Pengakuan Iman Gereja Belanda (1561)

Reformasi Calvinis memasuki negeri Belanda dari Selatan. Pada zaman itu wilayah negeri Belanda dan Belgia masih bersatu, di bawah pemerintahan Raja Filips II, yang juga Raja Spanyol. Bagian selatan, yaitu Belgia Selatan yang sekarang, berbahasa Perancis, daerah utara, dari Brussel ke atas, berbahasa Belanda. Masuk akallah kalau yang paling pertama menganut Calvinisme ialah penduduk bagian Selatan, yang berbahasa Perancis. Salah seorang pendeta mereka ialah Guido de Bres (1522-1567). Salah satu masalah besar yang dihadapi gerakan Calvinis ialah pandangan pemerintah bahwa para pengikut Calvin sama saja dengan kaum Anabaptis, yang dipandang sebagai perusuh. Karena itu, De Bres menyusun semacam pertanggungjawaban dengan maksud menjelaskan posisi kaum Calvinis kepada tokoh-tokoh pemerintahan (1559). Karangan itu disempurnakannya setelah berkonsultasi kepada beberapa rekan pendeta. Pada malam hari 2 November 1561, ia menyampaikannya kepada pemerintah bersama surat pengantar kepada Raja Filips, dengan cara melemparkannya kepada ke dalam benteng yang telah dibangun di kotanya, yaitu Tournai (Doornik). Karena gerakan Calvinis telah menyebar ke bagian Belanda yang berbahasa Belanda, satu tahun kemudian naskah berbahasa Perancis itu diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, dan pada tahun 1563 salah satu sinode wilayah menetapkan bahwa semua pendeta, penatua, dan diaken wajib menandatanganinya. Sinode-sinode yang diadakan di kemudian hari menegaskan status pengakuan iman Belanda ini sebagai salah satu "rumus keesaan", artinya karangan yang wajib (wajib) diakui oleh semua jemaat yang bergabung dalam Gereja Reformasi Belanda (bnd. Katekismus Heidelberg dan Pasal-pasal melawan orang Remonstran). Dalam kepustakaan, pengakuan gereja Belanda ini sering diberi nama singkat, yaitu "(Confessio) Belgica" dari Latin Belgium = wilayah Belanda dan Belgia sekarang).

Pasal 1
Allah yang esa

Kita semua percaya dengan hati, dan mengaku dengan mulut,
bahwa ada satu Zat Rohani yang esa dan sederhana,
yang kita namakan Allah.
Dia kekal, tidak terpahami, tidak kelihatan, tidak berubah-ubah, tak terhingga,
mahakuasa, berhikmat sempurna, mahaadil, mahabaik,
dan sumber serba berlimpah segala hal yang baik.

Pasal 2
Sarana-sarana untuk mengenal Allah

Kita mengenal Dia melalui dua sarana.
Pertama, melalui penciptaan, pemeliharaan, dan pemerintahan seluruh alam.
Sebab di depan mata kita alam itu bagaikan buku yang indah,
yang di dalamnya segala ciptaan Allah,
yang besar maupun kecil,
menjadi seperti huruf-huruf
yang menyatakan kepada kita
apa yang tidak tampak dari Allah,
yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya,
menurut perkataan Rasul Paulus dalam Rom 1:20.
Semua itu cukup untuk membuktikan kesalahan manusia
sehingga mereka tidak dapat berdalih.
Kedua, Dia memperkenalkan diri kepada kita
dengan lebih jelas dan sempurna lagi
oleh Firman-Nya yang kudus dan ilahi,
yaitu sekadar kebutuhan kita dalam hidup ini,
demi kemuliaan-Nya dan demi keselamatan orang-orang milik-Nya.

Pasal 3
Firman Allah yang tertulis

Kita mengaku, bahwa Firman Allah ini tidak disampaikan atau dihasilkan oleh
kehendak manusia,

tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah,
menurutperkataan Rasul Petrus dalam 2Pe 1:21.
Sesudah itu Allah,
karena perhatian-Nya yang khusus kepada kita dan keselamatan kita,
menyuruh hamba-hamba- Nya,
yaitu Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul,
membukukan Firman-Nya yang telah dinyatakan.
Dan Dia sendiri menulis dengan jari-Nya
kedua loh batu Taurat.
Oleh karena itu, kita menyebut tulisan- tulisan yang demikian
Kitab-kitab Suci dan Ilahi

Pasal 4
Kitab-kitab kanonik

Kita mengelompokkan Kitab Suci menjadi dua buku,
yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Kedua buku ini adalah kitab-kitab kanonik, yang tidak dapat dibantah.
Kitab- kitab tersebut didaftar di dalam gereja Allah sebagai berikut:
Kitab-kitab Perjanjian Lama:
kelima kitab Musa, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Kitab Yosua, Kitab Hakim-hakim, Kitab Rut,
kedua Kitab Samuel, kedua Kitab Raja-raja,
kedua Kitab Tawarikh,
Kitab Ezra yang pertama, (1)Kitab Nehemia, Ester, Ayub,
Mazmur Daud, ketiga Kitab Salomo, yaitu Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung,
Kitab keempat nabi yang besar, yaitu Yesaya, Yeremia,(2)Yehezkiel, dan Daniel,
dan selanjutnya kedua belas nabi kecil lainnya yang kecil,
yaitu Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.
Perjanjian Baru:
Keempat pengarang Kitab Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Kisah Para Rasul,
Keempat belas Surat Rasul Paulus, yaitu kepada jemaat di Roma, dua kepada jemaat di Korintus, kepada jemaat di Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, dua kepada jemaat di Tesalonika, dua kepada Timotius, kepada Titus, kepada Filemon, kepada orang Ibrani,(1)
ketujuh Surat Rasul-Rasul lain, yaitu Surat Yakobus, dua Surat Petrus, tiga Surat Yohanes, Surat Yudas,
dan Wahyu kepada Yohanes.

Pasal 5
Dasar kewibawaan Kitab Suci

Hanya semua kitab ini saja kita terima
sebagai kitab-kitab suci dan kanonik,
agar menjadi patokan, asas, dan penyangga iman kita.
Dan kita percaya akan semua hal yang tercakup di dalamnya,
dengan tidak menaruh wasangka.
Bukan hanya karena Gereja menerimanya, dan menganggapnya begitu,
melainkan terutama karena Roh Kudus menyaksikan di dalam hati kita,
bahwa kitab-kitab ini berasal dari Allah,
dan juga karena bukti tentang hal itu terkandung di dalamnya,
mengingat orang buta pun dapat meraba,
bahwa apa yang dinubuatkan di dalamnya sungguh terjadi.

Pasal 6
Perbedaan antara Kitab-kitab Kanonik dan Kitab- kitab Apokrif

Kita membedakan antara Kitab-kitab Kanonik dan Kitab-kitab Apokrif, yakni kitab Ezra yang ketiga dan keempat, Kitab Tobit, Kitab Yudit, Kitab Kebijaksanaan, Putera Sirakh, Barukh, Tambahan-tambahan pada kisah Ester, Doa ketiga orang dalam perapian, Kisah Susana, Patung Bel dan Naga, Doa Manasye, dan kedua Kitab Makabe.
Gereja memang boleh membaca kitab-kitab ini
dan mengambil pelajaran-pelajaran dari dalamnya juga,
sejauh isinya sesuai dengan Kitab-kitab Kanonik.
Akan tetapi, Kitab-kitab Apokrif ini tidak mempunyai kekuatan dan kuasa yang begitu rupa,
sehingga melalui kesaksian apa saja dari dalamnya orang dapat meneguhkan satu pasal sekalipun dari iman atau dari Agama Kristen.
Lebih-lebih, kitab-kitab itu tidak mungkin mengurangi wibawa kitab- kitab lain, yang suci.

Pasal 7
Kesempurnaan Kitab Suci sebagai satu-satunya patokan bagi iman kita

Kita percaya, bahwa Kitab Suci ini
berisi kehendak Allah secara sempurna,
dan bahwa segala sesuatu yang harus dipercayai manusia untuk diselamatkan diajarkan di dalamnya dengan secukupnya.
Sebab seluruh cara berbakti
yang dituntut Allah dari kita
tertulis di dalamnya dengan panjang lebar.
Oleh karena itu, tidak boleh seorang pun,
sekalipun ia seorang rasul,
membawa ajaran lain daripada yang telah diajarkan
kepada kita oleh Kitab Suci,
bahkan sekalipun ia seorang malaikat dari surga
menurut perkataan rasul Paulus dalam Gal 1:8
Larangan menambahi atau mengurangi Firman Allah (bnd. Ula 12:32)
menunjukkan betapa ajarannya sempurna dan lengkap.
Juga tidak boleh tulisan manusia,
betapapun sucinya,
disamakan dengan Kitab-kitab ilahi.
Pun tidak boleh kebiasaan disamakan dengan kebenaran Allah,
(sebab kebenaran melebihi segala sesuatu),
atau jumlah besar orang,
atau ketuaan,
atau suksesi zaman atau orang,
atau konsili-konsili, dekrit-dekrit atau keputusan-keputusan.
Sebab sekalian orang adalah sumber dusta
dan puncak kesia- siaan (bnd. Maz 62:10).
Oleh sebab itu,
kita menolak dengan sepenuh hati
segala sesuatu yang tidak sesuai dengan patokan yang tidak dapat bersalah itu, sebagaimana diajarkan kepada kita oleh para rasul,
katanya, Ujilah roh-roh, apakah mereka berasal dari Allah(1Yo 4:1),
begitu juga, jikalau seorang datang kepadamu,
dan ia tidak membawa ajaran ini,
janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu( 2Yo 10)

Pasal 8
Ketritunggalan Allah yang kudus

Sesuai dengan kebenaran dan Firman Allah itu
kita percaya kepada Allah yang esa,
yang adalah satu Zat yang tunggal,
yang di dalam-Nya ada tiga Pribadi,
yang sungguh- sungguh, benar-benar, dan dari kekekalan
berlainan menurut sifat- sifat Mereka yang tidak sama-sama Mereka miliki,
yaitu Bapa dan Anak dan Roh Kudus.
Bapa adalah sebab, asal, dan awal segala hal,
baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.
Anak adalah Firman, hikmat, dan gambar Bapa.
Roh Kudus adalah kuasa dan kekuatan yang kekal
yang keluar dari Bapa dan Anak.
Akan tetapi, perbedaan ini tidak menyebabkan Allah terbagi tiga,
sebab Kitab Suci mengajarkan kepada kita
bahwa Bapa dan Anak dan Roh Kudus
masing-masing mempunyai wujud-Nya sendiri,
yang berbeda karena sifat-sifat-Nya.
Tetapi begitu rupa, sehingga ketiga Pribadi ini
hanya merupakan satu Allah yang Esa.
Maka nyatalah Bapa bukan Anak dan Anak bukan Bapa,
demikian juga Roh Kudus bukan Bapa dan bukan juga Anak.
Sementara itu, ketiga Pribadi ini,
yang berbeda-beda seperti itu,
tidaklah terbagi,
tidak bercampur, dan tidak terbaur.
Sebab Bapa tidak mengenakan daging manusia,
Roh Kudus juga tidak,
tetapi hanya Anak saja.
Bapa tidak pernah tinggal sendiri,
tanpa Anak-Nya atau Roh-Nya yang Kudus.
Sebab ketiga-Nya sama-sama kekal
dalam satu Zat yang sama.
Tidak ada yang lebih dulu, tidak ada yang lebih kemudian,
sebab ketiga-Nya satu,
dalam kebenaran dan dalam kekuatan,
dalam kebaikan dan dalam kemurahan.

Pasal 9
Ketiga Pribadi dalam Allah yang esa

Semua itu kita ketahui
baik dari kesaksian- kesaksian Kitab Suci
maupun dari karya-karya Mereka,
dan terutama dari karya-karya
yang kita rasai di dalam diri kita.
Kesaksian-kesaksian Kitab-Kitab Suci, yang mengajari kita
percaya kepada Ketritunggalan ini,
tertulis dalam banyak nas Perjanjian Lama;
nas-nas itu tidak perlu dihitung,
tetapi harus dipilih dengan cermat.
Dalam Kejadian Kej 1:26-27 Allah berkata,
Baiklah Kita menjadikan manusia
menurut gambar dan rupa Kita, dst.
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya,
laki-laki dan perempuan diciptakan- Nya mereka.
Demikian juga dalam Kej 3:22,
Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita.
Dari situ nyatalah ada lebih dari satu Pribadi di dalam Keallahan,
bila Dia berfirman, Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar Kita.
Selanjutnya Dia menunjukkan kesatuan,
bila Dia berfirman, Maka Allah menciptakan.
Memang, Dia tidak berkata berapa jumlah Pribadi.
Tetapi, apa yang agak kurang terang bagi kita dalam Perjanjian Lama
menjadi sangat jelas dalam Perjanjian Baru.
Sebab waktu Tuhan kita dibaptis di Sungai Yordan,
terdengarlah suara Bapa, bunyinya,
Inilah Anak yang Kukasihi;
Anak tampak di dalam air,
dan Roh Kudus menyatakan diri dalam rupa burung merpati.
Juga, untuk Baptisan semua orang percaya
Kristus sudah menetapkan formula ini,
Baptislah semua bangsa dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus(Mat 28:19)
Dalam Injil Luk 1:35, malaikat Gabriel berkata kepada Maria, ibu Tuhan:
Roh Kudus akan Turun atasmu
dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau;
sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
Begitu juga, Kasih Karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah,
dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian (2Ko 13:13).
Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam surga, Bapa, Firman, dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu(1Yo 5:9)
Dalam semua nas itu kita diajari sepenuhnya
bahwa ada tiga Pribadi di dalam satu Zat ilahi yang esa.
Meskipun ajaran ini jauh melampaui daya tangkap manusia,
namun oleh Firman kita sekarang mempercayainya,
sambil merindukan kenikmatan pengetahuan dan hasilnya yang sempurna dalam surga.
Lagi pula, harus dicamkan juga jabatan-jabatan dan karya-karya ketiga pribadi itu terhadap kita.
Bapa dinamakan Khalik kita oleh karena kuasa-Nya;
Anak adalah Juruselamat dan Penebus kita oleh karena darah-Nya;
Roh Kudus adalah yang menyucikan kita
oleh karena hati kita dijadikan-Nya tempat kediaman-Nya.
Ajaran mengenai Ketritunggalan yang kudus ini
senantiasa dipertahankan dan dipelihara dalam Gereja yang sejati,
sejak zaman para rasul hingga sekarang,
melawan orang Yahudi, orang Islam,
dan beberapa orang Kristen palsu dan orang sesat,
seperti Marcion, Mani, Praxeas, Sabellius, Paulus dari Samosata, Arius, dan lain sebagainya,
yang telah ditolak dengan sepatutnya oleh bapa-bapa gereja yang suci.
Oleh karena itu, dalam bidang ini dengan rela hati kita menerima ketiga Pengakuan Iman, yaitu Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea, dan Pengakuan Iman Atanasius.
Dan juga keputusan-keputusan mengenai hal ini yang diambil oleh bapa-bapa Gereja Lama sesuai dengan pengakuan tersebut.

Pasal 10
Yesus Kristus adalah Allah sejati dan kekal

Kita percaya, bahwa Yesus Kristus, menurut tabiat keallahan-Nya,
adalah Anak Allah yang tunggal, yang diperanakkan dari kekekalan;
tidak dijadikan atau diciptakan
(sebab seandainya begitu Dia adalah ciptaan),
tetapi se-Zat dengan Bapa, sama kekal,
gambar teraan wujud Bapa dan cahaya kemuliaan- Nya(Ibr 1:3),
dalam segala hal setara dengan Dia (Fil 2:6).
Dia adalah Anak Allah,
bukan hanya sejak Dia mengenakan tabiat kita,
melainkan dari kekekalan,
sebagaimana diajarkan kepada kita oleh kesaksian-kesaksian ini
kalau dibandingkan satu dengan yang lain.
Musa berkata, bahwa Allah telah menciptakan dunia (Kej 1:1)
dan Yohanes berkata, bahwa segala sesuatu dijadikan oleh Firman,
yang dinamakannya Allah (1Yo 1:3).
Sang Rasul(1) berkata, bahwa Allah telah menciptakan alam semesta melalui Anak-Nya (Ibr 1:2),
begitu pula, bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu melalui Yesus Kristus (Kol 1:16).
Kesimpulannya ialah, Dia yang dinamakan Allah, Firman, Anak, dan Yesus Kristus sudah ada ketika segala sesuatu diciptakan melalui Dia.
Oleh sebab itu Nabi Mikha berkata,
Permulaan-Nya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala(Mik 5:1).
Dan Sang Rasul berkata, Hari-Nya tidak berawal dan hidup-Nya tidak berkesudahan (Ibr 7:3).
Maka Dia adalah Allah sejati dan kekal, Yang Mahakuasa. Kepada Dia kita berseru, menyembah, dan berbakti.

Pasal 11
Roh Kudus adalah Allah sejati dan kekal

Kita percaya dan mengaku juga,
bahwa Roh Kudus dari kekekalan keluar dari Bapa dan Anak.
Dia tidak dijadikan atau diciptakan, ataupun diperanakkan,
tetapi hanya keluar dari kedua- Nya itu.
Menurut urutan Dia adalah Pribadi yang ketiga dalam Ketritunggalan,
se-Zat, sama agungnya, sama mulianya dengan Bapa dan Anak;
Allah sejati dan kekal,
sebagaimana diajarkan kepada kita oleh Kitab-kitab Suci.

Pasal 12
Penciptaan segala sesuatu, khususnya penciptaan malaikat-malaikat

Kita percaya, bahwa Bapa,
melalui Firman-Nya, yaitu melalui Anak-Nya,
telah menciptakan langit, bumi, dan segala makhluk
dengan tidak memerlukan bahan apa pun,
yaitu ketika Dia berkenan
memberi tiap-tiap makhluk wujud, bentuk, dan rupa,
dan bermacam-macam tugas
untuk melayani Penciptanya.
Kita percaya, bahwa sekarang pun
Dia memelihara dan memerintah semua itu,
menurut pemeliharaan-Nya yang kekal,
dan oleh kuasa-Nya yang tidak terhingga,
agar melayani manusia,
dengan maksud supaya manusia melayani Allahnya.
Dia telah menciptakan pula malaikat-malaikat dengan baik,
agar menjadi utusan-utusan-Nya dan melayani orang-orang pilihan-Nya.
Di antaranya ada yang kehilangan keulungan,
yang di dalamnya mereka diciptakan Allah,
dan jatuh ke dalam kebinasaan kekal.
Adapun yang lain- lain, oleh rahmat Allah
mereka bertahan,
dan tetap tinggal dalam keadaan semula.
setan-setan dan roh-roh jahat itu begitu buruk,
sehingga mereka menjadi musuh Allah dan musuh segala kebaikan.
Mereka mengincar dengan sekuat tenaga Gereja dan setiap anggotanya bagaikan pembunuh
yang akan merusak dan membinasakan segala sesuatu
oleh tipu dayanya.
Oleh karena itu, karena kejahatannya sendiri, mereka dijatuhi hukuman kebinasaan kekal,
dan sehari-hari mereka menantikan siksaan yang ngeri.
Maka kita menolak dan menjijikkan ajaran sesat orang Saduki dalam hal ini, yang menyangkal adanya roh-roh dan malaikat-malaikat,
dan juga ajaran sesat kaum Manikheis,
yang mengatakan bahwa setan-setan berasal dari dirinya sendiri,
karena kejahatan mereka disebabkan kodratnya sendiri tanpa mengalami perusakan.

