran dan keindahan serta membangun kemanusiaan, bisa pula sebaliknya. Karena itu, kita harus berperan aktif: memperbaiki, menilai dan mencetuskan yang baru.

Sumber Artikel: 

Sumber:

Nama Majalah : Momentum
Edisi : 02/Juli 1987
Judul Artikel : Seni dalam Perspektif Kekristenan
Penulis : Paul Hidayat STh.
Halaman : 4,11-13

Perintah Kasih

Penulis_artikel: 
-
Tanggal_artikel: 
17 Januari 2019
Isi_artikel: 
Perintah Kasih

Perintah Kasih

"Saudara-saudaraku yang kukasihi, marilah kita saling mengasihi."1 Yohanes 4:7

Kapan terakhir kali seorang Kristen memanggil Engkau, "Saudara yang kekasih"? Dalam pemakaian alkitabiah penyataan ini tidak bersifat sentimental. Paragraf teragung mengenai kasih dalam Alkitab dimulai pada 1 Yohanes 4:7 dengan kata-kata, "Saudara-saudaraku yang kukasihi, marilah kita saling mengasihi," dinyatakan dalam dua kata Yunani yang penuh penekanan, "Agapetoi, agapomen," yang arti harafiahnya, "Engkau, yang telah dikasihi Allah, kasihilah satu sama lain."

Kasih Allah

Kita harus saling mengasihi dengan tiga alasan:

Allah sendiri adalah kasih
Pemberian Allah membuktikan kasih-Nya
Kasih Allah sempurna di dalam kita ketika kita saling mengasihi

Allah adalah kasih

Dua kali dalam konteks ayat 8 dan 16 Yohanes menyatakan kebenaran ALLAH ADALAH KASIH! Cara mengekspresikan ini berarti bahwa kasih Allah tidak hanya salah satu sifat di antara sifat-sifat lainnya. Berarti bahwa Allah kasih dalam keberadaan-Nya terus menerus, secara instrinsik. Kesucian dan kasih menjadi karakteristik seluruh keberadaan Allah (1 Yohanes 1:5).

Fakta Kesatuan Allah dalam Tritunggal adalah dasar dari seluruh iman dan kehidupan praktika kita. Dalam Tiga Pribadi ada kasih yang sempurna. Bapa mengasihi Anak secara sempurna dan Anak kepada Bapa. Demikian pula, Roh Kudus mengasihi Bapa dan Anak. Roh datang untuk membina kasih dalam seluruh anggota tubuh Kristus.

Dalam Yudaisme tidak ada konsep kasih. Akan tetapi, orang Yahudi juga dekat dengan Perjanjian Lama di mana Tritunggal tercakup secara implisit. Dalam Perjanjian Baru, Tritunggal dinyatakan secara eksplisit. Jika kita melihat ketakutan dan kebencian pada orang bukan Kristen, bukankah itu menunjukkan tidak ada sumber di mana kasih Ilahi dapat dirasakan, diserap, dilaksanakan dan berbalasan?

Senjata kita untuk memenangkan dunia adalah kebenaran dan kasih.

Facebook Telegram Twitter WhatsApp

Teologi Reformed tidak mewarisi yang demikian. Akan tetapi, atas hal ini kasih dari Allah Tritunggal dicurahkan.

Pemberian Allah membuktikan kasih-Nya

Alasan kedua yang mendorong motivasi untuk saling mengasihi didasarkan pada pemberian Bapa dalam sejarah. Ia "mengutus" Anak-Nya. Mengutus Dia berpresuposisi Ia adalah Allah dan memiliki pra-eksistensi-Nya. Pengutusan merupakan suatu pemberian demi keselamatan kita, pertama dengan menyediakan kebenaran melalui kehidupan-Nya yang sempurna bagi kita, dan kedua melalui pendamaian. Merupakan satu tindakan penuh kehinaan untuk mengambil rupa manusia, tetapi dengan merendahkan diri sendiri, bahkan sampai mati di kayu salib, Ia menjadi korban penebusan bagi dosa kita; Penanggung murka, Pengganti posisi kita yang terhukum.

Senjata kita untuk memenangkan dunia adalah kebenaran dan kasih

Betapa Bapa yang penuh kasih tidak menderita ketika melihat Anak Tunggal-Nya mati dalam kehinaan? Tidak pernah terjadi, tidak sekali- kali terjadi, pengorbanan diri lebih besar dari pemberian Bapa akan Anak-Nya untuk menjadi korban penebusan atas murka Ilahi dan memuaskan keadilan Ilahi. Tidak ada pemberian lebih besar dari Bapa yang dapat dihitung karena tidak ada pemberian yang lebih besar yang mungkin diberikan. Itulah pemberian "tak terkatakan" (2 Kor. 9:15, juga 1 Yohanes 3:16; Roma 8:32). Dalam 1 Yohanes 4:7-12 kita mendapatkan penjelasan lebih jelas mengenai kasih Bapa. Patut dicatat pengekspresian kata "sedemikian mengasihi". Jika Allah sedemikian mengasihi kita, kita harus saling mengasihi.

Kasih berarti mengampuni dosa orang yang kita kasihi dan tidak mengingatnya lagi. Inilah yang dilakukan Bapa kepada umat manusia yang memberontak; Ia mengampuni dosa terhadap-Nya dengan bayaran sendiri. Kita juga harus demikian. Merupakan sebuah perintah, "Namun, jika kamu tidak mengampuni, Bapamu yang ada di surga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu."." (Markus 11:26).

Saling mengasihi

Kasih Allah sempurna di dalam kita jika kita mengasihi satu dengan yang lain.

"Jika kita saling mengasihi, Allah tinggal di dalam kita dan kasih-Nya itu disempurnakan di dalam kita." (1 Yohanes 4:12). Ini merupakan pernyataan yang mengagetkan karena kita tahu bahwa kasih Allah sempurna dinyatakan dalam Ketritunggalan-Nya. Akan tetapi, Yohanes menekankan bahwa kasih Allah dibawa kepada kesempurnaan di dalam kita ketika kita mengasihi sebagaimana seharusnya. Kasih Allah dinyatakan ulang dalam kita dan di antara kita ketika kita saling mengasihi satu dengan yang lain dalam kebenaran dan dalam tindakan.

Kasih Allah sempurna ketika kita mengasihi satu dengan lain, bukannya perpecahan, saling menyerang, menganiaya dan menekan. Sesuatu yang mencengangkan malaikat adalah ketika mengobservasi kasih gagal dalam jemaat orang kudus khususnya di antara mereka yang mula-mula membenci satu dengan lainnya.

Siapa yang mampu meletakkan api di atas sumur minyak di Kuwait? Seperti neraka yang mengamuk! Suatu neraka yang lebih besar yang tidak dapat dilacak, adalah lautan dari kebencian yang mengamuk dalam neraka; kebencian dari setan dan kebencian dari orang berdosa yang tidak bertobat. Untuk memiliki satu hati baru yang mengasihi, dan menanggalkan api kebencian kepada Allah dan manusia merupakan pekerjaan yang saling melengkapi. Menunjukkan kasih yang benar dalam gereja adalah pekerjaan sorgawi.

Aplikasi

Menghadapi mereka yang belum mau menerima Yesus Kristus membutuhkan pemikiran yang jernih dan pelaksanaan kasih yang dinyatakan dari pribadi kepada pribadi. Ketika Yesus berdoa untuk kesatuan dari Gereja-Nya (Yohanes 17:20-23), Ia membuktikan bahwa melalui kesatuan dalam kasih Roh Kudus memakainya untuk mempertobatkan dunia. Senjata kita untuk memenangkan dunia adalah kebenaran dan kasih.

Perintah Kasih

Diambil dari:
Nama majalah : Momentum
Edisi : 12/Juni 1991
Judul artikel : Perintah Kasih
Penulis artikel : Tidak dicantumkan
Halaman : 38--40

Ciri-ciri Remaja dan Cara Menanggapinya

Penulis_artikel: 
-
Isi_artikel: 

(Daftar ini tidak dimaksudkan sebagai daftar lengkap; para pembimbing remaja dapat menambahkan sendiri hasil pengamatannya)

Ciri-ciri fisik

Pertumbuhan badan remaja sangat cepat. Sistem koordinasi tubuh mereka menjadi kurang seimbang akibat pertumbuhan yang cepat itu. Mereka mengalami masa-masa energetik dan lelah silih berganti.

Ciri-ciri mental

Mereka menyukai petualangan dan penemuan hal-hal baru, dan mereka mempunyai imajinasi yang aktif. Mereka senang humor.
Mereka mampu berpikir serius, dan memiliki kesanggupan untuk berpikir abstrak maupun kongkret sekaligus. Tetapi pengetahuan mereka berkembang lebih cepat daripada pengalaman.

Ciri-ciri sosial

Mereka ingin menjadi dewasa dan tidak tergantung pada orang dewasa. Namun dalam banyak hal mereka masih bertindak seperti kanak-kanak.
Mereka ingin dianggap "termasuk" atau "milik" gang-nya dan punya rasa setia kawan yang besar terhadap teman-teman sebayanya.
Mereka malu-malu dan sangat peka akan keadaan dirinya.

Ciri-ciri emosional

Emosi mereka kuat sekali dan sering naik turun. Mereka sulit mengendalikan emosinya karena begitu banyak perubahan sedang terjadi di dalam tubuhnya.
Mereka merasa tak seorang pun memahami mereka.

Ciri-ciri rohani

Mereka menginginkan agama yang praktis.
Mereka punya banyak keraguan mengenai agama.
Mereka mencari keteladanan.

Cara menanggapi

Bersabarlah dengan kecanggungan mereka. Jangan membuat kegiatan- kegiatan terlalu kompetitif atau terlalu menegangkan.
Jangan Salah mengerti kelelahan mereka dan menyamakannya dengan kemalasan.

Cara menanggapi

Tanggapi ciri-ciri ini secara positif. Bantulah mereka memakai imajinasinya untuk membuat Alkitab lebih hidup. Tertawa bersama mereka. Gunakan humor.
Bimbinglah mereka agar dapat memikirkan sendiri masalah-masalahnya. Arahkan mereka kepada Alkitab untuk menemukan jawaban atas pertanyaan- pertanyaan yang sulit.

Cara menanggapi

Jangan memanggil mereka "anak-anak". Beri mereka tanggung jawab, tetapi jangan kecewa kalau mereka bertindak kurang bertanggung jawab.
Hormatilah kesetiakawanan mereka. Doronglah mereka supaya memilih teman-teman yang baik. Arahkan kesetiakawanan mereka kepada Tuhan.
Jangan mengejek mereka, apalagi melontarkan sindiran tajam. Tunjukkan kepada setiap remaja bahwa Anda mengasihi dan mempedulikan mereka.

Cara menanggapi

Jangan timbulkan gangguan emosional pada mereka. Jangan membuat acara permainan yang gaduh, yang langsung diikuti oleh kebaktian serius; mereka tidak dapat menenangkan diri secepat itu.
Sediakan waktu untuk mengenal mereka satu persatu secara pribadi.

Cara menanggapi

Tunjukkan selalu bahwa kebenaran-kebenaran Alkitab itu relevan untuk situasi kehidupan mereka.
Terimalah keraguan ini sebagai bagian dari proses pertumbuhan. Sambutlah sifat itu sebagai pertanda bahwa para remaja ini sedang menjadikan imannya sebagai iman mereka sendiri, bukan iman yang diwarisi dari orang tua.
Arahkan keinginan ini kepada Kristus dan teladan yang Ia berikan kepada kita di dalam Alkitab.

Sumber Artikel: 

Sumber:

Nama Majalah : Momentum
Edisi : 01/Maret 1987
Judul Artikel : Ciri-ciri Remaja Dan Cara Menanggapinya
Penulis : -
Halaman : 12

Dia Yang Akan Datang

Penulis_artikel: 
F.F. Bruce
Isi_artikel: 

'Dia yang akan datang' bukan sebutan yang tepat untuk Yesus. Namun itu merupakan satu istilah yang sering dikenakan kepada-Nya, dengan kaitan baik untuk sejarah kedatangan-Nya dalam dunia atau kepada kedatangan- Nya untuk kedua kali atau kedatangan-Nya yang berulang kali.

Engkaukah Yang Akan Datang Itu?

Pada waktu Yohanes Pembaptis dipenjarakan oleh Herodes Antipas, ia mengutus dua orang untuk bertanya kepada Yesus, menyelidiki dan melaporkan kegiatan-Nya. Pertanyaan yang diajukan adalah "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?" (Matius 11:3; Lukas 7:20). Yohanes, dalam masa bebasnya, telah menyatakan bahwa ia mempersiapkan jalan bagi Yang Lebih Besar daripadanya, yang akan mengadakan penghakiman dengan angin dan api. Ia mempunyai konsep yang jelas dalam pikirannya akan Pribadi yang akan datang itu, akan pekerjaan-Nya, dan sekarang ia tidak lagi yakin seperti sebelumnya bahwa Yesus memenuhi konsep itu.

Jelas, ketika Yohanes memulai pelayanan baptisannya banyak pandangan menjalar mengenai beberapa gambaran yang tampak, jelasnya diharapkan, memberikan signal akan datangnya waktu itu dan permulaan zaman baru. Sebagian orang berusaha untuk mengidentifikasikan Yohanes sendiri dengan satu atau lain figur yang ada. Ketika ia menyangkal bahwa ia adalah Mesias, ditanyakan lagi, "Engkaukah Elia?" - karena seorang dari nabi yang kemudian dinubuatkan sebagai utusan Allah sebagai Elia yang kembali ke dunia untuk melaksanakan pelayanan pendamaian sebelum tiba hari Tuhan yang besar dan dahsyat itu (Maleakhi 4:5,6). "Bukan!" sanggah Yohanes. "Lalu, apakah engkau seorang nabi?" Tidak perlu mempertanyakan kepada Yohanes, "Nabi yang mana?" Ia tahu bahwa para penanya berkonsep tentang nabi yang dikatakan Musa, "Tuhan Allahmu akan membangkitkan bagimu seorang nabi seperti aku." (Ulangan 18:15). Namun ia menyangkal bahwa ia adalah nabi. Ia mengidentifikasikan diri sendiri bukan dengan siapapun dari antara figur yang diharapkan; ia hanya "suara" yang memanggil pria dan wanita untuk "menyiapkan jalan bagi Tuhan" (seperti tercatat dalam Yesaya 40:3), untuk mempersiapkan intervensi-Nya yang akan datang.

Secara alamiah, sebagai usaha-usaha yang dibuat untuk mengidentifikasikan Yohanes dengan figur-figur yang diharapkan, sejajar dengan usaha yang dilakukan terhadap Yesus. Sebagian dari usaha-usaha itu diulang oleh para murid Yesus ketika Ia bertanya kepada mereka di Kaisarea Filipi, "Menurut kata orang siapakah Aku?"

Dalam masa itu ada tiga pribadi yang sangat diharapkan muncul di Israel - seorang raja agung (Daud kedua), seorang imam besar (Harun kedua), dan seorang nabi agung (Musa kedua). Dalam salah satu dari dokumen Qumran tercatat bahwa masyarakat Qumran akan hidup menurut peraturan yang ditetapkan 'sampai bangkitnya seorang nabi dan Yang diurapi dari Harun dari Israel'. 'Nabi' (sebagaimana dinyatakan oleh ayat-ayat Qumran lainnya) adalah nabi seperti Musa, 'Yang Diurapi dari Harun' adalah imam besar dari keturunan Harun (Mesias berkeimaman) dan 'Yang Diurapi dari Israel' diidentifikasikan dengan keturunan Daud, seorang raja yang menang (Mesias manusiawi).

Raja Yang Akan Datang

Yesus, seperti yang kita lihat, tidak menolak klaim sebutan 'anak Daud' kepada-Nya, tetapi Ia tidak menekankan garis keturunan-Nya dari Daud. Jika sebutan Mesias memaksa konsep manusia berpikir tentang gambaran seorang raja perang seperti Daud, maka lebih baik Ia tidak menggunakannya. Karena jelas ada satu kontras yang sangat besar antara karir Daud dengan karir dari keturunan Daud yang terbesar. Ketika Imam Besar bertanya kepada Yesus apakah Ia adalah Mesias atau bukan, Ia menegaskan secara langsung dengan menambahkan kata-kata yang menunjukkan bahwa Ia nyata mengklaim itu untuk diri sendiri.

Kata "Mesias" berasal dari kata Ibrani yang berarti "Yang Diurapi"; istilah "Kristus" berasal dari kata Yunani yang memiliki arti yang sama. Daud dan raja-raja lain dari Israel memang diurapi dengan minyak sebelum menjalankan otoritas kekuasaannya. Yesus diurapi untuk peran mesias-Nya ketika Roh Allah turun atas-Nya ketika Ia dibaptis di sungai Yordan. Menurut Lukas, di sinagoge Nazaret Yesus membacakan pembukaan dari Yesaya 61, "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku ..." (Lukas 4:18), sebenarnya Ia mereferensikannya dengan baptisan-Nya. Demikian juga Petrus mereferensikan baptisan Yesus ketika mengkhotbahkan Injil untuk pertama kalinya kepada pendengar kafir di rumah Kornelius di Kaisarea dan mengatakan bagaimana "Allah mengurapi Yesus, orang Nazaret dengan Roh Kudus dan kuasa" (Kisah 10:38).

Maka, ketika orang Kristen berbicara mengenai Yesus sebagai Mesias atau Kristus, mereka melupakan kaitan antara militer dan politik dengan pengurapan kerajaan dalam masa Perjanjian Lama, dan memenuhi istilah ini dengan arti yang Yesus berikan kepada mereka dengan menjadi manusia dan melakukan segala hal yang Ia telah kerjakan. Ketika kita mengatakan 'Yesus adalah Kristus', nama Yesuslah yang memberikan arti kepada istilah Kristus, bukan yang lain. Otoritas Yesus sebagai raja terbukti di kayu salib, seperti yang dinyanyikan orang Kristen,

Musuh besar kita kocar-kacir
Kristus Yesus adalah Raja!

mereka menyanyikan kemenangan yang diraih melalui kematian dan kebangkitan.

Imam Yang Akan Datang

Ada fungsi lain dalam Israel kuno ketika seseorang diberikan jabatan melalui pengurapan minyak. Yaitu imam besar, yang diawali oleh Harun. Imam besar dalam masyarakat Qumran diharapkan bangkit pada akhir zaman baru. Inilah peran yang tidak dapat dipenuhi Yesus untuk satu alasan sederhana. Keimaman berdasarkan keturunan Harun pada suku Lewi; Yesus berasal dari suku Yehuda. Sehingga tidak ada cara untuk memandang-Nya sebagai imam besar keturunan Harun.

Namun demikian, satu dokumen dalam Perjanjian Baru menyatakan gambaran Yesus sebagai imam besar bagi umat-Nya, melayani demi kepentingan mereka dalam penebusan sorgawi pada dasar satu pengorbanan sempurna yang Ia hadirkan satu kali untuk selamanya ketika Ia menyerahkan hidupNya sendiri. Catatan itu adalah surat kepada orang Ibrani. Tetapi ketika penulis yang tidak dikenal dari catatan itu mencari otoritas Perjanjian Lama untuk menggambarkan Yesus sebagai imam besar, ia menemukan itu tidak dalam keimaman Harun tetapi dalam percakapan klasik di mana Allah bersumpah tentang Mesias dari keturunan Daud (yang adalah keturunan Yehuda) "Engkau adalah imam besar untuk selamanya menurut peraturan Melkisedek" (Mazmur 110:4). Melkizedek adalah imam dari raja di Yerusalem pada zaman Abraham hidup dan penulis surat Ibrani menyatakan bahwa keimaman Melkisedek jauh lebih terhormat dan efektif dibandingkan Harun, dan bahwa itu telah sempurna digenapkan dalam Yesus.

Seperti Harun dan penerusnya, dalam surat Ibrani Yesus dinyatakan sebagai imam besar yang diurapi, tetapi lagi, pengurapan-Nya tidak dalam pengertian harafiah, dengan minyak khusus, melainkan secara rohani. Satu referensi pada pengurapan Yesus ditemukan dalam satu mazmur kerajaan, yang kedatangan Yesus. Sekarang dalam Yesus Allah telah mengutus jurubicara-Nya yang sempurna. Ia sendiri dapat menggenapi sepenuhnya istilah dari nubuat Musa; Ia adalah Dia yang kepada-Nya semua harus mendengarkan.

Dia, Yang Telah Datang, Akan Datang Kembali

Maka ketika Yesus disambut dengan berbagai cara sebagai Dia yang akan datang, dan Ia diproklamasikan dalam Injil sebagai Seorang yang pernah datang -- raja, imam, nabi. Tetapi Injil memproklamasikan Ia tidak hanya sebagai seorang yang telah datang -- datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan orang berdosa -- tetapi juga sebagai seorang yang terus menetas hadir dan pada puncaknya akan datang pada waktu yang akan datang. "Untuk sedikit waktu" demikian penulis Ibrani mencatat "dan Ia akan datang, sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatangan-Nya." (Ibrani 10:37).

Ketika Yesus menghadap takhta imam besar untuk interogasi, Ia menyatakan penghakimannya bahwa mereka tidak melihat akhir-Nya, mereka akan melihat-Nya lagi "datang dengan awan-awan sorgawi". Sebagaimana kita katakan di atas awan sorgawi menyatakan ide kehadiran ilahi. Referensinya mungkin tidak hanya satu kali kedatangan pada akhir zaman tetapi berulangkali memanifestasikan kehadiran dan kuasa Yesus dalam sejarah dunia seperti dalam pengalaman umat-Nya. Inilah faktor penting dalam berita Kristiani yaitu karena pengorbanan dan kematian-Nya, Yesus adalah Tuhan atas sejarah dan segala kejadian. Dalam bahasa kitab Wahyu, Ia adalah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Hidup, Yang telah ada dan terus ada, Yang akan datang. Karena Ia adalah Yang Akan Datang, maka tidak ada yang statis mengenai Dia, Ia hadir secara dinamis dalam kehidupan manusia, datang ketika pengharapan sangat kecil dan memimpin ke arah lebih depan dalam tujuan Allah yang begitu luas.

Menurut Injil Yohanes, Yesus mengatakan kepada para murid-Nya dalam ruangan atas, beberapa jam sebelum Ia naik, bahwa Ia akan meninggalkan mereka tetapi Ia akan kembali. Kembalinya akan memakai banyak bentuk, lebih dari satu. Dalam satu bentuk, kembali melampaui hidup mereka saat itu, "Ketika Aku pergi dan menyiapkan tempat bagimu, Aku akan kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada" (Yohanes 14:3). Tetapi dalam bentuk lain merupakan suatu pengembalian dalam hidup mereka saat itu, "Aku tidak akan meninggalkan engkau yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu." (Yohanes 14:18). Janji yang terakhir ini digenapi dengan diutusnya Paraklete, Roh Kudus, menjadi penolong, guru dan pemimpin yang setia dan menjadikan kehadiran-Nya secara pribadi nyata terus menetas kepada mereka. Tetapi bahkan pengutusan Paraklete menyempurnakan penggenapan janji: dengan membawa pengikut-Nya ke dalam persekutuan kasih yang menyatukan Bapa dengan Anak, Yesus akan membuat mereka lebih sadar akan penyertaan-Nya, jika mungkin, daripada selama ini ketika Ia dapat dilihat dan hadir nyata bersama dengan mereka.

Tujuan Sejarah

Puisi Inggris pada abad ke-19 mengekspresikan keyakinan lebih dari zaman kita:

Yet I doubt not thro the ages one increasing purpose runs, and run the thoughts of men are widen'd with the process of the suns

Itu bukan pandangan Kristus secara khusus yang disuarakannya. Tetapi frase "one increasing purpose" dapat merangkumkan sangat baik akan perspektif Kristen tentang waktu. Inilah bagaimana perspektif itu diletakkan dalam bagian yang dikenal dalam Perjanjian Baru. "Yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian." Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus, sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga, maupun yang di bumi." (Efesus 1:8-10). Dunia waktu dan ruang, yaitu dengan segala faktor yang berkonflik, pada akhirnya akan diperdamaikan dan dipersatukan di bawah pemerintahan Kristus. Proses perdamaian diinagurasikan oleh kematianNya di kayu salib - perdamaian dari pria dan wanita dengan Allah dan perdamaian dari pembagian antagonis dalam keluarga manusia -- akan disempurnakan dalam perdamaian puncak ketika alam semesta dibawa ke dalam kesatuan dalam Kristus. Tidak kurang daripada ini diimplikasikan ketika Yang Disalibkan dikenal sebagai Tuhan atas segala sesuatu.

Hakim Yang Benar

Yesus, tidak datang untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkannya, juga melalui kedatangan-Nya menginisiasikan satu penghakiman yang di dalamnya pria dan wanita menyatakan diri sendiri untuk Dia atau melawan Dia. Dan penghakiman ini sendiri pada bagian mereka akan menjadi dasar dari penghakiman mereka pada akhirnya.

Pada satu kesempatan, Ia menggambarkan dengan jelas melalui kata-kata akan kedatangan Anak Manusia, ketika Ia duduk di atas takhta kemuliaan dan segala bangsa akan dibawa ke hadapanNya untuk dihakimi. Ia akan memisahkan yang benar dari yang tidak benar "seperti seorang gembala memisahkan domba dari antara kambing" dan akan menjatuhkan penghargaan dan hukuman yang tepat kepada keduabelah pihak. Anggota kedua kelompok akan dikejutkan oleh penilaian-Nya, karena itu tidak sesuai dengan pelaksanaan pengadilan umumnya. Kriteria penghakiman adalah perlakuan mereka terhadap orang miskin, lemah, tertindas dan yang dianggap hina. Mereka dipandang oleh Anak Manusia sebagai saudara laki-laki dan saudara perempuan-Nya, dan kepada mereka yang Ia hakimi Ia berkata, "Karena dengan berbuat demikian, engkau telah melakukannya kepada-Ku (Matius 25:31-46).

Inilah aplikasi gambaran penghakiman Yesus dalam kitab Daniel, di mana figur seorang manusia (seseorang seperti anak manusia) menerima takhta dan otoritas penghakiman dari Allah. Jelas Anak Manusia yang Yesus bicarakan harus diidentifikasikan dengan diri-Nya sendiri. Inilah cara mengerti perkataan-Nya setelah kematian dan kebangkitan. Petrus mengumumkan dalam rumah Kornelius bahwa Yesus adalah Dia yang ditetapkan Allah untuk menghakimi yang hidup dan yang mati (Kisah 10:42). Paulus mengatakan di hadapan sidang Aeropagus di Atena bahwa Allah telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati (Kisah 17:31). Dalam suratnya kepada orang Kristen di Roma ia menunjukkan hal yang sama kepada hari itu, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus (Roma 2:16). Kemudian, dalam surat yang sama ia mengatakan, "kita akan berdiri di hadapan takhta penghakiman Allah (Roma 14:10), tetapi ketika ia berbicara tentang hal yang sama dalam II Korintus 5:10 ia mengatakan, "Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus." Ini bukan dua penghakiman yang berbeda, tetapi satu, yaitu melalui agen Kristus Allah akan menjalankan pekerjaan penghakiman, seperti melalui Kristus Ia melaksanakan pekerjaan penciptaan.

Maka orang Kristen akan terus memuji Kristus "Kami percaya bahwa Engkau akan kembali sebagai Hakim kami." Tetapi penghakiman terakhir ini menjadi satu topik utama dalam penghakiman yang bekerja sendiri dalam setiap generasi. Sejarah dunia adalah penghakiman atas dunia, demikian penyair Jerman Schiller. Dan jika Kristus adalah hakim Ilahi yang dituju oleh seluruh umat manusia, menyatakan sesuatu tentang natur dan prinsip penghakiman-Nya. Sesuai karakter, pengajaran dan hidup-Nya bahwa jalan utama akan dijadikan. Yesus sejarah menyatakan bahwa pengajaran-Nya menyediakan satu-satunya fondasi kokoh bagi hidup manusia. "Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya -- Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan --, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya." (Lukas 6:47-49).

Kebenaran dari manifestasi ini seringkali diulang dalam sejarah individu dan masyarakat. Perkataan Yesus mengindikasikan cukup jelas mengenai kriteria dalam penghakiman akhir. Tidak ada yang diragukan mengenai hal itu: penghakiman terwarisi dalam karakter pribadi-pribadi yang dihakimi dan dalam natur tingkah laku mereka.

Yohanes dalam Injilnya tidak menggunakan bahasa gambar penginjil yang lain ketika ia berbicara mengenai penghakiman. Yesus, adalah Dia yang diberikan Bapa otoritas untuk melaksanakan penghakiman. Di dalam pelayanan-Nya di dunia pria dan wanita telah memilih hidup atau mati menurut respon mereka kepada-Nya dan pengajaran-Nya; prinsip yang sama akan dijalankan pada penghakiman terakhir. Kepada orang yang menolong- Nya ataupun pengajaran-Nya, Yesus berkata, "Firman yang telah Kukatakan itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman." (Yohanes 12:48).

Kebangkitan Orang Mati

Untuk membangkitkan orang mati, dalam pengajaran orang Yahudi, Kristen adalah hak Allah. Menurut Perjanjian Baru, hak ini (seperti hak melewati penghakiman akhir adalah yang Bapa kerjakan bersama Anak. Hal ini ditetapkan bahwa Dia yang Allah telah bangkitkan dari antara orang mati. Haruslah melalui-Nya Allah akan membangkitkan yang lainnya. Pekerjaan Anak dari pendelegasian otoritas untuk membangkitkan orang mati dinyatakan dalam Injil Yohanes dalam dua tingkatan. "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang- orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup." (Yohanes 5:25). Ini berhubungan dengan berita pemberian hidup dari Injil yang melalui perintah Ilahi dalam nabi Perjanjian Lama (bdg. Yes. 55:3. Tetapi dalam konteks yang sama Yohanes mencatat Yesus melanjutkan, "Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum." (Yohanes 5:28,29).

Kebangkitan akhir dari orang mati - lebih khusus bagi mereka yang mati dengan percaya di dalam Dia - begitu erat hubungannya dalam Perjanjian Baru dengan kedatangan Kristus yang kedua kali. "Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya." (Filipi 3:20,21). Transformasi ini adalah mengambil bagian dalam kebangkitan Kristus sendiri; merupakan penggenapan proses yang diinagurasikan ketika Ia dibangkitkan dari antara orang mati. Dengan menghargai kebangkitan orang mati Paulus berkata dalam surat lain, "Tetapi tiap- tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya." (I Korintus 15:23). Dengan kata lain, kebangkitan umat Kristus adalah penuaian akhir yang diawali dengan kebangkitan-Nya - pewujudan dari buah sulung, yang mempersembahkan kepada Allah seluruh hasil tanaman.

Sejak kebangkitan Kristus, yang terlebih dahulu, menyediakan kebangkitan umat-Nya, tidak hanya berupa kebangkitan kerangka satu tubuh hidup yang diperbaharui seperti yang kita tahu sekarang, juga membagi peraturan baru mengenai keberadaan, hidup kekal, yang Kristus sediakan ketika Ia bangkit dari orang mati. Bersama dengan penghakiman akhir, maka kebangkitan akhir merupakan penyempurnaan dari sesuatu yang telah ada sebagai pengalaman. Mereka yang dalam Kristus hidup di sini dan sekarang dalam menikmati persekutuan dan berbagi dalam kuasa hidup kebangkitan-Nya. Kuasa ini menjadi baik bagi mereka melalui Roh Kristus, yang bekerja dalam umat-Nya. Tetapi Kuasa ini juga menyatakan kekekalan sebagai bagian dari kekekalan Kristus. Dalam prospek kebangkitan Yesus menurut Injil Yohanes mengatakan kepada para murid, "Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun, akan hidup." (Yoh 14:19). Jika Kristus bangkit dari antara orang mati dan hidup untuk selamanya, mereka yang hidup dalam Dia dalam dunia tidak akan dipisahkan dari-Nya ketika keberadaan duniawi mereka berakhir. Bagi mereka, dalam kata Paulus, hidup bersama Kristus, itu lebih baik (Filipi 1:23). Karena tubuh menjadi media kita berkomunikasi dengan lingkungan kita, maka sarana komunikasi dalam lingkungan yang baru juga sekarang dipersiapkan, "Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia." (II Korintus 5:1) sehingga tidak ada kesenjangan antara hidup fana dengan hidup kekal bagi mereka yang bersatu dengan Kristus melalui iman. Apapun bentuk yang mereka terima dengan kemuliaan pada kedatangan Kristus, itu hanya merupakan konfirmasi pada kenyataan yang telah menjadi milik mereka sebenarnya.

Orang-orang Kristen demikian, yang memandang kepada kedatangan Kristus, tidak melihat sedemikian banyak untuk mereka sendiri tetapi demi Ia dan dunia. Dalam dunia ini yang pernah membuang dan membunuh Yesus, juga mengakui-Nya sebagai Tuhan oleh ratusan juta orang. Pengakuan ini akan mencapai klimaks ketika, "Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya." (Wahyu 11:15), ketika Yesus menjadi Pemerintah Hidup untuk semua.

Kedatangan Kristus Dan Ia Akan Datang

Tetapi klimaks ini tidak hanya menyangkut penerimaan semesta dari cara Yesus dan pengetahuan universal Dia sebagai Tuhan, juga menyangkut segala manifestasi pribadi Kristus. Pribadi Kristus yang ada harus dinyatakan dalam kepenuhan kemuliaan-Nya -- yaitu kepenuhan kasih karunia dan kebenaran.

Satu kesulitan yang dirasa oleh banyak orang sekarang ketika mereka membaca Perjanjian Baru mengenai tema ini adalah penulis seringkali menggambarkan kedatangan final Kristus sudah dekat - jika tidak dalam masa hidup mereka sendiri. Tetapi mereka tidak membuat kepastian dogmatis mengenai waktunya, yang dapat dibuktikan kesalahannya dengan berjalannya waktu. Mereka tidak tahu kapan itu terjadi, dan tidak pura-pura bahwa mereka tahu. Maka, ketika waktu berjalan, perspektif mereka berubah, tetapi tidak doktrin atau pengharapan mereka. Ini menyatakan mereka lebih bijaksana daripada beberapa orang Kristen yang kemudian, yang dari waktu ke waktu dalam era Kristen menyatakan kepada publik bahwa Kristus akan datang lagi dalam tahun ini atau tahun itu (jika tidak hari ini atau hari itu) - hanya menyatakan kegagalan ramalan mereka.

Jika dalam Injil, Yohanes melaporkan Yesus berkata kepada murid-murid- Nya, "Aku akan datang kembali" maka Matius menyatakan Ia berkata setelah bangkit dari kematian, "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20). Jika akhir waktu (suatu konsep yang sulit untuk kita mengerti) dihubungkan dengan kedatangan akhir, Ia tidak absen dari umatNya di sini dan sekarang. Kepercayaan bahwa Ia akan datang kembali dengan kemuliaan untuk menghakimi baik yang hidup dan yang mati tidak konflik dengan turun tangan-Nya dalam hidup manusia dalam masa antara kedatangan pertama dan kedua.

Sekarang adalah milik-Nya, karena Ia adalah

Yang Kekal dalam kesementaraan kita; tetapi masa depan juga milik-Nya. Dan karena itu adalah milikNya, itu menjadi milik mereka yang adalah milikNya: mereka dapat menyapa satu sama lain, "Saudaraku, saudariku, masa depan adalah milik kita!" Mereka kenal Dia sebagai "Kristus hidup kita; mereka kenal Dia juga sebagai Kristus Yesus, dasar pengharapan kita" (I Timotius 1:1).

Sumber Artikel: 

Sumber:

Nama Majalah : Momentum
Edisi : 12/Juni 1991
Judul Artikel : Dia Yang Akan Datang
Penulis : F.F. Bruce
Halaman : 20-32

Rahasia Pelayanan Remaja Yang Efektif

Penulis_artikel: 
-
Isi_artikel: 

Harus kita akui bahwa ada kelompok pelayanan remaja tertentu yang maju dan berkembang, sedangkan kelompok lain makin lama makin kehilangan remajanya. Mengapa ini terjadi, agak sukar untuk dicari sebabnya yang tepat, tetapi kalau Anda ingin tahu ciri-ciri pelayanan remaja yang efektif, simaklah uraian berikut ini.

Utamakan orang, bukan program

Pertama-tama dan terutama, suatu pelayanan remaja yang berhasil adalah yang mengutamakan orang-orangnya, bukan programnya. Berusaha mengenal para remaja lebih dekat. Membuat mereka merasa dirinya penting. Mendengarkan mereka. Memperdulikan mereka. Mengasihi mereka. Kalau unsur-unsur ini ada, pelayanan remaja itu akan bertumbuh. Jika yang diutamakan adalah program, betapa pun baiknya program itu, para remaja cenderung untuk kehilangan minat.

Salah satu penyebabnya ialah karena mereka telah menghabiskan banyak waktu dan energi untuk kegiatan sekolah. Kegiatan gereja mungkin kurang menarik dibandingkan aktivitas sekolah atau aktivitas luar lainnya. Maka kalau pelayanan remaja di gereja tidak menawarkan sesuatu yang berbeda, para remaja itu akan memilih yang di luar gereja.

Satu hal yang biasanya tidak ditawarkan oleh program kegiatan di luar, adalah perhatian terhadap tiap pribadi. Bila pelayanan remaja gereja menyediakan suasana kasih, saling mempercayai, dan menerima tiap orang sebagaimana adanya, maka para remaja akan berada di sana. Setiap orang ingin merasa dikasihi.

Utamakan Kristus

Yesus Kristus adalah pribadi yang paling menarik, yang pernah hidup di dunia ini. Dalam usia remaja pun orang dapat memberi respons kepada Kristus. Mereka dapat mengalami, bahwa hidup bagi Dia sungguh berharga.

Seringkali pelayanan remaja di gereja bertujuan agar para remaja itu kelak menjadi anggota gereja tersebut. Keanggotaan gereja memang penting. Bahkan sangat penting. Tetapi kalau ini yang menjadi tujuan pelayanan remaja, kebanyakan remaja menjadi tidak tertarik.

Dari mula, perbedaan antara kedua hal di atas harus sudah dinyatakan dengan jelas, secara langsung maupun tak langsung: "Pelayanan remaja kami bertujuan untuk menjadikan Kristus Tuhan atas kehidupan -- hidup kami, nilai-nilai kami, dan gaya hidup kami."

Suatu pelayanan remaja yang takut-takut menyatakan tujuannya, pada akhirnya akan kehilangan para remajanya yang dihanyutkan oleh arus ajaran-ajaran lain di sekitarnya.

Tujuan di atas tidak perlu sering-sering dicanangkan, tetapi setiap pembina remaja harus memahami dan menghayati tujuan itu.

Suatu kelompok yang mempedulikan

Pelayanan remaja yang berhasil harus menawarkan bukan saja penyerahan sepenuhnya kepada Kristus sebagai Tuhan atas kehidupan, tetapi juga suatu kelompok yang mempedulikan dan memberi dukungan kepada mereka yang telah menyerahkan dirinya kepada Kristus. Juga kepada mereka yang baru mulai tertarik untuk percaya.

Seperti halnya orang dewasa, para remaja pun perlu memiliki perasaan menyatu dengan kelompoknya. Dalam tahun-tahun itu tekanan dari teman- teman sebaya sangat besar, bahkan hampir tak tertahankan. Dan umumnya, tekanan itu menjurus kepada yang negatif.

Karena itu pelayanan remaja harus menawarkan suatu kelompok "tandingan", suatu "keluarga besar", dimana para remaja benar-benar merasa diterima dan dikasihi.

Prioritas yang jelas

Di tengah arus kesibukan dan waktu yang sempit, gampang sekali pelayanan remaja kehilangan arah tanpa disadari. Mempunyai prioritas yang jelas, seperti yang berikut ini, akan membantu para pembina.

Prioritas 1 : Pertumbuhan rohani dan saling mendukung satu sama lain.
Ini berarti seminggu sekali para pembina bertemu untuk saling berbagi
suka-duka, kebutuhan dan pertumbuhan rohani.
Prioritas 2 : Pertemuan dengan para remaja seminggu sekali,
untuk membagi tanggung jawab bagi pelaksanaan program pelayanan.
Prioritas 3 : Menyediakan waktu untuk bergaul dengan aggota-anggota
kelompok remaja. Bila ada acara-acara khusus, hadirlah di sana.
Dan dukunglah para remaja Anda dalam acara-acara lain juga,
misalnya dalam pertandingan sekolahnya atau pertunjukan kesenian yang dimainkannya.
Prioritas 3: baik untuk dilaksanakan kalau pembina kelompok remaja ada beberapa orang.
Dalam suatu pertunjukan yang dimainkan oleh remaja Anda, salah seorang pembina dapat hadir untuk memberi semangat.
Dalam acara yang lain, seorang pembina lainya hadir sebagai suporter.
Kehadiran Anda seakan-akan mengatakan kepada mereka:
"Kami memperhatikan engkau ... engkau penting bagi kami ... apa yang kau lakukan itu penting."
Para pembina remaja hendaknya memiliki komitmen untuk "menyediakan waktu" bagi para remaja yang dilayaninya.

(Disadur dari Coleman & Rydberg, "6 Training Sessions for Your Youth Worker Team")

Sumber Artikel: 

Sumber:

Nama Majalah : Momentum
Edisi : 01/Maret 1987
Judul Artikel : Rahasia Pelayanan Remaja Yang Efektif
Penulis : -
Halaman : 10-11

Yohanes Pembaptis : Pelita Yang Terpasang Dan Bercahaya

Penulis_artikel: 
Pdt. DR. Stephen Tong
Isi_artikel: 

Dalam Dia (Yesus) ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia (Yohanes) datang sebagai saksi untuk memberikan kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya." (Yohanes 1:4-7). "Ia adalah pelita yang menyala dan bercahaya." (Yohanes 5:35) Terjemahan lain mengatakan, "Ia menjadi pelita yang menyala dan bercahaya." "Ia merupakan satu pelita yang sudah disulit, yang sudah terpasang dan sekarang bercahaya."

Yohanes Pembaptis merupakan seorang yang mengagumkan dan menjadi teladan bagi setiap orang yang mau melayani Tuhan. Ia mempunyai posisi yang paling unik. Ia adalah nabi terakhir dalam Perjanjian Lama, tetapi juga nabi pemula dalam Perjanjian Baru. Ia mengakhiri seluruh Perjanjian Lama, dan merintis Perjanjian Baru. Melalui Yohaneslah segala yang dinubuatkan nabi-nabi Perjanjian Lama menjadi suatu puncak pernyataan yang jelas tentang Mesias kepada manusia. Melalui Yohanes juga seluruh jaman setelah Kristus dapat melihat bahwa dialah yang memberi petunjuk untuk jaman selanjutnya bahwa Kristus membuka Perjanjian Baru dengan darah yang dicurahkan, "Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia." (Yohanes 1:29). Ucapan ini mengakhiri nubuat dan ucapan para nabi mengenai Kristus dalam Perjanjian Lama dan membuka satu jalan baru supaya orang-orang dalam Perjanjian Baru dan dalam sejarah melihat bahwa Yesus adalah sungguh Domba yang disembelih, seperti yang dilambangkan pada hari Paskah dalam Perjanjian Lama.

Siapakah Yohanes? Ia bersaksi bagi Terang tetapi mengaku bahwa ia bukan Terang itu. Siapakah Yohanes? Ia bersaksi bagi Kebenaran dan ia mengetahui bahwa ia bukan Kebenaran itu sendiri melainkan Kristus. Siapakah Yohanes? Ia bersaksi bagi Mesias tetapi ia mengakui bahwa ia bukan Mesias. Ia hanya seorang yang merintis jalan bagi kedatangan Sang Mesias. Yohanes begitu mengenal keberadaannya sendiri. Ia yang agung, besar, dipenuhi Roh Kudus, tetapi juga begitu rendah hati. Orang yang agung tidak angkuh. Orang yang angkuh selalu tidak agung. Semakin besar jiwa seseorang, semakin tinggi rohaninya, yang selalu merasa kurang dan tidak cukup secara paradoks. Orang yang merasa diri cukup adalah orang yang kurang rohani dan kurang agung. Yohanes adalah orang yang begitu rendah hati sampai ia pernah mengatakan satu kalimat, yang boleh disebut sebagai pepatah emas yang harus diukir dengan pena mas dan tinta mas, "Membuka tali kasutNya (Mesias) pun aku tidak layak." (Yohanes 1:27). Seorang pelayan yang mengambil kemuliaan tuannya adalah pelayan yang kurang ajar. Ketika ada hamba Tuhan atau pemimpin gereja yang mengambil alih kuasa Allah dari takhtaNya dengan menganggap diri setara dengan Allah, menerima hormat manusia mengganti Allah, di sanalah mulai kegagalan dalam pelayanan.

Pada jaman itu dianggap ada dua orang besar yaitu Yohanes dan Yesus. Yohanes tidak berkhotbah di mimbar terkenal atau di gedung besar di Yerusalem. Ia berkhotbah dan menegakkan mimbar yang ada di padang belantara. Ia tidak tahu siapa yang akan datang tetapi ia tahu bahwa ia mempunyai firman yang harus disampaikan dan Roh Kudus memenuhinya. Sehingga padang belantara menjadi terlalu ramai karena ribuan orang datang. Ia tidak perlu merebut suatu kemuliaan tetapi tahu bagaimana bersaksi dan memberitakan firman Tuhan. Di tempat Roh Kudus turun, di sana tanah yang kering dan gersang menjadi sawah yang subur. Allah yang sejati adalah Allah yang membuka jalan di tengah laut. Allah yang menyediakan satu jalan lapang di tengah padang belantara. Allah yang mematahkan segala rantai dan belenggu, halangan pintu besi maupun tembaga. Yohanes Pembaptis disebut sebagai saksi yang diutus oleh Allah (The Witness send by God). Seorang yang bersaksi, berarti kesaksiannya dan saksi itu sendiri merupakan utusan Allah. Seorang yang diutus Tuhan untuk memberitakan kebenaran. Dari mulut Yesus Kristus sendiri keluar satu kalimat indah tentang Yohanes bahwa ia adalah pelita yang terpasang dan bercahaya.

