Skip to main content

Khotbah Harus Alkitabiah

Sebuah khotbah harus berpusat pada Yesus Kristus sebagai Tuhan, berdasarkan prinsip teologis bahwa pemberitaan bukan tentang diri pengkhotbah. Kualitas khotbah tidak ditentukan oleh durasinya atau sekadar mengutip beberapa ayat saja, melainkan harus melalui eksposisi Alkitab yang sistematis (sistematik ayat demi ayat atau paragraf demi paragraf). Untuk mencapai hal ini, pengkhotbah wajib melakukan studi eksegesis dan menerapkan prinsip hermeneutika yang sehat guna menemukan makna asli teks dan menghindari kesalahan eisegesis. Oleh karena itu, ukuran kebenaran sebuah gereja diukur dari akurasi ajaran alkitabiahnya, bukan dari besarnya jumlah jemaat.

  • Xotbah Harus Alkitabiah
  • Yesus Kristus sebagai Tuhan (Pusat Khotbah)
  • Eksposisi Sistematis
  • Eksegesis
  • Hermeneutika Sehat
  • Eisegesis
  • Kualitas Pengajaran
  • Pusat utama khotbah harus selalu Yesus Kristus sebagai Tuhan, sesuai dengan prinsip pemberitaan Alkitab.
  • Kualitas khotbah yang sehat ditentukan oleh eksposisi sistematis bagian Alkitab (ayat per ayat atau paragraf per paragraf), bukan berdasarkan jumlah ayat atau durasinya.
  • Pengkhotbah wajib menguasai eksegesis (penafsiran mendalam) dan menerapkan prinsip hermeneutika yang benar agar dapat mengungkap makna sejati teks dan terhindar dari kesalahan eisegesis.
  • Kesalahan dalam berkhotbah terjadi ketika pengkhotbah cenderung mengganti berita Alkitab dengan pengalaman pribadi atau ajaran lain tanpa penelitian mendalam.
  • Kebaikan dan kesehatan suatu gereja diukur bukan dari ukuran fisik, melainkan dari kebenaran ajaran khotbahnya yang sesuai dengan prinsip Alkitab.

Play Audio
Penulis_artikel
Harapan Sianturi
24 Juli 2015

Prinsip yang harus diingat oleh seorang pengkhotbah, yaitu: "Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus " (2 Korintus 4:5). Pusat pemeberitaan khotbah adalah Yesus Kristus sebagai Tuhan. Apapun jenis-jenis khotbah, jika pusat pemberitaannya bukan Yesus, itu bukan ajaran yang sehat. Karena khotbah yang disampaikan entah satu ayat atau satu perikop, bukanlah penentu apakah khotbah itu alkitabiah atau tidak alkitabiah. Termasuk singkat atau lamanya durasi khotbah bukan sebagai jaminan, bahwa khotbah itu berkualitas baik dan sehat.

Khotbah yang alkitabiah dan sehat adalah mengekspos bagian Akitab secara sistematik ayat demi ayat atau paragraf demi paragraf. Prinsip ini membutuhkan ketrampilan khususuntuk meneliti (eksegese) teks Alkitab tersebut, sehingga menemukan makna sebenarnya dari teks itu dan melihat relevansinya serta menjelaskan sesuai dengan garis besar khotbahnya. Gordon D. Fee mengatakan, bahwa: penafsiran Alkitab (eksegesis) dibutuhkan karena "ketegangan" yang ada diantara relevansi kekalnya dengan keistimewaan historisnya. Artinya selain menemukan makna sebenarnya, melalui studi eksegesis ini, pengkotbah terhindar dari kesalahan-kesalahan eisegesis. Karena godaan besar bagi pengkotbah yang fasih berbicara, adalah tidak mau meneliti bagian teks Alkitab dengan sabar dengan mempertimbangkan prinsip hermeneutika yang sehat. Sehingga isi khotbah yang disampaikan terdengar seperti alkitabiah, tetapi bukan alkitabiah yang sesuai prinsip hermenutika. Tindakan ini disebut, menggeser berita Alkitab dan menggantikannya dengan berita-berita lain - termasuk pengalaman sendiri. Karena itu, gereja yang besar belum tentu khotbah-khotbahnya baik dan sehat. Tetapi gereja yang sehat secara iman, pasti memiliki pengajaran/khotbah yang benar sesuai prinsip Alkitab. Ini tidak bisa dibohongi.

Sumber Artikel

Buku : Jurnal Teologi STULOS
Judul Artikel : Khotbah harus Alkitabiah
Penulis : Harapan Sianturi
Halaman : 101-102