Pasal 13
Pemeliharaan dan pemerintahan Allah atas segala sesuatu

Kita percaya, bahwa Allah yang baik itu,
setelah menciptakan segala sesuatu, tidak membiarkannya,
dan tidak menyerahkannya kepada peruntungan atau kepada nasib.
Sebaliknya, Dia mengendalikan dan memerintah segala sesuatu
menurut kehendak- Nya yang kudus,
begitu rupa, sehingga dalam dunia ini tidak terjadi sesuatu apa pun tanpa aturan-Nya.
Meskipun demikian, Allah tidak menjadikan dosa yang terjadi,
dan Dia tidak bersalah atasnya.
Sebab kuasa dan kebaikan-Nya begitu besar
dan tidak terjangkau pengertian,
sehingga Dia mengatur dan melaksanakan karya-Nya dengan sangat baik dan adil,
sekalipun setan-setan dan orang fasik melakukan ketidakadilan.
Dan mengenai apa yang dilakukan-Nya dengan melampaui pikiran manusia,
kita tidak ingin mengusiknya, dengan melewati batas kemampuan kita.
Bahkan kita memuja dengan segala kerendahan hati dan rasa hormat
hukuman- hukuman Allah yang adil,
yang tersembunyi bagi kita.
Kita menganggap cukup menjadi murid-murid Kristus,
untuk sekadar mempelajari apa yang ditunjukkan-Nya kepada kita dalam Firman-Nya,
tanpa melewati batas-batas itu.
Ajaran ini memberi kita hiburan yang tak terkatakan,
sebab olehnya kita diajar,
bahwa apa saja yang menimpa kita tidak terjadi secara kebetulan,
tetapi semata- mata oleh ketentuan Bapa surgawi kita yang baik,
yang menjaga kita dan mengasuh kita laksana seorang bapak.
Dia memegang segala makhluk-Nya di bawah kuasa-Nya, begitu rupa
sehingga tak sehelai rambut kepala kita pun
(sebab terhitung semuanya)
bahkan seekor burung pipit pun,
dapat jatuh ke bumi di luar kehendak Bapa kita (Mat 10:30,29).
Di dalamnya kita berteduh,
karena kita mengetahui, bahwa Allah mengekang setan-setan
beserta semua musuh kita,
yang tak dapat merugikan kita di luar izin dan kehendak-Nya.
Dalam hal ini kita menolak ajaran sesat dan terkutuk kaum Epikureis,(1)
yang mengatakan, Allah tidak peduli,
dan membiarkan semua hal terjadi dengan cara kebetulan.

Pasal 14
Penciptaan dan kejatuhan manusia, dan ketidakmampuan manusia untuk berbuat baik

Kita percaya, bahwa Allah telah menciptakan manusia dari debu tanah,
dan menjadikan serta membentuk dia menurut gambar dan rupa-Nya,
yaitu baik, benar, dan kudus.
Oleh kehendaknya manusia sanggup menyesuaikan diri dengan kehendak Allah
dalam segala hal.
Akan tetapi, ketika manusia sedang mulia ia tidak mempunyai pengertian,
dan tidak menyadari keulungannya.
Sebaliknya, dengan rela hati ia takluk kepada dosa,
dan oleh karena itu kepada maut dan kutuk,
karena membuka telinga untuk perkataan iblis.
Sebab hukum kehidupan yang telah diterimanya itu dilanggarnya,
dan oleh dosa ia memisahkan diri dari Allah,
yang adalah hidupnya yang sejati.
Ia telah merusak segenap kodratnya,
dan dengan demikian ia patut dihukum mati,
baik secara jasmani maupun secara rohani.
Oleh karena manusia menjadi fasik dan buruk,
serta bejat dalam segala jalannya,
maka ia kehilangan semua karunia gemilang,
yang telah diterimanya dari Allah,
sehingga tiada yang tinggal kecuali hanya sisa-sisa yang kecil saja.
Akan tetapi, sisa-sisa itu cukup sehingga manusia tidak dapat berdalih,
karena seluruh terang yang ada di dalam diri kita telah berubah menjadi kegelapan,
sebagaimana diajarkan Alkitab kepada kita, yang berbunyi,
Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak memahaminya'; di sini Yohanes menamakan manusia 'kegelapan'.
Karena itu, kita menolak segala ajaran yang bertentangan dengan hal-hal itu,
seakan-akan manusia memiliki kehendak bebas,
sebab manusia tidak lain dari hamba dosa
dan tidak dapat mengambil sesuatu bagi dirinya,
kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga.
Sebab siapakah yang akan memegahkan kemampuannya untuk berbuat sesuatu yang baik seakan-akan hal itu timbul dari dirinya sendiri,
sedangkan Kristus berkata:
Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku,
jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku?
Siapakah yang akan mengemukakan kehendaknya,
sedangkan ia memahami bahwa keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah?
Siapakah yang akan menyebut-nyebut pengetahuannya,
sedangkan ia melihat bahwa manusia duniawi tidak memahami apa yang berasal dari Roh Allah?
Pendeknya, siapakah yang akan mengajukan suatu pikiran,
sedangkan ia sadar bahwa dengan diri kita sendiri kita tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kita sendiri, tetapi bahwa kesanggupan kita adalah pekerjaan Allah?
Oleh karena itu, benar-benar patut apa yang dikatakan Sang Rasul tetap dianggap teguh dan pasti, yaitu bahwa Allahlah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.
Sebab tidak ada pengertian atau kehendak yang serupa dengan pengertian dan kehendak Allah,
kecuali yang dikerjakan Kristus di dalam manusia.
Hal itu diajarkan-Nya kepada kita, kata-Nya,
Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Pasal 15
Dosa turunan

Kita percaya, bahwa oleh ketidaktaatan Adam
dosa turunan sudah menjalar kepada seluruh umat manusia.
Dosa turunan itu adalah kerusakan seluruh kodrat,
dan cacat turunan.
Kanak-kanak pun sudah dicemari olehnya,
bahkan di dalam kandungan ibunya.
Dosa tersebut menghasilkan di dalam manusia bermacam-macam dosa,
seolah-olah menjadi akarnya di dalam dirinya.
Oleh karena itu, dosa turunan itu demikian buruk dan keji di hadapan Allah,
sehingga sudah cukup untuk menghukum seluruh umat manusia.
Bahkan, oleh baptisan pun dosa turunan itu tidak seluruhnya ditiadakan, dan akarnya tidak dicabut seluruhnya,
sebab dosa selalu memancar dari dalamnya
bagaikan air dari mata air yang mendatangkan celaka.
Meskipun demikian, kepada anak-anak Allah
dosa turunan itu tidak diperhitungkan menjadi sebab penghukuman,
tetapi diampuni, oleh rahmat dan kemurahan hati Allah,
bukan supaya mereka itu dapat tertidur dengan sentosa di tengah-tengah dosa,
melainkan supaya kesadaran akan kerusakan itu membuat orang percaya sering kali berkeluh
dan berkeinginan supaya dilepaskan dari tubuh maut.
Dalam hal ini kita menolak ajaran sesat kaum pengikut Pelagius,
yang menyatakan bahwa dosa itu hasil tiruan semata-mata.

Pasal 16
Pemilihan Allah yang kekal

Kita percaya, bahwa setelah seluruh keturunan Adam,
oleh dosa manusia pertama,
takluk pada kebinasaan dan keruntuhan,
Allah menyatakan diri-Nya sebagaimana ada-Nya,
yaitu penyayang dan adil.
Penyayang, sebab dari kebinasaan itu ditarik-Nya dan dilepaskan-Nya
mereka yang dalam rencana-Nya yang kekal dan tidak berubah-ubah
telah dipilih-Nya dalam Yesus Kristus, Tuhan kita,
hanya karena kebaikan-Nya semata-mata,
dengan tiada memperhitungkan sedikit pun perbuatan-perbuatan mereka.
Adil, karena yang lain-lain ditinggalkan-Nya
dalam kejatuhan dan kebinasaan
tempat mereka telah menghamburkan diri.

Pasal 17
Pemulihan manusia yang telah jatuh

Kita percaya, bahwa Allah kita yang baik,
- melihat bahwa dengan demikian manusia sudah menghamburkan diri
ke dalam maut jasmani maupun rohani,
dan sudah mencelakakan dirinya sama sekali -
karena hikmat dan kebaikan-Nya yang menakjubkan,
pergi sendiri mencari manusia,
ketika manusia itu lari dari-Nya dengan gemetar,
dan menghibur dia dengan perjanjian akan mengaruniakan Anak-Nya,
yang akan lahir dari seorang perempuan (Gal 4:4),
supaya ia meremukkan kepala ular (Kej 3:15),
dan membahagiakan manusia itu.

Pasal 18
Anak Allah menjadi manusia

Maka dari itu, kita mengaku, bahwa Allah sudah menggenapi janji,
yang telah diberikan-Nya kepada bapa-bapa leluhur
melalui mulut nabi-nabi-Nya yang kudus.
Dia telah mengutus Anak-Nya sendiri yang tunggal dan kekal
ke dalam dunia,
pada waktu yang telah ditentukan-Nya.
Dia telah mengambil rupa seorang hamba,
dan menjadi sama dengan manusia,
dengan sungguh-sungguh mengenakan tabiat manusia yang sejati
dengan segala kelemahannya (kecuali dosa).
Sebab Dia dikandung dalam badan anak dara Maria yang berbahagia,
oleh kekuatan Roh Kudus, tanpa perbuatan seorang laki-laki.
Dan Dia mengenakan tabiat manusia,
tidak hanya sejauh menyangkut tubuh saja,
tetapi juga jiwa manusia yang sejati,
supaya Dia menjadi manusia sejati.
Oleh sebab jiwa manusia sama binasa dengan tubuh
maka perlu dikenakan-Nya keduanya,
agar menyelamatkan keduanya.
Oleh sebab itu, kita mengaku
(dengan menolak ajaran sesat kaum Anabaptis
yang menyangkal bahwa Kristus menerima daging manusia dari ibu-Nya),
bahwa Kristus mendapat bagian dalam daging dan darah anak-anak (Ibr 2:14),
bahwa Dia terbit dari sulbi Daud menurut daging (Kis 2:30),
menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud (Rom 1:3),
buah rahim Maria (Luk 1:42),
lahir dari seorang perempuan (Gal 4:4),
tunas bagi Daud (Yer 33:15),
suatu tunas yang keluar dari tunggul Isai (Yes 11:1),
berasal dari suku Yehuda (Ibr 7:14),
keturunan orang Yahudi menurut daging (Rom 9:5),
keturunan Abraham, karena Dia telah menerima keturunan Abraham dan disamakan dengan saudara-saudara-Nya dalam segala hal, kecuali hal dosa (Ibr 2:16-17, Ibr 4:15),
Dengan demikian Dia sungguh-sungguh menjadi
Imanuel kita, yang berarti: Allah menyertai kita (Mat 1:23).

Pasal 19
Kesatuan dan perbedaan kedua tabiat Kristus dalam satu Pribadi

Kita percaya, bahwa oleh karena Dia dikandung
maka Pribadi Sang Anak disatukan dan digabungkan secara tak terpisahkan dengan tabiat manusia,
sedemikian rupa, hingga tidak ada dua Anak Allah,
dan tidak juga dua Pribadi,
tetapi dua tabiat yang disatukan menjadi satu Pribadi yang tunggal,
sedangkan tiap-tiap tabiat tetap memiliki sifat-sifatnya yang khas.
Maka itu, sebagaimana tabiat keallahan-Nya tetap tinggal tidak diciptakan,
dengan harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan,
dengan memenuhi langit dan bumi,
begitu juga tabiat kemanusiaan-Nya tidak kehilangan sifat-sifatnya sendiri,
tetapi tetap tinggal ciptaan,
dengan berawal hari dan dengan bersifat berhingga,
dengan tetap memiliki segala sesuatu yang termasuk tubuh yang sejati.
Meskipun oleh kebangkitan-Nya Dia memberinya ketidakfanaan,
tidak diubah-Nya keaslian tabiat kemanusiaan-Nya,
sebab keselamatan dan kebangkitan kita tergantung juga pada keaslian tubuh-Nya itu.
Akan tetapi, kedua tabiat itu disatukan menjadi satu Pribadi sedemikian rupa, hingga oleh kematian- Nya pun keduanya tidak diceraikan.
Jadi, apa yang diserahkan-Nya ke dalam tangan Bapa-Nya waktu mati,
ialah nyawa kemanusiaan yang sejati, yang keluar dari dalam tubuh-Nya.
Sementara itu, tabiat keallahan-Nya tetap bersatu dengan tabiat kemanusiaan, bahkan ketika Dia terbaring dalam kubur sekalipun.
Dan Keallahan tidak berhenti berada di dalam-Nya,
sebagaimana berada di dalam-Nya waktu Dia kanak-kanak,
meskipun selama beberapa waktu tidak menyatakan diri- Nya demikian.
Oleh sebab itu, kita mengaku, Dia adalah Allah sejati dan manusia sejati. Allah sejati, agar maut dikalahkan-Nya oleh kekuatan-Nya;
manusia sejati, supaya Dia dapat mati bagi kita menurut kelemahan daging-Nya.

Pasal 20
Allah menyatakan keadilan dan kemurahan-Nya dalam Kristus

Kita percaya, bahwa Allah,
yang mahamurah dan mahaadil,
telah mengutus Anak-Nya,
untuk menerima tabiat yang di dalamnya ketidaktaatan itu telah dilakukan, supaya dalam tabiat itu dijalani dan ditanggung-Nya hukuman atas dosa-dosa, yaitu oleh sengsara dan kematian-Nya yang amat pahit.
Dengan demikian, Allah telah menyatakan keadilan-Nya terhadap Anak-Nya, karena Dia mempertanggungkan dosa-dosa kita kepada-Nya,
dan mencurahkan kebaikan dan kemurahan-Nya atas kita yang bersalah dan patut menderita kebinasaan.
Dia menyerahkan Anak-Nya bagi kita, untuk dibunuh, oleh kasih yang amat sempurna,
dan Dia membangkitkan-Nya Dia demi membenarkan kita,
supaya melalui Dia kita miliki ketidakfanaan dan hidup yang kekal.

Pasal 21
Pelunasan oleh Kristus,Imam Besar kita satu- satunya, untuk dosa kita

Kita percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Imam Besar untuk selama-lamanya, dengan sumpah, menurut peraturan Melkisedek,
dan bahwa Dia telah menghadap Bapa-Nya atas nama kita,
untuk mendamaikan murka-Nya dengan memberi pelunasan(1) penuh.
Dia mengorbankan diri di kayu salib,
dan menumpahkan darah-Nya yang mahal demi membersihkan segala dosa kita,
seperti yang telah dinubuatkan oleh para nabi
Sebab tertulis, Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita,
ditimpakan kepada Anak Allah,

dan bahwa oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh,
bahwa Dia dibawa ke pembantaian seperti anak domba,
dan terhitung di antara orang-orang durhaka
(Yes 53:5,7,11).
Oleh Pontius Pilatus Dia dihukum sebagai seorang pejabat,
meskipun ia sudah menyatakan-Nya tidak bersalah.
Demikianlah Dia telah mengembalikan apa yang tidak dirampas-Nya (Maz 69:5),
dan menderita, Dia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar (1Pe 3:18),
yaitu baik dalam tubuh maupun dalam jiwa-Nya.
Dia telah merasakan hukuman mengerikan yang patut menjadi ganjaran bagi kita
atas dosa kita,
sehingga peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.
Dia telah berseru, Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Luk 22:44).
Dan semua itu di derita-Nya demi pengampunan dosa kita.
Oleh sebab itu tepatlah kita mengatakan bersama Paulus,
bahwa kita tidak mengetahui apa-apa selain Kristus, yaitu Dia yang disalibkan (1Ko 2:2);
segala sesuatu kita anggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhan kita, lebih mulia daripada semuanya (Fil 3:8).
Kita mendapat segala penghiburan dalam luka-luka-Nya
, dan tidak perlu lagi mencari atau memikirkan jalan lain apapun untuk memperdamaikan kita dengan Allah,
selain satu korban ini yang dipersembahkan satu kali saja,
yang olehnya orang percaya disempurnakan untuk selama-lamanya (Ibr 10:14).
Itulah juga sebabnya oleh Malaikat Allah Dia dinamakan Yesus, artinya Juruselamat,
karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Mat 1:21).

Pasal 22
Pembenaran kita oleh iman kepada Yesus Kristus

Kita percaya, bahwa, agar kita memperoleh pengetahuan yang benar tentang rahasia itu,
Roh Kudus menyalakan di dalam hati kita iman yang benar,
yang memeluk Yesus Kristus bersama segala jasa-Nya,
menjadikan Dia sebagai milik kita,
dan tidak lagi mencari barang apa pun di luar Dia.
Sebab hanya ada dua kemungkinan:
dalam Yesus Kristus tidak terdapat segala sesuatu yang perlu untuk keselamatan kita,
atau, kalau semua itu terdapat di dalam Dia, maka barang siapa memiliki Yesus Kristus oleh iman mempunyai seluruh keselamatannya.
Jadi, jikalau orang berkata bahwa Kristus tidak mencukupi,
tetapi masih perlu apa-apa di samping Dia,
maka hal itu merupakan hujat yang keterlaluan.
Sebab kesimpulannya ialah, Yesus Kristus merupakan setengah Juruselamat saja.
Oleh karena itu, dengan sesungguhnya kita berkata bersama Paulus,
bahwa kita dibenarkan hanya oleh iman, atau oleh iman tanpa perbuatan (Rom 3:28).
Akan tetapi, kita tidak beranggapan seolah-olah iman sendirilah yang membenarkan kita dalam arti yang sesungguhnya.
Sebab iman itu sekadar alat, yang dengannya kita memeluk Kristus, yang adalah kebenaran kita.
Akan tetapi, Yesus Kristus,
yang memperhitungkan kepada kita semua jasa-Nya
dan begitu banyak perbuatan suci
yang telah dilakukan-Nya bagi kita dan sebagai ganti kita,
Dialah kebenaran kita,
sedangkan iman adalah alat,
yang membuat kita tetap berada bersama Dia
dalam persekutuan dengan segala harta-Nya.
Setelah menjadi milik kita,
harta itu lebih dari cukup agar kita dibebaskan dari dosa- dosa kita.

Pasal 23
Pembenaran kita terdiri dari pengampunan dosa karena Kristus

Kita percaya, bahwa
kebahagiaan kita terletak dalam pengampunan dosa kita karena Yesus Kristus, dan pengampunan dosa itu merangkum kebenaran kita di hadapan Allah.
Demikianlah yang diajarkan kepada kita oleh Daud dan Paulus,
yang menyatakan manusia berbahagia bilamana Allah menganggapnya terbilang orang benar tidak berdasarkan perbuatan (Maz 32:2, Rom 4:6)
Dan Rasul itu juga berkata, bahwa kita telah dibenarkan dengan cuma-cuma atau oleh kasih karunia,
karena penebusan yang ada dalam Yesus Kristus (Rom 3:24).
Oleh sebab itu, kita senantiasa berpegang pada asas ini,
dengan mempersembahkan segala pujian kepada Allah,
seraya merendahkan diri kita dan mengaku keadaan kita sebagaimana adanya, tanpa berangan-angan mengenai diri kita sendiri atau jasa-jasa kita.
Dan kita hanya bertumpu pada ketaatan Kristus yang disalib itu,
dan semata-mata bernaung di dalamnya,
yang menjadi kepunyaan kita jika kita percaya kepada Dia.
Ketaatan itu cukup untuk menutupi segala kejahatan kita,
membebaskan hati nurani kita dari rasa takut, gentar dan ngeri,
dan memberi kita keberanian untuk menghampiri Allah,
tanpa berbuat seperti bapa leluhur kita yang pertama, yaitu Adam,
yang dengan gemetar mau menutupi dirinya dengan daun pohon ara.
Dan sesungguhnya, sekiranya kita harus menghadap Allah dengan bertumpu, betapapun sedikitnya,
pada diri kita sendiri atau pada makhluk apa pun yang lain,
maka - sial sekali - kita tidak bisa tidak ditelan.
Oleh karena itu, setiap orang wajib berkata bersama Daud;
Tuhan, janganlah berperkara dengan hamba-Mu ini,
sebab di antara yang hidup tidak seorangpun yang akan benar di hadapan-Mu (Maz 143:2).

