Skip to main content

Akulah yang Memilihmu?

Artikel ini membahas kompleksitas doktrin Kekristenan, terutama konsep Tritunggal dan kodrat Yesus Kristus yang ganda, sebuah ajaran yang sulit dipahami bahkan oleh sebagian orang hingga dianggap omong kosong. Namun, terlepas dari kerumitan teologis dan skeptisisme, iman ini telah bertahan sejak abad pertama hingga kini, ditunjukkan dengan fakta bahwa jutaan orang rela menghadapi penganiayaan ekstrem, bahkan kematian, di berbagai negara. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa menjadi seorang Kristen dapat berakibat fatal (seperti yang terjadi di Korea Utara), namun sejarah mencatat bahwa komunitas Kristen mula-mula tidak pernah menyangkal iman mereka demi menghindari penyiksaan, melainkan justru memperkuat keyakinan mereka.

  • Iman Kekristenan
  • Allah Yang Maha Esa
  • Tritunggal (Trinitas)
  • Penganiayaan/Penyiksaan
  • Kesaksian Iman
  • Kompleksitas Teologis
  • Doktrin Kekristenan dianggap sangat rumit karena harus menjelaskan konsep "Allah Yang Maha Esa" dalam tiga Pribadi (Trinitas), serta Yesus Kristus yang memiliki dua natur (100% Allah dan 100% manusia).
  • Kesulitan memahami iman ini membuat banyak orang meragukannya, bahkan menganggapnya sebagai kebohongan (seperti pandangan filsuf Voltaire).
  • Meskipun tantangannya besar, jutaan umat Kristen global hari ini menghadapi penganiayaan berat—bahkan diancam kematian legal—demi mempertahankan keyakinan mereka.
  • Ketahanan iman Kekristenan telah terbukti sejak abad pertama; fakta sejarah menunjukkan bahwa orang-orang awal justru semakin teguh dan tidak pernah menyangkal iman demi menghindari penyiksaan, membuat iman ini tampak makin subur dalam persekusi.

Play Audio
Penulis_artikel
Yonghan Lim
26 Februari 2016

Iman kekristenan itu sebenarnya begitu rumit untuk diberitakan kepada orang-orang.

Orang Kristen menyembah "Allah Yang Maha Esa,” tapi tiga Pribadi; tiga Pribadi, tapi bukan tiga Allah; dan hanya satu Allah,bukannya tiga Allah.

Yesus itu 100% Allah, tapi juga 100% manusia. Ia satu Pribadi tapi dengan dua natur; bukannya dua Pribadi dengan satu natur; apalagi dua Pribadi dengan dua natur. Bagaimana memberitakan ini supaya bisa dipahami orang-orang?

Saking rumitnya untuk dipahami, bagi sebagian besar orang, iman kekristenan malahan terdengar seperti omong kosong. Voltaire, seorang filsuf Perancis, pernah berkata, “Biarlah Yesus bersama dengan dua belas orang Galilea itu menegakkan kekristenan; tapi biarlah saya, seorang diri, orang Perancis, menghancurkan mereka semua.”

Untuk iman yang sekompleks ini untuk dipahami, kenapa bisa ada jutaan orang yang rela dianiaya demi iman ini? Bahkan sampai dengan hari ini?

Di beberapa negara, menyatakan diri sebagai orang Kristen sama saja dengan menyatakan dirinya sebagai pemegang "licence to be killed;" sah dan legal untuk dibunuh.

Menurut Open Doors Ministry, saat ini, diperkirakan ada empat ratus ribu orang Kristen di Korea Utara; seperempatnya sedang disiksa di kamp konsentrasi, demi mempertahankan imannya.

Diperkirakan, di seluruh dunia ada seratus juta orang Kristen yang sedang dianiaya; tiga ratus dua puluh dua orang Kristen dibunuh setiap bulan, demi mempertahankan imannya.

Jika iman bahwa Yesus benar-benar bangkit dari kematian ini hanyalah kebohongan, hasil konspirasi para rasul semata;kenapa sejak abad pertama begitu banyak orang yang tetap mempertahankan imannya, sampai rela dianiaya, dipenjara,bahkan disiksa hingga mati?

Orang mungkin bersedia mati untuk apa yang mereka percaya sebagai kebenaran. Tapi, adakah yang bersedia mati untuk apa yang mereka sudah tahu sebagai kebohongan?

Bukankah cukup kesaksian satu orang untuk memastikan kalau ini semua hanyalah kebohongan?

Faktanya, tidak pernah ada catatan apapun dalam sejarah mengenai orang Kristen mula-mula yang menyangkal iman mereka demi terhindari dari penyiksaan.

Iman macam apa ini? Makin disiksa, malah makin subur?

download audio

http://youtu.be/tIeM7aeX8pk?
Bersambung...Soli Deo Gloria