Saat manusia memandang Yohanes dan Yesus sama besar, Yesus tahu siapa diriNya dan siapa Yohanes. Yohanes pun tahu siapa Yesus dan siapa dia. Orang luar hanya melihat secara lahiriah tetapi kedua orang ini melihat ke dalam jiwa mereka. Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa apa yang mereka nilai itu salah, ia terlalu kecil dan Yesus terlalu besar. Yohanes adalah pelita yang terpasang dan bercahaya, yang menyinarkan untuk seketika akan Terang itu. Tetapi Yesus adalah Terang yang sesungguhnya. Jika Yesus adalah matahari maka Yohaneslah bulan yang memantulkan cahaya matahari itu. Setiap kali kita melihat cahaya asli dari Kristus, kita harus ingat yang memantulkan itu hanya sekejab mata, sebagai pelita yang hanya memberikan sedikit kesaksian untuk sekejab waktu saja. Kembali kepada Kristus itu menjadi hal yang penting. Siapakah Billy Graham, Luis Palau, Stephen Tong? Hanya seorang saksi saja. Kita tidak menjadi pengikut manusia tetapi pengikut Kristus. Agustinus memberikan satu kalimat yang menjadi contoh bagi setiap hamba Tuhan dalam sejarah, "Jikalau engkau menemukan tulisan atau khotbah saya sesuai dengan Alkitab, buanglah saya kembali sesuai dengan Firman." Itulah keagungan sejati seorang hamba Tuhan, yang jujur melayani Tuhan.

Yohanes Pembaptis menjadi pelita yang terpasang dan bercahaya bukan melalui mulutnya sendiri. Sebutan yang indah ini keluar dari mulut Yesus bahwa ia adalah pelita yang terpasang dan bercahaya. Di sini terlihat tiga macam pelayanan

  1. Sudah menjadi pelita
  2. Mau terpasang
  3. Mau terus bercahaya. Ada orang yang sudah menjadi pelita tetapi tidak mau terpasang.
Ada orang yang sudah terpasang tetapi tidak mau bercahaya terus.

Pelita itu merupakan suatu wadah. Dipasang itu merupakan suatu tindakan untuk memulai pelayanan. Bercahaya adalah satu konsistensi dari kesaksian yang terus berjalan. Pelita seperti bola lampu, lalu pasang itu seperti listrik atau minyak atau api yang sudah dinyalakan dan bercahaya berarti segala hambatan sudah disingkirkan sehingga terang itu boleh sampai ke tempat yang lain.

Istilah kesaksian yang dipakai oleh Alkitab bukan terbentuk dari kata kerja melainkan kata benda, "Ye must be the witness of Me, ye are My witnesses. "Kamu adalah saksi-saksiKu." Jadi istilah kesaksian berbeda dengan gerakan Kekristenan dalam jaman ini. Pengertian sekarang, ada orang yang berbicara dan kita mendengar. Kesaksian itu bukan cerita, bukan pengalaman. Kesaksian sebenarnya adalah satu kedudukan menjadi saksi Kristus (the position of the witness of God). Sesudah itu baru saksi itu mengeluarkan kalimat untuk menyatakan kedudukannya, itu arti bersaksi.

Dalam Yohanes 1:6 dikatakan seorang yang dikirim oleh Allah, bersaksi bagi Terang itu. Dalam 5:35 Yesus mengatakan ia adalah pelita yang terpasang berarti setelah ia memiliki kedudukan sebagai saksi, baru ia bersaksi. Alkitab mengatakan Ye are the witnesses of My resurrection, kamu adalah saksi kebangkitanKu. Dalam bersaksi bukan pengalaman kita yang dipentingkan melainkan kebenaran bahwa Kristus yang mati dan bangkit, menjadi satu-satunya pengharapan untuk penginjilan seluruh dunia.

Dulu kamu adalah alat setan, yang memihak kepada iblis dan kegelapan. Sekarang kedudukanmu diubah. Posisimu sekarang adalah saksi Tuhan. Yohanes adalah pelita yang terpasang dan bercahaya. Berarti selain ia sudah mempunyai kedudukan itu, ia mau disulut. Dia mau diberikan satu permulaan yang tidak berasal dari dirinya sendiri. Sebuah kesaksian menuntut kesungguhan dalam hidupmu. Bukan hanya perkataanmu tetapi hidupmu sungguh sesuai dengan kebenaran, baru mulutmu pun menjadi alat kebenaran. Celakalah orang yang mengeluarkan suatu perkataan dengan tidak mempunyai kesungguhan; yang mengeluarkan kalimat yang bukan menjadi kepercayaannya.

Yohanes menjadi saksi yang akhirnya betul-betul mati karena kesungguhannya menjadi pelita. Ia adalah pelita yang terpasang dan bercahaya. Jika pelita disimpan ia tidak perlu mati karena tidak dibakar dan tidak bercahaya. Pelita yang terpasang dan bercahaya akan mati.

Peribahasa Tionghoa mengatakan di tengah kemewahan tidak jatuh dalam perzinahan dan tidak menjual diri; di dalam kemiskinan dan kepicikan tidak berubah hati; di bawah kuasa dan otoritas yang paling besar tidak menaklukkan diri. Inilah mutu watak Kekristenan yang harus kita perjuangkan. Berapa banyak orang yang berkata-kata dengan muluk-muluk, tinggi-tinggi, syair yang indah tetapi pada waktu godaan tiba, langsung berubah arus, waktu miskin langsung kejujuran hilang. Mungkinkah engkau memelihara dirimu di tengah kesulitan, di tengah kepicikan, di tengah kemiskinan namun tetap jujur dan tidak berubah pendirian, bisa tetap berpegang pada prinsip-prinsip kejujuran dan kesucian. Bisakah engkau memelihara diri di tengah kekayaan dan kemewahan dan tidak sembarangan menghancurkan diri, berzinah dan melakukan tindakan yang amoral? Bisakah engkau menahan diri waktu diberi ancaman? Bisakah di bawah otoritas kuasa politik yang besar engkau tidak takluk dan tidak berkompromi? Itulah kesaksian yang menyatakan mutu seseorang.

Ada pepatah yang mengatakan, Kalau jalan tidak jauh, tidak tahu tenaga kuda. Kalau hari tidak panjang tidak diketahui tenaga dan hati manusia. Dalam jangka waktu panjang baru dapat diketahui kondisi hati seseorang. Ketika ujian datang baru diketahui bagaimana kesetiaanmu. Ketika jarak pendek kelihatan semua kuda sama kuat. Tetapi setelah menempuh jarak jauh baru terlihat kekuatan masing-masing. Setelah berpuluh-puluh tahun baru kelihatan kekonsistenan seseorang. Tuhan tidak melihat permulaan. Dalam permulaan terlalu banyak orang yang mengatakan, Saya sungguh bersedia mati bagi Tuhan. Setelah itu konsistensi sangat penting. Tuhan ingin kita mempunyai waktu pelayanan yang konsisten dan sungguh-sungguh. Ketika saya menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan saya berkata, "Peliharalah saya sampai mati, kesungguhan, pengabdian, kesetiaan sampai mati. Saya minta Tuhan peliharakan." Bila waktu tidak panjang tidak akan diketahui kesetiaan seseorang. Kalau ujian tidak berat, tidak ketahuan ketahanan seseorang. Bersyukurlah kalau Tuhan mengijinkan kau mengalami ujian berat, menandakan bahwa Ia percaya kepadamu dan akan memakai engkau lebih berat lagi. Jangan melarikan diri dari kesulitan, dari kesulitan, kepicikan, kemiskinan, yang seringkali diartikan senjata- senjata dari setan dan kutukan Allah. Tetapi kadang Tuhan memperbolehkan engkau dikutuk orang lain, diberi penyakit, mengalami bahaya, mengalami kesulitan. Ketika semua ini diijinkan datang, jangan memaki Tuhan. Pertama, koreksi diri apakah ada dosa yang perlu kau akui di hadapan Tuhan. Purify yourself. Intropeksi diri, bila ada kesalahan bertobat dan Tuhan akan memberkati engkau. Tidak semua sengsara dari setan, tidak semua kegagalan dari iblis. Kadang itu merupakan ujian dari Tuhan. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Ujian akan memberikan ketekunan yang luar biasa sehingga engkau boleh dipakai lebih hebat daripada waktu-waktu yang lalu. Yohanes Pembaptis dipenuhi Roh Kudus tetapi hidupnya tidak lancar. Berapa lama ia melayani? Alkitab tidak mengatakan dengan jelas, mungkin tidak sampai satu tahun, lalu kepalanya dipenggal. Sejak dalam kandungan ia sudah dipenuhi Roh Kudus, tetapi mengalami kematian yang tragis. Kematian Yohanes adalah kehendak Tuhan. Apakah ini berarti Allah tidak Mahakuasa? Bukan. Mengapa Tuhan tidak menyelamatkan nyawanya? Tidak mendengar doanya? Ketika Yohanes mengutus orang datang kepada Yesus untuk bertanya, "Engkaukah Mesias atau kami harus menanti yang lain?" Tidak ada satu kegagalan yang lebih besar lagi daripada Yohanes yang mempertanyakan pertanyaan yang begitu mengerikan. Bukankah dia yang memberitakan Yesus? Bukankah dia yang memberikan pernyataan pada jamannya, "Inilah Kristus, Anak Domba Allah"? Tetapi pada waktu dalam kepicikan, imannya goncang. "Tuhan, Engkau melihat aku sebagai rekanMu yang masuk penjara tetapi mengapa tidak ditolong? Apakah Engkau tidak melihat air mata dan kesengsaraanku? Di mana kuasaMu sebagai Mesias? Dulu aku bersaksi mengenai Engkau adalah Anak Domba Allah tetapi ketika aku sakit Engkau membiarkan aku, waktu aku di penjara Engkau tidak datang menjenguk aku atau menegur Herodes." Teologi Yohanes menjadi goncang dan Kristologinya kabur. Tetapi Yesus tetap tidak menjenguk atau melepaskannya dari penjara.

Yesus tidak datang dan tidak merubah situasi tetapi mengatakan, "Barangsiapa yang tidak jatuh karena Aku berbahagialah dia." Bila engkau benar-benar saksiKu dan sekarang tidak melihat Aku menolongmu, engkau tetap tidak jatuh, maka berbahagialah engkau.

Tetapi jika engkau jatuh karena Aku, mengapa bisa jatuh karena Tuhan? Apakah Tuhan membiarkan dia mati terpelanting karena jatuh? Apakah Tuhan yang merencanakan kejatuhan dia? Yesus berkata, "Berbahagialah yang tidal jatuh karena Aku." Berarti ada kemungkinan kita jatuh karena Tuhan. Apa artinya kita jatuh karena Tuhan? Doa tidak dijawab, penyakit tidak di sembuhkan, anak yang paling dicintai, diambi Tuhan. Apa maksud Tuhan, begitu kejam?! Seseorang jatuh disebabkan ia mempunyai pengenalan yang salah terhadap Tuhan. Yesus, Kristus tidak pernah memberikan konsep-konsep yang mengacaukan pikiran kita tetapi Ia hanya, menjernihkan pikiran kita yang kacau, tidak akan mengacaukan pikiran-pikiran yang benar. Ia membawa kita kembali kepada Firman, bukan mau menyelewengkan kita untuk keluar dari prinsip-prinsip Alkitab.

Yesus menjawab Yohanes, "Engkau melihat orang buta celik, orang mati dibangkitkan, orang miskin mendengarkan Injil. Bila ini masih tidak cukup biarlah engkau jatuh karena Aku. Dan kalau ini sudah cukup, meskipun orang lain yang buta dicelikkan, yang lumpuh berjalan, yang mati bangkit, engkau tidak dibangkitkan dan tidak dikeluarkan dari penjara tetap engkau harus beriman bahwa Aku adalah Kristus." Yesus tidak melepaskan Yohanes tetapi menyuruh orang memberitahu bahwa ada orang lain yang sudah mendapat kesembuhan. Yesus tidak memberikan anugerah pada Yohanes tetapi Ia menyuruh orang memberitahu bahwa orang lain sudah mendapat anugerah. Bukankah ini siksaan batin, suatu pschycology pressure, diskriminasi yang tidak adil? Tetapi kedaulatan Allah yang terus ditekankan dalam Teologi Reformed harus kita mengerti. Bahwa Allah berhak menyembuhkan dia dan tidak menyembuhkan engkau sekarang, berhak memberi kebangkitan pada orang mati dan membiarkan engkau tetap dalam penjara dan dipenggal sampai mati, karena Dia adalah Allah. Karena Dia adalah Allah, jangan memaksa Dia untuk bekerja menurut perintahmu, itu berarti memperhamba Allah. Kalau Dia Allah biarlah Dia yang mendapat kemuliaan yang terbesar melalui segala sesuatu menurut kehendak Dia sendiri. Yohanes Pembaptis tidak dilepaskan dan akhirnya mati. Pada waktu ia mati apakah ia menyangkal? Tidak. Setelah dia mendengar jawaban dan mengerti, ia setia sampai mati.

Yohanes memberikan lima teladan yang indah. Pertama, ia dipenuhi Roh Kudus. Menjadi pelita yang terpasang berarti harus mempunyai minyak. Sebelum ada listrik pelita adalah suatu benda yang bentuknya sebagai wadah minyak yang ada tutupnya, dan dipinggir diberi sumbu yang keluar dari mulut pelita untuk menyalurkan minyak itu ke atas lalu membakar jika ia adalah sumbu yang terpasang dan menyala karena ada minyak. Orang yang mau melayani Tuhan, yang benar-benar mau menyatakan terang, harus dipenuhi Roh Kudus. dipenuhi Roh Kudus berarti buah-buah Roh akan mengalir keluar. Kalau Roh memenuhi engkau Kristus akan diberitakan. Pada waktu Roh itu memenuhi engkau maka hidupmu dipenuhi kesucian, tidak menghitung untung rugi tetapi memikirkan kemuliaan Tuhan.

Kedua, ia menjadi pelita yang terpasang dan menyala karena ia melayani Tuhan dengan prinsip yang penting seumur hidup. Ini dinubuatkan pada waktu kelahirannya yaitu kesucian dan keadilan. Pelayanan yang suci tetapi tidak adil adalah pelayanan yang timpang. Pelayanan yang adil tetapi tidak suci adalah usaha membereskan segala sesuatu tapi pada dirinya tidak mempunyai sifat ilahi yang jelas, moral Allah. Hidup suci yaitu tidak berkompromi untuk menghadapi segala sesuatu yang tidak beres, dosa dan segala kecemaran dalam diri kita. Keadilan dan kesucian adalah dua pokok pelayanan. Kalau saya hidup tidak suci dan menghadapi orang dengan tidak adil saya tidak mungkin menjadi pemimpin. Hidup suci berarti takut akan Tuhan Allah dan benar-benar sesuai dengan kehendakNya, tidak dicemari oleh dosa sehingga ada kuasa. Keadilan membuat kita bisa menghadapi segala macam orang. Adakah senyummu hanya untuk orang-orang tertentu yang agak kaya, agak mewah, agak ada kedudukan? Tetapi selalu ada paras yang lain pada yang miskin? Adakah engkau mempunyai tanggapan yang berlainan dengan orang yang begitu dihargai dan dihormati di masyarakat dan selalu ada kekerasan terhadap mereka yang dipandang ringan di masyarakat?

Ketiga, Yohanes menjadi pelita yang terpasang dan bercahaya karena ia mempunyai keberanian, salah satu pusaka yang besar dalam pelayanan kita. Kalimat-kalimat yang seharusnya kamu katakan pada waktu dan tempat yang seharusnya, tetapi tidak dikatakan berarti kehilangan kesempatan. Berbicara pada tempat, waktu yang tepat barulah itu seorang hamba Tuhan. Berani berkata pada orang yang perlu dan saat yang perlu di tempat yang sudah Tuhan berikan bagimu berarti sejarah ditenun bersama dengan kebenaran. Jika pada saat itu engkau tidak lakukan yang seharusnya maka tenunan kebenaran dengan sejarah itu lepas. Yohanes adalah orang yang menulis dan menenun kalimat penting dalam sejarah melalui keberanian yang Tuhan berikan. Jikalau bukan Yohanes tidak ada orang yang berani menegor Herodes. Jika tidak ada Yohanes tidak ada orang yang memberi tahu siapakah Yesus. Jika bukan Yohanes tidak ada orang yang berani memberikan kritik kepada pemimpin agama yang tidak beres. Kronos telah dijadikan kairos oleh Yohanes. Karakter agung dari seorang hamba Tuhan sering terbentuk pada waktu ia harus berkata dan sesudah ia berkata. Bila prinsip ini diabaikan ia akan menjual diri sebagai anak sulung yang tidak lagi mempunyai kuasa. Martin Luther dipaksa untuk membongkar dan membakar semua buku yang pernah ditulisnya. Tetapi ia berkata, "Di sini saya berdiri di atas firman Tuhan. Kecuali kalian membuktikan apa yang saya katakan dalam buku saya tidak berdasarkan firman maka saya tidak akan menarik kembali semua buku yang saya tulis. Inilah momen yang menenun kebenaran bersama sejarah.

Keempat, kesaksiannya selalu ditujukan kepada Kristus. Ia tidak meninggikan diri, tidak meninggikan pengalaman, tetapi kesaksiannya ditujukan kepada Kristus. Alkitab berkata, "Ia diutus untuk bersaksi bagi kebenaran supaya orang bisa percaya." (Yohanes 1:6). Tidak satu kali pun mujizat dilakukan oleh Yohanes. Tetapi banyak orang menjadi percaya karena dia. Di sini prinsip Alkitab menyatakan bahwa iman tidak didasarkan pada suatu pengalaman mujizat. Iman harus didasarkan pada firman. Dari mana datang iman? Dari pendengaran. Dan pendengaran datang dari firman Allah. Inilah prinsip Alkitab yang tidak pernah berubah dan tidak pernah putus, dari alfa sampai omega. Tuhan Yesus melakukan mujizat tetapi tidak pernah berkata hanya melalui itu kamu beriman. Tuhan berkata iman berdasarkan firman. Jika kesaksian senantiasa berpusat pada Kristus maka ia bukan memakai keajaiban kuasa tetapi dengan keberanian menyaksikan Kristus, menegur dosa dan membongkar hati nurani manusia, supaya orang bertobat.

Kelima, ia adalah pelita yang bercahaya dan terpasang dengan syarat ia konsisten, terus membiarkan diri dibakar sampai habis. Lilin yang bercahaya, setiap detik dalam bercahaya, berarti setiap detik ia menghancurkan diri. Makin lama makin pendek. Bila ia tidak melelehkan diri, tidak menghancurkan diri, tidak mungkin bisa terus menerus bercahaya. Ketika Yesus berkata bahwa ia adalah pelita yang terpasang dan bercahaya berarti dia sedang mengorbankan diri. Matahari harus meledakkan bahan yang ada pada dirinya sendiri, setiap detik kira-kira enam puluh juta ton supaya matahari tetap bercahaya dan kita tetap mempunyai kehangatan seperti di atas bumi. Untuk satu detik enam puluh juta ton. Betapa besar bahan matahari untuk bertahan berpuluh-puluh ribu tahun sehingga dunia ini mempunyai sinar cahaya sedemikian. Sepanjang sejarah Kekristenari kalau orang Kristen mau bercahaya dan bila saksi-saksi mau terpasang dan bercahaya tidak ada jalan lain, yaitu rela berkorban diri bagi Kristus. Pengorbanan yang terus menerus menjamin terang itu terus menerus menyala, bercahaya. Maukah engkau terjun, berbagian dan melibatkan diri menjadi saksi Tuhan?

Sumber: Majalah Acts dan Facts,
3 Maret 1990

Sumber Artikel: 
Sumber:
Nama Majalah : Momentum
Edisi : 8/Juni 1990
Judul Artikel : Yohanes Pembaptis : Pelita yang terpasang dan bercahaya
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Halaman : 14-21

Kelahiran Dari Anak Dara

Penulis_artikel: 
John Rw Stott
Isi_artikel: 

Bishop David Jenkins meragukan bahkan menyatakan penyangkalannya mengenai realita sejarah mengenai kelahiran dari anak dara. Ia menyebutnya sebagai natur simbolis dan mitologis kisah kelahiran dari anak dara. Dalam suratnya Desember 1984 ia menulis bahwa sekelompok orang tidak dapat mengerti, atau tidak akan mendengarkan, point bahwa banyak dari kisah Alkitab adalah direalitakan, tidak dengan menjadi literatur yang benar, tapi karena menjadi simbol yang diinspirasikan oleh iman yang hidup mengenai aktifitas nyata dari Allah.

Tapi banyak dari kritik bishop tidak selalai dan juga tidak sekeras kepala seperti yang ditunjukkannya. Kita tahu dengan baik bahwa ada jenis literatur yang disebut mitos yang memasukkan kebenaran dalam bentuk sejarah tanpa menyatakan bahwa itu bersifat sejarah. Ini tidak termasuk dalam perdebatan di antara kita. Banyak mitos kafir yang beredar dalam abad pertama, termasuk yang berasal dari Yunani dan Mesir asli mengenai satu dewa juruselamat yang lahir dari anak dara yang memerintah langit dan laut. Tapi kisah-kisah ini membuktikan sendiri bahwa mereka adalah mitos. Orang tidak percaya bahwa kisah itu adalah sejarah. Pertanyaannya adalah apakah para penulis Injil dengan sengaja menulis mitos ketika mereka mengisahkan kelahiran dari anak dara dan apakah mereka bermaksud untuk memberi pengertian semacam itu kepada kita. Jawaban saya: "Jelas tidak!". Profesor Henry Chadwick dalam artikelnya menunjukkan bahwa di dalam Pengakuan Iman Rasuli adalah pernyataan yang tercatat dalam sejarah dan ada yang puitis. Kalimat Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa termasuk dalam pengertian puitis tetapi Ia dilahirkan oleh Anak Dara Maria dan Pada hari yang ketiga Ia bangkit dari antara orang mati termasuk pernyataan yang berdasarkan sejarah.

Benar bahwa hal kelahiran Yesus dari anak dara tidak mendapat penekanan sebanyak yang terjadi dalam hal mengenai kematian dan kebangkitanNya dalam Perjanjian Baru. Tidak ada dalam khotbah-khotbah awal Petrus dalam Kisah Rasul maupun kesimpulan Paulus mengenai Injil dalam I Korintus 15 yang menyinggung mengenai kelahiran Yesus dari anak dara. Meskipun keempat penulis Injil sesungguhnya menuliskan seperti yang dikatakan Markus Injil mengenai Yesus Kristus (Markus 1:1), dan meskipun Matius dan Lukas dalam Injil mereka mencatat mengenai kelahiran dari anak dara, tapi tidak ada tempat dalam Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa catatan itu menjadi bagian integral dengan Kabar Baik. Meskipun demikian jelas diajarkan dalam Injil dan sejak itu menjadi kepercayaan yang diterima dengan suara bulat dari gereja universal. Pengajaran dan tradisi ini tidak bisa begitu saja dikesampingkan. Selain itu, adalah suatu hal yang serasi bahwa Satu Pribadi yang supranatural (yang adalah Allah dan manusia) harus memasuki, seperti juga meninggalkan dunia ini, dengan cara yang supranatural.

Serangan atas kelahiran dari anak dara bukanlah hal yang baru. Sebaliknya mereka sama tuanya dengan kekristenan itu sendiri. Dalam abad pertama banyak orang Yahudi Ebionit dan sekte tertentu dari Gnostik menyangkal keilahian Yesus dan oleh sebab itu menghilangkan kisah kelahiran dari anak dara. Dalam abad kedua, bidat Marcion, yang menolak sepenuhnya Perjanjian Lama, mempublikasikan satu versi dari hanya satu Injil (Lukas) dengan mengabaikan kedua pasal pertamanya. Kemudian golongan rasionalis dan skeptis dari setiap abad meragukan atau meremehkan kelahiran dari anak dara. Contohnya Renan, humanis dari Perancis dengan bukunya Vie de Je'sus yang menimbulkan sensasi ketika beredar dalam tahun 1863, memulai bab keduanya demikian: "Yesus dilahirkan di Nazaret, sebuah kota kecil di Galilea, yang sebelumnya tidak melahirkan orang yang terkenal.... Ayahnya Yusuf dan ibunya Maria adalah orang-orang dari kalangan bawah." Kritik ini biar bagaimana pun juga berasal dari luar gereja.

Yang baru sekarang ini adalah pandangan mereka ditoleransi di dalam gereja, bahkan di antara pemimpin gereja yang seharusnya dengan khidmat menjaga dan mengajarkan iman Kristen yang bersejarah. Pada awal abad ini penahbisan William Temple ditunda dua tahun sampai ia yakin mengenai kelahiran Yesus dari anak dara dan kebangkitan tubuh, dan dalam 1917 dan 1918 Kepala bishop Randall Davidson menolak untuk menahbiskan Hensley Henson yang sedang dicalonkan untuk menjadi Bishop of Hereford, sampai ia mampu memberikan jaminan yang memuaskan bahwa ia tidak menyangkal doktrin-doktrin dalam Pengakuan Iman Rasuli. Sebab Kepala Bishop John Habgood menahbiskan David Jenkins tanpa menerima jaminan yang sama sehingga banyak dari kita diganggu oleh pandangan yang mendukakan ini.

Mungkin bijaksana jika pada point ini menjelaskan pengertian dari kelahiran dari anak dara. Ada ekspresi yang salah, karena menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak biasa mengenai kelahiran Yesus, sementara kelahiranNya seluruhnya adalah normal dan alamiah. Penghamilannya yang tidak biasa, karena sesungguhnya bersifat supernatural; karena ia diyakinkan dengan pekerjaan dari Roh Kudus, tanpa kerjasama dari seorang bapa manusiawi.

Dalam diskusi kita mengenai kelahiran dari anak dara, ada dua pertanyaan yang perlu ditanyakan. Yang pertama mengenai kesejarahannya (Apakah itu sungguh-sungguh terjadi?) dan yang kedua adalah signifikansinya (Apakah yang terjadi?)

Kesejarahan mengenai kelahiran dari anak dara

Ketika kita menimbang bukti-bukti sejarah untuk kelahiran dari anak dara, ada empat bukti harus dipikirkan. Pertama, kesaksian dari para penulis Injil: Matius dan Lukas keduanya menanggung dualitas kesaksian mengenai keperawanan dari Maria. Benar, mereka menelusuri jejak genealogi Yesus melalui Yusuf dan tidak dirintangi dalam menunjuk kepada Yusuf sebagai bapak dari Yesus. Tapi setelah ia menikah dengan Maria, ia adalah ayah yang sah dari Yesus. Maka tidak ada kesulitan di sini. Faktanya adalah bahwa menurut penulis Injil pertama dan ketiga, ketika Maria mengandung ia bertunangan, bukan menikah dengan Yusuf, dan ketika Yesus dilahirkan ia tetap seorang perawan. Lagipula cukup jelas bahwa Matius dan Lukas mempercayai hal ini. Mereka menulis dalam bentuk prosa bukan puisi, sebuah sejarah dan bukan mitos. Beberapa sarjana memperdebatkan bahwa Matius pada khususnya (bukan Lukas, yang mengklaim pengusutan sejarah telah diperhatikan) tidak cenderung untuk menuliskan sebuah narasi murni sejarah, tapi ia bebas mengembangkan dan membubuhi sumber-sumbernya sehingga akibatnya adalah sebuah midrash, yaitu pencampuran sejarah dengan yang non-sejarah, yang (lebih lanjut dikatakan) merupakan sebuah bentuk yang biasa yang dikenal dalam literatur Yahudi pada jamannya. Namun demikian perkiraan ini jauh dari pembuktian. Bukti kurang dalam tiga area kritis: pertama, bahwa itu merupakan genre literatur yang biasa pada waktu itu (tidak kelihatan menjadi seperti demikian sampai abad kedua); kedua bahwa Matius cenderung untuk menulis Midrash (ia pasti tidak membumbui Perjanjian Lama dengan fiksi, seperti yang dilakukan oleh para penafsir Midrash; dan ketiga bahwa orang-orang pada jamannya itu mengertinya untuk menggunakan bentuk khusus ini (yang tidak dilakukan oleh bapak-bapak gereja pada awal gereja). Selain itu, ketika seseorang membaca injil Matius dengan segar, ia didorong oleh detail konteks sejarah dari kelompok orang, tempat-tempat dan waktu yang di dalamnya ia letakkan dalam kisahnya.

Jika ditekankan bahwa Matius dan Lukas percaya bahwa Maria adalah ibu Yesus adalah seorang dara, lalu timbul pertanyaan: mengapa Markus dan Yohanes tidak mengatakan demikian juga? Dan mengapa sisa dari Perjanjian Baru membisu mengenai kelahiran Yesus dari anak dara? Dalam menjawabnya, kita mulai dengan mengingat bahwa argumen bisu jelas tidak dapat diandalkan. Contohnya, Markus dan Yohanes tidak mengatakan apa-apa mengenai masa kecil Tuhan Yesus, tapi kita tidak mengkonklusikan dari hal ini bahwa Yesus tidak pernah mempunyainya. Kemudian ada bukti tidak langsung bahwa Yohanes tidak tahu mengenai masalah ini dan percaya kelahiran dari anak dara. Saya tidak hanya berpikir mengenai pernyataan agungnya bahwa "Firman telah menjadi daging dan tinggal ... di antara kita." (Yohanes 1:14), tetapi juga mengingat kembali pernyataan bahwa Yesus "datang dari atas", "turun dari surga", "diutus oleh Bapa", "datang ke dalam dunia." Beberapa intervensi supranatural menjadi penting untuk membuat hal-hal ini dapat diterima.

Fakta bahwa Markus dan Yohanes mengabaikan kisah Kristus sebenarnya tidak relevan untuk alasan sederhana bahwa mereka tidak diharuskan untuk menulis hanya tentang kelahiran dan masa kecil Yesus saja. Mereka berdua memilih untuk memulai kisah dari Yohanes Pembaptis. Point signifikansi adalah hanya dua penginjil yang menekankan penjelasan kelahiran Yesus dan menyatakan bahwa Ia dilahirkan dari seorang dara.

Faktor kedua yang perlu dipikirkan adalah keotentikan suasana yang disinggung dalam kisah. Ketika kita membaca pasal-pasal awal dari Matius dan Lukas. Kita dibawa kembali kepada hari-hari akhir dari Perjanjian Lama. Zakaria dan Elisabet, Yusuf, Maria, Simeon dan Hana adalah orang-orang beribadah dari Perjanjian Lama yang memandang dan menantikan kerajaan Allah. Konteksnya kaya dengan kesalehan khas Perjanjian Lama. Bahasa, gaya dan susunan dari cerita-cerita adalah seluruhnya berciri Ibrani. Jauh dari tambahan legenda yang kemudian. Kisah-kisah ini terdengar dan terasa seperti ditulis pada masa sangat awal.

Sebagai tambahan, kisah-kisah ini mengungkapkan kesederhanaan dan kebijaksanaan. Sesungguhnya cerita-cerita kafir pada masa itu mengisahkan mengenai dewa-dewa yang melakukan hubungan seks dengan manusia perempuan. Tetapi pada tempat dari mitos yang sadis dan fantastik itu, para penginjil bungkam. Mereka memperlakukan keintiman yang suci mengenai dikandungnya Yesus dengan cara yang paling halus.

Ketiga, kita harus menanyakan tentang keaslian cerita kelahiran anak dara. Kisah Matius dan Lukas memiliki kesamaan inti. Mereka berdua menunjukkan hubungan kehamilan Maria dengan Roh Kudus, bukan Yusuf dan mereka juga menunjukkan kepada problem dan kekuatiran yang disebabkan oleh keperawanannya. Tetapi perhitungan mereka jelas berdiri sendiri (tidak ada bukti persekongkolan), saling melengkapi (mereka mengisahkan dari perspektif yang berbeda). Lukas menulis pengumuman kepada Maria dan kebingungannya seperti bagaimana dia dapat menjadi seorang ibu sementara belum menikah. Matius, di lain pihak, menulis penemuan Yusuf bahwa Maria hamil dan kebingungannya, keputusan untuk menceraikan Maria karena itu bukan anaknya, dan mimpinya di mana di dalamnya Allah mengatakan kepadanya untuk mengambil Maria sebagai seorang istrinya. Pada puncaknya, fakta harus datang dari Maria dan Yusuf sendiri, baik dalam bentuk tulisan atau bentuk perkataan. Selama Lukas dua setengah tahun bebas di Palestina, yang saya hubungkan, tampak segala kemungkinan bahkan kemungkinan bahwa ia bertemu dengan Dara Maria secara pribadi dan menerima cerita dari bibirnya sendiri. Dalam seluruh keadaan, bukti-bukti dari dalam menunjukkan bahwa dalam Perjanjian Baru kita memiliki dua kisah asli, pada awal, yang terpisah, yang berbicara mengenai kelahiran anak dara, masing-masing berdiri sendiri, satu sama lain saling melengkapi, yang satu dari Yusuf, yang lain dari Maria.

Faktor keempat yang kita akan lihat adalah gosip mengenai kelahiran di luar nikah dari Yesus. "Fakta pertama dan paling tidak bisa dibantah mengenai kelahiran Yesus" tulis JAT Robinson, munculnya dari Wedlock. Satu pilihan yang tidak berbukti bahwa Yesus adalah anak sah dari Yusuf dan Maria. Hanya satu pikiran terbuka bagi kita antara kelahiran anak dara dan kelahiran di luar nikah.

Jelas bahwa gosip kemungkinan kelahiran di luar nikah dari Yesus sudah tersebar selama ia terjun melayani dalam masyarakat dalam usaha untuk menjatuhkanNya. Contohnya: ketika Ia mengemukakan bahwa pasti orang Yahudi yang tidak percaya tidak memiliki Abraham sebagai bapa, tapi si jahat. Mereka membantah, "Kami bukan anak-anak haram!" yang sepertinya sebagai sindirian bahwa itulah Ia (Yohanes 8:41). Pada lain kesempatan, kali ini dalam kotaNya sendiri, ketika orang-orang diserang oleh pengajaranNya, mereka bertanya, "Tidakkah ini anak Maria?" (Markus 6:3). Dalam lingkungan patriakh ini adalah pembicaraan yang menghina, sindiran yang tidak mungkin meleset. Kemudian dalam kesempatan ketiga, orang-orang tidak percaya bertambah, berteriak kepada seorang buta sejak lahir yang disembuhkan oleh Yesus (Yohanes 9:29). Gosip ketidaksahan Yesus bertahan lama setelah kematianNya. Dalam Talmud Yahudi hal ini menjadi jelas. Dalam abad III sarjana Kristen Origen harus menjawab kritik hinaan dari Celsus bahwa Yusuf membawa Maria keluar dari rumahnya karena ia telah berjinah dengan seorang serdadu bernama Panthera. Bagaimana dalam dunia ini dapat timbul gambaran dan fitnahan kecuali telah diketahui bahwa Maria telah mengandung ketika Yusuf menikahinya? Betapa tidak menyenangkannya gossip ini tetapi inilah bukti nyata dari kelahiran anak dara.

Signifikansi dari Kelahiran anak darah

Kita maju sekarang dari bukti kesejarahan kelahiran anak dara kepada pertanyaan mengenai signifikansinya: Apa yang terjadi? Kita telah mencatat bahwa kelahiran Yesus tidak mendapat penekanan dalam Perjanjian Baru yang sama seperti kebangkitanNya, bukan merupakan suatu kejutan kecil, sejak kebangkitanNya dipublikasikan dan mempunyai saksi mata, sementara kelahiran anak dara adalah hal yang bersifat sangat pribadi dan tidak mempunyai saksi. Tapi jurusan yang dipakai para pengritik untuk menyerang menunjukkan bahwa mereka mengenali kepentingannya.

Catatan Lukas mengenai pengumuman itu: Lukas 1:26-36:

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata, "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadaNya takhta Daud, bapa leluhurNya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan KerajaanNya tidak akan berkesudahan." Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki- laki pada hari tuanya dan inilah bulan keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. "

Setelah malaikat memberi salam kepada Maria sebagai seorang yang mendapat anugerah khusus dan kehadiran Allah, pemberitahuannya kepada Maria mengenai tujuan Allah ada dalam dua tahap, yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Yang pertama menekankan kesinambungan Anaknya dengan masa lalu, karena Maria akan mengandungNya. Yang kedua menekankan ketidaksinambunganNya, bahkan keunikanNya, karena Roh Kudus akan menaungiNya.

Dalam bagian pertama (ayat 30-34) malaikat mewartakan bahwa Maria akan mengandung dan melahirkan seorang putra, Ia akan menjadi "besar" (dinamakan Yesus dan Putra Yang Maha Tinggi, yang berhubungan dengan pekerjaan penyelamatan MesianikNya) dan bahwa Ia akan memerintah di atas takhta BapaNya, Daud, dan memerintah atas rumah Yakub selama- lamanya. Dengan kata lain, Ia akan mewarisi dari ibuNya: kemanusiaan ("engkau akan .... melahirkan seorang putra") dan posisiNya di takhta Mesianik. Paling sedikit inilah yang diimplikasikan. Dengan yakin rasul Paulus kemudian menekankan hal ini ketika menuliskan bahwa Yesus "dalam naturNya sebagai manusia adalah keturunan Daud" (Roma 1:3). Pada waktu yang bersamaan, Yusuf secara eksplisit dijelaskan sebagai keturunan Daud. Dengan menamai Yesus (Matius 1:21,25), ia menerimaNya sebagai Putranya, dan dengan menerimaNya, membuktikan Ia mempunyai hak-hak legal sebagai anak sah.

Dalam bagian yang kedua (ayat 35) malaikat melanjutkan mengatakan bahwa Roh Kudus akan berada di atas Maria dan kuasa dari Yang Maha Tinggi akan menaunginya (awan dalam Alkitab adalah simbol dari kehadiran Allah). Dan oleh sebab itu anak yang akan dilahirkannya adalah unik, sebagai Yang Suci (berhubungan dengan ketidakberdosaanNya) dan Anak Allah (yang membuktikan dalam pengertian lebih dalam dari pada sebutan sebagai Mesias).

Dalam cara ini diumumkan kepada Maria bahwa kemanusiaan dan kemesiasan anaknya akan keluar daripadanya, ibu yang akan mengandung dan melahirkanNya, sementara ketidakberdosaan dan keilahianNya akan keluar dari Roh Kudus yang akan menaunginya dengan kuat kuasaNya. Kesinambungan akan terlihat pada kelahiran naturalNya melalui Maria, dan ketidaksinambungan dengan kehamilan supranatural melalui Roh Kudus. Ia akan menjadi keturunan Adam melalui kelahiranNya, tetapi diangkat menjadi Adam kedua (kepala dari kemanusiaan yang baru) melalui dikandungNya dari Roh Kudus.

Sebagai akibat dari kelahiran anak dara (yaitu, kebenaran dari Pengakuan Iman Rasuli bahwa Ia dikandung oleh Roh Kudus, dilahirkan dari Anak Dara Maria), Yesus Kristus secara bersamaan adalah anak Maria dan Anak Allah, manusia dan ilahi, Mesias dari keturunan Daud dan Juruselamat yang tidak berdosa bagi orang-orang berdosa. Karena Allah adalah bebas dan maha-kuasa dan kita tidak mempunyai kebebasan untuk membatasiNya, tanpa diragukan lagi Ia dapat melaksanakan tujuan ini melalui beberapa cara lain. Tapi Perjanjian Baru membuktikan bahwa Ia memilih cara melalui kelahiran anak dara, dan tidak sulit untuk mengerti kemasukakalan dan kelayakannya.

Respon Maria terhadap pengumuman dari malaikat menyentuh kekaguman langsung kita. "Aku adalah hamba Tuhan," ia berkata, "Jadilah kepadaku seperti yang kau katakan." Sekali tujuan dan metode Allah dijelaskan kepadanya, ia tidak keberatan. Keseluruhannya takluk kepadaNya. Ia mengekspresikan kerelaan totalnya untuk menjadi anak dara sebagai ibu dari Anak Allah. Jelas itu adalah hak istimewa baginya: "Yang Maha Kuasa telah melakukan hal besar bagiku," ia memuji (Lukas 1:49). Jelas itu menimbulkan kekaguman dan tanggung jawab besar juga. Menyangkut kesediaan untuk mengandung sebelum menikah dan membawa diri sendiri kepada malu dan penderitaan, dipandang sebagai perempuan yang tidak bermoral. Bagi saya kerendahan hati dan semangat Maria dalam penyerahan terhadap kelahiran anak dara kontras dengan sikap pengritik-pengritik yang menyangkal hal itu.

Kita perlu kerendahan hati Maria. Ia menerima tujuan Allah, berkata, "Jadilah padaku seperti yang kau katakan." Tapi kecenderungan dari banyak orang sekarang ini adalah menolaknya karena itu tidak sesuai dengan praanggapan mereka. Mereka yang menolak mujizat secara umum dan kelahiran anak dara khususnya karena mereka percaya alam semesta berada dalam suatu sistim tertentu, tidak tampak untuk melihat keganjilan dari perintah Pencipta, apa yang Ia ijinkan terjadi dalam ciptaanNya sendiri. Bukankah tidak ada lagi mode yang lebih baik untuk meneladani reaksi Maria dalam ketaatannya akan jalan Allah?

Kita juga membutuhkan semangat Maria, Ia sepenuhnya terbuka bagi Allah untuk memenuhi tujuanNya bahwa ia siap untuk mengambil resiko noda dengan menjadi ibu yang tidak menikah, menjadi orang yang disangka penjinah dan menanggung anak yang tidak sah. Ia menyerahkan reputasinya kepada kehendak Allah. Kadang saya heran jika penyebab utama dari begitu banyak teologi liberal adalah sarjana-sarjana yang lebih memperhatikan mengenai reputasi mereka di bandingkan wahyu Allah. Lucu tampaknya untuk menjadi naif dan cukup mudah percaya mengenai mujizat, mereka dicobai untuk mengorbankan wahyu Allah di altar kehormatan mereka sendiri. Saya tidak mengatakan bahwa mereka selalu berbuat demikian. Tapi saya merasa benar dalam hal ini karena saya sendiri merasakan pencobaan ini. Tetapi jelas pengritik akan menyeringai dan memperolok-olok, biarkan mereka. Apa yang terjadi adalah kita membiarkan Allah menjadi Allah dan melakukan dengan caraNya, bahkan jika bersama Maria kita menghadapi resiko kehilangan nama baik kita.

Sumber Artikel: 

Sumber:

Nama Majalah : Momentum
Edisi : 7/Desember 1989
Judul Artikel : Kelahiran Dari Anak Dara
Penulis : John Rw Stott
Halaman : 16-17, 26-27

Banjir Nuh

Penulis_artikel: 
Stanley I Sethiadi
Isi_artikel: 

Pengantar

Beberapa bulan yang lalu ada sebuah karangan di sebuah surat kabar terkemuka di Jakarta mengenai banjir pada zaman Nuh. Karangan itu ditulis oleh seorang dosen teologi yang pada hakekatnya menafsirkan bahwa banjir Nuh hanya banjir lokal. Ia mengira bahwa "terbukti secara ilmiah" bahwa banjir global tidak mungkin dapat terjadi. Penulis merasa sangat terbeban untuk memberi tanggapan atas tulisan itu. Sekali lagi penulis mempertanyakan: "Apakah yang disebut terbukti secara ilmiah?" Menurut penulis, bila seorang teolog Kristen mau membuat karya tulis agama Kristen, hendaklah ia berpegang ketat pada Alkitab. Kalau ia mau membuat karya tulis ilmu pengetahuan alam, hendaklah ia mengerti dulu dengan jelas apa itu ilmu pengetahuan alam. Kompromi yang tidak tepat antara Alkitab dan sebuah teori kontemporer tertentu, dapat menyesatkan dirinya sendiri dan para pembacanya. Ini akan mempunyai dampak besar pada imannya sendiri maupun iman jemaat yang dibinanya.

Banjir Nuh menurut Alkitab

Kej. 6:7 menyaksikan firman Allah secara langsung (direct speech, directe rede) yang berbunyi sebagai berikut:

Berfirmanlah TUHAN: "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka. "

Kalau banjir yang dimaksudkan Alkitab hanya banjir lokal, mungkinkah terlaksana maksud Allah seperti disaksikan ayat di atas? Hanya Nuh, keluarganya dan binatang-binatang darat yang ada di bahtera Nuh itu saja yang selamat. Binatang air seperti ikan, udang dll. tidak membutuhkan bahtera untuk bertahan hidup. Banjir yang menutupi "segala gunung di seluruh kolong langit" (Kej. 7:19) adalah pasti banjir global.

Tafsiran Beberapa Teolog "Modern"

Anak SD pun, yang membaca Kej. 6 s/d 9 dengan teliti, dapat mengerti dengan mudah bahwa banjir yang dimaksud Alkitab adalah banjir global, banjir yang menenggelamkan seluruh permukaan bumi. Tetapi mengapa beberapa teolog, bahkan teolog yang telah mendapat gelar Doctor dalam teolog tidak mengerti hal ini? Mengapa mereka tafsirkan bahwa banjir Nuh hanya banjir lokal? Sebenarnya mereka juga mengerti, namun "hanya" tidak percaya. Mereka lebih percaya spekulasi-spekulasi metafisis para evolusionis geologis seperti Hutton, Lyell, Dott dsb. daripada kesaksian Alkitab. Mereka adalah teolog-teolog "modern" yang menyesuaikan tafsiran Alkitabnya dengan teori-teori yang paling mutakhir. Mereka menerima teori-teori itu sebagai mutlak benar. Kata mereka, ayat-ayat Alkitab yang tidak bertentangan dengan teori-teori itu, boleh diterima secara harafiah (kalau mau) tetapi yang bertentangan dengan teori-teori itu "hanya" dapat diterima secara simbolis/alegoris. Apakah sikap demikian benar secara rasional ilmiah maupun secara iman Kristiani? Adakah kebenaran mutlak dalam sebuah teori ilmu pengetahuan alam? Mari kita teliti hal ini sedikit lebih mendalam.

Konsep Kebenaran Dalam Ilmu Pengetahuan Alam

Seorang ahli fisika yang terkenal bernama Sir James Jean (1877-1946) menulis sebagai berikut (dengan terjemahan bebas):

Dalam ilmu pengetahuan alam, sebuah hipotesa tidak pernah dapat dibuktikan benar. Kalau ia dibuktikan salah oleh pengamatan- pengamatan di hari kemudian, kita tahu ia salah, tetapi kalau ia dibenarkan oleh pengamatan-pengamatan di hari kemudian kita tidak pernah dapat mengatakan ia benar, karena ia selalu dapat disangkal oleh pengamatan-pengamatan di hari lebih kemudian."(1)

Albert Einstein (1879-1955) menulis:
"Kebenaran sebuah teori hanya terletak dalam kepuasan bahwa ia dapat menghubungi berbagai pengamatan-pengamatan yang terpisah."(2)

David Halliday menulis:
"Adalah tugas teori untuk menerangkan secara sederhana sebanyak mungkin percobaan-percobaan dengan sesedikit mungkin hipotesa- hipotesa. Mempertanyakan kebenaran mutlak dari hipotesa itu sebenarnya tidak pernah dipertanyakan."(3)

Mantan dosen saya, yang telah mendapat gelar Doctor dalam bidang fisika atom dari universitas Leiden dengan predikat summa cum laude, pada tahun 1984 menulis surat kepada saya. A.1. tulis beliau:

"Teori-teori ilmu pengetahuan alam hanyalah model-model yang berusaha menerangkan atau meramalkan sebanyak mungkin gejala-gejala. Begitu ada fakta yang membantahnya (umpama dengan pengukuran yang lebih teliti) haruslah dibuat teori baru. Ilmu pengetahuan alam yang manapun tidak boleh mengatakan telah memperoleh kebenaran."(4)

Jadi kebanyakan ahli ilmu pengetahuan alam kaliber dunia dalam abad ke-20 ini, berkesimpulan bahwa tidak ada kebenaran mutlak dalam teori manapun juga.