Pasal 24
Pengudusan manusia dan perbuatan-perbuatan baik

Kita percaya, bahwa iman yang sejati itu,
yang dihasilkan dalam hati manusia
oleh pendengaran akan Firman Allah
dan oleh pekerjaan Roh Kudus,
membuat manusia lahir kembali dan menjadi manusia baru,
membuatnya hidup dalam kehidupan yang baru
dan memerdekakannya dari perhambaan dosa.
Oleh sebab itu, iman yang membenarkan itu
sekali-kali tidak mengurangi gairah manusia untuk hidup saleh dan suci.
Sebaliknya, tanpa iman itu manusia tidak akan berbuat sesuatu apa pun oleh kasih kepada Allah,
tetapi hanya oleh kasih kepada diri sendiri
dan karena takut di hukum.
Jadi, mustahil iman kudus itu menganggur dalam diri manusia,
mengingat kita tidak berbicara tentang iman yang hampa,
tetapi tentang iman yang oleh Alkitab disebut iman yang bekerja oleh kasih (Gal 5:6).
Iman ini menggerakkan manusia
agar mengupayakan perbuatan-perbuatan yang diperintahkan Allah dalam Firman-Nya.
Perbuatan-perbuatan itu baik dan berkenan kepada Allah
jika bertumbuh dari akar iman yang baik,
karena semuanya telah dikuduskan oleh kasih karunia-Nya.
Dalam pada itu, perbuatan-perbuatan itu tidak masuk perhitungan untuk membenarkan kita,
sebab oleh iman kepada Kristus maka kita dibenarkan,
bahkan sebelum kita melakukan perbuatan-perbuatan itu baik,
sebagaimana tidak mungkin buah pohon dapat menjadi baik sebelum pohon itu baik.
Jadi, kita melakukan perbuatan,
tetapi bukan dengan maksud memperoleh upah,
- sebab upah apa yang yang layak kita peroleh?-
tetapi kita malah wajib berterima kasih kepada Allah
atas perbuatan baik yang kita lakukan,
dan bukannya Dia yang harus berterima kasih kepada kita,
karena Dialah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya(Fil 2:13).
Maka baiklah kita memperhatikan apa yang tertulis,
Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata:
Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan (Luk 17:10).
Sementara itu, kita tidak hendak menyangkal
bahwa Allah mengganjar perbuatan-perbuatan baik.
Akan tetapi,oleh kasih karunia-Nya dimahkotai-Nya pemberian-Nya.
Lagi pula, meskipun kita melakukan perbuatan baik,
kita tidak akan menjadikannya dasar keselamatan kita,
sebab kita tidak dapat melakukan satu perbuatan pun
yang tidak dicemari oleh daging kita
dan patut mendapat hukuman.
Dan jikalau sekalipun kita dapat menunjukkan satu perbuatan yang baik,
namun kenangan pada satu dosa pun sudah cukup
untuk menyebabkan Allah menolak perbuatan itu.
Oleh karena itu, kita selalu bimbang, terombang- ambing,
tanpa kepastian apa pun,
dan hati nurani kita yang malang selalu tersiksa,
jika tidak bertumpu pada jasa yang terdapat dalam sengsara dan kematian Juruselamat kita.

Pasal 25
Penggenapan hukum upacara

Kita percaya, bahwa dengan kedatangan Kristus
maka upacara-upacara dan lambang-lambang hukum Taurat telah berhenti,
dan bahwa segala bayangan sudah berakhir,
sehingga pemakaiannya di tengah orang Kristen harus dihapuskan.
Namun, sebab semua itu mendapat penggenapannya di dalam Dia,
maka kebenaran dan hakikatnya tinggal tetap bagi kita dalam Kristus Yesus.
Dalam pada itu, kita tetap memakai kesaksian-kesaksian
yang diambil dari hukum Taurat dan dari para Nabi,
supaya olehnya kita makin diteguhkan dalam Injil,
dan mengatur hidup kita dalam segala kesopanan,
demi kemuliaan Allah, menurut kehendak-Nya.

Pasal 26
Kristus menjadi satu-satunya Pembela dan Jurusyafaat bagi kita

Kita percaya, bahwa kita tidak beroleh jalan masuk kepada Allah
selain oleh satu-satunya Pengantara dan Jurusyafaat kita,
Yesus Kristus, Yang benar.
Dia telah menjadi manusia,
dengan mempersatukan tabiat ilahi dan tabiat kemanusiaan,
supaya kita, manusia, beroleh jalan masuk kepada Kemuliaan Allah;
jika tidak demikian, maka jalan masuk itu tertutup bagi kita.
Akan tetapi, janganlah pengantara ini,
yang telah dianugerahkan kepada kita oleh Bapa
menjadi Pengantara antara diri-Nya dengan kita,
membuat kita terkejut oleh keagungan- Nya,
sehingga kita mencari seorang pengantara lain, menurut kesukaan kita.
Sebab tidak ada makhluk apa pun, di surga maupun di bumi,
yang mengasihi kita lebih daripada Yesus Kristus,
yang walaupun dalam rupa Allah,
telah mengosongkan diri- Nya sendiri,
dan mengambil rupa seorang manusia dan seorang hamba guna kita,
dan segala hal menjadi sama dengan saudara-saudara-Nya(Fil 2:6-7).
Jadi, andaikata kita harus mencari seorang pengantara lain,
yang mengasihi kita,
maka siapakah yang akan kita dapati yang mengasihi kita lebih daripada Dia, yang telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita,
ketika kita masih seteru-Nya (Rom 5:8,10)?
Dan andaikata kita mencari seorang pengantara yang berkuasa dan berkehormatan,
maka siapakah yang memiliki kuasa dan kehormatan sebanyak Dia,
yang duduk di sebelah kanan Bapa-Nya,
dan yang mempunyai segala kuasa di surga dan di bumi (Mat 28:18).
Dan siapakah yang akan lebih mudah dikabulkan daripada Anak Allah yang kekasih itu sendiri?
Maka hanya karena kurang percaya dimasukkanlah kebiasaan ini,
yang menistakan orang kudus alih-alih menghormati mereka,
yang melakukan apa yang tidak pernah mereka lakukan ataupun kehendaki,(1)
bahkan mereka sama sekali telah menolak hal itu, sesuai dengan kewajiban mereka,
sebagaimana dinyatakan oleh karangan-karangan mereka.
Dalam hal ini orang tidak perlu mengemukakan ketidaklayakan kita,
sebab di sini artinya(2)bukan bahwa kita memanjatkan doa-doa kita berdasarkan kelayakan kita.
Sebaliknya, kita hanya memanjatkannya berdasarkan keulungan dan kelayakan Tuhan kita Yesus Kristus,
yang kebenaran- Nya menjadi kepunyaan kita oleh iman.
Oleh sebab itu, Sang Rasul,
yang ingin mencabut rasa takut yang bebal,
atau lebih tepat, ketidakpercayaan itu dari kita,
berkata, Yesus Kristus telah menjadi sama dengan saudara-saudara-Nya dalam segala hal,
supaya dia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia, untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.
Sebab oleh karena Dia sendiri telah menderita karena pencobaan,
maka Dia dapat menolong mereka yang dicobai
(Ibr 2:17- 18).
Dan selanjutnya ia berkata, hendak menambahkan kebenaran kita untuk menghampiri-Nya,
Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung,
yang telah melintasi semua langit,
yaitu Yesus, Anak Allah,
baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.
Sebab Imam Besar yang kita punya,
bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita,
sebaliknya sama dengan kita, Dia telah dicobai,
hanya tidak berbuat dosa.
Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia,
supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia,
untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya (Ibr 4:14-16).
Rasul yang sama juga berkata,
bahwa oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus.
Karena itu, katanya, marilah kita menghadap Allah dengan keyakinan iman yang teguh, dst. (Ibr 10:19,22).
Begitu pula, Kristus memegang imamat yang tetap untuk selama-lamanya. Karena itu, Dia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Dia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka (Ibr 7:24-25).
Apalagi yang kurang, karena Kristus sendiri mengujar,
Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yoh 14:6).
Dengan maksud apa kita hendak mencari seorang pembela yang lain,
karena Allah memang berkenan menganugerahkan Anak-Nya menjadi Pembela kita?
Jangan kita meninggalkan Dia untuk menerima orang lain,
atau, lebih tepat, untuk mencari orang lain dengan tidak pernah mendapatinya.
Sebab waktu Allah menganugerahkan Dia, memang diketahui-Nya bahwa kita orang berdosa.
Oleh karena itu, sesuai dengan perintah Kristus,
kita berseru kepada Bapa Surgawi melalui Kristus,
satu-satunya Pengantara kita,
sebagaimana kita diajar dalam Doa Bapa Kami,
dengan penuh keyakinan bahwa segala sesuatu yang kita minta kepada Bapa dalam nama-Nya, akan diberikan kepada kita (Yoh 16:23).

Pasal 27
Gereja Kristen yang Am

Kita percaya dan mengaku satu Gereja yang Katolik atau Am,
yang adalah perkumpulan kudus orang-orang yang sungguh- sungguh percaya kepada Kristus,
yang mengharapkan segenap keselamatan mereka dalam Yesus Kristus, yang telah dicuci oleh darah- Nya,
yang dikuduskan dan dimeteraikan oleh Roh Kudus.
Gereja ini sudah ada sejak awal dunia
dan akan ada sampai akhir zaman,
mengingat Kristus adalah seorang Raja yang kekal,
yang tidak bisa memiliki rakyat.
Dan gereja yang kudus ini dipelihara atau dipertahankan Allah
terhadap amukan seluruh dunia,
meskipun kadang-kadang selama beberapa waktu waktu Gereja itu tampak sangat kecil di mata orang,
bahkan rupanya sudah punah.
Begitu pula pada masa gawat waktu pemerintahan Ahab itu,
Tuhan meninggalkan bagi diri-Nya
tujuh ribu orang yang tidak pernah sujud menyembah Baal.
Tambahan lagi, Gereja yang Kudus ini
tidak terletak, tidak terikat atau terbatas pada tempat tertentu,
atau pada pribadi-pribadi tertentu,
tetapi Gereja itu tersebar dan terserak di seluruh dunia.
Namun, Gereja itu dikumpulkan dan dipersatukan, sehati sekehendak, dalam satu Roh yang sama,
oleh kuasa iman.

Pasal 28
Kewajiban semua orang untuk bergabung dengan gereja yang sejati

Kita percaya,
karena perkumpulan yang kudus ini adalah perhimpunan orang-orang yang diselamatkan,
dan karena di luarnya tidak ada keselamatan,
maka tidak seorang pun - bagaimanapun tingkat dan kualitasnya -
patut mengasingkan diri untuk berdiri sendiri dengan seenaknya.
Sebaliknya, mereka semua harus bergabung dengan perkumpulan ini dan bersatu
dengannya, seraya memelihara kesatuan Gereja,
tunduk kepada pengajaran dan disiplinnya,
dan menundukkan tengkuknya di bawah kuk Yesus Kristus,
Mereka harus melayani pembinaan saudara-saudara,
menurut karunia-karunia yang dianugerahkan Allah kepadanya,
sebagai orang yang bersama-sama menjadi anggota satu tubuh.
Supaya hal ini dapat dipegang dengan lebih baik lagi,
maka menurut Firman Allah semua orang percaya wajib
melepaskan hubungan dengan orang yang tidak termasuk Gereja,
dan bergabung dengan perkumpulan ini,
di mana pun Allah menempatkannya,
sekalipun penguasa- penguasa dan ketentuan-ketentuan raja-raja menentangnya, dan sekalipun mereka harus menderita hukuman mati atau siksaan tubuh apapun karenanya.
Oleh sebab itu, semua orang yang memisahkan diri dari Gereja ini,
atau tidak bergabung dengannya,
melawan perintah Allah.

Pasal 29
Perbedaan antara Gereja yang sejati dan gereja yang palsu serta ciri-ciri masing-masing

Kita percaya, bahwa orang patut berupaya dengan seksama dan cermat dengan berdasarkan Firman Allah,
agar mengenali Gereja yang sejati,
sebab segala bidat yang dewasa ini terdapat di dunia
bersembunyi di bawah nama Gereja.
Di sini kita tidak berkata-kata tentang golongan orang munafik,
yang di dalam Gereja tercampur dengan orang-orang yang baik
namun tidak termasuk di dalamnya,
meskipun mereka secara jasmani berada di dalamnya.
Akan tetapi, kita berkata bahwa patutlah orang membedakan
antara tubuh serta persekutuan Gereja yang sejati
dan segala bidat, yang menamai dirinya Gereja.
Ciri-ciri pengenal Gereja yang sejati ialah,
jikalau Gereja memakai pemberitaan Injil yang murni,
jikalau Gereja memakai pelayanan sakramen-sakramen yang murni sebagai mana ditetapkan Kristus,
jikalau diselenggarakan disiplin gereja, untuk menghukum dosa.
Pendeknya, jika orang bertindak sesuai dengan Firman Allah yang murni dengan menolak segala sesuatu yang bertentangan dengannya,
seraya memandang Yesus Kristus sebagai satu-satunya Kepala.
Melalui hal-hal itu orang dapat mengenali Gereja yang sejati dengan pasti, dan tidak seorang pun diperbolehkan memisahkan diri darinya.
Adapun orang-orang yang termasuk Gereja itu
dapat dikenali dari ciri-ciri orang Kristen, yaitu dari iman,
dan jikalau mereka, setelah menerima satu-satunya Juruselamat Yesus Kristus, menjauhi dosa dan mengejar kebenaran,
mengasihi Allah yang sejati dan sesamanya manusia,
tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri,
dan menyalibkan dagingnya serta segala perbuatannya.
Namun, hal itu tidak berarti
bahwa tidak ada lagi kelemahan besar pada mereka.
Akan tetapi mereka berjuang melawan kelemahan itu oleh Roh, dalam setiap hari-hari kehidupannya,
sambil berlindung terus-menerus pada darah, kematian, sengsara, dan ketaatan Tuhan Yesus.
Di dalam-Nya mereka beroleh pengampunan dosa
oleh iman kepada-Nya.
Adapun gereja yang palsu menganggap dirinya dan peraturannya
lebih berkuasa dan berwenang daripada Firman Allah,
dan tidak mau tunduk pada kuk Kristus;
ia tidak melayankan sakramen-sakramen dengan cara yang ditetapkan Kristus dalam Firman-Nya,
tetapi mengurangi dan menambahinya dengan semau-maunya.
Gereja yang palsu itu lebih bertumpu pada manusia dibandingkan pada Kristus.
Gereja palsu itu menganiaya orang yang hidup suci menurut Firman Allah dan yang menegurnya karena cacatnya, keserakahannya, dan karena menyembah berhala-berhala.
Kedua gereja ini dengan mudah dikenali dan dibedakan satu sama lain.

Pasal 30
Pemerintahan gereja oleh jabatan-jabatan gerejawi

Kita percaya, bahwa Gereja yang sejati itu
harus diperintah menurut tatanan rohani yang diajarkan Tuhan kepada kita dalam Firman-Nya, yaitu,
bahwa harus ada pelayan-pelayan atau gembala-gembala,
untuk memberitakan Firman Allah dan melayankan sakramen-sakramen;
bahwa harus ada pula penilik-penilik dan diaken-diaken,
untuk bersama para gembala menjadi majelis gereja,
dan dengan cara itu memelihara agama yang benar serta memajukan ajaran yang benar,
juga supaya para pelanggar dihukum dan dikendalikan dengan cara rohani, dan orang miskin dan sudah ditolong serta dihibur sesuai dengan keperluan masing-masing.
Dengan sarana ini segala sesuatu dalam Gereja akan berlangsung dengan sopan dan teratur,
asal saja yang dipilih adalah orang-orang yang setia,
dan asal pemilihannya diadakan menurut peraturan yang diberikan Rasul Paulus dalam Surat kepada Timotius.

Pasal 31
Para Pelayan, Penatua, dan Diaken

Kita percaya, bahwa para Pelayan Firman Allah, para Penatua, dan Diaken harus dipilih untuk jabatan mereka oleh pemilihan gerejawi yang sah, dengan memanggil nama Allah, dan dengan memakai aturan yang baik, sebagaimana diajarkan oleh Firman Allah.
Jadi, setiap orang harus berhati-hati jangan sampai menyusup masuk dengan cara-cara yang tidak patut.
Sebaliknya, harus dinantikannya saat ia dipanggil Allah,
supaya ia mempunyai kesaksian tentang panggilannya,
sehingga ia merasa pasti dan yakin, bahwa panggilannya berasal dari Tuhan.
Adapun para Pelayan Firman, di mana saja mereka berada,
kuasa dan wewenang yang mereka miliki sama,
karena mereka semua adalah hamba Yesus Kristus,
yang adalah satu-satunya Uskup Am dan satu-satunya Kepala gereja.
Tambahan pula, supaya jangan peraturan Allah yang kudus dilanggar atau dihinakan,
maka kita berkata, bahwa setiap orang harus menghormati secara istimewa para Pelayan Firman dan para Penatua Gereja,
oleh karena pekerjaan yang mereka lakukan,
dan sedapat mungkin memelihara damai dengan mereka,
tanpa sungut, pertengkaran atau perselisihan.

Pasal 32
Tata gereja dan disiplin

Dalam pada itu, kita percaya,
memang berguna dan baik adanya, bahwa mereka yang memerintah Gereja menetapkan dan mempertahankan secara bersama tata gereja yang tertentu, guna pemeliharaan tubuh gereja.
Namun, haruslah mereka berhati-hati agar jangan sampai menyimpang dari apa yang diperintahkan kepada kita oleh Kristus,
satu-satunya Guru kita.
Oleh karena itu, kita menolak segala rekaan manusiawi
dan semua undang-undang yang hendak dimasukkan orang untuk melayani Allah,
dan untuk mengikat serta mengekang hati nurani,
dengan cara apapun juga.
Jadi, kita hanya menerima apa yang berguna demi memelihara dan menjaga persekutuan dan persatuan,
dan untuk mengasuh semuanya dalam ketaatan kepada Allah.
Untuk itu dibutuhkan pengucilan atau pengasingan dari gereja,
yang terjadi menurut Firman Allah,
bersama segala sesuatu yang bersangkut-paut dengannya.

Pasal 33
Sakramen-sakramen

Kita percaya, bahwa Allah kita yang baik,
dengan memperhatikan kebodohan dan kelemahan kita,
telah menetapkan sakramen-sakramen bagi kita,
untuk memeteraikan perjanjian-Nya pada kita,
dan agar menjadi petaruh-petaruh kemurahan dan kasih karunia Allah terhadap kita,
dan juga untuk memupuk serta memelihara iman kita.
Sakramen-sakramen ini ditambahkan Allah pada Firman Injil,
supaya dengan lebih jelas lagi diperlihatkan-Nya kepada indera kita yang lahiriah
baik apa yang diterangkan-Nya kepada kita melalui Firman-Nya,
maupun apa yang dikerjakan-Nya secara batin di dalam hati kita.
Dengan demikian diberlakukan-Nya secara batin di dalam hati kita.
Dengan demikian diberlakukan-Nya dan diteguhkan-Nya dalam diri kita
keselamatan yang dikaruniakan-Nya kepada kita.
Karena sakramen- sakramen itu adalah tanda-tanda dan meterai-meterai yang kelihatan
tentang hal batin yang tidak kelihatan,
dan melaluinya Allah bekerja di dalam diri kita,
oleh kuasa Roh Kudus,
Maka tanda- tanda ini bukan hampa atau tak berisi,
untuk menipu kita,
sebab kebenaran yang diungkapkan di dalamnya ialah Yesus Kristus,
dan tanpa Dia sakramen-sakramen itu tidak berarti sama sekali.
Selanjutnya, kita berpendapat cukuplah jumlah sakramen yang ditetapkan Kristus, Guru kita, yang jumlahnya tidak melebihi dua,
sakramen Baptisan
dan sakramen Perjamuan Kudus Yesus Kristus.

