Skip to main content

Pengakuan Iman Gereja Prancis (1559)

Reformasi Calvinis di Perancis pada tahun 1550-an menandai pengembangan jemaat Calvinis yang dipimpin oleh Calvin di Jenewa, yang mengakibatkan pembentukan pengakuan iman dan tata gereja yang bersifat rahasia akibat tekanan Gereja Katolik. Pengakuan Iman ini diakui dalam Sinode Paris pada tahun 1559 dan dianggap mewakili teologi Calvin, dengan penekanan bahwa doktrin-doktrin dasar iman meliputi keyakinan pada satu Allah yang esa, Tri-unitas, dosa asal, dan pentingnya pengakuan serta sakramen dalam kehidupan beriman.

  • Reformasi Calvinis
  • Jemaat Calvinis
  • Pengakuan iman
  • Tata gereja
  • Kitab Suci
  • Trinitas
  • Sakramen Baptisan
  • Reformasi Calvinis di Perancis dimulai pada tahun 1550-an, dengan penganutnya membentuk jemaat dan struktur gereja sendiri di bawah pimpinan Calvin.
  • Sinode pertama jemaat Calvinis di Paris pada tahun 1559 menghasilkan pengakuan iman dan tata gereja sendiri, dilakukan secara rahasia karena permusuhan terhadap Protestanisme.
  • Pengakuan gereja Perancis dikenal sebagai "Gallicana," mencerminkan teologi Calvin.
  • Ajaran Calvin berfokus pada penyataan Allah melalui penciptaan, Firman-Nya, dan Kitab Suci.
  • Kitab suci terdiri dari Perjanjian Lama dan Baru, diterima karena kesepakatan gereja dan Roh Kudus.
  • Kita percaya pada Trinitas: Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang se-Zat, kekal, dan berbeda namun tidak terbagi.
  • Manusia jatuh ke dalam dosa akibat kesalahan sendiri, kehilangan karunia dan terasing dari Allah.
  • Dosa asli diturunkan kepada seluruh keturunan Adam, bukan hanya peniruan, dan dianggap sebagai dosa yang layak dihukum oleh Allah.
  • Kepentingan keselamatan terletak pada iman kepada Yesus Kristus, yang menyatakan kasih dan kebaikan Allah kepada umat manusia.
  • Pengampunan dosa dan keselamatan hanya dapat diperoleh melalui iman dan pengharapan pada pengorbanan Kristus.
  • Perbuatan baik adalah hasil dari iman, tetapi tidak menjadi tempat dasar pembenaran di hadapan Allah.
  • Hukum Taurat dan kitab para nabi memegang peranan penting dalam hidup beriman, meski tidak lagi diharuskan untuk upacara-upacara tertentu.
  • Jabatan pendeta dan pemerintahan gereja harus mengikuti tatanan yang ditetapkan oleh Yesus Kristus.
  • Semua orang wajib bergabung dengan gereja yang sejati dan memelihara kesatuannya.
  • Sakramen Baptisan dan Perjamuan Kudus dianggap penting dalam menunjang iman dan menunjukkan kesatuan dengan Kristus.
  • Pemerintahan negara ditetapkan oleh Allah untuk menegakkan hukum dan menyediakan kekang bagi dendam duniawi.

Dalam tahun 1550-an Reformasi Calvinis di Perancis mulai mantap. Para penganut Calvinisme membentuk jemaat-jemaat dan mulai mengembangkan bentuk tata gereja dan tata kebaktian sendiri. Kegiatan itu berlangsung di bawah pimpinan Calvin, yang dari kota Jenewa, dekat dengan perbatasan Perancis, memelihara hubungan erat dengan para penganut Reformasi di negeri asalnya. Pada tahun 1559 para utusan jemaat-jemaat Calvinis berkumpul di Paris. Sinode mereka yang pertama itu menerima pengakuan iman dan tata gereja tersendiri. Karena permusuhan para pemimpin Gereja Katolik bersama pemerintah Perancis, yang berupaya membasmi gerakan Protestan, semuanya harus berlangsung dengan serba rahasia. Akibatnya, tidak banyak diketahui mengenai asal usul pengakuan dan tata gereja tersebut. Sebab keduanya mencerminkan teologi Calvin, orang menduga Calvinlah yang merancangkannya. Mungkin juga seorang pendeta muda bernama Antonie de la Roche Chandieu yang menjadi pengarang pengakuan iman yang diterima di Sinode Paris tersebut. Dalam kepustakaan, pengakuan gereja Perancis sering diberi nama singkat, yaitu "Gallicana" (dari Latin Gallia = Perancis).

