Perspektif Yesus tentang Sola fide

Penulis_artikel: 
John MacArthur
Tanggal_artikel: 
13-09-2021
Isi_artikel: 

Banyak orang yang telah menganut "Perspektif Baru tentang Paulus" juga mengajukan pandangan yang berbeda tentang doktrin pembenaran oleh iman. Ketika teks Kitab Suci ditafsirkan dalam terang baru, mereka mengatakan, dukungan Paulus untuk prinsip Sola fide (hanya oleh iman), doktrin imputasi, dan perbedaan antara Hukum Taurat dan Injil tampaknya tidak begitu kuat.

Kita mengatakan itu omong kosong. Kita menolak revisionisme historis dan hermeneutik dari Perspektif Baru, tetapi terlepas dari bagaimana orang menafsirkan Rasul Paulus, telah cukup jelas bahwa Yesus mengajarkan pembenaran hanya oleh iman. Meninggalkan kebenaran ini sama dengan mengabaikan soteriologi alkitabiah sama sekali.

Tidak ada doktrin yang lebih penting bagi teologi injili dibandingkan dengan doktrin pembenaran hanya oleh iman -- prinsip Reformasi tentang Sola fide. Martin Luther dengan tepat mengatakan bahwa gereja berdiri atau jatuh pada doktrin yang satu ini.

Sejarah memberikan banyak bukti objektif untuk menegaskan penilaian Luther. Gereja dan denominasi yang berpegang teguh pada Sola fide tetap bersifat injili. Mereka yang telah menyimpang dari konsensus Reformasi dalam hal ini mau tidak mau menyerah pada liberalisme, kembali ke sacerdotalisme, menganut beberapa bentuk perfeksionisme, atau membelok ke bentuk kemurtadan yang lebih buruk.

Intisari Kekristenan

Taurat

Oleh karena itu, paham injili historis selalu memperlakukan pembenaran oleh iman sebagai pembeda utama alkitabiah -- jika bukan satu-satunya doktrin yang paling penting untuk menjadi benar. Ini adalah doktrin yang membuat Kekristenan yang autentik berbeda dari agama-agama lainnya. Kekristenan adalah agama pemenuhan ilahi -- yang penekanannya selalu pada karya Kristus yang telah selesai. Semua yang lain adalah agama pencapaian manusia. Mau tidak mau, mereka menjadi sibuk dengan upaya si pendosa sendiri untuk menjadi kudus. Tinggalkan doktrin pembenaran oleh iman, maka Anda tidak akan dapat dengan jujur mengaku sebagai seorang injili.

Kitab Suci sendiri menjadikan Sola fide sebagai satu-satunya alternatif untuk sistem kebenaran berdasarkan perbuatan yang memberatkan: "Kepada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, melainkan sebagai haknya. Kepada orang yang TIDAK BEKERJA, TETAPI YANG PERCAYA kepada Dia yang membenarkan orang tidak benar, imannya diperhitungkan sebagai kebenaran" (Rm. 4:4-5, AYT, penekanan ditambahkan).

Dengan perkataan lain, mereka yang percaya kepada Yesus Kristus demi pembenaran hanya oleh iman menerima kebenaran yang sempurna yang diperhitungkan kepada mereka. Mereka yang berusaha menegakkan kebenaran mereka sendiri atau mencampuradukkan iman dengan perbuatan hanya menerima upah mengerikan yang harus dibayar semua orang yang gagal mencapai kesempurnaan. Jadi, baik individu maupun gereja berdiri atau jatuh dengan prinsip Sola fide. Kemurtadan Israel berakar pada pengabaian mereka terhadap pembenaran hanya oleh iman: "Sebab, mereka tidak peduli dengan kebenaran yang datang dari Allah dan berusaha menegakkan kebenaran mereka sendiri, mereka tidak tunduk kepada kebenaran Allah." (Rm. 10:3, AYT)