Dan memang kalau kita mempelajari sejarah ilmu pengetahuan alam dari zaman Yunani kuno sampai sekarang, banyak sekali teori-teori yang timbul dan tenggelam silih berganti. Apa yang dianggap "benar" pada suatu masa, dianggap "salah" pada masa lain dan sebaliknya. Banyak sekali contoh yang dapat dikemukakan. Tidak ada alasan apa pun untuk menganggap bahwa teori-teori yang kini diterima sebagai "benar", besok luas tidak akan dianggap sebagai "salah", dan sebaliknya.

Spekulasi-spekulasi metafisis ilmuwan kreasionis

Ilmuwan kreasionis pun dapat membuat spekulasi-spekulasi metafisis. Tetapi ingat spekulasi metafisis dari kaum kreasionis maupun dari kaum evolusionis tidak dapat dibuktikan dengan pengamatan-pengamatan dan atau percobaan-percobaan yang dapat diulangi dan diselidiki dengan teliti. Orang hanya dapat percaya atau tidak percaya spekulasi- spekulasi itu.

Seorang ilmuwan kreasionis Henry Madison Morris Ph.D. telah membuat spekulasi-spekulasi metafisis mengenai banjir Nuh. Dr. Morris adalah ahli teknik sipil basah (hidrologi). Selama 28 tahun ia telah menjadi dosen hidrologi, 13 tahun terakhir sebagai dekan jurusan teknik sipil di berbagai universitas terkemuka di Amerika Serikat. Di samping sebagai ilmuwan ia juga orang Kristen yang sungguh-sungguh. Ia betul- betul orang yang tepat untuk menulis mengenai banjir Nuh. Sebagai seorang hidrolog, ia memang ahli banjir. Kemudian menjadi presiden dari Institute for Creation Research. Morris percaya betul akan adanya banjir Nuh yang global. Menurut dia, bekas-bekas banjir Nuh dapat dilihat di berbagai tempat di bumi, antara lain : di Grand Canyon Amerika Serikat. Morris bertanya darimana datangnya air pada banjir Nuh? Ia menuliskan pandangannya dalam buku-bukunya seperti The Genesis Flood, The Genesis Record, What is Creation Science? dsb. Ia juga banyak membuat seminar-seminar dan perdebatan-perdebatan mengenai hal ini, di seluruh Amerika Serikat, Canada dan lain-lain. Wakilnya Dr. Gish, baru-baru ini bahkan telah mengadakan seminar-seminar dan perdebatan-perdebatan di Uni Sovyet, yang disponsori oleh Dr. Dmitry Kuznetsov dari Moskow, pemenang hadiah Lenin Komsomol (lihat Momentum 8 dan 10).

Menurut Morris, sebelum banjir Nuh, di bumi ini permukaan darat lebih banyak dari laut. Di bawah tanah ada air tanah yang sangat banyak. Di udara, kira-kira di lapisan ionospere ada lapisan uap air yang meluas sampai jauh ke atas. Lapisan uap air ini tembus cahaya tetapi menyaring banyak sinar ultraviolet sehingga terjadi efek rumah kaca Greenhouse effect. Cuaca waktu itu terasa segar nyaman di seluruh dunia. Tidak ada bagian bumi yang terlalu panas, dan tidak ada yang terlalu dingin. Seluruh dunia mempunyai iklim yang sedang. Tidak ada badai, gempa, banjir, atau pelangi.

Kemudian, pada suatu saat terjadi letupan dari dalam bumi (tentu pada saat yang tepat). Abunya menyembur sampai kelapisan uap air tadi. Abu ini menjadi inti bagi uap air. Terjadilah proses kondensasi. Uap air menggumpal menjadi titik-titik air, makin lama makin besar. Lalu air ini jatuh ke bumi. Maka hujanpun turunlah. Terjadi efek berantai, lalu ambruklah seluruh lapisan uap air, jatuh ke bumi. Dari dalam bumi menyembur air ke luar. Terjadi letupan di mana-mana. Terbentuklah permukaan bumi yang sama sekali baru. Setelah semua selesai, 2/3 dari permukaan bumi tertutup air. Timbullah perbedaan cuaca yang besar. Kemudian ada hujan, pelangi, badai dan gempa.

Memang para evolusionis pun mengakui bahwa ada bekas-bekas yang menunjukkan adanya banjir besar di masa lalu. Kita ambil buku "Evolution of the Earth" oleh Robert Dott dan Roger Batten, Mc Graw- Hill, 1976, hal. 6:

"... sangat menarik bahwa ada catatan-catatan dari berbagai kebudayaan kuno mengenai sebuah banjir besar seperti kebudayaan Yunani, Babilonia, Hindu dsb...."

"Pada tahun 1925 didapati lapisan tanah liat sedalam 3 meter penuh dengan fosil binatang laut di bawah kota tua Ur...."

"... Hooke percaya bahwa fosil-fosil membuktikan bahwa Inggris pernah mempunyai iklim tropis ...."

"... orang-orang Yunani kuno percaya bahwa fosil-fosil binatang laut di atas gunung-gunung mereka, menunjukkan pernah ada banjir besar yang menutupi gunung-gunung mereka ...."

Majalah Amerika Serikat yang sangat fanatik mendukung teori evolusi pada terbitan bulan Pebruari 1983 hal. 6 menyatakan bahwa Sahara pernah mempunyai sungai-sungai dan hutan yang lebat.

Menurut buletin "Acts and Facts" bulan April 1991, dari kebudayaan Cina kuno ada catatan-catatan dari suku Miao atau Miautso yang dahulu tinggal di selatan sungai Yangtze, berupa sajak. Sajak ini mirip betul dengan Kej. 6 s/d. 9. Nama Nuh diubah menjadi Nuah, istrinya bernama Gaw Bo-lu-en dan anak-anaknya Lo Han, Lo Shen dan Jah-hu (bandingkan dengan nama Ham, Sem dan Yafet dari kitab Kej.). Anak Lo Han adalah Cusah dan Messay (bandingkan dengan Kusy dan Misraim, Kej. 10:6). Anak Jah-hu ialah Go-men (bandingkan Gomer, Kej. 10:2). Menurut sajak itu, suku Miao adalah keturunan dari Go-men ini. Sajak ini juga mengurut keturunan Nuah sampai ke Adam.

Kepada setiap orang yang mengaku diri Kristen, saya anjurkan percayalah bahwa banjir Nuh adalah banjir global seperti disaksikan oleh Alkitab terutama Kej. 6 s/d 9.

  1. "Physics and Philosophy" - James Jean
  2. "Relativity. The Special and the General Theory" - Albert Einstein, hal. 123-124
  3. "Introductory Nuclear Physics" - David Halliday, hal. 4
  4. Surat beliau, bertanggalkan 26 Juli 1984.
Sumber Artikel: 

Sumber:

Nama Majalah : Momentum
Edisi : 12/Juni 1991
Judul Artikel : Banjir Nuh
Penulis : Stanley I Sethiadi
Halaman : 16-19

Tuhan Tidak Berubah

Penulis_artikel: 
J. I. Packer
Isi_artikel: 

Mereka mengatakan bahwa Alkitab adalah Firman Allah, pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita. Mereka katakan kepada kita bahwa kita akan menemukan dalam Alkitab mengenai pengenalan akan Allah dan kehendakNya untuk hidup kita. Kita percaya pada mereka -- tepat -- karena yang mereka katakan adalah benar. Maka kita mengambil Alkitab kita dan mulai membacanya. Kita baca dengan mantap dan merenungkannya, karena kita tertarik -- sungguh ingin mengenal Allah. Tetapi ketika kita baca, makin lama makin bingung. Meskipun terpesona, kita tidak dikenyangkan. Pembacaan Alkitab tidak menolong kita dan membuat kita bingung dan jika kebenaran diungkapkan, terasa sangat menekan. Kita heran sendiri mengapa sampai terjadi demikian.

Apa kesulitan kita? Yang mendasar adalah sebagai berikut. Pembacaan Alkitab membawa kita ke dalam dunia baru yaitu dunia Timur Dekat pada jaman ribuan tahun lalu, primitif dan barbar, dengan sistim agrikultural dan tidak mekanis. Dalam dunia seperti itulah kisah-kisah dalam Alkitab terjadi. Di dalamnya kita bertemu Abraham, Musa, Daud dan lainnya dan memperhatikan cara Allah berhubungan dengan mereka. Kita mendengar nabi-nabi mencela dengan terang-terangan akan penyembahan berhala dan melakukan penghakiman atas dosa. Kita melihat Orang dari Galilea melakukan mujizat, berdebat dengan orang Yahudi, mati bagi orang berdosa, bangkit dari kematian dan naik ke surga. Kita membaca surat-surat dari guru-guru Kristen yang ditujukan untuk melawan kesalahan-kesalahan menyolok yang sejauh kita ketahui sekarang tidak ada lagi. Semua itu sangat menarik tetapi nampaknya sangat jauh. Itu adalah bagian dari dunia dulu, bukan dunia sekarang. Kita merasa berada di luar dunia Alkitab, sebagai orang yang menjenguk ke dalamnya. Kita hanya penonton dan hanya itu. Pemikiran kita yang tak terkatakan adalah: Ya Allah melakukan segalanya, kemudian dan sangat mengagumkan bahwa orang-orang termasuk di dalamnya, tetapi bagaimana hal itu berhubungan dengan kita sekarang? Kita tidak hidup dalam dunia yang sama. Bagaimana catatan perkataan dan perbuatan Allah dalam jaman Alkitab, catatan hubungan Allah dengan Abraham, Musa, Daud dan sebagainya, menolong kita untuk hidup dalam jaman angkasa ini? Kita tidak dapat melihat bagaimana dua dunia ini digabungkan dan lagi-lagi kita menemukan bahwa kita merasa apa yang kita baca dalam Alkitab tidak mempunyai aplikasi bagi kita dan ketika sesering mereka gemetar dan takjub, perasaan tidak berada dengan mereka menekan kita.

Banyak pembaca Alkitab mengenal perasaan ini. Tidak semua tahu bagaimana menghadapinya. Beberapa orang Kristen pasrah, tetap mempercayai catatan Alkitab, tapi tidak mencari atau mengharapkan bagi mereka sendiri suatu keintiman dan hubungan langsung dengan Allah sebagai yang diketahui oleh tokoh-tokoh Alkitab. Sikap sedemikian, terlalu biasa pada saat sekarang, merupakan efek dari pengakuan mengenai kegagalan untuk menembus masalah ini.

Tapi bagaimana perasaan terpencil dari pengalaman mengenai Allah yang alkitabiah dapat dikalahkan? Banyak hal dapat dikatakan. Tapi point yang penting adalah ini. Perasaan terpencil adalah ilusi yang lahir dari pencarian mata rantai antara situasi kita dengan beragam karakter Alkitab di tempat yang salah. Benar dalam pengertian ruang, waktu dan kebudayaan, mereka dan epos sejarah yang mereka miliki adalah sangat jauh dari kita.

Tetapi mata rantai antara mereka dan kita tidak ada pada level itu. Mata rantai itu adalah Allah sendiri. Karena Allah dengan siapa mereka harus berhubungan adalah Allah yang sama dengan Allah kita sekarang. Kita dapat mempertegas hal ini dengan mengatakan, pasti Allah yang sama; karena Allah tidak berubah dalam hal sekecil apapun. Terlihat dalam kebenaran yang di dalamnya kita harus tinggal, dengan tujuan untuk membuang perasaan bahwa ada lembah yang tidak terjembatani antara posisi orang-orang dalam jaman Alkitab dan jaman kita sekarang, yaitu kebenaran Allah yang tidak berubah.

Allah tidak berubah. Mari kita pikirkan.

  1. Hidup Allah tidak berubah

  2. Ia adalah dari kekekalan (Mazmur 93:2), "Raja Kekal" (Yeremia 10:10), "tidak rusak" Roma 1:23, "tidak takluk kepada maut" (I Timotius 6:16). "Sebelum gunung-gunung dilahirkan dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah" (Mazmur 90:2). "Bumi dan langit, demikian kata pemazmur, "akan binasa tetapi Engkau tetap ada dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka dan mereka berubah. "Akulah yang awal," kata Allah, "Aku juga terakhir." (Yesaya 48:12). Ciptaan mempunyai awal dan akhir, tetapi tidak demikian Pencipta mereka. Jawaban untuk pertanyaan anak kecil, "Siapa yang menciptakan Allah?" adalah sederhana bahwa Allah tidak perlu dibuat karena Ia selalu di sana. Ia ada untuk selama-lamanya dan Ia selalu sama. Ia tidak bertumbuh lebih tua. Hidupnya tidak bertambah atau menyusut. Tidak bertambah kuasa baru, ataupun kehilangan yang pernah dimilikiNya. Ia tidak menjadi dewasa atau berkembang. Ia tidak menjadi lebih kuat, atau lebih lemah atau lebih bijaksana dengan bertambahnya waktu. Ia tidak dapat berubah untuk yang lebih baik, tulis A.W. Piner. Karena Ia telah sempurna; dan menjadi sempurna. Ia tidak dapat berubah menjadi kurang baik. Perbedaan utama dan mendasar antara Pencipta dan makhluk ciptaanNya adalah mereka dapat berubah dan natur mereka mengalami perubahan, sementara Allah tidak berubah dan tidak pernah dapat berhenti untuk menjadi Dia, seperti yang disebutkan dalam hymn:

    Kita berbunga dan tumbuh seperti dedaunan di pohon kemudian layu dan binasa namun tidak ada yang merubah Engkau Itulah Allah sendiri - hidup yang tanpa akhir (Ibrani 7:16).

  3. Karakter Allah tidak berubah

  4. Tegang atau shock atau leukomoni dapat merubah karakter manusia tetapi tidak ada yang dapat merubah karakter Allah. Dalam kehidupan manusia, rasa, penampilan dan temperamen dapat berubah secara radikal: seorang yang baik dan tidak banyak berubah, dapat berubah menakutkan dan cepat marah, seorang dengan kehendak baik dapat menjadi sinis dan ..... Tetapi tidak pernah hal ini terjadi dengan Pencipta kita. Ia tidak pernah kurang kebenaran atau belas kasihan, atau keadilan atau kebaikan seperti biasanya. Karakter Allah adalah sekarang dan akan selalu tepat seperti dalam jaman Alkitab.

    Terbentuk dari hubungan ini pernyataan dua nama Allah dalam kitab Keluaran. Penyataan nama Allah adalah jelas, lebih dari sekedar label; sebuah penyataan apakah Ia dalam hubungan dengan manusia. Dalam Keluaran 3 kita membaca bagaimana Allah menyatakan namaNya kepada Musa sebagai "Aku adalah Aku" (ayat 14) -- satu frase di mana Yahweh (Jehovah, TUHAN) di dalam bentuk yang dipersingkat (ayat 15). Nama ini bukan gambaran Allah tetapi sebagai deklarasi dari keberadaanNya dan kekekalanNya yang tidak berubah; mengingatkan umat manusia bahwa Ia mempunyai hidup dalam diri sendiri, dan bahwa apa Ia sekarang, Ia adalah kekal. Dalam Keluaran 34, kita membaca bagaimana Allah menyatakan nama TUHAN kepada Musa dengan menyatakan beragam sisi dari karakter kudusNya: penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasihNya dan setiaNya, yang meneguhkan kasih setiaNya kepada beribu- ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya...." Proklamasi ini melengkapi Keluaran 3 dengan mengatakan kepada kita siapa Yahweh sesungguhnya dan bahwa Keluaran 3 melengkapi dengan mengatakan kepada kita bahwa Allah adalah selama-lamanya sama seperti pada saat itu, 3000 tahun yang lalu, ketika Ia menyatakan kepada Musa siapakah Dia. Karakter moral Allah tidak berubah. Maka Yakobus, dalam bagian yang berhubungan dengan kebaikan dan kesucian Allah, kemurahanNya kepada manusia dan permusuhan kepada dosa, berbicara mengenai Allah yang padaNya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.

  5. Kebenaran Allah tidak berubah

  6. Manusia kadang mengatakan hal-hal yang sebenarnya bukan yang mereka maksudkan, hanya karena mereka tidak tahu pikiran sendiri, juga karena pandangan mereka berubah, mereka sering menemukan bahwa mereka tidak dapat lebih lama berpijak pada hal-hal yang mereka lakukan pada masa lalu. Semua kita kadang harus menarik kembali kata-kata kita, karena mereka tidak lagi mengekspresikan apa yang kita pikirkan; kadang kita harus menelan kata-kata kita, karena fakta jelas menolaknya. Kata-kata manusia adalah hal-hal yang tidak bisa disandari. Tetapi tidak demikian dengan kata-kata Allah. Mereka teguh selama-lamanya, sebagai ekspresi sahih dan kekal dari pikiran Allah. Tidak ada situasi yang memaksaNya untuk menarik kembali kata-kataNya, tidak ada perubahan- perubahan dalam pemikiranNya sendiri yang menuntutNya untuk merubah mereka. Yesaya menuliskan," ... firman Allah kita tetap untuk selama- lamanya." Hampir sama, pemazmur mengatakan, "Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firmanMu tetap teguh di sorga." (Mazmur 119:89,152). Kata yang diterjemahkan kebenaran dalam ayat terakhir mempunyai ide kestabilan. Oleh sebab itu ketika kita membaca Alkitab, kita harus ingat bahwa Allah tetap teguh dalam janji, tuntutan, pernyataan- pernyataan tujuan dan kata-kata peringatan, semua diperuntukkan kepada orang percaya Perjanjian Baru. Tidak ada sisa dari jaman yang sudah berlalu, tetapi suatu pernyataan sahih yang kekal dari pikiran Allah kepada umatNya dalam segala generasi, sejauh dunia ini berjalan. Seperti Tuhan sendiri berkata kepada kita, "Kitab Suci tidak bisa dibatalkan." (Yohanes 10:35). Tidak ada yang dapat mengakhiri kebenaran Allah yang kekal.

  7. Jalan-jalan Allah tidak pernah berubah

  8. Ia terus menerus bertindak terhadap manusia yang berdosa dalam cara yang Ia lakukan dalam kisah-kisah Alkitab. Tetap Ia menunjukkan kebebasan dan KetuhananNya dengan mengadakan diskriminasi di antara orang berdosa, antara mereka yang dapat mendengar Injil dan sebagian yang tidak mendengarkan; menggerakkan sebagian yang mendengar untuk bertobat sementara yang lain tinggal dalam ketidakpercayaan; kemudian mengajar orang-orang kudusNya bahwa Ia tidak berhutang belas kasihan kepada siapapun, semua adalah anugrahNya. Tidak ada yang melalui usaha mereka sendiri sehingga mereka dapat menemukan hidup. Ia tetap memberkati mereka yang Ia kasihi dengan cara yang merendahkan mereka agar segala kemuliaan hanya untukNya. Tetap Ia membenci dosa umatNya dan menggunakan segala macam penderitaan dari dalam dan dari luar dan kesengsaraan untuk menghentikan hati mereka dari kompromi dan ketidaktaatan. Tetap Ia mencari persekutuan umatNya dan mengirim penderitaan dan sukacita dengan tujuan memisahkan kasih mereka dari hal-hal lain dan mengarahkan hanya kepadaNya. Tetap Ia mengajar orang percaya untuk menghargai janji-janji yang diberikanNya dengan membuat mereka menantikan janji-janji itu dan memaksa mereka untuk berdoa tanpa henti untuk janji-janji tersebut sebelum Ia mencurahkannya. Maka kita membaca Ia berhubungan dengan umatNya dalam catatan Alkitab dan Ia tetap berhubungan dengan mereka. Tujuan dan prinsip-prinsip tindakanNya tetap konsisten; Ia tidak satu kalipun bertindak di luar karakterNya. Jalan manusia, kita tahu, adalah tidak konsisten, tetapi tidak demikian dengan jalan Tuhan.

  9. Tujuan Allah tidak berubah

  10. "Yang Kuat, Israel tidak akan berdusta atau menyesal" pernyataan Samuel, "karena Ia bukan manusia yang harus menyesal." I Samuel 15:29. Bilangan 23:19, "Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta, bukan anak manusia sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" Menyesal berarti memeriksa kembali penilaian seseorang dan merubah rencana tindakan. Allah tidak pernah melakukan hal ini; Ia tidak perlu melakukan hal itu karena rencana-rencanaNya dibuat pada basis pengetahuan yang sempurna dan mengontrol segala hal masa lalu, sekarang dan yang akan datang, sehingga tidak akan ada keperluan mendadak atau perkembangan yang tidak diketahuiNya. Satu dari dua hal menyebabkan manusia merubah pikirannya dan mengulang rencananya, membutuhkan pandangan ke depan untuk mencegah segala sesuatu atau kurang pandangan ke depan untuk melaksanakannya. Tetapi Allah adalah Mahatahu dan Mahakuasa sehingga tidak perlu bagiNya untuk memperbaiki ketetapanNya (A.W. Pink). Mazmur 33:11, "Tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun temurun." Apa yang Ia lakukan dalam waktu, Ia rencanakan dari kekekalan. Dan semua yang Ia rencanakan dalam kekekalan Ia bawa ke dalam waktu. Dan semua yang Ia miliki dalam kata-kata perjanjianNya Ia sendiri akan melakukan tanpa salah. Maka kita membaca mengenai ketidakberubahan dari kebijaksanaanNya yang membawa orang percaya kepada kepenuhan dalam menikmati warisan janji-janjiNya, ketidakberubahan sumpah yang Ia janjikan kepada Abraham, nenek moyang orang percaya, jaminan bagi Abraham dan milik kita juga. Ibrani 6:17, "Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusanNya, Allah telah mengikat diriNya dengan sumpah, supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta...." Maka demikian juga dengan pernyataan-pernyataan Allah lainnya. Mereka tidak berubah, tidak ada bagian dari rencana kekalNya yang berubah.

    Memang ada sekelompok ayat Alkitab (Kejadian 6:6; I Samuel 15:11; II Samuel 24:16; Yunus 3:10; Yoel 2:13) yang berbicara mengenai Allah yang menyesal. Hubungan dalam tiap kasus adalah kebalikan dari tindakan Allah terdahulu kepada orang-orang khusus, konsekwen atas reaksi mereka terhadap perlakuan itu. Tetapi tidak ada sugesti bahwa reaksi ini tidak diketahui sebelumnya atau bahwa Allah dikejutkan dan tidak ada dalam rencana kekekalanNya. Tidak ada perubahan dalam tujuan kekalNya jelas dinyatakan ketika Ia mulai berhubungan dengan manusia dalam cara yang baru.

  11. Anak Allah tidak berubah

  12. Ibrani 13:8 dan sentuhanNya mengenai mempunyai kekuatan. Tetap benar bahwa Ia mampu untuk menyelamatkan mereka ke tempat tinggi yang datang kepada Allah melaluiNya. Ibrani 7:25, "Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka." Ia tidak pernah berubah. Fakta ini menjadi hiburan bagi umat Allah.

    Sekarang di mana pengertian untuk jarak dan perbedaan antara orang percaya dalam jaman Alkitab dengan diri kita sendiri. Itu pengecualian. Atas dasar apa? Atas dasar bahwa Allah tidak berubah. Persekutuan denganNya, mempercayai firmanNya, hidup dengan iman, berdiri atas dasar janji Tuhan, pada intinya adalah realita yang sama bagi kita sekarang seperti bagi mereka yang berada dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Pemikiran ini memberikan penghiburan ketika kita menghadapi kekuatiran tiap-tiap hari; meskipun begitu banyak perubahan dan ketidakpastian hidup di jaman nuklir ini, Allah dan Kristus tetap sama -- Mahakuasa untuk menyelamatkan. Tetapi konsep ini membawa kepada sebuah tantangan juga. Jika Allah kita sama seperti Allah dari orang percaya Perjanjian Baru, bagaimana kita dapat membenarkan diri sendiri dalam kepuasan dengan pengalaman persekutuan denganNya, dan dalam tingkatan pimpinan Kristen, akan mereka yang jatuh sedemikian jauhnya? Jika Allah tetap sama, ini bukan suatu masalah yang dapat kita hindari.

Sumber Artikel: 

Sumber:

Nama Majalah : Momentum
Edisi : 7/Desember 1989
Judul Artikel : TUHAN Tidak Berubah
Penulis : J. I. Packer
Halaman : 28-31

Teologi Penginjilan

Penulis_artikel: 
Pdt. Dr. Stephen Tong
Tanggal_artikel: 
29 Maret 2019
Isi_artikel: 
Template untuk Validasi

Teologi Penginjilan

"Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa- dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci." (1 Kor. 15:3-4).

Kematian Kristus

Kematian dan kebangkitan Kristus merupakan dua hal yang menjadi fondasi Injil. Apakah itu Injil? Injil adalah satu-satunya kabar baik dari Tuhan Allah, yang ditujukan bagi orang berdosa, bahwa Kristus yang diutus oleh Allah sudah mati dan sudah bangkit menjadi Penebus orang berdosa. Dia mati karena dosa kita masing-masing, dan Dia bangkit dengan tujuan memberikan kebenaran Allah kepada kita, yang datang kepada-Nya. Ada sifat penting dalam Injil yang harus kita pertahankan. Gereja yang kehilangan pegangan atas sifat Injil yang penting ini, pasti akan menjadi gereja yang berkompromi. Sifat paling mendasar dari Injil adalah sifat penebusan -- The redemptive nature of the Gospel. Injil bukan satu pengajaran baru, bukan semacam perubahan moral, bukan satu popularisasi dari ajaran agama Kristen. Mengabarkan Injil bukan satu gerakan menambah anggota gereja, bukan suatu pidato mengenai keagamaan. Mengabarkan Injil merupakan peperangan yang membawa manusia keluar dari tangan Setan masuk ke dalam tangan Allah.

Jikalau kita betul-betul mengetahui apakah artinya PI, kita tidak mungkin PI tanpa semangat, jikalau kita belum mengerti apa sifat Injil yang sejati, kita tidak mungkin membedakan kegiatan kita dengan kegiatan agama-agama yang lain. Sifat PI, berdasarkan sifat esensi dari Injil itu sendiri. Injil bersifat penebusan, yang tidak ada di dalam agama lain. Jikalau agama-agama mengajar manusia berbuat baik, dan orang-orang yang menganut agama itu taat pada pengajaran agamanya, maka mereka berbuat segala kebaikan sesudah menerima ajaran agama mereka. Ini tidak berarti perbuatan-perbuatan dosa sebelum itu sudah bisa diselesaikan. Jika seseorang berbuat baik menurut agama mereka, dan sampai mati tidak berbuat dosa lagi, tetap belum membereskan soal dosa kemarin, kemarin dulu dan tahun-tahun yang silam dan waktu-waktu yang sudah lalu.

Agama mengajar manusia bermoral baik, tetapi Kristus menebus manusia keluar dari kuasa dosa dan kuasa Setan. Inilah perbedaan agama dan Injil Yesus Kristus. Jikalau orang Kristen tidak mengenal keunikan dan inti dari istilah penebusan ini, kita tidak mungkin berperang dengan semangat, api yang murni, dan ketekunan tanpa henti untuk melayani Tuhan.

Di dalam kematian Kristus, fokus terpenting adalah keunikan Oknum yang telah menderita kematian ini. Siapakah Dia yang dipaku di atas kayu salib? Golgota tidak hanya menyalibkan Yesus. Banyak orang yang dipaku di sana. Perampok-perampok yang diadili menurut hukum dari Romawi dipaku, digantung dan dibunuh di sana. Yesus bukan orang pertama yang disalibkan. Menurut catatan sejarah, pada waktu Yesus berusia 11 tahun sudah lebih dari 100 orang Israel yang dipaku di atas kayu salib di Nazaret. Berarti Yesus yang masih kecil sudah mempunyai kesan: inilah nanti pengalaman yang harus diterima-Nya, pada waktu Dia mengakhiri perjalanan dalam melaksanakan kehendak Allah sebagai Mesias.

Akan tetapi, kesengsaraan Kristus lebih dari kesengsaraan penjahat yang disalib, sehingga Dia berteriak, "Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Suatu kesengsaraan yang tidak mungkin dimengerti oleh rasio manusia, melampaui kemungkinan penganalisaan teologis. Martin Luther setelah berjam-jam merenungkan ayat itu pada satu hari Jumat Agung, tetap tidak mengerti, akhirnya dia berdiri, memukul meja dan berkata: "Siapakah yang dapat mengerti Allah Oknum Pertama meninggalkan Allah Oknum Kedua?" Siapakah yang mampu mengerti mengenai hal Allah meninggalkan Allah? Namun, setiap orang Kristen yang tidak mengerti secara mutlak dan tuntas akan hal ini harus mengerti satu hal: Dia dibuang oleh Allah, supaya kita bisa diterima kembali oleh Tuhan Allah. Itulah Injil.

Dia dibuang oleh Allah, supaya kita bisa diterima kembali oleh Tuhan Allah. Itulah Injil

Facebook Telegram Twitter WhatsApp

Suatu kebenaran yang tidak ada di dalam agama-agama, di dalam filsafat, di dalam ilmu-ilmu pengetahuan mana pun yang ditemukan manusia melalui otak yang diberikan oleh Tuhan, untuk menyelidiki rahasia-rahasia kebenaran ciptaan Allah yang tersembunyi di dalam alam. Kematian Kristus harus kita renungkan terus menerus, menjadi dorongan kekuatan yang konsisten untuk menopang gereja. Salib Kristus adalah rahasia kemenangan dari zaman ke zaman bagi gereja Tuhan yang sejati.

Kematian Yesus Kristus di atas kayu salib mengandung empat arti:

  • 1. The sacrifice of the substitution (Pengorbanan yang menggantikan)
    • Di dalam Alkitab, konsep yang penting ini keluar dari mulut Yesus Kristus sendiri, Dia berkata: "... Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mrk. 10:45). Yesus Kristus sendiri menyatakan konsep penggantian ini, yang saya sebut -- The sacrifice of substitution -- karena penggantian ini tidak mungkin dikerjakan oleh orang lain. Tidak ada kematian malaikat yang bisa diterima untuk mengganti kita. Orang yang paling suci sekalipun, tidak ada yang cukup layak menjadi pengganti bagi kita, kecuali Anak Allah sendiri. Allah mencari di tengah-tengah manusia adakah seorang yang cukup baik? Tidak seorang pun. Semua sudah berada di bawah murka Allah. Di mana lagi Allah mau mencari? Satu-satunya yang layak untuk menerima hukuman Allah menggantikan manusia adalah Oknum Kedua dari Allah Tritunggal itu sendiri.
    • Konsep ini sudah keluar dari mulut Kristus, yang kemudian dikembangkan oleh Paulus di dalam teologinya. Paulus berkata: "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita." (2 Kor. 5:21) Ini adalah salah satu ayat yang paling sulit dimengerti oleh rasio dan sulit dimengerti dan dijelaskan di dalam Hermeneutika. Mengapa? Apa artinya yang tidak mengenal dosa dibuat-Nya menjadi dosa? Inilah penerobosan dari Yang Kekal ke sementara, dari Yang Tidak Berdosa menjadi berdosa. Allah sendiri yang bekerja. Kristus, yang tidak berdosa, menggantikan kita, yang berdosa. Kita yang berdosa sekarang boleh dilepaskan, dibebaskan dari hukuman dosa, karena Kristus telah menjadi penanggung dosa kita masing-masing. "Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus AnakNya sendiri dalam daging (Rom. 8:3), "Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib ...." (1 Ptr. 2:24). Jelas sekali, baik dari Petrus, Paulus, ataupun dari Yesus Kristus, maka substitution ini merupakan sesuatu penegakan teologi yang tepat.
    • Di dalam aliran teologi Liberal, khususnya teologi Jerman pada abad ke-19, banyak orang mulai menolak sifat substitusi ini. Mereka hanya mau mendirikan teologi di atas dasar moral Yesus. Teologi tidak boleh dibangun di atas dasar moral, sebaliknya moral harus dibangun di atas dasar teologi. Jika tidak, maka tidak ada jalan yang sesungguhnya. Tuhan Yesus, bukan saja menjadi Guru moral yang terbaik atau Oknum yang hidup paling suci hidup-Nya di sepanjang sejarah, lebih dari itu, Yesus Kristus adalah Allah dan Tuhan yang datang menjadi manusia dan hamba, dengan tujuan untuk disalib. Suatu kematian yang bersifat mengganti.
  • 2. The sacrifice of the propitiation (Pengorbanan yang memulihkan)
    • Propitiation berarti pemulihan. Istilah propitiation yang dipakai dalam Kitab Suci bersangkut paut dengan kemarahan Allah, Allah adalah Allah Yang Mahasuci dan Mahaadil.
    • Yesus Kristus datang ke dalam dunia, Dia akan menjalankan dan melaksanakan keadilan dan kesucian Allah yang mutlak. Tuhan Allah adalah Tuhan yang tidak berkompromi ataupun menoleransi dosa. Itu sebabnya, Allah sangat murka yang tidak mungkin ditanggung oleh manusia. Siapa yang bisa berdiri di hadapan Allah dan domba-Nya pada waktu Anak Domba Allah murka? Tidak ada orang yang bisa tahan berdiri di hadapan-Nya.
    • Pada waktu kemarahan Tuhan ditimpakan kepada orang berdosa, maka Kristus yang datang untuk menanggungnya. Di atas kayu salib Dia telah mengalami vakum kasih. Satu-satunya tempat, satu-satunya saat, satu-satunya peristiwa di mana tidak ada kasih sama sekali adalah ketika Yesus disalib. Bukankah Allah mengasihi Dia? Pada waktu itu tidak. Saat itu Allah meninggalkanNya, sehingga Dia berteriak: "Eli, Eli lama sabakhtani? AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Yesus ditinggalkan Allah. Saat itulah vakum kasih. No love of God is there. Bukankah manusia-manusia yang bersimpati dan mengasihi-Nya mengelilingi salib dan memberikan penghiburan kepada-Nya? Saya menjawab: "Tidak!" Pada waktu Yesus berada di kayu salib, cinta dari manusia tidak mungkin sampai kepada-Nya. Karena Dia sedang menanggung dosa mereka, sehingga dosa mereka yang datang kepada Kristus, kemurkaan Allah yang ditimpakan kepada Kristus. The absolute vacum of love is in the cross.
  • 3. The sacrifice of redemption (Pengorbanan yang menebus)
    • Kematian Yesus Kristus bersifat penebusan. Apa artinya redemption? Apa artinya atonement? Di dalam bahasa Inggris atonement bisa dipisah menjadi at one ment yang berarti menjadi satu. Di dalam penebusan, Dia membayar harga tunai yang tinggi dan sangat berharga sehingga nilai kita ditegakkan, dan kita mengetahui bahwa kita bernilai. Berapa besarkah nilai manusia? berapa mahalkah nilai jiwa manusia? Alkitab Perjanjian Lama memberikan sesuatu rumusan mengenai nilai jiwa manusia di dalam Kejadian 9:6: "Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia ...," ini berarti man is equal to man, manusia nilainya sama dengan manusia. Di dalam Perjanjian Baru, rumus yang lain diberikan mengenai nilai manusia, rumus yang baru dikatakan oleh Yesus Kristus: "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?" Di dalam kalimat tantangan dari Kristus ini, kita melihat betapa bernilainya jiwa. Seorang manusia lebih bernilai daripada seluruh dunia. Lebih jelas lagi di dalam 1 Pet. 1:18,19 yang berbunyi: "... kamu telah ditebus ... bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus ... yang tak bercacat." Darah Kristus menjadi tebusan di mana jiwa kita boleh kembali kepada Tuhan Allah. Penetapan nilai jiwa manusia adalah setinggi darah Kristus. Hak azasi manusia yang diperjuangkan di PBB, yang diperjuangkan oleh Jimmy Carter, yang diperjuangkan di Helsinki, belum pernah menjadi standar yang lebih tinggi dari Kitab Suci. Mereka mengenal manusia tidak lebih tepat dari apa yang Tuhan katakan. Karena Allahlah yang menciptakan manusia, maka Dia yang paling tahu dimana dan berapa besar nilai manusia. Nilai manusia sedemikian berharga sampai jikalau bukan Anak Allah sendiri mati bagi mereka, mereka tidak bisa ditebus dan tidak bisa kembali kepada Tuhan.
  • 4. The sacrifice of the reconciliation (Pengorbanan yang mendamaikan)
    • Reconciliation berarti memperdamaikan. Pada waktu Kristus mati, harga sudah dibayar, kita ditebus kembali. Pada waktu Yesus Kristus mati, kebencian sudah ditanggung, dan segala kemarahan sudah dihentikan, kita berdamai kembali dengan Tuhan Allah Bapa di dalam surga. Satu pertanyaan yang perlu kita pikirkan adalah Kristus membayar harga untuk menebus kita, harganya dibayar kepada siapa? Iblis atau Allah Bapa atau dunia? Pertanyaan ini baru pada abad ke X dapat dijawab tuntas. Abad I teolog-teolog mempunyai pikiran yang berbeda-beda. Tertullian (abad II) berkata: "Membayar harga yang tunai kepada setan, supaya tangan setan tidak lagi bisa memegang kita, dan kita keluar dari tangannya." Akan tetapi, pada abad XI, seorang yang bernama Anselm menulis buku yang berjudul Mengapa Allah Menjadi Manusia? Di dalam bukunya ia berkata, Kepada siapa kita berhutang? Jika Allah membayar kepada setan, seolah-olah ada persekongkolan antara Allah dengan setan.
    • Pada waktu kita berdosa, kita berhutang atas kemuliaan Allah. "Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah." (Rom. 3:23) Hutang kemuliaan berarti kehilangan kemuliaan. Dosa tidak bisa dimengerti hanya dari sudut perbuatan dan etika yang kurang baik. Dosa harus dimengerti lebih dari etika dan perbuatan secara lahiriah ke dalam motivasi yang tidak benar. Akan tetapi, Alkitab memberikan ajaran jauh lebih tinggi dari semua filsafat etika dunia dan agama-agama yang lain. Alkitab memberikan jawaban kepada kita, dosa adalah kekurangan kemuliaan, di mana kekurangan kemuliaan itu terjadi itulah dosa. Sekarang, setelah kita berhutang kemuliaan Allah, siapa yang bisa membayar kembali? Manusia berhutang kepada Allah yang tidak terbatas. Kristus yang tidak terbatas satu-satunya yang mungkin membayar. Akan tetapi, mengapa waktu Yesus Kristus membayar, kita terlepas dari tangan setan? Karena waktu setan memiliki kita, itu bukan dengan hak milik asli. Hak milik setan bukan hak milik asli. Pada waktu kita dimarahi oleh Tuhan, kita dibuang, setan langsung menguasai kita dengan hak yang tidak sah. Dia telah merongrong, telah memiliki manusia dan memojokkan manusia untuk melawan Allah lagi. Akan tetapi, Allah Yang Mahakuasa jauh lebih besar kuasa-Nya dari setan, sehingga setelah Kristus membayar lunas hutang kemuliaan dan kesucian kita kepada Allah, di situ Allah berkata: "Aku menerima engkau kembali."
    • Karena Allah menyatakan, "Aku menerima engkau kembali", pemilik yang tidak sah harus melepas milik yang bukan miliknya. Itu sebab semacam kematian yang bersifat menebus kita, kematian yang bersifat memperdamaikan kita, yaitu Allah yang mempunyai keadilan, kesucian, sekarang karena telah disingkirkan melalui propisiasi itu. Maka Dia mampu memberikan pengampunan kepada kita, pengampunan itu mengakibatkan kita boleh berdamai lagi dengan Tuhan Allah, itu disebut reconciliation.

Saya membagikan perdamaian melalui Kristus dan salib-Nya di dalam lima aspek:

  • A. Perdamaian kita dengan Allah melalui Yesus Kristus.
  • B. Perdamaian kita dengan kita melalui Yesus Kristus.
  • C. Perdamaian kita dengan orang lain melalui Yesus Kristus.
  • D. Memperdamaikan orang lain dengan orang lain melalui Kristus.
  • E. Memperdamaikan orang lain dengan Allah melalui Kristus.

A. Perdamaian antara orang berdosa dengan Allah.

Sebelumnya, saya berdosa dan menjadi musuh Allah. Sebagai seteru Allah, saya dibenci dan dibuang Allah. Murka Allah ada pada saya, tetapi Kristus yang menanggung sehingga di dalam Kristus saya kembali kepada Allah. "Oh, Bapa ampunilah saya," dan Tuhan berkata, "Aku menerima engkau kembali. Sekarang kau bukan musuh-Ku. Aku memberikan hak kepadamu menjadi anak-anak-Ku." Kita berdamai dengan Allah.

B. Perdamaian kita dengan kita melalui Yesus Kristus.

Setelah pengampunan dosa kita terima, maka dengan sendirinya terjadi perdamaian kedua: kita berdamai dengan kita sendiri. Berapa banyak orang menjadi manusia yang tidak rela. Hidup tidak rela, terhadap isteri tidak rela, melihat anak nakal tidak rela hati, benci, jengkel terhadap dirimu. Mengapa? Karena ada perpecahan antara dirimu dan dirimu. Engkau menjadi musuh dirimu, engkau jengkel terhadap dirimu, benci diri, engkau begitu mendendam diri, tetapi tidak berani mati. Akhirnya terpaksa hidup terus di dunia. Orang gila, orang yang bunuh diri adalah mereka yang menjadi fanatik dan ekstrim. Melampaui batas, upnormal, terjadi permusuhan antara oknum diri dengan diri secara kelebihan, sehingga mereka menjadi gila dan bunuh diri. Kita yang mengalami kesulitan dan kesulitan terus menerus kadang-kadang tidak bisa mempunyai keharmonisan diri, kita memerlukan perdamaian diri Tuhan Yesus.

Teologi Misi

Kita boleh mencintai diri tetapi kita tidak boleh egois. Mencintai diri menjadi dasar etika mencintai orang lain. Alkitab mengatakan, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Mrk. 12:31). Jadi, orang yang membunuh orang lain bukan karena membenci orang lain, tetapi karena membenci manusia dan dirinya adalah manusia. Karena membenci diri sekaligus membenci semua yang namanya manusia. Akan tetapi, orang yang mencintai diri, lalu mempunyai konsep bahwa di dalam setiap orang ada diri, akan memperluaskan cinta ini menjadi cinta diri yang lain, itu menjadi dasar mencintai orang lain. Alkitab tidak salah. Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri.

C. Perdamaian kita dengan orang lain melalui Yesus Kristus.

Perdamaian dengan diri mengakibatkan engkau mempunyai hidup yang limpah. Setelah berdamai dengan Allah dan berdamai dengan diri sendiri di dalam Kristus, dia mulai bisa melihat setiap orang itu bisa dicintai.

Seorang Kristen yang sudah mengalami kuasa Injil, mau tidak mau mempunyai perdamaian. Orang Kristen yang sudah mengalami Injil mau tidak mau berdamai dengan semua orang. Saya mencintai semua orang, saya harap saya bisa baik-baik hidup selama saya masih diberikan kesempatan bernapas di atas bumi ini, tidak menjadi musuh siapa pun.

D. Memperdamaikan orang lain dengan orang lain melalui Kristus.

Jika ke mana saya pergi saya tidak membuat orang lebih benci satu dengan lain. Tidak menghasut melainkan memberikan benih perdamaian. Saya ke sini, di sini ada damai, ke sana sana ada damai. Inilah janji Tuhan: "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah." (Mat. 5:9). Puji Tuhan!

E. Memperdamaikan orang lain dengan Allah melalui Kristus.

Memperdamaikan orang lain dengan Allah dikerjakan oleh orang yang sudah mengalami perdamaian Allah dalam diri sendiri, mengalami perdamaian antara diri dengan diri, mengalami perdamaian diri dengan orang lain, mengalami memperdamaian orang lain dengan orang lain, puncaknya adalah memperdamaikan orang berdosa dengan Allah Yang Suci melalui penginjilan. Setiap kali engkau mengabarkan Injil berarti memperdamaikan manusia dengan Tuhan Allah melalui Yesus Kristus.

Ini empat sifat dasar dari Injil itu sendiri berdasarkan kematian Kristus. Kematian Kristus bersifat propitiation, berarti memulihkan Allah dari murka. Kematian Kristus bersifat redemption, menebus dan membawa kita kembali kepada Tuhan, karena harga yang tunai yang sudah dibayar. Kematian Kristus bersifat reconciliation memperdamaikan kita dengan Allah, memperdamaikan kita dengan diri, memperdamaikan kita dengan orang lain dan memungkinkan kita memperdamaikan orang lain dengan orang lain, dan membawa orang lain yang bermusuhan dengan Allah kembali berdamai dengan Tuhan Allah. Ini sifat nuklir dari Injil.

Sifat Unik Injil

1. Injil bersifat Esa. Injil hanya satu.

Saya tidak percaya kita mungkin membandingkan Injil dengan yang lain, lalu menyetarakan Injil dengan kebudayaan-kebudayaan lain. Injil bukan berasal dari sejarah dan bersifat sementara. Bukan hasil dari kebetulan dan bukan produksi kebudayaan. Injil merupakan sesuatu yang timbul dari rencana Allah, yang dinyatakan di dalam proses dinamis sejarah. Injil itu Esa, satu- satunya kabar baik, satu-satunya Juru Selamat, harus dipegang teguh oleh kaum Injili. Agama banyak, Injil hanya satu. Pendiri agama banyak, Juru Selamat hanya satu. Pengajar moral banyak tetapi Pengantara hanya satu. Satu-satunya Pengantara di tengah-tengah manusia dengan Tuhan Allah; satu-satunya Juru Selamat yang melepaskan kita dari kuasa dosa, kuasa setan, kuasa maut dan kuasa kutukan Taurat.