PENGAKUAN IMAN YANG DISEPAKATI ANTARA ORANG-ORANG PERANCIS YANG INGIN HIDUP MENURUT INJIL MURNI TUHAN KITA YESUS KRISTUS

Pasal I
Allah yang Esa

1. Kita percaya dan mengaku bahwa ada satu Allah yang esa; satu Zat yang esa dan sederhana,[a] yang rohani,[b] kekal,[c] tidak kelihatan,[d] tidak berubah-ubah,[e] tidak terhingga,[f] tidak terpahami,[g] tidak terkatakan, yang dapat melakukan segala sesuatu, yang berhikmat sempurna,[h] mahabaik,[i] mahaadil,[j] dan mahamurah.[k]

a. Ula 4:35, 39; 1Ko 8:4, 6. b. Kej 1:3; Yoh 4:24; 2Ko 3:17. c. Kel 3:15-16, 18. d. Rom 1:20; 1Ti 1:17. e. Mal 3:6. f. Rom 11:33; Kis 7:48. g. Yer 10:7,10; Luk 1:37. h. Rom 16:27. i. Mat 19:17. j. Yer 12:1. k. Kel 34:6-7.

2. Allah itu menyatakan diri demikian kepada manusia dengan cara ini. Pertama, melalui karya-karya-Nya,[a] yaitu baik oleh penciptaannya maupun oleh pemeliharaan dan pengendaliannya. Kedua, dengan lebih jelas, melalui Firman-Nya,[b] yang mula-mula diwahyukan dengan cara penyataan langsung,[1c] dan sesudahnya disusun secara tulisan[d] dalam kitab-kitab yang kita sebut Kitab Suci.[e]

a. Rom 1:20. b. Ibr 1:4. c. Kej 15:1. d. Kel 24:3-4. e. Rom 1:2.

Pasal III
Kitab-kitab Kanonik

3. Seluruh Kitab Suci itu tercantum dalam buku-buku kanonik Perjanjian lama dan Perjanjian Baru. Inilah daftarnya: Kelima kitab Musa, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan. Begitu pula Yosua, Kitab Hakim-Hakim, Kitab Rut, Kitab Samuel yang pertama dan yang kedua, Kitab Raja-Raja yang pertama dan yang kedua, Kitab Tawarikh yang pertama dan yang kedua, yang disebut juga Paralipomenon,[2] Kitab Ezra yang pertama,[3] begitu pula Kitab Nehemia, Kitab Ester, Ayub, Mazmur Daud, Amsal atau kata-kata mutiara Salomo, Kitab Ekklesiastes yang disebut Pengkhotbah, Kidung Agung Salomo. Begitu pula Kitab-kitab Yesaya, Yeremia, Ratapan Yeremia, Yeheskiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi. Begitu pula surat-surat Rasul Paulus, yaitu satu kepada jemaat di Roma, dua kepada jemaat di Korintus, satu kepada jemaat di Galatia, satu kepada jemaat di Efesus, satu kepada jemaat di Filipi, satu kepada jemaat Kolose, dua kepada jemaat di Tesalonika, dua kepada Timotius, satu kepada Titus, satu kepada Filemon. Begitu pula Surat kepada orang Ibrani, Surat Yakobus, Surat Petrus yang pertama dan yang kedua, Surat Yohanes yang pertama, yang kedua, dan yang ketiga, Surat Yudas. Begitu pula Kitab Apokalips atau Wahyu kepada Yohanes.