Pasal 34
Baptisan Kudus

Kita percaya dan mengaku, bahwa
Yesus Kristus, yang adalah kegenapan Hukum Taurat(Rom 10:4),
oleh penumpahan darah-Nya sudah menamatkan segala penumpahan darah lain, yang mungkin dapat atau hendak dilakukan orang
demi pendamaian dan pelunasan(1)dosa-dosa,
dan bahwa Dia, setelah membatalkan surat, yang berlangsung dengan darah, menetapkan sakramen Baptisan sebagai gantinya.
Oleh sakramen itu kita diterima ke dalam Gereja Allah,
dan dipisahkan dari semua bangsa lain dan agama asing,
supaya kita menjadi milik-Nya seluruhnya
yang menyandang tanda pengenal dan panji-Nya.
Baptisan itu menjadi kesaksian bagi kita,
bahwa Dialah Allah kita untuk selama-lamanya,
sebagai Bapa yang murah hati terhadap kita.
maka Kristus memerintahkan membaptis semua orang milik- Nya
dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat 28:19),
hanya dengan air bersih saja.
Dengan demikian Dia menjelaskan kepada kita,
sama seperti air membasuh kotoran tubuh waktu kita disiram air itu,
yaitu air yang kelihatan pada tubuh orang yang dibaptis dan yang memerciki dia,
begitu juga darah Kristus melakukan hal yang sama secara batin, di dalam jiwa, oleh Roh Kudus,
dengan memerciki jiwa dan membersihkannya dari dosa
dan dengan melahirkan kita kembali,
sehingga dari anak- anak murka menjadi anak-anak Allah.
Memang hal itu tidak dikerjakan oleh materi air,
tetapi oleh pemercikan dengan darah Anak Allah yang mahal,
yang adalah Laut Merah kita,
yang harus kita lintasi untuk luput dari penindasan Firaun, yaitu Iblis,
dan untuk masuk Tanah Kanaan yang rohani.
Maka para Pelayan di pihak mereka memberi kita sakramen, dan apa yang kelihatan,
tetapi Tuhan kita memberikan apa yang ditandai oleh sakramen,
yaitu semua karunia dan anugerah yang tidak kelihatan,
sambil membasuh, menyucikan, dan membersihkan jiwa kita dari segala kotoran dan kesalahan,
dan membarui hati kita serta memenuhinya dengan segala hiburan.
Dengan demikian diberikannya-Nya kepada kita keyakinan yang sungguh-sungguh akan kebaikan-Nya sebagai seorang Bapa,
dan kita dibuat-Nya mengenakan manusia baru serta menanggalkan manusia lama bersama segala perbuatannya.
Oleh sebab itu, kita percaya, bahwa orang yang hendak masuk ke dalam hidup kekal
hendaknya dibaptis hanya satu kali saja dengan baptisan yang satu-satunya, dengan tidak pernah mengulanginya,
sebab mustahil juga kita lahir dua kali.
Akan tetapi, baptisan itu tidak hanya berfaedah
selama air masih ada pada tubuh kita dan selama kita menerima air itu, tetapi sepanjang masa hidup kita.
Oleh karena itu, kita menolak ajaran sesat kaum Anabaptis,
yang tidak puas dengan satu baptisan yang pernah diterimanya,
dan yang juga menolak keras baptisan anak-anak orang percaya.
Menurut keyakinan kita, anak-anak ini patut dibaptis dan dimeteraikan dengan tanda perjanjian,
sama seperti anak-anak orang Israel disunat
berdasarkan janji-janji yang sama dengan yang diberikan kepada anak-anak kita.
Sesungguhnya, Kristus tidak kurang menumpahkan darah-Nya untuk membasuh anak-anak orang percaya
daripada untuk mencuci orang dewasa.
Oleh sebab itu, patut mereka menerima tanda dan sakramen
dari apa yang telah dilakukan Kristus bagi mereka,
sebagaimana dalam hukum Taurat Tuhan memerintahkan
agar kepada mereka dibagikan sakramen sengsara dan kematian Kristus tidak lama setelah mereka dilahirkan,
dengan mempersembahkan seekor anak domba,
yang menjadi sakramen Yesus Kristus.
Tambahan pula, apa yang dikerjakan oleh sunat untuk bangsa Yahudi, hal itu juga dikerjakan oleh Baptisan untuk anak-anak kita.
Oleh sebab itu, Rasul Paulus menamakan Baptisan itu sunat Kristus (Kol 2:11).

Pasal 35
Perjamuan Kudus Tuhan kita Yesus Kristus

Kita percaya dan mengaku, bahwa Juruselamat kita Yesus Kristus
telah memerintahkan dan menetapkan Perjamuan Kudus,
untuk memberikan makan dan memelihara mereka yang telah dilahirkan-Nya kembali
dan yang telah dicangkokkan-Nya menjadi anggota keluarga-Nya, yaitu Gereja-Nya.
Di dalam orang yang telah dilahirkan kembali itu terdapat kehidupan ganda.
Yang satu bersifat jasmani dan sementara;
mereka membawanya sejak kelahirannya yang pertama,
dan kehidupan itu dimiliki semua orang.
Yang lain bersifat rohani dan surgawi;
mereka dianugerahi kehidupan itu pada kelahiran kedua,
yang dikerjakan oleh Firman Injil, dalam persekutuan dengan tubuh Kristus.
Kehidupan yang kedua ini hanya menjadi milik orang-orang pilihan Allah semata-mata.
Maka untuk memelihara kehidupan jasmani di bumi ini,
Allah telah menetapkan bagi kita roti biasa dari bumi ini,
yang berguna untuk kehidupan jasmani
dan yang menjadi milik semua orang, sama seperti kehidupan itu sendiri.
Tetapi untuk memelihara kehidupan rohani dan surgawi,
yang dimiliki orang percaya,
Allah mengutus kepada mereka Roti yang hidup,
yang telah turun dari surga, yaitu Yesus Kristus.
Dia mengasuh dan memelihara kehidupan rohani orang percaya waktu Dia dimakan, artinya dijadikan milik dan diterima oleh iman, secara rohani.
Untuk menggambarkan roti rohani dan surgawi itu bagi kita,
Kristus telah menetapkan satu roti jasmani yang kasatmata,
yang merupakan sakramen tubuh-Nya,
dan air anggur, menjadi sakramen darah- Nya.
Maksud-Nya untuk menyaksikan kepada kita, bahwa
sama seperti kita menerima sakramen itu dan memegangnya dengan tangan kita serta memakan dan meminumnya dengan mulut kita,
sehingga sesudahnya kehidupan kita terpelihara dengannya,
begitu juga kita pasti menerima melalui iman
(yang merupakan tangan dan mulut jiwa kita)
tubuh sejati dan darah sejati Yesus Kristus,
satu- satunya Juruselamat kita,
untuk kehidupan kita yang rohani.
Jadi, pasti dan tidak dapat diragu-ragukan,
bahwa Yesus Kristus tidak sia-sia menganjurkan sakramen-sakramen-Nya kepada kita.
Maka demikianlah dikerjakan-Nya dalam diri kita
segala sesuatu yang dihadirkan-Nya di depan mata kita
melalui tanda-tanda yang kudus ini,
meskipun caranya melampaui akal budi kita
dan tidak dapat kita pahami,
sebagaimana juga cara kerja Roh Kudus tersembunyi dan tidak terpahami.
Walaupun begitu, tidak keliru kalau kita berkata,
bahwa apa yang kita makan dan minum itu
adalah tubuh Kristus sendiri, yang asli
dan darah-Nya sendiri,
tetapi cara kita makan tubuh dan darah itu
bukan cara mulut, melainkan cara roh, oleh iman.
Jadi, Yesus Kristus tetap duduk di sebelah kanan Allah Bapa-Nya, di surga, namun hal itu tidak mencegah Dia membagikan diri-Nya kepada kita oleh iman.
Perjamuan ini adalah meja rohani,
dan meja itu Kristus membagikan diri-Nya bersama segala harta-Nya kepada kita.
Padanya Kristus membuat kita menikmati diri-Nya maupun jasa sengsara dan kematian-Nya.
Dia mengasuh, menguatkan, dan menghibur jiwa kita yang malang dan putus asa dengan memberi makan, yaitu tubuh-Nya,
dan menyegarkan serta menyenangkan jiwa kita dengan minuman, yaitu darah-Nya.
Selanjutnya, meskipun sakramen-sakramen dan hal-hal yang ditandai olehnya digabung menjadi satu hal saja,
tidak semua orang menerima sakramen-sakramen itu bersama kedua hal tersebut.
Orang fasik memang menerima sakramen menjadi hukum baginya, tetapi ia tidak menerima kebenaran yang diungkapkan dalam sakramen itu, sama seperti Yudas dan Simon si tukang sihir,(1) yang memang telah menerima sakramen,
namun tidak menerima Kristus, yang ditandai olehnya,
yang hanya dibagikan kepada orang-orang percaya.
Akhirnya, kita menerima sakramen yang kudus itu di tengah perhimpunan umat Allah,
dengan rendah hati dan rasa hormat,
dengan mengadakan acara suci peringatan kematian Kristus, Juruselamat kita, disertai pengucapan syukur,
dan di situ kita mengikrarkan pengakuan iman kita dan agama Kristen.
Oleh sebab itu, jangan seorang pun menghampiri perjamuan itu
tanpa penguji dirinya baik-baik lebih dahulu,
supaya jangan, dengan makan roti ini dan minum dari cawan ini, ia mendatangkan hukuman atas dirinya( 1Ko 11:29).
Pendeknya, oleh pemakaian sakramen yang kudus ini kita digerakkan
pada kasih yang menyala- nyala terhadap Allah dan sesama kita manusia.
Oleh karena itu, kita menolak semua unsur campuran dan rekaan terkutuk, yang ditambahkan dan dicampurkan oleh manusia pada sakramen-sakramen itu, karena pada hemat kita unsur-unsur itu menajiskan sakramen-sakramen. Dan kita berkata, hendaklah orang puas dengan aturan
yang diajarkan kepada kita oleh Kristus dan Rasul-rasul-Nya,
dan berbicara tentangnya sesuai dengan cara mereka bicara tentangnya.

Pasal 36
Jabatan pemerintah

Kita percaya, bahwa Allah kita yang baik,
karena kerusakan keturunan manusia,
telah menetapkan raja-raja, pembesar-pembesar,
dan lembaga-lembaga pemerintahan,
sebab Dia menghendaki dunia diperintah oleh hukum-hukum dan undang-undang,
supaya sifat tak terkendali manusia di tekan
dan dalam masyarakat segala hal berjalan dengan teratur
Dengan tujuan itu, Dia membuat pemerintah menyandang pedang
untuk menghukum orang jahat (Rom 13:4)
dan melindungi orang lain.
Jabatannya bukan hanya untuk memperhatikan dan mengawasi urusan pemerintahan.
Juga, jabatan itu meliputi: mempertahankan pelayanan gereja yang kudus, memberantas dan memusnahkan seluruh penyembahan berhala dan agama palsu,
menjatuhkan kerajaan Anti-Kristus,
dan berikhtiar supaya Kerajaan Yesus Kristus berkembang,
berusaha agar Firman Injil dikabarkan ke mana-mana,
supaya Allah dimuliakan dan dilayani oleh tiap-tiap orang,
sebagaimana diperintahkan-Nya dalam Firman-Nya.
Selanjutnya, tiap-tiap orang, dari pangkat, tingkat, dan kedudukan apa pun, harus takluk pada lembaga-lembaga pemerintah,
membayar pajak,
menghormati dan menjunjung tinggi pemerintah,
dan mematuhinya dalam segala hal yang tidak bertentangan dengan Firman Allah,
sambil melakukan permohonan dalam doa-doanya
kiranya Tuhan membimbingnya dalam segala jalannya
dan kiranya kita dapat hidup tenang dan tenteram
dalam segala kesalehan dan kesopanan (1Ti 2:2).
Dalam hal ini kita menolak kaum Anabaptis dan pengacau lainnya,
dan semua orang pada umumnya yang menolak lembaga-lembaga pemerintahan dan penguasa-penguasa
dan ingin menumbangkan hukum,
dengan mengadakan persekutuan harta
dan merusak tata susila yang ditetapkan Allah dalam masyarakat.

Pasal 37
Hukuman terakhir

Akhirnya kita percaya, menurut Firman Allah,
bahwa setelah tiba hari yang ditentukan Allah
(yang tidak diketahui makhluk apa pun),
dan jumlah orang pilihan sudah genap,
maka Tuhan kita Yesus Kristus akan datang dari surga,
secara jasmani dan kelihatan,
dengan cara yang sama seperti Dia sudah naik ke sana (Kis 1:11),
dengan kemuliaan dan keagungan yang besar,
untuk menyatakan diri- Nya sebagai Hakim orang yang hidup dan yang mati, sambil membakar dunia lama ini dengan api, untuk memurnikannya.
Pada waktu itu semua orang akan menghadap Hakim yang Agung itu,
baik laki-laki maupun perempuan dan anak-anak,
yang telah ada sejak awal dunia ini sampai akhir zaman,
dan mereka akan dipanggil menghadap oleh suara penghulu malaikat dan oleh bunyi sangkakala Allah (1Te 4:16).
Sebab semua orang yang pada saat itu telah meninggal akan bangkit dari dalam tanah,
setelah jiwa-jiwa digabungkan dan dipersatukan dengan tubuhnya sendiri, yang di dalamnya mereka pernah hidup.
Adapun orang yang pada saat itu masih hidup
tidak akan mati sama seperti orang lain,
tetapi mereka akan diubah dalam sekejap mata,
dan dari keadaan dapat binasa mereka akan beralih ke keadaan tidak dapat binasa.
Pada waktu itu kitab-kitab (artinya, hati nurani) akan dibuka
dan orang-orang mati akan dihakimi (Wah 20:12),
sesuai dengan yang dilakukannya di dunia ini,
baik ataupun jahat (2Ko 5:10).
Bahkan orang akan mempertanggungjawabkan setiap kata sia-sia,
yang pernah diucapkannya (Mat 12:36),
sekalipun oleh dunia kata itu dianggap hanya permainan anak-anak dan perintang waktu saja.
Pada waktu itu semua rahasia dan kepura-puraan manusia akan dibuka di muka umum.
Oleh karena itu, dengan sewajarnya kesadaran akan hukuman itu menggentarkan dan mengejutkan orang jahat dan fasik,
tetapi sangat menggairahkan dan menghibur orang yang saleh dan terpilih, karena pada waktu itu kelepasan mereka yang sempurna akan terlaksana, dan karena di sana akan diterimanya buah perbuatan dan kesusahan yang telah mereka tanggung.
Ketidaksalahannya akan diakui oleh semua orang,
dan mereka akan melihat pembalasan yang mengerikan,
yang akan dilakukan Allah terhadap orang fasik
yang telah mengusik mereka dengan kejam, menindas, dan menyiksa mereka di dunia ini.
Kesalahan orang fasik itu akan dibuktikan oleh kesaksian hati nurani mereka sendiri.
Mereka pun akan mengalami keadaan tidak dapat mati,
tetapi begitu rupa, sehingga mereka harus disiksa dalam api yang kekal, yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya (Mat 25:41). Sebaliknya, orang-orang percaya dan terpilih akan dimahkotai kemuliaan dan hormat.
Anak Allah akan mengaku nama mereka di hadapan Allah, Bapa-Nya (Mat 10:32), dan malaikat-Nya yang terpilih,
dan segala air mata akan dihapus dari mata mereka (Wah 21:4).
Perkara mereka, yang kini dihukum banyak hakim dan lembaga-lembaga pemerintah,
karena dianggap tersesat dan fasik,
akan diakui merupakan perkara Anak Allah sendiri.
Dan sebagai ganjaran yang penuh kasih karunia,
Tuhan akan memberi mereka memiliki kemuliaan yang tak terpikirkan oleh hati manusia.
Oleh karena itu, kita menantikan hari agung itu dengan kerinduan besar, agar kita menikmati dengan sepenuhnya janji-janji Allah,
dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

3. PASAL-PASAL AJARAN DORDRECHT (1619)

Di wilayah Belanda yang berhasil melepaskan diri dari kuasa Raja Spanyol, Gereja Reformasi dapat berkembang dengan bebas. Dalam suasana yang relatif bebas itu, timbul perbedaan pendapat mengenai berbagai pokok teologi. Salah seorang teolog di Universitas Leiden, Yakobus Arminius, menyerang ajaran predestinasi yang telah dirumuskan oleh Calvin dalam kitab Institutio (III, xxi-xxiv) dan yang diterima oleh sebagian besar kaum teolog Calvinis, termasuk di negeri Belanda. Timbullah perselisihan yang hebat, yang menyebabkan keretakan, baik dalam gereja maupun dalam negara, sehingga negeri Belanda terancam perang saudara. Akhirnya Pangeran Maurits, panglima tentara Belanda, menjatuhkan pemerintah yang pro-Arminius. Pemerintah baru mengumpulkan sinode se-Belanda, yang juga dihadiri oleh utusan- utusan sejumlah besar Gereja Calvinis di Inggris, Jerman, dan Swis (Gereja Calvinis di Perancis dilarang pemerintahnya mengutus wakil- wakil ke Dordrecht). Dengan demikian, Sinode Dordrecht (1618-1619) bersifat internasional. Para pengikut Arminius (tokoh itu sendiri telah meninggal pada tahun 1608) disuruh menghadap, tapi akhirnya diusir dari sidang Sinode. Ajaran mereka dinyatakan bidat, dan sebuah panitia dari Sinode merancang pasal-pasal melawan ajaran itu. Pasal- pasal itu dibahas oleh Sinode pada bulan April 1619, lalu diterima dengan suara umum, dan ditandatangani oleh semua anggota, termasuk yang dari luar negeri. Sama seperti Pengakuan Iman Belanda dan Katekismus Heidelberg, Kelima pasal menentang orang Remonstran termasuk Ketiga Rumus Keesaan yang merupakan dasar bersama jemaat- jemaat Calvinis di Negeri Belanda.

Kelima Pasal menentang orang Remonstran
atau Keputusan Sinode Nasional Gereja-Gereja Reformasi Belanda Serikat
yang diadakan di Dordrecht pada tahun 1618 dan 1619
mengenai kelima pokok ajaran yang terkenal
yang telah menjadi pokok perselisihan
dalam Gereja-gereja Reformasi di Negeri Belanda Serikat

PASAL AJARAN YANG PERTAMA
Pemilihan dan penolakan ilahi

1. Semua orang telah berdosa di dalam Adam, dan patut menerima hukuman, yaitu kutuk Allah dan kematian yang kekal. Oleh karena itu, Allah tidak akan berbuat tidak adil terhadap siapapun, seandainya Dia telah memutuskan untuk membiarkan segenap umat manusia dalam dosa dan kutuk serta menghukumnya karena dosa, sesuai dengan perkataan Sang Rasul, 'Seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.' (Rom 3:19,23). Dan, 'Upah dosa ialah maut.'(Rom 6:23)

2. Akan tetapi, dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan, yaitu, bahwa Dia telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, tetapi beroleh hidup yang kekal.

3. Maka agar manusia dihantarkan pada iman, Allah berkenan mengutus pewarta-pewarta kabar yang amat gembira itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan bilamana Dia menghendakinya. Oleh pelayanan mereka itu manusia dipanggil untuk bertobat dan percaya kepada Kristus yang disalibkan itu. Karena, 'bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka dapat mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan- Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus?' (Rom 10:14-15).

4. Adapun mereka tidak percaya kepada Injil itu, murka Allah tetap berada di atas mereka. Sebaliknya, mereka yang menerimanya, dan yang memeluk Juruselamat Yesus dengan iman yang sejati dan hidup, akan dilepaskan oleh-Nya dari murka Allah dan kebinasaan serta dikaruniai hidup yang kekal.

5. Yang menjadi penyebab ketidakpercayaan itu dan yang harus dipersalahkan karenanya sama sekali bukan Allah, melainkan manusia, sama seperti dalam hal semua dosa lainnya. Sebaliknya, iman kepada Yesus Kristus dan keselamatan oleh-Nya adalah pemberian Allah yang cuma-cuma, seperti tertulis, 'Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah' (Efe 2:8). Juga, 'Sebab kepada kamu dikaruniakan untuk percaya kepada Kristus.' (Fil 1:29).