Hanya di dalam nama Yesus Kristus kita mendapatkan penebusan dan keselamatan serta hidup yang kekal. "Semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya." (Yoh. 20:31). "Semua itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal." (1 Yoh. 5:13). Ini tidak ada di dalam kebenaran agama, sistem filsafat dan ideologi-ideologi manusia yang lain.

2. Injil bersifat sempurna Injil dan kuasa Injil sudah sempurna.

Ini berarti jangan ditambah-tambah lagi. Kuasa Kristus, keselamatan yang digenapi oleh Kristus di dalam Injil sudah sempurna, mutlak, tidak boleh ditambah-tambah lagi. Di dalam dunia, kita melihat ada dua macam agama, semacam agama yang menolak Kristus. Mereka berpendapat manusia boleh langsung datang kepada Allah tanpa Kristus, tidak perlu pengantara, tidak perlu Juru Selamat.

Agama macam kedua, di antara Kristus dan manusia di tambah lagi yang lain: orang suci, rasul-rasul dsb. Mereka bukan hanya berdoa melalui Kristus kepada Bapa, tetapi mereka berdoa kepada bunda Maria, berdoa kepada rasul-rasul lain, berdoa kepada orang-orang suci lain untuk datang kepada Kristus. Yang tambah atau yang kurang, semua tidak menyadari bahwa Kristus sudah cukup dan sudah sempurna.

3. Injil bersifat mutlak Berarti dari kekal sampai kekal tidak ada perubahan.

Biarpun teologi berjalan terus, jangan melanggar kemutlakan Injil. Biarpun penyelidikan dan penafsiran Alkitab terus berkembang, jangan meniadakan Injil dari yang direncanakan oleh Tuhan. Injil mutlak adanya sehingga Paulus berkata, "Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia." "Jikalau ada orang lain datang mengabarkan Injil kepadamu berlainan dengan apa yang kuajarkan kepadamu, bukan saja jangan terima dia, biar dia dijatuhkan kutukan." "Jikalau ada orang datang kepadamu, memberitakan injil yang lain, injil yang berbeda dengan apa yang kuberitakan kepada engkau, meskipun malaikat. Jikalau malaikatpun datang mengabarkan injil berlainan dengan Injil di dalam Alkitab, biarlah malaikat itu juga dijatuhkan laknat." Mengapa perkataan-perkataan begitu keras keluar dari mulut Paulus? Paulus berkata bahwa Injil adalah mutlak dan dipertahankan. Jikalau ada orang mengabarkan Injil kepadamu berlawanan dengan apa yang kukabarkan, itu bukan Injil, dan mereka harus dijatuhkan laknat, berarti Paulus minta gereja mempertahankan kemurnian dan kemutlakan Injil.

Bagaimana dengan kaum Injili? Orang yang mencintai Injil, peliharalah Injil! Orang-orang yang betul-betul menamakan diri Injili bukan hanya mulut gembar-gembor tapi hati yang setia kepada Injil. Mengerti, memelihara, mencintai dan memelihara Injil dengan setia sampai Yesus Kristus datang kembali.

Dunia akan berubah. Paulus berkata: "Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu." (Kis. 20:29), Paulus berkata: "Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya." (2 Tim. 4:4).

Pada waktu kita memberitakan Injil, kita harus bijaksana. Bijaksana bukan berarti takut, bijaksana bukan berarti kompromi. Orang yang berkompromi, orang yang takut selalu mengatakan: "Ini bijaksana."

Menurut pikiran Plato dan Socrates, orang Yunani mengatakan: "Suatu hal yang tidak mungkin! Bagaimana saya dapat percaya seorang bodoh seperti Yesus Kristus tersalib tanpa dapat menyelamatkan umat manusia? Bagi logika saya yang sudah dilatih oleh filsafat, saya tidak bisa terima." Sementara orang Yahudi mengatakan: "Inikah Juru Selamat? Inikah Mesias? Omong kosong! Mesias bersifat militer, Mesias bersifat politik, Mesias bersifat dendam, Mesias bersifat kemenangan. Kristus yang menang harus Kristus yang berpolitik, Kristus yang betul-betul mempunyai kekuasaan militer, yang melepaskan Israel itu bisa menjadi Kristus, itu bisa menjadi Juru Selamat, tetapi yang dipaku di atas kayu salib ini tidak mungkin!" Mereka pergi.

Lalu, Paulus berkata: "Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang- orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan" (1 Kor. 1:22), itu Injil.

Sekarang, berapa banyak orang mengabarkan Injil mencoba berusaha dengan mukjizat dan bijaksana untuk menarik orang datang kepada Tuhan. Saya percaya, Tuhan lebih bijak dari siapa pun, saya juga percaya Tuhan melakukan mukjizat, betul-betul berkuasa sampai sekarang: Dia menyembuhkan orang lain, Dia melakukan mukjizat, tetapi pusatnya adalah kayu salib Kristus.

Orang Yunani minta bijaksana, mereka menganggap salib itu bodoh, orang Yahudi minta mukjizat, mereka merasa Golgota lemah. Paulus berkata: "Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia." (1 Kor. 1:25). Ini saya sebutkan sebagai sifat paradoks, berarti kelihatan salah tetapi benar, kelihatan konflik tetapi harmonis, itu disebut paradoks.

Paradoks pertama adalah salib yang paling lemah, menjadi kuasa terbesar di alam semesta. Karena salib adalah tempat paling bodoh maka melebihi segala bijaksana. Karena salib adalah tempat paling bodoh, tidak mampu membela diri maka di salib terjadi pembelaan terbesar bagi umat manusia. Salib adalah tempat yang memberikan pengampunan. Ketika paku menusuk Dia, pada saat yang bersamaan darah pengampunan keluar, itulah Injil.

Paradoks kedua waktu kita mengabarkan Injil kepada yang membutuhkan, mereka tidak terima. Ingat pada waktu Paulus di Troas? Pada waktu Paulus di Troas, pada waktu malam, mungkin mimpi, mungkin penglihatan, ada orang Makedonia berkata: "Mari menyeberang ke sini, tolonglah kami!" Paulus menyangka pimpinan Tuhan, lalu dia pergi. Paulus pergi ke Makedonia. Kota pertama yang dikunjunginya adalah Filipi. Ia berkhotbah, hari kedua langsung masuk penjara. Ia tidak mengerti, di dalam visi disuruh ke sini, sudah datang, masuk penjara. Itulah Injil. Ketika pengabar Injil datang ke Irian Jaya, pergi, dimakan singa. Engkau bilang Sumatera perlu, ayo datang, Nommensen ke Sumatera hampir dibunuh mati. Jackson ke Birma, Hudson Taylor ke Tiongkok, David Branerd ke India, William Carrey ke India. Dalam sejarah dari misi, tidak ada satu tempat pun membuka kedua tangan secara luas untuk menyambut Injil. Jikalau mereka bisa begitu baik bereaksi kepada Allah, mereka tidak perlu Injil, justru Injil diperlukan oleh orang yang merasa tidak perlu, Injil dikabarkan kepada mereka yang tidak mau dikabarkan, Injil harus diberitakan kepada mereka yang menolak berita, itu Injil. Injil untuk orang yang belum menjadi Kristen, untuk orang-orang yang belum mengenal Yesus Kristus.

Menginjili

Kita harus hati-hati dan bijaksana sungguh-sungguh, menyediakan hati yang bersedia untuk menerima kesulitan. Tidak ada seorang yang lebih berat penderitaannya dari Kristus. Yesus berkata: "Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya ...." Setiap kali kalimat itu diucapkan, dikaitkan dengan penderitaan. Jikalau Kristus sudah menderita begitu berat, maka tidak ada satu orang menderita lebih berat dari Yesus. Jikalau begini, apakah Dia tidak sanggup menghibur engkau? Barang siapa ingin memberitakan Injil, ia harus bersedia untuk masuk ke mana saja termasuk penjara. Orang yang bersedia mengabarkan Injil harus mempersiapkan diri dengan mengerti sifat paradoks Injil.

Paradok ketiga, sifat Injil adalah berinisiatif. Tidak tunggu orang lain datang, engkau pergi .... Mentalitas pergi harus dipupuk di antara anggota gereja kita masing-masing. Berapa banyak gereja anggotanya hanya datang satu kali setiap minggu ke gereja. Akan tetapi, itu bukan kehendak Allah. Kehendak Allah adalah setiap orang Kristen pergi. Beberapa tahun yang lalu, saya bertemu dengan David Elis yang pernah menjadi ketua OMF Indonesia, dia berkata kepada saya, "Stephen, I like to see my church empty." Saya kaget, dia ingin melihat gerejanya kosong? Dia berkata, "Saya menghargai gereja saya kosong." Saya tanya mengapa, "Mengapa engkau ingin gerejamu kosong?" Dia berkata, "Saya mau anggota saya semua pergi, pergi ke seluruh dunia, kabarkan Injil, sehingga tidak ada satu yang sisa di dalam gereja." Pupuklah semangat ini, berikan kepada mereka dorongan seperti ini, biar gereja kita menjadi gereja misioner.

Teologi Penginjilan

Sumber Artikel: 

Sumber:

Nama Majalah : Momentum
Edisi : 7/Desember 1989
Judul Artikel : Teologi Penginjilan
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Halaman : 20-25

Legenda Santa Claus

Penulis_artikel: 
John W. Cowart
Isi_artikel: 

"Ayah, bangun! Seseorang memanjat terali jendela kita!" Sang ayah yang kuatir terjaga. Terhuyung-huyung, masih setengah sadar, menghampiri kamar tidur putrinya dan memandang ke luar. Seseorang sedang memanjat terali dengan diam-diam.

"Apa-apaan ini? Sepertinya tidak cukup kesusahan yang kuhadapi," kata sang ayah. "Akan kutangkap banjingan itu." Diambilnya sebatang kayu api yang besar panjang di sisi perapian dan merayap ke luar.

Ayah yang dalam kesusahan ini tidak dapat tidur semalaman. Ketika ia berbaring, pikirannya tetap berputar dari satu problem ke problem lainnya. Tiga orang anak perempuan yang sudah layak menikah dan tidak ada mas kawin yang dapat disediakannya walau hanya untuk satu calon menantu saja. Kemiskinan telah menguras kekuatannya. Ia telah memutuskan untuk menjual gadis-gadisnya ke tempat pelacuran lokal -- tampaknya itu jalan keluar satu-satunya. Namun ia tidak tentram dengan keputusan itu, dan tidur mengajaknya lari dari persoalan itu. Sekarang ada lagi.

Ketika ia membuka pintu, didengarnya suara berdebuk. Pengacau itu melemparkan sesuatu ke dalam kamar putri-putrinya dan sekarang menuruni terali.

Ayah yang marah ini mengejar pengacau itu. Sekejab mereka terjatuh, terengah-engah, berhadapan dengan dinding batu. Sang ayah juga kehabisan napas untuk mengangkat gadanya, melihat pengacau itu ternyata seorang pemuda yang kehabisan napas.

Putri yang tertua lari menghampiri. "Lihat ayah!" ia menjelaskan, "lihat apa yang dilemparkannya ke jendela kita." Tangannya memegang sebuah tas kulit penuh dengan uang emas.

"Apa arti semua ini?" tuntut sang ayah.

Tawanannya menjelaskan bahwa ia seorang Kristen dan orang tuanya baru saja meninggal dengan mewariskan kekayaan yang besar. "Tuhan mengatakan," pemuda ini menjelaskan, "bahwa kita harus menjual harta kita dan memberikannya kepada orang miskin, kemudian mengikutNya. Saya ingin mengikut Yesus, maka ketika saya mengetahui kesulitanmu dan rencanamu ... apa yang dapat saya perbuat? Jika seseorang memiliki segala harta dunia ini dan melihat saudaranya membutuhkan, kemudian mengeraskan hati terhadap saudaranya itu dan tidak memberikannya, bagaimana kasih Allah bisa tinggal dalam orang ini?"

Ayah yang bingung, tetap mencurigai adanya suatu permainan, bertanya, "Mengapa engkau menyelinap ke rumah kami pada malam hari? Apa maumu? Siapa namamu?"

"Nama saya Nicholas. Saya datang secara sembunyi karena Yesus memerintahkan ketika engkau memberi kepada orang miskin dengan tangan kananmu, tangan kirimu tidak perlu tahu. Simpan pemberianmu sebagai rahasia. Simpanlah uang itu, tetapi saya mohon sesuatu sebagai imbalannya. Jangan beritahu siapapun mengenai hal ini. Jaga rahasia ini." Ayah itu berjanji dan untuk bertahun-tahun tidak menceritakan bagaimana ia mendapatkan mas kawin untuk gadis-gadisnya.

Cerita ini, dikisahkan oleh Metaphrastes dalam tahun 912 M, menunjukkan satu alasan mengapa St. Nicholas, seorang yang benar-benar ada dalam sejarah, yang menjadi dasar dari legenda mengenai Santa Claus, adalah seorang yang paling terkenal di seluruh dunia.

KUNJUNGAN ST. NICK

Nicholas dilahirkan pada abad ketiga di Patras. Sebuah kota di Asia Kecil. Orang tuanya yang kaya raya adalah orang-orang Kristen yang saleh. Setelah mereka meninggal, ia menggunakan warisannya untuk menolong orang miskin dan memasuki Biara Sion Kudus, dekat kota Myra untuk mendapatkan pendidikan.

Alkisah ketika menjadi dewasa, Nicholas membuat perjalanan perubahan hidup ke Tanah Suci. Di Betlehem ia melihat tempat kelahiran Kristus. Ia berdiri di Bukit Zaitun di mana Kristus mengajar. Dan ia berdoa di kubur kosong, tempat kebangkitan Kristus. Perjalanan ini meneguhkan pikirannya mengenai yang telah dipelajari dalam Alkitab -- bahwa Kristus sesungguhnya Allah beserta kita. Keyakinan teguh ini membentuk karir masa depannya.

Ketika ia berlayar pulang, kapalnya memasuki kancah badai. Nicholas menolong para kelasi mengikat layar dan menguasai kayuh. Kelasi-kelasi itu mempercayakan perjuangan mereka di tangan Nicholas; dan ia menyerahkan keselamatannya kepada Allah. Ia bernasar untuk pergi ke gereja mengucap syukur setibanya kapal itu di daratan.

Ketika Nicholas melangsungkan perjalanannya, bishop di Myra meninggal dunia. Pemimpin gereja berdebat tentang penggantinya. Setelah melalui perdebatan panjang, seseorang menyarankan, "Kita tunggu keputusan Allah; orang yang pertama datang melalui pintu gereja besok pagi akan menjadi bishop yang baru."

Kapal Nicholas terdampar menjelang fajar. Secepatnya ia pergi untuk mengucap syukur karena dibebaskan dari badai. Para pemimpin gereja menyambutnya di pintu gerbang dengan topi dan tongkat jabatan bishop. Maka ia menjadi bishop termuda di dalam sejarah.

KONFLIK DENGAN PEMERINTAH

Tidak lama setelah itu, Bishop Nicholas menghadapi konflik dengan otoritas pemerintah. Suatu bencana kelaparan melanda Myra. Hasil panen layu dan kering di ladang. Tidak ada makanan di manapun juga. Jemaat mencari Nicholas untuk melepaskan mereka dari kelaparan. Eustathios, gubernur propinsi, menyita beberapa muatan kapal berisi gandum di pelabuhan Andriaki. Pejabat yang korup merencanakan untuk menahan gandum itu sampai tawaran tertinggi atas gandum itu tercapai. Nicholas meyingkapkan timbunan gandum itu dan mempermalukannya sehingga melepaskan kapal-kapal itu. Hubungan Nicholas dengan Eustathios lebih buruk lagi ketika ia mempelajari proposal hukuman mati dari tiga tawanan politik. Nicholas mendesak untuk kebebasan ketiga orang yang tidak bersalah itu. "Terlambat!" seru Eustathios, "mereka sedang menjalani pemancungan sekarang." Nicholas berlari ke alun-alun di mana hukuman mati itu dilaksanakan. Tawanan pertama sudah siap dihukum mati dengan lehernya di tempat pemancung dan kepala di atas keranjang. Pelaksana mengayunkan tangan. Nicholas merebut pedang yang sedang terayun turun dari tangan algojo. Ia memotong ikatan tangan para tawanan dan membebaskan mereka. Masyarakat menyatakan jaminan keselamatan selanjutnya bagi orang-orang ini. Gubernur mundur -- untuk sementara waktu.

Penganiayaan yang terus menerus

Pada 23 Februari 303 M, kaisar Diocletian mengeluarkan satu peraturan yang menjadi awal penganiayaan yang paling sistematis dan panjang atas gereja Kristen yang pernah terjadi.

Penganiayaan Diocletian ditandai dengan serangan pertama yang terorganisir atas Alkitab. Karena keputusan ini menuntut bahwa orang Kristen harus menyerahkan kitab suci mereka untuk dibakar. Menolak berarti mati. Seorang yang setia (seperti Felix, bishop Thibiuca, yang mengatakan kepada prajurit yang menangkapnya, "Lebih baik aku dibakar daripada Alkitab.") berdalih untuk berbagai alasan, seperti menggantinya sebagai kitab tatabahasa, kitab mengenai pengobatan, koleksi khotbah dan buku-buku agama lain, untuk melindungi Alkitab.

Eusebius, seorang saksi mata mengatakan, "Kata-kata tidak dapat menjelaskan penderitaan mengenaskan yang ditanggung oleh para martir ... mereka dicabik dari kepala sampai kaki dengan pecahan beling seperti cakar, sampai mati melepaskan mereka. Wanita-wanita diikat sebelah kakinya dan dipacang tinggi ke udara dengan kepala di bawah, tubuh mereka telanjang tanpa secarik pakaian pun ... aku berada di tempat itu dan melihat sendiri mereka dihukum mati ... pesta gila- gilaan itu berlangsung lama, pisau pembunuh itu menjadi muntul dan rusak sendiri. Pelaksana hukuman mati itu sendiri kehabisan nafas dan bergantian melaksanakan tugas.

Secara relatif orang Kristen mempunyai kesempatan untuk mendramatisir iman mereka dengan menyitir kata-kata terakhir di hadapan penonton di arena. Hampir semua ketakutan, kuatir, merasa tidak pasti, tersembunyi, tertawan dan menderita, berlangsung dari tahun ke tahun. Anak-anak Kristen bertumbuh dengan tidak mengenal kondisi lain dalam hidupnya.

Bishop Nicholas mengambil bagian dalam hal ini. Ia tertangkap di awal penganiayaan dan ditawan. Mereka memukulinya. Mereka mencap kulitnya. Mereka menggunakan tang-tang besi untuk menjepit berbagai bagian tubuh mereka. Kemudian dibiarkan sendiri di selnya sampai cukup kuat untuk mulai disiksa lagi. Penganiayaan berlangsung bertahun-tahun. Tetapi Nicholas tidak menyangkal bahwa Yesus adalah Allah dari segala allah.

Bidat yang berbahaya

Kaisar kafir telah meninggal. Konstantin naik takhta dan menghentikan penganiayaan. Nicholas bertahan menghadapi penderitaan, tetapi sekarang ia diperhadapkan dengan bahaya ... yang lebih besar, yang merusak Kekristenan secara perlahan-lahan.

Arius, pengkhotbah terkenal dari Alexandria, mulai mengajarkan bahwa Kristus lebih rendah dari Allah. Ia mengajarkan bahwa Yesus bukan Allah menjadi manusia, tetapi sebagai roh ciptaan yang menjadi pengantara yang didagingkan -- bukan Allah tetapi juga bukan manusia saja.

Arius menyebarluaskan idenya dengan memasukkan dalam musik peminum yang terkenal di kalangan penyembah berhala. Melodinya begitu menarik sehingga sebentar saja semua orang bersiul mengikutinya di jalan dan pasar. "Situasi menjadi skandal," komentar Eusebius, "sehingga dalam gedung kesenian orang yang tidak percaya, pengajaran yang seharusnya dihormati mengenai Allah diekspos sehingga sangat aneh dan memalukan.

Orang percaya yang setia berjuang melawan penganiayaan, seperti Nicholas, berkhotbah dan menjelaskan kepada orang-orang mengenai Yesus, menunjukkan ayat Alkitab seperti Kolose 2:9: "Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keAllahan."; Yohanes 14:9: "Yesus berkata: "Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa."; Yohanes 1:1,14: "Pada mulanya adalah Firman: Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah ... Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita ... "; Ibrani 1:3: "Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah."

Semua ini tidak berguna. Arianisme menarik pikiran yang dirasionalisasikan bahwa kalau mereka tidak dapat mengerti Tritunggal, maka tidak ada Tritunggal.

Konsili Kontroversial

Konstantin membentuk sebuah konsili dari pemimpin-pemimpin gereja di Nicean untuk mendiskusikan pengajaran Arius dan hal-hal lain yang memecahbelahkan gereja.

Mereka yang menghadiri konsili Nicean telah berjuang atas penganiayaan Diocletian. Sebagian dari mereka cacat kehilangan lengan. Sebagian lagi lumpuh (Tawanan dibuat cacat agar tidak dapat melarikan diri). Banyak yang datang dengan rongga mata kosong karena mata mereka dicukil.

Legenda mencatat bahwa dalam kesempatan tampil dalam konsili Arius mulai menyanyikan salah satu dari lagu-lagunya yang terkenal. Beberapa bishop langsung keluar dari tempat pertemuan. Yang lainnya menutup telinga. Nicholaus berjalan perlahan-lahan ke tengah, tempat Arius bernyanyi dan meninju mulutnya.

Bishop yang kaget bersimpati kepada Nicholaus, tetapi tidak dapat menyetujui tindakannya. Biar bagaimanapun, Kristus, yang dipertahankan Nicholaus, mengajarkan pengikut-pengikutNya untuk mengasihi musuh- musuh mereka dan menjadi umat yang damai. Mereka menurunkan Nicholaus dari jabatan bishop (kemudian jabatan ini dikembalikan kepadanya) dan mengusir Arius. Sebelum konsili berakhir, mereka menuliskan Pengakuan Iman Nicean yang menyatakan apa yang harus dipercaya orang Kristen mengenai Yesus.

Nicholaus menghabiskan sisa hidupnya di Myra untuk memperhatikan yang sakit, merawat yatim piatu, melindungi orang miskin dari pemeras- pemeras dan mempertahankan hak-hak legal orang Yahudi. Ia sering bermain dengan anak-anak dan memalukan martabat kesementaraannya dengan mengijinkan anak-anak berandal jalanan dengan mengijinkan mereka memakai topi bishop. Ia meninggal tahun 343 M dan dijadikan orang suci.

Kemurahan hati dan kasihnya kepada anak-anak terus berkembang sehingga tidak hilang dalam legenda St. Nick -- Santa Claus.

Artikel ini diterjemahkan dari majalah HIS edisi Desember 1989.

Sumber Artikel: 

Sumber:

Nama Majalah : Momentum
Edisi : 7/Desember 1989
Judul Artikel : Legenda Santa Claus
Penulis : John W. Cowart
Halaman : 32-35

Siapakah Kristus Yang Naik Ke Surga?

Penulis_artikel: 
Pdt. Dr. Stephen Tong
Isi_artikel: 

Artikel ini disarikan dari Kotbah Pdt. Dr. Stephen Tong di GRII Jakarta

Dalam Mazmur 24:7-10, kita membaca ada pintu kekekalan, dan pintu kekekalan itu dibuka, menyambut seorang pemenang untuk selama-lamanya. Di Vatikan, di dalam gereja Basilica of Saint Peter, ada pintu yang hanya boleh dibuka satu kali dalam 50 tahun. Pada waktu mereka membuka pintu itu, kadang-kadang mereka membaca ayat ini. Mereka menganggap itu merupakan suatu upacara yang agung sekali. Sebenarnya pintu itu tidak mempunyai makna terlalu berarti dibandingkan dengan ayat-ayat yang tercantum di sini.

'Semua pintu gerbang, terbukalah!' Untuk siapa pintu yang kekal dibuka? 'Untuk raja yang pernah berperang di dalam medan peperangan.' Siapakah raja yang pernah menang perang di medan peperangan? 'Yaitu yang diutus oleh Yehovah, yang menjadi Tuhan di atas segala sesuatu.

'Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang! Dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad supaya masuk Raja Kemuliaan!' Siapakah dia itu Raja Kemuliaan? 'Tuhan semesta alam, Dialah raja semesta alam, Dia Raja Kemuliaan.'

Tapi Dia pernah datang, pernah dicobai, pernah diberikan kesempatan untuk berjuang, untuk bertarung dengan kuasa-kuasa kejahatan; Iblis berusaha untuk meremukkan Dia, iblis berusaha menjatuhkan Dia, tetapi Kristus naik ke surga. Ini membuktikan bahwa Dia adalah Raja yang mulia, Raja yang menang, Raja yang pernah bertempur di dalam medan pertempuran rohani menggantikan engkau dan saya.

'Hai pintu gerbang, gerbang yang mulia, pintu yang kekal, bukalah! Angkatlah kepalamu, bukalah pintumu menyambut Yesus Kristus sebagai yang menang!'

Di dalam Pengakuan iman Rasuli tertulis: 'Dia naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa.' Bagian ini jangan dimengerti sebagai suatu lokasi atau semacam pengertian secara tata ruang. Jikalau Yesus betul- betul berada di sebelah kanan, artinya ada lokasinya. Bukankah ini juga berarti bahwa Bapa berada di sebelah kiri Yesus? Kalau begitu, arti seperti ini akan membuat kita kurang jelas tentang apa arti rohaninya. Jikalau Bapa berada di kiri, lalu Yesus di kanan, yang mana yang lebih besar? Yang di kanan atau yang kiri? Lalu, Roh Kudus akan berada di mana? Dan sebagainya. Itu tidak akan ada habisnya.

Seperti juga kita membaca bahwa Lazarus berada di dalam pangkuan Abraham. Apakah Lazarus betul-betul dipangku Abraham? Kalau ya, waktu kita datang, Lazarus akan menjadi penyek, bukan? Pengertian tempat seperti itu mempunyai arti rohani yang jauh lebih dalam.

Di dalam pemikiran Kitab Suci, tempat kanan mempunyai tiga arti:

  • Arti pertama, Yesus Kristus adalah orang yang sudah diterima dengan suka hati oleh Tuhan Allah. Ini adalah delighted decision. Suatu tempat yang diterima dengan baik, suatu tempat yang diberikan karena yang memberi begitu senang kepada Dia. Kristus adalah Anak kesayangan Bapa. 'Dengarlah Dia! Dengarlah Anak yang Aku suka ini.' Itu arti yang pertama.

  • Arti kedua, tempat sebelah kanan berarti tempat pemenang. Setelah orang yang bertempur dalam medan peperangan pulang, ia diberikan tempat di sebelah kanan oleh raja. Jenderal yang menang, jenderal yang begitu penting, duduk di sebelah kanan. Yesus Kristus menjadi pemenang di dalam medan peperangan. Itu sebabnya Ia duduk di sebelah kanan Bapa.

  • Ketiga, tempat kanan berarti tempat penguasa. Tuhan memberikan kekuatan kepada Dia, memberikan kuasa kepada dia, mandat yang melampaui segala surga dan bumi. Itulah kuasa yang diberikan kepada Yesus Kristus.

Puji Tuhan! 'Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang! Dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan. Siapakah Dia, Raja Kemuliaan itu?' Itulah Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan

Bagian kedua diambil dari Matius 28:18 dst. Yesus Kristus bukan saja seorang pemenang, tapi Dia naik ke surga. Pada waktu Dia naik ke surga, Dia memberikan suatu amanat yang paling agung kepada semua orang yang mengikuti Dia.

Pada jaman reformasi, orang-orang reformasi, khususnya orang-orang yang berada di Jenewa, menganggap amanat agung hanya diberikan kepada rasul-rasul pada waktu itu. Ini merupakan suatu kelemahan yang besar yang mengakibatkan kira-kira selama dua abad orang-orang reformasi, orang-orang lutheran, selain mengerjakan pekerjaan penggembalaan di Eropa mereka tidak mengutus orang ke luar untuk mengabarkan Injil. Karena kesalahan tanggapan itu, akhirnya menjadikan gereja lemah di dalam penginjilan.

Tetapi lambat laun Tuhan membangkitkan orang-orang untuk membawa kita kembali kepada visi yang benar, bahwa penginjilan itu bukan tugas gereja mula-mula saja, tetapi tugas segala jaman. Penginjilan bukan sudah tidak ada, tetapi ada pada setiap jaman. Para rasul memang sudah tidak ada, para nabi juga sudah tidak ada, yang ada hanya fungsi- fungsi kerasulan, fungsi-fungsi kenabian. Jadi yang diutus dan yang mewakili Tuhan berbicara adalah fungsi yang masih berada dalam segala jaman. Maka kita harus menegaskan juga hal ini. Pengertian tentang kesadaran semacam ini akan mengubah dan akan menggugat kembali tugas kita terhadap dunia ini.

Yesus berkata, "Pergilah ke seluruh dunia dan jadikan segala bangsa murid-Ku." Ini merupakan suatu penanaman visi, semacam pikiran yang begitu besar kepada gereja. Di jaman yang tidak ada visi, jaman itu penuh dengan kekacauan. Gereja yang sudah kehilangan ketajaman melihat visi, di situ gereja menjadi tidak berdaya, tidak dinamis lagi. Tetapi kapan saja visi itu kembali dipertajam, visi itu sekali lagi menggugah hati manusia, dan mau tidak mau gereja menjadi gereja yang militan dan dinamis di dalam pelayanan.

Begitu banyak orang Kristen yang malas, begitu banyak orang Kristen yang imannya kendor, hidup rohaninya begitu sembarangan dan etikanya begitu tidak bertanggung jawab karena mereka sudah kehilangan ketajaman dan keinsyafan tentang visi dan mandat dari Tuhan! Tetapi puji Tuhan! Yesus bukan memberikan suatu kotbah dan amanat yang agung itu kepada mereka di tempat sembarangan. Mereka naik ke gunung dan di atas gunung itu Yesus mengutus mereka.

Pada waktu kita naik ke atas bukit, berada di tempat yang tinggi, kita akan melihat suatu dataran yang lebih besar, kita akan mempunyai pemandangan yang jauh lebih luas dan di situ Tuhan membentuk suatu pemikiran atau semacam wawasan yang luas bagi orang-orang yang mau mengabarkan Injil. Barangsiapa yang tidak mempunyai hati yang luas, barangsiapa yang tidak mempunyai pandangan rohani dengan wawasan yang luas, tidak mungkin mempunyai penginjilan yang kekuatannya lebih besar daripada pelayanan yang lain. Di sini kita melihat, gereja harus kembali mengikuti teladan dan menaati perintah Yesus Kristus.

Yesus yang naik ke surga; Bukan hanya merupakan suatu catatan sejarah, tapi ini merupakan suatu amanat: Dia pergi dan tugasNya dikerjakan oleh engkau dan saya. Barangsiapa merayakan hari kenaikan, barangsiapa mengingat Kristus naik ke surga, dia juga harus ingat apa pesan Yesus sebelum Ia pergi.

Pesannya adalah: 'Pergilah ke seluruh dunia, jadikan segala bangsa murid-Ku. Apa yang Aku katakan kepadamu ajarkanlah mereka, supaya mereka menjalankannya dan engkau yang mengabarkan Injil akan Kusertai, sampai kesudahan, sampai selama-lamanya.'

Yang ketiga, kita akan melihat apa yang dikaitkan dengan kenaikkan Yesus ke surga. Dalam Yohanes 16:7-8, tertera suatu perjanjian yang lebih penting lagi. Jikalau Yesus Kristus, yang sudah memberikan suatu perintah untuk pergi mengabarkan Injil ke seluruh dunia hanya membiarkan pengikut-pengikut-Nya dengan keadaan yang begitu sulit, dengan penganiayaan-penganiayaan yang kejam, yang ganas dan tidak berprikemanusiaan, maka bukankah Tuhan juga adalah Tuhan yang meletakkan kewajiban dan pergi melarikan diri? Tetapi bukanlah demikian. Alkitab mengatakan: 'Aku pergi justru berfaedah besar bagimu. Aku pergi untuk kamu, karena jikalau Aku tidak pergi Roh Kudus tidak turun.' Di sini Yesus Kristus mengaitkan kenaikkan-Nya ke surga dengan rencana yang berkesinambungan di dalam konsistensi pikiran Tuhan Allah yang kekal.

Allah, bukanlah Allah yang tidak berprogram. Allah, adalah Allah yang mempunyai program yang tertinggi. Allah, adalah Allah yang mempunyai cara berorganisasi dan mempunyai cara pemikiran dan jadwal yang paling tepat. Itu sebabnya Tuhan berkata: 'Jikalau Aku tidak pergi, tidak ada faedahnya bagimu, tetapi jikalau Aku pergi itu akan mendatangkan keuntungan bagimu, sebab setelah Aku pergi akan dikirim Roh Kudus, turun dan menyertai serta menjadi penghibur bagimu.'

Siapakah Kristus yang naik ke surga? Kristus yang naik ke surga adalah Kristus, Raja pemenang. Siapakah Kristus yang naik ke surga? Kristus yang naik ke surga adalah Kristus, yang mengutus kita mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Siapakah Kristus yang naik ke surga? Kristus yang naik ke surga adalah Kristus, yang bersama dengan Bapa mengutus Roh Kudus menjadi pendamping bagi gereja.

Jikalau kita melihat ke dalam abad pertama, kita mengetahui bahwa orang Kristen bukan saja minoritas, orang Kristen berada di kalangan bawah. Yang menjadi orang Kristen kebanyakan adalah: budak, nelayan, orang miskin, orang di pasar dan sedikit sekali pejabat-pejabat tinggi, konglomerat atau orang-orang yang penting di dalam masyarakat yang beriman kepada Yesus Kristus. Dari antara 12 murid Yesus, kita melihat begitu banyak nelayan, yang Yesus panggil. Pengaruh mereka mulai dari grass-root, mulai dari lapisan yang paling bawah sekali. Yesus menjadi teman, menjadi kawan dari pemungut cukai, dari orang- orang berdosa; Ia menerima orang-orang yang dibuang oleh masyarakat.

Melalui kira-kira 300 tahun, kita melihat pengaruh kekristenan sudah mengakibatkan Raja Konstantin akhirnya harus berlutut di hadapan Yesus dan mengaku Dia sebagai Tuhan. Di sini kita melihat di dalam 300 tahun permulaaan itu, gereja mengalami penganiayaan, pengucilan, dibunuh, disiksa. Begitu banyak martir yang mati mengalirkan darah, mati syahid bagi kepercayaan dan iman kekristenan yang mereka yakini.

Siapakah yang memberikan kekuatan? Bagaimana mereka bisa bertahan, kecuali ada kuasa yang tidak kelihatan, ada penolong yang setiap saat berada dengan mereka, yang mempunyai kuasa ilahi, yang berada di tengah-tengah mereka? Siapakah Dia? Dia adalah Roh Kudus.

Maka Yesus berkata, "Aku harus pergi. Aku pergi, maka Dia akan datang. Aku pergi dan bersama dengan Bapa mengirim Roh Kudus agar turun ke atas kamu. Roh Kudus turun ke atas kamu, maka kamu akan berkuasa."

Berkuasa atas apa? Berkuasa untuk tahan menderita. Berkuasa atas apa? Berkuasa untuk dapat tahan penganiayaan. Berkuasa atas apa? Berkuasa agar di dalam segala kesulitan tetap memegang imanmu.

Di dalam Perjanjian Lama dan di dalam masyarakat sekarang umumnya mengerti kuasa Allah dengan penolongan dan dengan suatu kelancaran hidup dan pemberian berkat secara materi atau jasmani. Tetapi kuasa yang kita lihat dalam Perjanjian Baru setelah Kristus naik justru sama sekali terbalik. Kalau Tuhan berkuasa, kenapa tidak menyembuhkan saya? Kalau Tuhan berkuasa kenapa tidak menyertai? Kalau Tuhan berkuasa, kenapa situasi politik dan situasi ekonomi begitu jelek? Kalau Tuhan berkuasa, mengapa Nero saja bisa menganiaya rasul? Bisa memaku mati Petrus secara terbalik? Di mana kuasa Tuhan?

Justru iman kekristenan mengerti kuasa dari kerajaan Tuhan secara antitesis. Di dalam penganiayaan, di dalam kesulitan, di dalam desakan, di dalam kesempitan, di dalam segala sesuatu: kesulitan, sengsara, penderitaan politik, ekonomi dan apapun juga, iman orang Kristen tidak berkompromi, orang Kristen tidak menyerah kepada musuh. Itulah kuasa dan itu namanya kuasa Roh Kudus.

Saya sangat takut kalau gereja sudah menjadi kaya sekali. Saya sangat takut kalau hamba Tuhan sudah diberikan segala kelonggaran, sehingga akibatnya mereka tidak lagi bersandar kepada Tuhan. Pada waktu gereja berada dalam kemiskinan, kesulitan; justru iman mempunyai kesempatan untuk dilatih, menjadi suatu kekayaan rohani. Tetapi pada waktu kita sudah mempunyai segala sesuatu, kita menjadi sangat miskin di dalam iman.

Tuhan berkata, "Aku pergi dan Aku mengirim Roh Kudus. Roh Kudus mendampingi engkau, saat engkau diutus ke dalam dunia sebagai utusan Tuhan."

Saya minta maaf jikalau saya harus memakai suatu kalimat: itu adalah pengutusan yang paling kejam dalam sejarah. Jangan heran jikalau ada orang Kristen dibunuh. Jangan heran kalau gereja dianiaya. Jangan heran kalau kadang-kadang kita dibiarkan miskin dan sulit luar biasa. Jangan ngomel, jangan heran, karena itu cara pengutusan dari Tuhan. 'Aku mengutus engkau seperti domba di tengah-tengah kawanan serigala!' Bukankah itu hal yang paling kejam? Coba Saudara bayangkan, seekor domba yang begitu tersendiri dikelilingi oleh kawanan serigala yang begitu kejam. Serigala mempunyai gigi yang begitu tajam, mempunyai sifat yang begitu keras, kelompok yang begitu banyak kawannya. Domba hanya seekor. Itulah namanya utusan Tuhan. 'Aku mengutus engkau seperti domba di tengah-tengah serigala.

Itu sebabnya saya minta maaf kalau saya katakan utusan Tuhan adalah utusan yang kejam. Tetapi tidak menjadi soal, jikalau domba itu mengerti bahwa Roh Kudus sedang diutus untuk menyertainya. 'Aku pergi supaya Roh Kudus turun! Inilah sudut ketiga yang kita lihat dari kenaikkan Yesus ke surga.

Siapakah Dia yang naik ke surga? Dia Raja yang menang di dalam pertempuran rohani. Siapakah Dia yang naik ke surga? Dia adalah Tuhan yang memberikan mandat kepada kita, amanat yang paling agung: mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Siapakah Yesus yang naik ke surga? Dia adalah yang mengutus Roh Kudus yang menjadi parakletos, menjadi penghibur, pendamping untuk kita.

Keempat kita membaca dalam Ibrani 4:14-16. Dalam ayat-ayat ini, dikatakan bahwa kita memiliki seorang Imam Besar yang sudah melintasi segala langit. Yesus naik ke surga bukan berarti dia menghilang dari bumi ini setelah + selama 33 tahun berada di dunia. Atau seperti yang dikatakan oleh doketisme, hanya suatu dokaio saja, Dia hanya dlbayang- bayangkan pernah datang ke dalam dunia, lalu hilang. Yesus, setelah Ia pergi, Ia naik ke surga, Ia melintasi segala langit. Ini merupakan suatu ajaran yang begitu besar.

Pada hari kenaikan ini, saya merenungkan, terus merenungkan tentang kenaikan Yesus Kristus. Lalu saya berkata, "Puji Tuhan! Agama lain tak pernah mempunyai seorang pendiri, tak pernah mempunyai seorang penghulu agama yang datang dari sana ke sini, dan juga tidak pernah ada yang dari sini ke sana dengan melintasi segala langit, kecuali Yesus Kristus. Mereka hanya membayangkan ada satu allah. Allah, yang belum pernah datang ke dunia. Allah, yang katanya mungkin dia yang mencipta, katanya dia menyelamatkan, dia mengampuni, dia satu-satunya, dia adalah rahmani, rahimi. Tapi mereka yang membayangkan allah berbeda dengan Yesus Kristus, yang adalah Allah yang pernah meninjau sendiri, pernah datang sendiri, pernah menyelamatkan kita, pernah hidup di tengah-tengah kita, pernah juga dengan mulut-Nya, memakai bahasa manusia memberikan pengajaran yang terindah di dalam sejarah kepada kita. Sesudah itu Ia pergi, setelah Ia menyelesaikan tugas di bumi.

Sewaktu kita mengenang Kristus, kita mengenang Allah yang pernah datang. Wujud-Nya begitu konkrit, begitu sungguh-sungguh intim hubungan Tuhan dengan kita. Dalam bagian Firman ini dikatakan suatu kalimat yang begitu menyentuh: kita bukan mempunyai seorang Imam yang tidak mengerti segala kelemahan kita. Saya percaya di dalam hidup setiap orang, sedalam-dalamnya ada keluhan kesusahan hidup dalam dunia. Baik engkau orang kaya atau engkau orang miskin, baik engkau orang sukses atau orang yang penuh dengan kegagalan, baik engkau yang kelihatan mempunyai materi yang begitu besar, begitu banyak, atau mereka yang selalu mengejar hanya untuk menyambung hidup saja.

Siapapun mempunyai keluhan akan hal yang begitu sulit, mempunyai air mata sedalam-dalamnya di dalam hatinya. Saya ingin bertanya, siapakah yang sungguh-sungguh mengerti setiap orang? Suami ingin dimengerti oleh isteri. Tapi justru isteri ingin dimengerti oleh suami! Kekuatan kita untuk mengerti dan kemampuan kita untuk mau mengerti dibandingkan dengan kebutuhan kita untuk dimengerti, selalu tidak seimbang.

Adakah yang mengerti? Ada! Yesus Kristus. Dia pernah datang. Dia pernah dilahirkan di dalam tempat binatang. Dia pernah diejek oleh bangsanya sendiri. Dia pernah seorang diri mengalami puasa 40 hari dan dicobai oleh iblis. Dia pernah menanggung berat. Dia pernah menderita, berkorban emosi, berkorban perasaan. Yesus Kristus mengerti segala kelemahan kita. Dia mengerti karena Dia sama seperti kita. Dia merasakan segala pengalaman kita. Sebaliknya sama seperti kita, Ia telah dicobai tetapi ia tidak berbuat dosa.

Yesus yang telah naik ke surga menjadi Imam Besar. Imam Besar ini adalah imam yang membawa kesulitan kita kepada Allah yang sulit kita capai. Ia juga membawa anugerah dari Allah kepada kita, anugerah yang tidak layak kita terima.

Inilah pekerjaan Imam! Imam yang berada di tengah-tengah yang hidup dan yang mati. Imam yang berada di tengah-tengah yang tidak kelihatan dan yang kelihatan. Imam berada di tengah-tengah Allah dan manusia. Kristus adalah pengantara yang menjalankan tugas imam, sekaligus Ia adalah korban. Di sini perbedaan imam yang berada di dalam sejarah orang Yahudi dibandingkan dengan Imam yang paling besar, Yesus Kristus, bagi gereja-Nya. Karena imam-iman yang lain itu tidak menjadi korban. Mereka mengkorbankan korban, mereka mempersembahkan korban dan mereka sendiri bukan korban. Yesus Kristus adalah Iman Besar yang sekaligus menjadi korban.

Kalimat manusia bagaimanapun tidak akan sempat, tidak akan cukup dan tidak akan layak untuk mengungkapkan betapa agungnya, betapa besarnya cinta kasih Tuhan: Imam Besar yang sekaligus korban. Ia mempersembahkan diri, dengan roh-Nya yang kekal, dengan darah-Nya yang suci tidak bercacat cela untuk membersihkan kita dan menjadikan kita milik-Nya yang dilayakkan untuk berdamai dengan Tuhan Allah. Inilah Imam kita. Dan inilah bagian keempat yang kita lihat.

Kita akan bersama-sama melihat lagi dalam Ibrani 7:24-25. Di sini kita melihat bahwa Yesus Kristus mempunyai pekerjaan lain setelah Ia naik ke surga. Berlainan dengan imam-imam yang lain, yang tugasnya terputus-putus karena kematian mereka. Mereka tidak mempunyai kekekalan. Yesus Kristus mempunyai hidup yang tidak berkebinasaan.

Dalam ayat 26, dikatakan bahwa Yesus Kristus mempunyai tingkatan yang tertinggi dan Yesus Kristus menjadi pengantara untuk berdoa syafaat bagi kita masing-masing. Dalam pasal 7, ayat 27-28 serta pasal 9, ayat 27-28, terlihat di sini bahwa Dialah yang menanggung dosa kita dan yang menjadi pengantara yang berdoa syafaat bagi setiap orang yang percaya kepada Dia.

Siapakah Kristus? Dia pemenang, bukan? Siapakah Kristus? Dia pengutus, bukan? Siapakah Kristus? Dia yang memberikan Roh Kudus kepada kita. Siapakah Kristus? Dia yang berdoa bagi kita dengan pengertian, karena Ia sendiri pernah datang ke dalam dunia ini. Bukan saja demikian. Siapakah Yesus Kristus? Yesus Kristus juga menyiapkan tempat bagi kita.

Kita baca dari Injil Yohanes 14:1-4: 'Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu. Jikalau Aku tidak pergi tidak ada yang menyediakan tempat bagimu dan Jikalau Aku sudah menyediakan tempat bagimu Aku pasti akan datang kembali lagi. Di mana Aku ada disana pun engkau akan berada.'

Adakah penghiburan yang lebih besar dari ini? Tidak ada. Adakah seorang Juruselamat seperti Kristus? Tidak ada. Dialah satu-satunya dan Dialah yang paling sempurna di dalam menyediakan segala sesuatu bagi umatNya. 'Di jalan itu Aku pergi. Jalan satu-satunya dan engkau tahu juga.

Pada waktu Filipus bertanya kepada Dia, "Hai Guru, tunjukan jalan itu kepada kami. Maka Yesus Kristus dengan menggelengkan kepala-Nya bertanya, "Sudah sekian lama engkau mengikut Aku, engkau masih belum tahu dimana jalan itu? Dengan sesungguh-sungguhnya Aku berkata kepadamu: "Akulah jalan, Akulah kebenaran dan Akulah hidup."

Saya membagi ketiga titik, ketiga butir ini menjadi satu gambaran tentang seluruh dunia: didalam filsafat, didalam kebudayaan agama dan didalam bijaksana, segala sesuatu yang paling kristalisasi di dalam dunia mental manusia.