Pasal IV
Dasar Kewibawaan Kitab Suci

4. Kita mengetahui bahwa kitab-kitab itu bersifat kanonik dan merupakan patokan yang amat pasti bagi iman kita;[a] tidak hanya karena kesepakatan dan persetujuan gereja, tetapi terutama karena Roh Kudus dan keyakinan batin yang berasal dari-Nya, yang menyebabkan kita membedakannya dari kitab-kitab lain yang terdapat dalam Gereja. Kitab-kitab ini (meski bermanfaat) tidak dapat dijadikan dasar satu pasal iman sekalipun.

a. Maz 19:8 dan Maz 19:9.

Pasal V
Kesempurnaan Kitab Suci sebagai Satu-satunya Patokan bagi Iman Kita

5. Kita percaya, bahwa Firman Allah yang tercantum dalam kitab-kitab itu berasal dari Allah.[a] Wibawanya diperolehnya hanya dari Dia,[b] bukan dari manusia. Dan karena Firman itu merupakan patokan seluruh kebenaran dan berisi segala sesuatu yang perlu untuk berbakti kepada Allah dan demi keselamatan kita,[c] maka manusia, bahkan malaikat pun, tidak diperbolehkan menambahi, mengurangi, dan mengubahnya.[d] Maka dari itu, ketuaan, atau kebiasaan, atau jumlah besar orang, atau hikmat manusia, atau penilaian para ahli, atau keputusan-keputusan, atau edik-edik, atau dekrit-dekrit, atau konsili-konsili, atau penglihatan-penglihatan, atau mukjizat-mukjizat, tidak boleh dipertentangkan dengan Kitab Suci.[e] Bahkan sebaliknya, semua hal harus diselidiki, diatur, dan dibarui seturut Kitab Suci itu.[f] Oleh sebab itu, kita menerima ketiga pengakuan iman, yaitu Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea, dan Pengakuan Iman Athanasius, Karena ketiganya sesuai dengan Firman Allah.

a. 2Ti 3:15-16; 2Pe 1:21. b. Yoh 3:31,34; 1Ti 1:15. c. Yoh 15:11; Kis 20:27. d. Ula 4:1, 12:32; Gal 1:8; Wah 22:18-19. e. Mat 15:9; Kis 5:28-29. f. 1Ko 11:1-2,23.

Pasal VI
Trinitas

6. Kitab Suci itu mengajar kepada kita bahwa Zat ilahi yang esa dan sederhana[a] yang telah menjadi pokok pengakuan iman kita, ada tiga Pribadi, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus.[b] bapa adalah sebab pertama, awal, dan asal segala hal. Anak adalah Firman-Nya dan Hikmat-Nya yang kekal. Roh Kudus adalah kekuatan-Nya, kuasa-Nya, dan keampuhan-Nya.Anak diperanakkan oleh Bapa secara kekal. Roh Kudus keluar dari Keduanya secara kekal. Ketiga Pribadi itu bukan tercampur, melainkan berbeda, namun bukan terbagi, melainkan se-Zat, sama-sama kekal, sama-sama berkuasa, dan sederajat. Dalam hal ini kita menerima ketetapan-ketetapan Konsili-konsili lama, dan kita menjijikkan semua bidat dan ajaran sesat yang telah ditolak oleh Guru-guru suci, seperti Hilarius,[1] Athanasius,[2] Ambrosius,[3] dan Cyrillus.[4].

a. Ula 4:12. b. Mat 28:19; 2Ko 13:14; 1Yo 5:7; Yoh 1:1,17,32.