6. Kepada orang-orang tertentu Allah mengaruniakan iman dalam hidup ini, kepada orang lain tidak. Hal ini timbul dari keputusan-Nya yang kekal. 'Karena semua karya-Nya telah diketahui-Nya sejak semula' (Kis 15:18), dan, 'Segala sesuatu dikerjakan-Nya menurut keputusan kehendak-Nya' (Efe 1:11). Menurut keputusan ini, hati orang pilihan dilunakkan-Nya dengan penuh rahmat dan ditundukkan-Nya untuk percaya, meskipun hati itu keras. Sebaliknya, menurut keputusan yang sama, orang yang tidak terpilih dibiarkan-Nya dalam kejahatan dan kekerasan hati mereka sesuai dengan hukuman-Nya yang adil. Terutama di sinilah muncul di depan kita pembedaan yang tak terselami, yang penuh kemurahan dan sekaligus adil itu, yaitu pembedaan antara manusia yang telah sama- sama binasa, ataupun keputusan Pemilihan dan Penolakan, yang dinyatakan dalam Firman Allah. Oleh orang yang jahat, cemar, dan kurang mantap hal itu diputarbalikkan sehingga mereka binasa, tetapi bagi jiwa orang kudus dan yang takut akan Allah hal ini menyediakan hiburan yang tak terkatakan.

7. Pemilihan ini adalah rencana Allah yang tak berubah-ubah. Olehnya, sebelum dunia dijadikan, dipilih-Nya sejumlah orang dari segenap umat manusia yang karena kesalahannya sendiri kehilangan keutuhan yang semula dan jatuh ke dalam dosa dan kebinasaan itu, agar mereka memperoleh keselamatan. Orang yang dipilih itu tidak lebih baik atau lebih layak daripada orang lain, tetapi bersama dengan yang lain itu tergeletak dalam sengsara. Maka pemilihan mereka terjadi menurut perkenan kehendak-Nya yang sama sekali bebas, hanya karena kasih karunia saja, dan berlangsung di dalam Kristus, yang telah ditentukan-Nya dari kekal untuk menjadi Pengantara dan Kepala semua orang pilihan serta dasar keselamatan. Dan agar mereka diselamatkan oleh Kristus, maka Allah memutuskan juga untuk memberikan orang-orang pilihan itu kepada-Nya dan untuk memanggil serta menarik mereka dengan ampuh oleh Firman dan Roh-Nya pada persekutuan dengan-Nya. Atau, dengan perkataan lain, Allah telah memutuskan untuk mengaruniakan kepada mereka iman yang sejati kepada Kristus, membenarkan dan menguduskan mereka, dan akhirnya memuliakan mereka, setelah mereka tetap dipelihara dengan kuasa dalam persekutuan Anak-Nya. Semua itu dilakukan-Nya untuk menyatakan rahmat-Nya dan supaya terpujilah kekayaan kasih karunia-Nya yang mulia. Seperti tertulis, 'Sebab Allah telah memilih kita di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya dalam kasih. Melalui Yesus Kristus, Dia telah menentukan kita dari semula untuk menjadi anak-anak bagi diri-Nya, menurut perkenan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.' (Efe 1:4-6). Dan di tempat lain, 'Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.' (Rom 8:30).

8. Pemilihan ini bukan bermacam-macam, melainkan satu dan sama dalam hal semua orang yang hendak diselamatkan, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Karena Alkitab memang memberitakan kepada kita satu perkenan, satu maksud, dan satu keputusan kehendak Allah. Olehnya kita telah dipilih-Nya dari kekekalan untuk menerima baik kasih karunia maupun kemuliaan, baik keselamatan maupun jalan keselamatan yang telah dipersiapkan-Nya supaya kita berjalan di dalamnya (Efe 1:4-5 dan Efe 2:10).

9. Pemilihan tersebut telah terjadi, bukan berdasarkan iman dan ketaatan iman, kesucian ataupun sifat dan pembawaan lain yang baik yang mana pun, yang telah tampak terlebih dahulu, seakan-akan hal-hal itu menjadi sebab atau syarat yang seharusnya terdapat dalam diri manusia yang bakal dipilih, melainkan supaya menghasilkan iman, ketaatan iman, kekudusan, dan seterusnya. Maka pemilihan itu adalah sumber segala hal yang menyelamatkan. Sebagai hasil dan akibatnya mengalirkan darinya iman, kekudusan dan karunia-karunia lain yang membawa keselamatan, dan akhirnya kehidupan kekal sendiri. Hal ini sesuai dengan kesaksian Sang Rasul, 'Dia telah memilih kita' (bukan: sebab kita sudah kudus dan tak bercacat, melainkan) 'supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan- Nya.' (Efe 1:4).

10. Yang menjadi alasan pemilihan yang hanya berdasarkan rahmat ini hanyalah perkenan Allah. Perkenan ini bukanlah keputusan untuk memilih, dari semua syarat yang dapat diberlakukan, sifat atau perbuatan manusia yang tertentu menjadi syarat keselamatan. Sebaliknya, perkenan ini adalah keputusan untuk mengangkat orang-orang tertentu dari massa orang berdosa menjadi milik-Nya. Seperti tertulis, 'Waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat (...) dikatakan kepada Ribka: Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda, seperti tertulis, 'Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.' (Rom 9:11-13). Dan, 'Semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.' (Kis 13:48).

11. Sebagaimana Allah sendiri berhikmat sempurna, tidak berubah-ubah, maha mengetahui, dan mahakuasa, begitu pula pemilihan yang dilakukan-Nya tidak dapat ditiadakan dan dilakukan ulang, diubah, dibatalkan atau diputus, dan tidak mungkin juga orang- orang pilihan ditolak atau jumlah mereka dikurangi.

12. Orang-orang pilihan diyakinkan mengenai pemilihan mereka yang kekal dan yang tak berubah-ubah, yaitu pemilihan untuk menerima keselamatan. Mereka diyakinkan tentangnya masing-masing pada waktunya, walau tingkatnya berbeda-beda dan kadarnya tidak sama. Keyakinan ini tidak didapatkan orang pilihan dengan cara mengusut hal- hal yang tersembunyi dan rahasia-rahasia Allah yang dalam. Tetapi mereka mendapatkannya dengan mengamati pada diri mereka sendiri dengan kegembiraan rohani dan sukacita yang kudus berbagai hal yang dapat disangkal merupakan buah pemilihan dan yang ditunjukkan dalam Firman Allah, seperti umpamanya iman yang sejati kepada Kristus, takut akan Allah bagaikan seorang anak, dukacita menurut kehendak Allah karena dosa, lapar, dan haus akan kebenaran, dan seterusnya.

13. Kesadaran dan keyakinan akan pemilihan itu menyebabkan anak-anak Allah makin hari makin bertambah merendahkan diri di hadapan Allah, menyembah jurang kemurahan-Nya, menyucikan diri, dan membalas kasih Dia yang telah begitu mengasihi-Nya dengan kasih yang menyala-nyala. Maka ajaran pemilihan itu dan perenungan tentangnya sama sekali tidak membuat mereka menjadi malas melaksanakan perintah-perintah Allah, atau berlengah-lengah secara daging. Hal itu, menurut hukuman Allah yang adil, biasa dialami orang yang memang dengan gegabah menganggap dirinya sudah memiliki dirinya sudah memiliki anugerah pemilihan, ataupun berkhayal tentangnya dengan seenaknya dan lancang, namun tidak mau mengikuti jejak orang pilihan.

14. Menurut rencana Allah yang penuh hikmat, ajaran tentang pemilihan ilahi itu telah diberitakan oleh para Nabi, oleh Kristus sendiri, dan oleh para Rasul, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, dan sesudah itu dituliskan dan diwariskan di dalam Kitab-kitab Suci. Begitu pula, ajaran itu harus dikemukakan juga pada masa kini, pada saat dan tempat yang tepat, dalam gereja Allah, yang memang secara khusus menjadi tempat tujuannya. Hal itu hendaknya dilakukan dengan kemampuan membedakan, dengan takwa dan kudus, tanpa mengusut jalan-jalan Yang Mahatinggi, demi kemuliaan Nama Allah yang mahakudus dan demi penghiburan yang menggairahkan bagi umat-Nya.

15. Anugerah pemilihan kita, yang abadi dan yang dikaruniakan dengan cuma-cuma, terutama ditunjukkan dan dianjurkan kepada kita oleh Kitab Suci ketika disaksikan selanjutnya, bahwa tidak semua orang dipilih. Ada yang tidak dipilih atau dilewatkan Allah dalam pemilihan-Nya yang kekal. Tentang mereka Allah telah memutuskan, menurut perkenan-Nya yang sama sekali bebas, adil, tak bercacat, dan tidak berubah-ubah, untuk membiarkan mereka dalam sengsara bersama, tempat mereka telah menjatuhkan diri oleh kesalahan mereka sendiri, dan untuk tidak mengaruniakan kepada mereka iman yang menyelamatkan dan karunia pertobatan, malah untuk membiarkan mereka di jalan-jalan mereka sendiri dan di bawah hukuman-Nya yang adil, dan untuk akhirnya menghakimi mereka dan menjatuhkan hukuman yang kekal atas mereka, bukan hanya karena ketidakpercayaan mereka, melainkan juga karena semua dosanya yang lain, supaya dengan demikian diperlihatkan-Nya keadilan-Nya. Inilah keputusan penolakan, yang tidak menjadikan Allah Penyebab dosa - pikiran itu hujat! - tetapi menetapkan Dia selaku Hakim dan Pembalas dosa yang dahsyat, tak bercacat, dan adil.

16. Ada orang yang belum merasakan dengan ampuh dalam dirinya iman yang hidup kepada Kristus atau keyakinan hati yang teguh, kedamaian hati nurani, pelaksanaan ketaatan bagaikan seorang anak, dan hal bermegah dalam Allah oleh Kristus, meskipun mereka memakai segala sarana yang, menurut janji Allah, dipakai-Nya untuk mengerjakan semua itu di dalam diri kita. Akan tetapi, janganlah hati mereka menjadi tawar, bila mereka mendengar orang berbicara tentang penolakan, dan janganlah mereka menganggap diri termasuk orang-orang yang ditolak. Sebaliknya, hendaklah mereka tetap memakai sarana-sarana itu dengan rajin, sangat merindukan saat karunia akan dianugerahkan dengan lebih berlimpah, dan menantikannya dengan penuh hormat serta rendah hati. Apalagi mereka yang sungguh ingin bertobat kepada Allah, yang hanya mau berkenan kepada-Nya saja, dan ingin dilepaskan dari tubuh maut ini, namun belum dapat maju di jalan kesalehan dan iman sejauh mereka kehendaki, mereka tidak usah merasa takut berhadapan dengan ajaran penolakan ini. Karena Allah yang penuh belas kasihan telah berjanji, bahwa sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan- Nya dan buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya. Akan tetapi, ajaran ini dengan selayaknya menakutkan mereka yang tidak mempedulikan Allah dan Kristus Sang Juruselamat, dan yang seluruhnya mengabdi kepada urusan-urusan dunia ini serta kepada hawa nafsu daging - setidak-tidaknya selama mereka tidak bertobat dengan sungguh-sungguh kepada Allah.

17. Tentang kehendak Allah harus kita tentukan pendapat hanya berdasarkan Firman-Nya sendiri. Firman itu menyaksikan kepada kita, bahwa anak-anak orang percaya adalah kudus, bukan karena kodrat mereka, melainkan karena perjanjian rahmat yang mencakup mereka bersama orangtua mereka. Maka orangtua yang saleh tidak perlu bimbang tentang pemilihan dan keselamatan anak-anak mereka yang diambil Allah dari hidup ini pada masa mereka masih kanak-kanak.

18. Kepada mereka yang bersungut-sungut karena anugerah pemilihan yang hanya berdasarkan rahmat, dan karena kekerasan penolakan yang adil, kita hadapkan perkataan rasul ini, 'Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah?' (Rom 9:20). Dan perkataan ini dari Juruselamat kita, 'Tidakkah Aku bebas mempergunakan milik-Ku menurut kehendak hati-Ku?' (Mat 20:15). Sebaliknya, kita menyembah rahasia-rahasia keselamatan ini dengan takwa dan berseru bersama rasul, 'O, alangkah dalamnya kekayaan hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasehat- Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Dia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.' (Rom 11:33-36).

Penolakan ajaran sesat yang telah mengacaukan
Gereja- gereja Belanda selama beberapa waktu

Setelah menguraikan ajaran ortodoks mengenai pemilihan dan penolakan, sinode menolak ajaran-ajaran sesat orang yang mengajar sebagai berikut:

1. Allah berkehendak menyelamatkan mereka yang bakal beriman dan bertekun dalam iman serta ketaatan iman itu; hanya itulah isi keputusan pemilihan untuk menerima keselamatan, dan dalam Firman Allah tidak dinyatakan sesuatu apa pun yang lain tentang keputusan itu.
Mereka ini menyesatkan orang-orang bersahaja dan nyata-nyata membantah Kitab Suci, yang menyaksikan bahwa Allah tidak hanya berkehendak menyelamatkan mereka yang bakal beriman, tetapi juga telah memilih dari kekekalan sejumlah orang yang tertentu. Kepada mereka ini, berbeda dengan orang lain, hendak dikaruniakan-Nya dalam hidup ini iman kepada Kristus dan ketekunan dalam iman itu. Seperti tertulis, 'Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia.' (Yoh 17:6). Dan, 'Semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.' (Kis 13:48). Dan, 'Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya' dan seterusnya (Efe 1:4).

2. Pemilihan oleh Allah untuk hidup yang kekal adalah bermacam-macam. Ada pemilihan yang umum dan tidak tentu, ada yang khusus dan tentu. Pemilihan yang disebut terakhir ini ada yang tidak tuntas, dapat dicabut, tidak bersifat menentukan, dan bersyarat, ada yang tuntas, tak dapat dicabut, bersifat menentukan, dan mutlak. Begitu pula: ada pemilihan untuk iman, ada pemilihan untuk keselamatan, sedemikian rupa hingga pemilihan untuk iman yang membenarkan tidak perlu disertai pemilihan yang bersifat menentukan untuk keselamatan.
Ajaran ini merupakan khayalan otak manusia, yang direka-reka di luar Alkitab. Olehnya ajaran mengenai pemilihan dirusak dan diputuskanlah rantai emas keselamatan kita ini, 'Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.' (Rom 8:30).

3. Isi perkenan dan rencana Allah, yang disebut- sebut oleh Alkitab dalam ajarannya tentang pemilihan, bukanlah bahwa Allah telah memilih sejumlah orang yang tertentu dengan tidak memilih orang lain. Sebaliknya, dari semua syarat yang dapat berlaku (di antaranya juga perbuatan hukum Taurat), ataupun dari segala hal ihwal yang ada, Allah telah memilih perbuatan iman, yang pada hakikatnya tidak berjasa, dan ketaatan iman yang tidak sempurna, menjadi syarat keselamatan. Ketaatan yang tidak sempurna itu dengan penuh kerahiman mau dinilai sempurna dan layak diupahi hidup yang kekal.
Ajaran sesat yang merusak ini menyebabkan perkenan Allah dan jasa Kristus hilang kekuatannya, dan membuat hati orang menyimpang, oleh pertanyaan-pertanyaan yang sia-sia, dari kebenaran yaitu pembenaran hanya berdasarkan rahmat, dan dari ajaran Alkitab yang sederhana. Lagi pula olehnya rasul dituduh berdusta, apabila ia berkata, 'Allah telah memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan rencana dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dianugerahkan kepada kita dalam Yesus Kristus sebelum permulaan zaman' (2Ti 1:9).

4. Dalam pemilihan untuk iman, manusia harus memenuhi lebih dahulu syarat yang berikut: ia harus memakai dengan baik cahaya alamiah, dan harus saleh, sederhana, rendah hati, serta layak untuk hidup yang kekal, seolah-olah pemilihan bergantung sedikit pun pada hal-hal itu.
Mereka ini serupa benar dengan Pelagius dan bertentangan dengan ajaran Rasul yang menulis, 'Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita - oleh kasih karunia kamu diselamatkan - dan di dalam Kristus Yesus Dia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga, supaya pada masa yang akan datang Dia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya, yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri' (Efe 2:3-9).

5. Pemilihan orang-orang tertentu untuk keselamatan, yaitu pemilihan yang tidak tuntas dan tidak bersifat menentukan telah terjadi berdasarkan iman, pertobatan, hidup suci dan saleh yang baru mulai ataupun telah berlangsung beberapa lama, dan yang sudah tampak terlebih dahulu. Sebaliknya, pemilihan yang tuntas dan bersifat menentukan berdasarkan ketekunan sampai akhir iman, pertobatan, hidup suci dan saleh yang sudah tampak terlebih dahulu itu. Inilah 'kelayakan yang penuh rahmat dan Injili', yang menyebabkan orang yang dipilih lebih layak daripada orang yang tidak dipilih. Itulah sebabnya iman, ketaatan iman, hidup suci dan saleh, serta ketekunan tidak merupakan hasil pemilihan yang tidak berubah-ubah untuk kemuliaan, tetapi menjadi syarat-syarat dan penyebab- penyebabnya. Syarat-syarat itu telah ditentukan lebih dahulu, dan sudah tampak lebih dahulu bahwa orang-orang yang bakal dipilih secara tuntas akan memenuhinya, dan tanpa penyebab-penyebab itu pemilihan yang tak berubah-ubah untuk kemuliaan tidak terjadi.

Hal ini bertentangan dengan seluruh Alkitab, yang terus-menerus menegaskan perkataan ini dan lain sebagainya dalam telinga dan hati kita, 'Pemilihan bukanlah berdasarkan perbuatan, melainkan dari Dia yang memanggil' (Rom 9:11). 'Dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya' (Kis 13:48). 'Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus' (Efe 1:4). 'Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu' (Yoh 15:16). 'Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan' (Rom 11:6). 'Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya' (1Yo 4:10).

6. Pemilihan untuk keselamatan tidak selalu bersifat tidak berubah-ubah. Sebaliknya, ada orang pilihan yang dapat binasa dan juga betul-betul binasa untuk selama-lamanya, meskipun ada keputusan Allah.
Melalui kesesatan kasar ini mereka menjadikan Allah sebagai Allah yang berubah-ubah dan menumbangkan hiburan yang diambil oleh orang saleh dari kepastian pemilihan mereka. Pun mereka menentang Kitab-kitab Suci, yang mengajar bahwa 'orang-orang pilihan tidak disesatkan' (Mat 24:24); bahwa 'Kristus tidak mungkin kehilangan mereka yang diberikan Bapa kepada-Nya' (Yoh 6:39); bahwa 'mereka yang ditentukan, dipanggil, dan dibenarkan Allah dari semula, juga dimuliakan-Nya' (Rom 8:30).

7. Di dalam kehidupan ini tidak ada buah pemilihan yang tidak berubah-ubah untuk kemuliaan dan tidak ada kesadaran tentangnya. Juga tidak ada kepastian tentangnya selain yang berdasarkan syarat yang berubah-ubah dan yang tidak pasti.
Tidak masuk akal menetapkan kepastian yang tidak pasti, lagi pula hal ini juga bertentangan dengan pengalaman orang kudus, yang berdasarkan kesadaran tentang pemilihan mereka bergembira bersama Rasul dan memuji-muji anugerah Allah itu (Efe 1). Sesuai dengan nasihat Kristus, mereka bersukacita bersama murid-murid-Nya, karena nama mereka terdaftar di surga (Luk 10:20).

Juga, mereka menjadikan kesadaran tentang pemilihan mereka itu sebagai penahan panah api godaan-godaan iblis, sambil bertanya, 'Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah?' (Rom 8:33).
8. Allah tidak pernah memutuskan, hanya berdasarkan kehendak-Nya yang adil semata-mata, untuk membiarkan seseorang dalam kejatuhan Adam dan dalam keadaan dosa serta hukuman yang berlaku umum, ataupun untuk melewatkan seseorang dalam pembagian anugerah yang diperlukan untuk iman dan pertobatan.