Pembenaran alkitabiah harus dengan sungguh-sungguh dipertahankan pada dua sisi. Teologi tanpa ketuhanan (kesalahan yang kita bahas dalam Pulpit edisi November/Desember) memutarbalikkan doktrin pembenaran oleh iman untuk mendukung pandangan bahwa ketaatan pada hukum moral Allah bersifat tidak wajib. Ajaran ini berusaha menciutkan seluruh karya penyelamatan Allah menjadi tindakan pembenaran yang bersifat deklaratif. Ia meremehkan regenerasi kelahiran kembali secara rohani (2 Kor. 5:17); ia mengabaikan efek moral dari hati orang percaya yang baru (Yeh. 36:26-27); dan ia membuat pengudusan bergantung pada usaha orang percaya sendiri. Ia cenderung memperlakukan elemen forensik pembenaran -- tindakan Allah yang menyatakan bahwa orang berdosa yang percaya itu dibenarkan -- seolah-olah ini adalah satu-satunya aspek terpenting dari keselamatan. Efek tak terelakkan dari pendekatan ini adalah mengubah kasih karunia Allah menjadi kebejatan (Yudas 4). Pandangan semacam itu disebut antinomianisme.

Pada sisi lain, ada banyak orang yang membuat pembenaran bergantung pada kombinasi dari iman dan perbuatan. Sementara antinomianisme secara radikal mengisolasi pembenaran dari pengudusan, kesalahan ini mencampurkan dua aspek pekerjaan penyelamatan Allah. Efeknya adalah menjadikan pembenaran sebagai proses yang didasarkan pada kebenaran cacat orang percaya itu sendiri, bukannya pada tindakan deklaratif Allah yang berdasar pada kebenaran Kristus yang sempurna.

Segera setelah pembenaran disatukan dengan pengudusan, pekerjaan kebenaran menjadi bagian penting dari proses tersebut. Dengan demikian, iman dilarutkan dengan perbuatan. Sola fide ditinggalkan. Ini adalah kesalahan para legalis Galatia (lih. Gal. 2:16; 5:4). Paulus menyebutnya "injil yang berbeda" (Gal. 1:6, 9). Kesalahan yang sama ditemukan dalam hampir setiap kultus palsu. Ini adalah kesalahan utama dari Katolik Roma. Saya khawatir bahwa kesalahan ini mungkin juga menjadi arah perjalanan banyak orang yang terpesona dengan "Perspektif Baru tentang Paulus".[1]

Jika doktrin secara keseluruhan telah diabaikan pada zaman kita, doktrin pembenaran, khususnya, telah mengalami pengabaian yang kuat. Karya-karya tertulis tentang pembenaran secara nyata hilang dari kumpulan literatur kaum injili terkini.[2] Dalam pengantarnya untuk karya penting James Buchanan yang dicetak ulang pada 1961, "The Doctrine of Justification" ("Doktrin Pembenaran"), J.I. Packer mencatat hal ini:

"Merupakan fakta dengan signifikansi yang tidak menyenangkan bahwa karya klasik Buchanan, yang sekarang berusia satu abad, adalah studi mendalam terkini tentang pembenaran oleh iman yang telah dihasilkan oleh golongan Protestantisme berbahasa Inggris (tanpa melihat lebih jauh). Jika kita dapat menilai dari jumlah karya sastra yang dihasilkannya, tidak pernah ada zaman aktivitas teologis yang begitu jaya seperti yang terjadi dalam 100 tahun terakhir; tetapi di tengah semua keprihatinan teologisnya yang beraneka ragam, ia tidak menghasilkan satu buku pun dalam ukuran apa pun tentang doktrin pembenaran. Jika satu-satunya yang kita ketahui tentang gereja selama abad yang lalu adalah bahwa gereja telah mengabaikan subjek pembenaran dengan cara ini, kita seharusnya sudah berada dalam posisi untuk menyimpulkan bahwa abad ini merupakan abad kemurtadan dan kemerosotan agama.[3]

Setelah mengabaikan doktrin ini selama lebih dari satu abad, kaum injili menjadi kurang diperlengkapi untuk menjawab mereka yang mengatakan bahwa Martin Luther dan para Reformator salah memahami Rasul Paulus sehingga salah memahami doktrin pembenaran.