Pasal VII
Penciptaan Malaikat dan Iblis

7. Kita percaya, bahwa Allah, dalam tiga Pribadi yang bekerja sama, telah menciptakan segala sesuatu melalui kekuatan-Nya, hikmat-Nya, dan kebaikan-Nya yang tidak terpahami, baik langit dan bumi serta segala isinya maupun roh-roh yang tidak kelihatan.[1a] Di antara roh-roh ini, sebagian telah tersandung dan jatuh ke dalam kebinasaan,[b] sebagian lagi bertahan sehingga tetap taat.[c] Kita percaya bahwa yang pertama itu rusak, bergelimang kejahatan, sehingga mereka menjadi musuh segala kebaikan dan karena itu juga musuh seluruh Gereja.[d] Bagian kedua, yang dilindungi oleh anugerah Allah, menjadi hamba-hamba yang bertugas memuliakan nama Allah dan melayani orang pilihan demi keselamatan mereka.[e]

a. Kej 1:1; Yoh 1:3; Jud 1:6; Ibr 1:2. b. 2Pe 2:4. c. Maz 103:20-21. d. Yoh 8:44. e. Ibr 1:7,14.

Pasal VIII
Pemeliharaan Allah

8. Kita percaya, bahwa Dia tidak hanya telah menciptakan segala sesuatu, tetapi juga memerintah dan mengendalikannya,[a] sambil mengatur dan menetapkan sekehendak-Nya segala sesuatu yang terjadi dalam dunia ini.[b] Bukan seakan-akan Dia menjadikan apa yang jahat atau dapat dianggap bersalah atasnya,[c] sebab kehendak-Nya merupakan patokan berdaulat dan tidak mungkin bersalah untuk segala kebenaran dan keadilan.[d] Akan tetapi, Dia memiliki sarana-sarana yang mengagumkan untuk memperalatkan iblis dan orang jahat sedemikian rupa, hingga Dia tahu mengubah kejahatan yang mereka lakukan, dan yang menjadi kesalahan mereka, menjadi kebaikan.[e] Demikianlah, bila kita mengaku bahwa tidak terjadi apa-apa di luar pemeliharaan Allah, kita menyembah dengan rendah hati rahasia-rahasia yang tersembunyi bagi kita, tanpa mengusiknya dengan melewati batas ukuran kita. Sebaliknya, kita menerapkan pada keadaan kita sendiri apa yang ditunjukkan kepada kita dalam Kitab Suci, supaya kita tenteram dan terlindung dari bahaya.[f] Sebab, segala sesuatu tunduk kepada Allah, dan Dia menjaga kita, dan mengasuh kita laksana seorang bapak, begitu rupa, sehingga tak sehelai rambut kepala kita pun akan jatuh di luar kehendak-Nya.[g] Sementara itu, Dia mengekang setan-setan beserta semua musuh kita, sehingga mereka sama sekali tidak dapat merugikan kita di luar izin-Nya.[h]

a. Maz 104. b. Ams 16:4; Mat 10:29; Rom 9:11; Kis 17:24,26,28. c. 1Yo 2:16; Hos 13:9; 1Yo 3:8. d. Maz 5:5; Maz 119; Ayu 1:22. e. Kis 2:23-24,27. f. Rom 9:19-20; 11:33. g. Mat 10:30; Luk 21:18. h. Ayu 1:12; Kej 3:15.

Pasal IX
Manusia, Dosa, dan Kehendak Bebas

9. Kita percaya bahwa manusia, yang pernah diciptakan murni dan utuh serta serupa dengan gambar Allah, telah jatuh disebabkan kesalahannya sendiri, sehingga ia kehilangan karunia yang telah diperolehnya.[a] Dengan demikian manusia terasing dari Allah, sumber kebenaran dan segala kebaikan, begitu rupa, sehingga kodratnya sama sekali rusak. Dan karena rohnya menjadi buta dan hatinya bejat, manusia sama sekali kehilangan keutuhannya, sehingga tidak tersisa apa pun.[b] Dan kendati ia masih mampu sedikit banyak membedakan yang baik dari yang jahat,[c] kita mengatakan bahwa terang yang masih ada padanya berubah menjadi kegelapan kalau halnya mengenai mencari Allah, begitu rupa sehingga ia sama sekali tidak mampu mendekati-Nya melalui kecerdikan dan nalarnya.[d] Kendati ia memiliki kemauan yang mendorongnya untuk berbuat yang ini, atau yang itu, namun kemauan itu sama sekali dikuasai oleh dosa, sehingga ia tidak memiliki kebebasan untuk berbuat baik kecuali yang dianugerahkan kepadanya oleh Allah.[e]

a. Kej 1:26; Pengk 7:10; Efe 2:2-3. b. Kej 6:5, 8:21. c. Rom 1:21; 2:18-20. d. 1Ko 2:14. e. Yoh 1:4-5,7; 8:36; Rom 8:6-7.