'Akulah jalan, Akulah kebenaran.' Mengapa Yesus mengatakan: 'Akulah jalan?' Karena di dalam agama semua mencari jalan. Itulah yang dibutuhkan oleh orang di Timur. 'Akulah kebenaran.' Mengapa Yesus menyatakan kebenaran diidentikkan dengan diri-Nya? Karena manusia di Barat mencari filsafat dan ingin mengetahui kebenaran dan Yesus mengisi kebutuhan itu. Pada waktu Yesus mengatakan: 'Akulah jalan', Ia sedang menunjukkan kepada orang Timur yang mau mendapatkan jalan di dalam agama. Ia berkata, "The way is not there. The way you are seeking is not in religion, but in me, in my life." 'Akulah jalan, Akulah kebenaran.'

Yesus telah mengajak, baik dunia Timur maupun dunia Barat dan Ia menyimpulkan dengan satu kalimat, "Akulah hidup yang tidak ada pada agama-agama, tidak ada pada filsafat-filsafat dan sistem epistemologi dunia; Karena semua pendiri agama akhirnya mati di tengah-tengah usahanya mencari jalan, semua filsuf akhirnya mati di tengah-tengah usahanya mencari kebenaran. Dan Kristus akhirnya berkata, "Jalan itu dimana? Akulah jalan itu. Kebenaran itu, di mana? Akulah kebenaran itu. Dan Aku adalah hidup."

Ini adalah solusi satu-satunya. The only solution, the only answer, for seeking the truth in way thru philosophy, religion, culture and human wisdom concluded only in Jesus Christ, the truth revelation of God in human form. Puji Tuhan! Dia adalah pernyataan Allah yang berbentuk manusia, yang telah menyimpulkan segala sesuatu yang sedang digumuli dan dicari agama maupun filsafat.

Paul Tillich seorang teolog besar mengatakan, munculnya Yesus di dalam sejarah harus menghentikan usaha dari semua agama mencari hal apapun yang paling berharga yang mereka inginkan. The revelation of Christ, the appearance of Chrsit in history is to cease off the effort of seeking truth and way in religions. Puji Tuhan!

'Akulah jalan, dan jalan itu bukan dari sini ke sana, jalan itu adalah dari sana ke sini. Akulah yang menghampiri manusia'

Adalah mustahil manusia dengan usaha dan kekuatan sendiri pergi kepada tahta Allah, karena Ia suci dan engkau berdosa, Ia kekal dan engkau sementara. Bagaimana dari suatu yang terbatas, yang dicipta, yang bisa rusak, dapat menghampiri Tuhan yang tidak terbatas, yang kekal? Itu tidak mungkin. Kecuali hanya dari tahta yang tidak terbatas, yang kekal, yang tidak bisa rusak, rela mengirim turun, lalu rela pergi kembali untuk menjadi jaminan kita.

Kalau agama-agama lain adalah one way traffic in human effort, jalan yang hanya satu arah dari usaha manusia, kekristenan percaya kepada suatu sistem keselamatan yang adalah two way traffic which initiative from God and assured in the term of God. Kita percaya pada sistem dua jalur dari sana telah ke sini dan membawa kita dari sini ke sana, dan dijamin di dalam segala kekuatan, yang kekal di dalam tahta Tuhan. Puji Tuhan!

'Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu. Aku pergi untuk mempersiapkan segala sesuatu bagimu dan Aku akan datang kembali untuk menyambut engkau sebagai seorang mempelai lelaki yang akan menyambut mempelai perempuan: Gereja harus siap sedia, gereja harus mempersiapkan diri senantiasa dengan tidak menodai, tidak mencemari tubuh Kristus; Yaitu gereja yang disiapkan untuk menjadi mempelai perempuan Kristus, yang akan bersatu dengan kita di dalam cinta kasih yang paling inti yang digambarkan dalam hubungan suami isteri.

Ia akan datang kembali dan Ia telah menyediakan tempat bagi kita. Ia berkata, "Di mana Aku berada, engkau pun akan berada."

Bagian terakhir kita baca dari Kisah Para Rasul 1:9-11. 'Hai orang Galilea, mengapa engkau melihat seperti ini? Ingatlah, Yesus yang kau lihat diangkat ke surga, akan datang dengan cara yang sama, kembali ke dalam dunia ini!

Seluruh Kitab Suci mempunyai suatu konsistensi, mempunyai suatu hubungan organis yang begitu erat, sehingga tidak bisa dipisah- pisahkan sembarangan, kecuali oleh mereka yang sengaja atau mereka yang tidak mengerti.

Di dalam seluruh Kitab Suci kita melihat rencana Allah yang sudah terbentuk begitu sempurna. Yesus Kristus naik ke surga bukan karena Ia melarikan diri. Ia tidak menyembunyikan diri. Ia pergi dengan tugas. Ia pergi dengan rencana Allah yang sudah ditetapkan dan itu bukan akhir, itu bukan titik yang terakhir. Itu merupakan suatu janji bahwa suatu hari kelak Ia akan datang kembali dengan cara yang sama, kembali ke dalam dunia.

Saya membayangkan orang-orang Galilea: Petrus, Yohanes, mereka yang sudah terbiasa didampingi oleh Yesus, mereka yang kalau ada kesulitan langsung beralih kepada Yesus. 'Bagaimanakah Tuhan, bagaimanakah Guru cara-Mu menangani kesulitan ini?' Mereka sudah terbiasa disertai, ditolong dan berada bersama dengan Yesus Kristus. Tetapi sekarang di dalam hidup mereka, pertama kalinya meraka sadar bahwa Yesus tidak selamanya berada di samping mereka. Yesus harus pergi dan mereka harus menghadapi dunia secara faktual, menghadapi dunia ini dengan segala sesuatu yang tidak terlalu bersahabat dengan orang Kristen. 'Akan bagaimana perlakuan Herodes terhadap kita? Akan bagaimana Pilatus terhadap kita? Dan bagaimana prinsip Kaisar dan politikus-politikus Romawi? Dan jika berganti gubernur yang lain, akan bagaimana? Kami tidak tahu.

Mereka hanya tahu Yesus pergi. 'Lalu 3 1/2 tahun yang lampau itu, mimpikah? Itu janji kosongkah? Itu suatu hal yang menjadi catatan sejarahkah? Atau itu suatu kesempatan yang belum pernah ada dalam sejarah, sehingga kami sendiri memiliki. Tetapi kalau Tuhan sudah pernah turun, kenapa pergi lagi? Kalau Dia sudah menyertai, kenapa naik lagi? Setelah naik, lalu bagaimana?'

Kenaikan Yesus Kristus memaksa mereka harus memikirkan pertangungjawaban iman mereka, respon mereka kepada setiap kalimat nubuat yang pernah diucapkan oleh Yesus. Mereka harus memberikan semacam tantangan kepada setiap orang yang percaya. Mereka harus mempertanggung-jawabkan tentang bagaimana mereka meresponi, bagaimana mereka beriman, bagaimana mereka mengaplikasikan setiap kalimat nubuat yang pernah diucapkan waktu Yesus ada di dunia.

Kadang-kadang saat papa dan mama ada, kita tidak menghargai mereka. Sampai Tuhan memanggil papa kita pulang, memanggil mama kita pulang baru kita mulai sadar, baru kita kalang kabut. 'Sekarang kita harus bagaimana menghadapi hidup di dalam dunia ini? Baru kita ditantang untuk berpikir kembali: dulu papa pernah berkata kalau menghadapi orang yang begini harus bagaimana?' Sekarang mulai mengingat-ingat. Sama persis dengan keadaan pada waktu Yesus naik ke surga.

Waktu Yesus naik ke surga Ia berkata, "Aku akan mengirim Roh Kudus untuk mengingatkanmu kembali akan perkataan-perkataan yang sudah pernah Aku katakan kepadamu."

Itu sebabnya Saudara-saudara, tantangan respon, tantangan tanggung jawab, tantangan berdikari, tantangan gereja menjadi wakil Tuhan di dalam dunia, bagaimana memuliakan Tuhan, bagaimana merefleksikan segala moral kesucian, keadilan, cinta kasih Allah dalam jaman ke jaman; Ini menjadi tugas gereja.

'Hai Orang Galilea, untuk apa melihat terus ke awan? Hai Orang Galilea, mengapa melihat terus ke langit? Yesus yang pernah beserta denganmu, Yesus yang pernah kau saksikan pelayanan-Nya, sekarang sudah naik ke surga dan akan datang kembali.'

Setelah kita membaca enam bagian Kitab Suci yang begitu penting ini, kita akan melihat; Jikalau kita sungguh-sungguh menunggu Yesus Kristus datang kembali, jikalau kita sungguh-sungguh mengharapkan Yesus Kristus datang kembali, maka ada dua hal penting yang harus kita kerjakan.

Pertama, kita harus mengabarkan Injil kepada sesama. Tidak ada jalan lain. Ini merupakan keikhlasan orang yang menantikan kedatangan Yesus Kristus. Jikalau Injil ini dikabarkan ke seluruh dunia, maka hari itu akan tiba. Berarti sebelum Injil dikabarkan kepada segala bangsa, segala suku, segala sudut, Kristus tidak akan kembali.

Saya betul-betul salut, sedalam-dalamnya dari dalam hati saya kepada orang di Wiclyfe Bible Translation Association, orang berada di dalam lembaga Alkitab yang khusus menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa- bahasa yang terpencil di daerah-daerah yang dilupakan oleh manusia. Kepada mereka yang pergi ke tempat yang begitu terpelosok, begitu dalam, begitu sulit dicapai, di pegunungan, di pedesaan. Saya salut melihat mereka.

Saya berdoa dan mengajak kita semua supaya menjadikan gereja kita gereja yang mau mendukung penginjilan, gereja yang menghasilkan penginjil, gereja yang mengerti makna Injil dan gereja yang mau melibatkan diri ke dalam penginjilan misi seluruh dunia. Menunggu Yesus datang kembali dengan hati yang sungguh-sungguh ikhlas haruslah dengan kita menunjang dan melibatkan diri ke dalam penginjilan.

'Hai Orang-orang Galilea, mengapa melihat seperti ini? Mengapa terus menengadah ke langit? Memang Yesus sudah naik, tapi tugasmu bukan memandang Dia, tetapi pergi ke dunia mengabarkan Injil!'

Kedua, orang yang sungguh-sungguh menanti kedatangan Yesus Kristus adalah mereka yang menjaga hidup di dalam kesucian. Hidup di dalam kesucian, berarti kita terus memelihara diri kita supaya pada waktu Ia datang kembali kita sudah siap, boleh menerima Dia dan boleh diterima oleh Dia. Barangsiapa yang menaruh pengharapan semacam ini kepada Dia, biarlah ia membersihkan dirinya! Ini adalah perintah dari Yohanes di dalam 1 Yohanes pasal 3. Barangsiapa yang menaruh pengharapan kepada kedatangan Kristus biarlah ia menjaga dirinya, memelihara kesucian dan menunggu di dalam doa akan kedatangan Yesus Kristus.

Terakhir kita akan membaca ayat terakhir dari seluruh Kitab Suci, yaitu dalam Wahyu 22:20-21. Ayat terakhir dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, diakhiri dengan kutukan. Ayat terakhir dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, diakhiri dengan berkat.

Ia dalam ayat 20, siapakah ini? Ia, yang memberikan kesaksian tentang semuanya ini berfirman. Jadi, Yesus Kristus berkata: 'Ya, Aku datang segera. Aku akan datang kembali secepat mungkin.' 'Amin. Datanglah Tuhan Yesus.' Atau terjemahan lain: 'Oh Yesus, aku mengharapkan Engkau datang! Yesus berkata, "Ya, aku datang segera." Gereja menjawab, "Amin. Kami menunggu kedatangan-Mu."

Kiranya Tuhan memberkati kita masing-masing di dalam hidup kita sebagai orang Kristen di dunia. Kita mengingat Dia naik ke surga. Kita kembali menyadari Ia pemenang, Ia pemberi Roh Kudus, Ia pendoa syafaat bagi kita, Ia mengerti kesengsaraan kita, Ia menyediakan tempat di sorga bagi kita, Ia akan datang kembali dan kita bersedia untuk menanti kedatangan Tuhan kedua kalinya.(EL)

Sumber Artikel: 

Sumber:

Nama Majalah : Momentum
Edisi : 40/Triwulan II 1999
Judul Artikel : Siapakah Kristus Yang Naik Ke Surga?
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Halaman : 3-13

Pentakosta Pada Masa Kini?

Penulis_artikel: 

Sinclair B Fergusson

Tanggal_artikel: 
29 Maret 2019
Isi_artikel: 
Pentakosta Pada Masa Kini?

Pentakosta Pada Masa Kini?

Sinclair B. Ferguson adalah asisten profesor Teologia Sistematika di Westminster Theological Seminary, Philadelphia, USA. Artikel ini disadur dari tulisannya berjudul Countours of Christian Theology.

Turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta harus dilihat sebagai peristiwa Kristologis. Karena itu, pengertian tentang karya Roh Kudus harus dipahami dari karya Kristus. Namun, timbul satu pertanyaan: Apakah Pentakosta memiliki pengaruh yang menetap bagi kehidupan gereja?

Gambar: Ascension

Perjanjian Baru membukakan rincian dari titik-titik penting dalam karya Kristus, yakni: kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya (Rom. 6:1; Gal. 2:20; Kol. 2:11-3:4). Demikian pula dengan peristiwa pencurahan Roh Kudus: 'Kita semua dibaptis oleh satu Roh ke dalam satu tubuh -- baik Yahudi maupun Yunani, budak maupun orang merdeka' (1 Kor. 12:13). Kata-kata ini sama dengan kata-kata yang digunakan dalam peristiwa Pentakosta (Luk. 3:16 dan Kis. 1:5, 11:16).

Pernyataan Paulus bersifat mencakup semua orang. Sebagaimana Paulus menulis kepada jemaat Korintus, hal ini juga berlaku bagi kita dan setiap orang percaya (melalui baptisan Roh, kita masuk ke dalam satu tubuh di mana semua orang percaya termasuk di dalamnya) dan semua jenis orang percaya (Yahudi, Yunani, budak, orang merdeka).

Beberapa pertanyaan penting muncul di sini -- untuk membangun sebuah teologi tentang pengalaman gereja masa kini bersama Roh Kudus:

  1. Apakah hubungan antara Pentakosta dan pengalaman terdahulu dari para murid Yesus dengan Roh Kudus?
  2. Apakah hubungan antara Pentakosta dan pengalaman bersama Roh Kudus yang dicatat dalam Kisah Para Rasul, di Samaria (Kis. 8:4-25), di rumah Kornelius (Kis. 10:1), dan di Efesus (Kis. 19:1-7) -- dalam ketiga-tiganya, tampaknya turunnya Roh Kudus menyusul setelah terjadi pertobatan. Apakah ini berarti adanya berkat kedua setelah pertobatan?
  3. Apakah hubungan antara Pentakosta dan baptisan Roh Kudus yang Paulus tuliskan dalam 1 Kor. 12:13?
  4. Unsur-unsur manakah dari Pentakosta yang tidak dapat terulangi, hanya satu kali terjadi? Manakah unsur-unsur yang dapat terulang, bahkan menjadi norma atau ketetapan bagi gereja masa kini?

Pentakosta dan Para Murid

Murid-murid yang berkumpul bersama setelah Yesus bangkit, adalah orang-orang yang sungguh percaya (Mat. 16:15-20); mereka sudah dibersihkan dan dipersekutukan dengan Kristus (Yoh. 15:1-11). Dengan demikian, ini adalah buah pekerjaan Roh Kudus dalam hidup mereka. Akan tetapi, jelas bahwa mereka belum menerima baptisan Roh yang dijanjikan (Kis. 1:5). Pengalaman mereka bersama Roh Kudus bersifat progresif.

Dari hal ini, tidak mungkin kita menyimpulkan bahwa pengalaman para murid harus menjadi pengalaman kita juga pada masa kini. Pengalaman mereka bersifat unik karena mereka hidup dalam masa transisi dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru. Pengalaman mereka hanya terjadi satu kali dan tidak menjadi pola bagi kita untuk masa kini. Sebab, masuknya mereka ke dalam kepenuhan Roh Kudus terjadi dalam dua tahap yang berbeda: mencerminkan sebuah pola kesinambungan dengan kita (Roh yang sama), dan pola ketidak-sinambungan (hanya dalam Pentakosta, Roh Kudus datang dalam tugas dan pelayanan-Nya sebagai Roh Kristus yang dimuliakan). Pola demikian didasarkan atas munculnya zaman baru dari zaman lama. Jadi, terdapat keistimewaan dalam pengalaman murid-murid, sama seperti pengalaman mereka bersama Yesus.

Kaisarea, Samaria, Efesus

Bagaimana dengan turunnya Roh Kudus di Samaria (Kis. 8:9-25), di rumah Kornelius (Kis. 10:44-48), dan di Efesus (Kis. 19:17)? Yang paling mencolok adalah yang terjadi di rumah Kornelius karena istilah-istilah yang digunakan di dalamnya juga digunakan dalam Pentakosta. Misalnya: pencurahan (Kis. 2:17-18,33; 10:45); baptisan (Kis. 1:5; 11:16); dan karunia (Kis. 2:38; 11:17). Fenomena berbahasa roh juga terjadi lagi di sini (Kis. 2:4; 10:6). Lebih lanjut, Petrus melihat kesamaan antara kedua peristiwa: 'Roh Kudus telah datang kepada mereka seperti kepada kita dahulu. Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: 'Yohanes membaptis ... kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus ...; ... Allah memberikan karunia kepada mereka sama seperti Ia telah berikan kepada kita ...' (Kis. 11:15-17).

Pengertian Petrus terhadap kejadian ini sejalan dengan rencana dalam Kis. 1:8. Turunnya Roh Kudus kepada seisi rumah Kornelius menandai tersebarnya Injil ke daerah orang non-Yahudi. Ini ditegaskan oleh Gereja Yerusalem: 'Ketika mereka mendengar ini, mereka tidak lagi berkeberatan dan memuji Tuhan, katanya: "Jadi, Allah juga mengaruniakan pertobatan kepada orang non-Yahudi"' (Kis. 11:18). Kejadian ini dilihat sebagai kejadian yang hanya terjadi satu kali dan memang direncanakan secara khusus dan unik. Jadi, ia lebih bersifat programatik daripada paradigmatik.

Namun demikian, dalam kasus Samaria dan Efesus, tampak adanya tahap kedua dalam pengalaman mereka dengan Roh Kudus. Orang-orang Samaria percaya ketika Filipus memberitakan Injil Kerajaan Allah dan nama Yesus Kristus, dan dibaptis; tetapi hanya ketika Petrus dan Yohanes datang, barulah mereka didoakan agar mereka menerima Roh Kudus karena sampai saat itu Roh Kudus belum datang atas mereka; mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Lalu, Petrus dan Yohanes menumpangkan tangan atas mereka, dan mereka menerima Roh Kudus (Kis. 8:12, 15-17). Kemudian, Paulus bertanya kepada orang Efesus, 'Apakah kamu menerima Roh Kudus ketika kamu percaya?' Jawabannya mengherankan: 'Kami bahkan belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus.' Setelah memberitakan Kristus kepada mereka, 'Paulus menumpangkan tangannya atas mereka, Roh Kudus turun atas mereka dan mereka berbahasa roh dan bernubuat' (Kis. 19:1-7).

Sering dikatakan, berdasarkan pengalaman para rasul pada hari Pentakosta dan juga pengalaman di Samaria dan Efesus, maka Lukas dan Kisah Para Rasul mengajarkan dua tahap untuk masuk ke dalam kepenuhan Roh. Kira-kira pemikirannya seperti ini:

  1. Kelahiran kembali oleh Roh Kudus (pertobatan)
  2. Baptisan Roh

Jadi, selama Yesus hidup di dunia, para murid hanya baru dilahirkan kembali. Nanti, pada hari Pentakosta, barulah mereka mengalami karya Roh Kudus: mereka dibaptis dan dipenuhi dengan Roh dan berbahasa roh sebagai bukti bahwa mereka sudah menerima Roh Kudus. Ini menjadi model bagi dua tahap karya Roh Kudus. Berdasarkan pengertian ini, di Samaria dan Efesus, kita menemukan orang-orang percaya (yang sudah dilahirkan kembali), tetapi belum menerima (belum dibaptis) dengan Roh Kudus. Tahap yang kedua ini dianggap berbeda dengan kelahiran kembali.

Kita sudah melihat sekalipun pengalaman para rasul terbagi dalam dua tahap, hal ini bukan menjadi contoh bagi kita. Namun, bukankah seharusnya pengalaman para rasul menjadi pengalaman kita juga pada masa kini?

Pandangan dua tahap dari karya Roh Kudus bukan hanya dianut oleh golongan Pentakosta dan Karismatik, tetapi juga oleh Katolik. Dalam Katolik, seseorang dianggap masuk dalam persekutuan dengan Roh melalui penumpangan tangan (Kis. 8:17; 9:16). Dalam Pentakosta dan Karismatik, baptisan Roh diwujudkan dengan berbahasa roh, dan ini merupakan pengalaman kedua setelah pengalaman pertama (pertobatan).

Dalam Lukas dan Kisah Rasul, Pentakosta digambarkan sebagai kisah sejarah penebusan. Penafsirannya tidak boleh secara eksistensial dan pneumatologis, tetapi harus Eskatologis dan Kristologis. Secara mendasar, peristiwa Pentakosta bersifat terjadi satu kali saja sebagaimana seluruh kejadian dalam hidup Yesus (kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke surga). Dalam konteks ini, Kisah Para Rasul, bukanlah kisah Roh Kudus, tetapi kisah Yesus Kristus melalui Roh Kudus (implikasi dari Kis. 1:1-4 adalah bahwa kejadian yang dijanjikan dalam Kis. 1:5 menandai sebuah era baru di mana Yesus sendiri sebagai Tuhan yang mulia, akan bekerja dan mengajar).

Dipahami dalam kerangka pikir demikian, kejadian-kejadian di Samaria dan Kaisarea menandai dimulainya tahap kedua dan tahap ketiga dari penyebaran kerajaan Kristus seperti tertera dalam Kis. 1:8.

  1. Injil tiba di Yerusalem pada hari Pentakosta.
  2. Injil tiba di Samaria. Kis. 8 menggambarkan terjadinya kebangunan iman melalui pelayanan Filipus, diikuti oleh kunjungan Petrus dan Yohanes sebagai utusan rasuli (Kis. 8:14), dan pencurahan Roh Kudus setelahnya. Peristiwa-peristiwa ini dapat dipahami jika dimengerti dalam konteks tahap penyebaran Injil seperti dijanjikan oleh Yesus. Karena itulah, kita tidak perlu berpikir bahwa orang- orang Samaria belum bertobat, sekalipun ada kemungkinan demikian.
  3. Injil sampai ke Kaisarea sebagai wakil dari dunia non-Yahudi ("ujung bumi", Kis. 1:8; khususnya Kis. 11:18). Banyaknya ayat yang membahas hal ini dalam Kisah Para Rasul (66 ayat) menunjukkan pentingnya peristiwa ini bagi Lukas. Hal ini lebih dari sekedar 'kisah pertobatan mendadak', sebuah paradigma yang berlaku bagi setiap zaman. Sebaliknya, peristiwa ini merupakan sebuah perkembangan yang spesifik dan strategis dari rencana misi dalam Kis. 8.

Kejadian-kejadian di Efesus berbeda dengan Samaria dan Kaisarea. Kelompok yang bertemu dengan Paulus, yang disebut sebagai "beberapa murid" (Kis. 19:1), merupakan sesuatu yang unik. Lukas memberikan kesan kepada kita bahwa ia tidak melihat orang-orang ini sebagai 'orang Kristen' sesuai konsep Perjanjian Baru:

  1. Peristiwa tersebut terjadi dalam konteks pemahaman yang kurang utuh terhadap Injil, di mana hal ini juga terjadi dalam permulaan pelayanan Apollos; Lukas membeberkan fakta di mana 'ia hanya mengetahui baptisan Yohanes' (Kis. 18:25).
  2. Mereka yang hanya mengenal baptisan Yohanes merupakan kelompok yang khusus di Efesus. Mereka disebut sebagai 'beberapa murid' dengan asumsi bahwa banyak orang Kristen lainnya di Efesus. Lukas menyatakan dengan jelas bahwa hanya ada 12 orang dalam kelompok itu. Dengan demikian, kita tidak mungkin mengatakan bahwa semua orang Kristen harus seperti mereka. Dalam kenyataannya, mereka adalah para murid dari Yohanes Pembaptis. Mereka belum menerima baptisan Kristen. Hanya melalui baptisan Kristen dan penumpangan tangan, barulah Roh Kudus turun atas mereka dan mereka 'berbahasa roh dan bernubuat' (Kis. 19:6). Ini merupakan tanda tibanya Perjanjian Baru. Sebagaimana murid-murid pertama pada hari Pentakosta, banyak yang hanya menerima baptisan Yohanes. Jadi, ke-12 orang ini berada dalam tahap transisi dari tahap penantian kepada tahap penggenapan.

Kadang-kadang, untuk melawan doktrin dua tahap, kita perlu kembali kepada prinsip dasar hermeneutik, yaitu: kita tidak boleh menyusun doktrin dari Kisah Para Rasul sebagaimana juga dari kitab Raja-raja. Kita harus menyusun doktrin dari bagian Alkitab lainnya, sementara Kisah Para Rasul (sebagai salah satu contoh kisah sejarah) menjadi ilustrasi bagi doktrin tersebut. Ini merupakan prinsip yang penting. Struktur teologi Kristen harus didasarkan dalam pemaparan teologis dan norma-norma dalam Alkitab, bukan diambil dari kejadian tertentu dalam sejarah (yang memang terjadi, tetapi tidak mutlak, dan harus ditafsirkan lebih lanjut secara teologis). Tetapi prinsip ini tidak terlalu relevan bagi pembelaan kita. Sebab, Kisah Para Rasul sendiri menegaskan bahwa kejadian-kejadian yang ada tidak boleh dianggap sebagai paradigma, tetapi sebagai kejadian yang unik dan tidak terulang (sui generis).

Kisah Rasul tidak pernah mewajibkan kita mengalami pengalaman dua tahap seperti yang dialami para rasul. Pembelaan Petrus terhadap kejadian di Kaisarea bisa memberikan solusi. Ia menyamakan pengalaman seisi rumah Kornelius dengan pengalaman murid-murid pada hari Pentakosta (Kis. 11:15: 'Roh Kudus turun atas mereka seperti ia telah turun atas kita pada mulanya') dan memahami kejadian ini dalam pengertian berikut ini: 'Tuhan memberikan kepada mereka karunia yang sama seperti yang telah diberikan-Nya kepada kita yang percaya dalam Tuhan Yesus Kristus' (Kis. 11:17). Memang para murid sudah percaya kepada Yesus sebelum hari Pentakosta, tetapi yang baru dan berbeda dalam iman mereka adalah objek iman; sebelumnya mereka tertuju kepada Kristus yang sedang mengosongkan diri-Nya, kini iman mereka tertuju kepada Kristus sebagai Tuhan yang mulia sesuai janji Mesias (Mzm. 110:1).

Gambar:  Pentecost

Karena sejarah penebusan terus bergulir, maka dahulu rasul-rasul harus mengalami pengalaman dua tahap, sementara kita hanya mengalami satu tahap. Iman percaya tertuju kepada Kristus sebagai Tuhan, dan percaya kepada-Nya berarti menerima karunia yang sama seperti yang diterima murid-murid pertama pada hari Pentakosta, yaitu: Roh Kudus. Bahasa roh dan nubuat yang digambarkan dalam Kis. 10:46, 19:6, dan mungkin 8:17, bukanlah bukti bagi pengalaman tahap kedua, tetapi merupakan tanda- tanda bergulirnya sejarah penebusan kepada zaman perjanjian baru lebih lanjut. Perjanjian Baru tidak mengatakan bahwa Pentakosta memberikan kepada kita paradigma dua tahap untuk pengalaman pribadi kita dengan Roh Kudus. Sebaliknya, pada titik iman itu, kita menerima berkat turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta.

Abraham Kuyper memberikan sebuah analogi untuk menggambarkan perbandingan antara pengalaman bersama Roh Kudus sebelum dan sesudah Pentakosta, dan menjelaskan turunnya Roh Kudus kemudian. Karena keterbatasannya, analogi tersebut menegaskan bahwa Pentakosta dan kejadian-kejadian berikutnya membutuhkan sebuah metode penafsiran yang benar:

Ada sebuah kota di mana penduduknya minum dari pompanya masing-masing. Kini, mereka hendak membuat sebuah PAM untuk menyediakan kebutuhan air bagi setiap rumah. Ketika pekerjaan itu selesai, air mengalir melalui sistem pusat dan pipa kepada setiap rumah ... Dalam kota itu terdapat dataran rendah dan dataran tinggi, keduanya harus disuplai oleh PAM yang sama. Pada saat acara pembukaan, penyaluran air terjadi, tetapi hanya satu kali; saat penyaluran air di kota yang lebih tinggi, meskipun luar biasa, tetapi merupakan akibat dari peristiwa pembukaan sebelumnya...

Pada hari pentakosta, Ia (Roh Kudus) dicurahkan kepada semua orang percaya, tetapi hanya untuk menghilangkan dahaga satu bagian, yaitu: orang Yahudi. Inilah pencurahan original di Yerusalem pada hari Pentakosta, dan pencurahan tambahan di Kaisarea, bagi orang-orang non-Yahudi; kedua-duanya sama, tetapi masing-masing memiliki karakternya.

Di samping itu, ada pencurahan Roh Kudus yang khusus, terjadi melalui penumpangan tangan oleh para rasul. Dari waktu ke waktu, saluran baru dibuat antara rumah-rumah penduduk dan PAM, sehingga bagian-bagian baru dalam tubuh Kristus ditambahkan dari luar ke dalam gereja. Ke dalam inilah, Roh Kudus dicurahkan dari tubuh kepada anggota-anggota baru.

Apa yang terjadi di Samaria, di rumah Kornelius, dan di Efesus harus dimengerti dalam konteks keunikan sejarah dan latar belakang gereja mula-mula. Peristiwa Pentakosta tidak terulang, sama seperti kebangkitan Kristus. Namun, kita memasukinya dengan cara demikian, sehingga Roh Kudus dicurahkan ke dalam hati kita melalui iman dalam Kristus (Kis. 10:46, 19:6, dan mungkin Rom. 5:5). Masing-masing minum dari Roh untuk dirinya (1 Kor. 12:13). Hal ini semakin jelas ketika kita melihat Pentakosta sebagai salah satu aspek karya Kristus, bukan sebuah peristiwa yang terpisah dari-Nya, atau sekadar tambahan. Ini adalah bukti nyata sebuah kemenangan. Peristiwa-peristiwa pada hari Pentakosta adalah pernyataan secara umum dari realita yang terselubung, yaitu: Kristus telah ditinggikan sebagai Tuhan yang mulia. Kini sebagai Pengantara bagi kita, permohonan-Nya agar turunnya Roh Kudus, telah dikabulkan.

Seperti kita tahu, ungkapan Petrus dalam dan mungkin Kis. 2:33 menunjuk kepada penggenapan dari janji Mesias dalam Mzm. 2:6-8: "Aku telah melantik raja-Ku di Zion, gunung-Ku yang kudus ... Mintalah kepada-Ku, dan Aku akan memberikan bangsa-bangsa sebagai bagian-Mu, seluruh bumi sebagai milik-Mu." Kristus yang telah naik ke surga, memohon agar Roh Kudus turun sebagai penggenapan janji yang sudah diberikan (Gal. 3:13-14; Yer. 31:31; Yoh. 14:16). Permohonan Kristus dikabulkan. Pentakosta, seperti peristiwa lainnya, pada diri-Nya bersifat unik. Pentakosta tidak bisa diulangi, seperti juga kematian, kebangkitan, atau kenaikan Yesus juga tidak bisa diulangi. Ia merupakan sebuah peristiwa (event) dalam sejarah penebusan (historia salutis), dan tidak boleh dipaksa menjadi peristiwa keselamatan pribadi (ordo salutis).

Turunnya Roh Kudus adalah bukti dari pelantikan Kristus, sama seperti kebangkitan-Nya adalah bukti kemenangan dalam kematian Kristus sebagai korban tebusan (Yer. 31:31; Rom. 4:24). Ini tidak berarti Pentakosta tidak memiliki dimensi eksistensial atau relevansi. Akan tetapi, ini berarti kita tidak mungkin mengharapkan Pentakosta bagi diri kita secara pribadi, sama seperti kita tidak mungkin mengharapkan terjadi lagi baptisan di sungai Yordan, pencobaan di Padang Gurun, pergumulan di Getsemani, atau penyaliban di Golgota dalam hidup kita. Jika kita berusaha mengulangi apa yang tidak bisa terulang, sama saja kita menyangkali kuasa dan signifikansi dari peristiwa tersebut.

"Turunnya Roh Kudus adalah bukti dari pelantikan Kristus."

Facebook Telegram Twitter WhatsApp

Baptisan Roh yang Berbeda-Beda?

Apakah hubungan antara baptisan Roh dalam Kis. 2 dan baptisan Roh dalam surat Paulus 1 Kor. 12:13? Perjanjian Baru menekankan prinsip bahwa kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus membawa dampak pengaruh bagi pengalaman kita kini. Orang-orang percaya mendapatkan manfaat dari peristiwa sejarah penebusan seperti kematian, penguburan, kebangkitan, dan kenaikan Kristus (Rom. 6:1; Gal. 2:20; Kol. 2:9-3:4). Jadi, meskipun Pentakosta hanya satu kali terjadi, baptisan Roh yang terjadi saat itu terus bergulir kepada zaman-zaman berikutnya. Sama seperti darah Kristus membersihkan orang dari setiap suku, bahasa, dan bangsa (Why. 5:9), maka Roh Kudus mengalir dari jasa Kristus pada hari Pentakosta ke Yerusalem, dan dari sana terus menyebar ke seluruh Yudea, mengumpulkan momentum ke Samaria sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8). Semua yang datang dan percaya kepada Kristus sebagai Tuhan, menerima karunia yang sama seperti yang diterima murid-murid. Akibatnya, orang-orang percaya masuk ke dalam manfaat dari Pentakosta, sama seperti mereka masuk ke dalam manfaat dari kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus: 'Kita semua telah dibaptiskan oleh satu Roh ke dalam satu tubuh' (1 Kor. 12:13).

Ada yang berpendapat bahwa di sini Paulus berbicara mengenai baptisan Roh yang berbeda dengan baptisan Roh yang dijanjikan oleh Yohanes dan Yesus pada hari Pentakosta. Dalam baptisan Roh yang dimaksudkan oleh Yohanes dan Yesus, Kristuslah Sang Pembaptis, dan Roh adalah elemen baptisan; sedangkan dalam baptisan Roh dalam 1 Kor. 12:13, Rohlah Sang Pembaptis, dan kita dibaptis ke dalam tubuh Kristus. Namun, James Dunn mengatakan:

Dalam Perjanjian Baru kata 'en' dengan 'baptizein' tidak pernah menunjuk kepada orang yang membaptis; sebaliknya, ia selalu menunjuk elemen yang melaluinya baptisan itu dilakukan, kecuali jika ia merupakan bagian dari frase yang lebih panjang ....

Sangat bertentangan dengan penafsiran umum jika kita membaca bahwa Yesus membaptis dengan Roh Kudus pada hari Pentakosta (Mat. 3:11; Mark. 1:8; Luk. 3:16; Yoh. 1:33; Kis. 1:5; 11:16) seolah-olah menunjukkan perbedaan kronologis dan perbedaan jenis baptisan.

Dalam 1 Kor. 12:13, Paulus menunjukkan bahwa semua orang percaya dibaptis dengan Roh dan minum dari air Roh. Elemen dari peristiwa Pentakosta diulang kembali dalam hidup orang percaya pada setiap zaman. Akan tetapi, bagaimana kita bisa membedakan aspek sejarah penebusan (yang tidak terulang) dengan aspek eksistensial (yang bisa terulang)?

Beberapa elemen dari Pentakosta jelas merupakan aspek dari peristiwa yang tidak terulang (once-for-all event). Contohnya penantian para murid. Sama seperti munculnya bunyi angin dan lidah-lidah api. Ini bahkan tidak diulangi dalam Kisah Para Rasul. Sedangkan berbahasa roh diulangi dalam seisi rumah Kornelius (Kis. 10:46), dan di Efesus (Kis. 19:6). Banyak penafsir meyakini melalui penampakan Roh Kudus di Samaria (Kis. 8:7-18), bahasa roh juga terjadi di situ. Bahasa roh pada hari Pentakosta diulangi. Akan tetapi, seperti kita tahu, tiga kejadian ini harus dilihat sebagai unik dan tiada bandingnya (idiosyncratic) dalam kitab Kisah Para Rasul. Fenomena ini tidak tercatat dalam kasus- kasus lainnya (mis. Sida-sida dari Etiopia, Saulus dari Tarsus, Lydia, kepala penjara Filipi). Pengulangan ini adalah aspek-aspek dari signifikansi yang khusus dari apa yang terjadi. Samaria dan Kaisarea adalah posko-posko yang termasuk dalam program Kis. 1:8; Efesus menandai transisi dari dunia Perjanjian Lama dan dunia baptisan Yohanes, kepada dunia Perjanjian Baru dan baptisan Roh yang datang dari Kristus. Di dalam Kisah Para Rasul (sama seperti dalam seluruh Perjanjian Baru), bahasa roh pada hari Pentakosta tidak pernah dilihat sebagai 'dapat terulang' dalam pengalaman orang-orang percaya pada waktu-waktu selanjutnya.

Akan tetapi, ada aspek lebih lanjut dari Pentakosta. Yesus menjanjikan murid-muridNya, bahwa turunnya Roh Kudus akan membawa "kuasa". Sebagai akibatnya mereka akan menjadi saksi-saksi-Nya sampai ke ujung bumi (Luk. 24:49; Kis. 1:8). Pada hari Pentakosta, murid-murid dipenuhi dengan Roh Kudus sehingga mereka berbahasa roh. Sementara berbahasa roh jarang disebut lagi dalam Kisah Para Rasul, kekuatan (empowerment) di mana Roh Kudus memenuhi seseorang diulangi dalam banyak kejadian.

Lukas dan Kisah Para Rasul berbicara mengenai dipenuhi oleh Roh Kudus sebagai syarat yang berlaku terus, tetapi juga menggambarkan situasi khusus ketika seseorang mengalami kepenuhan yang unik (berbeda). Sebagai syarat yang berlaku terus, kata pleroo digunakan (band. Luk. 4:1; Kis. 6:3; Ef. 5:18); sedangkan sebagai pengalaman khusus digunakan kata pimplemi (Luk. 1:41,67; Kis. 2:4,4:8, 31,9:17). Dalam pengertian yang pertama, dipenuhi Roh Kudus menunjuk kepada menghasilkan buah Roh dalam kehidupan, saat Roh Kudus memerintah atas orang itu (Ef. 5:18). Sedangkan dalam pengertian yang kedua, ini menunjuk kepada pemberian kemampuan dan kuasa khusus untuk melayani kerajaan Allah. Ini yang terdapat dalam Kis. 1:8, dan juga dalam Kis. 2:4. Yang menarik adalah, ini terkait dengan kata-kata dari orang yang dipenuhi Roh Kudus. Mereka menerima kuasa untuk menjadi saksi-saksi Kristus.

Pemberian kuasa pada hari Pentakosta, dan kepenuhan Roh, sekalipun luar biasa, bukanlah fenomena yang tersendiri dalam Kisah Para Rasul. Pengulangannya tidak selalu sama. Jadi, dari karya Roh Kudus, aspek ini nampak dapat terulang.

Kebangunan

Aspek yang berhubungan dengan Pentakosta adalah 'kebangunan rohani'. Kebangunan rohani adalah orang-orang percaya dibangkitkan dan orang- orang non-Kristen dibawa kepada kerajaan Allah dalam jumlah besar-besaran. Masing-masing menyadari dosanya dan kebutuhannya akan Tuhan. Semua ini terjadi karena kehadiran dan kuasa Roh Kudus. Dalam beberapa hal, Pentakosta boleh disebut sebagai kebangunan rohani pada zaman Perjanjian Baru. Tentu saja ada kesadaran akan dosa, kekaguman yang ditimbulkan, dan model bagaimana seharusnya sebuah gereja itu. (Kis. 1:8, dan juga dalam Kis. 2:44-47). Inilah kebangunan rohani. Mengingat ilustrasi mengenai pipa air, kita dapat mengatakan bahwa kebangunan rohani adalah energi Roh Kudus yang tidak terhenti.

Dalam konteks ini, mengikuti pola Pentakosta, proklamasi orang-orang Kristen memiliki 'kuasa' sebagaimana Roh Kudus menyaksikan Kristus bersama dengan para murid (Yoh. 19:26-27; band. Kis. 4:33; 6:8; 10:38). Ini terbukti dalam misi Filipus di Samaria. Surat-surat Paulus menunjukkan bahwa ia mengalaminya dalam beberapa pelayanannya (1 Kor. 2:4; 1 Tes. 1:5). Turunnya kuasa Roh Kudus tidaklah menyelesaikan semua masalah. Kebangunan rohani yang terjadi selalu memiliki dampak yang bercampur, yaitu: rawan terhadap kesombongan rohani seperti di Korintus. Ini juga terjadi dalam kebangunan rohani pada waktu-waktu berikutnya. Karena itu, hal ini tidak mengejutkan kita.

Jonathan Edwards, teolog kebangunan rohani dari New England, bisa keliru karena ekstrem (over-emphasis). Ia menulis:

Harus diperhatikan, semenjak kejatuhan manusia sampai sekarang, karya penebusan dilaksanakan oleh Roh Kudus. Meskipun ada karya Roh Kudus yang konstan atau tetap, tetapi hal-hal yang terbesar yang telah dikerjakan selalu terjadi dalam waktu-waktu khusus, waktu kemurahan.

Kesempatan demikian sesuai dengan kata-kata Petrus dalam Kis. 3:19: "Bertobatlah dan berbaliklah kepada Allah sehingga dosa-dosamu dihapuskan, sehingga waktu-waktu pemulihan datang dari Tuhan, dan Ia mengutus Kristus ...." Urutan kalimat di sini (pengampunan, pemulihan, kedatangan Kristus) menegaskan waktu-waktu pembaharuan dan kebangunan yang dimaksudkan oleh Petrus.

Kita menemukan dua fenomena dalam Kisah Para Rasul. Kita mendapatkan "kasus khusus" dalam karya Roh Kudus melalui kelahiran kembali dan pertobatan. Akan tetapi, melalui kuasa Roh Kudus (pertama kali dalam Pentakosta) terjadilah peristiwa monumental dalam Kerajaan Kristus. Pencurahan Roh Kudus menciptakan gelombang di seluruh dunia ketika Roh Kudus terus bekerja dengan kuasa. Pentakosta adalah pusat, tetapi gempa bumi memberikan guncangan lanjutan. Suara-suara tersebut terus berlanjut pada setiap zaman. Pentakosta sendiri tidak terulang; tetapi teologi Roh yang tidak memasukkan doa untuk kebangunan rohani, bukanlah teologi Roh Kudus yang benar.

Tujuan

Kita telah melihat bahwa ada dua dimensi dari Pentakosta: sejarah penebusan dan pengalaman pribadi. Yang pertama hanya satu kali dan tidak terulangi; sedangkan yang kedua adalah pelayanan Roh Kudus yang terus-menerus sampai sekarang.

Sebagai tambahan, tugas Roh Kudus adalah mengembalikan kemuliaan kepada ciptaan yang sudah jatuh dalam dosa. Seperti Calvin katakan, dunia ini diciptakan sebagai sebuah teater untuk kemuliaan Allah. Sepanjang sejarah, dunia ini selalu menampilkan kesempurnaan Allah yang tidak nampak. Khususnya di dalam pria dan wanita, gambar dan rupa Allah, kemuliaan ini harus dipancarkan. Akan tetapi, mereka menolak memuliakan Allah (Rom. 1:21); mereka menajiskan diri sendiri (Rom. 1:28), dan kehilangan kemuliaan Allah (Rom. 3:23).

Akan tetapi, kini di dalam Kristus yang adalah cahaya kemuliaan Allah (Ibr. 1:3), kemuliaan itu dipulihkan. Ia telah berinkarnasi bagi kita, dan kini Ia dimuliakan di dalam tubuh kemuliaan. Ciptaan ini sedang menuju kepada eskatologi, dan semua ini sudah dimulai dengan diri Kristus sebagai buah sulung. Kini Ia mengutus Roh Kudus, rekan kerja yang akrab dalam seluruh hidup-Nya di dunia ini, untuk mengembalikan kemuliaan dalam kita. Sehingga kita, yang dengan wajah yang tak terselubung memancarkan kemuliaan Allah, diperbarui serupa dengan gambar-Nya dengan kemuliaan yang semakin bertambah, yang datang dari Tuhan, yang adalah Roh (2 Kor. 3:18). Tujuan diberikannya Roh Kudus tidak lain adalah untuk pemulihan gambar Allah kembali, yaitu: transformasi menuju keserupaan dengan Kristus yang adalah Gambar Allah. Menerima Roh Kudus berarti dibangkitkan ke dalam kuasa pelayanan-Nya senantiasa.