Gerakan injili berada di ambang meninggalkan prinsip penting Reformasi, dan sebagian besar kaum injili bahkan tidak melihat ancaman itu dan sekalipun mereka dapat melihatnya, mereka tidak akan memiliki jawaban yang meyakinkan.

Apa yang harus kita lakukan untuk diselamatkan? Rasul Paulus menjawab pertanyaan itu untuk kepala penjara Filipi dalam istilah yang paling jelas: "Percayalah dalam Tuhan Yesus dan kamu akan diselamatkan ..." (Kis. 16:31, AYT).

Surat-surat kunci Paulus terkait doktrin -- khususnya Roma dan Galatia -- kemudian memperluas jawaban itu, membuka doktrin pembenaran oleh iman untuk menunjukkan bagaimana kita dibenarkan hanya oleh iman, terlepas dari perbuatan manusia dalam bentuk apa pun.

Setidaknya, itulah interpretasi injili historis tentang Paulus. Akan tetapi, itulah hal yang diserang oleh Perspektif Baru.

Jadi, bagaimana jika kita bergerak melampaui Rasul Paulus? Apakah mungkin untuk membuktikan prinsip Sola fide dari pengajaran Kristus di dunia? Tentu saja.

Injil Menurut Yesus

Meskipun Kristus tidak membuat penjelasan formal tentang doktrin pembenaran (seperti yang dilakukan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma), pembenaran oleh iman mendasari dan meresapi seluruh pemberitaan Injil-Nya. Meski Yesus tidak pernah memberikan ceramah tentang masalah ini, menunjukkan bahwa Yesus mengajarkan Sola fide dari pelayanan penginjilan-Nya itu mudah.

Sebagai contoh, Yesus sendirilah yang menyatakan, "orang yang mendengar perkataan-Ku dan percaya ... sudah pindah dari kematian ke kehidupan" (Yoh. 5:24, AYT) -- tanpa harus menjalani sakramen atau ritual apa pun, dan tanpa periode penantian atau api penyucian apa pun. Penjahat di atas salib adalah contoh klasiknya. Terhadap pembuktian yang begitu kecil akan imannya itu, Yesus berkata kepadanya, "Aku mengatakan yang sesungguhnya kepadamu, hari ini juga, kamu akan bersama Aku di dalam Firdaus" (Luk. 23:43, AYT). Tidak ada sakramen atau pekerjaan yang dia perlukan untuk mendapatkan keselamatan.

Lebih jauh lagi, banyak penyembuhan yang Yesus lakukan adalah bukti fisik atas kuasa-Nya untuk mengampuni dosa (Mat. 9:5-6). Ketika Dia menyembuhkan, Dia sering berkata, "Imanmu telah menyembuhkanmu" (Mat. 9:22; Mrk. 5:34; 10:52; Luk. 8:48; 17:19; 18:42). Semua penyembuhan itu adalah pelajaran pokok tentang doktrin pembenaran hanya oleh iman.

Akan tetapi, satu peristiwa ketika Yesus benar-benar menyatakan seseorang "dibenarkan" memberikan wawasan terbaik tentang doktrin tersebut seperti yang Dia ajarkan:

Yesus juga menyampaikan perumpamaan ini kepada beberapa orang yang menganggap diri mereka benar dan memandang rendah orang lain. "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Yang seorang adalah orang Farisi dan yang lain adalah seorang pengumpul pajak. Orang Farisi itu berdiri dan mengucapkan doa tentang dirinya, 'Ya, Allah, aku berterima kasih kepada-Mu karena aku tidak seperti orang lain; seperti pemeras, penipu, pezina, atau bahkan seperti pengumpul pajak ini. Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari seluruh penghasilanku.' Akan tetapi, si pengumpul pajak berdiri agak jauh, bahkan tidak memandang ke langit. Sebaliknya, ia memukul-mukul dadanya sambil berkata, 'Ya, Allah. Berbelas kasihanlah kepadaku, si pendosa ini.' Aku berkata kepadamu, pengumpul pajak ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang lebih DIBENARKAN daripada orang Farisi itu sebab orang yang meninggikan diri akan direndahkan, dan orang yang merendahkan diri akan ditinggikan." (Lukas 18:9-14, AYT, penekanan ditambahkan).