Pasal X
Dosa Turunan

10. Kita percaya, bahwa seluruh keturunan Adam terjangkit oleh penyakit menular, yaitu dosa asli dan cacat turunan, bukan hanya peniruan, sebagaimana hendak dinyatakan kaum pengikut Pelagius. Kita menjijikkan mereka ini karena ajaran sesat mereka, dan kita menganggap tidak perlu menyelidiki bagaimana cara dosa menjalar dari seorang manusia kepada manusia lain, sebab sudah cukuplah bahwa apa yang Allah kenakan kepadanya[1] dimaksud bukan hanya bagi dirinya saja, melainkan juga bagi seluruh keturunannya. Maka dalam dirinya kita telah kehilangan segala kebaikan dan tersandung sehingga kita bergelimang kemalangan dan kutuk.[a]

a. Kej 8:21; Rom 5:12; Ayu 14:4.

11. Kita percaya juga, bahwa cacat itu benar-benar dosa, yang cukup untuk membuat seluruh umat manusia layak dihukum, sampai-sampai anak-anak kecil sejak dalam kandungan ibunya, dan kita percaya bahwa cacat itu memang dianggap dosa oleh Allah.[a] Bahkan, sesudah pembaptisan pun hal itu tetap merupakan dosa, sejauh menyangkut kesalahannya, meski dalam hal anak-anak Allah penghukumannya ditiadakan sebab Dia, karena kebaikan-Nya yang cuma-cuma tidak memperhitungkannya kepada mereka.[b] Selain,itu, kita percaya bahwa cacat itu merupakan kebobrokan yang terus-menerus menghasilkan kejahatan dan kedurhakaan,[c] begitu rupa sehingga orang yang paling suci pun, kendati mereka mencoba melawan, tetap dinodai oleh berbagai kelemahan dan kesalahan selama mereka tinggal di dunia ini.[d]

a. Maz 51:7; Rom 3:9-13; 5:12. b. Rom 7. c. Rom 7:5. d. Rom 7:18-19; 2Ko 12:7
.

Pasal XI
Pemilihan Allah

12. Kita percaya, bahwa dari kerusakan dan penghukuman umum yang telah menimpa semua orang itu, Allah menarik mereka yang dalam putusan-Nya yang kekal dan tidak berubah-ubah telah dipilih-Nya, hanya karena kebaikan-Nya dan belas kasihan-Nya, dalam Tuhan kita Yesus Kristus, dengan tiada memperhatikan perbuatan-perbuatan mereka.[a] Tetapi yang lain-lain ditinggalkan-Nya dalam kerusakan dan penghukuman itu, agar dalam diri mereka ditunjukkan-Nya keadilan-Nya, sebagaimana dalam diri orang yang disebut pertama Dia membuat bercahaya kekayaan belas kasihan-Nya.[b] Sebab mereka yang disebut pertama itu sama sekali tidak lebih baik daripada yang lain, sampai Allah membeda-bedakan mereka mereka menurut rencana-Nya yang tidak berubah-ubah yang telah Dia tetapkan di dalam Yesus Kristus sebelum penciptaan dunia. Juga tidak seorang pun dapat meraih harta itu dengan kekuatan sendiri, sebab menurut kodrat kita sendiri tidak mungkin kita memiliki satu pun gerakan, perasaan, atau pikiran yang baik, sampai Allah mendahului kita dan membuat kita rela.[c]

a. Rom 3:2, 9:23; 2Ti 1:9; 2:20; Tit 3:5; Efe 1:4. b. Kel 9:16; Rom 9:22. c. Yer 10:23; Efe 1:4-5.