Menerima Roh Kudus

Perjanjian Baru menggambarkan persekutuan dengan Roh Kudus dari dua sudut pandang: karunia Allah dan penerimaan manusia. Roh Kudus diberikan oleh Bapa (Luk. 11:13). Akan tetapi, Roh Kudus juga diterima oleh individu (Yoh. 7:39; Kis. 19:2; Rom. 8:15; Gal. 3:2). Dalam satu konteks di mana ia merenungkan mengenai keadaan jiwa kita, Paulus menegaskan bahwa ini terjadi 'melalui apa yang kamu dengar.' Ini dikontraskan dengan "memelihara Taurat" (Gal. 3:2,5). Roh Kudus diterima dalam konteks seseorang beriman kepada Kristus sebagai Tuhan. Bagi Paulus, dalam pengalaman normal di dunia non-Yahudi, Roh Kudus diterima tidak terpisah dari iman kepada Kristus. Hanya dengan percaya kepada Kristus, Roh Kristus diterima. Karena percaya kepada Kristus berarti menerima Dia dan kediaman-Nya dalam kita. Ini adalah realita yang satu dan sama dengan penerimaan Roh Kudus dan kediaman-Nya, karena di dalam dan melalui-Nya, Kristus datang untuk tinggal di dalam kita. Interaksi antara kediaman Kristus dan kediaman Roh Kudus dalam kita, Roma 8:8-9 menjelaskan bahwa kedua realita tersebut adalah satu dan dialami oleh satu individu. Tidak ada cara lain untuk menerima Roh Kudus kecuali melalui iman kepada Kristus. Memiliki Kristus adalah memiliki Roh Kudus. Bagaimana ini terjadi, dan apa implikasinya, merupakan topik pembahasan yang berbeda. (WS)

Audio: Pentakosta Pada Masa Kini

Sumber Artikel: 

Sumber:

Nama Majalah : Momentum
Edisi : 40/Triwulan II 1999
Judul Artikel : Pentakosta Pada Masa Kini?
Penulis : Sinclair B Fergusson
Halaman : 28-37,41

Kemuliaan di Saat Kenaikan Kristus

Penulis_artikel: 
R C Sproul
Tanggal_artikel: 
29 Maret 2019
Isi_artikel: 
Kemuliaan Pada Saat Kenaikan Kristus

Kemuliaan Pada Saat Kenaikan Kristus

R.C. Sproul adalah mantan profesor Sistematik Teologi di Reformed Theological Seminary, Jackson, Mississippi. Artikel ini diambil dari bukunya yang berjudul The Glory of God

Gereja-gereja Protestan biasanya merayakan Natal, Jumat Agung, dan Paskah. Beberapa gereja juga merayakan hari Pentakosta. Akan tetapi, sedikit gereja Protestan yang memberikan perhatian yang cukup pada hari Kenaikan Yesus. Barangkali hal ini menunjukan ketidakcukupan pemahaman akan pentingnya peristiwa ini. Kenaikan Yesus merupakan puncak dari pelayanan Yesus di bumi dan pantas diperlakukan sama seperti hari Jumat Agung, Paskah, dan Pentakosta.

"Kebangkitan menandakan persetujuan Allah atas pengorbanan Kristus."

Facebook Telegram Twitter WhatsApp

Peristiwa-peristiwa ini saling berhubungan satu sama lain. Tanpa salib tidak ada penebusan. Dan, tanpa kebangkitan kita akan mengesampingkan Juru Selamat yang mati, di mana kuasa untuk menyelamatkan akan dipertanyakan. Kebangkitan menandakan persetujuan Allah atas pengorbanan Kristus. Adalah hal yang tidak terpikirkan jika memiliki salib tanpa kebangkitan. Seperti khotbah Petrus pada saat Pentakosta, tidak mungkin jika Kristus tidak bangkit dari kematian. Kematian tidak berkuasa atas Dia. Karena itu kematian tidak akan menjadi bagian-Nya.

"Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan-tangan bangsa durhaka. Akan tetapi, Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu." (Kis. 2:22-24)

Sama halnya bahwa tidak mungkin ada salib tanpa Kebangkitan, demikian pula dengan Kebangkitan tanpa Kenaikan. Jikalau tidak ada Kenaikan, tidak akan ada kemuliaan Kristus. Kita gagal memperoleh janji kemuliaan dari Allah. Tanpa Kenaikan, tidak ada Pentakosta dan tidak ada Kedatangan Kristus kedua kali.

Yesus sendiri mengajarkan murid-murid-Nya bahwa Kenaikan merupakan syarat penting terjadinya Pentakosta:

"Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tiada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepadamu: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, sebab itu hatimu berdukacita. Namun, benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu." (Yoh. 16:5-7)

Barangkali penolakan dalam merayakan Kenaikan Yesus berakar pada problema yang sama yang dihadapi para murid. Kita tidak bersukacita akan ketidakhadiran Yesus di tengah kita.

Gambar: Kenaikan Kristus

Meskipun Ia berjanji bahwa Ia akan hadir bersama kita, tetapi itu merupakan kehadiran yang tidak kelihatan dan tidak dapat diraba. Kita menantikan kehadiran-Nya agar dapat melihat penampakan-Nya secara jasmani.

Sebagai makhluk jasmaniah kita lebih memberikan tekanan penting pada penampakan fisik dari mereka yang kita kasihi. Kita menggunakan frase di luar jangkauan pandangan, di luar jangkauan pikiran untuk menggambarkan kegagalan hasrat kita dalam hal ketidakhadiran seseorang. Perusahaan telepon menawarkan telepon jarak jauh yang disebut "hal terbaik untuk berada di sana". Akan tetapi, sesungguhnya hal ini jauh dari konsep "berada di sana dalam bentuk suatu pribadi".

Para murid berdukacita ketika Yesus katakan bahwa Ia akan pergi meninggalkan mereka. Yesus menegur mereka karena bertanya, 'Ke mana Engkau akan pergi?' Ini merupakan pertanyaan mengenai ke mana sama halnya dengan mengapa Yesus pergi yang menjadi kesulitan dari gereja setiap zaman.

Murid Yesus sulit untuk memperoleh kebenaran bahwa Ia meninggalkan mereka untuk keuntungan mereka. Jikalau pengajaran-Nya benar, maka yang harusnya terjadi adalah barangsiapa yang hidup setelah Kenaikan harus membagikan keuntungan tersebut.

Jikalau kita percaya akan apa yang Yesus katakan pada para murid-Nya, kita harus menyimpulkan bahwa kita hidup dalam masa yang jauh lebih menguntungkan daripada masa selama pelayanan Yesus di bumi. Kita hidup dalam masa setelah Kenaikan dan setelah Pentakosta. Para murid hidup pada masa ketika Yesus merendahkan diri-Nya; kita hidup pada masa pemuliaan-Nya. Ini merupakan keuntungan yang sangat besar.

CATATAN MENGENAI KENAIKAN

Catatan mengenai Kenaikan Yesus sangat jelas dalam Perjanjian Baru. Banyak referensi Alkitab mengenai kisah ini. Markus menggambarkannya dalam satu kalimat (Mrk. 16:19). Injil Lukas menjelaskan dalam dua kalimat (Luk. 24:50-51). Matius dan Yohanes tidak memberikan catatan sama sekali. Catatan yang paling utuh diberikan dalam Kisah Rasul:

"Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang -- demikian kata-Nya -- 'telah kamu dengar dari pada-Ku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.' Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: 'Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?' Jawab-Nya: 'Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.' Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka: 'Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus Ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga.'

Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit-bukit yang disebut bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem." (Kis 1:4-12).

Pada saat Kenaikan-Nya, Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk tetap tinggal di Yerusalem menunggu kedatangan Roh Kudus. Pada momen terakhir bersama Yesus, mereka menanyakan pertanyaan terakhir kepada-Nya. Mereka bertanya apakah saat ini merupakan saat yang dikehendaki-Nya untuk membangun kembali kerajaan Israel. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa mereka masih belum memahami secara utuh tentang jabatan raja dari Kristus. Yesus tidak menegur mereka karena berpikir seperti itu. Akan tetapi, Ia berkata kepada mereka untuk tidak perlu mengetahui kapan waktunya. Dalam hal ini, Ia menegaskan kepentingan dari misi mereka antara Kenaikan-Nya dan Kedatangan-Nya dalam kemuliaan. Ia katakan pada mereka bahwa mereka akan memperoleh kuasa untuk melakukan tugas tersebut selama Ia tidak bersama dengan mereka. Tugas mereka, dan juga tugas gereja Kristen, adalah menyaksikan tentang Dia.

Kita melihat bahwa tujuan Kenaikan Kristus adalah untuk berkuasa di sorga. Melalui Kenaikan-Nya, Ia mengambil peran Raja dari alam semesta. Kekuasaan-Nya pada masa ini tidak terlihat oleh penduduk dunia. Ini merupakan tugas para murid, dan sekarang kita, untuk menyaksikan kekuasaan yang tidak terlihat tersebut. Yohanes Calvin menegaskan bahwa ini merupakan tugas dari gereja yang kelihatan untuk memperlihatkan pada dunia akan pemerintahan Kristus yang tidak kelihatan. Ini merupakan tujuan dari pemberian Roh Kudus yang Yesus janjikan pada murid-murid-Nya.

Para murid merupakan saksi mata Kenaikan Yesus. Pada saat mereka melihat-Nya, Ia terangkat diatas awan. Hal ini jelas dari Alkitab bahwa awan pada saat Kenaikan adalah awan kemuliaan. Gambaran selanjutnya mengenai kedatangan-Nya di dalam awan menegaskan konsep ini.

Gambar: Pentakosta

Para murid berdiri terpaku di bukit Zaitun ketika memandang kemuliaan kenaikan Yesus. Lamunan mereka terinterupsi oleh kehadiran malaikat. Malaikat bertanya, "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit?" Para murid begitu terpaku akan kemuliaan yang singkat pada saat kenaikan-Nya.

Perasaan para murid setelah Yesus meninggalkan mereka sangat berbeda dengan yang terekspresi pada saat Yesus pertama kali berbicara bahwa Ia akan meninggalkan mereka. Saat ini tidak ada lagi perasaan kesedihan. Catatan Lukas memperlihatkan keadaan emosi mereka:

"Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga. Mereka sujud menyembah kepadaNya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. (Luk. 24:51-52)

Pada ayat-ayat ini, Lukas menunjukkan bahwa para murid penuh dengan sukacita ketika mereka kembali ke Yerusalem. Perubahan perasaan ini tercatat dengan jelas. Ketika kita ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi, khususnya pada saat ketika kita tidak mungkin bertemu dengan-Nya di dunia ini lagi, maka saat itu merupakan saat yang penuh dengan dukacita.

Pada ayat-ayat ini, Lukas menunjukkan bahwa para murid penuh dengan sukacita ketika mereka kembali ke Yerusalem. Perubahan perasaan ini tercatat dengan jelas. Ketika kita ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi, khususnya pada saat ketika kita tidak mungkin bertemu dengan-Nya di dunia ini lagi, maka saat itu merupakan saat yang penuh dengan dukacita.

Selama pengajaran Kristus mengenai Roh Kudus di ruang atas, Ia menyampaikan perkataan-perkataan yang terus terdengar di telinga para murid ketika mereka kembali dari bukit Zaitun:

"Kamu telah mendengar bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada BapaKu, sebab Bapa lebih besar daripada Aku. Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi" (Yoh. 14:28-29)

Menurut Lukas, sukacita para murid menjadi sangat jelas setelah pada akhirnya mereka percaya akan pengajaran Yesus mengenai kepergian-Nya. Karena kasih yang sangat dalam mereka mampu bersukacita akan kenaikan-Nya kepada Bapa di sorga.

WARISAN DARI YESUS

Ada satu hal yang perlu ditambahkan di dalam sukacita para murid. Setelah Yesus meninggalkan mereka, mereka menerima warisan yang dijanjikan kepada mereka. Ketika seorang kaya meninggal, kesedihan keluarga mulai mereda ketika hendak membaca dan menerima warisan. Kadangkala karena mengharapkan warisan yang banyak menyebabkan anak-anak berharap agar kepergian orang tua dapat terjadi sesegera mungkin.

Yesus tidak meninggalkan harta duniawi. Warisan-Nya berbeda jenisnya. Ia memberikan kepada para murid-Nya Damai yang dimiliki-Nya, suatu hal yang tidak dapat diukur nilainya:

"Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu." (Yoh. 14:27)

Damai yang ditinggalkan Yesus kepada para murid-Nya bukanlah damai yang biasa. Yesus mendefinisikannya sebagai 'Damai sejahtera-Ku.' Ini merupakan damai yang transenden, suatu damai yang melampaui pemahaman manusia. Ini merupakan damai yang mampu mengatasi kekecewaan manusia. Ini merupakan damai yang setiap orang Yahudi impikan. Ini merupakan berkat tertinggi dari shalom.

Paulus menegaskan bahwa keuntungan pertama yang diperoleh dari pembenaran orang percaya adalah partisipasi dalam damai ini, yang meliputi damai dengan Allah:

"Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus" (Rom. 5:1). Pada tempat yang lain Paulus menyatakan: "Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan" (Ef. 2:14). Dalam meninggalkan warisan bagi gereja-Nya, Yesus memberikan diri-Nya sendiri didalam kehadiran-Nya melalui ikatan spiritual.

KEKUASAAN YESUS

Para murid mulai memahami bahwa Yesus pergi ke Bapa-Nya. Kenaikan-Nya bukan sekadar pergi "ke surga". Ada keunikan yang tidak diberikan kepada mereka yang sebelumnya pernah naik ke surga. Yesus naik dengan Cara yang berbeda dengan Henokh dan Elia. Yesus menegaskan hal ini dalam pengajaran-Nya: "Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia." (Yoh. 3:13) Dalam diskusi-Nya dengan Nikodemus, Yesus menunjukan keunikan Kenaikan-Nya. Yang lain telah pergi ke sorga, tapi tidak ada seorang pun yang naik dengan makna khusus seperti yang dilakukan-Nya. Hanya Dia yang turun dari sorga yang memiliki kualifikasi untuk naik dengan makna yang khusus. Di sini, istilah naik mengandung pengertian lebih dalam daripada sekedar 'naik ke atas.' Istilah ini memiliki pengertian khusus: naik ke tempat yang khusus untuk menyiapkan tugas yang khusus. Yesus naik ke tempat di mana Ia akan memerintah sebagai Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuhan. Ia duduk di sebelah kanan Bapa di dalam tempat beradanya otoritas alam semesta.

Kenaikan Yesus menandai penggenapan dari nubuatan Mazmur 110:

Demikianlah firman Tuhan kepada tuanku:
"Duduklah di sebelah kanan-Ku,
sampai Kubuat musuh-musuhmu
menjadi tumpuan kakimu."
Tongkat kekuatanmu akan diulurkan Tuhan dari Sion:
memerintahlah di antara musuhmu!
Pada hari tentaramu bangsamu
merelakan diri untuk maju
dengan berhiaskan kekudusan;
dari kandungan fajar
tampil bagimu keremajaanmu seperti embun
Tuhan telah bersumpah,
dan Ia tidak akan menyesal:
"Engkau adalah imam untuk selama-lamanya
menurut Melkisedek."
Tuhan ada di sebelah kananmu;
Ia meremukkan raja-raja
pada hari murka-Nya,
Ia menghukum bangsa-bangsa,
sehingga mayat-mayat bergelimpangan;
Ia meremukkan orang-orang
yang menjadi kepala di negeri luas.
Dari sungai di tepi jalan ia minum,
oleh sebab itu ia mengangkat kepala.

Saya mengutip Mazmur 110 karena ini merupakan bagian Perjanjian Lama yang paling banyak dikutip dan ditekankan dalam Perjanjian Baru. Mazmur ini mencakup seluruh penilaian mengenai keberadaan dari Mesias. Kerajaan Mesias digambarkan sebagai di sebelah kanan Allah, di mana Ia melakukan jabatan Raja yang diurapi Allah dan jabatan Imam Besar Agung.

Hal ini tergenapi pada saat Kenaikan seperti yang secara jelas ditegaskan Paulus:

Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadanya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada dl bawah bumi, dan segala lidah mengaku: 'Yesus Kristus adalah Tuhan,' bagi kemuliaan Allah, Bapa!' (Fil. 2:9-11)

Pada saat Kenaikan-Nya, Yesus menerima kedua jabatan tersebut dan sebutan Tuhan. Ia masuk dalam posisi di sebelah kanan Allah. Ini merupakan posisi kemuliaan, hormat, penguasaan dan kuasa. Hal ini menjadi pokok pujian malaikat dalam kitab Wahyu:

Maka Aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa, katanya dengan suara nyaring. 'Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian! 'Dan, aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata: 'Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji- pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!' Dan keempat makhluk Itu berkata: 'Amin' Dan tua-tua Itu jatuh tersungkur dan menyembah. (Why. 5:11-14)

Kenaikan merupakan pusat daripada kerygma, pusat dari proklamasi khotbah para rasul. Hal ini terlihat dalam khotbah Petrus saat Pentakosta:

"Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal ini kami semua adalah saksi. Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini. Sebab, bukan Daud yang naik ke Surga malahan Daud sendiri berkata:

'Tuhan telah berfirman kepada Tuanku. Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhMu menjadi tumpuan kaki-Mu.'

Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus." (Kis. 2:32-36)

PERAN KRISTUS SEBAGAI JURU SYAFAAT

Pada saat Kenaikan, Yesus bukan saja menerima jabatan Raja tetapi juga Imam Besar kekal menurut peraturan Melkisedek. Kita telah melihat catatan mengenai doa syafaat Kristus selama ada di ruang atas. Hal ini penting untuk menyadari bahwa pekerjaan syafaat terus dilanjutkan hingga hari ini. Tema pelayanan sorgawi Yesus sebagai Imam Besar dibicarakan secara panjang lebar di dalam kitab Ibrani:

"Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan Iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaiknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya." (Ibr. 4:14-16)

Pokok pembicaraan mengenai karya keimaman Kristus sangat penting bagi kita. Karya Imam Besar-Nya bersifat kekal.

Akan tetapi, karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain. Karena itu, Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab, Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.

Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi daripada tingkat-tingkat sorga, yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah Itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban. Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah, yang diucapkan kemudian daripada hukum Taurat, menetapkan Anak, yang telah menjadi sempurna sampai selama-lamanya. Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga, dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu dl dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia. (Ibr. 7:24-8:2)

YESUS SEBAGAI PEMBELA

Di dalam jabatan sorgawi sebagai Raja-Imam, Yesus melayani sebagai pembela kita. Meskipun ketika Alkitab bicara mengenai Yesus di dalam kemuliaan kenaikan-Nya sebagai duduk di sebelah kanan Allah, tetapi ada saatnya ketika Ia bangkit berdiri dan berbicara dalam membela orang-orang kudus-Nya. Hal ini terlihat pada saat akhir kehidupan Stefanus.

Stefanus telah mengkhotbahkan suatu khotbah penghakiman yang tajam di hadapan penguasa-penguasa Yahudi. Reaksi mereka penuh dengan dendam; hati mereka tertusuk dan mereka menyambutnya dengan kertakan gigi. Di tengah-tengah krisis yang dihadapi, Stefanus dibawa ke penghakiman Mahkamah Agama Yahudi dan ia melihat kemuliaan Allah:

Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu, katanya: "Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah." (Kis. 7:55-56)

Stefanus melihat Yesus 'berdiri' di sebelah kanan Allah. Di dalam ruang persidangan hanya dua orang yang berdiri, penuntut umum dan pembela. Hakim tetap duduk di tempatnya. Dalam peran-Nya sebagai Anak Manusia dan Tuhan yang naik ke sorga, Yesus duduk di tempat untuk memerintah dan menghakimi. Namun, pada peristiwa ini, hakim illahi bangkit dari tempat duduknya dan mengambil peran pembela.

Peran yang Yesus pergunakan ini bukan saja ditujukan bagi Stefanus, tapi semua umat-Nya. Pada saat penghakiman terakhir, kita dapat yakin bahwa hakim kita juga akan melayani sebagai pembela kita. Ia adalah Pembela kita, bersama-sama dengan Bapa.

KENAIKAN DAN PENTAKOSTA

Yesus menggambarkan pentingnya hubungan antara Kenaikan-Nya di sebelah kanan Bapa dan pengutusan Roh Kudus kepada gereja. Karena pokok pembahasan pada artikel ini berfokus pada kemuliaan Yesus yang dibedakan dengan kemuliaan Roh Kudus, maka meskipun kita tetap akan membicarakan mengenai kemuliaan Roh Kudus, tetapi penekanannya lebih kepada peristiwa Pentakosta.

Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk, dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. (Kis. 2:1-4)

Penyataan kemuliaan Allah pada saat Pentakosta sangat jelas terlihat. Manifestasi pertama yang muncul adalah dalam bentuk suara. Bunyi tersebut dilukiskan sebagai tiupan angin. Angin ini tidak seperti angin yang biasanya nampak pada mereka yang mendengarnya. Bagi agama Kristen dan Yahudi, hubungan antara angin dan Roh sangat dalam. Baik di dalam bahasa Ibrani maupun Yunani, istilah 'roh' sama dengan istilah 'angin' (ruach dalam Ibrani, pneuma dalam Yunani). Ketika berbicara mengenai kuasa Roh Kudus dalam proses lahir baru, Yesus berkata:

Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu darimana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh. (Yoh. 3:8)

Yesus bicara mengenai kebebasan bertiupnya angin. Roh tidak dikontrol oleh manusia maupun kuasa alam lainnya. Roh Kudus bekerja sesuai dengan kebebasan kedaulatan Allah. Kita dapat mendengar angin bertiup, tetapi kita tidak dapat mengontrol sumbernya ataupun tujuannya. Dengan demikian, angin yang bertiup dengan Cara yang luar biasa pada saat Pentakosta memanifestasikan kuasa dan kemuliaan dari kehadiran Roh Kudus.

Manifestasi kedua dari kedatangan Roh Kudus adalah suatu fenomena yang tampak. Mereka yang berkumpul saat itu melihat lidah-lidah api, hinggap pada setiap kepala para murid. Lidah api melambangkan berdiamnya kemuliaan illahi pada tempat tersebut. Sama seperti burung merpati yang turun dari sorga dan hinggap pada Yesus di saat pembaptisan, demikian juga sekarang Roh berdiam di atas umat-Nya. Kita melihat suatu paralel dari catatan Perjanjian Lama mengenai Roh yang hinggap pada Musa terdistribusi di antara ketujuh puluh tua-tua lainnya:

Lalu turunlah Tuhan dalam awan dan berbicara kepada Musa, kemudian diambil-Nya sebagian dari Roh yang hinggap padanya, dan ditaruh-Nya atas ketujuh puluh tua-tua itu; ketika Roh itu hinggap pada mereka, kepenuhanlah mereka seperti nabi, tetapi sesudah itu tidak lagi. (Bil. 11:25)

Manifestasi ketiga turunnya Roh Kudus adalah bahasa lidah. Merupakan hal yang sulit untuk menetapkan apakah mukjizat ini adalah mukjizat dalam perkataan atau mukjizat dalam pendengaran. Barangkali hal ini meliputi kedua hal di atas. Roh Kuduslah yang memberikan hal ini. Meskipun demikian, bahasa yang diucapkan didengar secara bervariasi oleh pendengar di dalam bahasa mereka masing-masing. Pertanyaannya adalah: apakah para murid diberikan kemampuan untuk berbicara dalam bahasa asing atau ada kuasa supranatural yang menerjemahkan saat itu? Hal ini kedengarannya seperti apa yang terjadi dalam pertemuan PBB, di mana seorang wakil asing memberikan perkataan-perkataannya -- mereka yang mendengar dengan earphone, mendengar secara langsung penerjemahan dari perkataan pembicara tadi:

Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing- masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesapotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan perbuatan besar yang dilakukan Allah. Mereka semuanya tercengang- cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: "Apakah artinya ini" (Kis. 2:5-12)

Mereka yang hadir bingung. Petrus kemudian berdiri dan mengkhotbahkan sebuah khotbah yang memberikan suatu intepretasi historis terhadap peristiwa tersebut. Ia menjelaskan bahwa fenomena Pentakosta merupakan akibat dari kemuliaan Kristus dalam Kenaikan-Nya:

Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami adalah saksi. Dan sesudah ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkanNya apa yang kamu lihat dan dengar di sini. (Kis. 2:32-33)

Bunyi dan penglihatan yang terjadi pada saat Pentakosta merupakan manifestasi yang tampak oleh mata dan merupakan kemuliaan yang dilimpahkan oleh Roh Kudus seperti yang telah dijanjikan kepada gereja-Nya.(TE)

Audio: Kemuliaan Pada Saat Kenaikan Kristus

Sumber Artikel: 

Sumber:

Nama Majalah : Momentum
Edisi : 40/Triwulan II 1999
Judul Artikel : Kemuliaan Di Saat Kenaikan Kristus
Penulis : R C Sproul
Halaman : 14-20, 25-27

Tanda-Tanda Hari Pentakosta

Penulis_artikel: 
Abraham Kuyper
Isi_artikel: 

Artikel ini disarikan dari buku The Work of The Holy Spirit

Suara tiupan angin yang keras, lidah-lidah seperti nyala api, dan berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, merupakan tanda-tanda yang mengikuti peristiwa pencurahan Roh Kudus. Tanda-tanda ini bukan hanya memiliki pengertian simbolik. Berkata-kata dalam bahasa lain adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari peristiwa Pentakosta. Simbol bertujuan untuk mewakili atau menunjuk kepada sesuatu yang disimbolkan. Karena itu, simbol dapat dibuang tanpa mempengaruhi inti dari hal yang disimbolkannya. Seperti tanda penunjuk jalan, simbol dapat dibuang tanpa mempengaruhi jalan itu sendiri. Jika tanda-tanda hari Pentakosta hanya merupakan simbol, peristiwa Pentakosta akan tetap sama walaupun tanpa tanda-tanda tersebut. Tetapi tanda-tanda peristiwa Pentakosta lebih dari sekedar simbol. Jika tanda berkata- kata dalam bahasa lain tidak ada, hal ini akan merombak secara drastis karakter dari sejarah selanjutnya.

Hal ini membenarkan penjelasan bahwa tanda-tanda lain pada peristiwa Pentakosta merupakan bagian-bagian pokok dari mujizat yang terjadi. Fakta bahwa selama delapan belas abad para teolog tidak yakin akan signifikansi simbol-simbol ini, mendorong kesimpulan bahwa para rasul dan orang-orang pada waktu itu juga tidak segera mengerti signifikansi peristiwa ini. Hal ini didukung oleh narasi Kisah Para Rasul 2. Mereka semua tercengang dan termangu, sambil berkata seorang kepada yang lain, "Apakah artinya ini?" Dan ketika Petrus berdiri sebagai rasul untuk menjelaskan mujizat yang terjadi, dengan dipenuhi Roh Kudus dia tidak mengkaitkan segala signifikansi simbolik dengan tanda-tanda yang terjadi, melainkan Petrus langsung menyatakan bahwa peristiwa ini terjadi untuk menggenapi nubuat nabi Yoel.

Apakah peristiwa Pentakosta menggenapi seluruh nubuat nabi Yoel? Jelas tidak; karena matahari tidak menjadi gelap, bulan tidak menjadi darah, dan mereka tidak mendengar mimpi dari orang-orang tua. Memang penggenapan seluruh nubuat nabi Yoel dan banyak nubuat lain tidak akan terjadi sampai kedatangan Kristus kedua kali. Tetapi rasul Petrus menunjukkan bahwa melalui peristiwa ini Hari Tuhan menjadi semakin mendekat secara signifikan. Pencurahan Roh Kudus merupakan salah satu dari peristiwa-peristiwa besar yang mendahului hari yang agung itu. Tanpa pencurahan Roh Kudus, Hari Tuhan ini tidak akan terjadi. Dari sudut pandang Allah, hari Pentakosta adalah mujizat besar terakhir sebelum Hari Tuhan. Karena hari itu akan diwarnai dengan tanda-tanda yang mencengangkan, seperti yang terjadi pada hari Pentakosta. Petrus menyatukan keduanya dan membuatnya kelihatan seperti satu peristiwa. Hal ini menjelaskan bahwa nubuat nabi Yoel menunjuk kepada Hari Tuhan, tetapi sekaligus menunjuk kepada hari Pentakosta.

Jika tanda kedatangan Tuhan - darah, api, dan asap - bukan hanya merupakan simbol, tetapi merupakan unsur utama dari bagian akhir sejarah dunia, maka jelaslah bahwa Petrus tidak mengerti tanda-tanda hari Pentakosta ini sebagai simbolik. Pandangan yang menganggap bahwa tanda-tanda ini hanya untuk menarik perhatian massa, juga merupakan penjelasan yang tidak kuat.

Stimulasi indera penglihatan dan pendengaran adalah cara yang paling efektif untuk mempengaruhi kesadaran kita. Cara paling mudah untuk menarik perhatian dan menstimulan emosi seseorang adalah dengan memberikan suara ledakan yang dasyat dan kilatan cahaya yang sangat terang. Dengan memakai prinsip ini, beberapa kelompok Methodis pernah menggunakan senjata api pada waktu KKR, berharap supaya suara dan kilatan api akan mempengaruhi suasana hati agar dapat lebih kondusif bagi pekerjaan Roh Kudus. Pengalaman yang sama juga dilakukan oleh Bala Keselamatan.

Melalui penjelasan ini, tanda-tanda hari Pentakosta mempunyai karakteristik yang sama. Murid-murid berkumpul di ruang atas pada hari Pentakosta. Dan supaya menyadari akan pencurahan Roh Kudus, pendengaran dan penglihatan mereka harus di stimulan. Dan ketika orang-orang tercengang dan termangu-mangu karena suara dan penglihatan yang mereka alami, barulah tercapai kondisi yang diinginkan untuk menerima Roh Kudus dan pencurahan terjadi. Tetapi pandangan ini jelas tidak sesuai dengan ajaran Alkitab dan bahkan hal yang sangat keliru untuk membandingkan tanda-tanda Pentakosta dengan suara keras dari senjata. Karena itu satu-satunya penjelasan yang tepat adalah dengan memperhitungkan tanda-tanda hari Pentakosta sebagai unsur utama yang sungguh dari peristiwa tersebut. Tanda-tanda ini merupakan unsur yang sangat penting yang tidak dapat dibuang.

Ketika sebuah kapal memasuki pelabuhan kita melihat buih putih menempa sisi bawah kapal dan kita mendengar gemericik air yang berbenturan. Ketika seekor kuda berlari kencang, kita mendengar suara kakinya yang keras dan melihat debu di belakangnya. Tetapi apakah hal-hal yang dilihat dan didengar ini bersifat simbolik? Hal-hal ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peristiwa masing-masing dan tidak mungkin ada tanpa peristiwa tersebut. Demikian juga tanda-tanda Pentakosta bukan bersifat simbolik maupun hanya untuk menciptakan sensasi, tetapi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peristiwa pencurahan Roh Kudus dan disebabkan oleh peristiwa ini. Pencurahan Roh Kudus tidak mungkin terjadi tanpa adanya tanda-tanda ini. Ketika Roh Kudus turun dari gunung kekudusan Allah, bunyi tiupan angin yang keras akan terdengar, dan terang yang dasyat akan terlihat, dan berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain harus terjadi.

Pencurahan Roh Kudus adalah peristiwa yang nyata, bukan hanya kelihatannya. Kemuliaan yang diterima Kepala harus dialirkan dan dicurahkan dari sorga kepada tubuh Kristus. Dan jika semua ini terjadi pasti akan menghasilkan tanda-tanda tersebut.

Tetapi banyak hal yang masih belum kita mengerti. Di gunung Horeb, Eliyah mendengar Tuhan lewat hembusan angin; Yesaya mendengar bergeraknya pintu-pintu di bait Allah. Hal ini sepertinya menunjukkan bahwa kehadiran Ilahi dinyatakan dengan sesuatu yang dapat ditangkap dengan indera. Tetapi kita tidak mengetahui bagaimana caranya. Tetapi kita bisa memperhatikan beberapa hal:

Pertama, jelas bahwa roh dapat bekerja melalui materi. Roh kita bekerja melalui tubuh jasmani yang kelihatan dan dengan demikian dapat menghasilkan suara. Berbicara, menangis, bernyanyi adalah karya roh kita terhadap udara. Dan jika roh kita dapat melakukan hal itu, apalagi Roh Tuhan? Mengapa ketika Roh Kudus turun dan membawa dampak yang dapat dilihat dan didengar, kita anggap sebagai misteri?

Kedua, ketika membuat perjanjian dengan Israel di gunung Sinai, Tuhan Allah berbicara dalam guntur yang menggelegar, sehingga Musa berkata, "Aku begitu takut dan gemetar." Tetapi hal ini dilakukan Allah bukan bertujuan menakutkan manusia, tetapi Allah yang suci dan murka harus berbicara dengan cara demikian kepada angkatan yang berdosa ini. Karena itu tidak mengherankan bahwa kedatangan Allah kepada manusia dalam perjanjian yang baru juga diikuti dengan tanda-tanda yang mirip, bukan untuk menarik perhatian manusia, tetapi memang hal itu merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Hal yang sama juga berlaku pada lidah-lidah api. Manifestasi dari hal yang bersifat supranatural selalu dinyatakan melalui cahaya dan terang, khususnya ketika Allah Jehova atau malaikat-Nya hadir. Ingat peristiwa perjanjian Allah dengan Abraham atau peristiwa semak yang terbakar. Jadi mengapa kita heran dengan fenomena turunnya Roh Kudus yang mirip dengan yang dialami Eliyah di Horeb dan Musa di semak, Paulus dalam perjalanan ke Damaskus, dan Yohanes di pulau Patmos? Lidah-lidah seperti nyala api yang turun kepada setiap orang justru menunjukkan Allah yang menembus setiap hati manusia dan meninggalkan dampak yang kekal.

Pertanyaan tentang apakah lidah api itu berasal dari sorga atau merupakan akibat pekerjaan Allah terhadap elemen dalam dunia, tidak dapat dijawab dengan pasti. Kedua pandangan mempunyai kekuatan masing- masing. Tidak ada kegelapan di sorga; dan cahaya sorgawi pasti mempunyai natur yang lebih tinggi dari dunia, bahkan lebih dari terangnya matahari, menurut penggambaran Rasul Paulus tentang cahaya dalam perjalanan ke Damaskus. Karena itu dalam peristiwa Pentakosta sangat mungkin batasan antara sorga dan dunia menjadi tidak jelas dan kemuliaan yang lebih agung dinyatakan dalam dunia.

Tetapi, Roh Kudus mungkin juga menyatakan cahaya yang misterius ini dengan melakukan mujizat. Dan hal ini sepertinya dikonfirmasi berdasarkan fakta bahwa tanda-tanda yang diberikan di gunung Sinai, yang merupakan peristiwa yang paralel dengan peristiwa Pentakosta, bukan berasal dari atas tetapi dari materi di dunia.

Akhirnya perlu diperhatikan bahwa pencurahan Roh Kudus di rumah Kornelius dan murid-murid Apolos diikuti dengan perkataan dalam bahasa-bahasa lain, tetapi tidak dengan tanda yang lain. Hal ini mengkonfirmasi pengajaran yang telah diberikan, bahwa pencurahan di rumah Kornelius bukanlah kedatangan Roh Kudus ke dalam keluarga Kornelius, tetapi merupakan karya Roh Kudus yang dinyatakan pada bagian tubuh Kristus yang lain. Jika tanda-tanda itu merupakan simbol, tanda-tanda lain pasti juga harus ada. Tetapi hal itu tidak terjadi, karena tanda-tanda peristiwa Pentakosta itu bukan dimaksudkan sebagai simbol.(BS)

Sumber Artikel: 

Sumber:

Nama Majalah : Momentum
Edisi : 40/Triwulan II 1999
Judul Artikel : Tanda-Tanda Hari Pentakosta
Penulis : Abraham Kuyper
Halaman : 38-41

Yohanes Pembaptis: Pelita yang Terpasang dan Bercahaya

Penulis_artikel: 
Pdt. Dr. Stephen Tong
Isi_artikel: 

Dalam Dia (Yesus) ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia (Yohanes) datang sebagai saksi untuk memberikan kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya." (Yohanes 1:4-7). "Ia adalah pelita yang menyala dan bercahaya." (Yohanes 5:35) Terjemahan lain mengatakan, "Ia menjadi pelita yang menyala dan bercahaya." "Ia merupakan satu pelita yang sudah disulut, yang sudah terpasang dan sekarang bercahaya."

Yohanes Pembaptis merupakan seorang yang mengagumkan dan menjadi teladan bagi setiap orang yang mau melayani Tuhan. Ia mempunyai posisi yang paling unik. Ia adalah nabi terakhir dalam Perjanjian Lama, tetapi juga nabi pemula dalam Perjanjian Baru. Ia mengakhiri seluruh Perjanjian Lama, dan merintis Perjanjian Baru. Melalui Yohaneslah segala yang dinubuatkan nabi-nabi Perjanjian Lama menjadi suatu puncak pernyataan yang jelas tentang Mesias kepada manusia. Melalui Yohanes juga seluruh zaman setelah Kristus dapat melihat bahwa dialah yang memberi petunjuk untuk zaman selanjutnya bahwa Kristus membuka Perjanjian Baru dengan darah yang dicurahkan, "Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia." (Yohanes 1:29). Ucapan ini mengakhiri nubuat dan ucapan para nabi mengenai Kristus dalam Perjanjian Lama dan membuka satu jalan baru supaya orang-orang dalam Perjanjian Baru dan dalam sejarah melihat bahwa Yesus adalah sungguh Domba yang disembelih, seperti yang dilambangkan pada hari Paskah dalam Perjanjian Lama.

Siapakah Yohanes? Ia bersaksi bagi Terang tetapi mengaku bahwa ia bukan Terang itu. Siapakah Yohanes? Ia bersaksi bagi Kebenaran dan ia mengetahui bahwa ia bukan Kebenaran itu sendiri melainkan Kristus. Siapakah Yohanes? Ia bersaksi bagi Mesias tetapi ia mengakui bahwa ia bukan Mesias. Ia hanya seorang yang merintis jalan bagi kedatangan Sang Mesias.

Yohanes begitu mengenal keberadaannya sendiri. Ia yang agung, besar, dipenuhi Roh Kudus, tetapi juga begitu rendah hati. Orang yang agung tidak angkuh. Orang yang angkuh selalu tidak agung. Semakin besar jiwa seseorang, semakin tinggi rohaninya, yang selalu merasa kurang dan tidak cukup secara paradoks. Orang yang merasa diri cukup adalah orang yang kurang rohani dan kurang agung. Yohanes adalah orang yang begitu rendah hati sampai ia pernah mengatakan satu kalimat, yang boleh disebut sebagai pepatah emas yang harus diukir dengan pena mas dan tinta mas, "Membuka tali kasut-Nya (Mesias) pun aku tidak layak." (Yohanes 1:27). Seorang pelayan yang mengambil kemuliaan tuannya adalah pelayan yang kurang ajar. Ketika ada hamba Tuhan atau pemimpin gereja yang mengambil alih kuasa Allah Bari takhta-Nya dengan menganggap diri setara dengan Allah, menerima hormat manusia mengganti Allah, di sanalah mulai kegagalan dalam pelayanan.

Pada zaman itu dianggap ada dua orang besar yaitu Yohanes dan Yesus. Yohanes tidak berkhotbah di mimbar terkenal atau di gedung besar di Yerusalem. Ia berkhotbah dan menegakkan mimbar yang ada di padang belantara. Ia tidak tahu siapa yang akan datang tetapi ia tahu bahwa ia mempunyai firman yang harus disampaikan dan Roh Kudus memenuhinya. Sehingga padang belantara menjadi terlalu ramai karena ribuan orang datang. Ia tidak perlu merebut suatu kemuliaan tetapi tahu bagaimana bersaksi dan memberitakan firman Tuhan. Di tempat Roh Kudus turun, di sana tanah yang kering dan gersang menjadi sawah yang subur. Allah yang sejati adalah Allah yang membuka jalan di tengah laut. Allah yang menyediakan satu jalan lapang di tengah padang belantara. Allah yang mematahkan segala rantai dan belenggu, halangan pintu besi maupun tembaga. Yohanes Pembaptis disebut sebagai saksi yang diutus oleh Allah (The Witness send by God.). Seorang yang bersaksi, berarti kesaksiannya dan saksi itu sendiri merupakan utusan Allah. Seorang yang diutus Tuhan untuk memberitakan kebenaran. Dari mulut Yesus Kristus sendiri keluar satu kalimat indah tentang Yohanes bahwa ia adalah pelita yang terpasang dan bercahaya.

Saat manusia memandang Yohanes dan Yesus sama besar, Yesus tahu siapa diri-Nya dan siapa Yohanes. Yohanes pun tahu siapa Yesus dan siapa dia. Orang luar hanya melihat secara lahiriah tetapi kedua orang ini melihat ke dalam jiwa mereka. Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa apa yang mereka nilai itu salah, ia terlalu kecil dan Yesus terlalu besar. Yohanes adalah pelita yang terpasang dan bercahaya, yang menyinarkan untuk seketika akan Terang itu. Tetapi Yesus adalah Terang yang sesungguhnya. Jika Yesus adalah matahari maka Yohaneslah bulan yang memantulkan cahaya matahari itu. Setiap kali kita melihat cahaya asli dari Kristus, kita harus ingat yang memantulkan itu hanya sekejap mata, sebagai pelita yang hanya memberikan sedikit kesaksian untuk sekejap waktu saja. Kembali kepada Kristus itu menjadi hal yang penting. Siapakah Billy Graham, Luis Palau, Stephen Tong? Hanya seorang saksi saja. Kita tidak menjadi pengikut manusia tetapi pengikut Kristus. Agustinus memberikan satu kalimat yang menjadi contoh bagi setiap hamba Tuhan dalam sejarah, "Jikalau engkau menemukan tulisan atau khotbah saya sesuai dengan Alkitab, buanglah saya kembali sesuai dengan Firman." Itulah keagungan sejati seorang hamba Tuhan, yang jujur melayani Tuhan.

Yohanes Pembaptis menjadi pelita yang terpasang dan bercahaya bukan melalui mulutnya sendiri. Sebutan yang indah ini keluar dari mulut Yesus bahwa ia adalah pelita yang terpasang dan bercahaya. Di sini terlihat tiga macam pelayanan (1) Sudah menjadi pelita (2) Mau terpasang (3) Mau terus bercahaya. Ada orang yang sudah menjadi pelita tetapi tidak mau terpasang. Ada orang yang sudah terpasang tetapi tidak mau bercahaya terus.

Pelita itu merupakan suatu wadah. Dipasang itu merupakan suatu tindakan untuk memulai pelayanan. Bercahaya adalah satu konsistensi dari kesaksian yang terus berjalan. Pelita seperti bola lampu, lalu pasang itu seperti listrik atau minyak atau api yang sudah dinyalakan dan bercahaya berarti segala hambatan sudah disingkirkan sehingga terang itu boleh sampai ke tempat yang lain.

Istilah kesaksian yang dipakai oleh Alkitab bukan terbentuk dari kata kerja melainkan kata benda, "Ye must be the witness of Me, ye are My witnesses. "Kamu adalah saksi-saksiKu." Jadi istilah kesaksian berbeda dengan gerakan kekristenan dalam zaman ini. Pengertian sekarang, ada orang yang berbicara dan kita mendengar. Kesaksian itu bukan cerita, bukan pengalaman. Kesaksian sebenarnya adalah satu kedudukan menjadi saksi Kristus (the position of the witness of God). Sesudah itu baru saksi itu mengeluarkan kalimat untuk menyatakan kedudukannya, itu arti bersaksi.

Dalam Yohanes 1:6 dikatakan seorang yang dikirim oleh Allah, bersaksi bagi Terang itu. Dalam 5:35 Yesus mengatakan ia adalah pelita yang terpasang berarti setelah ia memiliki kedudukan sebagai saksi, baru ia bersaksi. Alkitab mengatakan Ye are the witnesses of My resurrection, kamu adalah saksi kebangkitanKu. Dalam bersaksi bukan pengalaman kita yang dipentingkan melainkan kebenaran bahwa Kristus yang mati dan bangkit, menjadi satu-satunya pengharapan untuk penginjilan seluruh dunia.

Dulu kamu adalah alat setan, yang memihak kepada iblis dan kegelapan. Sekarang kedudukanmu diubah. Posisimu sekarang adalah saksi Tuhan. Yohanes adalah pelita yang terpasang dan bercahaya. Berarti selain ia sudah mempunyai kedudukan itu, ia mau disulut. Dia mau diberikan satu permulaan yang tidak berasal dari dirinya sendiri. Sebuah kesaksian menuntut kesungguhan dalam hidupmu. Bukan hanya perkataanmu tetapi hidupmu sungguh sesuai dengan kebenaran, baru mulutmu pun menjadi alat kebenaran. Celakalah orang yang mengeluarkan suatu perkataan dengan tidak mempunyai kesungguhan; yang mengeluarkan kalimat yang bukan menjadi kepercayaannya.

Yohanes menjadi saksi yang akhirnya betul-betul mati karena kesungguhannya menjadi pelita. Ia adalah pelita yang terpasang dan bercahaya. Jika pelita disimpan ia tidak perlu mati karena tidak dibakar dan tidak bercahaya. Pelita yang terpasang dan bercahaya akan mati.

Peribahasa Tionghoa mengatakan di tengah kemewahan tidak jatuh dalam perzinahan dan tidak menjual diri; di dalam kemiskinan dan kepicikan tidak berubah hati; di bawah kuasa dan otoritas yang paling besar tidak menaklukkan diri. Inilah mutu watak kekristenan yang harus kita perjuangkan. Berapa banyak orang yang berkata-kata dengan muluk-muluk, tinggi-tinggi, syair yang indah tetapi pada waktu godaan tiba, langsung berubah arus, waktu miskin langsung kejujuran hilang. Mungkinkah engkau memelihara dirimu di tengah kesulitan, di tengah kepicikan, di tengah kemiskinan namun tetap jujur dan tidak berubah pendirian, bisa tetap berpegang pada prinsip-prinsip kejujuran dan kesucian. Bisakah engkau memelihara diri di tengah kekayaan dan kemewahan dan tidak sembarangan menghancurkan diri, berzinah dan melakukan tindakan yang amoral? Bisakah engkau menahan diri waktu diberi ancaman? Bisakah di bawah otoritas kuasa politik yang besar engkau tidak takluk dan tidak berkompromi? Itulah kesaksian yang menyatakan mutu seseorang.