Sebab, yang ini sudah pasti, 'Dia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya' (Rom 9:18). Juga, 'Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak' (Mat 13:11). Demikian pula, 'Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu' (Mat 11:25,26).
9. Alasan yang menyebabkan Allah mengalamatkan Injil kepada bangsa yang satu alih-alih kepada bangsa yang lain, bukan hanya perkenan Allah semata-mata, melainkan karena bangsa yang satu lebih baik dan lebih layak daripada bangsa lain, yang tidak mendapat bagian dalam Injil.
Hal ini disangkal Musa, waktu ia berkata kepada bangsa Israel demikian, 'Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya; tetapi hanya oleh nenek moyangmulah hati TUHAN terpikat, sehingga Dia mengasihi mereka, dan keturunan merekalah, yakni kamu, yang dipilih-Nya dari segala bangsa, seperti sekarang ini.' (Ula 10:14-15). Dan Kristus berkata, 'Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.' (Mat 11:21).

PASAL AJARAN YANG KEDUA
Kematian Kristus dan penebusan manusia olehnya

1. Allah tidak hanya mahamurah, tetapi juga mahaadil. Maka keadilan-Nya itu - demikian Dia telah menyatakan diri dalam Firman-Nya - menuntut agar dosa-dosa yang telah kita perbuat terhadap keagungan-Nya yang tak terhingga itu mendapat hukuman-hukuman itu, kecuali jika tuntutan-tuntutan keadilan Allah dipenuhi.

2. Tetapi karena kita sendiri tidak sanggup menyediakan pelunasan dan melepaskan diri kita dari murka Allah, maka karena kasih-Nya yang tak terhingga Allah telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal menjadi jaminan bagi kita. Dia telah menjadi dosa dan kutuk di atas kayu salib karena kita dan sebagai ganti kita, untuk menyediakan pelunasan bagi kita.

3. Kematian Anak Allah ini adalah korban dan pelunasan yang satu-satunya dan sempurna untuk dosa. Kematian itu tidak terbatas kekuatan dan nilainya dan lebih dari cukup untuk mendamaikan dosa seluruh dunia.

4. Kematian ini demikian kuat dan bernilai, karena Pribadi yang telah mengalaminya itu bukan hanya manusia sejati dan benar-benar kudus, melainkan juga Anak Allah yang tunggal, yang se-Zat dengan Bapa dan Roh Kudus dan bersama-sama Mereka kekal dan tak terhingga sebagaimana seharusnya Dia yang menjadi Juruselamat kita. Tambahan lagi, karena kematian-Nya disertai kesadaran akan murka Allah dan akan kutuk yang patut menimpa kita karena dosa-dosa kita.

5. Selanjutnya janji Injil ialah, bahwa setiap orang yang percaya kepada Kristus yang disalibkan itu tidak binasa, tetapi beroleh hidup yang kekal. Janji itu harus diberitakan dan dimaklumkan kepada semua bangsa dan semua orang yang menurut perkenan Allah, menjadi alamat pemberitaan Injil-Nya, disertai perintah bertobat dan percaya, tanpa mengadakan pembedaan.

6. Banyak orang yang dipanggil oleh Injil, tidak bertobat dan tidak percaya kepada Kristus. Sebaliknya, mereka binasa dalam ketidakpercayaan. Akan tetapi, hal ini tidak terjadi oleh sebab korban Kristus di atas kayu salib bercacat atau berkekurangan, tetapi lantaran kesalahan mereka sendiri.

7. Akan tetapi, semua orang yang sungguh-sungguh percaya, dan oleh kematian Kristus dibebaskan dan diselamatkan dari dosa serta kebinasaan, menikmati anugerah ini hanya berdasarkan rahmat Allah. Rahmat itu dianugerahkan kepada mereka dari kekekalan, di dalam Kristus, walaupun Allah tidak berkeharusan menganugerahkannya kepada seorang pun.

8. Sebab inilah keputusan yang berdaulat, kehendak yang penuh rahmat, dan maksud Allah Bapa, yaitu agar keampuhan yang menghidupkan dan menyelamatkan yang terdapat dalam kematian Anak-Nya yang amat berharga itu menjangkau semua orang terpilih, untuk mengaruniakan hanya kepada mereka saja iman yang membenarkan, dan oleh iman itu dengan tak tergagalkan mengantarkan mereka kepada keselamatan. Dengan perkataan lain: Allah telah menghendaki agar Kristus, oleh penumpahan darah-Nya di atas salib (yang olehnya perjanjian baru telah diteguhkan-Nya), dari antara segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa menebus dengan ampuh semua orang - dan hanya mereka itu saja - yang dari kekekalan sudah terpilih untuk keselamatan dan yang telah diberikan Bapa kepada-Nya. Begitu pula, agar Kristus mengaruniakan kepada mereka iman, yang telah diperoleh-Nya bagi mereka oleh kematian-Nya, sama seperti karunia-karunia Roh Kudus yang lain yang membawa keselamatan. Begitu pula, agar Dia menyucikan mereka dengan darah-Nya dari semua dosa mereka, baik dari dosa bawaan maupun dari dosa-dosa yang nyata, yang mereka lakukan sebelum atau sesudah menjadi percaya, dan agar Dia memelihara mereka dengan setia sampai akhir, dan pada kesudahannya menempatkan mereka di hadapan diri-Nya dengan penuh kemuliaan, tanpa cacat atau kerut.

9. Keputusan ini, yang berasal dari kasih Allah yang abadi terhadap orang pilihan, telah digenapi secara kuat sejak awal dunia hingga dewasa ini, dan alam maut pun tidak berhasil melawannya. Keputusan itu akan digenapi juga untuk seterusnya, sedemikian rupa, hingga orang pilihan, masing-masing pada zamannya, akan dihimpun menjadi satu kumpulan, dan selalu akan ada Gereja orang- orang percaya, yang berdasarkan darah Kristus. Gereja itu tetap mengasihi Dia, Juruselamatnya, yang telah menyerahkan nyawa-Nya baginya di atas kayu salib, sama seperti seorang mempelai laki-laki menyerahkan nyawanya bagi mempelai perempuannya, bertekun beribadah kepada-Nya, dan memuji-muji Dia sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.

Penolakan ajaran sesat

Setelah menguraikan ajaran ortodoks maka sinode menolak ajaran-ajaran sesat orang yang mengajar sebagai berikut:

1. Allah Bapa telah menentukan Anak-Nya untuk mati di atas kayu salib tanpa adanya keputusan yang pasti dan tentu untuk menyelamatkan orang-orang tertentu. Malahan, andaipun penebusan yang diperoleh itu tidak pernah menjadi milik nyata satu orang pun, namun perlunya, manfaat, dan nilai yang tercantum di dalam apa yang diperoleh melalui kematian Kristus itu dapat saja tetap berlaku lengkap dan tetap tinggal sempurna, genap, dan utuh dalam semua bagiannya.

Ajaran ini adalah penghinaan terhadap hikmat Bapa dan jasa Yesus Kristus, dan bertentangan dengan Alkitab. Karena Juruselamat kita berkata, "Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku dan Aku mengenal mereka" (Yoh 10:15,27). Dan Nabi Yesaya berkata mengenai Juruselamat, "Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya" (Yes 53:10). Akhirnya ajaran ini menumbangkan pasal pengakuan iman yang mengandung kepercayaan kita akan "Gereja Kristen yang am".

2. Maksud kematian Kristus bukanlah agar perjanjian baru, yaitu perjanjian rahmat, sungguh-sungguh diteguhkan- Nya oleh darah-Nya, melainkan semata-mata agar bagi Bapa diperoleh-Nya hak untuk sekali lagi mengadakan perjanjian dengan manusia, entah perjanjian rahmat entah perjanjian perbuatan, sebagaimana dikehendaki Bapa.

Ajaran ini bertentangan dengan Alkitab, yang mengajar bahwa Kristus telah menjadi Jaminan dan Pengantara perjanjian yang lebih baik, yaitu perjanjian baru, dan bahwa surat wasiat barulah sah, bila pembuat wasiat itu telah mati.

3. Oleh pelunasan yang telah dilakukan-Nya, Kristus tidak memperoleh dengan pasti bagi seorang pun baik keselamatan sendiri maupun iman yang membuat pelunasan itu dengan ampuh diraih demi keselamatan. Sebaliknya, Dia hanya memperoleh bagi Bapa kuasa atau kemauan yang bulat untuk membuka babak baru dalam tindakannya terhadap manusia dan menentukan syarat-syarat baru apa saja yang dikehendaki-Nya. Apakah syarat-syarat itu dipenuhi, tergantung pada kehendak bebas manusia. Maka dapat saja terjadi, bahwa tidak seorang pun, ataupun semua orang memenuhinya.

Mereka ini meremehkan kematian Kristus, sama sekali tidak mengakui buah atau anugerah utama yang diperoleh melalui kematian itu, dan memanggil ajaran sesat Pelagius kembali dari neraka.

4. Isi perjanjian baru, yaitu perjanjian rahmat, yang telah diikat oleh Allah Bapa dengan manusia melalui kematian Kristus, bukanlah bahwa kita dibenarkan di hadapan Allah dan diselamatkan oleh iman sejauh iman ini meraih jasa Kristus. Sebaliknya, isinya bahwa Allah membatalkan tuntutan ketaatan sempurna terhadap hukum Taurat dan menganggap iman itu sendiri serta ketaatan iman, meskipun tidak sempurna, sebagai ketaatan sempurna kepada hukum Taurat serta dengan penuh rahmat menilainya layak diganjar hidup yang kekal.

Mereka ini membantah Alkitab, yang berkata, "Oleh kasih karunia mereka telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya (Rom 3:24-25). Bersama Socinus yang fasik itu mereka memasukkan ajaran yang baru dan asing tentang pembenaran manusia di hadapan Allah, yang bertentangan dengan perasaan bulat seluruh gereja.

5. Semua orang telah diterima oleh Allah, sehingga mereka diperdamaikan dengan Allah dan turut mengambil bagian dalam karunia perjanjian itu. Maka tidak seorang pun takluk pada hukuman kekal karena dosa turunan, dan tidak seorang pun akan dihukum karenanya. Sebaliknya, semua orang bebas dari kesalahan yang disebabkan dosa tersebut.

Pandangan ini bertentangan dengan Alkitab, yang menegaskan, bahwa "pada dasarnya kita adalah orang-orang yang harus dimurkai" (Efe 2:3).

6. Sejauh hal itu bergantung kepada Allah, Dia telah berkehendak mengaruniakan secara sama rata kepada semua orang anugerah-anugerah yang telah diperoleh oleh kematian Kristus. Jikalau ada orang yang mendapat bagian dalam pengampunan dosa dan hidup yang kekal sedangkan yang lain tidak, maka perbedaan itu bergantung pada kehendaknya yang bebas, yang meraih anugerah yang ditawarkan tanpa memandang bulu itu, bukan pada karunia khusus dari rahmat Allah, yang bekerja dalam orang itu dengan ampuh sehingga mereka memeluk kasih karunia itu, sedangkan yang lain tidak.

Mereka ini menyalahgunakan pembedaan antara hal memperoleh dan hal memeluk, untuk meresapkan pendapat tersebut ke dalam hati orang yang kurang hati-hati dan yang tidak berpengalaman. Mereka berbuat seolah- olah mereka mengemukakan pembedaan ini dalam arti yang sehat, namun mereka mencoba menyuguhkan kepada rakyat racun yang mematikan, yakni ajaran sesat kaum Pelagian.

7. Kristus tidak dapat dan tidak perlu mati bagi mereka yang dikasihi Allah dengan kasih yang tertinggi dan yang telah dipilih-Nya untuk hidup yang kekal. Dia memang tidak mati bagi mereka, karena orang yang sedemikian tidak memerlukan kematian Kristus.

Mereka membantah Sang Rasul, yang berkata bahwa Kristus "telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku" (Gal 2:20). Demikian juga, "Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati?", yaitu bagi mereka (Rom 8:33-34). Dan Juruselamat sendiri berkata, "Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku" (Yoh 10:15). Dan, "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya" (Yoh 15:12-13).

PASAL AJARAN YANG KETIGA DAN KEEMPAT
Kerusakan manusia. Pertobatannya kepada Allah serta cara pertobatan itu

1. Pada mulanya manusia diciptakan menurut gambar Allah dan diberi perlengkapan yang serba indah: dalam akal budinya terdapat pengetahuan yang benar dan menyelamatkan tentang Penciptanya serta tentang hal-hal rohani; dalam kehendak dan hatinya, kebenaran; dalam semua perasaan hatinya, kemurnian. Maka, ia sepenuhnya kudus. Tetapi oleh hasutan iblis dan kehendak bebasnya sendiri ia telah menyimpang dari Allah dan membuang karunia-karunia ulung itu. Dan sebagai gantinya manusia telah mendapatkan bagi dirinya: kebutaan, kegelapan yang mengerikan, pertimbangan yang bebal dan jahat dalam akal budinya; kekejian, pemberontakan, dan ketegaran dalam kehendak dan hatinya; lagi pula ketidakmurnian dalam perasaan hatinya.

2. Sama seperti keadaan manusia setelah ia jatuh, demikian pula keadaan anak-anaknya; manusia yang rusak memperanakkan anak-anak yang rusak. Dengan cara ini menurut hukuman Allah yang adil kerusakan menjalar dari Adam kepada semua anak cucunya - kecuali Yesus - bukan karena peniruan, sebagaimana dulu telah dikatakan oleh kaum Pelagian, melainkan karena pembiakan kodrat yang rusak itu.

3. Oleh karena itu, semua orang dikandung dalam dosa dan murka Allah sudah berada pada mereka saat mereka lahir. Mereka tidak sanggup berbuat kebaikan apa pun demi keselamatannya, tetapi mereka cenderung pada kejahatan, mereka mati di tengah dosa, dan menjadi hamba dosa. Mereka tidak mau dan tidak sanggup kembali kepada Allah dan membenahi kodrat mereka yang bejat ataupun menyiapkan diri untuk pembenahannya, tanpa karunia Roh Kudus yang melahirkan kembali.

4. Memang, setelah manusia jatuh masih tinggal di dalamnya sisa terang kodrati. Berkat terang itu, ia tetap memiliki pengetahuan sedikit tentang Allah, tentang alam dunia, tentang perbedaan antara apa yang bersusila dan yang aib, dan tampak berupaya seadanya untuk mengejar kebajikan serta ketertiban lahiriah. Akan tetapi, jangankan oleh terang kodrati itu memperoleh pengenalan yang menyelamatkan tentang Allah dan menjadi sanggup bertobat kepada-Nya, menggunakan terang itu dengan tepat dalam kehidupan sehari-hari dan dalam urusan-urusan kemasyarakatan pun manusia tidak bisa.

Bahkan, ia mengaburkan terang itu - bagaimanapun juga sifat terang ini - dengan berbagai cara dan menindasnya dalam kelaliman. Karena ia berbuat begitu, maka ia sama sekali tidak dapat lagi berdalih di hadapan Allah.

5. Apa yang berlaku terhadap terang kodrati itu, juga berlaku dalam hubungan ini terhadap hukum Kesepuluh Perintah yang diberikan Allah melalui Musa khususnya kepada orang Yahudi. Sebab hukum itu memang menyingkapkan kebesaran dosa dan makin lama makin meyakinkan manusia akan kesalahannya, tetapi menunjukkan obat penawarnya dan juga tidak memberikan kekuatan untuk luput dari sengsara itu. Karena hukum itu telah menjadi tidak berdaya oleh daging, dan membiarkan pelanggarnya tetap berada di bawah kutuk, maka tidak mungkin manusia memperoleh rahmat yang menyelamatkan melalui hukum itu.

6. Maka apa yang tidak mungkin dilakukan oleh terang kodrati dan hukum Taurat, itulah yang dikerjakan Allah oleh kuasa Roh Kudus dan oleh Firman atau pelayanan pendamaian, yakni Injil Mesias. Allah telah berkenan menyelamatkan orang percaya baik pada zaman Perjanjian Lama maupun pada zaman Perjanjian Baru oleh Injil itu.

7. Rahasia kehendak-Nya itu telah disingkapkan Allah kepada sejumlah kecil orang pada zaman Perjanjian Lama. Sebaliknya, pada zaman Perjanjian Baru (setelah perbedaan antara bangsa-bangsa ditiadakan) Allah telah menyatakannya kepada lebih banyak orang. Sebab perbedaan ini janganlah dicari dalam hal ini, bahwa bangsa yang satu lebih layak ataupun memanfaatkan terang kodrati dengan lebih baik dibandingkan bangsa lain, tetapi dalam perkenan Allah yang berdaulat dan dalam kasih-Nya yang diberikan secara cuma- cuma. Itulah sebabnya maka mereka yang dianugerahi karunia yang sedemikian besar - walaupun mereka sama sekali tidak layak menerimanya, bahkan berlawanan dengan semua yang patut mereka terima - harus mengakui karunia itu dengan rendah hati dan penuh syukur. Tetapi dalam hal orang-orang lain, yang tidak dianugerahi karunia itu, haruslah mereka bersama Sang Rasul menyembah kekerasan dan keadilan hukuman-hukuman Allah, dan sekali-kali tidak mengusut hukuman-hukuman itu.

8. Akan tetapi, semua orang yang dipanggil oleh Injil, dipanggil dengan sungguh-sungguh. Sebab dalam firman-Nya Allah memperlihatkan sungguh-sungguh dan dengan sebenarnya apa yang berkenan kepada-Nya, yaitu bahwa mereka yang dipanggil itu datang kepada-Nya dan percaya dijanjikan-Nya kesentosaan jiwa dan hidup yang kekal.

9. Banyak orang yang dipanggil oleh pelayanan Injil tidak datang dan tidak ditobatkan. Kesalahannya tidak dapat ditimpakan kepada Injil, atau kepada Kristus yang ditawarkan oleh Injil, dan tidak juga kepada Allah, yang memanggil orang melalui Injil dan bahkan memberikan berbagai karunia kepada mereka yang dipanggil-Nya. Kesalahannya terletak dalam diri mereka; ada yang memang menerimanya, tetapi tidak mengizinkannya masuk ke dalam hatinya, dan oleh sebab itu mundur lagi setelah sebentar bersukacita dalam iman yang sementara itu; ada yang menghimpit benih Firman di antara semak duri kekuatiran dan keriaan dunia dan tidak menghasilkan buah. Hal ini diajarkan Juruselamat kita dalam perumpamaan tentang benih.

10. Orang-orang lain yang dipanggil oleh pelayanan Injil, datang dan ditobatkan. Hal itu jangan dipulangkan kepada manusia, seolah-olah kehendaknya yang bebas menyebabkan ia berbeda dari orang-orang lain, yang diperlengkapi karunia yang sama besar atau paling tidak cukup agar mereka percaya dan bertobat (seperti yang dinyatakan oleh kesesatan sombong Pelagius). Sebaliknya, hal itu harus dipulangkan kepada Allah. Sebagaimana sejak semula orang-orang kepunyaan-Nya telah dipilih-Nya dalam Kristus, demikian juga mereka dipanggil-Nya dengan ampuh dalam hidup ini. Dia mengaruniakan kepada mereka iman dan pertobatan, dan setelah melepaskan mereka dari kuasa kegelapan memindahkan mereka ke dalam kerajaan Anak-Nya. Maksud-Nya agar mereka memasyhurkan perbuatan-perbuatan besar Dia, yang telah memanggil mereka ke luar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib, dan supaya jangan mereka bermegah dalam diri mereka sendiri, melainkan di dalam Tuhan, seperti yang disaksikan kitab-kitab para Rasul di mana-mana.

11. Akan tetapi, bilamana Allah melaksanakan perkenan-Nya itu di dalam orang pilihan, dan mengerjakan di dalam mereka pertobatan yang sejati, maka Dia telah hanya membuat Injil diberitakan kepada mereka dan tidak hanya menerangi pikiran mereka oleh Roh sedemikian kuat, hingga mereka memahami dengan baik dan menilai hal-hal yang berasal dari Roh Kudus. Dia bahkan juga masuk sampai ke dalam batin manusia dengan keampuhan Roh Kudus yang sama itu, yang mengerjakan kelahiran kembali; hati yang tertutup dibuka- Nya, apa yang keras dilunakkan-Nya, apa yang tidak bersunat disunati- Nya, dalam kehendak dituangkan-Nya sifat-sifat baru: kehendak yang tadinya mati dihidupkan-Nya, yang jahat dijadikan-Nya baik, yang tidak bersedia dijadikan-Nya bersedia, yang melawan dijadikan-Nya taat. Dia menggerakkan dan menguatkan kehendak sedemikian, hingga kehendak itu, seperti pohon yang baik, sanggup menghasilkan buah berupa perbuatan- perbuatan baik.