Perumpamaan itu pasti mengejutkan orang-orang yang mendengarkan Yesus! Mereka "menganggap diri mereka benar" (ay. 9) -- definisi yang paling tepat dari pembenaran diri. Pahlawan teologis mereka adalah orang-orang Farisi, yang berpegang pada standar legalistik yang paling kaku. Mereka berpuasa, berdoa dan memberi sedekah dengan pamer, dan bahkan lebih ketat menerapkan hukum-hukum peribadatan daripada yang sebenarnya telah ditetapkan oleh Musa.

Namun, Yesus telah mengejutkan banyak orang dengan berkata, "... jika kebenaranmu tidak lebih baik daripada kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kamu sama sekali tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga." (Mat. 5:20, AYT) -- yang diikuti dengan, "Karena itu, kamu harus menjadi sempurna, seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna" (ay. 48). Jelas, Dia menetapkan standar yang tidak mungkin dipenuhi secara manusiawi, karena tidak seorang pun mampu melampaui kehidupan ketat para ahli Taurat dan orang Farisi.

Sekarang, Dia semakin mengejutkan para pendengar-Nya dengan sebuah perumpamaan yang tampaknya menempatkan seorang pemungut cukai yang menjijikkan dalam posisi yang secara rohani lebih baik daripada seorang Farisi yang berdoa.

Maksud Yesus jelas. Dia mengajarkan bahwa pembenaran hanyalah oleh iman. Seluruh teologi pembenaran terdapat di situ. Akan tetapi, tanpa menyelidiki teologi abstrak, Yesus dengan jelas melukiskan gambaran itu bagi kita dengan sebuah perumpamaan.

Tindakan Penghakiman Allah

Pembenaran terhadap pemungut pajak ini adalah kenyataan yang bersifat seketika. Tidak ada proses, selang waktu, ataupun ketakutan akan api penyucian. Dia "pulang ke rumahnya sebagai orang yang lebih dibenarkan" (ay. 14) -- bukan karena apa yang telah dia lakukan, tetapi karena apa yang telah dilakukan baginya.

Perhatikanlah bahwa si pemungut cukai memahami ketidakberdayaannya sendiri. Dia memiliki utang yang besar, yang dia tahu tidak bisa dibayarnya. Yang bisa dia lakukan hanyalah bertobat dan memohon belas kasihan. Bandingkan doanya dengan doa orang Farisi yang sombong. Si pemungut cukai tidak mengungkit apa yang telah diperbuatnya. Dia tahu bahwa karya terbaiknya pun adalah dosa. Dia tidak menawarkan diri untuk melakukan apa pun bagi Allah. Dia hanya memohon belas kasihan ilahi. Dia sedang mencari Allah untuk melakukan baginya apa yang tidak bisa dia lakukan untuk dirinya sendiri. Itulah sifat dari pertobatan yang Yesus minta.

Hanya Oleh Iman

Ditambah lagi, orang ini pergi dengan benar tanpa melakukan penebusan dosa apa pun, tanpa melakukan sakramen atau ritual apa pun, tanpa perbuatan baik apa pun. Pembenarannya sempurna tanpa melakukan salah satu dari hal-hal itu, karena pembenarannya semata-mata atas dasar iman. Segala sesuatu yang diperlukan untuk menebus dosanya dan menyediakan pengampunan telah dilakukan untuknya. Dia dibenarkan oleh iman saat itu juga.

Sekali lagi, perbuatannya sangat kontras dengan orang Farisi yang sombong, yang begitu yakin bahwa semua puasa, persepuluhan, dan perbuatan lain yang dilakukannya menjadikan dia diterima oleh Allah. Namun, sementara orang Farisi yang berupaya itu tetap tidak dibenarkan, pemungut cukai yang percaya itu menerima pembenaran penuh hanya oleh iman.

