Login penggunaNavigasiKomentar terbaruSiapa yang onlineSaat ini terdapat 0 users dan 0 guests yang online.
|
Pentingkan Relasi Kekinian, Bukan Berkat Masa LaluEditorial: Dear e-Reformed Netters, Selamat berjumpa lagi di tahun yang baru 2002 . Kenangan apa yang anda tinggalkan di tahun 2001? Bagaimana perasaan anda memasuki tahun 2002 ini? Harapan-harapan apa yang anda miliki untuk tahun 2002 ini? Sementara anda memikirkan pertanyaan-pertanyaan di atas, silakan membaca artikel sajian bulan Januari ini. Kiranya menolong kita semua untuk merenungkan hubungan anda dengan Tuhan, Sang Pemberi berkat. Selamat merenungkan, Edisi: 023/I/2002 Isi: Kehidupan orang percaya tidak dapat dipisahkan dari penyertaan Tuhan. Kita percaya bahwa segala yang dilakukan hanya dapat terlaksana dengan pertolongan dan pimpinan-Nya. Walaupun demikian, seringkali terjadi dalam kehidupan kita lebih bersandar kepada berkat masa lalu daripada kepada Tuhan. Berkat masa lalu sering kita anggap sebagai simbol dari penyertaan Tuhan. Tidak salah jika kita mengatakan bahwa gedung gereja yang megah, keberhasilan pelayanan, atau berkat materi yang didapatkan adalah bukti penyertaan-Nya. Tetapi alangkah menyedihkan jika segala berkat itu membuat kita lupa kepada Tuhan, Sang Pemberinya. Karena itu relasi pribadi dengan Dia adalah sangat penting, lebih penting dari berkat masa lalu. Firman Tuhan dalam Sejarah Israel mencatat bahwa tabut itu sering memimpin mereka. Tabut TUHAN berjalan di depan, memimpin dan menuntun Israel di padang gurun ( Ketika mengalami kekalahan dari Filistin, mereka berpikir jika ada tabut di tengah peperangan mereka akan menang. Reaksi yang ditimbulkan oleh hadirnya tabut di tengah peperangan sangat besar. Ketika tabut itu sampai ke perkemahan mereka bersorak dengan nyaring, karena sungguh yakin akan keampuhan tabut itu (ay. 4-5). Sebaliknya orang Filistin yang mendengar sorakan itu menjadi takut karena mengatahui ada tabut di perkemahan Israel dan tahu akan ada kuasa besar di tengah Israel. Sebab itu mereka berkata, "Celakalah kita! Siapakah yang menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Inilah juga Allah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai-bagai tulah di padang gurun" (ay. 7-8). Kedatangan tabut pada satu pihak memberikan keyakinan kepada Israel tentang kemenangan, pada pihak lain bagi Filistin mendatangkan ketakutan. Tetapi, bagaimana kenyataannya di medan pertempuran? Apakah Israel menang dan Filistin kalah? Pada ayat 10 tercatat bahwa Israel justru mengalami kekalahan besar. Kekalahan yang ditimbulkan ketika membawa tabut itu jauh lebih besar dari kekalahan pertama. Mereka kehilangan 30000 orang, jauh lebih banyak dari peperangan pertama, yaitu 4000 orang (ay. 2,10), bahkan tabut itu dirampas. Apakah tabut tidak memiliki kuasa lagi? Apakah Allah Israel tidak berkuasa lagi? Tabut memang menandakan kehadiran Allah dan penyertaan-Nya di tengah umat. Secara manusiawi kehadiran tabut seharusnya memberi kemenangan, tetapi ternyata tidak. Tabut ada di sana tetapi penyertaan Tuhan tidak. Allah Sang Pemberi kemenangan tidak memberikan hal itu kepada Israel. Hal ini tidak berarti Allah tidak berkuasa lagi. Kalau kita membaca pasal lima, terlihat kuasa Allah dinyatakan. Bukankah Dagon, dewa Filistin jatuh di hadapan tabut Tuhan? Kuasa Allah sungguh nyata dan ada. Tetapi mengapa mereka kalah? Jawabannya terletak pada keadaan mereka yang tidak memiliki hubungan dengan Allah. Itu sebabnya pada akhir pasal ini dicatat bahwa cucu Eli yang lahir pada masa itu diberi nama Ikabod karena "Telah lenyap kemuliaan dari Israel," sebab tabut Allah telah dirampas. Waktu itu Israel mengalami krisis rohani sehingga mereka tidak lagi memiliki relasi dengan Tuhan. Ironisnya, hal itu terjadi di rumah Tuhan di Silo. Pemimpin mereka, imam Eli, ternyata tidak membawa umat lebih dekat kepada-Nya. Allah menegur Eli karena ia lebih menghormati anak-anaknya daripada Tuhan (2:29). Lebih lagi dalam Keadaan menyedihkan ini merupakan teguran bagi Israel waktu itu. Dalam bagian ini terdapat hal-hal yang menarik untuk diperhatikan. Israel yang memiliki tabut mengalami kekalahan, sedang Filistin yang ketakutan justru menang. Pada pasal 7 keadaan menjadi terbalik; Filistin kalah. Apakah karena tabut ada di Filistin? Tidak! Tabut telah dikembalikan kepada Israel. Kuncinya ada di Dalam kitab ini kehidupan Samuel merupakan sentral. Dialah yang memimpin Israel untuk taat pada Tuhan. Hal itu bisa terlihat pada pasal 3:21, "Dan TUHAN selanjutnya menampakkan diri di Silo, sebab Ia menyatakan diri di Silo kepada Samuel dengan perantaraan firman-Nya." Suatu keadaan yang kontras dengan ayat 1 dimana firman Tuhan jarang dan penglihatan pun tidak sering. Samuel dekat dan mendengar suara Tuhan. Dia mengajar Israel taat kepada Tuhan, karena itu mereka menang. Apa kepentingan tabut bagi Israel? Apa sebetulnya yang ada dalam tabut? Di dalam tabut ada dua loh batu, yang menunjukkan perjanjian Allah-Israel, yang berarti Ia akan memimpin Israel; Dialah Allah mereka dan Israel umat-Nya ( Kebenaran pengalaman Israel seharusnya mengingatkan kita untuk mengoreksi diri. Sering sebagai orang Kristen kita lebih mementingkan berkat masa lalu yang sebenarnya bukan jaminan. Allah lebih menghendaki ketaatan dan kesetiaan sebagai respons atas anugerah-Nya dalam Kristus. Allah memberikan perjanjian yang baru yang terpatri di dalam hati kita ( Sumber : |