12. Inilah kelahiran kembali, pembaruan, penciptaan baru, pembangkitan dari antara orang mati, dan karya menghidupkan, yang dimasyhurkan dalam Alkitab dan yang dikerjakan oleh Allah tanpa kita di dalam kita. Kelahiran kembali itu tidak terjadi dalam diri kita hanya melalui bunyi kata-kata pemberitaan, tidak juga oleh nasihat yang lemah lembut ataupun karya yang begitu rupa sehingga setelah Allah menyelesaikan karya itu maka manusia masih dapat menentukan apakah ia dilahirkan kembali atau tidak dan ditobatkan atau tidak. Sebaliknya, hal itu jelas merupakan karya adikodrati, yang amat kuat sekaligus amat lembut, ajaib, tersembunyi, dan tak terkatakan. Menurut kesaksian Alkitab (yang diilhami oleh Dia yang melakukan karya itu), daya karya itu tidak kalah besar dibandingkan dengan penciptaan atau pembangkitan orang mati. Olehnya semua orang yang hatinya menjadi tempat Allah bekerja dengan cara yang menakjubkan ini, pasti dilahirkan kembali dengan cara yang tak tergagalkan dan ampuh, serta benar-benar menjadi percaya. Lalu kehendak yang telah diperbarui itu tidak hanya digerakkan dan didorong Allah, tetapi setelah digerakkan Allah, maka kehendak itu sendiri juga bergerak. Oleh sebab itu, dikatakan juga dengan tepat bahwa, oleh karunia yang telah diterimanya, manusia sendiri percaya dan bertobat.

13. Cara karya ini tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh orang percaya selama hidup ini. Sementara itu mereka merasa tenteram karena mengetahui dan merasa, bahwa oleh karunia Allah itu mereka percaya dengan hati dan mengasihi Juruselamat mereka.

14. Maka iman merupakan karunia Allah. Bukan karena iman itu ditawarkan Allah kepada manusia, agar manusia berbuat sekehendaknya, melainkan karena iman itu sesungguhnya diberikan, diilhamkan, dicurahkan kepada manusia. Bukan juga karena Allah hanya memberikan kemampuan untuk percaya, dan sesudah itu mengharapkan persetujuan atau percaya yang nyata dari kehendak manusia yang bebas, melainkan karena Dia yang mengerjakan baik kemauan maupun pekerjaan, bahkan mengerjakan semuanya di dalam semua orang, Dialah yang mengerjakan di dalam manusia baik kemauan untuk percaya maupun iman itu sendiri.

15. Allah tidak berkeharusan memberikan karunia ini kepada seorang pun. Sebab, apakah keharusan-Nya kepada seseorang yang tidak dapat terlebih dahulu memberikan kepada-Nya sesuatu apa pun yang wajib diganjar? Tambahan lagi, apakah gerangan keharusan Allah kepada seseorang yang hanya memiliki dosa dan dusta? Jadi, barang siapa yang menerima karunia ini, hanya kepada Allah ia berhutang syukur. Barang siapa yang tidak menerima karunia ini, ia sama sekali acuh tak acuh akan perkara-perkara rohani ini dan bersenang-senang atas hal-hal kepunyaannya, ataupun karena merasa aman ia bermegah dengan tidak beralasan seakan-akan memiliki apa yang tidak dimilikinya. Namun, sesuai dengan teladan para Rasul, mereka yang mengaku imannya secara lahiriah dan yang membenahi hidupnya, harus dinilai dan disebut dengan sebaik-baiknya, sebab kita tidak mengenal lubuk hati manusia. Adapun orang lain, yang belum terpanggil, orang harus mendoakan mereka pada Allah, yang menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada. Jangan sekali- kali kita berlaku sombong terhadap mereka, seolah-olah kita sendirilah yang menyebabkan kita berbeda dari mereka.

16. Akan tetapi, manusia, meskipun ia telah jatuh ke dalam dosa, adalah tetap manusia, yang diperlengkapi akal dan kehendak. Dan dosa, yang telah menjalar kepada seluruh umat manusia, tidak memusnahkan kodrat manusia itu, tetapi merusakkannya dan mematikannya secara rohani. Begitu pula, karunia ilahi, yakni kelahiran kembali itu juga tidak bekerja di dalam manusia seolah-olah ia adalah sebongkah kayu dan sebuah batu, dan karunia itu tidak memusnahkan kehendak manusia dan sifat-sifat kehendak itu, dan tidak memaksa manusia berlawanan dengan kehendaknya. Tetapi karunia ilahi itu menghidupkan kehendak secara rohani, menyembuhkannya, memperbaikinya, dan menundukkannya secara lembut sekaligus kuat. Maka, di mana dahulu kedegilan dan perlawanan daging merajalela, sekarang oleh Roh mulai berkuasa ketaatan yang rela dan tulus. Itulah yang merupakan pembaruan dan kebebasan kehendak kita yang sejati dan rohani. Ya, jika Pembuat segala sesuatu yang baik, yang patut dikagumi itu, tidak bertindak sedemikian rupa terhadap kita, maka janganlah manusia berharap dapat bangkit dari kejatuhan melalui kehendaknya yang bebas, yang olehnya ia telah menceburkan diri ke dalam kebinasaan pada waktu ia masih berdiri.

17. Karya Allah yang mahakuasa, yang olehnya Dia menciptakan hidup kodrati kita dan memeliharanya, tidak mencegah pemakaian sarana-sarana yang olehnya Allah dalam hikmat dan kebaikan- Nya yang tak terhingga ingin melaksanakan kekuatan-Nya itu, tetapi justru menuntut pemakaiannya. Demikian pula halnya karya adikodrati Allah yang tersebut di atas, yang olehnya kita dilahirkan-Nya kembali: karya ini sekali-kali tidak mencegah atau meniadakan pemakaian Injil yang telah ditentukan Allah yang berhikmat itu menjadi benih kelahiran kembali dan makanan bagi jiwa. Oleh karena itu, jangan sekali-kali tokoh-tokoh jemaat yang mengajar anggota-anggota jemaat lainnya, ataupun mereka yang diajar berani mencobai Allah dengan jalan menceraikan apa yang menurut perkenan-Nya dikehendaki-Nya supaya tetap tergabung erat. Begitu pula dahulu para Rasul, dan guru-guru yang telah menggantikan mereka, dengan penuh ketakwaan mengajar rakyat mengenai karunia Allah itu demi kemuliaan Allah dan untuk menekan seluruh keangkuhan manusia. Sementara itu, mereka rajin berupaya, melalui pengajaran kudus dari Injil, supaya rakyat itu tetap terkumpul di bawah pelayanan teratur Firman, sakramen-sakramen, dan disiplin gereja. Sebab, kasih karunia diberikan oleh pengajaran itu. Semakin Allah di dalam diri kita. Dengan demikian pekerjaan-Nya akan maju dengan cara yang paling tepat. Baik atas sarana-sarana itu, maupun atas buah dan keampuhannya yang mendatangkan keselamatan, hanya Allah saja yang patut menerima segala kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.

Penolakan ajaran sesat

Setelah menguraikan ajaran ortodoks maka sinode menolak ajaran-ajaran sesat orang yang mengajar sebagai berikut:

1. Sebenarnya tidak dapat dikatakan, bahwa dosa turunan sendiri sudah cukup untuk membuat segenap umat manusia dihukum atau patut diganjar hukuman pada masa kini dan untuk selama- lamanya.

Mereka ini membantah perkataan Sang Rasul, 'Sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa' (Rom 5:12). Dan, 'Penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman' (Rom 5:16). Dan 'Upah dosa ialah maut' (Rom 6:23).

2. Pada mulanya, waktu manusia diciptakan, maka karunia-karunia rohani, sifat-sifat baik, dan kebajikan-kebajikan, seperti kebaikan, kesucian, dan kebenaran, tidak mungkin ada dalam kehendak manusia. Itulah sebabnya karunia-karunia itu tidak mungkin juga dipisahkan dari kehendak itu oleh kejatuhan dalam dosa.

Hal ini bertentangan dengan pemerian manusia sebagai gambar Allah seperti yang disajikan Sang Rasul dalam Efe 4:24. Di sana ia mengatakan, bahwa gambar Allah itu terdiri dari kebenaran dan kekudusan, yang keduanya tanpa ragu-ragu bertempat dalam kehendak.

3. Dalam kematian rohani, karunia-karunia rohani yang dimiliki manusia tidak dipisahkan dari kehendak. Sebab, kehendak itu sendiri tidak pernah dirusak, tetapi hanya dirintangi oleh kegelapan akal-budi dan ketidaktetapan perasaan. Jika rintangan- rintangan ini dicabut, maka kehendak dapat memakai kekuatan yang bebas, yang telah ditanamkan ke dalamnya. Hal itu berarti, kehendak itu sanggup, dari dirinya sendiri, menghendaki dan memilih ataupun tidak menghendaki dan memilih hal apa pun yang baik yang dihadapkan kepadanya.

Ini ajaran baru dan sesat, yang cenderung memuji-muji kemampuan kehendak bebas. Hal ini bertentangan dengan perkataan Nabi Yeremia, 'Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya buruk' (Yer 17:9); dan dengan perkataan Sang Rasul, 'Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat' (Efe 2:3).

4. Manusia yang tidak dilahirkan kembali, sebenarnya tidak mati dalam dosa dalam arti yang sebenarnya dan secara menyeluruh. Pun ia tidak kehilangan sama sekali kekuatan untuk berbuat baik dalam arti rohani. Sebaliknya, ia masih dapat lapar dan haus akan kebenaran dan kehidupan serta mempersembahkan korban hati yang patah dan remuk, yang berkenan kepada Allah.

Hal-hal ini bertentangan dengan kesaksian-kesaksian Alkitab yang jelas, 'Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu' (Efe 2:1-5). Dan, 'Segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata' (Kej 6:5; 8:21). Lagi pula, hanya pada mereka yang dilahirkan kembali dan yang disebut berbahagialah terdapat lapar dan haus akan kelepasan dari sengsara dan akan kehidupan, dan hanya merekalah yang mempersembahkan korban hati yang patah kepada Allah (Mat 5:6 dan Maz 51:19).

5. Anugerah umum (yang menurut mereka adalah terang kodrati) atau karunia-karunia yang masih tinggal sesudah kejatuhan manusia, dapat digunakan manusia yang sudah rusak dan yang kodrati itu dengan begitu tepat, sehingga oleh penggunaannya yang baik itu lama-kelamaan dan selangkah demi selangkah dapat diperolehnya karunia yang lebih besar, yaitu karunia Injili atau yang menyelamatkan, bahkan keselamatan itu sendiri. Dengan cara itu Allah dari pihak-Nya memperlihatkan kesediaan-Nya untuk menyatakan Kristus kepada semua orang, karena Dia memang menyajikan dengan secukupnya dan ampuh sarana-sarana yang dibutuhkan untuk penyataan Kristus dan untuk iman serta pertobatan.

Selain pengalaman segala zaman, Alkitab juga bersaksi bahwa ajaran ini tidak benar, 'Dia memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan- ketetapan-Nya dan hukum-hukum-Nya kepada Israel. Dia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal' (Maz 147:19-20). 'Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing' (Kis 14:16). Dan, 'Roh Kudus mencegah mereka (Yaitu Paulus dan rekan-rekannya) untuk memberitakan Injil di Asia. Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka' (Kis 16:6-7).

6. Apabila manusia bertobat dengan sungguh- sungguh, Allah tidak mungkin mencurahkan sifat-sifat, kemampuan- kemampuan atau karunia-karunia yang baru ke dalam kehendaknya. Maka itu, iman - yang mengawali pertobatan kita dan yang menyebabkan kita disebut orang-orang beriman - bukanlah suatu sifat atau karunia yang dicurahkan Allah, melainkan perbuatan manusia semata-mata. Iman itu hanya dapat disebut 'karunia' dari sudut pandangan kemampuan untuk mencapainya.

Dengan hal ini, mereka membantah Kitab Suci, yang bersaksi bahwa Allah mencurahkan sifat-sifat baru dalam hati kita, yaitu iman, ketaatan, dan kesadaran akan kasih-Nya, 'Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka' (Yer 31:33). Dan, 'Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu' (Yes 44:3). Dan, 'kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita' (Rom 5:5). Begitu pula ajaran itu bertentangan dengan kebiasaan Gereja Allah yang tak berkeputusan, yang dalam Kitab Nabi Yeremia berdoa begini, 'bawalah aku kembali, supaya aku berbalik' (Yer 31:18).

7. Kasih karunia yang olehnya kita berpaling kepada Allah itu tidak lain dari suatu anjuran lembut. Atau (sebagaimana diterangkan orang-orang lain), cara kerja yang paling mulia dalam hal pertobatan manusia serta yang paling cocok dengan kodratnya, ialah cara kerja melalui anjuran-anjuran. Tidak ada alasan untuk beranggapan seakan-akan kasih karunia yang menganjurkan ini sendiri saja tidak cukup untuk membuat manusia kodrati menjadi manusia rohani. Bahkan, Allah tidak menghasilkan persetujuan kehendak selain melalui cara menganjurkan itu. Keampuhan karya Allah, yang menyebabkan karya itu melebihi karya iblis, terdiri dari hal ini, bahwa Allah menjanjikan harta kekal, sedangkan iblis menjanjikan harta sementara.

Hal ini seluruhnya sama dengan ajaran Pelagius dan bertentangan dengan seantero Kitab Suci. Selain cara tadi, Kitab Suci mengenal cara berkarya Roh Kudus yang lain lagi dalam pertobatan manusia, yang jauh lebih ampuh dan ilahi, sebagaimana terdapat dalam Yehezkiel, 'Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat' (Yeh 36:26).

8. Dalam hal kelahiran kembali manusia, Allah tidak memakai kekuatan-Nya yang mahakuasa, yang begitu rupa hingga olehnya kehendak manusia akan ditundukkan-Nya dengan cara yang unggul dan tak tergagalkan kepada iman dan pertobatan. Sebaliknya, meskipun semua karya kasih karunia sudah dilaksanakan, yang dipergunakan Allah untuk membuat manusia bertobat, namun manusia masih juga dapat melawan dan nyata-nyata melawan Allah dan Roh Kudus, yang berusaha demi kelahirannya kembali dan yang berkehendak melahirkannya kembali, sedemikian rupa hingga ia bahkan menghalangi sama sekali kelahirannya kembali. Maka itu, manusia sendiri berkuasa memutuskan apakah ia akan dilahirkan kembali atau tidak.

Hal ini tidak lain dan tidak bukan meniadakan sama sekali keampuhan kasih karunia Allah dalam pertobatan kita dan membuat kegiatan Allah yang mahakuasa kalah terhadap kehendak manusia. Hal ini bertentangan dengan apa yang diajarkan para rasul, 'Betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya' (Efe 1:19), dan, 'Supaya Allah dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu' (2Te 1:11), dan, 'Kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh' (2Pe 1:3).

9. Rahmat dan kehendak bebas mengerjakan secara bersama, masing-masing untuk sebagian, awal pertobatan, dan rahmat tidak mendahului kegiatan kehendak bebas dalam hal urutan sebab- akibat. Artinya, setelah kehendak sendiri bergerak dan menuju ke pertobatan, barulah Allah membantu kehendak manusia dengan ampuh.

Gereja Lama pun sudah menolak ajaran ini pada zaman dahulu, ketika menolak kaum Pelagian, berdasarkan perkataan Sang Rasul, 'Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah' (Rom 9:16). Demikian pula, 'Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?' (1Ko 4:7). 'Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya' (Fil 2:13).

PASAL AJARAN YANG KELIMA
Ketekunan orang kudus

1. Mereka yang oleh Allah, menurut rencana-Nya, dipanggil ke persekutuan dengan Anak-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus, dan yang dilahirkan-Nya kembali oleh Roh Kudus itu memang dilepaskan- Nya dari kekuasaan dan perhambaan dosa. Tetapi selama hidup ini Dia tidak melepaskan mereka sama sekali dari daging dan dari tubuh dosa.

2. Dari situlah timbul dosa-dosa yang setiap hari dilakukan akibat kelemahan, dan noda yang masih melekat para perbuatan-perbuatan orang-orang kudus yang paling baik pun. Hal ini bagi mereka senantiasa menjadi alasan untuk merendahkan diri di hadapan Allah dan mencari perlindungan pada Kristus yang disalibkan itu. Oleh karena itu, mereka juga kian mematikan daging dengan berdoa dalam Roh dan dengan latihan-latihan suci dalam hidup saleh, dan mereka sangat rindu akan tujuan, yaitu kesempurnaan. Mereka berbuat demikian sampai saat mereka dilepaskan dari tubuh maut lalu bersama dengan Anak Domba Allah akan memerintah di surga.

3. Lantaran sisa-sisa dosa yang masih tinggal di dalam mereka, dan juga oleh sebab godaan dunia dan iblis, maka orang- orang yang telah bertobat itu tidak sanggup bertekun dalam kasih karunia, seandainya mereka dibiarkan berusaha dengan kekuatan sendiri. Tetapi Allah adalah setia. Dengan penuh rahmat diteguhkan-Nya mereka dalam kasih karunia yang pernah diberikan kepada mereka, dan sampai akhirnya mereka dipelihara-Nya di dalamnya dengan kuat.

4. Kuasa Allah yang olehnya orang yang benar-benar percaya diteguhkan-Nya dan dipelihara-Nya dalam kasih karunia itu adalah begitu besar, sehingga tidak mungkin dikalahkan oleh daging. Namun bimbingan dan dorongan Allah terhadap orang yang telah bertobat itu tidak selalu bersifat begitu rupa, sehingga tidak mungkin dalam perbuatan-perbuatan yang tertentu, karena kesalahan mereka sendiri, mereka menyimpang dari bimbingan kasih karunia dan menuruti godaan keinginan-keinginan daging. Oleh sebab itu mereka harus senantiasa berjaga-jaga dan berdoa supaya mereka jangan dibawa ke dalam pencobaan. Jika mereka tidak berbuat ini, maka mereka bisa saja diseret oleh daging, dunia, dan iblis sehingga melakukan dosa-dosa yang berat dan ngeri. Bahkan kadang-kadang mereka memang diseret secara nyata, dengan izin Allah yang adil. Hal itu diperlihatkan oleh peristiwa-peristiwa Daud, Petrus, dan orang-orang kudus yang lain, yang jatuh ke dalam dosa dengan begitu menyedihkan, sebagaimana digambarkan bagi kita dalam Alkitab.

5. Dengan dosa yang sedemikian berat itu mereka sangat membangkitkan murka Allah; mereka melakukan kesalahan yang patut diganjar hukuman mati; mereka mendukakan Roh Kudus; untuk sementara waktu mereka menghentikan praktik kehidupan iman; mereka sangat melukai hati nurani dan kadang-kadang untuk sementara waktu mereka tidak merasakan lagi kasih karunia. Hal ini berlangsung sampai mereka membalik oleh penyesalan yang sungguh-sungguh, dan wajah kebapaan Allah kembali menyinari mereka.

6. Sebab Allah, yang kaya akan rahmat, sesuai dengan rencana pemilihan yang tidak berubah-ubah, tidak menjauhkan sama sekali Roh Kudus dari orang-orang milik-Nya, bahkan tidak juga apabila mereka telah jatuh ke dalam dosa dengan cara yang menyedihkan. Dia juga tidak membiarkan mereka tersandung sedemikian, hingga mereka kehilangan karunia pengangkatan menjadi anak-anak Allah dan kedudukan sebagai orang yang dibenarkan, atau hingga mereka berbuat dosa yang mendatangkan maut, atau dosa yang menentang Roh Kudus, dan sama sekali ditinggalkan oleh Allah lalu menceburkan diri ke dalam kebinasaan yang kekal.