Ada pepatah yang mengatakan, Kalau jalan tidak jauh, tidak tahu tenaga kuda. Kalau hari tidak panjang tidak diketahui tenaga dan hati manusia. Dalam jangka waktu panjang baru dapat diketahui kondisi hati seseorang. Ketika ujian datang baru diketahui bagaimana kesetiaanmu. Ketika jarak pendek kelihatan semua kuda sama kuat. Tetapi setelah menempuh jarak jauh baru terlihat kekuatan masing-masing. Setelah berpuluh-puluh tahun baru kelihatan kekonsistenan seseorang. Tuhan tidak melihat permulaan. Dalam permulaan terlalu banyak orang yang mengatakan, Saya sungguh bersedia mati bagi Tuhan. Setelah itu konsistensi sangat penting. Tuhan ingin kita mempunyai waktu pelayanan yang konsisten dan sungguh-sungguh. Ketika saya menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan saya berkata, "Peliharalah saya sampai mati, kesungguhan, pengabdian, kesetiaan sampai mati. Saya minta Tuhan peliharakan." Bila waktu tidak panjang tidak akan diketahui kesetiaan seseorang. Kalau ujian tidak berat, tidak ketahuan ketahanan seseorang. Bersyukurlah kalau Tuhan mengijinkan kau mengalami ujian berat, menandakan bahwa Ia percaya kepadamu dan akan memakai engkau lebih berat lagi. Jangan melarikan diri dari kesulitan, dari kesulitan, kepicikan, kemiskinan, yang seringkali diartikan senjata- senjata dari setan dan kutukan Allah. Tetapi kadang Tuhan memperbolehkan engkau dikutuk orang lain, diberi penyakit, mengalami bahaya, mengalami kesulitan. Ketika semua ini diijinkan datang, jangan memaki Tuhan. Pertama, koreksi diri apakah ada dosa yang perlu kau akui di hadapan Tuhan. Purify yourself. Intropeksi diri, bila ada kesalahan bertobat dan Tuhan akan memberkati engkau. Tidak semua sengsara dari setan, tidak semua kegagalan dari iblis. Kadang itu merupakan ujian dari Tuhan. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa ujian akan memberikan ketekunan yang luar biasa sehingga engkau boleh dipakai lebih hebat daripada waktu-waktu yang lalu. Yohanes Pembaptis dipenuhi Roh Kudus tetapi hidupnya tidak lancar. Berapa lama ia melayani? Alkitab tidak mengatakan dengan jelas, mungkin tidak sampai satu tahun, lalu kepalanya dipenggal. Sejak dalam kandungan ia sudah dipenuhi Roh Kudus, tetapi mengalami kematian yang tragis. Kematian Yohanes adalah kehendak Tuhan. Apakah ini berarti Allah tidak Mahakuasa? Bukan. Mengapa Tuhan tidak menyelamatkan nyawanya? Tidak mendengar doanya? Ketika Yohanes mengutus orang datang kepada Yesus untuk bertanya, "Engkaukah Mesias atau kami harus menanti yang lain?" Tidak ada satu kegagalan yang lebih besar lagi daripada Yohanes yang mempertanyakan pertanyaan yang begitu mengerikan. Bukankah dia yang memberitakan Yesus? Bukankah dia yang memberikan pernyataan pada jamannya, "Inilah Kristus, Anak Domba Allah"? Tetapi pada waktu dalam kepicikan, imannya goncang. "Tuhan, Engkau melihat aku sebagai rekan- Mu yang masuk penjara tetapi mengapa tidak ditolong? Apakah Engkau tidak melihat air mata dan kesengsaraanku? Di mana kuasa-Mu sebagai Mesias? Dulu aku bersaksi mengenai Engkau adalah Anak Domba Allah tetapi ketika aku sakit Engkau membiarkan aku, waktu aku di penjara Engkau tidak datang menjenguk aku atau menegur Herodes." Teologi Yohanes menjadi goncang dan Kristologinya kabur. Tetapi Yesus tetap tidak menjenguk atau melepaskannya dari penjara.

Yesus tidak datang dan tidak merubah situasi, tetapi mengatakan, "Barangsiapa yang tidak jatuh karena Aku berbahagialah dia." Bila engkau benar-benar saksi-Ku dan sekarang tidak melihat Aku menolongmu, engkau tetap tidak jatuh, maka berbahagialah engkau.

Tetapi jika engkau jatuh karena Aku, mengapa bisa jatuh karena Tuhan? Apakah Tuhan membiarkan dia mati terpelanting karena jatuh? Apakah Tuhan yang merencanakan kejatuhan dia? Yesus berkata, "Berbahagialah yang tidak jatuh karena Aku." Berarti ada kemungkinan kita jatuh karena Tuhan. Apa artinya kita jatuh karena Tuhan? Doa tidak dijawab, penyakit tidak disembuhkan, anak yang paling dicintai, diambil Tuhan. Apa maksud Tuhan, begitu kejam?! Seseorang jatuh disebabkan ia mempunyai pengenalan yang salah terhadap Tuhan. Yesus Kristus tidak pernah memberikan konsep-konsep yang mengacaukan pikiran kita tetapi Ia hanya menjernihkan pikiran kita yang kacau, tidak akan mengacaukan pikiran-pikiran yang benar. Ia membawa kita kembali kepada Firman, bukan mau menyelewengkan kita untuk keluar dari prinsip-prinsip Alkitab.

Yesus menjawab Yohanes, "Engkau melihat orang buta celik, orang mati dibangkitkan, orang miskin mendengarkan Injil. Bila ini masih tidak cukup biarlah engkau jatuh karena Aku. Dan kalau ini sudah cukup, meskipun orang lain yang buta dicelikkan, yang lumpuh berjalan, yang mati bangkit, engkau tdak dibangkitkan dan tidak dikeluarkan dari penjara tetap engkau harus beriman bahwa Aku adalah Kristus." Yesus tidak melepaskan Yohanes tetapi menyuruh orang memberitahu bahwa ada orang lain yang sudah mendapat kesembuhan. Yesus tidak memberikan anugerah pada Yohanes tetapi Ia menyuruh orang memberitahu bahwa orang lain sudah mendapat anugerah. Bukankah ini siksaan batin, suatu pschycology pressure, diskriminasi yang tidak adil? Tetapi kedaulatan Allah yang terus ditekankan dalam Teologi Reformed harus kita mengerti. Bahwa Allah berhak menyembuhkan dia dan tidak menyembuhkan engkau sekarang, berhak memberi kebangkitan pada orang mati dan membiarkan engkau tetap dalam penjara dan dipenggal sampai mati, karena Dia adalah Allah. Karena Dia adalah Allah, jangan memaksa Dia untuk bekerja menurut perintahmu, itu berarti memperhamba Allah. Kalau Dia Allah biarlah Dia yang mendapat kemuliaan yang terbesar melalui segala sesuatu menurut kehendak Dia sendiri. Yohanes Pembaptis tidak dilepaskan dan akhirnya mati. Pada waktu ia mati apakah ia menyangkal? Tidak. Setelah dia mendengar jawaban dan mengerti, ia setia sampai mati.

Yohanes memberikan lima teladan yang indah. Pertama, ia dipenuhi Roh Kudus. Menjadi pelita yang terpasang berarti harus mempunyai minyak. Sebelum ada listrik pelita adalah suatu benda yang bentuknya sebagai wadah minyak yang ada tutupnya, dan dipinggir diberi sumbu yang keluar dari mulut pelita untuk menyalurkan minyak itu ke atas lalu membakar jika ia adalah sumbu yang terpasang dan menyala karena ada minyak. Orang yang mau melayani Tuhan, yang benar-benar mau menyatakan terang, harus dipenuhi Roh Kudus. Dipenuhi Roh Kudus berarti buah-buah Roh akan mengalir keluar. Kalau Roh memenuhi engkau Kristus akan diberitakan. Pada waktu Roh itu memenuhi engkau maka hidupmu dipenuhi kesucian, tidak menghitung untung rugi tetapi memikirkan kemuliaan Tuhan.

Kedua, ia menjadi pelita yang terpasang dan menyala karena ia melayani Tuhan dengan prinsip yang penting seumur hidup. Ini dinubuatkan pada waktu kelahirannya yaitu kesucian dan keadilan. Pelayanan yang suci tetapi tidak adil adalah pelayanan yang timpang. Pelayanan yang adil tetapi tidak suci adalah usaha membereskan segala sesuatu tapi pada dirinya tidak mempunyai sifat ilahi yang jelas, moral Allah. Hidup suci yaitu tidak berkompromi untuk menghadapi segala sesuatu yang tidak beres, dosa dan segala kecemaran dalam diri kita. Keadilan dan kesucian adalah dua pokok pelayanan. Kalau saya hidup tidak suci dan menghadapi orang dengan tidak adil saya tidak mungkin menjadi pemimpin. Hidup suci berarti takut akan Tuhan Allah dan benar-benar sesuai dengan kehendak-Nya, tidak dicemari oleh dosa sehingga ada kuasa. Keadilan membuat kita bisa menghadapi segala macam orang. Adakah senyummu hanya untuk orang-orang tertentu yang agak kaya, agak mewah, agak ada kedudukan? Tetapi selalu ada paras yang lain pada yang miskin? Adakah engkau mempunyai tanggapan yang berlainan dengan orang yang begitu dihargai dan dihormati di masyarakat dan selalu ada kekerasan terhadap mereka yang dipandang ringan di masyarakat?

Ketiga, Yohanes menjadi pelita yang terpasang dan bercahaya karena ia mempunyai keberanian, salah satu pusaka yang besar dalam pelayanan kita. Kalimat-kalimat yang seharusnya kamu katakan pada waktu dan tempat yang seharusnya, tetapi tidak dikatakan berarti kehilangan kesempatan. Berbicara pada tempat, waktu yang tepat barulah itu seorang hamba Tuhan. Berani berkata pada orang yang perlu dan saat yang perlu di tempat yang sudah Tuhan berikan bagimu berarti sejarah ditenun bersama dengan kebenaran. Jika pada saat itu engkau tidak lakukan yang seharusnya maka tenunan kebenaran dengan sejarah itu lepas. Yohanes adalah orang yang menulis dan menenun kalimat penting dalam sejarah melalui keberanian yang Tuhan berikan. Jikalau bukan Yohanes tidak ada orang yang berani menegor Herodes. Jika tidak ada Yohanes tidak ada orang yang memberi tahu siapakah Yesus. Jika bukan Yohanes tidak ada orang yang berani memberikan kritik kepada pemimpin agama yang tidak beres. Kronos telah dijadikan kairos oleh Yohanes. Karakter agung dari seorang hamba Tuhan sering terbentuk pada waktu ia harus berkata dan sesudah ia berkata. Bila prinsip ini diabaikan ia akan menjual diri sebagai anak sulung yang tidak lagi mempunyai kuasa. Martin Luther dipaksa untuk membongkar dan membakar semua buku yang pernah ditulisnya. Tetapi ia berkata, "Di sini saya berdiri di atas firman Tuhan. Kecuali kalian membuktikan apa yang saya katakan dalam buku saya tidak berdasarkan firman maka saya tidak akan menarik kembali semua buku yang saya tulis. Inilah momen yang menenun kebenaran bersama sejarah.

Keempat, kesaksiannya selalu ditujukan kepada Kristus. Ia tidak meninggikan diri, tidak meninggikan pengalaman, tetapi kesaksiannya ditujukan kepada Kristus. Alkitab berkata, "Ia diutus untuk bersaksi bagi kebenaran supaya orang bisa percaya." (Yohanes 1:6). Tidak satu kali pun mujizat dilakukan oleh Yohanes. Tetapi banyak orang menjadi percaya karena dia. Di sini prinsip Alkitab menyatakan bahwa iman tidak didasarkan pada suatu pengalaman mujizat. Iman harus didasarkan pada firman. Dari mana datang iman? Dari pendengaran. Dan pendengaran datang dari firman Allah. Inilah prinsip Alkitab yang tidak pernah berubah dan tidak pernah putus, dari alfa sampai omega. Tuhan Yesus melakukan mujizat tetapi tidak pernah berkata hanya melalui itu kamu beriman. Tuhan berkata iman berdasarkan firman. Jika kesaksian senantiasa berpusat pada Kristus maka ia bukan memakai keajaiban kuasa tetapi dengan keberanian menyaksikan Kristus, menegur dosa dan membongkar hati nurani manusia, supaya orang bertobat.

Kelima, ia adalah pelita yang bercahaya dan terpasang dengan syarat ia konsisten, terus membiarkan diri dibakar sampai habis. Lilin yang bercahaya, setiap detik dalam bercahaya, berarti setiap detik ia menghancurkan diri. Makin lama makin pendek. Bila ia tidak melelehkan diri, tidak menghancurkan diri, tidak mungkin bisa terus menerus bercahaya. Ketika Yesus berkata bahwa ia adalah pelita yang terpasang dan bercahaya berarti dia sedang mengorbankan diri. Matahari harus meledakkan bahan yang ada pada dirinya sendiri, setiap detik kira-kira enam puluh juta ton supaya matahari tetap bercahaya dan kita tetap mempunyai kehangatan seperti di atas bumi. Untuk satu detik enam puluh juta ton. Betapa besar bahan matahari untuk bertahan berpuluh-puluh ribu tahun sehingga dunia ini mempunyai sinar cahaya sedemikian. Sepanjang sejarah kekristenan kalau orang Kristen mau bercahaya dan bila saksi-saksi mau terpasang dan bercahaya tidak ada jalan lain, yaitu rela berkorban diri bagi Kristus. Pengorbanan yang terus menerus menjamin terang itu terus menerus menyala, bercahaya. Maukah engkau terjun, berbagian dan melibatkan diri menjadi saksi Tuhan?

Sumber Artikel: 
Sumber:
Nama Majalah : Momentum
Edisi : 8/Juni 1990
Judul Artikel: Yohanes Pembaptis: Pelita yang Terpasang dan Bercahaya
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Halaman : 14-21

Ketidakselarasan Kekristenan Asal Jadi

Penulis_artikel: 
A.W. Tozer
Isi_artikel: 

Pengenalan Penulis: A.W. Tozer dilahirkan di Pennsylvania 1897. Dari 1919-1963 menjabat sebagai pendeta Gereja Alliance. Menggembala gereja selama 34 tahun di Chicago Selatan. Pada masa itu ia mengembangkan bakat tulisannya untuk menjadi berkat banyak gereja. Tulisan Tozer singkat dan dinamis, sangat menekankan kebenaran Injil yang sejati serta fakta-fakta hidup rohani.

Negara yang menyediakan teh instan dan kopi instan, juga telah menyediakan agama Kristen yang instan. Hal ini seharusnya tidak mengherankan. Walaupun teh dan kopi semacam ini bukan ditemukan oleh Amerika Serikat, tetapi pasti menjadi terkenal di dalam dunia kultural melalui Wan yang menggemparkan di negara ini. Bukan saja demikian, kita juga tidak bisa menyangkal aliran Injili yang dangkallah yang telah membawa kekristenan asal jadi ke dalam gereja-gereja.

Kita tidak membicarakan alasan-alasan yang bersifat hiasan dari gereja Katolik dan aliran liberal. Mari kita berkonsentrasi kepada gereja-gereja besar yang beranggota banyak di dalam aliran Injili, maka kita langsung bisa melihat berapa besar kerugian yang sudah dialami oleh aliran Injili ini. Di antara mereka sebagian pemimpin sudah melalaikan esensi Injil dan kestabilan pengaruhnya demi kecepatan dan kemudahan pelayanan, sehingga telah menghasilkan pengaruh yang menjadi racun, yang telah melukai gereja-gereja Injili di Amerika. Dan pada waktu yang sama melalui literatur penginjil dan para misionari telah menyebar ke seluruh dunia.

Kekristenan asal jadi ini bertumbuh bersama dengan zaman industri, dimana penemuan-penemuan manusia tentang mesin bertujuan rangkap. Yang pertama adalah agar dapat mengerjakan sesuatu lebih cepat dan mudah dibandingkan dengan hasil pekerjaan tangan. Selain itu selesai mengerjakan boleh mempergunakan waktunya untuk menuntut hal-hal yang diinginkannya, misalnya pelesir demi hiburan duniawi. Kristen yang bersifat instan juga mirip di dalam tujuan yang sama. Karena Kristen semacam ini seolah-olah sudah membereskan hal-hal yang lampau dan menjamin hal-hal yang akan datang sehingga pengikutnya boleh menuntut keinginan jasmaniah yang lebih sempurna dengan hati yang bebas dan sejahtera serta tidak terikat oleh apa-apa.

Namun kekristenan instan ini juga mengakibatkan banyak orang Kristen kehilangan pengharapan di dalam iman mereka. Mereka merasa seolah-olah Allah terlalu jauh dari mereka sedangkan dunia ini sangat dekat dengan kita dan kuasa kedagingan sangat sulit ditolaknya.

Yang disebut agama "Kristen instan" yang saya maksudkan adalah pikiran yang dihasilkan semacam konsep yang bisa kita temukan di mana-mana dalam bidang agama, yaitu terhadap jiwa kita sendiri hanya memerlukan semacam atau dua macam tindakan yang bersifat iman sudah cukup untuk melunaskan seluruh kewajiban kita sehingga total melepaskan segala kecemasan dan ketidaksejahteraan rohani kita pada hari kelak. Mereka yang mengajar senantiasa menegaskan bahwa kita dipanggil sebagai kaum kudus. Sehingga kita tidak berkewajiban mencapai kesucian di dalam moral kita. Sifat satu kali jadi untuk selama-lamanya boleh dikatakan sangat jauh dari iman kekristenan di dalam Kitab Suci. Di dalam kesalahan macam ini dan banyak kesalahan yang lain semua disebabkan kurang pengertian sempurna terhadap sebagian kebenaran. Memang benar menjadi beriman kepada Kristus dapat terjadi sungguh-sungguh. Sehingga dimana perasaan berat terhadap beban dosa di sana juga makin jelas dan makin sukacita dinyatakan perasaan pengampunan. Pengalaman sukacita diampuni semacam ini akan menjadi sejajar dengan perasaan benci terhadap kerusakan moral di dalam pertobatan. Orang Kristen yang sejati adalah orang yang sudah berjumpa dengan Allah. la sendiri mengetahui bahwa sudah memiliki hidup kekal, juga mungkin mengetahui di mana dan kapan ia telah menerima itu. Orang semacam ini sesudah diperanakkan pula juga memiliki pengalaman yang jelas dipenuhi Roh Kudus. Roh Kudus menyatakan diri sehingga sebuah jiwa yang diperbaharui akan sama sekali tidak sulit untuk membuktikan penyertaan Roh Kudus pada waktu Roh Kudus memenuhinya. Namun kesulitan terletak pada kita yang selalu terlalu mudah bersandar pada pengalaman kita sehingga mengakibatkan salah mengerti total terhadap kitab Suci Perjanjian Baru. Kita selalu dianjurkan untuk mengambil keputusan, harus langsung membereskan masalah, dan menyelesaikannya saat itu juga. Nasehat semacam ini tidak perlu dipersalahkan karena memang adalah hal yang bisa diselesaikan satu kali untuk selama-lamanya, khususnya hal-hal pribadi. Mungkin diselesaikan secara langsung berdasarkan iman Alkitabiah. Tidak ada orang menyangkali hal ini, demikian juga saya.

Tetapi pertanyaan kita sebenarnya adalah di dalam "tindakan iman yang satu kali" berapa banyak persoalan yang bisa dibereskan dan berapa banyak sisa yang belum dikerjakan? Apakah keputusan satu kali ini sudah cukup? Kekristenan instan mudah sekali memacetkan tuntutan kita di dalam iman serta menghentikan kemajuan rohani kita, dia akan mengakibatkan ketidakmengertian kita terhadap hidup orang Kristen yang penuh dinamika dan terus menerus berkembang, dia melalaikan satu fakta yaitu seorang Kristen baru sama seperti bayi yang baru lahir merupakan hidup yang berorgan, yang memerlukan nutrisi dan gerakan untuk memelihara pertumbuhan yang normal. Kekristenan instan tidak memikirkan bahwa iman terhadap Kristus merupakan suatu relasi pribadi yang ditegakkan melalui aspek rasio dan moral dan relasi persahabatan yang intim di antara Allah dan manusia yang dicipta menurut peta Allah yaitu relasi antara Allah dan orang yang diperdamaikan dengan-Nya tidak mungkin terjadi di dalam satu kali kontak. (Relasi secara posisi terjadi satu kali, tetapi pengalaman secara intim dengan Tuhan perlu dipupuk setelah perdamaian itu terjadi - penjelasan Pdt.Dr. Stephen Tong).

Pembela kekristenan instan berusaha menaruh seluruh keselamatan di dalam satu-dua kali pengalaman, dengan demikian mereka menghina prinsip perkembangan yang digerakkan di dalam dunia alamiah. Mereka melalaikan hasil pengudusan yang dikerjakan melalui kesengsaraan memikul salib dan ketaatan yang sesungguhnya. Pada waktu yang sama juga melalaikan latihan rohani serta pemupukan kebiasaan agama yang seharusnya, sehingga kewajiban berperang dengan dunia setan dan kedagingan juga sangat dilalaikannya. Semacam konsep a priori yang tidak benar ini serta satu-dua kali tindakan iman di dalam permulaan percaya mengakibatkan manusia memperoleh semacam kekuasaan di dalam jiwa manusia itu. Sehingga manusia tidak perlu mengharapkan apa-apa lagi. Namun kekristenan instan ini juga mengakibatkan banyak orang Kristen kehilangan pengharapan di dalam iman mereka. Mereka merasa seolah-olah Allah terlalu jauh dari mereka sedangkan dunia ini sangat dekat dengan kita dan kuasa kedagingan sangat sulit ditolaknya. Sebagian manusia yang lain sangat suka menerima jaminan berkat yang bersifat otomatis ini, karena ini dapat melepaskan mereka dari keadaan waspada, berperang maupun berdoa sehingga bisa menikmati dunia ini dengan bebas dan sempurna sampai hidup kekal. Kita seolah melihat kekristenan instan merupakan arus ortodoks dari abad ke-20 tetapi saya menyangsikan orang menerapkan Filipi 3:7-16 pada masa ini. Apakah betul-betul mereka menganggap inilah kepercayaannya yang menentukan mati hidupnya? Saya kira dia tidak akan merasa demikian.

Sumber Artikel: 
Sumber:
Nama Majalah : Momentum
Edisi : 8/Juni 1990
Judul Artikel: Ketidakselarasan Kekristenan Asal Jadi
Penulis : A.W. Tozer
Halaman : 11-14

Seni dalam Perspektif Kekristenan

Penulis_artikel: 
Paul Hidayat STh.
Isi_artikel: 

Karya-karya seni sepanjang sejarah kemanusiaan merupakan bukti tentang kehebatan manusia, yang jauh mengungguli makhluk-makhluk lainnya. Untuk memperbesar kekaguman kita akan kemanusiaan, cukup kita pergi ke museum, atau ke peninggalan-peninggalan purba, atau ke gedung orkestra, atau ke suatu pameran lukisan. Arsitektur, musik, lukisan, karya pahat, film, fotografi, tari-tarian, tulisan, dsb., akan segera membangkitkan rasa kagum kita tadi, sebab karya-karya seni ini menggemakan kehebatan manusia. Siapa tidak kagum melihat lukisan-lukisan karya Basuki Abdullah atau Affandi? Siapa tidak tenggelam dalam kedalaman pengisahan tulisan penulis-penulis besar seperti Tolstoy, Tagore, Dostoevsky, Mangunwijaya, dsb? Siapa tidak takjub melihat arsitektur kuno seperti Borobudur maupun arsitektur modern seperti Opera House di Sidney? Siapa pula tidak terbuai oleh musik-musik indah karya komponis agung seperti Bach, Mozart, Vivaldi, Tschaikovsky, dsb? Siapa pula dari kita yang tidak bangga dengan aneka ragam kesenian Indonesia dari Sabang sampai Merauke?

Seni tanda keagungan manusia yang membuat hidup ini terasa lebih indah, tidak lepas dari permasalahan. Misalnya, ada seni pahat yang indah, ada pula yang dijadikan berhala yang disembah manusia. Ada lukisan dan foto-foto seni yang mengagumkan, ada pula yang menggiurkan merangsang nafsu. Ada musik yang menyentuh kalbu dan menyegarkan jiwa, ada pula yang mengaduk perasaan menjadi galau. Orang Kristen tinggal di tengah-tengah dunia yang dibanjiri oleh berbagai trend kesenian, masing-masing lengkap dengan produknya. Kita harus memilih dan menentukan sikap. Apalagi karena kini seni dengan penggabungan teknologi canggih (misalnya lewat video, majalah, kaset, dsb), mampu dimassalkan menerobos segala bentuk batasan, dan memperhadapkan kita langsung dengan berbagai pilihan seni. Patokan apa dapat kita pakai untuk menilai dan memilih?

Bukan hanya itu. Kekristenan bukan saja bergumul tentang seni di luar dirinya, yang harus disaringnya sebelum dapat diterima, tetapi seni di dalam kekristenan pun wajib kita pergumulkan. Seni, karunia Tuhan yang agung itu, tidak saja mampu membawa kita ke dalam suasana indah, tetapi kadang-kadang membuat kita bingung dalam pemilihan sikap. Bagaimanakah sikap Alkitab terhadap seni? Apa tanggung jawab dan peran Kristen dalam bidang seni? Seni yang bagaimana yang sebaiknya kita kembangkan dalam corak ibadah dan pelayanan Kristen?

Seni menurut Alkitab

Barangsiapa mencari dukungan Alkitab untuk sikap antipatinya terhadap seni, akan kecewa. Sebaliknya orang yang mencari dukungan Alkitab atas sikap pro seni tanpa pandang bulu, juga akan dikecewakan. Kedua sikap pro dan kontra dapat kita temui dengan jelas diajarkan dalam Alkitab.

Alkitab bukan saja mendukung pengembangan kesenian, tetapi bahkan memerintahkan kita untuk mengembangkannya. Seni sebagai bagian Bari panggilan dan karunia budaya, jelas merupakan suatu karunia yang harus dikembangkan oleh manusia. Bukankah kreativitas manusia merupakan salah satu aspek dari keberadaan manusia sebagai gambar Allah, Sang Pencipta yang Maha kreatif itu? Maka mengembangkan daya seni yang Tuhan telah tanamkan dalam diri kita adalah bentuk ketaatan kita terhadap panggilanNya untuk mencerminkan Dia melalui hidup dan karya kita.

Sepanjang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru kita menjumpai perkenan Allah atas berbagai upaya dan karya seni: Bezaleel dan Aholiab (Kel. 31:1- I 1), desainer seni Kemah Sembahyang; mazmur-mazmur; hymnologi yang diungkapkan Paulus dalam surat-suratnya (Fil. 2:6-I I; Kol. I : 15-23); sampai ke doxologi di Kitab Wahyu, semuanya menyaksikan fakta ini dengan jelas.

Bila kita telusuri kisah Bezaleel dengan lebih teliti, kita dapat menarik beberapa kesimpulan tentang seni. Pertama, seni ada dalam cakupan kehendak Allah, sebab Allah sendiri yang memerintahkan pembuatan Kemah Sembahyang secara berseni. Allah menginginkan tempat ibadah umatNya itu memiliki penampilan bercita-rasa seni tinggi (Kel. 25-28). Kedua, kemampuan seni adalah karunia Allah. "Lalu Musa memanggil Bezaleel dan Aholiab dan setiap orang yang ahli, yang dalam hatinya telah ditanam TUHAN keahlian..." (Kel. 36:2). Dalam tafsirannya tentang bagian ini, Calvin menandaskan bahwa setiap kemampuan seni atau ilmiah, bahkan juga yang dimiliki mereka yang tidak beriman, adalah karunia Roh Kudus. "The knowledge of all that is most excellent in human life is said to be communicated to us through the Spirit of God" (Institutes 22 16). Maksud Calvin bukanlan bahwa seniman yang tak beriman memiliki Roh Kudus, tetapi bahwa semua kemampuan dalam diri manusia adalah akibat pekerjaan Roh Kudus dalam anugerah umum.

Lebih jauh, Keluaran 31 mengembalikan seluruh detil kemampuan seni yang dibutuhkan untuk merancang interior maupun eksterior Kemang Sembahyang itu sebagai karunia Roh Kudus. (Perhatikan kata-kata "Kutunjuk", "Kupenuhi", "Kuperintahkan" 3 I :2-6).

Seni selain merupakan karunia, juga merupakan panggilan hidup Bari Allah. Banyak kaum injili masa kini mengkategorikan hanya pelayanan gerejawi sebagai panggilan hidup Bari Tuhan. Tetapi melalui gerakan Reformasi kita disadarkan bahwa seluruh kehidupan kita adalah pelayanan dan ibadah untuk Tuhan, dan karena itu, adalah panggilan Tuhan untuk kita. Bezaleel menerima panggilan itu. Panggilan di bidang seni, seperti halnya panggilan di bidang pelayanan Firman, atau di bidang ilmu, tidak berlaku umum tetapi berlaku khusus. Tuhan memanggil secara pribadi. Seseorang bisa dipanggil Tuhan menjadi pendeta atau missionaris atau guru atau ilmuwan, bisa pula dipanggilNya menjadi seniman!

Walaupun terhadap senimanseniman bukan Kristen tidak dapat kita katakan bahwa "ilham" yang mereka terima adalah bukti mereka dipimpin oleh Roh Kudus, namun dalam kasus seniman Kristen (seperti halnya Bezaleel dalam Kel. 35:30) dapat disimpulkan adanya hubungan erat antara mutu kerohanian dengan mutu seninya. Urutannya jelas: "memenuhinya dengan Roh Allah, dengan keahlian, pengertian dan pengetahuan dalam segala macam pekerjaan..." (Kel. 35:31). Juga kepandaian untuk mengajar (ayat 34). Melalui kisah Bezaleel ini kita menarik pelajaran indah bahwa seni adalah karunia yang Tuhan berikan kepada manusia dan merupakan panggilan khusus untuk orang tertentu yang dipanggilNya menjadi seniman. Pelayanan dalam bidang seni ini meliputi prinsip pimpinan Roh, pemberian kemampuan, penggunaan akal dan pengetahuan serta pengembangannya melalui jalur ajar-mengajar.

Di pihak lain, Alkitab juga mengungkapkan penyalahgunaan seni oleh manusia. Firman Tuhan melarang pembuatan patung dan berbagai simbol lainnya untuk disembah (Kel. 20:4,5). Harun dengan lembu emasnya, Nebukadnezar dengan patung raksasanya, dan kitab-kitab petenung zaman Kisah Para Rasul, cukup menjadi bukti betapa mudahnya daya seni manusia itu dipakai untuk menghasilkan hal-hal yang jahat, buruk dan melawan Tuhan. Teologi Reformed mengingatkan kita bahwa kejatuhan manusia dalam dosa mencemarkan seluruh aspek kemanusiaan kita, termasuk kepekaan dan daya seni manusia.

Bila Alkitab bersikap seperti itu, kita pun seharusnya bersikap demikian. Kita patut bersikap positif, menerima dengan syukur dan mengembangkan potensi seni yang Tuhan titipkan pada kita. Di lain pihak kita wajib sadar akan pengaruh dosa yang mungkin membelokkan arah seni dari memuliakan Tuhan dan membangun kemanusiaan menjadi sesuatu yang memberontak melawan Allah clan menghancurkan kemanusiaan.

Peran Kristen terhadap kesenian

Terhadap kesenian, orang Kristen dan gereja wajib menjalankan perannya sebagai imam, nabi dan raja. Sebagai imam, kita dipanggil untuk "menyelamatkan" kesenian dalam arti menyaksikan prinsipprinsip Kristen ke dalam pergumulan dan pengungkapan seni dunia di sekitar kita. Sebagai nabi kita dipanggil untuk menyuarakan kebenaran dan menilai kesenian dalam terang kebenaran Firman Tuhan. Sebagai raja kita dipanggil untuk memerintah, menguasai, mempengaruhi kesenian, terutama dengan jalan menciptakan ungkapan-ungkapan kesenian yang dinafasi oleh kekristenan dalam keterlibatan penuh kita di dalam kesenian.

Bila semua peran itu kits jalankan, maka timbullah beberapa konsekuensi praktis dalam sikap kita terhadap kesenian. Ada kemungkinan kita harus membuangnya, sebab karya seni bersangkutan sudah sedemikian dirusak oleh ketidakbenaran dan kejahatan (misalnya berhala-berhala, kitab primbon, film porno, dsb). Ada pula saat ketika kita boleh menerima karya seni bersangkutan karena prinsip isi dan bentuknya tidak menyimpang dari kekristenan. Lebih dari itu, orang Kristen terpanggil untuk mengembangkan daya seninya sedemikian rupa sampai mampu mencetuskan karya-karya seni yang berprinsip Kristen dan mempengaruhi dunia.

Kesenian gerejawi

Dalam sejarah terbukti bahwa kesenian yang dikembangkan dalam konteks gereja sempat menjadi ratu yang berpengaruh dan ditiru kesenian dunia ini. Arsitektur gereja dan musik gereja adalah dua contoh paling jelas tentang hal ini. Tetapi apa yang dulu merupakan kebanggaan gereja rupanya kini sudah berbalik. Dalam banyak hal, gereja paling ketinggalan dalam kesenian di zaman ini. Kenyataan ini merupakan cambuk yang melecut kita untuk mawas diri dan bangun dari ketiduran kita dalam bidang seni gerejawi. Di manakah dramawan, musikus, pelukis, arsitek, pernahat, novelis Kristen abad ini yang mau menggeluti ulang panggilan Tuhan untuk bidang seni dan menghasilkan karya-karya berkaliber?

Seni Kristen/gerejawi bukan saja yang semata merupakan ungkapan kisah-kisah Alkitab. Karya-karya Dostoevsky (The Brother's Karamazov) yang sarat dengan masalah filsafat, religius, dan sosiologis juga dapat dipakai Tuhan untuk mentobatkan orang. Karya Tolkien mungkin lebih mampu berkomunikasi dengan banyak orang tentang kebenaran Kristen. Karena itu kits perlu lebih banyakseniman Kristen yang menempatkan ulang Kekristenan di panggung pergelaran seni dunia.

Namun demikian, sisi lainnya tidak boleh kita lupakan. Seperti yang Tuhan Yesus ingatkan, semua orang yang ingin taat kepadaNya pasti akan menerima salibnya sendiri. Dalam bentuk penghinaan, dipandang tak berarti, dianggap tidak sesuai trend, dsb. Demikian pula tidak selamanya Tuhan mengijinkan kesenian gerejawi diterima di panggung kesenian dunia ini. Selama penolakan dunia atas kesenian gerejawi dan orang Kristen bukan disebabkan oleh kelalaian, kebodohan atau kemalasan kita sendiri dalam mengembangkan seni, maka jelas bahwa itu adalah konsekuensi kemuridan kita mengiring Kristus.

Konklusi

Orang Kristen clan gereja tidak dapat mengelak dari keharusan terlibat dalam kesenian, paling tidak menikmatinya. Kita disadarkan bahwa days seni manusia adalah suatu karunia yang sangat mulia yang menunjukkan aspek kemanusiaan kita sebagai gambar Allah. Dalam Alkitab sendiri, kesenian bisa dikatakan sebagai puncak ibadah yang dimulai dari iman (doktrin), dilanjutkan oleh kasih (dalam etika) clan diakhiri dengan doxology (estetika). Itu sebabnya, Kristen harus terlibat dalam kesenian clan mengupayakan kesenian yang bermutu tinggi.

Di pihak lain, kita disadarkan bahwa dosa dan pengaruh iblis merembes masuk ke semua kapasitas kemanusiaan kita, tidak terkecuali daya seni kits Karena karya seni adalah karya manusia berdosa, seni pun besar kemungkinan tercemar oleh dosa.

Karena itu, Kristen terpanggil menjalankan perannya sebagai imam, nabi dan raja. Kesenian harus dikembalikan kepada tempatnya semula, yaitu sebagai alat untuk memuliakan Tuhan, mengungkapkan keindahanNya dan ciptaanNya dalam ungkapan-ungkapan artistik dan menunjukkan kebenaran. Seni bukan tujuan akhir yang diberhalakan clan memperbuclak manusia. Seni dapat memuliakan Allah, mencerminkan kebenaran dan keindahan serta membangun kemanusiaan, bisa pula sebaliknya. Karena itu, kita harus berperan aktif: memperbaiki, menilai dan mencetuskan yang baru.

Sumber Artikel: 
Sumber:
Nama Majalah : Momentum
Edisi : 2/Juli 1987
Judul Artikel : Seni dalam Perspektif Kekristenan
Penulis : Paul Hidayat STh.
Halaman : 4, 11-13

Rahasia Pelayan Remaja yang Efektif

Penulis_artikel: 
-
Isi_artikel: 

Harus Kita akui bahwa ada kelompok pelayanan remaja tertentu yang maju dan berkembang, sedangkan kelompok lain makin lama makin kehilangan remajanya. Mengapa ini terjadi, agak sukar untuk dicari sebabnya yang tepat, tetapi kalau Anda ingin tahu ciri-ciri pelayanan remaja yang efektif, simaklah uraian berikut ini.

Utamakan orang, bukan program

Pertama-tama dan terutama, suatu pelayanan remaja yang berhasil adalah yang mengutamakan orang-orangnya, bukan programnya. Berusaha mengenal para remaja lebih dekat. Membuat mereka merasa dirinya penting. Mendengarkan mereka. Memperdulikan mereka. Mengasihi mereka. Kalau unsur-unsur ini ada, pelayanan remaja itu akan bertumbuh. Jika yang diutamakan adalah program, betapa pun baiknya program itu, para remaja cenderung untuk kehilangan minat.

Salah satu penyebabnya ialah karena mereka telah menghabiskan banyak waktu dan energi untuk kegiatan sekolah. Kegiatan gereja mungkin kurang menarik dibandingkan aktivitas sekolah atau aktivitas luar lainnya. Maka kalau pelayanan remaja di gereja tidak menawarkan sesuatu yang berbeda, para remaja itu akan memilih yang di luar gereja.

Satu hal yang biasanya tidak ditawarkan oleh program kegiatan di luar, adalah perhatian terhadap tiap pribadi. Bila pelayanan remaja gereja menyediakan suasana kasih, saling mempercayai, dan menerima tiap orang sebagaimana adanya, maka para remaja akan berada di sana. Setiap orang ingin merasa dikasihi.

Utamakan Kristus

Yesus Kristus adalah pribadi yang paling menarik, yang pernah hidup di dunia ini. Dalam usia remaja pun orang dapat memberi respons kepada Kristus. Mereka dapat mengalami bahwa hidup bagi Dia sungguh berharga.

Seringkali pelayanan remaja di gereja bertujuan agar para remaja itu kelak menjadi anggota gereja tersebut. Keanggotaan gereja memang penting. Bahkan sangat penting. Tetapi kalau ini yang menjadi tujuan pelayanan remaja, kebanyakan remaja menjadi tidak tertarik.

Dari mula, perbedaan antara kedua hal di atas harus sudah dinyatakan dengan jelas, secara langsung maupun tak langsung: "Pelayanan remaja kami bertujuan untuk menjadikan Kristus Tuhan atas kehidupan -- hidup kami, nilai-nilai kami, dan gaya hidup kami."

Suatu pelayanan remaja yang takut-takut menyatakan tujuannya, pada akhirnya akan kehilangan para remajanya yang dihanyutkan oleh arus ajaran-ajaran lain di sekitarnya.

Tujuan di atas tidak perlu sering-sering dicanangkan, tetapi setiap pembina remaja harus memahami dan menghayati tujuan itu.

Suatu kelompok yang mempedulikan

Pelayanan remaja yang berhasil harus menawarkan bukan saja penyerahan sepenuhnya kepada Kristus sebagai Tuhan atas kehidupan, tetapi juga suatu kelompok yang mempedulikan dan memberi dukungan kepada mereka yang telah menyerahkan dirinya kepada Kristus. Juga kepada mereka yang baru mulai tertarik untuk percaya.

Seperti halnya orang dewasa, para remaja pun perlu memiliki perasaan menyatu dengan kelompoknya. Dalam tahun-tahun itu tekanan dari teman-teman sebaya sangat besar, bahkan hampir tak tertahankan. Dan umumnya, tekanan itu menjurus kepada yang negatif.

Karena itu pelayanan remaja harus menawarkan suatu kelompok "tandingan", suatu "keluarga besar", dimana para remaja benar-benar merasa diterima dan dikasihi.

Prioritas yang jelas

Di tengah arus kesibukan dan waktu yang sempit, gampang sekali pelayanan remaja kehilangan arah tanpa disadari. Mempunyai prioritas yang jelas, seperti yang berikut ini, akan membantu para pembina.

Prioritas I : Pertumbuhan rohani dan saling mendukung satu sama lain. Ini berarti seminggu sekali para pembina bertemu untuk saling berbagi suka-duka, kebutuhan dan pertumbuhan rohani.

Prioritas 2 : Pertemuan dengan para remaja seminggu sekali, untuk membagi tanggung jawab bagi pelaksanaan program pelayanan.

Prioritas 3 : Menyediakan waktu untuk bergaul dengan aggota-anggota kelompok remaja. Bila ada acara-acara khusus, hadirlah di sana. Dan dukunglah para remaja Anda dalam acara-acara lain juga, misalnya dalam pertandingan sekolahnya atau pertunjukan kesenian yang dimainkannya.

Prioritas 3 baik untuk dilaksanakan kalau pembina kelompok remaja ada beberapa orang. Dalam suatu pertunjukan yang dimainkan oleh remaja Anda, salah seorang pembina dapat hadir untuk memberi semangat. Dalam acara yang lain, seorang pembina lainya hadir sebagai suporter. Kehadiran Anda seakan-akan mengatakan kepada mereka: "Kami memperhatikan engkau.. . engkau penting bagi kami ... apa yang kau lakukan itu penting." Para pembina remaja hendaknya memiliki komitmen untuk "menyediakan waktu" bagi para remaja yang dilayaninya.

(Disadur dari Coleman & Rydberg, "6 Training Sessions for Your Youth Worker Team")

Sumber Artikel: 
Sumber:
Nama Majalah : Momentum
Edisi : 1/Maret 1987
Judul Artikel : Rahasia Pelayan Remaja yang Efektif
Halaman : 10-11

Pengenalan Terhadap Kidung Agung (II)

Penulis_artikel: 
Ev. Cornelius Kuswanto
Isi_artikel: 

Dalam artikel pertama tentang Pengenalan Terhadap Kidung Agung (1) kita telah mempelajari bersama tentang keunikan Kidung Agung, Pengarang dan Tanggal Penulisan, Latar Belakang Sejarah Penulisan, Tujuan Penulisan dan Beberapa Macam Cara Penafsiran Kidung Agung. Cara penafsiran yang paling terkenal dan paling tua ialah tafsiran secara alegori.

Dalam bagian ini kita akan bersama mempelajari tentang penafsiran Kidung Agung menurut Dramatical Interpretation (tafsiran secara drama).

LATAR BELAKANG DARI TAFSIRAN SECARA DRAMA

Penafsiran menurut drama dari Kidung Agung mulai dikenal pada akhir abad ke-18. Ide adanya drama dalam Kidung Agung sudah lebih dahulu dikenal sebelum cara penafsirannya dipakai. Pada abad ke-3 M, Origen menamakan Kidung Agung sebagai sebuah pantun pernikahan yang ditulis dalam bentuk drama.

Tafsiran Kidung Agung secara drama mulai menjadi terkenal pada awal abad ke-19 yaitu setelah tafsiran secara alegori mulai berkurang pendukungnya.(2)

DUA MACAM BENTUK TAFSIRAN SECARA DRAMA

Robert Gordis menyatakan bahwa tafsiran Kidung Agung secara drama ada dalam dua macam bentuk.(3) Kedua bentuk tafsiran menurut drama ini ialah berdasar peran utama dalam Kidung Agung. Ada yang setuju bahwa dalam Kidung Agung ada dua peran utama, ada juga yang berkata bahwa dalam Kidung Agung ada tiga peran utama.

a. Dua peran utama

Pendapat ini dipegang oleh Franz Delitzch yang melihat ada dua peran utama dalam Kidung Agung yaitu Salomo (kadang-kadang menyamar sebagai seorang gembala) dan seorang wanita desa yang disebut sebagai gadis Sulam (6:13). Pendapat ini mungkin berdasar dari dua manuskrip Grika yang berasal dari abad ke-4 dan 5 M.(4) Manuskrip- manuskrip ini memuat catatan di pinggir mengenai siapa yang bicara dan siapa yang menjawab.(5)

Menurut Delitzch, Kidung Agung hanya mempunyai dua peran yaitu Salomo dan gadis Sulam. Ketika Kidung Agung membicarakan mengenai gembala, ini ditujukan kepada Salomo yang menyamar sebagai gembala. Mengenai gadis Sulam, Delitzch berkata,

Gadis Sulam adalah seorang gadis yang ada dalam sejarah. Ia bukan putri Firaun sebagaimana diajar sejak zaman Theodore of Mopsusetia..., tetapi ia adalah seorang gadis desa yang sederhana. Salomo tertarik kepada kecantikan dan ketulusan gadis Sulam. Hal ini selain membuat Salomo melepaskan praktek poligaminya juga membuat dia mengenal ide pernikahan yang mula- mula dicatat dalam Kejadian 2:33 dst. sebagai sebuah pengalaman nyata.(6)

Salomo berjumpa dengan gadis Sulam waktu ia mengadakan kunjungan negara ke Israel bagian Utara. Dalam pertemuan dengan gadis Sulam ini, Salomo tertarik pada gadis Sulam sehingga Salomo kemudian membawa gadis Sulam ke Yerusalem untuk dijadikan istri. Menurut tafsiran secara drama, klimaks dari Kidung Agung ialah pernikahan antara Salomo dengan gadis Sulam.

b. Tiga Peran Utama Atau "Hipotesa Gembala"

J.S. Jacobi adalah orang Kristen pertama yang mengajarkan pendapat ini pada tahun 1771. Heinrich Ewald mengembangkan teori ini pada tahun 1826. Pada tahun 1891, Driver memprogandakan hipotesa ini.(7)

Menurut hipotesa ini ketiga peran utama dalam Kidung Agung ialah: Salomo, gadis Sulam, dan gembala yang menjadi kekasih gadis Sulam. Latar belakang sejarah dari hipotesa gembala ini ialah sbb.: ketika raja Salomo sedang melakukan perjalanan negara ke bagian utara Israel, ia berjumpa dengan gadis Sulam dan membawa gadis Sulam ke Yerusalem. Salomo berusaha mendapatkan hati gadis Sulam dengan berbagai macam rayuan dari kekayaan dan kemuliaan yang Salomo miliki. Tetapi hati gadis Sulam sudah melekat dengan kekasihnya, yaitu si gembala sederhana yang tinggal di kampung di utara Israel. Jadi rayuan Salomo tidak berhasil membuat gadis Sulam melupakan kekasihnya. Setelah merasa tidak berdaya mendapatkan hati gadis Sulam, akhirnya Salomo memperbolehkan gadis Sulam kembali ke desanya. Menurut pendukung hipotesa ini, pada pasal 8 dari kitab Kidung Agung, kita melihat gembala dan gadis Sulam berjalan bergandengan tangan.

Jadi menurut "hipotesa gembala", pelajaran utama dari kitab Kidung Agung ialah tentang kasih sejati yang tidak dapat direbut oleh kekayaan atau kemuliaan. Dalam "hipotesa gembala", Salomo adalah seorang bad guy yang berhati baik. Salomo menghargai kasih gadis Sulam kepada si gembala, sebab itu Salomo membiarkan gadis Sulam kembali kepada kekasihnya. Menurut hipotesa ini, gembala melambangkan Kristus, gadis Sulam melambangkan orang Kristen secara individual, dan Salomo melambangkan dunia.