Pasal XII
Seluruh Keselamatan Kita Tercantum dalam Diri Kristus

13. Kita percaya, bahwa dalam diri Yesus Kristus segala sesuatu yang diperlukan untuk keselamatan kita telah ditawarkan kepada kita dan dijadikan milik kita. Dia telah dianugerahkan kepada kita untuk keselamatan, dan telah dijadikan bagi kita hikmat, kebenaran, pengudusan, dan penebusan. Maka kalau orang berbalik dari Dia, orang menolak belas kasihan Sang Bapa, yang seharusnya menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi kita.[a]

a. 1Ko 1:30; Efe 1:6-7; Kol 1:13-14; Tit 2:14.

Pasal XIII
Kedua Tabiat Kristus

14. Kita percaya, bahwa Yesus Kristus, yang adalah hikmat Allah dan Anak-Nya yang kekal, telah mengenakan daging kita, untuk menjadi Allah dan manusia dalam satu Pribadi.[a] Dia menjadi manusia yang serupa dengan kita, yang dapat menderita dalam tubuh dan jiwa. Hanya saja, Dia suci, tanpa noda apa pun.[b] Dan menurut kemanusiaan-Nya Dia benar-benar keturunan Abraham dan Daud,[c] meskipun Dia dikandung oleh kekuatan tersembunyi Roh Kudus.[d] Dalam hal ini kita menjijikkan semua ajaran sesat yang pada zaman dahulu telah mengganggu Gereja-gereja, dan terutama juga khayalan setani Servet, yang beranggapan bahwa Tuhan Yesus memiliki tabiat keallahan dongengan, sebab ia mengatakan bahwa Dia adalah gambaran dan pola segala hal, dan menyebut Dia Anak Allah yang didalamnya Pribadi Allah terwujud, atau dilambangkan,[1] dan akhirnya mereka-reka bagi-Nya tubuh yang terdiri dari tiga unsur yang tidak diciptakan, sehingga ia membaurkan dan merusak kedua tabiat itu.

a. Yoh 1:14; Fil 2:6. b. Ibr 2:17; 2Ko 5:21. c. Kis 13:23; Rom 1:3; 8:3; 9:5; Fil 2:7; Ibr 2:14-16; Ibr 5. d. Mat 1:18; Luk 1:35.

15. Kita percaya, bahwa kedua tabiat itu digabungkan dan disatukan benar-benar dan secara tak terpisahkan dalam satu Pribadi yang tunggal, yaitu Yesus Kristus. Namun, masing-masing tetap memiliki sifatnya yang khas,' sehingga dalam gabungan itu tabiat keallahan tetap memiliki sifatnya sendiri dan tetap bersifat tidak diciptakan, tidak terhingga, dan memenuhi segala sesuatu; begitu pula tabiat kemanusiaan tetap bersifat berhingga dan memiliki bentuk, ukuran, dan sifatnya sendiri.b Dan kendati Yesus Kristus, ketika Dia bangkit, telah memberi tubuh-Nya ketidakfanaan, namun Dia tidak meniadakan keaslian tabiat-Nya. Maka kita memandang Dia dalam keilahian-Nya dengan cara yang tidak menanggalkan kemanusiaan-Nya.

a. Mat 1; Luk 1; Yoh 1:14; 1Ti 2:5; 3:16; Ibr 5:8. b. Luk 24:38-39; Rom 1:4; Fil 2:6-11.

Pasal XIV
Dalam Kristus, Allah Menyatakan Kasih-Nya dan Kemurahan-Nya

16. Kita percaya, bahwa Allah, dengan mengutus Anak-Nya, ingin memperlihatkan kasih dan kebaikan-Nya yang tidak ternilai terhadap kita. Dia telah menyerahkan-Nya ke dalam kematian dan membangkitkan-Nya untuk menggenapkan selur