7. Sebab, pertama-tama, tiap-tiap kali mereka jatuh ke dalam dosa dengan cara demikian, tetap dipelihara-Nya di dalam mereka benih-Nya yang tidak fana, yang olehnya mereka telah dilahirkan kembali, supaya benih itu tidak binasa atau terbuang. Selanjutnya sudah pasti mereka diperbarui-Nya dengan ampuh oleh Firman dan Roh- Nya, sehingga mereka bertobat. Maksudnya, supaya mereka sungguh- sungguh berdukacita menurut kehendak Allah karena dosa-dosa yang telah dilakukannya; oleh iman dan dengan hati yang patah dan remuk mereka memohon dan memperoleh pengampunan dalam darah Sang Pengantara; mereka merasakan kembali kasih karunia Allah, yang kini telah diperdamaikan dengan mereka; mereka menyembah kemurahan dan kesetiaan-Nya dan untuk selanjutnya mereka makin berusaha untuk mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan gentar.

8. Maka, bukan karena jasa atau kekuatan mereka sendiri, melainkan karena belas kasihan Allah yang diberikan dengan cuma-cuma itu mereka beroleh hal ini, yaitu bahwa mereka tidak sama sekali kehilangan iman dan kasih karunia, atau untuk selama-lamanya tinggal dalam kejatuhan mereka dan akan binasa. Sejauh tergantung pada mereka, hal itu mudah saja terjadi, bahkan tanpa ragu-ragu akan terjadi. Tetapi dari sudut Allah hal itu mustahil, sebab keputusan-Nya tidak dapat diubah, janji-Nya tidak dapat diingkari, dan panggilan menurut rencana-Nya tidak dapat dicabut; begitu pula jasa, doa syafaat, dan pemeliharaan Kristus tidak mungkin ditiadakan dan juga pemeteraian dengan Roh Kudus tidak dapat digagalkan atau dimusnahkan.

9. Orang percaya sendiri boleh yakin akan pemeliharaan orang-orang pilihan demi keselamatan mereka dan akan ketekunan iman orang yang sungguh-sungguh percaya. Mereka memang yakin akan hal itu, menurut ukuran iman yang membuat mereka percaya dengan teguh, bahwa mereka adalah anggota-anggota gereja yang sejati dan hidup, kini dan untuk selama-lamanya, dan bahwa mereka memiliki pengampunan dosa dan hidup yang kekal.

10. Jadi, kepastian itu tidak timbul dari salah satu penyataan khusus, yang berlangsung tanpa atau di luar Firman, tetapi dari hal-hal berikut: Pertama, dari kepercayaan kepada janji- janji Allah yang telah dinyatakan-Nya dengan begitu berlimpah-limpah dalam Firman-Nya demi penghiburan kita. Kemudian, dari kesaksian Roh Kudus yang bersaksi bersama dengan roh kita bahwa kita adalah anak dan ahli waris Allah. Akhirnya, dari upaya yang sungguh-sungguh dan suci untuk memelihara hati nurani yang tetap murni dan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Andaikata orang-orang pilihan Allah dalam dunia ini harus kehilangan hiburan yang teguh ini, yaitu bahwa mereka akan memperoleh kemenangan, dan andaikata mereka harus kehilangan jaminan kemuliaan yang kekal yang tak berdusta itu, maka mereka adalah orang-orang yang paling malang dari semua manusia.

11. Sementara itu, Alkitab bersaksi bahwa orang percaya selama hidup harus berjuang melawan bermacam-macam kebimbangan daging. Mereka dibuat menghadapi pencobaan yang berat sehingga tidak selalu merasakan keyakinan iman yang penuh dan kepastian tentang ketekunan ini. Tetapi Allah, sumber segala penghiburan, tidak akan membiarkan mereka dicobai melampaui kekuatan mereka, sebab di tengah pencobaan Dia memberikan juga jalan ke luar, dan oleh Roh Kudus Dia kembali merangsang di dalam mereka kepastian tentang ketekunan.

12. Akan tetapi, kepastian tentang ketekunan ini sekali-kali tidak membawa orang yang benar-benar percaya itu pada kesombongan dan ketidakacuhan menurut daging. Sebaliknya, ketekunan itu sungguh-sungguh menjadi akar kerendahan hati, keseganan seorang anak, kesalehan yang sejati, kesabaran dalam segala perjuangan, doa- doa yang berapi, ketabahan dalam memikul salib dan dalam mengaku kebenaran, serta juga sukacita yang teguh di dalam Allah. Begitu pula perenungan anugerah itu justru merangsang mereka untuk dengan sungguh- sungguh dan tetap melakukan pengucapan syukur dan perbuatan baik. Hal ini nyata dari kesaksian-kesaksian Alkitab dan dari teladan orang kudus.

13. Pada mereka yang dibangkitkan lagi sesudah jatuh ke dalam dosa, kepercayaan akan ketekunan itu tidak juga menghasilkan kecerobohan dan kealpaan dalam kesalehan, tetapi ikhtiar yang terlebih besar untuk mengikuti jalan-jalan Tuhan dengan saksama. Jalan-jalan itu telah dipersiapkan sebelumnya, supaya dengan menapakinya, mereka tetap memiliki kepastian tentang ketekunan mereka, dan supaya wajah Allah yang telah diperdamaikan dengan mereka tidak dipalingkan kembali dari mereka karena mereka telah menyalahgunakan kebaikan-Nya sebagai seorang Bapa, sehingga mereka jatuh ke dalam siksaan jiwa yang lebih berat lagi. Sebab bagi mereka yang takut akan Allah, memandang wajah-Nya itu lebih manis daripada hidup, tetapi apabila Allah menyembunyikan wajah-Nya maka bagi mereka hal itu lebih pahit daripada maut.

14. Sebagaimana Allah telah berkenan memulai pekerjaan kasih karunia-Nya itu di dalam kita oleh pemberitaan Injil, begitu pula Dia memelihara, meneruskan, dan menyelesaikan pekerjaan itu. Caranya, dengan mendengarkan, membaca, dan merenungkan Injil, dan dengan nasihat-nasihat, ancaman-ancaman, janji-janji, serta juga dengan menggunakan sakramen-sakramen kudus.

15. Ajaran tentang ketekunan orang yang sungguh- sungguh percaya dan kudus dan tentang kepastian tentang ketekunan itu, telah dinyatakan Allah dengan berlimpah-limpah dalam Firman-Nya demi kemuliaan nama-Nya dan demi penghiburan orang yang takut akan Dia, dan telah diterakan-Nya dalam hati orang percaya. Memang ajaran itu tidak dapat dipahami oleh daging, dibenci oleh iblis, diejek oleh dunia, disalahgunakan oleh mereka yang tidak memahaminya dan orang munafik, dan dibantah oleh para penyesat. Akan tetapi, mempelai perempuan Kristus senantiasa amat mengasihinya dan tetap membelanya sebagai suatu harta yang tak terkira nilainya. Allah akan menjaga, supaya ia akan berbuat seterusnya. Tidak ada rencana yang dapat dilaksanakan untuk melawan Dia dan tidak ada satu kuasa pun yang dapat bertahan terhadap Dia. Hanya Allah ini, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus, patut menerima hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.

Penolakan ajaran sesat

Setelah menguraikan ajaran ortodoks maka sinode menolak ajaran-ajaran sesat orang yang mengajar sebagai berikut:

1. Ketekunan orang-orang yang benar-benar percaya bukanlah hasil pemilihan atau pemberian Allah yang telah diperoleh melalui kematian Kristus, melainkan syarat perjanjian baru yang harus dipenuhi manusia melalui kehendaknya yang bebas, demi pemilihan dan pembenarannya yang menentukan (sebagaimana mereka menyebutnya).

Kitab Suci bersaksi, bahwa ketekunan merupakan akibat pemilihan dan diberikan kepada orang-orang pilihan oleh kekuatan kematian, kebangkitan, dan doa syafaat Kristus, 'Orang-orang yang terpilih telah memperolehnya. Dan orang-orang yang lain telah tegar hatinya' (Rom 11:7). Demikian pula, 'Dia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Dia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama- sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang telah menjadi Pembela bagi kita? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?' (Rom 8:32-35).

2. Allah memang mengaruniakan kepada orang percaya kekuatan-kekuatan yang cukup untuk bertekun, dan Dia bersedia memelihara kekuatan-kekuatan itu di dalamnya, jika orang ini menunaikan kewajibannya. Akan tetapi, setelah semua hal yang perlu untuk bertekun dalam iman dan yang kehendak Allah pakai untuk memelihara iman itu telah dipekerjakan, maka masih juga hal bertekun tidaknya manusia bergantung pada keputusan bebas kehendaknya.

Pandangan ini terang-terangan mengandung ajaran Pelagius. Maksudnya membebaskan manusia, namun pandangan ini menyebabkan manusia merampas kemuliaan Allah. Hal ini bertentangan dengan kesepakatan yang telah berlaku terus-menerus tentang ajaran Injil, yang membuat manusia kehilangan semua alasan untuk bermegah dan mengarahkan puji-pujian atas anugerah ini hanya kepada rahmat Allah semata-mata. Hal ini bertentangan juga dengan kesaksian Rasul, 'Dia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus' (1Ko 1:8).

3. Orang yang sungguh-sungguh beriman dan dilahirkan kembali dapat saja kehilangan iman yang membenarkan serta kasih karunia dan keselamatan itu secara menyeluruh dan untuk selama- lamanya. Mereka bahkan acap kali nyata-nyata kehilangan hal-hal ini dan binasa untuk selama-lamanya.

Pendapat ini meniadakan karunia pembenaran dan kelahiran kembali serta perlindungan terus-menerus oleh Kristus. Hal ini bertentangan dengan perkataan tegas Rasul Paulus, bahwa "Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah" (Rom 5:8-9). Hal ini bertentangan juga dengan apa yang dikatakan oleh Rasul Yohanes, "Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah" (1Yo 3:9). Juga dengan perkataan Yesus Kristus, "Aku memberikan hidup yang kekal kepada domba-domba-Ku dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada- Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa" (Yoh 10:28-29).

4. Orang yang sungguh-sungguh percaya dan dilahirkan kembali dapat melakukan dosa yang mendatangkan maut, atau dosa yang menentang Roh Kudus.

Dalam pasal kelima surat kirimannya yang pertama, Rasul Yohanes berbicara mengenai orang yang melakukan dosa yang mendatangkan maut, dan melarang mendoakan mereka (1Yo 5:16-17), lalu dalam ayat 18 segera ditambahkannya, "Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa" (yaitu dosa yang demikian); "tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan di jahat tidak dapat menjamahnya" (1Yo 5:18).

5. Dalam kehidupan ini, tak mungkin orang mendapat kepastian tentang ketekunannya di masa mendatang kalau tidak memperoleh penyataan khusus.

Ajaran ini mencabut hiburan teguh orang yang sungguh-sungguh percaya, yang mereka nikmati dalam hidup ini, dan kembali memasukkan kebimbangan orang Katolik Roma ke dalam Gereja. Di mana-mana Kitab Suci mengambil kepastian ini dari ciri-ciri khas anak-anak Allah, dan dari janji-janji Allah yang amat teguh, bukan dari suatu penyataan yang khusus dan luar biasa. Teristimewa Rasul Paulus, Makhluk apa pun tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (Rom 8:39). Dan Yohanes berkata, "Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Dia karuniakan kepada kita" (1Yo 3:24).

6. Ajaran tentang kepastian tentang ketekunan dan keselamatan itu pada hakikatnya bersifat "bantal bagi daging" dan merupakan bahaya bagi kesalehan, kesusilaan, doa-doa, dan semua hal lainnya, yang termasuk praktik hidup yang saleh. Sebaliknya, meragukan ajaran itu merupakan perbuatan yang terpuji.

Mereka ini memperlihatkan, bahwa mereka tidak mengenal keampuhan kasih karunia ilahi dan karya Roh Kudus yang berdiam di dalam manusia. Mereka juga membantah Rasul Yohanes yang dengan tegas mengajar yang sebaliknya, "Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan- Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada- Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci" (1Yo 3:2-3). Lagi pula ajaran ini dibantah oleh teladan orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Mereka merasa yakin akan ketekunan dan keselamatan mereka, namun tetap bertekun dalam doa dan dalam semua hal lainnya, yang termasuk praktik hidup yang saleh.

7. Iman orang-orang yang percaya untuk sementara waktu saja, tidak berbeda dari iman yang membenarkan dan yang menyelamatkan, kecuali dalam hal panjang waktunya.

Kristus sendiri dengan jelas menunjukkan tiga macam perbedaan lagi antara mereka yang hanya percaya untuk sementara waktu dan orang-orang yang benar-benar percaya. Dalam Mat 13:20 dyb. dan Luk 8:13 dyb. dikatakanNya, bahwa orang-orang yang percaya untuk sementara waktu menerima benih di tanah yang berbatu- batu; mereka tidak berakar dan tidak berbuah. SebaliknYa, orang-orang yang benar-benar percaya menerima benih di tanah yang baik atau di dalam hati yang baik; mereka berakar kuat dan dengan tiada henti- hentinya serta tekun menghasilkan buah, meskipun tidak sama jumlahnya.

8. Apabila manusia telah kehilangan kelahiran kembali yang pertama, maka tidak mustahil ia dilahirkan kembali sekali lagi, bahkan beberapa kati.

Melalui ajaran ini, mereka menyangkal ketidakfanaan benih Allah, yang olehnya kita dilahirkan kembali. Hal ini bertentangan dengan kesaksian Rasul Petrus, "Kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana" (1Pe 1:23).

9. Kristus tidak pernah berdoa, agar supaya orang-orang beriman akan bertekun dalam iman dengan tak tergagalkan.

Mereka membantah perkataan Kristus sendiri, "Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur" (Luk 22:32). Mereka juga membantah kesaksian pengarang Injil Yohanes, yaitu bahwa Kristus telah berdoa bukan hanya untuk rasul-rasul, tetapi juga untuk semua orang yang akan menjadi percaya melalui pemberitaan para rasul itu, "Ya Bapa yang kudus, Peliharalah mereka dalam nama-Mu; Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat (Yoh 17:11,15,20)."

KATA PENUTUP

Inilah uraian yang jelas, sederhana, dan jujur tentang ajaran ortodoks sehubungan dengan Kelima Pasal yang sedang dipersoalkan di Negeri Belanda, beserta penolakan ajaran-ajaran sesat yang telah menyebabkan Gereja-gereja Belanda dikacaukan selama beberapa waktu. Sinode berpendapat, uraian dan penolakan ini diambil dari Firman AllaH dan sesuai dengan pengakuan iman Gereja-gereja Reformasi. Dari sini nyatalah dengan jelas, bahwa, bertentangan dengan segala kebenaran, keadilan, dan kasih, orang-orang Yang justru sama sekali tidakpatut berbuat demikian telah berikhtiar membohongi rakyat dengan menyatakan:

Ajaran Gereja-gereja Reformasi mengenai Predestinasi dan mengenai pokok pokok yang berhubungan dengannya, karena sifatnya sendiri dan disebabkan dinamikanya sendiri, sama sekali mengasingkan hati manusia dari kesalehan dan peribadatan. Ajaran ini merupakan 'bantal bagi daging dan iblis' serta perbentengan iblis, dan menjadi titik tolaknya dalam menghadang semua orang, melukai kebanyakan orang, dan mematikan banyak orang dengan panah- panah keputusasaan atau ketidakacuhan.

Ajaran ini menjadikan Allah Pembuat dosa, Allah yang tidak adil, lalim, dan munafik. Ajaran ini tidak lain dan tidak bukan pembaruan ajaran Stoa,(1) Mani,(2) kaum Libertin,(3) dan Islam.

Ajaran ini membawa orang-orang kepada ketidakacuhan yang jasmani, karena mereka akan membohongi diri mereka, seakan-akan cara hidup orang pilihan sama sekali tidak menentukan keselamatan mereka, sehingga mereka dengan tenang saja boleh melakukan segala macam kejahatan yang ngeri.

Adapun mereka yang telah ditolak, sekalipun mereka sungguh-sungguh melaksanakan segala perbuatan orang-orang kudus, hal itu tidak mungkinbermanfaat bagi keselamatan mereka.

Dengan ajaran ini dikatakan bahwa Allah, hanya karena tindakan sewenang-wenang kehendak-Nya saja, tanpa memperhatikan atau mempedulikan dosa apa pun, telah menentukan dan menciptakan bagian terbesar dunia ini, bagi kebinasaan yang kekal.

Penolakan adalah penyebab ketidakpercayaan dan kefasikan, sama seperti pemilihan adalah sumber dan penyebab iman serta perbuatan yang baik.

Allah merenggut banyak anak orang percaya yang tak bersalah dari susu ibunya dan dengan lalim membuang mereka ke dalam api neraka, sehingga baik darah Kristus, maupun pembaptisan atau doa Gereja waktu mereka dibaptis tidak mungkin bermanfaat bagi mereka.

Dan banyak tuduhan sejenis, yang tidak termasuk pengakuan iman Gereja-gereja Reformasi, bahkan sama sekali ditolak Gereja-gereja itu dengan rasa jijik.

Itulah sebabnya Sinode Dordrecht ini meminta dengan mendesak, demi nama Tuhan, kepada semua orang yang dengan saleh memanggil nama Juruselamat kita Yesus Kristus, agar supaya mereka jangan menilai iman Gereja-gereja Reformasi atas dasar fitnah yang dikumpulkan dari sana sini, jangan juga atas dasar perkataan pribadi beberapa guru lama atau baru, yang sering dikutip dengan itikad jahat, diputarbalikkan, dan diterangkan dengan salah. Hendaklah mereka menilai iman Gereja-gereja Reformasi berdasarkan karangan-karangan pengakuan iman yang umum dari Gereja-gereja itu sendiri dan berdasarkan uraian ini mengenai ajaran yang benar, yang telah ditetapkan dengan persetujuan tiap-tiap anggota seluruh Sinode.

Selanjutnya Sinode dengan sungguh-sungguh menegur para pemfitnah agar mempertimbangkan betapa beratnya hukuman Allah yang mereka datangkan atas diri mereka sendiri, mereka yang mengucapkan kesaksian dusta terhadap sedemikian banyak gereja dan terhadap karangan-karangan pengakuan iman sedemikian banyak gereja, yang menggelisahkan hati nurani orang-orang yang imannya lemah dan yang berupaya untuk membuat banyak orang merasa curiga terhadap persekutuan orang yang benar-benar percaya.

Akhirnya Sinode ini mendorong semua rekan Pelayan dalam Injil Kristus, supaya mereka bertindak saleh dan alim bilamana mengupas ajaran ini di sekolah-sekolah dan di gereja-gereja. Hendaklah mereka mengarahkannya, baik secara lisan maupun secara tertulis, kepada kemuliaan Nama Allah, kesucian hidup, dan penghiburan hati yang hancur. Hendaklah juga dalam pikiran dan bicara mereka berpegang pada Alkitab, sesuai dengan kesepakatan bersama tentang iman. Akhirnya, hendaklah mereka menahan diri dari setiap cara bicara yang melewati batas-batas yang telah ditetapkan bagi kita dalam hal menentukan arti sebenarnya Kitab-kitab Suci, dan yang dapat menyediakan alasan yang wajar bagi orang yang suka menggunakan penalaran yang muluk-muluk tetapi menyesatkan, untuk menista atau memfitnah ajaran Gereja-gereja Reformasi.

Kami berdoa supaya Anak Allah, Yesus Kristus, yang sedang duduk di sebelah kanan Bapa-Nya dan yang memberi karunia- karunia kepada manusia, menguduskan kita dalam kebenaran, membawa mereka yang telah sesat itu kembali kepada kebenaran, menutupi mulut orang yang memfitnah ajaran sehat, dan mengaruniakan Roh hikmat dan pengertian kepada pelayan-pelayan Firman-Nya yang setia, agar semua perkataan mereka berguna bagi kemuliaan Allah dan bagi pembinaan para pendengarnya. Amin.