Kebenaran yang Diperhitungkan

Pemahaman yang benar tentang pembenaran oleh iman adalah dasar utama dari Injil.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Ingat pernyataan Yesus dari Khotbah di Bukit, "... jika kebenaranmu tidak lebih baik daripada kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kamu sama sekali tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga" (Mat. 5:20)? Namun, sekarang, Dia menyatakan bahwa pemungut cukai ini -- manusia yang paling jahat ini -- dibenarkan! Bagaimana orang berdosa seperti itu memperoleh kebenaran yang melebihi kebenaran orang Farisi? Jika standarnya adalah kesempurnaan ilahi (ay. 48), bagaimana mungkin seorang pemungut cukai yang berkhianat bisa menjadi benar dalam pandangan Allah?

Satu-satunya jawaban yang mungkin adalah bahwa dia menerima kebenaran yang bukan dari dirinya sendiri (lih. Flp. 3:9). Kebenaran diperhitungkan kepadanya oleh iman (Rm. 4:9-11).

Kebenaran siapa yang diperhitungkan kepadanya? Satu-satunya yang mungkin hanyalah kebenaran sempurna dari Sang Pengganti yang tidak bercela, yang sebagai gantinya harus menanggung dosa si pemungut cukai dan menderita hukuman murka Allah untuk menggantikannya. Dan, Injil memberi tahu kita bahwa itulah yang Yesus lakukan.

Si pemungut pajak dibenarkan. Allah menyatakan dia benar, memperhitungkan kepadanya kebenaran Kristus yang penuh dan sempurna, mengampuni dia dari segala ketidakbenaran, dan membebaskannya dari semua hukuman. Selamanya setelah itu, dia berdiri di hadapan Allah di atas dasar kebenaran yang sempurna yang telah diperhitungkan kepadanya.

Inilah yang dimaksud dengan pembenaran. Inilah satu-satunya Injil yang benar. Semua poin teologi lainnya berasal darinya. Seperti yang ditulis Packer, "Doktrin pembenaran oleh iman itu ibarat Atlas: ia memikul dunia di atas bahunya, yaitu seluruh pengetahuan injili tentang anugerah keselamatan."[4] Perbedaan antara Sola fide dan formula-formula pembenaran lainnya bukanlah perbedaan teologis yang sangat kecil. Pemahaman yang benar tentang pembenaran oleh iman adalah dasar utama dari Injil. Anda tidak bisa keliru dalam hal ini tanpa akhirnya merusak setiap doktrin lainnya juga."

Dan, itulah sebabnya setiap "injil yang berbeda" berada di bawah kutukan Allah yang kekal.

-- -- -- -- --

1. Saya menyampaikan keprihatinan ini karena sebagian besar penganut Perspektif Baru menyangkal adanya perbedaan yang sah antara Taurat dan Injil; mereka sering menggambarkan pembenaran secara bertahap, dengan pembenaran akhir bergantung pada pekerjaan orang percaya itu sendiri; dan banyak dari mereka meremehkan atau menolak imputasi kebenaran Kristus kepada orang percaya. Mereka memfokuskan hermeneutika revisionis mereka pada bagian-bagian tempat Paulus paling jelas mengajarkan doktrin-doktrin ini, seperti 2 Korintus 5:21 dan Filipi 3:9. Untuk memberikan analisis yang lebih menyeluruh, dampak buruk Perspektif Baru terhadap doktrin pembenaran jauh di luar cakupan artikel ini. Akan tetapi, sebagian besar kritikus penganut paham Perspektif Baru telah mengemukakan keprihatinan yang sangat mirip. Lihat, misalnya, karya David Linden: "The New Perspective of N.T. Wright on the Doctrine of Justification".

2. Dua pengecualian penting adalah karya James White, "The God who Justified" (Minneapolis: Bethany House, 2001), dan karya R.C. Sproul, "Faith Alone" (Grand Rapids: Baker, 1995).

3. James I. Packer dalam karya James Buchanan, "The Doctrine of Justification" (Edinburgh: Banner of Truth, 1961 reprint of 1867 original), 2.

4. Packer, dalam Buchanan, 2.

(t/N. Risanti)

Sumber Artikel: 
Diterjemahkan dari:
Nama situs : Grace to You
Alamat situs : https://www.gty.org/library/articles/A192/jesus-perspective-on-sola-fide
Judul asli artikel : Perspektif Yesus tentang Sola fide
Penulis artikel : John MacArthur

Komentar