Katekismus Heidelberg (1563)
Katekismus merupakan alat pengajaran dalam tradisi Kristen yang berasal dari kegiatan mengajarkan iman Kristen kepada anggota baru. Diciptakan oleh tokoh seperti Martin Luther, katekismus ini menyajikan ajaran-ajaran pokok iman secara terstruktur dan sistematis, dengan berbagai versi muncul seiring dengan Reformasi yang mengedepankan penggunaan bahasa nasional. Katekismus Heidelberg menjadi salah satu contoh penting, diakui luas dan berfungsi sebagai panduan pengajaran dalam berbagai denominasi, termasuk di Indonesia yang mengadopsi katekismus ini dalam praktik pengajaran iman mereka.
- Katekismus
- Pengajaran Kristen
- Katekismus Heidelberg
- Reformasi
- Pengakuan Iman
- Roh Kudus
- Perjamuan Kudus
- Kateismus berasal dari kata Yunani katekhein yang berarti 'mengajarkan'.
- Istilah ini sudah digunakan sejak abad pertama untuk membimbing orang baru dalam iman Kristen.
- Pengajaran umumnya dilakukan secara lisan, meskipun ada juga beberapa teks tertulis yang muncul kemudian, seperti 'Didache' dan karya Augustinus.
- Luther mempublikasikan katekismus sebagai buku pelajaran yang sistematis, dan karyanya menjadi acuan di Gereja Lutheran.
- Reformasi menghasilkan berbagai jenis katekismus, termasuk Katekismus Jenewa, Anglikan, Heidelberg, dan Westminster, masing-masing untuk kalangan gereja tertentu.
- Katekismus Heidelberg disusun pada tahun 1563 dan ditujukan untuk melanjutkan reformasi di daerah Pfalz oleh Raja Friedrich III.
- Kateismus Heidelberg menolak ajaran transsubstansiasi secara tegas.
- Di Belanda, Katekismus Heidelberg diterima secara resmi dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, serta dipasarkan untuk pengajaran gereja.
- Di Indonesia, Katekismus Heidelberg dibawa oleh penginjil Belanda dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu.
- Katekismus terdiri dari ajaran dasar dan pertanyaan-pertanyaan mengenai iman Kristen yang diorganisir secara sistematis.
- Pengajaran di dalam katekismus mencakup keyakinan akan Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus serta tindakan Kristus untuk keselamatan manusia.
- Katekismus mengajarkan perbedaan antara iman yang sejati dan perbuatan baik dalam konteks keselamatan yang diberikan oleh Kristus.
- Sakramen terdiri dari Baptisan dan Perjamuan Kudus sebagai tanda iman dan jaminan pengampunan dosa.
- Doa juga diajarkan, dengan penekanan pada pemohonan kepada Allah berdasarkan rasa syukur dan pengakuan akan ketidaklayakan kita.
Perkataan 'katekismus' berkaitan dengan kata kerja Yunani katekhein, 'memberitahukan dari atas (panggung, mimbar) ke bawah', dari situ juga 'mengajarkan'. Mulai abad pertama (
Katekismus Heidelberg disusun oleh panitia yang diangkat oleh Friedrich III, Raja Kurpfalz, salah satu daerah otonorn di bagian barat kekaisaran Jerman, dengan ibukota Heidelberg. Raja Friedrich ingin melanjutkan reformasi gereja di daerahnya, yang telah dimulai oleh raja terdahulu. Pada tahun 1562 dua teolog muda anggota panitia, yaitu Zacharius Ursinus dan Caspar Olevianus, menyusun rancangan, yang pada awal 1563 disahkan oleh Sinode Gereja daerah Pfalz. Pada tahun itu juga terbit edisi kedua dan ketiga. Dalam cetakan ketiga disisipkan kalimat yang dengan kata-kata tajam menolak ajaran transsubstansiasi, yang telah dijadikan ajaran resmi Gereja Katolik Roma pada tahun 1215 dan yang ditegaskan lagi oleh Konsili Trente pada tahun 1562, disertai ucapan kutuk atas semua orang yang menganut pandangan Protestan (lihat nr. 80).
Kebetulan, pada masa terbitnya Katekismus Heidelberg, di daerah Pfalz tinggal sejumlah pengungsi dari Negeri Belanda. Di negeri sendiri aliran Protestan masih tertindas, tetapi mereka disambut hangat oleh Raja Pfalz. Salah seorang pendeta Belanda segera menerjemahkan Katekismus ke dalam bahasa Belanda. Beberapa tahun kemudian, Sinode-sinode Gereja Belanda menerima edisi Belanda itu menjadi kitab katekisasi yang resmi, dan mewajibkan semua pelayan gereja menyatakan persetujuan mereka dengan menandatangani kitab itu. Dengan demikian, Katekismus Heidelberg menjadi salah satu karangan pengakuan iman Gereja Belanda, di samping Pengakuan Iman Belanda (1561) dan Kelima Pasal Melawan Orang Remonstran (1619). Isinya tidak hanya diajarkan kepada anak-anak (di sekolah), tetapi dijadikan juga bahan khotbah dalam kebaktian sore.
Ketika orang Belanda datang ke Indonesia, mereka membawa serta kitab katekismus mereka. Pada tahun 1623, kitab itu pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh pdt. Seb. Danckaerts.' Tetapi Katekismus itu agak panjang. Maka, sama seperti di Negeri Belanda sendiri, beredar juga versi lebih singkat ('Tiksar'). Dalam abad ke-19 dan ke-20 sebagian kecil para utusan Injil Belanda dan para pendeta Gereja Protestan tetap memakai Katekismus Heidelberg sebagai pedoman katekisasi. Tetapi biasanya mereka memakai bahan lain, yaitu terjemahan kitab katekisasi yang baru dari Negeri Belanda atau karangan yang mereka susun sendiri. Yang tetap memakai Katekismus Heidelberg terutama Zending Gereformeerde Kerken di Jawa Tengah dan Sumba, dan badan-badan serumpun di beberapa daerah lain, a.1. di Sulawesi Selatan dan di pedalaman Irian Jaya. Namun, sejumlah besar gereja Indonesia menyebut Katekismus Heidelberg dalam tata gereja mereka sebagai salah satu karangan teladan dalam upaya merumuskan iman Kristen.
ATAU
PENGAJARAN KRISTEN
SEBAGAIMANA DIBERIKAN DALAM GEREJA DAN SEKOLAH
DI NEGERI BELANDA
Minggu ke-1
1. Pert. Apakah satu-satunya penghiburan Saudara, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati?
Jaw. Bahwa aku, dengan tubuh dan jiwaku, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati (a), bukan milikku (b), melainkan milik Yesus Kristus, Juruselamatku yang setia (c). Dengan darah-Nya yang tak ternilai harganya Dia telah melunasi seluruh utang dosaku (d) dan melepaskan aku dari segala kuasa iblis (e). Dia juga memelihara aku (f), sehingga tidak sehelai rambut pun jatuh dari kepalaku di luar kehendak Bapa yang ada di sorga (g), bahkan segala sesuatu harus berguna untuk keselamatanku (h). Karena itu juga, oleh Roh-Nya yang Kudus, Dia memberiku kepastian mengenai hidup yang kekal (i), dan menjadikan aku sungguh-sungguh rela dan siap untuk selanjutnya mengabdi kepada-Nya (j).
(a)