Dalam menafsir Kidung Agung secara drama, S.R. Driver bukan saja percaya bahwa bentuk literatur Kidung Agung adalah sebuah drama, bahkan Driver dengan yakin berkata bahwa drama ini harus dipentaskan.(8) Calvin Seerveld juga setuju kalau kitab ini juga dimainkan secara drama.(9) F. Delitzch berpendapat lain. Ia setuju kalau Kidung Agung ditulis dalam bentuk drama, tetapi tidak boleh dimainkan di depan umum.

EVALUASI TERHADAP PENAFSIRAN SECARA DRAMA

Tafsiran secara drama dengan dua lakon memperlihatkan pernikahan yang berbahagia antara Salomo dan gadis Sulam. Pelajaran yang diberikan oleh tafsiran ini ialah agar pernikahan orang Kristen rukun dan bahagia seperti pernikahan Salomo dan gadis Sulam.

Tafsiran secara drama dengan tiga lakon mengajar bahwa hidup pernikahan orang Kristen harus menjunjung tinggi kesetiaan kepada pasangan kita. Meskipun ada rayuan dari pihak ketiga, tetapi suami atau istri tidak boleh jatuh oleh rayuan tersebut. Tafsiran ini juga memberikan pelajaran rohani yang baik. Sebagai pengantin perempuan Kristus (= gadis Sulam), orang Kristen harus setia kepada Tuhan (= gembala) dan tidak boleh mencintai dunia ini (= Salomo).

Meskipun cara penafsiran secara drama memberikan pelajaran yang indah tentang hidup pernikahan, tetapi apakah cara penafsiran secara drama ini dapat dibenarkan?

Kalau dipelajari lebih mendalam, maka terlihat bahwa tafsiran secara drama mempunyai beberapa kesulitan. E.J. Young berkata, "Drama tidak pernah ada dalam kehidupan bangsa Yahudi." Ia juga berkata tidak mungkin rohaniawan Yahudi menganggap Kidung Agung sebagai sebuah buku yang diilhamkan oleh Tuhan kalau kitab ini hanya merupakan sebuah drama.(10) Meredith Kline memberikan komentar yang bernada sama dengan Young, yaitu drama tidak dikenal oleh orang Yahudi.(11) Harrison berpendapat bahwa tidak cukup kuat untuk membuktikan adanya drama dalam literatur orang Yahudi.(12)

Faktor pembicara juga tidak menyokong bahwa Kidung Agung adalah sebuah drama. Pembicara dalam Kidung Agung tidak jelas ditulis. Driver berpendapat bahwa pembicara dalam Kidung Agung sangat jelas ditulis dan dipakai dengan konsisten.(13) Kalau demikian mengapa Delitzsch berpendapat hanya ada dua pelaku, sedangkan Driver sendiri berpendapat ada tiga pelaku? Kita juga harus memperhatikan pergumulan yang dialami oleh Aalders. Ia menyelidiki bahwa ketika sebuah pembicaraan diucapkan, maka beberapa kali tidak diketahui siapa yang berbicara.(14) Jadi Aalders berkesimpulan bahwa Kidung Agung sama sekali tidak mempunyai karakteristik sebuah drama, bahkan dialog yang ada tidak selamanya dipergunakan.

Lokasi dalam Kidung Agung juga tidak terinci. Kalau pengarang Kidung Agung bermaksud agar Kidung Agung ditafsir sebagai sebuah drama, maka pengarang harus lebih terinci menulis mengenai pembicara, bilamana pembicaraan dimulai dan bilamana pembicaraan berhenti, pergantian tempat dll. Karena hal-hal tersebut di atas tidak jelas dicatat dalam Kidung Agung, maka Delitzsch membagi Kidung Agung dalam enam babak dan dua belas lokasi. Sedangkan Driver membagi Kidung Agung dalam lima babak dan tiga belas lokasi.(15)

Jelas orang-orang yang menyokong penafsiran Kidung Agung sebagai sebuah drama harus memperhatikan kesukaran-kesukaran ini. Baik penganut yang berpendapat bahwa Kidung Agung mempunyai dua pelaku utama atau penganut yang berpendapat bahwa Kidung Agung mempunyai tiga pelaku utama harus bergumul dengan kesukaran ini.

Akhirnya kita dapat berkata bahwa usaha untuk menafsir Kidung Agung sebagai sebuah drama membutuhkan lebih banyak penjelasan daripada jumlah ayat yang ada dalam Kidung Agung. Untuk menjelaskan dramanya saja kita sudah harus memberikan tafsiran yang banyak macam. Cara penafsiran secara drama sama bersalah seperti cara penafsiran menurut alegori. Kedua cara penafsiran ini salah dengan melakukan eisegesis(16), bukan exegesis (17).

  1. Momentum nomor 6, September 1989, hal. 23-26.
  2. Meskipun masih ada pendukung tafsiran Kidung Agung secara alegori sampai masa ini.
  3. Robert Gordis, The Song of Songs and Lamentations New York: Ktav, 1974), hal. 10.
  4. Abad ke 4 M: Kodex Sinaitikus ( ); abad ke 5 M: Kodex Alexandrinus (A).
  5. Roland Murphy, "Interpreting The Song of Songs, "dalam Biblical Theology Bulletin 9 (1979): 99; Catholic Biblical Quarterly 16 (microfilm, 1954):3, mencatat bahwa kodex Sinaiticus sejak lama sudah memakai istilah nymphos (pengantin pria) untuk melukiskan pembicara pria, dan nymphe (pengantin wanita, untuk melukiskan pembicara wanita).
  6. F. Delitzsch dan C.F. Keil, Commentary on the Old Testament in Ten Volumes. Cetak ulang. Jil. 6: Proverbs, Ecclesiastes, Song of Solomon (Grand Rapids: Eerdmans, 1982), hal. 3.
  7. Untuk mengetahui lebih banyak tentang intepretasi secara drama, lihatlah Robert H. Pfeiffer, Introduction to the Old Testament (New York: Harper & Brothers Publishers, 1941), hal. 708-716.
  8. S.R. Driver, An Introduction to the Literature of the Old Testament (Gloucester: Peter Smith, 1972), hal. 437, 438.
  9. Calvin Seerveld, The Greatest Song: In Critique of Solomon, Palos Height: TRinity Pennyasheet PRess, 1967.
  10. E. J. Young, Introduction to the Old Testament (Grand Rapids: Eerdmans, 1985), hal.353.
  11. M.G. Kline, "Bible Book of the Month: The Song of Songs," Christianity Today 3 (April, 1959):22.
  12. R.K. Harrison, "Song of Solomon," dalam The Zondervan Pictorial Encyclopedia of the Bible. Jil.5. Diedit oleh Merrill C. Tenney (Grand Rapids: Zondervan, 1975), hal 492.
  13. Driver, Introduction, hal 446,447.
  14. G.Ch. Aalders, Het Hooqlied (Kampen: Uitgeversmaatschappij J.H. Kok, 1952, hal 11.
  15. Driver, Introduction, hal 440-443. William Elliot Griffis dalam bukunya The Lily among the Thorns. A Study of the Biblical Drama entitled The Song of Songs (Boston dan New York: Houston, Mifflin and Co., 1890), hal 105 menafsir Kidung Agung mempunyai tiga pelaku dengan lima babak dan lima belas lokasi.
  16. Eisegesis berarti "a reading into. "
  17. Exegesis berarti "a reading out of"

Sumber Artikel: 
Sumber:
Nama Majalah : Momentum
Edisi : 8/Juni 1990
Judul Artikel: Pengenalan Terhadap Kidung Agung (II)
Penulis : Ev. Cornelius Kuswanto
Halaman : 42-45

Momen dan Momentum

Penulis_artikel: 
Pdt. Dr. Stephen Tong
Isi_artikel: 

Waktu bukan momen, momen bukan waktu. Sementara waktu berlalu secara alami, momen-momen penting telah mencatat makna kekekalan dalam sejarah. Sejarah dibentuk oleh momen-momen yang bermakna. Orang Yunani mempunyai kepekaan yang sangat tajam terhadap konsep waktu. Maka tata bahasa mereka mempunyai bentuk yang limpah untuk menyatakan waktu. Kalau dalam bahasa Inggris ada present tense, past tense, dan lain-lain sebanyak 16 macam, dalam bahasa Yunani ada 64 macam. ltulah salah satu sebabnya Allah telah memakai bahasa Yunani untuk mewahyukan Perjanjian BaruNya. Dalam bahasa Yunani istilah untuk waktu ialah chronos, tetapi untuk momen ialah kairos. Dalam Perjanjian Baru kairos dipakai untuk "momen yang ditetapkan Allah", "momen yang menentukan".

Pada waktu seseorang di dalam proses hidupnya menemukan suatu inspirasi khusus dari Tuhan, pada waktu seseorang menaati kehendak Allah yang kekal, pada waktu seseorang melakukan sesuatu yang bermakna, maka pada saat itulah orang tersebut sampai pada momen yang menentukan dalam hidupnya.

Pada waktu suatu negara mengalami krisis dan dengan berani menghadapi kesulitan-kesulitan serta berjuang dengan semangat keadilan, pada saat itu negara telah menciptakan suatu momen yang menentukan dalam sejarahnya.

Demikian juga gereja. Pada waktu orang-orang kudus yang berjiwa agung melihat pimpinan Tuhan serta menyerahkan hati, jiwa dan raga mereka untuk menggenapi rencana Allah, saat itu juga gereja telah memasuki momen yang menentukan, sehingga sejarah akan berubah arah karenanya. Ketaatan serta penyerahan orang-orang kudus dalam mengikuti pimpinan Tuhan memasuki momen-momen tersebut, menjadi suatu kekuatan yang menggerakkan, kekuatan yang mendorong, suatu momentum, bagi perubahan sejarah gereja. Dan gereja pun telah mencatat halaman-halaman dan pasal-pasal yang agung.

Sekarang adalah momen yang baik bagi kita. Kita sedang menghadapi suatu zaman yang besar. Meskipun kewajiban amat berat, kesulitan banyak sekali, dan tantangan sangat besar, namun kuasa Tuhan cukup bagi kita. Tuhan setia akan janji-janjiNya.

Di dalam masyarakat yang moralnya sedang merosot, di dalam zaman yang segala sesuatu sedang berubah, di dalam lingkungan yang hidup kerohanian dan fisik sedang tidak seimbang, di dalam keadaan kuasa gelap sedang menguasai hati manusia, dosa telah melanda sekitar kita dan hati nurani manusia sedang menjadi kebal. Inilah kesempatan bagi kita untuk memihak kepada Tuhan, untuk menyeru kepada manusia, untuk menyatakan kuasa Injil yang melampaui kuasa apa pun di dalam kebudayaan manusia, yang menjadi satu-satunya kuasa untuk menyelamatkan, untuk mengubah, untuk memberikan pengharapan bagi dunia.

Di dalam kesempatan di dalam krisis, di dalam momen yang menentukan di dalam sejarah ini, siapakah yang memihak Tuhan? Siapakah yang memakai kuasa kekekalan dari Allah untuk menciptakan momentum, yang akan mengubah arah sejarah?

Saya harap Lembaga Reformed Injil Indonesia boleh menjadi suatu alat yang kecil di dalam tangan Tuhan yang Mahakuasa, untuk ikut menyumbangkan diri sebagai suatu suara yang berseru ke dalam hati manusia, supaya boleh membawa manusia menuju kepada terang yang lebih bercahaya di masa depan.

Mari kita bersama-sama melihat kuasa Tuhan dan melihat momen-momen yang akan terjadi. Saya harap majalah kecil ini boleh menjadi suatu kesaksian bagi momen-momen yang penting di dalam zaman di mana kita berada.

Sumber Artikel: 
Sumber:
Nama Majalah : Momentum
Edisi : 1/Maret 1987
Judul Artikel : Momen dan Momentum
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Halaman : 2-3

Hati Nurani dan Moral

Penulis_artikel: 
DR. R.C. SPROUL
Isi_artikel: 

Keterangan tentang penulis: Dr. R.C. Sproul adalah seorang teolog, pendeta, pengarang, guru. Video dan penginjilannya mencapai tingkat internasional. Isinya meliputi pernikahan, watak Kristen, hidup doa dan kesucian ilahi. Sproul lulusan dari Westminster Theological Seminary, Pittsburgh Theological Seminary dan Universitas Bebas di Amsterdam. Sekarang beliau menjabat sebagai profesor sistematik teologi dan apologetika di Reformed Theological Seminary.

Ketika kita harus memilih di dalam bidang moral maka nyatalah fungsi hati nurani sangat rumit. Hukum Allah memang tidak berubah untuk selamanya. Namun disamping taat kepada hukum-hukum ini kita juga perlu mengusahakan agar hukum-hukum ini mencapai keharmonisan dalam hati kita. Standar dari organ intern ini disebut "hati nurani". Ada orang melukiskan suara intern yang samar-samar ini sebagai suara Allah di dalam diri manusia. Memang hati nurani merupakan bagian yang sangat mistik di dalam diri manusia. Di dalam hati nurani manusia, yaitu tempat yang sangat tersembunyi terdapat keberadaan pribadi, karena ini bersifat tersembunyi sehingga kita sangat sulit mengenal fungsinya. Freud telah memasukkan psikologi ke dalam istana ilmiah sehingga manusia mulai menyelidiki alam bawah sadar, menggali lubang-lubang yang paling dalam di dalam pribadi manusia. Sehingga manusia takut dan kagum waktu menghadapi hati nurani. Apa yang dinyatakan oleh suara intern ini mungkin seperti komentar seorang psikolog sebagai "menemukan neraka".

Namun kita harus memandang hati nurani sebagai sesuatu yang bersifat sorgawi, sesuatu yang berhubungan dengan Allah dan bukanlah organ yang berasal dari neraka. Mari kita membayangkan tokoh di dalam film kartun, pada waktu ia diperhadapkan untuk memilih dalam bidang moral maka ada malaikat dan setan, yang masing-masing hinggap di kiri kanan bahunya. Keduanya berusaha menarik dia seperti menarik gergaji untuk memperoleh otak manusia yang malang ini. Hati nurani dapat merupakan suara dari sorga dan juga dapat berasal dari neraka. Dia mungkin berbohong, juga mungkin mendorong kita mencapai kebenaran. Dua macam hal yang dapat keluar dari satu mulut. Jika bukan melakukan tuduhan maka ia melakukan pengampunan.

Slogan Walt Disney yang terkenal: "Biarlah hati nuranimu memimpin engkau" sangat populer. Namun ini paling banyak hanya bisa dipandang sebagai teologi untuk anak kecil. Sedangkan terhadap orang Kristen hati nurani bukanlah pengadilan tertinggi untuk memutuskan kelakuan yang benar. Hati nurani sangat penting tetapi tidak cukup sebagai standar, dia selalu berkemungkinan untuk menjadi bengkok dan salah memimpin. Di dalam Perjanjian Baru 31 kali menyebut tentang hati nurani sepenuhnya menyatakan kemungkinan terjadi perubahan hati nurani. Hati nurani sudah hangus oleh besi panas sehingga tidak lagi berperasaan dan apatis. Hati nurani juga mungkin telah digerogoti menjadi keropos atau karena kerap kali berdosa sehingga kebal. Yeremia melukiskan orang Israel dengan istilah "bermuka pelacur." Ini disebabkan orang Israel terus menerus berdosa sehingga kehilangan perasaan malu di dalam hatinya. Mereka menegarkan tengkuk, membekukan hati, sehingga hati nurani mereka tidak berfungsi lagi. Demikian juga orang-orang yang anti masyarakat mungkin setelah membunuh manusia tetap tidak merasa menyesal dan hilanglah fungsi teguran hati nurani yang normal.

Meskipun hati nurani bukan hakim tertinggi di dalam prinsip moral, namun melakukan sesuatu yang melanggar hati nurani tetap suatu hal yang berbahaya. Ingatlah pada waktu Martin Luther di dalam sidang Worms menghadapi tekanan moral yang luar biasa besarnya dan gentar di tengah kepahitan yang optimal itu. Ada orang menganjurkan untuk menyerahkan iman, maka di antara jawabannya terdapat, "Hati nuraniku telah ditawan oleh Firman Allah." Melakukan sesuatu yang melanggar hati nurani adalah tidak benar dan merupakan hal yang tidak aman dan berbahaya sekali.

Begitu hidup Luther melukiskan dinamika emosi semacam ini pada waktu ia mempergunakan istilah "ditawan". Hati nurani dapat bekerja secara penuh di dalam diri manusia. Pada saat manusia dipegang oleh suara hati nurani sehingga menghasilkan kekuatan maka dengan sendirinya timbul keberanian yang luarbiasa. Hati nurani yang ditawan oleh Firman Allah adalah hati nurani yang anggun dan berdinamika.

"Bertindak melanggar hati nurani adalah tidak benar dan bahaya." Benarkah kalimat Luther ini? Kita harus berhati-hati menjelajahinya sehingga dapat mencegah langkah-langkah yang dapat melukai jari kaki kita yang berjalan di tepi pisau cukur kriteria moral ini. Jikalau hati nurani mungkin disalahtafsirkan atau salah arah mengapa kita harus tidak berani bertindak melanggarnya? Apakah kita harus masuk ke dalam dosa karena mengikuti hati nurani? Kita berada di tengah-tengah kedua bahaya ini sehingga bergerak, maju maupun mundur. Jikalau kita dikatakan berdosa menurut hati nurani, perlu diingat meskipun sudah bertobat hati nurani tetap memerlukan Firman Tuhan untuk memberikan pimpinan yang benar. Namun jikalau kita bertindak melanggar hati nurani kita tetap telah melakukan dosa. Dosa ini mungkin tidak tergantung apa yang sudah kita perbuat tetapi tergantung fakta bahwa kita yang sudah mengetahui dengan jelas sesuatu yang jahat tetap terjun ke dalamnya, ini menyangkut prinsip Alkitab yang menyatakan "segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa". Misalnya (sekali lagi misalnya) ada orang diajar dan percaya bahwa memakai lipstick adalah berdosa tetapi ia tetap memakainya maka orang ini sudah berbuat dosa. Sebenarnya dosa bukan tergantung pada lipstick itu tetapi tergantung pada usahanya untuk melanggar perintah Allah.

Penguasaan terhadap hati nurani merupakan semacam kekuatan dengan daya pemusnahan di dalam gereja. Orang legalis selalu menitikberatkan penguasaan dosa, sedangkan orang antilegalis selalu secara diam-diam menyangkal dosa. Hati nurani adalah semacam alat yang rumit yang harus kita hargai. Jikalau seseorang mau mempengaruhi hati nurani orang lain maka ia menghadapi tugas berat, ia harus memelihara kepribadian orang lain menjadi sempurna seperti pada saat diciptakan Allah. Jikalau kita mempersalahkan orang lain dengan penghakiman yang bersifat memaksa dan tidak benar maka kita mengakibatkan tetangga kita terikat kaki tangannya berarti kita memberikan rantai kepada mereka yang sudah dibebaskan Allah. Tetapi jikalau kita secara paksa mengakibatkan orang berdosa, menganggap diri tidak bersalah maka kita akan mendorong mereka lebih terjerumus ke dalam dosa. Dan akan menerima hukum Allah yang seharusnya dapat dihindarkan.

Sumber Artikel: 
Sumber:
Nama Majalah : Momentum
Edisi : 8/Juni 1990
Judul Artikel : Hati Nurani Dan Moral
Penulis : DR. R.C. SPROUL
Halaman : 26-28

Ciri-ciri Remaja dan Cara Menanggapinya

Penulis_artikel: 
-
Isi_artikel: 

(Daftar ini tidak dimaksudkan sebagai daftar lengkap; para pembimbing remaja dapat menambahkan sendiri hasil pengamatannya)

Ciri-ciri fisik
Pertumbuhan badan remaja sangat cepat. Sistem koordinasi tubuh mereka menjadi kurang seimbang akibat pertumbuhan yang cepat itu. Mereka mengalami masa-masa energetik dan lelah silih berganti.

Cara menanggapi
Bersabarlah dengan kecanggungan mereka. Jangan membuat kegiatan-kegiatan terlalu kompetitif atau terlalu menegangkan. Jangan salah mengerti kelelahan mereka dan menyamakannya dengan kemalasan.

Ciri-ciri mental
Mereka manyukai petualangan dan penemuan YralItal baru, dan mereka mempunyai imajinasi yang aktif. Mereka senang humor. Mereka mampu berpikir serius, dan memiliki kesanggupan untuk berpikir abstrak maupun kongkret sekaligus. Tetapi pengetahuan mereka berkembang lebih cepat daripada pengalaman.

Cara menanggapi
Tanggapi ciri-ciri ini secara positif. Bantulah mereka memakai imajinasinya untuk membuat Alkitab lebih hidup. Tertawa bersama mereka. Gunakan•humor. Bimbinglah mereka agar dapat memikirkan sendiri masalah-masalahnya. Arahkan mereka kepada Alkitab untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sulit.

Ciri-ciri sosial
Mereka ingin menjadi dewasa dan tidak tergantung pada orang dewasa. Namun dalam banyak hal mereka masih bertindak seperti kanak-kanak. Mereka ingin dianggap "termasuk" atau "milik" gang-nya dan punya rasa setia kawan yang besar terhadap teman-teman sebayanya. Mereka malu-malu dan sangat peka akan keadaan dirinya.

Cara menanggapi
Jangan memanggil mereka "anak-anak". Beri mereka tanggung jawab, tetapi jangan kecewa kalau mereka bertindak kurang bertanggung jawab. Hormatilah kesetiakawanan mereka. Doronglah mereka supaya memilih teman-teman yang baik. Arahkan kesetiakawanan mereka kepada Tuhan. Jangan mengejek mereka, apalagi melontarkan sindiran tajam. Tunjukkan kepada setiap remaja bahwa Anda mengasihi dan mempedulikan mereka

Ciri-ciri emosional
Emosi mereka kuat sekali dan sering naik turun. Mereka sulit mengendalikan emosinya karena begitu banyak perubahan sedang terjadi di dalam tubuhnya. Mereka merasa tak seorang pun memahami mereka.

Cara menanggapi
Jangan timbulkan gangguan emosional pada mereka. Jangan membuat acara permainan yang gaduh, yang langsung diikuti oleh kebaktian serius; mereka tidak dapat menenangkan diri secepat itu. Sediakan waktu untuk mengenal mereka satu per satu secara pribadi.

Ciri-ciri rohani
Mereka menginginkan agama yang praktis. Mereka punya banyak keraguan mengenai agama. Mereka mencari keteladanan.

Cara menanggapi
Tunjukkan selalu bahwa kebenaran-kebenaran Alkitab itu relevan untuk situasi kehidupan mereka. Terimalah keraguan ini sebagai bagian dari proses pertumbuhan. Sambutlah sifat itu sebagai pertanda bahwa para remaja ini sedang menjadikan imannya sebagai iman mereka sendiri, bukan iman yang diwarisi dari orang tua. Arahkan keinginan ini kepada Kristus dan teladan yang la berikan kepada kita di dalam Alkitab.

Sumber Artikel: 
Sumber:
Nama Majalah : Momentum
Edisi : 1/Maret 1987
Judul Artikel: Ciri-ciri Remaja dan Cara Menanggapinya
Halaman : 12

Berkhotbah adalah Hal yang Serius

Penulis_artikel: 
James Edward, McGoldrick
Isi_artikel: 

Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: "Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" Matius 3:1-2

Dalam tahun 1956 orang-orang Hongaria yang bersemangat bangkit dalam revolusi melawan pemimpin-pemimpin komunis mereka, dan untuk beberapa hari, kota Budapest berkobar dengan perlawanan kepada tirani Soviet. Ketika bantuan yang diharapkan dari dunia bebas tidak datang juga, Pasukan Merah Soviet menekan para pemberontak tanpa belas kasihan, dan sekitar 200.000 pencinta kebebasan Hongaria lari ke Barat. Satu dari pengungsi menjadi profesor di Temple University di Filadelfia, setelah meninggalkan posisinya di Universitas Budapest. Tak lama setelah mulai mengajar di Filadelfia, sarjana Hongaria ini bertanya kepada sebuah kelas pastoral, "Mengapa pendeta Amerika memulai khotbah mereka dengan sebuah lelucon?" Ia mengindikasikan bahwa Hongaria tidak menolerir ketidakseriusan sedemikian dalam mimbar, karena di sanalah orang-orang Kristen memegang Firman Tuhan dengan serius. Ketika memarahi pengkhotbah-pengkhotbah Amerika, profesor menasehati mahasiswa- mahasiswanya untuk menyadari bahwa gereja bukan teater, mimbar bukan panggung, dan oleh sebab itu pengkhotbah tidak boleh menjadi artis (performer). Dengan kata lain, khotbah adalah hal yang serius.

Yohanes Pembaptis adalah contoh alkitabiah dari khotbah yang serius. Ia memulai proklamasinya sekitar tahun 26 M di sungai Yordan di dekat Betani, dan dengan melakukannya ia menggenapi nubuat Perjanjian Lama. Melalui nabi Maleakhi, Allah telah berjanji, "Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu." (Maleakhi 4:5). Elia termasuk pengkhotbah paling serius dari seluruh zaman. Ia tidak membuka khotbahnya dengan sebuah lelucon. Ia tidak menggunakan khotbah sebagai sarana untuk menyenangkan massa, karena ia berbicara dengan keyakinan bahwa Allah telah berbicara kepadanya.

Dalam Perjanjian Baru, terbukti bahwa Yohanes Pembaptis menyerupai Elia begitu dekat dalam isi berita dan dalam penampilan. Ia adalah "orang yang diutus Allah" (Yohanes 1:6) untuk "menyaksikan tentang Terang (Kristus), supaya oleh Dia semua orang menjadi percaya" (Yohanes 1:6-7). Yohanes datang dalam kuasa dan roh Elia untuk mengumumkan kedatangan Juruselamat yang sudah dekat. Ia mengumumkan bahwa suatu hari baru tentang penyataan mulai terbit untuk umat Allah, suatu hari berkat dan penebusan, karena Mesias yang telah lama ditunggu datang menyatakan diri. Ini adalah hal yang serius. Bukan waktunya untuk membuat lelucon dan main-main.

Kedatangan Yohanes Pembaptis telah dinubuatkan oleh Yesaya, pengkhotbah dengan kuasa besar yang lain. Nabi Perjanjian Lama ini telah menjanjikan "suara orang berseru: 'Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN.' (Yesaya 40:3). Yohanes dinubuatkan sebagai pendahulu bagi Kristus, seorang yang menyiapkan jalan untuk kedatangan Raja.

Pada zaman dulu jalan-jalan sering dalam keadaan buruk, tetapi ketika pemerintah tahu bahwa ada seorang anggota keluarga kerajaan akan lewat di jalan itu, mereka menutup lobang-lobang dan meratakan jalan agar siap untuk digunakan oleh raja. Setelah anggota kerajaan itu menggunakan jalan tersebut, maka jalan itu dikenal sebagai jalan raya milik raja.

Yohanes Pembaptis menyiapkan jalan, tidak untuk semua raja, tetapi untuk Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuan. Sebuah tanggung jawab yang serius. Bukan waktunya untuk menghibur manusia dengan lelucon. Yohanes mempunyai misi serius untuk diberitakan, dan dalam menjalankan tugasnya, ia menerapkan sebuah contoh semangat bagi setiap lapisan generasi pengkhotbah-pengkhotbah. Ia memberitakan seluruh kebenaran yang Allah telah nyatakan kepadanya. Ia mengkhotbahkan kebenaran, meskipun itu tidak menyenangkan. Ia mengkhotbahkan kebenaran ketika berita itu tidak dapat diterima oleh telinga para pendengar. Meskipun demikian ia mengkhotbahkan kebenaran.

Khotbah yang serius seringkali menggusarkan penentang-penentang, sehingga Yohanes menghadapi kesulitan dari berbagai pihak oposisi. Jika ia memberikan khotbahnya dengan cara yang membuat orang lain tertawa, ia tidak akan membuat marah siapapun. Namun Yohanes ada dalam misi bagi Allah. Karena ia harus mengumumkan kedatangan Mesias, tidak ada waktu untuk kebodohan dan ketidakseriusan. Konsekwensinya, Yohanes membuat marah orang-orang dengan memberitakan kebenaran kepada mereka, tanpa bumbu yang sepele. Seperti pendahulunya, Elia, Yohanes adalah nabi yang benar, seorang penyampai suara Allah.

Mereka yang sekarang berhasrat untuk berkhotbah harus menghargai Yohanes sebagai sebuah teladan. Yaitu mereka harus berkhotbah dengan serius dan tidak menjalankan peran sebagai pelawak gereja. Pendeta tidak mempunyai kewajiban untuk menyenangkan siapapun juga, tidak dengan kesembronoan maupun dengan menceritakan diri sendiri. Khotbah alkitabiah tidak bersifat cerita komik atau kesaksian pribadi. Khotbah bukan alat untuk menceritakan pengalaman seseorang. Ingat Yunus. Pengalamannya luarbiasa, tetapi ketika ia pergi ke Niniwe, ia tidak menyinggung pengalaman itu, tetapi memproklamasikan Firman Tuhan. Tidak ada tanggung jawab yang lebih serius dalam hidup ini selain memberitakan kabar Allah. Yohanes Pembaptis, seperti Yunus, tahu hal itu, dan ia menyerahkan diri sendiri untuk tugas itu dengan kesungguhan hati.

Yohanes Pembaptis memberitakan ... "Bertobatlah, karena Kerajaan Allah sudah dekat." (Matius 3:1-2). Di mana pun juga Yohanes menghadapi kejahatan, semua diserangnya, di antara pemerintah yang berotoritas, dalam pelayan rohani, dan dalam masyarakat luas. Meskipun beritanya kaya dengan janji akan datangnya penebusan, Yohanes mengumumkan peringatan yang mengerikan, seperti ketika melancarkan serangan melawan dosa. Karena ia adalah orang yang diutus oleh Allah, Yohanes tidak dapat memberikan saringan berita yang baik saja kepada manusia, dan ia tidak mencari kesempatan untuk mendemonstrasikan kefasihan bicara. Dalam mengkhotbahkan berita dari Allah, ia menjadi "terang untuk menerangi kegelapan, suara yang menentang dosa, ... dan petunjuk jalan kepada Allah." Ia tidak memfokuskan perhatian pada diri sendiri dengan memberitakan secara terperinci tentang dirinya. Sebaliknya, ia berusaha untuk mengarahkan perhatian langsung kepada Kristus. Ketika Yesus muncul di hadapan publik, Yohanes menunjukNya sebagai Mesias dan berkata, "Lihat, Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia." (Yohanes 1:29). "Ia harus makin bertambah dan aku harus makin kecil." (Yohanes 3:30). Yohanes tidak menarik perhatian kepada dirinya sendiri tetapi ia berusaha agar dalam tiap kesempatan menarik perhatian kepada Anak Domba Allah.

Seperti Yohanes, semua pengkhotbah besar dalam Alkitab bersikap serius dalam pelayanan mereka. Rasul Paulus berkata, "Bukan dari kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus." (2 Korintus 4:5). Paulus bukan pelawak dan juga bukan pemberita pengalaman pribadi tetapi seorang pengkhotbah tentang Kristus yang serius dan bertanggung jawab. Pengkhotbah abad XX dan mereka yang berhasrat untuk berkhotbah harus memperhatikan hal ini baik-baik.

Khotbah harus dengan eksposisi yang setia dan aplikasi praktis dari Firman Tuhan. Khotbah demikian menuntut persiapan ekstensif, dan tidak boleh mempunyai keberanian untuk berdiri di mimbar sampai telah menghabiskan beberapa jam untuk persiapan. Menceritakan lelucon dan memasuki kisah pribadi memerlukan persiapan yang relatif kecil, tetapi seorang yang ingin sungguh-sungguh menjadi pengkhotbah alkitabiah harus menghabiskan banyak waktu dalam studi. Setiap khotbah harus berdasarkan exegese dari Alkitab dan menghabiskan waktu berjam-jam dalam persiapan, jika tidak orang itu tidak layak untuk berdiri di mimbar.

Contoh Yohanes Pembaptis harus meyakinkan semua pelayan Tuhan bahwa pengkhotbah yang sesungguhnya tidak akan memikirkan apa yang menyenangkan telinga para pendengarnya. Ia harus memberitakan seluruh kebenaran, bahkan ketika itu tidak enak bagi telinga pendengar dan membangkitkan oposisi mereka. Dengan semangat dari keyakinan tadi, Yohanes sama sekali serius dalam pelayanannya. Seorang pengkhotbah dari seluruh kebenaran harus menyatakan berita seakan-akan disampaikan oleh Yesus Kristus. Mimbar bukan tempat untuk inovasi dan menunjukkan kepandaian. Pelayan Tuhan harus tidak boleh menambahkan atau mengurangi Injil yang kekal. Dengan keyakinan sepenuhnya dalam Firman Tuhan, ia harus memberitakan berita Allah yang telah dinyatakan, dan ia harus melakukannya dengan penuh kesungguhan, berdoa, menggali Alkitab dan dengan segala aplikasi pada kebutuhan kontemporer.

Berita Yesus adalah, "Bertobatlah dan percaya kepada Injil." (Markus 1:14). Sepertinya Yohanes berteriak, "Bertobatlah, karena Kerajaan Allah sudah dekat." (Matius 3:2). Beritanya harus diharmonisasikan secara sempurna dengan berita Kristus. Karena menuntut pertobatan, Yesus dan Yohanes membangkitkan kemarahan orang-orang. Khotbah seperti itu tidak menyenangkan sama sekali. Untuk mengatakan kepada orang- orang bahwa mereka harus bertobat adalah memberikan penjelasan bahwa mereka adalah orang-orang berdosa yang ada di bawah murka Allah, dan ini bukan tugas yang menyenangkan. Tidak ada satu orangpun yang senang ketika dikatakan bahwa ia seorang berdosa, tetapi itulah yang diproklamasikan oleh Elia, Yohanes Pembaptis, Paulus, dan Yesus. Pertobatan menyangkut perubahan meninggalkan kejahatan dan berbalik arah kepada Allah. Seperti yang ditekankan oleh Yesaya:

Carilah TUHAN selama Ia berkenan di temui; berserulah kepadaNya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. Yesaya 55:6-7

Pertobatan menuntut suatu perubahan pikiran yang radikal yang menghasilkan perubahan hidup dan tingkah laku. Hal ini tidak bisa diabaikan dan tidak akan ada khotbah yang benar tanpa tuntutan akan hal ini. "Allah ... sekarang memerintahkan semua manusia di mana pun harus bertobat." (Kisah 17:30). Inilah khotbah para rasul. Setiap manusia harus bertobat. Pendeta tidak menggembalakan jemaat mereka ketika menyenangkan mereka dengan lelucon dan cerita pribadi. Manusia tidak membutuhkan atraksi seperti itu; mereka membutuhkan Firman Tuhan, dan kebutuhan ini sangat mendesak. Mereka harus tahu akan realita tidak menyenangkan mengenai dosa mereka. Mereka harus diubah secara drastis, dan pertobatan adalah inti untuk dapat berubah.

Pertobatan menyangkut suatu dukacita murni atas dosa. Westminster Katekismus mengemukakan demikian:

Bertobat kepada hidup adalah anugerah keselamatan, di mana seorang berdosa, keluar dengan pengertian yang benar atas dosanya dan menghampiri belas kasihan? Allah dalam Kristus, melakukannya dengan dukacita dan membenci dosanya, berbalik dari dosa kepada Allah, dengan tujuan penuh dan bertekun di dalamnya, yaitu ketaatan yang baru.

Ketika seseorang mengalami dukacita dan membenci dosanya, itu adalah hal yang serius. Lelucon dan pengalaman pribadi tidak mempunyai kekuatan untuk pertobatan semacam itu dan juga tidak layak untuk mengundang mereka.

Pertobatan menuntut pengakuan jujur atas kesalahan dan tanggungjawab seseorang atas dosa-dosanya. Sebuah penyesalan yang benar berhubungan dengan deklarasi Alkitabiah bahwa "hati lebih licik dari segala sesuatu." (Yeremia 17:9). Ia tahu akan keadaan hatinya sendiri. Banyolan dari mimbar tidak akan memimpin seseorang kepada keyakinan tersebut. Khotbah yang serius, kenabian dan kerasulan sangat penting.

Dalam bidang nubuat, Yohanes memanggil untuk pertobatan. Banyak orang Farisi dan Saduki datang kepadanya untuk dibaptis, tetapi kita harus memperhatikan bagaimana Yohanes berespon atas permintaan mereka. Ia menolak aplikasi mereka. Ia berkata kepada mereka," Kamu kawanan ular beludak! Siapa melepaskan kamu dari murka Allah yang akan datang? Hasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan. (Matius 3:7-8). Tidak heran bila Yohanes menghadapi begitu banyak musuh. Ia mengatakan orang-orang terbaik di Israel dalam keadaan sangat membutuhkan pertobatan. Ia tidak sama dengan pengkhotbah modern yang pergi mengatakan kepada orang-orang, "Tersenyumlah! Allah mencintai kamu dan mempunyai rencana indah bagi hidupmu." Yohanes memulai penginjilannya tidak dengan mengumumkan kasih Allah tetapi menekankan murka Allah. Ia menetapkan fakta dosa dan mengingatkan akan datangnya penghakiman. Tidak ada alasan bagi pendengarnya untuk tersenyum. Yohanes tahu mereka di bawah murka Allah, dan ia menetapkan bahwa mereka harus tahu itu. Bukan waktunya untuk menghiburkan mereka. Melainkan sekarang perlu untuk mengkonfrontasikan mereka dengan realita.

Yohanes Pembaptis mengatakan kepada pemimpin rohani orang Israel bahwa mereka harus bertobat. Ia mengingatkan mereka untuk tidak bersandar pada warisan sebagai keturunan Abraham, karena "dari batu-batu ini Allah dapat membangkitkan anak-anak bagi Abraham." (Matius 3:9). Ada sebuah keganjilan dalam mitologi Yahudi yang berpendapat bahwa Abraham duduk di pintu gerbang neraka dan menghalangi jalan sehingga tidak ada seorang Yahudi pun dapat memasukinya. Tetapi Yohanes membuatnya jelas bahwa warisan agama seseorang dan nenek moyangnya tidak akan berarti apa-apa jika ia tidak bertobat. Ia memberi dua alternatif; dibaptiskan di atas dasar pertobatan yang benar atau berada dalam api penghakiman ilahi.

John Bunyan, dalam satu bukunya, menanyakan, "Akankah engkau meninggalkan dosamu dan pergi ke sorga, atau engkau mempertahankan dosamu dan pergi ke neraka?" Inilah khotbah alkitabiah. Inilah penginjilan nabi dan rasul. Elia, Yohanes Pembaptis, rasul Paulus, Yesus sendiri, John Bunyan dan sekelompok pemberita lain dari kebenaran selalu serius dalam berkhotbah. Mereka percaya bahwa gereja bukan teater, dan mimbar bukan panggung. Oleh sebab itu pengkhotbah harus tidak menjadi artis. Doa seorang pengkhotbah adalah: Kiranya perkataan dari mulutku dan renungan hatiku berkenan di hadapanMu, oh Tuhan, Gunung Batu dan Penebusku." Mazmur 19:14

Diambil dari Banner of Truth edisi Juni 1989 Issue 309

Sumber Artikel: 
Sumber:
Nama Majalah : Momentum
Edisi : 8/Juni 1990
Judul Artikel: Berkhotbah Adalah Hal Yang Serius
Penulis : James Edward, McGoldrick
Halaman : 28-33

Ilmuwan Cemerlang Sovyet Masuk Kristen dan Mendukung Teori Kreasi

Penulis_artikel: 
Ir. Stanley I. Sethiadi
Isi_artikel: 

Dr. Dmitry A. Kuznetsov, lulus M.D. dalam penyakit dalam (internist) pada tahun 1978. Pada tahun 1981 ia dapat gelar Ph.D. dalam kimia biologi, dan gelar D.Sc. dalam biologi molekuler pada tahun 1989. Pada tahun 1983, Dr. Kuznetsov, pada usia 29 tahun, mendapat hadiah "Lenin Komsomol", sebuah hadiah yang diberikan setiap tahun kepada dua sarjana muda yang paling cemerlang di Sovyet Uni. Pada tahun 1986 ia mendapat hadiah "Councel of Ministries" untuk pekerjaannya yang cemerlang di bidang kimia biologi.

Pada tahun 1980, sewaktu bekerja di Moskow, Dr. Kuznetsov beralih kepercayaan dari evolusionisme ke kreasionisme. Ia juga beralih kepercayaan dari ateisme kepada kepercayaan akan Allah. Ia kemudian menjadi anggota gereja Baptis Moskow. Dan kini ia mengisi ruang "Ilmu pengetahuan alam tanpa ateisme" dari surat kabar "The Protestant" yang mempunyai oplah 10.000 di Sovyet Uni.

Awal 1990, Dr. Kuznetsov mengunjungi Amerika Serikat. Ia memberi ceramah di Universitas Yale, U.C.L.A. dll. mengenai penyelidikan ilmiahnya. Pada tanggal 25 dan 26 Januari 1990, Dr. Kuznetsov mengunjungi "Institut Penyelidikan Penciptaan" (Institute for Creation Research) di EI Cajon, California. Ia jumpa dengan para ilmuwan ICR dan membicarakan kemungkinan kerjasama di bidang penyelidikan penciptaan atau kreasi secara ilmiah. Ia menyatakan keheranannya bahwa kini di Moskow di bawah Glasnost, lebih banyak diberi kebebasan akademis untuk penyelidikan ilmiah kreasi daripada di California.

Teori kreasi dikemukakan para ilmuwan kreasionis terutama sejak tahun 1970. Teori ini mengatakan bahwa alam semesta ini diciptakan seorang Pencipta langsung jadi sempurna dalam waktu singkat. Teori ini membantah teori evolusi yang mengatakan bahwa alam semesta ini terjadi secara perlahan-lahan dalam waktu miliaran tahun.

Banyak orang mengira bahwa teori evolusi sudah terbukti secara ilmiah. Ada juga rohaniwan Kristen baik Katolik maupun Protestan yang mengira demikian. Seorang Doktor dalam teologi di Jakarta ini, baru-baru ini bahkan mengatakan bahwa menurut kitab Kejadian 1 alam semesta terjadi dalam waktu enam hari. Ia menulis: "Mulanya memang ditafsirkan begitu. Tetapi kemudian karena bukti-bukti ilmiah yang tak dapat terbantah, terjadi perubahan." Tetapi apakah betul bahwa ada "bukti-bukti ilmiah" mengenai terjadinya alam semesta? Apakah yang disebut "bukti-bukti ilmiah"? Apakah terjadinya alam semesta dapat diulangi dan diselidiki secara seksama? Tentu tidak dapat, bukan? Untuk menyelidiki secara seksama kita harus kembali ke zaman alam semesta terjadi, dan ini tidak mungkin. Dasar dari ilmu pengetahuan alam adalah justru observasi (pengamatan) dan/atau eksperimen (percobaan) yang dapat diulangi dan diselidiki dengan seksama.

Sejak tahun 1970 di seluruh dunia makin lama makin banyak ilmuwan yang membantah teori evolusi. Dari beberapa orang menjadi ratusan lalu ribuan dan kini (1990) jumlahnya sudah puluhan ribu. Ilmuwan Sovyetpun sudah makin banyak yang berpendapat bahwa penyelidikan ilmiah lebih mendukung teori kreasi daripada teori evolusi. Pada bulan Januari 1990 di samping Dr. Kuznetsov ada dua ilmuwan Sovyet lainnya yang mengunjungi ICR. Masing-masing datang secara terpisah. Hampir dari semua disiplin ilmu pengetahuan alam, kini telah ada yang mendukung teori kreasi. Beberapa di antaranya ialah ahli hidrologi Dr. H.M. Morris, ahli-ahli mikrobiologi Dr. Larry Butler, Dr. Duane Gish, Dr. Kuznetsov, ahli-ahli ilmu alam Dr. C.W. Harrison, Dr. Barnes, ahli astronomi Dr. Slusher, ahli kimia Dr. W.A. Beckman, ahli arkeologi Dr. Clifford A. Wilson dll.

Penulis sendiri sampai tahun 1983 (usia 45 tahun) percaya betul bahwa bumi kita ini terjadi dalam miliaran tahun. Mengapa? Karena semua guru penulis dari SD sampai universitas mengatakan begitu. Lagipula berita- berita televisi, surat kabar, majalah-majalah dsb. penuh dengan berita-berita yang berbau evolusionisme. Kemudian penulis menganggap bahwa itulah akal sehat. Tetapi setelah penulis mempelajari sekali lagi argumen-argumen yang mendukung maupun menentang teori evolusi maupun teori kreasi penulis berkesimpulan bahwa sesungguhnya teori evolusi tidak terbukti secara ilmiah. Apa yang digembar-gemborkan sebagai fakta evolusi (the fact of evolution) adalah sesungguhnya prasangka-prasangka atau iman evolusi (the faith of evolution). Sejak tahun 1986, penulis lebih percaya pada Allah daripada siapa pun di dunia ini mengenai asal usul alam semesta. Dan melalui Alkitab Allah telah berfirman bahwa Dia telah menciptakan alam semesta ini dalam waktu enam hari.

Untuk melepaskan diri dari iman yang salah, apalagi yang telah ditanamkan di dalam benak kita sejak dari bangku SD memang dibutuhkan keberanian mental dan keinginan yang sungguh-sungguh untuk mengerti kebenaran. Bagaimana dengan Anda?

Kepada orang Kristen dari denominasi manapun, kini penulis menghimbau, agar menerima Kitab Kejadian 1 s/d 11 seperti yang dimaksudkan Allah. Allah yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya, jadi Allahlah yang paling tahu bagaimana dan bilamana Dia menciptakannya. Jangan buat tafsiran yang bukan-bukan (day-age theory, gap theory, theistic evolution, allegoric/symbolic dsb.). Kejadian 1 s/d 11 adalah record yang teliti bagaimana Allah menciptakan langit, bumi dan segala isinya, termasuk umat manusia. Haleluyah!

Sumber: Majalah Acts dan Facts, 3 Maret 1990

Sumber:
Nama Majalah : Momentum
Edisi : 8/Juni 1990
Judul Artikel: Ilmuwan Cemerlang Sovyet Masuk Kristen Dan Mendukung Teori Kreasi
Penulis : Ir. Stanley I. Sethiadi
Halaman : 22-23
Sumber Artikel: 
Sumber:
Nama Majalah : Momentum
Edisi : 8/Juni 1990
Judul Artikel: Ilmuwan Cemerlang Sovyet Masuk Kristen Dan Mendukung Teori Kreasi
Penulis : Ir. Stanley I. Sethiadi
Halaman : 22-23